Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : 113 LORONG KEMATIAN

KEINDAHAN dan ketenangan Telaga Sarangan di kaki selatan Gunung Lawu sejak beberapa waktu belakangan ini dilanda oleh kegegeran menakutkan. Tujuh penduduk desa sekitar lembah dicekam rasa cemas amat sangat. Jangankan malam hari, pada siang hari sekalipun jarang penduduk berani keluar rumah. Pagi hari mereka tergesa-gesa pergi ke ladang atau sawah, menggembalakan memberi makan atau memandikan lemak lalu cepat-cepat kembali pulang. Mengunci diri dalam rumah, menambah palang kayu besar pada pintu dan jendela.

Pasar yang biasanya ramai hanya digelar sebentar saja lalu sepi kembali. Penduduk lebih banyak berada di rumah masing-masing, berkumpul bersama keluarga sambit berjaga-jaga. Terutama dirumah dimana ada orang perempuan yang tengah hamil tujuh bulan ke atas. Malam hari setiap desa diselimuti kesunyian. Penduduk tenggelam dalam rasa takut. Tak ada yang berani keluar rumah. Apakah yang lelah terjadi ? Apa penyebab hingga penduduk dilanda rasa takut demikian rupa?

Peristiwanya dimulai sekitar empat purnama lalu. Malam hari itu rumah Ki Mantep Kepala Desa Plaosan kelihatan ramai. Mereka tengah mempersiapkan hajatan selamatan tujuh bulan kehamilan pertama Nyi Upit Suwarni yang akan dirayakan secara besar-besaran besok harinya. Maklum Nyi Upit adalah anak tunggal, puleri satu-satunya Ki Mantep Jalawardu yang bersuamikan I Ketut Sudarsana. seorang pcngusaha dan juru ukirberasal dari Klungkung, Bali berarti bayi yang dikandung Nyi Upit akan merupakan cucu pertama Kepala Desa Plaosan itu. Tidak mengherankan selamatan tujuh bulan ini dilangsungkan secara meriah. Besok malam, setelah upacara adat pada siang harinya, akan digelar pertunjukan wayang kulit semalam suntuk. Untuk itu sebuah panggung besar telah di bangun di halaman depan rumah Kepala Desa.

Malam itu semakin larut hari semakin ceria kelihatan suasana di rumah Ki Mantep Jalawardu. Di dapur orang memasak berbagai macam makanan dan kue-kue. Di ruang tengah ibu-ibu muda sahabat Nyi Upit sambil sesekali berseloroh, sibuk menata sebuah meja besar, menghiasi berbagai juadah dan buah-buahan yang diletakkan dalam beberapa piring besar mengelilingi sebuah tumpeng raksasa.

Di dalam kamar setengah berbaring di atas tempet tidur, Nyi Upit mengobrol dengan beberapa orang gadis. Gadis-gadis itu adalah sahabatnya sedesa, tapi beberapa diantaranya berasal dari desa lain. Mereka mengobrol segala macam hal. Terkadang mengganggu Nyi Upit dengan cerita-cerita lucu tapi nakal, sesekali terdengar mereka tertawa riuh.

Di ruang depan Ki Mantep dan sang menantu I Ketut Sudarsana, ditemani beberapa keluarga dekat serta tetangga, kelihatan asyik bercakap-cakap. Kopi hangat dihidangkan tiada henti. Berbagai juadah disuguhkan. Sekotak cerutu besar yang dibeli dari awal sebuah kapal asing yang berlabuh di pantai utara ikut menambah maraknya suasana percakapan. . .

Lewat tengah malam ketika udara terasa tambah dingin dan beberapa orang sejawat mulai minta diri, orang-orang lelaki yang tengah asyik bercakap-cakap di langkan depan rumah dikejutkan oleh suara derap kaki kuda. Sesaat kemudian seorang penunggang kuda dengan cepat melintas di halaman rumah. Wajahnya tidak jelas karena halaman depan agak gelap dan kuda hitam yang ditungganginya melesat cepat sekali. Yang sempat terlihat ialah si penunggang mengenakan jubah putih serta kerudung berbentuk pocong putih. Aneh!

"Siapa menunggang kuda malam-malam buta begini ? Berpakaian aneh, lewat begitu saja seperti setan". I Ketut Sudarsana keluarkan ucapan sambil berdiri dari kursi memperhatikan penunggang kuda yang segera saja menghilang dalam kegelapan

Sesaat selelah penunggang kuda itu lewat dan lenyap, sebuah benda melayang di udara melewati bagian depan rumah, menyipratkan cairan kental. Benda yang melayang ini terus melesat ke bagian dalam rumah. Beberapa orang ibu muda yang tengah menghias buah-buah serta juadah di meja besar terpekik kaget dan melangkah mundur dengan muka pucat. Ki Mantep Jalawardu orang yang pertama sekali melompat dari kursi, lari ke bagian dalam rumah diikuti menantunya I Ketut Sudarsana serta beberapa anggota keluarga dekat dan kenalan.

"Ada apa?!" lanya Kepala Desa Plaosan itu sambil memandang ke arah orang perempuan yang bergerombol merapat di salah satu sudut ruangan, unjukkan wajah ketakutan. Seorang diantara mereka dengan tangan gemetar dan muka pucat menunjuk kearah tumpangan di atas meja besar.

Tepat di bagian atas tumpengan yang terletak di meja. kelihatan menancap sebuah bendera kecil berbentuk segitiga. Bendera ini diikatkan pada potongan kecil bambu sepanjang setengah jengkal. Ujung bambu inilah yang menancap di tumpengan. Warna merah bendera aneh Itu ternyata adalah cairan kental yang masih menetes-netes.

Dari dalam kamar beberapa orang gadis berlarian keluar. Nyi Upjt mengikuti. Mereka mendengar ribut-ribut diluar, suara orang menjerit. Mereka ingin tahu apa yang terjadi orang-orang yang bekerja di dapur lak ketinggalan ikut berlarian ke ruangan tengah rumah.

"Ayah, ada apa ?" Bertanya Nyi Upit.

"Tidak ada apa-apa. Kalian semua masuk kembali ke dalam kamar..." jawab Ki Mantep. Tapi Nyi Upit dan teman-temannya tetap saja tegak di depan pintu kamar,

Ki Mantep dekati meja besar. Tubuhnya dibungkukkan, kepala didekatkan ke tumpengan, memperhatfkan bendera merah. Perlahan-lahan tangan kanannya diulurkan meraba bendera segi tiga. Terasa cairan kental menempel di ujung-ujung jari. Ki Mantep tarik tangannya, memperhatikan cairan merah yang melekat di ujung jari-jari tangan sambil jari-jari itu digesekkan. Tengkuk Kepala Desa ini mendadak dingin. "Darah.." Ucap Ki Mantep dengan suara bergetar. Kepala Desa ini tersurut dua langkah. I Ketut Sudarsana beranikan diri maju mendekati meja. Dengan tangan kirinya dicabutnya bendera segitiga yang menancap di tumpengan. Bendera merah basah diperhatikan dengan mata tak berkesip. Hidungnya mencium bau amis. "Darah, memang darah." kata I Ketut Sudarsana. Seperti ayah mertuanya, suara sang menantu juga bergetar "Apa artinya ini? Siapa yang melempar bendera darah ini?!" "Pasti orang berkuda berjubah putih tadi." Ucap Ki Mantep Jalawardu. "Mengapa dia melakukan ini? Melempar bendera segitiga basah dengan darah. Apa maksudnya?" Tanya I Ketut Sudarsana sambil memandang pada ayah mertuanya lalu pada orang-orang di sekeliliingnya. Tak ada yang menjawab karena memang mereka tidak tahu apa artinya semua ini. Namun Ki Mantep Jalawardu sebagai orang tua yang telah berpengalaman dan menjadi Kepala Desa Plaosan lebih dari dua puluh tahun diam-diam merasa ada sesuatu yang aneh di balik apa yang barusan terjadi. Dan di belakang keanehan Ini dia mencium sesuatu yang berbahaya.

Ki Mantep kembali menyuruh putrinya dan semua anak gadis masuk ke dalam kamar. Orang dapur dimintanya kembali bekerja di dapur. Ibu-ibu muda yang tadi sibuk menghias piring-piring besar berisi berbagai hidangan, juadah dan buah disuruh meneruskan pekerjaan. Kepala Desa ini kemudian mengajak semua orang lelaki kembali ke langkan rumah. "Orang melempar bendera darah ke dalam rumah, Sulit aku menduga apa maksudnya," Ki Mantep berkata. "Di masa muda, aku banyak membasmi orang-orang jahat sekitar kaki Gunung Lawu. Mungkin saja salah satu dari mereka, kawan atau turunan mereka ingin membalas dendam, sengaja mencari kesempatan pada saat kita mengadakan pesta selamatan tujuh bulan puteriku. Kita perlu berjaga-jaga. Aku akan mengatur para perangkat desa untuk melakukan perondaan sampai pagi. Besok siang penjagaan harus dilanjutkan. Orang yang punya niat jahat pasti akan mengintai kelengahan kita. Aku tak ingin perayaan selamatan tujuh bulan puteriku sampat terganggu." "Ki Mantep" seorang lelaki berusia enam puluh tahun yang merupakan tetangga dan sahabat Kepala Desa sejak bertahun-tahun, bernama Surablandong berkata, "Malam ini urusan keamanan biar serahkan pada saya. Saya akan mengatur anak-anak. Ki Mantep dan yang lain-lain tetap di sini saja. Istirahat dan tidur kalau perlu..."

Kepala Desa Plaosan terdiam sesaat, akhirnya menganggukkan kepala. Siapa tidak kenal dengan Surablandong bekas Ketua Perguruan Silat Lawu Putih yang pernah punya nama harum di sekitar perbatasan Jawa Tengah – Jawa Timur mulai dari Sragen di sebelah utara sampai Ponorogo di kawasan selatan, mulai dari Surokerto di ujung barat sampai Madiun di sebelah timur. Selama bertahun-tahun dirinya ditakuti para penjahat dan orang-orang rimba persilatan golongan hitam. Sejak empat tahun lalu setelah istrinya meninggal, dalam duka cita yang sangat mendalam. Surablandong mengundurkan diri dari dunia persilatan. Jabatan Ketua Perguruan Silat Lawu Putih diserahkan pada muridnya yang paling pandai dan paling dipercaya, bernama Tambak Juwana.

Sambil memegang punggung sahabatnya yang tiga tahun lebih muda itu Ki Mantep mengajak Surablandong melangkah ke pintu pagar.

"Ki Blandong, aku sengaja membawamu ke sini agar yang lain tidak mendengar apa yang akan aku katakan" kata Ki Mantep Jalawardu dengan suara perlahan. "Saya sudah merasa kalau Ki Mantep hendak mengatakan sesuatu. Tapi tidak tahu mau mengatakan apa".

"Aku punya firasat buruk..."

"Jangan berkata begitu Ki Mantep." Potong Surablandong.

"Padamu aku tidak pernah berpura-pura. Kita sama-sama menyaksikan apa yang terjadi malam ini, Mulai dengan munculnya orang menunggang kuda hitam. Berjubah putih mengenakan penutup kepala seperti pocong. Lalu bendera segitiga yang dibasahi darah. Sengaja dilemparkan ke dalam rumah menancap di Tumpeng besar. Semua itu bagiku adalah suatu pertanda akan terjadi satu malapetaka..."

"Ki Mantep. siapa orang yang berani berbuat macam-macam terhadap dirimu dan keluargamu. Apa lagi saya ada di sini. Bukan saya bicara sombong akan saya tekuk leher orang yang berani mengacau".

"Kekacauan barusan telah terjadi. Dan kita tidak sempat berbuat apa-apa. Orang sanggup melemparkan bendera darah. Lalu kabur begitu saja..."

Diam-diam Surablandong merasa malu mendengar ucapan sahabatnya itu.

"Ki Mantep, sudahlah. Jangan dipikirkan apa yang telah terjadi. Masuklah, kau perlu istirahat dan tidur barang beberapa kejap. Soal keamanan rumahmu dan keluargamu menjadi tanggung jawab saya. Saya akan mengatur anak-anak untuk melakukan penjagaan." "Terima kasih Ki Blandong. Aku akan masuk.Tapi aku tak akan tidur. Kata Ki Mantep Jalawardu pula sambil menepuk bahu sahabatnya lalu berbalik.

"Memang dalam cemas melanda seperti itu siapa orangnya yang bisa tidur,"

Baru satu langkah sang Kepala Desa itu berbalik ke arah rumah, sekonyong-konyong ada derap kaki kuda dari ujung halaman sebelah kanan. Ki Mantep cepat balikkan tubuhnya kembali. I Ketut Sudarsana dan beberapa orang lelaki yang ada di langkan rumah besar menghambur lari ke halaman. Saat itu Surablandong telah melompati pagar terus melesat ke atas panggung besar.

Dari arah kegelapan di sebelah depan kanan panggung melesat seekor kuda hitam. Surablandong siap untuk menggebuk siapapun yang jadi penunggangnya. Tapi jago tua ini jadi melengak kaget ketika melihat kuda hitam itu berlari kencang tanpa penunggang sama sekali!

Saat itu Ki Mantep, I Ketut Sudarsana dan yang lain-lainnya juga sudah melompat ke atas panggung. Seperti Surablandong, tadinya mereka siap menghadang dan menyergap penunggang kuda. Namun semua mereka ikut terkesiap melihat kuda tanpa penunggang itu. Rasa terkesiap dibayangi rasa mengkirik aneh. Selagi semua orang terheran-heran bercampur kecut begitu rupa, kuda hitam lewat menghambur di depan panggung. Dan saat itu pula di dalam rumah mendadak terdengar pekik jerit tiada hentinya. I Ketut Sudarsana tersentak kaget.

Salah satu jeritan itu dikenalinya adalah jeritan isterinya. Lelaki menantu Kepala Desa Plaosan ini secepal kilat melompat turun dari atas panggung, terus melesat ke dalam rumah.

Ki Mantep sesaat tampak bingung sebelum menyusul sang menantu. Yang lain-lain ikut berlarian ke dalam rumah. Hanya Surablandong yang lari ke jurusan lain yakni ke halaman belakang rumah besar, ke arah kandang kuda.

Di dalam rumah jerit pekik orang-orang perempuan semakin keras. Ketika menantu dan suaminya berlari mendatangi, isteri Kepala Desa berteriak,

"Pakne, Nyi Upit diculik ! anak kita diculik setan pocong ! "



DI DALAM gelap di bawah hitamnya bayangan pohon besar Surablandong mendekam di atas punggung kuda. Mata dipentang lebar, telinga dipasang tajam. Di dalam rumah didengarnya suara jerit-pekik tiada henti. Malah kini ada suara orang meratap. Surablandong maklum ada satu perkara besar lelah terjadi dalam rumah Kepala Desa sahabatnya itu. Dia tidak bisa menduga apa. Dia tidak bisa membagi perhatian. Lalu didengarnya suara itu. Suara yang ditunggu-tunggu. Derap kaki-kaki kuda.

Di ujung halaman timur rumah besar Kepala Desa, seorang penunggang kuda mengenakan jubah dan penutup kepala putih menyerupai pocong muncul dari dalam kegelapan. Kuda digebrak membelok ke arah depan bangunan panggung, yang berarti akan melewati pohon besar di balik mana Surablandong menunggu Sekitar lima tombak kuda dan penunggangnya dari pohon besar, untuk pertama kalinya Surablandong melihat kalau di sebelah depan si penunggang kuda, di atas pangkuannya, terbujur melintang sosok seorang perempuan. Surablandong tidak bisa menduga siapa adanya perempuan itu. "Jahanam penculik! Manusia atau setan sekalipun kau adanya akan ku pecahkan kepalamu!" Kertak Surablandong. Dengan gerakan gesit lelaki berusia enam puluh tahun ini membuat gerakan ringan dan cepat melesat ke alas. Dua tangannya bergantungan di cabang pohon paling bawah. Ketika penunggang kuda berjubah dan berlutup kepala putih lewat. Surablandong ayun tubuhnya. Saat itu juga, laksana seekor burung rajawali Surablandong melesat ke bawah. Tangan kanan menggebuk ke arah kepala penunggang kuda yang ditutupi kain putih seperti pocong. "Praakk!"

Surablandong merasa yakin gebukan tangannya yang mengandung daya kekuatan atau bobot sama kekuatan hantaman batu seberat 100 kati akan menghancurkan kepala orang. Bahkan dia seolah mendengar suara pecahnya kepala si penculik. Namun jago tua yang di masa muda telah menggegerkan delapan penjuru angin kawasan perbatasan Jawa Tengah – Jawa Timur ini kecele. Bukan kepala orang yang dipecahkannya, malah sebaliknya dirinya yang kena celaka!

Orang di atas kuda lewat dua lobang kecil pada penutup kepala yang menyerupai pocong rupanya telah melihat bayangan kuda dan sosok Surablandong yang mendekam di balik pohon besar. Begitu Surablandong melayang ke arahnya sambil gebukkan tangan kanan orang ini cepat rundukkan kepala sama datar dengan leher kuda. Bersamaan dengan itu kaki kirinya melesat tinggi ke samping.

"Dukkk!"

Gerakan tubuh Surablandong yang menukik sambil memukul sesaat tertahan di udara lalu mencelat dua tombak untuk kemudian jaluh bergedebuk di tanah! Sesaat Surablandong mengerang menahan sakit. Tangan kirinya ditekapkan ke ulu hatinya yang barusan kena dihantam tendangan. Dia kerahkan tenaga dalam ke bagian yang cidera, atur pernafasan lalu bangkit berdiri. Setengah berlari, tanpa perdulikan rasa sakit pada ulu hatinya. Surablandong menghampiri kudanya, naik ke atas punggung binatang ini yang kemudian digebrak ke arah lenyapnya penunggang kuda berpakaian serba putih.

Sambil mengejar Ki Blandong tiada hentinya merutuki diri sendiri. Dia tahu dirinya telah tua. Tapi ilmu silat dan kepandaiannya tidak pernah berkurang. Tiga kali dalam satu minggu dia selalu melatih diri. Kini ternyata orang begitu mudah menghajarnya dengan satu tendangan. Menendang lawan sambil melesat di atas punggung kuda dan memangku sosok perempuan di atas paha bukanlah satu pekerjaan mudah. Hal inilah yang agaknya dilupakan Surablandong. Siapapun adanya penunggang kuda yang kepalanya ditutupi kain putih, dia adalah seorang berkepandaian tinggi. Dan tingkat kepandaiannya jelas berada di atas kepandaian Surablandong!

Orang yang dikejar menggebrak tunggangannya ke arah barat daya. Surablandong yakin dalam waktu tidak terlalu lama dia akan berhasil mengejar orang itu. Berkuda sambil memangku tubuh orang di atas paha bukan pekerjaan mudah dan memungkinkan seseorang bisa memacu tunggangannya dengan kecepatan tinggi. Namun lagi-lagi Surablandong dibuat kecele. Bagaimanapun dia kerahkan kepandaian memacu kudanya. Tetap saja antara dia dan orang yang dikejar terpaut sekitar lima lombak

Dalam kesalnya Surablandong gerakkan tangan ke pinggang. Dari balik sabuk kulit besar yang melilit pinggangnya dia keluarkan dua buah benda berwarna kuning, berbentuk bola-bola kecil sebesar ibu jari kaki, yang dipenuhi duri-duri lancip. Ketika dia masih malang melintang dalam rimba persilatan, benda ini merupakan senjata rahasia sangat menakutkan, dikenal dengan julukan Elmaut Kuning. Belasan lawan terutama orang-orang jahat menemui ajalnya oleh bola berduri terbuai dari kuningan beracun ini.

Sejak dia mengundurkan diri dari dunia persilatan meninggalkan Perguruan Silat Lawu Putih, Surablandong tidak pernah lagi mempergunakan senjata rahasia itu. Agaknya malam ini tidak ada jalan lain. Dia terpaksa mengeluarkan senjata tersebut untuk menghentikan sekaligus menghabisi si penculik.

Ketika di depan sana penunggang kuda yang dikejar membuat gerakan membelok ke kiri. Surablandong melihat inilah kesempatan terbaik untuk menghantam orang. Secepat kilat dia gerakkan tangan kanannya.

"Wuutt ".

Surablandong lancarkan serangan pertama. Satu dari dua bola kuningan berduri itu melesat di udara. Inilah kebiasaan dan kecerdikan Surabandong. Dia tidak pernah melepas senjata rahasia lebih dari satu buah dalam satu ketika serangan. Cara ini pula yang membuat banyak lawan terpedaya dan menemui ajalnya.

Walau malam gelap namun bola lembaga itu pelihatkan menyala kuning, melayang laksana batu berpijar yang jatuh dari langit, mencari sasaran di.arah kepala penunggang kuda hitam. Orang yang diserang rupanya sudah tahu kalau dirinya hendak dihantam orang dengan satu senjata rahasia. Sambil menyentakkan tali kekang kuda dan rundukkan kepala, dia membuat gerakan berkelit, bersamaan dengan ilu tangan kirinya dilambaikan ke samping.

Pada saat orang berusaha menghindari serangan bola kuningan pertama itulah Surablandong susul dengan serangan kedua. Untuk ke dua kalinya dalam gelapnya malam terdengar suar menderu disertai melesatnya cahaya kuning yang kali ini mencari sasaran di pinggang penunggang kuda hitam.

Orang di atas kuda hitam mendengus. Kembali dia lambaikan tangan kirinya,

"Tringg!" "Tringg!"

Dua kal terdengar suara berdering disertai kerlipan bunga api dalam gelapnya mafam. Dua bola kuningan berduri yang dilemparkan Surablandong hancur bertaburan di udara! Kagetnya Surabiandong bukan alang kepalang. Seumur hidup baru sekali ini serangan bola kuningannya dipukul hancur demikian rupa. Pernah kejadian ada lawan yang memang mampu mengelakkan bola kuningan pertama, Tapi hampir tidak ada yang sanggup menyelamatkan diri dari serangan bola kuningan susulan.

Geram penasaran dan marah Surablandong menggebrak kudanya lebih cepat. Kuda tunggangannya lari seperti dikejar setan namun tetap saja dia tidak mampu mengejar penunggang kuda didepannya.

Ternyata orang yang dikejar lari ke arah timur Telaga Sarangan. Sel ah u Surablandong tak jauh dari kawasan itu terdapat sebuah air terjun. Lalu lebih jauh ke arah utara ada satu bukit batu yang konon menjadi sarang kediaman berbagai binatang buas mulai dari ular berbisa sampai harimau raksasa.

Di timur telaga entah bagaimana Surnblandong berhasil mendekati orang yang dikejarnya. Makin dekat, makin dekat dan akhirnya dia dapat mengejar bahkan mendahului orang itu. Surablandong memutar kudanya, berbalik. Kini dia menghadang orang yang sejak tadi dikejarnya. Bekas Ketua Perguruan Silat Lawu Putih ini tidak sadar kalau dia bisa mengejar orang karena orang yang dikejar memang sengaja memperlambat lari kudanya.

Dua tombak dari hadapan Surablandong penunggang kuda hitam hentikan kudanya. Dua matanya memandang tajam ke arah Surablandong. Lalu dari bawah penutup kepala berbentuk pocong putih itu menggema suaranya. "Surablandong, perjalananmu cukup sampai disini! Kembali ke Plaosan atau kubuat kau meregang nyawa saat ini juga!" Surablandong tersentak kaget mendengar orang tahu dan menyebut namanya. Dia coba mengingat-ingat. Tapi tak mampu mengenali suara itu. Matanya memperhatikan sosok yang menggeletak di atas pangkuan orang. Sosok seorang perempuan, perutnya tinggi. Astaga! Surablandong terkejut untuk kedua kalinya. Perempuan di atas pangkuan penunggang kuda hitam itu adalah Nyi Upit! Puteri Kepala Desa sahabatnya yang tengah hamil tujuh bulan!

SURABLANDONG majukan kudanya hingga mulut binatang ini hampir bersentuhan dengan kepala kuda tunggangan orang di hadapannya. Pandangan orang tua ini seolah ingin menembus penutup kepala kain putih berbentuk pocong, namun dia hanya bisa melihat kerlapan cahaya sepasang mata di balik dua lobang kecil kain putih penutup kepala.

Perempuan lain saja diculik orang dudan cukup membuat Surablandong marah. Apa lagi yang diculik puteri sahabatnya dan dalam keadaan hamil pula. "Bangsat penculik!' Bentak Surablandong. "Beraninya kau menculik puteri Kepala Desa yang sedang hamil! Serahkan Nyi Upit padaku atau kuhabisi kau saat ini juga!".

Dari balik kain putih penutup kepala berbentuk pocong keluar suara tawa bergelak "Surablandong, kembalilah ke Plaosan. Anggap kita tidak pernah bertemu di tempat ini. Anggap kau tidak pernah melihat apa-apa. tidak pernah menghadapi kejadian ini. Maka kau akan selamat dalam sisa hidupmu!"

Rahang Surablandong menggembung, dia merasa sangat dihina dan direndahkan. "Manusia atau hantu kurang ajar! Kau tidak tahu tengah berhadapan dengan siapa!".

Kembali dari balik penutup kepaia berbentuk pocong terdengar suara tertawa, "Siapa tidak kenal Surablandong, tokoh nomor wahid rimba persilatan yang pernah menjabat Ketua Perguruan Sifat Lawu Putih! Semua kehebatanmu hanya tinggal kenangan Surablandong. Malah aku melihat Perguruan Silai yang kau tinggalkan empat tahun silam akan menjadi porak paranda. Pergilah, kembali ke Plaosan !". "Penculik keparat! Aku tidak akan pergi dari tempat ini sebelum membetot lepas kain penutup kepafamu mengetahui siapa dirimu!. Dan sebelum kau menyerahkan padaku puteri Kepala Desa itu!"

Kembali orang bertutup kepala keluarkan tawa bergelak. "Sura,... Surablandong, Di masa muda ketika kau sedang hebat-hebatnya malang melintang di rimba persilatan tanah Jawa. Seandainya kita bertemu saat itu, kau tak bakal berkemampuan menghadapi diriku. Apa lagi saat ini. di usiamu yang sudah tua badan telah rapuh dan pikiran mulai pikun! Kau ingin membetot lepas kain penutup kepalaku! Ha...ha! Jangan berucap terlalu sombong. Jangan berkata apa yang kau tidak mampu melakukan! Kau ingin membawa puteri Kepala Desa ini! Jangan sekali-kaii bertindak menjadi pahlawan besar! Karena nyawamu Cuma satu, Surablandong !". "Mungkin kau punya dua atau tiga nyawa hingga bicara sombong di hadapanku! Aku mau lihat, berapa banyak nyawa kau punyai!" Surablandong membalas ucapan orang dengan suara lantang keras, bergetar penuh marah. "Kau ingin menghitung nyawa yang aku miliki?' Ceh... ceh... ceh!". Kepala yang ditutupi kain putih berbentuk pocong bergeleng beberapa kali. Mulutnya keluarkan suara leletan lidah. "Orang muda terkadang berlaku tolol. Tapi banyak orang bisa memahami dan memaafkan. Namun kalau orang tua bangka seperti mu berlaku tolol hanya penyesalan yang akan kau bawa ke liang kubur!"

Amarah Surablandong meluap sudah ! "Ujudmu seperiti setan! Biarlah kau kujadikan setan sungguhan!"

Habis berkata begitu Surablandong membedal kudanya ke depan. Begitu bersisian dengan lawan serta merta dia melesat dari punggung kuda. Sementara tubuhnya melayang di udara, Surablandong kirim pukulan dengan kedua tangan ke arah muka orang. Tangan kanan memang sungguhan hendak menghantam kepala lawan, tapi gerakan tangan kiri hanya tipuan karena bertujuan untuk membetot lepas kain penutup kepala. Inilah gerakan silat bernama Jurus Menghantam Batang Mencabut Daun.

Penunggang kuda hitam keluarkan suara mendengus lalu membuat gerakan merebahkan tubuh sebelah atas dan kepalanya ke belakang. Kaki kanan ditendangkan ke perut kuda tunggangan Surablandong hingga binatang ini meringkik kesakitan dan angkat dua kaki depannya tinggi-tinggi. Selagi Surablandong berusaha mengimbangi diri agar tidak terpental dari punggung kuda, tahu-tahu tangan kanan si pocong putih telah melabrak dada Surablandong dua kali berturut-turut. Tubuh Surablandong terlipat ke depan. Dari mulutnya menyembur darah segar. Sekali lagi jotosan keras melanda dada orang tua itu. Tak ampun sosok Surablandong terpental dari atas kuda. Terbanting menelentang di tanah. Matanya mendelik tapi dia tidak melihat apa-apa.

Wajah di balik kain penutup kepala menyeringai. Entah kapan dia mengambil dan entah dari mana diambilnya, orang ini tahu-tahu telah memegang sebuah bendera kecil berbentuk segitiga terbuat dari sehelai kain putih. Sekali tangannya digerakkan, bambu kecil lancip yang menjadi ikatan bendera menancap dalam di leher Surablandong. Darah menyembur. Kain berbentuk segitiga yang tadinya putih serta merta berubah merah. Menjadi Bendera Darah'.

Di arah selatan, dalam kegelapan malam kelihaian setengah lusin api obor bergerak cepat menuju Telaga Sarangan. Sambil perhatikan barisan obor di kejauhan, orang di alas kuda usap-usap perut hamil perempuan yang terbujur di atas pangkuannya. Mulutnya menyeringai. Lalu sekali tali kekang kuda disentakkan, sebelum rombongan pembawa obor sampai di tepi telaga, bersama tunggangannya orang ini telah melesat lenyap dalam kegelapan malam.

PEDATARAN tinggi bukit berbatu-batu di utara Telaga Sarangan. Dalam pekat gelapnya malam kawasan itu kelam menghitam, menampilkan pemandangan angker dalam kesunyian yang membuat kuduk bisa terasa dingin. Sesekali hembusan angin bertiup mengeluarkan suara aneh menegakkan bulu roma. Ketika dari arah selatan muncul satu bayangan putih, bergerak cepat bersama hembusan angin, siapa yang menyaksikan akan menduga makhluk itu adalah setan yang tengah berkelebat gentayangan di malam gelap gulita.

Tapt makhluk tersebut, walau berpakaian serba putih, bertutup kepala laksana pocong hidup, bukanlah setan atau makhluk halus adanya. Dia adalah manusia biasa yang berdandan seperti setan. Sambil melompat dari satu batu ke batu lain, berkelebat cepat dalam kegelapan malam, orang ini menggendong sosok perempuan hamil.

Berlari cepat dalam gelapnya malam di kawasan berbatu-batu dengan beban perempuan hamil dalam gendongan, jelas bukan pekerjaan mudah. Kalau makhluk seperti pocong hidup itu mampu melakukan, berarti dia memiliki ilmu kepandaian luar biasa tingginya

Di atas sebuah batu agak datar, orang ini hentikan larinya. Dan balik dua lobang kecil pada kain putih penutup kepala, sepasang matanya memandang berkeliling. Dia sudah sering berada dibukit batu ilu, namun pada malam hari segala sesuatunya kelihatan serba hitam. Dia harus memasang mata mengawasi agar tidak salah jalan.

Akhirnya dia melihat mulut lorong itu. Gelap menghitam dibalik bayang-bayang sebuah batu besar, sejarak dua puluh tombak di sebelah bawah bukit. Tidak menunggu lebih lama orang ini segera berkelebat ke arah balu besar di bawah sana. Dilain kejap sosok putihnya lenyap menghilang masuk ke dalam mulut lorong batu yang berada di perut bukit.

Adalah aneh, di dalam lorong batu keadaannya remang-remang, tidak segelap di luar. Kenyataan lain ialah bahwa di dalam perut bukit batu Itu tidak hanya ada satu lorong tetapi terdapat banyak sekali cabang dan setiap cabang memiliki cabang-cabang pula. Orang yang tidak tahu seluk beluk tempat ini bukan saja akan tersesat malah bisa-bisa tidak mampu lagi mencari jalan keluar.

Sambil lari sepanjang lorong batu yang penuh dengan cabang-cabang itu orang berpakaian seperti pocong berucap perlahan seperti menghitung-hitung.

"Lima puluh kanan. Empat puluh kiri. Tiga puluh kanan. Lima puluh kiri. Empat puluh kanan. Tiga puluh kiri. Lima puluh kanan. Empat puluh kiri. Tiga puluh kanan. Lima puluh kiri. Empat puluh kanan Tiga puluh kiri. Lima puluh kanan."

Tepat pada ucapan lima puluh kanan yang terakhir di depan orang yang berlari sambil menggendong sosok perempuan hamil, terlihat sebuah pintu kayu berwarna hitam. Pada pertengahan daun pintu menancap sebuah bendera kecil berbentuk segitiga, berwarna merah basah. Bendera Darah !

Sepuluh langkah akan sampai ke depan pintu hitam yang ditancapi Bendera Darah tiba-tiba dari kiri kanan pintu dimana terdapat dua buah lorong melompat keluar dua sosok berpakaian putih dengan kepala ditutup kain putih berbentuk pocong. Masing-masing mencekal golok. Yang sebelah kanan langsung membentak.

"Siapa?!" "Wakil Ketua Harap buka pintu hitam" . .

Dua orang di depan pintu cepat-cepat menekuk lutut dan menjura memberi hormat pada setan pocong yang menggendong perempuan hamil. Lalu salah seorang dari mereka menekan sebuah tombol rahasia di dinding kiri pintu. Serta merta pintu hitam terpentang lebar. Sekali melompat manusia pocong yang menyebut diri Wakil Ketua lenyap ke dalam satu ruangan batu di balik pintu. Pintu hitam tertutup kembali.

Begitu berada dalam ruangan balu di belakang pintu hitam, manusia pocong segera berkelebat ke ujung ruangan dimana terdapat pintu kedua berwarna biru. Pada pintu ini juga menancap sebuah bendera segitiga merah dan basah. Ketika mendekati pintu biru tiba-tiba atap ruangan terbuka. Empat manusia pocong melayang turun dengan mengeluarkan suara berkesiuran. Golok tergenggam di tangan. Empat pasang mata di balik lobang-lobang kecil kain putih penulup kepala yang sebelumnya berkilat beringas begitu melihat dan mengenali orang di depannya, serta merta menekuk lutut menjura hormat,

"Wakil Ketua, silahkan masuk. Ketua sudah aama menunggu."

Manusia pocong yang barusan bicara menekan sebuah tombol di kiri pintu. Maka pintu biruu terbuka dengan sendirinya. Begitu manusia pocong yang menggendong perempuan hamil masuk ke dalam, pintu biru segera menulup.

Ruangan batu dimana manusia pocong itu berada, luas sekali tetapi kosong dan sunyi. Kekosongan dan kesunyian ini hanya sebentar. Tak selang berapa lama dinding batu di sebelah kiri bergeser membentuk celah. Dari celah ini keluar seorang manusia pocong bertubuh tinggi.

Manusia pocong yang menggendong perempuan hamil cepat bungkukkan badan lalu berkala. "Yang Mulia Ketua, terima salam hormat saya. Saya datang sesuai tugas."

"Wakil Ketua, aku gembira melihat kau berhasil. Baringkan perempuan itu dilantai. Aku akan menyerahkannya pada Yang Mulia Sri Paduka Ratu". Manusia pocong bertubuh tinggi keluarkan ucapan. Suaranya menggema menggetarkan dinding, lantai dan atap ruangan batu.

Sesuai apa yang diperintahkan sang Wakil Ketua baringkan sosok perempuan hamil di lantai batu. Orang yang dipanggil dengan sebutan Ketua perhatikan sesaat wajah perempuan hamil itu lalu bertanya. "Siapa dia?"

"Nyi Upit. pureri Kepala Desa Plaosan", jawab Wakil Ketua. "Berapa usia kandungannya?" "Tujuh bulan rencananya besok akan dilangsungkan hajatan selamatan." "Bagus. Aku puas. Kau boleh istirahat barang sebentar. Sebelum pergi ada hal lain yang hendak kau sampaikan?" "Ada, Yang Mulia. Pertama saya telah membunuh Surablandong. Bekas Ketua Perguruan Silat Lawu Putih..." "Manusia satu itu memang tidak berguna hidup, lebih lama. Ada hal lain ?".

"Ki Mantep Jalawardu. Kepala Desa Plaosan, bersama menantunya, I Kelut Sudarsana, suami Nyi Upit tengah melakukan pengejaran. Sebelum pergi saya mendengar Ki Mantep memerintahkan anak buahnya untuk melapor dan minta bantuan ke Kadipaten Magetan. Selain itu saya juga mendengar Ki Mantep minta didatangkan Ki Juru Seta, ahli pencari jejak. Apa yang saya harus lakukan? Apakah orang-orang itu cukup layak untuk dibiarkan hidup dan dipakai tenaganya seperti yang kita rencanakan?" "Tingkat kepandaian Ki Mantep Jalawardu tidak ada artinya. Juga sang menantu Habisi mereka" "Bagaimana dengan Ki Juru Seta?" "Bunuh dia sebelum berhasil mengetehui tempat ini." "Akan saya lakukan. Saya akan berangkat sekarang juga." "Tunggu dulu. Tadi kau mengatakan Ki Mantep minta bantuan Kadipaten Magetan. Aku tahu Adipati Magetan adalah sahabat kental Ki Mantep Jalawardu. Mungkin dia akan turun tangan sendiri menolong sahabatnya itu. Jika Adipati benar-benar muncul, tangkap dia hidup-hidup. Tingkat kepandaian silat dan ilmu kesaktiannya bisa kita manfaatkan," "Baik Yang Mulia. Saya minta diri sekarang." "Pergilah. Orang-orang itu harus kau habiskan malam ini juga." "Balk Yang Mulia."

Manusia pocong Wakil Ketua membungkuk hormat lalu memutar badan, tinggalkan ruangan itu.



SAMBIL mengangkat obor tinggi-tinggi, penunggang kuda paling depan berteriak.

"Berhenti! Ada tubuh manusia tergeletak ditengah jalan!". Dua penunggang kuda di sebelah belakang, hentikan kuda lalu melompat turun. Kedua orang ini adalah Ki Mantep Jalawardu Kepala Desa Plaosan dan menantunya I Ketut Sudarsana. Tujuh orang lagi menyusul turun dari kuda masing-masing. Lima diantaranya membawa obor. Mereka adalah para petugas Pamongdesa Plaosan.

Ki Mantep Jalawardu mengambil obor dari tangan salah seorang anak buahnya. Dia melangkah cepat ke arah tergeletaknya sosok manusia. Ketika obor di tangan Ki Mantap dan dua obor lain, menerangi wajah dan badan orang yang terhampar ditanah itu, kagetlah Kepala Desa dan semua orang yang ada disitu. Ki Mantep berikan obornya pada anak buah disampingnya lalu berlulut, pegangi kepala orang yang tergetak di tanah. "Surablandong,..". Suara Ki Mantep bergetar wajahnya tegang membesi. Kemudian dia melihat bendera segitiga merah yang menancap di leher sababatnya itu. "Bendera Merah..." desis Ki Mantep. I Ketut Sudarsana berlutut di seberang ayah mertuanya. "Ki Sura pasti berhasil mengejar penculik. Si penculik lalu membunuhnya."

Ki Mantep pejamkan mata, anggukkan kepala lalu bangkit berdiri. Dia memandang berkeliling. Mula-mula ke arah Telaga Sarangan. Lalu ke jurusan kerapatan pepohonan dan terakhir sekati ke arah bukit batu yang menghitam di kejauhan. Sulit untuk menduga kemana larinya si penculik. "Ini satu perkara besar! Nyi Upit anakku harus bisa diselamatkan! Si penculik harus bisa ditangkap. Aku sendiri yang akan memenggal batang lehernya. Tapi jika dia sanggup menghabisi sahabatku Surablandong seperti ini berarti penculik jahanam itu memiliki ilmu kepandaian sangat tinggi. Kita perlu berhati-hati. Kita harus menyusun siasat pengejaran."

Dua orang Pamongdesa ditugaskan membawa pulang jenazah Surablandong ke Plaosan. Sesampainya di Plasoan, salah seorang dari mereka harus kembali lagi membawa bantuan tenaga pengejar sebanyak mungkin. Sedang petugas satunya harus segera menemui Adipati Magetan untuk melaporkan apa yang terjadi. Kalau bisa meminta bantuan perajurit Kadipaten mengejar si penculik. Kepada petugas ini juga diminta untuk menemui seorang bernama Juru Seta yang dikenal memiliki kepandaian mencari jejak orang atau binatang buruan. Semasa perang. Kerajaan mempergunakan kepandaian Juru Seta untuk mengintai, menyelidiki kedudukan musuh. Di masa kaum pemberontak mengacau negeri, tenaganya dimanfaatkan untuk mengejar para pemberontak sampai ke sarangnya hingga pemberontakan dapat ditumpas sampai ke akar-akarnya.

Kepada menantunya Ki Mantep kemudian berkata.

"Kau dan tiga orang Pamong tetap di sini, menunggu sampai tenaga bantuan datang. Aku dan yang lain-lain melanjutkan pengejaran."

Khawatir akan keselamatan ayah mertuanya Ketut Sudarsana menjawab.

"Ayah, sebaiknya biar saya yang meneruskan melakukan pengejaran. Ayah dan yang lain-lain menunggu di sini..."

"Yang diculik jahanam itu adalah anakku! Aku harus....." "Nyi Upit adalah istri saya. Di dalam perutnya ada jabang bayi darah daging saya!" ucap sang menantu. Kelihatannya Ketut Sudarsana tidak dapat menahan rasa geram yang sebelumnya berusaha ditahan hingga dia mengeluarkan kata-kata keras pada ayah mertuanya. "Seperti ayah saya juga ingin menyelamatkannya dan membunuh penculik keji itu".

Ki Mantep terdiam mendengar ucapan sang menantu.

"Kalau begitu kita lanjutkan pengejaran sama- sama!", kata Ki Mantep Jalawardu akhirnya.

Dua orang petugas Pamongdesa ditinggalkan di tempat itu menunggu rombongan bantuan. Ki Mantep dan I Ketut Sudarsana bersama enam orang lainnya segera melanjutkan pengejaran. Sebelum pergi Ki Mantep meninggalkan pesan pada dua anak buahnya. Kalau Juru Sela dan rombongan datang agar menyusul ke arah utara.

Sebagai orang yang telah menjadi Kepala Desa Plaosati lebih dari dua puluh tahun Ki Mantep bukan saja tahu belul seluk beluk desanya tapi juga hampir seluruh kawasan perbatasan termasuk daerah sekitar kaki Gunung Lawu. Karenanya walaupun saat itu malam hari. bukan merupakan satu kesulitan bagi Kepala Desa ini untuk melanjutkan pengejaran. Namun sampai fajar menyingsing di ufuk timur, jejak sang penculik masih belum tersidik. Padahal dia dan rombongan telah dua kali mengitari telaga. "Kita tunggu sampai hari terang. Baru melanjutkan pencarian". Ki Mantep mengambil keputusan. Rombongan itu kemudian beristirahat di tepi barat Telaga Sarangan.

Pagi harinya, selesai Ki Mantep mencuci muka di tepi telaga, petugas Pamongdesa yang diperintahkan menemui Juru Seta serta meminta tenaga bantuan muncul membawa Juru Seta serta orang enam pemuda yang rata-rata bertubuh tegap dan membekal golok besar di pinggang masing-masing.

Ki Mantep segera menemui Juru Seta, seorang tua berpakaian dan berblangkon serba hitam yang setiap saat selalu mengunyah sirih campur tembakau dalam mulutnya dan sesekali menyemburkan ludah merah ke tanah. "Ki Juru, aku sangat mengharapkan bantuanmu...." "Dari Pamongdesa saya sudah mendengar apa yang terjadi. Saya akan berusaha sebisanya agar Nyi Upit dapat segera ditemukan dalam keadaan selamat." "Pamong desa memberitahu mengenai Bendera Darah?" Juru Seta mengangguk. "Agaknya bendera segitiga yang dibasahi dengan darah itu menjadi satu tanda dari penjahat terkutuk yang menculik anakku. Mungkin Ki Juru pernah tahu atau pernah mendengar sebelumnya hal-hal yang berhubungan dengan Bendera Darah itu. Mungkin juga tahu siapa orang di belakang semua kejadian ini?" "Ini satu kejadian aneh luar biasa dalam hidup saya. Saya tidak mengetahui dan juga tidak bisa menduga apa sebenarnya yang terjadi. Mengapa ada orang menculik puteri Ki Mantep yang sedang hamil. Lalu mengapa begilu tega membunuh Surablandong dan menancapi lehernya dengan Bendera Darah. Hanya ada satu hal yang bisa saya artikan. Orang dibalik kejadian ini ingin memberi kesan. Jangan main-main dengan Bendera Darah. Setiap Bendera Darah muncul maka satu peristiwa besar akan terjadi. Yang juga bisa berarti kematian." Juru Seta diam sebentar lalu berkala lagi. "Ki Mantep, sebaiknya kita segera saja mulai bergerak."

Dari balik pakaiannya orang tua yang seumur dengan sang Kepala Desa Plaosan ini keluarkan sebuah tongkat kecil terbuat dari bambu kuning panjang lima jengkal. Inilah benda yang menjadi andalan Juru Seta dalam melakukan pekerjaannya.

Juru Seta memulai penyelidikannya dari tempat ditemukannya mayat Surablandong. Tongkat bambu kuning ditancapkan di tanah, tepat dimana sebelumnya sosok Surablandong terkapar menemui kematian. Perlahan-lahan Juru Seta pejamkan mata. Begitu matanya terkancing rapat tiba-tiba tongkat bambu kuning yang menancap di tanah sedalam satu jengkal kelihatan bergetar. Makin lama makin keras. Kemudian perlahan-lahan, masih dalam keadaan bergetar ujung tongkat bambu kuning itu meliuk ke arah utara. Pada saat ujung tongkat meliuk membentuk garis patah tiba-tiba tongkat Itu melesat ke udara lalu melayang turun kembali. Tanpa membuka matanya Juru Seta ulurkan tangan menangkap tongkainya. Benda ini diselipkan di pinggang lalu matanya dibuka, langsung menatap pada Kepala Desa. "Bagaimana Ki Juru Seta?". Tanya Ki Mantep Jalawardu tidak sabaran, "Penculik membawa puteri Ki Mantep ke jurusan utara. Kita menuju ke sana sekarang juga". Jawab Juru Seta.

Di daerah sebelah utara terdapat kawasan rimba belantara. Di seberang rimba belantara ada satu kawasan bukit batu. Kawasan mi merupakan kaki selatan Gunung Lawu. Rombongan segera meninggalkan Telaga Sarangan menuju utara. Sepanjang perjalanan Juru Seta mendapat petunjuk melalui getaran yang keluar dari tongkat bambu kuning yang terselip di pinggangnya. Selama tongkat itu mengeluarkan getaran berarti arah yang mereka ikuti adalah benar, berarti puta bahwa si penculik memang melarikan diri di arah yang tengah mereka ikuti. Selain getaran tongkatnya. Juru Seta juga bisa melihat jejak yang ditanggalkan kaki kuda si penculik. Tongkat terus bergetar dan jejak kelihatan jelas ketika rombongan memasuki rimba belantara.

Menjelang tengah hari rombongan sampai di kaki selatan Gunung Lawu. Getaran masih terus keluar dari tongkat bambu kuning di pinggang Juru Seta tetapi gelarannya terasa semakin perlahan. Sedangkan jejak-jejak kaki kuda tidak kelihatan lagi. Hal ini dapat dimaklumi karena kawasan tlu memiliki tanah yang tertutup bebatuan. Diam-diam Juru Seta merasa kawatir. "Aneh." membatin Juru Seta. ‘Kalau penculik membawa Nyi Upit ke sekitar tempat ini, jejak bisa saja hilang karena ini kawasan berbatu-batu. Tapi seharusnya getaran tongkat semakin keras."

Ketika getaran tongkat lenyap sama sekali, Juru Seta memberi isyarat agar rombongan berhenti. Lalu orang tua berpakaian serba hitam ini turun dari kudanya.

"Bagaimana Ki Juru, sudah ada petunjuk?" Bertanya I Ketul Sudarsana,

Juru Seta tidak segera menjawab. Dia memandang dulu berkeliling. Di sebelah belakang terbentang rimba belantara yang barusan mereka lewati. Di sebelah depan ada jajaran lembah yang walau cukup dalam tapi tidak sulit untuk ditempuh. Di seberang lembah terdapat satu pedataran tinggi membentuk bukit batu. Ke sebelah barat ada tiga desa besar yakni Tawang mangu. Karang anyar dan Karang pandan. Jika pergi ke timur akan sampai ke kawasan pecandian. Salah satu candi yang terkenal di daerah itu adalah Candi Cemorosewu. Juru Seta berpikir-pikir. Kalau getaran tongkat lenyap di tempat itu dan jejak di tanah tidak lagi kelihatan, berarti itulah akhir perjalanan si penculik. Berarti ke tempat sekitar situlah Nyi Upit dilarikan. Namun memandang berkeliling Juru Sela tidak melihat hal-hal mencurigakan. Mungkin penculik membawa Nyi Upit menuruni lembah. Dan di dasar lembah sana perempuan muda hamil tujuh bulan itu disekap. "Kalau penculik dan Nyi Upit berada di lembah sana, seharusnya tongkat mengeluarkan getaran lebih kuat. Tapi nyatanya getaran tongkat malah lenyap. Aku merasa, sejak sebelum keluar dan rimba belantara ada hawa aneh menahan getaran tongkat. Seumur hidup baru sekali ini aku mengalami peristiwa seperti ini. Mengejar pemberontak walau berbahaya tapi tidak sufit. Mengejar seorang penculik mengapa begini susah?. Agaknya ada satu hal besar yang tak bisa kubayangkan di belakang semua kejadian ini. "Ki Juru, kau mengetahui sesuatu?" K i Mantep Jalawardu bertanya.

"Agaknya penculik berada di sekitar kawasan ini...". jawab Juru Seta. "Agaknya? Berarti kau ragu-ragu Ki Juru " ujar Ki Mantep. "Menurut petunjuk, Nyi Upit dilarikan ke arah sini. Di depan ada jajaran lembah. Di seberang sana ada bukit batu. Dua kawasan ini harus kita selidiki" "Ki Juru tidak tahu pasti di sebelah mana penculik berada?" bertanya Ketut Sudarsana. Juru Seta menggeleng. Terus-terang dia berkata. "Ada satu kekuatan aneh tapi hebat mempengaruhi pekerjaan saya. Namun saya yakin, kalau tidak didalam lembah, puteri Ki Mantep mungkin berada di pedataran tinggi berbatu-batu sana." Baik Ki Mantep Jalawardu maupun I Ketut Sudarsana dan semua orang yang ada di tempat itu merasa tidak puas atas keterangan Juru Seta.

Juru Seta sendiri diam-diam merasa gelisah. Dia cabut tongkat bambu kuning yang terselip di pinggang lalu tancapkan tongkat ini ke tanah antara dua buah batu. Dengan telapak tangan kanannya Juru Seta tekan ujung tongkat. Belum lama menekan tiba-tiba ada sambaran hawa aneh menyengat telapak tangan Juru Seta. Wajah orang tua ini jadi berubah. Terlebih ketika tangan kanannya yang berada di atas tongkat mulai bergetar. Juru Seta kerahkan tenaga meredam getaran aneh. Tiba-tiba orang tua ini keluarkan jeritan keras. Tangan kanannya terpental, tubuhnya terbanting ke tanah. Kepalanya nyaris membentur sebuah batu. Dari mulutnya tersembur keluar tembakau serta sirih yang selalu dikunyahnya. Lalu ada lelehan cair berwarna merah. Lelehan ini bukan ludah sirih tetapi darah! Satu kekuatan aneh dan dahsyat yang dikirimkan orang ke tongkat kuning telah membuat Ki Juru Seta menderit luka dalam yang parah.

Saat tubuh Juru Seta terbanting ke tanah, bersamaan dengan itu tongkat bambu kuning yang menancap di tanah tercabut. Melayang ke udara, lalu berbarengan, suara tawa bergelak menggelegar di tempat itu, menggema sampai ke dalam jajaran lembah dan rimba belantara.



SEMUA tersentak kaget. Ki Mantep Jalawardu melompat turun dari kuda. menghambur ke arah Juru Seta yang saat itu melingkar di tanah, tubuh menggigil seperti orang kedinginan. Dari mulutnya masih mengucur darah. I Ketut Sudarsana juga telah berkelebat turun dari punggung kudanya. Menantu Kepala Desa ini bukan melompat ke arah Juru Seta tapi melesat ke dekat sebuah balu besar dlmana berdiri seekor kuda. Di atas kuda ini duduk seorang berpakaian jubah putih, kepala ditutup kain putih berbentuk pocong. Dari wajahnya hanya sepasang matanya yang kelihatan lewat dua lobang kecil pada penutup kepala. Di tangan kanannya orang ini memegang tongkat bambu kuning milik Juru Seta yang sebelumnya melesat tercabut dari tanah. Rupanya ketika tongkat bambu itu melayang di udara, orang ini berhasil menyambarnya. Sesaat diperhatikannya tongkat itu lalu berkata.

"Tongkat hebat! Tapi aku tidak butuh!"

Tangan manusia pocong meremas beberapa kali. Tongkat bambu kuning hancur tak berbentuk lagi. "Setan jahanam..." Juru Seta merutuk melihat tongkat andalannya dihancurkan begitu rupa. Dia berusaha kumpulkan tenaga, mencoba bangkit berdiri untuk menyerang manusia pocong tapi hanya mampu bergerak sedikit, sosoknya terhempas kembali ke tanah. Sementara itu beberapa orang anak buah Ki Mantep Jalawardu dengan golok di tangan mengikuti gerakan Ketut Sudarsana, melompat ke arah penunggang kuda di dekat batu. "Setan pocong! Pasti kau yang menculik isteriku" Teriak Ketut Sudarsana, Lalu dia mengambil golok yang dipegang seorang pemuda Pamong desa. Dengan senjata ini dia menyerang si penunggang kuda. Diserang orang dengan golok, melihat gerakan lawan serta derasnya siuran senjata yang membabat ke arahnya jelas Ketut Sudarsana memiliki kepandaian silat tidak rendah. Si penunggang kuda tidak mau berlaku ayal. Sekali membuat gerakan, sosok nya melesat ke udara. Di lain kejap dia telah berdiri di atas sebuah batu besar berpermukaan rata. Tangan kiri bertolak pinggang.

"Jahanam! Mana istriku!" Kucincang kau kalau tidak menyerahkan Nyi Upit dalam keadaan selamat !" Ketut Sudarsana berbalik, melompat ke atas batu dan untuk kedua kalinya menyerang orang berjubah dengan goloknya.

"Wuuttt..!"

Golok menderu membabat ke arah pinggang. Si jubah putih condongkan tubuhnya ke belakang. Dengan tangan kanannya dia pukul lengan yang memegang golok. Bersamaan dengan itu kaki kirinya menyapu ke depan, menendang tulang kering kaki kanan Ketut Sudarsana. Gerakannya luar biasa cepat walau Ketut Sudarsana memiliki kepandaian tidak rendah namun dia tak mampu menghindar. "Kraaakr!" "Kraaak!"

Golok besar di tangan Ketut Sudarsana mencelat mental, jatuh ke dalam lembah. Dua kali terdengar suara tulang patah disertai jerit setinggi langit keluar dari mulut I Ketut Sudarsana, lelaki muda ini terbanting jatuh ke atas batu datar. Tulang lengan kanan dan tulang kering kaki kanan patah. Untuk beberapa lamanya dia terkapar menggeliat kesakitan di atas batu sambil keluarkan suara erang kesakitan.

Sosok yang dipanggil dengan sebutan setan pocong mendatangi lalu injakkan kaki kanannya ke dada Ketut sudarsana. Orang yang sedang megap-megap kesakitan ini merasa seolah sebuah batu besar menindih dadanya, membuat dua matanya mendelik dan lidahnya terjulur.

Sambil bertolak pinggang manusia pocong yang menginjak dada Ketut Sudarsana berteriak. "Orang-orang Plaosan! Kematian sudah dijatuhkan bagi kalian. Tapi aku masih berbaik hati. Dengar! kalian harus segera tinggalkan tempat ini! Kalau sampai matahari terbenam kalian masih berada di sini, kalian semua akan mampus percuma! Contohnya ini"

Habis berkata begitu si manusia pocong tendang tubuh Ketut Sudarsana hingga lelaki muda ini mencelat mental dan jatuh tepat di samping Ki Mantep Jalawardu yang tengah menolong Ki Juru Seta. Ki Mantep Jalawardu terbeliak melibat sosok menantunya terkapar di depannya, tidak bersuara tidak bergeming. Amarah Kepala Desa Plaosan tidak terbendung lagi. "Keparat jahanam! Kau menculik anakku! Membunuh sahabatku! Mencelakai menantuku! Kupatahkan batang lehermu!" Belum lenyap gema suara bentakan Kepala Desa, sosoknya telah melesat ke atas batu. Lancarkan pukulan tangan kosong mengandung tenaga dalam, dua kali berturut-turut.

Seperti tadi ketika diserang Kelut Sudarsana, manusia pocong hantamkan tangannya ke atas untuk menangkis serangan disertai niat hendak mematahkan lengan lawan. Tapi Ki Mantep Jalawardu sudah mencium maksud tersebut dan berlaku cerdik. Sebelum dua lengannya beradu dengan dua lengan lawan dia cepat melompat ke atas. Setengah tombak melayang di udara Ki Mantep kembali menggempur. Bukan cuma dengan jotosan tapi kali ini disertai tendangan ke arah dada. "Hebat !".

Si manusia pocong berseru. Sambil miringkan tubuh dia bergerak ke samping satu tangkah lalu tangan kanannya bekerja. Ki Mantep Jalawardu menjerit kesakitan ketika urat besar di pahanya kena ditotok lawan. Keseimbangannya hilang dan tubuhnya berputar di udara lalu jaluh ke tanah. Selagi mencoba berdiri sambil menahan sakit, kaki lawan telah berkelebat ke arah kepalanya. Ki Mantep terlambat melihat serangan ini.

"Praaakkk"

Kepala Desa Plaosan itu terbanting ke tanah. mengerang pendek lalu tak berkutik lagi! Nyawanya lepas dengan kepala pecah! Ki Juru Seta yang megap-megap dalam cidera batalnya pejamkan mata ngeri melihat kematian Kepala Desa itu. Dua belas anak buah Ki Mantap melengak kaget dan juga bergidik.

Juru Seta coba berteriak. Wala teriakannya tidak keras tapi cukup jelas terdengar oleh selusin anak buah Ki Mantep Jalawardu, "Kalian! mengapa diam saja! Orang telah membunuh Kepala Desa kalian lekas bunuh makhluk setan jahanam itu!"

DUA belas orang anak buah Ki Mantep Jalawardu yang sejak tadi diam saja berkelebat dengan cepat mereka mengurung bat besar di atas mana si manusia pocong berdiri. "Kalian mau apa? Aku tidak begitu suka melayani monyet-monyet macam kalian. Pergi sana!". "Bunuh! Cepat bunuh!". Berteriak Juru Seta ketika melihat dua belas orang yang diperintahkannya untuk membunuh manusia pocong berdiri bimbang walau sudah mengurung lawan. Darah meleleh dari mulutnya. Mendengar teriakan itu dua belas orang pemuda petugas Pamongdesa tadi serta merta menyerbu. Dua belas senjata tajam berkelebat dalam gelapnya malam, mengeluarkan suara bersiuran. "Kalian minta mati aku akan berikan!" Manusia pocong di atas batu keluarkan ucapan. Bersamaan dengan itu tubuhnya melesat ke udara. Begitu terabasan dua belas golok lewat di bawahnya tiba-tiba orang ini membuat gerakan aneh. Tubuhnya berputar seperti gasing. Kaki kanan menyapu ganas.

Enam orang anak buah Ki Mantep Jalawardu keluarkan jeritan keras. Tiga terlempar lalu tergelimpang tak berkutik lagi karena kepalanya pecah. Dua lainnya terkapar di tanah sambil pegangi tulang-tulang iga yang patah. Yang ke enam megap-megap lalu semburkan darah dari mulut. Tendangan si setan pocong meremukkan tulang dadanya. Enam anak buah Ki Mantep Jalawardu yang lain serta rnerta melompat mundur dengan wajah pucat manusia pocong keluarkan tawa bergelak. "Kalian mengapa mundur? Mau minta mampus ayo mendekat ke sini."

Tak ada yang berani bergerak. Ketika manusia pocong melompat turun dari atas batu, enam pemuda itu bersurut mundur. Lutut masing-masing terasa goyah. Nyali mereka leleh sudah setelah menyaksikan kematian Ki Mantep Jalawardu dan enam kawan mereka. "Kalian... pengecut semua...".

Juru Seta keluarkan ucapan. Semangat dan dendam amarah masih berkobar. Dia kembali berusaha bangkit berdiri. Namun setengah jalan tiba-tiba satu benda putih melesat di udara.

Di lain kejap sebuah bendera putih berbentuk segi liga menancap tepat di atas kening antara dua mata Juru Seta. Kepalanya terbungkuk. Tubuhnya kemudian jatuh menelungkup di tanah. Darah mengucur membasahi bendera segitiga, serta merta bendera yang terbuat dari kain putih itu berubah menjadi merah basah. Bendera Darah!

Semakin lelehlah nyali enam pemuda Pamongdesa anak buah Ki Mantep Jalawardu. Ketika manusia pocong melangkah ke arah mereka, tidak tunggu lebih lama lagi mereka serta meria menghambur kabur. Ada yang masih sempat melompat naik ke punggung kuda, ada yang terus lari pontang panting seperti dikejar setan.



KETIKA petugas Pamongdesa Plaosan datang memberitahu terjadinya penculikan atas diri Nyi Upit Suwarni puteri Ki Mantep Jalawardu. Raden Sidik Mangkurat, Adipati Magetan segera memerintahkan orang andalannya nomor satu di Kadipaten untuk memberikan bantuan sekaligus menyelidik peristiwa tersebut.

Orang ini adalah Aji Warangan, Kepala Pasukan Kadipaten, seorang lelaki tinggi kepandaian silatnya, berusaa sekitar setengah abad. Dulunya Aji Warangan adalah seorang Warok alias kepala rampok yang malang melintang berbuat kejahatan dan keonaran sepanjang kawasan Kali Madiun, mulai dari Ponorogo di selaian, sampai Madiun di utara dan tentu saja di wilayah Magetan. Ketika Sidik Mangkurat menjadi Adipati di Magetan, hal pertama yang dilakukannya adalah menumpas Warok Aji Warangan dan kelompoknya. Puluhan anak buah Warok Aji berhasil ditangkap. Yang melawan tidak diberi ampun langsung dihabisi. Namun sang Warok sendiri tidak berhasil dibekuk. Sebulan kemudian, setelah seluruh anak buahnya ditumpas. Sidik Mangkurat baru berhasil menemui sarang Warok Aji Warangan.

Sidik Mangkurat maklum kalau dia berhadapan bukan dengan Kepala Rampok biasa. Aji Warangan selain berpengalaman dalam berbuat kejahatan juga memiliki ilmu silat serta kesaktian tinggi. Karenanya begitu bertemu, sang Adipati menasihatkan dan mengajak kepala rampok itu agar meninggalkan perbuatan jahatnya, kembali ke jalan yang benar. Namun Warok Aji Warangan mana mau mendengar ajakan tersebut, Apa lagi puluhan anak buahnya telah ditumpas oleh Sidik Mangkurat.

Menghadapi sikap kepala rampok itu, walau saat itu Sidik Mangkurat membawa pasukan terdiri dan lima puluh prajurit terlatih, namun dia tidak memerintahkan mereka untuk mengeroyok, menangkap atau membunuh Aji Warangan. Adipati ini turun tangan sendiri membekuk Warok itu. Maka perang tanding satu lawan satupun terjadilah. Keduanya bertempur dengan tangan kosong tanpa mengandalkan senjata. Berarti masing-masing mengeluarkan dan mengandalkan kehebatan tenaga luar, tenaga dalam serta hawa sakti yang dimiliki.

Perkelahian seru berlangsung lebih dan enam puluh jurus. Aji Warangan berhasil mendaratkan beberapa pukulan ketubuh bahkan muka Adipati Sidik Mangkurat. Namun jurus-jurus selanjutnya sang Adipati tak memberi hati lagi. Aji Warangan dihajar habis-habisan sampai akhirnya terkapar dengan muka bersimbah darah luka-luka dihantam Sidik Mangkurat. Dalam keadaan tak berdaya Warok itu siap menunggu kematian di tangan Adipati Magetan. Namun sang Adipati tidak membunuhnya. Di luar dugaan Aji Warangan, Sidik Mangkurat malah memerintahkan anak buahnya menolong dan mengobati luka-lukanya. Di satu tempat, tanpa dihadiri orang lain Sidik Mangkurat bicara empat mata dengan kepala rampok yang barusan dikalahkannya itu.

Kepada kepala rampok itu sang Adipati berjanji akan mengampuni semua dosa kesalahan dan perbuatan jahatnya asalkan dia mau bertobat. Menyadari bahwa orang memang berniat baik terhadapnya, sambil kucurkan air mata Aji Warangan jatuhkan diri, berlutut di hadapan Sidik Mangkurat. Menyatakan dirinya bertobat dan siap kembali ke jalan yang benar. Sidik Mangkurat tidak percaya begitu saja terhadap apa yang dikatakan Aji Warangan. Bekas Warok yang ditakuti ini dibiarkan tinggal bersama sisa-sisa anak buahnya di satu kampung kecil, tapi di bawah pengawasan orang-orangnya. Di tempat itu dihadirkan seorang guru yang memberikan pelajaran agama yang selama ini tidak pernah menyentuh diri dan hati Aji Warangan. Berkat ajaran agama itu dalam waktu singkat bekas kepala rampok ini benar-benar telah berubah. Namun Sidik Mangkurat masih belum mempercayai dirinya. Secara diam-diam Adipati itu menyusupkan beberapa orang kepercayaannya. Orang-orang ini menyamar sebagai para penjahat dari timur. Mereka membujuk Aji Warangan untuk bergabung dengan mereka bahkan akan dijadikan pimpinan mereka. Kejahatan pertama yang akan mereka lakukan jatah menghadang rombongan dari Kotaraja yang dikabarkan membawa barang-barang sangat berharga ke satu tempat. Tapi Aji Warangan yang memang sudah benar-benar berubah menolak ajakan itu malah dua dari orang yang mendatanginya dihajar sampai babak belur.

Setelah percaya penuh atas diri Aji Warangan, Sidik Mangkurat memanggil Aji Warangan ke Magetan. Di sini dia diberi jabatan sebagai satu dari empat Kepala Perajurit Keamanan Kadipaten. Lalu dijadikan Wakil Pasukan Kadipaten. Lima tahun kemudian dia diangkat menjadi Kepala Pasukan Kadipaten.

*******Sebelum meninggalkan Kadipaten bersama sepuluh orang anak buahnya Aji Warangan lebih dulu menemui atasannya. " Adipati, ada satu hal yang mengherankan dalam peristiwa ini". kata Aji Warangan pada Sidik Mangkurat. "Biasanya orang jahat selalu menculik gadis atau perempuan-perempuan muda istri orang. Tapi yang satu ini menculik seorang perempuan yang tengah hamil." "Rata heranmu sama dengan rasa heranku, Ki Aji." Jawab Sidik Mangkurat. Saya merasa ada sesuatu dibalik peristiwa yang tidak biasanya ini. Saya harap kau mampu menyelidiki sampai tuntas. Yang penting menangkap hidup-hidup pelakunya." "Menurut Pamong desa yang datang melapor penculik mengenakan pakaian serba putih. Kepalanya ditutup dengan kain putih berbentuk pocong. Jika seseorang sengaja menutupi wajahnya, berarti ada sesuatu yang disembunyikan. Saya setuju dengan pendapat Adipati. Ada sesuatu di balik peristiwa penculikan ini. Saya pernah mendengar kabar. Beberapa tahun lalu Ki Mantep Jalawardu pernah menghancurkan beberapa kelompok penjahat yang berkeliaran di sekitar Plaosan sampai ke Telaga Barangan. Mungkin ada sisa-sisa dari kawanan penjahat itu yang membatas dendam?"

Adipati Sidik Mangkurat memegang bahu Aji Warangan. Sambil gelengkan kepala dia berkata. "Saya yakin bukan itu yang sebenarnya terjadi. Kau lebih tahu Ki Aji, untuk memastikan, itu sebabnya saya muinta Ki Aji turun tangan menyelidiki. Sekali lagi tangkap hidup-hidup pelakunya" "Saya berangkat sekarang juga Adipati." Bersama sepuluh orang anak buahnya Aji Warangan larut malam menjelang pagi itu segera meninggalkan Kadipaten Magetan menuju Plaosan. Anak buah Kepala Desa Plaosan yang datang melapor dijadikan sebagai penunjuk jalan.

Pagi harinya setelah mampir sebentar di rumah Ki Mantep Jalawardu di Plaosan, Aji Warangan dan rombongan segera meneruskan perjalanan ke arah utara, ke arah mana menurut petugas Pamongdesa penculik melarikan Nyi Upit tadi malam.

Belum jauh meninggalkan Plaosan, di satu jalan lurus dan mendaki. Aji Warangan dan ank buahnya berpapasan dengan dua orang penunggang kuda. Walau mereka menempuh jalan menurun namun dua penunggang kuda itu memacu tunggangan masing-masing seperi! dikejar setan. Agaknya ada sesuatu yang membuat mereka ke susu seperti Itu.

Aji Warangan memberi tanda lalu menepikan kuda diikuti oleh sepuluh anak buahnya. Ketika dua penunggang kuda mendekat. Aji Warangan segera berteriak. "Berhenti! Ada apa?!

*******Dua penunggang kuda hentikan kuda masing-masing. Yang di sebelah depan begitu melihat dan mengenali Aji Warangan, dengan nafas terengah segera mendekati, "Kepala Pasukan Kadipaten, Ki Aji Warangan. Syukur kami bisa menemui Ki Aji hingga tak perlu jauh-jauh ke Magetan...". "Kalian siapa?" "Mereka petugas Pamong desa Plaosan, teman saya," yang bicara petugas Pamong desa yang ikut bersama rombongan Aji Warangan, "Betul, kami anak buah Ki Mantep Jalawardu, Kepala Desa Plaosan." "Kawan kalian ini memberitahu peristiwa penculikan atas diri Nyi Upit, puteri Ki Mantep Jalawardu. Sekarang kalian menunggang kuda seperti diburu selan. Ada apa?" "Ki Mantep dan menantunya I Ketut Sudarsana, juga Ki Juru Seta. Mereka semua dibunuh..."

Kagetlah Aji Warangan mendengar ucapan anak buah Kepala Desa Plaosan itu. "Tenang, jangan kesusu. Ceritakan bagaimana kejadiannya. Jangan ada satu halpun yang kau lupakan." Setelah mendengar semua keterangan mengenai peristiwa kematian Ki Mantep. Ki Juru Seta dan I Ketut Sudarsana. Aji Warangan berkata pada orang yang barusan bicara. Kau segera teruskan perjalanan ke Magetan. Beritahu Adipati Sidik Mangkurat apa yang terjadi. Berangkat sekarang juga!" Sesaat setelah orang itu menggebrak kudanya dan pergi Aji Warangan berpaling pada petugas Pamongdesa satunya. Kau menjadi penunjuk jalan. Antarkan kami ke tempat kejadian itu!"

*******KETIKA rombongan Aji Warangan sampai di tepi rimba belantara tempat terjadinya pembunuhan atas diri Ki Mantep petugas Pamongdesa yang bertindak sebagai penunjuk jalan terheran-heran. Di tempat itu. tidak satu sosok tubuhpun kelihatan. Dia segera melompat turun dari kudanya. Di tanah dan bebatuan sekitarnya masih terlihat jelas tanda-tanda bekas perkelahian. Beberapa buah golok bergeletakan di tanah. Namun dimana tubuh-tubuh yang telah jadi mayat korban pembunuhan manusia pocong? "Aneh...". ucap petugas Pamong desa itu berulang kali. "Petugas, kau tidak membawa kami ke tempat yang salah?" tegur Aji Warangaa "Saya yakin ini tempatnya." Jawab pemuda Pamongdesa. "Kau tidak tengah bersenda gurau?" "Demi tuhani masakan saya berani bergurau ! Ketika saya pergi, mayat mereka masih ada disini. Termasuk beberapa mayat petugas Pamongdesa kawan-kawan saya. Bagaimana mungkin semuanya bisa lenyap?"

Aji Warangan usap-usap dagunya. "Ada yang tidak beres! Adipati agaknya benar dengan ucapannya. Ada sesuatu dibalik semua kejadian ini."

Aji Warangan turun dari kudanya. Semua anak buahnya mengikuti. Setelah memperhatikan keadaan di tempat itu, memandang ke arah rimba belantara, lalu Kepala Pasukan Kadipaten Magetan ini berjalan ke pinggiran jajaran tiga lembah batu. Di tepi lembah ini dia jongkok beberapa lama. memasang telinga sambil layangkan pandangan ke bawah. Sesaat kemudian Aji Warangan bangkit berdiri. Dia memberi tanda pada sepuluh orang anak buahnya. Ke sepuluh orang ini segera mendekati.

"Ikuti aku. Kita akan menuruni lembah batu ini di sebelah sini. Aku mendengar sesuatu"

Dipimpin oleh Kepala Pasukan Kadipaten Magetan itu rombongan segera menuruni jajaran lembah di sebelah tengah. Mereka baru menuruni lembah pada kedalaman kurang dari empat tombak ketika seorang anggola rombongan berteriak. "Ada mayat di atas batu!"

Ternyata bukan cuma satu mayat yang mereka temui. Mayat Ki Mantep Jalawardu tergeletak di kaki sebuah pohon berlumut. Kepalanya pecah mengerikan. Jenazah Juru Seta ditemukan rneringkuk di belakang sebuah balu besar. Di keningnya masih menancap Bendera Darah. "Ada suara orang mengerang!" Seorang anggota rombongan berteriak. Dari arah semak belukar sana!"

Saat Ki Aji Warangan sudah lebih dulu melompat ke balik semak belukar. Sesosok tubuh tergeletak dalam keadaan mengenaskan. Muka penuh luka, pakaian berlumuran darah, tangan kanan dan kaki kanan terkulai patah. Walau wajah orang itu penuh luka dan tertutup darah namun Aji Warangan masih bisa mengenali. "I Ketut Sudarsana, " Kepala Pasukan Kadipaten Magetan ini berlutut. Dia raba urat besar di leher menantu Ki Mantep Jalawardu itu. Begitu merasa masih ada denyutan pada urat nadi, Aji Warangan segera memberi perintah pada empat anak buahnya untuk mengangkat dan membawa naik sosok Ketut Sudarsana ke atas lembah. I Ketut Sudarsana walau dengan suara perlahan dan tersendat keluarkan ucapan. "Nya... nyawaku tidak lama la.., lagi. Biarkan saya terbaring dan meng.,. menghembuskan nafas terakhir di,., disini. Ada... ada sesuatu yang perlu saya sampaikan..."

Aji Warangan segera menolok beberapa bagian tubuh Ketut Sudarsana. Totokan ini adalah untuk memperlancar peredaran darah sekaligus memberi kekuatan. "I Ketut Sudarsana. katakan. Apa yang kau sampaikan." "Man... manusia-manusia.., pocong. Menculik.,menculik istriku. Sar... sarang mereka di sekitar sini. Tolong selamatkan Nyi,... Nyi Upik" "Manusia-manusia pocong? Lebih dari satu?" ujar Aji Warangan. "Menurut keterangan yang kudapat, yang melakukan pembunuhan dan mencelakai dirimu hanya satu manusia pocong...." "Lebih... lebih dari satu. Tadi pagi muncul tiga manusia pocong. Satu bertindak sebagai pim.....pimpinan. Dia memberi perinlah... pada dua kawannya. Jenazah ayah. Juru Seta dan yang lain-lain dilempar ke dalam lembah. Saya... saya yang terakhir mereka lempar. Saya,,.."

Kepala I Ketut Sudarsana terkulai. Matanya nyalang kosong tak berkesip. Aji Warangan menarik nafas dalam. Perlahan-lahan diusapnya kedua mataKetut Sudarsana hingga menutup.

*******WALAU para korban pembunuhan yang dilakukan oleh manusia pocong bertebaran tidak terlalu jauh di dalam lembah, namun bukan pekerjaan mudah untuk membawa naik sekian banyak mayat. Menjelang tengah hari, tiga orang perajurit Kadipaten yang ditugaskan mencari angkutan muncul membawa tiga buah gerobak. Jenazah Ki Mantep Jalawardu, I Kelut Sudarsana dan Ki Juru Seta serta semua anak buah Ki Mantep yang jadi korban diangkut dengan gerobak ke Plaosan. Aji Warangan sendiri tidak ikut mengantar karena bersama dua orang anak buah kepercayaannya dia akan menyelidiki kemana lenyapnya penculik Nyi Upit, sekaligus pembunuh Kepala Desa Plaosan dan yang lain-lainnya itu.

Menjelang sore, ketika rombongan pasukan Kadipaten yang membawa para korban sampai di rumah kediaman Kepala Desa. jerit pekik dan ratap tangis menyayat hati serta merta pecah merobek kesunyian.

Hari itu seharusnya adalah hari berbahagia, hari kegembiraan upacara selamatan tujuh bulan hamilnya Nyi Upit. Namun saat itu tidak ada kebahagiaan, tidak ada kegembiraan! tidak ada upacara selamatan. Yang berlangsung adalah kesedihan yang tidak dapat dilukiskan. Di mana-mana terdengar ratap tangis orang perempuan. Nyi Gusni, istri Ki Mantep Jalawardu tergolek di atas tempat tidur. Perempuan ini menjent keras ketika melihat mayat suaminya lalu roboh pingsan.

Dalam keadaan seperti itulah Adipati Sidik Mangkurat datang bersama para pengawal dan perajurit Kadipaten Magetan. Sebelumnya dia telah mengutus Aji Warangan. Kepala Pasukan Kadipaten untuk menyelidiki, mengejar dan menangkap penculik Nyi Upit. puteri sahabatnya itu. Namun ketika siang harinya seorang petugas Pamongdesa Plaosan datang membawa berita kematian Ki Mantep Jalawardu. Adipati Sidik Mangkurat memutuskan untuk turun tangan sendiri, menyusul pasukan Kadipaten di bawah pimpinan Aji Warangan.

Adipati Sidik Mangkurat telah mengenal Ki Mantep Jalawardu selama puluhan tahun. Kawan sepermainan sejak kecil. Orang yang banyak membantunya dimasa-masa sulit ketika dia harus menumpas kaum pemberontak termasuk menghancurkan komplotan rampok pimpinan Warok Aji Warangan yang kini dijadikannya Kepala Pasukan Kadipaten. Ketika dia menduduki jabatan Adipati. Sidik Mangkurat menawarkan satu jabatan tinggi bagi sahabatnya itu. Namun Ki Mantep Jalawardu menolak dengan sopan dan halus. Agaknya dia lebih suka menjadi Kepala Desa Plaosan. Bagi Adipati Sidik Mangkurat Ki Mantep Jalawardu bukan Cuma seorang sahabat. Tapi sudah dianggap sebagai saudara sendiri. Kematian Ki Mantep Jalawardu membual Sidik Mangkurat sangat terpukul tapi juga marah. Sore itu juga dia membawa satu pasukan besar terdiri dari lima puluh perajurit bersama dua Kepala Perajurit berangkat ke utara, singgah dulu di Plaosan. Ternyata di desa ini kehadirannya bersamaan dengan kedatangan rombongan jenazah Ki Mantep Jalawardu.

Betapapun tenggelamnya Sidik Mangkurat dalam kedukaan atas kematian sahabatnya yang tidak wajar itu, ada satu hal yang tidak luput dari perhatian Adipati Magetan ini. Yakni sebuah bendera merah basah yang menancap di kening Ki Juru Seta. Itulah Bendera Darah! Bendera seperti ini menurut laporan anak buahnya juga ditemui menancap di leher Surablandong, seorang sahabat Ki Mantep yang menemui ajal ketika melakukan pengejaran atas penculik Nyi Upit. Semakin yakin Adipati Magetan ini bahwa di balik semua kejadian penculikan dan pembunuhan ini. tersembunyi satu hal yang lebih ganas, lebih mengerikan.



SAMPAI beberapa lama setelah rombongan tiga gerobak pembawa jenazah meninggalkan lembah dan lenyap di dalam rimba belantara Aji Warangan. Kepala Pasukan Kadipaten Magetan masih berdiri di tepi lembah. Saat itu dia ingat akan keterangan l Ketut Sudarsana mengenai manusia-manusia pocong. Sayang menantu Ki Mantep Jalawardu itu keburu menemui ajal hingga tidak bisa memberitahu lebih banyak. Aji Warangan sendiri tidak punya kesempatan untuk bertanya.

Kepala Pasukan Kadipaten Magetan ini ingat ucapan I Ketut Sudarsana menjelang ajalnya. Menurut menantu Ki Mantep Jalawardu itu sarang manusia-manusia pocong itu berada di sekitar kawasan flu. Tapi dimana? Sambil terus berpikir Aji Warangan perhatikan lembah di bawahnya. Lalu pandangannya di arahkan ke bukit batu di seberang lembah. Cahaya matahari petang yang mulai condong ke barat membuat kawasan bukit batu yang abu-abu kehitaman itu warnanya berubah aneh, terkadang memancarkan pantulan sinar menyilaukan.

Sebagai orang yang pernah menjadi kepala rampok dan malang melintang di delapan penjuru angin wilayah itu. Aji Warangan cukup mengenal baik kawasan sekitar rimba belantara dan jajaran tiga lembah. Bersama dua orang anak buahnya dia telah menyelidiki keadaan di tiga lembah itu. Bukan satu pekerjaan mudah. Namun berkat pengalamannya dimasa menjadi orang jahat dahulu Aji Warangan mampu melakukan penyelidikan dengan cepat. Di tiga lembah dia tidak menemukan tanda-tanda atau hal-hal yang memberi petunjuk bahwa sarang manusia-manusia pocong itu berada di tempat tersebut

Keluar dari lembah Aji Warangan memandang ke arah bukit batu di kejauhan. Di masa dia menjadi rampok bukit batu itu tidak banyak menjadi perhatiannya. Orang-orang jahat tidak begitu suka berada lama-lama di tempat itu apa lagi menjadikannya sebagai sarang. Bukit batu tersebut selain tidak terlalu tinggi mudah dicapai, keadaannya serba terbuka hingga bisa didaki dari berbagai jurusan. Namun entah bagaimana Aji Warangan tiba-tiba ingat pada sebuah kiat yang biasa diterapkan oleh orang-orang jahat Kiat itu berbunyi : Menipu penglihatan di malam hari menipu pandangan di siang hari.

Aji Warangan usap-usap dagunya. Kepala Pasukan Kadipaten Magetan ini menyeringai. Berdasarkan keterangan yang didengarnya dari beberapa orang anak buah Ki Mantep Jalawardu yaitu bagaimana manusia pocong itu denganseorang diri mampu membunuh Ki Mantep dan Ki Juru Seta. menghajar l Ketut Sudarsana sampai sekarat dan menghabisi begitu banyak para petugas Pamongdesa Klaosan. jelas manusia pocong itu memiliki ilmu kepandaian linggi. Lalu menurut keterangan Ketut Sudarsana sebelum menemui kematian. ternyata bukan cuma ada satu manusia pocong di tempat itu.

Jika mereka lebih dari satu orang berarti mereka memiliki seorang pemimpin. Dan sang pemimpin tentunya bukan saja memiliki tingkat kepandaian luar biasa tetapi juga mempunyai otak cerdik. "Bukan mustahil, pimpinan manusia-manusia pocong itu menerapkan kiat orang-orang jahat. Menipu penglihatan di siang hari, menipu pandangan di malam hari," Aji Warangan perintahkan dua anak buahnyamenyiapkan kuda. "Bukit batu di seberang sana perlu kita selidiki," kata Aji Warangan. Lalu dengan menunggang kudanya dia mendahului bergerak sepanjang tepi tiga buah lembah menuju ke timur. Di ujung lembah dia mengambil jalan berputar, kembali ke barat tapi pada jalur tepi lembah yang berdampingan dengan kaki bukit batu. Di pertengahan kaki bukit batuh di satu tempat Aji Warangan berhenti, turun dari kudanya memandang ke langit sebelah barat. Kepala Pasukan ini sesaat menduga-duga. Apakah mungkin bisa mencari dan mengetahui dimana letak sarang manusia-manusia pocong itu sebelum sang surya tenggelam dan hari berubah menjadi gelap?

Setelah memperhatikan beberapa lamanya bukit batu yang tidak seberapa tinggi itu Aji Warangan memberi isyarat pada dua perajurit untuk mengikutinya. Ketiga orang itu mendekati bukit batu tepat di lereng sebelah tengah. Aji Warangan di sebelah depan. Mata di pasang telinga di pentang. Tak ada gerakan, tak ada suara selain deru halus tiupan angin yang sesekali menerpa deras.

Sampai di puncak bukit Aji Warangan memandang berkeliling. Dia dapat melihat jelas pemandangan cukup indah di bawahnya. Mulai dari rimba belantara, jajaran lembah dan kaki bukit berbatu-batu. "Pemimpin, mustahil ada orang bersembunyi di tempal ini. Malam dinginnya pasti luar biasa, siang panas sekali. Rasanya tidak ada mata air di bukit ini."

Aji Warangan tidak perdulikan ucapan anak buahnya itu. Dia balikkan badan. Kini matanya memperhatikan kawasan bukit di sebelah utara. Kawasan ini agaknya tidak pernah disentuh manusia. Pohon-pohon besar, semak belukar tinggi menyelimut d imana-mana. Agak ke barat ada sebuah jurang batu, tidak seberapa lebar tapi cukup dalam. "Pimpinan, saya melihat sesuatu," tiba-tiba perajurit di samping kiri berkata sambil menunjuk ke arah bawah sana, jurusan kanan jurang batu. "Perajurit, matamu cukup tajam. Aku sudah.tahu. Yang kau lihat sebuah atap bangunan, terbuat dari batang-batang bambu disusun rapat." "Benar sekali Pimpinan." Jawab si perajurit. Tanpa mengalihkan pandangannya ke bawah sana Aji Warangan berkata. "Atap bangunan itu diselimuti tanaman Iiar. Ujung sebelah kiri miring. Besar kemungkinan bangunan itu tidak terpakai lagi. Siapapun pemiliknya kurasa tidak pernah lagi mempergunakan. Tapi, bagaimanapun juga kita perlu menyelidik. Adalah aneh. satu bangunan ada di pinggir jurang, di kaki bukit batu sunyi yang tidak pernah didatangi manusia." "Kami berdua akan turun menyelidiki!" "Kita menyelidik bersama-sama" kata Aji Warangan pula. Lelaki bekas kepala rampok yang telah berpengalaman ini seperti seekor srigala mulai mencium sesuatu. Dia mendahului menuruni bukit batu ke arah jurang kecil di bawah sana. Belum jauh bergerak turun tiba-tiba di sebelah kiri lereng bukit batu Aji Warangan melihat sebuah celah di antara dua batu besar. Dia perhatikan sejurus keadaan di tempat itu lalu memerintahkan salah seorang anak buahnya untuk turun menyelidik. Tak lama kemudian perajurit itu kembali menemuinya dengan nafas terengah. Wajah orang ini bukan cuma menunjukkan keletihan, tapi juga memperlihatkan sesuatu yang lain. "Apa yang kau temui?" tanya Aji Warangan..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.198.163.124
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia