Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

SANG surya belum lama muncul di ufuk timur. Malam yang hitam menggelap di teluk kini digantikan oleh pagi cerah. Air laut yang tadinya seperti berwarna hitam pekat kini kelihatan lagi aslinya, biru kehijauan dengan pantulan sinar matahari pagi merah kekuningan. Setiap pagi seperti itu biasanya teluk ramal dengan nelayan yang baru pulang melaut.

Perahu berjejer di mana-mana dan para pembeli ikan ramai menawar ikan yang dibelinya. Namun pagi ini suasana lain sekali. Belasan perahu memang nampak berjejer di tepi pasir, tapi tak seorang nelayanpun yang nampak. Pembeli-pembeli ikan tidak kelihatan. Teluk itu sepi. Dan ada sesuatu keanehan menggantung di situ.

Seorang kakek-kakek berpakaian compang-camping muncul dari balik bukit kacil di ujung selatan teluk. Dia melangkah tarseok-seok. Rambutnya telah putih semua, panjang sampai ke punggung, kotor awut-awutan. Di tangan kirinya ada sebatang tongkat kayu sedang di tangan kanan dia membawa sebuah batok kelapa.

Mendadak kakek ini hentikan langkahnya dan mendongak ke langit.

"Pagi cerah . . . . " katanya perlahan. "Tapi udara teluk sekali ini terasa lain."

Orang tua itu memandang ke arah deretan perahu di tepi pantai. Kemudian dia melangkah lebar-lebar manuju daratan perahu itu dan berhenti tepat di hadapan sesosok tubuh yang tergelimpang di pasir. Tubuh itu diketuk-ketuknya dengan ujung tongkat. Tak ada gerakan apaapa.

"Mati!" desis si orang tua. "Oo ladalah Gusti Allah. Pembunuhan lagi!" Mulut kakek ini tampak komat-kamit beberapa lama. Berpaling ke arah perahu lain di sebelah kanannya kembali dia terkejut. Di situ terkapar pula sesosok tubuh. Segera didatangi dan diperiksanya. Lalu kembali dia mendongak ke langit.

"Oo ladalah! Semurah inikah nyawa manusia? Lebih murah dari nyawa anjing jalanan ...?! Eh... itu! Di sana ada satu lagi!"

Kembali si kakek melangkah lebar-lebar mendatangi sosok tubuh yang ketiga, tergeletak antara pasir dan air laut.

"Ya Allah! Yang satu ini masih anak-anak! Kasihan . . . Kasihan sekali! Apa dosanya?!" Si kakek membungkuk dan ketuk-ketukkan tongkatnya ke sekujur tubuh anak yang berusia sekitar sepuluh tahun itu. Wajahnya kemudian tampak sedikit cerah.

"Hai! Yang satu ini masih hidup!" Cepat si kakek berjongkok. Tubuh anak itu ditariknya dari air laut lalu dibaringkannya di atas pasir yang lebih kering.

"Hemm... ada bekas pukulan di tubuhnya. Ia menderita luka dalam. Edan! Manusia mana yang tega-teganya memukul demikian kejam?!"

Meskipun tubuhnya sudah reyot, jalanpun tampak susah, namun disaksikan oleh langit dan laut di pantai itu si kakak perlihatkan satu kehebatan.

Dengan ujung tongkatnya dia mengait leher pakaian anak itu. Lalu hup! Tubuh si anak tahutahu melayang ke atas dan hup! Tubuh itu dinantinya dengan bahu kirinya. Setelah memandang berkeliling sebentar, orang tua ini lantas tinggalkan tempat itu.

Dari caranya mengangkat tubuh anak tadi, jelas kakek ini memiliki kepandaian luar biasa. Siapakah gerangan dia?'

Pada masa itu di Jawa Barat terdapat banyak tokoh silat dari berbagai aliran yang terbagi jadi dua golongan yakni mereka dari golongan putih dan lainnya yang disebut golongan hitam. Tokoh-tokoh silat golongan putih seperti tenggelam pamornya oleh gebrakan-gebrakan yang dibuat oleh para manusia jahat yang dibantu oleh tokoh-tokoh silat golongan hitam. Tampaknya sampai sebegitu jauh tak banyak yang diperbuat golongan putih untuk menanggulangi hal itu. Dengan sendirinya ini menimbulkan rasa risau di kalangan rimba persilatan, baik di Jawa Barat maupun sampai ke bagian tengah dan ujung timur pulau Jawa.

Salah seorang dari tokoh silat golongan putih Jaws Barat adalah kakek tadi. Usianya hampir 80 tahun. Dia hanya dikenal dengan julukan Pengemis Batok Tongkat. Kemana-mana dia tak pernah ketinggalan dua benda itu, yakni batok kelapa dan tongkat kayu.

Pengemis tua ini membawa anak tadi ke tempat kediamannya, di sebuah rimba belantara yang terletak antara pantai selatan dan kaki gunung Halimun.

Ketika sadar si anak merasakan dadanya sakit sekali hingga sulit baginya untuk bernafas. Dari mulutnya terdengar suara mengerang. Dia coba membuka mata. Ternyata dia berada dalam pondok kayu jati yang diterangi oleh sebuah lampu minyak, yang apinya berkelap-kelip tertiup angin. Memandang ke samping kiri disadarinya dirinya terbaring di atas sabuah balai-balai beralaskan tikar jerami.

"Ayah . . . . " si anak memanggil ayahnya. Suaranya memelas. Di samping kanan, sudut matanya menangkap sosok sesorang duduk di tepi balai-balai. Diperhatikannya. Ternyata orang itu bukan ayahnya. Ayahnya tidak setua itu, tidak berambut putih dan tidak berpakaian compangcamping walau dia seorang nelayan miskin. Otaknya bekerja. Ayah! Bukankah ayahnya sudah mati? Mati dibunuh oleh manusia-manusia jahat yang menunggang kuda itu ....?

"Anak, kau sudah sadar .... !" si kakek menegur.

Anak itu tak menjawab.

"Dadamu masih sakit ... ?"

"Ayah . . . ayah . . .?" Anak ini seperti tidak dapat mempercayai jalan pikirannya sendiri. Hatinya seperti membantah kenyataan bahwa ayahnya sudah mati.

"Ah, satu kejadian besar telah menimpanya," membantin si kakek. "Salah seorang yang mati di pantai itu mungkin sekali ayahnya. Kasihan ..."

Kakek itu mengambil sebuah tempurung berisi godokan obat yang sejak sore tadi disediakannya. Kepala si anak diangkatnya sedikit.

"Minum obat ini, nak. Kau pasti lekas sembuh..."

Mula-mula anak itu gelengkan kepalanya hendak menolak. Namun pandangan mata orang tua itu yang demikian lembut serta mulutnya yang tersenyum membuat anak ini mau juga membuka mulutnya dan meneguk obat dalam tempurung. Tenggorokannya terasa hangat. Rasa hangat torus menjalar ke dada, perut, terus ke ujung kakinya. Bersamaan dengan itu rasa sakit di dadanya terasa agak berkurang.

Kakek itu kemudian urut-urut dada si anak. Gerakan tangannya perlahan sekali. Anak ini merasakan ada hawa dingin keluar dari jari-jari tangan orang tua itu. Selesai mengurut-urut kini kakek itu tampak sibuk menjengkal-jengkalkan tangannya pada beberapa bagian tubuh anak itu. Tulang bahu, tulang-tulang iga dan tulang pinggul diketuknya berulang-ulang.

"Orang tua . . . kau siapakah?" anak kacil itu bertanya. "Aku ini berada di mana?"

Yang ditanya tak menjawab. Masih terus sibuk menjengkal dan mengetuk.

"Ah, susunan tulangmu bagus sekali bocah. Siapa namamu?"

"Handaka ..." jawab anak itu. Lalu dia ganti tanya. "Kau sendiri siapakah, kek? Apa ini rumahmu. Mengapa sepi sekali di sini. Tapi di luar sana ada suara-suara aneh."

Pengemis Batok Tongkat tertawa.

"Telingamu tajam juga," katanya. "Dalam pondok kayu jati butut ini memang sepi. Hanya ada kau dan aku, tambah lampu minyak itu. Hik .., hik .. hik. Tapi di luar sana, di malam gelap begini rupa seratus macam suara bisa kau dengar. Mulai dari suara jangkrik sampai suara kodok. Mulai dari suara burung yang ketakutan sampai lenguh banteng liar. Mulai dari suara monyet sampai auman harimau dan singa!

"Harimau dan singa?! Apakah kita berada dalam hutan?" tanya anak usia sepuluh tahun itu.

Kakek itu mengangguk.

"Apa kau takut?" dia bertanya kemudian.

Handaka menggeleng.

"Bagus kalau kau tidak takut. Sekarang tidurlah! Kau harus banyak istirahat. Besok pagi aku akan buatkan bubur untukmu . . . "

"Kenapa tidak sekarang saja ... ? Perutku lapar."

Pengemis Batok Tongkat tertawa.

"Malam ini kau belum boleh makan. Kau masih dalam pengobatan tingkat pertama. . . "

"Lalu bagaimana aku bisa berada di tempatmu ini? Di mana ayah? Kau belum mengatakan kau ini siapa..."

"Siapa diriku, sejak kecil aku memang tak punya."

"Aneh, masakan ada orang tidak punya nama. Lalu bagaimana aku harus memanggilmu ..."

"Panggil saja aku kakek pengemis. Dan aku akan panggil kau cucu, bukan anak ...."

"Kakek pengemis? Memangnya kau ...?"

"Betul! Aku memang pengemis. Lihat saja pakaianku butut compang-camping. Aku jarang mandi. Lihat tongkat dari batok kelapa di atas meja itu? Itu benda-benda yang kupergunakan untuk minta-minta. . ."

Handaka seperti tidak percaya. Namun dia lebih ingin mengetahui di mana ayahnya.

"Di mana ayahmu, itulah yang aku tidak tahu. Kau sampai ke mari karena aku yang membawamu. Kau kutemukan pingsan di teluk, kemarin pagi ..."

"Jadi kau telah menolongku. Ah, aku harus mengucapkan terima kasih padamu ..." Handaka berusaha untuk bangun. Namun kakek pengemis menahan bahunya dari menyuruhnya berbaring kembali.

"Segala kejadian di dunia ini sudah ada yang mengatur, Handaka," katanya. "Semua kodrat Tuhan di luar maunya manusia. Karena itu hanya pada Dia manusia layak berterima kasih."

"Ayahku juga bilang begitu kek," ujar Handaka. "Namun ayah juga mengatakan walau Tuhan punya kuasa, manusia harus berupaya. . ."

Si kakek tertawa lobar. "Betul! Betul sekali cucuku. Memang begitu adanya. Nah sekarang kau harus tidur. Besok sehabis makan kau boleh menceritakan padaku apa yang terjadi di teluk pagi kemarin."

Si anak terdiam. Dia coba mengingat-ingat. "Kenapa menunggu sampai besok? Sekarangpun aku bisa menceritakannya kek. Aku mulai ingat semua yar terjadi di teluk. Orang-orang jahat itu... para nelayan, ayahku . . ."

"Dadamu tidak sakit?"

"Rasanya sudah sembuh kek. Obatmu pasti manjur sekali."

Pengemis Batok Tongkat tertawa lebar. "Baiklah," katanya. "Kelau kau bisa menceritakan sekarang, akupun kepingin mendengar."

Maka Handaka pun menuturkan apa yang terjadi.

***PAGI itu para nelayan baru saja merapatkan perahu masing-masing di teluk Cikandang, siap memunggah hasil tangkapan ikan yang mereka peroleh malam tadi. Para pembeli termasuk tengkulak-tengkulak yang sudah lama menunggu segera mendatangi. Di antara orang banyak yang mendatangi para nelayan itu, terlihat seorang lelaki yang segera menjadi perhatian. Lelaki ini melangkah terhuyung-huyung. Wajahnya penuh luka dan babak belur. Ditubuhnya juga kalihatan luka-luka yang masih menganga. Dia berjalan sambil pegangi dadanya, di mana terdapat sebuah luka besar yang masih mengucurkan darah.

"Astaga! Apa yang terjadi dengan Tugiman!" seru seorang nelayan tua seraya melompat dari perahunya. Namanya Argakumbara. Oleh kelompok nelayan teluk Cikandang dia dianggap sebagai pimpinan karena usianya dan juga pengglamannya.

Seorang anak lelaki yang ikut melaut dengan Argakumbara melompat pula dari perahu, berlari ke arah orang yang luka-luka. Para nelayan lainnya pun segera pula mendatangi. Tugimen roboh ke pasir saat para nelayan sampai di hadapannya, langsung mengerubunginya.

"Tugiman! Apa yang terjadi? Siapa yang menganiayamu?!" tanya Argakumbara sambil berlutut di samping orang yang terkapar di pasir itu.

"Lari . . . lari. Tinggalkan tempat ini cepat ..."

Tugiman bicara dengan susah payah.

"Lari? Kenapa musti lari ...?" tanya Argakumbara heran, begitu juga nelayan-nelayan lainnya.

"Jangan bertanya. Larilah selagi kesempatan ada. Selamatkan nyawa kalian. Serombongan manusia-manusia durjana telah mengganas di kampung, Membunuh, merampok dan menculik. Kepala kampung mereka gantung. Mereka akan segera datang kemari..."

Kagetlah semua nelayan yang ada di situ. Si kecil Handaka walau juga menunjukkan rasa tarkejut namun tidak ada bayangan rasa takut.

"Siapa manusia-manusia durjana itu Tugiman?" tanya Argakumbara. "Kampung kita dan daerah sekitar sini sejak dulu selalu aman tenteram."

Tugiman tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Kedua matanya yang terbuka lebar memandang tak berkesip lagi ke langit.

"Mati! Dia mati!" terlompat ucapan itu dari mulut Handaka.

Semua orang tersentak.

"Handaka," kata Argakumbara pada anaknya, "Kau pergilah ke kampung Cikuray. Langsung ke rumah bibimu. Tunggu di sana sampai ayah datang. Kami akan mengurus mayat Tugiman."

Akan tetapi belum sempat bocah sepuluh tahun itu melakukan perintah ayahnya, enam orang penunggang kuda muncul memacu kuda masing-masing, bargerak sepanjang tepi pantai ke arah nelayan-nelayan yang mengelilingi mayat Tugiman. Dua di antara mereka memboyong seorang gadis yang terkulai di pangkuan masing-masing, entah pingsan entah keletihan kehabisan tenaga karena meronta-ronta sepanjang jalan. Atau mungkin juga ditotok!

"Ayah! Pasti ini manusia-manusia durjana itu ..." bisik Handaka seraya pegangi lengan Argakumbara.

Penunggang kuda terdepan hentikan kudanya. Sambil menyeringai dia memandangi tubuh Tugiman. Keenam orang ini rata-rata berbadan tegap besar, bermuka garang dihias kumis melintang dan cambang bawuk, memiliki mata merah, berpakaian dan berikat kepala serba hitam.

"Ternyata anjing satu ini lari kemari! Tapi kulihat nafasnya sudah putus. Sialan! Susah-susah kita mengejarnya!"

"Hai!" kawan di sampingnya berseru. "Orang itu bicara apa saja pada kalian sebelum dia mampus?!"

Tak ada yang bergerak. Tak ada yang berani menjawab.

"Setan! Apakah aku berhadapan dengan patung-patung!" bentak orang tadi. Lalu kaki kaki kanannya enak saja menendang kepala seorang nelayan yang ada di dekatnya. Tak ampun nelayan ini jatuh tergelimpang dengan bibir pecah dan gigi rontok!

Serta merta para nelayan lainnya menjadi kecut, semua bersurut mundur kecuali Argakumbara dan anaknya.

Penunggang kuda yang barusan menendang memboyong seorang gadis di pangkuannya memandang berkeliling, tertawa sebentar lalu berkata, "Nelayan-nelayan busuk! Kalian dengar baik-baik apa yang aku katakana! Aku Singkil Alit, bergelar Harimau Hitam, pemimpin dalam rombongan ini! Kami baru saja membakar kampung kalian, membunuh orang-orang yang tak mau mendengar. Menculik dua gadis ini karena tidak mau ikut secara suka rela padahal mau diberi kenikmatan dan hidup mewah! Kami bahkan telah menggantung kepala kampung kalian yang berani menatang! Jika kalian di sini ingin mampus semua, mudah saja! Yaitu membangkang atas apa-apa yang kami katakan! Nah, aku bertanya lagi. Apa yang dikatakan manusia itu sebelum mampus?!"

Karena tak ada seorangpun di antara para nelayan, yang berani menjawab maka Argakumbara akhirnya membuka mulut, "Orang itu keburu mati sebelum sempat mengatakan apa-apa. . ."

"Bagus! Ada juga yang mau bicara!" kata Singkil Alit. "Coba tadi-tadi ada yang mau menjawab. Tak perlu kami menurunkan tangan keras, memukul atau menendang. Dasar nelayannelayan picik! Tolol semua!"

Setelah memuntir kumisnya yang melintang Singkil Alit lanjutkan ucapannya.

"Dengar baik-baik. Mulai hari ini semua hasil kalian melaut, sawah atau ladang, termasuk ternak yang kalian punyai di kampung di balik bukit itu berada di bawah kekuasaan kami berenam. Semua hasil panen harus diserahkan pada kami. Semua ikan yang kalian dapat harus diberikan kepada kami hasil penjualannya. Nanti kami yang akan mengatur seperberapa bagian yang boleh kalian ambill Nah, aku mau tahu ada yang berani membangkang?!"

Sunyi sesaat. Kemudian terdengar suara Argakumbara.

"Boleh aku bicara?"

Singkil Alit memandang sejurus pada nelayan tua itu lalu berkata, "Monyet tua, apa yang hendak kau katakan ucapkan cepat!"

Walaupun orang tua ini tetap tenang namun wajahnya jelas berubah dipanggil dengan makian monyet tua itu.

"Selama ini kalau kami membayar pajak, itu kami berikan pada Adipati melalui kepala kampung. Pajak yang kami bayar tidak ditentukan, sesuai kemampuan. Kami di sini adalah nelayan-nelayan miskin. Di antara kami memang ada yang punya sawah atau ladang, tapi dengan petak-petak yang kecil. Kalaupun kami punya ternak itu hanya ayam, itik atau kambing. Jika kalian hendak menguasai semua milik kami yang hanya cukup untuk modal hidup, itu sama saja kalian membunuh kami...!"

Singgil Alit alias Harimau Hitam mendelikkan mata, usap-usap janggutnya yang meranggas lalu tertawa gelak-gelak.

"Monyet tua ... !" katanya.

"Ayahku bukan monyet!" teriak Handaka tiba-tiba.

"Kalian semua dengar!" bentak Singkil Alit. "Mulai hari ini kalian tak perlu tahu lagi apa itu kepala kampung, kepala desa ataupun Adipati. Yang harus kalian patuhi bukan mereka, tapi kami! Aku dan kawah-kawan akan membangun sebuah kota di daerah ini. Kalian harus tinggal bersama kami, bekerja untuk kami! Siapa berani membangkang atau mencoba lari berarti mati!"

Mendengar kata-kata Singkil Alit, Argakumbara kembali membuka mulut.

"Singkil Alit; siapapun adanya kau. Aku dan semua nelayan di sini tidak mengerti mengapa kau dan kawan-kawanmu tega melakukan pererasan. Merampas bahkan membunuh kami orangorang tak berdosa. Menculik gadis-gadis kampung kami. Apakah kalian tidak takut pada petugaspetugas Bupati?"

"Justru petugas-petugas itu yang harus takut pada kami!" sahut Singkil Alit lalu tertawa gelak-gelak diikuti lima anak buahnya.

"Kami tidak mungkin melakukan apa yang kalian minta!" kata Argakumbara tandas.

"Begitu? Majulah lebih dekat kemari! Ada sesuatu yang perlu aku katakan padamu nelayan tua. Orang lain tak boleh mendengarnya ...." kata Singkil Alit.

Tak mengerti kalau orang bermaksud jahat, nelayan tua berhati polos ini melangkah maju. Baru saja dia bertindak dua langkah, kaki kanan Singkil Alit tiba-tiba menderu ke dadanya. Argakumbara keluarkan jeritan menyayat hati. Tubuhnya terlempar dan tergelimpang di pinggir pantai. Darah tampak mengucur dari sela bibirnya. Dia mengerang beberapa ketika lalu diam tak bergerak lagi. Mati!

"Ayah....!" jerit Mandaka dan jatuhkan diri menubruk tubuh ayahnya. Anak ini menangis keras. Tiba-tiba dia hentikan tangisnya. Matanya membentur sebuah pisau besar yang terselip di pinggang ayahnya. Pisau ini biasa dipergunakan untuk memotong ikan. Tak berpikir panjang lagi Handaka ambil pisau itu lalu menerjang ke arah Singkil Alit, menusuk ke perut lelaki ini!

"Budak! Nyalimu besar juga!" salah seorang anak buah Singkil Alit, menghalangi gerakan Handaka sambil hendak menggebuk.

"Biar saja Rangga!" kata, Singkil Alit mencegah.

Pisau besar di tangan Handaka mencucuk, ke perut kepala penjahat itu. Yang diserang tertawa mengekeh. Sekali tangannya bergerak dia sudah menjambak rambut anak itu sementara tangannya yang satu lagi memuntir lengan kanan Handaka.

Anak itu berteriak kesakitan dan terpaksa lemparkan pisau besarnya. Dengan, tangan kirinya dia berusaha mencakar muka Singkil Alit. Namun satu, jotosan lebih dulu menghantam dadanya. Handaka keluarkan keluhan pendek lalu terkulai pingsan. Seperti melemparkan sampah, Singkil Alit hempaskan tubuh Handaka ke pasir.



***MENDENGAR penuturan Handaka, lama Pengemis Batok Tongkat termenung.

"Aneh . . ." katanya kemudian dalam hati. "Bagaimana dunia yang katanya didiami manusiamanusia beradab ini masih saja ada orang-orang durjana seperti Singkil Alit dan kawan-kawannya

itu. Singkil Alit, tak pernah kudengar nama itu sebelumnya. Iblis dari mana yang satu ini ... ?"

"Handaka, apakah ibumu masih ada?" si kakek tiba-tiba bertanya.

Anak itu menggeleng.

"Kata ayah, ibu meninggal tak lama setelah melahirkanku. Aku seperti merasa berdosa ... "

"Eh, merasa berdosa bagaimana?" tanya kakek Pengemis itu.

"Kalau beliau tidak melahirkanku, beliau tak akan meninggal."

Orang tua itu termenung sejurus, lalu tertawa mengekeh.

"Cucu, jalan pikiranmu terlalu jauh. Nyawa manusia bukan diatur oleh manusia lainnya. Tapi Tuhan yang menentukan hidup mati seseorang!"

"Kalau begitu orang-orang seperti Singkil Alit dan kawan-kawannya itu bisa dianggap tidak berdosa walau dia membunuh. Bukankah itu sebenarnya tangan atau kehendak Tuhan yang berlaku..?"

"Ah, sepintas lalu jalan pikiranmu bisa dianggap benar. Tapi kalau direnungkan lagi kau salah besar cucuku. Tuhan memang yang menentukan. Tapi hak apa manusia merampas nyawa orang lain? Hak apa manusia boleh mencuri dan merampok, boleh menculik? Segala segi kehidupan ini sudah diatur dalam kitab Suci dan hadis nabi. Dan manusia harus mempergunakan akal sehat bukan ikut hasutan setan atau iblis!"

Di usia seperti itu agak sulit bagi Handaka mengerti kata-kata si kakek. Maka diapun berkata: "Mengapa kau tanyakan tentang ibuku, kek!"

"Kurasa lebih baik bagimu untuk tidak kembali ke kampung. Manusia-manusia iblis itu pasti tidak berhenti pada kematian ayahmu saja. Maukah kau tinggal bersamaku di sini?"

"Apa enaknya tinggal dalam hutan belantara ini? Tak ada teman ada kawan.... Jauh dari laut yang kucintai.... " ujar Handaka. Wajah si kakek jelas menunjukkan rasa kecewa

"Tapi mengingat kau sudah menolong jiwaku, kek. Maka aku tentu seja mau tinggal bersamamu di sini."

"Ah! Kau pandai mengganggu orang tua ini!" kata Pengemis Batok Tongkat dan tertawa gelak-gelak.

"Apakah aku tak akan menyusahkanmu kek?" bertanya Handaka.

"Kau takut aku akan menyuruhmu jadi pengemis, pergi meminta-minta?'

"Ih, tak ada pikiranku begitu. Mengemis itu apa salahnya. Pekerjaan halal yang jauh lebih baik dari mencuri!" jawab Handaka.

"Bagus... bagus!" kata Pengemis Batok Tongkat dan usap-usap rambut Handaka.

"Cucu, jika kau mau tinggal di sini, aku akan ajarkan ilmu silat padamu!"

Handaka bangkit danduduk di ujung balai-balai. Menatap si kakek.

"Kau sungguhan mau mengajarkari ilmu silat padaku, kek?"

Orang tua itu mengangguk.

"Ah, jika aku jadi jago silat, aku akan cari Singkil Alit dan komplotan iblisnya. Aku akan basmi mereka!" kata Handaka bersemangat.

"Cucu baik... cucuku baik. Sekarang kau tidur. Kau belum sehat betul."

Handaka menurut. Dia baringkan tubuhnya kembali di atas balai-balai dan pejamkan mata. Namun dua mata anak ini terpentang lebar kambali ketika di luar sana terdengar bentakan keras.

"Pengemis tua! Lekas kau serahkan surat yang titipkan pangeran Tanuma pada kami!"

"Kek," ujar Handaka kaget, berpaling pada kakek pengemis. "Siapa orang di luar sana yang malam-malam begini berteriak tak tahu sopan?"

Si kakek letakkan telunjuknya di atas bibir, memberi isyarat agar cucunya itu tidak bicara dan terus berbaring. Tubuh Handaka ditutupnya dengan kain sampai sebatas kepala. Handaka turunkan ujung kain agar dapat mengintai. Dilihatnya si kakek mendongak ke atap pondok. Rupanya orang yang berteriak ada di atas atap bangunan jati itu.

"Tamu dari mana malam-malam begini ke sasar ke pondokku?!" Terdengar Pengemis Batok Tongkat bertanya. Suaranya tanang-tenang saja.



DARI atas atap terdengar bentakan.

"Kurang ajar! Diperintah malah berani bertanya."

"Aku bertanya agar kau tidak salah datang tempat yang dituju!" jawab si pengemis.

"Jangan coba berdalih Di hutan ini hanya satu pondok. Milikmu. Kami tidak datang ke tempat yang salah. Lekas kau berikan barang yang dititip pangeran Taruma itu!" kata orang di atas atap.

"Bagaimana kalau aku tidak mau memberikannya?!" tanya Pengemis Batok Tongkat.

"Kami akan membakar pondokmu ini dan membunuh kau. Juga bocah itu!"

"Kek ...!" Handaka julurkan kepalanya. "Orang itu hendak membunuh kita ..."

"Sstt.... Cucu, kau tidur saja!" sahut si kakek itu menutupi muka Handaka dengan selimut tapi anak itu menurunkannya kembali.

"Hai Pengemis! Kau tunggu apa lagi ...?"

Kakek itu memang sudah melihat ada bayangan nyala api di atas atap. Orang-orang di atas sana mungkin membawa obor.

Tiba-tiba si kakek tertawa. Orang di atas atap membentak.

"Tua bangka edan! Kami minta kau menyerahkan surat itu. Bukan tertawa macam orang gila!"

"Aku tertawa karena kalian kuanggap manusia-manusia bodohl Ada sangkut paut apa aku dengan pangeran Taruma? Mana mungkin dia menyerahkan soesuatu kepadaku. Sepucuk surat katamu? Surat Cinta? Untuk diserahkan pada siapa? Ha ... ha ... ha... !"

"Kau berani berdusta dan coba mengelabui kami!" kata orang di atas atap. "Orang-orang kami tahu betul, satu bulan lalu kau bertemu dengan pangeran Taruma di istananya di tikungan kali Citarum. Kau berpura-pura datang sebagai seorang pengemis. Pangeran memasukkan sesuatu ke dalam batok kelapamu. Sepintas seperti lembaran uang kertas. Tapi itu adalah sepucuk surat.

Surat dengan gambar peta tempat penyimpanan emas milik sang pangeran. Kau masih mau mungkir?!"

Sebelum menjawab kembali Pengemis Batok Tongkat tertawa gelak-gelak.

"Orang-orangmu itu matanya tentu tajam sekali! Tapi mungkin juga mereka handak berbuat lelucon terhadap kalian! Hampir selama tiga purnama aku tak pernah meninggalkan pondok ini. Kecuali kemarin pagi! Bagaimana mungkin aku bisa gentayangan sejauh itu sampai di kali Citarum? Atau mungkin setan atau rohku yang menjelma dan datang di istana pangeran Taruma?!"

Sesaat tak ada jawaban dari atas atap. Pengemis Batok Tongkat tahu bahwa ada dua orang di atas sana dan keduanya tengah bicara berbisik-bisik seperti berunding singkat.

"Sudah selesaikah kalian berunding? Jika sudah lekas pergi dari tempat ini!" kata pengemis.

"Pengemis licik! Jangan sangka kau bisa menipu kami dengan keterangan dustamu. Sekali lagi aku beri kesempatan! Jika peta itu tidak kau serahkan, rumahmu akan kami bakar dan kau beserta bocah itu akan kami bunuh!"

"Oo ladala...! Malangnya nasibku kalau begitu!" ujar si kakek tetap tenang. "Maukah kalian memberi tahu siapa kalian berdua?!"

"Aku Soka Panaran, bergelar Golok Emas!" menyahut orang di atas atap yang sejak tadi menjadi jura bicara.

"Aku Sindang Tambra, berjuluk Raja Lanun Pantai Selatan!"

"Ha... he ... he . . .!" tanya si pengemis tua begitu mendengar jawaban dua orang di atas atap.

"Soka Panasaran, kalau kau sudah mendapat gelar Golok Emas, pasti kau punya sebilah golok terbuat dari emas. Mengapa masih temahok mau dapatkan emas milik orang lain. Dan kau Sindang Tambra, aku tidak heran kalau bajak laut sepertimu haus harta! Tapi kalian salah alamat!

Peta atau surat apapun tak ada padaku!"

Golok Emas dan Raja Lanun Pantai Selatan merupakan nama-nama yang cukup menggetarkan dunia persilatan pada masa itu. Keduanya adalah manusia-manusia berkepandaian tinggi yang masuk dalam kelompok golongan hitam. Mandengar ucapan si kakek jelas meraka dianggap enteng. Ini membuat keduanya menjadi marah. Raja Lanun sudah siap untuk menjebol atap tapi Golok Emas memberi isyarat lalu berteriak.

"Pengemis Batok Tongkat! Kami memberi kesempatan terakhir. Kau mau serahkan peta itu atau tidak?"

Pengamis tua itu dilihat Handaka mengambil batok kelapa dan tongkat kayunya dari atap meja lalu menjawab, "Kalian mengancamku?"

"Kami akan membuktikan ancaman itu!" jawab Soka Panaran.

"Kalian akan menyesal sampai ke liang kubur!" sahut si kakek.

"Keparat!" maki Raja Lanun Sindang Tambra yang sejak tadi sudah tidak sabaran. Kaki kanannya dihantamkan ke atap bangunan.

Brak!

Atap itu jebol.

Sesaat kemudian bernama Soka Panaran dan melayang turun memasuki pondok kayu jati yang sempit. Masing-masing memegang obor di tangan kiri!

"Ah, jadi inilah tampang-tampang manusia yang inginkan harta orang itu? Apakah tidak lebih baik kalian pergi saja dari sini. Salah-salah nanti aku mengemis pada kalian, minta uang minta beras!" kata pengemis Batok Tongkat.

Dari bawah selimut Handaka menjadi heran lihat sikap si kakek. Jelas orang datang dengan maksud jahat tapi orang tua itu masih saja bicara seenaknya seperti mau melucu!

"Soka!" kata Raja Lanun Sindang Tambra. "Kau bakar pondok, aku akan patahkan batang leher tua bangka ini!"

"Kecuali untuk terakhir kalinya dia mau serahkan peta itu!" kata Soka Panaran alias Golok Emas yang masih berusaha mencapai tujuan tanpa kekerasan.

"Kambing-kambing busuk!" maka Pengemis Batok Tongkat. "Kalian telah merusak atap pondokku kini mengancam mau membakar dan minta benda yang aku tidak miliki!"

"Kau betul-betul tua bangka keparat!" Sindan Tambra marah sekali. Dia melompat ke muka sambil sorongkan api obor untuk menyulut muka si kakek.

"Dua ekor kambing. Kalian mencari penyakit!" kertak orang tua itu dan sambut serangan Sinda Tambra dengan melompat ke samping. Api obor lewat di sebelah kanannya. Serentak dengan itu si kakek tusukkan tongkat kayunya ke arah iga lawan. Tapi serangannya luput karena tiba-tiba sekali bajak laut ini sudah berkelebat ke kiri lalu kembali sorongkan obor ke muka si kakek sedang dari bawah kakinya datang menyapu mencari sasaran pada tulang kering kaki.

"Hup!" Pengemis Patok Tongkat melompat. Tangan kanannya yang memegang batok kelapa dipukulkan ke bawah ke arah api obor. Begitu obor keno tersungkup tempurung kelapa itu, serta merta apinyapun padam. Raja Lanun Sindang Tambra tersentak kaget. Penuh geram dia pukulkan tangan kiri namun tarpaksa tarik pulang serangannya karena ujung tongkat di tangan kiri si kakek lebih dulu menusuk ke arah lehernya.

"Kakeki Kambing satu itu hendak membakar pondoki" teriak Handaka ketika dilihatnya Soka Panaran menyuiut ujung tikar jerami yang menjadi alas balai-balai.

Mau tak mau Pengemis Batok Tongkat terpaksa tinggalkan Raja Lanun,dan melompat ke arah Soka Panaran. Mulut si kakek tampak menggembung. Tiba-tiba dia menghembus ke arah ujung obor. Serangkum angin keras bertiup. Blep! Api obor padam!

"Keparat!" maki Soka Panaran lalu kemplangkan bambu obor ke kepala si kakek.

"Kek! Awas di belakangmu." teriak Handaka.

Orang tua itu tampak seperti kerepotan dan bingung. Dari depan dia dikemplang dengan bambu sedang dari belakang Raja Lanun mamukul ke arah punggungnya. Karena dua serangan itu dilakukan oleh orang berkepandaian tinggi, kalau saja mengenai si kakek pasti akan membuat die cidera berat.

"Ah, bagaimana kakak tua ini bisa menyelamatkan diri dikeroyok begitu rupa." keluh Handaka.

Dia memandang berkeliling mencari-cari. Dilihatnya sebuah cangkir kaleng tergantung di atas kepala balai-balai. Cepat diambilnya benda itu dan dilemparkannya ke arah Raja Lanun yang membokong dari belakang.

Gerakan kakek pengemia yang seperti repot bingung itu sebenarnya hanyalah hal yang dibuat-buat saja. Untuk menghadapi dua lawan yang mengeroyok itu sebenarnya dia tidak perlu bantuan siapapun. Memang baik Soka Panaran alias Golok Emas maupun Raja Lanun Pantai Selatan bukan manusia-manusia sembarangan. Keduanya memiliki kepandaian tinggi, tapi si kakek sendiri adalah tokoh tua yang jauh lebih lihay. Sebenarnya jika kedua orang tadi menyadari kepandaian si kakek meniup api obor dari jauh hingga mati begitu rupa, keduanya harus menyadari bahwa lawan memiliki tenaga dalam yang tinggi dan bukan tandingan mereka. Namun rasa amarah ditambah keinginan untuk mendapatkan benda yang mereka cari membuat keduanya melupakan kenyataan itu.

Begitulah, si kakek sambut kemplangan bambu obor dengan lebih dulu selinapkan tusukan ke ketiak Soka Panaran. Melihat serangan lawan datang lebih cepat dari kemplangan bambunya, Soka Panaran tidak teruskan kemplangannya melainkan bababatkan bambu itu ke arah bahu si kakek.

"Jurus silatmu sudah kuno Soka! Tidak laku untuk dunia silat masa kini!" ejek si kakek. Lalu tongkat di tangan kirinya berputar ke samping. Sesaat kemudian terdengar pekik Soka Panaran. Telinga kanannya mongucurkan darah. Ujung tongkat si kakek yang kecil runcing telah membuat daun telinga sebelah kanan orang ini luka besar dan berlubang!

Walaupun kawannya mendapat cidera tapi Sindang Tambra yang menyerang dari belakang merasa punya peluang besar untuk mendaratkan pukulan tangan kanannya. Tenaga kasar bajak laut ini sanggup meremukkan kepala kerbau, apalagi saat itu disertai dengan pengerahan tenaga dalam. Hingga kalau sampai mengenai tubuh kakek pengemis yang sudah tua kurus itu, pastilah si kakek akan celaka.

Namun satu kehebatan diperlihatkan lagi oleh orang tua itu. Tanpa menoleh ke belakang dia telikungkan tangan kanannya ke punggung dengan batok kelapa membelintang demikian rupa. Ketika tinju kanan Raja Lanun sampai, batok kelapa itu menyambutnya dengan tepat. Raja Lanun Sindang Tambra mengeluh kesakitan sambil pegangi jari tangan kanannya. Jarijarinya ternyata, tampak merah, dagingnya langsung membengkak. Di saat kesakitan seperti itu cangkir kaleng yang dilemparkan Handaka melayang deras, dan mendarat tepat di keningnya hingga kepala bajak ini terluka dan kucurkan darah.

"Bagus Handaka! Lemparanmu tepat sekali!" ujar Pengemis Batok Tongkat. "Nah, nah! Dua ekor kambing. Apakah kalian masih belum sadar sudah diberi pelajaran oleh tua bangka ini dan cucuku itu? Ayo kenapa tidak lekas pergi?!"

"Kami baru pergi kalau kalian berdua sudah kugorok dengan ini!" sahut Soka Panaran dengan mata berapi-api. Dari pinggangnya dia cabut golok besar berwarna kuning. Senjata inilah yang membuat dia mendapat julukan Golok Emas. Walaupun tidak terbuat dari emas sungguhan, namun warnanya memang kuning seperti emas. Sudah banyak korban menemui kematiannya oleh senjata ini.

"Ah, golok emas! Hai, bolehkah kulihat apakah golokmu itu terbuat dari emas sungguhan? Atau hanya emas palsu?" ejek Pengemis Batok Tongkat sambil merobah kedudukan kudakudanya hingga sekaligus dia dapat mengawasi dua lawan yang dihadapinya.

Melihat kawannya keluarkan senjata andalannya, Sindang Tambra jadi tidak sungkansungkan untuk keluarkan pula sanjatanya yakni sebuah clurit besar yang badan dan hulunya berwarna hitam gelap.

Cemaslah Handaka melihat si kakek bukan seja hanya dikeroyok tapi juga dikurung lawan dengan senjata terhunus. Apakah si kakek tidak akan keluarkan senjata, pikir anak ini. Nyatanya memang demikian. Pengemis tua itu hanya tegak tenang-tenang saja, malah sambil menyeringai. Dalam hidupnya sebagai tokoh silat aneh dia tak pernah memiliki senjata. Apapun yang terjadi dia selalu menghadapi lawan dengan tongkat kayu kecil dan batok kelapa itu!

"Kalian tunggu apa lagi? Majulah biar lekas aku memberi pelajaran pada kalian!" kata si kakek.

Ini tambah membakar kemarahan Soka Panaran dan Raja Lanun. Masing-masing keluarkan suara menggembor lalu menyerbu. Soka dari samping kiri sedang Raja Lanun melabrak dari sebelah kanan. Golok Soka menderu keluarkan sinar kuning terang sedang clurit di tangan Sindang Tambra berdesing dengan memancarkan sinar hitam pekat!

"Ah, celakahlah kakekku! Bagaimana aku harus membantu!" keluh Handaka yang tak mau berpangku tangan tapi tidak tahu harus menolong bagaimana. Tapi dasar anak cerdik dapat saja satu akal olehnya. Maka perlahan-lahan dia bangkit dari balai-balai itu sambil menggulung selimut.

Sementara itu pengemi tua yang mendapat dua serangan sekaligus berkelebat gesit. Tongkat di tangan kirinya memukul ke perut Soka Panaran, batok kelapa di tangan kanan menyelinap mencari sasaran disambungan siku kanan Sindang Tambra. Melihat tangan kiri si kakek menyorong ke depan, Soka Panaran mengambil keputusan untuk membabat tangan itu, lebih dulu dengan golok kuningnya. Namun orang ini salah perhitungan. Dia tidak menyadari kalau gerakan lawan jauh lebih cepat. Hingga sebelm golak besarnya berhasil membacok lengan Pengemis Batok Tongkat, tongkat kayu si kakek yang menderu menggeletar, menghantam bagian lengan kanannya di bawah ketiak.

Krak!

Terdengar suara patahan tulang. Disusul pekik si Golok Emas Soka Panaran. Dia melompat mundur, menggerang kesakitan sementara goloknya yang jatuh ditempel demikian rupa oleh si kakek dengan tongkat kayunya. Golok ini melorot turun mengikuti batangan tongkat lalu dengan mudah ditangkap oleh si kakek.

Pada saat itu pula Raja Lanun Sindang Tambra yang tengah menyerbu si kakek dengan clurit hitam angkernya menjadi terkejut ketika tiba-tiba selembar kain berkelebat menebar dan menutupi kepala serta tubuhnya. Kain ini bukan lain adalah selimut yang dilemparkan Handaka. Dalam keadaan ditelikung seperti itu tentu saja Raja Lanun Pantai Selatan ini tidak dapat lagi melihat di mana lawannya berada. Serangan cluritnya menjadi mentah. Dan dia memaki panjang pendek. Suara makiannya berubah menjadi jeritan kesakitan ketika pengemis tua pukulkan batok kelapanya berulang kali, lalu mengetok dengan tongkat kayu. Terdengar suara krak berulang kali tanda ada tiliang-tuiang bajak itu yang patah.

Ketika Raja Lanun Pantai Selatan berhasil keluar dari kungkungan selimut, tulang belikatnya sebelah kiri patah hingga tubuhnya miring. Lalu beberapa tulang iganya juga remuk. Dan yang paling parah adalah tulang kering kaki kanannya, juga patah hingga terpincang-pincang dia bersurut ke pintu pondok.

Kakek pengemis tegak sambil mengekeh. "Bagaimana?!" ujarnya. "Sudah kapok atau masih minta digebuk lagi!"

"Tua bangka keparat! Terima ini!"

Golok Emas berteriak marah. Dia pukulkan tangan kirinya. Serangkum angin menyambar ke arah pengemis tua. Dengan tertawa kakek ini lentingkan tongkat kayunya dari bawah ke atas.

Angin serangan yang dilepaskanSoka Panaran musnah. Sebaliknya ujung tongkat yang runcing kembali melenting dan kali ini memukul ke arah mata kanan Soka Panaran. Orang ini meraung ketika matanya pecah dan darah mengucur.

"Soka! Sebaiknya kita pergi saja! Lain kali kita buat perhitungan dengan tua bangka keparat ini!" kata Raja Lanun Sindang Tambra. Lalu tanpa menunggu dia melompat ke pintu pondok.

Soka Panaran sambil pegangi matanya yang kini jadi buta sebelah, terhuyung-huyung lari pula ke arah pintu.

"Hai! Golok emasmu apa tidak dibawa?!" seru Pengemis Batok Tongkat.

Tapi Soka Panaran terus saja lari dan menghilang dalam kegelapan. Mana dia punya nyali lagi untuk mengambil goloknya itu. Si kakek pungut senjata itu lalu enak saja kedua tangannya mematahkan golok. Ketika diteliti bagian dalamnya, ternyata golok itu hanya bagian luarnya saja yang disepuh emas. Sebelah dalam hanya besi hitam campur baja.

"Emas butut!" kata si kakek lalu tertawa dan berpaling pada Handaka. "Cucuku! Kau bukan saja berani, tapi juga cerdik. Tidak percuma aku mengambilmu jadi murid!"

***

DI PANTAI selatan yang dibatasi oleh teluk Cikandang dan kaki gunung Halimun di sebelah utara, kali Cirampang di sebelah barat dan bukit Gondal di sebelah timur kelihatan satu pemandangan baru. Selama enam bulan ratusan manusia menancapkan batangan-batangan kayu jati setinggi lebih dari tiga tombak dengan ujung-ujung dipotong runcing. Deretan kayu jati ini berubah menjadi satu pager kukuh yang membatasi deerah sangat luas, terdiri dari beberapa desa danbelasan kampurrg. Ada dua pintu gerbang yang selalu dijaga ketat yakni di sebelah selatan menghadap ke pantai dan di sebelah utara menghadap gunung Halimun.

Daerah terkungkung ini merupakan satu kota besar tak bernama. Namun orang telah menyebutnya sebagai Kota Hantu. Di sinilah Singkil Alit alias Harimau Hitam dan lima kawannya menjadi penguasa durjana. Secara paksa mereka mengumpulkan hampir tiga ratus penduduk di daerah itu untuk membangun pager kayu jati. Lalu membangun rumah-rumah besar untuk mereka. Orang banyak itu dijadikan budak, dipaksa tinggal dalam kungkungan pagar jati dan dipaksa melakukan dan jadi nelayan. Semua hasil harus diserahkan pada Singkil Alit. Siapa berani membangkang atau coba melarikan diri maka tak ada ampun. Mereka akan dipancung. Mayatnya dipertontonkan agar semua orang takut dan tak mau meniru perbuatan kawannya itu. Singkil Alit dan kawan-kawannya juga melatih para pemuda untuk dijadikan pengawalpengawal mereka. Pemuda-pemuda ini berjumlah sekitar enam puluh orang. Mereka mengawal enam rumah pimpinan kota hantu itu, yang merupakan rumah-rumah besar mewah, dilengkapi dengan beberapa orang perempuan atau gadis cantik hasil culikan dari desa atau perkampungan penduduk.

Di antara keenam manusia durjana itu adalah orang yang bernama Tembesi memiliki lebih dan lima perempuan peliharaan di rumahnya. Dari luar Kota Hantu ini tampak tenang. Tapi di dalam, kehidupan penduduk yang berjumlah lebih dari tiga ratus orang itu merupakan dunia penderitaan yang tiada taranya. Mereka dipaksa untuk bekerja dan dicambuk bila dianggap malas atau tidak mengbasilkan apa-apa. Lelaki atau perempuan yang kelihatan seperti sakit-sakitan lenyap secara aneh. Entah dibunuh entah dibuang, mayatnya tak pernah ditemukan. Setiap hari selain saja ada orang-orang dari luar yang diculik dan dipaksa tinggal di Kota Hantu untuk jadi budak kerja paksa.

Hanya dalam waktu dua belas bulan saja nama Kota Hantu ini telah dikenal di kawasan Jawa Barat sebelah selatan. Siapa saja yang mendengar nama kota ini akan merinding bulu kuduknya karena ngeri membayangkan kehidupan penuh siksa di sana. Apakah sebenarnya tujuan Singkil Alit dan kawan-kawannya mendirikan kota tertutup itu?

Sebagai seorang tokoh silat golongan hitam yang punya nama angker Singkil Alit sejak lama bercita-cita ingin menguasai rimba persilatan di Jawa Barat. Paling tidak di daerah selatan yang penduduknya rata-rata mempunyai tingkat penghidupan tinggi karena tanahnya subur dan lautnya kaya dengan ikan. Setelah dia merasa cukup modal harta kekayaan maka satu demi satu tokoh-tokoh akan diundangnya datang, lalu dibunuh secara keji.

Singkil Alit tidak mau bekerja sendiri. Untuk itu maka dikumpulkannya beberapa orang kawannya sealiran. Mereka adalah Rangga, Pinto Manik, Rah Tongga, Wiracula dan tembesi.

Begitulah, sejak enam bulan terakhir ini dunia persilatan di daerah itu ditandai oleh beberapa kejadian aneh, yakni lenyapnya tiga tokoh silat berkepandaian tinggi. Dua dari golongan putih, satu lagi dari golongan hitam. Tak satu orang luarpun yang tahu kalau ketiga tokoh tersebut telah menemui ajal dibunuh oleh Singkil Alit dan kawan-kawannya di dalam Kota Hantu.

"Suatu hari ketika keenam iblis-iblis Kota Hantu itu berkumpul sambil meneguk tuak keras dan bergelut-gelut dengan perempuan-perempuan culikan mereka, berkatalah Rah Tongga.

"Singkil, kalau kita hanya menyingkirkan satu persatu tokoh-tokoh silat itu, kurasa dalam waktu dua tahun di muka pekerjaan dan tujuan kita belum selesai. Mungkin pula rahasia kita bocor. Tokoh-tokoh silat putih dan hitam bergabung lalu menyerbu kota kita ini..."

Singkil Alit turunkan cangkir bambunya. Sekl bibir dan kumis serta janggutnya yang basah oleh tuak lalu bertanya, "Kau ada rencana spa, Rah Tongga! Coba katakan. Mataku mulai mengantuk. Aku ingin bersenang-senang dengan kekasih-kekasihku di dalam..."

Empat kawannya yang lain ikut mendangarkan dengan seksama.

"Bagaimana kalau kita adakan perjamuan besar. Kita undang orang-orang dunia persilatan di daerah ini. Kita beri racun makanan atau minuman mereka! Nah, sekali bertindak semuanya beres!"

Singkil Alit tegak dari kursinya. Sesaat dia berkacak pinggang memandang Rah Tongga, lalu maju dan tepuk-tepuk bahu kawannya itu.

"Karena hal itu tidak aku pikirkan sebelumnya!" kata manusia berjuluk Harimau Hitam ini, "Rah Tongga! Usulmu aku puji dan aku terima. Kau dan kawan-kawan aturlah perjamuan, kirim undangan! Dan ingat itu harus kita lakukan secepatnya!"

"Jangan kawatir Singkil. Serahkan semua pada aku dan kawan-kawan!" kata Rah Tongga pula penuh senang karena usulnya diterima.

Begitulah, pada bulan pumama sebulan kemudian di Kota Hantu tampak dilangsungkan satu pasta betar. Obor dipasang di sepanjang pager dan di bagian-bagian tertentu hingga kota yang Was itu terang benderang. Di sebuah lapangan, di mana pesta dipusatkan, didirikan sebuah panggung besar. Di sekeliling panggung tampak deretan meja dan kursi khusus disediakan untuk tuan rumah dan para undangan. Hiasan dan gaba-gaba tersebar di mana-mana menambah semaraknya pesta.

Makanan dan minuman berlimpah ruah.

Para tamu tamu berjumlah sekitar dua puluh orang. Rata-rata mereka adalah tokoh-tokoh silat yang punya nama, terdiri dari golongan hitam dan golongan putih.

"Para tamu yang kami hormati!" kata Singkil Alit "Walau kita ada yang berbeda golongan, tapi dalam pesta ini lupakan semua itu. Kita satu dalam kegembiraan!"

Menjelang tengah malam, di atas panggung yang sejak tadi diperdengarkan alunan karawitan beserta pesinden-pesinden yang cantik genit dan bersuara merdu menggairahkan, kini tiba-tiba saja acara berobah dengan satu pertunjukan tari-tarian yang melanggar susila. Enam perempuan muda berpakaian sangat tipis melenggang-lenggok mengikuti alunan terompet bambu dan tabuhan gendang. Semakin cepat tabuhan gendang, semakin binal gerakan mereka. Tiba-tiba ke enam pesinden itu tanggalkan seluruh pakaian yang mereka kenakan. Para tamu dari golongan hitam berteriak-teriak bersuit-suit. Mereka yang dari golongan putih tersentak kaget. Ini adalah satu hal yang tidak mereka duga. Rasa jengah membuat mereka seharusnya serta merta hendak tinggalkan pesta perjamuan itu. Namun rata-rata mereka semua sudah terlalu banyak meneguk tuak keras, hingga hal itu tidak mereka lakukan. Bahkan mereka menyaksikan tarian telanjang itu dengan mata tak berkesip dan tenggorokan turun naik.

"Sahabat-sahabat para tamu!" tiba-tiba Tembesi berdiri dan berseru. "Jika ada di antara para sahabat yang ingin turut menari silahkan naik ke panggung! Lalu jika para sahabat berkenan boleh cari pasangan. Di rumah besar sebelah kiri telah tersedia kamar dimana para sahabat boleh bersenang-senang sampa pagi ...!"

Mendengar ucapan Tembesi itu delapan orang lelaki melompat ke atas panggung. Dari tampang dal pakaian mereka jelas mereka bukan tokoh silat baik-baik. Keenamnya menari seradak-seruduk dalam mabuk, lalu turun dari panggung menarik pasangan lelaki yang dua, yang tidak kebagian pasangan terus saja menari.

"Jangan kawatir!" seru Tembesi kembali. "Persediaan penari cukup banyak!" Dia bertepuk tangan. Enam perempuan muda muncul pula dalam pakaian sangat tipis. Dua lelaki tadi tampak bingung mau mencari pasangan yang mana karana rata-rata penari itu berwajah cantik. Sementara itu empat lelaki lainnya melompat pula ke atas panggung.

Seperti dikatakan Tembesi, di rumah besar di sebelah kiri panggung terdapat sekitar lima belas kamar. Dua belas tokoh silat golongan hitam itu masuk ke dalam kamar dengan hasrat berkobar-kobar tanpa mengetahui bahwa bukan kesenangan yang bakal mereka dapatkan, tetapi maut!

Begitu masuk ke dalam kamar, para penari segera mengunci pintu dan mempersilahkan setiap tokoh duduk di tepi tempat tidur sambil memijit-mijit bahunya. Semua ini sesuai dengan yang diatur dan diperintahkan oleh Singkil Alit. Setelah itu setiap penari menyuguhkan secangkir tuak pada tamunya. Hanya beberapa saat setelah meneguk habis minuman itu dua belas tokoh silat yang ada dalam kamar tersungkur muntah darah dan mengerang nyawa. Mereka mati oleh racun jahat yang dicampurkan dalam minuman!

Kita kembali ke tempat pesta di sekitar panggung. Empat tokoh silat golongan hitam dan hampir selusin dari golongan putih duduk sambil mengobrol. Sesekali mata mereka melirik ke panggung, mengharap ada lagi penari telanjang yang bakal muncul. Saat itu Singkil Alit memberi isyarat pada Tembesi. Tembesi bertepuk tangan. Tepuk tangannya yang sekali ini bukan tepuk tangan biasa, melainkan merupakan satu isyarat pada dua puluh orang pelayan perempuan yang menyuguhkan tuak. Kedua puluh pelayan itu segera mendatangi setiap tamu sambil membawa kendi besar berisi tuak yang sudah dicampur dengan racun. Tuak itu dituangkan ke dalam tempat minum para tamu.

Empat tokoh golongan hitam segera meneguknya sampai habis. Sepuluh tamu dari golongan putih melakukan hal yang sama. Hanya seorang yang dalam keadaan mabuk tidak menyentuh minumannya, tapi berdiri. Sambil meracau tak karuan dia melangkah menari-nari dan naik ke atas panggung.

"Mana penari untukku ... Mana penari untukku!" katanya berulang kali. Lelaki ini berusia sekitar setengah abad, merupakan ketua sebuah perguruan silat di Karangbolong.

Semua tamu yang meneguk tuak beracun itu serta merta menemui ajal dengan cara yang sama, muntah darah, rubuh dan mati! Sementara lelaki dari Karangbolong masih terus menari, tidak sadar apa yang telah terjadi karena mabuknya.

Singkil Alit mendekati panggung dan berkata pada Tembesi. "Lekas suruh Pinta Manik membereskan yang satu ini. Aku sudah sebal melihatnya. Hari hampir pagi. Kita semua harus melenyapkan belasan mayat itu lalu butuh istirahat!"

Anggota komplotan iblis yang bernama Tembesi segera memberi isyarat pada Pinta Manik. Begitu Pinta Manik mendatangi dia lalu memberi tahu apa yang diperintahkan Singkil Alit. Maka Pinta Manik naik ke atas panggung sambil menghunus sebilah pedang. Dengan pedang ini ditembusnya perut tokoh silat yang mabuk dan menari-nari di atas panggung! Dua puluh satu tokoh silat menemui ajalnya di Kota Hantu pada malam bulan pumama itu. Kelak lenyapnya orang-orang itu baru diketahui selang beberapa bulan kemudian.

***

TIDAK seperti biasanya, sajak dua minggu terakhir laut di pantai barat selalu diselimuti deru angin kencang serta gulungan ombak besar dan tinggi. Para nelayan yang menggantungkan hidup dari hasil laut terpaksa tinggal di rumah masing-masing, tak berani turun ke laut. Di sebuah teluk sempit agak ke selatan Karangbolong terdapat sebuah perkampungan kecil. Di sini hanya ada sebuah rumah bambu besar dikelilingi lima rumah yang lebih kecil. Ini bukanlah sebuah perkampungan nelayan. Melainkan daerah kediaman dan tempat latihan orangorang dari perguruan silat Elang Putih.

Pagi itu seperti biasanya, sebelum latihan dimulai tiga puluh orang anak murid parguruan duduk bersila di tepi pantai, bartelanjang dada, menghadap ke laut. Tangan masing-masing diletakkan di atas pangkuan, mata dipejamkan. Mereka mengheningkan cita rasa indera sambil berlatih mengatur jalan nafas serta peredaran darah.

Anak murid paling tua, yang manjadi wakil dari ketua parguruan, bernama Indrajit melangkah mundar-mandir mengawasi latihan yang dilakukan tiga puluh saudara sepeguruannya itu. Jika ada yang kurang sempurna atau melakukan kekeliruan dalam hening cita rasa indera itu, dia memberitahu dan menyuruh mamperbaikinya.

Ketika matahari pagi mulai naik dan udara terasa memanas, Indrajit siap memerintahkan anak murid seperguruan untuk rnenghentikan latihan itu, dan seperti biasa akan dilanjutkan dengan latihan gerakan-gerakan silat.

Baru saja Indrajit memberi aba-aba dan para murid perguruan Elang Putih melompat sambil mengeluarkan suara keras, di kejauhan terlihat seorang penunggang kuda bergerak cepat ke arah perkampungan.

"Ketua pulang . . . !" seru salah seorang murid.

lndrajit terus memperhatikan penunggang kuda itu. Kemudian berkata, "Itu bukan ketua kita."

Memang yang datang bukanlah Ki Mantrayasa sang katua perguruan silat Elang Putih. Penunggang kuda coklat itu sampai di hadapan Indrajit. Tubuh, muka dan pakaiannya kotor oleh debu tenda dia telah menempuh perjalanan jauh. Bibirnyapun tampak kering. Jelas penunggang kuda berusia hampir setengah abad ini kelihatan letih.

"Pamen Gitasula, kedatanganmu setelah hampir setahun tak pernah muncul sangat menggembirakan kami. Kau tentunya haus. Biar kusuguhkan minuman segar untukmu!"

Selesai berkata begitu Indrajit cabut sebilah golok pendek dari pinggangnya. Senjata ini dilemparkannya ke atas pohon kelapa. Sebutir kelapa yang tertebas oleh golok ini bukan saja terbabat putus dan jatuh ke bawah, tapi sekaligus ujungnya ikut terpotong hingga membuat lubang di tengahnya. Dengan tangan kiri Indrajit menengkap goloknya, sedang tangan kanan menjangkau kelapa yang jatuh lalu menyodorkannya pada orang bernama Gitasula.

"Silahkan minum paman!"

Gitasula yang memang sangat haus dan letih segera meneguk air kelapa muda yang segar dan manis itu sampai habis, lalu membuang buah kelapanya ke pasir. Ombak menyapu pantai, butiran kelapa itu terseret laut, terapung-apung dipermainkan ombak.

"Paman Gita, sayang kau datang pada saat ketua kami tidak di sini. Gerangan apakah yang membawa paman tiba-tiba ingat kami dan datang ke sini ...?"

Gitasula memandang wajah Indrajit sesaat, ia menatap ke arah puluhan murid-murid perguruan. Melihat sikap orang ini Indrajit merasa tidak enak. Terlabih ketika Gitasula berkata:

"Indrajit, mari kita bicara di dalam sana."' Lelaki ini lalu turun dari kudanya. Seorang anak murid

perguruan segera menggiring kuda tunggangannya menambatkannya ke batang pohon kelapa. Setelah memberitahukan pada saudara seperguruannya agar mereka melanjutkan latihan, Indrajit dan Gitasula melangkah menuju rumah besar, langsung masuk ke ruang dalam dan duduk berhadap-hadapan.

"Nah, paman. Katakanlah apa maksud kedatanganmu kemari," kata Indrajit pula.

"Aku datang membawa kabar buruk Indrajit..."

"Kabar buruk apa paman?" tanya Indrajit. Wajahnya menunjukkan rasa terkejut tapi sikapnya tetap tenang.

"'Kabar buruk bagi perguruan Elang Putih."

"Ada yang tidak suka dengan perguruan kami lalu handak menjajal kekuatan kami. Atau langsung ingin menyerbu kemari? Seperti yang kejadian dua tahun lalu dengan orang-orang dari pantai utara itu?"

Gitasula gelengkapan kepalanya.

"Bukan itu Indrajit. Sejak kalian menyapu orangorang dari utara tempo hari, sejak itu pula nama perguruan kaiian menjadi terkenal, dihormati dan disegani. Kabar buruk yang kumaksudkan adalah mengenai guru atau ketua kalian."

"Kami memang sedang menunggu-nunggu ketua. Janji beliau paling lambat akan meninggalkan perguruan satu kali bulan pumama. Tapi ini sudah lewat dua kali pumama ..."

"Kau tahu ke mana ketuamu Ki Mantrayasa pergi!"

Indrajit mengangguk. "Beliau menerima undangan dari seseorang di pantai selatan ..."

"Kau kenal siapa pengundang itu?"

Indrajit menggeleng. "Jika beliau tidak kenal, tak akan mungkin pergi memenuhi undangan. Beliau tak banyak memberi keterangan mengenai undangan, hanya katanya ada pertemuan tokohtokoh silat Jawa Barat di selatan. Memangnya apa yang telah terjadi paman?"

Gitasula tak segera menjawab. Sejurus kemudian baru dia membuka mulut berkata:

"Kuharap kau menerima kenyataan ini dengan tabah, Indrajit ..."

"Paman! Katakan apa yang terjadi!" Indrajit tak sabaran lagi.

"Ketua perguruan Elang Putih, yang juga merupakan gurumu telah menemui kematian. Dibunuh orang!"

Indrajit bangkit dari duduknya. Sekujur tubuh pemuda berusia tiga puluh lima tahun ini bergetar. Kadua matanya memandang mendelik pada Gitasula penuh rasa tak percaya.

"Paman, kabar buruk apakah ini?! Ketua mati dibunuh orang?!"

"Benar Indrajit. Undangan yang disampaikan orang itu pada Ki Matrayasa adalah undangan maut. Mereka sudah merencanakan maksud jahat dan keji. Yaitu melakukan pembunuhan. Dan bukan hanya ketua saja yang mereka bunuh tapi lebih dari lima belas tokoh-silat di Jawa Barat ini!"

"Paman, jika kau datang membawa kabar musibah besar ini, berarti kau juga mengetahui siapa pembunuh ketua kami!"

"Mereka adalah manusia-manusia iblis dari Kota Hantu!" sahut Gitasula.

"Kota Hantu? Tak pernah kudengar nama itu sebelumnya. Dan siapa iblis-iblis yang kau maksudkan itu paman?!"

"Beberapa bulan lalu, satu komplotan yang ter'diri dari enam manusia durjana di bawah pimpinan Singkil Alit membangun sebuah kota raksasa, terdiri dari beberapa desa dan puluhan kampung. Seluruh kota dikelilingi pagar tinggi. Dua pintu gerbang masuk dan keluar dikawal oleh penjaga-penjaga secara ketat .....

Selanjutnya Gitasula menuturkan apa yang diketahuinya tentang kehidupan mengerikan di dalam kota itu. "Penduduk tak lebih dari pekerja-pekerja paksa. Mereka disuruh melakukan apa saja. Mulai dari bercocok tanam, memelihara ternak sampai menangkap ikan ke laut. Para pengawal kota kabarnya juga melakukan perampokan di mana-mana. Mereka menculik perempuan-perempuan cantik untuk diserahkan pada enam manusia iblis itu! "Siapa saja yang berani membangkang perintah atau coba melarikan diri pasti dibunuh!"

Lalu Gitasula menceritakan malapetaka keji yang terjadi di malam bulan purnama dua bulan lalu.

"Kabarnya hampir semua tamu menemui ajal karena diracun. Tapi ketua kalian, sahabatku Ki Matrayasa mati ditusuk dengan pedang!"

"Singkil Alit ..." desis Indrajit dengan dua tangan terkepal dan mata berapi-api. "Kau harus bayar nyawa ketua dengan nyawamu dan nyawa lima anggota komplotanmu!" Lalu pemuda ini berpaling pada Gitasula. "Paman katakan siapa sebenarnya manusia bernama Singkil Alit itu. Di mane letak Kota Hantu dan apa sesungguhnya maksudnya hingga berbuat sekeji itu?!"

"Siapa sebenarnya Singkil Alit masih gelap bagiku. Dia bersama teman-temannya muncul begitu seperti setan di siang bolong! Yang jelas mereka terutama Singkil Alit memiliki kepandaian tinggi. Disamping itu mereka juga licik dan keji. Ganas melebihi iblis! Kota Hantu yang mereka bangun dan kuasai terletak di tenggara, enam hari perjalanan berkuda dari sini, di kaki gunung Halimun. Lalu apa maksud mereka melakukan semua keganasan itu menurut para tokoh, ada beberapa alasan: Pertama mereka ingin memiliki harta kekayaan. Kedua mungkin ada rencana untuk menyerbu Kerajaan. Namun menurut pandanganku Singkil Alit ingin memulai kehidupan hitamnya dengan pertama sekali menguasai dunia persilatan di Jawa Barat ini. Itu sebabnya dia membunuh semua tokoh silat yang datang ke perjamuannya!"

"Jika memang demikian Singkil Alit dan lima iblis lainnya itu harus dimusnahkan!" kata Indrajit pula. "Dan aku sebagai murid ketua Ki Matraysa bersumpah untuk menebas batang leher Singkil Alit!"

"Aku dan sisa-sisa tokoh silat di Jawa Barat ini juga punya pendapat demikian Indra," kata Gitasula pula. "Namun apapun langkah yang kita susun, kita harus merencanakan dengan hatihati. Enam Iblis Kota Hantu itu bukan manusia-manusia sembarangan. Belum lagi puluhan pengawal mengelilingi mereka, mulai dari pintu gerbang sampai ke pintu tempat tidur mereka!"

"Aku mengerti paman," sahut Indrajit. "Jika kita bergabung masakan tidak mampu menghancurkan mereka. Aku rela mati untuk membalaskan sakit hati guru!"

"Kalau begitu kau datanglah ke tempatku di Lemburawi di kaki gunung Malabar. Pada hari dua belas bulan di muka. Aku telah mengatur pertemuan para tokoh di sana. Jika rencana matang, menyerbu Kuta Hantu dari situ akan lebih cepat karena lebih dekat."

Jika menurutkan hati amarahnya Indrajit ingin cepat-cepat menyerbu ke Kota Hantu. Namun menyadari kekuatannya sendiri dan menghormati rencana yang rupanya sudah disusun oleh paman Gitasula maka pemuda ini menyetujui rencana Gitasula itu.

***

DUA ORANG penjaga pintu gerbang selatan Kota Hantu segera menghunus senjata masingmasing ketika seorang penunggang kuda muncul dari kegelapan. Sementara udara malam dingin menusuk tulang, apalagi angin juga bertiup kencang.

"Siapa dan mau ke mana?!" bentak salah seorang pengawal ketika mengetahui pandatang bukan penduduk Kota Hantu.

"Namaku Sirat Gambir, datang dari pantai barat ingin memasuki kota guna menemui pemimpin kalian!" jawab penunggang kuda dengan sikap keren.

"Kami tidak pernah mangenal namamu sebelumnya! Datang di malam buta begini untuk menemui pimpinan kami! Kau boleh pergi dan datang besok pagi!"

"Kenal aku atau tidak itu bukan urusan. Aku tidak mau pergi dan harus menemui pimpinan kalian malam ini juga. Aku membawa urusan penting!"

"Katakan apa urusanmu!" pengawai kedua buka suara.

"Ini satu urusan rahasia dan teramat penting. Hanya bisa kukatakan pada Singkil Alit atau salah seorang anggota pimpinan Kota Hantu lainnya," kata penunggang kuda bernama Sirat Gambir.

"Apapun urusanmu pimpinan kami tidak menerima tamu malam hari!"

"Begitut!" ujar Sirat Gambit sambil menatap tajam pada si pengawal. "Baik, aku akan pergi. Tapi jika kelak terjadi apa-apa di kota kalian, dan pemimpin kalian mengetahui bahwa aku datang membawa kabar tapi kalian tidak memberi izin, maka leher kalian akan ditebas!" Sirat Gambir putar kudanya. Dua pengawal tampak saling pandang. Salah seorang di antara mereka cepat-cepat berkata, "Baiklah, kamu kami izinkan masuk kota. Tapi untuk bertemu dengan pimpinan harus menunggu sampai pagi!"

"Aku akan masuk kota. Dan kalian harus memberi tahu kedatanganku pada pimpinan kalian. Jika menunggu sampai besok segala sesuatunya akan terlambat! Urusanku bukan urusan main-main. Tapi urusan keselamatan pimpinan dan seluruh isi Kota Hentu ini!"

"Kami harus menggeledahmu lebih dulu!"

"Sialan! Kalau aku bermaksud jahat, kenapa susah-susah minta izin segala? Mempreteli kalian bardua bukan soal sulit bagiku. Lihat!"

Tubuh Sirat Gambir tiba-tiba melesat dari atas punggung kuda. Kakinya kiri kanan tahutahu sudah memijak kepala kedua pengawal itu, lalu bersalto di utara, di lain saat sudah tegak di depan pintu gerbang.

Dua pengawal pintu gerbang terkejut, mereka segera menyadari kalau mau orang bernama Sirat Gambir itu tadi-tadi dapat menendang hancur kepala mereka!

"Nah, apakah kalian masih belum mau membuka pintu untukku?!" tanya Sirat Gambir.

Cepat-cepat salah seorang pengawal segera mengetuk pintu gerbang. Dua kali berturut-turut, lalu tiga kali. Sebuah lobang empat persegi terbuka pada salah satu bagian pintu gerbang. Satu kepala muncul dan bertanya, "Ada apa?"

"Buka pintu. Ada tamu penting untuk pimpinan!" jawab pengawal yang di luar.

"Tamu? Malam-malam begini?"

"Sudah, jangan banyak tanya. Dia membawa urusan penting!"

"Siapa namanya, datang dari mana dan apa urusannya?"

"Aku bertanggung jawab penuh di sini! Kau tak usah banyak tanya. Lekas buka pintu!"

Pengawal yang di dalam, yang rupanya berpangkat lebih rendah tak berani lagi menjawab lalu cepat-cepat membuka palang besi pintu gerbang besar itu.

Dengan di antar oleh dua orang pengawal berkuda Sirat Gambir kemudian dibawa ke tempat kediaman pimpinan Kota Hantu.

Walaupun saat itu sudah lewat tengah malam namun seperti biasa di rumah besar kediaman Singkil Alit suasana selalu kelihatan ramai. Enam pimpinan Kota Hantu itu hampir setiap malam berkumpul di situ, menikmati minuman dan makanan lezat, menghibur diri dengan perempuanperempuan cantik mereka ambil secara paksa atau culik dari desa-desa sekitar kota.

Pinta Manik tengah menggeluti tubuh seorang gadis desa yang diculik tiga hari lalu ketika pengawal dari pintu gerbang selatan ditemani pengawal rumah besar. Melihat kehadiran kedua pengawal ini Pinta Manik membentak marah.

"Pengawal-pengawal keparat! Kau minta mati berani kurang ajar datang kemari tanpa dipanggil?!"

Rangga, Rah Tongga, Wiracula danTembesi yang sedang di ruangan itu sama-sama berpaling ketika mendengar bentakan kawan mereka tadi. Singkil Alit saat itu berada di ruangan dalam. Pengawal rumah besar menjura ketakutan dan buru-buru berkata.

"Mohon maafmu pimpinan. Pengawal pintu gerbang selatan datang membawa kabar penting."

"Kabar penting! Kabar penting apa?!" Pinta Manik memandang pada pengawal pintu gerbang.

Pengawal pintu gerbang segera membuka mulut.

"Seorang bernama Sirat Gambir mengaku datang dari pantai barat ingin menemui pimpinan di sini. Menurut dia ada urusan sangat penting yang akan dibicarakannya. Katanya menyangkut keselamatan para pimpinan bahkan seluruh kota!"

"Hebat sekali!" kata Pinta Manik lalu memandang pada empat kawannya. Kelima manusia iblis itu kembali tertawa gelak-gelak.

Pinta Manik memandang ke luar. Di pekarangan depan rumah besar memang dilihatnya ada seora penunggang kuda berpakaian warna gelap, berambut gondrong dan memakai ikat kepala, didampingi seorang pengawal yang juga menunggang kuda dan senjata terhunus.

"Orang yang memakai ikat kepala itu yang bernama Sirat Gambir?" tanya Pinta Manik.

Due pengawal mengiyakan.

"Hemm ... suruh dia datang kemari! Jika dia ternyata kucing dapur yang membuang-buang waktuku saja, akan kupatahkan batang lehernya!"

Maka Sirat Gambirpun dibawa menghadap Pinta Manik sementara empat pimpinan Kota Hantu lainnya tinggalkan tempat masing-masing dan melangkah mengelilingi Sirat Gambir.

"Katakan apa keperluanmu!" ujar Pinta Manik.

Sirat Gambir menghitung. Hanya ada lima orang di hadapannya. Setahunya pimpinan Kota Hantu berjumlah enam orang.

"Ada kabar panting yang akan kusampaikan. Tapi hanya akan kukatakan atas dasar dua syarat. Pertama, kalian harus lengkap enam orang. Aku harus tahu yang mane pimpinan tertinggi di antara kalian. Lalu, untuk berita yang kubawa ini aku minta imbalan paling tidak sepuluh tail uang emas!"

Sepasang alis Pinta Manik naik ke atas, keningnya menggerenyit. Tiba-tiba dia tertawa membahak. Empat kawannya ikut tertawa. Saat itu dari ruang dalam—mendengar suara ramai— keluarlah Singkil Alit.

"Pesta kalian ramai sekali. Ada perempuan baru atau ada yang lucu?!" tanya Singkil Alit sambil betulkan celana hitamnya.

"Singkil! Kita kedatangan seekor monyet yang bicara besar. Kau lihat sendirilah kemari!" kata Pinta Manik,

Singkil Alit melangkah ke hadapan Sirat Gambir sementara Pinta Manik menerangkan nama dan maksud kedatangan orang yang dikatakannya seekor monyet itu.

"Hemmm ... Sirat Gambir, coba kau terangkan urusan yang katamu sangat panting itu.

Menyangkut keselamatan kami dan seluruh kota! Jika berita itu cukup berharga mungkin kami bisa memberi imbaian. Tapi apapun imbalannya kami yang menentukan, bukan kau!"

"Sepuluh uang emas! Kalau kalian tidak bisa menerima, lebih baik tak kukatakan dan aku akan pergi seat ini juga!" kata Sirat Gambir.

Singkil Alit tampak berubah wajahnya.

Sekian lama menjadi pimpinan di Kota Hantu itu tak ada seorang pun yang berani bicara seperti itu padanya, apalagi orang luar. Maka pimpinan Kota Hantu itupun bertanya, "Sirat Gambir, apakah kau sadar berada di mans saat ini? Dan berhadapan dengan siapa?!"

Sirat Gambir memang bukan seorang pengecut. Dia tahu jika terjadi ape-apa tak akan mampu baginya, menghadapi enam manusia iblis itu. Namun mengingat berita yang dibawanya luar biasa pentingnya bagi enam orang itu, maka dia merasa berada di atas angin. "Aku cukup maklum berada di mana dan berhadapan dengan siapa. Aku menghormati kalian dan menganggap sebagai sahabat. Namuh mengingat berita yang kubawa sangat penting, dan aku tidak main-main maka adalah wajar jika aku mendapatkan imbalan!"

"Bagus! Aku senang pada manusia-manusia yang berani bicara terus terang. Tapi aku tidak suka pada orang yang bicara bertele-tele! Katakan apa berita panting yang ingin kau sampaikan itu! Soal imbalan kita bicara belakangan! Sepuluh tail emas tidak ada artinya bagi kami! Tapi jika beritamu ternyata kentuk busuk belaka maka kau harus pergi dari sini dengan meninggalkan lidahmu!"

"Nah ... nah ... nah!" ujar Wiracula. "Pemimpi kami malam ini sangat berbaik hati hanya minta kau meninggalkan lidahmu, dan bukan jantungmu!"

Singkil Alit tersenyum.

"Aku tahu. Soal nyawa manusia bagi kalian lebih sepele dari kotoran kerbau. Setiap saat kalian bias membunuhku. Namun itu berarti tabir rahasia berita yang akan kusampaikan tak akan pernah kalian ketahui. Kalaupun kalian akhirnya mengetahui maka sudah terlambat. Kota ini mungkin sudah jadi lautan api. Kalian sendiri mungkin sudah menemui ajal atau cacat seumur hidup!"

"Hebat! Ceritamu hebat! Tapi gila!" tukas Singkil Alit.

"Betul!" menyahuti Tembesi. "Aku kepingin tahu siapa yang mau membuat kota ini menjadi lautan pi dan mampu membunuh kami Enam Iblis Kota Hantu?!"

"Jika kalian tidak tertarik dengan urusan ini, lebih baik aku pergi!" kata Sirat Gambir jadi jengkel. Tapi diam-diam dia sudah mencium bahwa bagaimanapun enam manusia Iblis itu ingin mengetehui apa sebenarnya berita yang hendak disampalkan Sirat Gambir.

"Baik! Kami tertarik. Nah katakanlah!" ujar Singkit Alit.

"Bayarannya dulu!" sahut Sirat Gambir.

"Keparat sialan!" maki Singkil Alit dengan mata mendelik. Tapi Sirat Gambir hanya ganda tertawa. "Berikan uang yang diminta bangsat ini!" teriak Singkil Alit kemudian.

Rangga keruk pinggang pakaiannya. Lalu lemparan sebuah kentong kain ke hadapan kaki Sirat Gambir. Orang ini membungkuk untuk mengambil kantong itu. Namun sebelum ujungujung jarinya menyentuh kantong, dari samping Rah Tongga melompat kirimkan satu tendangan ke kepala Sirat Gambir. Terjadilah hal yang mengejutkan keenam manusia iblis Kota Hantu itu.

Sirat Gambir sejak semula sudah mengetahui manusia-manusia bagaimana adanya enam orang yang dihadapinya itu. Selain bengis ganas mereka juga rata-rata licik. Karenanya sewaktu membungkuk mengambil kantong kain yang waktu jatuh mengeluarkan suara bergemerincing, ekor matanya melirik ke kiri dan kanan. Begitu dilihatnya Rah Tongga membuat gerakan, secepat kilat Sirat Gambir melompat ke kiri, menyelamatkan kepala sambil ujung jari kaki kirinya menjepit kantong uang. Kantong itu melesat ke atas, dan ketika dia berdiri di sudut ruangan, kantong sudah ada dalam genggamannya.

Sambil menyeringai Sirat Gambir berkata.

"Aku datang dengan maksud baik. Antaaa kita tak ada silang sengketa. Tapi jika kalian bertindak licik dan ganas, kalian akan rasakan sendiri akibatnya!"

Baik Singkil Alit maupun lima manusia iblis lainnya kaget bukan kepalang. Tendangan yang tadi dilepaskan Rah Tongga bukan tendangan sembarangan. Merupakan tendangan maut yang sulit untuk dikelit! Jika orang bernama Sirat Gambir itu sanggup selamatkan diri nyatalah dia memiliki kepandaian tinggi. Menimbang di situ Singkil Alit buru-buru berkata.

"Sirat Gambir, jangan kau salah sangka! Kawanku yang satu ini memang suka usilan. Dia hanya tak sabar untuk membuktikan bahwa kau bukan orang sembarangan. Yang berarti apapun berita yang bakal kau sampaikan, pasti akan kami percayai!"

"Hemm begitu? Baik! Tapi untuk tendangan tadi kalian haus mengeluarkan bayaran tambahan sepuluh mata uang emas lagi!" kata Sirat Gambir.

"Kurang ajar! Jadi kau hendak mempermainkan kami?!" sentak Tembesi.

"Bukan aku! Tapi kalian yang mau mempermainkan aku!" sahut Sirat Gambir pula. "Nah, kalian berikan apa yang kuminta. Atau aku akan tinggalkan tempat ini!"

"Singkil!" berkata Wiracula dengan tampang menunjukkan keberingasan. "Anjing jalanan seperti dia kenapa tidak kita gorok saja batang lehernya?!"

"Tenang Wira; " bisik Singkil Alit. "Monyet satu ini di samping punya sedikit ilmu juga licik. Biar aku yang melayaninya." Lalu pada Sirat Gambir pimpinan Kota Hantu itu berkata, "Sobatku, jika maksudmu datang adalah baik, mengapa buru-buru pergi. Jangan khawatir.

Tambahan uang yang aku minta akan kuberikan. Bukan cuma sepuluh tapi lima bola mata uang emas!"

Singkil Alit memberi isyarat pada salah seorang anak buahnya. Orang ini masuk ke dalam, ketika keluar dia membawa sebuah kantong kain. Kantong isi uang ini diserahkan Singkil Alit pada Sirat Gambir.

"Nah, kau sudah menerima apa yang kau minta. Sekarang katakan berita penting apa yang hendak kau sampaikan pada kami?!"

Setelah menghitung terlebih dulu uang dari kantong kain dan memasukkannya ke balik pakaianya, Sirat Gambir melangkah mundur ke dekat pintu. Dia sengaja mencari tempat yang baik agar jika terjadi apa-apa dapat tinggalkan tempat itu dengan cepat. Namun Singkil Alit yang bergelar Harimau Hitam juga tidak bodoh. Selagi Sirat Gambir sibuk menghitung uang emas dalam kantong, dia memberi isyarat lima anak buahnya. Kelima orang ini segera menyusul kedudukan sementara di luar rumah besar, cepat sekali dua puluh pengawal bersenjata mengurung jalan keluar.

"Singkil Alit, kau dan kawan-kawanmu ingat peristiwa tiga bulan lalu? Ketika kalian mangadakan jamuan makan minum. Mengundang puluhan tokoh silat di kawasan barat ini!" berkata Sirat Gambir.

"Oh, itu.... ? Apa hubungannya dengan berita yang hendak kau sampaikan?!"

"Kalian mungkin menyangka bahwa pembunuhan keji yang kalian lakukan terhadap semua undangan itu tidak bocor keluar. Banyak tokoh silat di luar kini sudah mengetahuinya...."

"Lalu?"

"Mereka kini menyusun rencana untuk menyerbu Kota Hantu. Menyama-ratakan dengan tanah danmembunuh kalian berenam!"

Mendengar keterangan Sirat Gambir itu Singkil Alit memandang pada kawan-kawannya. Keenamnya lalu tertawa gelak-gelak.

"Masih saja ada manusia-manusia bodoh ingin melakukan ketololan!" kata Singkil Alit.

"Kota ini bernama Kota Hantu. Siapa yang berani masuk akan berhadapan dengan hantu-hantu!

Akan mampus!"

"Aku hanya memberitahukan. Orang-orang ini bukan kelompok sembarangan," kata Sirat Gambir pula.

"Hem.... Katakan kalau kau tahu siapa mereka!" Pinta Manik berkata sambil tolak pinggang.

"Yang menjadi pengatur rencana adalah seorang tokoh bemama Gitasula. Dia saudara sepupu Ki Matrayasa, ketua perguruan silat Elang Putih yang ikut jadi korban pembunuhan tiga bulan lalu. Pucuk pimpinan perguruan itu sekarang dipegang oleh murid terpandai bernama Indrajit. Tiga puluh anak buah perguruan siap menyerbu ke sini...."

"Jangankan tiga puluh, tiga ratuspun mereka boleh datang kemari jika memang mau mati konyol!" Yang bicara adalah Rah Tongga.

"Nama Gitasula ataupun Indrajit dengan perguruan silat Elang Putihnya mungkin bukan apa-apa bagi kalian. Namun dengan mereka juga bergabung beberapa tokoh silat tingkat tinggi. Yang pertama Ingar Gandra, tokoh silat dari Ujung Kulon yang bergelar Sultan Maut...."

Singkil Alit dan kawan-kawannya saling pandang, menekan rasa kaget. Meskipun mereka berenam tidak takut namun mereka tahu betul Ingar Gandra memang bukan tokoh silat sembarangan.

"Siapa lagi lainnya?!" tanya Singkil Alit.

"Datuk Hijau!" jawab Sirat Gambir.

"Jadi tua bangka keropos itu juga ikut berkomplot melawan kami!" ujar Singkil Alit sambil puntir kumis tebalnya. "Ada lagi yang lain?"

"Ada. Tapi mereka tidak kukenal. Di antaranya seorang bertopeng...." Lalu Sirat Gambir menyambung. "Nah keteranganku tentang orang-orang itu sudah lengkap. Aku sudah menerima imbalan dari kalian, saatnya aku pergi. Namun..."

"Namun apa lagi?!" Rah Tongga tampak tak sabaran.

"Jika kalian mau memberikan lagi dua puluh lima uang emas, aku akan berikan keterangan di mana dan dari mana kelompok orang-orang itu akan mengatur serangan."

"Manusia temahak haram jadah!" maki Tembesi sambil melangkah menghampiri Sirat Gambir, siap untuk menghajarnya. Namun Singkil Alit cepat memegang bahu kawannya ini. Pada Sirat Gambir manusia bergelar Harimau Hitam ini berkata, "Uang bagi kami bukan apaapa. Katakan di mana mereka mengatur serangan."

"Uangnya dulu!" kata Sirat Gambir seraya ulurkan tangan dan menyeringai.

"Ambil uang!" seru Singkil Alit.

Sesaat kemudian sebuah kantong berisi dua puluh lima keping uang emas sudah berpindah ke tangan Sirat Gambir. Dengan demikian dia sudah mendapatkan lima puluh keping uang emas. Satu jumlah yang luar biasa. Seorang Adipati sekalipun di masa itu belum tentu memiliki uang sebanyak itu.

"Dengar, mereka mengatur serangan dari sebuah pondok di lembah Cilendak. Setengah hari perjalanan dari sini ke arah barat laut!"

Singkil Alit manggut-manggut.

"Sirat Gambir, keteranganmu memang cukup pantas dihargai lima puluh uang emas itu. Kami juga tidak lupa mengucapkan terima kasih. Jika saja kau suka, kau boleh tinggal disini bersama kami. Kita menyambut komplotan orang-orang tolol itu. Kau akan mendapat sebuah rumah dalam kota ini, semua keperluanmu terjamin. Termasuk perempuan cantik!"

Sirat Gambir tersenyum mendengar kata-kata pemimpin Kota Hantu itu dan menjawab, "Terima kasih. Tidak disangka manusia-manusia iblis Kota Hantu berhati polos seperti itu.

Hanya sayang aku tidak begitu suka tinggal di sini dan berkumpul dengan kalian. Urusan sudah selesai, aku tak butuh berada lebih lama di sini!"

Sirat Gambir putar tubuhnya namun dia jadi terkejut ketika mendapatkan pintu keluar telah dihadang rapat oleh puluhan pengawal bersenjata. Lelaki ini sudah mengetahui bahwa para pengawal itu rata-rata memiliki kepandaian silat cukup tinggi, walaupun cuma ilmu silat kasar. Mereka dilatih langsung oleh enam iblis Kota Hantu.

Sirat Gambir berpaling pada Singkil Alit dan berkata, "Singkirkan cacing-cacing busuk ini! Atau mereka akan kubikin amblas ke dalam tanah!"

Singkil Alit tertawa gelak-gelak.

"Kau singkirkanlah sendiri!" katanya lalu dia memberi isyarat pada lima kawannya. Keenam orang itu kemudian membentuk setengah lingkaran dan melangkah mendekati Sirat Gambir. Melihat keadaan ini Sirat Gambir segera menghantam ke kiri. Dua pengawal roboh. Dari pengawal yang ketiga dia merampas sebilah golok lalu menghantam dengan sebat. Dua pengawal lagi roboh. Namun yang datang malah tambah banyak. Dari belakang Singkil Alit dan kawan kawannya mulai menyerang.

Sirat Gambir ternyata memang bukan orang sembarangan. Setelah membunuh delapan pengawal, melukai empat lainnya bahkan berhasil menendang Rah Tongga dia berusaha melarikan diri dengan melompat ke atas atap bangunan. Maksudnya hendak membobol atap itu lalu kabur di kegelapan malam. Namun sebuah senjata rahasia yang dilemparkan Wiracula dan tapat mengenai punggung kirinya membuat lelaki ini kehilangan keseimbangan. Sebelum dia sempat bergayut pada kayu kaso atap, dua dari enam iblis Kota Hantu sudah melompat. pula ke atas mengejarnya. Satu jotosan menghantam pelipis kiri Sirat Gambir. Satu sodokan sikut mematahkan dua tulang iganya.

Tubuh Sirat Gambir melayang jatuh ke bawah. Hebatnya selagi jatuh ini dia masih sempat kirimkan satu tendangan ke dada salah seorang penyerangnya.

Buk!

Tendangan itu tepat, mengenai dada Pinta Manik. Darah menyembur dari mulutnya. Manusia iblis satu ini terhampar jatuh duduk di lantai, cepat ditolong oleh kawan-kawannya. Sementara itu lebih dari selusin macam senjata para pengawal dihunjamkan ke tubuh Sirat Gambir yang jatuh dan terkapar tak berdaya.

"Manusia setan alas!" maki Singkil Alit. "Bawa mayatnya keluar, lemparkan keluar pagar kota!"

Setelah mayat Sirat Gambir diseret keluar para pimpinan Kota Hantu ittu kecuali Pinta Manik segera mengadakan perundingan.

"Siapapun komplotan yang hendak menyerbu itu aku tidak takut," kata Singkil Alit.

"Namun yang bergelar Sultan Maut meskipun kita tak akan kalah menghadapinya, perlu diperhitungkan. Dia dekat dengan Istana Banten..."

"Kalau kita bisa menyusun rencana kenapa musti khawatir. Aku ada usul." kata Tembesi pula.

***

HARI MASIH terang-terang tanah ketika lima sosok tubuh berpakaian serba hitam berkelebat laksana hantu malam, bergerak mengelilingi pondok kayu.

Tiba-tiba di dalam pondok terdengar seruan. "Semua bangun! Ada orang datang."

Serentak pintu depan terpentang, jandela samping terbuka. Tiga orang tegak di halaman samping, menghadapi lima lainnya yang berpakaian serba hitam yang bukan lain dalah Singkil Alit, Rah Tongga, Tembesi, Wiracula dan Rangga.

Tiga orang yang barusan menghambur dari dalam pondok adalah pemuda Indrajit anak murid Ki Mlatrayasa dari perguruan siiat Elang Putih, lalu kakek bermuka hijau yang dikenal dongan sabutan Datuk Hijau. Sedang yang ketiga adalah Gitasula, saudara sepupu mendiang Ki Matrayasa.

"Hamm,.. kulihat cuma tiga ekor monyet! Mustinya lebih banyak dari ini. Mana monyetmonyet lainnya?!" Singkil Alit alias Harimau Hitam buka suara.

Kakek bermuka hijau perdengarkan suara tartawa. Sambil kucak-kucak mata dia berkata.

"Jauh-jauh menyusun rencana, tahu-tahu yang dicari datang sendiri unjukkan tampang! Manusiamanusia iblis Kota Hantu. Mana kambratmu yang satu lagi? Mengapa cuma muncul berlima?!"

Mendengar sebutan iblis Kota Hantu itu kagetlah Indrajit. Sebelumnya dia memang tak pernah melihat atau mengenal manusia-manusia ini. Begitu mengetahui kalau lima orang berpakaian serba hitam bertampang ganas itu adaiah manusia-manuaia durjana yang telah membunuh gurunya serta merta Indrajit melompat dan membentak.

"Kelian telah membunuh ketuaku! Sebelum matahari terbit kalian berlima harus mampus di tanganku!"

"Anak muda!" ujar Rah Tongga. "Ucapanmu karen amat! Apa ingin buru-buru menyusul ketuamu?!"

Panaslah hati Indrajit. Mendidih amarahnya. Dia menghantam ke arah Rah Tongga.

"Cacing ingusan! Berani bermulut besar berani menerima bagian!" kata Rah Tongga dan sambut pukulan Indrajit dengen tangkisan lengan kiri. Semula manusia iblis ini tidak memandang sebelah mata pada anak murid perguruan silat Elang Putih itu. Tapi begitu lengan mereka saling beradu, tampak jelas Rah Tongga mengerenyit menahan sakit. Sebaliknya Indrajit tersurut satu langkah. Meski tangannya tidak sakit namun pemuda ini menyadari kalau lawan memiliki tenaga lebih besar. Karenanya dengan mengerahkan tenaga dalam dia kembali menyerang. Singkil Alit danWiracuia tak tinggal diam. Keduanya menyerbu kakek bermuka hijau.

Sementara Tambesi dan Rangga menerjang Gitasula.

Datuk hijau adalah tokoh tua yang sudah lama tidak muncul dalam dunia persilatan. Sebetulnya kakek ini tidak berminat lagi mencampuri segala macam urusan dunia persilatan. Dia

lebih banyak menyepi diri. Namun kemunculan enam manusia iblis di bawah pimpinan Singkil Alit alias Harimau Hitam dan berdirinya Kota Hantu mau tidak mau membangkitkan semangat muda sang datuk yang ingin melihat tegaknya kebinaran dan hancurnya kejahatan. Namun niat sang datuk untuk berbuat kebajikan sekali ini rupanya tak bakal kesampaian karena ternyata dua lawan yang dihadapinya memiliki kepandaian tinggi.

Korban pertama yang jatuh dalam pertempuran itu adalah Gitasula. Pengeroyokan atas dirinya berlangsung sembilan jurus ketika Rangga dan Tembesi keluarkan senjata yakni berupa best hitam yang ujungnya diganduli bola besi penuh duri tajam. Setiap pimpinan Kota Hantu memiliki senjata seperti itu danselalu mereka keluarkan bilamana lawan yang dihadapi dianggap cukup kuat tak mungkin dikalahkan dengan ilmu silat tangan kosong.

Gitasula yang mempertahankan diri dengan sebilah pedang keluarkan seluruh kepandaiannya. Pedang saatnya menyabet kian kemari membentuk bayang-bayang masuk. Puncak kehebatan Gitasula hanya sampai pada kesanggupan merobek perut pakaian Rangga. Di lain saat bola besi berduri di ujung rantai Tembesi melabrak bahu kanannya hingga lelaki ini terbanting sempoyongan ke kiri. Daging dantulang bahunya hancur. Darah membasahi sisi kanan tubuhnya. Dalam keadaan seperti itu Rangga datang menyerbu. Rantai hitam di tangan kanannya berdesing berputar-putar. Bola berAri tiba-tiba melesat ke muka Gitasula. Gitasula yang tidak mampu membuat gerakan mengelak terpaksa angkat tangan kiri untuk menangkis. Dia memilih memukul rantai besi dari pada memukul bola berduri.

Krak!

Terdengar suara patahnya tulang lengan Gitasula ketika tangannya beradu dengan rantai besi. ban nyatanya dia tidak pula berhasil menyelamatkan mukanya karena akibat pukulan pada rantai besi, bola besi justru melentur melejit menghantam mukanya lebih cepat dan lebih keras!

Gitasula terlontar beberapa langkah. Terkapar di tanah dengan muka hancur mengerikan. Melihat kematian Gitasula, Indrajit berteriak marah. Seperti orang kemasukan setan dia menyerang Rah Tongga dengan jurus-jurus terhebat dari ilmu silat Elang Putih. Tubuhnya berkelebat kian kemari. Sepasang tangannya laksana dua sayap burung elong, mengembang mengirimkan serangan yang tiada henti.

Sedang kakinya kiri kanan pada waktu-waktu tertentu lancarkan tendangan yang tidak terduga Rah Tongga jadi kaget ketika dapatkan dirinya terkurung rapat dan tak mampu membalas. Dia mundur terus sampai akhirnya satu pukulan mengenai rusuk kanannya. Dadanya terasa sesak, tak dapat dipastikan apakah ada tulangnya yang patah. Yang jelas amarahnya menggelegak. Terlebih ketika didengarnya ejekan Tembesi.

"Tongga! Ternyata kau tak sanggup menghadap pemuda yang kau anggap cacing ingusan itu! Sarahkan dia pada kami!"

"Tutup mulutmu Tembesi! Sebentar lagi kutekuk batang lehernya!" sahut Rah Tongga dengan muka marah. Habis berkata begitu manusia iblis ini loloskan rantai hitam yang ujungnya bola-bola berduri lalu mengamuk menggempur Indrajit. Mendapat serangan ganas begini rupa, yang tak mungkin dihadapi dengan tangan kosong, murid mendiang Ki Matrayasa itu segera keluarkan pula senjatanya, sebilah pedang yang memiliki ketajaman pada kedua sisinya. Di bagian lain walaupun sudah mengurung rapat namun Singkil Alit dan Wiracula masih belum sanggup merubuhkan si kakek muka hijau yang gerakannya ternyata ringan sekali dan pukulan-pukulannya terarah ke bagian-bagian tubuh berbahaya kedua lawannya. Namun kematian Gitasula mempengaruhi diri kakek ini, hingga gerakan-gerakannya menjadi sedikit lamban.

Walaupun begitu tetap sulit bagi dua lawannya untuk menerobos, susupkan pukulan atau tendangan.

"Setelah menunggu lagi tiga jurus dan tetap tak mampu berbuat lebih banyak, Singkil Alit berikan isyarat pada Wiracula. "Dari mulut Singkil Alit keluar suara mengaum separti auman harimau. Tubuhnya miring ke depan, kedua kakinya menjejak tanah. Sesaat kemudian tubuhnya melesat ke depan, kedua tangan menggapai mencengkeram, persis seperti harimau yang hendak melahap mangsanya.

Wiracula keluarkan suara tak kalah seramnya. Dia menggereng macam harimau terluka. Kalau Singkil Alit menerjang dari depan maka dia melesat dari samping kiri. Datuk Hijau maklum kalau dua lawan telah keluarkan jurus-jurus silat mereka yang terhebat. Karananya diapun tak mau berbuat lalai. Kedua tangannya bergerak ke pinggang. Sesaat kemudian tangannya kiri kanan telah memegang sehelai sapu tangan putih. Sapu tangan itu disapukannya ke mukanya yang hijau. Aneh, begitu disapukan saputangan yang tadi berwarna putih itu kini berubah jadi hijau. Dan begitu lawan mendekat, Datuk Hijau kebutkan dua helai sapu tangan itu menyongsong serangan. Angin keras menderu disertai membersitnya sinar hijau yang jelas kelihatan karena saat itu hari telah mulai pagi dan terang. Kehebatan ilmu si kakek mau tak mau membuat kaget dua manusia iblis itu.

"Keparat tua ini ternyata masih punya kuku. Kalau tak lekas dihabisi bisa berabe!" pikir Singki Alit. Maka sebelum dua tangannya yang menggapai mencengkeram ke depan bergerak lebih jauh, tiba-tiba pemimpin Kota Hantu ini berputar berjumpalitan ke kanan..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.224.197.251
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia