Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : PETUALANGAN WIRO DI LATANAHSILAM

SINOPSIS :PAKAIAN PERI ANGSA PUTIH ROBEK DI BAGIAN PINGGANG. BATU BERWARNA TUJUH MENYEMBUL DI ATAS PERUTNYA YANG PUTIH. PERI ANGSA PUTIH TERPEKIK. BARU SADAR APA YANG TERJADI. DIA CEPAT MENGHANTAM TAPI TERLAMBAT. BATU PEMBALIK WAKTU TELAH BERADA DALAM GENGGAMAN LAMANYALA. BEGITU DAPATKAN BATU SAKTI TERSEBUT LAMANYALA SIAP BERKELEBAT KABUR. PADA SAAT ITULAH TIBA-TIBA SUARA PEREMPUAN MENGGERUNG KERAS. "LASEDAYU SUAMIKU! SIAPA YANG BERANI MENCELAKAI DIRIMU!"SATU BAYANGAN KUNING BERKELEBAT. SATU TENDANGAN KERAS MELABRAK DADA LAMANYALA HINGGA TUBUHNYA MENCELAT MENTAL SAMPAI TIGA TOMBAK DAN BATU PEMBALIK WAKTU YANG ADA DALAM GENGGAMAN TANGAN KANANNYA TERLEMPAR KE UDARA LALU JATUH KE TANAH. PERI ANGSA PUTIH CEPAT MEMBURU, GULINGKAN DIRI DI TANAH DAN MENYAMBAR BATU SAKTI ITU.



SATU pemandangan luar biasa terlihat di dalam rimba belantara Lasesatbuntu. Dua sosok aneh berlari cepat mengusung sebuah tandu kayu. Sosok di sebelah depan tinggi kurus hanya mengenakan sehelai cawat. Sekujur tubuhnya mulai dari kepala sampai ke kaki termasuk sepasang matanya berwarna kuning. Kulitnya ditumbuhi duri-duri panjang kaku seperti bulu landak. Sambil berlari sesekali makhluk ini membuang ludah berwarna kuning. Seperti diketahui, di Negeri Latanahsilam hanya ada dua makhluk yang sekujur tubuhnya berwarna kuning. Orang pertama adalah Hantu Selaksa Angin alias Hantu Selaksa Kentut alias Luhpingitan dan diketahui sebagai istri Hantu Langit Terjungkir alias Lasedayu. Orang ke dua ialah makhluk yang mengusung tandu di sebelah depan tadi yang bukan lain adalah Hantu Jatilandak.

Pengusung tandu sebelah belakang tak kalah hebatnya. Seluruh permukaan tubuhnya tertutup lapisan aneh berbentuk sisik hitam. Sisik ini seolah kepingan-kepingan baja hitam yang mencuat keluar. Makhluk satu ini dikenal dengan nama Tringgiling Liang Batu. Menurut riwayat dialah yang telah memelihara dan membesarkan Hantu Jatilandak, lalu menganggap Hantu Jatilandak sebagai cucunya sendiri. (Untuk lebih jelas mengenai nwayat Hantu Jatilandak dan Tringgilng Liang Batu harap baca episode Wiro Sableng di Negeri Lanahsilam berjudul "Hantu Jatilandak")

Di atas tandu kayu yang diusung Hantu Jatilandak dan Tringgiling Liang Batu, terbujur sosok seorang perempuan tua renta, berambut putih awut-awutan. Sepintas mukanya terlihat seolah tengkorak karena kulit wajahnya yang pucat memulih sangat tipis. Sepasang mata orang ini tertutup Dan mulutnya yang agak menganga tiada henti keluar suara erangan. Sesekali erangannya tersendat lalu dari sela bibirnya meleleh darah merah kehitaman. Sebilah pisau menancap di dadanya sebelah kiri. Gagang pisau maut ini terbuat dari sejenis batu berbentuk singa berkepala dua!

"Jatilandak!" tiba-tiba Tringgiling Liang Batu berseru. "Hentikan larimu. Ada yang perlu kita bicarakan!"

"Wahai! Kita tidak ada waktu lagi!" Menjawab Hantu Jatilandak. Lalu dia menyambung. "Nenek ini siap meregang nyawa! Kalau ajalnya putus sebelum kita menemui orang yang dicarinya, rahasia besar yang diketahuinya tidak pernah akan terungkap! Dan aku akan merasa berdosa seumur-umur terhadap gadis bernama Luhcinta itu!"

"Justru karena aku khawatir dia akan menemui ajal maka aku perlu bicara denganmu! Lekas kau hentikan larimu!" berteriak Tringgiling Liang Batu.

Tapi Hantu Jatilandak tidak pedulikan ucapan kakeknya. Terpaksa makhluk bersisik itu salurkan tenaga dalamnya ke kaki. Dua kakinya yang tengah berlari cepat itu tiba-tiba menjadi berat sekali. Hantu Jatilandak terkejut ketika merasakan bagaimana gerakan dua kakinya terasa sangat berat hingga dia tidak bisa lagi berlari cepat.

"Kakek ini hendak memaksaku berhenti berlari!" kata Hantu Jatilandak dalam hati. Diam-diam dia kerahkan tenaga dalam. Dua tenaga sakti tingkat tinggi saling bentrok. Akibatnya Hantu Jatilandak lari tertahan-tahan. Duri Landak di sekujur tubuhnya mencuat kaku. Di sebelah belakang dua kaki Tringgiling Liang Batu laksana dua batu besar, terseret di tanah, mengepulkan pasir dan debu. Sosok perempuan tua di atas tandu berguncang-guncang. Suara erangannya mengeras.

Hantu Jatilandak kucurkan keringat di sekujur tubuhnya ketika dia berusaha berdiri terus. Dua kakinya memang bergerak cepat, tapi gerakannya tetap disitu-situ juga! Dia tidak mampu bergerak maju barang satu jengkalpun! Akhirnya Hantu Jatilandak terpaksa hentikan larinya.

"Kek! Aku mengalah! Apa yang hendak kau bicarakan!"

"Sebelum bicara, kita turunkan dulu tandu ini." berkata makhluk bersisik kepingan baja hitam.

Tandu kayu di atas terbujur sosok perempuan tua yang dadanya ditancapi pisau perlahan-lahan diturunkan ke tanah. Hantu Jatilandak memandang pada Tringgiling Liang Batu. Menunggu apa yang hendak dikatakan kakek itu

"Jatilandak, tahukan kau di mana kita berada saat ini ‘" Trenggiling Liang Batu ajukan pertanyaan.

Walau heran mendengar pertanyaan kakeknya itu tapi Hantu Jatilandak memandang juga berkeliling. "Heh! Bukankah kila berada dalam rimba belantara Lasesat buntu?!"

"Kau betul! Kita berada di dalam rimba keramat. Penuh dengan seribu satu macam petakal Kila telah tersesat. Berarti kita harus segera mencati jalan keluar sebelum mendapat celaka'"

"Aku ingat Kek, di hutan ini konon pernah saha-batku tersesat dan mendapat malapetaka. Tapi aku tidak takut! Kalau memang harus menembus hutan ini, walau ada seribu bahaya akan tetap kulewati. Lagi pula bukankah menembus ribuan belantara ini kita bisa lebih cepat sampai di Lembah Katak Hijau tempat kediaman nenek bernama Luhmasigi itu? Atau mungkin kau merasa takut Kek?"

Tringgiling Liang Batu tertawa dicap sebagai penakut "Sejak lahir sampai kelak aku menemui kematian, aku tidak akan pernah mengenal rasa takut."

"Kalau begitu mengapa kita tidak meneruskan perjalanan?" tanya Hantu Jatilandak.

"Waktu kita sangat singkat! Lihat keadaan perempuan tua di atas tandu itu! Ajalnya tak akan lama. Jika kita dihadang marabahaya di tengah hutan berarti sebagian dari waktu kita akan habis percuma. Aku tidak yakin kita bisa menemui salah satu dari tiga orang yang dikatakannya. Apa lagi ke tiga-tiganya." Dengan suara agak perlahan makhluk bersisik ini berkata "Perempuan malang ini akan menemui Kematiannya sebelum menemui orang-orang itu!"

"Kalau begitu apa yang harus kita lakukan? Ingat Kek, sebelumnya kita telah berjanji untuk menolongnya!" kata Jatilandak pula seraya menatap pada pisau bergagang dua kepala singa yang menancap di dada perempuan tua di atas tandu.

"Aku ingat. Janji adalah satu kebajikan yang harus dipenuhi! Tapi kesia-siaan adalah satu hal yang harus dihindarkan! Kita harus bisa memaksanya bicara saat ini juga! Kalau nasibnya buruk, dia meninggal sebelum sempat menemui salah satu dari tiga orang itu, sebelum sempat mengungkap rahasia besar yang katanya telah dipendamnya selama puluhan tahun, celakalah kita berdua yang telah berusaha menolongnya!"

"Aku mengerti maksudmu Kek," menyahuti Hantu Jatilandak. "Tapi apa kau lupa? Sebelum kita mulai mengusungnya empat hari lewat, bukankah kita sudah meminta agar dia mengungkapkan saja pada kita rahasia besar yang diketahuinya. Lalu kita yang akan menyampaikan pada orang-orang itu. Tapi dia tegas-tegas menolak. Dia tetap meminta kita mengusungnya, mencari orang-orang itu. Karena katanya semua rahasia besar itu harus terungkap dari mulutnya sendiri. Harus disampaikan langsung pada salah satu dari orang-orang itu. Kalau hal itu tidak dapat dilakukannya maka dia akan menanggung satu dosa besar, Rohnya akan dikutuk para Dewa dan akan tergantung sengsara antara langit dan bumi!"

Tringgiling Liang Batu terdiam sejurus. Dia pandangi sosok perempuan tua di atas tandu. Lalu dia membungkuk di samping sosok malang yang tengah meregang nyawa itu. Mulutnya didekatkan ke telinga kiri orang.

"Luhmundinglaya, kau dapat mendengar suaraku?"

Mulut yang mengerang tidak memberikan jawaban. Mata yang terpejam tidak bergerak.

"Luhmundinglaya, kau belum mati! Kuatkan diri-mu, tabahkan hatimu! Jika kau ingin bebas dari beban dosa besar, dengar apa yang akan kutanyakan!"

Sosok perempuan tua bernama Luhmundinglaya tetap tidak bersuara dan tidak bergerak. Tringgiling Liang Batu memandang pada cucunya. "Jatilandak, bantu aku mengalirkan hawa sakti ke dalam tubuh perempuan ini. Kita harus bisa membuatnya bicara!"

Makhluk bersisik ini lalu tempelkan dua telapak tangannya ke dada. Dia memberi isyarat agar Jati-landak menempelkan tangannya di atas kening orang. Jatilandak segera melakukan. Begitu ke duanya me-ngerahkan hawa sakti dan hawa ini menerobos masuk ke dalam tubuh Luhmundinglaya lewat dada dan kening, tubuh perempuan tua itu menggeliat keras dan mengepulkan asap putih! Darah meleleh di sela bibirnya. Setelah mengerang pendek, sepasang matanya kelihatan bergerak lalu mulutnya terbuka.

"Apa yang kalian lakukan terhadapku? Mengapa berbuat jahat menambah kesengsaraanku?!"

"Luhmundinglaya, jangan kau salah paham!" berkata Tringgiling Liang Batu. "Kami tidak berbuat jahat menambah deritamu. Kami justru ingin menolongmu lepas dari azab sengsara ini! Dengar Luhmundinglaya. Kami khawatir kau tak bisa bertahan dan melepas ajal lebih dulu sebelum menemui orang-orang yang kau sebutkan empat hari lalu itu! Keadaanmu sangat gawat Luhmundinglaya...."

"Tringgiling Liang Batu, kau tua bangka buta mata buta pikiran! Ajalku bukan di tangan kalian, juga bukan dalam diriku sendiri. Ajalku berada di tangan Yang Maha Kuasa di atas sana. Aku yakin para Dewa masih melindungi diriku...."

"Nek, sebaiknya kau katakan saja rahasia apa yang hendak kau sampaikan pada orang-orang itu, kakekku tidak bicara dusta. Bukan mustahil kau keburu mati sebelum sempat menemui Luhcinta atau Luhmasigi atau Luhniknik...."

"Kalau rahasia itu memang ingin kukatakan pada kalian, mengapa tidak sejak empat hari lalu ketika pertama kali bertemu dengan kalian? Mengapa harus menyengsarakan diri dalam perjalanan panjang ini?"

"Luhmundinglaya, aku...."

"Tringgiling Liang Batu, aku mengutuk dirimu jika saat ini kau tidak segera melanjutkan perjalanan mencari orang-orang itu!"

Hantu Jatilandak dan Tringgiling Liang Batu jadi terdiam dan saling pandang. Makhluk bersisik gelengkan kepala dan berkata. "Baiklah, jika memang itu maumu. Mengingat hubungan baik kita dimasa lalu aku dan cucuku akan mengusungmu sampai keujung dunia sekalipun. Tapi jika nyawamu putu;, di tengah jalan jangan salahkan aku dan cucuku!" Makhluk bersisik ini memberi isyarat pada Jatilandak. Keduanya segera hendak mengusung tandu. Namun gerakan mereka tertahan ketika tiba-tiba di tempat itu menyeruak santar sekali bau godokan rempah-rempah. Tidak menunggu lama, satu sosok besar gemuk muncul di depan Hantu Jatilandak dan Tringgiling Liang Batu.

"Hantu Raja Obat!" seru kakek dan cucu itu hampir bersamaan.

Saat itu juga tempat itu dipenuhi suara gelak tawa keras. Hantu Jatilandak dan Tringgiling Liang Batu merasa tanah yang mereka pijak bergetar hebat. Cepat-cepat keduanya kerahkan tenaga dalam lalu bangkit berdiri. Sambil berdiri Tringgiling Liang Batu berbisik pada cucunya. "Hati-hati terhadap makhluk satu ini. Dia bisa baik seperti Dewa. Tapi juga bisa membedol usus, mengorek jantung atau merengkah batok kepala mengambil otak kita untuk ramuan obat-obatnya!"

ORANG gemuk luar biasa yang tegak tertawa di hadapan Hantu Jatilandak dan Tringgiling Liang Batu mengenakan jubah putih gombrang. Di atas kepalanya yang bermuka bulat dan ada tompel (tahi lalat besar berbulu) di pipi kiri, terdapat sebuah sorban besar. Di atas sorban ini terletak sebuah belanga tanah mengepulkan asap dan keluarkan suara mendidih. Dari dalam belanga itu menebar bau rempah-rempah aneh.

"Dua sahabat lama Hantu Jatilandak dan Tringgiling Liang Batu! Tidak disangka kita bertemu di tempat ini. Apa yang tengah kalian lakukan di sini?!" Si gemuk Hantu Raja Obat bertanya.

"Hantu Raja Obat sobatku lama! Kau datang disaat yang tepat Kami butuh bantuanmu untuk menolong orang ini!"

Mendengar ucapan Tringgiling Liang Batu sepasang mata si gemuk bersorban itu melirik ke arah sosok Luhmundinglaya di atas tandu.

"Hemm.... Apa yang terjadi dengan perempuan ini? Kalau tidak salah mataku melihat bukankah dia yang bernama Luhmundinglaya? Sejak muda sampai tua suka bergentayangan dari satu hutan ke hutan lain?!

"Dugaanmu siapa dia memang tepai! Seperti kau lihat sendiri dia tengah meregang nyawa!"

"Wahai! Kalau soal nyawa mana ada obatnya di dunia ini!" ujar Hantu Raja Obat pula

"Kau orang pandai! Kau pasti bisa menolongnya! Paling tidak mencabut pisau di dadanya lalu mengobati lukanya!" kata Tringgiling Liang Hatu pula.

Hantu Raja Obat perhatikan pisau bergagang batu berbentuk singa berkepala dua yang menancap di dada kiri Luhmundinglaya. Lalu gelengkan kepalanya.

"Aku tak bisa menolongnya. Pisau itu bukan pisau biasa. Begitu menembus sasaran, ujungnya akan terbelah menjadi tiga membentuk cakar terbalik. Jika dicabut bagian tubuh yang tertancap akan terbongkar. Malah bisa-bisa jantungnya ikut tertarik keluar!"

"Ganas sekali! Hantu Raja Obat, apa kau tahu siapa yang mencelakai nenek ini dengan pisau itu?!"

"Tak bisa kuduga. Tak pernah kulihat senjata bergagang dua kepala singa seperti itu sebelumnya. Tapi, sejak Istana Kebahagiaan dibangun oleh Hantu Muka Dua, berbagai keanehan dan angkara murka muncul di Negeri Latanahsilam ini. Bukan mustahil ini pekerjaan Hantu Muka Dua atau orang-orangnya. Jika orang-orang Istana Kebahagiaan berlaku sekejam ini pasti ada sebab musababnya. Apa kalian tahu permu-suhan apa yang menguak antara Luhmundinglaya dan Hantu Muka Dua?"

"Wahai! Kami tidak tahu menahu. Bahkan Luh-mundinglaya tidak tahu siapa makhluk jahat yang menginginkan nyawanya. Namun saat ini perlu kau ketahui. Ada satu rahasia besar yang harus disampai-kannya pada tiga orang tertentu. Sejak empat hari lalu kami mengusungnya mencari orang-orang itu. Yang kami khawatirkan dia akan menemui ajal sebelum sempat menemui salah satu dari ke tiga orang itu."

"Rahasia besar! Rahasia apa?" tanya Hantu Raja Obat.

"Dia tidak mau mengatakan!" menjawab Hantu Jatilandak. "Katanya dia akan menanggung beban dosa teramat besar jika rahasia itu tidak disampaikannya langsung pada orang-orang itu!"

"Siapa tiga orang yang dimaksudkannya itu?" Kembali Hantu Raja Obat bertanya.

"Yang pertama seorang gadis bernama Luhcinta. Lalu seorang nenek bernama Luhmasigi dan yang ketiga seorang nenek lagi bernama Luhniknik!"

"Luhcinta!" kata Hantu Raja Obat setengah berseru. "Wahai, gadis cantik sahabatku itu. Walau banyak kabar kudengar tentang dirinya dan dia pernah menolong diriku namun entah dimana dia sekarang berada. Jika memang Luhmundinglaya punya satu rahasia besar dan harus disampaikannya langsung pada gadis itu, aku merasa punya kewajiban untuk membantu. Tapi, sayang, saat ini aku punya satu urusan sangat penting. Ada seorang sahabat yang perlu ditolong. Soal nenek-nenek bernama Luhmasigi dan Luhniknik itu aku kenal siapa mereka. Luhniknik bukan lain nenek bobrok yang biasa dipanggil dengan sebutan Hantu Penjunjung Roh. Dia adalah nenek Luhcinta. Sedang Luhmasigi lebih dikenal dengan panggilan Hantu Lembah Laekatakhi|au Dia adalah guru Luhcinta. Aku tidak begitu suka pada dua nenek itu. Tapi mengingat bi di baik Luhcinta di masa lalu biarlah aku menolongnya dengan cara lain "

Habis berkata begitu Hantu Ma|a Obat gerakkan tangan kirinya. Dia turunkan belanga besar panas yang ada di atas sorbannya. Mulut belanga didekatkannya ke bibir Luhmundinglaya yang agak terbuka. Lalu enak saja cairan panas yang ada dalam belanga itu diguyur-kannya ke dalam mulut si nenek. Hantu Jatilandak dan Tringgiling Liang Batu melengak kaget. Mereka tahu cairan yang ada dalam belanga itu panasnya bukan main. Justru cairan itu diguyurkan ke dalam mulut nenek yang sedang sekarat!

"Glekk... glekkkk...! Cesss! Cesss! Cesss!"

Hantu Raja Obat tertawa gelak-gelak. Sementara Jatilandak dan Tringgiling Liang Batu sama tercekat.

Dari mulut Luhmundinglaya tiba-tiba menggelegar satu jeritan dahsyat. Cairan aneh bercampur buku-buku darah menyembur. Bersamaan dengan itu sosok si nenek bangkit terduduk. Sepasang matanya membeliak kemerahan. Sesaat kemudian tubuh itu terbanting kembali ke atas tandu.

"Mati!" seru Hantu Jatilandak.

Hantu Raja Obat tertawa. "Jangan khawatir. Dia masih hidup. Mudah-mudahan para Dewa member-katinya. Kuharap obatku bisa membuatnya bertahan sampai tujuh hari dimuka. Aku harus pergi sekarang. Jika kalian bertemu dengan Luhcinta, katakan pada gadis itu. Aku tengah menuju ke satu tempat untuk menolong seorang pemuda yang dicintainya...." Hantu Raja Obat putar tubuhnya yang gemuk luar biasa.

"Tunggu dulu!" berkata Tringgiling Liang Batu.

Tubuh gemuk itu berputar kembali.

"Sahabatku Hantu Raja Obat, apakah kau telah mendengar kabar mengenai undangan dari Istana Kebahagiaan. Ada satu upacara besar di sana pada hari ke lima belas bulan dua belas. Apakah kau berniat menghadiri undangan itu?"

Hantu Raja Obat tertawa gelak-gelak. "Upacara makan minum aku tidak begitu suka. Tapi mengingat di sana bakal banyak orang pandai bermunculan, aku akan usahakan datang. Belanga obatku perlu tambahan isi perut orang-orang berkepandaian tinggi! Ha...ha... ha...!" Si gemuk berjubah putih ini berkelebat. Walau tawanya masih mengumandang di rimba be-lantara itu namun sosoknya lenyap tak berbekas!

"Makhluk luar biasa..." kata Tringgiling Liang Batu sambil gelengkan kepala. Lalu dia berpaling pada cucunya. "Jatilandak, tadi Hantu Raja Obat berkata bahwa dia tengah menuju ke satu tempat untuk me-nolong seorang pemuda yang dicintai Luhcinta. Cucu-ku, apakah kau tahu siapa gerangan pemuda itu?"

Hantu Jatilandak tak segera menjawab. Dia seperti tengah merenung. Tringgiling Liang Batu pandangi wajah cucunya yang kuning ditumbuhi duri-duri panjang. Dalam hatinya mendadak muncul satu perasaan. "Jangan-jangan cucuku ini memendam rasa menyimpan cinta terhadap gadis bernama Luhcinta itu. Kasihan dia.... Sebaiknya tadi aku tidak bertanya siapa pemuda yang dicintai gadis itu Aku telah membuat hatinya bersedih... Bukan mustahil cucuku ini hanya bertepuk sebelah tangan

Hantu Jatilandak tatap wajah kakeknya dengan sayu. Lalu dengan suara perlahan dia berkala "Wiro Sableng.... Dia sahabatku. Pemuda asing itulah yang dicintai Luhcinta. Lalu dalam bati Mandi Jatilandak ada suara lain ikut bicara. "Wiro memang lebih lantas untuk dicintai gadis itu. Dari pada aku yang buruk rupa begini...."

Sisik hitam keras di wajah Tringgiling Liang Batu bergerak naik. Sepasang matanya menatap ke arah Hantu Jatilandak tak berkedip. "Wiro Sableng? Bukankah pemuda itu yang dulu pernah menolong kita sewaktu Hantu Muka Dua hendak menghabisi kita di pulau?"

Hantu Jatilandak mengangguk.

Tringgiling Liang Batu menghela nafas dalam. Hatinya berkata. "Memang tidak mungkin gadis ber-nama Luhcinta itu mengasihi cucuku. Dibanding de-ngan pemuda asing dari negeri seribu dua ratus tahun mendatang, cucuku ketinggalan segala-galanya. Bu-kan cuma ketinggalan ilmu kesaktian dan kepandaian silat, tapi dalam ujud nyata saja tak mungkin me-nandingi Wiro Sableng. Kasihan cucuku.... Semoga para Dewa menabahkan hatinya. Semoga rahmat dan berkah akan jatuh atas dirinya dalam cara yang lain."NENEK berjubah coklat yang di atas kepalanya ada gulungan asap merah berbentuk kerucut hentikan larinya, berpaling ke belakang, pada nenek yang sekujur tubuhnya tertutup ratusan katak hijau.

"Luhmasigi! Kita sudah menghabiskan banyak hari secara percuma! Hanya gara-gara mengikuti kemauanmu. Menyelidik arti mimpi gilamu itu! Padahal bukankah lebih penting mencari Luhmundinglaya, orang yang konon hendak menyampaikan sesuatu berita besar pada kita?"

Nenek bernama Luhmasigi yang di Negeri Latanahsilam dikenal dengan sebutan Hantu Lembah Laekatakhijau pencongkan mulutnya lalu menjawab ucapan temannya.

"Luhniknik! Kau masih saja mengomel tak karuan! Mimpiku bukan bunga tidur! Aku yakin apa yang aku lihat dalam mimpi merupakan satu kenyataan! Apalagi jika dihubungkan dengan firasatku suatu peristiwa besar akan terjadi di Negeri ini. Ingat undangan per-temuan besar di Istana Kebahagiaan? Aku yakin dibalik undangan itu ada satu rahasia busuk!"

"Rahasia itu akan kita singkapkan! Bukankah kita sudah sama memutuskan untuk hadir di Istana itu? Jika Hantu Muka Dua punya maksud jahat hendak mencelakai kita, aku akan beset tubuhnya hingga hanya tinggal tulang belulang!" berkata nenek ber-nama Luhniknik alias Hantu Penjunjung Roh yang merupakan nenek kandung Luhcinta.

"Sudahlah, jangan bicara saja. Beri aku kesempatan untuk meneliti keadaan. Rasa-rasanya alam dikawasan ini menyerupai keadaan yang aku lihat di dalam mimpi!"

"Aku melihat sesuatu di sebelah sana!" Hantu Penjunjung Roh berkata lalu membuat dua kali lom-patan. Di satu tempat di bawah sebatang pohon dia membungkuk mengambil sesuatu.

"Apa yang kau temukan?" tanya Hantu Laekatakhijau yang ikut berkelebat ke tempat Hantu Penjunjung Roh berada.

Hantu Penjunjung Roh perlihatkan pada sahabatnya benda apa yang barusan dipungutnya. Ternyata seuntai rantai besi.

"Potongan rantai besi..." kata nenek yang tubuhnya dipenuhi ratusan katak hijau. "Dari mana asalnya benda ini, bagaimana bisa berada di sini? Coba kau periksa...." Ketika Luhmasigi memegang rantai besi itu dia merasakan satu hawa dingin aneh menjalar pada dua lengannya terus hinggap di kuduknya. "Aku merasa ada hawa aneh. Aku yakin rantai besi ini bukan benda sembarangan. Agaknya datang dari alam gaib...."

Mendengar ucapan sahabatnya itu Hantu Penjunjung Roh pejamkan dua matanya dan mendongak ke langit "Mungkin aku bisa menduga..." kata nenek ini dengan suara perlahan. Setelah merenung beberapa lamanya dia kembali berucap. "Menurut riwayat yang pernah kudengar menyangkut diri orang bernama Lakasipo bergelar Hantu Kaki Batu, besar dugaanku rantai besi ini adalah rantai yang dulu pernah mengikat dua kakinya. Aku...."

Belum habis Luhniknik alias Hantu Penjunjung Roh berucap tiba-tiba ratusan katak hijau yang menempel di kepala, muka dan sekujur tubuh kemudian keluarkan jeritan-jeritan aneh keras sekali.

"Katak celaka! Kalian mau membuat pecah gendang-gendang telingaku!" teriak Hantu Penjunjung Roh marah.

Ratusan katak hijau kembali menjerit keras membeset udara. Lalu puluhan binatang itu melesat belasan tombak ke kiri di mana terdapat satu kawasan berumput

"Tidak biasanya anak-anakku bertingkah aneh seperti ini!" kata Hantu Lembah Laekatakhijau terheran-heran. "Aku harus menyelidiki! Agaknya mereka melihat sesuatu yang tak bisa kulihat dengan mataku!" Lalu Luhmasigi nenek yang adalah guru Luhcinta ini berkelebat menyusul puluhan kataknya. Luhniknik melompat pula mengikuti.

Di satu pedataran berumput, di samping sebuah batu besar yang tertutup lumut, tergeletak tak bergerak seekor katak hijau luar biasa besarnya, hampir sebesar buah kelapa. Dua matanya yang coklat membeliak tak bergeming. Di sekitar sosok katak besar itu berkeliling puluhan katak hijau yang tadi melompat dari tubuh Hantu Laekatakhijau. Puluhan katak ini berjongkok di tanah, menatap ke arah katak besar dengan sikap seolah menghormat. Puluhan katak yang masih menempel di tubuh Luhmasigi tiba-tiba berlompatan dan bergabung bersama teman-temannya mengelilingi katak besar. Kalau sebelumnya binatang-binatang itu berteriak-teriak keras setinggi langit, kini semuanya mendekam tak bersuara dan juga tak bergerak. Malah pandangan mata mereka pun tidak berkesip!

"Yang kita temukan hanya seekor katak besar yang sudah jadi bangkai! Apa anehnya!" kata Luhniknik tak acuh lalu memandang berkeliling.

"Wahai! Justru aku melihat keanehan! Apa matamu buta tidak melihatnya?" kata Luhmasigi pula.

"Apa maksudmu?!" tanya Luhniknik alias Hantu Penjunjung Roh agak penasaran mendengar kata-kata Luhmasigi tadi.

"Aku sudah puluhan tahun hidup di tengah katak-katak hijau. Tapi baru sekali ini aku melihat katak sebesar ini. Katak besar itu memang sudah jadi bangkai. Tapi mengapa sosoknya tidak rusak dan mengapa tidak membusuk menebar bau busuk?! Lalu kau saksikan sendiri. Ratusan katak yang selama ini melekat di tubuhku duduk mengelilingi katak hijau besar itu. Tadinya mereka berteriak-teriak. Kini mereka semua mendekam duduk seperti menghormat!"

Hantu Penjunjung Roh hendak tertawa gelak-gelak mendengar ucapan Hantu Laekatakhijau itu. Namun niatnya dibatalkan karena khawatir sahabatnya akan tersinggung. Dalam pada itu dia sendiri diam-diam mengakui memang ada keanehan dengan katak besar yang telah mati itu seperti yang dikatakan Luhmasigi.

Saat itu Luhmasigi telah melangkah mendekati batu besar. Dia jongkok di hadapan mayat katak hijau besar. "Tak ada kulihat penyebab keanehan pada kulit tubuh binatang ini. Mungkin keanehan itu ada di se-belah dalam badannya. Kalau tidak ada satu kekuatan sakti, tidak mungkin katak ini bisa bertahan seperti ini. Katak ini menemui ajalnya pasti sudah lama sekali. Bagaimana aku memeriksa menyingkapkan keanehan ini?" Luhmasigi merenung sejenak. Dia melirik pada puluhan katak yang berada di sekelilingnya. Lalu dia bangkit berdiri.

"Anak-anak, aku perlu bantuan kalian!" Luhmasigi berucap pada katak-kataknya. "Beset tubuh katak hijau besar itu. Aku ingin melihat apa yang ada dalam perutnya!"

Luhmasigi kerenyitkan kening. Setelah ditunggu tak seekorpun dari katak-katak hijau itu melakukan apa yang tadi dikatakan si nenek. Padahal jangankan seekor katak besar, seekor kudapun jika diserbu dan dibeset oleh ratusan katak itu pasti akan berubah menjadi tulang belulang dalam waktu singkat!

"Anak-anak! Apa kalian telah jadi tuli semua hingga tidak melakakan apa yang aku perintahkan?!" Luhmasigi alias Hantu Laekatakhijau berucap dengan suara keras. Tetap saja tak ada seekor katakpun yang bergerak.

"Wahai!" Luhmasigi berseru dan delikkan matanya. "Jangan membuat aku marah! Puluhan tahun aku bersama kalian! Tak pernah ada satu perintahkupun tidak kalian laksanakan! Mengapa hari ini kalian semua diam membisu, tak bersuara tak bergerak! Tidak men-jalankan apa yang aku perintahkan?!"

"Luhmasigi, kurasa ada apa-apanya. Antara katakmu dan katak besar itu ada kaitan hubungan yang tidak kau ketahui..." berkata Hantu Penjunjung Roh.

"Lihat saja gerak gerik mereka. Semuanya mendekam dengan sikap seolah menghormati katak besar yang sudah jadi bangkai itu."

Sepasang mata Luhmasigi masih membeliak besar. Pelipisnya bergerak-gerak. "Untung saja aku tidak membawa tongkat bambu kuning lagi! Kalau tidak sudah kugebuk kalian satu persatu!"

"Luhmasigi, biar aku membantumu! Biar aku yang membongkar isi perut katak hijau itu!"

"Luhniknik! Tungggu!" Luhmasigi berkata. "Jika anak-anakku berlaku hormat pada katak besar itu, kita berdua juga harus perduli. Jangan melakukan sesuatu yang menyakitkan mata dan hati mereka...."

"Kalau begitu terserah padamu! Bagaimana kau mau melihat apa yang ada dalam perut binatang itu kalau tidak menjebol badannya?!" ujar Hantu Penjunjung Roh pula.

Hantu Laekatakhijau kembali membungkuk. Diangkatnya sosok katak hijau besar. Dengan tangan kirinya dipegangnya tinggi-tinggi dua kaki belakang binatang itu. Lalu dengan jari-jari tangan kanannya perlahan-lahan dipencetnya tubuh katak di bagian punggung dan perut. Mendadak si nenek tersentak. Kakinya tersurut dua langkah dan wajahnya berubah.

"Ada apa?" tanya Hantu Penjunjung Roh ingin tahu.

"Ada hawa aneh dingin mencucuk masuk ke dalam tubuhku," menerangkan Hantu Lembah Laekatakhijau. "Aku... aku merasakan ada sesuatu dalam perut bangkai katak ini...." Si nenek merasakan jari-jari ta-ngannya bergetar. Dia kuatkan hati, kerahkan tenaga dalam dan kembali memencet punggung serta perut katak hijau. Puluhan katak di sekitarnya keluarkan suara mendesah panjang seolah-olah mereka turut merasakan sesuatu.

Saat itu memang Hantu Lembah Laekatakhijau merasakan ada sesuatu dalam perut bangkai katak. Dia kerahkan tangan ke ujung-ujung jari. Benda di dalam perut terasa meluncur ke bawah, ke arah teng-gorokan katak hijau.

Tiba-tiba dari dalam mulut katak hijau keluar suara mendesis panjang. Menyusul memancarnya cahaya aneh tujuh warna. Lalu menyusul keluar lelehan cairan putih. Warna putih ini kemudian berubah membentuk tujuh warna. Hantu Laekatakhijau merasakan tangannya bergetar. Tengkuknya semakin dingin. Jari-jari tangannya menekan terus. Mulut katak yang sudah jadi bangkai bergerak membuka secara aneh. Sesaat kemudian dari mulut itu menyembul sebuah benda keras dibalut tujuh macam warna, makin panjang, makin panjang.

"Dess!"

Benda aneh keluar lepas dari mulut katak hijau, jatuh ke bawah. Sesaat lagi benda itu akan terhempas jatuh di tanah berumput Hantu Penjunjung Roh me-lompat ke depan, cepat menyambutnya. Ternyata benda itu sebuah batu pipih aneh sebesar batu pengasah pisau. Memiliki tujuh macam warna. Pada bagian atas berbentuk agak bulat menyerupai kepala manusia dan pada sisi kiri kanan ada bagian yang menonjol seperti telinga.

Mendadak ratusan kodok yang masih bertebaran di tanah sekeliling batu besar keluarkan teriakan-teriakan keras. Hantu Laekatakhijau merasa tidak enak. Dia melangkah mendekati sahabatnya yang tengah memperhatikan terheran-heran benda yang ada di telapak tangannya yakni yang keluar dari perut katak besar.

Pada saat itulah tiba-tiba di langit ada suara men-deru keras. Laksana sambaran kilat satu benda putih melesat rendah di udara. Pedataran berumput seolah diterpa topan. Dua nenek terjengkang di tanah! Ber-samaan dengan itu satu benda biru berkelebat dahsyat, menyambar ke tangan kanan Hantu Penjunjung Roh yang memegang benda aneh. Sebelum dua nenek itu mengetahui apa yang terjadi, benda putih yang melesat sebat dan benda biru yang barusan menyambar membumbung ke udara lalu lenyap seolah menembus langit.

"Jahanam! Ada yang merampas benda itu!" teriak Hantu Penjunjung Roh. Hantu Laekatakhijau terkejut besar. Dua nenek ini cepat melompat bangkit dan hantamkan tangan kanan masing-masing ke udara.

"Wuuuttt!"

"Wuttt!"

Dua gelombang angin melesat ke atas. Yang jadi sasaran ternyata sudah lenyap. Walau demikian ada sepotong benda putih tiba-tiba melayang jatuh dari atas langit. Hantu Penjunjung Roh dan Hantu Lembah Laekatakhijau sama-sama melompat, berebut cepat menangkap benda putih itu.

"Rontokan bulu burung..." kata si nenek seraya memperlihatkannya pada sahabatnya Hantu Laekatak-hijau.

Hantu Laekatakhijau ambil benda itu dan mem-perhatikan. "Hemmm..." si nenek bergumam. "Bulu burung tidak ada yang sebesar ini...." Dia memandang ke langit "Aku sudah bisa menduga siapa adanya makhluk yang berusaha merampas batu aneh tujuh warna itu...."

"Siapa?" bertanya Hantu Penjunjung Roh.

"Tidak akan kukatakan sekarang. Aku tak ingin pikiranmu ikut bercabang. Makhluk itu kelak akan muncul sendiri. Yang penting kita harus lebih dulu mencari nenek bernama Luhmundinglaya itu. Rahasia apa konon yang hendak disampaikannya pada kita...."

"Aku kecewa kau tak mau memberitahu siapa adanya si perampas batu berwarna tujuh itu. Apa boleh buat Aku tak mau memaksa! Tapi apa kau mau mengatakan benda apa sebenarnya yang tadi keluar dari mulut katak hijau itu?" tanya Hantu Penjunjung Roh pula.

"Tak dapat kupastikan apa adanya," jawab Hantu Laekatakhijau. Lalu dia menambahkan. "Tapi jika ada seseorang merampasnya, pasti benda itu sangat ber-harga. Jangan-jangan...." Si nenek mendadak hentikan ucapannya. Wajahnya yang keriput berubah.

"Kau tidak meneruskan ucapanmu. Wajahmu ku-lihat berubah. Apa yang ada dalam pikiranmu wahai sahabatku Luhmasigi?"

"Aku ingat pada peristiwa beberapa waktu lalu. Konon Hantu Tangan Empat pernah diutus Hantu Muka Dua pergi ke negeri seribu dua ratus tahun mendatang untuk mencari sebuah batu sakti bernama Batu Sakti Pembalik Waktu. Dengan mempergunakan ilmu itu siapapun bisa menembus perbedaan waktu dan bisa muncul datang ke negeri asing itu lalu kembali lagi ke sini setiap saat yang dikehendakinya...."

"Aku memang pernah mendengar riwayat itu," kata Luhniknik alias Hantu Penjunjung Roh pula. "Tetapi setahuku Hantu Tangan Empat tidak berhasil mendapatkan batu sakti itu. Lalu bagaimana batu itu bisa berada di sini, jika dugaanmu memang benar bahwa benda yang tadi dirampas orang itu adalah Batu Pembalik Waktu ? Bagaimana bisa berada di dalam perut katak hijau?"

"Memang sulit untuk dipercaya. Namun bukan mustahil batu itu tadinya dibawa oleh orang-orang dari negeri seribu dua ratus tahun mendatang itu...."

"Jika pendapatmu benar, mengapa mereka tidak mempergunakan untuk kembali ke kampung halaman mereka di Tanah Jawa? Mengapa menyengsarakan diri dalam bahaya di negeri ini?"

"Aku tidak tahu mau mengatakan apa lagi," kata Luhmasigi. Si nenek garuk-garuk kepalanya yang di-tumbuhi rambut putih lalu memandang pada ratusan katak hijau yang bertebaran di tanah. "Anak-anak, kita akan segera tinggalkan tempat ini!" Mendengar ucap-an si nenek ratusan katak hijau segera berlompatan ke kepala, muka dan tubuh Hantu Laekatakhijau.

Untuk mengingatkan pembaca pada riwayat Batu Pembalik Waktu perlu kita kembali pada Episode Pertama dari petualangan Wiro di Negeri Latanahsilam berjudul "Bola Bola Iblis". Dituturkan dalam Episode tersebut secara tak sengaja Naga Kuning telah me-nekan bagian menonjol di kiri kanan batu yang ber-akibat membawa mereka melesat ke alam seribu dua ratus tahun silam dan muncul di Negeri Latanahsilam.

Secara tidak sengaja Batu Pembalik Waktu yang dibawa oleh Naga Kuning terjatuh di satu tempat dan ditemui oleh katak hijau besar yang langsung me-nelannya.

Pada saat menginjakkan kaki pertama kali di Ne-geri Latanahsilam Wiro dan dua kawannya bertemu dengan Lakasipo alias Hantu Kaki Batu. Walau tadinya Lakasipo berniat membunuh ke tiga orang itu namun persahabatan kemudian terjalin. Bahkan Lakasipo menganggap Wiro, Naga Kuning dan Setan Ngompol sebagai saudara-saudara angkatnya. Lakasipo juga berusaha membantu mereka untuk menemukan kem-bali Batu Pembalik Waktu agar ketiganya bisa kembali ke Tanah Jawa. Namun usaha itu sia-sia belaka karena sang batu tidak dapat ditemukan.

Pada saat bersamaan sampainya Wiro dan dan kawan-kawan di Negeri Latanahsilam, muncul pula seekor katak hijau besar. Binatang inilah yang me-nemukan Batu Pembalik Waktu lalu menelannya. Ka-rena batu itu bukan benda biasa, sehari setelah me-nelan batu katak tadi menemui kematiannya. Anehnya walau telah jadi bangkai sosoknya tidak rusak atau membusuk. Apa yang terjadi selanjutnya adalah seperti yang dituturkan di atas.DERU lima air terjun seolah menjadi pengantar kekhusukan samadi yang tengah dilakukan kakek berambut putih riap-riapan itu. Orang tua ini memiliki kening, hidung dan dagu sama rata dengan pipinya. Dia duduk bersila mengapung satu jengkal di atas batu rata di dalam bangunan berbentuk gapura.

Orang tua ini bukan lain adalah Hantu Tangan Empat, salah seorang tokoh rimba persilatan yang disegani di Negeri Latanahsilam. Di langit matahari mulai condong ke barat. Peri Angsa Putih sampai saat itu masih saja tetap duduk bersila di hadapan si orang tua. Sikapnya yang sepanjang hari memperlihatkan kesabaran kini mulai goyah. Peri ini mulai gelisah, apa lagi setelah melihat petang mulai merayap siap membawa sang surya ke titik tenggelamnya.

"Cucuku Peri Angsa Putih, sifat manusia luar rupanya mulai mempengaruhi dirimu. Dimana kau simpan rasa kesabaranmu selama ini?" Tiba-tiba kesunyian dan keresahan menunggu dipecahkan oleh suara aneh yang seolah datang dari empat jurusan hingga sulit mengetahui siapa adanya orang yang bicara. Mulut si kakek tidak tampak bergerak. Matanyapun masih terpejam. Itulah ilmu Empat Penjuru Angin Menebar Suara. Di Negeri Latanahsilam hanya ada tiga makhluk yang memiliki ilmu kesaktian ini. Pertama Datuk Tanpa Bentuk Tanpa Ujud. Ke dua Hantu Tangan Empat dan ke tiga adalah Pendekar 212 Wiro Sableng yang beruntung mendapat ilmu tersebut dari Luhpingitan, istri Lasedayu alias Hantu Langit Terjungkir.

Peri bermata biru itu terkesiap kaget mendengar suara tadi. Dia menatap wajah Hantu Tangan Empat sesaat lalu jatuhkan diri berlutut.

"Kek, harap maafkan diriku kalau kedatanganku mengganggu semedimu...."

Dua mata Hantu Tangan Empat yang sejak tadi tertutup perlahan-lahan terbuka. Dia pandangi Peri Angsa Putih sejenak lalu berkata. "Terakhir sekali kau datang ke tempat kediamanku ini dulu lama sekali. Kau muncul membawa pemuda asing dan dua kawannya. Apakah kali ini kedatanganmu juga ada sangkut pautnya dengan diri pemuda itu?"

Peri Angsa Putih berusaha tersenyum untuk menutupi perubahan wajahnya. "Saya menemuimu karena ada satu mimpi datang berulang kali sejak beberapa hari ini...."

"Begitu?" Alis putih Hantu Tangan Empat naik ke atas. Keningnya mengerenyit. "Sebelum kau mene-rangkan mimpi apa yang kau alami, ada satu hal ingin kuketahui. Di Negeri Latanahsilam sejak belakangan ini tersiar banyak berita. Satu diantaranya menyangkut dirimu yang dihubungkan dengan pemuda asing bernama Wiro Sableng itu. Konon kabar itu mengatakan bahwa kau tergila-gila pada pemuda itu dan melakukan apa saja untuk mendapatkannya. Aku inginkan kejujuranmu. Apakah berita itu benar adanya?"

"Kakek Hantu Tangan Empat, berbagai berita bisa saja tersebar dan tersiar kemana-mana. Namun kebe-narannya perlu diteliti dan dikaji. Seingat saya sampai saat ini saya masih bisa menjaga diri. Masih menyadari bahwa saya adalah bangsa Peri yang tidak sama dengan manusia biasa...."

"Hemmm.... Aku berharap kau tetap berada dalam keadaan seperti itu," kata Hantu Tangan Empat pula. "Namun perlu kau ketahui wahai cucuku. Pengaruh zaman mendatangkan banyak perubahan di alam kehi-dupan kita. Perubahan ini berpengaruh pula pada sifat dan sikap serta tindakan kita, termasuk kalian bangsa Peri. Perbedaaan antara kaum Peri dan makhluk biasa semakin menipis. Pengaruh dunia luar semakin terasa. Kuharap kau berlaku hati-hati.... Termasuk berhati-hati dengan pemuda asing bernama Wiro Sableng itu. Aku mendengar banyak sekali kabar buruk menyangkut diri pemuda itu...."

"Semua ucapan Kakek akan saya perhatikan," kata Peri Angsa Putih pula.

"Bagus, sekarang kau boleh menceritakan padaku perihal mimpimu."

"Saya kedatangan mimpi, tiga malam berturut-turut. Dalam mimpi itu muncul seorang tua mem-perlihatkan sebuah benda berbentuk segi empat. Agaknya merupakan sebuah batu. Setiap dia hendak memberikan batu itu kepada saya, saya tersentak bangun dan mimpi saya terputus. Saya lalu merenung apa arti mimpi itu. Tidak bisa saya memecahkannya. Lalu saya ingat pada peristiwa beberapa waktu lalu. Ketika Kakek diperintahkan oleh Hantu Muka Dua untuk berangkat menembus waktu, pergi ke Tanah Jawa. Bu-kankah saat itu Kakek ditugaskan untuk mencari sebuah benda bernama Batu Sakti Pembalik Waktu?"

"Kau benar. Hantu Muka Dua memang menugas-kan diriku mencari benda itu sampai ke Negeri Seribu Dua Ratus Tahun Mendatang yang disebut Tanah Jawa. Aku terpaksa melakukannya karena dia men-culik dan menyekap istriku Luhbarini...."

"Mengenai Batu Pembalik Waktu itu, Kek. Dapat-kah kau mengatakan bagaimana bentuknya?" ber-tanya Peri Angsa Putih.

"Aku sendiri belum pernah melihatnya. Seperti kau ketahui aku tidak berhasil mendapatkan batu tersebut Hanya dari Hantu Muka Dua aku pernah diberi tahu bentuk dan ciri-cirinya."

"Coba kau katakan, mungkin sama dengan batu yang saya lihat dalam mimpi."

"Menurut Hantu Muka Dua, batu itu berbentuk empat persegi. Salah satu ujungnya agak bulat. Me-miliki tujuh warna. Apakah penjelasanku cocok de-ngan batu yang kau lihat dalam mimpimu?"

Peri Angsa Putih menggeleng. "Bentuknya mungkin sama. Tapi mengenai warnanya tidak terlalu jelas...."

Hantu Tangan Empat tatap wajah Peri Angsa Putih sejenak lalu bertanya. "Mengenai orang tua dalam mimpi itu. Yang katamu hendak menyerahkan batu tersebut padamu, apakah kau mengenali siapa dia adanya. Atau pernah melihat sebelumnya?"

"Saya tidak mengenali siapa dia. Juga belum pernah melihatnya...."

"Kalau begitu tidak banyak hal lain yang bisa kuberitahu padamu...."

"Penjelasan Kakek sudah lebih dari cukup. Saya sangat berterima kasih. Sekarang izinkan saya mohon diri berpamit pergi...."

"Sebentar lagi hari akan malam. Mengapa kau tidak menginap saja di sini? Mungkin banyak hal lain yang bisa kita bicarakan."

"Saya ingin sekali bermalam di sini. Tapi masih ada beberapa urusan penting lainnya yang harus saya lakukan. Mungkin Kakek sudah mendengar kabar bah-wa Peri Bunda tengah ditimpa musibah...."

"Aku mendengar. Aib besar bagi bangsa Peri! Lagi-lagi karena perbuatan pemuda bernama Wiro Sableng itu! Peri Bunda sampai hamil! Jika tiba saatnya pemuda itu perlu dimintai pertanggungan jawabnya. Dengan darah bahkan kalau perlu dengan nyawanya! Aku mengerti cucuku. Pergilah. Selalu berlaku hati-hati dimana kau berada, dengan siapapun kau berhadapan."

Peri Angsa Putih bersujud di hadapan Hantu Tangan Empat lalu tinggalkan bangunan berbentuk gapura itu.

Sesaat setelah Peri Angsa Putih meninggalkan tempat kediamannya, Hantu Tangan Empat usap-usap janggut putihnya, menatap ke arah pedataran berumput di seberang sana. Rumput di pedataran itu tidak berwarna hijau seberapa lazimnya warna rumput melainkan berwarna biru.

"Batu Sakti Pembalik Waktu..." desis Hantu Tangan Empat. "Batu keramat itu tidak berhasil aku dapatkan. Tidak ada yang tahu dimana beradanya. Cucuku datang membawa cerita tentang mimpi me-lihat batu sakti itu. Apakah dia berkata benar...? Bu-kankah sejak beberapa lama belakangan ini cara ber-pikir dan gerak geriknya banyak dipengaruhi oleh orang-orang dari negeri seribu dua ratus tahun men-datang itu? Aku curiga. Jangan-jangan batu itu mung-kin sudah ada padanya. Paling tidak dia mengetahui dimana beradanya. Cuma dia tidak tahu pasti bagai-mana bentuknya. Itu sebabnya dia datang ke sini mencari keterangan untuk memastikan..." Hantu Ta-ngan Empat menyeringai dan usap-usapjanggut putih-nya. "Cucuku Peri Angsa Putih. Kau sudah pandai bercerdik diri. Tapi kau tidak bisa menipu kakekmu ini!"

Hantu Tangan Empat tepukkan tangannya tiga kali berturut-turut. Saat itu juga muncullah satu makh-luk luar biasa yang sekujur sosoknya mulai dari kepala sampai ke kaki dikobari api. Selain itu bagian tubuhnya sebelah kanan sangat mengerikan untuk dipandang. Karena bagian tubuh ini hanya berbentuk satu lobang besar, menggeroak demikian rupa hingga tulang-tu-lang iga, isi dada dan isi perutnya kelihatan dengan nyata! Siapa gerangan adanya makhluk dahsyat ini?!

Sebelumnya dalam Episode berjudul "Hantu Muka Dua" telah diriwayatkan mengenai seorang Utusan atau Wakil Para Dewa bernama Lamanyala yang bertempur habis-habisan melawan Lasedayu alias Hantu Langit Terjungkir. Lamanyala berusaha mengambil Jimat Hati Dewa yang dilarikan Lasedayu. Tapi Lasedayu keburu menelan jimat itu hingga kesaktiannya berlipat ganda. Lamanyala tidak berdaya menghadapi Lasedayu, akhirnya melarikan diri setelah tubuhnya sebelah ka-nan dihantam hancur oleh lawan dengan pukulan sakti bernama Pukulan Tangan Dewa Warna Kuning.

Sejak peristiwa itu dengan sendirinya Lamanyala mendekam dendam kesumat besar terhadap Lasedayu alias Hantu Langit Terjungkir. Di dalam Episode berjudul "Hantu Langit Terjungkir" dia muncul kembali pada saat Lasedayu berusaha mengejar Hantu Kaki Batu (Lakasipo) yang diduganya adalah putera kandungnya sendiri.

Lamanyala berani menghadang Lasedayu karena dia mengetahui bahwa seluruh kesaktian yang ada pada Lasedayu telah dirampas oleh Hantu Muka Dua lewat Sendok Pemasung Nasib. Dugaan Lamanyala meleset. Karena selama berada di Lembah Seribu Kabut diam-diam Lasedayu menciptakan satu ilmu kesaktian yang didasarkan pada kekuatan alam sekitarnya. Dalam keadaan terdesak Lamanyala bermaksud hendak melarikan diri. Namun tidak terduga muncullah Hantu Lumpur Hijau membantu. Dikeroyok dua Lasedayu jadi tak berdaya. Apalagi setelah Lamanyala mengeluarkan ilmu kesaktiannya berupa kobaran api raksasa menelikung seputar Lasedayu.

Pada saat-saat dimana Lasedayu akan ditumpas habis dan menemui ajal, tiba-tiba muncullah Pendekar 212 Wiro Sableng bersama dua kawannya yakni Naga Kuning dan Setan Ngompol. Untuk menyelamatkan si kakek, Wiro keluarkan ilmu kesaktian bernama Angin Es. Kobaran api ganas Lamanyala bukan saja padam tapi kakek jahat ini bersama-sama Hantu Lumpur Hijau serta merta berubah menjadi patung es!

Penuh kagum akan kehebatan ilmu kesaktian Wiro yang sanggup membuat Lamanyala dan Hantu Lum-pur Hijau berubah menjadi patung es, Hantu Langit Terjungkir bertanya. "Berapa lama dia akan jadi patung es seperti itu?"

Wiro menjawab. "Jika mereka tetap berada di udara terbuka tapi terkena cahaya matahari, mereka baru bisa bebas sekitar tujuh hari. Jika tidak terkena matahari bisa-bisa dua puluh hari. Tapi jka mereka berada dalam air bisa-bisa empat puluh hari."

Sambil menyeringai Naga Kuning lalu menyambung ucapan Wiro itu.

"Kek, waktu kau ke sini, kami melihat ada satu comberan busuk. Dalamnya sekitar seleher. Di dalam-nya ada macam-macam kotoran, ular air, kodok dan lintah. Mengapa tidak dijebloskan saja dua kakek jahat itu ke sana?!"

Hantu Langit Terjungkir menyeringai geli. "Memang, ada baiknya aku mengikuti usulmu itu wahai sahabat kecil yang nakal! Ha... ha... ha!"

Apa yang dikatakan Naga Kuning itu kemudian benar-benar dilaksanakan. Diikuti dari belakang oleh Hantu Langit Terjungkir, Wiro, Naga Kuning dan Setan Ngompol menyeret sosok Lamanyala dan Hantu Lumpur Hijau ke sebuah kubangan busuk yang bukan saja penuh berbagai kotoran tapi juga banyak binatangnya. Dua kakek itu mereka cemplungkan ke dalam kubangan. Masih untung kepalanya sengaja dibiarkan timbul. Kalau sampai diceburkan kaki ke atas kepala ke bawah niscaya keduanya akan menemui kematian secara mengenaskan! Lamanyala dan Hantu Lumpur Hijau memaki menyumpah habis-habisan!

Seperti yang dikatakan Wiro jika mereka terpendam dalam kubangan atau comberan busuk itu maka baru empat puluh hari kemudian lapisan es aneh yang membuat tubuh mereka kaku akan mencair dan mereka bisa bebas kembali. Ternyata nasib keduanya tidak seburuk itu. Baru tiga hari mendekam dalam kubangan busuk, Hantu Tangan Empat yang kebetulan lewat di tempat itu menemukan mereka. Keduanya ditarik keluar dari dalam kubangan. Selama satu hari satu malam Hantu Tangan Empat mengerahkan kesaktiannya baru dia berhasil melelehkan lapisan es yang membungkus sosok dua kakek itu.

Setelah mengucapkan terima kasih Hantu Lumpur Hijau meninggalkan tempat itu. Sedang Lamanyala yang merasa berhutang budi dan nyawa terhadap Hantu Tangan Empat memutuskan untuk mengabdi dan mengikuti Hantu Tangan Empat kemanapun kakek itu pergi. Tapi diam-diam sebenarnya Lamanyala mem-punyai satu maksud rahasia dalam memperhambakan diri pada tokoh utama Negeri Latanahsilam itu.

*

* *

BEGITU berhadapan dengan Hantu Tangan Empat, Lamanyala segera menghormat menjura dalam. "Hantu Tangan Empat, kau memanggilku. Tentu ada urusan penting. Harap kau memberi tahu agar aku bisa segera melaksanakan."

"Lamanyala, kau tentu tahu. Barusan saja aku mendapat kunjungan cucuku makhluk Peri bernama Peri Angsa Putih. Dia datang kemari menanyakan perihal sebuah batu bernama Batu Pembalik Waktu. Kurasa kau pernah mendengar tentang batu keramat itu...."

"Sedikit banyaknya aku memang sudah pernah mendengar," jawab Lamanyala. "Apa yang harus aku lakukan wahai Hantu Tangan Empat?"

"Ikuti Peri Angsa Putih. Selidiki sampai kau me-ngetahui apakah dia memiliki batu sakti itu atau tidak. Jika benda itu memang berada di tangannya kau harus dapat merampasnya...."

"Perintahmu akan segera aku lakukan. Namun sebelum pergi aku ada dua pertanyaan ..." kata Lama-nyala pula.

"Ajukan apa pertanyaanmu!"

"Pertama, apakah cucumu Peri Angsa Putih tahu kalau aku telah menjadi abdimu?"

"Tidak, Peri Angsa Putih tidak mengetahui. Juga tidak ada orang lain yang tahu. Mungkin Hantu Lumpur Hijau karena dia yang melihat kau dan aku bersama-sama terakhir sekali. Tapi itupun baru dugaan. Apa pertanyaanmu yang ke dua?"

"Jika Batu Pembalik Waktu itu ternyata memang ada di tangan Peri Angsa Putih, namun dia menolak menyerahkan padaku, apa yang harus aku lakukan?"

"Wahai, kau tahu apa yang harus kau lakukan Lamanyala! Nyawa manusia dan nyawa seorang Peri tak ada bedanya. Kuharap kau mengerti maksud ucap-anku itu...."

"Aku mengerti Hantu Tangan Empat Tapi untuk menghindarkan kesalah pahaman biar aku bertanya berterus terang. Apakah kau mengizinkan aku mem-bunuhnya?!"

Hantu Tangan Empat menatap tajam ke sepasang mata Lamanyala yang dikobari api. Lalu kakek ini tertawa gelak-gelak. "Kau sudah tahu apa yang aku inginkan, Lamanyala! Apakah aku harus bicara sejelas kilat di langit mendung?! Ha... ha... ha... ha!"

Lamanyala merenung. Lalu setelah anggukkan kepala dan menjura dalam, makhluk yang sosoknya dikobari api ini berkelebat pergi dari hadapan Hantu Tangan EmpatDALAM Episode sebelumnya ("Muka Tanah Liat") diceritakan bagaimana Luhcinta, mengalami bencana, dikeroyok oleh kaki tangan Hantu Muka Dua yakni Luhjahilio dan Lajahilio yang dikenal dengan julukan Sepasang Hantu Bercinta. Dalam pertempuran hebat dua kakek nenek jahat ini menyerang dengan mempergunakan sejenis bubuk beracun sehingga Luhcinta roboh pingsan tak sadarkan diri. Sebelum bencana lebih hebat menimpa gadis murid Hantu Lembah Laekatakhijau ini muncullah Si Penolong Budiman alias Latampi memberikan pertolongan. Orang yang wajahnya selama ini selalu ditutup tanah liat hitam itu kini menampakkan diri dengan wajah aslinya.

Hantu Muka Dua yang ada di tempat itu coba menghadang ketika Si Penolong Budiman menyela-matkan Luhcinta. Tapi gagal. Penguasa Istana Keba-hagiaan ini kemudian melarikan diri menghindari ben-trokan dengan Pendekar 212 Wiro Sableng. Wiro sen-diri yang merasa khawatir akan keselamatan Luhcinta, bersama Hantu Selaksa Angin alias Luhpingitan se-gera melakukan pengejaran sementara Naga Kuning, Setan Ngompol dan Betina Bercula menyusu! bela-kangan....

Latampi baru memperlambat larinya ketika sang surya yang condong ke barat mulai memudar sinarnya.

"Sudah cukup jauh. Pasti aman sekarang. Aku harus mencari tempat yang baik. Gadis ini harus segera diselamatkan..." Latampi perhatikan wajah Luhcinta yang pucat pasi sedang bibirnya yang selama ini merah menawan kini kelihatan kebiru-biruan per-tanda ada racun jahat merasuk dalam aliran darahnya.

Memandang berkeliling lelaki berjubah hitam itu melihat satu bukit kecil di ujung sana. Tak jauh dari kaki bukit tampak beberapa ekor belibis hutan.

"Jika ada belibis berarti ada mata air tak jauh dari tempat ini," membatin Si Penolong Budiman. Lalu dia melarikan Luhcinta ke arah bukit Benar saja. Sebelum dia mencapai kaki bukit di tengah jalan dia menemui satu telaga kecil. Belasan ekor belibis coklat berenang seputar telaga. Latampi mencari tempat yang kering dan baik lalu membaringkan Luhcinta. Dirabanya ke-ning gadis itu. Terasa panas. Lalu ditempelkannya telinganya ke dada. Dia mendengar suara detak jan-tung yang tidak teratur.

Si Penolong Budiman menarik nafas dalam. "Luh-cinta, belasan tahun mengarungi negeri, akhirnya ku-temui juga dirimu. Sayang pertemuan ini tidak dalam suasana menggembirakan.... Tidak mungkin akan menggembirakan. Karena..." Si Penolong Budiman merasakan dadanya sesak. Kemudian dia sadar. "Aku tak boleh hanyut dalam perasaan. Aku harus segera bertindak! Para Dewa, beri aku petunjuk dan kekuatan untuk menyelamatkan gadis ini!" Si Penolong Budiman berdoa. Lalu dia memijit urat besar di atas dua tumit Luhcinta. Hal yang sama dilakukannya pada urat besar dii lekukan siku serta pangkal leher. Dari balik pakaiannya dia mengeluarkan sebuah kantong kecil berisi bubuk berwarna biru. Bubuk ini dituangkannya ke atas daun yang dibentuk menyerupai corong. Lalu ke dalam corong daun dimasukkannya air telaga. Kemudian sedikit demi sedikit air bercampur bubuk biru itu dituangkannya sampai habis ke dalam mulut Luhcinta.

Latampi menunggu. Dia mulai khawatir ketika sosok Luhcinta masih belum bergerak dan hembusan nafasnya tidak berubah. Dipegangnya kening gadis itu. Diusapnya beberapa kali.

"Masih panas.... Kalau obat itu tidak mampu mem-buat dia memuntahkan racun jahat yang ada dalam tubuhnya, terpaksa aku mempergunakan cara lain...." Si Penolong Budiman menunggu beberapa saat lagi. Disamping tidak sabar kini dia mulai merasa cemas. "Tak ada jalan lain. Aku harus mengambil tindakan pertolongan secara langsung. Aku harus menyedot racun yang ada di dalam tubuhnya...."

Sesaat Latampi tatap wajah Luhcinta yang telah diketahuinya sebagai anak kandungnya sendiri. Se-pasang matanya berkaca-kaca. "Kalau aku tidak dapat menolong anak ini, aku rela mati bersamanya. Derita sengsaranya selama ini menjadi beban tambahan di atas derita sengsara diriku sendiri.... Wahai Para Dewa, tolong kami yang menderita ini...."

Latampi merunduk mencium kening Luhcinta. Air matanya jatuh mengucur di atas pipi si gadis. Lalu dengan memejamkan mata dia susupkan dua tangan-nya ke balik dada pakaian Luhcinta, meraba mencari letak urat besar di arah jantungnya. Perlahan-lahan dia kerahkan hawa sakti yang ada dalam tubuhnya. Begitu jari-jarinya dapat menjajagi letak urat besar itu, Latampi membungkuk, dekatkan wajahnya ke wajah Luhcinta. Bibir mereka saling bertempelan. Lalu Latampi menyedot. Sekujur tubuh lelaki ini bergetar. Mukanya merah keringatan. Tiba-tiba sosok Luhcinta menggeliat Dua matanya yang sejak tadi terpejam mendadak terpentang lebar. Dia melihat satu wajah dekat sekali di atasnya. Gadis ini menjerit keras. Ber-samaan dengan jeritannya itu menyembur cairan biru berlendir, menyusul muntahan darah kehitam-hitaman, muncrat membasahi wajah orang yang meneduhi mukanya.

"Manusia kurang ajar! Siapa kau!" Luhcinta gerakkan kaki kanannya.

"Bukkk!"

Latampi mencelat mental sampai dua tombak. Ketika dia berusaha bangkit berdiri di hadapannya tahu-tahu telah tegak dua orang yang memandang padanya dengan pandangan penuh amarah!

"Penolong Budiman! Kemesumanmu rupanya tidak berhenti pada hanya mengintip saja! Sekarang kau berani menggerayangi tubuh gadis yang sedang pingsan! Menciumnya! Manusia sepertimu tidak ada tempat di Negeri Latanahsilam ini!" Salah seorang dari yang tegak di hadapan Penolong Budiman membentak. Lalu pancarkan kentut.

"Brut prett!"

"Sobatku, aku tidak menyangka sekeji ini budi pekertimu! Menggagahi gadis yang tidak berdaya!" Orang kedua ikut membentak.

"Hantu Selaksa Angin! Wiro! Tidak! Tunggu! Biar aku..."

Bayangan kuning berkelebat Satu tendangan melabrak ke arah dada Si Penolong Budiman. Untung orang ini bertindak cepat jatuhkan diri. Dia berguling menjauh namun mendadak satu sinar kuning menyerupai tombak berkiblat, menderu ke arah batok kepala Si Penolong Budiman!

"Tahan serangan!" teriak Latampi alias Si Penolong Budiman.

Tapi tombak kuning itu terus menderu. Malah dari samping satu tangan datang melesat menjambak ram-butnya membuat Latampi tak mungkin menghindar-kan diri dari hantaman cahaya kuning berbentuk tom-bak yang adalah ilmu pukulan sakti milik Hantu Selaksa Angin bernama Tombak Kuning Pengantar Mayatl

"Wiro! Lepaskan jambakanmu!" teriak Latampi. "Kau dan nenek itu salah sangka!"

Pendekar 212 hanya menyeringai. Dia sengaja menarik rambut Latampi hingga sosok orang ini ter-betot ke arah datangnya sinar kuning!

Tak ada jalan lain bagi Si Penolong Budiman. Dari pada menemui ajal secara mengenaskan begitu rupa mau tak mau dia harus menyelamatkan diri dengan balas menghantam. Tangan kanannya bergerak.

"Wuuttt!"

Selarik sinar hitam berbentuk kipas dipenuhi cahaya-cahaya terang seperti tebaranbunga api berkiblat di udara!

"Pukulan Menebar Budi!" teriak Pendekar 212. Tahu keganasan pukulan sakti itu dia segera lepaskan jembakannya pada rambut Si Penolong Budiman. Lalu melompat satu tombak ke belakang seraya lepaskan pukulan Benteng Topan Melanda Samudera.

"Bummm!"

"Bummm!"

Dua letusan menggelegar di tempat itu. Air telaga muncrat setinggi tiga tombak. Belasan burung belibis menjerit keras ketakutan lalu beterbangan ke udara.

Wiro jatuh terhenyak di tanah. Mukanya pucat dan dadanya berdenyut sakit Hantu Selaksa Angin ter-sandar ke sebatang pohon. Lututnya goyah lalu nenek ini jatuh berlutut. Di bagian lain Si Penolong Budiman terpental dan terguling-guling di tanah. Mukanya me-ngelam. Sosoknya menghuyung ketika dia coba ber-diri. Di sela bibirnya tampak lelehan darah.

"Masih hidup manusia keji ini rupanya!" kertak Hantu Selaksa Angin. Dia menggebrak ke depan sam-bil kembali menghantam. Kali ini tidak kepalang tang-gung dia lepaskan pukulan Salju Putih Latinggimerul

"Nenek jubah kuning! Harap kau suka mundur! Biar aku yang menyingkirkan kekejian dari bumi Negeri Latanahsilam ini!" Satu suara membentak nyaring. Satu bayangan biru berkelebat ke arah Si Penolong Budiman. Orangnya bukan lain adalah Luhcinta!

"Butt prett!"

"Wahai! Kau yang diperlakukan keji, memang pantas kalau kau yang menghabisinya!" kata Hantu Selaksa Angin lalu menarik pulang serangannya dan menyingkir ke samping, memberi jalan pada Luhcinta.

"Luhcinta! Tahan seranganmu! Jangan teruskan! Aku harus menerangkan sesuatu padamu!" teriak Si Penolong Budiman.

"Berikan keteranganmu pada semua roh jahat yang tergantung antar langit dan bumi!" jawab Luhcinta. Lalu gadis ini hamburkan serangan berantai yang hebat sekali.

"Bukk... bukkk... bukkk!"

Si Penolong Budiman tidak berkelit tidak pula menangkis. Sepertinya dia pasrah menerima hantaman lawan.

Tiga pukulan keras melanda tubuh Si Penolong Budiman, membuatnya kembali terjengkang di tanah dan muntahkan darah segar!

Dengan muka pucat, mulut dan pakaian berselomot darah Si Penolong Budiman merangkak di tanah lalu bangkit berdiri.

"Luhcinta, kau tidak memberi kesempatan untukku bicara! Aku tidak menyesal kalau harus mati di tanganmu.... Bunuhlah, aku tidak akan melawan!

Mungkin ini satu-satunya cara untuk menebus kekeliruan dan dosa besarku di masa lalu!"

Kalau saja Luhcinta tidak sedang dilanda amarah, kata-kata Si Penolong Budiman itu pasti akan menjadi satu tanda tanya besar baginya. Namun saat itu luapan amarah tengah menyungkup dirinya. Dia melihat sen-diri, juga ada beberapa orang menyaksikan betapa tadi Si Penolong Budiman berbuat keji terhadapnya! Kata-kata yang diucapkan Si Penolong Budiman itu malah dianggap sebagai tantangan oleh Luhcinta.

"Selama ini kasih sayang adalah pegangan hidup-ku! Tapi aku tidak akan pernah menyesal membunuh makhluk keji sepertimu!"

Didahului satu pekik dahsyat Luhcinta melesat ke depan. Dua tangannya bergerak. Satu menghantam-kan pukulan Tangan Dewa Merajam Bumi, satunya lagi melepas pukulan bernama Kasih Mendorong Bumi. Sekalipun Si Penolong Budiman memiliki ilmu kesaktian setinggi langit sedalam samudera namun tidak mungkin baginya menyelamatkan diri dari dua pukulan maut itu. Apalagi saat itu dia seperti memang sengaja memasang diri, siap untuk dihabisi!

Sesaat lagi Si Penolong Budiman akan dibantai oleh dua pukulan sakti yang dilepaskan Luhcinta anak kandungnya sendiri, tiba-tiba dua bayangan berkele-bat sebat. Satu teriakan keras menggelegar di Seantero tempat!

"Luhcinta! Tahan seranganmu! Jangan bunuh orang itu! Dia Latampi! Ayahmu sendiri!"SEMUA orang yang ada di tempat itu tersentak kaget! Luhcinta sendiri merasa kalau ada setan kepala tujuh menghambur keluar dari dalam tanah hendak mencekiknya, atau ada halilintar turun dari langit me-nyambar di puncak hidungnya, tidak akan seluar biasa itu kaget dirinya.

Gerakan dua tangan si gadis serta merta tertahan. Mukanya sepucat kain kafan. Dua matanya meman-dang membeliak ke arah Latampi yang dari merangkak dengan susah payah berusaha bangkit berdiri tapi hanya mampu tegak berlutut Mukanya tak kalah pucat dan pandangannya mengarah sayu pada Luhcinta.

"Luhcinta.... Kau...." Si Penolong Budiman tak Kuasa meneruskan ucapannya. Dua tangannya diulurkan ke depan. Dua lututnya beringsut di tanah. Dua matanya berkaca-kaca.

Luhcinta seperti melihat hantu. Gadis ini bersurut ke belakang. Tubuhnya huyung. Dia tak kuat lagi menahan diri. Tubuhnya tersungkur ke depan. Tiba-tiba ada sepasang tangan merangkulnya. Memandang ke samping Luhcinta melihat satu wajah dan tubuh yang dipenuhi katak-katak hijau.

"Guru..." desis Luhcinta.

"Muridku, tabahkan hatimu, kuatkan jiwamu menghadapi kenyataan ini...."

Luhcinta menarik ke samping kiri. Dia melihat sosok Hantu Penjunjung Roh memandang padanya. Nenek ini kelihatan tersenyum, tapi senyum itu begitu sayu. Sambil memegang kepala gadis itu si nenek berkata. "Cucuku, kau telah sampai diakhir perjalananmu. Rahasia besar yang selama ini menjadi beban kehidupanmu kini telah tersingkap...."

"Nek..." suara Luhcinta bergetar. "Orang itu. Dia...."

Hantu Penjunjung Roh usap kepala cucunya. Lalu ditolongnya gadis itu bangkit berdiri. "Ya, dia.... Dia adalah Latampi. Dia anak kandungku. Dia ayah yang selama ini kau cari. Aku akan memapahmu kepadanya. Bersimpuhlah di hadapannya, lalu peluk dan rangkul dia. Ayah yang kau cari selama ini kau temukan.... Berkah para Dewa telah sampai atas diri kalian berdua...." Waktu berkata itu Hantu Penjunjung Roh tidak dapat lagi menahan kucuran air matanya.

Luhcinta merasa dua kakinya seolah seberat batu raksasa. Dia tak sanggup melangkah. Bibirnya bergetar.

Sepasang matanya mulai basah. "Nek. saya.... Saya tidak bisa mempercayai semua ini.... Si muka tanah liat ini. Sebelumnya dia telah berbuat keji atas diri saya.... Tak mungkin Nek.... Tak mungkin.... Saya tidak pernah mengharapkan seorang ayah sekeji dirinya!"

"Luhcinta, aku dan gurumu Hantu Laekatakhijau sudah menyelidik, sudah mendapat bukti-bukti bahwa orang itu adalah Latampi ayah kandungmu. Jangan kau berani berkata tidak mungkin. Yang Kuasa telah memperlihatkan kebesaran dan kasih sayangNya pada kalian hingga hari ini kalian dipertemukan satu sama lain...."

Hantu Penjunjung Roh terus memapah Luhcinta. Di depan sana Pendekar 212 Wiro Sableng garuk-garuk kepala. Sesaat dia tampak bingung. Lalu dia melangkah mendekati Si Penolong Budiman dan menolong orang ini berdiri. Seperti apa yang dilakukan Hantu Penjunjung Roh, Wiro kemudian membantu Si Penjunjung Roh melangkah mendekati Luhcinta.

Hantu Selaksa Angin menyaksikan apa yang ter-jadi di hadapannya itu dengan mata basah. Sejak tadi dia menahan diri agar tidak memancarkan kentut. Sementara Hantu Laekatakhijau guru Luhcinta ter-sengguk-sengguk menahan tangis.

Beberapa saat kemudian ayah dan anak itu tegak berhadap-hadapan, hanya terpisah dua langkah. Ke-duanya saling memandang berhamburan air mata.

"Anakku Luhcinta..." ucap Latampi dengan suara bergetar dan dada menggemuruh. Dua tangannya diulurkan hendak menyentuh bahu gadis itu. "Apa yang aku lakukan bukan kekejian berselubung nafsu mesum. Aku terpaksa menekan urat besar di dadamu. Aku terpaksa harus menyedot racun jahat lewat mulutmu. Hanya itu satu-satunya jalan menolong dirimu dari racun jahat yang ditebar kaki tangan Hantu Muka Dua...."

Luhcinta sendiri tegak tak bergerak. Telinganya terbuka, tapi dia seolah tidak mendengar apa yaru diucapkan Latampi. Mulutnya ikut terbuka. Bibirnya bergeletar. Ingin ia mengucapkan kata "Ayah" tetapi lidahnya serasa kelu. Tak ada ucapan, tak ada suara yang keluar. Pada saat itulah tiba-tiba sekilas bayangan hitam masa lalu terpampang di depan matanya, menghujam di dalam benak Luhcinta. Yakni berupa kenyataan bahwa ayah kandungnya itu sebenarnya adalah kakak kandung dari ibunya sendiri, sang ibu yang bernama Luhpiranti memang melahirkan dirinya, tapi dia merupakan anak yang terlahir diluar nikah. Lalu sang ayah sendiri tidak pula syah menjadi ayahnya karena dia adalah kakak kandung ibu yang melahirkannya!

Luhcinta memandang ke arah Pendekar 212 Wiro Sableng. Dalam keadaan seperti itu ingin sekali dia berlari ke dalam pelukan pemuda itu. Bicara dengannya. Agaknya hanya Wirolah satu-satunya tempat dia menceritakan kemalangan hidup mengadukan nasib. Namun hatinya menjadi perih bila dia ingat bahwa Wiro telah kawin dengan Luhrembulan dan menjadi milik orang lain. Air mata semakin deras mengucur jatuh ke pipi Luhcinta. Tubuhnya bergetar hebat.

Tiba-tiba satu teriakan keras keluar dari mulutnya. ‘Tidak! Tidak!"

Seperti ada kekuatan gaib memasuki dirinya, Luhcinta meronta keras melepaskan pegangan dua nenek di kiri kanannya lalu melompat meninggalkan tempat itu.

"Luhcinta!" teriak Hantu Penjunjung Roh me manggil. Hantu Laekatakhijau coba mengejar. Pen-dekar 212 tak tinggal diam. Dia berusaha menghalangi tapi hanya sempat menyentuh punggung gadis itu. Latampi sendiri jatuh berlutut di tanah, menutupi wa-jahnya dengan dua tangan menahan gemuruh tangis yang seolah hendak meledakkan tubuhnya!

"Luhmasigi," kata Hantu Laekatakhijau pada Hantu Penjunjung Roh. "Cucumu berada dalam ke-adaan kalut kacau pikiran. Keadaannya bisa berba-haya. Kita harus mengejarnya."

Tanpa banyak bicara lagi dua nenek itu segera berkelebat ke arah lenyapnya Luhcinta.

Hantu Selaksa Angin memandang pada Wiro. "Kau tidak ikutan mengejar gadis itu?"

Wiro tak bisa menjawab. Dia memang ingin sekali mengejar Luhcinta. Bukan saja untuk menyelamatkan si gadis tapi juga untuk membicarakan masalah per-kawinannya dengan Luhrembulan.

Tanpa setahu Hantu Selaksa Angin dan Wiro ataupun Latampi yang masih berlutut menahan tangis, di balik serumpun semak belukar tiga sosok saling berdesakan bersembunyi mengintai. Mereka adalah Naga Kuning, Betina Bercula dan si kakek tukang kencing Si Setan Ngompol.

"Aneh, apa yang terjadi sebelumnya di tempat ini! Orang berjubah hitam yang berlutut di tanah seseng-gukan itu, bukankah dia Si Muka Tanah Liat yang dikenal dengan julukan Si Penolong Budiman? Setan apa yang masuk ke dalam tubuhnya hingga dia berlaku aneh seperti itu?!"

Mendengar ucapan Naga Kuning, Betina Bercula kepalkan dua tinjunya. "Memang dia! Terakhir sekali kita melihatnya waktu dia menolong Luhcinta. Waktu itu lapisan tanah liat hitam tidak lagi menutupi wajah-nya! Aku mengenali wajahnya! Ingat bagaimana dia menggebuki kita beberapa waktu lalu?!" Biar aku ganti menghajarnya saat ini juga!"

"Tunggu!" bisik Setan Ngompol sambil menahan pundak dua temannya. "Kita intip saja dulu. Agaknya telah terjadi satu peristiwa besar di tempat ini. Jika kita keluar mungkin semua keanehan ini tidak akan tersingkap...."

Saat itu si nenek muka kuning terdengar berkata.

"Wiro, kata orang gadis itu mencintaimu. Apa kau tidak mencintai dirinya? Kau harus mengejar dan menolongnya.... Aku tidak akan mengadu pada istrimu yang bernama Luhrembulan itu! Hik... hik... hik!" Hantu Selaksa Angin tertawa menggoda.

"Sstt... Nenek itu bicara tentang seorang gadis. Kau bisa menduga siapa gadis itu adanya?" Naga Kuning memandang pada Setan Ngompol. Kakek ini menggeleng. "Jangan-jangan sebelumnya Luhcinta berada di tempat ini!"

"Si nenek muka kuning tadi menyebut nama Luh-rembulan. Rupanya dia juga sudah tahu kalau Wiro sudah kawin dengan gadis itu!" kata Betina Bercula perlahan.

"Hai! Gadis itu sudah lari jauh! Kau tidak mau mengejar dan menolongnya?" Hantu Selaksa Angin kembali bertanya pada Pendekar 212 Wiro Sableng.

Murid Eyang Sinto Gendeng ini jadi garuk-garuk kepala berulang kali. "Dalam bingungnya gadis itu bisa saja melihat diriku seperti hantu. Tadi kita berdua telah menolongnya. Saat ini kita tidak bisa berbuat banyak. Dua nenek tadi sudah mengejar. Lagi pula aku punya kewajiban padamu untuk mencari Lasedayu. Nenek suamimu itu belum kita temukan!"

Nenek muka kuning tersenyum. "Tidak kusangka hatimu sebaik itu. Sampai-sampai mengorbankan gadis cantik yang mencintaimu demi menolong nenek keriput sepertiku!"

"Aku berbuat baik kepada siapa saja yang aku suka Nek," kata Pendekar 212 pula.

"Hemm.... Begitu? Aku suka pada orang yang mau bicara jujur sepertimu. Lalu bagaimana dengan lelaki malang itu?" tanya si nenek sambil memandang pada Latampi.

Wiro menarik nafas dalam lalu melangkah men-dekati Si Penolong Budiman. Dipandangnya pundak Latampi seraya berkata. "Sahabatku, maafkan kesalah pahaman kami berdua. Hidup ini memang penuh de-ngan hal tak terduga. Tidak semuanya sesuai dengan kehendak kita. Aku percaya, Gusti Allah Yang Maha Kuasa akan menolongmu!"

Latampi tidak dapat lagi menahan tangisnya. Tu-buhnya berguncang keras. Lelaki ini akhirnya meratap memilukan sambil bersujud di tanah. Wiro dan si nenek memperhatikan dengan perasaan sedih.

Murid Sinto Gendeng memandang dengan sangat haru. Dia lalu meraba ke balik pakaiannya dan merasa lega. "Untung obat ini masih ada padaku...." Dari balik pakaiannya Wiro keluarkan satu kantong kecil. Kan-tong itu diletakkannya di tanah, di depan kepala Si Penolong Budiman.

"Sahabatku, kau tertuka parah. Dalam kantong kecil ini ada dua butir obat. Mudah-mudahan mujarab menyembuhkan lukamu. Aku tahu, luka di tubuh akan sanggup kau hadapi. Namun luka hati agaknya me-mang sulit ditahan. Kuatkan jiwamu, tabahkan hatimu sahabatku!"

Tangis Si Penolong Budiman meledak. Ratapannya menyayat hati. Karena tidak tahan melihat semua itu Wiro segera memberi isyarat pada Hantu Selaksa Angin. Keduanya lalu tinggalkan tempat itu. belum jauh berjalan si nenek berkata.

"Kau memang pantas berbuat baik pada Si Penolong Budiman itu. Siapa tahu satu hari dia kelak akan menjadi ayah mertuamu! Hik... hik... hik!"

"Butt prett!"

"Mulutmu enak saja bicara Nek!" gerutu Wiro mendengar ucapan si nenek muka kuning.

Hantu Selaksa Angin tersenyum geli. "Tadi aku dengar kau lagi-lagi menyebut nama Gusti Allah Yang Maha Kuasa. Kapan kau mau menerangkan siapa adanya Gusti Allah itu. Lalu dimana aku bisa me-nemuiNya?"

Kini Wiro yang tertawa. "Nanti Nek, kalau kau sudah bertemu dengan suamimu Lasedayu, pada saat itulah kau akan merasakan kekuasaan dan kasihnya Gusti Allah...."

"Jadi aku harus bertemu dulu dengan kakek sial itu, baru bisa tahu Gusti Allah?"

Wiro tersenyum. Sulit baginya menerangkan pada Hantu Selaksa Angin. Sebaliknya karena tidak men-dapat jawab si nenek muka kuning lalu pancarkan kentutnya.

"Buttt prett!"

Habis kentut tiba-tiba si nenek berbalik.

Wiro memandang dengan heran lalu bertanya. "Ada apa Nek?"

"Bicara soal Gusti Aliahmu itu, aku jadi ingat pada perintah guruku Datuk Tanpa Bentuk Tanpa Ujud. Bukankah aku harus mewariskan semua ilmu kepan-daianku padamu? Sampai saat ini tidak satu ilmu kesaktianpun yang aku berikan. Aku takut melanggar perintah...."

"Kau tak usah keliwat memikir hal itu Nek," jawab Wiro yang sejak sebelumnya memang tidak mau mene-rima ilmu kepandaian apapun dari si nenek. "Kau sudah punya niat menjalankan perintah tapi aku ber-terima kasih dan menolak pemberian ilmu itu. Berarti kau tidak melanggar perintah, apalagi merasa ber-dosa...."

"Aku memang tidak merasa berdosa. Tapi merasa berhutang! Ini membuat aku merasa tidak tenteram. Bagiku hutang jauh lebih berat dari pada dosa! Aku tahu kau orangnya suka jahil. Jadi yang cocok untuk-mu adalah ilmu Menahan Darah Memindah Jazad."

"Nek, jangan kau bergurau. Aku sudah bilang aku ngeri dengan ilmu kepandaianmu yang satu itu."

Si nenek mendongak ke langit. "Mendung di mana-mana...." katanya. "Sebentar lagi pasti hujan akan turun! Dengar Wiro, aku akan berikan ilmu itu padamu sebelum hujan mencurah!"

"Tidak Nek, terima kasih...."

Tapi saat itu Hantu Selaksa Angin tiba-tiba sekali telah merangkul tubuh Pendekar 212. Wiro berusaha meronta lepaskan diri. Tapi anehnya semakin dia bersikeras mengeluarkan tenaga semakin dia tak bisa bergerak malah nafasnya mulai megap-megap.

"Apa yang hendak kau lakukan Nek...? Kau mau membunuh aku?!" tanya Wiro.

"Perlu apa aku membunuhmu?!"

"Kau... mungkin... mungkin kau tiba-tiba kema-sukan setan mesum. Kau hendak berbuat tidak se-nonoh padaku...?!"

"Anak gila! Kau kira aku ini nenek bejat seperti Hantu Santet Laknat hah?!"

Wiro jadi tersentak mendengar si nenek menyebut nama itu.

"Dengar Wiro. Aku akan memberikan ilmu Menahan Darah Memindah Jazad sekarang juga padamu!"

"Nek! Jangan paksa diriku!"

"Kuremukkan tulang belulangmu jika kau berani membantah!" mengancam Hantu Selaksa Angin. Lalu butt prett! Nenek ini pancarkan kentutnya. Bersamaan dengan itu dia memperkencang pelukannya hingga Wiro merasa sekujur tubuhnya seperti mau remuk. "Ilmu Menahan Darah Memindah Jazad tidak susah menguasainya Kerahkan tenaga dalammu, pusatkan ke perut, tahan nafas sambil menggosokkan ibu jari tangan kiri atau tangan kananmu pada empat jari lainnya. Kalau sudah kau lakukan, bagian tubuh manu-sia yang mana saja bisa kau pindahkan kemana kau suka! Kau dengar Wiro?"

Di balik semak belukar Naga Kuning dan kawan-kawannya yang diam-diam terus menguntit Wiro dan si nenek, menggamit Si Setan Ngompol. "Kau dengar apa yang dikatakan nenek tukang kentut itu? Ternyata tidak sulit menguasai ilmu Menahan Darah Memindah Jazad itu! Aku juga pasti bisa melakukannya...."

"Kalau orang tidak memberikan ilmu langsung padamu, jangan jahil mencoba-coba. Nanti bisa kapiran salah kaprah!" kata Setan Ngompol pula.

"Ah, kau cuma iri. Kaupun sebenarnya inginkan ilmu itu!" menggoda Naga Kuning.

"Jangan kau bicara tak karuan!" bentak Setan Ngompol delikkan mata.

"Dengar Kek," Naga Kuning masih belum berhenti mengganggu orang. "Kalau aku dapatkan ilmu itu, nanti barangmu akan aku tukar dengan barang kuda. Agar kau sembuh tidak ngompol-ngompol lagi! Hik... hik... hik!"

"Setan alas kau!" rutuk Setan Ngompol.

Betina Bercula ikut-ikutan mengganggu si kakek. "Naga Kuning, kalau barangnya sudah kau tukar de-ngan-punya kuda, jangan lupa memberi tahu aku. Ingin sekali aku melihatnya! Hik... hik... hik...!"

Sementara itu murid Sinto Gendeng tidak men-jawab pertanyaan si nenek muka kuning. Saat itu dia sudah kelagapan tak bisa melepaskan diri dari pelukan kencang si nenek. Hantu Selaksa Angin kembali ke-rahkan tenaganya.

"Kreekkk!"

Tulang punggung Wiro bergemeletak. Sang pen-dekar mengeluh kesakitan.

"Sudah Nek, aku.... Terserah padamu saja! Tapi lepaskan pelukanmu! Aku tak tahan...."

"Heh, kau tak tahan? Tak tahan apa? Kau mulai terangsang rupanya dalam pelukanku? Dasar pemuda cabul!" Si nenek membentak.

"Bukan terangsang Nek. Tapi tak tahan bau ketiakmu! Hidungku mau tanggal rasanya!" jawab Wiro.

"Hii... hik... hik!" Hantu Selaksa Angin tertawa cekikikan mendengar kata-kata Wiro itu. "Sekarang aku akan tunjukkan bagaimana cara mengembalikan bagian tubuh atau benda apa saja kau pindahkan...."

Naga Kuning memasang telinganya tajam-tajam, berusaha mencuri dengar petunjuk apa yang hendak dikatakan si nenek pada Wiro. Tapi saat itu tiba-tiba di langit mendung berkiblat petir. Cahaya putih ber-sabung laksana merobek langit. Bersamaan dengan itu suara guntur menghunjam menggetarkan bumi memekakan telinga. Naga Kuning tidak dapat men-dengar apa yang dikatakan nenek muka kuning pada Pendekar 212 Wiro Sableng.

"Geledek jahanam! Budek telingaku! Aku tak bisa mendengar apa yang diucapkan nenek itu!" Naga Kuning memaki marah sambil bantingkan kaki.

Setan Ngompol menyeringai. Sejak tadi kakek ini sudah jengkel pada si bocah. Sekarang dia siap mela-kukan pembalasan. Dia susupkan telapak tangan kiri-nya ke dalam celananya yang basah oleh air kencing. Lalu tangan yang berselomotan air kencing pesing itu dipeperkannya ke muka Naga Kuning seraya berkata. "Makanya, jangan suka jahil mencuri rejeki mendengar ucapan orang! Mendingan kau terima dulu hadiah dariku!"

"Kakek sialan!" rutuk Naga Kuning sambil me-ludah-ludah dan seka mukanya berulang kali.SATU cahaya merah melesat dari langit, membuat Peri Angsa Putih yang tengah duduk di bawah keteduhan pohon besar di tepi kelokan sungai terkejut Cepat-cepat dia menyembunyikan benda yang sejak tadi dipegangnya ke balik pakaian putihnya. Satu sosok terbungkus gulungan kain sutera merah tahu-tahu sudah berada di hadapan Peri Angsa Putih. Bau harum mewangi memenuhi udara di tempat itu.

"Wahai, kau terkejut melihat kehadiranku yang tiba-tiba ini Peri Angsa Putih?" Satu suara parau menegur.

"Peri Sesepuh!" seru Peri Angsa Putih ketika menyadari siapa yang tegak di hadapannya. Lalu dia menjura memberi hormat.

"Keterkejutanku rasanya sangat beralasan wahai Peri Sesepuh. Aku berada di tempat terpencil begini rupa. Bagaimana kau bisa mengetahui kehadiranku di sini. Kemudian, bukankah sejak beberapa purnama ini kau diketahui mengucilkan diri menjauhi alam manusia dan alam Peri? Mengapa kini kau mendadak muncul? Apakah pengucilan dirimu telah berakhir?"

Yang tegak di hadapan Peri Angsa Putih adalah seorang perempuan luar biasa gemuk, berkulit putih. Mukanya yang bulat gembrot sungguh tidak sedap untuk dipandang. Selain hidung yang pesek lebar serta bibir tebal, pada pipi kirinya ada tahi lalat hitam sebesar telur burung dara. Makhluk ini mengenakan kain ber-warna merah tipis yang digelungkan ke sekujur tubuh-nya secara sembrono hingga beberapa bagian lekuk tubuhnya yang terlarang kadang-kadang tersingkap jelas. Ketika dia tersenyum kelihatan gigi-giginya yang besar. Ketika dia mengangkat tangan kirinya agak tinggi untuk mematik gulungan rambutnya, bulu ke-tiaknya kelihatan berserabutan seperti ijuk!

Dalam kisah di Negeri Latanahsilam si gemuk berpakaian sutera merah tipis ini dikenal sebagai Peri Sesepuh yang merupakan Peri pimpinan dari segala Peri yang ada di Negeri Atas Langit Dalam Episode berjudul "Rahasia Mawar Beracun" dikisahkan bagai-mana Peri Sesepuh terbongkar rahasianya sebagai Peri yang hendak mencelakai Pendekar 212 Wiro Sableng dengan sekuntum mawar kuning beracun. Akibat perbuatannya itu Peri Angsa Putih dan Peri Bunda, juga Luhjelita hampir terkena tuduhan sebagai pelaku. Malu karena perbuatan jahatnya diketahui, Peri Sesepuh akhirnya meninggalkan Negeri Atas Angin dan memencilkan diri di satu tempat yang tidak satu orang atau Peripun mengetahui.

"Kerabatku Peri Angsa Putih, tidak heran kalau kau sampai terkejut. Diriku ini memang sengaja mun-cul dari alam pengasingan karena beberapa hal. Aku harap kau mau membagi waktu, bersabar hati men-dengar apa yang hendak aku katakan...."

"Aku akan mendengar apa yang akan kau ucap-kan, wahai Peri Sesepuh," kata Peri Angsa Putih pula. Namun dalam hati Peri Angsa Putih merasa curiga. "Jangan-jangan dia mengetahui kalau Batu Pembalik Waktu berada di tanganku," pikir Peri Angsa Putih.

"Pertama sekali aku merasa risau mendengar apa yang terjadi dengan Peri Bunda. Sewaktu aku mening-galkan Negeri Atas Langit kepadanyalah aku perca-yakan untuk mewakili diriku selama aku bersunyi diri di tempat pengucilan. Ternyata kini satu musibah besar menimpa dirinya. Dia diketahui hamil berbadan dua. Diketahui pula bahwa pemuda asing bernama Wiro Sableng itulah yang telah melakukan perbuatan keji itu!" Peri Sesepuh terdiam sebentar lalu melan-jutkan ucapannya dengan pertanyaan. "Wahai Peri Angsa Putih, gerangan tindakan apakah yang telah atau akan dilakukan oleh kita kaum Peri?"

Peri Angsa Putih tak segera menjawab.

"Wahai, apakah ada keraguan dalam lubuk hatimu untuk melakukan sesuatu pada pemuda itu?" tanya Peri Sesepuh.

Peri Angsa Putih masih diam.

"Hemm.... Atau mungkin rasa cintamu terhadapnya semakin mendalam hingga kau...."

"Peri Sesepuh, aku sudah lama melupakan pemuda itu," kata Peri Angsa Putih pula.

"Begitu?" Peri Sesepuh menatap tajam ke dalam sepasang mata biru Peri Angsa Putih. Hatinya tak percaya akan apa yang barusan dikatakan kerabatnya itu. "Terus terang aku juga telah melupakan semua kejadian di masa lalu. Tetapi hati sanubari kita tidak terlalu jauh berbeda dengan hati nurani manusia biasa, Hal-hal yang lama tetap akan menjadi kenangan se-dang semua hal yang kita hadapi saat ini merupakan satu kenyataan. Lalu segala hal di masa mendatang merupakan satu tantangan. Kerabatku Peri Angsa Putih, saat ini aku tidak berkewenangan untuk turun tangan mengambil tindakan. Peri Bunda yang menjadi wakilku justru yang ditimpa musibah memalukan itu. Berarti hanya kau seorang kini yang bisa dipercaya untuk berbuat sesuatu.... Kau harus mencari pemuda asing itu. Kau harus meminta pertanggung jawabnya!

Kalau Peri Bunda sampai melahirkan sungguh sangat memalukan. Dan seribu kali lebih memalukan kalau tidak diketahui atau tidak dapat dipastikan siapa ayah anak yang dilahirkannya itu! Walau kemudian orang itu harus menemui kematiannya! Peri Angsa Putih, tanggung jawab besar terletak di pundakmu!"

"Aku memang sudah berniat mencari pemuda itu. Membawanya ke Puri kebahagiaan, mempertemukan-nya dengan Peri Bunda sebelum Peri Bunda me-lahirkan."

"Aku gembira mendengar kau sudah memasang niat begitu rupa," kata Peri Sesepuh sambil angguk-anggukkan kepala.

Sebenarnya Peri Angsa Putih ingin agar peri gemuk itu cepat-cepat meninggalkannya. Namun Peri Sesepuh malah kembali membuka ucapan.

"Aku pernah mengimpikan dirimu, Peri Angsa Putih. Dalam mimpi kulihat kau duduk di atas sebuah tebing tinggi di sebuah teluk. Bulan purnama empat belas hari bersinar indah di langit. Tiba-tiba bulan itu meluncur turun ke pangkuanmu. Agaknya satu berkah atau satu anugerah berupa sebuah benda sangat berharga akan jatuh ke haribaanmu. Atau mungkin benda itu sudah berada di tanganmu?"

"Benda apa maksudmu Peri Sesepuh? Bisakah kau menerangkan?" balik bertanya Peri Angsa Putih. Suaranya datar dan agak tercekat. Hal ini karena kekhawatiran yang muncul mendadak. Khawatir Peri Sesepuh benar-benar telah mengetahui kalau Batu Pembalik Waktu itu ada di tangannya.

"Wahai, benda itu bisa saja berupa sebuah logam, berbentuk sebilah senjata. Mungkin juga berupa benda yang kelihatannya tidak berharga sama sekali. Seperti sebuah batu. Padahal benda itu menyimpan satu ke-saktian maha dasyat...."

Peri Angsa Putih tersenyum. "Kalau aku memiliki benda atau senjata sakti pasti akan kuberi tahu semua sahabat para Peri dan akan kusimpan di dalam almari penyimpanan benda-benda pustaka di Negeri Atas Langit..."

"Kalau begitu mimpiku hanya merupakan bunga tidur yang tak ada artinya..." kata Peri Sesepuh pula sambil tersenyum. Di mata Peri Angsa Putih senyum peri gemuk itu seperti satu isyarat rasa tidak percaya.

"Peri Sesepuh, aku ingin pergi ke Puri Kebahagiaan tempat Peri Bunda mengasingkan diri selama kehamilannya. Maafkan kalau aku tidak bisa bicara berlama-lama...."

Peri Sesepuh mengangguk. "Kau boleh segera pergi wahai kerabatku. Namun ada satu hal lagi yang ingin kukatakan. Pada hari lima belas bulan dua belas mendatang, pergilah ke Istana Kebahagiaan. Atas undangan Hantu Muka Dua disitu akan berkumpul semua tokoh utama Negeri Latanahsilam. Tapi berhati-hatilah. Satu hal besar menurut firasatku akan terjadi di tempat itu."

"Aku memang sudah mendengar berita undangan itu. Dan aku juga sudah memutuskan untuk pergi..."

Peri Sesepuh tersenyum. "Selamat tinggal Peri Angsa Putih. Aku akan kembali ke tempat pengasing-anku. Jangan lupa kewajibanmu mencari pemuda yang telah mencemari kehidupan kita bangsa Peri. Sudah sejak lama kaum kita dipermalukan dan dipaksa ber-tekuk lutut di depan kaki laki-laki bangsa manusia. Kalau tidak diambil tindakan tegas, kejadian seperti itu akan terulang berkali-kali...."

"Aku tahu apa yang harus dilakukan," kata Peri Angsa Putih pula lalu menjura lebih dahulu sebelum Peri Sesepuh meninggalkan tempat itu. Sikap Peri Angsa Putih ini dirasakan oleh Peri Sesepuh sebagai satu cara halus sengaja menyuruhnya pergi lebih cepat

Peri Angsa Putih menghela nafas lega. "Peri Se-sepuh..." katanya dalam hati. "Apakah semua ucap-anmu itu bisa kau jamin kebenarannya. Aku tahu, sampai saat ini kau masih menaruh hati terhadap pemuda asing bernama Wiro Sableng itu. Aku sendiri selama ini selalu hidup menipu diri. Kebencian yang kuperlihatkan di depan semua orang seolah membakar diriku sendiri. Wiro.... Kalau kau tahu bagaimana sebe-narnya hati ini. Aku bahkan tidak perduli kau sekarang ini milik siapa. Aku tidak akan perduli sekalipun kau kawin sepuluh kali dalam sehari. Hatiku telah terlanjur luluh, seolah melebur masuk ke dalam aliran darahmu. Dewa manapun tak ada yang sanggup untuk menarik melepas mengeluarkannya."

Lama Peri Angsa Putih duduk termenung dalam kesendiriannya di bawah pohon di kelokan sungai itu. Begitu dia ingat akan batu sakti yang ada di balik pakaian putihnya, benda itu segera dikeluarkannya. Sambil memandangi batu berwarna tujuh itu, dalam hatinya Peri Angsa Putih berkata.

"Wiro, aku terlalu cinta padamu. Tubuh dan cinta-ku saat ini seolah terbelah dua. Belahan pertama ingin memberikan batu ini padamu. Agar kau bisa kembali ke negeri seribu dua ratus tahun mendatang, Tanah Jawa tanah kelahiranmu. Tetapi belahan kedua tidak menginginkan aku kehilangan dirimu. Wiro, maafkan diriku kalau Batu Pembalik Waktu ini tidak akan ku-berikan padamu. Apapun yang akan terjadi. Aku terlalu takut kehilanganmu..." Peri Angsa Putih cium batu sakti itu sambil pejamkan matanya penuh khidmat.

Namun dia tersentak kaget ketika mendadak di tempat itu membahana satu suara tawa bergelak.SATU bayangan merah berkelebat. Udara di tikungan sungai itu mendadak menjadi panas.

Memandang ke depan terkejutlah Peri Angsa Putih. Yang tegak di depannya adalah seorang kakek dengan sekujur tubuh mulai dari kepala sampai kaki dikobari api.

"Lamanyala!" desis Peri Angsa Putih.

Angsa Putih besar yang mendekam tak jauh dari tempat itu mengeluarkan suara halus. Suara binatang tunggangannya ini merupakan satu pertanda kurang baik bagi sang Peri. Dia segera mengawasi ke depan.

Kobaran api dalam mata makhluk bernama Lama-nyala menjilat ke luar. Ketika dia membuka mulutnya, kobaran api juga melesat keluar dari mulut itu.

"Peri Angsa Putih, Peri tercantik dari Peri yang ada di Negeri Latanahsilam. Sungguh heran aku me-nemukan kau bersunyi diri di tempat seperti ini. Ge-rangan apakah yang tengah menyelimuti hatimu hing-ga bersepi-sepi seorang diri?"

Peri Angsa Putih tatap sosok makhluk yang di-kobari api itu. Dalam hati dia berkata. "Puluhan tahun diketahui makhluk ini bukan makhluk yang ramah. Puluhan tahun dikenal dirinya berhati culas. Tugasnya menyelamatkan Jimat Hati Dewa gagal. Lasedayu alias Hantu Langit Terjungkir berhasil merampas dan me-nelan jimat sakti itu. Tidak heran kalau para Dewa menarik kembali jabatannya sebagai wakil para Dewa di Negeri Latanahsilam. Kini dia muncul bersikap ramah setelah sekian lama tidak diketahui dimana beradanya. Keadaan dirinya sungguh mengerikan. Setahuku dia mempunyai hubungan sangat dekat dengan Hantu Muka Dua. Dia yang konon memberi ilmu kesaktian pada Hantu Muka Dua, menyuruh mem-bangun Istana Kebahagiaan dan memberikan gelar Hantu Segala Keji, Segala Tipu dan Segala Napsu pada Hantu Muka Dua. Kini tahu-tahu dia muncul di sini. Aku harus berlaku hati-hati."

"Wahai!" berucap Lamanyala. "Benar rupanya ada sesuatu menutupi hati dan mengganjal jalan pikiran-mu. Hingga aku menyapa dan bertanya tidak juga kau sahuti. Peri Angsa Putih, jika ada kesulitan harap kau suka memberi tahu padaku. Siapa menduga kalau aku bisa menolongmu...."

Peri Angsa Putih akhirnya tersenyum. "Kau sa-ngat baik, Lamanyala. Lama kita tidak bertemu. Apa kabar beritamu. Apa pula yang membuatmu tahu-tahu sampai di tempat ini?"

"Langkah orang memang tidak bisa diduga. Aku mencarimu untuk menanyakan apakah kau sudah mendengar kabar yang tersiar mengenai undangan besar di Istana Kebahagiaan pada hari lima belas bulan dua belas mendatang?"

"Aku memang sudah mendengar," jawab Peri Angsa Putih.

"Apakah kau berkehendak menghadirinya?"

"Wahai, mengapa kau bertanyakan hal itu Lama-nyala?"

"Tidak ada maksud buruk tersembunyi. Meng-ingat kini kau satu-satunya Peri yang dianggap sebagai pimpinan tertinggi di Negeri Atas Langit, maka hal itu mendorong diriku ingin mengetahui...."

"Aku memang sudah memutuskan untuk hadir. Kecuali jika terjadi sesuatu yang tidak memungkinkan kedatanganku ke sana. Bagaimana dengan dirimu sendiri? Apakah kau akan pergi ke sana?"

Lamanyala mengangguk. Kobaran api di atas batok kepalanya naik ke atas..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.204.95.166
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia