Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : PETUALANGAN WIRO DI LATANAHSILAM

"MAWAR KUNING..." DESIS PERI ANGSA PUTIH. "BUNGA INI HANYA TUMBUH DI TAMAN LARANGAN. MENGAPA BISA BERADA DI SINI? APAKAH PERI BUNDA TAHU KALAU DUA KUNTUM MAWAR KUNING INI TERSELIP DI ANTARA BUNGA-BUNGA LAIN DALAM JAMBANGAN?" TIBA-TIBA PERI ANGSA PUTIH INGAT. TANGANNYA BERGETAR. "MAWAR INILAH YANG TEMPO HARI HAMPIR MEMBUNUH WIRO DI TELAGA. WAHAI PARA DEWA! JANGAN-JANGAN... MUNGKINKAH DIA YANG MELEMPARKAN BUNGA ITU KE DALAM ANAK SUNGAI. UNTUK MERACUN PENDEKAR 212 WIRO SABLENG? APAKAH PERI BUNDA SEJAHAT ITU? BAGAIMANA AKU HARUS MENYELIDIK?"

DUA SOSOK putih berkelebat. Begitu cepatnya gerakan mereka hingga kelihatan seperti bayang-bayang setan, menembus kelebatan rimba belantara. Di satu tempat setelah keluar dari kawasan hutan sosok di sebelah depan berhenti. Astaga! Ternyata dia adalah manusia biasa juga adanya tapi luar biasanya dia adalah seorang dara berwajah cantik. Pakaiannya putih tipis keabu-abuan. Rambutnya yang tergerai lepas di punggung berwarna pirang membuatnya selain tambah cantik juga tampak anggun.

Sosok ke dua berhenti disamping dara cantik pertama. Ternyata dia juga seorang dara jelita. Raut tubuh dan potongan badannya sangat menyerupai gadis satunya. Siapa gerangan sepasang gadis berwajah sama yang barusan memasuki kawasan rimba belantara sunyi dan berbahaya itu?

Di Negeri Latanahsilam keduanya dikenal dengan julukan Sepasang Gadis Bahagia. Di balik kecantikan mereka yang mempesona itu tersembunyi satu sifat yang membuat orang lain bisa merinding jika mengetahui, terutama kaum perempuan. Sejak lama diketahui sepasang gadis kembar ini memiliki kelainan. Begitu banyak para pemuda yang tertarik pada mereka namun segera menjauhkan diri dengan perasaan ngeri begitu mengetahui bahwa dua gadis itu hanya berselera pada kaum sejenisnya.

"Luhkemboja, ada apa kau berhenti?" bertanya dara bernama Luhkenanga pada dara satunya yang adalah kakaknya.

Sebelum menjawab, dari balik pakaiannya Luhkemboja keluarkan sebuah tongkat terbuat dari batu berwarna biru. Tongkat itu digosok-gosokkannya ke leher. Lalu diturunkan ke dada. Si gadis menggeliat sendiri lalu tertawa panjang.

"Tingkahmu membuat aku ingat pada gadis bernama Luhjelita itu," berkata Luhkenanga. Sepasang matanya membesar berbinar-binar.

Luhkemboja si kakak telan ludahnya sendiri. "Aku juga selalu ingat padanya. Belum pernah kita menemui gadis secantik dia. Memiliki tubuh padat kencang. Waktu dia mendesah memohon agar kita tidak menyentuh dadanya.... Wahai! Apa yang diucapkan dan bagaimana dia menggerakkan tubuh malah membuat aku tambah bergairah. Kapan-kapan aku ingin mencarinya kembali."

"Gadis satu itu memang luar biasa. Terus terang aku juga belum puas wahai kakakku Luhkemboja. Tapi kita harus hati-hati. Kau tahu siapa adanya gadis itu. Dia pasti membekal dendam terhadap kita."

"Mengapa perlu merasa takut padanya. Jika dia berani muncul siapa tahu dia memang sengaja mencari kita karena ketagihan...." kata Luhkemboja lalu tertawa.

(Untuk mengetahui apa yang terjadi antara sepasang dara kembar ini dengan Luhjelita harap baca Episode sebelumnya berjudul "Hantu Langit Terjungkir").

"Tongkat batu ini," kata Luhkemboja setelah puas tertawa.

"Sesuai yang dipesankan kakek, kita harus segera menyerahkan padanya. Tetapi aku punya rencana lain!"

"Heh, apa yang ada di benakmu?" bertanya sang adik.

"Kalau kakek menginginkan tongkat ini berarti benda ini adalah satu benda sangat penting. Pasti mengandung satu kekuatan atau satu kesaktian. Buktinya kau lihat sendiri. Tongkat ini mengeluarkan cahaya biru."

"Jangan-jangan tongkat itu menyembunyikan satu rahasia yang si kakek tidak pernah atau tidak mau menceritakannya pada kita."

"Boleh jadi," kata Luhkemboja pula lalu memperhatikan tongkat batu yang dipegangnya dengan seksama mulai dari ujung satu sampai ujung lainnya.

"Aku tidak melihat sesuatu yang aneh pada tongkat ini. Kecuali sangat enteng...."

"Coba kuperiksa," kata Luhkenanga pula lalu ganti memeriksa. Seperti kakaknya gadis satu inipun tidak melihat keanehan atau kelainan pada tongkat batu itu. Benda ini ditirnang-timangnya lalu diusap-usapnya beberapa kali. Ketika hendak dipulangkannya pada kakaknya, selintas pikiran muncul dalam benaknya. Tongkat ditariknya kembali. Lalu dengan ujung jari tengahnya tongkat itu disentil-sentilnya mulai dari ujung kiri sampai ujung kanan.

"Apa yang kau lakukan Luhkenanga?" tanya Luhkemboja.

"Coba kau perhatikan. Dengar...." Sambil terus menyentil Luhkenanga dekatkan tongkat batu biru itu ke telinga kiri kakaknya. "Kau mendengar sesuatu?"

"Tentu saja. Suara jarimu beradu dengan tongkat batu biru. Apa anehnya?"

Luhkenanga gelengkan kepala. "Ada bunyi atau suara berlainan. Pada dua ujung kiri kanan berlainan dengan bagian tengah...."

"Bagiku sama saja Tidak ada bedanya," kata Luhkemboja. Tongkat itu diambilnya kembali.

"Dengar Luhkemboja. Aku punya satu rencana. Bagaimana kalau...."

Luhkemboja tertawa ketika mendengar apa yang kemudian diucapkan adiknya. Dia membalikkan badan lalu memberi isyarat untuk segera melanjutkan perjalanan. Belum jauh meninggalkan ujung rimba belantara, di satu tempat mendaki dimana udara terasa sejuk Luhkenanga tiba-tiba berkata. "Ada seorang perempuan berpakaian serba putih seperti kita duduk di sebelah sana...."

Luhkemboja hentikan larinya dan memandang ke arah yang ditunjuk sang adik. Memang benar. Di kejauhan sana seorang perempuan muda berparas cantik jelita duduk bertopang dagu di atas bukit berumput. Langsung saja dada sepasang gadis kembar ini jadi berdebar dan rasa gairah menjalari tubuh mereka.

"Wajahnya cantik sekali. Kulitnya bersih...." ucap Luhkemboja.

"Harum bau tubuhnya tercium sampai ke sini. Aku rasa-rasa tahu siapa adanya orang itu. Kelihatannya dia sengaja duduk bersunyi diri. Seperti memikirkan sesuatu," ujar Luhkenanga pula.

"Mari kita dekati. Siapa tahu rejeki besar menjadi bagian kita," kata Luhkemboja mengajak.

Dua gadis kembar segera berkelebat Sebentar saja mereka sudah berada di hadapan perempuan muda yang duduk di atas rumput itu. Orang ini turunkan tangannya lalu mengangkat kepala memandang pada sepasang dara yang baru datang. Kagetlah Luhkemboja dan Luhkenanga ketika mereka melihat dan menyadari siapa adanya orang itu. Sebaliknya orang yang duduk di atas rumput tetap tenang saja walau dia sudah mengenali dua gadis yang berdiri di hadapannya.

"Peri Angsa Putih...." menyapa Luhkemboja sementara Luhkenanga pandangi peri cantik itu sambil berulang kali membasahi bibirnya dengan ujung lidah.

Dibanding dengan kakaknya Luhkenanga memang dia tidak bisa menyembunyikan gelora hatinya melihat kecantikan wajah dan kemulusan tubuh Peri Angsa Putih. Apa lagi tubuh peri ini menebar bau harum mewangi yang menambah rangsangan dalam dirinya.

"Wahai, sungguh pertemuan tidak disangka. Bukankah kalian berdua kerabat yang dijuluki Sepasang Gadis Bahagia?" balas menegur Peri Angsa Putih.

Dua gadis kembar jatuhkan diri, berlutut di hadapan sang Peri. Luhkemboja malah ulurkan tangan memegang lalu mengangkat tangan Peri Angsa Putih, kemudian menciumnya dengan sikap hormat walau sebenarnya perbuatannya itu lebih didorong oleh hawa gairah. Luhkenanga tidak tinggal diam. Dia tirukan apa yang dilakukan kakaknya dan mencium belakang telapak tangan malah sampai ujung lengan Peri Angsa Putih. Sambil tersenyum Peri Angsa Putih tarik tangannya.

"Aku sudah lama mendengar perihal kalian berdua. Hanya tidak tahu mana yang bernama Luhkemboja dan mana yang bernama Luhkenanga."

Dua gadis kembar lalu memperkenalkan diri masingmasing.

"Wahai Peri Angsa Putih, gerangan apakah yang membuat kau berada di bukit sunyi ini?" bertanya Luhkemboja.

"Sepertinya tengah menunggu seseorang," menyambung Luhkenanga.

"Wahai, jika kau benar menunggu seseorang biar aku coba menerka," kata Luhkemboja sambil tersenyum dan mengusap-usap keningnya seolah tengah berpikirpikir.

"Kalau salah dugaanku mohon maafmu wahai Peri cantik dari Negeri Atas Langit. Bukankah kau tengah menunggu lelaki gagah bernama Lakasipo, berjuluk Hantu Kaki Batu itu?"

"Wahai! Dugaan kakakku pasti betul. Sudah lama kami menyirap kabar kalau lelaki itu tertarik padamu dan kau. Hemm...." Luhkenanga tidak teruskan katakatanya.

Bersama kakaknya dia tertawa panjang.

Wajah Peri Angsa Putih sesaat kelihatan menjadi merah. Namun sambi! mengulum senyum Peri ini kemudian berkata. "Dugaan kalian memang betul. Aku berada di bukit berumput ini tengah menunggu orang. Tapi bukan lelaki bernama Lakasipo itu. Melainkan justru aku menunggu kedatangan kalian berdua."

"Kami?!" ujar Luhkenanga dan Luhkemboja terpekik girang hampir bersamaan. Sepasang gadis kembar ini saling melirik lalu duduk bersimpuh di atas rumput. Satu di kiri, satu di kanan. Demikian dekatnya mereka mengapit hingga pinggul dan bahu mereka bersentuhan hangat dengan pinggul serta bahu Peri Angsa Putih. Bahkan hembusan nafas keduanya menyentuh permukaan wajah sang Peri.

"Sungguh kami merasa bahagia mengetahui kau berada di sini sengaja menunggu kami," kata Luhkenanga seraya memegang iengan Peri Angsa Putih dan mengusap-usapnya. "Tentu ada sesuatu yang bisa kami lakukan untukmu."

Sementara itu Luhkemboja mulai pula meraba lengan Peri Angsa Putih satunya.

Peri Angsa Putih yang sudah tahu kelainan sifat dua gadis kembar ini perlahan-lahan lepaskan kedua tangannya dari genggaman Luhkemboja dan Luhkenanga.

Lalu berkata. "Aku ingin mengetahui dan meyakini satu hal. Mudah-mudahan kalian berdua bisa memberi penjelasan...."

"Wahai, hal apakah itu Peri Angsa Putih?" tanya Luhkenanga seraya rapatkan duduknya. Pahanya sampai menindih paha sang Peri.

"Beberapa waktu yang lalu aku melihat kalian berdua keluar dari sebuah goa di kawasan barat sana...."

Wajah dua gadis kembar mendadak sontak jadi berubah. Adik kakak ini saling melirik. Dalam hati mereka menduga-duga apakah sang Peri tahu apa yang telah terjadi, apa yang telah mereka lakukan di goa itu?

"Wahai, tidak disangka kau mengetahui kehadiran kami di goa itu..." kata Luhkemboja. Dia tak berani berdusta karena khawatir sang Peri tahu banyak tentang mereka. "Kami kebetulan saja lewat di kawasan itu...."

"Betul, kami memang kebetulan lewat di sana," menyambungi Luhkenanga.

"Ketika melihat sebuah goa kami mencoba masuk..." Luhkemboja meneruskan.

Luhkenanga kembali menyambung. "Kami masuk sekedar untuk mencari tempat yang teduh dan aman untuk beristirahat"

"Kalian masuk dan jadi beristirahat dalam goa itu?" tanya Peri Angsa Putih.

Luhkemboja menggeleng. Luhkenanga memandang pada kakaknya lalu ikut menggeleng.

"Jadi kalian tidak masuk...?" tanya Peri Angsa Putih.

"Kami memang masuk..." jawab Luhkenanga dengan suara perlahan.

"Tapi kami segera keluar lagi!" kata Luhkenanga.

"Kenapa?" tanya Peri Angsa Putih.

"Ada orang lain dalam goa itu!"

"Ada satu pemandangan menusuk mata yang membuat kami tak sanggup berada di situ dan cepatcepat keluar...."

Peri Angsa Putih menatap dua gadis kembar berganti-ganti lalu bertanya. "Siapa orang lain yang kalian lihat dalam goa itu? Kaitan mengenalnya? Lalu....Memangnya apa yang dia lakukan di situ...."

"Ada dua orang dalam goa itu wahai Peri Angsa Putih. Satu gadis, satu pemuda..." kata Luhkemboja.

"Yang gadis berada dalam keadaan bugil. Tengah berpelukan dengan seorang pemuda berambut panjang. Kalau kami tidak salah dia adalah pemuda asing yang belum lama berselang berada di Negeri Latanahsilam ini...."

"Kalau tidak salah dia pemuda yang bernama Wiro Sableng, berjuluk Pendekar 212."

****2TENGGOROKAN Peri Angsa Putih kelihatan turun naik. Suaranya agak tersendat ketika bertanya.

"Apa kalian mengenali siapa adanya gadis di dalam goa yang bersama pemuda bernama Wiro Sableng itu?"

"Luhjelita. Gadis yang dikenal sebagai penunggang kura-kura terbang itu!"

"Kalian tidak salah lihat?"

"Kami berdua. Mana mungkin salah lihat!" jawab Luhkenanga.

"Kalau begitu...." Peri Angsa Putih tidak meneruskan ucapannya.

"Kalau begitu apa wahai Peri Angsa Putih?" tanya Luhkenanga sambil kembali tangannya merayap ke lengan sang Peri.

"Tidak.... Tidak apa-apa. Keterangan kalian sangat berguna. Paling tidak aku kini benar-benar yakin dan mengetahui apa yang terjadi dalam goa itu...." Lalu dalam hati sang Peri berkata. "Aku juga menyaksikan sendiri. Tadinya aku seperti ingin mengatakan tidak yakin pada penglihatanku sendiri. Tapi kini ada dua orang yang menyaksikan hai yang sama. Berarti tidak perlu aku menyelidik lebih jauh. Wahai mengapa kejam sekali rasanya dunia ini memperlakukan diriku. Peri Bunda, kau benar. Aku harus menjauhkan diri dari pemuda bernama Wiro itu. Aku harus kembali ke Negeri Atas Langit..." Peri Angsa Putih memandang pada dua gadis kembar lalu bangkit berdiri. "Terima kasih atas semua keterangan kalian. Aku harus pergi sekarang...."

"Wahai," ujar Luhkenanga seraya berdiri pula.

"Tak jauh dari sini ada sebuah dangau. Dibangun orang di atas sebuah telaga jernih. Udara di sana sejuk sekali. Pemandangannya indah nian. Bagaimana kalau kita bertiga pergi ke sana. Beristirahat barang setengah hari sambil berbincang-bincang. Siapa tahu ada keterangan lain yang ingin kau dapatkan dan kebetulan kami ketahui...."

"Terima kasih. Kalian berdua baik sekali. Tapi keterangan yang aku cari sudah kudapat. Lain waktu undangan kalian tentu ada kupenuhi...."

"Sayang sekali. Kalau kau mau pergi kamipun hendak pergi pula..." kata Luhkenanga.

Saat itu sekonyong-konyong berkelebat satu bayangan putih disertai bentakan.

"Dua gadis kembar! Jangan kalian berani pergi! Kembalikan dulu tongkat yang kau curi dariku!"

Belum habis kejut Luhkemboja dan Luhkenanga tahutahu seorang pemuda berambut gondrong sambil menyeringai dan berkacak pinggang telah berdiri di hadapan mereka.

"Peri Angsa Putih! Ini pemuda bernama Wiro Sableng yang barusan kita bicarakan!" berkata Luhkenanga.

Sementara Luhkemboja cepat menjauh karena khawatir Wiro akan merampas tongkat batu biru yang dipegangnya.

Pemuda berambut gondrong yang memang Pendekar 212 Wiro Sableng adanya melirik ke kiri dimana berdiri Peri Angsa Putih. Murid Sinto Gendeng hendak layangkan senyum pada sang Peri namun batal ketika dilihatnya Peri Angsa Putih unjukkan wajah kaku malah kemudian palingkan muka ke jurusan lain.

"Kalian membicarakan aku mengenai apa?!" tanya Wiro.

Luhkemboja dan Luhkenanga tidak segera menjawab tapi tertawa cekikikan.

"Gadis-gadis aneh! Ada apa kalian tertawa. Luhkemboja! Lekas serahkan tongkat di tanganmu itu padaku!"

"Kau sungguhan mau tahu apa yang barusan kami bicarakan?!" Luhkemboja berkata seraya senyumsenyum.

Wiro mulai mencium ada yang tidak beres. Tapi dia segera menjawab. "Katakan saja. Aku ingin tahu!"

"Kau tidak malu Peri Angsa Putih ikut mendengar?" tanya Luhkenanga lalu tertawa cekikikan.

"Kami melihat kau dan gadis bernama Luhjelita berbugil-bugil di dalam goa!" Berucap Luhkemboja.

"Gadis kurang ajar! Jangan kau berani memfitnah!" teriak Pendekar 212 marah.

"Kalian berzinah di dalam goa!" ujar Luhkenanga.

Amarah murid Sinto Gendeng tidak terkendalikan lagi. Mukanya mengelam. Kupingnya seperti dipanggang.

Sekali lompat saja Wiro layangkan satu tamparan ke muka Luhkenanga. Seperti diketahui dua kakak beradik kembar yang dikenal dengan julukan Sepasang Gadis Bahagia ini bukanlah gadis-gadis sembarangan. Mereka memiliki ilmu meringankan tubuh tinggi sekali hingga mampu bergerak cepat dan ringan. Selain itu mereka juga memiliki jurus-jurus ilmu silat aneh. Sekali bergerak Luhkenanga berhasil selamatkan diri dari tamparan Wiro yang bisa meremukkan tulang pipinya.

Penasaran Wiro kembali mengejar Luhkenanga. Namun saat itu satu bayangan putih berkelebat dari samping. Angin yang menyambar membuat Wiro terpaksa hentikan niatnya. Ketika dia memandang ke depan pendekar kita jadi tertegun. Yang menghadang di hadapannya adalah Peri Angsa Putih.

"Peri Angsa Putih.... Apa maksudmu menghalangi gerakanku?!" tanya Wiro heran.

"Apa maksudmu menyerang gadis itu?!" balik bertanya Peri Angsa Putih. Tapi dia tidak memandang ke arah Wiro karena wajahnya seperti tadi lagi-lagi dipalingkan ke jurusan lain.

"Dia.... Gadis itu kau dengar sendiri! Dia berkata jahat! Memfitnahku!"

Peri Angsa Putih mendengus. Wajahnya tersenyum sinis. Membuat Wiro menjadi tambah marah walau bercampur heran. "Peri Angsa Putih. Ada apa ini?! Kau bicara tapi tidak mau melihat padaku! Kau sepertinya membela gadis-gadis tukang fitnah ini!"

"Mereka tidak memfitnah. Aku melihat sendiri kau dan Luhjelita di dalam goa itu. Jangan mengira aku tidak tahu apa yang kalian lakukan?!"

Wiro hendak menggaruk kepala habis-habisan lalu dekati Peri Angsa Putih.

"Jangan kau berani bergerak lebih dekat!" membentak Peri Angsa Putih.

Wiro kaget bukan main. Dia ulurkan tangan hendak memegang lengan Peri Angsa Putih tapi kembali sang Peri membentak. Air mukanya membayangkan ancaman.

"Pendekar 212! Jangan sentuh diriku! Aku bukan Luhjelita gadis yang bisa menjadi pemuas nafsu bejatmu!"

Wiro ternganga besar. Dua kakinya seperti dipantek ke tanah. "Peri Angsa Putih, aku...."

"Aku tak sudi kau menyebut namaku! Berlalulah dari hadapanku!"

"Mati aku! Apa yang terjadi dengan Peri satu ini?!" membatin Wiro. Ketika dia berpaling ke samping, dua gadis kembar tertawa cekikikan lalu berkelebat pergi.

Wiro tak mau mengejar karena khawatir Peri Angsa Putih akan kembali menghadang dan bisa-bisa antara mereka terjadi bentrokan yang tak diinginkan. Dengan menahan hawa amarahnya terhadap dua dara yang kabur itu Wiro bertanya. "Aku tidak mengeri. Ada apa ini?! Wajahmu melihat aku seperti melihat hantu...."

"Aku tidak melihat hantu! Tapi melihat makhluk sangat menjijikkan!" tukas Peri Angsa Putih.

Wiro garuk kepala. "Tampangku memang jelek!

Terserah kau mau bilang apa! Tapi harap kau jelaskan dulu mengapa kau membela dua gadis jahat tadi. Lalu mengapa kau marah-marah dan berkata tak karuan padaku. Aku merasa tidak punya salah padamu. Dua gadis kembar itu mencuri tongkat batu titipan orang. Mereka juga memfitnah diriku lalu enak saja melarikan diri. Aku tidak...."

Saat itu mendadak ada suara menderu dahsyat disertai suara ringkikan kuda. Sesaat kemudian seekor kuda hitam besar berkaki enam muncul dan berhenti di tempat itu. Di atasnya duduk Lakasipo dengan sikap gagah.

"Saudaraku Wiro Sableng! Kerabatku Peri Angsa Putih! Aku merasa gembira bisa menemui kalian berdua di tempat ini!" Lakasipo hendak tertawa lebar.

Tapi tidak jadi ketika dia melihat raut wajah Peri Angsa Putih serta Wiro yang tampak kebingungan. Pendekar 212 kedipkan mata. Maksudnya hendak memberi tahu tapi Lakasipo yang tidak mengerti malah berucap.

"Wahai, aku tidak ingin mengganggu. Rupanya kalian sedang asyik berdua-dua di tempat ini. Wiro, biaraku pergi dulu. Nanti aku akan mencarimu kembali. Banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu!"

"Kuharap kau jangan pergi dulu Lakasipo. Aku juga banyak pembicaraan denganmu!" kata Wiro.

"Kerabat Lakasipo, jika kau memang mau pergi bolehkah aku ikut menumpang bersamamu sampai di kaki bukit sana?"

Ucapan Peri Angsa Putih itu membuat Lakasipo terheran-heran dan memandang Wiro yang saat itu hanya bisa tegak sambil garuk-garuk kepala. Mengira Peri Angsa Putih menyindirnya Lakasipo cepat membungkuk dan berkata. "Maafkan, tidak maksudku mengganggu kalian. Aku mohon diri dulu...."

"Lakasipo, tunggu! Aku ikut bersamamu!" seru Peri Angsa Putih.

"Peri Angsa Putih, bukankah kau...? Wahai mana tungganganmu angsa putih itu?" tanya Lakasipo.

"Dia tak ada di sini. Itu sebabnya aku minta ikut bersamamu...."

Lakasipo memandang pada Wiro seolah mau bertanya. Tapi pendekar kita hanya tegak diam dan kini tidak lagi menggaruk kepala, memandang pada Lakasipo dan Peri Angsa Putih dengan raut muka membayangkan heran dan bingung.

Dalam keadaan seperti itu tiba-tiba Peri Angsa Putih melompat ke atas punggung kuda hitam kaki enam dan duduk di belakang Lakasipo.

"Peri Angsa Putih, bagaimana ini. Mungkin aku perlu bertanya...."

"Pacu kudamu Lakasipo. Dalam perjalanan kau boleh mengajukan seribu pertanyaan. Semuanya akan kujawab! Apa lagi menyangkut saudara angkatmu yang kau anggap baik dan suci itu!" Habis berkata begitu Peri Angsa Putih menggebrak pinggul Laekakienam dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya enak saja merangkul ke pinggang Lakasipo. Kuda hitam raksasa berkaki enam itu meringkik keras lalu melompat ke depan.

"Peri geblek!" Wiro memaki sendirian dalam hati.

"Apa yang terjadi dengan dirinya! Katanya dia melihat sendiri aku dan Luhjelita di dalam goa. Melihat apa?"

Wiro garuk-garuk kepala. "Jangan-jangan.... Bayangan yang kulihat dalam goa memang adalah bayangannya. Gila betul! Dia menyangka.... Aku tidak percaya! Dia bukan makhluk sembarangan. Masakan bisa percaya saja pada ucapan dua gadis kembar sialan itu. Tapi....Memangnya aku sedang apa di dalam goa ketika dia melihat!" Wiro geleng-geleng kepala dan tendangtendang rumput liar di depannya. "Caranya dia pergi dengan Lakasipo. Seperti sengaja hendak membuat aku sakit hati. Dia pakai merangkul pinggang lelaki itu segala. Mungkin agar aku sakit hati dan cemburu! Gila, perlu apa aku sakit hati dan cemburu! Kupikirkanpun tidak! Sayang.... Kenapa dia jadi begitu. Padahal dia pernah menyelamatkan nyawaku, aku juga begitu...."

Akhirnya Wiro hanya bisa menghela nafas panjang sambil jambak-jambak rambut sendiri. Saat itulah tibatiba ada satu suara berucap.

"Kalau kasih sejati berubah menjadi kebencian memang hebat akibatnya. Wahai Pendekar 212, kau tengah menghadapi ujian berat! Ujian itu akan berubah menjadi malapetaka jika kau memang berbuat apa yang dikatakan Peri tadi...."

"Siapa yang bicara?!" seru murid Sinto Gendeng.

Dalam kagetnya Wiro segera palingkan kepala.3DI HADAPAN Wiro berdiri seorang gadis tinggi semampai berkulit putih. Pakaiannya yang biru gelap membuat kecantikannya tambah menonjol. Rambutnya yang panjang tergerai melambai-lambai ditiup angin. Di keningnya yang putih licin melekat sebuah bunga tanjung kuning.

"Luhcinta..." ujar Wiro perlahan setengah berbisik.

Apa yang barusan dialaminya membuat Wiro tidak kuasa tersenyum padahal kemunculan Luhcinta murid Nenek Hantu Lembah Laekatakhijau ini sangat menggembirakan dan mampu menghibur hatinya.

"Aku bersyukur kau berada di sini..." kata Pendekar 212. Lalu dia ingat pada ucapan Luhcinta tadi.

"Kata-katamu tadi, apakah kau sudah lama berada di sini dan mendengar...."

"Aku mendengar semua yang dikatakan dua gadis kembar itu. Aku juga mendengar apa yang diucapkan Peri Angsa Putih..." kata Luhcinta sambil tersenyum.

Senyuman yang benar-benar tulus dan membuat hati murid Sinto Gendeng merasa sejuk hingga kemarahan dan kejengkelannya berangsur lenyap.

"Kau... kau mempercayai apa yang mereka katakan?" Wiro bertanya.

"Kau tidak boleh bertanya seperti itu. Tapi kau justru harus membuktikan bahwa kau tidak melakukan apa yang dituduhkan mereka...."

"Mereka bertiga menuduhku. Aku sendirian! Fitnah mereka dalam waktu singkat tentu akan tersebar luas di Negeri Latahansilam ini. Sebelum aku bisa membuktikan diriku tidak berbuat keji, namaku sudah tak karuan tercemar."

"Itulah hidup. Ketulusan kasih tidak selalu muncul cerah dimana-mana. Sesekali redup bahkan pupus oleh hal-hal yang tidak terduga. Apa lagi jika kau tidak bisa membuktikan dirimu benar-benar bersih...."

"Aku bersumpah...!" Wiro gelengkan kepalanya.

"Percuma saja! Siapa yang mau percaya! Di tanah Jawa saja aku tidak pernah berbuat serendah itu. Apa lagi di sini di negeri orang...."

"Soal dirimu di tanah Jawa siapa yang tahu. Yang jadi masalah justru sepak terjangmu di negeri ini...."

"Agaknya kau seperti mempercayai apa yang diucapkan tiga orang itu..." kata Wiro dengan nada kecewa.

"Wahai, adakah aku mengatakan seperti itu Wiro? Fitnah adalah penodaan paling jahat atas kasih sayang. Tapi bagaimana kasih sayang akan menunjukkan kebersihan jati dirinya kalau kau tidak mampu membuktikan bahwa dirimu sungguh bersih?"

"Jadi kau tidak mempercayai tuduhan ketiga orang itu?"

Luhcinta tersenyum. "Masalahnya bukan percaya atau tidak. Tapi kemampuan dirimu untuk menyatakan bahwa kau benar-benar bersih...."

"Aku tidak ingin membela diri. Tapi dua gadis kembar itulah yang telah berbuat keji terhadap Luhjelita. Kau mungkin belum tahu. Mereka dua gadis yang punya kelainan jiwa. Hanya suka...."

"Aku tak Ingin mendengar hal itu," kata Luhcinta memotong dengan suara halus. "Seharusnya hal itu pantas kau ucapkan pada Peri Angsa Putih...."

"Percuma saja. Dia tidak akan percaya. Dia tidak memberi kesempatan padaku untuk menjelaskan...."

Pendekar 212 terdiam. Dia menarik nafas berulang kali lalu berkata. "Aku berterima kasih padamu. Kau memberi petunjuk padaku bagaimana harus berbuat. Aku akan melakukan sesuatu. Melakukan apa saja untuk membersihkan diriku...."

"Aku gembira mendengar ucapanmu. Ingatlah selalu, hidup yang didasarkan pada kasih sejati tidak ada pernah menempuh jalan keliru...."

"Tapi aku tidak mencintai Luhjelita atau Peri Angsa Putih. Jika itu maksudmu. Sekalipun demikian tidak mungkin aku akan berbuat keji terhadap salah satu dari mereka...."

"Wahai, aku tidak membicarakan cinta. Aku menyebut kasih. Karena kasih adalah lebih kudus dan lebih agung dari pada cinta. Kasih sejati tidak dapat digantikan oleh cinta, betapapun murninya...."

"Aku tidak mengerti maksud ucapanmu," kata Wiro sambil garuk-garuk kepala.

"Suatu ketika kau pasti akan mengerti."

"Luhcinta, apakah kau pernah mengasihi seseorang?" tanya Pendekar 212 pula.

Luhcinta tertawa perlahan sambil palingkan wajahnya yang bersemu merah ke jurusan lain. Lalu gadis berhiasan bunga tanjung di keningnya ini berkata.

"Teka teki hidupku masih menjadi beban berat dalam hatiku. Bagaimana mungkin aku memikirkan hal yang kau tanyakan itu?"

"Kurasa jika kau pernah mengasihi seseorang, beban hidupmu mungkin bisa berkurang. Tapi entahlah.... Aku bukan orang yang ahli dalam soal kasih sayang," kata Wiro pula lalu tertawa tapi kecut.

"Luhcinta, apakah kau telah berhasil mengungkapkan rahasia kehidupan kedua orang tuamu?" Wiro alihkan pembicaraan.

"Masih jauh panggang dari api. Tapi siapa tahu, segala sesuatunya bisa berubah secara tidak terduga. Kekuatan kasih bisa meruntuhkan tembok baja yang mengelilingi kita. Mudah-mudahan semua teka teki hidup yang menyelubungi diriku bisa terungkap secepatnya...."

"Jika kau suka, aku bersedia membantu...."

"Terima kasih. Bahtera hidup ini biar kukayuh sendiri. Kita berpisah dulu sampai di sini...."

"Tunggu, kau mau menuju ke mana?"

"Terus terang aku sendiri tidak tahu harus meneruskan perjalanan ke mana...."

"Kasih ada membimbing perjalananmu," kata Wiro.

Luhcinta tertawa lepas. "Ternyata kau lebih cepat mengetahui arti kasih dari pada yang kau duga sendiri...."

Wiro tertawa dan memperhatikan gadis itu membalikkan badannya siap untuk berlalu. Ketika Luhcinta berputar ke kiri Wiro melihat robek berlubang pada bagian bahu kanan pakaian biru yang dikenakan si gadis. Saat itu Wiro tidak ingat apa-apa. Tetapi begitu Luhcinta sudah jauh di ujung sana tiba-tiba dia ingat akan secarik sobekan kain biru yang disimpannya di dalam saku pakaiannya. Wiro segera keluarkan robekan itu. Robekan kain itu ditemuinya ketika dia keluar dari goa, tersangkut di ujung ranting tak jauh dari goa di mana Luhjelita disekap.

"Cabikan pakaian ini.... Jelas cabikan baju biru Luhcinta," kata Wiro dalam hati. "Berarti dia juga berada dekat goa itu. Jangan-jangan sebenarnya dia juga punya dugaan yang sama dengan Peri Angsa Putih. Celaka! Aku harus mencarinya. Aku harus menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin hanya dia satu-satunya gadis yang bisa menerima penjelasanku." Wiro mengejar ke kaki bukit Tapi gadis cantik berpakaian biru itu tak kelihatan lagi.

Tertegun sendirian Wiro ingat pada ucapan Hantu Raja Obat alias Hantu Seribu Obat dan Luhrinjani yaitu bahwa di Negeri Latanahsilam ini ada seorang gadis yang mencintainya dengan sepenuh hati. "Luhjelita jelas bukan, entah kalau dia bersandiwara," pikir Pendekar 212. "Peri Angsa Putih juga pasti bukan. Dulu selendangnya saja dimintanya kembali. Tadi sikapnya begitu ketus dan garang. Selain itu Luhjelita atau Peri Angsa Putih masih kucurigai sebagai pelaku yang hendak meracuni diriku dengan mawar kuning di telaga tempo hari. Lalu bagaimana dengan Luhcinta?"

Wiro berpikir-pikir. "Dulu Hantu Seribu Obat pernah mengatakan bahwa diantara sekian banyak gadis di Negeri Latahansilam ini hanya Luhcinta seorang yang mencintai diriku. Mungkin benar. Walau dia agak mencurigai aku telah berbuat aib tapi tadi dia menunjukkan sikap lembut Mungkin gadis satu ini pandai menyembunyikan perasaan hatinya? Kalau aku terlalu mempercayai ucapan Hantu Seribu Obat dan Luhrinjani, aku khawatir terlalu berharap yang bukan-bukan...."

Dalam bayangan Wiro saat itu mendadak muncul bayangan wajah Bidadari Angin Timur, Ratu Duyung dan Bunga, tiga gadis yang pernah menempati hatinya. Wiro jadi garuk-garuk kepala. Sambil berjalan otaknya bekerja terus. Dia ingat pada kakek berjuluk Si Pelawak Sinting.

"Aku harus mencari Si Pelawak Sinting yang palsu. Kakek itu satu-satunya orang yang melihat kejadian di telaga tempo hari. Aku harus dapat mengorek keterangan dari dirinya."DI SATU tempat sunyi, di balik semak belukar lebat di kaki sebuah bukit sebelah timur, Luhcinta duduk termenung sendirian. Dia mengingat-ingat kembali pertemuan serta semua ucapannya dengan Wiro tadi.

"Aku memang tidak melihat sendiri apa yang terjadi di dalam goa. Aku hanya melihat Luhjelita keluar dari dalam goa, disusul pemuda itu. Sepasang gadis kembar mungkin saja mengarang cerita. Aku tahu sifat perangai mereka. Tapi Peri Angsa Putih tidak mungkin memfitnah. Apa lagi kudengar dia berkata bahwa dia juga melihat dengan mata kepala sendiri apa yang dilakukan Wiro dan Luhjelita..."

Luhcinta menghela nafas panjang dan mengusap wajahnya berulang kali. "Wahai..." katanya dalam hati.

"Sudah seburuk inikah sifat dan perbuatan makhluk hidup di atas muka bumi Negeri Lahtanahsilam ini? Aku tak ingin mempercayai dia tega berbuat sekeji itu. Tapi kenyataan mengatakan demikian, bagaimana mau membantahnya. Dia mengatakan tidak mencintai Luhjelita ataupun Peri Angsa Putih. Wahai.... Mungkin itu sengaja diucapkannya untuk menghilangkan jejak, untuk menutupi keaiban dirinya. Agaknya dia pandai bersandiwara. Tapi jika yang dikatakannya itu benar, lalu siapakah gadis yang dicintainya di Negeri Latanahsilam ini?"

Lama Luhcinta duduk termenung di balik semak belukar lebat itu. Lalu dia menarik nafas dalam berulang kali dan berkata. "Mudah-mudahan dia bisa melakukan sesuatu untuk membersihkan dirinya.... Sementara itu, bagaimana aku harus mengambil sikap? Mungkin lebih baik aku mengurus persoalan diriku sendiri. Tapi....Wiro.... Ah, bagaimana ini.... Apa yang harus aku lakukan?"

Luhcinta memandang berkeliling. Dia ingat pada orang berpakaian hitam yang mukanya ditempeli tanah liat kering yang selama ini selalu menguntit dirinya. Sejak beberapa waktu belakangan ini orang aneh itu tak pernah lagi kelihatan membayang-bayangi dirinya. Pertemuan terakhir dengan orang aneh berkepandaian tinggi itu Luhcinta sempat memintanya untuk menanggalkan tanah liat hitam yang selalu menutupi wajahnya. Luhcinta melihat satu wajah yang tidak dikenalnya. Sebagai imbalan Luhcinta siap menerangkan apa hubungannya dengan Luhpiranti dan Latampi. Namun sebelum sempat bicara terjadi satu hal yang hebat.

Serombongan Peri turun dari atas langit hendak memboyong patung Luhmintari (ibu Hantu Jatilandak).

Maksud para Peri itu digagalkan oleh Peri Angsa Putih. Ketika patung berhasil diselamatkan, orang berpakaian serba hitam yang dikenal dengan panggilan Si Penolong Budiman tak ada lagi di tempat tersebut (Baca Episode berjudul "Rahasia Patung Menangis").4UNTUK menghilangkan kerisauan hatinya sambil berjalan Pendekar 212 bersiul-siul membawakan lagu tak menentu. Di langit sang surya mulai condong ke barat Udara yang tadinya panas berangsur-angsur terasa teduh. Selagi asyik berjalan sambil bersiul-siul begitu tiba-tiba Wiro melihat seseorang di tengah jalan, duduk menjelepok di tanah membelakanginya. Orang ini mengenakan pakaian berwarna hijau tua. Kepalanya separuh botak separuh lagi ditumbuhi rambut panjang berwarna putih, kusut masai riap-riapan.

"Dari caranya duduk di tengah jalan, jelas dia seperti sengaja menghadang jalanku," kata murid Sinto Gendeng dalam hati. "Aku belum dapat melihat wajahnya. Apa aku kenal padanya? Lelaki atau perempuan dia adanya?"

Wiro hentikan langkahnya tapi terus saja bersiul-siul. Tanpa berpaling tiba-tiba orang yang duduk di tengah jalan hamburkan suara tertawa. Dari suaranya ternyata dia adalah seorang perempuan.

"Umur tinggal sejengkal buruk! Masih bisa gembira diri bersiul-siul!" Orang di tengah jalan keluarkan ucapan. Suara siulan Pendekar 212 langsung berhenti.

"Bicara tapi tak mau melihat! Menegur tapi membelakangi orang! Kalau kau masih muda pasti kurang mendapat pelajaran sopan santun dari orang tuamu! Kalau kau sudah tua bangka mungkin kau sudah pikun atau kurang waras?"

Baru saja Wiro berkata begitu sosok yang duduk di tengah jalan mendadak sontak melesat ke atas. Begitu turun ke tanah orang ini telah berdiri menghadang tepattepat ke arah Wiro. Sebelumnya Pendekar 212 telah banyak melihat manusia berwajah seram. Tapi yang satu ini sungguh dahsyat hingga Wiro tersurut sampai dua langkah!

Yang tegak di hadapan Wiro saat itu adalah seorang nenek angker. Sebagian besar wajahnya tidak berdaging lagi, terkelupas begitu rupa hingga tulang kening, pipi, hidung, mulut dan dagu menyembul putih mengerikan. Mata kirinya hanya merupakan satu rongga besar sementara bola matanya tersembul bergelantungan keluar. Bagian depan pakaian hijau si nenek sengaja dibuka hingga dada dan sebagian perutnya kelihatan jelas. Dada dan perut inipun tidak lagi berdaging hingga tulang dada dan tulang-tulang iganya menyembul menyeramkan!

"Hik... hik!" Si nenek tertawa pendek. "Anak muda berambut panjang! Matamu melotot, keningmu mengerenyit tanda berpikir. Apakah kau ingat dan sudah mengenali siapa diriku?!"

Wiro garuk kepalanya lalu menjawab. "Gadis cantik saja jarang kuingat-ingat apa lagi kau yang sudah nenek dan buruk pula!" Wiro lalu tertawa gelak-gelak.

Lalu dia menyambung. "Pakaianmu boleh juga Nek! Cuma kurang kau buka sampai ke bawah. Kalau lebih ke bawah pasti aku bisa melihat pemandangan yang lebih apik! Ha.,, ha... ha!"

Si nenek keluarkan suara menggembor. Dia hunjamkan kaki kanannya ke tanah hingga tanah berlobang besar. Pasir dan debu beterbangan ke udara.

"Buset! Nenek ini punya ilmu juga rupanya. Aku harus hati-hati," membatin Wiro dan bersikap waspada.

"Kekasihku Lajahilio!" si nenek tiba-tiba berseru memanggil seseorang. "Lekas unjukkan diri! Katakan pada pemuda keparat ini siapa aku adanya!"

Ada angin bersiur. Lalu dari atas sebatang pohon besar melayang turun sosok seorang kakek berambut putih awut-awutan. Mata kanan sipit, sebaliknya mata kiri besar mendelik. Kakek ini mengenakan jubah kuning pekat Melihat si kakek Pendekar 212 segera ingat. Kakek ini adalah Lajahilio. Si nenek pastilah kekasihnya yang bernama Luhjahilio. Di dalam rimba persilatan Negeri Latanahsilam mereka dikenal dengan julukan Sepasang Hantu Bercinta walau mereka selama puluhan tahun memang hidup bersama tanpa kawin.

Seperti dituturkan dalam Episode berjudul "Rahasia Patung Menangis" sepasang kakek nenek ini pernah muncul untuk membalaskan dendam kesumat kematian dua murid mereka yakni Lagandring dan Lagandrung. Yang mereka serbu saat itu antara lain Hantu Jatilandak yang membunuh Lagandring. Hantu Jatilandak hampir menemui ajalnya kalau tidak ditolong oleh orang sakti berjuluk Si Penolong Budiman dan Luhcinta yang muncul secara berbarengan. Malang bagi si nenek saat itu, dia terkena hantaman pukulan sakti Pukulan Kasih Mendorong Bumi yang dilepaskan Luhcinta. Tak ampun lagi sosok si nenek amblas terpendam seolah tercetak ke dinding batu. Walau Luhjahilio tak sempat menemui ajal, tapi ketika Lajahilio menolong mengeluarkan sosoknya dari dalam batu, sebagian daging muka dan tubuhnya masih tertinggal di batu! Itu sebabnya kini dia menderita cacat yang sangat mengerikan.

Lajahilio tegak berkacak pinggang tapi agak terbungkuk. Sepasang matanya membeliak pandangi Pendekar 212 Wiro Sableng.

"Anak muda yang umurnya tinggal sejengkal buruk! Kau berhadapan dengan Sepasang Hantu Bercinta! Aku Lajahilio dan nenek itu kekasihku bernama Luhjahilio!"

"Hebat!" memuji Wiro sambil acungkan jari tapi bukan jari jempol melainkan jari kelingking tangan kirinya! "Julukan kalian sungguh luar biasa. Aku salah menduga. Tadinya kukira bangsa hantu itu tak bisa bercinta. Ternyata kalian bisa. Pasti kalian bercintanya di sekitar kuburan! Kalian bernama Lajahilio dan Luhjahilio. Pasti kalian orang-orang dari abad jahiliah! Tapi ada satu hal aku ingin tahu! Bagaimana kalian bisa menghitung kalau umurku cuma tinggal sejengkal buruk?!"

Si kakek menyeringai, si nenek mendengus. "Anak muda, nasibmu yang malang!" kata Lajahilio. "Sebenarnya kekasihku bukan mencari dirimu, tetapi mencari kekasihmu yang bernama Luhcinta itu! Dia yang menyebabkan kekasihku cacat begini rupa! Luhcinta belum ditemui, kaupun tak ada salahnya dipesiangi lebih dulu! Ha... ha... ha!"

"Tua bangka pikun! Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Luhcinta. Dan dia bukan kekasihku! Jika kalian punya silang sengketa dengan dirinya, mengapa melampiaskan dendam padaku?!"

"Rupanya takut mati juga kau! Hik... hik... hik! Lajahilio! Lekas kau panggil sahabat kita si muka kuning itu! Kalian berdua harap awasi jangan sampai pemuda ini melarikan diri!"

Mendengar kata-kata si nenek kekasihnya Lajahilio lantas keluarkan satu suitan keras. Saat itu juga dari balik pohon kayu besar terdengar suara "Buuuttttt!"

Lalu kelihatan melangkah keluar seorang nenek. Mulai dari rambut sampai ke ujung kaki nenek ini berwarna kuning. Di lehernya bergelantungan berbagai macam kalung. Semuanya berwarna kuning. Salah satu kalung itu adalah sendok emas sakti yakni Sendok Pemasung Nasib yang dirampasnya dari Lakasipo sewaktu Lakasipo hendak menyerahkan benda itu pada Hantu Langit Terjungkir. Di kepala si nenek menancap tiga buah sunting yang bergoyang-goyang kian kemari setiap dia bergerak. Dia juga mengenakan anting-anting bulat besar berwarna kuning.

Sambil berjalan sesekali si nenek songgengkan pantatnya. Lalu "buuuutttttt".... Enak sajadia keluarkan kentut panjang dan keras.

Di punggungnya nenek muka kuning itu memanggul sebuah keranjang besar. Keranjang ini berisi belasan ekor ayam jantan. Sambil berjalan si nenek pegang seekor ayam jantan di tangan kirinya. Lalu dengan tangan kanannya enak saja nenek ini memuntir dan mencabut daging yang menonjol di ujung dubur ayam. Binatang ini keluarkan suara kesakitan. Si nenek lemparkan binatang itu ke tanah. Ayam yang kesakitan setengah mati ini seperti celeng menghambur sempoyongan. Seolah menenggak penganan lezat, si nenek kemudian mengunyah dan menelan kibul ayam dalam mulutnya mentah-mentah! Selagi mulutnya mengunyah, di sebelah bawah kentutnya bertabur tiada henti!

Ketika melihat si nenek bermuka dan berpakaian serba kuning ini kaget Wiro bukan alang kepalang.

Ternyata si nenek yang dikenal dengan nama Luhkentut alias Nenek Selaksa Kentut atau Nenek Selaksa Angin ini adalah kambratnya Sepasang Hantu Bercinta!

Menghadapi dua kakek nenek aneh itu bukan hal mudah, apalagi kalau mereka dibantu pula oleh Luhkentut!

Sungguh Wiro tidak menduga kalau Sepasang Hantu Bercinta punya hubungan tertentu dengan si nenek muka kuning.

"Celaka! Bagaimana urusan bisa kapiran begini!"

Wiro mengeluh dalam hati. "Jangan-jangan nenek tukang kentut itu tahu kalau aku menipunya! Tapi siapa tahu ada harapan. Kulihat dia masih asyik menenggak kibul ayam jantan! Seolah tidak acuh akan kehadiranku!"

Tapi saat itu si nenek justru putar kepala, memandang melotot pada Wiro dengan mulut gembung karena tersumpal kibul ayam.

Ketika melihat Pendekar 212 Wiro Sableng, Nenek Selaksa Kentut tak kalah kejutnya. Mulutnya termonyong-monyong. Dia segera telan habis kibul ayam dalam mulutnya, kentutnya dulu "buuuutttttt"... lalu berseru.

"Sepasang Hantu Bercinta, ini urusan salah kaprah! Wahai! Aku tidak tahu kalau yang ingin kalian pesiangi adalah pemuda dari negeri seribu dua ratus tahun mendatang ini! Aku tak mungkin membantumu! Dia tak boleh kalian bunuh!"

"Buuuuttttttt..!"

Sepasang kakek nenek bernama Luhjahilio dan Lajahilio sama-sama delikkan mata. Luhjahilio berteriak marah.

"Luhkentut! Jangan kau berani menipu mengingkari perjanjian! Ingat! Aku dan kekasihku sudah mencarikan hampir tiga puluh ayam jantan untuk kau jadikan santapan kibulnya!"

"Tua bangka muka setan! Siapa menipu! Siapa ingkari perjanjian! Aku cuma bilang tidak mau membantumu. Dan kalian tidak boleh membunuh pemuda itu!"

"Buuuttt..." Luhkentut kembali pancarkan kentutnya.

Lajahilio maju dekati nenek muka kuning. Dia sengaja bicara lembut, berusaha membujuk.

"Mengapa begitu wahai kerabatku Luhkentut? Mengapa kau mendadak berubah pikiran?"

"Buuuuttttt!" Si nenek kentut dulu sebelum menjawab.

"Aku punya urusan besar dengan pemuda itu! Aku tak ingin dia mampus sebelum urusanku selesai!"

"Kurang ajar! Kalau kau tak mau membantu harap lekas angkat kaki dari sini! Lain hari urusan dustamu ini akan kita selesaikan!" Kembali Luhjahilio berteriak marah.

"Aku tidak akan pergi dari sini! Kalian berdua saja yang lekas menyingkir!" Nenek muka kuning ulurkan tangannya ke belakang, mencekal seekor ayam jantan.

Seperti tadi kibul ayam ini dipuntirnya sampai putus lalu dikunyah dan ditelannya. Ayam yang terkuik-kuik kesakitan enak saja dilemparkannya ke muka Luhjahilio sambil tertawa-tawa. Luhjahilio marah besar. Sekali hantam saja ayam jantan itu cerai berai berkepingkeping.

Bulunya beterbangan di udara. Kemarahan Luhjahilio tidak sampai di sana. Dia segera menerjang ke arah nenek muka kuning dan lepaskan satu pukulan sakti mengandung tenaga dalam hebat. Angin deras menyapu ke depan. Nenek muka kuning sesaat terhuyung dan terkentut-kentut "Buutt... buuttt". Tapi dia tidak tinggal diam dan cepat bertindak.

"Kurang ajar! Berani kau menyerangku! Rasakan!" teriak Luhkentut Entah kapan nenek ini bergerak tahu-tahu tangan kanannya telah mencengkeram tangan kanan Luhjahilio yang hendak menghantam dadanya.

Lajahilio, kakek kekasih, Luhjahilio tahu benar kehebatan si nenek muka kuning berjuluk Nenek Selaksa Kentut atau Nenek Selaksa Angin itu. Kalau dia tidak segera turun tangan pasti tangan kanan kekasihnya akan mengalami cidera berat. Tidak menunggu lebih lama kakek ini segera menyerang dari samping.

Melihat orang bertindak curang, walau dia kurang suka terhadap nenek muka kuning namun Wiro tak mau berpangku tangan saja. Sebenarnya saat itu dia bisa saja cari selamat menyelinap tinggalkan tempat itu. Namun yang dilakukannya adalah berkelebat menghadang gerakan Lajahilio.

"Bukkkk!"*

* *

5LENGAN kanan Wiro saling bentrokan dengan lengan kanan Lajahilio. Pendekar 212 mengerenyit dan terhuyung dua langkah. Di depannya si kakek keluarkan jeritan tertahan. Dia hampir terjengkang. Ketika diperhatikannya ternyata lengannya telah bengkak merah, sakitnya bukan kepalang. Mukanya kelam merah menahan sakit dan juga ada rasa tidak percaya. Selama ini kekuatan tangannya mampu menghancurkan batu. Tapi kini si pemuda bukan saja sanggup menahan malah membuat dia kesakitan setengah mati. Masih untung tulang lengannya tidak cidera.

"Pemuda asing jahanam! Aku mau lihat sampai di mana kehebatanmu! Makan seranganku ini!"

Lajahilio dorongkan dua tangannya ke arah Pendekar 212. Dua rangkum angin menggebubu, menyapu dahsyat Murid Sinto Gendeng terpental sampai dua tombak. Wiro cepat tekuk lututnya agar dia tidak jatuh duduk. Ketika Lajahilio susul serangannya tadi dengan tendangan ke arah kepala, Wiro serta merta pukulkan tangan kanannya. Serangkum angin laksana topan melabrak ke depan. Sosok Lajahilio sesaat mengapung di udara lalu terangkat dan mental jungkir balik di udara. Ketika jatuh di tanah punggungnya terbanting lebih dulu. Lajahilio mengeluh tinggi. Di sebelah belakang sekujur tulangtulangnya serasa remuk. Sedang di bagian depan yang barusan dihantam angin pukulan Benteng Topan Melanda Samudra yang tadi dilepaskan Wiro dadanya serasa amblas.

"Buuuttttt..." Kembali terdengar kentut panjang nenek muka kuning, disusul ucapannya.

"Luar biasa! Anak muda rambut panjang! Ilmu apa yang kau pergunakan menghantam kakek jelek itu! Hik... hiik... hik...?" Di samping kiri si nenek muka kuning tertawa cekikikan. Untuk kesekian kalinya tangannya siap memuntir kibul seekor ayam jantan.

Terhuyung-huyung, dengan dada sesak dan darah mengucur di sela bibir, Lajahilio bangkit berdiri. Memandang ke samping kiri dia keluarkan seruan tertahan. Tadi ketika melihat kekasihnya saling mencengkeram dengan nenek muka kuning dia berusaha untuk membantu karena tahu betul bahaya besar yang mengancam Luhjahilio. Tapi gerakannya dihadang oleh Wiro. Kini ketika dia memperhatikan kagetnya bukan alang kepalang melihat apa yang terjadi. Saat itu Luhjahilio dilihatnya tegak sambil pegangi jidatnya. Di jidat itu kini menempel potongan tangan kanan miliknya sendiri! Sebatas lengan sampai ke ujung jari. Dengan muka pucat si nenek berusaha menanggalkan tangan yang menempel di keningnya itu tapi sia-sia saja. Luhjahilio berteriak dan hentak-hentakkan kakinya kalang kabut!

"Ilmu Menahan Darah Memindah Jazad!" desis Lajahilio dalam hati. "Jadi benar rupanya nenek muka kuning ini memiliki ilmu dahsyat itu. Dia sanggup memindah bagian-bagian tubuh manusia tanpa mengeluarkan darah tanpa membunuh! Tapi akibatnya lebih mengenaskan dari kematian!"

"Luhjahilio! Mari kita tinggalkan tempat ini!" Lajahilio berseru.

"Buuuutttt...!"

"Tidak sebelum tanganku ini bisa ditanggalkan!" jawab Luhjahilio. Kembali dia menarik-narik potongan tangannya. Tetap tidak berhasil. Nenek muka kuning tertawa gelak-gelak.

"Luhjahilio, bagusnya kau ikuti ucapan kekasihmu. Sebelum aku memindahkan bagian tubuhmu yang lain ke jidat atau pipimu!" berkata Luhkentut lalu "buuuttttt...!"

Luhjahilio meradang marah. Tapi Lajahilio cepat menarik tangan kekasihnya dan setengah menyeret membawa nenek itu kabur dari tempat tersebut Pendekar 212 Wiro Sableng merasa tengkuknya dingin ketika nenek muka kuning tiba-tiba berpaling ke arahnya. Sepasang mata si nenek memandang lekat-lekat, mulutnya komat kamit mengunyah kibul ayam. Dia menyeringai, lalu tertawa mengekeh hingga sebagian kibul ayam yang ada di mulutnya tersembur keluar. Melihat si nenek tertawa Wiro merasa lega sedikit. Namun dia tetap berjaga-jaga dengan mengerahkan tenaga dalam ke tangan kanan.

Si nenek songgengkan pantatnya lalu "buuuttt..!"

"Anak muda bernama Wiro Sableng! Mana dua kawanmu yang dulu turut memperdayaiku di gua yang ada patungnya?"

"Anu Nek.... Mereka berada di Latanahsilam..."

"Pasti mencari perempuan! Hik... hik... hik!" Si nenek tertawa lalu sambung tawanya dengan kentut dua kali buuuttt.. buutttt! Puas tertawa dan terkentutkentut si nenek perhatikan tangan kanan Wiro Sableng.

terbangan ke udara. Si nenek muka kuning berseru keras. Tubuhnya tergontai-gontai sementara dua kakinya laksana ditanam ke tanah. Dia kerahkan seluruh tenaganya tapi tak urung lututnya mulai goyah. Pakaiannya berkibar-kibar. Keranjang ayam di punggungnya berderak-derak. Belasan ayam yang ada dalam keranjang itu berkotek-kotek ketakutan lalu semuanya amblas terpental dihantam sambaran angin deras, beterbangan cerai berai di udara. Sesaat kemudian keranjang ayam ikut terbang hancur berantakan. Tiga buah sunting di kepala si nenek bergoyang keras lalu mencelat mental. Begitu juga sepasang anting ditelinganya, copot mental. Masih untung rangkaian kalung yang tergantung di lehernya tak ikut diterbangkan angin pukulan, tertahan di bawah dagu!

Bagaimanapun Luhkentut bertahan namun tak urung dua kakinya yang terpendam di tanah perlahanlahan terangkat ke atas. Di lain saat sosok tubuhnya tampak limbung naik ke udara. Mengapung sejajar tanah dengan sepasang kaki menghadap ke arah Wiro.

"Buuuttt... buuuutttt.. buuttttt!" Si nenek kentut berulang kali.

Tiba-tiba wut.. wuuutt... wuutttt! Pakaian kuning yang melekat di tubuh si nenek terlepas tanggal dari tubuhnya, terbang ke udara lalu menyangkut jauh di atas sebatang pohon!

"Kurang ajar! Hai! Kau apakan diriku?!" Teriak Luhkentut sambil kalang kabut menutupi tubuhnya yang kini bugil polos sementara kentutnya keluar bertalu-talu.

Wiro tersentak kaget Serta merta dia hentikan serangan Benteng Topan Melanda Samudera. Walau si nenek ternyata mempunyai kehebatan untuk bertahan tapi dia tidak menyangka akibatnya akan seperti itu. Ketika Luhkentut berhasil turunkan dua kakinya ke tanah, Wiro tak berani berada lebih lama di tempat itu. Takut dilabrak si nenek murid Sinto Gendeng segera tancap ambil langkah seribu. Sambil kabur dia memaki dalam hati.

"Nenek sinting! Salah sendiri mengapa tidak pakai celana dalam!"6PERI Bunda pegang lengan Peri bermata biru yang duduk di hadapannya. Untuk beberapa lamanya tak satupun diantara mereka yang membuka mulut bicara. Akhirnya Peri Bunda memecah kesunyian di dalam kamar besar dan bagus itu.

"Aku tahu hatimu masih terguncang hebat wahai kerabatku Peri Angsa Putih. Tidak mudah memang menghadapi kejadian seperti ini karena menyangkut jauh sampai ke bagian terdalam dari hati nuranimu. Tapi ketahuilah kerabatku, apa yang telah kau lakukan adalah tindakan yang benar. Pemuda itu harus kau jauhi. Bahkan harus kau tinggalkan sebelum malapetaka menimpa dirimu seperti yang terjadi dengan diri Luhmintari, Peri yang jadi ibu Hantu Jatilandak ketika dia bersuamikan Lahambalang. Aku akan melindungimu terhadap para Peri lainnya. Jika Peri Sesepuh bertanya biar aku yang menghadap. Aku akan membantumu jika terjadi apa-apa."

"Peri Bunda kau sangat baitetoati. Tapi bagaimana kalau pemuda itu berdendam terhadapku dan melakukan sesuatu yang tidak baik?" tanya Peri Angsa Putih pula.

"Kau tak usah kawatir wahai kerabatku. Aku sendiri yang akan turun tangan menghadapinya jika dia berani berbuat begitu. Kalau perlu kita bisa perguna kan para tokoh Hantu di Negeri Latanasilam untuk membantu. Jangan harap dia bisa kembali ke tanah asalnya jika dia berani mencideraimu..." Peri Bunda diam sejenak. Lalu dia bertanya. "Peri Angsa Putih, apakah kau pernah mengatakan isi hatimu pada pemuda bernama Wiro Sableng itu? Apakah dia tahu kau mencintainya?"

Sepasang mata biru Peri Angsa Putih memandang lekat-lekat pada Peri Bunda, seolah membesar dan berbinar. Di lubuk hatinya dia berkata. "Aku memang tidak pernah berterus terang pada Wiro. Tidak mungkin seorang perempuan, apa lagi seorang Peri mendahului membuka isi hatinya. Namun... mungkin ketidaktahuan ini membuat dia bersikap seperti itu padaku. Tapi apa gunanya. Sekalipun kini dia tahu tak ada artinya lagi. Aib yang telah dilakukannya terlalu besar. Aku tidak mungkin menerima seorang kekasih seperti itu...." Peri Angsa Putih usap pinggiran ke dua matanya lalu berkata. "Kau betul Peri Bunda. Aku memang tak pernah mengatakan isi hatiku pada Wiro. Sekarang semuanya sudah kasip. Biar tetap kupendam seumur hidupku...."

"Aku bangga melihat ketabahanmu wahai Peri Angsa Putih. Kau tak usah kawatir pemuda itu akan melakukan sesuatu. Jika perlu aku akan turun ke Negeri Latanahsilam menemuinya...."

"Apa yang akan kau lakukan Peri Bunda? Apa yang hendak kau katakan padanya?"

"Kau tak usah kawatir, kau tak usah takut. Serahkan semua padaku. Pasti akan dapat kuselesaikan demi untuk kebaikan dirimu dan kesucian kita sebagai kaum Peri yang tidak bisa disamakan dengan bangsa manusia biasa..." Peri Bunda belai pipi Peri Angsa Putih lalu bangkit berdiri. "Aku akan pergi ke Negeri Latanahsilam sekarang juga. Kau tetap di sini. Jangan kemana-mana. Kau boleh berada di kamarku ini sampai aku kembali...."

"Terima kasih Peri Bunda. Aku memang merasa lebih tenteram berada di kamarmu ini," kata Peri Angsa Putih pula.

"Sebelum aku pergi ada satu hal lagi yang perlu kukatakan padamu. Jika aku tidak mengeluarkan hal ini rasanya akan menjadi ganjalan yang tidak enak."

"Katakanlah Peri Bunda. Wahai gerangan apa yang hendak kau sampaikan?" ujar Peri Angsa Putih pula.

"Menurut ceritamu kau meninggalkan Wiro pergi bersama Lakasipo, menunggangi kuda hitam berkaki enam berdua-dua."

"Betul Peri Bunda," membenarkan Peri Angsa Putih sambil anggukkan kepala.

"Dengan caramu itu kau bermaksud hendak sekedar membalaskan sakit hatimu pada Wiro. Mungkin juga hendak mengatakan bahwa bukan dia seorang lelaki di atas dunia ini. Tapi kau lupa satu hal. Entah kau sadari atau tidak kau seolah memberi harapan pada Lakasipo..."

Peri Angsa Putih terdiam. Peri Bunda melanjutkan kata-katanya. "Mungkin aku salah menduga. Tapi setahuku, sebelum Wiro muncul di Negeri Latanahsilam kau pernah memperlihatkan sikap dan rasa tertarik pada Lakasipo. Sikapmu berubah begitu Wiro datang...."

Wajah Peri Angsa Putih bersemu merah. Peri ini coba tertawa. "Peri Bunda, kau meminta aku melupakan pemuda itu..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.144.205.182
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia