Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

SATU

Angin malam bertiup dingin. Tanpa desau dan tak mampu menimbulkan suara gemerisik pada daun-daun pepohonan di puncak gunung Mahameru. Biasanya kesunyian yang dibalut udara dingin ini akan berlangsung sampai menjelang pagi ketika burung-burung atau binatang hutan lainnya mulai mengeluarkan suara menyongsong terbitnya sang surya. Namun sekali ini baru saja beberapa saat lewat tengah malam tiba-tiba kesunyian dipecahkan oleh langkah-langkah aneh yang datang dari lereng sebelah selatan. Suara itu bukan suara kaki-kaki kuda. Di antara suara langkah yang terus menurut itu sesekali terdengar suara orang tertawa. Manusia gila dari mana yang tertawa di malam buta di puncak gunung yang gelap dan dingin begitu rupa?

Suara dalam kegelapan itu bergerak ke arah puncak gunung. Tak lama kemudian samar-samar kelihatan satu pemandangan yang sulit dipercaya. Suara langkah-langkah kaki tadi ternyata adalah suara langkah kaki seekor keledai bertubuh pendek dan kurus. Binatang ini bergerak menembus kegelapan malam dan dinginnya udara. Di atas gigih tubuhnya yang kurus dan pendek itu sungguh kontras tampak duduk seorang bertubuh gemuk luar biasa. Orang ini mengenakan celana hitam yang sangat komprang tapi karena tubuhnya yang luar biasa gendut itu maka celana besar itu tetap saja kesempitan. Begitu juga baju putihnya yang besar dan tak dapat dikancing hingga dada dan perutnya yang gembrot tersembul keluar.

Si gemuk ini memiliki sepasang mata sipit sedang rambutnya yang berwarna putih disanggul di atas kepala. Melihat keadaan rambutnya jelas dia sudah berusia lanjut.

Dengan berjalan kaki saja seorang akan mengalami kesulitan untuk mendaki gunung Mahameru apalagi menunggang keledai kurus kecil seperti itu. Dan penunggangnya memiliki bobot gemuk luar biasa pula, lebih dari 200 kati! Namun keledai dan penunggangnya itu kelihatan enak saja mendaki dan bergerak menuju puncak gunung Mahameru. Malah si gendut ini menunggangi binatang itu sambil tertawa-tawa. Di punggungnya dia memanggul sebuah karung besar yang entah apa isinya. Yang jelas isi karung itu kelihatan tiada henti-hentinya bergerak-gerak. Sesekali terdengar suara bergedebuk, seolah-olah ada seorang yang menendang atau meninju dari dalam karung itu. Sebaliknya si genut ini tetap saja tenang-tenang di atas punggung keledainya seolah tak ada terjadi apa-apa dan gayanya seperti orang yang tengah berjalan sambil memperhatikan pemandangan indah di sekelilingnya, padahal saat itu malam gelap gulita dan dinginya udara menembus jagat dan daging sampai ke tulang belulang. Malah kemudian setiap terdengar suara gedebuk dia keluarkan tawa mengekeh.

"Gebukanmu kurang keras. Tendanganmu kurang kencang! Aku seperti digelitik saja! Ayo gebuk, pukul lebih kuat! Ha....ha.....ha.....!" si gendut berkata lalu menutup ucapannya dengan suara tawa membahana di seantero lereng gunung di mana dia berada.

Hebatnya, semakin tinggi ke atas gunung semakin cepat langkah keledai pendek dan kurus itu. Si gendut yang menungganginya kini malah tampak cengengesan sambil bersiul-siul kecil. Saat itulah terlihat ada keanehan lain. Manusia gemuk ini nukan benar-benar duduk menunggang di atas punggung keledai. Tapi ternyata pantatnya hanya sekedar menempel saja karena kedua kakinya yang besar berat menjejak tanah! Jadi dia hanya mengepit tubuh binatang tunggangannya sedang kedua kakinya melangkah lincah sambil menjepit dan membimbing langkah si keledai.

Semakin jauh dan tinggi ke atas semakin keras dan sering gerakan-gerakan benda di dalam karung. Gebukan dan tendangan semakin sering menimpa tubuh orang gemuk berambut putih itu. Namun dia tetap anteng-anteng saja. Akhirnya bersama keledainya dia sampai di puncak sebelah timur gunung Mahameru. Meski dari kawah keluar uap yang menyebar hawa panas, tetapi di tempat di mana si gendut dan keledainya berada udara terasa sangat dingin. Keringatnya yang membasahi tubuh di gendut seolah telah berubah sedingin es! Gilanya seperti tidak merasakan udara dingin yang bisa membuat orang beku itu, si gendut mulai menyanyi-nyanyi kecil sambil menurunkan karung besar yang sejak tadi dipanggulnya lalu melemparkannya ke tanah.

Dari dalam karung terdengar suara yang tidak jelas. Seperti mengeluh dan mengomel. Tiba-tiba karung yang berisi benda yang selalu bergerak itu bergulingan ke arah si gendut. Apapun benda yang ada di dalamnya, gerakan berguling itu bukan gerakan biasa. Benda apa saja yang kena ditabraknya pastilah akan mengalami cidera berat.

Si gendut di atas punggung keledai sesaat mengernyitkan kedua matanya yang sipit. Lalu dia mengumbar suara tertawa panjang. "Dasar anak gendeng! Dibungkus dalam karung saja kau masih hendak melawan! Tidak tahu kesalahan! Tidak sadar telah berbuat dosa besar! Kau tunggu saja! Sebentar lagi kau akan terima hukumanmu!" Habis mengomel seperti itu manusia gendut ini lalu tertawa gelak-gelak. Sungguh aneh! Sedang marah atau sedang bagaimanakah dia ini sebenarnya.

Sementara itu karung yang berguling menyambar ke arah si gendut mengeluarkan suara menderu. Si gendut gerakkan kedua kakinya. Tubuhnya secepat kilat berputar aneh. Keledai yang ditungganginya juga ikut berputar. Buntalan karung lewat satu jengkal di sampingnya lalu menghantam sebatang pohon.

Braaak!

Batang pohon itu mengeluarkan suara berderak. Kulit luarnya hancur berkeping-keping. Dari dalam karung terdengar suara seperti orang merintih tapi juga seperti menggerendeng!

Si gendut tertawa memecah kesunyian. Dia tampak turun dari keledainya padahal sebenarnya dia hanya melangkah mundur lalu bergerak mendekati karung yang terhampar tak jauh dari pohon yang barusan ditabraknya. Dia membungkuk membuka tali ikatan karung lalu dengan gerakan cepat dia menarik ke atas bagian bawah karung hingga apa yang menjadi isinya menggelinding jatuh ke tanah. Dan astaga!

Ternyata yang keluar dari karung itu adalah sosok tubuh seorang anak lelaki berusia sekitar 10 tahun. Tak kalah hebatnya dengan lelaki gendut berpakaian sempit itu si anak juga memiliki badan luar biasa gemuknya. Dia hanya mengenakan sehelai cawat hingga dadanya yang gembrot dan perutnya yang gendut kelihatan jelas menggelembung. Saking gendut anak ini kelihatan seolah-olah tak berleher. Dagu dan dadanya menggempal jadi satu. Anehnya wajah dan tubuhnya tampak berkeringatan padahal udara di tempat itu dingin luar biasa!

Keningnya kelihatan benjut. Mungkin ini akibat benturan dengan batang pohon tadi. Jika batang pohon bisa hancur sedang si anak Cuma benjut keningnya jelas ada satu kehebatan pada dirinya.

Dengan sepasang matanya yang besar anak ini memandang marah pada orang di depannya. Dia membuka mulutnya lebar-lebar dan terdengar suara tidak jelas seperti suara orang gagu. Tubuhnya yang terhampar di tanah bergerak bangkit seperti mencoba hendak duduk. Tapi tubuh itu kemudian roboh kembali. Sepasang tangannya meninju-ninju sedang kedua kakinya yang besar menendang-nendang. Si anak keluarkan suara menggerung dari tenggorokkannya.

"Buntalan jelek bau apek! Ha....ha....ha....! Ayo menarilah terus! Ha...ha...ha...!" Si gendut bermata sipit mengejek dan tertawa gelak-gelak.

Sebaliknya si gendut bermata besar tampak beringas. Dia julurkan lidahnya lalu tiba-tiba sekali tubuh itu menggelinding cepat ke arah orang yang menertawainya. Kedua kakinya berkelebat demikian rupa. Walau gerakan kedua kakinya jelas kaku namun dari derasnya suara angin jelas gerakan anak ini mengandung tenaga yang berbahaya. Apabila setengah jalan menyusul kedua tangannya ikut bergerak.

"Bocah edan!" teriak teriak si gendut yang diserang. Dia mengomel tapi kemudain tertawa mengekeh. Dengan sekali bergerak saja dia berhasil mengelakkan serangan si anak. Tetapi sebelum dia sempat berbalik tahu-tahu bocah gendut itu telah berputar lebih dulu dan kembali bergulingan menyerbunya!

Bukkk!

Satu tendangan menghantam lekukan kaki tapat di belakang kedua lutut si gendut. Tak ampun lagi tubuh yang berat besar itu ambruk jatuh duduk di tanah.

Jatuh bergedebruk si gendut tampak sangat marah tapi lagi-lagi aneh. Dari mulutnya yang terdengar bukan suara caci maki malah suara tertawa bergelak!

Tapi tiba-tiba sekali tubuh yang menjelepok di tanah itu berputar, lalu melesat dan tahu-tahu tanagn kanan si gendut sudah menjambak rambut anak lelaki gemuk bercawat itu dan plak-plak. Tangan kirinya menampar pipi kiri kanan si anak!

Yang ditampar sama sekali tidak kelihatan kesakitan malah mulutnya menyunggingkan seringai. Tiba-tiba dia mengulurkan lidahnya panjang-panjang. Mencibir mengejek!

Plak!

Si gendut berambut putih tampar satu kali lagi pipi anak itu. Kali ini si bocah tidak tinggal diam. Dengan gerakan kaku dia sentakkan kepalanya hingga jambakan si gendut terlepas. Lalu secepat kilat anak ini susupkan kepalanya ke selangkangan orang. Si gendut menjerit keras sewaktu ada yang menggigit salah satu bagian rahasia di bawah perutnya!

"Putus burungku!" jerit si gendut seraya melompat mundur. Di bawah sebatan pohon dia tanggalkan celana lalu membulak-balik, menarik-narik memeriksa.

"Ah.... " dia menarik nafas lega. "Untung masih utuh ! Anak gila!" Si gendut memaki seraya berpaling pada anak lelaki yang saat itu terduduk di tanah. "Dalam keadaan tertotok saja dia masih mampu bergerak, memukul dan menendang. Bahkan sempat-sempatnya hendak menggigit perkututku! Aku harus mengakui bocah sedeng ini memang luar biasa! Kalau saja dia tidak membuat kesalahan besar rasa-rasanya mau aku mengambilnya jadi murid....." Si gendut memutar tubuh, melangkah mendekati anak itu. "Santiko bocah sialan! Aku terpaksa menjatuhkan hukuman sekarang juga!"

"Ha....huk....hak....huk!" Keluar suara seperti orang gagu dari mulut anak lelaki sepuluh tahun yang hanya mengenakan cawat itu. Rupanya dia berusaha mengetakan sesuatu. Tapi karena dirinya berada dalam keadaan tertotok maka dia tidak bisa mengucapkan apa-apa. Si gendut bermata sipit tidak perdulikan gelagat itu, dia kembali menjambak rambtu si anak. Yang dijambak coba meronta lepaskan diri tapi si gendut tidak mau memberi kesempatan lagi. Dengan cepat dia berkelebat. Seperti melayang bocah gembrot itu ditentengnya menuju puncak gunung. Di satu tempat yang agak datar dia berhenti dan memandang berkeliling. Kemudian dilihatnya apa yang dicarinya yaitu dua buah batu hitam seperti sepasang tonggak menancap di tanah. Si gendut membawa bocah itu ke arah dua tonggak batu ini. Di antara celah dua batu kelihatan mengepul asap putih yang membersitkan hawa dingin sekali. Walaupun mempunyai daya tahan luar biasa ternyata si gendut masih sempat bergumam kedinginan. Dia katupkan rahangnya kuat-kuat agar gigi-giginya tidak bergemeletakan.

DUABerdiri di antara dua buah batu hitam si gendut memandang tajam-tajam ke bagian tanah di antara celah dua batu. Dia coba menembus lapisan asap putih dingin yang terus-terusan menebar di tempat itu. Matanya berhasil melihat sebuah lobang di tanah antara dua batu hitam. Rupanya dari sinilah sumber asap putih yang dingin luar biasa itu keluar.

Si gendut cekal leher bocah bercawat dan menyeretnya ke dekat lobang.

"Ha....huk....ha.....huk.....huk!" Si bocah kembali keluarkan suara.

Si gendut tertawa lebar. Dia mengusap dagunya sesaat lalu berdiri di tepi lobang. "Anak sableng! Sebagai orang hukuman kau masih layak mengatakan sesuatu sebelum hukuman dijatuhkan. Ucapkan apa yang hendak kau katakan!"

Lalu si gendut ini bungkukkan badannya, mulutnya didekatkan ke salah satu bagian leher si bocah, lantas dia meniup. Begitu angin tiupan menyambar leher si bocah, jalan suaranya yang tertotok jadi terbuka dan si bocah itu langsung bisa bicara. Sungguh ini merupakan kepandaian luar biasa. Melepaskan totokan hanya dengan jalan meniup! Umumnya orang di dunia persilatan akan mempergunakan jari-jari tangan untuk memusnahkan totokan. Siapakah sebenarnya si gendut aneh ini?

"Ayo ha huk ha huk! Totokanmu sudah kulepas! Lekas bicara kalau ada yang mau kau bilang! Kalau tidak akan segera kupendam kau dalam lobang inti es itu!"

Sesaat anak usia sepuluh tahun bernama Santiko itu menatap berang pada si gendut bermata sipit. Kedua matanya yang besar seperti dikobari api kemarahan. Kemudian perlahan-lahan tatapan garang itu mengendur, wajahnya yang keringatan kelihatan seperti redup.

"Anak aneh!" membatin si gemuk. "Bagaimana bisa di udara yang begini dingin, dekat lobang inti es dia masih saja keringatan. Padahal aku hampir mati kedinginan!"

"Pamanku tolol!" tiba-tiba keluar ucapan itu dari mulut si anak yang membuat di gendut di hadapannya jadi melengak.

"Sialan! Apa katamu?"

"Pamanku tolol!" mengulang si bocah tanpa rasa takut mendengar bentakan dan melihat tampang orang yang marah besar. "Sebetulnya apa salah saya sampai paman hendak memendam diri saya dalam lobang inti es itu?"

"Dasar anak tak tahu diri! Goblok, sableng dan gendeng! Kau masih bertanya apa salahmu! Gila! Apa masih perlu kusebutkan?!"

"Sebutkan saja paman, biar lebih jelas."

"Baik!" jawab si gendut dengan nada berang tapi kembali dari mulutnya terdengan suara tertawa bergelak. "Aku akan katakn biar jelas apa kesalahanmu! Hingga kalaupun kau mati dalam lobang inti es ini kau tidak akan mampus penasaran! Ha...ha...ha....!"

"Sudah. Bilang cepetan. Aku bosan mendengar suara tawamu!" kata bocah gemuk bernama Santiko.

Si gendut di hadapannya tetap saja mengumbar tawa. Tiba-tiba suara tawanya lenyap, berganti dengan bentakan.

"Anak setan! Kau telah melakukan kesalahan maha besar! Kau mencuri peralatan gamelan Keraton. Sultan sangat marah. Gamelan pusaka tidak bisa dimainkan lagi. Padahal perayaan Sekaten hanya tinggal beberapa minggu lagi! Nah sekarang kau tahu apa kesalahanmu! Apa dosamu!"

Santiko tampak tenang saja. Lalu dia berkata. "Ah, rupanya masalah peralatan gamelan itu yang jadi biang kerok! Tolong paman katakan, sebenarnya peralatan apa yang saya curi?"

"Anak iblis! Mulutmu ternyata licik! Sudah mencuri kau masih bertanya apa yang kau curi ! Kau memang pantas dipendam dalam lobang inti es itu ! " "Kalau paman tidak mau mengatakan benda apa yang kucir ya sudah ! Pendam saja saya cepat-cepat dalam lobang inti es itu!"

Si gendut tertawa bergelak. "Betul, memang betul! Sebaiknya kupendam saja kau saat ini juga! Tapi biar kuberi kesempatan lagi! Ada yang masih hendak kau katakan?!"

"Ya...."

"Apa?!"

"Kau memang paman tolol!"

"Bocah sialan!" Si gendut dalam marahnya mengangkat tangan kanannyatinggi-tinggi. Siap menggebuk kepala si bocah, yang hendak digebuk tenang-tenang

saja malah ulurkan lidah mencibir! Melihat hal ini si gendut turunkan tangannya dan tertawa terkekeh-kekeh. "Apa alasanmu mengatakan aku tolol?" tanya si gendut. "Karena kau tidak mau mengatakan benda apa yang aku curi? Padahal

sebenarnya kau sendiri tahu apa yang aku curi! Jadi kau tolol!" "Kalau begitu kita berdua tolol. Paman dan keponakan sama-sama tolol!"

menyahuti si bocah. Plak! Satu tamparan melayang di pipi kanan Santiko hingga anak ini terpelanting

dan tersandar ke salah satu tiang batu dekat lobang yang mengeluarkan kepulan asap

putih. "Sakit!" tanya si gendut. "Lumayan...." jawab Santiko seenaknya yang membuat orang yang bertanya

jadi kembali tertawa membahak.

"Bocah sialan! Biar saat ini kukatakan padamu apa yang telah kau curi. Kau mencuri bonang penerus slindro dan bonang penerus pelog. Itu adalah dua peralatan tabuhan gamelan yang sangat penting. Tanpa dua benda itu gamelan pusaka Keraton tidak mungkin dimainkan! Nah kau sudah dengar apa yang aku bilang! Kau mencuri dua buah bonang!"

"Hanya dua buah kentongan besi itu yang saya curi. Bukankah masih banyak bonang-bonang yang lain? Mengapa sampai geger begitu?"

"Anak setan! Kalau tidak mengingat siapa ibumu sudah kupatahkan batang lehermu saat ini juga!" teriak si gendut hampir berteriak lalu tertawa bergelak. "Coba kau katakan, mengapa kau mencuri dua buah bonang itu?'

"Saya Cuma iseng saja paman...."

"Mencuri dua buah bonang pelengkap gamelan kramat kau katakan iseng! Anak sialan! Ha...ha....ha.....! Hai! Katakan pada siapa dua buah bonang itu kau berikan?"

Si bocah tidak menjawab.

"Tak kau katakanpun aku sudah tahu!" si gendut menjawab sendiri.

"Kalau paman sudah tahu mengapa musti bertanya?"

"Aku hanya memeriksa. Betul dua buah bonang pusaka itu kau berikan pada janda muda dan cantik bernama Nyi Bulan Seruni Pitaloka?!" Si bocah tertawa gelak-gelak. "Anak setan! Kenapa kau tertawa!" bentak si gendut.

"Paman ingat sekali nama panjang perempuan itu! Hik.....hik! Pasti ada apa-apanya."

"Setan! Jangan kau berani bicara kotor!"

"Rupanya apa yang Nyi Bulan Seruni benar. Banyak orang lelaki di dalam dan di luar Keraton tergila-gila padanya. Katanya, salah satu dari mereka adalah paman sendiri! Hik.....hik.....hik!"

"Kau benar-benar anak setan! Perempuan itu bukan pasanganku! Usiaku hampir delapan kali usianya!"

"Apakah itu menjadi soal? Maklum saja lelaki sekarang. Makin tua makin menjadi. Kambing tua mana yang tidak doyan rumput segar? Hik....hik.....hik!"

"Edan! Jadi kau samakan aku dengan kambing tua?!" teriak si gendut marah. Tapi pada akhir ucapannya dia tertawa gelak-gelak. "Anak setan, mangapa kau mencuri dua bonang pusaka itu lalu menyerahkannya pada Nyi Bulan Seruni Pitaloka?"

"Dia meminta tolong kepada saya untuk mengambilkan dua bonang itu. Mana saya tega menolak...."

"Diberi hadiah apa kau olehnya? Pati kau diajak tidur!"

Santiko menyeringai. "Mauku sih begitu, tapi Nyi Bulan bilang aku masih kecil. Nanti saja sepuluh tahun lagi katanya! Hik...hik...hik....." Anak itu tertawa gelak-gelak.

Si gendut juga ikut-ikutan tertawa.

"Sepuluh tahun lagi! Kalau kau masih hidup! Mungkin kau sudah keburu mampus dalam lobang inti es itu!"

"Kalau begitu kau bisa mewakili saya mendapatkan hadiah itu...."

Si gendut kembali tertawa mengekeh mendengar kata-kata Santiko itu. Lalu dia diam dan bertanya. "Kau sudah siap untuk kupendam?!"

"Sudah sejak tadi paman. Inilah hari sangat bersejarah...."

"Eh, bersejaah bagaimana maksudmu?!"

"Hari ini seorang paman hendak memendam hidup-hidup keponakannya sendiri dalam lobang! Rasanya belum pernah terjadi di dunia ini....Hanya gara-gara dua buah bonang!"

"Anak sialan! Kau bisa berkata begitu! Dua bonang itu bukan alat tetabuhan biasa. Pusaka keramat turunan penguasa Kerajaan! Atau kau mungkin lebih suka penguasa Keraton sendiri yang akan menabas batang lehermu?"

"Dua buah bonang besi yang tak lebih dari kentongan biasa. Apa sulitnya membuat dan menggantikannya dengan yang baru? Bukankah banyak ahli pembuat gamelan di tanah Jawa ini?"

"Jangan bodoh! Gamelan pusaka itu bukan buatan manusia. Tapi dibuat dan dikirmkan oleh para dewa dari swargaloka."

"Paman percaya hal itu?" tanya Santiko.

"Eh!" si gendut tergagu, sesaat jadi terdiam.

"Kalau tak bisa membuat yang baru, mengapa tidak mencari saja yang kini memegangnya yaitu Nyi Bulan Seruni ? "

"Dia mana mau mencari perempuan itu. Kabarnya dia tinggal di dasar lautan dan sering tetirah di langit ke tujuh!"

"Percuma saja paamn digelari Dewa Ketawa. Bisanya Cuma ketawa. Cobalah memutar otak sedikit."

"Anak setan! Kau yang berbuat jahat, aku yang kau suruh susah! Sudah! Jangan banyak bicara lagi. Sebelum kupendam aku tetap ingin tahu alasanmu yang sebenarnya mengapa kau mau-mauan mencuri bonang-bonang itu lalu menyerahkannya pada Nyi Bulan."

"Sudah saya bilang janda cantik itu minta tolong. Karena merasa tidak ada susahnya, saya menyelinap masuk Keraton dan mengambil dua benda yang dimintanya itu."

"Aku tidak percaya! Semudah itu kau mau mengerjakan apa yang dimintanya...."

"Baiklah. Akan saya katakan. Dua buah bonang itu berbentuk seperti sepasang payu dara perempuan. Nah saya anggap saja itu payu daranya Nyi Bulan. Saya lalu mencurinya. Sebelum menyerahkan dua buah bonang itu saya usap-usap dulu, saya ciumi. Nah apa tidak sedap? Lalu baru saya serahkan pada Nyi Bulan."

"Anak kurang ajar!" teriak si gendut yang punya gelar Dewa Ketawa itu. Habis berteriak dan lalu tertawa gelak-gelak. Tiba-tiba dia melompat. Sekali sergap saja dia sudah menjambak rambut Santiko, lalu bocah ini diseretnya ke arah lobang di antara dua buah batu hitam berbentuk tonggak. Sampai di dekat lobang kedua tangannya membuat gerakan seperti memijit di seluruh tubuh Santiko. Akibat pijitan aneh ini tubuh anak itu jadi memanjang kaku laksana sebuah balok kayu. Hanya leher dan kepalanya saja yang masih bisa digerakkan. Suaranyapun putus tak bisa bicara lagi. Dewa Ketawa memijit dua telapak tangan si anak. Kedua tangan itu kini tampak mengembang. Lalu dengan gerakan cepat si gendut memegang pinggang Santiko. Anak ini dibaliknya kepala dan tangan ke bawah, kaki di atas. Sebelum membenamkan tubuh Santiko ke dalam lobang inti es Dewa Ketawa tertawa panjang dan berkata.

"Hukumanmu tujuh tahun dibenam dalam lobang inti es yang maha dingin. Setelah tujuh tahun totokan di tubuhmu akan musnah dan kau bisa bebas. Itu tentu saja kalau umurmu panjang! Selama ini tidak ada mahluk yang sanggup mendekam begitu lama dalam lobang inti es! Satu tahun di dalam lobang inti es sama dengan sepuluh tahun hidup di luaran. Kalau nanti kau masih hidup berarti usiamu sudah delapan puluh tahun! Di dasar lobang kau akan menemui sejenis lumut putih. Hanya itu satu-tunya makananmu untuk bertahan hidup. Tapi ketahuilah lumut es itu mengandung racun jahat. Baru makan sedikit saja kau sudah menemui kematian!"

"Ha...ha...ha...ha!"

Habis tertawa panjang Dewa Ketawa menjebloskan tubuh Santiko ke dalam lobang inti es. Mula-mula kedua tangannya masuk ke dalam lobang. Ketika kedua telapak tangan anak ini mencapai dasar lobang ternyata di sebelah atas tubuhnya hanya tenggelam sampai ke batas pinggang.

Dewa Ketawa kembali tertawa gelak-gelak. "Anak sialan! Kau membikin aku susah saja! Kau bisa tenang di lobang itu sampai malaikat maut menjemput. Tapi aku masih terus berurusan dengan Kerajaan ! Ah ! Bonang penerus slindro, bonang penerus pelog di mana aku bisa mencarimu. Nyi Bulan Seruni Pitaloka di maan kau bersembunyi ? "

Setelah memperhatikan sekali lagi ke arah sosok tubuh Santiko yang dipendam kaki ke atas kepala le bawah itu Dewa Ketawa memandang berkeliling. Keadaan di sekitarnya masih gelap gulita serta diselimuti hawa dingin. Dia memasukkan dua jari tangan kirinya ke dalam mulut lalu meniup. Satu suitan nyaring terdengar seperti membelah kegelapan malam. Dari arah kiri kemudian kelihatan muncul keledai kurus pendek itu. Dewa Ketawa mengusap kepala binatang ini lalu naik ke atas punggungnya. Seperti tadi datangnya, begitu pula dia pergi meninggalkan puncak gunung Mahameru. Seolah duduk menunggangi keledai tetapi sebenarnya dia hanya menumpangkan tubuh saja sementara kadua kakinya yang menjejak tanah melangkah berjalan seperti biasa.TIGASantiko merasa tubuhnya seperti berubah menjadi batu, mengeras dan kaku. Darah dalam tubuhnya laksana beku dan berhenti mengalir. Kedua telapak tangannya yang menempel di dasar lobang inti es disengat hawa dingin luar biasa. Begitu dinginnya hingga lambat laun dia merasa seperti menempel pada bara api. Keadaannya benar-benar sangat menderita. Apalagi dia terpendam di lobang kepala ke bawah kaki ke atas.

Meski lobang itu agak longgar dan dia bisa bernafas leluasa namun rongga dadanya seolah mau pecah. Setiap dia menghembuskan nafas yangkeluar adalah asap putih dingin dan membalik menghantam wajahnya yang gembrot. Anak lelaki berusia sepuluh tahun ini dengan segala kepandaian terbatas yang dimilikinya berusaha mengerahkan tenaga dalam guna memusnahkan totokan yang menguasai tubuhnya. Namun sia-sia belaka. Yang mampu dilakukannya adalah menggerakkan leher dan sedikit kepala serta bernafas!

Ketika pagi tiba dan sinar matahari perlahan-lahan muncul menerangi bumi, puncak gunung Mahameru itu terasa hangat. Tetapi di dalam lobang inti es hawa tetap saja dingin bukan main. Dari liang hidung Santiko mulai keluar darah. Darah ini langsung membeku begitu mengalir ke bibir. Masih untung si anak bisa menggerakkan bibirnya hingga darah yang beku mampu dijatuhkannya ke dasar lobang. Kalau darah beku itu sampai menutupi kedua lobang hidungnya maka celakalah dia karena akan sulit untuk bernafas.

Meski kini hari sudah siang dan matahari bersinar terang benderang namun di dalam lobang inti es Santiko hanya mampu melihat dasar lobang secara samar-samar. Perutnya mulai terasa perih minta diisi. Menurut Dewa Ketawa di dasar lobang itu terdapat sejenis lumut es. Hanya itu satu-satunya benda yang bisa dimakan. Tapi celakanya lumut itu mengandung racum mematikan!

"Nasib diriku memang sialan. Walaupun memang aku mencuri dua buah bonang itu tapi lenih sialan lagi ada seorang paman yang tega-teganya memendamku di lobang keparat ini! Apa yang harus kulakukan? Mati lebih cepat rasanya lebih baik dari pada tersiksa begini! Sialan! Benar-benar sialan!"

Hawa dingin terus mengalir dari sekitar lobang dan dasar lobang di mana kedua telapak tangan Santiko menempel.

Hawa itu mengalir melalui kedua tangannya, terus merasuk ke sekujur tubuhnya hingga dia merasakan tubuhnya tidak seperti tubuh lagi melainkan seolah telah berubah menjadi batu yang keras. Dan celakanya perih dalam perut besarnya semakin menjadi-jadi. Padahal belum setengah harian dia dipendam di tempat itu.

Bocah ini mulai berpikir-pikir. "Bukankah lebih baik dia makan saja lumut es yang ada di dasar lobang ? Hingga dia segera mati keracunan ?! "

Tapi setelah menimbang-nimbang, bagaimanapun beraninya Santiko dia tetap saja anak-anak yang punya rasa takut menghadapi kematian. Selama dua hari dua malam dia bertahan terhadap dingin dan lapar. Namun memasuki hari ketiga dia tak sanggup lagi. Apapun yang terjadi dia sudah tidak perduli lagi akan kematian. Meskipun demikian anak nakal aneh berotak cerdik ini tidak begitu saja melahap lumut es beracun yang ada di sekitar dasar lobang. Mula-mula dia hanya menjilat-jilat saja sekedar melenyapkan dahaga dan lapar yang menggila. Ternyata meskipun hanya menjilat racun jahat lumut es itu membuat lidah, gusi dan bibirnya menjadi bengkak tebal, sakit laksana disengat kalajengking. Racun yang sempat terserap air liurnya menjalar ke kepala hingga bocah sepuluh tahun ini merasa kepalanya seolah-olah menjadi besar dan seperti diketok dengan palu godam! Pemandangannyapun berkunang-kunang ditambah adanya rasa perih di kedua matanya.

Dua hari lamanya dia mengalami sengsara seperti itu. Dari telinga dan hidungnya mengucur darah yang segera membeku. Hari berikutnya bengkak di seluruh mulut mulai menciut dan rasa sakit pada kepala mulai berkurang. Dua hari setelah itu keadaanya boleh dikatakan pulih namun untuk makan lumut es itu Santiko tidak berani. Setelah dua hari bertahan, tasa lapar dan dahaga membuat dia kembali tak berdaya. Mau tak mau karena hanya lumut es itu satu-satunya makanan yang ada meskipun mengandung racun jahat Santiko terpaksa kembali menjilati lumut es di dasar lobang. Dia sudah siap sedia menghadapi apapun yang terjadi. Bahkan matipun dia sudah pasrah.

Anak itu menjilat permukaan dasar lobang bebrapa kali. Lalu berhenti. Setelah menunggu sekian lama tak ada yang terjadi. Lidahnya, gusi dan bibirnya tidak bengkak. Tak ada rasa sakit seperti disengat kalajengking. Kepalanya juga tidak berdenyut-denyut atau sakit seperti dikemplang.

"Aneh, apa yang terjadi dengan tubuhku?" membatin Santiko. "Lumut tawar itu tidak mendatangkan cidera seprti pertama kali aku menjilatnya" Santiko coba berpikir terus tapi dia tidak dapat memecahkan rahasia apa yang terjadi.

Sebenarnya apakah yang terjadi? Lumut es di dasar lobang inti es itu jelas-jelas mengandung racun. Ketika Santiko pertama kali menjilatnya, anak ini menjadi bengkak mulutnya luar dalam. Kepalanya sakit bukan kepalang sedang kedua matanya menjadi kabur dan perih. Darah mengucur dari lobang hidung dan liang telinganya. Namun bersamaan dengan itu racun yang menjalar dalam tubuh Santiko yang jumlahnya tidak seberapa banyak telah membuat tubuhnya membentuk kekuatan penangkis jika racun yang sama dalam kadar yang sama kembali masuk ke dalam tubuhnya. Dengan kata lain tertentu. Tanpa disadari Santiko inilah rupanya yang terjadi.

Namun celakanya karena mengira lumut es itu tidak akan mencelakainya lagi maka si anak menlahapnya dengan rakus. Beberapa saat kemudian dirasakan sekujur tubuhnya menjadi sangat panas. Bersamaan dengan itu dirasakannya seprti ada ribuan jarum yang menusuki badannya. Lobang yang tadinya longgar kini mendadak dirasakannya sempit. Ini satu pertanda bahwa sekujur tubuh Santiko telah membengkak.

Perutnya selain panas juga membelit sakit bukan kepalang.

Kepalanya seprti ditindih batu besar. Dari telinga dan hidungnya keluar darah kental. Nafasnya menyesak sementara dadanya seprti mau pecah! Dia terbatuk-betuk beberapa kali lelu muntah-muntah. Isi perutnya laksana mau terbongkar namun yang keluar ternyata gumpalan-gumpalan darah! Dalam keadaan seperti itu anak ini akhirnya jatuh pingsan.

Santiko tidak tahu berapa lama dia tidak sadarkan diri. Ketika dia akhirnya siuman. Dirasakannya hawa dingin mencucuk sampai ke tulang sungsumnya pertanda hawa panas yang tadi menguasai dirinya telah lenyap. Perutnya tidak sakit lagi dan nafasnya juga tidak sesak. Darah tidak lagi mengucur dari hidung dan telinganya.

Untuk kesekian kalinya anak ini coba memutar otak, memikirkan apa sebenarnya yang terjadi. "Pertama kali kujilat lumut es itu mendatangkan celaka. Kedua kali kujilat tidak apa-apa. Aku seperti kebal terhadap racun itu. Ketika kulahap seperti orang rakus ternyata aku hampir mati dibuatnya.... Jangan-jangan..... Aku harus mencobanya lagi."

Kalau aku masih hidup berarti dugaanku benar. Kalau aku mati aku sudah pasrah.

Begitulah, setelah menunggu selama tiga hari, begitu tak sanggup lagi menahan lapar dan dahaga dia kembali melahap lumut es itu. Namun dia berlaku hati-hati. Lumut beracun itu dimakannya sedikit demi sedikit. Tidak melebihi jumlah yang pernah dimakannya sebelumnya. Dengan hati berdebar dia menunggu. Tubuhnya terasa panas. Tak lebih dari itu. Tak ada hal-hal lain yang terjadi. Tak ada rasa sakit pada kepala dan perut serta dada. Juga tak ada darah yang keluar dari hidung dan telinganya.

"Aku tahu sekarang!" kata Santiko dalam hati. "Jika kumakan lumut itu sedikit demi sedikit berarti aku punya kekebalan terhadap sedikit racun lumut es. Jika kutelan banyak aku akan kebal terhadap racun lumut es sampai sebanyak yang kutelan.....! Malah tubuhku akan terasa hangat, sanggup melawan dinginnya hawa di lobang celaka ini! Lumut es beracun! Kau tak akan sanggup membunuhku. Malah kau memberi kekuatan hebat dalam tubuhku! Aku akan sanggup bertahan dalam lobang celaka ini sampai kapanpun! Paman Dewa Ketawa! Kau lihat saja nanti! Aku tidak akan menemui ajal dalam lobang inti es ini! Kau bakal menerima pembalasanku!"

Hari demi hari berlalu. Berganti minggu, berubah jadi bulan. Tanpa terasa tujuh tahun telah berlalu sejak hari pertama Dewa Ketawa menjebloskan Santiko ke dalam lobang inti es itu. Meskipun lumut es beracun itu selama bertahun-tahun dapat dekendalikannya hingga tidak mendatangkan celaka, namun kesengsaraan yang dialaminya terpendam sekian lama dalam lobang itu sulit dibayangkan.

Sekian lama dia berusaha membebaskan diri dengan mengerahkan tenaga dalam yang dimilikinya, namun sia-sia belaka. Dia tak kunjung mampu untuk membebaskan diri dari totokan Dewa Ketawa. Pada hari terakhir tahun ketujuh, seperti yang dikatakan oleh Dewa Ketawa dulu, totokan yang menguasai tubuh Santiko ternyata musnah dengan sendirinya.

Saat itu pagi menjelang siang.

Anak yang kini telah menjadi seorang pemuda tujuh belas tahun ini dengan susah payah mengeluarkan dirinya dari dalam lobang. Selama tujuh tahun terpendam dan hanya makan lumut es ternyata Santiko telah tumbuh menjadi seorang pemuda bertubuh gemuk luar biasa. Tubuh yang gemuk inilah yang membuatnya susah keluar dari lobang yang kini menjadi sangat sempit. Begitu dia akhirnya keluar, Santiko tertawa gelak-gelak karena dapatkan dirinya dalam keadaan tanpa pakaian sama sekali. Pakaian dalam yang melekat di tubuhnya telah sejak lama hancur. Selain itu banyak bagian tubuhnya yang telah mengalami perubahan. Dari pinggang ke atas sampai ke wajahnya yaitu bagian yang selama tujuh tahun terpendam dalam lobang inti es berwarna putih pucat. Cahaya matahari membaut wajahnya dan dadanya segera menjadi kemerah-merahan.

Dari pinggang ke bawah sampai ke kaki tubuhnya kelihatan kehitam-hitaman. Selain auratnya perubahan juga tampak pada telapak tangannya. Kedua telapak tangan Santiko kini kelihatan putih seolah tidak berdarah. Lalu dia merasakan tubuhnya yang kini gendut tak karuan itu enteng sekali. Walaupun berat badannya kini mungkin lebih dari 150 kati namun gerakannya terasa tingan.

Dia coba berjingkrak-jingkrak. Tubuhnya laksana melayang. Ketika dicobanya melompat tahu-tahu hup! Tubuh gemuk itu melayang tinggi ke udara. Dia jadi takut sendiri. Tapi kembali dia melompat. Kali ini dia melompat dari bawah sebatang pohon besar. Hup! Enak saja dia sampai di atas pohon dan duduk di salah satu cabang tertinggi. Mula-mula dia agak merasa gamang. Setelah bebrapa saat tampak dia mulai tertawa-tawa dan goyang-goyangkan kaki sambil memandang ke mana-mana memperhatikan pemandangan yang indah di sekeliling puncak gunung Mahameru itu.

Puas duduk uncang-uncang kaki di atas pohon Santiko melompat turun.

Hal lain yang terasa aneh baginya ialah bahwa di udara yang sangat dingin di puncak Mahameru itu tebuhnya terasa hangat. Malah wajahnya selalu keringatan. Tidak dapat tidak ini tentulah akibat racun lumut es yang kini mengendap dalam darahnya dan menjadi satu kekuatan aneh yang sanggup melawan hawa sedingin apapun!

"Apa aku sekarang jadi seorang pemuda gendut tak karuan. Tapi menurut paman sialan itu kini usiaku sudah delapan puluh tahun! Gila! Aku akan cari dirinya. Akan kuhajar habis-habisan. Tapi, aku punya kepandaian app manghadapinya?"

"Dia begitu sakti!" Santiko jadi termenung sejurus. Sambil merenung tanpa sadar dia menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya yang putih itu satu sama lain. Perlahan-lahan terasa ada aliran hawa dingin di antara dia telapak tangan. Bersamaan dengan itu telapak tanagn yang tadi putih kini tampak menjadi kemerahan. Tiba-tiba ada satu sinar membersit keluar dari celah dua telapak tangan yang digosok-gosokkan itu. Sinar ini menghampar hawa dingin luar biasa dan melesat ke atas. Menyambar cabang pohon besar yang tadi didudukinya.

Kraak!

Santiko gendut terperangah.

Cabang pohon itu berderak patah. Bagian yang patah lalu jatuh ke tanah.

Santiko bersurut mundur saking kagetnya. Pandangannya pulang balik pada kedua talapak tangannya dan cabang pohon yang jatuh ke tanah.

"Tubuhku ringan, seolah aku memiliki ilmu meringankan tubuh. Lalu ada angin bercahaya keluar dari kedua telapak tanganku. Sanggup memutus cabang pohon sebesar paha! Eh.....apakah aku saat ini sudah jadi orang sakti?" Begitu Santiko berkata-kata dalam hati saking heran dan bingungnya.

Tapi pemuda ini tidak hilang akal. Mudah saja untuk membuktikan kalau dia memang benar-benar punya kesaktian. Dia melangkah mendekati pohon yang tadi cabangnya dihantamnya hingga tumbang ke tanah. Batang pohon ini besarnya hampir sepemelukan . Mula-mula Santiko agak bimbang.

Namun sambil menggigit bibirnya dia lalu menghantam batang pohon itu dengan tangan kanannya.

Terjadilah hal yang mengagumkan.

Batang pohon besar itu hancur berkeping-keping. Lalu perlahan-lahan pohon besar itu tumbang dengan mengeluarkan suara menggemuruh!

Santiko pandangi tangan kanannya. Waktu memukul tadi dan tangannya beradu dengan batang pohon yang keras dia sama sekali tidak merasa sakit. Juga tidak mengalami cidera sedikitpun.

Santiko berteriak keras lalu berjingkrak-jingkrak kegirangan. Dada dan perutnya yang gembrot bergoyang-goyang.

Tiba-tiba Santiko hentikan lompatannya. Dia sadar. Kedua tangannya ditutupkan ke bagian bawah perut lalu dia memandang berkeliling.

"Ah, untung tak ada siapa-siapa. Kalau sampai ada yang melihat diriku melompat-lompat dalam keadaan telanjang seperti ini bisa-bisa aku dianggap setan Mahameru! Ha...ha....ha!"

Puas tertawa pemuda ini mulai berpikir-pikir. "Aku tidak bisa begini terus-terusan. Aku harus mencari pakaian."

"Tapi di mana ada baju dan celana di gunung ini? Berarti aku harus turun gunung! Benar-benar gila!"

Memikir sampai di situ Santiko bersiap-siap tinggalkan puncak gunung. Sebelum pergi dia memandang dulu ke arah lobang init es yang selama tujuh tahun menjadi tempatnya terpendam penuh siksaan.

"Hemmmm..... Ada baiknya aku melakukan sesuatu." Katanya dalam hati. Dia memandang pada kedua telapak tangannya yang putih lalu menoleh ke arah batang pohon yang tumbang. Di mulutnya tersungging senyum. Santiko melangkah mendekati batang pohon itu. "Mampukah aku....?" pikirnya sambil lagi-lagi memandang pada kedua telapak tangannya.

Dengan agak bimbang dia berjongkok di dekat batang pohon itu sambil menggosok-gosok kedua telapak tanagnnya satu sama lain. Lalu dirasakannya ada hawa dingin aneh datang dari perutnya, mengalir cepat sampai di ujung-ujung jarinya.

Perlahan-lahan Santiko letakkan kedua tangannya di atas batang pohon. Dia menekan sedikit. Dadanya berdebar ketika melihat bagian batang yang ditakannya itu jadi melesak!

"Kalau bagini berarti aku mampu melakukannya...." katanya dalam hati. Lalu di gendut ini pergunakan kedua tangannya untuk merubah batang pohon itu menjadi sebuah boneka besar berbentuk seorang lelaki yang berdiri dengan kedua kaki saling menempel dan sepasang tangan diluruskan.

Boneka kayu ini kemudian dimasukkannya ke dalam lobang, kepala ke bawah kaki ke atas. Persis seperti yang dilakau Dewa Ketawa terhadap dirinya tujuh tahun yang lalu. Setelah puas memperhatikan boneka kayu itu sambil tertawa-tawa akhirnya pemuda gendut ini tinggalkan puncak Mahameru.

Hanya beberapa saat saja setelah Santiko meninggalkan tampat itu tiba-tiba terdengar suara tawa bergelak di sebelah timur puncak gunung. Menyusul suara orang bernyanyi.

Tujuh tahun dipendam.

Tujuh tahun menjalani hukuman.

Hari ini hari pembebasan.

Hari ini akan kulihat lagi sang insan.

Entah nasih hidup entah sudah berpulang.Suara nyanyian berakhir. Kembali terndenga suara tawa.

Tak lama kemudian muncullah seorang lelaki bertubuh gemuk besar bermata sipit. Rambutnya yang putih digulung di atas kepala. Dai muncul menunggang seekor keledai kecil kurus. Langkah binatang dan penunggangnya cepat sekali.

Dalam waktu singkat dia sampai di depan lobang inti es yang diapit oleh dua buah tonggak batu hitam.

Mendadak si gendut yang bukan lain Dewa Ketawa ini hentikan tawanya. Kedua matanya yang sipit menatap tak berkesip ke arah lobang inti es. Yang dilihatnya bukan sosok tubuh manusia yang terpendam dalam lobang itu tetapi......tak dapat dipastikannya.

Dewa Ketawa turun dari keledainya. Melangkah menghampiri benda yang terpendam itu Memperhatikannya dari atas sampai ke bagian yang terpendam. Lalu diulurkannya tangan kanannya meraba-raba. Paras Dewa Ketawa berubah.

"Kayu....."desisnya. "Gusti Allah!" Si gendut mengucap. "Apakah hukuman ini telah merubah tubuhnya menjadi kayu begini rupa?!" Untuk beberapa lamanya Dewa Ketawa tertegun tak bergerak tak berkesip. Lalu, sekali kedua tangannya bergerak, kayu yang menyerupai tubuh manusia itu ditariknya keluar dari lobang inti es.

"Gila! Benar-benar kayu!" kata Dewa Ketawa lagi dengan suara bergetar. Namun kemudian ada sesuatu yang membuat dia perlahan-lahan memalingkan kepala ke kiri. Pandangannya membentur pohon kayu yang tumbang. Lalu meledaklah tawa manusia gemuk ini.

"Dia masih hidup! Dia coba menipuku dengan membuat boneka kayu ini! Anak setan! Ha....ha.....ha.....ha!" Meski mengomel panjang pendek namun Dewa Ketawa pada akhirnya kembali mengumandangkan gelak tawanya di puncak gunung Mahameru itu. Puas mengumbar tawa akhirnya dia tinggalkan pula tempat itu.EMPATSebetulnya Angling Kamesworo tidak suka melewati hutan Randuabang. Selain banyak dihuni binatang buas di situ juga sering mendekam komplotan rampok ganas yang tidak segan-segan membunh mangsanya hanya untuk sekeping uang. Selain itu bersama rombongannya yang terdiri dari selusin perajurit pengawal dia membawa serta salah soerang puteri patih Kerajaan yang baru saja ikut berburu di kawasan timur Pagarejo yang dikenal sebagai daerah banyaknya menjangan.

Namun wakil patih kerajaan ini tidak punya pilihan lain. Dia harus segera berada di Kotaraja. Lewat hutan Randuabang dia bisa mempersingkat perjalanan. Angling Kamesworo sebelumnya adalah salah seorang perwira muda di jajaran balatentara pasukan Kerajaan.

Usianya yang belum mencapai tiga puluh, penampilan dan perawakannya yang tinggi kukuh serta berotot ditambah otak cerdas dan pengetahuan luas dalam bidang ketentaraan termasuk ilmu silat tinggi yang dimilikinya telah membuat patih Kerajaan yang sudah lanjut usia itu pernah menyampaikan usulan pada Sultan. Jika dia kelak mengundurkan diri maka Angling Kamesworolah yang diingininya sebgai penggantinya. Sebgai manusia biasa tentu saja Angling Kamesworo mempunyai satu-dua kekurangan. Salah satu kekurangan itu ialah sifatnya yang sombong dan tinggi hati. Sifat buruk itu semakin menonjol sejak akhir-akhir ini. Mungkin sekali hal itu timbul karena mengetahui kegagahan dan kehebatan ilmunya ditambah jabatannya yang cukup tinggi dengan peluang akan menjadi patih kerajaan dalam waktu beberapa tahun dimuka.

Pagi itu rombongan mulai menembus hutan Randuabang dan sebelum sore berharap mereka sudah keluar dari situ. Kalau saja Sekar Mindi, puteri patih kerajaan itu tidak mempergunakan kereta sebagai kendaraanya tetapi menunggang kuda biasa, mungkin rombongan bisa bergerak lebih cepat.

Setelah ikut berburu selama tiga hari, sang dara merasa sangat letih dan lebih suka naik kereta. Kalau Sekar Mindi adiknya sendiri pasti Angling Kamesworo telah memaksanya agar menunggang kuda saja. Naumn terhadap puteri atasannya dia tentu saja tidak bisa memaksa. Apalagi secara diam-diam sebenarnya pemuda ini telah jatuh hati terhadap Sekar Mindi. Dan ada tanda bahwa gadis itupun suka padanya.

Tak lama memasuki hutan Randuabang rombongan sampai di dekat sebuah telaga yang dikelilingi oleh pohon-pohon besar dan tinggi rimbun serta bunga-bunga hutan hingga tempat itu selain sejuk juga indah pemandangannya. Sekalipun keadaan di situ sangat menarik biasanya tidak ada orang yang mau berhenti atau beristirahat. Namun tidak demikian halnya dengan Sekar Mindi. Gadis yang baru sekali ini melihat telaga itu begitu tertarik hingga dia berseru pada sais kereta agar berhenti.

Melihat kereta berhenti Angling Kamesworo segera mendekati. "Ada apa kau menghentikan kereta?" tanya pemuda itu. "Saya yang menyuruh," yang menjawab Sekar Mindi lalu membuka pintu

kereta. Angling Kamesworo cepat menahan pintu dan bertanya. "Sekar....Kau hendak kemanakah?' "Pemandangan di telaga dan sekitarnya sangat indah. Saya ingin turun dan

melihat-lihat barang sebentar." "Jangan lakukan hal itu Sekar. Kawasan hutan Randuabang ini sangat berbahaya. Banyak binatang buas dan orang jahat."

"Berada bersamamu apa saya perlu menakutkan semua itu , Angling?" tanya sang dara sambil tersenyum yang membuat si pemuda jadi leleh hatinya dan tak bisa melarang berbuat apa-apa ketika Sekar Mindi mendorong pintu kereta lebar-lebar lalu turun. Dia berdiri di tepi telaga, menarik nafas dalam menghirup udara segar. "Indah sekali pemandangan di sini. Udaranya segar." Si gadis berpaling pada Angling Kamesworo. "Kau tidak merasa lapar?' tanyanya.

Walaupun memang sepagi itu dia belum makan apa-apa dan perutnya sudah minta diisi namun Angling Kamesworo menggeleng.

"Saya justru lapar," kata Sekar Mindi. "Di kantong perbekalan dalam kereta masih banyak dendeng kering. Bagaimana kalau kita bakar dan makan sambil menikmati keindahan telaga ini?"

"Saya kira....."

Sekar Mindi memgang lengan Angling Kamesworo. "Saya rasa mungkin hanya sekali ini seumur hidup saya berkesempatan berada di tempat ini. Apakah kau tega menolak?"

Pemuda itu menghela nafas dalam. Dia memandang berkeliling lalu memberi isyarat pada para pengawal dan kusir kereta. Dari dalam kereta segera diturunkan kantong perbekalan. Beberapa orang pengawal mencari kayu api untuk memanggang dendeng kering sedang Sekar Mindi duduk di atas sebuah batu besar di tepi telaga. Sambil menikmati keindahan telaga dan alam sekitarnya gadis ini mempermain-mainkan kakinya dalam air telaga.

Bau harumnya dendeng yang dibakar menebar di seantero telaga bahkan jauh ke dalam hutan Randuabang.

"Dendengnya sudah matang Sekar. Ingin saya bawakan beberapa potongan besar?"

"Kalau kau tidak keberatan Angling," jawab Sekar Mindi tanpa menoleh dan terus mempermainkan kedua kakinya dalam air telaga. Angling Kamesworo memutar tubuh melangkah ke tempat pemanggangan dendeng.

Tiba-tiba terdengar jeritan Sekar Mindi. Ada sesuatu seprti tangan manusia menyentuh jari dan telapak kakinya. Bersamaan dengan itu satu benda besar tersembul keluar dari dalam telaga. Air telaga muncrat kemana-mana.

Semua orang yang ada di tempat itu tentu saja jadi terkejut besar. Angling Kamesworo melompat ke tempat Sekar Mindi duduk.

"Ada apa Sekar....?" tanya pemuda itu. Namun dia tak memerlukan jawaban. Dari dalam telaga saat itu muncul keluar satu sosok tubuh manusia yang luar biasa gemuknya dan berpakaian aneh.

"Dedemit telaga!" salah seorang perajurit berteriak. Dia dan kawan-kawannya yang tadi ikut melompat ke tempat Sekar Mindi berada jadi mundur ketakutan.

Angling Kamesworo merangkul Sekar Mindi dan membawa gadis ini ke tempat aman lalu dengan cepat membalikkan tubuh, melompat kembali ke tepi telaga. Saat itu sosok yang tadi melesat keluar dari dalam telaga tegak berdiri di dekat batu dalam keadaan basah kuyup. Walaupun sosok manusia bertubuh gemuk luar biasa namun sesaat Angling Kamesworo tambah meragu dan aujkan pertanyaan dengan membentak.

"Siapa kau? Setan atau dedemit?"

Yang dibentak tampak terlonjak kaget tapi sesaat kemudian dia sunggingkan senyum. Mukanya yang gembrot tampak kemerahan. Dia mengenakan baju yang kesempitan dan anehnya kancingnya terletak di punggung bukan di sebelah depan. Celananya juga tampak kekecilan. Di bagian pinggang tarbuka tak terkancing hingga perutnya yang gembrot kelihatan membuntal keluar. Lalu di kepalanya dia mengenakan sebuah peci hitam yang kupluk dan basah kuyup.

"Uh....panasnya hari ini!" kata si gendut pula acuh tak acuh seperti tidak mendengar bentakan orang dan seolah tidak melihat Angling Kamesworo serta yang lain-lainnya di tempat itu.

Ucapan si gendut itu tentu saja membuat semua orang yang ada di situ terheran-heran. Jelas dia barus keluar dari dalam telaga yang airnya dingin dan saat itu udara pagi masih terbungkus dinginnya sisa hawa malam hari. Adalah aneh kalau si gendut yang basah kuyup ini berkata panasnya hari ini!

Sambil terus tersenyum dia memandang berkeliling. Dari dalam saku bajunya dia mengeluarkan sebuah benda. Ketika dikembangkannya ternyata benda itu adalah sebuah kipas kertas yang berada dalam keadaan basah tapi sama sekali tidak luruh atau robek. Duduk enak-enakan di atas batu lalu dia berkipas-kipas sambil tiada hentinya berkata "Huh.....panasnya hari ini. Gila panas betul! Aku sampai keringatan!"

Merasa seperti tidak diacuhkan dan dianggap sepi Angling Kameseoro menjadi marah.

"Makhluk edan! Siapapun kau adanya apa kau kura aku tidak berani dan tidak tega menggasakmu sampai lumat?!"

"Angling.... Hati-hati. Jangan-jangan dia mahluk halus rimba belantara yang menunjukkan diri...." Sekar Mindi berkata dari kejauhan.

Mendengar ucapan Sekar Mindi itu si gendut berhenti berkipas. Dia memandang ke arah sang gadis sesaat lalu tertawa gelak-gelak. "Aku dibilang mahluk halus. Apa buta dan tidak melihat tubuhku sekasar ini ?! " Lalu si gendut itu kembali tertawa-tawa dan berkipas-kipas.

Melihat sikap dan tutur kata si gendut tak dikenal itu marahlah Angling Kameseoro. Dia bergerak lebih dekat. Tangan kanannya dihantamkan tepat-tepat ke muka si gendut. Pukulan yang dilepaskannya bukanlah sembarang pukulan. Kalau sempat mendarat di hidung pasti akan melesak hancur. Kalau menghantam bibir pasti mulutnya akan pecah. Kalau sampai menghajar mata tak dapat tidak akan pecah buta !

Sesaat lagi jotosan keras itu akan mengenai sasarannya tiba-tiba dengan geraka acuh tak acuh si gendut angkat kipasnya. Serangkum angin dingin menyambar dan Angling Kamesworo merasa seperti melabrak tambok tak kelihatan. Tangannya yang menjotos tertahan. Bagaimanapun dia mengerahkan tenaga luar dan dalam tetap saja tak bisa meneruskan pukulannya, padahal muka lawan yang jadi sasarannya hanya setengah jengkal di depan tinjunya !

Sadarlah pemuda itu kalau dia berhadapan dengan orang berkepandaian tinggi. Untung saja tak ada seorang lainpun di situ yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Meski sadar kalau yang dihadapinya bukan manusia sembarangan, namun karena sifatnya yang congkak sombong, Angling Kamesworo tetap saja tidak mau bersikap merendah. Dia kembali membentak.

"Setan atau dedemit, manusia atau jin ! Kalau kau punya sedikit ilmu jangan berani jual lagak di hadapanku! Sebelum kujatuhkan tangan keras katakan siapa dirimu! Mengapa berani mengganggu kami yang sedang beristirahat di tempat ini! Malah kau berlaku kurang ajar! Memegang kaki puteri patih kerajaan, membuatnya terkejut dan ketakutan!"

Mendengar ucapan panjang lebar itu si gendut tampak terkejut. Dia hentikan berkipas-kipas. Lalu berdiri dan berpaling pada Sekar Mindi. Dia membungkuk dalam-dalam dan berkata

"Cucuku yang cantik jelita harap maafkan kakekmu ini kalau aku sudah membuatmu kaget dan ketakutan. Kakek tidak tahu kalau kau adalah puteri sinuhun kanjeng patih kerajaan. Tapi terus teran kakek tidak ada niat jahat terhadapmu atau mengganggu istirahat kalian. Terus terang saja tadi kakek sedang enak-enakan bermain di dasat telaga. Kulihat ada benda putih-putih bergerak di permukaan telaga. Kukira ikan, tak tahunya kakimu. Maafkan kalau kakek sudah bertindak kurang ajar berani memegang kakimu yang bagus. Itu kakek lakukan karena kebodohanku dan tidak tahu. Harap maafkan tua bangka tolol ini!"

Tentu saja ucapan si gendut berkopiah kupluk itu membuat semua orang jadi kaget. Dia menyebut dirinya kakek dan memanggil Sekar Mindi sebagai cucu!

"Gendut keparat!" bentak Angling Kameseworo. "Jangan kau berani berlaku kurang ajar dan main-main!"

"Ah..... " si gendut menghela nafas panjang. "Kalau aku kurang ajar bukankah sudah minta maaf. Kalau aku dituduh berani main-main, itu sama sekali tidak benar. Masakan aku setua bangka ini mau bergurau yang bukan-bukan dengan cucuku, puteri patih kerajaan pula ! "

"Gendut sialan ! Kau menyebut dirimu kakek dan menyebut gadis itu cucumu ! Umurmu pasti lebih muda dari gadis itu ! Apa itu namanya bukan mempermainkan secara kurang ajar ?! " bentak Angling Kamesworo dengan suara bergetar karena sudah tak dapat menahan marah.

Si gendut tertawa gelak-gelak sampai wajahnya yang keringatan menjadi merah. Dia lalu menjawab.

"Umur puteri patih kerajaan itu paling tinggi dua puluh dua tahu. Cucuku, kau tahu berapa usiaku ?! "

"Setan gemuk ! Kau jawablah sendiri ! " teriak Angling Kamesworo.

"Baik ! Akan kujawab ! " sahut si gendut pula. "Kalau kau mau tahu, usiaku sudah delapan puluh ! Kau dengar ?! "

Kedua mata Angling Kamesworo melotot. Yang lain-lain juga terkeisap kaget mendengar ucapan si gendut itu. Jelas kalau dia tidak main-main maka dia adalah seorang gila yang kesasar. Melihat kepada wajahnya paling tidak usianya hanya dua puluh tahun, mungkin kurang. Bagaimana dia enak saja berkata bahwa dia berusia delapan puluh tahun ?!

Angling Kamesworo kalau menurutkan hawa amarahnya mau dia segera menghantam si gendut berpeci kupluk itu habis-habisan. Namun sebagai orang berkepandaian dia masih bisa berpikir. Tadi waktu dia melancarkan jotosan si gendut ini mengangkat kipasnya secara acuh tak acuh. Tapi dari benda itu membersit hawa dingin yang dapat menahan gerakannya. Lalu tadi dia berkata sedang main-main di dalam telaga. Saat dia dan rombongan berhenti di telaga sampai saat si gendut muncul di permukaan telaga cukup lama. Manusia mana yang mampu mendekam dalam air selama itu?

"Gendut mengaku kakek berusia delapan puluh tahun. Sebenarnya siapa sirimu. Siapa namamu?" tanya Angling Kamesworo.

"Ah, cucuku, ternyata kau bisa berbasa basi, bisa bicara baik-baik dan sopan. Baik aku jawab pertanyaanmu," kata si gendut pula. "Namaku nama kampung. Santiko. Ada juga yang menyebutku dengan gelaran muluk. Bujang Gila Tapak Sakti."

"Dari mana kau berasal dan apa kerjamu di dalam telaga itu?!" tanya Angling Kamesworo.

"Asalku dari kampung sekitar sini. Aku berada di dalam telaga karena kepanasan. Coba mencari kesejukan. Tidakkah kau dan yang lain-lain merasa betapa panasnya hari ini?" Lalu si gendut mengipas-ngipaskan kipas kertasnya.

Sesaat Angling Kamesworo memperhatikan kedua tangan si gendut. Jelas terlihat kedua telapak tangannya berwarna putih pucat. Diam-diam pemuda ini jadi merasa tidak enak.

"Gendut, dengar ucapanku. Aku tidak senang kau berada di sini. Lekas angkat kaki dan pergi....."

"Ah, nasibku malang. Dihina dan diusir orang. Tapi baiklah aku akan pergi. Apa susahnya angkat pantat dari batu dan angkat kaki pergi? Tapi tunggu...." Si gendut yang bernama Santiko dan bergelar Bujang Gila Tapak Sakti itu mendongakkan kepalanya. Hidungnya kembang kempis menghirup-hirup. "Aku mencium harumnya bau daging panggang. Tapi sudah hampir hangus. Mengapa tidak cepat-cepat disantap?!"

Astaga!

Semua orang baru sadar kalau dendeng yang mereka panggang hampir hangus. Semua segera menghampiri tempat pemanggangan kecuali Angling Kamesworo. Sekar Mindi membagi-begikan potongan dendeng panggang pada orang-orang yang ada di tempat itu. Ketika dia menghampiri Angling, pemuda ini memberi isyarat agar si gadis tidak melangkah lebih dekat. Angling berpaling pada Bujang Gila Tapak Sakti.

"Kau sudah mendengar kata-kataku tadi. Kenapa tidak lekas angkat kaki dari sini?'

"Begitu? Baik aku segera pergi." Menjawab si gendut. Dia berpaling pada Sekar Mindi. "Cucuku, sudah tujuh puluh tahun aku tak pernah menikmati daging. Apalagi dendeng panggang seperti itu. Apakah aku boleh minta barang sepotong kecil?"

Sekar Mindi tampak ragu-ragu. Namun sesaat kemudian gadis ini melangkah juga ke arah Bujang Gila Tapak Sakti sambil membawa potongan dendeng bakar yang tadi hendak diberikannya pada Angling Kamesworo.

Setengah jalan Angling mencegatnya. Dendeng panggang yang ada di tangan si gadis dirampasnya lalu dibantingkannya ke tanah. Tak cukup sampai di situ. Daging yang jatuh di tanah itu lalu diinjak-injaknya dengan kakinya yang memakai kasut dari kulit hingga hancur dan kotor.

"Kau lapar gendut?! Makanlah!" katanya lalu Angling Kamesworo tertawa gelak-gelak. Dua belas perajurit lainnya ikut-ikutan tertawa. Hanya kusir kereta yang sudah lanjut usia dan Sekar Mindi yang tidak tertawa, senyumpun tidak.

Si gendut tenang-tenang saja malah menyeringai. Dia membungkuk mengambil dendeng panggang yang sudah hancur dan kotor bergelimang tanah itu dengan tangan kanannya. Lalu sambil membejak-bejak daging itu dalam genggaman telapak tangannya dia berkata "Sayang, dagingnya seenak ini dibuang begitu saja, diinjak, dikotori dengan tanah. Padahal banyak orang miskin yang kelaparan sekitar sini. Termasuk aku....."

Tangan yang membejak-bejak dendeng panggang itu perlahan-lahan dibuka. Semua orang terkejut ketika menyaksikan bagaimana dendeng bakar yang tadi sudah hancur dan kotor diinjak-injak kini berubah menjadi sepotong besar daging panggang segar yang mengepulkan asap dan menebar bau harum bukan main.

"Cucuku," kata si Bujang Gila Tapak Sakti sambil memandang pada Sekar Mindi. "Terima kasih atas pemberianmu ini. Kakek tidak akan melupakan kebaikan hatimu...." Habis berkata begitu si gendut berkopiah kupluk itu melahap daging panggang itu sambil tangan kiri mengipas-ngipaskan kipas kertasnya. Di satu tempat dia berpaling lagi pada Sekar Mindi dan menjura dalam-dalam. Lalu hup! Sekali dia menggenjot kedua kakinya tubuhnya yang seprti buntalan raksasa itu melayang ke atas. Sesaat kemudian kelihatanlah si gendut itu duduk berjuntai goyang-goyang kaki di atas cabang sebuah pohon. Cabang ini tak seberapa besarnya. Dibandingkan dengan tubuh si gendut yang berat seharusnya cabang itu akan menekuk ke bawah behkan bisa patah. Tapi nyatanya cabang pohon tersebut hanya melentur bergoyang-goyang mengikuti gerakan atau uncangan kaki si gendut!

Selusin perajurit dan Sekar Mindi terkagum-kagum melihat apa yang terjadi. Sebaliknya Angling Kamesworo tampak merah mukanya. Apa yang dilakukan Bujang Gila Tapak Sakti seolah-olah mempermainkan dan mengejek dirinya. Dia hendak meneriakkan sesuatu tetapi tak jadi karena dengan tiba-tiba kusir tua menghampirinya dan berkata. "Raden, kalau saya tidak salah manusia gendut bernama Santiko bergelar Bujang Gila Tapak Sakti ini tujuh tahun dulu adalah bocah yang mencuri dua buah bonang perangkat gamelan keraton."

Tentu saja keterangan itu membuat Angling Kamesworo jadi terkejut. Tujuh tahun lalu dia belum masuk ke dalam jajaran pasukan Kerajaan. Namun beberapa waktu sesudah bergabung dengan alat kerajaan dia pernah mendengar tentang dicurinya dua buah bonang itu.

"Kenapa tidak kau katakan dari tadi?!" ujar Angling Kamesworo pula dengan

suara keras yang ditekan. "Maafkan saya. Ingatan saya berjalan lamban...." "Kalau begitu dia harus segera kita tangkap!" kata Angling Kamesworo pula

seraya memandang ke arah cabang pohon dimana si gendut duduk masih enak-enakan menyantap daging panggang sambil uncang-uncang kaki dan berkipas-kipas. "Bujang Gila Tapak Sakti! Lekas turun dari pohon! Aku mau bicara denganmu!" berteriak Angling Kamesworo.

Baru saja dia berteriak begiut dan belum sempat si gendut memberikan jawaban tiba-tiba ada derap kaki kuda sekitar telaga. Tahu-tahu lima penunggang kuda bertampang sangar beringas dan garang muncul di tempat itu. Kelimanya menebar demikian rupa dalam sikap mengurung rombongan. Masing-masing duduk di atas kuda sambil menekankan tangan ke gagang golok besar yang tersisip di pinggang.LIMAAngling Kamesworo segera maklum siapa adanya kelima orang itu. Tak dapat tidak pastilah gerombolan perampok jahat hutan Randuabang.

"Salan!" maki Angling Kamesworo dalam hati. "Urusan dengan si gendut gila itu belum selesai. Kini datang lagi penyakit baru!"

"Kalian siapa dan mau apa?!" tiba-tiba Angling Kamesworo bertanya dengan suara keras hingga lima penunggang kuda tersentak. Lalu berbarengan kelimanya tertawa gelak-gelak.

"Anak muda. Caramu bertanya galak amat!" salah seorang dari lima penunggang kuda membuka mulut. Barisan gigi-giginya kelihatan besar-besar dan berwarna hitam.

"Jika kau dan kawan-kawanmu datang membawa maksud jahat, jangan berani lakukan disini. Kepala kalian akan kubuat menggelinding di tanah!"

Lima penunggang kuda kembali tertawa bergelak. Yang tadi bicara membuka mulut.

"Aku Warok Wesi Randuabang, penguasa rimba belantara ini.Empat orang ini adalah sahabat-sahabat dan anak buahku. Bertemu baru satu kali, bagaimana kau bisa menuduh kami datang membawa maksud jahat, anak muda?!"

"Sudah! Aku tak ada waktu panjang lebar dengan kalian! Harap tinggalkan tempat ini. Kamipun segera akan berlalu dari sini!" Habis berkata begitu wakil patih kerajaan ini memberi isyarat pada semua anggota rombongan. Lalu dia melangkah mendekati Sekar Mindi dan dengan cepat membimbing gadis itu masuk ke dalam kereta.

"Tunggu dulu!" seru Warok Wesi Randuabang.

Angling Kamesworo menutupkan pintu kereta. Pada Sekar Mindi dia berkata. "Apapun yang terjadi jangan keluar dari dalam kereta!" lalu dia berpaling pada lima penunggang kuda.

"Kami datang karena mencium bau dendeng panggang yang harum itu. Karena lapar dan ada rejeki jelas kami mau minta bagian! Apakah kalian mau memberi atau terlalu pelit tak mau berbagi-bagi?"

"Wesi Randuabang," penunggang kuda di samping sang warok berkata "Yang kita temui di tempat ini ternyata bukan cuma dendeng panggang yang lezat tapi ada seorang gadis cantik. Hanya sayang si jelita itu buru-buru disembunyikan ke dalam kereta!"

Lima orang berwajah garang itu kembali tertawa bergelak.

Angling Kamesworo yang merasa semakin tidak enak cepat berkata.

"KAu dan kawan-kawanmu mau dendeng panggang silahkan saja ambil. Tapi ingat, jangan ganggu rombongan ini!"

"Anak muda, hatimu ternyata sangat baik. Bersedia memberikan dendeng panggang yang enak itu. Tapi kenapa buru-buru mau pergi?" Warok Wesi Randuabang.

Angling Kamesworo tidak menjawab. Dia melompat ke atas kudanya dan memberi isyarat pada kusir kereta serta dua belas perajurit untuk segera bergerak meninggalkana tempat itu.

Warok Wesi Randuabang cepat menggerakkan kudanya. Empat kawannya mengikuti. Kelimanya kini berada di depan rombongan dan jelas-jelas menghadang.

"Anak muda, kalau aku bilang jangan buru-buru pergi kau harus patuh!" membentak Warok Wesi Randuabang. "Apa kau tidak tahu berhadapan dengan siapa?!"

"Kau yang buta tidak tahu berhadapan dengan siapa!" balas membentak Angling Kamesworo.

"Aku tidak buta anak muda! Kau mengenakan pakaian perwira dan ada dua belas orang berseragam perajurit. Jelas kalian adalah sekelompok pasukan kerajaan." Warok Wesi Randuabang berpaling pada teman-temannya. Lalu bertanya "KAwan-kawan, apakah ada bedanya bagi kita kalau mereka adalah cecunguk-cecunguk kerajaan atau bukan?"

"Tentu saja tidak!" menyahuti salah seorang anak buah Warok Wesi Randuabang.

"Sekalipun mereka srombongan setan atau jin pelayangan tentu saja tak ada artinya bagi kita!" menyahuti anak buah yang lain.

Warok Wesi Randuabang menyeringai. "Anak muda, kau dengar apa yang dikatakan teman-temanku."

"Kalian membuatku jijik dan lama-lama aku bisa jengkel! Lekas menyingkir. Jangan menghalangi jalan!" bentak Angling Kamesworo.

"Lagakmu memuakkan!" tukas Warok Wesi Randuabang, Kepala rampok hutan Randuabang ini menarik tali kekang mudanya, hendak bergerak ke arah Angling Kamesworo. Tapi salah seorang anak buahnya cepat mendahului seraya berkata.

"Gembel kerajaan ini biarkan aku yang membereskan!"

Anak buah Warok Wesi Randuabang yang satu ini segera menggebrak kudanya. Bersamaan dengan itu dia mencabut goloknya. Senjata ini membabat begitu dia sampai di hadapan Angling Kamesworo.

Perwira muda kerajaan ini cepat merunduk. Kelihatannya dia seperti hendak menysupkan satu jotosan ke dada lawan.

Melihat gelagat ini anak buah Warok Wesi putar pergelangan tangannya. Senjatanya kini menderu ke bawah. Siap untuk membabat putus tangan Angling Kamesworo. Semua orang di pihak rombongan kerajaan yang menyaksikan itu menjadi terpaku tegang. Sekar Mindi pejamkan mata dan tekap mulutnya kuat-kuat agar tidak mengeluarkan suara jeritan. Kalau pemuda pelindungnya itu sampai celaka dan tewas di tangan kawanan rampok hutan berarti dirinya sendiri tak bisa diselamatkan dan akan jatuh ke tangan gerombolan rampok Warok Wesi Randuabang. Tubuh gadis ini jadi menggigil dan wajahnya pucat tak berdarah menghadapi kenyataan ini.

Tetapi apa yang terjadi kemudian justru mengejutkan Warok Wesi dan kawan-kawannya. Di kala mereka sudah memperkirakan lengan perwira muda itu akan dibabat putus tiba-tiba tubuh Angling Kamesworo merunduk hampir sama datar dengan punggung kuda. Bersamaan dengan itu kaki kirinya melesat ke depan.

Bukkk!

Ujung kaki Angling Kamesworo menghantam lambung anak buah Warok Wesi hingga mengeluarkan suara bergedebukan sedang dari mulutnya meledak suara jeritan keras. Tubuhnya terpental dari punggung kuda lalu jatuh punggung terkapar di tanah, goloknya terlepas mencelat ke udara yang dengan cepat segera disambar oleh sang perwira muda.

Selagi Warok Wesi dan tiga orang anak buahnya terkesiap melihat kejadian itu dari atas pohon terdengar suara tertawa bergelak. Jika kita layangkan pandang ke arah pohon itu ternyata di cabang pohon kini bukan hanya Santiko alias Bujang Gila Tapak Sakti saja yang kelihatan duduk di sana melainkan di sebelahnya kini tampak ikut duduk seorang pemuda berambut gondrong mengenakan pakaian putih-putih.

"Dut, bagi lagi aku daging panggangnya," kata si gondrong.

"Ah, dagingku tinggal sedikit. Tapi baiklah. Kuberikan secuil lagi!" Lalu Bujang Gila Tapak Sakti memberika sepotong kecil lagi daging panggangnya pada pemuda di sampingnya. Keduanya mengunyah daging itu sambil tertawa-tawa.

"Aku sudha lama mencarimu, syukur-syukur sekarang bisa ketemu!" kata si gondrong.

"Aku merasa tidak perlu mencarimu. Karena aku yakin kau pasti mencariku! Buktinya sekarang kita ketemu! Ha...ha...ha....!" Bujang Gila Tapak Sakti mengipas-ngipaskan kipas kertasnya ke wajahnya yang keringatan. Saat itulah tendangan Angling Kamesworo mendarat di lambung anak buah Warok Wesi hingga rampok satu ini jatuh ke tanah. Tak berkutik lagi karena tulang punggungnya patah. Bujang Gila Tapak Sakti dan si gondrong tertawa gelak-gelak melihat kejadian itu. Warok Wesi Randuabang melirik ke arah cabang pohon. Dia tidak mengenali siapa adanya si gendut berkopiah kupluk dan berbaju yang kancingnya terbalik itu. Namun dia segera mengenali pemuda satunya yang berambut gondrong.

"Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Wiro Sableng....." membatin Warok Wesi. Hatinya mendadak santak jadi tidak enak. Dia memberi isyarat pada tiga orang anak buahnya. "Kalian lekas keroyok perwira muda itu. Aku akan melakukan sesuatu." Habis berkata begitu Warok Wesi menggebrak kudanya ke kanan seolah-olah dia hendak meninggalkan tempat itu. Namun di satu tempat dia membelok lagi dan memacu kudanya ke arah kereta.

"Lindungi kereta!" teriak Angling Kamesworo.

Sua belas perajurit segera bergerak mengamankan kereta dimana puteri patih kerajaan berada.

Angling Kamesworo sendiri segera menyambut serangan tiga orang anak buah Warok Wesi. Ketiganya menyerang dengan golok di tangan.

"Kalian mencari mampus!" hardik perwira muda itu.

Golok di tangannya berputar aneh. Tiga orang anak buah Warok Wesi merupakan penjahat-penjahat yang memiliki kepandaian memainkan golok tingkat tinggi. Selama bertahun-tahun malang melintang dalam rimba Randuababng dan sekitarnya Warok Wesi menyempatkan diri untuk mengajarkan ilmu golok itu pada empat orang anak buahnya. Walau masih belum sempurna betul namun kehebatan mereka memainkan senjata tajam itu tidak bisa dianggap rendah. Namun sekali ini ketiganya kena batunya. Yang mereka hadapi adalah seorang perwira muda berkepandaian tinggi calon patih kerajaan!

Tiga anak buah Warok Wesi sesaat jadi terkesiap ketika melihat golok yang ada di tangan perwira muda itu seolah berubah menjadi sepuluh buah, menyambar dengan mengeluarkan suara berdesing menggidikkan.

Trang....trang....trang!

Tiga kali bunga api berpijar di udara pagi. Tiga seruan tertahan keluar dari mulut tiga orang anak buah Warok Wesi. Telapak tangan yang memegang golok terasa pedas. Senjata di tangan masing-masing hampir saja terlepas mental dalam satu bentrokan golok secara kilat tadi.

Sadar kalau lawan mereka memiliki kepandaian tinggi, salah seorang dari pengeroyok berseru.

"Keluarkan jurus bintang bertabur!"

Ilmu silat mengandalkan golok yang disebut jurus bintang bertabur itu sebenarnya harus dimainkan oleh lima orang. Namun karena merasakan adanya ancaman maka tiga orang perampok hutan Randuabang itu lekas-lekas saja mengeluarkannya dengan maksud dapat menghabisi lawannya.

Begitu jurus bintang bertabur itu dimainkan walau Cuma oleh tiga orang saja, Angling Kamesworo merasakan dirinya menghadapi serangan laksana curahan hujan yang bertabur dari arah berbeda-beda. Baru saja dia mementahkan atau menangkis satu serangan lawan, dari jurusan lain datang pula serangan baru. Dihadapinya serangan satu ini, gempuran datang menderu dari jurusan lain. Hanya dengan kehebatan dan kecepatannya bergerak perwira muda itu sanggup lolos dari serangan-serangan maut walau dua kali pakaiannya robek besar disambar ujung senjata lawan-lawannya.

Angling Kamesworo kertakkan rahang. Dia keluarkan suara membentak nyaring lalu menghadapi keroyokan tiga lawannya dengan gebrakan-gebrakan aneh yang secara perlahan-lahan membuat dia sanggup bertahan lalu balas mendesak lawan dengan tusukan atau babatan maut!

Di bagian lain, ketika melihat dua belas perajurit melindungi kereta, Warok Wesi Randuabang segera hunus golok besarnya. Tanpa tedeng aling-aling dia menggebrak ke arah kereta. Para perajurit yang mengawal tentu saja tidak mau tinggal diam. Enam orang langsung menyongsong sedang enam lainnya tetap bersiaga menjaga keselamatan kereta.

Enam perajurit yan gmnyambut kedatangan Warok Wesi Randuabang itu dua memegang golok, tiga menggenggam pedang dan satu lagi bersenjatakan tombak. Enam senjata berserabutan ke arah kepala, dada dan perut Warok Wesi. Sang Warok ganda tertawa. Golok besar di tangannya berkiblat lenyap. Terdengar suara berdentrangan. Lalu dua jeritan merobek langit. Dua sosok tubuh roboh ke tanah bermandikan darah. Mereka adalah perajurit yang memegang golok dan pedang. Empat temannya karuan menjadi gugup. Tapi sadar akan kewajiban dan tanggung jawab besar mereka atas keselamatan puteri patih kerajaan maka keempat perajurit ini kembali menyerbu Warok Wesi. Namun keberanian meraka hanya satu kesia-siaan belaka. Sekali lagi golok di tangan kepala rampok hutan Randuabang itu berkiblat, dua perajurit lagi roboh ke tanah meregang nyawa. Dua kawannya yang hampir putus nyali segera memberi isyarat pada enam temannya yang berada di sekitar kereta. Tiga orang segera bergerak, tiga lagi tetap berjaga-jaga. Kini ada lima perajurit menghadapi Warok Wesi.

"Kalau kalian sayang jiwa lekas minggat dari sini. Kalau tidak kalian akan merasakan akibatnya!"

Lima perajurit itu rupanya tidak takut akan gertakan Warok Wesi. Dengan cepat mereka menggebrak memulai serangan. Kali ini mereka menjaga jarak dan bertindak hati-hati. Tiga jurus pertama mereka bisa bertahan bahkan sesekali melancarkan serangan yang cukup membuat kepala rampok itu sibuk. Namun jurus-jurus berikutnya satu persatu mereka menemui ajal dibabat atau ditusuk golok besar di tanagn Warok Wesi.

Dati tiga orang sisa perajurit yang mengawal kereta hanya satu saja yang mencoba berjibaku menusukkan goloknya ke punggung Warok Wesi yang saat itu lengah ketika sibuk membunuhi kawan-kawannya yang lima. Dua lainnya sudah kabur ketakutan. Perajurit yang satu ini berhasil menusukkan senjatanya ke punggung kepala perampok itu. Namun alangkah kagetnya ketika menyaksikan bagaimana dia seolah menusuk batu yang keras. Ternyata sang warok tidak mempan senjata tajam! Tidak percuma dia menyebut diri sebagai Warok Wesi.

"Pembokong sialan!" rutuk Warok Wesi. Dia memutar tubuh. Tangan kirinya bergerak mencekik leher si perajurit. Lalu seperti seorang membelah kelapa, golok di tangannya menetak batok kepala perajurit itu!

"Keparat!" maki Warok Wesi ketika muncratan darah membasahi muka dan pakaiannya. Dengan lengan bajunya dia menyeka noda darah lalu melompat turun dari atas kuda dan lari ke arah kereta.

Di atas pohon si gendut berpeci hitam kupluk menepuk bahu si gondrong.

"Sobatku gondrong! Aku mau tanya, sebetulnya kenapa kau mencariku?!"

"Soal kecil saja," jawab Pendekar 212 Wiro Sableng. "Aku dimintakan bantuan oleh si Kerbau Bunting itu....."

"Kerbau Bunting katamu?" tanya Bujang Gila Tapak Sakti. Dia berpikir sejenak. Lalu dia berkata.

"Ah! Pasti si Dewa Ketawa itu! Paman sialan! Dia yang memendam aku sampai karatan di lobang inti es di puncak gunung Mahameru! Bantuan apa yang dimintanya? Sudah! Kau tak usah menjawab! Aku sudah tahu!"

"Tahu apa?" tanya Wiro menguji.

"Orang tua itu pasti minta bantuanmu untuk mendapatkan dua buah bonang kelengkapan gamelan keraton! Betulkan.......?!"

Wiro mengangguk lalu cepat berkata "Sudah dulu. Urusan dua buah bonang itu kita tunda dulu. Ada hal yang lebih penting!"

"Apa maksudmu?"

Pendekar 212 menunjuk ke arah kereta.

"Kau lihat sendiri. Orang jahat itu berhasil merobohkan dua belas pengawal. Kini dia tengah menuju kereta hendak menculik puteri patih kerajaan bernama Sekar Mindi. Apakah kau tidak akan menolongnya?!"

"Perduli amat dengan gadis itu. Orang-orangnya tadi menghinaku habis-habisan...."

"Tapi gadis itu tidak jahat padamu."

Si gendut tertawa sambil berkipas-kipas. "Kau suka padanya. Pasti!"

Wiro menyeringai. Dia memandang ke bawah pohon. Ke arah kereta. "Lihat, Warok Wesi tengah menarik tubuh Sekar Mindi dengna paksa dari dalam kereta..... Kau masih tak mau menolong gadis itu?"

"Kalau kau suka padanya, kau saja yang menolongnya!" jawab Bujang Gila Tapak Sakti.

"Kau gendut sialan!" maki Wiro sambil menggaruk kepala. Sekali dia berkelebat tubuhnya melayang ke arah kereta dan menjejak tanah tepat di belakang Warok Wesi yang tengah berusaha menarik Sekar Mindi keluar dari dalam kereta. Gadis ini berusaha bertahan sambil berpegangan pada pinggiran pintu. Namun apalah artinya kekuatan seorang perempuan dibanding dengan kekuatan Warok Wesi seorang lelaki bertubuh kokoh besar yang sudah dirasuk setan. Sekali lagi dia merengut maka Sekar Mindi akhirnya keluar dari kereta. Dengan cepat hendak menotok gadis ini lalu mendukungnya di bahu kiri. Namun tiba-tiba dia merasakan ada seseorang menepuk bahunya sambil memanggil.

"Warok...."

Warok Wesi menoleh. Begitu kepalanya menghadap ke belakang satu jotosan melanda hidungnya. Pegangannya pada pinggang Sekar Mindi terlepas. Kepalanya seperti dihantam palu godam. Sakitnya bukan main hingga dia menjerit keras. Tetapi hebatnya jangankan berdarah atau cidera, hidung itu tidak berubah sedikitpun kecuali hanya berwarna kemerah-merahan.

"Kurang ajar! Setan alas ini ternyata kebal senjata tajam kebal pukulan!" kata Wiro dalam hati. "Tak ada jalan lain,aku harus melumpuhkannya dengna totokan!" lalu Wiro hendak menotok. Rupanya Warok Wesi tahu apa yang hendak dikerjakan lawan. Didahului dengan bentakan garang kepala rampok ini menerkam ke depan. Kedua tangannya seperti hendak mencengkeram leher Pendekar 212. Tapi tahu-tahu salah satu tangannya menggebuk ke arah perut.

Bukkk!

Murid Eyang Sinto Gendeng dari Gunung Gede itu mengeluh tinggi. Tubuhnya terangkat sampai setengah tombak sebelum mencelat beberapa langkah.

Dari atas pohon terdengar suara tertawa bergelak. Yang tertawa bukan lain adalah Bujang Gila Tapak Sakti.

"Sobatku Wiro. Bagaimana rasanya digelitik si Warok?!" mengejek si gendut.

"Kentut busuk!" maki Pendekar 212 seraya bangkit berdiri. Baru saja tegak, Warok Wesi sudah berada di hadapannya melancarkan satu tendangan deras. Untung Wiro masih sempat jatuhkan diri dan berguling menjauh. Namun lagilagi begitu dia berdiri kembali kepala penjahat itu sudah berada di dekatnya dan siap melancarkan serangan ganas. Kali ini Pendekar 212 tidak mau memberi hati lagi. Dia menahan serangan lawan dengan jurus-jurus ilmu silat orang gila yang didapatnya dari Tua Gila dari pulau Andalas. Begitu lawan kebingungan dan putus asa karena semua serangannya luput maka Wiro lalu menggempur dengan jurus-jurus kilat : membuka jendela memanah matahari, di balik gunung memukul halilintar, kincir padi berputar dan kepala naga menyusup awan. Empat pukulan melanda muka, dada dan perut Warok Wesi. Mukanya babak belur. Tubuhnya yang tinggi besar terbanting ke tanah. Untuk beberapa lama Warok Wesi terkapa tak bergerak.

"Tamat riwayatmu!" kata Wiro puas. Tapi kedua matanya jadi mendelik sewaktu perlahan-lahan tubh yang terkapar itu bergerak. Lalu tiba-tiba Warok Wesi membuat satu lompatan dan tahu-tahu dia sudah berdiri di hadapan murid Sinto Gendeng itu.

"Iblis satu ini benar-benar kebal!" desis Pendekar 212. Dia mengerahkan tenaga dalam siap untuk menghantam dengan pukulan sakti sinar matahari. Justru pada saat itulah terdenga suara tawa bergelak dari atas pohon.

"Sobatku Pendekar 212! Coba kau bawa setan alas itu ke bawah pohon ini. Aku akan tunjukkan padamu bagaimana memusnahkan kekebalan dirinya!"

Wiro mendongak ke atas pohon di mana si gendut Bujang Gila Tapak Sakti duduk berjuntai uncang-uncang kaki sambil berkipas-kipas.

Melihat ke atas pohon, melupakan kedudukan lawan merupakan satu kesalahan besar yang dibuat Wiro Sableng. Di saat dai bertindak lengah itu Warok Wesi melompat sambil melayangkan jotosannya ke muka Wiro.

Pendekar212 merasakan kepalanya seolah meledak dan tanggal dari lehernya. Tubuhnya mencelat jauh dan terbanting tepat di batang pohon di mana Bujang Gila Tapak Sakti duduk berjuntai. Untuk beberapa lamanya pemandangannya gelap berkunang-kunang. Dia hanya melihat samar-samar Warok Wesi melangkah mendekatinya. Tangan kanannya memegang sebilah golok berdarah.

Di hadapan Wiro, Warok Wesi tegak sesaat. Mukanya seganas iblis. Seringai setan bermain di mulutnya.

"Aku tidak pernah memimpikan hari ini akan membunuh tokoh paling terkenal dalam dunia persilatan. Pendekar 212 hari ini tamat riwayatmu!"

Tangan Warok Wesi yang memegang golok mengayun ke bawah. Tapi baru setengah jalan bacokan maut itu berjalan tiba-tiba dari atas pohon mencurah jatuh cairan kuning. Cairan ini jatuh tepat menimpa kepala dan tubuh Warok Wesi Randuabang, malah bermuncratan mengenai Pendekar 212 yang duduk tersandar di batang pohon.

Dari mulut Warok Wesi keluar suara raungan dahsyat. Orang ini melangkah mundur dengan muka pucat lalu mencak-mencak seperti orang gila. Kedua tangannya berulang kali memegangi kepala dan bagian tubuhnya yang kecurahan cairan kuning dari atas pohon. Lain halnya dengan Pendekar 212 Wiro Sableng. Begitu muncratan air kuning dan hangat itu menerpa tubuhnya, dia segera tahu apa yang terjadi.

"Bujang Gila keparat! Apa yang kau lakukan? Kuputus burungmu!" Wiro berteriak lalu berdiri.

Si gendut di cabang pohon tertawa gelak-gelak. "Kau harus berterima kasih telah kukencingi!" berseru Bujang Gila Tapak Sakti.

"Setan alas! Enak saja kau bicara begitu! Lihat mukaku basah kejatuhan cipratan air kencingmu di kepala Warok sialan itu!"

"Anak tolol! Justru itu aku bilang kau harus berterima aksih. Kau Cuma kecipratan. Lihat si Warok. Dia malah basah kuyup. Air kencingku membuat ilmu kebalnya musnah tak manjur lagi ! "

"Pembohong besar ! Konyol ! " teriak Wiro masih sangat jengkel. "Turunlah biar kugebuk tubuhmu sampai jadi pepes ! "

Bujang Gila Tapak Sakti tertawa mengekeh. "Kalau kau tak percaya mengapa tidak dicoba ? Coba kau hajar Warok itu sekali lagi ! "

Pendekar 212 garuk-garuk kepala. Diperhatikannya keadaan Warok Wesi yang mencak-mencak, meraung sambil coba mengeringkan kepala dan tubuhnya yang basah dengan kedua tangan. Tentu saja tidak mungkin baginya untuk mengeringkan air kencing Bujang Gila Tapak Sakti itu. Dengan wajah sangat ketakutan dia lari ke kudanya, berusaha melarikan diri dari tempat itu. Apalagi tiga orang anak buahnya yang terakhir sudah menemui ajal pula di tangan Angling Kamesworo.

"Mungkin apa yang diucapkan si gendut sialan itu benar. Kalau tidak mengapa Warok Wesi sampai berusaha melarikan diri dengan sangat ketakutan seperti itu. " Memikir sampai disitu Pendekar 212 segera melompat mengejar Warok Wesi yang saat itu baru saja menggebrak kudanya hendak melarikan diri. Murid Sinto Gendeng ini masih sempat mencekal pergelangan kaki kiri Warok Wesi lalu ditariknya kencang-kencang, Tubuh Warok Wesi terbetot dari kuda tunggangannya. Binatang ini terus saja berlari. Akibatnya sang Warok jatuh terbanting ke tanah. Sebelum dia sempat bangkit tendangann kaki kanan Wiro bersarang di sisi kanannya.

Kraaakk !

Warok Wesi meraung keras. Empat tulang iganya berpatahan ! Dia berusaha bangkit. Namun baru setengah duduk sebilah golok berkelebat membacok lehernya. Sekali lagi terdengar suara raungan keluar dari tenggorokan Warok Wesi. Lalu tubuhnya roboh kembali. Sekali ini tak bergerak lagi. Mati dengna leher hampir putus.

Perlahan-lahan Angling Kameswowo menjatuhkan golok yang dipegangnya yang barusan dipakainya untuk membunuh kepala rampok hutan Randuabang yaitu Warok Wesi Randuabang. Lalu dia menoleh ke atas pohon.

"Anak muda bernama Bujang Gila Tapak Sakti, turunlah. Kau telah berbuat jasa pada kerajaan. Menyelamatkan puteri patih. "

"Ah siapa bilang aku menolong. Tadi aku kan Cuma kencing saja ! "

Pendekar 212 tersenyum sambil garuk-garuk kepala.

"Gendut!" seru Wiro. "Kau turun sajalah! Orang mau bicara padamu ! "

Mendengar ucapan murid Sinto Gendeng itu Bujang Gila Tapak Sakti melompat turun dari atas pohon. Tapi dia tidak melompat turun ke tempat di mana Wiro dan Angling Kamesworo berada melainkan ke jurusan lain. Begitu dia

berkelebat si gendut inipun lenyap dari pemandangan.

"Astaga! Dia kabur!" seru Wiro. "Aku harus mengejarnya!"

"Tunggu!" kata Angling Kamesworo.

"Ada apa perwira?" tanya Wiro.

"Sobat muda berjuluk Pendekar 212, kau sudah kenal lama dengan anak gendut aneh itu?"

"Belum lama. Tapi dia telah beberapakali menolongku."

"Kau tahu dimana bisa mencarinya? Tahu tempat kediamannya mungkin?"

Wiro gelengkan kepala.

"Ada perlu apa kau hendak mengejarnya?" tanya Angling Kamesworo lebih lanjut.

"Ada urusan besar yang harus diselesaikannya."

"Menyangkut dua bonang milik keraton itu bukan?"

Wiro jadi garuk-garuk kepala.

"Pendekar 212. Ketahuilah, kau juga ikut berjasa menyelamatkan puteri patih kerajaan. Jika kau mau ikut aku ke kotaraja, niscaya patih kerajaan akan memberikan hadiah besar padamu......"

Wiro tersenyum. "Perwira, aku harus segera mengejar si gendut itu."

"Baiklah sobat. Atas nama kerajaan aku berterima kasih padamu. Satu hal harap kau ingat baik-baik. Jika dua buah bonang pusaka itu kau temui, harap kau suka mengembalikannya ke keraton."

Murid Eyang Sinto Gendeng mengangguk lalu tinggalkan tempat itu. Dia tak tahu harus mengejar si gendut ke mana.

Sambil berlari dia menggerutu seorang diri. "Kalau tidak diminta oleh Dewa Ketawa, aku tak akan mau menangani urusan gila brengsek ini ! "ENAMBiduk kecil itu meninggalkan Tanjung Lenggasana tepat dipertengahan malam Jum'at Wage ketika bulan purnama empat belsa hari tertutup oleh ketebalan awan kelabu kehitaman. Laut berombak tenang. Angin bertiup datar. Penumpang biduk, seorang kakek berambut panjang riap-riapan sampai ke punggung duduk di bagian belakang biduk. Tangan kirinya yang kurus tinggal kulit pembalut tulang hanya sesekali saja mengayuh kayu pendayung. Namun hebatnya biduk kecil itu sekali didayung mampu meluncur jauh.

Berlainan dengan tangan kirinya si kakek memiliki tangna kanan yang tidak pantas disebut tangan. Karena sebatas siku ke bawah tangan itu berbentuk sebuah gergaji besi dengan gigi-giginya yang besar runcing berkilau mengerikan.

Kakek ini duduk memandang ke arah kejauhan dalam kegelapan malam. Dia rupanya tengah memusatkan pikirannya ke suatu titik yang saat itu masih belum terlihat.

Makin jauh ke tengah laut dia mulai melihat apa yang dibayangkannya dalam pikiran dan coba dilihat dan ditembusnya dalam kegelapan malam.

"Perempuan itu pasti ada di sana. Firasatku mengatakan demikian. " membatin si kakek. Lalu dikayuhnya biduknya dua kali berturu-turut. Biduk kayu itu laksana terbang, meluncur di permukaan air laut menembus kegalapan malam. Dia coba sekali lagi untuk memastikan kebenaran firasatnya. Segala pikiran dan titik pandang dipusatkan. Setelah beberapa lama apa yang dipusatkannya itu mendadak buyar. "Aneh ! Aku tidak bisa memusatkan pikiran sepenuhnya. Pasti ada yang tidak beres. "

Si kakek memandang ke timur. Laut tampak gelap. Dia berpaling ke barat. Sunyi dan gelap. Perlahan-lahan dia menoleh ke belakang. "Hemm....ini sebabnya...... " katanya dalam hati. Jauh di belakangnya tampak sebuah perahu. Berlayar searah dengan tujuannya. "Ada yang mengikuti. Aku akan coba membuktikan betul tidaknya. " Lalu kakek berambut panjang itu mengayuh tiga kali pada bagian kanan biduk dan tiga kali pula pada samping kiri.

Terdengar suara bersiur ketika biduk melesat laksana anak panah lepas dari busurnya. Beberapa saat kemudian si kakek kembali menoleh ke belakang. Perahu yang tadi berada di belakang sana lenyap tak kelihatan lagi. Si kaakek tersenyum. Hatinya lega. Kini tak ada lagi yang dirisaukannya. Tapi astaga ! Ketika dia berpaling ke timur ternyata dilihatnya perahu tadi kini berada sejajar di sebelah kanannya.

"Kurang ajar ! Siapa orang dalam perahu itu. Kalau dia bisa bermain-main di atas laut dengan perahunya berarti dia bukan manusia sembarangan. Dia coba mengikutiku. Bahkan sengaja berlayar mendampingi. Dia hendak mengejekku ! Awas ! Akan kuberi pelajaran padanya ! "

Kakek itu lalu memegang kayu pendayung erat-erat di tangan kiri. Kedua matanya dipejamkan. Mulutnya komat-kamit. Perutnya menggembung lalu mengempis. Hawa sakti yang mengalir dari perut orang tua itu bergerak memasuki kayu pendayung melalaui tangan kirinya yang tampak bergetar keras. Sesaat kemudian perlahan-lahan dibukanya kedua matanya lalu memandang lagi ke arah timur. Perahu tadi kelihatan di arah itu malah kini tampak lebih memepet mendekat. Si kakek berusaha memperhatikan siapa penumpang perahu itu adanya. Namun kegelapan malam sulit ditembus.

"Sekarang kau terima hadiah dariku, penguntit gelap ! " si kakek berkata. Tangan kirinya yang memegang kayu pendayung diturunkan ke dalam air laut. Ujung kayu pendayung diarahkannya tepat-tepat ke jurusan perahu di kejauhan. Lalu genggamannya dilepaskan. Pendayung itu meluncur satu jengkal di bawah permukaan air laut. Laksana seekor ikan hantu pendayung melesat ke arah perahu. Tak lama kemudian kelihatan perahu di jauhan sana hancur berantakan bagian samping kirinya terkena hantaman pendayung !

Si kakek tertawa mengekeh. "Tamat riwayatmu penguntit tolol ! "

Menjelang dinihari si kakek mulai dapat melihat satu titik hitam di kajauhan. Makin sering dia pergunakan tangan kiri mengayuh, makin cepat biduk itu meluncur makin tambah besar titik yang dilihatnya itu. Lama-lama titik itu telah berubah menjadi sebuah noktah hitam dan akhirnya terlihat jelas. Ternyata adalah sebuah pulau.

Biduk kecil medarat di tepi pantai. Dia memandang berkeliling. Juga menoleh ke tengah lautan di belakangnya. Tak kelihatan apa-apa. Debur ombak yang memecah di pantai pulau menimbulkan suara menggidikkan. Merasa aman si kakek turun dari atas biduknya. Lalu dengan langkah bergegas dia memasuki bagian pulau yang ditumbuhi berbagai macam pepohonan dan semak belukar. Melihat caranya berjalan yang begitu cepat tampaknya kakek ini sudah mengenal seluk beluk pulau itu. Dalam waktu singkat dia sudah sampai di pertengahan pulau dimana terdapat sebuah gubuk berdinding kajang beratap rumbia. Anehnya gubuk ini sama sekali tidak ada jendela ataupun pintunya.

"Nyi bulan, kau masih saja berlaku aneh seperti dulu-dulu...." Kata si kakek dalam hati. Setelah memandang berkeliling dan menunggu sesaat maka orang tua ini kemudian berseru. "Nyi Bulan Seruni Pitaloka! Aku tahu kau ada dalam gubuk. Begini caramu menyambut tamu yang datang dari jauh?!"

Sunyi sejenak lalu kesunyian itu dipecahkan oleh suara orang tertawa. Suara tawa perempuan. Bagitu suara tawa lenyap terdengar sesuatu berkereketan. Bagian atap gubuk yang terbuat dari rumbia tampak menguak. Tiba-tiba dari celah atap dan dinding melesat keluar satu sosok tubuh. Di udara dia berjungkir balik beberapa kali sebelum menjejakkan kedua kaki di tanah dan berdiri tegak hanya satu langkah di hadapan si kakek hingga orang tua itu sesaat jadi tergagau dan mundur. Betapa tidak. Yang berdiri di depannya adalah seorang nenek berwajah buruk kalau tidak mau dikatakan menyeramkan. Hidungnya yang panjang bengkok dicanteli sebuah anting bulat berwarna merah. Mulutnya yang berbibir tebal kelihatan pencong perot. Yang menggidikkan adalah sepasang matanya. Mata si nenek berwarna hitam semua, tak ada putihnya! Lalu rambutnya panjang berkeriting aneh dan menebar bau busuk.

Melihat si kakek tergagau atas kemunculannya yang mendadak si nenek tertawa mengekeh sambil menggoyang-goyangkan kepalanya hingga rambutnya yang busuk menebar bau tak sedap ke seantero tempat.

"Siapa kau?!" sentak si kakek.

Si nenek menjawab dengan tawa melengking.

"Kakek jelek. Kalau kau punya peradatan sebagai pendatang kaulah yangharus memperkenalkan diri lebih dulu. Tapi malam ini aku sedang senang. Aku bisa memaafkan keteledoranmu. Biar aku yang menyebut siapa dirimu. Kakek jelek, bukankah kau orangnya yang dikenal dengan gelar si Gergaji Setan?!"

Dalam hatinya si kakek merasa terkejut. "Aku belum pernah mengenal perempuan celaka ini. Bagaimana dia tahu namauku?" "Gergaji Setan, lekas bilang apa keperluanmu menginjakkan kaki di pulau Sempu ini!" "Aku ke sini untuk mencari perempuan bernama Nyi Bulan Seruni Pitaloka!" jawab si kakek.

"Hemm..... Rupanya kau satu dari sekian banyak lelaki hidung belang yang tergila-gila pada Nyi Bulan!"

"Jangan bicara ngaco! Aku datang atas tugas yang diberikan kerajaan!"

"Ah! Hebat betul! Kerajaan mempercayai satu tugas padamu orang yang selama ini dikenal bukan sebagai tokoh silat baik-baik...."

"Siapa aku tidak usah dipersoalkan! Tugasku lebih penting!"

"Kalau kau memang mendapat tugas dari kerajaan, apakah kau bisa memperlihatkan surat tugasmu?"

"Kau tidak layak memeriksa! Apalagi melihat surat tugas kerajaan!"

"Hemmm..... Beigut? Kalau begitu lekas putar jidatmu, angkat kaki dan pantatmu dari sini. Tinggalkan pulau Sempu selagi kau bisa bernafas!"

Dalam dunia persilatan si Gergaji Setan cukup dikenal dan merupakan satu tokoh silat yang disegani walaupun dia bukan termasuk golongan putih. Ucapan si nenek tadi jelas dirasakannya sangat merendahkan dan menghina dirinya. Namun karena dia belum mengenal dan mengetahui siapa adanya nenek ini maka dia tidak mau bertindak ceroboh.

"Soal pergi bukan soal susah. Hanya saja aku ingin tahu siapa kau sebenarnya dan aku tidak akan pergi sebelum ketemu dengan Nyi Bulan Seruni Pitaloka."

"Kau ternyat tua bangka keras kepala. Tidak melihat tingginya gunung Mahameru di depan mata! Ketahuilah aku adalah pembantu Nyi Bulan Seruni. Semua urusan dengan Nyi Bulan harus disampaikan lewat diriku!"

Si kakek manggut-manggut. Tangan kirinya menusap-usap mata gergaji pada sambungan tangan sebelah kanan.

"Ternyata kau cuma seorang pembantu. Siapa sudi berurusan dengan seorang kacung buruk sepertimu?!"

Paras buruk si nenek kelihatan berubah jadi tambah buruk. Matanya bersitkan sinar hitam. Lalut erdengar tawanya melengking panjang.

"Tamu tak tahu diri. Menyingkirlah sebelum aku menajdi marah!"

"Nenek buruk! Jangan tolol! Lebih baik lekas kau panggilkan majikanmu! Aku kau muntah bicara terlalu lama dengan perempuan busuk bau sepertimu!"

"Tua bangka keparat! Lihat rambutku!" teriak si nenek marah sekali.

Perempuan tua itu lalu goyangkan kepalanya. Rambutnya yang panjang keriting bergerak aneh, tidak ubahnya seperti senjata yang membabat ke arah kepala si Gergaji Setan.

Si kakek yang mengenakan jubah biru tak tinggal diam. Dia kebutkan lengan jubahnya sebelah kiri. Terdengar suara berkesiuran. Serangan tangan kosong si nenek buyar berantakan. Tubuhnya terjajar sampai tiga langkah. Di saat itu si Gergaji Setan menekan. Dengan ganas tanagn kanannya yang berupa gergaji besi itu membabat ke dada si nenek. Perempuan tua ini terlambat mengelak. Gergaji Setan melanda dadanya. Tak dapat tidak dada itu akan terbabat dalam sampai setengahnya. Tapi apa yang terjadi satu keanehan. Terdengar suara berkeresakan yang keras seolah gergaji besi memapas benda keras.

Si Gergaji Setan terbelalak kaget dan melompat mundur. Diperhatikannya mata gergajinya ternyata semua masih utuh. Lalu dia memperhatikan ke depan. Pakaian si nenek robek besar di bagian dada. Tapi dia sama sekali tidak terluka. Mata si kakek memebelalak ketika melihat pada dada kiri kanan si nenek menempel dua buah benda bulat kuning yang ada tonjolannya di bagian tengah.

"Bonang penerus slindro dan bonang penerus pelog!" seru si kakek ketika dia mengenali benda paa yang ada di dada si nenek. Justru kemunculannya di pulau itu adalah dalan tugas mencari dua buah bebunyian pelengkap gemelan keraton itu!

"Kacung Nyi Bulan!" seru si Gergaji Setan. "Jika kau mau menyerahkan dua buah bonang itu secara baik-baik, aku berjanji mengampuni selembar nyawamu!"

"Ha....ha hebatnya! Bagaimana kalau aku punyai dua lembar nyawa?!" ujar si nenek pula mengejek lalu tertawa gelak-gelak.

"Kalau begitu biar aku ambil dua-duanya!" kata si kakek dengan marah. Sekali berkelebat maka dia sudah menyerang perempuan tua itu dengan teramat ganas. Serangannya susul menyusul laksana deru ombak menghempas karang. Si nenek dibuat sibuk dan harus bertindak cepat kalau tidak mau kehilangan anggota badannya putus digilas tangan gergaji. Senjata yang menjadi satu bagian dengan tangan yang buntung itu menggerus ke dada, membabat ke lengan, kadang-kadang menukik ke perut lalu berbalik tidak terduga ke arah leher!

Dalam satu gebrakan hebat pada jurus kedua puluh sembilan kaki kiri nenek pembantu Nyi Bulan terpeleset. Tubuhnya tak ampun lagi jatuh terduduk di tanah. Sebelum dia sempat berdiri lawan menyorongkan gergaji mautnya ke leher si nenek.

"Berani kau bergerak putus lehermu!" ancam si Gergaji Setan.

"Berani kau membunuhnya kubuat leleh sekujur tubuhmu!" satu suara tiba-tiba terdengar membentak.TUJUHSi Gergaji Setan terkejut lalu berpaling. Si nenek yang lehernya hampir digorok juga berusaha memalingkan kepala ke arah datangnya suara membentak itu. Saat itu malam mulai menjelang pagi. Udara mulai terang-terang tanah. Si kakek dan si nenek melihat seorang pemuda bertubuh kekar, berambut gondrong tegak sekitar sepuluh langkah kanan. Kedua kakinya terkembang sedagn tangan kanannya mulai dari siku sampai ke ujung jari kelihatan memancarkan sinar putih perak menyilaukan. Tak berapa jauh dari pemuda ini, sedikit agak ke belakang berdiri pula seorang pemuda lain berbadan gemuk luar biasa, mengenakan baju kesempitan dan memakai peci hitam kupluk di atas kepalanya hampir menutupi alis.

Mata dan kulit kening si nenek tampak berkerenyit. Dia mengenali siapa pemuda gendut gembrot itu tapi tidak mengetahui siapa adanya pemuda gagah berambut gondrong yang tengah mengancam si Gergaji Setan dengan satu pukulan sakti.

Sebaliknya si Gergaji Setan mengenali siapa adanya si pemuda gondrong dan tidak tahu siapa adanya si gendut.

"Pendekar Kapak Maut 212 Wiro Sableng.... " berkata Gergaji Setan. "Bagaimanadi abisa muncul di pulau ini ! Apa keperluannya ! Jangan-jangan.... Dia mengancamku dengan pukulan sinar matahari ! Gila betul!. Sekalipun aku mampu menggorok leher perempuan celaka ini tapi rasanya aku tak bakal bisa lolos dari hantaman pukulan sakti itu!" Gergaji Setan berpikir sesaat.

Si nenek yang mengaku pembantu Nyi Bulan Seruni Pitaloka capat membaca situasi. Kalaupun pemuda gagah itu mampu membunuh si Gergaji Setan dengan pukulan saktinya, lehernya sendiri tak mungkin lolos dari kematian digorok gergaji lawan. Maka sebelum si kakek mengambil keputusan dia cepat mengangkat tangan kirinya dan melambai memberi tanda pada semua orang.

"Pemuda rambut gondrong! Jangan teruskan seranganmu! Kau tak bakal mampu menyelamatkan nyawaku. Kakek setan keparat ini orangnya nekad! Biar aku serahkan dua buah barang milik Nyi Bulan yang dicari dan diinginkannya! Asal saja dia tidak menggorokku! Gergaji Setan, kau mau bersumpah tidak akan membunuhku jika dua buah bonang yang ada di balik pakaianku aku serahkan padamu?!"

Gergaji Setan idak berpikir panjang. Jika orang sudah berkata begitu mengapa dia harus memperpanjang urusan? Maka cepat dia berkata.

"Aku bersumpah! Tapi awas kalau kau berani menipu!"

Si nenek menyeringai..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 172.68.65.159
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia