Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : PETUALANGAN WIRO DI LATANAHSILAM

BENDERA KUNING SAMPAI DI DEPAN KAKI SI HATI BAJA. DIA SIAP UNTUK MELOMPAT. TAPI TIBA-TIBA DI ATAS ATAP KAKEK KEPALA TELENG KELUARKAN SUITAN KERAS. BERSAMAAN DENGAN ITU KINCIR HANTU MENGELUARKAN SUARA DAHSYAT. DI ANTARA SUARA GEMURUH YANG MENEGAKKAN BULU ROMA ITU TERDENGAR SUARA ANEH BERKEPANJANGAN. CLAK.... CLAK.... CLAK...! PANTULAN SINAR PUTIH MEMBERSIT DARI PINGGIRAN RODA KINCIR, MEMBUAT DUA MATA HATI BAJA SAKIT SILAU. DIA BERMAKSUD MENGUSAP MATANYA DENGAN TANGAN KIRI. NAMUN BELUM KESAMPAIAN TIBA-TIBA JERITAN SETINGGI LANGIT MENGUMANDANG KELUAR DARI MULUTNYA. DARI BAWAH KAKINYA KELIHATAN DARAH MENYEMBUR.



GEMURUH suara kincir raksasa itu terdengar tidak berkeputusan. Pada siang hari saja suaranya begitu ngeri menggetarkan. Apa lagi pada malam hari. Di atas atap rumah kincir seorang kakek berkepala teleng, mengenakan caping bambu duduk uncang-uncang kaki sambil menghisap pipa yang menebar bau serta asap aneh berwarna merah. Sambil hembuskan asap merah dari mulut dan hidungnya kakek ini memandang berkeliling. Dalam hati dia berkata. "Sudah tiga minggu berlalu sepi-sepi saja. Apakah orang sakti dan pandai di negeri ini sudah habis semua? Atau masih ada tapi tidak punya nyali untuk menjajal kincirku, takut menghadapi tantanganku? Kalau begini naga-naganya urusanku tidak bakal rampung!"

Di puncak bangunan terpancang sebuah bendera dari jerami kering berwarna kuning, melambai-lambai kaku ditiup angin. Kakek teleng hisap dalam-dalam pipanya. "Sial! Lama-lama aku bisa mengantuk!" katanya setengah memaki. Kakek ini lalu menatap kehalaman luas di depan rumah kincir. Seperti menghitung-hitung dia berucap.

"Satu... dua... sembilan... empat belas... ah! Sudah ampat belas orang sakti menemui kematian. Sudah tujuh purnama berlalu. Tapi tidak satupun dari mereka membekal benda yang kucari. Kalau sampai dua purnama lagi benda itu tidak kudapatkan, celaka diriku! Siapa diantara dua makhluk itu yang akan membunuhku lebih dulu?!" Caping di atas kepala kakek teleng bergerak-gerak tanda si kakek menggeleng-geleng gelisah berulang kali.

Sementara itu di atas satu pohon besar di seberang halaman rumah kincir, tiga sosok tubuh mendekam di balik kerimbunan dedaunan tanpa setahu kakek teleng bercaping. Mereka bukan lain adalah Pendekar 212 Wiro Sableng, bocah konyol bernama Naga Kuning dan si kakek berjuluk Setan Ngompol.

" Keterangan saudara kita Lakasipo ternyata betul. Kita akhirnya menemukan benda aneh yang disebut Kincir Hantu itu," berkata Naga Kuning dengan suara sangat perlahan.

"Tengkukku mengkirik, aku setengah mati berusaha menahan ngompol. Apa kalian tidak melihat semua keanehan mengerikan yang ada di bawah sana?! Siapa adanya kakek teleng bercaping itu? Tukang jaga atau pemilik Kincir Hantu itu...?" Yang bicara adalah Si Setan Ngompol.

Wiro garuk kepalanya. "Kincir itu berputar karena arus air yang datang dari sebelah kanan. Air dicurahkan ke saluran di sebelah kiri. Kincir biasanya untuk mengairi pesawahan. Tapi aku tidak melihat sawah atau ladang di sekitar sini. Lalu ke mana air itu perginya, untuk apa...? Dan ini yang gila! Empat belas mayat yang sudah jadi jerangkong bergeletakan di halaman rumah kincir. Semua jerangkong tidak memiliki kaki. Putus seperti ditebas sesuatu...."

"Kurasa kakek di atas atap itu yang membunuhi semua orang itu! Lihat saja dia sengaja menancapkan bendera kuning di atas rumah kincir. Bukankah bendera kuning tanda perkabungan, tanda kematian?!"

"Lebih baik kita tinggalkan tempat ini. Aku sudah tidak bisa menahan kencing!" kata Setan Ngompol sambil menepuk bahu Wiro.

"Tunggu dulu!" kata Naga Kuning. "Dari sikapnya kakek itu seperti menunggu seseorang...."

"Mungkin menunggu korban berikutnya," menyahuti Wiro. "Semua korban berkaki putus. Jika memang hendak membunuh orang mengapa tidak menusuk dada atau perut atau menabas lehernya? Sungguh aneh.... Kek, sebaiknya kita tunggu agar bisa melihat sendiri apa yang sebenarnya terjadi di tempat angker Ini!"

"Kalau begitu biar aku turun. Kalian mau menunggu sampai tujuh hari tujuh malam silahkan saja! Aku tidak mau ikut-ikutan!" kata si kakek. Lalu dia menggeser kakinya, siap hendak melompat turun. Namun niatnya ini jadi urung ketika mendadak satu bayangan berkelebat disertai seruan keras.

"Lateleng! Aku datang untuk menjajal kehebatan Kincir Hantumu!"

Sesaat kemudian seorang lelaki gagah, berjanggut dan berkumis lebat tapi rapi serta mengenakan topi tinggi merah seperti tarbus tahu-tahu sudah tegak di halaman di depan rumah kincir. Matanya menatap ke arah kakek bercaping lalu berpaling memperhatikan kincir besar yang berputar dengan suara gemuruh.

Di atas atap rumah kincir kakek teleng berdiri lalu buka capingnya dan menjura memberi hormat pada orang yang tegak di halaman.

"Wahai kerabat yang datang! Aku rasa-rasa mengenal dirimu! Tapi dari pada kesalahan menduga sebaiknya kau suka memberi tahu siapa nama atau gelarmu!"

Orang di depan rumah kincir usap janggutnya, permainkan sebentar ujung kiri kumis lebatnya lalu menjawab.

"Aku Lakerashati. Orang di Latanahsilam menyebutku Si Hati Baja! Apakah keteranganku cukup bagimu wahai Lateleleng?"

"Lakerashati! Bergelar Si Hati Baja! Sungguh satu kehormatan kau mau mendatangi tempat burukku ini! Mendengar seruanmu tadi, apa benar kau berniat hendak menjajal kehebatan Kincir Hantu milikku ini?"

Si Hati Baja angkat tangan kanannya dan menjawab. "Itu yang aku inginkan! Tetapi apakah imbalan seperti yang dikabarkan orang itu memang benar adanya? Aku tidak mau tertipu! Aku tidak mau menjadi korban karena ketololan seperti orang-orang ini!" Si Hati Baja memandang seputar halaman dimana berkaparan empat belas jerangkong. Dalam hati dia berkata. "Jerangkong-jerangkong ini sepertinya tidak membusuk lebih dulu. Ada sesuatu yang membuat mereka bisa langsung jadi tulang belulang seperti ini!"

Di atas atap rumah kincir kakek bernama Lateleng tertawa mengekeh. "Aku Lateleng seumur hidup tak pernah berdusta! Siapa saja yang sanggup berdiri selama tiga kali putaran di atas Kincir Hantu akan menerima hadiah sebuah kitab berisi ilmu kesaktian yang sanggup membuat seseorang memanggil dan memelihara tujuh macam Jin. Inilah kitabnya!"

Dari balik capingnya kakek teleng itu lalu keluarkan sebuah kitab terbuat dari daun yang sangat liat. Bagian depan kitab itu ada tulisan berbunyi "Kesaktian Menguasai Tujuh Jin." Kitab itu diacungkannya ke arah Si Hati Baja lalu dimasukkannya kembali ke balik

caping. "Tetapi sesuai dengan syarat yang sudah kutentukan! Segala akibat menjajal Kincir Hantu adalah menjadi tanggung jawab sendiri! Wahai Si Hati Baja, apakah kau menerima syarat itu?"

"Aku menerima!" jawab Si Hati Baja.

"Kuharapkan kakimu benar-benar sekuat baja! Kudoakan agar kau bisa berdiri di atas Kincir Hantu selama tiga kali putaran! Namun ada satu syarat lagi! Ketahuilah siapa saja yang ingin menjajal kehebatannya di atas Kincir Hantu sedikitnya harus berusia enam puluh tahun'. Berapakah usiamu wahai Hati Baja?"

"Hampir delapan puluh tahun!"

Lateleng tersenyum. Dalam hati dia berkata. "Kejadian itu empat puluh tahun silam. Berarti ada kemungkinan dia memiliki benda itu!"

"Aneh! Mengapa kakek itu pakai menanya usia segala? Seperti sayembara saja!" kata Naga Kuning yang mendekam di atas pohon bersama Wiro dan Si Setan Ngompol.

"Hati Baja, apakah kau sudah siap?!" Dari atas atap terdengar suara Lateleng bertanya.

"Aku sudah siap dari tadi!" jawab Lakerashati alias Si Hati Baja.

"Bagus!" Lateleng tertawa mengekeh. Dia sedot pipanya dalam-dalam lalu kepulkan asap merah. Tanpa menoleh ke belakang dia cabut bendera kuning yang menancap di atas atap. Capingnya kembali diletakkan di atas kepala. Bendera kuning itu diacungkannya ke atas. "Hati Baja! Bendera ini akan kutancapkan di ruas kincir! Pada saat kincir berputar dan bendera kuning berada di bagian paling atas, kau harus melompat ke atas kincir. Kau harus bertahan sampai bendera kuning mencapai bagian atas kincir sebanyak tiga kali! Jika kau mampu melakukan itu maka kau akan mendapatkan kitab Kesaktian Menguasai Tujuh Jin!"

Si Hati Baja tertawa jumawa. "Baru tiga kali putaran. Tiga puluh putaran pun aku sanggup!"

Lateleng tertawa lebar. "Ucapanmu membuat aku kagum wahai Hati Baja! Bisakah kita mulai sekarang?!"

"Dengan segala hormat!" jawab Si Hati Baja seraya sunggingkan senyum dan sedikit tundukkan kepala.

"Lihat bendera!" seru Lateleng dari atas atap.

Tangannya yang memegang bendera bergerak. Bendera kuning melesat ke bawah lalu menancap di pinggiran kayu yang merupakan roda kincir. Karena kincir berputar ke kiri maka bendera ikut berputar ke jurusan yang sama. Sesaat kemudian bendera kuning itu lenyap di sebelah kiri. Tak lama berselang muncul lagi di sebelah kanan dan ikut naik ke atas sesuai putaran kincir. Sesaat sebelum putaran kincir mengantar bendera kuning ke bagian paling tinggi, Lateleng berseru.

"Hati Baja! Sekarang!"

LAKERASHATI alias Si Hati Baja gentakkan kaki kanannya ke tanah. Saat itu juga tubuhnya melesat enteng ke udara dan jatuh tegak tepat di belakang bendera kuning yang menancap di roda kincir yang berputar. Karena roda berputar, agar dia tetap bisa bertahan di atas kincir maka Si Hati Baja mulai berlari-lari kecil di atas kepingan-kepingan kayu besi hitam yang membentuk cegukan dan mengantar air dan sengaja menghadap ke jurusan berlawanan dari arah putaran kincir. Sambil tertawa-tawa Si Hati Baja melakukan hal itu. "Pekerjaan begini mudah! Anak kecil yang baru belajar ilmu silat kampunganpun sanggup melakukannya!" katanya dalam hati.

Tak selang berapa lama bendera kuning kelihatan muncul di hadapan lelaki bertopi merah tinggi itu, borgerak di atas roda kincir, mendekati sepasang kaki Si Hati Baja yang berlari-lari kecil.

"Satu!" teriak Lateleng dari atas atap.

Si Hati Baja mendongak ke atas dan menyeringai.

Lateleng cabut pipanya dari sela bibir. Lalu dengan ujung pipa diketuknya pinggiran kincir. Putaran kincir yang tadi bergerak tidak terlalu cepat kini berubah kencang dan mengeluarkan suara bergemuruh. Untuk mengimbangi Hati Baja mempercepat larinya, hingga walau kincir bergerak lebih cepat dia masih tetap berada di atas kincir tanpa kesulitan apa-apa.

Di atas pohon berdaun rimbun di seberang halaman rumah kincir Wiro, Naga Kuning dan Si Setan Ngompol memperhatikan semua kejadian itu tanpa bergerak tanpa bersuara. Mereka masih terheran-heran apa sebenarnya yang tengah berlangsung. Hanya untuk mendapatkan sebuah buku aneh, seseorang diuji kepandaiannya begitu mudah. Lalu kalau cuma itu yang dilakukan mengapa ada empat belas mayat berkaki buntung berkaparan di halaman sana?! Keanehan apa sebenarnya yang tersembunyi di balik kaki-kaki buntung itu?! Lalu mengapa kincir itu dinamakan Kincir Hantu?

Bendera kuning muncul untuk ke dua kalinya disisi kanan kincir raksasa. Begitu sampai di hadapannya, seperti tadi Lateleng sedot pipanya, kepulkan asap merah lalu cabut pipa itu dan ketukkan ke pinggiran kincir begitu bendera kuning sampai di putaran tertinggi.

"Dua!" berseru kakek kepala teleng itu.

Kincir raksasa bergemuruh lebih keras dan putarannya juga semakin cepat. Tanah halaman bahkan sampai pohon besar di mana Wiro dan kawan-kawannya berada bergetar keras.

"Gila! Apa yang terjadi!" Kakek berjuluk Si Setan Ngompol pegangi bagian bawah perutnya yang mendadak basah karena tak dapat menahan kencing.

Di atas kincir yang berputar Si Hati Baja tetap tenang. Masih tersenyum-senyum dia percepat gerakan kakinya untuk mengimbangi dan menjaga agar dia tetap berada di sebelah atas kincir.

"Kek, kalau cuma begitu-begitu saja kukira kau bisa menjajal Kincir Hantu itu...." kata Naga Kuning pada Si Setan Ngompol. "Cuma sayang, kau sudah keduluan orang memakai tarbus merah itu!"

Setan Ngompol diam saja karena masih tegang memegangi bagian bawah perutnya. Wiro memperhatikan semua yang terjadi di depannya tanpa berkesip. Sudut matanya melihat bendera kuning untuk ke tiga kalinya muncul di sisi kincir sebelah kanan.

"Putaran ke tiga.... Orang bertopi merah agaknya segera akan mendapatkan kitab sakti itu!" Naga Kuning kembali berkata dengan suara perlahan.

Si Hati Baja menyeruakkan senyum ketika dia melihat bendera kuning untuk kali ke tiga berputar ke arah tempatnya berlari di tempat di atas roda kincir.

Dia mempercepat larinya dan menjaga keseimbangan kaki serta tubuh.

"Lateleng! Sebentar lagi kau harus menyerahkan kitab sakti itu padaku! Ternyata Kincir Hantumu yang digembar-gemborkan ini tidak ada apa-apanya! Ha... ha... ha!" Si Hati Baja tertawa bergelak.

Kakek bercaping di atas atap rumah ikut-ikutan tertawa lalu sedot pipanya dalam-dalam.

"Aku siap menyerahkan kitab sakti ini padamu wahai Hati Baja!" kata si kakek seraya tepuk capingnya, di bawah mana dia menyimpan kitab Kesaktian Menguasai Tujuh Jin. "Tapi harap kau sedikit bersabar, menunggu sampai bendera kuning mencapai putaran sebelah atas!"SI Hati Baja menyeringai. Hatinya girang sekali karena bendera kuning hanya tinggal satu langkah didepannya. Begitu dia melompat sedikit dan membiarkan bendera itu lewat di bawahnya maka rampunglah putaran ke tiga. Diam-diam tangan kanannya dialiri tenaga dalam sambil membatin. "Kalau kakek ini menipuku, akan kuhantam dengan pukulan Baja Panas Meleleh Langit."

Bendera kuning sampai di depan kaki Si Hati Baja. Dia siap untuk melompat. Tapi tiba-tiba di atas atap kakek kepala teleng keluarkan suitan keras. Bersamaan dengan itu Kincir Hantu mengeluarkan suara dahsyat. Di antara gemuruh yang menegakkan bulu roma itu terdengar suara aneh berkepanjangan.

"Clak... clak... clak...!"

Pantulan sinar putih membersit dari pinggiran roda kincir, membuat dua mata Hati Baja sakti silau. Dia bermaksud mengusap matanya dengan tangan kiri. Namun belum kesampaian tiba-tiba jeritan setinggi langit mengumandang keluar dari mulutnya. Dari bawah kakinya kelihatan darah menyembur! Saat itu juga sosok Si Hati Baja seperti terlempar setinggi dua tombak ke udara lalu jatuh bergedebukan di tanah halaman di depan rumah kincir. Dua potong benda menyusul jatuh ke tanah! Air yang mengalir di sisi kiri kincir raksasa tampak berubah merah!

"Astaga! Apa yang terjadi!" ujar Naga Kuning, lalu cepat-cepat tekap mulutnya karena sadar kalau-kalau suaranya terdengar sampai ke atap sana.

Si Setan Ngompol picingkan dua matanya yang belok jereng. Dua tangan langsung pegangi bawah perutnya yang kembali mengucur tak karuan!

Pendekar 212 Wiro Sableng garuk kepalanya. "Gusti Allah!" Dia mengucap. "Sepasang kaki orang itu!"

Di atas atap kakek bernama Lateleng tegak berdiri, membuka capingnya dan menjura ke bawah, ke arah Si Hati Baja yang terkapar di tanah, mengerang sambil menggeliat-geliat.

"Wahai Hati Baja, ternyata kakimu tidak terbuat dari baja! Kau tidak mampu mencapai tiga kali putaran. Sayang... sayang sekali!" "Manusia jahanam! Kau menipuku!" teriak Si Hati Baja.

"Aku menipumu katamu?Tipuan apa yang kulakukan padamu?!" tanya si kakek sambil tenggerkan kembali capingnya di atas kepala.

"Apa yang kau sembunyikan di permukaan kincir jahanam itu!" Si kakek geleng-gelengkan kepala lalu berkata. "Jangan berpikir, apa lagi menuduh yang bukan-bukan

wahai Hati Baja! Seharusnya kau berhati polos. Mengakui kau tidak mampu berdiri selama tiga kali putaran di atas kincirku!"

"Bangsat tua?! Aku...."

Tubuh Si Hati Baja mendadak menggigil lalu kelojotan. Dia coba kerahkan tenaga dalam ke tangan kanan. Maksudnya hendak menghantam si kakek yang ada di atas atap dengan satu pukulan sakti. Namun dia tak punya kemampuan mengangkat tangan. Sementara dua kakinya yang kini buntung sebatas pergelangan tersentak-sentak.

Di atas atap Lateleng tertawa mengekeh. Sekali dia mengenjot dua kaki maka seperti seekor burung besar tubuhnya melayang turun ke tanah. Jatuh tegak tepat di samping sosok Si Hati Baja.

"Hati Baja... Hati Baja, wahai! Nasibmu malang amatl Akan kulihat apakah kaju memang membekal benda yang aku cari?!"

Habis berkata begitu si kakek sedot pipanya dalam-dalam. Begitu mulutnya penuh dengan asap merah, asap itu lalu disemburkannya ke sekujur tubuh si Hati Baja mulai dari kepala sampai ke kaki yang buntung. Juga pada dua potong kaki Si Hati Baja yang tergeletak tak jauh dari situ. Hal itu dilakukannya sampai tiga kali.

Di atas pohon Wiro dan dua kawannya kembali tersentak kaget ketika menyaksikan apa yang terjadi.

"Lihat!" kata Wiro dengan muka pucat seraya menunjuk ke halaman sana. "Sosok lelaki berjanggut itu berubah menjadi jerangkong putih!"

Naga Kuning melongo seperti tak percaya. Kakek Si Setan Ngompol cepat-cepat palingkan muka tak berani memandang. Namun tak urung kencingnya sudah mengucur!

Wiro dan Naga Kuning terus memperhatikan. Kakek kepala teleng melangkah lebih dekat ke sosok Si Hati Baja yang telah berubah menjadi tulang belulang. Lalu dia membungkuk. Mengangkat kaki kiri orang itu. Si kakek tampak gelengkan kepala. Kaki yang barusan dipegangnya dilepas begitu saja. Kini dia mengangkat kaki kanan yang buntung. Seperti tadi dia kelihatan seperti memeriksa ke dalam rongga tulang kaki itu lalu kembali mencampakkannya. Kini dia memungut dua kutungan kaki Si Hati Baja. Memeriksa dan membalik-balikkannya.

"Kurang ajar! Aku tidak menemukan benda yang kucari! Lagi-lagi sialan!" Dua kaki buntung yang kin! hanya merupakan tulang putih itu dibantingkannya ke tanah hingga menancap amblas sampai setengahnya!

Dengan penuh perasaan jengkel Lateleng tegak berkacak pinggang. Di bawah caping sepasang matanya memandang tajam ke arah pohon besar. Dia tidak melihat apa-apa, kecuali tetesan-tetesan air yang jatuh dari sela-sela daun.

"Hemmmmm.... Tak ada hujan tak mungkin ada embun. Mengapa ada air menetes dari atas pohon?" Si kakek bergumam. Dia putar badannya lalu melesat ke atas atap rumah kincir. Dia menunggu sampai roda kincir yang berputar mengantar bendera kuning ke atas. Begitu sampai di atas, bendera ini dicabutnya lalu ditancapkannya di tempat semula yakni di atas atap. Sekali lagi matanya memandang tajam ke arah pohon besar di seberang halaman.

Pendekar 212 Wiro Sableng, Naga Kuning dan si kakek Setan Ngompol terkesiap kaget dan serasa terbang nyawa masing-masing ketika mendadak dari atas atap si kakek teleng berseru.

"Tiga makhluk yang sembunyi di atas pohon! Sllahkan turun ke tanah perlihatkan diri! Siang bolong begini sembunyikan diri sungguh tidak pantas!"

"Celaka! Kakek itu sudah tahu kita sembunyi disini!" kata Naga Kuning.

"Bagaimana dia bisa tahu...." kata Setan Ngompol masih tetap berpaling dan dengan suara serta tubuh gemetaran.

Wiro memandang berkeliling. Daun-daun pohon besar dimana mereka bersembunyi sangat lebat. Sekalipun kakek itu tadi berada di halaman bawah sana sulit baginya untuk melihat Namun! Pandangan Wiro membentur pada sehelai daun yang bergoyang-goyang karena kejatuhan tetesan-tetesan air dari atas. Wiro mengurut pandangannya ke atas. Matanya sampai pada sosok Si Setan Ngompol yang basah di bagian bawah.

"Sial! Kek, kau yang membuat apes!" kata Wiro. "Eh, mengapa aku yang kau salahkan?!" jawab Si Setan Ngompol seraya pelototkan matanya yang jereng. Wiro tak sempat berdebat karena saat itu Naga Kuning berteriak. "Awas! Kakek itu menyerang kita!"PENDEKAR 212 dan Si Setan Ngompol palingkan kepala ke arah rumah kincir. Benar apa yang diteriakkan Naga Kuning. Dari jurusan bangunan tersebut, sementara kincir hantu masih terus berputar menggemuruh, kelihatan menyambar tiga buah benda sebesar kepalan, berbentuk bulat merah. Selagi melayang di udara, tepat di atas halaman di depan rumah kincir, tiga benda itu berpijar terang lalu meletus keras dan berubah bentuk.

Kalau tadi merupakan tiga buah bola-bola merah muka kini menjadi larikan asap berwarna merah dan membeset ke arah tiga jurusan yang semuanya mengarah ke pohon besar di mana Wiro dan kawan-kawannya bersembunyi. Jelas tiga larikan asap merah itu satu persatu di arahkan pada Pendekar 212, Naga Kuning dan Si Setan Ngompol.

"Lompat!" teriak Wiro.

Tiga sosok berkelebat jungkir balik dari atas pohon, melompat ke tanah. Begitu injakkan kaki di tanah Wiro berguling sampai beberapa tombak, menjauh dari pohon besar. Hal yang sama dilakukan pula oleh si Setan Ngompol dan Naga Kuning.

"Wusss!"

"Wusss!"

"Wusss!" Tiga larik asap merah melabrak pohon besar.

Semula Wiro dan kawan-kawannya mengira pohon besar itu akan segera hancur berantakan atau dilalap kobaran api. Ternyata tidak. Apa yang mereka saksikan membuat mereka jadi merinding. Pohon besar itu kini berubah menjadi pohon mati yang walau masih tegak tapi berada dalam keadaan memutih mulai dari ujung ranting sampai ke akar yang tersembul di atas tanah! Dapat dibayangkan apa yang terjadi dengan Wiro, Naga Kuning dan Si Setan Ngompol kalau sampai kena dihantam oleh tiga larik asap merah itu! Mereka bisa berubah menjadi jerangkong seperti yang tadi mereka saksikan apa yang terjadi dengan diri Si Hati Baja!

Setan Ngompol megap-megap seperti orang mau tenggelam. Di atas matanya melotot besar sedang di bawah kencingnya mancur tidak ketolongan!

"Tua bangka kepala teleng itu! Dia hendak menjadikan kita tulang belulang alias jerangkong! Aku nekad untuk menghajarnya!" Lalu kakek ini kerahkan seluruh tenaga dalamnya ke tangan kanan, siap menghantam dengan pukulan bernama Setan Ngompol Mengencingi Bumi. Padahal saat itu celananya sudah basah kuyup di sebelah bawah!

"Aku juga!" berseru Naga Kuning. Bocah yang sebenarnya adalah kakek berusia seratus tahun lebih ini angkat tangan kanannya. Lima jari ditekuk seperti mau mencengkeram. Tangannya perlahan-lahan ber-ubah menjadi kebiruan. Naga Kuning hendak melepas satu pukulan sakti bernama Naga Murka Merobek Langifl. Selama ini jarang sekali bocah ini keluarkan pukulan sakti tersebut. Ini satu pertanda bahwa dia benar-benar marah.

"Tahan!" Pendekar 212 cepat berseru lalu cepat melompat ke hadapan dua orang itu, menghalangi gerakan mereka.

"Apa-apaan ini?!" teriak Naga Kuning.

"Kau sudah gila? Mau mampus dimakan seranganku?!" membentak Si Setan Ngompol.

"Sahabatku, harap kalian bersabar. Jangan berlaku nekad! Kalau diturutkan hawa amarah, sudah tadi-tadi aku mendahului kalian menghajar kakek di atas atap itu! Kita bertiga dia sendirian masakan kita bisa kalah! Tapi kalau sampai kakek itu bisa lolos dari hantaman kita dan balas menyerang, kita bisa celaka. Kepandaiannya sulit diukur! Biar aku bicara dulu! Kalian berdua berjaga-jaga! Naga Kuning, kuharap kau mau mengeluarkan kesaktianmu yang bernama Naga Hantu Dari Langit Ke Tujuh. Ingat dulu bagaimana Hantu Tangan Empat setengah mati ketakutan melihat Ilmumu itu?"

Naga Kuning mengangguk perlahan.

"Akan aku lakukan Wiro," katanya. "Tapi jika kau keburu mati duluan dihantam kakek teleng itu jangan salahkan diriku!"

Wiro berbalik lalu melangkah ke tengah lapangan. Naga Kuning dan Setan Ngompol mengikuti di kiri kanannya. Sampai di tengah lapangan murid Sinto Gendeng hentikan langkah lalu lambaikan tangan kirinya ke arah kakek teleng di atas atap. Tangan kanan yang sudah dialiri tenaga dalam setiap saat siap melepaskan Pukulan Sinar Matahari.

, "Orang tua di atas atap!" Wiro berseru. "Kami bukan seterumu! Kami datang bukan mencari permusuhan! Kami datang bersahabat! Kami tiga perantau jauh yang tertarik dan ingin melihat sendiri kehebatan Kincir Hantumu! Mohon maaf jika kehadiran kami terasa mengganggumu!"

Lateleng tidak segera menjawab. Dari bawah capingnya dia pandangi tiga orang itu. Dia hisap pipanya dalam-dalam. Setelah menghembuskan asap merah ke udara kakek ini lalu tertawa mengekeh.

"Tiga perantau asing! Datang dari jauh! Wahai! Sungguh hebat! Yang satu berambut gondrong pandai bicara! Satunya lagi bocah ingusan berlagak orang gagah! Yang terakhir kakek-kakek yang mengencingi pohon rindangku! Apa itu namanya kedatangan yang bersahabat?"

"Mohon maatmu orang tua! Kakek sahabatku ini punya penyakit suka ngompol!" menjelaskan Wiro.

"Apa itu ngompol?!" tanya Lateleng tidak mengerti.

"Suka kencing tak karuan karena per di selang-kangannya sudah dol!" menjawab Naga Kuning.

Lateleng geleng-gelengkan kepala. Dia menuding ke arah Pendekar 212. "Kau tadi bilang ingin melihat sendiri Kincir Hantuku! Hemmm.... Berarti kalian hendak mencoba menjajal kincirku. Rupanya masih ada makhluk yang lebih tolol dari pada manusia berjuluk Hati Baja yang sudah mampus dan kini tinggal jerangkong itu!"

Setan Ngompol terus saja mengucur air kencingnya mendengar ucapan Lateleng itu.

"Maaf Kek! Maksud kami bukan itu...!"

"Kau gondrong, masih muda! Juga kawanmu yang belia itu. Belum cukup umur untuk menjajal Kincir Hantu. Tinggal tua bangka yang satu itu. Harap kenalkan diri! Apa kau sudah siap untuk menjajal Kincir Hantuku dan mengharap imbalan kitab Kesaktian Menguasai Tujuh Jin?!"

Setan Ngompol cepat gelengkan kepala dan goyang-goyangkan ke dua tangannya. Di sebelah bawah semakin keras kucuran air kencingnya!

Sementara itu Kincir Hantu mulai bergerak perlahan dan akhirnya berhenti.

"Orang tua di atas atap," Wiro cepat menjawab. "Kami bertiga, apa lagi kakek sahabatku ini mana berani bertindak congkak menjajal kehebatan kincirmu! Terus terang kami sangat kagum. Itu saja! Kami tidak ada maksud untuk menjajalnya!"

Kakek teleng cuma menyeringai sinis mendengar ucapan Wiro.

"Kalau kau tidak bermaksud, wahai! Bagaimana sekarang kalau aku yang mengundang?!" ujar Lateleng pula lalu membuka capingnya dan menjura kearah Si Setan Ngompol.

"Tidak.... Jangan! Maafkan aku! Maafkan kami bertiga!" kata Setan Ngompol dengan muka pucat.

"Aku tidak punya kepandaian apa-apa. Aku dan kawan-kawan akan segera meninggalkan tempat ini. Kami mohon maafmu. Kami segera pergi...." Si Setan Ngompol cepat balikkan diri.

"Tunggu!" Lateleng membentak. "Dua kawanmu yang belum cukup umur itu boleh pergi. Tapi kau yang bau kencing kuda harus tinggal di tempat! Jangan berani bergerak apa lagi melangkah!"

"Celaka! Mati aku!" keluh Si Setan Ngompol dan serrr.... Air kencingnya semakin banyak tumpah membasahi celananya yang memang sudah kuyup!

"Orang tua!" seru Wiro. "Kami tidak punya niat melayanimu. Kau bisa menunggu lain orang saja. Mohon maaf. Biarkan kami pergi dengan aman!"

"Pemuda gondrong banyak cakap! Kalau begitu biar kau yang kuundang naik ke atas kincir ini! Hari ini aku mencabut aturan bahwa hanya orang berusia paling rendah enam puluh tahun saja yang boleh menjajal kehebatan Kincir Hantu!"

Wajah murid SintoGendeng jadi berubah. Tangan kirinya pulang balik menggaruk kepala. "Maaf Kek! Lain kali saja aku penuhi undanganmu! Aku dan kawan-kawan masih ada keperluan lain. Kami sudah cukup puas sudah melihat kincirmu yang hebat!"

"Mana bisa begitu!"Kakek diatas atap meradang "Berani kau bergerak satu langkah, nyawamu tertolong! Kecuali jika kau mau mengaku kau adalah manusia paling pengecut dan tidak berani menerima tantangan orang!"

Terbakarlah darah Pendekar 212 mendengar ucapan si kakek. Namun masih bersabar dan sambil menyeringai dia menjawab. "Terserah kau mau bilang apa! Aku tidak berminat melayani undanganmu!"

"Wiro," kata Naga Kuning. "Biar aku saja yang melayani kakek sombong kepala teleng itu! Kalau dia masih banyak mulut akan kuhantam dengan pukulan Naga Hantu dari Langit Ke Tujuh!"

"Ha... ha! Bocah ingusan itu ternyata lebih punya nyali dari padamu pemuda perantau berambut gondrong! Sungguh memalukan!" Dari atas atap kakek bercaping berteriak mengejek lalu tertawa mengekeh.

"Kakek kepala teleng! Aku terima tantanganmu!" teriak Wiro. Kesabarannya buyar. Dia terpancing. Naga Kuning dan Setan Ngompol cepat memberi ingat tapi sang pendekar sudah melesat ke atas dan di lain kejap sudah berdiri di atas roda kincir.

Begitu berada di atas kincir Wiro cepat perhatikan roda yang berputar. Memeriksa. Dia tidak melihat hal-hal yang mencurigakan. Semua bagian roda itu seperti kincir biasa adanya, terbuat dari kayu besi berwarna kehitaman. Tak ada sesuatu yang berbentuk benda tajam terbuat dari logam. Lalu benda apa yang telah menabas putus sepasang kaki Si Hati Baja?! Serta juga kaki-kaki empat belas orang lainnya itu tentunya?! "Celaka! Aku punya firasat dia bakal mendapat celaka besar!" kata Si Setan Ngompol sambil pegangi bagian bawah perutnya. Naga Kuning walau tidak menjawab tapi diam-diam bocah ini merasa sangat khawatir. Dia memberi isyarat pada kakek bermata jereng itu. Ke dua orang ini segera menyiapkan pukulan mengandung tenaga dalam tinggi di tangan kanan masing-masing. Jika terjadi sesuatu dengan Wiro mereka langsung akan menghantam kakek bercaping di atas atap. Diatas atap Lateleng tegak berdiri, buka capingnya membungkuk menjura."Orangmuda! Apakah kau sudah siap?!" "Kau boleh mulai!" jawab Wiro. Tapi matanya masih memperhatikan roda kincir. "Gila! Tidak ada apa-apanya " kata Wiro dalam hati. "Aku yakin keparat kepala teleng ini menyembunyikan sesuatu!"

Lateleng tersenyum. Dia melirik ke tangan kanan wiro lalu sambil berkata. "Tangan kananmu bergetar halus. Bukankah itu satu pertanda bahwa kau tengah mengerahkan tenaga dalam?" "Matamu tajam! jawab Pendekar 212 sambil menahan rasa kaget karena tidak menyangka kakek kepala teleng itu tahu apa yang tengah dilakukannya. "Terus terang aku tidak percaya padamu! Aku harus menjaga segala kemungkinan. Apa kau takut?!"

Lateleng tertawa lebar. "Aku penguasa tunggal di tempat ini! Kincir Hantu adalah milikku! Sebenarnya kau yang takut! Kalau tidak mengapa menyiapkan pukulan sakti untuk menyerang?!"

"Orang tua! Dari tadi kau bicara saja! Kapan akan mulai!" Menantang Pendekar 212 Wiro Sableng.

Si kakek kembali menjura. "Dengan segala senang hati! Kita akan mulai sekarang! Jika kau bisa bertahan di atas kincir sebanyak tiga kali putaran, kitab Kesaktian Menguasai Tujuh Jin jadi milikmu!"

"Aku tidak butuh segala kitab begituan!" jawab Wiro. "Aku ingin membuat perjanjian denganmu!"

"Oohooo! Apa yang ada dalam benakmu wahai pemuda dari rantau jauh?!" tanya si kakek teleng. Untuk pertama kalinya sepasang matanya kelihatan membeliak.

"Jika aku sanggup bertahan sampai tiga kali putaran, Kincir Hantu ini menjadi milikku! Kau boleh angkat kaki dari sini!"

Orang tua di atas atap tertawa bergelak. "Kau cerdik tapi licik!"

"Jadi kau takut menerima permintaanku?!"

"Wahai! Siapa bilang! Kau terlalu takabur anak muda! Itu berarti separuh dari nyawamu sudah kau berikan padaku! Ha... ha... ha!" Lateleng cabut bendera kuning di atas atap lalu ditancapkannya di kayu roda kincir. Bersamaan dengan itu kincir raksasa itu keluarkan suara menderu dan mulai bergerak ke kiri! Di halaman di bawah sana Naga Kuning dan Setan Ngompol memperhatikan dengan penuh tegang.KETIKA kincir mulai bergerak dan berputar ke kiri Pendekar 212 segera berlari-lari kecil ke arah berlawanan. Setiap ke dua kakinya menjejak kayu roda, dia kerahkan tenaga dalam. Maksudnya hendak mencoba menjebol kayu kincir untuk melihat apa yang tersembunyi di sebelah bawah. Luar biasanya ternyata kayu itu atos sekali!

Selagi Wiro mencari akal apa yang harus dilakukannya tiba-tiba kakek teleng ketukkan pipanya kepinggiran kincir seraya berseru.

"Satu!"

Kincir bergetar lalu menggemuruh berputar lebih cepat.

Di sebelah depannya Wiro melihat bendera kuning bergerak menuju ke arahnya lalu lewat di bawah ke dua kakinya. Wiro melirik tajam pada si kakek, memandang ke bawah ke arah dua temannya lalu kembali memperhatikan kincir yang berputar semakin cepat, membuat dia harus berlari lebih cepat pula. Tak lama kemudian bendera kuning muncul kembali untuk ke dua kalinya. Kincir berputar semakin kencang. Dengan Ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya Pendekar 212 tidak perlu merasa khawatir akan kehilangan keseimbangan bagaimanapun cepatnya kincir itu berputar. Malah seenaknya pemuda konyol ini berlari melompat-lompat di atas kincir sambil bersiul-siul kecil. Namun karena dia masih belum dapat memecahkan teka teki atau rahasia yang tersembunyi di balik keangkeran kincir itu tetap saja hatinya merasa tidak enak.

"Pemuda konyol sombong!" Kakek bercaping mendumal dalam hati. "Sekarang kau masih bisa bersiul-siul. Sebentar lagi baru kau tahu rasa!"

"Dua!" berteriak Lateleng. Seperti tadi kembali dia ketukkan pipanya ke pinggiran roda kincir. Kincir itu sekali lagi bergetar keras diantara suara gemuruhnya. Si kakek balikkan capingnya dan perlihatkan pada Wiro kitab Kesaktian Menguasai Tujuh Jin. "Kurang dari satu putaran lagi anak muda! Kitab ini akan jadi milikmu!"

Wiro tidak perdulikan ucapan si kakek. Sambil berlari sepasang matanya terus memperhatikan kincir yang berputar. Di langit sang surya bersinar terik. Di sebelah depan bendera kuning muncul untuk kali ke tiga! Wiro mendadak merasa tambah tegang. Di halaman rumah kincir Naga Kuning dan Setan Ngompol memperhatikan tidak berkesip. Bergerak dari sisi kanan menuju ke kiri, mendekati dua kaki Pendekar 212!

Lateleng sedot pipanya dalam-dalam. Lalu pipa dicabut dan diketukkan ke pinggiran kincir.

"Tiga!" berseru kakek kepala teleng itu.

Kincir Hantu menggemuruh dahsyat seolah di situ memang ada puluhan hantu yang tengah menggereng marah. Naga Kuning dan Setan Ngompol tampak tegang. Mereka memandang penuh tegang ke arah Pendekar 212 Wiro Sableng.

Si kakek sudah tidak memegangi bagian bawah perutnya lagi. Percuma saja. Dalam keadaan sangat tegang seperti itu dipegangpun kencingnya tetap mengucur tak berkeputusan. Wiro sendiri berusaha menguasai diri. Matanya memperhatikan keadaan penuh waspada. Dadanya bergetar ketika kemudian dari bagian bawah roda kincir sebelah kanan bendera kuning menyembul muncul dan bergerak cepat ke arahnya!

Lateleng kembali acungkan kitab Kesaktian Menguasai Tujuh Jin sambil berseru. "Wahai anak muda! Kau hebat sekali! Kitab ini agaknya memang berjodoh denganmu!"

Wiro tidak perdulikan seruan orang. "Kakek itu sepertinya sengaja hendak mengalihkan perhatianku!" Membatin Pendekar 212.

Hanya satu langkah lagi bendera kuning akan lewat di bawah dua kaki Wiro tiba-tiba terdengar suara aneh berkepanjangan.

"Clak... clak... clak!"

"Suara aneh itu!" seru Naga Kuning tercekat. Dia Ingat betul. Suara seperti itu terdengar sebelum dua kaki Si Hati Baja terpapas buntung! Berarti Wiro berada dalam bahaya.

"Wiro! Awas! Kakimu!" teriak Naga Kuning.

Murid Eyang Sinto Gendeng memang sudah memasang telinga dan berlaku waspada sejak tadi-tadi. Namun dia tidak tahu apa yang bakal terjadi.

Tiba-tiba dari arah pinggiran roda kincir membersit sinar putih menyebabkan Pendekar 212 kesilauan dan untuk sesaat tidak dapat melihat apa-apa lagi. Sambaran sinar putih menyilaukan ini juga melesat secara aneh ke arah Naga Kuning dan Setan Ngompol. Ke dua orang ini berseru kaget dan terpaksa lindungi mata dengan tangan masing-masing.

"Aku tidak dapat melihat apa-apa!" seru Naga Kuning.

"Aku juga! Aneh, sinar menyilaukan itu membuat kencingku terasa lebih panas! Anuku sampai bergeletar!" menyahuti Setan Ngompol dengan mata terjereng-jereng.

Di atas roda kincir Pendekar 212 berseru kaget ketika mendadak dua kakinya terasa sangat berat. Bagaimanapun dia kerahkan tenaga berusaha melompat, dia hanya mampu mengangkat kakinya ke atas sejarak seujung kuku!

"Celaka! Apa yang terjadi!" Wiro kerahkan tenaga dalam. Terbayang olehnya apa yang terjadi dengan Si Hati Baja.

"Clakk!"

Tanpa terlihat oleh Pendekar 212 yang masih kesilauan, sebuah benda putih menyilaukan menderu memapas ke arah kaki kanannya.

Saat itulah tiba-tiba terjadi satu keanehan yang berlangsung sangat cepat. Satu tangan menyambar ke bawah, merangkul dada dan ketiak Wiro. Ber-samaan dengan itu tubuhnya terangkat ke atas. Wiro merasa seolah dibetot ke atas menembus langit. Ketika dua matanya bisa melihat wajar kembali, dia dapatkan dirinya tergolek dan berada di satu tempat di balik serumpunan semak belukar. Sepasang mata sang pendekar terpentang lebar ketika melihat siapa yang tegak di hadapannya.

Murid Sinto Gendeng segera melompat bangkit.

"Luhrinjani..." desis Pendekar 212. Belum lagi habis rasa tegangnya atas apa yang barusan dialaminya di atas sana, kini tengkuknya jadi merinding. Karena dia tahu sosok yang ada di hadapannya saat itu sebenarnya telah mati beberapa waktu yang silam!

"Kau...!"

" Kita tidak banyak waktu. Lekas tinggalkan tempat Ini sebelum kakek di atas rumah kincir turun ke tanah lancarkan serangan. Kawan-kawanmu juga harus cepat angkat kaki dari sini!"

"Tapi bagaimana...."

Sosok perempuan berwajah ayu, mengenakan pakaian panjang terbuat dari sebentuk sutera putih, rambut tergerai lepas dan melambai-lambai ditiup angin perlihatkan wajah tidak sabaran. Dengan tangan kirinya makhluk ini mencekal leher baju Pendekar212. Sekali dia bergerak Wiro seolah diajak melayang terbang. Di dekat pohon besar perempuan itu menukik menyambar Naga Kuning dan Setan Ngompol. Luar biasa sekali. Seperti menenteng tiga anak kucing, perempuan berpakaian putih bergerak cepat seolah melayang.

Di atas atap kincir kakek kepala teleng tidak tinggal diam. Dia cepat kenakan capingnya di atas kepala lalu menggembor marah menyaksikan apa yang terjadi.

Tangan kanannya digoyangkan tiga kali berturut-turut.

Tiga larik asap merah menyambar ke bawah.

"Kita serang!" teriak Naga Kuning yang pertama kali melihat datangnya tiga larik asap merah itu. Si setan Ngompol mancur air kencingnya. Wiro yang sudah menyaksikan keganasan asap merah serangan Kakek teleng itu segera menghantam lepaskan pukulan Sinar Matahari.

"Bummm! Bummm! Bummm!"

Tiga dentuman dahsyat menggetarkan seantero tempat. Sosok perempuan berpakaian putih bergoyang keras lalu melayang jatuh ke tanah, tapi tetap dalam keadaan tegak. Wiro merasakan sekujur tangan kanannya berdenyut sakit dan kaku.

DI atas atap rumah kincir Lateleng delikkan mata.

"Wahai! Aku hanya melihat selarik sinar putih menyilaukan. Lalu ada hawa panas menyambar. Tiga larik asap merahku buyar walau cahaya putih itu berhasil dihancurkan. Wahai! Siapa yang menghantam! Perempuan jejadian itu atau pemuda berambut gondrong?! Jahanam betul! Aku harus menyelidik ke bawah. Mengejar dan membantai mereka semua!" Lalu seperti seekor alap-alap kakek itu terjunkan diri dan melayang ke bawah.

"Kita dikejar!" kata Naga Kuning setengah berteriak.

Wiro kembali siapkan pukulan Sinar Matahari.

Perempuan berpakaian putih cepat berucap." Kalian bertiga lekas tegak lurus-lurus. Jangan bergerak, jangan bersuara. Jika kalian mengikuti apa yang kukatakan, niscaya kakek itu tidak akan melihat kita!"

"Kakek itu tidak buta! Siang bolong begini masakan dia tidak bisa melihat kita!" ujar Naga Kuning. Seperti Wiro dia juga siapkan satu pukulan sakti di tangan kanan.

"Wahai! Jangan berlaku bodoh! Jika mau selamat ikuti ucapanku!" kata Luhrinjani pula, perempuan berpakaian putih itu.

"Ikuti saja apa yang dikatakannya..." bisik Wiro karena dia tahu perempuan berpakaian putih itu bukan makhluk sembarangan tapi mayat hidup yang memiliki kepandaian tinggi berkat pertolongan Para Peri Dari Langit Ke Tujuh. Hal ini diketahuinya dari Lakasipo beberapa waktu lalu.

Wiro, Naga Kuning dan Setan Ngompol lalu tegak lurus-lurus, tidak bergerak dan tidak bersuara. Hanya mata mereka saja yang jeialatan memperhatikan Lateleng. Kakek pemilik Kincir Hantu ini begitu menjejakkan kaki di halaman luas segera berkelebat kian ke mari, mencari-cari sambil mulutnya terus menerus mengeluarkan suara mengomel.

"Barusan mereka ada di sekitar sini! Bagaimana mungkin bisa lenyap seperti ditelan bumi!" Si kakek buka capingnya. Untuk beberapa lamanya dia berdiri diam. Hanya kepalanya yang dipalingkan kian ke mari disertai mata membeliak. "Kurang ajar betul! Mereka benar-benar lenyap!" Lateleng menggeram marah.

Apa yang terjadi? Berkat ilmu kesaktian yang dimiliki Luhrinjani si kakek tidak melihat ke empat orang itu. Padahal saat itu Wiro dan dua kawannya norta perempuan berpakaian putih hanya satu langkah saja di samping kirinya. Seandainya si kakek menggerakkan tangannya ke samping pasti dia akan menyentuh sosok Si Setan Ngompol yang saat itu tegak tak bergerak di bawah pohon tapi air kencingnya mengucur jatuh.

Ilmu kesaktian yang dimiliki Luhrinjani itu bernama Menutup Mata Memutus Pandang. Konon itu Adalah salah satu dari beberapa ilmu kesaktian yang diturunkan Para Peri Dari Negeri Atas Langit kepada perempuan bernasib malang itu. Namun bagaimanapun hebatnya kesaktian tersebut celakanya kesaktian ini tidak membuat Luhrinjani mampu melenyapkan kencing Si Setan Ngompol dari pandangan mata Lateleng. Sambil dekapkan capingnya di depan dada sepasang mata' kakek teleng itu perhatikan tanah yang basah tepat di antara ke dua kaki Si Setan Ngompol.

Lateleng mendekat lalu berjongkok di depan tanah yang basah. Si Setan Ngompol pejamkan mata. Untung dia masih ingat ucapan Luhrinjani agar tidak bergerak. Padahal tadi ketika melihat Lateleng mendekatinya, malah jongkok di depannya nyawanya serasa terbang dan dia hampir saja gerakkan tangan hendak memegangi bagian bawah perutnya! Naga Kuning berdiri laksana patung sambil menggigit bagian bawah bibirnya. Berusaha menahan ketegangan.

Pendekar 212 berdiri menahan nafas. Kepalanya terasa gatal dan dia hampir tak dapat menahan diri hendak menggaruk. Luhrinjani satu-satunya yang berdiri dengan sikap tenang sambil memperhatikan gerak-gerik Lateleng.

Setelah jongkok di depan Setan Ngompol, Lateleng ulurkan tangan, menepuk-nepuk tanah yang basah oleh air kencing Si Setan Ngompol. Lalu jari-jarinya yang basah didekatkannya ke hidungnya.

"Hue!" Si kakek keluarkan suara seperti orang mau muntah. Dia meludah habis-habisan. "Bau pesing jahanam!" Makinya. Dia mendongak ke atas. Saat itu kebetulan di salah satu cabang pohon kelihatan seekor tupai besar sedang kencing. Selesai kencing binatang ini melompat ke cabang pohon lainnya dan lenyap dari pemandangan.

"Tupai celaka! Kau rupanya!" Lateleng kembali memaki. Lalu dia berdiri dan melesat kembali ke atas atap. Dari atas atap rumah kincir ini dia memeriksa Kincir Hantunya dan merasa lega karena tidak ada bagian yang rusak akibat bentrokan asap merah saktinya dengan pukulan Sinar Matahari tadi.

Setan Ngompol menarik nafas lega. "Tupai kencing di atas pohon itu telah menyelamatkanku dan kawan-kawan! Bagaimana aku membalas budi binatang itu," kata si kakek jereng dalam hati.

"Kita aman sekarang," Luhrinjani berkata dengan suara perlahan. "Ikuti langkahku. Kita bergerak tiga tangkah lurus ke depan, lalu berbelok tiga langkah ke kanan, berbelok lagi tiga langkah ke kiri. Lalu lurus lagi sampai kita melewati pohon cempedak hutan di depan sana...."

Wiro, Naga Kuning dan Setan Ngompol mengikuti apa yang dikatakan Luhrinjani. Setelah melewati pohon cempedak hutan Luhrinjani hentikan langkah dan berpaling pada ke tiga orang itu. "Saat ini kita berada cukup jauh dari kawasan Kincir Hantu. Wahai, aku gembira bertemu dengan kalian bertiga. Gembira tapi juga heran. Terakhir sekali aku melihat kalian, sosok kalian hanya sebesar jari. Bagaimana sekarang bisa berubah sebesar ini?"

Wiro lalu menceritakan pertemuannya dengan luhclnta serta Hantu Raja Obat.

"Kalian beruntung!" kata Luhrinjani. Dia menatap Pendekar 212 sesaat lalu meneruskan ucapannya. "Dan kau tiga kali beruntung...."

"Apa maksudmu Luhrinjani?" tanya Wiro pula.

"Keuntungan pertama, kau selamat dan diobati oleh Hantu Raja Obat. Keuntungan ke dua, kaki kananmu tak sampai putus dibabat Kincir Hantu. Coba kau lihat apa yang telah terjadi dengan kasutmu sebelah kanan...."

Wiro angkat kaki kanannya sedikit lalu perhatikan kasut yang dikenakannya. Berubahlah paras sang pendekar. Bagian tapak kasut yang terbuat dari kulit Itu ternyata telah terbabat putus sampai setengahnya. Wiro memandang pada Luhrinjani. "Kalau kau terlambat menolongku, berarti kakiku yang putus.... Aku dan Juga kawan-kawan sangat berterima kasih padamu Luhrinjani. Sekarang apakah kau mau mengatakan keuntungan ketiga itu?"

Yang ditanya tersenyum. "Tak mungkin kukatakan di depan dua sahabatmu ini. Nanti saja aku ceritakan kalau ada kesempatan...."

"Antara kami bertiga tidak ada rahasia. Mengapa tidak diceritakan sekarang saja?" kata Wiro. Semen-tara Naga Kuning mendekati Si Setan Ngompol lalu membisiki kakek ini. "Aku khawatir, jangan-jangan perempuan ini telah jatuh cinta pada sang pangeran sableng sahabat kita ini!"

Setan Ngompol menyeringai dan menyahuti. "Buruk nian nasib kita kalau begitu. Semua perempuan cantik naksir padanya. Kita lalu kebagian apa?! Hik...hik... hik...!"

Luhrinjani menatap Pendekar 212 sesaat lalu menggeleng. "Ketahuilah, Hantu Raja Obat adalah makhluk aneh yang hati dan jalan pikirannya bisa berubah dalam sekejapan mata! Apa kalian pernah mendengar berapa banyak manusia yang tidak di-senanginya dijadikan Godokan obat lalu dijarang dalam periuk tanah di atas kepalanya yang bersorban?"

Wiro mengangguk. Naga Kuning jadi merinding. Setan Ngompol langsung mulas perutnya. Apa yang dikatakan Luhrinjani memang benar adanya dan pernah ada orang yang memberi tahu sebelumnya.

"Luhrinjani, Lakasipo telah menganggap kami sebagai saudara angkat. Berarti kaupun adalah saudara kami. Kami bertiga menghaturkan terima kasih. Kau telah menyelamatkan kami dari tangan kakek teleng pemilik Kincir Hantu itu...."

Luhrinjani anggukkan kepalanya dengan perlahan. Parasnya yang cantik kemudian tampak berubah sayu. Dia menatap jauh ke depan dengan pandangan kosong.

"Luhrinjani, kulihat perubahan pada wajahmu. Seolah ada satu ganjalan kesedihan di hatimu. Apakah...."

Luhrinjani menghela nafas panjang. "Langkahku jauh sampai ke sini karena menyirap kabar bahwa suamiku Lakasipo ada bersama kalian. Namun wahai, aku tidak menemukannya. Mungkin kau dan kawan-kawan mengetahui gerangan dimana Lakasipo berada?"

Yang menjawab Naga Kuning. "Terakhir kami bersamanya ketika bertemu dengan Hantu Raja Obat. Saat Itu dia mengatakan hendak pergi menemui seseorang. Tapi dia tidak menyebut siapa orangnya, hanya menyebut tempat di mana orang itu berada...."

Luhrinjani mendongak ke langit lalu pejamkan mata-nya sesaat. Dia berpaling pada Naga Kuning. "Mungkin suamiku menyebut nama sebuah gunung...?"

"Betul sekali!" sahut Naga Kuning.

Wiro menyambung. "Aku ingat, kalau tidak salah Lakasipo menyebut nama gunung itu. Gunung La-batuhitam...."

"Wahai!" Wajah Luhrinjani tampak berubah. Suaranya bergetar ketika berkata. "Demi Para Dewa dan Mara Peri. Demi segala Roh yang tergantung antara langit dan bumi. Jangan-jangan memang benar firasatku. Dia menemui perempuan itu...."

"Perempuan siapa maksudmu Luhrinjani?" tanya SI Betan Ngompol yang bersuara setelah sejak tadi diam saja.

"Tak bisa kukatakan. Wahai, aku harus pergi sekarang.... Tapi ada satu lagi pertanyaanku. Apakah kalian pernah mendengar nama Hantu Santet Laknat?"

"Kami pernah mendengar dari Lakasipo," jawab Wiro. "Menurut Lakasipo dukun jahat itulah yang mencelakai dirinya atas permintaan Lahopeng..." (Baca: "Bola Bola Iblis")

"Tahu dimana dukun itu berada?"

Wiro dan dua kawannya sama-sama gelengkan kepala.

"Karena tak ada yang ingin kutanyakan lagi, aku harus pergi sekarang," kata Luhrinjani pula.

"Kakak sahabatku! Tunggu dulu!" berkata Naga Kuning. "Bolehkah aku menanyakan ilmu apa yang kau pergunakan tadi hingga kakek teleng pemilik Kincir Hantu itu tidak mampu melihat kita semua?"

"Aku tidak dapat memberi tahu padamu. Tidak sekarang, entah nanti..." jawab Luhrinjani. Perempuan ini segera balikkan badan dan tinggalkan tempat itu. Wiro menunggu sampai Luhrinjani terpisah agak jauh dari Naga Kuning dan Si Setan Ngompol, lalu dengan cepat dia menyusul,

"Luhrinjani, aku terpaksa bersikap keras kepala. Aku ingin kau mengatakan apa keberuntunganku yang ke tiga. Dua sahabatku itu tidak akan mendengar jika kau mengatakannya sekarang...."

Luhrinjani menatap dalam-dalam ke mata Pendekar 212. Membuat murid Eyang Sinto Gendeng ini menjadi agak tercekat, apa lagi kalau dia ingat yang di hadapannya itu sebenarnya adalah roh halus dari orang yang sudah lama mati!

"Wahai! Kau memaksa rupanya. Tapi baiklah. Akan kukatakan padamu. Keberuntunganmu yang ke tiga ialah ada seorang gadis cantik berhati baik jatuh cinta padamu...."

"Siapa?!" tanya Wiro kaget karena tidak menyang-ka hal itu yang akan diucapkan Luhrinjani. "Kau terkalah sendiri..." jawab Luhrinjani sambil tersenyum. "Peri Angsa Putih...?" tanya Wiro. Luhrinjani tidak menjawab dan masih tetap mengulum senyum. "Luhjellta?" tanya Wiro lagi. Luhrinjani masih tersenyum seperti tadi.

"Kami kaum perempuan tidak ingin membuka rahasia pribadi isi hati sesama kami. Cobalah kau Ingat-ingat! Ada seorang lain yang sebelumnya telah mengatakan padamu," jawab Luhrinjani. Lalu perempuan berpakaian serba putih ini melangkah pergi.

Wiro kembali mengejar. Tapi aneh! Sekali ini wa laupun dia berjalan setengah berlari tetap saja dia tak mampu mendekati perempuan itu. Ketika dia perhatikan bagian bawah kaki Luhrinjani, serta merta Pendekar 212 hentikan langkahnya. Sepasang kaki luhrlnjani ternyata tidak menginjaktanah! Ketika Wiro memandang lagi ke depan, perempuan itu telah lenyap sepertl ditelan bumi! (Mengenai Luhrinjani harap baca serial Wiro Sableng berjudul "Bola Bola Iblis")

Pendekar 212 garuk-garuk kepalanya. "Ada seorang lain yang sebelumnya telah mengatakan padamu..." kata-kata Luhrinjani itu terngiang kembali di telinga Wiro. "Siapa..,?" Wiro coba mengingat-ingat. Namun sebelum dia mampu mendapatkan jawaban tiba-tiba satu makhluk raksasa putih muncul di udara lalu menukik ke bawah dan sesaat kemudian telah bersimpuh di tanah, beberapa langkah di hadapan Pendekar 212. Tapi karena saat itu pikiran sang pendekar masih dicekat oleh rasa menduga-duga maka dia seolah tidak melihat makhluk putih itu."WAHAI sahabat bernama Wiro yang konon berjuluk Pendekar 212, gerangan apakah yang meresapi pikiranmu hingga mata seolah tertutup kabut dan telinga seperti terhalang angin?"

Wiro tersentak kaget. "Peri Angsa Putih..." katanya begitu dia menyadari siapa yang duduk di atas punggung angsa putih raksasa. "Maafkan, aku sampai tidak...."

"Teka teki hidup yang tidak terjawab memang membuat seseorang bisa bingung, jadi lupa diri dan lupa keadaan sekelilingnya...."

Wiro coba tersenyum dan garuk-garuk kepala. Dalam hati dia membatin. "Apakah Peri cantik ini sempat mendengar percakapanku dengan Luhrinjani tadi?"

Saat itu Naga Kuning dan Si Setan Ngompol telah berada pula di tempat itu. Keduanya menjura memberi penghormatan. "Sahabatku Peri cantik bermata biru, kami senang bisa bertemu lagi denganmu," kata Naga Kuning.

"Aku juga merasa gembira bisa melihat kalian semua," jawab Peri Angsa Putih sambil tersenyum lalu melirik pada Wiro. "Kuharap kalian semua baik baik saja...."

"Peri Angsa Putih, apakah pertemuan ini suatu kebetulan saja atau memang kau sudah kangen lalu punya niat menemui kami? Eh, maksudku kangen pada sahabatku Wiro?" tanya Naga Kuning sambil senyum-senyum. Di lain pihak Wiro menduga kemunculan sang Peri adalah untuk membicarakan masalah bunga mawar beracun tempo hari.

Pertanyaan Naga Kuning itu membuat wajah Peri Angsa Putih bersemu merah sedang Wiro ulurkan tangan mencubit punggung Naga Kuning hingga bocah Ini melintir kesakitan.

Sebenarnya sejak beberapa waktu lalu Peri Angsa Mutlh memang berusaha mencari Wiro. Dia ingin menemui sang pendekar untuk menjernihkan persoalan bunga mawar beracun yang hampir merenggut nyawa Wiro dan yang menurut Luhjelita berasal dari dirinya. (Mengenai perselisihan segi tiga antara Wiro, Peri Angsa Putih dan Luhjelita harap baca serial Wiro Sableng berjudul "Hantu Tangan Empat" dan "Hantu Muka Dua") Namun niatnya untuk membicarakan hal Mu menjadi sirna ketika tadi secara tidak sengaja dia sempat mendengar ucapan-ucapan Luhrinjani yang menyebut tentang seorang gadis cantik berhati baik yang jatuh cinta pada Wiro. Untuk menutupi rasa malu dan sekaligus kekecewaannya untung Peri Angsa Putlh dapat mencari akal mengeluarkan jawaban.

"Wahai, sebagai sahabat tentu saja aku selalu Ingin bertemu dengan kalian. Namun selain itu memang aku ingin menemui Wiro...."

"Nah! Apa kataku!" ujar Naga Kuning pula sambil menepuk bahu Si Setan Ngompol hingga kakek ini tersentak kaget dan langsung terkencing.

Wiro menatap wajah sang Peri. "Kau ingin membicarakan perihal bunga mawar kuning itu..." tanya Pendekar212.

Peri Angsa Putih goyangkan tangannya dan ge-lengkan kepala. "Kalau bukan itu mungkin perihal kesalahanmu memukul diriku waktu bertengkar dengan Luhjelita," kata Wiro pula.

"Bukan, bukan itu," jawab Peri Angsa Putih. "Aku mencarimu untuk meminta kembali selendang sutera biruku yang terjatuh sewaktu terjadi perkelahian dengan anak buah Hantu Muka Dua beberapa waktu lalu." (Baca "Hantu Muka Dua")

Sesaat Wiro jadi terpana dan tatap Peri Angsa Putih dengan pandangan penuh tanda tanya. "Aku punya firasat sebenarnya dia bukan mencari selendang itu," kata murid Sinto Gendeng dalam hati. Lalu dia berucap. "Selendang itu memang ada padaku. Kau tentu ingat selendang itu terjatuh di tanah. Sementara kau pergi begitu saja. Aku...." Wiro tidak melanjutkan ucapannya. Sebenarnya dia ingin selendang milik Peri Angsa Putih itu tetap ada padanya. Namun yang empunya datang meminta. Apapun alasannya dia harus mengembalikan. "Sebenarnya aku...." Lagi-lagi Pendekar 212 tidak bisa lanjutkan kata-katanya. Ketika dia berusaha menatap mata biru Peri Angsa Putih, dia merasa seolah yang berada di hadapannya saat itu adalah Ratu Duyung, penguasa kawasan samudera di tanah Jawa yang juga memiliki sepasang mata berwarna biru.

Dari balik pakaiannya Wiro keluarkan selendang biru milik Peri Angsa Putih dalam keadaan terlipat rapi serta menebar bau harum semerbak. "Selama selendang ini ada padaku, aku merasakan satu kesejukan dalam diriku," kata Wiro seraya meluruskan lipatan selendang biru.

"Dengan selendang ini dulu kau menyelamatkan jiwaku. Sebenarnya... aku ingin selendang ini tetap berada di tanganku...."

Peri Angsa Putih terkejut karena tidak menyangka Wiro akan berkata seperti itu. Sesaat dia jadi bingung sendirl karena sebenarnya dia memang bukan muncul untuk mencari selendang itu.

"Wahai, tidak kusangka dia akan mengatakan perasaan hatinya begitu polos. Menyesal aku meminta selendang itu kembali..." kata Peri Angsa Putih dalam hati.

"Tapi aku sadar selendang ini bukan milikku. Selama ini aku menyimpannya baik-baik. Jika ada Iwylnnnya yang- rusak atau kotor aku mohon maaf. Kuaerahkan kembali selendang ini padamu, Peri Ang-an Putih. Terimalah...."

"Ya... ya! Selendang itu memang harus dikembalikan!" kata Naga Kuning menggoda Wiro.

SI Setan Ngompol sambil senyum-senyum dan terjereng-Jereng menyambungi. "Selendang pakaiannya orang perempuan. Masak laki-laki ke mana-mana membawa selendang. Milik orang lain pula! Hik... hik! sungguh tidak pantas!"

Wiro delikkan mata pada ke dua kawannya itu. Lalu dia ulurkan tangan kanannya yang memegang selendang. Sesaat Peri Angsa Putih hanya berdiam diri, Diam-diam dia menyesali segala perbuatan dan ucapanya tadi. "Aku telah berlaku tolol!" kata Peri Angsa Putih dalam hati. "Seharusnya tidak perlu kuminta kembali selendang itu. Jika selendang itu tetap ada padanya bukankah berarti setiap saat dia akan selalu Ingat padaku!"

Setelah berdiam diri cukup lama akhirnya dengan berat hati Peri Angsa Putih ulurkan tangan menerima selendang biru tersebut. Kemudian untuk beberapa lamanya gadis ini masih tegak berdiri menatap dengan pandangan sayu pada Pendekar 212 sementara Wiro sendiri menatap sang peri dengan pandangan kecewa.

Naga Kuning dan Si Setan Ngompol kini diam-diam ikut merasakan ada sesuatu yang saling mengganjal di antara ke dua orang itu.

"Wiro," Peri Angsa Putih berucap perlahan. "Mungkin kau masih mengira akulah yang hendak meracuni dirimu dengan bunga mawar kuning itu. Saat ini aku bersumpah demi Para Dewa dan Para Peri serta semua roh antara langit dan bumi. Aku tidak melakukan hal itu. Aku ingin mendengar tanggapan langsung dari dirimu sendiri saat Ini juga. Katakanlah sesuatu...."

Wiro garuk-garuk kepalanya. "Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Namun...."

"Namun apa Wiro?" Peri Angsa Putih bertanya dengan nada tidak sabaran.

"Seandainya Luhjelita juga mengucapkan sumpah seperti sumpahmu tadi, lalu siapa di atara kalian yang bisa ku percaya?"

Mendengar ucapan Wiro itu sepasang mata Peri Angsa Putih tampak berkaca-kaca. "Wahai, kalau hal itu kau tanyakan padaku maka jawabku adalah ini. Percayailah sumpahnya. Jangan percaya pada sumpah seorang Peri sepertiku!"

Habis berkata begitu Peri Angsa Putih balikkan diri lalu tinggalkan tempat itu. Wiro seperti tersadar dan hendak memanggil tapi yang dilakukannya hanya diam tak bergerak.

"Anak tolol! Mengapa kau berucap seperti itu pada Perl Angsa Putih!" Tiba-tiba kakek Setan Ngompol berkata.

"Kok, apa maksudmu?" tanya Wiro.

"Kau tahu! Tidak ada satu gadispun di dunia ini yang mau dibanding-bandingkan dengan gadis lain oleh seorang pemuda yang diam-diam disukainya...."

"Maksudmu Peri Angsa Putih menyukaiku?" tanya Wiro.

Naga Kuning pencongkan mulutnya. "Aku yang bocah saja bisa melihat. Kau yang punya diri tidak tahu diri! Jika kau tidak suka pada gadis itu dan kebetulan dia suka padaku, jangan nanti kau jadi menyesal!"

"Anak muda," kata Setan Ngompol menyambung bicara. "Apa kau tidak melihat bagaimana dua mata Putri Angsa Putih jadi berkaca-kaca ketika kau membandingkannya dengan Luhjelita, perawan genit yang gentayangan ke mana-mana memikat lelaki itu?"

Wiro garuk-garuk kepalanya. "Aku.... Ah, sebenarnya aku juga menyukai Peri Angsa Putih," kata Wiro pula,Dia diam sejenak. "Tapi...."

"Nah, tapinya ini yang bikin brengsek! Suka tapi masih ada tapi!" kata Naga Kuning lalu pasang muka merengut.

Sementara itu tanpa setahu ke tiga orang itu, disatu tempat yang terlindung, seorang perempuan berwajah putih jelita kerenyitkan kening. Sepasang alisnya naik ke atas ketika mendengar ucapan Wiro yang mengatakan sebenarnya dia juga menyukai Peri Angsa Putih, Dalam hati dia berkata lirih. "Kalau hati pemuda asing Itu benar sudah tertambat pada Peri Angsa Putih, agaknya buruk nian nasib diriku. Padahal aku sudah mengambil keputusan untuk meninggalkan duniaku kalau saja aku mendapatkan dirinya. Aku telah berusaha. Namun agaknya aku tidak mendapat restu. Mungkin cara yang kutempuh salah. Ah...." Leher jenjang perempuan cantik itu tampak bergerak turun naik. Dia menggigit bibirnya kencang-kencang untuk menahan linangan air mata. Setelah mengusap bagian bawah cuping hidungnya perempuan ini lalu berkelebat pergi ke arah sang surya yang memancarkan sinar terik menyilaukan. Kalaupun Wiro dan Naga Kuning serta Setan Ngompol melihat bayangannya maka mereka hanya akan melihat seberkas cahaya biru yang serta merta lenyap tanpa mereka bisa melihat dengan jelas apa adanya.

"Aku tidak bermaksud menyakiti hati Peri Angsa Putih. Kalian tahu, banyak hutang budi kita padanya...."

"Dia sudah pergi. Apa gunanya bicara begitu?"ujar Naga Kuning.

"Apa yang kita lakukan sekarang?" tanya Setan Ngompol.

"Aku akan menunggu sampai malam datang...' kata Wiro.

"Eh, apa yang ada di benakmu wahai Kakak Wiro?" tanya Naga Kuning sambil miringkan kepalanya. Kata-kata dan gerakannya jelas meledek sang pendekar.

"Begitu malam datang aku akan kembali ke tempat Kincir Hantu itu!"

"Gila! Apa yang hendak kau lakukan?!" tanya Naga Kuning.

"Aku mau menyelidik. Rahasia apa sebenarnya yang ada di balik kincir itu...."

"Serrr!" Kencing Si Setan Ngompol mengucur begitu mendengar kata-kata Wiro.

"Kakimu hampir amblas! Kita semua hampir jadi jerangkong! Dan kau bilang mau pergi kesana kembali! sungguh edan!"

"Terserah kalian mau bilang apa! Niatku sudah tetap. Aku harus menyelidik. Belasan orang mati mengerikan. Jika kalian tidak mau ikut jangan banyak omong!"

"Kami memang tidak mau ikut! Akhir-akhir ini ucapan dan tindakanmu kami lihat banyak anehnya!" kata Naga Kuning pula, bocah yang sesungguhnya adalah kakek berusia lebih dari seratus tahun. (Mengenal Naga Kuning harap baca serial Wiro Sableng berjudul "Tua Gila Dari Andalas" terdiri dari 11 Episode)

Naga Kuning berpaling pada Setan Ngompol. Sesaat kedua orang ini saling pandang. Si kakek hanya diam saja.*

* *TIGA orang itu tegak di bawah pohon besar, memandang tak berkesip ke arah lapangan. Sekeliling mereka dicekam kegelapan malam.

"Wiro, apa kita tidak kesasar ke tempat yang salah?" Naga Kuning keluarkan suara. Dari suaranya jelas bocah ini berada dalam keadaan tercekat.

"Ini pohon besar yang dihantam kakek bercaping itu. Di depan kita terbentang halaman luas. Tempatnya jelas sama! Tapi memang adalah aneh kalau rumah kincir dan kincirnya tak kelihatan lagi di depan sana!" kata Wiro.

"Rumah dan Kincir Hantu bisa lenyap! Ada yang tak beres. Aku khawatir ada bahaya mengancam kita! Menyesal aku ikut bersama kalian!" kata Setan Ngompol dan seperti biasa dua tangannya cepat pegangi bagian bawah perutnya.

"Aku tidak mengerti. Rumah dan kincir sebesar itu tahu-tahu bisa lenyap! Mungkin sengaja dipindah?" berucap Naga Kuning.

"Orang sakti manapun tidak mungkin memindahkan bangunan sebesar itu!" kata Si Setan Ngompol.

"Mungkin ini salah satu rahasia Kincir Hantu yang harus kita pecahkan. Siang hari masih nongkrong di depan sana. Malam hari tahu-tahu lenyap. Mungkin kakek itu punya ilmu seperti yang dimiliki Luhrinjani? Aku perlu menyelidik lebih dekat ke sana...."

Naga Kuning pegang pinggang celana Wiro. "Jangan gegabah. Keanehan di dalam kegelapan. Bagaimana kalau ini semua hanya merupakan satu jebakan. Sebelum kau sampai ke ujung lapangan sana mungkin berbagai senjata rahasia akan bertabur menembus tubuhmu. Bukan mustahil kakek kepala teleng itu mendekam di tempat gelap sana. Lalu kalau ada yang datang, dalam jarak dekat dia akan semburkan asap pipanya! Apa kita semua mau jadi jerangkong?"

"Kau betul juga!" kata Pendekar 212 sambil garuk-garuk kepala. "Lalu apa yang harus kita lakukan?"

"Segera pergi saja dari tempat celaka ini!" kata Si Setan Ngompol yang sejak tadi sudah dilamun rasa takut dan berusaha menahan kencingnya. Naga Kuning mengatakan hal yang sama. Tapi Pendekar 212 masih penasaran. Dia dekati satu pohon kecil setinggi kepalanya. Dengan sekali hantam saja pertengahan batang pohon itu patah dua. Lalu Wiro lemparkan bagian atas pohon ke arah di mana sebelumnya rumah dan kincir berada.

"Braaakk!"

Pohon jatuh di ujung lapangan.Tidak ada gerakan. tak ada suara. Tidak terjadi apa-apa. Wiro berpaling pada dua kawannya. Naga Kuning dan Setan Ngompol unikkan apa arti pandangan itu.

"Kalau kau tetap keras kepala, silakan saja menyelidik ke sana..." kata Naga Kuning pula. "Aku dan kakak Ini menunggu di sini."

Wiro anggukkan kepala. Dia mulai melangkah. Dia berjalan tidak langsung menempuh lapangan terbuka dari arah depan, tapi bergerak dulu ke kanan, menyisi sepanjang tepi lapangan lalu membelok ke kiri. Di ujung sana dia membelok lagi ke kiri. Kini bergerak ke arah di mana sebelumnya rumah kincir dan Kincir Hantu berada. Sebegitu jauh tak terjadi apa-apa. Namun ketika murid Sinto Gendeng hanya tinggal satu tombak saja lagi dari perkiraan letak bangunan, mendadak dalam kegelapan malam berkiblat dua buah sinar kebiru-biruan, menderu ke arah Pendekar 212.

"Senjata rahasia! Wiro awas!" teriak Naga Kuning memperingatkan.

Wiro memang sudah mendengar kemudian mellhat gerakan dua benda bersinar biru itu. Sambil jatuhkan diri Wiro hantamkan tangan kanannya melepas pukulan Benteng Topan Melanda Samudera. Dua benda biru terpental. Namun!

"Blaaarr!"

"Blnaarr!"

Dua ledakan dahsyat menggema di udara malam. Dua buah benda biru hancur bertaburan membentuk keping-keping aneh. Keping-keping ini kemudian berubah menjadi larikan-larikan panjang. Lalu laksana tangan-tangan gurita, larikan-larikan sinar biru itu menyambar mencengkeram ke arah Pendekar 212.

Wiro gulingkan dirinya di tanah. Menyingkir kesisi lapangan sebelah kanan dari arah mana tadi dia datang lalu kembali lepaskan satu pukulan sakti ber-nama Dewa Topan Menggusur Gunung.

Sepuluh larik sinar biru yang seperti tangan-tangan gurita yang tadi hendak mencengkeramnya mencelat buyar ke udara. Namun luar biasanya, buyaran yang berjumlah dua puluh empat ini berubah menjadi seperti dua benda biru yang pertama kali menyerang Wiro, menderu dengan kecepatan setan dalam gelapnya malam, menyambar ke arah sosok Pendekar 212!

"Celaka!" ujar Setan Ngompol melihat apa yang terjadi. Kakek ini serta merta gerakkan tangan kanannya. Serangkum angin menebar bau pesing menderu ke ujung lapangan. Inilah pukulan Setan Ngompol Mengencingi Langit.

Naga Kuning tidak tinggal diam. Begitu melihat Wiro berada dalam keadaan bahaya dia segera menghantam tangan kanannya. Sinar biru panjang menderu dalam kegelapan malam, memapaki gerakan dua puluh empat benda biru yang menyerbu Pendekar 212.

Wiro kertakkan rahang. Tangan kanannya yang sudah disiapkan untuk melepas pukulan Sinar Matahari berkelebat ke depan.

Selarik sinar putih menyilaukan disertai hamparan hawa panas laksana sambaran kilat menyambar ke depan. Tiga pukulan sakti menggempur dua puluh empat benda biru.

Letusan-letusan seperti hendak mengoyak gendang-gendang telinga berdentuman di tempat itu. Tanah bergetar. Pepohonan berderak. Semak-semak berserabutan dan debu serta pasir beterbangan ke udara.

Ketika keadaan tenang kembali Wiro dan kawan-kawannya sudah menjauhkan diri dari tanah lapang. Setan Ngompol terbatuk-batuk sambil pegangi bawah perutnya. Naga Kuning tegak dengan tubuh gemetar karena tangannya yang tadi dipakai untuk menghantam benda-benda biru itu kini terasa seperti kaku dan panas. Wiro sendiri yang melepas pukulan Sinar Matahari dengan mengerahkan hampir sepertiga tenaga dalamnya merasakan dadanya berdebar dan aliran darahnya tak karuan.

"Sebaiknya kita tinggalkan tempat celaka ini! Kendali jika ada diantara kalian yang mau mampus percuma!" kata Si Setan Ngompol pula yang kembali kuyup celananya.

Wiro dan Naga Kuning sepakat untuk pergi dari tempat Itu. Namun baru sama bergerak satu langkah tiba-tiba satu bayangan hitam berkelebat dari balik gundukan tanah tinggi disertai suara membentak.

"Kalian bertiga memang sudah ditakdirkan mampus percuma!"

Belum habis kejut Wiro dan kawan-kawannya melihat kelebatan bayangan hitam yang disusul bentakan garang itu, mendadak tiga buah benda bercahaya merah menyerupai bara api melesat ke arah mereka!

"Sialan! Siapa lagi yang punya pekerjaan ini!" teriak Wiro. Dia cepat melompat selamatkan diri sambil mendorong dua kawannya.

Tiga benda merah melesat di samping mereka lalu amblas ke dalam sebuah batu besar di dekat rerumpunan semak belukar. Batu itu serta merta dikobari api lalu bergemeretak pecah menjadi empat bagian, hangus menghitam dan kepulkan asap.

Setan Ngompol jatuh terduduk di tanah. Naga Kuning tertelungkup dengan muka pucat Wiro memandang ke arah kegelapan, kejurusan datangnya serangan tadi. Dia melihat sesosok tubuh tinggi besar. Salah satu tangannya buntung. Di bagian perut orang ini sebelah dalam seolah ada sesuatu yang mengeluarkan cahaya kemerahan.UNTUK sementara waktu kita tinggalkan dulu Wiro dan dua sahabatnya yang tengah mendapat serangan di malam gelap oleh seseorang yang belum diketahui siapa adanya.

Dalam Episode sebelumnya (Hantu Muka Dua) telah diceritakan bagaimana kakek utusan Para Dewa bernama Lamanyala menemui putera bungsu Laselayu yang tengah bertapa di sebuah pulau karang. Iamanyala memberi tahu, jika pemuda itu mengikuti apa yang dikatakannya maka kelak dia akan menjadi seorang sakti mandraguna, dijuluki Hantu Muka Dua karena nantinya dia akan menjalani hidup dengan memiliki dua muka kembar. Selanjutnya dia akan menjadi pelambang Segala Keji, Segala Tipu, Segala Nafsu. Untuk mendapatkan semua itu maka pertapa muda Itu harus pergi ke Negeri Latanahsilam. Dia harus menemui beberapa tokoh sakti di negeri itu dan merampas ilmu kesaktian yang mereka miliki. Kemudian si pemuda yang oleh Lamanyala diberi nama Labahala harus pergi ke Lembah Seribu Kabut. Disitu bertapa seorang sakti yang bukan lain adalah Lasedayu dan sebenarnya adalah ayah kandung Labahala sendiri. Konon pada masa itu Lasedayu adalah yang paling sakti di seluruh negeri, melebihi kehebatan Hantu Tangan Empat yang merupakan dedengkot para Hantu sakti yang ada. Untuk menundukkan Lasedayu, Labahala harus mencungkil dan merampas pusar orang sakti itu. Lamanyala kemudian membekali Labahala dengan sebuah benda yakni sendok aneh bergagang pendek dan terbuat dari emas murni. Sendok ini merupakan satu benda sakti dan diberi nama Sendok Pemasung Nasib.

Dengan sendok inilah Labahala harus mencungkil pusar Lasedayu.

Labahala tidak pernah tahu bahwa pertapa sakti di Lembah Seribu Kabut yang akan didatanginya itu adalah ayah kandungnya sendiri. Lamanyala sengaja mengatur semua itu karena dendam kesumatnya ter-hadap Lasedayu. Bukan saja Lasedayu telah meng-ambil Jimat Hati Dewa titipan Para Dewa, tetapi juga karena Lasedayu telah membuat kakek itu menjadi mengerikan seumur hidup. Sosok tubuhnya sebelah kanan hancur dan tinggal merupakan satu gerakan besar begitu rupa sehingga tulang iga, sebagian isi dada dan isi perutnya terlihat dengan jelas, luar biasa seram mengerikan! Selain itu antara Lamanyala dengan Para Dewa di Atas Langit telah terjadi perselisihan hebat Para Dewa tidak menyukai cara yang ditempuh Lamanyala dalam menjatuhkan hukuman atas diri Lasedayu yang dianggap semata-mata hanya merupakan pelampiasan dendam pribadi. Dalam amarahnya Lamanyala akhirnya menyatakan tidak bersedia lagi menjadi Utusan Para Dewa di Negeri Latanahsilam. Dengan demikian dia bebas melakukan apa saja menurut kehendak hatinya.LEMBAH Seribu Kabut....

Saat itu malam baru saja sampai ke ujungnya. Udara terasa dingin mencucuk dan kegelapan masih mencekam di semua penjuru. Di kawasan selatan Negeri Latanahsilam satu bayangan berkelebat cepat ke arah timur dimana terletak satu kawasan yang disebut Lembah Seribu Kabut. Lembah ini diberi nama demikian karena jangankan malam atau pagi hari, pada siang hari saja selagi matahari bersinar terik, kabut menyungkup seantero lembah menutup pemandangan.

Bayangan tadi berlari cepat menembus kegelapan dan udara dingin, langsung ke pusat lembah. Di satu tempat dia hentikan langkah. Di kejauhan terdengar suara lolongan binatang buas penghuni lembah. Orang ini memandang berkeliling. Dia tidak melihat apa-apa, kecuali pepohonan, semak belukar, bebatu-an. Semua menghitam dalam kegelapan. Kabut dan kegelapan malam membuat pandangannya sangat terbatas.

"Sunyi... gelap dan dingin. Di mana aku harus mencari orang sakti bernama Lasedayu itu...." Orang Ini berkata dan bertanya-tanya dalam hati. Sekali lagi dia memandang berkeliling. Pandangannya memben-tur sebuah batu besar. Rasa letih membuat dia me-langkah mendekati batu lalu duduk di sana. "Mungkin aku harus menunggu sampai matahari terbit. Jika hari sudah terang aku akan memeriksa seluruh lembah ini. Bukan mustahil dia tinggal di dalam sebuah goa...."

Karena batu yang didudukinya itu agak datar maka orang ini baringkan dirinya. Perjalanan jauh membuat sekujur tubuhnya letih. Sesaat antara tertidur dan jaga tiba-tiba dia bangkit dan duduk di atas batu. Ada suara seperti langkah kaki di sebelah kanan. Namun memandang ke jurusan itu dia tidak melihat siapa-siapa. Rasa tegang perlahan-lahan merayapi hati orang ini.

"Mungkin berbahaya kalau aku sampai ketiduran..." pikir orang itu. Lalu dia duduk bersila di atas batu. Sesaat terbayang di pelupuk matanya wajah kakek sakti bernama Lamanyala itu. Dia coba membayangkan bagaimana kira-kira sosok dan tampang manusia bernama Lasedayu. Dalam keadaan seperti itu orang ini tidak mengetahui kalau dari sebelah atas, sebuah benda besar perlahan-lahan melayang turun ke arah kepalanya. Dia baru menyadari ketika serangkum angin sangat halus menyapu tengkuknya.

Saat itu bibir lembah di sebelah timur kelihatan mulai terang pertanda sang surya siap memperlihatkan dirinya kembali di muka bumi. Orang yang duduk di atas batu dongakkan kepalanya ke atas. Tapi! Astaga! Sebuah benda tiba-tiba menekan dari atas, membuat dia tidak bisa mendongak atau memutar kepala. Dia kerahkan tenaga bahkan tenaga dalam, tetap saja dia tak sanggup melepaskan diri dari tindihan benda di atas kepalanya itu.

"Makhluk kurang ajar! Siapapun kau adanya pantas kubantai saat ini juga!" Orang di atas batu membentak lalu secepat kilat tangan kanannya dipukulkan ke atas!

Selarik sinar hijau berkiblat dalam keremangan di akhir malam yang segera berganti siang itu.

Tindihan di atas kepala orang ini mendadak lenyap. Satu bayangan berkelebat dua tombak ke atas.

Serangan yang dilancarkan orang di atas bahu cepat luar biasa. Tapi sasaran yang diserang bergerak lebih cepat untuk selamatkan diri. Sinar hijau setelah menembus kabut dan udara kosong menghantam satu pohon hcsar. Pohon ini langsung berubah menjadi Hijau Ialu meleleh tumbang seolah berubah menjadi lumpur hijaui Benar-benar luar biasa mengerikan.

" Pukulan Hantu Hijau Penjungkir Roh!" Satu suara berseru di sebelah atas.

Orang yang lepaskan pukulan melompat turun dari batu. Ketika dia memandang ke atas, kakinya langsung tersurut. Sejarak tiga tombak di atas batu dia melihat seorang tua dalam sikap duduk bersila, mengapung di udara sambil rangkapkan dua tangan di muka dada. Sepasang matanya memandang tajam pada orang di bawahnya. Satu tangan kemudian bergerak mengusap dagunya yang ditumbuhi janggut panjang warna kelabu.

"Bukan main! Orang tua itu memiliki tenaga dalam tinggi luar biasa! Juga ilmu meringankan tubuh yang sangat langka! Dia mampu mengapung di udara seperti duduk enak-enakan di lantai yang lembut!"

"Anak muda yang muncul di penghujung malam, Malam kabut dan udara dingin. Wahai, siapa kau adanya. Apakah kau berpunya nama?"

Orang di depan batu sesaat tegak diam tak menjawab. Apa perlu dia menjawab pertanyaan orang itu. Tapi dia harus mengetahui jelas siapa adanya orang tersebut. Jadi dia memang perlu membuka mulut untuk bicara.

"Guruku yang pertama memberi aku nama Lajundai. Guruku yang ke dua menamakan aku Labahala!. Terserah kau mau memanggil aku siapa! Tapi pantas kau ketahui aku muncul menyandang satu gelar besar! sebelum kukatakan gelar itu harap beri tahu apakah kau makhluknya yang bernama.Lasedayu, penghuni dan penguasa Lembah Seribu Kabut ini?!"

Orang tua di atas sana kerenyitkan kening. Alis matanya yang lebat tebal mencuat ke atas. Lalu tampak dia menyeringai. Kembali dua tangannya disilangkan di atas dada.

"Kau punya dua orang guru. Tentu kau adalah seorang pemuda sakti. Wahai anak muda, coba kau beri tahu siapa nama gurumu yang pertama dan ke dua itu!"

"Kau tak layak bertanya dan aku tak layak menjawab!"

Orang yang mengapung di udara tertawa datar.

"Jangan tertawa! Tak ada yang lucu, katakan saja apa kau orangnya yang bernama Lasedayu?!" menghardik Lajundai alias Labahala.

"Kau seperti orang yang kesusu. Ada sesuatu yang membuat kau tidak sabaran! Jangan kau keliwat memaksa anak muda! Pukulan yang tadi kau lepaskan adalah Pukulan Hantu Hijau Penjungkir Roh. Setahuku pukulan itu hanya dimiliki oleh seorang tokoh bernama Hantu Lumpur Hijau yang diam di Kubangan Lumpur. Bagaimana kau bisa memilikinya. Apa kau murid atau punya hubungan tertentu dengan dirinya?!"

Labahala tertawa lebar. Sambil angkat tangan acungkan tinju dia berkata. "Aku bukan murid bukan kerabat Hantu Lumpur Hijau. Ilmu Pukulan Hantu Hijau Penjungkir Roh itu aku rampas dari Hantu Lumpur Hijau!"

"Kau rampas dari Hantu Lumpur Hijau? Wahai! Kau tentu bergurau...."

"Siapa bilang aku bergurau! Lihat! Aku juga telah merampas beberapa kesaktian yang dimiliki Hantu Tangan Empat. Saksikan ini! Apa kau mengenali ilmu kesaktian yang akan kuperlihatkan ini?!"

Begltu berucap maka tubuh Labahala berubah menjadi asap berwarna merah lalu tanpa mengeluarkan suara, bergulung berputar seperti gasing, membentuk kerucut terbalik. Orang tua di atas sana buka dua tangannya yang disilangkan di depan dada. Dia terkejut besar ketika merasakan tubuhnya mulai tersedot ke arah kerucut asap itu! Buru-buru dia mengapung naik sampai setinggi tiga tombak!

‘Ilmu Tangan Hantu Tanpa Suara!" seru orang diatas sana dengan air muka berubah.

Di bawahnya Labahala hentikan putaran tubuhnya lalu dia kembali ke ujudnya semula. "Sekarang kau percaya aku tidak berdusta wahai makhluk berjanggut kelabu?! Dan apakah kau masih belum mau memberi tahu apakah kau ini Lasedayu atau bukan?!"

"Aku akan memberi tahu siapa diriku. Tapi aku perlu tahu dulu bagaimana kau bisa mendapatkan semua Ilmu milik para Hantu di Tanahsilam itu?!"

"Sudah kukatakan! Aku merampas semua ilmu itu" jawab Labahala.*

* *PERLAHAN-LAHAN orang yang duduk mengapung di udara bergerak turun hingga kini dia hanya lima jengkal saja dari atas batu datar di hadapan Labahala.

"Aku memang orang yang bernama Lasedayu. Penguasa Tujuh Penjuru Angin Negeri Latanahsilam. Aku tidak membenarkan perbuatanmu merampas ilmu kesaktian para Hantu yang berada di bawah kekuasaanku. Kau harus kembalikan semua ilmu rampasan itu dengan cara menyerahkan dua tanganmu kiri kanan padaku! Lekas ulurkan dua tanganmu!"

Labahala tertawa bergelak mendengar kata-kata orang bernama Lasedayu yang bukan lain adalah ayah kandungnya sendiri.

"Lasedayu, aku memang sudah mendengar nama besarmu! Tapi bukan berarti aku harus tunduk dan dapat kau perlakukan seperti Para Hantu lainnya! Aku justru datang untuk memaklumkan bahwa mulai hari ini kau berada dalam kekuasaanku! Aku adalah Raja Diraja Para Hantu di Negeri Latanahsilam! Aku pelambang Hantu Segala Keji, Segala Tipu, Segala Nafsu!"

"Siapapun kau adanya aku tidak peduli! Lekas ulurkan dua tanganmu!" membentak Lasedayu. Tubuhnya yang mengapung bergerak satu langkah mendekati Labahala.

"Lasedayu, kau punya mata tapi tidak melihat tingginya Gunung Latinggimeru. Kau bisa melihat tapi tidak menampak dan tidak tahu dalamnya lautan Lasamuderahijau! Lihat wajahku baik-baik!"

Labahala lalu usap wajahnya. Saat itu juga kepalanya berubah jadi memiliki dua muka berbentuk muka raksasa berwarna merah! Hidung besar, bibir tebal dilengkapi taring yang mencuat. Rambut panjang awut-awutan dan sepasang mata melotot besar berwarna merah seperti api!

Lasedayu tersentak kaget, sampai-sampai melambung satu tombak ke atas.

"Makhluk jejadian! Siapa kau sebenarnya?!" bentak Lasedayu.

"Aku bukan makhluk jejadian! Aku adalah Hantu Muka Dua! Raja Diraja Para Hantu Tujuh Penjuru Angin Negeri Latanahsilam! Jangan kau berani bertingkah di hadapanku!"

Dalam kagetnya Lasedayu menyadari bahwa dia tidak boleh berlaku ayal. Dia maklum kalau makhluk di hadapannya itu punya maksud jahat. Maka sebelum terjadi hal yang tidak diingini dia memutuskan untuk menghantam Labahala lebih dulu! Tanpa tunggu lebih lama dia segera lepaskan satu pukulan, mengantar Ilmu kesaktian yang disebut Pukulan Mengelupas Puncak Langit Mengeruk Perut Bumi!.

Serangkum angin sedahsyat puting beliung dan memancarkan sinar merah menderu ke bawah. Labahala yang tidak menyangka bakal diserang secara mendadak begitu rupa berteriak marah dalam kagetnya dan buru-buru selamatkan diri. Dia melesat ke kiri lalu membuat gerakan berputar dan tahu-tahu sudah berada di belakang batu besar! Di depan sana dia menyaksikan bagaimana pukulan Lasedayu yang tidak mengenai sasarannya menghantam sebuah pohon besar. Pohon ini serta merta terkelupas seluruh permukaan kulitnya hingga dalam waktu sekejapan mata hanya tinggal bagiannya yang berwarna putih, lalu roboh tumbang dengan suara bergemuruh!

Sesaat bulu kuduk Labahala mau tak mau jadi merinding juga. Dalam hati dia membatin. "Mungkin ini ilmu yang menurut Lamanyala bernama Mengelupas Puncak Langit Mengeruk Kerak Bumil Luar biasa! Jika manusia sampai kena sasarannya pasti akan menemui ajal dengan tubuh hanya tinggal tulang belulang saja! Aku harus dapatkan ilmu kesaktian itu! Semua petunjuk Lamanyala ternyata benar adanya!"

Kejut Lasedayu bukan kepalang. Bukan saja ketika melihat lawan sanggup selamatkan diri dari ilmu kesaktian yang sangat diandalkannya itu, tetapi juga ketika menyaksikan bagaimana Labahala tahu-tahu sudah berada di sebelah belakangnya, di balik batu besar. Cepat Lasedayu berbalik.

Saat itu sinar sang surya yang baru terbit telah mencapai bibir sebelah timur Lembah Seribu Kabut. Sinarterangnya jatuh ke pusat lembah, memantul pada sebuah benda kuning yang berada dalam genggaman Labahala.

Lasedayu lindungi dua matanya ketika sinar kuning itu menyapu mukanya dan membuat pemandangannya sesaat menjadi gelap. Dalam keadaan masih mengapung di udara dia melesat ke kiri. Ketika dia bisa melihat dengan jelas kembali kagetnya bukan alang kepalang. Pemuda bernama Labahala dengan muka raksasa kembar mengerikan itu sudah berada di depannya. Dalam jarak sedekat itu baru Lasedayu melihat benda apa yang ada di tangan Labahala.

"Sendok Emas Pemasung Nasib!" teriak Lasedayu. Kaki kanannya langsung dihantamkan ke arah kepala Labahala. Namun gerakannya kalah cepat. Sendok emas di tangan lawan menderu laksana kilat ke arah perutnya.

"Settttt.... Craaasss!" Lasedayu menjerit setinggi langit. Darah menyembur dari pertengahan perutnya. Dia segera pergunakan dua telapak tangan untuk menutup luka besar di perut, membendung muncratan darah. Dengan tubuh sempoyongan dia melayang turun dan jejakkan kaki di tanah. Memandang ke depan Lasedayu melihat pemuda bermuka raksasa kembar itu tegak sambil menyeringai. Di tangan kanannya, di atas sendok emas {bergagang pendek melekat sebuah benda sebesar {ujung ibu jari kaki, berbentuk daging merah hidup ‘bergerak-gerak! Itulah pusar Lasedayu yang berhasil [dicungkil oleh Labahala dengan Sendok Pemasung Nasib yang didapatnya dari kakek bernama Lamanyala!

Dengan kesaktian yang dimilikinya Lasedayu mampu menutup luka besar di bagian pertengahan perutnya. Namun sesaat kemudian tubuhnya mulai bergeletar. Dua kakinya goyah. Perlahan-lahan tubuhnya jatuh berlutut di tanah. Kesaktian yang dimilikinya berangsur-angsur sirna. Pandangan matanya yang membeliak besar dan galak kepada Labahala berubah kuyu dan sayu. Sekujur tubuhnya lemas seolah tidak memiliki tulang, urat dan otot lagi. Mukanya berubah pucat dan menjadi tiga kali lebih tua, seolah telah menjadi kakek-kakek!

Labahala tertawa mengekeh sambil acungkan sendok yang ditempeli pusar Lasedayu. Daging pusar yang tadi hidup berdenyut-denyut kini diam dan seolah berubah menjadi batu, menyatu dengan sendok emas itu!

Labahala tertawa bergefak. "Lasedayu! Pusarmu sudah berada di tanganku! Kesaktianmu seluruhnya berpindah ke dalam tubuhku! Ha... ha... ha!"

Labahala gerakkan tangan kanannya, siap untuk menyimpan sendok emas dan pusar Lasedayu ke balik pakaian kulit kayu yang dikenakannya.

"Selamat tinggal Lasedayu! Ha... ha... ha...!"

Sambil memutar badan untuk berkelebat pergi Labahala masukkan sendok emas ke balik pakaiannya. Namun mendadak terjadi hal yang tidak terduga.

Didahului satu siuran angin serta satu gelombang kabut yang menutupi pemandangan, di udara ber-kelebat satu bayangan serba putih. Lasedayu mencelat dan terbanting ke tanah oleh sambaran angin itu sementara Labahala sempat terjajar sempoyongan sampai beberapa langkah. Selagi dia berusaha meng-imbangi diri tiba-tiba satu tangan laksana kilat me-nyambar ke arah lehernya, seperti pedang yang hen-dak membabat putus. Ketika dia berusaha mengelak sambil palangkan tangan kiri tahu-tahu ada lagi satu tangan menyambar. Labahala tersentak kaget ketika menyadari sendok emas yang masih ditempeli pusar Lasedayu tak ada lagi dalam genggaman tangan ka-nannya!

"Jahanam berani mati!" teriak Labahala marah sekali. Dia hantamkan tangan kiri kanan. Yang kiri lepaskan pukulan Hantu Hijau Penjungkir Roh sedang tangan kanan menghantam pukulan Mengelupas Puncak Langit Mengeruk Kerak Bumi. Pukulan ke dua ini baru saja dirampasnya dari Lasedayu. Walau belum mantap namun kekuatannya sanggup membuat lawan berubah menjadi tulang belulang! Bayangan putih yang diserang membuat gerakan

aneh. Tubuhnya melesat ke atas namun di sebelah bawah, ujung pakaiannya yang berbentuk seperti jubah memapas dahsyat, mengeluarkan angin deras, membuat tanah laksana dilanda gempa.

"Plaakk... plakkkk... plaakk!"

Dua larik angin pukulan sakti yang dilepaskan Labahala terpental. Labahala sendiri terbanting ke tanah. Begitu dia melompat bangkit bayangan putih tadi telah berkelebat ke arah matahari terbit dan akhirnya lenyap dalam sinar menyilaukan yang membutakan pemandangan!

Dua muka raksasa Labahala menggeram. Dua pasang matanya seperti mau melompat keluar dan taring-taring dalam mulutnya mencuat bergemeletakan!

"Jahanam! Dia merampas sendok emas itu! Kurang ajar! Aku bersumpah mencari tahu siapa adanya bangsat pencuri itu!" Labahala marah besar. Seperti orang kalap dia menghantam kian ke mari, menghancurkan apa saja yang ada di dekatnya! Lalu tanpa pedulikan lagi Lasedayu yang tergeletak tak bergerak di tanah, Lajundai alias Labahala segera tinggalkan tempat itu.

Matahari pagi bergerak naik. Kabut melayang tu-run ke bagian paling bawah Lembah Seribu Kabut. Lasedayu mengerang panjang. Sambil pegangi perutnya yang luka dia berusaha bangkit dan duduk menjelepok di tanah. Selagi dia berusaha mengatur jalan nafas dan peredaran darahnya lalu mencoba bangun berdiri tiba-tiba dari arah barat bibir lembah kelihatan nyala api aneh bergerak cepat menuruni lembah. Demikian cepatnya hingga dalam waktu dua kejapan mata benda ini sudah berada di hadapan Lasedayu.

Lasedayu terkesiap kaget ketika mengenali siapa adanya makhluk yang tubuhnya dikobari api itu. Dia bukan lain adalah Lamanyala, kakek sakti yang dulu pernah menjadi Utusan Para Dewa. Sisi kanan tubuhnya berlubang besar mengerikan. Kakek ini tegak berkacak pinggang di hadapan Lasedayu yang megap-megap mencoba berdiri.

"Wahai Lasedayu, apakah kau sadar bagaimana kutukanku beberapa puluh tahun silam kini telah menjadi kenyataan?!"

"Tua bangka jahanam. Kau rupanya! Apa maksud ucapanmu barusan?!" suara Lasedayu masih keras dan garang.

"Hidup keluargamu morat marit! Kau tak tahu dimana istrimu berada. Kau juga tidak tahu dimana ke empat anakmu! Si bungsu anakmu yang ke empat telah menjadi musuh besarmu! Kau telah kehilangan seluruh kesaktianmu! Kau sekarang tidak beda dengan bangkai hidup tak ada gunanya! Ha... ha... ha... ha... ha! Dan sekarang kutukan paling menyiksa akan kau alami!"

Kakek bernama Lamanyala itu angkat tangan kirinya. Telapak tangan dibuka dikembangkan dan diarahkan pada Lasedayu.

"Bangkit.... Tegak! Berdirilah Lasedayu. Tapi jangan berdiri dengan dua kakimu! Mulai hari ini kau akan hidup menyungsang. Kaki ke atas kepala ke bawah. Kau akan berjalan dengan dua tanganmu! Kau akan jadi makhluk tersiksa seumur-umur! Ha... ha...ha!"

Lamanyala gerakkan tangan kirinya. Secara aneh sosok Lasedayu yang tadi susah payah berdiri kini bangkit tegak..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.224.225.228
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia