Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

SATU

SUARA GAMELAN MENGALUN dari arah bangsal yang terletak di sebelah timur sementara di bangsal besar yang disebut Bangsal Agung siap dilangsungkan suatu upacara besar yakni peresmian Raden Mas Ario Joko Pitolo dinyatakan sebagai putera mahkota. Meskipun penobatannya sendiri baru akan dilangsungkan beberapa tahun di muka, namun upacara peresmian dirinya sebagai putera mahkota merupakan upacara adat yang selalu dilaksanakan secara besar-besaran.

Ratusan undangan memenuhi Bangsal Agung. Mereka terdiri dari para tetamu khusus dari luar serta puluhan pejabat dan petinggi kerajaan, termasuk para tokoh agama dan tokoh masyarakat.

Kiyai Singgih Kanyoman berdiri dari kursi besar yang didudukinya, memandang ke arah rombongan pemain gamelan lalu mengangkat tangan kanan memberi isyarat. Serta merta suara gamelan mengalun perlahan dan akhirnya berhenti.

Orang tua berusia sembilan puluh tahun ini memutar tubuhnya ke arah kanan dimana Sri Baginda di atas singgasana emas. Di sebelah kiri duduk permaisuri. Di sebelah belakang di atas lantai pualam beralas permadani tebal berderet-deret duduk keluarga istana beserta sanak kerabat terdekat. Patih Jolosengoro duduk di barisan kanan bersama-sama dengan para menteri dan pejabat tinggi kerajaan lainnya.

Calon putera mahkota sendiri duduk di sebuah singgasana kecil pada ujung yang berhadapan dengan singgasana Sri Baginda Raja, dikawal oleh dua orang perajurit keraton bersenjatakan tombak serta memegang tameng. Di kiri kanan duduk mengapit saudara-saudaranya baik yang kandung maupun yang sebapak dari dua istri Sri Baginda, lalu di sebelah belakang duduk pula saudara-saudara yang berasal dari para selir Sri Baginda.

Di luar keraton, terutama di alun-alun besar yang ditumbuhi pohon-pohon beringin raksasa meskipun tidak dapat melihat langsung upacara yang akan diadakan namun rakyat banyak ikut berkumpul menyemut.

Kiyai Singgih Kanyoman, abdi dalem tertua dengan jabatan Kanjeng Pangeran beringsut ke hadapan Sri Baginda lalu menghaturkan sembah sujud. Setelah diberi isyarat maka diapun kembali berdiri dan melangkah mundur ke tempatnya semula.

"Para hadirin sekalian...," kata Kiyai Singgih Kanyoman yang dipercayai memimpin upacara kebesaran hari itu. "Kita sampai pada acara yang ditunggu-tunggu yaitu upacara peresmian Yang Mulia Raden Mas Ario Joko Pitolo dengan resmi dinyatakan sebagai putera mahkota. Sesuai adat tradisi kerajaan, sebelum seorang putera mahkota baru resmi diangkat sebagai bakal pengganti ayahandanya yaitu Sri Baginda Raja yang sekarang, maka kepadanya akan diserahkan dua buah pusaka kerajaan yang menjadi pelambang sahnya dirinya kelak dinobatkan sebagai Raja. Adapun pusaka pertama ialah sebilah keris bernama Ki Pandan Anom yang pada kesempatan ini akan diserahkan dan disisipkan di pinggang kanan belakang Raden Mas Ario Joko Pitolo oleh Sri Baginda sendiri.

Pusaka kedua ialah sehelai jubah sakti bernama Kencono Geni, yang dalam kesempatan ini akan dikenakan pada calon putera mahkota juga oleh Sri Baginda sendiri. Selesai keris disisipkan dan jubah dikenakan maka akan dilanjutkan dengan pengujian keampuhan jubah sakti yang terkenal atos tak mempan api tak mempan senjata tajam."

Kiyai Singgih Kanyoman tutup ucapannya dengan mengangkat tangan kanan. Gamelan kembali terdengar mengalun. Raden Mas Ario Joko Pitolo duduk tak bergerak dan terlihat tenang. Pemuda berusia enam belas tahun ini mengenakan pakaian putera mahkota lengkap dengan topi tinggi dan tampak gagah sekali.

Dari sebuah bangunan yang terletak di samping Bangsal Agung saat itu terlihat dua orang gadis remaja melangkah perlahan-lahan mengikuti alunan suara-suara gamelan. Keduanya berjalan saling berdampingan.

Yang di sebelah kanan membawa nampan emas di atas mana terletak keris Ki Pandan Anom pada sehelai sapu tangan beludru berwarna hijau. Gadis kedua membawa sebuah kotak kayu berukir yang dari keadaannya menunjukkan bahwa kotak itu berusia puluhan tahun. Di dalam kotak kayu yang ditataki sapu tangan beludru merah inilah disimpan pusaka kerajaan berupa sehelai jubah yang diberi nama jubah Kencono Geni.

Adapun kedua gadis yang membawa benda-benda pusaka itu adalah puteri-puteri Sri Baginda sendiri, satu kakak dan satunya lagi adik Raden Mas Ario Joko Pitolo.

Diiringi oleh gadis-gadis cilik sebanyak enam orang, kedua gadis pembawa pusaka kerajaan melangkah memasuki Bangsal Agung lalu beringsut ke hadapan putera mahkota. Bersamaan dengan itu alunan gamelan terdengar melembut perlahan.

Kiyai Singgih Kanyoman maju beringsut mendekat pada gadis yang membawa nampan emas dimana terletak keris Ki Pandan Anom. Dengan sikap khidmat abdi dalem ini merapatkan kedua telapak tangannya melakukan sembah lalu dengan sangat hati-hati dia mengulurkan kedua tangan untuk menyentuh dan mengangkat senjata pusaka itu. Keris Ki Pandan Anom di dekatkan ke hidungnya seolah hendak menciumnya. Pada saat itulah suara gamelan terdengar mengeras dan Sri Baginda beserta permaisuri bangkit berdiri dari singgasana lalu melangkah ke arah tempat dimana Kiyai Singgih Kanyoman duduk bersimpuh.

Begitu Sri Baginda berada di hadapannya, Kiyai Singgih melakukan sikap berlutut sambil mengangkat Ki Pandan Anom tinggi-tinggi. Sri Baginda mengambil senjata pusaka itu. Raden Mas Ario Joko Pitolo berdiri. Lalu Sri Baginda mendekati puteranya ini dan menyelipkan keris Ki Pandan Anom di pinggang belakang sebelah kanan sang putera.

Suara gamelan sesaat terdengar meninggi lalu kembali perlahan. Kiyai Singgih Kanyoman kini beringsut ke arah gadis yang memegang kotak kayu. Dengan sangat khidmat dia membuka kotak itu. Dari dalam mana dia kemudian mengeluarkan sebuah jubah terbuat dari kain sutera merah berlapis kain beludru juga berwarna merah, dihias umbai-umbai benang berwarna kuning emas pada sepanjang tepinya.

Kiyai Singgih Kanyoman masih dengan beringsut membawa jubah itu kepada Sri Baginda yang kemudian mengambilnya dan membuka lipatannya. Dibantu oleh permaisuri Sri Baginda mengenakan jubah itu ke tubuh puteranya. Jubah sutera berlapis beludru merah ini panjangnya ternyata sampai sebatas lutut.

Setelah penyisipan keris dan pemakaian jubah Sri Baginda dan permaisuri kembali duduk di singgasana. Baginda dan permaisuri kembali duduk di Singgasana.

"Hadirin yang kami hormati, tiba saatnya kita akan melakukan uji coba untuk membuktikan keampuhan jubah sakti yang kini dikenakan oleh calon Raja kita," Kiyai Singgih Kanyoman menutup ucapannya dengan berpaling pada Sri Baginda.

"Sri Baginda, apakah upacara uji coba dapat dimulai?" bertanya abdi dalem itu.

Di atas singgasana Sri Baginda menganggukkan kepala. Melihat isyarat ini Kiyai Singgih bangkit berdiri seraya mengangkat tangannya. Gamelan kembali menggema. Dari bangsal dimana tadi keluar dua puteri Sri Baginda membawa benda-benda pusaka kini tampak keluar dengan sikap gagah tiga orang pemuda masing-masing membawa sebilah pedang. Begitu masuk ke Bangsal Agung ketiganya menjura dalam di depan singgasana lalu menjura pula di hadapan Raden Mas Ario Joko Pitolo.

"Tiga pemuda perajurit keraton!" berkata Kiyai Singgih Kanyoman. "Kalian diizinkan mem-pergunakan pedang untuk menusuk atau membacok Raden Mas Ario. Terserah bagian mana yang kalian pilih. Kepala, tubuh sebelah atas atau tubuh bagian perut ke bawah..... Raden mas, apakah Raden Mas sudah siap?"

"Saya sudah siap Kiyai Singgih," jawab putera mahkota pula.

Tiga pemuda melintangkan pedang di depan dada, kembali menjura seraya berkata berbarengan. "Izinkan kami Raden Mas Ario...."

"Kalian telah mendapat izin," jawab putera mahkota dengan sikap tenang dan gagah tanpa bergerak dari tempatnya berada.

Tiga pemuda kembali menjura. Mereka lalu menyebar. Dua di sebelah depan, satu dari belakang.

Walau tadi Singgih Kanyoman mengatakan bahwa mereka boleh mengarahkan serangan ke setiap bagian tubuh Raden Mas Ario, namun dari ketiga pemuda berpedang itu tak seorangpun berani mengarahkan senjatanya ke kepala putera mahkota.

Bangsal Agung sunyi senyap. Semua mata ditujukan pada tiga pemuda yang saat itu tampak tengah mengangkat tangan yang memegang pedang. Ketegangan menggantung di udara. Lalu terdengar suara tiga bilah pedang berkesiuran. Satu membacok bahu kiri dekat pangkal leher Raden Mas Ario. Satunya menusuk ke bagian perut sedang yang di belakang membabat ke punggung.

Pedang yang mengarah pangkal leher sampai lebih dahulu. Disusul oleh tusukan ke arah perut. Pada detik itu juga terdengar jeritan keras keluar dari mulut Raden Mas Ario. Darah muncrat dari dua luka besar yaitu pada pangkal leher dan bagian perut. Melihat kejadian ini, penyerang ke tiga yang berada di belakang batalkan sambaran pedangnya dan melompat dengan muka pucat. Dua pemuda di sebelah depan jauh lebih pucat wajah masing-masing.

Bangsal Agung kini dilanda kegemparan. Sri Baginda berseru keras. Permaisuri menjerit seraya menutup wajahnya. Hampir semua orang yang hadir di tempat itu sama keluarkan teriakan. Para pemain gamelan di bangsal lain lari berhamburan ke Bangsal Agung. Dua puteri Sribaginda dan enam anak yang tadi bertindak sebagai pengiring menjerit-jerit tiada henti. Sementara itu di tengah Bangsal Agung Raden Mas Ario Joko Pitolo tampak terhuyung-huyung sambil pegangi perutnya. Tubuhnya yang bersimbah darah kemudian jatuh terkapar di atas permadani. Sri Baginda saat itu sudah melompat, mendorong dua pemuda yang tadi melakukan uji coba menyerang ke arah leher dan perut hingga dua pemuda itu jatuh terjengkang. Kiyai Singgih Kanyoman yang telah lebih dahulu memeluk tubuh Raden Mas Ario diterjaknya hingga terpental. Sri Baginda lalu jatuhkan diri merangkul puteranya yang saat itu mulai megap-megap.

"Joko...Joko Pitolo puteraku...kau tidak boleh mati! Gusti Allah....Apa yang sebenarnya terjadi ini?!" Suara Sri Baginda terdengar sesak dan parau. Dia maklum kalau nyawa puteranya itu tidak tertolong lagi.

Ketika kepala Raden Mas Ario terkulai ke samping, meraunglah Sri Baginda. Beberapa orang menteri berlompatan, tetapi tak satupun yang bisa mereka lakukan.

Di samping Sri Baginda Kiyai Singgih Kanyoman tampak membesi dan mengelam wajahnya. Orang tua ini beringsut mendekati sosok tubuh Raden Mas Ario yang telah jadi mayat. Dengan tangan gemetar ditariknya salah satu ujung jubah sutera berlapis beludru merah yang masih dikenakan sang putera mahkota lalu diciumnya dalam-dalam. Berubahlah paras abdi dalem berusia sembilan puluh tahun ini.

"Tak ada bau kayu cendana.....,"desisnya. Lalu sang Kiyai berteriak. "Jubah ini palsu!"

Kembali Bangsal Agung dilanda kegemparan besar. Seseorang kemudian terdengar berteriak. "Periksa bangsal tempat penyimpanan pusaka keraton!"

Tiga orang perwira, dua orang menteri dan lebih dari selusin perajurit ditambah beberapa abdi dalem segera menghambur ke bangsal tempat penyimpanan senjata serta pusaka-pusaka kerajaan.

"Heran! Tak ada perajurit yang mengawal di tempat ini!" kata seseorang.

Yang lain menyahuti. "Juga tak ada seorang abdi dalempun di sini!"

"Sebaiknya kita masuk memeriksa!" seseorang memberi saran.

Rombongan orang-orang itu segera menghambur masuk. Mendadak yang sebelah muka hentikan langkah seraya berseru dan menunjuk ke depan. Dekat pintu masuk menuju ruangan penyimpanan pusaka kerajaan bergelimpangan enam sosok tubuh. Empat perajurit pengawal bangsal, dua lagi abdi dalem. Semua telah jadi mayat dengan leher seperti disembelih!

"Ya Tuhan! Siapa yang melakukan kekejaman begini ganas?! Kutuk apa yang jatuh atas kerajaan....?"

Orang-orang segera membuka jalan begitu mendengar ucapan itu. Yang datang adalah Kiyai Singgih Kanyoman yang melangkah dengan nafas megap-megap dan wajah pucat pasi.

"Ini bukan kutuk! Ini pasti perbuatan Raden Jayengseno!" satu suara menyahuti lalu satu sosok tubuh tinggi tegap berdiri di samping Kiyai Singgih Kanyoman. Orang ini adalah Kudopati, kepala pengawal keraton. Tampangnya yang galak tampak geram. Pelipisnya tiada berhenti bergerak-gerak dan rahangnya menggembung.

Kiyai Singgih seperti hendak menggeleng. Namun orang tua ini batalkan gelengan kepalanya, ganti dengan mengeluarkan ucapan. "Sulit dipercaya bahwa Raden Jayengseno yang punya pekerjaan. Bukankah dia tengah menyepi dan bersamadi di pantai selatan?"

Kudopati menyeringai. "Manusia satu itu sangat licik dan punya seribu akal. Katanya saja dia pergi ke pantai selatan. Tapi bukan mustahil dia sebenarnya berkeliaran menyebar maut di keraton ini. Kiyai Singgih, aku yakin dia ada sangkut paut dengan jubah palsu itu."

"Maksudmu dia mencuri jubah yang asli lalu mengganti dengan jubah palsu?" tanya Kiyai Singgih.

"Persis!" jawab kepala pengawal keraton. Kembali rahangnya menggembung dan pelipisnya bergerak-gerak.

"Peristiwa ini memang perlu diselidiki...."

"Aku akan minta izin Sri Baginda untuk menangkap Jayengseno. Aku akan berangkat saat ini juga agar besok pagi bisa sampai di tempat manusia itu bersamadi!" Setelah berkata begitu Kudopati lantas balikkan tubuh dan tinggalkan bangsal tempat penyimpanan barang-barang pusaka kerajaan itu.

DUAPATIH JOLOSENGORO, kepala pengawal keraton Kudopati dan Kiyai Singgih Kanyoman duduk bersimpuh di hadapan Sri Baginda. Tak satupun di antara mereka yang berani bicara. Suasana hening telah berlangsung lama sekali di ruangan tertutup di bagian belakang keraton. Wajah Sri Baginda jelas menunjukkan bahwa dirinya masih sangat terguncang dengan musibah yang barusan terjadi.

"Mengapa kalian diam saja...?" tiba-tiba terdengar Sri Baginda bertanya. Suaranya serak tanpa nada. Lalu tangan kanannya bergerak memukul sebuah arca kecil di sampingnya. Arca batu yang berusia ratusan tahun itu hancur berantakan. "Kalian semua tidak bisu! Bicaralah! Katakan sesuatu! Jangan diam saja!" teriak Sri Baginda.

Tiga orang yang duduk di depan raja tersentak kaget dan juga kecut. Patih Jolosengoro memberi isyarat pada Kiyai Singgih Kanyoman. Orang tua ini lalu membungkuk dalam-dalam. Setelah itu diapun berkata. "Daulat Sri Baginda, izinkan saya menyampaikan laporan. Bangsal tempat penyimpanan senjata telah kami periksa. Tak ada satu benda pusakapun yang hilang. Kami menemui empat orang pengawal dan dua orang abdi dalem telah jadi mayat dalam bangsal itu. Mereka menjadi korban pembunuhan secara keji dan kejam........ "

"Ki Singgih, apakah kau juga telah memeriksa keris Pandan Anom yang tersisip di pinggang puteraku?" bertanya Sri Baginda dengan kepala terkulai ditunjang tangan kanannya.

"Sudah Sri Baginda. Keris itu asli, tidak palsu...," menerangkan Kiyai Singgih Kanyoman.

Lalu Patih Jolosengoro berkata. "Ada petunjuk menyatakan bahwa setelah berhasil menukar Jubah Kencono Geni dengan jubah sama tapi palsu, penjahat berusaha pula hendak mencuri atau menukar keris Pandan Anom. Namun keburu ketahuan. Untuk menghilangkan jejak penjahat lalu menghabisi empat pengawal dan dua abdi dalem yang ada di bangsal penyimpanan barang-barang pusaka...."

"Manusia biadab! Terkutuk!" Rahang Sri Baginda menggembung dan kedua tangannya dikepalkan. "Aku ingin mematahkan leher penjahat itu dengan tanganku sendiri!" Kemudian Sri Baginda berpaling pada Kiyai Singgih Kanyoman dan bertanya.

"Apakah sudah diatur acara pemakaman Raden Mas Ario....?"

"Sudah kami siapkan dan kami atur Sri Baginda...," jawab Kiyai Singgih Kanyoman. Sampai di situ Kudopati memberi isyarat pada sang Kiyai. Mengerti akan isyarat itu maka Kiyai Singgih Kanyoman kembali membuka mulut.

"Selanjutnya saya mewakili kepala pengawal keraton dimas Kudopati. Yang bersangkutan minta izin untuk menangkap Raden Jayengseno yang saat ini tengah bersamadi di salah satu goa di pantai selatan."

Sri Baginda menatap wajah kepala pengawal keraton itu sesaat lalu berkata "Aku memang banyak mendengar kabar tidak baik mengenai puteraku itu. Pasal apa yang membuatmu hendak menangkapnya, Kudopati?"

Kepala pengawal keraton membungkuk dalam-dalam lalu menjawab. "Maafkan saya Sri Baginda. Bukankah sejak lama kita mengetahui bahwa Raden Jayengseno membekal hati culas dan iri...."

Sri Baginda mengangkat tangannya. "Cukup, Kudopati.

Aku memberimu izin menangkap dan mengusut puteraku itu. Tapi ingat! Soal nyawanya hanya aku yang menentukan!"

Sri Baginda mengusap wajahnya beberapa kali. Ketika dia hendak berdiri, dia melirik sesaat pada Patih Jolosengoro. "Mapatih, jika tak ada yang ingin kau katakan, aku akan segera meninggalkan tempat ini"

"Maafkan saya Sri Baginda. Jika saya boleh mengeluarkan pendapat, saya merasa sangat mustahil Raden Jayengseno melakukan pencurian jubah Kencono Geni lalu menggantikannya dengan jubah palsu yang sangat mirip. Apalagi kalau sampai kita menuduh tanpa bukti bahwa dia yang membunuh empat pengawal dan dua abdi dalem. Sejak dua bulan lalu seperti kita ketahui Raden Jayengseno bertapa di pantai selatan. Mana mungkin dia turun tangan melakukan pencurian dan sekaligus membunuh enam orang tidak berdosa itu? Terus terang dirinya memang diselimuti berbagai keanehan. Mungkin saja hal itu terdorong oleh suatu keinginan yang tidak kesampaian. Namun untuk mencuri benda pusaka lalu membunuh para pengawal dan abdi dalem, rasanya belum sampai sejauh itu keburukan perangai Raden Jayengseno."

"Maafkan saya kalau memotong kata-kata paman patih " ujar Kudopati pula yang merasa tidak enak mendengar ucapan patih kerajaan tadi. "Saya mana berani menuduh Raden Jayengseno mencuri dan membunuh kalau tidak ada dasarnya. Putera mahkota calon raja kita tewas terbunuh. Kita wajib menyelidiki hal ini. Raden Jayengseno tentunya memang bukan satu-satunya orang yang patut kita curigai. Mungkin sangkaan itu keliru. Karena itulah saya minta izin pada Sri Baginda untuk menemui Raden Jayengseno di pantai selatan. Memeriksanya dan jika terdapat tanda-tanda bahwa memang dia terlibat dalam peristiwa berdarah hari ini maka saya langsung akan menangkapnya dan membawanya ke hadapan Sri Baginda."

"Aku setuju dengan jalan pikiranmu Kudopati. Kau boleh membawa serombongan pasukan untuk menangkap Raden Jayengseno. Bawa dia hidup-hidup ke hadapanku. Jika dia terbukti bersalah akan kupancung batang lehernya! Sekarang kau boleh pergi. Sebelum kau berlalu lipat gandakan pengawalan istana. Pasang perwira-perwira muda di tempat-tempat tertentu. Lakukan perintahku Kudopati!"

"Daulat Sri Baginda. Perintah Baginda akan saya jalankan," sahut Kudopati pula seraya membungkuk.

Sri Baginda tampak seperti termenung. Sesaat kemudian terdengar suaranya datar.

"Mapatih, umumkan kepada rakyat bahwa kerajaan akan melangsungkan masa berkabung selama empat puluh hari...."

Patih Jolosengoro membungkuk seraya berkata. "Perintah akan saya jalankan Sri Baginda."

***

TIGAKUDA COKLAT ITU dipacu kencang sejak pagi. Ketika memasuki rimba belantara di daerah selatan binatang yang kehabisan tenaga ini tidak mau terseok-seok. Namun penunggangnya seperti tidak mau tahu terus saja menghentak-hentakkan tali kekang kuda, memukul pinggul binatang itu agar terus lari sekencang-kencangnya.

Meskipun sudah kehabisan tenaga, seperti tahu tugas penting yang menjadi tanggung jawabnya, sang kuda berusaha lari sekencang yang bisa dilakukannya.

Si penunggang sengaja menempuh hutan belantara itu karena inilah satu-satunya jalan memotong yang paling singkat. Jika dia menempuh jalan lain, dia khawatir Kudopati bersama rombongannya akan sampai lebih dahulu di tempat tujuannya.

Pada masa itu hutan di wilayah selatan jarang dimasuki orang. Karenanya keadaannya selain lebat liar, pohon dan tanah hutan diselimuti berbagai jenis lumut licin.

Bagaimanapun setianya si kuda coklat terhadap penunggangnya, namun tenaga dan kekuatan binatang ini ada batasnya. Di antara kerapatan pepohonan jati kuda ini terserandung akar benalu. Didahului oleh satu ringkikan keras binatang itu tersungkur. Penunggangnya berteriak keras dan jatuh terguling-guling di tanah hutan yang penuh lumut. Pakaian kuningnya menjadi kotor. Ikat kepalanya lepas entah kemana dan kini rambutnya yang panjang tergerai lepas sampai ke pinggang. Ternyata dia adalah seorang gadis berusia sekitar dua puluh tahun.

Sambil meringis menahan sakit sang dara merangkak mendekati kuda coklatnya yang tergolek di kaki pohon. Diusapnya hidung binatang ini seraya berkata: "Kliwon....kau tak apa-apa....? Kita harus melanjutkan perjalanan Kliwon. Bisakah kau bangkit? Ayo Kliwon berdirilah...."

Tapi kuda coklat itu untuk beberapa saat hanya diam dan kedip-kedipkan kedua matanya. Agaknya binatang ini mengerti ucapan tuannya, hanya saja tenaganya belum pulih untuk berdiri, apalagi lari melanjutkan perjalanan.

"Oh Kliwon....Kasihan kau tak bisa berdiri. Kau pasti letih dan sakit. Demi Tuhan aku berharap jangan ada bagian tubuhmu yang cidera, apalagi sampai patah kaki. Kau harus berdiri Kliwon. Ayo! Mari kubantu!"

Gadis baju kuning berhasil berdiri. Dengan susah payah dicobanya mengangkat leher kuda hitam itu. Namun sang kuda masih belum sanggup berdiri.

"Kudamu keletihan. Kaki kanannya sebelah depan terkilir. Jangan paksakan dia berdiri...." Tiba-tiba satu suara menegur. Suara itu terdengar aneh, seperti bergumam tanda orang yang bicara tengah makan atau mengunyah sesuatu dalam mulutnya.

Sang dara seperti mendengar suara setan saking kagetnya. Dia cepat berpaling dan terkesima ketika dapatkan dirinya berhadap-hadapan dengan seorang pemuda berpakaian putih berambut gondrong. Mulutnya komat-kamit dan bercelemongan warna merah. Tangan kirinya memegang beberapa untai buah jamblang hutan yang besar dan merah kehitaman. Buah itulah yang tengah dilahapnya ketika bicara tadi.

Melihat sang dara kaget, si pemuda segera sunggingkan tawa lebar dan buru-buru berkata.

"Jangan takut Aku bukan setan atau dedemit hutan. Lihat aku makan buah jamblang yang manis ini. Kalau setan atau dedemit mana doyan jamblang? Ha...ha...ha....!"

Sang dara undur selangkah. Dia memang bisa yakin kalau pemuda di depannya itu bukan setan atau dedemit Tapi bertemu di tengah hutan dengan seseorang yang tidak dikenal, menegur cara seperti itu serta pakai tertawa bergelak segala sementara mulutnya masih penuh buah jamblang, maka hanya ada satu kesimpulan yang dapat ditarik si gadis. Pemuda yang di hadapannya itu adalah seorang kurang waras yang kesasar di tengah rimba belantara. Seperti menyesali nasibnya sendiri, gadis itu berkata. "Ah....dalam keadaan sulit begini, ketemu orang gendeng lagi!"

"Eh!" pemuda yang mendengar dirinya disebut gendeng itu jadi melengak lalu semburkan buah jamblang yang tengah dimakannya ke tanah. Kedua matanya memandang pada sang dara dan tangan kanannya menggaruk kepala. Lalu dia menggeleng-geleng beberapa kali.

"Ketemu baru sekali sudah bisa menuduh orang lain gendeng...." Si pemuda keluarkan suara mendecak beberapa kali. "Saudari, kau berkuda sendirian di rimba belantara yang jarang dilalui manusia ini, siapa kau dan apa keperluan-mu lewat disini....?"

"Jarang dilalui manusia buktinya aku menemui manusia di sini....," menyahuti sang dara.

"Ah, syukur kau masih menganggap aku manusia. Melihat parasmu yang pucat karena terkejut tadi aku merasa kau pasti menduga diriku setan hutan. Ha...ha...ha...."

"Sudahlah! Orang sedang kesusahan kau enak-enak tertawa. Aku tak mau kau ganggu lebih lama...."

"Siapa berani mengganggu gadis secantikmu?!"

"Aku tak mau bicara denganmu kecuali kau bisa membantuku!" berkata si gadis.

"Membantumu? Tentu saja aku mau. Katakan pertolongan apa yang kau inginkan?" tanya si pemuda pula.

"Bisa kau mendapatkan seekor kuda agar aku dapat melanjutkan perjalanan?"

"Ah, itu namanya kau meminta tanduk pada kucing! Kau lihat aku tidak membawa kuda! Di rimba belantara begini rupa dimana bisa mencari kuda?!"

"Lalu bagaimana kau masuk ke dalam hutan ini?!"

"Jalan kaki."

"Jalan kaki? Aku tidak percaya!" jawab si gadis lalu memandang berkeliling seolah-olah mencari-cari sesuatu. Tapi memang dia tidak melihat seekor kudapun di sekitar situ. Maka diapun lantas berkata. "Kalau kau memang seekor kucing yang tidak bisa menolongku, pergi saja sana...."

"Tunggu dulu adik baju kuning. Mengadakan kuda aku memang tidak bisa. Tapi aku bisa menolong kudamu itu. Aku bisa mengurut kakinya yang terkilir."

"Oh jadi sampean ini tukang urut rupanya...." kata sang dara. Dia menyangka si pemuda akan jadi marah karena jengkel, paling tidak akan merah wajahnya. Tapi justru si pemuda kembali tertawa dan menjawab.

"Aku memang ahli urut. Bapakku jagoan mengurut. Bapak dari bapakku ahli mengurut. Bapak dari bapak dari bapakku tukang urut terkenal. Lalu bapak dari bapak dari bapak...."

"Sudah! Jika situ memang pandai mengurut ayo tolong kudaku," kata si gadis pula. Dalam hati dia menahan rasa geli melihat sikap dan mendengar ucapan pemuda berambut gondrong itu.

Si pemuda kembali tertawa lebar lalu jongkok di depan kuda coklat. Mula-mula diusapnya leher binatang ini.

"Kliwon, aku temanmu. Aku mau menolongmu! Jangan kau tendang aku kalau kuurut kaki kananmu ya....?"

Lalu pemuda itu mulai mengelus-elus kaki kanan sebelah depan kuda coklat yang terkilir. Sesaat binatang itu tampak seperti hendak menendang dan beringas. Namun setelah kembali dielus-elus dia mulai jinak dan membiarkan saja kaki kanannya diurut.

"Nah, mudah-mudahan kakimu sembuh sekarang!" kata si pemuda sesaat kemudian. Dia berpaling pada gadis di sebelahnya dan berkata. "Bantu aku membangunkan binatang ini.... Angkat lehernya, aku akan mengangkat kaki depannya."

Dengan susah payah kuda coklat itu akhirnya bisa juga ditegakkan kembali.

"Terima kasih. Kau telah menolong aku. Aku tak akan melupakan jasamu....," kata gadis baju kuning lalu hendak cepat-cepat saja melompat ke atas punggung binatang itu.

"Hai! Tunggu dulu!" berkata si pemuda. "Kudamu ini masih belum bisa ditunggangi. Kalau dipaksa dia akan ambruk kembali!"

"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya sang dara pula.

"Tuntun dulu sampai kira-kira dua ratus langkah. Setelah itu baru kau boleh menungganginya...."

"Dua ratus langkah tidak dekat. Aku tidak ingin terlambat!"

"Kalau kau paksakan malah akan terlambat seumur-umur. Sebenarnya apa yang kau kejar saudari?"

"Aku tidak mengejar siapa-siapa..."

"Kalau begitu dirimu yang tengah dikejar orang!"

"Juga tidak!"

"Hem...," si pemuda garuk-garuk kepala.

"Sudahlah, aku tidak bermaksud menyelidik atau mengetahui urusanmu. Aku tengah menuju ke selatan. Kalau kau juga hendak menuju ke sana, kita bisa sama-sama...."

"Kau jalanlah duluan. Dan hitungkan bagiku sampai dua ratus langkah seperti yang kau katakan tadi...."

Si pemuda tertawa. Ucapan si gadis satu pertanda bahwa dia tidak menolak melanjutkan perjalanan bersama-sama. Maka pemuda ini pegang tali kekang kuda coklat dan menuntun binatang itu sementara si gadis melangkah mengikuti dari belakang.

"Namaku Wiro Sableng.... Siapa namamu?" berkata pemuda gondrong sambil melangkah menuntun kuda.

"Aku tidak dapat mengatakannya" jawab si gadis.

"Ah, kau mungkin malu. Tapi mungkin juga belum percaya padaku," ujar si gondrong yang ternyata adalah Pendekar 212 Wiro Sableng, murid nenek sakti Sinto Gendeng dari Gunung Gede. "Kau tak mau memberi tahu siapa namamu tak jadi apa. Tapi dari kalung yang melingkar di lehermu aku tahu kau adalah orang dalam keraton! Jangan-jangan kau seorang puteri!"

Terkejutlah dara berbaju kuning itu. Dia memandang ke dadanya. Ternyata mata kalung berbentuk lambang keraton yang dilingkari kuntum melati tersembul keluar dari balik pakaiannya. Kalung seperti ini hanya dimiliki dan dipakai oleh para dara puteri keraton.

"Matamu tajam dan pengetahuanmu luas juga!" kata si gadis.

"Itu berarti kau tak lagi dapat menyembunyikan rahasia dirimu, bukan? Aneh....aneh.... Ada seorang puteri keraton berjalan sendirian, tanpa pengiring tanpa pengawal. Memasuki rimba belantara pula. Menuju ke selatan daerah sepi banyak rintangan dan bahaya, apa gerangan yang tengah dicarinya....?"

"Ucapanmu seperti seorang penyair saja!" berkata sang dara. "Aku memang tidak bisa merahasiakan diriku lagi. Aku Ayu Purini...."

"Tidak pakai Raden di depannya?" tanya Wiro sambil terus melangkah menuntun kuda coklat.

"Di hutan begini tidak laku segala macam gelar," jawab Purini.

Murid Sinto Gendeng tertawa mendengar jawaban itu.

"Sekarang apakah kau mau menceritakan mengapa kau melakukan perjalanan seorang diri begini? Dari pakaian ringkas yang kau kenakan berarti kau memang sengaja mempersiapkan diri."

"Hal itu tidak bisa kuberitahukan padamu...."

"Kenapa begitu?"

"Soalnya aku tidak tahu siapa kau sebenarnya...."

"Yang jelas aku bukan orang dari keraton. Emperannya sajapun tidak!"

Kini Ayu Purini yang tersenyum mendengar ucapan itu.

Saat itu baik Wiro maupun Purini sudah sama-sama menghitung sampai langkah ke dua ratus. Hutan gelap yang mereka tempuh kini tampak terang oleh cahaya yang datang dari depan. Tiupan angin lembab mengandung garam berhembus ke arah mereka. Juga dari depan terdengar suara deburan ombak.

Tak selang berapa lama keduanya sampai di ujung hutan dan ternyata di hadapan mereka kini terbentang pasir pantai dan laut luas dengan ombak menggemuruh tiada henti-hentinya.

"Kita sudah sampai di pantai!" ujar Purini lalu mendahului Wiro melangkah ke depan. Tapi saat itu pula gadis ini kembali masuk ke dalam hutan. Malah dia mendorong Wiro dan menarik kuda coklat berlindung di balik kerapatan pohon dan semak belukar.

Dari arah barat terdengar derap kaki kuda banyak sekali. Tak lama kemudian serombongan orang terdiri dari lebih selusin prajurit keraton serta seorang perwira lewat di depan mereka dengan cepat.

"Pasukan kerajaan....," kata Wiro seraya berpaling pada Purini. "Eh, wajahmu kulihat berubah. Jangan-jangan mereka tengah mencarimu."

"Dengar, aku harus menuju ke muara Kali Opak. Masih jauhkah tempat itu dari sini? Aku harus mendahului rombongan tadi. Kalau tidak bisa celaka....!"

"Celaka? Siapa yang celaka?!" tanya Wiro.

"Aku butuh pertolonganmu. Kau tahu liku-liku daerah sekitar sini?"

"Tahu betul sih tidak. Tapi yah lumayan. Kau bilang mau ke muara Kali Opak dan harus lebih dulu tiba disana dari rombongan tadi. Betul begitu?"

"Ya, ya! Kau bisa menolongku?!" tanya Purini. Tampaknya ada kecemasan besar dalam dirinya.

"Kenapa kau tidak bilang dari tadi kalau memang mau ke muara Kali Opak...."

"Sudahlah. Jangan hal itu dipersoalkan. Keselamatan Jayengseno terancam. Aku harus menolongnya."

"Siapa Jayengseno itu?"

"Saudaraku...."

"Saudara atau pacar?"

"Jangan bergurau juga! Kalau sampai terlambat tak ada gunanya aku mengadakan perjalanan sejauh ini!"

"Kalau begitu ikuti aku. Ada jalan berputar, memotong ke arah muara Kali Opak dari arah barat. Mudah-mudahan kita bisa mendahului rombongan itu. Kau boleh menunggangi si Kliwon ini sekarang. Kurasa kakinya sudah cukup kuat."

"Kau sendiri bagaimana?" tanya Purini.

"Asal kau tidak memacunya kencang-kencang dan membiarkan aku berlari di sebelah depan maka kau tak usah khawatir aku akan ketinggalan di belakang."

"Baik...larilah. Aku akan mengikuti dari belakang!" kata Ayu Purini pula. Lalu dari balik pakaian kuningnya dia mengeluarkan sebuah benda. Ketika benda itu dikenakannya ke mukanya ternyata adalah sebuah topeng tipis yang membuat wajah aslinya tidak lagi dapat dikenali.

Pendekar 212 geleng-geleng kepala. "Ternyata kau seorang pemain tari topeng!" Wiro tertawa lalu masuk kembali ke dalam hutan, lari di sebelah depan.

***

EMPATKETIKA UNTUK KEDUA kalinya mereka keluar dari dalam hutan, ternyata mereka sampai di lamping sebuah bukit kecil. Di balik bukit itu terletak muara Kali Opak yang menjadi tujuan Ayu Purini. Sampai di puncak bukit gadis itu memandang berkeliling. Tidak tampak rombongan pasukan keraton tadi. Jalan memintas yang ditunjukkan si pemuda ternyata mampu membuat rombongan itu tertinggal jauh di belakang.

"Kita sudah sampai di muara Kali Opak. Nah mau menuju kemana sekarang?" tanya Wiro pula. Memandang jauh ke arah ujung muara dia melihat beberapa perahu pencari ikan.

Ayu Purini menunjuk ke arah timur kaki bukit dimana aliran Kali Opak sedikit menikung. "Kau lihat bekas reruntuhan candi itu...?" Wiro mengikuti arah yang ditunjuk lalu anggukkan kepala. "Aku harus segera kesana." Selesai berucap begitu Ayu Purini sentakkan tali kekang kuda coklat. Si Kliwon melompat dan lari menuruni bukit.

Pendekar 212 terpaksa mengejar. Dia sampai di reruntuhan candi pada saat Ayu Purini telah turun dari kudanya dan melangkah cepat menuju sebuah arca berbentuk kepala singa pada sebuah pilar segi empat. Sesaat gadis itu tampak seperti berpikir mengingat-ingat.

"Dua kali ke kanan, satu kali ke kiri....," katanya seorang diri.

"Apa yang dua kali ke kanan satu kali ke kiri?" tanya Wiro tak mengerti.

Tanpa menyahuti pertanyaan orang, Ayu Purini pegang kepala singa lalu membuat gerakan memutar ke kanan. Arca itu tidak bergerak sedikitpun.

Kembali si gadis kelihatan seperti mengingat-ingat. "Tak mungkin aku keliru....," katanya. Lalu dengan mengerahkan seluruh tenaga dia kembali berusaha memutar arca kepala singa itu ke kanan. Terdengar suara berderik. Murid Sinto Gendeng mengerenyit tak percaya ketika dia melihat bagaimana bagian leher dari kepala singa itu tiba-tiba kelihatan berputar perlahan-lahan. Melihat kepala arca akhirnya bergerak, si gadis seolah mendapat kekuatan baru. Dia kembali memutar kepala singa itu ke kanan. Setelah itu dia memutarnya balik ke kiri.

Terdengar suara berkelik disusul oleh suara menderu halus. Murid Sinto Gendeng sempat ternganga sambil garuk-garuk kepala ketika dia melihat bagaimana secara aneh arca batu berbentuk kepala singa itu bergeser ke samping kiri. Di tempat bekas tegaknya semula ini kelihatan sebuah lobang selebar bahu manusia. Ketika dia coba melongok lobang itu ternyata berupa sebuah tangga batu dengan anak tangga berjumlah dua belas. Di kaki tangga agak terlindung oleh kegelapan kelihatan sebuah cekungan. Dari dalam cekungan itu muncul sepasang lutut dalam keadaan bersila.

Wiro membuka mulut hendak bertanya. Namun belum sempat bersuara Ayu Purini sudah mendahului.

"Aku akan masuk ke dalam. Jika rombongan orang-orang keraton tadi datang kemari cepat tutupi lobang ini. Jangan sampai mereka mengetahui ada lobang di sini. Aku tak akan lama!"

"Ayu...."

Tapi sang dara sudah masuk ke dalam lobang dan melangkah menuruni tangga batu. Wiro hanya bisa tegak sambil garuk-garuk kepala.

Baru saja kepala Ayu Purini lenyap di mulut lobang, di arah barat Wiro tiba-tiba melihat rombongan orang berkuda datang dari ujung kaki bukit. Wiro cepat menarik si Kliwon dan menarik leher kuda itu hingga akhirnya binatang itu tergolek di atas pasir, terlindung oleh reruntuhan candi. Dia sendiri kemudian segera berjongkok dan berlindung di balik arca kepala singa.

Kudopati, kepala pasukan pengawal keraton yang menjadi pimpinan rombongan orang-orang itu hentikan kudanya dan memandang berkeliling.

"Muara kali ini gundul plontos. Tak ada hutan, tak ada bukit cukup tinggi. Jika Jayengseno melakukan samadi pasti dia melakukannya dalam sebuah goa. Tapi kalian lihat sendiri. Sama sekali tidak ada tempat yang bisa membentuk goa di sekitar muara ini!" Dua belas orang prajurit keraton ikut memandang berkeliling mendengar ucapan pimpinan mereka itu.

"Mungkin goa itu berada dibawah laut?" berucap salah seorang perajurit. Lalu dia menambahkan. "Berarti kita harus menunggu sampai terjadi pasang surut...."

"Perajurit tolol! Jayengseno bukan ikan yang bisa hidup di air. Bukan juga penyu yang bisa hidup di air dan di darat!" menggerendeng Kudopati. Dia memandang jauh ke tirnur. "Aku melihat reruntuhan candi di ujung sana. Mari kita selidiki tempat itu!" Lalu dia menggebrak kudanya. Setengah jalan sebelum sampai ke reruntuhan candi kepala pengawal keraton yang cerdik ini hentikan kudanya dan memandang ke arah bukit kecil di sebelah kanan.

"Kalian lihat pasir di bukit itu. Ada jejak kaki kuda dan kaki manusia. Kedua jejak itu menuju ke arah reruntuhan candi...."

"Berarti goa itu mungkin ada di sekitar reruntuhan itu," menyahuti seorang bawahan.

"Mungkin sekali. Namun agaknya ada orang yang telah mendahului kita!" Kudopati tarik tali kekang kudanya, menghambur cepat menuju reruntuhan candi.

Ketika dia sampai di tempat itu segera saja dia dan anak-anak buahnya melihat seekor kuda coklat terbaring di pasir di belakang reruntuhan.

"Dugaan kita tidak salah! Tapi ada kuda tak ada manusia! Tak bisa kupercaya!" Diikuti oleh selusin anak buahnya Kudopati melompat turun dari kuda masing-masing. Tepat pada saat dia menginjakkan kakinya di pasir, saat itu pula dia baru melihat ada sesosok tubuh berpakaian putih tergolek di atas reruntuhan candi, dekat sebuah arca berbentuk kepala singa.

"Orang gila dari mana yang tidur-tiduran di tempat ini di bawah terik panas matahari?!" membatin kepala pengawal keraton itu dia memberi isyarat pada anak buahnya. Dua belas perajurit segera menyebar dan mengurung tempat itu. Kudopati lalu melompat ke dekat arca dan menegur dengan suara keras.

"Manusia berpakaian putih lekas bangun! Katakan siapa dirimu dan mengapa berada di tempat ini!"

Orang yang terbaring di atas reruntuhan candi yang tentunya adalah Pendekar 212 Wiro Sableng usap-usap kedua matanya seperti orang baru bangun tidur. Tapi dia tetap saja berbaring di tempatnya. Karena kalau dia bangun berarti Kudopati akan dapat melihat lobang batu yang sengaja ditutupinya dengan tubuhnya.

"Tak mau menjawab akan kutebas batang lehermu!" teriak Kudopati lalu tangannya bergerak ke arah hulu golok yang terselip di pinggangnya.

"Ah Siapa tuan besar ini yang mengganggu ketenteraman nelayan yang baru saja kehilangan perahu...."

"Perduli setan dengan perahumu! Kami tengah mencari suatu tempat. Aku yakin tempat itu ada di sekitar sini!"

"Tempat apa....?" tanya Wiro sambil kembali usap-usap kedua matanya.

"Sebuah goa! Tempat seseorang bersamadi!"

"Goa....? Goa apa?! Aku sudah tinggal lebih dari dua puluh tahun di daerah ini. Jangankan gua! Lobang kampretpun tak ada di sekitar sini!" jawab Wiro lalu menyengir.

"Aku melihat kuda dan dirimu di sini. Tapi tidak melihat orang kedua!"

"Orang kedua siapa maksudmu?"

"Ada kuda, ada penunggangnya. Lalu ada seorang lagi yang berjalan kaki! Lekas katakan dimana kawanmu satu lagi itu!"

"Otakmu sebelah depan cerdik, tapi yang sebelah belakang tolol!" tukas Wiro pula. "Aku sampai ke tempat ini bukan menunggangi kuda itu, tapi menuntunnya! Kaki kuda itu barusan cidera. Lihat saja keadaannya yang tergolek begitu rupa...."

"Mulutmu bicara kurang ajar! Sikapmu bicara dengan tidur seperti itu juga kurang ajar! Tahukah kau tengah berhadapan dengan siapa?!" membentak Kudopati.

"Eh, mana aku tahu sedang berhadapan dengan siapa? Apalagi aku tak begitu jelas melihat mukamu. Silau oleh sinar matahari...."

"Pemuda kurang ajar! Tulang-tulang igamu layak kuhancurkan!" kata Kudopati hampir berteriak. Lalu kaki kanannya menendang kuat-kuat ke arah rusuk kanan Pendekar 212 Wiro Sableng.

Murid Sinto Gendeng cepat sorongkan siku tangan kirinya ke arah datangnya serangan. Bukkk!

Wiro mengerenyit menahan sakit pada sikunya yang dihantam telapak kaki Kudopati. Sebaliknya kepala pengawal itu mengeluh tinggi dan terpental dua langkah. Telapak kakinya sakit bukan kepalang, laksana barusan menendang batu keras.

Kini otak Kudopati cepat membaca keadaan. Pemuda aneh berambut gondrong berpakaian putih itu bukan pemuda sembarangan. Dia belum pernah melihat pemuda ini sebelumnya. Jangan-jangan si gondrong aneh ini adalah kawan Jayengseno, sekaligus penjaganya.

"Lekas katakan dimana Jayengseno bersamadi! Kalau tidak kupenggal kepalamu!" Kudopati lantas cabut golok besarnya.

"Heran! Tadi kau berkata mencari goa! Sekarang menyebut nama seseorang. Siapa sih Jayengseno itu?!"

"Kau berani berpura-pura! Padahal kau pasti kaki tangan pangeran culas itu! Coba kau rasakan dulu ketajaman golokku! Daun kupingmu terlalu lebar. Pantas di kikis sedikit!"

Wutt!

Golok di tangan Kudopati menderu ke arah telinga kiri Wiro Sableng. Tapi serangannya meleset.

Pada saat itu pula Wiro merasakan punggungnya yang sengaja dibaringkan untuk menutupi lobang tiba-tiba ada yang mendorong dari bawah keras sekali sehingga dia terangkat dan terguling ke kiri. Bersamaan dengan itu dua sosok tubuh muncul dari dalam lobang. Yang disebelah depan langsung menegur membuka mulut.

"Perlu apa kau mencariku, Kudopati? Sampai-sampai berani mengganggu samadiku?!"

***

LIMAYANG MENEGUR ITU adalah seorang pemuda bertubuh tinggi semampai. Karena hanya mengenakan sehelai celana pendek berwarna putih maka kelihatanlah tubuhnya yang tegap penuh otot. Dadanya ditumbuhi bulu. Wajahnya yang tampan tertutup oleh cambang bawuk serta kumis liar.

Kudopati tidak segera menjawab. Kedua matanya memandang meneliti seolah-olah ingin meyakinkan dulu bahwa manusia di hadapannya itu adalah orang yang dicarinya. Kemudian dia mengerling pada orang berpakaian kuning yang mengenakan topeng tipis menutupi wajahnya.

"Hemm.....Jadi di sini tempatmu bersembunyi!" kata Kudopati kemudian. "Ternyata kau punya dua penjaga. Satu pemuda gondrong ini, satu lagi manusia pemalu yang sengaja melindungi wajahnya di balik topeng!"

"Bersembunyi? Aku bersembunyi katamu? Apa maksudmu Kudopati....?" Pemuda bercelana putih bertanya. Suaranya keras tapi sikapnya tenang saja. Dia telah melihat ada dua belas prajurit bersenjata mengurung tempat itu. Sebenarnya pemuda ini yang bukan lain adalah Raden Jayengseno, putera tertua Sri Baginda dari seorang selir, sudah mengetahui apa yang terjadi dari Ayu Purini waktu di dalam lobang tadi.

Kudopati segera hendak menjawab. Tapi Jayengseno mengangkat tangannya. "Tunggu dulu! Sebelum kau bicara aku ingin memberi ingat! Sikapmu terhadapku sungguh sangat tidak sopan. Walaupun aku putera dari seorang selir, garis kedudukanku jelas lebih terhormat dari pada dirimu yang hanya seorang perajurit kepala!"

Merah padam paras Kudopati. Namun kemudian tampak dia menyeringai. "Aku tahu, semua orang tahu kalau yang namanya Raden Jayengseno itu adalah putera tertua Sri Baginda. Tapi putera tertua dari seorang selir. Karena itulah kau beranggapan bahwa kau mempunyai hak untuk dinobatkan sebagai pangeran putera mahkota! Jayengseno, kau dicurigai sebagai pencuri jubah Kencono Geni. Menukarnya dengan yang palsu hingga menyebabkan kematian Raden Ario Joko Pitolo, satu-satunya putera Sri Baginda yang berhak atas tahta kerajaan!"

"Kau pandai mengarang fitnah!"

"Siapa mengarang?! Aku datang atas perintah Sri Baginda!" sahut Kudopati keras.

"Kalau begitu kau juga telah berhasil mengelabuhi ayahku! Angkat kakimu dari sini Kudopati! Aku tak ingin kau ganggu lebih lama!'

"Jawab dulu pertanyaanku ! Dimana kau sembunyikan jubah Kencono Geni itu?!"

"Kau tanyakan pada jin laut sana!" jawab Jayengseno.

"Jika kau tidak mau menerangkan, terpaksa aku menangkapmu dan membawamu ke hadapan Sri Baginda di Kotaraja!"

Raden Jayengseno tersenyum. "Pergilah sebelum kutampar mulut lancangmu!"

Rahang Kudopati menggembung. Berbekal perintah Sri Baginda ditambah dengan kedudukannya sebagai kepala pengawal keraton dia merasa dirinya pada kedudukan yang lebih tinggi dari putera raja dari seorang selir itu. Maka dia berteriak memberi perintah untuk menangkap Jayengseno. Dua belas perajurit kerajaan segera bergerak.

"Tunggu dulu!" tiba-tiba Wiro berseru.

"Pemuda gondrong! Kau hanya seekor monyet. Jadi tidak perlu ikut campur urusan orang! Atau kaupun mau aku tangkap?!" bentak Kudopati.

"Perwira, mulutmu memang seperti comberan. Lagakmu seperti jamban busuk! Apa kau punya bukti kalau Raden Jayengseno yang mencuri dan menukar jubah pusaka itu?"

"Itu bukan urusanmu monyet!"

Wiro ganda tertawa dipanggil monyet untuk kedua kalinya itu. Dia berkata: "Seingatku, sudah dua bulan aku berada di tempat ini menjaga Raden Jayengseno. Bagaimana dia bisa kau tuduh sebagai pencuri jubah pusaka itu?"

Dusta Pendekar 212 itu sesaat membuat Kudopati terkesima.

Wiro tertawa. Dia berpaling pada Jayengseno. "Nah, dia tak bisa menjawab. Raden, kau kembalilah masuk ke dalam lobang. Teruskan samadimu. Serahkan kunyuk-kunyuk kesasar ini padaku!"

"Bangsat! Kau berani menghina!" teriak Kudopati. Dia kembali memberi isyarat pada dua belas perajurit. Lalu mendahului menyergap ke arah Pendekar 212. Sebelum menangkap Jayengseno dia ingin lebih dahulu menghajar si gondrong ini.

Tinju kanan Kudopati melayang ke arah muka Wiro Sableng. Serangan itu mengeluarkan suara angin deras tanda Kudopati memiliki tenaga luar yang besar dan berbahaya. Murid Eyang Sinto Gendeng cepat menghindar ke samping. Lutut kirinya menekuk. Bersamaan dengan itu kaki kanannya menendang ke arah perut Kudopati.

Kudopati tidak heran melihat lawan mampu mengelak bahkan balas menyerang. Tadipun waktu tendangannya ditangkis dengan lutut dia sudah menyadari kalau pemuda yang disebutnya monyet ini memiliki kepandaian tinggi. Karenanya Kudopati kini ingin sekali membunuh Wiro secepat-cepatnya. Entah kapan tangan kanannya bergerak, tahu-tahu sebilah golok besar sudah tergenggam. Kini dia menyerbu dengan senjata itu!

Sementara itu dua belas perajurit telah melompat ke atas reruntuhan candi. Enam orang bersenjata tombak, enam lagi menghunus golok. Yang memegang golok menyerbu di sebelah depan.

Jayengseno melompat ke atas sebuah batu candi sementara Ayu Purint yang memang tidak punya ilmu kepandaian apa-apa segera menjauh. Rasa takut menyelimuti diri gadis ini. Walau wajahnya terlindung di balik topeng tipis namun gadis ini masih merasa khawatir kalau-kalau Kudopati dan para perajurit itu mengenalinya.

"Perajurit-perajurit kerajaan! Dengar kata-kataku!" berseru Jayengseno.

"Jangan dengarkan ucapannya!" berteriak Kudopati.

Jayengseno tidak perduli dan meneruskan bicaranya. Tinggalkan tempat ini! Aku tidak ingin mencelakai kalian! Cepat!"

"Kami hanya menjalankan perintah atasan, Raden! Mana kami berani berlaku tidak taat!" jawab salah seorang perajurit.

Plaak!

Baru saja perajurit ini berucap begitu tamparan Raden Jayengseno telah mendarat di pipinya. Tubuhnya melintir hampir jatuh, bibirnya pecah berdarah. Sebelas perajurit lainnya sesaat tampak menjadi bimbang. Namun teriakan Kudopati membuat mereka kembali menyerbu. Terpaksa Jayengseno menyambar golok perajurit yang tadi ditamparnya lalu menghadapi sebelas pengeroyok yang datang menyebarnya.

Sebagai seorang putera raja Raden Jayengseno memang membekal ilmu silat yang tidak rendah. Saat itupun dia sengaja mengucilkan diri untuk menggembleng tenaga dalamnya. Gerakan silatnya mantap dan kelebatan tubuhnya ringan. Namun ada satu hal, Jayasengseno belum punya pengalaman sama sekali mela-kukan dan menghadapi kekerasan. Sehari-hari putera Sri Baginda dari seorang selir ini adalah seorang pemuda yang sopan dan lembut

Dalam beberapa kali gebrakan saja Raden Jayangseno berhasil menendang seorang perajurit dan menjotos perajurit lainnya. Bahkan dia sempat melukai lawan yang ketiga. Namun serbuan yang lain-lainnya bertambah gencar. Perlu diketahui dua belas penyerang itu memang adalah anggota-anggota pasukan tingkat rendahan saja. Namun mereka datang dari kelompok khusus yang sengaja disiapkan dan terlatih dalam melakukan penyerangan atau menangkap lawan hidup-hidup.

Setelah menggempur sepuluh jurus, delapan perajurit itu kini berhasil merangsak maju dan mendesak Raden Jayengseno ke sudut timur reruntuhan candi. Dalam satu gebrakan hebat, Jayengseno berhasil menusuk perut salah seorang penyerangnya, namun saat itu pula dua golok memukul dengan keras badan golok yang dipegangnya. Senjata itu terlepas mental dari pegangannya. Di lain kejap dua ujung tombak sudah menempel di leher Jayengseno sedang sebilah golok ditekankan ke arah perutnya. Putera selir ini tak bisa berbuat apa-apa. Ayu Purini menyaksikan kejadian itu dengan tubuh bergetar dan keluarkan keringat dingin.

Kudopati adalah murid seorang jago silat di daerah Sleman. Sembilan tahun digembleng kemudian dia berguru pada seorang tokoh silat istana. Pada tokoh inilah dia mendapat gemblengan tenaga dalam tingkat tinggi. Kemampuannya yang dianggap luar biasa kemudian memungkinkannya dipercayai jabatan sebagai kepala pengawal keraton. Apalagi kabarnya diapun telah pula berguru pada seorang tua misterius di puncak gunung Merapi dimana dia mendapat pelajaran dan akhirnya menguasai beberapa pukulan sakti.

Tetapi hari itu Kudopati berhadapan dengan lawan yang kadar kedigjayaannya telah dikenal dunia persilatan di delapan penjuru angin. Setelah menggebrak hebat dengan serangan goloknya selama lima jurus, Kudopati tiba-tiba keluarkan seruan kaget ketika tangannya yang hendak membacokkan senjata ke arah kepala Wiro, mendadak terasa seperti kesemutan. Dari arah depan ada satu gelombang angin yang menekan hingga tangannya mengapung di udara. Kini sadarlah kepala pengawal itu kalau lawannya memiliki kekuatan tenaga dalam yang hebat.

Maka diapun merapal aji kesaktian. Lalu tangan kirinya dihantamkan ke depan seraya berteriak. "Mampus!"

Wuss!

Serangkum angin menerpa dahsyat. Tubuh Pendekar 212 tampak bergetar goyang. Menyaksikan itu Ayu Purini sudah seperti terbang nyawanya.

"Kalau pemuda inipun kalah, celakalah diriku. Mereka pasti menangkap aku. Oh....Bagaimana ini?!" keluh Ayu Purini.

Di depan sana untuk menguatkan daya serangannya, Kudopati hentakkan kaki kiri ke atas lantai candi. Lantai itu terasa bergetar keras dan tubuh Pendekar 212 tampak jatuh terbanting. Mengira lawan sudah tidak berdaya dan paling tidak telah mengalami luka dalam yang parah, Kudopati cepat memburu dengan tabasan golok ke arah leher.

Praang!

Mata golok menghantam lantai batu sampai mengeluarkan pijaran bunga api. Tubuh Pendekar 212 sesaat sebelum golok menyambar lehernya sudah berguling ke kiri. Ketika Kudopati berusaha memburu terus tiba-tiba sebuah bongkahan batu candi melayang ke arah kepalanya. Batu ini adalah batu yang dipungut Wiro sewaktu berguling tadi. Mau tak mau Kudopatrterpaksa menyelamatkan kepalanya.

Hal ini membuat gerakannya tertahan sesaat. Ketika lemparan batu lewat di atas kepalanya dan kembali dia hendak melanjutkan serangan, tendangan kaki kanan Pendekar 212 mendarat lebih dahulu di tulang kering kaki kirinya.

Kraaakk!

Terdengar suara patahnya tulang kaki Kudopati. Bersamaan dengan itu terdengar jerit kesakitan kepala pengawal ini. Tubuhnya langsung roboh ke lantai candi dan kelojotan tiada henti karena menahan sakit.

Wiro cepat berdiri lalu menghampiri para pengurung Raden Jayengseno.

"Pimpinan kalian sudah tidak berdaya! Gotong dia dan tinggalkan tempat ini!"

"Apapun yang terjadi kami tetap akan menangkap Raden Jayengseno!" menjawab salah seorang perajurit.

"Kalau begitu kau akan kuhajar paling dulu!" mengancam Wiro.

"Kalau itu kau lakukan kawanku akan menusuk tembus batang leher Raden Jayengseno!" mengancam perajurit tadi.

Wiro menyeringai. "Kau ditugaskan menangkap Raden Jayengseno hidup-hidup. Jika kau berani membunuhnya, Sri Baginda akan memancungmu!"

Selagi perajurit itu berada dalam keadaan bimbang Wiro melangkah ke tempat Kudopati duduk menginjak kaki kiri kepala pengawal yang patah itu sehingga Kudopati menjerit setinggi langit.

"Perintahkan anak buahmu melepaskan Raden Jayengseno. Atau kuinjak hancur kakimu yang patah ini hingga kau jadi cacat seumur-umur!"

"Bangsat!" rutuk Kudopati marah sekaii. Tapi dalam keadaan tidak berdaya seperti itu dia tidak bisa berbuat apa, terpaksa mengikuti kehendak Wiro. Maka kepala pengawal inipun berseru pada semua anak buahnya.

"Lepaskan Jayengseno. Hari ini dia bebas tapi cepat atau lambat kita akan menangkapnya kembali! Bantu aku naik ke atas kuda. Kita kembali ke Kotaraja!"

Mendengar perintah pimpinan mereka itu, delapan perajurit yang mengurung Jayengseno segera mundur. Sebagian dari mereka menolong Kudopati naik ke atas kuda. Yang lainnya membantu teman-teman mereka yang luka termasuk seorang tewas.

Sebelum meninggalkan tempat itu Kudopati menoleh pada Jayengseno. "Mimpimu sudah tamat Jayengseno. Jangan kira kau bakal bisa menjadi pangeran putera mahkota!"

"Aku tidak pernah mimpi seperti itu Kudopati. Justru aku muak dengan tata kehidupan keraton yang hanya mengukur tinggi rendah manusia dari darah dan keturunannya!" menyahuti Jayengseno.

Kudopati menyeringai. "Kelak kalau tali gantungan dibuhulkan ke lehermu, aku akan meminta agar kedua tanganku yang akan melakukannya!"

Jayengseno tertawa hambar. "Mimpimu mungkin tidak akan pernah jadi kenyataan Kudopati. Mungkin aku kelak yang akan menjiratkan tali gantungan ke lehermu!"

Kudopati hendak bergerak pergi namun dia ingat pada Pendekar 212 Wiro Sableng dan berpaling pada pemuda itu.

"Monyet gondrong, umurmu juga tak bakal lama! Aku akan memburumu sekalipun ke neraka!"

"Ah, aku tidak mendengar apa yang barusan kau katakan Kudopati. Mungkin kau bicara kurang keras atau telingaku mulai tuli. Bicaralah lebih keras!" kata Wiro pula lalu dia melangkah mendekati Kudopati yang duduk di atas kuda. Tangan kanannya menyambar kaki kepala pengawal yang patah itu dan menariknya kuat-kuat. Kudopati berteriak kesakitan. "Ah, kurang keras Kudopati! Bicaralah lebih keras!" kata Wiro pula lalu kembali membetot kaki orang itu kuat-kuat hingga Kudopati untuk kesekian kalinya menjerit kesakitan. Sambil tertawa gelak-gelak Wiro pukul pinggul kuda tunggangan Kudopati.

***

ENAMABDI DALEM BERUSIA empat puluh tahun itu memandang pada atasannya yang berusia hampir dua kali usianya. "Bapak Kamilun, sampean memanggilku ada apakah....?"

"Tolong sampaikan pada Lurah, malam ini aku tidak bisa menjalankan tugas," kata Abdi dalem bernama Kamilun.

"Akan saya sampaikan. Tapi kalau saya boleh tahu, halangan apakah yang sedang sampean hadapi...?" bertanya abdi dalem yang muda.

"Sumini, cucu perempuanku yang berusia sepuluh tahun itu sedang sakit. Badannya panas dan dia seringkali mengigau...."

"Kalau begitu biar saya mintakan obat."

"Tidak perlu susah-susah. Aku sudah mendapat obat. Tapi sakit anakku agak aneh. Dia mengigau seperti orang ketakutan. Berulangkali dia menyebut-nyebut jubah Kencono Geni dan keris Ki Pandan Anom. Seolah-olah sakitnya ini ada hubungannya dengan musibah yang barusan menimpa keraton kita ini...."

Berubahlah paras abdi dalem muda.

"Bolehkah saya melihat cucumu itu?"

Kamilun mengangguk lalu membawa bawahannya itu ke dalam sebuah kamar. Di dalam kamar itu tampak tidur di atas pangkuan ibunya seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun. Sekujur tubuhnya basah oleh keringat dan wajahnya pucat. Pada keningnya ditempelkan sehelai daun sirih.

Si ibu menyeka keringat di tubuh Sumini berulang kali. Abdi dalem muda gelengkan kepala. Sebelumnya dia sudah sering melihat Sumini. Anak ini bertubuh sehat gemuk. Tapi kini keadaannya tampak sangat kurus. Padahal baru beberapa hari mengalami sakit.

Si anak tampak menggeliat. Perlahan-lahan kedua matanya yang terpejam membuka nyalang dan memandang secara aneh ke sudut kamar sebelah atas. Tiba-tiba anak perempuan ini menggeliat lalu menjerit dan menutupi mukanya dengan kedua tangan seraya berteriak.

"Jangan....jangan ambil keris itu. Jangan ! Kembalikan jubah itu! Kembalikan jubah Kencono Geni....Aduh....jangan pukul aku! Ampun....! Jangan pukul! Lepaskan jambakanmu! Aduh....Ampun....!"

Untuk menjerit seperti itu Sumini harus keluarkan tenaga sangat banyak dan kembali sekujur badannya basah oleh keringat. Sehabis menjerit anak ini tampak lemas lalu menangis tersendu-sendu. Sang ibu mendukung sambil mengusap muka dan keningnya.

"Nah, kau saksikan sendiri....," kata Kamilun pada bawahannya.

"Igauannya memang aneh. Apakah sampean atau orang pandai sudah coba mengajaknya bicara? Kalau kita tahu apa yang ditakutinya mungkin kita bisa mengobatinya."

Kamilun tidak berkata apa-apa. Abdi dalem muda yang bernama Kamio itu memberanikan diri. "Jika sampean mengizinkan, saya akan coba mengajaknya bicara."

"Silahkan, aku juga ingin menyaksikan. Siapa tahu kita bisa mengungkapkan sakit aneh cucuku ini....," kata Kamilun pula.

"Tapi sebelumnya saya minta sepotong kencur lebih dahulu...." kata Kamio.

Setelah kencur diberikan, Kamio lalu menggigit dan mengunyahnya. Kunyahan kencur itu kemudian diletakkannya di atas kening disamping daun sirih. Lalu dia meniup kening Sumini beberapa kali.

"Sum....Sumini....Kau tidak tidur kan.... Coba buka kedua matamu...," berkata Kamio dengan suara lembut. Dia mengulangi ucapan itu.sampai tiga kali baru kelihatan Sumini membuka kedua matanya.

"Anak bagus, anak.pandai. Kau sedang sakit, nak. Apakah kau mau sembuh....? Tentu kau ingin sembuh dan bermain lagi dengan teman-temanmu...."

Sumini mengangguk sangat perlahan. "Tapi....," tiba-tiba saja keluar ucapan dari mulut anak itu.

"Tapi apa cucuku....?" sang kakek ikut bicara.

"Tidak.... Sumini tidak mau lagi pergi ke tempat itu. Tidak...."

"Tempat yang mana anakku?" tanya Kamio.

"Bangsal....bangsal itu. Sumini tidak mau lagi kesana. Tidak mau lagi bekerja disana. Tidak mau lagi membersihkan meja dan kursi. Tidak mau lagi membersihkan peti-peti pusaka...."

"Tentu....tentu kau tidak usah ke sana lagi anakku," kata Kamio. Lalu dia berpaling pada abdi dalem Kamilun seraya bertanya: "Apakah cucumu sebelumnya memang ikut membantu di bangsal penyimpanan benda-benda pusaka keraton?"

Kamilun mengangguk. "Pada hari kejadian itu malah dia tertidur disana...."

"Jangan-jangan dia menyaksikan sesuatu," bisik Kamio.

"Cobalah kau tanyakan terus...."

Kamio lantas bertanya. "Sumini, mengapa kau tidak suka lagi pergi ke bangsal itu? Bukankah di situ udaranya sejuk, suasananya tenteram dan banyak hikmahnya, anakku?"

"Sumini takut....Sumini takut....."

Ketika anak perempuan itu mulai kelihatan hendak menangis, Kamio dan ibunya cepat membujuk.

"Kami bertiga ada disini. Lihat ada kakekmu, ada ibumu. Tidak perlu takut. Apa yang kau takutkan Sumini?"

"Orang itu....Saya melihat orang itu...."

"Orang siapa? Siapa yang kau lihat Sumini?" tanya sang ibu yang mendukung Sumini.

"Orang itu. Tinggi besar.....Bermata besar berambut putih..... Pencuri....!"

"Ah, kau melihat pencuri rupanya. Terhadap pencuri kita tidak perlu takut. Pengawal keraton akan menangkapnya! Apa yang dicuri orang itu Sumini? Kau melihat apa yang dicurinya? Kau mengenali pencuri itu?"

"Orang itu mencuri jubah Kencono Geni lalu memasukkan sebuah bungkusan ke dalam peti. Lalu dia juga hendak mencuri keris Ki Pandan Anom tapi tidak jadi karena ada penjaga yang datang. Lalu orang itu membunuh semua penjaga. Lalu...." Sampai disitu Sumini kelihatan seperti ketakutan dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Kamio cepat meniup kening dan mengusap ubun-ubun anak itu. Lalu dia saling berpandangan dengan Kamilun dan berbisik. "Cucu sampean mengetahui satu rahasia besar.... Saya akan menanyainya lagi...."

Kamilun mengangguk.

"Sumini, nak. Kau jangan takut ada kakek dan ibumu disini," berkata Kamio. "Kau anak pandai. Kau sudah mengatakan pada kami bahwa kau melihat orang tinggi besar berambut putih, bermata besar mencuri jubah pusaka. Juga hendak mencuri keris pusaka. Apakah kau kenal orang itu Sumini?"

Yang ditanya diam saja.

"Mungkin kau lupa. Cobalah mengingat...." kata Kamilun.

"Saya tidak lupa kek....Saya ingat. Tapi saya takut.." jawab si anak.

"Jangan takut. Kalau orang itu hendak mengganggumu kakekmu akan mementung kepalanya, aku akan memukul dadanya. Nah ayo katakan siapa pencuri itu...." mendesak Kamio.

Mulut Sumini terbuka. "Pencuri itu....," anak ini sesaat memandang ke sudut atas kamar. "Pencuri itu seperti...."

Jendela kamar di samping kiri tiba-tiba terpentang lebar. Di luar tampak satu bayangan. Sesuatu berdesing dalam kamar. Terdengar jeritan Sumini. Bayangan di luar jendela lenyap. Lalu menyusul terdengar raungan ibu Sumini sedang Kamilun dan Kamio sama berseru keras ketika menyaksikan bagaimana sebuah pisau menancap dalam di leher Sumini!

***

TUJUHMALAPETAKA YANG MENIMPA keluarga abdi dalem Kamilun ternyata tidak hanya sampai pada pembunuhan keji atas diri cucunya saja. Menjelang pagi penduduk di sebelah timur keraton menemukan abdi dalem berusia delapan puluh tahun itu telah menjadi mayat bersama anaknya yaitu ibu Sumini di dalam rumah mereka, sementara jenasah Sumini belum sempat di urus.

Seluruh kawasan keraton menjadi gempar. Terlebih ketika diketahui lenyapnya abdi dalem bernama Kamio. Apakah orang ini ikut menjadi korban pula atau lenyap melarikan diri? Berbagai prasangka bermunculan. Salah satu diantaranya ialah bahwa Kamio melarikan diri karena dialah yang telah menghabisi abdi dalem Kamilun sekeluarga. Dituduhkan bahwa Kamio ada sangkut pautnya dengan lenyapnya jubah Kencono Geni. Anggota keluarga Kamilun mengetahui hal itu. Itulah sebabnya orang tua yang sudah mengabdi pada keraton sepanjang usianya itu dibunuh bersama anak perempuan dan cucunya! Kepada rakyat luas segera diumumkan bahwa Kamio menjadi buronan dan harus ditangkap hidup atau mati!

Di keraton sendiri, di bawah pimpinan langsung Patih Jolosengoro disertai petunjuk Sri Bagindra dibentuk dua kelompok pasukan. Yang pertama berjumlah lima puluh perajurit dan tiga perwira, dikepalai oleh Kudopati yang masih berada dalam keadaan cidera. Kaki kirinya yang patah telah diobati dan diganjal dengan sepotong kayu. Kemana-mana dia memakai tongkat yang dikepit di ketiak kirinya. Meskipun dalam keadaan sakit tapi dendamnya terhadap Jayengseno, terutama pemuda gondrong yang telah membuat dia cidera demikian rupa, telah menimbulkan semangat balas dendam yang menyala dalam dirinya: Oleh Sri Baginda dia tetap diberi kepercayaan untuk menjadi pemimpin kelompok ini dan bertugas mencari dan mengejar kembali Jayengseno.

Bagi Kudopati, Jayengseno tidak menjadi masalah. Yang menjadi persoalan besar justru si gondrong yang ada bersamanya. Agar dia tidak tersandung kedua kalinya maka Kudopati memasukkan ke dalam kelompoknya seorang tokoh silat istana bernama Narowongso yang terkenal dengan senjatanya berupa pecut yang bisa mengeluarkan api. Di samping itu Kudopati juga meminta bantuan gurunya seorang kakek sakti dari gunung Merapi. Dari kakek yang bernama Kunto Ismoro inilah dia mendapat pengajaran ilmu tenaga serta pukulan-pukulan sakti. Kudopati merasa penasaran karena belum sempat mengeluarkan pukulan-pukulan saktinya yang jitu dia sudah keburu dipecundangi oleh pemuda berambut gondrong yang sampai saat itu tidak diketahui siapa nama atau gelarnya.

Kelompok kedua berjumlah hanya sepuluh perajurit, seorang perwira, di pimpin oleh seorang Tumenggung berkepandaian tinggi bernama Gelung Kamiyoso. Kelompok kedua ini ditugaskan untuk mencari dan menangkap abdi dalem Kamio.

Disamping itu Patih Jolosengoro juga menyebar puluhan mata-mata untuk ikut membantu mencari Jayengseno, si gondrong dan Kamio.

Sebelum dua rombongan itu berangkat, Patih Jolosengoro sempat menyampaikan pesan pada pimpinan kedua kelompok itu.

"Sri Baginda sudah hilang kesabarannya. Kalian harus menemukan jubah Kencono Geni, paling tidak mengetahui dimana beradanya. Sri Baginda juga berpesan, kalau keadaan memang tidak memungkinkan lagi maka Jayengseno dan Kamio boleh langsung kalian habisi di tempat...."

Maka dengan membekal tugas dan pesan itu kedua kelompok tersebut segera meninggalkan kotaraja. Sampai saat itu lenyapnya Ayu Purini dari kawasan keraton masih belum diketahui siapapun, kecuali ibunya yang juga merupakan selir Raja. Sang ibu meskipun tidak tahu apa yang terjadi dengan puterinya itu namun berusaha merahasiakan lenyapnya Purini karena dia kawatir nasib anak perempuannya itu bisa-bisa sama dengan yang dialami Kamio. Apalagi dia mengetahui bahwa dari sekian banyak saudara sebapak, yang paling erat hubungannya adalah Ayu Purini dengan Raden Jayengseno.

Meskipun sadar kalau Jayengseno tak bakal ada lagi di reruntuhan candi di muara Kali Opak, namun Kudopati memutuskan untuk pertama kali menuju ke tempat itu guna menghancurkan sisa-sisa reruntuhan yang pernah dijadikan tempat bersamadi oleh Jayengseno. Paling tidak satu tempat persembunyian putera sulung Sri Baginda itu telah dimusnahkan.

HARI ITU ADALAH hari kedua ketiga orang itu meninggalkan Kali Opak, bergerak menuju ke barat laut melintasi rimba belantara kecil lalu menyusun kaki sebuah bukit. Tujuan mereka adalah sebuah dusun kecil di dekat candi Mendut.

Sepanjang jalan Jayengseno bersikeras untuk segera kembali ke kotaraja. Dia merasa perlu menjernihkan suasana. Fitnah yang dicorengkan kepada dirinya harus dibersihkan. Tetapi Wiro dan Ayu Purini menasihati agar maksud itu ditunda dahulu.

"Suasana di kotaraja, terlebih di keraton pasti masih diselimuti kegegeran dan kemarahan. Sulit mengetahui mana kawan dan mana lawan. Apalagi Sri Baginda sudah jatuh dalam pengaruh dan hasutan.....," berkata Wiro.

"Pendapat sahabat kita ini benar adanya mas Jayeng," menimpali Ayu Purini. Saat itu dia tidak lagi mengenakan topeng tipisnya. "Terlalu berbahaya. Kita teruskan saja perjalanan ke Mendut sambil menyirap kabar. Sampai di Mendut kita suruh orang-orang kepercayaan kita untuk menyelidiki perkembangan di keraton...."

Jayengseno menarik nafas dalam. "Pikiran dua kepala mungkin memang lebih baik dari pada satu kepala," katanya.

"Baiklah, aku mengikuti saran kalian."

Ketika akan memasuki hutan belantara kecil di utara muara Kali Opak tiba-tiba tampak ada seorang berkuda memacu tunggangannya dengan cepat ke arah mereka. Ketiga orang itu menyelinap ke balik pohon. Si penunggang kuda rupanya memang telah melihat mereka karena dia justru mengarahkan kudanya ke jurusan pohon. Sewaktu penunggang kuda ini hanya tinggal beberapa puluh meter saja lagi, ternyata orang itu berseragam abdi daiem keraton.

Jayengseno segera keluar dari balik pohon. Begitu si penunggang kuda sampai di hadapannya dia segera menegur.

"Abdi dalem! Kau datang sebagai mata-mata atau sebagai apa?!"

"Ampun Raden Jayeng," kata si penunggang kuda begitu melompat turun ke tanah. "Saya memang sengaja mencari Raden sekaligus menyelamatkan diri dari kejaran manusia-manusia penyebar fitnah! Saya bersyukur pada Gusti Allah bisa dipertemukan dengan Raden Jayeng di tempat ini...."

"Hemm....Siapa namamu? Ceritakan apa yang terjadi!" ujar Jayengseno pula. Saat itu Ayu Purini dan Wiro sudah keluar pula dari balik pohon. Si abdi dalem tentu saja jadi terkejut ketika mengenali puteri Sri Baginda itu lalu cepat-cepat menunduk memberi penghormatan.

"Kau belum menjawab pertanyaanku, abdi dalem....," menegur Raden Jayengseno.

"Maafkan saya Raden....," kata abdi dalem. Lalu dia mulai memberi keterangan. "Nama saya Kamio...." Selanjutnya Kamio menerangkan apa yang telah terjadi dengan keluarga abdi dalem Kamilun. Bagaimana dia sendiri kemudian dituduh sebagai pembunuh dan tersangkut dalam perkara lenyapnya jubah pusaka sakti Kencono Geni.

Raden Jayengseno mengusap dagunya beberapa kali. "Rupanya ada harimau di bawah selimut keraton!" kata Jayengseno kemudian.

"Apa yang harus kita lakukan mas Jayeng?" bertanya Ayu Purini lalu melirik pada Pendekar 212 Wiro Sableng yang saat itu tegak sambil garuk-garuk kepala. Tiba-tiba dia ingat pada salah satu bagian keterangan Kamio. Cepat Wiro berkata: "Tadi kau bilang cucu abdi dalem Kamilun sempat melihat sendiri pencuri jubah pusaka itu. Katanya seorang lelaki tinggi besar berambut putih, bermata besar. Coba kau ingat-ingat siapa orang dalam kalangan keraton yang punya ciri-ciri seperti itu...."

"Setahuku banyak orang dalam keraton yang punya ciri-ciri seperti itu " kata Raden Jayengseno pula.

"Coba disebutkan....," pinta Wiro. "Dua atau tiga orang abdi dalem. Lalu beberapa anggota pengawal. Seorang anggota penabuh gamelan. Kudopati..... Tidak, dia tidak berambut putih....Tapi mungkin saja dia memakai rambut palsu...."

Wiro menggeleng. "Jika Sumini yang malang itu mengenali siapa adanya si pencuri berarti orang itu tidak menyamar ketika melakukan kejahatannya. Hanya sayang anak itu tidak sempat mengatakan siapa orangnya. Keburu dirinya dibunuh lebih dahulu. Kurasa ibu dan kakeknya juga dibunuh dengan alasan yang sama. Yaitu sudah sempat mendengar keterangan menyangkut ciri-ciri orang itu. Kamio beruntung masih bisa melarikan diri. Tapi sekarang jiwanya terancam.... Nah, masih adakah orang dalam keraton dengan ciri-ciri seperti yang dikatakan tadi?"

"Apakah tidak ada kemungkinan bahwa penjahatnya adalah orang luar keraton?" bertanya Purini.

"Mungkin saja," sahut Jayengseno.

Tapi Wiro justru gelengkan kepala."Jika dia orang luar Sumini tak bakal mengenalinya. Kurasa ini sudah hampir pasti pekerjaan orang dalam. Buktinya dia juga membunuh para pengawal dan beberapa abdi dalem yang ada di bangsal penyimpanan benda-benda pusaka...."

"Kau benar," kata Jayengseno pula.

"Kalau begitu selama kita berada di luar tembok keraton, kita tak bakal dapat mencari tahu siapa adanya penjahat yang menimbulkan malapetaka itu," berkata Purini. Lalu dia menyambung. "Aku tiba-tiba saja ingat. Ada dua pejabat tinggi keraton yang memiliki ciri-ciri seperti dikatakan abdi dalem Kamio. Pertama menteri pertanahan, kedua patih kerajaan sendiri...."

Jayengseno gelengkan kepala."Dua orang itu dianggap sesepuh kerajaan. Telah mengabdi selama puluhan tahun. Bahkan mapatih sendiri sesuai penjelasan abdi dalem ini langsung turun tangan melakukan penyelidikan dan pengejaran."

"Bagaimana kalau aku menyamar jadi abdi dalem lalu menyelinap masuk ke dalam keraton," berkata Wiro.

"Akalmu cukup panjang. Tapi keraton sangat luas. Ada beberapa bangunan besar. Aku khawatir kau tersesat dan keburu ketahuan sebelum berhasil menyelidik...."

"Kalau begitu kita bertiga masuk dengan menyamar!" kata Wiro pula. Ayu dan Jayeng menyetujui usul itu. Lalu Jayengseno berkata pada Kamio. "Pergilah ke hutan Dadap. Disitu ada rumah tempat Raja mengaso pada waktu berburu. Untuk sementara kau bisa bersembunyi disitu."

Abdi dalem bernama Kamio itu menghatur sembah lalu minta diri.

***

DELAPANMALAM ITU WALAUPUN tidak terlalu sulit namun dengan penuh rasa tegang dengan menyamar, Raden Jayengseno, Ayu Purini dan Pendekar 212 Wiro Sableng berhasil masuk ke dalam keraton lewat pintu gerbang utara. Saat itu udara agak mendung dan angin bertiup kencang pertanda hujan mungkin akan segera turun.

Pusat tujuan mereka adalah bangsal penyimpanan senjata dan barang-barang pusaka kerajaan. Ternyata bangsal itu kini dijaga secara sangat ketat baik siang apalagi malam hari.

Jayengseno berjalan di sebelah depan. Dia sengaja mengambil jalan yang agak jauh agar sampai di bagian belakang bangunan. Sesuai rencana dia dan Wiro akan memanjat sebuah tembok rendah lalu naik ke atas atap bangsal. Ayu Purini akan disuruh tunggu di sebuah sudut.

Ketika melewati halaman luas sebelum mencapai bagian belakang bangsal penyimpanan senjata tiba-tiba angin kencang bertiup. Daun-daun pohon beringin bersiur keras. Debu dan pasir beterbangan. Blangkon yang melekat di kepala Pendekar 212 yang memang agak kebesaran terpental diterbangkan angin. Cepat-cepat Wiro memungutnya, menggulung rambut gondrongnya ke atas lalu mengenakan blangkon itu kembali.

Beberapa saat kemudian ketika ketiga orang itu bergerak hampir mencapai bagian belakang bangsal penyimpanan senjata, dari sebuah lorong dua orang pengawal yang melakukan tugas keliling tampak keluar dan melangkah ke jurusan mereka. Sewaktu berpapasan tiga pengawal ini memberi penghormatan. Namun setelah dua langkah lewat, salah seorang dari mereka memegang lengan dua temannya dan membisikkan sesuatu. Dua pengawal itu segera berpaling. Setelah memperhatikan ke arah Pendekar 212, salah seorang di antaranya segera berseru.

"Tunggu!"

Tiga abdi dalem sesaat saling pandang dan terpaksa hentikan langkah.

"Ada apakah...?" menegur Jayengseno.

Pengawal yang ditanya tidak menyahuti melain melangkah mendekati Wiro. Setelah memperhatikan kepala sang pendekar sekali lagi maka diapun berkata. "Empat melihat seorang abdi dalem memakai blangkon terbalik!"

Jayengseno dan Ayu Purini terkejut dan sama memandang ke arah blangkon di kepala Wiro. Astaga! Blangkon yang tadi jatuh dan dikenakan kembali itu ternyata memang terbalik. Buhul atau bagian belakangnya berada di sebelah depan!

Wiro yang tak kalah kagetnya cepat-cepat memutar blangkon itu. Namun karena terburu-buru justru rambutnya yang gondrong sempat terburai keluar.

Makin heranlah tiga pengawal tadi.

"Seorang abdi dalem berambut panjang tanpa diikat!" seorang diantaranya berkata.

Kawannya memandang tak berkedip. Sambil memberi isyarat, dia bertanya. "Sampean ini sudah berapa lama jadi abdi dalem keraton? Kami terpaksa memeriksa sampean!"

"Pengawal, tak ada yang perlu dicurigai!" berkata Jayengseno. "Tadi ada angin yang menerbangkan blangkonnya..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.161.201.200
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia