Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : PETAKA PATUNG KAMASUTRA

MALAM hari menjelang hujan turun lebat. Rumah yang terletak tak jauh dari Kali Progo itu tampak sunyi diselimuti kegelapan. Di dalam rumah semua orang tertidur lelap, keletihan dan kedinginan. Hanya Purnama seorang yang tidak bisa memicingkan mata. Banyak hal memenuhi dan membuncah jalan pikirannya. Pertama sakitnya Pendekar 212 Wiro Sableng. Meski kini peredaran darah Wiro sudah berhasil disembuhkan, namun penyakit yang kelak bakal menyengsarakan dirinya masih mendekam dalam tubuhnya. Apakah benar pemuda itu akan kehilangan kejantanannya seumur hidup?

Gadis dari negeri 1200 tahun silam ini secara diam-diam berusaha menjajagi Kitab Seribu Pengobatan yang dihafalnya di luar kepala. Namun entah karena pikiran yang sedang kacau atau memang tidak ada cara penyembuhan penyakit seperti yang dialami Wiro dalam kitab itu, maka dia tidak mendapat petunjuk apa-apa.

Selain itu jalan pikiran Purnama juga dipenuhi dengan galau tanda tanya besar mengenai hubungannya dengan Wiro. Dia sangat mencintai pemuda itu. Apakah dia akan berhasil mendapatkan Wiro sementara diketahuinya Bidadari Angin Timur, Bunga serta Ratu Duyung juga mencintai sang pendekar. Bahkan tiga gadis itu mengenal dan mencintai Wiro jauh lebih dulu dan lebih lama dari dirinya. Disamping ketiga gadis cantik itu, Purnama juga tahu kalau masih banyak gadis lain yang telah jatuh hati terhadap Wiro. Hanya saja dia tidak tahu siapa-siapa saja mereka itu.

"Aku dan Bunga, dua gadis dari alam lain. Apakah salah satu dari kami akan bisa memiliki Wiro?" Suara hati gadis dari Latanahsilam itu bertanya. "Ratu Duyung dan Bidadari Angin Timur, mungkin mereka lebih beruntung..."

Saat itu Purnama duduk di lantai papan dekat pintu ruangan dimana Wiro terbaring di atas ranjang bambu, bersandar ke dinding. Gondoruwo Patah Hati tidur melunjur di sisi pintu sebelah kanan. Ratu Duyung di samping kiri si nenek, lalu Naga Kuning tidur di lantai. Ki Tambakpati dan Setan Ngompol berbaring di ruangan terbuka di bagian depan rumah panggung, tak jauh dari tangga. Dua kakek ini tidur mengeluarkan suara ngorok seperti balapan.

Tiba-tiba sudut mata Purnama melihat gerakan. Dia palingkan kepala ke arah ranjang bambu dimana Pendekar 212 terbaring. Saat itu tampak Wiro perlahan-lahan bangun dari tidurnya, duduk di tepi ranjang. Lewat cahaya temaram yang masuk melalui jendela terbuka Wiro memperhatikan satu demi satu orang-orang yang berada dalam ruangan. Semula Purnama hendak berdiri dan menghampiri Wiro. Namun dia membatalkan niat malah cepat-cepat pejamkan mata berpura-pura tidur.

Wiro berdiri dari duduknya di tepi ranjang bambu. Dengan langkah tanpa suara dia bergerak ke pintu, keluar dari ruangan. Di bagian depan rumah panggung dia berhenti sebentar memperhatikan dua kakek yang tidur mengorok. Purnama berdiri. Wiro dilihatnya menuruni tangga rumah panggung. Di halaman rumah yang becek oleh air hujan yang baru saja berhenti murid Sinto Gendeng ini diam sejenak, memandang berkeliling lalu berpaling ke arah rumah. Purnama cepat merunduk, mendekam di tempat yang gelap. Ketika dia bergerak bangun Wiro tak tampak lagi di halaman. Tidak menunggu lebih lama Purnama segera melompat ke halaman. Di arah kiri halaman rumah dia melihat bayangan Wiro yang hanya mengenakan celana panjang berkelebat di balik pepohonan. Purnama mengejar. Dia masih sempat melihat sosok pendekar itu sebelum akhirnya lenyap ditelan kegelapan.

"Heran, dia mampu berlari cepat, berkelebat dan menghilang. Apakah tenaga dalam dan ilmu kesaktiannya sudah pulih kembali?" Pikir Purnama. Walau tidak lagi dapat melihat Wiro namun gadis dari Latanahsilam ini tidak khawatir. Dia tahu di arah mana tadi Wiro menghilang berarti dia tahu harus mengejar ke jurusan mana.

Dengan ilmu yang dimilikinya dia mampu bergerak cepat, melayang di udara. Untuk itu dia harus merubah ujud, kembali ke alam gaib kehidupannya. Purnama goyangkan dua bahu. Selarik sinar biru begemerlap keluar dari tubuh dan saat itu sosok kasarnya lenyap, berubah menjadi samar. Sekali berkelebat dia telah melesat belasan langkah ke arah lenyapnya Pendekar 212.

Namun gerakan gadis berpakaian biru ini tertahan ketika di langit sebelah timur berkelebat satu bayangan putih disertai sambaran cahaya kuning. Sesaat kemudian, mengapung di udara di hadapan Purnama muncul sosok samar lelaki kurus tinggi berpakaian selempang kain putih. Dua kaki kehitaman tak berkasut. Orang ini memegang sebatang tongkat memancarkan cahaya kuning ditaburi permata berkilat aneka warna. Perlahan-lahan sosok samar ini bergerak turun ke tanah. Penuh waspada Purnama bergerak pula ke bawah.

Begitu dua kakinya menginjak tanah, wujud makhluk samar yang memegang tongkat menjadi lebih kentara, berubah membentuk sosok seorang tua berambut dan berjenggot panjang putih. Yang membuat Purnama tercekat besar adalah ketika melihat bagaimana makhluk ini sama sekali tidak mempunyai wajah. Mukanya polos tak ada mata, tak punya hidung ataupun mulut. Purnama cepat terapkan ilmu pernafasan yang disebut Nafas Sepanjang Badan. Dengan ilmu ini dia bisa mencium dan mengetahui siapa adanya makhluk yang ada dihadapannya itu. Kelopak mata Purnama bergerak-gerak, pelipis mendenyut. Hatinya membatin.

"Ternyata dia bukan makhluk alam roh. Dia seorang tua bangka manusia biasa yang memiliki kekuatan alam dahsyat. Datang dari satu tempat jauh. Benar apa yang dikatakan Bunga. Tongkat emas yang dipegannya memiliki kekuatan dahsyat. Aku harus berhati-hati..."

Gadis dari Latanahsilam ini cepat rubah ujudnya hingga terlihat jelas lalu membentak. "Makhluk tanpa wajah! Kau rupanya! Akhirnya kau berani tunjukkan diri. Tapi mengapa masih berlaku pengecut menyembunyikan wajah?"

"Aku akan perlihatkan wajah kalau kau memilih satu dari dua ketentuan!" makhluk tanpa wajah menjawab. Suaranya besar parau.

"Makhluk durjana! Kau pasti yang telah mencelakai Wiro dan punya niat jahat mencelakai diriku serta sahabat-sahabatku! Katakan siapa dirimu, mengapa berbuat jahat terhadap kami?"

"Jangan banyak bertanya. Harap kau segera memilih salah satu dari dua ketentuan. Ikut bersamaku dan tunduk pada apa yang aku katakan atau kau akan menemui kematian abadi, kembali ke alam asalmu untuk selama-lamanya!"

"Ucapan gila!" bentak Purnama. Sesaat dia merasa bimbang. Jika dia melayani terus manusia tanpa wajah ini maka dia akan kehilangan jejak Pendekar 212. Jika dia tidak melayani dan menghajar makhluk satu ini, pasti akan mendatangkan kesulitan terus menerus di kemudian hari. Dia coba menggertak. "Aku tengah mengejar seseorang. Menyingkirlah atau kubuat jadi batu dirimu saat ini juga!"

"Siapa takut ancamanmu! Dengar, orang yang kau kejar itu adalah bagianku. Aku yang akan mengurus hidup matinya. Sekarang, apakah kau sudah menentukan pilihan?!"

"Makhluk kurang ajar! Aku akan lempar kau ke tempat asalmu! Aku tahu kau

adalah manusia biasa yang bersembunyi dibalik kekuatan gaib!" teriak Purnama marah. Lalu sambil menerjang ke depan gadis ini lambaikan dua telapak tangan. Dua rangkuman cahaya biru menebar laksana jala menyelubungi sosok makhluk tanpa wajah. Bilamana cahaya biru itu sempat menyentuh tubuhnya maka makhluk tanpa wajah ini akan membatu kaku sekujur aurat tak peduli bagaimanapun hebat kesaktiannya.

"Manusia tolol! Kau tak punya daya apa-apa di hadapanku!" ucap makhluk tanpa wajah. Tongkat emas di tangan kanan disapukan ke depan.

"Wuttt!"

Selarik cahaya kuning menyilaukan berkelebat. Purnama merasa dua kakinya yang menginjak tanah bergetar hebat. Dia kerahkan tenaga dalam. Tapi hantaman cahaya kuning sungguh luar biasa. Dirinya laksana dilabrak topan prahara. Sebelum tubuhnya mencelat mental dan hancur berkeping-keping, didahului teriakan keras gadis ini tempelkan telapak tangan satu sama lain, dua tangan diangkat di atas kepala lalu sttt! Inilah ilmu kesaktian yang disebut Menyusup Bumi Menghancur Bala. Ilmu kesaktian ini selain dipergunakan untuk menyelamatkan diri dan berlindung dari serangan lawan, sekaligus juga untuk melakukan serangan balasan. Karena begitu masuk ke tanah sampai bahu tubuh akan melesat kembali ke atas, meyedot hawa kekuatan bumi hingga kekuatannya berlipat ganda untuk kemudian melancarkan serangan.

Makhluk tanpa wajah berseru kaget namun kemudian mendengus sambil tancapkan ujung tongkatnya ke tanah, dua jengkal dari tubuh Purnama yang amblas. Begitu tongkat menancap lalu diputar ke kiri, dua kali berturut-turut. Terdengar suara berderak. Tanah bergetar. Inilah gerakan mengunci membuat tubuh Purnama yang tenggelam sebatas bahu tidak bisa bergerak, tidak sanggup melesat keluar, apalagi melakukan serangan.

Sambil berkacak pinggang dan keluarkan tawa bergelak, makhluk tanpa wajah berkata, "Aku menawarkan anugrah, kau minta celaka mencari mati. Sebelum tengah hari nanti kau sudah berubah menjadi bangkai! Ha ... ha... ha...!"

Makhluk tanpa wajah cabut tongkat emasnya dari tanah lalu berkelebat lenyap. Di atas sana waktu tubuhnya melayang di udara, makhluk ini terkecut ketika dapatkan salah satu bagian ujung tongkat emasnya telah gompal besar. Sementara itu dalam keadaan tubuh terpendam sebatas bahu Purnama menjerit keras. Dari mata, telinga, hidung serta mulutnya membersit lelehan darah.

"Manusia jahanam! Kau merusak tongkatku! Lebih baik kuhabisi kau sekarang juga!" makhluk tanpa wajah memaki marah. Dia segera melayang turun ke tanah kembali. Bagian tongkat yang berbentuk bulat diacungkan ke bawah, siap dikemplangkan ke batok kepala Purnama yang berada dalam keadaan setengah sadar setengah pingsan. Namun makhluk ini serta merta hentikan gerakkan ketika mendadak di bawah sana terdengar suara ribut-ribut lalu dari balik kegelapan muncul dua orang kakek.

"Kurang ajar!" Bagian tengah muka makhluk tanpa wajah bergerak-gerak.

Walau tidak memiliki hidung namun dia mampu mencium sesuatu. Dia mencium bau pesing santar sekali.

"Kakek jahanan tukang kencing itu! Keparat! Dia bisa mencelakai diriku!"

Rutuk makhluk tanpa wajah. Gerakan tubuh yang melayang ke tanah ditahan lalu cepat-cepat melesat ke atas kembali.

* * *MENDEKATI pagi Gondoruwo Patah Hati tersentak dari tidurnya lalu nenek ini membangunkan Naga Kuning.

"Hatiku merasa tidak enak," ucap si nenek. Bersama Naga Kuning dia masuk ke dalam ruangan dimana Wiro berada. Mereka dapatkan Pendekar 212 tak ada lagi di atas ranjang bambu. Seisi rumah menjadi heboh. Ratu Duung memandang berkeliling.

"Tidak semua kita berada di tempat ini. Mana Purnama?" Ucapan gadis bermata biru itu membuat sadar semua orang kalau Purnama memang tidak ada di tempat itu.

Gondoruwo Patah Hati langsung berprasangka buruk bahwa Purnama melarikan Wiro. Sementara Naga Kuning yang mulutnya memang jahil mengatakan mungkin Wiro dibawa pergi oleh Purnama untuk diuji kejantanannya. Walau marah pada si bocah namun Gondoruwo Patah Hati diam-diam cemburu pada Purnama. Memang tidak mustahil apa yang dikatakan Naga Kuning bisa menjadi kenyataan. Ratu duyung memeriksa lewat cermin sakti. Samar-samar ia melihat bayangan Wiro di arah barat. Tidak kelihatan bayangan Purnama.

"Mungkin dia dalam perjalanan menuju Gunung Gede. Kita harus mencegahnya menjadi pertapa. Sebenarnya aku juga harus menuju ke sana karena ada pesan dari Kiai Gede Tapa Pamungkas untuk menemuinya ..."

Ki Tambakpati dan Setan Ngompol yang masih enak-enakan ngorok dibangunkan. Ratu Duyung mengatur rencana pengejaran.

"Kita berbagi dua..." kata gadis bermata biru itu. "Aku dan Nenek Gondoruwo Patah Hati serta Naga Kuning mengejar Wiro. Kakek Ki Tambakpati dan Setan Ngompol mencari Purnama."

Habis berkata begitu tanpa banyak menunggu lagi Ratu Duyung melesat keluar rumah panggung diikuti Gondoruwo Patah Hati dan Naga Kuning.

Setan Ngompol memandang ke arah Ki Tambakpati. Sambil memegang bagian bawah celananya kakek ini berkata, "Aku lagi enak-enakan bermimpi. Rasanya aku digosok-gosok Luhrembulan. Tiba-tiba gadis dari negeri Latanahsilam itu menjerit karena kantong menyanku mendadak berubah menjadi dua buah damar. Buah pantangan..."

"Sudah jangan ngacok! Kita harus mencari dimana beradanya Purnama. Kalau dia memang bersama Wiro tidak jadi persoalan. Tapi kalau sesuatu yang buruk menimpa dirinya ..."

"Terus terang aku juga mengkhawatirkan diri Liris Biru. Dia mengejar pemuda jahat bernama Cakra itu ke Kuto Gede. Kalau sampai dia diapa-apakan..."

"Kita dua tua bangka yang ketiban urusan! Tapi apapun yang terjadi kita harus melakukan sesuatu! Ayo kita cari Purnama dulu. Nanti baru kau mengurus Liris Biru.

Eh....tunggu dulu!" Ki Tambakpati berhenti di depan tangga. "Kau ini merisaukan gadis bernama Liris Biru itu apa karena pernah jatuh hati pada gurunya Hantu Malam Bergigi Perak yang sudah almarhum itu atau tidak tahu diri kini naksir sama si gadis?!"

Mendengar pertanyaan sahabatnya itu Setan Ngompol tertawa mengekeh sambil pancarkan air kencing, "Mengapa hal itu dipersoalkan. Sudah anggap saja aku naksir sama keduanya. Ha...ha...ha...!"

Ki Tambakpati tarik lengan Setan Ngompol. Kedua kakek ini segera tinggalkan rumah panggung. Karena jalan yang dilalui becek bahkan ada yang tergenang air dan keadaan masih gelap keduanya berlari tidak terlalu cepat. Selain itu karena mereka juga tidak tahu harus mencari kemana, keduanya lari begitu saja ke jurusan timur. Justru mengejar asal-asalan inilah yang membawa mereka sampai ke tempat dimana Purnama terpendam di tanah sebatas bahu ke bawah. Di satu tempat Setan Ngompol berhenti. Tangan kiri menekap bagian bawah celana, tangan kanan putar-putar daun telinga sebelah kanan yang lebar dan terbalik.

"Aku mendengar suara sesuatu..." bisik Setan Ngompol dengan mata yang belok tambah dibesarkan.

"Apa....?" Tanya Ki Tambakpati.

"Suara seperti orang menangis. Eh bukan. Bukan suara orang menangis. Tapi suara orang mengerang..."

"Lelaki atau perempuan?" tanya Ki Tambakpati lagi.

"Tak begitu jelas. Tapi agaknya perempuan," jawab setan Ngompol.

"Jangan-jangan suara demit. Aku tidak mendengar apa-apa..." kata Ki Tambakpati pula. Memang dalam soal ilmu mendengar Setan Ngompol yang punya daun kuping lebar mablang ini memiliki kelebihan.

"Sial! Kau selalu membuat aku takut! Selalu menyebut-nyebut demit!" Setan Ngompol memaki panjang pendek sambil pegangi bawah perutnya. "Ayo kau jalan duluan! Suara mengerang itu datang dari arah sana!" setan Ngompol menunjuk ke arah tempat terbuka di depan sederetan pohon besar.

Berjalan beberapa langkah tiba-tiba Ki Tambakpati berhenti. Mata melotot tubuh gemetaran.

"Astaga!" si kakek mengucap." Apa kataku!"

"Apa, ada apa?" tanya Setan Ngompol.

Ki Tambakpati menunjuk ke depan.

"Demit perempuan mau keluar dari tanah!"

"Serrr!" Setan Ngompol langsung pancarkan air kencing.***2DI TANAH becek Ki Tambakpati dan Setan Ngompol melihat satu kepala perempuan tersembul. Rambut hitam panjang awut-awutan. Dua mata setengah tertutup. Pada hidung dan mulut juga tampak ada lelehan darah. Bagaimana perempuan ini bisa berkeadaan seperti ini? Apa yang terjadi hingga tubuhnya sebelah bawah amblas terpendam ke dalam tanah? Apa benar dia demit atau seseorang korban kejahatan yang dipendam demikian rupa hingga akhirnya akan menemui ajal mengenaskan?

Selagi dua kakek dilanda keterkejutan dan juga ada rasa ngeri tiba-tiba perempuan yang terpendam di dalam tanah kembali keluarkan suara mengerang. Walau pemandangannya agak buram karena kedua mata digenangi darah sementara hari masih gelap perempuan itu samar-samar masih mampu melihat kehadiran dua orang yang berdiri beberapa langkah di hadapannya.

"Tolong.....tolong...."

Ki Tambakpati tersurut.

Setan Ngompol tekap bagian bawah celananya kuat-kuat, kepala diulur mata memperhatikan. Dia membungkuk sedikit. Dengan tangan kanan gemetaran dia menyibakkan rambut panjang yang menutupi sebagian wajah. Begitu rambut tersingkap si kakek berseru kaget.

"Astaga! Ini Purnama!"

Ki Tambakpati mendekat, menggosok mata dan berbisik pada Setan Ngompol.

"Apa katamu? Kau yakin mahluk terpendam ini Purnama? Bukan demit yang menyaru?!"

"Tolong... Aku memang Purnama. Aku tidak bisa melihat jelas kalian. Tapi aku bisa mengenali dari suara. Kakek Setan Ngompol dan Ki Tambakpati..."

"Gusti Allah! Dia memang Purnama! Aku mengenali suaranya! Ki Tambak, kita harus cepat menolongnya!" kata setan Ngompol.

"Apa yang harus kita lakukan? Menggali tanah disekitarnya atau langsung menarik rambutnya...?" Ki Tambakpati tampak bingung. Dia melangkah memutari kepala Purnama.

"Kakek berdua. Lakukan apa yang aku katakan. Totok ubun-ubunku. Tubuhku akan melesat keluar dari dalam tanah..."

"Akan aku lakukan! Akan aku lakukan!" ucap Setan Ngompol pula. Dia melangkah lebih dekat. Tangan kiri mendekap bagian bawah perut. Jari telunjuk dan tengah tangan kanan dipentang lurus, ditiup kuat-kuat lalu ditotokkan ke atas batok kepala Purnama, tepat di ubun-ubun.

"Desss!"

Letupan cukup keras disertai membersitnya cahaya kuning dari kepala yang ditotok membuat dua kakek tersentak kaget dan melangkah mundur. Setan Ngompol tidak dapat menahan semburan air kencing. Belum habis kejut keduanya, tiba-tiba tanah yang mereka pijak bergetar. Dari perut bumi ada suara menderu. Lalu Wuuutt!

Bersamaan dengan lenyapnya cahaya kuning di atas kepala, sosok Purnama melesat keluar dari dalam tanah. Dari mulutnya keluar pekikan panjang. Di udara gadis ini membuat gerakan jungkir balik satu kali lalu melayang turun. Walau dia mampu tegak di atas dua kaki namun kentara tubuhnya agak huyung dan darah masih mengalir dari sela bibir.

"Purnama, kau terluka dalam!" seru Setan Ngompol. Lalu kakek ini totok urat besar di pangkal leher serta punggung si gadis. Purnama langsung semburkan darah segar. Gadis ini kerahkan tenaga dalam, alirkan hawa sakti ke dada serta kepala. Setelah menyeka mulut, mengusap mata, hidung dan telinga Purnama mengucapkan terima kasih pada dua kakek.

"Ceritakan apa yang terjadi dengan dirimu. Kau pergi begitu saja. Wiro juga lenyap. Lalu kami menemukanmu terpendam di dalam tanah. Hanya kepala yang masih nongol. Untung kami lewat sini," Kata Ki Tambakpati.

"Sekali lagi aku berterima kasih pada kakek berdua," kata Purnama. Lalu gadis dari negeri Latanahsilam itu menuturkan mulai dari ketika dia mengikuti Pendekar 212 meninggalkan rumah panggung.

"Dinihari tadi, semua orang di dalam rumah panggung masih tidur pulas. Aku sendiri tak bisa tidur. Ketika melihat Wiro bangun dan meninggalkan rumah, diamdiam aku mengikuti. Dari larinya yang cepat serta gerakannya yang enteng aku menduga Wiro telah pulih kekuatannya. Aku berhasil mengejar namun sebelum berhasil mendekat, satu makhluk berpakaian serba putih menyerangku. Dia ternyata adalah makhluk tanpa wajah yang sebelumnya telah mengganggu kita berulangulang....."

"Makhluk kurang ajar itu lagi!" uacap Setan Ngompol.

"Apa yang dilakukan padamu?" bertanya Ki Tambakpati.

"Dia minta aku ikut bersamanya atau aku akan dihabisi. Kami bertarung. Ilmunya tinggi sekali. Selain itu dia memiliki sebatang tongkat emas sakti. Dengan tongkat itu dia menghantamku lalu mengunci ilmu kesaktian yang kukeluarkan hingga aku terpendam di dalam tanah"

Purnama lalu mengembangkan tangan kanannya yang sejak tadi digenggam. Didalam tangan itu tampak kepingan benda bercahaya kuning.

"Benda apa itu? Kelihatannya seperti emas...." ujar Setan Ngompol.

"Ketika makhluk gaib itu menghujamkan tongkat ke tanah, sebelum dia mengunci diriku, di dalam tanah aku masih sempat menggerakkan tangan berusaha merampas tongkat. Namun aku hanya mampu membuat tongkat emas itu gompal..."

"Coba kulihat...." Kata Setan Ngompol seraya mengambil kepingan tombak.

Begitu keping gompalan tombak berada di tangan Setan Ngompol, dua hal terjadi. Pertama, Setan Ngompol merasa sekujur tubuhnya panas bergetar. Gompalan tongkat emas milik makhluk tanpa wajah itu pancarkan sinar kuning terang. Hawa panas yang menyerang si kakek datang dari kepingan tongkat itu. Karena tidak tahan oleh panas yang membuat tangan kanannya seolah mau melepuh, Setan Ngompol pindahkan kepingan emas ke tangan kirinya yang basah oleh air kencing.

"Desss!"

Kepingan emas bersinar terang berubah redup. Cahaya yang membungkus lenyap seketika. Bersamaan dengan itu hawa panas yang menyerang diri Setan Ngompol lenyap.

"Gila! Kepingannya saja hebat begini rupa apalagi tongkat aslinya! Waktu kupegang di tangan kanan kepingan emas ini menebar hawa panas," ucap si kakek.

Lalu buru-buru dia serahkan kepingan emas pada Purnama. Ketika si gadis memegang kepingan emas itu, benda ini kembali berkilau namun tidak ada serangan hawa panas seperti yang dialami Setan Ngompol.

"Kek, aku tidak merasa apa-apa. Tidak ada serangan hawa panas." Berkata Purnama.

"Aneh..." ucap Ki Tambakpati yang sejak tadi memperhatikan.

"Mengapa kepingan emas ini hanya menyerang diriku?" Setan Ngompol berkata sambil berfikir. "Waktu kupegang di tangan kanan tidak apa-apa. Tapi ketika aku pindah ke tangan kiri. Eh, apa benda ini tidak boleh dipegang oleh tangan kiri? Purnama coba kau pegang benda itu di tangan kiri."

Purnama pindahkan kepingan emas tangan kiri. Tidak terjadi apa-apa. "Tidak apa-apa Kek." Katanya. Coba kau ambil, pegang lagi dengan tangan kanan."

"Serrr!" Setan Ngompol langsung pancarkan air kencing. "Tidak, jangan!" katanya.

Purnama perhatikan kepingan emas yang dipegangnya. Benda itu diremas-remas beberapa kali. Dia merasa ada getaran halus. Selintas pikiran muncul dalam benaknya.

Hatinya membatin. "Makhluk tanpa wajah. Gompalan tongkatmu bisa menjadi sumber petunjuk kehadiran dirimu..." Gadis dari negeri 1200 tahun silam ini simpan kepingan emas itu di dalam celana kuningnya.

Hal kedua yang terjadi ketika Setan Ngompol memegang kepingan tongkat emas di tangan kiri berlangsung di satu tempat jauh. Makhluk tanpa wajah yang memegang tongkat emas tersentak kaget sewaktu bagian tongkat yang gompal mengeluarkan asap kuning dan tongkat bergetar hebat. "Kurang ajar... Ada benda pantangan. Pasti kakek botak bermata belok berkuping lebar itu..." Makhluk ini cepat usap batang tongkat dengan tangan kirinya sambil mengeluarkan hawa sakti. Tiga cahaya begemerlap. Merah, hijau dan biru. Saat itu juga getaran pada tongkat lenyap, asap kuning ikut sirna. "Makhluk berbahaya! Aku harus menyingkirkan manusia satu ini..."

Kembali pada Setan Ngompol, Ki Tambakpati dan Purnama. Si gadis bertanya."Kalian muncul berdua, mana para sahabat lainnya?"

"Ketika kau dan Wiro lenyap, kami langsung mencari. Aku dan Ki Tambakpati kebagian tugas mencarimu. Yang lain-lain mengejar Wiro. Menurut Ratu Duyung, berdasarkan penglihatannya melalui cermin sakti Wiro kemungkinan tengah menuju ke Gunung Gede menemui gurunya....."

"Agaknya dia tidak bicara ngawur. Dia benar-benar mau jadi pertapa. Kakek berdua, kalian ikut aku."

"Kemana?" tanya Setan Ngompol.

"Mengejar Wiro ke Gunung Gede."

Setan Ngompol dan Ki Tambakpati saling pandang lalu sama-sama menggeleng.

"Kalian tidak mau? Kenapa? Tidak mau menolong sahabat sendiri?" ujar Purnama.

"Dalam keadaan seperti ini, tak mungkin aku melakukan perjalanan sejauh sampai ke Gunung Gede," kata Ki Tambakpati. "Aku harus kembali ke gubukku di tikungan Kali Progo. Gubuk itu harus kubangun lagi. Aku harus menyiapkan segala peralatan untuk pengobatan yang telah dihancurkan orang-orang kerajaan..."

"Dan kau Kek, apa alasanmu tidak mau ikut bersamaku?" tanya Purnama pada Setan Ngompol.

"Seorang gadis bernama Liris Biru tengah terancam keselamatannya. Aku harus menolong. Gurunya menemui ajal di tangan Sinto Gendeng secara sia-sia. Lalu kakaknya dibunuh setelah lebih dahulu diperkosa oleh pemuda tak dikenal yang ciricirinya sama dengan pemuda bernama Cakra. Aku tidak mau hal yang sama terjadi dengan gadis satu ini. Mengenai wiro, bagaimanapun dia sudah selamat. Kalau dia memang memutuskan mau jadi pertapa kita tak bisa mencegah...."

"Tapi dia masih menderita satu penyakit. Dia kehilangan kejantanannya..." kata Purnama pula.

"Kami tidak bisa berbuat apa-apa. Kau yang telah mendalami Seribu Ilmu Pengobatan mungkin bisa melakukan sesuatu". Berkata Ki Tambakpati.

"Aku sudah menyelami isi kitab sakti itu selagi di rumah panggung. Aku tidak menemukan cara penyembuhan penyakit yang dialami Wiro. Tapi aku tidak putus asa. Setiap ada kesempatan aku selalu meneliti isi kitab itu."

Ki Tambakpati dan Setan Ngompol terdiam.

"Kakek berdua, aku tidak bisa menunggu. Kita berpisah di sini." Habis berkata begitu Purnama lalu tinggalkan kedua kakek itu.

Ki Tambakpati tarik nafas panjang." Aku kasihan pada Wiro.Tapi mau dibilang apa? Ilmu kepandaian pengobatan yang aku miliki tidak bisa menolong..."

"Menurutku Purnama punya alasan lain untuk mengejar Wiro. Dia tidak ingin pemuda itu jatuh ke tangan Ratu Duyung."

"Purnama gadis baik," ucap Ki Tambakpati. "Cintanya pada murid Sinto Gendeng itu mendalam sekali. Hanya sayang dia bukan manusia alam kita. Apakah mungkin dia dan Wiro...?" Si Kakek tidak melanjutkan uacapannya.

"Ki Tambak, agaknya kita juga terpaksa berpisah di sini. Kau kembali ke Kali Progo, aku ke Kuto Gede..." Dari balik jubah hijaunya Ki Tambakpati keluarkan seruling perak. "Sebelumnya Wiro menitipkan suling ini padaku. Bagaimana kalau kau saja yang menyimpannya." Setan Ngompol berpikir sejenak lalu mengambil suling perak itu dari tangan Ki Tambakpati. Enak saja suling lalu dimasukkan di balik celananya yang basah air kencing. Sebelum berpisah dua sahabat itu saling berpelukan lalu yang satu berkelebat ke timur, satunya lari ke arah barat.* * *WALAU tak lama lagi matahari akan segera terbit kawasan bebukitan dan rimba belantara dimana Purnama berada masih diselimuti kegelapan dan hawa dingin. Disatu tempat gadis dari alam 1200 tahun silam ini hentikan langkah. Dia terapkan aji kesaktian bernama Nafas Sepanjang Badan. Kepala didongakkan ke atas, mata dipejamkan, pernafasan diatur lalu perlahanlahan dia menghirup udara. Dengan ilmu kesaktian ini dia mampu mengetahui keberadaan seseorang. Purnama pergunakan ilmu ini untuk mencari tahu dimana Pendekar 212.

Beberapa saat kemudian gadis cantik yang pakaiannya kotor berlepotan tanah ini buka sepasang mata, turunkan kepala.

"Aku tak bisa membaui sosok Wiro. Aku hanya mampu melihat satu titik putih pertanda Wiro sudah sangat jauh dari sini. Dia bergerak ke arah barat. Pasti menuju Gunung Gede. Dengan ilmu Segara Angin butuh waktu setengah hari mengejarnya. Aku juga melihat satu titik lain berwarna hitam. Datang dari arah timur. Bergerak mendekat ke arahku. Aneh, aku tidak bisa mengetahui apakah titik ini manusia atau makhluk gaib...?" setelah berpikir sejenak akhirnya Purnama memutuskan untuk melanjutkan mengejar ke arah titik putih. "Kalau titik hitam itu memang benar bergerak ke arahku, dia pasti akan bisa mengejar. Kelihatannya dia punya kekuatan luar biasa. Aku harus berlaku waspada. Mungkin ini lagi-lagi makhluk tanpa wajah yang hendak mencelakai diriku..."

Ketika matahari terbit Purnama sampai di satu anak sungai Bogowonto. Karena airnya tenang dan jernih hingga dia dapat melihat dasar kali yang dangkal, gadis ini langsung saja ceburkan diri membersihkan kepala, tubuh sekaligus pakainnya yang kotor. Mungkin dia masih akan berlama-lama berendam di dalam kali kalau saja saat itu telinganya tiba-tiba tidak mendengar suara deru aneh mencurigakan di kejauhan. Dalam keadaan rambut kuyup riap-riapan, tubuh dan pakaian biru basah, Purnama melompat ke tepi kali. Rasa curiga membuat dia segera terapkan ilmu Nafas Sepanjang Badan. Purnama terkejut ketika melihat titik hitam muncul sangat besar di puncak matanya yang terpejam. Lalu suara menderu tahu-tahu sudah ada dibelakangnya. Gadis ini cepat berpaling dan buka sepasang mata. Pekikan ngeri serta merta keluar dari mulut Purnama ketika dia melihat satu sosok entah manusia entah ular besar meluncur di tanah. Bekas luncuran tubuhnya menggurat tanah sedalam satu jengkal.

Tepat tiga langkah di hadapan Purnama sosok di tanah berhenti meluncur. Bagian depannya yang berupa kepala manusia perlahan-lahan naik ke atas. Sesaat kemudian muncul dua tangan bertopang ke tanah. Di lain kejap makhluk ini telah duduk bersila dihadapan Purnama. Makhluk ini bertubuh besar, mengenakan jubah dan sorban hitam tebal. Mukanya yang putih tertutup kumis, janggut dan cambang bawuk lebat hitam berkilat. Yang mengerikan adalah mata kanannya yang hanya merupakan rongga hitam besar dan dalam. Setelah mampu menguasai diri menekan rasa ngeri, Purnama membentak.

"Makhluk asing! Siapa kau adanya?! Kau menguntitku sejak malam menjelang pagi! Jika kau membekal niat jahat kuhancurkan dirimu sekarang juga!"

Makhluk yang duduk bersila di tanah kembangkan dua tangan lalu membungkuk tundukkan kepala. Begitu kepala diluruskan dia membuka mulut.

"Sahabat muda, jangan berprasangka buruk. Namaku Deewana Khan. Aku dari negeri yang sangat jauh membawa tugas dari seorang pimpinan. Hanya sayang tugas tidak bisa kulaksanakan sebagaimana mestinya. Malah aku sebelumnya telah menemui ajal di tangan seoarng mahkluk pengkhianat."

"Kalau kau memang sudah mati mengapa sekarang mucul lagi?!" tanya Purnama tanpa sadar kalau dirinya sendiri sebenarnya adalah makhluk yang juga telah pernah mati.

"Dewa masih melimpahkan anugrahnya pada diriku" jawab Deewana Khan.

"Rohku diberi kekuatan agar mampu menemuimu. Aku bisa mengejarmu melalui jejak langkah yang kau buat di tanah. Itu sebabnya aku tidak berlari seperti biasa, tetapi meluncur agar aku bisa mencium jejak kakimu. Selain itu kepingan emas yang ada di dalam kantong pakaianmu menjadi petunjuk arah dimana kau berada."

Kejut Purnama bukan alang kepalang. Dia segera meraba kantong celana birunya disebelah kanan. Kepingan emas dari gompalan tongkat insan tanpa wajah ada dalam kantong itu.

"Kau luar biasa! Mampu membuat gompal tongkat emas mahkluk tanpa wajah ..."

"Bagaimana kau bisa tahu kejadian itu?" tanya Purnama.

"Dewa memberi kemampuan luar biasa padaku. Dengar, aku tak bisa bicara terlalu lama. Ada yang akan kuserahkan padamu."

Purnama memperhatikan makhluk dihadapannya mengeluarkan sebuah benda yang ternyata adalah dua buah kitab. Sebuah kitab berbentuk utuh sedang yang satunya dalam bentuk rusak seperti habis terbakar.

"Kitab yang terbakar ini ..." kata Deewana Khan pula. "Adalah Kitab Jagad Pusaka Dewa asli. Kitab yang masih utuh adalah salinan Kitab Jagad Pusaka Dewa. Namun isi dan tulisan kitab utuh ini tidak bisa dilihat atau dibaca oleh mata biasa. Seseorang harus mengamalkan samadi selama seratus hari seratus malam untuk dapat membaca isinya. Kitab yang terbakar ada beberapa bagian halamannya yang masih utuh. Serahkan dua kitab ini pada Pendekar Dua Satu Dua Wiro Sableng..."

"Kau kenal pendekar itu?" tanya Purnama.

"Dewa yang memberi petunjuk karena pemuda kepada siapa seharusnya kitab ini diberikan telah tersesat jatuh ke tangan insan-insan jahat yang akhir-akhir ini telah menimbulkan malapetaka bejat di negeri ini. Insan-insan jahat ini hanya bisa dibasmi berdasarkan petunjuk rahasia yang ada di dalam kitab terbakar. Agaknya Dewa mengetahui Pendekar Dua Satu Dua yang mampu membuka petunjuk rahasia dalam kitab. Dengar, waktu sudah habis. Aku harus pergi sekarang juga ..."

"Tunggu!" seru Purnama. "Malapetaka bejat yang tadi kau katakan, apakah kau bisa menerangkan lebih jelas ...?"

"Hal itu berhubungan dengan pemerkosaan dan pembunuhan yang terjadi belakangan ini. Sahabat muda, aku tak bisa berada lebih lama disini...."

Deewana Khan letakkan dua buah kitab di tanah dan membungkuk memberi hormat. Lalu dua kaki dijulurkan ke belakang. Begitu dua tangannya menyentuh tanah maka tubuh makhluk itu meluncur bersurut ke arah dari mana dia tadi datang. Hanya dalam kejapan mata sosoknya hilang dari pemandangan.

Semula Purnama berdiri dengan kebimbangan. Mata memperhatikan dua buah kitab di tanah. Apakah dia akan mengambilnya? Dia tidak kenal makhluk tadi. Dua buah kitab itu bisa saja tipu jadi-jadian yang dapat mencelakai dirinya. Setelah berpikir dan mengingat-ingat semua ucapan makhluk seram tadi akhirnya si gadis beranikan diri membungkuk mengambil dua buah kitab. Sementara memegang dua buah kitab ingatannya kembali pada Wiro. Purnama terapkan ilmu kesaktiannya. Dia masih bisa melihat putih hitam walau kini semakin kecil pertanda pendekar 212 telah bertambah jauh.***3KITA ikuti dulu apa yang terjadi dengan nenek jejadian kembar ke tiga Eyang Sepuh Kembar Tilu. Seperti dituturkan dalam kisah sebelumnya nenek ini berusaha menolong Wiro yang telah diracuni oleh seorang pemuda tak dikenal yang kemudian diketahui bernama Cakra. Ketika si nenek menekan bagian tubuh Wiro di bawah pusar dimana dia memperkirakan menjadi jalan masuknya racun jahat tiba-tiba terdengar tiga letupan keras. Dari bawah pusar Pendekar 212 keluar hawa aneh, menyambar masuk ke bagian bawah perut si nenek yang mengenakan jubah kuning itu hingga dia terpental dan terkapar pingsan di tanah becek. Si nenek tidak menyadari kalau hawa aneh itu akan mendatangkan kelainan pada dirinya. Sehingga dia menjadi mahluk penuh gairah, memiliki hasrat berkobar-kobar terutama jika melihat lelaki muda dan berwajah tampan.

Tak selang berapa lama terjadi satu keanehan. Dari tubuh si nenek jejadian keluar sosok seorang gadis berwajah cantik berkulit putih. Rambut yang hitam panjang dan digerai lepas menambah kecantikannya. Tubuh yang tinggi semampai mengenakan kebaya pendek dan celana ringkas warna kuning, berpotongan ketat demikian rupa hingga tampak seperti mencetak kelok liku tubuhnya yang sintal. Kebaya kuning terbuka rendah di bagian dada menyembulkan pangkal dada yang kencang dan putih.

Sesaat gadis ini menatap ke arah sosok si nenek lalu membalikkan tubuh dan melangkah pergi. Walau saat itu hujan lebat namun anehnya kepala, tubuh serta pakaiannya tidak basah sama sekali. Bersamaan dengan lenyapnya gadis ini di kejauhan sirna pula sosok nenek jejadian yang tergeletak di tanah.***MENJELANG petang langit tampak cerah. Dari arah jalan yang menuju ke Wates seorang lelaki muda berpakaian dan berikat kepala kain merah menggebrak tunggangannya demikian rupa hingga binatang itu lari laksana dikejar setan. Di dalam sebuah kantong kain yang tergantung di depan dadanya menyembul kepala celengan tanah berbentuk ayam jantan, berwarna merah.

Di sebelah belakang, terpaut sekitar lima belas tombak mengejar lima penunggang kuda berseragam hijau. Dua diantaranya mengangkat tangan kanan mengacung-acungkan golok sambil berteriak.

"Berhenti!"

"Pencuri keparat! Kau mau kabur kemana?!"

Agak jauh di belakang lima penunggang kuda ini menyusul sebuah kereta kecil, ditarik dua ekor kuda coklat. Di atas kereta duduk seorang lelaki berusia empat puluh tahun, berkumis hitam lebat, berpakaian bagus. Di Wates orang ini dikenal sebagai Raden Mas Suryo Kenanga, seorang pedagang kaya raya. Di atas kereta Suryo Kenanga tiada hentinya berteriak-teriak.

"Maling! Pencuri! Tangkap Bunuh!" Lalu pada sais kereta dia memerintah.

"Pacu lebih cepat! Lebih cepat!"

Penunggang kuda yang membawa kantong kain di depan dadanya membelok memasuki sebuah jalan lurus sempit. Jika dia bisa mencapai ujung jalan dimana terdapat sebuah sungai dangkal berbatu-batu lalu menyelinap masuk ke dalam hutan jati di seberang sungai, maka dia pasti akan dapat meninggalkan semua pengejarnya.

Hal itu bisa dilakukannya karena dia tahu betul seluk-beluk hutan belantara itu. Tak lama kemudian begitu sampai di ujung jalan sempit, lelaki berpakaian merah yang dikejar-kejar ini hentikan kuda, melompat turun lalu menghambur memasuki sungai dangkal tapi cukup lebar. Dengan gerakan cepat dia melompat dari satu batu ke batu lain yang banyak terdapat dalam sungai. Sampai di seberang sungai dia merasa lega. Menoleh kebelakang dia melihat para pengejarnya baru sampai di ujung jalan sempit.

"Kalian tak bisa mengejarku! Kalian tak bisa menangkapku!" ucap lelaki ini lalu balikkan badan siap lari memasuki hutan jati. Namun mendadak tubuhnya membentur sosok seseorang hingga dia terpental terhuyung-huyung. Kalau tidak cepat mengimbangi diri pasti akan jatuh terguling ke tebing sungai.

Memandang ke depan dia melihat seorang gadis berpakaian kuning tegak bertolak pinggang sambil tersenyum. Rambut hitam digulung di atas kepala. Yang membuat dada lelaki ini jadi sesak bukan saja karena melihat kenyataan bahwa gadis ini berwajah cantik, namun ketika memperhatikan bagaimana kebaya kuning yang dikenakan si gadis berpotongan demikian rendah dan lebar hingga lebih dari sebagian dadanya yang putih membusung terlihat jelas.

"Orang-orang diseberang sungai mengejarmu. Dari teriakan mereka agaknya kau telah mencuri sesuatu dari mereka."

Lelaki muda berpakaian merah terkejut.

"Kau betul! Aku memang mencuri sesuatu!" Katanya jujur. "Tapi apa sangkut pautnya dengan dirimu?"

"Memang tidak ada sangkut pautnya," jawab si cantik berpakaian kuning. Lalu sambil tersenyum dia gerakkan tangan kiri melepas gulungan rambut hitam di atas kepala. Rambut panjang hitam berkilat kini tergerai lepas sepinggang, membuat wajahnya tampak bertambah cantik mempesona. Selagi lelaki muda tadi menikmati kagum kecantikan sang dara tiba-tiba si baju kuning goyangkan kepala.

"Wuttt!"

Rambut hitam panjang melesat ke depan, menebar bau harum menutupi wajah dan pemandangan lelaki berpakaian merah. Ketika rambut itu melewati mukanya dan lelaki ini memandang ke depan, dia keluarkan seruan tertahan karena melihat kantong kain berisi celengan tanah sebelumnya tergantung di depan dadanya kini tahu-tahu telah berada di tangan si gadis.

"Kembalikan!" teriak lelaki berpakaian merah.

"Apa?" Gadis berpakaian kuning berbuat seolah tidak mendengar ucapan orang.

Dia bungkukan tubuhnya sedikit sambil tangan kiri diletakkan di belakang telinga. Gerakan membungkuk ini membuat mata lelaki dihadapannya mendelik besar karena dia melihat bagaimana dada si gadis membuyut besar. Tubuhnya terasa panas dingin, tenggorokannya bergerak-gerak, ludah ditelan berulang kali.

"Kau lebih mementingkan celengan tanah ini dari pada selembar nyawamu?"

berucap si gadis. Dia memandang ke arah sungai. "Sebentar lagi para pengejar akan sampai di sini. Mereka akan mencincangmu sampai lumat! Kau maling cukup tampan!

Itu yang membuatku melepaskanmu. Larilah selagi ada kesempatan!" Habis berkata begitu tangan si gadis bergerak ke bawah. Dengan cepat tangan itu mengusap bagian bawah perut lelaki berpakaian merah.

"Hah!" Menerima perlakuan seperti itu walau dia merasa nikmat kejut lelaki muda berpakaian merah bukan alang kepalang. Seumur hidup baru kali ini dia bertemu gadis cantik seberani itu.

"Hai, kau ini siapa sebenarnya? Mengapa kau berani mengusap auratku?" tanya lelaki itu.

"Hemm..." si gadis bergumam sambil tersenyum. "Apa kau tidak suka? Sudah jangan banyak bertanya. Pergi sana!"

"Hai! Jika kau memang ingin menolongku, mengapa kita tidak kabur saja sama-sama? Kita masuk ke dalam hutan jati. Aku punya tempat persembunyian di sana. Sebuah goa."

"Jangan tolol! Pergilah!" Bentak gadis berpakaian kuning.

"Kau tidak mau mengambalikan barang itu padaku?"

Si gadis menggeleng. "Celengan ini bukan milikmu."

Berpaling ke belakang lelaki itu melihat para pengejarnya tengah bersiap-siap menuruni sungai, termasuk pedagang kaya Suryo Kenanga. Lelaki muda dihadapan si gadis cepat berkata. "Namaku Samirjan. Orang-orang menyebutku Pencuri Selusin Tangan. Jika kau tidak mau kuajak bersama cari aku di Kalibawang. Tanyakan pada siapa saja. Mereka pasti akan mengantarkanmu padaku." Habis berkata begitu, lelaki ini yang rupanya terangsang oleh usapan tadi enak saja ulurkan tangan kanan hendak meraba dada si gadis.

"Plaakk!"

Satu tamparan melanda pipi lelaki berpakaian merah. Jelas terdengar suara tamparan keras sekali. Tetapi anehnya lelaki berpakaian merah itu tidak merasa sakit sama sekali. Terheran-heran dia melangkah mundur. Terus memandangi si gadis yang tersenyum padanya. Dia berpikir kalau gadis itu berani menyentuh auratnya mengapa tidak boleh balas meraba.

"Ingat, namaku Samirjan. Julukanku Pencuri Selusin Tangan. Cari aku di Kalibawang!" kata lelaki itu lalu membalikkan diri dan lari memasuki rimba belantara.

Tak selang berapa lama lima pengejar berseragam hijau termasuk sang juragan sampai di seberang sungai di mana si cantik masih berdiri sambil memegangi kantong kain berisi celengan tanah. Keenam lelaki ini untuk beberapa ketika tegak tertegun terpesona memandangi dara cantik jelita dengan sebagian tubuh sebelah atas menyembul menggairahkan.

Namun begitu melihat kantong kain berisi celengan tanah yang dipegang si gadis, Raden Mas Suryo Kenanga segera mendekati sambil berkata. "Benda itu milikkku. Serahkan padaku!"

Si gadis keluarkan celengan tanah dari dalam kantong kain. Diperhatikan, lalu ditimang-timang, dilemparkan ke udara beberapa kali.

"Jangan! Nanti jatuh pecah! Lekas serahkan padaku!" teriak Suryo Kenanga.

"Celengan kosong saja aku juga tidak butuh!" si gadis lalu lemparkan celengan tanah ayam-ayaman itu pada pedagang kaya raya dari Wates itu.

Suryo Kenanga cepat-cepat menangkapnya lalu mendekapkan celengan tanah itu ke dada. Dia tampak sangat lega.

"Den Ayu, aku tidak kenal siapa dirimu. Aku sangat berterima kasih kau telah merampas celengan ini dari tangan pencuri itu."

Si gadis hanya keluarkan suara bergumam sambil pandangi lelaki berkumis tebal bertampang gagah itu.

"Namaku Suryo Kenanga, aku tinggal di Wates. Sebagai tanda terima kasih, aku ingin memberikan hadiah pada Den Ayu. Namun hadiah itu harus kuambil di rumah. Apakah Den Ayu bersedia ikut ke Wates?" Sambil bicara sepasang mata Suryo Kenanga tidak hentinya mengerling ke dada si gadis.

"Aku menolong tanpa pamrih. Tapi kebetulan aku memang bermaksud ke Wates...."

"Kalau begitu silahkan Den Ayu ikut dengan kami." Kata Raden Mas Suryo Kenanga pula.* * *DI DALAM kereta yang meluncur ke Wates sambil melirik ke dada gadis yang duduk di sebelahnya, Raden Mas Suryo Kenanga bertanya.

"Kalau aku boleh bertanya, siapa nama Den Ayu? Apakah Den Ayu seorang gadis dari rimba persilatan?"

Gadis di samping pedagang kaya itu tersenyum. "Aku ingin bertanya lebih dulu. Apakah keberatan?" Sambil bertanya si gadis letakkan tangan kirinya di paha pedagang itu. Karuan saja dada Raden Mas Suryo Kenanga jadi berdebar keras dan darahnya mengalir panas.

"Den Ayu mau bertanya apa?" tanya Surya Kenanga.

"Celengan tanah kosong itu. Apakah sangat berarti hingga ada orang yang mencurinya?"

Raden Mas Suryo Kenanga tidak segera menjawab. Dia memperhatikan tangan kiri si gadis yang mulai mengusap-usap pahanya. Tidak tahan dia pegang tangan si gadis kencang-kencang.

Dengan suara berbisik dan bergetar dia berkata.

"Aku hanya memberi tahu pada Den Ayu. Celengan ini memang kosong. Kosong dalam arti kata tidak ada uangnya. Tapi aku menyembunyikan sesuatu dalam celengan ini."

"Apa?" tanya si gadis.

"Sebuah jimat," jawab Raden Mas Suryo Kenanga.

"Jimat? Untuk ilmu kebal atau ilmu kuat .... Hik...hik...hik."

"Bukan, bukan untuk ilmu kebal atau ilmu kuat. Jimat itu untuk usaha dagang. Dengan jimat itu semua usahaku berjalan lancar. Buktinya sekarang aku menjadi seorang kaya raya. Terpandang dan setiap pejabat di Kadipaten dan Kerajaan punya hubungan baik denganku."

"Luar biasa ..." Kata si gadis pula sambil tersenyum dan kedip-kedipkan matanya. "Den Ayu, aku bukan lelaki nakal. Aku sudah punya istri dan tiga orang anak. Kehadiran Den Ayu membuatku merasa beruntung. Mungkin lebih memberi keberuntungan dari jimat yang ada dalam celengan ini."

"Begitu...?" Si gadis dengan manja letakkan kepalanya di bahu Suryo Kenanga. Lelaki ini cium rambut harum si gadis.

"Den Ayu, sebelum memasuki Wates, aku memiliki sebuah rumah ditempat terpencil. Tidak ada yang tahu kecuali para pengawal. Aku lihat hari sudah rembang petang. Bagaimana kalau kita mampir dan bermalam disana."

"Ini bukan suatu gurauan?" tanya si gadis pula.

"Tidak, ini bukan gurauan. Aku bersungguh-sungguh. Aku harus mengatakan bagaimana. Aku...aku sangat tertarik pada dirimu. Den Ayu, aku suka padamu..."

"Ah, sekarang kau sudah berubah menjadi lelaki nakal!" kata si gadis sambil tertawa cekikikan dan menjewer telinga kiri Raden Mas Suryo Kenanga. "Aku suka pada lelaki yang berterus terang. Selain itu, aku suka kumis tebalmu..."

Suryo Kenanga bahagia luar biasa. Celengan tanah diletakkannya dilantai kereta lalu dua tangannya memeluk gadis disampingnya dengan penuh nafsu. Si gadis ternyata membalas dengan rangkulan hangat.***MASIH cukup jauh dari kota Wates, pada saat sang surya mulai memancarkan sinar kekuningan pertanda tak lama lagi akan memasuki ufuk tenggelamnya di sebelah barat, tiba-tiba terdengar teriakan aneh dari dalam kereta.

"Itu suara Raden Mas Surya Kenanga. Teriak Ki Sawung kepala pengawal. Kusir kereta segera menghentikan kuda. Para pengawal berhamburan. Pintu kereta sebelah kanan dibuka sementara pintu sebelah kiri berada dalam keadaan terpentang lebar. Raden Mas Suryo Kenanga duduk dengan dua kaki melunjur ke lantai kereta. Keadaannya setengah bugil karena celana hitamnya melorot sampai ke lutut. Mata terpejam sedang mulut menunjukkan mimik setengah tersenyum. Gadis cantik berpakaian kuning tak ada lagi. Di bangku dan lantai kereta bertebaran pecahan celengan tanah.

"Raden, Raden Mas Suryo!" memanggil Ki Sawung. Dua mata pedagang kaya itu terbuka.

"Ada apa?" justru dia yang bertanya. "Mana gadis kekasihku itu...?

"Raden Mas, gadis itu tak ada lagi. Lenyap entah dimana. Apa yang terjadi?" tanya Ki Sawung.

"Raden Mas, celengan ayam-ayaman juga lenyap"

"Apa?!" kali ini baru Raden Mas Suryo Kenanga tersentak kaget. Cepat dia tarik celananya ke atas. Saat itulah dia melihat pecahan celengan tanah bertebaran di bangku dan lantai kereta. Setengah meratap dia berkata. "Ah, pasti gadis itu telah mencuri jimatku. Ampun, aku akan jadi miskin. Aku akan jadi kere..."***4DI MALAM yang sunyi dan dingin itu kepulasan tidur Pangeran Aryo Dipasena dibuai oleh mimpi yang indah. Dalam mimpi Pangeran berusia 21 tahun ini berada di puncak bukit, asyik memandang bulan purnama bulat penuh besar sekali, seolah-olah berada di atas kepalanya. Selagi dia terpesona akan keindahan sang rembulan tiba-tiba didahului satu tiupan angin lembut dari bulan yang bulat itu keluar sosok seorang perempuan muda mengenakan pakaian merah sangat tipis hingga setiap bagian dari auratnya terbayang jelas. Namun karena membelakangi cahaya rembulan wajahnya tidak terlihat. Perempuan yang keluar dari rembulan melambai-lambaikan tangan ke arah Pangeran Aryo Dipasena. Lapat-lapat terdengar suaranya berucap.

"Pangeran kekasihku, tidakkah kau ingin bermain denganku?"

Pangeran Aryo berdiri. Ketika perempuan itu memalingkan kepalanya ke kiri dan cahaya rembulan menerangi mukanya, Pangeran Aryo sempat melihat wajah perempuan itu. Darahnya berdesir, jantungnya seolah berhenti berdegup. Luar biasa!

Belum pernah dia melihat seorang gadis berwajah secantik itu! Apalagi tadi dia dipanggil dengan sebutan kekasih. Membuat hati sang pangeran jadi bergetar. Jangan-jangan yang keluar dari dalam rembulan itu adalah seorang bidadari.

"Pangeran, ulurkan tanganmu. Aku akan membawamu masuk ke dalam rembulan. Kita akan bermain-main di sana...."

"Gadis cantik, kau siapa...?" Pangeran Aryo Dipasena bertanya.

"Aku seorang yang bernasib beruntung. Ditakdirkan menjadi kekasihmu. Mari, ulurkan tanganmu..."

Dalam keterpesonaannya Pangeran Aryo ulurkan tangan kanan. Begitu tangannya bersentuhan dengan tangan si gadis dia merasa kehangatan luar biasa. Lalu tubuhnya terangkat ke udara, dibawa melayang ke arah rembulan. Mula-mula perlahan, makin lama makin cepat, makin kencang. Pangeran Aryo merasa kuduknya jadi dingin dalam kegamangan. Tiba-tiba, ketika dia memandang ke atas rembulan besar sudah berada dekat sekali di depan kepalanya. Pangeran Aryo berteriak ngeri.

Gadis yang menariknya tertawa panjang lalu melepas pegangan. Pangeran Aryo tutupi kepala dengan dua tangan. Dia kembali menjerit karena sebentar lagi kepalanya akan membentur bulan besar. Saat itulah dia tersentak bangun, terduduk di atas ranjang dengan wajah pucat dan tubuh basah oleh keringat. Setelah degup jantungnya mengendur dan aliran darah kembali teratur, Pangeran Aryo tertawa sendiri.

"Mimpi aneh," katanya dalam hati. "Belum pernah aku melihat bulan sedekat dan sebesar itu. Belum pernah aku melihat gadis secantik yang kulihat dalam mimpi. Kalau saja gadis itu benar-benar ada di alam nyata dan aku bisa menemuinya..."

Pemuda ini geleng-gelengkan kepala lalu turun dari ranjang, meneguk air putih dalam kendi yang terletak di sebuah meja kecil di sudut kamar. Pada saat itulah dia mendengar suar kecipuk air. Perlahan-lahan agar jangan menimbulkan suara kendi diletakkan di atas meja. Dia berdiri lurus-lurus, telinga dipasang tajam-tajam. Kembali terdengar suara kecipuk air. Bahkan kini dia mendengar ada suara nyanyian halus perlahan.

"Ada orang mandi di kolam. Malam-malam begini. Siapa...?"

Aryo Dipasena bertanya-tanya dalam hati. Setengah berjingkat dia melangkah ke arah jendela yang tertutup. Jika jendela dibuka maka akan terlihat satu halaman luas berupa lereng berumput. Di sebelah tengah tedapat tangga batu lima puluh undakan. Di ujung bawah tangga terdapat sebuah kolam mandi yang sekelilingnya dihias dengan tanaman bunga mawar. Saat itu semua bunga mawar tengah berkembang hingga baunya harum semerbak menebar kemana-mana.

Meskipun merupakan seorang putera dari istri ke empat namun Pangeran Aryo sangat disayangi Sri Baginda Raja. Banyak perilaku dan budi pekertinya yang membuat Sri Baginda merasa sangat sayang dan menaruh perhatian pada puteranya yang seorang ini. Salah satu di antara perilaku pangeran Aryo adalah dia tidak mau tinggal dalam kawasan keraton. Karenanya pada Sri Baginda dia minta dibuatkan sebuah rumah kecil tapi berhalaman luas. Rumah ini ditata demikian rupa, dibuat di atas tanah agak ketinggian, dikelilingi halaman berumput dan tanaman bunga serta sebuah kolam mandi. Sifat lain Pangeran Aryo adalah tidak mau dikawal kemanapun dia pergi. Juga dia tidak mau ada prajurit yang menjaga tempat kediamannya walau Sri Baginda berulang kali mengatakan merasa khawatir akan keselamatan puteranya itu.

"Ayahanda Sri Baginda Raja. Kalau kita baik pada semua orang, semua orang akan baik kepada kita. Saya merasa aman di rumah saya yang kecil itu." Begitu Pangeran Aryo Dipasena berkata pada Sri Baginda saat terakhir kali sang ayah mendesak agar tempat kediamannya dijaga oleh prajurit Kerajaan. Tetap khawatir akan keselamatan putera yang disayanginya itu Sri Baginda Raja akhirnya menyuruh orang membuat tembok setinggi dua tombak mengelilingi tempat kediaman Pangeran Aryo. Untuk hal ini sang putera tidak berani mencegah meskipun sebenarnya dia tidak menyukai.

Selain itu yang membuat Sri Baginda Raja senang pada Pangeran Aryo adalah karena dia merupakan satu-satunya putera yang mau mendalami ilmu bela diri. Berbagai ilmu silat dan kesaktian telah dipelajarinya dari beberapa orang tokoh terkenal yang didatangkan dari berbagai penjuru rimba persilatan. Walau usianya belum mencapai dua puluhan namun Pangeran Aryo telah tumbuh menjadi seorang pendekar, tanpa banyak orang tahu mengenai kehebatannya karena dalam kesehariharian dia selalu menunjukkan sifat polos, hormat kepada setiap orang yang lebih tua dan bersahabat pada orang sebaya serta menyayangi mereka yang kecil. Karena sifatnya yang tinggi budi rendah hati itu Pangeran Aryo banyak mempunyai teman, terutama pemuda seusianya. Dalam berteman dia tidak memilih. Karena itu banyak pemuda dari kalangan kebanyakan yang menjadi sahabatnya. Sahabatnya yang putera para pejabat Keraton boleh dikatakan bisa dihitung dengan jari. Pada saudara-saudaranya satu ayah walau menaruh hormat dan sayang, namun Pangeran Aryo selalu menjaga jarak.

Perlahan-lahan Pangeran Aryo mendorong daun jendela hingga dia bisa melihat ke bawah sana dimana terletak kolam mandi. Bola mata sang Pangeran membesar sewaktu dia melihat ada seorang perempuan duduk berjuntai di tepi kolam membelakangi rumah kecil dimana dia berada. Agaknya perempuan ini memasukkan kedua kakinya ke dalam air, digoyang-goyang menurut suara nyanyian perlahan yang keluar dari mulutnya. Goyangan dua kaki inilah yang menimbulkan air kolam mengeluarkan suara berkecipukan. Yang membuat Pangeran Aryo terpana dan tak berkesip adalah karena perempuan yang duduk di tepi kolam tidak mengenakan secarik kainpun untuk menutupi auratnya! Bahunya yang bidang bagus, punggung yang licin putih, pinggul besar mulus terlihat sampai ke bagian paling bawah. Dari bentuk dan lekuk tubuh yang kencang bagus Pangeran Aryo bisa menduga kalau perempuan itu masih muda, mungkin seorang gadis remaja. Tak jauh dari tempatnya duduk di tepi kolam, ada seperangkat pakaian kuning terlipat rapi. Pangeran Aryo merasa seolah jantungnya berhenti berdetak dan darahnya berhenti mengalir.

"Mungkinkah ini perujudan perempuan cantik yang aku lihat di dalam mimpi...?" Membatin Pangeran Aryo.

Perempuan di tepi kolam memetik setangkai bunga mawar merah lalu mencelupkannya ke dalam air kolam. Bunga mawar yang basah itu kemudian diusapkannya ke wajah, leher dada serta perutnya. Sang Pangeran menggosok mata berulang kali.

"Aku tidak salah melihat. Kali ini aku tidak bermimpi. Ini adalah kenyataan..." ucapnya berulang kali. Hasrat untuk menemui perempuan di tepi kolam menggebugebu.

Apa lagi dia hanya melihat tubuh sebelah belakang. Kalau saja dia bisa melihat tubuh bagian depan. Pangeran Aryo bukan seorang pemuda nakal. Namun apa yang disaksikannya saat itu telah menggoncang hatinya. Menggoyah sikap dan rasa hormatnya pada kaum perempuan yang tertanam dalam dirinya selama ini. Sang Pangeran memandang ke pintu. Namun akhirnya memutuskan untuk keluar lewat jendela saja dari mana dia bisa terus mengawasi perempuan yang mandi. Dia takut selagi melangkah ke pintu perempuan di pinggir kolam tahu-tahu pergi. Tanpa suara Pangeran Aryo keluar dari kamar melompati jendela. Saat itu di langit memang ada bulan sabit dan taburan bintang gumintang. Namun awan kelabu menebar menutupi hingga keadaan tidak begitu terang.

Dengan mengendap-endap Pangeran Aryo menuruni tanah lereng berumput. Dia sengaja tidak menuju kolam melalui tangga batu, takut akan ketahuan sebelum dia berhasil mendekati perempuan di tepi kolam. Tidak tahu kalau ada orang mendekati dari belakang, perempuan di tepi kolam terus saja mempermainkan kedua kakinya di dalam air dan mengusap-usapkan bunga mawar basah ke dadanya yang bagus putih. Ketika untuk kesekian kalinya dia hendak merunduk merendam air, tiba-tiba dia mendengar suara langkah perlahan. Cepat dia palingkan kepala.

Dua orang sama-sama tercekat terkejut. Perempuan di tepi kolam tidak sadar akan keadaan dirinya, bangkit setengah melompat, berdiri bingung di hadapan Pangeran Aryo. Ternyata dia adalah seorang gadis berwajah cantik. Sang Pangeran merasa seperti melihat satu benda menyilaukan. Seumur hidup baru kali itu dia melihat dan berhadap-hadapan begitu dekat dengan seorang gadis dalam keadaan tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya. Sementara si gadis seolah tidak sadar akan keadaan dirinya berdiri tertegun, dua tangan ditekapkan ke dada sedang di bagian bawah tersingkap polos begitu saja.

"Maafkan saya...." Kata Pangeran Aryo Dipasena sambil melangkah mundur.

"Kau mengintip diriku...." Suara si gadis halus dan merdu. Dalam ucapannya tidak ada nada marah karena dirinya dipergoki seperti itu.

"Kau mandi di kolamku." Ucap Pangeran Aryo pula.

"Aku memang telah berbuat lancang." Si gadis berkata sambil matanya melirik ke lipatan pakaian kuning miliknya yang tergeletak lebih dekat ke arah Pangeran Aryo. "Aku harus pergi...." Gadis itu melangkah mendekati pakaiannya. Kalau saja putera Raja ini seorang nakal tentu dia akan segera mengambil pakaian itu agar si gadis tetap dalam keadaan telanjang.

Tapi Pangeran Aryo mundur beberapa langkah. Lalu membalikkan diri seraya berkata. "Cepat kenakan pakaianmu. Kalau sudah jangan pergi. Aku ingin mengenal dirimu."

"Dalam seribu mungkin hanya ada satu pemuda sebaik dirimu." Si Gadis berucap.

Pangeran Aryo tidak pedulikan pujian itu. Dia bertanya. "Siapa namamu?"

Tak ada jawaban.

"Aku tidak marah kau mandi di kolamku tanpa izin. Aku hanya ingin bersahabat. Aku boleh tahu namamu?"

Tetap tak ada jawaban.

Penasaran Pangeran Aryo balikkan tubuh. Astaga! Ternyata gadis tadi tak ada lagi di tepi kolam. Pakaian kuning yang sebelumnya ada di situ juga ikut lenyap. Yang tertinggal hanya bekas jatuhan air di tubuh si gadis yang membasahi bebatuan di tepi kolam. Pangeran Aryo memandang berkeliling. Sunyi. Pemuda ini melompat ke atas tembok setinggi dua tombak yang membatasi tempat kediamannya. Di luar batas tembok keadaan malah lebih sunyi dan lebih gelap. Pangeran Aryo kecewa besar. Dia kembali ke tepi kolam. Jongkok sambil mengusap bebatuan yang basah.

"Aneh, dia datang dan mandi di kolamku. Lalu pergi begitu saja. Adakah dia manusia atau....?"

Malam itu sampai pagi Pangeran Aryo tidak tidur melainkan duduk di depan pintu rumah. Dia berharap gadis cantik tadi akan muncul lagi. Namun sampai matahari terbit, malam berganti siang apa yang diharapkannya itu tidak terjadi. Menjelang siang ketika beberapa temannya datang Pangeran Aryo tidak bisa menahan rahasia. Apa yang terjadi malam tadi diceritakannya pada teman-temannya.

"Hati-hati," mengingatkan seorang teman. "Bisa saja gadis itu demit yang hendak memancingmu. Sekali kau tergoda maka dia akan membawamu ke alamnya. Kau tak bisa lagi kembali ke dunia ini."

Teman yang lain berkata. "Anggap saja gadis itu manusia biasa seperti kitakita ini. Kalau kau memang penasaran, ingin melihatnya lagi, berjaga-jaga saja setiap malam. Aku yakin dia akan kembali ke tempat ini. Aku dan teman-teman bersedia menemani..."

"Aku memang penasaran," jawab Pangeran Aryo. "Tapi sudahlah. Anggap saja kejadian itu sebagai mimpi."

Namun lewat tengah malam, setelah semua temannya pergi, Pangeran Aryo memutuskan untuk berjaga-jaga. Siapa tahu gadis malam kemarin itu akan muncul lagi. Dari balik jendela yang direnggangkan sedikit dia mengintip ke arah halaman luas di bawah sana. Swaktu matanya mulai redup menahan kantuk, tiba-tiba dia melihat satu bayangan berkelebat dan berdiri di atas tembok sebelah timur. Pangeran Aryo tidak dapat melihat jelas apakah orang itu berpakaian kuning karena sosoknya terselubung oleh bayangan gelap pohon besar di belakang tembok. Dengan dada berdebar Pangeran Aryo membuka jendela, melesat keluar rumah, berkelebat ke arah tembok sebelah timur. Ketika dia naik ke atas tembok, sosok di dalam bayangan gelap pohon besar tidak ada lagi.

"Aku salah, terlalu terburu-buru. Seharusnya kutunggu sampai dia masuk ke halaman dan mandi di kolam." Sang Pangeran menyesali diri sendiri lalu melompat turun dari tembok. Ketika kakinya menjejak tanah halaman berumput, kejut dan juga gembira Pangeran Aryo bukan alang kepalang. Di tepi kolam berdiri seorang gadis berpakaian kebaya dan celana panjang ringkas warna kuning.

"Dia...." Ucap Pangeran Aryo agak kaget tapi gembira sekali. Dengan cepat dia mendatangi gadis ini. "Hai, tadi kau yang berdiri di atas tembok sebelah sana? Di bawah bayangan pohon besar?"

Gadis cantik di hadapan Pangeran Aryo buka gulungan rambutnya hingga kini rambut yang hitam tergerai lepas membuat wajahnya tambah jelita. Gadis ini gelengkan kepala.

"Berarti ada orang lain yang datang ke tempat itu," pikir sang Pangeran. Walau heran Pangeran Aryo berkata.

"Aku gembira kau mau datang. Apakah kau ingin mandi lagi di kolam?"

"Dan kau akan mengintip?" ujar si gadis sambil tertawa. "Apakah malam kemarin kau tidak puas melihat diriku?"

Wajah Pangeran Aryo menjadi merah.

"Aku tidak bermaksud nakal. Semuanya serba mendadak, serba tidak terduga...."

"Sesuatu yang tidak terduga bukankah meninggalkan kesan indah dan mendalam?" ucap si gadis.

"Ah...kau betul," jawab Pangeran Aryo polos mengakui. "Setelah kau pergi, aku selalu ingat dirimu." Malam kemarin dia melihat gadis cantik itu dalam keadaan polos dadanya seperti mau meledak. Kini mengenakan kebaya kuning dengan potongan dada rendah hingga pangkal payudaranya terlihat menyembul putih dan kencang, Pangeran Aryo jadi tak karuan rasa. Memang ada kalanya melihat aurat perempuan yang setengah tersingkap dapat menimbulkan daya tarik yang lebih bergelora.

"Malam kemarin kau pergi begitu saja. Aku bertanya, kau tak sempat memberi tahu nama...."

"Apakah kau mau memberi nama padaku?" tanya si gadis sambil duduk di atas sebuah batu rata di samping sebuah arca singa. Karena dia berdiri dan keadaannya lebih tinggi, Pangeran Aryo kini dapat melihat lebih jelas bagian dada si gadis.

"Aku tidak berani memberi nama. Aku takut kesalahan...."

"Nama apa saja. Aku akan menerima...," jawab si gadis sambil tersenyum dan permainkan bibirnya yang merah menantang. Lalu dia memetik sekuntum bunga mawar, menciumnya sambil mendongakkan kepala dan memejamkan mata. Sungguh indah dan anggun sekali sikapnya ini di mata Pangeran Aryo.

"Hem...Bagaimana kalau kau kuberi nama Dewi....," ucap Pangeran Aryo.

"Hanya Dewi?"

Pangeran Aryo menatap ke wajah yang penuh daya tarik serta dada yang busung kencang dan putih menantang.

"Dewi...Mungkin Dewi Pikatan atau hemmm...Dewi Pemikat?"

Si gadis dongakkan kepala, memperlihatkan lehernya yang putih jenjang lalu tertawa panjang. "Dua nama yang kau berikan itu sama-sama bagus. Aku memilih yang terakhir. Terima kasih...Eh, apakah aku ini seorang gadis pemikat?"

"Aku yakin banyak pemuda yang terpikat jika melihat dirimu."

Si gadis tersenyum. "Kau sendiri bukankah Pangeran Aryo Dipasena?"

"Aku senang kau sudah tahu siapa diriku. Tapi seperti terhadap semua temantemanku, aku bukan seorang Pangeran. Aku adalah seorang sahabat..."

"Ah, ternyata kau seorang berbudi tinggi berhati rendah. Pangeran, apakah kau senang aku datang kembali?"

"Sstt, panggil aku Aryo atau Dipasena. Jangan panggil Pangeran. Nanti semua tikus-tikus yang ada di tempat ini kabur berlarian..."

Si gadis yang diberi nama Dewi Pemikat tertawa lebar.

"Aku akan memanggilmu Dipasena. Boleh...?"

Aryo Dipasena mengangguk. Lalu berkata. "Tentu, tentu saja aku senang kau datang lagi. Tadinya aku sudah putus harapan..." berkata Aryo Dipasena.

"Tapi ada seorang tamu tak diundang yang tidak senang melihat kedatanganku ke sini. Dia datang membekal maksud jahat."

"Siapa? Apa maksudmu?" tanya Aryo Dipasena.

"Kau tak usah berpaling. Tapi langsung menghantam ke arah tembok di sebelah timur dekat pohon besar. Keluarkan ilmu pukulan Tiga Jalur Kematian."

Pangeran Aryo terkejut. Bagaimana gadis yang sebelumnya tak dikenalnya ini tahu kalau dia memiliki pukulan sakti tersebut. Selain itu arah yang dikatakannya adalah bagian tembok dekat pohon besar dimana tadi dia melihat ada satu sosok mendekam.

"Aku tak bisa melakukan hal itu. Pukulan Tiga Jalur Kematian bisa membunuh orang. Aku tidak pernah membunuh orang dan tidak ingin."

"Orang bermaksud jahat padamu. Apakah kau masih menaruh budi kebaikan?"

tanya si gadis. "Aku kecewa." Si gadis unjukkan wajah sedih. Dia membuat gerakan seperti hendak meninggalkan tempat itu.

"Tunggu, jangan pergi. Aku akan ikuti apa yang kau katakan." Dalam bingungnya Aryo Dipasena akhirnya balikkan tubuh sambil sekaligus lepaskan pukulan tangan kanan ke arah yang dikatakan si gadis.***5TIGA LARIK sinar hitam melesat tanpa suara ke arah tembok sebelah timur, tepat di jurusan pohon besar. Walau dalam gelap namun tiga larik sinar ini tampak berkilat. Inilah pukulan sakti bernama Tiga Jalur Kematian yang dipelajari Aryo Dipasena dari seorang sakti yang diam di ujung tanah Jawa sebelah timur. Jika pukulan sakti ini dilepas maka tiga jalur sinar hitam akan mencari sasaran sendiri. Biasanya yang di arah secara sekaligus adalah bagian kepala, dada dan kaki lawan. Selama ini kecuali dalam melatih diri Sang Pangeran tidak pernah melepaskan pukulan tersebut untuk menyerang orang. Sesaat lagi pukulan sakti akan mengenai sasaran sosok orang di atas tembok sebelah timur, tiba-tiba dari arah itu berkiblat tiga sinar. Meah, biru dan hijau!

Letusan dahsyat menggelegar tiga kali berturut-turut. Tembok di bagian timur hancur berkeping-keping. Tiga cabang pohon besar terbakar hangus. Seluruh daun pepohonan hangus lalu luruh rontok hingga pohon besar itu kini hanya tinggal cabang dan ranting. Sebelum gelegar tiga letusan satu bayangan hitam berkelebat dari atas tembok disertai terdengarnya suara orang memaki. Di tempatnya berdiri tubuh Pangeran Aryo Dipasena bergoncang keras, lutut goyah. Dia berusaha bertahan tapi tak kuasa. Sebelum jatuh di tepi kolam gadis berpakaian kuning cepat merangkul tubuhnya, mendudukkannya di lantai batu, bersandar ke arca singa. Wajahnya tampak pucat. NAmun dia segera bias menguasai diri dan berkata.

"Dewi, kau betul. Ada orang di atas tembok sana tadi. Dia melepas serangan balasan ketika pukulanku hampir mengenai dirinya. Dia memiliki tenaga luar biasa.."

"Kau juga hebat Dipa. Orang lain saat ini mungkin sudah menderita luka dalam yang amat parah...."

"Luar biasa..." kata sang pangeran sambil mengusap wajahnya yang keringatan. "Selama ini aku tidak pernah mempergunakan ilmu kesaktian. Ternyata apa yang kumiliki belum berarti apa-apa."

"Pisau itu tajam karena diasah. Ilmu kepandaian baru ketahuan hebatnya kalau dipakai," kata gadis yang diberi nama Dewi Pemikat.

"Kau tahu siapa orang yang katamu datang dengan membekal niat jahat terhadapku?" Bertanya Pangeran Aryo.

"Sejak beberapa hari belakangan ini ada seseorang mengikuti gerak-gerikku. Walau dia berlaku diam-diam dan sangat licin tapi aku tak bisa ditipu. Malam kemarin ketika aku datang di sini, aku rasa dia juga ada di tempat ini mengintai. Tadi ketika aku dalam perjalanan ke sini, dia mendahului mendatangi tempat ini. Dia sembunyi di atas tembok sebelah timur yang sangat gelap..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 172.68.65.15
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia