Wiro Sableng #73 : Guci Setan
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

SATU

Lereng gunung Merbabu di stu malam buta tanpa bulan tanpa bintang.
Udara dingin bukan kepalang. Kegelapan menghitam di mana-mana. Di beberapa tempat behkan sulit ditembus pandangan mata. Di kejauhan lapat-lapat terdengar suara lolongan anjing. Ketika angin malam bertiup segala sesuatunya laksana membeku dalam dingin yang luar biasa.
Sekali terdengar lolongan anjing di kejauhan. Tiba-tiba di selatan lereng gunung kelihatan ada yala api bergerak cepat sekali menuju ke timur. Bersamaan dengan itu terdengar suara menderu tak berkeputusan seperti ada sesuatu yang menggerus menjalar perut gunung.

Dalam kegelapan yang kini mendapat cahaya terang dari nyala api ternyata ada empat sosok tinggi besar bergerak menuju ke timur. Sosok pertama adalah seorang laki-laki berpakaian serba hitam. Baujnya tidak berkancing. Dadanya kelihatan penuh ditumbuhi bulu lebat. Bulu ini juga tampak di sepanjang kedua lengan dan kakinya. Tampangnya yang sangar dan buas hampir tertutup oleh rambut gondrong awut-awutan, kumis lebat riap-riapan menjuntai bibir serta brewok cambang bawuk yang meranggas liar. Sepasang matanya kelihatan merah dan berkilat-kilat oleh nyala api. Sebenarnya orang ini belum mencapai usia empat puluhan namun keadaan dirinya yang seperti itu membuat dia seperti sudah berumur hampir setengah abad.

Ada beberapa keanehan yang membuat orang bergidik pada manusia satu ini, yang berlari di sebelah depan. Di bahu kirinya dia memanggul sesosok tubuh perempuan yang sudah tidak bernafas lagi alias sudah jadi mayat sejak dua minggu lalu. Mayat ini tidak sampai rusak atau membusuk karena sebelumnya telah disiram dengan sejsnis obat pengawet. Mayat yang didukung dan dibawanya berlari itu adalah mayat seorang perempuan muda berwajah cantik. Namun sepasang matanya yang membeliak menghapus kecantikannya dan kini kelihatan sangat menyeramkan denga rambut panjang riap-riapan. Apalagi pada lehernya terlihat sebuah luka dalam melintang.

Lelaki tinggi besar ini ternyata buntung kaki kirinya. Kaki yang buntung itu disambung dengan sebatang besi. Pada batangan besi sebelah bawah terdapat sebuah roda bergerigi. Dengan roda gerigi inilah dia meluncur di sepanjang lereng gunung dalam kecepatan sungguh luar biasa hingga tiga orang di belakangnya sering-sering tertinggal jauh.

Dalam pelukan tangan kanannya orang berpakaian serba hitam ini membawa sebuah guci yang bagian luarnya berukir wajah-wajah setan seram, berselang seling dengan gambar tengkorak manusia. Dari dalam guci keluar kepulan asap putih serta lidah api. Nyala api inilah yang terlihat di kejauhan, menerangi tempat-tempat yang dilalui dan terutama sekali menerangi tampang seram orang itu.

Di sebelah belakang lelaki yang memanggul mayat perempuan dan membawa guci berapi berlari cepat tiga orang berpakaian serba merah. Tampang masing-masing tak kalah seram dan buas. Yang satu memiliki wajah berwarna hitam. Satunya lagi bertampang hijau sedang yang ketiga bermuka biru gelap. Masing-masing mereka memanggul sebuah pikulan di bahu kanan. Pada ujung pikulan di atas bahu tergantung sebuah keranjang yang terbuat dari rotan.

"Ramada!" seru salah satu dari ketiga lelaki yang berlari di belakang dan berwajah hitam pada orang yang membawa mayat dan guci. "Kita sudah berlari serasa seabad. Kuharap saja kita tidak pergi kea rah yang salah!"

"Betul sekali Ramada!" ikut membuka mulut lelkai bermuka hijau. "Kalau sampai tersesat di gunung ini celakalah kita!"

"Tenggorokanku sudah kering! Nafasku seperti mau keluar dari ubun-ubun.

Apakah kita tidak bisa berhenti barang sebentar?!" berkata lelaki berpakain merah ketiga yaitu yang mukanya berwana biru gelap.

Sepertinya orang yang di sebelah depan tidak akan menjawab. Namun sesaat kemudian terdengar suaranya keras dan membuat tiga orang di belakangnya menjadi terdiam kecut.

"Kalian bertiga kurcaci-kurcaci tolol! Dengar baik-baik apa yang akan kukatakan! Aku Ramada tidak akan tersessat di gunung ini. Aku tahu setiap sudut gunung merbabu ini seperti aku mengenali kedua telapak tanganku! Siapa di antara kalian yang merasa haus atau lapar, minum saja air kencingmu sambil berlari. Makan kotoranmu sambil berlari!"

Tiga lelaki berpakai merah jadi terbungkam kecut.

"Aku ingin mendengar jawaban kalian!" Orang bernama Ramada berteriak.

"Maafkan kami Ramada!" kata ketiga orang itu berbarengan.

Ramada meludah ke tanah. Dia terus meluncur di atas roda besinya. Tiga orang anak buahnya itu mengikuti tanpa ada yang berani lagi membuka mulut.

Berlari sekitar sepenanakan nasi di sebelah depan kelihatan kedip-kedip nyala api kecil. Ramada segera melihat nyala api itu. Begitu juga tiga orang di belakangnya.

Mereka berlari lebih kencang menuju nyala api itu. Ketika didekati ternyata adalah nyala sebuah obor kecil yang berkalp kelip pertanda minyaknya hampir habis. Obor ini tergantung pada sebuah tiang besi sebuah bangunan beratap seng yang sekelilingnya dibatasi dengan pagar besi setinggi tubuh manusia dan pintunya digembok sampai tiga buah. Di bawah atap seng itu berjnutai banyak sekali sarang labah-labah. Ada enam ekor labah-labah besar kelihtan mendekam dalam dinginya udara malam.

Sebuah makam terbuat dari batu tampak menghitam angker dalam bangunan beratap seng itu. Di atas makam ada taburan bunga yang sudah layu. Di samping kiri makam di atas sebuah batu rendah panjang tampak duduk bersila seorang lelaki berjanggut dan berkumis putih. Wajahnya yang tertunduk tidak begitu jelas terlihat.

Blangkon dan pakaian hitam yang dikenakannya sudah tua dan lusuh. Orang ini duduk bersila memejamkan mata. Kedua tangan ditumpangkan di atas bahu. Kalau dia tengah bersemedi maka ini adalah cara bersemedi yang aneh.

Ramada menggerakkan kepalanya hingga keringat yang membasahi tambutnya berlesatan ke udara. Dia berpaling pada tiga orang di belakangnya.

"Kita tidak salah datang ke tempat tujuan. Ini pastilah makam Pangeran Banowo dan orang yang bersemedi itu pasti kuncen penjaga makam. Namanya Ki Ageng Lentut."

Tiga orang lelaki berpakaian merah hanya menganggukkan kepala. Sejak dibentak tadi meraka belum berani membuka mulut lagi. Takur salah berucap.

Ramada maju mendekati pintu besi yang digembok tiga. Dia mendehem keras keras lalu berkata dengan suara keras.

"Ki Ageng Lentut, salam bagimu. Salam juga bagi penghuni makam. Sesuai petunjuk aku datang untuk meminta penjelasan atas beberapa hal yang tidak aku ketahui!"

Orang yang duduk di samping makam tidak bergerak. Kepalanya masih tertunduk dan tangannya masih terletak di atas bahu.

Ramada menunggu sebentar. Ketika tak kunjung ada gerakan atau jawaban dari orang di samping makam maka diapun berteriak lebih keras, mengulang ucapannya tadi.

Tapi orang di samping makam tetap saja tidak bergerak dan tidak memberikan jawaban.

Ramada mulai jengkel. "Sialan! Tidur lelap atau mungkin tuli dia agaknya!"

Dia berpaling pada salah seorang anak buahnya dan berkata "Jalak Item. Amil batu itu dan lemparkan pada si kuncen. Arah kepalanya biar dia tahu rasa!"

Orang yang bernama Jalak Item yang mukanya memang berwarna hitam sesaat tampak bimbang. "Ramada...." Katanya setengah berbisik, "aku kawatir kita berlaku kurang ajar dan menyalahi aturan. Kuncen itu...."

"Setan! Kataku ambil batu di dekat kakimu itu dan lempar kuncen penjaga kuburan itu!" bentak Ramada.

Jalak Item terpaksa membungkuk. Begitu menggenggam batu dia tidak segera melempar. Hatinya berdebar. Dia memandang pada kedua temannya Jalak Ijo dan Jalak Biru. Kedua orang ini hanya bisa dia tak berani memberi isyarat ataupun mengeluarkan ucapan.

"Jalak Item! Kau tunggu apa lagi!" bentak Ramada.

Jalak Item akhirnya garakkan tangannya yang memegang batu. Batu sebesar kepalan itu dilemparkannya kea rah kepala kuncen yang tengah bersemedi di samping makam. Jalak Ijo dan Jalak Biru menahan nafas sementara Ramada tampak menyeringai.

Sejengkal lagi batu besar itu akan menghantam kepala kuncen tiba-tiba secara aneh batu itu berbalik mencelat kencang kea rah Jalak Item.

"Jalak Item! Awas kepalamu!" teriak Jalak ijo.

Jalak Item cepat melompat mundur sambil menundukkan kepalanya. Tapi terlambat. Batu itu datangnya secepat setan berkelebat. Lalu menghantam mata kiri Jalak Item dengan telak.

Crrooootttt!

Batu besar menghancurkan mata kiri Jalak Item. Darah dan hancuran mata muncrat keluar. Jeritan Jalak Item setinggi langit. Dia jatuh terduduk di tanah dan berguling-guling beberapa kali. Ramada cepta mendatangi. Dia menotok salah satu bagian leher anak buahnya itu. Rasa sakit serta merta lenyap tapi darah masih terus mengucur dari matanya yang hancur, menutupi sebagian muka Jalak Item hingga tampak mengerikan.

Dari arah makam tiba-tiba terdengar suara tertawa mengekeh.. Disusul suara orang menegur.

"Tamu-tamuku yang terhormat, apakah kalian mendapatkan kesulitan?

Mungkin aku isa membantu?!"

Jalak Ijo dan Jalak Biru melengak. Jalak Item cepat duduk sambil mendekap mata kirinya sementara tangan kanannya menjangkau pikulannya.

Ramada memalingkan kep[ala kea rah makam. Kuncen berkumis dan berjanggut putih itu dilihatnya masih seperti tadi. Duduk tak bergerak dengan kepala tertunduk.

"Hemmm.... Kalau bukan dia tadi yang bicara siapa lagi?" kata Ramada dalam hati. "Jika saja aku tidak sangat membutuhkan dirinya akan kulumat sekujur tubuhnya anjing keparat ini saat ini juga!" Setelah memaki begitu Ramada keluarkan tawa panjang lalu berkata.

"Ki Ageng Lentut, ternyata nama besarmu bukan hisapan jempol belaka!"

"Tamu-tamu yang datang dari jauh, mengapa tidak masuk ke sini!" Kuncen dekat makam berkata. Kepalanya terangkat sedikit. "Cepatlah masuk. Aku tidak akan menerima tamu pada saat obor di tiang timur habis minyaknya dan padam!"

"Terima kasih. Kami berempat akan segera masuk. Tapi bagaimana ini. Pintu pagar makam terkunci. Ada tiga gembok besar menghalangi. Apakah harus kuremukkan dulu dengan tangan kosong?!" ujar Ramada.



DUADari arah makam terdengar suara mengekeh sang kuncen yang bernama Ki Ageng Lentut itu. Kembali kepalanya tengakat sedikit.

"Aku tahu kehebatan tangan dan kesaktianmu. Siapa yang tidak kenal Ramada Suro Jelantik, raja di raja tokoh persilatan darai timur. Aku yakin kau bisa menghancurkan tiga buah gembok besar itu dengan tangan kosong. Tapi apakah ada gunanya? Merusak itu tidak ada manfaatnya! Lagi pula tiga buah gembok itu adalah benda-benda pusaka yang usianya hampir dua kali usiamu!"

Dalam hatinya Ramada jadi tercekat. "Kenalpun sebelumnya tidak. Dari tadi dia hanya menundukkan kepala, tidak mungkin melihat tampangku dengan jelas. Tapi bagaimana dia tahu nama dan diriku? Benar-benar manusia berkepandaian tinggi!"

"Kuncen makam Pangeran Banowo bernama Ki Ageng Lentut. Bagaimana kau bisa tahu bahwa yang datang ini aku Ramada Suro Jelantik?" Ramada tak dapat menahan rasa ingin tahunya.

Sang kuncen di samping makam tertawa perlahan.

"Di dunia ini siapa manusianya yang berjalan laksana angin di atas roda besi yang hebat kalau bukannya Ramda Suro Jelantik? Dari jauh kudenar suara alat yang mampu membuatmu berlari dengan kecepatan setan! Lalu kucocokkan dengan bau badanmu! Tidak salah lagi. Kau memang Ramada Suro Jelantik!"

Ramada memaki lagi dalam hati lalu menarik nafas dalam dan akhirnya menyeringai.

"Ki Ageng Lentut, kuncen makam Pangeran Banowo. Kami ingin masuk, harap kau suka membuka tiga buah gembok!" Akhirnya Ramada berkata.

"Baiklah, aku akan bukakan pintu pagar!" Kuncen di samping makam angkat tangan kanannya lalu digerakkan tiga kali.

Trekk....terkk.....treekkkk!

Terdengar suara berkereketan tiga kali berturut-turut. Tiga buah gembok besar di pintu pagar makam tampak tersentak-sentak lalu terbuka secara aneh. Bersamaan dengan itu pintu besi yang berat bergeser membuka dengan mengeluarkan suara berkereketan.

"Para tamu dari jauh silakan masuk...." Terdengar kuncen makam berkata.

Tanpa ragu-ragu Ramada melangkah melewati pintu. Jalak Ijo dan Jalak Biru mengikuti dari belakang. Jalak Item yang masih terduduk di tanah berkata "Aku tidak ikut masuk. Kuncen keparat itu telah menghancurkan dan membutakan mata kiriku!"

Dari arah makam sang kuncen menyahuti. "Setiap amal perbuatan ada ganjarannya. Kalau baik akan mendapatkan ganjaran yang baik. Kalau jahat akan mendapatkan balasan yang jahat. Tinggal manusia mau memilih yang mana. Kalau sampeyan tidak mau diajak masuk, siapa mau memaksa...?"

"Sudah! Kau tinggal saja di luar sana Jalak Item!" kata Ramada pada anak buahnya itu lalu meneruskan langkah masuk ke dalam makam.

Ki Ageng Lentut mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. Kini kelihatan wajahnya lebih jelas. Satu wajah tua kelimis dengan janggut dan kumis putih yang terpelihara rapi. Keningnya tinggi dan rahangnya tampak kokoh.

"Ramada, aku tak mengira banyak sekali bawaanmu," kata Ki Ageng Lentut.

Pandangannya menyambar ke arah guci batu yang ada dalam dekapan tangan kanan Ramada. "Dan bukan Ramada namanya kalau tidak membawa benda-benda aneh.

Kau boleh meletakkan jenazah yang diawetkan itu di atas makam dan letakkan guci itu dekat batu tempat dudukku!"

"Maafkan aku Ki Ageng Lentut. Jenazah ini bias kuletakkan di atas makam.

Tapi guci ini biar tetap kupegang di tangan kanan....!" Kata Ramada Suro Jelantik.

Sang kuncen tersenyum.

"Ah, rupanya guci itu jauh lebih berharga dari jenazah perempuan muda dan cantik yang kau bawa."

"Kira-kira begitu Ki Ageng Lentut," jawab Ramada.

Sang kuncen usap janggut putihnya sambil menatap ke arah guci yang ada dalam dekapan tangan kanan Ramada. Pandangannya beralih ke arah mayat yang terbujur di atas makam. Lalu dia bertanya "Ramada, mayat siapakah yang kau bawa ini?"

"Mayat istriku Ki Ageng...."

Ki Ageng Lentut keluarkan seruan tertahan disertai pandangan mata seperti tidak percaya. Lalu digeleng-gelengkannya kepalanya.

"Ah, rupanya tokoh besar dunia persilatan dating membawa nasib malang.

Aku turut berduka Ramada. Namun apakah sebenarnya yang telah terjadi? Aku melihat istrimu mati dengan sepasang mata mendelik. Lalu ada luka besar di dekat lehernya. Setahuku istrimu menguasai ilmu silat dan kesaktian yang tidak rendah.

Bagaimana mungkin dia bisa menemui ajal seperti ini? Bebanmu berat amat Ramada.

Membawa mayat istrimu kemana-mana....."

"Aku akan membawanya sampai ke neraka sekalipun. Aku tidak akan menguburnya sebelum menemukan pembunuhnya!"

"Jadi istrimu mati dibunuh orang!"

"Betul sekali Ki Ageng. Aku berusaha mencari tahu siapa orangnya. Tapi sampai saat ini masih gelap. Itu sebabnya aku datang dari jauh untuk menemuimu guna mendapat petunjuk! Itu pula sebebnya aku membawa guc keramat yang bernama Guci Setan ini. Menurut banyak orang hanya kau yang bisa melihat kealam ghaib lewat guci ini."

Kuncen makam Pangeran Banowo itu memandangi guci di tangan Ramada dengan sepasang mata berkilat-kilat.

"Guci Setan....." desisnya. "Sudah lama aku mendengar nama benda ini. Guci misterius yang bisa mendatangkan sejuta kebajikan tapi juga bisa menimbulkan sejuta angkara murka! Guci yang selama ratusan tahun gentayangan dari satu tangan orang

pandai ke tangan orang pandai lainnya. Menjadi rebutan dalam dunia persilatan.

Bagaimana benda keramat ini sampai berada di tanganu Ramada?"

"Panjang ceritanya Ki Ageng. Harap dimaafkan, aku datang kemari bukan untuk menuturkan riwayat Guci Setan ini, tapi untuk minta bantuanmu, tolong melihat lewat guci, siapa kiranya manusia keparat yang telah membunuh istriku."

"Jika itu maksud tujuanmu, aku akan membantu. Mudah saja melakukannya.

Memang hanya aku yang mampu untuk melihat dan menembus kea lam gaib lewat guci sakti itu. Letakkan guci itu di hadapanku Ramada."

"Tidak Ki Ageng. Apapun yang akan kau lakukan guci ini tetap harus berada dalam dekapanku," jawa Ramada Suro Jelantik.

Kuncen tua itu tersenyum. "Kau tidak percaya padaku rupanya Ramada?"

"Kepercayaan di atas dunia ini kini hanya setipis embun pagi Ki Ageng.

Terserah, kau mau menolongku dengan cara begini ataau aku akan pergi saja."

"Baiklah, jika kau memang lebih suka begitu aku tidak akan membantah.

Sekarang katakana berapa banyak harta dan uang yang akan kau berikan padaku sebagai upah melakukan permintaanmu?"

Ramada Suro Jelantik menyeringai. Dirabanya janggut dan cambang bawuknya yang meranggas kasar.

"Kau lupa Ki Ageng. Aku sudah membayarnya tadi!"

"Eh, apa maksudmu Ramada?" tanya kuncen makam terheran-heran.

"Aku sudah membayar dengan mata kiri anak buahku yang kau bikin hancur hingga kini dia menjadi cacat buta seumur hidup! Apa itu belum cukup?!"

Berubahlah paras Ki Ageng Lentut. Mulutnya terbuka hendak mengatakan sesuatu tapi cepat dipotong oleh Ramada. "Aku tahu, kau akan berkata kejadian itu akibat salah anak buahku sendiri! Tapi ketahuilah bukan begitu cara mengingatkan sahabat dalam dunia persilatan! Batu yang dilemparkannya bisa saja kau buat mental ke jurusan lain! Bukan utnuk menghantam matanya hingga cidera seperti itu!"

Ki Ageng Lentut terdiam. Lalu dia berkata "Kurasa aku...."

Ramada Suro Jelantik menjentikkan jari-jari tangannya pada Jalak Ijo. "Jalak Ijo, kurasa binatang peliharaanmu sudah cukup lapar. Ada enam labah-labah gemuk di atas atap makam. Mengapa kau tidak menyuruhnya menyantap tiga dari enam labah-labah itu?"

Jalak Ijo menyeringai. Pikulan di atas bahunya diturunkan. Keranjang yang ada di ujung pikulan diletakkannya di atas pangkuannya. Perlahan-lahan penutup keranjang rotan itu dibukanya. Begitu penutup keranjang terbuka tiba-tiba melesat sebuah benda panjang berkepala lebar pipih, berwarna hijau disertai suara mendesis.

"Ular Kobra!" seru Ki Ageng Lentut dengan muka pucat dan bersurut jauh di atas batu yang didudukinya. "Ramada, jangan main-main. Binatang itu sangat beracun.

Sekali patuk saja jangankan manusia. Gajah saja pasti mati! Jauhkan binatang celaka itu dariku! Aku sangat bendi pada segala macam ular!"

Ramada tersenyum lebar. Dia melirik pada Jalak Ijo.

"Ayo tunggu apa lagi. Beri makan ular kobramu. Walau cuma tiga ekor labahlabah.

Lebih baik dari pada harus mematuk kepala kuncen makam ini!"

Jalak Ijo yang memegang keranjang rotan berisi ular kobra betina mengetuk keranjang itu tiga kali seraya berkata "Ratu hijau. Lihat tiga ekor labah-labah gemuk di atas atap sana. Itu rejekimu saat ini. Santaplah!"

Kobra hijau di dalam keranjang menaikkan kepalanya lurus-lurus. Tiba-tiba binatang ini melesat ke atas. Ketika kemudian dia kembali masuk ke dalam keranjang, di bawah atap seng tiga ekor labah-labah gemuk lenyap dari tempatnya semula!

Jalak Ijo Menyeringai. Perlahan-lahan penutup keranjang rotan ditutupkannya kembali.

Kuncen makam Pangeran Banowo tak berani bergerak. Berkesippun hampir tidak dilakukannya. "Ular beracun itu kecepatannya seperti setan. Aku harus berhatihati.

Mungkin belum saatnya aku menjalankan rencana...."

Selagi kuncen berpikir begitu terdengar Ramada Suro Jelantik berkata pada anak buahnya yang seorang lagi. "Jalak Biru, kukira binatang peliharaanmu juga sudah lapar. Sayang hanya tingal tiga ekor labah-labah di atas sana. Bagaimana pendapatmu?"

"Biar mereka berebut rejeki sendiri-dendiri. Siapa yang lebih cepat akan mendapat santapan enak," jawab Jalak Biru. Lalu dengan hati-hati diturunkannya pikulannya dari bahu. Keranjang rotan yang tesangkut di ujung pikulan itu diletakkannya di lantai makam. Perlahan-lahan dibukanya penutup keranjang. Begitu penutup terbuka menjalar keluar tujuh ekor kelabang berwarna biru. Kepala, kakikaki dan ekornya bergerak kian kemari.

Kembali Ki Ageng Lentut bergidik dan bersurut mundur di atas batu yang didudukinya. Ramada tersenyum dan berkata "Ki Ageng, kebuasan dan jahatnya racun tujuh Kelabang Biru itu tidak kalah dengan Ratu Hijau tadi. Jangan sampai kau membuat erakan yang keliru. Salah-salah kau bisa mereka serang!"

"Kalian membawa binatang-binatang celaka!" kaata Ki Ageng Lentut tak berani keras-keras.

"Jalak Biru. Beri makan binatang peliharaanmu!" kata Ramada pula.

Jalak Biru mengetuk penutup keranjang rotan tiga kali lalu berkata "Sarapan malam cuma ada tiga. Terserah bagaimana kalian mau merebutkannya!" Lalu Jalak BIru meniup kea rah keranjang. Tujuh ekor kelabang biru itu mengeluarkan suara aneh lalu ketujuhnya melesat ke atas. Tiga yang melesat lebih cepat berhasil menyambar tiga ekor labah-labah. Yang keempet jatuhkan diri kembali ke dalam keranjang rotan. Selesai menelan mangsanya, tiga kelabang biru tadi baru turun pula ke dalam keranjang. Jalak Biru cepat menutup keranjang rotan itu kembali.

Ki Ageg Lentut menarik nafas lega. Nyawanya yan gtadi terasa terbang kini seperti kembali lagi.

"Ki Ageng Lentut, apakah kau masih ingin meminta bayaran?" bertanya Ramada pada sang kuncen. Orang tua berjanggut dan berkumis putih itu gelengkan kepalanya berulang kali dengan wajah pucat.

"Nah sekarang pergunakan kepandaianmu untuk melihat kea lam gaib. Siapa yang telah membunuh istriku." Kata Ramada pula.

"Baik, baik. Akan kulakukan," kata si kuncen ketakutan. Dia trun dari batu tempatnya duduk lalu berdiri di hadapan Ramada yang mendekap guci berapi itu dalam gelungan tangan kanannya.

Mula-mula Ki Ageng Lentut meletakkan kedua telapak tangannya di atas mulut guci yang mengepulkan asap putih dan ada jilatan apinya. Lalu kedua matanya dipejamkan. Multunya berkomat kamit. Beberaa saat kemudian kelihatan sekujur tubuh kuncen itu bergetar keras. Kedua telapak tangannya yang ada di atas mulut guci ikut bergetar. Lalu dari mulutnya meluncur ucapan-ucapan "Guci Setan guci keramat.

Petunjuk bumi petunjuk langit. Lenyap asap padamlah api. Muncullah air keramat.

Ada orang ingin minta pertolongan. Sudi kiranya penguasa guci memberi jawaban memberi petunjuk."

Beberapa saat berlalu. Tiba-tiba Ramada, Jalak Ijo dan Jalak Biru melihat begaimana sekujur tubuh Ki Ageng Lentut berubah menjadi sangat hitam. Kulitnya tampak mengeriput dan wajahnya jadi sangat mengerikan. Hidung dn kedua matanya membesar. Telinganya mencuat panjang ke atas dan gigi-giginya menyembul panjang besar. Lalu dari multunya keluar suara aneh. Bukan suaranya. Tapi suara lain, halus menggeletar.

"Aku penghuni dan penguasa Guci Setan. Anak manusia apa yang ingin kau tanyakan? Tapi katakan dulu siapa namamu."

Sesaat Ramada memandang tercekat pada perubahan yang terdiri atas wajah dan keadaan tubuh kuncen penjaga makam itu. Demikian juga dengan dua anak buahnya yaitu Jalak Ijo dan Jalak Biru.

"Penghuni dan penguasa Guci Seetan. Namaku Ramada Suro Jelantik...."

"Apa keperluanmu Ramada?" tanya sang kuncen yang kini punya bentuk dan suara lain.

"Aku ingin mengetahui siapa pembunuh istriku," jawab Ramada.

Terdengar suara mengekeh.

"Setahuku kau punya empat istri Ramada. Istrimu yang mana yang dibunuh orang?"

Sesaat paras Ramada nampak berubah. Dia berdehem beberapa kali lalu menjawab. "Istri tua dan istri keduaku minggat entah kemana. Istri ketiga sudah kucerai karan main gila dengan orang lain..."

"Ah, jadi istri mudamu rupanya yang dibunuh orang!" kata si penghuni Guci Setan. "Siapa nama istrimu yang malang itu?"

"Namanya Dardini...."

"Hemm....jadi kau ingin tahu siapa embunuhnya?"

"Betul. Siapa orangnya dan dimana aku bisa mencarinya!" jawab Ramada.

Kuncen itu melangkah lebih dekat pada Ramada. Kedua telapak tangannya diletakkan di atas mulut guci dimana kepulan asap dan jilatan lidah api. Kalau Ramada telah membuktikan kehebatannya sanggup memegang dan mendekap guci yang panas tanpa cidera, maka kuncen makam memperlihatkan kesaktiannya dimana kedua tangannya sama sekali tidak apa-apa walaupun dijilati api.

"Api di dalam guci, penghuni dan penguasa guci meminta kau untuk pergi.

Air di alam gaib. Masuk dan isilhah Guci Setan. Penghuni dan penguasa guci hendak melihat ke dalam alam gaib...... Ada anak manusia membutuhkan pertolongan."

Baru saja kuncen itu berkata begitu perlahan-lahan api di dalam guci mengecil.

Bersamaan dengan itu kepulan asap putih menghilang.

Lalu dari dalam guci terdengar suara seperti ada air dicurahkan. Ramada merasa guci yang dipegangnya itu menjadi lebih berat. Dia membuka matanya lebarlebar dn memandang ke dalam guci. Astaga! Di dalam guci itu kini kelihatan ada air yang tingginya sampai setengah badan guci. Air ini secara anh berputar-putar dena bersamaan dengan itu terdengar suara aneh seperti tiupan angin halus di dalam guci.



TIGAKi Ageng Lentut mendorong kepala Ramada yang menghalangi pemandangannya. Lalu memandang ke dalam guci.

"Air keramat dan angin sakti telah muncul. Penguasa guci telah melihat dan mendengar. Sekarang perlihatkan mukjizatmu. Ada seorang anak manusia bernama Ramada Suro Jelantik kematian iatri bernama Dardini. Perempuan muda itu mati dibunuh orang. Perlihatakan kesaktianmu padaku. Tunjukkan padaku siapa sang pembunuh!"

Putaran air aneh di dalam guci semakin keras begitu juga tiupan angin halus.

Guci bergoncnag keras. Ramada terpaksa memegang Guci Setan itu erat-erat agar tidak terlepas dari dekapannya.

Perlahan-lahan putaran air dalam guci mulai surut. Bersamaan dengan itu suara tiuapan angin halus mulai lenyap. Kuncen Ki Ageng Lentut pejamkan kedua matanya. Ketika mata itu dibuka kembali dan menatap ke dalam guci, kelihatan air dalam guci tak bergereak lagi. Bibir sang kuncen kelihtan bergerak-gerak. Dia tengah melafatkan sesuatu agaknya. Lalu terdengar dia berucap.

"Aku penghuni dan penguasa Guci Setan. Aku mulai melihat bayangan seseorang di permukaan air dalam guci. Jauh samar-samar. Mendekat mulai jelas.

Makin jelas....tambah jelas. Ah.....ternyata seorang pemuda....."

"Kuncen, kau mengenali siapa pemuda itu?!" tanya Ramada Suro Jelantik yang rupanya sudah tidak sabar utnuk mengetahui siapa adanya orang yang membunuh istrinya.

Sang kuncen yang wajahnya dan kulitnya telah berubah hitam mengerikan menggeram pendek. "Manusia anjing!" meluncur makina dari mulutnya. "Sekali lagi kau berani menyelak bicara, kupevahkan kepalamu!"

"Bangsat sialan!" maki Ramada Suro Jelantik, tapi hanya dalam hati. Ingin dia merobek mulut kuncen tua itu.

"Maafkan aku...." Ujar Ramada dengan suara bergetar menahan marah lalu mengusap mukanya yang keringatan.

Ki Ageng Lentut menurunkan kepalanya, memandang kembali ke dalam guci.

"Betul.....memang seorang pemuda. Berambut gondrong sebahu..... Keningnya diikat setangan warna putih. Dia juga mengenakan pakaian putih.... Hemmmm.....lagaknya sombong sekali. Cengar-cengir seperti orang kurang waras...."

Ki Ageng Lentut mengangkat kepalanya. "Ramada, itu yang aku lihat di permukaan air dalam guci. Pembunuh istrimu adalah seorang pemuda berambut gondrong, mengenakan pakaian putih...."

"Jauh-jauh aku datang menempuh hujan dan teriknya matahari. Kau hanya bisa memberi tahu seperti itu! Sama sekali tidak ada gunanya bagiku! Persetan! Ada ratusan orang berpakaian putih! Ada ratusan orang berambut gondrong! Kuncen makam Pangeran Banowo, kau benar-benar mengeewakan aku. Ilmu kesaktianmu yang pandai mengetahui seribu satu macam kejadian yang sudah lalu maupun yang akan datang ternyata omong kosong belaka!"

Kuncen tua itu tertawa. "Manusia Anjing! Ucapanku belum selesai. Kau sudah memotong! Katakn aku yang salah atau kau yang tolol tidak tahu peradatan?!"

"Lalu apa lagi yang hendak kau katakana? Apakah kau tidak bisa mengenali siapa adanya pemuda itu?!"

Ki Ageng Lentut usap-usap janggutnya lalu rapikan blangkon hitamnya.

Sesaat setelah dia menatap lekat-lekat pada Ramada, kuncen ini kembali melihat ke dalam guci.

"Hemmm....angin meniup baju pemuda yang tak terkancing. Dada penuh otot, tanda kekuatan yang hebat. Eh, apa itu..... Aku melihat sesutau di pertengahan dadanya. Ada rajah tiga buah angka di dada itu. Angka 2....1....2....! 212!" Paras Ki Ageng Lentut berubah keras membesi. Dia mengangkat kepala, menatap manusia bernama Ramada Suro Jelantik. "Anak manusia bernama Ramada. Aku sudah tahu siapa pembunuh istrimu.... Tak pelak lagi. Rajah tiga angka itu! Dia adalah Wiro Sableng. Tokoh silat muda yang dikenal dengan gelaran Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212! Benar-benar tidak disangka! Pendekar yang begitu diagung-agungkan ternyata adalah seorang pemerkosa dan pembunuh keji biadab!"

Tampang angker Ramada Suro Jelantik tampak seganas harimau lapar yang terluka. Sekujur tubuhnya bergeletar.

"Pendekar 212 keparat!Akan kutebas batang lehermu! Kuminum darahmu!

Kulumat sekujur tubuh dan tulang-tulangmu!" teriak Ramada. Dalam amarah yang mendidih tidak terkendali lagi tangan kirinya bererak memukul ke samping.

Tiang besi penyanggah atap seng bangunan makam putus dihantam pukulan Ramada. Atap di atasnya langsung jatuh miring. Kuncen makam hendak memaki marah tapi Ramada lebih dahulu membentak garang hingga mulut sang kuncen seperti terkancing.

"Jadi dia pembunuhnya! Kuncen! Lihat lagi k edalam guci! Pergunakan kepandaianmu untuk melihat dimana pemuda keparat itu saat ini berada!"

Perlahan-lahan Ki Ageng Lentut kembali melihat ke dalam guci. "Aku lihat pemandangan seperti ada laut. Pantai.... Pemuda pembunuh itu berada di pantai. Tapi tak dapa kupastikan apakah dia berada di pantai Utara atau di pantai Selatan....."

"Kuncen!"

"Tunggu dulu! Dalam guci aku melihat gambaran apa yang telah terjadi dengan istrimu. Aku melihat satu bangunan kayu di sebuah lembah yang ada danau kecil di depannya...."

"Itu tempat kediamanku!!" kata Ramada pula.

"Gelap..... PErtanda saat itu malam hari. Ada bayangan putih berkelebat.

Orang ini menerobos masuk ke dalam sebuah kamar lewat jendela. Ada seorang perempuan berbaring tidur di atas ranjang..."

"Itu pasti istriku Dardini!" kata Ramada tegang. Kedua tangannya dikepalkan.

Ki Ageng Lentut memandang kembali ke dalam guci. "Istrimu terbangun.....

Terjadi perkelahian tapi singkat sekali. Orang yang masuk berhasil menotok perempuan itu. Dalam keadaan tak berdaya dia dibaringkan di atas ranjang. Seluruh pakaiannya dibuka dengan paksa. Lalu..... Ya ampun..... Orang itu memperkosa istrimu Ramada....."

"Jahanam!" teriak Ramada sambil tegak berdiri. Dia seperti hendak mengamuk. Tapi Ki Ageng Lentut cepat berkata.

"Duduk kembali Ramada. Apa yang kulihat di dalam guci ini belum selesai...."

Untuk beberapa saat lamanya Ramada masih tetap berdiri dengan sekujur tubuh bergetar dan keringatan. Kemudian akhirnya dia duduk kembali di hadapan kuncen itu. Sang kuncen melihat lagi ke dalam guci. "Betul Ramada dia memperkosa istrimu. Tapi lihat! Istrimu tiba-tiba bisa melepaskan totokannya. Hebat sekali!

Kembali terjadi perkelahian. Istrimu berhasil mendesak pemuda itu. Eh, apa itu? Aku melihat ada cahaya menyilaukan berkiblat. Hemmm, si pemuda ternyata mengeluarkan sebuah senjata. Sebuah kapak bermata dua! Jelas ini adalah Kapak Maut Naga Geni 212! Istrimu tidak berdaya menghadapi senjata sakti itu Ramada.

Satu bacokan mendarat dekat pangkal lehernya..... Istrimu roboh. Pemuda itu melarikan diri...."

Geraham Ramada terdengar bergemeletukan. "Bangsat itu tak akan bisa lari terus. Aku akan segera menemukannya. Coba kau lihat ke dalam guci Ki Ageng!

Bantu aku menemukan pendekar jahanam itu!"

"Sudah kubilang tadi Ramada. Dia saat ini berada di daerah pantai. Mungkin di Selatan, mungkin juga di Utara. Ad satu cara untuk memancing kemunculannya.

Pergi ke puncak gunung Gede kediaman gurunya. Seorang nenek sakti bernama Sinto Gendeng. Bunuh tua bangka itu. Masakan Pendekar 212 tidak akan keluar dari sarangnya mengunjukkan diri untuk mencarimu?! Aku sudah letih Ramada. Aku penghuni dan penguasa Guci Setan segera akan kembali ke alam gaib. Kapan saja kau ingin petunjukku lebih lanjut kau boleh menghubungiku..."

"Tunggu dulu!" kata Ramada setengah berteriak.

Ki Ageng Lentut yang kemasukan roh aneh itu tidak perdulikan teriakan orang.

Kedua tangannya diletakkan di atas mulut guci. Mulutnya komat kamit. Kulitnya yang tadi hitam pekat dan berkeriput kini berubah kembali ke warna asalnya.

Wajahnya yang mengerikan juga kembali ke rupa aslinya. Hidung dan kedua matanya yang tadi membesar kini mengecil lagi. Begitu juga telingnya yang mencuat dan gigi giginya

yang menyembul besar, kembali ke bentuk semula.

Dari dalam guci kelihatan asap putih mengepul. Bersamaan dengan itu tampak lidah api menjilat keluar. Perlahan-lahan kuncen itu melangkah mundur, lalu duduk di atas batu. Sekujur tubuhnya basah oleh keringat. Suaranya yang tadi halus menggeletar kini terdengar seperti semula.

"Ramada.... Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan. Tubuhku letih, aku ingin bersemedi dan tidur dalam semediku. Kuharap kau dan anak buahmu segera angkat kaki dari tempat ini."

"Ki Ageng Lentut, aku....."

Ramada Suro Jelantik hentikan ucapannya. Dilihatnya sang kuncen saat itu pejamkan kedua mata, kaki disilangkan di atas batu dan kedua tangannya diletakkan di atas bahu.

"Sialan!" maki Ramada. Dia meludah ke lantai makam lalu berdiri. Dengan bentuan Jalak Ijo dan Jalak Biru mayat kaku istri mudanya dinaikkan ke atas bahu kirinya. Di tangan kanannya Ramada memegang guci erat-erat. "Sialan!" makinya lagi. "Kita harus segera pergi dari sini. Kalian harus mencari kuda tunggangan.

Gunung Gede jauh di sebelah Barat."

"Kita pasti akan mendapatkan kuda begitu sampai di kaki Gunung Merbabu,"

kata Jalak Ijo.

Di depan makam Jalak Item masih terduduk di tanah. Meski darah tidak lagi mengucur dari mata kirinya yag hancur namun rasa sakit membuat dia mengerang terus-terusan.

"Kau mau ikut atau tinggal di sini?!" betnak Jalak Biru pada temannya itu.

Perlahan-lahan Jalak Item berdiri. Dia tidak segera mengikuti Ramada dan kawan-kawannya melainkan melangkah dulu kea rah bangunan makam.

"Kuncen keparat! Matamu boelh kau pejamkan. Aku tahu telingamu tidak tuli.

Kau dengar baik-baik. Satu hari aku pasti datang mencarimu untuk membalas apa yang kau lakukan padaku. Aku akan menagih hutang berikut bunganya. Aku akan mengorek kedua matamu sekaligus!"

Di atas batu kuncen Ki Ageng Lentut teidak bergerak. "Kuncen bangsat!"

rutuk Jalak Item. Dia meludah makam batu di depannya lalu berpaling dan tingalkan tempat itu sambil tangan kirinya menekap matanya yang pecah dan buta.



EMPATMeski di langit matahari bersinar terik namun di puncak Gunung Merbabu itu udara tetap saja terasa dingin. Satu bayangan putih berkelebat cepat.

Mula-mula gerakannya terlihat di lerang sebelah Timur. Lalu lenyap dan tahu-tahu muncul lagi di ketinggian yang hampir mencapai puncak. Orang yang berlari dengan gerakan sebat ini ternyata adalah Pendekar 212 Wiro Sableng, murid Eyang Sinto Gendeng dari Gunung Gede. Di puncak gunung, dia membutuhkan waktu cukup lama sebelum akhirnya menemui makam Pangeran Banowo.

Makam Itu kosong, diselimuti kesunyian dan udara dingin.

"Aku datang terlambat! Sebelumnya dia pasti berada di sini," kata Pendekar 212 dalam hati lalu memandang berkeliling. Di atas makam tampak tebaran bunga bunga yang sudah layu. Di salah satu tiang makam tergantung sebuah obor yang telah lama padam. Satu tiang lainnya tampak bengkok dan patah hingga atap makam yang terbuat dari seng kelihatan miring. Murid Sinto Gendeng ini kernyitkan kening ketika di lantai dilihatnya banyak jejak-jejak kai. "Agaknya dia tidak sendirian di sini. Siapa bersama dia? Kemana mereka sekarang?"

Wiro memperrhatikan halaman liar sekitar makam. Lalu matanya membentur bercak-bercak hitam di tanah. Lalu mengorek bagian tanah yang ada bercak-bercak kehitaman itu. "Bekas-bekas darah yang sudah mongering...." Katanya dalam hati.

"Sesuatu telah terjadi di tempat ini." Perlahan-lahan Wiro berdiri lalu melangkah kembali kea rah makam. Baru saja sampai di depan pintu pagar makam yang bergembok tiga tiba-tiba dia mendengar suara derap kaki kuda. Murid Eyang Sinto Gendeng berpaling ke jurusan datangnya suara itu. Tapi derap kaki kuda tadi serta merta lenyap. Wiro garuk-garuk kepala. "Mungkin aku salah dengar," katanya sambil garuk-garuk kepala. Di puncak gunung seperti ini siapa orangnya yang mampu menunggang kuda begitu cepat!" Karena tak mau merusak pintu pagar makam, Wiro memanjat pintu itu lalu masuk ke dalam. Selagi dia memperhatikan keadaan makam, beberapa tombak dari sana, terlindung di balik semak belukar liar yang lebat, seorang dara berpakaian ringkas warna biru dan berikat kepala kain merah berkata pada orang di sebelahnya sambil mengepalkan tangan.

"Paman,lihat! Pemuda tak dikenal itu memanjat pintu pagar makam. Kurang ajar.....!" Tangannya bergerak menurunkan sebuah busur dari bahunya.

"Jangan-jangan dia pula yang telah merusak salah satu tiang atap makam....!"

Menyahuti lelaki berambut putih di sebelah sang dara.

"Kurang ajar! Lihat! Dia kini bahkan berani membaringkan diri, tidur menelentang di atas makam ayahanda! Saya tidak bisa berdiam diri lebih lama. Saya akan tambus tubhnya dengan lima anak panah sekaligus!" Lali si gadis berpakaian biru itu menarik lima anak panah dari tabung bambu di punggungnya. Begitu disusupkan ke tali busur dia segera membidik ke arah Pendekar 212 Wiro Sableng yang karena keletihan enak saja merebahkan diri di atas makam batu Pangeran Banowo.

"Tunggu dulu Dewi.... Aku punya firasat pemuda itu bukan orang sembarangan....."

"Paman! Bagaiman kau ini! Oarng telah mengotori bahkan merusak makam ayahanda kau masih bilang tunggu! Siapapun adanya pemuda itu dia harus kita hajar!

Lagi pula ini saatnya kau menyaksikan sendiri kehebatan ilmu panah warisanmu!"

"Dengar Dewi. Aku akan kelur dair semak-semak ini. Aku akan bicara dengan orang itu. Kau tetap berada di sini. Bukan mustahil dia datang tidak sendirian...."

Dewi Santiastri si gadis tak menjawab. Namun begitu pamannya melangkah ke arah makam dia segera melompat dari semak belukar. Lima anak panah yang terpentang di busurnya dibidikkan ke arah Pendekar 212 yag masih asyik-asyikan berbaring-baring di atas batu makam bahkan sambil bersiul-siul perlahan! Murid Sinto Gendeng ini baru melompa tebangun ketika sepasang telinganya menangkap suara langkah-langkah kaki.

"Astaga! Ada orang mendatangi. Sudah dekat baru aku dengar langkahnya.

Pasti dia memiliki ilmu kepandaian tinggi!" kata Wiro dalam hati dan memperhatikan ke depan. Dia melihaat seorang lelaki berpakaian putih bagus, berusia sekitar enam puluh tahun tetapi berwajah segar dan klimis melangkah dan berhenti di pagar makam.

Yang membuatnya tercekat adalah ketika melihat di belakang lelaki berambut putih itu ada seorang dara berpakaian serba biru. Parasnya cantik tampak beringas pertanda bahwa setiap saat dia benar-benar akan melepaskan lima anak panah yang dibidikkan ke arahnya. Wiro mencoba tersenyum dan garuk-garuk kepala! Sang dara membentak dengan keras.

"Pemuda kurang ajar! Jangan senyum-senyum cengengesan! Berani kau bergerak kutambus sekujur tubuhmu dengan panah-panah ini!"

"Astaga....! Eh, apa-apaan ini! Enak saja kau mengatakan aku pemuda kurang ajar? Di mana? Kapan? Kenalpun tidak. Melihatmupun baru sekali ini!" Wiro berpaling pada lelaki berambut putih yang tegak di pagar makam. Dengan mimik keheranan dia bertanya "Bapak, dapatkah kau menjelaskan apa masalahnya? Dan siapa kalian bedua? Gadis cantik itu puterimu?"

"Anak muda, seperti yang dikatakan keponakanku. Kau telah berlaku kurang ajar!"

"Aku telah berlaku kurang ajar?!"

"Kau telah memasuki makam salah seorang leluhur Kerajaan secara kurang ajar! Dengan cara memanjat"

"Ah....!" Wiro memandang berkeliling sambil garuk-garuk kepala. Lalu kembali menatap lelaki di hadapannya. "Mungkin benar aku telah berlaku kurang ajar.

Tapi kau lihat sendiri. Pintu pagar digembok. Jadi terpaksa aku memanjat...."

"Memanjat seperti monyet!" mendamprat gadis berbaju biru. "Kau bukan saja melompati pagar. Malah berani tidur di atas makam ayahku!"

"Ah, bagaimana ini! Harap maafkan! Aku tidak tahu. Benar-benar tidak tahu kalau ini adalah makam ayahmu. Apalagi tadi pamanmu bilang ini adalah makam salah seorang leluhur Kerajaan. Aku mana bisa menduga begitu? Setahuku orangorang penting Kerajaan dimakamkan di satu tempat khusus di pinggiran kota...."

"Bcaramu banyak amaat! Paman, menyingkir kekiri edikit. Biar kuhantam manusia kurang ajar ini!"

Sang paman mengangkat tangannya memberi tanda agar keponakannya jangan melepas anak-anak panahnya.

"Anak muda, sekalipun kau tidak tahu itu makam atau kubur siapa, tapi yang namanya manusia beradab dan berbudi serta beradat tidak akan pernah memasuki makam seseorang tanpa izi keluarganya, apalagi dengan cara melompati pagar lalu tidur-tiduran!"

"Aku memang salah besar!" Wiro berkata sejujurnya. "Aku ke sini mencari seseorang. Tapi yang kucari sudah lenyap. Karena keletiha lalu membaringkan diri di atas batu makam yang dingin sejuk itu.... Aku memang salah besar. Mohon aku diberi maaf..."

"Karena tertangkap basah kau lalu berdalih tengah mencari seseorang dan keletihan! Enak saja becaramu! Paman, menyingkirlah...."

"Tunggu Dewi. Biar aku bicara dulu dengan pemuda ini," kata sang paman.

"Orang muda, tahukah kau saat ini berada di makam siapa?"

"Aku tidak tahu," jawab Wiro Sableng.

Makam yang barusan kau panjat pagarnya dan kau tiduri adalah makam Pangeran Banowo. Aku adalah adiknya dan gadis ini adalah puteri Pangeran Banowo.

Aku sendiri adalah Pangean Banuarto."

Sepasang mata Pendekar 212 jadi terbelalak. Lalu dia cepat-cepat menjura.

"Mohon maafmu. Aku tidak tahu tengah berhadapan dengan seorang Pangeran. Aku juga tidak tahu kalau ini adalah makam pangeran Banowo yan dalam hidupnya pernah menolong diriku."

"Paman! Jangan dengarkan ucapannya. Siapa percaya dirinya. Setelah sadar berbuat salah kini malah bilang ayahanda pernah menolongnya! Kadal ini pandai bicara paman. Hati-hatilah! Jangan sampai kita dikelabi."

"Anak muda, katakan siapa namamu dan siapa orang yang kau cari di tempat ini. Aneh rasanya kalau ada seseorang di puncak Gunung Merbabu."

"Namaku Wiro.... Aku memang benar mencari seseorang di tempat ini.

Hanya saja mohon dimaafkan aku tidak dapat memberi tahu siapa orangnya ataupun namanya."

"Paman! Kau lihat bagaimana dia melakukan kebohongan!" kata Dewi Santiastri.

Pangeran Banuarto tidak begitu memperdulikan kata-kata keponakannya. Dia mencoba mengingat-ingat apakah pernah mendengar nama Wiro itu sebelumnya.

Akhirnya dia berkata.

"Anak muda, melihat ada obor yang sudah padam di salah satu tiang makam, berarti kau sejak malam tadi telah berada di tempat ini."

Wiro menggeleng. "Aku barusan saja datang. Waktu datang obor itu sudah ada di sini dalam keadaan padam."

"Lalu mengapa kau merusak salah satu tiang atap makam?!" tanya Pangeran Banuarto pula.

"Bukan aku yang merusaknya. Tiang itu sudah berada dalam keadaan seperti itu ketika aku datang."

"Bohong! Pendusta besar!" teriak Dewi Santiastri. Gadis ini tidak dapat lagi menahan kesabaran dan kemarahannya. Dia melompat ke kanan sambil merentangkan busur lebih dalam. Ketika tangan kanannya bergerak melepas, lima anak panah melesat dengan mengeluarkan suara berdesing. Lima senjata itu laksana kilat terbang ke arah lima baigan tubuh Pendekar 212. Pangeran Banowo berseru kaget tapi tak bisa berbuat apa.

Murid nenek sakti dari Gunung Gede itupun sempat terkesiap. Sekalipun dia bisa melompat secepat kilat tak mungkin dia sanggup menghindari sekaligus kelima anak panah yang menyerang lima bagian tubuhnya yang berbeda.

"Celaka!" keluh Wiro. "Seumur hidup belum pernah aku melihat kepandaian memanah seperti ini! Setan sekalipun takakan bisa lolos dari bidikkannya!"

Sadar kalau dia tidak akan dapat menyelamatkan diri dengan cara melompat maka Pendekar 212 segera lepaskan pukulan sakti "benteng topan melanda samudra"

Serangkum angin deras menderu. Pangeran Banuarto berseru kaget dan cepat menyingkir. Tapi badannya sebelah kanan masih sempat disambar angin pukulan sakti itu hingga melintir dan terhempas keras. Kalau saja dia tidak memiliki ilmu meringankan tubuh pasti dia akan jatuh terhenyak ke tanah. Sementara itu Dewi Santiastri juga berteriak kaget. Karena dia tegak dengan kaki terkembang tepat di tengah jalur hantaman pukulan sakti Pendekar 212 maka tak ampun lagi tubuhnyapun terpental jauh, mencelat ke udara.

Di udara gadis puteri mendiang Pangeran Banowo ini membuat ggerakan aneh.

Tubuhnya yang kena hantaman angin serangan berjungkir balik duakali berturut-turut lalu tubuh itu tampak melayang dan seperti seekor burung kedua kakinya hinggap di cabang sebuah pohon besar. Meskipun gadis ini memiliki kepandaian tinggi dan mampu meredam pukulan sakti yang dilepaskan Wiro, tapi jelas wajahnya kelihatan pucat tanda ada bagian dalam tubuhnya yang cidera. Ketika dia melompat turun, si gadis merasakan dadanya berdenyut sakit. Kedua kakinya tertekuk. Sebelum dia jatuh berlutut pamannya ceat mendatangi dan merangkul tubuhnya.

"Dewi... Kau tak apa-apa...?"

"Saya tidak apa-apa paman. Hanya ada sedikit rasa ngilu di bagian dada....."

Pangeran Banuaro memapah keponakannya itu ke dekat sebuah pohon lalu mendudukkannya di akar pohon itu. Sementara itu dari arah makam terdengar suara orang mengeluh. Ketika Pangeran Banuarto dan Dewi Santiastri memandang ke arah makam mereka melihat pemuda berambut gondrong itu tersandar ke paga makam sebelah dalam sambil memegangi paha kanannya. Sebatang panah tampak menancap di paha itu. Celana putihnya berlumuran darah. Rupanya waktu lima anak panah menyerbunya dihantam dengan pukulan "benteng topan melanda samudra" hanya empat panah yang sanggup dibuat mental. Satu anak panah masih sempat menyusup menghantam pahanya.

Rahang Pendekar 212 tampak menggembung menahan sakit. Wajah dan tubuhnya basah oleh keringat. Dia berteriak keras ketika secara nekad mencabut anak panah yang mennancap di pahanya. Dengan geram anak panah itu dipatahkannya lalu dibatingkannya ke lantai makam. Lalu dengan satu geakan dia melompati pagar makam dan berdiri di hadapan Pangeran Banuarto serta keponakannya.

Sepasang mata Pendekar 212 memandang berkilat-kilat pada Dewi Santiastri.

"Dengan melukaiku seperti ini, apakah kini kau dan pamanmu sudah puas?!"

Si gadis hanya bisa diam dan terbelalak. Mukanya masih sangat pucat.

Sementara Pangeran Banuarto terdengar menarik nafas dalam tapi juga tidak berkata apa-apa.

Dari balik pakaiannya Wiro mengeluarkan sebuah bungkusan kecil lalu melemparkannya dekat kaki Dewi Santiastri.

"Apa ini?" tanya Pangeran Banuarto.

"Gadis keponakanmu itu mengalami luka dalam. Akan sangat berbahaya kalau tidak segera minum obat itu," Habis berkata begitu Pendekar 212 memutar tubuhnya dan melangkah pergi.

Pangeran Banuarto memandang pada Dewi Santiastri. "Kalau dia manusia jahat, dia tidak akan memberikan obat ini untukmu...." Si gadis hanya bisa mengangguk. Melihat orang begitu baik dan polos terhadapnya ada bayangan rasa menyesal di wajahnya yang pucat. Pangeran Banuarto cepat berdiri dan berseru.

"Anak muda! Tunggu! Jangan pergi dulu!"

Wiro hentikan langkahnya dan berpaling. Pangeran Banuarto berlari mendatanginya. "Aku menyesalkan ada kesalah pahaman antara kita bertiga.

Tujuanku dan Dewi ke puncak gunung ini adalah untuk menziarahi makam Pangeran Banowo...."

"Ada yang aku tidak mengerti. Sebagai seorang Pangeran seharusnya dia dimakamkan di pekuburan keluarga stana. Nyatanya dia dimakamkan di tempat ini.

Jauh dari Kotaraja. Jauh dari keluarga Istana."

"Apa yang kau katakan betul. Namun sebelum meninggal Pangeran Banowo pernah berpesan pada istrinya. Aku mendengar sendiri. Jika ajalnya sampai dia ingin dimakamkan di puncak Gunung Merbabu ini. kami keluarga yang ditinggalkan tidak berani menyalahi pesan itu. Sultan sendiri juga tidak mau melarang. Pangeran Banowo akhirnya dimakamkan di puncak Gunung Merbabu ini tiga tahun yang lalu.

Pemakamannya dengan upacara kebesaran Kerajaan...."

Saat itu Dewi Santiastri telah datang pula ke tampat itu. Pamannya cepat memegang bahunya. Wajah si gadis tampak kemerahan dan dia berkata "Paman tak usah kawatirkan saya. Obat yang tadi diberikannya sudah saya telan walaupun tanpa air. Saya merasa lebih sehat sekarang." Lalu gadis ini berpaling pada Pandekar 212.

Dia hendak mengatakan sesuatu namun Wiro mendahului.

"Aku kagum dengan kepandaianmu memainkan panah. Dari manakah den ayu belajar...?"

"Namaku Dewi Santiastri. Panggil aku dengan nama itu. Tidak usah dengan sebutan den ayu segala...." Lalu pandangan matanya tertuju pada paha Wiro yang

berlumuran darah. "Aku tidak tahu harus meminta maaf bagaimana.... Aku benarbenar menyesal...."

Wiro tertawa. Dia berkata pada Pangeran Banuarto. "Pangeran," katanya, "Keponakanmu memberikan sau pelajaran baik padaku. Aku harus lebih banyak belajar dan berlatih silat agar gerakanku lebih cepa hingga kelak akan sanggup berkelit dari serangan panahnya. Aku harap saja panah itu tidak beracun...."

"Tidak, panah itu tidak beracun," kata Dewi Santiastri. "Aku ingin menanyakan sesuatu."

"Menyangkut hal apa?" tanya Wiro.

"Ketika masih hidup ayah memang pernah bercerita tentang seorang pendekar besar muda usia. Bergelar Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212. Apakah kau orangnya?"

Wiro tertawa. "Nama kami bisa saja sama. Tapi gelar sehebat itu mana orang setoloku ini bisa menyandangnya?"

Si gadis jadi terdiam beberapa saat lamanya. Sebelum dia sempat mengatakan sesuatu pamannya sudah bicara duluan.

"Anak muda, terus terang selain berziarah ke makam Pangeran Banowo, perjalanan kami ke sini sebenarnya juga tengah menyirap kabar."

"Menyirap kabar? Kabar apakah?" tanya Wiro.

"Sebuah benda keramat milik Kerajaan yang selama ini disimpan secara rahaia, lenyap dari tempat penyimpanannya sekita empat tahun lalu. Padahal benda itu jika disalah gunakan bisa mendatangkan malapetaka." Menerangkan Pangeran Banuarto. "Kebetulan aku yang bertanggung jawab atas benda itu. Sebenarnya beberapa tahun lalu aku sudah mengusulkan pada Sultan agar benda itu dimusnahkan saja karena lebih banyak bahayanya dari pada manfaatnya."

"Kalau aku boleh tahu, benda apakah itu gerangan, Pangeran?" bertanya Pendekar 212.

"Sebuah guci keramat. Bernama Guci Setan. Orang bisa meminta sesuatu yang baik tetapi juga sesuatu yang jahat pada Guci Setan itu. Sekarang karena aku tahu bahwa kau seorang dari dunia persilatan maka aku minta bantuanmu untuk mencari tahu dan menyirap kabar di mana adanya Guci Setan itu dan siapa pencurinya.

Kami mendengar selentingan yaitu setelah empat tahun tidak diketahui jejaknya tibatiba satu bulan yang lalu Guci Setan itu pernah terlihat di daerah selatan dan tengah dibawa e daerah sekitar sini. Tapi keterangan yang aku dapat sengat sedikit sehingga tidak bisa dipakai untuk bahan pengusutan."

"Pangeran Banuarto, aku tidak bisa menjanjikan apa-apa. Tapi aku akan berusaha membantumu. Kita berpisah di sini...."

"Saudara," Dewi Santiastri berkata "Dalam keadaan terluka seperti itu tentu sulit bagimu berjalan kaki, apalagi berlari. Kau bisa memakai kudaku...."

Pendekar 212 tersenyum lebar. "Terima kasih. Kebaikan hatimu telah membuat lukaku sembuh! Lihat!" lalu Wiro angkat paha kanannya yang tadi tertancap panah. Dengan tangan kanannya dia memukul-mukul paha yang luka itu. "Sama sekali tidak sakit. Sudah sembuh!" Padahal sebenarnya waktu memukul tad Pendekar 212 manahan sakit yang amat sangat. Hal ini diketahui oleh Dewi Santiastri dan pamannya.

"Kau harus mamakai kudanya," kata Pangeran Banuarto.

"Saya masih sanggup berjalan. Bahkan berlari!" kata Wiro. Lalu dia berkelebat tinggalkan tempat itu. Tapi larinya terpincang-pincang. Padahal ini disengaja. Pangeran Banuarto dan Dewi Santiastri sama-sama tersenyum.

"Entah mengapa aku justru punya firasat, pemuda itu tadi memang adalah Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212."

"Saya justru sudah tahu kalau dia memang Pendekar 212 dari Gunung Gede.

Waktu tadi dia mengeluarkan bungkusan obat dari balik pakaiannya, bagian depan bajunya yang tidak dikancing tersingkap lebar. Saya melihat ada rajah angka 212 di dadanya yang bidang dan berotot...."

"Keponakanku!" kata Pangeran Banuarto sambil memegang kedua bahu Dewi Satniastri. "Mengapa tidak dari tadi-tadi kau katakan?"

Si gadis tidak menjawab. Hanya di dalam hatinya tiba-tiba saja dia sangat ingin bertemu lagi dengan pemuda berambut gondrong itu. Paman dan keponakan itu kemudian melangkah ke arah bangunan makam. Tiba-tiba si gadis berseru seraya menunjuk ke arah makam.

"Paman! Lihat! Tiang atap yang patah sudah tersambung kembali!"

Pangeran Banuarto berlari mendekati makam. Apa yang dikatakan keponakannya memang betul. Tiang yang patah kini kelihatan dalam ke adaa lurus.

Bagian patahan sebelah atas bertumpu pada bagian bawah. Atap makam kini tidak miring lagi.

"Siapa yang telah memperbaikinya? Sungguh aneh!" kata Pangeran Banuarto.

"Hanya kita bertiga tadi di tempat ini. Dia, saya paman. Saya jelas tidak melakukannya. Paman juga. Berarti...."

"Berarti dia yang melakukannya!" kata Pangeran Banuarto pula. Orang tua ini mengusap rambutnya yang putih berulang kali. "Bagaimana dia melakukannya?

Dlamkeadaan terluka pula!"

Diam-diam Dewi Santiastri semakin merasakan penyesalan yang mendalam di lubuk hatinya. "Kalau saja aku dapat segera menemuinya akan kuminta maaf beribu maaf padanya. Bisakah aku menemuinya lagi?"



LIMADi cabang paling atas pohon setinggi empat puluh kaki itu tampak seorang kakek duduk berjuntai sambil uncang-uncang kakinya. Dari mulutnya terdengar suara aneh, entah dia sedang meracau entah menggerutu atau sedang menyanyi. Janggut putihnya yang sepanjang dada melambai-lambai tertiup angin. Suara dari mulutnya baru berhenti bilamana dia meneguk dengan lahap tuak murni yang ada dalam tabung bambu dan diletakkannya di pangkuan. Sebuah tabung bambu lagi tergantung di belakang punggungnya. Kedua mata orang tua ini tampak kemerahan akibat pengaruh minuman keras itu.

Untuk kesekian kalinya dia meneguk tuak dari dalam atabung bambu. Lalu dia memandang ke arah pepohonan di sekelilingnya.

"Panas terik menggila! Tak ada burung tak ad angin!" si kakek seperti menggerutu pada dirinya sendiri. "Aneh, mengapa aku berada di puncak pohon ini?

Astaga, jangan-jangan aku sudah mabuk. Betul mabuk? Tidak! Aku masih bisa menghitung jari-jari tanganku sebelah kiri ini. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam....Eh! Apa ada jari tangan manusia enam buah? Jangan-jangan benar aku sudah mabuk!"

Walau jalan pikirannya seperti itu tapi enak saja dia kembali mendekatkan bibir tabung bambu ke mulutnya. Lalu gluk.... Gluk....gluk tuak dalam bambu ditenggaknya dengan lahap. Puas meneguk tuak murni yang menebar bau harum itu si kakek seka mulutnya dengan kain biru yang terselempang di dadanya. Setelah itu sambil kembali uncang-uncang kaki seperti anak kecil yang kesenangan dia menyanyi lagi. Tapi tiba-tiba orang tua ini hentikan nyanyiannya. Kepalanya ditinggikan.

Telinganya dipasang baik-baik. Dia mendengar suara menderu aneh di kejauhan disertai suara-suara kaki berlari.

Orang tua itu mendongak ke langit. "Aku tak melihat apa-apa!" katanya. Lalu dia memaki sendiri. "gila! Kalau orang berlari tentu saja bukan di langit sana tapi di bawah situ!" Lalu si kakke memandang ke bawah pohon. "nah, apa kataku! Ada empat bayangan berkelebat. Aduh, cepat sekali. Terutama yang di depan itu.

Heh.....aneh. Dia seperti memiliki sebuah roda di ujung kaki kirinya. Dia lari di atas roda yang berputar menggelinding! Apa yang dibawanya di tangan kanan? Eh, di bahu kirinya dia memanggul sosok tubuh perempuan. Siapa orang ini?

Hemmm....ada tiga orang berlari di belakangnya. Muka mereka berwarna aneh-aneh.

Apa isi keranjang rotan yang mereka pikul itu heh? Jelas mereka bukan pedagang sayuran. Hik...hik...hik! Mereka berlari cepat di siang bolong di lereng Gunung Gede! Sepertinya mereka punya satu keperluan penting! Ah, perduli setan dengan mereka. Selama mereka tidak mengganggu diriku, aku tak perlu mengurusi mereka.

Eh, kenapa yang di depan itu tiba-tiba berhenti? Tiga tannya juga berhenti berlari.

Hemmmm tampang-tampang mereka kumal dekil dan angker. Bau tubuh mereka tercium sampai kemari!"

Di bawah pohon keempat orang itu bukan lain adalah Ramada Suro Jelantik dan tiga orang anak buahnya yaitu Jalak Item yang kini mata picak sebelah. Lalu Jalak Ijo dan Jalak Biru.

"Ada apa kau berhenti Ramada?" tanya Jalak Ijo.

"Aku mencium bau sesuatu. Sesuatu yang harum! Aneh di tengah hutan belantara di lereng gunung begini ada bau seperti ini!"

Tiga orang anak buah Ramada sama meninggikan kepala lalu mengendus dalam-dalam. "Kau betul Ramada," kata Jalak Ijo. "Aku juga dapat mencium bau aneh itu. Pasti ada seseorang di sekitar sini. Jangan-jangan tua bangka bernama Sinto Gendeng itu tempat kediamannya di sekitar sini."

"Bagus! Kalau begitu coba kalian periksa pada tiga jurusan sampai sejarak seratus tombak! Aku menunggu di sini!"

Jalak Ijo dan kawan-kawannya segera melakukan apa yang diperintah oleh Ramada. Tak lama kemudian ketiganya muncul satu persatu.

"Aku tidak menemukan apa-apa, Ramada," kata Jalak Item.

"Aku juga. Tak ada bangunan atau tempat kediaman di sekitar sini," menerangkan Jalak Ijo

"Sama, tak ada orang tak ada rumah," kata Jalak Biru pula.

Di atas pohon kakek berjanggut putih menyeringai lebar. "Empat ekor monyet itu mancari kian kemari. Tidak tahunya yang mereka cari ada di atas pohon ini. Bau yang mereka cium sudah pasti bau arak kayanganku ini!"

"Ramada," di bawah pohon Jalak Ijo berkata "apakah kita akan meneruskan perjalanan atau kau tetap menginginkan mencari sumber bau harum itu sampai dapat?"

"Sudah, kita teruskan saja perjalanan! Puncak gunung tak seberapa jauh lagi."

Jawab Ramada Suro Jelantik. "Tua bangka guru Pendekar 212 itu harus kita temui dan bereskan secepatnya!" Ramada lalu memutar tubuhnya. Kaki kirinya yang disambung dengan sebuah roda besi bergerigi menderu lalu meluncur deras menebar pasir dan tanah di sebelah belakang. Tiga orang anak buahnya segera menyusul.

Ketika sang surya mulai condong ke Barat, keempat orang itu akhirnya sampai di puncak Gunung Gede. Mereka tidak membutuhkan waktu lama untuk menemukan kediaman Sinto Gendeng, nenek sakti guru Pendekar 212 Wiro Sableng.

Ramada dan tiga anak buahnya berdiri di hadapan gubuk tua tapi masih tampak kokoh. Pintu gubuk tertutup, begitu juga jendela. Rumah di puncak gunung itu benar-benar diselimuti kesunyian.

‘"Sinto Gendeng! Kami datang dari jauh untuk menemuimu! Mengapa bersembunyi di dalam gubuk?!" Ramada berteriak.

Tak ada jawaban atau suara apapun dari dalam gubuk.

Ramada berteriak sekali lagi.

Tetap saja tak ada jawaban.

"Mungkin tua bangka itu tak ada di sini, Ramada," kata Jalak Ijo.

"Untuk memastikan coba kau dan kawan-kawanmu memeriksa!" kata Ramada Suro Jelantik pula.

Jalak Ijo dan dua temannya meletakkan pikulan masing-masing di tanah. Lalu lewat pintu depan yang ternyata tidak dikunci ketiganya masuk ke dalam gubuk.

Di depan rumah Ramada menunggu dengan rasa tidak sabar. Dia mencoba menghibur diri dengan mengelus-elus tubuh istri mudanya yang telah jadi mayat seraya berkata perlahan "Tenang Dardini, tenang. Lewat kematiian tua bangka keparat itu kita pasti bisa memancing kemunculan pembunuhmu! Sekali dia unjukkan diri akan kutabas batang lehernya. Kuminum darahnya lalu kulumat daging dan tulang belulangnya! Setelah itu kau akan kusemayamkan di satu tempat yang indah.

Kau akan tidur dengan tenang. Sabar istriku. Sabar..... Aku akan membuatkan makam yang sangat bagus untukmu. Aku akan...."

Ucapan Ramada Suro Jelantik terputus. Dari dalam rumah terdengar suara jeritan tiga kali berturut-turut. Ramada kenal benar. Itu adalah suara teriakan ketiga anak bauhnya.

"Jalak Ijo! Jalak Item! Jalak Biru!" teriak Ramada "Apa yang terjadi dengan kalian?!"

Baru saja Ramada Suro Jelantik berteriak begitu tiba-tiba tiga buah benda melesat keluar dari dinding-dinding gubuk yang jebol. Satu dari sebelah depan, dua dari samping kiri.

Ramada mendelik besar ketika menyaksikan tiga benda yang terlempar lewat dinding gubuk lalu bergulingan di tanah ternyata adalah Jalak Ijo, Jalak Item dan Jalak Biru!

"Anjing kurap! Apa yang terjadi?!" teriak Ramada marah sekali.

Tiga anak buahnya berusaha bangkit dengan terhuyung-huyung. Pada kening Jalak Ijo dan Jalak Biru kelihatan benjut sebesar telur ayam. Sedang Jalak Item megap-megap sambil pegangi perutnya. Ketiganya lalu berusaha secepat mungkin mengambil pikulan masing-masing yang tadi ditinggal dan diletakkan di tanah. Begitu mereka memegang keranjang rotan tampang mereka tampak beringas.

"Kalau aku tidak bisa membunuh tua bangka keparat itu lebih baik aku bunuh diri!" teriak Jalak Item.

"Aku juga!" menyahuti Jalak Ijo.

"Sama dengan aku!" kata Jalak Biru sambil pegangi keningnya yang benjut.

Tiba-tiba pintu gubuk yang tadi setengah terbuka kini terpentang lebar. Dari dalam gubuk muncul satu sosok tubuh terbungkuk-bungkuk diiringi gelak tawa tinggi serta panjang. Suara tawa ini bukan saja membuat telinga Ramada dan anak buahnya mengiang sakit tetapi juga membuat keempatnya tercekat. Mamandang ke arah pintu mereka malah tambah terkesiap karena tidak pernah menyangka kalau perempuan tua penghuni gubuk di puncak Gunung Gede itu begini angkernya!



ENAMOrang yang keluar dari dalam gubuk adalah seorang nenk berkulit sangat hitam.

Kulitnya ini tidak lebih dari selaput tipis pembalut tulang. Kalau saja dia tidak bungkuk pasti terlihat bagaimana sosok tubuhnya yang jangkung sekali. Mukanya cekung di bagian mata dan kedua pipi. Alisnya berwarna putih, begitu juga rambutnya yang hanya tinggal elasan lembar saja. Di kepalanya yang nyaris sulah itu menancap lima buah tusuk kundai terbuat dari perak. Tusuk kundai tidak mungkin disisipkan pada rambutnya yang jarang. Lima perhiasan dari perak itu justru langsung menancap di kulit dan batok kepalanya! Sepasang matanya yang hitam gelap memandang berputar ke arah empat orang yang ada di halaman gubuk. Lalu dari mulutnya meledak lagi suara keras dan tinggi. Dari mulunya yang ompong mengucur keluar air liur. Ketika dia menyemburkan air liur itu melesat ke arah pohon di seberang halaman.

Terdengar suara berderik sewaktu kulit batang pohon menjadi remuk lalu jatuh ke tanah. Hal itu membuat Ramada dan tiga anak buahnya mau tak mau menjadi terkesima. Namun orang-orang ini mana mengenal rasa takut.

"Ramada, biar kubunuh nenek keparat itu sekarang juga!" kata Jalak Ijo seraya tangannya bergerak hendak membuka penutup keranjang rotannya di mana tersimpan ular kobra beracun yang diberi nama Ratu Hijau. "Sabar sedikit Jalak Ijo. Maut tak bakal lepas dari dirinya. Biar aku bicara dulu padanya...."

Di ambang pintu si nenek masih tertawa. Tiba-tiba tawanya lenyap dan dair mulutnya terdengar suara membentak.

"Puluhan tahun hidup di puncak Gunung Gede, baru hari ini aku kedatangan tamu aneh dan kurang ajar. Berani masuk ke dalam gubuk tanpa izin. Kalian mau mencuri atau memang munta mati?!"

"Tua bangka edan! Kami datang memang untuk mencuri. Bukan mencuri harta bendamu karena pasti dalam gubukmu hanya ada barang-barang rombengan yang tidak ada harganya!"

Si nenek tertawa cekikikan. "Manusia bermuka setan alas dan bertuuh sebusuk comberan! Mulutmu pandai bicara. Coba jelaskan apa yang hendak kau curi dari tempat ini!"

"Aku kemari untuk mencuri nyawa anjingmu!" jawab Ramada lantang.

Sepasang mata cekung dan hitam si nenek tampak seperti mengeluarkan kilatan aneh. Lalu mulutnya kembali tertawa panjang.

"Kalau kau hendak mencuri nyawaku, apa kau kira aku tak bisa mencuri jantungmu?!" Hik...hik...hik...!"

"Nenek iblis!" teriak Ramada. Agar aku tidak kesalahan tangan lekas katakan apakah kau manusianya yang bernama Sinto Gendeng guru Pendekar 212 Wiro Sableng?!"

"Kalau aku memang Sinto Gendeng lalu kenapa? Kalau aku bukan Sinto Gendeng lantas bagaimana?!" si nenek bertanya.

"Iblis ngacok!" hardik Ramada mulai marah. Perlahan-lahan nayat kaku Dardini diturunkannya lalu dibaringkannya dengan sangat hati-hati dekat akar sebatang pohon. "Muridmu si Wiro Sableng itu telah memperkosa istriku! Lalu membunuhnya! Apa kau kira bakal ada pengampunan bagi dirinya dan juga bagi kau?!"

Si nenek hentikan tawanya. Dia dongakkan kepala beberapa saat lalu memandang dengan mata berkilat-kilat pada Ramada Suro Jelantik. "ini adalah fitnah paling keji yang pernah didengar telinga tua ini!"

"Ini bukan fitnah!" teriak Jalak Ijo. "Kami bertiga jadi saksi perbuatan murid celakamu itu!"

"Betul!" menyahuti Jalak Biru. "Muridmu membunuh perempuan itu dengan Kapak Naga Geni 212-nya. Lihat sendiri luka besar di pangkal leher jenazah!" Si nenek terdiam.

"Tua bangka jahanam. Kau terdiam tak bisa bicara. Berarti memang benar kau Sinto Gendeng guru Pendekar 212. Sekarang bersiaplah untuk mati!"

Si nenek menyeringai seperti setan. Lalu gelengkan kepalanya. "Murid Sinto Gendeng tidak akan melakukan kekejian seperti itu. Kalian pergi saja sebelum aku menjadi muak melihat tampang-tampang kalian. Angkat mayat itu dari halaman gubukku! Kalian semua adalah orang-orang gila kesasar pembawa mayat dan guci!

Bermuka berwarna-warna! Lekas minggat dari sini!"

Ramada mendengus keras. Didahului dengan suara teriakan keras dia menerkam ke arah si nenek yang memang adalah Sinto Gendeng. Kaki kirinya yang ada roda besi bergerigi mencelat ke depan.

Rrrrrrrr!

Gigi-gigi roda besi yang berputar itu menggerus ke arah pinggang si nenek.

Seumur hidupnya Sinto Gendeng belum pernah melihat senjata seperti ini. Dia berteriak nyaring. Tubuhnya yang bungkuk melesat ke samping. Roda besi menderu menghantam tangga batu di depan gubuk. Tangga batu itu tebongkar berkepingkeping!

Ramada menyeringai. "Sebentar lagi tubuhmu akan kubuat seperti itu!"

"Betul begitu? Aku malah ingin sekali merasakan bagaimana enaknya!" kata Sinto Gendeng. Lalu dia tertawa cekikikan.

Seperti terbakar Ramada Suro Jelantik kembali menyerbu dengan roda besinya.

Tangan kirinya ikut melepaskan pukulan tangan kosong sementara tangan kanan tetap tidak melepaskan Guci Setan.

Tubuh bungkuk Sinto Gendeng berkelebat kian kemari. Selama enam jurus diserang terus-terusan dia hanya membuat gerakan menghindar. Baru pada jurus ketujuh si nenek mulai balas melancarkan serangan-serangan. Gerakannya seperti main-main saja tetapi Ramada merasa seolah-olah ada satu gelombang raksasa yang menghantamnya. Sadar kalau lawan memiliki kepandaian tinggi maka Ramada Suro Jelantik segera keluarkan jurus-jurus simpanannya. Tubuhnya berputar kencang sementara roda besinya mencuat kian kemari, menyerang si nenek dari segala jurusan.

Eyang Sinto Gendeng walaupun kini berada dalam keadaan terdesak tetap saja dia berlaku tenang. Malah dia tiba-tiba mendapat satu akal guna melumpuhkan serangan lawan. Jika Ramada berkelahi dengan terus membawa-bawa guci di tangan kanannya pastilah benda iu sangat berharga bagi dirinya dibanding dengan jenazah istrinya yang diletakkannya begitu saja di tanah. Memikir sampai di situ, si nenek lalu mengarahkan setiap serangannya pada guci yang ada dalam dekapan tangan kanan lawan.

"Bangsat sialan!" maki Ramada Suro Jelantik. Kini dia terpaksa bertahan habis-habisan untuk menyelamatkan Guci Setan dari hantaman si nenek. Merasa tidak sanggup, pada jurus ke 28 lelaki ini berteriak keras lalu lemparkan Guci Setan ke atas. Guci ini melesat ke udara, melayang tinggi lalu jatuh dan menyangsang di antara kelebatan daun-daun sebatang pohon. Kini dengan kedua tangan bebas Ramada menghadapi Sinto Gendeng. Setelah menggempur selama lima jurus kembali si nenek kelihatan terdesak.

"Manusia bau! Ilmu silatmu boleh juga!" memuji si nenek. "Tapi coba kau hadapi jurus seranganku ini!" Dua tangan si nenek berkelebat ke kiri dan ke kanan seolah hndak memukul sisi tubuh lawannya. Bersamaan dengan itu ujung-ujung jarinya disatukan ke depan. Tiba-tiba kedua tangan itu melesat ke atas.

"Sepasang naga menyusup awan!" teriak Sinto Gendeng menyebutkan jurus serangannya. Lalu dia tertawa gelak-gelak. Kedua tangannya dengan sepuluh jari kuncup lurus ke depan dan seolah berobah keras seperti besi menusuk ke arah jantung dan tenggorokan Ramada Suro Jelantik.

Kejut manusia berkaki buntung ini bukan alang kepalang. Dia cepat menyingkir dengan membuang diri ke samping kiri. Tusukan pada tenggorokannya

lewat tapi yang mengarah jantung terus melesat.

"Haram jadah! Aku terpaksa berjibaku!" rutuk Ramada. Kaki kirinya ditendangkan ke depan, mengarah perut Sinto Gendeng. Roda besi bergerigi menggerus ganas. Si nenek tidak mau ambil celaka . Tapi dia juga tidak mau melepaskan musuhnya dari sasaran. Dengan menggeser kakinya dua langkah ke kanan, Sinto Gendeng teruskan hantamannya walaupun kini dia tidak bisa menghantam secara telak.

Bukkk!

Lima jari tangan si nenek mendarat di dada kiri Ramada. Lelaki ini menjerit keras. Tubuhnya terbanting ke tanah. Sebelum jatuh kaki kirinya ditendangkan lebih tinggi.

Rrrrrrr

Sinto Gendeng terpekik sewaktu roda besi Ramada Suro Jelantik merobek pakaiannya di bagian perut!

Tampang si nenek menkjadi kelam membesi.

"Kurang ajar!" si nenek geram sekali. Dia melompat ke hadaan Ramada yang masih tertelentang di tanah dengan mulut mengucurkan darah akibat luka dalam di dekat jantungnya setelah terkena hantaman si nenek tadi.

"Manusia setan! Apakah kau pernah melihat pukulan sinar matahari?!" kata si nenek sambil angkat tangan kanannya yang saat itu tampak berkilat-kilat seperti perak.

Ramada Suro Jelantik memang pernah mendengar kehebatan dan keganasan pukulan sakti itu. Dia tak mau berlaku ayal. Dia segera melafatkan satu mantera kesaktian. Roda besi di ujung kaki kirinya tiba-tiba mengeluarkan sinar hitam menggidikkan. Ketika Sinto Gendeng lepaskan pukulan "sinar matahari" dengan tangan kanannya. Ramada tendangkan kaki kirinya ke atas menyambuti serangan lalu dengan cerdik menggulingkan diri di tanah.

Bummmm!

Bummm!

Terdengar dua letusan keras.

Cahaya putih berkiblat disambut oleh sinar hitam. Sinar hitam yang keluar dari roda besi Ramada berusaha menggelung cahaya putih panas pukulan "sinar matahari" yang dilepaskan si nenek. Lalu terdengar dentuman yang ketiga yang lebih dahsyat dari dua dentuman sebelumnya.

Puncak Gunung Gede laksana dilanda gempa. Iga orang anak buah Ramada hampir terduduk di tanah. Sinto Gendeng masih tampak tegak walau dengan tubuh bergoyang-goyang. Mukanya yang hitam tampak semakin hitam. Jantungnya berdegup keras. Di seberangnya tubuh Ramada Suro Jelantik nampak menggeliat geliat dekat tangga batu. Bahu kanannya tampak hangus dihantam pukulan "sinar matahari". Tapi rupanya orang ini mempunyai kekautan luar biasa. Dalam keadaan terluka parah begitu dia melompat tegak. Darah semakin banyak mengucur dari mulutnya tapi dia tidak perduli. Sepasang matanya yang merah memandang laksana bara api pada Sinto Gendeng. Tiba-tiba dari mulunya terdengar teriakan keras.

"Anak-anak! Keluarkan binatang peliharaan kalian!" Bunuh tua bangka keparat ini!"

"Eh, apa yang hendak dilakukan manusia-manuisa jahanam ini?!" pikir Sinto Gendeng. Dia berputar, menghadap ke arah Jalak Item, Jalak Ijo dan Jalak Biru yang berada di halaman, terpisah di tiga tempat. Begitu berputar dia masih sempat melihat tiga orang bermuka hijau, hitam dan biru itu embuka penutup keranjang rotan masingmasing.

Lalu terdengar suara berdesir aneh. Dilain kejap lima belas binatang berbisa melesat ke arah si nenek!

"Edan!" teriak Sinto Gendeng.

Dia cepat mengangkat kedua tangannya. Satu melepaskan pukulan "sinar matahari" satu lagi menghantamkan pukulan "segulung ombak menerpa karang"!



TUJUHDari keranjang rotan Jalak Biru melesat keluar tujuh ekor kelabang biru, menyerbu ke arah Sinto Gendeng dari jurusan kiri. Dari arah depannya seekor ular kobra hijau melesat keluar dari dalam keranjang rotan yang dibuka Jalak Ijo. Lalu dari sebelah kanan Jalak Item melepaskan keluar tujuh ekor kalajengking berwarna hitam.

Lima belas binatang beracun ganas ini serentak menyerbu si nenek!

Seumur hidupnya Sinto Gendeng belum pernah mendapat serangan begini banyak dan ganas. Dalam pada itu telinganya menangkap suara menderu dari arah belakang. Berarti Ramada Suro Jelantik dalam waktu bersamaan telah menyerang pula dengan roda bergerigiinya dari belakang!

"Edan! Gila! Teriak si nenek. Kedua tangannya dipukulkan ke depan.

Bersamaan dengan itu dia jatuhkan diri ke tanah guna menghindari serangan Ramada.

Putaran roda besi bergerigi membeset di udara. Melabrak ke arah kepala Sinto Gendeng.

Trang.....trang!

Terdengar suara beradunya benda-benda keras disertai percikan bunga api.

Roda besi Ramada ternyata telah menghantam dua buah tusuk kundai perak di kepala Sinto Gendeng hingga hancur dan kepingannya bertaburanjatuh kian kemari. Tiga buah gerigi roda besi di kaki kiri Ramada somplak. Ramada sendiri menjerit keras kesakitan. Kakinya laksana dihantam pentungan besi. Tubuhnya terpental sampai dua tombak!

Walau selamat dari roda maut Ramada, namun Sinto Gendeng belum lepas dari bahaya. Pukulan sinar matahari yang dilepaskannya ke depan berhasil menghantam ular kobra besar yang dilepaskan Jalak Ijo. Tapi hebatnya sebelum terkena hantaman pukulan sakti yang mematikan itu, ular kobra ini seolah tahu bahaya yang mengancamnya. Melesat tinggi ke udara. Yang celaka adalah pemiliknya yaitu Jalak Ijo. Manusia bermuka hijau ini yang sama sekali tidak menyangka bahwa serangannya bakal gagal, terlambat menghindar. Pukulan "sinar matahari"

menghantamnya dengan telak. Jalak Ijo menjerit setinggi langit. Tubuhnya terlempar jauh. Hangus leleh laksana dipanggang. Nyawanya putus!

Pukulan "segulung ombak menerpa karang" yang dilepas Sinto Gendeng dengan tenaga dalam penuh membuat hancur luluh tiga ekor kalajengking hitam dan enam ekor kelabang biru yang dilepaskan Jalak Item dan Jalak Biru. Namun seekor kala hitam dan kelabang biru masih sempat lolos. Dua binatang beracun ini menancap di tubuh si nenek. Kalajengking hitam menancap di leher dekat telinga kirinya sedang kelabang biru menenmbus bahu kanannya! Si nenek menjerit keras. Tubuhnya rubuh ke tanah.

Ramada Suro Jelantik cepat mendekati tubuh si nenek sambil menyorongkan roda besinya ke arah leher Sinto Gendeng. Sekali roda besi itu menggerus leher si nenek pasti lehernya akan putus dan nyawanya tidak tertolong lagi.

Pada saat yang genting itu tiba-tiba ada suara berseru "Sahabatku Sinto Gendeng! Siapa yang berani mencelakaimu akan kuhancurkan batok kepalanya!"

Bersamaan dengan suara seruan itu tampak satu bayangan biru berkelebat dari arah kanan. Lalu ada cairan harum menyembur keras. Ramada Suro Jelantik tahu daangnya bahaya cepat tari kakinya lalu jatuhkan diri bergulingan.

Brettt! Breetttt!

Baju hitam Ramada robek besar di bagian punggung. Kulit punggungnya mengepulkan asap laksana ditempel besi panas.

"Anak-anak! Ada orang datang! Lekas tinggalkan tempat ini!" teriak Ramada lalu dia melesat ke atas pohon di mana Gcui Setan menyangsrang. Dengan kecepatan kilat disambarnya benda itu. Lalu dia turun lagi ke tanah untuk mengambil jenazah istrinya. Sekali lagi dia berkelebat tubuhnyapun lenyap. Hanya suara deru roda besinya yang menggerus tanah terdengar di kejauhan. Jalak Item dan Jalak Biru segera berlari mengejar pimpinan mereka sambil memikul keranjang rotan masing masing.

Mayat Jalak Ijo mereka tinggalkan begitu saja.

Sebelum Ramadad dan tiga anak buahnya sampai de tempat kediaman Sinto Gendeng, orang tua berjanggut putih dan berpakaian selempang kain biru di atas pohon kembali meracau seorang diri.

"Empat manusia aneh tadi. Yang satu membawa mayat dan guci. Tiga lainnya memikul keranjang. Masing-masing memiliki muka berwarna warni. Eh, ada keperluan apa mereka berada di gunung ini? Apa yang mereka cari....? Ah, sulit aku menerkaya." Di kakek lalu teguk tuaknya beberapa kali. "Hemmm....enaknya tuak ini" kata si kakek. "Eh, pikir-pikir aku sendiri mengapa sampai berada di sini?

Astaga! Aku sampai lupa. Aku datang kemari untuk menyambangi seorang sahabat.

Jangan-jangan empat orang tadi juga ingin menenmuinya. Tapi gerak-gerik mereka jelas keempatnya bukan orang baik-baik. Di puncak gunung tinggal sahabatku Sinto Gendeng. Jangan-jangan keempat orang tadi punya maksud jahat terhadap si nenek.

Baiknya aku segera berangkat ke sana. Tapi biar kusumpal lagi perutku dengan tuak kayangan ini!" Si kakek teguk lagi tuak dalam tabung bambu sampai minuman ini meler berjatuhan di bibirnya. Setelah puas, dengan gerakan aneh dan sangat enteng, dia melompat dari cabang pohon tempat dia duduk berjuntai. Tubuhnya laksana kapas melayang turun ke tanah tanpa suara sama sekali. Begitu menginjak tanah dia segera hendak berkelebat pergi namun langkahnya tertahan.

"Eh, aku ke sini seharusnya tidak sendirian. Anak itu belum juga muncul!

Kalau dia sampai tidak datang akan kupecat dia sebagai murid. Apa ini dikiranya urusan ain-main?!" Si kakek memandang jauh-jauh kian kemari. Namun dia tidak melihat seorangpun di sekitar situ. Dia memasang telinganya baik-baik. Tak terdengar suara apapun. Akhirnya dia tinggalkan tempat itu., menghambur menuju puncak Gunung Gede.

Dia datang tepat pada saat Sinto Gendeng roboh ke tanah dan Ramada siap untuk menjagal lehernya dengan roda bergerigi di ujung kaki kirinya.

Si kakek segera teguk tuaknya lalu minuman ini disemburkannya ke arah Ramada Suro Jelantik. Tuak kayangan bukan saja merupakan minuman sedap tetapi di tangan si kakek bisa berubah menjadi senjata yang sangat berbahaya. Dengan minuman itu dia telah menjadi seorang tokoh silat tingakt atas yang ditakuti lawan dan disegani kawan. Dialah tadi yang menyembur Ramada dengan tuak saktinya hingga Sinto Gendeng selamat dari roda maut yang siap memutus lehernya.

Sebetulnya si kakek ingin mengejar Ramada namun lebih penting baginya menyelamatkan Sinto Gendeng. Karenanya begitu Ramada dan dua anak buahnya kabur orang tua ini cepat mendatangi Sinto Gendeng. Menyangka si kakek adalah salah seorang musuhnya Sinto Gendeng yang tengah breusaha bangkit berdiri angkat tangan kanannya, siap untuk menghantam.

"Sinto! Kau mau membunuhku degan pukulan saktimu?!" sikakek cepat berseru.

"Eh!" sinto Gendeng jadi terkesiap. "Aku rasa-rasa mengenal suaramu.

Bukankah kau....?"

"Sudah! Jangan banyak bicara dulu. Ada dua binatang beracun menancap di tubuhmu! Biar aku singkirkan lebh dulu!"

Kakek berjanggut putih yang membekal dua buah tabung bambu berisi tuak itu mencabut kalajengking hitam yang menancap di leher Sinto Gendeng lalu dengan jari-jari tangannya diremasnya binatang itu hingga hancur luluh. Kedua mata si kakek kelihatan membesar sewaktu dia melihat bahwa leher Sitno Gendeng yang bekas ditancapi kala hitam tadi tampak menggembung.

"Racun jahat," kata si kakek dalam hati. "Pasti sudah menjalar ke dalam aliran darahnya. Tubuhnya terasa panas. Kalau tidak segera ditolong sahabatku ini pasti akan celaka. Ah, agaknya aku tak akan bisa mengajaknya membicarakan hal itu.

Muridku celaka itu mana dia! Masih juga belum kelihatan batang hidungnya!"

Sinto Gendeng yang sedang ditolong menangkap ucapan-ucapan perlahan si kakek. "Eh apakah kau sedang mengomeli diriku?!" tanyanya.

"Jangan bicara Sinto! Keadaanmu berbahaya. Masih ada satu binatang beracun di tubuhmu!" kata si kakek. Lalu kelabang biru yang menempel di bahu kanan Sinto Gendeng dicabutnya dan seperti kala hitam tadi binatang ini diremasnya sampai lumat.Ketika diperhatikan bahu kanan Sinto Gendeng ternyata juga bengkak besar tanda racun sudah memasuki tubuhnya.

"Sinto, keadaanmu berbahaya. Ubuhmu panas....."

"Panas? Aku malah merasa kedinginan. Bawa aku masuk ke dalam gubukku!" kata Sinto Gendeng.

"Tunggu, aku mau melakukan apa yang bisa membendung racun yang ada dalam tubuhmu," kata si kakek. Lalu degnan sebuah pisau kecil ditorehnya luka bengkak pada leher dan bahu kanan Sinto Gendeng. Darah mengucur berwarna hitam.

Si kakek pergunakan mulutnya untuk menyedot darah lewat kedua luka. Lalu dia meneguk tuaknya. Dengan tuak itu dia kemudian menyembur luka di leher dan bahu Sinto Gendeng. Tidak sampai di situ diapun membuat beberapa totokan d tubuh si nenek.

"Sobatku Dewa Tuak," Sinto Gendeng menyebut nama si kakek. "Aku bersyukur dan berterima kasih kau menolongku. Kemunculanmu tidak terduga...."

"sudah, jangan bicara banyak dulu. Biar aku dukung kau ke dalam rumah,"

ujar si kakek yang ternyata adalah tokoh silat berusia lebih dari 80 tahun yang sejak beberapa tahun ini jarang memunculkan diri dalam rimba persilatan.

"Kedatanganku tadinya untuk membicarakan satu masalah penting denganmu.

Tapi melihat keadaanmu seperti ini kurasa sebaiknya aku menunda dulu pembicaraan itu." Dewa Tuak lalu mendukung tubuh Sinto Gendeng.

"Gila! Tubuhmu kurus kering begini tapi berat bukan main!" Dewa Tuak seperti mengeluh. Sinto Gendeng didukungnya masuk ke dalam rumah lalu dibaringkannya pada sebuah tempat tidur kayu. "Sinto, racun dalam tubuhmu jahat sekali. Aku tidak bisa menjamin kau bisa bertahan lebih dari dua minggu. Aku harus mencari seorang tabib ulung dan membawamu turun gunung."

Sinto Gendeng batuk-batuk beberapa kali. "Buat apa kau menyusahkan diri.

Kalau nyawaku mau minggat dari tubuh keropos ini ya biar saja! Hik...hik...hik!"

Sinto Gendeng masih bisa tertawa cekikikan.

Dewa Tuak geleng-gelengkan kepala.

"Tubuhku terasa dingin. Mana tuak keparatmu itu? Aku minta barang beberapa teguk biar tubuhku dan darahku jadi hangat!"

Dewa Tuak menurunkan tabung tuaknya dari punggung lalu mendekatkan mulut tabung ke mulut Sinto Gendeng. Gluk...gluk...gluk! Si nenek meneguk tuak itu dengan lahap.

"Sinto, kau dengar baik-baik. Aku harus meninggalkanmu saat ini juga untuk

menemui tabib yang kukatakan itu. Kalau kau tak mau dibawa turun gunung, biar tabib itu saja yang aku bawa ke sini. Sebelum pergi perlu kuberitahu bahwa muridku Anggini mungkin sekali akan muncul di sini. Kami berjanji akan bertemu di puncak Gunung Gede ini...."

Sinto Gendeng tersenyum. "Aku tahu. Aku tahu mengapa kalian mengadakan pertemuan di sini. Pasti urusan yang itu juga...."

"Keadaanmu membuat aku terpaksa membatalkan pembicaraan itu Sinto. Lain kali saja kita bicarakan lagi...."

"Kalau umurku masih panjang," kata Sinto Gendeng.

"Jangan bicara bagitu Sinto....... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 172.68.65.213
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia