Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : PANGERAN MATAHARI DARI PUNCAK MERAPI

SATU

Sri Baginda Raja seperti dihenyakkan setan di atas kursi kebesarannya. Singgasana itu terasa seperti bara panas. Wajahnya yang penuh kerut ditelan usia lanjut tampak kelam membesi. Dadanya turun naik sedang sepasang matanya menatap tak berkesip pada Raden Mas Jayengrono yang duduk bersila di hadapannya. Sang raja meraskan tenggorokannya seperti kering. Mulutnya terbuka tapi lidahnya seperti kelu. Setelah hening beberapa lamanya, dengan suara bergetar Sri Baginda akhirnya bersuara juga.

"Jika bukan Raden Mas yang bicara sungguh sulit aku mempercayai cerita itu.....!"

"Sebenarnya hal itu sudah lama saya ketahui Sri Baginda. Hanya saja saya takut untuk menyampaikannya."

"Kalau untuk kebenaran mengapa takut? Hanya saja, apakah kau punya bukti-bukti nyata? Saksi-saksi.......?"

"Saya tidak berani melapor pada Sri Baginda kalau tidak mempunyai bukti dan saksi hidup," sahut Jayengron yang Panglima Balatentara Kerajaan itu. "Sekian puluh pasang mata melihat dan mengetahui kejadian itu. Termasuk Patih Kerajaan dan Kepala Pasukan Kotaraja. Cincin emas bergambar burung rajawali milik puteri Sri Baginda terlihat di jari tangan manusia bernama Pangeran Matahari. Pembunuh Tumenggung Gali Marto. Pembunuh dua orang putera Sri Baginda. Ketika diperiksa secara aneh cincin itu tahu-tahu sudah berada kembali di tangan Raden Ayu Puji Lestari. Kejadian yang mencurigakan berikutnya ialah munculnya seorang pemuda berkulit hitam bertindak selaku pelindung Raden Ajeng Siti Hinggil dan puterinya. Jika tidak terdapat hubungan rahasia antara Pangeran Matahari dengan istri Sri Baginda, bagaimana mungkin cincin itu berpindah-pindah tangan?"

Lama Sri Baginda terdiam. Tutur apa yang diketahuinya, dibandingkan dengan keterangan Raden Mas Jayengrono, segala sesuatunya memang cocok benar.

"Raden Mas, tahukah engkau apa artinya jika kemudian keterangan yang kau sampaikan saat ini ternyata tidak benar.....?" Sang raja bertanya seolah-olah ingin menolak hal yang sebenarnya dia sendiri sudah mempercayainya.

"Saya tahu dan mengerti sekali Sri Baginda," jawab Jayengrono. "Untuk itu saya bersedia dipancung......"

Kembali Sri Baginda terdiam. Kali ini lebih lama dari tadi sehingga karena tidak sabar Jayengrono membuka mulut berkata "Sri Baginda, saya mohon petunjuk lebih lanjut."

"Aku perintahkan kau menangkap ibu dan anak itu!" Tiba-tiba saja Sri Baginda menjawab tegas.

"Itukah keputusan Sri Baginda?" bertanya Jayengrono.

"Itu keputusan raja! Sekalipun anak dan istri sendiri, jika membuat kesalahan perlu dihukum. Pengadilan para sesepuh Kerajaan nanti yang akan menentukan hukuman apa yang patut dijatuhkan terhadap kedua perempuan itu....."

"Jika begitu bunyi perintah, begitu pula yang akan saya lakukan. Saya kawatir sekali akhir-akhir ini Sri Baginda....."

"Hemmmm..... Apa maksudmu Raden Mas?"

"Saya kawatir kalau-kalau Raden Ajeng Siti Hinggil dan puterinya secara diam-diam bersekutu dengan Pangeran Matahari untuk merampas tahta kerajaan. Bukankah tempo hari sewaktu menyerbu ke mari Pangeran jahat itu bermaksud menghabisi Sri Baginda? Dan bukan mustahil pula orang-orang di utara mengipas-ngipas terjadinya pemberontakan. Yaitu sejak gembong-gembong pemberontak kita tangkap dan hukum mati menjelang bulan Maulud dua tahun silam....."

"Semua akan tersingkap di sidang pengadilan para sesepuh kelak....."

"Saya harapkan begitu," kata Raden Mas Jayengrono pula. Lalu Panglima Balatentara Kerajaan ini menghaturkan sikap hormat dan mohon diri.

Baru saja matahari menerangi jagat pagi itu, Raden Ayu Puji Lestari Ambarwati yang tegak di belakang jendela berpaling pada ibunya dan berkata "Ada rombongan datang....."

Raden Ajeng Siti Hinggil bangkit dari kursinya, menyibakkan tirai jendela dan memandang ke arah halaman. Benar apa yang dikatakan puterinya. Serombongan orang terdiri dari delapan perajurit memasuki halaman gedung kediamannya. Di sebelah belakang menyusul sebuah kereta. Lalu paling belakang sekali seorang lelaki berpakaian mewah, menunggang seekor kuda coklat yang bukan lain Jayengrono, Panglima Balatentara Kerajaan.

"Dugaan ibu tidak meleset Puji. Manusia itu benar-benar menjalankan niat busuknya. Mereka datang untuk menangkap kita....."

"Menangkap kita?!" kejut Puji Lestari mendengar ucapan sang ibu.

"Benar. Menangkap kita anakku. Menangkap kau dan aku!"

"Tapi apa salah kita?!" tukas sang puteri dengan mata membelalak.

Raden Ajeng Siti Hinggil ingat pada pembicaraan dan ancaman Jayengrono kemarin, lalu menjawab "Jika seseorang ingin mencelakai kita, dia bisa mendapatkan seribu satu kesalahan pada diri kita....."

"Tapi ibu! Kita ini bukan rakyat jelata yang bisa dilakukan semena-mena. Kau adalah istri Sri Baginda Raja! Dan aku puteri raja!"

"Jawabnya mudah anakku! Sri Baginda telah termakan dan percaya pada hasut dan fitnah!"

"Saya akan mengusir manusia gila itu!" kata Raden Ayu Puji Lestari setengah berteriak.

"Tak ada gunanya Puji. Takdir Tuhan mungkin memang kita harus mengalami nasib begini...."

Ucapan Raden Ajeng Siti Hinggil terputus ketika pintu besar ruangan depan itu terbuka. Sosok tubuh Jayengrono masuk diiringi lima orang perajurit.

"Raden Ajeng...." Jayengrono hanya sempat mengucapkan dua patah kata itu karena Siti Hinggil lebih cepat memotong.

"Tak perlu banyak bicara dan segala macam peradatan palsu! Aku dan puteriku siap untuk ditangkap. Hanya saja beri waktu aku meninggalkan pesan pada para inang pengasuh Pangeran Sebrang agar mereka menjaga anak itu selama aku di penjara!"

Lalu tanpa menunggu apakah permintaannya itu diizinkan atau tidak Raden Ajeng Siti Hinggil masuk ke dalam. Tak lama kemudian dia keluar lagi dan melangkah ke pintu sambil menggandeng tangan Puji Lestari.

Sebenarnya Jayengrono ingin menyampaikan sesuatu pada Raden Ajeng Siti Hinggil, namun karena ibu dan anak itu selalu rapat bersama-sama maka terpaksa niatnya itu dibatalkan.

Sebelum naik ke atas kereta Raden Ajeng Siti Hinggil sesaat berpaling pada Jayengrono. Wajahnya sinis ketika berkata "Tentunya kau puas sekarang Raden Mas! Tapi aku lebih puas karena tidak bersedia memenuhi permintaanmu!"

Begitu duduk dalam kereta, baru saja kendaraan itu bergerak, Puji Lestari memandang pada ibunya dan bertanya "Ibu, apa maksudmu tadi? Ucapanmu bahwa ibu merasa lebih puas karena tidak bersedia memenuhi permintaan Panglima Balatentara itu. Memangnya..... apa yang pernah dimintanya padamu.....?"

Siti Hinggil menggelengkan kepala. "Permintaan gila yang tak ada gunanya kau ketahui, Puji...."

Tapi sang puteri malah mendesak "Kau harus menceritakan padaku ibu!"

"Tak ada perlu diceritakan. Dan ibu tidak ingin kita membicarakan hal itu. kalau saja adikmu Pangeran Anom masih ada, mungkin tidak seburuk ini nasib kita...."

"Belum tentu ibu. Mungkin malah lebih buruk," menyahuti Puji Letari.

Raden Ajeng Siti Hinggil manarik nafas dalam. "Dunia ini memang aneh. Kita, istri dan puteri raja bisa diperlakukan seperti ini...."

"Bukankah tadi ibu sendiri yang bilang bahwa ini semua mungkin takdir Tuhan...."

Istri ketiga Sri Baginda Raja itu tersenyum pahit.

"Justru anehnya, sekarang aku malah meragukan. Apakah ini memang benar takdir Tuhan atau maunya manusia-manusia jahat dan busuk yang memegang kekuasaan?!"

Kereta bergerak makin cepat ke arah timur, memasuki Kotaraja melalui pintu gerbang tua yang masih ditancapi umbul-umbul warna hitam serta kuning, pertanda berkabung atas tewasnya dua putera Sri Baginda di tangan manusia jahat Pangeran Matahari beberapa waktu lalu.



DUAMalam yang indah dihiasi bulan purnama empat belas hari itu berubah menjadi kelam pekat ketika awan gelap menutupi rembulan. Angin kencang bertiup tiada henti, mengeluarkan suara menggidikkan dan menebar hawa dingin mencucuk tulang. Ruangan di mana Raden Ajeng Siti Hinggil ditahan berukuran delapan kali enam tombak. Merupakan sebuah kamar yang bersih, lengkap dengan tempat tidur dan lemari. Namun bagaimanapun bagusnya kamar itu, tetap saja merupakan ruangan yang menyekap dan memenjarakan istri Sri Baginda yang ketiga itu.

Siti Hinggil duduk termenung di atas satu-satunya kursi dalam kamar. Matanya balut bekas menangis. Dia sama sekali tidak merasa takut disekap seperti ini. Namun yang dikawatirkannya adalah keadaan puterinya. Ternyata dia dan Puji Lestari ditahan di kamar yang terpisah.

Sebelum Panglima Jayengrono memerintahkan pengawal menutup dan mengunci pintu kayu yang tebal dan berat itu pagi tadi, Siti Hinggil masih sempat melontarkan ancaman "Kalau terjadi apa-apa dengan puteriku, aku bersumpah akan membunuhmu Jayengrono!" Saking marahnya Siti Hinggil menyebut langsung nama sang panglima di hadapan para pengawal.

Sambil tersenyum Jayengrono menjawab "Di antara kita, kalau ada yang harus mati mungkin kau yang lebih dulu, Raden Ajeng! Kecuali jika kau merubah pikiranmu dan memenuhi permintaanku tempo hari...."

"Manusia biadab!" hardi Siti Hinggil.

"Perempuan tolol!" dengus Jayengrono. Lalu pintu yang masih belum ditutupkan itu ditendangnya dengan keras.

Di luar angin bertiup semakin kecang. Udara tambah dingin. Hujan mulai turun. Mula-mula rintikan yang lenyap terhembus angin, namun kemudian berubah manjadi sangat lebat.

Siti Hinggil masih duduk di atas kursi dengan mata sembab. Tubuhnya sangat letih, seharian itu tak sepotong makananpun masuk ke dalam perutnya meskipun beberapa kali pengawal datang membawakan hidangan lezat-lezat. Hanya air putih yang disentuhnya. Itupun hanya beberapa teguk saja. Kedua matanya tak bisa dipicingkan. Ingatannya selalu tertuju pada puterinya.

Dalam keadaan seperti itu mendadak sepasang mata Siti Hinggil terbuka lebar. Membelalak. Menatap ke arah dinding batu ruangan di mana dia disekap. Seperti tidak percaya pada penglihatannya, atau menyangka mungkin dia bermimpi, perempuan ini mengucak-ucak kedua matanya. Tenyata dia tidak bermimpi. Dinding batu tebal itu memang berputar ke belakang, membentuk ruangan kosong seukuran setengah pintu dan sesosok tubuh muncul dengan tersenyum.

Panglima Kerajaan, Raden Mas Jayengrono!

"Aku datang menepati janji, Siti....." kata lelaki itu lalu dengan tangan kirinya mendorong batu yang berputar hingga tertutup rapat kembali.

"Apa maksudmu?!" sentak Siti Hinggil seraya bangkit dari kursinya.

"Apa kau tidak ingat pembicaraan kita dua minggu lalu? Waktu aku datang ke tempat kediamanmu? Kau akan kutahan di tempat khusus. Inilah tempatnya. Dan aku bisa masuk ke mari melalui pintu tahasia itu. Tak ada yang melihat. Tak seorangpun tahu. Dan kita.....bisa melakukan seperti masa delapan belas tahun silam Siti. Delapan belas tahun seperti delapan belas abad lamanya. Aku merindukan dirimu. Aku memendam rasa selama ini. Kini saatnya datang...."

"Lelaki keparat! Keluar kau dari sini....!"

"Jangan bicara seperti itu Siti. Bagaimanapun aku adalah kekasihmu atau paling tidak kita pernah berkasih-kasihan. Bahkan lebih dari itu hubungan kita di masa lalu menghasilkan dua orang turunan. Anom dan Puji....."

"Sudah! Jangan ucapkan itu! Keluar dari sini kataku! Atau aku akan menjerit!" Siti Hinggil mengancam.

Ruangan ini adalah ruangan kedap suara. Bagaimanapun kerasnya jeritanmu tak ada yang bakal dapat mendengar......" sahut Jayengrono. Lalu dia memandang ke arah meja kecil di mana terletak makanan. "Hemmm..... Kau tak mau makan rupanya. Jangan menyiksa diri. Nanti kau bisa sakit....."

"Beri aku racun! Aku tidak takut mati!"

Jayengrono tersenyum, lalu duduk di tepi ranjang bertilam bagus. Saat itu dia mengenakan pakaian berbentuk jubah putih. Sepasang matanya berkilat-kilat memandang Siti Hinggil.

"Kau mau bukan, Siti.....?" terdengar suara Jayengrono setengah berbisik.

Siti Hinggil tegak bersandar di sudut ruangan. Menutupi mukanya dan mulai menangis.

Jayengrono bangkit berdiri dan mendekati perempuan itu. Mencoba merangkulnya tapi dadanya didorong kuat-kuat hingga dia terjajar ke belakang.

"Kalau kau mau mengabulkan permintaanku, percayalah hukumanmu tak akan berat. Bahkan aku akan membatalkan sidang pengadilan para sesepuh. Minggu di muka kau boleh meninggalkan tempat ini...."

"Busuk.....! Manusia busuk! Apakah kau masih belum mau bertobat? Apakah kau tuli dan hatimu seperti batu hingga tidak mau mendeengar ucapan orang? Aku tidak sudi memenuhi permintaanmu! Keluar dari sini atau bunuh aku saat ini juga!"

Jayengrono geleng-gelengkan kepala. Tapi mulutnya tetap menyunggingkan senyum. Tiba-tiba kembali dia merangkul tubuh perempuan itu. Dan kali ini berhasil. Ciumannya bertubi-tubi mendarat di wajah Siti Hinggil. Perempuan ini meronta berusaha membebaskan diri. Namun tubuhnya yang lemah memiliki keterbatasan untuk bertahan dan melepaskan diri. Kemben, angkin dan kainnya terlepas. Tubuhnya didorong ke atas ranjang hingga jatuh terlentang, hampir tak kuasa untuk berdiri lagi. Saat itu dilihatnya lelaki itu melangkah mendekati. Tiba-tiba Jayengrono membuka jubah putihnya. Ternyata di balik pakaian itu lelaki ini tidak mengenakan apa-apa lagi! Siti Hinggil menjerit dan nekad.

Tangan kanannya menyambar ke bawah ketika Jayengrono berusaha menindihnya. Tangan berkuku pnajang itu meremas kencang. Kini Panglima Kerajaan itu yang ganti menjerit! Tubuhnya sampai terpental oleh rasa sakit. Sesaat dia bergulingan di lantai. Kemudian dengan terbungkuk-bungkuk dia mengenakan jubah putihnya kembali. Sebelum meninggalkan kamar itu lewat pitnu rahasia di dinding dia masih sempat melayangkan pandangan penuh dendam ke arah Siti Hinggil seraya berkata "Kali ini aku gagal. Tapi jangan kira aku tak bisa mendapatkan apa yang aku ingin! Dan sekali hal itu kesampaian kau akan kusingkirkan! Perempuan tolol! Perempuan gila!"

"Manusia dajal! Terkutuk kau selama-lamanya!" teriak Siti Hinggil. Lalu peremuan ini melompat. Berusaha menerobos melaui pintu rahasia dinding yang masih terbuka. Namun dia kalah cepat. Pintu aneh itu lebih dahulu menutup. Dan kini di hadapannya adalah dinding polos belaka. Sama sekali tidak ada tanda-tanda adanya pintu di tempat itu. Siti Hinggil memukul-mukulkan kedua tinjunya ke dinding. Menangis lalu melosoh ke lantai.

TIGAKetika Raden Kertopati muncul di hadapannya sambil menghatur sembah, Sri Baginda tersenyum lebar. Tapi Kertopati tahu bahwa di balik senyum itu tersembunyi kekalutan pikiran, kegundahan hati dan ketidak tenangan.

"Lebih dari seminggu aku tidak melihatmu, Kertopati. Bagaiman kesehatanmu. Apakah sudah pulih benar.....?" menegur Sri Baginda.

Raden Kertopati. Kepala Pasukan Kotaraja menunduk seraya berujar "Terima kasih atas perhatian Sri Baginda. Kesehatan saya masih belum pulih benar. Namun dibandingkan dengan satu minggu lalu memang jauh lebih baik. Sekali lagi terima kasih Sri Baginda......"

Setelah Raden Kertopati mengambil tempat duduk di hadapannya maka bertanyalah Sri Baginda akan maksud kedatangannya menghadap.

"Pertama sekali saya ingin melapor bahwa keadaan di Kotaraja yang menjadi tanggung jawab saya, semua dalam aman. Dari utara tak ada lagi kabar-kabar adanya menyusupan kaki tangan pemberotak. Rasanya sejak para gembong pemberontak kita hukum mati, gerakan mereka boleh dikatakan tumbang musnah....."

"Aku gembira mendengar laporanmu Kertopati. Tapi kita sekali-kali tidak boleh berlaku lengah. Meskipun pemberontakan orang-orang di utara telah kita padamkan, aku tiada hentinya meminta Panglima Jayengrono untuk selalu berjaga-jaga dan mengawasi setiap orang yang keluar masuk ke pintu gerbang arah utara. Nah, mungkin masih ada urusan atau keperluan lain yang hendak kau sampaikan......?"

"Benar Sri Baginda. Dan untuk yang satu ini saya harapkan maaf terlebih dahulu karena ini menyangkut langsung pribadi Sri Baginda....."

"Aku sudah dapat meraba apa yang hendak kau sampaikan," berkata Sri Baginda. "Soal penahanan istriku Siti Hinggil dan puterinya Puji Lestari. Betul?"

"Betul sekali Sri Baginda. Memang itu yang ingin saya tanyakan......"

"Kalau persoalan itu silakan kau menghubungi Panglima Kerajaan Raden Mas Jayengrono....."

"Saya maklum hal itu Sri Baginda. Hanya saja. Moof maaf, saya merasa labih baik bertemu dan bicara langsung dengan Sri Baginda saja......"

Sri Baginda berdiri dari kursinya. "Tubuhku letih sekali Kertopati dan aku tak ingin membicarakan soal penahanan anak istriku. Kau boleh menghadapku lain kali. Tapi ingat, bukan untuk urusan yang satu itu....."

Raden Kertopati ikut berdiri. Sebelum raja membalikkan tubuh, Kepala Pasukan Kotaraja ini berkata "Jika begitu kehendak Sri Baginda mana saya berani membantah. Saya hanya akan sangat bersedih kalau sidang pengadilan nanti akan menjatuhkan putusan keliru. Menjatuhkan hukuman pada orang-orang yang tidak bersalah."

Habis berkata begitu Kertopati membungkuk hormat lalu melangkah surut mengundurkan diri.

Sesaat Sri Baginda tegak termangu, menatap wajah Kertopati lalu melambaikan tangannya.

"Katakan apa sebenarnya yang hendak kau sampaikan. Rupanya kau mengetahui sesuatu Kertopati?"

Raden Kertopati mengangguk. "Bolehkah kita bicara berdua saja Sri Baginda?"

"Eh, sikapmu aneh sekali kali ini Kertopati. Tapi tak apa. Kukabulkan permintaanmu....." Sri Baginda memandang kepada dua orang pengawal yang sejak tadi tegak di sebelah belakang, pada kiri kanan kursinya. Kedua pengawal ini menjura lalu meninggalkan ruangan. Tapi salah seorang dari mereka menyelinap ke balik pintu dan mendekam di belakang hordeng beludru hitam kebiruan.

"Nah, sekarang hanya kita berdua Kertopati. "Katakan urusanmu!" berkata Sri Baginda.

"Saya mendapat kabar bahwa Raden Ajeng Siti Hinggil dan Raden Ayu Puji Lestari ditahan karena dicurigai mempunyai hubungan dengan Pangeran Matahari, pemuda berkepandaian tinggi yang menyerbu istana tempo hari. Apakah itu betul Sri Baginda?"

"Betul dan disertai saksi-saksi. Nanti kau bisa membuktikan sendiri di sidang pengadilan para sesepuh....."

"Selanjutnya disangkakan pula bahwa ada kemungkinan Raden Ajeng dan Raden Ayu mempunyai hubungan dengan para pemberontak di utara melalui Pangeran Matahari itu....."

"Itu juga betul!"

"Sri Baginda, sampai saat ini kita belum mampu mengetahui siapa sebenarnya Pangeran Matahari. Apa tujuannya menyerbu ke istana. Mengapa dia membunuh Tumenggung Gali Marto. Mengapa dia membunuh pula dia orang putera Sri Baginda tercinta....."

"Manusia itu ingin merampas tahta Kerajaan ini Kertopati! Sebagai seorang perajurit apakah kau tidak bisa mengerti hal itu?!" Sri Baginda tampak gusar. Nada suaranya keras.

"Mohon maafmu Sri Baginda. Seperti tadi saya katakan, sebenarnya tidak satupun di antara kita yang mampu menyingkap apa latar belakang kejahatan yang dilakukan pemuda itu. Mungkin dia hanya seorang gila berkepandaian tinggi yang menobatkan diri sebagai seorang pangeran bernama Pangeran Matahari. Mungkin juga dia memiliki dendam kesumat terhadap istana dan orang-orang tertentu di Kerajaan ini......."

"Dia bersekutu dengan anak istriku dalam melakukan kejahatan. Apapun latar belakang perbuatannya!"

"Hanya karena cincin emas burung rajawali milik Raden Ayu pernah terlihat dipakai oleh pemuda itu Sri Baginda......?"

"Itu baru satu bukti. Masih ada yang lain lagi!"

"Mengenai cincin itu saya punya cerita sendiri Sri Baginda. Jika Sri Baginda bersedia mendengar penuturan saya....."

"Kau boleh menuturkan apa yang kau ketahui Kertopati. Asalkan benar!" sahut Sri Baginda pula.

"Sekitar dua bulan lalu, ketika Raden Ajeng dan Raden Ayu kembali dari luar kota, rombongan mereka dicegat oleh gerombolan rampok pimpinan Warok Sumo Gantra......"

"Aku tahu peristiwa itu. Tak akan pernah kulupakan! Teruskan penuturanmu Kertopati."

"Warok Sumo Gantra pasti bukan hanya hendak merampok barang-barang yang dibawa dan lekat di tubuh Raden Ajeng dan Raden Ayu. Tapi saya yakin sekali, perampok-perampok itu hendak menculik istri dan putri Sri Baginda. Mungkin sekali Warok Sumo Gantra dibayar melakukan itu oleh kaum pemberontak di utara. Kita tidak tahu pasti. Yang jelas pada saat sangat berbahaya itu Raden Ajeng dan Raden Ayu ditolong oleh seorang pemuda berkepandaian tinggi. Yaitu Pangeran Matahari itu. Warok Sumo Gantra dibunuhnya......"

"Pangeran Matahari juga membunuh pimpinan pengawal. Nenek sakti Ni Luh Tua Klungkung!" menyambung Sri Baginda.

Kertopati hendak menganggukkan kepala tapi kemudian berkata "Hal yang satu ini masih kabur Sri Baginda. Jika Ni Luh Tua Klungkung jago silat istana itu mati dibunuh Pangeran Matahari, mengapa mayatnya sampai saat ini tidak pernah ditemukan?"

Sri Baginda terdiam. "Bukan tidak mungkin Ni Luh Tua Klungkung berserikat dengan Pangeran Matahari. Dia memberi kisikan bahwa rombongan istana akan lewat jalan itu....."

"Mungkin benar, Sri Baginda. Tapi sulit untuk membuktikannya. Dalam rangkaian semua kejadian ini ada satu hal yang sangat pasti. Raden Ayu dan Raden Ajeng tidak berkomplot dengan Pangeran Matahari. Cincin burung rajawali itu diberikan Raden Ayu pada Pangeran Matahari sebagai tanda terima kasih karena telah menyelamatkan nyawa dan kehormatannya bersama ibunya....."

"Kau mengarang cerita atau bagaimana?!"

"Saya mengatakan apa yang sebenarnya Sri Baginda."

"Kau tidak berada di tempat kejadian itu. Bagaimana kau bisa tahu pasti hal itu?"

"Karena beberapa pengawal yang masih hidup dan kusir kereta yang menceritakannya pada saya, Sri Baginda...."

"Ini benar-benar satu hal baru bagiku. Sulit dipercaya!" kata sang raja seraya bangkit dari kursi lalu melangkah mundar-mandir.

"Jika Sri Baginda tidak sulit mempercayai keterangan yang menuduh Raden Ajeng dan Raden Ayu berbuat khianat, mengapa begitu sulit mempercayai keterangan saya.....?"

"Semua harus dibuktikan Kertopati!"

"Saya setuju......"

"Dan itu akan dilakukan di sidang pengadilan yang dipimpin oleh para sesepuh Kerajaan!"

"Mengapa harus menunggu sidang pengadilan? Kita bisa memanggil kusir kereta dan pengawal-pengawal itu untuk memberi kesaksian saat ini juga. Jika Raden Ajeng dan Raden Ayu terlalu lama dalam tahanan untuk berbuat yang tidak dilakukannya, saya kawatir kesehatan dan pikiran mereka akan terganggu...."

Sang raja jadi terdiam dan termangu.

"Tidakkah Sri Baginda bersedia melakukan sesuatu? Melepaskan dulu istri dan puteri Sri Baginda sampai ada kejelasan bahwa mereka benar-benar bersalah?"

"Aku butuh waktu untuk melakukan penyelidikan tersendiri sebelum menempuh jalan itu...."

"Terserah Sri Baginda, asalkan jangan terlalu lama. Kasihan Raden Ajeng dan Raden Ayu...."

"Ada lagi yang hendak kau sampaikan Kertopati?" bertanya Sri Baginda.

Kepala Pasukan Kotaraja itu terdiam sejenak. Apakah akan diceritakannya hubungan gelap Raden Mas Jayengrono dengan istri Sri Baginda yang ketiga itu? Yang tanpa setahu Sri Baginda telah membuahi dua orang anak tidak syah yaitu Pangeran Anom dan Puji Lestari? Kertopati tiba-tiba saja ingat petuah dan pesan gurunya di Banten ketika hendak melepas kepergiannya. Saat itu sang guru berkata "Muridku Kertopati, sudah banyak ilmu dan wejangan yang kau terima. Masih ada satu hal lagi yang patut kau ingat. Perempuan itu kotoran di kemaluan. Tapi lelaki kotoran di mulut. Karena itu selalulah kau sengaja menjaga mulutmu sebaik-baiknya. Mulut kamu harimau kamu. Jangan sekali-kali menceritakan aib seseorang pada orang lain. Karena itu tidak akan memberi keuntungan apa-apa bagimu. Malah mungkin dapat menimbulkan pertumpahan darah sekerajaan....."

Mengingat sampai di situ maka Raden Kertopati lalu menjawab pertanyaan Sri Baginda.

"Tak ada lagi yang akan saya sampaikan. Saya mohon diri dan siap sedia dipanggil setiap saat...."

"Kau boleh pergi."

Raden Kertopati membungkuk lalu melangkah mundur sampai di pintu. Dia sama sekali seperti tidak melihat ada seseorang yang mendekam di balik hordeng besar hitam kebiruan. Tapi Kepala Pasukan Kotaraja yang berkepandaian tinggi ini tentu saja tidak mudah ditipu. Dia tahu ada orang bersembunyi di bali hordeng dekat pintu. Tapi dia sengaja berpura-pura tidak tahu!EMPATKetika Sri Baginda telah masuk ke ruangan dalam untuk beristirahat, Raden Kertopati yan melangkah perlahan menuruni tangga istana tiba-tiba membalikkan diri dan masuk kembali ke dalam istana. Ketika sampai di ruangan dalam, dua orang pengawal raja baru saja menutupkan pintu. Raden Kertopati mendekati salah seorang dari mereka dan langsung mencekal lehernya. Tentu saja pengawal ini menjadi kaget dan pucat wajahnya.

"Ra....raden....." suaranya tersengal saking kerasnya cekikan Kertopati.

"Katakan apa maksudmu tadi bersembunyi di balik tirai dan mencuri dengan pembicaraanku dengan Sri Baginda?!" bertanya Kertopati sementara pengawal kedua tegak tertegun keheranan menykasikan kejadian itu.

"Saya.....saya tidak bersembunyi Raden....... Saya......"

"Tidak bersembunyi? Lalu apa perlunya mendekam di balakang tirai! Jangan berani dusta! Salah-salah bisa kupotong lidahmu!"

"Saya bersumpah tidak bersembunyi!"

"Keparat! Jangan kira aku buta!"

"Saya bersumpah Raden. Saya benar-benar tidak sembunyi, apalagi berani mendengarkan pembicaraan Raden dengan raja....."

Plaaak!

Tamparan keras mendarat di muka pengawal itu membuat tubuhnya melintir hampir jatuh. Pipinya sebelah kiri langsung lebam dan dari bagian bibirnya yang pecah mengucur darah. Pengawal ini merintih kesakitan dan duduk bersimpuh di lantai. "Saya bersumpah raden.....saya bersumpah.....!" terdengar suaranya di antara rintihan.

"Berdiri!" hardik Raden Kertopati.

Pengawal itu berdiri sambil mengusap-usap pipinya yang masih disengat rasa sakit.

"Kau masih belum mau memberi keterangan?!" Raden Kertopati mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Siap untuk menampar kedua kalinya.

Dengan ketakutan pengawal itu membuka mulut "Saya bersumpah tidak bersembunyi dan mencuri dengar pembicaraan Raden dengan Sri Baginda. Saya berada dekat tirai itu demi tugas. Bagaimanapun saya harus menjaga keselamatan raja, lalu saya tegak di situ...."

"Menjaga keselamatan raja! Itu bagus! Tapi Sri Baginda sendiri yang menyuruhmu pergi! Kau melanggar perintah raja! Perbuatanmu nyata-nyata mencurigai diriku! Dan aku yakin kau menyembunyikan sesuatu! Siapa yang menyuruhmu semata-mata Sri Baginda? Atau mungkin sekali memata-mataiku hah?!"

"Ampun Raden. Jangan berpikir dan menuduh sejauh itu. Saya perajurit biasa. Saya kalau bersalah siap dihukum. Tapi demi Gusti Allah saya tida mencuri dengar, tidak bermaksud jahat apalagi berani melanggar perintah Raja dan memata-matai Raden......"

Pelipis Kepala Pasukan Kotaraja untuk tampak bergerak-gerak. Rahangnya menggembung.

"Kali ini kuampuni kesalahanmu. Tapi ingat sejak detik ini kau berada di bawah pengawasanku langsung. Mulai besok kau tidak ditempatkan di dalam istana. Tugasmu dipindah sebagai pengawal pintu gerbang utara! Kau dengar?!"

"Saya.....saya dengar Raden...." Jawab si pengawal. Meskipun bertugas di pintu Kotaraja merupakan tugas yang berat, apalagi dibandingkan dengan tugas di dalam istana, namun dalam keadaan seperti itu si pengawal tak ada jalan lain dari pada tunduk dan menerima putusan serta perintah atasannya.

Raden Mas Jayengrono, Panglima Pasukan Kerajaan menatap wajah pengawal yang datang menghadapnya itu lalu bertanya.

"Kenapa tampangmu bengkak begitu. Bibirmu juga kulihat ada lukanya"

Sang pengawal menunduk sesaat sambil mengusap pipinya yang bengkak. "Saya......saya ditempiling Raden Mas....." katanya kemudian.

"Yang menimpiling?"

"Kepala Pasukan Kotaraja. Raden Kertopati....." Lalu pengawal bernama Kuntondo itu menerangkan apa yang terjadi siang tadi di istana.

"Kertopati tentu punya alasan menempilingmu. Lekas ceritakan!"

"Sesuai dengan perintahmu Raden Mas. Saya memata-matai pembicarannya dengan Sri Baginda. Ternyata dia mengetahui....." menerangkan si pengawal.

"Kepala pasukan itu ringan tangan sekali rupanya!" ujar Jayengrono dengan geram. "Tetapi yang aku pentingkan saat ini bukan mukamu yang bengkak atau si Kertopati itu. Yang aku ingin tahu ialah apa yang dibicarakannya dengan Sri Baginda....!"

"Dia menerangkan pada Sri Baginda, tidak mungkin Raden Ajeng Siti Hinggil dan puterinya mempunyai hubungan tertentu dengan Pangeran Matahari. Dia siap mendatangkan saksi-saksi...." Lalu Kontondo menuturkan selengkapnya.

"Begitu....." ujar Jayengrono selesai pengawal itu menceritakan. "Dia sudah terlalu jauh melangkah. Dia bertanggung jawab atas keamanan Kotaraja, bukan keseluruhan Kerajaan. Tapi tidak apa. Kau terus saja memata-matainya....."

"Saat ini tidak mungkin lagi Raden Mas."

"Hah, kenapa tidak mungkin?"

"Raden Kertopati telah memindahkan tugas saya. Mulai besok saya bertugas di pintu gerbang utara...."

"Hemm..... Dia memang punya wewenang untuk itu. Sekarang ya sudah, kau boleh pergi...." Jayengrono mengeruk jas beskapnya lalu menyerahkan sebungkah kecil perak pada Kuntondo. Pengawal ini membungkuk dalam, mengucapkan terima kasih berulang kali lalu meninggalkan gedung kediaman Panglima Balatentara Kerajaan itu.

Ketika sampai di pintu pekarangan, seorang lelaki tua memikul rumput menganggukkan kepala dan menegur dengan hormat. Kuntondo sama sekali tidak membalas teguran dan penghormatan itu. kudanya dibedal sekencang-kencangnya menuju arah timur Kotaraja sementara sore siap berganti dengan malam.

Gedung kediaman Raden Kertopati teletak di barat Kotaraja, cukup besar dan mentereng, tapi tentu saja alah mewah dengan gedung kediaman Raden Mas Jayengrono selaku Panglima Balatentara Kerajaan.

Lelaki tua pemikul rumput itu mengambil jalan berputar dan sampai di hadapan sebuah pintu kecil yang terdapat di tembok halaman belakang gedung. Dia menurunkan rumput yang dipikulnya lalu mengetuk pintu kecil dua kali, satu kali, lalu dua kali lagi. Ketukannya itu dilakukan berurutan dua kali. Sesaat kemudian pintu terbuka. Seorang pengawal memberi tanda agar dia cepat masuk, sekaligus membawa rumput yang tadi dipikulnya. Selanjutnya lelaki tua tadi diantar menghadap Raden Kertopati, yang saat itu baru saja selesai sembahyang maghrib.

Setelah membalas penghormatan lelaki tua dengan anggukkan kepala maka bertanyalah Kertopati. "Bagaimana hasil penyelidikanmu.....?"

"Pengawal yang saya mata-matai ternyata memang menghubungi Raden Mas Jayengrono menjelang maghrib tadi....." menjawab lelalki tua itu.

"Kertopati tersenyum. "Memang sudah kuduga!" katanya sambil menepuk bahu lelaki tua itu. "Kau telah menjalankan tugas dengan baik. Kau tidak akan diberi hadiah apa-apa. Tapi puteramu yang kedua mulai minggu depan dapat bekerja di sini sebagai perajurit pengawal!"

"Saya sangat berterima kasih Raden. Sangat berterima kasih....." kata lelaki tua itu sambil membungkuk-bungkuk.LIMAKetika Raden Kertopati masuk ke ruangan itu, didapatinya Sri Baginda duduk

berhadap-hadapan dengan Raden Mas Jayengrono. Kertopati menjura memberi hormat. Meskipun di situ masih ada dua buah kursi kosong, namun karena tidak dipersilahkan maka Kepala Pasukan Kotaraja ini tidak berani mengambil tempat duduk.

"Sri Baginda, ada apakah memerintahkan saya menghadap?" bertanya Kertopati. Di dalam hati dia sudah menduga ada sesuatu yang penting –mungkin tidak beres-. Apalagi dilihatnya Jayengrono ada di sana dengan memasang wajah kelam, tegang tapi sinis.

"Salah seorang bawahan Raden Mas Jayengrono baru saja melaporkan bahwa seorang kusir kereta dan tiga orang perajurit ditemui mayatnya di tepi hutan Kalimukus. Meskipun hutan itu terletak sedikit jauh dari Kotaraja tapi keamanan di sana masih dalam wilayah tanggung jawabmu. Bagaimana hal ini bisa terjadi. Apakah kau sudah menerima laporan dari anak buahmu?"

Apa yang dikatakan Sri Baginda ini tentu saja membuat Kertopati terkejut. Sekilas dia melirik ke arah Jayengrono yang kini tampak duduk lebih santai.

"Maaf Sri Baginda, saya sama sekali belum mendapat laporan. Apakah diketahui sebab musabab kematian keempat orang itu?"

Yang menjawab justru adalah Jayengrono. "Justru kau dipanggil kemari untuk segera melakukan penyelidikan dimas Kertopati!"

"Kalau begitu, saya minta diri untuk melakukan pemeriksaan."

"Tunggu dulu," Sri Baginda cepat berkata. "Turut penjelasanmu beberapa hari lalu bukan mustahil keempat orang itu adalah katamu bisa memberikan kesaksian bahwa istriku yang ketiga dan puterinya tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Pangeran Matahari....."

"Saya tidak berani memastikan, Sri Baginda. Saya perlu menyelidik lebih dulu," jawab Kertopati meskipun hati kecilnya berdetak membenarkan bahwa keempat orang itu adalah saksi-saksi hidup yang sebenarnya akan diajukannya pada sidang pengadilan para sesepuh kelak. Kini ternyata mereka sudah mati. "Kalau mereka mati sekaligus di tempat yang sama, ini satu hal yang aneh. Bukan mustahil mereka dibunuh!"

"Berkata begitu apakah kau punya bukti-bukti dimas Kertopati? Menyelidikpun belum, bagaimana kau bisa berkata demikian? Apakah kau pernah mendengar tentang seekor harimau yang kelihatan muncul di sekitar Kalimukus beberapa hari belakangan ini?"

"Saya mendengar memang, Raden Mas..... Tapi.... Entahlah, saya harus menyelidik lebih dulu. Kelak akan memberikan laporan hasil penyelidikan pada Sri Baginda dan padamu..... Saya minta diri sekaang!"

Di hutan Kalimukus, empat mayat digeletakkan di atas empat usungan bambu. Sewaktu Kertopati sampai di situ dan memeriksa keadaan mayat satu persatu, di tubuh mayat memang terlihat luka-luka menganga, cabik memanjang.

"Mereka seperti dikoyak harimau....." kata Kertopati dalam hati. "Tapi bukan harimau benaran. Koyakan harimau tidak serapi ini. Tubuh-tubuh ini dikoyak dengan pisau besar, mungkin celurit atau kelewang..... Ada orang yang telah membunuh mereka! Edan! Mereka saksi-saksi yang kuharapkan bis menyelamatkan Raden Ajeng Siti Hinggil dan puterinya. Ah..... bagaimana sekarang?"

Bersama anak buahnya Kertopati kembali ke istana. Saat dia menghadap raja Jayengrono tak ada lagi di situ.

"Bagaimana hasil penyelidikanmu Kertopati?" Sri Baginda langsung bertanya.

"Keempat orang yang malang itu memang mati dicabik-cabik harimau Sri Baginda," jawab Kertopati.

Dapur istana malam itu tempak sepi. Hanya ada seorang juru masak dan seorang pelayan di situ. Keduanya adalah perempuan-perempuan tua yang bekerja setengah terkantuk-kantuk, menyiapkan makan malam untuk tahanan istimewa yaitu Raden Ajeng Siti Hinggil dan Raden Ayu Puji Lestari.

"Aku memasak begini banyak, begini lezat tapi Gusti Ajeng Siti Hinggil hanya makan sedikit sekali. Hampir tak pernah menyantapnya malah....."

"Dimakan atau tidak, sudah tugas kita memasak dan menghidangkan," jawab si pelayan.

Saat itu pintu dapur terbuka. Kedua pelayan tua ini terkejut dan gemetar ketika melihat siapa yang masuk. Satu hal yang tidak pernah terjadi bahwa Panglima Balatentara Kerajaan masuk ke dalam dapur istana.

"Raden.....apakah kami berbuat kesalahan.....?" juru masak tua keluarkan suara gemetar. Dua perempuan tua itu langsung lega ketika mereka melihat Jayengrono justru tersenyum lebar.

"Semua orang sudah pulang. Kalian berdua masih bekerja di sini. Apakah itu hidangan untuk Raden Ajeng Siti Hinggil dan puterinya.....?"

"Betul sekali Raden Mas......"

"Kalau begitu cepat dibawa ke kamar mereka masing-masing. Bawa yang untuk Raden Ayu Puji Lestari lebih dulu.....!"

Pelayan tua cepat mengambil napan besar, meletakkan dua piring di atas nampan itu, segelas besar air putih lalu membawa semua itu ke ruangan di mana Puji Lestari ditahan.

"Juru masak, kau boleh pergi. Tugasmu selesai. Sebentar lagi pelayan akan mengambil dan mengantar hidangan untuk Raden Ajeng Siti Hinggil......"

"Saya pergi Raden....." jawab juru masak tua. Terbungkuk bungkuk perempuan ini mundur menuju pintu.

Begitu dia hanya tingaal seorang diri di tempat itu, dari balik sakunya Jayengrono mengeluarkan sebuah lipatan kertas. Begitu lipatan dibuka di dalamnya terlihat sejenis bubuk berwarna putih. Dengan cepat bubukini disiramkannya di atas dua piring makanan yang ada di meja.

Baru saja dia hampir selesai menuangkan seluruh bubuk, tiba-tiba pintu dapur terbuka. Juru masak tua muncul dan melangkah masuk. Membuat Jayengrono kaget dan membentak.

"Ada apa kau kembali?!"

"Selendang saya Raden..... Selendang saya tertinggal....."

"Juru masak! Kau tak akan mati tanpa selendang itu! Keluar sana!"

Ketakutan setengah mati juru masak tua itu keluar dari dapur dengan langkah sempoyongan. Tak lama kemudian pelayan tua muncul kembali untuk mengambil hidangan yang akan diantarkan pada Raden Ajeng Siti Hinggil. Jayengrono mengikuti dari belakang. Di ujung gang dia membelok ke kanan. Sebelum berlalu, dia masih sempat melihat pelayan itu bicara dengan dua orang pengawal pintu ruangan tahanan Raden Ajeng Siti Hinggil. Lalu pintu dibuka dan si pelayan masuk ke dalam.

Selama beberapa hari disekap dalam kamar tahanan itu Raden Ajeng Siti Hinggil boleh dikatakan tidak makan apa-apa. Tubuhnya jauh susut dan pipi serta rongga matanya mulai mencekung. Kulitnya yang putih mulus kini pucat seperti tiada berdarah. Namun di mata Jayengrono perempuan ini tampak seolah tambah cantik dan mulus.

Setelah menatap sesaat makanan yang diletakkan pelayan di atas meja, entah mengapa sekali ini timbul saja hasratnya untuk mencicipi makanan itu. Dua potong besar ayam panggang kesukaannya, semangkok sayur dengan kuah santan, lalu nasi putih dan sepotong semangka merah tanpa biji.

Mula-mula digigitnya potongan paha ayam. Enak. Dijumputnya segenggam nasi dan disendokkannya kuah santan. Tambah enak. Lalu perempuan ini duduk di kursi. Selama beberapa hari tidak makan, maka hidangan yang ada di meja disantapnya dengan lahap meskipun tidak keseluruhannya sanggup dihabiskan.

Selesai makan dan meneguk air putih segelas penuh, Siti Hinggil merasakan tubuhnya segar. Pori-pori di sekujur tubuhnya melebar dan keringat membasahi kulitnya. Kamar itu dipandangnya berkeliling. Seperti baru disadarinya betapa indah dan mewah keadaan kamar itu. Kemudian napasnya terasa panas memburu. Cuping hidungnya seperti mengembang dan detak jantungnya lebih cepat.

Istri Baginda ketiga ini menggeliatkan tubuhnya. Terasa ada kenikmatan aneh dalam geliatan itu. Dia menggeliat lagi. Semakin nikmat. Perempuan ini bangkit dari kursi, membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan kembali menggeliat-geliat. Dari sela bibirnya terdengar suara seperti erangan halus. Kedua tangannya menggapai-gapai udara lalu diturunkan ke dada. Di situ kedua tangan itu meremas-remas kencang. Siti Hinggil merasakan tubuhnya panas. Bukan oleh udara dalam kamar namun oleh hawa aneh yang kini menguasai sekujur tubuhnya, larut dalam aliran darah, melumpuhkan indera ingatannya. Entah sadar entah tidak Siti Hinggil membuka pakaiannya satu demi satu. Hampir sekujur tubuhnya tak tertutup lagi, tiba-tiba terdengar suara berdesir. Dinding batu di sebelah kiri bergerak dan kelihatanlah celah setengah pintu.

Siti Hinggil melompat dari atas ranjang, menatap beringas ke arah orang yang masuk. Tapi dia tidak menjerit atau mendamprat. Malah mengulurkan kedua tangannya. Memeluk orang yang berusan masuk itu seraya tiada hentinya menyebut namanya.

"Jayeng...... Jayengrono......."ENAMSewaktu hawa aneh yang merangsang aliran darah dan membangkitkan nafsunya itu mulai berkurang dan akhrinya lenyap sama sekali, ingatan Siti Hinggil kembali pulih. Didapatinya dirinya tergeletak di atas tempat tidur tanpa sehelai benangpun menutupi auratnya.

"Ya Gusti Allah, apa yang telah terjadi? Apa yang telah kulakukan......?!"

Perempuan ini memandang ke dinding. Tak ada pintu di situ. Dia memandang seputar kamar. Tak ada Jayengrono di situ. Kemudian ketika dia sadar betul apa yang telah terjadi, perempuan ini menjerit tinggi. Dua perajurit yang mengawal di pintu sama sekali tidak dapat mendenga karena kamar itu dibuat sedemikian rupa hingga kedap suara.

"Manusia keparat! Jayengrono manusia kotor! Aku akan membunuhnya! Aku bersumpah membunuhnya!" teriak Siti Hinggil. Lalu seperti gila dia menjerit lagi berulang kali sambil memukul-mukul pintu kayu yang snagat tebal dan berat.lapat-lapat suara pukulan ini sempat terdengar oleh dua perajurit yang mengawal pintu di sebelah luar. Keduanya saling pandang sesaat. Setelah berunding, salah seorang segera mengambil kunci dan membuka pintu.

Begitu pintu terbuka dan melihat keadaan Siti Hinggil seperti itu tentu saja dua perajurit ini terperangah kaget.

"Mana Jayengrono! Aku harus membunuhnya! Mana manusia keparat itu! mana.... Berikan tombak itu padaku! Berikan!" teriak Siti hinggil dan menghambur ke luar kamar seraya mencoba merampas tombak yang ada di tangan pengawal sebelah kanan.

"Raden Ajeng! Apa yang terjadi.....?!" Pengawal kedua bertanya lalu cepat menangkap lengan Siti Hinggil dan menarik perempuan itu kembali ke dalam kamar. Tapi seperti mendapat kekuatan dari setan, Siti Hinggil meronta. Sekali sentak saja pegangan si pengawal terlepas. Kalau temannya tidak lekas membantu, niscaya Siti Hinggil berhasil lolos dan lari sepanjang gang sambil berteriak-teriak seperti orang gila dalam keadaan bertelanjang bulat! Dua pengawal bergulat dengan susah payah, akhirnya berhasil membawa Siti Hinggil masuk kembali ke dalam kamar lalu cepat-cepat pintu besar dan berat itu ditutup.

"Bagaimana sekarang? Apa yang harus kita lakukan?!" tanya pengawal pertama.

"Kita harus melaporkan kejadian ini pada Sri Baginda!"

"Jangan pada Sri Baginda. Sebaiknya pada Patih Kerajaan saja. Atau Panglima. Atau mungkin Kepala Pasukan Kotaraja......."

"Eh, apa yang akan kau laporkan?" tanya pengawal kedua.

"Akan kukatakan Siti Hinggil kemasukan setan!" jawab pengawal kedua. Lalu setengah berlari dia meninggalkan tempat itu. Yang ditujunya adalah gedung kediaman Raden Kertopati, Kepala Pasukan Kotaraja. Tapi karena kediaman Kertopati cukup jauh sedang gedung kediaman Patih Kerajaan lebih dekat, maka pengawal ini langsung menuju kediaman Patih Haryo Unggul. Semula pengawal gedung kepatiah menolak untuk membangunkan Patih Haryo Unggul di larut malam begitu. Namuan setelah diberitahu apa yang terjadi maka pengawal gedung segea masuk ke dalam.

Semua orang tahu bahwa selain memiliki kepandaian silat dan kesaktian, Patih Haryo Unggul juga mempunyai keahlian mengobati berbagai macam penyakit, termasuk mereka yang kesurupan atau kemasukan roh dari luar.

Ketika pintu kamar tahanan dibuka, Siti Hinggil kelihatan duduk di lantai, di salah satu sudut sambil menangis. Keadaan auratnya masih tetap tidak tertutup. Melihat ada orang yang masuk, perempuan ini melompat bangkit. Bukan untuk menutupi tubuhnya, tapi menyongsong sambil memukul dan menjerit-berteriak.

"Mana keparat itu! Mana manusia iblis Jayengrono itu! Aku harus membunuhnya! Aku bersumpah membunuhnya!"

Patih haryo Unggul segera menutupi tubuh Siti Hinggil dengan kain panjang yang sengaja dibawanya. Tangan kanannya dengan cepat meluncur memegang bahu kiri Siti Hinggil. Dia memijit bahu itu dengan keras. Siti Hinggil tampak meringis kesakitan, tapi sama sekali tidak menjerit. Sang patih mencoba sekali lagi. Kali ini yang dipencetnya adalah daging tangan pada celah antara jari telunjuk dan ibu jari tangan kanan Siti Hinggil. Tetap saja perempuan ini hanya memperlihatkan wajah meringis kesakitan tetapi tidak berteriak.

"Aneh, ini bukan kesurupan atau kemasukan roh! Apakah Raden Ajeng ini tiba-tiba saja menjadi gila?" begitu Patih Haryo Unggul membatin.

"Mana Jayengrono! Mana manusia keparat itu! Aku harus membunuhnya!" kembali Siti Hinggil berteriak sementara dua orang pengawal memegangi tangannya kiri kanan.

"Jayengrono tak ada di sini. Mengapa....."

"Tidak! Tadi dia ada di sini! Tadi dia....." Siti Hinggil tidak sanggup meneruskan ucapannya. Dia menjerit panjang, lalu melosoh ke bawah. Kalau tidak dipegangi pasti terbating ke lantai.

Ketika perempuan itu menjerit panjang Patih Haryo Unggul membaui hawa aneh keluar dari mulut Siti Hinggil. Tapi dia tidak tahu pasti hawa apa itu gerangan.

Atas perintah Patih haryo Unggul, Siti Hinggil dibaringkan di atas tempat tidur. Pelayan dipanggil untuk memebenahi sisa makanan. Lalu pada beberapa perajurit dan pengawal yang ada di situ dipesankan agar berjaga-jaga.

"Raden Ajeng tidak pingsan. Dia hanya kehabisan tenaga. Salah satu dari kalian cepat menghubungi kepala pengasuh istana. Minta paling tidak dua orang inang pengasuh datang kemari untuk menjaga dan merawatnya. Aku akan melapor pada raja...."

Melangkah sepanjang gang Patih Haryo Unggul geleng-gelengkan kepala dan menarik nafas dalam. "Aneh sekali tindakan Sri Baginda. Apapun kesalahan istrinya itu, tidak semustinya Raden Ajeng dipenjarakan seperti itu. Dan Sri Baginda sama sekali tidak pernah menghubungiku ataupun memberitahu kejadian penahanan ini! Apa sebenarnya yang tengah terjadi di istana ini. Apakah aku bukan orang penting lagi di sini hingga tak ada yang mau memberitahu?! Raja memenjarakan istrinya sendiri! Juga puterinya! Sudah gila dunia ini!"Sidang pengadilan para sesepuh dan tokoh kerajaan untuk memeriksa Raden Ajeng Siti Hinggil dan puterinya seharusnya dilakukan hari itu. Namun karena sejak dua hari lalu Siti Hinggil dinyatakan sakit, tidak mampu meninggalkan tempat tidur, maka sidang ditunda. Selama tiga hari itu Siti Hinggil terbaring di atas tempat tidur dengan kedua maa selalu terpejam. Dari mulutnya selalu terdengar suara meracau yang tidak jelas apa yang dikatakannya. Di kepala tempat tidur selalu duduk menjaga Raden Ayu Puji Lestari.

Atas permintaan Patih Haryo Unggul dan atas persetujuan raja, Siti Hinggil diperkenankan dipindahkan dan dipulangkan ke rumah kediamannya. Tetapi dengan sikap keras Puji Lestari menolak.

"Kalau ibundaku harus mati, biar dia mati di kamar tahanan ini! Agar semua orang yang bertanggung jawab atas ketidak adilan ini bisa merasakan kepuasan!" begitu kata-kata yang dikeluarkan Puji Lestari di hadapan Patih Haryo Unggul dan Sri Baginda yang datang menjenguk meskipun hanya sebentar.

Dalam sebuah ruangan di istana, Patih haryo Unggul duduk berhadap-hadapan dengan Sri Baginda.

"Menurut paman patih, penyakit Raden Ajeng Siti Hinggil masih belum diketahui. Apakah tidak dapat diusahakan cara lain agar dia disembuhkan. Paling tidak aga kedua tangan dan kakinya bisa digerakkan kembali. Matanya yang terpejam bisa dibuka lagi....."

"Saya telah melakukan berbagai usaha Sri Baginda. Mohon maafmu kalau segala kemampuan dan keahlian pengobatan saya kali ini hampir tidak ada manfaatnya...... Saya tidak tahu apa sebenarnya penyebab sakit yang diderita Raden Ajeng. Turut penglihatan dari luar dia seperti kehabisan tenaga hingga tidak mampu menggerakkan anggota badan, bahkan membuka kelopak matanya. Juga sulit untuk memberinya minum, apalagi makan....."

"Bagaimana dengan dugaan bahwa dia kemasukan roh halus atau kesurupan.....?"

"Seperti saya pernah katakan pada Sri Baginda sebelumnya, Raden Ajeng sama sekali bukan kemasukan roh atau kemasukan setan atau kesurupan. Dalam kehabisan tenaga ada sau ganjalan besar yang membenam dalam otaknya....."

"Penyakit aneh apa namanya itu?!" ujar Sri Baginda pula.

Seorang ponggawa masuk, memberitahu Raden Kertopati akan datang menghadap.

"Paman Patih suruh Kertopati masuk. Biar kita bicara bertiga di sini......"

Pembicaraan kemudian dilanjutkan bertiga. Raden Kertopati lebih banyak menjadi pendengar dan baru membuka mulut menyatakan pendapatnya ketika Patih Haryo Unggul mengusulkan untuk mencari tabib atau orang sakti yang sanggup menyembuhkan penyakit aneh yang dialami Raden Ajeng Siti Hinggil.

"Sri Baginda, apakah ingat dengan pemuda aneh berambut gondrong benama Wiro Sableng bergelar Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212....?" Raden Kertopati bertanya.

"Tentu saja aku ingat manusia satu itu. Aneh dan terkadang lancang. Bicaranya ceplas-ceplos tapi jasanya pada Kerajaan tak dapat kita balaskan sampai saat ini.....!"

"Manusia seperti dia memang tak pernah mengharapkan balas jasa, Sri Baginda....."

Baginda menganggukkan kepalanya, "Terakhir kali dia raib dari penjara ketika dia ditahan atas kehendak Jayengrono......"

"Dia hanya korban kesalah pahaman, korban itikad buruk dari orang-orang yang tak mau melihat kenyataan....." kata Raden Kertopati.

"Aku tahu dimas Kertopati menyesalkan perbuatan dimas Jayengrono tempo hari karena dialah yang menjebloskan pendekar berambut gondrong itu ke dalam penjara. Tapi itu telah berlalu, yang penting saat ini apakah dimas mempunyai saran tertentu bagaimana kita bisa menyembuhkan Raden Ajeng....?" Yang berkata dan bertanya adalah Patih Haryo Unggul.

"Justru saya menyebut nama pendekar itu karena ingat akan kemampuannya. Dia yang mengobati saya ketika terluka dan hampir mati keracunan akibat pukulan Pangeran Matahari ketika terjadi pertempuran kacau balau di depan istana beberapa waktu lalu. Dia memiliki sebuah senjata sakti. Sebilah kapak bermata dua. Dengan senjata itulah dia menyedot racun yang hampir membunuh saya..... Saya menunggu pendapat dan keputusan Sri Baginda."

"Semua urusan aku serahkan pada kalian berdua. Lakukan apa yang kalian anggap paling baik....." Sri Baginda bangkit dari kursinya lalu meninggalkan ruangan itu.

Ketika mereka hanya tinggal berdua saja, maka Raden Kertopati bicara perlahan pada Patih Haryo Unggul.

"Paman Patih, sebenarnya saya ada rencana lain. Namun tidak saya utarakan pada Sri Baginda karena saya yakin Sri Baginda lebih percaya pada orang itu dari pada saya......"

"Siapa yang kau maksudkan dengan orang itu dimas Kertopati?"

"Raden Mas Jayengrono....."

"Hemmmm.....Aku dengar hubungan kalian akhir-akhir ini tidak begitu sreg......"

"Saya akui Paman Patih. Semua berpangkal pada tuduhan tak beralasan bahwa Raden Ajeng dan puterinya mempunyai hubungan tertentu dengan Pangeran Matahari yang hendak merampas tahta kerajaan....."

"Aku lebih tertarik jika kau menerangkan apa rencana yang kau sebutkan itu," kata Patih Haryo Unggul membelokkan pembicaraan.

"Saya dengar bahwa setiap kali berteriak kalap yakni sebelum jatuh sakit seperti ini, Raden Ajeng selalu meneriakkan ingin membunuh Jayengrono. Mengapa? Apa alasannya? Saya tidak tahu. Paman Patih juga tidak tahu. Sri Baginda tidak tahu dan juga tidak acuh. Hanya ada dua orang yang tahu. Yakni Raden Ajeng sendiri dan Jayengrono. Raden Ajeng tak mungkin ditanyai. Tapi Raden Mas Jayengrono bisa ditanyai setiap saat. Saya mengatakan hal ini bukan karena hubungan saya dengan dia sedang tidak baik. Tetapi....."

"Ya.....ya. Apa yang kau katakan itu memang benar. Tapi soalnya siapa yang bakal menanyai Panglima Kerajaan itu? Kurasa hanya Sri Baginda. Tapi seperti katamu, Sri Baginda tidak acuh!"

"Tidak acuh karena ada yang menggosok!"

"Lagi-lagi tentu yang dimas maksudkan adalah Jayengrono....." kata sang patih pula.

Kertopati tersenyum. "Saya tidak mengatakan itu. Paman Patih yang menyebut namanya!"

Kedua orang itu sama-sama tersenyum.

"Dimas Kerto, jika kau memang yakin sahabatmu Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 yang sableng itu bisa menolong, sebaiknya kau segera mencarinya dan membawanya ke mari."

"Hal itu segera saya lakukan jika paman patih memang memberi dukungan dan restu. Saya akan menyebar orang-orang untuk menyelidik di mana dia berada. Hanya ada satu permintaan saya. Maukah paman patih membantu?"

"Katakan apa keinginan dimas....."

"Usahakan agar Raden Ajeng dan puterinya dipindahkan dari tahanan itu ke satu tempat yang dirahasiakan....."

"Permintaanmu itu mudah kukabulkan karena Sri Baginda sendiri memang sudah menyetujui. Tapi karena kau yang meminta maka aku melihat adanya keanehan....."

"Tidak aneh Paman Patih. Paman patih ingat ketika deretan kamar-kamar itu dibangun? Semua ditangani oleh Jayengrono. Serba rahasia. Siang malam dia menongkrongi pembangunan tempat itu. Satu tindakan yang tidak pantas bagi seorang Panglima Balatentara. Dan satu lagi jangan lupa. Jayengrono ahli dalam bidang bangunan dan benda-benda rahasia....."

Patih Haryo Unggul menatap wajah Raden Kertopati lekat-lekat lalu memegang bahu Kepala Pasukan Kotaraja itu dan berkata "Dimas Kerto, kurasa kali ini kau, tepatnya kita semua, tengah menghadapi harimau buas bekepala dua....."

"Mungkin kepalanya lebih dari dua, paman patih!" sahut Kertopati.

"Kalau begitu laksanakan tugasmu secepat-cepatnya!"

"Saya mohon diri sekarang....."

Baru saja Kertopati hendak berdiri tiba-tiba masuk seorang ponggawa membawa segulung kertas. Ponggawa ini memberitahu bahwa dia membawa surat dari Raden Mas Jayengrono, ditujukan pada Patih Haryo Unggul.

Patih mengambil surat itu dan membacanya.Patih Haryo UnggulLaporan dari mata-mata kita di utara menunjukkan adanya beberapa kelompok sisa-sisa pemberontak bergabung di satu tempat. Hal ini mengundang satu tindakan cepat. Siang ini dengan sejumlah besar pasukan berangkat ke utara. Saya tidak melaporkan pada Sri Baginda karena maklum Sri Baginda cukup banyak beban pikiran saat ini. Tentang keamanan kota mohon batuan YM untuk menghubungi Raden Kertopati dan meminta agar dia tetap waspada. Saya tidak dapat memastikan kapan akan kembali ke Kotaraja.Teriring salam dan hormat,

R.M. JayengronoPatih Haryo Unggul menyerahkan surat itu pada Raden Kertopati. Selesai Kepala Pasukan Kotaraja ini membaca, sang patih bertanya "Apa pendapatmu dimas?"

"Pertama Raden Mas Jayengrono tentunya sudah jauh saat ini. Kalaupun dipanggil dia bisa menolak dengan alasan lebih memetingkan keselamatan Kerajaan. Yang aneh, bagaimana dia bisa membawa sejumlah besar pasukan tanpa terlihat gerakan-gerakan pemberangkatan....."

"Mungkin dia mengerahkan pasukan di tapal batas, bukan dari dalam.......... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.225.54.120
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia