Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

SATU

Warung nasi Mbok Sinem kecil. Tapi tamunya selalu penuh dari pagi sampai malam. Lezat makanannya terkenal sampai ke mana-mana. Siang itu banyak orang bersantap di sana. Para pengunjung begitu selesai makan cepa-cepat embayar dan pergi. Mereka seperti mengawatirkan sesuatu. Tapi nyatanya mereka tidak pergi begitu saja melainkan tegak di bawah pohon tak jauh dari warung. Orang-orang ini sengaja berdiri di sini, memandang warung, epertinya ada sesuatu yang mereka tunggu dan hendak mereka saksikan.
"Kalau Singa Gurun Bromo berani muncul, dia tak bakal lolos!" berkata seorang lelaki muda berbadan langsing. Setelah menyedot rokok kawungnya dalam-dalam dia melanjutkan.

"Seharusnya dia tak perlu datang ke Kuto Inggil ini. Ah, mengapa dia berlaku setolol itu."

"Bagaimanapun Kuto Inggil adalah kampung halamannya. Tempat dilahirkan. Walau ayah dan ibunya sudah tak ada, tak ada sanak tak ada kadang, mana mungkin dia melupakan Kuto Inggil!" menyahuti kawan lelaki muda tadi.

Orang ketiga ikut bicara.

"Enam tahun dia menghilang. Kalau dia berani muncul pasti dia sudah membekal ilmu yang lebih tinggi. Ingat kejadian enam tahun lalu? Waktu dia melumpuhkan para pengawal kadipaten, memberi malu Adipati Dirgo Sampean?"

Orang pertama rangkapkan kedua lengannya di depan dada lalu berkata.

"Singa Gurun boleh punya segudang ilmu. Tapi kau lihat berapa orang yang ada di dalam dan di luar warung itu. Lalu siapa-siapa saja mereka? Dulu kalau dia memang tidak bersalah seharusnya dia tak usah melarikan diri!"

"Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Belum tentu dia kabur karena bersalah. Bisa saja hanya untuk menghidari malapetaka yang lebih besar. Kau tahu sendiri kedua orang tuanya menjadi korban dari masalah yang tidak pernah terjelaskan itu....."

"Yah ..... Kita lihat saja. Apa yang bakal terjadi kelak."

Saat itu di dalam warung nasi Mbok Sinem yang ramai, di antara para tamu yang duduk menikmati makan siang terdepat enam orang berpakaian petani. Yang dua bertubuh tegap kekar serta memiliki pandangan mata liar. Mereka adalah dua orang perwira tinggi kerajaan yang bersama perajurit manyamar sebagai petani. Di balik baju-baju gombrong yang mereka kenakan, tersembunyi golok. Di luar warung masih ada delapan perajurit lagi yang menyamar sebagai penduduk biasa. Lalu agak jauh dari warung, dekat serumpun pohon bambu berdiri dua orang berusia sekitar lima puluh tahun. Sikat mereka tenang tapi pandangan mata keduanya tajam. Mereka adalah tokoh-tokoh silat Istana. Yang pertama dikenal degnan nama Ki Bumi Wirasulo dan satunya Mangku Sanggreng.

Kedua tokoh silat ini muncul di Kuto Inggil atas permintaan Adipati Dirgo Sampean setelah salah seorang dari mata-mata yang disebar melaporkan bahwa Panji Argomanik, pemuda yang lebih dikenal dengan julukan Singa Gurun Bromo itu akan muncul di Kuto Inggil setelah menghilang selama enam tahun.

Saat itu udara panas sekali. Matahari bersinar terik. Sudah sejak lama hujan tak pernah turun. Bumi Tuhan menjadi gersang. Kalau angin bertiup debu jalanan beterbangan menyakitkan mata dan menyesakkan jalan nafas.

"Lihat! Singa Gurun datang!" Seorang berseru seraya menunjuk ke ujung jalan. Semua mata serta merta memandang ke arah yang ditunjuk.

"Dia benar-benar berani mati!"

Di tikungan jalan saat itu muncul seprang penunggang kuda coklat berpakaian dan berikat kepala putih. Debu beterbangan di belakang kuda tunggangannya. Dalam waktu singkat dia sudah berada di depan warung Mbok Sinem. Selesai meanmbatkan kudanya pada sebuah tiang bambu sambil bersiul-siul dia melangkah menuju pintu warung. Masuk ke dalam warung dilihatnya hanya ada satu bangku yang masih kosong, tepat di tengah ruangan.

Sesaat pemuda ini tegak mengusap-usap dagunya.

Dalam hatinya dia berkata "Aneh satu-satunya bangku kosong berada di tengah ruangan. Sepertinya ada yang sengaja mengatur."

Setelah melirik ke kiri dan ke kanan pemuda ini lalu melangkah ke arah bangku kosong. Baru saja dia duduk di situ tiba-tiba beberapa orang di sekitar meja berdiri dan terdengar suara-suara senjata dicabut dari sarungnya. Lalu menyusul suara bentakan-bentakan.

"Singa Gurun Bromo! Jangan kau berani bergerak!"

"Berani melawan amblas nyawamu!"

Pemuda yang barusan duduk di bangku tentu saja menjadi kaget dan memandang berkeliling. Enam orang lelaki tak dikenal mengurung dengan golok di tangan. Yang dua dengan gerakan kilat menyergap ke arahnya. Satu menempelkan ujung golok ke perut dan satunya lagi membelintangkan senjatanya di leher si pemuda.

Setelah sirap kagetnya, si pemuda tampak tenang, malah meyeringai. "Sobat! Kalau kalian hendak merampokku, kalian salah mencari mangsa. Aku hanya seorang manusia miskin! Apaku yang hendak kalian rampok?"

Enam orang yang mengurung tampak berubah kelam tampang mereka tanda menahan amarah. Yang menghunuskan goloknya ke leher si pemuda tekankan senjatanya hingga kulit leher pemuda itu teriris luka. Dia berkata dengan suara bergetar. "Kami bukan perampok. Aku dan kawanku adalah perwira tinggi kerajaan. Empat orang ini perajurit-perajurit kelas satu."

"Eh, hebat! Lalu apa mau kalian? Hendak menyembelihku?! Aku bukan singa, apalagi kambing!"

"Sebelum mampus memang tak ada salahnya kau bergurau dulu. Nanti kalau sudah di liang kubur buronan Singa Gurun Bromo hanya bisa bergurau dengan setansetan kuburan!"

"Eh, kau menyebut aku buronan? Kau tadi menyebut namaku apa? Singa Gurun.....? "Panji Argomanik! Jangan kau berpura-pura!" bentak orang yang menodong dengna ujung goloknya ke perut si pemuda.

"Nah, nah! Sekarang kau menyebut aku Panji Argomanik! Kalian ini anehaneh saja! Sudah pergi sana! Aku ke sini mau mengisi perut bukan ikut-ikutan sandiwara konyolmu ini!"

"Siapa yang konyol dan siapa yang main sandiwara!" bentak salah seorang dari perwira tinggi itu.

"Aku Kunto Areng. Perwira Kerajaan. Mengikuti amarah aku bisa mencincangmu saat ini juga. Tapi Sri Baginda dan Adipati ingin melihat kau mampus di tiang gantugnan!"

"Mencincangku? Memangnya aku daging perkedel?!" semprot si pemuda lalu menyeringai lebar.

"Setan alas!" maki Kunto Areng. Lalu dua jari tangan kirinya bergerak cepat menusuk ke arah dada si pemuda untuk menotok. Tapi dengan cepat si pemuda itu angkat tangan kanannya. Sekali bergerak dia berhasil menangkap lengan Kunto Areng.

"Orang gila!" desis pemuda itu.

"Siapapun kau adanya, aku muak melihat tampangmu! Aku bukan Panji Argomanik, juga bukan singa Gurun Bromo! Pergi!" si pemuda tahan tangan kanan Kunto Areng yang memegang golok dengan tangan kirinya sedang tangan kanannya dengan cepat membuat gerakan aneh. Tahu-tahu tubuh perwira tinggi kerajaan itu terlempar ke atas. Dari mulut Kunto Areng keluar suara jerit kesakitan. Sambungan siku dan sambungan tulang bahunya berderak.

Melihat kejadian ini, Jalak Toga, perwira tinggi yang satu lagi segera tusukkan goloknya ke perut si pemuda. Namun dia kalah cepat. Si pemuda sudah dapat menerka apa yang bakal dilakukan orang itu. karenanya sebelum tusukan datang dia sudah berkelit ke samping. Dari samping dia hantam tengkuk Jalak Toga dengan pukulan tangan kiri. Rupanya perwira ini juga sudha maklum datangnya serangan balasan itu. dia membungkuk sambil membabatkan goloknya.

"Bretttt!"

Pinggang baju putih si pemuda robek besar disamber golok Jalak Toga tapi dirinya sendiri selamat. Warung nasi itu serta merta menjadi kacau balau. Kunto Areng yang masih dalam keadaan kesakitan, pindahkan goloknya ke tangan kiri. Dia memberi isyarat pada empat perajurit di dekatnya. Kini pemuda berpakaian puih itu dikeroyok habis-habisan. Enam golok berkelebat menghantam dari berbagai penjuru.

Si pemuda yang meamang memiliki kepandaian tinggi dan saat itu hanya mengandalkan tangan kosong menangkis dan mengelak dengan cekatan. Satu kali dia berhasil menjotos keras muka salah seorang Prajurit yang mengeroyok. Perajurit ini terpental dengan muka yang bersimbah darah karena hidung dan mulutnya pecah dihantam tinju si pemuda.

Meskipun dikeroyok begitu rupa di mana serangan golok datang silih berganti, namun si pemuda tampaknya seperti sengaja mempermainkan para penyerangnya. Dia berkelebat kian kemari. Kadang-kadang naik ke ujung bangku panjang dengan gerakan keras hingga ujung bangku yang lain mencuat naik menjadi perisainya. Terkadang dia melompat ke atas meja yang masih dipenuhi makanan. Lalu enak saja dia menendangi makanan-makanan itu hingga mencelat melumuri pakaian atau muka para pengeroyok.

"Kawan-kawan!" Kunto Areng berteriak marah setelah sebutir telur bercabe menghantam mata kirinya sehingga dia jadi kalang kabut kesakitan dan keperihan.

"Aku perintahkan kalian untuk mencincang manusia satu ini!" Lalu dia memberi isyarat pada Jalak Toga. Melihat isyarat ini Jalak Toga segera robah permainan goloknya, mengikuti gerakan-gerakan Kunto Areng. Memang kedua orang ini memiliki ilmu golok hebat yang khusus dimainkan secara berpasangan. Serangan mereka datang laksana curahan air hujan, membuat si pemudai kini tak berani lagi petantang petenteng dan harus bertindak hati-hati kalau tak mau tubuhnya terkuntungkuntung.

Selain itu masih ada serangan tiga perajurit lainnya yang menambah beratnya tekanan para pengeroyok. Dua jurus berlalu cepat. Lalu dua jurus lagi. Kunto Areng dan Jala Toga mulai saling melirik. Keduanya sama-sama heran melihat kenyataan bahwa setelah keluarkan ilmu golok andalan dan masih dibantu oleh tiga perajurit yang berkepandaian tidak rendah, ternyata senjata-senjata mereka masih belum dapat menyerntuh tubuh lawan, bahkan bajunyapun tidak!

"Kunto......" berkata jalak Toga. "Aku melihat satu keanehan! Ilmu silat yang dimainkan pemuda ini bukan ilmu silat Singa Gurun. Jangan-jangan......."

"Mengapa musti ragu!" balas Kunto Areng.

"Enam tahun menghilang bukan mustahil dia telah mendapatkan ilmu baru! Memang terus terang kita belum pernah melihat jelas tampang pemuda ini di masa lalu! Tapi aku yakin kita tiak menghadapi orang lain. Dia pasti Singa Gurun Bromo!"

Baru saja kedua orang itu selesai bicara tiba-tiba pemuda yang mereka keroyok kembali melompat ke atas meja makan panjang. Di sini dia tegak tolak pinggang sambil cengar cengir. Lalu seperti seorang gila dia melenggak lenggok kian kemari. Sesekali tubuhnya terhuyung seperti orang mabok hendak jatuh. Sesekali dia melompat sambil tertawa mengekeh lalu membuat gerakan seperti hendak jatuh duduk. Dengan gemas para pengeroyok menyerbu karena mereka menyangka tengah diejek dan melihat si pemuda kini merupakan sasaran empuk. Tetapi para pengeroyok terutama dua perwira tinggi itu diam-diam jadi terkejut ketika mereka dapatkan justru dengan membuat gerakan-gerakan aneh itu si pemuda semakin sulit untuk dirobohkan.

Malah dalam satu gebrakan hebat, kaki kiri lawan berhasil menghantam kepala seorang perajurit hingga tak ampun lagi perajurit ini terpelanting, terkapar di atas salah satu meja, tak berkutik lagi. Rahang kirinya remuk. Dua perajurit lainnya menjadi ciut nyalinya masing-masing sementara dua perwira tinggi walaupun tercekat melihat kejadian itu tetap harus terus menggempur.

"Para sahabat! Biar kami bantu kalian meringkus tikus comberan ini!" Satu suara terdengar dari luar warung. Sesaat kemudian dua bayangan berkelebat masuk.

Mereka ternyata adalah dua tokoh silat istana yaitu Mangku sanggreng dan Ki Bumi Wirasulo.

DUASebenarnya baik Kunto Areng maupun Jalak Toga merasa agak malu menerima bantuan itu karena hal ini menunjukkan ketidak mampuan mereka merobohkan atau meringkus si pemuda. Namun dari pada urusan menjadi kapiran di mana mereka mungkin akan mendapat malu lebih besar maka keduanya diam saja dan menerima bantuan kedua tokoh silat itu. Agar tidak terlalu malu maka Mangku Sangreng sengaja berkata dengan suara dikeraskan "Memang tugas kita semua untuk membekuk cacing tanah ini! Tapi aku ingin dia dicincang di tempat ini juga!"

Ki Bumi Wirasulo menyeringai. "Sesuai pesan, dia justu harus ditangkap hidup-hidup. Bukankah Sri Baginda dan Adipati Dirgo Sampean ingin menyaksikan kematiannya d tiang gantungan?!"

"Perintah atasan, apalagi perintah raja memang harus dijalankan. Aku mengikuti apa mau kalian berdua saja!" berkata Kunto Areng.

Dengan masuknya dua orang tokoh berkepandaian tinggi itu jalannya perkelahian kini menjadi berat sebelah. Tapi konyolnya, pemdua yang dikeroyok tetap saja cengar cengir. Memang sampai dua jurus di muka si pemuda masih belum tersentuh tangan atau senjata lawan. Namun sedikit demi sedikit keadaanya semakin terjepit. Di satu sudut warung dia harus bertahan mati-matian dengan hanya mengandalkan sebuah kursi kayu. Dalam waktu singkat kursi kayu ini musnah berantakan dibabat golok Kunto Areng dan Jalak Toga!

"Sialan!" maki si pemuda. Kedua tangannya segera diangkat.

Mangku Sanggreng dan Ki Bumi Wirasulo segera maklum kalau lawan hendak menghantam dengan pukulan tangan kosong jarak jauh yang mengandung kesaktian dan tenaga dalam. Kedua tokoh silat ini saling memberikan isyarat. Tangan mereka tampak bergerak ke pinggang. Ketika diangkat ternyata mereka memegang seutas tali halus berwarna putih. Si pemuda maklum kalau lawan hendak menjirat atau mengikatnya. Maka dia segera lepaskan pukulan saktinya. Namun tiba-tiba ada asap kelabu mengepul menutupi pemandangan. Di lain kejap dia merasakan ada sesuatu yang menggelung kedua lengannya. Ketika asap kelabu sirna, si pemuda dapatkan kedua tangannya telah terikat ketat oleh tali halus putih itu!

"Celaka!" keluh si pemuda. Dia kerahkan tenaga untuk meloloskan atau memutuskan ikatan tali halus. Tapi sia-sia saja. Selagi dia sibuk berusaha membebaskan diri, Mangku Sanggreng berkelebat menotok punggungnya dari belakang. Tak ampun lagi pemuda itu menjadi kaku tegang tak bisa berkutik ataupun bersuara!

"Gotong dia! Lemparkan ke dalam gerobak!" perintah Mangku Sanggreng.

Empat orang perajurit segera menggotong pemuda yang tertotok itu keluar lalu melemparkannya ke dalam sebuah gerobak yang telah menunggu di halaman depan warung. Orang-orang kerajaan dan dua tokoh silat Istana menyusul keluar. Sampai di luar Kunto Areng mendekati Ki Bumi Wirasulo.

"Sesuai pesan begitu tertangkap Singa Gurun Bromo harus segera di bawa ke Kotaraja. Tapi kalau kita langsung berangkat ke sana, rasanya menjelang pagi baru akan sampai. Bagaimana kalau kita mampir dulu di kadipaten. Selain melapor bukankah Adipati juga ingin lebih dulu menghajar pemuda keparat itu?"

Ki Bumi Wirasulo tak segera menjawab. Dia melirik pada Mangku Sanggreng seolah minta pendapat.

Mangku Sanggreng kemudian berkata "Tangkapan besar sudah kita dapat.

Rasa tegang kini jelas seudah berkurang. Di samping itu kita perlu sedikit istirahat. Bagaimana kalau kita menuju ke kadipaten saja dulu. Menginap di sana lalu pagi-pagi sekali melanjutkan perjalanan!" Habis berkata begitu mangku Sanggreng mendekatkan mukanya ke muka Ki Bumi Wirasulo dan berbisik.

"Aku sudah beberapa bulan tidak melihat tubuh telanjang Ni Suri Arni, perempuan penghibur di kadipaten itu. Kau tentu akan mencari kesempatan pula menemui pacarmu si gemuk Larawati, bagaimana......?"

Ki Bumi Wirasulo tersenyum. Lalu dia berpaling pada dua perwira kerajaan dan berkata. "Aku setuju kita mampir dan menginap di kadipaten. Besok pagi-pagi sekali baru kita berangkat menuju Kotaraja."

Tepat dengan turunnya malam rombongan yang membawa tawanan bernama Panji Argomanik dan berjuluk Singa Gurun Bromo itu memasuki kawasan luar Kadipaten Lumajang. Saat itu hujan yang sudah lama tidak turun tiba-tiba saja jatuh rintik-rintik. Udara siang yang tadi panas membakar kulit kini berubah menjadi dingin. Waktu rombongan berada di kaki sebuah bukit kecil. Di balik bukit itulah terletak Lumajang yang menjadi tujuan.

"Percepat jalan! Aku tak mau basah kuyup kehujanan!" berteriak Mangku Sanggreng.

Setiap anggota rombongan menggebrak kuda-kuda masing-masing. Sais gerobak mencambuk dua kuda penarik gerobak agar binatang-binatang itu menghambur lebih cepat. Kunto Areng yang berkuda di sebelah depan tiba-tiba berseru.

"Lihat! Ada nyala api di dalam hutan sana!"

"Rombongan berhenti!" teriak Mangku Sanggreng. Lalu mereka sama memperhatikan ke arah hutan kecil di tepi kiri jalan.

"Aneh," kata Ki Bumi Wirasulo.

"Ya, memang aneh!" menyahuti Jalak Toga. "Setahuku hutan ini jarang didatangi orang. Hari gerimis pula. Siapa yang menyalakan api itu? Kelihatannya seperti api unggun."

"Mungkin kelompok penjahat pimpinan Warok Keling!" ikut bicara Kunto Areng.

Saat itu tercium bau daging panggang yang sedap dan harum sekali. Hal ini membuat setiap anggota rombongan seolah baru menyadari bahwa perut mereka memang minta diisi.

"Hemmmmm, dugaanmu kurasa betul, Kunto." Kata Ki Bumi Wirasulo.

"Gembong penjahat itu justru sedang dicari-cari. Tidak ada salahnya kita saat ini berbuat pahala untuk kerajaan. Kalau kita berhasil meangkapnya Sri Baginda tentu sangat berbesar hati. Bagaimana kalau kita menyelidiki?"

Mangku Sanggreng menengadahkan kepalanya lalu menghirup udara malam yang gerimis itu dalam-dalam. "Aku setuju kita melakukan penyelidikan. Tapi hatihati. Warok Keling memiliki kepandaian tidak lebih rendah dari Singa Gurun Bromo!"

Sebenarnya Kunto Areng merasa segan untuk ikut menyelidiki karena saat itu keadaan bahu dan sambungan sikunya masih terasa sakit akibat pelintiran Singa Gurun Bromo waktu terjadi perkelahian di warung siang tadi. Namun takut dianggap pengecut Kunto terpaksa menyetujui maksud pawan-kawannya itu.

Dua perwira tinggi dan dua tokoh silat Istana berunding. Kemudian mereka turun dari kuda masing-masing mendekati nyala api dari jurusan yang berbeda. Dua orang perajurit diajak serta, enam lainnya termasuk dua yang cidera sengaja ditinggal untuk menjaga gerobak berisi Singa Gurun Bromo.

Semakin dekat ke nyala api di dalam hutan, semakin santar dan harum bau daging panggang. Tak lama kemudian enam orang itu sudah mengurung perapian.

Mereka melihat ada binatang yang sudah dikuliti tengah dipanggang di atas nyala api.

Mungkin kelinci besar atau anak rusa. Tapi mereka tidak menemukan satu orangpun di tempat itu. tak ada kuda, tak ada kantong-kantong perbekalan atau tikar untuk tidur.

"Aneh, daging itu sudah hampir hangus. Tapi tak ada siapapun di tempat ini!" kata Ki Bumi Wirasulo.

"Mungkin orang yang memanggangnya sedang ke tempat lain....." kata Jalak Toga.

"Tak masuk akal," sahut Mangku Sanggreng. "Sama sekali tidak ada tandatanda orang berkemah di tempat ini!"

"Lalu bagaimana? Kita sembunyi menunggu sampai ada yang muncul? Kurasa sabaiknya kita tinggalkan tempat ini!" berkata Kunto Areng yang memang ingin cepat-cepat pergi saja.

"Kita tunggu sebentar. Kalau memang tidak ada yang muncul kita akan pergi!" jawab Mangku Sanggreng.

"Tapi daging panggang itu tak ada salahnya kita sikat dulu untuk mengganjal perut!" lalu dia mendekati nyala api. Dengan sepotong ranting dia mengorek daging panggang lalu menyantapnya. Beberapa orang lainnya ikut mencicipi daging panggang itu. Hanya Kunto Areng dan dua orang perajurit yang tidak ikut makan. Selesai menghabiskan daging panggang orang-orang itu lalu bersembunyi di balik pohon atau semak belukar.

Waktu berjalan. Tunggu punya tunggu tetap tak ada yang muncul. Kunto Areng berpaling pada Ki Bumi Wirasulo. "Bagaimana?" tanyanya.

Yang ditanya berpaling pada Mangku Sanggreng. "Ya sudah. Kita kembali saja melanjutkan perjalanan ke Kadipaten." Kata Mangku Sanggreng pula.

Orang-orang itu segera kembali ke tempat mereka meninggalkan kuda dan gerobak. Begitu sampai di tempat semula semuanya menjadi terkejut dan berseru tegang!

TIGAEnam orang perajurit yang mengawal gerobak kelihatan terbujur malang melintang di tanah. Dua di antaranya tersandar ke sebatang pohon dan roda gerobak. Empat sudah tak bernyawa lagi. Mereka sudah menjadi mayat dengan kepala hancur. Yang dua dalam keadaan sekarat. Kuda-kuda tunggangan tak seekorpun di tempat itu,hanya dua kuda penarik gerobak yang masih tetap di tempatnya. Memeriksa ke dalam gerobak ternyata Singa Gurun Bromo tak ada lagi di situ!

"Kita tertipu!" teriak Jalak Toga dengan muka berubah pucat.

Ki Bumi Wirasulo, Mangku Sanggreng dan yang lain-lainnya ikut pucat tampang mereka. Mereka sadar bahwa mereka telah tertipu.

"Celaka! Susah-susah kita menangkap manusia itu, tahu-tahu kini dia lenyap begitu saja!" ujar Mangku Sanggreng.

Ki Bumi Wirasulo walaupun sangat terpukul dan tak mampu mengeluarkan sepotong ucapanpun tapi otaknya coba berpikir bagaimana hal itu bisa terjadi. Singa Gurun Bromo berada dalam keadaan tertotok. Jelas tak mungkin dia melarikan diri. Pasti ada yang menolongnya. Lalu siapa si penolong itu? Orang yang menyalakan api dan membakar daging hanya untuk sekedar menipu?

"Begitu mudahnya kita tertipu....!" Kunto Areng membuka mulut. "Kalau saja kita tidak menyelidiki apa yang ada di sini, tidak akan pemuda buronan itu bisa melarikan diri. Pasti ada orang pandai yang telah menolongnya!"

"Jelas memang begitu. Tapi siapa orangnya?!" tanya Mangku Sanggreng pula.

Tak ada yang bisa memberikan jawaban.

"Gara-gara ingin tahu beginilah jadinya!" gerutu Jalak Toga.

"Apa yang akan kita lakukan sekarang? Meneruskan perjalanan ke Kadipaten lalu ke Kotaraja. Memberi laporan bahwa kita kebobolan? Kita semua pasti akan didamprat habishabisan. Aku akan kehilangan jabatan sebagai perwira. Kalian semua bakal mengalami hal yang sama! Kalau sudah begitu....."

"Tutup mulutmu Jalak!" bentak Ki Bumi Wirasulo tiba-tiba. "Tak ada gunanya memaki dan menggerutu panjang lebar. Semua salah kita....."

"Siapa tadi yang punya usul untuk melakukan penyelidikan?!" memotong Kunto Areng. "Dia yang bertanggung jawab!"

Semua mata lantas ditujukan pada Ki Bumi Wirasulo. Memang dialah tadi yang mula-mula mengajak untuk menyelidik nyala api di dalam hutan itu. Paras tokoh silat Istana itu jadi berubah mengelam.

"Jadi kalian menuduh aku yang salah dan harus bertanggung jawab? Bangsat! Aku memang mengajak tapi kalian semua ikut menyetujui! Jadi kalian juga harus ikut bertanggung jawab!"

"Sudah tak perlu kita bertengkar di tempat ini!" Mangku Sanggreng menengahi.

"Adipati dan Sri Baginda yang nanti akan menjatuhkan putusan. Kita harus melanjutkan perjalanan. Aku dan Wirasulo akan mempergunakan dua ekor kuda penarik gerobak itu agar bisa berangkat lebih dulu dan melapor dengan cepat! Kalian agaknya terpaksa harus jalan kaki. Tapi kadipaten tak berapa jauh lagi....."

"Kau memilih enakmu saja!" memotong Jalak Toga.

"Kalau kami harus jalan kaki semua harus jalan kaki!" Lalu dia cabut goloknya. Dengna senjata ini diputuskan tali-tali pengikat dua ekor kuda ke gerobak. Lalu digebraknya binatang-binatang itu hingga menghambur lari dalam kegelapan malam.

"Keparat kau Jalak Toga! Apa maksudmu melakukan hal itu?!" bentak Ki Bumi Wirasulo seraya melompat ke hadapan perwira tinggi itu. Jalak Toga sudah siap menyambuti sergapan orang dengan hantaman tinju kanan. Tapi Kunto Areng dengan cepat menengahi.

"Kalian tolol semua! Mengapa bertengkar dan saling gebuk? Kita berangkat sama-sama, sampai di tujuan harus sama-sama. Ayo semua jalan kaki!" lalu dengan langkah terhuyung-huyung karena bahu dan sikunya masih sakit Kunto Areng melangkah lebih dulu.

Ki Bumi Wirasulo dan Mangku Sanggreng masih memandang melotot pada Jalak Toga. Terdengar Ki Bumi kemudian berkata dengan suara ketus. "Kalian perwira-perwira kerajaan memang sejak dulu merasa iri melihat Sri Baginda lebih memperhatikan kami tokoh-tokoh silat Istana. Itu semua karena ketololan kalian sendiri yang mabuk pangkat....."

Jalak Toga menyeringai. "Setelah kejadian ini, kita akan lihat Ki Bumi. Apakah Sri Baginda akan tetap memanjakan kalian tokoh-tokoh silat yang kerjanya lebih banyak petatang-peteteng menghabiskan uang kerajaan dan tahunya hanya bisa main perempuan!"

"Kurang ajar kau Jalak! Jaga mulutmu!" teriak Mangku Sanggreng marah lalu melompat ke hadapan Jalak Toga hendak menampar muka perwira tinggi Kerajaan itu.

Jalak Toga cepat cabut goloknya seraya mengancam. "Teruskan gerakanmu. Kutebas putus tangan celakamu!"

Rahang Mangku Sanggreng menggembung. Ki Bumi Wirasulo memegang bahunya. "Sudah Mangku. Sabarlah sedikit hatimu. Masih ada waktu untuk memberi pelajaran sopan santun pada cacing tanah ini!"

"Aku bersumpah untuk menghajarmu agar kau bisa bicara lebih tahu peradatan!" kata Mangku Sanggreng pula.

Jalak Toga menjawab dengan meludah ke tanah lalu memutar tubuh dan melangkah menyusul kawannya Kunto Areng.

"Aku ingin membunuh bangsat itu malam ini juga!" kata Mangku Sanggreng begitu Jalak Toga berlalu.

"Sama, aku juga!" jawab Ki Bumi Wirasulo.

"Tapi jangan sekarang. Kita harus mencari saat yang baik......"

Apa sebenarnya yang telah terjadi sewaktu Ki Bumi Wirasulo dan anggota rombongan lainnya memasuki hutan untuk menyelidiki nyala api?

Hanya beberapa saat setelah orang-orang itu melangkah pergi masuk ke dalam rimba belantara, dari balik sebuah pohon besar di tepi jalan keluar satu bayangan putih. Sosok ini bergerak cepat menuju gerobak di mana tergeletak pemuda yang dituduh sebagai Panji Argomanik alias Singa Gurun Bromo. Ketika dia hendak melompat ke dalam gerobak, dua orang perajurit pengawal sempat melihatnya dan berteriak. Bersama dua orang kawannya perajurit ini segera melompat dengan golok di tanan. Orang yang hendak melompati gerobak itu ternyata seorang pemuda berpakaian serba putih dengan ikat kepala merah. Rambutnya sepanjang bahu.

"Siapa kau?!" hardik salah seorang perajurit.

Baru saja dia membentak begitu, kaki kanan pemuda itu tiba-tiba melesat.

"Krak!" perajurit yang barusan membentak terpental dan roboh tanpa nyawa lagi.

Mukanya hancur dimakan tendangan!

Tentu saja tiga kawannya menjadi marah. Dua lainnya yang berada dalam keadaan cidera juga tidak tinggal diam. Mereka cabut golok masing-masing dan ikut membantu kawannya mengeroyok si pemuda. Sehabis membunuh perajurit yang pertama, pemuda tak dikenal itu melompat ke atas kereta. Lalu dari atas kereta tendangan-tendangannya berkelebat menebar maut. Tiga perajurit menemui kematian dilanda tendangan kakinya yang memang luar biasa. Dua perajurit lainnya masih untung hanya cidera muntah darah, namun agaknya nyawa mereka pun tak bakal lama. Bagian tubuh mereka di sebelah dalam ada yang pecah.

Setelah menghajar keenam perajurit itu, pemuda tadi berbalik ke arah Singa Gurun Bromo yang tergeletak di lantai gerobak. Dia telah sempat menyaksikan kehebatan pemuda tak dikenal ini menghajar enam perajurit tadi. Si rambut coklat membungkuk. Dia memeriksa tubuh Singa Gurun Bromo dengan cepat lalu membalikkannya. Dengan ujung-ujung jarinya dia kemudian lepaskan totokan di punggung pemuda itu.

"Terima kasih! Kau siapa?!" tanya Singa Gurun Bromo seraya melompat.

"Nanti saja kujawab pertanyaanmu," jawab si pemuda. "Kita tak ada waktu banyak. Harus lekas pergi dari sini sebelum orang-orang itu kembali!"

"Sesudah kau tolong begini aku justru ingin mencari keparat-keparat itu. Ingin aku menggebuk mereka satu persatu. Enak saja aku diperlakukannya seperti ini!"

Pemuda penolong tersenyum. "Kau mau ikut aku atau tidak?"

"Tidak! Kecuali kau terangkan siapa dirimu!"

"Baiklah. Aku Panji Argomanik orang yang mereka juluki Singa Gurun Bromo!" kata pemuda itu pada akhirnya.

Si gondrong yang satu jadi melengak kaget, garuk kepala dan mendamprat.

"Sialan! Gara-gara kau aku jadi dibuat babak belur begini!"

"Aku sudah tahu apa ang terjadi dengan dirimu sejak awal. Itu sebabnya aku menguntit perjalanan rombongan. Aku yang membuat nyala api di dalam hutan dan memanggang seekor kelinci besar sebagai tipuan. Begitu mereka menyelidi masuk ke dalam hutan aku segera keluar dari persembunyian!"

"Sialan! Lalu bagaimana orang-orang itu tidak bisa membedakan aku dengan kau?!"

"Usia kita sebaya. Potongan tubuh agak serupa. Lagi pula orang-orang itu tidak pernah mengenal jelas tampangku. Apalagi setelah enam tahun aku menghilang!"

"Sialan!" maki si rambut gondrong sambil menggaruk kepalanya kembali.

"Dari tadi kau hanya memaki saja sobat. Coba katakan dulu siapa namamu!"

"Aku Wiro Sableng!"

"Namamu boleh juga. Kuharap kau tidak sableng beneran!" kata Panji Argomanik alias Singa Gurun Bromo yang asli.

"Kenapa kau menolongku?" tanya Wiro.

"Aku tidak tega. Kau hanya korban ketololan orang-orang itu. Mereka mencari aku tapi menyangka kaulah Singa Gurun Bromo itu. Masakan aku sampai hati membiarkan kau digantung tanpa salah dan dosa!"

"Ah, kau orang baik. Aku ikut denganmu!" kata Wiro "Bagus. Cepatlah. Orang-orang itu agaknya segera akan kembali ke tempat ini!"

Pendekar 212 Wiro Sableng garuk kepalanya. Sambil menggeleng dia berkata.

"Gila! Bagaimana aku bisa mendapat pengalaman pahit sepertii ini. Kalau tidak kau tolong pasti aku akan jadi mayat di tiang gantungan!"

"Sudah jangan mengoceh juga. Mari!" Singa Gurun Bromo berrkelebat turun dari atas gerobak. Murid Sinto Gendeng bergerak mengikuti. Di satu tempat Wiro bertanya.

"Apa dosamu hingga ada Adipati bahkan Raja ingin menggantungmu?!"

"Kita cari tempat yang baik. Nanti kuceritakan semuanya padamu. Aku harus menemui seseorang dulu di Kuto Inggil!"

"Orang tuamu?"

Singa Gurun Bromo menggeleng. "Mereka sudah meninggal."

"Hemmmm..... Kalau begitu pasti kau menemui seorang perempuan. Kekasihmu! Betul?!"

Sambil berlari Panji Argomanik berpaling "Bagaimana kau bisa tahu?"

"Mudah saja. Jika dalam keadaan berbahaya seorang pemuda masih memerlukan menemui orang lain, pasti yang ditemuinya itu adalah kekasihnya!"

"Rupanya dalam soal perempuan otakmu cerdik juga!" kata Panji Argomanik pula yang disambut gelak tawa oleh Pendekar 212 Wiro Sableng.

"Astaga! Jangan kau tertawa keras-keras. Sekali terdengar oleh orang-orang itu bisa berbahaya....."

"Siapa takutkkan mereka? Terus terang aku penasaran hendak menjajal kepandaian mereka. Sialan! Mereka menipuku dengan asap kelabu itu. Tahu-tahu kedua tanganku sudah terikat!"

"Dua orang yang muncul kemudian itulah dua tokoh silat Istana. Ki Bumi Wirasulo dan Mangku sanggreng. Mereka selalu berkelahi berpasangan. Mereka berasal dari satu guru. Kepandaian mereka sebetulnya tidak seberapa tinggi. Namun mereka memiliki kecerdikan luar biasa dan senjata-senjata aneh. Di antaranya Benang Dewa yang sempat membuatmu tak berdaya itu!"

Diam-diam Wiro mengagumi ilmu lari yang dimiliki Singa Gurun Bromo.

Namun jika dia mengerahkan seluruh kepandaiannya pasti Singa Gurun Bromo itu sanggup ditinggalkannya sampai sejauh seratus langkah di balakangnya. Tapi murid Sinto Gendeng tidak ingin membuat pemuda itu kecewa. Lagi pula selain menyukainya, Wiro juga ingin tahu mengapa dia sampai jadi buronan para penguasa.

Lalu karena dia yang menjadi pimpinan dalam pelarian itu maka Wiro biarkan sahabat barunya itu berlari di sebelah depan.

EMPATDua pemuda yang baru saling kenal itu lari ke arah Barat Kuto Inggil di mana terletak sebuah kampung kecil bernama Telogosari.

"Hatiku tidak enak...." Kata Panji Argomanik begitu mereka memasuki pinggiran kampung.

"Lihat ada kepulan asap di sebelah sana.....?"

Wiro memandang ke arah yang ditunjuk Panji dan mengangguk.

"Sepertinya barusan saja ada kebakaran." Kata murid Sinto Gendeng pula.

Panji Argomanik lari laksana terbang. Wiro mengikuti dari belakang. Mereka masuk ke Telogosari lewat jalan kecil di sebelah Selatan. Beberapa buah rumah kayu dalam keadaan gelap gulita mereka lewati. Di ujung jalan, dekat sebuah gubuk kosong Panji hentikan larinya. Tangannya berpegang pada tiang bambu. Mukanya yang merah karena berlari tampak berubah pucat.

"Ya Tuhan....." Pemuda ini mengucap.

Murid Sinto Gendeng tak perlu bertanya. Dia memperhatikan ke arah yang dipandang Panji. Di ujung jalan sebuah rumah kayu baru saja musnah dimakan api.

"Rumah kekasihmu....?"

Panji tak menjawab. Dia lari sambil berteriak. "Larasati.....!"

Panji Argomanik tegak dengan tubuh gemetar di depan puing-puing rumah yang terbakar. Dia berteriak lagi. Tak ada yang menjawab. Sebuah palang kayu yang dimakan api berderak patah lalu jatuh. Panji hendak melompat ke dalam rumah yang masih dikobari api itu. Wiro cepat memegang tangannya.

"Jangan lakukan. Semua sudah musnah!"

"Aku kawatir Larasati ikut terbakar....." kata Panji dan jatuh berlutut.

Wiro memandang berkeliling. "Aneh," katanya dalam hati. "Rumah satu ini terbakar. Tapi penduduknya yang diam di sekitar sini tak ada satupun yang keluar untuk memberikan pertolongan ataupun sekedar melihat. Ini bukan kebiasaan orang kampung!" Wiro lalu katakan rasa herannya itu pada Panji Argomanik.

"Aku yakin ini bukan kebakaran biasa!" kata pemuda berambut coklat itu.

"Rumah ini sengaja dibakar! Jika penduduk tak ada yang berani keluar untuk menolong, pasti ada yang mereka takutkan!"

"Siapa menurutmu yang punya pekerjaan biadab ini Panji?"

"Tak dapat dipastikan. Tapi pangkal dari segala malapetaka ini hanya disebabkan oleh satu orang!"

"Siapa?"

"Adipati Lumajang. Dirgo Sampean!"

"Kalau begitu kita bisa menyelidik ke Kadipaten."

Panji mengangguk.

"Aku memang sudah bersumpah untuk mematahkan batang leher adipati keparat itu dengan tanganku sendiri. Dia yang membuatku harus kabur dari Kuto Inggil. Juga dia penyebab kematian kedua orang tuaku. Pasti dia juga yang menyuruh bakar rumah ini. Larasati..... Di mana kau Larasati.....? Keparat! Jangan-jangan dia telah membakar kekasihku bersama rumah ini!" Panji Argomanik melompat berdiri. Rahangnya menggembung.

"Aku harus memastikan dulu!" katanya.

Lalu dia mengelilingi ruamh yang kobaran apinya mulai mengecil. Tiba-tiba terdengar teriakan Panji Argomanik. Wiro cepat mendatangi.

"Ada apa......?"

"Lihat di balik gedek yang masih terbakar itu....."

Wiro merasakan tengkuknya merinding. Di balik dinding kajang yang hampir musnah menyembul sepasang kaki yang belum sempat dimakan api. Di atas kaki ada sepotong hangusan kain panjang yang menyatakan si pemilik kaki adalah seorang perempuan.

"Mereka membakar Larasati! Mereka membunuh kekasihku!" teriak Panji Argomanik seperti gila. Dia hendak melompat ke dalam reruntuhan rumah yang terbakar. Lagi-lagi Wiro mencegahnya dengan memegang tangan pemdua itu erat-erat.

"Kita bisa mengambil tubuh yang terbakar itu Panji. Tapi tidak perlu dengan menyabung nyawa melompat masuk ke dalam api!" Wiro lalu ambil sebatang bambu yang tersandar dekat sumur. Pada ujung bambu ini dikaitkannya seutas kawat yang dibentuk berupa lingkaran. Lalu dengan galah berkawat itu dia coba menjirat salah satu kaki yang terjulur di bawah dinding kajang. Bukan pekerjaan mudah, apalagi nyala api yang menyengat panas. Dengan tubuh dan pakaian kuyup oleh keringat Wiro berhasil memasukkan lingkaran kawat ke salah satu kaki di bawah kajang. Lalu dengan tengkuk masih merinding, disaksikan dengan tegang oleh Panji Argomanik, murid Eyang Sinto Gendeng ini mulai menarik kaki itu dengan hati-hati dan perlahanlahan.

Sedikit demi sedikit sosok tubuh yang berada di bawah kajang tertarik keluar.

Mula-mula kelihatan sepasang betis yang sudah hangus hitam. Lalu..... Wiro mengerenyit. Panji pejamkan kedua matanya. Bagian tubuh di atas betis sampai ke pinggang bahkan sampai ke dada hanya tinggal tulang belulang gosong yang tak dapat dikenali lagi.

"Demi Tuhan..... Teruskan Wiro. Tarik lagi. Aku ingin memastikan. Aku ingin melihat bagian kepalanya....." kata Panji Argomanik dengan suara gemeteran.

Dengan hati-hati Wiro kembali menarik galah bambu itu. Bagian dagu sosok yang terbakar mulai kelihatan. Tapi celakanya saat itu des! Lingkaran kawat yang dipakai untuk mengait pergelangan kaki putus tak tahan panas. Wiro terduduk. Panji Argomanik mengusap mukanya berulang kali.

"Wiro lakukan sesuatu! Aku harus melihat wajah orang itu!" teriak Panji seperti mau gila.

"Kalau sebagian tubuhnya sudah gsong, apa kau masih bisa mengenali tengkorak kepalanya yang mungkin sudah jadi debu?!"

"Tidak! Jangan ucapkan itu! Lakukan sesuatu! Demi Tuhan lakukan sesuatu atau aku akan melompat ke dalam api itu!" teriak panji Argomanik lagi.

Wiro berdiri. Perlahan-lahan dijangkaunya galah bambu tadi lalu berdiri, melangkah dan mencoba mendekati runtuhan rumah yang masih terbakar. Dengan ujung bambu dicobanya mendorong dan membalikkan sisa-sisa dinding kajang.

Sekali, dua kali dan sampai tiga kali tidak berhasil. Wiro maju lagi beberapa langkah.

Panasnya api bukan alang kepalang. Wiro coba bertahan dengan segala kekuatan yang ada dia coba lagi membalikkan dinding kajang itu. Kali ini berhasil. Dinding kajang yang terbakar terbalik ke kiri membuat nyala api serta debu hitam menggebubu ke atas. Di tanah, di antara puing-puing hitam reruntuhan yang terbakar tampak satu kepala yang sudah hitam dan tak dapat dikenali lagi. Di atas kepala masih tersisa sebagian rambut yang berwarna keputih-putihan.

"Ya Tuhan..... Ya Tuhan.....!" Nafas Panji Argomanik memburu dan dadanya turun naik.

"Bukan dia Wiro. Bukan Larasati. Mayat ini berambut putih..... aku yakin itu mayat Bibi kanoman yang selama ini memelihara Larasati...."

Wiro menarik nafas lega. Kalau itu mayat orang lain, lalu di mana kekasih sahabat barunya itu? Wiro tak berani mengucapkan hal itu.

"Kalau penjahat yang melakukan hal ini pasti Larasati diculik...."

"Mungkin kekasihmu tidak ada di rumah ketika rumah ini dibakar. Berarti dia dalam keadaan selamat."

"Tak dapat kupastikan Wiro.... Aku harus menyelidikinya. Aku harus mendatangi gedung Adipati Dirgo Sampean! Biadab!"

Wiro memandang berkeliling. "Aku yakin ada satu atau dua tetangga di sekitar sini yang mengetahui apa yang telah terjadi. Aku akan gedor dan tanyai mereka!"

Pendekar 212 mendatangi sebuah rumah terdekat lalu mengetuk pintu rumah itu dengan keras. Digedor berulang kali tak ada yang menjawab apalagi muncul membuka pintu.

"Sialan!" Wiro memaki. Dia tendang pintu itu sampai jebol lalu pindah ke rumah di sebelahnya. Setelah menggedor berulang kali akhirnya terdengar langkah kaki di sebelah dalam. Lalu muncul seorang lelaki separuh baya dengan muka pucat ketakutan.

"Kami.... Kami tidak punya apa-apa. Kami petani miskin. Tak ada barang berharga yang bisa kuserahkan pada kalian....."

"Sialan! Aku bukan perampok!" hardik Wiro seraya menjambak sarung orang itu lalu menariknya keluar. "Tapi aku akan mematahkan batang lehermu kalau kau tidak menceritakan apa yang terjadi. Siapa yang membakar rumah itu!"

"Saya......saya....."

"Plak!" Wiro tampar orang itu dengan keras hingga dia terjajar nanar. Saat itu Panji Argomanik sudah berdiri di samping Wiro. Begitu orang bersarung melihat pemuda ini, kedua matanya menjadi besar. Rupanya dia mengenali siapa adanya pemuda ini.

"Kau..... Panji.... Kaulah yang mereka cari! Di desa tersiar kabar bahwa kau akan kembali ke Kuto Inggil. Mereka menyangka kau pasti akan datang ke sini. Tapi begitu mereka tidak menemukan kau, mereka terus membakar rumah. Membunuh Ibu Kanoman....."

"Bagaimana dengan Larasati?!" tanya Panji memotong.

"Mereka menculiknya. Mereka membawa lari kekasihmu. Kami penduduk tak berani menolong. Mereka berjumlah sekitar sepuluh orang...."

"Kau mengenali siapa mereka....?" Tanya Wiro.

Orang yang ditanya menggeleng.

"Gerombolan rampok Warok Keling?" tanya Panji Argomanik.

"Tidak bisa saya ketahui Panji. Mereka menutupi wajah dengan kain..... Mereka menunggangi kuda. Mereka melarikan diri setelah mendapatkan Larasati....."

Panji Argomanik mendengarkan keterangan itu dengan kedua tinju terkepal.

"Kalau.... Kalau tak ada lagi yang hendak ditanyakan, izinkan aku masuk. Di dalam anak istriku setengah mati ketakutan...."

Wiro menarik tangan Panji Argomanik, mengajaknya meninggalkan tempat itu. "Kita harus mencari petunjuk siapa orang-orang yang menculik kekasihmu, Panji."

"Kalau mereka bertopeng siapa yang bisa mengenali?!" ujar Panji hampir putus asa.

"Apa silang sengketamu sebenarnya dengan kerajaan dan Adipati Lumajang?"

"Aku dituduh membunuh seorang putera Pangeran yang tergila-gila pada Larasati dan ingin mengambilnya jadi istri. Adipati Lumajang yang paling marah atas kejadian itu karena berlangsung di wilayah kekuasaannya. Dia sengaja memburuku karena ingin berbuat pahala pada Kerajaan, sekalian menjilat pada sang Pangeran dan Sri Baginda!"

"Aku ingat keterangan orang tadi. Katanya rombongan itu datang karena menyangka kau ada di rumah kekasihmu. Berarti mereka adalah suruhan sang Pangeran atau petugas-petugas Kerajaan. Berarti Sri baginda sendiri atau Adipati Lumajang yang menyuruh mereka untuk turun tangan!"

"Mungkin begitu. Tetapi mengapa mereka harus menutupi muka dengan kain segala? Berati mereka takut wajah masing-masing dikenal penduduk Telogosari!" menjawab Panji.

Pendekar 212 garuk-garuk kepalanya. Matanya kemudian tertumpuk pada sebuah benda yag tergeletak di tanah. Dia melangkah mendekati dan memungutnya lalu memperlihatkannya pada Panji Argomanik. Benda itu ternyata adalah sebuah ladam kuda.

"Mungkin ini bisa dijadikan bahan pengusutan....." kata Wiro.

Panji tidak memberikan jawaban. Pemuda ini berkata. "Aku akan menyelidik ke gedung Kadipaten lebih dulu. Jika berangkat sekarang menjelang pagi aku bisa sampai ke sana."

"Aku ikut bersamamu," kata Wiro pula.

LIMAKarena mampu berlari cepat menjelang dini hari Singa Gurun Bromo dan Pendekar 212 Wiro Sableng sudah memasuki Kadipaten. Panji Argomanik langsung menuju gedung Kadipaten yang terletak di depan sebuah alun-alun. Mereka sengaja datang dari bagian belakang gedung agar tidak melewati lapangan terbuka di mana mereka akan mudah terlihat oleh para pengawal.

Setelah memanjat halaman belakang kedua pemuda ini menyelinap di balik jambangan-jambangan besar lalu menyusup ke halaman samping yang gelap. Saat itu di dalam gedung ada cahaya terang lampu tanda penghuninya ada yang belum tidur.

Begitu Wiro dan Panji bergerak ke dekat jendela, di dalam gedung terdengar suara orang bercakap-cakap lalu langkah-langkah kaki menuju ruang depan. Pintu depan terbuka. Adipati Dirgo Sampean muncul diiringi oleh lima orang lelaki. Kelima orang ini membungkuk hormat sebelum turun dari tangga gedung Kadipaten. Mereka berjalan menemui lima orang lainnya yang rupanya tidak ikut masuk dan sengaja menunggu di halaman depan. Tak lama kemudian kesepuluh orang itu tampak meninggalkan kadipaten dan lenyap ditelah kegelapan malam.

"Hatiku berdetak, jangan-jangan rombongan sepuluh orang itu yang membakar rumah dan menculik Larasati...." Kata Panji Argomanik pada Wiro.

"Dugaanmu mungkin betul. Di sebelah sana ada kandang kuda. Kita bisa mengambil dua kuda tunggangan dan mengejar rombongan tadi...."

"Aku setuju. Kita harus bergerak cepat!" kata Panji pula.

Baru saja kedua pendekar ini endak meninggalkan halaman samping itu tibatiba di halaman depan terlihat enam orang memasuki pintu gerbang kadipaten.

Seorang penjaga mendatangi. Begitu mengenali siapa yang datang dengan cepat penjaga ini masuk ke dalam gedung. Tak lama kemudiaan penjaga tadi muncul kembali dan mempersilahkan masuk empat dari enam orang yang datang. Keempat orang yang masuk ini bukan lain adalah Ki Bumi Wirasulo, Mangku Sanggreng lalu Kunto Areng dan Jalak Toga.

Melihat kemunculan orang-orang ini yang datang tanpa kuda dan pakaian serta tubuh basah oleh keringat, lalu muka dan rambut kusut masai Adipati Dirgo Sampean yang baru saja hendak masuk ke dalam kamar tidurnya jadi terheran-heran.

Sesuatu pasti telah terjadi dengan orang-orang ini pikirnya. Maka tanpa mempersilahkan keempat orang itu duduk dia langsung saja bertanya seraya menyapu wajah keempat orang itu dengan pandangan tajam.

"Ada apa?!"

"Waktu hendak menuju kemari, di tengah jalan kami, kami berpapasan dengan serombongan orang. Apaah mereka barusan datang dari sini?" yang membuka mulut adalah Ki Bumi Wirasulo.

Rahang sang Adipati tampak menggembung. "Ki Bumi! Kau seperti orang yang tidak tahu peradatan saja! Aku mengajukan pertanyaan. Kau bukannya menjawab malah balik bertanya. Kalian datang kemari untuk melapor atau menanyaiku!"

"Harap maafkan saya, Adipati," jawab Ki Bumi Wirasulo dengan wajah merah.

"Bukan maksud kami berlaku kurang ajar. Tapi kami melihat orang-orang itu rata-rata berwajah garang dan kami tidak mengenali mereka. Kami kawatir......"

"Siapa adanya orang-orang itu bukan urusan kalian. Ki Bumi, kau mewakili kawan-kawanmu. Katakan saja apa yang telah terjadi! Aku mencium bau tak enak saat ini!" kata Adipati Dirgo Sampean dengan suara keras.

Ki Bumi Wirasulo jadi panas hatinya. Dia berpaling pada Mangku Sanggreng dan berkata. "Kau saja yang menerangkan apa yang telah terjadi."

Mangku Sanggreng batuk-batuk dulu beberapa kali. Baru membuka mulut.

"Kami mengalami nasib apes Adipati. Sebenarnya kami telah berhasil meringkus Singa Gurun Bromo di Kuto Inggil. Pemuda itu kami sergap di warung nasi Mbok Sinten. Dalam perjalanan kemari kami melihat ada nyala api yang mencurigakan dalam hutan belantara. Kami coba menyelidik karena bukan mustahil gerombolan Warok Keling yang berkemah di tempat itu....." Mangku Sanggreng kemudian menuturkan apa yang terjadi selanjutnya.

Tampang Adipati Lumajang itu tampak kelam membesi begitu mendengar seluruh keterangan yang disampaikan Mangku Sanggreng.

Sesaat sang Adipati tertegak tak bergerak, hanya sepasang matanya saja yang memandang melotot dan beringas pada keempat orang itu. Perlahan-perlahan kelihatan dia menggeleng-gelengkan kepalanya.

"C....c....c...! Bukan main!" kata Dirgo Sampean pula.

"Dua orang tokoh silat Istana berkepandaian tinggi. Dia orang perwira tinggi Kerajaan. Ditambah delapan orang perajurit! Gila! Tolol dan menggelikan. Kalian sampai bisa ditipu orang seperti itu! Aku tidak mau melaporkan kejadian ini pada Sri Baginda. Kalian harus tanggung jawab sendiri dan berangkat sekarang juga ke Kotaraja!" Keempat orang itu terdiam.

"Kalau begitu perintah Adipati, kami akan mematuhinya. Tapi harap jangan bicara terlalu keras!" berkata mangku Sanggreng.

"Apa maksudmu?!" tanya Dirgo Sampean dengan mata kembali membeliak.

"Kami bekerja di bawah perintah Sri Baginda. Tidak layak Adipati mengeluarkan kata-kata kasar begitu rupa. Terhadap dua orang perwira ini silahkan saja. Menggebuk merekapun kami tidak mau tahu karena memang bekerja untuk kerajaan dan berada di bawah pimpinan Adipati.....!"

Adipati Dirgo Sampean menyeringai. "Jika kalian berdua berkata begitu, silahkan angkat kaki dari gedung ini saat ini juga!" Lalu Adipati Lumajang itu bergegas ke pintu. Pintu depan dibukanya lebar-lebar dan dia memberi isyarat dengan goyangkan kepala pada Ki Bumi Wirasulo dan Mangku Sanggreng agar segera keluar.

Sebelum keluar kedua tokoh silat Istana itu masih sempat melihat Jalak Toga dan Kunto Areng lontarkan seringai sinis ke arah mereka. Adipati Dirgo Sampean membantingkan pintu. Lalu berpaling pada dua perwira tinggi yang tegak tak bergerak dengan wajah kuncup.

"Kalian berdua tidak usah takut. Aku tidak marah pada kalian. Aku hanya melepaskan kebencianku pada dua orang tadi."

Mendengar ucapan Adipati itu Kunto Areng dan Jalak Toga menjadi lega dan berdarah kembali wajah masing-masing.

"Mereka sedikit bekerja tapi hidup enak. Mendapat kesenangan dari Istana. Kita yang telah mengabdi pada kerajaan sekian puluh tahun malah tidak diperhatikan. Kaum penjilat seperti mereka sekali-sekali memang harus diberi pelajaran!"

"Ah, rupanya bukan kami saja yang punya pendapat begitu. Syukur kalau Adipati mengetahui hal itu...." kata Jalak Toga.

"Kalian boleh bermalam di sini. Besok ada tugas untuk kalian!"

"Terima kasih, Adipati masih mempercayai kami!" kata Kunto Areng seraya membungkuk.

"Kita orang-orang satu kelompok harus saling menghormat dan bekerja sama," kata Adipati pula sambil menepuk bahu perwira tinggi itu.

Di halaman samping begitu melihat Ki Bumi Wirasulo dan Mangku Sanggreng meninggalkan halaman Kadipaten, Pendekar 212 segera hendak bergerak.

"Itu mereka! Kurasa ini saat yang baik untuk menjajal kembali kehebatan keduanya!"

"Baik bagimu tidak bagiku sobat!" kata Panji seraa menarik celana sang pendekar.

"Apa yang hendak kau lakukan bisa merusak rencanaku untuk mengusut di mana Larasati saat ini berada dan siapa yang telah menculiknya."

"Ingat ladam kuda yang kita temui itu? ujar Wiro. "Tunggu saja sampai pagi. Kau hanya tinggal menunjukkan padaku di mana orang biasa mengupah memperbaiki atau memasang ladam kudanya....."

"Cuma ada satu di Kuto Inggil. Bengkel kuda Karjo Lugu." Jawab Panji.

"Bagus kalau cuma satu. Berarti kita tidak perlu menghabiskan waktu menyelidik ke mana-mana."

Kedua orang itu menunggu sampai seorang pengawal yang melakukan penjagaan keliling lenyap di ujung gedung. Lalu cepat-cepat mereka menuju halaman belakang, memanjat tembok dan lenyap ditelan kegelapan malan dan udara dingin menjelang pagi itu.

ENAMDi bengkel kuda milik Karjo Lugu para pemilik kuda dapat membeli segala keperluan yang berhubungan dengan kuda. Misalnya kain keras penutup mata kuda, tali kekang, pelana dan juga ladam. Di samping itu Karjo Lugu juga mengerjakan perbaikan ladam atau tapal besi, perbaikan pelana maupun injakan kaki.

Pagi itu Wiro dan Panji sampai di sana Karjo Lugu sudah tampak sibuk di bengkelnya. Karjo Lugu seorang lelaki berambut putih berusia hampir enam puluh tahun. Walaupun berusia lanjut tapi otot-otot badannya masih tampak kukuh. Seperti namanya, orang ini memang bersifat lugu dan murah senyum.

Karjo Lugu menyambut salam yang diucapkan Panji. Namun ketika dia mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang datang, berubahlah paras orang tua ini.

"Pak Lugu....."kata Panji, begitu orang biasa memanggil Karjo Lugu.

"Kau kelihatan seperti terkejut melihatku. Apakah wajahku sudah berubah jadi setan?!"

"Anak muda, apa kau tak tahu dirimu dalam bahaya berani datang ke sini?"

"Rupanya kau sudah mendengar apa yang terjadi siang kemarin di warung Mbok Sinem," kata Panji pula dengan tersenyum.

"Tentu saja. Berita itu tersiar cepat. Kau dikabarkan sudah diringkus dan dibawa ke Kotaraja. Bagaimana tahu-tahu kau bisa muncul di sini?"

"Kau tak usah merisaukan hal itu Pak Lugu. Aku baik-baik dan sehat-sehat saja...."

"Siapa anak muda ini?" tanya Karjo Lugu pada Panji Argomanik.

"Sahabatku," jawab Panji.

"Panji, sebaiknya kau cepat pergi dari sini. Kalau ada mata-mata yang melihat dan melaporkan kau muncul serta berbincang-bincang denganku, aku bisa celaka....."

"Ada hal penting yang hendak kami tanyakan padamu Pak Lugu." Kata Wiro pula.

"Eng....." pemilik bengkel kuda itu tampak serba salah.

"Pak Lugu," kata Panji.

"Semasa hidupnya kau bersahabat baik dengan ayahku. Sekarang kami butuh bantuanmu. Apa kau melupakan begitu saja persahabatan dengan ayahku?"

"Tentu saja bukan begitu. Tapi kau adalah orang buronan. Jika ada yang.... Sudahlah. Ikuti aku. Kita bicara di dalam saja." Orang tua itu menunjuk ke arah pintu.

Panji dan Wiro segea masuk ke dalam ruangan di balik pintu itu. Karjo Lugu memandang dulu ke arah jalan, lalu pada beberapa bangunan di sekitarnya. Bila dirasakannya aman maka orang tua ini segera masuk ke dalam rumahnya. Sampai di dalam dia bertanya pada kedua pemuda itu.

"Hal penting apa yang hendak kalian tanyakan?"

Wiro yang menjawab. "Tadi malam rumah Larasati, kekasih sahabatku ini dibakar orang. Seorang perempuan bernama Bibi kanoman ditemui sudah jadi mayat terbakar hangus...."

"Ya Tuhan, belum kudengar berita itu......." seru Karjo Lugu.

"Larasati lenyap diculik orang....."

"Gusti Allah!" mengucap Karjo Lugu.

Wiro meneruskan. "Kami tidak tahu siapa manusia-manusia biadab yang melakukan perbuatan laknat itu. Namun kami menemukan benda ini di dekat rumah yang terbakar."

"Lugu. itu?"

Wiro keluarkan ladam kuda yang ditemuinya dan diperlihatkannya pada Karjo "Apa hubungan ladam ini dengan hal penting yang hendak kalian tanyakan Yang menjawab kini adalah Panji Argomanik.

"Kami yakin ladam kuda ini adalah ladam salah seekor kuda tunggangan orang-orang yang membakar rumah dan menculik Larasati. Malam tadi, atau pagi-pagi sebelum kami datang, apakah ada seseorang yang datang membawa kudanya yang salah satu kakinya tidak berladam. Lalu minta dipasangkan ladam baru....."

Paras Karjo Lugu jadi berubah. Wiro dan Panji maklum sudah. Keduanya menunggu.

"Pagi buta tadi...." Kata Karjo Lugu.

"Ada orang menggedor bengkelku. Ketika kubuka orang ini tenyata datang bersama dua orang temannya. Tampangtampang tak dapat kukenal karena tertutup kain menyerupai topeng. Salah seorang dari mereka minta agar aku memasangkan ladam baru pada kaki kudanya sebelah kiri belakang. Aku bilang besok saja kalau bengkel sudah buka. Tapi orang-orang itu mengancam akan menggorok leherku kalau aku tidak melakukannya malam itu juga.

Masih dalam keadaan mengantuk aku terpaksa memenuhi permintaan mereka. Orang yang punya kuda membayar cukup tinggi. Tapi sebelum dia pergi dia berpesan......"

"Berpesan? Pesan apa?" tanya Panji.

"Agar aku tidak mengaakan pada siapapun kedatangan mereka ke bengkelku.....!"

"Hemmmmmm," Wiro bergumam sambil garuk-garuk kepala.

"Kalau begitu mereka merasa kawatir kau mengenali salah satu dari mereka. Walau mereka menutupi wajah masing-masing dengan kain..... Coba kau ingat-ingat Pak Lugu. Mungkin ada benda atau tanda-tanda pada ketiga orang itu, di tubuh mereka atau pada kuda-kuda mereka. Tanda-tanda yang bisa mmberi petunjuk siapa mereka sebenarnya."

Karjo Lugu mengusap dagunya yang ditumbuhi janggut-janggut pendek berwarna putih. "Rasan-rasanya memang ada. Waktu itu aku tidak memperhatikan. Tapi setelah kau mengatakannya aku teringat sesuatu. Salah seorang dari ketiga yang datang itu mengenakan baju berlengan sangat pendek. Di tangannya sebelah atas, dekat bahu ada sebuah rajah. Rajah itu bergambar seekor kelelawar yang tengah mengembangkan sayapnya....."

"Itu rajah tanda komplotan rampok Warok Keling" kata Paji hampir berteriak.

"Terima kasih Pak Lugu. Keteranganmu sangat berharga." Pemuda bergelar Singa Gurun Bromo itu menarik lengan Wiro, cepat-cepat mengajaknya meninggalkan tempat itu.

"Aku tahu sarang penjahat keparat itu. Kita menuju ke sana sekarang juga! Larasati pasti berada di tangan mereka!"

"Mendatangi sarang penjahat siang-siang begini apa tidak terlalu berbahaya, Panji?"

"Aku sudah siap mati untuk menyelamatkan Larasati"! jawab Panji Argomanik alian Singa Gurun Bromo pula. "Kalau kau takut kau boleh saja tidak ikut dan kita berpisah sampai di sini."

Wiro menyeringai. "Aku tidak bisa menjelaskannya. Tapi aku punya firasat ada satu rahasia di balik semua kejadian ini. Dan aku ingin menyingkap rahasia ini!"

Hanya beberapa saat setelah kedua pemuda itu meninggalkan bengkel Karjo Lugu, tiga orang penunggang kuda tiba-tiba muncul. Si orang tua terkejut ketika memperhatikan. Ternyata mereka adalah tiga orang yang tadi malam mendatangi untuk dipasangkan ladam baru. Wajah mereka masih ditutupi secarik kain. Karjo Lugu mendadak merasa tidak enak. Namun dengan ramah orang tua ini menegur.

"Ah, kalian rupanya. Apa lagi yang bisa kubantu?'

Lelaki yang lengan sebelah atasnya memiliki rajah turun dari kudanya.

"Malam tadi kami lupa membayar harga ladam dan ongkos pemasangannya. Kebetulan kami lewat lagi di sini. Saat ini kami hendak membayarnya."

"Wah, kalian orang baik-baik rupanya. Tidak dibayarpun tidak jadi apa asal kita bisa jadi langganan." Kata Karjo Lugu pula.

Lelaki yang lengannya dirajah bergambar kelelawar tersenyum. Dia menggerakkan tangan kirinya ke arah pinggang seperti layaknya orang hendak mengambil uang. Tetapi ketika tangan itu keluar lagi dari balik pakaian, yang kelihatan bukan kantong uang tetapi sebilah pisau berkilat yang panjang matanya hampir dua jengkal. Sebelum Karjo Lugu menyadari apa yang akan dilakukan orang itu, tiba-tiba pisau sudah menghujam dalam ke perutnya. Karjo Lugu menjerit tapi lehernya cepat dicekik hingga suara teriakannya menjadi tertahan dan lenyap.

"Tua bangka keparat! Kau tidak menepati pesanku. Kau pasti telah memberitahu sesuatu tentang kami pada kedua orang pemuda itu. Benar?!"

"Ha....h...ha....hu!" Karjo Lugu tidak bisa menjawab karena lehernya masih dicekik sementara perutnya yang bersimbah darah terasa sakit bukan kepalang. Lelaki berajah itu lemparkan tubuh Karjo Lugu ke atas meja tempat penempaan besi. Orang tua itu mengeluh tingi. Dia berusaha manarik nafas panjang tapi nafasnya justru putus!

TUJUHDua pendekar nekad itu memacu kuda masing-masing menuju ke Selatan kaki Pegunungan Maha Meru. Selewatnya Candipuro mereka membelok memasuki sebuah dataran tinggi. Di balik pedataran itu terbentang sebuah rimba belantara sarang segala binatang buas dan manusia jahat. Dulunya terdapat beberapa kelompok penjahat mendekam dan bersarang di tempat itu. namun setelah Warok Keling muncul, dia menggabungkan semua kelompok gerombolan itu ke dalam kelompoknya. Siapa yang tidak mau tunuduk padanya ditumpasnya sampai habis. Saat itu Warok Keling menjadi raja di raja perampok yang memiliki anak buah hempir seratus orang.

Bersama kelompoknya dia mendirikan sebuah kawasan perumahan di dalam hutan itu.

walaupun hutan tapi keadaannya subur sekali. Air bersih mudah didapat. Begitu juga buah serta binatang buruan yang bisa disantap.

Menjelang tengah hari mereka sampai di bagian hutan yang tanahnya meninggi. Wiro dan Panji terus mendaki menuju puncak tertinggi. Begitu sampai di puncak kelihatanlah belasan rumah kayu yang dipagar dengan tiang-tiang terbuat dari batang-batang pohon yang ujungnya dibabat runding. Pada jarak-jarak tertentu di atas pagar itu terdapat sebuah pondok tempat pengawal melakukan tugasnya berjaga-jaga mengawasi daerah sekitarnya. Begitu Wiro dan Panji muncul mendekati pagar kayu satu suitan nyaring terdengar dari sebelah Timur kawasan. Lalu sekitar sepuluh orang muncul di atas pagar. Mereka memegang busur dan panah yang siap dibidikkan ke arah kedua pemuda itu.

Di sebelah belakang Wiro dan Panji mendengar suara menggeresek. Ketika berpaling mereka melihat ada kira-kira sepuluh orang meluncur dari atas pohon. Di cabang-cabang terendah mereka berhenti dan dari sini mereka membidikkan pula panah atau sumpritan ke arah Wiro dan Panji.

"Kita terkurung!" kata Wiro.

"Tenang saja. Jangan membuat gerakan-gerakan yang mencurigakan. Anakanak panah dan sumpritan itu beracun!" kata Panji. Lalu dia membawa kudanya mendahului Wiro menuju satu tempat terbuka hingga semua orang di atas pagar kayu meupun di atas pohon dapat melihatnya dengan jelas. Wiro menyusul bergerak ke samping Panji.

Panji Argomanik kemudian mengangkat tangannya. Lalu dia berseru. "Aku Panji Argomanik dan seorang sahabat ingin menemui pimpinan kalian!"

Dari atas rumah penjaggan terdengar jawaban. "Dua cacing tanah seperti kalian mana cukup pantas menemui pimpinan kami!"

"Keparat!" maki Wiro.

"Diam saja!" tukas Panji. Lalu dia berseru lagi. "Kami memohon sekali lagi! Ada hal penting yang hendak kami bicarakan!"

"Bicaralah dengan setan-setan rimba belantara ini! Harap kalian berdua segera meninggalkan tempat ini atau tubuh kalian akan kami tambus dengan panah-panah beracun!"

"Edan!" Kini Panji yang keluarkan suara makian.

"Kalau kita tidak diperbolehkan masuk menemui Warok Keling berarti kita terpaksa menyusup malam hari. Atau mencegat orang itu jika dia keluar dari sarangnya. Tapi semua itu memakan waktu. Sementara itu banyak hal bisa terjadi pada Larasati......"

"Agaknya kita tak ada pilihan lain. Mari....." kata Wiro.

Kedua orang itu memutar kuda masing-masing.

Sementara itu di atas bangunan pagar, sorang bertubuh tinggi luar biasa, berkulit sangat hitam dan mengenakan pakaian merah gelap serta memakai semacam sorban berwarna merah di atas kepalanya muncul di atas salah satu rumah penjagaan.

"Aku mendengar suara suitan lalu suara orang berteriak-teriak. Apa yang terjadi?" tanya orang berkulit hitam legam itu. Suaranya parau dan sember. Inilah manusianya yang bernama Warok Keling, raja diraja komplotan penjahat di masa itu.

Seorang anak buahnya segera menerangkan.

"Ada dua pemuda tak dikenal muncul dan minta bertemu dengan Warok...."

"Ah, begitu lama aku jadi pemimpin kalian baru sekali terjadi hal seperti ini. Dua pemuda itu rupanya punya nyali besar. Apa mereka menyebutkan nama atau gelar?"

"Gelar tidak, tapi yang seorang memperkenalkan diri dangan nama Panji Argomanik!"

"Panji Argomanik....." mengulang Warok Keling samgil mengusap dagunya yang klimis. Biasanya gembong penjahat selalu memelihara janggut atau berewok dan kumis tebal melintang. Tapi Warok Keling justru memelihara wajah kelimis dan wajahnya yang hitam cukup keren.

"Panji Argomanik.... Aku rasa-rasa pernah mendengar nama itu! Coba aku mengingat-ingat dulu..... Hem..... Jangan-jangan..... Hai, coba kau tanyakan pada orang yang bernama Argomanik itu. apakah dia orangnya yang bergealr Singa Gurun Bromo?"

"Keduanya sudah pergi Warok."jawab si anak buah.

"Beri tanda pada kawan-kawanmu di luar pagar agar menyuruh kedua orang itu kembali."

Anggota penjahat itu keluarkan dua kali sutian berturut-turut, lalu dua kali lagi. Di dalam rimba belantara di luar pagar empat anak buah Warok Keling meluncur turun dari atas pohon. Mereka melompat ke tanah lalu mencegat Wiro dan Panji sambil membidikkan panah-panah beracun.

"Pimpinan kami meminta kalian kembali!" kata salah seorang di antara mereka.

Wiro dan Panji saling pandang.

"Ada apa kami disuruh kembali?!" bertanya Panji Argomanik.

"Apa kau orangnya yang bernama Panji Argomanik, bergelar Singa Gurun Bromo?"

Panji mengangkat tangannya dan berteriak membenarkan ucapan itu.

"Kalau begitu kau boleh masuk. Tapi kawanmu tetap tinggal di tempat! Dia tidak cukup layak menginjakkan kaki di tempat kami!"

"Sialan! Aku lagi yang dihinanya!" maki Wiro.

Saat itu pintu gerbang kayu tampak terbuka.

"Kau masuklah. Aku biar menunggu di sini," kata Wiro.

Panji Argomanik mengangkat tangannya. "Aku tidak akan masuk kalau temanku ini tidak diperbolehkan ikut serta!"

Dari atas rumah penjagaan terdengar orang bertanya. "Siapa nama kawanmu itu. apa dia punya julukan?!"

"Namanya Wiro Sableng!" berteriak Panji.

Sunyi sejenak. Lalu dari atas rumah penjaggan terdengar suara orang berteriak, bertanya. "Apa orang gila itu punya julukan?!"

Panji Argomanik berpaling pada Wiro. Murid Sinto Gendeng garuk-garuk kepalanya. "Tidak! Dia tidak....."

Wiro tekap mulut Panji Argomanik lalu dia sendiri berteriak. "Gelarku Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212!"

Kedua mata Panji Argomanik membeliak besar. Ketika Wiro menurunkan tangannya pemuda bergelar Singa Gurun Bromo itu berseru. "Kau.....! Jadi kau pendekar dari Gunung Gede yang terkenal itu?!"

"Aku tidak lebih hebat dari kau Singa Gurun Bromo!"

"Jangan merendah! Aku banyak mendengar riwayatmu yang hebat-hebat!"

Wiro tertawa. "Orang selalu menambah bumbu dalam setiap cerita....." katanya.

Dari atas rumah penjagaan tiba-tiba terdengar suaa teriakan. "Kalian berdua boleh masuk!"

Pintu gerbang terbuka. Kali ini lebih besar. Wiro dan Panji masuk ke dalam.

Pintu menutup kembali. Begitu masuk ke dalam dua orang bertubuh besar menghampiri mereka. Keduanya dipersilahkan turun dari kuda masing-masing lalu binatang-binatang itu dibawa ke satu tempat untuk ditambatkan. Kemudian seorang lelaki muncul, membawa mereka ke sebuah rumah besar dari kayu bertingkat dua. Wiro melangkah sambil memandang kian kemari. Dia melihat banyak anak-anak tengah bermain di halaman luas. Juga ada orang-orang perempuan yang duduk-duduk di bawah pohon. Ada yang tengah merenda, ada yang tengah bercakap-cakap.

Keadaan di tempat itu bukan seperti di sarang perampok tapi tidak beda dengan kampung biasa. Wiro dan Panji dibawa ke tingkat rumah kayu besar. Lalu diminta duduk pada dua buah kursi kayu. Di antara dua kursi itu terdapat sebuah kursi ketiga yang lebih besar dan lebih tinggi. Keduanya diminta menunggu. Tak lama kemudian muncullah Warok Keling. Dia masih mengenakan sorban merahnya. Tapi dia kini telah berganti pakaian dengan sebuah jubah terbuat dari kain sangat tebal yang beratnya hampir lima puluh kati. Bersamanya mengikuti empat orang pengawal bertampang bengis dan membawa golok besar-besar.

Warok Keling duduk di kursi besar. Dia melambaikan tangan pada keempat pengawalnya. Keempat orang ini tampak ragu untuk meninggalkna pimpinan mereka sang Warok lantas berkata. "Kalian pergi saja. Mereka adalah teman-temanku!"

Mendengar ucapan itu keempat pengawal tadi segera berlalu. Wiro dan Panji merasa heran karena tidak menyangka akan mendapat sambutan begitu rupa.

"Dua sahabat muda. Kuucapkan selamat daang di tempatku yang buruk ini. seumur hidup baru kali ini ada dua orang tokoh silat yang punya nama besar menyambangiku di sini. Kalian ingin kusuguhkan apa?"

"Kami orang biasa-biasa saja. Jangan Warok keliwat memuji," kata Panji.

"Terus terang kami memang haus. Tapi kami tak ingin merepotkanmu."

"Kau bagaimana?" tanya Warok Keling pada Wiro.

"Aku memang haus sekali. Aku tiak malu-malu minta minum apa saja. Kawanku juga....."

Warok Keling tertawa lebar.

"Kau orang jujur. Aku suka pada aorang yang terus terang dan polos!" Warok

Keling lalu bertepuk dua kali. Seorang gadis berwajah cantik muncul. "Ini puteriku, Jayengsari....." Warok Keling memberitahu.

Dalam hatinya Wiro berkata. "Sulit dipercaya. Manusia buruk hitam begini rupa punya puteri secantik ini dan berkulit kuning langsat! Ibunya pasti seroang bidadari yang tertangkap hidup-hidup dan tak dapat kembali ke dunianya!"

"Anakku. Ita kedatangan dua orang tamu penting. Harap sediakan tuak manis dan jangan lupa talas rebus makanan utama kita yang paling lezat!"

Jayengsaru Mengangguk. Dia melirik ke arah Pendekar 212 sekilas lalu masuk ke dalam dengan langkah-langkah lincah.

"Sobat-sobatku muda! Semetara menunggu hidangan dan minuman, sekarang ceriakan apa hal penting yang hendak kau bicarakan denganku!" kata Warok Keling.

"Kami, maksudku aku mengalami kesulitan....."

Warok Keling tersenyum "Aku pernah mendengar kesulitanmu. Enam tahun kau menghilang gara-gara tuduhan membunuh putera Pangeran Sendoyo...."

"Bagaimana kau bisa tahu Warok?" tanya Panji heran.

"Aku dan anak buahku memang tinggal jauh di hutan. Tapi kami punya mata dan telinga di mana-mana.... Nah, sekarang ceritakan apa kesulitanmu yang lain!"

"Kesulitanku, selain jadi buronan Sri Baginda dan Adipati Lumajang, saat ini aku butuh bantuanmu dan kesediaanmu untuk mengembalikan kekasihku Larasati. Rumahnya dibakar kemarin malam. Bibinya tewas dan Larasati diculik orang!"

"Larasati diculik orang. Lalu mengapa kau datang kemari? Eh, tadi kudengar kau meminta aku agar bersedia mengembalikan anak gadis itu padamu. Apa kau kira...."

"Maafkan aku Warok. Aku tidak menuduh kau menculik Larasati. Tetapi ada orang memberi kesaksian bahwa salah seorang penjahat yang membakar dan menculik gadis itu memiliki lengan dengan rajah burung kelelawar!"

Warok Keling menggulung lengan bajunya sebelah kiri sampai ke bahu. Lalu dia memperlihatkan rajah kelelawar di bahunya itu. "Rajah seperti ini?"

"Kira-kira begitu Warok."

"Seperti ini?" Sang Warok buka kancing bajunya. Di dadanya kelihatan lagi sebuah rajah kelelawar yang lebih besar. Panji mengangguk.

Paras Warok Keling berubah semakin hitam. "Singa Gurun Bromo....."

katanya dengan suara bergetar. "Jika tuduhanmu itu tidak benar, tubuhmu akan kulempar ke luar pagar tanpa kepala!" Lalu sang Warok berpaling pada Wiro. "Kau juga!" hardiknya sehingga pendekar 212 tersentak kaget. "Siapa yang memberikan kesaksian padamu?"

"Karjo Lugu. Pemilik bengkel kuda di Kuto Inggil."

"Aku akan perintahkan anak buahku untuk menyelidik. Tapi ada satu hal yang perlu kuceritakan pada kalian!" Saat itu Jayengsari keluar membawakan minuman tak dalam tabung bambu pendek serta rebusan talas yang diurap dengan kelapa parut.

"Aku tahu kalian pasti haus danjuga lapar...."

Wiro ulurkan tangan hendak mengambil tabung bambu. Tapi Warok Keling segera mengepret tangannya.

"Aku tidak akan menyuruh kalian minum dan makan sebelum kalian mendengar dulu keteranganku." Kata Warok Keling dengn mata berkilat-kilat.

"Aku sudah tiga puluh tahun lebih jadi raja diraja penjahat di kawasan Timur ini. Selama aku malang melintang ratusan orang telah menjadi korbanku. Kurampok habishabisan dan kubunuh jika mereka melawan. Tapi ada satu hal yang harus kalian ingat baik-baik. Mereka yang jadi korbanku adalah orang-orang kaya yang tidak mau memberi hartanya pada rakyat jelata. Atau pejabat-pejabat rakus yang kekayaannya seabrek-abrek tapi tak pernah bersedekah pada orang-orang miskin. Padahal kekayaan itu mereka dapatkan dari hasil menipu! Kaum pedagang yang terlalu rakus mencari keuntungan juga kujadikan korban dan kuburu di manapun mereka berada. Tapi dengar! Aku tidak pernah merampok dan membunuh rakyat jelata! Dengar lagi baikbaik! Aku tidak pernah menculik dan melarikan anak istri orang! Waktu datang kemari kalian lihat anak-anak dan orang-orang perempuan. Anak-anak bermain-main. Orang-orang perempuan duduk merenda atau melakukan pekerjaan lain sambil ngobrol sesama perempuan. Mereka adalah perempuan-perempuan yang dikawin sah oleh anak-anak buahku. Dan anak-anak itu bukan anak-anak haram! Ini memang perkampungan sarang perampok. Tetapi di sini kehidupan lebih baik dari pada di luar sana! Jadi ingat! Kami bukan tukang culik apalagi tukang perkosa orang-orang perempuan., jika anak buahku bertemu seorang perempuan yang disukainya, dia akan mengajaknya baik-baik dan tinggal di sini. Jika mereka menolak, mereka dilepas dengan aman. Bahkan diantar pulang sampai ke kampung dan rumah mereka! Karena cara-cara kami itulah maka tidak ada orang dari dunia persilatan yang memusuhi kami. Tapi mereka juga sungkan untuk mendekati kami, tidak seperti yang saat ini kalian lakukan. Kalian orang-orang muda sungguh bisa dibuat contoh. Lalu, pihak kerajaanpun tidak bisa berbuat apa-apa terhadap kami. Kami memang penjahat tapi sebenarnya kami lebih cocok dikatakan sebagai tangan jahil yang merampas sedikit harta benda yang berlebihan untuk disalurkan pada orang-orang miskin!"

Panji terdiam mendengar kata-kata Warok Keling itu sementara itu Wiro hanya bisa garuk-garuk kepala!

"Aku tidak bisa percaya akan penjelasan bahwa ada anak buahku terlibat penculikan Larasati. Tetapi aku berjanji akan menyelidik. Jika betul anak buahku dia akan kuhukum berat dan Larasati akan kembali padamu dengan selamat! Sekarang kalian boleh meneguk minuman dan mencicipi hidangan!"

Wiro dan Panji segera mengulurkan tangan untuk mengambil tabung tuak masing-masing. Tapi ketika diangkat ternyata tabung-tabung bambu itu tidak bergerak sedikitpun. Seolah-olah melekat ke kayu meja. Semakin dikerahkan tenaga untuk mengangkatnya semakin melekat keras kedua tabung bambu itu. Wiro dan Panji segera maklum bahwa tuan rumah tengah menjajal kekuatan mereka. Kalau tadi mereka hanya mengerahkan tenaga kasar atau tenaga luar maka kini diam-diam keduanya mengerahkan tenaga dalam. Di atas kursinya Warok Keling yang tadi tampak duduk sambil menyeringai kini kelihatan mengernyit. Keningnya dipenuhi percikan keringat. Tubuhnya yang besar tampak bergetar.

"Hem.... Dua anak muda ini memiliki kekuatan tenaga dalam yang bukan main-main!" kata sang Warok dalam hati. Dia lalu kerahkan seluruh tenaga dalamnya pula.

Tuak di dalam tabung bambu itu beriak seperti mendidih. Wiro dan Panji merasakan tangan mereka seperti diserang hawa panas. Tapi keduanya tetap bertahan. Di samping mereka perlahan-lahan tubuh Warok Keling tampak terangkat ke atas sampai setinggi tiga jengkal. Wiro kedipkan matanya ke arah Panji. Kedua pemuda ini tiba-tiba secara serentak lepaskan pegangan mereka pada tabung bambu. Dan terjadilah satu hal yang hebat tapi lucu.

Karena tenaga dalam wang Warok kini lepas menghantam tempat kosong maka tak ampun lagi tubuhnya yang tadi terangkat dengan tiba-tiba dan keras luar biasa terbanting jatuh ke atas kursi yang didudukinya.

"Brak!"

Kursi kayu yang kokoh itu patah keempat kakinya. Tak ampun lagi tubuh tinggi besar Warok Keling jatuh ke lantai!

Empat orang pengawal keluar dari ruangan dalam sambil menghunus golok dan siap untuk menyerang Wiro dan Panji. Tapi Warok Keling cepat bersiri dan tertawa mengekeh. Dia melambaikan tangannya pada keempat pengawalnya itu.

"Pergi saja! Tak ada apa-apa di sini. Kami hanya bersendau gurau! Ambillah aku kursi baru!"

Walau ragu-ragu keempat orang pengawal itu segera ke dalam lalu keluar lagi membawa kursi baru. Kursi yang patah mereka singkirkan. Warok Keling seka keringat yang membasahi mukanya.

"Kalian orang-orang muda yang hebat. Kalau kalian mau, tadi kalian bisa mengirimku ke akhirat. Kini cukup jlas bagiku. Kalian datang bukan mencari silang sengketa. Ayo, lekas minum tuaknya. Cicipi talas rebus yang lezat itu!"

Wiro dan Panji segear ulurkan tangan kembali untuk mengambil tabung berisi tuak. Setealh meneguk minuman yang lezat sejuk itu mereka mencicipi talas rebus yang dihidangkan. Hanya sesaat setelah sepotong besar talas amblas masuk ke dalam perut mereka, kedua pemuda itu mendadak merasakan mulut mereka menjadi gatal.

Makin digaruk makin gatal.

"Bibirmu bengkak besar!" kata Panji seraya menunjuk ke mlut Wiro.

"Mulutmu juga bengkak!" ujar Wiro pula.

Kedua pemuda itu sama-sama memegangi mulut masing-masing. Dan menggaruk tiada henti. Lalu sama memandang pada Warok Keling dengan rasa curiga.

Sebaliknya sng Warok tertawa gelak-gelak.

"Warok, apa yang kau perbuat terhadap kami?!" tanya Wiro sambil mengusap lagi bibirnya yang semakin melendung.

Gelak sang Warok semakin keras. "Dulu, waktu aku dan anak buahku pertama kali makan talas, bibir kami bengkak dan gatal-gatal seperti kalian. Tapi lama kelamaan kami jadi kebal karena terbiasa! Maaf saja kalau saat ini kalian mengalami nasib sama..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 107.22.46.150
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia