Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : PETAKA PATUNG KAMASUTRA

Di tengah ruangan Pendekar 212 berdiri tanpa pakaian, membelakangi Purnama. Keberadaan sang pendekar seperti ini membuat Purnama tercekat hentikan langkah. Tiba-tiba Wiro membalikkan tubuh. Purnama terperangah. Dua bola mata membesar. Lutut terasa goyah dan dada bergoncang keras. Aliran darah dalam tubuh mengalir deras. Sepasang mata tak berkedip memandangi sosok telanjang sang pendekar. Mulai dari kepala sampai ke ujung kaki. Saat itulah gadis ini sempat melihat ada satu tanda putih dibagian bawah pusar Wiro.




SATUDalam episode sebelumnya (Sang Pemikat) diceritakan setelah mengalami kesembuhan dari penyakit kelainan darah, Pendekar 212 Wiro Sableng, secara diam-diam meninggalkan rumah panggung tempat dia dirawat. Namun kepergiannya diketahui dan diikuti Purnama. Lenyapnya kedua orang itu kemudian membuat semua orang yang ada dirumah panggung menjadi heboh. Berbagai dugaan dan prasangka muncul. Walau bergurau Naga Kuning bocah sakti bermulut jahil sempat mengatakan jangan-jangan Purnama membawa Wiro untuk diuji kejantanannya.

Setelah memeriksa lewat cermin sakti Ratu Duyung membagi orang-orang yang ada ditempat itu menjadi dua rombongan. Dia bersama Naga Kuning dan Gondoruwo Patah Hati mencari dan mengejar Pendekar 212. Sesuai ucapan Wiro dan petunjuk lewat cermin pendekar itu memang tengah menuju ke Gunung Gede tempat kediaman gurunya, Eyang Sinto Gendeng. Agaknya dia telah berbulat tekad hendak meninggalkan rimba persilatan dan menjadi seorang pertapa.

Setan Ngompol dan Ki Tambakpati diminta mencari Purnama, gadis dari Latanahsilam, negeri 1200 tahun silam. Di dalam cermin sakti tidak terlihat petunjuk keberadaan Purnama. Kemungkinan kesaktian yang dimilikinya bisa menutup diri dari daya tangkap cermin milik ratu Duyung.

Setan ngompol dan Ki Tambakpati berhasil menemui Purnama. Gadis ini berada dalam keadaan terpendam di tanah akibat ilmu kesaktian Menyusup Bumi Menghancur Bala yang dikeluarkannya ketika menghadapi serangan mahluk jahat tanpa wajah berhasil dikunci lawan. Setelah diselamatkan Purnama mengajak kedua kakek mengejar Wiro ke Gunung Gede. Mencegah pendekar itu melaksanakan niatnya hendak menjadi pertapa. Namun Ki Tambakpati enggan ke Gunung Gede karena ingin membangun gubuknya yang hancur dan menyiapkan peralatan pengobatan yang dulu dimusnahkan oleh orang-orang Kerajaan. Setan Ngompol sendiri lebih mementingkan mencari Liris Biru yang tengah mengejar Cakra Mentari ke Kuto Gede. Dia yakin gadis itu dalam bahaya besar. Walau Ratu Duyung merasa agak kecewa ketiga orang itu akhirnya berpisah.

Keesokan harinya saat matahari terbit ketika Purnama tengah mandi di sebuah kali kecil mendadak muncul seorang berjubah dan bersorban hitam, memiliki mata kanan yang hanya merupakan rongga besar mengerikan. Orang berwajah putih, memiliki kumis dan janggut serta cambang bawuk hitam berkilat ini mengaku bernama Deewana Khan. Dia menyerahkan dua buah kitab pada Purnama. Kitab pertama sebuah kitab yang keadaannya rusak hangus karena habis terbakar, dikatakan sebagai Kitab Jagad Pusaka Dewa yang asli. Kitab kedua merupakan salinan dari kitab Jagad Pusaka Dewa, berbentuk utuh namun mata biasa tidak mampu melihat dan membaca isinya. Seseorang harus bertapa 100 hari 100 malam untuk memiliki kemampuan membaca isi kitab itu.

"Kitab yang terbakar ini masih ada beberapa bagian halaman yang utuh. Serahkan dua kitab ini pada Pedekar Dua Satu Dua Wiro Sableng."

Kejut Purnama bukan alang kepalang mendengar ucapan Deewana Khan. Lebih terkesiap lagi sewaktu lelaki berjubah itu berkata. "Pemuda kepada siapa seharusnya kitab ini diberikan telah tersesat jatuh ke tangan insan jahat dan akhir-akhir ini telah menimbulkan malapetaka bejat berupa pemerkosaan dan pembunuhan mengerikan di negeri ini. Insan-insan jahat itu hanya bisa dibasmi berdasarkan petunjuk rahasia dalam kitab yang terbakar. Dewa mengetahui hanya Pendekar Dua Satu Dua yang mempu membuka petunjuk rahasia dalam kitab."

Deewana Khan letakkan dua buah kitab di tanah dan membungkuk memberi hormat. Dua kaki dijulurkan ke belakang. Begitu dua tangannya menyentuh tanah maka tubuh mahluk ini meluncur bersurut ke arah dari mana tadi dia datang. Hanya dalam sekejapan mata saja sosoknya kemudian hilang dari pemandangan.

Purnama perhatikan dua buah Kitab Jagat Pusaka Dewa. Kitab pertama yang masih utuh dibalik-balik. Kitab ini hanya memiliki empat halaman. Seperti yang dikatakan mahluk bermata satu tadi, empat halaman kitab tampak kosong, tidak ada tulisan apa-apa. Kitab kedua yang rusak karena terbakar juga memiliki empat halaman yang telah hangus. Di beberapa bagian halaman kitab ini terlihat beberapa deret tulisan. Purnama mencoba membaca, namun huruf-huruf dalam tulisan itu seolah bergerak-gerak. Ketika dipaksakan pendangan matanya mengabur dan kepalanya menjadi pusing.

"Kitab aneh. Ada kekuatan yang melindungi hingga aku tak bisa melihat dan membaca jelas," ucap Purnama. Gadis ini lalu memasukkan dua buah kitab ke balik pakaian. "Aku harus segera mengejar Wiro. Sudah banyak waktu terbuang percuma." Sambil menerapkan ilmu kesaktian Segara Angin yang membuatnya mampu berlari luar biasa cepat hingga sosoknya lenyap dari pemandangan, gadis dari Latanahsilam ini sekali-sekali mengeluarkan ilmu Nafas Sepanjang Badan. Ilmu kesaktian ini selain mampu mengetahui keberadaan mahluk gaib, juga bisa dipergunakan untuk mencium atau membaui seseorang yang sebelumnya telah dikenal hingga mudah diketahui ke arah mana orang itu keberadaannya.

"Dia bergerak ke arah barat. Agaknya memang tengah menuju Gunung Gede. Bau tubuhnya hilang-hilang timbul. Pertanda dia bergerak cepat sekali. Pasti dia menerapkan ilmu lari tingkat tinggi. Atau....astaga! "Purnama hentikan lari. "Ada mahluk hidup lain bersamanya. Mungkin dia menunggang kuda?" Purnama dongakkan kepala, menghirup udara dalam-dalam lalu menahan nafas beberapa lama. Sesaat kemudian gadis ini terbatuk-batuk, mukanya tampak merah. Sepasang mata berair. Dada turun naik. "Bukan kuda.....seekor binatang lain yang tak bisa aku duga. Aneh, bagaimana mungkin? Apa yang sebenarnya terjadi?" Purnama berdiri lurus-lurus. Dua kaki bergerak, tubuh berputar. Mula-mula perlahan lalu berubah cepat, berputar-putar seperti gasing, menebar angin mengeluarkan suara menderu hingga ranting pepohonan bergoyang dan daun-daun berguguran. Di lain kejap tubuh yang berputar itu melesat ke udara dan lenyap dari pemandangan.***Dari jurusan lain, Ratu Duyung dan Naga Kuning serta Gondoruwo Patah Hati juga tengah mengejar Pendekar 212 Wiro Sableng. Sambil berlari Ratu Duyung tiada henti menerapkan ilmu Menembus Pandang. Bilamana ilmu kesaktian ini tidak dapat diterapkan karena orang yang dipantau berada diluar jangkauan maka Ratu Duyung pergunakan cermin sakti. Di satu tempat gadis cantik bermata biru ini hentikan lari.

"Ada apa?" Tanya Naga Kuning.

Ratu Duyung dekatkan cermin pada Naga Kuning dan Gondoruwo Patah Hati.

"Lihat ke dalam cermin. Di dalam cermin ada dua titik putih. Titik putih pertama adalah bayangan sosok Wiro. Titik putih kedua yang lebih besar dan selalu berubah-ubah adalah bayangan sosok lain yang berada bersama Wiro."

"Kau bisa menduga siapa?" Tanya Gondoruwo Patah Hati.

"Mungkin itu bayangan Purnama." Kata Naga Kuning pula.

Ratu Duyung terdiam, berpikir sejenak lalu menggeleng. "Seperti kalian lihat titik putih besar selalu berubah-ubah. Ini suatu pertanda titik itu bukan perwujudan manusia....."

"Aku bisa menduga, saat ini Wiro tengah menunggang kuda." Kata Naga Kuning pula.

"Tadinya aku juga berpendapat demikian," jawab Ratu Duyung. "Tapi kuda tidak memiliki kecepatan bergerak seperti yang aku lihat dalam cermin ....."

"Mungkin seorang sakti mendukung Wiro?" ucap Gondoruwo Patah Hati.

"Nek.. sudah aku katakan mahluk itu bukan manusia ...."

"Aku tahu." Kata Naga Kuning dengan wajah sungguh-sungguh. "Wiro didukung oleh Purnama! Kita semua tahu Purnama bukan manusia biasa. Dia mahluk dari alam gaib!"

Ratu Duyung terdiam. Wajahnya berubah dan sepasang mata menatap tek berkesip pada Naga Kuning. "Apa yang dikatakan anak ini mungkin saja betul....." Ratu Duyung membatin. Untuk memastikan dia lalu kerahkan ilmu Menyirap Detak jantung. Namun tidak berhasil karena sasaran yang coba dipantau terlalu jauh. "Kalau saja aku bisa mendapatkan Batu Mustika Angin Laut Kencana Biru pasti kejap ini juga aku bisa mengejar Wiro. Ah, bagaimana ini? Satu-satunya usaha hanya mengandalkan cermin sakti ini." Batu Mustika Angin Laut Kencana Biru adalah batu sakti milik Nyai Roro Kidul Penguasa Laut Selatan. Batu ini mampu membuat seseorang berpindah dari satu tempat ke tempat lain yang diinginkannya hanya dalam bilangan kejapan mata. Nyai Roro Kidul pernah meminjamkan batu sakti tersebut pada orang kepercayaannya bernama Nyi Roro Manggut untuk menolong Pendekar 212 yang berada dalam keadaan bahaya (baca serial Wiro Sableng berjudul "Sang Pembunuh").

Tak mau membuang waktu berlama-lama Ratu Duyung

memberi tanda. Ketiga orang itu berkelebat, melanjutkan

pengejaran ke arah barat.***DUAKita ikuti dulu apa yang terjadi dengan Bidadari Angin Timur, gadis cantik berkepandaian tinggi yang memiliki rambut berwarna pirang yang tak asing lagi bagi rimba persilatan tanah Jawa. Di dalam serial Wiro Sableng berjudul "Insan Tanpa Wajah" dituturkan bagaimana Bidadari Angin Timur menyirap kabar ditangkapnya Wiro oleh Pangeran Tua Sena Wirapala dengan tuduhan telah memperkosa dan membunuh cucunya yang bernama Raden Ayu Ambarsari. Ketika Bidadari Angin Timur menyelidik ke Kotaraja, ternyata Wiro telah dibebaskan oleh seseorang dan saat itu berada di sebuah gubuk di tikungan Kali Progo, dijaga oleh Setan Ngompol dan Ki Tambakpati.

Bidadari Angin Timur mendatangi gubuk, menangis di tepi ranjang dimana Pendekar 212 terbaring. Dia merasa sangat sedih melihat sang pendekar yang berulang kali mengalami nasib sengsara sejak beberapa waktu belakangan ini. Apalagi sebelum masuk ke dalam gubuk milik Ki Tambakpati si gadis telah mendengar percakapan dua kakek. Diantara isak tangisnya Bidadari Angin Timur berkata.

"Ketika berada di tepi kali, aku sempat mendengar pembicaraan kakek berdua. Apa betul Wiro telah menjadi seorang lelaki yang tidak sempurna? Apa benar dia telah kehilangan kejantanannya? Apakah dia memang tidak bisa disembuhkan lagi untuk selama-lamanya?"

Setan Ngompol pegangi bagian bawah perut menahan kencing. Ki Tambakpati terdiam tak bisa menjawab. Tangis Bidadari Angin Timur pecah.

"Sahabatku, mari kita keluar. Kita bicara di luar ....." Setan Ngompol membujuk si gadis.

Bidadari Angin Timur gelengkan kepala lalu berkata.

"Rasanya tidak ada yang perlu dibicarakan lagi Kek. Aku sudah mendengar semuanya."

Gadis berambut pirang itu membungkuk mengusap kening Pendekar 212 yang terasa sangat dingin.

"Kami berdua akan berusaha memusnahkan penyakitnya," berkata Ki Tambakpati.

Bidadari Angin Timur tidak menjawab. Dia letakkan kepalanya di dada Pendekar 212 lalu menangis keras.

"Hentikan tangismu. Sebaiknya kau membantu dengan memanjatkan doa pada Gusti Allah agar Wiro bisa disembuhkan ....," berkata Ki Tambakpati.

"Akan aku lakukan Kek, akan aku lakukan ..," Jawab Bidadari Angin Timur berulang kali. Dalam hati gadis ini membatin. "Tuhan, Kau tahu sejak dulu aku telah memanjatkan segala doa dan mohon. Tapi agaknya aku harus melihat kenyataan lain ..." Lalu tanpa berkata lagi Bidadari Angin Timur melangkah ke pintu.

"Bidadari Angin Timur, tunggu dulu!" Setan Ngompol memanggil.

Namun gadis cantik berambut pirang itu telah lenyap dari pandangan. Dikejar keluar gubuk sosoknya tak kelihatan lagi. Di dalam rimba persilatan Bidadari Angin Timur dikenal sebagai tokoh yang memiliki kecepatan bergerak yang luar biasa. Tidak heran kalau kedua kakek tidak berhasil mengejar. Padahal kurang dari sekejapan mata sosoknya masih terlihat di ambang pintu.

"Heran, aku tahu dia sangat mencintai Wiro. Tapi mengapa pergi begitu saja?" berucap Setan Ngompol sambil pegangi bagian bawah perutnya.

"Kalau memang benar dia telah mendengar pembicaraan kita, aku rasa gadis itu sangat terpukul mengetahui penyakit yang diderita Wiro ...." Ujar Ki Tambakpati pula.

"Aku tidak tahu ...." Ucap Setan Ngompol. "Kalau aku jadi dia, aku tidak akan meninggalkan pemuda itu. Aku akan berusaha mencari obat penyembuh. Tapi ...." Setan Ngompol gelengkan kepala berulang kali.

"Mungkin itu yang ada dalam pikirannya. Mencari obat untuk kesembuhan pemuda yang dicintainya. Mungkin juga gadis itu tak mau berlama-lama di sini karena sudah merasa bakal ada gadis-gadis lain kerabat Wiro yang akan muncul." Kata Ki Tambakpati pula. Kenyataannya seperti yang dikisahkan dalam episode sebelumnya beberapa orang gadis yang sama mencintai Pendekar 212 memang datang ke gubuk di tepi Kali Progo itu. Mereka adalah Purnama, Bunga dan Ratu Duyung.***Keadaan Bidadari Angin Timur sangat mengenaskan. Setelah dua hari berlari tanpa tujuan seolah hanya sepembawa kakinya, disuatu pagi ini sampai disebuah bukit kecil. Di bawah bukit terbentang pedataran subur dialiri Kali Pemali. Pakaian birunya kotor, wajah pucat dan rambut yang pirang tampak awut-awutan. Sepasang mata kelihatan agak sembab karena terlalu banyak menangis. Dia tak ingat kapan terakhir kali dia makan mengisi perut. Memandang ke arah kali timbul niatnya untuk mandi membersihkan diri. Apalgi tempat itu tampak sepi. Ketika dia tengah menuruni bukit, melangkah tergontai-gontai disela-sela pepohonan, tiba-tiba suasana tenang dan sepi dirobek oleh suara derap kaki kuda riuh sekali. Memperhatikan ke bawah bukit Bidadari Angin Timur terheran-heran karena tepi kali yang tadi sunyi senyap kini dipenuhi oleh dua rombongan orang berkuda yang datang dari arah berlawanan dan kini tampak berhadap-hadapan.

Bidadari Angin Timur yang tengah kacau pikiran dan kelelahan menyelinap di balik rerumpunan semak belukar lalu melompat ke cabang sebatang pohon di tepi kali. Dia ingin menyaksikan apa yang akan segera terjadi.

Rombongan penunggang kuda di sebelah kanan berjumlah dua puluh orang. Mereka mengenakan daster dan pakaian serba hitam, rata-rata memiliki tubuh besar. Semua mencekal sebilah golok, kecuali penunggang kuda paling depan yang hanya mengandalkan tangan kosong, pertanda dia pasti memiliki ilmu kepandaian tinggi. Orang ini menutupi wajahnya dengan sebuah topeng berwarna putih perak. Di belakang kepala rambut panjang menjulai sebahu. Agaknya dia yang menjadi pimpinan orang-orang berseragam hitam ini. Bidadari Angin Timur punya dugaan ini bukan orang baik-baik. Mungkin gerombolan penjahat atau rampok. Dalam jumlah yang lebih banyak mereka punya keberanian untuk menghadapi rombongan yang datang dari arah depan. Rombongan kedua ini berjumlah sepuluh orang. Mereka mengenakan pakaian seragam pasukan Kerajaan. Walau bagian Kali Pemali dimana dia berada terletak di wilayah Jawa sebelah tengah namun Bidadari Angin Timur mengenali kalau pasukan yang berjumlah sepuluh orang itu bukan berasal dari Kerajaan di wilayah itu. Dia tidak pernah melihat seragam pasukan seperti itu sebelumnya. Pakaian dan celana serta topi biru. Anggota pasukan rata-rata bertubuh kecil dan masih muda belia, bersenjata pedang, golok, dan tombak. Pasukan kecil ini di pimpin oleh seorang Perwira Muda berwajah cakap. Hanya Perwira ini satu-satunya yang memiliki tubuh besar tegap.

Ketika memperhatikan wajah sang Perwira Muda tersiraplah darah Bidadari Angin Timur. Dada berdebar. Hati berucap. "Benarkah dia ? Bagaimana ceritanya dia bisa berada di kawasan ini. Sejak kapan dia jadi seorang Perwira. Dari kerajaan mana. Bukankah aku dan dia sudah berjanji akan bertemu di air terjun Batuputih pada Satu Suro. Satu purnama dari sekarang. Ternyata pertemuan terjadi lebih cepat dari yang direncanakan. Apakah semua ini atas kehendak Gusti Allah?"

Walau dia ingin cepat-cepat menemui sang Perwira Muda namun Bidadari Angin Timur terpaksa menahan diri. Dia memperhatikan dengan mata tak berkesip. Makin diperhatikan tambah keras detak jantungnya. "Rasanya pandangan mataku tidak mungkin keliru. Sahabat...... Kau pernah membuat hatiku dalam kebimbangan. Hari ini kebimbangan itu muncul kembali." Sekilas terbayang wajah Pendekar 212 Wiro Sableng dipelupuk mata si gadis. "Tuhan, apa kali ini kebimbangan itu akan berakhir pada suatu ujung .... Ah, sulit aku membayangkan."

Di tepi kali, lelaki bertopeng perak mengangkat tangan, memberi tanda untuk menahan serangan pada sembilan belas anak buahnya yang sudah siap menyerbu dengan golok di tangan.

Orang ini arahkan pandangan pada Perwira Muda berpakaian dan bertopi biru yang ternyata juga tidak membekal sebilah senjatapun.

"Tubagus Putrakesuma! Jumlah kami dua kali lebih banyak! Anak-anak buahku rata-rata berbadan kokoh besar. Anggota pasukanmu hanya pemuda-pemuda kurus kurang makan! Apakah kau masih punya nyali untuk menangkapku? Aku memberi saran sebaiknya kau pulang saja ke Cirebon, cuci kaki, cebok dan tidur! Ha ... ha ... ha ... ha!" Suara tawa lelaki bertopeng perak diikuti oleh suara bergelak sembilan belas orang anak buahnya.

Di atas pohon Bidadari Angin Timur terheran-heran mendengar lelaki bertopeng menyebut Perwira Muda itu dengan nama Tubagus Putrakesuma.

"Kalau memang dia, mengapa namanya Tubagus Putrakesuma? Apa dia memang sudah berganti nama? Banyak keanehan yang tidak aku mengerti ..." Gadis berambut pirang membatin dalam hati.

Perwira Muda bernama Tubagus Putrakesuma yang dilecehkan balas menatap tajam pada lelaki bertopeng. Tidak ada bayangan rasa takut diwajahnya yang cakap.

"Topeng Perak! Kau pimpinan pemberontak pengacau Kerajaan. Aku membawa tugas menangkapmu. Aku tidak akan kembali ke Cirebon tanpa membawa dirimu. Jika kau mau menyerah hidup-hidup, aku berjanji akan meminta keringanan hukuman bagimu pada Sultan Cirebon."

Mendengat ucapan Perwira Muda yang ternyata berasal dari Kerjaan Cirebon, sebuah Kerajaan yang baru saja berdiri, lelaki bertopeng perak tertawa gelak-gelak.

"Tubagus Putrakesuma. Bagiku apa yang namanya Kerajaan Cirebon itu tidak pernah ada! Jadi yang namanya Sultan Cirebon juga tidak ada!"

"Asal muasalnya kau adalah orang jahat kepala rampok keji tidak berperikemanusiaan. Sekarang kau melibatkan diri dalam urusan Kerajaan. Siapa yang berada di belakangmu?" Tanya

Perwira Muda Tubagus Putrakesuma.

Kembali Topeng Perang tertawa bergelak.

"Lagakmu hebat hendak menyelidik diriku! Baru beberapa minggu jadi Perwira sudah sombong selangit. Bicaramu tidak karuan! Tidak ada orang lain di belakangku. Aku bertindak untuk kepentinganku sendiri ...."

"Hemm, apakah kepentinganmu itu?"

"Membakar tahta, melenyapkan apa yang kau sebut Kerajaan Cirebon ..."

"Kau ingin mengambil kekuasaan dari Sultan Cirebon? Begitu?" Tubagus Putrakesuma tertawa.

"Manusia sepertimu apa pantasnya jadi Sultan. Unjukkan muka saja tidak berani. Buktinya kau menutupi wajah dengan topeng. Berarti nyalimu sebenarnya hanya sedengkul."

"Perwira keparat! Kau tak akan pernah melihat Sultanmu lagi. Ketahuilah, serombongan besar pasukan anak buahku saat ini tengah bergerak dari utara ke selatan. Siap membuat Cirebon sama rata dengan tanah!"

Tubagus Putrakesuma tertawa mencemooh. "Kau boleh menggertak. Siapa mau percaya. Siapa merasa takut."

Lelaki bertopeng keluarkan suara menggembor, angkat tangan kanannya ke atas lalu berteriak, "Anak-anak. Cincang sampai lumat cecunguk-cecunguk Kerajaan Cirebon ini!"

"Tunggu!" Perwira Muda Tubagus Putrakesuma berseru. "Topeng Perak, kita sama-sama pimpinan disini. Mengapa mau mengorbankan anak buah? Bagaimana kalau kita bertarung satu lawan satu. Kalau aku kalah aku akan kembali ke Cirebon. Kau boleh bebas. Tapi kalau kau yang jadi pecundang, aku akan membawamu ke Kotaraja!"

"Sombongnya berani menantang! Pimpinan, biar aku tabas batang leher perwira keparat ini!" Seorang anak buah Topeng Perak yang ada di samping kanan berteriak sambil angkat golok tinggi-tinggi lalu dibabat ganas ke arah leher Tubagus Putrakesuma. Namun saat itu juga sebuah benda melesat berdesing di udara lalu terdengar raungan anak buah Topeng Perak yang barusan menyerang. Tubuhnya tergelimpang jatuh ke tanah. Di kening menancap potongan cabang kayu sepanjang dua jengkal, besar dua kali jari tangan. Darah mengucur menyelomoti mukanya. Beberapa ekor kuda meringkik dan bersurut mundur.

"Bangsat kurang ajar! Pengecut! Kau menyembunyikan orang berkepandaian tinggi melakukan serangan membokong!" Teriak Topeng Perak marah sekali.

Tubagus Putrakesuma, Perwira Muda Kerajaan Cirebon saat itu sebenarnya juga merasa heran. Dia tidak menyembunyikan orang pandai seperti yang dituduhkan. Namun siapa gerangan yang barusan membunuh anak buah Topeng Perak begitu rupa? Adakah orang itu berada dipihaknya atau sekedar iseng menunjukkan kehebatan?

Sekali menggebrak kuda tunggangannya, Topeng Perak melesat ke udara. Kaki kanan menerjang lurus ke arah dada Tubagus Putrakesuma. Jurus serangan ini bernama Ladam Sakti Menembus Dinding Karang. Demikian cepatnya serangan ini hingga Perwira Muda Kerajaan Cirebon itu terlambat berkelit. Walau dadanya selamat namun bahu kirinya masih sempat ditabrak tumit orang. Sang Perwira terpuntir di atas punggung kudanya lalu terbanting ke bawah. Bahu kirinya sakit bukan kepalang dan terasa kaku. Namun dengan cekatan dan gerakan enteng dia masih mampu jatuh ke tanah di atas dua kaki. Pada saat dua kakinya menginjak tanah, kejap itu pula Topeng Perak datang dari depan, lancarkan serangan berupa pukulan berantai. Pertarungan hebat serta merta terjadi. Dalam keadaan seperti itu sebenarnya Topeng Perak tadi sempat terkesiap melihat kekebalan tubuh lawan. Tendangan yang dilancarkannya jika mengena telak jangankan dada manusia, dinding batu sekalipun pasti akan jebol hancur berkeping-keping. Ketika tendangan membentur bahu kiri lawan, Perwira Muda itu ternyata hanya terpuntir. Tubuhnya sama sekali tidak cidera. Padahal tendangan tadi mampu meremukkan daging dan menghancurkan tulang bahunya!

Melihat pimpinan mereka sudah bertempur, delapan belas anak buah Topeng Perak segera menyerbu sembilan prajurit Kerajaan Cirebon. Saat itulah dari pohon besar di tepi kali melayang turun satu bayangan biru yang bukan lain adalah Bidadari Angin Timur. Di tangan kanan gadis ini memegang patahan cabang pohon sebesar betis.

"Diberi peringatan kalian tidak mau membuka mata. Sekarang biar mata kalian aku tutup untuk selama-lamanya."

"Praakk!"

"Praakk!"

Dua anak buah Topeng Perak mencelat dari punggung kuda masing-masing. Terkapar di tanah dengan kepala remuk! Enam belas temannya berteriak geger, marah tapi banyak yang mulai merasa kecut nyalinya. Saat itu diantara mereka berdiri seorang gadis cantik berpakaian biru, berambut pirang. Wajah yang cantik mengulum senyum, membentuk lesung pipi di pipi kiri kanan.

"Bidadari Angin Timur!" Berseru Perwira Muda Tubagus Putrakesuma. Mata terbeliak, wajah unjukkan rasa kaget tidak percaya.

"Tuduhanku benar! Perwira keparat ternyata kau memang membawa bergundal perempuan berkepandaian tinggi untuk menolongmu!" Teriak Topeng Perak marah besar walau diam-diam dia sangat terpesona dengan kecantikan si gadis sementara hati kecilnya menduga-duga. Dia rasa-rasa pernah mendengar nama gadis yang tadi disebutkan Perwira Muda itu.

"Mengapa kalian diam melongo! Bunuh perempuan itu!" teriak Topeng Perak pada anak buahnya. Apa boleh buat. Walau nyali leleh, enam belas anak buah Topeng Perak segera menggebrak kuda masing-masing. Empat diantaranya melompat dari punggung kuda langsung menyerang Bidadari Angin Timur. Agaknya mereka memiliki kepandaian silat dan ilmu meringankan tubuh yang cukup lumayan. Empat golok menyambar ganas.

Bidadari Angin Timur tertawa panjang. Sambil melompat ke kiri mengelakkan tebasan golok dua orang lawan, kayu sebesar betis di tangan kanan berkelebat ke depan mengeluarkan suara berdesing.

"Wuuuttt!"

Dua orang anak buah Topeng Perak yang barusan menyerang meraung keras. Yang satu jebol perutnya, satu lagi hancur tulang pinggulnya. Dua orang berikutnya, selagi mereka terkesiap menyaksikan apa yang terjadi, kayu besar di tangan Bidadari Angin Timur berturut-turut menghajar kepala masing-masing.

Melihat kehebatan serta keganasan serangan gadis cantik berambut pirang, sekian banyak anak buah Topeng Perak tak sanggup lagi menahan ngeri. Beberapa diantaranya ada yang sudah mengambil ancang-ancang untuk melarikan diri. Pada saat itu pula sembilan prajurit Kerajaan Cirebon datang menyerbu. Walau jumlah mereka masih lebih banyak namun ke tiga belas anak buah Topeng Perak memilih kabur. Yang bernasib mujur bisa melarikan diri hanya enam orang. Empat menemui ajal, tiga luka parah.

Topeng Perak keluarkan seluruh kepandaiannya berusaha menghabisi lawan secepat mungkin. Dia merasa di atas angin karena Perwira Muda yang dihadapinya berada dalam keadaan cidera bahu kiri akibat tendangannya tadi. Namun dia merasa heran, setiap serangan dilancarkan dari tubuh lawan berdesir keluar hawa aneh yang membuat tangan atau kakinya menjadi sakit seperti dicucuki puluhan jarum. Semakin dia mempercepat serangan dan melipat gandakan tenaga dalam semakin hebat rasa tusukan itu. Dia tersentak kaget ketika melihat dua tangannya yang tersembul diujung lengan baju hitam mengeluarkan bercak-bercak darah!

Jurus demi jurus Topeng Perak mulai terdesak. Menyadari kalau dia hanya tinggal sendirian di tempat itu, lelaki ini melompat mundur, keluarkan teriakan bergelegar sambil pentang dua tangan ke atas. Saat itu juga sepasang tangan Topeng Perak berubah menjadi hitam kelam sebatas siku sampai ke ujung jari! Lelaki ini hentakkan kakinya kiri kanan ke tanah. Serta merta dua kaki itu berubah pula menjadi hitam mulai dari lutut sampai ke jari! Inilah ilmu kesaktian yang disebut Naroko Wesi Ireng.

Untuk memperlihatkan ilmu kesaktiannya itu sekaligus bermaksud membuat gentar lawan Topeng Perak menyambar ke kiri, menghantam dada seorang prajurit dengan tangan kanan.

"Bukk!"

Tak ampun lagi prajurit itu terpental dari punggung kuda, jatuh terbanting ke bawah. Walau dada yang kena dihantam namun luar biasanya seluruh tubuh mulai dari kepala sampai ke kaki kelihatan hancur, mengkeret menjadi hitam dan mengepulkan asap kelabu!

Belum puas, Topeng Perak tendang pinggul kuda prajurit yang barusan dibunuhnya dengan kaki kanan.

"Duukkk!"

Kuda hitam besar itu meringkik keras. Berkelojotan di tanah beberapa lama. Tubuhnya hancur, mulai dari pinggul yang kena tendang, terus menjalar kebagian tubuh lainnya sampai kepala dan empat kaki. Keseluruhan sosok binatang itu tak berbentuk lagi, hancur lumat, mengkeret hitam dan mengepul asap kelabu!***TIGAPerwira Muda Tubagus Putrakesuma terkesiap kaget. Gerakan Topeng Perak sewaktu menghabisi secara kejam anak buah dan kuda hitam luar biasa cepat hingga dia tidak sempat menolong. Delapan prajurit Kerajaan Cirebon tampak pucat dan merinding dingin tengkuk masing-masing menyaksikan apa yang terjadi. Mampukah pimpinan mereka yang masih muda itu menghadapi ilmu kesaktian lawan yang begitu dahsyat?

Bidadari Angin Timur sendiri seumur hidup baru sekali ini menyaksikan ilmu kesaktian yang demikian ganas mengerikan. Seperti diketahui gadis ini memiliki ilmu gerak luar biasa cepat. Dia melihat kecepatan gerak lawan waktu membunuh prajurit dan kuda tadi hanya satu tingkat di bawah Ilmu Selaksa Kilat yang dimilikinya.

"Tubagus Putrakesuma! Apakah kau sudah siap aku jadikan puntung neraka?!" ucap Topeng Perak lalu keluarkan suara mendengus.

"Manusia sombong!" ejek si Perwira Muda. "Kuda tak berdosa kau bunuh! Sekarang kau tunggu apa lagi! Mengapa tidak langsung menyerang diriku!"

"Perwira!" berkata Bidadari Angin Timur sambil menggeser kaki ke arah Topeng Perak. "Tanganku sudah kepalang tanggung membunuh anak buahnya. Sekarang biarkan aku menghabisi bapak buahnya!"

"Gadis congkak!" Bentak Topeng Perak sebelum Tubagus Putrakesuma semapat menjawab. "Lebih baik kau duduk saja di bawah pohon sana. Kalau manusia satu ini sudah kujadikan puntung neraka, aku akan membawa kau pergi kemana kau suka!"

Bidadari Angin Timur tertawa. "Kalau begitu aku ke neraka sekarang juga! Hik ... hik ... hik!"

Habis berkata begitu gadis cantik berambut pirang ini berkelebat.

Tubuhnya berubah menjadi bayangan biru.

"Wuuut!"

"Breett!"

Dada pakaian hitam Topeng Perak robek besar namun Bidadari Angin Timur sendiri terpekik dan melompat mundur sambil usap kepalanya. Memandang ke arah lawan Bidadari Angin Timur melihat sejumput rambutnya berada dalam genggaman tangan kiri Topeng Perak. Lelaki ini sunggingkan seringai lalu meniup. Serta merta rambut pirang dalam genggamannya terbakar mengepulkan asap. Topeng Perak tertawa bergelak.

Mau tak mau paras Bidadari Angin Timur jadi berubah. Selama malang melintang dalam rimba persilatan tanah Jawa baru sekali itu ada lawan sanggup menjambak rambutnya!

Melihat apa yang terjadi Tubagus Putrakesuma merasa khawatir. Kalau mau tadi Topeng Perak bisa menghancurkan kepala Bidadari Angin Timur. Cemas akan keselamatan si gadis jika kedua orang ini melanjutkan pertarungan, sang Perwira cepat berkata.

"Bidadari Angin Timur, Kerajaan menugaskanku untuk menangkap manusia ini hidup atau mati. Harap kau mundur dulu ketempat aman!"

Bidadari Angin Timur tidak menjawab juga tidak beranjak. Dua kaki digeser merenggang. Tangan kiri diangkat ke atas. Tangan kanan perlahan-lahan mengusap perut. Di kejauhan terdengar suara meraung seperti srigala melihat setan di malam buta. Walau saat itu siang hari namun semua orang termasuk Topeng Perak merasa mengkirik bulu kuduknya. Apalagi ketika Bidadari Angin Timur kemudian keluarkan suara tawa panjang. Sepasang mata menatap ke arah Topeng Perak tak berkesip. Wajahnya yang cantik berubah seputih kapur!

Tubagus Putrakesuma terkejut.

"Astaga, apakah dia memiliki ilmu Pusar Pusara? Apakah ilmu kesaktiannya sanggup melawan ilmu Naroko Wesi Ireng Topeng Perak?" ucap Perwira Muda itu sambil matanya memperhatikan bagian perut Bidadari Angin Timur. Ketika tangan yang mengusap bergerak ke samping, sang perwira sempat melihat ada sesuatu yang menonjol di bagian pusar si gadis. Setelah itu!

"Wusss!"

Dari balik pakaian Bidadari Angin Timur, tepat di arah pusar, melesat keluar selarik cahaya biru terang menyilaukan. Hawa luar biasa panas memenuhi udara.

"Ilmu Pusar Pusara! Cahaya Geni Biru! Dia memang masih memiliki ilmu kesaktian itu!" ucap Tubagus Putrakesuma lalu cepat bergerak menjauh.

Seperti terkisah dalam serial Wiro Sableng berjudul "Nyi Bodong", Bidadari Angin Timar nekad membuang diri ke dalam jurang karena menyangka dirinya telah diperkosa oleh Hantu Muka Dua. Gadis ini diselamatkan oleh seorang kakek sakti bernama Kiai Munding Suryakala. Kakek inilah yang kemudian memberikan satu ilmu dahsyat pada Bidadari Angin Timur disebut Ilmu Pusar Pusara. Dari pusarnya yang menyembul bodong bisa melesat keluar cahaya biru bernama Geni Biru atau Api Biru. Sejak kejadian itu Bidadari Angin Timur dikenal dengan sebutan Nyi Bodong, walau orang-orang rimba persilatan tidak mengetahui siapa dirinya. (Baca juga serial Wiro Sableng berjudul "Api di Puncak Merapi" dimana diceritakan riwayat tewasnya dedengkot tokoh rimba persilatan golongan hitam Pangeran Matahari).

Ketika diserang lawan, Topeng Perak yang merasa percaya penuh akan kehebatan Naroko Wesi Ireng yang dimilikinya, hanya bergerak mengelak dua langkah ke samping lalu menggebrak dengan dua pukulan maut.

Bidadari Angin Timur putar pinggulnya. Larikan cahaya Geni Biru ikut bergeser. Pada saat itu dua serangan tangan Topeng Perak hanya tinggal satu jengkal lagi akan mendarat di dada dan kepala Bidadari Angin Timur, cahaya biru yang keluar dari pusar si gadis melabrak tubuhnya!

Topeng Perak meraung setinggi langit. Tubuhnya sebelah depan, mulai dari dada sampai ke perut hangus terbelah jebol!

Darah menyembur, usus membusai. Namun saat itu tinju kanannya masih mampu menderu ke arah kepala Bidadari Angin Timur. Hanya sekejapan mata lagi kepala gadis cantik berambut pirang itu akan hancur tiba-tiba dari samping kiri melesat satu mahluk coklat, langsung menabrakkan tubuhnya ke tangan kanan Topeng Perak.

"Buukkk!"

Jotosan tangan kanan Topeng Perak mendarat telak di tubuh mahluk coklat. Topeng Perak sendiri terhuyung beberapa langkah sambil pegangi perutnya yang jebol dengan tangan kiri lalu jatuh terjengkang tak berkutik lagi. Manusia satu ini memang luar biasa. Orang lain kalau sampai terkena hantaman Geni Biru pasti akan tercerai berai tubuhnya.

"Nguiiikk!"

Mahluk coklat terpental dan terguling di tanah. Mengeluarkan jeritan aneh. Semua prajurit Kerajaan Cirebon yang ada ditempat itu dan juga Bidadari Angin Timur mendelik kaget. Mahluk yang tadi menyelematkan si gadis ternyata adalah seekor binatang langka.

Tubuhnya sebelah kiri yang tertutup duri-duri cokelat panjang dan runcing tampak hangus leleh mengepulkan asap.

"Tikus raksasa berbulu duri! Dari mana datangnya?" seru seorang prajurit dengan mata mendelik.

"Landak jejadian!" teriak prajurit disebelahnya.

"Hai kemana lenyapnya Perwira Tubagus Putrakesuma?!" prajurit lain berteriak. Mereka saling berpandangan lalu sama-sama memperhatikan binatang yang mendekam di tanah.

Perlahan-lahan sosok mahluk coklat yang merupakan seekor landak hampir sebesar anak kerbau itu ujudnya menjadi samar lalu berubah membentuk sosok manusia. Dan manusia ini bukan lain adalah Tubagus Putrakesuma! Pakaiannya sebelah kiri tampak hangus. Kulit tubuh lecet merah. Disela bibir kelihatan ada kucuran darah. Seluruh prajurit Kerajaan Cirebon yang ada ditempat itu melengak kaget. Tak percaya akan apa yang mereka lihat.

"Jatilandak!" teriak Bidadari Angin Timur. "Kau ....kau tak apa-apa?"

Perwira Muda Tubagus Putrakesuma yang sebenarnya adalah Jatilandak, pemuda dari negeri Latanahsilam, putra Luhmintari yang kini bernama Tubagus Putrakesuma kedipkan mata. Tubuhnya bergetar hebat, sakit luar biasa. Kepala berdenyut seperti mau pecah, pandangan agak buram. Bidadari Angin Timur menolong pemuda berdiri.

"Kau terluka..." ucap si gadis.

"Hanya luka luar. Tidak apa-apa ..."

"Tapi kau juga terluka di dalam. Ada darah di mulutmu."

Tubagus Putrakesuma alias Jatilandak seka darah di sela bibir. Dia coba tersenyum. "Aku senang bertemu denganmu."

"Jangan bicara itu dulu. Aku khawatir sekali akan keadaanmu."

Jatilandak terdiam sejurus. Pemuda ini merasa terharu mendengar kata-kata Bidadari Angin Timur tadi. "Ternyata dia sangat memperhatikan diriku ...." ucap Jatilandak dalam hati. Lalu dia berkata.

"Keadaanku baik-baik saja. Bulu landak melindungi diriku. Kalau tidak merubah diri menjadi landak, aku mungkin tidak bisa menahan pukulan Topeng Perak. Saat ini aku pasti sudah hancur lumat seperti prajurit dan kuda tadi."

"Jatilandak, aku sangat berterima kasih padamu. Untuk kesekian kali kau menyelamatkan jiwaku tanpa memikirkan keselamatan dirimu sendiri. Yang aku tidak mengerti bagaimana ceritanya kau sekarang menjadi seorang Perwira. Dari Kerajaan Cirebon. Benar ....?"

Tubagus Putrakesuma tersenyum.

"Nanti aku ceritakan." kata sang Perwira pula. Dia memandang ke arah mayat Topeng Perak yang tergeletak di tanah. "Aku ingin tahu dulu siapa sebenarnya manusia berjuluk Topeng Perak itu ..." Tubagus Putrakesuma lalu melangkah mendekat mayat dan menarik lepas topeng perak yang masih menempel menutupi wajah. Ketika topeng tersingkap, semua prajurit Kerajaan Cirebon yang ada ditempat itu keluarkan seruan kaget sementara Tubagus Putrakesuma sendiri tersurut satu langkah sambil berucap menyebut nama.

"Karang Randu ..."

"Siapa dia?" tanya Bidadari Angin Timur.

"Sahabat dekat Sultan Cirebon. Setahuku dulu dia ikut membantu berdirinya Kerajaan Cirebon. Konon dia mencintai Nyai Rara Santang, saudara perempuan Sultan. Namun dia bertepuk sebelah tangan. Setelah tahu cintanya tidak bersambut, Karang Randu melenyapkan diri entah kemana. Tidak tahunya ..... Tidak bisa ku bayangkan. Demikian hebatnya cinta yang berubah menjadi kebencian." Tubagus Putrakesuma alias Jatilandak berpaling pada Bidadari Angin Timur. Si gadis menatap wajah pemuda ini. Dua pasang mata saling beradu pandang, menimbulkan getaran-getaran aneh di lubuk hati masing-masing.

"Saudara Sultan itu pasti seorang gadis cantik jelita ..." ucap Bidadari Angin Timur pula.

Tubagus Putrakesuma tidak menjawab. Pemuda ini merasa ada nada rasa cemburu yang tersembunyi. "Apakah dia masih memiliki perasaan hati seperti dulu terhadapku? Apakah aku masih mempunyai secercah harapan....?"

Tubagus Putrakesuma memerintahkan anak buahnya berangkat duluan ke Cirebon dengan membawa mayat Topeng Perak alias Karang Randu setelah terlebih dahulu diikat bagian dada dan perutnya yang jebol.

"Sampaikan pada Sultan aku akan menyusul kemudian. Ada satu urusan yang harus aku selesaikan lebih dulu di tempat lain."

Delapan prajurit segera tinggalkan tempat itu dengan hati bertanya-tanya. Siapa gerangan gadis cantik berambut pirang yang memiliki ilmu kesaktian hebat dan berhasil membunuh

Topeng Perak yang selama ini menjadi momok nomor satu bagi Kerajaan Cirebon. Apa hubungan si gadis dengan atasan mereka.***EMPATSetelah semua prajurit pergi Tubagus Putrakesuma meminta Bidadari Angin Timur naik ke atas kuda miliknya. Dia sendiri menunggangi kuda bekas kepunyaan salah seorang anak buah Topeng Perak. Perwira itu kemudian membawa Bidadari Angin Timur ke satu tempat berbukit-bukit dimana terdapat sebuah teratak beratap bambu.

"Indah sekali pemandangan di sini ..." ucap Bidadari Angin Timur.

Diantara kehijauan pepohonan serta petak-petak sawah menguning, di bawah sana tampak mengalir Kali Pemali. Dia arah timur menjulang Gunung Kumbang, didampingi Gunung Kadaka di sebelah barat. Diam-diam Tubagus Putrakesuma perhatikan gadis di sampingnya. Ketika Bidadari Angin Timur berpaling kearahnya, untuk kesekian kali keduanya saling beradu pandang tanpa ada yang bicara. Namun seribu kata seolah sudah terucapkan. Seribu kata yang menjalin rasa bahagia karena terjadinya pertemuan itu, sekaligus melepas rasa rindu yang mendalam.

"Aku senang sekali bertemu denganmu. Sesuai perjanjian kita seharusnya baru bertemu pada Satu Suro bulan mendatang di air terjun Batu Putih. Ternyata aku bisa melihatmu lebih cepat. Apakah selama ini kau baik-baik saja?" Bertanya Tubagus Putrakesuma.

Bidadari Angin Timur tidak menjawab, hanya mengangkat bahu lalu tersenyum. Tubagus Putrakesuma merasa ada sesuatu yang mengganjal dalam hati gadis berambut pirang ini.

"Sahabat, kau mau menceritakan bagaimana kau bisa tersesat sampai sejauh ini?"

"Aku harus memanggilmu dengan nama apa? Tubagus Putrakesuma atau Jatilandak? Atau Perwira?" bertanya Bidadari Angin Timur.

"Terserah kau mau memanggil apa. Tapi kalau boleh aku lebih suka kau memanggilku Jatilandak. Itu nama asliku. Itu pula namaku ketika kita pertama kali saling mengenal ...."

Bidadari Angin Timur terdiam. Dipelupuk matanya sekilas terbayang banyak hal dimasa lalu yang terjadi antara dirinya dan pemuda dari negeri 1200 tahun silam itu. Gadis ini akhirnya tersenyum.

"Aku juga lebih senang memanggilmu dengan nama itu. Nah, sekarang kau saja yang duluan bercerita bagaimana kau bisa jadi seorang Perwira Kerajaan Cirebon."

Jatilandak duduk menjeplok di tanah sementara Bidadari Angin Timur duduk di bangku panjang terbuat dari tiga batang bambu yang sudah agak lapuk. Melihat bambu yang diduduki melengkung Jatilandak berkata. "Hati-hati, kalau patah kau bisa jatuh."

Bidadari Angin Timur cuma mengangguk.

Jatilandak yang sekarang jadi Perwira Muda Kerajaan Cirebon dan bernama Tubagus Putrakesuma, putra Luhmintari alias Purnama mengawali cerita ketika dia dan Pendekar 212 Wiro Sableng bersama ibunya serta Rayi Jantra bertemu Walang Sungsang alias Pangeran Cakrabuana dan Nyai Rara Santang putera-puteri Prabu Siliwangi dari Pajajaran. (Baca serial Wiro Sableng berjudul "Sang Pembunuh").

"Saat itu kami dalam satu urusan besar, mencari pembunuh nenek sakti jejadian Eyang Sepuh Kembar Tilu. Urusan ini ada sangkut pautnya dengan dua buah dadu dari negeri Cina yang disebut Dadu Setan serta satu tempat terkutuk bernama Istana Seribu Rejeki Seribu Sorga. Pangeran Cakrabuana dan Nyai Rara Santang tengah mendirikan satu Kerajaan baru di pantai utara yang disebut Kesultanan Cirebon. Mereka menawarkan pada Wiro jabatan Kepala Balatentara Kerajaan. Namun Wiro menolak. Akhirnya mereka meminta diriku. Karena mendapat izin dari ibu dan teman-teman, aku ikut bersama mereka.

Tapi aku tahu diri. Ilmu kepandaianku tidak ada apa-apanya dibanding dengan Wiro. Karena itu aku hanya mau menerima jabatan Perwira mengepalai satu dari dua pasukan besar Kerajaan. Sejak satu minggu lalu aku bersama pasukan mengetahui keberadaan Topeng Perak di kawasan ini. Kami memata-matai dan membuntuti lalu menghadang mereka dekat Kali Pemali." (Baca serial Wiro Sableng berjudul "Sang Pembunuh").

"Cerita hebat. Tidak sangka kau bisa jadi perwira." Memuji Bidadari Angin Timur.

"Tugasku berat. Banyak orang tidak menyukai berdirinya Kesultanan Cirebon." Jatilandak menghela nafas panjang. "Sekarang giliranmu bercerita bagaimana kau bisa sampai di tempat ini." Jatilandak perhatikan wajah si gadis beberapa lama lalu berkata. "Terus terang aku melihat satu bayangan di balik wajah cantikmu. Aku tahu itu bukan bayangan keletihan. Kalau aku boleh bertanya dan kau mau berterus terang, ada ganjalan apa di dalam hatimu?"

"Ganjalan? Tak ada ganjalan dalam hatiku." Jawab Bidadari Angin Timur. Dia tutupi kedustaannya ini dengan tersenyum. Lalu dia palingkan wajah, menatap ke arah pesawahan dan Kali Pemali di kejauhan sana.

"Kalau begitu ada sesuatu yang mengganggu jalan pikiranmu."

Bidadari Angin Timur menggigit bibir. Matanya masih menatap ke arah kejauhan.

"Kalau saja kita bisa berbagi rasa, mungkin ada sesuatu yang bisa aku lakukan untuk menolong. Atau mungkin antara kita dua bersahabat masih ada tabir penghalang hingga tidak bisa berterus terang?"

Bidadari Angin Timur masih diam. Seperti merenung berpikir-pikir menyelami ucapan Jatilandak. Setelah menghela nafas dalam gadis ini akhirnya berkata.

"Pikiranku sedang kacau. Wiro tertimpa satu musibah besar ...."

"Wiro? Musibah apa? Dimana dia sekarang?" tanya Jatilandak sambil menatap lekat-lekat ke wajah si gadis.

Bidadari Angin Timur menuturkan kisah mulai sewaktu Wiro ditangkap karena dituduh telah memperkosa dan membunuh cucu seorang Pangeran.

"Aku tidak yakin dia melakukan hal seperti itu." Kata Jatilandak.

"Dua kakek yaitu Setan Ngompol dan Ki Tambakpati menemui Wiro di sebuah bukit dalam keadaan pingsan. Mereka membawa Wiro ke sebuah gubuk dekat Kali Progo. Tapi mereka tak mampu mengobati. Aku menemui dan melihat Wiro di tempat itu. Keadaannya sangat mengenaskan. Dia menderita penyakit kelainan jalan darah. Selain itu ada satu penyakit lain yang diindap Wiro. Menurut dua kakek sulit disembuhkan ..." Sampai di sini Bidadari hentikan ceritanya. Lagi-lagi dia menatap kejauhan. Namun kali ini sepasang matanya yang bagus tampak berkaca-kaca.

"Penyakit apa?" tanya Jatilandak sambil memperhatikan air mata menggelinding jatuh di pipi Bidadari Angin Timur.

"Wiro ...." Bidadari Angin Timur tutup wajahnya dengan kedua tangan. Tubuhnya bergetar menahan tangis.

Goncangan tubuh Bidadari Angin Timur karena menahan tangis membuat tiga batang bambu lapuk yang didudukinya tiba-tiba berderak patah.

"Kraakk!"

Bidadari Angin Timur terhuyung ke samping dan akan terjerembab di tanah kalau tidak lekas dirangkul oleh Jatilandak. Tubuhnya terduduk di atas pangkuan dan tenggelam dalam pelukan si pemuda. Jatilandak yang tidak menyangka akan berada dalam keadaan seperti itu untuk beberapa lama duduk diam terpaku. Ingatannya kembali pada saat ketika dia dan gadis itu bermesraan di sebuah mata air dan sempat dipergoki Wiro. (Baca serial Wiro Sableng berjudul "Bendera Darah").

Sebaliknya entah sadar entah tidak Bidadari Angin Timur tidak pula berusaha bangkit dari pangkuan atau melepas diri dari pelukan Jatilandak. Gadis ini ingat saat-saat ketika Jatilandak menuturkan riwayat dirinya yang penuh duka kesedihan. (Baca serial Wiro Sableng berjudul "Api Cinta Sang Pendekar").

Jatilandak mengelus punggung Bidadari Angin Timur, membelai rambutnya lalu berbisik ke telinga si gadis.

"Kuatkan hatimu. Katakan penyakit apa yang diderita sahabat kita Wiro."

Mendengar ucapan Jatilandak pecehlah tangis Bidadari Angin Timur. Dua tangannya digelungkan ke punggung sementara wajah didekapkan ke dada si pemuda.

Jatilandak menunggu dengan dada berdebar hati terguncang.

Setelah tangis Bidadari Angin Timur mereda dia kembali bertanya. "Katakan, penyakit apa yang diderita Wiro."

Bidadari Angin Timur menarik nafas panjang berulang kali sebelum menjawab. Wajahnya masih disembunyikan di dada si pemuda. Lalu terdengar suaranya berucap.

"Wiro kehilangan kemampuannya sebagai laki-laki...."

Kening Jatilandak mengernyit.

"Maksudmu?"

"Dia kehilangan kejantanannya ..."

Wajah Jatilandak berubah. Mata terpana menatap Bidadari Angin Timur. "Bagaimana mungkin? Apa yang terjadi?" tanya Jatilandak kemudian.

"Tidak ada yang tahu bagaimana kejadiannya." jawab Bidadari Angin Timur. "Saat itu pikiranku sangat kacau. Aku lari meninggalkan gubuk tepi Kali Progo itu...."

Untuk beberapa lama Jatilandak tak bisa berkata apa-apa.

Perlahan-lahan Bidadari Angin Timur turun dari pangkuan dan melepaskan pelukannya dipunggung si pemuda. Gadis ini duduk di tanah membelakangi Jatilandak dengan wajah ditundukkan.

"Kalau betul apa yang kau ucapkan, ini satu malapetaka besar bagi Wiro. Seharusnya kau tidak meninggalkan dirinya dalam keadaan seperti itu ..." Jatilandak berkata perlahan.

"Saat itu aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Aku seolah berubah ingatan. Aku lari dan lari. Tanpa tujuan. Aku tidak lagi memperdulikan keadaan diriku. Aku juga tidak habis pikir bagaimana aku kemudian bisa terpesat sejauh itu dan tahu-tahu sudah sampai di tepi Kali Pemali sewaktu kau dan Topeng Perak tengah berhadap-hadapan."

"Kita harus mencari Wiro. Kita harus menolongnya. Kau tahu dimana dia sekarang berada?"

"Kata-katanya menyatakan ketulusan hati. Membuat diriku merasa bersalah." Ucap Bidadari Angin Timur dalam hati dan tundukkan kepala lalu menjawab. "Aku tidak tahu dimana Wiro berada saat ini. Selama beberapa hari ini aku dihantui oleh rasa gelisah, sedih, kecewa, dan juga marah. Sepertinya dunia ini bukan milikku lagi. Itu sebabnya tadi aku menghajar Topeng Perak dan anak buahnya secara kalap. Aku merasa itu salah satu usaha untuk melepas tekanan batin yang aku derita ..."

"Sahabat, kau tidak boleh menurutkan kata hati serta jalan pikiran keliru seperti itu. Kau bisa sakit ..." Jatilandak memegang lengan Bidadari Angin Timur.

"Terima kasih. Aku mendengarkan nasihatmu." jawab Bidadari Angin Timur.

"Lalu apa yang akan kau lakukan. Kemana kau akan melanjutkan perjalanan?"

Bidadari Angin Timur menggeleng. Wajahnya tampak kosong.

"Aku tidak tahu mau berbuat apa dan mau pergi kemana. Aku seperti seekor semut di tengah gurun pasir ..."

"Tidak, kau bukan seekor semut di tengah gurun pasir. Kau tetap seorang Bidadari di bumi Tuhan yang indah ini ..."

Bidadari Angin Timur angkat kepalanya, menatap Jatilandak dengan berlinang air mata. Pemuda ini ulurkan tangan mengusap tetesan air mata di kedua pipi gadis itu.

"Kalau kau tidak tahu akan berbuat apa dan tidak tahu mau pergi kemana, ikutlah bersama aku ke Cirebon. Aku akan memperkenalkanmu pada Nyai Rara Santang, saudara perempuan Sultan. Mudah-mudahan kalian berdua bisa bersahabat."

Bidadari Angin Timur tersenyum namun bersamaan dengan itu derai air mata semakin banyak jatuh meluncur di pipinya. Dalam hati dia berkata. "Mungkin memang dia, mungkin memang pemuda ini satu-satunya yang akan menjadi tempat aku berlindung. Dia begitu penuh perhatian ..."

Perlahan-lahan Bidadari Angin Timur berdiri, melangkah lalu naik ke atas kuda milik Jatilandak. Dia menatap pemuda itu sebentar lalu berkata.

"Aku ikut bersamamu ke Cirebon."

Mengira si gadis akan pergi meninggalkannya begitu saja, ketika mendengar ucapan itu tidak menunggu lebih lama lagi Jatilandak langsung melesat ke punggung salah seekor kuda yang ada di tempat itu. Tak lama kemudian kedua orang itu memacu kuda masing-masing ke arah utara. Jatilandak di sebelah depan.***RATU DUYUNG hentikan lari dan menatap ke dalam cermin.

"Aneh ..." katanya.

"Apanya yang aneh?" tanya Gondoruwo Patah Hati yang berdiri di sampingnya bersama Naga Kuning.

Ratu Duyung melintangkan cermin sakti di depan ke dua orang itu. "Lihat ke dalam cermin. Di arah utara kini kelihatan tujuh titik. Tiga di sebelah kanan, empat di sebelah kiri. Jarak masih terlalu jauh. Cermin sakti tidak mampu memperlihatkan ujud sebenarnya dari tujuh titik itu."

"Yang di sebelah kanan aku bisa menduga. Itu Wiro dan mahluk dari alam gaib." Kata Naga Kuning pula. "Lalu siapa titik yang ketiga?"

"Mungkin sekali Purnama yang tengah mengikuti Wiro. Kalian bisa melihat, titik ketiga ini selalu berada di belakang dua titik lainnya," menyahuti Gondoruwo Patah Hati.

"Bagaimana dengan empat titik di sebelah kiri. Dua berwarna biru, dua berwarna hitam," Naga Kuning berkata sambil memperhatikan cermin sakti yang dipegang Ratu Duyung.

"Salah seorang dari dua titik biru ini aku rasa Bidadari Angin Timur. Siapa satunya sulit aku menduga. Dua titik hitam mungkin sekali dua ekor kuda yang mereka tunggangi. Walau mereka sama-sama berada di utara agaknya masing-masing punya tujuan yang berbeda." Ratu Duyung berkata sambil kerahkan tenaga dalam, berusaha memperjelas ujud titik di dalam cermin namun tak berhasil.

"Kita akan terus mengejar Wiro atau mengikuti Bidadari Angin Timur?" bertanya Naga Kuning.

"Kita tetap mengejar Wiro. Ada satu hal yang perlu aku beritahukan. Dia berubah arah. Dia tidak menuju Gunung Gede tapi ke arah pantai utara." Ratu Duyung simpan cermin saktinya lalu melesat lebih cepat mendahului si nenek dan si bocah berambut jabrik. Disamping tidak dapat melihat jelas ujud orang-orang dalam cermin, gadis bermata biru ini juga merasa gelisah. Apa benar titik ketiga di sebelah kanan cermin adalah Purnama?.***LIMATIUPAN angin terasa semakin kencang. Deru ombak terdengar bertambah keras pertanda lautan luas yang membentang di sebelah utara semakin dekat. Di langit cahaya benderang sang surya mulai memudar memasuki awal petang. Tak selang berapa lama Teluk Losari kelihatan terhampar membentuk satu pemandangan indah. Di samping bukit batu yang ikut membentuk tepian teluk, seekor harimau putih besar bermata hijau berlari melesat luar biasa cepat. Di atas punggung binatang ini duduk seorang pemuda berambut gondrong yang bukan lain adalah Pendekar 212 Wiro Sableng. Murid Sinto Gendeng ini hanya mengenakan celana putih bertelanjang dada. Siapapun yang melihat sulit mempercayai. Mana ada ceritanya manusia menunggang harimau! Dan seekor harimau putih langka pula!

Di satu bagian tebing bukit batu yang sempit dan cukup terjal murid Sinto Gendeng tepuk tengkuk harimau besar putih bermata hijau.

"Datuk Rao sahabatku berhentilah. Tunggu aku disini sampai aku menemuimu kembali ..."

Datuk Rao Bamato Hijau, begitulah nama harimau putih besar bermata hijau tunggangan Wiro hentikan lari. Kepala merunduk ke tanah berbatu-batu, ekor dikibas-kibas dan dari mulut binatang ini keluar suara menggereng perlahan. Harimau inilah yang terlihat dalam cermin sakti Putri Duyung dalam bentuk titik putih berkedip-kedip.

Seperti diketahui Datuk Rao Bamato Hijau adalah seekor harimau gaib sakti peliharaan datuk Rao Basaluang Ameh, seorang tua di tanah Minang yang konon telah menemui kematian seratus tahun silam. Karena kesaktiannya yang luar biasa orang menganggap dirinya setengah roh setengah dewa.

Selain memberi ilmu kesaktian pada Wiro melalui Kitab Putih Wasiat Dewa, Datuk Rao Basaluang Ameh juga menjadikan harimau gaib peliharaannya sebagai sahabat dan sekaligus pelindung Pendekar 212 Wiro Sableng. Selama ini Wiro jarang meminta bantuan binatang gaib sakti itu. Namun ketika dalam kacau pikiran dan baru saja sembuh dari penyakit kelainan jalan darah yang dideritanya, sewaktu meninggalkan rumah panggung di tepi Kali Progo murid Sinto Gendeng ingat pada sang datuk.

Bagaimana sampai Wiro bisa bersama sang harimau sakti? Dalam perjalanannya di satu tempat Wiro hentikan lari, duduk bersila di tanah, menutup mata mengheningkan cipta sambil mulutnya berucap.

"Sahabatku Datuk Rao Bamato Hijau datanglah. Aku perlu bantuanmu."

Hanya berselang beberapa lama di tempat itu tiba-tiba muncul kabut putih. Di dalam kabut itu tampak kilatan dua cahaya hijau dan samar-samar muncul satu sosok putih besar disertai suara menggereng. Walau suara gerengan ini halus perlahan namun cukup membuat tanah dan bebatuan bergetar.

Perlahan-lahan kabut tipis sirna.

Wiro membuka kedua matanya. Begitu melihat sosok harimau putih besar telah berdiri dihadapannya dia segera bangkit, merangkul leher dan mengusap kepala binatang yang muncul secara gaib ini lalu berkata.

"Datuk sahabatku, terima kasih kau mau datang."

Harimau putih besar menggereng halus seolah bertanya apa yang bisa diperbuatnya lalu ulurkan lidah menjilati tangan sang pendekar.

"Datuk, aku perlu pertolonganmu. Pikiranku sedang kacau. Aku bermaksud menemui Eyang Sinto Gendeng di Gunung Gede. Tapi ada sesuatu yang harus aku ambil di Teluk Losari di arah utara. Aku ingin cepat-cepat sampai dan berada di dua tempat itu. Apakah kau mau mengantarkan diriku?"

Sebagai jawaban harimau putih besar rundukkan tubuh ke tanah.

Wiro segera saja naik ke punggung binatang gaib itu.

"Wusss!"

Sekali berkelebat harimau besar sudah melesat jauh belasan tombak.***DICERITAKAN sebelumnya ketika Wiro meninggalkan rumah panggung tempat dirinya dirawat, secara diam-diam Purnama mengikuti. Namun gadis dari alam 1200 tahun silam ini terhalang dengan kemunculan mahluk tanpa wajah yang memaksa ikut bersamanya. Purnama menolak. Mahluk tanpa wajah menyerang dan berhasil membuat gadis itu terpendam di dalam tanah. Untung Setan Ngompol dan Ki Tambakpati menemui dan menolongnya. Purnama tidak habis mengerti mengapa mahluk tanpa wajah itu selalu berniat mencelakai dirinya. Apa karena keterkaitannya dengan Wiro?

Sewaktu Purnama melanjutkan mengejar Pendekar 212, dia merasa heran karena jarak orang yang dikejar kini berada setengah harian di depan sana. Hal ini diketahuinya setelah dia menerapkan ilmu kesaktian bernama Nafas Sepanjang Badan.

"Aneh, kalau dia berlari biasa mengandalkan ilmu kesaktian, bagaimana mungkin jaraknya denganku kini terpisah begitu jauh?" Purnama hentikan lari. Untuk kedua kalinya gadis ini kerahkan Ilmu Nafas Sepanjang Badan.

"Aku mencium ada bau mahluk lain bersama Wiro. Bukan manusia, bukan juga seekor kuda yang mungkin jadi tunggangannya. Lalu mahluk apa ini? Jin? Setahuku Wiro tidak memelihara mahluk semacam itu. Aku harus mencari tahu."

Cukup lama Purnama merenung. Dia tidak dapat memastikan, dia tidak mampu memantau keberadaan harimau putih gaib yang jadi tunggangan Pendekar 212.

"Aku harus melipat gandakan Ilmu meringankan tubuh dan tenaga dalam agar ilmu lari Segara Angin yang kumiliki bisa dua kali lebih cepat! Aku harus meminta tambahan kekuatan gaib dari alam roh seribu dua ratus tahun silam."

Setelah menghirup udara dalam-dalam lalu melepas nafas panjang, Purnama pergunakan ilmu lari Segara Angin. Karena sekali ini dia mengerahkan ilmu meringankan tubuh dan tenaga dalam dua kali lipat ditambah masuknya kekuatan gaib alam roh ke dalam tubuhnya maka sosok gadis ini melesat lenyap seolah berubah jadi bayang-bayang. Meskipun demikian, setelah mengejar cukup lama Purnama hanya mampu mempersingkat jarak seperempat hari perjalanan.

"Ilmu Segara Angin tidak dapat mengejarnya. Kalau sampai matahari terbenam aku tidak dapat mempersingkat jarak, bisa-bisa aku akan kehilangan jejak ..." Untuk kedua kalinya gadis dari Latanahsilam ini hentikan lari. Dia mendongak ke langit, pejamkan mata dan hirup udara dalam-dalam. "Apakah aku tidak salah menduga? Wiro bergerak ke utara. Ke arah pantai. Jika dia terus menerus bergerak lurus ... Astaga! Dia menuju Teluk Losari tempat kediamanku! Mengapa kesana? Bukan ke Gunug Gede?" Dada si gadis berdebar. "Tidak mungkin dia mencariku. Dia tahu waktu dia meninggalkan rumah panggung aku masih berada di tempat itu." Jantung si gadis berdetak keras. "Hanya ada satu cara untuk bisa mengejarnya. Aku harus kembali ke alam roh. Tapi apakah aku tidak akan terjerat di alam sana? Bagaimana kalau aku tidak dapat lagi kembali ke bumi?" Purnama merenung bimbang. Akhirnya gadis dari alam 1200 tahun silam ini berkata dalam hati. "Aku serahkan semua pada Yang Maha Kuasa. Tuhanku sama dengan Tuhan Wiro. Masakan Dia tidak akan menolong diriku?"

Purnama susun sepuluh jari di atas dada, telapak saling dirapatkan. Lalu dua tangan diangkat ke atas. Dua tangan bergetar keras. Ketika dua tangan memancarkan cahaya kebiruan saat itu pula tubuhnya lenyap. Yang tertinggal hanya cahaya ditebari ratusan percikan bunga api biru.

Mendadak dari arah langit sebelah utara tiba-tiba wuuss! Melesat cahaya tiga warna. Merah, biru, dan hijau. Namun Purnama telah terlebih dulu lenyap masuk ke dalam alam roh. Tebaran ratusan percikan bunga api berwarna biru yang terkena hantaman tiga cahaya menggelegar dahsyat. Tanah bergetar, pepohonan berderak. Ranting-ranting berpatahan dan dedaunan rontok luruh!

Jauh di atas langit, satu sosok berpakaian selempang kain putih tersentak dua langkah ke belakang. Rambut putih awut-awutan berjingkrak ke atas seperti mau terserabut tanggal. Sepasang mata mendelik marah. Mulut mengutuk menyerapah.

"Kurang ajar. Gadis itu keburu masuk ke alam roh! Kalau saja jin peliharaanku Rajip Kupal tidak dimusnahkan oleh keparat Deewana Khan gadis itu tak akan bisa lolos. Kepingan emas tongkat sakti milikku ada padanya. Berbahaya, sangat berbahaya. Aku harus dapat merampasnya ..."***DI SATU telaga kecil Ratu Duyung hentikan lari lalu keluarkan cermin bulat sakti. Kalau sebelumnya dia melihat lima titik di dalam cermin yaitu dua di sebelah kiri dan tiga di arah kanan, kini tinggal tiga titik yang terlihat yaitu yang di sebelah kanan. Tiga titik ini makin lama makin meredup kecil.

"Wiro, mahluk gaib, dan Purnama ..." ucap gadis bermata biru ini dalam hati. Dia menatap pada Naga Kuning si bocah berambut jabrik dan Gondoruwo Patah Hati si nenek berwajah setan.

"Dengan kecepatan lari yang kita miliki saat ini, kita tidak mungkin mengejar Wiro. Kita harus mencari akal. Aku harus melakukan sesuatu ..." memberitahu Ratu Duyung pada dua sahabatnya itu.

"Dengan ilmu kesaktian yang Ratu miliki, apakah Ratu hendak pergi mendahului kami?" bertanya Gondoruwo Patah Hati.

Ratu Duyung menggeleng. "Kesaktianku kali ini tidak dapat menandingi Wiro. Entah ilmu kesaktian apa yang dipergunakannya. Aku ingat batu sakti Batu Mustika Angin Laut Kencana Biru milik Nyai Roro Kidul pernah meminjamkan batu mustika sakti itu pada Nyi Roro Manggut sewaktu menyelamatkan Wiro yang terjebak racun maut dalam menyelidiki bangunan istana Seribu Rejeki Seribu Sorga. (Baca serial Wiro Sableng berjudul "Sang Pembunuh"). Kalau aku bisa memiliki batu sakti itu, dalam beberapa kejapan mata pasti aku bisa mengejar Wiro." Ratu Duyung menghelas nafas dalam. "Mungkinkah Nyai Roro mau meminjamkan batu sakti itu?" Ratu Duyung bimbang sesaat. Hati kecilnya berkata. "Aku harus menempuh cara paling cepat untuk dapat menghubungi Nyai Roro. Aku harus bersentuhan dengan air. Kebetulan ada telaga ..."

Ratu Duyung berpaling pada Naga Kuning dan Gondoruwo Patah Hati. "Sahabat berdua, kalian tunggu aku di sini."

"Memangnya kau mau kemana?" tanya Naga Kuning.

"Ratu, kau mau berbuat apa?" si nenek ikut bertanya.

Tanpa menjawab pertanyaan dua orang itu Ratu Duyung melompat masuk ke dalam telaga. Dalam sekejapan tubuhnya lenyap di bawah permukaan air.

"Eh, mengapa dia masuk ke dalam telaga?" ujar Naga Kuning. "Kalau cuma berniat mandi, mengapa Ratu Duyung tidak mengajakku? Nek, kau tunggu di sini. Aku mau ikutan mandi," kata Naga Kuning sambil melangkah mendekati telaga.

"Bocah geblek!" kata Gondoruwo Patah Hati sambil jambak rambut jabrik Naga Kuning. "Jangan kau berani mengganggu apa yang dilakukan gadis itu! Aku yakin Ratu Duyung tengah melakukan sesuatu! Bukan mandi!"

"Kau selalu cemburu. Kalau tidak percaya padaku, ikutan saja mandi sekalian. Tapi ada syaratnya. Sebelum masuk ke dalam telaga kita berdua harus sama-sama menanggalkan pakaian!" kata Naga Kuning pula lalu tertawa gelak-gelak.

Gondoruwo Patah Hati yang nama aslinya Ning Intan Lestari dan berpenampilan seorang gadis cantik dan sebenarnya adalah kekasih Naga Kuning menyeringai. Tangan kanan masih menjambak rambut Naga Kuning, kini tangan kiri menjewer telinga bocah itu dan memuntirnya hingga Naga Kuning terpekik.

"Bocah konyol," berkata si nenek. "Lain waktu kalau urusan sudah selesai aku terima tantanganmu! Aku bawa kau masuk mandi ke dalam telaga. Akan aku gosok tubuhmu mulai dari ubun-ubun sampai ke ujung kaki. Sampai kulitmu terkelupas!"

"Hik ... hik ... hik ..." Naga Kuning tertawa cekikikan lalu wajahnya ditempel dan diusapkannya ke perut Gondoruwo Patah Hati hingga nenek ini terpekik kegelian dan lepaskan jambakan serta jeweran.

Tiba-tiba di langit dari arah selatan melesat sebuah benda bercahaya biru terang. Di atas telaga benda ini menukik turun, berputar tiga kali lalu melesat masuk ke dalam air.

"Benda apa tadi itu ...?" ucap Naga Kuning.

Gondoruwo Patah Hati tidak menyahut. Dia pegangi perutnya yang masih terasa geli. Tiba-tiba dari dalam telaga melesat keluar sosok Ratu Duyung. Dipertengahan dadanya tampak ada satu benda bercahaya biru terang. Dengan wajah berseri dia berkata memberi tahu.

"Aku berhasil mendapatkan Batu Mustika Angin Laut Kencana Biru dari Nyai Roro Kidul. Kalian berdua lekas pegang tanganku kiri kanan. Dalam beberapa kejapan mata kita bisa sampai di tempat dimana Wiro berada."

Baru saja ratu Duyung keluarkan ucapan tiba-tiba dilangit muncul satu bayangan putih. Bersamaan dengan itu melesat cahaya tiga warna.

"Awas serangan gelap!" Gondoruwo Patah Hati berteriak.

"Mahluk tanpa wajah!" teriak Ratu Duyung. "Lekas menyingkir!"

Naga Kuning melompat ke kiri sementara Gondoruwo Patah hati bergerak ke kanan. Keduanya sama-sama mengangkat tangan ke atas sambil kerahkan tenaga dalam penuh. Gondoruwo Patah Hati lepaskan pukulan sakti yang disebut Pukulan Batu Naroko sedang Naga Kuning menghantamkan pukulan Naga Murka Merobek Langit.

Ditempatnya berdiri Ratu Duyung keluarkan cermin sakti, ditengadahkan ke langit sedang tangan kanan melepas pukulan sakti yang disebut Genta Biru Menatap Langit.

Dari dalam cermin sakti berkiblat cahaya putih menyilaukan. Dari tangan kanan sang Ratu melesat cahaya biru berbentuk kipas terbuka disertai lapat-lapat terdengar suara genta aneh.

"Bumm .... bummm .... bumm!"

Tiga ledakan keras berdentum di udara terbuka.

Di langit cahaya merah, kuning, dan biru tercabik-cabik, membentuk kepulan asap dan musnah. Naga Kuning dan Gondoruwo Patah Hati jatuh terduduk di tanah. Wajah masing-masing tampak pucat. Untungnya mereka tidak mengalami cidera.

Ratu Duyung merunduk setengah berlutut. Mulut merapal mantra sakti.

"Gaib atau nyata kembalilah ke tempat asalmu!"

Habis berucap Ratu Duyung meniup ke udara. Selarik cahaya biru pekat dan angker melesat. Sesaat kemudian di atas langit terdengar suara raungan aneh disertai sapuan satu cahaya kuning.

"Sahabat berdua kita harus segera tinggalkan tempat ini sebelum mahluk jahanam itu menyerang lagi!" kata Ratu Duyung. Lalu dia pegang lengan kiri Gondoruwo Patah Hati dan cekal tangan kanan Naga Kuning. Sekali dia menghentakkan kaki kanan ke tanah maka laksana terbang ke tiga orang itu melesat ke utara.

"Ratu! Jangan tinggi-tinggi! Jangan kencang-kencang! Aku gamang. Bisa terkencing-kencing! Ingat waktu kau membawaku mencebur jurang di Seratus Tiga Belas Lorong Kematian?!" Teriak Naga Kuning. (Baca serial Wiro Sableng berjudul "Kematian Kedua").

"Anak konyol! Kau berisik saja! Kalau mau kencing, kencing saja!" berteriak Gondoruwo Patah Hati. "Syukur-syukur ada setan lewat. Biar dipencet kantong menyanmu!"

Naga Kuning yang memang kegamangan pejamkan kedua mata dan tekap bagian bawah celana hitamnya. Dasar bocah nakal mulutnya berucap menyahuti kata-kata si nenek.

"Nek, kalau aku kencing beneran nanti kau yang nyebokin ya?!"

Gondoruwo Patah Hati pencongkan mulut lalu memaki. "Anak kurang ajar! Enak saja mulutmu bicara!"***ENAMLangit di atas Teluk Losari disaput cahaya kuning kemerahan sinar sang surya yang tengah menggelincir menuju ufuk tenggelamnya. Di lamping bukit batu yang membujur dari barat ke arah timur membentuk sebagian tepian teluk, Purnama melihat sosok Pendekar 212 melangkah cepat, sesekali melompat di atas bebatuan. Saat menjelang matahari tenggelam itu pemandangan di teluk indah sekali. Namun Purnama sama sekali tidak memperhatikan hal itu. Pikirannya serta mata dipusatkan pada Pendekar 212 yang tengah diikutinya.

"Tempat kediamanku di atas bukit. Agaknya Wiro tidak menuju ke sana." Purnama terus menguntit dan memperhatikan. Tadinya dia ingin berteriak memanggil pemuda itu. Namun dia kemudian memutuskan untuk mengikuti secara diam-diam. Saat itu gadis dari alam 1200 tahun silam ini telah keluar dari alam roh dan kembali membentuk diri dalam ujud manusia biasa.

Di satu celah bebatuan sosok Wiro lenyap. Purnama berkelebat cepat mengejar. Namun gadis ini hampir terpekik keras ketika tiba-tiba di hadapannya entah dari mana datangnya telah berdiri seekor harimau putih besar. Empat kaki terpentang kokoh di atas batu bukit. Kepala agak merunduk. Sepasang matanya yang hijau menatap tak berkesip. Dari mulut keluar suara gerengan halus. Purnama dapat merasakan bagaimana gerengan sangat perlahan itu membuat bukit batu yang dipijaknya terasa bergetar. Harimau putih ini pasti memiliki kesaktian luar biasa!

Purnama tegak tak bergerak. Bahkan bernafaspun dia seolah tertahan. "Aku memang tidak lama diam di tempat ini. Tapi tak pernah ada harimau berkeliaran. Ini bukan binatang biasa. Jangan-jangan harimau putih ini peliharaan Wiro. Hem ... aku tahu sekarang ini rahasianya. Pasti mahluk ini yang membawa Wiro laksana kilat ke tempat ini."

Walau terasa menyeramkan namun Purnama melihat harimau putih bermata hijau tidak menunjukkan sikap buas, apalagi hendak menyerang menerkam dirinya. Bahkan sesaat kemudian binatang ini merundukkan badan dan berbaring di atas batu menyisakan jalan tidak seberapa lebar di sisi kanan. Sementara di sebelah kiri menjulang dinding batu yang tinggi dan terjal. Di bawah sana terbentang Teluk Losari dengan ombak bergulung menderu, membentur dasar lamping batu, menimbulkan suara debur gemuruh tiada henti. Dari tempatnya berdiri Purnama bisa melihat celah batu dimana tadi Wiro menyusup masuk dan lenyap.

"Aku tak pernah menyelidik kawasan ini. Agaknya ada satu rongga batu di bawah sana. Mungkin sebuah goa. Aku harus kesana, aku harus segera menemui Wiro. Tapi harimau putih besar itu menghadang jalan. Aku bisa saja melompat diatasnya. Tapi ... apakah dia tidak akan menyerangku?"

Purnama maju beberapa langkah. Dia menatap harimau besar yang sejak tadi memperhatikan dirinya dengan sepasang matanya yang hiaju. Gadis ini berlutut dua langkah di hadapan harimau putih hingga kepala mereka berada di ketinggian yang sama. Purnama berusaha menahan rasa dingin ditengkuknya yang merinding.

"Harimau putih, aku tahu kau sahabat Pendekar Dua Satu Dua Wiro Sableng. Aku juga sahabat Wiro. Berarti kita berdua juga adalah sahabat. Jangan kau menaruh sangka buruk. Aku perlu menemui Wiro sekarang juga. Aku harus menyerahkan sesuatu padanya. Aku perlu bicara dengan dia. Harap kau mau memberi aku lewat."

Perlahan-lahan Purnama luruskan tubuh lalu selangkah demi selangkah dia berjalan di sisi kanan harimau putih. Pada saat dia tepat berada di samping binatang ini tiba-tiba harimau besar menggereng halus dan bangkit berdiri. Purnama merasa nafasnya terbang. Terlebih ketika harimau itu panjangkan leher dan membuka mulut lebar-lebar.

"Celaka, kalau binatang ini menyerangku apakah aku harus melawan?" Purnama takut dan bingung.

Harimau putih membuka mulut lebar-lebar, ulurkan lidah lalu merunduk menjilati tangan kiri si gadis. Purnama melepas nafas lega. Dengan tangan kanannya dia usap-usap bagian kepala diantara dua mata harimau seraya tundukkan kepala dan berucap perlahan.

"Aku berterima kasih kau mau bersahabat denganku ..."

Harimau putih menggereng perlahan. Purnama usap leher binatang ini lalu menindak dua langkah. Pada langkah ketiga dengan cepat dia membuat lompatan, melesat kebagian bawah lamping bukit batu yang ada celahnya dimana tadi Wiro terlihat menyusup masuk dan lenyap.

Apa yang diduga Purnama ternyata benar. Diantara dua buah batu yang membentuk celah terdapat sebuah goa. Pada jarak enam langkah dari mulut goa di sebelah dalam lorong goa membelok ke kiri. Di bagian ini hawa terasa agak hangat karena angin yang bertiup dari arah teluk tidak langsung masuk. Selain itu bagian dalam goa yang seharusnya gelap tampak ada cahaya cukup terang. Dengan berdebar Purnama meneruskan langkah melewati belokan goa.

Begitu melewati belokan dan memandang ke depan, gadis ini keluarkan suara tercekat dan cepat hentikan langkah. Wajahnya mendadak berubah merah dan panas. Tubuh bergetar dan jantung berdebar keras. Seharusnya dia cepat bersurut mundur, paling tidak memalingkan kepala. Namun dua hal itu tidak satupun mampu dilakukan. Sepasang mata terpentang lebar.

Ujung goa merupakan sebuah ruangan berbentuk segitiga. Di salah satu dinding goa terdapat satu batu sebesar kepala memancarkan sinar aneh. Sinar dari batu inilah yang membuat ruangan itu menjadi cukup terang. Di tengah ruangan Pendekar 212 Wiro Sableng berdiri tanpa pakaian, membelakangi Purnama. Keberadaan sang pendekar seperti inilah yang membuat Purnama tercekat hentikan langkah. Di lantai goa tampak celana putih kotor yang sebelumnya dipakai Wiro. Lalu ada satu kantong lain berwarna biru.

Tiba-tiba Wiro membalikkan tubuh.

Purnama terperangah. Dua bola mata membesar. Lutut terasa goyah dan dada bergoncang keras. Aliran darah dalam tubuh mengalir deras.

"Purnama, sudah lama kau berdiri di situ?" Wiro bertanya. Suaranya terdengar datar.

Purnama tak dapat menjawab. Sepasang matanya masih tidak berkedip memandangi sosok telanjang sang pendekar. Mulai dari kepala sampai ke ujung kaki. Saat itulah gadis ini sempat melihat ada satu tanda putih di bagian bawah pusar Wiro.

Purnama sadar. Perlahan-lahan gadis ini tundukkan kepala dan mundur satu langkah. Dia merasa berdosa telah memergoki dan melihat Wiro dalam keadaan tidak berpakaian seperti itu. Namun dia juga berpikir bertanya-tanya dalam hati. Bagaimana mungkin Wiro bersikap setenang itu. Sama sekali merasa kaget atau malu dan berusaha menutupi aurat atau membalikkan tubuh. Malah dia mengajukan pertanyaan pula! Ada satu kelainan dalam sikap dan jalan pikirannya. Dia seperti seorang anak kecil yang tidak memiliki rasa malu ketika kedapatan dalam keadaan telanjang. Apakah ini akibat dari penyakit aneh yang dideritanya? Kehilangan kejantanan?

Seperti tidak mengacuhkan Purnama perlahan-lahan Wiro membungkuk. Dari dalam kantong biru dia mengeluarkan sehelai baju dan sepotong celana panjang putih. Tenang saja dihadapan Purnama Wiro mengenakan baju dan celana itu. Dari kantong kain Wiro kemudian mengeluarkan pula beberapa benda lalu disimpan di dalam saku kecil dibalik pinggang celana. Sesaat Wiro berpaling, menatap ke arah Purnama. Lalu dia membungkuk disudut lantai. Pada salah satu bagian lantai terdapat satu gundukan batu cukup besar. Wiro dorong gundukan batu. Ternyata gundukan batu ini bisa digeser ke samping. Di lantai terlihat sebuah lobang. Dari dalam lobang ini Wiro keluarkan sebuah benda. Purnama yang terus memperhatikan melihat benda yang dipegang Wiro adalah sebuah kitab tebal terbuat dari daun lontar.

"Kitab Seribu Pengobatan!" ucap Purnama dalam hati. "Jadi goa ini adalah tempat rahasia dia menyimpan barang-barang berharga miliknya. Luar biasa. Goa ini dekat sekali dengan tempat kediamanku di atas sana. Tapi aku tidak pernah mengetahui. Sejak kapan hal ini terjadi?"

"Wiro, aku sengaja mengikutimu sampai kesini ...."

"Aku tahu. Aku dalam perjalanan ke Gunung Gede. Aku mampir dulu kesini untuk mengambil kitab ini dan beberapa barang berharga milikku yang kusimpan di goa ini..."

"Wiro, ada sesuatu yang harus aku serahkan padamu. Ini menyangkut perkara besar yang terjadi beberapa waktu belakangan ini."

"Perkara apa?" tanya Wiro.

"Malapetaka perkosaan atas diri puluhan gadis. Munculnya mahluk-mahluk aneh yang bukan mustahil menjadi dalang dari semua bencana ini, termasuk penyakit yang kini kau derita..."

"Aku tidak sakit. Aku merasa sehat-sehat saja. Bukankah sewaktu di rumah panggung di dekat Kali Progo kau dan para sahabat telah menyembuhkan diriku?"

"Betul, tapi menurut Setang Ngompol dan Ki Tambakpati kau masih mengidap satu penyakit lain ..."

"Penyakit apa?"

Purnama tak sanggup memberikan jawaban.

"Kau tak usah menerangkan. Aku sudah tahu. Ki Tambakpati pernah mengatakan padaku. Seseorang telah menganiaya diriku hingga aku kehilangan kejantanan. Aku tidak berharga lagi hidup sebagai seorang lelaki ..."

"Wiro, aku harap kau tidak berputus asa. Di dunia ini tidak ada penyakit yang tidak ada obatnya. Selain itu kita sudah punya dugaan siapa manusia jahat yang telah melakukan perbuatan terkutuk itu. Dia telah memperkosa dan membunuh puluhan gadis. Kami menduga ada sesuatu yang lebih besar di balik semua perbuatannya itu. Tidakkah kau punya niat untuk mencari dan membuat perhitungan dengan orang yang telah mencelakai dirimu?"

Wiro masukkan Kitab Seribu Pengobatan ke dalam kantong biru. Dia memperlihatkan sikap hendak melangkah ke mulut goa, siap meninggalkan tempat itu.

Dari balik pakaian birunya Purnama cepat-cepat mengeluarkan dua buah kitab yang didapatnya dari Deewana Khan. Satu berbentuk utuh tapi kosong tak ada tulisan. Satunya hangus bekas terbakar dan masih menyisakan beberapa baris tulisan.

"Wiro, seorang asing bernama Deewana Khan menyerahkan dua kitab ini padaku. Katanya dia muncul dari alam kematian atas kehendak para Dewa. Kitab yang terbakar ini adalah asli Kitab Jagat Pusaka Dewa sedang yang masih utuh merupakan salinan. Kitab utuh ini tak bisa dibaca isinya dengan mata biasa. Untuk bisa membaca isi dan petunjuk didalamnya seseorang harus lebih dahulu bersamadi selama seratus hari. Menurut orang asing itu sebenarnya kitab yang asli akan diserahkan pada seseorang pemuda. Namun pemuda itu telah tersesat dan berada dibawah pengaruh kekuasaan insan jahat. Pemuda itu telah menimbulkan malapetaka terkutuk di negeri ini. Deewana Khan mengatakan insan-insan jahat itu hanya bisa dibasmi berdasarkan petunjuk rahasia yang ada dalam kitab yang terbakar ..."

"Orang bernama Deewana Khan itu, apakah kau sempat menyelidik siapa dia adanya?" bertanya Wiro.

Purnama menggeleng. "Dia orang asing. Mungkin dari India. Fasih berbahasa negeri ini. Aku punya dugaan dia tahu latar belakang semua kejadian keji ini. Yang penting dia punya niat baik ...."

"Kitab itu sudah hangus terbakar, bagaimana bisa mendapatkan petunjuk?"

Purnama menatap Wiro sesaat. Gadis ini merasa lega. Dengan mengajukan pertanyaan seperti itu merupakan satu pertanda bahwa jalan pikiran sang pendekar tidak keseluruhannya bermasalah.

"Kitab ini memang sudah hangus terbakar. Namun masih tersisa beberapa baris tulisan. Kau mampu membacanya. Wiro, menurut orang asing itu hanya dirimu yang mampu membuka petunjuk rahasia dalam kitab. Wiro kita harus menyelematkan banyak orang yang akan jadi korban perkosaan dan pembunuhan. Selama ini telah puluhan gasis jadi korban. Selain itu yang lebih penting adalah mengobati dirimu ..."

Wiro terdiam beberapa lama lalu berkata.

"Purnama, aku tidak mau terlibat dengan semua urusan yang kau katakan. Aku harus menemui guruku Eyang Sinto Gendeng untuk menyerahkan Kitab Seribu Pengobatan. Selain itu aku sudah memutuskan untuk menjadi pertapa."

Purnama gelengkan kepala berulang kali. Sepasang matanya mulai berkaca-kaca.

"Wiro setiap saat kau bisa menemui gurumu. Jika kau memang ingin jadi pertapa kapan saja kau bisa melakukan. Tapi ada satu hal penting yang lebih dulu harus kau lakukan. Menyelamatkan puluhan gadis dari kemungkinan bencana pemerkosaan dan pembunuhan. Menyelamatkan rimba persilatan tanah Jawa dari kehancuran. Kau .... kau menghadapi semua ini dengan keputusasaan. Apakah gurumu Eyang Sinto Gendeng pernah mengajarkan hal itu padamu? Kau masih hidup. Tapi kau sengaja mencari mati dalam kehidupanmu. Kau bunuh diri secara perlahan-lahan Wiro. Kau harus tahu Wiro, tidak ada hal paling memalukan bagi seorang pendekar selain bunuh diri!"

Murid Sinto Gendeng tegak tak bergerak di ruang batu berbentuk segi tiga yang diterangi cahaya memancar dari batu aneh di dinding. Tempat itu mulai terasa sejuk karena diluar sang surya telah tenggelam dan malam merayap datang.

Dengan berurai air mata Purnama mendekati Wiro, memegang lengan kiri pemuda itu lalu berkata dengan suara bergetar.

"Tadi aku bertanya. Tidakkah kau punya niat untuk membuat perhitungan dengan orang yang telah mencelakai dirimu? Tapi kau tidak menjawab. Wiro, kalau kau memang ingin mati dalam hidupmu, kalau kau memang ingin bunuh diri, aku mohon bisa ikut bersamamu ke alam baka. Aku tidak ingin berada seorang diri dimuka bumi ini untuk selama-lamanya ..."

Pendekar 212 Wiro Sableng tatap wajah Purnama beberapa lama. Pertemuan pandangan mata dengan mata si gadis yang basah menimbulkan berbagai rasa di dalam lubuk hatinya. Wiro angkat kepala, menatap langit-langit goa. Lalu tangan kanannya bergerak ke atas menggaruk kepala! Melihat hal ini Purnama terkesiap. Ini satu tanda bahwa Wiro telah kembali pada jati dirinya yang asli. Kesukaan menggaruk kepala! Saking gembiranya, walau menangis bercucuran air mata Purnama memeluk sang pendekar dan menciumi wajahnya berulang kali.

"Aku tahu kau pasti sembuh. Aku tahu kau, kita dan para sahabat pasti mampu menumpas orang-orang jahat penimbul bencana malapetaka keji di negeri ini ..."

Purnama memeluk semakin kencang. Tubuhnya merapat panas di tubuh Wiro. Beberapa bagian tertentu tubuh mereka saling menempel bergeseran.

Dipeluk dan dicium begitu rupa Wiro hanya diam saja.

"Ya Tuhan, dia benar-benar telah kehilangan kejantanannya. Tubuhnya sama sekali tidak mengeluarkan getaran. Tidak ada gelora hawa panas. Kupeluk dan kucium dia seperti tidak bergairah. Apakah aku harus berbuat lebih jauh yang menyalahi adat...?" Purnama turunkan tangan kanannya ke bawah. Gerakan tangan itu sesaat terhenti di perut Wiro. Ketika Purnama menggerakkan tangannya lebih ke bawah tiba-tiba terdengar Wiro berkata.

"Purnama, aku mau melihat dan meneliti dua kitab yang kau bawa itu ...."***TUJUHPurnama pejamkan mata, tarik nafas panjang dan lepaskan rangkulannya. Dia cepat-cepat menyerahkan dua buah kitab pada Wiro.

Mula-mula Wiro meneliti kitab dari Kitab Jagat Pusaka Dewa. Seperti dikatakan Purnama kitab yang terdiri dari tiga halaman itu tidak memiliki tulisan sama sekali, kosong.

"Kau perlu waktu seratus hari untuk bersamadi kalau kau ingin melihat dan membaca isi kitab ini. Kau tak mungkin melakukan itu sementara orang-orang jahat itu bisa leluasa menebar malapetaka keji."

"Kau benar. Aku tidak akan bersamadi," kata Wiro pula. Dia mengembalikan kitab utuh dan mengambil kitab yang hangus terbakar. Sampul kitab nyaris musnah. Halaman pertama kitab ini terbakar habis. Halaman kedua yang masih tersisa pada bagian sebelah bawah terdapat serangkai tulisan namun tak bisa terbaca karena hitam dan gosong. Halaman ketiga atau halaman terakhir terlihat banyak tulisan namun sebagian besar tulisan itu hilang tak terbaca atau dalam keadaan putus-putus.KITAB JAGAT PUSAKA DEWA

Halaman Ketiga

Bunga.. .anj... Bunga Bertuah

Wahai an.. manusia

Setiap ...u ..sakt... memil... .ant..g..

Tak ada ilmu kesakt...

Yang tak ..mili.. pant....n

.ilama..a ilmu kes...ian

Dipergun.kan ..tuk ....ikan

...n didap.. ber..h serta .anju...n

Bilam... ..mu .esakt...

..perg..ak.. unt.. .eja..t.n

Akan did..at bala dan kut.k..

.ohon t ..nja di guru. .engge.

Akan ..nyap

Kemba.. ke.empa. .sa.

J.uh d. da..r ..wa gunu.. ..omo

Kes..tian akan ..nyap

Berkah .kan ..snah

D.ri ..sar k.wah itulah

Jika cip.. di.eningk..

Pe..n.uk akan .atang

Bunga put.. bu... h.r.m

Bu..a suci bunga ber..h

Men.ad. b.. busuk b.. kem..ian

P.neb.s seri.. dos. s.rib. nista

Para dewa ..lah membi rah.t

....pa manusia ..rtin.. k keji

Para ..wa mem.... ilmu kes...ian

Meng... .anu... berl.u ..lan.t

..hai anak ....sia

Camkan ....... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.80.41.172
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia