Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Ep : KI AGENG TUNGGUL KEPARAT

LAKSANA terbang kuda coklat berlari kencang di bawah panas teriknya matahari. Dalam waktu yang singkat bersama penunggangnya dia sudah sampai di kaki bukit untuk selanjutnya lari terus memasuki lembah subur yang terhampar di kaki bukit. Si penunggang kuda mendongak ke langit. Matahari dilihatnya tepat di ubunubun kepalanya. Parasnya kontan berubah.
"Celaka!" keluhnya dalam hati. "Celaka! Aku hanya punya waktu dua belas jam lagi! Kalau apa yang kucari tak dapat kutemui mampuslah aku!" Dia memandang lagi ke matahari di atasnya lalu menyentakkan tali kekang agar kuda tunggangannya lari lebih cepat.

Orang itu berpakaian biru gelap. Kulitnya yang hitam liat menjadi lebih hitam karena warna pakaiannya itu. Dibawah blangkon yang menutupi kepalanya, wajahnya tidak sedap untuk dipandang kalau tak mau dikatakan mengerikan.

Pada pipinya sebelah kiri mulai dari ujung bibir sampai ke tepi mata terdapat parut bekas luka yang lebar. Cacat ini membuat daging pipinya tertarik sedemikian rupa sehingga matanya terbujur keluar, kelopak sebelah bawah membeliak merah dan selalu berair sedang mulutnya tertarik pecong.

Di satu pedataran tinggi yang ditumbuhi pohon-pohon kapas, dihentikannya kudanya dan memandang berkeliling.

Pada wajahnya yang buruk itu kelihatan bayangan harapan sewaktu sepasang matanya melihat puncak atap-atap rumah penduduk di sebelah tenggara pedataran.

"Aku harus ke desa itu," kata lelaki itu pada dirinya sendiri. "Mungkin di situ bakal kutemukan apa yang kucari.

Kalau tidak..." kata hatinya itu tidak diteruskan. Dipukulnya pinggul kuda tunggangannya dan binatang itu melompat ke muka, lari kembali menuju ke tenggara.

Sewaktu angin dari timur bertiup keras, sewaktu daundaun pepohonan mengeluarkan suara berdesir kencang, maka penunggang kuda itu telah memasuki sebuah jalan teduh di mulut desa. Diperlambatnya lari kudanya. Kedua matanya menyapu ke setiap penjuru. Jalan yang ditempuhnya sunyi sepi. Pintu-pintu rumah penduduk tampak tertutup. Melewati suatu pengkolan dilihatnya beberapa orang anak kecil tengah bermain-main. Nafasnya terasa sesak seketika. Lalu dekat sebuah kandang kuda, seorang tua berjanggut putih duduk merokok memperhatikannya.

Tanpa memperdulikan orang tua itu laki-laki ini terus berlalu.

Kemudian dipapasinya beberapa penduduk desa yang agaknya baru kembali dari sawah atau ladang mereka.

Meski orang-orang itu mengangguk hormat kepadanya tapi lelaki penunggang kuda itu tahu bahwa dalam sikap hormat itu dilihatnya bayangan rasa ngeri di wajah mereka sewaktu melihat parasnya. Dalam hati masing-masing mungkin mengutuk habis-habisan.

Harapan yang sebelumnya ada di hati lelaki ini menjadi semakin kecil dan hampir padam bertukar dengan kemangkelan dan kekecewaan sewaktu dia mencapai ujung jalan dan hanya tinggal beberapa buah rumah saja yang harus dilewatinya.

"Apakah harus kutanyai orang-orang di sini?" tanya lelaki itu dalam hati. Tiba-tiba sepasang matanya menyipit.

Dia memutar kepala berkeliling dan mendengar baik-baik.

"Hah, inilah yang kucari! Pasti...! Pasti itu suara tangisan bayi."

Segera diputarnya kuda coklatnya dan menuju ke rumah yang terletak di antara pohon-pohon pisang yaitu dari arah mana tadi didengarnya suara tangisan bayi.

Pintu dan jendela rumah itu tertutup. Dia turun dari kudanya dan mengitari rumah satu kali lalu melangkah ke pintu depan. Dia memandang dulu kian kemari baru mengetuk pintu. Suara tangisan bayi di dalam rumah terdengar semakin keras dan laki-laki itu mengetuk lagi lebih kencang.

Terdengar langkah-langkah mendatangi pintu. Suara tangis bayi juga terdengar mendekati pintu itu. Sesaat sesudah itu pintu terbuka. Seorang perempuan muda memunculkan diri sambil membadung seorang bayi yang baru berusia kurang dari dua minggu dan masih merah.

Begitu melihat tampang lelaki yang mengerikan di ambang pintu, perempuan itu menyurut. Jelas kelihatan pada wajahnya rasa takut amat sangat.

Lelaki tak dikenal memandang si bayi dalam dukungan beberapa lama. Diteguknya liurnya lalu berkata, "Aku mencari suamimu..."

"Dia belum kembali dari sawah," jawab perempuan yang mendukung anak.

Lelaki bermuka setan kembali memandang bayi merah dalam dukungan.

"Ini anakmu...?"

Perempuan itu mengangguk dan memandang ke jurusan lain karena takut melihat wajah tamunya.

"Kemarin aku telah bicara dengan suamimu," kata orang bermuka cacat, "Dia bersedia menjual anak ini."

"A... apa?!" kaget perempuan yang mendukung anak bukan kepalang.

Sang tamu tampak acuh tak acuh. Dan dalam sabuknya dikeluarkannya sebuah kantong kecil yang mengeluarkan suara berdering tanda berisi uang.

"Ini ambillah," katanya. "Dan serahkan anakmu padaku."

Perempuan yang mendukung bayi surut beberapa langkah. Digelengkannya kepalanya dan berkata, "Tidak!

Suamiku tak pernah mengatakan bahwa dia hendak menjual anak ini. Sekalipun dia mungkin bermaksud demikian, saya tidak akan menjual anak ini dengan harga berapapun. Ini anak kami yang pertama..."

Air muka sang tamu tampak berobah mengelam. Tenggorokannya turun naik dan sepasang bola matanya berputar-putar liar.

"Kalau kau tak mau tak jadi apa," katanya. Lalu kantong uang dimasukkannya kembali ke dalam sabuknya. "Aku akan datang kembali kalau suamimu sudah pulang," katanya.

Perempuan mendukung anak tidak menyahuti malah buru-buru hendak menutupkan pintu rumah. Tapi baru saja jari-jari tangannya menempel di pinggiran pintu tiba-tiba tamu bermuka cacat itu mengulurkan kedua tangannya, menyentak kain pembadung bayi hingga terlepas sedang sang ibu jatuh tersungkur di ambang pintu. Secepat dia bangun secepat itu pula perempuan ini berteriak, "Anakku!

Tolong...! Anakku dilarikan orang! Culik...!"

Beberapa pintu rumah tetangga kelihatan terbuka.

Empat orang lelaki dan seorang perempuan datang berlarian untuk melihat apa yang terjadi. Namun si penculik bayi telah melompat ke atas kuda coklatnya dan meninggalkan tempat itu dengan cepat sebelum orangorang tersebut sempat melakukan sesuatu.

***HARI Kamis malam Jum'at Kliwon... Hujan gerimis turun menambah dingin dan seramnya suasana malam. Kuda coklat yang ditunggangi lelaki bermuka cacat tampak mendaki di lereng bukit berbatu-batu, terus menuju ke puncaknya. Sesosok binatang serta penunggangnya yang hitam pekat dalam kegelapan malam tak ubahnya seperti setan yang tengah gentayangan!

Puncak bukit batu itu tinggi sekali dan jalan menuju ke situ sukar bukan main. Beberapa kali kuda coklat tersebut terserandung. Lidahnya menjulur ke luar bersama busahan ludah. Meskipun udara malam dingin namun tubuhnya berselimutkan keringat yang telah bercampur baur dengan air hujan. Untuk kesekian kalinya binatang ini tersandung dan akhirnya tegak mematung tak mau melangkah lagi.

Setengah mengomel lelaki bermuka cacat turun dari kudanya. Di dalam dukungan tangan kirinya saat itu ada bungkusan kain yang isinya bukan lain adalah bayi yang tadi siang diculiknya.

"Kudaku, tunggu di sini sampai aku kembali," kata orang tersebut pada kuda tunggangannya. Lalu sambil mendukung bayi dia melanjutkan perjalanan ke puncak bukit dengan melompat dari satu batu ke batu yang lain.

Gerakan lelaki ini gesit luar biasa tanda dia memiliki ilmu meringankan dan mengimbangi tubuh yang sempurna.

Dalam tempo yang tidak begitu lama akhirnya dia sampai di puncak bukit batu yang paling tinggi.

Setelah memandang berkeliling dia mendongak ke langit. Sesaat itu kilat menyambar. Keadaan terang seketika untuk kemudian kembali kegelapan menyelimut.

Bayi dalam bungkusan kain terdengar menangis. Si muka cacat menyeringai. Dibukanya kain pembungkus.

Udara malam yang dingin dan siraman hujan rintik-rintik membuat si bayi menangis tambah keras.

Dari balik pinggangnya laki-laki ini mengeluarkan sebilah pisau yang besarnya hampir menyerupai sebilah

golok. Sekali lagi dia mendongak ke langit. Kali ini seraya mengacungkan pisau besar di tangan kanan tinggi-tinggi ke udara dan sambil berseru lantang,

"Guru!

Demi sumpah yang harus dipatuhi

Bersaksi pada langit di atas kepala

Bersaksi pada batu di bawah kaki

Saat ini murid siap untuk mandi!"Habis berseru demikian manusia bermuka cacat yang seperti kemasukan setan ini menggerakkan tangan kanannya. Dan, cras! Sungguh mengerikan. Suara tangisan bayi lenyap seketika. Darah mengucur dari luka besar pada lehernya yang kini hanya tinggal kutungan, sedang kepalanya menggelinding jatuh entah ke mana.

Lelaki itu menyirami kepalanya dengan darah yang mancur dari leher bayi. Gerahamnya terdengar bergemeletakan. Matanya berputar-putar liar. Sekujur tubuhnya bergetar.

Pada saat darah berhenti memancur maka kembali manusia bermuka iblis ini berteriak,"Guru!

Sumpah sudah dilaksanakan

Murid mohon diri

Dan akan datang lagi malam Jum'at Kliwon

Bulan depan!"Tanpa perikemanusiaan sama sekali, dilemparkannya tubuh bayi di tangan kirinya. Dalam keadaan tubuh basah kuyup oleh keringat, air hujan, dan darah, dia melompat dari atas batu, terus berlari turun ke tempat di mana dia sebelumnya meninggalkan kudanya.DI BEKAS reruntuhan kuil tua yang terletak di puncak Bukit Mangatas, empat orang laki-laki yang rata-rata bertubuh kekar dan bertampang buas berdiri dengan tidak sabar. Sebentar-sebentar mereka melayangkan pandangan ke jalan kecil yang berliku-liku di lereng bukit.

Sementara itu di ufuk barat matahari penerang jagat hampir tenggelam masuk ke peraduannya.

"Kalau sampai maghrib si Gundara itu tidak juga muncul, kita tinggalkan saja tempat ini!" kata salah seorang dari mereka. Namanya Rah Gludak.

Lelaki yang tegak sambil rangkapkan tangan tanpa menoleh pada Rah Gludak berkata, "Aku yang jadi pemimpin di sini Gludak. Tindakan apapun yang dilakukan adalah atas keputusanku!"

"Jika begitu kau mau jadi patung terus-terusan di sini Parereg," tukas Rah Gludak.

"Jadi setan sekalipun aku tidak perduli!"

Lelaki bernama Bayana ikut bicara, "Memang rencana kita ini bukan rencana sembarangan. Untuk itu sudah patut kita melakukannya dengan hati penuh sabar..."

"Diam semua!" sentak Lor Parereg. "Aku mendengar derap kaki kuda di kejauhan!"

Di antara keempat orang itu memang Lor Parereglah yang memiliki ilmu paling tinggi. Karena itu dia lebih dulu mendengar suara derap kaki-kaki kuda di bawah bukit.

Kemudian berturut-turut yang mendengar suara derap kuda itu adalah Kunto Handoko, Rah Gludak dan Tunggul Bayana.

Semuanya berdiam diri. Masing-masing menunggu penuh tegang. Selama mereka malang melintang menjadi empat rampok yang ditakuti di selatan Hutan Roban, belum pernah mereka mempunyai rencana besar seperti yang akan mereka lakukan saat itu.

Derap kaki-kaki kuda semakin keras tanda binatang dan penunggangnya tambah dekat. Di bawah pantulan sinar kuning emas matahari yang hendak tenggelam, dari mulut jalan tak lama kemudian muncullah seeker kuda hitam ditunggangi oleh seorang laki-laki bertubuh kurus tinggi berpipi cekung. Begitu sampai di hadapan ke empat laki-laki di depan kuil, penunggang kuda ini melompat turun dan menjura.

"Lekas terangkan apa yang sudah kau ketahui!" kata Lor Parereg seraya menurunkan tangan kirinya yang sejak tadi memuntir-muntir kumisnya yang tebal melintang.

Gundara, orang yang barusan datang menyeka peluhnya. Setelah memandang berkeliling pada keempat orang di depannya baru dia membuka mulut, "Karena sesuatu halangan rombongan itu tak jadi berangkat besok..."

"Hah?!" sepasang mata Lor Parereg melotot besar.

"Keberangkatan mereka dibatalkan?" bertanya Tunggul Bayana.

Gundara menggeleng. "Rombongan itu akan meninggalkan kotaraja pagi-pagi lusa. Terdiri dari dua buah kereta.

Satu kereta membawa uang dan peti-peti perhiasan, kereta lainnya membawa Ning Larasati, anak Sri Baginda dari selir yang ke enam."

Lor Parereg memandang pada ketiga kambratnya.

"Bunga jelita itu, sobatku...," katanya dengan menyeringai penuh arti.

"Besar betul rejeki kita sekali ini," kata Rah Gludak seraya membasahi bibirnya dengan ujung lidah.

"Menurutku sebaiknya kalian jangan ganggu gadis itu," berkata Gundara.

"Heh, apa urusanmu?" tanya Lor Parereg.

"Perampokan uang dan harta benda bagi Sri Baginda bukan apa-apa. Tapi kehilangan Ning Larasati benar-benar bisa membuat Sri Baginda murka. Kalian tahu, Larasati adalah puteri yang paling disayangi Sri Baginda. Jika terjadi apa-apa dengan dirinya bukan mustahil Baginda akan mengerahkan seluruh balatentara Demak. Dan kalian bisa berabe."

Lor Parereg tertawa bergelak.

"Tak ada satu orangpun yang bakal tahu siapa yang menghadang rombongan itu. Tak ada satu orangpun yang bisa mengetahui siapa yang merampok barang-barang itu serta siapa yang menculik Larasati. Kecuali jika ada di antara kita yang berkhianat!"

"Tak akan ada yang berkhianat Parereg," kata Tunggul Bayana. "Rejeki yang sudah ditakdirkan buat kita walau bagaimanapun harus kita ambil. Ning Larasati harus jadi milik kita!"

"Betul sekali Bayana," kata Lor Parereg. Lalu laki-laki itu berpaling pada Gundara dan berkata, "Apapun yang kami lakukan adalah urusan kami! Kau mesti tahu bahwa kau cuma seorang yang kami mintakan keterangan. Kau mengerti Gundara?"

"Mengerti Parereg. Nasehat itu kusampaikan untuk kebaikan kalian. Mau diperhatikan atau tidak terserah."

"Berapa prajurit yang bakal mengawal rombongan itu?" tanya Parereg pula.

"Duapuluh. Mereka dipimpin oleh Raden Mas Panawa..."

"Aku belum pernah dengar nama itu," kata Lor Parereg.

Dia berpaling pada kawan-kawannya dan bertanya, "Kalian tahu siapa dia?"

Yang menjawab adalah Kunto Handoko. "Umurnya sekitar tigapuluhan. Tadinya orang desa biasa. Karena berbuat jasa diberi gelar Raden Mas dan diangkat jadi perwira kerajaan. Ilmunya tinggi. Sendiri-sendiri mungkin sukar menghadapinya. Tapi berempat dia tak perlu dipandang sebelah mata!"

Lor Parereg mengangguk-anggukkan kepalanya. Dari balik pakaiannya dikeluarkannya satu kantong berisi uang.

Benda itu dilemparkannya dan segera disambut oleh Gundara.

"Tugasmu selesai, Gundara. Cepat tinggalkan tempat ini. Kalau sampai rencana penghadangan ini bocor, aku cuma tahu satu orang untuk digorok batang lehernya. Kau!"

"Saya tak bakal membuka rahasia Parereg!" kata Gundara pula. Dia menjura, memutar tubuh dan melompat ke punggung kuda. Sekali dia menyentakkan tali kekang maka binatang itupun bergerak ke muka.

Namun untuk selanjutnya kuda hitam itu hanya lari sendirian karena dengan amat tiba-tiba sebuah pisau melayang dan menancap tepat di punggung Gundara.

Lelaki ini terdorong ke depan. Tubuhnya hilang keseimbangan. Dan jatuh dari punggung kuda. Susah payah dia coba bangkit. Memandang ke arah Lor Parereg dengan pandangan penuh amarah. Dari mulutnya keluar suara yang tak jelas. Setelah merintih panjang Gundara akhirnya rubuh ke tanah dan tak bergerak lagi.

Lor Parereg tertawa mengekeh. "Aku tak percaya pada kunyuk ini," katanya sambil pelintir kumis. "Sebelum kasip sebaiknya dihabiskan riwayatnya!"

"Tindakanmu tepat sekali Parereg," ujar Tunggul Bayana.

"Kita kembali ke goa," kata Parereg pada kawankawannya.

Keempatnya kemudian meninggalkan tempat tersebut. Sementara matahari telah tenggelam dan siang berganti dengan malam.

Hari Kamis Paing adalah hari di mana menurut keterangan Gundara yang telah dibunuh itu, rombongan yang bakal dihadang akan meninggalkan Kotaraja. Kirakira dua jam perjalanan di luar kotaraja sebelah timur, di satu daerah yang berbukit-bukit, di balik kelebatan semak belukar yang tumbuh sepanjang jalan kecil berdebu, sejak pagi tadi empat orang berpakaian serba hitam sudah berada di sana. Mereka bukan lain Lor Parereg dan kawankawannya.

"Kurasa terlalu jauh kita melakukan penghadangan di sini, Parereg," kata Tunggul Bayana memecah kesunyian.

Lor Parereg mendehem beberapa kali. "Bukan saatnya membicarakan hal itu," sahutnya tak acuh.

"Aku khawatir kalau-kalau rombongan itu membelok mengambil jalan lain."

"Menghadang lebih dekat ke kotaraja berarti menambah besarnya bahaya. Apa kau mau tanggung jawab jika salah seorang dari mereka nanti sempat menjemput balabantuan? Apa kau mau tanggung jawab jika tokoh-tokoh silat istana turun tangan? Kita menghadang di sini. Itu sesuai dengan rencanaku. Tak perlu diributkan lagi!"

Sunyi beberapa lamanya. Sementara itu matahari pagi mulai naik dan terasa bertambah panas sinarnya. Lor Parereg mengeluarkan tembakau serta daun kawung dan mulai menggulung sebatang rokok. Setelah beberapa kali dihisapnya rokok itu dia membuka mulut, "Bila penghadangan ini berhasil, ingat baik-baik rencana kita selan jutnya. Kau Rah Gludak lari ke timur. Ini untuk mengelabuhi orang-orang kerajaan. Satu hari kemudian kau harus datang, selambat-lambatnya tengah hari di kuil tua Bukit Mangatas. Kau Kunto Handoko dan Tunggul Bayana larikan seluruh barang rampokan ke jurusan barat. Ambil jalan memutar lalu segera menuju Bukit Mangatas dan tanam semua harta rampokan itu di lobang yang telah kita gali. Tunggu di sana sampai aku datang."

"Kau sendiri ke mana?"

Lor Parereg menyeringai. "Ingat Ning Larasati?" tanyanya. "Aku akan bersenang-senang dulu dengan dia di satu tempat. Dan kalian tak usah tahu di mana!"

Beberapa waktu berlalu tanpa ada satu orangpun yang bicara. Tiba-tiba Lor Parereg mengangkat tangan memberi isyarat. "Aku mendengar sesuatu," katanya. "Mungkin rombongan itu!" Lalu dengan satu gerakan enteng dia melompat ke cabang sebatang pohon. Dari tempat ketinggian ini dia memandang jauh ke depan. Wajahnya nampak tegang ketika dia melompat turun kembali.

"Mereka datang!" katanya. "Lekas menyebar seperti yang sudah diatur!"

Kunto Handoko, Rah Gludak, dan Bayana segera menyebar bersembunyi.

Mereka menunggu kira-kira sepeminuman teh. Tak lama kemudian dari arah depan muncullah rombongan itu.

Pada kepala rombongan kelihatan seorang lelaki muda keren menunggang kuda. Di pinggangnya tergantung sebilah pedang. Di sebelah belakang terdapat dua puluh prajurit yang juga menunggang kuda, bergerak maju mengapit dua buah kereta. Dilihat dari bentuk kendaraan, kereta sebelah depan jelas kereta barang sedang yang di belakang merupakan kereta penumpang yang bagus.

Penunggang kuda di sebelah depan tampak heran ketika melihat ada seorang lelaki berpakaian hitam, berkumis melintang tegak menghadang di tengah jalan. Dia memberi isyarat pada rombongan untuk berhenti lalu maju mendekati orang di tengah jalan dan dengan sikap sopan tapi juga waspada.

"Bapak, rombonganku hendak lewat. Harap kau suka menepi memberi jalan."

Lor Parereg tertawa. "Anak muda, bukankah kau perwira kerajaan yang bernama Panawa?"

"Bapak tidak keliru. Memang saya Panawa. Sekarang silahkan Bapak menepi..."

"Aku kenal kau tapi apakah kau kenal aku, perwira?"

Raden Mas Panawa sudah mengetahui jelas orang tak dikenal di hadapannya mempunyai maksud tidak baik. Tapi melakukan hal itu seorang diri terlalu berani. Pasti dia mengandalkan sesuatu. Maka perwira muda yang cerdik ini memandang berkeliling. Dia segera mengetahui ada tiga orang lainnya bersembunyi di balik semak belukar.

"Bapak, jika kau sudah tahu kami adalah rombongan kerajaan harap jangan mengganggu lebih lama..."

"Eh, siapa mengganggu siapa?" tanya Lor Parereg sambil puntir kumis. "Kehadiranku di sini justru dengan maksud baik. Yaitu serahkan dua kereta itu padaku dan kalian boleh kembali ke kotaraja dengan aman..."

"Bapak, kau jangan berani main-main dengan pasukan kerajaan." Raden Mas Panawa memperingatkan. Dia masih berusaha menyabarkan diri.

Akan tetapi seorang anak buah di samping kanannya maju seraya berkata, "Raden, biar saya beri pelajaran pada orang ini!"

"Nah, kau dengar sendiri," kata Panawa. "Jangan sampai kami menurunkan tangan kasar!"

"Jadi kau tidak mau menyerahkan dua kereta itu?" tanya Lor Parereg sambil bertolak pinggang.

Panawa berpaling pada anak buahnya. Kesabarannya telah hilang. "Singkirkan manusia itu," perintahnya.

Sret!

Pembantu yang diberi perintah cabut pedang dan memajukan kudanya mendekati Lor Parereg. Pedang berdesing diayunkan ke arah kepalanya. Dengan satu gerakan gesit kepala rampok ini merunduk lalu dari samping memukul lengan lawan.

Krak!

Terdengar patahnya tulang lengan pengawal itu.

Tubuhnya yang hilang keseimbangan langsung jatuh dan sebelum mencium tanah disambut oleh Lor Parereg dengan tendangan kaki kanan.

Melihat gerakan Lor Parereg yang sebat itu maklumlah Raden Mas Panawa bahwa rombongannya berhadapan dengan seorang berkepandaian tinggi. Tanpa tunggu lebih lama dia melompat turun dari punggung kuda. Begitu menjejak tanah dia langsung menyerbu Parereg dengan tangan kosong.LOR PAREREG yang sengaja hendak mengetahui kehebatan perwira muda ini segera menyongsong serangan lawan, menyambut dengan balas memukul. Akibatnya dua lengan saling bentrok.

Kepala rampok Hutan Roban ini berubah parasnya ketika dapatkan dirinya terjajar ke belakang akibat saling bentrokan lengan itu. Nyatalah bahwa lawannya yang masih muda itu memiliki keampuhan tenaga dalam melebihi yang dimilikinya. Maka dia bersuit memberi isyarat. Tiga anak buahnya melompat keluar dari tempat persembunyian masing-masing dan langsung mengurung Raden Mas Panawa.

"Bagus! Kalian sudah keluar semua! Aku masih berikan kesempatan terakhir pada kalian agar meninggalkan tempat ini!"

Lor Parereg tertawa keras. "Perwira muda! Aku Lor Parereg dan kawan-kawan baru akan pergi setelah mendapatkan apa yang kami ingini. Sebaliknya justru aku menawarkan agar kau dan para pengawal berlalu saja dari sini..."

"Rampok-rampok bodoh! Bersiaplah untuk menerima hukuman!" bentak Panawa. Karena tiga pengeroyok dilihatnya sudah memegang senjata maka dia segera pula cabut pedang panjangnya. Pertempuran empat lawan satu segera berkecamuk. Meskipun Panawa memiliki ilmu silat tinggi namun karena yang mengeroyok adalah rampokrampok kawakan maka tiga jurus saja dia sudah terkurung rapat dan terdesak.

Dalam satu bentrokan senjata, pedang di tangan perwira muda itu terpukul lepas. Melihat pimpinan mereka berada dalam keadaan bahaya maka sepuluh pengawal segera maju membantu. Pertempuran menjadi makin seru.

Panawa kini pergunakan sebilah keris. Senjata ini merupakan senjata pemberian gurunya dan dengan senjata ini di tangan dia mengamuk. Satu kali dia berhasil melukai bahu kanan Kunto Handoko.

Walaupun pengawal-pengawal itu berjumlah banyak.

Namun mereka bukanlah tandingan rampok-rampok Hutan Roban yang bertempur penuh kebuasan karena mengharapkan barang rampokan yang tidak sedikit jumlahnya.

Satu demi satu mereka roboh bahkan Panawa sendiri tubuhnya telah penuh dengan luka-luka dan agaknya tak bakal dapat bertahan lama.

"Selesaikan dia!" kata Lor Parereg. Dia melompat keluar dari kalangan pertempuran. Sudah saatnya dia turun tangan melakukan sesuatu sesuai dengan rencana–nya.

Dia bergerak cepat ke arah kereta sebelah belakang.

Raden Mas Panawa yang dapat menduga apa yang hendak dilakukan oleh kepala rampok itu cepat berteriak, "Lindungi puteri!"

Sepuluh pengawal yang sejak tadi tidak ikut bertempur mendengar perintah itu menjadi bingung. Semula mereka hendak membantu Panawa dan pengawal-pengawal lain yang jelas kelihatan dalam keadaan kepepet. Namun kini mereka malah diperintahkan mengamankan Ning Larasati.

Lalu siapa pula yang akan menjaga kereta pertama yang membawa uang dan harta benda berharga itu?

Akhirnya lima pengawal bergerak ke arah kereta yang ditumpangi Ning Larasati dan pengasuhnya sedang lima lagi memasuki kalangan pertempuran untuk menyelamatkan kawan-kawan dan pimpinan mereka. Namun usaha mereka ini sia-sia saja.

Lima prajurit yang menjaga kereta sebelah belakang bukan apa-apa bagi Lor Parereg. Satu demi satu mereka dihantam roboh. Lalu dia mendobrak pintu kereta dan sepasang matanya melotot melihat wajah cantik yang ketakutan di dalam kereta itu. Pengasuhnya yang memeluk dan berusaha melindunginya berkata, "Jangan ganggu dia! Dia puteri Sultan!"

Lor Parereg menyeringai. Hidungnya kembang kempis membayangkan apa yang bakal dinikmatinya. "Aku tidak akan menyakitimu Larasati. Asalkan kau mau keluar baikbaik dan ikut aku..."

"Tidak... pergi! Aku tidak mau ikut kau...!" jerit Ning Larasati beringsut ke sudut kereta.

"Gadis manis kau tak seharusnya menolak begitu..." ujar Lor Parereg. Lalu sekali sentak saja dia berhasil menarik Ning Larasati keluar dari kereta. Pengasuhnya yang berusaha mencegah ditendang hingga roboh tak sadarkan diri.

Ning Larasati menjerit dan meronta-ronta dari panggulan Lor Parereg. Namun tak berhasil melepaskan diri.

Di bagian lain Panawa yang berusaha berjuang matimatian akhirnya tak sanggup lagi bertahan. Dia roboh dengan tubuh mandi darah penuh bacokan. Dua pengawal yang masih hidup putus nyali mereka dan ambil langkah seribu.

Sesuai dengan yang telah diatur, Rah Gludak kemudian memacu kudanya ke arah timur. Kunto Handoko dan Tunggul Bayana melarikan kereta berisi uang dan harta ke arah barat.

"Beres!" kata Lor Parereg puas. Ning Larasati dinaikkannya ke atas kuda lalu kepala rampok ini memacu binatang ini memasuki rimba belantara dan lenyap dari pemandangan.***TEPAT tengah hari Kunto Handoko dan Tunggul Bayana sampai di kuil tua yang terletak di Bukit Mangatas. Tunggul Bayana turun dari kereta yang dikemudikannya itu dan membuka pintu. Ada empat buah peti besi di dalam kendaraan ini. Setelah diperiksa ternyata dua peti berisi uang emas dan dua lainnya penuh perhiasan berbagai bentuk.

"Kita akan kaya raya Bayana!" kata Kunto Handoko tertawa gembira.

Tunggul Bayana memutar kepala. Wajahnya tidak menunjukkan kegembiraan.

"Ada apa dengan kau?" tanya Kunto Handoko agak heran. "Apa tidak senang mendapat barang rampokan sebanyak ini? Tujuh turunan kurasa kita bisa ongkangongkang kaki!" Tunggul Bayana tersenyum kecil.

"Yang aku khawatirkan adalah luka di bahumu yang membengkak, Kunto," kata Tunggul Bayana.

Kunto Handoko baru ingat luka bekas tusukan keris Panawa pada bahunya.

"Luka biasa, tak perlu dikhawatirkan," kata Kunto Handoko pula.

"Aku yakin keris itu mengandung racun. Kalau tidak kenapa lukamu cepat sekali membengkak dan berwarna biru begini?"

Kunto Handoko memperhatikan luka di bahunya. "Ah tak apa-apa," katanya kemudian.

"Sebaiknya kau telan obatku ini. Mujarab sekali untuk menolak segala macam racun. Sementara itu aku akan ke belakang kuil memeriksa lobang tempat penimbunan petipeti itu."

Kunto Handoko mengambil sebutir obat berwarna hitam yang diberikan Tunggul Bayana, lalu tanpa ragu-ragu menelannya. Ketika Tunggul Bayana lenyap di balik reruntuhan tembok kuil sebelah belakang, cepat-cepat Kunto Handoko mendekati empat peti besi dalam kereta.

Salah satu peti dibukanya lalu dimasukkannya tangannya mengeruk uang emas yang terdapat dalam peti itu.

Sewaktu uang tersebut hendak dimasukkannya ke dalam sebuah kantong di balik pakaiannya, tiba-tiba dirasakannya dadanya amat sakit. Begitu sakitnya hingga uang yang ada dalam genggamannya terlepas dan kepalanya terasa berat sedang pemandangannya berkunang-kunang. Kedua tangannya kini memegangi dada yang terasa sesak. Tibatiba dia membuka mulut hendak batuk tapi yang keluar adalah semburan darah!

"Jahanam!" maki Kunto Handoko. "Tunggul Bayana pasti telah memberikan racun padaku!" Dihunusnya pedangnya lalu melangkah ke bagian belakang kuil namun setengah jalan lututnya goyah. Sebelum terguling pingsan ke tanah Kunto Handoko masih sempat menotok urat besar di pangkal lehernya. Tunggul Bayana muncul.

Menyaksikan Kunto Handoko menggeletak tak bergerak dia tertawa gelak-gelak.

"Dasar manusia tolol!" katanya. "Sekarang semua uang dan harta itu menjadi milikku! Semuanya! Aku akan jadi kaya raya! Ha... ha... ha!" Laksana orang gila Tunggul Bayana membuka peti-peti itu satu demi satu dan mengaduk-aduk isinya. Hatinya gembira setinggi langit. Dia puas sekali karena rencana yang diam–diam diaturnya sejak lama kini menjadi kenyataan.

Kuda tunggangannya diikatkan di belakang kereta.

Sebelum meninggalkan tempat itu sekali lagi dia memandang pada sosok tubuh Kunto Handoko "Sobatku yang tolol, sayang kau tak sempat menikmati hasil rampokan ini. Selamat tinggal, selamat jalan ke akherat!" Dia tertawa panjang-panjang lalu menyentakkan tali kekang.

Tunggul Bayana tidak mengetahui sama sekali kalau saat itu Kunto Handoko cuma menggeletak pingsan, bukan mati.LOR PAREREG menunggang kudanya memasuki rimba belantara. Meskipun pohon-pohon di situ tumbuh rapat tapi karena sudah tahu betul seluk beluk daerah tersebut, dia dapat memacu kudanya dalam kecepatan tinggi.

Kira-kira dua kali peminuman teh berlalu. Lor Parereg sudah berada di pertengahan Hutan Roban. Di satu tempat dia menyeruak memasuki semak belukar lebat. Di belakang semak belukar itu ternyata terdapat sebuah goa besar dan tinggi. Lor Parereg melompat dari kudanya dan memanggul tubuh Ning Larasati memasuki goa. Bagian dalam goa itu tak beda dengan sebuah ruangan dalam satu bangunan yang bagus. Di sebelah depan terdapat seperangkat kursi dan meja terbuat dari rotan. Ruangan itu dipisah dua oleh sebuah tirai bambu yang tipis.

Lor Parereg menyibakkan tirai bambu. Ruangan yang dimasukinya bagus sekali dan di situ terdapat tiga buah pembaringan rotan. Pemimpin rampok ini melangkah ke pembaringan di ujung kanan yaitu yang paling besar dan bagus. Ning Larasati yang berada dalam keadaan pingsan dibujurkannya di atas pembaringan itu. Dari dalam sebuah lemari Lor Parereg mengeluarkan sebuah kendi berisi tuak.

Sambil meneguk minuman itu dia duduk di tepi pembaringan memperhatikan wajah Ning Larasati.

"Cantik sekali... cantik sekali," kata Lor Parereg dalam hati berulang kali. Hawa hangat dari minuman yang diteguknya memanasi jalan darahnya. Butir-butir keringat memercik di keningnya. Hidungnya kembang kempis. Nafsu mesum mulai membakar tubuhnya. Lor Parereg beringsut. Dielusnya betis putih mulus gadis itu. Betapa lembutnya. Setelah puas memijit-mijit betis Larasati tangannya menjalar ke atas lebih ingin tahu, makin ke atas, membuat Lor Parereg menggeram panas dingin.

Tiba-tiba Ning Larasati siuman dari pingsannya dan menggeliat. Begitu sadar akan dirinya puteri Sultan Demak ini menjerit dan melompat dari atas pembaringan rotan.

Dia memekik tiada henti, meronta dan menerjang.

Melakukan apa saja terhadap Lor Parereg yang coba mendekapnya. Namun kepala rampok itu terlalu kuat bagi gadis sehalus Larasati. Pakaiannya robek-robek dan tubuh Lor Parereg menghimpitnya dari atas. Karena tak tahu apa lagi yang dapat dilakukannya untuk melepaskan diri, akhirnya Larasati hanya bisa menangis. Seumur hidup tak pernah terpikir olehnya bakal mengalami nasib yang mengerikan begini rupa. Dia menangis sambil memejamkan matanya. Lalu dirasakannya tangan-tangan Lor Parereg melepas pakaiannya secara paksa. Nafas lelaki itu yang berbau minuman keras menghembushembus di wajahnya. Kemudian terasa bulu-bulu dada Lor Parereg menggamangi dadanya yang kini tiada tertutup lagi. Kemudian... kemudian... Suara raungan laksana harimau lapar meledak keluar dari mulut Lor Parereg. Ning Larasati terkejut. Dibukanya kedua matanya. Apa yang telah terjadi?

Dilihatnya Lor Parereg dalam keadaan setengah telanjang terhampar di sudut ruangan. Di hadapannya berdiri seorang perempuan amat tua berambut panjang terurai awut-awutan dan berwarna putih. Perempuan tua ini mengenakan sehelai jubah panjang menyentuh lantai berwarna putih polos. Kaki dan tangannya yang tersembul dari balik pakaian itu juga berwarna putih seputih parasnya yang keriputan.

"Nenek tua berwajah putih ini apakah dia manusia atau setan?" pikir Larasati. Untuk sesaat dia lupa akan keadaan dirinya. Begitu sadar cepat-cepat disambarnya pakaiannya.

"Bangsat tua! Siapa kau?!" teriak Lor Parereg seraya melompat.

Perempuan tua itu tertawa tawar. Barisan gigi-giginya ternyata masih utuh dan berwarna putih bersih.

"Siapa aku...?" ujarnya. "Itulah yang aku sendiri tidak tahu!"

"Bedebah gila! Kalau tidak lekas angkat kaki dari sini kupatahkan batang lehermu!"

"Kau mau patahkan batang leherku? Lucu... lucu," kata si nenek sambil tertawa geli. "Rupanya tendanganku tadi masih belum cukup?"

"Tua bangka keparat! Sampai ke liang kubur kau akan menyesali diri!" bentak Lor Parereg. Lalu dia melompat ke muka. Kedua tangannya bergerak cepat hendak menangkap leher perempuan tua itu.

Plak!

Lor Parereg terhuyung ke belakang. Tamparan nenek muka putih itu keras sekali membuat pemandangannya berkunang-kunang. Amarahnya makin memuncak. Untuk kedua kalinya dia menerjang ke muka namun sekali inipun tamparan lawan menghantam parasnya lebih dulu. Membuat Lor Parereg untuk kedua kalinya berdiri nanar kesakitan!

"Anjing tua! Mampuslah!"

Lor Parereg lepaskan satu pukulan tangan kosong. Angin deras menggebu. Itu adalah satu pukulan tangan kosong yang hebat. Tapi si perempuan tua muka putih hanya ganda melambaikan lengan jubahnya maka serangan Lor Parereg menjadi musnah. Tubuhnya lalu berkelebat lenyap dan kemudian plak... plak... plak... tamparan keras bertubi-tubi mendarat di muka Lor Parereg. Kepala rampok ini terpelanting ke lantai. Mukanya sembab biru, bibirnya pecah, salah satu giginya tanggal.

Dalam merintih menahan sakit Lor Parereg menyambar pedangnya dari atas tempat tidur lalu untuk kesekian kalinya menyerbu lagi.

"Bajingan edan! Kau pantas dihajar setengah hidup setengah mampus!" nenek tua itu berseru. Jengkel sekali dia kelihatannya, Selagi senjata lawan berkelebat ganas siap membuat celaka tubuhnya, dengan satu gerakan aneh luar biasa perempuan muka putih itu malah menyusup ke depan dan tahu-tahu tubuh Lor Parereg terbetot sedang pedangnya sudah berpindah tangan!

Keringat dingin mengucur di tengkuk Lor Parereg. Kini dia sadar kalau sedang berhadapan dengan manusia berilmu tinggi luar biasa. Namun dia rasa-rasa masih kurang percaya. Dia masih belum yakin lawannya benarbenar dapat bertindak begitu cepat. Ilmu silat apakah yang telah dipergunakan oleh nenek tua bermuka putih itu?

Meskipun hatinya kecut namun kemarahannya melebihi segala-galanya. Dengan dua tangan terpentang dan rahang-rahang bertonjolan Lor Parereg maju mendekati si nenek.

"Makan ini!" bentak Lor Parereg seraya memukulkan kedua tangannya dengan serentak. Empat rangkum angin yang berlainan warna menderu. Goa itu laksana mau runtuh. Empat larik angin pukulan itu dengan hebatnya melabrak tubuh si muka putih dari empat jurusan yang sukar untuk dikelit!

"Manusia bajingan! Pukulan Angin Empat Racun inikah yang hendak kau andalkan? Belajarlah dulu sampai becus baru nanti dipergunakan lagi!" Habis berkata begitu perempuan tua itu mendorongkan kedua telapak tangannya ke muka. Serangan Lor Parereg kontan tertahan dan kemudian membalik sebat ke arah pemiliknya sendiri!

Lor Parereg berseru kaget. Jika saja dia tidak lekas menjatuhkan diri dan berguling menjauh niscaya dirinya dilanda maut!

Melihat kenyataan ini kepala rampok Hutan Roban itu kini benar-benar sadar dan putus nyalinya. Sekalipun dia punya lima kepala sepuluh tangan tak bakal dia bisa mengalahkan perempuan tua yang muncul secara aneh itu.

Tanpa tunggu lebih lama dia segera putar tubuh dan lari pontang-panting keluar goa. Di mulut goa masih sempat didengarnya suara perempuan tua itu berkata, "Kalau saja pantangan membunuhku sudah habis waktunya, niscaya sudah tadi-tadi kupecahkan batok kepalamu!"

Lalu orang tua ini berpaling pada Ning Larasati dan menarik nafas dalam. Saat itu Larasati berdiri di sudut ruangan dengan wajah pucat pasi.

"Kau tak usah takut. Mari ikut denganku," kata si nenek.

Larasati tak bergerak di tempatnya. Dia sadar telah ditolong oleh si nenek tapi dia sendiri tidak tahu siapa orang tua ini. Apakah benar-benar bakal menolongnya atau lebih jahat dari Lor Parereg.

Si orang tua mendatangi dan tersenyum. "Ayo kita keluar dari tempat ini."

"Nenek... terima kasih kau telah menolongku. Tapi kau siapa sebenarnya?" tanya Larasati.

Perempuan tua itu tertawa, "Siapa aku itulah yang aku sendiri tidak tahu. Namun mimpiku semalam kini betulbetul menjadi kenyataan. Kau berjodoh denganku, anak." Lalu tanpa banyak bicara lagi perempuan tua itu memegang pinggang Larasati. Sekali lompat saja dia sudah berada di mulut goa!***KERETA itu bergerak cepat sekali menyusuri kali kecil berair kuning lalu membelok memasuki jalan yang berbatubatu.

Di jalan seburuk itu tak mungkin kereta bergerak secepat sebelumnya. Namun Tunggul Bayana mencambuki terus punggung kedua kuda penarik kereta hingga binatang ini lari seperti kesetanan. Kereta meluncur miring, kadang-kadang terhempas dan mental ke atas.

Ketika matahari mulai condong ke barat baru Tunggul Bayana memperlambat lari dua ekor kuda itu. Dia kemudian memasuki sebuah lembah yang tak pernah didatangi manusia dan menghentikan kereta di bawah sebuah pohon besar.

Setelah memandang dulu berkeliling baru dia melompat turun dari atas kereta. Disibakkannya serumpunan semak belukar. Di balik semak-semak itu terdapat sebuah lobang besar. Lobang ini memang telah disiapkannya sejak tiga hari lalu. Dia kembali ke kereta lalu satu demi satu dengan susah payah keempat peti itu diseretnya dan dimasukkannya ke dalam lobang. Dari salah satu peti diambilnya sejumlah uang emas dan dimasukkannya dalam kantong.

Lobang itu kemudian ditimbunnya dengan tanah. Di atas timbunan ditutupnya dengan potongan semak belukar sehingga tak kentara sama sekali kalau di tempat itu ada bekas galian. Setelah meneliti dan memastikan segala sesuatunya, Tunggul Bayana membawa kereta ke sebuah danau. Kendaraan ini ditenggelamkannya sedang dua ekor kuda dilepaskannya. Lalu dengan menunggangi kudanya sendiri dia meninggalkan lembah liar itu menuju ke utara yaitu ke jurusan Kotaraja.***SEWAKTU senja memasuki malam, dua orang prajurit kerajaan tampak memacu kuda masing-masing memasuki Kotaraja. Salah seorang di antaranya membawa sesosok tubuh perempuan di depan pangkuannya. Mereka langsung menuju istana dan sama sekali tidak melayani pertanyaan-pertanyaan para pengawal.

Di hadapan pintu gerbang besar sebelah dalam yang menuju ke tempat persemayaman Sultan Trenggono, salah seorang dari prajurit itu berkata, "Beri tahu pada Sultan bahwa kami ingin menghadap."

"Malam-malam begini, ada apa...?"

"Sesuatu telah terjadi dengan rombongan Gusti Ayu Ning Larasati. Kuharap kau jangan banyak tanya dulu. Aku harus memberikan laporan!"

Mendengar itu prajurit-prajurit yang mengawal pintu gerbang tersebut segera masuk ke dalam. Beberapa saat kemudian dia keluar lagi dan menerangkan bahwa Sultan telah siap menunggu di ruangan dalam. Dengan masih membawa sosok tubuh perempuan, kedua prajurit tadi bertindak masuk.

Air muka Sultan Trenggono tampak berobah melihat masuknya dua prajurit itu. Sementara kedua prajurit menjura, mata Sultan memandang lekat-lekat pada perempuan yang ada di bahu kiri salah seorang dari prajurit yang datang menghadap.

"Kalau aku tidak salah itu adalah pengasuh Larasati.

Apa yang terjadi? Dan mana puteriku?" tanya Sultan Trenggono.

"Kami dalam perjalanan pulang dari Leces. Perempuan ini kami temui di tengan jalan di antara mayat-mayat prajurit kerajaan. Sebuah kereta istana juga kami temui di situ dalam keadaan kosong."

Sultan Trenggono berdiri dari kursinya. Untuk beberapa lamanya dia hanya bisa tegak mematung dengan mulut menganga dan kedua mata terbuka lebar.

"Pasti rombongan puteriku telah dihadang orang-orang jahat. Semua prajurit pengawal mati katamu?"

"Betul Sultan. Bahkan mayat Raden Mas Panawa kami dapati di antara korban yang tewas. Kami belum sempat mengurus mayat-mayat itu karena ingin cepat-cepat melapor."

"Celaka...," desis Sultan Trenggono. Dia maju beberapa langkah. Ditelitinya sosok tubuh perempuan yang dipanggul. "Masih hidup?"

Prajurit yang ditanya mengangguk. "Bawa dia ke salah satu kamar di belakang. Panggil tabib dan usahakan agar dia siuman secepat mungkin agar bisa ditanyai."

Sebelum menjalankan perintah dua prajurit itu menjura lebih dulu. Pengasuh yang pingsan dimasukkan ke dalam sebuah kamar. Tabib dipanggil dan segera datang. Begitu perempuan itu siuman Sultan Trenggono segera diberitahu dan segera datang.

"Kau ikut bersama rombongan Larasati bukan?" "Betul Sultan..."

"Kau ditemui dalam keadaan pingsan. Katakan apa yang terjadi."

Pengasuh Ning Larasati itu menyeka peluh di keningnya lebih dulu baru menjawab dengan muka yang masih pucat.

"Waktu itu kami baru saja meninggalkan desa Kalicamat. Tiba-tiba hamba dengar ringkikan-ringkikan kuda dan suara bentakan. Ternyata rombongan kami telah dihadang orang jahat. Mereka berjumlah empat orang, berpakaian serba hitam. Raden Mas Panawa turun dari kuda, bertempur dengan salah satu orang jahat itu. Lalu perkelahian terjadi. Walau mereka berjumlah cuma empat tapi ternyata mereka memiliki kepandaian tinggi. Perwira muda itu dan seluruh pengawal menemui ajal. Gusti Ayu dipaksa keluar dari kereta dan dilarikan. Hamba..., hamba tak kuasa melindunginya karena hamba ditendang dan tak ingat apa-apa lagi..."

Sultan berpaling pada prajurit-prajurit yang telah menemukan pengasuh itu. "Apa kalian sudah meneliti tempat kejadian itu dan tidak menemukan puteriku?"

"Sudah Sultan dan Gusti Ayu tidak ada di situ."

Sultan merasakan dadanya sesak. "Panggil Brajaseta kemari!" perintahnya.RAJASETA adalah Perwira Tinggi di Demak yang memegang jabatan sebagai Kepala Pasukan Kerajaan. Orangnya tinggi kekar. Dia amat disegani dan dihormati karena ilmu silat dan kesaktiannya yang tinggi.

Begitu Brajaseta memasuki kamar Sultan Trenggono segera menerangkan apa yang telah terjadi dan memberi perintah agar saat itu juga Brajaseta bersama beberapa perwira kerajaan dan seratus prajurit melakukan penyelidikan dan pengejaran.

"Selambat-lambatnya besok pagi aku harus sudah mendapat kabar tentang puteriku itu!" Lalu dengan hati masygul Sultan meninggalkan tempat tersebut. Baginya kehilangan empat peti uang dan perhiasan bukan menjadi apa dibandingkan dengan keselamatan puteri yang sangat disayanginya itu meski cuma puteri dari seorang selir.

Sultan Trenggono baru saja masuk ke dalam kamarnya sewaktu tiba-tiba pintu diketuk dan Brajaseta muncul di ambang pintu.

"Ada apa Brajaseta? Bukankah kau seharusnya sudah berangkat?"

Perwira Tinggi itu menjura. "Harap dimaafkan Sultan.

Ketika saya menemui tokoh-tokoh silat istana untuk berunding, seorang pengawal mengatakan ada seorang lelaki ingin menghadap Sultan. Ketika ditanya maksud kedatangannya dia tidak mau menerangkan. Katanya dia hanya mau bicara dengan Sultan dan katanya ada sangkutpautnya dengan malapetaka yang barusan dilaporkan."

"Bawa orang itu kemari!" kata Sultan seraya mendudukkan diri di kursi.

Sultan tak menunggu lama. Pintu ruangan terbuka dan Brajaseta bersama dua prajurit masuk membawa seorang laki-laki berpakaian kumal, bermuka lusuh. Di hadapan Sultan orang ini menjura dalam-dalam.

"Terangkan siapa kau dan jelaskan maksud kedatanganmu," kata Sultan setelah lebih dulu meneliti orang itu beberapa saat lamanya.

"Nama hamba Wiku Tembereng. Hamba seorang petani miskin dari desa Kalicamat. Pagi tadi hamba dalam perjalanan ke hutan untuk mencari kayu jati. Tiba-tiba di balik semak belukar hamba lihat empat orang laki-laki berpakaian serba hitam. Mereka membicarakan sesuatu.

Karena sikap mereka mencurigakan maka diam-diam hamba mencuri dengar apa yang dibicarakan. Rupanya mereka adalah perampok-perampok Hutan Roban yang hendak melakukan penghadangan. Nama-nama mereka adalah Parereg, Rah Gludak dan Kunto Handoko. Orang keempat tak tahu jelas siapa namanya. Keempatnya menyebut nama Gusti Ayu Ning Larasati..."

"Tunggu dulu!" potong Sultan Trenggono. "Bagaimana kau bisa tahu nama ketiga orang itu?"

Si petani menelan ludahnya dan menjawab, "Mereka bicara saling memanggil nama..."

"Teruskan keteranganmu!"

"Yang bernama Parereg rupanya yang menjadi pimpinan di antara mereka. Hamba dengar dia mengatur rencana penghadangan dan pelarian. Begitu penghadangan berhasil, salah seorang kawannya disuruhnya lari ke timur. Dua orang membawa lari barang rampokan ke sebuan kuil di Bukit Mangatas dan menanamnya dalam lobang. Parereg sendiri hamba dengar mengatakan bahwa dia akan menculik Gusti Ayu dan menyembunyikannya di satu tempat lalu akan melakukan pemerasan terhadap Sultan..."

"Bedebah!" maki Sultan sambil kepalkan tinju.

"Apa kau tahu ke mana Gusti Ayu dibawa?" tanya Brajaseta pada si petani.

"Hamba tidak tahu, perwira," jawab si petani, "Namun menurut Parereg besok mereka akan bertemu di Bukit Mangatas itu dan kemungkinan Parereg akan membawa Gusti Ayu ke situ."

Sunyi seketika.

"Coba kau terangkan ciri-ciri orang bernama Parereg itu," kata Brajaseta.

Wiku Tembereng menerangkan ciri-ciri Lor Parereg.

"Kemudian apa yang terjadi?" tanya sang perwira.

"Sebelum hamba ketahuan berada di situ, hamba cepat-cepat pergi dan pulang ke rumah. Hamba ceritakan kejadian itu pada istri hamba dan dia mengusulkan agar hamba cepat-cepat memberi tahu istana. Hamba seorang petani miskin, tak punya kuda. Hamba jalan kaki untuk datang kemari. Itu sebabnya malam-malam begini baru sampai."

Sultan berpikir sejenak. Lalu berpaling pada Brajaseta.

"Bagaimana pendapatmu Dimas Brajaseta?"

"Ada baiknya jika saya melakukan penyelidikan dulu ke Bukit Mangatas."

"Bolehkah hamba mengemukakan pendapat?" tiba-tiba si petani menyeletuk.

Semua mata ditujukan pada Wiku Tembereng.

"Bicaralah," kata Sultan pula.

"Rampok-rampok Hutan Roban rata-rata licik dan amat cerdik dalam melakukan segala tindakan. Hamba khawatir penyelidikan pendahuluan yang akan diadakan diketahui oleh mereka. Mungkin Sultan bisa mendapatkan semua harta yang ditanam di kuil itu kembali. Tapi Parereg tentu bakal diberi laporan sehingga dia tak jadi datang ke situ. Ini berarti Gusti Ayu tak bakal bisa diselamatkan. Menurut pendapat hamba yang tolol ini sebaiknya dilakukan penyergapan pada tengah hari besok. Yaitu pada saat keempat penjahat itu melakukan pertemuan di Bukit Mangatas di mana Parereg akan datang membawa Gusti Ayu..."

Apa yang dikatakan petani ini memang ada benarnya.

Untuk beberapa lamanya semua orang berdiam diri. Akhirnya Sultan Trenggono memecah kesunyian.

"Apa yang kau katakan itu pantas untuk dipikirkan." Lalu Sultan berpaling pada salah seorang pembantu.

"Berikan lima keping uang perak dan seekor kuda padanya untuk pulang ke rumah."

"Sultan," si petani berkata seraya menjura, "apa yang hamba lakukan ini sama sekali tidak mengharap pamrih balas jasa. Itu adalah kewajiban."

Sultan tersenyum. Dia memberi isyarat. Si petani dibawa keluar ruangan.

"Sultan," kata Brajaseta begitu si petani pergi, "Hamba merasakan ada hal-hal yang tidak wajar pada diri petani yang mengaku bernama Wiku Tembereng itu."

"Hem, apa maksudmu Brajaseta?"

"Sikap hormat dan bicaranya seperti dibuat-buat..."

Sultan tersenyum "Lebih tepat kalau dikatakan petani itu agak gugup berhadapan dengan kita. Tapi itu bukan alasan untuk curiga. Seorang rakyat biasa yang tak pernah masuk istana dan berhadapan dengan rajanya, biasanya gugup macam begitu."

"Hal lain yang mencurigakan hamba...," kata Kepala Pasukan Demak itu, "ialah jalan pikirannya yang cerdik.

Seorang petani biasa tak mungkin bisa mengemukakan pendapat secerdik dia..."

Sultan melambaikan tangannya. "Lenyapkan segala kecurigaanmu. Tidak selamanya rakyat jelata atau orang dari kalangan rendah itu berotak tolol. Banyak dari mereka yang pandai dan cerdik."

"Satu lagi Sultan," kata Brajaseta masih belum mau mengalah. "Wiku Tembereng menerangkan bahwa dia telah berjalan kaki dari desanya kemari. Tadi saya perhatikan.

Boleh dikata hampir tak ada debu yang melekat di kedua kakinya. Mana mungkin..."

"Sudahlah. Yang penting sekarang siapkan orangmu dan besok siang tepat tengah hari sudah harus ada di Bukit Mangatas." Habis berkata begitu Sultan Trenggono berdiri. Brajaseta tak bisa berbuat apa-apa lagi padahal tadi dia sudah punya rencana untuk memanggil petani itu kembali. Dalam hatinya dia tetap menaruh syak wasangka.

Sementara itu si petani yang mengaku bernama Wiku Tembereng memacu kuda hadiahnya keluar dari Kotaraja.

Sepanjang jalan lima keping uang perak yang dimasukkannya ke dalam saku pakaian berdering-dering. Sepanjang jalan itu pula di mulut Wiku Tembereng tersungging senyum.

"Kukira cuma si Kunto Handoko saja manusia tolol di dunia ini! Kiranya Sultan dan Kepala Pasukan Demak itupun bisa kutipu! Ha... ha! Dan si Parereg itu pasti akan terjebak kalau dia betul-betul datang ke Bukit Mangatas besok!"

Sekali lagi Wiku Tembereng tertawa terbahak-bahak.

Memang cukup lucu karena namanya sebenarnya bukanlah Wiku Tembereng melainkan Tunggul Bayana.KETIKA pada tengah hari itu Rah Gludak sampai di Bukit Mangatas, terkejutlah dia. Kunto Handoko ditemuinya menggeletak tak bergerak di tanah. Rah Gludak melompat dari punggung kuda dan langsung menghampiri sosok tubuh kawannya. Hatinya lega sedikit ketika mengetahui bahwa Kunto Handoko masih bernafas meskipun satu-satu seperti orang siap sekarat "Apa yang terjadi dengan dirinya," pikir Rah Gludak. Dia memandang berkeliling. "Di mana pula si Tunggul Bayana.

Seharusnya dia ada di sini saat ini."

Selintas pikiran muncul di benak Rah Gludak. Dia cepat berdiri dan setengah berlari menuju ke bagian belakang kuil. Sepasang matanya jadi melotot. Lobang yang tempo hari digalinya bersama teman-temannya kosong melompong, tak beda dengan keadaan sebelumnya.

"Apa yang terjadi! Mungkinkah Tunggul Bayana berkhianat?!"

Rah Gludak cepat berpaling ketika didengarnya suara kaki-kaki kuda dari arah belakang. Semula disangkanya Tunggul Bayana. Yang muncul ternyata Lor Parereg.

"Apa yang terjadi dengan Kunto Handoko?" tanya Lor Parereg.

Rah Gludak melihat bibir Lor Parereg pecah. Dia menjawab, "Ada yang tak beres di sini Parereg. Tunggul Bayana tidak kelihatan mata hidungnya! Harta-harta rampokan juga tidak ada. Lobang yang kita gali tempo hari ternyata kosong melompong!"

Berobahlah paras Lor Parereg. Sekali lompat saja dia sudah berada di tepi lobang.

"Keparat!" kata Lor Parereg sambil mengepalkan tinju.

"Pasti si Tunggul Bayana itu berkhianat!" Dia kelihatan marah sekali. Pelipisnya bergerak-gerak. Lalu dia pergi ke bagian depan kuil dan memeriksa tubuh Kunto Handoko.

"Dia telah diracuni!" kata Lor Parereg setelah meneliti keadaan Kunto Handoko. Bibirnya jelas kelihatan membiru.

Kemudian dilihatnya bekas totokan pada pangkal leher anak buahnya itu. "Untung dia masih bisa menotok jalan darahnya. Kalau tidak pasti dia sudah mati saat ini!"

Dari balik pakaiannya Lor Parereg mengeluarkan satu lipatan kertas berisi sejenis bubuk berwarna putih. Bubuk ini dimasukkannya ke dalam mulut Kunto Handoko.

Setelah menunggu beberapa lama dilepaskannya totokan pada pangkal leher laki-laki itu. Tak selang berapa lama Kunto Handoko membuka kedua matanya perlahan-lahan.

Lor Parereg yang sudah tak sabaran menepuk-nepuk muka anak buahnya itu.

"Hai! Ayo bangun! Bangun! Sadar, jangan mimpi!"

Lor Parereg menyandarkan kepala Kunto Handoko pada reruntuhan tembok kuil. Sepasang mata Kunto Handoko memandang berkeliling. Dia berusaha mengumpulkan ingatannya kembali.

"Ceritakan apa yang terjadi," kata Lor Parereg.

Yang ditanya masih berdiam diri macam orang bingung.

"Ayo ceritakan! Kau kutemui menggeletak pingsan. Apa yang terjadi? Siapa yang punya pekerjaan? Ayo!" Kembali Lor Parareg menepuk-nepuk pipi Kunto Handoko.

Rasa sakit pada mukanya memulihkan ingatan Kunto Handoko. Tapi yang dilakukan laki-laki ini bukannya menjawab pertanyaan Lor Parereg melainkan duduk bersila mengatur jalan nafas dan darahnya. Lor Parereg menggerutu habis-habisan. Tapi dia memaklumi apa yang dilakukan Kunto Handoko itu adalah satu keharusan yaitu untuk menghindarkan luka dalam akibat keracunan.

Selesai mengatur jalan nafas dan peredaran darahnya Kunto Handoko muntah-muntah. Dadanya yang tadi sesak perlahan-lahan terasa lega. Kepalanya yang berat kini menjadi enteng.

"Sekarang cepat terangkan apa yang terjadi!" kata Lor Parereg tak sabar lagi.

Kunto Handoko lalu menerangkan bahwa dia dan Tunggul Bayana sampai di tempat itu sekitar tengah hari kemarin. Diceritakannya bagaimana Tunggul Bayana mengkhawatirkan luka di bahunya lalu memberikan sebutir obat. Tak lama sesudah obat itu ditelannya kepalanya terasa berat. Dadanya sakit, lalu dia muntah-muntah dan tak ingat apa-apa lagi.

"Tunggul Bayana keparat haram jadah!" Suara Lor Parereg menggeram bergetar. "Berani dia mengkhianati kita! Kita harus cari dia dan cincang sampai lumat!"

"Dia pantas digantung kaki ke atas kepala ke bawah.

Lalu dihukum picis!" kata Rah Gludak yang sejak tadi diam saja.

Ketiga orang itu melangkah menuju ke kuda masingmasing.

Namun langkah mereka serta- merta terhenti.

Sepasang kaki mereka laksana dipantek ke tanah. Mata mereka membeliak dan memandang berkeliling.

Sesaat itu dari balik semak belukar muncul puluhan prajurit bersenjata lengkap, mengurung puncak bukit itu dalam dua lapor berbentuk lingkaran. Seorang lelaki berpakaian perwira dan bertubuh tinggi kekar diiringi oleh dua orang pemuda yang juga mengenakan seragam perwira kerajaan melangkah kehadapan Lor Parereg dan dua kawannya.

"Kalian bertiga sudah terkurung!" kata perwira yang paling depan dan bukan lain adalah Brajaseta. "Tidak ada guna melawan. Menyerah lebih baik!"

"Apa-apaan ini?!" tanya Lor Parereg membentak.

"Kau dan dua kawanmu kami tangkap Parereg! Dan jangan banyak mulut!" kata Brajaseta pula.

"Ditangkap?" Sepasang mata Lor Parereg melotot dan berputar liar "Bah! Kami tidak ada urusan dengan kalian kecoak-kecoak kerajaan!"

Brajaseta menyeringai mendengar dirinya dan anak buahnya disebut kecoak kerajaan. Dengan kedua tangan diletakkan di pinggang Brajaseta kembali membuka mulut, "Kau dan kawan-kawanmu telah menghadang rombongan Gusti Ayu Ning Larasati. Merampok barang-barang kerajaan dan menculik puteri Sultan!"

Lor Parereg orangnya memang pandai dan licik. Dia memandang pada Kunto Handoko dan Rah Gludak. Ketiga orang itu lalu tertawa gelak-gelak. Dua perwira muda yang turut bersama Brajaseta kelihatan sudah tidak sabar untuk buru-buru turun tangan. Namun tanpa mendapat isyarat atau perintah mereka tidak berani bertindak mendahului.

Sambil balas berkacak pinggang Lor Parereg berkata, "Perwira, kau lihatkah matahari bersinar terik di atas batok kepalamu? Ini satu pertanda bahwa saat ini tengah hari bolong! Dan adalah aneh kalau kau bicara melantur macam orang mimpi mengigau! Jangan menuduh yang bukan-bukan! Jangan mimpi di siang bolong!"

Dengan tenang malah sambil tertawa Brajaseta menjawab, "Mungkin kau yang mimpi Lor Parereg!"

"Hem, tunggu dulu! Dari mana kau tahu namaku Lor Parereg?!"

"Tanya jawab ini bisa kita lanjutkan nanti di Kotaraja!"

jawab Brajaseta. Dia memandang berkeliling. "Setahuku kalian berjumlah empat orang. Mana kunyuk yang satu lagi?!"

Lor Parereg geleng-gelengkan kepala.

"Sebaiknya jangan teruskan mimpi anehmu itu. Sekali aku bilang tak ada urusan dengan kalian, tetap tak ada urusan. Sekarang minggir! Beri jalan!"

"Hem kau mau ke mana Parereg? Jika hendak pergi ke Kotaraja kami akan mengantarkan kau dan kawan-kawanmu ke sana!" kata Brajaseta pula. Lalu dia goyangkan kepala pada dua perwira muda di sampingnya. Ketiganya maju bersamaan.

"Gila! Kalian hendak turun tangan terhadap orang yang tidak punya salah apa-apa?!" teriak Lor Parereg.

"Kejahatan kalian telah jelas. Segala apa yang kalian bicarakan sudah kami dengar. Jika kau dan teman-temanmu tidak mau menyerahkan diri dengan damai, kekerasan mungkin lebih baik!"

"Cara kekerasan dan mengeroyok! Pengecut! Kau mengandalkan puluhan prajurit!" kata Lor Parereg.

"Jangan khawatir. Prajurit-prajurit itu hanya menjadi penonton. Kecuali kalau kau coba melarikan diri!"

"Perwira tolol! Kau mencari mati!" bentak Lor Parereg lalu hunus kerisnya. Kunto Handoko dan Rah Gludak mencabut pedang. Brajaseta serta dua perwira muda segera pula mengeluarkan senjata masing-masing yakni sebatang pedang berukuran pendek. Sesaat kemudian pertempuran satu lawan satu berkecamuk hebat.

Dalam memainkan keris Lor Parereg tidak kalah hebat jika dibandingkan dengan cara dia memainkan pedang.

Tubuhnya berkelebat gesit sekali. Kerisnya seolah-olah lenyap dan senjata itu menderu-deru sebat menusuk dan membabat kian kemari secara tidak terduga dan ganas.

Selama malang melintang menjadi kepala rampok Hutan Roban betapapun tangguh lawan yang dihadapinya, paling lama si lawan hanya sanggup bertahan sampai duapuluh jurus. Tapi kali ini setelah berkelahi sepuluh jurus saja Lor Parereg segara menyadari bahwa lawan yang dihadapinya memiliki tingkat kepandaian yang tinggi. Dalam waktu dekat dia pasti akan roboh di tangan lawan! Meskipun demikian Lor Parereg tidak mau menyerah mentahmentah.

Segala tipu daya dan jurus-jurus ilmu silat simpanannya dikeluarkan. Permainan kerisnya sekali-kali diseling dengan pukulan tangan kosong yang hebat. Bahkan dia berulang kali melepaskan pukulan sakti Angin Empat Racun. Tapi kesemuanya itu sia-sia belaka.

Kalau dengan bersenjata Lor Parereg tidak sanggup mempertahankan diri lama-lama maka tanpa senjata dua jurus kemudian dia tidak dapat berbuat apa-apa ketika hulu pedang pendek di tangan Brajaseta membalik dan menghantam ganas keningnya. Lor Parereg menggeletak pingsan. Dua orang prajurit atas perintah Brajaseta dengan cepat meringkusnya, mengikat tangan serta kakinya.

Sementara itu perkelahian antara Kunto Handoko dan Rah Gludak melawan dua perwira muda kerajaan tak kalah serunya. Sampai duapuluh jurus suasana kelihatan seim bang. Namun setelah dua perwira itu merobah permainan silat mereka maka dua anak buah Lor Parereg itu jadi dibikin sibuk. Di samping itu tertangkapnya Lor Parereg sedikit banyak mempengaruhi nyali mereka. Sehingga meskipun bertahan mati-matian akhirnya keduanya kena dirobohkan juga. Mula-mula Kunto Handoko terdengar menjerit. Bahu kirinya luka parah disambar pedang lawan.

Lalu satu tendangan pada dadanya membuat tubuhnya mencelat dan roboh tak sadarkan diri.

Rah Gludak mengalami nasib sama. Masih untung dia tidak mendapat luka-luka. Tubuhnya kena ditotok pada bagian bawah ketiak. Dia tergelimpang di tanah dalam keadaan kaku.

Brajaseta dan orang-orangnya memeriksa seluruh puncak Bukit Mangatas. Tak satupun yang dapat mereka temui untuk dijadikan bahan pelacakan empat peti harta dan Ning Larasati. Bersama ketiga tawanan itu akhirnya mereka kembali ke Kotaraja. Tapi Brajaseta tak lupa untuk menempatkan beberapa prajurit di situ guna mengawasi daerah tersebut.SETELAH dihadapkan pada Sultan Trenggono ketiga tawanan dimasukkan ke sebuah ruangan di bawah tanah. Di situ terdapat berbagai macam alat-alat aneh untuk menyiksa manusia. Masih dalam keadaan terikat Lor Parereg dan kawan-kawannya dibaringkan di lantai kotor yang ada bekas-bekas darahnya. Dekat kaki dan kepala mereka terdapat sebuah roda besar dari kayu yang dicanteli rantai besar. Setiap roda kayu ditangani oleh seorang juru penyiksa.

"Parereg," menegur Brajaseta. "Kau tidak terlalu tolol untuk mengetahui di mana kau berada bukan?"

Sesaat Lor Parereg memandang berkeliling. Lalu dia berpaling pada Brajaseta dan dua perwira muda yang berdiri disamping Kepala Pasukan Demak itu. Tiba-tiba dia menyeringai aneh.

"Manusia-manusia tak berdaya dijebloskan ke dalam ruang penyiksaan. Apakah ini tindakan manusia yang mengaku beradab?"

Brajaseta keluarkan suara mendengus. "Terhadap manusia-manusia macammu dan kawan-kawanmu tak perlu diributkan soal peradaban. Peradaban tak ada kamusnya untuk manusia-manusia biadab macam kalian!

Duapuluh prajurit Demak kalian bunuh. Bahkan juga seorany perwira Kerajaan. Apakah itu beradab?"

"Mereka sudah ditakdirkan mati! Aku muak bicara tentang manusia-manusia yang sudah mati!"

"Sebentar lagi kaupun akan mati Parereg. Juga dua kawanmu ini!"

"Oh begitu?"

"Ya!"

"Berarti Sultan Trenggono akan kehilangan empat peti uang serta barang-barang berharga. Akan kehilangan puteri yang paling dikasihinya untuk selama-lamanya!" ujar Lor Parereg lalu tertawa gelak-gelak,

"Bagus!" ujar Brajaseta. "Kau rupanya bukan seekor tikus yang takut mati. Tapi ingat kematian itu bukan apaapa.

Hanya beberapa detik saja. Tapi saat-saat menjelang kematian itu yang justru amat mengerikan. Lebih menyiksa dan lebih kejam dari kematian itu sendiri!"

Lor Parereg tertawa dingin. "Hari ini kau boleh gembira dengan kematianku. Hari ini kau boleh berpesta pora dengan kematian kami bertiga. Tapi jangan lupa sobat, pesta kematianmu-pun kelak bakal tiba. Lebih meriah dari kematian kami!"

Brajaseta mengangkat tangan memberi isyarat. Prajuritprajurit yang berada di samping roda-roda besar mengikat kedua tangan dan kaki tiga rampok Hutan Roban itu. Lalu roda-roda itu mulai diputar hingga tubuh Lor Parereg, Kunto Handoko dan Rah Gludak terangkat ke atas. Setiap kali roda itu diputar, kaki dan tangan meraka tambah meregang hingga akhirnya ketiganya terpental di atas lantai!

"Kita mulai lagi bicara, Parereg!" kata Brajaseta.

"Sekarang kau tentu lebih sedap untuk berbincangbincang.

Nah di mana kau sembunyikan Gusti Ayu Ning Larasati?"

Lor Parereg menyeringai. Antara dendam dan kesakitan. "Tanyakan pada roh manusia-manusia yang pernah kau siksa sampai mati di ruangan ini!" katanya.

"Di mana kau simpan barang-barang rampokan?"

"Tanyakan pada setan nereka!"

"Di mana kawanmu yang seorang lagi?" tanya Brajaseta lagi.

"Tanya pada dedemit Hutan Roban," sahut Lor Parereg.

Rahang Brajaseta menggembung. Dia memberi tanda pada juru putar yang ada di dekat Kunto Handoko. Dua prajurit ini segera memutar roda-roda kayu itu. Makin kencang, makin kencang hingga tubuh Kunto Handoko tambah meregang. Keringat memercik di muka dan seluruh tubuh perampok ini. Dia mengernyit tanda menahan sakit yang amat sangat. Dan roda-roda penyiksa itu masih terus diputar. Kunto Handoko merasa sepasang kaki dan tangannya seperti mau tanggal berserabutan. Sakitnya bukan kepalang. Dia menjerit mengerikan. Untuk beberapa lamanya suara jeritannya masih menggema di ruangan penyiksaan itu!

"Kau dengar jeritan itu Parereg!" kata Brajaseta seraya menyeringai.

Lor Parereg tak menjawab. Matanya memandang ke langit-langit ruangan.

Brajaseta memberi isyarat. Kini pada dua prajurit yang menjaga roda-roda kayu penyiksa Rah Gludak. Salah seorang dari mereka mendekati Rah Gludak lalu merobek bajunya. Kawannya mengeluarkan segulung cambuk.

Benda ini diputar-putarnya di udara hingga mengeluarkan suara menderu-deru. Tiba-tiba cambuk itu melesat ke bawah dan menghantam dada Rah Gludak yang terbuka.

Rah Gludak memekik kesakitan. Lalu mulutnya terkancing menahan rasa sakit. Di saat itu kembali cambuk melanda tubuhnya. Lagi dan lagi hingga Rah Gludak berteriak tiada henti macam orang gila. Dadanya penuh dengan guratan-guratan luka yang dalam. Darah membasah.

Dari dalam sakunya salah seorang prajurit mengeluarkan sebuah jeruk nipis. Dia menggigit buah ini lalu memerasnya di atas dada Rah Gludak yang berlumuran darah. Rah Gludak melolong setinggi langit sewaktu air perasan jeruk itu membasahi luka-luka di dadanya!

"Kau dengar lolongan itu Parereg?" tanya Brajaseta dekat-dekat ke telinga Lor Parereg. Yang ditanya masih tetap memandang ke langit-langit ruangan.

"Kau mendengar. Pasti mendengar. Tapi kau pura-pura mempertuli telingamu. Pura-pura tak mendengar. Kau tak mungkin lari dari kengerian itu. Karena kau juga bakal mengalaminya. Bakal merasakannya! Kecuali kalau kau mau buka mulut!"

"Buka mulut soal apa?!" tanya Lor Parereg. Meski dia sudah tahu keterangan apa yang diinginkan Brajaseta tapi dia pura-pura bertanya mengulur waktu.

"Tentang Gusti Ayu Larasati. Tentang barang-barang kerajaan yang kau rampok. Juga tentang kawanmu yang seorang lagi!" jawab Brajaseta.

"Dua pertanyaanmu yang pertama tak bisa kujawab!" kata Lor Parereg.

"Aneh!" sahut Brajaseta sambil rangkapkan lengan di muka dada.

"Aku tidak tahu di mana Gusti Ayu Larasati. Juga barang-barang itu!"

Brajaseta manggut-manggut. "Lalu pertanyaan yang ketiga?"

"Aku juga tidak tahu di mana dia berada sekarang.

Namanya Tunggul Bayana. Dia pengkhianat busuk! Kelak akan kucincang tubuhnya sampai lumat!"

"Aku tak percaya padamu Parereg. Lekas katakan di mana Gusti Ayu dan empat peti itu berada!"

"Sekalipun kau korek biji mataku, aku tak bakal dapat memberi keterangan karena aku betul-betul tidak tahu!"

"Pengasuh Gusti Ayu mengatakan kaulah yang telah menculik Gusti Ayu!"

"Perempuan itu tentu sudah miring otaknya akibat tendanganku!" kata Lor Parereg. "Ada satu hal yang ingin kutanyakan. Bagaimana kau tahu bahwa aku dan kawankawan ada di Bukit Mangatas?"

"Dedemit Hutan Roban yang mengatakan padaku!" jawab Kepala Pasukan Demak.

Lor Parereg tertawa. "Rupanya kau juga bisa bergurau sobat! Apakah kau juga bersedia melepaskan ikatan rantai besi pada tangan dan kakiku?"

"Itu soal gampang saja. Asal kau mau memberi keterangan!" sahut Brajaseta.

"Aku benar-benar tidak tahu!"

"Kalau begitu biar alat penyiksa itu yang akan menanyakannya padamu!" Brajaseta mulai jengkel. Dia melambaikan tangannya pada dua prajurit. Keduanya segera memutar roda-roda kayu. Kaki dan tangan Lor Parereg terpentang makin tegang. Lor Parereg merasa ajalnya segera akan sampai. Bagaimanapun dia tak mau mati.

"Tunggu dulu!" teriak Lor Parereg.

"Ah, kau mau bicara Parereg?!" tanya Brajaseta.

"Ya."

"Bicaralah! Itu lebih bagus daripada tangan dan kakimu tanggal satu demi satu!"

"Dekatkan telingamu Brajaseta. Apa yang hendak kukatakan ini rahasia sekali!"

Brajaseta mendekatkan telinganya ke muka Lor Parereg. Saat itu pula Lor Parereg berteriak, "Kau keparat gila!"

"Bangsat kurang ajar!" teriak Brajaseta. Kedua tangannya kiri kanan meninju muka Lor Parereg hingga babak belur. Kedua matanya menggembung bengkak.

Bibirnya pecah dan hidung melelehkan darah kental.

"Kepala Pasukan Demak ternyata saorang manusia pengecut! Hanya berani pada orang yang tidak berdaya!"

Brajaseta jadi panas.

"Lepaskan ikatannya."

Dua prajurit segera melakukan perintah itu. Ikatan rantai besi pada kaki dan tangannya dicopot. Dia berdiri dengan sempoyongan, bersandar ke salah satu roda kayu.

Sepasang matanya menyorotkan dendam kesumat.

"Lor Parereg! Akan kubuktikan bahwa aku bukan pengecut! Mulailah!" kata Brajaseta.

Lor Parereg maju selangkah. Tiba-tiba dia menerjang ganas. Kedua tangannya dipukulkan serentak. Delapan larik asap menggebu ke arah Kepala Pasukan Demak itu.

Brajaseta melompat ke atas. Pukulan Angin Empat Racun yang dilepaskan Lor Parereg menghantam sebuah rak yang berisi seperangkat alat-alat penyiksa. Benda-benda itu hancur berantakan berikut raknya.

"Keluarkan semua kesaktianmu Parereg!" kata Brajaseta yang tetap tenang sambil memasang kuda-kuda.

Keduanya berputar-putar mengintai kelemahan dan kelengahan lawan.

Tiba-tiba Lor Parereg menyambar sepotong besi dan dengan benda itu dia menyerang Brajaseta dalam jurusjurus ilmu pedang yang ganas.

Untuk beberapa jurus lamanya Brajaseta harus berlaku hati-hati karena Lor Parereg kelihatan sangat kalap.

Potongan besi di tangannya yang cukup berat itu menderuderu lenyap menjadi sinar hitam dan mengurung Brajaseta.

"Ciaat!"

Kepala Pasukan Demak itu membentak nyaring.

Tubuhnya berkelebat lenyap. Lor Parereg merasakan sambaran angin di punggungnya. Dengan cepat dia memutar batangan besi ke belakang lalu membalik sambil melancarkan satu pukulan tangan kosong dengan tangan kiri.

Sekali lagi Brajaseta membentak dan sekali lagi pula tubuhnya berkelebat lenyap. Kembali Lor Parereg merasakan ada sambaran angin serangan di belakangnya. Seperti tadi kembali dia membalik seraya hantamkan potongan besi. Tapi kali ini dia hanya sempat membuat gerakan setengah memutar karena saat itu satu pukulan keras menghantam lengannya. Lor Parereg mengeluh kesakitan.

Tulang lengannya seperti patah. Potongan besi terlepas dan jatuh ke lantai ruangan.

Lor Parereg masih belum melihat di mana saat itu lawannya berada. Tahu-tahu satu jotosan keras melanda mukanya. Kepalanya serasa meledak. Sesaat dia tertegak nanar lalu roboh pingsan dengan muka matang biru babak belur.

"Ikat dia kembali!" perintah Brajaseta. Bersama dua perwira muda itu dia lalu meninggalkan ruang penyiksaan.HARI ITU adalah hari yang kedua Lor Parereg dan kawan-kawannya disekap di ruang penyiksaan.

Ketiganya masih dipentang di atas roda kayu.

Mereka sama sekali tidak diberi makan, hanya diberi minum sedikit. Keadaan ketiganya seperti setengah sekarat.

Kunto Handoko membuka kedua matanya yang bengkak. Dengan lemah dia berpaling pada Lor Parereg.

Dilihatnya kedua mata Lor Parereg tertutup. Tubuhnya tak bergerak. Sudah matikah dia, pikir Handoko.

"Kau tidur atau pingsan atau mati Parereg?" tanya Kunto Handoko.

"Sialan! Kau kira di sorgakah kita saat ini hingga aku bisa tidur?!" terdengar suara Lor Parereg. Suaranya masih keras tapi kedua matanya yang gembung tetap tertutup.

"Ajal kita tak lama lagi tamat di tempat terkutuk ini!"

bicara lagi Kunto Handoko sementara Rah Gludak diamdiam ikut mendengarkan pembicaraan itu.

"Kita tak bakal dibunuh. Aku yakin!" kata Lor Parereg.

"Yakin?" ujar Handoko. "Bagaimana kau bisa yakin?"

"Selama mereka belum tahu di mana puteri Sultan berada, selama itu pula mereka akan membiarkan kita hidup."

"Tapi aku tak tahan siksaan-siksaan yang mereka lakukan. Cepat atau lambat kita bakal mati!" Kali ini Rah Gludak ikut bicara.

Sunyi sejenak.

Kemudian terdengar Kunto Handoko bertanya, "Sebenarnya di mana kau sembunyikan puteri Sultan Trenggono?"

Lor Parereg berpaling dan memandang pada kawannya.

Dia hendak mengatakan sesuatu tapi saat itu didengarnya pintu ruangan terbuka. Brajaseta masuk diiringi dua orang pengawal. Setelah diberi isyarat dua pengawal itu meninggalkan ruangan. Pintu ditutup kembali. Brajaseta melangkah mengelilingi ketiga tawanan itu, akhirnya dia berhenti di samping sosok tubuh Lor Parereg.

"Setelah dua hari di sini tentunya sekarang kalian merasa kerasan bukan?" tegur Brajaseta mengejek.

"Memang betul. Seperti di rumah sendiri!" sahut Lor Parereg balas mengejek.

"Syukur. Syukur. Sayang kami tidak bisa memberikan makanan yang enak-enak untuk kalian. Minumanmu cuma air comberan!"

"Keparat!" Rutuk Lor Parereg.

"Paling lambat sampai tengah malam nanti kalian bertiga sudah harus mati!" kata. Brajaseta.

"Hem... Rupanya Sultanmu lebih suka kehilangan puterinya," tukas Lor Parereg.

"Semua sudah dipertimbangkan. Tak ada jalan lain.

Kalian harus mati tapi..."

"Tapi apa...?"

"Harus disiksa lebih dulu!" Brajaseta bertepuk dua kali.

Pintu terbuka. Dua prajurit masuk menggotong sebuah anglo tanah berisi api yang berkobar-kobar. Di dalam anglo itu terdapat sebuah besi panjang yang gagangnya diberi lapisan karat. Besi ini ujungnya berbentuk bulat. "Dirangket, dicambuk dan dipukuli memang bukan apa-apa bagi kalian. Tapi pernahkah kalian melihat kerbau atau sapi yang dicap tubuhnya dengan besi panas?" tanya Brajaseta.

Lor Parereg mendengus. Rah Gludak dan Kunto Handoko menjadi pucat wajah masing-masing.

"Parereg!" kata Handoko dengan suara bergetar. "Tak ada gunanya. Sebaiknya terangkan saja di mana puteri Sultan kau sembunyikan!"

"Bangsat! Tutup mulutmu!" sentak Lor Parereg. Dia marah sekali. "Kunyuk-kunyuk Kerajaan ini tetap akan membunuh kita sekalipun kita memberi keterangan!"

Kunto Handoko menggerutu dalam hati. Kalau saja dia tahu di mana puteri itu berada pasti sudah dikatakannya.

"Aku heran mengapa kau jadi orang begini tolol Parereg!" kata Brajaseta seraya melangkah ke anglo besar dan mengeluarkan besi merah panas itu. Lalu dia melangkah mendekati Rah Gludak. Tentu saja orang ini ketakutan setengah mati!

"Parereg!" teriak Rah Gludak. "Lekas kau katakan!

Bicaralah! Bicaralah Parereg! Jangan tolol!"

Tapi Lor Parereg tenang-tenang saja. Seperti tidak mendengar teriakan temannya itu.

Brajaseta menempelkan besi merah yang dipegangnya ke pinggul Rah Gludak. Terdengar suara mendesis seperti bara kena air. Detik itu pula meledak jeritan Rah Gludak.

Bau sangitnya daging yang terpanggang memenuhi ruangan itu. Brajaseta sekali lagi menempelkan besi panas itu ke tubuh Rah Gludak. Sekali lagi pula Rah Gludak berteriak setinggi langit.

"Kau lihat Parereg? Kau dengar?!" ujar Brajaseta.

"Kenapa masih berlaku tolol?!"

"Demi setan aku tidak tahu di mana puteri Sultan berada!" Lor Parereg akhirnya memberi tahu.

"Kalau begitu berteriaklah memanggil setan!" kata Brajaseta pula. Ujung besi panas itu lalu ditempelkannya di kening Lor Parereg.

Cess!

Kulit dan daging kening itu terpanggang merah. Tulang keningnya kelihatan jelas. Jeritan Lor Parereg menggelegar.

Tubuhnya yang terpentang bergoncang-goncang padahal keempat anggota badannya sudah terentang tegang.

Beberapa lamanya ruang penyiksaan itu digelegari oleh jeritan-jeritan Lor Parereg, Rah Gludak dan Kunto Handoko.

Daging tubuh dan muka mereka kelihatan berlobanglobang hangus. Teriakan mereka baru berhenti setelah ketiganya jatuh pingsan.

Brajaseta melemparkan besi panas ke dalam Anglo. Dia berdiri bertolak pinggang. Pelipisnya bergerak-gerak.

"Keparat-keparat tolol semua!" maki Kepala Pasukan Demak ini. Lalu ditinggalkannya ruangan itu.

Malam harinya Brajaseta masuk kembali ke ruangan itu seorang diri. Pintu dikuncinya dari dalam. Ketiga tawanan terpentang tak bergerak di atas roda-roda kayu, entah tidur entah masih pingsan. Brajaseta mendekati Lor Parereg.

Matanya menyipit melihat keadaan tubuh serta muka kepala rampok Hutan Roban itu. Penuh luka-luka, bekasbekas hangus serta darah yang membeku.

Brajaseta menjambak rambut Lor Parereg. "Bangun!" sentaknya.

Lor Parereg tidak bergerak. Kedua matanya yang gembung terus menutup. Kepala Pasukan Demak itu berteriak lebih keras. Terdengar erangan panjang keluar dari sela bibir Lor Parereg. Perlahan-lahan kedua matanya membuka walau hanya sedikit. Mata itu berkaca-kaca oleh cairan kuning sedang di kedua sudut mata mengental bekuan darah.

"Manusia iblis!" desis Lor Parereg. "Siksaan apa lagi yang bakal kau lakukan?!"

"Dengar Parereg, aku mau bicara!"

"Bicara nanti dengan rohku!"

Brajaseta mendekatkan mukanya ke wajah tawanan itu.

"Dengar, semua harta yang kau rampok itu kau boleh ambil. Aku tidak perduli. Tapi beritahu di mana Larasati berada..."

"Heh... untuk pertama kali kudengar kau menyebut nama puteri itu tanpa gelaran Gusti Ayu."

"Itu bukan urusanmu," kata Brajaseta. "Aku punya kepentingan sendiri. Jika kau beri keterangan aku bersumpah untuk melepaskanmu."

Ini satu hal yang aneh bagi Lor Parereg.

"Apa kepentinganmu itu?" dia bertanya.

"Akan kukatakan setelah kau memberi keterangan!"

"Heh, begitu?"

"Ya!"

Lor Parereg menyeringai. "Goroklah batang lehermu!

Dan kau akan tahu di mana puteri itu berada!"

"Rupanya kau tak menginginkan kehidupan lagi? Sudah bosan hidup? Kau tak ingin membalaskan sakit hatimu pada Tunggul Bayana yang telah mengkhianatimu?!"

"Yang aku inginkan saat ini," sahut Lor Parereg pula, "ialah memuntir lehermu dan menghisap darahmu!

Bangsat terkutuk!"

Brajaseta melepaskan jambakannya. Dia melangkah mondar mandir.

"Kau tolol Parereg. Atau mungkin kau tak percaya padaku?!"

"Aku lebih percaya pada setan dari kau!"

Brajaseta berpikir sejenak. "Dengar, kalau kukatakan padamu apa kepentinganku tadi apakah kau mau memberi keterangan?"

Lor Parereg tidak menjawab. Kedua matanya kembali dipejamkan.

"Dengar Parereg, ini satu rahasia. Tapi aku akan terangkan padamu. Aku percaya kau akan memberi tahu di mana Larasati berada." Sesaat Kepala Pasukan Demak itu memperhatikan wajah Lor Parereg, baru meneruskan katakatanya, "Aku sejak lama mencintai puteri Sultan itu.

Secara diam-diam. Aku bahkan telah mengajukan lamaran pada Sultan. Entah mengapa lamaranku ditolak. Nah aku sudah jelaskan kepentinganku. Sekarang lekas kau beritahu di mana Larasati berada. Hidupku akan tersiksa kalau sampai dia celaka, apalagi kalau sampai mati!"

Dalam hatinya Lor Parereg tertawa mendengar katakata Brajaseta itu. Diam-diam otaknya berputar mencari akal.

"Kau akan kulepaskan Parereg. Aku bersumpah!"

"Hanya aku sendiri?" tanya kepala rampok itu.

"Kau dan kedua kawanmu!" jawab Brajaseta.

"Aku tidak percaya."

"Sekali ini kau harus percaya!"

Lor Parereg berpikir sebentar lalu berkata, "Aku juga bersumpah bahwa aku benar-benar tidak tahu di mana puteri Sultan itu berada. Tapi aku bisa menghubungkan kau dengan seseorang yang mengetahui tentang puteri itu."

"Katakan siapa orang itu dan di mana tempatnya," ujar Brajaseta cepat.

"Aku akan katakan dengan satu syarat. Yaitu keluarkan dulu aku bersama kedua temanku dan bawa ke satu tempat yang kuingini."

"Itu satu hal yang tak mungkin. Kau bisa menipuku!" kata Brajaseta.

Lor Parereg terdiam. Dia berpikir lalu, "Aku akan menulis sepucuk surat. Seseorang yang kau percaya bisa disuruh membawa surat itu kepadanya."

Brajaseta mempertimbangkan usul Lor Parereg itu.

Kemudian dia membuka pintu. Dua orang prajurit disuruhnya melepaskan rantai yang mengikat tangan serta kaki Lor Parereg. Karena tubuhnya lemah sekali dan tak sanggup berdiri Lor Parereg digotong ke sudut ruangan, didudukkan di atas sebuah kursi besar. Sehelai kertas dan sebuah pena bulu ayam lengkap dengan tintanya diberikan padanya. Dengan susah payah Lor Parereg menulis.

Tulisannya buruk sekali, apalagi saat itu dia memang tidak dapat menulis secara wajar.

Setelah surat selesai Brajaseta memeriksanya. "Tak sebaris katapun dalam suratmu itu kumengerti!" kata Kepala Pasukan Demak itu.

Lor Parereg tersenyum. "Terus terang aku tidak yakin kau akan memenuhi sumpahmu, Brajaseta. Surat itu sengaja kubuat dalam tulisan rahasia. Jika kau tidak menipuku segala sesuatunya akan berjalan beres..."

Brajaseta menjadi gusar. Tapi dia berlagak tenang. "Ke mana surat ini harus diantar?" tanyanya.

"Ke selatan. Ke Bukit Tuntang," jawab Lor Parereg. "Di puncak bukit itu diam seorang kakek bermata satu.

Berikan surat itu padanya dan dia pasti akan membalas dan memberi tahu di mana puteri Sultan berada."

"Siapa adanya kakek itu?" tanya Brajaseta. "Itu kau tak perlu tahu. Namanya tidak penting. Yang penting bagimu bukankah untuk mengetahui di mana kekasihmu itu berada?" sahut Lor Parereg.

Brajaseta melipat surat itu. Dia berpaling pada dua prajurit tadi dan memerintahkan untuk merejang Lor Parereg kembali di antara dua roda penyiksa.

"Kenapa kau melakukan ini?!" tanya Lor Parereg ketika mendapatkan dirinya diseret kembali ke tempat penyiksaan. "Bukankah kau harus membebaskan aku dan kawankawan?!"

Brajaseta tersenyum. "Kau baru bebas bila Larasati sudah ditemui dan dalam keadaan selamat."

"Bukan begitu perjanjian kita tadi!" Brajaseta hanya ganda tertawa dan tinggalkan tempat itu.

"Keparat penipu! Kau akan rasakan pembalasanku!" teriak Lor Parereg.DARI PINTU gerbang selatan Kotaraja kelihatan seorang perwira muda menunggangi seekor kuda berbulu kelabu. Perwira ini bernama Aria Galing dan merupakan salah seorang bawahan paling dipercaya oleh Kepala Pasukan Demak Brajaseta. Kepadanya telah diserahkan sepucuk surat yang dibuat oleh Lor Parereg untuk diantarkan pada kakek bermata satu yang menurut keterangan Lor Parereg tinggal di puncak Bukit Tuntang.

Aria Galing sengaja diperintahkan berangkat pada sore hari agar bisa sampai esok sorenya di tempat yang dituju.

Perjalanan Aria Galing tidak mendapat kesukaran. Dia hanya membutuhkan waktu untuk tidur dan istirahat di sebuah desa. Sebagai seorang perwira, kepala desa menyambut kedatangannya dengan pelayanan yang baik.

Pagi harinya Aria Galing meneruskan perjalanan. Lewat rembang petang dari kejauhan mulai terlihat Bukit Tuntang, sebuah bukit besar yang tidak ubahnya seperti gunung. Dari kaki bukit menuju ke puncak perjalanan agak sukar. Namun demikian sebelum matahari tenggelam Aria Galing sudah sampai di puncak bukit yang menjadi tujuannya.

Di satu pedataran sempit dan tinggi Aria Galing menghentikan kudanya. Dia memandang berkeliling.

Hatinya lega karena begitu memandang ke jurusan timur terlihat sebuah pondok. Pondok ini terletak di tengah sebuah danau yang luas. Tak ada satu jembatan atau titianpun yang kelihatan. Aria Galing segera menuju ke danau.

Di bawah siraman sinar kuning emas sang surya yang hendak tenggelam, pondok dan danau serta sekelilingnya diselimuti kesunyian. Perwira ini turun dari kudanya dan melangkah ke tepi danau. Tak sebuah perahupun atau rakit kelihatan di sekitar situ. Sesaat dia tegak berpikir, bagaimana dia bisa sampai ke pondok di tengah danau itu.

Apakah dia harus berenang? Dilihatnya danau itu airnya tidak seberapa dalam karena dia dapat melihat jelas dasar danau.

Selagi dia berpikir-pikir begitu tiba-tiba dia dikejutkan oleh belasan potongan bambu yang melesat ke udara dan jatuh bertebaran, mengapung di atas air danau. Belum habis kejutnya, satu bayangan hitam yang amat tinggi, laksana seekor burung terbang dari tepi danau sebelah tenggara dan mempergunakan potongan-potongan bambu yang mengapung sebagai peniti kaki hingga akhirnya sampai di daratan sempit di tengah danau dan lenyap masuk ke dalam pondok.

"Pasti orang itulah kakek yang harus kutemui," pikir Aria Galing. Diam-diam dia merasa kagum melihat bagai–mana si bayangan hitam mempergunakan potongan-potongan bambu yang mengapung di air sebagai jembatan penyeberang. Meskipun dia tidak sempat melihat jelas sosok tubuhnya namun Aria Galing menyaksikan bagaimana tidak satupun potongan bambu itu terbenam ke dalam air sewaktu orang itu menginjaknya! Dia membatin apakah dia mampu berbuat yang sama, karena hanya potongan-potongan bambu itulah satu-satunya jembatan penyeberang baginya.

Setelah menguatkan hati Aria Galing melompat ke tengah danau. Potongan bambu pertama yang dipijaknya tenggelam ke dalam air danau, namun tubuhnya masih tertahan dan masih sanggup meneruskan lompatan ke bambu yang kedua, demikian seterusnya. Sampai di depan pondok kakinya basah kuyup. Dia melangkah menuju pintu yang tertutup lalu mengetuk. Sampai berulang kali dilaku kannya, tak ada yang menjawab.

"Mustahil orang itu tidak mendengar. Atau mungkin dia tuli?" pikir Aria Galing. Dia mengetuk lebih keras. Tetap tak ada sahutan. "Biar kucoba masuk saja!" kata perwira itu dalam hati mengambil keputusan. Tangannya sudah siap untuk mendorong daun pintu. Semangatnya serasa terbang sewaktu tahu-tahu di belakangnya terdengar satu bentakan keras dan garang.

"Perwira bedebah! Ada urusan apa kowe nyasar kemari?!"

Aria Galing membalik. Hatinya bergetar. Sosok tubuh manusia yang berdiri di hadapannya jika memang manusia memiliki tinggi luar biasa. Tinggi dan juga kurus sekali.

Seumur hidupnya baru sekali itu Aria Galing melihat manusia bertubuh demikian tinggi dan demikian kurusnya.

Dia terpaksa mendongak untuk melihat wajah orang itu.

Dan kembali hatinya berdebar. Orang itu bermuka panjang cekung. Kulit mukanya hitam sekali dan berminyak. Matanya yang sebelah kiri hanya merupakan sebuah rongga kosong. Sebaliknya mata kanannya besar sekali dan membeliak merah. Manusia ini sama sekali tidak memiliki alis. Rambutnya pendek kasar, kaku dan tegak macam bulu landak!

"Aku utusan Kepala Pasukan Demak," Aria Galing perkenalkan diri sementara si tinggi hitam menelitinya dari atas sampai ke bawah dengan matanya yang cuma satu.

"Aku datang membawa surat."

Perwira itu lalu mengeluarkan surat Lor Parereg yang diterimanya dari Brajaseta dan menyerahkannya pada si tinggi itu.

Kakek tinggi hitam mengambil surat itu dengan kasar.

Lalu membacanya dengan matanya yang satu. Dalam membaca mata itu kelihatan seperti berputar-putar.

Selesai membaca dia memandang tepat-tepat pada Aria Galing.

"Kepala Pasukan Demak dan orang yang menulis surat itu meminta balasan," berkata Aria Galing.

"Baik... baik, aku akan berikan balasannya Padamu," jawab si tinggi hitam. Tidak terduga tahu-tahu laksana kilat tangannya bergerak menyambar leher Aria Galing dan, krak! Patahlah tulang leher perwira kerajaan itu. Dia roboh dan mati detik itu juga!

Sebagai seorang perwira Aria Galing memiliki kepandaian yang dapat diandalkan. Namun apa yang dilakukan si tinggi hitam selain amat cepat juga tidak disangkasangka sama sekali hingga akhirnya perwira itu menemui ajalnya hanya dalam satu kejapan mata saja!

Seperti tak ada kejadian apa-apa si tinggi hitam untuk kedua kalinya membaca surat yang diterimanya.Paduka guru, Supit Ireng

Akibat pengkhianatan keparat Tunggul Bayana,

aku, Rah Gludak dan Kunto Handoko

telah dijebloskan dan disiksa setengah mati

dalam ruang penyiksaan istana Demak..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.81.208.173
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia