Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : TUA GILA DARI ANDALAS

SATU

Bayangan putih yang berkelebat di malam gelap dan dingin itu tiba-tiba lenyap laksana ditelan bumi. Beberapa saat kemudian satu bayangan lagi muncul di tempat itu. Sambil mengusap keringat yang membasahi keningnya orang ini memandang berkeliling. Ternyata dia seorang pemuda berwajah tampan, berkumis tipis, mengenakan pakaian serba merah. Sehelai kain hitam menutupi kepalanya sampai ke kening.

"Heran, apa dia punya ilmu amblas ke dalam tanah? Barusan saja aku masih melihat dia berada di depanku. Bagaimana tahu-tahu lenyap tanpa bekas?" Orang yang berkata dalam hatinya itu memandang berkeliling. "Malam gelap sekali. Tapi mataku tak bisa ditipu. Tak ada pohon besar untuk bersembunyi. Tak ada semak belukar untuk mendekam. Aneh...."

Orang ini lalu melangkah ke kiri. Dari sini dia membuat gerakan memutar. Tetap saja orang yang tadi diikutinya tidak kelihatan. "Apa aku meneruskan perjalanan saja menuju Kutogede. Bagaimana kalau berpapasan lagi dengan guru. Seperti kejadian beberapa hari lalu. Hampir aku kepergok olehnya! Kalau dia sampai menemuiku bakalan celaka diriku! Selain itu aku harus memberitahukan satu hal penting pada orang yang kukejar tapi lenyap begitu saja!"

Sambil bicara dalam hati, sepasang mata orang ini terus memandang kian kemari. Apa yang dicarinya tidak kelihatan. Sesaat dia merasa bingung. Apa akan terus mencari orang yang tadi dikejarnya atau meneruskan perjalanan saja. Selagi dia menimbangnimbang begitu tiba-tiba dari sebuah lobang sedalam pinggang yang nyaris tak kelihatan karena tenggelam dalam kegelapan malam yang sangat pekat menyambar serangkum angin dahsyat. Menghantam ke arah pemuda berpakaian merah yang tegak di tempat terbuka itu. Meski terkejut mendapat serangan tak terduga itu namun karena sebelumnya dia telah berlaku waspada maka begitu sambaran angin yang sanggup menghancurkan batu mematahkan pohon besar itu menderu ke arahnya, pemuda berbaju merah melompat ke udara. Dengan sudut matanya dia telah melihat dari mana datangnya serangan gelap itu. Karenanya begitu melayang turun pemuda ini balas melepas pukulan tangan kosong mengandung tenaga dalam tinggi, diarahkan ke lobang di kegelapan.

"Wusss!"

"Byarrr!"

Lobang terbongkar. Tanah laksana berubah jadi air dan muncrat ke udara. Dalam gelap terdengar suara orang memaki lalu samar-samar tampak bayangan putih melayang ke udara. Pemuda berbaju merah mengikuti gerakan tubuh yang melayang. Ketika dia hendak menghantam kembali tiba-tiba dia melihat ada sebuah benda melesat di udara. Sebelum dia sempat melihat jelas, tahu-tahu sekujur tubuhnya telah dilibat ikatan benang halus berwarna putih.

"Ah! Memang dia rupanya!" kata pemuda berpakaian merah begitu dia mengenali benda apa yang mengikatnya hingga dia tak mampu bergerak barang sedikit pun. Tiba-tiba dari arah kegelapan benang putih halus itu dikedut orang. Tak ampun lagi tubuh si pemuda melesat ke udara. Lalu laksana layang-layang ditarik ke bawah hingga menghunjam tajam ke arah tanah. Bersamaan dengan itu dari kegelapan terdengar orang berteriak.

"Makan tanganku! Jebol batok kepalamu!"

"Astaga! Dia hendak membunuhku!" ujar si pemuda. Dalam keadaan terikat dan melayang begitu rupa dia coba gerakkan badannya ke kiri seperti gelondongan kayu. Tapi orang di dalam gelap lebih cepat menyentakkan benang yang mengikat tubuhnya. Akibatnya sernakin deras dirinya tertarik ke bawah, kepala lebih dulu! "Celaka! Hancur kepalaku!"

"Kek! Jangan bunuh diriku!"

"Eeee anak gila! Walau gelap aku tidak buta! Orang berpakaian merah yang menguntitku sejak dari pantai dua hari lalu ini adalah seorang pemuda! Tapi mengapa suaranya seperti perempuan? Apa masih ada banci di dunia ini?!"

"Kek! Aku Puti Andini! Jangan...."

"Anak setan kurang ajar! Akan aku rotan kau sampai seribu kali!" "Dettt... dettt...dettt!" Benang halus putih kembali dikedut orang sampai tiga kali. Sosok orang berpakaian merah melayang berputar satu kali. Kalau tadi tubuhnya menghunjam deras ke tanah maka kini tubuh itu laksana layang-layang yang diturunkan bergerak ke bawah perlahan-lahan dan akhirnya tergolek menelentang di tanah.

"Gadis nakal! Terlambat kau mengatakan siapa dirimu, nyawamu tak ketolongan!

Apa yang kau lakukan itu? Kau sengaja mencari mati?!" Seorang tua berpakaian putih berkepala botak plontos muncul di samping Puti Andini yang menyamar sebagai seorang pemuda. "Kek, buka dulu ikatan Benang Kayanganmu. Nanti aku terangkan...." "Kau kira aku tak tahu sejak dua hari lalu kau menguntitku terus menerus...!" "Betul, tapi buka dulu ikatan benang saktimu. Aku sulit bernafas!"

"Itu hukuman agar kau tahu rasa!" jawab orang dalam gelap. Lalu dia gerakkan tangannya dua kali. Benang sakti yang melibat tubuh orang yang terhampar di tanah secara aneh terbuka. Orang ini segera membuka kain lebar yang menutupi kening dan kepalanya. Begitu penutup kepala terbuka maka terlepaslah rambut panjang yang sebelumnya tergulung. Lalu tangannya bergerak menanggalkan kumis tipis yang menghias bagian atas bibirnya. Serta merta wajahnya yang tadi kelihatan seperti wajah pemuda tampan dan halus kini berubah menjadi wajah seorang gadis cantik berambut panjang. Dengan cepat gadis ini melompat tegak dan menjura. Orang tua yang berdiri di depannya keluarkan tawa mengekeh.

"Hebat juga dandanan penyamaranmu! Sekarang ayo katakan mengapa kau menguntit membayangiku terus menerus! Apa kau tidak sadar itu pekerjaan berbahaya yang membuatku bisa salah menurunkan tangan maut?! Kau tahu banyak orang yang ingin membunuhku sejak beberapa waktu belakangan ini!"

"Maafkan aku Kek. Aku tadinya masih meragukan apa kau yang aku ikuti selama beberapa hari ini benar-benar kakekku Tua Gila. Soalnya penyamaranmu jauh lebih hebat dariku!"

Orang tua berkepala botak tertawa terkekeh-kekeh. Tangan kirinya bergerak ke bagian belakang kepala. Sekali dia menarik maka terlepaslah satu topeng tipis yang membungkus muka dan kepalanya. Kini kelihatanlah wajahnya yang asli. Wajah seorang kakek cekung keriput. Sepasang matanya memiliki rongga dalam dan sangat lebar. Rambutnya, kumis dan janggutnya yang putih panjang melambai-lambai ditiup angin. Ternyata dia adalah tokoh rimba persilatan yang dikenal dengan julukan Tua Gila alias Pendekar Gila Patah Hati dan di masa mudanya juga dikenal dengan julukan Iblis Gila Pencabut Jiwa.

"Kita sama-sama menyamar. Tentu punya alasan. Apa alasanmu Cucuku?" tanya Tua Gila pada Puti Andini yang memang adalah cucunya sendiri. (Seperti dituturkan dalam Episode I Tua Gila Dari Andalas) dari hubungan cintanya dengan Sabai Nan Rancak di masa muda lahirlah seorang anak perempuan yang diberi nama Andam Suri. Anak ini kemudian kawin dengan Datuk Paduko Intan. Ketika melahirkan Puti Andini, Andam Suri meninggal dunia. Datuk Paduko Intan melenyapkan diri. Ternyata dia telah menjadi searang Raja kecil di sebuah kerajaan pulau Sipatoka. Dari istrinya yang kedua Datuk Paduko Intan dikarunia seorang putera yakni Datuk Pangeran Rajo Mudo. Kalau tidak tersesat ke pulau Sipatoka itu seumur hidup Tua Gila tak akan pernah bertemu dengan bekas menantu dan puteranya yang berarti adalah juga cucunya.

"Puti Andini, kau belum mengatakan mengapa kau menyamar dan meninggalkan pulau Andalas?"

"Tak lama setelah Datuk Angek Garang meninggalkan Andalas, guruku Sabai Nan Rancak juga berangkat. Dia berpesan agar aku segera kembali ke Singgalang. Tapi setelah ditinggal sendirian aku merasa apa gunanya mendekam di gunung itu. Walau aku mendapat pengalaman pahit di tanah Jawa sebelumnya tapi perasaan hatiku mendorongku untuk kembali ke sini. Untuk menghindarkan segala macam urusan yang tidak diduga, terutama jangan ketahuan guru aku terpaksa menyamar..., Nah sekarang giliranmu Kek menceritakan mengapa kau menyamar jadi kakek botak!"

Tua Gila tertawa lebar lalu berkata. "Aku tahu perasaan hati yang mana yang paling keras mendorongmu untuk kembali ke tanah Jawa ini. Kau ingin menemui muridku si sableng itu bukan?" Tua Gila tertawa mengekeh melihat paras Puti Andini menjadi merah.

"Kau jangan mengganggu aku Kek!" kata si gadis seraya memalingkan wajahnya ke jurusan lain. "Ayo lekas kau ceritakan apa sebabnya kau menyamar." "Banyak orang yang ingin membunuhku. Kau tahu sendiri. Salah seorang diantaranya adalah gurumu Sabai Nan Rancak. Kemanapun aku pergi maut selalu membayangi. Aku tidak takut mati. Tapi ada beberapa urusan yang perlu aku selesaikan kalaupun kelak aku harus mati. Di tengah perjalanan menuju kesini aku mendapat kabar dari seorang sakti di kawasan laut selatan bahwa satu malapetaka telah menimpa muridku Wiro Sableng. Bahaya besar mengancam dirinya. Selama seratus hari dia akan kehilangan semua ilmu silat dan kesaktiannya. Aku harus melakukan sesuatu untuk menolongnya. Celakanya dimana dia berada belum ku ketahui. Kemungkinan dia berada di Gunung Gede tempat kediaman gurunya. Sebelum menuju ke sana aku akan menyelidik dulu barang beberapa hari...."

"Aku dapat membayangkan kesulitan besar yang kau hadapi Kek. Kalau saja aku bisa menolong...." Puti Andini terdiam sesaat. Lalu dia bertanya. "Bagaimana dengan Malin Sati, muridmu itu Kek?"

Wajah Tua Gila langsung berubah mengelam. Rahangnya menggembung dan pelipisnya bergerak-gerak. "Anak malang ..." desah si kakek. "Setelah kusadari dirinya hanya tinggal tubuh kasar, anak itu aku kuburkan di sebuah pulau...."Sampai di sini Tua Gila hentikan penuturannya. Dalam hati dia bertanya-tanya apakah akan diceritakannya pertemuannya dengan Rajo Tuo Datuk Paduko Intan yang adalah ayah kandung cucunya itu. Juga tentang Datuk Pangeran Rajo Mudo yang merupakan saudara satu ayah Puti Andini. "Urusan nanti bisa panjang. Aku khawatir. Untuk sementara biar aku rahasiakan dulu ihwal orang-orang itu pada gadis ini...."

Wajah Tua Gila tampak berkerut. Dia seperti merenung.

Karena lama orang tua itu tidak kunjung membuka mulut maka Puti Andini lalu berkata. "Kek, tak lama setelah aku menginjakkan kaki di Jawa ini aku menyirap kabar tentang adanya sebuah kitab maha sakti disebut Kitab Wasiat Malaikat. Konon kitab itu berada di tangan Datuk Lembah Akhirat yang diam di sebuah lembah bernama Lembah Akhirat. Aku pernah tahu tentang Kitab Wasiat Iblis dan Kitab Putih Wasiat Dewa. Katanya Kitab Wasiat Malaikat ini jauh lebih hebat dari dua kitab itu. Menurut kabar, Datuk Lembah Akhirat akan memberikan kitab sakti itu pada siapa saja yang dianggapnya cocok. Apa kau pernah tahu hal ihwal Kitab Wasiat Malaikat itu Kek?"

"Aku memang mendengar berita itu. Bahkan apa yang ku dengar kitab itu hanya akan diberikan pada orang yang berjodoh tapi harus dari golongan putih. Lalu kabarnya telah jatuh beberapa korban dalam memperebutkan kitab tersebut. Bagaimana urusannya kurang jelas bagiku. Aku tidak tertarik untuk mendapatkannya karena urusanku jauh lebih penting. Apa kau berniat mencarinya?" tanya Tua Gila.

"Mungkin.... Siapa tahu aku berjodoh" jawab Puti Andini.

"Mudah-mudahan kau memang berjodoh mendapatkannya. Namun jika kau suka dan jika kau ada niat hendak menolong muridku Pendekar 212, ada satu hal yang bisa kau lakukan."

Mendengar disebutnya Pendekar 212 sepasang mata si gadis kelihatan membesar dan mengeluarkan cahaya. "Kek, aku akan melakukan apa saja untuk menolong muridmu itu. Katakan apa yang kau ingin aku lakukan."

"Puluhan tahun silam ketika aku dan Sinto Gendeng masih sama-sama menuntut ilmu sebagai saudara satu guru kami diwarisi dua senjata mustika sakti. Yang pertama adalah sebilah pedang putih disebut Pedang Naga Suci 212. Senjata kedua berupa sebilah kapak bermata dua disebut Kapak Naga Geni 212. Sinto Gendeng memilih Kapak Naga Geni 212 dan dia berhasil mendapatkannya. Padahal senjata itu seharusnya cocok untuk diriku yang laki-laki. Aku berembuk dengan Sinto Gendeng agar kapak diserahkan padaku dan dia mengambil pedang saja. Tapi waktu itu kami sudah berseteru karena aku berlaku culas dalam bercinta dengan dirinya. Sinto Gendeng melenyapkan diri membawa Kapak Naga Geni 212 dan sekaligus menyembunyikan Pedang Naga Suci 212 di suatu tempat. Bertahuntahun aku berusaha mencari pedang itu tapi sulit dijajagi dimana beradanya. Ketika akhirnya aku mengetahui letak penyimpananya, aku tidak berminat lagi. Sekarang kurasa tiba saatnya aku menyelusuri lagi keberadaan pedang sakti itu. Namun bukan untuk diriku dan aku tidak punya waktu untuk mencarinya. Mungkin kau berjodoh dengan Pedang Naga Suci 212 itu ...."

Puti Andini terbelalak mendengar kata-kata Tua Gila itu. "Mungkinkah aku salah dengar atau orang tua ini yang salah bicara?" pikirnya. "Pedang maha sakti itu hendak diberikannya padaku?!"

*

* *

DUATua gila menatap paras gadis di depannya beberapa lama lalu bertanya. "Mengapa kau terbelalak? Kau kira aku main-main?" Polos saja Kek, mengapa kau mau menyerahkan senjata itu padaku?" tanya Puti Andini.

"Hemmm.... Itu rupanya yang ada dalam benakmu. Baik aku tua bangka ini akan coba menjawab. Hik... hik... hik!" Tua Gila tertawa dulu baru meneruskan ucapannya. "Pertama aku sudah tua, sudah bau tanah, tinggal menunggu datangnya malaikat maut saja. Suat apa aku menghabiskan waktu mencari Pedang Naga Suci 212? Apa aku masih mau jadi jagoan? Ha... ha... ha! Kedua Pedang Naga Suci 212 itu dirancang untuk perempuan. Aku tak mau dikatakan banci karena memakai pedang perempuan. Hik... hik... hik! Yang ketiga daripada senjata itu kuberikan pada orang lain bukankah lebih baik aku berikan padamu cucuku sendiri? Hal ke empat, dulu kau dikenal dengan julukan Dewi Payung Tujuh. Gadis cantik sakti bersenjata tujuh buah payung. Sejak senjatamu dihancurkan musuh kini kulihat kau tidak lagi memiliki senjata lain...."

"Aku akan menemui seorang ahli pembuat payung di pantai utara Jawa," menerangkan Puti Andini.

"Itu bagus. Namun rasanya lebih baik kalau tujuh buah payung itu kau ganti dengan sebilah pedang. Apa kau tidak merasa berabe ke mana-mana membawa tujuh buah payung?"

Cucu Tua Gila itu mengusap pipinya beberapa kali lalu berkata. "Kek, aku mau saja mengganti payung dengan pedang. Tapi bagaimana kalau guruku Sabai Nan Rancak nanti menanyakan? Ilmu payung tujuh itu aku pelajari darinya."

"Ah itu urusanmu dengan dia. Bukankah kau pandai mencari akal? Ha... ha... hal"

Tua Gila lalu meneruskan. "Hal terakhir yang paling penting ialah Pedang Naga Suci 212

memiliki daya pengobatan luar biasa. Mungkin dengan senjata itu malapetaka yang tengah dihadapi muridku Wiro Sableng bisa dimusnahkan."

Sepasang mata Puti Andini membesar ketika mendengar nama Pendekar 212 disebutkan. "Kalau memang begitu katamu aku akan segera mencari Pedang Naga Suci 212. Namun tentu saja untuk mencari senjata itu akan memakan waktu. Apakah muridmu bisa bertahan...?" "Itulah yang aku risaukan," jawab Tua Gila. "Tadinya aku berencana pergi ke Gunung Gede tempat kediaman gurunya. Namun rasanya terpaksa aku batalkan. Lebih baik aku mencari muridku lebih dulu.... Sekarang aku akan memberitahu dimana Pedang Naga Suci 212 berada. Di dasar telaga besar Gajahmungkur!" Puti Andini tampak terkejut. "Kek, sesuai kabar yang aku sirap dan kalau aku tidak salah, bukankah telaga itu berada di tempat yang disebut Lembah Akhirat?"

Tua Gila mengangguk. "Aku tahu maksudmu. Menurut hikayat yang aku dengar, ratusan tahun silam terjadi satu bencana alam besar. Sebuah pedataran luas di barat daya Gunung Lawu tiba-tiba digoncang gempa dahsyat. Pedataran itu amblas ke pusar bumi membentuk sebuah lembah luas. Sebagian dari lembah digenangi air aliran Bengawan Solo, membentuk sebuah telaga yang kemudian diberi nama Telaga Gajahmungkur. Ratusan penduduk tenggelam menemui ajal di telaga ini. Sebagian pedataran lagi berubah menjadi lembah. Ternyata di sini lebih banyak penduduk yang amblas tertimbun tanah. Orang-orang menamakan lembah ini sebagai Lembah Akhirat. Dan kini kabarnya di tempat itu berada Kitab Wasiat Malaikat yang lebih hebat dari Kitab Wasiat Iblis ataupun Kitab Putih Wasiat Dewa. Sesuai namanya maka Kitab Wasiat Malaikat hanya boleh dikuasai oleh orang-orang golongan putih. Nah kalau kau berangkat ke tempat itu, aku harap kau lebih dulu mencari Pedang Naga Suci 212. Baru mencari Kitab Wasiat Malaikat jika memang itu juga menjadi tujuanmu...."

"Kek, Telaga Gajahmungkur itu setahuku luas bukan main. Bagaimana aku bisa menemukan Pedang Naga Suci 212 itu?"

"Aku tidak suka mendengar ucapan seperti itu!" kata Tua Gila dengan keras dan mata cekung membelalak. "Kita orang-orang persilatan tidak boleh mengenal kata tidak bisa!"

Puti Andini merasa kecut melihat wajah kakeknya sendiri. Melihat sikap cucunya itu Tua Gila tertawa dan bertanya. "Memangnya kau tidak bisa berenang?" .

"Aku bisa berenang Kek. Tapi bukan itu yang aku khawatirkan. Telaga Gajahmungkur selain luas juga dalam sekali. Mampukah aku menyelam lama untuk mencari senjata sakti itu?"

"Pasti mampu! Kau harus menyelam walaupun sampai seribu kali! Bahkan sampai kiamat! Jangan tinggalkan Telaga Gajahmungkur sebelum kau dapatkan Pedang Naga Suci 212! Itu perintah dari aku kakekmul Dan kau akan kualat kalau tidak melakukannya!"

"Aku berjanji mengikuti perintahmu itu Kek," jawab Puti Andini. "Lalu kalau Pedang Naga Suci 212 berhasil aku temukan, di mana aku akan mencari muridmu untuk mengobati?"

Tua Gila usap-usap janggut putihnya. "Kita membuat janji saja. Malam bulan purnama empat belas hari yang akan datang kita bertemu di timur Telaga Gajahmungkur. Mudah-mudahan aku telah berhasil menemukan muridku. Sekarang aku harus pergi...."

"Tunggu dulu Kek, ada sesuatu yang perlu aku beritahu padamu," kata Puti Andini seraya memegang lengan kakeknya.

"Hemm, ada apa lagi?" tanya Tua Gila. Sewaktu sang cucu hendak menjawab Tua Gila angkat tangan kirinya memberi isyarat. Lalu dengan sangat perlahan dia berkata. "Aku punya firasat ada seseorang mendengarkan pembicaraan kita. Dia bersembunyi di sekitar sini. Aku dapat mencium baunya ...."

Tua Gila dan juga Puti Andini memandang berkeliling. Tak kelihatan apa-.apa. Tibatiba dari arah kanan terdengar suara berkeresek dan muncul satu moncong panjang disusul tubuh gemuk yang kemudian berlari cepat dan lenyap dalam kegelapan malam.

"Hanya seekor babi hutan Kek. Apa yang perlu kau khawatirkan?" ujar Puti Andini.

Tua Gila tertawa mengekeh. "Mudah-mudahan penciumanku tidak saru dengan bau binatang tadi.. .. Nah, kau hendak mengatakan apa Cucuku?"

"Ketika masih berada di Pulau Andalas, aku mendengar guruku Sabai Nan Rancak

dan Datuk Angek Garang berjanji bertemu pada hari tujuh bulan tujuh di bukit Tegalrejo

dekat Candi Mendut"

Mendengar disebutnya nama Datuk Angek Garang rahang Tua Gila langsung menggembung. "Datuk keparat pembunuh muridku itu! Dia tak bakal lolos dari kematian!"

Tua Gila gerakkan jari-jari tangan kanannya. Lima tulang jarinya terdengar berkeretakan.

"Sekarang sudah delapan hari lewat dari waktu yang kau sebutkan itu. Berarti mereka sudah tak ada lagi di situ," kata Tua Gila pula.

Puti Andini gelengkan kepala. "Malam tadi tak sengaja aku melihatnya di Jenar, tengah menuju ke utara. Jika dia memang menuju ke tempat perjanjian berarti malam ini dia akan sampai di sana. Bukit Tegalrejo itu tak jauh dari sini Kek...."

"Cucuku, keteranganmu sangat penting artinya bagiku. Aku mengucapkan terima kasih. Aku akan segera menyelidiki kawasan sekitar bukit itu"

"Aku ikut bersamamu Kek!"

"Tidak bisa! Apa kau lupa tugasmu? Mencari Pedang Naga Suci 212?!" "Maafkan aku Kek," kata Puti Andini cepat. "Nah, aku pergi sekarang!" Dengan cepat Tua Gila mengenakan kembali topeng tipisnya. Maka kembali berubahlah dia menjadi seorang kakek kepala botak. Sekali berkelebat dia pun lenyap dari tempat itu.

Sesaat setelah Tua Gila berlalu Puti Andini segera pula hendak mengenakan kain hitam tutupan kepala dan menempelkan kumis palsunya. Namun tiba-tiba "bettt!"

Satu bayangan hitam berkelebat. Sesosok tubuh berdiri di depan Puti Andini membuat gadis in tersurut beberapa langkah!

"Mana dia?!" orang di depan Puti Andini membentak.

*

* *

TIGASepasang mata membeliak memperhatikan Puti Andini mulai dari kepala sampai ke kaki. Si gadis melihat seorang nenek berjubah hitam, berambut putih panjang riapriapan dan berwajah bulat dengan tahi lalat di dagu kiri. Sepuluh kuku jarinya panjang dan berwarna hitam. Perempuan tua ini bukan lain adalah Sika Sure Jelantik yang juga telah berada di tanah Jawa dalam menguntit dan mengejar Tua Gila. Sebelumnya dia telah bertekad untuk membunuh kekasih di masa mudanya itu. Namun kemudian dia dilamun oleh rasa serakah yakni ingin sekaligus mendapatkan Kalung Permata Kejora yang diketahuinya berada di tangan Tua Gila. Namun ketika tahu bahwa benda itu tak ada lagi pada Tua Gila maka dia memutuskan untuk menguntit si kakek. Sampai dia mengetahui dimana beradanya kalung sakti tersebut baru dia akan menghabisi manusia yang sangat dibencinya itu.

"Gadis tolol! Apa kau tuli atau gagu hingga tak menjawab pertanyaan orang?!" Sika Sure Jelantik menghardik garang. "Mana dia? Aku dapat mencium baunya!"

"Nek.... Siapa yang kau maksudkan?" tanya Puti Andini karena mendadak ditanya tanpa tahu ujung pangkal.

Sika Sure Jelantik hendak membentak kembali tapi kali ini dia bisa sedikit menguasai diri. "Aku mencari seorang kakek berpakaian putih. Punya janggut putih, rambut putih, kumis putih! Muka cekung dan mata selebar ini!" Si nenek pergunakan jari-jari tangannya untuk membuka lebar-lebar kedua matanya.

Otak cerdik Puti Andini cepat bekerja. "Jangan-jangan nenek ini salah satu yang pernah jadi kekasih kakekku di masa muda lalu dikecewakan. Setelah tua menjadi musuh dan kini ingin membalaskan dendam. Hemmm... Betapa pun jahatnya Tua Gila dulu, dia tetap kakekku. Aku harus membelanya. Biar aku mempermainkan nenek ini, mengajaknya bicara panjang lebar, agar Tua Gila bisa lari lebih jauh...."

Puti Andini cepat menjura. "Maafkan aku tak segera menjawab. Aku masih terkejut dengan kehadiranmu yang tiba-tiba. Pasti kau seorang berkepandaian tinggi. Aku yang muda sekali lagi mohon maaf. Mengenai orang yang kau tanya itu aku sejak tadi berada di sini dan tak melihat siapa-siapa...."

"Jangan dusta! Baunya masih tercium di tempat ini!" bentak Sika Sure Jelantik.

"Tadi memang ada yang muncul di sini Nek. Di sebelah sana. Lalu kabur ke jurusan sana. Tapi bukan manusia. Seekor babi hutan gemuk!"

"Jahanam! Kutampar mulutmu, ku rusak wajahmu yang cantik baru tahu rasa! Aku bertanya manusia mengapa kau memberikan jawaban binatang?!"

"Itulah Nek, harap kau tidak marah. Yang kulihat di sini memang hanya seekor babi hutan. Mungkin saja orang yang kau cari itu memang lewat di sini sebelum aku berada di tempat ini. Aku lihat kau seorang nenek yang baik. Jika aku bisa menolong pasti aku akan melakukan!"

"Anak bau kencur sepertimu ini bisanya apa!" ujar Sika Sure Jelantik masih marah tapi sudah agak mengendur. "Kau sendiri mengapa malam-malam buta begini ada di sini?"

Puti Andini mulai bersandiwara. Dia tak segera menjawab tapi unjukkan wajah murung. Lalu dengan suara agak tersendat dia menjawab. "Aku.... Ada tugas yang harus kulakukan. Aku harus menemukan sebuah batu hitam yang kabarnya berada di dasar Telaga Gajahmungkur...."

"Ada-ada saja kau ini! Kalau cuma sebuah batu hitam di mana pun ada. Mengapa sampai mencari ke dasar telaga? Kau mau berapa gerobak batu hitam hah?!"

"Yang kucari bukan batu hitam biasa Nek," jawab Puti Andini. "Batu itu memiliki mukjizat besar untuk mengobat penyakit.... Kabarnya ada di dasar Telaga Gajahmungkur."

"Eh, memangnya siapa yang sakit?" Sika Sure Jelantik mulai tertarik.

"Ibuku..." jawab Puti Andini.

"Apa sakit ibumu sampai hanya sebuah batu yang mampu mengobatinya?"

"la menderita sakit dan sengsara batin karena ditinggal ayah. Ayah tergoda oleh seorang gadis penghibur lalu meninggalkan ibu begitu saja sejak setahun silam.... Aku telah berupaya mencari dukun, tabib dan berbagai orang pandai tapi sia-sia saja. Seorang sakti mengatakan tentang batu hitam itu. Hanya itu kini satu-satunya harapanku untuk mengobati ibu...."

"Dasar laki-laki! Semua memang jahanam!" kata Sika Sure Jelantik pula sambil mengepalkan tinju.

Puti Andini menyeka matanya dengan ujung baju merah dan memperkeras isakannya.

"Jangan menangis! Aku paling tidak suka melihat orang menangis! Apa lagi perempuan! Itu sebabnya lelaki mencemoohkan kita sebagai makhluk lemah! Setan betul!"

"Aku menangis bukan karena apa Nek. Tapi karena aku sangat khawatir tak bakal pernah bisa mendapatkan batu hitam pengobat ibuku itu."

"Eh, mengapa begitu? Bukankah kau sudah tahu batu itu berada di dasar Telaga Gajahmungkur?"

"Betul Nek. Tapi telaga itu luas dan dalam sekali. Walau aku bisa berenang tak mungkin aku sanggup menyelam berlama-lama...."

Dua bola mata Sika Sure Jelantik membesar. "Anak ini seperti tahu aku punya kepandaian menyelam dalam air. Jangan-jangan dia sengaja hendak mengajakku...."

"Nek, mengapa kau memperhatikan aku melotot begitu rupa?" tanya Puti Andini sedih.

"Tidak, tidak apa-apa," jawab Sika Sure Jelantik.

"Kalau begitu izinkan aku pergi. Aku harus mencari batu itu sampai dapat...."

"Tunggu dulu...!" Si nenek berkata.

"Kau ingin mengatakan sesuatu Nek?"

"Aku akan memberikan satu ilmu kepandaian padamu. Tapi hanya punya kekuatan selama seratus hari...."

Puti Andini unjukkan wajah kaget. "Ilmu... ilmu apa yang hendak kau berikan padaku Nek?"

"Agar kau bisa berada dalam air dalam waktu lama. Agar kau bisa menyelam sampai ke dasar telaga dan mencari serta mendapatkan batu hitam pengobat ibumu itu!"

"Nek, kau tidak main-main atau bagaimana? Kita baru saja kali ini bertemu tapi kau hendak memberikan ilmu kepandaian...."

"Sudahlah, jangan banyak bertanya! Sebelum ilmu itu aku berikan padamu kau harus berjanji! Setelah ibumu sembuh kau harus mencari ayahmu, memintanya kembali pada ibumu...."

"Aku akan lakukan petunjukmu itu Nek. Tapi bagaimana kalau ayahku menolak?"

"Kau harus membunuhnya! Laki-laki seperti ayahmu itu harus disingkirkan dari muka bumi! Jika kau tidak bersedia mengikat perjanjian, ilmu itu tidak akan kuberikan...."

Puti Andini pura-pura termenung. Sejurus kemudian dia menganggukkan kepala.

"Aku berjanji Nek."

"Satu hal perlu kau ketahui. Begitu ilmu itu masuk ke dalam tubuhmu kau akan tergeletak pingsan selama satu hari satu malam di tempat ini...."

Paras Puti Andini jadi berubah. "Kalau begitu.... Maukah kau menolong meletakkan aku di tempat yang aman? Aku khawatir kawasan ini banyak celengnya. Bisa-bisa...."

"Jangan terlalu banyak meminta. Kalau kau sudah kuberi ilmu dan kau pingsan, bukan urusanku lagi mengurus dirimu! Katakan kau mau ilmu itu atau tidak? Terserah!"

"Baik Nek, bagaimana menurutmu sajalah!" jawab Puti Andini.

"Sekarang mendekat ke sini!"

Murid Sabai Nan Rancak itu melangkah ke hadapan Sika Sure Jelantik.

"Dongakkan kepalamu dan pejamkan mata!" perintah si nenek selanjutnya seraya melipat jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya.

Puti Andini lakukan apa yang dikatakan si nenek. Begitu dia mendongak dan pejamkan mata tiba-tiba dia merasakan ada dua benda tumpul menekan dan menutup sepasang lobang hidungnya. Satu aliran hawa dingin mengalir masuk ke dalam jalan pernafasannya. Kepalanya terasa mau pecah. Lidahnya terjulur dan sepasang bola matanya seperti mau melompat dari rongganya. Gadis ini keluarkan pekik kesakitan lalu roboh tak sadarkan diri.

Sika Sure Jelantik menghela nafas dalam. Dia membungkuk mengusap wajah Puti Andini hingga mata dan mulutnya terkatup kembali. Tiba-tiba seolah baru sadar si nenek berkata. "Tololnya diriku. Aku sama sekali tidak menanyakan namanya! Ah sudahlah" Si nenek pandang wajah gadis itu sekali lagi lalu tinggalkan tempat itu.

*

* *

EMPATatu pemandangan luar biasa tampak di hutan Delanggu. Sebuah tandu besar terbuat dari lima buah batang pohon kelapa dipanggul oleh empat orang kakek bertubuh tinggi kerempeng. Gerakan mereka lincah dan cepat menyeruak di antara semak belukar dan kerapatan pepohonan. Padahal lima batang kelapa itu beratnya bukan main. Apalagi diatas tandu itu kelihatan bergelung sesosok tubuh gemuk luar biasa. Suara dengkurnya yang berkepanjangan menandakan si gendut ini tengah tertidur lelap. Namun anehnya sebuah pipa panjang yang mencantel di sela bibirnya terus saja mengepulkan asap, menebar bau tembakau yang tidak sedap. Siapakah adanya orang gemuk yang ditandu oleh empat kakek kurus itu? Dia bukan lain adalah Si Raja Penidur, dedengkot dunia persilatan yang sulit dijajagi ilmunya. Selama hidupnya yang puluhan tahun dia lebih banyak tidur daripada melek. Sebenarnya jarang dia pergi ke mana-mana. Kalau dia terpaksa meninggalkan tempat kediamannya maka berarti ada satu hal penting yang terjadi di dunia persilatan. Untuk pergi ke mana-mana dia selalu ditandu oleh orang-orang yang juga berpenampilan aneh. Seperti empat kakek kurus kerempeng itu. Jangankan memanggul lima batang kelapa, menggotong batang pohon biasa saja rasanya mereka tidak akan sanggup. Tapi buktinya walau berempat mereka sanggup memanggul lima batang kelapa yang dijadikan tandu dan dibebani sosok tubuh ratusan kati itu!

Sekeluarnya dari hutan Delanggu empat kakek memanggul tandu ke arah barat lalu menyusuri kawasan selatan Gunung Merapi. Setelah menyeberangi sebuah sungai dangkal Si Raja Penidur terus dilarikan ke jurusan barat laut hingga akhirnya sampai di satu bukit kecil. Salah seorang kakek di sebelah depan angkat tangan kirinya memberi tanda. Tiga kawannya segera hentikan lari.

"Ini bukit yang dikatakan Raja Penidur! Kita berhenti di sini, menunggu sampai dia bangun dan menerima petunjuk selanjutnya!"

Perlahan-lahan tandu batang kelapa itu diturunkan.

"Kalau begitu lekas kita membuat teratak untuk berlindung dan bermalam. Kita tidak tahu kapan Raja Penidur akan bangun. Mungkin seminggu. Bisa juga sebulan lagi!" berkata kakek kurus di sebelah belakang sambil membetulkan celananya yang kedodoran. Empat kakek cabut golok panjang dari balik pinggang masing-masing lalu berbagi kerja menebangi pohon dan mengumpulkan ranting-ranting berdaun untuk dibuat gubuk. Menjelang petang pekerjaan itu rampung. Selagi ke empatnya melepaskan lelah, tiba-tiba dengkur Raja Penidur berhenti. Empat kepala cepat berpaling. Di atas tandu batang kelapa sosok Raja Penidur tampak bergerak menggeliat. Asap dari pipa mengepul keras. Lalu terdengarlah suara si gemuk ini batuk-batuk.

"Malam apa siang saat ini...?" Si Raja Penidur ajukan pertanyaan. Suaranya parau. Apalagi saat itu pipa panjang masih terselip di sela bibirnya.

"Saat ini sore hari, Raja Penidur. Masih cukup lama sebelum matahari tenggelam." Menjawab salah seorang dari empat kakek.

"Hemmm...." Raja Penidur bergumam lalu menguap lebar-lebar. Jari kelingking tangan kanannya dimasukkan ke dalam liang telinga kanan lalu digoyang-goyangkan beberapa kali. Sepasang mata-nya tampak terbalik-balik tanda mencungkil telinga itu nikmat sekali baginya. "Aku mendengar ada orang melangkah di kejauhan. Salah satu dari kalian lekas menyelidik ke arah timur. Cari orang itu. Jika bertemu jangan berkata apa-apa tentang diriku. Bawa langsung ke sini!" Raja Penidur lalu menguap kembali. Dia membalikkan badannya ke kiri. Gerakannya kini membuat batang-batang pohon kelapa yang menahan tubuhnya berderak-derak. Salah seorang dari empat kakek cepat berdiri. Dia segera bergegas ke jurusan timur. Tak lama berselang di kejauhan, dari arah depan dia melihat seorang berpakaian putih berjalan menuruni lereng bukit.

"Apa yang dikatakan Raja Penidur tidak meleset. Pasti orang ini yang dimaksudkannya...." Si kakek segera memapasi orang itu. Ternyata dia adalah seorang pemuda berambut gondrong, berwajah pucat. Di balik pakaiannya ada sesuatu yang menyembul tanda dia membekal senjata. Pemuda ini berjalan tertatih-tatih, entah kecapaian entah sedang sakit. Melihat ada orang sengaja mendatanginya pemuda itu hentikan langkahnya.

"Anak muda bermuka pucat! Lekas kau ikut dengan aku!"

Yang ditanya pandangi kakek kurus tinggi di hadapannya sesaat lalu berkata. "Orang tua, aku tidak kenal denganmu, mengapa aku harus ikut bersamamu?"

"Jangan banyak cerita! Aku tidak punya waktu banyak! Ayo lekas ikut!"

Si pemuda menyeringai dan garuk-garuk kepala. "Kalaupun kau seorang gadis cantik, belum tentu aku mau ikut! Coba katakan dulu siapa kau adanya! Mengapa aku harus ikut denganmu dan ikut ke mana?!"

"Kau membuat aku kehilangan kesabaran!" Si kakek mengomel. Dia melompat ke depan siap untuk menyergap dan meringkus. Pemuda berambut gondrong sambut sergapan orang dengan satu jotosan ke arah dada. .

"Bukkk!"

Jotosan itu tepat menghantam dada yang kurus kerempeng. Tapi si kakek sama sekali tidak bergeming malah pemuda yang memukul tampak mengernyit dan kibas-kibaskan tangannya yang terasa sakit. Selagi dia kesakitan begitu rupa kakek di hadapannya kembali menyergap.

"Tunggu! Katakan dulu siapa kau adanya!" teriak pemuda gondrong.

"Tutup mulutmu! Kau mau ikut secara baik-baik atau aku terpaksa menurunkan tangan keras?!"

"Hemmmm, aku sekarang bisa menduga siapa kau adanya. Jangan-jangan kau bangsa tua bangka yang doyan daun muda, suka sesama jenis!"

"Jahanam! Kalau tidak menjalankan perintah akan kurobek mulutmu!" teriak si kakek kurus marah sekali. Sekali dia berkelebat maka pemuda di hadapannya terhuyung ke kiri. Lalu cepat sekali tangan kirinya menyambar tengkuk baju putih si pemuda dan di lain kejap pemuda itu telah berada di atas bahu kirinya lalu dilarikan ke arah dari mana tadi dia datang. Tak selang beberapa lama si kakek sampai kembali ke tempat Raja Penidur dan tiga temannya berada. Lima batang pohon kelapa berderak-derak begitu Si Raja Penidur membalikkan tubuh sambil menguap lebar-lebar. Kedua matanya masih saja terpicing.

"Kau berhasil menemukan orang itu?!" Raja Penidur bertanya.

"Aku berhasil! Dia bersamaku saat ini!" jawab kakek yang datang membawa sosok pemuda berpakaian putih di bahunya.

"Lemparkan dia ke perutku!"

Si kakek goyangkan bahunya. Tubuh pemuda yang dipanggulnya melesat ke atas setinggi tiga tombak lalu melayang jatuh ke bawah dengan deras.

"Blukkk!"

"Uhhhh!" Si pemuda mengeluh kesakitan walau tempat jatuhnya itu terasa empuk. Rasa empuk yang aneh. Hidungnya mencium bau tembakau terbakar. Dia angkat kepala dan memandang berkeliling, berusaha mencari tahu di mana dia berada dan yang lebih penting mengetahui di atas apa dia barusan jatuh tertelungkup. Dia melihat baju hitam luar biasa besarnya dan tidak terkancing. Dia melihat tubuh gemuk berlemak dan berkeringat! Lalu dia melihat wajah serta pipa panjang yang mengepulkan asap itu.

"Astaga! Raja Penidur! Kau rupanya!" Pemuda ini segera hendak turun dengan cara menggelindingkan dirinya dari tubuh yang gemuk besar itu. Namun belum sempat dia bergerak tangan kiri yang gemuk besar Raja Penidur datang menyambar. Kepala pemuda berambut gondrong langsung tenggelam ke dalam rangkulannya. Celakanya bagian muka masuk ke dalam ketiak! Membuat bukan saja si pemuda pengap sulit bernafas tapi juga seperti mau tanggal hidung dan pecah kepalanya oleh bau ketiak yang menghimpit mukanya! Perutnya laksana diaduk-aduk dan mulutnya mau muntah!

"Raja Penidur.... Uhh... uhh! Lepaskan cekalanmu! Aku Wiro Sableng!"

Si pemuda berpakaian putih dan berambut gondrong yang ternyata adalah Pendekar 212 Wiro Sableng pergunakan kedua tangannya untuk melepaskan pitingan tangan Si Raja Penidur. Tapi bagaimanapun dia berusaha tetap saja tak mampu. Dalam pelukan Raja Penidur dia berteriak terus-terusan.

"Kakek Raja Penidur! Lepaskan! Aku Wiro Sableng, murid Sinto Gendeng. Kau sobatku dan sobat guruku! Lepaskan.... Aduh! Uhhh!"

Si Raja Penidur menguap lebar-lebar. Pipanya mengepulkan asap berbau tidak enak.

"Kakek Raja Penidur!" teriak Wiro sekali lagi.

"Uaaahhhh!" Kembali tokoh silat aneh itu menguap.

"Kek! Kalau kau tidak mau melepas cekalanmu aku terpaksa menendang perutmu! Kalau aku salah tendang bijimu bisa pecah!"

"Uaahhh! Ha... ha... ha...!" Asap tembakau me ngepul makin keras. Wiro semakin pengap dan terbatuk-batuk. "Aku mau lihat sampai di mana kehebatan murid Sinto Gendeng! Ayo tendang apa saja dari tubuhku yang bisa kau tendang! Uaahhh!" Meskipun sudah bicara tapi sepasang mata Si Raja Penidur tetap saja terpejam!

"Kalau itu maumu baik! Jangan salahkan diriku!" teriak Wiro, lalu sikut kanannya dihantamkan ke dada Raja Penidur. Menyusul tumitnya dihunjamkan ke perut. Belum juga terlepas cekalan si gendut itu Wiro hantam lambung Raja Penidur dengan tendangan keras. Semua serangan itu tentu saja hanya mengandalkan tenaga luar yang tidak punya daya kekuatan apa-apa lagi.

"Uaahhh! Murid Sinto Gendeng, kau memukuli dan menendangiku atau tengah mengusap-usap tubuhku?! Ha... ha... ha!"

"Sialan!" Maki Wiro dalam hati. "Kau rasakan yang ini!" Lalu dibukanya mulutnya lebar-lebar, siap menggigit dada Raja Penidur yang gembrot.

Uaaahhh!" Walau matanya masih terpejam tapi Raja Penidur tahu apa yang hendak dilakukan murid Sinto Gendeng itu. Masih memiting kepala Wiro dia balikkan tubuhnya. Gerakannya ini tak ampun lagi membuat sebagian tubuh Pendekar 212 terhimpit. Wiro merasa tubuhnya seperti hancur. Selagi dia mengeluh kesakitan Raja Penidur kembali membalik. Kini bagian tubuh Wiro yang lain yang kena tersepit. Ternyata apa yang dilakukan si gendut itu tidak cuma sampai di situ. Dia bukan cuma menjepit atau menghimpit tubuh Wiro dengan badannya yang gemuk berat tapi juga membantingnya kian kemari. Sekali dia mencekal tengkuk Wiro lalu kepala pemuda itu dihunjamkan ke dadanya yang gembrot. Kadang-kadang dia memegang kaki atau tangan Pendekar 212 terus membantingkannya ke atas perutnya. Demikian berulangkali. Kalau mula-mula Wiro masih bisa mengeluarkan suara berteriak kesakitan, lama-lama suaranya hanya tinggal erangan. Keadaannya mulai dari rambut sampai ke kaki tidak karuan rupa!

Raja Penidur tertawa mengekeh lalu menguap dua kali. "Anak muda! Kau hanya bisa berteriak! Tidak berpikir apa arti semua ini! Aku muak padamu! Kau hanya mengganggu tidurku saja! Pergi sana!"

Lalu sekali tangannya bergerak tubuh Pendekar 212 terlempar ke samping dan jatuh tertelentang di tanah.

"Uaahhhh!" Raja Penidur menguap lebar-lebar lalu setelah menghembuskan asap pipanya dia jentikkan tangan kiri. Salah satu dari empat kakek kurus tinggi segera mendekati. Dari balok pakaiannya Raja Penidur kemudian mengeluarkan segulung kain berwarna merah.

"Letakkan jubah ini di atas tubuh pemuda itu! Tidak! Kau taruh di atas kepalanya saja agar kepala dan wajahnya tertutup. Kasihan juga kalau malam nanti mukanya yang jelek itu habis digerogoti nyamuk! Ha... ha... ha!"

Kakek yang tegak di samping Si Raja Penidur segera mengambil jubah yang disodorkan lalu meletakkan benda ini sedemikian rupa hingga kepala dan wajahnya tertutup.

Kain berwarna merah itu ternyata adalah sehelai jubah beludru merah berlapis kain sutera juga berwarna merah. Seluruh tepi jubah diberi umbai-umbai yang terbuat dari benang warna emas.

"Uaahhhh!" Si Raja Penidur kembali menguap. Lalu dia bertepuk empat kali. Empat kakek kurus tinggi yang sejak tadi hanya diam berdiri memperhatikan apa yang terjadi, mendengar isyarat tepukan itu serta merta mengangkat tandu batang kelapa. Mereka segera menggotong Si Raja Penidur ke arah selatan. Di kejauhan suara dengkurnya terdengar membahana!

*

* *

LIMAemeletak suara roda-roda gerobak dan kaki-kaki kuda terdengar tiada putusputusnya di malam cerah itu. Di angkasa bulan sabit dan bintang-bintang menerangi kawasan yang dilalui hingga kuda penarik gerobak dapat dipacu kencang. Pengemudi atau kusir gerobak seorang lelaki tua tinggi besar bertampang garang. Kulitnya sangat hitam. Jenggot serta kumisnya tebal meranggas. Di atas kepalanya bertengger sebuah destar merah. Pakaiannya yang serba hitam dan gombrong menambah keangkerannya.

Saat itu kuda penarik gerobak telah berlari kencang laksana dikejar setan. Namun sang pengemudi masih juga mendera kuda itu dengan cambuk di tangan kirinya. Jelas dia ingin cepat sampai ke satu tujuan dan punya satu urusan sangat penting.

"Binatang jahanam! Larimu seperti kuda bunting! Ayo lari lebih cepat! Cepaaattt!"

Pengemudi gerobak berteriak. Lalu cambuk di tangan kirinya kembali dihantamkan ke punggung kuda. "Delapan hari aku terlambat! Sesuai perjanjian dia akan menunggu paling lama delapan hari dari saat pertemuan yang telah ditentukan. Ini adalah malam terakhir jika dia memang masih ada di tempat itu! Jahanam! Kalau saja aku tidak terpikat pada pelacur berbadan sintal itu tak bakal jadi begini! Mengapa aku tolol sekali! Urusan penting aku sepelekan begitu saja!"

"Darrr... darrr... darrr!"

Si tinggi besar kembali hantamkan cambuknya ke tubuh kuda penarik gerobak. Tibatiba dia tarik tali kekang yang dipegangnya di tangan kanan. Serta merta kuda penarik gerobak tertahan larinya. Beberapa belas tombak di hadapannya tampak melintang satu batang kayu besar menghalangi jalan. Di atas batang kayu ini duduk seorang tua tak dikenal, berkepala botak. Dari mulutnya meluncur suara nyanyian.

Jauh berjalan banyak nan dilihat

Lama hidup banyak nan dirasa

Salah jalan bisa tersesat

Salah hidup bisa celakaPengemudi gerobak berusaha menghentikan larinya kuda dengan menarik tali kekang kuat-kuat. Empat kaki kuda menggeru tanah. Debu dan pasir beterbangan di udara. Walau kuda berusaha menghentikan larinya namun dorongan gerobak yang ditariknya demikian hebat hingga binatang ini tak dapat lagi menghindari tabrakan dengan orang tua berkepala botak dan batang pohon.

Sekejap lagi tabrakan itu akan terjadi, orang tua berkepala botak melesat lenyap. Kuda meringkik keras. Dua roda gerobak menghantam batang pohon. Selanjutnya kuda dan gerobak sama-sama tergelimpang dan terbanting ke tanah! Orang di atas gerobak sendiri keluarkan seruan keras. Tubuhnya melesat ke udara, jungkir balik lalu melayang turun dengan sepasang kaki menjejak tanah lebih dulu. Jelas orang ini memiliki kepandaian tinggi. Kalau tidak sejak tadi-tadi dia sudah terhempas berkelukuran di tanah!

"Jahanam! Kemana perginya tua bangka kepala botak itu?!" ujar si tinggi besar berkepala botak. Selagi dia mencari-cari tiba-tiba kembali terdengar suara nyanyian.

Jauh berjalan banyak nan dilihat

Lama hidup banyak nan dirasa

Salah jalan bisa tersesat

Salah hidup bisa celakaSi tinggi besar ini palingkan kepalanya ke kiri. Di sebelah sana, di atas gerobak yang terbalik dilihatnya kakek kepala botak duduk di atas roda gerobak yang berputar-putar. Dia menyanyi sambil sengaja ikut memutarkan diri pada roda gerobak!

"Setan alas!" Lelaki tua tinggi besar merutuk. Matanya berkilat-kilat. Rahangnya menggembung dan dari mulutnya terdengar suara bergemeletakan tanda dirinya telah dibungkus kemarahan.

Kalau jalan sudah tersesat

Sulit balik untuk kembali

Kalau hidup mencari celaka

Kutuk sengsara segera tibaSekali melompat kusir kereta itu sampai di depart gerobak yang terbalik.

"Tua bangka gila! Siapa kau?! Mengapa sengaja menghadang jalanku!"

Roda gerobak terus berputar. Kakek botak yang duduk berjuntai di pinggiran roda gerobak ikut berputar-putar.

"Kau tak menjawab pertanyaanku! Makan ini!"

Si baju gombrong hitam menunggu orang tua di atas roda gerobak berputar sampai di hadapannya. Lalu secepat kilat tangan kanannya melesat ke arah muka orang yang saat itu masih saja terus-terusan menyanyi.

"Bukkkk"

Dua lengan beradu keras di udara ketika orang yang diserang menangkis. Si tinggi besar baju gombrong tersurut satu langkah sambil mengernyit menahan sakit pada lengannya yang barusan bentrokan. Roda gerobak terus berputar. Begitu orang tua botak sampai lagi di hadapannya kembali si baju gombrong hitam menghantam. Kali ini sekaligus dengan pukulan kiri kanan.

Kakek botak di atas roda yang berputar tiba-tiba membuat gerakan aneh. Kedua kakinya jingkrak-jingkrakan. Kepalanya bergerak menghuyung kian kemari seperti kepala seekor ular mabok. Tangannya direntang-rentang membuat gerakan aneh. Tubuh-nya seperti mau terjungkal jatuh dari atas roda gerobak. Namun aneh dan luar biasanya semua gerakan yang dibuatnya itu mampu mengelakkan serangan maut yang dilancarkan lawan!

"Bangsat tua! Kau mau lari ke mana?!" teriak si tinggi besar ketika dilihatnya orang tua berkepala botak itu tidak ada lagi di atas roda gerobak. Tiba-tiba di belakangnya terdengar suara nyanyian.

Hari tujuh bulan tujuh di bukit Tegalrejo

Datang dari jauh untuk janji bertemu

Sayang maksud tak pernah kesampaian

Nyawa yang terhutang harus dilunasi lebih duluSi tinggi besar berpakaian serba hitam gombrong palingkan kepala. Darahnya tersirap oleh rasa kaget mendengar bait-bait nyanyian yang dilantunkan orang tua berkepala botak tak dikenalnya itu.

"Siapa jahanam ini sebenarnya. Bagaimana dia bisa tahu perihal perjanjianku di bukit Tegalrejo?!" Sehabis membatin begini dia melompat ke hadapan si tua botak yang saat itu duduk menjelepok di tanah di pinggir jalan.

"Tua bangka sinting! Siapa kau sebenarnya?!"

Yang ditanya dongakkan kepala. Sepasang matanya menatap tajam pada orang yang tegak di hadapannya membuat si tinggi besar ini jadi tergetar. Lalu mulutnya terbuka lebar dan terdengar suara tawanya berkekehan.

"Jika kau masih terus bersikap gila dan tak mau menjawab pertanyaanku, terpaksa kupecahkan kepalamu!" Orang tua di hadapan kakek botak tak dapat lagi menahan marahnya. Kaki kanannya ditendangkan ke kepala si botak.

Tubuh kakek yang diserang tampak terhuyung aneh. Kepalanya seperti tersentak ke samping. Tendangan maut lawan lewat hanya seujung kuku di samping kepalanya. Begitu tendangan orang tidak mengenai sasaran tubuh kakek botak mencelat ke atas dan "Buk!" Satu jotosan mendarat di pelipis si tinggi besar. Tubuhnya terpelanting. Darah mengucur membasahi mukanya yang hitam!

Terdengar suara tawa mengekeh disusul suara nyanyian.

Darah telah mengucur

Pertanda raga akan segera hancur

Darah telah mencuat

Pertanda nyawa sebentar lagi akan minggatDatuk Angek Garang sayang sekali kau tak punya kesempatan minta ampun dan bertobat!

Mendengar namanya disebut terkejutlah si tinggi hitam berpakaian gombrong. Memang sebenarnya dia adalah Datuk Angek Garang, seorang tokoh silat dari Andalas yang berserikat dengan Sabai Nan Rancak untuk membunuh Tua Gila. Dia pula yang membunuh Malin Sati, murid tunggal Tua Gila. Datuk Angek Garang pergunakan lengan baju hitamnya untuk mengusap darah yang membasahi sebagian wajahnya. Mulutnya komat-kamit entah hendak mengucapkan apa. Sepasang matanya memandang menyorot ke arah orang tua berkepala botak yang tegak di hadapannya sambil tertawa-tawa. Perlahan-lahan Datuk Angek Garang angkat ke dua tangannya. Telapak tangan digosokkan satu sama lain. Dari sela-sela jarinya keluar kepulan asap hitam. Bersamaan dengan itu menebar bau busuk sekali.

"Pukulan Hawa Neraka! Ha... ha... ha..!" Kakek botak tertawa gelak-gelak.

"Bagus! Kau sudah tahu pukulan sakti apa yang akan kukeluarkan untuk membungkam mulut serta jalan nafasmu!" ujar Datuk Angek Garang.

"Kau sangat pandai memberi nama ilmu pukulan bau kentut itu Datuk Angek Garang! Justru hawa neraka itulah yang akan mengantar rohmu ke alam akhirat! Ha... ha...ha!"

Bersamaan dengan itu kakek botak lepaskan topeng yang menutupi kepala dan wajahnya.. Maka kelihatanlah wajahnya yang asli.

"Tua Gila..." desis Datuk Angek Garang dengan suara bergetar. Diam-diam dia menjadi kecut. Dulu di Andalas bersama Sabai Nan Rancak dan Magek Bagak Baculo Duo dia tak sanggup menghabisi kakek aneh ini. Sekarang berhadapan hanya seorang diri bagaimana mungkin nyalinya tidak akan leleh. Maka dia kerahkan seluruh tenaga dalam yang ada. Kedua tangannya lalu dihantamkan ke depan. Dua larik sinar hitam menggebu. Bau sangat busuk menghampar membuat Tua Gila seperti tersumbat jalan pernafasannya. Lehernya seperti dicekik. Dengan cepat orang tua ini kerahkan tenaga dalam. Sambil berteriak keras dia melesat ke udara. Dart balik pakaian putihnya dicabutnya sebuah tongkat kayu. Lalu laksana seekor burung elang yang menyambar mangsanya Tua Gila melayang menukik ke bawah. Tongkat di tangan kanan berkiblat!

"Kraaakk!"

Datuk Angek Garang menjerit keras ketika tulang telapak dan jari-jari tangan kirinya hancur kena pukulan tongkat. Walau tongkat itu hanya sebuah tongkat kayu terbuat dari kayu butut dan enteng, tetapi di tangan Tua Gila seolah berubah menjadi palu besi!

"Tua Gila! Aku mengadu jiwa denganmu!" teriak Datuk Angek Garang. Dia kembali melepaskan pukulan Hawa Neraka dengan tangan kanannya. Namun serangan ini disusul dengan satu lompatan. Selagi tubuhnya melayang satu tombak di udara dia kebutkan lengan baju hitamnya yang gombrong. Tiba-tiba tiga buah keris kecil aneh berwarna merah dan mengeluarkan api menderu ke arah Tua Gila, mencari sasaran di tiga bagian tubuh orang tua ini.

Tua Gila mendengar deru serangan senjata rahasia itu. Namun pemandangannya tertutup oleh asap hitam Pukulan Hawa Neraka. Dia membuat gerakan jungkir batik untuk mengelakkan serangan sambil putarkan tongkat kayunya ke samping sedemikian rupa untuk melindungi dirinya. Karena dia mengerahkan seluruh tenaga dalamnya maka tongkat itu berubah menjadi gulungan sinar coklat yang hebat.

"Bummm!"

Dua tenaga dalam bentrokan keras. Dua keris merah api berhasil dibuat mental. Tapi keris yang ke tiga menyusup lebih cepat dan berhasil menancap di bahu kiri Tua Gila. Pakaian yang dikenakan si kakek langsung terbakar. Tubuhnya yang ditancapi keris api laksana dipanggang. Tua Gila menjerit keras saking sakit dan marah. Tongkat kayunya mental dan hancur berkeping-keping di udara.

Dengan terlebih dulu menutup jalan nafasnya tua Gila melompat menerobos kepulan asap hitam Pukulan Hawa Neraka. Saat. itu di balik kepulan pukulan saktinya sendiri Datuk Angek Garang tampak tegak terbungkuk-bungkuk sambil pegangi dada. Sepasang matanya mendelik. Dari mulutnya mengucur darah kental.

"Datuk Angek Garang! Kau membunuh muridku! Hari ini kau terima balasanmu! Aku inginkan nyawamu manusia anjing!"

Apa yang terjadi kemudian berlangsung sangat cepat.

Datuk Angek Garang meraung keras ketika mata kirinya amblas kena tusukan dua ujung jari tangan kanan Tua Gila. Namun suara raungan ini serta merta lenyap laksana direnggutkan setan begitu satu renggutan dahsyat merobek leherya, mematahkan tulang leher dan membusai otot serta urat-urat besar di leher itu!

Tua Gila tegak terhuyung-huyung memperhatikan Datuk Angek Garang yang terkapar mati di depan kakinya setelah terlebih dulu menggelepar-gelepar beberapa kali. Dalam keadaan terluka Tua Gila berusaha membalikkan gerobak yang terbalik. Kuda penarik gerobak yang masih ketakutan diusapnya berulang kali hingga menjadi jinak. Lalu dengan satu tendangan tubuh Datuk Angek Garang dibuatnya mencelat dan jatuh menelungkup di atas gerobak. Di salah satu bagian depan gerobak ada sebuah obor. Tua Gila segera menyalakan obor ini.

"Kuda baik.... Kau tahu ke mana tujuanmu semula. Pergi ke bukit Tegalrejo. Bawa mayat itu..." kata Tua Gila sambil mengelus leher kuda penarik gerobak.

Seolah mengerti apa kata orang binatang itu meringkik keras lalu bergerak ke arah timur setelah Tua Gila menyingkirkan batu kayu yang menghalangi jalan. Tua Gila sendiri mungkin karena kehabisan tenaga atau terlalu banyak darah yang mengucur, mungkin juga ada racun dalam tubuhnya dari keris merah api tiba-tiba mengeluh pendek lalu roboh di tanah.

*

* *

ENAMDi lereng timur Bukit Tegalrejo nenek bermuka putih keriput Sabai Nan Rancak nampak gelisah setelah Kakek Segala Tahu meninggalkannya seorang diri dalam menanti kedatangan sobatnya yakni Datuk Angek Garang. Bukan saja dia gelisah karena telah lewat delapan hari waktu yang ditentukan Datuk Angek Garang belum juga muncul, tetapi lebih dari itu apa yang dikatakan Kakek Segala Tahu melipat gandakan kegelisahan itu. (Seperti dituturkan dalam Episode sebelumnya Asmara Darah Tua Gila).

Kakek Segala Tahu telah meramalkan padanya bahwa Datuk Angek Garang, orang yang ditunggunya tak akan pernah datang. Kalaupun dia muncul di kaki Bukit Tegalrejo itu maka dia akan muncul tanpa nyawa.

Sabai Nan Rancak menghela nafas panjang. Lalu telinganya menangkap suara gemeretak roda. Memandang ke kaki bukit sebelah timur dalam kegelapan malam Sabai Nan Rancak melihat sebuah gerobak ditarik seekor kuda tanpa kusir, ada obor menyala di bagian depannya, bergerak perlahan menuju kaki bukit. Hatinya mendadak tidak enak. Dengan cepat nenek ini berkelebat menuruni bukit hingga dalam waktu singkat dia telah berada di depan gerobak. Sabai mengusap leher kuda itu beberapa kali lalu memegang tali kekangnya. Begitu kuda dan gerobak berhenti si nenek memeriksa bagian belakang gerobak. Parasnya langsung berubah dan matanya membeliak.

"Datuk Angek Garang!" desis si nenek dengan tenggorokan tercekik. Di atas gerobak menggeletak satu sosok tubuh berpakaian gombrong warna hitam. Kepalanya memakai sebuah destar merah. Dari ciri-ciri orang itu jelas sudah bagi Sabai Nan Rancak bahwa dia adalah Datuk Angek Garang, sobat yang sesuai perjanjian akan menemuinya di tempat itu pada hari tujuh bulan tujuh.

Sabai pandangi lagi tubuh yang menggeletak menelungkuk itu. "Aku harus melihat mukanya. Jangan-jangan hanya ciri-ciri saja yang sama. Siapa tahu bukan dia..." Berpikir sampai di situ dengan tangan kirinya Sabai Nan Rancak balikkan tubuh di atas gerobak hingga tertelentang. Begitu matanya memandang tubuh dan muka orang yang ada di lantai gerobak itu si nenek sampai tersurut tiga langkah saking ngerinya. Meski tampang Datuk Angek Garang sebagian tertutup darah, salah satu matanya terbongkar dan lehernya seolah habis dimangsa harimau lalu tangan kirinya hancur namun Sabai Nan Rancak masih bisa mengenali. Orang yang telah jadi mayat mengerikan di atas gerobak itu memang adalah Datuk Angek Garang.

"Kakek Segala Tahu..." desis Sabai Nan Rancak begitu dia ingat pada kakek bercaping, berpakaian compang camping membawa tongkat kayu dan kaleng rombeng itu.

"Apa yang dikatakannya betul. Jangan-jangan ia yang telah membunuh Datuk Angek Garang. Lalu datang memberitahu pura-pura meramal! Kurang ajar! Aku akan menyelidik dan mencarinya. Jika benar dia yang membunuh sobatku ini, akan kukorek jantungnya! Aku tak ada waktu mengurus mayat ini!" Sabai Nan Rancak gebrak pinggul kuda. Binatang penarik gerobak meringkik keras lalu menghambur lari laksana dikejar setan.

*

* *Kita kembali pada keadaan Puti Andini, gadis cantik murid Sabai Nan Rancak yang sebelumnya dikenal dengan julukan Dewi Payung Tujuh. Seperti dituturkan sebelumnya secara tidak sengaja dia telah bertemu dengan Sika Sure Jelantik yang datang dari Pulau Andalas untuk mencari Tua Gila. Dengan kecerdikannya gadis ini berhasil memikat si nenek hingga akhirnya diberi ilmu yang membuat dia mampu menyelam lama di dalam air. Namun akibat dari pemberian ilmu itu Puti Andini jatuh pingsan. Sika Sure Jelantik kemudian meneruskan perjalanan dengan agak menyesal karena dia tidak sempat mengetahui siapa nama gadis itu.

Malam berlalu merayap. Menjelang pagi sekelompok babi hutan muncul di tempat Puti Andini tergeletak. Selagi binatang-binatang ini mengendus-endus tubuh si gadis tibatiba muncul tiga ekor anjing hutan, rata-rata bertubuh besar dan sedang kelaparan. Semula mereka hendak memangsa kawanan babi hutan tadi. Namun karena babi-babi itu melarikan diri maka kini sosok Puti Andini yang jadi sasaran.

Tiga anjing hutan melolong panjang dapatkan mangsa segar itu. Mata mereka berkilat merah, lidah terjulur dan gigi-gigi besar runcing mencuat di mulut yang terbuka. Salah seekor dari mereka yaitu anjing hutan betina yang paling besar dan sedang hamil serta paling lapar langsung melompati tubuh Puti Andini. Moncongnya menyambar ke arah pergelangan kaki gadis ini. Siap untuk ditarik dan digeragot putus!

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar derap kaki kuda mendatangi. Lalu "Crasss!"

Leher anjing hutan betina yang hendak memangsa kaki Puti Andini putus. Kepalanya menggelinding. Darah muncrat dan tubuhnya terbanting roboh melejang-lejang.

Dua anjing lainnya menyalak keras. Lalu mengejar kuda dan penunggangnya yang barusan menebas batang leher teman mereka. Sadar kalau dua anjing besar itu bisa mencelakai kudanya maka si penunggang ketika melewati sebatang pohon melompat ke atas. Sesaat dia bergelantungan berputar-putar pada cabang pohon itu. Ketika dua ekor anjing mendatangi dia cepat melayang turun dan hunus pedangnya yang masih basah oleh darah. Orang ini ternyata adalah seorang pemuda bertampang keren berkulit sawo matang, mengenakan pakaian hijau terbuat dari beludru bagus sekali. Potongan tubuhnya yang kekar menambah kejantanannya. Di telinga kanannya mencantel sebuah anting-anting kecil terbuat dari emas. Anjing di sebelah kanan menyerang lebih dahulu. Dia menunggu sampai binatang itu sampai dekat sekali di depannya baru dia menggerakkan tangan yang memegang pedang.

"Craaasss!"

Anjing besar melolong panjang menggidikkan. Isi perutnya berbusaian dari luka besar yang merobek tubuhnya sebelah bawah. Anjing ketiga seperti kesetanan menggembor keras lalu melompati pemuda beranting-anting emas itu. Yang satu ini ternyata memiliki gerakan cepat luar biasa. Sekali melompat dua kaki depannya telah berada di depan dada si pemuda, siap untuk merobek. Tidak sempat mempergunakan pedangnya karena jarak terlalu pendek, pemuda itu cepat melompat ke samping. Dari samping baru dia tebaskan pedangnya.

"Crasss... crasss!"

Dua kaki depan anjing besar tertebas putus. Binatang ini roboh ke tanah. Bergulingguling dan terkaing-kaing lalu tersaruk-saruk dengan dua kaki depan buntung dia melarikan diri dalam kegelapan malam menjelang pagi. Setelah membersihkan pedangnya yang berlumuran darah lalu memasukkannya ke dalam sarung pemuda ini cepat melangkah menghampiri sosok Puti Andini yang masih terbujur di tanah.

*

* *Ketika dia siuman, Puti Andini dapatkan dirinya terbaring di atas sebuah jaring yang terbuat dari akar-akar panjang pepohonan hutan. Memandang berkeliling ternyata dia berada di antara dua cabang pohon tinggi. Gadis ini merasa gamang ketika dia melihat ke bawah.

"Bagaimana aku tahu-tahu berada di sini...?" pikir Puti Andini. "Apa ada hantu hutan membawaku ke sini? Bagaimana caranya aku turun ke bawah.... Ah, sungguh aneh! Seingatku si nenek berkuku panjang itu katanya hendak memberikan satu ilmu padaku. Dia menyuruh aku memejamkan mata. Lalu ada rasa sakit luar biasa. Setelah itu aku tidak tahu apa-apa lagi. Dan sekarang aku berada di sini! Apa dia yang melakukan? Gila! Mengapa susah-susah sampai meletakkan aku di atas pohon seperti ini?!" Puti Andini memeriksa keadaan dirinya. Pakaian merahnya kotor tapi tubuhnya tak kurang suatu apa. Memandang berkeliling dia dapatkan saat itu hari masih sangat pagi. Di sekelilingnya terdengar suara kicauan burung. Gadis ini menarik nafas dalam dan tubuhnya terasa segar. Namun sesaat kemudian kembali dia merasa gelisah. Dia mulai berpikir bagaimana caranya agar bisa turun dari pohon yang tinggi itu.

Dalam keadaan seperti itu tiba-tiba di antara kelebatan semak belukar di bawahnya dia melihat ada seorang berpakaian hijau bergerak cepat. Dalam waktu singkat dia sudah berada di bawah pohon di mana Puti Andini berada. Belum sempat si gadis memperkirakan siapa adanya orang itu tiba-tiba si baju hijau ini dengan kecekatan luar biasa memanjat pohon tinggi itu. Di lain saat tahu-tahu dia sudah berada di atas pohon di dekat jaring di mana Puti Andini berada. Di tangan kanannya ada sesuatu dibungkus dengan daun pisang. Di pinggangnya tergantung sebilah pedang.

Si pemuda tidak menyangka kalau gadis di atas pohon itu sudah bangun dan sadarkan diri. Sesaat sepasang matanya yang hitam menatap. Dua pasang mata muda-mudi ini saling bertemu pandang. Dua hati saling bergetar.

Melihat yang muncul di hadapannya adalah seorang pemuda gagah berpakaian bagus kejut dan rasa khawatir Puti Andini menjadi hilang. Ingin sekali dia mengetahui siapa adanya pemuda yang sangat pandai memanjat pohon ini. Namun dia memilih bersikap menunggu.

"Aku gembira melihat kau sudah bangun..." si pemuda membuka pembicaraan.

"Bangun? Apakah sebelumnya aku ini tidur atau pingsan?" bertanya Puti Andini.

"Terserah kau mau menyebutkan apa. Pingsan boleh tidur juga boleh. Tapi tidurmu lama sekali. Aku menemuimu pagi buta hari kemarin. Kau baru terbangun pagi ini. Tentu tidurmu lelap dan enak sekali. Apakah dihiasi dengan mimpi-mimpi indah?"

Ucapan si pemuda membuat Puti Andini tertawa lebar, rasa senangnya terhadap pemuda ini segera timbul. "Aku ingat betul. Waktu aku pingsan aku pasti tergeletak di tanah di satu tempat. Bagaimana tahu-tahu berada di sini? Apa kau yang membawa aku ke atas sini? Kalau benar perlu apa susah-susah melakukannya? Sampai membuat jaring ketiduran dari akar pohon segala?"

"Wah pertanyaanmu cukup panjang. Aku akan jawab satu persatu. Biar aku bercerita sedikit..." jawab si pemuda pula. "Aku menemuimu tergeletak di tengah jalan tak jauh dari hutan ketika sekelompok anjing hutan, siap memangsamu...."

"Apa?!" Dua mata Puti Andini terbelalak. Tengkuknya terasa dingin.

Si pemuda melanjutkan. "Saat aku memeriksa dirimu aku agak sulit menduga apa yang menyebabkan dirimu pingsan dan berada di tempat itu. Lalu tubuhmu kunaikkan ke atas pohon...."

"Eh, bagaimana caranya?" tanya Puti Andini heran.

"Tentu saja kupanggul di bahu. Apa kau kira kubembeng rambutmu yang bagus itu?"

Puti Andini tertawa. "Aku melihat kau tadi cekatan sekali naik memanjat pohon. Dari mana kau belajar?"

"Kami orang-orang pulau rata-rata memiliki kepandaian memanjat pohon sejak kecil," jawab si pemuda.

"Kau orang pulau? Sekitar sini tak ada pulau..."

"Ah, maksudku.... Aku memang bukan orang sini. Aku.... Ah, tentang asal usulku sudahlah. Tak perlu dibicarakan."

"Namaku Puti Andini. Siapa namamu?"

"Hemmm.... Aku...." Pemuda itu hendak menjawab memberitahu siapa dirinya sebenarnya tapi cepat membatalkan. Setelah berpikir sejenak dia berkata. "Panggil saja aku Panji...."

"Namamu cuma satu kata? Pendek amat!" kata Puti Andini pula. Si pemuda cuma tertawa mendengar kata-kata itu.

"Sekarang apakah kau tidak akan menurunkan aku dari atas pohon ini?" bertanya si gadis.

"Tentu saja. Tapi aku tahu kau lapar. Aku membawa sesuatu untukmu sekedar pengisi perut. Makanlah." Pemuda yang mengaku bernama Panji itu menyerahkan bungkusan daun pisang pada Puti Andini. Ketika dibuka isinya ternyata dua potong besar singkong rebus.

"Kau curi dari mana singkong ini?" tanya Puti Andini.

"Aku tidak mencurinya. Aku minta pada seorang penduduk desa pagi buta tadi. Desanya cukup jauh dari sini."

"Terima kasih. Aku memang sangat lapar. Kau mau sepotong?"

"Tadi ada tiga potong. Aku sudah makan satu potong," jawab Panji.

Sambil makan Puti Andini terus mengajak pemuda itu bicara. "Aku lihat kau mengenakan pakaian sangat bagus. Kalau kau bukannya anak orang kaya atau turunan bangsawan, pasti kau..."

"Aku seorang pemuda biasa saja..." memotong Panji.

"Aku tidak percaya! Aku lihat kau juga mengenakan anting emas di telinga kananmu? Bagiku terasa aneh kalau laki-laki pakai anting segala. Apa kau banci? Hik... hik...hik!"

"Banci? Apa artinya itu?" tanya Panji.

Makin keras tawa Puti Andini. "Banci artinya lelaki yang bersifat seperti perempuan. Bicara seperti perempuan, berdandan seperti perempuan...."

"Apa aku bicara seperti perempuan?"

"Tidak, tapi kau berdandan seperti perempuan!" jawab Puti Andini lalu tertawa lagi.

"Kalau kuberikan anting emas ini padamu apa kau mau memakainya?" tanya Panji.

"Buat apa? Kalau kupakai bisa lebih gawat lagi?"

"Gawat? Kenapa gawat?"

"Mana ada perempuan pakai anting cuma se-belah!" Gelak Puti Andini semakin keras.

Panji akhirnya ikut-ikutan tertawa.

"Aku sudah menghabiskan dua potong singkong rebus yang kau berikan. Terima kasih. Sekarang saatnya kau menurunkan aku dari atas pohon ini."

"Bersabarlah barang sebentar. Aku ingin tahu ceritanya mengapa kau sampai kutemukan menggeletak di tengah jalan. Apa yang terjadi dengan dirimu dan apa yang kau lakukan di tempat itu?"

"Aku kesasar lalu...."

"Aku tahu kau berdusta. Tapi teruskan bicaramu," kata Panji pula.

Puti Andini tercekat lalu tersenyum. "Baik, akan kuceritakan yang sebenarnya." Lalu gadis ini memberi tahu ihwal sampai dia berada di tempat Panji menemukan dan menolongnya. Dia tidak menuturkan seperti apa yang dikatakan pada Sika Sure Jelantik. Tidak ada cerita tentang ibunya yang sakit. Pada Panji dikatakannya bahwa dia tengah mencari sebuah batu hitam yang berada di dasar Telaga Gajahmungkur."

"Untuk apa gunanya batu itu bagimu?" tanya Panji agak heran.

"Aku tak bisa mengatakannya. Tapi batu itu sangat berarti bagiku. Bagaimanapun aku harus mendapatkannya...."

"Selama tinggal di pulau, sejak kecil aku sering menyelam sampai ke dasar laut sekitar pulau. Kalau kau suka aku bersedia membantumu mencari batu itu....".

"Terima kasih, aku harus mendapatkannya sendiri tanpa bantuan siapa-siapa," jawab murid Sabai Nan Rancak itu. Lalu dia bertanya. "Sekarang kurasa sudah saatnya kau menurunkan aku dari atas pohon ini."

"Kalau itu pintamu, aku tidak akan menolak," jawab Panji. "naiklah ke punggungku, lingkarkan kedua tanganmu di leherku."

"Hemmmm...." Si gadis bergumam. "Apa tak ada cara lain untuk turun dari sini?" tanyanya dengan wajah sedikit kemerahan.

"Ada satu cara lain. Malah lebih cepat!"

"Katakan padaku!"

"Langsung terjun melompat ke bawah sana!" jawab Panji.

Puti Andini menggigit bibirnya. Dia memandang ke bawah. Saat itu dia berada di ketinggian hampir tujuh tombak. Sulit baginya untuk melihat bagian tanah yang datar karena tertutup semak belukar lebat. Selain itu tak ada bagian yang lowong untuk dijadikan arah lompatan.

"Apa boleh buat. Aku terpaksa mengikuti caramu!" kata si gadis akhirnya.

Panji tertawa lebar. Dia menginjakkan kakinya di atas jaring lalu tegak membelakangi Puti Andini. Kembali kebimbangan mempengaruhi gadis ini. Namun akhirnya dia lingkarkan juga kedua tangannya di leher Panji. Tubuhnya dirapatkan ke punggung si pemuda.

"Lingkarkan kedua kakimu ke depan perutku," kata Panji.

"Tadi tidak ada kau sebutkan begitu!" tukas si gadis yang jadi jengah.

"Terserah! Aku cuma khawatir peganganmu di leherku mengendur karena gamang."

Mau tak mau Puti Andini lakukan juga apa yang dikatakan pemuda itu. Kedua kakinya digelungkan ke tubuh Panji hingga kini badannya menempel erat di badan si pemuda.

Panji membuat gerakan mengayun di atas jaring akar pohon. Pada ayunan yang ke lima tubuhnya melesat tinggi ke udara.

"Hai! Aku minta diturunkan bukan dibawa ke atas!" teriak Puti Andini.

"Lihat saja! Aku tidak punya kemampuan terbang ke udara!" jawab Panji lalu tertawa

bergelak. Sesaat kemudian ketika tubuhnya turun dia menyambar batang pohon terdekat. Pada cabang pohon ini dia membuat satu kali putaran memaksa Puti Andini pejamkan mata karena gamang. Dari cabang ini Panji lalu melayang turun lagi ke bawah. Di satu tempat dia kembali berpegangan ke cabang pohon. Berputar satu kali dan melesat ke bawah. Hal ini dilakukannya sampai beberapa kali hingga akhirnya dia menjejakkan kakinya di tanah. Menyangka saat itu dirinya masih diajak melayang di udara Puti Andini masih saja terus merangkul leher Panji dan menggelungkan kakinya di pinggang si pemuda.

"Puti Andini, kita sudah turun di tanah. Mengapa kau masih merangkuli tubuhku?"

Terkejut bukan main si gadis mendengar kata-kata itu. Dengan muka merah dia lepaskan rangkulannya dan melompat turun! Panji membalik dan tertawa polos, membuat Puti Andini semakin jengah. Buru-buru gadis ini berkata. "Terima kasih atas semua pertolonganmu. Aku berharap satu ketika bisa membalas semua budi baikmu. Aku harus pergi sekarang...."

"Kau, apakah aku tidak boleh mengantarkanmu ke telaga tempat kau mencari batu hitam itu?"

"Terima kasih. Aku bisa pergi sendiri. Hemmm.... Kalau aku boleh tahu kau sendiri akan menuju ke mana?"

"Aku akan mencari seorang sahabat. Seorang kakek bermuka cekung bernama Wiro Sableng...."

Terkejutlah Puti Andini mendengar ucapan pemuda itu "Seorang kakek bermuka cekung bernama Wiro Sableng?!"

"Benar. Kau kenal padanya?"

Puti Andini tertawa gelak-gelak.

"Eh, kenapa kau tertawa. Apa yang lucu?" tanya Panji keheranan.

"Manusia bernama Wiro Sableng itu bukan seorang tua bangka bermuka cekung. Tapi seorang pemuda yang usianya kurasa sedikit lebih tua darimu!"

"Aneh, dia sendiri yang menyebutkan namanya begitu sewaktu dulu meninggalkan pulau tempat kediamanku," kata Panji pula. (Seperti dituturkan dalam Episode I berjudul Tua Gila Dari Andalas, sewaktu hendak meninggalkan pulau Kerajaan Sipatoka, ketika ditanya namanya Tua Gila enak saja mengatakan namanya Wiro Sableng).

Dari balik baju beludru hijaunya Panji mengeluarkan dua buah benda. Yang pertama sehelai sapu tangan besar berwarna merah. Yang lain adalah sehelai kumis palsu.

"Aku menemukan dua benda ini dekat tubuhmu tergolek. Mungkin milikmu?"

Puti Andini segera mengenali kain penutup kepala merah dan kumis palsunya itu. Cepat kedua benda itu diambilnya.

"Aku pergi sekarang!" kata Puti Andini sambil terus tertawa cekikikan.

"Hail Tunggu dulu! Ada yang hendak aku tanyakan!" seru Panji. Namun saat itu Puti Andini telah lenyap di balik kerapatan semak belukar.

*

* *

TUJUHLelaki separuh baya berjubah merah itu hentikan larinya di tepi lembah. Memandang ke bawah dia hanya melihat kerimbunan pepohonan, mendengar suara kicau burung. Dia mengusap kepalanya yang botak beberapa kali. Kepala itu keringatan, dicat kuning dan ada tulisan angka 3 berwarna hitam.

"Apa betul ini yang dinamakan Lembah Akhirat? Subur, sunyi sama sekali tidak membayangkan keangkeran...." Si botak membatin. Dia memandang berkeliling. Menarik nafas dalam. "Di mana aku harus mencari sang datuk penguasa lembah yang begini luas.... Kalau aku bergerak terus menuju ke utara, pasti akan mencapai pusat lembah. Mungkin di sana letak markas Datuk Lembah Akhirat...." Setelah diam beberapa lama akhirnya orang ini melangkahkan kaki. Namun baru berjalan tiga langkah tiba-tiba terdengar suara suitan keras di sebelah timur. Suitan ini mendapat sambutan dari arah barat. Suitan ketiga datang dan sebelah utara. Pada saat itulah melesat tiga benda bulat mengeluarkan suara mengaung. Masing-masing benda ditancapi sebentuk tongkat terbuat dari bambu. Benda-benda aneh ini melesat dari tiga jurusan yaitu samping kiri kanan dan dari sebelah depan!

Begitu tiga benda menancap di tanah tersurutlah lelaki berkepala botak. Tampangnya menjadi pucat. Tiga benda di atas tongkat bambu dan menancap di tanah itu ternyata adalah tiga buah tengkorak manusia. Masing-masing berwarna hitam, merah dan hijau! Untuk sesaat lamanya si botak berjubah merah hanya tegak laksana patung, tak berani bergerak. Hanya sepasang matanya memandang melotot melirik ke kiri dan ke kanan. Kepalanya yang botak kuning terasa dingin keringatan.

Orang ini tidak menunggu lama. Mendadak ada tiga bayangan berkelebat dan tahutahu tiga sosok aneh sudah mengurungnya. Di hadapannya kini ada tiga orang lelaki berwajah hitam, merah dan hijau. Rambut mereka juga sama dengan warna muka mereka. Selain itu ketiganya mengenakan pakaian berbentuk jubah dengan warna sama seperti warna wajah masing-masing. Tiga orang ini membawa tombak yang pada bagian tengahnya ditancapi sebuah tengkorak manusia berwarna hijau, hitam dan merah.

"Sebutkan nama dan gelar!" Orang berwajah merah membentak.

"Katakan keperluan!" Si muka hitam menghardik.

"Beritahu datang membawa apa!" Yang muka hijau menimpali.

Si botak kepala kuning jadi tergagau kecut. Mukanya sepucat kain kafan ketika tiga ujung tombak yang jelas mengandung racun disorongkan dekat sekali ke lehernya.

"Namaku Klewing. Aku tidak bergelar tapi dikenal sebagai orang nomor tiga dari Delapan Tokoh Kembar. Keperluanku kemari untuk menghadap Datuk Lembah Akhirat. Aku datang membawa satu keping emas."

"Perlihatkan emas itu!" perintah si muka hijau.

Si botak mengeruk saku jubah merahnya. Ketika tangannya dikeluarkan dia telah menggenggam satu kepingan emas sebesar ujung jari kelingking. Emas ini dipegangnya erat-erat, takut diambil tiga orang di hadapannya. Tiga orang yang mukanya berwarna saling pandang melempar isyarat.

"Ikuti kami!" kata yang bermuka merah.

Tokoh Kembar nomor 3 masukkan kepingan emas ke dalam saku jubahnya kembali lalu melangkah mengikuti tiga orang yang sudah dapat dipastikannya sebagai para pengawal atau penjaga kawasan Lembah Akhirat.

Si jubah merah ini dibawa menuju pusat lembah. Sepanjang jalan dia menyaksikan pemandangan yang aneh. Di mana-mana dia melihat tebaran debu tebal berwarna hitam, merah atau hitam di tanah, Klewing tak dapat menduga debu apa adanya itu. Makin jauh ke pusat lembah semakin banyak tumpukan pasir berwarna itu ditemuinya. Walau dia ingin sekali mengetahui namun Klewing tak berani ajukan pertanyaan pada tiga orang yang berada di dekatnya.

"Aneh, semula aku menduga Lembah Akhirat adalah lembah maha menyeramkan. Tapi ternyata keadaannya biasa-biasa saja. Atau mungkin dibalik semua keanehan ini ada sesuatu yang mengerikan...?" Klewing terus berjalan mengikuti tiga orang itu. Di samping sebuah pohon besar yang dilingkari semak belukar sangat lebat tiga pengawal Lembah Akhirat berhenti. Salah seorang dari mereka menyelinap ke balik pohon. Tak lama kemudian semak belukar di sebelah kanan bergerak dan menguak aneh. Lalu tampak sebuah mulut goa. Si muka hitam masuk ke dalam goa. Si muka merah memberi isyarat pada Klewing agar mengikuti. Lalu di sebelah belakang pengawal bermuka hijau menyusul dengan tombak terhunus.

Bagian dalam goa merupakan satu tangga batu menurun. Begitu mereka masuk semak belukar yang tadi menguak tertutup dengan sendirinya. Klewing merasakan hawa dingin menggidikkan sepanjang perjalanan menyusuri goa yang ternyata cukup panjang itu. Tak lama kemudian Klewing melihat ada cahaya terang di sebelah depan pertanda dia akan segera sampai di ujung goa. Memang benar. Begitu sampai di ujung goa Tokoh Kembar nomor 3 ini melihat satu pedataran terbentang di hadapannya. Puluhan orang bermuka hijau, merah atau hitam berdiri seputar pedataran lengkap dengan tombak yang ditancapi tengkorak di tangan masing-masing.

"Heran, aku tidak melihat satu orang perempuan pun..." membatin Klewing.

Di tengah pedataran ada satu batu besar setinggi setengah tombak. Salah satu sisi batu berbentuk tangga. Sekeliling batu ada kobaran api setinggi tiga jengkal. Lalu di atas batu besar itu tampak satu gentong kayu besar. Gentong ini berisi air yang mengeluarkan suara riak seolah mendidih. Asap tipis yang menebar bau aneh mengepul keluar dari gentong. Klewing tercekat ketika melihat dari dalam gentong muncul sepasang kaki besar berotot penuh bulu, lurus tak bergerak. Pada kedua pergelangan kakinya terikat satu tengkorak kecil.

"Ada orang merendam dirinya di dalam gentong secara aneh..." kata Klewing dalam hati. "Sulit kuduga apa yang dilakukannya. Tapi jika dia tidak memiliki kepandaian luar biasa tidak mungkin dia melakukan hal itu.... Tengkorak kecil di kedua kakinya itu pasti tengkorak anak-anak, mungkin bayi...." Tengkuk satu-satunya orang yang masih hidup dari Delapan Tokoh Kembar ini menjadi dingin.

Si botak Klewing kemudian dibawa ke sebuah bangunan terbuat dari batu yang tidak bedanya sebuah goa besar. Di dalam bangunan tampak duduk tiga orang bertampang aneh angker.

Yang di sebelah kanan memiliki muka berwarna merah, di tengah hitam dan di ujung kiri hijau. Tiga orang ini memiliki rambut keriting kecil, sangat rapat dan keras. Rambut mereka berwarna sesuai warna wajah. Si hitam memiliki rambut tinggi runcing ke atas seperti kerucut. Si merah rambutnya berbentuk bulat tinggi seperti tempurung besar sedang si hijau berambut menyerupai sarang tawon, panjang ke atas. Ketiga orang ini mengenakan jubah berlengan gombrong yang warnanya sesuai dengan warna wajah masing-masing. Si hitam memiliki wajah lebar, dihias alis, kumis dan janggut tebal berwarna hitam. Sepasang telinganya ditusuk dengan sepotong tulang manusia. Dia seolah tidak memiliki hidung. Bagian yang seharusnya ada hidung hanya ada dua buah lubang hingga hidungnya seolah gerumpung. Orang ini adalah Pengiring Mayat Muka Hitam, salah satu dari tiga pembantu utama Datuk Lembah Akhirat.

Lelaki bermuka merah tidak punya alis. Tidak memelihara janggut ataupun kumis. Cuping hidung sebelah kiri ditancapi potongan tulang manusia. Dia ini dikenal dengan panggilan Si Pengiring Mayat Muka Merah. Juga merupakan salah satu pembantu utama Datuk Lembah Akhirat. Orang ketiga yang mukanya berwarna hijau memiliki kepala panjang peang. Mukanya yang hijau tampak berbenjol-benjol seolah diserang penyakit bisul. Sepotong tulang manusia menancap di bibir-nya sebelah bawah. Orang yang terakhir ini me-rupakan pembantu ke tiga Datuk Lembah Akhirat dan dijulliki Si Pengiring Mayat Muka Hijau. Dari ke tiga manusia seram itu Si Pengiring Mayat Muka Hitam bertindak sebagai pimpinan mereka.

"Manusia atau setankah yang ada di hadapanku ini? Seumur hidup aku tidak pernah melihat makhluk sedahsyat ini.... Yang mana di antara mereka Datuk Lembah Akhirat?" begitu Klewing alias Tokoh Kembar nomor 3 membatin dalam hati.

"Menjura pada Tiga Pengiring Mayat!"

Klewing tergagau oleh bentakan pengawal bermuka hitam yang ada di sampingnya. Cepat-cepat dia membungkuk memberi penghormatan pada ketiga orang yang duduk di dalam bangunan batu itu.

"Tiga Pengawal Lembah Akhirat! Apa perlunya tuyul kuning berjubah merah ini kalian bawa ke hadapan kami?! Apa kalian sengaja mencari mati mengganggu ketentraman tiga wakil tertinggi Datuk Lembah Akhirat?!"

Mendengar bentakan Si Pengiring Mayat Muka Hitam yang merupakan orang tertinggi di antara tiga pembantu Datuk Lembah Akhirat, tiga pengawal bersurut mundur dan cepat menjura. Yang di tengah segera berkata.

"Maafkan kami, kami tidak bermaksud mengganggu ketentraman Wakil Datuk Lembah Akhirat bertiga. Tamu ini datang untuk menghadap Datuk Lembah Akhirat. Dia membawa secuil emas sebagai bekal...."

"Hemmm...." Si Pengiring Mayat Muka Hitam rangkapkan dua lengan di depan dada. Mulutnya menyunggingkan seringai dan dia saling pandang dengan dua temannya.

"Kalau begitu kalian bertiga lekas angkat kaki dari hadapan kami!"

"Maafkan kami para Wakil Datuk Lembah Akhirat..." kata tiga pengawal bersamaan.

Setelah menjura dalam-dalam ketiganya lalu cepat-cepat tinggalkan tempat itu.

Sampai di luar bangunan batu mereka merasa lega. Yang satu berbisik pada temannya. "Untung Si Pengiring Mayat Muka Hitam tidak sewot benar. Ingat, dua hari lalu dia membunuh dua teman kita hanya gara-gara secara tak sengaja mereka melihat Si Pengiring Mayat Muka Hitam sedang kencing di bawah pohon.... Gila! Kalau saja aku bisa kabur dari tempat ini sudah lama aku minggat...."

"Ssst..., Jalan pikiranmu sama dengan kami berdua," jawab teman pengawal yang barusan bicara. "Tapi hati-hati kalau bicara. Pohon, batu dan tanah bisa jadi mata-mata di tempat ini. Belum lagi teman-teman bangsa penjilat!"

"Sebenarnya dua teman kita yang-malang itu bukan dibunuh karena tidak sengaja melihat Si Pengiring Mayat Muka Hitam kencing di bawah pohon," kata pengawal bermuka hijau. "Tapi dekat pohon itu ada seekor babi perempuan gemuk. Si Pengiring Mayat Muka Hitam merasa seperti di-pergoki. Hik... hik... hik! Dasar manusia edan!". "Bangsat satu itu memang aneh! Perempuan banyak di tempat penyekapan. Mengapa doyannya hik... hik...hik...!"

Tiga pengawal Lembah Akhirat cepat menyelinap di balik bebatuan dan semak belukar, Kembali ke tempat pengawalan masing-masing sambil terus tertawa cekikikan.

*

* *

DELAPANBegitu tiga pengawal berlalu Pengiring Mayat Muka Hitam berpaling pada si botak berjubah merah. "Botak kepala kuning! Pengawal mengatakan kau membawa secuil emas. Perlihatkan padaku!"

Mendengar ucapan Pengiring Mayat Muka Hitam, Klewing cepat keluarkan kepingan emas dari saku jubah merahnya lalu diperlihatkan pada wakil Datuk Lembah Akhirat itu. Sekali tangannya bergerak maka kepingan emas sudah berada dalam genggaman Pengiring Mayat Muka Hitam. Emas ini diperhatikan lalu ditimang-timangnya beberapa kali.

"Kawan-kawan, emas yang dibawanya memang murni. Tapi besarnya tidak lebih besar dari bijinya. Ha... ha... ha! Apa pantas urusan ini kita teruskan?"

"Kita tanya saja dulu. Kalau dia memang tidak pantas berada di sini, kita akan usir! Tapi salah satu matanya harus ditinggalkan!"

Kalau saja Klewing bukan seorang tokoh silat berpengalaman, mendengar ucapan Pengiring Mayat Muka Merah itu tentu saja akan membuat ciut nyalinya. Satu-satunya orang yang masih hidup dari Delapan Tokoh Kembar ini tetap berlaku tenang dan diam.

"Botak kepala kuning. Ceritakan siapa dirimu!" kata Pengiring Mayat Muka Hitam.

"Aku Klewing. Aku datang dari selatan. Bermaksud menghadap Datuk Lembah Akhirat...."

"Tunggu!" memotong Pengiring Mayat Muka Hijau. "Kami belum menanyakan maksud kedatanganmu ke sini. Kawanku minta agar kau menerangkan siapa dirimu...."

"Aku tidak mengerti. Aku sudah katakan namaku...."

"Botak kepala tahi tolol!" hardik Pengiring Mayat Muka Merah. "Nama jelek itu tak usah diulang-ulang. Yang kami ingin tahu apa gelarmu! Kau dari golongan hitam atau golongan putih!"

Sampai di sini Pengiring Mayat Muka Hijau ikut berkata. "Kau harus tahu, hanya orang-orang persilatan golongan putih yang diperbolehkan datang ke tempat ini! Kau dari pihak mana botak?!"

"Aku.... Aku memang dari golongan putih walau dulu sering terlibat urusan tidak benar...."

"Hemmm...." Pengiring Mayat Muka Merah berpaling pada si muka hitam. Sambil usap-usap hidungnya yang ditancapi tulang dia berkata. "Bagaimana pendapatmu?"

Pengiring Mayat Muka Hitam lantas ajukan pertanyaan pada Klewing. "Mengapa kepalamu botak dan apa artinya angka tiga di kepalamu itu?!"

"Aku adalah orang ke tiga Delapan Tokoh Kembar..." menerangkan Klewing.

Mata ketiga pembantu utama Datuk Lembah Akhirat membesar. Ketiganya lalu tertawa terbahak-bahak. "Kami memang pernah dengar nama kelompokmu! Jadi kau salah satu dari kembar delapan? Luar biasa! Apa saja yang dikerjakan ibumu hingga dia bisa beranak sekali delapan! Ha... ha... ha!" Pengiring Mayat Muka Hitam permainkan jari telunjuk tangan kanannya di permukaan lobang hidungnya yang sama rata dengan pipi.

"Kalau kau kembar delapan, mana saudaramu yang tujuh lagi?!"

"Mereka sudah mati semua...."

"Hah! Tujuh saudaramu mati semua?! Malang benar Ha... ha... ha!" ujar Pengiring Mayat Muka Hitam lalu tertawa gelak-gelak. Dua kawannya ikut-ikutan tertawa.

"Apa tujuh saudaramu itu mati kecebur sumur atau disambar geledek atau diserang penyakit sampar?!" tanya Pengiring Mayat Muka Hijau sambil senyum-senyum seolah mengejek.

Walau hatinya panas mendengar ucapan orang tapi Tokoh Kembar nomor 3 ini berusaha tenang dan menjawab perlahan. "Mereka menemui ajal di Pangandaran. Dibunuh oleh beberapa orang tokoh silat. Antara lain Iblis Pemabuk, Ratu Duyung, Tua Gila serta Pendekar 212 Wiro Sableng...."

"Hemmm.... Jadi mereka terlibat urusan besar di Pangandaran yang menggegerkan itu. Kabarnya Pangeran Matahari juga menemui ajalnya di tempat itu! Kau sendiri bagaimana bisa lolos...?"

"Waktu itu aku cepat membaca situasi. Daripada mati konyol aku cepat-cepat melarikan diri."

"Sungguh pengecut!" kata Pengiring Mayat Muka Hijau. "Kau lari selamatkan diri sementara tujuh saudaramu mampus meregang nyawa!"

"Aku bukan pengecut! Keadaan tidak memungkinkan untuk menghadapi pihak musuh. Lagipula kalau aku menemui ajal, siapa yang bakal menuntut balas kematian tujuh saudaraku?!" Klewing membantah dengan suara keras..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 107.22.46.150
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia