Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

SATU

DI DALAM KEDAI yang tak seberapa besar itu hawa terasa hangat dan pengap padahal di luar hujan rintik-rintik dan angin bertiup cukup keras. Pendekar 212 Wiro Sableng seharusnya sudah sejak tadi meninggalkan kedai dengan perut kenyang. Namun seorang dara berwajah manis yang setiap mata lelaki tak mau berkesip memandangnya, membuat murid Sinto Gendeng itu tak beranjak dari bangku yang didudukinya.

Si jelita itu makan dengan tenang di sudut kedai. Kepalanya hampir selalu tertunduk. Namun dari tempatnya duduk Wiro bisa melihat hampir keseluruhan wajah yang cantik itu. Sang dara mengenakan pakaian putih sebentuk kebaya panjang dengan kancing besar-besar yang tebuat dari kain putih. Dia tidak mengenakan kain panjang sebagaimana biasanya orang memakai kebaya, tetapi mengenakan sehelai celana panjang sebatas betis juga berwarna putih. Sebagian betisnya yang tersembul tampak kukuh walaupun tidak menyembunyikan kemulusan dan kelembutan serta keputihan sebagai betis seorang dara.

Di luar kedai udara malam terasa dingin dan suasana tampak tenang sunyi. Namun jika kita memalingkan kepala kea rah pohon besar di halaman sebelah kedai, tampaklah empat orang lelaki muda mendekam dalam gelap bebayangan pohon, duduk tak bergerak di atas kuda masing-masing. Seekor kuda putih tertambat tak jauh dari sana. Lalu masih ada seekor kuda lagi di samping kedai yang tidak terikat dan berjalan perlahan-lahan mencari rerumputan.

"Sudah kukatakan sebaiknya kita masuk saja ke dalam kedai itu. Kita tak tahu sampai berapa lama dia berada disana sementara kita kedinginan disini..." salah seorang pemuda penunggang kuda membuka mulut.

"Gandring! Jangan bicara tolol!" temannya membentak perlahan. "Aki Sukri pemilik kedai itu kenal kita. Apa kau mau mencari penyakit kalau kemudian dia bertindak menjadi saksi?!"

Gandring yang dibentak diam saja. Seorang kawan yang lain berkata sambil menyeringai, "Kenapa udara dingin jadi persoalan? Bukankah nanti kita semua bisa berhangat-hangat dengan si jelita itu?!"

"Sebenarnya siapakah calon korban kita kali ini?!" bertanya lelaki ke empat yang duduk di punggung kuda sambil menghisap sebatang rokok kawung.

"Soal siapa dia atau siapa namanya kurasa tidak perlu. Yang penting, sore tadi kita sudah melihat bagaimana wajahnya secantik bidadari. Kulitnya kuning mulus seperti kulit puteri kerajaan. Lalu pinggangnya yang ramping sedang dada serta pinggulnya yang begitu besar...!" Pemuda yang bicara ini membasahi bibirnya dengan ujung lidah sementara tenggorokan tiga kawannya tampak bergerak-gerak tanda mereka sama menelan air liur. "Seperti biasa, aku pemimpin diantara kita berempat. Jadi pantas kalau nanti aku yang lebih dulu menikmatinya. Ha...ha...ha...!" Pemuda itu tertawa perlahan sementar tiga kawannya tampak merengut.

"Jumpadi... Kau selalu mementingkan diri sendiri. Dalam segala hal selalu ingin duluan, dalam pembagian selalu ingin lebih besar. Sekali-sekali kami anak buahmu pantas juga mendapat perolehan lebih besar dan tidak cuma mendapatkan bekasmu!"

Pemuda bernama Jumpadi berpaling. "Bladu...! Kau rupanya punya niat hendak mengambil kedudukan pimpinan dari tanganku?!" bertanya Jumpadi dengan mata melotot. Yang ditanya diam saja. Jumpadi meneruskan, "Aku sudah berapa kali mengatakan. Jika ada di antara kalian ingin jadi pimpinan rombongan kita silakan saja. Tapi harus melewati mayatku lebih dulu. Jika ada yang tidak suka dan ingin mengundurkan diri, juga aku persilakan. Satu pergi ada sepuluh orang yang ingin bergabung denganku!"

"Sudahlah, kenapa kalian jadi bertengkar. Lihat ke kedai. Ada orang melangkah keluar!" berkata pemuda bernama Ambalit. Mendengar ucapannya itu tiga pemuda lainnya serta merta palingkan kepala ke arah pintu kedai. Di ambang pintu yang masih terkena cahaya lampu minyak dari dalam kedai kelihatan melangkah keluar seorang berpakaian serba putih.

"Memang dia yang kita tunggu-tunggu!" kata Jumpadi. Lalu pada ketiga temannya dia berkata, "Kita tetap tenang saja. Jangan memperlihatkan sikap yang mencurigakan. Tunggu sampai dia naik ke atas kudanya dan pergi. Jika aku bergerak baru kalian ikut bergerak. Awas, jangan berani mendahuluiku!"

Empat pasang mata memperhatikan dara berpakaian putih keluar dari dalam kedai, melangkah ke arah kudanya yang tertambat di halaman depan. Dia melangkah seperti tidak melihat ada empat penunggang kuda mendekam di bawah pohon besar yang gelap. Dengan tenang dia melepaskan tambatan kudanya lalu naik ke atas punggung binatang berwarna putih ini.

Sesaat setelah sang dara berlalu baru Jumpadi menarik tali kekang kuda tunggangannya. Tiga kawannya langsung membedal kuda masing-masing. Di pintu pondok Pendekar 212 Wiro Sableng sempat melihat gerakan empat penunggang kuda itu. Selain dia sendiri memang ingin mengikuti gadis berkebaya putih tadi, empat orang lelaki penuunggang kuda yang barusan berlalu membuat hatinya jadi curiga. Wiro memandang berkeliling. Celakanya dia tidak memiliki kuda. Bagaimana harus mengejar orang-orang itu? Ketika dia memandang berkeliling sekali lagi, dilihatnya ada seekor kuda di halaman samping tengah asyik merumput di kegelapan malam.

Tanpa pikir panjang lagi Wiro langsung menghampiri binatang ini, mengusap tengkuknya lalu melompat ke atas punggungnya. Di saat yang bersamaan dari pintu kedai keluar Aki Sukri pemilik kedai yang sekaligus si empunya kuda. Melihat kudanya dibedal orang diapun berteriak sambil mengejar. "Hai! Kudaku! Jangan kau larikan! Maling....! Pencuri kuda!"

"Aku tidak mencuri! Aku hanya meminjam kudamu!" teriak Wiro lalu menghambur lenyap di kegelapan malam. Aki Sukri yang sudah tua tentu saja tak mungkin mengejar. Marah dan penasaran dia mengambil batu dan melempar ke arah Wiro. Tapi yang dilempar sudah menghilang di kejauhan.

Gadis berpakaian putih itu meskipun tahu ada orang-orang mengejarnya tetap saja menunggangi kuda dengan sikap tenang bahkan seperti santai. Dalam waktu cepat empat pemuda itu berhasil mendekatinya. Saat itulah sang dara menyentakkan tali kekang tunggangannya. Kuda putih itu laksana anak panah melesat dari busurnya, melompat sebat meinggalkan para pengejar. Empat pemuda jadi penasaran. Mereka memacu kuda, meneruskan pengejaran sekencang-kencangnya. Hampir keempatnya mendekati si gadis dan mencapai kuda putih itu, tiba-tiba si gadis kembali menggebrak tunggangannya meninggalkan empat pemuda jauh di belakang.

"Kurang ajar!" maki Jumpadi. Pemuda ini kenal betul seluk beluk jalan yang ditempuhnya, termasuk daerah sekitar situ. Maka diapun berteriak pada tiga kawannya, "Gadis itu sengaja mempermainkan kita! Ambil jalan sebelah kanan. Kita pasti bisa memotong jalannya sebelum dia mencapai jembatan bambu di Kali Wates!"

Maka empat kuda itu tampak membelok ke kanan, menyusuri kaki bukit kecil terus menuju selatan. Dalam waktu singkat mereka berhasil mencapai jembatan bambu yang dikatakan Jumpadi tadi. Di sini mereka berjejer dua di sisi kiri, dua di sisi kanan. Sebentar lagi dara berbaju putih itu pasti akan muncul.

Di kejauhan memang terdengar suara kaki kuda dipacu mendatangi. Sesaat kemudian tampak penunggang berpakaian putih tapi kudanya berwarna coklat kehitaman.

"Bangsat! Bukan dara itu!" kertak Jumpadi marah. Yang muncul ternyata adalah seorang pemuda berpakaian putih, berambut gondrong dan bukan lain adalah murid Sinto Gendeng! Ketika Jumpadi hendak memaki lagi, di belakang mereka terdengar suara kuda meringkik. Heran tapi juga terkejut Jumpadi dan tiga kawannya palingkan kepala. Astaga! Apa yang mereka lihat! Di jalan di seberang jembatan bambu tampak seekor kuda putih dan penunggangnya tegak membelakangi.

"Itu dia!" seru Ambalit.

"Aneh! Bagaimana mungkin dia sampai di seberang sana lebih dulu dari kita?!" Jumpadi berkata penuh heran.

"Jumpadi, lihat! Gadis itu mengunggangi kudanya perlahanlahan. Seperti sengaja menunggu kita!" berkata Bladu.

"Dia bukan menunggu, tapi benar-benar mempermainkan kita!" ujar Gandring.

Rahang Jumpadi menggembung. "Saat ini dia bisa mempermainkan kita. Tapi lihat nanti! Nanti aku yang akan mempermainkannya sampai dia menjerit minta ampun!"

Habis berkata begitu Jumpadi menggebrak kudanya. Tiga pemuda lainnya menyusul mengejar. Dan di belakang mereka Pendekar 212 Wiro Sableng kembali mengikuti. Celakanya kuda yang ditunggangi Wiro tidak mampu berlari cepat dan dalam perjalanannya sudah beberapa kali membuang kotorannya.

"Binatang sontoloyo!" maki Wiro. "Kotoranmu saja yang banyak. Larimu seperti siput!"

* * *



DUAKEJAR MENGEJAR ANTARA dara berbaju dan berkuda putih dengan empat pemuda itu berlansung terus hampir sepeminuman teh sementara dengan kuda bututnya Wiro masih terus mengikuti walau tertinggal jauh di belakang.

"Jumpadi, lihat!" Gandring tiba-tiba berseru. "Gadis yang kita kejar itu mengambil jalan ke kanan, mengarah ke bukit!"

"Kalau dia menuju ke sana memangnya mengapa?!" sentak Jumpadi yang saat itu tengah jengkel karena masih belum berhasil mendekati apalagi menangkap dara yang tengah mereka kejar.

"Itu jalan menuju pekuburan Batuwungkur!" menyahuti Gandring.

"Ke nerakapun aku akan tetap mengejarnya!" kata Jumpadi pula. "kalau kau dan yang lainnya merasa takut, kembali saja! Biar aku sendiri meneruskan pengejaran! Tapi awas! Jangan nanti kalian ribut-ribut karena tidak mendapat bagian!" Lalu Jumpadi menggebrak kudanya agar lari lebih kencang.

Batuwungkur memang sebuah daerah pekuburan yang terletak di sebuah bukit yang cukup tinggi. Walaupun hari malam dan hujan turun rintik-rintik saat itu, namun karena pekuburan merupakan kawasan yang terbuka, dengan jelas tampak dara berbaju putih bersama kudanya berhenti di salah satu bagian pekuburan, menghadap ke arah utara dari mana para pengejarnya akan segera muncul. Tak lama kemudian empat pemuda itu sudah kelihatan di arah masuk pekuburan. Sang dara mengelus kepala kuda putihnya beberapa kali lalu berbisik, "Kuda, kau pergilah. Aku kedatangan tamu yang harus kulayani sebaik-baiknya..."

Kuda putih itu seolah mengerti, geserkan pipinya ke tangan sang dara lalu tinggalkan tempat itu. Saat itu udara di bukit dingin sekali. Di beberapa bagian tampak kabut menutupi pemandangan. Tak lama kemudian empat pemuda pengejar sampai di pekuburan Batuwungkur. Sesaat mereka berhenti di arah jalan masuk dan memandang ke depan.

"Gadis itu jelas menuju ke pekuburan ini!" desis Jumpadi.

"Tapi aneh orang dan kudanya sama sekali tidak kelihatan...?! Tak mungkin dia bersembunyi. Sama sekali tak ada tempat untuk berlindung..."

Jumpadi memandang pada tiga temannya lalau berkata, "Ikuti aku..."

Dengan perlahan-lahan ke empat orang itu memasuk daerah pekuburan. Jumpadi di sebelah depan, tiga kawannya mengikuti dengan rasa was-was. Sampai di bagian tengah pekuburan masih belum terlihat orang yang mereka cari.

Kabut di sebelah timur bukit perlahan-lahan turun ke tanah. Saat itulah keempat pemuda tadi sama melihat dara berbaju putih itu duduk di atas sebuah batu, di bawah sebatang pohon kemboja kecil. Disampingnya ada sederetan makam. Makam yang paling dekat sudah sangat rusak kayu nisannya sehingga tak bisa terbaca siapa nama penghuninya.

"Jumpadi... Gadis itu ada di sebelah sana. Duduk di bawah pohon kemboja..." bisik Bladu.

"Aku sudah melihatnya!" jawab Jumpadi. Lalu tidak seperti kawan-kawannya yang merasa was-was, dengan hati yang sudah terbakar nafsu dia membawa kudanya ke arah gadis berbaju putih duduk di bawah pohon. Tiga pemuda lain sesaat saling pandang. Akhirnya ketiganya bergerak juga mengikuti. Pada saat itulah terdengar suara orang menyanyi. Nyanyian itu seperti datang dari kejauhan tetapi cukup jelas masuk ke dalam telinga empat pemuda tadi.

Jika hidup di dunia tidak berguna

Kematian memang lebih pantas bagi manusia

Ada yang mati karena nasib sengsara

Tapi banyak yang mati karena sengaja mencari sengsaraJumpadi dan kawan-kawannya terhenti sesaat begitu mendengar suara nyanyian itu.

"Siapa yang menyanyi...?" bisik Ambalit.

"Itu suara perempuan. Mungkin gadis yang duduk dekat makam itu yang menyanyi..." menyahuti Bladu. Suaranya bergetar tanda ada rasa takut dalam dirinya.

"Tak ada setan di sini! Yang menyanyi jelas dara berbaju putih itu!" ujar Jumpadi lalu kembali bergerak ke arah gadis yang duduk di atas batu, tidak menmperdulikan ucapan Gandring yang mengatakan bahwa dia tidak melihat kuda putih milik gadis itu.

"Tidak disangka! Kau bukan saja cantik jelita tapi ternyata juga pandai menyanyi..." Jumpadi berucap begitu sampai di hadapan sang dara yang duduk membelakanginya. Punggung dan pinggulnya tampak lebar sementara pinggangnya begitu tamping. Rambutnya yang panjang tergerai lepas di bahu.

Tanpa berpaling terdengar si gadis bertanya, "Kau suka nyanyianku tadi rupanya...?"

"Tentu saja! Siapa orangnya yang tidak suka mendengar suara semerdu buu perindu dari seorang jelita secantik bidadari...!"

"Ah, apakah kau pernah melihat bidadari...?" bertanya si gadis masih tidak memalingkan kepala ataupun memutar duduknya.

"Belum. Tapi jika memang ada aku yakin bidadari itu secantik dirimu. Namaku Jumpadi. Siapakah namamu...?"

"Kau sudah menganggap aku bidadari. Panggil saja aku dengan nama itu. Hai... tadi kau bilang suka mendengar nyanyianku. Apa kau ingin mendengarkannya sekali lagi...?"

Jumpadi memandang pada tiga kawannya yang saat itu sudah berjejer di sampingnya. "Tentu... tentu saja aku suka mendengar nyanyianmu tadi."

"Hanya kau sendiri? Bagaimana dengan tiga kawanmu lainnya?" Jumpadi menoleh pada tiga kawannya dan menganggukkan kepala memberi isyarat. Maka Bladu, Ambalit, dan Gandring langsung menjawab, "Kami bertiga juga ingin mendengar suara merdu nyanyianmu tadi..."

"Bagus. Jangan cuma mendengarkan saja tapi juga coba kalian resapi makna nyanyian itu..." berkata gadis baju putih. Lalu kembali dia menyanyi seperti tadi.

Jika hidup di dunia tidak berguna

Kematian memang lebih pantas bagi manusia

Ada yang mati karena nasib sengsara

Tapi banyak yang mati karena sengaja mencari sengsaraBegitu suara nyanyian sirap, tempat itu berada dalam kesunyian sebelum tiba-tiba kembali terdengar suara sang dara berkata.

"Kalian sudah mendengar nyanyianku. Sekarang katakan apa maksud kalian mengejarku dan menemuiku di tempat ini..."

"Ah...hem... Kami empat pemuda yang suka bersedekah, memberi derma pada sesama, terutama pada gadis secantikmu ini..." jawab Jumpadi sambil menyeringai.

"Maksudmu..?"

"Maksudku kami suka sekali memberi sedekah kenikmatan hidup. Itulah sebabnya kami mengejarmu..."

"Hem... begitu? Kenikmatan hidup macam apa yang kau maksudkan? Bicaralah yang jelas agar aku mengerti..."

"Aku dan kawan-kawan akan membawamu ke satu tempat yang indah..."

"Tempat yang indah? Apakah tempat ini menurut kalian tidak indah? Cobalah kalian memandang berkeliling!"

Jumpadi dan kawan-kawannya jadi tercekat mendengar katakata si gadis itu. Bladu lalu membuka mulut.

"Tempat indah yang kamu maksudkan itu bukan di sini. Tapi satu tempat dimana kita bisa bersenang-senang..." Saat itu Jumpadi sudah turun dari kudanya dan melangkah mendekati.

Tiba-tiba terdengar suara si gadis tertawa. Tawa yang membuat Jumpadi hentikan langkahnya.

"Bersenang-senang... Manusia selalu ingin bersenag-senang. Walau terkadang tidak sadar bahwa dibalik kesenangan itu bersembunyi kesengsaraan..."

"Ah, kami tidak akan menyengsarakan gadis secantikmu, bidadariku..." ujar Jumpadi pula.

Lalu dengan satu gerakan kilat dan tiba-tiba pemuda ini tusukkan dua jari tangan kanannya untuk menotok punggung sang dara. Namun mendadak Jumpadi keluarkan seruan tertahan. Satu hawa yang mengandung kekuatan aneh seperti mendorong tangan kanannya sehingga dia tidak mampu melakukan totokan. Pemuda ini tidak mampu melakukan totokan. Pemuda ini lantas kerahkan tenaga. Akibatnya kii bukan saja tangannya yang terpental tapi tubuhnya juga terdorong sampai dua langkah. Sementara sang dara sendiri kembali perdengarkan suara tertawa. Lalu perlahan-lahan dia berdiri dari batu yang didudukinya, muemutar tubuh menghadapi Jumpadi dan tiga kawannya yang masih berada di atas punggung kuda masing-masing.

Sikap sang dara yang tegak dengan kaki terkembang dan tangan diletakkan di pinggangnya, membuat empat pemuda itu tambah blingsatan. Ambalit dan dua kawannya segera melompat turun dari kuda mereka.

"Betulkah kalian hendak bersenang-senang bersamaku..?" tibatiba sang dara ajukan pertanyaan blak-blakan yang membuat pemuda itu jadi terbeliak, dan lebih terbeliak lagi ketika mereka melihat bagaimana jari-jari tangan kiri sang dara membuka dua kancing teratas kebaya putihnya. Kelihatanlah dadanya yang putih membusung. Jumpadi yang berdiri paling depan malah bisa melihat celah diantara kedua payudaranya yang ketat. Menghadapi hal yang tidak terduga yaitu bahwa ternyata sang dara mengerti maksud mereka malah kini siap membuka pakaiannya, Jumpadi memberi isyarat pada tiga kawannya.

"Kalian bertiga tunggu di tempat jauh..." Tapi tiga pemuda hanya melangkah mundur sejauh dua tombak.

Jumpadi berpaling pada sang dara kembali dan berkata, "Jika bidadariku sudah mengerti maksud kami, disinipun kita bisa bersenang-senang. Bukankah katamu tadi tempat ini juga indah...?" Sang dara tersenyum dan anggukkan kepala.

Jari tangannya membuka kancing ketiga. Jumpadi merasa seperti dipanggang nafsu. Tangannya bergerak hendak meraba dada gadis di depannya tapi si gadis mundur seraya berkata, "Tunggu... Tidakkah kau mencium bau sesuatu...?"

Jumpadi mengendus. Lalu gelengkan kepala. "Bau apa? Aku tidak mencium bau apa-apa..!" jawabnya sementara kedua matanya tidak lepas dari dada yang tersingkap.

"Cobalah mengendus lebih dalam..." bisik si gadis dengan suara lirih yang membuat Jumpadi jadi luruh tapi juga tambah bernafsu. Jumpadi mendongak ke atas lalu mencium lama-lama dan dalam-dalam. Ketika kepalanya diturunkan dia berkata, "Ya... aku mencium sesuatu. Bau... bau... bunga..."

"Ah, penciumanmu ternyata tajam. Tapi bau bunga apa? Dapatkah kau mengatakannya...?"

"Itu bau bunga... bunga kenanga!"

"Kau betul! Kau menyebutnya bunga kenanga. Aku menyebutnya bunga orang mati. Bunga mayat!"

Habis berkata begitu sang dara keluarkan tawa. Mula-mula perlahan tapi lama-lama semakin keras.

Di hadapannya, Jumpadi yang sudah kelangsangan menahan nafsu kembali mendekat dan berbisik, "Bidadariku, mari kita pindah ke bawah pohon di sebelah sana. Di situ tanahnya lebih rata..."

Sang dara tersenyum dan menggeliat. Gerakan tubuhnya ini membuat bajunya yang tidak terkancing tambah tersingkap lebar. Jumpadi tak tahan lagi. Serta merta saja tubuh gadis itu diterkamnya. Jumpadi yang dilanda nafsu sama sekali tidak melihat bagaimana wajah cantik jelita yang tadi tersenyum kini tiba-tiba berubah. Senyum lenyap dan wajah itu kini membersitkan kebengisan luar biasa! Senyum berubah dengan seringai maut!

Hampir tak kelihatan gadis itu gerakkan tangan kanannya. Sebuah benda berwarna kuning melesat. Bau bunga kenanga yang sangat tajam menebar di udara malam. Lalu terdengar pekik Jumpadi!

* * *

TIGAPEMUDA BERNAMA JUMPADI itu roboh ke tanah dan tak berkutik lagi. Tiga kawannya berteriak kaget lalu sama-sama memburu. Dan bergidiklah mereka melihat apa yang terjadi. Jumpadi menggeletak melintang di atas makam. Dia telah jadi mayat. Mukanya berlumuran darah. Kedua matanya mencelet. Diantara lumuran darah itu tampak menancap sekuntum bunga kenanga kuning. Dan disaat itu pula udara di situ dibuncah oleh bau bunga kenanga!

Ambalit, Gandring, dan Bladu memandang melotot ke arah dara berbaju putih. Si gadis tegak dongakkan kepala. Dari sela bibirnya yang merah mendesau suara tawa. Mula-mula perlahan lalu makin keras dan panjang. Meski jelas yang berdiri di hadapan mereka adalah seorang gadis cantik jelita namun saat itu tiga pemuda tadi merasakan bulu tengkuk berdiri dan mereka seperti melihat setan kepala tujuh!

"Dewi Bunga Mayat!" teriak mereka bersamaan. Lalu serentak ketiganya melompat jauh dan putar tubuh ambil langkah seribu.

Di belakang mereka terdengar suara tertawa panjang. "Kalian hendak lari kemana? Mengapa lari...? Bukankah maksud kalian hendak bersenang-senang bersamaku malam ini? Hik...hik...hik...!"

Mendengar ucapan itu, tiga pemuda sama lari tunggang langgang. Tapi baru lari beberapa belas langkah tahu-tahu ada bayangan menyambar di hadapan mereka dan dara berbaju kebaya putih itu tiba-tiba sudah menghadang sambil terus keluarkan suara tertawa cekikikan.

"Dewi Bunga Mayat! Maafkan kami! Ampuni selembar nyawa kami!" berkata Ambalit seraya jatuhkan diri berlutut.

"Benar Dewi, ampuni dosa kami! Kami tidak tahu kalau kau adalah Dewi Bunga Mayat..." berkata pula Bladu seraya jatuhkan diri sementara Gandring ikut-ikutan berlutut tapi tak mampu keluarkan kata-kata hanya manggut-manggut dengan mata melotot.

"Ha...ha...! Kalian minta ampun setelah nama kalian tertera di pintu akhirat! Terlambat... terlambat!" ujar dara berbaju putih yang dipanggil dengan sebutan Dewi Bunga Mayat. "Bersiaplah untuk menerima kematian!"

"Dewi, jangan!" ratap Ambalit.

Saat itu sang dewi sudah angkat tangan kanannya.

"Kawan-kawan!" tiba-tiba Gandring berkata, "daripada mati percuma lebih baik berusaha mempertahankan hidup!" Lalu pemuda ini keluarkan goloknya. Dua kawannya yang tadi sudah merasa tidak punya harapan hidup lagi, melihat apa yang dilakukan Gandring jadi muncul keberaniannya dan segera pula mencabut senjata masingmasing. Bladu menghunus sebilah keris sedang Ambalit mencabut sebatang besi yang ujungnya penuh tonjolan runcing seprti penggada.

"Ha...ha...! Kailan pemuda-pemuda pemberani! Majulah berbarengan agar cepat aku membereskan kalian!" seru Dewi Bunga Mayat.

Ambalit, Bladu dan Gandring melompat menyergap. Tiga senjata berkelebat. Saat itu justru terdengar suara orang membentak. "Manusia-manusia pengecut! Terhadap seorang dara kalian berani main keroyok!"

Satu bayangan berkelebat. Gandring terdorong hampir jatuh. Bladu terpelintir sempoyongan sedang Ambalit menggerung kesakitan sambil pegangi bibirnya yang pecah terkena jotosan keras. Lima giginya rontok!

Dewi Bunga Mayat yang barusan hendak menghantamkan tangan kanannya hentikan gerakan dan mundur dua langkah. Di hadapannya tegak seorang pemuda berambut gondrong. Pemuda inilah yang tadi membuat dua orang penyerangnya terpelanting dan seorang lagi pecah mulutnya. Dewi Bunga Mayat ingat, pemuda ini adalah yang ada dalam kedai yang selalu memperhatikanya. Dia tidak ada sangkut paut dengan pemuda itu dan merasa jengkel karena berani mencampuri urusannya. Sebelum sang dewi sempat membentak si gondrong telah lebih dulu menjura seraya berkata, "Maafkan kalau aku membuatmu marah. Aku tidak bermaksud mencampuri urusanmu. Aku hanya tidak suka melihat tiga pengecut ini mengeroyokmu!"

"Kalaupun mereka mengeroyokku apa kau kira mereka bisa mengalahkanku?! Menyentuh tubuhku sajapun mereka tidak bakal mampu! Lalu apa pasalmu masuk dalam kalangan perkelahian?!" Wiro tak bisa menjawab dan hanya garuk-garuk kepala.

"Menyingkirlah! Atau kaupun ingin kubunuh bersama tiga pemuda laknat itu?!" sentak Dewi Bunga Mayat.

"Ah, aku bukan orang yang termasuk dalam nyanyianmu! Aku bukan manusia mencari sengsara!" jawab Wiro lalu cepat-cepat mengundurkan diri menjauh.

"Apakah kalian sudah siap untuk mampus?!" Dewi Bunga Mayat membentak.

Tiga pemuda yang sudah lumer nyalinya apalagi yang bernama Ambalit yang cidera berat mulutnya, tanpa tunggu lebih lama lagi segera putar tubuh ambil langkah seribu.

Sang dara tertawa tinggi. Ketika tawa itu lenyap dan wajahnya berubah bengis, bersamaan dengan itu Wiro melihat tangan kanannya bergerak tiga kali berturut-turut. Bau harum bunga kenanga bertebar di udara malam. Tiga benda melesat di kegelapan malam. Di depan sana tiga pemuda yang menyelamatkan diri terdengar menjerit lalu roboh malang melintang di atas tanah kuburan. Tak satupun yang berkutik dan bernafas lagi. Mereka menemui ajal dengan punggung, tengkuk, dan batok kepala ditancapi bunga kenanga alias bunga mayat!

Pendekar 212 leletkan lidah, memandang ternganga ke arah gadis berbaju putih itu. Tiba-tiba dia jadi tergagap ketika sang dara berpaling ke arahnya seraya mengangkat tangan.

"Sekarang kau juga harus bersiap menerima kematian pemuda gondrong! Susul kawan-kawanmua itu!"

"Hei! Tunggu!" seru Wiro seraya mundur dua langkah. "Aku bukan komplotan empat pemuda yang barusan kau bunuh!"

"Siapa percaya pada dirimu?!" Dewi Bunga Mayat menghardik sambil memandang melotot.

"Aku tidak suruh kau percaya! Tapi aku bicara sejujurnya!" ujar Wiro dan balas melotot. Dua pasang mata yang sama-sama melotot saling beradu pandang. Sang dewi angkat tangan kanannya.

* * *

EMPATWAJAH YANG CANTIK jelita itu berubah menjadi bengis. Pendekar 212 Wiro Sableng tahu apa artinya ini. Maut! Namun entah mengapa dia tidak berusaha menyelamatkan diri dengan menyingkir atau melompat. Juga sama sekali tidak mengerahkan tenaga dalam dan menyisipkan pukulan sakti untuk menghadapi serangan lawan yang mematikan. Murid Sinto Gendeng ini berdiri tidak bergerak seolah-olah pasrah. Hanya sepasang matanya yang membesar memandang tak berkesip tepat-tepat ke dalam mata gadis di hadapannya.

Dewi Bunga Mayat merasakan ada hawa aneh yang menyambar dari sepasang mata pemuda di hadapannya, masuk ke dalam tubuhnya lewat sepasang matanya sendiri dan membuat getarangetaran aneh di dadanya. Semakin dia memandang marah pada pemuda itu, semakin tidak keruan jantungnya.

"Aneh...! Apa yang terjadi dengan diriku?! Mengapa aku hanya mampu menunjukkan sifat keras tetapi hati kecilku sendiri tidak berkata begitu. Sepasang matanya itu... aku tak sanggup memandangnya. Siapa pemuda ini sebenarnya...!" Rentetan kata-kata itu menggema dalam lubuk hati sang dewi. Perlahan-lahan dia turunkan tangan kanannya yang tadi siap melancarkan serangan maut. Bunga kenanga kuning yang tadi ada dalam genggaman tangannya jatuh tercampak ke atas tanah pekuburan. Pendekar 22 menarik nafas lega dan tersenyum.

"Terima kasih, kau tak jadi membunuhku..." ujar Wiro.

"Saat ini tidak, tapi lain kali mungkin saja!" jawab Dewi Bunga Mayat kembali galak. "Sekarang katakan apa keperluanmu datang ke tempat ini. Kau sebelumnya kulihat ada di kedai Aki Sukri..."

"Itu betul..."

"Kau mengikutiku ke tempat ini!"

"Itu juga betul...!" jawab Wiro.

"Kalau begitu jelas kau kawan dari empat pemuda yang sudah jadi bangkai ini!"

"Itu yang tidak betul!"

Sang dara kerenyitkan kening. Dalam keadaan tidak mengerti dan tidak percaya seperti itu dimata Wiro wajahnya tampak jadi lebih cantik.

"Aku tidak percaya!"

"Aku tidak suruh kau musti percaya saudari... Eh, bagaimana aku harus memanggilmu. Aku tak tahu namamu. Kudengar orangorang itu memanggilmu dengan gelar Dewi Bunga Mayat. Apa aku harus memanggilmu begitu juga? Atau Dewi saja...? Bisa juga Bunga saja. Eh... tentu tidak dengan sebutan Mayat saja..." Wiro tertawa dan lihat wajah gadis di depannya menjadi merah.

"Maafkan aku. Aku hanya bergurau. Aku akan panggil kau dengan nama Bunga... Itu nama paling indah di dunia. Sesuai dengan kecantikan orangnya..."

Sang dara tidak memberikan reaksi apa-apa.

Wiro garuk-garuk kepala lalu bertanya, "Boleh aku tahu mengapa kau diberi gelar dan disebut sebagai Dewi Bunga Mayat? Itu bukan nama sembarangan. Dan senjatamu membunuh ke empat pemuda itu. Kuntuman bunga kenanga! Kau pasti seorang pendatang baru berkepandaian luar biasa dalam dunia persilatan...!"

"Kau sudah menjawab sendiri pertanyaanmu. Aku tidak punya waktu lama. Sekarang lekas katakan siapa dirimu!"

"Namaku Wiro Sableng. Aku orang tersesat dari Gunung Gede."

"Hemmm... Sableng sama dengan Gendeng. Gendeng sama dengan Sinting. Sinting sama dengan Gila! Jadi pemuda macam begitulah kau rupanya!"

"Ah... kira-kira begitulah!" jawab Wiro lalu tertawa gelak-gelak.

Dalam hatinya Dewi Bunga Mayat membatin. "Manusia aneh yang satu ini mungkin konyol, mungkin juga memang sinting!"

Lalu sang dewi mendongak ke langit malam yang gelap. Seolaholah membaca sesuatu di atas sana mulutnya terdengar berkata,

"Namamu Wiro Sableng... kau datang dari Gunung Gede. Gurumu seorang nenek sakti mandraguna bernama Sinto Gendeng. Sahabatmu setumpuk tapi orang yang tak suka padamu bertumpuktumpuk..."

"Apakah kau..." Wiro memotong.

"Aku belum selesai membaca riwayatmu! Jangan bertanya dulu!" membentak dara itu. Lalu dia menengadah ke atas kembali.

"Sahabatmu setumpuk tapi orang yang tak suka padamu bertumpuktumpuk. Kau membekali dirimu dengan senjata semacam kapak aneh. Tubuhmu tidak mempan racun selama senjata itu menempel di badanmu. Kau tidak suka minuman keras tapi kau suka menggoda perempuan. Kau..."

Sang dewi tidak teruskan ucapannya.

"Ah.. bacaanmu sudah habis rupanya. Sekarang biar aku yang ganti membaca!" kata Wiro. Lalu pemuda ini lakukan sikap seperti sang dara, mendongak ke langit dan mulai berucap.

"Langit malam gelap gulita...

Udara dibungkus kesejukan embun yang siap turun

Di tempat ini bertaburan makam anak manusia

Ada yang sudah terkubur

Tapi ada empat yang masih malang melintang

Empat yang menemui ajal karena sengaja menacari sengsara

Aku berdiri di sini

Tapi tidak sendiri

Di hadapanku tegak seorang dara...""Kau ini melawak atau tengah membaca syair..." Dewi Bunga Mayat memotong penasaran.

"Aku belum selesai membaca! Jangan memotong dulu!" Wiro membentak, persis seperti yang tadi dilakukan oleh sang dewi. Melihat hal ini mau tak mau sang dara jadi gelengkan kepala dan diam-diam merasa geli. Senyum menyeruak di bibirnya yang merah. Wiro melanjutkan ‘bacaannya'.

"Di hadapanku tegak seorang dara

Berbaju putih berwajah jelita

Saat ini dia tersenyum

Tersenyum entah untuk siapa

Mungkin untuk para penghuni makam

Mungkun juga untuk empat pemuda yang sudah putus nyawa

Syukur-syukur kalau senyum itu untukku

Si jelita tidak bernama

Yang kupanggil dengan nama Indah, Bunga

Memiliki kepandaian luar biasa

Syukur-syukur kalau aku bisa jadi sahabatnya....

Ah, bacaanku sudah selesai...."Wiro palingkan kepalanya. Dilihatnya sang dara masih tersenyum. Lalu diapun tertawa gelak-gelak.

Dewi Bunga Mayat membuka mulut, "Syairmu bagus, Cuma sayang aku tidak mau bersahabat denganmu..."

"Ah nasibku memang jelek kalau begitu. Kau tidak mau karena aku sableng, sinting... gendeng... gila...?"

Dewi Bunga Mayat tidak menjawab tapi dalam hatinya dia berkata, "Kau memang mungkin sinting. Tapi bukan itu alasanku tidak suka bersahabat denganmu. Aku tidak bisa mengatakannya..."

"Apakah kita bisa bertemu lagi, Bunga?"

Sang dara mendengar pertanyaan itu dan berpaling pada Wiro. Dia menatap wajah pemuda itu sesaat lalu menjawab, "Aku tidak tahu. Sekarang aku ingin meninggalkan tempat ini. Kau silakan pergi duluan...."

"Tidak, aku tetap disini. Kalau kau memang ingin pergi, pergilah. Aku berdiri disini memperhatikan kepergianmu... Tapi sebelum kau pergi kancingkan dulu bajumu. Salah-salah kau bisa masuk angin..."

Paras sang dara jadi merah. Seolah baru sadar akan keadaan dadanya yang sejak tadi tersingkap, cepat-cepat dia membalik dan kancingkan kebaya putihnya.

"Manusia satu ini benar-benar kurang ajar, konyol dan juga keras kepala. Bagaimana ini, bagaimana aku harus menyuruhnya pergi...?" membatin bingung sang dara dalam hati. "Hanya kabut yang bisa menolongku. Kabut... turunlah lebih banyak. Tolong aku..."

Dan terjadilah hal yang aneh. Seolah-olah ucapannya mujarab sekali saat itu tiba-tiba saja kabut turun banyak sekali. Pemandangan di pekuburan menjadi sangat terbatas. Ketika sekelompok kabut menyaputi tempat dimana mereka berdiri, meskipun hanya terpisah dekat namun Wiro mendadak tak dapat lagi melihat sosok Dewi Bunga Mayat. Lalu sesaat kemudian ketika kabut pupus, dara itu tak ada lagi ditempatnya berdiri!

Wiro terkesiap. Memandang berkeliling. Menyusuri seluruh daerah pekuburan itu dengan kedua matanya yang tajam. Tapi sang dara tetap saja tidak kelihatan lagi.

"Tidak mungkin dia bisa pergi secepat itu!" Wiro memandang lagi. "Eh, kuda putihnya yang tadi ada di ujung sana juga lenyap! Gadis aneh. Gelarnya juga aneh. Senjatanya lebih aneh... hanya sekuntum bunga kenanga. Yang juga mengherankan bagaimana dia tahu banyak tentang diriku. Apakah sewaktu mendongak ke langit dia memang benar-benar membaca seperti membaca sesuatu...? Ah tak masuk akal!"

Wiro memandang ke tanah. Bunga kenanga yang tadi hendak dilemparkan ke arahnya masih tampak tercampak di tanah. Murid Sinto Gendeng membungkuk mengambil bunga itu, menciumnya sesaat lalu memasukkannya ke dalam saku baju putihnya. Saat itu terdengar kuda meringkik membuat sang pendekar tersentak kaget dan memaki lalu tinggalkan pekuburan Batuwungkur itu.

Baru dua langkah bertindak tiba-tiba ekor mata Pendekar 212 melihat ada sesuatu bergerak di kegelapan disamping kirinya. Dia cepat berpaling. Tapi tak kelihatan apa tau siapa-siapa. Hanya kegelapan yang membungkus pekuburan itu. Makam-makam berderet-deret. Ada yang terurus baik dan utuh, ada yang sudah tak karuan lagi dan tanpa batu nisan. Lapat-lapat di kejauhan terdengar suara burung malam. Angin bertiup dingin.

"Mataku mungkin bisa ditipu. Tapi perasanku tidak!" kata murid Sinto Gendeng dalam hati. "Ada orang atau makhluk disekitar pekuburan ini. Mendekam disatu tempat, bersembunyi mengintai gerak-gerikku! Lebih baik aku terus berjalan. Jika orang itu berniat jahat dia akan tahu rasa...!" Lalu Wiro kerahkan tenaga dalam ke tangan kanan.

* * *LIMAWIRO MELANGKAH EMPAT tindak. Pada langkah ke lima, tibatiba di udara malam yang gelap dan dingin di atas pekuburan Batuwungkur itu melesat suara suitan keras dari arah samping kanan. Suara duitan ini disambut elh suara sutian lain dari arah depan. Lalu suara suitan ketiga melegkinda ri arah samping kiri. Ketika Pendekar 212 hentikan langkahnya, tiga sosok bayangan tampak berkelebat sebat dan tahu-tahu tiga sosok aneh sudah mengrungnya dari arah muka dan kiri kanan. Murid Sinto Gendeng dari Gunung Gede ini angkat tangan kanannya, siap menghantam. Tapi gerakanya serta merta tertahan ketika melihat siapa yang saat itu mengurungnya. Tiga sosok tubuh itu adalah ternyata tiga manusia katai permpuan. Pakaian dan tampang mereka serta rambut yang dikuncir membuat ketiganya tampak lucu. Tapi dibalik kelucuan itu tersembunyi satu kenagkeran yang mematikan. Wajah tiga perempuan cebol ini membekal maut. Ketika ketiganya menyeringai kelihatan bahwa mereka memiliki gigi-gigi kecil yang berwarna hitam berkilat.

"Dimana dia?!" tiba-tiba si cebol di sebelah depan membentak. Suaranya nyaring tapi kecil.

"Eh... Kaku bertanya siapa pada siapa?!" tanya Wiro.

"Kami bertanya dia padamu!"

"Dia siapa?!" tanya Wiro pula.

"Jangan berpura-pura!" seru si cebol perempuan sebelah kanan kiri menghardik. "Barusan dia ada disini. Berbincang-bincang denganmu! Dan kau berani berpura-pura tidak tahu!"

"Kawan-kawan!" membuka mulut perempuan katai di seebelah kiri. "Kalau dia jelas-jelas kawan orang yang kita cari, mengapa harus membuang waktu bertanya jawab. Kita bereskan saja dia saat ini juga!"

"Setuju!" teriak si katai di sebelah depan.

Terdengar tiga jeritan dahsyat. Tiga tubuh pendek itu laksana bola melesat ke arah Wiro Sableng. Tiga serangan maut menebar!

"Wong edan!" teriak Pendekar 212 ketika dilihatnya serangan tiga manusia katai itu benar-benar ingin membunuhnya. Mereka memegang senjata berbentuk clurit kecil di tangan kiri masingmasing. Ternyata ketiga maunia katai permpuan ini sama-sama kidal. Senjata itu berkilat-kilat dan menderu dalam gelapnya malam. Manusia katai di sebelah depan membabatkan clurit kecilnya ke arah batang leher Pendekar 212. yang di samping kiri menyapu ke perut sedang yang di sebelah kanan menghunjamkan serangan ke selangkangan pendekar ini! Tiga serangna mematikan itu disertai dengan pekik jerit memkakkan telinga. Agaknya tiga manusia katai ini sengaja berteriak begitu agar lawan terpengaruh dan lengah. Murid Eyang Sinto Gendeng angkat kedua tangannya menghantam dengan pukulan sakti bernama ‘dinding angin berhembus tindih menindih'

Terdengar suara seperti angin putting beliung di atas pekuburan itu. Tiga manusia katai yang lancarkan serangan sambil melompat tampak seperti hendak tersapu tunggang langgang. Namun sambil terus berteriak ketiganya berjungkir balik di udara lalu membalik sambil membabat kembali dengan senjata masing-masing. Tapi tampaknya mereka tidak sanggup menembus hantaman angin. Ketiganya kerahkan tenaga berusaha keras mnerobos dinding angin yang tidak kelihatan. Mereka tampak seperti mengapung di udara. Pakaian dan rambut berkibar-kibar. Mata membeliak dan mulut berteriak-teriak. Wiro terus kerahkan tenaga dalamnya. Bebrapa kali tangannya kiri kanan dihantamkan agar dapat menghempaskan tiga penyerang itu tapi tetpa saja musuh-musuh katai itu bertahan di udara. Masih untung ketiganya berada di sebelah depan. Kalau ada yang menyerang dari belakang pasti akan bobol pertahanan murid Sinto Gendeng.

Keringat bercucuran dari punggung dan wajah Wiro Sableng. Tiga perempuan katai masih terus mengapung dan mencoba menembus pertahanannya. Dan tiba-tiba setelah bertahan sekian lama. Astaga! Salah seorang dari mereka berhasil lolos menerobos dinding angin!

Breet!

Clurit kecil membabat di perut Wiro, merobek pakaian putihnya.

"Kurang ajar!" maki Pendekar 212 lalu melopat mundur dengan muka pucat.

Lompatan mundur yang dilakukannya membuat tiga pengeroyok seperti tersedot. Tiga manusia katai itu kembali menggempur. Dan kini pertahan dinding angin Pendekar 212 benarbenar jebol!

Tiga manusia katai melesat. Tiga clurit berkiblat. Wiro memukul dengan pukulan "kunyuk melempar buah." Tangan kanannya menghantam membentuk tinju. Begitu lengan melurus lima jari dibuka. Maka menderulah gelombang angin laksana gumpalan batu besar.

Tiga musuh katai berterak keras. Namun hanya satu yang kena dihantam. Yang satu terpental sejauh dua tombak, bergulingan di tanah lalu diam tak berkutik. Mati dengan kepala pecah!

Dua manusia katai lainnya terus merangsak masuk ke dalam pertahanan Wiro yang sudah ambruk.

"Celaka! Matilah aku!" keluh Wiro. Dalam keadaan sulit begitu rupa dia masih bisa memukul tangan si katai di sebelah kanan. Luar biasa! Tangan si katai yang kecil itu membuat Wiro terpental tiga langkah, hampir jatuh duduk. Justru di saat inilah yang secara tidak sengaja meyelamatkan nyawanya dari serangan si katai yang satu lagi. Clurit membabat di depan hidungnya sementara lawan yang tadi beradu lengan dengannya jatuh bergdebuk sambil menjerit-jerit dan berusah mencari cluritnya yang mental dalam kegelapan malam.

"Manusia-manusia katai edan! Tidak ada silang sengketa kau hendak membunuhku!" teriak Wiro.

"Kami belum membunuhmu manusia bangsat! Tapi kau telah membunuh seorang saudara kami! Dan kawanmu yang kami cari sebelumnya telah membunuh satu-satunya kakak lelaki kami!"

"Soal kematian kakak lelakimu itu aku tidak tahu, tidak ada sangkut pautnya denganku! Pergi kalian dari sini sebelum aku menciderai atau membunuhm kalian!"

"Enak benar bicaramu! Kami akan pergi kalau usus dan jantungmu sudah kami korek dari tubuhmu!"

"Makhluk-makhluk tidak tahu diri! Jangan kira aku tidak tega membedol kantong nasi kalian!" teriak Wiro lalu keluarkan senjata mustika saktinya yaitu Kapak Maut Naga Geni 212. Kilauan sepasang mata kapak yang angker ternyata tidak membuat jeri dua manusia katai itu.

Yang satu malah mengejek, "Senjata mainan! Siapa takut!"

yang bicara ini sudah menemukan cluritnya yang tadi jatuh. Lalu cepat luar biasa keduanya menyerbu. Trang... trang...!

Belum lagi Pendekar 212 sempat mengayunkan senjatanya, dua clurit kecil secara sengaja tidak terduga dan cepat sekali sudah menelikkung gagang kapak dan begitu dua manusia katai itu membetot, Wiro merasa seperti tangannya ditarik oleh dua raksasa! Kapak Naga Geni 212 terlepas dari pegangannya, langsung disambut oleh si katai di sebelah kanan. Begitu dapatkan kapak si katai ini berteriak pada yang satunya.

"Adikku! Lupakan dulu balas dendam. Kita mendapat rejeki besar. Lekas tinggalkan tempat ini!" dia tertawa cekikikan. Sang adik juga tertawa cekikikan. Lalu didahului oleh jeritan keras, keduanya membalik untuk larikan diri. Tapi baru saja mereka sempat membuat setengah gerakan berputar mendadak terdengar suara berdesing disertai harumnya bunga kenanga. Lantas dua manusia katai ini terdengar memkik keras mengerikan. Kepala masing-masing terhempas ke belakang seolah-olah dihantam tembok keras.

Dua manusia katai itu langsung roboh terjengkang. Kapak Naga Geni 212 terguling ke tanah.

"Eh, apa yang terjadi...?" tanya Wiro keheranan. Ketika dia mendekati dua mayat manusia katai itu, tertegunlah murid Sinto Gendeng ini. Dua manusia katai itu menemui ajal dengan sekuntum bunga kenanga kuning menancap di kening masing-masing!

"Bunga..." desis Wiro. "Kau ada di sini. Kau menolongku..."

Wiro menunggu kalau-kalau ada jawaban. Tapi hanya kesunyian dan siliran angin malam yang terdengar.

Wiro memandang berkeliling. Tapi dia tidak melihat dara yang berjuluk Dewi Bunga Mayat itu. Pemuda ini geleng-gelengkan kepala.

"Dara hebat. Kepandaian luar biasa! Menolong tanpa memperlihatkan diri... Aku harus berterima kasih padanya."

Lalu pemuda ini berteriak, "Bunga, aku berterima kasih atas pertolonganmu!" Wiro seklai lagi memandang berkeliling. Ketika dia merasa tak bakal mendapat jawaban apalagi melihat Dewi Bunga Mayat kembali maka dipungutnya Kapak Naga Geni 212 yang tercampak di tanah, disimpannya di balik pakaiannya.

* * *

ENAMPONDOK KAYU DI DASAR lembah itu tampak tidak berbeda seperti sebulan lalu ketika dia mengunjungi terakhir kali. Pintu dan satu-satunya jendela tampak tertutup. Tapi dia tahu bahwa di dalam sana ada seorang penghuni.

Perempuan muda berpakaian ringkas warna biru itu berpaling pada pemuda yang menunggang kuda disampingnya.

"Kangmas.. Kau..."

"Sudah berapa kali kukatakan. Kalau kita Cuma berdua aku tidak suak kau memanggilku dengan sebutan itu. Panggil namaku..."

"Maafkan aku kang.. Maffkan aku Sadewo.." kata perempuan berpakaian biru. "Kau tidak ingin turun ke lembah menemuinya?"

Pemuda bernama Sadewo menggeleng. "Kau saja yang pergi. Aku menunggu disini." Lalu pemuda itu menyerahkanbungkusan kain yang dipanggulnya.

Setelah menerima dan menyandang bungkusan itu dibahunya, dara berbaju biru menarik tali kekang kudanya, lalu perlahan-lahan dia mulai menurini jalan setapak yang berbatu-batu. Di depan pondok dia turun dari kuda, menambatkan binatang itu lalu melangkah menuju pintu. Dia mengetuk dulu lalu berucap keras-keras.

"Ayah, akuk datang..."

Dengan tangan kirinya dia mendorong pintu. Terdengar suara berkereketan. Begitu pintu terbuka kelihatan seorang lelaki berambut putih, bertubuh kurus dan berwajah pucat duduk bersila di lantai pondok. Usianya berlum enampuluh tahun, tahun wajahnya kelihatan seperti wajah kakek delapan puluh tahun. Orang ini duduk bersila pejamkan mata seperti tengah bersemedi. Ketika pintu terbuka, perlahan-lahan kedua matanya juga terbuka. Dia memandang pada gadis di depan pintu lalu menganggukan kepala perlahan sekali.

Gadis itu masuk ke dalma pondok, berlutut di hadapan lelaki tua itu dan mencium keningnya. Setalh itu diletakkannya bungkusan kain yang dibawanya di lantai.

"Semua keperluan ayah ada dalam bungkusan..."

Yang dipanggil ayah kembali mengangguk.

"Apakah ayah ada baik-baik saja selama satu bulan ini?"

bertanya si gadis yang dijawab juga dengan anggukan. Sunyi sesaat.

"Suamimu mengantar...?" tiba-tiba orang tua itu bertanya.

"Ya, dia mengantar. Dia menunggu di atas lembah..."

"Terima kasih, kau sudah membawakan apa-apa yang aku perlukan. Kau boleh pergi sekarang..."

"Ayah, sudah tiga bulan kau berada di tempat ini. Memencilkan diri. Kapan semua ini akan ayah akhiri...?"

"Mungkin tak akan pernah ku akhirii Suntini. Atau mungkin hanya kematian yang mengakhiri semua ini..."

"Ayah tidak boleh berkata begitu..." suara perempuan bernama Suntini itu kini terdengar tersendat dan sepasang matanya tampak mulai berkaca-kaca. "Ayah mesti segera pulang. Rumah besar kita sepi tanpa ayah..."

"Kau boleh pergi sekarang, Suntini..."

"Jika memang itu yang ayah kehendaki...." Kata Suntini pula seraya berdiri. Dia mencium kening lelaki itu. Tetesan air matanya jatuh membasahi wajah si orang tua.

"Sebelum kau pergi, adakah sesuatu yang hendak kau katakan...?" sang ayah bertanya.

Suntini terdiam.

"Ada...?"

"Tidak ada ayah..."

"Jangna berdusta. Nada suaramu menyatakan ada sesuatu yang hendak kau katakan. Tapi kau sengaja menyembunyikannya..."

Ketika Suntini tidak juga menjawab, lelaki itu lalu ajukan pertanyaan, "Apakah dia masih sering mendatangimu...?"

Paras Suntini berubah. Perempuan muda ini tundukkan kepala lalu berkata, "Malam Jum'at Kliwon dua minggu yang lalu ayah. Dia memang muncul. Memandang padaku dengan pandangan dingin lalu pergi. Kangmas Sadewo juga melihat beberapa kali..."

"Waktu muncul dia tidak mengatakn atau mengisyaratkan sesuatu...?" bertanya sang ayah.

Suntini menggeleng.

"Anakku dengarlah baik-baik. Selama dia muncul tidak mengganggumu atau siapa saja di sekitarmu ambil sikap diam saja. Jangan mengusir, jangna mengatakan sesuatu. Ini semua kodrat Tuhan. Kita tak bisa melawan kehendakNya. Ketahuilah... Tadi malam dia juga muncul disini. Tegak di bawah pohon di luar sana, memandang ke pondok ini tapi tak berusaha masuk atau menemuiku. Kalau aku ada kesempatan menjenguk makam ibumu, aku akan berusaha untuk menlihatnya. Selam ini apakah kau dan suamimu pernah menjenguknya?"

"Aku takut ayah. Benar-benar takut melakukan hal itu..." jawab Suntini.

"aku mengerti perasaanmu. Kau boleh pergi sekarang. Lain bulan kau tak perlu datang kemari mengantarkan apa-apa. Aku bisa memenuhi kebutuhanku sendiri..."

"Berarti ayah tidak akan pulang ke rumah?"

"Aku tidak tahu anakku," jawab orang tua yang duduk bersila itu lalu menarik nafas panjang.

Suntini berdiri, melangkah ke pintu dan lenyap dibalik daun pintu yang ditutupkan. Di dalam pondok sang ayah pejamkan kedua matanya. Namun kali ini diantara sela kelopak matanya kelihatan ada tetes air mata yang menyeruak.

Ketika Suntini samapi diatas lembah, dia terkejut dan keluarkan seruan tertahan sewaktu melihat Sadewo, suaminya, tergeletak meelungkup di tanah. Suntini melompat turun dari kuda dan cepat membalikkan tubuh Sadewo.

"Kangmas... Kau kenapa kangmas..?!" memanggil Suntini sambil mengusap wajah suaminya berulang kali. Wajah itu tampak pucat seperti baru saja mengalami suat goncangan hebat. Suntini letakkan telinganya di atas dada Sadewo. Masih terdengar suara detakan jantung. Perempuan ini merasa lega sedikit lalu dia memijat beberapa bagian tubuh suaminya. Tak selang berapa lama kedua mata Sadewo perlahan-lahan kelihatan terbuka. Begitu terbuka lelaki muda ini melompat terduduk dan memandang berkeliling dengan wajah ketakutan.

"Ada apa, Sadewo...? Siapa yang kau cari...? Kau melihat sesuatu..?" bisik Suntini dengan lebih kelu dan ikut-ikutan memandang berkeliling sementara dadanya berdebar keras.

"Dia.. dia tadi muncul di dekat batu besar sana..." terdengar Sadewo menyahut. Suaranya gemetar.

Suntini memandang ke arah batu besar yang ditunjuk suaminya. Memandang berkeliling ke tempat lain. Dia tidak melihat siapa-siapa.

"Dia... biasanya dia hanya memandang dari kejauhan. Tapi sekali ini dia melangkah mendatangiku. Dia begitu dekat denganku Suntini, membuatku ketakutan setengah mati. Dia seperti hendak membuka mulut mengatakan sesuatu. Tapi saat itu ada suara kaki kuda mendatangi. Mungkin sekali kuda tunggangmu. Lalu aku jatuh pingsan..."

"Kalau begitu kita harus meninggalkan tempat ini cepatcepat..." kata Suntini pula. Dia membantu suaminya berdiri, memapahnya ke arah kuda.

* * *

TUJUHDUA HARI SETELAH peristiwa di bukit Batuwungkur, Pendekar 212 Wiro Sableng mengunjungi kedai Aki Sukri. Dia duduk memencil di sudut kedai sampai larut malam. Ketika pemilik kedai bersiap untuk menutup kedainya mau tak mau akhirnya pendekar itu berdiri dari bangkunya.

"Anak muda, kau seperti tengah menunggu seseorang di kedai ini..." berkata pemilik kedai ketika Wiro memberikan uang pembayaran.

"Ah, matamu tajam juga orang tua. Bagaimana kau bisa tahu?" bertanya Wiro.

"Setiap saat kau selalu memandang ke pintu. Dan kau tampak kecewa jika ada tamu masuk tetapi bukan orang yang kau nantikan. Kau berjanji dengan seseorang?"

Wiro menggeleng.

"Lalu siapa yang kau harapkan muncul di kedai ini?" tanya Aki Sukri.

"Aki , dua malam lalu aku mampir disini. Kau ingat...?"

"Aku ingat. Karena malam itu kemudai diketahui ada empat mayat menggeletak di pekuburan Batuwungkur. Mereka mati dengan kembang aneh menanca di muka dan badan..."

"Kau ingat dara jelita berpakaian putih yang juga ada di kedaimu malam itu...?'

"Aku ingat seklai!" jawab Aki Sukri.

"Kau kenal padanya? Atau mungkin tahu dimana aku bisa menemuinya?"

Pemilik kedai menatapa wajah Pendekar 212 sesaat lalu gelengkan kepala. "Wajah cantik itu memang seperti pernah kulihat sebelumnya. Tapi entah dimana dan entah kapan. Waktu dia ada disini aku tak berani bertanya. Kelihatannya dia seperti tidak mau diusik..."

"Dia memang bukan dari sembarangan..." kata Wiro pula.

"maksudmu, anak muda?" tanya Aki Sukri.

"Empat pemuda jahat yang mati di pekuburan Batuwungkur itu, dialah yang membunuhnya!"

"Apa katamu?!" dua mata Aki Sukri membelalak.

"Dia adalah Dewi Bunga Mayat!"

"Ah!" tubuh pemilik kedai tersentak dan wajahnya menjadi pucat.

"Kau seperti orang ketakutan. Ada apa...?!"

"Jadi... jadi dara itulah yang tengah kau cari?!" suara Aki Sukri bergetar. "Anak muda lekas pergi. Aku segera menutup kedai ini.

Aku....... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.198.163.124
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia