Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : SI CANTIK GILA DARI GUNUNG GEDE

KESERAKAHAN manusia terhadap tahta, apalagi tahta yang dikuasai secara merebut dan tidak sah, pada akhirnya bilamana kehendak Yang Maha Kuasa berlaku maka semua kekuasaan dan keserakahan itu akan menjadi bencana. Itulah yang terjadi dengan Nyi Harum Sarti yang menobatkan diri sebagai Ratu Laut Utara, merampas tahta Kerajaan Laut Utara dari tangan Ayu Lestari, yang menerima warisan syah dari Ratu Sepuh Ratu Pertama Kerajaan Laut Utara.

Nyi Harum Sarti akhirnya menemui kematiannya di tangan Ratu Duyung yang membekal Pedang Naga Suci 212 pemberian Sinto Gendeng. Karena kecintaannya pada Pendekar 212 Wiro Sableng, di saat-saat nyawa akan lepas meninggalkan jazad kasarnya Nyi Harum Sarti masih sempat mengeluarkan ucapan yang sungguh meng-harukan namun ditutup dengan kata-kata yang membuat murid Sinto Gendeng menjadi terkesiap dan dingin sekujur tubuhnya.

Dalam keadaan tubuh bersimbah darah Ratu Laut Utara melangkah terhuyung-huyung, berusaha mendekati Wiro. Dua langkah dari hadapan sang pendekar dia tak mampu lagi berjalan, jatuh ber-lutut tapi kepala masih menatap lurus ke arah Wiro dan mulut masih mampu keluarkan ucapan.

"Wiro. Kasih sayangku padamu bukannya loyang. Kasih sayang-ku padamu akan aku bawa sampai ke liang lahat. Aku sangat berbahagia karena kau turut menyaksikan kepergianku. Walau di dunia kita tidak bisa bersatu, aku akan menantimu di akhirat..."

Ratu Laut Utara ulurkan tangan kanan, berusaha menyentuh wajah Pendekar 212. Namun tangan itu terkulai jatuh ke tanah. Tubuh kaku tak bergerak tapi mulut masih sanggup mengeluarkan kata-kata walau kali ini suara yang keluar jauh lebih perlahan, tak ada yang mendengar kecuali Wiro.

"Kekasihku, ini bukan akhir dari satu perjalanan. Ini bukan akhir dari segala-galanya. Kita akan bertemu lagi. Karena aku akan menitis masuk ke dalam diri Ken Permata..."

Pendekar 212 serta merta merasa sekujur tubuh mendadak menjadi dingin. Apa barusan dia tidak salah mendengar. Apa dalam keadaan sekarat perempuan itu sadar akan apa yang diucapkannya? Ken Permata adalah puteri Nyi Retno Mantili, istri mendiang Patih Kerajaan Wira Bumi, yang selama ini dicarinya dan sekarang tidak tahu berada di mana. (Kisah terbunuhnya Ratu Laut Utara alias Nyi Harum Sarti oleh Ratu Duyung dapat dibaca dalam episode sebelumnya berjudul "Cinta Tiga Ratu" sedang kematian Patih Wira Bumi dituturkan dalam serial Wiro Sableng berjudul "Bayi Satu Suro". Patih kerajaan itu menemui ajal ditangan Pendekar 212 Wiro Sableng dengan golok besar milik Wira Bumi sendiri).

Perlahan-lahan tubuh Ratu Laut Utara terhuyung ke depan lalu tersungkur di tanah. Mahkota emas bertabur batu permata tanggal dari kepala, terjatuh ke tanah. Ratu Sepuh menatap sayu ke depan. Dengan ujung tongkat emasnya dia mengait mahkota yang jatuh lalu menyerahkan pada Ayu Lestari.

"Akhir dari nafsu berkuasa dan keserakahan..." ucap Ratu Pertama Kerajaan Laut Utara ini dalam hati.

Sementara semua orang terdiam dalam pikiran dan hati masing-masing tiba-tiba satu bayangan biru berkelebat Satu tendangan melesat cepat dan deras. Tubuh tak bernyawa Ratu Laut Utara mencelat mental lalu terkapar di tanah. Mulut dan sebagian mukanya tampak hancur mengerikan.

Semua orang tersentak dan berseru kaget. Memandang berkeliling mereka melihat Bidadari Angin Timur yang sejak tadi berdiri di samping Ratu Sepuh tak ada lagi di tempat itu. Wiro ingin sekali mengejar ke arah lenyapnya gadis berambut pirang itu. Namun dalam keadaan seperti itu dia merasa tidak enak melakukan hal itu.

"Dia menendang kepala mayat, apakah karena ada dendam dan sangkut pautnya dengan ucapan Ratu Laut Utara yang mengatakan dirinya janda." Membatin murid Sinto Gendeng.

Sebelum tewas di tangan Ratu Duyung seperti telah diceritakan sebelumnya dalam episode "Cinta Tiga Ratu", Ratu Laut Utara dengan suara lantang setengah berteriak saat itu berkata sehingga semua orang mendengar.

"Wiro, aku tahu kau tidak mencintai gadis bernama Ratu Duyung yang setengah manusia dan setengah ikan itu! Aku juga tahu kau tidak mencintai gadis berambut pirang bernama Bidadari Angin Timur yang janda muda dari Kepala Pengawal Kesultanan Cirebon Tubagus Kesumaputra itu!"

Murid Sinto Gendeng menggaruk kepala.

"Uuhhh..."

Bujang Gila Tapak Sakti yang sejak tadi berdiam diri tak dapat menahan sakit, keluarkan suara mengeluh sambil pegangi bagian bawah perutnya yang bengkak melembung akibat sengatan tubuh kalajengking beracun yang dilepas Ning Kameswari atas perintah Datuk Api Batu Neraka salah seorang pembantu kepercayaan Ratu Laut Utara. Dikisahkan dalam episode "Cinta Tiga Ratu", Datuk Api Batu Neraka menemui ajal dibunuh Jin Durna Rawana sedang Ning Kameswari tewas ditendang Ratu Laut Utara.

"Gendut, kau tenanglah barang sebentar..." kata Ratu Sepuh pula.

"Bagaimana bisa tenang Nek. Kau tidak merasakan. Anuku melembung bengkak. Sakitnya seperti ditusuki ratusan jarum api! Delapan puluh tahun hidup di dunia baru kali ini sengsara begini rupa. Kalau tidak percaya apa kau mau lihat sendiri?!"

Habis berkata begitu Bujang Gila Tapak Sakti hendak rorotkan celana komprang hitamnya. Ratu Duyung cepat-cepat melengos. Ayu Lestari melongo kaget dan memandang ke jurusan lain. Nyi Roro Manggut mesem-mesem palingkan kepala tapi setengah-setengah masih melirik juga.

Ratu Sepuh angkat tongkat emas di tangan kanan.

"Kalau kau berani kurang ajar, aku gedor barangmu. Kau akan sengsara seumur-umur!"

Bujang Gila Tapak Sakti bergumam dan cemberut kesal mendengar perabotannya akan digedor! Sambil menahan sakit dia mundur dua langkah menjauhi ujung tongkat si nenek yang siap disodokkan ke bagian bawah perutnya.

"Sebelum pergi aku mau bicara dulu dengan nenek satu itu." Kata Ratu Sepuh lalu melangkah mendekati perempuan yang berambut putihnya dikonde di atas kepala, mengenakan kebaya dan kain putih. Inilah Nenek Cempaka, pembantu utama Ratu Sepuh ketika dia masih menjadi Ratu Laut Utara yang pertama sebelum menyerahkan tahta kepada Ayu Lestari. Sebelumnya ketika Nyi Harum Sarti sang Ratu Laut Utara palsu merampas tahta memerintahkan nenek sakti ini untuk membunuh Ratu Sepuh, dengan tongkat saktinya yang terbuat dari Ratu Sepuh membuat Nenek Cempaka menjadi patung, kaku tak bergerak. Namun karena masih berada dalam sirapan ilmu hitam Ratu Laut Utara dan tadi sebelumnya dia sudah bergerak hendak menyerang Ratu Sepuh, maka begitu bebas Nenek Cempaka kembali lanjutkan serangannya.

Ratu Sepuh sekali lagi angkat tongkat sakti. Kini ujung tongkat emas diarahkan tepat ke dada Nenek Cempaka sambil mulutnya berucap.

"Sudah! Sudah! Buyar! Buyar! Ilmu Hitam masuk ke dalam tanah! Segala kebaikan masuk ke dalam darah!"

Cahaya kuning berkiblat di ujung tongkat emas. Saat itu juga Nenek Cempaka mengeluh seperti kesakitan. Muka berubah pucat Tenung sirapan ilmu Penyejuk Jiwa Pemikat Hati yang selama ini menguasai dirinya musnah. Begitu sadar nenek itu jatuhkan diri di tanah sambil pegangi dua kaki Ratu Sepuh dia menangis tersedu-sedu.

"Kanjeng Sri Ratu, saya Cempaka mohon maaf dan ampunanmu Sri Ratu. Apapun yang telah terjadi saya siap menerima hukuman."

"Menghukummu semudah aku membaliktelapak tangan. Katakan dulu apa yang telah terjadi?" Ucap Ratu Sepuh.

"Nyi Harum Sarti, dia menenung saya dengan Ilmu Penyejuk Jiwa Pemikat Hati. Saya berusaha membebaskan diri namun dia memiliki kekuatan ilmu hitam dia atas kemampuan saya..."

"Kalau begitu kejadiannya, kau tidak salah. Manusia yang bersalah telah menerima hukumannya. Bangunlah!"

Ratu Sepuh dan Ayu Lestari menolong Nenek Cempaka bangkit berdiri. Ketiga orang itu berpeluk-pelukan beberapa lama lalu Ratu Sepuh beranjak mendekati Purnama.

"Cucuku manis, tadi kau hendak menyerangku dengan ilmu yang luar biasa hebat. Aku baru hari ini melihatmu. Rasa-rasanya kau bukan orang dari negeri ini. Sekarang ceritakan padaku. Nasib apa yang menimpa dirimu hingga kesasar ke sini dan menjadi kaki tangan Ratu Laut Utara palsu."

Seperti terhadap Nenek Cempaka, Ratu Sepuh sapukan tongkat emas ke arah kepala Purnama. Saat itu juga Purnama mampu menggerakkan tubuhnya kembali. Begitu bebas gadis dari alam 1200 silam ini segera melanjutkan serangannya yang tadi tertahan yakni hendak melancarkan pukulan Kutuk Alam Gaib Lapis Ke Tujuh.

Kembali Ratu Sepuh angkat tongkat sakti, ujungnya diarahkan ke dada kiri Purnama, mulut berucap.

"Sudah! Sudah! Buyar! Buyar! Ilmu hitam masuk ke dalam tanah! Segala kebaikan masuk ke dalam darah!"

Purnama terhuyung-huyung, coba tertahan dan mengimbangi diri namun akhirnya jatuh terduduk di tanah. Mulutnya keluarkan suara mengerang. Dadanya terasa sakit Wajah yang cantik tampak pucat Sepasang mata menatap ke arah Ratu Sepuh lalu memandang pada orang-orang yang mengelilinginya.

Tanpa dibantu siapa-siapa gadis dari Negeri Latanahsilam ini berdiri dan melangkah ke hadapan Ratu Sepuh. Setelah membungkuk dalam-dalam Purnama berkata.

"Ratu Sepuh, saya menghaturkan banyak terima kasih atas semua budi kebaikanmu hingga saat ini saya bisa bergerak dan bicara kembali. Nama saya Purnama. Saya memang datang dari negeri asing seribu dua ratus silam..."

"Ah, hebat sekali!" kata Ratu Sepuh dengan sepasang mata bening memperhatikan Purnama dari ujung rambut sampai ke kaki. "Seribu dua ratus tahun silam lalu. Dan kau masih merupakan seorang gadis cantik jelita. Sungguh luar biasa..."

"Nek, kau keliwat memuji." Purnama memandang ke arah Wiro, Ratu Duyung dan Nyi Roro Manggut. Lalu kembali menatap Ratu Sepuh. "Nek, para sahabat semua, saya akan mengatakan sesuatu. Yaitu apa yang akan terjadi dengan diri saya. Apa yang saya sampaikan bukan merupakan pembelaan diri. Jika kalian semua menganggap saya bersalah, saya siap menerima hukuman. Dibunuh sekalipun akan saya terima..."

Ratu Sepuh anggukan kepala. Nyi Roro Manggut manggut-manggut beberapa kali. Wiro dan Ratu Duyung diam saja sementara Nenek Cempaka dan Ayu Lestari saling melirik.

"Soal hukuman soal kedua. Yang penting kami ingin tahu mengapa kau berserikat dengan Ratu Laut Utara palsu. Tega mengkhianati para sahabat. Bahkan aku dengar ada seorang nenek sahabat kalian yang menemui ajal di kawasan laut utara..."

"Saya mohon maaf atas semua yang terjadi. Seperti Nenek Cempaka, saya terkena sirap tenung Penyejuk Jiwa Pemikat Hati yang diterapkan oleh Nyi Kuncup Jiwa..."

"Hemm..." Ratu Sepuh bergumam. "Berarti aku akan memberi-kan pengampunan atas dirimu sama dengan yang aku berikan pada Nenek Cempaka. Tapi antara kau dan aku tidak ada ikatan apa-apa. Hingga aku tidak bisa memberi keputusan seperti halnya dengan Nenek Cempaka. Semua putusan akan diambil oleh teman-temanmu yang ada di sini." Ratu Sepuh memandang pada Wiro, Ratu Duyung dan Nyi Roro Manggut.

"Ratu Sepuh, aku memberi maaf padamu." Pendekar 212 yang pertama kali memberikan jawaban.

"Terima kasih Wiro. Kau mau mengerti dan memaafkan diriku," kata Purnama pada Pendekar 212.

"Nyi Roro Manggut tiba-tiba keluarkan ucapan.

"Ratu Sepuh, mohon maaf. Juga pada semua yang ada disini. Barusan aku mendapat perintah jarak jauh dari Nyai Roro Kidul. Aku dan Ratu Duyung diminta menghadap untuk segera menyerahkan Batu Mustika Angin Laut Kencana Biru yang telah kami dapatkan dan sebelumnya dirampas oleh Ratu Laut Utara palsu."

Si Nenek membungkuk memberi hormat pada Ratu Sepuh, Nenek cempaka dan Ayu Lestari. Pada Wiro dia layangkan ejekan dengan pencongkan mulut Lalu tanpa menunggu lebih lama Nyi Roro Manggut tarik tangan Ratu Duyung. Dalam waktu sekejapan saja ke dua orang itu sudah berkelebat jauh ke arah pantai.

2PURNAMA tampak gelisah. Dia menatap Wiro sebentar lalu berpaling pada Ayu Lestari, Nenek Cempaka dan Ratu Sepuh.

"Ratu Sepuh, saya sangat menyesalkan terjadinya keadaan seperti ini. Jika semua memang sudi memaafkan saya maka saya mohon izin pergi dari sini. Sekali lagi saya mengucapkan banyak terima kasih atas segala budi baik Ratu Sepuh, Nenek Cempaka dan sahabat saya yang baru Ratu Laut Utara Ayu Lestari."

Ayu Lestari dan Nenek Cempaka tersenyum mendengar ucapan Cempaka. Namun Ratu Sepuh buru-buru berkata.

"Tunggu, jangan pergi dulu. Purnama, walau aku dan Ayu Lestari serta Nenek Cempaka belum berunding, tapi rasanya kami bertiga bisa sepakat untuk menawarkan sesuatu kepadamu."

"Menawarkan sesuatu? Menawarkan apa Ratu Sepuh?" tanya Purnama.

"Setelah Ratu Laut Utara Nyi Harum Sarti menemui ajal maka kekuasaan di kerajaan Laut Utara kembali kepada pemiliknya yang syah yaitu Ayu Lestari. Aku sebenarnya tidak ingin lagi ikut campur urusan dunia. Apalagi yang menyangkut tahta Kerajaaan. Nenek Cempaka sudah lama uzur dan aku yakin dia juga sama dengan aku, tak mau lagi mengurusi segala sesuatu yang bersangkutan dengan Kerajaan Laut Utara. Namun itu bukan berarti kami akan berlepas tangan bilamana terjadi sesuatu dengan Kerajaan yang aku bangun ini. Aku merasa, di masa depan keadaan akan lebih banyak tantangan. Sebagai penguasa laut utara aku percaya Ayu Lestari akan sanggup menghadapi semua tantangan itu. Namun betapapun dia membutuhkan seorang pembantu sekaligus sahabat yang bisa dipercaya. Kami bertiga, aku, Ayu Lestari, dan Nenek Cempaka telah menemukan calon yang sangat cocok. Yaitu dirimu. Kami harap kau jangan sampai menampik."

"Untuk beberapa lamanya Purnama tegak tertegun memandang pada ke tiga orang di hadapannya itu sementara di samping lain Bujang Gila Tapak Sakti goyang-goyang kepala sambil menghembus-hembus dan tekap bagian bawah perutnya menahan sakit. Tubuhnya yang berwarna biru mandi keringat. Kopiah kupluk basah kuyup. Kipas kertasnya hilang entah kemana. Serba salah akhirnya si gendut itu duduk di bawah patung dengan dua kaki berkembang. Dada yang gembrot turun naik, mulut meniup-niup seperti ikan. Tangan mengipas-ngipas bagian bawah perut. Dia sama sekali tidak perdulikan apa yang dibicarakan orang.

Pendekar 212 juga terheran-heran mendengar ucapan Ratu Sepuh. Apakah Purnama akan bersedia menerima permintaan nenek sakti yang merupakan Ratu Laut Utara pertama itu? Selama ini dia kian kemari tidak berumah tidak bertempat tinggal tetap. Bukankah memang lebih baik kalau dia mau bermukim di Kerajaan Laut Utara?"

Apa yang terpikir oleh Wiro saat itu sebenarnya juga terlintas dalam benak dan hati Purnama.

"Cucuku cantik, kau hanya tertegun. Apakah tidak akan memberikan jawaban?" Nenek Cempaka kini yang berkata. Rupanya dia juga sangat berkenan dengan gadis dari Latanahsilam ini.

"Saya...saya sudah menanam budi pada semua orang yang ada di sini. Saya belum sempat membalas sudah diberikan lagi budi yang sangat besar. Saya harus memikirkan baik-baik supaya tidak ada yang dikecewakan. Ratu Sepuh, Nenek Cempaka dan Ayu Lestari, apakah saya boleh diberi waktu untuk menjawab?"

"Mengapa kau tidak bisa menjawab sekarang saja, Purnama?" tanya Ayu Lestari.

"Ratu muda sahabatku, saya masih punya satu urusan yang harus saya selesaikan. Maafkan saya Ratu Sepuh. Maafkan saya Nenek Cempaka. Saya harus mencari dan menemui seseorang...Mungkin dua orang."

Ratu Sepuh yang arif berkata. "Aku mengerti, aku sudah maklum. Baiklah, kami bertiga tidak akan memaksa. Secepatnya kau ada kesempatan temui Ayu Lestari."

"Kalau begitu apakah saya boleh minta diri sekarang?" tanya Purnama.

"Pergilah. Berlakulah hati-hati. Bukan mustahil masih ada anak buah Nyi Harum Sarti yang tidak kita ketahui masih berkeliaran di sekitar sini."

Purnama mengangguk, membungkuk hormat pada ketiga orang di hadapannya lalu tinggalkan tempat itu.

Ratu Sepuh menghela napas dalam. Lalu berkata setengah berbisik pada Ayu Lestari yang juga didengar oleh Nenek Cempaka. "Kalau saja dia mau bergabung dengan kita atau paling tidak menunda kepergiannya barang satu hari...Aku punya firasat dia akan menemui halangan besar di perjalanan. Nenek Cempaka, sebentar lagi harap kau ikuti gadis berbaju biru itu." Habis berkata begitu Ratu Sepuh berpaling pada Wiro. "Pendekar Dua Satu Dua, apakah kau juga hendak cepat-cepat meninggalkan tempat ini?"

Wiro tersenyum dan garuk kepala. "Tidak Ratu Sepuh. Saya tidak akan pergi. Saya masih menunggu sampai Ratu Sepuh menolong sahabat saya si gendut yang sejak tadi kesakitan setengah mati itu."

"Ahh... aku sampai terlupa dengan sobatmu itu. Mana coba aku lihat apa penyakitnya." Sambil senyum-senyum Ratu Sepuh dekati Bujang Gila Tapak Sakti yang duduk dengan kaki berkembang di bawah patung. "Anak muda yang konon sudah berusia delapan puluh tahun. Kau memberi tahu tubuhmu sebelah bawah bengkak besar dan sakit bukan main lalu sekujur kulit tubuhmu menjadi biru gara-gara diantuk tujuh ekor kalajengking biru yang dilepas oleh Ning Kameswari anak buah Ratu Laut Utara palsu."

"Aku sudah menceritakan. Apa kau mau aku bercerita lagi? Aduh Nenek Ratu, aku sudah tidak bisa menahan sakit. Rasanya kepalaku atas bawah mau meledak pecah!"

Ning Kameswari gadis cantik. Jangan-jangan kau bukan diantuk kalajengking tapi diantuk gadis itu. Hik...hik...hik! Betul?" Rupanya Ratu Sepuh pandai juga bergurau.

"Ratu Sepuh jangan bercanda. Kau bisa dan mau menolongku apa tidak? Kalau tidak biar aku gebuk kepalaku saat ini. Mati rasanya akan lebih baik dari pada kesakitan begini!"

"Jangan marah, apa lagi sampai nekad bunuh diri. Kalau aku tidak bermaksud menolongmu pasti waktu dipantai aku tidak akan menelanmu hidup-hidup. Nah, sekarang buka kakimu lebih lebar. Biar ujung tongkatku tidak meleset menyodok bagian bawah perutmu!"

"Apa Nek?!" ucap Bujang Gila Tapak Sakti sambil cepat-cepat tekap bagian bawah perutnya. "Kau mau menyodok perabotanku yang lagi bengkak dan sakit setengah mati dengan tongkatmu?! Wong edan! Kepalaku saja kau gebuk sampai pecah Nek! Biar beres urusannya! Aku..."

Selagi Bujang Gila Tapak Sakti bicara Ratu Sepuh sodokkan kuat-kuat ujung tongkat emasnya ke bagian bawah perut si gendut ini.

"Dukkk!"

"Dess...dess...dess!"

Bujang Gila Tapak Sakti menjerit setinggi langit. Tubuhnya terpental ke udara. Dari bawah perutnya terdengar tiga kali letupan disertai mengepulnya asap biru. Sebelum jatuh bergedebuk ke tanah si gendut ini menggapai dan berpegangan pada tubuh patung Wiro yang sedang membungkuk meneduhi tubuh patung Ratu Laut Utara. Dua kakinya dikibas-kibas. Patung batu bergoyang-goyang menahan berat tubuh si gendut yang ratusan kati.

Ratu Sepuh ketok pantat Bujang Gila Tapak Sakti dengan ujung tongkat. Membuat pemuda ini terlepas pegangannya dari tubuh patung lalu jatuh bergedebuk menungging di tanah. Dari hidung, telinga dan mulut mengepul asap biru. Sementara dari pantat butt... butt...butt meletup-letup suara kentut yang juga memancarkan asap biru! Dalam keadaan menungging Bujang Gila Tapak Sakti mengerang tiada henti.Tiba-tiba suara erangannya berhenti. Matanya yang belok berputar-putar. Rasa sakit di bagian bawah perut mendadak lenyap.Tubuhnya kini malah terasa sejuk membuat matanya nyaman meram melek. "Nek, Ratu

Sepuh, kau apakan anuku...?" tanya Bujang Gila Tapak Sakti sambil duduk di tanah. Lalu dia usap-usap bagian bawah perutnya. Belum puas dua tangan dimasukkan ke balik celana. Meraba kian kemari. Malah kemudian mengucak-ucak. "Eh..." Si Gendut menatap ke arah Ratu Sepuh. "Weehhh, kempes Nek. Kau..."

Si nenek Cuma senyum-senyum. Dia mengeluarkan sesuatu dari balik pakaian beludrunya dan melemparkan benda itu pada Bujang Gila Tapak Sakti seraya berseru.

"Ambil!"

Bujang Gila Tapak Sakti cepat menangkap benda yang dilemparkan.Ternyata satu kantong terbuat dari kulit binatang.

"Di dalam kantong itu ada obat bubuk. Anumu memang sudah kempes dan sembuh. Tapi sekujur kulit tubuhmu masih tetap biru. Bubuk di dalam kantong itu adalah obat penyembuhnya. Cara pengobatan satu-satunya adalah seseorang harus menaburkan bubuk itu di atas anumu lalu mengusapnya tujuh kali sesuai jumlah kelabang yang menyengat. Sambil mengusap dia harus meniup-niup anumu. Juga tujuh kali..."

"Kau bercanda Nek?!" tanya Bujang Gila Tapak Sakti.

"Aku menolongmu, bukan bercanda. Bujang Gila, apakah kau sudah beristri? Maksudku jika sudah maka istrimu bisa melakukan hal itu. Lebih cepat lebih bagus."

Bujang Gila Tapak Sakti menggeleng. Dia tetap berpikiran si nenek tangah mengenainya.

"Aku tidak punya istri Nek."

"Kalau begitu kekasihmu saja..." kata Ratu Sepuh juga.

"Kekasihku juga aku tidak gablek Nek."

"Kalau kau tidak punya istri tidak punya kekasih berarti kau harus mencari seorang perempuan untuk menolongmu." Kata Ratu Sepuh pula. "Begitu?" Bujang Gila Tapak Sakti tertegun sesaat. Lalu kepalanya dipalingkan pada Ayu Lestari. Mata belok mendelik, mulut menyeringai. Saat itu juga pewaris syah Kerajaan Laut Utara melompat jauh lalu secepat kilat lari ke arah pantai.

Ratu Sepuh melakukan hal sama. Sekali dia ketukkan ujung tongkat emas ke tanah maka tubuhnya berubah menjadi buaya putih besar, melesat tinggi ke udara lalu laksana terbang melesat ke arah pantai sambil umbar tawa cekikikan.

Bujang Gila Tapak Sakti tampak bingung. "Celaka, bagaimana ini. Perempuan mana..." Tiba-tiba pandangannya membentur Nenek Cempaka. "Ah, tidak rotan akarpun jadi! Nenek ini kan perempuan juga. Walau sudah tua tapi masih cantik..."

Si nenek yang sudah bisa meraba apa yang ada di benak Bujang Gila tapak Sakti serta merta melangkah mundur sambil mulutnya berucap."O0...00...Tidak aku. Jangan aku." Lalu tidak menunggu lebih lama dia segera berkelebat hendak pergi dari situ.

Namun si gendut lebih cepat. Dia berhasil mencekal tangan kiri si nenek lalu menariknya. Sesaat kemudian Nenek Cempaka sudah berada dalam gendongannya. Perempuan tua itu berteriak-teriak.

"Lepaskan! Lepaskan! Aku tidak mau! Aku tidak mau melakukan itu!"

"Nek, kau harus menolongku." Kata Bujang Gila Tapak Sakti sambil membawa si nenek ke arah serumpunan semak belukar lebat.

"Tidak! Aku tidak mau!" kembali nenek Cempaka berteriak.

"Ingat Nek, ini pesan Ratu Sepuh!"

"Aku tahu! Tapi dia tidak bilang harus aku yang melakukan!"

"Jangan takut Nek. Perabotanku tidak burik. Juga tidak ada tanduknya.Tapi bagus mulus. Masih kencang Nek! Kata orang aku masih perjaka. Padahal aku tidak tahu apa artinya perjaka. Ha...ha...ha!"

"Gendut kurang ajar! Kau ini bicara apa?! Lepaskan diriku!"

Bujang Gila Tapak Sakti sampai di balik semak belukar. Jeritan nenek makin keras.

"Tolong Nek. Aku buka celanaku yah?"

"Gendut kurang ajar! Najis!"

"Nek, obatnya sudah aku taburkan. Tinggal kau usap dan kau tiup-tiup..."

"Tidaakkk!"

"Wiro yang menyaksikan kejadian itu dari kejauhan tertawa gelak-gelak.

"Nenek Cempaka!" teriak Wiro. "Kata Ratu Sepuh usap tujuh kali! Tiup tujuh kali! Jangan kurang jangan lebih! Ha...ha...ha!"

Tiba-tiba tawanya lenyap ketika pandangannya mengarah pada dua patung yang sedang bersatu badan. Patung dirinya dengan Nyi Harum Sarti.

"Patung jahanam! Biar yang satu ini aku bereskan lebih dulu!"

Lalu murid Sinto Gendeng ini terapkan ajian Pukulan Sinar Matahari. Begitu tangan kanan menghantam, kiblatan cahaya putih perak panas dan menyilaukan menderu.

"Buk...!"

Hanya sekali hantam saja dua patung mesum di atas bukit kecil Pulau Menjangan Kecil hancur berkeping-keping, sama rata dengan tanah!

Di balik semak belukar tidak terdengar lagi jeritan Nenek Cempaka. Juga tak ada suara Bujang Gila Tapak Sakti. Wiro merasa khawatir.

"Jangan-jangan si gendut itu sudah mati konyol diremas perabotannya!" pikir murid Sinto Gendeng. Maka dia berteriak.

"Bujang Gila! Apakah urusanmu sudah selesai?"

Dari semak belukar tiba-tiba terdengar jawaban.

"Sedikit lagi! Jangan pergi dulu! Tunggu aku! Wah...wah. Sobatku Wiro! Usapannya melebihi nikmatnya usapan anak gadis! Ha...ha...ha...!Terima kasih Nek. Sekarang tiup Nek. Ingat Ratu Sepuh yang bilang begitu.Harus ditiup.Tujuh kali! Nah...nah! Aduh enak, asyik Nek. Sejuk sekali! Ha...ha...ha!"3RATU DUYUNG dan Nyi Roro Manggut sampai di pantai selatan Pulau Menjangan Kecil. Dia merasa heran melihat si nenek mengambil jalan yang tidak langsung menuju pantai tapi seperti sengaja melewati bebukitan kecil yang penuh ditumbuhi pepohonan serta semak belukar. Sampai di pantai Nyi Roro Manggut menyelinap ke balik gundukan batu di belakang serumpun pohon bakau. Melihat sikap Nyi Roro Manggut, Ratu Duyung akhirnya membuka mulut bertanya pada si nenek.

"Nyi Roro, apakah kau sungguhan menerima pesan jarak jauh dari Junjungan kita Nyi Roro Kidul? Bahwa kau dan aku agar segera menghadap untuk menyerahkan Batu Mustika Angin Laut Kencana Biru?"

Nenek bertubuh cebol bermata juling gelung rambut putihnya di atas kepala. Sambil tertawa cengengesan dan usap hidungnya yang pesek rata dia menjawab.

"Kau tahu, ini cuma akal-akalanku saja..."

"Mengapa kau berbuat begitu? Takut Bujang Gila Tapak Sakti akan memilihmu untuk mengobati dirinya seperti yang dikatakan Ratu Sepuh?"

"Hik...hik!" Nyi Roro Manggut tertawa. "Si gendut itu pasti tidak akan memilih diriku. Masih ada dirimu dan Ayu Lestari.Tapi terus terang itu memang salah satu alasanku mengapa aku mengajakmu cepat-cepat pergi. Si nenek memandang ke langit. Di arah timur tampak kelompok awan hitam menggumpal tebal, berarak mendekati kawasan laut di dekat pulau Menjangan Kecil.

"Kita tidak bisa meninggalkan Wiro begitu saja Nek. Aku dan dia mati-matian berusaha mendapatkan kembali Batu Mustika Angin Laut Kencana Biru yang kini sudah kau simpan dalam tubuhmu."

"Kau tak usah khawatir pendekar itu. Cepat atau lambat dia akan bergabung dengan kita. Atau kau cemburu dengan Ayu Lestari?"

"Kau ini ada-ada saja Nek. Coba katakan, apa alasan lain kau cepat-cepat mau pergi."

"Kau ingat apa yang diucapkan dengan suara keras oleh Nyi Harum Sarti tentang dirimu dan Bidadari Angin Timur?" tanya Nyi Roro Manggut.

"Ah, itu rupanya. Terus terang aku memang merasa heran dan tidak enak. Mengapa Nyi Harum Sarti sampai bermulut ember, keluarkan ucapan seperti itu."

"Dia ingin mempermalukan kalian di hadapan orang banyak.

Sekaligus sengaja memancing di air keruh."

"Aku memang tidak suka dengan ucapannya yang mengatakan diriku adalah setengah manusia setengah ikan. Tapi aku pikir ujud keadaan diriku memang dulu seperti itu. Jadi walau jengkel aku memilih diam saja."

"Kau bisa berbuat begitu. Tapi bagaimana dengan Bidadari Angin Timur? Kau mendengar sendiri apa yang diteriakkan Nyi Harum Sarti pada Bidadari Angin Timur sebelum kau membunuh Ratu celaka itu dengan Pedang Naga Suci Dua Satu Dua. Gadis berambut pirang itu dikatakan janda muda Kepala pengawal Kesultanan Cirebon Tubagus Kesumaputra! Tidak heran kalau Bidadari Angin Timur kemudian menendang hancur mulut dan kepalanya walau Nyi Harum Sarti sudah jadi mayat! Tidak kusangka Bidadari Angin Timur bisa seganas itu. Tapi aku bisa memaklumi. Aku bicara terus terang saja. Si rambut pirang itu cinta setengah mati pada Wiro. Dibilang janda di hadapan Wiro apa tidak sama saja dengan kiamat bagi gadis berambut pirang itu? Apa lagi dia pasti juga sudah menyirap kabar tentang kedatanganmu bersama Wiro menemui Kiai Gede Tapa Pamungkas. Kini semakin banyak penghalang baginya untuk mendapatkan pendekar itu. Kalaupun dia tidak kawin dengan Tubagus Kesumaputra tapi paling tidak dia sudah mau diajak ke Cirebon. Apa itu bukan berarti pengkhianatan kalau dia memang benar-benar mengasihi Wiro? Kalau tidak ada api mana mungkin muncul asap!"

Lama Ratu Duyung terdiam mendengar ucapan Nyi Roro manggut. Akhirnya dengan suara perlahan Ratu Duyung berucap.

"Memang aneh dan sangat kurang ajar sikap serta ucapan Nyi Harum Sarti. Tapi bagaimana dia bisa mengeluarkan ucapan seperti itu. Dari mana dia tahu? Apakah benar sahabat kita Bidadari Angin Timur janda dari Kepala Pengawal Kesultanan Cirebon bernama Tubagus Kesumaputra itu? Setahuku Tubagus Kesumaputra sebenarnya adalah pemuda bernama Jatilandak, putera Purnama. Purnama sendiri di negerinya dikenal dengan nama Luhmintari. Kalau Bidadari Angin Timur janda dari Kepala Pengawai, berarti mereka pernah kawin. Lalu kapan kawinnya?"

"Hal siapa sebenarnya Tubagus Kesumaputra itu bagiku tidak jadi persoalan. Yang membuat cerita jadi panjang dan sangat membuat marah Bidadari Angin Timur ialah dari siapa Nyi Harum Sarti alias Ratu Laut Utara palsu mengetahui kalau Bidadari Angin Timur adalah seorang janda!"

Ratu Duyung menatap wajah si nenek beberapa saat lalu meluncur ucapannya. "Aku ingat sekarang Nek. Ketika Nyi Harum Sarti meneriakkan kata-kata yang sangat memalukan itu, wajah Bidadari Angin Timur marah membesi. Rahang menggembung. Dua tangan terkepal. Dia seperti mau menguyah Nyi Harum Sarti sampai lumat dari ujung rambut sampai ujung kaki. Namun sekilas aku melihat juga bagaimana dia melirik tajam penuh kebencian pada Purnama. Kalau ucapan Nyi Harum Sarti benar, aku yakin Bidadari Angin Timur punya prasangka atau tuduhan bahwa Purnamalah yang telah menebar fitnah..."

"Bagaimana kalau itu bukan fitnah, tapi sebenarnya terjadi?" tanya Ratu Duyung yang agaknya terpengaruh dengan ucapan si nenek: Kalau tidak ada api mana mungkin muncul asap. (Mengenai kisah "jandanya" Bidadari Angin Timur harap baca episode sebelumnya berjudul "Badai laut Utara") Lalu gadis cantik bermata biru itu menambahkan. "Kalau dipikir-pikir sebenarnya Purnama juga adalah seorang janda dari perkawinannya yang terputus dengan ayah puteranya yang bernama Jatilandak itu. Wiro tahu benar riwayat gadis itu."

Kepala si nenek manggut-manggut berulang kali. "Bidadari Angin Timur memang pernah lama tidak muncul sejak beberapa waktu belakangan ini. Kemana menghilangnya? Pergi ke Cirebon. Kawin di sana Lalu bagaimana ceritanya kemudian menjadi janda? Aneh!"

"Aku sendiri pernah tahu Nek," kata Ratu Duyung pula. "Jatilandak pernah menyelamatkan Bidadari Angin Timur ketika hendak diperkosa oleh satu mahluk dari negeri asalnya. Mahluk itu berjuluk Hantu Muka Dua. Memang agaknya rasa saling menanam budi cukup alasan kalau mereka mau menikah. Tapi mengapa kita para sahabat sampai tidak mengetahui peristiwa perkawinan itu?" (riwayat hampir diperkosa Bidadari Angin Timur oleh Hantu Muka Dua baca serial Wiro Sableng berjudul "Rumah Tanpa Dosa").

Nyi Roro Manggut kembali angguk-anggukan kepala. Sepasang matanya yang juling menatap ke arah pantai dimana berjejer beberapa perahu kayu dan jukung yang keadaannya sudah setengah lapuk karena lama ditinggalkan dan tidak dipergunakan lagi oleh pemiliknya. Dia kembali memandang ke langit. Lalu berkata.

"Langit tampak hitam. Agaknya sebentar lagi hujan lebat akan turun disertai angin kencang. Mungkin badai."

Baru saja si nenek berkata begitu di langit sebelah barat kilat menyambar di susul gelegar guntur.

Ratu Duyung tidak perdulikan keadaan cuaca yang berubah cepat.

"Nyi Roro, aku ingin tahu mengapa tadi kita tidak langsung menuju ke pantai. Kau sengaja melewati jalan berputar yang lebih jauh. Mengapa kau berbuat begitu?"

"Aku tidak ingin kehadiran kita di sini diketahui orang atau dilihat orang-orang itu..."

"Orang-orang siapa maksudmu Nyi Roro Manggut?" tanya ratu Duyung pula.

"Bidadari Angin Timur dan Purnama."

"Bidadari Angin Timur sudah lebih dulu pergi dari kita. Tak mungkin masih berada di pulau ini."

Nyi Roro Manggut menggeleng.

"Dia masih berada sekitar pulau ini. Dia tengah menunggu seseorang. Aku punya firasat sesuatu akan terjadi di sekitar tempat ini. Pasang matamu baik-baik dan pentang telingamu tajam-tajam. Sayang cermin saktimu sudah hancur. Tapi coba kau kerahkan Ilmu Menembus Pandang..."

Baru saja si nenek keluarkan ucapan tiba-tiba dari balik sebuah pulau kecil muncul satu perahu. Penumpangnya mengenakan pakaian biru tipis, rambut pirang panjang melambai lepas tertiup angin. Sekali-kali dia mencelupkan tangan ke dalam air. Perahu melesat deras di permukaan laut. Di satu tempat sejarak belasan tombak dari pantai perahu dihentikan, terombang ambing dipermainkan ombak kecil. Perlahan-lahan penumpang di atas perahu bangkit, tegak sambil rangkapkan dua tangan di atas dada. Mata menatap tajam ke arah pantai.

"Bidadari Angin Timur..." bisik Ratu Duyung.

"Benar," sahut Nyi Roro Manggut. "Dia tengah menanti kedatangan seseorang. Orang itu aku yakin sebentar lagi akan berada di tempat ini. Aku harap Bidadari Angin Timur tidak mengetahui kehadiran kita di balik batu karang ini."

"Purnama!" tiba-tiba gadis berambut pirang berpakaian biru tipis yang berdiri di atas perahu di tengah laut berteriak lantang. "Aku tahu kau berada di tepi pantai. Jangan bersembunyi! Aku sudah cukup lama menunggu kemunculanmu! Cepat unjukkan diri! Ada yang perlu kau jawab sebelum aku menghabisi dirimu!"

"Dugaanku tidak keliru!" kata Nyi Roro Manggut. "Tapi aku tidak menduga Bidadari AnginTimur punya dendam begitu hebat hingga dia ingin membunuh Purnama!"

"Kau bilang apa yang terjadi sama dengan kiamat bagi gadis itu. Dan Purnama sangat tersangkut dengan kejadian tersebut." Ucap Ratu Duyung pula. Dia berpaling ke kanan. "Aku mendengar desiran angin. Aku melihat sesuatu berkelebat di balik deretan pohon kelapa sebelah sana..." bisik Ratu Duyung.

Saat itu juga terlihat seorang perempuan berpakaian biru pekat, rambut digulung di atas kepala, berlari laksana terbang ke arah pantai. Ternyata dia adalah Purnama alias Luhmintari ibu dari Jatilandak alias Tubagus Kesumaputra.

Purnama angkat tangan kirinya ke arah Bidadari Angin Timur yang berada dia atas perahu.

"Bidadari Angin Timur! Aku tahu kau akan menungguku. Aku tidak sembunyi. Justru aku memang ingin menemuimu agar bisa diajak bicara! Antara kita mungkin telah terjadi kesalah fahaman!"

"Bukan mungkin! Bukan juga kesalah fahaman! Seseorang telah menghina mempermalukan diriku akibat fitnah yang berasal dari mulutmu!"

"Aku akan menerangkan padamu duduk perkaranya! Kita bersahabat sejak lama Aku tidak akan bermulut keji seperti yang kau duga. Sesuatu telah terjadi pada diriku!"

"Perempuan liar dari negeri najis!" teriak Bidadari Angin Timur. "Jika kau memang ingin bicara sebelum kematianmu, tunjukkan kehebatanmu! Datang temui aku di sini! Kita bicara di tengah laut ini!"

Ditantang begitu rupa Purnama tidak tinggal diam. Dia melirik ke arah deretan perahu di tepi pasir. Secepat kilat dia melompat mendekati salah satu perahu lalu mendorong ke dalam laut. Begitu berada di dalam air dia terus berenang sambil mendorong perahu. Dua gerakan kakinya yang sebat membuat perahu terdorong pesat di atas permukaan air.

Ketika tinggal beberapa tombak lagi dari perahu yang ditumpangi Bidadari Angin Timur baru Purnama melompat ke atas perahu. Aneh, kepala, tubuh, dan pakaian tidak ada yang basah. Gadis ini telah melindungi tubuh dan pakaian dengan ilmu yang mengeluarkan cahaya biru bergemeriap.

Begitu berdiri di atas perahu yang kini berdampingan dan hanya terpisah dengan perahu Bidadari Angin Timur sejarak dua jengkal, Purnama segera keluarkan ucapan.

"Sahabatku Bidadari Angin Timur, kalau kita bicara aku harap kita bicara dengan kepala dingin walau hati panas..."

"Hentikan bicara manismu!" Bentak Bidadari Angin Timur. "Antara kita tidak ada lagi jalinan persahabatan. Karena kau telah membuka aib diriku yang nyata-nyata adalah fitnah dan menyampaikannya pada Ratu Laut Utara keparat bernama Nyi Harum Sarti itu!"

"Aku tidak mengingkari. Aku memang bicara tentang keadaan dirimu setelah gagalnya pernikahanmu dengan Kepala Pengawal Kesultanan Cirebon bernama Tubagus Kesumaputra itu! Nyi Harum Sarti berusaha mengorek banyak keterangan dariku. Dan aku bicara dalam keadaan pikiran tidak waras akibat ilmu Penyejuk Jiwa Pemikat Hati yang disirapkan seorang nenek anak buah Nyi Harum Sarti atas diriku..."

"Aku tidak peduli ilmu setan apapun yang ditenungkan pada dirimu. Kau tidak bisa membantah kenyataan bahwa sumber fitnah yang sangat keji memalukan itu berasal dari mulutmu!"

"Aku mengakui hal itu. Namun harap kau bisa mengerti..."

"Tutup mulutmu! Jangan terlalu banyak bicara! Aku hanya ingin tahu satu hal lagi! Dari mana kau mengetahui peristiwa gagalnya pernikahanku dengan Kepala Pasukan Kesultanan Cirebon yang sebenarnya adalah anak kandungmu sendiri!"

"Berita baik berita buruk berjalan secepat angin bertiup," jawab Purnama tanpa mau berterus terang siapa orang yang menjadi sumber cerita peristiwa itu. Seperti diketahui Purnama mendapat penjelasan langsung dari puteranya sendiri yaitu Jatilandak alias Tubagus Kesumaputra. "Kuharap kau mau bersikap penuh pengertian. Walau aku menyadari buruknya diriku ini aku sebenarnya adalah bekas mertuamu juga..."

Mendengar kata-kata Purnama itu wajah Bidadari Angin Timur berubah merah. Rahang menggembung. Dada seperti mau meledak. Sepasang mata berkilat-kilat. Dari mulutnya menyembur tawa melengking panjang yang diakhiri dengan suara mendengus.

"Perempuan jahanam! Kau bukan saja terpesat dari negeri hantu! Tapi juga membuat keonaran di tanah Jawa! Aku tidak pernah nikah dengan anakmu! Aku tidak pernah merasa jadi janda seperti yang kau fitnahkan!"

"Bidadari Angin Timur, aku bersedia bersujud minta maaf padamu. Bukankah lebih baik kita lupakan saja persoalan ini? Semua terjadi bukan karena kemauan kita. Ini gara-gara kejahatan Ratu Laut Utara palsu bersama kaki tangannya!"

"Hebat dan pandai sekali kau mencari kambing hitam!" Tukas Bidadari Angin Timur. "Memang bukan terjadi karena kemauankulTapi kemauan busukmu!" Teriak Bidadari Angin Timur. Kepala disentakkan.

"Wutt!"

Rambut pirang laksana tabasan golok menyambar ke arah leher Purnama. Jangankan leher manusia, patung batupun akan dibabat putus oleh tebasan rambut pirang yang berubah menjadi kaku keras laksana lempengan besi!

Selagi Purnama menjauhkan diri untuk menghindari serangan Bidadari Angin Timur kembali lancarkan serangan susulan berupa pukulan tangan mengandung hawa sakti dan tenaga dalam tinggi!

Bagi dua orang yang memiliki kepandaian yang sudah mencapai puncaknya, bertarung di daratan adalah satu hal yang biasa. Tapi berkelahi di atas perahu kayu yang mengambang di atas laut sungguh merupakan kejadian yang sangat langka. Walau memiliki kesaktian serta tenaga dalam tinggi, tapi jika tidak berbekal ilmu meringankan tubuh yang luar biasa, kedua petarung bisa sama-sama celaka!

"Dukkk!"

Tangan kanan Bidadari Angin Timur yang melancarkan pukulan ke arah dada beradu dengan lengan kanan Purnama yang diperguna-kan untuk menangkis sekaligus dipakai mendorong sebagai serangan balasan.

Dua gadis cantik sama-sama terpekik. Tangan bergetar hebat dan membekas merah biru. Tubuh mereka serentak terhuyung ke belakang akibat keras beradunya dua tangan. Dalam keadaan seperti itu dengan gerakan kilat mengandalkan ilmu meringankan tubuh tinggi. Keduanya melompat ke udara. Sambil melayang turun untuk menjejakkan kaki di atas lantai perahu mereka kembali menabur serangan.

Purnama melepas pukulan Menahan Raga Menyerap Tenaga. Dengan ilmu ini dia mampu membuat lawan menjadi lemas tak berdaya. Jelas gadis dari Latanahsilam ini tidak berniat untuk mencelakakan lawan.

Sebaliknya Bidadari Angin Timur yang sudah nekad hendak menghabisi Purnama menghantamkan dua tangan ke arah lawan. Dua larik sinar biru berkiblat Ilmu kesaktian ini tidak bernama, Nyi Kuncup Jingga pernah mengatakan bahwa sambaran dua cahaya biru itu adalah Pedang Biru Liang Akhirat. (Baca "Cinta Tiga Ratu")

Laksana sepasang pedang, dua cahaya biru dengan ganas menyambar ke arah kepala dan dada Purnama. Bila dua cahaya biru mengenai sasaran maka kepala dan dada Purnama akan terbelah!

Di saat bersamaan kilat kembali menyambung di langit dan guntur menggelegar dahsyat. Selagi dua gadis yang bertarung belum sempat menjejakkan kaki dan serangan masing-masing belum saling bentrokan tiba-tiba angin deras turun bergemuruh, bertiup dahsyat membuat air laut membuntal membentuk gelombang luar biasa besar!

Dalam keadaan seperti itu dua buah perahu kayu tiba-tiba melesat dari arah pantai. Orang yang berperahu di sisi kanan berteriak.

"Bidadari Angin Timur! Purnama! Jangan tolol bertarung melawan sahabat sendiri! Semua bisa diselesaikan dengan saling bicara!"

Tapi gelombang luar biasa besar keburu menghantam. Empat perahu mencelat ke udara, hancur berkeping-keping. Nyi Roro Manggut cepat melesat menyambar tangan Bidadari Angin Timur sementara Ratu Duyung berusaha menggapai pinggang Purnama. Namun keduanya luput! Ketika gelombang kedua menyapu dan hujan serta angin menderu ganas sementara udara menjadi gelap, ke empat orang itu tidak kelihatan lagi!***4KETIKA Nyi Roro Manggut dan Ratu Duyung siuman, mereka dapatkan diri terbujur di atas pasir pantai Menjangan Kecil.

"Astaga, apa yang terjadi dengan diriku!" ucap si nenek seraya bangkit duduk. Dia memandang dan meraba dada sendiri, merasa lega karena mengetahui Batu Mustika Angin Laut Kencana Biru milik Nyai Roro Kidul masih berada dalam tubuhnya. Di sebelahnya duduk Ratu Duyung sambil mengibas-ngibas rambut yang basah, sepasang mata menatap ke arah laut yang kini berada dalam keadaan tenang. Di atas pasir keping kayu hancuran perahu bertebaran dipermainkan ujung ombak sementara langit cerah tak berawan. Sang surya condong jauh ke barat, memancarkan cahaya kekuningan pertanda saat itu hari telah sore.

"Ada badai waktu kita hendak mencegah Bidadari Angin Timur dan Purnama saling berbunuhan." Ratu Duyung keluarkan ucapan. "Nyi Roro, menurutmu apakah badai itu merupakan badai setan jejadian seperti yang kita alami sebelumnya?"

"Jin pencipta badai yaitu Durna Rawana sudah menemui ajal. Yang tadi adalah badai sungguhan." Jawab Nyi Roro Manggut. "Kita berdua tergeletak tak sadarkan diri cukup lama di tempat ini."

Ratu Duyung bangkit berdiri, menarap ke arah laut lepas. Selain pulau-pulau kecil dia tidak melihat apa-apa lagi.

"Nek, hatiku sangat kawatir. Apa yang terjadi dengan Purnama dan Bidadari AnginTimur. Jangan-jangan selagi kita tergeletak pingsan di sini kedua orang itu telah saling berbunuhan. Sama-sama menemui ajal!"

"Kalau mereka memang sama-sama sudah menemui ajal. Ada dua kemungkinan. Pertama tubuh mereka hancur berkeping-keping. Berarti kita tidak akan menemui jazad utuh mereka. Kemungkinan kedua jenazah mereka masih dalam keadaan utuh tapi tenggelam ke dasar laut. Paling cepat butuh waktu satu hari satu malam jenazah keduanya baru muncul mengambang di permukaan laut. Apakah kita akan menunggu? Kita masih banyak urusan penting yang harus segera dilaksanakan."

"Kita tidak bisa menunggu selama itu, Nek. Selain itu aku merasa sangat perlu menemui Wiro terlebih dulu."

Nyi Roro Manggut tidak menjawab melainkan menatap diam dengan matanya yang jereng ke arah laut

"Apa yang ada dalam pikiranmu Nek?" tanya ratu Duyung.

"Aku coba mengingat-ingat..." jawab si nenek pula. "Sewaktu gelombang besar menghantam kita, yaitu sebelum kita mampu mencegah terjadinya saling serang pukulan sakti antara Purnama dan Bidadari Angin Timur, aku sekelebatan melihat satu benda putih panjang muncul dari dalam laut, melesat di dalam gulungan gelombang, menyambar ke arah kita..."

"Aku tidak melihat benda itu Nyi Roro," kata Ratu Duyung pula.

"Bisa saja kau tidak melihat Namun aku berpikir, bila cuma gelombang besar yang menghantam kita, tidak mungkin kita sampai terkapar pingsan sekian lama di tepi pantai ini. Aku yakin benda putih panjang itulah yang melepas kekuatan dahsyat membuat kita terpental hingga tidak sadarkan diri."

"Kalau begitu ucapanmu, bisa saja dua sahabat kita itu telah mengalami celaka oleh benda itu. Tapi benda putih aneh itu mahluk apa gerangan?"

"Aku punya dugaan. Tapi kawatir kalau kesalahan..." ucap si nenek perlahan.

"Katakan saja padaku Nek. Masa kau tidak percaya aku akan menjaga rahasia?"

"Nanti saja. Ini bukan perkara percaya atau tidak percaya." Jawab Nyi Roro manggut.

Sambil meraba pinggang pakaian di bagian dimana dia menyimpan gulungan Pedang Naga Suci 212 Ratu Duyung berkata.

"Kalau begitu sebelum matahari tenggelam sebaiknya kita kembali dulu ke bukit menemui Wiro dan Bujang Gila Tapak Sakti. Lalu dengan mengandalkan Batu Mustika Sakti bersama-sama kembali ke daratan Jawa..."

Mendadak ucapan ratu Duyung terputus. Gadis itu terpekik.

"Ada apa?!" tanya Nyi Roro Manggut tersentak kaget.

"Pedang Naga Suci!" sahut Ratu Duyung dengan wajah berubah pucat. "Pedang sakti bergulung itu lenyap! Sebelumnya aku simpan di balik pinggang sini!"

"Celaka! Pasti ada yang mencuri ketika kita dalam keadaan pingsan!" Si nenek lalu membantu memeriksa dan mencari senjata sakti itu namun tidak berhasil ditemukan.

Ratu Duyung terduduk lemas di atas pasir. Mengusap wajah berulang kali. "Apa yang akan kita lakukan sekarang? Kemana harus mencari pedang sakti itu? Senjata itu titipan orang, bukan milikku! Ah mengapa musibah buruk selalu datang tidak berkeputusan. Sebelumnya batu mustika sakti. Kini pedang sakti..."

"Kita sedang apes," ujar Nyi Roro Manggut pula. "Pedang itu bukan cuma sekedar titipan, tapi lebih penting dari itu adalah tanda ikatan jodohmu dengan murid Sinto Gendeng."

Ratu Duyung diam saja. Wajahnya yang tadi pucat kini bersemu merah mendengar kata-kata si nenek. Ucapan Nyi Roro Manggut membuat hatinya jadi tambah gelisah tambah kawatir.

"Bagaimana kalau kita menyelidik dulu ke bukit kecil di dalam pulau? Siapa tahu Wiro masih ada di sana." Ratu Duyung akhirnya berkata.

Kedua orang itu segera kembali ke atas bukit tempat dimana mereka sebelumnya bertemu dengan Ratu Laut Utara Nyi Harum Sarti dan Ratu Sepuh. Namun mereka tidak menemui siapapun di situ. Bahkan patung Wiro dan Nyi Harum Sarti juga telah musnah berubah menjadi kepingan bertabur sama rata di atas tanah. Sesaat setelah matahari tenggelam dan malam segera turun Nyi Roro Manggut berkata.

"Kita sudah mencari hampir di seluruh pulau kecil ini. Kau telah mengerahkan ilmu Menembus Pandang. Tapi sia-sia saja semua usaha. Tidak seorangpun ada di pulau ini. Lebih baik kita kembali ke pantai selatan."

"Nyi Roro, kau berangkatlah duluan ke Kerajaan Laut Selatan. Temui Nyi Roro Kidul dan sampaikan permohonan maafku. Aku tidak bisa ikut bersamamu. Aku harus mencari dan menemukan Pedang Naga Suci Dua Satu Dua terlebih dulu."

Nyi Roro Manggut terdiam mendengar ucapan Ratu Duyung itu lalu bertanya."Kau mau mencari kemana pedang sakti itu?"

"Aku juga tidak tahu Nyi Roro. Mudah-mudahan Yang Maha Kuasa memberi petunjuk."

"Dengar ratu Duyung." Ucap si nenek sambil pegang bahu gadis bermata biru. "Dugaanku ada dua kemungkinan. Pedang itu memang dicuri orang ketika kau tergeletak pingsan di atas pasir. Atau bisa juga terlempar jatuh ke dalam laut sewaktu kita dihantam gelombang besar dan kibasan benda putih panjang."

"Aku akan berusaha menyelidik. Apapun yang terjadi Pedang Naga Suci Dua Satu Dua harus didapatkan kembali."

"Aku bisa mengerti tindakanmu. Aku akan memberi tahu Nyai Roro Kidul apa yang terjadi. Aku pergi Sekarang. Hati-hatilah..."

Ratu Duyung mengangguk.

"Kau juga hati-hati Nek," kata si gadis.

Nyi Roro Manggut letakkan tangan kanannya di atas dada dimana tersimpan Batu Mustika Angin Laut Kencana Biru. Sekati dia menghentakkan kaki kanan ke atas pasir pantai, tubuhnya melesat ke udara lalu melayang laksana terbang ke arah selatan.APA yang terjadi dengan Purnama dan Bidadari Angin Timur? Pada saat badai muncul dan gelombang besar menghantam, baik Purnama maupun Bidadari Angin Timur telah sama-sama sempat melepas pukulan sakti. Purnama melancarkan pukulan Menahan Raga Menyerap Tenaga yang tidakakan mencelakai lawan, hanya sekedar membuatnya tidak berdaya. Sebaliknya Bidadari AnginTimur yang membekal amarah serta dendam kesumat besar menghantam dengan serangan mematikan yaitu pukulan ilmu Pedang Biru Liang Akhirat.

Walau saat badai menghantam dan membuat kedua gadis itu sama-sama terlempar namun serangan mereka lepas masih sempat menghajar ke arah lawan. Akibatnya memang sangat berbahaya. Yaitu Bidadari Angin Timur akan lemas tak berdaya seluruh tubuh sementara Purnama bisa jadi menemui ajal paling tidak ada bagian tubuhnya yang terbabat putus atau terkoyak lebar!

Pada saat itulah benda putih panjang muncul dari dalam air laut, berkelebat ke atas di antara dua gadis yang barusan sama-sama melepas pukulan sakti. Kibasan dahsyat benda putih itu sanggup membuat Bidadari Angin Timur dan Purnama terpental lebih jauh. Meskipun demikian dua gadis tetap mengalami cidera.

Bidadari Angin Timur menjerit keras ketika dia merasa tubuh sebelah kanannya mulai dari ujung jari tangan sampai ke bahu dan terus ke kaki menjadi lemas tak bisa digerakkan lagi. Ketika gelombang besar menghantam dirinya tak ampun gadis ini amblas masuk ke dalam laut. Walau dia memiliki ilmu bisa bertahan lama di dalam air yang didapat dari Kiai Gede Tapa Pamungkas namun dalam keadaan separuh tubuh cidera berat seperti itu dia tak mungkin menggantungkan nyawanya pada ilmu tersebut Ketika megap-megap muncul di permukaan air, dia berusaha dan masih sempat menggapai dengan tangan kiri sekeping papan pecahan perahu. Dia tidak menyadari kalau ada benda melekat di atas kepingan papan yang kini menjadi gantungan hidupnya itu. Lalu gelombang kembali menghantam tubuhnya hingga terpental dan diseret jauh ke arah barat.

Akan halnya Purnama, gadis dari alam gaib 1200 tahun silam ini dalam keadaan terpental masih sanggup selamatkan diri dari salah satu cahaya biru yang menyambar ke arahnya. Namun sambaran cahaya biru kedua tak mampu dielakkan. Laksana pedang membabat cahaya biru masih sempat menyambar pinggulnya sebelah kiri. Darah mengucur dari luka besar di pinggul. Air laut sekitar situ tampak kemerahan. Dia sulit menggerakkan diri, apa lagi berusaha berenang mencapai pantai. Sebelum pingsan gadis ini berusaha sedapatnya melafatkan ajian bernama Empat Penjuru Air Alam Gaib. Dengan ilmu ini, jika dia mampu membacakan manteranya sampai selesai maka tubuhnya akan mengambang di atas air. Berarti kehidupannya kini tinggal tergantung kemana arus air laut membawa menghanyutkan tubuhnya.5MALAM Jum'at Kliwon di tanah Jawa. Malam Jum'at yang sama di Pulau Andalas. Langit cerah tak berawan, dihias bulan sabit. Saat itu lewat tengah malam. Di tepi Danau Maninjau, di atas sebuah batu datar dialas selembar kulit kambing putih, Datuk Rao Basaluang Ameh baru saja selesai melakukan sembahyang tahajud dan siap berzikir ketika tiba-tiba di kejauhan terdengar alunan suara serunai memecah kesunyian malam.

Sang Datuk angkat kepala. Wajah berubah, hati tercekat, dada berdebar. Perlahan mulutnya berucap.

"Puluhan tahun aku tidak pernah mendengar suara bebunyian itu. Apakah dia yang meniup? Apakah dia yang datang? Ah, mungkinkah dia masih hidup? Adakah kerinduan yang tersemat di hatiku juga ada di hatinya hingga dia datang ke sini?"

Datuk Rao Basaluang Ameh duduk tak bergerak. Mengambil sikap menunggu sambil sepasang matanya yang biru menatap ke arah jauh di kegelapan dari mana datangnya suara tiupan serunai yang mendayu berhiba-hiba, menimbulkan perasaan haru di lubuk hati Datuk Rao Basaluang Ameh. Orang tua yang konon adalah setengah roh manusia dan telah menemui kematian seratus tahun silam ini pegang saluang yaitu seruling khas Minang yang terbuat dari emas dan terselip di pinggang. Perlahan-lahan dia tarik saluang ini lalu ujungnya ditempelkan ke bibir. Sesaat kemudian suara tiupan saluang menggema di udara malam, menimpali dan saling bersahutan dengan suara serunai. Seolah-olah dua mahluk gaib yang tengah memadu kasih. Di tengah Danau Maninjau, permukaan air tampak bergetar, membentuk gelombang-gelombang halus yang beriringan berarak ke tepian danau.

Untuk beberapa lama dua suara dua bebunyian itu saling bersambut indah di keheningan malam. Begitu menyentuh hati sehingga tanpa sadar butir-butir air mata meluncur jatuh di pipi Datuk Rao Basaluang Ameh. Tangannya yang memegang saluang bergetar dan tiupannya sesekali tertahan-tahan. Jauh di kegelapan ada suara tersendat seperti orang menahan isak dan bersamaan dengan itu suara tiupan serunai terdengar turun naik tak menentu.

Perlahan-lahan Datuk Rao Basaluang Ameh turunkan tangan. Saluang emas diletakkan di atas pangkuan. Mata terus menatap ke arah kegelapan. Mulut berucap gemetar.

"Laras Parantili. Jika memang kau yang datang perlihatkanlah dirimu. Jangan membuat diriku sesak seperti dikurung dalam keranda besi yang hendak ditenggelamkan ke dasar Danau Maninjau."

Suara tiupan serunai di kegelapan berubah perlahan lalu lenyap sama sekali, tak lama kemudian kelihatan seseorang melangkah keluar dari balik deretan pohon-pohon Kayu Manis berusia ratusan tahun. Orang itu berjalan ke arah batu besar di tepi danau dimana Datuk Rao Basaluang Ameh duduk lalu berhenti. Sang Datuk masih belum bisa melihat jelas. Hatinya berkata. "Datanglah lebih dekat agar aku bisa melihat dirimu..."

Seperti terdengar suara hati sang Datuk, orang dalam gelap lanjutkan langkah, mendatangi. Hanya sejarak dua belas langkah dari tempatnya duduk, Datuk Rao Basaluang Ameh kini tak ragu lagi. Dia benar-benar mengenali siapa orang yang datang ini. Bukan saja dari raut wajahnya tapi juga dari pakaian yang dikenakan.

"Allah Maha Besar! Aku memanjatkan beribu syukur! Laras Parantili! Benar kau yang datang rupanya!"

Datuk Rao Basaluang Ameh segera berdiri. Saluang Ameh diselipkan di pinggang.Tongkat kayu putih miliknya yang tadi tergeletak di atas tikar kulit kambing diambil lalu cepat turun dari atas batu.

Dua belas langkah di hadapannya berdiri seorang perempuan tua bertubuh tinggi semampai berambut putih perak, disanggul rapi dihias sesusun sunting rendah terbuat dari suasa. Wajahnya bujur telur berhidung mancung. Walau banyak kerut dan sepasang mata agak sembab tanda habis menangis, wajah itu bersih dan masih membayangkan kecantikan dimasa muda. Sehelai selendang biru bergelung di leher, menjulai ke dada. Perempuan tua itu mengenakan kebaya panjang dalam menyerupai jubah berwarna kuning gelap, penuh dengan taburan sulaman bunga yang terbuat dari sulaman benang perak. Di bawah kebaya panjang kuning dia mengenakan sehelai celana panjang berwarna hitam. Di tangan kanan, sambil diletakkan di atas dada dia memegang sebuah serunai, yaitu bebunyian menyerupai suling tapi agak menggembung dan berkeluk di bagian tengah.

Untuk beberapa lama dua orang itu hanya saling bertatapan. Kemudian Datuk Rao melangkah mendekati namun dua langkah di hadapan perempuan tua itu dia berhenti. Jika menurutkan perasaan hati, saat itu juga sang Datuk ingin sekali memeluk erat perempuan tua berwajah cantik itu.

"Laras Parantili, ini kebesaran Tuhan yang paling indah. Aku tidak menyangka kau akan datang. Ah... Berapa tahun kita tidak pernah berjumpa? Sepuluh... dua puluh... empat puluh tahun..."

"Setengah abad Datuk. Setengah abad kita tak pernah saling bertemu..." menjawab perempuan tua bernama Laras Parantili.

"Setengah abad. Benar sekali. Aku benar-benar berbahagia.

Kalau bukan langkah Tuhan yang membimbingmu kemari tentu kita

tidak berjumpa malam ini."

"Disitulah rahasia Kebesaran Allah," kata Laras Parantili.

"Sejuta puji sejuta syukur!" ucap Datuk Rao Basaluang Ameh. "Laras, mari kita bicara di atas rumah gadang gonjong lima. Aku tidak tahu kau datang dari mana.Tapi yang pasti datang dari tempat yang jauh. Kau pasti lelah. Kau perlu secangkir minuman panas untuk menghangatkan diri. Selain itu kau tentu butuh istirahat..."

Laras Parantili tersenyum. Dia menatap ke arah kejauhan dimana terlihat sebuah rumah panggung besar beratap ijuk dengan gonjong berbentuk tanduk kerbau sebanyak lima buah.

"Terima kasih, Datuk. Kau tetap baik dan lembut seperti yang sudah-sudah. Kalau kau tidak keberatan, biar kita bicara di sini saja. Aku tidak ingin mengganggu ketenangan tidur para penghuni gadang."

Mendengar ucapan orang, Datuk Rao Basaluang Ameh maklum kalau si nenek datang membawa suatu maksud dan maksud itu ingin disampaikan secara cepat. Berarti dia tidak akan lama melihat perempuan yang selama fni selalu dirindukannya itu.

"Laras Parantili, aku tidak akan memaksa kau agar mau naik ke rumah gadang. Namun kalau boleh aku bertanya sudilah mengatakan gerangan maksud kedatanganmu. Apakah ini menyangkut hubungan kita masa lalu?"

"Datuk... pembicaraan kita mungkin akan sampai di sana. Namun berterus terang aku katakan, kedatanganku membawa satu kabar serta tujuan besar."

Sekilas harapan membayang di wajah Datuk Basaluang Ameh.

"Aku gembira mendengar hal itu. Katakanlah. Jika memang perlu kita rundingkan maka akan segera kita bicarakan saat ini juga."

"Datuk, ketahuilah bahwa kedatanganku membawa satu amanat dari alam gaib, menyangkut mahluk titisan..."

Datuk Rao Basaluang Ameh tatap wajah Laras Parantili. Wajahnya membayangkan tanda tanya.

"Kau pasti belum mengerti. Biar aku lanjutkan ucapan," kata si nenek pula sambil membetulkan gelungan selendang biru di lehernya. "Aku tahu di dalam rumah gadang tempat kediamanmu saat ini ada seorang anak perempuan berusia menjelang dua tahun. Bernama Ken Permata."

Datuk Rao Basaluang Ameh sembunyikan keterkejutannya dengan tersenyum. "Lima puluh tahun tidak bertemu, lima puluh tahun tidak pernah datang, bagaimana begitu muncul Laras Parantili mengetahui kalau dirumahku ada seorang anak perempuan berusia hampir dua tahun bernama Ken Permata." Sebelum sempat orang tua ini mengatakan sesuatu, si nenek bermuka bulat sudah lebih dulu lanjutkan ucapan.

"Anak perempuan itu adalah puteri dari seorang Tumenggung di tanah Jawa bernama Wira Bumi yang kemudian menjadi Patih Kerajaan. Nasib buruk sang Patih, dia tewas di tangan tokoh persilatan golongan putih. Istrinya, ibu dari Ken Permata bernama Nyi Retno Mantili, saat ini masih hidup tapi dalam keadaan tersiksa sengsara karena telah kehilangan ingatan warasnya. Konon perempuan itu masih berada di tanah Jawa."

"Dia tahu banyak tentang Ken Permata dan kedua orang tuanya," ucap Datuk Rao dalam hati. Lalu pada si nenek dia berkata. "Laras, tadi kau menyebut-nyebut soal titisan..."

"Ceritaku akan sampai ke sana Datuk." Jawab si nenek pula dengan suara tenang penuh kesabaran sementara sebaliknya Datuk Rao ingin cepat-cepat mengetahui apa sebenarnya maksud semua ucapan dan kedatangan si nenek.

"Datuk, nasib anak perempuan bernama Ken Permata itu mungkin akan sama buruk dengan apa yang terjadi dengan ibunya jika tidak ada seseorang yang mau turun tangan dan menolong menghindarkan kejadian itu..."

Datuk Rao yang tidak sabaran langsung memutus ucapan dengan bertanya. "Lalu apakah kedatanganmu adalah sebagai orang yang hendak menolong anak perempuan itu?"

"Aku tak kuasa menolong, aku hanya orang yang ketitlpan amanat agar anak perempuan itu dapat menerima titisan yang bakal datang atas dirinya. Bagaimana perjalanan hidupnya nanti Yang Maha Kuasalah yang akan menentukan..."

"Laras parantili, terus terang aku masih belum jelas akan semua apa yang kau katakan ini. Roh siapa yang akan menitis ke dalam diri Ken Permata? Kapan hal itu akan terjadi?"

"Roh yang akan menitis berasal dari diri seorang perempuan usia empat puluh tahun bernama Nyi Harum Sarti. Seorang perempuan yang pernah menduduki tahta Kerajaan Laut Utara sebagai Ratu namun tewas tiga hari yang lalu."

"Kapan penitisan akan terjadi?" tanya Datuk Rao yang kini menjadi tampak tegang.

"Malam ini. Dan aku dibebankan amanat agar petitisan itu terjadi dengan sebaik-baiknya tanpa halangan."

"Laras, kau mengatakan roh yang akan menitis ke dalam diri Ken Permata adalah roh seorang ratu dari Kerajaan Laut Utara yang tewas tiga hari lalu."

"Betul sekail Datuk." Jawab Laras Parantili.

"Kalau kau mengatakan dia tewas maka aku mempunyai dugaan Ratu itu menemui kematiannya secara tidak wajar. Dibunuh Orang?"tanya Datuk Rao.

"Soal kematiannya, dibunuh atau bukan, siapa yang membunuh rasanya tidaklah penting Datuk. Jika penitisan terjadi maka Ken Permata setelah usianya mencapai tahun ke tiga kelak akan memiliki dasar-dasar ilmu kepandaian tingkat tinggi seperti hawa sakti, tenaga dalam, tenaga luar dan sebagainya."

"Kalau yang masuk ke dalam diri anak itu adalah ilmu hitam, apakah ada manfaatnya?" tanya Datuk Rao Basaluang Ameh.

"Ilmu putih ilmu hitam tergantung bagaimana seseorang mempergunakannya. Sekalipun menguasai ilmu putih tapi jika digunakan untuk kejahatan maka akan berarti orang itu telah merubah ilmu putih menjadi ilmu hitam."

Datuk Rao Basaluang merenung beberapa ketika. Dalam hati orang tua ini membatin.

"Tadinya aku mengira dia datang untuk berbaik-baik membicarakan hubungan di masa lalu. Ternyata membekal sesuatu maksud yang tidak aku duga. Kalau dia memang ketitipan amanat, dirinya memang tidak bisa disalahkan. Tapi bagaimana hal ini bisa terjadi?"

"Laras, sebelum aku mengizinkan terjadinya penitisan itu, aku minta waktu untuk lebih dulu menyelidiki siapa Nyi Harum Sarti itu sebenarnya..."

"Datuk, mungkin kita tidak punya banyak waktu lagi. Seperti kataku tadi, penitisan tadi akan terjadi malam ini." Jawab si nenek cantik bernama Laras Parantili sambil menatap ke langit lepas di atas danau.

"Laras, ketahuilah, kesembuhan penyakit jiwa ibu Ken Permata yang bernama Nyi Retno Mantili itu adalah jika dia berhasil menemukan puterinya. Jika sebelum pertemuan si anak sudah ketitisan roh orang lain, aku kawatir seandainya terjadi pertemuan mungkin sekali kesembuhan tidak akan terjadi. Nyi Retno Mantili akan sengsara seumur-umur. Saat ini cucu muridku Pendekar Dua Satu Dua Wiro Sableng tengah berusaha mencari Nyi Retno Mantili dan membawanya ke Danau Maninjau ini. Untuk dipertemukan dengan puterinya."

"Datuk, aku mengerti kekawatiran Datuk, jawab Laras Parantili pula. "Namun apakah Datuk juga memikirkan. Kalau penitisan tidak terlaksana maka akan dua orang yang menderita sengsara yaitu Ken Permata dan Nyi Retno Mantili."

"Aku tidak sependapat denganmu Laras. Sekarang bukankah lebih baik kita membicarakan soal lain saja..."

Laras Parantili tersenyum. Senyum yang membuat Datuk Rao Basaluang Ameh merasa berbunga-bunga hatinya.

"Kalau itu maumu, baiklah Datuk," kata si nenek pula. Lalu dari balik pakaian kuningnya dia mengeluarkan sebuah kotak kecil berbalut kain beludru merah yang telah kusam dan koyak di beberapa sudut pertanda kotak ini sudah agak usang dimakan umur.

Melihat kotak yang dipegang Laras Parantili bercahayalah wajah Datuk Rao.

"Kotak beludru merah. Dia masih menyimpannya. Berarti dia datang benar-benar karena masih mengingat hubungan kasih sayang di masa muda. Sekali ini dia tidak akan aku biarkan pergi kemana-mana lagi." Kata Datuk Rao dalam hati. "Laras, aku merasa bahagia kau masih mendambakan diriku..."

Namun semua rasa senang bahagia orang tua sakti ini serta merta sirna ketika Laras Parantili berkata.

"Datuk, puluhan tahun aku membawa kotak ini kemana aku pergi. Kujaga baik-baik, seolah aku membawa nyawaku sendiri. Di dalamnya masih tersimpan dua cincin kuning terbuat dari batu Giok. Para tetua kita dulu mengharapkan suatu ketika dua cincin itu akan saling kita jadikan kalung di leher masing-masing sebagai pertanda ikatan perjodohan. Namun setelah setengah abad berlalu apa yang pernah diharapkan tidak pernah terjadi. Aku di timur kau di barat. Aku di selatan kau di utara. Aku membawanya kali ini dengan penuh perasaan sedih. Karena aku akan menyerahkan kotak berisi dua cincin Batu Giok ini padamu. Lebih baik kau yang menyimpannya. Aku harap kau menjadi maklum, penyerahan dua cincin ini sebagai pertanda bahwa kita memang tidak saling berjodoh."

Datuk Rao Basaluang Ameh seperti dihenyakkan ke bumi. Langit seolah runtuh menimpa kepalanya.

"Laras, tunggu dulu. Jangan kau berkata begitu. Malam ini adalah malam berkat Tuhan Yang Maha Besar. Kau datang membawa sepasang cincin. Bukankah ini berarti bahwa kita memang saling berjodoh walau harus menunggu sampai setengah abad?"

Datuk Rao tidak berani menerima kotak beludru merah.

"Datuk, aku senang mendengar kata-katamu. Kalau saja kata-kata itu kau ucapkan lima puluh tahun yang lalu. Sebaiknya kau buka dulu kotak itu. Lihat dan periksa, apakah benar dua cincin Giok kuning masih ada di dalamnya dan apakah dalam keadaan baik, tidak retak tidak gumpil?"

"Aku yakin kau telah menjaga kotak ini baik-baik. Aku percaya dua buah cincin Giok kuning tidak kurang suatu apa."

Datuk Rao lalu mengambil kotak beludru merah dari tangan Laras Palantili dan membuka penutupnya. Begitu tutup kotak dibuka menyemburlah asap kuning pekat berbau busuk. Asap langsung memasuki jalan pernafasan sang Datuk. Orang sakti ini cepat totok dua urat besar dipangkal lehernya namun terlambat. Asap beracun telah melewati tenggorokan dan mengancing dua paru-parunya. Sebelum jatuh pingsan Datuk Rao Basaluang Ameh keluarkan suara menggembor lalu roboh ke tepi Danau Maninjau. Mulut lelehkan cairan kuning!6TERANG dan hangatnya cahaya mentari pagi menyadarkan Datuk rao Basaluang Ameh dari pingsannya. Telinganya menangkap suara kicau burung. Orang tua ini batuk-batuk beberapa kali, muntah-kan cairan kuning. Terhuyung-huyung dia mencoba bangun. Dua kaki sulit digerakkan. Akhirnya dia mampu duduk bersila. Pejamkan mata, tarik dan hembuskan nafas panjang berulang kali. Hawa sakti dialirkan, tenaga dalam dikerahkan. Ada denyutan rasa sakit di dada. Agaknya masih ada racun asap kuning yang mengendap dalam tubuhnya. Orang tua itu duduk bersila luruskan dada. Dua telapak tangan ditekankan ke tanah. Sesaat kemudian perlahan-lahan tubuhnya melayang naik ke udara. Pada ketinggian lima belas jengkal dari tanah tubuh ini berbalik lalu menukik turun, kaki ke atas kepala ke bawah.

Begitu kepala menyentuh tanah Datuk Rao Basaluang menotok urat besar di dada kiri kanan, pangkal leher serta kedua pelipisnya. Saat itu juga ada hawa aneh menyedot dari dalam tanah. Inilah cara orang sakti ini menguras racun yang mendekam dalam tubuhnya. Selain mengandalkan kemampuan sendiri juga meminjam kekuatan bumi. Cairan kuning meleleh keluar dari mata, hidung, telinga dan mulut. Setelah itu tubuhnya melayang naik kembali, membalik di udara turun dengan kaki lebih dulu.

Orang tua sakti ini telah terlepas dari bahaya besar yakni lumpuh seumur hidup akibat racun jahat kuning!

"Laras Parantili. Tidak kusangka setega ini hati dan perbuatanmu terhadapku..." ucap sang Datuk dalam hati. Dia berdiri dengan lutut masih terasa goyah, memandang berkeliling. Perempuan itu tak ada lagi. Lalu dia melihat kotak beludru merah tergeletak di tanah. Cepat dihampiri dan diperiksa. Kotak ternyata dalam keadaan kosong. Tak ada dua cincin Giok kuning.

"Laras, kau memang tidak membunuhku.Tapi apa yang kau telah lakukan sama saja membuat aku mati dalam hidupku. Ini lebih menyakitkan dari kematian sesungguhnya."

Tiba-tiba orang tua itu ingat.

"Ken Permata. Anak itu...!"

Secepat kilat Datuk Rao menghambur ke arah rumah gadang. Di langkan depan rumah dia menemukan harimau sakti putih besar Datuk Rao Bamato Hijau terbaring mendengkur di lantai.

"Tidak biasanya Datuk tidur di tempat ini. Sesuatu telah terjadi dengan dirinya..." Datuk Rao cepat memegang kepala binatang itu, mengusap beberapa kali lalu meniup keningnya. Tiba-tiba harimau putih menggoreng keras dan melompat bangun. Sepasang matanya yang hijau menatap ke arah Datuk Rao. Sesaat kemudian harimau putih ini rundukkan kepala sambil menggoreng halus, mencium kaki Datuk Rao.

"Datuk, aku tahu, aku tahu sesuatu telah terjadi. Ada seseorang menyirapmu, membuat dirimu tertidur tak berdaya. Dan kau mengaku salah..."

Datuk Rao kembali mengusap kepala harimau putih lalu dia melangkah ke arah sebuah kamar di tengah rumah gadang. Di dalam kamar dia menemukan Mande Saleha, perempuan yang merawat dan menjaga Ken Permata terbaring tertelungkup di lantai papan dekat pintu. Tangan kanannya terjulur seperti hendak menggapai sesuatu. Ken Permata sendiri, anak perempuan yang biasa tidur dalam pelukannya tidak ada di dalam kamar itu.Tempat tidur beralas kasur tinggi dua jengkal kosong.

Datuk Rao tepuk punggung Mande Saleha sampai perempuan berusia hampir setengah abad ini terbangun. Begitu matanya nyalang, mulutnya langsung berteriak.

"Datuk! Saya mohon ampunmu..."

"Tenang Saleha. Katakan apa yang terjadi." Kata Datuk Rao Basaluang Ameh pula. "Dimana Ken Permata?"

"Malam tadi Datuk..." jawab Mande Saleha setengah menahan tangis. Lalu perempuan ini menerangkan. "Malam tadi Ken Permata sudah tidur. Saya masih mengawang-awang, belum bisa memicingkan mata. Tiba-tiba entah mengapa bulu kuduk saya terasa meremang. Saya merasakan ada seorang lain dalam kamar. Saya bangun. Memandang berkeliling. Pandangan saya bertumbuk dengan sosok seorang perempuan berambut putih. Dia tegak tak bergerak di sudut sana. Tubuhnya tinggi. Mengenakan baju panjang kuning berbunga perak. Dia memakai sunting pendek. Ada selendang biru menggelung di lehernya. Meski takut saya masih mampu bertanya menanyakan siapa dirinya. Dia tidak menjawab. Tangan kanannya diangkat, dua jari dituding lurus. Lalu saya melihat ada larikan sinar kuning keluar dari sela jarinya. Saat itu juga saya menggelinding jatuh dari kasur. Meski saya masih sadar namun saya tidak bisa bersuara. Sebagian dari tubuh saya, yang sebelah kiri terasa berat. Lalu perempuan tua membuka jendela lebar-lebar. Saat itu saya melihat satu cahaya putih menyilaukan datang dari luar, masuk ke dalam kamar melalui jendela. Cahaya ini menyelubungi tubuh Ken Permata. Beberapa kali saya lihat tubuh anak Itu terangkat ke atas. Lalu cahaya putih lenyap seolah habis diserap masuk oleh Ken Permata. Sebelum jatuh pingsan saya berusaha mencegah tapi tak berhasil." Selesai memberikan penjelasan Mande Saleha menangis sejadi-jadinya. "Ini kali yang kedua kejadian seperti ini..." katanya di antara tangisnya. (Baca "Bayi Satu Suro" dimana Ken Permata diculik oleh Wira Bumi dan Nyai Tumbal Jiwo).

"Saleha, hentikan tangismu. Kalau musibah sudah ditakdirkan datang, tidak ada yang bisa mencegah. Aku akan mencari anak itu..."

Tiba-tiba di kejauhan terdengar suara anak menangis.

"Datuk...Itu suara Ken Permata..."Ucap Mande Saleha.

Tidak ditunggu lebih lama Datuk Rao Basaluang Ameh melompat keluar rumah lewat jendela yang terbuka. Berkelebat ke arah terdengar suara tangisan anak kecil. Harimau putih besar mengikuti.Tangisan itu ternyata hanya datang dari dalam goa batu pualam yang menjadi tempat kediaman sekaligus pertapaan Datuk Rao. Ken Permata ditemukan duduk tersandar di dinding goa, menangis menjerit-jerit. Ketika melihat Datuk Rao Basaluang Ameh, anak ini hentikan tangis. Dua matanya yang bening menatap memperhatikan si orang tua.

Datuk Rao melihat pancaran aneh keluar dari mata anak perempuan itu. Juga caranya memandang terasa tidak seperti biasanya.

"Cucuku, kau bermain jauh sekali. Mande Saleha sampar menangis mencarimu. Mari kita pulang ke rumah gadang." Datuk Rao dukung Ken Permata, melangkah cepat kembali ke rumah bergonjong sambil membelai punggung si anak.

"Tubuh anak ini ringan sekali. Tidak seperti biasanya..." kata Datuk Rao dalam hati ketika melangkah sambil menggendong Ken Permata.

Sampai di dalam rumah Ken Permata diberikan pada Mande Saleha yang menyambut si anakdengan menangis keras tapi kali ini merupakan tangis bahagia. Sementara Mande Saleha mendukungnya Datuk Rao Basaluang Ameh memeriksa keadaan Ken Permata. Mula-mula diperiksa bagian punggung dan kepala sebelah belakang. Lalu diteliti wajahnya serta tangan dan kaki. Tidak ditemui kelainan. Datuk Rao menyuruh Mande Saleha membaringkan Ken Permata di atas kasur. Dada diperiksa. Tetap tidak ada hal yang mencurigakan.Tapi ketika sang datuk menyingkapkan pakaian di bagian perut Ken Permata disitulah dia melihat tanda biru pada pusar si anak.

Datuk Rao Basaluang Ameh picingkan kedua mata. Menarik nafas panjang berulang kali. Hatinya membatin.

"Titisan telah terjadi. Melewati pusar anak ini. Pusar adalah lambang pintu yang senantiasa tertutup. Kalau ada yang mampu membuka maka itu akan terjadi sekali seumur hidup. Berarti aku, atau siapapun tidak bisa mengeluarkan roh dari mahluk yang telah menitis masuk ke dalam tubuh anak ini. Ya Tuhan, ya Robbi. Yang buruk selalu datang dari kami manusia jelata. Yang baik selalu datang dari diriMu. Berilah semua kebaikan pada diri anak ini. Lindungilah dia dalam segala usia, pada segala tempat dan pada setiap kurun waktu."7BEBERAPA minggu setelah peristiwa di Pulau Menjangan Kecil. Pada masa itu dunia perdagangan antara pulau Jawa dan Pulau Andalas mengalami kemajuan pesat. Tidak mengherankan kalau Selat Sunda setiap hari siang maupun malam dilayari oleh perahu-perahu dagang besar membawa berbagai macam barang dagangan dan bahan mentah termasuk rempah-rempah. Beberapa negeri asing ikut meramaikan perdagangan dengan mengirim perahu-perahu layar besar. Kota-kota pelabuhan di pesisir utara pulau Jawa dan pesisir selatan pulau Andalas berkembang menjadi pelabuhan besar dan penting. Kehidupan rakyat yang dulunya hanya bertani maupun jadi nelayan kini banyak yang membuka usaha, ikut berdagang. Tingkat kehidupan penduduk menjadi jauh lebih baik dari pada yang sudah-sudah.

Namun keadaan itu berubah ketika jalur lintas pelayaran Selat Sunda diganggu oleh kaum perompak atau bajak laut. Dengan perahu-perahu layar kecil berkecepatan tinggi mereka menghadang kapal-kapal dagang, mengeroyok dan menjarahnya di tengah lautan. Konon para perompak memiliki senjata api berupa bedil yang mereka rampas dari orang-orang Portugis. Beberapa waktu sebelumnya memang terjadi kejahatan di tengah laut. Namun tidak sesering dan sehebat belakangan ini. Kabarnya para perompak yang mencari mangsa di kawasan Selat Sunda itu dilakukan oleh komplotan besar. Dan yang membuat seluruh kawasan menjadi geger konon mereka memiliki pimpinan baru seorang perempuan yang dikenal dengan panggilan Janda pulau Cingkuk. Sejak perempuan yang kabarnya memiliki ilmu silat serta kesaktian tinggi dan disebut Janda pulau Cingkuk itu menjadi pimpinan kaum perompak walau kejahatan mereka tambah merajalela namun jarang sekali ada korban yang terbunuh. Paling banyak hanya terluka, itupun tidak parah.

Akibat dari terjadinya penjarahan di tengah laut yang tidak berkeputusan ini arus pelayaran kapal dagang di Selat Sunda hari demi hari jadi jauh berkurang. Perdagangan merosot jatuh. Yang paling dirugikan bukan saja para pedagang dan pemilik kapal layar tapi juga penduduk di sepanjang pesisir utara pulau Jawa sebelah barat dan pesisir selatan pulau Andalas yang selama ini mencari tambahan mata pencaharian dari ramainya perdagangan antar pulau dan antar negeri itu.

Sepak terjang para perompak yang dipimpin oleh janda Pulau Cingkuk itu akhirnya sampai ke pusat Kesultanan Banten. Banten yang punya hubungan dagang berupa jual beli lada dengan para petani dan pedagang di pulau Andalas sebelah selatan menderita kerugian paling besar karena belasan kapal-kapal dagang Kerajaan yang membawa lada dirompak di tengah laut.

Sultan memanggil para pembantunya. Dicari jalan bagaimana cara untuk dapat menumpas para perompak. Diputuskan, sebelum tindakan diambil perlu dilakukan penyelidikan rahasia tentang kekuatan lawan. Siapa saja pimpinan mereka selain Janda Pulau Cingkuk serta dimana pusat persembunyian mereka. Sekitar dua belas orang berkepandaian tinggi disebar sebagai mata-mata, menyamar melakukan tugas itu.

Dari dua belas orang yang berangkat hanya delapan yang kembali. Yang empat orang tidak diketahui kemana raibnya atau apa yang terjadi dengan diri mereka;

Berdasarkan penuturan delapan orang yang kembali menghadap Sultan Banten didapat keterangan bahwa para perompak bermarkas di sebuah pulau kecil yang oleh para nelayan disebut Pulau Cingkuk. Jumlah mereka sekitar dua belas orang. Kecuali Janda Pulau Cingkuk tidak terdapat seorang perempuan pun di pulau itu. Ada dugaan bahwa para perompak yang tentunya mempunyai anak istri itu mempunyai pemukiman rahasia di pulau lain dekat Pulau Cingkuk dimana keluarga mereka tinggal. Sebelum para perompak bermukim di sana, tentunya pulau itu hanya dihuni ratusan kera berbulu coklat. Para nelayan yang jarang berhenti di pulau itu menyebut kera-kera itu dengan nama cingkuk karena sepanjang hari binatang-binatang itu selalu mengeluarkan suara riuh kuk...kuk...kuk. Sejak itu pulau tersebut dikenal dengan nama Pulau Cingkuk.

Letak Pulau Cingkuk agak tersembunyi di antara gugusan pulau-pulau kecil di Selat Sunda, tepatnya di selatan Pulau Rakata Kecil dan di utara Pulau Rakata Besar. Menurut para mata-mata bilamana Kesultanan Banten mengirim pasukan besar untuk menumpas kaum perompak kemungkinan mereka akan terjebak. Karena waktu mereka lewat akan sangat mudah menjadi bulan-bulanan serangan. Apa lagi kalau para perompak memang benar memiliki senjata yang bisa berdentam dan mampu membunuh dari jarak jauh yaitu yang disebut bedil atau senapan. Korban yang jatuh diantara kedua belah pihak akan-berjumlah besar.

Mengenai pemimpin yang bernama Janda Pulau Cingkuk diketahui dia seorang perempuan bertubuh tinggi semampai, berpakaian serba merah. Kepala sampai ke rambut ditutup selendang merah, wajah dilindungi cadar merah. Sebegitu jauh tidak ada seorangpun anak buahnya yang tahu siapa nama perempuan Ku sebenarnya. Juga tidak pernah ada yang melihat wajahnya. Namun dari gerak gerik, bentuk tubuh serta suaranya agaknya dia masih sangat muda dan kemungkinan sekali memiliki wajah cantik.

Diberitahukan pula bahwa perempuan itu selain punya ilmu silat dan kesaktian serta gerakan cepat laksana kilat hingga dianggap bisa menghilang, dia juga memiliki sebilah pedang sakti berwarna hijau yang disebut Pedang Lumut Batu. Menurut cerita ketika pertama kali menundukkan Hang Damar Hantu Laut Selat Sunda yang menjadi pimpinan kaum perompak, Janda Pulau Cingkuk pergunakan pedang sakti dan berhasil mengalahkan pimpinan bajak laut itu bersama hampir dua ratus anak buahnya. Dalam pertempuran hebat tidak ada lawan yang terbunuh sementara Hang Damar Hantu Laut Selat Sunda hanya tergores luka lengan kirinya. Menyadari kehebatan perempuan itu yang kalau mau bisa membunuhnya, Hang Damar Hantu Laut Selat Sunda yang telah berusia enam puluh lima tahun menyatakan menyerah dan tunduk tanpa ada rasa dendam sama sekali. Dia merasa memang sudah saatnya kedudukan sebagai kepala bajak laut digantikan oleh orang lain yang lebih muda dan berkepandaian tinggi. Hanya saja Hang Damar Hantu Laut Selat Sunda tidak pernah menyangka kalau penggantinya adalah seorang perempuan penuh misteri.

Sejak Janda Pulau Cingkuk memegang tampuk pimpinan gerombolan bajak laut terjadi banyak perubahan pada diri para perompak. Mereka yang tadinya bertampang sangar memelihara kumis lebat dan cambang bawuk lebat serta berambut gondrong, kini rata-rata berwajah klimis. Cara bicara dan sikap mereka yang selama ini kasar kini tampak sopan dan lembut. Selain itu mereka sekarang lebih suka mengenakan pakaian putih-putih dari pada pakaian serba hitam. Ikat kepala kain merah diganti dengan daster atau belangkon bahkan banyak yang memakai peci hitam.

Terbetik pula berita bahwa sebagian besar hasil rampokan di tengah laut ternyata disumbangkan kepada ratusan penduduk miskin di berbagai tempat dalam bentuk uang serta makanan. Yang paling banyak menerima sumbangan tersebut adalah penduduk di bagian selatan Pulau Andalas dan bagian Pulau Jawa terutama rakyat Banten.

"Janda Pulau Cingkuk," kata Sultan pula menyebut nama pimpinan bajak laut yang malang melintang di Selat Sunda itu. "Perempuan yang penuh rahasia. Dia menjadi kepala gerombolan bajak laut. Namun dibaiik kejahatannya dia berbuat kebaikan. Ini seperti cerita seribu satu malam. Dia banyak membantu rakyat miskin termasuk rakyat Banten. Kita tidak bisa mengambil tindakan sembarangan atas dirinya. Tapi bagaimanapun kejahatan harus dihentikan..."

Sultan mengusap dagu, merenung sejenak lalu bertanya pada delapan orang yang duduk di hadapannya. "Ada diantara kalian yang mengetahui siapa dan berasal dari mana perempuan bernama Janda Pulau Cingkuk itu adanya? Dia tidak mungkin muncul secara tiba-tiba."

Tidak ada yang menjawab karena memang tidak ada yang tahu.

"Ada yang pernah melihat wajahnya?" tanya Sultan lagi.

Delapan orang yang ditanya gelengkan kepala.

Sultan Banten tersenyum seolah saat itu yang dibicarakan bukanlah satu masalah besar, satu komplotan rampok beranggota ratusan orang, yang telah menjarah puluhan kapal pedagang milik Kesultanan Banten dan membuat Kerajaan kehilangan hasil perdagangan lada dengan daerah di kawasan selatan Pulau Andalas.

"Baiklah, pertemuan aku nyatakan selesai." Kata Sultan Banten pula. "Kalian semua boleh pergi dan beristirahat disertai ucapan terima kasihku. Ramanda Maulana Yusuf, harap Ramanda tetap di sini dulu. Ada yang akan saya bicarakan."

Setelah delapan orang itu pergi, sultan Banten berpaling pada Maulana Yusuf, seorang tua arif bijaksana berusia tujuh puluh tahun yang selama ini menjadi penasehat Sultan. Dalam banyak hal Suitan memperlakukan orang tua ini sebagai ayahnya sendiri.

"Ramanda, mendengar semua keterangan orang kita tadi, saya tidak akan menempuh jalan kekerasan. Saya merasa ada sesuatu dibalik semua kejahatan yang terjadi. Terutama sejak perempuan bernama Janda Pulau Cingkuk itu menjadi pimpinan kaum perompak."

"Sri Paduka Sultan telah mengambil sikap sangat bijaksana. Saya sangat mengharap agar jangan sampai terjadi pertumpahan darah atau jatuh korban," ucap Maulana Yusuf. "Mungkin kita bisa mengundang Hang Damar Hantu Laut Selat Sunda untuk datang kesini dan bicara mewakili pimpinannya. Saya cukup kenal dirinya sebelum dia jadi kepala perompak."

"Itu rencana bagus. Tapi kalau Ramanda setuju saya ada rencana lain," kata sultan Banten pula.

"Kalau saya diberi tahu dan jika saya diberi kepercayaan saya bersedia menjalankan rencana itu."

"Saya belum akan memberi tahu sebelum menerima petunjuk serta keredohan Allah Yang Maha Kuasa. Malam ini saya akan melakukan tirakat. Sholat tahajud, berzikir dan berdoa. Mudah-mudahan Tuhan memberi petunjuk. Menjelang pagi tunggu saya di halaman mesjid kecil."MALAM itu kawasan Istana Kesultanan Banten diselimuti kesunyian. Di luar tembok Istana hanya ada beberapa perajurit yang meronda sementara di dalam istana tidak ada satu orang pengawalpun kelihatan bertugas. Ini satu pertanda betapa tingginya tingkat keamanan di Kotaraja dan sekitarnya, sekaligus merupakan petunjuk bahwa Kesultanan Banten berada dalam keadaan damai tenteram dan Sang Raja yang tahu bagaimana rakyat mencintai dirinya tidak merasa kawatirakan keselamatannya.

Di dalam kawasan tembok Istana terdapat sebuah mesjid kecil.

Disitulah setiap saat Sultan Banten melakukan sholat lima waktu, berdoa dan berzikir serta melaksanakan sembahyang sunat lainnya. Acap kali pula Sultan mengajak permaisuri dan putera puterinya sembahyang bersama berjamaah. Di mesjid itu pula Sultan Banten sering mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Kuasa, terutama pada saat-saat Sultan membutuhkan petunjuk atas setiap rencana yang akan dilakukannya.

Sementara Sultan Banten masih berada dalam mesjid, di halaman dibawah kerindangan satu pohon besar, di atas sehelai tikar putih, Maulana Yusuf dengan sabar menunggu Sultan menyelesaikan permohonannya pada Yang Maha Kuasa untuk dberikan petunjuk dalam menghadapi komplotan perampok pimpinan Janda Pulau Cingkuk.

Bertepatan dengan kokok ayam jantan pertama pertanda hari telah pagi dan fajar tak lama lagi segera akan menyingsing, Maulana Yusuf melihat Sultan keluar dari mesjid kecil. Orang tua ini segera berdiri, menggulung tikar lalu melangkah menemui Sultan.

"Ah, Ramanda tentu sudah sangat lama menunggu saya," Sultan Banten menyapa lebih dulu.

"Apakah Sri Paduka Sultan sudah mendapatkan petunjuk dari Allah Yang Maha Pengasih?" Maulana Yusuf langsung ajukan pertanyaan..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.161.201.200
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia