Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

LANGIT terang cerah tiada berawan. Matahari bersinar megah. Serombongan burung-burung pipit berarak dari arah tenggara lalu lenyap di langit sebelah barat. Seorang pemuda gagah berjalan lenggang kangkung seenaknya di satu lamping gunung. Keterikan sinar matahari tiada diperdulikannya. Bahkan sambil berjalan itu dia bersiul-siul entah membawakan lagu apa. Suara siulannya menggema sepanjang jalan seantero lamping gunung.

Bila seorang tokoh silat dunia persilatan mendengar suara siulan yang keras tiada menentu itu, segera dia akan maklum bahwa orang yang mengeluarkan siulan itu bukan lain daripada Wiro Sableng, pemuda gagah yang bergelar Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212.

Di satu tempat Wiro hentikan langkahnya. Dia memandang ke bawah. Luar biasa sekali keindahan alam yang dilihatnya. Pohon-pohon menghijau di kejauhan. Di utara dua buah gunung menjulang tinggi laksana raksasa penjaga negeri. Di barat sebuah sungai laksana seekor ular besar meliuk-liuk memantulkan cahaya putih perak karena ditimpa sinar matahari.

Wiro menyeka peluh yang mencucur di keningnya dengan ujung sapu tangan putih penutup kepalanya. Setelah puas menikmati pemandangan yang indah itu dia melanjutkan perjalanan kembali dan kali ini dengan mempergunakan ilmu lari Seribu Kaki sehingga dalam sekejap saja puluhan tombak sudah dilewatinya. Dia berharap akan sampai sesenja-senjanya hari, ke tempat tujuan yaitu Goa Belerang. Kiai Bangkalan telah menyuruhnya datang. Orang tua sakti itu telah menjanjikan akan menurunkan semacam ilmu pengobatan kepadanya.

Memasuki satu tikungan jalan di dekat kaki gunung, Wiro memperlambat larinya. Jalan di tikungan itu sempit sekali. Di sebelah kanan terdapat jurang batu yang curam terjal serta luas dan dalam. Seseorang yang jatuh ke sana jangan harap akan hidup sampai di dasar jurang. Kalaupun dia hidup, ke luar dari dasar jurang pasti akan sia-sia!

Dari memperlambat larinya, tiba-tiba Wiro Sableng berhenti. Tepat di tikungan jalan itu dilihatnya duduk mencangkung seorang laki-laki tua berambut putih. Badannya kurus sekali. Demikian kurusnya hingga keadaannya tak ubah seperti tengkorak atau jerangkong hidup!

Yang membuat Wiro Sableng heran ialah apa yang tengah dikerjakan si orang tua tak dikenal itu. Sambil duduk mencangkung, orang tua ini menghadapi sebuah pigura kain putih yang lebarnya satu meter sedang panjangnya hampir satu setengah meter. Pigura kain putih itu disandarkan pada sebuah batu. Di atas terletak sehelai daun pisang. Di sebuah daun pisang ini terdapat cairan kental berkelompok-kelompok beraneka ragam warnanya.

Si orang tua membetulkan letak pigura kain putih di hadapannya. Kemudian dengan ujung jari telunjuk tangan kanan diaduk-aduknya kelompok-kelompok cairan berwarna di atas daun pisang. Dengan jari yang berselomotan cairan berwarna itu, si orang tua mulai menggurat-gurat di atas kain putih. Demikian asyiknya sehingga dia tidak mengetahui agaknya bahwa dia tidak sendirian berada di situ.

Wiro terus memperhatikan dengan tak bersuara. Guratan-guratan yang dibuat si orang tua kelihatannya dilakukan seenaknya dan asal-asalan saja. Tapi betapa terkejutnya Pendekar 212. Lewat setengah jam kemudian di atas kain putih itu, meski belum begitu jelas, terlihat gambaran seorang perempuan tengah berbaring di atas tempat tidur dalam sebuah kamar yang bagus. Ternyata si orang tua adalah seorang pelukis yang lihai tetapi juga aneh! Lihai dan aneh karena dia melukis dengan ujung jari telunjuk, dengan cairan-cairan berwarna yang diletakkan di atas daun pisang dan di tempat sepi begitu rupa, di bawah teriknya sinar matahari!

Agar bisa memperhatikan lebih jelas, tapi juga untuk tidak mengganggu si orang tua, maka Wiro Sableng melompat ke satu batu tinggi dan duduk di situ. Si orang tua berdiri dan mundur beberapa langkah untuk meneliti lukisannya.

"Ah... bagus sekali... bagus sekali! Bocah itu tentu akan senang melihatnya!" Suara orang tua ini kecil halus seperti perempuan.

Wiro Sableng leletkan lidahnya. Ternyata si orang tua telah melukis seorang perempuan telanjang yang berbaring di atas sebuah tempat tidur dalam kamar yang bagus. Perempuan itu cantik sekali, rambutnya panjang menjela ke lantai kamar yang ditutupi permadani. Tubuhnya yang tiada tertutup pakaian demikian bagus dan mulusnya. Mau tak mau berdebar juga hati Pendekar 212 melihat lukisan itu. Aneh orang yang demikian tua mempunyai daya cipta yang merangsang begitu rupa. Dan siapa pula bocah yang dimaksudnya dalam ucapannya tadi, yang katanya akan senang melihat lukisan itu? Seorang bocah hendak melihat lukisan perempuan telanjang? Betul-betul keblinger, pikir Wiro. Dalam pada itu siapakah manusia ini? Sementara itu si orang tua kelihatan menambah beberapa guratan pada lukisannya. Wiro Sableng memperhatikan terus. Si orang tua tengah menuliskan serangkaian kalimat pada sudut kanan sebelah bawah lukisannya. Karena jauh Wiro tak dapat membacanya. Penuh rasa ingin tahu akan apa yang ditulis si orang tua, Wiro Sableng hendak melompat turun. Tapi niatnya dibatalkan karena di kejauhan didengarnya suara gemeletak roda kereta meningkahi derap kaki-kaki kuda. Sesaat kemudian kelihatanlah sebuah kereta putih yang ditarik oleh dua ekor kuda meluncur ke arah tikungan. Di bagian depan dan sisi kereta ada empat penunggang kuda yang berpakaian keprajuritan. Mendekati tikungan rombongan itu bergerak perlahan. Si orang tua masih juga asyik dengan lukisannya. Apakah dia tidak mendengar suara kedatangan kereta dan derap kaki-kaki kuda itu? Bahkan ketika rombongan tersebut berhenti di tikungan, si orang tua masih saja tidak berpaling. Apakah dia tuli? Penunggang kuda di sebelah muka kereta turun dari kudanya. Dia memandang sejenak pada lukisan yang tersandar di batu lalu dengan sikap hormat menegur si orang tua.

"Bapak, kuharap kau sudi ke pinggir sedikit agar kereta bisa lewat." Orang tua itu mencelupkan jari telunjuk tangan kanannya ke cairan berwarna putih di daun pisang lalu melanjutkan menulis rentetan kalimat di sudut bawah sebelah kanan lukisan. Prajurit itu menduga si orang tua tuli. Maka dia melangkah ke samping dan menegur lagi lebih keras disertai isyarat-isyarat tangan. Tapi tetap saja si orang tua tidak mau perduli, bahkan palingkan kepala sedikitpun tidak! Dari dalam kereta terdengar suara seseorang.

"Pengawal, ada apakah kereta berhenti?"

"Kita mendapat sedikit rintangan Raden Mas Cokro," jawab prajurit yang turun dari kuda. Dari jendela kereta kemudian keluar kepala seorang laki-laki berparas gagah, berkumis rapi dan mengenakan belangkon yang bagus. Begitu sepasang mata laki-taki ini membentur lukisan di tepi jalan di tikungan itu, maka tertariklah hatinya. Dengan segera dia turun dari kereta. Digeleng-gelengkan kepalanya.

"Lukisanmu luar biasa bagusnya, orang tua," kata lakilaki ini. Untuk pertama kalinya orang tua bertubuh jerangkong itu palingkan kepala. Dia tersenyum sedikit pada laki-laki berpakaian dan berbelangkon bagus lalu meneruskan lagi pekerjaannya.

"Orang tua, aku tertarik sekali dengan lukisanmu ini. Apakah kau sudi menjualnya?" Meski pekerjaannya belum selesai, tapi melihat sikap orang demikian jumawa maka si orang tua hentikan pekerjaannya, menyeka ujung jarinya lalu berdiri dan tersenyum lagi.

"Terima kasih atas rasa kagummu Raden Mas. Tapi sayang, lukisan ini bukan untuk dijual..." Raden Mas Cokro menatap paras orang tua itu.

"Aku sanggup membayar mahal. Kau tetapkan saja harganya..." Orang tua itu gosok-gosokkan kedua telapak tangannya.

"Mohon dimaafkan Raden Mas. Lukisan ini tidak dijual. Kalau kau sudi, aku bersedia buatkan yang lain."

"Tapi aku sangat tertarik pada yang satu ini," kata Raden Mas Cokro.

"Menyesal sekali..."

"Akan kubeli lima puluh ringgit."

"Maaf Raden Mas..."

"Seratus ringgit!"

"Ah... sungguh penghargaanmu besar sekali. Namun tak dapat kukabulkan Raden Mas..."

"Kalau begitu biar kubeli dua ratus ringgit!" Raden Mas Cokro mengeluarkan sebuah kantong kain dari sakunya sementara keempat pengawalnya saling pandang dan kerenyitkan alis keheranan. Meski lukisan itu bagus luar biasa tapi dua ratus ringgit belul-betul harga yang gila! Dan bila mereka ingat gaji mereka yang tak sampai setengah ringgit satu minggu, menciut hati keempat prajurit itu! Gilanya pula ditawar semahal itu si orang tua kurus kering tidak mau menjual lukisannya!

"Ini terimalah." kata Raden Mas Cokro seraya mengacungkan kantong yang dipegangnya. Dua ratus uang ringgit di dalam kantong itu bergemerincingan suaranya. Tapi lagi-lagi si orang tua gelengkan kepala.

"Walau dibeli seberapa mahalpun, lukisan ini tak dapat kujual Raden Mas. Mohon maafmu..." Raden Mas Cokro kelihatan kurang senang dengan sikap si orang tua. Maka berkatalah dia,

"Apa dengan harga semahal itu kau tetap tak mau menjualnya pada Adipati Pamekasan?"

"Ah..." Si orang tua menjura dalam-dalam.

"Tak tahunya aku tengah berhadapan dengan Adipati Pamekasan," katanya. Dihelanya nafas panjang lalu sambungnya,

"Benar-benar ini satu kehormatan besar bagiku Adipati Cokro. Namun benar-benar pula aku mohon dimaafkan, lukisan ini kubuat bukan untuk mau dijual. Aku akan buatkan lukisan lain yang lebih bagus untukmu. Dan kau tak perlu membayar mahal... Kau pasti tak akan kecewa Raden Mas..." Tapi Raden Mas Cokro memang sudah kecewa. Dibalikkannya tubuhnya lalu melangkah masuk kembali ke dalam kereta.

"Lain kali kalau ada kesempatan aku akan temui kau, orang tua. Di mana tempat tinggalmu?" tanya Raden Mas Cokro lewat jendela kereta. Si orang tua menghela nafas lagi. Sambil tersenyum dia menjawab,

"Aku seorang pengembara luntang lantung, Raden Mas. Aku tak punya tempat kediaman yang tetap. Bila lukisan yang kubuat untukmu nanti sudah selesai, aku akan antarkan sendiri ke Pamekasan..." Raden Mas Cokro betul-betul kecewa dan juga penasaran. Ditutupkannya tirai jendela kereta. Lalu diperintahkannya anak buahnya melanjutkan perjalanan! Si orang tua kembali duduk mencangkung melanjutkan pekerjaannya. Di atas batu tinggi Wiro Sableng tak habis pikir dan garuk-garuk kepalanya. Dua ratus ringgit! Bukan sedikit! Harga tawaran yang semahal itu ditolak oleh si orang tua. Betul-betul manusia ini aneh sekali! Mendadak Wiro Sableng mendengar suara kaki yang berlari cepat. Belum lagi sempat dia berpaling sesosok tubuh tahu-tahu telah berdiri di samping si orang tua. Hebat sekali gerakan orang ini. Begitu terdengar suaranya begitu dia muncul di depan mata. Karena manusia ini tentunya memiliki kepandaian tinggi, maka Wiro Sableng memperhatikan dengan seksama. Orang ini berbadan sangat gemuk tapi pendek. Demikian gemuknya hingga dagu dan dadanya menjadi satu. Manusia tak berleher ini berambut gondrong yang dikuncir ke atas. Pakaiannya bagus dan di bagian dada terdapat sebuah saku besar empat persegi. Yang tidak sedap dipandang ialah wajahnya. Mukanya yang berminyak itu bermata lebar merah, hidung besar, bibir tebal dan tak bisa mengatup hingga gigi-giginya yang besar serta kuning kelihatan menjorok ke luar.

"Ha... ha... ha. Ini betul-betul satu lukisan yang bagus luar biasa!" berkata si gemuk yang baru datang ini. Bola matanya yang merah berkilat-kilat meneliti lukisan yang tersandar di batu. Si orang tua yang tengah meneruskan pekerjaannya tidak berpaling. Terus saja dia menuliskan rentetan katakata pada bagian bawah kanan lukisan itu.

"Orang tua! Lukisan ini harus kau berikan padaku!" kata si gemuk dengan suara keras lantang hingga mengumandang di seantero lamping gunung dan memantul ke dalam jurang batu. Hebat sekali tenaga dalam manusia ini! Namun kehebatan ini seperti tiada terasa dan tiada diperdulikan oleh si orang tua. Si gemuk pendek melangkah mendekati orang tua itu. Dia gusar karena kemunculannya di situ dianggap sepi. Bahkan apa yang dikatakannya tadi tiada diambil perhatian oleh si orang tua!

"Orang tua! Apa kau tidak dengar ucapanku tadi?!" bentak si gemuk. Barulah orang tua itu berpaling. Sepasang alis matanya yang putih dan agak jarang naik ke atas. Ketika kedua alis itu turun maka sekelumit senyum tersungging di bibirnya.

"Ah, kalau mataku tak salah lihat... bukankah saat ini aku tengah berhadapan dengan salah seorang Dua Iblis Dari Selatan?"

SI GEMUK terkesiap karena tiada menyana kalau orang tua kurus kering itu mengetahui dirinya. Menurut taksirannya, pastilah si orang tua itu bukan manusia sembarangan.

"Bagus sekali kau kenali aku!" kata si gemuk.

"Ini membuat aku tak banyak cerewet untuk meminta lukisan itu padamu!" Si orang tua tertawa panjang. Siapakah manusia gemuk itu? Dalam dunia persilatan di daerah selatan pada masa itu dikenal dua orang sakti bersaudara yang berkepandaian tinggi. Yang seorang berbadan kurus kerempeng bermuka jelek menyeramkan. Dia berjuluk Iblis Kurus. Yang kedua berbadan gemuk pendek juga bermuka buruk seram dan bergelar Iblis Gemuk. Dan Iblis Gemuk inilah yang tengah berhadapan dengan si orang tua itu! Iblis Gemuk dan Iblis Kurus keduaduanya lebih dikenal dengan sebutan Dua Iblis Dari Selatan. Di mana ada Iblis Kurus biasanya di situ juga hadir Iblis Gemuk. Entah mengapa sekali ini cuma seorang yang muncul. Dan dalam dunia persilatan keduanya adalah tokoh-tokoh golongan hitam yang berhati jahat sehingga pantas sekali julukan ‘Iblis' itu bagi keduanya! Di samping berhati jahat, Iblis Gemuk mempunyai kesukaan mengumpulkan barang-barang antik seperti senjata-senjata kuno, patung-patung dan lukisan. Pada waktu dia melihat lukisan yang dibuat si orang tua maka hatinyapun tertariklah dan dia musti mendapatkan lukisan itu. Tentu saja bukan dengan jalan membeli, tapi menurut caranya sendiri yaitu kekerasan.

Setelah meneliti paras Iblis Gemuk sebentar, maka menjawablah si orang tua,

"Lukisan ini tak bisa kuberikan padamu, atau pada siapapun."

"Setelah tahu siapa aku apakah kau berani menolak?!" ujar Iblis Gemuk.

"Ah sudahlah pekerjaanku masih belum selesai. Kuharap kau jangan ganggu aku, Iblis Gemuk." Si orang tua memutar kepalanya kembali dan hendak meneruskan pekerjaannya. Tapi Iblis Gemuk segera membentak keras.

"Suka atau tidak suka lukisan itu musti kau serahkan padaku! Kalau tidak kau akan menyesal orang tua...!" Si orang tua menarik nafas dalam. Lalu tanpa mengacuhkan Iblis Gemuk lagi dia hendak meneruskan kembali pekerjaannya. Marahlah Iblis Gemuk. Dengan tumit kaki kirinya hendak didorongnya orang tua itu ke samping. Tapi belum lagi tumit itu sampai, si orang tua sudah berkelit dan berdiri. Iblis Gemuk terkejut Meski acuh tak acuh tapi gerakannya untuk mengenyampingkan orang tua tadi adalah salah satu jurus yang dinamakan Menggeser Bukit yang tidak mudah untuk dikelit. Ini membuat Iblis Gemuk tambah marah dan serta merta pukulkan tangan kirinya ke arah dada orang tua yang kurus kering macam jerangkong itu!

"Manusia tidak tahu diri!" bentak si orang tua mulai marah,

"Lekas kau pergi dari sini...!"

"Aku akan pergi tapi sesudahnya menghadiahkan satu pukulan padamu dan mendapatkan lukisan itu!" Si orang tua menggerendeng lalu papasi jotosan lawan dengan lambaikan tangan kanannya ke muka! Iblis Gemuk menjadi kaget sewaktu merasakan bagaimana sambaran angin yang keluar dari tangan si orang tua membuat bukan saja pukulannya membelok ke samping tapi sekaligus membuat tubuhnya terhuyung-huyung sampai empat lahgkah ke belakang!

"Orang tua badan tengkorak! Cepat terangkan siapa kau sesungguhnya?!" bentak Iblis Gemuk. Si orang tua tertawa pendek.

"Tak perlu kau tahu namaku. Lekas tinggalkan tempat ini sebelum aku betul-betul marah!"

"Manusia jerangkong sialan! Terpaksa tulang-tulang di badanmu kubikin berantakan!" Habis berkata begitu Iblis Gemuk segera menyerbu ke muka dan kirimkan serangan yang ganas. Dalam tempo yang singkat maka terjadilah pertempuran yang hebat di tikungan jalan yang sempit itu. Di samping mereka, menunggu jurang batu yang luas dan dalam. Salah saja membuat gerakan atau terpukul oleh lawan atau terpeleset, tak ampun lagi pasti akan jatuh ke dalam jurang! Pertempuran telah berjalan delapan jurus. Wiro geleng-gelengkan kepala. Tak dinyana si orang tua yang kurus kering itu memiliki gerakan yang demikian sebat dan entengnya. Beberapa kali dia melihat bahwa orang tua ini mempunyai peluang untuk menjatuhkan tangan jahat terhadap lawannya, namun tiada dipergunakan. Nyatalah bahwa orang tua ini berhati demikian polosnya sehingga menghadapi lawan yang terangterangan hendak bermaksud buruk kepadanya, dia masih belum mau lepaskan tangan keras!

"Iblis Gemuk! Apakah kau masih belum mau angkat kaki dari sini?!"

"Kunyuk kurus kering! Terima jurus Memukul Gunung Menentang Bukit ini!" teriak Iblis Gemuk. Tinju kanannya menderu ke arah batok kepala lawan sedang kaki kanan serentak dengan itu menendang ke arah dada! Belum lagi pukulan dan tendangan itu sampai, anginnya saja sudah menderu dahsyat! Buukk! Terdengar menyusul suara keluhan tinggi. Tubuh Iblis Gemuk terbanting ke belakang, punggungnya menghantam gundukan batu di atas mana Wiro Sableng duduk, kemudian melosong jatuh duduk di tanah. Nafasnya megapmegap ketika berdiri. Masih untung dia terbanting ke samping kanan, kalau ke samping kiri pastilah akan terlempar masuk jurang dan tamat riwayatnya.

"Masih belum cukup peringatan yang kuberikan padamu Iblis Gemuk?!" tanya si orang tua. Iblis Gemuk berkemak kemik. Mukanya pucat. Nyatalah dia telah menderita luka di dalam yang cukup parah akibat pukulan lawan yang tadi menghantam dada kirinya!

"Bangsat tua! Kau tunggu di sini! Hari ini juga Dua Iblis Dari Selatan akan menunjukkan jalan ke akhirat padamu!" Si orang tua tertawa mengekeh.

"Kau mau panggil kambratmu si Iblis Kurus...? Silahkan... silahkan! Masa ada tamu yang bakal datang aku hendak pergi tinggalkan tempat ini? Pekerjaankupun belum selesai!" Iblis Gemuk meludah ke tanah lalu berkelebat tinggalkan tempat itu, sedang si orang tua seperti tiada terjadi apa-apa kembali meneruskan pekerjaannya! Di atas batu yang tinggi Wiro Sableng memutar otaknya berusaha mengingat-ingat siapa adanya orang tua yang berkepandaian tinggi itu. Belum lagi berhasil mendadak entah dari mana datangnya, tahu-tahu Wiro Sableng melihat di bawahnya telah berdiri seorang nenek-nenek berbadan bungkuk berambut putih yang mukanya buruk sekali. Karena Wiro sama sekali tiada mendengar kedatangan perempuan ini nyata sekali dia memiliki ilmu kepandaian yang tinggi luar biasa! Setelah memperhatikan sejenak lukisan yang tersandar di atas batu maka perempuan tua renta ini menegur bertanya,

"Orang tua, apakah kau melihat dua orang kawanku lewat di sini...?" Tidak seperti biasanya, sekali ini begitu ditegur maka orang tua itu hentikan pekerjaannya dan berpaling. Matanya yang sudah dimakan umur itu meneliti dengan seksama sedang keningnya berkerenyit.

"Hanya ada seorang yang lewat di sini barusan," jawab si orang tua.

"Iblis Gemuk, apakah dia yang kau maksudkan?"

"Bukan!" jawab perempuan tua itu. Dia melirik pada lukisan yang tersandar di batu.

"Itu kau yang membuatnya?"

"Betul."

"Bagus sekali! Kuharap pada tanggal satu bulan muka lukisan itu harus kau bawa ke Gunung Sumpang dan menyerahkannya padaku! Kau dengar?"

"Tentu saja dengar. Tapi menyesal sobat, lukisan ini tak bisa kuberikan pada siapa-siapa!"

"Aku tak perduli!" sentak si perempuan bongkok.

"Umurmu memang kulihat sudah lanjut! Tapi tentu kau tak ingin buru-buru mampus! Karenanya jangan banyak mulut! Lukisan ini harus kau bawa ke Gunung Sumpang pada tanggal satu bulan di muka!"

"Tidak mungkin!"

"Kau membantah?!" Orang tua berbadan kurus gelengkan kepala.

"Jangankan diminta, dibeli pun aku tidak sudi!"

"Kalau begitu kau ingin cepat-cepat mati!"

"Sobat, Iblis Gemuk meminta lukisan ini. Aku tidak berikan. Adipati Pamekasan berniat membelinya dua ratus ringgit, aku tidak jual. Sekarang kau juga menghendakinya. Tetap saja aku tak bisa memberikan!"

"Kalau begitu kau berikanlah nyawamu!" sahut si perempuan tua seraya mundur satu langkah dan siap-siap untuk kirimkan satu pukulan.

"Tahan dulu sobat!" ujar si orang tua berbadan kurus.

"Sesungguhnya ada apakah hingga kau begitu menginginkan lukisan itu?!"

"Itu kau tak perlu tanya! Aku mau lukisanmu habis perkara! Ayo, kau mau serahkan apa tidak?!"

"Lucu! Sungguh lucu!"

"Apa yang lucu?!" sentak si perempuan bungkuk bermuka keriput.

"Lukisan begini rupa banyak orang yang menginginkannya, apa itu bukan lucu?!"

"Orang tua, jangan kau banyak cingcong. Lekas serahkan lukisan itu kalau tidak nasibmu akan seperti ini!" Habis berkata begitu perempuan tersebut pukulkan tangan kirinya ke arah batu di atas mana Wiro Sableng duduk sembunyi sejak tadi! Byur! Sekali pukul saja maka hancurlah bagian dasar batu besar yang tinggi itu. Bagian atasnya laksana pohon tumbang, rubuh ke bawah dan menggelinding ke dalam jurang dengan suara menggemuruh. Wiro sendiri begitu merasa bagian bawah batu hancur segera melesat dan berpindah ke puncak batu yang lain! Si orang tua tarik nafas panjang-panjang dan gelenggelengkan kepala.

"Pukulan yang bagus luar biasa! Pukulan yang hebat!" katanya memuji. Kemudian dipandanginya paras perempuan di hadapannya.

"Sungguh mataku yang telah tua ini tidak bisa mengenali orang! Mulanya aku masih bersangsi, tapi melihat pukulan Penghancur Baja yang kau lepaskan itu tadi kini aku yakin bahwa aku betulbetul berhadapan dengan Nenek Rambut Putih yang terkenal itu!" Jika si orang tua kenali nama gelarannya ini tidak mengherankan si perempuan bungkuk berambut putih. Tapi adalah membuat dia diam-diam merasa kaget sewakZtu si orang tua mengetahui nama pukulan yang tadi dilepaskannya!

"Kalau kau sudah tahu tingginya langit luasnya lautan, apakah kau masih banyak cerewet tak mau serahkan lukisan itu?!"

"Langit memang tinggi, laut memang luas! Tapi apakah semua itu dapat melebihi tinggi dan luasnya budi manusia yang berhati luhur?" Terkejut Nenek Rambut Putih mendengar ucapan itu.

"Lekas beri tahu siapa kau!" sentaknya. Si orang tua geleng-gelengkan kepala.

"Manusia tetap manusia sekalipun dia punya seribu nama! Manusia tak perlu agul-agulkan nama terhadap sesama manusia. Karena dia dilahirkan tiada bernama...!"

"Cacing kurus! Aku tak punya waktu lama! Terpaksa lukisan itu kuambil sekarang juga!" kata Nenek Rambut Putih. Habis berkata demikian laksana kilat dia melompat menyambar lukisan perempuan telanjang yang tersandar di batu. Namun mendadak sontak perempuan tua itu merasakan lengan kanannya nyeri seperti orang kesemutan! Ternyata si orang tua telah melepaskan satu sentilan ujung jari ke arahnya!

"Jadi kau punya ilmu yang diandalkan hah?!" lengking Nenek Rambut Putih. Tanpa sungkan-sungkan lagi dia segera menyerang. Maka untuk kesekian kalinya di jalan menikung yang sempit itu terjadi lagi pertempuran. Kini lebih seru dari pertempuran antara si orang tua dengan Iblis Gemuk sebelumnya. Sepuluh jurus berlalu sangat cepat. Tubuh kedua orang yang bertempur boleh dikatakan lenyap berubah menjadi bayang-bayang. Batu-batu kerikil berhamburan, debu jalanan beterbangan. Wiro Sableng memperhatikan dengan mata tak berkedip. Nenek Rambut Putih gerakannya sangat gesit. Setiap pukulan atau tendangan yang dilancarkannya hebat luar biasa serta mendatangkan angin yang bersiuran. Tapi lawannya juga tak kalah hebat, malah sesudah lewat sepuluh jurus Nenek Rambut Putih berhasil didesaknya ke tepi jurang!

"Perempuan tua, jika kau tak mau tinggalkan tempat ini secara baik-baik pasti riwayatmu akan tamat di dasar jurang sana!" Nenek Rambut Putih kertakan rahang-rahangnya. Dia melompat ke sebuah batu datar dan dari sini lancarkan satu tendangan ganas. Lawannya berkelit gesit ke samping. Akibatnya tendangan itu melanda sebuah batu di hadapan Nenek Rambut Putih. Batu itu hancur berkepingkeping! Si orang tua badan jerangkong terkejut melihat hal ini. Rupa-rupanya lawan benar-benar inginkan jiwanya. Maka segera dirubah permainan silatnya. Dalam sekejap saja tubuhnya lenyap dan membuat Nenek Rambut Putih kebingungan sendiri! Bret! Si nenek tersurut mundur. Pakaiannya di pinggang robek besar dan kulit badannya terasa dingin sedang di hadapannya manusia yang menjadi lawannya tertawa-tawa dan menegur,

"Kita tak ada permusuhan. Sebaiknya lekas tinggalkan tempat ini!" Tenggorokan Nenek Rambut Putih kelihatan turun naik. Kegemasan nyata sekali terlihat pada parasnya yang tua keriputan. Dia menyadari bahwa manusia itu bukan tandingannya. Meski demikian untuk menutupi rasa malunya, Nenek Rambut Putih berkata,

"Sayang aku tengah mencari dua orang sahabatku. Kalau tidak, sampai seribu jurus pun aku akan ladeni kau." Si orang tua ganda tertawa.

"Permusuhan tanpa alasan bisa dicari," sahutnya

"Berlalulah...!"

"Tanggal satu di bulan muka lukisan itu harus sudah kau sampaikan ke Gunung Sumpang! Kalau tidak aku dan kawan-kawan tak akan memberi ampun padamu, orang tua!"

"Aku tidak punya kesalahan apa-apa padamu. Perlu apa minta-minta ampun segala?!" menyahuti si orang tua. Tapi Nenek Rambut Putih telah berkelebat dan menghilang dari tempat itu! Baru saja Nenek Rambut Putih lenyap di balik tikungan sebelah kanan, maka dari tikungan sebelah kiri terdengar seruan nyaring,

"Orang tua keparat! Aku datang untuk menagih jiwamu!"



TERNYATA yang datang bukan lain daripada Iblis Gemuk yang tadi telah bertempur dengan si orang tua berbadan kurus. Kali ini dia datang bukan sendirian, tapi bersama seorang laki-laki berbadan tinggi yang kurus luar biasa, lebih kurus dari si orang tua sendiri. Keadaan tubuhnya serta tampangnya yang mengerikan persis seperti jerangkong hidup. Seperti Iblis Gemuk, manusia ini pun menguncir ke atas rambutnya yang gondrong dan dia bukan lain daripada Iblis Kurus, kakak kandung dan kakak seperguruan Iblis Gemuk. Iblis Kurus memang memiliki ilmu kepandaian yang jauh lebih tinggi daripada Iblis Gemuk. Karena itulah Iblis Gemuk telah mencari kakaknya itu di kaki gunung dan membawanya ke tempat si orang tua melanjutkan pertempuran yang telah terjadi sebelumnya! Si orang tua yang tadi sudah hendak mencangkung untuk melanjutkan pekerjaannya, mendengar suara seruan nyaring itu segera berdiri.

"Hem... kau betul-betul datang menepati janji, Iblis Gemuk!" kata si orang tua sambil melirik pada Iblis Kurus. Iblis Kurus memandang mencemooh.

"Adikku, apakah ini manusianya yang telah berani turunkan tangan lancang terhadapmu?!"

"Betul, memang dia bangsatnya!" sahut Iblis Gemuk. Iblis Kurus memperhatikan lukisan di belakang si orang tua. Lukisan itu memang bagus sekali serta merangsang. Tidak salah kalau adiknya demikian tertarik dan menginginkannya.

"Manusia kurus cacingan macam ini saja kau tidak sanggup menghadapi. Betul-betul membuat nama besarku menjadi luntur!" Si orang tua tertawa dingin.

"Tampang dan tubuhmu jauh lebih buruk dari aku, Iblis Kurus. Karenanya tak perlu mencela orang lain..."

"Kakakku, kurasa tak perlu kita bicara panjang lebar dengan bangsat tua ini. Mari kita musnahkan dia!" ujar Iblis Gemuk. Si orang tua tertawa mengekeh.

"Nyalimu melembung besar kembali Iblis Gemuk! Tentu kau mengandalkan kakakmu ini, bukan?!"

"Orang tua keparat! Ajal sudah di depan mata masih bisa bicara sombong!" Si orang tua berpaling pada Iblis Kurus lalu berkata,

"Sobat, nama besar kalian berdua sudah lama kudengar. Antara kita tak ada permusuhan..."

"Sesudah kau berani berlaku lancang terhadap adikku, apakah itu bukan berarti permusuhan?!" potong Iblis Kurus.

"Itu salah adikmu sendiri!" sahut orang tua itu dengan nada sabar.

"Dia inginkan lukisanku. Aku menolak. Dia memaksa malah lakukan kekerasan. Salahkah kalau aku memberi sedikit pelajaran padanya?!"

"Tapi tidak seorangpun yang boleh turun tangan seenaknya terhadap Dua Iblis Dari Selatan!" tukas Iblis Gemuk. Si orang tua tertawa mengejek.

"Sifat manusia memang banyak yang aneh," katanya.

"Ingin menggebuk orang lain, tapi digebuk tidak mau!" Iblis Kurus rangkapkan tangan di muka dada.

"Orang tua, sebaiknya kau serahkan saja lukisan itu pada adikku. Niscaya kami Dua Iblis Dari Selatan tidak akan bikin urusan menjadi panjang!" Orang tua itu geleng-gelengkan kepala.

"Heran," katanya,

"mengapa di dunia ini masih banyak manusia-manusia yang ingin memaksakan kehendaknya terhadap orang lain..."

"Kau mau serahkan lukisan itu atau tidak?!" bentak Iblis Kurus.

"Kalau begitu lekas terangkan namamu! Aku tidak pernah membunuh manusia tanpa tahu nama atau julukannya sekalipun manusia tak berguna macam kau!" Si orang tua tertawa panjang tapi kali ini tawanya bernada rawan.

"Seharian ini banyak sekali orang-orang yang ingin tahu namaku," katanya.

"Padahal semua manusia dilahirkan tidak bernama..."

"Jangan ngaco! Lekas beritahu namamu!" hardik Iblis Kurus sambil maju satu langkah. Sebagai jawaban maka kali ini orang tua aneh itu keluarkan serangkaian nyanyian: Puluhan tahun mengembara Tiada berumah tiada bertempat tinggal Delapan penjuru angin penuh dengan keindahan Bukankah pekerjaan baik, melukis segala yang indah? Mendengar suara nyanyian itu terkejutlah Dua Iblis Dari Selatan. Mereka saling pandang sejenak.

"Jadi rupanya kaulah Si Pelukis Aneh yang selama ini malang melintang dalam dunia persilatan?!" ujar Iblis Kurus. Hatinya berdebar juga mengetahui siapa adanya manusia di hadapannya, tapi dia tidak takut Si orang tua yang memang Si Pelukis Aneh adanya mengusap-usap dagunya.

"Sungguh tiada diduga hari ini Dua Iblis Dari Selatan akan berhadapan dengan Si Pelukis Aneh akan pasrahkan jiwanya di tanganku!" Si pelukis Aneh tertawa panjangpanjang.

"Rupanya hari ini aku terpaksa mencabut pantangan membunuh yang sejak lama kulakukan. Orang lain hendaki jiwaku, mana mungkin aku berpangku tangan...?!"

"Bagus! Sekarang terima jurus pertama ini kunyuk tua!" teriak Iblis Kurus dan dengan serta merta menyerang ke muka. Dibandingkan dengan Iblis Gemuk yang kepandaiannya sudah tinggi maka Iblis Kurus jauh lebih tinggi lagi ilmu silatnya. Tahu menghadapi lawan yang tangguh maka Iblis Kurus keluarkan jurus-jurus terhebat dari ilmu silatnya sehingga dalam waktu yang singkat serangannya laksana hujan bertubi-tubi melanda tubuh Si Pelukis Aneh! Dalam lima jurus pertama Si Pelukis Aneh dibikin terdesak hebat. Kesempatan ini dipergunakan oleh Iblis Gemuk untuk bergerak mengambil lukisan perempuan telanjang yang tersandar di batu! Meski dalam keadaan terdesak, si Pelukis Aneh masih sempat melihat gerakan lawannya yang satu itu. Maka dengan melengking tinggi orang tua ini melompat sejauh dua tombak lalu menukik laksana kilat dan lancarkan satu tendangan ke arah Iblis Gemuk. Iblis Gemuk terpaksa batalkan niatnya untuk mengambil lukisan itu dan buru-buru menyingkir karena angin tendangan lawan deras dan bahayanya bukan olah-olah! Baru saja Si Pelukis Aneh jejakkan kakinya di tanah, maka Iblis Kurus telah menyerbunya dengan dua tendangan, dua pukulan! Namun kali ini Si Pelukis Aneh telah rubah permainan silatnya. Matanya yang tajam dan penuh pengalaman itu sudah melihat kelemahan-kelemahan ilmu silat lawan. Maka sekali tubuhnya berkelebat, Iblis Kurus merasakan desakan serangan yang hebat sekali membuat dia selangkah demi selangkah dan jurus demi jurus terdesak hebat. Dia sama sekali tak dapat melihat gerakan lawan dan tahu-tahu tangan atau kaki orang tua itu sudah berada dekat kepala atau tubuhnya! Hanya dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya yang sempurnalah maka dia masih sanggup elakkan semua serangan lawan itu! Tapi sampai beberapa lama dia sanggup bertahan?! Iblis Kurus menjadi gemas sekali. Semakin lama seakan terdesak dia. Gerakan lawan yang campur aduk tak bisa dilihatnya mengacaukan serangan serta jurus-jurus pertahanannya yang terlihai. Iblis Kurus keluarkan keringat dingin sewaktu dirinya didesak hebat ke tepi jurang! Setiap dicobanya untuk melompat ke samping selalu dia berhadapan dengan tendangan-tendangan atau jotosan-jotosan lawan yang menyambar di muka hidungnya hingga dia terpaksa membatalkan niatnya untuk melompat ke samping! Dalam pada itu, detik demi detik tepi jurang semakin dekat juga. Dalam jurus pertempuran yang kelima belas tepi jurang yang terjal itu hanya tinggal beberapa langkah saja lagi di belakangnya!

"Gemuk! Lekas bantu aku!" teriak Iblis Kurus. Mendengar ini Iblis Gemuk yang memang sejak tadi sudah punya niat untuk mengeroyok si orang tua yang sebelumnya telah menghajarnya segera cabut senjata dari balik pakaian. Senjatanya ini berbentuk pedang tapi bergerigi seperti gergaji. Karena senjata ini ditimpa dan dilapisi emas murni maka sinar kuning kelihatan menderu sewaktu pedang itu membabat ke arah punggung Si Pelukis Aneh! Si Pelukis Aneh yang tengah mendesak gencar Iblis Kurus menjadi terkejut sewaktu merasakan sambaran angin yang deras datang menerpanya dari belakang! Didahului dengan satu lambaian tangan kanan yang mendatangkan angin keras, maka Si Pelukis Aneh dengan cepat memutar badan menghadapi serangan pedang berbentuk gergaji di tangan Iblis Gemuk! Kesempatan ini dipergunakan oleh Iblis Kurus untuk melompat ke samping menjauhi tepi jurang batu lalu dengan cepat mencabut pula senjatanya yang bentuknya sama dengan yang di tangan Iblis Gemuk. Melihat pengeroyokan curang ini, Wiro Sableng menjadi penasaran. Segera dia hendak melompat dari atas puncak batu untuk membantu si orang tua. Tapi tindakannya tak jadi dilakukan karena pada saat itu dilihat si kakek telah berkelebat dan kini di tangannya memegang pelepah pisang yang berdaun lebar di mana sebelumnya dia meletakkan cairan-cairan aneka warna yang dipergunakan untuk melukis! Dengan mempergunakan benda ini sebagai senjata maka si orang tua menghadapi kedua lawannya dengan hebat luar biasa! Karena daun pisang itu lebar sekali, ditambah dengan saluran tenaga dalam yang tinggi maka setiap benda itu berkilat menderulah angin deras luar biasa yang menerpa setiap serangan pedang Iblis Gemuk dan Iblis Kurus! Dua sinar kuning senjata pengeroyok bergulung-gulung ganas. Agaknya Dua Iblis Dari Selatan itu mulai mengeluarkan jurus-jurus terlihai dari ilmu pedang mereka.

"Bagus! Bagus! Keluarkan seluruh kepandaianmu! Aku mau lihat!" seru Si Pelukis Aneh. Daun pisang di tangannya bergerak kian kemari melumpuhkan sama sekali setiap jurus serangan yang dilancarkan. Yang membuat Pendekar 212 Wiro Sableng jadi leletkan lidah ialah karena tak sekalipun pedang-pedang di tangan lawan sanggup membuat satu goresan pada daun pisang. Dan yang paling luar biasa ialah meski digerakkan demikian cepatnya dan dipergunakan sebagai senjata namun cairan-cairan aneka warna yang ada di daun pisang itu tidak satu tetespun yang tumpah atau meleleh! Benarbenar luar biasa kehebatan Si Pelukis Aneh! Dalam mengagumi kehebatan orang tua itu tiba-tiba terdengar pekikan setinggi langit. Ternyata daun pisang di tangan Pelukis Aneh telah menerpa dada Iblis Kurus. Pedangnya mental sedang tubuhnya terpelanting sampai beberapa tombak dan celakanya terus terguling ke tepi jurang! Dengan salah satu tangannya Iblis Kurus coba memegang sebuah batu runcing yang menonjol di tepi jurang. Tapi pukulan daun pisang yang dialiri tenaga dalam yang tadi menghantam dadanya telah melumpuhkan sama sekali kekuatan Iblis Kurus. Meski dia berhasil memegang batu runcing itu dan menahan dirinya agar tidak jatuh ke dalam jurang namun sia-sia saja. Sesaat kemudian pegangannya terlepas dan tak ampun lagi tubuhnya melayang masuk jurang. Batu-batu runcing menantinya di dasar jurang! Untuk kedua kalinya terdengar jeritan Iblis Kurus. Yang sekali ini lebih mengerikan! Melihat kakaknya yang berilmu lebih tinggi menemui kematian begitu rupa, Iblis Gemuk jadi bergidik. Berdua dia tak sanggup menghadapi Si Pelukis Aneh, apalagi seorang diri! Maka tanpa pikir panjang dan tanpa tunggu lebih lama Iblis Gemuk segera ambil langkah seribu! Si Pelukis Aneh tertawa mengekeh. Diambilnya pedang Iblis Kurus yang menggeletak di tanah.

"Orang jahat, matamu sudah tak layak hidup lebih lama, Iblis Gemuk!" teriak Si Pelukis Aneh lalu lemparkan pedang ke arah Iblis Gemuk yang tancap gas larikan diri! Pedang itu menancap tepat di pertengahan punggung Iblis Gemuk terus menembus sampai di luar ujung pada dadanya! Tamatlah riwayat Dua Iblis Dari Selatan! Si Pelukis Aneh mengusap mukanya. Ditariknya nafas dalam-dalam lalu dia duduk menjelapok di tanah dan memandangi lukisannya. Kemudian tanpa palingkan kepala dari lukisan itu, dia berseru,

"Orang yang sembunyi di atas batu tinggi harap turun!" Kagetlah Wiro Sableng. Pendekar ini garuk-garuk kepalanya. Lalu tanpa sungkan-sungkan lagi keluar dari persembunyiannya dan melompat turun.PENDEKAR 212 Wiro Sableng jejakkan sepasang kaki di tanah tanpa keluarkan sedikit pun suara. Begitu dia berdiri di hadapan si orang tua segera dia menjura dan berkata,

"Aku yang muda merasa beruntung sekali dapat bertemu dengan tokoh silat terkenal di delapan penjuru angin." Pelukis Aneh tidak palingkan kepalanya dari lukisan yang tengah dipandangnya.

"Siapa namamu...?"

"Wiro."

"Apa kau punya gelar?" Wiro Sableng yang tak mau tonjolkan diri menjawab dengan gelengan kepala. Lantas Si Pelukis Aneh bertanya lagi,

"Kenapa kau sembunyi di atas batu sana?"

"Aku tak ingin mengganggumu, orang tua."

"Bagus, kau tahu peradatan juga rupanya." Untuk pertama kalinya Si Pelukis Aneh palingkan wajah dan meneliti Wiro Sableng sejurus. Lalu dia memandang lagi pada lukisannya dan menggoyangkan kepala.

"Menurutmu apakah lukisanku ini bagus?" tanya Si Pelukis Aneh.

"Bagus luar biasa," jawab Wiro Sableng. Si Pelukis Aneh tertawa pendek.

"Kalau lukisan ini kuberikan padamu, apakah kau mau menerimanya...?" Wiro berpikir sejenak. Adipati Pamekasan telah menawar lukisan itu sampai dua ratus ringgit, Si orang tua tidak menjualnya. Iblis Gemuk dan Iblis Kurus menemui kematian karena inginkan lukisan itu. Nenek Rambut Putih dibikin kelabakan sewaktu memaksakan kehendaknya atas lukisan itu. Maka adalah mustahil kalau kini Si Pelukis Aneh hendak berikan lukisan perempuan telanjang itu kepadanya! Wiro menjawab,

"Ah, hatimu terlalu baik orang tua. Aku yang rendah ini mana berani menerima buah ciptaanmu yang bagus luar biasa ini?!" Si Pelukis Aneh tertawa dan usap-usap dagunya.

"Manusia kerap kali tertipu oleh pandangan matanya," berkata Si Pelukis Aneh.

"Apa yang kelihatan bagus itu belum tentu betul-betul bagus. Bukankah begitu...?" Wiro anggukkan kepala.

"Kau mengangguk! Tapi apa kau bisa beri satu contoh daripada sesuatu yang kelihatan bagus namun nyatanya buruk?" Pertanyaan si orang tua yang tiada terduga membuat Wiro Sableng jadi garuk-garuk kepalanya. Di kejauhan dilihatnya sebuah gunung hijau membiru. Dia kemudian menunjuk ke arah gunung itu.

"Kau lihat gunung yang jauh itu, orang tua?"

"Ya... ya..., aku lihat."

"Dari sini kelihatannya bagus sekali. Biru kehijauan. Tapi coba kita mendekatinya. Gunung yang bagus itu tak lebih daripada pohon-pohon besar liar, semak-semak belukar, tanah, batu-batu dan lain sebagainya." Pelukis Aneh tertawa.

"Kau betul! Otakmu cerdik. Tentu kau murid seorang yang bijaksana. Siapakah gurumu orang muda?" Wiro Sableng tak menjawab. Dia tak bisa menjawab. Dia tahu betul kalau gurunya Eyang Sinto Gendeng akan marah sekali bila namanya digembar-gembor di luaran. Maka akhirnya pemuda ini menjawab dengan senyumsenyum,

"Pengalaman adalah guru yang paling baik dan bijaksana bagi setiap manusia..." Si Pelukis Aneh kerenyitkan kening dan menatap paras si pemuda lekat-lekat. Sesaat kemudian mengumandanglah suara tertawa orang tua ini di seantero lamping gunung dan jurang batu.

"Tong kosong selalu berbunyi nyaring. Tong penuh tak akan mengeluarkan suara nyaring! Orang berilmu tinggi akan bersikap rendah bijaksana, orang berilmu sedikit sering jual tampang, jual pamer dan bermulut besar. Kuharap saja bocah itu kelak akan mempunyai sifat macammu, Wiro!" Telah dua kali dengan ini si orang tua menyebut ‘bocah'. Maka bertanyalah Wiro,

"Pelukis Aneh, siapakah yang kau maksudkan dengan bocah itu?"

"Calon muridku!" jawab Si Pelukis Aneh. Kemudian ditelitinya lukisan di hadapannya. Wiro memperhatikan pula dengan seksama. Lukisan perempuan telanjang itu betul-betul bagus luar biasa. Betul-betul seperti melihat manusia hidup di depan mata. Memandang lama-lama Wiro Sableng menjadi jengah juga.

"Tadi kulihat Adipati Pamekasan hendak membeli lukisan ini sampai dua ratus ringgit. Kenapa kau tidak menjualnya?" tanya Wiro. Si Pelukis Aneh tertawa.

"Bacalah tulisan di sudut kanan bawah." katanya. Wiro Sableng baru ingat pada tulisan itu. Tadi waktu memandang lukisan matanya hanya terpukau pada tubuh telanjang si perempuan cantik saja. Kini diperhatikannya bagian yang dikatakan si orang tua. Pada sudut bawah sebelah kanan lukisan terdapat tulisan berbunyi: Lukisan ini kuwariskan kepada calon muridku: Wira Prakarsa. Wiro manggut-manggut

"Calon muridmu itu, di manakah sekarang?"

"Tentu saja di rumahnya." sahut Si Pelukis Aneh.

"Umurnya baru sepuluh tahun. Kelak pada umur duabelas tahun baru dia kuambil jadi murid."

"Lalu apa perlu lukisan perempuan telanjang ini hendak kau serahkan padanya?" tanya Wiro tak mengerti,

"Ah... itu satu hal yang aku tak bisa terangkan, orang muda." Wiro maklum tentu ada apa-apanya. Namun demikian, pendekar ini berkata pula,

"Begitu selesai apakah lukisan ini akan kau berikan pada calon muridmu itu?" Pelukis Aneh gelengkan kepala,

"Aku tidak terlalu bodoh." jawabnya.

"Sekarang saja orang-orang jahat sudah pada memaksa dengan kekerasan untuk inginkan lukisan ini. Kalau diberikan saat ini pada bocah itu pasti bisa berabe. Nanti pada dua tahun di muka baru kuberikan."

"Dua tahun di muka calon muridmu itu baru berumur duabelas tahun. Bagaimanapun dia tetap masih disebut anak-anak. Apakah memberikan lukisan yang begini macam ke padanya bukan merupakan satu hal yang tidak pada tempatnya...?!" Si Pelukis Aneh tertawa.

"Aku sudah bilang segala sesuatu yang bagus itu seringkali menipu kita. Dan di dalam seribu satu keanehan dunia, kita manusia ini tahu apa?!" Wiro maklum kalau si orang tua adalah seorang yang pandai dan bijaksana. Di samping itu mempunyai sifat aneh sehingga tak salah kalau dunia persilatan memberi gelar Si Pelukis Aneh kepadanya!

"Wiro." berkata Pelukis Aneh.

"Kalau aku tak salah raba agaknya kau tengah dalam satu perjalanan atau pengembaraan. Tengah menuju ke manakah kau sebetulnya?" Wiro Sableng merasa bimbang untuk mengatakannya terus terang bahwa sesungguhnya saat itu dia tengah menuju Goa Belerang untuk menemui Kiai Bangkalan. Maka pendekar ini menjawab,

"Manusia macamku ini berjalan hanya sepembawa kaki saja, orang tua." Setelah bicara-bicara beberapa lamanya akhirnya Wiro Sableng minta diri dan meneruskan perjalanan. Sampai di kaki gunung, matahari bersinar semakin terik. Tanpa perdulikan keterikan yang membakar jagat itu, Pendekar 212 Wiro Sableng teruskan perjalanannya dengan mempergunakan ilmu lari cepatnya, dan sambil bersiul-siul. Ketika dia berada di sebuah kaki bukit, mendadak di puncak bukit dilihatnya dua titik kuning laksana bintang malam bergerak cepat ke arah selatan. Wiro hentikan larinya guna dapat meneliti lebih jelas. Dua buah titik itu sangat jauh, tapi Wiro yakin itu adalah dua orang manusia yang tengah berlari cepat. Wiro memperhatikan terus. Dua titik kuning itu menuruni bukit di sebelah selatan terus laksana terbang menuju ke daerah berbatu-batu dan terus lagi ke pegunungan di mana sebelumnya Wiro berada. Akhirnya dua titik kuning itu lenyap di batas pemandangan Pendekar 212 Wiro Sableng. Sewaktu Wiro ingat akan Si Pelukis Aneh yang ditemuinya di lamping pegunungan itu, mendadak hatinya menjadi berdesir, lebih cepat kalau dikatakan berdebar! Dua titik kuning itu pasti dua orang berkepandaian tinggi yang mempergunakan ilmu lari cepat. Dan keduanya mungkin pula orang-orang jahat yang sengaja pergi ke gunung itu untuk melakukan perbualan yang tidak baik terhadap Si Pelukis Aneh. Wiro merutuki dirinya sendiri karena sampai berpikir begitu jauh. Diputarnya badannya hendak melanjutkan perjalanan namun langkah.yang dibuatnya tertahan-tahan olen rasa kebimbangan. Akhirnya Pendekar 212 membalikkan diri lalu berlari cepat kejurusan selatan. Dua kali peminum teh baru Wiro Sableng sampai ke tikungan jalan di lamping gunung. Dan betapa terkejutnya Pendekar 212 sewaktu dia sampai di tempat itu! Larinya dengan serta merta terhenti. Sepasang kakinya laksana dipakukan ke bumi! Matanya menyipit, dada menggemuruh, kedua tinju terkepal sedang rahang terkatup rapat-rapat!

"Terkutuk!" desis Pendekar 212. Dia berlutut di hadapan tubuh Si Pelukis Aneh yang menggeletak di tikungan jalan. Tubuh orang tua ini mengerikan sekali. Mulai dari kepala sampai ke kaki ditancapi oleh puluhan paku berwarna kuning yang terbuat dari besi berlapiskan emas. Benda-benda yang merupakan senjata rahasia hebat ini pastilah mengandung racun yang luar biasa jahatnya karena saat itu Wiro melihat tubuh Si Pelukis Aneh berada dalam keadaan gembung membiru. Yang mengerikan ialah apa yang tercengkeram di tangan kanan Si Pelukis Aneh yang sudah tidak bernyawa itu. Pada jari-jari tangan kanannya tergenggam sebuah kutungan lengan yang tertutup kain kuning! Warna lain ini mengingatkan Wiro pada dua titik kuning yang dilihatnya sebelumnya. Melihat kepada bentuknya pastilah potongan lengan jubah seseorang. Tidak dapat tidak rupanya telah terjadi lagi pertempuran di tempat itu antara Si Pelukis Aneh dan dua orang berpakaian kuning yang dilihat Wiro di kejauhan yaitu sewaktu di kaki bukit sebelah utara. Meski menemui kematian di tangan dua pengeroyok namun Si Pelukis Aneh masih sanggup membetot putus lengan kiri salah seorang lawannya hingga tanggal dan dalam matinya masih mencengkeran lengan itu! Wiro Sableng tersentak sewaktu dia ingat pada lukisan perempuan telanjang. Tapi lukisan itu telah lenyap dari situ! Pasti dua manusia berpakaian kuning pengeroyok Si Pelukis Aneh itulah yang telah mencurinya! Wiro berdiri perlahan. Dia tak berani menyentuh tubuh Si Pelukis Aneh meski dirinya kebal terhadap segala macam racun. Dia harus menggali sebuah lubang dan mengubur orang tua itu. Tengah dia memandang berkeliling mencari tempat yang baik mendadak Wiro melihat sepasang kaki kecil tersembul di balik unggukan batu yang terletak tak berapa jauh dari tepi jurang. Cepat-cepat Pendekar 212 melangkah ke batu itu. Di sini ditemuinya seorang anak kecil berpakaian compangcamping, menggeletak tak bergerak. Kepalanya ada benjut besar. Sewaktu diperiksa ternyata dia cuma pingsan. Setelah ditolong dan diurut-urut dadanya akhirnya anak ini siuman. Begitu siuman begitu dia menangis. Tampangnya tolol sekali!

"Namamu tentu Wira." tegur Pendekar 212. Anak itu hentikan tangis dan seka kedua matanya lalu memandang pada Wiro Sableng. Sewaktu dia melihat tubuh Si Pelukis Aneh maka anak ini kembali menangis lebih keras. Setelah reda Wiro menanyakan bagaimana dia sampai berada di tempat itu. Dengan terhenti-henti oleh sesenggukan maka si anak memberi penuturan. Namanya memang Wira Prakarsa, calon murid Si Pelukis Aneh. Katanya dia tengah bermainmain di depan rumah sewaktu dua orang berpakaian kuning bertampang mengerikan mendatanginya. Salah seorang dari mereka langsung mendukungnya dan membawanya lari luar biasa cepatnya. Sepanjang jalan orang yang mendukungnya itu tiada henti menanyakan di mana letak pegunungan yang biasanya didatangi oleh calon gurunya. Karena tak tahan dipukuli akhirnya dia memberi tahu. Dan sewaktu sampai di tempat Si Pelukis Aneh maka langsung saja kedua orang berpakaian kuning itu menyerang calon gurunya. Menurut penuturan si anak lama sekali ketiga orang itu bertempur. Kemudian ada sambaran angin yang menyerempetnya hingga membuat dia terpelanting. Kepalanya membentur batu lalu dia tak ingat apa-apa lagi! Wiro maklum kini apa yang telah terjadi.

"Apa kau pernah melihat kedua orang itu sebelumnya?" Wira Prakarsa menggeleng.

"Tadi kau katakan muka kedua orang itu mengerikan sekali. Bisa kau mengatakan apa-apa yang mengerikan itu?" Si anak seka lagi sepasang matanya lalu menjawab dengan masih sesenggukan.

"Yang mendukungku matanya cuma satu, berewokan. Kawannya juga berewokan, bermata besar merah dan tak punya kuping..." Wiro Sableng merenung. Tak pernah dia bertemu dengan dua manusia macam itu, juga tak pernah mendengar tentang ciri-ciri mereka sebelumnya.

"Apakah kau tahu apa yang dibuat gurumu di sini sebelum dia meninggal?"

"Dia melukis. Katanya lukisan itu untukku. Di dalam lukisan itu ada..." Si anak tarik kembali lidahnya dan tak teruskan bicara.

"Ada apa...?" tanya Wiro ingin tahu.

"Tidak, tak ada apa-apanya." Menyahuti si anak, lalu kembali dia menangis. Pendekar 212 Wiro Sableng semakin yakin bahwa di dalam lukisan itu musti ada apa-apanya. Ada tersembunyi satu rahasia besar yang cuma Si Pelukis Aneh dan calon muridnya itu yang tahu. Apakah beberapa tokoh silat tahu rahasia itu sehingga mereka menginginkan lukisan tersebut? Ataukah cuma tertarik pada kebagusan lukisan perempuan bertelanjang itu belaka? Tapi agaknya dua manusia berpakaian kuning yang telah membunuh Si Pelukis Aneh bukan cuma tertarik pada kebagusan lukisan. Mungkin sekali mereka telah mengetahui rahasia apa yang terkandung dalam lukisan itu! Setelah menggali sebuah lobang besar dan mengubur Si Pelukis Aneh maka Wiro Sableng mendukung Wira Prakarsa lalu membawanya berlari kembali pulang ke rumahnya. Ternyata anak ini adalah anak seorang petani miskin yang saat itu masih belum kembali dari ladangnya.

"Wira," kata Pendekar 212 sambil pegang kepala si anak.

"Karena pemilik sah lukisan itu adalah kau, maka aku akan mencarinya sampai dapat dan mengembalikannya padamu..." Anak itu manggut-manggut dengan tampangnya yang tolol. Sewaktu meninggalkan si anak, Pendekar 212 tak habis pikir bagaimana Si Pelukis Aneh telah memilih anak yang begitu tolol untuk calon muridnya. Tapi bila dia ingat pula bahwa dia sendiri dulunya adalah seorang anak yang tolol geblek maka segala pikiran yang bukan-bukan tentang Si Pelukis Aneh maupun anak tadi segera lenyap.

"Kalau dia tolol karena dia masih anak-anak," ujar Wiro dalam hati.

"Aku yang sudah dedengkot begini rupa masih sableng! Masih mending anak itu!"***Satu bulan kemudian dunia persilatan dilanda kehebohan. Tokoh-tokoh silat terkenal dari delapan penjuru angin dan partai-partai persilatan berusaha keras untuk mendapatkan sebuah lukisan telanjang yang mengandung rahasia besar. Siapa yang berhasil mendapatkan lukisan itu dan memecahkan rahasia besar yang tersembunyi pasti akan sangat beruntung karena di dalam lukisan itu terkandung semacam ilmu silat dan ilmu kesaktian yang hebat luar biasa dan sukar dicari tandingannya di delapan penjuru angin! Mula-mula lukisan itu jatuh ke tangan sepasang Elmaut Kuning. Lalu berpindah tangan pada beberapa orang tokoh silat. Terakhir sekali kabarnya kembali jatuh ke tangan sepasang Elmaut Kuning. Dan dalam tempo satu bulan itu telah belasan tokoh silat menjadi korban. Satu partai besar hancur lebur semua gara-gara lukisan perempuan telanjang yang mengandung rahasia besar itu!PENDEKAR 212 Wiro Sableng tengah berlari di antara rapatnya pohon-pohon dan semak belukar di dalam sebuah rimba belantara sewaktu satu suara dengan santar menggeledek membentaknya.

"Berhenti!" Wiro terkesiap dan hentikan larinya. Belum lagi dia sempat berpaling tahu-tahu sesosok tubuh telah berdiri di hadapannya. Orang ini berjanggut putih yang panjangnya sampai ke dada. Selempang kain putih menutupi badannya. Pada sisi kiri kanan tergantung dua buah bumbung bambu.

"Dewa Tuak!" seru Pendekar 212. Hatinya gembira tapi juga bersangsi. Manusia di hadapannya kelihatan tambah tua dari dulu pertama sekali ditemuinya. Tapi meski demikian masih tetap tegap kuat (Tentang siapa adanya Dewa Tuak ini harap baca serial Pendekar 212 yang kedua yaitu: Maut Bernyanyi di Pajajaran). Wiro Sableng menjura dalamdalam. Orang tua di hadapannya tertawa gelak-gelak lalu mengangkat salah satu bumbung bambu dan meneguk tuak di dalamnya sampai lepas dahaganya. Setelah menyeka mulutnya yang berselomotan tuak maka Dewa Tuak berkata,

"Beratus hari mencarimu, saat ini baru bertemu!" Diam-diam Wiro mengeluh. Apakah orang tua ini masih hendak melaksanakan niatnya tempo hari yaitu memaksa menjodohkannya dengan muridnya?! Untuk mengetahuinya maka Wiro cepat-cepat bertanya,

"Apakah kau masih juga hendak memaksakan niatmu tempo hari, Dewa Tuak...?"

Dewa Tuak angkat lagi bumbung tuak dan meneguknya beberapa kali. Kemudian digelengkan kepalanya perlahanlahan. Mukanya kelihatan merah oleh hangatnya minuman yang diteguknya itu. Melihat gelengan kepala ini Pendekar 212 merasa lega sedikit. Namun demikian apa pula gerangan yang membuat si orang tua berkata bahwa telah beratus hari dia mencari-cari dirinya?

"Aku tahu... aku tahu dulu itu aku telah berlaku picik! Soal jodoh mana bisa dipaksakan?!" Dewa Tuak tertawa gelak-gelak.

"Kalau begitu tengah menuju ke manakah kau saat ini, Dewa Tuak?"

"Kau sendiri tengah menuju ke mana Wiro?" Wiro tak mau menceritakan bahwa dia sedang mencari lukisan perempuan telanjang yang tengah dihebohkan dunia persilatan waktu itu. Namun demikian Dewa Tuak telah mengetahuinya dan berkata,

"Ah, rupanya kau juga telah ikut-ikutan terlibat dalam mencari lukisan itu, orang muda?" Wiro terkejut.

"Kunasihatkan padamu agar segera mengundurkan diri saja. Lukisan itu hanya mendatangkan malapetaka, lain tidak! Belasan tokoh silat telah menemui ajalnya. Satu partai besar telah musnah gara-gara lukisan itu! Apa kau juga ingin mati percuma hanya karena lukisan telanjang itu?!"

"Tapi lukisan itu ada sangkut pautnya dengan diriku, Dewa Tuak..."

"Eh, sangkut paut bagaimana?" tanya Dewa Tuak heran. Maka Wiropun menuturkan pertemuannya dengan Si Pelukis Aneh serta janjinya terhadap Wira Prakarsa yaitu calon murid Si Pelukis Aneh itu. Dewa Tuak menarik nafas panjang.

"Memang, itu sudah menjadi tugasmu orang muda. Dunia persilatan tak akan tenteram sebelum lukisan itu kembali pada pemiliknya yang sah..." Keduanya berdiam diri sebentar.

"Dewa Tuak, apakah kau sudah mendengar tentang muridmu?" tanya Wiro.

"Sudah... sudah! Aku gembira melihat dia kini berada dan bertapa di Goa Dewi Kerudung Biru. Dia beruntung sekali bertemu dan ditolong bahkan diambil murid oleh Dewi Kencana Wungu tempo hari. Terakhir sekali aku bertemu katanya dia hendak mempersuci diri, mengundurkan diri dari segala urusan duniawi." Wiro Sableng termenung mendengar keterangan Dewa Tuak itu. Ingat dia akan masa beberapa tahun yang lewat, berdua-duaan dengan Anggini, murid Dewa Tuak itu.

"Sekarang marilah ikut aku," kata Dewa Tuak.

"Ikut ke mana Dewa Tuak?"

"Ikut sajalah."

"Terima kasih. Tapi aku ada urusan yang penting. Kau sendiri sudah maklum."

"Justru aku ajak kau untuk pergi ke satu tempat yang ada sangkut pautnya dengan lukisan yang tengah kau cari itu!" ujar Dewa Tuak. Mendengar ini maka Wiro tidak membantah. Keduanya segera meninggalkan tempat itu memasuki lebih dalam rimba belantara yang jarang didatangi manusia! Menjelang tengah hari kedua orang ini sampai di bagian rimba belantara yang paling lebat. Pohon-pohon sangat besar dan rapat tumbuhnya. Suasana lengang sunyi sedang sinar matahari tak sanggup menembus lebatnya daun-daun pohon yang tumbuh di situ. Udara sejuk seperti di malam hari layaknya! Dewa Tuak melompat ke cabang sebuah pohon yang tinggi. Wiro sampai di cabang dan berdiri di samping Dewa Tuak, terkejutlah dia. Sekira dua puluh tombak di bawah sebelah sana dilihatnya sebuah pondok kayu yang beratap rumbia.

"Pondok siapakah itu?" tanya Wiro. Dewa Tuak palangkan jari telunjuk di atas bibir lalu dengan suara perlahan dia berbisik,

"Ikut aku dan jangan keluarkan suara!" Dewa Tuak lantas melompat ke cabang pohon yang lain. Melompat lagi, melompat lagi dan akhirnya mendarat di atas wuwungan atap rumbia tanpa keluarkan suara sedikitpun. Dalam pada itu Wiro Sableng sudah berada pula di sampingnya. Meskipun atap rumbia itu cukup kuat namun tanpa mereka mengandalkan ilmu meringankan tubuh pastilah atap itu akan roboh! Dewa Tuak membungkuk dan dengan hati-hati membuat sebuah lubang di atas atap. Dia memberi isyarat agar Wiro melakukan hal yang sama. Maka Wiro pun buat satu lubang di atas atap itu. Keduanya kemudian mengintai ke dalam pondok. Karena di dalam pondok agak gelap maka mula-mula Wiro tak melihat apa-apa. Kemudian matanya yang mengintai itu melihat seorang perempuan tua berambut hitam legam berdiri terbungkuk-bungkuk di sudut pondok. Kedua matanya meram tapi mulutnya yang kempot berkomatkamit. Wiro hendak menanyakan kepada Dewa Tuak siapa adanya nenek-nanek itu tapi dia khawatir suaranya terdengar oleh si nenek maka lantas dia pergunakan ilmu menyusupkan suara. Namun belum sempat dia ajukan pertanyaan mendadak pintu pondok terpentang lebar dan dua orang masuk ke dalam. Keduanya ternyata neneknenek keriputan berbadan bongkok. Yang satu berambut biru, yang kedua berambut putih. Di bahu masing-masing memanggul dua sosok tubuh yang agaknya telah ditotok kaku tidak berdaya. Melihat si nenek berambut putih kagetlah Wiro Sableng karena perempuan tua ini bukan lain Nenek Rambut Putih yang sebelumnya telah dilihatnya di puncak gunung melawan Si Pelukis Aneh. Dan lainnya itu pastilah Nenek Rambut Biru dan Nenek Rambut Hitam!

"Pemimpin!" ujar Nenek Rambut Biru,

"Inilah bangsatbangsat yang kau inginkan itu!" Nenek Rambut Hitam yang rupanya menjadi pemimpin kedua nenek lainnya itu memandang dingin pada kedua laki-laki yang menggeletak di muka kakinya.

"Buka jalan suara mereka!" perintahnya. Nenek Rambut Biru lepaskan totokan pada jalan suara kedua orang itu. Begitu jalan suaranya terbuka maka salah seorang dari dua laki-laki itu membentak,

"Iblis betina, kau rupanya yang jadi biang racun! Lekas lepaskan totokanku dan kawan-kawanku!" Nenek Rambut Hitam tertawa melengking-lengking.

"Ketua Partai Angin Timur, aku akan bebaskan kalian berdua jika kau beritahu di mana sarangnya Sepasang Elmaut Kuning!" Terkejutlah Wiro Sableng. Kalau laki-laki yang seorang itu adalah ketua sebuah partai, pastilah ilmunya tinggi sekali! Dan dari situ dapat pula diukur tingginya ilmu Nenek Rambut Biru dan Rambut Putih yang telah berhasil menawan ketua partai itu bersama seorang kawannya.

"Ada apa kau tanyakan sarang kambratku itu?!" balas menanya Ketua Partai Angin Timur.

"Bedebah! Aku tak suruh kau bertanya setan?!" bentak Nenek Rambut Hitam. Plaak! Tamparan Nenek Rambut Hitam melayang melanda sang Ketua, membuatnya tergelimpang dan terguling di lantai pondok. Dua buah giginya mencelat mental sedang bibirnya pecah! Paras Ketua Partai Angin Timur membesi. Nyata kemarahan menggelegak dalam dirinya, tapi karena ditolok maka yang bisa dilakukannya ialah memaki habishabisan! Nenek Rambut Putih menjambak rambut Ketua Partai Angin Timur dan menyentakkannya hingga laki-laki itu berdiri kembali di hadapan, pemimpinnya!

"Lekas terangkan di mana sarang Sepasang Elmaut kuning!" hardik Nenek Rambut Hitam. Ketua Partai Angin Timur mendengus!

"Maksudmu untuk mencari lukisan telanjang itu tak akan berhasil, iblis betina!"

"Keparat betul! Kau mau bilang apa tidak?!" Lagi-lagi Ketua Partai Angin Timur mendengus.

"Aku tidak tahu!" sahutnya.

"Sekalipun tahu aku tak akan bilang padamu!" Nenek Rambut Hitam marah sekali. Diulurkannya tangannya. Sekali remas saja maka hancurlah telapak dan jari jari tangan kanan sang Ketua! Laki-laki itu menjerit kesakitan dan memaki habis-habisan! Kawannya keluarkan keringat dingin.

"Itu masih belum apa-apa," ujar Nenek Rambut Hitam.

"Kalau kau tetap membangkang tak mau kasih keterangan, seluruh tubuhmu akan kubikin hancur! Lekas katakan!"

"Nenek Rambut Hitam, kawanku itu betul-betul tidak tahu letak sarangnya Sepasang Elmaut Kuning," berkata kambrat Ketua Partai Angin Timur.

"Kau tak usah berbacot!" bentak sang nenek.

"Kalau dia tak tahu kau tentu tahu ya?!" Pucatlah wajah laki-laki itu.

"Ayo lekas kalian katakan! Kalau tidak kalian akan disiksa sampai setengah mampus!" teriak Nenek Rambut Biru.

"Nenek Rambut Hitam! Kalian dan kami masing-masing satu golongan, kenapa berbuat sejahat ini?" Nenek Rambut Hitam tertawa melengking,

"Kalau kau dan kambratmu tidak mau binasa percuma lekas beri keterangan!"

"Kalian penggal pun kami berdua, tetap aku tak bisa kasih keterangan!"

"Aku mau lihat!" ujar Nenek Rambut Hitam. Sekali dia gerakkan tangan kanannya maka tanggallah lengan kiri Ketua Partai Angin Timur! Laki-laki ini melolong laksana srigala lapar, mengerikan sekali! Pendekar 212 Wiro Sableng bergidik.

"Dewa Tuak, aku tak bisa melihat kekejaman terkutuk itu berjalan lebih lama!" kata Wiro. Dia bergerak cepat hendak menerobos atap. Tapi lebih cepat dari itu si orang tua yang memanggul dua buah bumbung bambu memegang lengannya dan menjawab dengan ilmu menyusupkan suara seperti yang dilakukan oleh Wiro waktu berkata padanya tadi.

"Biarkan, kita lihat saja! Ketua Partai Angin Timur tidak beda dengan tiga orang nenek serta seorang kawannya itu! Mereka sama-sama dari golongan hitam tukang bikin kejahatan di dunia persilatan! Biar saja mereka saling bunuh! Kita menonton saja!"

"Tapi Ketua Partai Angin Timur berada dalam keadaan tak berdaya!" tukas Wiro Sableng.

"Perduli amat! Sudahlah kita lihat saja!" bentak Dewa Tuak pula. Wiro Sableng menggerutu dalam hati lalu dia mengintai lagi lewat lobang.

"Ayo! Apa kau masih tidak mau kasih keterangan?!" Si Nenek Rambut Hitam membentak. Jawaban Ketua Partai Angin Timur adalah suara raungan yang mengerikan! Nenek Rambut Hitam berpaling pada kawan Ketua Partai Angin Timur.

"Jaliwarsa! Kau tentu tak ingin menerima nasib macam kambratmu itu, bukan?!" Pucatlah wajah laki-laki yang bernama Jaliwarsa.

"Apa maksudmu Nenek Rambut Hitam...?"

"Kau tentu tahu! Lekas katakan di mana tempat kediaman Sepasang Elmaut Kuning!"

"Demi setan aku tidak tahu sama sekali Nenek Rambut Hitam..." Nenek Rambut Hitam mendengus marah. Dia berpaling pada anak buahnya.

"Rambut Biru! Cungkil mata kirinya!" perintah Nenek Rambut Hitam.

"Tobat! Jangan...!" teriak Jaliwarsa.

"Kalau begitu lekas buka mulut!" sentak Nenek Rambut Hitam. Jaliwarsa menangis macam anak kecil. Meratap mengatakan bahwa dia betul-betul tidak tahu di mana letak sarang Sepasang Elmaut Kuning.

"Tak ada ampun bagimu! Cungkil matanya!" bentak Nenek Rambut Hitam. Maka Nenek Rambut Biru melompat ke muka. Dua buah jarinya menusuk lurus ke mata kiri Jaliwarsa. Terdengar suara mengerikan sewaktu biji mata laki-laki itu mencelat bersama semburan darah yang disusul oleh suara melolong Jaliwarsa yang laksana gila karena kesakitan!PEREMPUAN iblis!" teriak ketua Partai Angin Timur yang menggeletak di lantai pondok.

"Kalian bunuhlah kami! Biar kami bisa jadi setan dan mencekik batang leher kalian!" Nenek Rambut Hitam tertawa mengekeh.

"Nyalimu boleh juga, kunyuk sialan! Kalian minta mampus cepat-cepat, baiklah! Kalian memang tidak berguna hidup lebih lama!" Nenek Rambut Hitam pegang kedua kaki Ketua Partai Angin Timur dan Jaliwarsa. Sekali kedua tangannya bergerak maka mencelatlah tubuh kedua orang laki-laki itu ke atas atap. Serentak dengan itu si nenek berseru,

"Tukangtukang intip keparat, terima ini!" Pendekar 212 Wiro Sableng terkejut bukan main. Tak sangka kalau si nenek begitu lihai sehingga sudah mengetahui kehadirannya bersama Dewa Tuak di atas atap! Wiro dan Dewa Tuak cepat melompat ke samping. Pada saat itu pula atap pondok bobol dihantam dua tubuh yang dilemparkan Nenek Rambut Hitam! Tubuh Ketua Partai Angin Timur menghantam sebuah pohon, pinggangnya hancur dan jatuh ke tanah tanpa nyawa! Kawannya menyangsang sebentar di sebuah pohon lain, lalu jatuh bergedebuk di tanah dengan kepala pecah! Maklum kalau tiga perempuan tua berbadan bungkuk itu sudah mengetahui kedatangannya bersama Wiro, maka Dewa Tuak segera melompat turun, masuk ke dalam pondok lewat atap yang bobol. Wiro menyusul dan berdiri di sampingnya. Kelima orang itu saling menyapu dengan pandangan mata masing-masing. Diam-diam ketiga nenek itu mengagumi kegagahan tampang Wiro Sableng meskipun kegagahan itu agak dibayangi oleh mimik ketololan! Sedang masing-masing mereka sama kerenyitkan kening sewaktu melihat Dewa Tuak membawa dua buah bumbung bambu yang agaknya berisi cairan. Cairan apa mereka tak bisa menduga.

"Siapa kau?!" tanya Nenek Rambut Hitam.

"Dan kau juga?!" katanya sambil goyangkan kepala pada Wiro Sableng. Dewa Tuak tak segera menjawab melainkan mengangkat salah satu dari bumbung bambu dan meneguk isinya beberapa kali. Perlu diketahui kedua bumbung itu tidak ditutup. Meski dibawa berlari bagaimanapun kencangnya atau dibawa melompat namun satu tetes pun tuak itu tidak tumpah. Ini adalah berkat kehebatan tenaga dalam Dewa Tuak yang sudah mencapai tingkat kesempurnaannya! Nenek Rambut Hitam merasa gusar sekali karena pertanyaannya tak segera dijawab. Tapi karena maklum bahwa si orang tua berjanggut itu bukan seorang yang bisa dianggap remeh maka dia cuma memandang saja dengan mata mendelik!

"Sobat-sobatku," kata Dewa Tuak kepada tiga orang nenek,

"Sebelum kita bicara-bicara apakah tidak lebih bagus kalau kalian mencicipi tuakku ini dulu?" Nenek Rambut Hitam terkesiap seketika. Diperhatikannya orang tua di hadapannya lebih teliti. Kemudian,

"Kalau aku tak salah duga, apakah kau manusia yang bergelar Dewa Tuak?!" Dewa Tuak usut-usut janggutnya yang panjang sampai ke dada lalu tertawa dan meneguk lagi tuaknya beberapa kali.

"Aku memang doyan tuak, tapi aku bukan dewa!"

"Sejak puluhan tahun belakangan ini kau lenyap dari dunia persilatan! Tahu-tahu kini muncul unjukkan tampang! Tentu ada yang menyebabkannya! Apakah kau yang sudah tua karatan ini telah terlibat pula dalam urusan mencari lukisan perempuan telanjang itu?!" Dewa Tuak tertawa gelak-gelak.

"Rupanya di dalam otakmu hanya lukisan itu saja yang teringat nenek bangkotan! Kita yang sudah tua-tua begini bukan tempatnya lagi mengurus segala macam persoalan duniawi!"

"Lantas perlu apa kau datang ke sini dan mengintip tak tahu adat?! Dan cecunguk hijau ini apamu?!" Wiro Sableng keluarkan suara bersiul sewaktu dirinya disebul cecunguk hijau lalu tertawa geli!

"Orang muda! Nyalimu cukup besar untuk berani tertawa di hadapanku!"

"Tertawa saja apa susahnya?!" ujar Wiro lalu tertawa lagi lebih keras hingga pondok itu terdengar hebat! Kagetlah Nenek Rambut Hitam dan kedua anak buahnya. Tiada dinyana kalau si anak muda memiliki tenaga dalam yang sehebat itu!

"Kau tanyakan dia?" ujar Dewa Tuak seraya tuding Wiro dengan ibu jarinya.

"Dia adalah calon mantuku yang tidak jadi!" Lalu orang tua ini tertawa bekakakan sampai kedua matanya berair. Wiro cuma cengar-cengir mendengar ucapan Si Dewa Tuak.

"Cepat terangkan mengapa kau berada di daerah ini?!" Saat itu untuk pertama kalinya Nenek Baju Biru buka suara,

"Pemimpin, bukan tak mungkin bangsat-bangsat ini tengah mencuri dengar percakapan kita tadi dengan Ketua Partai Angin Timur dan Jaliwarsa. Disangkanya mereka akan dapat diam-diam mencuri dengar keterangan sarang Sepasang Elmaut Kuning!" Nenek Rambut Putih menimpali,

"Bukan tak mungkin pula mereka tahu banyak tentang soal lukisan itu, pemimpin!" Ucapan-ucapan anak buahnya itu termakan oleh Nenek Rambut Hitam. Maka segera dia memerintah,

"Rambut Biru! Kau ringkus si tua bangka itu! Dan kau Rambut Putih, bekuk cecunguk hijau itu!" Nenek Rambut Biru memang lebih tinggi kepandaiannya dari Rambut Putih maka dia disuruh meringkus Dewa Tuak.

"Perempuan-perempuan keriputan! Kalian betul-betul tidak tahu adat!" gerutu Dewa Tuak lalu cepat-cepal menyingkir ke samping kanan, mengelakkan totokan yang dilancarkan Nenek Rambut Biru! Sambil mengelak Dewa Tuak angkat bumbung bambunya hingga ujungnya dengan tiada terduga menyerang ke arah pinggang lawan! Tapi Nenek Rambut Biru tidak berkepandaian rendah! Penasaran melihat totokannya lewat, dengan satu jeritan keras dia menyerang kembali! Maka terjadilah pertempuran yang hebat. Nenek Rambut Putih di lain pihak maju menghadapi Wiro Sableng. Dengan memandang enteng dia lakukan serangan dan sekali menyerang dia yakin akan sanggup meringkus si pemuda hidup-hidup. Tapi alangkah terkejutnya ketika sambil tertawa lawannya berkelit dengan mudah bahkan berkata mengejek,

"Ah, jurus seperti ini telah kulihat kau pergunakan untuk menyerang Si Pelukis Aneh!"

"Bocah hijau! Ada hubungan apa kau dengan Si Pelukis Aneh?!" tanya Nenek Rambut Putih. Wiro tertawa. Bukan dia menjawab pertanyaan si nenek malah berkata,

"Orang tua semacammu ini sepantasnya banyak bikin ibadat dan sucikan diri! Bukannya malang melintang bikin kejahatan dan ikut campur segala macam urusan duniawi!"

"Kentut ingusan. Atas nasihatmu itu aku akan hadiahkan jurus Ekor Naga Mematuk Cakar Garuda Berkiblat! Terimalah!" Gerakan si nenek sebat sekali. Tubuhnya tinggal bayangan dan tahu-tahu tiga jari tangan kanannya menotok ke dada, sedang lima jari kiri mencakar ke arah muka. Cakaran yang datangnya lebih dulu itu sebenarnya hanya tipuan belaka karena serangan yang sebenarnya ialah totokan pada dada! Bila lawan coba hindarkan mukanya dari cakaran maka kecepatan totokan tangan akan ditambah dua kali lipat! Dan celakanya Pendekar 212 kini kena tertipu! Begitu melihat lima jari mencakar di depan hidung dia segera buang kepala ke belakang dan kaki kanan menderu ke arah si nenek. Namun di saat itu si nenek sudah melesat ke samping, sedang tiga jari tangannya dengan kecepatan luar biasa menderu ke arah dada Wiro Sableng! Penasaran sekali karena dia tahu bahwa totokan yang lihai itu tak mungkin dikelit maka Wiro hantamkan tangan kanannya dari atas ke bawah! Dua lengan pun beradu! Si nenek berseru keras. Dia tersurut sampai dua tombak, mukanya pucat bahkan terkejut. Nenek Rambut Hitam segera maklum bahwa tenaga dalam anak buahnya itu jauh rendahnya dari si pemuda. Ini adalah satu hal yang tak pernah disangkanya. Dan ketika dia memandang ke lengan Si Rambut Putih, lengan neneknenek itu kelihatan bengkak membiru sedang lengan Wiro Sableng hanya berbekas merah sedikit! Kemudian dilihatnya pula pertempuran si rambut biru dengan Dewa Tuak. Anak buahnya itu tengah dibikin sibuk bahkan dipermainkan malah! Gusarlah Nenek Rambut Hitam. Segera dia berseru,

"Kalian berdua jangan bikin malu aku! Kuberi kesempatan tiga jurus lagi! Jika kalian tak bisa meringkus kunyuk-kunyuk itu, kalian akan tahu rasa!" Mendengar seruan Si Rambut Hitam, Rambut Putih dan Rambut Biru jadi takut sekali. Keduanya segera loloskan setagen yang melilit di pinggang masing-masing lalu menyerang dengan lebih sebat! Dua setagen yang merupakan senjata ampuh itu tak ubahnya laksana dua ekor ular besar yang meliuk-liuk sebat kian kemari, kadang-kadang bergerak cepat membelit pinggang, kadang-kadang menotok jalan darah bahkan kadang-kadang mematuk ke arah kedua mata! Dan semua itu terjadi bertubi-tubi laksana kilat. Betapapun Wiro dan Dewa Tuak percepat gerakan silat mereka, namun tetap saja keduanya dibikin terdesak dan tak sanggup ke luar dari gulungan setagen lawan!

"Setagen sialan," gerendeng Pendekar 212. Baik dia maupun Dewa Tuak kini segera merubah sikap. Kalau tadi mereka cuma main-main dan mengejek lawan mereka, maka setelah terdesak hebat dan terkurung setagen yang berbahaya itu, mereka mulai lancarkan serangan-serangan balasan sehingga pertempuran berjalan semakin hebat! Dalam tempo yang singkat lima jurus telah lewat. Nenek Rambut Hitam penasaran sekali melihat kedua anak buahnya tiada sanggup meringkus lawan masingmasing, padahal tiga jurus yang ditentukannya telah berlalu!

"Kalian berdua mundurlah!" bentaknya marah. Nenek Rambut Biru segera melompat mundur. Namun karena agak gugup ketakutan oleh bentakan pemimpinnya, dia menjadi sedikit lengah dan akibatnya ujung selendangnya berhasil ditarik oleh Dewa Tuak sehingga robek! Dewa Tuak tertawa gelak-gelak! Di lain pihak Nenek Rambut Putih begitu melompat begitu dirasakannya sekujur tubuhnya tak sanggup digerakkan. Ketika ditelitinya ternyata lawannya telah melibat sekujur badannya dengan setagennya sendiri! Pucatlah paras nenek tua ini. Dia maklum bahwa pemuda itu berilmu tinggi sekali dan kalau bermaksud jahat pastilah sudah sejak tadi dia kena celaka! Nenek Rambut Hitam maju ke hadapan kedua orang itu.

"Bagus!" katanya.

"Rupanya kalian memiliki ilmu yang diandalkan! Aku mau lihat! Apakah kalian maju berdua atau seorang-seorang?!" Dewa Tuak mendengus.

"Bagusnya berdua sekaligus biar lekas kubereskan!" Dewa Tuak tertawa lagi dan meneguk tuaknya beberapa kali.

"Dengar Rambut Hitam," kata Dewa Tuak pula.

"Mainmain dengan dua orang anak buahmu itu sudah cukup. Lain kali saja kau kami hadapi...!"

"Kentut tua bangka! Katakan saja kau tidak punya nyali menghadapi Nenek Rambut Hitam!" Dewa Tuak ganda tertawa. Dia berpaling pada Wiro Sableng dan berkata,

"Mari kita pergi!" Tapi baru saja dia bergerak Nenek Rambut Hitam sudah melompat ke hadapannya dan kirimkan satu serangan yang luar biasa dahsyatnya. Kalau saja si orang tua tidak bersikap waspada pastilah dadanya akan kena jotosan keras dan mukanya disambar cakaran dahsyat! Marahlah Dewa Tuak melihat kenekatan si nenek.

"Dasar tua bangka geblek! Masih saja mengikuti amarah membabi buta!"

"Jangan banyak ribut setan tua! Makan jariku ini!" Dengan lebih ganas lagi Nenek Rambut Hitam menyerbu ke muka. Lima jari tangan kanan bergerak ke perut sedang lima jari tangan kiri mencengkeram ke muka Dewa Tuak. Angin serangan ini bukan main derasnya. Dewa Tuak memaklumi bahwa dibandingkan dengan kedua anak buahnya sekaligus, si nenek yang satu ini jauh lebih berbahaya! Dewa Tuak melompat ke belakang dan putar kedua bumbung tuaknya. Maka punahlah kedua serangan Nenek Rambut Hitam! Sebelum si nenek menyerang lagi Dewa Tuak berseru,

"Wiro kau layanilah perempuan bongkok jelek ini!" Terkejutlah Nenek Rambut Hitam dan dua nenek lainnya sewaktu Dewa Tuak menyebut nama si pemuda.

"Manusia-manusia keparat! Kau berani main-main terhadapku?!" sentak Nenek Rambut Hitam.

"Siapa yang main-main? Kau tanya aku jawab!" sahut Dewa Tuak.

"Apakah kau manusianya yang bernama Wiro Sableng?! Yang bergelar Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212?!" tanya Nenek Rambut Hitam.

"Ah, perlu apa segala macam nama, segala macam gelar! Majulah! Kuharap kau yang tua mau memberikan sedikit pelajaran padaku si bocah hijau!" sahut Wiro pula. Meski Wiro tidak mengaku terus terang siapa dia adanya namun Nenek Rambut Hitam yakin bahwa pemuda itu memang Wiro Sableng si Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212! Sejak berbulan-bulan belakangan ini dia telah mendengar tentang munculnya seorang pemuda gagah di dunia persilatan, yang bernama Wiro Sableng berjuluk Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212. Banyak tokoh silat golongan hitam yang berilmu tinggi mati konyol di tangannya. Bahkan terakhir sekali, Dewi Siluman Dari Bukit Tunggul, kabarnya juga telah menemui kematian di tangan pendekar muda ini! Mau tak mau si Nenek Rambut Hitam menjadi gentar juga. Untuk mengelakkan baku bantam dengan si pemuda tapi tanpa kehilangan muka maka Nenek Rambut Hitam berpaling pada Dewa Tuak dan berkata lantang,

"Kalau kau tak punya nyali untuk menghadapiku, sebaiknya segera angkat kaki dari sini!" Dewa Tuak yang sudah dapat menduga hati perempuan itu tertawa dan berkata,

"Aku yang tak punya nyali atau kau yang takut hadapi kawanku itu?" Nenek Rambut Hitam tertawa bergetar.

"Orang muda! Tadinya aku hanya berniat untuk meringkusmu hidup-hidup! Tapi karena kau begitu berani menantangku, terpaksa umurmu cuma sampai hari ini saja!" Sesudah berkata begitu si nenek menerjang ke muka. Wiro bergerak cepat. Mengelak dan lancarkan serangan balasan yang anginnya saja membuat si nenek mengeluh! Tenaga dalam si pemuda jauh lebih tinggi dari yang dimilikinya. Dalam tempo dua jurus Nenek Rambut Hitam tak sanggup lagi lancarkan serangan-serangan bahkan musti mempertahankan diri dan dalam jurus keempat terdesak hebat ke pojok pondok! Tiba-tiba si nenek melengking dahsyat! Tubuhnya lenyap dan jurus permainan silatnya berubah sama sekali. Serangannya gencar tiada terduga. Gerakan kaki dan tangannya mendatangkan angin bersiuran dan tipu-tipunya berbahaya mematikan! Inilah ilmu silat tangan kosong yang dinamakan Ilmu Silat Delapan Kaki Delapan Tangan yang telah dipelajari Nenek Rambut Hitam dari mendiang gurunya! Ilmu Silat Delapan Kaki Delapan Tangan memang patut dikagumi. Nyatanya selama lima jurus Wiro Sableng dibikin bingung dan musti berhati-hati. Meski ilmu meringankan tubuh serta tenaga dalamnya jauh di atas si nenek namun gerakan lawan yang tiada terduga-duga itu mematahkan pertahanannya! Dan dua jurus di muka satu hantaman telapak tangan si nenek berhasil mampir di dada Pendekar 212! Wiro merasakan dadanya sakit dan nafasnya sesak. Dia maklum kalau saja dia tidak lebih tinggi tenaga dalamnya dari si nenek pastilah dia akan mendapat luka di dalam yang amat berbahaya! Di lain pihak Nenek Rambut Hitam tidak kepalang tanggung. Dia menyerbu lagi dengan lebih gencar! Tangan dan kakinya laksana bertambah menjadi beberapa pasang lagi! Dan kembali Wiro Sableng terdesak! Dewa Tuak kerenyitkan kening. Hanya sebegitukah kehebatan Pendekar 212 sehingga menghadapi ilmu silat si nenek dia sudah dibikin kewalahan demikian rupa?! Si nenek sendiri juga tiada menyangka bahwa dia akan berhasil memukul lawannya. Diam-diam dia merasa berada di atas angin kini! Tiba-tiba Wiro menyurut sejauh satu tombak.

"Ha... ha! Apakah nyalimu sudah lumer orang muda?!" ejek Nenek Rambut Hitam.

"Ah, jangan lekas-lekas berbesar hati sobat tua! Kau rasakan dulu pukulanku ini!" sahut Wiro. Serentak dengan itu dia sudah alirkan sebagian tenaga dalamnya ke ujung tangan kanan. Tangan itu dikepal dan diangkat ke atas. Didahului oleh satu bentakan nyaring, Wiro Sableng pukulkan tangannya ke arah si nenek. Begitu memukul begitu jari-jari tangan yang mengepal membuka kembali! Inilah Pukulan Kunyuk Melempar Buah yang tak asing lagi! Nenek Rambut Hitam terkejut sekali sewaktu merasakan gelombang angin keras laksana batu besar melanda ke arahnya. Sambil pukulkan kedua tangannya sekaligus untuk menangkis dia cepat-cepat jungkir balik lalu membuang diri ke samping! Braaak! Dinding pondok di belakang si nenek pecah dan berhamburan! Tergetarlah hati Nenek Rambut Hitam melihat kehebatan pukulan itu. Setelah tenangkan hatinya dia maju menghadapi lawannya kembali. Dan pada saat itu untuk pertama kalinya Wiro Sableng membuka jurus pertempuran dengan menyerang lebih dahulu! Si nenek dibikin gelagapan kini. Serangannya selalu mengenai tempat kosong sedang pertahanannya saat demi saat semakin mengendur. Bila dia tidak kuat lagi menghadapi pemuda itu maka tanpa malu-malu Nenek Rambut Hitam lepaskan setagen dan cabut tusuk konde emas dari rambutnya! Dengan kedua senjata itu dia menyerang Wiro Sableng. Setelah bertempur dua jurus maka Wiro segera mengetahui bahwa tusuk konde yang kecil di tangan kanan si nenek jauh lebih berbahaya daripada setagen di tangan kanannya! Semakin lama pertempuran semakin seru. Tibatiba si nenek hentikan gerakannya dan memandang bingung karena lawannya lenyap seperti ditelan bumi!

"Aku di sini, Rambut Hitam!" Terdengar suara Wiro di belakangnya! Nenek Rambut Hitam kertakkan geraham dan secepat kilat membalikkan tubuh. Tapi begitu tubuhnya membalik maka, plaaak...! Telapak tangan kanan Wiro Sableng menghantam keningnya! Perempuan tua itu melengking kesakitan. Tubuhnya mencelat menghantam dinding pondok. Pemandangannya gelap, kepalanya terasa pening sedang keningnya sakit bukan main! Kedua anak buah Nenek Rambut Hitam terkejut! Belum pernah mereka melihat pemimpin mereka dihajar demikian rupa! Selama ini tak pernah seorang pun yang sanggup menghadapi Nenek Rambut Hitam tanpa mendapat celaka! Dan yang membuat mereka lebih terkejut lagi ialah sewaktu melihat kening pemimpin mereka.

"Pemimpin, keningmu!" seru Nenek Rambut Biru. Nenek Rambut Hitam usap keningnya. Kening itu sakit sekali dan panas, tapi tidak terluka. Namun apakah yang menyebabkan Rambut Biru demikian terkejutnya? Tak lain karena akibat pukulan telapak tangan kanan Wiro tadi kini di kening Nenek Rambut Hitam tertera tiga deretan angka yaitu 212! Dewa Tuak tertawa gelak-gelak dan cegluk... cegluk... cegluk, dia lalu teguk tuaknya.

"Rambut Hitam, sobatku telah hadiahkan tiga buah angka di keningmu! Apakah kau masih belum mau mengaku kalah?!" Berubahlah paras Nenek Rambut Hitam! Dia maklum apa yang telah terjadi kini. Pukulan 212 yang mengguratkan angka telah menimpa keningnya. Tiga deretan angka itu tak akan bisa dihilangkan seumur hidupnya! Nenek Rambut Hitam menggerutu macam singa lapar!

"Anak haram jadah mampuslah!" lengking si nenek. Tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi ke atas dan mulutnya berkomat-kamit. Seluruh pondok itu dengan tibatiba dilanda hawa yang amat dingin menyembilu. Wiro sendiri yang tak mengerti apa yang tengah terjadi sampaisampai bergeletar tubuhnya dilanda hawa dingin itu. Geraham-gerahamnya bergemeletukan. Melihat ada kelainan ini secepat kilat Dewa Tuak berseru,

"Wiro cepat menghindar! Bangsat keriput ini mau lepaskan pukulan Salju Kematian!" Habis berteriak begitu Dewa Tuak secepat kilat meneguk tuaknya. Dalam pada itu Nenek Rambut Hitam melengking nyaring dan hantamkan tangan kanannya ke arah Wiro dan Dewa Tuak! Satu gelombang benda putih yang bentuknya putih seperti salju, menderu amat dingin ke arah kedua orang itu. Dewa Tuak runcingkan mulutnya yang menggembung lalu menyembur ke muka! Terdengar suara laksana air bah sewaktu semburan tuak dan pukulan salju kematian saling beradu. Bumi seperti mau kiamat. Dewa Tuak cepat tarik lengan Wiro Sableng lalu melompat ke atas atap menerobos melewati lobang besar. Dari sebuah cabang pohon kemudian Wiro melihat bagaimana pondok itu hancur lebur dan setengahnya tertimbun oleh lapisan salju putih! Wiro memandang berkeliling dengan cepat. Ketiga nenek itu tidak kelihatan. Pendekar 212 lalu putar kepala ke cabang di samping. Dia terkejut sewaktu melihat Dewa Tuak duduk bersila di atas cabang dengan pejamkan mata. Wajah orang tua ini pucat sekali. Rupanya bentrokan ilmu pukulan tadi telah membuat si orang tua menderita luka di dalam yang parah juga. Lama Dewa Tuak bersila seperti itu. Sewaktu dia buka kedua matanya kembali, cepat-cepat diambilnya sebutir pil dan ditelannya. Sesaat kemudian wajahnya yang pucat telah normal lagi seperti biasa! Dewa Tuak tarik nafas panjang, geleng-gelengkan kepala dan leletkan lidah sewaktu memandang ke pondok yang kini tertimbun salju kematian itu!

"Ternyata benar perempuan busuk itu telah mendapatkan ilmu Pukulan Salju Kematian!" kata Dewa Tuak seakan-akan pada dirinya sendiri.

"Kelihatannya masih kurang sempurna. Tapi sudah demikian luar biasa...!" Wiro sendiri diam-diam bergidik juga melihat pukulan yang bernama Salju Kematian itu. Tenaga dalam Dewa Tuak berada jauh di atas Nenek Rambut Hitam, tapi pukulan Salju Kematian yang dilepaskan si nenek membuat Dewa Tuak menderita luka yang cukup hebat!

"Meski seseorang memiliki tenaga dalam yang sepuluh kali lebih tinggi, tapi jangan coba-coba berani adu kekuatan dengan pukulan salju kematian itu." Dewa Tuak gelenggeleng kepala kembali.

"Aku tak mengerti, bagaimana keparat betina itu berhasil memiliki ilmu Salju Kematian. Itu adalah salah satu dari beberapa ilmu pukulan yang pernah menggetarkan dunia persilatan dan menjadi rajaraja ilmu pukulan!"

"Jika ilmu semacam itu dipergunakan untuk kejahatan bisa berbahaya," kata Wiro pula.

"Itulah yang aku kuatirkan," desis Dewa Tuak. Diam-diam Wiro ingin sekali menghadapi Nenek Rambut Hitam itu kembali. Apakah ilmu pukulan Sinar Matahari-nya sanggup menghadapi ilmu pukulan Salju Kematian itu?

"Dewa Tuak, apa yang kita buat sekarang?" tanya Wiro.

"Aku bermaksud meneruskan perjalanan mencari lukisan telanjang itu..." Tak ada jawaban. Wiro berpaling. Astaga! Dewa Tuak tak ada lagi di sampingnya. Dia mencari-cari tapi orang tua itu tiada kelihatan.

"Dewa Tuak! Di mana kau?!" teriak Wiro memanggil. Tetap tak ada jawaban. Wiro hendak melompat turun. Tapi tiba-tiba pada batang pohon di mana dia berada dilihatnya sebaris tulisan ‘Pergilah ke Utara!'. Pasti itu adalah tulisan Dewa Tuak. Maka tanpa menunggu lebih lama Wiro segera melompat dari atas pohon.MATA yang cuma sebuah itu memandang tanpa berkedip pada lukisan perempuan telanjang yang terletak di atas meja. Digelengkannya kepalanya lalu dirobahnya letak lukisan itu dan ditelitinya kembali. Dirobahnya lagi, ditelitinya lagi, demikian sampai satu jam lebih. Akhirnya dia menjadi penasaran sekali dan memaki habis-habisan.

"Keparat betul! Keparat betul!"

"Mata Picak!" satu suara menegur laki-laki yang memaki-maki itu.

"Lama-lama kau bisa jadi gila!" Elmaut Kuning Mata Picak palingkan kepala dan mendelikkan matanya yang cuma satu.

"Kuping Sumplung! Kau bisanya mengejek saja!" kata si Mata Picak.

"Perlu apa tergesa-gesa? Toh lukisan itu sudah ada di tangan kita. Dan lambat laun pasti kita akan berhasil membongkar rahasia yang terkandung di dalamnya!"

"Tolol betul kau Kuping Sumplung!" sentak Mata Picak.

"Apa kau tidak tahu dunia persilatan kalang kabut? Tokohtokoh persilatan kasak-kusuk mencari-cari lukisan ini? Ingat waktu lukisan ini dirampas oleh Awan Langit tempo hari? Aku khawatir lukisan yang mengandung ilmu silat hebat ini akan dirampas orang lain lagi sebelum kita berhasil memecahkan rahasianya!"

"Tapi marah-marah dan memaki begitu mana mungkin kau bakal bisa menecahkannya!" ujar Elmaut Kuning Kuping Sumplung. Keduanya bukan lain daripada dua tokoh silat golongan hitam yang bergelar Sepasang Elmaut Kuning. Merekalah yang telah membunuh Si Pelukis Aneh dan melarikan lukisan perempuan telanjang. Lukisan itu telah lama berada di tangan mereka namun tak seorang pun dari mereka yang berhasil memecahkan rahasianya. Lukisan itu telah berpuluh-puluh jam mereka teliti mereka jungkir balikkan, namun tetap saja tak dapat mereka membongkar rahasia ilmu silat yang menurut keterangan terkandung dalam lukisan itu! Jangan-jangan Si Pelukis Aneh hanya menipu saja! Lukisan ini tak ada apa-apanya! Elmaut Kuning Kuping Sumplung perhatikan lengan kirinya yang buntung akibat dibetot putus oleh Si Pelukis Aneh sewaktu bertempur beberapa bulan yang lalu! Dia kemudian tertawa dingin dan berkata,

"Kau sekarang yang jadi orang tolol! Kalau lukisan ini tak ada apa-apanya masakan orang tua keparat itu sampai-sampai mau mengadu jiwa!" Elmaut Kuning Mata Picak jambak-jambak rambutnya.

"Tapi sialan sekali! Masakan sampai saat ini kita tak bisa memecahkan rahasianya?!" Kuping Sumplung duduk di sebuah bangku batu. Ditatapnya sebentar lukisan di hadapannya. Dia sendiri sebenarnya heran juga karena sampai sedemikian lama tak sanggup membongkar rahasia lukisan tersebut.

"Apakah kau sudah meneliti kayu pigura lukisan itu?!" bertanya Elmaut Kuning Kuping Sumplung.

"Setiap sudut lukisan ini sudah kuteliti. Juga bagian belakangnya!" sahut Mata Picak.

"Agaknya kita membutuhkan seseorang yang bisa membuka rahasia lukisan ini..." desis Kuping Sumplung.

"Tapi siapa manusianya?!" tanya Mata Picak.

"Satusatunya manusia yang tahu rahasia lukisan ini adalah Si Pelukis Aneh sendiri! Dan dia sudah mampus di tangan kita!"

"Siapa tahu calon muridnya juga mengetahui..." kata Kuping Sumplung pula. Elmaut Kuning Mata Picak tertegun.

"Mungkin juga..." desisnya.

"Kalau begitu kita datangi anak itu kembali dan paksa dia memberi keterangan!" ujar Kuping Sumplung seraya berdiri dari duduknya.

"Tempat anak itu ratusan kilo dari sini..."

"Soal jauh bukan halangan!" potong Kuping Sumplung.

"Ada hal lain yang aku khawatirkan," ujar Mata Picak.

"Apa?"

"Kalau kita pergi berarti kita harus membawa lukisan ini. Dan kau tahu sendiri! Puluhan orang-orang persilatan mengincar-incar lukisan ini! Kita bisa konyol sendiri dikeroyok beramai-ramai!" Elmaut Kuning Kuping Sumplung tertawa dingin.

"Apa nyalimu sudah keropok?!" ejeknya dengan pencongkan hidung. Mata Picak menjadi gusar.

"Mulutmu kelewat tekebur, Kuping Sumplung! Meski kita berilmu tinggi namun aku tak mau terlibat dengan manusia-manusia yang membikin kita jadi berabe dan tambah urusan! Di lain hal kita musti mengakui bahwa di atas kita masih ada tokoh-tokoh persilatan yang benar-benar lihai dan kosen! Apakah kau mau kehilangan satu lenganmu lagi?!" Merah-lah paras Elmaut Kuning Kuping Sumplung. Dia balikkan badannya dengan cepat hendak tinggalkan tempat itu. Tapi mendadak di ambang pintu goa langkahnya tertahan dan parasnya berubah.

"Mata Picak! Lekas ke sini!" seru Kuping Sumplung. Mata Picak heran mendengar nada seruan kawannya itu. Dia melangkah cepat ke pintu goa dan terkejut. Goa di mana mereka berada itu terletak di satu dasar lembah yang penuh dengan batu-batu besar. Di balik batu-batu yang bertebaran di lembah kelihatan banyak sekali orang laki-laki yang berseragam hitam. Di tangan masing-masing tergenggam sebatang golok besar berbentuk empat segi seperti golok penjagal babi! Menurut taksiran Mata Picak, orang-orang yang ada di lembah itu semuanya berjumlah sekitar duapuluh orang! Melihat kepada golok-golok besar empat persegi di tangan mereka yang berkilau-kilau ditimpa sinar matahari, melihat pula kepada pakaian seragam hitam yang mereka kenakan, Sepasang Elmaut Kuning segera mengenali siapa mereka itu adanya.

"Kroco-kroco sialan ini pasti hendak membalaskan sakit hati ketua mereka," desis Mata Picak.

"Kurasa demikian. Agaknya mereka belum tahu letak tempat kita ini. Apakah perlu kita segera bertindak...?" tanya Kuping Sumplung. Mata Picak manggut-manggut. Dengan tersenyum aneh dia melangkah ke luar dari goa. Kuping Sumplung mengikut di belakang. Tiba-tiba Elmaut Kuning Mata Picak melesat ke balik sebuah batu besar. Dalam kejap itu pula terdengar suara keluhan pendek. Di lain kejap dari balik batu itu melesatlah sesosok tubuh berpakaian hitam, laksana terbang ke udara dan kemudian jatuh di atas sebuah batu besar dalam keadaan tulang belulang hancur berantakan! Belasan manusia berpakaian hitam-hitam yang ada di lembah batu itu terkejut dan lari ke batu besar di mana kawan mereka menggeletak mengerikan tanpa nyawa! Semuanya terkejut dan berubah paras masing-masing. Dan darah mereka tersirap sewaktu di lembah batu itu mengumandang dua buah suara tertawa yang menggidikkan! Ketika mereka palingkan kepala, semuanya melihat dua orang berjubah kuning berewokan berdiri di atas sebuah batu yang menjulang lima tombak tingginya!

"Sepasang Elmaut Kuning!" seru mereka hampir serentak. Elmaut Kuning Mata Picak dan Kuping Sumplung tertawa lagi cekakakan. Tiba-tiba Mata Picak hentikan tawanya dan bertanya membentak,

"Siapa yang menjadi pemimpin rombongan tikus-tikus busuk ini?!" Seorang laki-laki berbadan tegap, berkumis melintang, dada berbulu, melompat ke muka dan menuding keren.

"Kalian berdua turunlah untuk menerima kematian!" Sepasang Elmaut Kuning saling pandang lalu untuk kesekian kalinya tertawa lagi gelak-gelak.

"Apakah kau mimpi atau mengigau di siang bolong?!" sentak Kuping Sumplung.

"Ketuamu sudah mampus di tangan kami!"

"Ketua Perguruan Seberang Kidul boleh lenyap. Tapi Perguruan Seberang Kidul tak dapat dimusnahkan dari muka bumi ini...!"

"Kalau begitu kami Sepasang Elmaut Kuning akan menggusur Perguruan Seberang Kidul hari ini juga hingga cuma tinggal nama!"

"Tak usah bermulut besar! Lekas turun!" teriak si kumis melintang. Dia dan kawan-kawannya adalah anak-anak murid Perguruan Seberang Kidul. Ketua mereka telah menemui kematian di tangan Sepasang Elmaut Kuning gara-gara terlibat dalam perebutan lukisan perempuan telanjang!

"Tikus-tikus busuk! Ketahuilah kalian akan melepas jiwa di sini!" teriak Mata Picak dan serentak dengan itu, diikuti oleh kambratnya si Kuping Sumplung dia melompat ke bawah. Belasan laki-laki bersenjata golok besar dan berpakaian seragam hitam segera mengurung dan dengan serempak menyerbu Sepasang Elmaut Kuning! Maka terjadilah pertempuran yang amat hebat di lembah berbatu-batu itu.

"Kalian mencari mati!" seru Mata Picak.

"Bangkai kalian akan membusuk di sini! Akan digerogoti burung-burung pemakan mayat!" bentak Kuping Sumplung! Lalu keduanya dengan berbarengan hantamkan tangan kanan ke muka. Dua larik sinar kuning menderu. Puluhan benda berwarna kuning yang berbentuk paku beterbangan gencar ke arah anak-anak murid Perguruan Seberang Kidul yang hendak menuntut balas kematian ketua mereka.

"Paku Emas Beracun!" pekik anak-anak murid Perguruan Seberang Kidul. Yang berkepandaian tinggi putar golok mereka dengan sebat menangkis. Yang lain-lain berserabutan menghindar. Tapi serangan senjata rahasia paku emas beracun dari kedua tokoh silat golongan hitam itu luar biasa sekali, tak sanggup ditangkis, sukar dikelit! Dua kelompok anak-anak murid Perguruan Seberang Kidul roboh bertumpukan. Mereka berkelojotan sebentar lalu diam meregang jiwa! Tubuh masing-masing penuh ditancapi paku-paku emas beracun! Dua belas orang yang masih hidup dengan kalap membabi-buta menyerang Sepasang Elmaut Kuning. Dua belas golok besar menderu bersirebut cepat! Laksana hujan menerpa ke arah dua manusia yang diserang! Sepasang Elmaut Kuning ganda tertawa. Keduanya hantamkan tangan kembali ke muka. Dan terdengar lagi pekikan-pekikan manusia yang dilanda serangan senjata rahasia itu. Delapan orang menggeletak roboh! Delapan jiwa melayang!

"Kawan-kawan larilah!" seru seorang dari empat anak murid Perguruan Seberang Kidul yang masih hidup. Maka serentak dengan itu keempatnya keluar dari kalangan pertempuran dan melarikan diri.

"Mau lari ke mana?!" bentak Mata Picak.

"Kalian musti ikut sama-sama kawan kalian ke neraka!" Lalu menyusul selarik sinar kuning menderu ke punggung keempat orang yang lari menyelamatkan jiwa itu. Sinar kuning menyambar! Keempatnya mencelat mental dan menjerit, lalu roboh menyusul kawan-kawan mereka! Seperti yang dikatakan oleh Elmaut Kuning Kuping Sumplung tadi, maka kini Perguruan Seberang Kidul betulbetul hanya tinggal nama saja lagi!

"Manusia-manusia tolol!" desis Mata Picak seraya sapukan pandangannya pada mayat-mayat yang bertebaran di atas dan di antara batu-batu di lembah itu. Kuping Sumplung sebaliknya bertanya,

"Bagaimana? Kurasa makin cepat kita berangkat ke tempat anak itu, makin baik!"

"Anak mana maksudmu?" tanya Mata Picak.

"Calon muridnya si Pelukis Aneh!"

"Ah, rencanamu itu perlu dipikirkan masak-masak dulu!" sahut Mata Picak seraya melangkah ke goa. Dengan hati penasaran Kuping Sumplung melangkah di belakangnya. Baru saja Mata Picak sampai di mulut goa tiba-tiba meledaklah suaranya,

"Celaka! Lukisan itu lenyap!" Kedua orang itu melesat masuk ke dalam goa! Lukisan perempuan telanjang yang sebelumnya terletak di atas meja kini tak ada lagi di tempat itu!

"Bangsat kurang ajar! Siapa yang berani-beranian jadi maling di sarangku?!" teriak Mata Picak lari ke luar goa dan melompat ke atas sebuah batu yang tinggi. Sewaktu dia sampai di atas batu dan memandang berkeliling, di jurusan timur dilihatnya sesosok tubuh berlari cepat sekali. Dan sosok tubuh itu memboyong sebuah benda empat persegi yang bukan lain daripada lukisan perempuan telanjang adanya!MANUSIA yang melarikan lukisan perempuan telanjang itu bertubuh kecil katai. Dia mengenakan jubah merah yang panjang sekali hingga menjelajela sepanjang larinya. Debu, pasir, dan batu-batu kerikil beterbangan dilanda angin jubah manusia katai ini. Hebatnya manusia ini larinya luar biasa cepatnya. Dalam sekejap mata, dia sudah ke luar dari dalam lembah batu. Pohon-pohon di kiri kanan yang dilaluinya laksana terbang! Tiba-tiba dia merasa ada yang mengejar di belakangnya. Dia berpaling dan melihat dua manusia berjubah kuning laksana kilat berlari ke arahnya. Si katai terkesiap dan tancap gas, berlari lebih cepat. Lewat sepeminum teh seketika dia menoleh lagi ke belakang, kedua pengejarnya ternyata hanya tinggal beberapa puluh langkah saja lagi! Manusia katai ini merutuk.

"Celaka! Kedua bangsat itu betul-betul lihai!" Dan bila kedua pengejar yang bukan lain daripada Sepasang Elmaut Kuning adanya hanya tinggal lima belas langkah di belakangnya maka si katai segera robah ilmu larinya. Gerakan kakinya menjadi lambat dan tidak teratur, tapi anehnya bagaimana pun sepasang Elmaut Kuning mempercepat lari mereka, tetap jarak mereka tak berobah dari lima belas langkah! Itulah ilmu lari yang disebut Seribu Kaki Menipu Jarak yang telah dikeluarkan oleh manusia katai. Ilmu lari semacam ini hanya beberapa tokoh silat saja yang memilikinya!

"Heran!" kata Elmaut Kuning Kuping Sumplung.

"Jarak kita demikian dekatnya tapi kenapa tidak bisa mengejar bangsat itu?!"

"Kurasa dia memiliki ilmu lari Seribu Kaki Menipu Jarak," sahut Mata Picak yang berpengalaman lebih luas dan berpemandangan tajam.

"Berhenti!" teriak Kuping Sumplung. Tapi mana si katai mau hentikan larinya! Marahlah Mata Picak. Hilang kesabarannya.

"Berhenti! Kalau tidak aku akan lepaskan pukulan Paku Emas Beracun!" Tergetarlah hati si katai. Tapi untuk berhenti dia juga tidak mau. Dia lari terus dan berusaha memperlebar jarak!

"Bedebah laknat!" maki Mata Picak. Tangan kanannya diangkat ke atas dan dihantamkan ke muka. Si katai menoleh sewaktu dirasakannya sambaran angin dingin menyambar di belakangnya. Melihat selarik sinar kuning dan paku-paku emas menderu ke arahnya dengan segera dia jatuhkan diri. Sambil bergulingan dia membalas dengan satu pukulan tangan kosong yang mendatangkan angin panas yang luar biasa dahsyatnya! Sepasang Elmaut Kuning tersirap kaget dan buru-buru menghindar.

"Badan kate, jubah merah panjang dan pukulan angin panas! Pastilah maling ini Si Katai Bisu!" teriak Mata Picak. Dan ketika dia memandang ke muka, manusia katai itu sudah dua puluh tombak jauhnya. Bersama Kuping Sumplung dia mengejar kembali! Di satu pendakian, mendadak si katai hentikan larinya dan kaget sekali. Jalan buntu dan di depannya kini terbentang sebuah jurang yang lebar dan tak mungkin untuk dilompati. Selain lebar juga dalam dan curam!

"Ha-ha! Kau mau lari ke mana maling laknat?!" teriak Kuping Sumplung. Tapi Si Katai Bisu tidak kehilangan akal. Laksana seekor burung walet dia melompat ke cabang sebuah pohon.

"Turun!" teriak Mata Picak.

"Serahkan lukisan itu dan berlutut! Niscaya kuselamatkan jiwamu!"

"Ha-hu... ha-hu... ha-hu!" Si Katai Bisu keluarkan suara.

"Ayo turun lekas!" teriak Kuping Sumplung.

"Ha-hu... ha-hu... ha-hu!"

"Kurang ajar! Kalau begitu kau mampuslah!" Mata Picak angkat tangan kanannya.

"Ha-hu!" Si Katai Bisu menunjuk ke dadanya lalu menunjuk ke lukisan perempuan telanjang kemudian tertawa dan mencibir! Mata Picak yang tak mengerti apa maksud manusia itu siap untuk memukulkan tangannya ke atas. Tiba-tiba Si Katai Bisu lindungi dirinya dengan lukisan perempuan telanjang! Mata Picak terkesiap kaget dan batalkan serangannya. Kini dia maklum apa maksud dari gerak-gerik dan sikap Si Katai Bisu tadi. Yaitu jika dia meneruskan melancarkan pukulan Paku Emas Beracun maka paku-paku itu akan merusak lukisan perempuan telanjang karena Si Katai Bisu mempergunakan lukisan itu untuk melindungi dirinya! Mata Picak memaki hahis-habisan. Tiba-tiba Kuping Sumplung melompat ke muka dan memukul. Braak! Pohon di mana Si Katai Bisu berada patah dan tumbang. Tapi Si Katai Bisu sudah melompat ke pohon lain!

"Setan alas!" Mata Picak melesat ke depan dan lancarkan satu serangan dari jarak satu tombak. Si Katai Bisu dengan ha-hu-ha-hu menghindarkan diri sambil pergunakan lukisan perempuan telanjang untuk menangkis serangan lawan. Mau tak mau Elmaut Kuning Mata Picak tak berani lancarkan serangan yang terlalu ganas terhadap lawannya karena khawatir akan merusak lukisan!

"Kuping Sumplung! Serang bangsat itu dari belakang!" teriak Mata Picak marah sekali. Elmaut Kuning Kuping Sumplung segera berkelebat dan menyerang Si Katai Bisu dari belakang, sedang dari muka Mata Picak kembali menyerbu! Namun Si Katai Bisu tidak menjadi gugup! Tanpa tedeng aling-aling dia putar lukisan perempuan telanjang seputar badannya. Karena lukisan itu kini dialiri tenaga dalam oleh Si Katai Bisu maka bukan saja putaran lukisan mengeluarkan angin dahsyat sekali, tapi juga merupakan serangan balasan yang sekaligus memapaki serangan Sepasang Elmaut Kuning! Dalam waktu yang singkat sepuluh jurus telah berkecamuk! Sepasang Elmaut Kuning menyumpah-nyumpah tak ada hentinya. Tiba-tiba Elmaut Kuning Mata Picak mendapat akal. Sewaktu pertempuran berjalan seru-serunya dia memukul ke bawah ke arah kaki lawan. Pukulan ini membuat Si Katai Bisu melompat ke udara. Melihat ini dengan cepat Mata Picak menyusul dengan satu serangan ke arah selangkangan tapi lukisan lebih cepat lagi menerpa ke arah kedua tangannya kemudian berputar lagi ke belakang menyambar lengan kiri Kuping Sumplung yang hendak menotok punggung Si Katai Bisu! Hampir tiga puluh jurus berlalu maka berserulah Elmaut Kuning Mata Picak pada kambratnya.

"Keluarkan jurus Elmaut Menggila!" Kedua manusia berjubah kuning itu mundur setombak lalu dibarengi dengan jerit pekik dahsyat yang laksana merobek gendang-gendang telinga keduanya menyerbu kembali dalam satu jurus aneh! Lambat laun suara pekik dan jerit yang datangnya dari pelbagai penjuru itu membuat Si Katai Bisu menjadi gugup dan panik gerakan-gerakan silatnya! Tiba-tiba tangan kanan Elmaut Kuning Mata Picak memukul ke muka. Si Katai Bisu sambut serangan itu dengan sambaran lukisan. Tapi gerakan lawan nyatanya hanya tipuan belaka. Karena begitu lukisan menderu secepat kilat Mata Picak tarik pulang serangannya dan ganti dengan satu tendangan ke arah pinggang. Pada saat yang sama dari belakang Elmaut Kuning Kuping Sumplung lancarkan pula satu serangan ganas ke arah kepala. Si Katai Bisu menggerung lalu membuang diri ke samping kanan. Lukisan disabetkan dengan cepat ke bawah sedang dengan tangan kanan dia kebutkan bagian bawah jubahnya. Serangkum angin merah menyambar ke arah Kuping Sumplung membuat manusia ini batalkan serangan dan terpaksa melompat selamatkan diri! Di lain pihak Elmaut Kuning Mata Picak yang tidak berani adu kekuatan dengan lukisan yang menyambar kakinya, terpaksa tarik pulang tendangannya. Namun Mata Picak menjadi gugup sewaktu melihat bagaimana ujung pigura lukisan menyambar ganas ke arah matanya tak sanggup dikelit! Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan matanya hanyalah dengan pergunakan lengan untuk menangkis. Ini berarti dia akan merusakkan lukisan itu di samping lengannya yang dipakai menangkis tentu akan terluka pula! Tapi walau bagaimanapun Elmaut Kuning Mata Picak lebih baik melihat lukisan itu rusak, toh nanti bisa diperbaiki lagi. Juga merasa lebih baik lengannya mendapat luka daripada harus kehilangan matanya yang cuma tinggal satu-satunya! Maka diapun angkat lengan kirinya dengan cepat. Braak! Kayu pigura lukisan perempuan telanjang patah dan sudutnya menganga. Lengan kiri Elmaut Kuning Mata Picak juga patah! Dia mengeryitkan kesakitan kemudian dengan kalap menyerbu ke muka kirimkan pukulan Paku Emas Beracun! Rasa sakit membuat dia tidak perduli lagi apakah pukulannya yang dahsyat itu akan menghancurkan lukisan di tangan lawan! Melihat datangnya serangan yang dahsyat dari lawan, Si Katai Bisu melompat empat tombak dan dari atas kebutkan jubah merahnya. Segelombang sinar merah laksana topan prahara memapasi serangan Elmaut Kuning Mata Picak. Belasan paku kuning beracun yang melesat ke arah manusia katai itu luruh, bahkan beberapa di antaranya ada yang membalik menyerang Mata Picak sendiri, membuat manusia ini dengan cepat menghindar ke samping selamatkan diri! Si Katai Bisu membalikkan badan dengan cepat sewaktu di belakangnya terasa sambaran angin dingin. Namun kasip! Belasan paku kuning telah dilepaskan Kuping Sumplung! Jaraknya sudah dekat sekali, tak mungkin ditangkis tak bisa dikelit! Si Katai Bisu menggerung. Dia ambil keputusan untuk berjibaku dan tendangan kaki kanannya ke kepala Kuping Sumplung sedang tangan kanan mendorong ke muka! Sedetik kemudian terdengar jerit tercekik dari Si Katai Bisu! Sembilan paku emas beracun menancap di dadanya. Tiga di antaranya langsung menembus jantung! Tak ampun lagi begitu jatuh di tanah, nafasnya lepas sedang sekujur badannya kelihatan menggembung biru! Di lain pihak meski dia dapat menyelamatkan kepalanya dari tendangan maut Si Katai Bisu namun Elmaut Kuning Kuping Sumplung tak sempat menghindarkan diri dari sambaran angin pukulan yang dilepaskan Si Katai Bisu. Tubuhnya mencelat beberapa tombak. Kalau saja tubuh itu tidak membentur patahan pohon yang tadi dipukulnya, pasti Elmaut Kuning Kuping Sumplung akan melayang ke dasar jurang batu! Kuping Sumplung muntahkan darah segar lalu roboh pingsan! Mata Picak segera menyambar lukisan yang rusak piguranya lalu memanggul tubuh Kuping Sumplung dan meninggalkan tempat itu dengan cepat.DI SEBELAH utara kelihatan Gunung Merapi menjulang tinggi penuh kemegahan. Hari itu adalah hari ke duapuluh satu bulan kedua perjalanan Wiro Sableng dalam mencari lukisan perempuan telanjang. Saat itu dia tengah menuju ke sebuah kota kecil yang terletak di selatan kaki Gunung Merapi. Di satu jalan yang sepi Pendekar 212 hentikan larinya dan berjalan seperti biasa. Jauh di hadapannya dilihatnya seorang laki-laki tua berpakaian compang-camping berjalan melenggang-lenggok dengan seenaknya. Di tangannya ada sebuah kaleng berisi batu yang setiap saat diguncang-guncangnya hingga mengeluarkan suara bergerontangan. Di ketiak kirinya terkempit sebuah tas daun pandan. Yang membuat Wiro diam-diam jadi tertegun ialah karena dalam dua kejapan mata saja tahu-tahu orang tua berpakaian compang-camping itu sudah berada di hadapannya. Wiro sunggingkan senyum. Tapi orang tua aneh itu terus saja melangkah seenaknya dan hendak memapasi Wiro. Maka Pendekar 212 pun menegur bertanya,

"Orang tua, apakah ini jalan yang menuju ke kota Paritsala?" Orang tua itu hentikan langkahnya. Tanpa menoleh pada si pemuda dia membuka mulut,

"Siapa tanya siapa?" Lalu tangannya digoyangkan dan kaleng berisi batu berbunyi berkerontangan. Wiro tersenyum lagi.

"Namaku Wiro. Aku dalam perjalanan ke Paritsala. Apakah aku menempuh tujuan yang betul?" Perlahan-lahan orang tua itu putar kepalanya dan memandang Wiro Sableng dari atas sampai ke kaki.

"Ah... melihat kepada air mukamu rupanya kau tengah mengkhawatirkan tentang suatu barang yang hilang..." Dan habis berkata begitu orang tua ini kerontang-kerontangkan lagi kaleng di tangan kanannya. Tentu saja Wiro Sableng terkejut mendengar ucapan si orang tua dan menduga-duga siapa adanya manusia ini.

"Coba ulurkan telapak tangan kirimu!" si orang tua tibatiba memerintah. Wiro Sableng meragu seketika. Dia tidak kenal dengan orang tua itu dan disuruh ulurkan telapak tangan kirinya. Mau apakah? Namun akhirnya karena ingin tahu Wiropun ulurkan telapak tangan kirinya. Si orang tua memperhatikan telapak tangan itu lalu dengan telunjuk tangan kirinya diikutinya guratan-guratan garis pada telapak tangan pemuda itu. Wiro Sableng terkejut sewaktu jari telunjuk itu menyentuh telapak tangannya, telapak tangan itu seperti ditindih oleh sebuah batu besar yang ratusan kati beratnya! Tahu kalau orang hendak mencoba kekuatannya maka Wiro segera kerahkan tenaga dalamnya ke telapak tangan kiri itu. Si orang tua terus juga mengikuti garis-garis pada telapak tangannya dan Wiro merasa tangannya tergetar hebat. Dia lipat gandakan tenaga dalamnya. Keringat dingin berpercikan di keningnya dan sedikit tenaga dalamnya ditindih hebat oleh tenaga dalam si orang tua. Bagaimanapun dia mempertahankan pastilah telapak tangannya akan terpukul ke bawah! Namun di saat itu untunglah si orang tua menarik ujung jarinya dan sambil batuk-batuk dia berkata,

"Orang muda, masa depanmu penuh rintangan dan kesulitan-kesulitan. Kulihat garis-garis di telapak tanganmu itu penuh dengan garis-garis bahaya yang selalu mengikuti perjalanan nasibmu! Tapi kau tak perlu khawatir. Bagaimanapun sulitnya, bagaimanapun besar bahaya kau kelak akan berhasil melewati semuanya." Orang tua aneh kerontangkan kalengnya beberapa kali lalu meneruskan,

"Garis percintaanmu tidak begitu bagus. Ini disebabkan karena kau punya sedikit sifat mata keranjang, tidak boleh lihat perempuan cantik..." Kaleng berisi batu berkerontang lagi. Wajah Pendekar 212 kelihatan merah menjengah! Dan si orang tua bertanya,

"Kau tengah menuju ke Paritsala?"

"Betul orang tua," jawab Wiro.

"Kunasihatkan agar dibatalkan saja..."

"Memangnya ada apakah?"

"Kesulitan. Kesulitan! Kau selalu ditunggu kesulitan dan bahaya di mana-mana..."

"Tapi seorang kawanku menganjurkan agar pergi ke utara..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 107.22.46.150
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia