Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : PERJANJIAN DENGAN ROH

PAGI ITU Patih Kerajaan Sawung Giring Bradjanata baru saja selesai sarapan. Dia akan segera berangkat menuju Keraton untuk menemui Sri Baginda. Banyak hal penting yang akan dibicarakan. Salah satu diantaranya menyangkut gerakan orang-orang yang menamakan diri dan mengaku berasal dari Keraton Kaliningrat. Saat keluar dari ruang makan seorang pengawal datang memberi tahu bahwa Danang Kaliwarda, kepala pengawal Gedung Bendahara ingin menghadap.

"Danang Kaliwarda....." Patih Kerajaan menyebut nama itu. "Aku pernah melihatnya beberapa kali. Tapi tak pernah bertegur sapa. Pengawal, apa kau tanyakan maksud kedatangannya?"

"Memang ada saya tanyakan. Katanya ada hal sangat penting ingin disampaikan. Namun dia hanya mau bicara langsung dengan Kanjeng Patih," menerangkan pengawal Gedung Kepatihan.

Setelah berpikir sebentar Patih Kerajaan akhirnya berkata pada pengawal. "Aneh juga. Kalau ada sesuatu urusan penting seharusnya Bendahara Wira Bumi yang datang menghadap. Kepala Pengawal itu datang seorang diri atau ada yang menemani?"

"Dia datang seorang diri, Kanjeng Patih."

"Baiklah, suruh dia menunggu di pendopo sebelah timur. Suguhkan kopi jika dia belum sarapan. Aku akan segera menemuinya."

Gedung Kepatihan memiliki dua buah pendopo.

Pendopo besar di sebelah barat, pendopo ke dua di sebelah timur, lebih kecil dan memiliki dua dinding penutup terbuat dari papan jati berukir pemandangan gunung Merapi. Di tempat ini Patih Kerajaan biasanya menemui tamu-tamu tertentu.

Danang Kaliwarda yang duduk bersila di lantai batu pualam bersih dan licin berkilat cepat-cepat berdiri begitu Patih Sawung Giring Bradjanata muncul, melangkah menaiki anak tangga pendopo timur.

"Hormat untuk Patih Kerajaan. Saya Danang Kaliwarda, Kepala Pengawal Gedung Bendahara." Danana Kaliwarda berucap lalu membungkuk dalam-dalam.

Patih Kerajaan menyilahkan tamunya duduk kembali.

Keduanya kemudian bersila berhadap-hadapan. Seorang pelayan datang menating secangkir kopi hangat, diletakkan di depan Danang Kaliwarda.

"Danang Kaliwarda, waktuku tidak banyak karena harus segera menghadap Sri Baginda. Ceritakan apa maksud kedatanganmu. Apakah Bendahara Wira Bumi yang mengutusmu datang menghadapku? Sebelum kau menjawab silahkan meneguk kopi lebih dulu."

"Terima kasih Kanjeng Patih. Saya minum." Selesai meneguk kopi hangat Kepala Pengawal Gedung Bendahara itu meluruskan duduknya lalu berkata. "Kanjeng Patih, saya mohon maaf kalau kedatangan saya begini mendadak, apa lagi sampai mengganggu dan menyita waktu Kanjeng Patih. Saya datang dengan kemauan sendiri. Tidak diutus oleh Raden Mas Wira Bumi."

Sawung Giring Brajanata mengangguk. "Langsung saja pada maksud kedatanganmu."

"Saya datang untuk menyampaikan satu hal yang sangat rahasia, Kanjeng Patih."

Patih Kerajaan angkat kepala sedikit, dua mata menatap lekat-lekat ke wajah tamunya. "Satu hal yang sangat rahasia katamu. Bagiku ini agak mengejutkan. Hal sangat rahasia macam apa? Menyangkut pribadi atau ada hubungannya dengan Kerajaan?"

"Dua-duanya, Kanjeng Patih," jawab Danang Kaliwarda. "Terlebih dulu saya mohon maaf. Kejadiannya berlangsung kemarin malam. Terjadi di halaman belakang gedung kediaman Kanjeng Bendahara. Semula saya merasa bimbang apakah akan memberitahu hal ini pada Kanjeng Patih atau tidak. Kalau saya memberi tahu berarti saya melangkahi atasan saya Raden Mas Wira Bumi. Kalau saya tidak memberi tahu sebagai seorang prajurit saya merasa berdosa pada Kanjeng Patih dan Kerajaan ...."

Patih Kerajaan berusia enam puluh tahun tapi masih berwajah segar dan klimis usap dagunya yang ditumbuhi janggut halus dan rapi.

"Teruskan ceritamu, Danang Kaliwarda."

"Malam itu gedung kediaman Bendahara kedatangan tamu seorang lelaki tinggi kurus dengan penampilan serba merah mulai dari rambut sampai ke kaki. Walau dia tidak menyebut nama namun Saya tahu siapa dia karena sebelumnya sudah pernah datang menemui Raden Mas Wira Bumi. Orang itu saya kenal dengan nama Eyang Tuba Sejagat. Pada kedatangannya yang kedua kali ini saya lihat ada sesuatu yang terjadi dengan tubuhnya sebelah luar dan sebelah dalam. Agaknya dia menderita luka dalam parah. Seperti mengalami keracunan yang sangat hebat. Mungkin saya menyalahi adat, namun entah mengapa saya begitu ingin mengetahui apa yang dibicarakan sang tamu dengan Raden Mas Wira Bumi.

Ternyata kecurigaan saya ada hikmahnya. Rupanya, sebelumnya Raden Mas Wira Bumi telah memberi tugas pada Eyang Tuba Sejagat untuk membunuh dengan cara meracuni seorang Kiai yang diam di puncak Gunung Gede bernama Kiai Gede Tapa Pamungkas ....."

Sikap dan air muka Patih Kerajaan langsung berubah mendengar ucapan Danang Kaliwarda itu.

"Kiai Gede Tapa Pamungkas adalah seorang suci berilmu tinggi yang dianggap setengah Dewa. Dia banyak membantu Kerajaan. Kalau ada orang jahat ingin membunuhnya pasti ada satu masalah besar dibalik perbuatan keji itu. Danang, teruskan keteranganmu."

"Ternyata Eyang Tuba Sejagat gagal melaksanakan tugas. Dua pembantunya tewas. Dia malah dicekoki Racun Akar Bumi miliknya sendiri oleh Kiai Gede Tapa Pamungkas. Untuk mengobati dirinya yang keracunan dia harus membeli obat dari seorang tabib. Obat itu mahal sekali. Eyang Tuba Sejagat minta agar Raden Mas Wira Bumi mau memberikan sejumlah uang. Dia berjanji kalau sudah sembuh akan segera melaksanakan tugas berikutnya." Sampai di situ Danang Kaliwarda tidak meneruskan ucapan, dia menatap sang patih dengan bayangan rasa takut pada wajahnya.

"Kepala Pengawal, kau kelihatan seperti bimbang atau takut meneruskan ucapan ...."

"Maafkan saya Kanjeng Patih. Terus terang saya memang merasa takut karena apa yang hendak saya katakan menyangkut langsung diri Kanjeng Patih."

"Katakan saja. Mengapa harus takut?"

"Tugas berikut yang dikatakan oleh Eyang Tuba Sejagat itu adalah membunuh Kanjeng Patih." Walau suaranya agak bergetar meluncur juga ucapan itu dari mulut Danang Kaliwarda.

Sosok Patih Kerajaan seolah berubah menjadi patung, diam tak bergerak. Air mukanya berubah. Namun sesaat kemudian seringai muncul di wajahnya.

"Apakah ucapanmu bisa aku percaya Danang Kaliwarda?"

"Demi Gusti Allah saya bersumpah saya tidak berdusta."

"Kalau begitu lanjutkan ceritamu. Apa yang terjadi kemudian?"

"Raden Mas Wira Bumi tidak memberi uang yang diminta. Malah Eyang Tuba Sejagat dibunuh. Kepalanya dipukul hingga rengkah!"

"Dengan tangan kosong?"

"Betul Kanjeng Patih. Raden Mas Wira Bumi menghabisi Eyang Tuba Sejagat dengan pukulan tangan kosong. Tangan kanan." Jawab Danang Kaliwarda sambil mengepal dan mengangkat tangan kanannya sendiri.

"Ceritamu hebat! Luar biasa! Tapi tunggu dulu.

Setahuku Bendahara Wira Bumi tidak memiliki ilmu pukulan tangan kosong yang sanggup membuat rengkah kepala orang. Kau berdusta padaku, Danang Kaliwarda!"

Patih Kerajaan berkata dengan mata menatap tak berkesip ke mata orang di hadapannya.

Danang Kaliwarda susun sepuluh jari di atas kepala.

"Saya mana berani berdusta Kanjeng Patih. Saya sudah mengucapkan sumpah. Mungkin Kanjeng Patih tidak tahu kalau beberapa waktu belakangan ini Raden Mas Wira Bumi telah menuntut ilmu kesaktian pada seorang sakti di pantai selatan."

"Yang aku tahu Wira Bumi pernah minta waktu istirahat cukup lama. Katanya untuk mengobati penyakit yang diidapnya. Rupanya dia berguru pada seseorang. Kau tahu siapa orang sakti yang jadi gurunya itu?"

"Saya tidak tahu. Ada seorang pembantu yang dulu pernah bekerja pada Raden Mas Wira Bumi sewaktu dia masih menjadi Tumenggung. Pembantu itu bernama Djaka Tua. Kabarnya dia yang tahu siapa adanya guru Raden Mas Wira Bumi. Hanya sayang dia telah lenyap melarikan diri ...."

"lstri ke tiga Wira Bumi bernama Nyi Retno Mantili juga lenyap dan sampai saat ini tidak pernah ditemukan."

"Kanjeng Patih, saya yakin lenyapnya pembantu serta istri Raden Mas Wira Bumi saling punya kaitan. Maaf, ijinkan saya melanjutkan keterangan. Setelah Eyang Tuba Sejagat tewas, saya diperintahkan membuang mayatnya.

Mayat saya buang malam itu juga ke dalam sebuah jurang di pinggir selatan Kotaraja."

"Aku tidak percaya dan merasa sangat aneh. Wira Bumi ingin membunuhku lewat tangan Eyang Tuba Sejagat. Aku tidak ada permusuhan dengan dirinya. Ketika istrinya lenyap aku memerintahkan pasukan besar untuk mencari. Jabatannya yang baru sebagai Bendahara Kerajaan juga aku yang mengusulkan kepada Sri Baginda.

Lalu dia ingln membunuhku. Apa dia sudah gila. Wira Bumi bukan saja membalas air susu kebaikanku dengan air tuba, tapi malah dengan darah!" Patih Kerajaan gelengkan kepala berulang kali.

"Ada dua kejadian lagi malam itu yang perlu saya beri tahu pada Kanjeng Patih." Kata Danang Kaliwarda pula.

"Apa?" Tanya sang Patih. Dia seolah melupakan waktunya yang sangat terbatas serta rencana menemui Sri Baginda pagi itu.

"Selesai saya membuang mayat Eyang Tuba Sejagat saya kembali ke Gedung Bendahara. Tak sengaja saya lihat jendela kamar tidur Raden Mas Wira Bumi dalam keadaan sedikit terbuka dan lampu di dalam kamar menyala terang benderang. Mungkin Raden Mas Wira Bumi sudah tertidur dan lupa menutup jendela. Saya bermaksud hendak menutup jendela itu namun di dalam kamar saya lihat Raden Mas Wira Bumi tengah menggeluti seorang perempuan cantik di atas ranjang. Keduanya dalam keadaan bugil ....."

"Semua orang tahu Raden Mas Wira Bumi punya tiga orang istri termasuk Nyi Retno Mantili. Apakah perempuan yang bersamanya saat itu bukan salah satu dari dua istrinya yang lain?"

Danang Kaliwarda gelengkan kepala.

"Tidak Kanjeng Patih. Perempuan yang digauli Raden Mas Wira Bumi itu bukan salah satu dari dua istrinya. Saya tidak pernah melihat perempuan itu sebelumnya. Ada keanehan dengan auratnya. Salah satu buah dadanya, yang sebelah kiri sangat besar."

"Apa perempuan itu terus berada di Gedung Bendahara sampai pagi? Menginap?"

"Tidak Kanjeng Patih. Saya bersembunyi di satu tempat setelah lebih dulu memberi perintah pada anak buah yang bertugas malam itu agar jangan sekali-kali melewati atau berada di dekat jendela. Menjelang pagi jendela terbuka. Saya lihat perempuan itu melesat keluar kamar, masih dalam keadaan bugil, menenteng pakaian lalu lenyap di arah timur. Gerakannya luar biasa cepat pertanda dia memiliki ilmu kepandaian tinggi. Tak selang berapa lama saya lihat Raden Mas Wira Bumi keluar pula dari gedung, berjalan cepat menuju bagian luar tembok sebelah selatan. Saya mengikuti. Raden Mas Wira Bumi berjalan menuju satu rumpunan pohon bambu. Ternyata di situ ada sosok seorang lelaki, terjepit tak berdaya di antara empat batang bambu. Ketika saya perhatikan ternyata orang itu adalah Djaka Tua, bekas pembantu di Gedung Tumenggung dulu. Saya dengar Raden Mas Wira Bumi menanyakan bayinya dan sebilah golok. Dia menuduh Djaka Tua telah menculik bayi itu dan mencuri golok. Menurut pengakuan Djaka Tua bayi dan golok diambil oleh seorang kakek tinggi putih. Dia tidak tahu siapa adanya kakek itu dan berada dimana. Raden Mas Wira Bumi kemudian mencekik leher Djaka Tua. Hampir pembantu itu menemui ajal tiba-tiba ada suara perempuan tertawa. Dia mengatakan sesuatu tapi tak jelas saya dengar. Kemudian ada dua larik sinar putih menderu disertai dua letusan dahsyat dan menebarnya kabut aneh.

Raden Mas Wia Bumi selamat dari serangan dua larik sinar putih. Namun saat itu Djaka Tua tak ada lagi di tempat itu.

Saya segera mendekati Raden Mas Wira Bumi dan menanyakan apa yang terjadi. Dia menjawab tidak terjadi apa-apa di tempat itu dan mengatakan saya bermimpi lalu ....."

Entah apa yang terjadi mendadak udara di pendopo sebelah timur Gedung Kepatihan itu berubah redup seolah siang telah berganti malam. Satu bayangan merah berkelebat disertai membahananya bentakan perempuan.

"Danang Kaliwarda, manusia busuk pengkhianat atasan! Kau memang tidak dalam alam mimpi tapi tengah menuju alam kematian!"

Dua orang yang duduk di lantai pendopo sama terkejut.

Patih Kerajaan merasa sambaran angin menerpa di samping kanan. Di lain kejap seorang nenek kurus bungkuk tahu-tahu telah berdiri di depannya. Muka keriput, rambut riap-riapan serta pakaiannya yang berupa selempang kain, semua berwarna merah. Patih Kerajaan bahkan melihat bagaimana sepasang mata termasuk alis, lidah dan gigi nenek ini juga berwarna merah menggidikkan.

Danang Kaliwarda tidak tahu siapa adanya nenek serba merah ini. Namun dari ucapannya tadi dia bisa menduga jangan-jangan perempuan tua ini adalah orang sakti guru Wira Bumi. Dadanya berdebar, muka pucat.

Sementara Patih Kerajaan maklum siapapun adanya nenek serba merah ini dia adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Sang Patih mencium adanya bahaya.

Serta merta dia berdiri dan menegur dengan suara datar.

"Nenek muka merah, antara kita tidak saling kenal.

Mengapa berani masuk ke Gedung Kepatihan tanpa ijinku"

Si nenek yang bukan lain adalah Nyai Tumbal Jiwo, guru Raden Mas Wira Bumi hamburkan suara tawa bergelak.

"Aku datang dan pergi kemana aku suka! Siapa berani melarang!" .

Walau merasa dianggap enteng namun Patih Sawung Giring Bradjanata masih bicara dengan suara rendah.

Malah dengan seringai tersungging di mulut.

"Rupanya aku berhadapan dengan seorang perempuan tua kurang ajar. Nenek muka merah, dengar.

Aku masih memberi pengampunan padamu jika kau mau angkat kaki dari tempat ini sekarang juga!"

"Kalau aku tak mau minggat?!" Nyai Tumbal Jiwo menantang.

Habislah kesabaran sang patih. Dia berteriak memanggil pengawal. Tiga pengawal segera muncul.

Sesaat mereka terheran-heran menyaksikan udara di pendopo redup seperti itu.

"Ringkus perempuan tua muka merah itu. Bawa dia keluar dari Gedung Kepatihan. Jika berani masuk lagi tangkap!"

Tiga pengawal bertubuh kekar segera lakukan perintah Patih Kerajaan. Namun apa yang terjadi kemudian membuat Patih Sawung Giring Bradjanata terkejut luar biasa, juga merinding. Ketika hendak disergap, nenek muka merah berkelebat. Lalu tiga larik sinar merah berkiblat. Tiga pengawal menjerit. Ketiganya terpental sejauh dua tombak. Terguling di lantai pendopo dalam keadaan sekujur tubuh melepuh serta kepulkan asap! Selagi Patih Kerajaan terkesiap begitu rupa si nenek kembali berkelebat dan tahu-tahu keris milik sang Patih telah berada di tangan sl nenek sementara sarungnya masih tersisip di pinggang Patih Sawung Giring.

Selaku Patih Kerajaan Sawung Giring Bradjanata tentu saja memiliki kepandaian tinggi. Namun kalau senjata di pinggangnya dapat dirampas orang, berarti si perampas memiliki kehebatan melebihi dirinya.

"Tua bangka kurang ajar! Kembalikan kerisku!" teriak Patih Kerajaan marah besar. Lalu tubuhnya melesat ke depan. Tidak sungkan lagi dia langsung kirimkan pukulan kilat ke arah kepala nenek muka merah. Nyai Tumbal Jiwo merunduk. Tertawa cekikikan.

Perkelahian hebat segera terjadi. Seolah melecehkan, si nenek hanya pergunakan tangan kanan untuk melayani lawan sementara tangan kiri memegang keris tanpa sarung. Setiap terjadi bentrokan lengan Nyai Tumbal Jiwo terjajar dua langkah ke belakang sebaliknya Patih Kerajaan merasa kesakitan amat sangat seolah tangannya membentur pentungan besi.

Dalam jurus ke empat setelah menggempur habishabisan dengan mengeluarkan jurus bernama Menusuk Bumi Menikam Langit Patih Sawung Giring Bradjanata berhasil mendaratkan jotosan tangan kanannya ke dada kiri lawan. Nyai Tumbal Jiwo meraung setinggi langit. Asap merah mengepul dari ubun-ubunnya. Bagian yang barusan kena dipukul adalah tepat payudara sebelah kiri yang bengkak besar. Walau dasarnya adalah mahluk dari alam roh, namun tetap saja dia mengalami luka dalam yang hebat. Nyai Tumbal Jiwo semburkan ludah campur darah dari mulutnya. Sepasang mata laksana memancarkan kilatan api. Dari ubun-ubun mengepul asap merah tipis.

"Patih jahanam! Terbanglah ke akhirat!" Mulut berucap lima jari tangan kanan menjentik!

"Wuutt... wuutt... wuutt... wuutt... wuuttt!"

Lima Jari Akhirat!

Lima larik sinar merah berkiblat. Patih Kerajaan berusaha menghindar sambil dua tangan melepas pukulan sakti mengandung tenaga dalam tinggi, namun tetap jebol! Seperti diketahui terhadap serangan Lima Jari Akhirat jarang lawan bisa lolos. Kalaupun sanggup bertahan maka sekujur tubuhnya akan melepuh cacat dan menderita kesakitan seumur hidup. Patih Sawung Giring menjerit keras ketika empat dari lima sinar merah menyapu dirinya. Tubuhnya terpental menghantam salah satu tiang pendopo. Tiang patah, sosok Sawung Giring Bradjanata terkapar di lantai dalam keadaan hangus mengerikan!

"Anjing pengkhianat! Kau mau lari kemana?!" bentak Nyai Tumbal Jiwo ketika Danang Kaliwarda dilihatnya berusaha hendak kabur.

"Aku tidak punya dosa kesalahan apa-apa terhadapmu ...."

"Manusia anjing kurap! Tutup mulutmu! Siapa bilang kau tidak punya dosa kesalahan terhadapku! Aku Nyai Tumbal Jiwo adalah guru dan kekasih Wira Bumi yang kau khianati! Aku tahu malam itu kau mengintip dibalik jendela sewaktu aku bercinta dengan Wira Bumi. Apa kau tergiur?

Apakah kau ingin melakukannya padaku? Hik ... hik..hik!

Kau belum pantas melayaniku! Kau lebih cocok kalau aku kirim keakhirat seperti majikan besarmu itu! Hik ... hik ... hik!"

Nyai Tumbal Jiwo menyergap.Keris di tangan kanan menderu ke arah dada Danang Kaliwarda. Kepala Pengawal Gedung Bendahara ini cepat melompat mundur sambil menghunus golok besar.

"Kau punya nyali juga! Aku mau tahu sampai dimana kehebatanmu!" Tangan kanan Nyai Tumbal Jiwo yang memegang keris berkelebat laksana kilat. Serangan ganasnya membuat Danang Kaliwarda kelabakan. Dalam waktu beberapa kejapan saja dia telah menghunjamkan empat tusukan dan tiga babatan keris ke tubuh Kepala Pengawal Gedung Bendahara Kerajaan itu.

Danang Kaliwarda hanya sempat menangkis satu kali.

Lalu tubuhnya roboh. Darah bersimbah dari luka-luka di sekujur tubuh dan tenggorokan.

Dengan tenang sambil menyeringai Nyai Tumbal Jiwo melangkah mendekati mayat Sawung Giring Bradjanata.

Keris yang dipegangnya digenggamkan ke dalam jari-jari tangan Patih Kerajaan itu. Sebelum meninggalkan pendopo timur nenek muka merah ini hampiri sosok Danang Kaliwarda yang tengah sakarat. Enak saja dan kurang ajar sekali, tangan kanannya disusupkan, merabaraba ke balik celana Kepala Pengawal itu, kepala mendongak, wajah menyeringai.

"Aaahh, rnenyesal aku membunuhnya terlalu cepat.

Seharusnya aku coba dulu yang satu ini. Hik ... hik ... hik."

Sesaat setelah Nyai Tumbal Jiwo tinggalkan tempat itu, udara di pendopo kembali cerah.

Hari itu juga Kotaraja dilanda geger besar. Tersiar kabar bahwa telah terjadi perkelahian antara Patih Kerajaan dengan Kepala Pengawal Gedung Bendahara.

Kedua-duanya tewas. Di duga kedua orang ini telah mengadu jiwa akibat satu dendam atau perkara yang tidak diketahui apa adanya. Hanya saja tidak ada yang bermata jeli dan menyelidik lebih jauh akan keadaan mayat Patih Sawung Giring. Danang Kaliwarda tidak memiliki ilmu kesaktian yang mampu membuat dia membunuh lawannya sampai sekujur tubuh sang Patih melepuh hangus!

Dua puluh hari setelah peristiwa berdarah itu, Raden Mas Wira Bumi dipercayakan Sri Baginda untuk menduduki jabatan Patih Kerajaan. Malam harinya Nyai Tumbal Jiwo datang menemui Wira Bumi, minta dihibur sampai pagi.

Dan Wira Bumi melayani sepenuh hati karena dia menyadari jabatan Patih Kerajaan itu didapatnya dari hasil pekerjaan licik dan keji si nenek dari alam roh itu.

HUJAN luar biasa lebat mengguyur puncak Gunung Merapi. Walau saat itu siang hari namun keadaan tidak beda seperti malam. Setiap angin bertiup kencang ranting-ranting serta daun pepohonan bergoyang dan bergesek mengeluarkan suara bersiur panjang menggidikkan.

Dalam cuaca buruk begitu rupa Pangeran Matahari berlari ke arah utara puncak gunung. Seperti dikisahkan dalam Episode sebelumnya (Nyi Bodong) setelah ditimpa malapetaka berulang kali, Pangeran Matahari menemui gurunya Si Muka Bangkai alias Si Muka Mayat melalui tapa Aras Bumi Aras Langit. Sesuai petunjuk sang guru saat itu dia tengah menuju sebuah goa yang puluhan tahun silam pernah menjadi tempat kediaman Si Muka Bangkai.

Karena sudah sekian lama, ditambah keadaan cuaca yang gelap, di bawah hujan lebat pula, meski pernah tinggal di situ, cukup sulit bagi Pangeran Matahari untuk mencari goa tersebut.

Sementara berlari dia ingat semua ucapan Si Muka Bangkai.

"Kau pergilah ke puncak Gunung Merapi sebelah utara, ke bekas goa tempat kediamanku. Di sana kau akan menemukan seperangkat pakaian yang harus kau pakai begitu turun gunung. Di dalam goa kau akan menemukan pula sebuah lentera yang hanya bisa menyala jika kau isi dengan minyak kasturi ini. Pada dinding goa kau akan melihat guratan tulisan yang aku buat sebagai petunjuk penggunaan dan kegunaan benda itu. Untuk sementara sampai keadaan aman bagimu, kau hanya boleh menampakkan diri pada malam hari. Demi keselamatanmu kau harus membawa dan menyalakan lentera itu kemanapun kau pergi. Kau harus sadar musuhmu kini bukan hanya murid Sinto Gendeng keparat itu. Banyak orang lain yang menginginkan nyawamu! Sebelum aku lupa, ada satu hal yang harus kau ingat baik-baik. Lentera yang aku katakan tadi sekali-kali tidak boleh terkena atau bersentuhan dengan cairan atau air yang keluar dari tubuh manusia. Misal air mata, air keringat, air kencing bahkan air mani! Ha.. .ha.. .ha! Pokoknya semua air yang berasal dari tubuh manusia! Kalau larangan itu sampai dilanggar kau akan ditimpa malapetaka besar! Pergilah ke goa di puncak Merapi. Kau akan mengetahui apa yang harus kau lakukan. Satu hal harus kau ingat. Selesai membaca dan memahami guratan tulisanku di dinding goa, tulisan itu harus kau kikis habis. Harus kau lenyapkan!"

Hujan bertambah lebat dan udara semakin gelap.

Sesekali kilat menyambar. Puncak gunung Merapi sesaat jadi terang benderang. Walau sangat singkat namun cukup memberi petunjuk pada Pangeran Matahari kemana dimana dia berada saat itu dan kemana dia harus meneruskan larinya.

Karena hujan tak kunjung berhenti dan udara semakin gelap, kawatir akan kesasar, Pangeran Matahari akhirnya memutuskan untuk mencari tempat berteduh.

Kalau cuaca sudah baik baru dia melanjutkan perjalanan.

Ketika kilat kembali menyambar dan keadaan terang benderang sekilas, mata tajam sang Pangeran sempat melihat satu lamping bukit ditumbuhi sederetan pohonpohon besar. Pada bagian bawah deretan pohon sebelah tengah ada satu cekungan tanah cukup dalam. Tanpa pikir panjang Pangeran Matahari segera berlari memasuki cekungan tanah itu. Cukup lama dia duduk berteduh di situ sampai akhirnya hujan mulai reda dan langit perlahanlahan bersih benderang.

Sekitar sepenanakan nasi akhirnya Pangeran Matahari berhasil menemukan goa yang pernah menjadi kediaman guru dan dirinya sendiri. Goa ini terletak di lamping sebuah kali kecil yang saat itu airnya meluber banjir kemana-mana. Begitu sampai di depan goa Pangeran Matahari mencium bau tengik menyesakkan pernafasan.

Melangkah masuk ke dalam goa sejauh tujuh langkah bau tengik itu semakin keras dan seolah mencekik jalan nafas.

Dadanya berdebar, dua lutut terasa goyah. Langkah tertahan. Pangeran Matahari segera kerahkan tenaga dalam, tutup saluran pernafasan untuk beberapa lama sampai perasaannya tenang kembali dan getaran di kedua lutut lenyap. Hati-hati, penuhwaspada dia melanjutkan langkah.

"Aneh, seharusnya goa ini berada dalam keadaan gelap gulita. Mengapa seperti ada cahaya datang dari sebelah dalam? Mungkin lenteranya sudah menyala?"

membatin Pangeran Matahari lalu dia meraba bagian pakaian di balik mana dia menyimpan tabung berisi minyak kasturi yang diberikan Si Muka Bangkai. Dia ingat, lentera yang ada di dalam goa hanya bisa dinyalakan dengan minyak kasturi itu.

Setelah lewat tujuh langkah lagi memasuki goa bau tengik yang menyesakkan dada mendadak lenyap, kini berganti dengan bau wangi kulit pohon kayu manis, yang menebar rasa segar. Di sisi kanan goa ada satu gundukan batu. Di atas batu ini terletak seperangkat pakaian berupa jubah hitam panjang selutut, serta celana hitam dan gulungan kain ikat kepala berwarna merah. Ketika Pangeran Matahari mengembangkan jubah hitam, pada bagian dada terpampang gambar matahari bulat besar berwarna merah lengkap dengan sinar yang juga berwarna merah. Pangeran Matahari terdiam sejurus. Dia ingat, baju dan celana hitam serta ikat kepala merah adalah perangkat pakaian yang dikenakannya pertama kali sewaktu turun gunung. Hanya kali ini baju ditukar menjadi jubah dan bentuk gambar matahari berbeda dari yang dulu. Dia juga ingat pesan gurunya bahwa pakaian itu baru boleh dikenakan jika dia siap turun gunung. Apakah pakaian dan ikat kepala itu merupakan tanda bahwa dia akan turun gunung untuk kedua kalinya, membuka lembaran baru dalam rimba persilatan?

Sang Pangeran lanjutkan langkah. Baru menindak dua langkah mendadak telinganya mendengar suara orang mengorok. Suara ini datang dari bagian dalam goa.

Membuat Pangeran Matahari menjadi penuh tanda tanya.

"Ada orang tidur di dalam sana. Siapa? Mungkin guru? Tapi dia sudah meninggalkan pesan baru akan kembali lagi tiga ratus hari yang akan datang."

Pangeran Matahari usap-usap dagunya yang ditumbuhi janggut liar lalu kembali teruskan langkah. Kali ini lebih perlahan sambil tangan kanan siap sedia membekal dan melepas pukulan sakti jika mendadak ada bahaya tak terduga mengancam. Semakin jauh masuk ke dalam goa semakin terang cahaya yang datang dari sebelah dalam dan bertambah keras suara mendengkur.

Tiga langkah di depan sana goa membelok ke kiri. Tujuh langkah dari kelokan, goa itu sampai pada ujungnya.

Pangeran Matahari masih belum melihat, lentera yang dikatakan Si Muka Bangkai. Mungkin berada di bagian ujung goa, dibalik kelokan. Mau tak mau berdebar juga dada sang Pangeran ketika dia melangkah memasuki kelokan. Suara tertahan keluar dan mulutnya begitu melewati kelokan dan memandang ke depan. Tujuh langkah di seberang sana, goa berakhir pada satu dinding batu. Ujung goa terlihat rata, membentuk sebuah ruangan batu berukuran dua kali tiga tombak. Ruangan ini bersih sekali seperti ada yang barusan menyapunya. Di sinilah dulu dia pernah tinggal bersama Si Muka Bangkai selama bertahun-tahun. Kenangan akan masa lalu serta merta buyar, berubah dengan rasa kaget luar biasa ketika Pangeran Matahari melihat bagaimana di salah satu sudut ruangan bergelung sosok besar seekor ular hitam berkilat, kepala menjulai ke lantai goa, mata terpejam, mulut sedikit terbuka. Dan dari mulut inilah keluar suara mendengkur keras seperti dengkur manusia! Tubuh ular yang berkilat itulah yang memancarkan cahaya menerangi sepanjang goa. Untuk beberapa lama Pangeran Matahari tegak setengah memicingkan mata karena kesilauan.

"Ular mendengkur seperti manusia..." Ucap Pangeran Matahari dalam hati. Keanehan ini membuat dia berlaku waspada dan pentang mata lebar-lebar. Dia masih belum melihat lentera yang dikatakan sang guru. Dia juga tidak melihat guratan-guratan tulisan seperti yang dikatakan Si Muka Bangkai. Pangeran Matahari memandang berkeliling.

Matanya kembali memperhatikan sosok ular hitam di sudut ruangan. Ah! Kali itulah dia baru melihat. Di dalam lingkar sebelah dalam gelungan tubuh ular hitam besar terdapat satu benda yang bukan lain adalah sebuah lentera. Bagian atas lentera terbuat dari bahan tembus pandang semacam kaca tebal berwarna merah, kuning dan hitam, diikat oleh sejenis logam berwarna hilam, lengkap dengan pegangan berbentuk kepala naga. Bagian bawah lentera tidak terlihat karena tentutup gelungan tubuh ular hitam.

"Gila. bagaimana aku mau mengambil lentera? Ular besar itu menggelung seperti menjaganya. Si Muka Bangkai, dia hanya membuat diriku susah saja. Di dinding goa aku sama sekali tidak melihat guratan tulisan seperti yang dikatakannya! Guru tidak pernah menyebut perihal binatang ini. Apakah ular ini datang begitu saja, kesasar di dalam goa karena hujan lebat di luar sana? Atau apakah Si Muka Bangkai menipuku. Sebenarnya dia sengaja memasang perangkap, ingin membunuhku di tempat ini?!"

Baru saja Pangeran Matahari berkata dalam hati begitu rupa, tiba-tiba ular hitam besar di sudut ruangan keluarkan suara mengorok lebih keras hingga lantai goa terasa bergetar. Kepala binatang ini terangkat dan sepasang mata terbuka sedikit, berputar melirik ke arah Pangeran Matahari. Sang Pangeran tercekat sewaktu menyaksikan bagaimana dari sepasang mata ular hitam besar ada cahaya menyambar. Cahaya kematian!

Kemudian ular ini kembali lunjurkan kepala di lantal dan lanjutkan tidur mendengkurnya!

"Aku harus dapatkan lentera itu. Bagaimana caranya?

Apakah aku harus membunuh ular hitam itu terlebih dulu?"

Pangeran Matahari berdiri tak bergerak. Sepasang mata menatap ke arah ular hitam sementara otak mulai bekerja. Cukup lama dia bersikap seperti itu, perlahanlahan Pangeran Matahari turunkan badan, duduk bersila di sudut yang berlawanan dengan ular besar hitam yang menggelung lentera. Dua telapak tangan dikembangkan, lalu diletak ditekankan ke lantai goa. Bersamaan dengan itu murid Si Muka Bangkai ini kerahkan tenaga dalam dan hawa sakti mengandung kekuatan dahsyat, disalurkan ke lantai goa dan diarahkan ke sudut ruangan di seberangnya.

Lantai goa yang dialiri tenaga dalam dan hawa sakti yang keluar dari tubuh Pangeran Matahari tampak retak mengepulkan asap kemerahan. Retakan dan kepulan asap ini bergerak ke arah sudut ruangan dimana ular hitam besar bergelung. Lentera di dalam gelungan bergoyanggoyang.

Sesaat kemudian tubuh ular ini kelihatan ikut mengepulkan asap. Suara dengkuran serta merta lenyap.

Sepasang mata membuka. Kepala tersentak naik ke atas dan mulut yang tertutup kini menganga. Lidah terjulur memancarkan cahaya biru menyilaukan. Dari mulut binatang ini kemudian mendadak keluar suara tawa panjang. Suara tawa perempuan!

Jelas sudah binatang ini adalah mahluk jejadian!

Yang membuat Pangeran Matahari jadi melengak kaget bukan hanya karena menyadari bahwa binatang itu bukan ular sungguhan, atau mendengar tawanya yang menggidikkan, tetapi juga karena merasakan bagaimana tenaga dalam dan hawa sakti panas yang dikirimkannya ke arah ular hitam itu kini membalik mengarah dirinya dengan kekuatan berlipat ganda. Retakan di lantai batu tampak merah membara saking panasnya. Kepulan asap bukan lagi berwarna merah tapi berubah biru pertanda panasnya sangat luar biasa! Yang sangat dikawatirkan Pangeran Matahari adalah rusaknya lentera akibat hawa panas luar biasa.

"Plaakk!"

Tiba-tiba ular hitam sentakkan ekor, menghantam lantai goa. Saat itu juga hawa panas dan kepulan asap biru menyambar dahsyat. Pangeran Matahari berteriak keras. Dua tangan dipukulkan. Satu menghantam ke depan ke arah ular hitam, satunya lagi untuk membuyarkan serangan hawa panas dan kepulan asap biru.

"Buumm!"

"Buumm!"

Dua letusan dahsyat menggelegar. Goa batu laksana digoncang gempa. Pangeran Matahari terpental sampai ke tikungan goa. Dia merasa tubuhnya seperti hancur lebur.

Rasa sakit menjalar dari ubun-ubun sampai ke jari kaki.

Namun ternyata dia masih hidup dan mampu berdiri.

Hanya saja ketika memperhatikan keadaan dirinya, tengkuknya langsung dingin. Jubah kelabu yang dikenakannya kini telah berubah hitam hangus dan mengepulkan asap! Di dalam goa sana terdengar suara tawa sang ular, suara tawa perempuan!

"Aneh, kalau pakaianku hangus seharusnya aku mengalami cidera berat. Bahkan bisa mati! Ada satu kekuatan melindungi diriku ..." Pangeran Matahari berucap dan bertanya-tanya dalam hati. Rasa jerihnya perlahanlahan lenyap, berganti dengan rasa percaya diri.

"Pangeran Matahari, aku tahu kedatanganmu kemari adalah untuk mengambil lentera. Aku akan memberikan padamu asal kau mau menukar dengan sesuatu!"

Ada orang bicara di dalam goa! Suara perempuan!

Ular itukah yang mengeluarkan ucapan?!

Belum lenyap gema suara ucapan di dalam goa, Pangeran Matahari telah melompat melewati tikungan dan berdiri lima langkah di hadapan ular hitam.

"Mahluk jahanam! Jejadian siapa kau adanya?! Apa maksudmu menukar lentera itu dengan sesuatu?!"

Pangeran Matahari membentak sambil tangan kiri menyiapkan Pukulan Telapak Matahari yang diwarisinya dari Si Muka Bangkai sementara tangan kanan siap melepas Pukulan Menahan Bumi Memutar Matahari. Ini adalah jurus pertahanan sekaligus menyerang yang didapatnya dari seorang sakti bernama Singo Abang. (Baca Episode berjudul "Kembali Ke Tanah Jawa") Ular hitam angkat kepala lebih tinggi. Dua mata memandang berkilat. Lidah menjulur lalu mulutnya berucap.

"Pangeran Matahari. Walau banyak lawan telah menggebukmu, walau mukamu sudah menjadi cacat buruk, sikap dan ucapanmu masih saja sombong pongah seperti dulu! Pasang telingamu baik-baik.Yang aku minta sebagai pengganti lentera adalah nyawamu!"

Sepasang mata Pangeran Matahari mendelik berkilat.

Rahang menggembung dan pelipis bergerakgerak. Kepala mendongak lalu dia tertawa bergelak.

"Mahluk jejadian! Ketololan akan membawa celaka bagimu! Kau tidak berada di alammu, mengapa berani bicara congkak?! Lekas menyingkir dari goa ini atau kau akan menerima azab yang akan membuat rohmu tergantung lumpuh antara langit dan bumi!"

Ular di sudut ruangan kembali tertawa panjang.

"Kau tidak tahu indahnya hidup di alam roh.

Sebaliknya apakah kau pernah merasakan hidup sengsara dipendam dua puluh satu tombak di dalam tanah? Hik ... hik ... hik! ltulah nasib yang bakal kau alami!"

Saat itu Pangeran Matahari sudah siap untuk menyerang ular di sudut ruangan. Namun dia kawatir serangannya akan merusak lentera. Dia harus mencari akal. Paling tidak mengulur waktu.

"Ular betina jejadian! Apakah kekasihmu yang menyuruh datang mencari celaka ke tempat ini?!"

Mendengar ucapan Pangeran Matahari sang ular malah tertawa.

"Kau tidak tahu! Kekasihku adalah dirimu sendiri!"

Pangeran Matahari melengak kaget dan memaki dalam hati.

"Siapa kau sebenarnya?!" Bentak murid Si Muka Bangkai.

"Aku adalah titisan seseorang."

"Seseorang siapa?!"

"Seorang gadis yang pernah kau permainkan, kau jadikan budak nafsu sehingga hamil. Lalu kau bunuh!"

Kening Pangeran Matahari mengerenyit. Mulut ternganga.

"Binatang keparat! Katakan kau ini titisan siapa?!"

"Aku adalah Pandan Arum. lngat peristiwa di Pangandaran? Di sana kau membunuh aku!" (Baca Episode berjudul "Kiamat di Pangandaran")

Pangeran Matahari jadi tertegun. Apakah binatang jejadian ini tidak menipunya? Benarkah dia titisan Pandan Arum, adik Bidadari Angin Timur yang hendak menuntut balas melampiaskan dendam kesumat?! "Akal ... akal, cerdik ... cerdik! Aku harus punya segala daya, akal dan kecerdikan ....." Pangeran Matahari berkata dalam hati. Lalu dia mendengus dan berkata.

"Terlalu banyak manusia yang aku bunuh! Aku tidak ingat satu persatu! Aku tidak tahu kau ini Pandam Arum yang mana! Jika mampu harap perlihatkan ujud dirimu yang sebenarnya!"

"Dajal busuk! Tumpukan dosa keji membuat matamu buta dan hatimu menjadi batu! Buka mata lebar-lebar!

Apa kau masih bisa melihat!"

Ular di sudut ruangan membuka gelungan, tubuhnya naik ke atas. Kepala dan tubuh digoyang tiga kali. Wusss!

Asap putih mengepul. Saat itu juga sosok ular berubah menjadi ujud seorang gadis berpakaian hitam, rambut hitam, wajah cantik tapi pucat. Sepasang mata berwarna merah membara pertanda ada pancaran dendam kesumat, menatap tak berkedip ke arah Pangeran Matahari.

"Pandan Arum, memang dia ...." Ucap Pangeran Matahari dalam hati. Lalu tidak membuang waktu lagi karena memang ini kesempatan yang ditunggu, Pangeran Matahari hantamkan tangan kiri kanan. Tangan kanan melepas Pukulan Tapak Merapi. Tangan kiri melepas Pukulan Merapi Meletus.

Menghadapi dua serangan maut yang bisa menghancurkan dirinya dan mampu meruntuh goa perempuan di dalam ruangan rangkapkan dua tangan di depan dada lalu sepasang mata dikedipkan.

"Wuss! wusss!"

Dua larik slnar merah menderu dahsyat. Dua pukulan sakti yang dilepas Pangeran Matahari musnah berubah menjadi asap tiga warna. Pangeran Matahari sendiri terpental jauh, terkapar di lantai goa, mulut kucurkan darah.

"Setan alas, kenapa tidak mampus?! Aku melihat ada cahaya aneh keluar dari pinggang manusia jahanam itu!

Kekuatan pelindung apa yang dimilikinya?!"

Cahaya aneh berwarna kehijauan yang dilihat perempuan itu juga sempat dilihat Pangeran Matahari. Dia yakin cahaya itulah yang telah menyelamatkan dirinya walau mengalami luka dalam yang cukup parah. Pangeran Matahari meraba pinggang kiri. Jari-jarinya menyentuh sebuah benda. Dia ingat benda itu adalah tabung bambu berisi minyak kasturi yang diberikan gurunya Si Muka Bangkai. Berarti inilah benda yang memberikan kekuatan pelindung maha dahsyat padanya. Tidak pikir panjang lagi Pangeran Matahari segera keluarkan tabung bambu dari balik jubahnya yang hangus.

Sepasang mata perempuan di depan sana mengerenyit. Dua kaki rnelangkah mundur ketika melihat benda yang ada di tangan Pangeran Matahari.

"Minyak larangan alam roh! Bagaimana bisa berada di tangan manusia jahanam itu?!" Perempuan dalam ujud gadis bernama Pandan Arum tiba-tiba berkelebat ke sudut ruangan, berusaha menyambar lentera. Namun Pangeran Matahari bertindak lebih cepat. Dia melompat menghadang sambil membuka kayu penutup tabung bambu. Tabung di dekatkan ke wajah Pandan Arum. Bau harum minyak kasturi serta merta memenuhi ruangan.

Pandan Arum meraung panjang dan keras. Sosoknya memudar lalu berubah jadi asap dan bergelung panjang melayang ke arah mulut goa.

Pangeran Matahari terduduk di lantai. Muka pucat, dada berdebar keras. Tabung bambu ditutupnya kembali lalu dia beringsut mendekati lentera. Lentera diperhatikan dengan seksama, dibolak balik beberapa kali. Pada bagian samping bawah yang merupakan dudukan lentera terdapat sebuah lobang kecil. Di samping lobang menempel sebongkah benda lembut yang ketika diperhatikan lebih teliti ternyata adalah lilin. Pangeran Matahari buka kayu penutup tabung bambu. Minyak kasturi yang ada dalam tabung itu dimasukkan ke dalam lentera lewat lobang kecil. Lobang kecil kemudian ditutup dengan lilin yang menempel di bagian bawah lentera. Begitu lobang tertutup terjadilah satu keanehan.

Perlahan-lahan lentera menyala sendiri, mengeluarkan cahaya terang tiga warna. Hitam, kuning dan merah. Keadaan di dalam goa menjadi terang benderang.

"Luar biasa, menyala sendiri tanpa disulut api ..."

ucap Pangeran Matahari penuh kagum. Namun dia masih ingin tahu sampai dimana kehebatan lentera ini. Ketika dia hendak menyentuh pegangan lentera mendadak lentera mengiblatkan tiga sinar ke dinding ruangan. Sinar hitam, kuning dan merah. Saat itu juga pada tiga dinding ruangan terdapat serangkaian tulisan, tergurat dalam warna hitam, kuning dan merah.

Pada dinding sebelah kanan, terpampang rangkaian tulisan merah.

Jurus pertama Lentera Iblis.

Di dalam hidup ada kematian. Di dalam kematian masih ada kehidupan. Dua kaki merenggang ke depan dan ke belakang. Salurkan tenaga dalam. Lentera diputar ke kanan. Cahaya merah akan berkiblat mencari korban.

!tulah jurus Api Neraka.

Pangeran Matahari baca sekali lagi tulisan yang tergurat di dinding goa sebelah kanan itu. Lalu alihkan padangan ke dindirig sebelah kiri. Di situ terpampang rangkaian tulisan ke dua, berwarna hitam.

Jurus ke dua Lentera iblis.

Di dalam hidup ada kematian. Di dalam kematian masih ada kehidupan. Dua kaki merenggang ke depan dan ke belakang. Salurkan tenaga dalam. Lentera diputar ke kiri. Cahaya hitam akan berkiblat mencari korban. Itulah jurus Api Akhirat.

Pangeran Matahani menatap lurus ke arah dinding ruangan sebelah depan. Di sini tergurat jurus ketiga Lentera Iblis dalam warna kuning.

Jurus ke tiga Lentera Iblis.

Di dalam hidup ada kematian. Di dalam kematian masih ada kehidupan. Dua kaki merenggang ke depan dan ke belakang. Salurkan tenaga dalam. Lentera didorong ke depan. Cahaya kuning akan berkiblat mencari korban.

Itulah jurus Liang Lahat Menunggu.

Pangeran Matahari usap wajahnya. Dia memandang seputar ruangan batu. Ketika hendak melangkah mengambil lentera baru dia menyadari bahwa di lantai ruangan ternyata ada pula serangkaian tulisan, tergurat dalam selang seling tiga warna.

Lentera hanya akan menyala dalam ruangan dan malam hari serta ketika bahaya mengancam. Berjalan dan mencari mangsa di malam hari. Istirahat di siang hari.

Lentera Iblis akan menjaga keselamatan diri. Ingat pantangan niscaya kuasa rimba persilatan akan berada dalam tangan.

Pangeran Matahari meneliti lagi seputar ruangan. Tak ada tulisan atau petunjuk lain. Dia lalu melangkah mengambil lentera. Ketika pegangan lentera berada dalam genggamannya dia merasa ada hawa aneh menjalar memasuki tubuhnya, mendekam di bagian perut lalu mengalir ke arah kepala dan ke kaki.

Sebelum meninggalkan goa, Pangeran Matahari membuka jubah kelabunya yang telah hangus lalu dirobek.

Sebagian robekan digulung dan dibalutkan pada pegangan lentera. Ini untuk menjaga agar keringat dan tangannya tidak menyentuh pegangan lentera. Selesai mengenakan jubah dan celana hitam serta ikat kepala merah Pangeran Matahari keluar dan dalam goa. Di luar goa nyala lentera langsung meredup lalu padam. Tanpa disadari satu kealpaan besar telah dilakukan manusia segala akal segala cerdik ini. Dia lupa menghapus semua tulisan pada dinding dan lantai goa! Padahal gurunya Si Muka Bangkai telah sangat memesan dan mengingatkan hal itu.

***Selang setengah hari setelah Pangeran Matahari meninggalkan goa di puncak utara Gunung Merapi, menjelang matahari menggelincir memasuki ufuk tenggelamnya, seorang perempuan tua berpakaian biru gelap berambut panjang awut-awutan berkelebat di depan mulut goa. Mukanya yang putih menjadi pertanda bahwa dia adalah Nyi Bodong pendatang baru rimba persilatan yang belakangan ini tengah mengejar manusia keji berjuluk Hantu Pemerkosa yang diyakininya adalah Pangeran Matahari.

Bagian dalam goa tampak gelap. Namun tanpa ragu Nyi Bodong terus saja melangkah masuk. "Untung Kiai memberiku ilmu melihat di dalam gelap." Nyi Bodong membatin.

Memasuki goa Nyi Bodong melihat jejak-jejak kaki yang masih basah di lantai. Dada si nenek berdebar. Di satu tempat dia menemukan sisa sobekan jubah kelabu teronggok di lantai goa. "Aku terlambat lagi. Dia memang ada di tempat ini sebelumnya."

Nyi Bodong kecewa besar.

Begitu melewati tikungan dalam goa, walau penglihatannya agak redup namun Nyi Bodong mampu melihat empat rangkaian guratan tulisan pada tiga dinding serta lantai goa. Sementara hidungnya mencium wangi minyak kasturi.

"Lentera lblis....." ucap Nyi Bodong perlahan. "Di dinding ada petunjuk tiga jurus kematian mengandalkan lentera. Aku punya dugaan ada bahaya baru dalam rimba persilatan. Kemana aku harus mengejar?. "

Nyi Bodong jongkok di lantai goa. Telapak tangan kanannya diletakkan di atas jejak kaki yang ada dilantai.

Ketika dia mengalirkan hawa sakti ke atas jejak kaki, di lereng gunung sebelah selatan. Pangeran Matahari yang tengah berlari cepat merasa sesuatu menyengat telapak kaki kanannya hingga dia nyaris tersungkur di tanah.

Bersamaan dengan itu Lentera lblis yang ada dalam buntalan jubah kelabu mendadak menyala terang. Di dalam goa kini Nyi Bodong merasakan datangnya serangan balik. Lantai yang masih ditempeli tangan kanannya mengepulkan asap. Tangan terpental, tubuh terdorong keras, tersandar ke dinding goa.

"Bahaya besar! Apakah aku perlu memberi tahu Kiai sebelum melakukan pengejaran?" Nyi Bodong berdiri agak terhuyung. Lalu nenek muka putih ini dengan cepat tinggalkan tempat itu. Di satu tempat ketinggian dimana dia dapat melihat jelas goa bekas kediaman Si Muka Bangkai itu, Nyi Bodong berhenti. Dua kaki dikembang. Tangan kiri di angkat sebatas kepala, telapak di arahkan ke goa. Dari mulut melesat keluar suara raungan seperti lolong srigala. Sunyi sesaat lalu terdengar suara tawa cekikikan. Tangan kanan Nyi Bodong bergerak menyingkap bagian perut pakaian birunya. Pusar bodong tersembul.

"Wuss! Wusss!"

Dua sinar biru berkiblat. Hanya dalam satu kejapan mata, goa di bawah sana runtuh dan hancur. Longsoran tanah-serta tumbangan pepohonan bergemuruh menimbun. Goa yang punya peran penting dalam rimba persilatan tanah Jawa itu kini lenyap untuk selamalamanya.SANG SURYA masih belum menyembul di ufuk timur namun di hutan jati itu cuaca sudah terang-terang tanah. Di bawah sebuah pohon besar Djaka Tua sibuk membelah batangan-batangan bambu. Hujan besar yang turun malam tadi membuat gubuk beratap rumbia yang dihuninya bersama Nyi Retno Mantili dan Kemuning mengalami bocor di beberapa tempat. Kawatir hujan akan turun lagi, pagi-pagi sekali dia sudah bangun, mencari bambu dan dedaunan besar untuk memperbaiki atap yang bocor.

Sementara bekerja kicau burung terdengar bersahutsahutan.

Membelah bambu mengingatkan bekas pembantu Tumenggung Wira Bumi itu pada kejadian ketika dirinya ditangkap oleh Nyai Tumbal Jiwo. Ditotok lalu dijepit di rerumpunan bambu di tembok selatan gedung kediaman Wira Bumi yang waktu itu telah menjabat sebagai Bendahara Kerajaan. Untung dirinya diselamatkan Nyi Retno. Itu sebabnya pembantu ini mengangkat sumpah dalam hati, kemanapun Nyi Retno pergi dia akan selalu mengikuti. Apapun yang terjadi dia akan membela walau harus menumpah darah menyerahkan nyawa.

Terdengar suara berkereketan. Pintu gubuk terbuka. Nyi Retno Mantili keluar sambil menggendong Kemuning, boneka kayu yang dianggapnya sebagai anaknya yang hilang.

"Sepagi ini kau sudah sibuk. Apa yang kau kerjakan?" bertanya Nyi Retno.

"Hujan malam tadi lebat sekali.Atap gubuk kita banyak yang bocor. Harus cepat diperbaiki. Saya kawatir hujan turun lagi. Kasihan si kecil Kemuning kalau sampai terkena tirisan air hujan. Dia bisa sakit."

Nyi Retno tersenyum. Walau sampai saat itu pikirannya masih tidak waras namun ada kalanya ucapan yang menyentuh hati membuatnya larut walaupun hanya untuk beberapa saat.

Djaka Tua tahu, sudah beberapa hari Nyi Retno tidak pergi mandi ke telaga kecil tak jauh dari situ. Maka diapun bertanya. "Den Ayu, apa pagi ini Den Ayu akan mandi di telaga bersama Kemuning?" Djaka Tua selalu memanggil majikannya itu Den Ayu karena kalau dipanggil dengan nama Nyi Retno Mantili, perempuan muda yang terganggu jalan pikirannya itu selalu marah karena katanya namanya bukan Nyi Retno Mantili.

"Uh, mandi di udara sedingin begini? Bisa sakit anakku. Entah kalau siangan nanti." Nyi Retno Mantili menggeliat, mendekap boneka kayu lalu berkata. "Sebetulnya atap itu tidak dibetulkanpun tidak jadi apa.

Bukankah kita selalu berpindah-pindah tempat tinggal?

Katamu untuk menjaga keamanan dan keselamatan.

Padahal aku tidak takut pada siapapun! Selama ini aku hanya mengikuti kemauanmu. Sebenarnya mengapa kita selalu berpindah-pindah? Aku sudah betah tinggal di gubuk itu. Udara di sini bagus. Ada telaga. Dan selama ini tidak ada mahluk yang mengusik kita."

"Saya mengerti Den Ayu. Tapi belakangan ini di luaran banyak orang jahat berkeliaran," jawab Djaka Tua.

Dia menatap perempuan malang itu seketika lalu menyambung ucapannya. "Den Ayu, terakhir kali saya ke pasar tiga hari lalu, saya mendengar kabar. Tumenggung Wira Bumi yang belum lama menjadi Bendahara Kerajaan sekarang telah diangkat menjadi Patih Kerajaan ..."

"Ceritamu itu tidak ada artinya bagiku. Siapa Wira Bumi? Apa itu Tumenggung? Apa itu Bendahara Kerajaan?

Apa pula itu Patih Kerajaan?"

Djaka Tua terdiam. Kembali hatinya merasa sedih karena sampai saat itu jalan pikiran Nyi Retno masih belum jernih. Gangguan jiwanya terlalu dalam dan parah.

lngin dia menerangkan bahwa Raden Mas Wira Bumi yang sekarang menjadi Patih Kerajaan itu adalah suaminya.

Namun pembantu ini takut akan didamprat Nyi Retno.

Yang paling dikawatirkannya kalau-kalau keterangannya nanti akan membuat perempuan malang itu bertambah parah sakit jiwanya. Kalau saja Raden Mas Wira Bumi tidak menuntut ilmu sesat pada Nyai Tumbal Jiwo, tidak akan begini nasib perempuan muda yang masih belum sampai berusia tujuh belas tahun itu.

Sedikit demi sedikit sang surya menyembul di ufuk terbitnya. Cuaca perlahan-lahan menjadi terang.

"Den Ayu, selesai membetulkan atap saya bermaksud pergi ke pasar.

Persediaan makanan kita hanya cukup untuk satu hari."

"Ya, pergilah. Jangan lupa membeli pisang untuk Kemuning. Aku akan mengambil uang ..."

Setiap ke pasar Djaka Tua memang membeli pisang.

Pisang yang katanya untuk Kemuning tentu saja tidak pernah dimakan boneka kayu itu hingga akhirnya selalu tinggal membusuk.

"Tidak usah Den Ayu. Sisa uang belanja tempo hari masih ada," jawab Djaka Tua.

"Kalau begitu, sebelum kau pergi ke pasar ada baiknya aku dan Kemuning mandi dulu di telaga." Habis berkata begitu sambil bernyanyi-nyanyi menggendong boneka kayu Nyi Retno Mantili melangkah pergi. Tapi dia bukannya menuju telaga. Ketika melewati satu pohon besar yang salah satu cabangnya meliuk rendah, perempuan ini enak saja melesat ke atas dan sesaat kemudian dia sudah duduk berjuntai di atas cabang pohon, boneka kayu digendong diayun-ayun. Lnilah kehebatan yang dimiliki Nyi Retno berkat ilmu yang diberikan Kiai Gede Tapa Pamungkas padanya. Walau pikirannya tidak waras namun dengan kuasa Tuhan dia memiliki kemampuan untuk menyerap beberapa ilmu kepandaian yang dimasukkan sang Kiai ke dalam tubuhnya.

Sambil duduk uncang-uncang kaki Nyi Retno Mantili mulai menyanyi. Sebenarnva Djaka Tua selalu merasa kawatir setiap kali Nyi Retno menyanyi. Dia takut ada orang mendengar, mendatangi lalu menyelidiki atau berbuat jahat. Bagaimanapun juga meski pikiran terganggu, keadaan tidak terawat, namun kecantikan Nyi Retno Mantili tidak pupus. Sekali melihat wajahnya orang pasti akan tertarik. Apa lagi yang namanya mata lelaki!

***WALAU cuaca buruk, hujan gerimis turun dan pasar becek namun tetap saja Pasar lmogiri ramai dikunjungi orang. Selesai membeli barang belanjaan, untuk melepas haus dan mengurangi rasa lelah serta dingin Djaka Tua menyempatkan diri minum air serbat di salah satu sudut pasar. Minuman hangat itu membuat tubuhnya segar keringatan. Caping bambu yang sejak tadi menempel di kepala dibuka sebentar untuk mengusap rambut serta keningnya yang basah oleh keringat.

Hanya terpisah beberapa belas langkah dari tempat Djaka Tua minum serbat ada sebuah kedai makanan yang selalu ramai pengunjung. Dua orang di antara para tamu yang sarapan di tempat itu adalah perajurit Keraton yang pernah bertugas di gedung kediaman Wira Bumi semasa masih menjadi Tumenggung. Saat itu keduanya sedang bebas tugas satu hari dan tidak mengenakan pakaian keperajuritan. Salah seorang dari mereka sejak tadi memperhatikan Djaka Tua yang asyik menikmati serbat hangat. Saat itu Djaka Tua telah membuka caping bambunya sehingga wajahnya terlihat lebih jelas. Perajurit yang satu ini kemudian menyikut rusuk temannya dan berkata.

"Gondo, coba kau perhatikan lelaki yang sedang minum serbat itu. Aku sangat mengenali wajahnya.

Bukankah dia Djaka Tua pembantu di gedung Tumenggung tempat kita pernah bertugas dulu?"

Perajurit bernama Gondo memandang ke arah yang ditunjuk kawannya, memperhatikan lelaki berusia sekitar setengah abad yang duduk di bangku panjang tengah minum serbat. Sebuah caping terletak di pangkuan. Di alas bangku di sebelahnya ada sebuah keranjang berisi barang belanjaan.

"Supat, tampang dan potongan badannya memang sama dengan Si Djaka Tua," berkata Gondo. "Tapi orang ini tidak memiliki punuk di punggungnya"

"Walau ini memang aneh." kata perajurit bernama Supat. "Tapi aku tetap yakin dia Djaka Tua pembantu di Gedung Tumenggung dulu.

Bagaimana kalau kita menyelidiki. .Jika dia memang Djaka Tua dan kita bisa menangkapnya, pasti akan mendapat hadiah besar dari Raden Mas Wira Bumi. Apa lagi beliau sudah menjadi Patih Kerajaan. Bagaimana kalau kita tangkap dia sekarang juga?"

"Tunggu dulu, jangan kesusu. Menangkapnya soal gampang. Dia dikabarkan telah mencuri bayi Nyi Retno Mantili, istri Raden Mas Wira Bumi. Kalau diam-diam kita mengikutinya, besar kemungkinan dia akan membawa kita ke tempat dimana bayi itu disembunyikan. Kalau kita mendapatkan bayi itu hadiah dari Raden Mas Wira Bumi akan berlipat ganda. Malah tidak mustahil kita akan mendapat kenaikan pangkat istimewa."

"Aku setuju jalan pikiranmu," kata Supat. "Lihat, dia sudah membayar tukang serbat. Ayo kita ikuti."

***DJAKA TUA bukan tidak tahu kalau ada dua orang berbadan tegap mengikutinya sejak dia meninggalkan Pasar Imogiri. Dia tidak mau berpaling ke belakang untuk memperhatikan wajah. Namun dari potongan tubuh dua penguntit dia yakin mereka adalah perajurit Kerajaan. Jika orang menguntit dirinya pasti ada yang diincar atau hendak diselidiki. Pembantu ini cukup cerdik. Kalau hutan jati tempat beradanya gubuk kediaman Nyi Retno Mantili terletak di sebelah timur maka saat itu dia sengaja berjalan ke arah barat.

Setelah sekian lama dan jauh mengikuti, orang yang dikuntit tidak sampai-sampai ke tempat tujuan, Gondo dan Supat mulai curiga. Dua perajurit Keraton ini langsung saja mengejar dan menghadang jalan Djaka Tua.

Djaka Tua pura-pura terkejut.

"Kalian ini begal atau apa? Aku tidak punya barang berharga untuk dirampok." Ucap Djaka Tua.

"Setan alas! Kami bukan begal bukan perampok!"

bentak Gondo. "Kami ingin menyelidik siapa kau adanya!"

"Dulu kau punya punuk di punggungmu! Sekarang tidak ada lagi. Apa yang terjadi dengan dirimu?!"

Menyambung Supat dengan bentakan pula.

"Ada-ada saja kalian. Aku tidak pernah punya punuk di punggung." Jawab Djaka Tua. "Kalau kalian mau mencari orang berpunuk pergilah ke desa Getas di kaki selatan Gunung Merbabu. Kabarnya di sana banyak lelaki perempuan yang punya punuk di punggungnya."

Supat dan Gondo menyeringai.

"Kau pandai bicara!" ucap Gondo lalu merampas keranjang di tangan kiri Djaka Tua, memeriksa isinya.

"lni belanjaan dapur. Untuk siapa kau membeli?!" Bentak Gondo.

"Aku yang belanja. Tentu saja untuk keperluanku sendiri di rumah!"

"Jadi kau punya rumah! Nanti tunjukkan pada kami dimana rumahmu!" Berkata Supat sambil tepuk-tepuk bahu Djaka Tua.

"Di dalam keranjang ada pisang. Untuk siapa?

Makanan bayi?" Gondo menanyai dengan pandangan mata garang.

"Aku tidak punya bayi."

"Tentu saja karena kami tahu kau adalah perjaka tua!" hardik Gondo. "Jangan bersandiwara. Kau kira kami tidak tahu siapa dirimu! Kau adalah Djaka Tua, dulu pembantu di Gedung Tumenggung Wira Bumi. Kami mengenalimu karena pernah bertugas beberapa hari di sana."

Walau dadanya berdebar karena orang sudah tahu pasti siapa dirinya namun Djaka Tua pura-pura tersenyum dan gelengkan kepala berulang kali. "Keliru. Keliru sekali.

Namaku Lor Arta bukan Djaka Tua. Aku tidak pernah bekerja di Gedung Tumenggung."

"Dusta! Kau kira bisa mempermainkan kami?! Kau tengah menuju ke satu tempat. Tapi sengaja berputarputar untuk menipu kami! Sekarang juga bawa kami ke tempat kediamanmu. Kau mencuri bayi Raden Mas Wira Bumi! Pisang dalam keranjang itu pasti untuk makanan bayi! Dimana bayi itu kau sembunyikan hah!"

"Makin bingung aku mendengar ucapan kalian berdua. Bayi? Bayi apa? Siapa Raden Mas Wira Bumi aku juga tidak tahu. Aku ingin melanjutkan perjalanan. Harap jangan membuat susah orang desa seperti aku ini."

Supat dan Gondo tertawa gelak-gelak. "Pandainya kau bersandiwara, Djaka Tua. Apa aku copot dulu salah satu tanganmu baru kau mau bicara betul?!" Supat rnengancam sambil menghampiri Djaka Tua lalu menyambar tangan kiri pembantu itu dan memelintirnya ke punggung hingga Djaka Tua merintih kesakitan.

"Kau bakal tambah sengsara kalau terus menipu kami. Sekarang juga tunjukkan di mana tempat kediamanmu! Kalau kau berani menipu atau melarikan diri akan kami tanggalkan anggota badanmu satu persatu!"

"Aku tidak punya salah apa-apa. Tuduhan kalian dibuat-buat! Dari pada menganiaya diriku mengapa tidak membunuhku sekarang juga?!"

Djaka Tua sudah nekad. Dia lebih baik mati dibunuh orang dari pada memberi tahu dimana tempat kediamannya yang berarti sama dengan membuka rahasia dimana beradanya Nyi Retno Mantili.

"Hebat! Berani menantang! Rasakan dulu ini!"

Tangan kanan Gondo berkelebat. Satu jotosan keras mendarat di ulu hati Djaka Tua. Caping di kepala Djaka Tua terlempar. Tubuhnya yang kecil terlipat ke depan. Dari mulutnya keluar suara jeritan keras lalu muntahkan darah segar!

"Manusia-manusia jahat! Mengapa tidak membunuhku saja ..." ucap Djaka Tua dengan suara parau, muka pucat dan darah berselomotan di mulut dan dagu.

Supat jambak rambut Djaka Tua lalu menyentakkannya ke atas hingga lelaki berusia setengah abad ini tertegak terhuyung.

"Gondo! Hajar mulut dustanya biar dia tahu rasa!"

Mendengar ucapan kawannya, Gondo segera layangkan satu jotosan keras ke muka Djaka Tua, tepat di arah mulut dan hidung.

"Praakk!"

Djaka Tuak menjerit keras. Tulang hidung patah, bibir atas pecah. Darah mengucur. Supat lepaskan jambakannya, Djaka Tua langsung roboh ke tanah, mengerang tersengal-sengal, menahan rasa sakit luar biasa.

Jeritan keras Djaka Tua tadi sempat terdengar oleh dua orang yang kebetulan lewat di tempat itu.

Gondo jongkok di samping Djaka Tua.

"Bagaimana rasanya? Kau akan lebih sengsara kalau tanganmu ini aku tanggalkan dari persendian. Mau memberi tahu dimana tempat kediamanmu atau tidak?

Dimana kau sembunyikan bayi itu?!" Gondo cekal pergelangan tangan kanan Djaka Tua erat-erat.

"Aku mau kau membunuhku saat ini juga ..." jawab Djaka Tua. Suaranya parau karena ada ludah campur darah di mulutnya. Pembantu ini memilih mati dari pada membuka rahasia.

"Manusia tolol! Kau memilih sengsara!" Gondo pelintir pergelangan tangan Djaka Tua. Ketika dia hendak membetot tangan itu tiba-tiba sepotong patahan ranting melesat di udara lalu menancap di punggung kanan Gondo. Perajurit Keraton ini menjerit setinggi langit. Kaget dan sakit. Tubuh terhuyung, cekalannya terlepas dari pergelangan tangan Djaka Tua. Supat berteriak marah. Berpaling ke belakang dia melihat dua orang melangkah mendatangi sambil cengar cengir. Yang di sebelah kanan seorang kakek berkepala setengah gundul, mata dan kuping lebar, mengenakan celana gombrong basah kuyup di sebelah bawah. Orang kedua seorang pemuda berambut gondrong, berpakaian serba putih, berjalan cengar cengir sambil garuk-garuk kepala!

"Kurang ajar! Siapa diantara kalian yang barusan melempar ranting melukai temanku!" bentak Supat sementara Gondo terduduk di tanah. Darah membasahi bagian belakang bajunya setelah tadi dengan paksa dia mencabut patahan ranting yang menancap di punggungnya.

"Aku orangnya!" menjawab si kakek yang bukan lain adalah Setan Ngompol sambi! angkat tangan kiri lalu telapak diulap-ulapkan. "Memangnya kau mau juga? Aku masih ada sepotong ranting lagi!" Setan Ngompol goyangkan patahan ranting yang ada di tangan kanan lalu tertawa mengekeh.

Dijawab dan disikapi begitu rupa Supat jadi berang.

Dia melompat menyerbu si kakek. Tinjunya menderu deras ke muka Setan Ngompol.

"Bukkk!"

"Huuwee!" Setan Ngompol meledek sambil julurkan lidah.

Tinju Supat tenggelam ke dalam telapak tangan kiri yang dipakai menangkis oleh Setan Ngompol. Lima jari tangan si kakek mencengkeram lalu berputar.

"Terbang!" Setan Ngompol berteriak keras. Kencing terpancar.

Supat merasa tangan dan tubuhnya disentak keras.

Saat itu juga tubuh tinggi besar perajurit Keraton ini benar-benar terbang melesat ke udara sampai setinggi dua tombak. Walau memiliki dasar ilmu silat yana cukup baik namun seumur hidup baru sekali itu Supat mengalami dilempar lawan ke udara. Akibatnya dia jadi kelagapan tunggang langgang dan tak mampu mencari selamat.

Supat terbanting bergedebuk, jatuh punggung di tanah!

Pemuda yang muncul bersama Setan Ngompol, si rambut gondrong berpakaian serba putih yang tentunya adalah Pendekar 212 Wiro Sableng tertawa gelak-gelak sambil menunjuk-nunjuk ke arah Supat yang tergeletak di tanah. Rupanya perajurit ini cukup kuat juga. Setelah nanar terdiam beberapa lama dia mulai bergerak lalu bangkit berdiri. Muka kelam membesi, tubuh bergetar tanda hawa amarah yang menggelegak. Sementara itu dalam keadaan hidung dan mulut cidera berat serta menahan sakit Djaka Tua masih sempat memperhatikan apa yang terjadi. Dalam hati dia bertanya-tanya siapa adanya kakek dan pemuda yang telah menyelamatkan dirinya itu.

"Tua bangka jahanam! Kau dan kawanmu mencari mati! Kalian tidak tahu siapa kami! Kami adalah perajuritperajurit Keraton di Kotaraja!" Supat berteriak keras.

"Aha! Jadi kalian ini aparat Kerajaan rupanya. Lalu mengapa enak saja menyiksa orang ?!" tanya Setan Ngompol sambil dua tangan berkacak pinggang.

"Apa yang kami lakukan adalah urusan kami! jangan berani ikut campur! Kalian berdua lekas minggat dari tempat ini!" Gondo membentak. Perajurit yang terluka pada punggungnya ini sudah mampu berdiri walau terhuyung-huyung dan muka pucat.

"Dua keparat tidak tahu juntrungan! Manusia yang kami hajar itu adalah penculik bayi Patih Kerajaan! Kalian hendak melindunginya? Kalian berdua akan kami buat busuk dalam penjara!" teriak Supat.

"Seorang bertubuh kecil, bertampang tolol begini rupa dituduh menculik bayi Patih Kerajaan. Dihajar habishabisan.

Luar biasa! Bagaimana menurutmu, Wiro?" Setan Ngompol delikkan mata pada Supat yang barusan bicara lalu berpaling pada Pendekar 212.

Murid Sinto Gendeng pencongkan mulut, menggaruk kepala lalu menjawab. "Luar biasa! Aku tidak percaya dia penculik!"

"Manusia-manusia sinting! Kepala kalian pantas dipisahkan dari badan!" teriak Supat. Lalu dari balik pakaian gombrongnya dia menghunus sebilah golok pendek. Senjata ini tampak angker karena warnanya tidak berkilat tapi hitam penuh karatan. Menurut orang yang tahu warna hitam serta karatan itu adalah bekas darah orang yang pernah dibunuh Supat, tidak diseka dibiarkan kering sendiri.

Selain memiliki ilmu silat tangan kosong, Supat juga menguasai ilmu memainkan golok yang disebut "Tiga Jurus Rajawali Terbang". Selama ini telah banyak lawan yang roboh dihajar goloknya. Namun dia tidak tahu tengah berhadapan dengan siapa ketika dia menyerbu ke arah Setan Ngompol. Seharusnya ketika tadi dirinya dibuat terbang oleh si kakek dia sudah tahu diri. Namun amarah membuat dia tidak mampu berpikir jernih, juga temannya yang bernama Gondo.

"Tabas lehernya Supat! Cincang tubuhnya!" teriak Gondo memberi semangat.

Golok di tangan kanan Supat berkelebat ganas.

Menderu deras mengarah kepala Setan Ngompol dalam kecepatan luar biasa. Perajurit Keraton ini terperangah ketika Tiga Jurus Rajawali Terbang yang diandalkannya lewat begitu saja tanpa senjatanya mampu menyentuh lawan, apa lagi menabas leher dan mencincang! Untuk beberapa saat lamanya dia tegak tertegun, memandang ke arah golok lalu ke arah Setan Ngompol. Akan halnya Gondo, menyaksikan apa yang terjadi otaknya mulai bekerja dan tengkuknya serta merta menjadi dingin.

"Kek, kita tidak punya waktu lama di tempat ini.

Bagaimana kalau perajurit yang barusan menyerangmu dengan golok kita beri hadiah minuman kehormatan?"

Mendengar ucapan Wiro, Setan Ngompol tertawa bergelak.

"Aku setuju saja. Memang sudah lama aku tidak berbuat kebajikan memberikan hadiah. Silahkan kau yang mengatur!" kata si kakek pula.

Ketika Wiro melangkah cepat ke arahnya Supat serta merta menyambut dengan serangan golok. Orang yang diserang bergerak kian kemari. Senjata Supat hanya menyambar udara kosong. Ketika Supat nekad melanjutkan serangan tiba-tiba satu totokan mendarat di paha kirinya. Lutut kiri perajurit ini goyah. Sesaat kemudian dia roboh ke tanah. Tubuhnya sebelah kiri mulai dari bahu sampai ke kaki mendadak sontak lumpuh tak mampu digerakkan. Wiro angkat kaki kiri lalu diinjakkan ke leher Supat. Tidak keras tapi cukup membuat mulut Supat terbuka lebar.

"Mana minumannya Kek?" tanya Wiro sambil senyumsenyum.

"Jahanam! Kalian mau apakan diriku?!" teriak Supat.

"Tenang saja sobat! Kau bakal dapat minuman paling sedap di dunia!" kata Wiro pula. "Kek?!"

"Siap! Tinggal dikucurkan!" jawab Setan Ngompol.

Lalu kakek ini melangkah mendekati Supat. Kaki kiri di angkat di arah atas kepala, ujung celana yang basah lepek tepat berada di atas mulut perajurit itu. Pantat digoyang diogel-ogel. Mata dikedap-kedip. Mulut mengedan-edan. Sesaat kemudian serrr ... serrr .... serrr! Air kencing si kakek mengucur kebawah, melewati kaki celana kiri lalu serr ...gluk-gluk-gluk masuk ke dalam mulut Supat.

Perajurit Keraton itu memaki habis-habisan. Namun semakin keras dia berteriak semakin banyak air kencing Setan Ngompol yang masuk ke dalam mulutnya hingga dia tercekik-cekik! Sementara Supat tersiksa setengah mati Wiro dan Setan Ngompol tertawa gelakgelak.

Gondo yang menyaksikan apa yang terjadi dengan temannya karuan saja jadi ketakutan setengah mati.

Dirinya mungkin akan jadi korban ke dua. Lebih baik digebuk babak belur dari pada dicekok diminumi air kencing begitu rupa. Perutnya mendadak merasa mual, seperti mau muntah. Tidak menunggu lebih lama dia segera kabur meninggalkan tempat itu secepat yang bisa dilakukannya. Sementara itu Djaka Tua yang menyaksikan hal itu walau dirinya berada dalam keadaan cidera dan sakit mau tak mau selain heran juga merasa geli.

"Cukup Kek?" " tanya Wiro.

"Tunggu, masih ada yang kental," jawab Setan Ngompol.

Suara caci maki Supat tidak terdengar lagi. Berganti dengan suara seperti orang mengorok. Lalu perajurit ini semburkan muntah. lsi perutnya serasa mau terbongkar. Wiro turunkan kaki dari atas leher Supat. Setan Ngompol juga turunkan kaki kirinya ke tanah.

"Bagaimana? Enak?!" tanya Wiro.

"Mau lagi?!" tanya Setan Ngompol seraya melirik ke arah Gondo. Melihat orang memperhatikan dirinya, Gondo tidak menunggu lebih lama. Serta merta perajurit Keraton satu ini putar tubuh dan lari lintang pukang dari tempat itu.

"Hak .. huk ... hak ... huk .... Hueekkk!"

Supat kembali semburkan muntah. Kelumpuhan pada tubuhnya sebelah kiri lenyap. Setelah menunggingnungging dia berusaha berdiri walau terhuyung-huyung.

Melihat temannya kabur dia akhirnya melakukan hal yang sama. Ambil langkah seribu meski larinya tersaruk-saruk.

Djaka Tua menyeka darah yang membasahi muka sekitar hidung dan mulut lalu berdiri. Sambil memegangi perutnya yang bekas dijotos pembantu yang malang ini melangkah mendekati Wiro dan Setan Ngompol lalu jatuhkan diri di hadapan ke dua orang itu.KAKEK dan Raden berdua, saya Djaka Tua, sangat berterima kasih atas pertolongannya.

Kalau tidak diselamatkan niscaya saat ini saya sudah menemui ajal ditangan dua orang perajurit Keraton tadi." Suara Diaka Tua tersengal bindeng akibat cidera di hidungnya. Begitu terhenti bicara darah mengucur dari hidung. Dia berusaha membungkuk. Tapi tubuhnya menghuyung, hampir terjerambab ke tanah kalau tidak bahunya cepat ditahan Setan Ngompol.

"Duduk saja di tanah. Tidak perlu berlutut di hadapan kami," kata Pendekar 212 Wiro Sableng. Lalu dia menotok jalan darah di pelipis dan leher Djaka Tua. Darah yang tadi mengucur di hidung serta merta berhenti. Rasa sakit akibat cidera pada hidung serta mulut perlahan-lahan terasa jauh berkurang.

"Terima kasih ... Saya benar-benar berhutang budi besar pada Raden ...." Setelah ditotok suara Djaka Tua tidak bindeng lagi.

"Namaku Wiro. Tidak usah memanggil dengan sebutan Raden segala. Kakek ini biasa dipanggil Setan Ngompol."

"Saya sangat berterima kasih ..." Djaka Tua anggukanggukkan kepala. Dua matanya tampak berkaca-kaca.

"Mengapa dua orang perajurit Keraton itu hendak membunuhmu?" bertanya Setan Ngompol. "Betul kau menculik bayi Patih Kerajaan?"

Djaka Tua duduk bersila di tanah, tak segera menjawab. Walau dua orang itu telah menyelamatkannya namun dia masih belum tahu siapa mereka adanya. Rasa kawatir membuat dia tidak mau membalas budi baik orang dan hutang nyawa dengan menjawab secara jujur.

"Jika dia tidak mau bicara kita pergi saja dari sini. lngat Kek, kita masih banyak urusan yang harus dikerjakan." Kata Wiro.

"Ra ... Wiro, tunggu. Jangan tinggalkan saya di tempat ini. Mengingat budi pertolongan yang sudah saya terima tentu saja saya akan akan menceritakan. Tapi saya ingin tahu lebih dulu siapa adanya sahabat berdua. Apa yang akan saya ceritakan merupakan taruhan nyawa.

Taruhan nyawa saya sendiri dan seorang lain yang harus saya lindungi keselamatannya."

"Kalau kau ingin tahu, kami berdua adalah orang.

orang gila rimba persilatan. Apakah keterangan itu cukup membuat kau mau bicara?!" Ucap murid Sinto Gendeng pula.

Djaka Tua terdiam. Dia sering mendengar bahwa orang-orang rimba persilatan berkepandaian tinggi ada kalanya menunjukkan sikap serta penampilan aneh.

Dengan suara perlahan Djaka Tua berkata. "Saya memang menculik bayi Raden Mas Wira Bumi. Waktu itu beliau masih menjabat sebagai Tumenggung. Sekarang kabarnya sudah menjadi Patih Kerajaan. Semua masalah yang saya hadapi bermula ketika saya datang ke Goa Girijati untuk memberi tahu bahwa istri Raden Mas Wira Bumi sudah melahirkan seorang bayi perempuan ..."

"Wong edan! Ternyata kau lebih gila dari kami!

Mengapa berani-beranian menculik bayi seorang pejabat tinggi Kerajaan?" tanya Setan Ngompol pula sambil usapusap perut.

"Bapak tua ...."

"Panggil saya Djaka Tua," kata Djaka Tua pada Wiro.

"Djaka Tua, ada orang yang menyuruhmu menculik bayi itu?" tanya Wiro. "Kau mendapat bayaran besar?

Benar?"

Djaka Tua usap darah di dagunya lalu gelengkan kepala.

"Tidak ada yang menyuruh saya. Saya menculik justru untuk menyelamatkannya. Seseorang memerintahkan Saya untuk membunuh bayi itu dengan sebilah golok besar milik Raden Mas Wira Bumi."

"Siapa yang menyuruh?" Tanya Setan Ngompol.

"Satu mahluk dari alam roh. Perintah diberikan pada Raden Mas Wira Bumi. Karena beliau telah menyalahi sumpah perjanjian. Tapi Raden Mas lalu menyuruh saya melaksanakan tugas itu ..." menerangkan Djaka Tua.

"Mahluk dari alam roh itu apakah dia sebangsa hantu, setan, dedemit atau apa?!" tanya Setan Ngompol sambil menahan kencing yang mau muncrat.

"Saya tidak tahu. Ujudnya seorang nenek angker serba merah, mulai dari rambut sampai kaki. Pertama kali saya melihat sewaktu malam hari dibawa paksa oleh Raden Mas Wira Bumi ke pekuburan Kebonagung ...."

"ltu pekuburan besar di luar Kotaraja," ujar Setan Ngompol.

Djaka Tua mengangguk. "Dari dalam sebuah makam yang dijaga oleh seorang kuncen saya lihat sendiri ada semburan asap. Lalu muncul sosok seorang nenek sangat mengerikan. Rambut, muka, pakaian, tubuh, semua serba merah. Raden Mas Wira Bumi memanggil mahluk ini Nyai Tumbal Jiwo..."

Setan Ngompol berpaling pada Wiro.

"Kek aku belum pernah mendengar nama itu. Apa lagi kenal orangnya." Kata Wiro yang mengerti maksud pandangan Setan Ngompol.

"Aku juga tidak tahu siapa adanya mahluk itu," ucap Setan Ngompol pula.

"Mahluk itu adalah guru Raden Mas Wira Bumi dalam mendapatkan ilmu kesaktian." Menerangkan Djaka Tua.

"Begitu? Lalu bayi yang kau culik, kau kemanakan?

Berada dimana sekarang?" tanya Wiro.

"ltulah yang menjadi pikiran saya. Di tengah jalan, waktu itu hujan turun lebat sekali. Saya masuk ke dalam goa. Bayi yang saya bedung dalam sehelai kain menangis terus-terusan. Tiba-tiba di mulut goa saya lihat ada kabut tipis. Di dalam kabut muncul seorang kakek pakaian selempang kain putih. Tubuhnya tinggi, kepala hampir menyondak bagian atas goa. Di tangan kiri dia memegang sebuah tongkat kayu putih. Orang tua itu memanggil saya sahabat. Dia minta agar saya menyerahkan bayi karena katanya saya tidak akan bisa merawat. Katanya lagi bayi itu berjodoh dengan dirinya. Kalau sampai terlambat bayi itu akan mati. Saya jadi bingung, juga takut. Akhirnya bayi saya serahkan saja. Si orang tua lalu memberi nama bayi itu Ken Permata. Orang tua ini juga tahu kalau saya membekal golok besar milik Raden Mas Wira Bumi yang sebenarnya akan dipakai untuk menggorok bayi malang itu. Dia minta golok, saya serahkan. Sebelum pergi orang tua itu melenyapkan punuk yang selama lima puluh tahun ada di punggung saya ..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 172.68.65.15
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia