Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : HALILINTAR DI SINGOSARI

ARUS Kali Brantas mengalun tenang di pagi yang cerah itu. Sebuah perahu kecil meluncur perlahan melawan arus dari arah Trowulan. Di atasnya Ada dua orang penumpang berpakaian seperti petani. Yang satu berusia hampir setengah abad. Rambutnya yang disanggul di sebelah atas sebaglan nampak putih. Raut wajahnya yang terlindung oleh caping lebar jauh lebih tua dari usia sebenarnya. Kumis dan janggutnya lebat. Tetapi jika orang berada dekat--dekat padanya dan memperhatikan wajahnya dengan seksama akan ketahuan bahwa kumis dan janggut lebat itu adalah palsu.

Orang bercaping itu duduk di sebelah depan perahu. Kedua matanya memandang lurus-lurus ke muka. Sesekali tangan kanannya meraba sebilah keris yang terselip di pinggang, tersembunyi di balik pakaian hitamnya. Orang kedua adalah pemuda berbadan kekar. Pakaiannya lecek dan basah oleh keringat. Sehelai kain putih terikat di keningnya. Rambutnya yang panjang tidak disanggul di atas kepala, tapi dibiarkan terlepas menjela pundak.

"Gandita, aku sudah dapat melihat pohon cempedak miring di tepi kali di ujung sana," berkata lelaki yang lebih tua.

Gandita, pemuda yang mendayung perahu, meninggikan lehernya sedikit dan memandang jauh ke muka, Memang diapun dapat melihat pohon cempedak yang dikatakan orang itu tadi. Pohon cempedak itu tumbuh di tepi kali dalam keadaan miring. Lebih dari separuh batangnya sampai ke puncak pohon membelintang di atas Kali Brantas.

"Saya juga dapat melihatnya dari sini Adipati," ujar Gandita. "Sebentar lagi kita akan sampai. Menurut Adipati apakah orang-orang Kedri itu akan datang?"

"Manusia bernama Adikatwang itu tidak pernah tidak menepati janji. Dia pasti datang. Kalau dia tidak datang berarti dia telah bertindak tolol. Kesempatan hanya ada satu kali. Sekali lewat jangan harap bakal muncul lagi."

Gandita mendayung, perahu meluncur perlahan. Da1am hati dia berkata. Kalau orang-orang Kediri tidak muncul, sungguh gila jauh-jauh datang dari Madura seperti ini!

Saat demi saat perahu semakin dekat ke pohon cempedak miring. Tepat di bawah batangnya yang membelintang di atas kali Gandita merapatkan perahu ke tebing.

"Tidak kelihatan siapapun," kata orang yang dipanggil dengan sebutan Adipati. Dia bernama Wira Seta dan dia memang adalah seorang Adipati dari Madura.

"Saatnya kita mengeluarkan tanda rahasia," kata Wira Seta.

Gandita mengangguk. Dia bangkit dan berdiri di atas perahu. Sesaat pemuda ini memandang berkeliling. Lalu kedua tangannya dibulatkan dan diletakkan di depan bibir. Dari mulut Gandita keluar suara seperti bunyi burung tekukur. Lalu sunyi. Kedua orang dalam perahu menunggu dengan air muka tampak tegang.

"Aneh, tak ada sahutan..." kata Wira Seta. "Mungkin mereka belum sampai di sini?"

Gandita tidak menyahut.

"Coba sekali lagi," kata Wira Seta.

Kembali pemuda itu menirukan suara burung tekukur. Lalu sunyi lagi. Tiba-tiba ada suara suitan merobek kesunyian. Disusul oleh suara burung tekukur.

Wira Seta tampak lega. "Mereka sudah ada di sini. Sebaiknya kita naik ke darat."

Kedua orang itu keluar dari perahu, melompat ke tebing kali lalu naik ke darat. Pada saat itu rerumpunan semak belukar di sebelah kanan nampak tersibak. Dua orang berpakaian perajurit Kediri muncul. Keduanya membawa panah dan saat itu keduanya telah merentang busur, membidikkan anak panah ke arah Wira Seta dan Gandita.

Panah beracun, kata Gandita dalam hati begitu melihat ujung panah yang terbuat dari besi berwarna sangat hitam. Baik dia maupun Wira Seta tetap berlaku tenang.

"Prajurit-prajurit Kediri, mana pemimpin kalian?" tanya Wira Seta.

Salah seorang perajurit menjawab. "Kami dipesan agar melihat benda tanda jatidiri lebih dahulu sebelum membawa pada pemimpin kami."

Gandita berpaling pada Wira Seta. Adipati ini keluarkan keris yang terselip di pinggangnya lalu memperlihatkannya pada perajurit yang masih tegak dengan membidikkan panah beracun tepat ke arah jantungnya. Keris ini gagang dan sarungnya terbuat dari perak murni. Pada bagian-bagian tertentu dilapisi emas serta beberapa buah permata. Pada badan sarung dan gagang keris terdapat ukiran kepala singa dengan badan berbentuk manusia. Inilah keris Narasinga, salah satu senjata pusaka Keraton Kediri yang berasal dari sesepuh dan pendiri Kerajaan yaitu Sang Prabu Kameswara.

Kedua perajurit Kediri itu segera mengenali keris Narasinga. Mereka mengangguk lalu menurunkan busur masing-masing. Yang satu berkata, "Ikuti kami."

Setelah melewati beberapa kelompok rerumpunan semak belukar, di satu tempat yang agak terbuka kelihatan sepuluh orang perajurit berkuda. Salah seorang dari mereka, yang bertindak sebagai pemimpin segera turun dari kuda. Beberapa saat dia memandangi lelaki bercaping, berkumis dan berjanggut tebal itu seperti tengah meneliti. Kemudian cepat dia memberi penghormatan seraya berkata,

"Harap maafkan, saya tidak mengenali Adipati dalam penyamaran ini!" perajurit-perajurit lainnya segera pula memberi penghormatan.

Wira Seta membalas penghormatan itu dan memandang berkeliling lalu bertanya, "Mana pemimpin kalian?"

"Beliau segera datang. Harap Adipati suka bersabar sesaat." Jawab perajurit yang ditanya.

Tak lama kemudian seekor kuda nitam besar muncul ditunggangi seorang lelaki berusia hampir enam puluh tahun, berpakaian sederhana. Rambutnya hitam tebal disanggul di atas kepala. Orang ini turun dari kudanya, berjalan mendekati Wira Seta lalu tersenyum.

"Penyamaran Adimas Wira Seta rapi sekali. Bertemu di tempat lain sulit bagiku mengenali."

Di antara kedua orang sahabat itu Wira Seta memang beberapa tahun lebih muda. Karena itulah orang dihadapannya memanggilnya dengan sebutan Adimas.

Wira Seta membuka capingnya. Kedua orang itu lalu saling berpelukan.

"Jauh-jauh dari Sumenep Dimas tentu letih sekali. Aku ingin membawa Dimas ke Gelang-gelang. Tetapi keadaan kurang mengizinkan. Harap Dimas maklum."

Adipati Wira Seta mengangguk. "Suatu ketika akan tiba saatnya kita dapat berkumpul bersama-sama secara terbuka, tanpa rasa takut. Kangmas Adikatwang, apakah kau ada baik-baik saja?"

"Para Dewa memberkahi serta melindungiku dan keluarga. Walau hidup di bawah Singosari penuh tekanan tapi kita terpaksa pasrah. Sudah untung Sang Prabu masih mau memberikan daerah Gelang-Gelang kepadaku."

Adipati Wira Seta mernegang bahu Adikatwang, putera Sri Baginda Kertajaya yang pemah berkuasa di Kediri sebelum Kerajaan itu diserbu dan ditunduk kan oleh Singosari dibawah pimpinan Ken Arok yang bergelar Ranggah Rajasa belasan tahun yang silam,

"Siapa yang bisa hidup tenang dan leluasa saat ini Kangmas Adi," kata Adipati Wira Seta pula. "Lihat saja dengan diri saya. pengabdian dan jasa apa yang tidak saya lakukan untuk Kerajaan. Saya tidak mengharapkan dianggap sebagai pahlawan besar. Jalan pikiran saya dicurigai, perlakuan terhadap diri saya sungguh menyakitkan. Saya dipaksa menerima nasib ditendang dari Kotaraja. Dikucilkan jadi Adipati di Madura yang gersang! Dengan kata lain saya disuruh makan garam banyak-banyak agar cepat mati!" Wira Seta masih bisa tertawa dalam mengutarakan uneg-unegnya.

"Aku mengerti kekecewaan Dimas Wira Seta," kata Adikatwang.

"Kekecewaan, tekanan dan penghinaan yang kita terima tidak akan berjalan lama. Saya percaya waktunya untuk Kangmas memegang tampok kekuasaan akan segera datang."

Adikatwang memandang sejurus pada pemuda yang berdiri di samping Wira Seta lalu bertanya, "Dimas, siapakah pemuda yang tampan ini?"

"Namanya Gandita. Dia murid seorang sakti di puncak Gunung Kelud. Dia orang kepercayaan saya yang bakal banyak memberikan bantuan dalam rencana kita."

Gandita memberi penghormatan pana Adikatwang lalu kembali tegak dengan sikap siap seorang perajurit.

"Aku senang kau membantu Adipati Wira Seta. Pemuda-pemuda gagah sepertimu memang bakal banyak diperlukan."

"Terima kasih Adipati," kata Gandita seraya membungkuk.

"Kangmas Adi, sekarang kita perlu bicara empat mata. Mari kita cari tempat yang baik."

Raden Adikatwang mengangguk. "Kalian tetap di sini," katanya pada para pengawalnya.

Lalu kedua sahabat ini melangkah ke arah tepian Kali Brantas. Di balik serumpunan semak belukar tak berapa jauh dari pohon cempedak hutan yang tumbuh miring, mereka memilih tempat yang baik dan duduk di tanah meneruskan pembicaraan.

"Saya dan beberapa kawan telah siap menjalankan apa yang jadi rencana. Kami hanya menunggu keputusan Kangmas saja."

"Berapa kekuatan orang Adimas keseluruhannya?" tanya Adikatwang.

"Sekitar dua ribu orang. Semua mereka merupakan perajurit-perajurit terlatih dan berpengalaman. Semangat mereka tinggi. Mereka rela mengorbankan darah dan nyawa demi berdirinya kembali Kerajaan Kediri."

Untuk beberapa lamanya Adikatwang berdiam diri seperti merenung. Dalam dirinya terjadi pergolakan. Hati kecilnya menyuarakan hal yang berbeda dengan otaknya. Sebenarnya aku sudah cukup pasrah menerima keadaan. Jika pecah lagi peperangan yang jadi korban dan banyak menderita pastilah rakyat.

"Apa Yang Kangmas pikirkan?" bertanya Adipati Wira Seta.

"Kekuatan kita agaknya memang meyakinkan," berkata Adikatwang,

"Belum terhitung orang-orang seperti Gandita. Lalu orang-orang dari dunia persilatan. Para pemuka agamapun menyokong perjuangan kita mendirikan Kediri kembali."

"Apakah aku harus memberi keputusan sekarang Dimas Wira Seta?"

"Bukankah untuk maksud itu saya datang jauh-jauh dari Madura?" sahut Wira Seta. Kembali Adikatwang tampak termenung.

Melihat hal ini Wira Seta berusaha membakar hati sahabatnya itu dengan mengungkit peristiwa lama.

"Kangmas, apakah kau akan melupakan begitu saja perbuatan jahat orang-orang Singosari? Mereka menyerbu dan menghancurluluhkan negeri kita. Merampas harta kekayaan rakyat kita. Membunuh ratusan rakyat. Salah satu korban mereka yang terbesar adalah Sang Prabu Kertajaya, ayahanda Kangmas sendiri. Apakah perkiraan Kangmas arwah ayahanda Kangmas akan berada dalam keadaan tenteram di swarga loka sebelum dia melihat kita menuntut balas atas kejahatan dan kekejaman musuh? Mohon maafmu Kangmas, sebagai seorang sahabat saya akan terpaksa berkata. Kalau Kangmas mundur dengan rencana ini, saya dan kawan-kawan akan tetap melaksanakannya. Kediri harus bangun kembali. Tugas dan tanggung jawab itu ada di pundak orang-orang seperti kita. Apalagi mengingat Kangmas adalah pewaris tunggal dan syah dari tahta Kerajaan Kediril"

Raden Adikatwang menarik nafas panjang. Setelah berdiam diri sesaat akhirnya dia berkata. "Kita tetap sama-sama menjalankan rencana besar ini Dimas. Bagaimana persiapan pasukan?"

"Mereka sudah lama siap. Tindakan saya yang pertama dalam waktu dekat ini ialah membawa mereka ke Canggu. Dari sini pasukan akan disebar dalam dua arah. Yang pertama ke Utara Singosari, sebagian lagi ke arah Selatan sekitar Badud dan Jago."

"Kalau begitu kita tentukan saja sekarang hari dan saat penyerangan agar pasukan dari Gelang-Gelang bisa bergabung dalam waktu yang tepat," kata Adikatwang.

"Itu satu hal yang sangat bagus. Saya mengusulkan agar pasukan Kangmas memperkuat pasukan yang di Selatan. Saya sudah menyusun satu tipuan yang bakal menghancurkan Singosari dalam waktu singkat."

Lalu Adipati Wira Seta memberi tahu rencananya itu.

"Aku sangat setuju Dimas. Kau memang seorang Panglima Perang yang cerdik. Sang Prabu kelak akan menyesal seumur hidup telah menyia-nyiakan dirimu."

Wira Seta tersenyum. Tapi tiba-tiba Adikatwang melihat air muka sahabatnya itu berubah.

"Ada apa Dimas?" tanya Adikatwang.

"Saya mencium bau yang sangat tajam. Bau apa ini?" Wira Seta memandang berkeliling.

Adikatwang mendongak dan menghirup udara dalam-dalam. Dia mengenali bau yang diciumnya itu. "Bau buah cempedak," katanya. "Cempedak hutan!"

Wira Seta cepat berdiri lalu melangkah ke arah ka1i. Adikatwang mengikuti dari belakang. Mereka bergerak ke jurusan pohon cempedak yang tumbang melintang di atas kali. Di satu tempat Wira Seta yang berada di sebelah depan hentikan langkah, memberi tanda pada Adikatwang lalu menunjuk ke arah pohon cempedak.

"Lihat..." bisiknya. "Ada orang di atas sana."

Adikatwang memandang ke atas pohon. "Bukankah itu Gandita, pemuda kepercayaanmu?" kata Adikatwang pula.

"Warna pakaiannya dan ikat kepalanya memang sama. Rambutnya juga sama panjang. Tapi itu bukan Gandita," jawab Adipati Wira Seta.

"Jangan-jangan kita telah kecolongan, Dimas. Bukan mustahil pemuda gondrong di atas pohon itu adalah mata-mata Singosari. Celaka kita kalau dia telah mendengar semua pembicaraan kita!"

"Saya meragukan hal itu Kangmas. Lihat caranya duduk berjuntai di batang pohon. Makan cempedak sambil menggoyang-goyangkan kaki. Seorang mata-mata tidak akan melakukan hal itu."

"Siapapun dia kita harus menyelidiki. Aku akan memberi tahu para pengawal. Tempat ini harus segera dikurung. Jangan orang itu sampai melarikan diri. Kau tunggu di sini. Awasi dia.

"Cepatlah!" kata Wira Seta. "Suruh Gandita kemari!"***2ORANG yang duduk di batang pohon sambil memangku buah cempedak matang dan harum sepertinya tidak tahu kalau dirinya diawasi. Dia terus saja menyantap buah itu sambil duduk berjuntai goyang-goyangkan kedua kakinya. Kulit cempedak dan juga biji buah itu dibuangnya seenaknya ke bawah. Beberapa potongan kulit dan biji malah ada yang jatuh ke dalam perahu milik Wira Seta yang ditambatkan di tepi kali. Jengkelnya Adipati Sumenep itu bukan kepalang. Namun dia tidak mau bertindak gegabah. Dia maklum, hanya orang-berkepandaian tinggi yang kehadirannya tidak diduga seperti itu. Lalu bukan sembarang orang bisa duduk berjuntai di batang pohon sambil menyantap buah dengan cara begitu.

Sambil menikmati buah cempedak yang harum itu si pemuda berambut gondrong sesekali terdengar menyanyi-nyanyi kecil. Kadang-kadang tangan kirinya tampak mengusap-usap perut seolah mengukur-ukur apakah dia sudah cukup kenyang. Sesekali tangannya yang lengket oleh getah buah itu enak saja dipakai untuk menggaruk-garuk kepalanya yang berambut gondrong.

Adikatwang dan para pengawal muncul di tempat itu bersama Gandita. Tanpa suara mereka segera mengurung tempat tersebut. Di atas pohon si pemuda masih terus saja enak-enakan menyantap buah cempedak. Wira Seta memberi isyarat pada Gandita. Pemuda ini melangkah mendekati pohon cempedak lalu berseru.

"Ki sanak di atas pohon! Turunlah sebentar! Kami ingin bertanya!"

Pemuda di atas pohon menoleh ke bawah.

Wira Seta berbisik pada Adikatwang. "Lihat, dia tidak terkejut ketika diteriaki. Berarti secara diam-diam sebenarnya dia sudah mengetahui kehadiran kita di sini. Tapi bersikap tidak perduli."

Setelah memandang ke arah Gandita sesaat, orang di atas pohon kembali meneruskan makan buah cempedaknya tanpa menjawab seruan orang.

Gandita berteriak sekall lagi. Lebih keras. "Ki sanak! Aku yakin kau mendengar seruanku. Harap turun sebentar. Kami ingin bertanya!"

Pemuda di atas cabang pohon muntahkan biji cempedak dari mulutnya. Biji cempedak ini jatuh dan masuk ke dalam perahu. Gandita melirik. Ternyata perahu itu sudah penuh dikotori biji dan kulit buah cempedak.

"Ki sanak!" teriak Gandita mulai berang. "Apa kau tuli? Tidak mendengar orang memanggil?!"

"Tidak! Aku tidak tuli!" tiba-tiba orang di atas pohon menjawab. Suaranya parau karena dia menjawab sambil mengunyah cempedak. Waktu menjawab kepalanya tidak dipalingkan ke arah Gandita, membuat pembantu Wira Seta ini menjadi tambah jengkel.

"Kalau tidak tuli mengapa orang bertanya kau tidak menjawab?!" Teriak Gandita.

"Soalnya aku ingin tahu dulu siapa yang bertanya!"

Gandita hendak menyahuti. Tetapi Adikatwang cepat memegang bahunya dan mendahului menjawab.

"Kami penguasa Kediri! Kau berada di wilayah kekuasaan kami! Jadi kami berhak menyelidik siapa dirimu!"

"Yang jelas aku bukan penjahat! Tapi aku memang mencuri cempedak ini. Cempedak dalam hutan tak bertuan, jika kuambil apakah itu namanya mencuri?"

"Ki sanak kami minta kau turun dulu baru bicara! Sikapmu seperti orang tidak tahu aturan!" Gandita berteriak.

"Ki sanak, apakah kau orang yang tahu aturan? Mengganggu orang yang sedang makan? Jika kau sedang enak-enakan makan apakah kau mau diganggu?"

Adikatwang memegang bahu Wira Seta. "Jangan-jangan pemuda di atas sana seorang yang kurang waras. Lebih baik kita tinggalkan saja dia."

"Tidak Kangmas. Saya berkeyaklnan pemuda itu bukan orang gila. Kita akan lihat!" Wira Seta lalu ganti berteriak. "Orang muda, jika kau tidak mau turun untuk kami tanyai, jangan menyesal kalau kami terpaksa menurunkan tangan keras!"

"Jika memang ada hal penting yang kalian ingin tanyakan, berteriak saja dari bawah. Apa susahnya?"

Jawaban itu membuat marah Wira Seta. Dia memberi isyarat pada Gandita.

"Beri dia pelajaran!"

Gandita melangkah lebih dekat ke pohon yang lumbuh di tebing kali itu. Sekali dia berkelebat tubuhnya melayang ke atas pohon dan kedua kakinya menjejak pada cabang, tepat di mana pemuda berambut gondrong duduk uncang-uncang kaki sambil menikmati buah cempedak.

"Hai! Kau mau cempedak?!" si gondrong menawari.

Plaaak!

Satu tamparan keras dilayangkan Gandita. Tepat mendarat di pipi kanan pemuda yang tengah mengunyah cempedak. Buah berikut biji yang ada di dalam mulutnya menyembur keluar bersama ludah ke muka Gandita!

"Kurang ajar!" Gandita marah sekali. Kalau tadi tamparan yang dilayangkannya kini satu jotosan segera dihantamkannya. Saat si pemuda telah terbanting akibat tamparan keras tadi. Tubuhnya tersentak dan jatuh ke belakang. Tapi kedua kakinya dengan cekatan menggelung batang pohon hingga tubuhnya tidak jatuh ke bawah melainkan hanya berputar satu kali pada batang cempedak. Meskipun pipinya sakit dan bertanda merah namun si gondrong itu memandang menyeringai kepada Gandita.

Merasa seperti dipermainkan pembantu kepercayaan Adipati Wira Seta ini lepaskan satu jotosan.

Bukk!

Jotosan keras itu mendarat di dada membuat tak ampun lagi yang dijotos terjengkang. Buah cempedak besar yang tinggal setengah terlepas dari tangannya jatuh ke bawah. Tubuhnya sendiri menyusul melayang jatuh!

Anehnya setelah ditunggu sekian lama tidak ada suara tubuh yang jatuh bergedebuk di tebing sungai atau suara orang jatuh ke dalam air kali. Gandita memandang ke bawah. Wira Seta dan Adikatwang serta beberapa orang perajurit melompat ke tepi kali. Apa yang mereka saksikan?

Pemuda gondrong yang tadi kena jotosan Gandita enak-enak duduk setengah berbaring di dalam perahu milik Wira Seta. Di atas perutnya dia memegang buah cempedak dan mulutnya saat itu sudah mengunyah buah itu kembali!

Tentu saja semua orang terkejut melihat hal itu. Bagaimana tubuh seseorang bisa jatuh ke atas perahu tanpa mengeluarkan suara, bahkan kelihatannya perahu itu hampir tidak bergoyang. Air Kali Brantaspun tidak tampak beriak!

Di atas pohon Gandita marah bukan main. Dia benar-benar merasa dipermainkan di hadapan orang banyak. Segera dia melompat ke bawah ke arah perahu. Sambil melayang turun kaki kanannya ditendangkan ke kepala pemuda yang duduk di dalam perahu itu.

Sekali ini si gondrong rupanya jadi merasa jengkel juga diserang terus-terusan begitu rupa. Kaki kanannya diinjakkan ke kayu pendayung di lantai perahu. Pendayung ini melesat ke atas, melayang ke arah Gandita.

Gandita menggeram marah. Tendangannya yang seharusnya mengenai kepala pemuda itu, kini terhalang oleh kayu pendayung.

Praakk!

Kayu pendayung patah dua, mencelat ke udara lalu jatuh ke dalam Kali Brantas. Gandita membuat gerakan jungkir balik agar tubuhnya tidak salah jatuh ke dalam air. Sesaat kemudian kedua kakinya sudah menginjak tepian kali. Ketika dia kembali hendak menyerang pemuda yang masih duduk di atas perahu itu, Wira Seta cepat memegang bahunya. "Gandita, kau mundurlah. Biar aku yang mengurus pemuda ini," kata Adipati Sumenep itu. Sekali dia bergerak tubuhnya melayang dan masuk ke dalam perahu, duduk berhadap-hadapan dengan si pemuda.

"Anak muda, maafkan kalau orangku tadi bertindak tidak pada tempatnya. Ternyata kau bukan pemuda biasa."

Pemuda di hadapan Wira Seta angkat kepala. Dia menatap lelaki itu sesaat. "Ah, kau ternyata lebih sopan sedikit dari sobat mudamu itu. Kau mau kubagi buah cempedak ini?"

"Terima kasih. Aku berpantang makan yang nnanis-manis," jawab Wira Seta. "Kepandaian seperti yang kau miliki membuat aku kagum. Pemuda sepertimu sangat dibutuhkan oleh Kerajaan. Apakah kau mau berbakti pada Kerajaan?" Tanya Wira Seta kemudian.

"Kerajaan yang mana? Kediri atau Singosari?"

Wira Seta sesaat terkesiap oleh pertanyaan itu. "Bukan Kediri bukan Singosari. Tapi satu Kerajaan baru yang kelak akan muncul. Namanya Kediri baru."

"Maafkan aku orang tua. Aku tidak tertarik," jawab si pemuda lalu kelihatan dia senyum-senyum.

"Kenapa kau tertawa?" tanya Adipati Sumenep itu kurang senang.

"Orang tua, apakah kau ini anggota wayang orang atau pemain sandiwara keliling?"

Paras Wira Seta menjadi merah.

"Aku jauh lebih tua darimu. Tidak pantas kau ajak bergurau!"

"Siapa bergurau? Aku tanya yang wajar-wajar saja. Kalau kau bukan seorang pemain sandiwara mengapa memakai kumis dan janggut palsu?"

"Aku tidak akan menjawab pertanyaanmu. Tapi kau harus menjawab pertanyaanku! Katakan siapa dirimu dan apa yang kau kerjakan di tempat ini."

"Pertanyaan mudah. Jawabnya juga mudah. Namaku Wiro. Aku di sini tengah makan cempedak. Nah, kau puas orang tua?"

"Tidak, aku tidak puas." Jawab Wira Seta. "Aku punya kecurigaan kau adalah seorang mata-mata yang tengah mengintai kami."

Si gondrong yang adalah Wiro Sableng murid nenek sakti Eyang Sinto Gendeng dari Gunung Gede yang dalam dunia persilatan dikenal dengan julukan Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 menyeringai.

"Tuduhanmu tidak beralasan orang tua, tapi apa yang barusan kau ucapkan justru menimbulkan kecurigaan dalam hatiku!"

"Adipati, biar saya menghajar orang ini. Mulutnya terlalu lancang dan sikapnya sangat kurang ajar!" terdengar suara Gandita.

Wira Seta mengangkat tangan memberi tanda agar pembantunya itu tetap berada di tempatnya. Lalu dia berpaling pada pemuda yang duduk dalam perahu di hadapannya.

"Apa maksudmu? Apa yang kau curigai dan siapa yang kau curigai?" suara Wira Seta menyentak.

"Jika kau tidak menyimpan satu rahasia mengapa harus mencurigai orang dan menuduh aku mata-mata!?"

"Lalu mengapa kau tahu-tahu muncul di tempat ini. Kau pasti sengaja mencuri dengar apa yang kami bicarakan di sini!" sergah Wira Seta.

"Orang tua, kau memang kelewatan. Sebelum kau dan orang-orang itu muncul, aku sudah sejak pagi berada di tempat ini. Bagaimana kalau kubalik. Justru kaulah sebenarnya yang tengah memata-matai diriku!"

Raden Adiatwang maju ke tepi kali. "Dimas, pemuda ini membuat aku mual. Aku akan perintahkan pengawal menangkapnya. Aku akan bawa dia ke Gelang-Gelang dan diperiksa di sana! Kalau dia ternyata memang seorang pemuda kurang waras, aku akan lepaskan dia."

"Aku punya dugaan dia sengaja bersikap dan bicara konyol seperti orang tidak waras untuk menutupi sesuatu." Wira Seta melompat keluar dari dalam perahu seraya berseru, "Para pengawal! Tangkap orang ini!"

"Hajar kalau melawan!" menimpali Adikatwang.

Enam orang perajurit Kediri melompat ke dalam perahu. Dua lainnya turun ke dalam air, mencegat di samping kiri perahu untuk mencegah si pemuda yang hendak ditangkap agar jangan sampai melarikan diri.

Perahu kecil dijejali enam orang pengawal, tujuh dengan Wiro tentu saja tidak dapat menampung orang sebanyak itu. Perahu ini langsung amblas terbalik. Semua orang yang ada diatasnya jatuh masuk ke dalam air, tidak terkecuali Wiro.

Semua orang di tepi kali kemudian terkejut ketika mereka mendengar suara teriakan-teriakan delapan perajurit yang ada di dalam kali. Satu demi satu tubuh mereka seperti ditarik ke dalam air. Ketika mereka akhimya muncul kembali suasana di tepi Kali Brantas itu menjadi heboh. Tidak satupun lagi dari ke delapan perajurit Kediri yang keluar dari kali itu kini mengenakan celana! Dalam keadaan tubuh setengah telanjang pada bagian yang paling rawan itu, mereka kalang kabut berusaha menutupi aurat!

Dalam keadaan seperti itu di seberang kali terdengar suara tertawa mengakak. Semua orang di tepi Barat kali memandang ke seberang. Di tepi Timur Kali Brantas kelihatan pemuda berambut gondrong itu tegak sambil tertawa terpingkal-pingkal. Di kedua tangannya dia memegang delapan helai celana panjang yang sebelumnya dikenakan oleh delapan perajurit. Satu demi satu celana itu dilemparkannya ke dalam kali, hanyut dibawa arus ke hilir.

"Penghinaannya sudah keterlaluan!" geram Adikatwang sambil mengepalkan tinju. "Lepaskan panah beracun!" teriaknya. Tiga orang anak buahnya segera menyiapkan busur dan panah beracun. Tetapi ketika tiga panah itu melesat ke seberang kali, Pendekar 212 Wiro Sableng sudah lenyap. Hanya suara tertawanya yang masih kedengaran di kejauhan.

"Manasia itu tidak gila!" kata Adikatwang.

"Kalau dia memang sempat mendengar pembicaraan kita, keadaan bisa sangat berbahaya," ujar Wira Seta pula. Air mukanya tampak jadi gelisah.

"Aku akan sebar orang untuk mencari jejaknya." Adikatwang juga tampak tidak tenang.

Yang paling terpukul adalah Gandita. Pemuda itu berulang kali kelihatan mengepalkan kedua tinjunya bahkan membanting-banting kaki. Dia memisahkan diri dari orang-orang di tepi kali itu. Dalam hatinya dia tidak habis pikir. Tamparanku seharusnya sudah cukup membuat pemuda itu cedera berat. Tapi bahkan jotosanku seperti tidak ada apa-apanya! Aku malu sekali! Dimana mukaku hendak kuletakkan. Apa kata Adipati Wira Seta nantinya. Juga bagaimana pula pandangan Raden Adikatwang. Padahal dia baru saja memujiku. Aku murid orang sakti dari Gunung Kelud. Digembleng selama bertahun-tahun. Tapi ternyata tidak mampu menghadapi anak desa tadi. Wiro... Namanya Wiro. Belum pernah aku mendengar seorang pendekar dengan nama itu. Siapa dia sebenarnya? Aku harus mencarinya. Aku harus menantangnya. Berkelahi sampai seratus bahkan seribu jurus kalau perlu. Aku harus menghajarnya dan membuatnya bertekuk lutut! Hanya itu satu-satunya cara untuk mengem-balikan kepercayaan Adipati Wira Seta dan Raden Adikatwang.

Untuk melepaskan rasa geram dan amarah yang seperti membakar dadanya Gandita memukul batang pohon yang ada di depannya.

Braaak!

Kulit pohon pecah, bagian dalamnya hancur. Terdengar suara bergemuruh ketika pohon itu patah dan tumbang.

Satu tangan memegang bahu Gandita. Pemuda ini mengira orang itu adalah pemuda gondrong yang telah mempermalukannya. Cepat dia membalik seraya menghantamkan tinju dengan kekuatan tenaga dalam penuh! Angin pukulannya terdengar menggidikkan.

Tapi Gandita cepat menarik pulang tangannya ketika melihat siapa yang berdiri di hadapannya. Pemuda ini jatuhkan diri dan berkata.

"Adipati, maafkan saya. Saya kira...."

Adipati Wira Seta mengangguk. "Aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini Gandita."

"Saya tidak berguna jadi pembantu Adipati," berterus terang pemuda itu.

"Jangan berkata begitu anak muda. Hidup ini penuh cobaan dan tantangan. Apapun yang telah terjadi hanya satu pengalaman agar dimasa mendatang kita harus belajar lebih banyak. Aku tetap percaya kau adalah pembantuku yang terbaik. Berdirilah. Kita akan segera kembali ke Sumenep."

Sambil mengusap mukanya Gandita bangkit berdiri. Apapun yang dikatakan oleh sang Adipati tidak membuat rasa sakit hatinya terhadap Pendekar 212 Wiro Sableng jadi berkurang.***3SEBATANG panah beracun yang dibidikkan dari seberang Kali Brantas menancap di batang pohon. Kulit pohon ini kelihatan menghitam pertanda betapa jahat dan berbahayanya racun panah. Pendekar 212 sendiri saat itu sudah jauh meninggalkan tepi Timur Kali Brantas tapi dia masih saja tertawa terpingkal-pingkal. Ketika dadanya terasa agak sesak dan perutnya sakit karena terus-terusan tertawa akhirnya dia duduk di gundukan akar sebuah pohon besar.

Tawanya sesaat berhenti. Dibukanya bajunya yang basah lalu diperasnya sampai sekering mungkin. Ketika dia ingat lagi akan apa yang dilakukannya terhadap prajurit-prajurit Kediri itu, Wiro tak dapat menahan diri. Kembali dia tertawa gelak-gelak. Tetapi saat itu ternyata dia tidak tertawa sendirian. Ada orang lain yang ikut tertawa bersamanya.

Tertawa itu demikian keras dan hebatnya sehingga murid Eyang Sinto Gendeng merasakan akar pohon yang didudukinya ikut bergetar. Wiro hentikan tawanya. Orang lain itu masih terus tertawa. Akhirnya Wiro juga ikut-ikutan tertawa kembali.

Sambil tertawa dan garuk-garuk kepala dia memandang berkeliling. Mencari dimana dan siapa gerangan orang yang tertawa itu. Suara tawanya keras tanda pasti orangnya berada di dekat-dekat situ. Tiba-tiba ada air mengucur dari atas. Air yang terasa agak hangat ini jatuh di pundak Wiro. Wiro mengusapnya lalu hidungnya membaui sesuatu.

"Kurang ajar! Air kencing!" teriak Pendekar 212 sewaktu dia membaui pesingnya air yang jatuh di badannya. Dia melompat dari duduknya dan mendongak ke atas pohon. Mata Wiro Sableng jadi mendelik.

Di atas pohon itu pada sebuah cabang yang tidak seberapa besar dilihatnya duduk seorang lelaki bertubuh luar biasa gemuknya. Dia duduk sambil tertawa-tawa yang membuat tubuhnya terguncang-guncang. Orang ini mengenakan celana hitam dan sehelai baju putih yang tak bisa dikancingkan karena kesempitan. Rambutnya disanggul ke atas. Dadanya yang gembrot dan perutnya yang berlemak tersembul.

Kedua matanya yang sangat sipit sampal basah karena tertawa. Tapi bukan matanya saja yang basah. Ternyata bagian bawah perutnya juga ikut basah lalu tiris ke bawah. Air kencingnya inilah yang mengucur jatuh menimpa Pendekar 212 yang saat itu duduk dibawah pohon!

Wiro usap bahunya yang terkena air kencing dengan baju yang barusan diperasnya. Dia hendak memaki habis-habisan, tetapi otaknya bekerja cepat.

Dalam hatinya dia berkata. Kerbau bunting di atas pohon itu bukan manusia sembarangan. Beratnya pasti lebih dari dua ratus kati. Tapi lihat, dia bisa duduk di cabang pohon yang begitu kecil! aku lngat pada sahabatku Raja Penidur yang luar biasa gemuknya. Tapi kerbau bunting di atas pohon ini jauh lebih gemuk!

Wiro menunggu sampal orang itu berhenti tertawa. Tapi nyatanya si gemuk ini tawanya semakin menjadi-jadi. Air kencingnya juga maslh terus tiris ke bawah membuat Wiro terpaksa menjauh dari pohon.

Setelah ditunggu-tunggu dan tawanya tidak juga berhenti, Wiro jadi kesal. Dia berteriak.

"Kerbau Bunting di atas pohon! Berhenti tertawa! Kau telah mengencingiku!"

Suara tawa sirap. Di atas pohon orang gemuk itu tampak berpaling ke kiri dan ke kanan. "Kerbau Bunting? Ada yang menyebut aku Kerbau Bunting? Lucu sekali! Hidup seratus lima puluh tahun baru hari ini ada yang memanggil diriku Kerbau Bunting! Ha...ha...ha...ha...haaaa!" Tubuh si gemuk berguncang-guncang dan suara tawanya kembali menguncang.

"Sialan!" maki Wiro. Dia memandang berkeliling. Tiba-tiba matanya melihat seekor Ular Keket hijau besar menempel di atas sehelai daun dekat rumpunan semak belukar.

"Hemmmm...." Wiro garuk-garuk kepalanya.

"Aku mau lihat apakah kau masih bisa tertawa kalau mulutmu kujejali binatang ini!"

Meskipun agak geli-geli Wiro mengangkat Ular Keket dari atas daun lalu dilemparkannya ke atas pohon.

Si gemuk di atas pohon yang masih terus tertawa gelak-gelak tampak kaget ketika sebuah benda hijau bergelung melesat ke arah mulutnya yang terbuka lebar. Cepat dia meniup ke bawah. Ular Keket itu mental tetapi kini justru jatuh dan menempel di perutnya yang tersembul di sela baju yang tidak terkancing!

"Wadauuuuw....! Ular! Ular Keket...! Tolong..!"

"Tolong!"

Sekujur tubuh si gemuk menggigil. Mukanya yang tadi merah karena tertawa terus-terusan kini menjadi pucat pasi.

Ternyata dia takut sekali pada Ular Keket yang kini menempel di perutnya yang gendut berlemak itu. Kedua kakinya digoyang-goyangkan. Kedua tangannya bergerak kian kemari kalang kabut. Dia coba pergunakan tangan untuk menjentik binatang itu tepi tak jadi karena merasa sangat jijik. Saking bingungnya dia melompat ke cabang pohon yang lain. Bergelantungan sambil melejang-lejangkan kedua kakinya.

"Tolong! Wadauwww.... Ular.... Tolong!" teriak si gendut lagi.

Di bawah pohon Pendekar 212 Wiro Sableng tertawa terpingkal- pingkal.

"Rasakan olehmu sekarang! Masih untung binatang itu tidak nyemplung ke dalam mulutmu!

"Tolong! Aduh! Bagaimana ini! Tolongggg.... !" Dari atas pohon kini kelihatan makin deras air kencing yang mengucur ke bawah.

"Gila! Berapa gentong air yang tersimpan dalam perut Kerbau Bunting itu. Kencingnya tak habis-habis!"

"Tolong...! Aduh...! Ampunnnn! Tolong! Ada Ular Keket di perutku! Batara Dewa Tolong diriku.... !" Lama-lama Wiro jadi kasihan juga melihat si gemuk itu.

Dia patahkan sebuah ranting lalu melompat melesat ke atas pohon tempat di mana si gemuk bergelantung ketakutan setengah mati.

Dengan ujung ranting disingkirkannya Ular Kaket hijau besar yang menempel di perut si gendut lalu dia melayang turun ke tanah kembali.

Di atas pohon jeritan ketakutan si gemuk langsung berhenti. Tubuhnya mandi keringat.

"Terima kasih...! Terima kasih! Heh, siapa yang menolongku?!" Si gendut memandang ke kanan dan ke kiri.

"Hai! Aku di bawah sini!" terlak Wiro. "Kerbau Bunting itu pasti sudah tahu aku berada di sini. Tapi dia berpura-pura saja!"

Si gendut memandang ke bawah. Dagunya tertahan oleh dadanya yang gembrot. Tapi dia bias melihat Wiro di bawah sana.

"Ah, kau di situ rupanya!" Lalu si gendut lepaskan pegangannya pada cabang pohon. Tubuhnya melayang jatuh ke bawah. Sebuah batu kecil saja kalau jatuh ke tanah pasti akan mengeluarkan suara berdebuk. Tapi ketika kedua kaki si gendut yang beratnya lebih dari dua ratus kali itu menginjak tanah Wiro memperhatikan dan tidak mendengar ada sedikit suarapun! Kerbau Bunting ini benar-benar manusia luar biasa, kata Wiro dalam hati.

Di hadapan Wiro si gemuk menjura lucu seraya berkata, "Sobatku Muda. Terima kasih. Kau telah menolong aku dari binatang celaka itu!"

Wiro tertawa gelak-gelak. Si gemuk ikut-ikutan tertawa. Tapi tiba-tiba dia hentikan tawanya dan bertanya.

"Eh, Sobatku Muda. Mengapa kau tertawa? Apa Ada yang lucu pada diriku?"

"Jelas tubuhmu dari ujung rambut sampal ujung jempol sangat lucu!"

"Apakah kau tadi yang memanggil aku dengan sebutan Kerbau Bunting?"

"Betul." sahut Wiro dan menyangka si gendut itu akan marah. Tapi justru orang di depannya malah tertawa gelak-gelak sampai sekujur tubuhnya berguncang-guncang.

"Lucu... Lucu sekali sebutan itu. Seratus lima puluh tahun hidup malang-melintang dimuka bumi, baru sekali ini ada yang memberikan nama lucu begitu padaku. Terima kasih sobatku muda!"

Wiro jadi melongo mendengar kata-kata itu.

"Heh, tadi aku bertanya kenapa kau tertawa waktu aku bilang terima kasih. Bukankah kau yang telah menolongku menyingkirkan Ular Keket celaka itu?"

"Benar Sobatku Gendut."

"Sobatku Gendut? Ah, sekarang kau menyebut aku dengan nama itu! Kau seorang sahabat yang benar-benar lucu!" Si gendut lalu tertawa gelak-gelak sampai ke dua matanya basah.

"Terima kasih. Kau telah menolongku. Aku benar-benar takut pada binatang seperti itu. Cuma kenapa kau belum menjawab pertanyaanku. Mengapa kau tertawa waktu aku bilang terima kasih?"

"Kau tidak tahu! Sebetulnya akulah yang tadi melemparkan binatang itu ke padamu!" jawab Wiro polos.

Si gemuk tampak terkejut. "Kau... Kau yang melemparkannya?" tanyanya.

Wah, kali ini Kerbau Bunting ini pasti marah besar! Membatin Pendekar 212. Lalu dia mengangguk. "Ya, aku yang melemparkannya!" Wiro lalu berjaga-jaga kalau-kalau si gendut itu menjadi marah dan menghantamnya.

"Kau...?" Kening si gendut tampak mengerenyit.

Matanya yang sangat sipit seperti mau mendelik tapi tidak bisa dan tetap saja sipit. Tiba-tiba dari mulutnya meledak keluar suara tawa mengakak.

Lucu, aku sangka dia bakalan marah. Ternyata tidak. Malah tertawa gelak-gelak. Mahluk aneh macam apa dia ini sebenarnya!

Seperti tahu apa yang dipikirkan Wiro si gemuk hentikan tawanya dan berkata. "Aku tertawa dan aku tidak marah. Karena kau orang jujur dan bicara polos!" Si gendut pegang kedua bahu Wiro lalu mengguncang-guncangnya dengan keras hingga Pendekar 212 merasa tubuhnya seperti diguncang gempa yang dahsyat. Tapi diam-diam dia merasakan ada hawa aneh yang mengalir lewat kedua bahunya. lubuhnya mendadak terasa enteng!

Astaga! Orang ini seperti sengaja mengalirkan semoga aneh ke dalam tubuhku! Kata Wiro dalam hati begitu menyadari tubuhnya menjadi lebih enteng.

"Sobatku muda, aku mau tanya," berkata si gendut. "Mengapa kau tadi melemparkan Ular Keket itu padaku?"

"Karena kau mengencingi aku!" jawab Wiro.

"Hah?! Aku mengencingimu?!" Si gendut bermata sipit itu seperti terkejut. "Bagaimana mungkin?" Lalu dia memperhatikan bagian bawah celana hitamnya. Dipegangnya selangkangan-nya. Terasa basah. Lalu tangannya yang tadi memegang celananya yang basah disapukan di depan hidung. Bau pesing. "Gila! Aku memang kencing rupanya!" kata si gendut ini. Dia diam sebentar lalu tertawa gelak-gelak.

"Kalau aku mengencingi itu bukan disengaja Sobatku Muda!" kata si gemuk itu sambil mengusap kedua matanya yang basah. "Ada sebab yang membuatku terkencing-kencing. Aku tadi tertawa terpingkal-pingkal dan kau kebetulan ada dibawah pohon! Walaupun begitu kuharap kau sudi memaafkan diriku!"

Wiro diam saja. Sesaat kemudian dia bertanya.

"Apa yang membuatmu tertawa terpingkal-pingkal?" "Aku melihat satu kejadian lucu di tepi Kali Brantas!"

"Kejadian apa?" Wiro menyambung pertanyaannya.

"Aku melihat...ha...ha...ha..." Si gendut belum sempat meneruskan ucapannya dia sudah keburu tertawa. "Aku melihat... Ha... ha.., ha... ha... Ada...ada... ada delapan orang prajurit Kediri dipreteli orang celananya hingga waktu mereka keluar darl air dalam keadaan bugil! Anunya pada bergelantungan kemana-mana....! He...ha...ha! Apakah itu menurutmu tidak lucu? Mereka kelabakan! Berusaha menutupi anu mereka! Lucu....! Ha.... he ...ha..." Tiba-tiba suara tawanya berhenti. Kedua matanya yang sipit memandang lekat-lekat kepada Wiro Sableng.

Apa yang ada dalam pikiran si gendut ini, Wiro bertanya dalam hati.

"Heh?" Bukankah... Bukankah kau orangnya yang menelanjangi delapan perajurit Kediri itu?!" Wiro tertawa lebar. Sambil garuk-garuk kepalanya dia mengangguk dan berkata. "Memang. Aku yang menelanjangi mereka. Mereka hendak menangkapku!"

Si gemuk tertawa mengekeh. "Kau ternyata pemuda jahil! Lain kali kalau mau menelanjangi orang, jangan orang lelaki, tapi cari orang perempuan! Ha... ha... ha... ha...!"

Wiro jadi ikut-ikutan tertawa.

"Mengapa mereka hendak menangkapmu?"

"Karena aku makan cempedak." Jawab Wiro.

Lalu dia bertanya. "Apakah seseorang bisa ditangkap karena makan cempedak?"

"Mana ada pasalnya orang ditangkap makan cempedak. Kecuali kalau cempedak itu buah curian. Atau kau makan sambil berpelukan dengan bini orang! Ha...ha...ha...ha...!"

Wiro geleng-geleng kepala. Seumur hidup belum pernah dia bertemu dengan orang seperti ini. Gemuk luar biasa dan juga lucu luar biasa.

"Hari sudah siang! Aku masih punya keperluan lain. Sobatku Muda, aku mau pergi sekarang." berkata si gendut.

"Ke mana tujuanmu sebenarnya?"

"Ah, hal itu tidak bisa kukatakan padamu. Jangan marah. Ha...ha...ha..."

"Aku mengucapkan terima kasih padamu. Kau telah menanam budi baik padaku."

"Eh, kau ini bicara apa Sobatku Muda?" tanya si gendut.

"Kau berpura-pura Sobatku Gendut. Waktu memegang kedua bahuku tadi, kau diam-diam mengalirkan hawa aneh ke dalam tubuhku. Lalu aku merasa tubuhku lebih ringan dari sebelumnya."

Si gendut tertawa gelak-gelak. "Anggap saja itu sebagai pembayar dosaku mengencingimu! Ha.... ha... ha...!" Habis berkata begitu dia masukkannya dua jari tangan kanannya ke mulut. Lalu terdengar suara suitan. Dari balik semak belukar menyeruak keluar

seekor keledai, kecil pendek dan kurus.

"Tungganganku sudah datang menjemput. Aku pergi. Selamat tinggal Sobatku Muda!"

Wiro terkejut. "Kau... Kau hendak menunggangi keledai sekecil itu?" tanya Wiro heran.

"Memangnya kenapa?" balik bertanya si gendut.

"Tubuhmu besar dan berat! Baru berjalan lima langkah keledai itu akan jadi mejret!"

Si gendut tertawa gelak-gelak. "Kau saksikan saja nanti apakah binatang ini mejret atau tidak!" Si gendut melompat. Sekali lompat saja dia sudah duduk di punggung keledai kurus itu. "Ayo jalan!" seru si gendut seraya menepuk pinggul binatang tunggangannya. Keledai itu melangkah. Ternyata jalannya cepat sekali. Setelah lewat sepuluh langkah si gendut berpaling. "Apakah kau lihat keledai ini mejret?!" teriaknya. Lalu dia tertawa mengekeh.

Wiro garuk-garuk kepala. Kedua matanya memperhatikan. Lalu. Astaga! Keledai itu ternyata berkaki enam. Yang dua adalah kaki si gendut sendiri! Kedua kakinya ternyata menjejak tanah dana berjalan seperti biasa. Hanya pantatnya saja rupanya yang menumpang duduk di punggung si keledai. Itupun tidak sampai menekan tubuh tunggangannya karena sebenarnya dia berjalan kaki seperti biasa!

Wiro tertawa gelak-gelak. "Hai Sobat!" teriak Wiro. "Sebelum pergi kau mau memberi tahu siapa namamu?!"

"Selama seratus lima puluh tahun hidup, aku tidak pernah memakai namaku. Kini aku jadi lupa apakah aku punya nama atau tidak. Tapi orang- orang menggelariku Dewa Ketawa! Gelaran lucu! Ha...ha..ha...! Tapi mungkin mereka betul! Mungkin gelar itu cocok bagiku!" Si gendut lalu menepuk pinggul keledai kurusnya. Binatang ini melangkah lebih cepat. Kedua kaki si gendut juga bergerak lebih cepat. Sesaat kemudian orang dan tunggangannya itu lenyap di balik kerapatan pepohonan dan semak belukar.

Wiro masih tertegak di tempatnya semula. Dewa Ketawa. Belum pernah aku mendengar nama itu sebelumnya. Dia mungkin seumur dengan Dewa Tuak. Aku tidak mengerti mengapa dia mengalirkan hawa aneh ke dalam tubuhku. Sayang aku menyelidiki apakah dia orang Kediri atau orang Singosari. Dia sendiri rupanya tidak kepingin tahu namaku. Kerbau Bunting yang aneh... Pendekar 212 garuk-garuk kepalanya lalu tinggalkan tempat itu.***4SETELAH Adipati Wira Seta dan Gandita meninggalkan tempat pertemuan rahasia di tepi Kali Brantas itu, Raden Adikatwang dan rombongannya segera kembali ke Gelang-gelang yang dijadikan pusat Kerajaan Kediri pada masa itu. Rombongan ini sengaja menempuh rimba belantara untuk menghindari pertemuan dengan pihak-pihak yang tidak diinginkan dan bisa membocorkan rahasia.

Dalam perjalanan kembali ini Adikatwang lebih banyak berdiam diri. Suara hatinya berkata tiada henti. Apakah memang dia harus mengangkat senjata bersama Wira Seta, memberontak terhadap kekuasaan Singosari. Mustikah Sang Prabu dihabisi riwayatnya? Haruskah semua itu dicapai dengan pertumpahan darah? Bukankah nantinya bakal banyak rakyat yang menderita? Kalau aku menang apakah aku memang layak memegang tampuk kekuasaan? Memerintah dikelilingi oleh orang-orang Singosari yang tentunya akan menanam dendam sakit hati pula atas kekalahan mereka, atas kematian teman dan keluarga mereka?

Ketika suara hati Adikatwang berkata begitu, telinganya seperti mengiang suara jawaban yang lebih keras dan menggetarkan.

Adikatwang kau adalah turunan dan pewaris syah singgasana Kediri. Dulu orang-orang Singosari merebut kekuasaan dan merampas tahta Kerajaan Kediri dari moyangmu! Sekarang saatnya untuk membalaskan segala sakit hati! Sekarang saatnya untuk mengangkat senjata. Kau tidak sendirian. Dimana-mana orang akan mendukung perjuanganmu. Ada ribuan perajurit yang bersedia mengorbankan darah dan jiwa raganya demi berdirinya kembali Kerajaan Kediri. Kesempatan hanya datang satu kali. Kalau kau mengabaikannya kau akan tetap menjadi hamba sahaya di bawah tekanan Singosari!

Adikativang mengusap wajahnya. Sikapnya yang berdiam diri Itu bukan tidak diperhatikan oleh para perajurit yang mengawalnya. Namun tak ada satu orangpun dari mereka yang berani mengatakan resuatu. Rombongan itu bergerak dalam kesunyian lanpa ada yang bicara.

Di satu tempat telinga Adikatwang mendengar sesuatu. Dia hentikan kudanya dan memandang berkeliling.

"Ada apakah Sri Baginda?" tanya seorang pengawal. Para pengikut Adikatwang yang setia selalu memanggil Adikatwang dengan sebutan Sri Baginda. Walaupun pemimpin mereka itu tidak lebih dari seorang raja kecil yang tiada berdaya di satu wilayah yang kecil pula, namun mereka tetap menganggap Adikatwang adalah raja mereka, Raja Kediri.

"Aku mendengar sesuatu..." Jawab Adikatwang.

Sepuluh pengawal memasang telinga. Mereka saling pandang. Beberapa saat kemudian salah seorang dari mereka" berkata. "Kami tidak, mendengar suara apa-apa."

Tentu saja para perajurit itu tidak atau belum mampu mendengar suara yang datangnya sangat sayup-sayup di kejauhan di dalam rimba belantar itu. Karena kesaktiannya Adikatwang bisa mendengar suara itu yang tidak mampu didengar oleh para pengikutnya.

"Ikuti aku... Tapi harap kalian waspada. Tangan kalian jangan jauh di senjata." kata Adikatwang. Maka sepuluh perajurit itu segera menempelkan tangan pada senjata masing-masing. Mereka bergerak mengikuti Adikatwang.

Tak selang berapa lama Adikatwang kembali hentikan kudanya dan berkata. "Suara itu semakin jelas. Apakah kalian bisa mendengarnya sekarang?"

"Ya... Kami dapat mendengarnya sekarang," jawab beberapa perajurit bersamaan.

"Apa yang kalian dengar?" Adikatwang mengulangi.

"Itu... suara...suara orang sesenggukan. Suara orang menangis." jawab perajurit di samping Adikatwang.

Adikatwang mengangguk. "Tidakkah aneh ada ingin menangis di dalam rimba belantara seperti? Mari kita bergerak ke arah suara. Kita akan lihat siapa adanya orang yang menangis itu."

Kembali sepuluh perajurit mengikuti pimpinan mereka bergerak ke arah kanan yaitu dari mana datangnya suara orang menangis terisak-isak. Berapa puluh langkah menunggangi kuda, di suatu tempat yang agak terbuka, duduk di atas sebatang kayu yang sudah lapuk tampak seorang kakek berkulit hitam tengah menangis. Tangisnya sedih sekali dan setiap saat dia mengusap kedua matanya yang basah dengan ujung kaln putih yang diselempangkan di dada. Melihat kepada rambutnya yang digelung di atas kepala serta pakaiannya, tampaknya kakek hitam ini adalah seorang Resi. Tetapi Adikatwang yang mengenali orang tua itu tahu betul kalau kakek itu bukanlah seorang Resi atau Brahmana.

"Dewa Sedih! Sungguh suatu rahmat dari para dewa kalau saat ini aku bisa menemuimu! Aku memang sudah lama mencarimu. Dicari-cari tidak ketemu tahu-tahu muncul sendiri!"

Kakek yang dipanggil dengan julukan Dewa Sedih itu turunkan kedua tangannya. Melihat wajahnya, sekalipun dia tidak menangis, orang akan menyaksikan satu wajah yang selalu membayangkan kesedihan. Kedua alis matanya yang hitam menjulai bawah. Mulutnya mengkerut. Sekalipun dia tersenyum maka mimik wajah itu tetap saja menunjukkan kesedihan.

Begitu melihat Adikatwang, orang tua ini berkata perlahan, "Raden..." Lalu kembali dia menangis terisak-isak. Siapa yang mendengarkan pasti akan merasa sedih.

Adikatwang yang sudah tahu sifat orang tua ini hanya bisa tersenyum. "Dewa Sedih, kau berada jauh dalam hutan begini. Menangis sedih sekali. Apakah pasal sebabnya?"

Dewa Sedih geleng-geleng kepala. Dia mengusap muka dan wajahnya berulang kali. "Aku... Aku melihat sesuatu di telapak tangan kiriku..." katanya lalu kemball menggerung seperti anak kecil.

"Mana coba kulihat telapak tangan kirimu..." kata Adikatwang pula.

Orang tua itu kembangkan telapak tangan kirinya di hadapan Adikatwang.

"Lihat sendiri," katanya. "Lihat, sesuatu akan terjadi sesuatu peristiwa besar yang sangat menyedihkan..." Dewa Sedih meneruskan tangisnya.

"Aku tidak melihat apa-apa," kata Adikatwang sambil tersenyum. Tapi diam-diam hatinya berdetak. Walaupun bersifat aneh dan terkadang menjengkelkan, setiap ucapan orang tua ini tidak boleh dianggap sepi. Dia mengatakan satu peristiwa besar yang sangat menyedihkan akan terjadi. Apakah dia sudah punya firasat kalau...?

"Mata Raden buta rupanya!" terdengar Dewa Sedih berkata setengah memaki. "Masakan gambar yang begini jelas di telapak tanganku Raden tidak melihat?"

"Kau betul Dewa Sedih. Mata orang tolol sepertiku mana punya kemampuan melihat sehebat kedua mata yang kau miliki. Coba kau ceritakan dengan jelas, apa yang kau lihat di telapak tanganmu."

Sambil sesenggukan Dewa Sedih kembangkan talapak tangannya dan memperhatikan lekat-lekat. Sesenggukannya berubah menjadi tangisan keras. Di antara tangisnya terdengar ucapannya. "Perang... ada perang. Darah di mana-mana... Mayat di mana-mana. Sedih... menyedihkan sekali. Dewa Batara kasihani mereka. Tolong mereka... Jauhkan malapetaka itu. Hik...hik...hik..."

Paras Adikatwang jadi berubah. Begitu juga sepuluh orang prajurit yang ada di tempat itu. Mereka saling pandaug bahkan ada yang mulai berbisik-bisik Orang tua ini sungguh luar biasa kesaktiannya. Dia mampu melihat apa yang bakal terjadi dalam waktu dekat ini. Kalau apa yang ditetahuinya itu diberitahukannya pada orang iain, bisa celaka...

"Dewa Sedih, dari pada kau menangis di rimba belantara ini, lebih baik ikut bersamaku ke Gelang-gelang. Aku memerlukan bantuanmu. Ada pekerjaan besar menunggumu. Imbalannya tentu saja besar pula."

"Aku tak mau hidup terikat ikut dengan orang lain. Biarkan aku sendirian di sini. Tangisku belum selesai." Lalu kembali Dewa Sedih menangis tersedu-sedu.

"Dewa Sedih, jangan kau salah kira. Aku atau siapapun tidak ada yang akan mengikatmu. Di Gelang-gelang kau bebas mau pergi kemana, mau melakukan apa. Bahkan menangis di sana akan lebih nikmat..."

"Maksudmu?" tanya Dewa Sedih. Tangisnya terhenti.

"Di sana kau bisa menangis dengan diiringi gamelan. Apa tidak hebat?!"

"Menangis diiringi gamelan?"

"Betul." Jawab Adikatwang sungguh-sungguh.

"Ah... Aku jadi lebih sedih. Kasihan pemain-pemain gamelan itu nantinya. Mereka tidak akan mampu mengikuti suara orang menangis... Pergilah kalian. Aku mau menangis sampai mati."

"Kalau kau memang mau mati, tidak usah menunggu lama. Di hutan ini banyak binatang buas dan binatang berbisa. Kau tinggal memilih mati cara bagaimana. Diterkam harimau. Atau dipagut ular berbisa!"

Mendengar kata-kata Adikatwang itu paras Dewa Sedih berubah. Dia seperti ketakutan tetapi anehnya air mukanya justru kelihatan kuyu sedih.

"Kalau begitu biar aku ikut bersama Raden," kata Dewa Sedih dan cepat bangkit berdiri.

"Ikut aku itu sudah pasti Dewa Sedih. Tapi aku mau tahu di mana saudara mudamu yang berjuluk Dewa Ketawa itu? Sebenarnya aku ingin dia ikut bergabung bersama kami."

"Ah si kentut gendut Dewa Ketawa itu aku tidak mengaku saudara padanya. Aku selalu diejeknya, dihina dan ditertawai."

"Itu urusanku nanti kalau dia masih begitu terhadapmu. Yang penting kau tahu di mana kita bias menemukannya?" tanya Adikatwang.

Dewa Sedih Menggeleng.

"Coba lihat di telapak tanganmu," kata Adikatwang pula.

"Ah, kau betul Raden. Aku baru ingat..." Masih sesenggukan dan wajah menunjukkan kesedihan mendalam Dewa Sedih kembangkan lebar-lebar telapak tangan kirinya. Lalu memperhatikan tanpa berkesip. Beberapa saat kemudian dia mengangkat kepalanya, memandang kepada Adikatwang.

"Gajah buduk itu sebelumnya berada di tepi Kali Brantas sebelah Tenggara. Kini kulihat dia menunggangi keledai bobroknya menuju ke Barat. Jangan-jangan dia dalam perjalanan menuju Tumapel di Singosari."

Adikatwang merasa tidak enak mendengar ramalan Dewa Sedih itu. "Dewa Sedih, apakah kau bisa memanggil adikmu itu lalu sama-sama membantu di Kediri."

Dewa Sedih menggelengkan kepala. "Orang sedih dia mana bisa disatukan dengan orang ketawa. Raden harus memilih. Percaya padaku atau lebih suka padanya. Yang jelas kami berdua tidak bisa seiring sejalan."

Adikatwang mengusap dagunya. "Baiklah," katanya.

"Kalau begitu kau yang akan kuambil. Hentikan tangismu dan jangan terlalu cengeng."

"Aku tidak cengeng! Aku hanya sedih!" kata Dewa Sedih hampir berteriak. Marah dia rupanya. Tapi walaupun begitu tampangnya tetap saja murung.

"Aku tahu... Aku tahu..." kata Adikatwang. "Aku juga sedih."

"Raden juga sedih? Jadi kita sama-sama sedih. Kalau begitu mari kita sama-sama menangis!"

Manusia geblek! Maki Adikatwang dalam hati. Kalau bukan karena kesaktianmu jangan harap aku mau membawa manusia gila sepertimu.***5SIANG itu langit cerah. Diiringi oleh para pengawal, bersama-sama Patih Raganatha, beberapa orang Pendeta dan Panglima Perang Kerajaan Aruajaya, Sang Prabu melangkah menuruni tangga Candi Jago yang terletak di sebelah Selatan Tumapel. Raja Singosari itu baru saja melakukan upacara keagamaan. Candi Jago sengaja didirikan oleh Sang Prabu sebagai tempat pemujaan terhadap ayahandanya yaitu mendiang Wisnu Wardhana. Seorang hamba sahaya membawa payung kuning berumbai-umbai merah untuk melindungi Sri Baginda dari sengatan matahari.

Ketika kaki kiri Sang Prabu Singosari menginjak anak tangga terakhir di bagian depan Candi, tiba-tiba di langit petir menyambar terang benderang. Bersamaan dengan itu menggelegar suara guntur. Bumi berguncang, Langit laksana terbelah. Semua orang yang ada di depan Candi Jago tampak terhuyung. Getaran yang dahsyat terasa sampai ke jantung mereka. Wajah mereka termasuk Sang Prabu tampak berubah pucat oleh rasa kejut yang bukan alang kepalang.

"Petir di tengah hari..." desis Sri Baginda seraya memandang pada Patih Raganatha sementara para Pendeta tampak menundukkan kepala sambil merapal bacaan-bacaan suci. "Apakah artinya ini Mamanda Patih?"

"Saya tidak dapat menjawabnya saat ini Sang Prabu. Sebaiknya kita kembali cepat-cepat ke Tumapel." Menjawab Patih Raganatha. "Memang kita perlu mengkaji apa arti petunjuk para Dewa yang diberikan melalui kejadian tadi."

Sri Baginda mengangguk. Wajahnya agak murung. Dia maklum petir dan guntur tadi merupakan suatu pertanda yang tidak baik. Mungkin tidak baik bagi dirinya, mungkin sekali bagi Kerajaan. Ya Dewa Bhatara, hal apakah yang akan terjadi di Singosari ini? Berucap Sri Baginda dalam hatinya.

Sang Prabu naik ke atas kereta. Rombongan yang baru saja melakukan upacara keagamaan itu bergerak cepat menuju Keraton Tumapel. Di tengah jalan, Patih Raganatha yang duduk di samping Sri Baginda berkata. "Sang Prabu, jika saya boleh mengusulkan, begitu sampai di Keraton sebaiknya kita mengadakan pertemuan. Sebenarnya hal ini sudah agak lama kami inginkan. Pertanda di Candi Jago tadi membuat saya merasakan pertemuan itu sebagai suatu yang mendesak."

Sang Prabu termenung mendengar kata-kata patihnya itu. Namun akhirnya dia menganggukkan kepala. "Beritahu yang lain-lain," katanya.

Begitu sampai di Keraton Sang Prabu langsung masuk ke sebuah ruangan yang biasa dipergunakan untuk pertemuan-pertemuan penting dan mendadak.

Patih dan Panglima serta beberapa Pendeta mengikuti.

Setelah semua orang duduk di tempat masing-masing berkatalah Sang Prabu.

"Mamanda Patih, sekarang coba Mamanda memberikan penjelasan, apakah kejadian di Candi Jago siang tadi merupakan suatu pertanda? Jika benar pertanda apakah? Buruk atau baik?"

Patih Rapanatha menghaturkan sembah terlebih dahulu baru menjawab.

"Daulat Sang Prabu. Saya hanya tahu sedikit soal tanda-tanda ciptaan para Dewa. Saya takut mengemukakannya kalau-kalau keliru. Saya merasa sebaiknya kita meminta orang tertua di antara kita saja yang bicara. Yaitu Pendeta Mayana."

Semua orang menyetujui ucapan Patih KerajaaniItu. Sang Prabu berpaling pada orang tua berambut sangat putih seperti kapas, bermata bening yang duduk di samping Panglima Argajaya. Dialah Pendeta Mayana.

"Terima kasih kalau Sang Prabu mempercayai dan mau mendengar petunjuk dari kami," kata sang Pendeta pula setelah membungkuk terlebih dahulu. "Petir dan guntur di siang hari ketika tidak ada hujan adalah suatu petunjuk jelas akan terjadi sesuatu besar di bumi Singosari. Sesuatu itu mungkin mendatangkan kebaikan, namun sebaliknya bisa juga membawa malapetaka..."

"Saya tidak percaya kalau kejadian tadi merupakan pertanda akan datangnya malapetaka," berkata Sang Prabu. "Kita orang-orang Singosari saat ini berada dalam keadaan berkecukupan. Hasil sawah ladang dan ternak melimpah ruah. Keadaan Kerajaan aman tenteram. Semua karena, perlindungan dan anugerah para Dewa. Kita orang-orang Singosari selalu taat pada agama. Selalu mengingat dan menghaturkan doa sembah kepada para leluhur. Jadi tidak mungkin Para Dewa akan menjatuhkan malapetaka di Kerajaan ini. Sulit bagi saya menerima begitu saja artian yang Pendeta Mayana barusan sampaikan."

"Mohon dimaafkan kalau ucapan kami tidak berkenan di hati Sang Prabu. Kita semua di sini tentu saja memohon pada Dewata agar negeri kita dijauhi dari segala malapetaka maupun bencana dalam bentuk apapun. Kami hanya sekedar mengingatkan bahwa yang buruk dan yang baik itu bisa saja terjadi tanpa terduga. Namun apakah Sang Prabu berkenan mendengarkan beberapa petunjuk lainnya yang berkaitan dengan kejadian siang tadi di Candi Jago?"

"Beberapa petunjuk apa maksud Pendeta Mayana?" tanya Raja pula.

"Untuk itu biarlah kami minta Panglima Argajaya atau Patih Raganatha yang memberikan penjelasan," kata Pendeta Mayana.

Sang Prabu menganggukkan kepalanya ke arah Patih Raganatha. Sang Patih lalu membuka mulut. "Orang kita di Madura melaporkan ada tanda-tanda hahwa Adipati Wira Seta telah menambah kekuatan pasukan Kadipaten. Berkali-kali terlihat adanya latihan perang-perangan. Setahu saya, kita tidak pernah meminta Sumenep untuk melakukan hal itu. Lalu mengapa Adipati Wira Seta berbuat demikhian? Jawabnya hanya satu yaitu bahwa dia mempunyai suatu rencana. Dan rencana itu tidak sulit untuk diterka. Dia tengah menyusun kekuatan untuk memberontak pada Singosari."

Alis mata Sang Prabu nampak naik ke atas. Keningnya berkerut. "Wira Seta hendak memberontak? Tak masuk akal! Bukankah dia sekarang inenjadi Raja Kecil di Madura? Lebih tinggi kedudukannya dari pada di Tumapel ini. Sikapnya selama ini tidak menunjukkan perubahan sedikitpun. Dia mensyukuri jabatan dan tugas yang diberikan. Bagaimana sekarang tahu-tahu Mamanda Patih mengatakan dia menyusun kekuatan hendak berontak? Bukankah latihan perang-perangan suatu hal biasa saja bagi suatu Kerajaan sebesar Singosari ini? Apalagi Madura dipisahkan oleh laut dengan tanah Jawa. Patut dia memperkuat diri untuk berjaga-jaga terhadap hal-hal yang tidak diinginkan. Sesungguhnya apakah yang terjadi di Keraton Tumapel ini? Saya mencium ada orang-orang yang tidak suka terhadap Adipati Wira Seta."

Paras Patih Raganatha tampak berubah merah. Dalam hati dia merasa sangat menyesal telah mengeluarkan kata-kata tadi.

Padahal apa yang diucapkannya adalah sejujurnya tidak ada niatan memburukkan orang lain apa lagi mengkhianati. Diam-diam sang patih menjadi sangat sedih.

Karenanya dia memutuskan untuk tidak membuka mulut lagi.

Sang Prabu berpaling pada Argajaya. "Panglima, apakah kau tidak akan mengatakan sesuatu?"

Panglima Pasukan Kerajaan ini sesaat tampak meragu.

Dia melirik pada Patih Ragantha. Dia merasa hiba terhadap orang tua itu. Dengan maksud hendak membelanya maka diapun berkata.

"Memang ada yang hendak saya laporkan, Sang Prabu. Itu jika Sang Prabu berkenan mendengarnya..."

"Apakah ada sangkut pautnya dengan kejadian siang tadi?" tanya Raja pula.

"Saya tidak berani mengatakan begitu," sahut Argajaya karena dia kawatir dirinya akan ditempelak seperti Patih Raganatha "Yang ingin saya sampaikan ialah menyangkut keadaan dan keamanan negeri. Sesuai dengan tugas dan kewajiban saya menjaga Kerajaan."

"Kalau begitu katakanlah," perintah Sang Prabu.

"Daulat Sang Prabu. Sang Prabu ingat sewaktu utusan Raja Cina keturunan Mongol Kubilai Khan datang ke Singosari beberapa waktu lalu?"

"Saya ingat. Semua kita di sini pasti ingat hal itu." jawab Sang Prabu pula.

"Kejadian dimana kita mengusir utusan itu setelah terlebih dahulu membuat cacat muka pemimpin mereka tidak dapat tidak akan membuat murka Raja Cina. Saya kawatir kalau Raja Cina sewaktu-waktu memerintahkan balatentaranya untuk menyerbu kemari."

Sri Baginda tertawa gelak-gelak mendengar ucapan Panglima Pasukannya itu.

"Orang asing kalau diberi hati, mereka akan menginjak kita. Apalagi kalau kita memperlihatkan sikap takut! Ingat hal itu baik-baik bagi semua yang ada di sini!" Sri Baginda memandang satu persatu wajah-wajah di hadapannya. "Mengenai penghinaan yang kita lakukan terhadap pimpinan utusan Raja Cina itu, apakah kalian tidak melihat bahwa itu adalah lebih ringan dibanding dengan penghinaan yang mereka lemparkan pada kita. Mereka meminta agar kita tunduk kepada Kerajaan Cina!" Pelipis Sang prabu tampak bergerak-gerak tanda dia menahan kemarahan besar. "Kubilai Khan boleh mengirim serdadunya kemari. Raja Cina itu boleh menyerbu Singosari. Kita akan memukul mereka sampai hancur. Tidak ada satu Kerajaanpun mampu menundukkan Kerajaan lain yang terpisah jauh. Mereka mungkin bisa menang, tapi hanya sesaat. Begitu jalur perbekalan mereka putus, mereka akan jadi sasaran hantu kelaparan atau senjata lawan!"

Panglima Argajaya dalam hati mengagumi kecerdikan jalan pikiran Sang Prabu.Tetapi bagaimana kalau Adipati Wira Seta mempergunakan kesempatan. Bergabung dengan pasukan Cina untuk menyerbu Singosari? Rasa-rasanya Singosari hanya akan sanggup bertahan satu hari satu malam. Setelah itu...

Hal itulah yang dikawatirkan oleh Argajaya dan juga diketahui oleh Patih Raganatha. Bahkan para Pendeta yang hadir di situ saat itu juga dapat meraba jalan pikiran kedua orang tokoh Kerajaan tersebut..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.161.217.24
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia