Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Wiro Sableng menghentikan jalannya di tikungan itu. Matanya memandang ke muka memperhatikan beberapa buah gerobak besar ditumpangi oleh perempuan-perempuan dan anakanak.

Gerobak-gerobak itu juga penuh dengan muatan berbagai macam perabotan rumah tangga.

Belasan orang laki-laki kelihatan berjalan kaki dan membawa buntalan barang-barang. Jelaslah bahwa semua mereka itu tengah melakukan pindah besar-besaran.

"Saudara, hendak pergi ke manakah rombonganmu ini?" bertanya Wiro sewaktu seorang anggota rombongan melangkah ke jurusannya.

Orang itu memandang sebentar kepadanya dengan pandangan curiga. Demikian juga anggota rombongan yang lain.

"Kami terpaksa meninggalkan kampung, pindah ke tempat lain yang jauh dari daerah ini...."

"Kenapa pindah?"

Seorang laki-laki tua yang mengemudikan gerobak, menghentikan gerobak itu dan menjawab pertanyaan Wiro Sableng.

"Kampung kami dilanda malapetaka!"

"Malapetaka apakah?"

"Kepala kampung dan lima orang pembantunya serta istrinya digantung. Beberapa orang gadis diculik! Beberapa penduduk dibunuh...."

"Siapa yang melakukannya?" tanya Wiro Sableng.

"Siapa lagi kalau bukan kaki tangannya Dewi Siluman," menyahuti laki-laki pengemudi kereta.

Mulut Pendekar 212 tertutup rapat-rapat. Rahangnya bertonjolan lagi-lagi dia dihadapkan pada kejahatan yang dilakukan oleh orang-orangnya Dewi Siluman.

"Kalau kami tidak meninggalkan kampung, kami semua akan dibunuh!"

Anggota rombongan yang pertama tadi bertanya. "Kau sendiri mau kemanakah, Saudara...?"

"Maksudku ke arah sana. Ke kampung kalian...?"

"Sebaiknya batalkan saja niatmu," menasehati orang itu. "Orang-orangnya Dewi Siluman pasti akan datang lagi ke kampung kami. Jika kau ditemui mereka di sana, tiada harapan bagimu untuk hidup lebih lama!"

"Terima kasih atas nasihatmu, Saudara!" jawab Wiro. "Tapi aku tetap musti menuju kesana...."

"Kau mencari mati, orang muda!" kata pengemudi gerobak. Dilecutnya punggung lembu yang menarik gerobak itu kemudian diberinya aba-aba. Rombongan itu pun bergerak kembali.



Wiro Sableng mengikuti rombongan itu dengan pandangannya sampai akhirnya mereka lenyap di kejauhan. Hatinya kasihan sekali melihat orang-orang itu, terutama laki-laki tua dan perempuan-perempuan tua serta anak-anak. Kemudian dibalikkannya badannya dan dengan cepat berlalu dari situ.

Kira-kira dua kali sepeminum teh, Wiro Sableng menemui sebuah kampung yang berada dalam keadaan porak poranda. Pastilah ini kampung rombongan yang ditemuinya di tengah jalan tadi.

Beberapa buah rumah hancur. Dua di antaranya musnah dimakan api. Empat orang laki-laki terkapar di hadapan sebuah rumah bagus sedang di langkan rumah Pendekar 212 menyaksikan enam orang tergantung berayun-ayun tiada nyawa lagi. Yang pertama adalah kepala kampung, kemudian isterinya. Selebihnya adalah pembantu-pembantu kepala kampung. Di beberapa langkan rumah lainnya, Wiro menemukan pula beberapa orang yang mengalami nasib sama seperti kepala kampung, digantung sampai mati.

Pendekar 212 menyandarkan punggungnya ke sebatang pohon dan membatin. Kesalahan apakah yang telah dibuat penduduk kampung ini sebelumnya sampai mereka dibunuh sedemikian kejamnya? Anak-anak dan perempuan-perempuan tanpa perikemanusiaan sama sekali?!

Wiro ingat pada ucapan anggota rombongan tadi. Orang-orangnya Dewi Siluman pasti akan kembali ke kampung itu. Wiro memutuskan untuk menunggu. Jika manusia-manusia jahat itu muncul, dia akan buat perhitungan dengan mereka dan sekaligus mencari keterangan di mana letak Bukit Tunggul. Manusia macam Dewi Siluman tidak layak dibiarkan hidup lebih lama. Maka Wiro pun melompat ke sebuah cabang pohon yang tinggi, duduk di situ dan memulai penungguannya.

Sampai matahari condong ke barat tak seorang pun yang muncul. Dengan hati kesal murid Eyang Sinto Gendeng dari Gunung Gede itu turun dari atas pohon dan mengelilingi kampung.

Bukan main geramnya. Wiro sewaktu di salah satu dinding rumah penduduk ditemuinya barisanbarisan tulisan seperti yang dilihatnya sebelumnya di kampung yang terdahulu.



Delapan penjuru angin adalah daerah kami

Siapa menantang mesti diterjang

Dunia persilatan boleh geger

Tokoh-tokoh persilatan boleh turun tangan

Kalau mau mempercepat kematian.

Dan juga di bawah barian-bansan kalimat itu tertera lukisan tengkorak kecil. Geram sekali Wiro Sableng pergunakan kaki kirinya untuk menendang dinding rumah itu. Dinding rumah hancur berantakan. Ditinggalkannya tempat itu. Hatinya bimbang dan meragu apakah orang-orangnya Dewi Siluman benar-benar akan kembali ke kampung itu. Tiba-tiba Wiro tersirap kaget. Di belakang rumah sebelah kirinya terdengar suara seseorang bicara.

"Heran, kenapa Dewi Siluman berbuat kekejaman yang tiada artinya ini?"

Sebagai jawaban terdengar suara helaan napas yang disusul dengan ucapan. "Manusia punya seribu macam cara untuk cari nama di dunia persilatan!"

Ternyata ada dua orang di samping rumah sana. Yang mengherankan Wiro ialah mengapa dia sama sekali tidak mendengar sedikit pun kedatangan kedua manusia itu? Penuh rasa ingin tahu Wiro menyelinap ke bagian rumah yang lain dan melompat ke sebatang pohon berdaun rindang.

Dari sini jelas sekali dia dapat memandang ke halaman samping rumah tadi. Dua sosok tubuh manusia dilihatnya berdiri di sana. Dan untuk kedua kalinya Pendekar 212 dibuat terkejut. Salah seorang dari dua manusia itu bukan lain dari nenek-nenek sakti yang pernah baku hantam sekitar dua bulan yang lewat dengan dia di Kotaraja. Nenek-nenek sakti yang dikenal dengan gelar Si Telinga Arit Sakti.

Gerangan apakah yang membuat manusia ini berada pula di Pulau Madura? Dan siapakah manusia yang berdiri di sampingnya saat itu? Manusia ini juga seorang perempuan tua renta, bermuka keriput. Salah satu matanya hanya merupakan rongga hitam yang mengerikan. Kepalanya tidak sedikit pun ditumbuhi rambut. Dia mengenakan jubah putih yang pada bagian dadanya tergambar dua buah arit saling bersilangan! Melihat kepada umur serta ciri-ciri manusia ini Wiro menduga mungkin sekali dia adalah guru Si Telinga Arit Sakti. Sekurang-kurangnya kakak seperguruannya. Dan apakah kemunculan mereka berdua di Pulau Madura ada sangkut pautnya dengan pertempuran di Kotaraja dulu itu? Sangkut paut urusan dendam yang hendak dibalaskan?

Atau mungkin untuk satu urusan lainnya?

Wiro terus memperhatikan dari atas pohon berdaun lebat itu. Dilihatnya Si Telinga Arit Sakti memandang berkeliling.

"Tak ada tanda-tandanya bangsat yang kita kejar itu berada di sini...." Perempuan tua berjubah putih buka suara.

Si Telinga Arit Sakti memandang lagi berkeliling lalu menyahuti. "Tapi rombongan yang kita papasi di tengah jalan itu mengatakan bahwa dia memang menuju ke sini. Mungkin dia sudah berlalu ke tempat lain. Kita harus mengejarnya dengan cepat."

"Kau hanya bikin aku repot saja Telinga Arit Sakti. Kalau tidak gara-garamu tentu sekarang ramuan obat yang kukerjakan itu sudah selesai!"

Telinga Arit Sakti perlihatkan wajah yang tidak senang. "Kalau pemuda sialan itu tidak keliwat sakti mandraguna, pastilah aku tak akan mengemis minta tolong padamu. Guru!"

Nyatalah kini bagi Wiro Sableng bahwa perempuan tua berjubah putih itu adalah guru Si Telinga Arit Sakti! Dan nyata pula bahwa kemunculan mereka di Pulau Madura saat itu adalah dalam mencari dirinya sendiri. Rupanya kekalahan di Kotaraja tempo hari sangat menggeramkan hati Si Telinga Arit Sakti hingga manusia itu mengadu kepada gurunya. Guru dan murid kemudian sama-sama mencarinya!

"Dalam berpikir-pikir apakah dia saat itu segera turun atau tetap saja diam di atas pohon maka Wiro mendengar perempuan berjubah putih berkata. "Kita teruskan pengejaran ke timur!

Kurasa orang yang kita cari masih belum berapa jauh!"

Telinga Arit Sakti mengangguk. Maka keduanya pun berkelebat hendak meninggalkan tempat itu. Tapi pada detik yang sama dari jurusan barat satu bayangan hitam laksana anak panah lepas dari busurnya datang memapas ke arah mereka. Pendatang baru ini berseru nyaring. Suaranya menggetarkan delapan penjuru angin.

"Dua perempuan tua! Harap tetap di tempat kalian!"

Guru dan murid hentikan tindakan mereka dan berpaling ke arah barat. "Bedebah! Siapa yang berani main perintah seenak cecongornya huh?!" dengus guru Si Telinga Arit Sakti dengan penuh kegusaran.

Dalam sekejap itu pula Si pendatang baru sudah sampai di hadapan mereka. Melihat siapa adanya manusia ini maka sirnalah kemarahan guru Si Telinga Arit Sakti. Malah dia menjura hormat dan lontarkan senyum.

"Ah, kiranya Sepuluh Jari Kematian! Tiada sangka akan bertemu di Pulau Madura ini!"

Manusia yang baru datang adalah seorang laki-laki berjubah hitam, berambut panjang sampai ke punggung. Sepuluh jari tangannya berwarna hitam legam. Dia berbatuk-batuk dan berkata. "Setahuku Sepasang Arit Hitam tengah sibuk membuat sejenis ramuan obat sakti di pertapaannya. Tapi kini bersama muridnya berada di sini. Urusan apakah yang telah membawa kalian ke sini...?"

Sepasang Arit Hitam rangkapkan tangan di muka dada. "Urusan biasa saja. Kami tengah mencari seekor anjing kecil yang telah membuat sedikit keonaran di kalangan kami...."

Sepuluh Jari Kematian manggut-manggut beberapa kali.

"Kalau aku boleh tahu, siapakah yang kau maksudkan dengan seekor anjing kecil itu?"

"Ah... cuma seorang pemuda sinting geblek bernama Wiro Sableng bergelar Pendekar 212...!" jawab Sepasang Arit Hitam.

Di atas pohon Wiro Sableng memaki dalam hati. Dengan gusar dan memperhatikan terus dan mendengarkan percakapan orang-orang itu.

Pada waktu mendengar nama Wiro Sableng dan gelar Pendekar 212 tadi terkejutlah Sepuluh Jari Kematian. "Kalau begitu kita mencari bangsat yang sama!" serunya.

Wiro terkejut. Dia coba menduga siapa adanya manusia berjuluk Sepuluh Jari Kematian yang juga tengah mencari dirinya itu.

"Betul-betul tidak diduga kita punya urusan yang sama di tempat yang sama!" ujar Sepuluh Jari Kematian. "Bangsat bernama Wiro Sableng bergelar Pendekar 212 itu telah membunuh muridku si Wirapati yang berjuluk Pendekar Pemetik Bunga beberapa bulan yang lewat! Aku terpaksa turun gunung untuk cari itu manusia. Belakangan sekali aku mendapat keterangan bahwa bangsat itu berada di ujung Jawa Timur, tengah dalam perjalanan ke Madura ini!"

Sepasang Arit Sakti Hitam hela nafas panjang. "Pertemuan memang aneh dan sukar diduga!

Karena kita sama satu tujuan satu haluan tentu kau tak keberatan kalau meneruskan pencarian atas bangsat itu secara bersama-sama...."

"Tentu saja tidak keberatan!" sahut Sepuluh Jari Kematian dengan tertawa lebar. Laki-laki berjubah hitam ini layangkan pandangannya berkeliling. "Di samping mencari pemuda keparat bernama Wiro Sableng itu, aku juga mendapat undangan dari Dewi Siluman di Bukit Tunggul. Bila ada kesempatan kurasa tak ada salahnya kalau kalian ikut berkunjung ke tempatnya."

"Itu bisa dipikirkan nanti," menyahuti Si Telinga Arit Sakti. "Yang penting kita harus mencari si Wiro Sableng itu dan mematahkan batang lehernya lebih dahulu!"

Sepuluh Jari Kematian tertawa mengekeh. "Kau betul!" katanya.

Wiro Sableng memperhatikan kepergian ketiga orang itu. Kehadirannya di Pulau Madura itu kini bukan saja untuk berhadapan dengan Dewi Siluman dan orang-orangnya, tapi juga untuk berhadapan dengan tiga musuh sakti. Kalau Si Telinga Arit Sakti, ilmu silat dan ilmu kesaktiannya sudah demikian tinggi, tentu gurunya Si Sepasang Arit Hitam lebih hebat lagi dari itu. Dan ditambah pula dengan Guru Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga yang berjuluk Sepuluh Jari Kematian itu. Benar-benar mereka merupakan lawan-lawan tangguh yang tak bisa dianggap enteng sama sekali. (Mengenai kehebatan dan kejahatan Pendekar Pemetik Bunga baca serial Wiro Sableng "Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga"). Diam-diam Pendekar 212 merenung. Mungkin kehadirannya di Pulau Madura adalah benar-benar untuk mencari kematiannya sendiri.



*

* *

Wiro Sableng memperhatikan kesibukan-kesibukan dalam warung itu dengan sikap acuh tak acuh. Teh manisnya baru satu kali diteguknya.



"Orang muda lekaslah habiskan minumanmu. Warung ini akan segera ditutup...."

Wiro heran mendengar ucapan orang tua pemilik warung. "Siang-siang begini sudah ditutup?" tanyanya.

"Kau tak tahu apa-apa orang muda. Habiskan saja teh itu, bayar cepat dan berlalu...."

"Ada apakah sebenarnya?"

Pemilik warung tampak agak gusar. Dia menunjuk ke luar warung. "Kau lihat penduduk yang berbondong-bondong itu?"

Wiro Sableng palingkan kepala ke luar warung. Di tengah jalan dilihatnya serombongan penduduk berjalan cepat menuju ke selatan membawa berbagai macam barang rumah tangga dan binatang-binatang peliharaan seperti kambing-kambing dan beberapa ekor sapi.

"Memangnya kenapa mereka itu...?" bertanya lagi Wiro.

"Mereka mengungsi! Aku pun hendak menyertai rombongan mereka. Daerah sini sudah tidak aman! Malam kemarin seorang gadis telah diculik. Dua orang ditemui mati."

"Siapa yang melakukannya?" tanya Wiro.

Pemilik warung itu hendak menjawab tapi tak jadi. Di wajahnya nyata sekali kelihatan rasa ketakutan. "Habiskan saja minumanmu. Aku tak bisa menunggu lebih lama," katanya pada Wiro.

Wiro Sableng garuk-garuk kepalanya beberapa kali lalu meneguk teh manisnya sampai habis. Dari saku pakaiannya dikeluarkannya sebuah mata uang perak. Ditimang-timangnya sebentar uang itu lalu diletakkannya di atas meja di hadapan pemilik warung. Sewaktu pemilik warung mengambil uang itu, Wiro memegang tangannya dan berkata. "Dengar orang tua. Kau tak usah kembalikan uangku asal saja kau bisa kasih keterangan di mana letaknya Bukit Tunggul tempat bersarangnya Dewi Siluman...."

Si orang tua tersentak kaget. Parasnya yang keriputan serta merta menjadi pucat pasi.

Matanya membelalak memandang Wiro.

"Justru karena dialah penduduk kampung ini terpaksa pindah mengungsi. Kini kau malah mencari penyakit bertanyakan tempat kediamannya. Apa kau sudah bosan hidup orang muda...?!"

Wiro Sableng tertawa.

"Mana ada orang yang bosan hidup," sahutnya "Toh tidak ada salahnya kalau kau kasih sedikit keterangan di mana letak Bukit Tunggul itu...."

Si orang tua gelengkan kepala. "Aku masih ingin hidup! Sekali aku membuka mulut kasih keterangan seluruh keluargaku akan mampus! Mungkin juga semua penduduk kampung ini!"

Pemilik warung itu segera mengambil uang di atas meja dan memberikan kembalinya pada Wiro. Lalu katanya. "Nah, sekarang berlalulah."

Wiro geleng-gelengkan kepala. Dia keluar dari warung itu. Agaknya seluruh Pulau Madura sudah digerayangi oleh rasa takut terhadap Dewi Siluman dan orang-orangnya. Tak ada satu kampung pun yang ditemuinya berada dalam keadaan tenang tenteram. Di setiap kampung mesti saja ada korban-korban yang jatuh akibat kejahatan yang dilakukan oleh orang-orangnya Dewi Siluman. Dan bukan itu saja, di setiap kampung orang-orangnya Dewi Siluman selalu menculik gadis-gadis. Entah dibawa ke mana dan entah apa, yang menimpa diri gadis-gadis itu tak bisa diduga oleh Wiro.

Dia mendongak ke langit. Sang surya tengah bersinar seterik-teriknya. Dengan mempergunakan ilmu lari cepatnya, Wiro tinggalkan kampung itu. Di satu jalan kecil yang lurus pendekar ini memperlambat larinya. Di ujung sana dilihatnya seseorang duduk menjelepok di tengah jalan. Ketika dia sampai di hadapan orang itu ternyata manusia ini adalah seorang nenek tua bermuka cekung keriput. Dia duduk seenaknya di tengah jalan yang kecil itu. Di tangan kanannya ada sebatang ranting kering. Dia mengenakan jubah putih yang kotor. Dia begitu asyik mengguratgurat tanah dengan ujung ranting kering di tangannya itu.

Wiro tak dapat menduga siapa adanya nenek-nenek ini. Baginya adalah satu hal yang aneh seorang nenek-nenek berada di tengah jalan dan duduk menggurat-gurat tanah seperti dilihatnya saat itu. Karena jalan itu kecil, tak mungkin Wiro Sableng untuk lewat begitu saja tanpa membentur tubuh sang nenek. Dia bisa melompat di atas kepala si nenek tapi tentu saja ini satu kekurangajaran.

Maka Pendekar 212 pun menegurlah dengan hormat.

"Nenek harap maafkan aku mengganggumu. Sudilah memberikan sedikit jalan bagiku."

Si nenek anehnya terus saja asyik menggurat-gurat tanah dengan ranting kering di tangan kanannya. Seakan-akan tiada didengarnya teguran Wiro tadi.

Mungkin nenek-nenek ini tuli, pikir Wiro. Tapi adalah mustahil kalau dia tidak melihat Wiro yang berdiri sedekat itu di sampingnya.

Wiro menegur lagi dengan suara lebih dikeraskan.

"Nenek, harap suka memberi sedikit jalan untukku lewat."

Si nenek tiba-tiba angkat kepalanya. Sepasang matanya memandang Wiro dari rambut sampai kaki, penuh meneliti dan penuh gusar. Kemudian kembali dia tundukkan kepala dan menggurat-gurat tanah dengan ujung ranting.

Wiro memaki dalam hati. Kalau si nenek ini tidak sinting pastilah dia seorang aneh atau seorang yang sengaja cari sengketa, pikir Pendekar 212 Wiro Sableng.

"Nenek, aku mau lewat. Kuharap kau tak keberatan memberi jalan...."

"Setan alas!" Si nenek tiba-tiba mendamprat keras dan lantang. Wiro terkejut dan usap dadanya. "Kapan aku kawin sama kakekmu kau panggil aku nenek!"

Wiro perhatikan tampang si nenek yang menjadi sangat galak. Dan Pendekar dari Gunung Gede ini tak kuasa menahan rasa gelinya sewaktu mendengar ucapan perempuan tua itu. Dia tertawa gelak-gelak sampai mukanya merah.

"Setan alas! Siapa yang suruh kau ketawa huh?!" Si nenek membentak lagi dengan suaranya yang keras.

Wiro hentikan tawanya.

"Siapa yang suruh!" sentak perempuan berjubah putih itu lagi.

"Memang tak ada yang suruh, Nek... eh... aku musti panggil apa terhadap kau...?" Wiro Sableng garuk-garuk kepalanya.

"Kentut betul! Kalau tak ada yang suruh kenapa musti ketawa?!"

"Apakah seseorang itu baru tertawa kalau disuruh?" bertanya Pendekar 212.

"Sudah! Jangan banyak tanya! Kentutmu sebakul! Jawab kenapa kau ketawa?! Kau menertawai aku ya?! Ayo jawab!"

"Aku tidak menertawaimu Nek... eh... aku tertawa karena ucapanmu yang lucu tadi."

"Betul-betul setan alas! Kau anggap aku ini badut yang mau melucu di hadapanmu? Makan rantingku ini!"

Habis berkata begitu si nenek hantamkan ranting kering di tangannya!

"Wutt!"

Pendekar 212 tersentak kaget dan buru-buru menghindar ke belakang. Sambaran ranting yang di tangan si nenek mengeluarkan angin dingin dan keras. Nyatanya bahwa si nenek bukan perempuan sembarangan, tapi seorang yang memiliki tenaga dalam yang tinggi. Dan ini berarti bahwa dia adalah seorang tokoh silat berkepandaian hebat.

Karena serangannya tidak mengenai sasaran, si nenek menjadi gusar sekali. Dia melompat dan ranting kering di tangannya menderu pulang balik tiada hentinya, membungkus tubuh Wiro Sableng dalam serangan-serangan yang sangat berbahaya.

Pendekar 212 bersiul nyaring.

"Ah, nyatanya kau bukan nenek sembarang nenek!" seru Wiro sambil gerakkan tubuhnya dengan cepat untuk menghindar dari serangan ganas si nenek.

Mendengar ucapan itu si nenek jadi tambah buas. Serangannya tambah ganas. Meski senjatanya cuma sebuah ranting kering namun karena ranting itu mengandung aliran tenaga dalam maka bahayanya tiada beda dengan bahaya sebuah senjata tajam seperti golok atau sebilah pedang.

"Nenek!" seru Wiro Sableng. "Antara kita tak ada silang sengketa, mengapa kau menyerang aku sejahat ini?!"

"Kalau kau tak lekas berlutut dan minta ampun niscaya kau akan kukirim ke akherat!" teriak si nenek jubah putih. Serangan ranting keringnya semakin menggila. Dalam waktu lima jurus saja Pendekar 212 sudah terdesak hebat.

Sampai jurus yang kesembilan Wiro Sableng masih juga berkelebat dalam posisi bertahan, sama sekali tidak balas menyerang. Inilah yang menyebabkan dia saat demi saat semakin terdesak dan kepepet. Ruang gerak Pendekar 212 makin lama makin ciut. Ranting kering di tangan si nenek laksana ratusan buah banyaknya dan menyerangnya dari puluhan jurus.

Hampir tiada terasa lagi, saat itu mereka sudah memasuki jurus ke empat belas. Dalam jurus ini Wiro benar-benar dibikin mati kutu. Dia tak sanggup bertahan lebih lama. Dengan satu bentakan nyaring Pendekar 212 segera pergunakan kedua tangannya untuk mulai balas menyerang. Tapi justru pada jurus itu pula ranting kering di tangan si nenek membuat satu serangan yang sukar dikelit.

"Breet!"

Robeklah pakaian Pendekar 212. Dadanya tergores luka. Rasa sakit dan perih serta merta menjalari sekujur tubuhnya. Dan tubuh itu kini menjadi panas dingin. Nyatalah ranting kering di tangan si nenek bukan ranting kering biasa, melainkan sebuah senjata sakti yang mengandung racun luar biasa. Cepat-cepat Wiro ke luar dari kalangan pertempuran dan kerahkan tenaga dalamnya.

Si nenek tertawa panjang.

"Jangan harap kau bisa hidup lebih dari satu jam, pemuda keparat! Rantingku ini mengandung racun yang jahat sekali!"

Wiro tetap tenang. Dia tidak yakin racun ranting si nenek akan menamatkan riwayatnya.

Sewaktu digembleng di puncak Gunung Gede, tubuhnya telah diberi kekuatan oleh Eyang Sinto Gendeng, kekuatan yang membuat dia kebal terhadap segala racun yang bagaimanapun jahatnya.

Apalagi saat itu dia sudah kerahkan tenaga dalamnya.

Si nenek tertawa lagi.

"Selamat tinggal orang muda! Nasibmu ternyata sial di Pulau Madura ini! Nantikanlah saat kematianmu di depan mata!"

Habis berkata begini si nenek segera putar tubuh dan berkelebat meninggalkan tempat itu.

"Manusia keriput! Tunggu dulu! Aku tak sudi kau pergi sebelum menerima sedikit pembalasan hormat dariku!" teriak Wiro Sableng. Sekali dia melesat maka tahu-tahu tubuhnya sudah berada dihadapan si nenek, menghalangi lari perempuan tua itu. Tentu saja kejut si nenek bukan tanggung-tanggung. Matanya melotot membeliak.

"Nyalimu keliwat besar!" teriaknya. "Apakah mau mampus saat ini juga bedebah?!"

Wiro bersiul nyaring.

"Soal nyawa jangan diributkan perempuan keriput! Terima pukulanku ini!"

Wiro Sableng hantamkan tinju kanannya ke depan. Di saat itu pula si nenek sapukan rantingnya ke muka. Maka tak ampun lagi tinju dan rantingpun beradulah.

Wiro kerenyitkan kening menahan sakit. Kulit tangannya kelihatan lecet sedang ranting di tangan si nenek mental dan patah berantakan. Si nenek beringas sekali melihat ranting keringnya dimusnahkan lawan. Dia melompat ke muka dengan sepuluh jari tangan terpantang.

"Cengkeraman Garuda Sakti" seru Pendekar 212 begitu dia mengenali jurus serangan lawan.

Sekali tubuh kena dicengkeram pastilah daging dan tulang-tulangnya akan hancur remuk. Cepatcepat Wiro menyurut mundur dan buat satu liukkan, kemudian hantamkan tangan kanan ke depan, melepaskan "Pukulan Kunyuk Melempar Buah" yang disertai hampir setengah bagian tenaga dalamnya.

Si nenek melengking penasaran sewaktu serangannya tertahan oleh satu gelombang angin yang laksana satu gumpalan batu keras. Dengan kalap dia menyeruak dari samping dan begitu pukulan Pendekar 212 lewat dengan serta merta dia lepaskan dua jotosan dan dua tendangan jarak jauh. Empat serangan ini hebatnya bukan main. Debu dan pasir jalanan menderu.

Empat angin pukulan si nenek laksana air bah merambas tubuh Pendekar 212. Murid Eyang Sinto Gendeng ini terpaksa melompat beberapa tombak ke atas. Sambil turun ke bagian yang aman Wiro lepaskan "Pukulan Angin Puyuh".

Empat angin pukulan si nenek dan satu gelombang angin pukulan Wiro Sableng saling bentrok menimbulkan suara letusan nyaring, menggetarkan tanah tempat berpijak. Si nenek terpelanting sampai enam langkah sedang kedua kaki Wiro Sableng tenggelam ke tanah sampai sedalam tiga senti.

Bukan main geramnya si nenek. Ternyata si pemuda memiliki ilmu yang tidak rendah sebagaimana yang disangkanya. Dalam luapan amarah, nenek keriput ini segera cabut batang belimbing di tepi jalan. Dengan mempergunakan pohon itu sebagai senjata dia segera menyerang Wiro Sableng.

"Hebat!" seru Wiro sambil berkelit cepat. Pohon belimbing yang di babatkan si nenek menderu menghantam pohon lain di belakangnya, membuat pohon ini tumbang bergemuruh. Dapat dibayangkan bagaimana kalau batang pohon belimbing itu melanda tubuh Wiro Sableng.

Laksana memegang sebuah sapu lidi, demikianlah si nenek pergunakan pohon belimbing itu untuk menyapu dan membabat lawannya. Wiro Sableng geleng-geleng dan garuk-garuk kepala.

Belum pernah ia menghadapi lawan yang demikian kalapnya seperti si nenek ini sehingga mau mencabut sebatang pohon dan menyerang dengan pergunakan pohon itu sebagai senjata. Di

samping kagum, Wiro juga kepingin tahu siapa sesungguhnya manusia ini.

"Nenek, sesuai dengan peradatan dunia persilatan harap kau terangkan siapa nama atau gelarmu!" seru Wiro.

"Bakul kentut! Kau bisa tanya nanti pada cacing-cacing di liang kubur!" Dan si nenek babatkan lagi pohon belimbing di tangannya.

"Buset!"

Wiro berkelebat cepat.

Si nenek penuh penasaran memandang berkeliling. Lawannya lenyap seperti ditelan bumi.

"Setan alas kau lari ke mana hati?!" teriak nenek-nenek itu.

Di belakangnya terdengar suara tertawa.

"Nenek-nenek kurasa matamu belum begitu kabur hingga tak tahu kalau aku berada di sini!"

Begitu putar tubuh begitu si nenek hantamkan batang belimbing ke pohon di belakangnya.

Kraak!

Pohon di tepi jalan patah dan tumbang. Wiro Sableng yang tadi memang melompat dan berdiri di salah satu cabang pohon itu, berkelebat ke pohon lain dan berdiri di salah satu cabangnya sambil tertawa-tawa mengejek.

"Setan alas! Apa kau kira aku tidak sanggup mengejarmu ke atas sana?!" teriak seraya lemparkan pohon belimbing ke tepi jalan kemudian melompat sebat ke cabang pohon di mana Wiro berdiri.

Tapi kemengkalannya jadi bertambah-tambah karena begitu ia menginjak cabang pohon, Wiro Sableng sudah lenyap dari cabang itu. Dan bila dia memandang ke bawah maka dilihatnya si pemuda berdiri bertolak pinggang di jalan kecil, cengar-cengir ke arahnya.

Si nenek sampai melengking nyaring saking gemasnya. Dia keruk satu jubahnya dan berteriak. "Pemuda keparat! Terima ini!"

Selusin senjata rahasia yang berbentuk paku hitam melesat ke arah Wiro Sableng dalam bentuk lingkaran. Wiro pukulkan tangan kanannya ke atas. Enam paku mental jauh sedang enam lainnya amblas ke dalam tanah. Di saat itu pula si nenek sudah turun ke tanah kembali dan kirimkan serangan berantai ke arah Wiro.

"Nenek! Ilmumu memang tinggi. Tapi aku tak begitu suka bertempur dengan orang lain tanpa alasan! Apalagi kalau tidak tahu asal usul dan namanya!"

"Pemuda sialan, jangan jual kentut! Kau tak akan kulepaskan hidup-hidup!" hardik si nenek.

Kembali dia kirimkan selusin paku hitam dan susul dengan serangan berantai.

Pendekar 212 angkat kedua tangannya. Saat itu pertempuran sudah berjalan tiga puluh jurus lebih. Wiro kini tak mau main-main lagi. Begitu kedua tangannya dipukulkan ke muka maka gelombang angin yang laksana topan menderu. Inilah "Pukulan Benteng Topan Melanda Samudera" yang kedahsyatannya bukan saja membuat selusin paku hitam itu mental tapi juga membuat si nenek terguling di tanah sampai enam tombak.

Belum lagi sempat bangun Wiro memburu tak kasih ampun. Dua tangannya melesat ke pangkal leher si nenek, siap untuk menotok. Tapi lebih cepat dari itu si nenek keluarkan sebuah benda berbentuk bola berwarna hitam. Bola hitam ini dilemparkan ke arah Wiro. Satu letusan terdengar. Dalam kejap itu pula asap hitam tebal menggebu menutup pemandangan, Wiro Sableng tak dapat melihat apa-apa dan cepat-cepat melompat ke samping. Tapi dia masih juga terkurung oleh asap hitam yang gelap itu. Dia melompat sekali lagi, dua kali lagi dan barulah bisa keluar dari kurungan asap hitam yang membutakan pemandangannya.

Beberapa saat kemudian ketika asap hitam itu sirna dengan perlahan maka si nenek sudah lenyap dari tempat itu. Dan betapa terkejutnya Pendekar 212 karena di seberangnya kini berdiri tiga manusia lain.



*

* *

Ketiga manusia itu bukan lain Si Telinga Arit Sakti, Sepasang Arit Hitam dan Sepuluh Jari Kematian. Ketiganya memandang dengan mata ganas menyorot yang membayangkan maut.



"Ini dia bangsatnya!" Si Telinga Arit Sakti buka suara.

"Apa yang dikerjakannya di sini! Bermain-main asap?!" Sepuluh Jari Kematian menimpali.

Wiro masih diam dan menyapu tampang ketiga orang itu dengan pandangan seenaknya.

"Pendekar 212!" lengking Si Telinga Arit Sakti. "Ketahuilah hari ini adalah hari kematianmu!"

Wiro Sableng senyum lalu keluarkan suara tertawa bergelak.

"Telinga Arit Sakti," kata Pendekar 212 pula. "Bacotmu besar amat! Mentang-mentang berada sama-sama gurumu!"

"Kalau tahu aku gurunya mengapa tidak lekas berlutut dan bunuh diri?!" sentak Sepasang Arit Hitam.

Wiro tertawa lagi gelak-gelak. "Orang gila pun disuruh bunuh diri tidak bakal mau!"

"Dan kau lebih dari gila!" damprat Sepasang Arit Hitam.

Sepuluh Jari Kematian lambaikan tangannya dan berkata. "Kau tak usah bicara panjang lebar kawan-kawan. Mari kita berebut cepat memisahkan kepala dan badannya!"

"Ah... ah... ah!" Wiro rangkapkan tangan di muka dada. "Kalau tak salah penglihatanku bukankah kau yang berjuluk Sepuluh Jari Kematian, gurunya Si Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga yang mampus tempo hari di tanganku?!"

"Pemandanganmu memang tajam, pemuda gendeng! Muridku mati di tanganmu. Hari ini aku datang meminta jiwamu!"

Wiro geleng-gelengkan kepala.

Katanya. "Akhir ini banyak sekali manusia-manusia yang begitu inginkan jiwaku, sebutsebut segala urusan jiwa.... seakan-akan jiwanya sendiri adalah jiwa yang bersih polos!"

"Jangan pidato!" bentak Sepasang Arit Hitam.

"Siapa bilang aku pidato!" sahut Wiro ketus. "Aku cuma bicara biasa!" Kemudian Pendekar 212 berpaling pada Sepuluh Jari Kematian. "Dengar Sepuluh Jari Kematian," katanya. "Muridmu

seorang manusia bernafsu besar doyan perempuan kelas satu! Bagaimana kalau hari ini kuberikan seorang perempuan cantik padamu, apakah kau bersedia melupakan urusan kita?!"

Merahlah paras Sepuluh Jari Kematian. Darah di kepala mendidih mendengar ejekan itu.

Dia maju satu langkah. "Kau memang tak layak hidup lebih lama!" bentaknya. Kelima jari-jari tangan kanannya dijentikkan ke muka. Lima sinar hitam yang menggidikkan melesat mengeluarkan suara menggaung. Inilah Ilmu Jari Penghancur Sukma yang dahsyat. Satu jentikkan saja ganasnya bukan main, apalagi sekaligus lima jentikan. Dan dilancarkan oleh tokoh penciptanya sendiri yang

berilmu tinggi.

Dengan cepat Pendekar 212 melompat ke udara. Empat larikan sinar hitam berhasil dihindarkannya, tapi sinar yang kelima tak sanggup dielakkan. Sinar ini menyapu kaki kiri Pendekar 212.

Wuss!

Kaki kiri itu dengan serta merta menjadi hitam. Wiro Sableng terguling di tanah, merintih kesakitan. Meski tubuhnya kebal segala macam racun namun dia masih khawatir. Begitu jatuh dengan cepat Wiro totok jalan darah dan urat-urat di siku kaki kirinya. Dengan terpincang-pincang Pendekar 212 bangkit berdiri. Di saat itu Si Telinga Arit Sakti dan Sepasang Arit Hitam memburu dengan senjata di tangan sedang Sepuluh Jari Kematian melompat sebat menjambak rambut gondrong Wiro Sableng siap untuk memuntir kepala pendekar itu.

Dengan berteriak nyaring Wiro gerakkan tangan kanan untuk cabut Kapak Maut Naga Geni 212. Tapi Si Telinga Arit Sakti yang tahu gelagat segera tendang tangan kanan Wiro Sableng.

Kraak!

Patahlah lengan Pendekar 212. Tubuhnya terhempas ke tanah. Tiga buah arit masing-masing dua di tangan sepasang Arit Hitam dan satu di tangan si Telinga Arit Sakti menderu siap untuk membuat tubuh Wiro Sableng menjadi terkutung empat sedang jambakan Sepuluh Jari Kematian akan menanggalkan kepalanya dari badan.

Wiro Sableng hendak lepaskan Pukulan Sinar Matahari. Tapi sudah terlambat, sudah tak ada kesempatan lagi.

"Tamatlah riwayatku!" keluh pendekar ini. Dipejamkannya kedua matanya menanti saat kematian itu.

Hanya beberapa detik lagi tubuh sang pendekar akan terkutung empat dibabat tiga buah arit sakti, hanya beberapa detik lagi kepalanya akan tanggal dipuntir, maka terdengarlah teriak lantang menggeledek.

"Setiap nyawa manusia di Pulau Madura ini adalah milik Dewi Siluman! Kalian tak berhak merampas jiwa pemuda itu! Kecuali kalau mau ikut-ikutan mampus!"

Terkejutlah Si Telinga Arit Sakti, Sepasang Arit Hitam dan Sepuluh Jari Kematian.

Empat sosok tubuh berkelebat.

Perlahan-lahan Wiro Sableng buka kedua matanya yang tadi dipejamkan! Dan hampir tak dapat dipercaya pemandangan matanya sendiri saat itu. Betapa tidak. Empat pendatang baru ini adalah gadis-gadis cantik berpakaian biru. Leher mereka digantungi tengkorak manusia yang besarnya sekepalan tangan. Meski tampang mereka cantik-cantik tapi membayangkan kebengisan.

Dugaan Wiro Sableng pastilah mereka ini orang-orangnya Dewi Siluman dari Bukit Tunggul.



*

* *

Sehabis melemparkan bola yang meletuskan asap hitam dan tebal itu si nenek keriput cepat berguling dan lari meninggalkan jalan kecil. Dimasukinya rimba belantara kemudian menyeruak di antara semak belukar lebat. Dari luar semak belukar ini tiada beda dengan semak-semak yang lebat di sekitar tempat itu. Tapi siapa nyana kalau begitu semak belukar diseruak maka muncullah sebuah lobang besar setinggi manusia. Si nenek menyelusup memasuki lobang itu dan terus berlari. Meski penerangan dalam lobang itu tidak begitu terang namun karena sudah terlalu sering melewatinya si nenek sudah sangat hafal liku-likunya maka dia lari dengan sebat tanpa kurangi kecepatannya.

Dalam waktu yang singkat dia sudah sampai di ujung lobang yang merupakan terowongan bawah tanah itu. Dia muncul di satu lamping bukit. Dari sini lari cepat ke bawah, masuk lagi ke sebuah terowongan rahasia dan akhirnya sampai di satu terowongan batu pualam. Sebelum memasuki sebuah ruangan besar si nenek gerakkan kedua tangannya ke muka. Sehelai selaput topeng yang amat tipis ditanggalkannya dari parasnya. Kini kelihatanlah wajahnya yang asli. Dan nyatanya dia adalah seorang gadis jelita berkulit hitam manis, berhidung mancung dan berbibir tipis mungil.

Gadis ini kemudian tanggalkan jubah putihnya. Di balik jubah putih si gadis kulit hitam manis ini ternyata mengenakan pakaian ringkas biru. Gadis ini kemudian berlari ke tengah ruangan besar. Salah satu tumitnya menekan ubin yang bergambar bunga mawar merah.

Maka pada saat itu menggemalah suara bertanya dalam ruangan itu. Entah dari mana datangnya.

"Siapa yang mau masuk?!"

"Aku, Nariti hendak menghadap Dewi!" menjawab si gadis hitam manis.

"Silahkan masuk."

Sebuah pintu besar yang tadinya hanya merupakan sebuah dinding ruangan belaka terbuka.

Nariti cepat memasuki pintu itu. Ruangan di mana dia berada adalah sebuah ruangan yang jauh lebih besar dari yang pertama tadi. Seluruh lantai ditutupi permadani. Di samping kanan terdapat sebuah taman. Di tengah taman dihiasi dengan kolam berair biru. Beberapa gadis cantik asyik mandi-mandi dalam kolam itu, bersimbur-simburan air dan bergurau sesama mereka. Beberapa lainnya duduk di tepi kolam memperhatikan. Semuanya mengenakan pakaian ringkas biru.

"Hai, itu si Nariti dari mana baru kelihatan!" seru seorang gadis baju biru.

"Nariti dari mana kau!" berseru yang lain.

Nariti hanya melambaikan tangan lalu cepat-cepat menaiki sebuah tangga yang juga beralaskan permadani. Di bagian atas terdapat tiga buah pintu yang dijaga oleh tiga orang gadis berpakaian biru.

"Kemani, aku mau bertemu dengan Dewi," berkata Nariti pada salah seorang gadis-gadis itu.

"Ada keperluan apakah?!"

"Tak usah tanya. Katakan di mana Dewi saat ini, cepat! Ini penting sekali!"

Melihat keseriusan pada wajah Nariti maka Kemani segera menjawab. "Dewi berada di anjungan ketiga."

Mendengar itu maka Nariti segera memasuki pintu di samping kanannya. Pintu ini membawanya ke sebuah lorong yang kemudian menghubunginya dengan sebuah pintu biru yang tertutup. Di belakang pintu itu didengarnya suara petikan-petikan kecapi yang merdu.

Nariti mengetuk daun pintu tiga kali berturut-turut lalu dua kali lagi. Suara kecapi di ruang dalam berhenti.

"Siapa?!" terdengar suara perempuan bertanya dari dalam. Suaranya halus tapi penuh wibawa dan ketegasan.

"Dewi, aku Nariti membawa laporan penting untukmu!"

"Masuklah!"

Nariti mendorong daun pintu lalu masuk dengan cepat. Kamar yang dimasukinya selain bagus juga sangat luas. Lantai tertutup permadani biru yang tebal dan lembut. Tubuh serasa di awang-awang kalau menginjak kelembutan permadani itu. Di tengah ruangan terletak sebuah tempat tidur besar berseprai sutera putih. Di atas tempat tidur ini berbaringlah bermalas-malasan seorang perempuan muda. Umurnya paling banyak dua puluh tiga tahun. Dia berpakaian sutra biru yang bagus dan menjela ke permadani. Parasnya cantik sekali. Tapi dibalik kecantikan yang mengagumkan itu nyata kelihatan bayangan kekejaman. Matanya yang berkilat menyoroti Nariti dengan teliti. Kemudian dia berpaling pada gadis tujuh belas tahun yang duduk di permadani, yang tadi memainkan kecapi menghiburnya. Gadis ini juga berparas jelita dan berkulit kuning langsat Perempuan di atas pembaringan yang bukan lain dari Dewi Siluman adanya anggukkan kepala. Maka gadis pemain kecapi yang mengerti isyarat ini segera mengambil kecapinya dari pangkuan dan meninggalkan tempat itu lewat sebuah pintu di samping kanan.

"Katakan berita apa yang kau bawa, Nariti," ujar Dewi Siluman.

Nariti menjura dulu tiga kali baru menjawab.

"Ada beberapa pendatang baru di Pulau kita ini dewi. Semuanya dari Pulau Jawa...."

"Hemmm...." Dewi Siluman menggumam dan petik serenceng buah anggur lalu memasukkan buah itu satu demi satu ke dalam mulutnya.

"Teruskan keteranganmu!"

"Yang pertama ialah Sepuluh Jari Kematian...."

"Itu aku sudah tahu. Sepuluh Jari Kematian sobat lama yang sengaja kuundang kemari.

Siapa yang lain-lainnya?!"

"Yang lain-lainnya ialah dua orang nenek-nenek yaitu Sepasang Arit Hitam dan muridnya Si Telinga Arit Sakti...."

"Heh... perlu apa murid dan guru itu berada di Pulau ini?" Dewi Siluman memandang lewat jendela dari mana dia dapat melihat sebagian dari taman dan kolam yang tadi dilewati Nariti. Lalu tanyanya sambil mengunyah buah anggur dalam mulutnya. "Apa masih ada pendatang yang lain?"

"Ada Dewi. Seorang pemuda sakti...."

Sepasang alis mata yang hitam dan bagus dari Dewi Siluman naik ke atas.

"Gerak-geriknya yang mencurigakan membuat aku menguntitnya selama dua hari. Ternyata dia tengah mencari keterangan di mana letak tempat kita ini...."

"Begitu? Menurutmu apakah dia membawa maksud baik atau jahat?!" tanya Dewi Siluman.

"Pasti maksud jahat Dewi...."

"Kalau begitu dia mencari jalan ke akhirat!" kata Dewi Siluman pula sambil lemparkan tangkai anggur ke luar jendela. "Tapi terangkan dulu segala sesuatunya tentang dia...."

"Hampir di setiap tempat dia menanyakan pada penduduk di mana letak Bukit Tunggul, di mana letak sarang kita...."

"Kurang ajar. Istanaku disebut sarang!" maki Dewi Siluman. "Teruskan Nariti!"

"Tapi penduduk tak satu pun mau beri keterangan. Meski demikian karena jelas pemuda ini sangat berbahaya bagi kita maka dengan menyamar kunantikan dia di jalan kecil di tepi hutan.

Sengaja aku duduk di tengah jalan menghalanginya untuk mencari sengketa. Kemudian terjadi pertempuran antara kami. Tapi nyatanya dia sakti sekali dan bukan tandinganku. Aku hampir saja dimakan totokannya kalau tidak lekas melemparkan bola asap hitam!"

Dewi Siluman merenung sejenak. Nariti adalah pembantunya yang memiliki ilmu tinggi.

Kalau Nariti tiada sanggup melawan pemuda itu pastilah si pemuda memiliki ilmu yang hebat.

"Siapa nama pemuda itu?" bertanya Dewi Siluman.

"Tak berhasil kuketahui Dewi."

"Nariti, bawa tiga orang kawanmu. Cari pemuda itu dan tamatkan riwayatnya sebelum dia bikin susah pihak kita!"

"Perintahmu aku jalankan Dewi," sahut Nariti. Dia menjura tiga kali lalu melangkah ke pintu.

"Tunggu dulu Nariti!" berseru Dewi Siluman. Nariti hentikan langkah dan balikkan badan.

"Ya Dewi...?"

"Apakah pemuda sakti itu berparas gagah?" tanya Dewi Siluman.

Nariti memandang ke jendela lalu tundukkan kepala. Kalau dia memberikan jawaban bahwa pemuda itu memang berparas gagah dia khawatir sang Dewi akan punya persangkaan yang bukan bukan padanya. Karenanya Nariti tak berikan jawaban.

Dewi Siluman tertawa merdu laksana taburan mutiara yang jatuh berderai di atas lantai pualam. Dari kebisuan anak buahnya itu dia segera maklum bahwa si pemuda yang mendatangi Pulau Madura adalah seorang berparas cakap.

"Kalau begitu tangkap saja dia hidup-hidup, Nariti." kata Dewi Siluman pula. "Jika parasnya betul-betul gagah dia akan menjadi budakku. Tapi kalau tampangnya buruk dia akan mati percuma!"

Nariti mengangguk. Dia menjura lagi tiga kali lalu tinggalkan kamar itu. Dewi Siluman memandang ke luar jendela memperhatikan anak buahnya bersimbur-simburan air di tengah kolam.

Di sudut bibirnya mengelumit sekuntum senyum aneh. Gadis jelita ini kemudian bertepuk tiga kali.

Inani gadis yang tadi memainkan kecapi menghibur Dewi Siluman masuk kembali ke dalam kamar itu.

"Mainkan satu lagu yang bagus untukku, Inani."

"Lagu bagus tentang apa, Dewi?" tanya Inani.

"Apakah tentang lautan yang indah diwaktu matahari terbenam atau tentang bunga-bunga yang tengah mekar, atau tentang kebahagiaan hidup di swarga loka? Atau pula tentang pemandangan gunung yang tinggi hijau, atau tentang binatang-binatang yang bagus lucu...?"

Dewi Siluman gelengkan kepala.

"Bukan... bukan tentang laut atau bunga-bunga atau binatang-binatang, Inani. Bukan tentang semua yang kau sebutkan itu. Tapi tentang cinta...." kata Dewi Siluman pula.

Terkejutlah Inani mendengar jawaban Dewinya itu. Selama ini sang Dewi sangat membenci segala sesuatu yang berbau cinta kasih. Dewi Siluman selalu marah dan mendamprat bila dia memainkan lagu-lagu cinta, sekalipun dia memetik kecapi itu seorang diri dalam kamarnya! Dan kini adalah aneh kalau sang Dewi minta dimainkan sebuah lagu cinta. Apakah telah berubah jalan pikiran dan lubuk hati sang Dewi. Ada sesuatu yang telah terjadi dengan Dewinya itu?

Untuk lebih memastikan maka bertanyalah Inani. "Lagu cinta yang bagaimana Dewi?

Apakah cinta kasih seorang ibu terhadap anaknya? Atau cinta kasih Tuhan kepada hamba-hambaNya...?!"

"Jangan sebut-sebut Tuhan!" sentak Dewi Siluman. "Yang ada di dunia ialah kekuatan!

Siapa yang kuat dia akan berkuasa dan bisa berbuat sekehendak hatinya! Jadi Tuhan di dunia ini!"

Meski di dalam hatinya Inani membantah ucapan sang Dewi, tapi karena takut dia tak berani nyatakan pendapatnya itu.

"Kalau begitu mungkin Dewi ingin dengarkan lagu cinta antara seorang pemuda dengan seorang gadis?" tanya Inani pula.

"Ya, lagu itulah yang kuinginkan." jawab Dewi Siluman.

Maka dengan jari-jari tangannya yang bagus runcing itu Inani mulai memetik kecapinya menyanyikan sebuah lagu cinta.



*

* *

Petikan kecapi yang membawakan lagu cinta itu menggema ke luar kamar, sampai ke kolam dan taman dimana anak-anak buah Dewi Siluman tengah mandi-mandi dan duduk-duduk beristirahat. Semua mereka saling berpandangan lalu memutar kepala ke arah jendela di anjungan ketiga yang tingginya empat puluh tombak lebih.



"Aneh, sejak kapankah Dewi kita menyenangi lagu cinta-cintaan?" tanya salah seorang dari mereka.

Tak ada yang memberikan jawaban. Semua mata diarahkan ke jendela anjungan. Semua telinga mendengarkan. Suara kecapi yang merdu itu memasuki liang-liang telinga para gadis, laksana air gunung yang sejuk terus mengalir ke hatinya. Betapa indahnya sesuatu yang dipengaruhi oleh cinta. Betapa indahnya bercinta. Cinta kasih antara laki-laki dan pemudi. Dan mereka semua adalah gadis-gadis yang selama ini tidak mengenal apa artinya cinta. Di dalam Istana Dewi Siluman yang terletak di bawah Bukit Tunggul, itu hidup mereka hanyalah antara sesama gadis, sesama perempuan. Dan kini mendengar lagu cinta kasih itu, hati mereka laksana berontak, darah mereka menjadi panas. Walau bagaimanapun mereka adalah manusia-manusia biasa, gadis-gadis yang membutuhkan cinta kasih sayang seorang pemuda. Gadis-gadis yang selama ini hidup di alam suasana tertekan, dipaksakan untuk tidak mengenal cinta. Tapi kali itu melalui petikan kecapi yang dimainkan oleh Inani tanpa disadari, Dewi Siluman secara tak langsung telah memberikan kenyataan pada anak-anak buahnya bahwa sesungguhnya di dunia ini memang ada cinta kasih antara laki-laki dan perempuan. Melalui petikan kecapi itu Dewi Siluman membuat anak-anak buahnya menjadi sadar bahwa mereka semua adalah makhluk-makhluk hidup, manusia-manusia, gadis-gadis yang membutuhkan kasih seorang laki-laki, membutuhkan peluk dekap dan ciuman mesra seorang pemuda.

Lagu itu belum lagi sampai ke ujungnya. Tiba-tiba saja petikan kecapi berhenti dan gadisgadis yang di kolam serta di taman melihat tubuh Dewi Siluman muncul di ambang jendela.

"Kalian mendengarkan apakah?!" bentak Dewi Siluman marah. Suaranya menggetarkan seluruh Istana. "Semua masuk ke kamar masing-masing! Jangan kalian berani memikirkan kehidupan dunia yang bukan-bukan! Siapa yang tak dengar perintah akan menerima hukuman berat!"

Penuh ketakutan maka gadis-gadis itu segera tinggalkan kolam dan taman.

Sementara itu Nariti dan tiga orang kawannya dengan cepat meninggalkan Istana Dewi Siluman. Mereka mengambil jalan memotong yaitu melewati lorong-lorong di bawah bukit dan lamping gunung. Ketika Inani dan tiga kawan-kawannya itu sampai ke jalan kecil di tempat mana dia tadi bertempur dengan Pendekar 212 Wiro Sableng maka pada saat itu mereka melihat bagaimana pemuda itu terhampar di tanah. Tiga manusia berebut cepat untuk mengirimnya ke akhirat. Yang dua membacokkan senjata berbentuk arit sedang yang ketiga hendak memuntir dan menanggalkan kepala pemuda itu dari tubuhnya.

Dengan serta merta Nariti berteriak.

"Setiap nyawa manusia di Pulau Madura ini adalah milik Dewi Siluman! Kalian tak berhak merampas jiwa pemuda itu! Kecuali kalau mau ikut-ikutan mampus!"

Terkejutlah Si Telinga Arit Sakti, Sepasang Arit Hitam dan Sepuluh Jari Kematian. Pada saat itu empat bayangan biru melompat ke hadapan mereka. Keempatnya ternyata gadis-gadis berparas cantik.

Wiro sendiri yang tadi pejamkan mata menunggu detik kematiannya, kali ini membuka kedua matanya itu dan menjadi heran melihat kemunculan empat gadis itu. Merekalah orangorangnya Dewi Siluman? Gadis-gadis cantik begini macam? Sungguh tak dapat dipercaya. Gadis gadis begitu jelita bisa membuat kejahatan main bunuh di mana-mana. Membunuh manusia manusia tak berdosa termasuk anak-anak dan orang-orang tua tak berdaya.

Sepuluh Jari Kematian lepaskan kepala Wiro Sableng yang barusan hendak dipuntirnya itu.

Sepasang Arit Hitam dan Si Telinga Arit Sakti batalkan bacokan arit mereka.

Dengan kertakkan rahang penuh geram Sepuluh Jari Kematian membentak.

"Gadis-gadis baju biru! Kalian siapakah yang berani lancang ikut campur urusan orang lain?!"

Nariti mendengus.

"Orang tua jelek! Jangan jual omong besar di hadapanku! Serahkan pemuda rambut gondrong itu dan kalian bertiga ikut kami!"

Sepuluh Jari Kematian tertawa dingin. "Gadis jelita, meski kau seorang bidadari dari kahyangan, jangan kira aku yang tua ini berbelas kasihan untuk tidak merusak kecantikanmu itu!"

"Jangan banyak bacot!" bentak Nariti.

Marahlah Sepuluh Jari Kematian. Tangan kanannya diangkat ke atas.

"Kau mau keluarkan Ilmu Jari Penghancur Sukma? Silahkan teruskan!" mengejek Nariti.

Terkejutlah Sepuluh Jari Kematian melihat si gadis mengetahui ilmu kesaktian yang hendak dilepaskannya.

"Gadis, sebaiknya lekas beritahu siapa kalian. Kalau tidak kau berempat akan mampus percuma!"

Keempat gadis itu tertawa bergelak.

Nariti buka mulut. "Dasar orang tua pikun! Masih tak tahu siapa kami! Delapan penjuru angin dunia persilatan mulai beberapa waktu yang lalu adalah di bawah kekuasaan Dewi Siluman!"

"Oh, jadi kalian adalah orang-orangnya Dewi Siluman?" tanya Sepasang Arit Hitam.

"Sudah tahu kenapa berlagak pikun?!" sentak salah seorang kawan Nariti.

Sepuluh Jari Kematian batuk-batuk.

"Untung kalian lekas beritahu siapa kalian," katanya. "Kalau tidak hampir saja aku salah turun tangan!"

Nariti sunggingkan senyum mengejek.

"Setelah tahu siapa kami apakah kalian bertiga tidak mau turut apa yang kami katakan...?"

Sepuluh Jari Kematian batuk-batuk lagi. "Sebetulnya kami masih belum jelas apakah yang kalian mau...." ujarnya.

Nariti menjawab. "Pemuda yang melingkar di tanah itu serahkan pada kami dan kalian bertiga ikut ke Istana Dewi Siluman!"

Sepuluh Jari Kematian hela nafas panjang. "Tak mungkin!" katanya.

"Bakul kentut! Apa yang tidak mungkin!" bentak Nariti.

Mendengar makian bakul kentut itu Wiro Sableng terkejut. Dia ingat akan pertempurannya dengan si nenek muka keriput sebelumnya. Si nenek telah memakinya dengan ucapan itu. Apakah si nenek bukannya gadis jelita ini, pikir Wiro. Sementara itu dia menunggu kesempatan yang sebaik baiknya untuk melakukan sesuatu yang dirasakannya paling baik.

"Tak mungkin!" mengulang Sepuluh Jari Kematian. "Pemuda bangsat ini punya hutang jiwa terhadapku! Dia telah membunuh muridku!"

"Di samping itu," menimpali Si Telinga Arit Sakti. "Antara aku dan dia terdapat dendam kesumat yang belum terselesaikan!" .

"Perduli dengan hutang nyawa! Persetan dengan segala dendam kesumat! Apakah di Pulau Madura ini ada bangsa kwaci yang berani menantang perintah Dewi Siluman dari Istana Bukit Tunggul?!"

Marahlah Sepasang Arit Hitam karena dirinya dicap "bangsa kwaci" itu. Dia mendengus dan buka suara. "Kau terlalu pongah mengumbar mulut seenaknya, mencap aku dan dua kawanku manusia-manusia bangsa kwaci! Kau kira dunia persilatan ini kau dan Dewimu itukah yang menguasainya?! Apa kau yang masih pitit hijau ini masih belum pernah mendengar nama gelarku, Sepasang Arit Hitam? Belum pernah tahu gelar muridku, Si Telinga Arit Sakti?! Juga memandang rendah pada Sepuluh Jari Kematian yang merupakan tokoh ternama dirimba persilatan?!"

Nariti tertawa panjang.

"Gelar kalian memang hebat-hebat, menyeramkan! Tapi bagi kami orang-orangnya Dewi Siluman itu bukan apa-apa! Katakan saja apakah kau bertiga bersedia ikut atau mati di tempat ini sekarang juga?!"

Sepasang Arit Hitam renggangkan kedua kaki. Matanya yang cuma satu menyorot marah.

Namun dengan ilmu menyusupkan suara Sepuluh Jari Kematian segera memberi kisikan. "Jangan teruskan niatmu, Sepasang Arit Hitam. Gadis-gadis ini rata-rata berkepandaian tinggi. Meskipun kau sanggup kalahkan mereka tapi kita tak bakal bisa ke luar dari pulau ini dengan selamat!"

"Kalau kau mau dicap manusia kwaci mentah, biarlah! Jangan perduli aku!" bentak Sepasang Arit Hitam. Dia berpaling pada Nariti. "Apakah kau akan maju sendirian atau sekali berempat?!"

"Hem... jadi ini contoh manusianya yang minta cepat-cepat mampus?!" menyahuti Nariti.

"Tikus tua renta bermata picak mau jual tampang di sarang macan?!" Nariti dan ketiga kawannya tertawa gelak-gelak.

Sepasang Arit Hitam berkobar amarahnya. Dia maju dengan cepat. Tapi muridnya Si Telinga Arit Sakti mendahului.

"Guru, biar aku yang kasih pelajaran pada gadis ingusan bermulut besar ini!" kata Telinga Arit Sakti.

"Bereskan dia dalam tiga jurus!" perintah Sepasang Arit Hitam.

Si Telinga Arit Sakti keluarkan senjatanya yaitu sebilah arit. Semua orang yang ada di situ boleh dikatakan telah melupakan Wiro Sableng. Pada saat Si Telinga Arit Sakti menyerbu ke depan dengan satu sambaran dahsyat ke arah leher Nariti maka Pendekar 212 Wiro Sableng melompat dari tanah seraya berseru. "Kalian bertempurlah sampai mampus! Lain kesempatan kita bertemu lagi!"

"Kawan-kawan! Kejar pemuda itu!" teriak Nariti sambil mengelakkan serangan Telinga Arit Sakti. Tiga kawannya melompat ke muka, tapi Wiro Sableng sudah lenyap.

Kemarahan Nariti tertumpah bulat-bulat pada Telinga Arit Sakti dan Sepasang Arit Hitam.

Berserulah dia. "Kawan-kawan, tangkap hidup-hidup perempuan tua mata picak itu!"

Ketiga gadis yang tadi melompat mengejar Wiro berbalik dan kini mengurung Sepasang Arit Hitam.

"Bagus, kalian majulah sekali bertiga biar cepat kumusnahkan!" teriak Sepasang Arit Hitam.

Serentak dengan itu dia keluarkan sepasang arit hitam yang memancarkan warna menggidikkan.

Di lain pihak tiga orang anak buah Dewi Siluman keluarkan tiga buah jala berbentuk aneh.

Jala ini besarnya hanya segumpalan tangan, terbuat dari sutera halus berwarna biru. Ketiganya memencar mengurung Sepasang Arit Hitam.

Didahului dengan pekik yang dahsyat Sepasang Arit Hitam menyerbu dan bagaikan enam serangan arit kepada tiga orang lawannya. Warna hitam dari kedua senjatanya menderu mengerikan.

Memaklumi dua buah arit di tangan lawan adalah senjata-senjata mustika sakti, tiga orang anak buah Dewi Siluman tiada berani membuat jurus adu kekuatan. Mereka menyurut beberapa langkah ke belakang, begitu sepasang arit lewat maka ketiganya menyerbu ke muka. Secepat kilat tebarkan jala sutera biru.

Sepasang Arit Hitam sewaktu melihat tiga tebaran warna biru menyungkupi bagian atas tubuhnya dengan cepat merunduk dan sepasang senjatanya kini menderu ke arah lengan-lengan tiga orang anak buah Dewi Siluman dari Bukit Tunggul. Tapi serangannya yang kedua ini kembali mengenai tempat kosong karena dengan sebat tiga gadis baju biru tarik lengan serta jalanya untuk kemudian menyerang lagi dengan tebaran jala ke arah pinggang dan kaki Sepasang Arit Hitam.

Naiklah amarah Sepasang Arit Hitam. Tiga gadis anak buah Dewi Siluman itu ternyata tidak mudah baginya untuk merubuhkan. Dia melompat ke udara setinggi empat tombak dan babatkan arit di tangan kanan ke arah tiga buah jala sedang arit di tangan kiri disapukan dengan ganas pada kepala ketiga gadis yang mengeroyoknya.

Tiga gadis melengking keras. Tubuh mereka lenyap dan tahu-tahu Sepasang Arit Hitam merasakan bagaimana salah satu dari jala sutera lawan telah menjirat arit di tangan kanannya.

Betapapun dia coba untuk menariknya dengan sekuat tenaga namun tak berhasil. Dia terpaksa serahkan arit yang satu itu kepada lawan untuk menyelamatkan lengannya dari sambaran dua jala sutera lainnya.

Ketiga gadis tertawa mengejek.

Seorang di antara mereka berkata. "Inikah nenek-nenek sakti tokoh dunia persilatan terkenal yang bergelar Sepasang Arit Hitam itu? Huah! Nyatanya tak lebih dari bangsa kurcaci saja!"

Bola mata kiri Sepasang Arit Hitam kelihatan seperti berapi-api sedang mata kanannya yang berlobang besar tampak tambah cekung menggidikkan.

Perempuan tua ini pindahkan arit yang di tangan kirinya ke tangan kanan.

"Gadis-gadis keparat! Kenalkah kalian akan jurus lain?!"

Tiga orang anak buah Dewi Siluman sunggingkan senyum mengejek. Tapi karena ingin tahu mereka menunggu dan memperhatikan. Sepasang Arit Hitam berdiri dengan kaki merenggang.

Tangan kiri diangkat tinggi-tinggi agak ke belakang kepala sedang arit di tangan kanan diacungkan lurus-lurus ke muka. Kelihatannya acungan arit itu merupakan bulan-bulanan serangan yang empuk, namun jika seorang coba menyerang maka secepat kilat tangan kiri akan memukul ke muka, arit berkiblat dan kaki kiri menendang. Jika tiga serangan ini masih gagal maka dengan menjejakkan kaki kanan ke bumi, Sepasang Arit Hitam akan sanggup lancarkan serangan susulan yang lebih ganas dari yang pertama tadi.

Karena memang tidak mengenali jurus apa yang bakal dikeluarkan si nenek, namun melihat sikap dan tampang si nenek yang demikian menggidikkan, tiga gadis itu diam-diam memaklumi bahwa lawan mereka hendak mengeluarkan satu jurus serangan yang dahsyat. Karenanya ketiga gadis ini bersiap siaga. Bagi pihak mereka sendiri jika lawan mereka itu salah-salah langkah dalam lancarkan serangan akan segera pula menjadi mangsa mereka.

Sementara itu pertempuran antara Nariti dan Si Telinga Arit Sakti berjalan sangat seru.

Telinga Arit Sakti kirimkan jurus-jurus yang mematikan. Aritnya yang putih mengeluarkan sinar bergulung-gulung melanda ke arah Nariti. Namun Nariti sendiri bukanlah seorang lawan jenis murahan. Tubuhnya hampir lenyap dari pemandangan, cuma bayangan warna biru pakaiannya saja yang kelihatan berkelebat kian kemari.

Mendadak sontak terdengar pekik menggidikkan keluar dari mulut Nariti.

Belum habis pekik itu menyusul lengkingan Si Telinga Arit Sakti. Senjatanya kelihatan mental ke udara. Satu tangan menyambar senjata itu. Dan sekejap kemudian arit putih itu menderu laksana kilat ke arah batang leher pemiliknya sendiri.

"Tahan!" teriak Sepuluh Jari Kematian yang menyaksikan bagaimana Si Telinga Arit Sakti tiada sanggup mengelakkan serangan maut itu.

Tapi mana Nariti mau ambil perduli teriakan tokoh silat itu. Arit di tangannya terus menderu dan "Cras!" Putuslah leher Telinga Arit Sakti. Tubuh dan kepala terpisah. Darah menyembur mengerikan.

Sepasang Arit Hitam pelototkan mata kirinya besar-besar sewaktu di hadapannya menggelinding kepala muridnya sendiri. Dari tenggorokannya keluar suara mengaum macam harimau lapar dan sekejap kemudian tubuhnya pun berkelebat ke muka, lancarkan satu jurus

serangan yang sejak tadi disiapkannya yaitu jurus "Tiga Naga Mengamuk Di Atas Air Laut".

Jurus ini memang bukan olah-olah dahsyat dan ganasnya. Arit di tangan kanan menderu berputar-putar macam kepala seekor naga. Tangan kiri memukul ke depan laksana kepala naga mematuk sedang kaki kiri menyapu laksana ekor naga mematil. Debu dan pasir jalanan beterbangan, daun-daun pohon bergetar dan banyak yang gugur karena untuk lancarkan jurus hebat itu Sepasang Arit Hitam kerahkan seluruh bagian tenaga dalamnya.

Tiga anak buah Dewi Siluman dari Bukit Tunggul tidak tinggal diam. Masing-masing mereka berteriak nyaring dan tangan kiri dipukulkan ke depan. Tiga larik sinar biru kelihatan dengan ganas memapas jurus "Tiga Naga Mengamuk Di Atas Air Laut" dari Sepasang Arit Sakti itu.

"Tobat! Tobat!" seru Sepuluh Jari Kematian seraya pukul-pukul keningnya sendiri. "Demi setan hentikan pertempuran ini! Kalau tidak kalian sama saja dengan bunuh diri!"

"Bakul kentut!" semprot Nariti. "Kau tak usah jual bacot! Jangan campuri urusan yang tak ada sangkut pautnya dengan dirimu!"

Rahang-rahang Sepuluh Jari Kematian kelihatan menonjol. Kedua tangannya mengepal.

"Gadis...." desisnya, "Kalau tidak memandang muka Dewimu, aku tak akan terima ucapanmu itu!"

Nariti tertawa dingin dan mengejek. "Kalau kau punya nyali, silahkan masuk ke dalam kalangan pertempuran!" kata gadis itu seraya goyangkan kepalanya ke arah pertempuran yang berlangsung.

Sepuluh Jari Kematian hendak buka mulut namun di saat itu terdengar pekikan salah seorang dari tiga gadis pengeroyok sepasang Arit Hitam. Tubuh gadis ini mental dan lengannya sebelah kanan patah di makan tendangan kaki kiri sepasang Arit Hitam. Meski dapat mencelakakan salah seorang pengeroyoknya namun nenek-nenek sakti ini tiada sanggup mengelitkan libatan jala sutera biru salah seorang lawan lainnya pada kaki kirinya yang tadi menendang. Dalam dia bergulat untuk membebaskan kaki kiri itu, jala kedua menderu melibat bagian tubuhnya mulai dari dada sampai ke kepala. Betapapun tokoh silat ini bergulat untuk membebaskan diri namun sia-sia belaka.

Jala yang terbuat dari sutera halus biru itu mempunyai kekuatan yang hebat sekali. Sepasang Arit Hitam menggerung, jatuhkan diri ke tanah dan berguling dalam masih berusaha membebaskan diri.

Gulingan tubuhnya terhenti sewaktu Nariti injakkan kaki kanannya di perut tokoh silat tua itu.

"Tak satu kekuatan pun yang sanggup melepaskan jiratan jala itu!" kata Nariti dengan nada bengis. Sekali kakinya menendang maka pingsanlah Sepasang Arit Hitam.

"Kau keterlaluan!" teriak Sepuluh Jari Kematian marah sekali.

Nariti tertawa dingin dan menjawab. "Terhadapmu aku bisa berlaku lebih keterlaluan lagi, kakek-kakek bakul kentut!"

"Tutup mulutmu setan alas!" damprat Sepuluh Jari Kematian.

Nariti mengekeh. Meski wajahnya jelita, tapi mimiknya waktu mengekeh itu menyeramkan sekali.

"Orang tua bakul kentut sialan! Kalau saja Dewi kami tidak memerintahkan membawamu hidup-hidup ke istananya niscaya tubuhmu sudah jadi bangkai saat ini!"

"Penghinaan dan kesombonganmu sudah lewat batas, gadis hijau! Di lain hari kelak kau akan rasakan akibatnya!"

Nariti tertawa gelak-gelak. Tubuh Sepasang Arit Hitam dipanggulnya di bahu kiri kemudian katanya pada Sepuluh Jari Kematian. "Ikuti kami! Sekali kau berbuat yang tidak kuinginkan, kau akan menyesal sampai ke liang kubur!"

Meski kemarahan tidak tertahan lagi oleh tokoh silat yang namanya telah menggetarkan dunia persilatan itu, namun mau tak mau, karena mengingat hubungan baiknya selama ini dengan Dewi Siluman dan kedatangannya ke Pulau Madura itu justru atas undangan Sang Dewi maka akhirnya Sepuluh Jari Kematian mengikuti juga keempat gadis itu dari belakang.



*

* *

Wiro Sableng si Pendekar 212 dari Gunung Gede duduk bersandar ke batang pohon yang dikelilingi oleh semak belukar. Rimba belantara dimana dia berada sunyi senyap, berudara lembab dan teduh dari teriknya sinar matahari. Rasa sakit pada tangan kanannya yang patah kini agak berkurang. Dengan susah payah dia telah mengobati sendiri tangan yang patah itu dan menopangnya dengan sebuah ranting kemudian dibubuhi dengan param yang dibuatnya dari akarakar pohon dan sejenis daun lalu dibungkusnya dengan sapu tangan. Cara mengobati seperti itu dipelajarinya dari gurunya Eyang Sinto Gendeng sewaktu dia digembleng di puncak Gunung Gede.



Dalam waktu tiga hari bisa diharapkan lengan yang patah itu akan sembuh dan tulangnya bertaut kembali.

Sambil duduk terperangah di bawah pohon besar dalam rimba belantara itu Wiro memandangi kaki kirinya yang hitam disambar pukulan Ilmu Jari Penghancur Sukma yang dilepaskan oleh Sepuluh Jari Kematian. Meski dia tahu bahwa racun pukulan tersebut tidak akan membahayakan dirinya karena tubuhnya kebal segala macam racun, namun yang mengherankan sang pendekar ialah karena sampai saat itu dia masih belum sanggup untuk melenyapkan warna hitam pada kulit kakinya itu. Dia telah menelan dua buah pil yang paling manjur khasiatnya juga berkali-kali telah mengerahkan tenaga ke telapak tangan kiri untuk mengusap kaki yang hitam itu, tapi hasilnya sia-sia belaka.

"Gila!" maki Wiro. Kalau warna hitam itu tak bisa dilenyapkan pasti dia akan cacat seumur hidup. Pendekar ini memaki lagi. Hatinya geram sekali terhadap Sepuluh Jari Kematian. Selama turun gunung, puluhan musuh telah dihadapinya, berbagai ilmu silat kelas tinggi dan kesaktiankesaktian luar biasa telah dijumpainya. Namun belum pernah dia menerima nasib sial seperti di hari itu. Kakinya hitam sedang lengannya patah. Disamping geram terhadap Sepuluh Jari Kematian, Pendekar 212 juga geram pada Si Telinga Arit Sakti. Perempuan tua itulah yang telah menendang lengan kanannya sehingga patah. Untuk kedua manusia itu Wiro Sableng bertekad akan membalaskan sakit hatinya. Wiro tidak tahu kalau sepergiannya tadi Si Telinga Arit Sakti telah tewas di tangan anak buah Dewi Siluman. Kemudian Wiro teringat pada empat orang gadis jelita berpakaian biru-biru itu. Betulkah mereka orang-orangnya Dewi Siluman? Orang-orangnya Dewi Siluman yang telah berbuat kejahatan dan kekejaman tiada tara, membunuh manusia-manusia tidak berdosa, memusnahkan kampung-kampung? Betulkah gadis-gadis cantik jelita itu yang melakukannya? Sungguh tak masuk di akal bahwa gadis-gadis semacam itu akan sanggup melakukan kejahatan tanpa perikemanusiaan demikian rupa. Hal ini membuat makin besarnya tekad Wiro Sableng untuk cepat-cepat mencari dan menemui Dewi Siluman itu. Jika anak-anak buahnya demikian kejam dan jahat, tentu Dewi Siluman sendiri jauh dan jauh lebih kejam. Tapi untuk mencari sarangnya Dewi Siluman dan membasmi kejahatannya Wiro musti menunggu sekurangkurangnya tiga hari yaitu sampai tangannya yang patah sembuh.

Dalam dia berpikir-pikir itu mendadak sontak dari atas pohon memancur air putih kekuningkuningan yang tidak enak baunya. Air itu jatuh tepat membasahi kepala Pendekar 212. Disaat itu pula di atas pohon terdengar suara tertawa cekikikkan yang menggetarkan seluruh rimba belantara.

Suara cekikikkan itu tiada ubahnya laksana ringkikkan kuda di malam buta ketika melihat setan di hadapannya!

"Bedebah!" maki Pendekar 212 seraya meloncat dan memandang ke atas pohon.

Sekelebatan dilihatnya satu bayangan putih!

Belum sempat Wiro memperhatikan siapa adanya bayangan putih itu, bahkan belum sempat dia meneliti paras makhluk itu, si bayangan putih lenyap laksana gaib. Wiro kemudian merasakan sekilas angin di mukanya. Pendekar ini pukulkan tangan kirinya ke depan. Tapi dia cuma memukul tempat kosong, sesudah itu dia tertegun sendirian dengan penuh rasa heran dan juga sedikit ngeri.

Tak dapat diyakininya siapa adanya sosok bayangan putih tadi. Apakah manusia atau setan atau dedemit penghuni rimba belantara itu. Gerakannya luar biasa cepat dan sebatnya. Begitu cepat hingga Wiro tak dapat meneliti siapa adanya bayangan putih itu. Dan cekikikkannya yang seperti kuda meringkik itu.

Kuncuran air yang tadi jatuh di atas kepalanya kini turun ke kening. Wiro menyeka kening yang basah itu dengan belakang telapak tangan. Dia memaki tiada henti. Diperhatikannya telapak tangan yang ditempeli air itu. Hidungnya menghirup bau yang tidak enak. Penasaran sekali Wiro dekatkan belakang telapak tangannya ke lobang hidung. Pendekar ini kernyitkan kening. Kemudian terdengarlah makiannya.

"Keparat sialan! Aku dikencingi!"

Wiro meludah ke tanah. Caci maki ke luar menyerapah dari mulutnya. Dengan beberapa helai daun disekanya kening dan telapak tandannya.

"Manusia apa dedemit! Perlihatkan dirimu'" teriak Wiro. Rasa ngerinya tadi kini berubah menjadi kemarahan. Seumur hidupnya baru kali itu dia dikencingi manusia. Mungkin di dunia ini, cuma dia sendiri manusia yang dikencingi manusia. Tapi apa betul makhluk yang mengencinginya itu seorang manusia? Bukannya setan atau dedemit?

"Keparat yang mengencingiku! Perlihatkan dirimu!" teriak Wiro gemas.

Suaranya bergema dalam rimba belantara itu.

Tiba-tiba terdengar dari samping kanan suara tertawa mengikik macam tadi. Dengan serta merta Pendekar 212 memburu ke arah itu. Sekilas masih sempat dilihatnya satu sosok bayangan putih samar-samar karena bayangan itu bergerak luar biasa cepatnya. Tanpa pikir panjang Wiro Sableng gerakkan tangan kirinya lepaskan pukulan "Kunyuk Melempar Buah".

Semak belukar berpelantingan, sebuah pohon patah dilanda pukulan itu. Tapi si bayangan putih sudah lenyap dari pemandangan.

"Sialan betul!" gerutu Wiro. Dia melompat ke arah lenyapnya bayangan itu lalu melesat ke sebuah pohon besar yang tinggi dari mana dia bisa melihat dengan jelas seantero rimba belantara.

Namun si bayangan putih tetap tiada kelihatan seakan-akan sirna ditelan bumi.

Dengan kertakkan geraham Wiro Sableng turun dari pohon itu. Mungkin sekali si bayangan putih tadi adalah Dewi Siluman. Tapi mengapa sang Dewi sengaja mempermainkan sedang dia telah mengutus empat orang anak buahnya untuk menangkapnya.

"Gila!" gerendeng Pendekar 212. Belum pernah dia berhadapan dengan peristiwa begini rupa. Kemudian bila hidungnya sudah tak sanggup lagi menghirup bau pesing kencing yang membasahi kepalanya pendekar ini segera tinggalkan tempat itu untuk mencari kali atau telaga guna mencuci kepalanya. Sewaktu dia melewati pohon besar tempat dia duduk tadi tanpa sengaja kedua matanya memperhatikan batang pohon itu. Bukan main terkejutnya Wiro Sableng sewaktu menyaksikan serentetan tulisan putih pada batang pohon besar itu.

"Ini lebih gila lagi!" kata Wiro. Dia melompat ke hadapan pohon dan meneliti apa yang tertulis di situ.



Perbuatan tangan manusia bukan suatu yang abadi.

Manusia berilmu berpikir pendek berotak dangkal.

Punya senjata dilupakan.

Bukan untuk menebang kayu atau menebas kaki.

Hanya tujuh warna pelangi yang abadi.

Wiro tak dapat memastikan dengan apa tulisan putih itu dibuat. Cuma dia yakin bahwa yang menulisnya pastilah si bayangan putih tadi. Untuk beberapa lamanya dia masih berdiri di hadapan pohon itu merenung dan memikirkan apa arti serta tujuan rentetan tulisan itu. Namun tiada sanggup otaknya memecahkan. Perbuatan tangan manusia bukan suatu yang abadi. Wiro tahu akan kebenaran tulisan tersebut. Lalu: Manusia berilmu berpikir pendek berotak dangkal. Siapakah manusia yang dimaksudkan dalam rentetan tulisan yang kedua ini? Apakah tulisan itu ditujukan kepadanya? Punya senjata dilupakan. Hati Pendekar 212 tercekat sedikit. Di balik pakaiannya tersembunyi Kapak Maut Naga Geni 212. Apakah senjata ini yang dimaksudkan oleh penggurat tulisan pada batang pohon itu? Senjata itu selalu ada di tubuhnya dan tak pernah dilupakannya.

Wiro membaca rentetan tulisan yang keempat: Bukan untuk menebang kayu atau menebas kaki.

Tentu saja adalah keterlaluan kalau Kapak Maut Naga Geni 212 dipakai untuk menebang kayu.

Tapi untuk menebas kaki lawan, sudah beberapa kali dilakukan Wiro dalam pertempuranpertempurannya.

Kaki siapakah yang dimaksudkan oleh tulisan itu?!

Wiro menepekur dan putar otak. Pandangannya membentur kaki kirinya. Tersentaklah pendekar ini. Mungkin kakiku yang hitam ini yang dimaksud, pikirnya. Lalu diperhatikannya rentetan tulisan yang terakhir. Hanya tujuh warna pelangi yang abadi. Hanya tujuh warna pelangi...

Wiro garuk-garuk kepalanya. Karena kepalanya yang basah oleh air kencing itu belum dibersihkan maka dengan sendirinya kembali tangannya menjadi basah dan bau karena menggaruk itu. Dan Wiro menyerapah lagi.

Hanya tujuh warna pelangi yang abadi. Wiro mengulang. Berarti selain warna pelangi, tak ada warna yang abadi. Sekali lagi Wiro memandang ke kaki kirinya berwarna hitam, dan warna hitam itu bukan warna pelangi, jadi tidak abadi. Berarti bisa sirna bisa dilenyapkan. Tapi bagaimana caranya?!

Untuk kesekian kalinya Wiro membaca lagi rentetan demi rentetan tulisan di kulit pohon.

Tiba-tiba dipukulnya keningnya sendiri.

"Memang aku yang geblek!" katanya. Lalu cepat-cepat dikeluarkannya Kapak Naga Geni 212. Ditimang-timangnya senjata itu beberapa lama. Dan Wiro menggerutu pula. Apa yang akan dilakukannya dengan senjata itu? Bukan untuk menebang kayu atau menebas kaki. Hanya tujuh warna pelangi yang abadi. Kini Wiro jadi bingung kembali. Buncah otaknya. Hampir sepeminum teh lamanya dia memutar otak memecahkan kalimat demi kalimat di batang pohon itu. Apa kini yang harus dilakukannya? Perlahan-lahan Wiro duduk kembali di bawah pohon itu. Kapak Naga Geni 212 diletakkannya di atas pangkuan paha kiri. Pada saat senjata itu menyentuh pahanya maka detik itu pula dirasakannya satu hawa dingin menjalar dari mata kapak ke dalam kakinya. Senjata mustika itu memberikan reaksi terhadap ketidakwajaran pada kaki sang pendekar.

"Tolol! Betul-betul aku tolol!" Wiro memaki dirinya sendiri. Diambilnya kapak itu kembali dan ditempelkannya pada kaki kiri yang berwana hitam. Hawa dingin semakin santer dan detik demi detik Wiro Sableng menyaksikan bagaimana kulit kakinya yang hitam kini berangsur-angsur kembali kewarna seperti biasanya.

Ketika keseluruhan warna hitam itu lenyap, Pendekar 212 berseru gembira dan melompat dari duduknya. Lupa dia pada kegeraman hatinya karena dikencingi tadi. Wiro memandang berkeliling dan berteriak. "Bayangan putih! Siapa pun kau adanya, aku haturkan terima kasih atas petunjukmu!"

Begitu suara Wiro lenyap maka terdengarlah suara cekikikkan macam ringkikkan kuda.

Suara itu dekat sekali di samping kanannya. Sang pendekar berpaling. Dia melompat dengan cepat sewaktu melihat kelebatan bayangan putih di balik semak belukar. Dia kecewa karena ketika sampai di rerumpunan semak-semak itu si bayangan sudah lenyap lagi.

Wiro geleng-gelengkan kepala. Betul-betul luar biasa gerakan makhluk itu. Ilmu apakah yang dimiliki si bayangan putih? Wiro tahu, seseorang yang memiliki ilmu mengentengi tubuh yang bagaimana pun tingginya seseorang yang memiliki ilmu lain yang bagaimana cepatnya, tak akan mungkin akan bisa berkelebat dan lenyap secepat itu. Cuma setan dan bangsa jin yang sanggup berbuat seperti itu.

Meski agak kecewa tak dapat mengejar si bayangan putih namun Wiro gembira juga karena warna hitam pada kaki kirinya telah lenyap. Dimasukkannya Kapak Naga Geni 212 ke balik pakaiannya kembali. Betul-betul dia telah berbuat tolol, berpikir pendek berotak dangkal, melupakan senjata itu. Padahal sewaktu di puncak Gunung Gede gurunya pernah menerangkan bahwa kapak sakti itu bukan saja bisa dipergunakan sebagai senjata hebat, tapi juga bisa mengobati dan menyedot segala macam racun jahat yang mengindap di tubuh manusia baik bagian luar maupun bagian dalam.

Wiro angsurkan kaki kirinya ke depan untuk memperhatikan kaki itu kembali. Disaat itulah matanya melihat lagi serentetan tulisan. Kali ini di tanah di hadapannya.

Kalau mau tahu tingginya langit dalamnya lautan.

Pada purnama empat belas hari

Datanglah ke Goa Belerang.

"Pastilah Si bayangan putih itu yang menulisnya," kata Wiro dalam hati. Nyatnya dunia ini bukan saja penuh dengan kekejaman dan kejahatan, tapi juga penuh keanehan.



*

* *

Suara petikan kecapi terhenti sewaktu pintu kamar diketuk dari luar.



"Masuk!" kata Dewi Siluman. Kepalanya dipalingkan ke pintu yang terbuka. Nariti masuk.

Gadis ini menjura tiga kali di hadapan sang Dewi. Inani gadis pemetik kecapi berdiri dan meninggalkan kamar itu.

"Kau berhasil?" tanya Dewi Siluman begitu dia tinggalkan berdua dengan Nariti.

"Aku dan kawan-kawan mohon ampunmu, Dewi," berkata Nariti.

"Hah?! Jadi kalian tak berhasil menangkap pemuda itu?" Dewi Siluman bangkit dari pelaminannya. Matanya membeliak besar dan memandang lekat-lekat pada Nariti.

"Sebenarnya kami akan berhasil Dewi. Tapi...."

"Tapi apa?!" sentak Dewi Siluman.

"Manusia-manusia itu mengacaukan tugas kami hingga si pemuda lolos!"

"Manusia-manusia siapa maksudmu?!" bertanya Dewi Siluman sambil sandarkan punggung ke bantal besar di belakangnya.

"Sepasang Arit Hitam dan muridnya Si Telinga Arit Sakti serta Sepuluh Jari Kematian,"

jawab Nariti. Lalu dia memberi penuturan atas apa yang telah terjadi. "Si Telinga Arit Sakti yang berani menantang kekuasaanmu, telah kami penggal batang lehernya! Sepasang Arit Hitam kami tawan hidup-hidup dan Sepuluh Jari Kematian ikut bersama kami. Mereka berdua kini berada di ruang merah."

"Sepasang Arit Hitam pindahkan ke ruang gelap. Sepuluh Jari Kematian bawa ke ruang putih!"

"Baik Dewi," Nariti hendak menjura siap untuk tinggalkan kamar itu.

"Tunggu dulu!"

Suara Dewi Siluman keras dan lantang menggetarkan hati Nariti. Dia membalik dengan kecut.

"Ternyata apa yang menjadi tugas utamamu tidak kau laksanakan dengan baik! Kau musti terima hukuman!"

Pucatlah paras Nariti.

"Tapi Dewi, aku sudah jelaskan semua pada kau. Tiga manusia itu mengacaukan tugasku dan kawan-kawan. Bahkan...."

"Aku tidak perduli!" potong Dewi Siluman. Dia bertepuk satu kali. Lima gadis berbaju biru masuk ke kamar itu melalui sebuah pintu rahasia. Kelimanya menjura.

"Siap menunggu perintahmu, Dewi." kata gadis baju biru paling depan. Nariti memandang kepada mereka ini dan tahu bahwa mereka adalah anak-anak buah Dewi Siluman yang diberi jabatan sebagai petugas penghukum.

"Seret dia ke ruang hitam! Sekap satu hari satu malam!"

"Perintah segera dilaksanakan Dewi!" Lima gadis itu kemudian melangkah cepat ke hadapan Nariti. Menggigillah tubuh Nariti. Ruangan hitam adalah ruangan hukuman yang paling ditakuti oleh seluruh penghuni Istana Dewi Siluman. Ruangan ini khusus disediakan untuk mereka yang membuat kesalahan atau melalaikan tugas. Ruangan hitam merupakan sebuah ruangan sempit dan gelap luar biasa, tangan di depan mata pun tidak kelihatan. Seseorang yang dijebloskan di sana akan merasakan hawa panas ke luar dari empat dinding sempit di sekelilingnya sedang dari langitlangit dan lantai ruangan mendera hawa dingin luar biasa. Hawa panas membuat tubuh hangus melepuh sedang hawa dingin membuat kaki dan muka kaku tegang.

Nariti pernah menyaksikan keadaan seorang kawannya yang keluar dari ruang penyiksaan itu. Tubuhnya hitam legam, kakinya tak sanggup berdiri sedang parasnya rusak. Selama satu minggu dia diserang demam panas dingin, keadaannya antara hidup dan mati, mengigau siang malam tiada henti. Dua bulan kemudian baru penderitaan akibat hukuman itu lenyap dan parasnya berangsur-angsur baik kembali sedang kulit tubuhnya yang hitam berangsur-angsur mengelupas dan kembali kebentuk-nya semula. Betapa mengerikannya. Dan kini dia Nariti sendiri yang akan dijebloskan ke dalam ruangan hitam itu.

Beberapa pasang tangan memegang lengannya.

"Dewi...... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.81.45.122
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia