Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : PETUALANGAN WIRO DI LATANAHSILAM

LUHTINTI TERTAWA. DENGAN MANJA DIA TURUN DARI PANGKUAN WIRO. WALAU KEADAAN DI DALAM GOA REDUP AGAK GELAP NAMUN WIRO MASlH BlSA MELIHAT BAHWA SAAT ITU DI SEBELAH ATAS LUHTINTI TIDAK MENGENAKAN APA-APA LAGI. "WIRO, SEPERTI AKU KATAKAN TADI AKU INGAT ADA SATU CARA YANG BlSA MEMBUAT KITA MAMPU KELUAR DARI RIMBA BELANTARA TERKUTUK INI." "KALAU BEGITU LEKAS KATAKAN ...." "CARANYA SANGAT SEDERHANA WIRO," KATA SI GADIS DENGAN WAJAH DITENGADAHKAN DISERTAI LAYAMGAN SENYUM. "KAU MENGAWINI AKU, MENGAMBIL AKU JADI ISTRIMU ...." PENDEKAR 212 TERSENTAK MENDENGAR KATA-KATA LUHTINTI ITU. SI GADIS SEBALIKNYA MALAH TERTAWA PANJANG.

SATU

LANGIT malam bertambah gelap ketika bulan sabit tertutup lenyap dibalik awan hitam. Di kejauhan terdengar suara auman binatang buas dari arah rimba belantara Lasesatbuntu. Suara tiupan angin berdesirdingin. Tiba-tiba ada suara sayap menggelepar di udara. Lalu tampak dua titik merah bercahaya melayang dari jurusan Gunung Latinggimeru.

Dua titik merah ini ternyata adalah sepasang mata seekor kelelawar besar yang terbang menuju puncak sebuah bukit batu berbentuk kerucut tumpul. Di atas bukit batu ini tampak mendekam duduk satu sosok tubuh kurus kering memiliki wajah seperti seekor burung gagak hitam. Mulut dan hidungnya jadi satu membentuk paruh. Sepasang matanya kecil tanpa alis. Tubuhnya mengenakan sehelai pakaian dari jerami kering warna hitam.

Dari sikapnya duduk makhluk ini seperti tengah bersemadi. Tapi anehnya sementara dua tangannya diletakkan di atas batu, dua kakinya dinaikkan ke atas disilangkan di atas bahu kiri kanan. Orang ini adalah dukun seribu jahat seribu keji yang di Negeri Latanahsilam dikenal dengan nama Hantu Santet Laknat.

Banyak orang telah jadi korban kejahatannya. Antara lain Lakasipo (Baca Bola Bola Iblis) dan Lawungu (baca Rahasia Kincir Hantu). Kemudian nenek dukun jahat ini juga telah menguasai Latandai hingga orang berjuluk Hantu Bara Kaliatus ini menjadi kaki tangannya yang mau melakukan apa saja termasuk membunuh istrinya sendiri karena si nenek sudah mencuci otaknya (baca Episode Wiro di Negeri Latanahsilam berjudul Hantu Bara Kaliatus.)

Kelelawar bermata merah bercahaya berputar dua kali di sebelah Timur lalu melesat ke arah puncak batu kerucut tumpul. Suara kepakan sayap binatang ini masuk ke telinga si nenek Membuat dia segera buka sepasang matanya yang sejak tadi dipejamkan. Bibirnya bergetar ketika dia mengucap.

"Junjungan telah datang ...."

Kelelawar hitam keluarkan suara pekikan aneh. Hantu Santet Laknat turunkan dua kakinya. Lalu dia bersujud di atas batu. Ketika dia bangkit kembali kelelawar bermata merah telah mengapung di udara, hanya satu tombak di sebelah depan atas kepalanya. Kepakan sayapnya yang menimbulkan angin deras membuat rambut dan pakaian si nenek melambai-lambai.

"Junjungan selamat datang aku ucapkan! Sudilah Junjungan memberi tahu maksud kedatangan!" Si nenek kembali bersujud hingga keningnya menempel di batu lalu dia duduk tak bergerak, menatap ke atas, menunggu Kelelawar hitam yang mengapung di udara keluarkan suara memekik halus. Sayapnya berhenti bergerak. Lalu sosok hitamnya mengepul, berubah menjadi asap. Asap ini secara aneh kemudian membentuk satu sosok sangat angker.

Hantu Santet Laknat yang juga bertampang angker tetap saja mengkirik kuduknya walau sebelumnya sudah beberapa kali dia melihat sosok seram tersebut Makhluk yang mengapung dalam kegelapan malam di atas bukit batu berbentuk kerucut tumpul itu adalah satu sosok berjubah hitam yang wajahnya berupa tengkorak Tangan dan kakinya yang tersembul dari bagian bawah jubah serta ujung lengan jubah berupa jerangkong tulang belulang putih. Sepasang mata tengkorak yang hanya merupakan lobang besar mengeluarkan cahaya kemerahan.

Di atas batok kepala yang putih bertumbuhan rambut-rambut putih panjang, melambai-lambai ditiup angin malam. Tiba-tiba rambut yang menjulai ke bawah itu berjingkrak ke atas, tegak berdiri, kaku laksana kawat Dua bolongan mata pancarkan cahaya merah lebih terang. Mulut tengkorak yang didereti barisan gigi-gigi besar bergerak membentuk seringai menggidikkan. Dari sela-sela giginya keluar kepulan asap. Sesaat kemudian makhluk muka tengkorak tubuh jerangkong yang tertutup jubah hitam itu keluarkan ucapan. Suaranya bergema aneh, seolah keluar dari satu liang dala.

"Hantu Santet Laknat, tiada kekecewaan paling hebat selain kekecewaan terhadap dirimu. Semua apa yang kau lakukan menemui kegagalan! Aku sudah cukup bersabar diri. Mungkin sudah saatnya kau meninggalkan Negeri Latanahsilam. Kukirim kembali ke tempat asalmu di dasar Samudera Labiruhijau!"

Si nenek bernama Hantu Santet Laknat keluarkan suara tercekat dari hidung dan mulutnya yang jadi satu berbentuk paruh burung. Lalu buru-buru dia jatuhkan diri, bersujud di hadapan makhluk yang disebutnya dengan panggilan junjungan.

"Wahai Junjungan, bukan aku membela diri. Semua tugas telah aku laksanakan. Namun apa yang kemudian terjadi sungguh di luar dugaan ...."

Makhluk muka tengkorak menyeringai. Dari mulutnya berhembus keluar asap putih.

"Hantu Santet Laknat, kau memang tidak mebela diri. Tapi kau pandai mencari akal untuk berdalih! Aku ingin tahu apa yang kau maksudkan dengan kejadian di luar dugaan itu!"

"Junjungan, kalau kau mau mendengar, akan kuterangkan satu persatu," kata Hantu Santet Laknat Lalu nenek bermuka burung gagak hitam ini angkat kepalanya yang sejak tadi bersujud menempel di atas batu.

"Kejadian pertama, menyangkut Lakasipo yang kemudian dijuluki Hantu Kaki Batu itu. Junjungan pasti tahu bagaimana aku berhasil membangkitkan roh istrinya yang bernama Luhrinjani. Lalu kusuruh dia menjebak suaminya sendiri hingga sepasang kaki Lakasipo tenggelam dalam cairan yang berubah menjadi batu! Tapi kemudian tak terduga ada seorang makhluk aneh bersama dua kawannya muncul menolong Lakasipo. Jika Junjungan mau men-dengar, biar aku menceritakan apa yang terjadi sejelas-jelasnya ."

Makhluk muka tengkorak berambut putih riap riapan enyeringai. Dari hidung dan mulutnya kembali mengepul asap putih. Sedangkan dari dua matanya memancar cahaya kemerahan. Dia keluarkan suara mendengus lalu berkata.

"Tak ada salahnya aku mendengar ceritamu, Hantu Santet Laknat Paling tidak aku mau membandingkan apa yang kau bilang sama dengan apa yang aku ketahui. Jika kau berdusta, kau tahu apa akibatnya!"

"Aku tidak berdusta wahai Junjungan. Akan kuceritakan semua padamu ...." Lalu si nenek bermuka burung gagak hitam itu memulai penuturannya ....* * *Dalam keadaan sang surya yang sebentar lagi akan tenggelam Lakasipo mendukung jenazah Luhrinjani, istrinya yang menemui ajal, mati bunuh diri di jurang batu tak jauh dari Bukit Batu Kawin. Dia melangkah mendekati lubang batu yang telah disiapkannya sebagai makam sang istri. Jenazah perempuan yang hanya sempat dikawininya selama tiga hari itu dengan hati-hati dimasukkannya ke dalam lubang. Tak ada orang lain di tempat itu. Hanya alam semata yang menyaksikan penguburan Luhrinjani. Mendadak cuaca berubah. Gulungan awan hitam entah dari mana datangnya muncul menutupi langit Petir mendera sabung menyabung, guntur menggelegar. Lalu hujan lebat turun membasahi bumi. Lakasipo merasa tidak enak.

Dia memandang ke langit Gelap. Sesaat gerakannya menurunkan jenazah ke dalam lubang jadi tertahan. Kilat menyambar. Sekejapan udara menjadi terang benderang. Saat itulah Lakasipo melihat bagaimana sepasang mata jenazah Luhrinjani yang barusan dibaringkannya di liang batu dan sejak tadi tertutup tiba-tiba kelihatan membuka.

Bukan itu saja! Wajah perempuan yang sudah jadi mayat itu juga tampak tersenyum!

"Luhrinjani ..!. desis Lakasipo. Tubuhnya bergetar. Cahaya kilat lenyap. Bukit batu Latinggihijau kembali diselimuti kegelapan. Sesaat Lakasipo asih terkesiap. Namun begitu sadar dia cepat mengambil sebuah batu besar berbentuk pipih dan menutupkannya di atas lubang makam. Enam buah batu kemudian disusunnya di atas batu pipih penutup makam itu. Sebelum bertindak pergi, di bawah hujan lebat dan dalam keadaan basah kuyup Lakasipo pandangi makam istrinya. Lalu mulutnya berucap perlahan..

"Wahai Luhrinjani .... Apapun yang telah kau lakukan sebelum ajalmu, aku Lakasipo telah melupakan dan memaafkan semuanya.... Kau lihat sendiri Luhrinjani, aku sudah menyiapkan satu makam untuk diriku di samping makammu." Lakasipo melirik kearah sebuah makam kosong yang sebelumnya sengaja dibuatnya di sebelah kubur sang istri.

"Aku akan meninggalkanmu Luhrinjani. Aku akan sering-sering mklihatmu. Tenanglah dalam peristirahdanmu. Para Dewa dan para Peri akan menghiburmu. Selamat tinggal wahai Luhrinjani ...." Lakasipo cium batu makam di bagian kepala lalu bangkit berdiri.

Hujan mulai reda tapi cuaca masih kelam. Lakasipo turuni bukit Latinggihijau, berjalan ke tempat dia meninggalkan Laekakienam, kuda tunggangannya. Belum lama menunggangi kuda itu, tiba-tiba Lakasipo melihat ada satu bayangan putih berkelebat di hadapannya. Kuda hitam berkaki enam bertanduk dua itu angkat empat dari enam kakinya lalu meringkik keras. Sepasang matanya yang merah pancarkan sinar aneh.

Lakasipo cepat usap tengkuk tunggangannya,

"Tenang Lae. ... Tenang. Tak ada yang perlu kau takutkan." Lakasipo memandang berkeliling. Saat itu dia sudah mencapai kaki bukit Latinggihijau. Sudut matanya menangkap sesuatu di arah kiri. Laekakienam kembali menunjukkan gelagat gelisah. Lakasipo cepat berpaling. Bayangan putih itu kembali muncul di kejauhan sana. Di antara deretan pepohonan. Ada satu sosok perempuan berpakaian putih. Meliuk-liuk seperti asap tertiup angin. Ketika dia memperhatikan wajah perempuan itu tersiraplah darah Lakasipo! Wajah itu adalah wajah Luhrinjani!

"Luhrinjani ..." desis Lakasipo.

"Bagaimana mungkin! Barusan saja aku menguburkanmu di makam batu ...."

Sosok putih di antara deretan pepohonan tiba-tiba lambaikan tangan seolah memanggil Lakasipo. Lalu lapat-lapat ada suara.

"Lakasipo .... Lakasipo suamiku. Datanglah keari. Tolong diriku. Keluarkan aku dari alam gelap. Lakasipo ...."

"Wajah itu wajah Luhrinjai! Suara itu suara Luhrinjani ...." desis Lakasipo.

"Lakasipo .... Turun dari kudamu. Kemarilah .... Tolong diriku wahai suamiku ...." Mula-mula Lakasipo masih diselimuti rasa takut dan heran. Lalu dia mulai bimbang. Matanya digosok berulang kali.

"Aku tidak bermimpi. Sosok itu memang Luhrinjani," Lakasipo segera turun dari kudanya. Setengah berlari dia menghampiri sosok Luhrinjani. Dia berlari di sela-sela pepohonan melompati semak belukar, tidak lagi memperhatikan jalan yang dilaluinya.

"Wahai Lakasipo suamiku .... Lekaslah. Lari lebih cepat Jarak kita hanya tinggal dekat..." Sosok Luhrinjani kembali memanggil-manggil. Lakasipo lompati serumpunan semak belukar pendek. Namun begitu turun ke tanah, dua kakinya amblas masuk ke dalam dua buah lubang sedalam pangkal betis. Kalau tidak cepat dia imbangi diri pasti akan tersungkur di tanah. Dia tarik dua kakinya. Tapi alangkah terkejutnya Lakasipo. Dia sama sekali tidak sanggup mengeluarkan kedua kakinya. Lalu dia mendengar suara menggelegak seperti air mendidih. Ketika dia memandang ke bawah mukanya jadi pucat.

Dua kakinya dilihatnya terpendam dalam cairan aneh berwarna kelabu berbuih-buih. Begitu gejolak buih berhenti, cairan telah berubah menjadi keras, memendam sepasang kaki Lakasipo ke tanah.

"Apa yang terjadi ... ?!" Lakasipo membungkuk Meraba cairan beku yang memendam dua kakinya.

"Betul!" ujar Lakasipo dengan suara bergetar.

"Tidak mungkin!" Dia gerakkan kakinya berusaha melepas diri. Sia-sia saja. Dia memukul dengan dua tangannya berulang kali. Pukulan yang sanggup menghancurkan batu karang itu bahkan tidak sanggup membuat bergeming batu keras yang memendam dua kakinya. Lakasipo segera keluarkan ilmu pukulan sakti bernama "Lima Kutuk Dari Langit". Lima lariksinar hitam menggidikkan menghantam batu.

"WUSSSS! Bummmm!"

Sinar hitam berbalik mental ke udara disertai dentuman keras. Tapi dua kakinya tetap saja terpendam dalam batu keras yang tidak hancur, retakpun tidak. Lakasipo penasaran. Dia kembali kerahkan ilmunya. Hawa Sakti dikerahkan pada dua kakinya. Dia keluarkan kesaktian bernama "Kaki Roh Pengantar Maut." Cahaya hitam memancar dad kakinya kiri kanan. Tapi segera meredup. Dan celakanya hawa sakti yang tadi dikerahkannya seolah berbalik mencengkeram dua kakinya. Sakitnya bukan kepalang.

"Celaka! Apa yang terjadi dengan diriku! Pasti ada orang jahat ..." Lakasipo ingat pada sosok Luhrinjani. Ketika dia memandang ke depan justru dilihatnya sosok itu bergerak seperti melayang datang ke arahnya.

"Luhrinjani ...."

Tiba-tiba terdengar suara berdentrangan. Sosok Luhrinjani ternyata memegang sebuah rantaiditangan kanannya. Pada kedua ujung rantai ada sebentuk jopitan besi besar.

"Luhrinjani! Betul kau yang ada di hadapanku ini?" tanya Lakasipo. Luhrinjani menyeringai. Wajah itu mendadak berubah. Mula-mula pada mulutnya. Mulut ini mencuat enonjolkan gigi-gigi mengerikan. Lalu kulit wajahnya aeolah leleh hingga membentuk tulang tengkorak. Dua mata berubah menjadi sepasang rongga mengerikan. Rambutnya yang hitam juga lenyap. Kepalanya kini telah menjadi sebuah kepala tengkorak putih. Lalu dua tangan yang tersembul dari balik pakaian putih bergantian pula menjadi tulang belulang mengerikan.

Lakasipo keluarkan seruan tertahan saking kagetnya. Sosok tengkorak merunduk. Dengan satu gerakan sangat cepat makhluk ini mejapit pangkal betis Lakasipo kiri kanan.

"Kau! kau bukan Luhrinjani! kau makhluk jahat jejadian!" teriak Lakasipo. Sosok tengkorak tertawa melengking.

"Takdir buruk telah jatuh atas dirimu Lakasipo! Kau akan terpendam dalam dua batu seumur hidupmu. Tubuhmu akan rusak, busuk dan hancur luar dalam. Kau akan mengalami siksaan hebat sebelum menemui ajal!"

"Makhluk jahanam! Kau pasti suruhan orang jahat! Katakan siapa yang menyuruhmu?!" teriak Lakasipo.

"Kau akan mendapatkan jawaban lama sekali Lakasipo," jawab makhluk muka tengkorak

"Setelah sosokmu berubah menjadi jerangkong dan rohmu melayang di langit hampa!" Lakasipo hantamkan tangan kanannya. Pukulan "Lima Kutuk Dari Langit" menderu. Lima larik sinar hitam berkiblat

"Bummmm!"

Pukulan sakti menghantam telak sosok putih di depan sana.

"Braaakkk! Byaaarrr!"

Sosok putih hancur berantakan. Serpihan tulang tengkorak dan tulang jerangkong bertaburan di udara. Lalu berubah menjadi asap lenyap tanpa bekas. Lakasipo meraung keras. Dia hantamkan pukulan sakti bertubi-tubi. Namun akhirnya dia lemas sendiri dan jatuh terduduk di tanah. (Secara lebih lengkap kisah di atas dapat Anda baca dalam Episode pertama Petualangan Wiro di Negeri Latanahsilam berjudul "Bola Bola Iblis" )* * *DUASI NENEK bermuka burung gagak hitam bersujud di batu. Begitu bangkit dia langsung berkata.

"Wahai Junjungan, itulah kisah bagaimana aku telah mencelakai Lakasipo. Aku berhasil melakukannya sesuai dengan permintaan Lahopeng, musuh besar Lakasipo. Junjungan, bukankah aku juga telah memberi tahu padamu sebelum aku menyantet Lakasipo melalui roh istrinya hingga dua kakinya tenggelam dalam dua buah batu. Namun seperti kataku tadi, secara tidak terduga muncul satu makhluk dari negeri seribu dua ratus tahun mendatang. Walau sosoknya hanya sejari kelingking tapi dia mampu menolong Lakasipo... ."

Makhluk yang dipanggil dengan sebutan Junjungan menyeringai buruk lalu rangkapkan dua tangan jerangkongnya.

"Hantu Santet Laknat aku tahu sebetulnya kau lebih banyak dipengaruhi oleh Lahopeng hingga menempuh cara keliru dalam menyantet Lakasipo. Sebenarnya kau bisa membunuh orang itu dengan ilmu Lintah Penyedot Jantung! Dalam waktu sepenanakan nasi saja Lakasipo pasti sudah menemui ajal! Mengapa harus memakai jalan sulit berbelit, menyantet lewat roh halus segala?!"

Hantu Santet Laknat terdiam. Lalu dia buru-buru jatuhkan diri bersujud dan berkata.

"Kalau caraku memang keliru, aku mohon maafmu wahai Junjungan ...."

"Apa yang kau terima dari Lahopeng sebagai upah?" Sang Junjungan bertanya.

"Dia memberikan beberapa butir batu permata. Semua sudah kutelan," jawab si nenek bermuka gagak hitam. Sang Junjungan menyeringai.

"Kau sengaja menelan batu-batu permata itu. Berarti kau masih ingin mempertahankan llmu Bersalin Wajah yang kau miliki ..."

"Kira-kira memang begitu wahai Junjungan," jawab Hantu Santet Laknat

"Sekarang aku ingin kau menerangkan tentang makhluk dari negeri seribu dua ratus tahun mendatang, yang katamu muncul tak terduga menolong Lakasipo ...."

" Aku akan terangkan padamu wahai Junjungan. Aku akan terangkan ..." kata Hantu Santet Laknat pula setelah lebih dulu bersujud tempelkan keningnya di atas batu.

"Orang itu masih muda. Namanya Wiro Sableng, konon dia berjuluk Pendekar 212 ...."

"Dua satu dua ..." engulang sang Junjungan.

"Apa artinya itu?"

"Mohon maafmu wahai Junjungan. Aku sendiri tidak mengerti apa arti tiga buah angka itu ...."

"Kau harus menyelidikinya nanti. Mungkin di situ terletak kehebatannya. Tapi bisa juga sekaligus letak kelemahannya .... Teruskan keteranganmu Hantu Santet Laknat!"

"Pemuda itu muncul bersama dua temannya. Yang satu seorang bocah bernama Naga Kuning. Satu lagi seorang kakek bau pesing karena selalu kencing di celana. Dipanggil dengan sebutan Setan Ngompol."

"Air kencing..." berkata sang Junjungan.

"lngat hal itu Hantu Santet Laknat Cairan itu salah satu benda terlarang yang bisa mencelakai dirimu...."

"Aku selalu ingat hal itu wahai Junjungan," kata Hantu Santet Laknat pula. Lalu dia lanjutkan keterangannya.

"Wiro bertemu dengan Lakasipo dalam rimba belantara. Tadinya Lakasipo hendak membunuh pemuda itu dan dua kawannya. Tapi entah bagaimana mereka kemudian jadi bersahabat Bahkan pemuda inilah yang kemudian menolong Lakasipo. Mula-mula ia pergunakan sebuah senjata aneh. Sebilah kapak bermata dua....."

"Sebilah kapak bermata dua katamu?"

"Betul sekali Junjungan," jawab si nenek.

"Tunggu, coba kusirap dulu senjata itu adanya. Sampai dimana kehebatannya...."

Makhluk tengkorak berjubah hitam dongakkan kepalanya. Dua tangan dirangkapkan di depan dada. Dari dua rongga matanya memancar cahaya kemerahan sedang dari hidung dan sela mulutnya membersit keluar asap putih. Sesaat kemudiaan dia berucap.

"Kapak itu menyimpan banyak kesaktian. Semua berasal pada kekuatan api putih. Kau harus berhati hati. Kau harus mengusahakan untuk mendapatkannya ...."

"Akan aku lakukan Junjungan...!"

Sang Junjungan kembali mendongak. Matanya kembali memancarkan cahaya merah dan asap putih lagi-lagi berhembus keluar dari hidung dan mulutnya.

"Tapi Hantu Santet Laknat... Menurut apa yang aku sirap dari alam gaib, bukan kapak itu yang mampu membebaskan Lakasipo! Dalam alam gaib kulihat ada sesosok binatang berbulu putih polos. Seekor harimau ...."

"Benar Junjungan. Setelah gagal membebaskan Lakasipo dengan dua larik sinar hijau yang keluar dari matanya, pemuda itu lantas keluarkan satu ilmu kesaktian aneh. Dia memelihara seekor harimau putih bermata hijau. Harimau jejadian inilah yang kemudian mampu memutus rantai besi pengikat kaki Lakasipo. Juga binatang ini menggali tanah batu tempat Lakasipo terpendam hingga akhirnya dia bisa keluar dari dalam tanah!"

"Aku harus menyirap kembali ke alam gaib!" kata sang Junjungan. Lagi-lagi dia mendongak ke langit dan rangkapkan dua tangan di atas dada jubah hitam. Sesaat kemudian dia memandang pada Hantu Santet Laknat. Rambut putih di atas kepalanya kelihatan tegak kaku seperti kawat

"Nenek bermuka burung gagak!" katanya.

"Kau benar-benar menemui seorang lawan tangguh. Dua larik sinar hijau yang katamu keluar dari sepasang matanya adalah senjata sakti gaib bernama Sepasang Pedang Dewa! Aku tidak bisa menduga Dewa dari mana yang memberikan ilmu itu padanya. Ketika dia menolong Lakasipo bukankah keadaan dirinya masih sebesar kelingking?"

"Benar Junjungan ...."

"Karena sosoknya yang kecil, dia tidak mampu menghimpun kekuatan. Tapi sekarang sosoknya sama besar dengan mahkluk di Negeri Latanahsilam. Kehebatan Sepasang Pedang Dewa tidak bisa dianggap enteng. Kau benar-benar harus hati-hati terhadap orang itu Hantu Santet Laknat. Lalu harimau putih yang kau sebutkan itu, binatang gaib tersebut memang pelindung yang mengikutinya kemana dia pergi. Walau dia tidak bisa menghancurkan dua batu bundar yang membungkus kaki Lakasipo tapi harimau putih itu sangat berbahaya!"

Hantu Santet Laknat terdiam sejenak Lalu berkata.

"Sebenarnya aku tidak takut pada pemuda itu wahai Junjungan. Aku yakin bisa membunuhnya jika berhadapan!"

"Jangan menganggap enteng makhluk satu ini Hantu Santet Laknat. Dia bukan saja punya ilmu kesaktian hebat, tapi juga memiliki akal dan otak cerdik!"

"Kalau begitu aku minta petunjukmu wahai Junjungan," memohon Hantu Santet Laknat

"Dengar baik-baik apa yang aku ucapkan!" kata sang Junjungan pula.

"Jika seseorang merasa sanggup menguasai musuh, maka dia harus menghancurkan musuh itu. Tapi jika dia merasa belum atau tidak sanggup maka dia haws merangkul musuh tersebut, menjadikannya sahabat Pada saatnya dia merasa mampu maka baru dia menghancurkan sang musuh!"

"Aku mengerti apa yang kau katakan itu Junjungan. Tapi yang belum jelas, apa yang harus aku lakukan terhadap pemuda bernama WiroSableng itu?" tanya Hantu Santet Laknat pula.

"Kau harus enjebaknya agar dia tidak bisa kembali pulang ke negerinya! Aku tahu kau punya otak cerdik dan akal panjang! Kau harus enjebak pemuda itu masuk ke dalam Rimba Lasesatbuntu. Buat dia tak bisa keluar lagi. Buat dia mendekam seumur hidupnya dalam rimba belantara itu. Dengan demikian segala npa yang kau lakukan tidak akan mendapat gangguan ...."

Hantu Santet Laknat mengangguk-angguk.

"Kalau begitu petunjukmu akan aku lakukan ...."

"Tapi! Seperti ucapanku tadi!" berkata sang Junjungan.

"Jika kau menghadapi perlawanan dan kau tidak sanggup melawannya, kau harus menjalankan rencana ke dua. Kau harus merangkul musuh berbahaya itu! Kau harus memperlakukannya sebagai suami! Kau harus mengawininya!"

Sosok si nenek Hantu Santet Laknat tersentak saking kagetnya mendengar ucapan sang Junjungan.

"Wahai Junjungan, bagaimana mungkin aku mengawini pemuda itu ... ?"

"Mengapa tidak mungkin? Dia laki-laki, kau perempuan? Apa kesulitannya? Lain halnya kalau kalian sama-sama lelaki atau kalian dua duanya perempuan!"

"Maksudku .... Maksudku bukan itu wahai Junjungan! Tekad-ku sudah bulat untuk membunuhnya dari pada di belakang hari menimbulkan malapetaka bagi diriku. Tapi untuk mengawininya ...."

"Hantu Santet Laknat, apa kau pernah melihat sendiri? Pernah bertemu muka dengan pemuda bernama Wiro itu?" tanya sang Junjungan pula.

"Selama ini memang belum pernah Junjungan."

"Makin cepat kau bertemu dengan pemuda itu makin baik! Lihat saja nanti bagaimana sikap dan perasaanmu setelah melihatnya!"

"Junjungan, kalau maksudmu aku akan tertarik padanya mungkin jauh panggang dari api. Bukankah kau tahu bahwa hanya ada satu orang yang aku cintai di dunia ini? Yaitu Hantu Muka Dua."

Muka tengkorak sang Junjungan menyeringai. Dari mulutnya mengepul asap putih.

"AKu tidak ingin kau memutus cinta dengan Hantu Muka Dua. Tapi jika aku jadimu sudah sejak lama aku tinggalkan makhluk keji satu itu. Setiap hari dia bergelimang dosa dengan gadis cantik, Apa kau merasa dirimu bisa bersaing dengan gadis-gadis itu walau kau punya llmu Bersalin Wajah? Karena itu lagi-lagi kuminta agar kau segera mencari pemuda bernama Wiro itu. Jika kau meang tidak suka padanya dan tidak ingin merangkulnya, tidak ingin berselingkuh dengan kekasihmu si Hantu Muka Dua, maka kau tinggal menjebloskan Wiro ke dalam rimba Lasesatbuntu."

"Aku akan lakukan apa katamu.wahai Junjungan," kata Hantu Santet Laknat mengambil sikap mengalah.

"Sekarang mengenai muridmu bernama Latandai alias Hantu Bara Kaliatus itu!" kata makhluk muka tengkorak dan jerangkong berjubah hitam.

"Bukankah kau telah memerintahkannya untuk membunuh Lakasipo dan istrinya sendiri yang bernama Luhsantini itu? Jangan kau berdusta! Semua tugas itu belum terlaksana!"

"Aku mohon maafmu Junjungan. Hantu Bara. Kaliatus meang sedang kucari-cari karena sejak beberapa lama ini dia tidak muncul. Setahuku dia memang pernah hendak mencoba membunuh istrinya Luhsantini. Tapi muncul seorang gadis sakti penunggang kura-kura terbang bernama Luhjelita. Gadis ini menolong Luhsantini hingga maksud Hantu Bara Kaliatus membunuh istrinya gagal. Dia juga gagal membunuh Lakasipo!"

"Murid seperti itu tidak ada gunanya. Kau harus cari dia! Perintahkan sekali lagi untuk membunuh Lakasipo dan Luhsantini. Jika dia gagal lagi aku perintahkan padamu untuk membunuh murid tak berguna itu! Kau harus sadar Hantu Santet Laknat! Lakasipo adalah salah satu musuh besarmu yang selalu berusaha mencari dan membunuhu. Karena dia sudah tahu kaulah yang menyantet dirinya!" Hantu Santet Laknat mengangguk perlahan.

"Akan aku lakukan apa katamu wahai Junjungan."

"Sekarang mengenai manusia bernama Lawunqu!" berucap sang Junjungan.

"Kau gagal membunuh manusia satu itu padahal sekujur tubuhnya sampai tulang belulangnya telah diselubungi luka borok membusuk akibat santetanmu! Mengapa kau gagal membunuh manusia itu?! Apa yang telah terjadi?!"

"Aku mohon aafmu wahai Junjungan. Seperti. kejadian yang lain-lainnya, peristiwa satu inipun gagal akibat ulah tak terduga. Padahal racun ular yang aku susupkan ke tubuh Lawungu adalah racun paling jahat! Kali ini yang punya pekerjaan adalah Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab ...."

"Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab!" mengulang makhluk muka tengkorak

"Aku sudah lama mendengar kalau dia memang bersekutu dengan Lawungu dan juga Lasedayu! Tapi kesaktiannya tidak cukup mampu untuk menyembuhkan santetanmu terhadap Lawungu. Kecuali ada satu kekuatan atau kesaktian lain ...."

"Aku menyirap kabar dia menemukan sendok emas sakti bernama Sendok Pelangkah atau Sendok Pemasung Nasib. Dengan benda itu dia mengobati Lawungu!" Menjelaskan Hantu Santet Laknat (Harap baca Episode sebelumnya berjudul "Rahasia Kincir Hantu")

"Aku kecewa! Benar-benar kecewa! Semua ilmu kepandaian yang aku berikan Upadamu seolah tidak ada artinya dan gunanya. Sendok sakti itu! Bagaimana bisa jatuh ke tangan Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab?"

"Dari kabar yang aku sirap, konon Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab merampasnya dari tangan Hantu Muka Dua!"

"Kalau Hantu Muka Dua bisa dipercaya seperti itu berarti memang benar kabar yang aku dengar bahwa Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab adalah makhluk paling tinggi kepandaiannya di Negeri Latanahsilam. Wahai, kau harus memutar otak, mempergunakan kelicikan untuk menyingkirkan Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab. Tapi buat dulu dia menderita tersiksa batin sebelum kau habisi ...."

"Caranya bagaimana wahai Junjungan?" tanya Hantu Santet Laknat.

"Kudengar dia punya dua orang cucu yang cantik-cantik. Bernama Luhkemboja dan Luhkenanga. Mungkin kau bisa melakukan sesuatu atas diri mereka. Biar Hantu Sejuta Tanya Hantu Sejuta Jawab tahu rasa! Sekarang apa kau tahu dimana beradanya Sendok Pemasung Nasib itu?"

"Aku memang tengah menyelidik dan menyirap kabar. Aku akan berusaha mendapatkannya...."

"Sendok emas sakti itu harus kau dapatkan. Tapi yang penting bagimu saat ini adalah mencari pemuda asing bernama Wiro itu!"

"Aku akan segera melakukannya wahai Junjungan," kata Hantu Santet Laknat pula.

"Jangan lupa menyelesaikan urusan nyawa dengan Lakasipo dan Luhsantini. Aku akan mengawasi prilaku serta semua perbuatanmu di Negeri Latanahsilam. Sekali lagi kau mengecewa-kan aku, riwayatmu akan kuakhiri selama-lamanya. lngat hal itu Hantu Santet Laknat! Jika aku masih merasa kasihan padamu mungkin aku hanya akan mencabut semua kepandaian yang pernah aku berikan padamu. Tapi itu baru kemungkinan saja. Karena aku lebih suka melihat kau terjelapak tanpa nyawa! lngat itu baik-baik!" Kuduk Hantu Santet Laknat terasa dingin.

"Aku akan ingat, wahai Junjungan," kata si nenek muka gagak lalu sujud di atas batu. Ketika dia mengangkat kepalanya kembali makhluk kepala tengkorak badan jerangkong sudah tidak ada lagi.* * *TIGAKUDA hitam berkaki enam dan memiliki sepasang tanduk di kepalanya tegak di puncak bukit batu dengan sikap gagah. Di atasnya duduk Hantu Kaki Batu, memandang ke arah lembah batu dibawahnya. Di kejauhan menjulang Gunung Labatuhitam.

"Sunyi, tak kelihatan ada makhluk apapun di bawah sana. Apakah sejak berpisah dengank tempo hari dia memang kembali ke sini atau pergi ke tempat lain?" Hantu Kaki Batu alias Lakasipo bertanya-tanya dalam hati.

"Kalau dia memang tidak ada di tempat ini kemana aku harus mencari?" Lakasipo memandang seputar lembah yang dipenuhi bebatuan hitam berbagai bentuk dan ukuran sambil usap-usap tengkuk laekakienam, kudaraksasa tunggangannya.

"Lae, keluarkan ringkikanmu. Beri tanda bahwa kita berada di tempat ini!" kata Lakasipo berucap pada kuda hitamnya. Mendengar ucapan itu kuda hitam berkaki enam angkat empat kaki depannya lalu keluarkan suara ringkikan keras, menggelegar dan bergema di seantero kawasan bukit dan lembah batu. Begitu suara gema ringkikan kuda lenyap, suasana di tempat itu kembali sunyi. Lakasipo memandang lagi, menyelidik ke setiap sudut lembah.

"Mungkin aku harus turun menyelidik ke lembah. Setahuku di bawah sana ada satu goa. Mungkin dia tengah melatih ilmu atau bersemadi hingga tidak mendengar suara ringkikan Laekakienam." Berpikir begitu Lakasipo segera tepuk pinggul kudanya. Namun sebelum binatang bermata merah ini bergerak melangkah tiba-tiba dari arah langit sebelah utara terdengar suara suitan keras. Mendongak ke atas Lakasipo melihat satu makhluk hitam bersayap lebar, melesat terbang ke arah bukit di mana dia berada, ditunggangi seorang lelaki berambut panjang melambai-lambai. "Walet raksasa!" desis Lakasipo.

"Penunggangnya pasti si jahanam Latandai! Masih hidup rupanya makhluk keji satu itu!" Baru saja Lakasipo berkata begitu tiba-tiba dari atas sana melesat dua buah benda berapi yang mengeluarkan cahaya merah seperti ekor panjang. Satu menghantam ke arah kepala Laekakienam, satu lagi menyambar ke jurusan kepala Lakasipo. Lakasipo keluarkan seruan keras. Tangan kirinya menepuk pinggul Laekakienam. Kuda hitam raksasa ini meringkik dahsyat lalu melompat ke kiri. Binatang ini selamat karena benda merah berbuntut api lewat hanya setengah jengkal dari sisi kiri kepalanya. Benda ini yang ternyata adalah sebuah bara menyala amblas masuk ke dalam lamping batu. Lamping batu kepulkan asap tebal lalu

"krakkk! Byaaarr!"

Dinding batu itu hancur berantakan! Ketika menggebrak pinggul kudanya Lakasipo sendiri saat itu telah melesat dari punggung kuda, membuat gerakan jungkir balk Sambil melayang turun dia hantamkan kaki kanannya yang terbungkus batu berbentuk bola.

"Byaaarr!"

Benda merah menyala yang hendak menghantam kepalanya mencelat mental, hancur bertaburan. Lakasipo sendiri merasa kakinya seperti disengat api Termiring- miring dia tegak di atas batu bukit Ketika diperhatikan temyata ada bagian batu yang membungkus kakinya telah menjadi gompal dan hangus di salah satu bagian.

Di udara, penunggang walet raksasa tertawa bergelak, Setelah berputar dua kali walet hitam itu menukik turun. Saat itulah Lakasipo hantamkan tangan kanannya. Lima jari tangan menjentik keras.

Lima larik sinar hitam membeset ke udara, menggempur walet raksasa dan penunggangnya dari lima jurusan. Seperti tahu bahaya walet raksasa menggebrakkan sayapnya. Binatang ini menukik tajam sementara penunggangnya melompat sebat, lalu laksana terbang dia melayang ke bawah dan turun di atas bukit batu, terpisah sejarak dua belas langkah dari hadapan Lakasipo.

Sepasang alisnya menjungkat ke atas ketika mendengar suara walet hitam menguik di udara pertanda binatang itu mengalami kesakitan hebat Nyatanya, salah satu dari lima larikan sinar hitam berhasil menghantam sayapnya, merobek hangus bagian kulitnya dan menghancurkan jaringan tulang-tulangnya. Sebagian dari sayap itu kelihatan menciut pendek Dalam keadaan oleng dan sayap mengepulkan asap walet hitam ini mendarat di atas sebuah batu berbentuk miring. dari mulutnya tiada henti keluar suara menguik kesakitan.

"Hantu Kaki Batu jahanam!" merutuk orang yang barusan melompat dari punggung walet hitam dan berhasil selamatkan diri dari serangan larikan sinar hitam. Rahangnya menggembung. "llmu Lima Kutuk dari Langit yang dimilikinya benar-benar berbahaya!"

"Dia harus bayar mahal apa yang telah dilakukannya! Dia telah melukai walet tungganganku!" Orang yang tegak di hadapan Lakasipo itu bertubuh tinggi besar tapi tidak sekekar Lakasipo.

Berdirinya agak terbungkuk seolah ada sesuatu yang berat di bawah perutnya. Gerakannya walau kelihatan hebat, tapi mata orang pandai akan melihat bahwa sebenarnya dia bergerak lamban. Rambutnya panjang acak-acakan. Pipi kirinya ada cacat besar bekas luka. Tangan kirinya sebatas siku ke bawah disambung dengan sejenis logam biru yang dipenuhi tonjolan tonjolan runcing. Yang hebat dan juga aneh ialah keadaan bagian tubuhnya di sebelah dada sampai ke perut. Seolah ada api di sebelah dalam, bagian tubuhnya itu meancarkan cahaya kemerah-merahan. Cahaya ini berasal dari bara menyala yang mendekam di dalam tubuhnya.

Beberapa waktu silam dari dukun jahat si nenek Hantu Santet Laknat dia pernah mendapatkan satu ilmu dahsyat yang disebut Bara Setan Penghancur Jagat. Di kepala, dada dan perutnya menempel dua ratus bara menyala yang bisa dijadikannya senjata ganas luar biasa. Kejahatan dan kekejian yang dibuatnya menyebabkan Peri Bunda enjatuhkan kutuk. Baa menyala yang tadinya ada di luar tubuhdimasukkan ke dalam perutnya! Membuat dia menderita tersiksa setengah mati.

Dalam keadaan antara hidup dan mati dia melakukan tapa di satu tempat terpencil hingga akhirnya dia mampu meredam panasnya bara menyala yang ada di dalam tubuhnya. Malah kemudian bara menyala itu kembali dapat dipergunakannya sebagai senjata seperti barusan yang dilakukannya terhadap Laekakienam dan Lakasipo.

"Hantu Kaki Batu! Kau masih berani datang ke tempat ini mencari istriku Luhsantini! Benar-benar berani mati!" Lakasipo tertawa bergelak.

"Hantu Bara Kaliatus ternyata kau masih hidup! Tapi sayang, otakmu sudah miring! Apa kau tidak sadar, sejak kau hendak membunuhnya yang ke dua kali, sejak itu pula dia tidak sudi lagi menjadi istrimu?! Baginya kau tidak lebih dari pada iblis biadab dari pusaran neraka jahanam!" Mendidih amarah Latandai alias Hantu Bara Kaliatus.

"Makhluk jahanam! Perampas istri orang! Kalau Luhsantini ada di sini biar perempuan celaka itu menyaksikan bagaimana aku memanggang tubuhmu sampai gosong!"

" Jangan bicara terlalu sombong hantu laknat! Cacat di pipi kirimu bekas hantaman rantai kakiku, serta cacat di lengan kirimu bekas hajaran Luhsantini masih membekas nyata! Apa kau mau minta tambahan hajaran baru dariku?! Atau mungkin kau minta barang di bawah pelutmu aku buat tambah besar dari yang ada sekarang?!" (Seperti dituturkan dalam Episode berjudul "Hantu Bara Kaliatus" atas nasihat nakal Naga Kuning Lakasipo telah menotok urat besar di pangkal paha Hantu Bara Kaliatus. Akibatnya anggota rahasia lelaki itu menjadi gembung besar seperti orang kondor. lnilah yang membuat gerakannya menjadi lamban).

Tambah mendidih amarah Hantu Bara Kaliatus mendengar kata-kata Lakasipo itu. Rahangnya menggembung, mulutnya berkomat-kamit. Dia angkat tangan kirinya tinggi-tinggi melewati kepala.

"Bleeepp ... bleepp ... bleeppp!"

Dari belasan tonjolan runcing yang ada di sekujur lengan besi Hantu Bara Kaliatus membersit nyala api berwarna biru gelap mengeluarkan suara mendesis tak berkeputusan.

"Hantu Kaki Batu, sayang sekali! Kau tidak menyadari bahwa kau akan menemui kematian lebih cepat dari yang kau duga!"

"Nyawa manusia tidak berada dalam kuasa manusia lainnya! Karenanya jangan bicara berpongah diri! Mungkin kau yang lebih dulu akan kujebloskan ke alam Roh!" Bersamaan dengan selesai ucapannya Hantu Kaki Batu melompat. Kaki kirinya yang terbungkus bola batu berdesing mencari sasaran di pinggul Hantu Bara Kaliatus dalam jurus yang disebut "Kaki Roh Pengantar Maut." Dari kaki serta bulatan batu membersit sinar hitam. Bersamaan dengan itu tangan kanannya lepaskan pukulan "Lima Kutuk Dari Langit"!

Hantu Bara Kaliatus seolah menganggap enteng serangan maut yang dilancarkan lawan. Sambil tertawa mengejekdia gerakkan tangan kirinya. Terjadilah hal yang membuat kejut Hantu Kaki Batu bukan alang kepalang. Begitu Hantu Bara Kaliatus menggerakkan tangan kirinya yang sebagian terbuat dari logam aneh, dari belasan tonjolan runcing, bergulung keluar larikan larikan api panjang berwarna biru, sangat panas. Gulungan api ini berbentuk demikian rupa seperti jaringan besar yang dengan cepat menghantam dan menggulung ke arah Hantu Kaki Batu!

"Api lblis Penjaring Roh!" teriak Lakasipo menyebut ilmu yang dikeluarkan lawannya itu.

"Setahuku ilmu ini hanya dimiliki oleh Hantu Santet Laknat! Celaka! Bagaimana jahanam ini bisa memilikinya!"

"Dress!"

Bola batu di kaki kiri Lakasipo terpental.Tubuhnya ikut terpelanting sampai tiga tobak. Lalu jatuh terbanting di tanah.

"Wuss! Wusssss! Wusssss! wussssss!"

Lima larik sinar hitam pukulan sakti Lima Kutuk Dari Langit yang tadi dihantamkan Lakasipo hancur bertaburan berubah menjadi asap begitu saling bentur dengan jaringan api biru. Dengan uka pucat dan sekujur tubuh sakit Lakasipo cepat bangkit berdiri. Namun

"wuuutttt!"

Jaringan Api lblis cepat berkelebat menggulung dan membungkus tubuhnya.

"Cessss! Cessss! Cessss!"

Tubuh Lakasipo terpanggang hangus di beberapa bagian. Lelaki ini menjerit kesakitan. Dia berusaha lepaskan diri dari jaring api biru tapi sia-sia saja. Semakin dicoba semakin banyak bagian tubuhnya yang terluka hangus!

"Celaka! Aku tak bisa membebaskan diriku! Aku akan terpanggang hancur dalam jaring api ini!" Di hadapan Lakasipo. Hantu Bara Kaliatus berkacak pinggang dan tertawa bergelak. Sekali dia meniup maka api biru yang membersit dari tonjolan tonjolan runcing di tangan kirinya pun padam. Tapi jaring api biru masih tetap membungkus sosok Lakasipo dan semakin panas hingga Lakasipo merasa tubuhnya seolah mulai meleleh!

"Bara Kaliatus keparat! Apa hubunganmu dengan Hantu Santet Laknat?!" Berteriak Laksipo.

"Ha .... ha .... ha! Jadi kau rupanya mengenali ilmu kesaktian yang kini menjaring sekujur tubuhmu! Ha ... ha ... ha! Dengar baik-baik wahai makhluk malang! Aku adalah murid si nenek sakti berjuluk Hantu Santet laknat yang kau tanyakan itu! Ha ... ha ... ha ... ha!"

Dalam sakitnya Lakasipo terkejut bukan main. Lebih-lebih ketika mendengar Hantu Bara Kaliatus meneruskan ucapannya.

"Dendam kesumatku terhadapmu hari ini terbalas sudah! Sekaligus aku berhasil pula melaksanakan tugas dari guruku! Selamat tinggal Hantu Kaki Batu! Sebelum matahari tenggelam sekujur tubuhmu akan berubah menjadi bangkai meleleh!"

Lakasipo mendongak langit. Saat itu sang surya telah jauh menggelincir ke arah barat. Tak lama lagi matahari akan segera tenggelam. Berarti umurnya memang tak akan lama. Dia coba gerakkan tangan untuk menghantam tapi

"cesss!"

Sedikit saja dia bergerak, jaring api melukai dan menghanguskan tubuhnya!

"Hantu .Bara Kaliatus jahanam! Kelak para Dewa akan menjatuhkan hukuman atas dirimu!" Hantu Bara Kaliatus yang sudah berjalan beberapa langkah menghampiri walet tunggangannya balikkan diri. Sambil menyeringai dia berkata.

"Kalau kau merasa punya Dewa, panggilah! Berteriak minta tolong! Agar kau bisa keluar dari Api lblis Penjaring Roh! Ha ... ha ... ha!" Hantu Bara Kaliatus tertawa bergelak lalu tinggalkan tempat itu.

"Terkutuk kau Latandai! Terkutuk kau Hantu Bara Kaliatus!" teriak Lakasipo. Latandai alias Hantu Bara Kaliatus tidak perdulikan teriakan caci maki Lakasipo. Sambil terus tertawa dia menghampiri walet hitam. Dia tahu walau binatang itu menderita cidera akibat hantaman Lakasipo tadi, sang walet masih bisa menerbangkannya meninggalkan lembah batu itu. Namun tiga langkah di hadapan walet raksasa, kaki Hantu Bara Kaliatus seolah terpantek ke tanah. Matanya membeliak begitu menyaksikan bagaimana kepala walet tunggangannya berada dalam keadaan hancur. Dua sayap dan kakinya menggelepar dan melejang-lejang beberapa kali lalu diam tak berkutik lagi. Hantu Bara kaliatus berteriak marah.

"Jahanam berani mati! Siapa membunuh waletku?!" Sebagai jawaban tiba-tiba menggema suara cekikikan dari balik sebuah batu besar di samping kiri Hantu Bara Kaliatus. Lelaki ini segera membalik dan menghantam dengan pukulan Selusin Bianglala Hitam!. Dengan ilmu kesaktian inilah dulu dia hendak membunuh istrinya atas suruhan Hantu Santet Laknat!.

Dua belas sinar hitam menderu angker. Dua belas lobang kelihatan di batu itu. Asap mengepul lalu

"braakk ... byaaarrr!"

Batu besar hancur berantakan berkeping-keping. Pecahan dan debunya beterbangan ke udara mmenertupi pemandangan. Ketika kepingan batu dan debu surut jatuh ke tanah dan keadaan terang kemlbali, di depan sana tampak berdiri dua orang. Yang pertama seorang kakek yang berdiri terbalik secara aneh yakni dua tangan dijadikan kaki sedang sepasang kaki berada di sebelah atas.

Orang ke dua seorang perempuan cantik berpakaian serba merah. Saat itu Lakasipo berada di dalam keadaan cidera berat. Hampir sekujur tubuhnya hangus akibat bersentuhan dengan Api lblis Penjaring Roh. Sakitnya bukan olah-olah. Lututnya sudah goyah, pemandangannya berkunang-kunang. Walau samar-samar dia masih bisa mengenali siapa adanya dua orang di seberang sana.* * *EMPATMULUT Lakasipo bergetar ketika perlahan, antara terdengar dan tiada dia menyebut nama kedua orang itu.

"Hantu Langit Terjungkir.... Luhsantini...." Kakek yang tegak di atas dua tangannya itu memang Lasedayu alias Hantu Langit Terjungkir adanya. Sedang perempuan cantik berpakaian serba merah adalah Luhsantini, bekas istri Hantu Bara Kaliatus.

Melihat kemunculan istrinya, Hantu Bara Kaliatus yang sedang marah karena menemukan walet terbang tunggangannya dalam keadaan mati pecah kepala jadi bertambah marah. Sekali lompat saja dia telah berada di hadapan Luhsantini.

"Perempuan laknat! lstri celaka! Pasti kau yang telah membunuh walet tungganganku! Kepalanya hancur!"

"Makhluk keji tak mengenal tobat! Tangan kirimu sudah kuhancurkan! Apa itu tidak cukup menjadi pelajaran? Rupanya kau memang minta kuhancurkan kepalamu seperti aku menghancurkan kepala walet hitam itu!" Balas mendamprat Luhsantini. Hantu Bara Kaliatus keluarkan suara menggembor. Mulutnya berteriak.

"lstri celaka! Dicari-cari tidak bertemu! Sekarang malah muncul sendiri mengantar nyawa!" Rahang Hantu Bara Kaliatus menggembung lalu begitu dia meniup ke depan, dua buah bara menyala melesat menyerang Luhsantini. Tapi Luhsantini cepat menyingkir selamatkan diri

"Makhluk keji! Haram bagimu menyebut diriku istri!"

"Kalau begitu biar kusebut kau gendak Lakasipo alias Hantu Kaki Batu! Mungkin kau lebih senang dipanggil begitu!" Penuh luapan amarah kembali Hantu Bara Kaliatus menyergap Luhsantini. Dia melompat sambil kembali semburkan dua bara api yang ada dalam perutnya. Jelas sekali dia benar-benar ingin membunuh Luhsantini.

Perempuan ini cepat berkelebat dan siap balas menyerang. Namun dari samping kakek yang tegak kepala ke bawah kaki di atas gerakkan dua kakinya. Dua larik angin dahsyat berwarna ke biruan menebar hawa dingin melabrak ke depan.

Latandai alias Hantu Bara Kaliatus tersentak kaget ketika hantaman angin itu sanggup membuat dua bara api yang disemburkannya terpental kesamping hingga Luhsantini selamat dari serangannya. Selain itu sambaran angin tadi sempat membuat dia terhuyung huyung sampai dua langkah.

"Tua bangka jahanam! Siapa kau!" teriak Hantu Bara Kaliatus walau diam-diam dia sudah bisa menduga siapa adanya kakek aneh berpakaian compang camping dan berdiri kaki ke atas kepala ke bawah ini. Kakek yang dibentak keluarkan suara mengekeh. Dua kakinya digerakkan kembali, siap untuk menghantam, tapi di sebelahnya Luhsantini berkata.

. "Kakek Hantu Langit Terjungkir, harap kau suka menolong lelaki dalam jaring api biru itu! Biar aku melayani jahaman sesat yang otaknya sudah dicuci oleh si dukun santet Hantu Santet Laknat ini!" Mendengar ucapan Luhsantini Hantu Langit Terjungkir berkata

"Hati-hatilah. Perhatikan gerak tangan kirinya! llmu jaring api birunya sangat berbahaya!" Sehabis memberi ingat begitu si kakek segera berkelebat ke arah sosok yang terjebak dalam jaring api. Dari jauh dia tidakbegitu jelas dan tidak mengenali siapa adanya orang itu. Tapi begitu berdekatan, terkejutlah si orang tua.

"Lakasipo ...." Katanya menyebut nama itu dengan suara bergetar.

"Kau rupanya .... Aku memang tengah mencarimu. Sejak kau datang ke Lembah Seribu Kabut, aku selalu teringat padamu dan ingin bertemu denganmu ...."

"Kek, aku tak dapat menyalahkanmu," jawab Lakasipo. Saat itu tubuhnya yang penuh luka dan hangus sudah mulai goyah. Tegaknya menghuyung. Pemandangannya seperti kabur. Dia kumpulkan seluruh tenaga untuk bisa keluarkan ucapan menyam-bung kata katanya tadi.

"Kau tentu masih merasa sangat penasaran. Karena kebodohan dan kelalaianku hingga sendok emas sakti yang bisa mengembalikan kesaktianmu amblas dilarikan orang!" Kepala si kakek yang berada di sebelah bawah kelihatan digelengkan beberapa kali.

"Wahai ... Bukan! Sendok sakti itu memang sangat penting artinya bagi penyembuhan diriku yang menderita tersiksa penuh sengsara ini. Tapi jauh lebih penting ada hal lain yang hendak aku bicarakan denganmu. Menyangkut rahasia aku sebagai seorang ayah dan ...."

"Kek, aku ...." Belum habis Hantu Langit Terjungkir bicara Lakasipo sudah memotong. Saat itu sosoknya yang berada di dalam jaring api biru tersandar ke belakang.

"Cesss!"

Daging punggungnya yang bersentuhan dengan jaring api langsung luka. Lakasipo keluarkan jerit kesakitan. Tulang-tulang di sekujur tubuhnya seolah leleh. Dia jatuh terkulai. Pingsan tak sadarkan diri.

"Jaring jahanam! Kalau tidak kutolong sesaat lagi dia pasti akan hangus menemui ajal! Para Dewa beri aku kemampuan menolong dirinya!" Enteng sekali, laksana kabut mengambang di udara, sosok Hantu Langit Terjungkir naik ke atas. Lalu laksanakan kilat gerakannya berubah cepat luar biasa, melompat ke bagian atas jaring Api lblis Penjaring Roh lalu mencengkram!

"Cesss! Cesssss!"

Telapak tangan kiri kanan Hantu Langit Terjungkir hangus terkelupas. Sakitnya bukan kepalang tapi si kakek cuma kelihatan menyeringai. Dia kerahkan tenaga dalamnya yang secara aneh berpusat di kening. Dari tubuhnya kelihatan memancar asap kebiru-biruan. Ketika mulutnya meniup ke bawah maka menyemburlah cahaya biru menebar hawa dingin luar biasa.

"Ceeessssssss!"

Jaring Api lblis Penjaring Roh yang merupakan pancaran api biru panas luar biasa keluarkan suara mendesis panjang laksana diguyur air es. Asap biru membubung ke udara. Warna birunya bukan saja menjadi redup tapi hawa panasnya serta merta lenyap.

Jaring biru itu kini tidak bedanya seperti terbuat dari tali biasa. Lakasipo selamat dari kematian walau hampir sekujur tubuhnya hangus terkelupas dan saat itu dia masih tergeletak tak sadarkan diri. Dengan dua tangannya Hantu Langit Terjungkir berusaha merobek putus jaring api biru. Tapi luar biasanya jaring yang sudah berubah dingin itu atos sekali. Bagaimanapun si kakek mengerahkan kesaktiannya tetap saja dia tidak mampu menjebol jaring guna mengeluarkan Lakasipo yang masih terjerat.

"Jaring jahanam! Setahuku Hantu Santet Laknat tidak memiliki kepandaian menciptakan jaring seperti ini. Kalau tadi makhluk bertangan logam itu mengaku murid si nenek, niscaya dukun jahat itu dapatkan ilmu keparat ini dari seseorang. Aku harus mencari tahu siapa adanya .... Tapi perduli setan! Yang penting saat ini anakitu sudah berhasil aku selamatkan. Kalau perlu aku akan membawanya dalam keadaan masih berada dalam jaring itu.

Mungkin benar kabar yang pernah ku dengar. Hanya ada beberapa orang saja di Negeri Latanahsilam ini yang sanggup menjebol jaring celaka itu. Satu diantaranya si nenek berjuluk Hantu Lembah Laekatakhijau. Tapi tak bisa kuduga apa nenek itu masih hidup. Yang kedua seorang setengah waras berjuluk Hantu Raja Obat atau Hantu Seribu Obat. Tapi salah-salah meminta bisa isi perutku dibedolnya dijadikan ramuan obat!"

Hantu Langit Terjungkir alias Lasedayu pandangi sosok Lakasipo yang melingkar di dalam jaring api biru. Mata orang tua ini tampak berkaca-kaca. Perlahan-lahan tubuhnya melayang ke bawah. Dari sisi kanan kembali dia memperhatikan. Kini pandangan matanya dipusatkan pada bagian belakang atas tangan kanan Lakasipo.

Di antara daging yang terluka dan hangus dia masih bisa melihat tanda aneh dekat ketiak lelaki itu. Yakni tanda menyerupai sekuntum bunga dalam lingkaran. Tetesan air mata jatuh membasahi kening Hantu Langit Terjungkir.

"Aku yakin .... Yakin sekali. Dia salah seorang dari mereka. Wahai Dewa .... Beri aku petunjuk. Yang penting saat ini selamatkan nyawanya. Sembuhkan luka lukanya ...."

Baru saja Hantu Langit Terjungkir berucap seperti itu tiba-tiba disampingnya ada suara orang berkata.

"Tua bangka tolol! Memakai tangan sebagai kaki! Kau menangis meneteskan air mata! Apa orang di dalam jaring itu sudah menemui ajal? Menyingkirlah! Aku mau tahu siapa yang mampus! Orang atau binatang! Jangan-jangan dia! Kalau benar dial sungguh sial nasib diriku!" Setelah itu

"buuuut ... !"

Ada suara orang kentut! Lalu ada satu tangan mendorong. Seperti diketahui walau Hantu Langit Terjungkir telah kehilangan banyak ilmu kesaktian akibat dirampas oleh Hantu Muka Dua, namun sewaktu berada di Lembah Seribu Kabut dia berhasil menghimpun tenaga dalam baru dan menciptakan ilmu kesaktian. Tidak mudah untuk mendorong sosok tubuhnya.

Tapi gerakan orang barusan ternyata mampu membuat si kakek terhuyung-huyung dan sepasang tangannya tergeser satu jengkal ke kiri! Satu sosok berpakaian kuning kemudian lewat disamping Hantu Langit Terjungkir, ulurkan kepala memperhatikan ke dalam jaring api biru.

"Huh! Hanya seekor kadal raksasa mati hangus! Apa perlunya ditangiskan?!" Si baju kuning berkata lalu tertawa cekikikan. Kemudian

"buuuuttt!"* * *LIMAHANTU Langit Terjungkir delikan matanya. Yang tegak di depan jaring ternyata seorang nenek yang sekujur tubuhnya serba kuning mulai dari rambut sampai ke kaki. Di punggungnya dia memanggul sebuah keranjang besar terbuat dari rotan penuh dengan bulu dan kotoran ayam. Saking marahnya mendengar Lakasipo dianggap seekor kadal raksasa si kakek membentak.

"Matamu kuning belekan! Pantas! Manusia hidup kau katakan kadal! Kalau bisamu cuma mengigau dan kentut lekas angkat kaki dari tempat ini!" Tanpa berpaling pada Hantu Langit Terjungkir si nenek muka kuning yang bukan lain adalah Luhkentut alias Nenek Selaksa Angin alias Selaksa Kentut songgengkan pantatnya lalu

"buuutttt ... !"

Dia kentut seenaknya! Setelah itu dia tertawa cekikikan. Sepasang matanya yang kuning sesaat melirik ke arah Hantu Langit Terjungkir. Tiba-tiba dia hentikan tawanya dan mukanya yang kuning kelihatan berkerenyit.

"Heh .... Rasa-rasanya aku pernah melihat tampangmu sebelumnya. Apakah aku pernah mengenal dirimu?!"

"Lebih baik kau tidak kenal diriku! Siapa sudi kenal dengan nenek-nenek busuk sepertimu!" Luhkentut alias Nenek Selaksa Angin alias Hantu Sclaksa Angin tertawa lalu

"buutt!"

Dia kembali terkentut-kentut.

"Tua bangka tidak tahu diri! Jangan kira Cuma kau saja yang bisa kentut! Aku juga bisa!" Teriak Hantu Langit Terjungkir. Lalu dari mulutnya dia keluarkan suara

"buuuttlt ... !"

Hantu Selaksa Angin mendongak ke langit lalu tertawa gelak-gelak.

"Kau memang hebat dalam keanehanmu! Pertama kulihat kau pergunakan tangan sebagai kaki, sementara kaki cuma diuncang-uncang di udara! Lalu kalau aku kentut dari pantat kau pandai kentut dari mulut! Apa tidak aneh dan hebat?! Hik.. hik ... hik!" Hantu Langit Terjunkir memaki panjang pendek.

Sebelumnya dia memang sudah mendengar sifat dan kelakuan nenek satu ini. Maka dia berucap.

"Tidak heran kalau penyakit kentutmu tidak pernah sembuh! Sifat, ucapan dan perbuatanmu selalu seperti orang tidak waras!"

"Siapa bilang aku tidak bisa sembuh! Ada seorang pemuda dari negeri seribu dua ratus tahun mendatang tengah menolongku! Aku pasti sembuh! Buktinya sekarang kentutku sudah tidak panjang lagi seperti dulu!"

"Tua bangka tolol! Masih banyak urusanku di tempat ini. Lekas menyingkir dari sini! Jangan mengganggu orang dengan mulut dan pantatmu!"

"Huh! Bicara sombongnya! Wahai! Kalau tidak kebetulan lewat di sini, dan mengira kadal hangus itu pemuda penolongku, perlu apa aku berada di tempat hi!" Si nenek cibirkan bibirnya. Dia melirik pada si kakek, lalu perhatikan acuh tak acuh perkelahian yang terjadi antara Luhsantini dengan Hantu Bara Kaliatus. Si nenek kembali songgengkan pantatnya dan

"buu ttt... !" Lalu dia putar tubuh hendak pergi.

"Tunggu!" Hantu Langit Terjungkir berseru.

"Pemuda asing yang kau katakan itu. Apakah namanya Wiro Sableng?"

"Apa perdulimu! Siapapun namanya apa urusanmu?!" tukas Luhkentut.

"Buuumt!" saking geramnya Hantu Langit Terjungkir keluarkan suara seperti orang kentut dari mulutnya.

"Aku memang harus perduli. Pemuda itu pernah menyelamat kan diriku! Dengar kau nenek buruk muka kuning! Jika kau berani mencelakai pemuda itu, akan kurajam tubuhmu! Akan kubuat kau jadi matang seperti ikan asap!" Si nenek songgengkan pantatnya. Kembali hendak keluarkan kentut. Tapi tak jadi. Seperti tadi mukanya yang kuning kembali tampak mengerinyit.

"lkan asap ...." ujar si nenek mengulang.

"Aku pernah mendengar nama hidangan itu. lkan pindang ... ! Itu nama lainnya! Wahai .... Apakah aku pernah mengenal dirimu sebelumnya kakek aneh yang pergunakan dua tangan sebagai kaki?!"

"Sudah kubilang aku tidak sudi kena! denganmu! Lekas angkat kaki dari tempat ini!" teriak Lasedayu alias Hantu Langit Terjungkir. Si nenek menyeringai.

"Aku akan pergi. Kau tak usah khawatir. Siapa sudi berlama-lama di tempat celaka ini! Tapi sebelum pergi aku mau lihat dulu tampangnya yang tertutup janggut dan kumis menjulai itu! Siapa tahu aku memang pernah kenal dirimu!" Lalu dengan satu gerakan cepat Nenek Selaksa Kentut alias Selaksa Angin menyambar dua kaki Hantu Langit Terjungkir. Maksudnya dia hendak membalikkan tubuh si kakek sebagaimana mestinya yaitu kepala ke atas kaki ke bawah. Dengan demikian dia bisa melihat lebih jelas sosok serta wajah si kakek.

Namun sebelum sempat hal itu dilakukannya tiba-tiba di arah kiri terdengar suara bergemuruh seperti ada pohon yang tumbang lalu menyusul jeritan perempuan. Gerakan si nenek jadi tertahan sementara Hantu Langit Terjungkir begitu mendengar suara jeritan serta merta berkelebat ke kiri.

Apa yang terjadi?

Sesaat setelah tadi Hantu Langit Terjungkir meninggalkan Luhsantini karena hendak menolong Lakasipo yang terjerat dalam jaring api biru, tanpa menunggu lebih lama Latandai alias Hantu Bara Kaliatus menyergap ke arah Luhsantini yang bekas istrinya itu.

"Perempuan laknat, istri terkutuk! Sebelum kubunuh kau lekas katakan dimana berada anakku si Lamatahati?!" Mendendar ucapan Hantu Bara Kaliatus itu Luhsantini langsung mendamprat!

"Jangan kau berani menyebut Lamatahati sebagai anakmu! Bukankah dulu kau hendak membunuhnya bersama diriku di tepi kawah Gunung Latinggimeru?! Manusia durjana! Sebelum kau membunuhku biar aku lebih dulu mencabut nyawamu! Biar kemudian para Dewa menggiring Rohmu ke pusaran neraka atas langit" Habis berkata begitu Luhsantini berkelebat Tangan kanannya laksana kilat menyambar ke arah dada Hantu Bara Kaliatus. Dari sambaran angin yang mendahului datangnya pukulan, Hantu Bara Kaliatus maklum kalau serangan Luhsantini tidak bisa dianggap remeh. Karena dia tidak bisa bergerak cepat akibat tubuhnya sebelah bawah yang menggembung besar maka Hantu Bara Kaliatus langsung jatuhkan diri, jatuh punggung ke tanah.

"Bukkkk!"

Pukulan Luhsantini menghantam lamping batu Di sebelah depan batu itu tidak kelihatan bergeming sedikitpun, apa lagi retakatau jebol. Tapi luar biasanya, disebelah belakang lamping batu keluarkan suara berderak lalu retak-retak. Satu per satu retakan itu kemudian berderai jatuh, mengepulkan asap seperti hangus! lnilah kehebatan lima pukulan yang selama ini dipelajari dan diyakini Luhsantini, disebut Di balik Labukit Menghancurkan Lagunung!

Melihat serangannya luput, Luhsantini tak tinggal diam. Selagi Hantu Bara Kaliatus masih tertelentang di tanah dia cepat mengejar dengan serangan ke dua. Kalau tadi tenaganya yang bekerja maka kini kaki kanannya membuat gerakan menghunjam. Tumit Luhsantini menderu ke arah kening Hantu Bara Kaliatus.

"lstri laknat perempuan jahanam!" teriak Hantu Bara Kaliatus seraya gulingkan diri ke kanan.

"Terima kematianmu!" Sambil bangkit, dalam keadaan setengah duduk Hantu Bara Kaliatus kerahkan tenaga dalam lalu menyambar.

"Wuutt! Wuuuuttt!"

Latandai keluarkan ilmu Bara Setan Penghancur jagat. Tiga bara merah menyala menyambar cepat dan ganas ke arah Luhsantini. Satu mengarah kepala. Yang ke dua mencari sasaran di dadanya, sedang bara ke tiga menderu ke bagian bawah perutnya.

Melihat tiga serangan dahsyat mengancam dirinya mau tak mau Luhsantini batalkan gerakannya menghantam kepala lawan. Dengan cepat perempuan ini berkelebat ke kanan sambil lepaskan satu pukulan tangan kosong. Luhsantini berhasil menghantam mental bara menyala yang menyerang ke arah kepalanya. Walau serangan sangat berbahaya itu dapat ditangkis, namun tak urung tangan kanannya bergetar hebat sedang ujung lengan panjang pakaian merahnya kepulkan asap. Ujung lengan itu ternyata telah hangus!

Dengan melompat tadi, Luhsantini juga berhasil menghindari batu bara ke dua yang melesat ke arah dadanya, Namun serangan ke tiga masih sempat menyerempet pinggulnya. Perempuan ini terpekik kesakitan. Bukan saja pinggul pakaian merahnya robek hangus tapi daging pinggulnya ikut terserempet luka! Selagi Luhsantini tertegak menahan sakit, Hantu Bara Kaliatus telah berada di hadapannya. Menyeringai sambil angkat tangan kirinya yang disambung dengan logam.

"Gendakmu sudah kujebloskan dalam jaring api biru! Sekarang giliranmu!" Hantu Bara Kaliatus kertakkan rahang. Tangan kirinya digerakkan. Dari pentolan pentolan runcing di sepanjang lengan palsu yang terbuat dari logam itu, melesat keluar larikan-larikan sinar biru, bergulung membentuk jaring. Lalu menyambar ke arah Luhsantini! Perempuan itu cepat menghindar, melompat dan berlindung ke balik sebatang pohon.

"Wuuusss!"

Jaring api yang disebut Api lblis Penjaring Roh menyambar. Laksana senjata tajam membelah air begitulah kelihatan jaring api itu melewati batang pohon. Begitu lewat batang pohon serta merta berubah hangus hitam kebiru-biruan lalu tumbang dengan suara bergemuruh. Luhsantini cepat menyingkir namun dia terkesiap kaget ketika tiba-tiba saja, cepat sekali. Di atasnya jaring api biru telah menyambar ke bawah, siap menjerat tubuhnya! Perempuan ini keluarkan pekik ngeri seraya coba menghantam dengan pukulan tangan kosong mengandung tenaga dalam tinggi. Namun sia-sia saja!

Sekejapan lagi Luhsantini akan dilibas Api lblis Penjaring Roh tiba-tiba menyambar satu gelombang kabut memencarkan warna kebiru-biruan dan menebar hawa dingin luar biasa. Begitu kabut ini bersentuhan dengan jaring api biru terdengar suara "ceesss. ..cessss" berkepanjangan. Cahaya jaring biru kelihatan menjadi redup. Hawa panasnya serta merta menjadi lenyap. Tapi gerakan jaring yang hendak menjerat sosok Luhsantini tetap tidak tertahankan.

Sesaat kemudian perempuan itu sudah terlibat dalam jaring. Masih untung larikan-larikan api jaring telah berubah menjadi seperti tali-tali biasa. Kalau tidak niscaya sekujur wajah dan tubuh Luhsantini akan menjadi terbakar hangus!

"Celaka!" Di sebelah sana Hantu Langit Terjungkir berseru kaget melihat bagaimana Luhsantini telah masuk dalam libatan jaring. Bagaimana pun dia berusaha meloloskan diri tetap saja tidak berhasil. Si kakek sendiri saat itu tengah berusaha mengatur jalan darah dan pernafasannya. Bentrokan antara kabut saktinya tadi dengan api jaring biru telah membuat tubuhnya tergoncang hebat luar dalam. Begitu keadaannya pulih kembali, cepat dia berkelebat mendekati Luhsantini. Tangannya bergerak kian kemari untuk merobek dan memutus jaring. Sia-sia belaka! Hantu Bara Kaliatus keluarkan suara tawa bergelak.

"Jangan harap dia bisa keluar dari dalam jaring itu! Tidak ada satu makhlukpun bisa membebaskannya! Aku memang tidak berhasil membunuh mereka. Tapi aku sudah cukup puas menjebloskan keduanya seumur hidup dalam Api lblis Penjaring Roh Ha... ha ... ha!" Hantu Bara Kaliatus balikkan badannya lalu tinggalkan tempat itu.

"Makhluk keparat!" teriak Hantu Langit Terjungkir.

"Kemana kau lari akan kukejar! Tapi sebelum kau mati di tanganku ada sesuatu yang perlu kutanyakan!" Melihat si kakek hendak mengejar Hantu Bara Kaliatus jadi marah tapi juga khawatir.

"Kakek yang tegak menyungsang ini memiliki kepandaian tinggi! Keadaanku membuat aku tak bisa bergerak cepat. Dia pasti mampu mengejarku! Jahanam! Aku harus dapat mencegahnya!" Hantu Bara Kaliatus buka mulutnya lebar-lebar lalu meniup ke arah si kakek. Yang keluar kali ini bukan lesatan bara api tetapi satu gelombang api. Hantu Langit Terjungkir berseru kaget ketika dia dapatkan dirinya tiba-tiba terkurung kobaran api. Cepat-cepat dia kerahkan tenaga dalam yang ada di kening ke kaki kanannya. Satu larikan besar kabut dingin membeset udara begitu si kakek tendangkan kaki kanannya. Kabut ini lalu bergulung-gulung menyambar kobaran api.

"Wusss ... wussss!"

Kobaran api !enyap. Namun Hantu Bara Kaliatus tak ada lagi di tempat itu.

"Kurang ajar!" Hantu Langit Terjungkir memaki. Dia meman-dang berkeliling. Memperhatikan Lakasipo yang ada dalam jaring. Melihat pada nenek bermuka dan berpakaian serba kuning. Sesaat dia tampak bimbang.

"Apa yang harus aku lakukan .... Lakasipo sementara dalam keadaan aman walau masih dilibat jaring. Nenek muka kuning itu nanti saja kuselidiki siapa dirinya. Biar aku mengejar Hantu Bara Kaliatus. Aku tadi sempat melihat ada tanda bunga dalam lingkaran di lengan kanannya sebelah belakang. Wahai, bagaimana mungkin ada darah dagingku sejahat dirinya? Seganas itukah kutuk Dewa terhadap diriku? Aku harus menyelidiki, harus tahu siapa dia sebenarnya sebelum aku salah menjatuhkan tangan maut!" Habis berkata begitu Hantu Langit Terjungkir segera berkelebat ke arah yang diduganya lenyapnya Hantu Bara Kaliatus.

"Kek! Jangan pergi!" teriak Luhsantini ketika melihat Hantu Langit Terjungkir berkelebat pergi. Saat itu dia masih terus berusaha menjebol jaring agar bisa lolos. Tapi si kakek keburu lenyap. Luhsantini alihkan pandangannya pada nenek muka kuning.

"Wahai! Menurut penglihatanku kau adalah seorang ber-kepandaian tinggi. Mengapa tidak mencoba membebaskan diriku dan menolong pemuda itu?!"

"Buuttt!" si nenek men jawab dengan terkentut lalu tertawa cekikikan membuat Luhsantini menjadi merah wajahnya dan menggerutu marah.

"kalau bisamu cuma kentut melulu, harap pergi saja dari sini!"

Nenek Selaksa Angin pencongkan mulutnya.

"Aku memang mau pergi. Aku mau mengejar kakek aneh tadi! Aku harus harus mencari jawab apa aku kenal padanya atau tidak!"

"Perempuan tua tidak bermalu! Kakek itu jelas tidak sudi berkenalan denganmu, mengapa kau kejar kejar? Jangan-jangan kau bangsa tua bangka gatal!" Luhsantini mendamprat saking marahnya. Dimaki seperti itu si nenek jadi marah. Tangan kanannya bergerak dan

"plaak!" Tamparannya melayang ke pipi kanan Luhsantini. Tamparan yang cukup keras itu membuat Luhsantini terbanting dan terguling-guling dalam jaring. Pipi kanannya serasa lebam dan tulangnya seolah pecah. Terhuyung-huyung Luhsantini bangkit dan menggapai-gapai dalam libatan jaring. Dalam sakit dan juga marahnya tiba-tiba dia melihat salah satu tali jaring di bagian mana tadi tamparan si nenek mendarat berada dalam keadaan putus! Berarti nenek muka kuning itu memiliki kesaktian yang mampu memutus jaring!

"Tua bangka gatal! Mengapa kau cuma menamparku satu kali?! Ayo tampar lagi! Lakukan sepuasmu!" Tiba-tiba Luhsantini berteriak. Si nenek pelototkan matanya. Dia hendak bergerak maju dan benar-benar hendak menampar Luhsantini. Tapi tiba-tiba dia hentikan gerakannya dan menyeringai. Setelah kentut dua kali dia berkata.

"Jangan kira aku tidak tahu akal busukmu! Kau minta aku menampar agar bisa memutus tali-tali jaring!"

"Buutt!" Si nenek kentut.

"Perlu apa menolongmu. Lebih baik aku mencari kibul ayam jantan. Tinggal enam belas ekor lagi! Aku akan segera sembuh! Hik. .. hik!" Si nenek songgengkan pantatnya ke arah Luhsantini lalu kentut lagi dua kali berturut-turut. Setelah itu sekali berkelebat perempuan tua itupun lenyap. Luhsantini memaki habis-habisan.

"Nenek otak miring! Mencari kibul ayam jantan katanya! Apa artinya kibul? Tua bangka tidak berbudi!" Luhsantini kemudian periksa bagian jaring yang putus. Dia coba menarik-narik dan memasukkan kepalanya.

Tapi lobang di jaring masih sangat kecil. Jangankan kepalanya, kepalannya saja tak bisa disusupkan. Dalam bingungnya karena tidak tahu apa yang hendak dilakukan Luhsantini memandang ke arah sosok Lakasipo yang masih terjerat di dalam jaring satunya. Dia tak dapat memastikan apakah lelaki itu hanya pingsan saja atau sudah menemui ajal.

"Lakasipo! Lakasipo!" Luhsantini memanggil berulang-ulang. Namun sosok Lakasipo tidak bergerak. Hanya ada suara erangan pendek keluardari mulutnya. Setelah itu keadaan di tempat itu kembali sunyi senyap.

Sementara di langit sang surya semakin mendekati ufuk tenggelamnya. Sebentar lagi tempat itu akan menjadi gelap. Dalam keadaan seperti itu tiba-tiba semak belukar di sebelah kiri terkuak. Tiga sosok muncul dan salah satu diantaranya berucap.

"Seruan yang memanggil-manggil nama Lakasipo tadi pasti datang dari tempat ini! Tapi tak ada siapa siapa di sini!"

"Hei! Lihat di sebelah sana! Ada orang tergeletak di dalam jaring aneh!" Suara ke dua berseru Menyusul orang ke tiga ikut berteriak.

"Di sebelah situ juga ada jaring satu lagi! Ada orang terjebak di dalamnya!"

"Kawan-kawan! Kau lekas memeriksa orang di dalam jaring sebelah sana! Aku akan berusaha menolong orang satunya!" Ketika orang yang bicara ini melompat ke hadapan jaring dimana Luhsantini berada kagetlah dia karena dia masih bisa mengenali siapa adanya perempuan itu.

"Bukankah .... Bukankah kau orangnya yang bernama Luhsantini?" orang itu bertanya sambil garuk garuk kepala. Luhsantini memperhatikan dari dalam jaring. Matanya penuh selidik.

"Kau siapa?"

"Aku Wiro, saudara angkat Lakasipo. Mungkin kau tidak mengenali diriku. Karena pertama kali bertemu dengan kawan-kawan sosok kami bertiga masih sebesar jari!" Sepasang mata Luhsantini pandangi Pendekar 212. Dia melirik pada sosok dua orang di sebelah sana yakni Naga Kuning dan Si Setan Ngompol.

"Wahai! Aku ingat riwayat kalian bertiga!"

"Apa yang terjadi denganmu? Siapa orang yang ada di dalam jaring sebelah sana ...."

"Dia Lakasipo." Terkejutlah Wiro mendengar jawaban Luhsantini itu. Dia memandang berkeliling. Lalu bertanya.

"Aku harus menolongmu! Ceritakan bagaimana kejadiannya sampai dirimu terjebak dalam jaring aneh ini!"

"Jangan perdulikan diriku. Lebih baik kau menolong Lakasipo lebih dulu. Keadaannya gawat ..." kata Luhsantini.

"Kalau begitu ...." Wiro garuk kepalanya lalu melangkah cepat menghampiri Lakasipo yang tergeletak di tanah, berada dalam jaring. Naga Kuning dan Si Setan Ngompol berusaha membebaskan lelaki itu. Namun akhirnya mereka bingung sendiri karena apapun yang mereka coba tidak sanggup memutus jaring api biru.

"Wiro! Keluarkan kapakmu. Mungkin itu bisa dipakai memutus jaring celaka ini ...." Dari. balik jaring tiba-tiba terdengar suara orang berucap. Suara Lakasipo. Tanpa banyak cerita murid Sinto Gendeng segera keluarkan KapakMaut NagaGeni212. Cahaya matahari yang hendak tenggelam memantuk kuning kemerahan di permukaan dua mata kapak. Ketika Wiro hendak membungkuk mencari bagian yang baik di sebelah kaki jaring untuk dibacok dengan kapak sakti, tiba-tiba ada satu bayangan biru berkelebat dan tegak di hadapan Wiro. Pendekar 212 angkat kepalanya.

"Luhcinta!" ujar murid Eyang Sinto Gendeng ketika melihat siapa yang berdiri di hadapannya. Tentu saja Pendekar 212 merasa gembira dapat bertemu kembali dengan gadis cantik jelita itu. Namun dibalik kecantikan si gadis saat itu Wiro melihat ada satu bayangan rasa gelisah.

"Wiro, ada satu hal sangat penting ingin kubicarakan denganmu. Harap kau sudi mengikutiku ... !" Suara Luhcinta terdengar lirih pertanda memang ada satu tekanan batin yang tengah dialaminya saat itu. Si gadis tahu Wiro akan,memenuhi kehendaknya. Karenanya tanpa menunggu jawaban Wiro dia segera berkelebat pergi.

"Kalian berdua tunggu di sini. Aku tidak akan lama," kata Pendekar 21 2. Lalu dia segera berkelebat pula ke arah lenyapnya Luhcinta.

"Seharusnya dia tinggalkan kapak saki itu. Agar kita bisa menolong Lakasipo!" kata Naga Kuning.

"Dia segera kembali. Dia sendiri bilang tak bakal lama!" menyahut Si Setan Ngompol.

"Kau orang tua yang seperti tidak pernah muda saja Kek! Seorang pemuda dan seorang pemudi berdua-dua di satu tempat sunyi, mana mungkin mau sebentar saja. Apa lagi Luhcinta kelihatannya seperti punya masalah besar!" Apa yang dikhawatirkan Naga Kuning, bocah aneh yang sebenarnya adalah kakek berusia 120 tahun itu menjadi kenyataan, Sampai matahari tenggelam dan kegelapan mencekam di lembah batu itu, Pendekar 212 tak kunjung muncul.

"Apa kataku. Jangan-jangan sesuatu telah terjadi dengan Wiro! Kek, kau tunggu di sini. Aku akan menyelidik!" Si Setan Ngompol yang takut ditinggal sendirian langsung terkencing.

"Aku ikut bersama!" katanya pada Naga Kuning seraya pegangi celana si bocah. Berjalan beberapa tindak Naga Kuning hentikan langkahnya.

"Bagaimanadengan Luhsantinidan Lakasipo?" Anak ini bertanya pada Si Setan Ngompol lalu memandang pada Luhsantini. Dari balik jaring terdengar perempuan itu berucap.

"Jangan perdulikan diriku! Lekas cari Wiro. Lakasipo perlu lekas ditolong. Keadaannya gawat!"

"Kami segera mencarinya! Bertahanlah!" berkata Setan Ngompol. Lalu tetap masih sambil pegangi pantat celana Naga Kuning dia berkata.

"Ayo jalan duluan! Arah sana! Aku lihat si gondrong itu tadi menuju ke sana!" Si kakek menunjuk ke arah deretan pohon-pohon besar dan semak belukar yang merupakan bagian luar atau tepi rimba belantara yang disebut Lasesatbuntu.* * *ENAMPENDEKAR 212 berlari cepat melewati deretan pepohonan dan semak belukar tinggi. Luhcinta berada di sebelah depannya. Walau saat itu cahaya sang surya yang hendak tenggelam mulai redup namun karena Luhcinta tak berapa jauh di depannya dengan mudah Wiro bisa mengikuti lari si gadis.

Sebentar saja kedua orang itu telah masuk jauh ke dalam rimba belantara. Di satu tempat sosok Luhcinta lenyap. Wiro hentikan larinya, memandang berkeliling.

"Luhcinta! Dimana kau?!" Wiro memanggil. Suaranya bergema dalam rimba belantara yang mulai gelap itu. Tak ada jawaban. Wiro menunggu. Sesekali terdengar suara desir dedaunan yang saling gesek oleh tiupan angin.

"Luhcinta?!" Wiro memanggil kembali. Setelah ditunggu tetap tak ada jawaban Wiro bersiap untuk mengerahkan Ilmu Menembus Pandang yang didapatnya dari Ratu Duyung. Namun tak jadi karena saat itu lapat-lapat mendadak dia mendengar suara orang menangis.

"ltu seperti suara Luhcinta! Ada apa dia menangis ...." Wiro sibakkan serumpunan semak belukar lalu bergerak cepat ke arah datangnya suara orang menangis. Suara tangisan itu terdengar semakin jelas tanda semakin dekat. Namun sampai sekian lama Wiro masih belum juga menemukan Luhcinta. Sementara itu tanpa disadarinya Wiro telah masuk makin jauh ke dalam rimba belantara Lasesatbuntu.

Di satu tempat Wiro akhirnya hentikan langkah. Udara bertambah kelam. Wiro mulai menyadari keanehan yang dihadapinya.

"Suara tangis gadis itu dekat sekali. Aku seperti bisa meraba-nya jika tanganku kuulurkan..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.162.154.91
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia