Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : PETUALANGAN WIRO DI LATANAHSILAM

"LUHCINTA, MENGENAI PERISTIWA Dl TELAGA ITU. AKU BERSUMPAH AKU TIDAK PUNYA NIAT DENGAN SENGAJA HENDAK MENGINTIP KAU MANDI..." NAGA KUNING, SI SETAN NGOMPOL DAN BETINA BERCULA JADI SALING PANDANG MENDENGAR KATA-KATA SI PENOLONG BUDIMAN ITU. "TIDAK DISANGKA, JAHIL JUGA SI MUKA COMBERAN KERING INI!" KATA SETAN NGOMPOL KERAS-KERAS HINGGA SI PENOLONG BUDIMAN MENDENGAR. "KALAU SAJA DIA MENGINTIP DIRIKU TENTU AKU PERSILAKAN DENGAN DUA TANGAN DAN DUA PAHA TERBUKA!" KATA SI BETINA BERCULA LALU TERTAWA CEKIKIKAN. "RUPANYA DIA TAHU JUGA BETIS MULUS DAN JIDAT LICIN YANG ASLI! HIK... HIK... HIK!" "KAKIMU BERBULU, JIDATMU ATAS BAWAH BERAMBUT! SIAPA SUDI MENGINTIP MONYET JANTAN MANDI!" KATA NAGA KUNING YANG MEMBUAT BETINA BERCULA PELOTOTKAN MATA DAN HENDAK MEREMAS BAGIAN BAWAH PERUTNYA.



PENDEKAR 212 Wiro Sableng memandang seputar telaga lalu berpaling pada nenek muka kuning di sampingnya yang tegak setengah termenung dan unjukkan wajah muram.

"Nek, kau yakin memang di sini Hantu Langit Terjungkir berada sebelumnya?"

Si nenek muka kuning yang bukan lain adalah Hantu Selaksa Angin Alias Hantu Selaksa Kentut dan bernama asli Luhpingitan tidak segera menjawab. Sepasang matanya yang kuning menyapu seantero telaga. Sambil pandangi air telaga yang bening kebiruan dari mulutnya keluar suara mendesah.

"Lasedayu... Lasedayu, dimana kau...? "

Nenek ini kemudian berpaling pada Pendekar 212 Wiro Sableng.

"Aku tidak keliru. Walau dulu otakku mungkin tidak karuan tapi aku yakin.

Di tempat ini Lasedayu dan Si Penolong Budiman berada sebelumnya. Kau lihat saja, di sebelah situ masih ada bekas-bekas kayu perapian. Lalu di seberang sana..." Si nenek menunjuk ke arah seberang telaga. "Itu pohon rimbun tempat aku mendekam bersembunyi mendengarkan pembicaraan mereka. Di situ aku mendengar Lasedayu berucap bahwa dia bersedia mengawini diriku... Sekarang mereka lenyap. Putus sudah harapanku..."

"Agaknya kita terlambat Nek. Mereka telah keduluan pergi, entah kemana...."

Luhpingitan tampak kecewa. "Puluhan tahun berpisah. Kemudian kami bertemu. Sayangnya saat itu jalan pikiranku masih tak karuan hingga aku tidak mengenali suami sendiri. Jangankan suami sendiri. Diriku sendiri aku tidak tahu siapa adanya! Kini setelah aku sadar, dia malah lenyap.

Sudah di depan mata, tinggal sepejangkauan. Namun...."

"Kau jangan berputus asa Nek. Kita akan mencarinya. Pasti bertemu...."

Luhpingitan arahkan pandangan kesebuah pohon lalu melangkah mendekati. Sambil mengusap batang pohon itu dia berkata. "Di batang pohon ini aku menempelkan tangannya yang patah. Beberapa hari setelah itu, ketika tulangnya bertaut kembali dan dagingnya yang luka menyembuh, selagi dia tertidur nyenyak dalam sirapanku, kusambungkan kembali tangannya. Saat itu kalau saja aku tahu dia adalah Lasedayu suamiku, tak akan kutinggalkan tempat ini... Si nenek geleng-gelengkan kepalanya. Dua bola matanya mulai berkaca-kaca. Setelah diam sejenak Luhpingitan lanjutkan kata-katanya.

"Entah mengapa perasaanku mendadak khawatir...."

"Aku mengerti apa yang kau khawatirkan Nek," kata Wiro.

"Lasedayu selalu kesepian selama puluhan tahun. Kau khawatir kalaukalau ada perempuan lain yang merayunya lalu dikawininya...."

"Setahuku Lasedayu bukan lelaki mata keranjang...." membela Luhpingitan. "Kalau dia memang tidak berjodoh lagi dengan diriku, apa boleh buat..."

"Ah, jangan beg itu Nek," kata Wiro sambil tertawa menggoda.

"Dengar Wiro. Aku khawatir satu hal karena aku ingat kata-kata guruku Datuk Tanpa Bentuk Tanpa Ujud. Dia mengatakan bakal terjadi satu peristiwa besar di Negeri Latanahsilam ini...."

"Satu peristiwa besar? Peristiwa apa Nek?" tanya Wiro.

"Sang Datuk tidak menerangkan. Malah dia mengatakan agar aku mencari Allah. Mencari Tuhan, Penguasa Tunggal Jagat Raya, Pencipta Langit dan Bumi serta makhluk yang ada di antaranya... terus terang, aku tidak tahu siapa Tuhan itu. Siapa Allah itu."

Wiro terkejut "Gurumu bilang begitu?"

Luhpingitan mengangguk. "Seharusnya sudah kuberi tahu beberapa waktu lalu padamu. Tapi karena pikiran dan perhatianku terpusat pada bagaimana agar lekas bertemu Lasedayu, aku terlupa mengatakan padamu. Aku ingat kau dan dua kawanmu pernah menyebut-nyebut Tuhan.

Gusti Allah. Mungkin kau bisa menolong memberi tahu siapa Tuhan atau Gusti Allah itu adanya. Di mana aku harus mencariNya?"

"Nek, kalau gurumu benar berkata begitu berarti dia dan kau sudah mendapatkan satu rahmat yang luar biasa besarnya. Kau tak usah mencari jauh-jauh.

Karena Gusti Allah itu sebenarnya sangat dekat dengan diri manusia. Sedekat darah yang mengalir di dalam tubuh kita. Tuhan ada dalam diri kita, tergantung kadar iman yang ada di lubuk hati senubari kita...."

"Hai! Apa katamu Wiro? Gusti Allah ada dalam diriku? Aku tidak mengerti.... Iman, apa pula itu?" Nenek muka kuning kerenyitkan kening.

"Nanti Nek, satu saat kau pasti akan mengerti...."

"Setahuku dalam diriku hanya ada butt prett! Kentut celaka itu!

Kalau tidak kau yang menolong pasti sampai saat ini aku masih digerayangi penyakit itu!" Walau matanya masih berkaca-kaca tapi si nenek masih bisa tertawa cekikikan. Wiro ikut tertawa gelak-gelak, "Wiro, melihat air telaga yang jernih dan sejuk itu, timbul keinginanku untuk mandi...."

"Aku maklum saja Nek. Pasti sudah belasan hari kau tak pernah mandi..." kata Wiro pula.

"Jangan kau bicara tak karuan. Aku lebih sering mandi dari padamu! Makanya kepalamu banyak kutu. Buktinya kulihat kau sebentarsebentar suka menggaruk. Hik... hik... hik! Dengar Wiro, aku mandi sekali ini selain ingin membersihkan diri juga punya satu maksud...."

"Maksud lain itu kau sengaja mau memberi kesempatan padaku untuk dapat melihatmu berbugil-bugil? Sama saja aku seperti kelilipan semut rangrang! Haha... ha! Tak usahlah ya Nek!"

"Jangan kau bicara kurang ajar! Kau menganggap aku ini apa! Aku mau mandi membersihkan diri, menanggalkan semua lapisan kuning yang melekat di muka dan sekujur tubuhku. Kalau aku bertemu dengan Lasedayu dan aku masih dalam keadaan seperti ini, mana dia bisa mengenali diriku kalau aku adalah Luhpingitan. Istrinya yang terpisah sejak puluhan tahun silam...."

"Maksudmu memang bagus Nek. Tap! justru aku ingin kau bertemu dulu dengan dia sesuai bagaimana hatinya terhadapmu. Bukankah kau bilang mendengar dia berkata ingin mengawinimu?"

Luhpingitan menggaruk keningnya berulang kali. "Aku setuju. Baik, aku akan ikut apa yang kau katakan. Sekarang kemana kita harus mencari Lasedayu?"

"Kita harus mencari kemana-mana Nek. Menanyakan pada setiap orang yang kita temui. Sebaiknya kita pergi sekarang saja...."

Luhpingitan mengangguk. Ketika dia hendak bergerak, langkahnya tertahan.'Tunggu dulu, Wiro. Masih ada pesan guruku yang lain yang harus aku lakukan. Datuk mengatakan agar aku mengajarkan semua ilmu kepandaianku padamu...."

"Lupakan hal itu Nek. Bukankah aku sudah mendapatkan llmu Empat Penjuru Angin Menebar Suara dari gurumu? Itu sudah lebih dari cukup...."

"Tidak bisa. Aku harus mengikuti perintahnya. llmu yang dari dia ya dari dia. Yang dari aku ya dari aku!" kata Luhpingitan alias Hantu Selaksa Angin. Agar Wiro tidak bergerak dia sengaja cekal tangan pemuda itu.

"Dengar, aku punya beberapa ilmu kepandaian. Pertama llmu Menahan Darah Memindah Jazad.

Kau sudah pernah menyaksikan kehebatannya. Dengan ilmu itu kau bisa memindahkan lalu mengembalikan kemana saja setiap bagian tubuh orang yang jahat terhadapmu...."

"Itu ilmu hebat luar biasa Nek. Tapi aku ngeri!" kata Wiro lalu memperagakan dirinya seperti orang menggigil ketakutan. "Aku tidak berminat memilikinya. Lagi pula bukankah sudah kukatakan kau tak perlu memberikan ilmu apapun padaku?"

"Kalau kau tak suka ilmu itu aku masih punya ilmu pukulan, disebut Tombak Kuning Pengantar Mayat" Habis berkata begitu Luhpingitan kebutkan lengan jubah sebelah kanannya.

"Wuuttt!"

Selarik sinar kuning membentuk tombak melesat keluar dari balik lengan jubah lalu menembus sebuah batu besar tiga tombak di depan sana.

"Byaarrr!"

Batu besar itu serta merta hancur berkeping-keping. Setiap kepingan yang seharusnya berwarna kelabu kehitaman berubah menjadi kuning gelap!

"Bagaimana?! Kau mau ilmu itu?!" tanya si nenek.

Wiro tersenyum sambil garuk-garuk kepalanya.

"Wahai, rupanya kau mau ilmu yang satu ini. Bersiaplah..." kata Luhpingitan mengira Wiro menyukai Ilmu Kuning Pengantar Mayat yang barusan diperagakannya itu. Tapi dia jadi terkejut ketika mendengar sang pendekar berkata.

"Nek, kau baik sekali. Tapi maafkan diriku. Aku tidak mau menjadi Pengantar Mayat. Aku sudah bilang aku tidak berani menerima ilmu apapun darimu."

Luhpingitan langsung garuk-garuk kepalanya yang berambut kuning. "Sialan, kini aku yang jadi garuk-garuk kepala sepertimu. Aku tidak yakin kau tidak mau ilmu kesaktian. Tunggu! Bagaimana dengan ilmu pukulan milikku yang disebut Salju Putih Latinggimeru. Ini lebih dahsyat dari Tombak Kuning Pengantar Mayat Selama ini tidak ada musuh yang bisa luput dari pukulan itu!"

Wiro susun sepuluh jarinya dan rapatkan dua tangan di atas kepala. "Nek, aku tidak pernah bertemu orang sebaikmu. Aku mohon maaf Nek. Bukankah lebih baik kita berangkat saja sekarang ini mencari Lasedayu?"

"Hemmm...." Luhpingitan keluarkan suara bergumam. Mulutnya terpencong-pencong. "Ilmu Kepompong ! Kau pasti mau ilmu itu! Tubuhmu bisa berubah menjadi kepompong dan kau...."

"Ampun Nek, yang aku ngeri bagaimana kalau aku tidak bisa merubah diriku kembali jadi manusia! Jadi kepompong terus seumur-umur!"

"Pemuda tolol! Memangnya kau kira aku tidak akan mengajarkan rapalan bagaimana caranya berubah diri jadi kepompong lalu kembali ke ujudmu semula?!"

"Sudah Nek, nanti saja kita bicarakan semua kehebatan ilmumu itu. Yang jelas aku sangat berterima kasih...." Dia memandang ke leher si nenek yang penuh digelantungi kalung lalu ingat pada kalung bermata sendok emas sakti. "Nek...."

"Apa yang ada dalam benakmu?" tanya Luhpingitan.

"Sebenarnya ada sesuatu yang aku ingin minta padamu..."

"Tunggu! Aku Ingat! Kau past! meminta Sendok Pemasung Nasib yang pernah kujanjikan padamu! Janjiku akan kutepati. Kau sudah menyembuhkan penyakit kentutku walau sesekali aku masih kentut-kentut juga! Jangan khawatir! Saat ini juga akan kuberikan padamu sendok itu!"

"Sebentar Nek. Jangan kau menganggap aku memaksa menagih janji. Sebenarnya sendok emas sakti itu akan kuserahkan pada suamimu Lasedayu. Karena hanya dengan sendok itulah dia bisa disembuhkan dan kesaktiannya bisa dikembalikan."

Sepasang mata si nenek yang kuning terbelalak. "Apa katamu, Wiro?" Lalu nenek ini langsung saja hendak mengeluarkan dan menanggatkan kalung sendok emas sakti yang tergantung di lehernya.

Tapi tangannya yang tadi bergerak ke leher mendadak berubah menyambar ke pinggang Pendekar 212. Sekali lagi dia menarik maka sosok Wiro terbetot keras. Keduanya terbanting ke tanah dan bergulingan ke balik serumpunan semak belukar lebat

"Hai Nek! Kau mau berbuat apa?!" tanya Wiro heran dan curiga.

Hantu Selaksa Angin cepat tekap mulut Wiro dengan tangan kirinya seraya berbisik, "Aku mendengar ada suara orang berkelebat ke arah sini..." "Aneh, aku tidak mendengar suara apa-apa..." kata Wiro perlahan. Namun sesaat kemudian telinganya baru menangkap kelebatan seseorang yang bergerak cepat

"Kita lihat saja siapa yang datang!" jawab si nenek. Matanya yang kuning memandang ke arah kiri. Wiro ikuti pandangan nenek ini. Dadanya berdebar keras ketika melihat siapa yang muncul.2Yang muncul ternyata adalah seorang dara berpakaian serba biru.

Walau wajahnya agak pucat dan sepasang matanya yang bagus tampak kemerahan namun tidak dapat menutupi kecantikan wajahnya.

Hantu Selaksa Angin melirik ke arah Wiro lalu berbisik. "Bukankah itu gadis yang bernama Luhcinta? Gadis tercantik di seluruh Negeri Latanahsilam?"

Wiro anggukkan kepala sambil terus memperhatikan. Di tepi telaga Luhcinta berdiri tak bergerak. Hanya dua bola matanya saja yang berputar memperhatikan kian kemari. Lalu gadis ini menarik nafas panjang dan duduk di atas satu batu besar. Di langit cahaya sang surya mulai redup karena sebentar lagi akan menggelincir masuk ke ufuk tenggelamnya.

Hantu Selaksa Angin memegang lengan Wiro lalu kembali berbisik.

"Menurut kabar yang aku sirap, kau adalah satu-satunya pemuda yang dicintai gadis bernama Luhcinta itu."

Air muka murid Sinto Gendeng jadi berubah. Dia tersenyum sambil garuk-garuk kepala.

"Kabar seperti itu mana bisa dipercaya Nek,..."

"Kalau begrtu harus kau tanyakan sendiri padanya!" ujar si nenek pula.

"Enak saja kau Nek. Jangan berani berbuat macam-macam...."

"Kau pemuda pengecut atau tolol! Biar aku yang bertanya padanya lalu sekaligus mengatakan bahwa kau sendiri juga mencintainya!"

"Nenek gila!" Wiro cekal erat-erat lengan Luhpingitan.

"Hemmm, jadi kau tidak mencintainya? Jangan kau berani dusta anak muda! Aku melihat dari air muka serta pancaran matamu! Kau mencintar gadis itu!"

"Dengar Nek, sebagai lelaki waras aku memang tertarik pada Luhcinta. Tapi bukan aku saja. Kurasa semua pemuda di Negeri Latanahsilam menyukai gadis itu. Tapi...."

"Tapi yang dicintainya cuma kau seorang! Apa kau mau berkilah...."

"Soal dia mencintaiku mana tahu Nek...."

"Kau tolol atau pura-pura dungu? Hik... hik... hik! Saat ini aku tahu bagaimana perasaanmu. Kau hendak keluar dari balik semak belukar ini, ingin menemui gadis itu! Aku dapat membaca isi hatimu di mukamu yang toiol! Hik... hik... hik!"

Di atas batu Luhcinta masih tampak duduk sambii pandangi air telaga yang kini seolah disepuh kuning akibat siraman cahaya sang surya yang hendak teng-gelam. Tiba-tiba gadis itu melangkah ke sederetan batubatu setinggi pinggang di arah timur tepian telaga. Di sini dia memandang ke langit, lalu memperhatikan berkeliling. Merasa yakin tidak ada orang lain di tempat itu maka perlahan-lahan dia mulai membuka pakaian birunya.

Dua bola mata Pendekar 212 membesar menyaksikan pemandangan yang tidak terduga itu. Tapi mendadak ada dua telapak tangan menekap matanya. Lalu terdengar suara si nenek muka kuning.

"Dasar pemuda mata gatal! Tadi kau bilang tidak sudi melihat aku berbugil-bugil! Karena aku sudah tua bangka, tubuhku peot jelek dan keriputan! Tapi sekarang ada gadis yang mau mandi telanjang matamu seperti mau melompat keluar!"

"Nek, aku.... Bukan maksudku mau memperhatikan. Tapi semua terjadi begitu mendadak.... Kalau melihat sepintas kurasa tidak apa-apa Nek. Itu namanya rejeki kebetulan. Tapi kalau dipandang atau sengaja mengintip terus-terusan itu baru dosa!"

"Enaksaja kau bicara! Saat ini aku merasa sekujur tubuhmu sudah pada kencang!" kata si nenek.

"Nek, aku.... Lepaskan tanganmu. Aku berjanji tidak akan memandang ke arah telaga. Aku...." Wiro pegangi dua tangan si nenek.

Lalu dia merasa bagaimana dua tangan itu menekannya ke bawah hingga dia jatuh berlutut Lalu sekali lagi dua tangan si nenek bergerak, sosok Wiro terpuntir membelakangi telaga dan terduduk jatuh menjelepok di tanah.

"Kalau kau berani memandang lagi ke arah telaga, kujitak kepalamu sampai benjol!" Setelah mengancam begitu baru Luhpingitan lepaskan kedua tangannya yangmenekap menutupi mata pendekar 212.

Wiro tertawa-tawa sambil garuk-garuk kepala. Dari telaga didengarnya suara orang mencebur masuk ke dalam air Di sampingnya si nenek tegak memperhati-kan Luhcinta berenang di tepi telaga di sela-sela batu dan sesekali tubuhnya menyelam lenyap di bawah permukaan air.

Selagi Luhcinta menyelam untuk kesekian kalinya, tiba-tiba dari balik satu pohon besar berkelebat satu bayangan hitam. Dua kali melompat orang ini sampai dekat batu di atas mana Luhcinta meletakkan pakaian serta perbekalannya. Orang tak dikenal tersebut memeriksa pakaian Luhcinta seperti mencari-cari sesuatu.

Dari permukaan air muncul kepala dan sosok setengah badan Luhcinta. Orang yang ada dekat batu tampak kaget, memandang terpana lalu cepat bergerak membungkuk ke balik sebuah batu.

"Kurang ajar! Ada yang datang! Berani dia mengintip anak gadis orang sedang mandi!"

"Nek, ada apa? Apa yang terjadi?!" tanya Wiro.

"Diam kau! Jangan berani membalik!" Membentak si nenek. Lalu sambil melesat keluar dari balik semak belukar lebal Luhpingitan berteriak.

"Makhluk kurang ajar! Berani kau mengintai perempuan mandi!"

"Nek!" Wiro garuk kepalanya. "Siapa yang mengintai?!" Tapi si nenek sudah tak ada lagi di sampingnya.

Perlahan-lahan Wiro putar kepalanya.

Sosok hitam di tepi telaga tersentak kaget Orang ini cepat memutar tubuh hendak melarikan diri. Tapi Hantu Selaksa Angin sudah menghadangnya dan langsung hantamkan tangan kanannya.

Orang yang diserang dalam kagetnya masih bisa angkat tangan menangkis pukulan ganas Hantu Selaksa Angin.

"Bukkk!"

Dua tangan beradu keras di udara. Orang berpakaian serba hitam keluarkan seruan tertahan dan terpental sampai dua tombak. Sebaliknya si nenek terjajar tiga langkah dan mengeluh kesakitan lalu merutuk tak karuan.

Di dalam air Luhcinta terpekik ketika mengetahui ada orang lain di tepi telaga, dekat sekali di tempatnya mandi. Lalu ada suara perempuan membentak dan memaki disusul suara gebrakan orang berkelahi. Gadis ini jadi bingung. Dia bergerak ke tepi telaga ke arah batu dimana pakaiannya berada. Tapi si nenek cepat berteriak.

"Luhcinta! Jangan keluar dari dalam air! Ada lelaki kurang ajar di tempat ini! Dia mengintip kau mandi! Biar kuberi pelajaran! Akan kukorek dua biji matanya!" Mendengar peringatan Hantu Selaksa Angin itu tentu saja Luhcinta tidak berani keluar dari dalam telaga Ingin sekali dia ikut menggebuk lelaki kurang ajar itu. Tapi dalam keadaan seperti itu mana mungkin dia melakukan. Seperti yang diberi tahu si nenek, mau tak mau dia terpaksa mendekam bertahan di dalam air.

"Tunggu! Tahan seranganmu!" berseru orang berjubah hitam yang kembali hendak diserang oleh Hantu Selaksa Angin. Kali ini tidak tanggung-tanggung si nenek akan menghantam dengan Pukulan Tombak Kuning Pengantar Mayat" Aku tidak bermaksud jahat! Aku sama sekali tidak mengintip gadis itu. Aku...."

"Makhluk jahanam! Kau sudah tertangkap basah! Masih mau berkilah!" Amarah Hantu Selaksa Angin tidak tertahankan lagi. Untuk kedua kalinya nenek ini menyerbu. Kali ini dia siap melepaskan pukulan mautnya yang bernama Salju Putih Latinggimeru. Dua tangan mengepal, diangkat setinggi dada lalu didorong sambil sepuluh jari membuka. Bau seharum setanggi dibakar menghampar menusuk penciuman. Udara mendadak menjadi dingin.

"Pukulan Salju Putih Latinggimeru" seru orang yang hendak diserang kaget luar biasa. Dia tidak menyangka si nenek akan keluarkan ilmu yang sangat dahsyat itu pertanda dirinya memang hendak dibikin lumat!

Sebaliknya Hantu Selaksa Angin juga terkejut ketika belum lagi dia melepas pukulan maut orang berjubah hitam ternyata sudah mengetahui ilmu kesaktiannya itu. Untuk sekejapan gerakan dua tangannya hendak menghantam jadi tertahan. Walau sesaat namun kesempatan ini dipergunakan oleh orang berjubah hitam untuk dorongkan dua tangannya kedepan. Dua larik gelombang angin menderu. Sosok nenek muka kuning terhuyung-huyung. Sambil imbangi diri dan kuatkan kuda-kuda kakinya Hantu Selaksa Angin pukulkan dua tangannya. Sepuluh kuku si nenek pancarkan sinar kuning, menderu menggidikkan ke arah lawan. Namun orang berjubah hitam dengan kecepatan luar biasa masih sempat berkelebat selamatkan diri. Sepuluh larik sinar kuning melabrak deretan batu-batu besar di tepi telaga. Akibatnya batu-batu itu hancur berantakan, bertabur di udara yang dingin dan berbau setanggi!

"Kurang ajar! Siapa adanya jahanam itu! Aku rasa-rasa bisa menduga! Hanya sedikit orang yang tahu ilmu pukulan yang hendak kulepaskan. Sayang udara telah gelap. Aku tidak dapat melihat jelas wajahnya! Ada keanehan pada muka orang itu. Jangan-jangan...." Hantu Selaksa Angin lalu ingat pada Luhcinta. Dia segera melompat mendekati batu di atas mana terletak pakaian si gadis. Pakaian biru itu dilemparkannya ke dalam telaga.

"Gadis, lekas kau kenakan pakaianmu!"

Luhcinta cepat menangkap pakaiannya. Tak perduli berbasahbasah, dia kenakan pakaian lalu naik ke tepi telaga. Begitu berhadaphadapan, Luhcinta tidak menyangka kalau yang menolongnya itu adalah nenek muka kuning yang dikenalnya dengan julukan Hantu Selaksa Kentut "Hantu Selaksa Kentut... Aku tidak mengira. Aku sangat berterima kasih padamu. Kalau kau tidak muncul tentu lelaki jahanam itu telah berbuat jauh lebih keji.... Kau tahu siapa orangnya Nek?"

Sementara itu di balik semak belukar Pendekar 212 Wiro Sableng masih duduk menjelepok di tanah. Waktu tadi ditinggal si nenek dia ingin segera bangkit berdiri. Namun takut didamprat terpaksa dia menunggu.

Lalu terdengar suara orang berkelahi. Ketika mendengar si nenek menyuruh Luhcinta mengenakan pakaian, murid Sinto Gendeng ini tidak tahan lagi. Setelah menunggu sesaat akhirnya dia bangkit berdiri dan lari ke tepi telaga. Justru saat itu Luhcinta baru saja menanyakan siapa adanya orang yang telah berlaku keji mengintipnya mandi. Melihat kemunculan Wiro terjadilah salah sangka. Luhcinta mengira sang pendekarlah yang telah mengintipnya saat mandi di telaga. Pertemuan yang tidak diduga dan dalam suasana seperti itu membuat Luhcinta menjadi pucat. Suaranya bergetar.

"Kau.... Kau ternyata yang berlaku keji mengintip diriku. Rupanya benar apa yang selama ini tersiar di luaran. Kau pemuda hidung belang.

Bahkan setelah kawinpun kau masih melakukan perbuatan tidak terpuji.

Apa kau tidak mendapat kepuasan dari istrimu hingga masih mau mengintip perempuan mandi...?"

Tadinya Wiro memang merasa bersalah karena secara tidak sengaja dia sempat melihat sosok Luhcinta sewaktu menanggalkan pakaian. Setelah ditegur Hantu Selaksa Angin dia tidak meneruskan perbuatannya itu. Namun yang mengejutkan dan membuat wajah Wiro ikutikutan pucat adalah ucapan Luhcinta. "Bagaimana dia tahu aku sudah kawin...?" Wiro bertanya sendiri dalam hati dan mendadak dadanya terasa sesak.

"Luhcinta, maafkan aku. Aku tidak sengaja...."

"Bagaimana mungkin ada orang mengintip secara tidak sengaja?!

Perbuatanmu sungguh keji memalukan...."

"Aku...." Wiro tak bisa meneruskan ucapannya.

Saat itu nenek muka kuning segera menengahi.

"Luhcinta, yang tadi mengintip kau mandi bukan dia. Tapi orang lain...."

Luhcinta jadi terkejut mendengar keterangan si nenek. Hingga matanya terbelalak berganti-ganti memandang Wiro dan Hantu Selaksa Angin.

"Orang yang berbuat keji itu sudah kabur...." Hantu Selaksa Angin menambah keterangannya.

"Kau, kau sempat mengenali siapa adanya lelaki terkutuk itu, Nek?" tanya Luhcinta lalu memandang pada Wiro dengan air muka seperti menunjukkan penyesalan padahal hatinya masih perih karena mengetahui Wiro telah menikah dengan seorang gadis yang bernama Luhrembulan.

(Baca Episode sebelumnya berjudul Rahasia Perkawinan Wiro)

"Keadaan di tempat ini agak gelap. Aku tidak bisa melihat jelas wajah orang itu. Dia mengenakan jubah hitam dan mukanya juga hitam pekat... Aku menduga, jangan-jangan bukankah dia orang yang selama ini dikenal dengan julukan Si Penolong Budiman?"

Terkejutlah Luhcinta dan juga Wiro mendengar ucapan si nenek.

"Selama ini dia memang selalu mengikuti diriku," kata Luhcinta pula. "Walau aku curiga padanya tapi sebegitu jauh dia tidak pernah melakukan hal-hal yang tidak baik. Tahu-tahu kali ini, tidak terduga dia melakukan perbuatan keji itu! Aku akan mencarinya sampai dapat Kalau belum kuhajar habis-habisan belum puas hatiku..." kata Luhcinta. Dia meraba-raba pakaiannya. Lalu berpaling ke arah batu besar tempat tadi dia meletakkan pakaiannya. Di situ terletak sehelai kantong kain miliknya.

Luhcinta segera mengambil kantong itu dan memeriksa isinya. Dia mencari-cari, membalikkan kantong kain itu berulang kali, meraba kian kemari. Pucatlah wajah gadis ini untuk kesekian kalinya.

"Ada sesuatu barangmu yang hilang Luhcinta?" tanya Hantu Selaksa Angin.

Yang ditanya menjawab dengan anggukan. Wiro ingin menanyakan benda apa yang hilang tapi tak sanggup keluarkan ucapan. Akhirnya si nenek yang bertanya.

"Barang apa Luhcinta?" "Sebuah ukiran bunga mawar. Terbuat dan batu berwarna merah. Bagiku benda itu sangat berharga sekali. Kuanggap seperti nyawa sendiri...."

"Tadi aku sempat melihat Si Penolong Budiman memeriksa pakaian dan barang-barangmu yang ada di atas batu..." kata Hantu Selaksa Angin pula.

"Kalau begitu jelas dia yang mencuri mawar dari batu merah itu!" kata Wiro. "Biar aku mengejarnya sekarang juga!"

"Perlu apa menyusahkan diri? Bukankah lebih baik bagimu menemani istri sendiri...?" Wajah Pendekar 212 kembali memucat Nenek muka kuning kerenyitkan wajahnya. "Luhcinta, kau ini bicara apa? Apa maksudmu dengan semua ucapan itu. Memangnya pemuda ini sudah kawin? Kawin dengan siapa...? Kawin di Negeri Latanahsilam ini?"

"Tanyakan sendiri padanya!" sahut Luhcinta lalu membuang muka, memandang ke arah telaga.

"Butt prett!"

"Gila! Kentutku sampai terpancar mendengar semua pembicaraan kalian! Wiro, aku tak pernah tahu. Memangnya benar kau sudah kawin?

Dengan siapa?"

"Nek... aku...." Wiro menggaruk kepalanya. "Aku tak bisa menjelaskan...."

"Aku tidak suka orang berdusta! Antara kita saat ini sudah terjalin hubungan sangat erat Wiro. Ingat hal itu baik-baik. Aku tidak perduli kau sudah kawin dan dengan siapa. Aku hanya ingin tahu apa yang dikatakan gadis ini benar?"

"Benar dan tidak Nek," jawab Wiro.

"Wahai! Sialan amat jawabanmu!"

"Memang sialan Nek. Aku mengalami nasib sial yang aku tidak tahu mengapa jadi bisa begitu! Terserah orang mau mengatakan apa.

Yang jelas semua terjadi diluar kemauanku...."

"Tidak bisa kumengerti. Mana ada pemuda kawin diluar kemauannya. Kalau gadis masih mungkin karena dipaksa...."

"Saat ini aku tak bisa menerangkan padamu. Ceritanya panjang.

Aku kira lebih baik kita tinggalkan tempat ini...."

‘Tidak! Kau harus memberi tahu lebih dulu!" jawab Hantu Selaksa Angin.

"Nanti akan kuceritakan padamu. Aku berjanji!" "Baik, aku menurut.

Kau menceritakan nanti. Tapi saat ini aku ingin tahu dulu, benar kau sudah kawin Wiro?"

"Kawin tidak syah! apa itu bisa dinamakan kawin?!" menukas Pendekar 212.

"Aku jadi tidak mengerti. Kawin tidak syah bagaimana?!"

"Nek, kalau kau keliwat menekan aku terpaksa meninggalkan kau!

Aku tidak akan menemanimu mencari Lasedayu!"

Diancam seperti itu Hantu Selaksa Angin alias Luhpingitan jadi khawatir. Nenek ini segera berkata pada Luhcinta. "Maafkan aku wahai kerabat muda dan cantik. Aku tidak dapat memaksa pemuda ini. Aku terpaksa menanti sampai dia mau menceritakan. Kalau aku sudah tahu dan kita bisa bertemu, pasti akan kujelaskan padamu...."

"Aku tidak perlu segala cerita dan penjelasan Nek. Aku melihat sendiri upacara peresmian pernikahannya di Bukit Batu Kawin!" jawab Luhcinta.

Kagetlah si nenek muka kuning. Wiro tak kalah kejutnya. Sebelum pembicaraan jadi bertambah panjang murid Sinto Gendeng ini segera berkelebat tinggalkan tempat itu. Melihat Wiro pergi Luhpingitan jadi bingung sendiri. Dia harus mengambil keputusan.

"Luhcinta," si nenek akhirnya berkata. "Aku terpaksa meninggalkan kau. Aku ada urusan sangat penting dengan pemuda itu...."

"Dia bukan pemuda lagi Nek. Dia sudah kawin!" tukas Luhcinta.

"Ya... ya...!" Hantu Selaksa Angin garuk-garuk kepalanya. "Gila!

Aku sudah ketularan penyakit si Wiro itu! sebentar-sebentar garuk kepala"

Dalam bingungnya akhirnya Luhpingitan berkelebat pula ke arah lenyapnya Pendekar 212.3Sosok berjubah hitam Itu berkelebat sebat laksana bayangan setan. Sesekali tubuhnya lenyap di balik deretan pepohonan atau semak belukar. Di satu tempat dia membelok ke kiri dan akhirnya masuk ke dalam sebuah goa. Dia langsung jatuhkan diri, duduk di lantai, bersandar ke dinding goa dengan nafas mengengah-engah.

"Untuk sementara aku aman berada di sini. Goa ini pernah didiami gadis itu dan Luhsantini. Dia pasti tidak akan mencariku sampai ke sini...."

Orang berjubah hitam berucap di antara engahan nafasnya. Dari mukanya yang hitam oleh lapisan tanah liat mudah diterka bahwa orang ini bukan lain adalah Si Penolong Budiman yang sejak beberapa waktu belakangan ini telah menggemparkan Negeri Latanahsilam dengan ilmu kesaktiannya yang disebut Pukulan Menebar Budi.

Sejak tadi tangan kanan Si Penolong Budiman berada dalam saku jubah hitamnya, memegang erat sebuah benda yang telah diambilnya dari kantong perbekalan milik Luhcinta.

Dengan tangan gemetar dia keluarkan benda itu. Saat itu di luar malam sudah turun. Di dalam goa cukup gelap. Dia tak dapat melihat jelas benda yang dikeluarkannya dari dalam saku jubah.

"Aku harus menyalakan api.... Aku harus meneliti benda ini. Untuk memastikan bahwa ini benar-benar benda yang pernah dimiliki.... Wahai para Dewa, tunjukkan aku kebesaranmu. Perlihatkan bukti dan kenyataan bahwa memang inilah adanya benda itu...."

Dari sisa-sisa kayu api yang ditinggalkan Luhcinta dan Luhsantini dan masih bertebaran di dekat mulut goa, Si Penolong Budiman membuat api unggun. Begitu goa menjadi terang benderang dia kembali keluarkan benda di dalam sakunya. Agar lebih jelas benda itu didekatkannya ke api.

Sepasang mata Si Penolong Budiman membeliak besar, memandang lekat tak berkesip. Dadanya berguncang keras.

"Asli.... Aku yakin. Ini benar-benar batu merah berbentuk ukiran bunga mawar. Benda yang pernah menjadi hiasan rambutnya...." Si Penolong Budiman cium dalam-dalam batu merah berbentuk bunga mawar itu sambil pejamkan matanya. "Aku seperti merasakan harumnya bau rambutnya.... Para Dewa besar man berkah dan petunjukmu. Hiasan ini adalah milik mendiang. Berarti gadis bernama Luhcinta ini.... Apa-kah dia...? bagaimana benda ini bisa berada di tangannya kalau dia tidak mempunyai hubungan tertentu dengan mendiang...? Wahai orang yang ada di alam roh. Kuharap kau bisa bersabar hati dan bertenang diri sampai aku mampu menyingkap semua rahasia kehidupan ini."

Ketika Si Penolong Budiman membuka dua matanya kembali, kelihatan mata itu berkaca-kaca. Sambil mendekap ukiran bunga mawar yang terbuatdari batu merah ke dadanya, hatinya berkata. "Aku harus kembali ke telaga. Menemui gadis itu. Tapi apakah ini saatnya yang tepat?

Dia telah mempunyai kesan yang tidak baik terhadapku. Si nenek muka kuning pasti sudah member! tahu ciri-ciriku pada gadis itu.... Sulit bagiku mengelakkan tuduhan. Kecuali jika dia mau mendengar dan menerima semua penjelasanku.... Demi masa silamku! Demi masa depan gadis itu, aku harus pergi menemuinya. Apapun yang terjadi! Bertahun-tahun aku berusaha keras untuk menyingkap tabir gelap kehidupan ini. Sekarang setelah hampir tersibak masakan aku harus tercampak dalam kebimbangan...?!"

Perlahan-lahan Si Penolong Budiman bangkt berdiri. Belum sempat dia melangkah ke pintu goa tiba-tiba menggelegar suara bentakan.

"Orang di dalam goa! Lekas keluar! Kembalikan benda yang kau curi dariku! Atau kau akan kukubur hidup-hidup di dalam goa itu!"

Si Penolong Budiman tersentak kaget Kejutnya bukan alang kepalang. Dia mengenali suara itu.

"Luhcinta," desisnya.... Bagaimana dia tahu aku berada di dalam goa ini! Celaka! Tapi mungkin ini satu jalan pintas yang lebih baik.... Namun aku harus mengambil sikap waspada hati-hati. Dalam keadaan seperti ini dimana dia penuh salah sangka terhadapku bukan mustahil dia langsung menghantam begitu melihatku!"

Dengan kakinya Si Penolong Budiman matikan nyala api unggun di mulut goa. Begitu keadaan gelap dengan cepat dia melesat keluar. Di luar goa dia langsung berhadapan dengan Luhcinta. Dan ternyata gadis ini tidak sendirian. Satu langkah dibelakangnya berjejer tiga sosok. Walaupun gelap namun Si Penolong Budiman masih mengenali. Tiga orang dibelakang Luhcinta adalah bocah yang dikenalnya dengan nama Naga Kuning, lalu kakek berjuluk Si Setan Ngompol. Yang ke tiga adalah banci, berkepandaian tinggi yang biasa dipanggil dengan sebutan Betina Bercula!

Bagaimana Luhcinta bisa muncul bersama ketiga orang itu? Mari kita ikuti apa yang terjadi beberapa waktu sebelumnya.*

**BEBERAPA lama setelah Wiro dan Hantu Selaksa Angin meninggalkannya, Luhcinta masih tertegak di tepi telaga sementara hari mulai gelap karena keremangan senja telah digantikan kepekatan malam.

Dalam bingungnya dia tidak tahu mau melakukan apa. Mengejar Si Penolong Budiman yang telah mencuri barang berharga miliknya. Atau mengejar Wiro dan Hantu Selaksa Angin. Ketika akhirnya dia memutuskan untuk mengejar Si Penolong Budiman tiba-tiba kesunyian di tempat itu dirobek oleh suara bergemuruh seolah seantero tempat dihantam badai.

Lalu terdengar teriakan beberapa orang. Belum hilang kagetnya si gadis tiba-tiba tiga sosok mencelat dari dalam kegelapan dan jatuh terbanting di hadapannya. Orang biasa pasti tak akan mampu bergerak untuk beberapa lamanya. Paling tidak ada bagian tubuhnya yang cidera atau ada tulangnya yang patah. Namun ke tiga orang yang berkaparan di tanah itu walau kelihatan babak belur dengan cepat melompat bangkit, memasang kudakuda, sama-sama menghadap ke arah kegelapan.

"Kalian bertiga, apa yang terjadi?" tanya Luhcinta. Belum sempat ada yang menjawab tiba-tiba satu bayangan putih berkelebat Orang ini ternyata adalah Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab!

Seperti dituturkan sebelumnya dalam Episode "Hantu Selaksa Angin"

Lawungu dan Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab tidak mampu menghadapi Pendekar 212 Wiro Sableng yang dibantu oleh Sang Junjungan. Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab untuk kesekian kalinya terpaksa meninggalkan arena pertempuran membawa Lawungu yang cidera berat akibat secara tidak sengaja terkena hantaman ilmu Membuhul Urat Mengikat Otot yang dilepaskan Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab.

Dalam perjalanan menyelamatkan sahabatnya itu, tidak sengaja Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab melihat tiga sekawan Naga Kuning, Si Setan Ngompol dan Betina Bercula.

"Tiga jahanam itu!" rutuk Lawungu. "Mereka telah berbuat kurang ajar pada kita! Terutama kakek berjuluk Setan Ngompol itu! Dia mengencingi mulutku! Demi Dewa dan semua roh yang tergantung antara, langit dan bumi kita harus membalaskan sakit hati Aku sudah bersumpah untuk membunuh ketiganya!

"Sumpahmu adalah sumpahku juga Lawungu. Tapi saat ini aku merasa lebih berkewajiban menyelamatkan dirimu...."

"Keadaanku sudah jauh lebih baik dari kemarin. Carikan aku tempat yang baik dan aman. Tinggalkan aku di sana. Kau harus mengejar mereka. Bunuh tiga makhluk celaka itu!"

"Aku akan penuhi permintaanmu Lawungu. Karena dendammu adalah dendamku juga!" kata Hantu

Sejuta Tanya Sejuta Jawab.

"Aku titip pukulan maut Badai Lima Penjuru padamu. Aku ingin kau membunuh mereka dengan ilmu ini!" kata Lawungu. Lalu kakek ini lekatkan telapak tangan kanannya ke telapak tangan kanan Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab. Bersamaan dengan itu dia kerahkan tenaga dalam. Dua tangan yang sating berlekatan itu memancarkan cahaya terang kebiruan, Dengan kesaktiannya Lawungu memindahkan ilmu Badai Lima Penjuru pada Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab!

Di satu kaki bukit kecil dekat sebuah mata air Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab tinggalkan sahabatnya lalu mengejar Naga Kuning, Setan Ngompol dan Betina Bercula. (Mengenai riwayat dendam kesumat Lawungu dan Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab terhadap Naga Kuning, Setan Ngompol dan Betina Bercula harap baca Episode berjudul Badai Fitnah Latanahsilam)

Saat itu Naga Kuning, Setan Ngompol dan Betina Bercula baru saja berpisah dengan Lakasipo dan Luhrinjani setelah terjadi bentrokan dengan Peri Angsa Putih (baca Episode berjudul Rahasia Perkawinan Wiro) Mereka berusaha mencari Wiro karena Peri Angsa Putih telah melancarkan tuduhan bahwa Pendekar 212 Wiro Sableng telah melakukan perbuatan mesum dengan Peri Bunda yang menyebabkan Peri itu kini menjadi hamil!

Karena ketiganya berjalan sambil mengobrol dan sesekali tertawa haha-hihi, tidak terlalu sulit bagi Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab mengejar mereka.

Begitu berhadapan dengan ketiga orang itu,tanpa banyak bicara si kakek langsung menghantam dengan serangan "Badai Lima Penjuru" yaitu pukulan sakti yang dititipkan Lawungu di tangan kanannya Lima gelombang angin mengeluarkan suara menggemuruh laksana badai menerpa ke arah Naga Kuning, Setan Ngompol dan Betina Bercula. Karena diserang mendadak begitu rupa ketiga orang itu berseru kagetdan masing-masing selamatkan diri jungkir balik.

Setan Ngompol merasa pinggangnya seperti patah akibat diserempet pukulan yang dilepaskan Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab.

Terbungkuk-bungkuk kakek ini kucurkan air kencing. Si Betina Bercula tertelentang di tanah sambil pegangi perutnya.

"Jebol ususku! Hancur perutku!" katanya lalu berguling di tanah.

Sambil menahan sakit dia berusaha bangkit berdiri. Di antara ketiga orang yang d.hantam serangan mendadak itu Naga Kuning yang paling parah.

Bahu kanannya serasa tanggal. Dia tak mampu menggerakkan tangan.

Ketika pakaiannya sengaja dirobeknya terlihat daging bahunya memar merah seperti dipanggang!

"Kakek jahanam! Kau tidak habis-habisnya mencelakai kami!" teriak Naga Kuning. Bocah ini bangkit termiring-miring sambil bersandar ke sebatang pohon.

"Anak kurang ajar! Kau yang akan kubunuh lebih dulu! Aku tidak perduli siapapun kau adanya!"

"Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab!" tiba-tiba Luhcinta menegur.

"Kau adalah tokoh yang dituakan, tempat semua bertanya dan meminta pertolongan. Mengapa kau menyerang orang-orang ini secara ganas.

Pertanda jeias kau ingin membunuh mereka!"

"Kau tidak tahu siapa mereka! Kau tidak tahu apa yang telah mereka lakukan terhadapku! Jadi harap kau jangan campuri urusan kami!" bentak Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab.

"Wahai, apakah tidak ada lagi kasih di Negeri Latanahsilam ini?

Hingga sesama makhluk hanya menginginkan kematian?!"

Seperti diketahui sebenarya baik Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab maupun Lawungu sama-sama merasa jerih terhadap bocah ini.

Namun saat itu karena dia telah berhasil menghantam lebih dulu, si kakek merasa dia akan sanggup menghabisi Naga Kuning. Maka sambil tertawa mengekeh dia angkat tangan kanannya, siap melancarkan pukulan Badai Lima Penjuru untuk kedua kalinya. Pukulan ini diarahkan pada Naga Kuning. Sementara itu tangan kirinya tak tinggai diam. Dia keluarkan ilmu yang disebut Memeluk Bumi Menghantam Matahari. Tangan kirinya itu berubah menjadi panjang, lalu menyambar ke arah Betina Bercula dan Setan Ngompol!

"Celaka! Dia seperti kesetanan!" ujar Naga Kuning.

"Makhluk yang otaknya di luar kepala ini benar-benar inginkan nyawa kita! Aduh kencingku tidak tertahankan!" kata Si Setan Ngompol.

Matanya mendelik ketika melihat tangan kiri Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab tahu-tahu sudah melesat ke bawah perutnya sementara sikunya mencuat mencari sasaran di dada Betina Bercula.

Si Betina Bercula tak tinggai diam. Dia membuat gerakan mundur satu langkah. Begitu sikut si kakek lewat dua tangannya segera menyerbu daiam gerakan yang disebut Pelukan Mesra Pengantar Kematian. Seperti pernah diceritakan ilmu ini konon hanya bisa dimiliki oleh orang-orang yang punya kelainan seperti Si Betina Bercula. Begitu bagian tubuh lawan berada dalam pegangan maka dia akan merangkul erat-erat penuh nafsu hingga dia mencapai puncak gairahnya. Sebaliknya orang yang masuk dalam pelukannya juga akan diselimuti rasa gairah lalu kelemasan sendiri dan roboh dengan tulang-tulang laksana hancur!

Sama seperti Betina Bercula, Si Setan Ngompol juga hadapi serangan lawan dengan jurus Setan Ngompol Mengencingi Pusara.

Tubuhnya melesat ke udara setinggi dua tombak. Dua kakinya dibuka lebar-tebar menebar tendangan. Namun dari selangkangannya bermuncratan air kencing ke arah Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab!

Sementara Luhcinta masih menimbang-nimbang apakah dia perlu turun tangan membantu ketiga orang itu, tiba-tiba terjadilah sesuatu!*

**

4KAKEK sakti yang otaknya ada di luar kepala ini berseru keras. Dia bukan kaget atau takut menghadapi serangan Si Setan Ngompol dan Betina Bercula, namun menjadi pucat sewaktu melihat bagaimana dari balik dada pakaian Naga Kuning saat itu menyembul sosok kuning kepala seekor binatang bermata merah. Bersamaan dengan itu wajah si bocah berubah menjadi wajah seorang kakek berusia lebih dari seratus tahun.

"Naga Hantu Langit Ke Tujuh!" teriak Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab. Walau rasa takut serta merta menjalari tubuhnya namun untuk berbalik dan ambil langkah seribu sudah kepalang tanggung. Maka kakek ini tarik serangan tangan kirinya ke arah Setan Ngompol dan Betina Bercula. Tangan itu kini dipergunakan untuk menggebuk sosok Naga Kuning. Sedang pukulan Badai Lima Penjuru tetap dihantamkannya pada si bocah setelah terlebih dulu melipat gandakan tenaga dalamnya.

Dibarengi suara menggelegar seolah hendak membelah bumi satu sosok menyerupai naga kuning bermata merah yang menyembul keluar dari dada Naga Kuning mendadak berubah besar. Dengan mulut terbuka makhluk aneh ini melesat ke arah Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab. Si kakek berteriak ngeri ketika melihat ada satu mulut raksasa sebesar mulut goa menyambar ke arahnya. Luhcinta tercekat dan keluarkan Seruan tertahan. Betina Bercula terpekik. Setan Ngompol terkencing-kencing ketika melihat sosok ular luar biasa besarnya yang keluar dari dada Naga Kuning menelan kepala lalu tubuh Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab hingga amblas ludas tak bersisa lagi!

Naga Kuning seperti tidak percaya melihat apa yang terjadi. Dia hampir jatuh pingsan ketika menyaksikan bahwa naga besar itu keluar dari dalam tubunnya!. Sekujur tubuhnya menggigil. Tiba-tiba di udara tampak kabut putih berarak turun. Perlahan-lahan kabut itu berubah menjadi bentuk sosok seorang tua berselempang kain putih. Rambut, kumis dan janggut serta alisnya yang serba putih menjulai menyembunyikan wajahnya.

Namun Naga Kuning segera mengenali siapa adanya sosok itu. Anak ini cepat jatuhkan diri, duduk bersimpuh di tanah dan tundukkan tubuhnya ke depan. Mulutnya berucap menyebut satu nama. "Kiai Gede Tapa Pamungkas, terima hormat saya...."

"Naga Kuning, salam hormatmu aku terima." Orang tua berselempang kain putih menjawab salam Naga Kuning. Suaranya halus seolah datang dari kejauhan tetapi cukup jelas terdengar. "Aku muncul bukan untuk menemuimu. Melainkan untuk menemui Naga Hantu Langit Ke Tujuh!"

Naga Kuning kembali merunduk. Makhluk berbentuk naga kuning bermata merah yang masih menggantung di udara keluarkan suara aneh lalu tundukkan kepala di hadapan orang tua berselempang kain putih yang mengapung di udara.

"Naga Hantu Langit Ke Tujuh. Aku berterima kasih kau telah melindungi anak itu sebagaimana menjadi tugas kewajibanmu sepanjang hidupnya. Namun aku tidak ingin kau membunuh kakek berjubah putih itu.

Harap kau segera mengeluarkannya dari perutmu!"

Naga kuning besar kedipkan sepasang matanya yang merah lalu kembali rundukkan kepala dan keluarkan suara lirih panjang. Tiba-tiba makhluk ini buka mulutnya lebar-lebar dan keluarkan suara seperti muntah.

Bersamaan dengan itu melesatlah sosok Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab. Wajah, sekujur tubuh dan seluruh jubah putihnya kini kelihatan berubah kuning dan basah! Kakek ini tergelimpang tak bergerak di tanah tapi urat besar di lehernya kelihatan berdenyut pertanda dia masih bernafas hidup.

"Naga Hantu Langit Ke Tujuh, aku senang kau mematuhi perintahku. Kembali ke tempat asalmu. Aku akan segera meninggalkan tempat ini, kembali ke dasar Telaga Gajahmungkur."

Naga Hantu kedipkan dua matanya lalu merunduk. Setelah itu perlahan-lahan ujudnya mengecil dan masuk lenyap ke dalam dada Naga Kuning! (Mengenai Kiai Gede Tapa Pamungkas harap baca serial Wiro Sableng berjudul Pedang Naga Suci 212 dan Liang Lahat Gajahmungkur)

Setan Ngompol, Betina Bercula dan Luhcinta melompat mendekati Naga Kuning yang saat itu masih tegak terbingung-bingung.

Bocah geblek!" kata Si Setan Ngompol. "Aku tak menyana kalau kau punya ilmu kesaktian yang bisa mengeluarkan naga besar dari dalam tubuhmu. Tapi apa benar itu naga sakti jejadian atau penjelmaan anumu yang bisa berubah menjadi besar...?

"Hik... hik... hik...." Si Betina Bercula tertawa cekikikan. "Kalau benar anu anak ini yang berubah besar, aku jadi ingin memeriksa ke balik celananya!"

Mendengar kata-kata Betina Bercula Naga Kuning langsung menjauh. Karena soal memeriksa bahkan meraba barang tertarang itu sudah merupakan hal biasa bagi Betina Bercula yang memang punya kelainan.

"Naga Kuning, siapa kakek yang tadi datang dan lenyap secara aneh itu?" bertanya Luhcinta.

"Dia... dia Kiai Gede Tapa Pamungkas, seorang sakti bermukim di telaga Gajahmungkur di tanah Jawa. Dia adalah guru dari nenek sakti bernama Sinto Gendeng. Sinto Gendeng ini adalah guru dari sahabat kami Pendekar 212 Wiro Sableng...."

"Luar biasa! Jika dia bisa muncul berrrti dia memiliki kesaktian tinggi sekali hingga mampu menembus perbedaan waktu seribu dua ratus tahun dan muncul di tempat ini...."

"Astaga! Aku tidak memikir sampai ke situ!" kata Naga Kuning pula.

Si Setan Ngompol menyambungi. "Benar, kalau aku ingat tadi-tadi pasti aku minta petunjuk bagaimana caranya bisa kembali ke tanah Jawa "

Luhcinta melirik tajam kearah si kakek, Diam-diam dia merasa bersyukur apa yang diucapkan Si Setan Ngompol itu tidak kejadian.

Setelah sama-sama berdiam diri dalam memandangi sosok Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab yang tergeletak di tanah, Naga Kuning memecah kesunyian dengan bertanya pada Luhcinta.

"Luhcinta, sejak beberapa waktu lalu kami terpisah dari sahabat kami Wiro. Mungkin kau mengetahui dimana dia berada?"

"Sebenarnya aku juga ingin menanyakan pada kalian," jawab Luhcinta.

"Sahabatku, apakah kau sudah mendengar kabar, entah benar entah tidak. Bahwa Wiro menghamili Peri Bunda?"

Wajah Luhcinta tampak menjadi merah mendengar pertanyaan itu.

Gadis ini menggigit-gigit bibimya sendiri menahan gelora perasaan hatinya.

"Aku mendengar banyak hal terjadi belakangan ini. Sulit rasanya mau mempercayai. Kecuali satu hal...."

"Hal apa?" tanya Naga Kuning.

"Sahabatmu itu telah melangsungkan perkawinan!"

Naga Kuning berseru kaget dan ternganga. Si Setan Ngompol langsung tersandar ke pohon dan pancarkan air kencing.

"Wahai, kawan kita ini tentunya bergurau," berkata Betina Bercula.

"Tidak masuk diakal!" kata Naga Kuning.

"Kalau dia kawin, kawin dengan siapa? Kucing atau kodok?"

istrinya bernama Luhrembulan. Aku menyakikan sendiri upacara perkawinannya di Bukit Batu Kawin. Dilakukan oleh nenek juru kawin Lamahila...."

Tapi kami mendengar kabar Lamahila mati dibunuh orang belum lama ini," kata Betina Bercula.

"Benar," jawab Luhcinta. "Tapi dia mati setelah upacara pernikahan itu...."

"Jangan-jangan... apakah ada sangkut paut kematiannya dengan perkawinan Wiro?" ujar Naga Kuning.

"Kalau tidak bertemu dengan anak setan itu dan dia bicara sendiri, aku belum mau percaya dia sudah kawin!" kata Si Setan Ngompol pula.

"Aku tidak ingin membicarakan hal itu lebih jauh," kata Luhcinta.

"Saat ini aku tengah mencari orang bemama Si Penolong Budiman.

Mungkin kalian mengetahui atau melihat dia berada di mana?"

"Orang itu! Bukankah dia si jubah hitam yang kita lihat tak jauh dari telaga sore tadi?" ujar Betina Bercula.

"Betul, sore tadi kami melihat seorang berjubah hitam yang mukanya juga hitam berlari cepat ke arah sebuah telaga."

"Kalian yakin, jubah hitam muka hitam?!" tanya Luhcinta ingin memastikan.

"Yakin sekali!" jawab Naga Kuning, Betina Bercula dan Setan Ngompol berbarengan.

Tanpa banyak cerita lagi Luhcinta langsung berkelebat tinggalkan ketiga orang itu.

"Hai!" seru Naga Kuning. "Agaknya ada sesuatu antara Luhcinta dengan manusia muka tanah liat itu. Bukankah selama ini diketahui Si Penolong Budiman selalu menguntit Luhcinta kemana-mana. Aku yakin lelaki itu naksir pada si gadis. Tapi malu karena mungkin mukanya jelek lalu sengaja ditutup dengan tanah liat!"

"Kalau mau tahu ceritanya mengapa tidak kita ikuti Luhcinta?!" ujar Setan Ngompol.

Naga Kuning dan Betina Bercula menyetujui. Ketiga orang itu segera lari ke arah lenyapnya si gadis.5BEGITU orang yang dicarinya muncul di depan goa, Luhcinta langsung menegur penolong Budiman, selama ini kau selalu mengikuti kemana aku pergi. Terus terang sejak lama aku menaruh curiga terhadapmu. Kecurigaanku hari ini menjadi kenyataan...."

"Luhcinta, aku akan jelaskan padamu..." kata orang bermuka tanah liat dengan suara bergetar.

"Ucapanku belum selesai wahai orang bermuka tanah liat"

Memotong Luhcinta. "Hari ini kepercayaanku sirna terhadapmu.

Seharusnya saat ini aku memberi pelajaran pahit padamu. Menurunkan hukuman atas dirimu. Tentunya kau sudah tahu dua kesalahan besar yang telah kau lakukan atas diriku!"

"Luhcinta, mengenai peristiwa di telaga itu. Aku bersumpah aku tidak punya niat dengan sengaja hendak mengintip kau mandi...."

Naga Kuning, Si Setan Ngompol dan Betina Bercula jadi saling pandang mendengar kata-kata Si Penolong Budiman itu.

"Tidak disangka, jahil juga si muka comberan kering ini!" kata Si Setan Ngompol keras-keras hingga Si Penolong Budiman mendengar.

"Kalau saja dia mengintip diriku tentu aku persilakan dengan dua tangan dan dua paha terbuka," kata Si Betina Bercuta lalu tertawa cekikikan. "Rupanya dia tahu juga betis mulus dan jidat licin yang asli! Hik. hik... hik!"

"Kakimu berbulu, jidatmu atas bawah berambut! Siapa sudi mengintip monyet jantan mandi!" kata Naga Kuning yang membuat Betina Bercula pelototkan mata dan hendak meremas bagian bawah perutnya.

"Kau sudah tertangkap basah berbuat kekejian yang sangat memalukan! Sungguh sikapmu tidak sejantan seperti yang kau perlihatkan selama ini!" Luhcinta kembali keluarkan ucapan.

"Aku mohon maaf dan tidak dapat menyalahkan dirimu jika sampai berprasangka demikian. Tapi ketahuilah,..."

Luhcinta angkat tangannya memberi isyarat hingga Si Penolong Budiman terpaksa hentikan ucapannya.

"Kehidupan ini berlandaskan kasih. Namun manusia berperilaku aneh memilih-milihnya menjadi kenyataan pahit Selama ini aku bersikap baik terhadapmu. Namun kebaikan itu kau balas dengan keculasan keji.

Adakah yang lebih keji dari pada mengintip perempuan mandi dan dilakukan oleh seorang lelaki berilmu kepandaian tinggi sepertimu?"

"Sekali lag! aku mohon maafmu Luhcinta. Izinkan aku memberi keterangan..." kata si muka tanah liat sambil rapatkan dua tangannya di depan dada dan membungkuk memohon.

Luhcinta tidak perdulikan sikap dan permintaan orang Dia melanjutkan. "Hal ke dua, aku tidak pernah menyangka kalau Si Penolong Budiman ini ternyata adalah seorang pencuri busuk! Kau mencuri sebuah benda dari kantong perbekalanku. Benda itu sangat berharga bagiku, sama berharganya dengan nyawaku! Harap kau segera mengembalikan benda itu!"

Tukang intip! Maling pula kiranya! Walah! Sungguh tidak bermalu!" kata Setan Ngompol.

"Pantas mukanya ditutupi tanah liat!" menyambung Naga Kuning.

"Penolong Budiman," kata Betina Bercula. "Barang apa yang kau ambil dari gadis sahabatku ini?! Kalau kau cuma mencuri celana dalam, mengapa tidak mengambil milikku saja? Langsung bisa kau tanggalkan dari badanku jika kau suka!"

Naga Kuning dan Si Setan Ngompol tertawa gelak-gelak sementara Betina Bercula manggut-manggut cekikikan. Luhcinta tampak berubah wajahnya sedang Si Penolong Budiman memandang dengan mata mendelik besar ke arah Betina Bercula.

Dari dalam saku jubah hitamnya si muka tanah liat keluarkan sebuah batu merah berbentuk sekuntum bunga mawar.

"Ini barangmu yang kuambil. Aku kembalikan padamu. Jika kau mau percaya sebenarnya tidak ada niatku untuk mencuri. Aku hanya ingin memeriksa benda itu." Habis berkata begitu Si Penolong Budiman letakkan batu merah di atas patahan batang pohon di hadapannya lalu dia melangkah mundur ke tempatnya semula.

"Kalau mengambil barang orang tapi mengaku bukan mencuri, lalu namanya kira-kira apa ya?" menyeletuk Naga Kuning.

"Maling!" Yang menjawab Si Setan Ngompol.

"Tepat!" menimpali Betina Bercula.

Si Penolong Budiman tidak dapat menahan hatinya lagi. Dia pandangi ketiga orang itu dengan mata seperti menyala lalu berkata.

"Selama ini aku menganggap kalian sebagai teman. Mengapa berlancang mulut mengeluarkan ucapan-ucapan seperti itu, mencampuri urusan kami?"

"Sstttt!" Naga Kuning silangkan jari telunjuknya di atas bibir.

"Bapak Maling memerintahkan kita tidak boleh berlancang mulut Tidak boleh mencampuri urusannya!"

"Sebaiknya kita patuhi!" ujar Si Setan Ngompol. "Kalau dia sampai memarahi kita, aku pasti akan terkencing-kencing!"

Si Penolong Budiman hampir tak dapat menahan amarahnya diejek terus-terusan. Setelah pelototkan mata pada ketiga orang itu dia berpaling pada Luhcinta.

"Aku mengaku telah berbuat kesalahan. Aku bersedia menerima hukuman!"

"Hemm...." Naga Kuning tegak berkacak pinggang dengan tangan kiri sementara tangan kanannya mengusap-usap dagunya seperti orang tua mengusap jenggot Lalu dia memandang pada Si Setan Ngompol dan Betina Bercula. "Kira-kira hukuman apa yang pantas dijatuhkan pada seorang pencuri sekaligus tukang intip perempuan mandi?"

"Pelintir saja anunya!" jawab Setan Ngompol Seenaknya lalu tertawa mengekeh sambil pegangi bagian bawah perutnya.

"Kalau memelintir anu, serahkan saja tugas itu padaku!" kata Betina Bercula. Lalu sambil tertawa cekikikan dia melangkah mendekati Si Penolong Budiman dan tangan kanannya diulurkan ke bawah perut orang seperti benar-benar hendak melakukan apa yang diucapkannya.

Si Penolong Budiman tidak dapat lagi menahan diri. Amarahnya meledak menembus ubun-ubunnya, Tangan kanannya bergerak.

"Plaakkk!"

Tamparan keras melayang. Betina Bercula terpekik keras dan terbanting merintih di tanah. Darah mengucur dari sudut bibirnya yang pecah.

"Maling busuk, pengintip keji! Kau memang tidak punya hati kemanusiaan!" teriak Naga Kuning marah melihat Betina Bercula tergeletak mengenaskan begitu rupa. Anak ini menerjang dan hantamkan tangan kanannya melepas pukulan Naga Murka Merobek Langit.

Si Penolong Budiman berusaha mengelak untuk menghindari perkelahian. Namun serangan Naga Kuning demikian cepatnya hingga dia terpaksa pergunakan tangan kanan untuk menangkis. Dua tangan beradu keras. Naga Kuning bukanlah bocah sembarangan namun adu kekuatan dengan Si Penolong Budiman yang dikenal berkepandaian tinggi membuat anak ini terpental satu tombak. Walau Naga Kuning mampu jatuh dengan kaki tetap menjejak tanah namun tangan kanannya terasa sakit dan tak bisa digerakkan. Setelah terhuyung-huyung sesaat anak ini akhirnya terduduk bersimpuh di tanah merintih kesakitan.

Setan Ngompol berseru kaget Melihat Naga Kuning kesakitan begitu rupa kakek ini jadi kalap. Sekali berkelebat dia kirimkan tendangan deras ke kepala Si Penolong Budiman. Tapi tendangannya dengan mudah dielakkan. Malah satu jotosan yang dilancarkan lawan sebagai balasan melanda dadanya, membuat si kakek ambruk muntah darah!

"Makhluk muka tanah liat! Apa yang kau lakukan terhadap tiga orang ini membuktikan kau sebenarnya memang bukan manusia baik-baik!

Orang pandai bukan cuma mengandalkan ketinggian ilmu, tapi harus bisa menahan hati menindih hawa amarah! Orang pandai harus mengutamakan kasih di atas segala-galanya!" Luhcinta membentak marah. Tanpa dapat menahan diri lagi dia hantamkan dua tangannya ke arah Si Penolong Budiman.

Seolah sadar dan menyesal apa yang telah dilakukannya Si Penolong Budiman tidak berusaha menyingkir atau menangkis serangan si gadis. Padahal serangan yang dilancarkan oleh Luhcinta adalah Pukulan Tangan Dewa Merajam Bumi yang sangat berbahaya!

Malah Si Penolong Budiman sengaja jatuhkan diri berlutut di tanah menunggu datangnya pukulan, menatap dengan sepasang mata yang memancarkan cahaya aneh.

"Aku mengaku salah! Aku siap menerima hukuman!"

Luhcinta terkesiap kaget Dia tidak menyangka orang akan sepasrah itu. Padahal pukulan yang dilancarkannya jika terkena telak akan menyebabkan lawan terbanting rubuh dan bisa lumpuh seumur hidup. Hati Luhcinta yang penuh kasih jadi terguncang. Pukulannya yang sudah menghantam setengah jalan diputarnya demikian rupa agar tidak mengenai Si Penolong Budiman. Namun tetap saja serangan ganas itu menyambar sosok Si Penolong Budiman sebelah kiri malah tepat di bagian dada dan pinggang!

Sesaat lagi Pukulan Tangan Dewa Merajam Bumi akan menghantam makhluk bermuka tanah Hat itu, tiba-tiba dari kegelapan malam berkelebat seseorang sambil menyorongkan sebatang tongkat bambu berwarna kuning, berusaha menangis serangan Luhcinta.

"Kraakkk!"

Tongkat bambu patah. Pukulan Luhcinta melenceng ke kiri.

Membongkar tanah dan bebatuan yang ada di tempat itu. Sosok Si Penolong Budiman walau selamat tapi terlempar sejauh dua tombak. Bahu kirinya seperti ditusuk puluhan jarum dan tak bisa digerakkan. Terhuyunghuyung dia bangkit berdiri Jika saja mukanya tidak dilapisi tanah liat jelas akan terlihat bagaimana wajahnya pucat seputih kain kafan! Orang ini menatap sebentar ke arah Luhcinta, lalu tidak menunggu lebih lama dia putar tubuhnya dan lenyap dari tempat itu.

Luhcinta hendak mengejar tapi satu suara berkata mencegahnya.

"Tak perlu kau kejar orang itu Luhcinta. saatnya kelak kalian akan bertemu kembali!"

Luhcinta terkejut. Dia seperti mengenali suara itu. Cepat gadis ini berpaiing ke samping kiri. Mulutnya keluarkan seruan tertahan. Naga Kuning, Si Setan Ngompol dan Betina Bercula yang ada di tempat itu juga sama-sama melengak kaget dan ngeri. Si kakek langsung terkencingkencing.

"Ampun, makhluk apa ini..." kata Betina Bercula dengan tengkuk merinding. Saat itu dia masih terduduk di tanah sedang si kakek berdiri di sampingnya. Dalam ketakutan tangannya dipagutkan ke selang-kangan Si Setan Ngompol, membuat kakek ini tambah aur-auran kencingnya!6ORANG yang berdiri di hadapan Luhcinta saat itu adalah seorang perempuan yang sekujur tubuhnya mulai dari kepala sampai ke kaki dilengketi oleh ratusan kodok hijau berbagai ukuran! Dari wajahnya yang kelihatan cuma dua mata serta lobang hidung dan sedikit bibir. Di tangan kanannya dia memegang sebatang tongkat bambu kuning yang telah patah yang kemudian ditancapkannya ke tanah hingga amblas sampai dua pertiganya.

"Makhluk aneh..." bisik Naga Kuning pada Si Setan Ngompol.

"Kodok yang bergelantungan di kepala, muka dan badannya itu apakah peliharaannya, binatang mainannya atau anak-anaknya!"

"Gila kau! Mana ada orang beranak kodok!" tukas si Setan Ngompol sambil pegangi dadanya yang masih mendenyut sakit akibat jotosan Si Penolong Budiman tadi.

Tiba-tiba Luhcinta jatuhkan diri berlutut di hadapan orang aneh itu seraya memanggil. "Guru Luhmasigi.... Untung kau muncul. Kalau tidak mungkin tadi saya telah kesalahan tangan...."

"Ah, gurunya rupanya..." bisik Si Setan Ngompol pada Naga Kuning lalu menepis tangan Betina Bercula yang kembali hendak memegangi pahanya.

"Untung sang murid tidak dilengketi kodok seperti gurunya!" kata Betina Bercula pula.

Si nenek bernama Luhmasigi usap kepala Luhcinta lalu berkata.

"Semua sudah diatur oleh Yang Kuasa. Kalau saja aku terlambat menemui dirimu di tempat ini, di malam begini gelap mungkin akan terjadi hal yang lebih buruk. Selama ini aku banyak menyirap kabar atas segala kejadian di Negeri Latanahsilam ini. Beberapa diantaranya menyangkut dirimu. itu sebabnya aku perlukan meninggalkan Lembah Laekatakhijau mencarimu...." Baru saja si nenek habis berucap belasan katak hijau yang menempel di tubuhnya mengeluarkan suara riuh lalu berloncatan ke tubuh Luhcinta. Tanpa ada rasa takut ataupun jijik si gadis usap katak-katak itu satu persatu.

"Katak sahabatku, aku gembira kalian masih mengenali diriku..." kata Luhcinta.

Sementara itu Luhmasigi yang dalam rimba persilatan Negeri Latanahsilam dikenal dengan julukan Hantu atau Nenek Lembah Laekatakhijau memandang ke arah Naga Kuning, Setan Ngompol dan Betina Bercula. Lalu pandangannya membentur batu merah berbentuk bunga mawar yang terletak di atas patahan batang kayu. Dengan cepat si nenek mengambil benda itu, memperhatikannya beberapa saat lalu berkata.

"Luhcinta, bukankah bunga mawar batu merah ini milikmu?

Mengapa berada di atas patahan batang kayu?"

"Ada orang berusaha mencurinya Nek. Ketika didesak benda itu dikembalikannya, diletakkannya di atas pohon itu...."

"Orang yang katamu mencuri benda ini, apakah dia yang tadi hendak kau habisi?" tanya si nenek.

"Sebetulnya walau hati saya sangat marah dan kecewa, saya tidak berniat sungguhan membunuhnya. Saya hanya ingin memberi pelajaran...."

"Aku gembira mendengar kata-katamu itu Luhcinta. Pertanda pelajaran kasih sayang yang aku tanamkan padamu masih ada di lubuk hatimu."

"Saya selalu berusaha menempatkan kasih dalam setiap jalan kehidupan saya. Walau terkadang mengalami kesulitan, menghadapi kenyataan yang tidak terduga...."

"Itulah hidup. Semua tidak mungkin sejalan dengan keinginan kita.... Kita menginginkan kebaikan, yang datang angkara murka....

Muridku, kau masih ingat riwayat batu ini seperti yang diceritakan nenekmu Hantu Penjunjung Roh"

"Saya masih ingat Guru. Bukankah batu ini diberikan oleh nenek kepada ibu saya untuk hiasan rambutnya ketika dia masih gadis remaja seperti saya?" ujar Luhcinta. "Karena sangat berharganya batu bunga mawar inilah maka saya sampai hendak menurunkan tangan jahat pada orang bermuka tanah liat itu. Karena dia hendak mencuri batu mawar merah itu."

"Makhluk berjubah hitam. Mukanya dilapisi dengan tanah liat.

Diberi jelaga hitam! Mengapa dia melakukan hal itu? Mengapa dia mencuri mawar batu merah ini dari tanganmu. Adakah kau sempat memikir dan menyelidiki wahai muridku?"

"Maafkan saya Nek. Hal itu memang belum saya lakukan. Yang saya tahu mawar dari batu merah itu sangat berharga bagi saya, tapi tidak bagi orang lain...."

"Belum tentu. Jika batu mawar merah ini tidak berharga bagi orang lain, makhluk bermuka tanah liat itu tidak akan mencurinya dari tanganmu.

Lalu jika dia benar-benar berniat jahat hendak menguasai batu ini, mengapa kemudian dia mengembalikannya padamu? Agaknya ada sesuatu dibalik semua perbuatannya itu...."

"Saya tidak tahu Nek...."

"Muridku Luhcinta, apa menurutmu tiga orang aneh ini pantas mendengar semua percakapan kita?" Si nenek goyangkan kepalanya ke arah Naga Kuning, Setan Ngompol dan Betina Bercula.

Luhcinta pandangi ketiga orang itu. "Mereka sahabat-sahabat saya Nek.... Tidak jadi apa kalau mereka mendengar pembicaraan kita. Malah sebagian riwayat saya mereka sudah mengetahui...."

"Begitu...?" si nenek manggut-manggut

Naga Kuning yang suka bicara usil tiba-tiba membuka mulut "Nenek yang kepala dan muka serta tubuhnya ketutupan kodok, kau menyebut kami bertiga aneh. Apa anehnya dari kami ini?"

Hantu Lembah Laekatakhijau berpaling pada Naga Kuning. Dia pandangi bocah itu sesaat lalu sambil tersenyum dia menjawab. "Aku mulai dengan kakek kawanmu itu." Si nenek menunjuk ke arah Setan Ngompol.

"Kukatakan aneh karena telinganya sebelah kanan kulihat terbalik! Hik... hik! Bagiku itu aneh, entah bagi orang lain. Lalu, dari sini saja aku bisa mencium bau pesing di tubuhnya! Bayi kencing aku tidak heran, kalau sudah tua bangka masih ngompol apa tidak aneh? Hik... hik... hik!"

Setan Ngompol delikkan mata. Tapi dia tidak marah malah tertawa gelak-gelak menimpali cekikikan si nenek.

"Itu keanehan sahabatmu si kakek mata lebar dan juling itu?

Sekarang sobatmu yang ke dua. Jelas dia laki-laki asli. Tapi mengapa berpakaian dan berdandan serta bersikap seperti perempuan? Padahal otaknya tidak miring! Apa itu tidak aneh namanya?"

Kini giliran Betina Bercula yang beliakkan mata. Tapi dia juga tidak marah malah sambil senyum-senyum dia berkata. "Kau memang tidak tahu Nek! Di mata manusia wajar lelaki berdandan adalah lebih menarik dari pada perempuan ditempeli katak hijau sepertimu. Hik... hik... hik.... Apa kau punya suami Nek?"

"Wahai! Apa maksudmu menanyakan aku punya suami atau tidak?" tanya Hantu Lembah Laekatakhijau heran tapi juga jengkel penasaran. "Apa kau mau mencarikan laki untukku?!"

"Kalau kau punya suami, waktu bercumbu dan tidur bersamanya apa katak-katak itu masih terus nangkring di kepala, muka dan sekujur tubuhmu...." "Mungkin juga ada kodok yang menempel di anunya!" bisik Setan Ngompol kurang ajar lalu tertawa terkekeh-kekeh. Naga Kuning dan Betina Bercula tergelak-gelak. Untung si nenek tidak mendengar kata-kata si kakek tadi hingga dia hanya memandang terheran-heran pada ketiga orang itu sambil bertanya-tanya dalam hati apa yang ditertawakan mereka.

Sementara itu Luhcinta sendiri walau tidak senang gurunya dipermainkan tapi gadis ini juga tak dapat menahan gelinya.

Betina Bercula meneruskan kata-katanya. "Kalau benar kau punya suami, walah! Pasti suamimu kerepotan dan mungkin marah karena keasyikannya terganggu! Ha... ha... ha! Bayangkan, waktu dia memegang tubuhmu, yang terpegang katak hijau! Ketika dia mau mencium pipimu, yang menempel di hidungnya kodok hijau! Itu maksud pertanyaanku Nek!

Jangan mengira aku mau mencarikan suami untukmu! Ha... ha... ha!"

"Makhluk salah ujud! Bukan hanya sifatmu yang lain, tap! otak dan mulutmu juga aneh!" mendamprat Hantu Lembah Laekatakhijau.

"Dua temanku sudah kau katakan aneh. Aku sendiri bagaimana Nek?" Naga Kuning tiba-tiba bertanya.

Si nenek kedap-kedipkan matanya berulang kali lalu mulutnya terpencong-pencong menahan senyum. "Sosok dan wajahmu memang seperti yang terlihat. Kau adalah seorang anak lelaki. Tapi kalau aku dugaduga, umurmu belum tentu berada di bawahku! Apa itu tidak aneh?"

Terkejutlah Naga Kuning dan Setan Ngompol mendengar ucapan Hantu Lembah Laekatakhijau itu. Keduanya saling berpandangan.

"Aneh, bagaimana dia bisa menduga siapa diriku?" bisik Naga Kuning. Seperti diketahui Naga Kuning sebenarnya memang adalah seorang kakek berusia sekitar seratus dua puluh tahun.

"Hei! Kau merasa dirimu aneh atau tidak?!" Si nenek bertanya.

Naga Kuning tersentak. Sambil tersenyum anak ini menjawab.

"Terserah padamu Nek. Kau mau bilang aneh aku menurut saja...."

Luhmasigi alias Hantu Lembah Laekatakhijau tertawa mengekeh.

Lalu dia berpaling kembali pada muridnya, memegang lengan si gadis dan menggandengnya ke satu tempat, sengaja menjauhi yang lain-lain. Dengan suara perlahan dia kemudian berkata.

"Luhcinta, sahabat-sahabatmu yang tiga ini walau aneh kurasa hatinya baik-baik. Tapi menurut kabar yang kusirap ada seorang pemuda.

Yang juga berasal dari negeri seribu dua ratus tahun mendatang. Aku lupa siapa namanya. Pemuda itu konon telah jatuh cinta padamu, atau sebaliknya kau yang jatuh hati padanya? Padahal dikabarkan pula pemuda itu telah menebar kekejian dan berbuat mesum dimana-mana. Sampaisampai aku mendengar dia telah menghamili Peri Bunda! Bagaimana ini, harap kau mau memberi penjelasan!"

Paras Luhcinta langsung berubah. Tapi dia cepat menguasai diri.

Sambil tersenyum dia berkata.

"Nenek Luhmasigi, kiranya kau jangan lekas percaya pada segala kabar yang kau sirap."

"Baiklah. aku setuiu ucapanmu. Tapi ada satu hal yang ingin aku ketahui. Ingin kutanyakan...." Si nenek memandang tajam-tajam ke mata cucunya itu membuat hati si gadis berdebar.

"Katakan saja apa yang ingin kau tanyakan itu Nek...."

"Apakah benar pemuda itu mencintaimu?"

Wajah Luhcinta serta merta menjadi merah. Dia tampakgugup."Saya...saya tidak tahu Nek....Mengapa kau bertanya begitu?"

"Kau sendiri, apakah kau mencintainya?!" sang guru bukan menjawab malah batik bertanya.

Luhcinta semakin gugup. Si nenek tersenyum lalu berkata.

"Ketahuilah wahai muridku. Bagi seorang gadis lebih baik kawin dengan lelaki yang mencintainya dari pada yang dicintainya...."

"Saya tidak mengerti Nek...."

Luhmasigi usap kepala muridnya. "Kelak kau akan mengerti, Luhcinta."

"Saya rasa tidak mungkin Nek...."

"Eh, apa yang tidak mungkin?"

"Pemuda dari negeri seribu dua ratus tahun mendatang itu.

Namanya Wiro Sableng...."

"Nama aneh..." ujar si nenek.

"Pemuda itu... dia...." Sepasang mata Luhcinta berkaca-kaca.

Bahunya turun naik menahan isak.

"Kau menangis! Apa yang telah dilakukan pemuda itu terhadapmu?

Katakan! Jika dia berlaku jahat akan kucari dan kupesiangi tubuhnya!"

"Dia telah nikah Nek... dia sudah kawin..." Luhcinta tak sanggup meneruskan ucapannya. Gadis ini tundukkan kepala dan tutup wajahnya dengan dua tangannya.

"Dari mana kau tahu? Aku sendiri belum menyirap kabar itu."

"Aku menyaksikan sendiri upacara pernikahannya. Nenek Lamahila yang menikahkan mereka. Di Bukit Batu Kawin!"

"Tapi nenek itu sendiri bukankah dia dikabarkan telah menemui ajal? Pembantunya bernama Laduliu lenyap entah kemana. Di pondoknya ditemui mayat seseorang...."

"Saya tahu Nek. Kematian orang-orang itu setelah terjadi pernikahan...."

"Siapa kira-kira yang membunuh mereka?" tanya Luhmasigi.

"Tidak bisa saya menduga...."

Si nenek terdiam lalu mendongak ke langit hitam sambil kepalkan dua tinju kanannya. "Wiro Sableng pemuda dari negeri seribu dua ratus tahun mendatang. Jika benar rupanya kabar yang aku sirap. Kau laki-laki yang suka mempermainkan perempuan. Aku tidak perduli kau mempermainkan perempuan lain, menghamili Peri! Tapi jangan berani mempermainkan muridku!"

"Guru...!" Suara Luhcinta tersendat dan wajahnya pucat "Aku tahu kau mencintai pemuda itu. Tadinya aku ingin mencarinya untuk mengatur hari perkawinanmu. Kini aku akan mencarinya untuk mengatur hari kematiannya!"

"Nek, jangan kau lakukan itu. Dia tidak punya salah apa-apa!"

"Apa katamu Luhcinta? Aku tahu rahasia kasih sangat mendalam di hatimu. Tapi jangan rasa hati itu menutupi jalan pikiran sehatmu! Kurasa pemuda itu sudah keterlaluan. Dia berbuat keji dimana-mana dan kini menghancurkan masa depanmu."

"Saya... mungkin itu sudah suratan takdir jalan hidup saya Nek.

Saya pasrah.... Saya rela...."

"Takdir yang sebenarnya datang dari Yang Maha Kuasai Tapi manusia-manusia kurang ajar di atas bumi ini membuat takdir sendirisendiri!"

Si nenek geleng-gelengkan kepalanya. Lalu diusapnya kepala Luhcinta seraya berkata. "Tadinya harapanku sangat besar terhadap pemuda itu. Karena aku mendengar kabar rahasia yang tersebar di kalangan tertentu. Bahwa hanya pemuda itu yang bakal sanggup menghancurkan angkara murka yang terjadi di atas Negeri Latanahsilam ini. Dia yang konon akan bisa menghabisi Hantu Muka Dua. Tapi kini....

Bahkan kabarnya Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab tadinya berharap besar pada pemuda itu. Kini diapun sudah menganggap pemuda itu sebagai musuh besar yang harus disingkirkan!"

Lama murid dan guru itu terdiam. Akhirnya Luhcinta berkata.

"Guru, bukankah saat ini lebih baik kita membicarakan perihal makhluk bermuka tanah liat yang sempat mencuri batu bunga mawar merah itu."

Si nenek anggukkan kepalanya. "Selama ini, apakah kau telah berhasil mencari tahu seluk beluk kehidupanmu di masa lalu...."

"Belum Nek. Tadinya saya berharap ada sesuatu yang bisa saya dapat dari orang bermuka tanah liat jtu. Namun saat ini saya seperti kehilangan kepercayaan padanya..." Luhcinta lalu menceritakan kejadian dirinya diintai selagi mandi serta peristiwa dicurinya bunga mawar dari batu merah itu. Tak lupa pula dia menuturkan bagaimana selama ini si muka tanah liat selalu mengikuti gerak geriknya kemana dia pergi.

Mendengar cerita sang murid tampang si nenek yang tertimbun puluhan katak hijau jadi mengkeret kaku.

"Laki-laki memang jahanam semua!" katanya dengan suara bergetar.

"Kau betul Nek, laki-laki memang kurang ajar semua!" menimpali Betina Bercula.

"Aku tersinggung! Tidak semua laki-laki jahanam. Tidak semua laki-laki kurang ajar! Buktinya diriku!" kata Si Setan Ngompol pula.

"Ooo.... Kalau orang sepertimu memang sudah kurang ajar sejak lahirnya!" tukas si nenek.

Saking kesalnya mendengar ucapan si nenek Setan Ngompol

pelintir telinganya sendiri lalu "serrr! dia kencing di celahanya!

Luhmasigi berpaling pada muridnya. "Luhcinta, aku akan mencari makhluk bermuka tanah liat Juga pemuda bernama Wiro itu...."

Si nenek kemudian melangkah mendekati Naga Kumng dan teman-temannya kembali. Luhcinta mengikuti. Sambil melangkah si nenek serahkan batu bunga mawar merah pada muridnya.

"Simpan benda ini baik-baik. Pada saatnya dia akan menjadi barang bukti yang tiada bernilai. Aku akan mencari nenekmu Hantu Penjunjung Roh. Puluhan tahun dia menghilang entah kemana. Jika terjadi sesuatu kau harus lekas menemui diriku di lembah."

"Akan saya lakukan Nek," jawab Luhcinta.

Belasan katak hijau yang sejak tadi bergayutan di tubuh Luhcinta keluarkan pekikan-pekikan kecil lalu melompat kembali ke tubuh si nenek.

Si nenek hendak bergerak pergi namun dia hentikan langkahnya dan memandang pada Naga Kuning, Setan Ngompol dan Betina Bercula.

"Jadi kalian bertiga sempat digebuk si muka tanah liat itu?!" si nenek bertanya. Tiga orang yang ditanya sama menjawab dengan anggukan kepala.

"Bagaimana rasanya sekarang. Masih sakit?"

"Lumayan Nek,!" yang menjawab Naga Kuning.

"Kalau begitu biar aku coba mengobati cidera kalian!" Habis berkata begitu Hantu Lembah Laekatakhijau ini tepukkan tangannya tiga kali lalu berseru. "Anak-anakku! Periksa keadaan ketiga manusia-manusia aneh itu! Obati jika kalian mampu!"

Baru saja ucapan si nenek selesai, puluhan katak hijau yang menyelimuti kepala dan tubunnya keluarkan suara riuh seperti mau merobek telinga. Sepuluh katak kemudian melompat ke pipi kanan Betina Bercula yang luka cidera akibat tamparan keras Si Penolong Budiman.

Tentu saja orang ini menjerit kaget, juga ketakutan.

"Celaka! Rusak dandananku!"

Hanya sebentar, sepuluh katak hijau tadi melompat berbalik ke tubuh si nenek. Betina usap-usap pipinya dan jadi terheran-heran. Rasa sakit lenyap, darah yang mengucur di sudut bibirnya yang pecah berhenti!

"Ah..." Betina Bercula tersipu-sipu. "Terima kasih Nek. Katakkatakmu itu rupanya bukan binatang sembarangan."

Tiba-tiba belasan katak melesat ke arah Naga Kuning, menempel mulai dari bahu kanan sampai ke ujung-ujung jari tangannya. Seperti diketahui tangan bocah itu cidera cukup parah akibat beradu pukulan dengan Si Penolong Budiman yang berkepandaian tinggi. Akibatnya tangannya terasa sakit dan sulit digerakkan.

Karena jijik dan ngeri Naga Kuning mengerenyit termonyongmonyong.

Belasan katak hijau julurkan lidah. Ada yang menjilati tangan si bocah, ada juga yang menggigit-gigit Sesaatkemudian binatang-binatang itu melompat kembali ke tubuh si nenek.

"Coba periksa tanganmu. Apa masih sakit?" Nenek Luhmasigi bertanya.

Naga Kuning seperti tidak percaya. Rasa sakit di tangannya bukan saja lenyap tapi kini dia juga bisa menggerakkan tangan itu kembali!

Langsung saja bocah ini membungkuk memberi penghormatan seraya mengucap terima kasih berulang kali.

Si nenek menyeringai. Dia berpaling pada Setan Ngompol. Yang dipandang langsung beser terkencing!

Karena dia tahu kini giliran dirinya yang akan dilompati katak-katak hijau itu!

"Nek, kuharap kau..." Setan Ngompol yang paling parah cideranya ketakutan dan kencingnya mulai mengucur. Dia bergerak mundur beberapa langkah. Si nenek tertawa mengekeh.

"Anak-anak, lekas kalian kerjain kakek aneh itu!"

Belasan katak hijau keluarkan suara nyaring lalu berlompatan ke arah Si Setan Ngompol, bertempelan di bagian bawah perutnya sampai ke celah paha!

"Serrrr!" Setan Ngompol pancarkan air kencingnya. Tubuhnya berjingkrakan. "Edan! Kurang ajar! Katak-katak celaka! Kenapa menempel di selangkanganku?! Bukan di bagian itu tubuhku yang cidera. Tapi didada!"

"Waduh celaka! Kalau sampai anu si kakek digigit katak pasti geroak! Bisa-bisa putus!" berteriak Naga Kuning tapi sambil mesemmesem!

Hantu Lembah Laekatakhijau tertawa terpingkal-pingkal.

"Anak-anak! Jangan mempermainkan orang!" si nenek berseru.

Belasan katak yang menempel di bawah perut Setan Ngompol keluarkan suara riuh lalu melompat, berpindah ke dada si kakek. Karena memang di bagian itu sebelumnya jotosan Si Penolong Budiman menghantamnya dengan telak hingga dia muntahkan darah segar!

Ketika katak-katak itu mulai menjilat dan menggigit, si kakek tersentak-sentak dan terkencing-kencing.

"Hai! Aduh! Hentikan! Jangan Tak berapa lama kemudian seperti tadi katak-katak itu kembali melompat ke tubuh setan si nenek. Si Setan Ngompol sendiri saat itu sudah jatuh terduduk di tanah.

Dia luruskan tubuhnya lalu menghela nafas panjang.

Sebelumnya dadanya terasa sakit jika dia menarik nafas begitu.

Tapi kini rasa sakit itu lenyap. Dipegangnya dadanya yang bekas kena jotosan. Ditekan-tekannya.

"Aneh..." kata si kakek sambil pandangi Luhmasigi dengan matanya yang besar jereng. "Luka dalamku seperti sembuh! Aku tidak merasa apa-apa lagi....... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.158.198.141
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia