Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : PERJANJIAN DENGAN ROH

DALAM kegelapan dan dinginnya udara malam, Djaka Tua tambatkan kudanya di batang pohon kelapa. Debur ombak serta deru tiupan angin laut selatan terdengar sambung-menyambung tak berkeputusan. Lelaki berusia lebih setengah abad ini memandang dulu ke arah laut luas sebelum melangkah menuju gundukan batu membentuk bukit terjal setinggi sepuluh tombak dan panjang hampir tigaratus kaki di samping kirinya. Walau sebelumnya cuma satu kali datang ke tempat itu namun Djaka Tua masih ingat jalan yang harus diambil. Di malam gelap tidak mudah menyusuri lamping bukit batu terjal serta licin terkikis angin mengandung garam. Sesekali dia dikejutkan oleh suara kepak sayap kelelawar yang terbang rendah.

Djaka Tua adalah pembantu di rumah seorang pejabat tinggi yang diam di pinggiran Kotaraja. Nama sebenarnya Akik Sukro namun karena sampai usia limapuluh tahun lebih dia belum beristri, teman-teman memanggilnya Djaka Tua. Tidak kawinnya Akik Sukro mungkin karena cacat yang dideritanya sejak kecil yaitu dia memiliki sebuah punuk di belakang leher sehingga tidak ada perempuan yang suka padanya walau sehari-hari dia adalah seorang lelaki baik budi pekerti dan tutur bicaranya.

Langkah Djaka Tua terhenti ketika hidungnya mencium bau kemenyan. Ada rasa merinding namun juga rasa lega karena bau kemenyan itu menandakan tanda orang yang dicarinya berada di dalam goa di lamping bukit sebelah bawah. Untuk mencapai goa yang dikenal dengan nama Goa Girijati itu bukan hal yang mudah. Sekali kaki terpeleset tak ampun lagi Djaka Tua akan jatuh dari lamping bukit batu, ditunggu hamparan batu-batu cadas lancip di bawah sana.

Bau kemenyan semakin santar. Sejarak duapuluh langkah di depannya Djaka Tua melihat satu cegukan di bukit batu. Di dalam cegukan samar-samar ada cahaya tak begitu terang, membersit keluar dari satu lobang besar yang merupakan mulut sebuah goa. Walaupun jaraknya cuma duapuluh langkah namun karena harus berhati-hati maka cukup lama Djaka Tua baru berhasil mencapai cegukan batu dan berdiri di hadapan mulut goa. Di dalam goa Djaka Tua melihat sebuah pedupaan, mengepulkan asap tipis menebar bau kemenyan. Benda merah menyala dalam pedupaan adalah sejenis batu bara langka yang dapat bertahan hidup sampai tujuhratus hari. Dua langkah di belakang pedupaan, duduk bersila seorang lelaki berpakaian dan ikat kepala hitam dengan wajah tertutup rambut panjang awut-awutan, kumis serta jenggot dan cambang bawuk meranggas lebat. Dua kelopak mata yang tertutup tampak merah seolah mata itu ada nyala api di sebelah dalam. Dua tangan bersilang di atas dada. Dari ubun-ubun, telinga kanan dan dua lobang hidung mengepul keluar asap tipis kehitaman.

Untuk beberapa lamanya Djaka Tua tertegun di mulut goa. Enam bulan lalu dia mengantarkan orang itu ke goa. Kini keadaannya jauh berobah, kotor dan angker menggidikkan. Sementara berdiri Djaka Tua menjadi bingung.

Bagaimana cara memberi tahu kehadirannya pada orang yang tengah bersemedi. Tadinya dia hendak berdehem atau batuk-batuk. Namun Djaka Tua sadar, mengganggu dan memutus semedi orang adalah merupakan satu pantangan besar. Agaknya tak ada jalan lain. Dia harus menunggu sampai orang itu menyelesaikan semedinya. Tapi berapa lama dia harus menunggu?

Ternyata tiga hari tiga malam berada di tempat itu, orang di dalam goa jangankan menghentikan semedi, bergerak sedikitpun tidak. Djaka Tua mulai gelisah. Persediaan makanan yang dibawanya hampir habis. Pagi hari keempat bukan saja makanan sudah habis, malah Djaka Tua diserang demam. Tubuhnya menggigil panas dingin. Terhuyung-huyung Djaka Tua bangkit berdiri. Dia mengambil keputusan untuk segera saja meninggalkan tempat itu. Di dalam goa orang yang bersemedi masih tetap tak bergerak, sepasang mata masih terpejam. Tidak mau ambil perduli lagi, Djaka Tua segera melangkah pergi.

Baru menindak dua langkah, sekonyong-konyong dari dalam goa terdengar suara orang berucap. "Anak manusia bernama Djaka Tua, kembali! Cepat datang menghadap di depanku!"

Langkah Djaka Tua tersurut. Dia tahu yang bicara itu adalah orang di dalam goa. Tapi mengapa suaranya berubah besar dan serak. Djaka Tua melihat sepasang mata orang yang bersemedi masih tetap terpicing.

"Matanya masih terpejam. Tapi dia mengenali diriku. Agaknya dia telah mendapatkan satu ilmu kesaktian."

Begitu pikirnya. "Tumenggung Bandoro Wira Bumi, saya Djaka Tua sudah berada di hadapanmu."

Ternyata orang yang bersemedi adalah seorang tumenggung, seorang pejabat tinggi Kerajaan.

"Djaka Tua, kau berani mengganggu semediku. Lebih dari itu bukankah kau hanya kuperkenankan datang pada hari tujuh bulan ketujuh? Kau muncul satu purnama lebih cepat!"

Sangat ketakutan Djaka Tua rundukkan diri hingga keningnya menyentuh lantai goa.

"Maafkan saya, Tumenggung. Kalau tidak ada hal yang luar biasa penting saya tidak akan berani datang menemui Tumenggung di tempat ini. Sebenarnya saya disuruh datang jauh hari sebelumnya. Namun saya takut melanggar perintah..."

"Bicara mulutmu seperti anus yang keluarkan kentut!"

maki sang Tumenggung. "Apa saat ini kau tidak melanggar perintah?"

"Maafkan saya Tumenggung." Djaka Tua membungkuk berulang kali.

Tumenggung Bandoro Wira Bumi tangkap punuk Djaka Tua lalu ditarik ke atas dan dilempar ke dinding goa. Rasa sakit akibat tubuh yang membentur dinding batu bukan apa-apa bagi Djaka Tua dibanding dengan rasa takutnya.

"Katamu ada hal luar biasa penting. Kuharap pentingnya sama dengan harga nyawamu! Kau tahu apa hukuman bagi orang yang berani mengganggu semediku?"

Wajah Djaka Tua jadi pucat. Dengan gagap dia menyahuti. "Tahu, saya tahu sekali Tumenggung..." jawab Djaka Tua. Suaranya kelu seolah lidahnya mendadak menjadi pendek.

"Apa?!" sentak sang Tumenggung dengan dua mata masih terpejam.

"Mati..." jawab Djaka Tua dengan suara serak.

Kepala Tumenggung Bandoro Wira Bumi mengangguk perlahan beberapa kali. Mulut sunggingkan seringai angker.

"Katakan berita luar biasa apa yang hendak kau sampaikan padaku!"

"Mohon maaf Tumenggung. Saya Ingin memberi tahu kabar gembira kalau Nyi Ayu Retno Mantili telah melahirkan seorang bayi perempuan beberapa hari lalu. Tepatnya hari Kemis Pahing, malam hari menjelang ba'dal Isya..."

Kalau ada petir menyambar di depan hidungnya saat itu, tidak demikian terkejutnya Tumenggung Bandoro Wira Bumi ketika mendengar ucapan Djaka Tua. Tubuh bergetar.

Asap biru mengepul keluar dari ubun-ubun, hidung dan telinga. Matanya yang sekian lama terpejam mendadak sontak terbuka membeliak, kelihatan merah menyala laksana ada kobaran api. Mulut yang terkancing terbuka dan satu makian dahsyat keluar, membuat seantero goa batu bergetar.

"Jahanam! Tidaakkkk...!"

Djaka Tua yang dalam keadaan tubuh panas dingin karena demam tersurut kaget. Bukan saja kaget karena teriakan yang begitu keras, tetapi juga kaget melihat Tumenggung marah sekali. Padahal seharusnya dia bergembira kalau dirinya telah dikaruniai seorang puteri oleh Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

"Apa yang terjadi dengan diri Tumenggung? Ilmu apa sebenarnya yang sedang dituntut orang ini? Aku melihat pikirannya seperti sudah berubah." Ucapan itu muncul dalam hati Djaka Tua.

"Djaka Tua, kau sudah puluhan tahun ikut bersamaku, menjadi pembantu kepercayaan di rumahku. Kau sadar apa yang barusan kau ucapkan? Kau tidak berdusta, tidak sedang menyebar kebohongan?"

Dalam herannya mendengar kata-kata sang Tumenggung, Djaka Tua cepat menjawab.

"Saya sudah menjadi hamba sahaya sejak ayahanda Tumenggung masih hidup. Bagaimana mungkin saya berani berkata dusta, bicara bohong?"

"Ketika aku memilih meninggalkan Retno Mantili enam bulan lalu, dia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Dia tidak pernah mengatakan padaku kalau dia tengah mengandung. Bagaimana mungkin kini kau datang membawa berita bahwa perempuan itu telah melahirkan seorang bayi perempuan? Setan mana yang menghamilinya?"

"Maaf Tumenggung kalau saya berani mengatakan bahwa Nyi Retno Mantili adalah seorang gadis desa yang sangat sederhana pikiran serta ilmu pengetahuannya.

Mungkin saja dia tidak tahu kalau dirinya sedang hamil ketika Tumenggung meninggalkannya."

"Djaka Tua! Kau membawa kabar malapetaka bagi diriku! Sekarang kau ikut aku!"

"I... ikut ke mana, Tumenggung?"

"Menemui Nyai Tumbal Jiwo!"

"Nyai Tumbal Jiwo?! Siapa itu, Tumenggung?"

"Jangan banyak mulut! Jangan banyak tanya! Kau akan lihat sendiri nanti!" teriak Tumenggung Bandoro Wira Bumi.

Sekali tangannya bergerak dia sudah mencekal leher Djaka Tua. Lalu seperti membembeng anak kucing begitulah dia membawa Djaka Tua keluar goa. Manusia biasa, seperti kejadiannya dengan Djaka Tua sewaktu datang tadi, akan mengalami kesulitan dan harus berhati-hati berjalan di lamping bukit batu itu. Tapi sang Tumenggung melangkah cepat bahkan berlari.

Djaka Tua kemudian merasakan tubuhnya berada di atas kuda, dipacu seperti dikejar setan. Dia tidak tahu mau dibawa ke mana. Dia tidak tahu siapa itu Nyai Tumbal Jiwo. Di dalam dirinya yang didera demam panas dingin itu kini semakin menggunung rasa takut.

2TUMENGGUNG Wira Bumi hentikan kudanya bersamaan dengan mulai turunnya hujan rintik-rintik. Djaka Tua tidak tahu saat itu berada di mana. Siksa yang mendera tubuhnya yang panas dingin karena serangan demam kini bertambah. Sekujur badan terasa sakit, sambungan tulang-belulang seperti bertanggalan. Ketika dia berusaha mengangkat kepala, tiba-tiba Wira Bumi cekal lehernya. Tubuh Djaka Tua terangkat lalu bluk! Lelaki berusia setengah abad itu dilempar dari atas kuda, jatuh bergedebuk di atas tanah. Djaka Tua mengerang. Tulang punggungnya serasa hancur, sakit bukan main.

"Dosa kesalahan apa yang telah aku perbuat hingga menerima azab seperti ini?" keluh perjaka tua itu dalam hati. Dia angkat kepala, memandang berkeliling. Dia melihat gundukan-gundukan tanah, banyak sekali. Walau malam begitu gelap dan rintikan hujan semakin membesar namun Djaka Tua menyadari di mana dia berada saat itu.

Pekuburan! Tengkuknya langsung dingin. Jangan-jangan dia hendak dikubur hidup-hidup di tempat itu.

Tumenggung Wira Bumi melompat turun dari kuda.

Sepasang matanya yang merah memandang garang ke arah pembantunya. Asap kehitaman mengepul dari ubunubun, dua liang telinga serta lobang hidung dan mulutnya.

"Berdiri cepat! Ikuti aku!"

Terhuyung-huyung menahan sakit, dingin dan juga lapar, Djaka Tua berdiri lalu melangkah mengikuti Wira Bumi yang berjalan cepat di depannya. Pada arah yang dituju sang Tumenggung, Djaka Tua melihat sebuah kuburan. Keadaannya berbeda dibanding dengar puluhan kuburan yang bertebaran di tempat itu.

Kuburan yang satu ini onggokan tanahnya lebih padat dan tinggi. Di atas tanah makam merah ada tebaran kembang melati. Sebuah pohon kemboja bercabang tujuh tumbuh di kepala kuburan. Antara pohon kemboja dan bagian atas kuburan menggantung sesaput halimun. Seperti kebanyakan kuburan-kuburan lain, kuburan ini tidak memiliki batu atau papan nisan. Justru pada bagian tanah yang seharusnya ditancap nisan terletak sebuah pedupaan mengepulkan asap bau kemenyan. Asap pedupaan mengepul bergelung ke atas, menembus lapisan halimun, menebar di sela-sela cabang, ranting serta dedaunan pohon kemboja membentuk satu pemandangan yang membuat orang jadi mengkirik.

Hanya tinggal beberapa langkah lagi Tumenggung Wira Bumi dan Djaka Tua akan sampai di hadapan kuburan mendadak satu bayangan putih berkelebat disertai suara membentak. "Siapa berani mendatangi makam Nyai Tumbal Jiwo malam buta begini tanpa ijinku?!"

Kalau Djaka Tua langsung hentikan langkah, maka Tumenggung Wira Bumi terus saja berjalan sambil balas membentak.

"Kuncen Ki Balang Kerso, apa matamu bertambah buta tidak mengenali diriku?"

Bayangan putih yang kemudian berdiri di hadapan Tumenggung Wira Bumi ternyata adalah seorang kakek berambut putih riap-riapan, memelihara kumis tebal serta janggut putih menjulai dada, pakaiannya pun serba putih. Yang tidak sedap dilihat dari orang tua ini adalah kedua matanya yang gembung besar sehingga kelihatan tetutup buta walau nyatanya dia bisa melihat jelas keadaan di sekitarnya. Ini terbukti dari gerakannya yang berkelebat gesit ketika munculkan diri tadi.

"Ah, sampeyan Tumenggung Wira Bumi rupanya."

Berucap sang kuncen. Suaranya bergetar seperti orang menahan dingin. "Adalah aneh, sampeyan datang sebelum hari perjanjian."

Tumenggung Wira Bumi menyeringai. "Dunia ini memang penuh keanehan. Terkadang keanehan itu berakhir pada kematian!"

Kakek serba putih yang jadi penjaga makam tertawa mengekeh. "Aku selalu gembira jika ada orang bicara soal kematian. Siapa tahu aku bakal dapat rejeki besar malam ini. Tambah satu lagi makam yang bakal aku urus! Hik... hik... hik!"

"Kuncen Balang Kerso, sejak lama aku tidak suka dirimu. Jangan membuat aku jadi muak dan muntahkan darah kematian di atas batok kepalamu! Masuklah ke alam roh dan beritahu kalau aku ingin bertemu Nyai."

"Begitu?" Ki Balang Kerso berkata sambil rangkapkan dua tangan di depan dada. "Kuharap kau tidak lupa aturan di tempat ini."

"Kuncen keparat..."

"Huss! Jangan bicara kotor di sini kalau tak mau mulutmu pencong dan jadi bisu sampai kiamat!" Ki Balang Kerso membentak dan mengancam.

"Kuncen sombong! Aku siap mengikuti aturanmu! Dulu aku mengalahkanmu. Rupanya kau belum kapok! Kali ini aku bukan saja akan mempecundangimu sekali lagi, tapi sekaligus memberi pelajaran padamu! Kuburan di tempat ini akan bertambah satu lagi!"

Kuncen Balang Kerso tertawa gelak-gelak. Dua kakinya digeser. Luar biasa sekali. Saat itu juga tubuhnya mengapung dua jengkal ke atas. Dua kaki tidak menginjak tanah lagi!

Kalau Djaka Tua terkesiap melihat sosok Kuncen yang bisa mengapung itu, tidak demikian halnya dengan sang Tumenggung.

"Ilmu kuno Roh Berjalan di Atas Makam! Tololnya kau mau memamerkan di depanku!" ucap Wira Bumi mengejek. Sekali dia mendengus asap hitam mengepul ke wajah sang Kuncen. Karena tidak menduga diserang dengan asap, si penjaga makam sempat gelagapan terbatuk-batuk. Di lain kejap didahului bentakan keras kakek ini berkelebat lenyap. Lalu, bukk... bukkk!

Tubuh besar Tumenggung Wira Bumi terpental hampir satu tombak ke depan, tersungkur di atas sebuah kuburan tua.

Balang Kerso tertawa mengekeh. "Tumenggung, percuma Nyai mengirimmu juga ke Goa Girijati! Ilmu apa yang kau dapat? Ternyata kau masih goblok-goblok juga!"

Walau sempat tertawa dan mengejek namun diam-diam kuncen penjaga makam Nyai Tumbal Jiwo itu merasa kaget. Dua jotosan yang tadi dihantamkannya ke punggung Wira Bumi ternyata tidak mendatangkan cidera sama sekali! Padahal, jangankan tubuh manusia, pohon atau tembok batu saja bisa patah dan jebol!

"Dia sudah memiliki ilmu kesaktian baru. Aku harus berhati-hati..."

"Tua bangka pengecut! Beraninya menyerang dari belakang!" rutuk Tumenggung Wira Bumi.

Kuncen Balang Kerso ganda tertawa. Tubuhnya masih mengapung di udara. "Apa kau lupa kalau roh itu gentayangan di mana-mana. Serangannya pun datang dari mana-mana!"

"Kalau begitu biar kau kujadikan roh gentayangan benaran saat ini juga!"

Habis keluarkan ucapan Wira Bumi meniup ke depan. Asap hitam menggebu ke sekujur kepala dan tubuh kuncen penjaga makam. Sosok sang Tumenggung lenyap. Balang Kerso cepat berkelebat karena dia tahu di balik asap itu akan datang serangan ganas. Betul saja, saat itu juga sang kuncen melihat dua tangan menderu sebat. Dia palangkan satu lengan di depan kepala sementara kaki kanan mencuat deras ke depan, kirimkan satu tendangan.

Balang Kerso terkesiap ketika dua tangan yang menyerangnya tiba-tiba lenyap dan tendangannya hanya mengenai udara kosong. Belum habis rasa terkesiapnya tiba-tiba, bukkk!, kraaakk!

Orang tua berambut putih penjaga makam menjerit. Tubuhnya terpental lima langkah, terbanting jatuh di atas sebuah kuburan. Dua tangan terkulai ke samping tak berdaya. Muka seputih kain kafan, darah mengucur dari sela bibir, nafas megap-megap karena dada yang sesak serta tulang iga yang patah!

"Pukulan Di Balik Asap Roh Mencari Pahala..." ucap kuncen Balang Kerso, mengenali jurus pukulan yang tadi dilancarkan Tumenggung Wira Bumi. "Dia sudah mendapatkan ilmu itu. Untung Nyai masih melindungiku. Kalau tidak aku..." Belum sempat Balang Kerso selesaikan ucapannya tiba-tiba Tumenggung Wira Bumi sudah berada di depannya.

"Saatnya kau berubah jadi roh benaran!" ucap Wira Bumi geram. Lalu tinju kanannya menderu ke arah batok kepala sang kuncen.

"Pukulan Tangan Roh Memberi Rahmat..." Balang Kerso hanya bisa keluarkan ucapan. Dia tak mampu menangkis ataupun mengelak selamatkan kepala. Sesaat lagi kepala kuncen akan hancur dihantam pukulan Wira Bumi, tiba-tiba tanah kuburan bergerak-gerak, lalu desss... desss... desss! Terdengar suara mendesis keras tiga kali berturut-turut. Saat itu juga tanah kuburan terbelah menganga. Didahului dengan kepulan asap merah satu bayangan merah melesat keluar dari dalam liang kubur. Satu suara menggema angker menggidikkan.

"Wira Bumi, jangan bunuh dia! Dia telah menerima pelajarannya!"

Di tempatnya tegak berdiri, Djaka Tua tertegun ngeri dan terduduk di tanah.

Mengenali suara orang, Tumenggung Wira Bumi cepat jatuhkan diri lalu berputar ke arah kuburan. Di situ berdiri satu sosok nenek keriput yang keadaannya serba merah.

Mulai dari muka yang angker keriput sampai rambut yang panjang riap-riapan serta pakaian berupa kain yang diselempangkan di tubuh merah, tinggi tapi agak bungkuk.

"Nyai Tumbal Jiwo, maafkan diriku kalau telah berbuat kesalahan." Wira Bumi keluarkan ucapan lalu bersujud dan tak berani bangkit.

Si nenek Nyai Tumbal Jiwo berpaling ke arah kuncen Balang Kerso yang saat itu masih tergeletak tak berdaya megap-megap di atas sebuah kuburan. Makhluk yang keluar dari liang lahat ini angkat tangan kirinya. Selarik sinar merah mencuat keluar dari telapak tangan dan menyapu ke seluruh permukaan kepala serta tubuh kuncen.

"Balang Kerso! Cideramu sudah sembuh! Bangun dan pergilah!" si nenek berucap. Ketika mulutnya terbuka kelihatan lidah dan deretan gigi berbentuk caling berwarna merah. Luar biasa! Saat itu juga tubuh Balang Kerso bergerak. Dia bisa bangkit berdiri seolah tidak ada bagian tubuhnya yang cidera. Sebelum tinggalkan tempat itu, kuncen susun sepuluh jari di depan kening, membungkuk sambil berucap. "Terima kasih Nyai... Terima kasih kau telah menyembuhkan diriku." Sang kuncen lalu bergerak pergi namun dia tidak sungguhan tinggalkan tempat itu melainkan bersembunyi di balik sebatang pohon besar dalam kegelapan malam.

Setelah Balang Kerso berlalu Nyai Tumbal Jiwo alihkan perhatian pada Wira Bumi yang sampai saat itu masih bersujud di tanah.

"Bangun Wira Bumi! Katakan apa urusanmu sampai kau berani muncul sebelum hari perjanjian. Apa kau tidak sadar asap hitam masih mengepul dari batok kepalamu, masih keluar dari dua liang telinga, mulut dan lobang hidungmu? Tanda kau belum menyerap seluruh ilmu kesaktian yang kau semedikan di Goa Girijati karena kau belum merampungkan jumlah hari pertapaanmu!"

"Maaf Nyai, saya mengerti sekali. Namun di luar pengetahuanku satu perkara besar telah terjadi."

"Hemmm, begitu? Siapa lelaki berpunuk yang menjelepok di tanah itu?" Sang Nyai goyangkan kepala ke arah Djaka Tua.

"Dia pembantuku Nyai. Dia yang memberi tahu tentang terjadinya perkara besar itu."

"Perkara besar! Katakan padaku apa gerangan adanya perkara besar itu!"

"Mohon maaf dan ampunmu Nyai. Istriku yang ketiga Nyi Retno Mantili telah melahirkan seorang bayi perempuan beberapa hari lalu..."

"Apa?!" Nyai Tumbal Jiwo berteriak keras. Sepasang matanya bersitkan dua larik cahaya merah seperti semburan lidah api. "Kutuk sesuai sumpah akan jatuh atas dirimu Wira Bumi! Kau berlaku fatal! Kau harus membayar mahal untuk kelalaian itu..."

"Aku mengerti Nyai, aku mohon maaf dan ampunmu."

"Untuk kutuk dan sumpah tidak ada maaf dan pengampunan. Kalau istrimu melahirkan beberapa hari lalu, ketika kau meninggalkannya enam bulan lalu apakah kau tidak tahu kalau dia tengah hamil?"

"Aku benar-benar tidak tahu, Nyai. Kau tahu Nyai, Retno Mantili tubuhnya kecil halus. Aku tidak bisa melihat perubahan pada tubuhnya. Dia tidak menceritakan padaku kalau sedang mengandung. Dia perempuan desa yang bodoh. Usianya belum mencapai enambelas ketika aku menikahinya..."

"Tutup mulutmu Wira Bumi! Dulu kau datang padaku untuk meminta berkah keselamatan, ilmu kesaktian, harta serta kedudukan. Semua permintaanmu aku kabulkan asal kau mau mengangkat sumpah! Sekarang ucapkan kembali sumpahmu itu! Agar liang lahat, langit dan bumi mendengar! Hujan, turunlah lebih besar!"

Mendadak hujan yang tadi rintik-rintik berubah menjadi lebat. Wira Bumi menggigil. Entah karena kedinginan entah karena ketakutan.

Tiba-tiba makhluk serba merah itu hentakkan kakinya ke tanah kuburan. Puluhan bunga melati yang menebar di atas makam melesat ke arah Wira Bumi. Tumenggung menjerit kesakitan ketika bunga-bunga melati itu menancap dan melukai tubuhnya. Empatbelas di kepala, selebihnya menancap di sekujur dada, perut dan paha.

Darah memercik di wajahnya yang kotor serta membasahi pakaian hitam.

"Masih untung aku hanya menancapkan kembang melati itu di permukaan kulitmu! Seharusnya aku masukkan tembus ke dalam benak, dada dan isi perutmu..."

"Maafkan aku Nyai!."

"Wira Bumi! Sekarang lekas kau ulangi sumpah yang pernah kau ucapkan dulu di tempat ini!"

Tenggorokan Tumenggung Wira Bumi bergerak naik turun. Dia menatap ke arah Nyai Tumbal Jiwo seolah minta dikasihani. Namun si nenek balas menatap dengan delikkan mata, membuat Wira Bumi jadi ciut nyalinya dan segera membuka mulut.

"Aku anak manusia bernama Wira Bumi. Disaksikan roh penghuni kuburan Kebonagung, aku bersumpah. Bilamana salah seorang istriku atau salah seorang saudara kandungku melahirkan seorang bayi, maka musnahlah semua usahaku untuk mendapatkan keselamatan, ilmu kesaktian, harta serta kedudukan. Kecuali jika aku menebus dengan kedua mataku atau aku membunuh bayi itu dengan tanganku sendiri atau melalui seorang suruhan..."

Habis mengucapkan sumpah itu kembali sekujur Wira Bumi menggigil. Dia merasa sangat lemas hingga jatuh berlutut.

"Berdiri!" hardik Nyai Tumbal Jiwo.

Wira Bumi kerahkan tenaga, perlahan-lahan bangkit berdiri.

"Bagus! Otakmu masih belum kering untuk mengingat semua sumpah itu!" Nyai Tumbal Jiwo keluarkan ucapan lalu tertawa panjang. "Sekarang aku tanya padamu anak manusia! Tebusan mana yang akan kau berikan? Dua matamu atau nyawa anakmu?"

"Aku..."

"Kau tak bisa menjawab. Kau bimbang! Aku benci pada manusia munafik sepertimu. Minggat dari hadapanku! Kau akan kehilangan semua yang kau minta!" Nyai Tumbal Jiwo tampak marah dan pelototkan mata merahnya ke arah sang Tumenggung.

"Nyai..., aku... aku tidak mungkin menebus kesalahan dengan menyerahkan kedua mataku..."

"Jadi?!" bentak si nenek. "Bagaimana caramu memenuhi sumpah?"

Hujan tambah lebat. Sesekali kilat menyambar hingga kawasan pekuburan untuk sekejapan mata terang benderang. Di kejauhan terdengar suara raungan anjing.

"Aku, aku memilih membunuh bayi itu, Nyai..."

"Kau akan melakukan dengan tanganmu sendiri atau menyuruh orang lain?!" tanya Nyai Tumbal Jiwo ingin kepastian.

"Aku akan menyuruh orang lain..."

"Orang lain. Hmmm... siapa orangnya?!"

Tumenggung Wira Bumi terdiam. Perlahan-lahan dia putar kepala. Memandang berkeliling mata membentur Djaka Tua. Pembantu yang sejak tadi berada di tempat itu dan mendengar semua pembicaraan jadi tersirap pucat ketika melihat majikannya memandang ke arahnya.

"Dia, dia orangnya yang akan membunuh bayi itu!" kata Wira Bumi sambil tudingkan telunjuk tangan kiri tepat-tepat ke arah Djaka Tua.

Djaka Tua terduduk pucat di tanah. Kagetnya seperti disambar petir.

"Demi Tuhan, demi Gusti Allah, jangan saya Tumenggung. Jangan saya..." kata Djaka Tua sambil jatuhkan diri menyembah berulang kali.

Nyai Tumbal Jiwo tertawa mengekeh.

"Wira Bumi, kau terpaksa mencari orang lain untuk membunuh bayi itu. Pembantu tak berguna ini lebih baik kau habisi saat ini juga."

"Nyai, apa perintahmu akan aku laksanakan. Djaka Tua, kau tak mengenal budi. Kau layak menerima kematian!"

Wira Bumi melangkah cepat mendekati pembantunya yang masih menyembah-nyembah ketakutan. Bagaimanapun tentu saja Djaka Tua sangat takut menghadapi kematian. Apalagi dibunuh begitu rupa. Ketika Tumenggung Wira Bumi angkat tangan kanan siap untuk menggebuk batok kepalanya, pembantu ini berteriak.

"Ampun Tumenggung, jangan bunuh diriku. Saya akan laksanakan perintahmu. Saya akan bunuh bayi itu..." Habis berucap begitu Djaka Tua menangis keras.

Sreettt!

Nyai Tumbal Jiwo keluarkan sebuah benda dari balik pakaiannya yang berupa selempang kain merah. Benda itu dilemparkan ke hadapan Djaka Tua, menancap di tanah. Ketika Wira Bumi memperhatikan kagetnya bukan alang kepalang. Benda yang menancap di tanah adalah sebilah golok besar bersarung. Golok itu adalah miliknya sendiri yang digantung dan dipajang di dinding kamar tidurnya.

Sungguh aneh. Mengapa tahu-tahu senjata itu bisa berada di tangan Nyai Tumbal Jiwo? Si nenek tertawa panjang.

"Wira Bumi, bagiku tidak ada yang sulit. Kalau mengambil sesuatu yang berada di tempat jauh bisa aku lakukan, mengambil jiwa seseorang sama mudahnya bagiku! Hik... hik... hik!"

Si nenek tiba-tiba hentikan tawa. Dia memandang melotot pada Djaka Tua.

"Dengan golok itu kau harus memancung leher bayi yang dilahirkan Retno Mantili! Selesai kau lakukan letakkan kembali golok di tempat semula, di dinding dalam kamar Tumenggung Wira Bumi. Kelak aku akan datang untuk memeriksa apakah kau telah melakukan tugasmu atau tidak. Kau mengerti manusia berpunuk?!"

"Sa... saya mengerti..." Djaka Tua ketakutan setengah mati.

"Lain dari itu!" kata Nyai Tumbal Jiwo pula. "Sebagai bukti kau harus membawa kutungan kepala bayi itu ke tempat ini, letakkan di atas makam! Kau dengar manusia berpunuk?!"

"Saya dengar...," jawab Djaka Tua dengan suara menggigil.

"Sekarang ambil golok itu. Tinggalkan tempat ini! Kau harus melakukan tugasmu dalam tiga hari. Paling lambat hari kelima kepala bayi itu sudah ada di sini! Bungkus dengan kain hitam!"

Dengan tangan gemetar Djaka Tua cabut golok dari tanah. Ketika dia memutar diri untuk berlalu si nenek membentak.

"Tunggu!"

Djaka Tua menahan langkah dan berpaling.

"Apakah bayi perempuan yang dilahirkan itu sudah diberi nama oleh ibunya?"

Djaka Tua gelengkan kepala lalu cepat-cepat tinggalkan tempat itu. Saking takutnya dia lari begitu saja, padahal kudanya yang tadi ditunggangi Tumenggung Wira Bumi ada di dekat sana.

Hanya sesaat setelah Djaka Tua tinggalkan pekuburan Nyai Tumbal Jiwo berkata.

"Wira Bumi, kalau pembantumu sudah melaksanakan tugasnya, untuk menjaga rahasia kau harus menghabisi manusia berpunuk itu. Kau mengerti?" Wira Bumi mengangguk.

"Menurutku kau juga harus menghabisi Retno Mantili!"

Kembali sang Tumenggung anggukkan kepala. Nyai Tumbal Jiwo tertawa lalu berteriak.

"Hujan! Aku tidak memerlukanmu lagi!"

Luar biasa! Keanehan kembali terjadi. Hujan yang turun lebat perlahan-lahan mereda dan akhirnya berhenti sama sekali.

"Wira Bumi, kembalilah ke Goa Girijati. Teruskan tapamu yang masih bersisa satu purnama. Kalau asap hitam tidak lagi mengepul dari ubun-ubun, liang telinga, hidung dan mulutmu itu pertanda kau boleh menyelesaikan tapamu karena ilmu kesaktian yang kau inginkan telah menyatu dalam dirimu. Kau bakal mendapatkan apa yang kau minta. Keselamatan, kesaktian, harta dan jabatan. Mungkin juga seorang istri ditambah beberapa gundik. Hik... hik... hik!"

"Terima kasih Nyai. Aku pergi sekarang..."

"Tidak, aku yang akan pergi lebih dulu." jawab si nenek lalu tertawa panjang.

Dess... dess... dess!

Terdengar suara mendesis tiga kali. Sosok merah Nyai Tumbal Jiwo berubah jadi asap lalu melesat masuk ke dalam liang lahat. Begitu ujudnya lenyap, tanah kubur yang tadi bertebaran berantakan kini kembali bertaut membentuk gundukan merah! Jauh di dalam perut bumi suara tawa si nenek masih terdengar gaungnya. Asap putih yang tadi menyelimuti pohon kemboja perlahan-lahan sirna. Udara terasa mencucuk dingin.

Tumenggung Wira Bumi usapkan tengkuknya yang basah oleh air hujan. Melangkah cepat ke arah kuda milik Djaka Tua dan menggebrak binatang itu tinggalkan pekuburan Kebonagung.





3DJAKA Tua sampai di gedung tempat kediaman Nyi Retno Mantili, istri Tumenggung Wira Bumi, keesokan harinya tak lama setelah matahari tenggelam. Begitu sampai dan bertemu dengan Nyi Retno dia langsung jatuhkan diri, menangis keras.

Nyi Retno dan beberapa pelayan tentu saja terheranheran.

"Aki..." begitu Nyi Retno memanggil Djaka Tua, "Apa yang terjadi dengan dirimu? Aku menyuruhmu menemui Tumenggung di Goa Girijati. Apakah sudah kau lakukan? Apa kabar yang kaubawa dari suamiku?"

"Sudah Nyi Retno, sudah..." jawab Djaka Tua. Pembantu ini lalu meratap keras. "Saya tak bisa melakukannya.

Tidak mungkin... Maafkan saya Nyi Retno. Maafkan saya... Ampun Nyi Retno, ampun Tuhan!" Pembantu itu lalu menangis menggerung-gerung.

"Aki, kau ini kenapa?" tanya Nyi Retno semakin heran sementara bayi yang digendongnya tiba-tiba menjerit keras dan menangis. Nyi Retno terpaksa membawa masuk bayinya ke dalam kamar. Sebelum masuk ke kamar, perempuan bertubuh halus ini berkata kepada salah seorang pelayan perempuan. "Aku akan menyusui bayiku di kamar.

Tanyakan pada Aki apa yang terjadi dengan dirinya. Kulihat sekujur tubuhnya bergetar. Jangan-jangan dia kemasukan makhluk halus dari kawasan pantai selatan. Kalau betul cari orang pandai mengobatinya. Selain itu, aku melihat dia seperti menyembunyikan sesuatu di balik kain sarungnya."

Ketika masuk ke dalam kamar tidur, entah mengapa Nyi Retno Mantili memandang ke salah satu dinding.

Perempuan itu berpikir-pikir lalu unjukkan wajah terkejut.

Dia ingat betul. Di dinding tergantung sebilah golok besar milik Tumenggung. Kini dinding berada dalam keadaan polos. Golok besar lenyap!

"Golok itu... Bagaimana bisa lenyap kalau tidak ada yang mencuri. Siapa pelakunya?" Nyi Retno bertanya-tanya pada diri sendiri.

Karena harus menyusui bayinya dan menunggu sampai bayi perempuan itu tertidur lelap, cukup lama berada dalam kamar baru Nyi Retno keluar. Ketika dia keluar, di bagian gedung sebelah belakang tengah terjadi kehebohan. Pelayan yang datang ke kamar Djaka Tua untuk mengantar minuman jahe panas menemui kamar dalam keadaan kosong.

"Kabur! Pasti dia sudah kabur. Pasti dia yang mencuri golok besar milik Tumenggung yang dipajang di dinding kamar." Nyi Retno memberi tahu para pelayan. "Ingat ketika tadi aku mengatakan dia seperti menyembunyikan sesuatu di balik kain sarungnya?"

"Aneh, Djaka Tua barusan saja datang. Bagaimana sempat-sempatnya dia masuk ke kamar mencuri golok?

Padahal Nyi Retno hampir selalu berada di kamar," kata seorang pelayan.

Seorang pelayan lain menyatakan rasa tidak percayanya. "Sulit dipercaya Djaka Tua begitu berani dan lancang mencuri barang milik Tumenggung. Dia sudah puluhan tahun bekerja di sini. Malah sejak ayahanda Kanjeng Tumenggung masih hidup."

"Kalau kalian tidak percaya, ikut aku. Beberapa di antara kalian pernah masuk kamar tidurku. Tahu di mana golok itu digantung. Lihat sendiri nanti!"

Nyi Retno Mantili mendahului berjalan menuju kamar tidurnya. Begitu pintu dibuka menjeritlah istri ketiga Tumenggung Wira Bumi ini. Bayi perempuan yang ditinggalkannya di atas ranjang dalam keadaan tidur pulas kini sudah tak ada lagi di situ!

"Bayiku!" jerit Nyi Retno. "Anakku diculik orang!"

"Lihat!" Seorang pelayan lelaki berseru menunjuk kedinding kiri. Di situ ada sebuah jendela dalam keadaan terpentang lebar. Nyi Retno langsung melosoh jatuh, terguling pingsan di lantai. Para pelayan berpekikan.

Malam itu juga kejadian di gedung kediaman Tumenggung Wira Bumi segera tersiar ke berbagai penjuru pinggiran Kotaraja. Keesokan harinya berita itu telah sampai di Gedung Kepatihan. Patih Kerajaan segera membentuk kelompok pasukan untuk menyelidik dan melakukan pencarian di dalam Kotaraja, bahkan sampai jauh keluar Kotaraja. Namun jejak si penculik bayi tidak ditemukan.

Djaka Tua yang dicurigai sebagai penculik raib seperti ditelan bumi!

Ketika sang patih berusaha menemui Nyi Retno, perempuan ini berada dalam keadaan terbaring di tempat tidur. Wajahnya pucat. Mata nyalang, hanya sesekali berkedip. Diajak bicara mulutnya tetap terkancing. Tak ada suara yang keluar.

Hari demi hari keadaan Nyi Retno semakin menyedihkan. Dia tidak pernah meninggalkan kamar, tidak pernah turun dari atas ranjang. Rambut, wajah dan tubuhnya kotor karena tidak pernah mandi. Sesekali dia menjerit, kadangkadang meratap panjang dan menangis tersedu-sedu.

Selama itu tidak ada satupun makanan mengisi perutnya. Untuk minum saja dengan susah payah pelayan hanya bisa membasahi bibirnya dengan air. Para pelayan di gedung itu semakin khawatir ketika hari ketujuh Nyi Retno Mantili menunjukkan gejala aneh yaitu suka menyanyi. Kata atau syair apa yang diucapkan dalam nyanyian tidak jelas.

Seseorang mengatakan sudah saatnya kedua orang tua Nyi Retno yang diam di Wonosari diberi tahu keadaan puterinya. Dua orang anggota pasukan Kepatihan yang diperbantukan di gedung kediaman Tumenggung dengan suka rela melakukan tugas itu. Namun sebelum mereka kembali telah terjadi lagi satu hal yang mengggegerkan.

Suatu tengah malam, ketika dua orang pelayan yang menunggui Nyi Retno tertidur karena keletihan, seperti mayat hidup Nyi Retno Mantili turun dari ranjang. Dalam keadaan mata terpejam dia melangkah tanpa suara, membuka pintu kamar.

Keesokan paginya seisi gedung geger. Nyi Retno Mantili lenyap! Usaha untuk mencari sia-sia belaka. Usaha untuk menghubungi Tumenggung Wira Bumi tidak dapat dilakukan karena hanya Djaka Tua yang tahu ke mana perginya sang Tumenggung. Padahal pembantu itu sendiri telah terlebih dulu raib tak tentu rimbanya.

***Kembali pada malam hari lenyapnya bayi perempuan Nyi Retno Mantili dari gedung kediaman Tumenggung Wira Bumi.

Djaka Tua berlari sambil mendukung bayi yang dibuntalnya dalam kain sarung. Pembantu ini tak tahu mau menuju ke mana. Dia berlari sepembawa kakinya saja.

Dalam dirinya hanya ada satu keinginan yaitu menyelamatkan sang bayi. Demi Tuhan, apapun yang terjadi dia tidak akan membunuh bayi tak berdosa itu.

"Tobat Gusti Allah. Mengapa Tumenggung sampai menuntut ilmu sesat itu. Ke mana aku harus membawa dan menyelamatkan bayi ini? Aku punya saudara tua di Donorojo. Aku harus membawa bayi ini ke sana. Tapi bagaimana kalau makhluk roh bernama Nyai Tumbal Jiwo itu mengetahui. Ya Tuhan, mohon petunjukMu bagaimana aku bisa menyelamatkan bayi ini." Pembantu ini jadi bingung dan bertambah bingung ketika udara malam berubah buruk. Angin bertiup kencang dan hujan mulai turun. Mula-mula kecil saja namun makin lama bertambah lebat. Bayi dalam gendongan mulai menangis. Dalam bingungnya Djaka Tua berteduh di bawah sebatang pohon.

Namun kerimbunan daun pohon tidak dapat menahan curahan air hujan yang begitu lebat.

"Aku harus mencari tempat berlindung. Kalau sampai kebasahan bayi ini bisa sakit. Tuhan tolong kami..." Kilat menyambar. Untuk sesaat keadaan di tempat itu jadi terang benderang. Walau sekilas, mata Djaka Tua masih sempat melihat satu gundukan tanah berbatu-batu sejarak duabelas langkah di hadapannya. Di samping kiri gundukan tanah ada sebuah lobang besar membentuk goa. Tidak pikir panjang lagi Djaka Tua segera lari masuk ke dalam goa. Selain tinggi ternyata goa itu cukup lapang dan dalam. Djaka Tua duduk bersandar rapat-rapat ke dinding goa sebelah dalam agar tidak terkena tampiasan air hujan.

Walau kini terlepas dari kebasahan air hujan, namun Djaka Tua masih tetap bingung karena bayi yang ada dalam buntalan kain sarung masih terus menangis.

"Mungkin dia haus. Ya Tuhan, akan aku beri minum apa bayi ini?" keluh Djaka Tua sambil menepuk-nepuk bahu si bayi. Tiba-tiba bayi dalam dukungannya memekik keras.

"Cah Ayu, berhentilah menangis. Aku tak tahu harus berbuat bagaimana. Jangan menangis nak. Cep... ceeppp."

Saat itu entah dari mana datangnya, kabut tipis muncul menutupi setengah ketinggian mulut goa. Memperhatikan keanehan ini mendadak tenggorokan lelaki berpunuk ini seolah tercekik. Mata mendelik dan tubuhnya semakin dirapatkan ke dinding. Walau dalam goa gelap namun Djaka Tua masih bisa melihat cukup jelas bagaimana saat itu muncul satu sosok orang tua berpakaian selempang kain putih. Demikian tingginya orang ini kepalanya tertutup rambut putih hampir menyondak bagian atas goa. Di tangan kiri dia memegang sebatang tongkat kayu putih.

Sepasang matanya walau memandang lembut pada Djaka Tua tapi lelaki ini tetap merasa ketakutan, membuat sekujur tubuhnya jadi menggigil. Semula dia menyangka yang muncul ini nenek angker Nyai Tumbal Jiwo, roh penghuni makam Kebonagung.

"Siapa...?" Tanya Djaka Tua beranikan diri dengan suara bergetar sambil matanya berusaha memperhatikan ke arah belakang orang tua berselempang kain putih. Dia mendengar suara hembusan nafas berat di belakang sana namun dia tidak melihat apa atau siapa yang ada di belakang kakek itu karena pandangannya tetutup kabut.

Sesekali ada kilapan dua titik besar berwarna hijau. Djaka Tua tambah merinding.

"Sahabat dalam goa..." Orang di mulut goa menyapa.

Suaranya halus dan panggilan sahabat membuat Djaka Tua jadi tenteram sedikit. Namun ucapan berikutnya membuat pembantu di gedung Tumenggung Wira Bumi ini menjadi tersirap darahnya. "Serahkan bayi itu padaku."

"Tidak! Apapun yang terjadi bayi ini tidak akan kuserahkan padamu! Tidak pada siapapun!" Jawab Djaka Tua setengah berteriak.

Orang tua di depan goa tersenyum.

"Kalau kau terus mempertahankan bayi itu, dalam waktu satu hari satu malam dia akan menemui ajal karena kelaparan dan kehausan. Bukankah kau menginginkan dia tetap hidup?"

"Tentu, tentu aku menginginkannya tetap hidup. Itu sebabnya aku melarikan bayi ini. Tapi untuk menyerahkannya padamu, tidak!"

"Maksudmu baik sekali. Tapi mau kau apakan bayi itu? Kau tak mampu merawatnya."

"Lalu, apa kau mampu? Aku tidak mau menyerahkannya padamu. Aku tidak kenal dirimu. Jangan-jangan kau kawannya Nyai Tumbal Jiwo!"

Kakek berambut putih tertawa.

"Sahabat, dengar baik-baik. Maksud kita berdua samasama luhur. Ingin bayi itu selamat dari kematian akibat ilmu sesat yang sedang dituntut ayahnya..."

"Eh, bagaimana kau tahu?" Djaka Tua heran.

"Sudahlah, Allah akan memberi berkah dan rahmat atas perbuatan baik yang kau lakukan. Aku akan membawa bayi itu, akan merawatnya baik-baik..."

"Akan kaubawa ke mana bayi ini?"

"Ke satu tempat yang baik dan aman. Dia berjodoh denganku. Tidakkah kau perhatikan bahwa saat ini dia tidak menangis lagi?"

Djaka Tua perhatikan bayi dalam bedungan kain sarung. Anak perempuan itu memang tidak menangis lagi bahkan tampak tertidur pulas.

"Bagaimana...?"

Djaka Tua menatap orang tua di hadapannya beberapa lama. Dia kini seperti menyadari orang ini bukan manusia sembarangan. Perlahan-lahan dia berdiri.

"Kalau kau sia-siakan anak ini, biarlah Tuhan akan mengutukmu sampai hari kiamat!" Si orang tua tersenyum lalu menyahuti.

"Tuhan tidak pernah mengutuk hambaNya yang berbuat baik. Yang jahat saja masih diberi petunjuk dan dikasihani." Ketika orang tua berselempang kain putih mengulurkan tangan, walau masih ada keraguan namun Djaka Tua ulurkan pula tangannya menyerahkan si bayi.

"Apakah anak ini sudah bernama?" Djaka Tua gelengkan kepala.

"Kalau begitu biar kita berdua memberikan nama padanya. Ken Permata. Kau setuju, sahabat?"

"Aku menurut saja. Kurasa nama itu bagus sekali," kata Djaka Tua pula.

Orang tua berpakaian selempang kain putih tersenyum lalu berkata.

"Sahabat, aku melihat sebilah golok bersarung di balik pakaianmu. Senjata itu tak ada gunanya bagimu. Serahkan padaku..." Djaka Tua terperangah sambil meraba pinggang pakaiannya. "Orang tua ini luar biasa aneh. Apa matanya bisa menembus melihat golok yang tersembunyi di balik bajuku?" Dia coba memperhatikan sepasang mata orang di hadapannya namun karena gelap dia tidak dapat melihat jelas.

"Golok ini milik Tumenggung Wira Bumi. Aku tidak mungkin menyerahkannya padamu..."

"Aku tahu. Dengan senjata itu pula dia diperintahkan untuk menggorok batang leher bayi tak berdosa itu. Betul?" Djaka Tua terdiam.

"Sahabat, senjata itu sudah menjadi senjata terkutuk. Karena merupakan bagian dari perjanjian sesat di hadapan roh. Senjata itu tidak boleh berkeliaran bebas di luaran."

"Orang tua, kau rupanya tahu banyak kejadian di pemakaman Kebonagung. Siapa kau sebenarnya?" Bertanya Djaka Tua.

"Sudahlah, aku hanya minta kau menyerahkan golok itu padaku. Selama senjata itu ada di tanganmu kau tak bakal merasa tenteram. Selain itu aku khawatir ada yang akan berusaha merampasnya dari tanganmu." Djaka Tua kembali terdiam. Akhirnya dia mengalah. Tangannya menyelinap ke balik pakaian mengeluarkan golok besar bersarung lalu menyerahkannya pada si orang tua.

"Sebelum aku pergi, harap kamu mau menghadap ke dinding." Sebenarnya Djaka Tua hendak menanyakan apa maksud kakek itu menyuruhnya menghadap ke dinding.

Namun entah mengapa dia ikut saja permintaan orang.

Begitu Djaka Tua menghadap dinding goa sebelah dalam, si orang tua angkat tangan kirinya yang memegang tongkat kayu putih. Tongkat diusapkan ke punggung Djaka Tua yang ada tonjolannya sambil berucap. "Semoga Tuhan memberikan rahmat dan perlindungan padamu." Satu cahaya putih keluar dari tongkat yang diusapkan.

Untuk beberapa lamanya Djaka Tua masih tegak berdiri menghadap ke dinding. Lama-lama karena orang tua di belakangnya tidak mengeluarkan ucapan lagi, Djaka Tua palingkan kepala dan berbalik.

Ternyata orang tua berselempang kain putih tadi tak ada lagi di tempat itu. Sementara terheran-heran Djaka Tua merasa tubuhnya menjadi enteng dan dia mampu berdiri tegak. Tak sengaja tangannya mengusap ke punggung.

Astaga! Punuk yang selama limapuluh tahun menempel di punggungnya kini lenyap entah ke mana. Tidak percaya Djaka Tua mengusap berulang kali. Masih tidak percaya dia buka bajunya lalu mengusap punggung. Bagian tubuhnya itu kini memang rata, tak ada lagi tulang dan daging yang menonjol. Akhirnya lelaki itu jatuh berlutut di lantai goa, Mulutnya berulang kali mengucap. "Allah Maha Besar. Terima kasih Tuhan... Terima kasih." Djaka Tua lalu bersujud syukur di lantai goa.



4HARI pasar di Imogiri selalu ramai oleh orang yang berbelanja. Seorang lelaki penjual mainan sejak tadi memperhatikan seorang anak perempuan usia belasan tahun yang tegak di depan deretan barang dagangannya. Anak perempuan itu bertubuh kecil. Wajahnya sebenarnya cantik dan pakaian yang dikenakan bukan jenis pakaian orang kebanyakan. Namun sekujur tubuh mulai dari rambut sampai ke ujung kaki yang tidak memakai kasut kelihatan penuh daki sedang pakaian lusuh kotor menebar bau tidak sedap.

"Anak," pedagang mainan menyapa. "Dari tadi saya lihat anak berdiri memperhatikan ke arah sini. Apakah anak ingin membeli sesuatu? Kalau tidak harap jangan berdiri di depan sini. Kalau anak berdiri di depan dagangan saya, akan menghalangi orang lain yang akan membeli."

Anak perempuan itu tidak menjawab. Melainkan menatap sayu pada si pedagang mainan lalu tampak air mata menetes membasahi kedua pipinya yang kotor.

Pedagang mainan dan istri yang ada di sebelahnya karuan saja jadi tertegun heran. "Bu-ne, aku menegur baikbaik.

Kenapa dia menangis? Apa salah ucapanku atau kasar suaraku?" bisik si pedagang pada istrinya.

"Kasihan anak perempuan ini. Usianya masih sangat muda tapi keadaannya begini rupa. Aku kira otaknya kurang waras," jawab sang istri.

Perempuan muda yang menangis usap air matanya. Tiba-tiba dia berkata, "Bapak, Ibu, aku suka bonekaboneka itu..."

Di antara barang mainan yang dijual si pedagang memang terdapat sederetan boneka kayu yang halus dan bagus sekali buatannya. Semua boneka perempuan.

"Kalau anak suka, silahkan pilih yang mana." Kata pedagang mainan pula.

"Saya tidak punya uang," jawab anak perempuan itu dengan suara parau menahan tangis.

Setelah berbisik-bisik dengan istrinya lelaki pedagang mainan berkata, "Nak, kau boleh ambil satu boneka. Tak usah membayar."

Anak perempuan itu menatap tercengang pada suami istri pedagang mainan. "Sungguh?" tanyanya tak percaya.

Suami istri pedagang mainan itu mengangguk.

Anak perempuan itu tercenung lalu tawa lebar menyeruak di bibirnya. Sambil menyanyi-nyanyi kecil dia perhatikan enam buah boneka satu per satu.

"Yang mana ya wajahnya sama dengan anakku?"

Ucapan anak perempuan itu membuat sepasang suami istri jadi saling pandang.

"Nah, aku ambil yang ini saja. Dia mirip anakku. Rambut hitam lebat, mata bagus, bibir mungil, pipi merah, alis kereng. Bapak, Ibu, aku ambil yang ini, boleh?"

"Boleh, ambil saja," jawab istri pedagang mainan.

"Terima kasih... terima kasih," kata anak perempuan itu berulang kali sambil membungkuk-bungkuk lalu berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil kegirangan. "Gusti Allah akan membalas kebaikan Ibu dan Bapak berdua."

"Anak, kalau boleh bertanya, apakah situ sudah punya anak?"

"Ssstttt... Jangan keras-keras bertanyanya. Aku memang sudah punya anak. Tapi anakku hilang dicolong orang..."

"Ooo..."

Setelah membungkuk sekali lagi dan layangkan senyum lebar, anak perempuan itu lalu membawa boneka perempuan yang dipilihnya. Dia berjalan sambil bernyanyi-nyanyi.

Boneka didekapkan ke dada. Sesekali diayun-ayun seperti menggendong bayi benaran. Sepanjang jalan yang dilaluinya semua orang memperhatikan. Ada yang merasa heran, lebih banyak yang merasa iba. Semuda itu sudah menderita penyakit jiwa.

"Kasihan..." kata istri pedagang mainan itu pada suaminya. "Kelihatannya dia seperti anak perempuan baikbaik.

Masih sangat muda. Mungkin lebih muda dari anak perempuan kita. Heran, apa yang membuat dia jadi begitu.

Apa benar dia punya anak dicuri orang?" Tiba-tiba istri pedagang mainan itu melihat sesuatu, "Pak-ne!"

"Ada apa?" sang suami bertanya kaget. "Ada barang kita yang hilang?!"

Istri pedagang mainan melangkah ke depan jejeran barang dagangan. Dia mengambil sesuatu di dekat deretan boneka kayu. Sebuah benda berkilat diperlihatkannya pada suaminya. Melihat benda yang dipegang istrinya karuan saja sang suami jadi terkejut.

"Uang perak! Bagaimana bisa ada di situ? Uang siapa?"

Si pedagang mengambil uang perak dan memperhatikan dengan mata tak berkesip.

"Mana aku ngerti. Wong tahu-tahu sudah ada di sini. Pak, uang ini cukup untuk memborong seluruh dagangan kita."

"Betul, Bu. Coba periksa. Siapa tahu masih ada lagi."

"Jangan rakus begitu Pak. Aku punya dugaan. Janganjangan perempuan muda tadi yang meletakkan uang perak ini."

"Tapi tadi dia bilang tidak punya uang."

"Dia itu orang aneh. Bisa saja bilang tidak punya uang. Buktinya..."

"Jangan-jangan dia itu malaikat yang menyaru jadi gembel tidak waras." Kata sang suami lalu cepat-cepat masukkan uang perak itu ke dalam koceknya, takut hilang dan takut berubah jadi daun seperti kejadian aneh yang pernah didengarnya.

***Perempuan pedagang cita dan kain panjang itu bertubuh gemuk gembrot. Muka bulat berminyak. Hidung besar tapi pesek nyaris sama rata dengan pipi. Matanya yang sudah belok memandang melotot pada anak perempuan bertubuh kecil yang tegak di depannya sambil mengayun-ayun boneka kayu seperti mengayun seorang bayi. Mulut digembungkan lalu dia membentak.

"Jembel bau! Kowe mau apa berdiri di situ! Lekas pergi atau aku guyur dengan air selokan!"

Anak perempuan yang dipanggil jembel bau tersenyum lalu berkata. "Aku ingin kain panjang itu. Untuk gendongan bayiku ini." Sambil berkata dia terus ayun-ayunkan boneka kayunya seperti mengayun-ayun bayi benaran.

"Kalau mau beli perlihatkan dulu uangmu!" bentak pedagang kain.

"Siapa bilang aku mau beli. Wong aku tidak punya uang. Mau minta...!"

"Perempuan setan! Dasar sinting. Aku jualan, bukan tukang pemberi derma! Menyingkir dari hadapanku!"

Pedagang kain jadi marah. Dia gulung sehelai kain sarung butut lalu kepretkan ke muka orang.

Cepat-cepat anak perempuan bertubuh dan berpakaian kotor rundukkan kepala. Boneka yang dipegangnya didekapkan ke dada. Sambil melangkah mundur dia berkata.

"Biyungku gembrot kau galak sekali. Kalau tidak mau bersedekah ya sudah... Anakku sayang," anak perempuan itu ciumi wajah boneka. "Orang tidak mau memberi kain bedongan kita harus sabar. Kau jangan cengeng." Lalu anak perempuan itu melangkah pergi sambil menyanyinyanyi kecil dan peluk bonekanya. "Anakku, jangan menangis. Di dunia ini memang ada orang baik, ada orang jahat. Ada orang pemurah ada orang pelit. Hiii..."

Tak selang berapa lama anak perempuan yang dianggap gembel sinting itu lenyap dari keramaian, pedagang cita bertubuh gemuk berteriak heboh.

"Kainku! Kain panjangku hilang satu! Tadi masih ada di sini!" Perempuan gemuk ini lari sana lari sini lalu mengejar ke arah lenyapnya jembel yang membawa boneka tadi. Namun yang dikejar sudah lenyap entah ke mana.

***Tengah hari panas begitu, berada di sungai kecil berair dangkal dan jernih terasa nyaman sekali. Yang tidak diduga, pada tikungan sungai berpohon rindang yang selama ini selalu diselimuti kesunyian saat itu terdengar suara nyanyian perempuan.

Tidurlah tidur wahai anakku

Jangan cengeng jangan menangis

Ayahmu sedang pergi jauh

Ibu ingin kau menjadi anak manis.

Tidurlah tidur wahai anakku

Tidur dalam pelukan ibu

Jangan bertanya tentang ayahmu

Karena tak seorangpun tahuOrang yang menyanyi itu duduk berjuntai di atas sebuah batu di pinggir sungai. Dua kaki dimasukkan ke dalam air yang jernih dan sejuk. Di pangkuannya terlipat sehelai kain panjang yang masih baru. Di atas kain panjang terbaring sebuah boneka anak perempuan mungil.

Sambil bernyanyi orang itu usap-usap kepala boneka sementara air mata mengucur jatuh ke pipi. Dialah perempuan muda yang dianggap masih anak-anak dan dihadiahkan boneka oleh penjual mainan di Pasar Imogiri. Dia pula anak perempuan yang mengambil sehelai kain panjang jualan perempuan gemuk di pasar yang sama. Dan dia bukan lain adalah Nyi Retno Mantili, istri Tumenggung Wira Bumi yang telah berubah ingatan akibat lenyapnya bayi yang baru beberapa hari dilahirkannya.

Satu kali Nyi Retno Mantili hentikan nyanyian.

"Anakku jangan menangis. Ah kau pasti haus. Mari ibu susukan dulu. Ceeppp... Ayo jangan nangis lagi." Nyi Retno buka dada pakaiannya. Boneka kecil lalu dirapatkan ke dada kiri. Sepertinya dia benar-benar tengah menyusui boneka yang dianggapnya sebagai bayi itu.

Tak lama kemudian kembali nyanyian perempuan malang itu menggema di tikungan sungai. Sesekali terhenti oleh suara isak tangis menyayat hati.

Entah telah berapa puluh kali nyanyian itu dilantunkan diulang-ulang. Seperti tidak menyadari kalau hari telah rembang petang. Cahaya sang surya yang panas garang kini berubah lembut.

Tidurlah tidur wahai anakku

Jangan cengeng jangan menangis

Ayahmu sedang pergi jauh

Ibu ingin kau menjadi anak manisKetika Nyi Retno hendak melantunkan bait berikut nyanyiannya, sekonyong-konyong ada suara lain mendahului. Irama nyanyiannya sama namun dua bait terakhir berikut dua bait tambahan berbeda syairnya.

Tidurlah tidur wahai anakku

Tidur dalam pelukan ibu

Jika kau mau ikut bersamaku

Mudah-mudahan panjang umurmu

Selamat perjalanan hidupmu

Karena Yang Maha Pengasih melindungi dirimuNyi Retno Mantili keluarkan suara tercekat. Takut akan dirampas orang, boneka kayu diangkat dan didekapkan ke dada. Memandang ke depan Nyi Retno Mantili melihat seorang tua yang wajahnya tertutup janggut putih menjulai panjang, memelihara kumis serta janggut panjang yang juga berwarna putih.

Mula-mula memang Nyi Retno tampak ketakutan.

Namun sesaat kemudian mulutnya menyeruakkan senyum disusul suara tawa.

"Hik... hik... Malaikat dari mana begitu muncul pandai pula bernyanyi."

Orang tua yang dipanggil malaikat tersenyum sambil usap janggutnya.

"Anak, kau begitu asyik menyanyi. Apakah tidak menyadari kalau sebentar lagi sang surya akan tenggelam, senja akan datang disusul munculnya malam?"

Suara orang tua itu perlahan saja sikap dan air mukanya tenang.

"Kalau sang surya tenggelam memangnya kenapa? Kalau senja datang memangnya kenapa? Tapi kalau malam datang, nah itulah saatnya aku dan bayiku akan mandi di sungai yang jernih sejuk ini. Karena itu aku harap kau segera berlalu dari tempat ini. Tidak pantas seorang lelaki berada di dekat tempat perempuan mandi."

"Ada tempat mandi yang lebih baik dan lebih terlindung. Kalau kau memang mau mandi, ikutlah bersamaku."

"Iiihhh! Enak saja kau mau mengajakku mandi! Anakku, ada seorang kakek cabul di tempat ini. Mari kita pergi mencari tempat mandi yang lain di sebelah hilir." Habis berkata begitu Nyi Retno Mantili lilitkan kain panjang ke tubuhnya sebelah atas lalu boneka diselipkan di belakang punggung.

"Anak, kalau kau pergi ke hilir sungai, ada bahaya menunggumu di sana..." Si orang tua memberitahu.

"Jangan menakuti diriku dan anakku!" Ujar Nyi Retno.

"Aku tidak menakuti. Justru memberi ingat..."

"Kalau begitu aku akan pergi ke arah hulu sungai." kata Nyi Retno pula.

"Di arah itu ada bahaya lebih besar menantimu."

"Ihhh... Biar aku masuk hutan saja kalau begitu," kata Nyi Retno Mantili lalu melangkah cepat ke arah pepohonan lebat di tepi sungai di sebelah depannya.

Si orang tua kembali tersenyum dan usap janggutnya lalu melangkah ke hadapan Nyi Retno Mantili.

"Anak, kalau kau tak percaya ucapanku, tunggulah barang beberapa lama di tempat ini. Kau akan mengetahui bahwa aku tidak berdusta..."

"Kek, siapa percaya pada dirimu. Pergilah, aku ingin menyanyi menidurkan bayiku." Lalu Nyi Retno melangkah mondar mandir di tepi sungai sambil melantunkan nyanyian.

Tidurlah tidur wahai anakku

Jangan cengeng jangan menangis

Ayahmu sedang pergi jauh

Ibu ingin kau menjadi anak manis

Tidurlah tidur wahai anakku

Tidur dalam pelukan ibu

Jangan bertanya...Belum selesai Nyi Retno menyanyikan lagunya tiba-tiba dari arah rimba belantara yang lebat redup terdengar suara berdesir. Daun-daun pepohonan bergesek mengeluarkan suara aneh di telinga. Semak belukar bergoyang-goyang. Di lain saat satu bayangan merah berkelebat. Di lain kejap berdirilah satu sosok angker mengerikan di depan Nyi Retno Mantili. Membuat perempuan muda yang telah kehilangan otak warasnya ini berteriak keras, menunjuknunjuk ke depan.

"Setan merah kesasar dari neraka! Kau mau merampas bayiku! Kau mau menculik bayiku! Pergi... pergiiii!"



5SOSOK serba merah di depan Nyi Retno Mantili yang bukan lain adalah Nyai Tumbal Jiwo tertawa cekikikan. "Perempuan sinting! Ucapanmu benar sekali. Aku datang dari neraka untuk membawamu pergi ke sana!"

"Iiihhh! Siapa sudi ikut bersamamu!" ucap Nyi Retno.

"Anakku, ayo kita lekas pergi dari tempat ini! Ada setan hantu merah. Iihhh ngerinya!"

"Setan perempuan! Jangan berani beranjak dari tempatmu!" bentak Nyai Tumbal Jiwo. Jari telunjuk tangan kanannya dijentikkan ke arah Nyi Retno. Selarik angin menderu sebat. Inilah totokan jarak jauh yang ganas bernama Jari Pembungkam Roh.

Sebelum angin totokan sampai di tubuh Nyi Retno Mantili, orang tua berambut putih panjang cepat berkelebat menghalangi. Dia angkat tangan kiri, kembangkan telapak tangan. Tangan itu bergetar keras ketika totokan jarak jauh menerpa. Seperti menangkap sesuatu orang tua itu rapatkan jari-jari tangan. Lalu sambil dibuka dia meniupkan tangannya seraya berkata. "Ilmu jahat, kembali ke majikanmu!"

Nyai Tumbal Jiwo berteriak kaget dan marah ketika ilmu totokannya dikembalikan orang.

"Keparat setan alas! Beraninya kau mencampuri urusanku!" Sekali nenek dari alam roh ini kibaskan tangan kanannya, totokan yang membalik menyerang dirinya buyar mengeluarkan suara dess! Membuat dirinya terjajar ke belakang satu langkah. Hal ini terjadi karena sewaktu mengembalikan angin totokan, kakek berambut putih panjang menjulai menyertakan sedikit tenaga dalam.

"Tua bangka jahanam! Wajahmu boleh kau tutup dengan rambut putihmu. Jangan mengira aku tidak mengenal siapa dirimu!"

"Nyai Tumbal Jiwo," kata kakek berambut putih dan berpakaian selempang kain putih. Suaranya tenang dan perlahan saja. "Kau sudah lama meninggalkan dunia fana. Mengapa masih mau gentayangan seperti ini?"

Rambut merah si nenek yang awut-awutan langsung berjingkrak. Mata merah mendelik seperti bara api. Marahnya bukan main.

"Kiai Gede Tapa Pamungkas! Aku mau gentayangan ke mana aku suka, apa urusanmu?"

Orang tua yang dipanggil Kiai Gede Tapa Pamungkas tersenyum. "Aku hanya mengingatkan. Kalau terlalu lama dalam dunia nyata aku khawatir kau tersesat dan tak bisa kembali ke dalam alam rohmu."

"Kakek setan! Aku tidak perlu nasihatmu! Kau sendiri yang bermukim di dasar telaga jauh di puncak Gunung Gede mengapa bisa berkeliaran sampai ke sini?!"

"Aku hadir di sini karena memang sengaja menunggu kedatanganmu. Kau telah membuat sengsara perempuan bernama Nyi Retno Mantili ini. Sekarang kau malah punya niat lebih jahat hendak membunuhnya! Setelah mati dan jadi roh gentayangan bukannya kau bertobat malah masih tega-teganya menebar malapetaka."

Nenek serba merah pencongkan mulut. Lalu dia mendongak sambil umbar tawa cekikikan. "Ah, jadi kau punya maksud hendak menghalangiku! Nyalimu besar sekali!"

Nyai Tumbal Jiwo berdecak beberapa kali, golang-goleng kepala lalu sambung ucapannya. "Aku tanya dulu. Apakah saat ini kau membawa nyawa cadangan? Hik... hik... hik!

Apa kau lupa bahwa kekuatan roh dari alam gaib berada jauh di atas kekuatan alam manusia penghuni dunia serba fana ini?"

Kiai Gede Tapa Pamungkas tersenyum. "Di dunia ini tidak ada yang lebih kuat. Kecuali kekuatan yang dimiliki Gusti Allah Yang Maha Kuasa. Siapa saja berani menghadapiNya akan hancur lebur. Termasuk kau!"

Nyai Tumbal Jiwo luruskan tubuhnya yang bungkuk lalu tertawa mengekeh. Sepasang mata menyala. Ketika tertawa kelihatan lidah serta giginya yang berwarna merah.

Lalu sambil usap-usap dadanya yang kurus ceper, makhluk dari liang kubur ini berkata.

"Aku pikir-pikir ada baiknya juga perbuatanmu menghadangku di tempat ini. Kau sudah terlalu lama hidup di dunia. Tubuhmu sudah bau tanah. Kalau kau mendesak mencegah apa yang akan aku lakukan, dengan senang hati aku akan menunjukkan jalan ke pintu neraka untukmu!"

Kiai Gede Tapa Pamungkas tertawa perlahan. Kembali dia mengusap janggut putihnya lalu membungkuk. "Terima kasih kau mau berbaik hati. Aku memang belum tahu jalan menuju pintu neraka. Ada baiknya kau menuntun agar aku tidak tersesat. Ha... ha... ha..." Sambil tertawa Kiai Gede Tapa Pamungkas melirik ke arah Nyi Retno Mantili yang tengah mengayun-ayun boneka kayu sambil menyanyinyanyi kecil. Orang tua ini kibaskan jenggot panjangnya.

"Nyi Retno, jangan ke mana-mana. Tetap di tempatmu!"

ucap sang Kiai. Saat itu juga dari ujung jenggotnya melesat satu cahaya putih. Gerakan Nyi Retno mengayun-ayun boneka mendadak sontak terhenti. Sekujur tubuhnya terselubung kabut putih.

"Aduh anakku, mengapa ibumu jadi tidak bisa bergerak?" seru Nyi Retno. "Hai, jangan kau menangis..."

Sekujur tubuh Nyi Retno yang masih terbungkus kabut putih menjadi kaku tak bisa bergerak namun dia masih bisa keluarkan suara.

Melihat apa yang dilakukan Kiai Gede Tapa Pamungkas Nyai Tumbal Jiwo sunggingkan seringai mengejek.

"Kabut Dewa Pelindung Raga! Kau kira aku tak bisa menembus ilmu picisan itu?! Lihat!"

Sambil membentak Nyai Tumbal Jiwo jentikkan lima jari tangannya ke arah Nyi Retno.

"Mampus kau perempuan sinting!"

Wutt... wutt... wutt... wutt... wutt!

Lima larik sinar merah berkiblat. Melesat deras menghantam tubuh Nyi Retno yang terbungkus kabut putih.

Tarr... tarr... tarr... tarr... tarr!

Lima letusan dahsyat menggelegar di tikungan sungai. Percikan api bertebaran ke udara. Nyi Retno terpekik.

Walau pukulan sakti Lima Jari Akhirat membuat tubuh Nyi Retno Mantili terpental dan masuk ke dalam sungai dangkal, tersandar ke sebuah batu, namun pukulan itu tidak mampu menembus kabut putih yang membungkus hingga perempuan muda malang itu tetap dalam keadaan selamat. Bahkan tubuhnya serta tubuh boneka kayu tidak sedikitpun basah terkena air!

Dua orang sakti itu sama-sama terkejut.

Nyai Tumbal Jiwo telah meyakini ilmu pukulan Lima Jari Akhirat lebih dari duapuluh tahun. Selama ini tidak ada seorang lawanpun bisa selamat dari serangannya. Kalau pun mampu bertahan hidup sekujur tubuhnya akan cacat melepuh seperti terpanggang dan tak akan sembuh seumur hidup. Nenek makhluk dari alam roh ini sudah lama mendengar nama besar Kiai Gede Tapa Pamungkas dan juga tahu kalau kakek sakti dari puncak Gunung Gede ini memiliki ilmu yang disebut Kabut Dewa Pelindung Raga.

Tidak dinyana hari itu dia bertemu dan menyaksikan kehebatan ilmu membentengi diri yang tak sanggup ditembus pukulan Lima Jari Akhirat. Diam-diam si nenek jadi bergeming juga.

Di lain pihak Kiai Gede Tapa Pamungkas juga merasa kaget. Walau serangan lima larik sinar merah si nenek tidak sanggup menembus ilmu Kabut Dewa Pelindung Raga, namun dengan membuat Nyi Retno Mantili terpental sudah cukup bukti bahwa nenek jahat itu tidak bisa dipandang enteng. Nenek jahat ini benar-benar ingin menghabisi perempuan muda malang dan tak berdosa itu.

"Kalau makhluk satu ini dibiarkan terus berkeliaran, bakal celaka rimba persilatan tanah Jawa," begitu sang Kiai membatin. Maka dia membuat satu kali lompatan dan kini hanya terpisah sepejangkauan tangan dari hadapan si nenek.

Walau nyalinya agak ciut namun Nyai Tumbal Jiwo pandai menyembunyikan. Nenek ini membentak lantang. "Perlu apa kau mendekati diriku! Aku melihat ada maksud mesum dalam matamu! Kau tertarik padaku?!"

Wajah klimis di balik juntaian rambut, kumis dan janggut lebat Kiai Gede Tapa Pamungkas tampak berubah merah mendengar ucapan Nyai Tumbal Jiwo.

"Kiai! Lekas menyingkir dari hadapanku! Tinggalkan tempat ini! Jangan kau berani menyentuh tubuh istri Tumenggung itu. Apalagi berani membawanya! Hari ini aku masih mau memberi pengampunan padamu! Tapi lain waktu jika kau berani unjukkan muka di depanku, aku tak segan-segan merampas jiwamu. Kau akan aku kirim ke alam roh. Di situ kau akan menjadi budak hamba sahayaku! Pergi!"

Nyai Tumbal Jiwo dorongkan dua tangan ke arah si kakek.

Kiai Gede Tapa Pamungkas mendengar ada suara bergemuruh seperti dua batu besar menggelinding deras ke arahnya. Sambaran angin panas menderu membuat tubuh sang Kiai tergontai-gontai.

"Pukulan Angin Roh Pengantar Kematian!" ucap Kiai Gede Tapa Pamungkas mengenali serangan lawan. Dia pernah mendengar kehebatan pukulan ini. Walau tidak gentar menghadapi namun kakek sakti dari telaga di puncak Gunung Gede ini cepat melesat ke atas sampai satu tombak. Angin pukulan lawan menderu lewat, menghantam tebing sungai di seberang sana hingga terbongkar longsor!

Nyai Tumbal Jiwo terkesiap kaget, tidak menyangka lawan bisa lolos dari serangan mautnya tadi. Dia lebih terkejut lagi ketika merasakan dada kirinya berdenyut.

Ketika dia menunduk memperhatikan, makhluk dari liang kubur ini langsung menjerit. Dia tidak merasakan sama sekali tidak menyadari kapan lawan melancarkan serangan balik. Namun saat itu dada kirinya tahu-tahu kelihatan menggembung merah.

"Tua bangka cabul! Beraninya kau menyentuh aurat terlarangku!" teriak si nenek. Padahal yang diserang dan disentuh Kiai Gede Tapa Pamungkas adalah bagian bahu kiri di bawah tulang belikat. Namun akibatnya menggembung sampai membengkakkan payudara kiri si nenek yang tadinya rada ceper.

"Jahanam! Lari ke mana kau!" teriak Nyai Tumbal Jiwo.

Dia melompat mengejar ke tepi sungai. Namun terlambat.

Kiai Gede Tapa Pamungkas telah berada jauh di sebelah sana, lari sambil menggendong Nyi Retno Mantili. Seperti berlari di atas tanah, begitulah dia berlari di atas air sungai menuju ke hulu.

"Jahanam pengecut!" maki si nenek. Kemudian dia memperhatikan dada kirinya yang melembung merah. Lalu dia tertawa sendiri. "Sayang, cuma yang kiri yang menjadi besar. Kalau dua-duanya. Hik... hik... hik. Aku akan lebih montok dari perawan." Terbungkuk-bungkuk Nyai Tumbal Jiwo tinggalkan tempat itu. Sesekali diusapnya dada kirinya yang mendenyut sakit. Mulut keluarkan ucapan. "Kiai Gede Tapa Pamungkas. Aku tidak rela kau buat jadi mainan seperti ini. Kelak aku akan ganti membuatmu jadi barang mainanku! Kalau aku tidak sanggup menembus ilmu kesaktianmu, jangan kau kira aku tidak sanggup menembus imanmu! Hik... hik... hik!"( Mengenai Kiai Gede Tapa Pamungkas, kakek sakti yang diam di dalam telaga di puncak timur Gunung Gede kisahnya dapat dibaca dalam serial Wiro Sableng episode "Pedang Naga Suci 212" . Sang Kiai adalah guru dari Sinto Weni alias Sinto Gendeng dan Sukat Tandika alias Tua Gila).

Kepada kedua muridnya itu dia mewariskan sebilah senjata berbentuk kapak yakni Kapak Naga Geni 212 dan Pedang Naga Suci 212. Ternyata Sinto Weni bukan cuma mengambil kapak sakti, dia juga membawa serta Pedang Naga Suci 212 dan menyembunyikannya di satu tempat. Pedang ini kemudian dipercayakan dan diserahkan pada Puti Andini. Setelah hancurnya 113 Lorong Kematian dan meninggalnya Puti Andini untuk kedua kali, pedang ditemukan. Pendekar 212 minta agar senjata mustika itu diserahkan pada Sinto Gendeng namun ditolak oleh Kiai Gede Tapa Pamungkas. Sang Kiai membawa senjata itu kembali ke puncak Gunung Gede.



6SEJAK pagi angin barat bertiup kencang. Deburan ombak di pantai selatan bergemuruh tiada henti. Di dalam goa Girijati Tumenggung Wira Bumi bersujud di hadapan Nyai Tumbal Jiwo.

"Cukup, sudah saatnya kau harus pergi meninggalkan goa ini. Semua yang kau minta padaku ada yang telah kesampaian dan ada yang bakal menjadi kenyataan. Yang telah kesampaian kini kau memiliki ilmu kesaktian tinggi.

Tidak sembarang orang sanggup mengalahkanmu, yang akan menjadi kenyataan ialah keselamatan, kedudukan atau jabatan serta harta melimpah ruah. Sekarang bangkit dan duduk di hadapanku!"

Tumenggung Wira Bumi segera bangun dari sujudnya lalu duduk bersila di depan makhluk alam roh yang serba merah mulai dari rambut sampai ke kaki. Nenek ini kembangkan tangan kanannya yang sejak tadi digenggam.

Ternyata dalam genggamannya ada tiga helai daun sirih, tujuh kuntum bunga melati dan sebongkah kecil kemenyan.

Setelah bunga melati dan kemenyan dimasukkan ke dalam lipatan tiga helai daun sirih, si nenek menyerahkan lagi pada Tumenggung Wira Bumi. "Malam ini malam Jum'at Legi. Saat yang paling baik dan ampuh untuk menyantap sirih, melati dan kemenyan. Kunyah lumatlumat dan telan!"

Tumenggung Wira Bumi lakukan apa yang diperintahkan Nyai Tumbal Jiwo. Si nenek memperhatikan sambil mulutnya komat-kamit melafalkan sesuatu. Setelah menelan sirih, melati dan kemenyan, Tumenggung Wira Bumi merasa tubuhnya menjadi enteng hangat dan seolah berubah besar. Kepala menyondak langit-langit goa. Tubuh si nenek dilihatnya menjadi kecil.

"Tumenggung, sirih kembang melati dan kemenyan yang barusan kau telan menjadi kunci segala ilmu kesaktian yang telah kau dapatkan. Seumur hidup ilmu itu akan mendekam dalam dirimu." Setelah diam dan menatap wajah sang Tumenggung beberapa ketika, si nenek berwajah angker merah keriputan melanjutkan ucapan. "Saat ini aku menyampaikan satu kabar buruk padamu. Beberapa waktu lalu aku berhasil menyirap lewat pendengaran dan penglihatan jarak jauh di mana beradanya Nyi Retno Mantili..." Si nenek perhatikan wajah Wira Bumi. Wajah sang Tumenggung sama sekali tidak berubah ketika nama istrinya disebut. "Aku berhasil menemuinya di satu tempat. Maksudku akan kubawa menemuimu untuk kau habisi sesuai sumpahmu tempo hari. Aku ingin urusan satu ini bisa tuntas lebih cepat.

Namun tidak disangka muncul seorang kakek sakti bernama Kiai Gede Tapa Pamungkas. Dia berhasil menghalangi niatku. Dia kemudian melarikan diri dan istrimu bersamanya. Aku yakin dia menuju puncak Gunung Gede. Setahuku dia diam di sebuah telaga. Urusan dendam kesumat dengan kakek ini biar aku yang membereskan.

Karena aku gagal membunuh, sesuai perjanjian kau tetap harus membunuh istrimu. Kau harus pergi ke puncak Gunung Gede. Kau dan aku kini mengetahui bahwa pembantumu Djaka Tua tidak melaksanakan perintah. Dia tidak membunuh bayi yang dilahirkan Nyi Retno. Di mana dia sekarang berada, juga bayimu tidak diketahui. Seperti ada satu kekuatan melindungi dirinya. Menjadi tugasmu mencari kedua orang itu dan membunuh mereka!"

"Bagaimana dengan golok besar yang harus aku pakai untuk menggorok leher bayi?" tanya Tumenggung Wira Bumi pula.

"Senjata itu raib. Mungkin ada pada Djaka Tua. Kau harus mendapatkan golok itu karena memiliki tuah setelah menjadi bagian dari perjanjianmu! Kau boleh membunuh anak perempuan dan istrimu tanpa mempergunakan golok itu."

"Semua perintah Nyai akan saya lakukan." Wira Bumi membungkuk dalam-dalam lalu berdiri.

"Sebelum Kau kembali ke gedung kediamanmu di Kotaraja, kau harus berendam dulu di dalam laut sana sampai matahari tenggelam. Setelah itu baru berangkat ke Kotaraja. Tapi ingat, kau tidak boleh masuk ke dalam gedung kediamanmu sebelum lewat tengah malam. Dan untuk masuk ke dalam gedung, kau harus lewat pintu belakang. Jangan sekali-kali masuk melalui pintu depan.

Kau mengerti, Tumenggung?"

"Aku mengerti Nyai. Terima kasih atas semua petunjukmu. Terima kasih banyak atas semua yang telah kau berikan padaku. Kelak aku akan kembali menemuimu untuk membalas budi baikmu."

"Kau tak perlu bersusah payah mencariku. Perjanjian antara kita sudah cukup. Namun ada satu hal yang harus kau lakukan sebelum pergi..."

"Aku mengerti. Nyai minta saya berendam dalam air laut.."

Si nenek tersenyum, "Sebelum mandi berendam air laut, kau harus mandi berendam keringat lebih dulu. Hal ini harus kau laksanakan setiap saat aku membutuhkan." Si nenek hentikan ucapan. Sepasang mata memandang merah berkilat pada Tumenggung Wira Bumi yang bertubuh kekar besar itu.

"Tumenggung, aku minta kau melayaniku sebelum pergi. Puluhan tahun di dalam liang kubur rasanya sungguh menyebalkan."

Kejut Tumenggung Wira Bumi bukan alang kepalang.

Sama saja dia mendengar suara halilintar di depan mata! Habis berkata si nenek langsung saja buka pakaiannya berupa kain merah yang melilit di tubuh. Tumenggung Wira Bumi melangkah mundur. Wajahnya tampak gelap melihat sosok bugil si nenek. Dia memperhatikan, payudara Nyai Tumbal Jiwo sebelah kiri ternyata sangat besar sedang yang sebelah kanan datar nyaris licin.

"Nyai, hal ini tidak termasuk dalam perjanjian..." Si nenek menyeringai, mata dikedipkan.

"Justru ini adalah patri indah dari perjanjian kita yang aku sebut Perjanjian Dengan Roh."

"Nyai, aku mohon..."

"Tujuh bulan kau tidak menggauli perempuan. Apa otakmu tidak jadi buntu? Apa dadamu tidak serasa rengkah? Apa urat-urat aliran darahmu serasa tidak terbakar?! Lihat tubuhku, apa kau tidak tertarik?"

"Nyai, aku..."

Si nenek tempelkan tubuhnya ke tubuh Tumenggung Wira Bumi. Dua tangan merangkul erat. Sang Tumenggung merasakan tubuhnya panas bergetar. Dalam penglihatannya si nenek telah berubah menjadi seorang dara secantik bidadari.

Nyai Tumbal Jiwo tertawa panjang ketika Tumenggung Wira Bumi balas memeluk lalu dengan penuh nafsu membaringkannya di lantai goa.

"Kiai Gede Tapa Pamungkas, giliranmu akan tiba..." Ucap si nenek yang tidak sempat lagi terdengar oleh Tumenggung Wira Bumi akibat nafsu yang telah membakar sekujur tubuhnya.

***Dua belas purnama setelah bentrokan antara Kiai Gede Tapa Pamungkas dengan Nyai Tumbal Jiwo. Di tepi sebuah telaga di bagian timur puncak Gunung Gede, Nyi Retno asyik bermain-main dengan boneka kayu yang dalam ketidakwarasannya menganggap sebagai bayi atau anaknya. Sesekali terdengar suaranya tertawa senang.

Lain ketika dia menyanyi-nyanyi kecil. Lalu sesekali dia meratap menangis.

Dari bagian lain pinggiran telaga, Kiai Gede Tapa Pamungkas melangkah mendatangi.

"Nyi Retno aku gembira melihat kau senang sekali pagi ini. Kau tertawa-tawa, kau menyanyi. Apakah kau sudah memberi makan anakmu yang lucu itu?"

"Kiai," ucap Nyi Retno yang saat itu rambut, tubuh dan pakaiannya kelihatan bersih. Badannya tampak jauh lebih gemuk berisi dibanding pertama kali Kiai Gede Tapa Pamungkas membawanya ke tempat itu setahun lalu.

Kulitnya bersih dan lebih putih. "Untung kau memberi ingat! Pagi ini aku memang belum memberinya makan. Ibu macam apa aku ini. Ah, kasihan anakku..."

Dari sebuah kantong kain yang tergantung di punggungnya Nyi Retno mengeluarkan sendok kayu. "Anak, ayo makan dulu. Makan yang banyak agar kau gemuk dan sehat." Nyi Retno lalu menggerak-gerakkan tangan kanannya yang memegang sendok seolah tengah mengaduk makanan. Lalu sendok itu didekatkannya ke mulut boneka kayu. Demikian dilakukannya berulang-ulang. "Makan yang banyak. Biar gemuk dan sehat," katanya setiap kali dia membuat gerakan seperti menyuapi.

Kiai Gede Tapa Pamungkas memperhatikan dengan perasaan haru. Dia mampu memberi kesembuhan pada sosok lahir perempuan yang usianya belum mencapai tujuhbelas tahun itu. Dia mampu mewariskan beberapa ilmu kesaktian. Namun ada satu hal yang sangat dirisaukannya. Walau Nyi Retno nampak patuh dan selalu memperhatikan apa yang diucapkannya, namun dia tak pernah mampu mengembalikan jalan pikiran Nyi Retno Mantili kembali waras seperti semula.

"Nyi Retno, sudah berapa usia anakmu sekarang?" bertanya Kiai Gede Tapa Pamungkas.

"Kalau aku tidak salah menghitung sudah satu tahun. Eh, apa iya? Nah, mana tua anakku dengan Kiai?"

Kiai Gede Tapa Pamungkas tersenyum. "Anak, sudah satu tahun kau masih belum memberinya nama..."

Nyi Retno menatap sang Kiai lalu memandang boneka kayu sambil usap-usap kepalanya. Wajahnya tampak sedih. Air mata mengucur membasahi pipi.

"Kiai, aku memang sudah menyiapkan sebuah nama untuk anakku ini. Tapi takut nanti ayahnya tidak setuju. Aku pikir biar ketemu ayahnya dulu. Cuma aku tidak tahu di mana mencari ayah anakku ini."

"Kalau kau memang sudah punya calon nama, ya sudah disebut saja. Soal apakah ayahnya nanti setuju apa tidak, biar itu urusan nanti. Nyi Retno, siapa nama yang sudah kau siapkan itu?"

"Mmmm... Kemuning." Jawab Nyi Retno Mantili pula.

"Singkat tapi bagus."

"Sejak kecil aku suka pohon kemuning. Buahnya bisa dipakai untuk mengkilapkan kuku."

"Mulai hari ini kita akan memanggil anak itu Kemuning.

Nama bagus, nama bagus..."

Nyi Retno angkat boneka yang dipegangnya tinggi-tinggi lalu menciumnya berulang kali. Lalu dia berpaling pada Kiai Gede Tapa Pamungkas.

"Kiai, kau pernah bilang. Satu ketika aku boleh meninggalkan tempat ini. Kapan? Hari ini, besok, lusa...?"

"Sebetulnya aku tetap ingin kau berada di sini sampai keadaan di luar benar-benar aman bagimu dan puteri kecilmu itu."

"Aman bagaimana Kiai? Apa masih ada orang jahat yang ingin membunuhku? Nenek rambut merah yang di sungai dulu? Aku tidak takut."

Kiai Gede Tapa Pamungkas memandang wajah Nyi Retno penuh kagum. "Ternyata ingatannya ke masa lampau masih cukup jernih. Semoga Tuhan memberi kesembuhan padanya..."

"Kiai, bukankah Kiai telah membekali diriku dengan berbagai ilmu kesaktian? Selain itu ke mana aku pergi bukankah Kiai akan mengikuti, menjagaiku, melindungi anakku. Kau harus menganggap anak ini sebagai cucumu, Kiai!"

Kiai Gede Tapa Pamungkas tersenyum. Sambil mengusap kepala Nyi Retno orang tua ini berkata. "Tentu saja. Tentu saja anakmu itu sudah kuanggap cucu sendiri. Namun aku tidak mungkin selalu ada bersamamu..."

"Kalau begitu aku boleh pergi sendiri ke mana aku suka. Aduh, senangnya..." Nyi Retno Mantili tertawa girang, berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil.

"Belum saatnya Nyi Retno. Tunggulah beberapa lama lagi," kata Kiai Gede Tapa Pamungkas dengan hati masgul.

"Kiai, kau jahat! Kau pembohong! Aku benci padamu!" ucap Nyi Retno lalu lari ke dekat pohon.

Si orang tua mendatanginya, membujuk sambil membelai rambutnya. Dia sering mengusap kepala dan membelai rambut Nyi Retno sambil mengerahkan hawa sakti. Maksudnya untuk memberi kesembuhan, agar pikiran Nyi Retno kembali waras. Namun kesembuhan itu tidak kunjung datang.

"Nyi Retno, aku akan masuk ke dalam telaga sebentar. Tunggu di sini."

"Ya, aku akan tunggu di sini. Anakku mulai rewel. Mungkin dia haus..." Jawab Nyi Retno Mantili.

Begitu si orang tua beranjak dari hadapannya, dia buka pakaiannya di bagian atas lalu dekatkan bibir boneka ke dadanya.

Kiai Gede Tapa Pamungkas melangkah ke arah telaga yang airnya selalu bergemericik seolah mendidih. Sampai di tepi telaga dia tidak berhenti melainkan terus saja berjalan. Luar biasa! Ternyata kakek ini mampu berjalan di atas air! Tepat di tengah telaga tiba-tiba besss! Sosok si orang tua raib ke dalam telaga. Air telaga muncrat sampai setinggi dua tombak. Tak selang berapa lama Kiai Gede Tapa Pamungkas muncul keluar dari dalam telaga. Di tangannya dia membawa sebuah benda bergulung seperti sabuk. Benda ini bukan lain adalah Pedang Naga Suci 212.

Seperti diceritakan dalam serial Wiro Sableng sebelumnya, episode berjudul "Kematian Kedua", senjata sakti ini muncul di atas perut Puti Andini alias Yang Mulia Sri Paduka Ratu yang saat itu telah menemui kematiannya yang kedua. Pendekar 212 Wiro Sableng coba mengambil namun dia kedahuluan Kiai Gede Tapa Pamungkas yang mendadak muncul di tempat itu. Selaku pemilik pedang dia mengambil senjata tersebut dan menyimpan sampai ada seseorang yang layak memegangnya. Agaknya hari itu Kiai Gede Tapa Pamungkas merasa telah menemukan orang yang cocok untuk diserahi pedang mustika itu. Yaitu Nyi Retno Mantili. Namun darah orang tua ini agak berdesir ketika melihat Nyi Retno Mantili tak ada lagi di bawah pohon di tepi telaga. Hatinya jadi tidak enak. Dia berteriak memanggil berulang kali. Tak ada jawaban. Seluruh kawasan timur puncak Gunung Gede diselidiki. Nyi Retno Mantili raib tanpa bekas.

Kiai Gede Tapa Pamungkas kembali ke telaga. Duduk di bawah pohon di mana Nyi Retno terakhir kali duduk menyusukan anaknya. Gulungan Pedang Naga Suci 212 diletakkan di haribaan.

"Ilmu Di Dalam Kabut Mengunci Diri. Dia pasti pergunakan ilmu yang aku ajarkan itu untuk kabur dan menghilang..." Sang Kiai tarik nafas dalam. Lama orang sakti ini tercenung. Kemudian senyum menyeruak di bibirnya. "Kalau benar dia menggunakan ilmu itu untuk menghindari kejaranku, berarti lagi-lagi satu kenyataan bahwa otak dan jalan pikirannya masih memiliki bagianbagian kewajaran." Kiai Gede Tapa Pamungkas memang sengaja mengajarkan ilmu kesaktian untuk melenyapkan diri itu pada Nyi Retno agar dapat melindungi diri bila sewaktu-waktu ada orang hendak berbuat jahat terhadapnya. Kini ilmu itu justru dipergunakan untuk menyiasati dirinya. Orang tua ini mengusap janggut panjangnya berulang kali sementara rambut putih menjulai menutupi sebagian wajahnya. Wajah itu tampak tersenyum kembali.

"Kalau dia ingat akan ilmu itu lalu mempergunakannya, berarti ada jalan pikiran serta kesadaran dalam benaknya.

Ya Tuhan, lindungilah anak itu ke manapun dia pergi..."

Kiai Gede Tapa Pamungkas pejamkan mata. Belum berapa lama mata itu terpejam mendadak telinganya mendengar suara derap banyak kaki kuda dipacu mendatangi ke arah telaga.



7WALAU sepasang mata tertutup namun karena memiliki kesaktian tinggi sulit dijajagi, Kiai Gede Tapa Pamungkas dapat menduga berapa orang saja yang datang dan berada di sekitar pohon besar di bawah mana dia duduk bersandar. Lima orang penunggang kuda berada dalam satu kelompok. Orang keenam, juga menunggang kuda berhenti di depan kelompok lima orang. Kiai Gede Tapa Pamungkas terus saja picingkan mata.

"Orang tua, aku sudah tahu kau tidak tidur. Jadi tidak perlu berpura-pura," satu suara besar dan keras memecah kesunyian di tepi telaga.

Mendengar teguran orang, Kiai Gede Tapa Pamungkas segera maklum kalau yang barusan bicara adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Dia juga merasakan dari nada suara itu yang bicara berada dalam ketidaksabaran, dan memandang penuh kebencian padanya.

Maka tanpa bergerak dan buka kedua mata, Kiai Gede Tapa Pamungkas berkata.

"Tiada yang sangat memalukan dalam hidup ini selain kepura-puraan. Tamu gagah, berpakaian kebesaran Kerajaan, yang baru datang dari jauh bersama lima pengiring, kadang-kadang beban hati dan pikiran membuat seseorang hanya bisa memejamkan mata. Sebaliknya ada orang yang beban hati dan pikiran yang selalu menghantui dirinya membuat dia tak bisa memicingkan mata. Kedua orang itu tidak menjalankan kepura-puraan. Contohnya kau dan aku saat ini. Tamu gagah dengan hiasan bintang tersemat di belangkon warna biru, jika ucapanku tadi keliru harap jangan diambil hati."

Penunggang kuda di sebelah depan dan lima pengiring jadi terkesiap dan tatap wajah si orang tua lekat-lekat.

Hatinya berucap, "Sungguh luar biasa. Matanya dalam keadaan terpejam. Tapi tahu kalau aku mengenakan pakaian kebesaran Kerajaan, diantar oleh lima pengawal.

Tahu warna belangkonku. Tahu pula hiasan bintang perak yang tersemat di belangkonku. Tidak bisa tidak. Dia memang orang yang aku cari. Ciri-cirinya sesuai dengan yang dikatakan Nyai."

"Orang tua, aku senang kau mengetahui aku datang dari jauh, bisa menduga siapa diriku. Apakah engkau yang dipanggil orang dengan nama Kiai Gede Tapa Pamungkas?"

"Tamu dari jauh, jika kau datang untuk mencariku, aku mengucapkan selamat datang di puncak Gunung Gede."

Kiai Gede Tapa Pamungkas ambil benda bergulung di atas pangkuannya, buka kedua mata lalu berdiri. Dia kini melihat jelas si penunggang kuda bersama lima pengiringnya. Keadaan mereka tidak berbeda dengan apa yang tadi diucapkannya dengan mata terpejam. Sang Kiai sudah bisa menduga siapa adanya tamu yang datang bersama lima pengawal ini.

Begitu mendengar ucapan Kiai Gede Tapa Pamungkas lelaki bertubuh besar, berpakaian mewah dengan belangkon biru di atas kepala membuat gerakan sangat enteng.

Kalau tadi dia masih berada di punggung kuda maka kini hanya sekejapan mata saja dia sudah berdiri di hadapan sang Kiai. Keluarbiasaan ini tentu saja tidak lepas dari perhatian Kiai Gede Tapa Pamungkas.

"Orang gagah, jarang sekali tamu berkunjung ke tempat ini. Kedatanganmu tentu membawa satu hal penting.

Harap kau suka memberi tahu. Selain itu apakah kau tidak ingin memperkenalkan diri lebih dulu?"

"Namaku Wira Bumi. Aku Bendahara Kerajaan..."

"Ah, tidak sangka hari ini aku mendapat kehormatan dikunjungi seorang petinggi Kerajaan. Kalau aku tidak salah menduga, bukankah jabatan itu belum selang berapa lama dipercayakan pada Yang Mulia?"

Kening Bendahara Wira Bumi yang sebelumnya adalah Tumenggung tampak mengerenyit. Ucapan orang dirasakannya mulai menyinggung, tidak enak. Namun karena punya kepentingan Wira Bumi terpaksa menahan diri dan bertanya. "Orang tua, bagaimana kau tahu kalau aku baru saja memangku jabatan itu?"

Kiai Gede Tapa Pamungkas tersenyum. "Lekuk belangkon biru Yang Mulia masih bagus. Hiasan bintang perak tampak berkilat. Kelepak pakaian Yang Mulia sangat rapi.

Kalau aku salah menduga harap dimaafkan." Wira Bumi balas tersenyum.

"Sebagai yang punya tempat, kalau memang ada yang hendak dibicarakan, aku mengundang Yang Mulia Bendahara untuk duduk bicara di sawung sebelah sana."

Wira Bumi perhatikan sebuah bangunan kecil tanpa dinding di pinggir timur telaga yang dikatakan si orang tua.

"Aku lebih suka kita bicara di sini saja." kata Wira Bumi yang dulu Tumenggung dan kini jabatannya telah naik setingkat Bendahara Kerajaan.

"Dengan senang hati. Katakanlah maksud kedatangan Yang Mulia," ujar Kiai Gede Tapa Pamungkas pula.

"Aku mencari seorang perempuan. Masih teramat muda. Usianya belum mencapai tujuhbelasan. Namanya Nyi Retno Mantili. Dikabarkan selama ini dia berada di tempat ini bersamamu."

"Nyi Retno Mantili," ucap Kiai Gede Tapa Pamungkas mengulang menyebut nama itu. "Kabar yang didapat Yang Mulia benar sekali adanya. Hanya sayang, saat ini Nyi Retno Mantili sudah tidak ada lagi di sini."

"Kiai, apa maksudmu dengan ucapan itu?" tanya Wira Bumi. Dia menatap tajam-tajam ke wajah sang Kiai yang sebagian tertutup rambut panjang putih menjulai.

"Aku memberitahu perempuan yang dicari tidak ada lagi di tempat ini."

Wira Bumi memandang seputar telaga, memperhatikan sawung lalu kembali berpaling pada orang tua di depannya.

Pejabat tinggi Kerajaan ini mulai merasa gusar. "Kiai, aku menaruh curiga kau berdusta padaku."

"Kedustaan adalah permainan setan. Aku tidak suka dengan setan. Berarti aku tidak berdusta. Nyi Retno Mantili pergi hanya beberapa saat sebelum Yang Mulia dan para pengiring muncul di tempat ini."

"Dia pergi dengan siapa? Sendirian?"

"Dia pergi bersama Kemuning," jawab Kiai Gede Tapa Pamungkas.

"Kemuning? Siapa Kemuning?" tanya Wira Bumi dengan muka berubah dan dada bergetar.

"Puterinya yang berumur satu tahun..."

Perubahan dan bahkan rasa terkejut kelihatan tambah jelas pada wajah Wira Bumi.

"Yang Mulia Bendahara, kau tak usah terkejut. Anak satu tahun bernama Kemuning itu hanyalah sebuah boneka kayu yang manis, tapi sangat disayang oleh Nyi Retno seperti anak sungguhan."

"Kiai, aku merasa kau tengah mempermainkan diriku. Nyi Retno Mantili mempunyai seorang anak perempuan, manusia hidup, bukan boneka kayu!" kata Wira Bumi.

Rahangnya menggembung. Pelipis bergerak-gerak. "Kiai, harap kau mau menceritakan bagaimana Nyi Retno bisa berada di tempat ini.

Dengan tenang dan sambil tersenyum Kiai Gede Tapa Pamungkas berkata. "Kau bisa muncul di tempat ini, tentu ada yang memberi petunjuk. Apakah masih perlu aku memberi keterangan? Bukankah makhluk roh sesat bernama Nyai Tumbal Jiwo itu yang telah memberi tahu pada Yang Mulia Bendahara?"

Tampang Wira Bumi tampak menjadi merah. Sekali lagi dia memandang ke arah keliling telaga dan sawung.

Kemudian berpaling pada lima pengawal dan memberi perintah. "Periksa sekeliling telaga. Termasuk sawung itu.

Selidiki kalau ada jalan atau tempat rahasia. Jika kalian tidak menemukan apa-apa bakar sawung itu!"

Dua alis Kiai Gede Tapa Pamungkas naik ke atas. Orang tua ini hanya tersenyum mendengar perintah yang diucapkan Wira Bumi. Dia tidak mengatakan sesuatu atau berusaha mencegah. Tenang saja dia memperhatikan lima pengawal sang pejabat tinggi Kerajaan memeriksa kawasan telaga. Orang tua ini masih tetap tak bergerak di tempatnya ketika para pengawal mulai membakar sawung.

Dalam waktu singkat bangunan di tepi telaga yang terbuat dari kayu yang telah lapuk itu lumat tak berbentuk lagi.

"Kasihan, bangunan tempat aku bersembahyang dan memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa kini telah menjadi debu." Ucap Kiai Gede Tapa Pamungkas cukup keras dan terdengar oleh Wira Bumi.

Bendahara Kerajaan ini melangkah ke hadapan si orang tua. "Kiai, katakan di mana kau menyembunyikan Nyi Retno dan puterinya!"

"Agaknya Yang Mulia Bendahara tadi kurang mendengar dan memperhatikan. Bukankah aku sudah menerangkan bahwa Nyi Retno Mantili meninggalkan tempat ini bersama puterinya yang boneka itu hanya beberapa ketika sebelum Yang Mulia datang ke tempat ini."

"Aku tidak perlu keterangan tentang boneka jahanam itu! Aku menanyakan Nyi Retno Mantili dan anak perempuannya!" teriak Wira Bumi.

"Yang Mulia, aku sudah memberi keterangan yang aku tahu. Jangan keliwat memaksa karena aku tidak berdusta..."

"Cukup!" hardik Wira Bumi. Dia berpaling pada lima orang pengawalnya. "Pengawal! Tangkap orang tua ini! Kalau melawan bunuh!"

"Aahh..." Sang Kiai rangkapkan dua tangan di depan dada. "Seorang pejabat tinggi Kerajaan, yang punya kekuasaan, begitu mudahnyakah menyuruh menangkap bahkan membunuh orang tua sepertiku?"

Walau ucapannya menyindir namun wajah Kiai Gede Tapa Pamungkas dihiasi senyum.

Lima pengawal yang rata-rata bertubuh tinggi besar segera mengepung Kiai Gede Tapa Pamungkas. Sang Kiai menyambut dengan ucapan, "Aku tahu kalian hanya menjalankan perintah. Karena itu aku tidak akan berlaku kasar." Habis berkata begitu sosok Kiai Gede Tapa Pamungkas melesat ke atas hingga orang-orang yang hendak meringkusnya hanya menangkap udara kosong.

Kelima pengawal ini, termasuk Wira Bumi melihat bagaimana tubuh orang tua sakti itu melayang di udara, turun di telaga dan berjalan di permukaan air!

"Tua bangka sombong! Kau kira aku takut dengan peragaan ilmu kesaktianmu itu!" Kata Wira Bumi. Sekali melesat tahu-tahu dia telah berada dan berdiri pula di atas air telaga, menghadang langkah Kiai Gede Tapa Pamungkas.

Seperti telah diketahui, setelah bersemedi di Goa Girijati untuk mendapatkan ilmu kesaktian dari Nyai Tumbal Jiwo, salah satu ilmu yang diperoleh Wira Bumi adalah ilmu berdiri dan berjalan di atas air yang disebut Kaki Roh Melanglang Air. Kalau ilmu ini dipergunakan untuk berlari, maka kecepatan larinya di atas rata-rata ilmu lari lain yang ada di rimba persilatan ataupun ilmu lari yang disebut Seribu Kaki Menipu Jarak milik seorang sakti berjuluk Si Katai Bisu dan telah lama menemui kematian. (Baca serial Wiro Sableng berjudul "Rahasia Lukisan Telanjang" ).

Kalau lima pengawal Wira Bumi terkagum-kagum melihat kehebatan pimpinan mereka, tidak demikian halnya dengan Kiai Gede Tapa Pamungkas. Dengan tenang dan masih penuh hormat dia berkata, "Yang Mulia, tak sengaja kau berdiri tepat di tengah telaga. Tempat itu adalah alur jalanku masuk menuju kediamanku di dalam telaga. Aku mohon kau beranjak dari situ."

Wira Bumi tertawa. "Kau takut menabrakku, Kiai? Aku tak akan menyingkir dari tempat ini sebelum kau memberi tahu di mana Nyi Retno Mantili dan puterinya kau sembunyikan. Selain itu ada satu persoalan yang harus kau pertanggungjawabkan. Kau telah berlaku kurang ajar terhadap guruku..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.198.163.124
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia