Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : TUA GILA DARI ANDALAS

SATU

Angin barat bertiup kencang. Perahu layar itu meluncur laju di permukaan laut. Di atas perahu Tua Gila duduk termangu di haluan. Di kepalanya bertengger sebuah caping lebar terbuat dari bambu yang melindunginya dari terik matahari. Orang tua ini senyum-senyum sendiri bila dia ingat pengalamannya di pulau kediaman Rajo Tuo Datuk Paduko intan.

"Dunia memang penuh keanehan. Mana aku pernah menyangka bakalan bertemu dengan menantuku sendiri. Hik... hik... hik! Untung dia tidak tahu aku si tua bangka buruk ini mertuanya. Ha... ha... ha!"

Kekeh Tua Gila mendadak terhenti ketika tiba-tiba dirasakannya perahu layar itu bergerak di bagian depan. Gerakan itu demikian perlahannya hingga jika bukan orang berkepandaian tinggi seperti Tua Gila tidak akan merasa atau mengetahui. Tua Gila memandang berkeliling. "Tak ada ombak besar tak ada tiupan angin kencang. Mengapa barusan ada gerakan aneh di buritan depan perahu?"

Tiba-tiba telinga si kakek yang tajam mendengar riak air laut di arah depan. Ketika dia memandang ke arah buritan Tua Gila kaget setengah mati. Dia melihat dua tangan berkuku panjang berwarna hitam muncul memegang pinggiran perahu. Lalu, "Wuuttt!" Dari dalam air laut melesat ke atas sesosok tubuh berjubah hitam berambut riap-riapan. Air mengucur dari pakaian, tubuh dan rambutnya yang basah kuyup.

"Setan laut berani muncul siang hari bolong begini! Benar-benar gila!" kata Tua Gila dan cepat berdiri dari duduknya.

"Hik... hik! Orang yang mau mampus matanya memang suka lamur!" Orang basah kuyup di depan perahu itu tertawa lalu bicara dengan mata besar melotot.

"Hebat! Setan laut bisa bicara!" kata Tua Gila lalu tertawa mengekeh.

"Hik... hik! Kau rupanya tidak mengenali siapa diriku! Lupa?! Hik... hik!"

Orang di depan Tua Gila tiba-tiba gerakkan bahu dan goyangkan kepalanya.

"Wuuutt!"

Rambut putih yang basah kuyup itu melesat ke depan dan, "Breeet!" Layar perahu robek besar terkena sambaran ujung rambut.

Berubahlah paras Tua Gila.

"Makhluk jahanam! Kalau kau mau menumpang perahuku mengapa merusak?!" Bentak Tua Gila.

Orang di hadapan Tua Gila tertawa gelak-gelak. Lalu sambil dongakkan kepala dia berkata. "Siapa bilang aku mau menumpang perahumu! Apa kau belum sadar kalau perahu ini akan meluncur menuju neraka?! Hik... hik... hik!"

"Bedebah setan alas! Kau sengaja datang mencari mati!"

"Aku tanya sekali lagi, apa kau benar-benar tidak mengenaliku? Padahal belum lama kita saling bertemu!" Orang berjubah hitam itu letakkan kedua tangan di pinggang.

"Eh...." Kening Tua Gila berkerut. Dia buka caping bambunya agar bisa melihat lebih jelas. "Astaga! Bukankah kau Dukun Sakti Langit Takambang, wakil Rajo Tuo Datuk Paduko Intan di Kerajaan pulau Sipatoka?!"

"Bagus! Berarti matamu hanya sedikit lamur, belum buta beneran! Hik... Hik!"

"Manusia satu ini tadi kulihat keluar dari dalam laut. Berarti sebelumnya dia telah mendekam di bawah perahu! Ilmu pernafasannya di dalam air patut aku kagumi! Tapi dari caranya muncul agaknya dia sengaja mengikutiku dengan maksud tidak baik!" Habis membatin begitu Tua Gila lalu membentak. "Dukun geblek! Kalau kau mau menumpang mengapa pakai bersembunyi segala! Kau pasti melarikan diri setelah ketahuan kau yang punya pekerjaan meracuni Rajo Tuo Datuk Paduko intan dan permaisurinya!"

"Rajo Tuo dan permaisuri serta semua orang di pulau itu biar kita lupakan saja! Bertahun-tahun aku mendekam di pulau itu menunggumu. Sekarang saatnya kita membicarakan urusan kita!"

"Eh, aku merasa tidak punya urusan dengan dukun laknat sepertimu! Kalau kuseret kau kembali ke pulau itu pasti kau akan digantung kaki ke atas kepala ke bawah!"

Orang di hadapan Tua Gila kembali mendongak dan tertawa panjang. "Kau melihat aku sebagai dukun, mengenal aku sebagai dukun. Apa kau juga masih mengenali wajah asliku ini Sukat Tandika?!"

Tua Gila terkejut. "Bagaimana dukun keparat ini tahu namaku?!" pikir Tua Gila.

Tiba-tiba Dukun Sakti Lang it Takambang menggerakkan tangan kanannya ke wajahnya.

"Breeettt! Sreettt!" Selapis topeng tipis yang membungkus wajah orang itu langsung tanggal.

Sepasang mata Tua Gila yang lebar jadi mendelik bertambah besar. "Aku tidak percaya...!" kata Tua Gila dengan suara bergetar. Kalau saja dia tidak berada di ujung haluan perahu niscaya kakinya sudah melangkah surut. "Apakah betul kau yang berdiri di hadapanku ini Sika Sure Jelantik?!"

"Hik... Hik! Ternyata kau masih mengenali diriku! Lebih dari itu kau juga masih ingat nama lengkapku! Hik... hik... hik!"

Tua Gila ternganga sesaat. Tekanan batin yang hebat membuat dia merasa seolah dihimpit gunung. Untuk beberapa lamanya dia hanya tegak tak bergerak dan memandang tak berkesip pada orang yang berdiri di depannya. Orang ini ternyata adalah seorang nenek berwajah bulat, memiliki tahi lalat kecil di atas dagu kirinya. Namun sesaat kemudian pe-nyakit lamanya muncul. Dia mulai tertawa. Mula-mula perlahan lalu semakin keras hingga perahu kayu itu bergetar keras. Air laut di sekitar perahu tampak bergelombang. –

"Tertawa sepuasmu Tua Gila! Kalau nasibmu baik mungkin nanti kau masih bisa tertawa di akhirat!"

Mendengar ucapan orang, Tua Gila hentikan tawanya. Lalu seolah menyesali diri sendiri dia mengeluh dalam hati. "Sekian puluh tahun tidak pernah bertemu, tahu-tahu muncul. Tak dapat tidak dia datang membawa dendam lama! Celaka! Luka-luka bekas gebukan musuh di tubuh dan kepalaku masih belum sembuh! Sekarang datang lagi penyakit baru!"

Tua Gila usap wajahnya beberapa kali lalu berkata. "Sika, aku maklum perbuatanku di masa silam telah membuatmu sengsara...."

Belum habis ucapan Tua Gila si nenek bermuka bulat memotong dengan suara keras. "Bagus! Kau bisa mengatakan begitu! Sayang saat ini sudah terlambat kau berbual-bual di hadapanku! Aku mencium amisnya bau darahmu Sukat Tandika!"

"Setelah puluhan tahun berlalu apakah kau tidak bisa melupakan hal itu? Sekarang kita sudah jadi kakek nenek. Masih perlukan darah ditumpahkan?"

Nenek-berjubah hitam di atas perahu di hadapan Tua Gila tertawa panjang. "Puluhan tahun boleh saja berlalu! Tapi sengsara dan luka hati ini tak mungkin dilupakan! Dendam kesumatku sudah karatan Sukat Tandika! Kau merampas kehormatanku, mempermainkan diriku! Memberiku malu sepanjang hidupku!"

"Sika, apapun yang terjadi di masa lalu semua kita lakukan atas dasar suka sama suka. Kita sama-sama merasakan hangatnya cinta! Harap kau ingat itu!"

Sika Sure jelantik sudah meludah ke lantai perahu. "Suka sama suka karena kau berjanji akan menikahiku! Ternyata kau menipu! Setelah puas dengan diriku kau kabur melarikan diri! Bermain gila dengan gadis lain! Cinta hangatmu adalah api yang membakar dan tak bisa dipupus kecuali dengan darahmu sendiri! Jangan kau kira aku tidak tahu siapa saja yang sudah kau cabuli lalu kau tinggal! Jangan kau kira aku tidak tahu siapa saja yang menginginkan kematianmu! Aku beruntung bahwa aku punya kesempatan membunuh lebih dulu dari yang lain!"

Sukat Tandika yang berjuluk Tua Gila alias Pendekar Gila Patah Hati alias Pendekar Gila Pencabut Jiwa menarik nafas dalam. Dalam hati dia membatin. "Aku sengaja mencari selamat dari Sabai Nan Rancak dan musuh-musuhku yang lain. Belum lagi menjejakkan kaki di tanah Jawa, di tengah laut sudah ada orang lain menginginkan nyawaku!"

Tua Gila menghela nafas berulang kali. Sambil menatap wajah si nenek dia berkata.

"Sika, apakah kau bisa menunda urusan ini sampai aku menyelesaikan urusanku di tanah Jawa?"

Sika Sure Jelantik menyeringai buruk. "Apa kau kira aku tidak tahu apa urusanmu di Jawa? Apa kau kira aku tidak tahu kau saat ini tengah melarikan diri dari kejaran Sabai Nan Rancak serta orang-orang lain yang menginginkan kematianmu? Belasan tahun aku malang melintang mencarimu. Setelah kutemukan jangan harap kau bisa lolos dari tanganku Sukat! Soal tunda menunda urusan harap kau bicarakan saja dengan malaikat maut!"

Tua Gila terdiam. Lalu sesungging senyum muncul di wajahnya yang cekung seperti tengkorak. Kegilaannya kembali muncul. Perlahan-lahan terdengar suara tawanya mengekeh. Makin lama makin keras hingga membuat Sika Sure Jelantik marah dan membentak.

"Jahanam gila! Sudan mau mampus masih saja memperlihatkan kesintingan!"

"Sika, jika kematianku memang tidak dapat ditunda, beri aku kesempatan untuk menyanyi...."

Si nenek kerenyitkan kening hingga wajahnya diselimuti kerut-kerut buruk. Dia segera hendak menghardik namun Tua Gila sudah membuka mulut melantunkan nyanyian.

Menanam ulah di masa muda

Memetik dendam di usia tua

Menanam angin di masa jaya

Menuai badai di usia tak berdaya"Tua bangka gila! Hentikan nyanyianmu atau...!" Sika Sure jelantik membentak sambil tangan kanannya diangkat. Lima kuku jarinya yang panjang hitam memancarkan sinar redup angker.

Tapi si kakek tidak perduli. Tanpa acuhkan ancaman orang dia teruskan nyanyiannya.



Bercinta di usia muda

Seharusnya bahagia di usia tua

Bermain asmara di masa remaja

Seharusnya menjalin suka di usia tuaCinta khianat Asmara laknat

Darah mencuat Nyawa pun minggat

Kepada siapa mau minta tolong

Kekasih sendiri ingin menggolongKepada siapa hendak bertobat

Yang Kuasa sudah melaknatDendam cinta di utara

Dendam asmara di selatan

Membersit darah di barat

Meregang nyawa di timur

"Cukup! Nyanyianmu hanya mempercepat kematianmu!" teriak Sika Sure Jelantik. Lalu nenek ini menghantamkan tangan kanannya ke arah Tua Gila yang hanya terpisah tiga tombak di haluan perahu!

*

* *



DUALima larik sinar hitam mencuat dari lima kuku tangan Sika Sure Jelantik. Inilah ilmu kesaktian yang disebut Jalur Hitam Bam. Dendam. Sejak tiga puluh tahun yang lalu si nenek telah menguasai ilmu kesaktian itu. Pada waktu itu dia mewarisinya dari seorang sakti di Gunung Siguntang. Mulanya ilmu kesaktian itu dinamakan Kilat Kuku Akhirat dan kehebatannya telah menggoncang ujung selatan daratan Andalas serta ujung barat tanah Jawa. Selama tiga puluh tahun berikutnya Sika Sure jelantik memperdalam kesaktiannya, ilmu Kilat Kuku Akhirat dibuatnya demikian rupa hingga jauh lebih hebat dari aslinya yang kemudian diberinya nama Jalur Hitam Bara Dendam. Selama sekian puluh tahun Jalur Hitam Bara Dendam tidak pernah dikeluarkannya. Disimpan karena hanya akan diperuntukkan pada seseorang yaitu kekasih dimasa muda yang kini menjadi musuh besarnya. Orang itu tidak lain adalah Sukat Tandika alias Tua Gila alias Pendekar Gila Patah Hati yang juga dikenal dengan julukan iblis Gila Pencabut Jiwa.

Tua Gila keluarkan seruan tertahan. Dia memang pernah mendengar kalau si nenek memiliki ilmu kesaktian yang disebut Kilat Kuku Akhirat. Namun tidak diduganya bahwa ilmu tersebut demikian hebatnya. Orang tua ini segera sambar caping bam-bunya lalu dilemparkan ke depan. Dia tahu caping bambu itu tidak akan dapat menahan serangan ganas si nenek walau dialiri dengan tenaga dalamnya yang sangat tinggi. Namun paling tidak benda itu untuk sesaat akan dapat menahan laju cahaya hitam yang menyambar laksana kilat!

"Wussss!"

Caping bambu berlubang di lima tempat lalu hancur berkeping-keping dan bertaburan di udara sebelum jatuh ke laut.

"jahanam! Ke mana dia?! Hancur mampus tenggelam ke dalam laut?!" ujar Sika Sure jelantik ketika melihat sosok Tua Gila tidak ada lagi di haluan perahu.

Sekonyong-konyong di belakangnya si nenek mendengar suara orang melantunkan nyanyian. Dia cepat balikkan tubuh.

Kalau dendam membakar hati

Kalau dendam membakar pikiran

Kasih indah dimasa muda seolah api

Membakar asmara menjadi ajang kematian.Kalau hati berselimut dendam

Kalau darah dibakar amarah

Lautan cinta menjadi padang maut

Padang asmara menjadi neraka kematian

Tidakkah ada lagi kasih sayang di hati manusia

Tidakkah ada lagi seberkas kenangan indahnya

Asmara di hati insanApakah hidup kini hanya, dibatasi garis bara api

Yang benar dan yang salah

Yang sengsara dan yang sesatKalau kematian memang sudah di depan mata

Kalau malaikat maut memang sudah unjukkan diri

Lalu manusia bertindak sebagai wakil pencabut nyawa

Alangkah sedihnya nasib dunia

Alangkah sengsaranya nasib umat

Tangis dan air mata bukan lagi penyejuk hati

Ratap minta pengampunan bukan lagi pelebur amarah

Datanglah maut Datanglah kematian

Dekap tubuh tua penuh dosa ini erat-erat dalam pelukanmu yang paling ganas

Kematian datangnya hanya sekejap Sengsara tetap berbekas sampai kiamatSika Sure jelantik tercekat mendengar nyanyian itu. Tangan kanannya yang sudah diangkat tinggi-tinggi siap melancarkan pukulan maut Jalur Hitam Bara Dendam bergetar keras. Hatinya berdegup kencang. Tenggorokannya turun naik menahan gelora di dada. Betapapun buasnya perempuan tua ini namun dia terkesiap juga melihat ada butiran-butiran air mata menggelinding di pipi Tua Gila yang kini tegak tak bergerak di buritan perahu, hanya terpisah kurang dari dua tombak. Namun kesiap yang menyelimuti si nenek hanya seketika.

"Air mata buaya! Bangsat penipu!" hati si nenek berteriak. Begitu amarah dan dendam kesumat kembali membakar dirinya maka didahului oleh bentakan garang Sika Sure Jelantik hantamkan tangan kanannya. Lima larik sinar hitam angker menderu laksana kilat.

Si nenek berseru kaget dan tegang sendiri ketika di depan sana dilihatnya Tua Gila sama sekali tidak bergerak coba menangkis atau selamatkan diri dari pukulan mautnya. Kakek itu tegak laksana patung. Hanya wajahnya yang cekung tampak tersenyum. Mungkin senyum bahagia siap menyambut datangnya maut. Mungkin juga senyum penuh kesedihan derita hidup dan penyesalan.

"Sukat!" Entah sadar entah tidak pada saat di-sadarinya bahwa orang di hadapannya itu tak akan luput dari, kematian Sika Sure Jelantik berteriak memberi ingat. Tapi terlambat.

"Wussss!!"

Lima sinar hitam menderu menggidikkan. Dua larik menyambar ke muka Tua Gila, dua membeset ke arah dadanya dan satu lagi melesat mencari sasaran di perut si kakek!

Sesaat lagi tubuh Tua Gila akan hancur berkeping-keping tiba-tiba dari dalam laut membersit satu sinar biru. Demikian menyilaukannya sinar aneh itu hingga si nenek terpaksa pergunakan tangan kiri untuk melindungi kedua matanya. Dia sama sekali tak sempat melihat bagaimana satu tangan laksana kilat menyambar kaki kanan Tua Gila. Lalu dilain kejap tubuh si kakek tertarik amblas ke dalam laut. Lima larik pukulan sakti Jalur Hitam Bara Dendam melesat menyambar. Empat menghantam udara kosong. Yang kelima sempat menyambar pinggang Tua Gila.

Ketika Sika Sure Jelantik turunkan tangannya, baru dia melihat apa yang terjadi. Dia berteriak keras. Walau terlambat dia masih berusaha melompat. Tangan kirinya menyambar ke dada Tua Gila sebelum tubuh kakek ini lenyap masuk ke dalam laut.

"Breettt!"

Pakaian Tua Gila robek besar di bagian dada. Sika Sure Jelantik merasakan sesuatu dalam genggaman tangannya. Di saat yang sama dia juga melihat sebuah benda terlempar ke udara lalu jatuh ke dalam laut.

"Apa yang terjadi? Apa dia menemui ajal oleh pukulan saktiku? Mati dan tenggelam masuk ke dalam laut?!" Sika Sure Jelantik bertanya-tanya sambil memandang berkeliling. "Kalau dia mati, tubuhnya pasti hancur lebur. Taps tidak semua bagian tubuhnya akan amblas ke dalam laut. Pasti ada yang mengapung. Aku tidak melihat potongan-potongan tubuhnya. Aku tidak melihat darah.... Apa yang terjadi? Apa yang terjadi?! Sukat! Sukat Tandika!"

Suara teriakan si nenek lenyap ditelan luasnya laut dan tiupan angin di udara kosong. Tenggorokan perempuan tua ini nampak turun naik. Mungkinkah penyesalan mendadak muncul di dalam hati perempuan tua yang pernah menjalin asmara dengan Tua Gila ini? Sekonyong-konyong Sika Sure Jelantik menghambur masuk ke dalam laut. Sebagai seorang tokoh silat nenek ini memiliki satu kepandaian yang tidak dimiliki tokoh lain. Dia mampu berada di dalam air untuk waktu lama. Namun sampai akhirnya dadanya menjadi sesak, setelah sekian lama berada di bawah permukaan laut untuk menyelidik apa yang terjadi dengan Tua Gila dia tidak menemukan sosok si kakek, juga tidak potongan tubuhnya kalau memang sudah cerai berai tadi dihantam pukulan saktinya. Hanya di salah satu tempat dia sempat melihat alur panjang berwarna merah. Darah!

Dengan penuh rasa putus asa dan tanda tanya besar dalam hatinya Sika Sure Jelantik naik ke permukaan laut, berenang menuju perahu layar yang terapung-apung tanpa penumpang.

Di atas perahu lama sekali, si nenek duduk termenung dengan rambut pakaian dan tubuh basah kuyup.

"Aneh, tubuhnya lenyap begitu saja. Tapi ada segelintir darah. Mungkinkah dia ditelan ikan besar yang tiba-tiba muncul?" Sika Sure Jelantik memandang! laut di sekitarnya seolah berusaha melihat menembus sampai ke dasarnya. Berulangkali perempuan tua ini menarik nafas panjang. Dia lalu ingat pada benda yang masih tergenggam di tangan kiri-nya. Ketika diperiksanya kagetlah perempuan tua ini. Dia pernah melihat benda itu sebelumnya jadi sudah mengenali apa adanya.

"Kotak perak penyimpan Kalung Permata Kejora! Permata handal penghancur segala kekuatan putih dan hitam!"

Dengan tangan gemetar si nenek segera membuka kotak perak itu. Matanya mendelik ketika melihat kotak itu tidak berisi apa-apa.

"Kosong!" ujar si nenek. Dia berpikir keras. "Mungkin belum terlambat!" katanya dalam hati. Lalu untuk kedua kalinya dia terjun ke dalam laut. Kali ini lama sekali dari pertama tadi. Karena sambil berusaha mencari kalung mustika itu dia juga mencoba menjajagi kalau-kalau bisa menemukan sosok tubuh Tua Gila. Setelah nafasnya terasa sesak dan dia tidak berhasil menemukan apa-apa si nenek akhirnya kembali berenang ke permukaan laut dan naik ke atas perahu.

"Apapun keanehan yang terjadi, aku yakin ada sesuatu yang telah mengambil tubuh Sukat. Mungkin benar ikan besar, mungkin juga makhluk yang tak dapat kubayangkan apa adanya! Tapi kalung itu? Aku tak mungkin menyelam sampai ke dasar laut. Tekanan air bisa memecahkan kepalaku! Apa yang harus kulakukan sekarang? Kembali ke Gunung Siguntang atau menyeberang ke tanah Jawa...? Kalau dia tidak mati mungkin sekali kakek jahanam itu akan muncul di sana. Bukankah di sana banyak bekas gendaknya tempat dia bisa minta tolong?"

Sika Sure Jelantik tegak di atas perahu, memandang berkeliling. Di sebelah depan yang tampak hanya lautan membentang luas. Di sebelah belakang samar-samar tampak pulau di mana sebelumnya dia menetap menyamar menjadi Dukun Sakti Lang it Takambang. Tujuannya sesuai firasatnya yang tajam bukan lain adalah untuk menunggu kemunculan Tua Gila. Ternyata firasatnya yang disembunyikannya selama bertahun-tahun itu tidak meleset. Sukat Tandika alias Tua Gila muncul di pulau! Namun setelah saling berhadapan dia gagal melakukan balas dendam. Si nenek kepalkan tangan kanannya.

"Bangsat tua itu lenyap secara aneh. Tak dapat kupastikan apa masih hidup atau sudah mati. Lalu bagaimana pula aku harus mencari Pangeran Mata-hari yang telah membunuh adikku Ramada Suro Jelantik? Aku menyirap kabar Pangeran itu sudah amblas tamat riwayatnya di tangan murid Tua Gila si orang Jawa bernama Wiro Sableng. Apa benar...? Kalau murid tua bangka itu sanggup membunuh Pangeran Matahari berarti dia memiliki kepandaian tidak dibawah si Tua Gila. Kalau dia ikut campur membela gurunya hemmm.... Urusan bisa jadi kapiran!" (Mengenai Ramada Suro Jelantik harap baca serial Wiro Sableng berjudul Guci Setan)

*

* *



TIGAKita kembali dulu ke tempat kediaman Ratu Duyung pada saat Pendekar 212 Wiro Sableng berada di sana. Seperti dituturkan dalam Episode sebelumnya (Tua Gila Dari Andalas) dengan maksud menolong Ratu Duyung lepas dari kutukan yang telah menyengsarakan diri dan anak buahnya selama bertahun- tahun maka dari Pangandaran Pendekar 212 Wiro Sableng ikut bersama Ratu bermata biru itu ke tempat kediamannya di kawasan laut selatan.

Di sebuah tempat yang disebut Puri Pelebur Kutuk ketika Wiro dan Ratu Duyung saling berpelukan mendadak menyeruak bau kembang kenanga yang amat santar. Bersamaan dengan itu Ratu Duyung yang memandang ke arah pintu melihat kemunculan seorang perempuan muda cantik berwajah pucat mengenakan kebaya panjang dan kain berwarna putih. Wiro sendiri sama sekali tidak melihat dan tidak mengetahui siapa adanya orang itu. Jelas yang datang ini adalah satu makhluk dari alam gaib yang memperlihatkan diri sebagai seorang gadis cantik yang sama sekali tidak dikenal oleh Ratu Duyung sebaliknya tidak terlihat oleh mata Pendekar 212.

Selagi Ratu Duyung memberitahu apa yang dilihatnya lalu berteriak memperingatkan Wiro karena gadis bermuka pucat itu mendekatinya, dalam kamar berkiblat sinar biru pukulan yang dilepaskan Ratu Duyung ke arah pintu di mana sosok gadis aneh itu berada. Sebaliknya dari arah pintu Wiro sempat melihat melesatnya sebuah benda kuning kehijauan. Lalu. satu letusan dahsyat memporak-porandakan ruangan.

Di atas tempat tidur Ratu Duyung tersandar ke dinding. Mukanya sepucat kain kafan dan dari sela bibirnya ada darah kental mengucur pertanda telah terjadi satu bentrokan tenaga dalam sangat hebat. Seperti diketahui Ratu Duyung memiliki kesaktian tinggi. Jika dirinya menderita luka dalam begitu parah berarti lawannya memiliki tingkat kesaktian yang sulit dijajagi.

Dalam gelegar dahsyat yang memporak-porandakan Puri Pelebur Kutuk Pendekar 212 sendiri terpental lalu terbanting ke lantai dan jatuh pingsan ketika hancuran benda kuning kehijauan merambas masuk ke jalan pernafasannya.

Ratu Duyung berusaha menyelamatkan Wiro yang hendak dilarikan oleh makhluk aneh berwujud gadis cantik bermuka pucat itu. Namun dia tidak berdaya dan hanya bisa berteriak-teriak. Enam orang anak buahnya menghambur masuk ke dalam ruangan dan terpekik melihat keadaan pimpinan mereka.

"Kejar!" teriak Ratu Duyung, Maksudnya agar anak buahnya mengejar gadis berkebaya panjang putih yang telah melarikan Pendekar 212 Wiro Sableng. Namun tiga orang anak buah sang Ratu yang kemudian melakukan pengejaran salah menduga. Mereka mengira Pendekar 212-lah yang telah mencelakai pimpinan mereka.

"Sebelumnya aku melihat dua pengawal mengantarkan pemuda itu ke Puri Pelebur Kutuk! Dia lenyap! Berarti dia yang telah mencelakai Ratu!" kata salah seorang anak buah Ratu Duyung yang melakukan pengejaran.

"Kurasa lebih jahat dari itu! Dia bermaksud keji! Hendak membunuh pimpinan kita!" kata gadis kedua. "Tapi ke mana lenyapnya pemuda keji itu?!"

Gadis ketiga berucap. "Pergunakan ilmu menyirap detak jantung. Dia pasti belum jauh. Kita musti dapat mengejarnya!"

"Aku ingin sekali membunuhnya dan membantingkan mayatnya di depan Ratu!"

Gadis pertama berpikiran lebih panjang. "Ratu tidak sempat memberi petunjuk. Apa kita harus membunuh pemuda itu atau bagaimana. Menurutku kita menangkapnya dulu hidup-hidup lalu membawanya ke hadapan Ratu. Biar Ratu yang memutuskan mau diapakan pemuda keparat itu. Heran, dasar manusia! Setahuku dia telah banyak menerima kebajikan dari pimpinan kita? Mengapa dia tega-teganya berlaku jahat dan keji terhadap Ratu?!"

"Kalau sudah tahu pemuda itu licik mengapa kita harus membiarkan dan membawanya hidup-hidup ke hadapan Ratu? Di tengah jalan dia bisa memuslihati kita atau merayu kita dengan ketampanannya. Kita bisa celaka semua!"

"Sudahlah, mengapa kita menghabiskan waktu dengan berdebat. Lekas kerahkan aji Kesaktian Menyirap Detak jantung."

Tiga gadis anak buah Ratu Duyung tegak tak bergerak lalu dongakkan kepala. Yang pertama mendongak ke arah timur, yang kedua ke arah utara dan satunya lagi ke jurusan barat.

Setelah beberapa jurus berlalu gadis yang mendongak ke arah utara dan timur hentikan perbuatannya memusatkan pikiran. Kepalanya yang mendongak diturunkan. Keduanya saling pandang sesaat.

"Aku tidak merasakan getaran apa-apa..." kata yang satu.

Kawannya menyahuti. "Aku juga...."

Lalu mereka berpaling pada kawan yang menghadap ke barat. Saat itu gadis ketiga anak buah Ratu Duyung ini tampak tegak dengan mata terpejam sedang sekujur tubuh bergetar. Perlahan-lahan dia turunkan kepalanya lalu membuka mata dan menatap tajam tak berkesip jauh ke arah barat. Dengan dua jari tangan kanannya dia menekan pergelangan tangan kiri tepat pada dua urat besar. Dua jari tangan tampak tersentak-sentak.

"Aku berhasil menyirap detak jantung Pendekar 212. Dia berada di jurusan barat. Kita mengejar ke sana...!" kata si gadis. Baru saja dia berkata begitu tiba-tiba tubuhnya jatuh terjengkang. Mukanya pucat seolah kehilangan darah.

"Nandiri!" dua teman terpekik menyebut namanya. Lalu mereka cepat menolong kawan yang roboh itu. Salah seorang ajukan pertanyaan. "Apa yang terjadi Nandiri? Apa yang kau rasakan?!"

"Detak jantung dan darah dalam nadiku keras sekali. Jelas pemuda itu berada di arah barat. Aku dapat menyirap detak jantung orang itu. Ada sesuatu yang aneh. Dia mampu berada jauh dari tempat ini. Jarak kita dan dia terpisah hampir tiga hari perjalanan. Padahal pada waktu kita menerobos masuk ke dalam Puri Pelebur Kutuk dia belum lama berlalu. Selagi aku menyirap tiba-tiba ada satu kekuatan dahsyat tak kelihatan menghantam diriku...." Nandiri terdiam sebentar. Dia merasakan mulutnya hangat dan asin. Ketika dia meludah ke tanah yang diludahkannya ternyata darah.

"Kau terluka di dalam Nandiri!"

Si gadis mengangguk membenarkan.

"Kalau begitu biar aku dan Manumi yang melakukan pengejaran. Kau lekas kembali dan minta obat pada Ratu...."

"Sebetulnya aku tetap ingin melakukan pengejaran..." kata Nandiri.

"Jangan bodoh! Kau terluka di dalam. Kita tak tahu apa obatnya. Lekas kembali ke Ratu!"

Dengan rasa terpaksa gadis bernama Nandiri itu akhirnya mengikuti nasihat teman-temannya. Setelah tinggal berdua Manumi berkata pada kawannya. "Kiani, kita harus bertindak cepat. Biar aku menjajagi arah tepat di mana pemuda itu berada."

"Sesuai keterangan Nandiri kita sudah tahu ke arah mana larinya pemuda jahat itu. Kita langsung saja menuju ke sana. Aku khawatir kau akan mengalami nasib sama seperti Nandiri. Ada kekuatan tak terlihat menghantam dirinya...."

Mendengar itu Manumi anggukkan kepala. Dua gadis cantik anak buah Ratu Duyung segera berkelebat ke arah barat. Kembali ke tempat kediaman Satu Duyung.

Empat orang gadis cantik, membawa Ratu Duyung keluar dari Puri Pelebur Kutuk yang telah porak poranda itu. Tubuh Ratu Duyung ditutup dengan kain beludru alas tempat tidur. Lalu sang Ratu diamankan ke sebuah bangunan dimana terletak satu ruang ketiduran yang bagus. Dengan cepat beberapa gadis yang memiliki kepandaian pengobatan melakukan pemeriksaan.

"Aneh, tak pernah aku melihat luka dalam seperti ini!" kata salah seorang gadis memeriksa. Teman-temannya membenarkan. "Jelas Ratu terkena satu pukulan jahat. Tapi di bagian mana?"

"Agaknya kita terpaksa harus menanggalkan kain penutup aurat Ratu dan memeriksa setiap sudut tubuhnya."

"Itu menyalahi adat, aturan dan pantangan. Kau tahu apa hukumannya jika kelak Ratu mengetahui kita telah memeriksa tubuhnya dalam keadaan tanpa pakaian...."

Sesaat semua anak buah Ratu Duyung yang ada di tempat itu jadi terdiam. Namun salah seorang dari mereka kemudian berkata. "Yang kita lakukan adalah menyelamatkan nyawa Ratu. Kalaupun kelak Ratu mengetahui kurasa dia bisa memaklumi...."

Setelah terjadi perundingan singkat akhirnya para gadis membuka gulungan kain beludru yang menutupi tubuh pimpinan mereka. Sosok yang bagus mulus dan berada dalam keadaan tanpa pakaian itu mereka periksa dengan teliti.

"Aneh, kita sama sekali tidak melihat bekas pukulan sedikit pun. Tak ada cidera di bagian luar tubuh Ratu..." kata gadis yang tegak di kepala tempat tidur. Semua anak buah Ratu Duyung yang ada di situ terdiam saling pandang.

"Ratu terkena pukulan sakti yang menembus jaringan tubuh tanpa merusak bagian luar. Kita tidak dapat menduga apa yang terjadi di sebelah dalam. Bahkan kita tidak tahu bagian mana yang terluka," menyahuti gadis lainnya.

"Kalau begitu kita harus mengusahakan agar Ratu siuman dulu. Lalu menanyakan bagian mana yang dirasakannya sakit. Setelah itu baru kita melanjutkan dengan pengobatan."

Enam orang gadis yang berada di sekitar tempat tidur lalu acungkan jari telunjuk masing-masing. Satu jari ditekankan ke atas kening Ratu Duyung. Jari kedua ditusukkan di permukaan leher. Dua jari ditekankan ke bagian dada, satu lagi tepat di atas pusar dan yang terakhir pada telapak kaki kiri. Salah seorang dari enam gadis memberi tanda. Lalu tampak jari-jari tangan mereka bergetar halus. Bersamaan dengan itu satu cahaya biru terang menyilaukan keluar dari enam jari telunjuk, masuk ke dalam tubuh Ratu Duyung hingga tubuh yang telanjang itu kini tampak terbungkus oleh sinar terang benderang berwarna biru.

Enam gadis perlihatkan perubahan pada wajah masing-masing ketika mereka merasa ada satu kekuatan aneh keluar dari tubuh Ratu Duyung. Dan itu bukan kekuatan atau hawa sakti yang dimiliki sang Ratu! Mereka coba bertahan. Tiba-tiba tubuh mereka terpental. Masing-masing keluarkan seruan kaget dan kesakitan. Dengan muka pucat dan mata mendelik mereka menyaksikan luka aneh pada ujung jari. Dari luka itu mengucur darah segar.

"Cepat totok urat besar di lekuk siku!" salah seorang gadis berteriak memberi ingat. Lalu menotok urat besar di pertengahan lengannya. Lima kawannya segera melakukan hal yang sama. Kucuran darah segera terhenti. Dari warna darah yang keluar mereka maklum kalau tidak ada racun masuk ke dalam tubuh mereka. Ini membuat keenam gadis tersebut merasa agak lega.

Sementara itu di atas tempat tidur sekujur tubuh Ratu Duyung masih tampak diselimuti sinar biru. Perlahan-lahan sinar terang itu meredup dan akhirnya sirna sama sekali. Bersamaan dengan lenyapnya sinar biru sepasang mata Ratu Duyung yang terpejam tampak bergerak-gerak. Lalu perlahan-lahan mata itu mulai membuka. Sesaat sang Ratu menatap ke langit-langit ruangan. Otaknya segera bekerja dan menyadari bahwa dirinya tidak lagi berada di Puri Pelebur Kutuk tetapi di ruang ketidurannya sendiri. Lalu dia teringat pada pemuda itu.

"Wiro..." katanya menyebut nama setengah berbisik. "Apakah kau ada di sini...?"

Pandangan mata sang Ratu mendadak membentur sosok tubuhnya sendiri yang terbaring tanpa mengenakan apa-apa. Sang Ratu keluarkan seruan tertahan melihat keadaan dirinya. Serta merta dia menyambar kain beludru dan menutupi tubuhnya. Lalu dengan cepat dia bergerak duduk.

Melihat hal ini enam orang anak buahnya segera jatuhkan diri. Masing-masing dilanda rasa takut karena telah melanggar pantangan besar yaitu melihat tubuh Ratu dalam keadaan tidak tertutup selembar benang pun. Ratu Duyung menatap paras anak buahnya satu persatu dengan sepasang matanya yang biru. Ketika- dia hendak membuka mulut menegur tiba-tiba di kejauhan terdengar suara belasan orang berlarian sambil berseru tiada hentinya.

"Ratu... Ratu... Ratu...!"

*

* *



EMPATDi dalam goa yang terletak di bukit Jatianom di tenggara Gunung Merapi Pendekar 212 Wire Sableng duduk bersila dengan mata terpejam. Sejak beberapa hari ini dia berusaha mengheningkan cipta, mengatur jalan nafas serta peredaran darah. Walau dia mampu melakukan hal itu namun tenaga dalam yang diharapkannya bisa muncul kembali tidak kunjung menjadi kenyataan.

"Agaknya kutukan seratus hari kehilangan kesaktian itu bukan main-main," membatin Wiro. Pikirannya yang tadi bening kini kembali dihantui oleh berbagai pertanyaan.

Pertama sekali dia teringat pada Ratu Duyung, orang yang kini sangat dibencinya. "Kalau bukan karena dia, aku tidak akan kehilangan tenaga dalam dan kesaktian. Walau cuma seratus hari tapi dalam waktu sekian lama sesuatu bisa terjadi mencelakai diriku. Atau mungkin memang sudah ditakdirkan aku punya jalan nasib seperti ini...?"

Lalu Wiro ingat pula pada gurunya sendiri yakni Sinto Gendeng serta orang tua sakti berjuluk Kakek Segala Tahu. "Mereka mendorongku untuk melakukan hal itu. Tidur dengan Ratu Duyung! Padahal celaka yang aku hadang!" Wiro mengumpat panjang pendek dalam hati. Tadinya ada terpikir di hati Pendekar 212 untuk pergi ke Gunung Gede menemui gurunya sesuai dengan anjuran Bunga. Namun setelah dipertimbangkannya lebih jauh dia memilih untuk tetap mendekam saja di goa di bukit Jatianom itu.

Wiro memandang ke dinding goa sebelah kiri. Di situ dia membuat guratan-guratan pendek untuk menghitung hari. Ada tujuh guratan berarti sudah tujuh hari dia berada di tempat itu sejak Bunga meninggalkannya.

"Bunga..." desis Wiro. "Kau mencemburui Ratu Duyung. Satu bukti kau mencintai diriku. Aku berdusta kalau kukatakan aku tidak mencintaimu. Namun selain kita berada dalam dua dunia yang berbeda, dasar cinta dalam diriku agaknya tidak memungkinkan kita untuk bersatu. Aku... ah!" Wiro menghela nafas berulangkali. Ingatannya melayang pada Bidadari Angin Timur. "Aku begitu mencintai-nya sepenuh hati. Aku tidak dapat-menerka bagaimana hatinya sendiri terhadapku. Terakhir sekali waktu berpisah di Pangandaran dia memakai dalih mengurus jenazah saudara kembarnya untuk menghindar bersamaku. Padahal dulu aku sudah membawa dan mempertemukannya dengan Eyang Sinto Gendeng. Tega sekali dirinya. Namanya pun tak mau diberi tahu padaku. Kalau aku hanya bertepuk sebelah tangan apakah aku harus meneruskan cinta gila ini? Aku bisa mampus sendiri!" Wiro lalu garuk-garuk kepala berulangkali.

Dari balik baju putih pemberian Bunga, Pendekar 212 keluarkan Kitab Putih Wasiat Dewa. Walau dia telah berulangkali membaca isi kitab itu dan boleh dibilang hafal setiap kalimat di dalamnya namun saat itu Pendekar 212 kembali menekuni apa yang tersurat dan tersirat. di dalamnya.

Bilamana datang kebenaran

maka meraunglah para iblis pembawa kejahatan

Kejahatan mungkin bisa berjaya

Tapi pada saat kebenaran dan keadilan muncul

tak ada satu kekuatan lain mampu membendungnyaWiro berhenti membaca. Dia merenung. "Apakah saat ini ada kebenaran dan keadilan untuk diriku...?" Lalu baru meneruskan membaca.

Kejahatan membakar dan merusak laksana api

Tetapi api itu sendiri sebenarnya

adalah kekuatan dahsyat

Yang diarahkan para Dewa untuk membakar mereka

Bilamana api memusnahkan mereka maka penyesalan tiada berguna"Gila! Ini cocok dengan keadaan diriku! Api telah memusnahkan diriku. Penyesalan tiada berguna! Aku harus merasa sengsara selama sembilan puluh tiga hari lagi!"

Wiro sampai ke halaman ketiga. Dia membaca dengan tekun. Walau kadang-kadang dia tampak cengar-cengir, merutuk dan mengomel namun membaca Kitab Putih Wasiat Dewa itu dapat menentramkan hatinya.

Delapan Sabda Dewa adalah delapan jalur keselamatan.Tanah Sabda Dewa Pertama.

Manusia berasal dan dijadikan dari tanah

Kepada tanahlah manusia akan kembali

Karenanya manusia tidak boleh congkak dan takabur

dan harus ingat bahwa dirinya berasal dari gumpalan debu yang hina

Yang kuasa kemudian memberikan kehormatan,

menjadikannya makhluk pilihan karena memiliki pikiran

yang membedakannya dengan binatang

Tanah bagian dari bumi ciptaan Yang Kuasa

diberikan kepada manusia untuk tempatnya berlindung diri, berkaum-kaum dan mencari rezeki

Karenanya tidaklah layak kalau manusia me-rusak tanah dan bumi untuk maksud-maksud keji serta berbuat kejahatan di atasnya

Tanah dan bumi diberikan Yang Kuasa untuk kebahagiaan ummat manusia.

Karenanya manusia wajib berterima kasih dengan jalan memeliharanya.

Tanah tempat kaki berpijak. Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung

Ketika tanah dijadikan ajang pertumpahan para Dewa pun gelisah dalam duka dan kecewa

Mengapa manusia tidak berpikir dan berterima kasih?Lama Wiro termenung. Kalimat terakhir yang barusan dibacanya berkesan mendalam di lubuk hatinya. "Mengapa manusia tidak berpikir dan berterima kasih...?" Wiro garuk-garuk kepala. Dia menatap jauh ke luar goa. Ke arah tetumbuhan menghijau serta sungai kecil yang mengalir di bawah sana. "Mungkinkah aku yang tidak berpikir dan tidak berterima kasih dalam hidup ini? Hingga mengalami celaka seperti sekarang ini?! Di dalam kitab ini tertulis para Dewa pun gelisah dalam duka dan kecewa. Hemmm.... Dewa saja bisa gelisah, duka dan kecewa. Apalagi aku si sableng ini! Hik... hik... hik!" Wiro tertawa sendiri dan kembali garuk-garuk kepala.

Kemudian Wiro meneruskan membaca Sabda Dewa Kedua, terus Sabda Dewa Ketiga.

Api Sabda Dewa ketiga

Ketika kecil menjadi kawan

Sewaktu besar menjadi lawan

Mengapa manusia tidak mau berpikir dalam mencari manfaat dari pada kualat?

Api membakar seganas iblis

Di dalam tubuh manusia ada api yang mampu merubah manusia menjadi iblis

Barang siapa tidak mampu melawan api, bumi dan tanah akan meratap, air akan menangis, manusia akan menjadi api untung neraka

Para Dewa terhempas dalam perkabunganWiro meneruskan bacaannya.

Bulan Sabda Dewa Kelima

Sumber kesejukan dunia ini muncul di kala malam

Tiada keindahan melebihi malam dengan rembulan penuh memancarkan cahayanya yang lembut

Mengapa manusia tidak bisa selembut sinar rembulan?

Padahal manusia memiliki pikiran, bulan tidak

Padahal manusia memiliki hati, rembulan tidak

Bukankah kelembutan sinar rembulan mencerminkan perasaan kasih?

Kasih dari orang tua terhadap anaknya

Kasih seorang pemuda pada gadis curahan hatinya

Kasih sesama insan

Bahkan binatang pun mempunyai rasa kasih

Lalu mengapa manusia terkadang melupakan-nya?

Mengapa kasih dapat berubah menjadi kebencian yang mendatangkan azab dan sengsara?

Dari siapa para Dewa akan mendapatkan jawaban?Sampai di situ kembali Wiro merenung. Terbayang lagi di pelupuk matanya wajah Ratu Duyung, Bunga, Bidadari Angin Timur lalu muncul paras jelita Puti Andini alias Dewi Payung Tujuh.

"Ada rembulan di hatiku, ada rembulan di hati mereka. Tapi rembulanku dan rembulan mereka tidak sama. Apa yang aku dambakan tak pernah terkabul." Lalu kembali kekonyolan muncul dalam dirinya. Sambil menggaruk kepala dia berkata. "Kalau Dewa tak kunjung mendapatkan jawaban, bagaimana aku si sontoloyo ini! Ha... ha... ha!"

Tersentuh oleh kalimat-kalimat dalam Sabda Dewa Ke-lima itu Pendekar 212 lalu ambil Kapak Naga Geni 212. Beberapa lamanya dipandanginya senjata mustika sakti yang kini tidak mempunyai kekuatan dan kemampuan apa-apa lagi bagi dirinya. Senjata warisan Eyang Sinto Gendeng ini lalu diusap-usapnya di bagian mata dan gagangnya yang terbuat dari gading putih. Matanya memperhatikan enam buah lobang di gagang kapak serta ujung gagang yang berbentuk kepala naga. Selama ini jarang sekali dia memperhatikan senjata itu dengan seksama karena selalu disimpan dan disembunyikan di balik pakaian. Baru di-keluarkan kalau menghadapi bahaya. Kini memandangi senjata itu seolah baru menyadari, Wiro ingat bahwa gagang Kapak Naga Geni 212 bisa berubah menjadi sebuah seruling yang jika ditiup dengan mempergunakan tenaga dalam dapat merusak telinga dan mengacaukan jalan darah musuh!

Perlahan-lahan Wiro angkat senjata itu yang kini terasa begitu berat. Mulut kepala naga didekatkannya ke bibirnya. Dia mulai meniup. Walau tidak lagi memiliki tenaga dalam namun tiupan yang dilakukan Wiro cukup menggetarkan, penuh gelora perasaan. Nyanyian yang mencuat dari seruling gagang kapak sakti itu melantun lembut berhiba-hiba. Wiro tidak tahu entah berapa lama dia meniup. Lebih dari itu juga tidak mengetahui kalau tak jauh dari goa seorang gadis berpakaian biru yang duduk , di atas sebuah batu, mendekam bersembunyi di balik serumpun semak belukar termenung sendu mendengar suara tiupan serulingnya. Sepasang matanya yang bagus tampak berkaca-kaca. Beberapa kali hatinya berontak mendorong agar segera keluar dari persembunyiannya dan menemui Pendekar 212 Wiro Sableng. Namun setiap dirinya terbujuk seolah ada kekuatan yang melarangnya untuk tidak melakukan hal itu.

Seolah ada bisikan di telinganya. "Menemui pemuda itu akan mendatangkan seribu kebahagiaan dalam dirimu. Namun dibalik kebahagiaan itu mungkin akan muncul berbagai malapetaka yang akan menimbulkan duka derita bagi masa depanmu...."

Bisikan tadi membuat gadis berbaju biru itu tidak beranjak dari batu yang didudukinya. Namun mendadak terdengar suara bisikan lain.

"Jangan mendustai diri sendiri. Kau sadar se-penuh hati bahwa kau mencintai pemuda itu. Selama ini kau berlari dalam lingkaran menipu diri sendiri. . Apakah tujuan dan akhir perjalanan hidup seorang gadis kalau bukan dicintai dan mencintai? Kau tahu dia mencintaimu. Kau mencintai dirinya. Apalagi yang kau tunggu? Apa kau baru akan menyatakan cintamu setelah kau menjadi seorang nenek atau setelah terlambat karena orang yang kau cintai itu jatuh ke tangan gadis lain? Jangan bersikap buta. Bukan hanya kau seorang yang mencintainya. Kau tahu bahkan kenal sederetan gadis-gadis cantik yang mencintainya setulus hati...."

Bisikan terakhir ini sangat mempengaruhi gadis berbaju biru yang bukan lain adalah Bidadari Angin Timur. Sejak berpisah di Pangandaran dulu perasaan cinta kasihnya terhadap Pendekar 212 sulit ditekan dan disembunyikannya. itulah sebabnya setelah mengurus jenazah saudara kembarnya yang menemui ajal di tangan Pangeran Matahari, Bidadari k Angin Timur berusaha mencari pemuda itu, Kini setelah melalui perjalanan panjang akhirnya dia berhasil mengetahui kalau Pendekar 212 Wiro Sableng berada di sebuah goa di bukit Jatianom. Walau ada perasaan heran mengapa sampai Wiro tersesat ke bukit itu dan apa yang tengah dilakukannya namun perasaan ingin bertemu membuat Bidadari Angin Timur melupakan segala-galanya. Kini setelah dia berada begitu dekat dengan pemuda tersebut kembali kebimbangan melanda dirinya.

Dengan ujung pakaian birunya Bidadari Angin Timur mengusut pinggiran matanya yang basah. Ditebarkannya hatinya lalu bangkit berdiri. Namun gerakannya hendak meneruskan langkah tertahan ketika ada dua bayangan berkelebat. Dua gadis cantik mengenakan pakaian ketat dengan belahan dada sangat lebar muncul tak jauh dari tempatnya berada.

Dalam kejutnya Bidadari Angin Timur segera mengenali siapa adanya dua gadis itu. "Anak-anak buah Ratu Duyung. Ada apa mereka datang ke sini? Jangan-jangan untuk menjemput Wiro. Ah...." Dada Bidadari Angin Timur berdebar keras. Mukanya menjadi merah oleh rasa cemburu yang amat sangat. "Mungkin hubungan Wiro dengan Ratu Duyung sudah sangat jauh daripada yang aku bayangkan. Belum lama berselang kuketahui dia berada di tempat kediaman gadis bermata biru itu. Mungkin dia telah menjadi milik sang Ratu. Mungkin aku sudah terlambat seperti yang dikatakan suara bisikan tadi...."

Tak mampu berpikir lebih jauh akhirnya Bidadari Angin Timur menuruni bukit ke arah selatan, matanya basah berurai tangis.

*

* *



LIMABelum hilang kejut Ratu Duyung dan para gadis yang ada dalam ruangan ketiduran itu belasan anak buah Ratu Duyung telah menghambur masuk ke tempat itu. "Kalian berani masuk ke tempat ini tanpa izinku?!" bentak Ratu Duyung.

"Ratu! Kami..."

"Diam!" hardik sang Ratu dengan mata membeliak. Kemudian dia melihat ada kelainan pada pakaian dan keadaan diri semua anak buahnya yang barusan masuk ke tempat itu. Dia melihat gadis-gadis ini mengenakan pakaian dalam keadaan setengah basah. Rambut mereka juga kuyup dan air dari tubuh mereka jatuh menetes membasahi lantai. Namun di balik semua itu sang Ratu melihat satu keanehan yang selama ini mustahil terjadi. Mendadak jantungnya berdebar keras dan tengkuknya terasa dingin.

"Ratu dalam keadaan tidak sehat! Kalian semua harap segera meninggalkan ruangan ini!" Salah seorang dari enam gadis yang ada di sisi tempat tidur membentak.

Ratu Duyung angkat tangan kanannya. Dengan suara bergetar dia berkata. "Salah seorang dari kalian yang baru masuk lekas menerangkan apa yang terjadi!"

Seorang gadis yang rambutnya basah riap-riapan di depan dada maju dua langkah dan menjura. Sebelum sempat bicara dia sudah sesenggukan duluan. Teman-temannya yang lain juga tampak berusaha menahan isak. Enam gadis di samping tempat tidur menjadi heran. Ratu Duyung sendiri seperti tidak dapat menahan gemuruh di dadanya.

"Lekas jelaskan! Jangan pikiranmu mempengaruhi hatimu!" ujar Ratu Duyung dengan suara masih keras padahal dia sendiri saat itu sebenarnya sudah tidak dapat menahan hati.

"Ratu, kami mengalami kejadian aneh. Seperti biasa pagi ini kami semua pergi ke telaga untuk mandi dan mencuci. Begitu kami menyentuh air sepasang kaki kami tidak berubah menjadi ekor ikan. Kami..." Ucapan si gadis tersendat. Ada air mata meluncur di kedua pipinya.

"Teruskan keteranganmu!" bentak Ratu Duyung,

"Kami... kami tidak percaya melihat hal itu. Ramai-ramai kami lalu masuk ke dalam telaga. Terus kebagian yang paling dalam. Sampai tubuh kami tenggelam sebatas leher, sosok kaki kami tetap tidak berubah menjadi ekor ikan...." Sampai di situ si gadis tak dapat lagi menahan tangisnya. Kawan-kawannya yang lain juga mulai tersedu sedan.

"Ratu.... Apakah kami telah bebas dari kutukan selama bertahun-tahun itu?" Salah seorang dari para gadis yang berpakaian basah bertanya.

Ratu Duyung tidak bisa segera menjawab. Pikirannya melayang pada saat-saat ketika dia berada berdua-duaan dengan Wiro Sableng di atas tempat tidur di Puri Pelebur Kutuk. Saat itu walau mereka berdua tidak lagi mengenakan pakaian dan tak ada selembar benang pun yang membatasi tubuh mereka, namun Wiro sama sekali belum melakukan apa-apa. Pemuda itu belum sampai pada keadaan untuk membuatnya lepas bebas dari kutukan. Namun saat ini mengapa belasan anak buahnya muncul memberitahu bahwa tubuh mereka sama sekali tidak mengalami perubahan kendati tersentuh air? Apakah mereka telah bebas dari kutukan termasuk dirinya dan enam gadis yang sebelumnya ada bersamanya?

Untuk beberapa lamanya keadaan dalam ruangan besar itu menjadi sunyi. Hanya sedu-sedan tertahan yang terdengar di sana sini. Enam gadis di dekat Ratu Duyung memandang pada pimpinan mereka seolah hendak bertanya apa yang akan dilakukan.

Ratu Duyung tutupkan kain beludru biru di tubuhnya lalu dia turun dari atas tempat tidur.

"Ratu, harap jangan turun dulu. Kau masih dalam keadaan terluka..." seorang gadis mengingatkan.

"Aku sudah sembuh. Bukankah kalian telah menolongku mengusir kekuatan aneh yang coba .mendekam dalam diriku? Kalian berhasil walau terpaksa harus mengalami luka di jari masing-masing.... Anak-anak, aku dan enam temanmu belum membuktikan sendiri. Namun aku percaya. Kebesaran pertolongan Tuhan telah datang menolong kita. Aku yakin saat ini kini semua telah bebas dari kutukan yang selama ini jatuh atas diri kita...."

Ruangan itu jadi ramai oleh berbagai suara. Ada gadis yang bersorak gembira, ada yang mengangkat-angkat tangan tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Ada juga yang kembali sesenggukan.

"Anak-anak saat ini kita pantas bersyukur. Kalian semua ikut aku menghadap ke timur. Kita sama-sama bersujud menyatakan syukur dan terima kasih kepada Yang Maha Kuasa!"

Lalu Ratu Duyung memutar tubuh menghadap ke timur dan bersujud. Apa yang dilakukannya diikuti oleh semua anak buahnya. Sambil bersujud banyak di antara mereka yang tak dapat lagi menahan tangis.

Ratu Duyung berdiri. Dia memandang pada enam gadis di hadapannya. "Aku tahu, seperti aku kalian tentu sudah tidak sabar untuk membuktikan apakah kita benar-benar telah bebas. Ambilkan pakaian pesalin untukku. Lalu kita semua menuju telaga...."

Semua gadis yang ada di situ serta merta memberi jalan pada sang Ratu dan enam temannya. Mereka beramai-ramai menuju ke telaga yang terletak di satu jalan menurun menuju pedataran rendah berbentuk lembah kecil dikelilingi bebatuan.

Ratu Duyung sesaat tegak di pinggiran telaga. Enam anak buahnya berjajar di belakangnya. Seperti tidak sabaran sang Ratu kemudian melompat menerjunkan diri ke dalam telaga, langsung menyelam di bagian paling dalam. Enam anak buahnya mengikuti. Tak lama kemudian kepala Ratu Duyung muncul di permukaan air. Senyum suka cita kelihatan di wajahnya yang jelita. Sepasang matanya bersinar indah. Dia mengangkat kedua kakinya ke permukaan air. Ternyata sepasang kakinya yang bagus tidak berubah menjadi ekor ikan. Para gadis di sekelilingnya bersorak sorai. Ratu Duyung angkat tangan kanannya lalu berteriak keras.

"Terima kasih Tuhan! Kau telah menolong kami! Saat ini kami semua bebas dari kutukan. Terima kasih... terima kasih Tuhan!"

Ucapan sang Ratu serta merta diikuti oleh belasan anak buahnya. Suara para gadis itu menggemuruh di seantero telaga. Di tepian telaga Ratu Duyung kemudian mengumpulkan anak buahnya.

"Kita telah berterima kasih pada Tuhan, namun kita juga harus berterima kasih pada seseorang. Tuhan menjadi Yang Maha Besar dan Ma ha Kuasa menolong kita. Tapi orang itu adalah seolah kunci wasiat yang diberikan Tuhan untuk membuka pintu menolong kita keluar dari kutukan...."

Walau banyak yang sudah dapat menduga namun salah seorang dari anak buah Ratu Duyung ajukan pertanyaan.

"Kalau kami boleh tahu Ratu, siapakah adanya orang itu?"

"Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Wiro Sableng. Pemuda gondrong yang tempo hari pernah kita jatuhi hukuman bersama si Dewa Ketawa. Yang hari ini kembali berkunjung ke sini dan ikut bersamaku masuk ke dalam Puri Pelebur Kutuk."

"Kalau memang dia orangnya kita pantas mencarinya untuk mengucapkan terima kasih. Dimanakah dia sekarang Ratu...?"

"Dia tidak ada di sini lagi. Justru hal inilah yang membuatku gelisah. Ketika kami berdua berada di Purl Pelebur Kutuk tiba-tiba ada makhluk berwujud perempuan mengenakan pakaian serba putih, cantik tapi bermuka pucat muncul dan melarikan pemuda tuan penolong kita itu...."

"Jika ada orang berniat jahat padanya, karena dia memiliki ilmu silat tinggi dan kesaktian pasti dia mampu menghajar prang itu!" kata salah seorang gadis dalam ruangan.

Ratu Duyung terdiam. Di wajahnya jelas tampak bayangan rasa gelisah.

"Ratu, apakah kau menghadapi kesulitan? Katakan pada kami agar kami bisa membantu memecahkan masalahnya," ujar gadis yang tegak tepat di samping kanan Ratu Duyung.

Sang Ratu menggigit-gigit bibirnya. "Sebenarnya hal ini tidak perlu aku beritahukan pada kalian. Namun pengorbannya begitu besar. Aku tak ingin menutupi kebesaran jiwa dan hatinya. Biarlah aku berterus terang,..." Setelah memandang berkeliling maka berkatalah sang Ratu bermata biru itu. "Seolah sudah ditakdirkan, kutukan yang menimpa diri kita selama bertahun-tahun hanya mampu dimusnahkan jika ada seorang pemuda yang aku cintai dan juga mengasihi diriku, melakukan hubungan badan denganku bukan berdasarkan nafsu. Pemuda itu ternyata adalah seorang Pendekar 212 Wiro Sableng. Bukan saja karena dia seorang tampan atau sakti, tetapi karena dia seorang bujangan. Maksudku masih perjaka...." Paras sang ratu sesaat tampak merah. Lalu dia melanjutkan. "Kali pertama dia datang ke sini aku tak berhasil meyakinkan dirinya untuk menolong diriku dan diri kalian. Kemudian entah apa yang merubah hatinya, pada pertemuan di Pangandaran di mana Pang era n Matahari berhasil dibunuhnya dia bersedia ikut ke sini. Kami masuk ke dalam Puri Pelebur Dosa. Pada saat dia melakukan pertolongan tiba-tiba ada makhluk berwujud perempuan muda cantik tapi berwajah pucat, berpakaian kebaya panjang dan kain putih masuk ke dalam Puri. Anehnya Pendekar 212 tidak dapat melihatnya sedang aku bisa melihat jelas. Aku maklum kalau orang ini bukan manusia sembarangan, sebangsa makhluk halus yang bisa memperlihatkan diri dalam wujudnya yang asli. Ketika aku sadar dia hendak melarikan Pendekar ,212 aku segera menyerangnya dengan pukulan sakti. Perempuan berkebaya putih balas menyerang dengan sebuah benda berwarna kuning kehijauan dan menebar bau bunga kenanga. Aku berhasil menghantam hancur senjatanya yang ternyata sekuntum kembang kenanga itu. Namun ternyata dia memiliki kepandaian dan kesaktian jauh melebihi diriku. Kembang kenanga hancur, aku sendiri terbanting ke atas tempat tidur. Menderita luka dalam yang cukup parah. Sebaliknya Pendekar 212 Wire- Sableng kulihat roboh pingsan. Dalam keadaan tak berdaya aku hanya bisa berteriak sewaktu perempuan itu melarikan Wiro. Aku sendiri kemudian tak sadarkan diri. Baru siuman setelah kalian menolongku. Aku berterima kasih pada kalian.... Dan aku begitu bahagia serta bersyukur pada Tuna n bahwa ternyata kita semua kini telah terbebas dari kutukan yang selama ini membuat kita hidup setengah manusia setengah ikan. Namun kebebasan itu dibayar mahal oleh Pendekar 212. Selama seratus hari dia akan kehilangan semua ilmu kepandaian yang dimilikinya. Termasuk ilmu silat, kesaktian dan tenaga dalam, itulah yang aku gelisahkan... Aku tidak dapat memastikan apakah perempuan muda yang menculik Pendekar 212 bermaksud jahat atau baik."

Untuk beberapa lamanya ruangan itu menjadi sunyi. Lalu terdengar suara beberapa orang berbisik-bisik. Ratu Duyung memandang berkeliling. Sesaat kemudian dia berkata. "Ada di antara kalian yang ingin mengatakan sesuatu? Jangan kasak kusuk berbisik-bisik. Aku tidak melihat Manumi dan Kiani. Di mana mereka?"

Beberapa orang gadis memandang pada Nandiri. Anak buah Ratu Duyung yang satu ini melangkah ke hadapan sang Ratu lalu menjura. "Ratu, pasti kau tidak berkenan dengan keterangan ini. Manumi dan Kiani tengah melakukan pengejaran terhadap Pendekar 212 Wiro Sableng."

"Melakukan pengejaran?" ujar Ratu Duyung dengan sepasang mata biru membesar. Dadanya berdebar. Dia yakin telah terjadi satu kekeliruan. "Mengejar dengan maksud apa?!"

"Ratu, setelah mendengar keterangan Ratu tadi jelas di antara kami termasuk saya telah melakukan kesalahan. Waktu saya dan lima teman mendengar jeritan Ratu menyusul runtuhnya sebagian bangunan Puri Pelebur Kutuk, kami langsung menerobos masuk. Kami temui Ratu dalam keadaan luka parah, setengah pingsan dan berteriak kejar! Sebelumnya kami mengetahui bahwa Ratu masuk ke dalam Puri bersama pemuda itu. Kami dan kawan-kawan mengira tidak dapat tidak pemuda itulah yang telah berlaku jahat mencelakai Ratu...."

"Ya Tuhan!" Ratu Duyung tutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Teruskan keteranganmu Nandiri!"

"Kami segera membagi tugas. Beberapa orang tetap tinggal untuk menolong Ratu. Kami mengejar dengan mengandalkan ilmu menyirap detak jantung. Saya berhasil mengetahui kalau pemuda itu lari ke jurusan barat. Namun karena mengalami luka dalam akibat hantaman balik hawa aneh, saya terpaksa kembali. Manumi dan Kiani melanjutkan pengejaran.... Saya benar-benar khawatir Ratu. Karena mengira pemuda itu telah berbuat jahat, jangan-jangan mereka berniat membunuhnya!"

Ruangan itu sunyi senyap seperti di pekuburan.

Ratu Duyung tegak tak bergerak. Kedua matanya dipejamkan. Hatinya dilanda kecemasan luar biasa. "Wiro... pemuda itu kini tidak memiliki secuil ilmu pun! Manumi dan Kiani dengan mudah bisa membunuhnya! Ya Tuhan! Aku harus bertindak cepat!"

Dari bawah bantal Ratu Duyung mengeluarkan cermin sakti berbentuk bulat. Dia menatap tak berkesip ke dalam cermin itu sambil membayangkan paras Pendekar 212 Wiro Sableng. Mula-mula dia melihat laut biru. Lalu deretan pulau-pulau. Ada sinar terang di sebelah kanan cermin kemudian gelap dan perlahan-lahan muncul satu daratan. Lalu samar-samar tampak puncak sebuah gunung. Menyusul bayangan seperti sungai lalu muncul kilatan-kilatan aneh. Bersamaan dengan itu satu hawa dingin me-rambas masuk ke dalam tubuh sang Ratu lewat jari-jari tangannya yang memegang cermin.

Pada puncak rasa dingin yang membuat dia tidak tahan Ratu Duyung terpekik. Cermin bulat dilemparkannya ke atas tempat tidur. Dia cepat kerahkan tenaga dalam, mengatur jalan nafas dan peredaran darahnya.

Sebenarnya Ratu Duyung memiliki kesaktian yang disebut "Menembus Pandang". Seperti telah dituturkan dalam serial Wiro Sableng berjudul "Wasiat Sang Ratu" ilmu kepandaian itu telah diberikannya kepada Pendekar 212 Wiro Sableng dengan akibat dia sendiri kehilangan kemampuan untuk mempergunakan ilmu itu selama 777 hari. Karenanya dia terpaksa memakai cermin bulat sakti untuk menjajagi di mana kira-kira beradanya Pendekar 212. Ternyata ada satu kekuatan aneh yang tidak sanggup ditembus Ratu Duyung yang melindungi diri Pendekar 212.

"Ratu! Kau tak apa-apa?!" seru Nandiri sementara semua anak buah Ratu Duyung juga tampak dicekam rasa khawatir.

"Ada hawa aneh..." kata Ratu Duyung perlahan. "Ada satu kekuatan yang melindungi Pendekar 212, membuat cermin sakti ini tidak mampu mengadakan sambung rasa dengan pemuda itu. Aku yakin perempuan bermuka pucat itu yang jadi penangkalnya.... Namun ilmu aneh seperti itu hanya bertahan beberapa hari. Setelah itu tak ada satu kekuatan pun yang akan melindungi Pangeran 212! Aku harus pergi sekarang juga!"

Nandiri maju selangkah.

"Ratu, kalau kau mau memberi izin, biarkan saya dan beberapa teman mengejar Kiani dan Manumi serta mencari Pendekar 212. Saya sudah tahu kira-kira di arah mana pemuda itu berada. Dengan melakukan hal ini saya berharap bisa menebus kesalahan."

Ratu Duyung menggeleng.

"Kalian tetap di sini sampai aku kembali. Se-belum pergi ada satu keputusan besar yang harus aku beritahukan pada kalian semua. Sekembalinya dari perjalanan aku akan tetap tinggal di tempat ini. Kalian boleh memilih, ingin tetap tinggal di sini bersamaku atau dengan segala kebebasan yang ada kembali ke dunia darimana dulu kita semua berasal. Urusan dengan sesepuh kita yang telah menjatuhi hukuman kutukan biar aku sendiri yang menyelesaikan...."

Semua yang ada di tempat itu berdiam diri. Tak ada yang berani memberikan jawaban. Anak buah Ratu Duyung tundukkan kepala dengan wajah sedih.

"Ratu," kata Nandiri lagi-lagi mewakili teman-temannya. "Kami mohon petunjuk. Apa yang akan kami lakukan terhadap orang tua yang saat ini berada di Ruang Penyembuhan?"

"Jaga dia baik-baik. Jangan berbuat sesuatu apa sampai dia siuman sendiri. Dia boleh menetap di sini sampai kesembuhannya. Jika dia minta pergi antarkan dia sampai ke Pintu Gerbang Perbatasan."

"Perintah Ratu akan kami laksanakan. Sementara Ratu pergi, kami akan menunggu di sini. Ke-putusan apapun yang akan diambil oleh kami nanti saja kita bicarakan. Kami berdoa untuk keselamatan Ratu.:.."

Ratu Duyung memegang bahu anak buahnya itu. Lalu diambilnya cermin bulat dari atas tempat tidur. Dia memberi isyarat pada beberapa orang gadis. Lalu mereka melangkah menuju ke sebuah ruangan di mana Ratu Duyung berganti pakaian.

*

* *



ENAMSosok tua basah kuyup itu tergantung kaki ke atas kepala ke bawah. Tali penggantungnya berbentuk aneh. Bukan merupakan tali biasa tetapi menyerupai selarik sinar berwarna biru. Air menetes dari sekujur tubuh, pakaian dan rambut orang tua itu. Juga tampak air keluar dari lobang telinga, hidung dan yang paling banyak dari mulutnya.

Ketika dia siuman dan dapatkan dirinya dalam keadaan seperti itu – si orang tua terheran-heran namun juga memaki sambil matanya memandang jelalatan berkeliling.

"Setan alas! Siapa yang menggantung aku begini rupa...?!"

Suara makiannya terhenti dan lidahnya seperti mau ditelannya sendiri ketika dia melihat apa yang ada di sekitarnya.

Si kakek pejamkan matanya.

"Aku harus mengingat.,.. Apa yang telah terjadi dengan diriku sebelumnya. Apa saat ini aku sudah mati dan berada di neraka atau di sorga? Hik... hik! Otak tumpul tua bangka ini tak mau segera diajak bekerja!"

Si prang tua gerakkan tangan kanannya yang terkulai ke bawah. Dengan tangannya ini dipukul-pukulnya batok kepalanya.

"Duk... duk... duk!"

Air mengucur makin banyak dari telinga, hidung dan mulutnya. "Otak tua! Ayo lekas mengingat! Apa yang terjadi sebelumnya? Hemmmm.... Bagus! Oia mulai bekerja.... Aku mulai bisa mengingat. Aku meninggalkan pulau itu. Naik perahu. Di tengah laut tahu-tahu muncul dukun keparat itu. Ah... ternyata dia adalah Sika Sure jelantik! Membawa dendam asmara berdarah, ingin membunuhku dengan ilmu kilat kuku akhirat! Ilmu kesaktian tua bangka itu ternyata memang hebat. Aku tak mampu menghadapi pukulan saktinya. Aku terlempar dari atas perahu layar. Mungkin... mungkin aku merasakan ada sesuatu menarik kakiku. Lalu air laut menyerbu semua lobang di tubuhku. Lobang telinga, mata, hidung, mulut... lobang dubur. Ah yang satu ini tidak! Lalu aku tak ingat apa-apa lagi. Sekarang begitu sadar berada di mana aku ini? Kalau di neraka mengapa aku melihat begini banyak gadis berwajah cantik seolah bidadari mengelilingiku! Kalau aku di sorga mengapa orang menggantungku kaki ke atas kepala ke bawah? Aku harus meloloskan diri!"

Si orang tua perhatikan tali yang mengikat kedua pergelangan kakinya. "Tali aneh..." desisnya. "Tak lebih dari pada sebentuk sinar berwarna biru. Aku mau lihat sampai di mana kehebatannya!" Segera orang tua ini kerahkan tenaga dalamnya. Tangannya kiri kanan diputar demikian rupa hingga tubuhnya melayang naik ke atas dan, "Wuuttt!"

"Gila!" seru orang tua itu. "Jelas tanganku tadi memapas tali itu. Tapi seperti aku menggebuk udara kosong!" Sepasang mata si orang tua yang lebar jadi bertambah besar. Kembali dia melayangkan tubuhnya ke atas dan memukul dengan pinggiran telapak tangan. Sampai berulangkali dilakukannya tetap saja dia seolah memukul udara kosong. Tali bersinar biru itu tak dapat ditebas putus.

"Hemmmm... ada orang jahil hendak bercanda denganku. Dikiranya aku tolol! Tali tak bisa kuputus tapi langit-langit ruangan ini masakan tak mampu kujebol! Sekali kuhantam runtuh, tubuhku pasti terjatuh lepas!" Orang tua ini tertawa mengekeh. Kembali dia salurkan tenaga dalamnya ke tangan kanan, Sesaat lagi dia hendak menghantam ke atas tiba-tiba terdengar suara suitan keras. Disusul oleh suara angin mendesir.

Secara aneh tali yang mengikat pergelangan kaki si orang tua bergerak melenting. "Sret... sret... sret!" ikatan tali biru lepas. Lalu lenyap dari pandangan. Bersamaan dengan itu tubuh si orang tua jatuh deras ke bawah. Orang lain yang tidak mempunyai kepandaian pasti akan langsung amblas ke lantai ruangan. Tapi orang tua ini dengan cekatan membuat gerakan aneh dan tahu-tahu dia sudah berdiri di atas sepasang kakinya, memandang jelalatan pada belasan gadis cantik berpakaian ketat, terbelah tinggi dari kaki sampai ke pinggang dan terbuka lebar di bagian dada.

"Ha... ha... ha! Kini kaki ke bawah kepala ke atas aku lebih jelas bisa melihat kalian! Tidak seperti tadi kaki ke atas kepala ke bawah! Ha... ha... hai. Gadis-gadis cantik siapakah kalian? Apa aku tua bangka buruk ini telah berada di sorga? Hemmm...." Si orang tua dongakkan kepalanya dan menghirup dalam-dalam. "Udara di sini harum semerbak. Kalau bukan sorga akhirat pasti aku berada di sorga dunia! Ha... ha... ha!"

"Orang tua! Jangan tertawa saja! Lihat keadaan pakaianmu! Celanamu merosot hampir lepas ke bawah. Tanaman rumputmu yang gersang hampir berserabutan...." Ada gadis cantik usil di deretan belakang berkata dengan suara keras.

"Husss!" seorang gadis cepat membentak memotong ucapan temannya itu.

Ruangan itu riuh oleh hiruk pikuk suara tertawa para gadis. Si orang tua bermuka teramat cekung nyaris menyerupai tengkorak delikkan matanya dan memandang ke bawah. Mula-mula dilihatnya baju putihnya yang robek besar di bagian dada dan pinggang. Lalu tampang buruk orang tua ini berubah merah padam ketika dilihatnya keadaan celananya yang memang telah merosot sampai ke bawah pinggul. Cepat-cepat dia menarik celana putihnya yang basah itu tinggi-tinggi dan mengikatnya kuat-kuat!

Setelah usap wajahnya beberapa kali orang tua ini kembali memandang ke arah gadis-gadis cantik di depannya. Lalu dipukulnya keningnya sendiri dan berkata. "Tololnya tua bangka ini! Aku ingat siapa kalian adanya. Dua orang di antara kalian pernah muncul di Teluk Penanjung Pangandaran. Kalian yang cantik-cantik ini pasti anak buah Ratu Duyung!"

"Orang tua! Tidak salah dugaanmu. Kami memang anak buah Ratu Duyung. Wakil penguasa laut selatan." Salah seorang gadis yaitu Nandiri menjawab.

"Antara aku dan Ratumu tidak ada silang sengketa, bahkan belum lama berselang kami bertemu di Pangandaran, sempat berbincang-bincang sebelum dan sesudah tewasnya Pangeran Matahari.

Kenapa tadi aku digantung kaki ke atas kepala ke bawah? Pasti dia yang memberi perintah!"

"Orang tua, harap kau jangan salah sangka. Ratu kami sama sekali tidak berniat jahat terhadapmu. Ma lah dia melakukan hal paling tepat untuk menolongmu! Dengan cara menggantung kaki ke atas kepala ke bawah, air laut yang telah membusuk dan masuk ke dalam perut, telinga dan hidungmu dapat dikeluarkan...."

"Hemmm, begitu...?" Si orang tua remas-remas rambut putihnya yang basah sehingga air yang masih menempel mengucur jatuh ke lantai. "Hebat juga cara Ratumu menolong. Aku pantas berterima kasih padanya. Juga pada kalian."

Si orang tua yang masih dalam keadaan basah kuyup itu berpaling pada Nandiri lalu tertawa mengekeh. "Kalian mengenakan baju bagus-bagus, tubuh menebar bau harum. Aku basah kuyup kedinginan dan bau air laut! Ha... ha... ha! Ayo lekas ceritakan bagaimana aku bisa sampai di tempat ini?"

"Ratu kami yang menolongmu orang tua. Dia menemukanmu di tengah laut pada saat terlempar dari atas perahu."

"Di mana Ratu kalian sekarang? Aku ingin bertemu dan mengucapkan terima kasih."

"Ratu tidak ada di sini. Dia punya satu urusan penting. Dia pergi tanpa memberitahukan siapa namamu atau siapa kau adanya. Dia berpesan agar kami melayanimu dan mengizinkan kau berada di sini sampai sembuh." Berkata Nandiri.

"Eh, memangnya aku sakit apa?" tanya si orang tua sambil memandang berkeliling.

"Ratu kami menemukanmu hampir mati dihantam orang di tengah laut. Kau tak dapat melihat luka dan benjut di mukamu tapi kau bisa menyaksikan luka di dada dan pinggangmu. Dari hidung, mulut dan telingamu mengucur air laut campur darah. Kau terluka di dalam Kek!"

Orang tua berpakaian putih kuyup itu raba dadanya lalu menyeringai. "Kau mungkin benar. Tapi rasanya sakitku tidak parah benar. Aku berterima kasih kalian turut menolong. Tapi aku tak bisa tinggal lama-lama di sini...."

"Kami hanya mengikuti perintah Ratu...."

"Bisa berbahaya!"

"Bahaya? Maksudmu Kek?"

"Kalian semua cantik-cantik. Mataku belum lamur. Walau sudah tua bangka begini menyaksikan kalian lama-lama aku jadi salah tingkah. Kalau aku jatuh cinta pada salah satu dari kalian bagaimana? Kalau cintaku diterima? Kalau tidak? Ha... ha... ha...!"

Ruangan itu menjadi riuh oleh gelak tawa anak buah Ratu Duyung. Nandiri beranikan diri berkata. "Kek, dalam keadaan seperti ini kau masih bisa bersenda gurau. Ini kuanggap aneh...."

"Aku memang orang aneh!"

"Sebenarnya kau ini siapa Kek? Mengapa sampai hampir menemui ajal diserang orang di tengah lautan?"

"Panggil saja aku Tua Gila. Soal mengapa aku diserang orang di tengah laut aku juga tidak mengerti. Jadi tak bisa aku ceritakan padamu. Biar nanti kalau aku bertemu dengan si pembunuh itu akan aku tanyakan padanya! Dan kalau panjang umur jawabannya akan aku sampaikan pada kalian! Ha... ha... ha!"

Nandiri geleng-gelengkan kepala. Teman-temannya senyum-senyum.

"Kalian tahu ke mana perginya Ratu kalian? tadi ada yang mengatakan Ratu punya urusan penting. Sebenarnya kurasa mungkin dia tidak suka melihat aku si tua buruk ini! Hik... hik! Apakah aku bisa mendapat jawaban?"

Nandiri membuka mulut. "Melihat sikap Ratu, nyata dia sangat menghormatimu. Soal kemana dia pergi dan apa urusannya kami tidak dapat memberi tahu..."

Tua Gila terdiam. "Kalau begitu aku terpaksa minta diri sekarang. Aku punya urusan penting. Mencari dan menemui seorang pemuda bernama Wiro Sableng."

"Pendekar 212?" ujar Nandiri.

"Itu gelarnya!"

Nandiri memandang pada teman-temannya lalu bertanya pada Tua Gila. "Kek, apa hubunganmu dengan pemuda itu?"

"Eh, di antara kalian rupanya ada yang naksir. Kalian mau meminta aku menjadi utusan untuk saling menjodohkan? Aku tidak keberatan!"

Kembali tempat itu riuh oleh suara belasan anak buah Ratu Duyung.

"Kek, kau belum menjawab pertanyaan kami," ujar Nandiri pula.

"Hemmm.... Pemuda itu adalah muridku!" jawab Tua Gila.

"Kalau begitu...."

"Kalau begitu apa?"

"Ratu kami justru pergi mencarinya. Muridmu itu berada dalam bahaya besar...."

Sepasang mata Tua Gila membeliak besar.

Nandiri lalu menceritakan apa yang diketahuinya. Mendengar keterangan gadis itu wajah cekung Tua Gila jadi berubah.

"Aku harus pergi sekarang juga! Ratumu. mengatakan di mana dia akan mencari Pendekar 212?"

Nandiri dan kawan-kawannya gelengkan kepala.

Tua Gila putar tubuhnya, memandang berkeliling. Dia jadi bingung sendiri. Ruangan itu tak ada pintunya. Tertutup oleh tirai-tirai biru.

"Tunjukkan aku jalan ke luar!" katanya. Lalu menyeruak di antara gadis-gadis cantik itu.

"Tua Gila kami akan antarkan kau ke Pintu Gerbang Perbatasan. Tapi sebaiknya kau berganti pakaian dulu," kata Nandiri.

"Aku harus bertindak cepat. Serahkan saja pakaiannya. Biar aku pakai di tengah jalan!" jawab Tua Gila. Lalu enak saja dia mulai membuka baju putihnya yang basah dan penuh robek. Sebelum orang tua ini berlaku lebih gila para gadis segera lari berhamburan. Seseorang kemudian melemparkan seperangkat baju dan celana hitam ke arah orang tua itu.

"Hik... hik...!" Tua Gila tertawa. "Apa kalian mengira aku ini benar-benar gila lalu mau-mauan membuka celana?! Dulu dimasa mudaku mungkin aku bisa berbuat gila seperti itu. Tapi sekarang sudah peot begini rupa, kambing pun tak suka melihatku! Ha... ha... ha!"

Tua Gila menyambut pakaian yang dilemparkan kepadanya. Sambil melangkah dia cepat mengenakan baju hitam. Lalu tanpa membuka celana putihnya yang basah kuyup dia langsung saja memakai celana hitam. Pada saat berpakaian itulah dia ingat sesuatu. Dia meraba-raba kian ke mari. "Astaga!"

"Ada apa orang tua?" tanya salah seorang gadis pengawal.

Kawannya menimpali. "Ada barangmu yang hilang? Tadi kulihat semuanya menempel lengkap di tubuhmu!"

Nandiri dan yang lain-lainnya tak dapat menahan tawa mendengar ucapan gadis pengawal itu.

"Anak-anak keparat! Jangan bergurau! Ini bukan urusan main-main! Benda itu hilang!"

"Benda apa, Kek?" bertanya Nandiri.

"Sebuah kotak terbuat dari perak, dibungkus kantong kain! Siapa yang berani mencuri?!" Tua Gila memandang pada keenam gadis itu dengan sorot melotot hingga mereka menjadi kecut.

"Kami tidak pernah melihat benda itu. Kalaupun ada kami tidak akan mencurinya. Mungkin jatuh di tempat lain...."

"Atau mungkin Ratu kalian yang telah mengambilnya!" bentak Tua Gila marah. Yang dicarinya adalah kotak perak berisi Kalung Permata Kejora titipan Rajo Tuo penguasa Kerajaan pulau Sipatoka.

"Ratu kami tidak akan sekeji itu! jangankan cuma sebuah kotak perak. Kotak emas pun tidak akan diambilnya!"

Tua Gila komat kamit. Dari mulutnya terdengar suara menggerendeng.

"Sudahlah! Lekas antarkan aku ke Pintu Gerbang Perbatasan!" kata orang tua itu kemudian.

Enam orang gadis dibawah pimpinan Nandiri lalu membawa Tua Gila melewati beberapa lorong bangunan hingga akhirnya mereka sampai di sebuah bukit. Di bawah bukit terbentang sebuah pedataran dan di ujung sana tampak sebuah bangunan aneh berbentuk gapura terbuat dari tumpukan batu-batu hitam.

*

* *



TUJUHMakin dekat ke Pintu Gerbang Perbatasan makin terasa mencekam bagi enam orang anak buah Ratu Duyung. Mereka tahu, di seberang pintu gerbang itu terdapat dunia di mana mereka dulu pernah tinggal. Betapapun senangnya hidup di alam yang sekarang namun tetap saja mereka merindukan dunia mereka yang lama.

Tua Gila melangkah cepat meninggalkan keenam orang pengiringnya. Di satu tempat dia hentikan langkah. Sambil memandang ke depan dia berkata:

"Jadi ini yang disebut Pintu Gerbang Perbatasan?" Tua Gila perhatikan tumpukan batu-batu hitam yang disusun secara aneh membentuk satu bangunan gapura yang tampak angker. Angin bertiup kencang. Setiap mengikis permukaan gapura batu terdengar suara berdesir aneh hampir menyerupai tiupan seruling.

Enam gadis mengangguk mengiyakan pertanyaan Tua Gila tadi.

"Di belakang gapura aku melihat tempat kosong diselimuti awan putih bertebaran rendah. Apa yang ada di seberang sana?" tanya si kakek kembali.

"Kami tidak tahu apa yang ada di seberang sana Kek," jawab Nandiri. "Kami tidak pernah melihat, apa lagi berada di belakang gapura. Tapi kami yakin itu adalah dunia luar. Duniamu...."

"Kalian manusia-manusia aneh. Cantik-cantik tapi memilih tinggal di alam seperti ini..."

"Kalau Tuhan menghendaki dan Ratu memberi izin, tak lama lagi kami akan berada di alam sana Kek. Di duniamu walau mungkin tetap agak berbeda...."

Tua Gila menarik napas dalam lalu tertawa mengekeh.

"Aku berterima kasih pada kalian. Kalian gadis-gadis baik semua. Tapi terus terang aku masih penasaran mengenai kotak perak itu!"

Lalu sambil meneruskan tawanya Tua Gila melangkah ke arah tangga batu di bawah Pintu Gerbang Perbatasan.

"Selamat jalan Kek!"

Tua Gila masih sempat mendengar enam gadis mengucapkan selamat jalan padanya. Sepasang kakinya melangkah menaiki undak-undak batu pintu gerbang. Sesaat kemudian dia telah berada di belakang pintu batu itu dan kini mulai melangkah menuruni anak tangga. Satu... dua... tiga.... Pada langkah ketiga Tua Gila keluarkan seruan tertahan. Memandang ke bawah dia dapatkan dirinya tidak melangkah di atas batu tapi seolah melayang di antara tebaran awan putih. Perlahan-lahan awan putih bersibak menjauh. Tua Gila sekali lagi memandang ke bawah.

"Astaga!" Si kakek terkejut begitu melihat kini dia melangkah di atas pasir basah. Ketika dia memandang ke depan dia lebih terkejut. Di depannya terbentang laut luas. Pulau-pulau bertebaran di mana-mana. Ombak berdebur dan memecah di atas pasir.

"Aneh, bagaimana tahu-tahu aku berada di tepi pantai seperti ini? Apa aku masih di daratan Andalas atau sudah di tanah Jawa? Setahuku tempat kediaman Ratu Duyung adalah di pantai selatan tanah Jawa. Bagaimana mungkin aku yang tadinya berada di daratan Andalas kini bisa berada sejauh itu? Tapi Ratu Duyung memang punya kekuasaan dan kesaktian yang tak bisa dijajagi. Aku harus mencari tahu berada di mana saat ini?" Tua Gila memandang berkeliling. Laut lepas membiru. Tak kelihatan apa-apa selain pulau-pulau di kejauhan. Dia berpaling ke belakang. Astaga! Pintu Gerbang Perbatasan tak ada lagi di tempatnya. Enam gadis anak buah Ratu Duyung pun lenyap dari pemandangan. Perlahan-lahan Tua Gila memandang ke arah laut kembali. Saat itulah di kejauhan dilihatnya sebuah perahu layar meluncur di permukaan laut.

Tua Gila angkat tangannya tinggi-tinggi lalu dilambai-lambaikan berulangkali. Dia tertawa mengekeh ketika dilihatnya perahu itu membelok lalu meluncur ke arah pantai di mana dia berada.

Orang di atas perahu ternyata adalah seorang nelayan tua bercaping, mengenakan pakaian lusuh penuh tambalan. Di lantai perahu bergeletakan ikan-ikan besar segar. Sebagian masih hidup menggelepar-gelepar. Sebuah jala terhampar di haluan.

"Orang tua berpakaian hitam, kau melambaikan tangan memanggilku. Agaknya kau tersesat. Pulau ini jarang di datangi orang. Kami para nelayan tak pernah singgah di sini. Adalah aneh kalau saat ini aku melihat kau berada di sini. Apa yang kau kerjakan di pulau ini?"

Mendengar logat bicara dan nada suara orang di dalam perahu Tua Gila segera maklum bahwa dia berada di salah satu pantai pulau Jawa.

"Nelayan tua, pertanyaanmu banyak amat! Aku mau menumpang ke satu tempat Tapi lebih dulu aku ingin tahu aku berada di mana saat ini?!"

"Betul-betul aneh! Kau berada di situ dan kau tidak tahu berada di mana!"

Tua Gila tertawa mengekeh. "Maklum saja. Orang tua seperti kita sudah pada pikun. Jadi kau juga tidak tahu kita berada di mana saat ini?"

"Pulau ini tidak bernama! Terletak di pantai selatan pulau Jawa...."

"Ah...." Tua Gila menarik napas lega.

"Kau sendiri perlu apa sebenarnya?!" Nelayan tua di atas perahu bertanya.

"Aku ingin menumpang ke daratan sana. Aku dalam perjalanan menuju Gunung Gede...."

"Gunung Gede jauh di sebelah barat! Paling tidak kau membutuhkan waktu belasan hari untuk sampai ke sana...."

"Boleh aku menumpang?"

"Naiklah. Aku akan membawamu ke daratan. Tapi tidak ke Gunung Gede!"

Tua Gila tertawa bergelak lalu melompat naik ke atas perahu. "Hemmmm Rejekimu cukup besar hari ini. Banyak ikan hasil tangkapanmu kulihat dalam perahu."

"Lumayan...."

"Seusia tua begini kau masih melaut. Mengapa tidak menyuruh anakmu saja?"

"Aku tidak punya anak.... Tidak punya istri! Aku hidup sendiri selama dunia terkembang." Kata si nelayan pula.

"Hemmm.... Mengapa kau memilih hidup bujangan terus?"

"Perempuan hanya akan menimbulkan derita sengsara bagi laki-laki!"

"Ah, kau tentu punya riwayat hidup yang hebat dimasa mudamu," kata Tua Gila.

"Betul, tapi aku tidak akan menceritakannya padamu."

Tua Gila tertawa lebar, ingat dirinya sendiri dia lalu berkata. "Aku juga punya sejuta pengalaman bagus dimasa muda dengan perempuan-perempuan cantik. Tapi semua kini tinggal kenangan. Ma lah menimbulkan bencana di hari tua...."

"Bencana bagaimana?" tanya nelayan tua pula. Sepertimu aku pun kini hidup sendirian."

"Jadi kau tak pernah kawin?"

"Pernah dan sempat punya anak. Namun kini ibu anakku mencari diriku...."

"ingin agar kau rujuk kembali atau bagaimana?" tanya si nelayan.

"ingin membunuhku!" jawab Tua Gila dengan muka masam.

"Nan, apa kataku! Perempuan hanya menimbulkan bencana bagi kaum laki-laki. Untung aku tidak kawin!"

Setelah diam sesaat nelayan itu bertanya. "Ada keperluan apa kau ke Gunung Gede?"

"Menyambangi seorang sahabat.,,."

"Lelaki atau perempuan? Ah, aku kira aku tak perlu bertanya. Pasti yang akan kau temui itu seorang perempuan...."

"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Tua Gila.

"Aku cuma menduga. Tapi dugaanku tidak meleset bukan?"

Tua Gila tertawa lebar. Lalu dengan polos dia bercerita. "Yang akan kukunjungi itu memang perempuan. Salah seorang kekasihku dimasa muda...."

"Ah, kau pasti hendak bersenang-senang dengan dirinya? Tap] menurutku mengapa kau tidak mencari yang lebih muda untuk bersuka-suka?"

"Nelayan tua gila!" maki Tua Gila. "Aku ke sana untuk urusan penting. Perempuan tua itu punya seorang murid yang berada dalam keadaan bahaya besar. Lumpuh segala kesaktian yang dimilikinya...."

"Ah, kasihan sekali murid sahabatmu itu. Apakah kau tidak tahu di mana dia berada dan berusaha menolongnya?"

"inilah sulitnya. Aku hanya mendapat keterangan bahwa pemuda itu berada di satu tempat di barat. Tapi dunia seluas ini bagaimana mungkin mencarinya. Itu sebabnya aku merasa lebih baik menemui gurunya dulu sambil menyirap kabar mengenai pemuda muridnya itu...."

"Nah, apa kataku. Kalau kau tidak pernah kenal dengan perempuan tua itu. Kalau kau tidak pernah jadi kekasihnya, jelas saat ini kau tidak usah susah-susah melakukan perjalanan jauh menemuinya. Jadi benar kataku! Perempuan hanya mendatangkan bencana pada laki-laki. Ha... ha... ha!"

Tua Gila ikut tertawa mengekeh. Tapi kemudian berucap. "Tidak semua perempuan menimbulkan bencana. Terkadang tergantung pada kita orang laki-laki. Kalau mereka merasa dikecewakan atau direndahkan, mereka bisa berubah jadi seekor harimau ganas!"

"Sobatku tua, agaknya kau tengah mengalami masalah besar. Gara-gara ulahmu di usia muda. Untung aku tidak kawin. Amit-amit...!"

"Nasib manusia ada guratannya masing-masing," kata Tua Gila pula.

"Aku tidak percaya hal itu. Manusia bukan diatur oleh nasib. Kelakuan manusialah yang menentukan nasibnya!" jawab si nelayan tua.

Tua Gila menjadi kesal karena tersinggung mendengar ucapan itu. Kalau saja dia tidak menumpang di perahu orang, nelayan tua itu sudah dihajarnya. Saking kesalnya dia berkata. "Perutku lapar! Aku minta ikanmu!" Lalu diambilnya seekor ikan dan dilahapnya mentah-mentah!

Menjelang petang perahu memasuki sebuah teluk sempit. Begitu sampai di pantai Tua Gila mengucapkan terima kasih dan melompat ke daratan.

"Sobatku tua, apakah kita bisa bertemu lagi?" tanya si nelayan.

"Aku tidak tahu. Kalaupun bisa aku akan menghindari pertemuan denganmu!"

"Eh, memangnya kenapa?"

"Aku tidak suka dengan cara bicaramu. Kau seperti seorang juru dakwah saja! Membenci perempuan padahal kau keluar dari perut perempuan!" Habis berkata begitu Tua Gila lantas berkelebat pergi.

Nelayan tua di atas perahu tertawa panjang. Dalam hati dia berkata. Tua Gila, kalau saja Kalung Permata Kejora itu ada d: tanganmu sudah sejak di tengah laut kuhabisi nyawamu! Aku masih bisa bersabar. Aku sudah tahu ke mana kau pergi! Hemmm... mungkin aku akan membunuh bekas kekasihmu yang di Gunung Gede itu. Hik... hik! Sinto Gendeng kau ikut mengerecoki hidup masa mudaku! Tidak salah kalau kalian kubunuh berdua sekaligus!." Perlahan-lahan nelayan itu buka caping lebar-nya. Lalu dia menarik sehelai topeng tipis yang menutupi wajah dan rambutnya. Sesaat kemudian kelihatanlah wajahnya yang asli. Ternyata dia bukan lain adalah si nenek bernama Sika Sure Jelantik! Dengan cepat perempuan tua ini melompat turun dari atas perahu lalu berkelebat ke arah perginya Tua Gila.

*

* *



DELAPANDari balik dedaunan keladi hutan yang lebar, sepasang mata memperhatikan gadis berpakaian biru yang duduk termenung, bersandar ke batang pohon di belakangnya. Walaupun saat itu udara mending dan keadaan sekitar tempat itu agak gelap namun orang yang memperhatikan dapat melihat butiran-butiran air mata jatuh menetes membasahi pipi si gadis yang halus.

"Gadis aneh berwajah cantik," kata orang yang mengintai dalam hati. "Melihat kepada wajah serta kulitnya yang putih mulus sulit diduga apakah dia seorang dari dunia persilatan. Tapi kalau bukan orang persilatan mengapa berada, di tempat sunyi begini. Jangan-jangan dibalik kecantikan wajah dan kebagusan tubuh itu tersembunyi sesuatu yang hebat. Hemmm.... Dia menangis. Pertanda ada satu tekanan batin tengah melanda dirinya. Diusia se-muda dia aku berani bertaruh yang jadi bahan pikirannya saat ini pastilah sesuatu menyangkut cinta! Laki-laki! Lagi-lagi laki-laki yang menjadi biang malapetaka! Aku tertarik ingin mengetahui nasib apa tengah dihadapinya. Hanya sayang aku ada urusan lain yang lebih penting..."

Orang di balik pohon keladi hutan hendak bergerak pergi namun langkahnya tertahan ketika tiba-tiba gadis di bawah pohon, tanpa mengalihkan pandangannya terdengar berucap.

"Orang yang mengintai mengapa tidak datang saja menemuiku? Mungkin kita bisa bertukar pikiran berbagi pengalaman."

"Hemmm.... Kalau dia bukan seorang gadis memiliki kepandaian tinggi, mustahil bisa mengetahui aku di sini. Agaknya sudah sejak tadi dia tahu. Mungkin ada baiknya aku membuang waktu barang sebentar berbincang-bincang dengan dirinya..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 107.22.46.150
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia