Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : DADU SETAN

JUMENA prajurit Kadipaten Losari yang tengah tertidur pulas tak jauh dari pintu gerbang timur, tenggelam dalam mimpi aneh. Dalam mimpi dia melihat dua orang lelaki berkepala sangat besar mendaki keluar dari sebuah jurang yang mengepulkan kabut kelabu. Lelaki pertama seorang kakek bungkuk bertongkat kayu dan bercaping hijau, menaiki jurang sambil memegang lengan lelaki muda di belakangnya. Padahal lelaki muda inilah yang seharusnya menuntun si kakek naik ke atas jurang. Setiap dia menarik nafas panjang, caping hijau di atas kepala si kakek naik ke atas sampai satu jengkal lalu turun lagi. Waktu caping naik ke atas kelihatan kepala si kakek yang luar biasa besar.
Kabut tipis sesaat lenyap. Sekilas dalam mimpinya Jumena melihat wajah orang di belakang kakek bercaping. Prajurit ini tersentak dari mimpi dan terbangun duduk. Mukanya keringatan padahal saat itu dia berada di udara terbuka dan malam hari pula. Dia mengenali wajah itu. Tapi mengapa kepalanya berubah besar?

"Ini kali kedua aku mengimpikan Raden Rayi Jantra dan kakek bercaping itu. Berkepala sangat besar, keluar dari jurang. Apa artinya ...?" Setelah merenung cukup lama kantuk Jumena datang lagi. Prajurit ini kembali berselunjur dan meneruskan tidurnya.

Belum lama pulas seorang prajurit temannya datang menghampiri dan membangunkan.

Jumena nyalangkan dua mata, letakkan tangan kanan di gagang golok besar yang terletak di pangkuannya lalu menatap pada prajurit yang berdiri di hadapannya.

"Ada apa? Aku rasa belum giliranku jaga," Jumena merasa tergangu.

"Ada orang mencarimu." Prajurit yang membangunkan memberi tahu lalu melangkah pergi.

Jumena menggeliat. Mengucak mata kemudian menoleh ke samping kiri. Pandangannya membentur sosok tegap seorang pemuda berambut gondrong, berpakaian putih. Prajurit yang berbaring bersandar ke tembok batas timur Kadipaten Losari ini kerenyitkan kening lalu berdiri.

"Kau...Aku tidak lupa padamu," kata Jumena. "Aku mengira tidak akan menemuimu lagi. Waktu di jurang kau pergi begitu saja."

"Jumena, aku juga tidak lupa padamu. Itu sebabnya aku mencarimu."

"Malam-malam buta, hemmm rasanya hampir pagi. Ada apa?"

"Jumena, kita duduk dan bicara di balik pohon besar sana saja," kata si rambut gondrong yang bukan lain adalah Pendekar 212 Wiro Sableng, murid nenek sakti Sinto Gendeng dari Gunung Gede. Wiro pegang bahu prajurit itu lalu membawanya ke balik pohon besar tak jauh dari pintu gerbang timur Kadipaten Losari.

Sampai di balik pohon setelah duduk berhadap-hadapan Jumena bertanya lagi. "Ada apa? Eh, sampai saat ini aku belum tahu namamu."

"Panggil aku Wiro," jawab Pendekar 212. "Jumena, waktu di jurang kau memberi tahu tentang atasanmu bernama Rayi Jantra yang katamu dibuang ke jurang. Apakah mayatnya sudah ditemukan?"

Jumena menggeleng. "Ada keanehan."

"Keanehan bagaimana?" tanya Wiro.

"Kejadian di jurang aku laporkan pada Prajurit Kepala. Prajurit Kepala lanjut melapor pada Adipati Losari Raden Seda Wiralaga. Hari itu juga Adipati mengirim pasukan besar ke jurang di perbatasan. Semua mayat berhasil diangkat ke atas jurang. Keadaannya sangat rusak. Empat jenasah tak dikenal bermuka hangus. Dua mayat kemudian diketahui adalah prajurit Kadipaten bernama Lebak dan Meneng. Jenasah Raden Rayi Jantra tidak ditemukan."

"Mungkin mayatnya tidak termasuk yang dibuang di jurang."

"Boleh jadi. Namun ada keanehan lain. Aku bermimpi. Sampai dua kali. Kali kedua barusan saja. Dalam mimpi aku melihat Raden Rayi Jantra berpegangan tangan dengan seorang kakek bercaping hijau. Kepala mereka besar sekali. Keduanya berusaha mendaki jurang, naik ke atas."

"Jangan-jangan atasanmu itu masih hidup." Wiro coba mengartikan mimpi Jumena.

"Mudah-mudahan begitu. Kalau dia masih hidup dan kembali bertugas, aku pasti akan mendapat kenaikan pangkat. Dia janji padaku." Jumena menghela nafas panjang. "Kau belum menerangkan apa keperluanmu. Apa masih mau menanyakan soal kancing kayu tempo hari?" (Mengenai pertemuan Wiro dengan Jumena pertama kali harap baca Episode sebelumnya berjudul "Dadu Setan")

Wiro tertawa, menggaruk kepala. Jumena menatap wajah sang pendekar. Sepasang matanya membesar. Tiba-tiba dia berkata, "Aku ingat sesuatu!"

"Apa?" tanya Pendekar 212.

"Wajahmu!"

Wiro mengusap mukanya. "Kenapa wajahku?"

"Sama dengan yang dibuat juru lukis itu! Eh, namamu tadi siapa?"

"Aku tdak mengerti maksudmu. Juru lukis apa?"

"Wiro! Kau pasti orangnya!"

"Bicara yang benar. Jangan sepotong-sepotong!"

"Kau tahu perihal kematian Adipati Brebes?"

"Aku mendengar ceritanya," jawab Wiro. Dalam hati dia berkata, "Aku yang membunuh manusia bejat itu!"

"Atas perintah Adipati Losari, berdasarkan keterangan saksi termasuk seorang kakek berjuluk Si Kuda Iblis alias Ki Sentot Balangnipa, seorang juru gambar membuat lukisan wajah si pembunuh. Aku sempat melihat gambar yang sekaligus surat perintah penangkapan itu ketika hendak ditunjukkan pada Adipati Losari. Wajah yang dibuat juru lukis itu adalah wajahmu! Besok siang surat selebaran akan ditempel dimana-mana. Kau dituduh sebagai pembunuh Adipati Brebes. Diperintahkan tangkap hidup atau mati! Imbalannya lima ringgit emas! Kau orangnya yang bernama Wiro Ssableng, berjuluk Pendekar Dua Satu Dua? Betul? Pasti betul!"

Wiro terkejut namun dengan tenang dia berkata, "Adipati Brebes pantas dihabisi karena hendak

menodai seorang gadis sahabatku. Berita menyebar cepat sekali. Mengapa Adipati Losari di wilayah barat yang mengeluarkan surat penangkapan, bukan pejabat Kerajaan di wilayah timur?"

"Adipati Brebes Karta Suminta adalah sahabat kental Adipati Losari Seda Wiralaga. Aku rasa saat ini di wilayah timur kau juga sudah dicari."

Wiro menggaruk kepala. "Kau prajurit Losari. Setelah tahu siapa aku mengapa tidak menangkapku?"

Jumena usap-usap golok besar yang dipegangnya lalu tertawa.

Ikutan menggaruk kepala. "Aku prajurit kecil. Ingin hidup tenang. Kalau aku menangkapmu, apa kau tidak bakal menekuk batang leherku? Aku banyak mendengar cerita tentang kehebatanmu. Seorang prajurit butut sepertiku ingin melawan pendekar besar sepertimu? Ha-ha! Aku tidak mau mencari penyakit. Apalagi mencari mati!"

"Kau tidak tergiur pada hadiah lima ringgit emas? Kau bisa melaporkan aku pada atasanmu atau langsung pada Adipati Losari. Selain lima ringgit emas mungkin kau bakal dapat kenaikan pangkat dua tingkat sekaligus!"

Prajurit Jumena tersenyum. "Aku ingin hidup tenang. Apa arti lima ringgit emas kalau kelak nyawaku bakalan amblas! Lagipula kalau Adipati Brebes hendak menodai seorang gadis, rasanya dia memang pantas dibunuh! Selama ini gedung kediamannya dikenal sebagai sarang keluar masuk gadis-gadis cantik, bahkan istri orang. Ada yang datang karena mengharap imbalan atau hadiah besar. Ada yang memang perempuan nakal. Tapi banyak juga yang diambil secara paksa."

"Jadi kau tidak akan menangkapku? Tidak akan melapor pada atasanmu?" tanya Wiro pula.

Prajurit Kadipaten Losari itu gelengkan kepala.

Wiro tepuk-tepuk bahu Jumena.

"Aku mendengar banyak cerita hebat tentang dirimu. Antara lain kau memiliki sebuah senjata yang disebut Kapak Maut Naga Geni Dua Satu Dua. Katanya senjata itu bisa mengeluarkan api, angin panas dan mengeluarkan suara mengaung dahsyat. Aku tak melihat kau membekal senjata sakti itu. Dimana kau simpan? Boleh aku melihat dan memegangnya barang sebentar?"

Wiro tertawa, "Nanti, satu kali akan aku perlihatkan padamu."

Jumena tampak kecewa. Wiro pegang bahu prajurit itu. "Jumena, kau kenal seorang pemuda bernama Danang Seta dari desa Jatiwaluh?"

"Dia sahabatku sejak kecil. Teman sepermainan." Jawab Jumena. "Kenapa kau tanyakan dirinya? Memangnya kau kenal dia?"

"Sahabatmu tewas dibunuh orang petang menjelang malam tadi."

Jumena terkejut bukan main. Rasa tak percaya membuat dia lama menatap wajah Wiro. Setelah menghela nafas panjang dan menahan sengguk prajurit ini berkata perlahan. "Kasihan Danang. Kematiannya pasti ada kaitan dengan apa yang diketahuinya tentang satu tempat rahasia. Padahal mungkin dia cuma tahu sedikit. Kekasihnya, seorang gadis bernama Ningrum yang tahu banyak."

"Ningrum juga sudah menemui ajal. Dibunuh!" Menerangkan Wiro.

Jumena terbelalak. "Bagaimana kejadiannya?"

Wiro lalu menuturkan sesuai cerita yang didengarnya dari Purnama.

"Jadi Ningrum juga dibunuh," Jumena gelengkan kepala berulang kali. Setelah mengusap wajahnya dia berkata, "Gadis kekasih Danang Seta itu belakangan ini dibanjiri harta kekayaan luar biasa. Tapi dirinya juga dipenuhi berbagai rahasia. Mungkin Adipati Brebes yang membunuhnya?"

Wiro menggeleng. "Adipati itu menemui ajal lebih dulu. Sudah kukatakan, aku yang membunuh Karta Suminta."

Jumena terdiam beberapa lama. Akhirnya dia berkata. "Atasanku Rayi Jantra pernah mengungkapkan rasa curiganya terhadap Ningrum puteri Surah Pamulih itu. Ningrum diketahui banyak berhubungan dengan para ejabat tinggi di wilayah timur dan barat. Ada kabar selentingan bahwa Ningrum membantu orang-orang di timur untuk menggagalkan usaha orang di barat yang hendak mendirikan satu kerajaan di pantai utara. Danang pernah bilang Ningrum sulit ditemui. Di rumah dia hanya ada tiga atau empat hari dalam sebulan. Selebih itu tidak diketahui dimana dia berada."

"Ada orang yang ingin membungkam Danang Seta dan Ningrum," kata Wiro pula.

Jumena mengangguk. Dia meraba tengkuk sendiri yang mendadak terasa dingin. Ada rasa takut muncul dalam diri prajurit ini.

"Jumena, ingat apa yang kau sampaikan padaku waktu bertemu di jurang?"

"Aku ingat, tapi mungkin tidak semuanya," jawab Jumena.

"Kau cerita tentang kematian Nyi Inten Kameswari yang makamnya dibongkar lalu jenasahnya ditemukan dalam keadaan perut robek terbongkar. Kau juga cerita tentang Anom Miharja, suami Nyi Inten yang katanya mati bunuh diri tapi menurut atasanmu dia dibunuh. Kau juga cerita tentang ditemukannya mayat beberapa orang Cina. Tentang Raden Rayi Jantra yang berusaha menyelidiki asal usul kekayaan Anom Miharja dan Nyi Inten. Lalu yang aku tidak bisa lupa, kau bicara tentang dua buah dadu yang saling diperebutkan beberapa tokoh sakti. Diantaranya Pengemis Muka Bopeng, Raden Kumalasakti dan Eyang Sepuh Kembar Tilu. Ketiga orang itu sudah tewas semua! Dibunuh!"

"Ya, sekarang aku jadi ingat. Aku cerita apa adanya sesuai yang aku ketahui. Turut apa yang aku dengar Pengemis Muka Bopeng dibunuh Eyang Sepuh Kembar Tilu di sebuah warung. Dia menyamar sebagai Raden Kumalasakti dan berusaha dapatkan dua buah dadu. Yang diberikan si nenek padanya ternyata dadu palsu. Raden Kumalasakti yang asli kemudian dibunuh oleh Pengemis Siang Malam..."

"Aku menyaksikan kematian Raden Kumalasakti. Kejadiannya di sarang Pengemis Siang Malam," kata Wiro pula. "Yang jadi pertanyaan, jika Eyang Sepuh Kembar Tilu memberikan dua buah dadu pada Raden Kumalasakti berarti sebelumnya sudah ada perjanjian di antara mereka bahwa dua buah dadu memang harus diserahkan pada Raden Kumalasakti. Nah, siapa Raden Kumalsakti ini sebenarnya?"

"Aku hanya tahu walau dia bukan orang dari wilayah barat tapi banyak hubungan dengan para petinggi di sini."

"Kau tahu mengapa dia inginkan dua buah dadu?"

Jumena menggeleng.

"Kau tahu mungkin si Raden ini dan si nenek Eyang Sepuh Kembar Tilu berada di bawah perintah atau bekerja untuk orang yang sama? Siapa kira-kira?"

"Aku tidak tahu," jawab Jumena.

Wiro penasaran. "Sebelum menemui ajal, Danang Seta sahabatmu berkata bahwa kau tahu satu tempat rahasia bergelimang uang, harta dan perempuan. Menurut Danang, Ningrum kekasihnya mungkin ada sangkut pautnya dengan tempat itu. Beri tahu padaku tempat apa itu dan dimana letaknya."

"Pastinya tempat itu berbentuk apa aku tidak tahu. Juga tepat letaknya. Namun ada yang mengatakan tak jauh dari Losari ada sebuah bangunan rahasia di sebuah bukit batu ...."

Belum sempat prajurit Jumena mengakhiri ucapannya tiba-tiba di kejauhan ledakan dahsyat menggoncang seantero kawasan disusul nyala api terang benderang serta suara jerit kematian. Lalu ada orang berteriak.

"Api! Rumah juga terbakar!"

***

WIRO terhuyung-huyung. Telinganya mendenyut pekak. Jumena sempat mencabut golok namun terpental dan jatuh terduduk. Sekitar dua puluh langkah dari pintu gerbang di tembok timur itu terdapat sebuah rumah jaga. Ledakan dahsyat membuat rumah jaga hancur berkeping-keping. Kobaran api membumbung ke udara. Sebelumnya ada dua prajurit di dalam rumah jaga itu. Ketika ledakan menggelegar keduanya mencelat mental lalu tergelimpang di tanah dalam keadaan tubuh hangus buntung tercabik-cabik dan anggota badan cerai berai. Wiro cepat melompat ke arah rumah jaga yang sudah rata dengan tanah.

Saat itu dari balik deretan rumpun bambu lebat melesat keluar seekor kuda hitam. Penunggangnya seorang kakek berjubah biru gelap, berwajah merah, berkepala botak. Di balik punggung jubah kelihatan sebatang ranting pohon mengkudu lengkap dengan delapan helai daunnya. Sementara semua orang yang ada di situ lari ke jurusan rumah jaga yang hancur, kakek berkuda justru membedal tunggangannya ke arah berlawanan.

Walau sempat melihat Wiro tidak perdulikan si kakek. Dia tengah memperhatikan dengan tengkuk merinding dua prajurit yang menemui ajal secara mengerikan ketika tiba-tiba di belakang sana terdengar jeritan seseorang. Jeritan Jumena! Wiro berpaling kaget.

Kakek berwajah merah raib bersama kudanya di kegelapan. Jumena tampak tergelimpang di tanah. Sebilah golok, golok miliknya sendiri menancap di pertengahan dadanya. Wiro berteriak lalu menghambur menghampiri.

"Jumena!"

Sepasang mata Jumena tinggal putihnya saja. Tubuh bergelimang darah. Namun telinga masih bisa mendengar dan mulutnya masih sanggup berucap.

Dalam bingungnya Wiro pegang gagang golok yang menancap di tubuh prajurit itu. Hendak ditarik tapi tak jadi karena takut darah akan bertambah banyak mengucur.

"Jumena! Siapa yang membunuhmu?" Wiro bertanya setengah berteriak.

"Kakek mu...muka merah pen...penunggang kuda it..itu..." Suara Jumena tersendat-sendat.

"Kau tahu siapa dia?" tanya Wiro lagi.

Mulut Jumena terbuka, bibir bergetar. Tak ada suara yang keluar.

"Kau tadi menyebut bukit batu. Bukit batu apa? Dimana?" tanya Wiro. Namun prajurit itu tak mampu menjawab. Matanya nyalang. Nyawanya putus sudah!

Saat itu beberapa orang prajurit Kadipaten berdatangan. Di antara kerumunan para prajurit seorang perempuan bertutup wajah, berikat kepala serta berpakaian merah kembang-kembang menyeruak ke depan. Dari mulutnya keluar bentakan.

"Saudara Wie! Kau membunuh prajurit itu!"

Wiro tersirap kaget. Lepaskan pegangannya pada gagang pedang dan memandang melotot pada orang yang barusan keluarkan ucapan dan ternyata bukan lain adalah Kiang Loan Nio Nikouw. Sementara itu salah seorang prajurit yang berkerumun di tempat itu berkata.

"Dia membunuh kawan kami! Ketika kami datang dia masih memegang gagang golok!"

"Siapa nama prajurit yang dibunuh ini?" tanya sang paderi dari Tionggoan pada prajurit-prajurit

Kadipaten.

"Jumena!"

"Aah!" Wajah dibalik kain merah paderi Loan Nio berubah. "Aku sudah menduga namanya Jumena." Sang paderi berpaling pada Pendekar 212 dan lanjutkan ucapannya.

"Saudara Wie, kau bukan cuma sengaja membunuhnya. Tapi punya niat jahat untuk menutupi satu rahasia dan perkara besar yang tengah aku selidiki!"

"Nionio, aku tidak membunuh prajurit itu. Seorang kakek bermuka merah, menunggang kuda yang melakukan!" jawab Wiro.

Loan Nio Nikouw memandang para prajurit di depannya. Lalu bertanya. "Prajurit Kadipaten, apa kalian melihat seorang kakek bermuka merah menunggang kuda?"

Enam prajurit yang ada di tempat itu sama gelengkan kepala.

"Pemuda gondrong ini mengarang cerita! Jelas dia yang membunuh Jumena! Dia masih memegang gagang golok ketika kami datang! Kawan-kawan mari kita tangkap bangsat pembunuh ini! Kalau melawan cincang sampai lumat!"

"Kalian semua yang gila! Kalian yang mengarang cerita! Aku tidak membunuh Jumena! Dia sahabatku!" Wiro rasanya ingin sekali menampar mulut prajurit yang barusan bicara.

"Saudara Wie, kau terlalu banyak berdusta. Aku tahu orang-orang ini tak akan mampu menangkapmu! Apalagi mencincangmu! Biar aku yang akan turun tangan melakukan!"

"Nionio, apa maksudmu?" Wiro bertanya dengan mata mendelik.

"Aku berharap kau bisa dijadikan sahabat untuk menolong. Ternyata kau musuh dalam selimut! Cukup lama aku bercuriga padamu. Kecurigaanku ternyata menjadi kenyataan. Seharusnya tempo hari aku biarkan dirimu dibunuh Ki Beringin Reksa dan Walang Gambir! Sekarang saatnya kau harus disingkirkan!"

Sepasang mata Loan Nio Nikouw tampak seperti menyala. Habis keluarkan ucapan dia gerakkan tangan ke punggung.

"Srett"

Cahaya merah memancar terang ketika Ang Liong Kiam atau Pedang Naga Merah keluar dari sarungnya. Tanpa banyak cerita lagi senjata mustika itu langsung dibabatkan ke arah Pendekar 212 Wiro Sableng.

"Nionio! Tahan! Mari kita bicara dulu!" teriak Wiro sambil melompat mundur.

Sang paderi hanya menyeringai dan keluarkan suara mendengus. Pedang mustika di tangan kanannya terus berkelebat. Hanya setengah jengkal lagi senjata sakti itu akan membabat perut Pendekar 212 tiba-tiba Loan Nio Nikouw menjerit kaget. Bersamaan dengan itu tubuhnya terpental. Kalau dia tidak cepat imbangi diri niscaya akan jatuh duduk di tanah. Di balik cadar penutup wajahnya tampak berubah pucat, mata membesar dan tengkuk dingin.

"Dadaku mendenyut sakit. Pelipisku sakit bukan main. Dua kakiku goyah! Apa yang terjadi?" Loan Nio Nikouw berucap dalam hati. Dia pandangi senjatanya. Tangan kanannya yang memegang pedang bergetar dan terasa kesemutan. Dia merasa lega melihat senjata saktinya berada dalam keadaaan utuh.

Dengan cepat paderi perempuan ini memasang kuda-kuda baru. Mata menatap tak berkesip ke arah Pendekar 212.

Hal yang sama terjadi dengan tubuh Wiro. Malah keadaannya lebih parah. Tubuh terhuyung ke belakang lalu jatuh duduk di tanah. Hal ini terjadi karena ketika menyerang Loan Nio Nikouw kerahkan tenaga dalam sementara Wiro tidak. Dia merasa seperti ditiban batu besar yang membuat sekujur tubuh seolah luluh lantak. Wiro ingat pada kejadian sewaktu Ki Sentot Balangnipa menyerangnya dua kali dengan Pedang Naga Merah di Kadipaten Brebes. Mereka sama-sama terpental dan sama-sama terluka di dalam. Wiro cepat alirkan hawa sakti ke seluruh tubuh.

"Nionio! Tahan! Tunggu! Kita bicara dulu!" teriak Wiro ketika melihat sang paderi melangkah ke arahnya, siap menyerang kembali. Tapi sang paderi tidak perduli.

"Sial! Kenapa urusan jadi begini?" Wiro memaki lalu melompat bangun. Melihat sorotan mata yang begitu galak dari Nionio Nikouw Wiro sadar orang tak bisa diajak bicara. Maka dia kerahkan tenaga dalam ke tangan kiri kanan. Wiro sadar pedang di tangan paderi itu bukan senjata sembarangan. Selain itu Nionio Nikouw juga memiliki ilmu silat dan ilmu pedang hebat. Kalau tidak bisa menjaga diri, dia bisa konyol di tangan paderi nekad ini.

"Wuttt!" Pedang Naga Merah berkelebat dalam jurus bernama Naga Merah Membelah Bumi. Jurus ini berupa bacokan ganas dari atas ke bawah. Cahaya merah berkiblat. Wiro cepat membungkuk dan rundukkan kepala. Begitu pedang sakti lewat di samping kepalanya kaki kanan ditendangkan ke arah kaki lawan. Namun seperti tadi ada kekuatan gaib tak kelihatan yang saling hantam. Kali ini Wiro tersungkur. Untung dia masih bisa gulingkan diri hingga mukanya tidak berkelukuran dihantam tanah. Untuk beberapa lamanya dia hanya bisa tertelungkup diam. Kepalanya yang tadi hendak dibacok terasa seperti remuk. Mulut lelehkan darah kental. Di depannya Loan Nio Nikouw terpental dan terjengkang di tanah. Cadar merah penutup wajahnya tanggal, tercampak ke tanah. Seperti Wiro di sudut bibir paderi ini tampak ada lelehan darah sementara wjahnya yang cantik kelihatan pucat pasi.

Tiba-tiba Loan Nio Nikouw berteriak keras lalu semburkan darah di mulutnya.

"Pemuda jahat!" Sang paderi yang biasanya memanggil Wiro dengan sebutan Saudara Wie kini menyebut sang pendekar sebagai pemuda jahat. "Kau boleh punya ilmu setan! Apa kau kira aku tidak bisa melukai dan mencincangmu?"

Mulut sang paderi berkomat-kamit entah melafalkan apa. Wiro cepat berdiri bangkit. Tangan kanan dimelintangkan di atas dada. Loan Nio Nikouw angkat pedang ke atas. Ujung pedang mengarah ke kepala Wiro. Menusuk cepat ke arah kening. Murid Eyang Sinto Gendeng bersurut satu langkah. Tangan di depan dada bergerak ke depan. Dalam melindungi diri sambil lancarkan serangan Benteng Topan Melanda Samudera Wiro sengaja mengibas, tidak melancarkan pukulan. Di dalam hatinya pemuda ini masih punya rasa tidak tega untuk mencelakai sang paderi. Padahal orang sudah nekad hendak membunuhnya. Sebelumnya waktu di goa, pukulan sakti itu telah membuat Liok Ong Cun muntah darah.

"Bess!"

Angin keras melabrak ke depan. Tubuh Loan Nio Nikouw bergetar. Dia berusaha bertahan. Dua kaki laksana menancap di tanah. Wiro merasa pukulannya tertahan tembok gaib. Di depannya ujung lancip Pedang Naga Merah keluarkan dua kali kilatan cahaya merah.

"Tembus!"

Tiba-tiba paderi perempuan itu berteriak keras.

Pedang Naga Merah yang tadi hendak menusuk kening lawan, laksana kilat tiba-tiba melesat ke samping kanan lalu membalik membuat babatan dahsyat ke arah pinggang. Inilah jurus ilmu pedang yang disebut Menusuk Matahari Membelah Rembulan.

Wiro merasa dua kakinya laksana dipantek ke tanah, tak bisa digerakkan untuk melompat cari selamat. Dia mendengar suara bergemuruh seolah ada batu besar menggelinding menghantam dirinya dari samping kanan.

Mata Pedang Naga Merah mendarat telak di pinggang kanan Pendekar 212.

"Brett!"

"Tring!"

Wiro terpental ke samping. Sebuah benda putih panjang yang menahan hantaman pedang sakti mencelat dari pinggang bajunya yang robek dan jatuh di tanah. Benda ini adalah suling perak milik Loan Nio Nikouw yang ditemukan oleh dua nenek kembar dan kemudian diserahkan pada sang pendekar. Keberadaan suling perak di pinggang Wiro boleh dikatakan sebagai ikut menyelamatkan sang pendekar selain adanya kekuatan gaib yang kembali muncul secara aneh.

Pada saat Wiro terguling jatuh dan terkapar megap-megap disertai lelehan darah mengucur di sudut mulut, Loan Nio Nikouw telah lebih dulu tergelimpang tertelungkup di tanah. Paderi ini semburkan ludah bercampur darah sampai dua kali. Mulut keluarkan erangan, namun sepasang mata mendelik besar memandang ke arah suling perak miliknya yang jatuh di tanah.

"Sulingku.... Ah pemuda jahat ini ternyata pencurinya." Dengan dada turun naik karena sulit bernafas, tangan kanan masih memegang Pedang Naga Merah, Loan Nio Nikouw beringsut ke depan hingga akhirnya dia berhasil menggapai suling perak. Begitu suling perak berada dalam genggaman tangan kirinya, paderi ini semburkan lagi ludah dan darah lalu jatuh pingsan.

Saat itu setelah seolah lupa akan nasib mengerikan yang menimpa dua kawan mereka di rumah jaga, puluhan prajurit Kadipaten Losari yang berada di tempat itu merasa sadar. Salah seorang di antara mereka berteriak.

"Tangkap pemuda gondrong pembunuh Jumena itu!"

"Jangan ditangkap! Langsung cincang saja!" Seorang prajurit lain balas berteriak.

Belasan golok dicabut siap dibacokkan. Lusinan tombak siap dihunjam. Pada saat yang begitu genting tiba-tiba terdengar suara ha-hu ha-hu. Dua bayangan samar berkelebat mengangkat tubuh Pendekar 212.

Puluhan prajurit terkesiap. Tidak yakin apakah yang menggotong pemuda gondrong itu manusia atau setan atau mahluk apa. Mereka baru mengejar dan melempar tombak serta golok sewaktu dua sosok samar berupa dua nenek berambut kelabu berjubah kuning melarikan Wiro ke arah timur.

"Kejar! Jangan biarkan lolos!" Seorang pengawal berteriak.

Tiba-tiba dari arah pintu gerbang ada seorang berucap.

"Yang sudah kabur tak usah dikejar! Nyawanya hanya tinggal beberapa hari saja! Namun kalian semua tetap mendapat hukuman karena telah berlaku lalai."

Semua prajurit menoleh ke arah pintu gerbang timur. Melihat orang tinggi besar, berjanggut dan berkumis tipis yang berdiri di pintu gerbang itu, mereka serta merta jatuhkan diri berlutut.

"Ada tamu asing terluka. Perempuan pula! Mengapa kalian biarkan dia tertelungkup di tanah? Apa kalian tidak punya rasa hiba perikemanusiaan? Bawa dia ke gedung Kadipaten!"

Habis berkata begitu orang di pintu gerbang memutar tubuh dan melangkah masuk ke halaman dalam. Dia naik ke atas sebuah gerobak kuda. Sais gerobak segera menarik tali kekang. Orang ini adalah Adipati Losari Raden Mas Seda Wiralaga.

Empat prajurit segera menggotong tubuh Loan Nio Nikouw. Namun sebelum sempat mencapai pintu gerbang timur tiba-tiba melesat satu bayangan biru. Orang ini bergerak luar biasa cepat. Empat prajurit yang menggotong Loan Nio Nikouw terjengkang kena hantaman kaki dan tangan. Dengan gerakan kilat si baju biru menyambar tubuh sang paderi lalu membawanya kabur dan lenyap dalam kegelapan malam.

Seorang prajurit yang sempat melihat wajah si baju biru berteriak .

"Setan tengkorak menculik gadis asing!"

Adipati Seda Wiralaga yang mendengar teriakan itu terkejut bukan main. Dengan cepat dia menyuruh sais memutar gerobak ke arah pintu gerbang. Sebelum mencapai pintu gerbang, dari atas gerobak dia melesat ke udara. Tembok setinggi hampir satu setengah tombak dilewati begitu saja. Namun bayangan Loan Nio Nikouw dan orang yang memboyongnya kabur tak kelihatan lagi.

Ketika belasan prajurit mendatanginya Adipati Losari ini langsung mendamprat.

"Kalian tolol semua! Cari Ki Sentot Balangnipa! Perempuan asing itu harus diselamatkan! Kerahkan pasukan berkuda untuk mengejar!"

***

LIOK ONG CUN memboyong Kiang Loan Nio Nikouw ke goa dimana dulu Wiro pernah membawanya setelah diselamatkan dari perbuatan mesum Adipati Brebes Karta Suminta. Sampai di goa pemuda yang menutup wajahnya dengan topeng tengkorak ini tak berani membuat api unggun. Khawatir akan menarik perhatian orang-orang Kadipaten yang diketahuinya tengah melakukan pengejaran. Untungnya saat itu sudah hampir pagi. Walau di dalam goa diselimuti kegelapan, di luar keadaan sudah mulai terang-terang tanah.

Liok Ong Cun duduk di samping sosok Loan Nio Nikouw yang terbaring menelentang masih dalam keadaan tak sadarkan diri. Tangan kanan diulur memegang urat nadi di pergelangan tangan kiri sang paderi. Lewat urat nadi itu dia merasakan denyut jantung Loan Nio Nikouw yang tidak teratur dan terkadang lemah hampir tak terasa. Dalam hati, dia bertanya-tanya apa yang terjadi dengan gadis itu. Ketika menyelamatkan sang paderi dia masih sempat melihat Pendekar 212 Wiro Sableng dilarikan dua nenek aneh, dikejar puluhan prajurit Kadipaten.

Saat itu keadaan agak gelap di dalam goa tidak memungkinkan Ong Cun memeriksa Loan Nio Nikouw lebih seksama. Untuk membantu memberi kekuatan agar bisa bertahan pemuda berkepandaian tinggi ini alirkan tenaga dalam dan hawa sakti yang dimilikinya ke tubuh Loan Nio Nikouw lewat pergelangan tangan.

Tak lama kemudian di ufuk timur fajar menyingsing dan cahaya sang surya merambat masuk ke dalam goa. Liok Ong Cun kini dapat melihat jelas sosok Loan Nio Nikouw. Wajah sang paderi tampak pucat. Di pipi dan dagu kiri ada lelehan darah setengah mengering. Tangan kiri memegang seruling perak, sementara tangan kanan menggenggam Ang Liong Kiam.

"Loan Nio terluka di dalam. Kelihatannya di sebelah dada. Aku harus membuka pakaiannya, " Liok Ong Cun berucap dalam hati.

Beberapa saat pemuda ini duduk terdiam, mata menatap sosok sang paderi. Rasa rikuh yang ada dalam hatinya hanya berlangsung seketika. Karena saat itu bersamaan dengan debaran jantung yang mengeras dan aliran darah yang cepat serta memanas, mendadak muncul satu suara di lubuk hatinya. Suara iblis yang membuat tubuhnya bergetar oleh rangsangan.

"Liok Ong Cun, kau tahu gadis ini sejak dulu tidak pernah mencintaimu. Kau tidak akan pernah dapat memilikinya apalagi menikahinya. Kau harus pergunakan siasat. Tiduri gadis itu. Ini saat yang paling baik bagimu untuk melakukan. Kalau hal itu kau laksanakan maka kau akan berhasil menundukkannya. Jangan tunggu ssampai dia sadar..."

Liok Ong Cun usap keringat yang membasahi tengkuknya. Dua tangan gemetar keras sewaktu diulurkan membuka baju merah dan menyibakkan pakaian dalam berupa kain putih penutup dada Loan Nio Nikouw. Untuk beberapa lama pemuda ini menatap terpesona melihat keelokan dada Loan Nio Nikouw yang putih kencang walau ada tanda merah kebiruan di celah antara dua payudara. Pemuda ini tarik nafas dalam, terduduk tak bergerak di lantai goa. Semakin dia memandang wajah dan dada Loan Nio Nikouw, semakin keras debar jantung, semakin kencang dan semakin cepat aliran darahnya. Maksud untuk menolong kini tenggelam oleh gejolak nafsu terkutuk.

Cuping hidung Liok Ong Cun mengembang, dada turun naik dan nafas memburu. Perlahan-lahan tangan kanannya yang sejak tadi berada di atas dada sang paderi mulai bergerak mengusap. Sentuhan pertama terasa nikmat luar biasa, membuat Liok Ong Cun serasa terbakar. Sekujur tubuhnya bergeletar oleh rangsangan hebat.

"Loan Nio, kalau saja kau mau jadi istriku, aku tak perlu melakukan hal ini..." Liok Ong Cun berucap.

"Liok Ong Cun, jangan bicara tolol! Dari dulu kau tahu gadis ini tak pernah menyukaimu. Kau selama ini hanya bermimpi mengharapkannya akan jadi istrimu! Jangan tunggu sampai dia sadar. Kesempatan hanya datang satu kali..." Lagi-lagi ada suara lain di lubuk hati pemuda she Liok ini. Dia rundukkan kepala mencium wajah sang paderi. Mulutnya berucap perlahan. "Loan Nio, sekarang kau tak akan pernah lepas lagi dari tanganku..." Wajah si pemuda turun ke leher, ciumannya lalu meluncur ke dada. Sementara dua tangannya merayap ke bagian tubuh terlarang. Sewaktu tangan kanan Liok Ong Cun meluncur ke bawah, ke arah pinggang celana si gadis, tiba-tiba di luar sana terdengar suara derap kaki kuda. Menyusul suara seseorang berteriak.

"Ada goa di sini! Kalian berdua coba periksa!"

Dua orang berpakaian prajurit Kadipaten melompat turun dari atas kuda, cepat masuk ke dalam goa sementara prajurit ketiga berjaga-jaga dan tetap berada di atas tunggangannya. Hanya sesaat kemudian terdengar dua jeritan keras disusul mencelatnya sosok dua prajurit yang barusan masuk ke dalam goa. Keduanya tergelimpang dengan kepala remuk tak bernyawa lagi. Kaget prajurit ketiga yang berada di depan goa dan masih duduk di punggung kuda bukan alang kepalang. Sambil mencabut golok dia melompat turun.

"Kurang ajar! Siapa berani membunuh prajurit Kadipaten?"

Belum sempat mencapai mulut goa tiba-tiba dari dalam goa melesat satu bayangan biru. Prajurit malang itu hanya melihat satu sambaran cahaya hijau. Dia coba menangkis dengan golok di tangan kanan.

"Traangg!"

Golok besar patah dua. Prajurit yang masih memegang kutungan senjata itu keluarkan suara menggorok lalu terjungkal roboh. Darah menyembur dari lehernya yang nyaris putus!

Liok Ong Cun berdiri dengan dada turun naik. Dibalik topeng wajahnya mengelam akibat nafsu yang tertahan serta kemarahan luar biasa. Tiga ekor kuda meringkik keras. Yang seekor langsung menghambur. Yang dua lagi berputar-putar lalu cepat ditangkap oleh Liok Ong Cun dan tali kekangnya diikatkan ke sebatang pohon. Setelah memperhatikan keadaan sekeliling dan merasa aman, tidak tunggu lebih lama dia masuk kembali ke dalam goa. Saat itu Loan Nio Nikouw masih belum sadar. Masih tergeletak terlentang di lantai goa sementara pakaian tersingkap mulai dari atas sampai ke bawah.

Nafsu Liok Ong Cun yang tadi tertahan kini menggelegak kembali. Malah setelah membunuh tiga prajurit Kadipaten dirinya jadi bertambah ganas. Kalau tadi rabaan dan sentuhannya masih dilakukan secara lembut kini berubah menjadi kasar karena nafsu telah membuat dirinya menjadi setan. Pemuda ini jatuhkan diri di samping Loan Nio Nikouw. Memeluk dan menciumi sang paderi. Tak lama kemudian di dalam goa itu terdengar jeritan Liok Ong Cun yang mirip seperti lenguh suara kerbau disembelih yaitu ketika dia sampai pada puncak kenikmatan nafsu bejatnya.

Liok Ong Cun tidak tahu berapa lama dia terbaring mandi keringat ketika tiba-tiba telinganya menangkap suara tarikan nafas diiringi gerakan tubuh Loan Nio Nikouw yang terbujur di sampingnya.

"Liok Ong Cun! Lekas bangun! Pergunakan siasat!" Suara iblis di hati Liok Ong Cun kembali bicara. Pemuda ini cepat bangun dan kenakan pakaian lalu rapikan baju serta celana panjang Loan Nio Nikouw. Saat itu sang paderi walau sudah mulai siuman namun sepasang matanya masih terpejam. Liok Ong Cun tepuk-tepuk pipi Loan Nio Nikouw. Begitu dua mata Nikouw ini mulai terbuka, dengan gerakan cepat pemuda ini melompat keluar goa.

Begitu sampai di luar goa Liok Ong Cun berteriak keras.

"Loan Nio! Kau ada di dalam goa?"

Tak ada jawaban.

"Loan Nio!"

Sepasang mata Loan Nio Nikouw perlahan-lahan terbuka.

"Siapa yang berteriak.... Seperti suara Liok Ong Cun..." Loan Nio Nikouw tiba-tiba pegangi perut. Ada rasa perih di sebelah bawah auratnya. Dia menatap ke atas. Berpaling ke samping. Terkejut ketika menyadari dirinya ada dalam sebuah goa. Lebih dari itu dia masih bisa mengenali, goa ini adalah goa dimana dulu dia pernah berada ketika dibawa oleh Pendekar 212 Wiro Sableng.

Bagaimana aku bisa berada di sini lagi? Apa yang terjadi..." Sang paderi bergerak bangun, coba duduk bersandar di dinding goa. Saat itulah dia melihat keadaan baju serta celananya yang tersingkap tak karuan. Langsung Loan Nio Nikouw menjerit keras. Sebelumnya dia pernah mengalami hal seperti itu. Tapi kini keadaannya jauh lebih parah.

Di luar goa Liok Ong Cun cabut pedang Ceng Coa Kiam atau Pedang Ular Hijau, berteriak menyebut nama Loan Nio lalu melompat masuk.

"Loan Nio! Kau ada di sini! Apa yang terjadi! Ah, jangan-jangan aku terlambat!"

Inilah sandiwara terkutuk yang tengah dilakukan Liok Ong Cun sesuai dengan bisikan iblis di dalam hatinya yang kotor keji. Si pemuda jatuhkan diri di samping sang paderi.

"Loan Nio, ketika aku sampai di sekitar goa, aku melihat pemuda berambut gondrong jahat itu berkelebat keluar lalu kabur ke arah timur. Aku urung mengejar karena mendengar jeritanmu. Ada tiga prajurit Kadipaten tewas di luar sana. Loan Nio aku khawatir sesuatu telah terjadi dengan dirimu. Sesuatu yang keji telah dilakukan oleh si gondrong keparat itu!" Sambil berkata Liok Ong Cun peluk Loan Nio Nikouw. Dalam keadaan terguncang berat seperti itu walau dia tidak suka pada Liok Ong Cun namun antara sadar dan tidak Loan Nio Nikouw biarkan saja dirinya dipeluk. Dia menangis dalam pelukan si pemuda. Tiba-tiba paderi itu berteriak keras. Tangan dan kakinya menerjang. Liok Ong Cun sampai terpental. Loan Nio Nikouw rapikan pakaiannya, ambil pedang dan suling perak lalu lari keluar goa.

"Loan Nio! Kau mau kemana?" Liok Ong Cun mengejar. Dia cepat cekal lengan kiri paderi itu. "Loan Nio, kau perlu waktu dan tempat untuk menenangkan diri. Aku tahu satu rumah kayu di tengah hutan tak jauh dari sini. Di sana kau pasti aman. Mari aku antar kau ke sana..."

"Ong Cun, Aku merasa... sesuatu terjadi dengan diriku. Aku..."

"Aku tahu Loan Nio. Itu sebabnya kau harus ikut aku ke tempat yang aman..."

Loan Nio kembali menangis. Memandang berkeliling dia melihat tiga orang berpakaian prajurit Kadipaten tergeletak tewas. Di sebelah sana ada dua ekor kuda tertambat di sebatang pohon. Dia hanya menurut sewaktu Liok Ong Cun menolong menaikkannya ke atas punggung salah seekor kuda. Lalu keduanya tinggalkan tempat itu.

***DI DALAM rumah di tengah hutan belantara itu terdapat sebuah ranjang bambu beralas jerami kering.

"Loan Nio, berbaringlah. Izinkan aku memeriksa dirimu. Aku tak sengaja melihat tanda merah kebiruan di pertengahan dadamu. Kau terluka di dalam. Cukup parah. Aku akan berusaha mengobatimu..."

"Terima kasih. Dadaku memang terasa sakit sekali. Seperti remuk. Aku masih mengingat-ingat bagaimana asal kejadiannya. Tapi, bisakah kau meninggalkan aku barang beberapa lama. Aku bisa mengobati diriku sendiri. Selain itu aku ingin istirahat dan ketenangan..."

Liok Ong Cun unjukkan wajah hiba, belai kening dan rambut sang paderi. Dengan telapak tangan didekapnya dua pipi sang paderi. "Loan Nio, jika itu maumu, baiklah. Tak jauh dari sini ada sebuah telaga. Airnya dangkal tapi ikannya banyak. Sementara kau beristirahat aku akan menangkap ikan besar-besar untukmu. Kau perlu makan..."

Loan Nio Nikouw tersenyum. Senyum yang selama ini tak pernah dilihat Liok Ong Cun, apalagi senyum yang khusus ditujukan padanya.

"Istirahatlah. Tidur kalau bisa. Aku tidak akan lama," kata Liok Ong Cun pula. Dia memberanikan diri mencium kening Loan Nio Nikouw. Hati pemuda ini berbunga-bunga. Ternyata sang paderi tidak menolak atau menghindari ciuman itu.

Ketika sang surya menaik tinggi, Liok Ong Cun kembali ke rumah kayu di tengah hutan belantara. Dia berjalan cepat sambil bersiul-siul membawa empat ekor ikan besar yang siap untuk dipanggang.

"Loan Nio! Aku kembali."

Liok Ong Cun buka pintu rumah. Sesaat dia tertegun karena dapatkan Loan Nio Nikouw tidak ada di atas ranjang, tidak ada di dalam rumah.

"Loan Nio?"

Tak ada jawaban. Liok Ong Cun keluar, menyelidik seputar rumah kayu. "Loan Nio!" Suara teriakan pemuda itu menggelegar di seantero rimba belantara. Tak ada jawaban, sang paderi tetap tak kelihatan. Pemuda bertopeng muka tengkorak ini tidak mengetahui kalau saat itu ada dua pasang mata memperhatikannya di balik rumpunan semak belukar.

"Mungkin dia pergi ke telaga. Menempuh jalan lain. Berselisih jalan dengan aku. Aku kesini dia kesana." Memikir begitu Liok Ong Cun cepat kembali ke telaga. Namun tetap saja Loan Nio Nikouw tidak ditemui. Telaga dan sekitarnya sunyi seperti pekuburan.

"Kemana perginya gadis itu? Melarikan diri atau ada yang menculik?" Liok Ong Cun berdiri di tepi telaga sambil berpikir-pikir.

"Tadi dia tersenyum padaku. Tidak menolak ketika kucium keningnya. Atau... mungkin dia sudah tahu jelas apa yang terjadi dengan dirinya? Mungkin juga dia tahu kalau aku yang melakukan?" Pemuda ini usap wajahnya yang tertutup topeng muka tengkorak.

"Kalau dia tahu aku yang melakukan perbuatan itu, pasti saat ini dia sudah mencari dan membunuhku!" Liok Ong Cun tarik nafas panjang lalu memutuskan kembali ke rumah di tengah hutan.

Ketika dia sampai di rumah kayu, Liok Ong Cun melihat dua orang berdiri di depan pintu. Seorang nenek berjubah biru, memiliki muka seram, rambut kelabu awut-awutan. Orang kedua seorang bocah berambut jabrik berusia sekitar dua belas tahun.

Mengenakan pakaian hitam bergambar naga kepala kuning di bagian dada. Anak ini tampak tengah melongok-longok ke dalam rumah. Si bocah jelas bukan lain adalah Naga Kuning sementara si nenek sudah pasti sang kekasih yang dikenal dengan julukan Gondoruwo Patah Hati. Seperti diketahui Naga Kuning sebenarnya adalah seorang kakek sakti berusia lebih dari seratus tahun dan dikenal dengan julukan Kiai Paus Samudera Biru. Si nenek yang berpenampilan seram asli bernama Ning Intan Lestari, walau sudah lanjut usia namun bisa memperlihatkan ujud aslinya di masa muda, yaitu berupa seorang perempuan cantik jelita.

"Kalian siapa?" Liok Ong Cun langsung membentak, marah dan juga penuh curiga. Tentu saja dalam bahasa Cina.

Naga Kuning bersurut kaget. Sementara si nenek tegak tenang-tenang saja.

"Orang bermuka tengkorak tadi Nek. Wah, dia marah besar! Lihat, matanya mendelik. Tadi dia ngomong bahasa apa?" Naga Kuning keluarkan ucapan.

"Dia orang Cina. Ingat kabar ditemukannya mayat beberapa orang Cina di pantai Losari beberapa waktu lalu? Jangan-jangan orang ini salah satu di antara para pendatang asing itu," Gondoruwo Patah Hati menjawab.

"Gadis yang tadi kabur dari dalam rumah juga orang Cina," ucap si bocah. "Kita tidak mengerti bahasa orang ini. Jauh-jauh mengikuti ternyata Cuma bikin urusan. Sudah, kita pergi saja."

Si nenek ikut saja ucapan si bocah. Tapi ketika keduanya hendak melangkah pergi Liok Ong Cun segera menghadang. Dengan suara lebih merendah pemuda ini bertanya.

"Kalian siapa? Mengapa bisa berada di sini?"

"Kami tidak mengerti bahasamu!" berkata Gondoruwo Patah Hati sambil goyang-goyangkan tangan kanan.

Liok Ong Cun geleng-geleng kepala. Dia sadar kalau orang tidak tahu bahasa yang diucapkannya. Maka sambil membuat gerakan tangan dia memperagakan pertanyaan. "Kalian apa melihat seorang perempuan berpakaian merah? Tadi dia ada di dalam rumah kayu ini..."

Melihat gerakan tangan orang Naga Kuning berkata, "Nek, aku bisa menduga. Dia bertanya perempuan yang ada di dalam rumah. Yang tadi kita lihat lari keluar dalam keadaan pakaian tak karuan rupa."

"Aku rasa begitu," sahut si nenek. Lalu nenek ini memandang pada Liok Ong Cun dan menunjuk-nunjuk ke arah kanan. Di situ ada jalan setapak di antara kelebatan semak belukar.

"Perempuan dalam rumah lari ke sana?" Liok Ong Cun bertanya sambil ikut menunjuk.

Naga Kuning dan Gondoruwo Patah Hati sama-sama anggukkan kepala.

Liok Ong Cun membungkuk dan mengucapkan terima kasih. Dia siap memutar langkah untuk mengejar Loan Nio Nikouw ke arah jalan setapak namun tiba-tiba tampangnya di bawah topeng tengkorak berubah. Sepasang mata membeliak ketika secara tak sengaja dia melihat sebuah benda putih yang bukan lain adalah suling perak milik Loan Nio Nikouw, terselip di pinggang pakaian hitam Naga Kuning.

"Ternyata kalian berdua bukan orang baik-baik. Kalian telah berbuat jahat mencuri suling perak milik Loan Nio Nikouw! Mungkin kalian punya teman-teman yang telah menculik Nikouw itu dan coba menipuku!"

Liok Ong Cun cabut pedang Ceng Coa Kiam. Mata mendelik dan senjata ditudingkan ke arah suling di pinggang si bocah. Melihat hal ini anak berambut jabrik berkata.

"Waduh Nek! Si muka tengkorak marah sekali! Dia pasti mengira aku mencuri suling perak ini! Lihat, dia hendak menyerangku!"

"Gunung," Gondoruwo Patah Hati memanggil si bocah dengan nama aslinya. "Jika dia meminta secara baik-baik kau boleh serahkan suling itu. Tapi jika dia memaksa secara kurang ajar jangan berikan! Lagi pula suling itu bukan miliknya. Tapi milik perempuan cantik yang jatuh ke tanah waktu lari dari dalam rumah!"

"Wutt!"

Cahaya hijau berkiblat ketika pedang Ceng Coa Kiam berkelebat membabat ke arah pinggang Naga Kuning. Si bocah berambut jabrik ini cepat melompat mundur. Ketika Liok Ong Cun memburu dia cepat melesat ke atas. Di udara membuat gerakan jungkir balik. Begitu melayang turun tertawa haha-hihi tangan kanannya menderu kirimkan serangan ke kepala lawan dalam jurus Naga Murka Menjebol Bumi.

Liok Ong Cun berseru kaget. Bukan saja tidak menyangka lawan sanggup loloskan diri dari serangan kilatnya tadi, tapi malah mampu membalas serangan dengan satu pukulan cepat. Tidak percaya kalau anak sekecil itu bisa mempermainkannya, Liok Ong Cun babatkan lengan kanan ke atas menangkis pukulan.

"Bukk!"

Dua lengan saling beradu. Naga Kuning mengeluh pendek, lentingkan tubuh ke atas dan melompat turun ke tanah. Liok Ong Cun sendiri tampak meringis kesakitan. Kalau tidak cepat dia imbangi diri pasti akan jatuh terduduk di tanah. Ketika memperhatikan lengan kirinya ternyata lengan itu telah bengkak merah!

"Bocah setan!" Liok Ong Cun memaki marah. "Sampai dimana kehebatanmu!" Pemuda muka tengkorak ini lalu menyerbu Naga Kuning dengan jurus Thian Yau Te Soan atau Langit Goyang Bumi Berputar. Pedang Ular Hijau menyentak garang laksana ular sungguhan. Udara dan tanah seperti dibuncah lindu. Naga Kuning merasa kepalanya jadi pening dan dua kaki bergetar goyah.

"Manusia sialan!" maki Naga Kuning. Dia cepat kerahkan tenaga dalam ke kaki dan hawa sakti ke kepala. Bersamaan dengan itu tangan kanannya ditarik ke belakang siap melepas satu pukulan tangan kosong mengandung kekuatan tenaga dalam yang bisa menumbang pohon menghancurkan batu besar. Liok Ong Cun sebaliknya membentak keras dan kembali lancarkan serangan pedang.

Walau maklum kekasihnya itu tidak akan mudah dijadikan sasaran pedang sakti di tangan lawan namun Gondoruwo Patah Hati melompat maju seraya berkata.

"Gunung, biar aku yang melayani bangsat muka tengkorak ini! Aku ingin mencoba ilmu baruku!"

"Ah kamu Nek. Terserahlah! Tanganmu sudah gatal rupanya. Padahal kalau gatal bagusnya dipakai mengusap-usap tubuhku saja! Hik...hik!" kata si bocah berambut jabrik bercanda jahil lalu melompat mundur.

Gondoruwo Patah Hati hadapi lawan bersenjata mustika dengan tangan kosong. Dua tangan dipentang ke atas.

"Krek...krek..." Sepuluh jari tangan keluarkan suara berkeretak lalu dari ujung-ujung jari mencuat kuku panjang memancarkan cahaya hitam menggidikkan.

Walau Liok Ong Cun kerenyitkan kening melihat sepuluh jari tangan si nenek namun pemuda ini sama sekali tidak merasa jerih.

"Nenek muka setan! Kau boleh punya segala macam ilmu iblis! Kau baru tahu rasa kalau sudah kutabas dua lenganmu!" Liok Ong Cun membentak keras.

Pedang Ceng Coa Kiam menderu keras mengincar ke arah pinggang. Namun setengah jalan membalik dan membabta ke arah tenggorokan, Gondoruwo Patah Hati gerakkan dua tangan. Sepuluh larik sinar hitam melesat seolah berubah menjadi potongan-potongan besi.

"Traang...traang!"

Bunga api memercik di udara. Liok Ong Cun berseru kaget. Ceng coa Kiam hampir terlepas dari genggaman. Melihat kejadian ini si pemuda jadi ciut nyalinya. Masih untung mata pedangnya tidak gompal. Selain itu dia juga ingat pada Loan Nio Nikouw yang harus dikejarnya.

"Dua mahluk setan! Jangan mengira aku pergi karena takut! Lain hari jika bertemu lagi aku akan menabas buntung batang leher kalian!"

"Hai! Kau inginkan suling?" Naga Kuning berseru sambil angkat suling perak tinggi-tinggi.

Liok Ong Cun tidak perduli. Dia terus lari memasuki jalan setapak diantara kelebatan semak belukar. Gondoruwo Patah Hati jentikkan lima jari tangan kanannya.

"Wusss!"

Lima larik sinar merah panas menyambar ke arah Liok Ong Cun.

Tapi si nenek memang tidak ada niat untuk mencelakai pemuda itu. Serangannya hanya merambas dan menghanguskan semak belukar di samping kanan Liok Ong Cun. Itupun sudah membuat pemuda ini seperti mau pancarkan air kencing saking kaget dan kabur lintang pukang sambil memaki panjang pendek.

"Hebat Nek," Naga Kuning memuji. "Ilmu Kuku Api-mu nyaris sempurna."

"Apakah kau masih minta diusap?" tanya Gondoruwo Patah Hati sambil pentang sepuluh jari tangannya yang berkuku panjang hitam.

"Tergantung, bagian mana yang mau kau usap!" jawab Naga Kuning.

"Bocah gatal!" damprat si nenek.

Naga Kuning tertawa cekikikan. Lalu bertanya, "Nek, kau bisa menduga apa sebenarnya yang terjadi antara dua orang asing tadi?"

"Menurutku mereka adalah sepasang kekasih yang baru saja mengerjakan hal terlarang.

Kelihatannya mereka melakukan waktu masih di goa." Jawab Gondoruwo Patah Hati. "Menurutmu bagaimana?" Si nenek balik bertanya.

Naga Kuning usap-usap suling perak di tangan kirinya. Dia menyeringai lalu menjawab. "Yang aneh bagiku adalah sewaktu kita tak sengaja memergoki mereka di goa yang ada mayat tiga prajurit Kadipaten. Lelaki muka tengkorak keluar dari goa, berteriak-teriak lalu masuk lagi ke dalam goa. Dia tidak gila. Aku punya dugaan dia tengah melakukan satu sandiwara keji. Kita menguntit mereka naik kuda sampai di rumah kayu ini. Ketika si muka tengkorak pergi, yang perempuan kabur melarikan diri. Nek, apapun yang mereka lakukan aku mengira perbuatan itu tidak dilakukan atas dasar suka sama suka. Kau menyaksikan sendiri ketika keluar goa pakaian perempuan muda itu tak karuan rupa, malah ada bagian yang robek. Yang perempuan mungkin baru sadar dan menyesal telah berbuat keliru sewaktu berada di rumah kayu. Itu sebabnya dia melarikan diri. Nek, bagaimana kalau sekarang kita masuk ke dalam rumah kayu. Memeriksa..."

Si nenek besarkan mata, senyum-senyum lalu gelengkan kepala.

"Heh, mengapa kau tidak mau? Katanya mau mengusap aku."

"Yang aku khawatir sampai di dalam rumah bukan aku yang mengusapmu tapi kau yang mengusap diriku. Hik...hik...hik. Kalau di dalam sana kau punya pikiran ngawur dan aku tak kuasa menampik, hik...hik...hik." Si nenek tertawa gelak-gelak.

"Usilnya mulutmu!" kata Naga Kuning sambil menepuk pantat si nenek. Gondoruwo Patah Hati terpekik lalu mengejar. Naga Kuning melesat ke atas punggung salah satu dari dua ekor kuda yang sebelumnya dipergunakan oleh Liok Ong Cun dan Loan Nio Nikouw lalu menggebrak kabur sambil tertawa panjang. Si nenek tidak tinggal diam. Dia segera melompat ke punggung kuda satunya dan memacu binatang itu ke arah perginya si bocah berambut jabrik.

"Gunung! Awas kau! Aku tidak akan mengusap tubuhmu! Tapi meremas!" teriak si nenek.

Di depan sana terdengar jawaban Naga Kuning. "Wow Nek! Remasanmu pasti mantap asyik! Aku suka! Hik...hik...hik!"

***



PUNCAK TIMUR Gunung Gede. Sang surya belum lama menampakkan diri di ufuk timur. Hujan rintik-rintik yang mulai turun tidak mengusik Kiai Gede Tapa Pamungkas. Saat itu kakek sakti tokoh sepuh rimba persilatan yang dianggap setengah dewa ini duduk bersila di tepi telaga tiga warna. Saputan angin membuat rambut dan janggut putihnya yang panjang melambai-lambai.

Sejak dua minggu lalu sang Kiai merasa kurang tenteram di tempat kediamannya di gedung batu pualam yang terletak di dasar telaga. Sekejappun dia tidak bisa memicingkan mata, apalagi terlelap tidur. Ada hawa aneh menjalari sekujur tubuhnya. Di bagian kepala, ubun-ubun dan dua pelipis sering berdenyut. Tenggorokan, mulut dan bibir terasa kering. Di sebelah bawah sepasang kakinya kesemutan seolah hilang rasa. Selain itu sesekali tubuhnya terasa panas dingin seperti diserang demam. Yang lebih aneh, terkadang dia merasakan ada tekanan keras di pertengahan dada. Puncaknya terjadi malam tadi selagi dia duduk berzikir. Tiba-tiba bangunan batu pualam kediamannya bergetar keras. Baru sekali ini hal seperti itu terjadi. Apakah telaga diguncang gempa? Apakah bumi ini mau kiamat?

Dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba telinganya menangkap suara berkerontangan tiada henti. Sang Kiai keluar dari dalam kamar tidurnya, terhuyung-huyung melangkah masuk ke sebuah ruangan di sebelah kamar tidurnya. Di pintu ruangan langkah sang Kiai terhenti. Ada hawa luar biasa dingin membersit keluar dari dalam ruangan yang agak redup itu. Suara berkerontangan terdengar semakin keras.

"Pedang Naga Suci Dua Satu Dua..." ucap Kiai Gede Tapa Pamungkas dengan bibir bergetar. Setengah menggigil orang tua ini melangkah masuk ke dalam ruangan.

Di bagian tengah ruangan terdapat sebuah meja batu pualam warna biru. Di atas meja ini terletak satu peti kaca berukuran panjang tiga perempat tombak. Di dalam peti kaca kelihatan sebilah pedang mengeluarkan cahaya putih dan memancarkan hawa dingin. Pada badan pedang tertera guratan tiga buah angka. Angka 212. Gagang pedang terbuat dari gading kuning berbentuk kepala seekor naga betina. Di dalam peti kaca senjata itu tampak bergerak-gerak tiada henti mengeluarkan suara berkerontangan disertai kepulan asap tipis.

Menyaksikan kejadian itu mulut Kiai Gede Tapa Pamungkas langsung berkomat-kamit. Dua tangan diulurkan menyentuh peti kaca. Terasa hawa dingin luar biasa seolah dia memegang batangan es. "Pedang sakti..." sang Kiai berucap perlahan. "Apapun yang terjadi tenangkan dirimu.

Berlindunglah dibawah Kuasa dan Kasih Tuhan Seru Sekalian Alam." "Settt!" Tiba-tiba pedang putih di dalam peti kaca berhenti bergerak. Lalu seperti seekor ular bergulung

hingga menyerupai bentuk ikat pinggang. Namun pada saat yang sama sang Kiai mengalami satu kejadian hebat. Satu kekuatan tak kelihatan menghantam dadanya. Tubuh sang Kiai bergoncang hebat. Walau tidak sampai terpental atau rebah namun dada mendenyut sakit dan nafas menyesak. Ketika selempang kain putih di bagian dada disibakkan, Kiai Gede Tapa Pamungkas terkejut. Di pertengahan dadanya tampak tanda merah kebiruan seolah dia baru saja dihantam satu jotosan atau tendangan keras. Kiai Gede Tapa Pamungkas bersandar ke dinding ruangan, atur jalan darah dan tenaga dalam serta alirkan hawa sakti ke bagian dada yang cidera. Ketika kakek ini mengusap bibirnya yang kering jari-jarinya menyentuh cairan hangat. Begitu diperhatikan ternyata cairan itu adalah darah yang keluar dari dalam mulutnya. Hantaman kekuatan gaib tadi telah membuat Kiai sakti ini terluka di dalam! Orang lain mungkin akan roboh pingsan, bahkan menemui ajal!

Sang Kiai duduk di lantai. Mata dipejamkan, hati dan pikiran disatukan. Dalam hati dia berkata. "Ya Tuhan, Engkau Yang Maha Kuasa Maha Mengetahui. Petunjuk apakah yang tengah Kau berikan padaku? Adakah aku telah berniat salah, atau mungkinkah aku telah bertindak keliru. Jika aku salah melangkah berbuat dosa mohon ampunan-Mu Ya Allah. Namun tolong tunjukkan padaku apa arti semua ini."

Satu malam suntuk Kiai Gede Tapa Pamungkas berdoa dan menunggu. Namun petunjuk Yang Kuasa tak kunjung datang. Dalam keadaan tubuh tak karuan rasa, letih dan panas dingin, keesokan paginya orang tua ini memutuskan keluar dari gedung batu pualam, naik ke permukaan telaga dan duduk di salah satu pinggirannya. Mulai bersamadi mengheningkan cipta dan rasa.

Sampai saat itu hujan terus turun dan makin lebat. Sesekali kilat menyambar disusul gelegar suara guntur. Tubuh dan pakaian sang Kiai yang tak basah dan tak tersentuh air hujan itu diam tak bergerak. Menjelang tengah hari mata yang sejak tadi terpejam tiba-tiba berkedut. Perlahan-lahan sepasang mata dibuka. Kiai Gede Tapa Pamungkas melihat banyak cahaya biru muncul di arah timur. Tak selang berapa lama melayang turun lima sosok gadis berwajah cantik. Luar biasanya mereka mampu berdiri di atas permukaan air telaga seolah berdiri di atas tanah biasa. Kawasan telaga serta merta menjadi terang benderang oleh cahaya biru.

Gadis yang berdiri p paling depan berpakaian ketat dilapisi manik-manik putih dan merah. Bagian dada pakaian begitu rendah dan di sebelah samping ada belahan hampir mencapai pinggul. Rambut hitam tebal digulung di atas kepala. Di sebelah depan ada sebuah mahkota kecil terbuat dari kerang merah. Gadis luar biasa cantik ini memiliki sepasang mata berwarna biru, menghias diri dengan kalung, anting serta gelang terbuat dari kerang hijau.

Di kiri kanan gadis bermata biru berdiri masing-masing dua orang gadis yang tak kalah cantik, mengenakan pakaian ketat hitam dengan belahan rendah pada dada dan belahan tinggi di sebelah samping. Keempat gadis ini mengangkat tangan kanan mengembang lima jari. Dari ujung-ujung jari memancar cahaya biru. Cahaya inilah yang membuat keadaan di sekitar telaga menjadi terang benderang.

"Kiai Gede Tapa Pamungkas, mohon maafmu kalau kehadiran saya dan para pengiring mengganggu ketenteraman Kiai." Si cantik bermata biru menyapa. Belum pernah sang Kiai mendengar suara perempuan sebening dan selembut suara si mata biru ini.

"Tamu terhormat dari manakah yang datang menyambangi diriku di tempat terpencil dan pada waktu cuaca buruk begini rupa?" Kiai Gede Tapa Pamungkas bertanya. Matanya agak risih melihat dandanan lima gadis cantik. Maka diapun berkata. "Jika kalian memiliki pakaian lain harap mau mengganti. Cuaca kurang baik akhir-akhir ini, udara dingin, hujan dan angin bertiup kencang. Aku khawatir kalian nanti sakit."

Gadis bermata biru tersenyum. Dia berpaling pada empat pengiringnya. Liama gadis ini kemudian usapkan tangan kiri masing-masing dari atas ke bawah. Saat itu juga pakaian yang mereka kenakan berubah menjadi jubah berlengan panjang. Menutup sempurna aurat mereka, bahkan kakipun kini tidak kelihatan.

Kiai Gede Tapa Pamungkas lepaskan nafas lega. "Terima kasih. Sekarang kalian boleh menerangkan siapa kalian dan ada maksud baik apa datang kesini."

"Saya dan kawan-kawan diutus oleh penguasa dan pelindung laut selatan."

"Ah, jadi kalian ini adalah orang-orangnya Nyi Roro Kidul?"

"Betul Kiai..."

Mendengar itu sang Kiai segera hendak bergerak bangkit untuk memberi penghormatan tapi cepat dicegah oleh si mata biru.

"Kiai, tak usah memakai peradatan segala. Kami tahu Kiai kurang sehat..."

Kiai Gede Tapa Pamungkas tersenyum.

"Aku rasa-rasa pernah mengenalmu. Sering mendengar keberadaanmu dalam rimba persilatan. Waktu penyerbuan ke Seratus Tiga Belas Lorong Kematian, bukankah kau ada di sana? Tapi untuk tidak salah menduga mohon diberi tahu dengan siapa aku berhadapan saat ini."

Si mata biru sebenarnya segan memberi tahu siapa dirinya. Namun khawatir dianggap kurang menghormati akhirnya dia menerangkan. "Kiai, saya ini Ratu Duyung..."

Kiai Gede Tapa Pamungkas ternganga tercengang namun sesaat kemudian dia tertawa lebar. Kepala digeleng-geleng lalu diangguk-anggukkan. Dalam hati orang tua ini berkata. "Jadi inilah gadis paling cocok menjadi pasangan hidup cucu muridku Pendekar Dua Satu Dua Wiro Sableng..."

Si mata biru tatap wajah Kiai Gede Tapa Pamungkas.

"Ah, apakah dia mendengar suara hatiku tadi?" Membatin sang Kiai. Lalu dia berucap. "Ratu Duyung, ceritakan maksud kedatanganmu dan para pengiring."

"Kiai, kami tidak lama. Nyi Roro Kidul minta kami memberi tahu bahwa sesuatu yang hebat akan terjadi dalam rimba persilatan tanah Jawa jika tidak segera dilakukan pencegahan."

"Mohon aku dijelaskan hal apakah itu?"

Di utara kilat menyambar disusul gelegar guntur yang membuat air telaga bergoyang-goyang dan tanah di tepian telaga bergetar.

"Saat ini di tanah Jawa telah kedatangan seorang gadis cantik dari negeri Tiongkok. Menurut kabar dia adalah seorang paderi. Dia datang membekal sebilah pedang mustika bernama Ang Liong Kiam atau Pedang Naga merah. Menurut penglihatan Nyi Roro Kidul konon pedang sakti itu adalah hasil perkawinan maya antara Kapak Naga Geni Dua Satu Dua dan Pedang Naga Suci Dua Satu Dua. Bila Pedang Naga Merah dipergunakan untuk menyerang pemilik Kapak Naga Geni Dua Satu Dua atau Pedang Naga Suci Dua Satu Dua, keduanya akan mendapat celaka yang bisa merenggut jiwa. Begitu juga jika antara Kapak Naga Geni dan Pedang Naga Suci sampai bersilang sengketa. Selain itu kehadiran Pedang Naga Merah akan menimbulkan banyak bencana terutama bagi yang memilikinya, kecuali senjata itu disucikan lebih dulu oleh Kiai selaku sepuhnya..."

Kejut Kiai Gede Tapa Pamungkas bukan alang kepalang. Namun kakek sakti ini masih bisa menguasai diri walau wajahnya jelas tampak berubah. Dia lantas ingat akan apa yang terjadi dengan Pedang Naga Suci 212 di dalam peti kaca.

"Tuhan Maha Besar. Tuhan berbuat sekehendak-Nya......" Kiai Gede Tapa Pamungkas berucap perlahan lalu menarik nafas panjang berulang kali.

"Ratu Duyung, aku mengucapkan terima kasih atas jerih payahmu datang ke sini untuk menyampaikan pesan. Sampaikan salam hormat dan terima kasihku pada Nyi Roro Kidul. Pesannya akan sangat aku perhatikan."

"Salam Kiai akan kami sampaikan. Sekarang saya dan para pengiring mohon diri."

"Ratu Duyung, apakah kau punya kabar tentang cucu muridku Pendekar Dua Satu Dua Wiro Sableng?" Kiai Gede Tapa Pamungkas bertanya.

Ditanya mengenai sang pendekar Ratu Duyung tampak agak sedikit rikuh.

"Sejak peristiwa penyerbuan ke Seratus Tiga Belas Lorong Kematian tempo hari, saya tidak pernah bertemu dengan dia, Kiai."

Kiai Gede Tapa Pamungkas mengangguk. "Aku mendengar kabar bahwa orang berjuluk Pangeran Matahari telah menemui ajal beberapa waktu lalu. Benarkah? Siapa yang membunuhnya? Bagaimana kejadiannya?"

"Saya juga hanya mendengar kabar Kiai. Tidak menyaksikan sendiri. Pangeran Matahari tewas di puncak Gunung Merapi dihakimi para tokoh rimba persilatan. Saya dengar dia menemui ajal secara mengerikan sekali. Saya rasa hal itu sangat pantas menjadi bagiannya. Ah, cukup lama saya sudah mengganggu Kiai. Saya dan para pengiring mohon diri."

Kiai Gede Tapa Pamungkas bangun dari duduk bersilanya.

"Ratu Duyung, jika kau berkesempatan bertemu dengan Wiro, datanglah berdua ke sini..."

"Ada apakah Kiai?" tanya Ratu Duyung dengan dada berdebar.

Sang Kiai tersenyum. "Aku hanya ingin ngobrol," jawab orang tua itu.

Ratu Duyung tak menjawab, hanya menganggukkan kepala beberapa kali, lalu melangkah mundur sambil rundukkan kepala memberi penghormatan.

Tak lama setelah Ratu Duyung pergi, Kiai Gede Tapa Pamungkas menatap ke langit. Saat itu hujan telah reda. Sambil pejamkan mata orang tua ini menghitung hari. "Hari ini Rabu Pon menurut hitungan Jawa. Lusa hari Kamis Wage, berarti malam Jum'at Kliwon, waktu yang tepat bagiku menemui kedua mahluk itu. Perkawinan maya..." Kiai Gede Tapa Pamungkas tarik nafas dalam dan geleng-gelengkan kepala.

"Jika semua berlangsung sesuai kewajaran seharusnya yang muncul dan terlahir adalah sebilah keris sakti mandraguna. Bukan sebilah pedang. Lalu bagaimana pedang itu bisa berada di tangan seorang paderi asing dari negeri Cina?" Kiai Gede Tapa Pamungkas memandang berkeliling lalu menatap ke langit. Hujan telah berhenti. Langit tampak biru cerah. Perlahan-lahan orang tua ini langkahkan kaki memasuki telaga, melangkah di permukaan air. Tepat di pertengahan telaga tubuhnya meluncur ke bawah dan lenyap dari pemandangan.

***



MALAM Jum'at Kliwon. Kepulan asap berbau belerang tercium santar dan terasa hangat keluar dari dasar kawah Gunung Tangkuban Perahu. Saat itu menjelang tengah malam. Udara dingin luar biasa. Sepotong batang kecil pohon cemara menancap di tanah kawah yang miring. Di ujungnya menyala api yang menjadi penerangan di tempat itu. Di sebelah kanan batang cemara yang menyala ada satu pendupaan menebar harumnya bau kemenyan, menyekat bau belerang.

Di atas sebuah batu berwarna kekuningan berdiri sosok Kiai Gede Tapa Pamungkas. Tegak dengan dua tangan dirangkapkan di atas dada. Sesekali tangan kanannya diulurkan menjatuhkan potongan-potongan kemenyan ke dalam pendupaan. Janggut dan pakaiannya melambai-lambai ditiup angin. Sepasang mata menatap ke arah barat, di mana pada arah yang tidak kelihatan menjulang Gunung Burangrang. Pada saat-saat tertentu dia alihkan pandangan ke arah timur, di jurus beradanya Gunung Bukit Tunggul.

Malam bergulir perlahan tetapi pasti. Kiai Gede Tapa Pamungkas perhatikan gugusan bintang di langit. Dia tahu saat itu sudah melewati tengah malam. Orang tua sakti yang selalu tenang dalam menghadapi segala kejadian kali ini memperlihatkan ada bayangan rasa cemas di wajahnya yang klimis, terlebih ketika angin bertiup kencang dan hujan rintik mulai turun. Sang Kiai perhatikan nyala api di ujung potongan kayu cemara. Kalau api itu sampai padam, maka itu adalah satu pertanda bahwa usaha yang dilakukannya saat itu akan menemui kegagalan. Dia harus menunggu dua puluh satu hari. Sementara itu dikhawatirkan bencana besar dalam rimba persilatan akan menjadi kenyataan sebagaimana yang disampaikan oleh Ratu Duyung selaku utusan Nyi Roro Kidul, penguasa laut selatan.

"Tuhan, hanya kepada Engkau aku berharap. Hanya kepada Engkau aku minta tolong," Kiai Gede Tapa Pamungkas mengucap dalam hati.

Tiba-tiba di sebelah timur, di arah puncak Gunung Bukit Tunggul kelihatan cahaya putih berkilau tiada henti. Hujan rintik-rintik serta merta sirna dan tiupan angin yang tadi begitu kencang lenyap. Kiai Gede Tapa Pamungkas tampungkan dua tangan ke atas sambil hati mengucapkan perasaan bersyukur.

Hanya sesaat kemudian setelah terjadinya kilatan cahaya putih di sebelah timur, di arah barat dari jurusan Gunung Burangrang berkiblat pula cahaya putih agak kebiruan.

"Naga Geni, Naga Suci aku melihat cahaya kalian. Aku sudah menunggu cukup lama. Harap kalian segera datang di hadapanku. Aku ingin menuntaskan semua persoalan malam ini juga."

Baru saja Kiai Gede Tapa Pamungkas mengeluarkan ucapan tiba-tiba dua cahaya di arah barat dan timur melesat laksana kilat ke jurusan kawah Gunung Tangkuban Perahu. Dua cahaya itu kemudian muncul di hadapan Kiai Gede Tapa Pamungkas dalam bentuk samar dua ekor ular besar.

"Perlihatkan ujud nyata kalian!" Ucap Kiai Gede Tapa Pamungkas pula.

"Dess!"

Sosok samar di sebelah kanan meletup buyar lalu menyatu kembali dan membentuk ujud seekor naga jantan berwarna putih, yang tadi disebut sebagai Naga Geni. Di atas keningnya menempel sebuah batu permata besar berwarna merah. Binatang ini kedipkan matanya yang berwarna merah tiga kali, gelungkan tubuh bagian bawah sementara tubuh bagian atas tegak agak merunduk menatap ke arah Kiai Gede Tapa Pamungkas.

"Dess!"

Hal yang sama terjadi dengan sosok samar di sebelah kiri. Setelah meletup dan buyar lalu membentuk ujud seekor naga betina, memiliki permata besar berwarna hijau di atas kening. Sepasang matanya yang hijau dikedipkan tiga kali lalu gelungkan ekor, sementara tubuh sebelah atas tegak dengan kepala agak merunduk. Inilah naga betina yang dipanggil dengan nama Naga Suci.

Setelah tatap dua mahluk dahsyat yang dalam keadaan tegak bergelung begitu rupa tingginya hampir satu tombak di atas kepala Kiai Gede Tapa Pamungkas, si orang tua berkata.

"Naga Geni, Naga Suci, terima kasih kalian telah bersedia datang memenuhi panggilanku. Sebelum kita bicara harap kalian tunjukkan ujud asli kalian."

Dari masing-masing kepala sepasang naga keluar kepulan asap tipis yang menebar bau harum mengalahkan santarnya bau kemenyan pendupaan. Lalu ada tabir merah dan putih kebiruan membungkus Naga Geni dan Naga Suci. Sewaktu tabir itu perlahan sirna, ujud dua ekor naga berubah menjadi ujud seorang pemuda tampan dan seorang gadis berwajah cantik jelita. Si pemuda mengenakan destar merah, rambut menjulai panjang sebahu, bertelanjang dada berbulu, memakai celana panjang hitam berkilat serta sabuk besar terbuat dari kain merah berkilat melingkar di pinggang. Di keningnya menempel sebuah batu permata sebesar ujung jari kelingking berwarna merah berkilau. Sang gadis jelita mengenakan pakaian seperti kemben. Di kening menempel sebuah permata juga berwarna biru. Sepasang muda-mudi ini menyalami sang Kiai dan mencium tangan orang tua itu.

"Puluhan tahun telah berlalu. Kalian ternyata masih tetap segagah dan secantik pertama kali aku melihat kalian. Ini satu berkah yang harus kalian syukuri pada Tuhan Yang Maha Kuasa."

Mendengar ucapan, sang pemuda Naga Geni dan si gadis Naga Suci rundukkan tubuh namun tak mengeluarkan ucapan apa-apa. Setelah menatap sepasang muda-mudi itu sejurus, Kiai Gede Tapa Pamungkas berkata.

"Naga Geni, Naga Suci, ada satu kenyataan terjadi di rimba persilatan. Seorang paderi dari negeri jauh datang ke tanah Jawa membekal sebilah pedang bernama Ang Liong Kiam atau Pedang Naga Merah. Nyi Roro Kidul penguasa samudera selatan, melalui seorang utusannya memberi tahu bahwa pedang itu adalah hasil hubungan perkawinan diri kalian berdua. Aku tidak akan melanjutkan ucapanku sebelum aku mendengar terlebih dahulu apa pendapat kalian berdua."

Naga Geni memandang pada Naga Suci lalu berpaling pada Kiai Gede Tapa Pamungkas.

"Kiai, apa yang Kiai dengar, apa yang disampaikan utusan Nyi Roro Kidul memang benar adanya. Kami telah menempuh jalan keliru dalam penantian perkawinan sakral. Alam penantian yang telah berlangsung puluhan tahun itu kami akhirnya tersesat dalam alam cinta kasih yang keliru. Kami berbuat diluar kepatutan, kami melakukan dosa hingga akhirnya Naga Suci melahirkan seorang anak dalam bentuk sebilah pedang. Untuk semua yang telah kami lakukan itu kami mohon maaf kepadamu dan mohon ampun pada Tuhan. Kami bersedia untuk menerima hukuman."

Kiai Gede Tapa Pamungkas tatap wajah Naga Geni sesaat lalu berpaling pada Naga Suci.

"Naga Suci, apakah pengakuan Naga Geni itu menjadi pengakuanmu juga?"

"Benar Kiai. Saya mengaku salah. Saya rela menerima hukuman. Cuma ada satu permintaan saya. Maksud saya permintaan kami berdua."

"Apa permintaan kalian?"

"Hukuman apapun yang akan dijatuhkan jangan sampai kami dipisahkan. Kalaupun kami akan dihukum mati jasad kami berdua dalam satu liang kubur. Saat ini kami sudah sangat menderita, sengsara. Karena sejak Pedang Naga Merah lahir, kami hidup terpisah, Naga Geni di Gunung Bukit Tunggul. Saya di Gunung Burangrang. Selain itu kami tak pernah bertemu dengan putera kami walau ujudnya hanya sebilah pedang." Ucapan Naga Suci tersendat-sendat dan sepasang matanya berkaca-kaca.

Kiai Gede Tapa Pamungkas terdiam, untuk beberapa lama tak bisa berkata apa-apa karena haru. Setelah menarik nafas panjang dia baru bersuara.

"Aku memanggil kalian bukan untuk menghukum. Tapi mencari jalan bagaimana menyelamatkan dunia persilatan dari bencana yang tak pernah terduga." Sang Kiai lalu sibakkan kain putih pakaiannya di bagian dada. "Tanda merah ini adalah hantaman dahsyat kekuatan gaib yang keluar dari Pedang Naga merah, Pedang Naga Suci atau Kapak Naga Geni. Pedang yang terlahir dari hasil hubungan kalian akan menimbulkan bencana bagi siapa saja yang memilikinya serta orang-orang sekitarnya. Aku mengharap kalian berdua berusaha mencari pedang itu, mengambilnya dan menyimpannya di satu tempat yang aman. Kalian harus melakukan itu karena pedang itu adalah anak kalian berdua."

"Kiai, kami memang rindu pada anak kami. Namun hal itu tidak mungkin kami lakukan. Karena usia pedang belum mencapai seratus tahun."

Kiai Gede Tapa Pamungkas berpaling pada Naga Geni yang barusan bicara. "Maksudmu?"

"Kiai, seratus tahun dalam ukuran usia pedang sama dengan dua puluh tahun ukuran alam di sini. Jika ukuran tahun itu belum tercapai kami akan hangus dan menemui ajal pada saat bersentuhan dengan pedang. Kami tidak takut akan kematian karena menanggung akibat perbuatan kami. Namun itu tidak menolong karena sekalipun kami menemui ajal, Pedang Naga Merah akan tetap ada...."

Kiai Gede Tapa Pamungkas tercengang dan geleng-gelengkan kepala. "Rimba persilatan harus diselamatkan. Banyak korban yang bakal jatuh. Apa yang harus aku lakukan?"

"Kiai, satu-satunya jalan untuk mengamankan pedang itu adalah dengan jalan menyatukannya dengan Kapak Naga Geni serta Pedang Naga Suci selama tujuh hari tujuh malam. Dan selama waktu itu kami harus mendampingi tanpa boleh tidur barang sekejappun. Kita perlu seseorang untuk mendapatkan Pedang Naga Merah."

"Kalau aku bisa mendapatkan pedang itu, apakah kalian berdua bersedia menjadi pendamping?" tanya Kiai Gede Tapa Pamungkas pula.

"Kami bersedia melakukan apa saja sesuai dengan kemampuan demi menebus dosa kesalahan kami, " jawab Naga Geni.

"Benar Kiai, kami sangat sayang pada Putera Langit. Kami bersedia menerima bencana asal dia tidak terganggu apalagi sampai menderita. Kami juga sangat berharap dan melakukan segala daya agar dia bisa berada di tangan kami."

"Tunggu dulu. Siapa yang kau maksudkan dengan Putera Langit?" tanya Kiai Gede Tapa Pamungkas.

"Anak kami itu Kiai. Kami memberi nama Putera Langit pada pedang itu." Menerangkan Naga Suci. "Ah...." Kiai Gede Tapa Pamungkas terpana sesaat lalu tersenyum. Sambil mengusap janggut putihnya dia berkata. "Nama bagus. Sangat gagah kedengarannya."

"Kiai," ucap Naga Suci. "Sebagai orang tuanya kami sudah sangat rindu untuk dapat bertemu lagi dengan anak kami itu. Sampai Kiai memanggil kami saat ini, kami baru tahu kalau Putera Langit sudah berada lagi di tanah Jawa ini. Memang sejak beberapa minggu belakangan ini saya merasa tanda-tanda tertentu. Baru tahu arti tanda-tanda itu setelah bertemu Kiai."

"Pedang itu konon berada di tangan seorang paderi perempuan dari Tiongkok. Adalah aneh, senjata sakti mandraguna yang adalah putera kalian itu bisa berada di tangan orang asing di negeri jauh."

"Kiai, ini menyangkut satu kisah lama. Semua terjadi karena kelalaian kami. Selain itu kami selalu dihantui rasa takut karena telah berbuat salah. Biar saya menceritakan pada Kiai," kata Naga Geni pula.

"Sewaktu pedang baru berusia beberapa hari dan panjangnya hanya setengah jengkal, terjadi banjir bandang. Pedang tercecer di satu tempat ketika saya tengah berusaha menyelamatkan Naga Suci. Pedang kemudian ditemukan oleh seorang bocah bernama Bayumurti yang tinggal di Semarang. Anak ini menganggap pedang kecil itu sebagai barang mainan. Pedang kemudian diberikan Baayumurti sebagai tanda mata pada seorang gadis Cina teman sepermainannya yang kemudian pulang bersama orang tuanya ke Tiongkok. Ketika kami mengetahui hal itu, gadis Cina itu telah berlayar ke Tiongkok. Kejadiannya lebih dari dua belas tahun silam. Saya yakin paderi yang muncul saat ini membawa Pedang Naga Merah adalah gadis Cina dulu itu."

Setelah terdiam dan merenung sejenak Kiai Gede Tapa Pamungkas akhirnya berkata. "Kisah luar biasa. Benar-benar luar biasa. Naga Geni, Naga Suci, kalian sekarang boleh pergi. Bilamana Pedang Naga Merah sudah berada ditanganku, aku akan memanggil kalian kembali. Di tempat ini."

"Kiai, kami mohon maafmu dan kami mohon diri."

"Tunggu dulu..." Kiai Gede Tapa Pamungkas berkata.

"Ada apa Kiai?" tanya Naga Geni.

Bertahun-tahun kalian memisahkan diri. Satu tinggal di timur, satu di barat. Untuk apa menyiksa diri? Kalian boleh memilih tinggal bersama di Gunung Burangrang atau di Gunung Bukit Tunggul."

Naga Geni dan Naga Suci saling berpandangan. Mereka hampir tak percaya mendengar apa yang dikatakan si orang tua. Sebelumnya mereka menyangka akan mendapat dampratan bahkan hukuman. Ternyata kini sang Kiai ingin mempersatukan mereka kembali.

"Kiai," kata Naga Geni pula. "Betulkah kata Kiai itu? Kami boleh tinggal bersama?" Suaranya tersendat karena haru sementara Naga Suci usap air mata yang menggelinding di pipinya.

"Ya, aku mengizinkan. Asal saja kalian bisa menjaga diri. Jangan sampai lahir lagi pedang ini pedang itu atau Putera Langit yang baru." "Kiai, saya mengucapkan banyak terima kasih," kata Naga Geni.

"Saya juga," kata Naga Suci pula. "Kiai telah memberikan kepercayaan. Mudah-mudahan kami tidak akan berbuat keliru lagi."

"Selanjutnya kami akan merundingkan dimana kami berdua akan tinggal. Kami akan memberi tahu pada Kiai. Sekarang kami mohon diri." Naga Geni menyambung ucapan Naga Suci.

Naga Geni dan Naga Suci kemudian menyalami dan mencium tangan Kiai Gede Tapa Pamungkas. Perlahan-lahan ujud sepasang muda-mudi gagah dan cantik ini berubah menjadi naga lalu melesat ke udara dan di satu arah lenyap dari pemandangan.

Walau saat itu udara dingin luar biasa namun wajah dan tubuh serta pakaian sang Kiai basah oleh keringat. Untuk beberapa lamanya dia kembali duduk bersila di tepi telaga. Tubuhnya yang tadi terasa letih kini agak nyaman. Hawa panas dingin mulai berkurang. Orang tua sakti ini ingat pada peristiwa puluhan tahun silam ketika dia pertama kali menerima Kapak Naga Geni 212 dan Pedang Naga Suci 212 dari kakek gurunya. Sang kakek menerangkan, suatu ketika kelak, dari perkawinan antara Kapak dan Pedang akan lahir sebilah keris sakti mandraguna. Kenapa kini yang muncul sebilah pedang dan membawa malapetaka pula? Karena senjata itu dilahirkan dari perkawinan maya yang keliru?

Kiai Gede Tapa Pamungkas berdiri. "Aku harus mencari seseorang untuk mendapatkan Pedang Naga Merah dari tangan paderi asing itu. Mungkin aku harus menemui Sinto Gendeng...." Sang Kiai tarik nafas panjang. Kemudian dia keluarkan satu siulan keras. Lalu mulut itu berucap.

"Kaki Putih, aku membutuhkan dirimu..."

Saat itu juga di kejauhan terdengar suara ringkikan keras. Kurang dari sekejapan mata muncullah seekor kuda hitam. Hebatnya, walau tubuh hitam namun keempat kakinya, mulai dari lutut ke bawah berwarna putih. Kuda tinggi besar ini rundukkan kepala lalu menjilat tangan Kiai Gede Tapa Pamungkas kiri kanan. Setelah mengusap tengkuk kuda bernama Kaki Putih ini, sang Kiai segera melompat naik ke punggungnya.

"Antar aku ke puncak utara. Menemui nenek bernama Sinto Gendeng yang dulu pernah kau buat jatuh karena dia mengencingi punggungmu!"

Kuda hitam berkaki putih meringkik panjang seolah tertawa mendengar kata-kata sang Kiai.

***



DUA NENEK kembar rambut kelabu bermata merah untuk beberapa lama duduk berdiam diri sambil pandangi Pendekar 212 Wiro Sableng yang tergeletak di lantai berdebu dalam keadaan tidak sadar diri. Saat itu menjelang pagi dan mereka berada di dalam sebuah rumah tua setengah runtuh yang telah lama ditinggal penghuninya.

"Ha-hu ha-hu." Nenek sebelah kanan keluarkan suara, tangan kiri menunjuk ke dada Wiro, tangan kanan ditepukkan ke dada sendiri lalu dilambaikan ke arah luar bangunan. Dengan isyarat ini dia memberi tahu saudara kembarnya bahwa Wiro menderita cidera di dada, dia akan memeriksa dan mengobati si pemuda. Untuk itu dia minta saudaranya itu keluar dulu dari dalam rumah.

Nenek satunya pencongkan mulut. Balas memberi isyarat yang mengatakan bahwa dia yang akan memeriksa Wiro dan saudaranya itu saja yang keluar dari situ. Yang diberi isyarat geleng-geleng kepala. Dua nenek sama-sama unjukkan tampang cemberut. Akhirnya melalui gerak isyarat keduanya menyetujui bahwa mereka berdua akan bersama-sama memeriksa dan mengobati Wiro.

Maka nenek sebelah kiri mulai membuka pakaian putih sang pendekar. Temannya membantu. Begitu baju terbuka kelihatan dada yang bidang kekar. Dua mata si nenek sama-sama bersinar, mulut merekah senyum, dua tangan sama-sama mengusap. Namun ketika melihat ada tanda merah kebiruan di pertengahan dada keduanya sama-sama keluarkan suara tertahan.

"Ha-hu ha-hu!"

Nenek yang satu keluarkan sebuah kantong kecil dari balik jubah kuning. Kesempatan ini dipergunakan oleh saudara kembarnya untuk menyeka lelehan darah setengah mengering di sudut bibir Wiro sambil pergunakan kesempatan membelai pipi sang pendekar. Si nenek satunya langsung saja menepuk tangan saudara kembarnya itu. Yang ditepuk hanya mesem-mesem. Dari dalam kantong kain nenek pertama tadi mengambil dua butir obat berwarna putih. Obat dimasukkan ke dalam mulut Wiro lalu dengan dua jari tangan kiri dia menotok tenggorokan pemuda itu. Saudaranya ikut menotok urat besar di beberapa bagian tubuh Wiro yaitu pangkal leher, dada dan dekat ulu hati.

"Ha-hu ha-hu!" Nenek sebelah kanan menunjuk telapak kaki Wiro.

Keduanya kemudian sama-sama mengangkat kaki Wiro kiri kanan lalu telapak kaki, di bagian tumitditekan dengan telapak tangan sambil mengerahkan tenaga dalam dan hawa sakti. "Ha-hu ha-hu!" Dua telapak kaki keluarkan kepulan asap merah. Di saat yang sama dua kaki Wiro melejang keras hingga dua nenek kembar terjengakang. Walau kaget namun keduanya unjukkan wajah gembira. Darah mengucur kental di sudut mulut Pendekar 212. Perlahan-lahan kesadarannya muncul. Wiro menggeliat sambil keluarkan suara mengerang lalu berusaha bangun. Dua nenek membantu dan menyandarkannya ke dinding rumah.

"Ha-hu ha-hu!"

Wiro tatap dua nenek kembar di depannya lalu tersenyum. Dua nenek kembar bersorak gembira.

"Ha-hu ha-hu!"

Dari balik jubah dua nenek keluarkan secarik kain lalu berebutan menyeka lelehan darah di mulut dan dagu sang pendekar.

Wiro tampak kaget dan sadar kalau dirinya terluka di dalam. Saat itu baru dia merasakan rasa sakit di dadanya. Ketika diperhatikan, dia melihat ada tanda merah kebiruan dipertengahan dada.

"Siapa yang menghantamku. Aku terluka di dalam. Bagaimana kejadiannya?" Ingatan murid Sinto Gendenggini belum sepenuhnya pulih.

Dua nenek sama-sama memberi isyarat dengan gerakan tangan sambil keluarkan suara ha-hu ha-hu coba memberi keterangan. Namun melihat semua gerak isyarat itu Wiro malah jadi bingung. Dia coba mengingat-ingat apa yang terjadi.

"Aku berada di tembok timur Kadipaten Losari...." Wiro berucap perlahan.

"Ha-hu ha-hu!" Dua nenek angguk-anggukkan kepala. Wiro melintangkan jari telunjuk di atas bibir. Dua nenek mesem-mesem.

"Ada prajurit yang dibunuh. Namanya Jumena... Aku dituduh sebagai pembunuh. Aku diserang. Lalu muncul Paderi Cina itu.."

"Ha-hu ha-hu!" Dua nenek unjukkan wajah marah. Tangan kanan digerak-gerakkan seolah memegang senjata tajam.

"Nionio Nikouw. Dia menyerangku dengan pedang memancarkan cahaya merah. Aku terpental roboh. Sebelum pingsan aku melihat paderi itu juga tergeletak di tanah..."

"Ha-hu ha-hu!" Dua nenek angkat tangan masing-masing, membuat gerakan menimang-nimang lalu menunjuk ke lantai rumah.

"Ya...ya. Aku tahu maksud kalian. Kalian menggotongku. Lalu membawa aku ke sini. Lalu mengobatiku. Kalian pasti meraba-raba tubuhku..."

Dua nenek tertawa cekikikan.

"Terima kasih. Makin banyak hutang budi dan nyawaku pada kalian...."

"Ha-hu ha-hu," dua nenek berseru sambil goyang-goyangkan tangan.

"Kalian bisa saja minta aku tidak memikirkan hal itu. Yang aku pikirkan justru bagaimana cara membalas semua hutang besar ini."

Dua nenek tiba-tiba ulurkan wajah sambil salah satu tangan menepuk-nepuk pipi masing-masing.

Wiro tertawa lebar. "Begitu? Jadi dengan mencium pipi kalian, semua hutang piutang kalian aggap impas lunas? Geblek!"

"Ha-hu ha-hu."

Wiro garuk-garuk kepala. "Baiklah, aku akan mencium kalian sebagai tanda terima kasih. Tapi bagiku tetap saja aku punya hutang budi dan nyawa pada kalian. Mungkin baru bisa dianggap impas kalau aku berhasil mencari tahu siapa pembunuh kakak kembar kalian Eyang Sepuh Kembar Tilu."

Dua nenek tidak menyahuti. Masih tetap ulurkan wajah. Wiro tersenyum. Pertama sekali diciumnya nenek sebelah kanan. Lalu beralih mencium nenek sebelah kiri.

"Ha-hu ha-hu!"

Ketika menarik kepalanya Pendekar 212 Wiro Sableng terkejut. Wajah buruk dua nenek itu telah berubah menjadi wajah cantik dua perempuan muda berkulit putih. Rambut yang kelabu tampak hitam. Mata yang merah juga berubah hitam. Hanya pakaian mereka yang tidak berubah yaitu tetap jubah kuning. Selain itu tubuh serta pakaian dua perempuan jelita ini menebar bau harum mewangi.

Murid Sinto Gendeng batuk-batuk, garuk-garuk kepala. Dua nenek yang kini berujud dua perempuan muda cantik masih tak bergerak. Kepala masih terulur.

"Heh, mau dicium lagi?" tanya Wiro.

""Ha-hu ha-hu!" Dua perempuan muda menyahuti sambil anggukkan kepala berulang kali.

Wiro peluk keduanya, lalu menciumi berganti-ganti berulang kali. Dua perempuan itu sesekali membalas ciuman Wiro.

"Sudah...sudah!" Wiro akhirnya lepaskan rangkulan serta hentikan ciuman. Dua perempuan muda tersipu-sipu. "Baiknya kalian kembali ke ujud semula..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 172.68.65.99
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia