Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : WASIAT IBLIS

SATU

Di ujung malam di mana cuaca masih gelap dan hawa dingin membungkus serta angin berhembus kencang, laut selatan bergelombang dahsyat tidak seperti biasanya. Dalam keadaan seperti itu sebuah perahu berpenumpang dua orang -seolah tak bisa dipercaya- meluncur pesat membelah ombak. Bertindak sebagai juru mudi adalah seorang gadis berparas cantik mengenakan pakaian biru tipis. Rambutnya yang panjang melambai lambai ditiup angin. Di sebelah depan perahu tegak seorang pmuda bertubuh tinggi kokoh. Keningnya diikat dengan sehelai kain merah. Dia mengenakan sebuah mantel hitam. Dengan cara aneh yakni berdiri dan mempergunakan dua batang bambu panjang besarnya tidak melebihi ibu jari orang ini mendayung perahu. Setiap bambu-bambu itu dicucukkan ke dalam air laut, perahu melesat ke depan.

"Aku melihat satu gundukan benda hitam di depan sebelah kiri. Mungkin itu pulau yang kita cari!" berkata lelaki muda di depan perahu seraya arahkan matanya ang tidak berkedip jauh ke depan.

"Bukannya mungkin, tapi itu memang pulau tujuan kita!", menjawab juru mudi si gadis cantik.

"Bagus! Kita sampai lebih cepat dari dugaan!" ujar pemuda bermantel hitam. "Namun aku menangkap isyarat-isyarat aneh!"

"Isyarat aneh apa?" tanya si gadis

"Sebelumnya aku dan juga kau pernah menyiasati dan menyelidik keadaan pulau itu. Setiap hal itu dilakukan selalu ada kekuatan-kekuatan yang membuyarkan pemusatan pikiran. Sekarang getaran-getaran itu masih terasa. Tapi halus sekali bahkan nyaris sirna..."

"Aku tidak heran," menjawab si gadis. "Kekuatan dan kesaktian yang kau miliki saat ini mana ada yang bisa menandingi" Pemuda yang berdiri di depan perahu menyeringai. Cuping hidungnya tampak mengembang oleh pujian itu. Dua bambu panjang di kiri kanan kembali ditusukkan ke dalam air laut. Perahu kecil itu melesat pesat ke depan. Tak selang berapa lama perahu sampai di pulau batu. Dua penumpangnya melompat ke luar sebelum perahu sempat menyentuh dasar pulau.

"Hati-hati", kata si pemuda. "Di tempat seperti ini bahaya bisa muncul tak terduga. Maut bisa menyambar sebelum kita sempat melihat!"

Sambil memegang tangan pemuda bermantel hitam, gadis berkata. "Kalau aku sendirian di pulau ini mungkin aku merasa khawatir. Tapi bersama pendekar yang menjadi raja diraja di dunia persilatan siapa takut?!"

"Kau pandai memuji. Kalau urusan di pulau ini sudah selesai aku akan membawamu bersenang-senang selama tiga hari tiga malam. Kau suka....?"

sebagai jawaban si gadis memeluk tubuh pemuda lalu mengecup bibirnya.

Kalau saja berada di tempat lain mungkin pemuda itu sudah terangsang dan ikut terbuai dalam gelegak nafsu.

"Jangan gila...! si pemuda berbisik dengan suara bergetar. "Urusan dulu baru bersenang-senang!"

"Di tempat sesunyi dan dingin begini, apa yang perlu dikhawatirkan?"

Gadis berbaju tipis berkata dan sepertinya tidak mau menghentikan peluk ciumnya. Dia baru terperangah ketika si pemuda menjambak rambutnya lalu mendorong tubuhnya.

"Kekasihku kalau kau tidak mau menuruti kemauanku, sebaiknya kau menyingkir dulu!" Atau mungkin kau lupa pernah menyaksikan bagaimana aku menggebuk babak belur dua gadis cantik kurang ajar tempo hari?"

Mendengar ancaman orang, gadis cantik ini lepaskan rangkulannya. Nafasnya mengengah dan dadanya yang besar tampak turun naik tanda dia berusaha menekan gejolak nafsu yang menguasai dirinya. Dalam udara yang masih gelap dan angin kencang laksana bayangbayang dua orang itu berkelebat di pulau batu. Di salah satu puncak bebukitan batu mereka berhenti dan memandang berkeliling.

"Jangan-jangan kita terlambat. Aku hampir yakin pulau ini kosong ... !" berkata lelaki bermantel.

"Hari masih gelap. Penglihatan kita terbatas. Sebentar lagi pagi segera datang. Bagusnya kita tunggu sampai hari terang, menjawab gadis berbaju biru tipis. Lalu dia mencari tempat yang rata dan merebahkan tubuhnya. Dari caranya menggolekkan badan serta gayanya memandang jelas dia kembali berusaha memikat si pemuda. Tapi yang hendak dipikat tak bergerak di tempatnya malah bertanya.

"Kekasihku. apa yang membuatmu sampai bertingkah aneh seperti ini?"

"Apa ini salahku? Ingat berapa lama sudah kita tidak bersenang-senang? Sekarang ada kesempatan. Mengapa tidak dipergunakan?"

Pemuda itu membungkuk. mendekatkan kepalanya ke wajah si gadis. Mengira dirinya hendak dicium, si gadis itu gerakkan tangan untuk merangkul. Tapi dengan cepat pemuda di atasnya mengi baskan tangan itu seraya berkata. "Sekali lagi kau berani melakukan sesuatu yang mengganggu urusanku, kupecahkan kepalamu. Aku tidak main-main"

Si gadis terbelalak. Rahang si pemuda menggembung, pelipisnya bergerak-gerak dan pandangan matanya menyengat angker. Perlahanlahan dia bangkit dan duduk di alas batu tidak bergerak juga tidak berani keluarkan suara.

Perlahan-lahan langit dan ujung laut di sebelah timur kelihatan mulai terang tanda sang surya akan segera muncul menerangi jagat. Tak lama kemudian pulau itu menjadi terang benderang. Kemanapun mata dilayangkan hanya bebatuan merah yang tampak. Pemuda bermantel memberi isyarat agar gadis yang duduk di alas batu segera bangkit.

"Kita salah menduga. Agaknya bukan cuma kita berdua yang ada di pulau batu merah ini"

Gadis berbaju biru bangkit berdiri. Dalam udara seterang itu jelas terlihat bagaimana tipisnya pakaian yang membalut tubuhnya hingga setiap lekuk auratnya terlihat dengan jelas.

"Bagaimana kau bisa bilang begitu? Kau melihat sesuatu?" bertanya si gadis.

Yang ditanya menggoyangkan kepala ke arah barat. Di tepi pantai pulau batu sebelah barat tampak dua buah perahu terapung-apung di sela-sela batu karang merah.

"Kalau begitu kita harus bertindak cepat mencari orang itu!" kata si gadis pula. Belum selesai dia berucap pemuda bermantel sudah berkelebat Mula mula kedua orang itu mengitari pinggiran pulau. Mereka tidak menemukan siapa-siapa kecuali tanda-tanda di sebelah timur bahwa sebelumnya memang ada orang di tempat itu

"Sebaiknya kita menyelidiki ke bagian tengah pulau", kata orang bermantel pada gadis temannya.

Si gadis mengangguk. Kedua orang itu lalu berkelebat ke pusat pulau. apa yang mereka temukan di pertengahan pulau itu membuat keduanya terkesiap. Di sini mereka menemukan bagian pulau yang hancur porakporanda.

"Ada orang di bawah sana!" si gadis menunjuk.

Lelaki bermantel mengangguk. "Aku melihat tanda-tanda sebelumnya ada sebuah... mungkin dua buah terowongan di bawah sana, batu-batu yang sangat atos ini... Bagaimana dan siapa yang telah menghancurkannya? Ini bukan perbuatan alam. tapi pekerjaan tangan manusia!" Orang ini terdiam sesaat sementara sepasang matanya lurus memeriksa dengan tajam "Hemmm.... Ada keanehan. Tempat ini hancur berantakan. Batubatu merah pecah dan rengkah. Tapi aku sama sekali tidak melihat puing atau pecahan batul"

Paras si mantel hitam mendadak berubah.

"Keparat!" keluar kutukan dan mulutnya. "Jangan-jangan kita sudah kedahuluan.... Kau tunggu di sini. Aku akan turun menyelidik!"

"Aku ikut!" ujar si gadis. Lalu begitu pemuda bermantel masuk ke dalam lobang dia langsung saja ikut terjun.

"Hemm!.... ini terowongan pertama..." kata si pemuda begitu menjejakkan kakinya di dalam lobang dan melihat mulut sebuah terowongan. dia masuk ke dalam terowongan sampai beberapa belas langkah. "Agaknya terowongan ini berhubungan dengan pantai. Ada angin bertiup ke arah sini.... Tak ada apa-apa di sini."

Kedua orang itu segera keluar dari dalam terowongan. Di mulut terowongan mereka perhatikan terusan lobang di sebelah bawah. Keadaan di tempat ini lebih parah dibandingkan dengan lobang sebelah atas.

Tanya berkata apa-apa dia melompat turun. Sesaat kemudian dia sudah menginjakkan kaki di atas lantai lobang batu merah yang pecah dan rengkah. Tidak seperti di atas. Di sini dia melihat ada dinding batu yang jebol dan pecahan-pecahan batu bertebaran di mana-mana. Otaknya yang cerdik serta merta bisa menduga. Ada dua orang menjebol tempat ini. Yang pertama menjebol tanpa menebar pecahan batu. Yang kedua daya hantamnya mungkin lebih dahsyat tapi tidak mampu menghindarkan pecahan batu bertebaran ke mana-mana..:"

Pemuda ini mengatakan apa yang ada dalam benaknya pada si gadis. Lalu bertanya. "Kau bisa menduga siapa kira-kira dua orang penjebol tempat ini?"

"Sulit menduga" Jawab si gadis lalu menatap wajah pemuda berdagu kukuh itu. "Aku melihat parasmu berubah. Agaknya ada sesualu yang mendadak menjadi ganjalan?"

Ini akibat penipuan yang dilakukan Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan Aku bersumpah akan menguliti tubuh mereka lalu mencincangnya sampal lumat! Pendekar 212 Wiro Sableng belum mati! Aku yakin salah satu dan dua penjebol tempat ini adalah dial"

"Manusia satu itu bisa kita urus nanti. Sekarang baiknya kita menyelidik ke dalam terowongan sana," kata si gadis pula.

Dengan hati-hati kedua orang ini masuk ke dalam terowongan kedua. Belum jauh masuk tiba tiba pemuda bermantel hentikan langkahnya sementara si gadis keluarkan seruan tertahan dan tersurut sampai dua langkah. Di lantai terbujur sesosok jerangkong manusia.

"Lagi-lagi aku melihat keanehan. Batu-batu atos di luar sana bisa hancur dan rengkah. Tapi jerangkong lapuk ini seolah tidak tersentuh sedikit pun. Tetap utuh. Tak ada satu tulang pun yang tanggal dari persendiannya!"

Pemuda itu membatin dan memandang dengan mata tak berkedip Rahangnya menggembung, dagunya seolah membatu.

"Tengkorak siapa itu..." terdengar si gadis bertanya.

"Aku yakin itu tengkorak orang Cina yang dikabarkan melarikan diri dari Tiongkok sekitar tujuh puluh tahun silam. Tapi siapa pun jerangkong keparat ini adanya bagiku tidak penting! Jauh lebih penting mencari di mana beradanya kitab itu!" Nada kesal jelas terdengar pada suara orang bermantel hitam. Beberapa kali dia menjambak dan menyisir-nyisir rambutnya yang hitam dan basah oleh keringat. Si gadis sendiri saat itu pakaiannya telah basah oleh peluh hingga membungkus ketat tubuhnya yang bagus.

"Aku akan menyelidik ke dalam sana. Kau tunggu di sini!" Si pemuda lalu melangkah melewati jerangkong di lantai terowongan. Tak selang berapa lama dia muncul kembali dengan paras membesi.

"Benda yang kita cari tidak ada di sini. kita telah kedahuluan orang. Pasti manusia-manusia yang telah menjebol tempat ini yang mendapatkannya! Keparat!"

"Belum tentu mereka ..."

Lantas siapa? Setan pulau atau jin laut?! si pemuda membentak Dibentak seperti itu gadis berpakaian tipis geleng-gelengkan kepata "Kau telah memiliki satu kitab sakti. Itu adalah kenyataan. Tapi tentang Kitab Dewa itu. Dari jalinan kisahnya sulit dipercaya kalau kitab itu benar-benar ada. Jangan-jangan hanya cerita kosong yang sengala disebar untuk mengacaukan dunia persilatan!"

Pemuda di hadapan si gadis menyeringai lalu tertawa. Tawanya seolah dipaksakan. "Kalau begitu banyak tokoh dan dedengkot dunia persilatan merebutkan kitab yang satu itu, kalau Ratu Duyung dikabarkan ikut campur urusan ini dan kalau Pendekar 212 sampai menyabung nyawa, bagiku Kitab Putih Wasiat Dewa bukan cerita kosong!" Si pemuda memandang ke arah jerangkong di depannya.

"Keparat jahanam! Sayang kau tidak bisa bicara! Biar kuhancurkan sekalian!"

Habis berkata begitu pemuda ini hentamkan kaki kanannya ke arah jerangkong Karena tendangan itu bukan tendangan bisa maka sekali tendang saja pastilah jerangkong yang sudah sangat lapuk itu akan mental den hancur berantakan. Pada saat tendangan akan mendarat di sosok jerangkong sekonyongkonyong di kejauhan melengking suara tiupan seruling menusuk telinga. Bersamaan dengan itu terdengar suara dahsyst auman harimau menggetarkan seantero tempat itu. Lalu udara di dalam terowongan yang tadinya panas mendadak berubah menjadi sangat dingin.



DUAGADIS berbaju biru berteriak agar mereka segera keluar dari dalam terowongan. Tapi pemuda bermantel tidak mengacuhkan. Tendangannya tetap diteruskan. Sejengkal lagi kaki kanannya akan menghantam bagian kepala Jerangkong tiba-tiba entah dari mana datangnya, satu tabir kabut putih menutupi terowongan itu. Dua orang di dalam terowongan tak dapat melihat apa-apa lagi. Tendangan kaki kanan si pemuda melenceng ke samping, menghantam dinding terowongan. Bagian batu yang terkena tendangan langsung hancur berkeping-keping

"Melangkah mundur. Keluar dari tempat ini cepat. Ada kekuatan gaib menguasai tempat ini!" teriak pemuda bermantel. Dia sama sekali tidak merasa takut namun menghadapi musuh atau kekuatan yang tidak terlihat mau tak mau dia merasa kawatir juga lalu melangkah mundur sambil menarik tangan si gadis.

Di dalam lobang di luar terowongan kedua, mereka menunggu namun kabut yang menutupi pemandangan tidak kunjung sirna. Si pemuda meraba baju hitamnya dl bagian dada.

"Aneh.... Ketika ada kekuatan menghalangi kenapa dia tidak membalas dengan sinar kematian...? Ah! Sekarang semakin jelas bagiku, kesaktian yang kumiliki dari benda di balik pakaianku ini tidak akan keluar kecuali aku mendapat serangan secara langsung!" memikir sampai di situ semakin tidak enak hati si pemuda. Lalu sambil memberi isyarat pada si gadis dia mendahului melesat keluar dari lobang.

Baru saja mereka menginjakkan kaki masing-masing di luar lobang di permukaan bukit batu merah, kedua orang ini dikejutkan oleh empat sosok tubuh yang berkelebat muncul dan langsung mengurung mereka.

"Siapa kalian?! Jangan berani berniat jahat kecuali ingin jadi bangkai tak berkubur di pulau batu merah ini!" teriak si gadis yang segera melihat gelagat tidak baik.

Sebaliknya lelaki bermantel tetap tenang saja. memandang satu persatu pada keempat orang yang ada di sekelilingnya sambil menyeringai. Dia hanya mengenaI satu saja dari keempat orang itu, yang agaknya sengaja memilih tempat berdiri menjauh dari tiga orang lainnya. Orang ini bertubuh gemuk pendek, wajahnya merah seram seperti dedemit. Pada cuping hidungnya sebelah kin melingkar anting aneh terbuat dari akar bahar. Dia hanya mengenakan sehelai celana gombrong pulih dekil. Bagian tubuhnya yang tidak tertutup kelihatan merah seperti udang rebus. Sekujur tubuhnya menebar bau minuman keras. Di pinggangnya melingkar sebuah ikat pinggang besar. Pada ikat pinggang ini bergelantungan selusin kendi terbuat dari tanah, masing-masing penuh berisi tuak keras. Di tangan kirinya ada lagi sebuah kendi yang setiap selang beberapa saat disorongkannya ke mulutnya lalu dengan lahap tuak keras yang ada dalam kendi itu diteguknya.

Kalau berdiri kepalanya tak bisa diam, bergerak kian kemari. Tubuhnya bergoyang-goyang seolah mau rubuh. Dari mulutnya terdengar suara berkepanjangan. Entah meracau entah menyanyi.

"Sobat tua yang aku hormati dan kupanggil dengan gelar besar lblis Pemabuk! Ada apakah! kau muncul membawa tega gembel jelek ini?!

Mendengar pemuda bermantel munyebut gelar si gemuk pendek bertelanjang dada yang membawa kendi-kendi tuak terkejutlah gadis di sebelahnya Alamat urusan menjadi runyam. Kalau tidak ditangani bisa berabe. Aku dengar Iblis Pemabuk me miliki kepandaian tinggi luar biasa begitu si gadis membatin.

Tiga orang yang disebut sebagai gembel jelek kelihatan menjadi merah seperti melepuh tampang masing-masing Dari pakaian dan dekilnya tubuh mereka memang tidak salah ketiganya disebut gembel jelek. Mereka mengenakan pakaian rombeng banyak tambalan. Yang di sebelah kanan seorang kakek tegak memegang sepotong tongkat butut. Di sampingnya seorang nenek berdiri sambil berkipas-kipas dengan kipas bambu yang selalu dibawanya ke mana-mana. Di sebelah nenek ini berdiri seorang kakek memegang satu batok kelapa yang selalu diulurkan seperti sikap seorang minta sedekah.

Anehnya walau tadi muka mereka menjadi merah diejek namun sesaat kemudian ketiga orang tua aneh ini dongakkan kepala lalu sama keluarkan suara tertawa mangekeh. Begitu kekehan mereka berhenti kakek yang memegang batok kelapa yang rupanya menjadi pimpinan diri tiga manusia aneh itu berpaling pada pemuda bermantel lalu membentak.

"Si gendut pemabuk itu tidak ada sangkut pautnya dengan kami bertiga Kami datang sendiri dia datang sendiri"

"Oh! Begitu?!" lelaki bermantel kerenyitkan kening. menyeringai lalu angguk-anggukkan kepala.

"Di tempat lain si gemuk pendek berjuluk lblis Pemabuk tertawa melengkung lalu berkata. Terima kasih. sudah ada yang menerangkan jadi aku tak perlu memberi tahu!"

"Kalau terhadap lblis Pemabuk pemuda bermantel bersikap dan blcara hormat rnaka tidak begitu halnya dengan tiga tua bangka yang tegak di depannya."

"Monyet-monyet rombeng! Kalau kalian memang tidak datang berbarengan dengan sobatku Iblis Pemabuk dan tidak ada sangkut pautnya dengan sobat tuaku itu, maka lekas beri tahu siapa kalian dan apa tujuan kalian bersikap menghadang mengurung diriku dan kekasihku ini."

"Kekasih cantik! Huah! Kapan aku bisa punya kekasih secantik itu!" tiba-tiba lblis Pemabuk berteriak lalu buka mulutnya lebar-lebar dan glukgluk-gluk dia tenggak tuak dalam kendi yang dipegangnya. Eh, dia kenal aku, tapi aku tidak kenal dia...! Anak muda bermantel! Menyebutku sobat tua adalah satu penghinaan! Sekali lagi kau berani memanggilku begitu ambles nyawamu!",

Lelaki bermantel cepat menjura. "Orang gagah. harap maafkan kalau panggilan itu tidak berkenan di hatimu!" Lalu dia berpaling pada tiga orang tua di hadapannya.

"Jika kalian bertiga tidak mau mengatakan siapa kalian dan apa tujuan muncul di pulau ini menyingkirlah sebelum kepala kalian aku potes satu demi satu!"

Mendengar kata-kata itu karuan tiga orang tua itu tertawa gelak-gelak. Yang satu bolang-baling kan tongkatnya. Si nenek terus berkipas-kipas sedang kakek satunya lagi ulur tarik tangannya yang memegang batok berulang kali.

Pemuda bermantel habis kesabarannya. Dia maju selangkah tapi kakek yang memegang batok cepat menghadang sambil berkata.

"Masih muda jangan cepat mengibas amarah! Orang pemarah bisa mati berdiri! Bukankah begitu leman-teman?"

"Betul!" tenak si nenek sambil berkipas. Kali ini kipasnya mengeluarkan suara menderu-deru seperti kobaran api ditiup angin deras.

"Betul!" seru si kakek satunya sambil goyang-goyangkon tongkatnya di udara hingga mengeluarkan suara seperti cambuk.

"Hemmm.... Monyet-monyet tua ini sengaja unjukkan kehebatan.

Dikiranya aku takut!" Lalu dia berseru. "Aku memberi kesempatan sekali lagi. Jika kalian bertiga tidak lekas merat dari hadapanku, jangan salahkan kalau kekasihku yang cantik ini akan memberi pelajaran pada kalian!"

"Pelajaran apa?!" tanya kakek yang memegang tongkat dengan nada dan sikap mengejek.

"Mungkin pelajaran bagaimana caranya berciuman! Ha... ha... ha ... !" menimpali kakek yang memegang batok kelapa.

"Kalau memang itu pelajarannya, apa aku boleh pula meminta pelajaran berciuman darimu, anak muda?! Hik... hik ... hikkk!" Si nenek tertawa cekikikan.

Batas kesabaran pemuda bermantel habis sudah. Dia angkat tangan kanannya untuk menghantam tapi kakek yang memegang batok kelapa cepat berseru.

"Tahan! Biar kita blcara baik-baik dulu! Urusan baik kalau memakai cara baik hasilnya tentu baik pula!"

"Tua bangka keparat! Kau masih belum memberi tahu apa kau punya urusan! Kau juga tidak memberi tahu siapa dirimu dan dua kawanmu itu adanya!"

"Wuuuut!"

Si kakek lambaikan batok kelapanya hingga serangkum angin keras menderu namun hal ini bukan merupakan serangan yang ditujukan pada pemuda bermantel.

"Hari sudah siang! Tak ada gunanya blcara bertele-tele. Apa maumu akan kupenuhi. Baik! Aku segera memberi tahu siapa aku dan dua sahabatku. Kami bertiga selalu sungkan memberi tahu nama. Biar kuberi tahu saja julukan kami bertiga. Harap kau memasang telinga dan mendengar baik-baik. Kami adalah Tiga Pengemis Dari Akhirat!"

Gadis berbaju biru jadi ternganga sedang pemuda bermantel hitam walau agak bergetar tapi tetap berlaku terang. Siapa yang tidak mengenal tiga manusia berjuluk Tiga Pengemis Dari Akhirat ini! Sesuai dengan gelaran yang mereka sandang, ketiganya memang merupakan pengemispengemis yang hidup dari sedekah orang lain. Namun mereka bukan pengemis biasa. Selain memiliki kepandaian tinggi mereka terkenal ganas dan kejam. Soal membunuh bagi mereka sama mudahnya dengan membalikkan telapak tangan. Bahkan pernah tersiar kabar bahwa ketiganya menerobos masuk ke dalam Keraton dan mengamuk habishabisan sebelum beberapa perwira tinggi yang dibantu oleh tokoh-tokoh silat istana datang mengusir.

Sambil menyeringai pemuda bermantel berkata "Aku gembira bisa bertemu muka dengan orang-orang hebat macam kalian. Tapi ada gerangan apa Tiga Pengemis jauh-jauh datang dari Akhirat ke pulau batu merah yang serba gersang ini "

Kakek yang memegang batok kelapa batuk-baluk beberapa kali lalu menjawab. "Seperti tadi aku bilang. Hari sudah siang. Urusan harus diselesaikan cepat. Tak usah bicara panjang lebar bertele-tele. Dengar baik-baik anak muda. Aku datang ke pulau ini untuk mendapatkan Kitab Pulih Wasiat Dewa. Kalian berdua kulihat keluar dari dalam lobang sana. Salah satu dari kalian pasti telah mendapatkan kitab sakti itu saat ini. Lekas serahkan padaku, lalu kalian boleh pergi dengan aman!"

Di sebelah belakang terdengar suara gelegukan berulang kali. Iblis Pemabuk meneguk habis tuak dalam kendi tanah. Begitu seluruh isi ambles ke dalam perut dia tidak segera membuang kendi tanah itu melainkan seperti makan kerupuk garing kendi tanah itu dikunyahnya sampai habis. Kalau tidak terpaku pada urusan Kitab Pulih Wasit Dewa semua orang yang ada di situ pasti akan melengak terkesiap melihat apa yang barusan dilakukan Iblis Pemabuk.

"Aku sudah berkata apakah kalian berdua tuli hingga tidak segera menyerahkan benda yang aku minta?!" Pengemis tua yang memegang batok kelapa membentak

"Pengemis tua! Kau dan dua kawanmu jauh-jauh datang dari akhirat hanya membuat ketololan besar Kau datang ke tempat yang salah. Bicara pada orang yang salah! Berarti kalian kalau mati pun secara salah!"

"Apa maksudmu?!" bentak pengemis tua yang perempuan seraya melotot dan sesaat berhenti berkipas-kipas. Lelaki bermantel menyeringai. Dia berpaling pada gadis di sebelahnya.

"Kekasihku, perlihatkan pada mereka kita bukan bangsa kecoak yang bisa diancam dan ditakut-takuti!"

Gadis berbaju biru tipis tersenyum. Gigi-giginya kelihatan rata putih bercahaya. Bibirnya dikulum. Mulutnya dibuka sedikit. Lidahnya yang basah dijulurkan ke kiri dan ke kanan sedang sepasang matanya terpejam. Selagi Tiga Pengemis Dari Akhirat terpesona melihat sikap yang seolah mengundang ltu tiba-tiba tubuh si gadis berkelebat lenyap. Seruan tertahan terdengar tiga kali berturut-turut. Di lain kejap si gadis telah kembali tegak di samping pemuda bermantel. Dia berdiri sambil memegang batok kelapa. tongkat dan kipas bambu milik Tiga Pengemis Dari Akhirat.

Lelaki bermantel tertawa bergetak melihat dua kakek dan satu nenek pengemis di depannya berdiri dengan muka pucat.

"Ah... ah... ah! Kekasihmu, memang telah memberikan pelajaran yang sangat berguna. Kuharap tidak mengecewakan dibanding dengan pelajaran yang barusan kami berikan padanya!"

Tentu saja pemuda bermantel dan gadis di sampingnya Jadi heran mendengar ucapan itu sementara Iblis Pemabuk terus saja meneguk minuman keras dari dalam kendi tanah seolah tidak perduli apa yang terjadi di depan hidungnya.

Pemuda bermantel berpaling pada gadis di sebelahnya. Si gadis sendiri seperti bingung menunduk memperhatikan dirinya. Astaga! Dua orang itu sama-sama terperangah. Si gadis seputih kertas wajahnya. Saat itu ternyata pakaiannya di bagian dada tepat di arah jantung telah berlubang Lalu pada pergelangan tangan sebelah kiri tampak guratan panjang. Lebih dari itu pada pakaian biru di bagian bawah pusat kelihatan robekan memanjang. Jika ketiga orang itu berniat jahat terhadapnya maka tadi-tadi waktu dia merampas tongkat, batok kelapa dan kipas, dirinya pun sebenarnya sudah diancam bahaya maut. Tiga Pengemis Dari Akhirat bisa menusuk hancur jantungnya memutus urat besar di pergelangan tangannya atau menjebol isi perutnya!

Bagaimana pun tabahnya si gadis namun diam-diam dia jadi keluarkan keringat dingin juga. Ketika ketiga orang tua itu mengulurkan tangan, entah sadar entah tidak si gadis menyerahkan kembali tongkat, batok kelapa dan kipas yang tadi dirampasnya dengan kecepatan kilat.

"Kita sudah saling memberikan pelajaran berucap kakek yang memegang batok kelapa. "Sekarang apakah kalian masih belum mau menyerahkan kitab yang kami minta?!"

" Kami memang masuk ke dalam lobang batu, terus ke dalam terowongan sebelah bawah. Kami hanya menemukan satu sosok jerangkong. Kitab yang kalian inginkan tidak kami temui!" menjawab lelaki bermantel hitam

"Dusta!" bentak kakek yang memegang batok

"Beraninya kau bicara bohong setelah nyawa kekasihmu kami ampuni!" teriak pengemis neneknenek.

"Penipu busuk!" hardik kakek yang memegang tongkat. Ketiganya serentak maju ke depan tapi pemuda bermantel cepat menyongsong Begitu sampai di hadapan ketiga pengemis, berkepandaian tinggi itu dia kibaskan mantel hitamnya ke belakang. Kini terlihat pakaiannya sebelah dalam. Yakni sehelai baju dan celana hitam. Pada dada baju hitamnya terpampang lukisan puncak gunung Merapi berwarna biru, berlatar belakang sang surya yang memancarkan sinar merah dan kuning.

"Pangeran Matahari" seru Tiga Pengemis Dari Akhirat dengan tenggorokan mendadak kelu dan lidah tercekat. Tampang keriput mereka berubah pucat sedang sepasang kaki masing-masing bersurut mundur. Mereka sama sekali tidak mengira bahwa orang dengan siapa saat itu mereka membuat urusan adalah momok nomor satu dalam rimba persilatan yaitu pemuda berjuluk Pangeran Matahari yang dikenal sebagai pendekar ganas segala cerdik, segala akal, segala ilmu, segala licik segala congkak!

Di seberang sana Iblis Pemabuk terus saja rnenenggak minuman keras dari dalam kendi tanah walau kini beberapa kali sepasang matanya mengerling tajam ke arah si pemuda.

"Tiga Pengemis Dari Akhirat! Buka mata kalian baik-baik! Apa sudah tahu dengan siapa saat ini kalian tengah berhadapan?!"

Dua kakek dan satu nenek saling bertukar pandang. Lalu kakek yang memegang batok kelapa menjura dan mengumbar tawa.

"Sungguh tidak disangka. Dan kami bertiga sungguh sangat bersyukur ternyata kami berhadapan dengan tokoh besar rimba persilatan yang kami kenal dengan gelar dahsyatnya yaitu Pangeran Matahari! Kami gembira ternyata kami berhadapan dengan sobat satu golongan!"

"Manusia-manusia haram jadah! Siapa bilang aku sobat kalian!"

Pangeran Matahari membentak lalu meludah. Sikap sombong congkak dan ganasnya yang sejak tadi disembunyikan kini keluar.

"Kami tidak menyalahkan kalau Pangeran tidak merasa bersobat dengan kami bertiga. Itu disebabkan kita tak pernah saling jumpa sebelumnya. Karena kita sama-sama satu golongan tentu Pangeran tidak akan terlalu berat hati menyerahkan Kitab Putih Wasiat Dewa itu pada kami, Paling tidak meminjamkannya barang beberapa lama!"

Pangeran Matahari tertawa gelak-gelak. Lalu dengan mata angker melotot dia berkata.

"Kalian bertiga lekas angkat kaki dari sini. Kalau tidak aku akan mengirim kalian ke kampung halaman kalian di Akhirat sana!"

"Pangeran, mengapa bersikap sekasar itu dengan kawan-kawan satu golongan?!" Nenek pengemis kini angkat bicara.

"Perempuan sundall Biar kau kubuat mampus duluan!" bentak Pangeran Matahari. Lalu telapak tangan kanannya didorong ke depan. Perlahan saja. Satu gelombang angin panas mengeluarkan suara desis tajam menyambar. Nenek pengemis cepat kibaskan kipas bambunya. Bersamaan dengan itu dia menyingkir ke samping. Dari samping perempuan tua ini batas menggempur dengan menusukkan ujung kipasnya ke tenggorokan Pangeran Matahari.

Pada saat itu juga Pangeran Matahari merasakan ada hawa ganas di dadanya di mana terikat Kitab Wasiat Iblis. DI lain kejap selarik sinar hitam disertai aliran angin dahsyat menyapu ke arah nenek pengemis. Satu jeritan menggoncang tempat itu. Tubuh si nenek mencelat beberapa tombak. Ketika tubuh Itu jatuh ke atas batu merah keadaannya mengerikan untuk disaksikan Sosok tubuh si nenek kini telah berubah menjadi tulang belulang berwarna hitam mengepulkan asap! Sementara dua kakek pengemis menjerit keras menyaksikan kematian sobat mereka. Iblis Pemabuk masih terus asyik dengan tuaknya. Dari mulutnya tiada henti keluar ucapan-ucapan yang tidak jelas sedang tubuhnya terhuyung kian kemari dan sepasang kakinya digesek-gesekkan di atas batu merah.

"Pangeran keparat! Kau telah membunuh salah satu dari kami! Tak ada jalan lain! Serahkan nyawa anjingmu pada kami!" teriak kakek pengemis disebelah kanan. Batok di tangannya digoyangkan. Serangkum sinar kelabu berkiblat, menyambar ke arah Pangeran Matahari. Kakek pengemis satunya tidak menunggu lebih lama. Tongkatnya ditusukkan ke dada sang Pangeran tepat di arah jantung. ini merupakan dua serangan yang sebelumnya sukar dikelit atau ditangkis lawan karena gerakan dua kakek itu besar-besar cepat luar biasa.

Namun apa yang terjadi kemudian sungguh luar biasa dan mengerikan. Didahului oleh suara menderu keras, dari dada Pangeran Matahari melesat keluar dua larik sinar hitam. Dua kakek membentak nyaring Meski mereka telah menyaksikan kematian si nenek namun mereka tidak mau menyingkir. Malah keduanya lipat gandakan tenaga serangan. Sinar kelabu yang keluar dari batok kelapa menggelegar Tusukan tongkat menderu siap untuk menembus dada sampai ke jantung. Sang Pangeran berdiri tak bergeTak. Di wajahnya menyeruak seringai mengejek. Sesaat kemudian terdengarlah jeritan dua kakek pengemis itu. Tubuh mereka yang kurus mengapung di udara lalu jatuh bergedebukan di atas batu merah tak jauh dari kerangka hitam si nenek Keduanya menemui ajal dalam keadaan tidak berbeda. Berubah menjadi tulangtulang hangus menghitam. Sesaat kesunyian yang mengandung maut menggantung di udara. Pangeran Matahari melirik ke arah lblis Pemabuk. Manusia gemuk pendek ini tampak duduk menjelepok di atas sebuah gundukan batu merah dan masih terus sibuk dengan kendi tuaknya. Sang Pangeran melangkah mendekati. Tiba-tiba Iblis Pemabuk melompat dan berteriak. Satu langkah lagi kau maju akan kubunuh! Jangan harap aku mau membagi minuman enak ini padamu!"

Pangeran Matahari hentikan langkahnya. Dia menunggu dan berharap agar Iblis Pemabuk menyerangnya. Ternyata orang itu kembali sibuk dengan minumannya.

"Aku harus memancingnya agar dia benar-benar menyerang!" kata Pangeran Matahari dalam hati. Lalu dia berseru.

"Iblis Pemabuk, aku yakin kau yang membawa tiga tua bangka itu kemari. Kau membuat aku tidak senang. Hatiku tidak tenteram kalau aku tidak membunuhmu!"

"Ah ... !" lblis Pemabuk seolah terkejut mendengar ucapan lantang Pangeran Matahari Itu. Setelah meneguk tuaknya beberapa kali sampai mukanya bertambah merah, kendi diturunkannya lalu dia memandang pada pemuda di depannya. Sambil geleng-gelengkan kepala dia mulai tertawa. "Anak manusia! llmumu memang tinggi! Setan sekalipun bisa kau bunuh sampai tujuh kali! Tapi Jangan mimpl hendak membunuhku! Aku tidak akan terpancing untuk menyerangmu! Ha... ha... ha!"

Pangeran Matahari jadi terkejut besar. "Apakah manusia pantat botol ini tahu rahasia kesaktian Kitab Wasiat Iblis yang ada di balik dada pakalanku? membatin Pangeran Matahari. Otak cerdiknya segera diputar lalu berkata. "Harap kau beri maaf. Tadi memang aku sengaja memancing. Tapi setelah tahu kau sebenarnya tidak berniat jahat akupun tak akan memendam maksud tidak baik terhadapmu Aku malah berniat mengundangmu datang ke puncak Merapi untuk hadir dalam pesta mabuk-mabukan tujuh hari tujuh malam. Kalau kau suka tujuh perempuan cantik akan kusediakan untukmu!"

"Ah undangan bagus! Aku suka minum sampai satu malam suntuk. Apalagi kalau sampai tujuh malam. Tapi aku tidak doyan perempuan! Aku yakin perempuan yang kau berikan padaku adalah bangsa pelacur yang bisa membuat aku ketularan penyakit kotor! Huh!"

"Untukmu kupilihkan para gadis yang masih perawan."

Iblis Pemabuk terdiam dan tampak setengah melongo. Bagaimana? Kau terima undanganku?

Yang ditanya menggeleng lalu tertawa panjang. "Aku harus mengakui kehebatanmu Pangeran. Kalau kau bisa memberikan tujuh perawan padaku, hitung-hitung sudah berapa puluh perawan yang kau lalap sendiri?"

Tampang Pangeran Matahari tampak merah mengelam. Namun dia cepat menekan amarahnya. "Kalau kau tak suka pelacur atau perawan masih banyak perempuan lain. Sebutkan saja yang bagaimana yang kau suka""

Iblis Pemabuk hentikan tawanya. Dia meneguk tuak dalam kendi. Tubuhnya kembali terhuyung-huyung. Lalu dia melangkah terseok-seok ke arah gadis baju biru. Tiga langkah di hadapan si gadis dia berhenti. Matanya berputar-putar jelalatan memandang gadis ltu.

"Kau suka padanya? Kalau suka kau boleh menjemputnya di gunung Merapi TapI kalau kau mau memberitahu di mana beradanya Kitab Putih Wasiat Dewa kau boleh mengarnbilnya saat ini juga!"

Si gadis berpaling marah dan berteriak. "Jangan Kau berani memperlakukan diriku serendah itu!,

Setengah berbisik Pangeran Matahari berkata. Kekasihku, jangan kawatir. Si gendut pemabuk ini tidak akan mengiyakan pertanyaanku Betul.... Memang betul! Aku tidak suka padanya!" Iblis Pemabuk berucap. "Dia memang cantik Wangi tubuhnya mampu mengalahkan harumnya tuakku. Tapi maaf saja. Aku tidak tahu dimana beradanya kitab yang kau tanyakan itu Lagipula aku tidak suka bersenang senang dengan perempuan bekasmu!"

Wajah si gadis menjadi merah seperti saga mendengar kata-kata itu Sambil tertawa panjang Iblis Pemabuk balikkan tubuh dan melangkah pergi.

"Kau biarkan bangsat yang menghina diriku dan ilmumu itu pergi begitu saja...?!- teriak si gadis.

Aku memang ingin membunuhnya. Tapi sengaja., kutunda. Siapa tahu kelak dia ada gunanya bagi Si gadis merengut dan membuang muka ke jurusan lain. Pada saat itulah pandangannya membentur sesuatu di atas batu merah di hadapannya.

Iihat!" teriak si gadis seraya menunjuk ke depan.

Pangeran Matahari maju beberapa langkah dan rnemperhatikan batu merah yang barusan ditunjuk Di situ tertera tulisan buruk tak karuan tapi masih bisa dibaca, berbunyi: Aku mengundangmu datang ke Pangandaran hari 10 bulan 10. Kalau kau tidak berani datang lebih baik bunuh diri dari sekarang.

Pangeran Matahari dan kekasihnya saling pandang.

"Pasti Iblis Pemabuk yang membuat tulisan itu. Mempergunakan kuku kakinya..." desis si gadis

"Jelas undangan ltu ditujukan padaku. Ada apa harl sepuluh bulan sepuluh di Pangandaran?" Sang Pangeran coba berpikir

"Soal undangan gila itu mengapa musti dipikirkan sekarang. Lagipula hari sepuluh bulan sepuluh masih lama..." berkata si gadis.

Kau betul kekasihku Mari kita tinggalkan pulau ini. Ada tugas yang harus benar-benar kau laksanakan kata Pangeran Matahari pula sambil melingkar-kan tangannya di pinggul gadis cantik itu.



TIGAGEROBAK sapi yang sarat dengan padi kering itu meluncur perlahan di jalan mendaki menu-ju Kotaraja. Kusir gerobak seorang pemuda kurus sesekali melirik ke samping di mana duduk terkantuk-kantuk seorang kakek berjubah putih. Orang ini mengenakan caping lebar hingga sebagian wajahnya tertutup. Dia ikut menumpang dari desa Tambak Lor di kaki sebuah bukit jauh di sebelah Selatan Kotaraja. Sepanjang perjalanan dia tak banyak bicara. Beberapa kali kusir gerobak mencoba mengajaknya bercakap-cakap namun jawabnya pendek-pendek saja. Agaknya dia memang tak mau bicara atau mungkin juga keletihan.

Anak muda kusir gerobak itu sama sekali tidak mengetahui kalau mata orang tua yang terpejam itu sebenarnya tidak mengantuk. Sebaliknya sepasang mata itu tiada hentinya memperhatikan keadaan tempat-tempat yang dilalui.

"Banyak perubahan kulihat. ini saja masih Jauh dari Kotaraja. Kalau sudah masuk ke Kotaraja keadaannya tentu lebih banyak berubah. Salahsalah aku bisa kesasar kalau berjalan sendiri. Tujuh puluh tahun memang bukan waktu singkat. Orang-orang seusiaku di Keraton pasti sudah banyak yang mati. aku masih bersyukur diberi umur panjang. Namun apa gunanya hidup sampai seusia tua renta, begini kalau hanya mendekam dan menahan beban batin." Lakek bercaping itu bicara sendiri dalam hati lalu menarik nafas panjang "Orang tua, kukira kau sudah tertidur pulas." pemuda kusir kereta menegur.

Kepala yang memakai caping itu bergerak sedikit. Dengan tangan kirinya si orang tua mengangkat bagian depan capingnya Dia melihat sesuatu di kejauhan. Untuk pertama kalinya orang tua ini ajukan pertanyaan. Bukankah itu pintu gerbang menuju Kotaraja?"

"Betul Kek. Bukankah ke sana tujuanmu? Anak muda, maukah kau berbalk hati sekali lagi menolongku?"

"Menolong apa Kek? tanya kusir gerobak

"Aku tak ingin memasuki Kotaraja. Ambil jalan berputar, membelok ke kanan. Melewati pinggiran timur."

"Wah, berarti kita menyimpang jauh sekali. Aku harus buru-buru sampai di Kotaraja majikanku pemilik padi akan marah besar kalau aku kemalaman dan terlambat sampai di gudangnya"

"Aku mengerti ... " kata orang tua bercaping.

Anak muda kusir gerobak Itu merasa hiba juga rupanya Lalu dia berkata "Bagaimana kalau kau aku turunkan di pintu gerbang lalu kau meneruskan perjalanan dengan jalan kaki atau mencari tumpangan lain?"

"Begitupun tak tadi apa. Tapi aku menumpang gerobak sapimu ini tidak cuma cuma."

"Maksudmu Kek?

Dari balik jubah putihnya orang tua itu mengeluarkan sebuah benda bulat berwarna kuning yang berkilauan terkena sinar matahari petang Benda itu diletakkannya di atas pangkuan kusir gerobak. Begitu melihat benda tersebut, kusir gerobak segera mengarnbilnya.

"Uang emas..." katanya lalu berpaling pada si orang tua yang wajahnya selalu terlindung caping lebar itu. "Tak pernah kulihat uang seperti ini sebelumnya. Agaknya ini mata uang lama Apa betul-betul emas Kek?"

"Itu emas murni Untukmu, kalau kau mau membawaku ke jurusan timur...."

"Kau tidak bergurau Kek?"

"Apa kau kira aku bergurau?"

"Wah . wahl Untuk uang emas ini aku tidak kawatir dimarahl majikanku Dipecatpun aku tidak takutl! kata pemuda penarik gerobak. Lalu pecutnya diangkat tinggi-tinggi. Dihantamkan ke punggung Sapi penarik gerobak. Bersamaan dengan itu dia menarik tali kekang. Gerobak berderik keras dan membelok ke arah timur.

Si kakek kembali berdiam diri dan duduk terkantuk-kantuk. Sementara itu sang surya perlahan-lahan merayap ke ufuk tenggelamnya Di satu tempat si kakek angkat bagian depan caping bambunya dan bertanya pada pemuda kusir gerobak.

"Anak muda, tembok panjang dan tinggi di sisi jalan sebelah kiri ini tembok apakah?" si kakek ajukan pertanyaan.

"Orang tua, kau tentunya sudah puluhan tahun tak pernah datang ke Kotaraja, tak pernah melewati jalan ini. Tidak heran kalau kau tidak tahu tembok apa yang ada di sisi kiri jalan. Itu tembok pembatas kawasan makam istana...."

Mendadak saja dada kakek bercaping itu jadi berdebar. Dia berpikir sesaat lalu bertanya lagi. "Di mana pintu masuknya?"

Masih jauh di depan sana...."

"Kalau begitu turunkan aku selewatnya pintu masuk."

Kusir gerobak itu jadi heran. Kalau kau hendak menyambangi makam seseorang mengapa tidak turun tepat di depan pintu masuk? Yang ditanya tidak menjawab.

"Lagipula sudah petang begini aku kawatir kau tidak akan diizinkan masuk kawasan makam. Baik oleh juru kunci maupun para pengawal."

Orang tua itu diam saja. Gerobak meluncur terus sampai melewati pintu masuk kawasan makam istana.

"Berhenti di sini." kata si kakek. Lalu tanpa banyak bicara lagi dia turun dari gerobak. Sesaat dia masih tegak di tepi jalan memperhatikan gerobak sapi berputar. Setelah gerobak itu lenyap di kejauhan baru dia berbalik. Pandangannya segera tertuju pada sebatang pohon besar yang tumbuh di dekat tembok sebelah sana dengan cabang-cabangnya menjuntai masuk melewati tembok kawasan makam.

Meskipun usianya sudah sangat lanjut ternyata orang tua itu masih cukup cekatan untuk memanjat pohon. Dalam waktu singkat dia sudah berada di bagian dalam kawasan makam istana. Dia bergerak cepat dari satu makam ke makam lainnya. Setiap dia berdiri di depan sebuah makam hatinya berdebar. Dengan cepat dia memperhatikan nama ahli kubur yang dimakamkan di situ. Saking perhatiannya tercurah pada apa yang dilakukannya orang tua ini sampai tidak menyadari bahwa saat itu seorang pengawal bersenjata tombak tahu-tahu muncul di depannya bersama juru kunci makam.

"Orang tua, kau tahu berada di mana saat ini?" juru kunci makam yang berusia enam puluh tahun Itu menegur dengan ramah.

Sebaliknya sang pengawal langsung saja membentak. "Buka capingmu! Aku ingin melihat tampangmul Jangan-jangan kau seorang gembong pemberontak yang hendak merusak makam Kerajaannya!"

"Kalian petugas-petugas yang cekatan. Aku menurut perintah ... " kata si orang tua lalu perlahan-lahan dibukanya caping lebar di atas kepala yang sejak tadi menutupi mukanya. Begitu caping terbuka juru kunci makam dan si pengawal tersurut sampai tiga langkah. Mereka melihat satu wajah tua berkumis, berambut dan berjanggut putih Mulutnya komatkamit mengunyah sirih dan tembakau. Wajah Itu wajah tua biasa saja, namun yang membuat kedua orang itu jadi tercekat adalah begitu melihat muka si orang tua belang sebelah. Bagian sebelah kanan berwarna biru. Saat itu petang hari menjelang matahari hendak tenggelam. Suasana di kawasan makam yang penuh ditumbuhi pohon-pohon besar lebih gelap dan mendatangkan suasana angker "Orang tua. siapa kau adanya? Mengapa masuk ke dalam kawasan makam istana tanpa izin?, Orang tua juru kunci makam bertanya. Suaranya bergetar tanda dia berusaha menahan rasa takut.

"Saudara, kau tentu saja tidak mengenali siapa diriku. Aku lahir empat puluh tahun lebih dulu dari kamu Harap maafkan kalau aku masuk tanpa izin dari kalian berdua. Aku mencari makam seseorang..."

"Orang tua kami harus membawamu ke gardu untuk ditanyai!" pengawal bertombak membuka mulut.

Orang tua bermuka belang yang bukan lain adalah Raja Obat Delapan Penjuru Angin alias Pangeran Soma tidak perdulikan ucapan si prajurit. Dia terus bicara dengan sang juru kunci.

"Raja Tua, ayahanda dari Raja yang bertahta sekarang pernah mempunyai seorang istri bernama Siti Layangsari. Seperti Raja Tua perempuan itu juga telah meninggal dunia. Aku melihat makam besar Raja Tua di sebelah sana. Apakah Siti Layangsari juga dimakamkan di tempat ini?"

"Orang tua!" bentak pengawal makam."Sungguh lancang kau berani menanyakan peri kehidupan Raja Tua dan istrinya! Aku harus menangkapmu sekarang juga!"

"Pengawal kau rupanya tak bisa diajak bicara secara baik-baik. Terpaksa aku membuatmu jadi patung!", Habis berkata begitu Raja Obat Delapan Penjuru Angin kebutkan caping bambunya

"Hekkk!"

Terdengar suara seperti tercekik di tenggorokan pengawal makam. Saat itu juga dia tak sanggup bersuara dan tak mampu menggerakkan tubuhnya lagi.

"Juru kunci makam, apakah kau Ingin kujadikan patung seperti dia?"

Orang tua penjaga makam itu tentu saja menjadi ketakutan.

"Kau kulihat ketakutan. Kalau kau tak mau kuubah jadi patung hidup lekas beri jawaban atas pertanyaanku tadi"

Juru kunci itu menggelengkan kepala berulang kali "Aku sudah bekerja lebih dari tiga puluh tahun Aku tahu betul tak ada perempuan bernama Siti Layangsari dimakamkan di tempat ini."

Raja Obat alias Pangeran Soma jadi terdiam mendengar keterangan orang di hadapannya. "Kau yakin sekali hal itu?"

"Yakin sekali. Aku berani bersumpah aku tidak berrdusta !"

"Kau juga tidak pernah mengetahui di mana Siti Layangsari dikebumikan?"

Yang ditanya menggeleng.

"Kau juga tidak pernah mendengar cerita satu peristiwa besar sekitar seratus tahun lalu tentang istri Raja Tua yang dibuang karena melahirkan anak bermuka cacat?"

"Aku tidak tahu banyak tapi aku memang pernah mendengar cerita itu dari seseorang..."

"Siapa orangnya?" tanya Raja 0bat.

"Aku tidak ingat. Sudah lama sekali. Mungkin sekitar tiga puluh tahun lalu cerita itu kudengar. Orang yang menceritakan mungkin sudah meninggal..... "

"Coba kau ingat siapa orangnya...."

Juru kunci makam lstana itu memutar otaknya, berusaha keras mengingat. Akhirnya sambil menggeleng dia berkata "Tak bisa kuingat...."

"Akan kusebutkan sebuah nama. MungkIn dia orangnya. Lawunggeni?"

"Astagal Betul! Dia yang pernah menceritakan hal itu padak!" Tapi dia telah meninggal dunia dua puluh tahun silam. Dikebumikan di kampung halamannya." Sang juru kunci mengangkat kepalanya dan menatap wajah orang tua di hadapannya. Ketika dia melihat wajah yang cacat belang itu tiba-tiba saja dia ingat. "Kau ... Seruan sang juru kunci lenyap karena Raja Obat cepat menekap mulutnya.

"Jangan berteriak. Lekas katakan dimana letak kawasan pemakaman rakyat...."

"Ada dua. Satu di selatan. satu lagi tak jauh dar sini. Hanya terpisah oleh satu sungai kecil....!".

"Terima kasih." Orang tua itu menurunkan tangannya yang menutup mulut juru kunci makam" Lalu sekali berkelebat sosoknyapun lenyap.



EMPATMATAHARI semakin menggelincir jauh ke titik tenggelamnya. Raja Obat berjalan setengah berlari. Di satu tempat dia menyelinap ke balik serumpunan semak belukar. Menunggu sambil memasang mata dan telinga.

"Mataku mungkin sudah lamur, apa lagi hari mulaI gelap. Tapi telingaku tak mungkin ditipu. Perasaanku tak bisa dikelabui. Ada seseorang mengikutiku.... Tapi dia mendadak lenyap...." Raja Obat menunggu sesaat lagi. Akhirnya dia keluar dari balik semak belukar, sengaja mengambil jalan berputar dan kembali ke jurusan dari mana tadi dia datang dan menyelidik. Namun tetap saja dia tidak melihat atau menemukan siapa-siapa.

"Jangan-jangan aku sudah pikun!" kata Raja Obat dalam hati. Dengan menenteramkan hatinya dia melanjutkan perjalanan.

Ketika Raja Obat sampai di daerah pemakaman di seberang kali kecil itu sang surya hampir tenggelam dan udara bertambah gelap. Kawasan pemakaman tanpa pagar ini tidak terpelihara. Dia segera berkeliling menyelidik, memperhatikan setiap kuburan yang ada satu persatu. Hampir tidak ada papan nisan yang masih utuh. Agaknya sia-sia aku menyelidik. Apa lagi sebentar malam segera datang. Mungkin sampai ajalku aku tak akan pernah menemukan di mana kubur Ibuku...." Raja Obat tegak termenung dekat serumpun pohon bambu. Berulang kali terdengar dia menarik nafas dalam. Akhirnya orang tua ini memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Langkahnya tertahan ketika sayup-sayup dia mendengar suara seperti seorang perempuan menangis sendu terisak-isak.

"Eh, menjelang malam seperti ini, di tengah pekuburan siapa gerangan yang menangis? Raja Obat memandang berkeliling. "Mungkin ada jenazah yang bangkit lalu menangis? Atau setan kuburan hendak mengganggu diriku...?" Orang tua berusia seratus tahun lebih itu tegak terdiam. Suara isak tangis itu semakin keras. Datangnya dari pinggiran pekuburan sebelah timur. Raja Obat berpikir sejenak lalu akhirnya melangkah ke jurusan datangnya suara orang menangis. Tak lama kemudian, di balik deretan tiga pohon Kemboja besar dia melihat sebuah makam yang masih merah. Di sebelah kiri badan makam bersimpuh membelakangi sosok seorang perempuan berambut panjang, berpakaian merah. Dua tangannya ditekapkan ke wajahnya. Perempuan inilah yang sedang menangis.

Kubur baru masih merah. Ada perempuan menangis menjelang malam begini. Harum tubuhnya tercium sampai ke sini. Pasti yang dimakamkan di situ seorang sangat dicintainya. Tapi.... Apa yang kulihat ini benar-benar seorang anak manusia? Jangan-jangan...

Raja Obat melangkah melewati tiga pohon Kemboja besar. Lalu bergerak ke seberang kanan makam. Di sini dia diam sesaat sambil memperhatikan orang yang menangis.

"Masih muda.... Mungkin masih gadis..." membatin Raja Obat.

Tangis orang di samping makam semakin keras. Bahu dan dadanya tampak berguncang-guncang. Raja Obat gelengkan kepala. Dia jadi bingung. Dalam keadaan seperti itu apakah langsung mengusir saja Mau menunggu sampai tangis orang mereda. Karena ditunggu perempuan itu tak kunjung hentikan tangisnya sedang sepasang tangannya terus saja menekap wajahnya akhirnya si orang tua mengeluarkan suara mendehem beberapa kali. Suara tangisan serta merta berhenti. Dua tangan yang menutupi wajah diturunkan.

Raja Obat terkesiap. Orang yang menangis itu ternyata adalah seorang dara berparas cantik sekali. Sebaliknya si gadis tampak terkejut. Seperti ketakutan dia beringsut mundur. Dua matanya yang bagus tapi sembab memandang besar-besar. Seumur hidupnya Raja Obat alias Pangeran Soma belum pernah melihat gadis secantik ini. Apalagi selama tujuh puluh tahun dia hidup menyendiri di pulau batu merah. Sekalipun usianya sudah seratus tahun lebih namun kewajaran dirinya sebagai seorang lelaki melihat gadis yang begitu jelita tak bisa disembunyikannya. Untuk sesaat orang tua ini terpana. Anak gadis, kau tak usah takut. Walau tampangku seram dan belang sebelah tapi aku bukan orang jahat. Bukan juga setan yang hendak mengganggumu...."

"Kau... kau.. si... siapa?!" tanya sang dara dengan suara gagap.

Bayangan ketakutan masih melekat di wajahnya. "Mengapa malammalam begini berada di tempat ini?!"

Aku hanya seorang tua yang malang. Nasib diri membawaku ke tempat ini. Aku mencari makam, seseorang tapi tidak kutemukan. "Makam siapa? Istrimu...? Anakmu atau cucu mu?"

Raja Obat tersenyum rawan. "Aku tak pernah, punya istri. Jadi tak punya anak apalagi cucu...." Lalu Raja Obat bertanya.

"Kau sendiri siapa? Mengapa, malam-malam begini berada di pekuburan? Makam siapa yang kau tangisi ini? Dan tanahnya yang masih merah serta bunga-bunga segar yang bertaburan atasnya agaknya makam ini masih baru. Mungkin sekali jenazahnya baru dikuburkan siang tadi .... "

"Siapa diriku kau tak perlu tahu. Makam siapa yang aku tangisi ini kau juga tak perlu tahu. Kuharap kau segera saja pergi dari sini. Tinggalkan aku sendirian. Biar aku menangis sampai air mataku kering !"

"Anak gadis, mendengar ucapanmu aku bisa me duga kau adalah seorang gadis yang tabah berhati keras. Kedukaan dan kesedihan cepat atau lambat adalah bagian setiap manusia. Kehilangan seorang yang kita kasihi merupakan takdir yang tak bisa dihindari. Namun apakah kedukaan dan kesedihan itu kita inginkan membuat diri kita menjadi sakit dan sengsara... Rumahmu tentu di sekitar sini Sebaiknya kau pulang saja. Jika hatimu belum puas besok pagi-pagi kau bisa menyambangi lagi makam ini..."

"Orang tua, aku tidak perlu nasihatmu. Kalau aku sakit atau sengsara apa pedulimu?! Jangankan sakit atau sengsara, matipun aku mau saat ini juga. Biar aku segera bisa menyusul dirinya!"

"Hemm.... Jika begitu nada ucapanmu mengertilah aku sekarang. Aku bisa menduga siapa yang dimakamkan di tempat ini...."

"Jangan kau berani berlaku lancang orang tua! "Aku tidak bermaksud lancang. Maafkan kalau kau menduga seperti itu. Pada dasarnya nasib kita mungkin sama. Sama-sama kehilangan orang yang kita kasihi. Namun kau masih jauh beruntung. Kau masih memiliki makam orang yang kau kasihi. Aku tidak. Sekali lagi kunasihati. pulanglah. Jangan sampai kesedihan yang berlarut-larut membualmu sengsara. Kau masih muda. Masa depanmu masih panjang. Selamat tinggal anak dara ... "

Raja Obat alias Pangeran Soma memutar tubuhnya. Langkahnya tertahan ketika di belakangnya si gadis memanggil. "Orang tua, tunggu!"

Sewaktu orang tua itu berbalik didapatkannya si gadis telah berdiri di samping kuburan.

"Kupikir semua ucapanmu ada benarnya. Kau adalah orang terakhir yang bersikap baik terhadapku. Kalau aku boleh bertanya makam siapakah yang lengah kau cari di tempat ini?"

Aku mencari kubur ibuku. Tapi seperti tadi kukatakan, aku bernasib malang. Aku tidak menemui makam beliau di tempat ini.... Hari sudah malam, aku harus pergi...."

"Kemanakah tujuanmu dari sini?" tanya si gadis.

"Aku sendiri tidak tahu. Aku tak punya kadang tidak punya sanak. Mungkin aku akan mencari tum-pangan untuk tidur malam ini. Kalau terpaksa aku bisa tidur di mana saja.... "

"Rumahku di atas bukit di sebelah timur sana. Tak jauh dari sini. Kalau kau suka kau boleh bermalam di tempatku. Aku tinggal sendirian...."

"Terima kasih atas kebaikanmu. Tapi bagaimanapun juga tidak baik kita berada di satu rumah berduaan sementara kita tidak punya hubungan keluarga...."

"Tak usah merisaukan hal itu. Aku sudah menganggap dirimu sebagai orang tua atau kakek sendiri...."

Raja Obat terdiam sejenak. Paras cantik di depannya tersenyum. Semerbak harum bau baju dan, tubuh sang dara menyeruak masuk ke dalam hidungnya. Ketika si gadis memegang lengannya akhirnya Raja Obat berkata. Baiklah, aku mengucapkan, terima kasih atas budi baikmu. Lalu dia melangkah mengikuti gadis berbaju merah itu.

Ternyata gadis cantik itu memiliki kepandaian berlari cepat. Kalau saja lengannya tidak dicekal terus sudah sejak tadi-tadi Raja Obat tertinggal di belakang. Seumur hidupnya batu sekali ini Raja Obat alias Pangeran Soma berjalan seiring dengan seorang gadis cantik. Apalagi sepanjang jalan si gadis selalu memegang lengannya erat-erat. Ditambah wanginya bau tubuh si gadis orang tua ini merasa seribu bahagia dalam hatinya. Sampai-sampai dalam hatI dia menyesali diri sendiri dan membatin.

"Kalau saja aku dilahirkan tujuh puluh tahun lebih cepat dan usiaku saat ini hanya tiga puluh tahun hemm...."



LIMAGUA BATU kecil itu terletak di lereng selatan Gunung Merbabu. Meskipun terlindung oleh pepohonan besar berusia ratusan tahun serta semak belukar lebat, namun jika seseorang berdiri di sebuah batu tinggi yang ada di depan gua maka dia dengan jelas akan dapat melihat keindahan kawasan lereng selatan. Nun jauh di sana menjulang Gunung Merapi dengan puncak tertutup awan kelabu.

Pendekar 212 Wiro Sableng untuk beberapa saat lamanya masih berdiri di atas batu tinggi, memandang ke arah Gunung Merapi. "Saat bagiku untuk menyelidik apakah dia berada di sana" membatin murid Sinto Gendeng ini. Lalu dia kerahkan tenaga dalam, dialirkan ke kepala. Sepasang matanya yang tidak berkedip dikedipkan dua kali. Ternyata saat itu dia lengah mengerahkan ilmu kesaktian yang disebut "Menembus Pandang. Mula-mula dia melihat bayangan gelap kelabu. Perlahan-lahan samar-samar muncul warna putih. Dia sanggup menembus deretan pohon-pohon, semak belukar. bebatuan. Lalu dia melihat sebuah telaga kecil. Pandangannya diarahkan lebih jauh. Samar-samar tampak sebuah bangunan. Lama dia memandang dengan mata tak berkedip. Ternyata bangunan itu kosong.

"Pangeran keparat itu tak ada di sana..." kata Wiro dalam hati. Hatinya agak tega namun hanya sesaat. Dia segera ingat.

Sejak dia berpisah dengan Raja Obat Delapan Penjuru Angin tempo hari dia merasa ada seseorang mengikuti perjalanannya. Sebelum menuju langsung ke lereng Gunung Merbabu dia sengaja mengambil jalan berputar-putar. Namun si penguntit masih tetap saja berada di belakangnya. Celakanya setiap dia berusaha menjebak atau memergoki, orang itu selalu lenyap seolah ditelan bumi.

"Dia memlliki kepandaian tinggi. Aku harus waspada." membatin Wiro.

Murid Sinto Gendeng merasa curiga yang menguntitnya saat itu ada ah si nenek genit berjuluk Iblis Putih Ratu Pesolek, saudara kembar Iblis Tua Ratu Pesolek yang menemui ajal dibunuh Pangeran Matahari di bukit di luar Kartosuro. Sebelumnya si nenek telah muncul di pulau batu merah Walau saat itu dia tidak menunjukkan niat jahat namun siapa tahu diamdiam dia menunggu sampat Wiro berhasil mendapatkan Kitab Putih Wasiat Dewa

Wiro sengaja tegak berlama-lama di depan mulut goa Menunggu sampai kakinya pegal dan tak satu makhluk pun yang muncul. Akhirnya dia balikkan diri melangkah menuju mulut gua. Saat itulah terdengar suara "kraaaakk!"

"Seseorang menginjak ranting kering" kata Wiro dalam hati. Serta merta Pendekar 212 siapkan pukulan sakti Sinar Matahari seraya cepat berbalik Serta merta dia kerahkan tenaga dalam ke tangan kanan. Dia tidak mau ambil risiko. Kitab Putih Wasiat Dewa yang saat itu ada padanya harus dijaga balk-baik, diselamatkan sebagaimana dia mengamankan nyawanya sendiri

"Aku yakin siapapun adanya penguntit itu pasti mengincar kitab sakti ini. Aku harus melakukan sesuatu. Kalau tidak diriku bisa celaka dan Kitab Putih Wasiat Dewa bisa jatuh ke tangan orang lain yang tidak bertanggung jawab."

"Orang yang bersembunyi, tidak perlu bertaku pengecut! Unjukkan dirimu! Aku sudah tahu kalau kau sejak lama menguntit perjalananku" Wiro tiba-tiba keluarkan seruan lantang.

Sunyi sejenak. Hanya gema seruannya yang bergaung di lereng gunung itu Namun sesaat kemudian terdengar suara aneh seperti suara sapi atau binatang digorok.

"Kraaakk!"

Kembali terdengar suara ranting kering terpijak. Di lain kejap semak belukar delapan langkah di hadapan Wiro tersibak. Lalu muncullah satu sosok makhluk yang luar biasa mengerikan. Sekujur tubuhnya yang hanya mengenakan sehelai cawat rombeng penuh dengan koreng masih bernanah dan menebar bau busuk. Sebagian dari tubuh itu hangus kemerahan laksana dipanggang Bagian perutnya robek besar, usus campur darah membusai menjela-jela. Dua kakinya tidak beda seperti kayu hangus dan hancur di beberapa bagian. Tubuhnya laksana disambung di bagian dada tapi tidak begitu pas hingga keadaannya termiring-miring. Tangan kirinya buntung sebatas bahu. Kepalanya paling mengerikan. Wajahnya tidak karuan. Hidung mulut dan pipi serta kening hancur Dua telinga sumplung. Salah satu dari matanya melesak ke dalam sedang satunya tagi memberojol ke luar!

Tengkuk murid Eyang Sinto Gendeng menjadi dingin. "Mustahil siang bolong begini ada setan atau hantu gunung muncul. Makhluk apa sesungguhnya yang ada di hadapanku ini?"

"Gila! Bukankah jahanam ini sudah mampus? Tubuhnya cerai berai ke dalam laut kena hantaman pukulan Sinar Matahariku tempo hari! Janganjangan arwahnya yang menjelma jadi setan dan gentayangan hendak menuntut balas!"

Mendadak Wiro ingat bau busuk itu. Juga bekas-bekas koreng yang sudah hangus.

"Pendekar 212, kalau Kitab Putih Wasiat Dewa kau serahkan padaku, aku akan mengampuni selembar nyawamu!" Suara makhluk ini sember parau. Ketika Wiro memperhatikan lagi ternyata tenggorokannya robek besar dan hangus. Ada cairan meleleh dari luka di leher itu.

"Makhluk Pembawa Bala" Bukankah tempo hari kau sudah mampus dengan tubuh dan kepala ter-kutung-kutung!

Makhluk menyeramkan yang memang adalah Makhluk Pembawa Bala adanya menyeringai mengerikan Mulutnya yang hancur bergoyanggoyang sedang bola matanya yang memberojol bergerak gundal-gandil. Dia keluarkan suara tertawa menggidikkan.

"Jangan mengira dengan kesaktianmu kau bisa membunuh siapa saja! Di luar langit masih ada langit lain! Buktinya kau saksikan sendiri aku masih hidup, berhasil mengejarmu sampai ke lereng Merbabu ini dan meminta kau menyerahkan Kitab Putih Wasiat Dewa itu! Ha.., ha... hak...hakkkk!" Suara tawa Makhluk Pembawa Bala tercekik. Lalu dia ulurkan tangan kanannya yang penuh luka koreng dan luka bakar serta hangus.

"Kitab itu! Lekas serahkan! Aku tahu kitab itu ada padamu!" Makhluk Pembawa Bala menyentak.

"Sayang kau datang terlambat!" menjawab Wiro.

"Apa maksudmu?!"

"Setan gunung lebih dulu merampas kitab sakti itu dan melarikannya ke langit. Kalau kau benar mempunyai Kemampuan di atas langit masih ada langit, silahkan susul ke langit sana!"

"Jahanam! Kau berani mempermainkan diriku! Putus nyawamu!",

Teriak Makhluk Pembawa Bala marah sekali. Tangan: kanannya yang hangus hancur tiba-tiba berkelebat cepat ke arah dada Pendekar 212. Murid Sinto Gendeng yang sejak tadi memang sudah berwaspada melompat mundur tiga langkah sambil hantamkan tangan kanannya Sinar putih panas menyilaukan berkiblat. Inilah kali kedua Pendekar 212 Wiro Sableng lepaskan pukulan sakti "Sinar Matahari" untuk menghantam Makhluk Pembawa Bala Kali pertama dulu waktu di pulau batu merah. Tubuh Makhluk Pembawa Bala mencelat hancur berantakan. Wiro Masih belum bisa mengerti bagaimana makhluk itu masih hidup dan muncul kembali walau dalam keadaan morat-marit mengerikan!

"Pukulan Sinar Matahari! Apa hebatnya!" teriak Makhluk Pembawa Bala mengejek.

"Kurang ajar! Jangan harap tubuhmu bisa bersambung kembali!" teriak murid Sinto Gendeng dan lipat gandakan tenaga dalamnya. Sehingga keadaan di depan gua itu menjadi terang benderang, panas dan menyilaukan. Beberapa pohon patah bertumbangan dan hangus. Semak belukar dan dua gundukan batu gunung hancur lebur. Semua berubah hitam hangus! Namun Makhluk Pembawa Bala tidak kelihatan.

"Gila! Sudah mampus atau bagaimana dia?!" pikir Wiro sambil memandang berkeliling. Kalau mampus mengapa tak terdengar jeritannya. Hancuran tubuhnya juga tidak kelihatan!"

Ketika Wiro memandang ke bawah hatinya tercekat. Enam langkah di hadapannya terlihat sebuah lobang sebesar pemelukan tangan.

"Lobang itu tadi tidak ada!"

Wiro mendekati sambil siapkan lagi pukulan "Sinar Matahari" di tangan kanannya.

"Mendadak dari dalam lobang terdengar suara tawa bergetak. Lalu sekonyong-konyong muncul satu kepala! Kepala Makhluk Pembawa Bala!

"Jahanam! Belum mampus dia rupanya!" Secepat kilat Pendekar 212 lepaskan pukulan Sinar Matahari. Cahaya panas terang menyilaukan kembali berkiblat di tempat itu.

Tanah terbongkar dalam menghitam. Kepala Makhluk Pembawa Bala tidak kelihatan. Wiro melompat ke arah lobang yang kini telah tertutup oleh timbunan hancuran tanah dan bebatuan.

Sekonyong-konyong di belakangnya terdengar satu suara tertawa keras tapi sember. Suara tawa Makhluk Pembawa Bala! Wiro berpaling dan jadi melengak. Dari sebuah lobang di tanah perlahan lahan tampak muncul ke atas kepala Makhluk Pembawa Bala! Tanpa menunggu lebih lama Wiro segera nyergap dan hantamkan satu tendangan.

"Bukkk!"

Tendangan keras murid Sinto Gendeng tepat menghantam kepala Makhluk Pembawa Bala. Pipi sebelah kiri rengkah. Bola matanya yang mem-rojol mencelat mental entah kemana. Namun makhluk itu masih belum menemui ajal. Untuk beberapa saat kepala yang muncul dari lobang di tanah bergoyang-goyang sedang dari mulutnya yang hancur mengumbar suara tawa sember.

"Jahanam!" maki Pendekar 212. Walau ada rasa ngeri namun amarah lebih menguasai dirinya. Sekali himpat saja kepala Makhluk Pembawa Bala itu siap untuk dicengkeram lalu dipuntir. Namun sesosok tubuh berkelebat mendahului. Angin yang keluar dari tubuh orang ini membuat gerakan Wiro agak tertahan . Dalam waktu bersamaan satu tangan putih halus dan mulus meleset menusukkan sepotong kayu panjang.

"Crasss!"

Batangan kayu itu menancap ambles sampai setengahnya ke batok kepala Makhluk Pembawa Bala. Darah muncrat dari hidungnya yang gerumpung, telinganya yang sumplung, sepasang matanya yang hanya tinggat rongga dan juga dari mulutnya yang hancur serta tenggorokannya yang robekl

Dalam keadaan tersentak kaget Wiro cepat palingkan kepala. Saat itulah dia mendengar satu suara tertawa merdu.

"Ah. kukira gadis yang aku rindukan selama ini."

"Ternyata dia!" ujar Wiro Dengan mulut ternganga dan masih belum surut kagetnya murid Sinto Gendeng pulang balik garuk-garuk kepala.



ENAMDUA langkah di hadapan Wiro berdiri berkacak pinggang seorang gadis jelita mengenakan baju panjang hitam berbunga-bunga putih. Sikapnya genit sekali. Sebentar-sebentar pinggulnya digoyangkan dan lidahnya yang merah dipermainkan membasahi bibirnya Wiro segera mengenali siapa adanya gadis ini. Yakni nenek aneh berjuluk Iblis Putih Ratu Pesolek yang tempo harl muncul di pulau batu merah Pendekar 212 keluarkan siulan. Sang dara tersenyum lebar Sobatku cantik jelita! tegur Wiro. Kalau kemunculanmu menolong diriku dari Makhluk Pembawa Bala itu, sungguh aku sangat berterima kasih...."

"Hik... hik... hik!" Si gadis yang bentuk aslinya sebenarnya adalah seorang nenek keriput berdandan mencorong tertawa cekikikan lalu berkata "Pertolonganku belum tuntas! Nyawamu masih terancam! Lihat ke lobang!"

Wiro cepat putar kepalanya ke arah lobang. Saat itu dilihatnya kepala yang ditancapi batang kayu dari Makhluk Pembawa Bala tiba-tiba melesat keluar dari lobang Didahului raungan keras sekujur tubuhnya menyusul meleset keluar dari dalam lobang. Sesaat makhluk mengerikan ini tegak sempoyongan Dari tenggorokannya yang robek keluar suara menggembor berkepanjangan. Setindak demi setindak dia melangkah mendekati Pendekar 212 sambil tangan kanannya menggapai-gapai berusaha memegang dan mencabut batang kayu yang menancap di batok kepalanya Makhluk Pembawa Bala berhasil menyentuh batangan kayu. Namun sebelum dia sempat mencabut kayu itu dari samping kiri gadis itu berkelebat menyambar tangan kanannya. Lalu terdengar suara "kraakkk!"

Makhluk Pembawa Bala meraung keras sewaktu tangan kanannya dipuntir patah lalu dibetot lepas dari persendian bahunya. Kini makhluk ini tidak lagi memiliki tangan baik kanan maupun kiri! "Perempuan lblis.... Hati-hati kaul Kematianmu sudah kugurat di neraka!"

"Hik... hik... hik!" Si gadis tertawa panjang mendengar ucapan Makhluk Pembawa Bala itu. "Belum mampus rupanya kau sudah jalan-jalan ke neraka! Lebih bagus kau cepat minggat dari sini. Mencari pertolongan agar ada yang mau mencabut kayu yang menancap di kepalamu itu!"

"Perempuan-jahanam! Tunggu pembalasanku! Habis berteriak keras dan sember Makhluk Pembawa Bala putar tubuhnya dan berkelebat lenyap.

"Sobatku cantik, aku berterima kasih atas perlolonganmu," berkata Wiro sambil menjura. Namun dia sengaja menjaga jarak karena belum dapat menerka apa maksud kehadiran lblis Putih Ratu Pesolek kali ini. Si gadis dilihatnya membuka mulut hendak mengatakan sesuatu. Pendekar 212 cepat mendahului. "Ada satu hal yang tidak aku mengerti. Sebagai orang rimba persilatan yang jauh berpengalaman mungkin kau bisa menerangkan...."

"Hemm.... Yang kau tanyakan menyangkut diriku atau apa?" balik bertanya Iblis Pulih Ratu Pesolek.

"Menyangkut makhluk jahanam tadi," sahut Wiro

"Hemmm.... Apa yang ingin kau ketahui. Jika aku bisa menjawab lantas apa imbalan yang bisa kau penuhi!"

Mendengar ucapan orang Pendekar 212 jadi merinding. "Gila! Kalau dia minta imbalan agar aku melayaninya celaka diriku! Walau diluar kelihatan dia gadis cantik mulus begini rupa tapi di dalam aku kan sudah tahu!" kata Wiro dalam hati. Mau tak mau dia jadi urungkan niat untuk bertanya. Melihat si pemuda terdiam, gadis itu tertawa panjang. "Baiklah, kau boleh bertanya. Aku tidak akan minta imbalan apa-apa!"

Murid Eyang Sinto Gendeng jadi lega. "Waktu di pulau batu merah tempo han aku telah menghajar orang itu dengan satu pukulan sakti. Tubuhnya mencelat ke udara dalam keadaan cerai berai dan masuk ke laut. Jelas-jelas pasti riwayatnya sudah tamat saat itu. Tapi bagaimana tahu-tahu dia muncul iagi. Apa yang tadi itu bukan sosok lahirnya tapi jelmaan arwahnya yang gentayangan jadi setan?!"

"Kau pernah mendengar orang yang punya ilmu kesaktian disebut kebal tanah?" tanya Iblis Pulih Ratu Pesolek yang menjelma sebagai seorang gadis cantik itu. Wiro gelengkan kepala.

"Aku pernah mendengar ilmu kebal tanah itu namun belum pernah menyaksikan sendiri. Katanya. orang yang memiliki ilmu kebal tanah walau tubuhnya hancur berkeping-keping, kepalanya putus, anggota badannya tanggal tapi begitu salah satu bagian tubuhnya yang hancur jatuh dan bersentuhan dengan tanah, secara ajaib tubuhnya akan kembali bersatu. Dia akan hidup lagi walau sambungan tubuhnya tidak karuan dan mengerikan...... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.162.154.91
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia