Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : PETUALANGAN WIRO DI LATANAHSILAM

KURA-KURA raksasa itu tengah melayang pesat ke arah utara dan siap menukik menuju satu kawasan di mana terletak sebuah goa disebut Goa Pualam Lamerah. Mendadak binatang ini keluarkan suara menguik keras. Di bawah sana, dari kelebatan rimba belantara tiba-tiba melesat satu cahaya putih. Kalau saja penunggangnya tidak cepat bertindak, menarik kepala kura-kura ke belakang niscaya kepala binatang itu akan hancur!

"Ada pembokong jahat di dalam rimba!" kata si penunggang kura-kura raksasa dengan rahang menggembung dan mata melotot tak berkesip. Dia adalah seorang gadis berparas cantik, rambut digulung di atas kepala, mengenakan pakaian berwarna Jingga. Gadis ini rundukkan kepalanya lalu berbisik pada binatang tunggangannya. "Laecoklat, lekas kau melayang turun ke arah timur lalu berballk dan terbang ke jurusan datangnya cahaya serangan tadi...."

Seolah mengerti kura-kura raksasa bernama Laecoklat itu kepakkan sayapnya demikian rupa hingga tubuhnya berputar ke arah timur. Di satu tempat kurakura terbang ini berbalik dan melesat ke bawah. Menjelang mendekati kawasan dari arah mana tadi ada cahaya putih menyambar, gadis cll atas kura-kura angkat tangan kanannya. "Aku mau tahu siapa yang kurang ajar berani mencari perkara!" Lalu gadis ini pukulkan tangan kanannya. Selarik sinar Jingga menggebubu.

Di bawah sana kelihatan daun-daun dan ranting pepohonan amblas bermentalan. Sebelum daundaun itu luruh ke tanah, kura-kura raksasa telah mendarat di satu tempat. Gadis di atasnya dengan cepat melompat turun lalu menyelinap sebat di antara pepohonan. Belum jauh bergerak, si gadis hentikan larinya. Mukanya merah mengetam pertanda geram. Dua tangannya dikepal. Dari mulutnya serta merta keluar suara bentakan.

"Memang sudah kuduga!! Kau rupanya biang racunnya! Tapi sungguh tidak kusangka! Bangsa Peri itu ternyata makhluk pengecut yang tega mencelakai orang dengan jalan membokong!"

Orang yang dibentak tertawa tawar. Sesaat dia usap kepala angsa raksasa di atas mana dia berada lalu melompat turun. Sambil rangkapkan dua tangannya yang bagus di atas dada, orang ini, yang adalah seorang gadis cantik bermata biru berkata dengan suara datar tenang-tenang saja.

"Gadis genit dan pongah Luhjelita! Wahai! Tak ada yang berlaku pengecut, tak ada yang berniat membokong! Kalau memang ada niat mencelakai pukulan sakti sinar putihku tadi pasti tak akan meleset!"

Mendengar ucapan orang, dara berpakaian Jingga jadi tambah penasaran. "Peri Angsa Putih! Katakan apa maumu?! Apa tamparanku beberapa waktu lalu masih kurang nyaman dan kau minta digebuk sekali lagi?!"

(Seperti dituturkan dalam serial Wiro Sableng sebelumnya berjudul Hantu Tangan Empat antara Luhjelita dan Peri Angsa Putih telah terjadi bentrokan cukup hebat Luhjelita kemudian membawa Wiro dengan kura-kura terbangnya, meninggalkan Peri Angsa Putih dengan perasaan dendam penasaran. Dapat dimengerti kalau kini sang Peri menghadangnya di kawasan rimba belantara itu).

Peri Angsa Putih tertawa panjang. "Luhjelita, aku mencegatmu di tempat ini untuk menanyakan sesuatu. Kemana kau bawa pemuda asing bernama Wiro Sableng itu. Apa yang telah kau lakukan terhadapnya!"

"Astaga! Jadi hati serta pikiranmu rupanya masih belum lepas dari mengingat pemuda satu itu!" Luhjelita geleng-gelengkan kepalanya. "Bukankah sudah jelasjelas kukatakan dia tidak menaruh hati padamu! Buktinya dia mau ikut bersamaku dan kau ditinggal begitu saja! Sungguh aku tidak mengerti. Lelaki itu suamimu bukan, kekasih juga bukan! Mengapa merepotkan diri mencarinya?!"

Merah padam paras Peri Angsa Putih mendengar ucapan Luhjelita. Rasanya ingin dia melabrak gadis itu saat itu juga. "Luhjelita, jika pemuda itu ikut bersamamu apa kau mengira dia suka padamu? Kau memang pandai merayu, kau menjual kecantikanmu dengan bedak genit dan bujuk rayu. Selain itu kau juga mempergunakan ilmu kepandaianmu secara keji, memaksanya ikut bersamamu! Setelah itu pasti kau melakukan perbuatan tidak senonoh terhadapnya!"

Luhjelita tertawa sambil sepasang alisnya dinaikkan ke atas dan hidungnya dipencongkan. "Cemburu! Kau tidak dapat menyembunyikan rasa cemburumu wahai Peri Angsa Putih. Padahal pemuda itu bukan suami bukan kekasihmu! Hik... hik... hik! Sungguh malang nasibmu wahai Peri Angsa Putih. Tak mendapatkan cinta di atas langit sana, sampai-sampai keleleran ke Negeri Latanahsilam!"

"Gadis bejat berhati busuk! Dulu kukira hanya kaum lelaki di negerimu saja yang mendapat julukan hidung belang! Ternyata para gadisnya juga pantas mendapat julukan itu! Satu di antaranya adalah kau! Semua lelaki kau anggap bisa jatuh berlutut di hadapanmu! Satu hari kelak kau bakal kena batunya! Huh! Tak layak bagiku bicara lebih lama dengan manusia rendah sepertimu!" Habis berkata begitu Peri Angsa Putih balikkan tubuhnya, melangkah menuju ke Laeputih, angsa raksasa tunggangannya.

"Peri sinting! Kau yang mencari pangkal sengketa memancingku di rimba ini! Kalau pelajaranku tempo hari belum cukup biar kuberi pelajaran sekali lagi agar mulutmu tidak lancang! Aku mau lihat apa kau masih bisa bicara lancang menghina jika mukamu sudah kurobah menjadi muka setan!"

Sosok Luhjelita tiba-tiba melesat ke arah Peri Angsa Putih. Sepuluh jari tangannya yang memiliki kuku-kuku cukup panjang menyambar ke depan. Dari ujung-ujung kuku itu menderu kepulan asap berwarna Jingga! Yang diserang adalah wajah sang Peri!

"Sepuluh Kuku Iblis Menggurat Langiti" seru Peri Angsa Putih kaget. Dia tahu betul keganasan ilmu yang dipergunakan Luhjelita untuk menyerangnya itu. Jangankan muka orang, batu keras sekalipun bisa hancur terkena cakaran sepuluh kuku itu!

Sambil berseru keras Peri Angsa Putih cepat menyingkir selamatkan wajahnya. Bersamaan dengan itu dari sepasang matanya menyembur dua larik sinar biru! Kini Luhjelita yang terkejut terkesiap dan buru-buru bersurut sambil tarik pulang serangannya.

"Wusss! Wusss!"

Dua larik sinar biru memapas satu jengkal di atas jarijari Luhjelita Walau dia berhasil selamatkan dua tangannya namun tak urung Luhjelita jadi terhuyung-huyung karena kuda-kuda sepasang kakinya sempat goyah. Selagi dia berusaha mengimbangi diri Peri Angsa Putih memburu dan tangan kanannya berkelebat sangat cepat.

"Gadis binal tukang rayu! Aku kembalikan hadiah yang pernah kau berikan tempo hari!" Peri Angsa Putih berseru keras. Lalu "plaaakk!" Satu tamparan keras mendarat di pipi kanan Luhjelita. Gadis ini terpekik dan jatuh terduduk di tanah! Darah berlelehan dari sudut bibirnya yang pecah. Pemandangannya sesaat berkunang-kunang. Tiba-tiba didahului suara menggembor Luhjelita melompat bangkit. Dua kakinya dikembangkan dan sedikit menekuk. Mulutnya komatkamit sementara tangan kanannya yang diangkat ke atas diputar ke kanan. Angin sedahsyat puting beliung dan memancarkan sinar merah menderu keluar dari telapak tangan Luhjelita, membuat Peri Angsa Putih tersentak kaget.

"Pukulan Mengelupas Puncak Langit Mengeruk Kerak Bumi" teriak Peri Angsa Putih. "Dari mana kau dapatkan ilmu itu kalau bukan dari Hantu Muka Dua!"

"Dari mana aku dapatkan boleh kau tanyakan pada setan di neraka langit ke tujuh!" jawab Luhjelita lalu tertawa bergelak.

Peri Angsa Putih palangkan dua lengannya didepan dada. Sepasang matanya memandang tak berkesip. Begitu dia anggukkan kepala dari tangan yang bersilang menyambar keluar satu gelombang sinar biru, menghantam laksana air bah memapasi sinar merah serangan Luhjelita! Inilah ilmu kesaktian bernama Membalik Langit Menggulung Bumi, merupakan satu ilmu langka yang dimiliki para Peri dan jarang sekali dikeluarkan kalau tidakdalam keadaan terdesak.

Seperti diketahui ilmu pukulan Mengelupas Puncak Langit Mengeruk Kerak Bumi yang dilancarkan Luhjelita adalah satu ilmu ganas yang bisa membuat musuh menemui ajal dengan sekujur tubuh terkelupas hingga tinggal tulang belulang. Di lain pihak ilmu Membalik Langit Menggulung Bumi yang dilancarkan Peri Angsa Putih memiliki kehebatan yang sanggup menggulung setiap serangan lawan yang datang lalu membalikkannya pada si penyerang. Jika hal itu sampai terjadi maka Luhjelita akan mengalami nasib "senjata makan tuan"

yakni menemui ajal oleh ilmu kesaktiannya sendiri. Kini yang menentukan ialah tingkat kekuatan tenaga dalam masing-masing. Jika tenaga dalam Luhjelita lebih hebat maka Peri Angsa Putih akan menemui ajal secara mengerikan. Sebaliknya jika tenaga dalam sang Peri berada di atas lawan maka Luhjelita akan menemui nasib mengenaskan!

Dalam keadaan sangat menegangkan begitu rupa tiba-tiba satu bayangan putih berkelebat disertai bentakan menggelegar menggetarkan seantero rimba belantara.

"Dua perawan tolol! Kawin saja belum! Mengapa nekad mencari mati?!"

"Wussss!"

Satu sinar putih panas dan menyilaukan berkiblat di antara sinar pukulan sakti Luhjelita dan Peri Angsa Putih. Dua gadis itu sama-sama terpekik dan terpental. Luhjelita menyangsrang di antara semak belukar. Lelehan darah di mulutnya tampak bertambah banyak. Kakinya terkangkang demikian rupa hingga auratnya terpampang tak karuan rupa. Peri Angsa Putih terguling di tanah. Dada pakaiannya tersingkap robek! badanya mendenyut sakit. Untuk beberapa lamanya ke dua gadis ini tak bisa bergerak, saling melotot lalu samasama berpaling ke satu arah di mana saat itu tampak seorang pemuda berambut gondrong terduduk menyeringai di tanah sambil garuk-garuk kepala.

*

* *2SEPASANG mata Luhjelita dan Peri Angsa Putih samasama terbuka lebar. Sementara itu dari atas hancuran rerantingan dan daun-daun pepohonan dalam keadaan hangus melayang jatuh menutupi bahu serta badan orang yang mereka pandangi.

"Pendekar 212..." desis Peri Angsa Putih.

"Wiro Sableng..." desah Luhjelita. Dalam hati gadis satu ini membatin agak gelisah. "Dia muncul disini. Jangan-jangan dia sudah tahu apa yang terjadi di tepi sungai kecil tempo hari...."

Pemuda yang jatuh terduduk di tanah itu memang Pendekar 212 Wiro Sableng adanya. Saat itu dadanya mendenyut sakit dan jalan darahnya tidak teratur akibat bentrokan dengan kekuatan tenaga dalam dua gadis berkepandaian tinggi itu. Dia masih menjelepok di tanah seperti orang kesakitan. Padahal saat itu sebenarnya diam-diam matanya jelalatan melihat pemandangan yang tak mungkin terhindarkan. Luhjelita masih melesak terkangkang di dalam semak belukar. Lalu di sebelah sana Peri Angsa Putih terguling dengan dada terbuka.

Sang Peri sadar terlebih dulu. Dia segera rapatkan pakaiannya yang robek lalu berdiri. Luhjelita melompat keluar dari semak belukar lalu membenahi pakaiannya yang tersingkap awut-awutan di sebelah bawah. Dua gadis cantik ini sama-sama memaklumi, kalau Wiro tidak muncul menengahi adu kekuatan tenaga dalam mereka, salah satu dari mereka saat itu pasti menemui ajal dan yang lainnya terluka hebat!

"Pemandangan asyik. Gila.... Putih amat! Tapi sayang singkat sekali..." kata sang pendekar konyol sambil tersenyum lalu bangkit berdiri tak lupa garuk-garuk kepala.

"Kalian berdua," ujar Wiro. "Pasal lantaran apa maka hendak saling berbunuhan?"

Luhjelita yang cerdik dan pandai merayu segera berbuat sesuatu mendahului Peri Angsa Putih. Dia melangkah mendekati Wiro dan pegang lengan sang pendekar lalu bertanya, "Wiro, kau.... Kau tak apa-apa? Maafkan diriku. Aku...."

Mendapat Periakuan semesra itu tentu saja hati Pendekar 212 menjadi lebih menaruh perhatian pada Luhjelita. Namun karena tidak mau terpengaruh begitu saja Wiro mengulangi ucapannya tadi.

"Aku bertanya. Kalian masih tidak mau menceritakan silang sengketa apa yang ada di antara kalian?"

Peri Angsa Putih geleng-gelengkan kepala. Dia hendak menjawab namun lagi-lagi didahului oleh Luhjelita.

"Kau tahu sifatku wahai Wiro. Tak mungkin aku mencari lantai terjungkal membuat silang sengketa. Kalau tidak karena sangat terpaksa, bagiku sangat tidak layak melayani Peri dari langit ke tujuh ini. Kejadian di tepi telaga tempo hari, rupanya dia menaruh dendam lalu menghadangku di rimba belantara Ini. Bahkan sempat hendak membunuhku dengan cara membokong. Wahai, kalau saja tadi kau tidak muncul dan menolong kami dengan pukulan saktimu, niscaya peri jahat ini sudah kubuat melayang rohnya ke langit di atas sana!"

"Wiro, jangan percaya ucapannya!" kata Peri Angsa Putih setengah berteriak. "Walau hatiku memang sakit menerima Perlakuannya namun tidak ada niat untuk membunuhnya, apa lagi secara membokong! Aku hanya ingin memberi peringatan pada gadis ini agar dia tidak bicara, bertingkah dan berbuat sembarangan! Ternyata sampai saat ini dia masih saja pandai bermanis mulut padahal diam-diam dia menebar bisa kejahatan di mana-mana!"

Luhjelita tertawa. "Mudah-mudahan pemuda sahabatku ini mau percaya akan apa yang kau ucapkan. Wahai, mengapa tidak kau katakan sekalian padanya bahwa kau tengah mencari-cari dirinya? Padahal seperti yang aku katakan padamu, dia bukan suami bukan pula kekasihmu!"

Wiro jadi heran mendengar kata-kata Luhjelita itu. Dilihatnya wajah Peri Angsa Putih menjadi merah. Sebenarnya dia punya banyak pertanyaan pada dua orang gadis itu tapi karena mereka saling berperang mulut pendekar kita hanya bisa garuk-garuk kepala.

"Dia memang bukan kekasih juga bukan suamiku!"

Peri Angsa Putih menyahuti ucapan Luhjelita.

"Apapun hubunganku dengan dirinya bukan urusanmu! Aku tidak menyembunyikan sesuatu. Sebaliknya kau membekal niat buruk dalam hatimu. Bukankah kau sebenarnya kaki tangan Hantu Muka Dua?"

Luhjelita mendengus. "Lagi-lagi kau menyebut Hantu Muka Dua. Peri Angsa Putih, sungguh pandai kau bermain kata memutar lidah. Bukankah kau yang punya maksud jahat terhadap pemuda ini? Aku tahu semua tentang bunga mawar kuning yang hanyut di sungai kecil di satu bukit. Kalau bukan lindungan dari Para Dewa, sahabatku ini pasti sudah menemui ajal secara mengenaskan."

Kening Pendekar 212 jadi mengerenyit. Kata-kata Luhjelita itu mengingatkan Wiro pada kejadian beberapa waktu lalu. Dia segera bertanya. "Luhjelita, apa yang kau ketahui tentang bunga mawar kuning beracun itu?"

Luhjelita mencibir ke arah Peri Angsa Putih. "Tanyakan saja padanya. Dia yang punya pekerjaan! Tapi aku yakin dia akan menyangkal dengan seribu cara...."

Wiro berpaling pada Peri Angsa Putih. Setelah menatap wajah cantik berwarna biru itu sesaat dia lantas berkata. "Peri Angsa Putih, kita cukup lama bersahabat Aku telah menanam budi padamu. Banyak pertolonganmu yang belum dapat aku balas. Sekarang, apakah kau mau mengatakan perihal mawar kuning beracun yang hampir mencelakai diriku itu?"

"Wiro, aku tidak tahu menahu perihal yang kau tanyakan itu. Bunga mawar kuning Aku tidak mengerti...."

Luhjelita tertawa. Sambil kembali memegang lengan Pendekar 212 dia berkata. "Kau lihat dan dengar sendiri wahai Wiro. Bagaimana liciknya Peri ini. Masih bisa berpura-pura pada saat perbuatan kejinya sudah ketahuan!"

"Gadis bermulut busuk berhati culas! Perbuatan keji apa yang telah aku lakukan terhadap dirinya?!" kata Peri Angsa Putih hampir berteriak saking geramnya.

"Jika kau mau mendengar akan kubuka kedok kejahatanmu!" kata Luhjelita pula sambil mengerling dan tersenyum pada Wiro. Namun sebelum gadis ini meneruskan ucapannya Wiro mengangkat tangan dan cepat berkata. "Luhjelita, biar aku yang menjelaskan padanya." Lalu Wiro memandang pada Peri Angsa Putih. Sambil bicara dia memperhatikan sepasang mata biru si gadis untuk menjajagi apakah benar Peri cantik ini tidak tahu menahu perihal bunga mawar kuning yang hampir merenggut jiwanya itu.

"Tak lama setelah aku meninggalkanmu, aku sampai di sebuah bukit Di situ ada telaga dan aliran sungai kecil. Ketika berada di tepi sungai kulihat sekuntum bunga mawar berwarna kuning dihanyutkan arus sungai. Karena belum pernah melihat bunga mawar berwarna kuning, apa lagi bentuknya indah sekali, Ininya Itu kuambil. Ketika bunga kudekatkan ke hidung dan kucium, mendadak aku tidak sadarkan diri. Ketika siuman ternyata ada seorang kakek aneh berkepandaian tinggi menolongku.... Menurut si kakek, bunga mawar kuning itu hanya tumbuh di lapisan langit ke tujuh dan merupakan bunga tanaman atau peliharaan bangsa Peri. Mendengar penjelasan itu aku menaruh syak wasangka bahwa ada seseorang yang bermaksud meracunku dengan bunga itu. Lalu karena bunga itu hanya tumbuh di negeri Para Peri, aku jadi... hemmm..."

Wiro tidak teruskan ucapannya. Dia garuk-garuk kepala dan tersenyum namun tetap mengawasi air muka terutama dua mata Peri Angsa Putih. (Mengenai bunga mawar kuning yang hampir mencelakai Pendekar 212 harap baca serial sebelumnya berjudul Hantu Tangan Empat)

"Wahai.... Aku tahu terusan ucapanmu Wiro. Karena bunga mawar kuning itu hanya tumbuh di negeri kami kecurigaanmu tentu jatuh pada kami bangsa Peri...."

"Dan karena saat itu kau satu-satunya Peri yang berada di Negeri Latanahsilam maka jelas kaulah pelakunya. Bukankah begitu wahai sahabatku Pendekar 212 Wiro Sableng?" ujar Luhjelita pula memojokkan Peri Angsa Putih hingga sang Peri menjadi merah padam wajahnya. Sambil bicara Luhjelita kembali memegang lengan murid Sinto Gendeng.

Setelah menenangkan hatinya yang bergejolak marah Peri Angsa Putih berucap. Seperti Wiro tadi dia pun bicara dengan memandang tajam ke mata sang pendekar. Pertanda bahwa dia tidak bergeming untuk menyatakan kebenaran apa yang diucapkannya.

"Wiro, kalau aku boleh bertanya. Ketika kau meninggalkan diriku, dengan siapakah kau pergi dan kemanakah kau menuju?"

"Wiro, hati-hati dengan pertanyaannya! Dia pasti bersilat lidah memutarbalik kenyataan!" Luhjelita langsung menimpali ucapan Peri Angsa Putih.

Peri Angsa Putih tetap mengarahkan pandangannya ke mata Wiro. Dengan tenang dia berkata. "Aku bicara padamu wahai sahabatku Wiro. Bukan dengan gadis itu. Jangan pegangannya pada lenganmu membuat hatimu menjadi luluh dan otakmu menjadi tumpul! Kebenaran tidak akan terkubur dengan rayuan semesra apapun!"

Wiro garuk-garuk kepala, memandang pada Luhjelita.

Dia hendak menarik tangannya tapi pegangan Luhjelita justru tambah kuat sementara senyum dan kerling matanya tambah memikat "Wiro..." kata Luhjelita setengah berbisik. "Tidak ada gunanya bicara dengan Peri jahat ini. Ayo kita pergi saja dari sini "

"Wahai! Kau yang membuka pangkal cerita berbisa. Ketika bisa itu hendak berbalik menerkam dirimu kau buru-buru hendak tinggalkan tempat ini. Kau merasa takut kini Luhjelita?"

"Peri busuk! Siapa takutkan dirimu!" bentak Luhjelita dengan mata membelalang.

Peri Angsa Putih tersenyum. "Kau memang gadis pemberani. Terutama pada lelaki. Kau memang tidak takut padaku. Tapi kau takut kalau kedokmu terbuka sendiri!"

"Hai! Bagaimana ini!" ujar Wiro. Dia memandang pada dua gadis itu berganti-ganti.

"Jangan bingung sendiri wahai pemuda asing," ujar Peri Angsa Putih pula. "Jawab saja pertanyaanku tadi. Nanti kau akan tahu apa yang sebenarnya terjadi...."

"Tak sulit bagiku untuk menjawab!" kata murid Sinto Gendeng pula.

"Kalau begitu jawablah. Dengan siapa kau pergi, kemana kau menuju?" Peri Angsa Putih mengulangi pertanyaannya.

"Kau tahu sendiri karena kau juga melihat. Hemmm..."

Wiro garuk-garuk kepalanya dan memandang pada Luhjelita. Si gadis ini kembali layangkan senyum manja dan mesra seraya berbisik. "Kita pergi saja sekarang juga Wiro...."

"Aku pergi dengan dia..." kata Wiro pada Peri Angsa Putih.

"Kau pergi dengan gadis itu. Pergi kemana Wiro? Kau tentu bisa dan mau mengatakan," kata Peri Angsa Putih pula seolah menuntun.

"Waktu itu dia mengajakku pergi ke Goa Pualam Lamerah. Namun aku menolak dan akhirnya kami pergi ke sebuah bukit. Di situ ada telaga serta anak sungai yang kusebutkan...."

"Wahai, ingatanmu sangat jernih sekali Wiro. Jadi yang ada di tempat itu adalah kau dengan dia. Apakah aku juga ada di tempat itu?"

Pendekar kita gelengkan kepala.

"Berarti hanya kau dan dia yang berada di tempat itu. Jika kemudian ada bunga mawar kuning dihanyutkan air sungai, apakah mungkin aku yang menghanyutkannya padahal aku tidak ada di sana?"

"Mungkin saja kau muncul secara diam-diam.

Dengan kepandaianmu kau bisa saja melakukan hal itu!" menukas Luhjelita.

"Kau tidak tuli wahai Luhjelita. Pemuda itu mengatakan di situ hanya ada kau dan dia..." kata Peri Angsa Putih.

"Pada saat kejadian itu, aku tidak lagi bersamasama denganmu Wiro. Bukankah saat itu aku pergi mandi di telaga dan kau entah berada di mana! Kalau aku berniat jahat, mengapa tidak aku lakukan pada saat kau bersamaku?!"

"Luhjelita, kau memang betul. Aku tidak mengikutimu sampai di telaga..." kata Wiro pula.

"Berarti pada saat antara aku pergi dan kau berada sendiri di tepi sungai kecil, Peri ini muncul dan membuang bunga mawar beracun itu ke dalam aliran sungai karena dia tahu kau ada di tepi sungai, pasti kau akanmelihat bunga itu dan mengambilnya"

"Wiro," kata Peri Angsa Putih masih dengan segala ketenangan, "Bunga mawar kuning itu katamu dihanyutkan arus sungai kecil. Apakah kau tahu dari mana atau di sebelah mana anak sungai itu berasal?"

"Kalau aku tidak salah dari telaga di lereng bukit..."

"Wahai, kau menjawab jujur dan polos. Lalu siapakah yang mandi saat itu di telaga di lereng bukit itu?"

Wiro terdiam tapi kemudian segera berpaling memandang ke arah Luhjelita. Di saat yang sama Luhjelita berteriak keras dan melompat ke arah Peri Angsa Putih. "Dasar Peri jahat! Kau putarbalikkan kenyataan!

Kau yang melakukan kebusukan malah kini menuduh diriku!" Tangan kanan Luhjelita berkelebat ke depan, melancarkan satu jotosan keras ke arah dada Peri Angsa Putih.

"Luhjelita! Siapa yang tidak kenal dirimu! Kau menebar bujuk rayu cinta di mana-mana. Tapi diamdiam kau membekal maksud busuk dalam hatimu!"

balas berteriak Peri Angsa Putih. Dengan sebat dia hantamkan pula tangan kanannya ke depan.

"Bukkk!"

Dua lengan saling beradu keras. Dua gadis samasama terpekik dan mundur dua langkah. Peri Angsa Putih pegangi lengan kanannya yang tampak bengkak.

Luhjelita terbungkuk-bungkuk menahan sakit. Di sela bibirnya terlihat darah mengucur pertanda dia mengalami luka dalam yang cukup berbahaya. Sambil terus melangkah mundur Luhjelita memandang penuh geram pada Peri Angsa Putih.

" Peri jahat! Kalau saat ini aku terpaksa pergi bukan karena aku takut! Jangan mengira kau telah mengalahkan aku! Lain waktu kalau bertemu aku akan menghajarmu habis-habisan! Jangan harap kau bisa menginjakkan kaki lagi di Tanahsilam ini!"

"Luhjelita! Tunggu! Kau mau kemana?!" berseru Wiro.

"Wiro, mari sama-sama kita tinggalkan tempat ini.

Jangan kau sampai terpengaruh dan tertipu oleh Peri jahat itu!"

"Harap maafkan aku Luhjelita. Kali ini aku tak bisa memenuhi permintaanmu. Justru aku ingin kau tetap berada di sini agar masalah yang kita bicarakan bisa menjadi jelas "

Luhjelita kelihatan sangat kecewa.

"Tak apa.... Aku tahu kau mencurigai diriku. Kau telah termakan ucapan Peri jahat itu. Kuharap satu waktu kau akan sadar. Di balik wajahnya yang cantik itu ada maksud busuk yang akan mencelakai dirimu. Di balik sinar matanya yang biru bagus itu ada kobaran api yang akan membakarmu...." Dengan wajah sedih Luhjelita memutar tubuhnya. Ketika dia hendak melangkah pergi tiba-tiba ada dua sosok bayangan berkelebat. Luhjelita tampak kaget. Peri Angsa Putih tak kalah kejutnya tapi masih mampu berlaku tenang. Sebaliknya Pendekar 212 tegak terheran-heran.

"Luhjelita, kau memang harus segera meninggalkan tempat ini!" Tiba-tiba salah seorang yang barusan berkelebat muncul berkata. "Hantu Muka Dua sudah sejak lama mencarimu!"

Luhjelita pandangi orang yang bicara padanya itu sesaat lalu berkata. "Kemana aku mau pergi adalah urusanku sendiri...."

"Wahai! Aku khawatir Hantu Muka Dua tak sedap makan tak nyenyak tidur karena sudah lama tidak melihatmu. Jangan tunggu sampai dia jatuh sakit..."

"Memangnya aku ada hubungan apa dengan Hantu Muka Dua?!" hardik Luhjelita. Gadis ini keluarkan suara mendengus lalu berkelebat pergi dari tempat Itu.

"Wahai, galak amat dara satu itu. Pantas Hantu Muka Dua suka padanya. Hik... hik... hik!"

Orang yang barusan bicara pada Luhjelita kini berpaling ke arah Peri Angsa Putih lalu tertawa bergolak.

"Sahabat-sahabatku, tidak sangka Peri yang hendak kita bunuh ini cantik sekali wajahnya. Kulitnya sehalus sutera. Putih dan mulus. Senyumnya semanis madu. Ha... ha... ha...! Kalau kalian berdua setuju biar kuperpanjang sedikit umurnya agar aku bisa bersenang-senang! Aku tidak takut kutukan Para Peri! Ha...ha... ha!" Orang ini ulurkan lidahnya berulang kali. Salah satu teman yang diajak bicara menjawabi.

"Dalam usia setua dan dosa karatan sekujur tubuh, aku tidak menampik menambah sedikit dosa. Apakah kau mau berbagi kesenangan denganku wahai sahabat?"

Orang-orang yang barusan muncul itu lalu samasama tertawa bergelak.

*

* *3ORANG yang berdiri paling dekat di hadapan Wiro dan Peri Angsa Putih saat itu adalah seorang kakek berkepala botak berwarna hitam. Hidungnya luar biasa besar hampir menutupi sebagian mukanya yang keriput.

Orang ke dua juga seorang kakek, bertubuh kurus kering berambut seperti ijuk. Matanya cuma satu, yang satu lagi yakni yang sebelah kanan terkatup picak dan sengaja dipoles dengan cat warna merah. Yang hebatnya, kakek ini tegak sambil mendukung seorang kakek lain di atas bahunya. Kakek ini juga memiliki rambut seperti ijuk tapi putih semua.

Sambil duduk di bahu, si kakek tidak hentinya meniup sebuah seruling yang ujungnya ditancapi sebuah tengkorak. Suara tiupan seruling itu sember tak karuan. Tapi si kakek tampak begitu asyik dan dia seperti tidak peduli tengah berada di mana, tidak acuh keadaan sekitarnya. Hidungnya kembang kempis dan pipinya terkempot-kempot. Setiap dia meniup, dari mulut, hidung, dua telinga dan sepasang mata tengkorak mengepul asap hitam!

Wiro dekati Peri Angsa Putih dan berbisik. "Dari omongan mereka aku menduga keras mereka adalah kaki tangan Hantu Muka Dua. Apa kau kenal siapasiapa mereka ini?"

Belum sempat Peri Angsa Putih menjawab, kakek yang kepalanya botak hitam membuka mulut. "Sobatku mata picak, apakah pemuda ini yang menurut pesan Hantu Muka Dua harus kita pesiangi dan kuras darahnya lewat ubun-ubun di kepalanya yang gondrong?!"

Yang ditanya kedap-kedipkan mata kirinya beberapa kali baru menjawab. "Wahai! Dari potongan tubuh dan ciri-cirinya memang tak salah!"

Mendengar ucapan orang murid Sinto Gendeng maklum kalau kakek-kakek itu jelas membawa niat yang tidak baik terhadapnya. Dia memandang pada kakek picak lalu kedap-kedipkan matanya meniru.

Kemudian sambil sunggingkan seringai mengejek dia berkata. "Matamu cuma satu, apa kau tidak keliru melihat bahwa aku orang yang dimaksudkan Hantu Muka Dua?!"

"Kau pandai melucu!" menyahuti kakek mata picak.

"Setelah urusan kami dengan Peri Angsa Putih selesai, kau akan kukirim ke tempat setan neraka melawak!"

"Wah! Hebat sekali! Baru kali ini aku tahu kalau di neraka sana ada tempat khusus untuk para setan melawak! Apa kau pernah mampir atau mungkin sudah melihat sendiri?!" Murid Sinto Gendeng lalu tertawa gelak-gelak.

"Manusia tidak waras! Biar kubunuh kau sekarang Juga!" bentak kakek picak marah. Namun kakek botak kepala hitam cepat memberi isyarat.

"Sobatku, jangan kesusu. Jangan merusak suasana. Biarkan aku bersuka-suka lebih dulu dengan Peri cantik jelita ini!" Lalu si kakek langsung saja mendekati Peri Angsa Putih sambil senyum-senyum dan kedip-kedipkan mata sementara kakek yang berada di atas bahu si picak terus saja meniup suling tengkoraknya. Asap hitam membumbung ke udara.

Pendekar 212 cepat menghadang. "Kakek hidung cendawan, tunggu dulu! Jelas kau dan dua kawanmu Ini adalah kaki tangan Hantu Muka Dua! Heran, di usia sudah bau tanah begini rupa mengapa kalian masih saja mau berbuat jahat mencelakai orang lain?!"

"Hik... hik...! Sahabatku Lahidungbesar! Dengar pemuda itu! Enak saja kau disebutnya kakek hidung cendawan! Hik... hik... hik! Lucu memang tapi apa kau tidak jadi jengkel? Lekas katakan padanya kita bukan mau berbuat jahat! Tapi justru mencari pahala! Hik...hik... hik!" Yang bicara adalah kakek mata picak si pendukung kakek yang asyik meniup suling tengkorak.

Kakek yang dipanggil dengan nama Lahidungbesar tertawa panjang. "Anak muda, kami membunuhmu bukan berarti berlaku jahat berbuat dosa. Tapi justru mencari pahala! Menurut Hantu Muka Dua kau telah membunuh seorang anak buahnya bernama Hantu Api Biru. Gara-gara kau dia juga kehilangan seorang pembantu utama bernama Si Pelawak Sinting.

Apa tidak pantas kalau Hantu Muka Dua memerintahkan kami membalas dendam mencabut nyawamu, menguras darahmu lewat ubun-ubun. Kabarnya konon darahmu dan dua temanmu mujarab untuk menjadi peredam senjata hingga mampu menjadi senjata sakti mandraguna!"

"Ha... ha... ha!" Kakek mata picak tertawa. Lalu membentak. "Sekarang agar kawanku Si Lahidungbesar memberi sedikit pengampunan dan mencabut nyawamu secara enak, lekas kau beri tahu di mana dua kawanmu berada!"

"Makhluk-makhluk geblek!" maki Wiro. "Aku sudah bersumpah untuk membunuh Hantu Muka Dua! Karena kalian kaki tangannya ada baiknya kalian kutumpas lebih dulu!"

"Wahai sombongnya!" kata kakek mata picak.

"Hai! Kau majulah! Biar kuremas hidung cendawanmu sampai hancur!" Mengejek Wiro. Membuat Lahidungbesar keluarkan suara menggeram marah.

Peri Angsa Putih mendekati Wiro dan cepat berbisik.

"Jangan kau anggap enteng ke tiga kakek itu. Yang barusan kau tantang memiliki kepandaian hampir setingkat kakekku Hantu Tangan Empat "

"Apa?" ujar Pendekar 212 terkesiap kaget.

"Si botak itu sangat tinggi ilmunya. Kakek yang picak itu bernama Lapicakkanan. Ilmunya sulit dijajagi.

Tapi yang sangat berbahaya adalah kakek berambut putih yang didukung di atas bahunya. Asap hitam dari suling tengkoraknya jika sampai masuk ke dalam tubuh bisa membuat aliran darah menjadi beku! Kakek satu ini setahuku bernama Lasulingmaut."

"Siapa takutkan mereka!" kata Wiro pula walau dia jadi garuk-garuk kepala dan tengkuknya mendadak menjadi dingin.

"Ikuti aku, melompat ke atas angsa putih. Kita harus cepat-cepat tinggalkan tempat ini sebelum terlambat!"

Mendengar bisikan Peri Angsa Putih, Wiro menjadi bimbang. Tapi akhirnya dia menjawab. "Kalau kau mau pergi silakan saja. Aku tetap di sini menghadapi tiga kakek sambal itu!"

"Wahai.... Bagaimana ini?!" Peri Angsa Putih jadi bingung. Akhirnya dia memutuskan untuk tetap berada di situ.'

"Hai, kenapa tidak pergi!" Wiro menegur sementara Lahidungbesar dengan menyeringai telah bergerak mendekati Peri Angsa Putih. Sambil melangkah dia berkata. "Lapicakkanan, kau bereskan si gondrong Ini. Aku akan meringkus Peri cantik ini. Kalau berhasil kau pasti akan mendapat bagian!"

Lapicakkanan tertawa bergelak lalu basahi bibirnya berulang kali sedang mata kirinya dikedipkan tiada henti. Di atas bahunya kakek yang bernama Lasulingmaut terus saja meniup sulingnya. Kelihatannya tambah asyik karena matanya sampai terpejam-pejam. Tiba-tiba Lahidungbesar menyergap ke depan. Tangan kanannya menyambar ke arah Peri Angsa Putih. Gerakannya seperti orang hendak menotok. Ini adalah aneh karena setahu Wiro tidak satu orangpun di Negeri Latanahsilam memiliki ilmu menotok. Dengan cepat Wiro menghadang gerakan si kakek. Dia berhasil menelikung pinggang orang.

Sementara itu tanpa ada yang mengetahui, di atas sebuah pohon besar berdaun rimbun hingga sulit terlihat dari bawah, mendekam seorang berpakaian rumput kering warna hitam. Orang ini sulit dilihat wajah aslinya karena seluruh mukanya dilumuri dengan sejenis tanah liat. Lalu tanah liat ini masih dilapisi pula dengan sejenis jelaga berwarna hitam. Walau siang bolong begitu sosoknya tidak beda dengan sosok hantu. Entah sejak kapan dia berada di atas pohon itu. Yang jelas orang ini merasa sangat cemas menyaksikan apa yang terjadi di bawah sana.

"Peri Angsa Putih, ilmunya tinggi. Mungkin tidak sulit baginya menghadapi kakek berhidung besar itu. Namun jika dikeroyok tiga dan kalau sampai kakek di atas dukungan turun tangan, wahai aku khawatir dia bisa kelabakan. Bahkan bakal cidera berat. Lalu pemuda asing berambut gondrong itu. Sampai di mana kehebatannya? Berdua dengan Peri Angsa Putih apa mungkin mereka menghadapi tiga kakek sakti kaki tangan Hantu Muka Dua? Aku ingin sekali menolongnya tetapi firasat menyuruh aku harus menunggu dulu sampai aku tahu siapa adanya sosok yang sembunyi di balik sayap angsa putih di sebelah sana. Tapi apakah aku bisa menunggu, kalau sampai salah satu dari dua orang itu mendapat celaka berarti hidupku tambah tidak tenteram! Wahai mengapa nasibku jadi begini. Sementara orang yang kucari masih belum juga kutemukan"

Orang di atas pohon mendadak berkacakaca ke dua matanya. Dia cepat pergunakan tangan untuk mengusap mata lalu tetapkan hati. Sambil memperhatikan apa yang terjadi di bawah pohon sesekali dia mengerling memperhatikan sosok Laeputih, yakni angsa putih raksasa milik Peri Angsa Putih. Ada siapa sebenarnya di bawah salah satu sayap angsa raksasa ini?

Sesaat setelah orang bermuka hitam mendekam di atas pohon, secara tak sengaja dia melihat sepasang kaki putih muncul di balik sayap sebelah kiri angsa putih. Dari bentuk sepasang kaki itu dia bisa menduga itu adalah kaki milik seorang perempuan. Lebih dari itu dia tak bisa menerka namun mendadak saja dadanya berdebar. Kalau saja dia bisa melihat raut wajah perempuan yang sembunyi di balik sayap angsa itu.

"Anehnya, setahuku angsa putih itu galak terhadap siapa saja yang bukan tuannya. Tapi mengapa orang itu bisa enak-enakan sembunyi di bawah sayapnya tanpa si angsa menjadi marah...?" Orang di atas pohon kembali memperhatikan pergumulan antara Wiro dengan Lahidungbesar.

Begitu berhasil mencekal pinggang lawannya, dengan mempergunakan jurus Kincir Padi Berputar, Wiro angkat tubuh si kakek, siap untuk dibantingkan ke tanah. Tapi alangkah kagetnya murid Eyang Sinto Gendeng ketika mendadak dirasakannya sosok kepala botak hitam berhidung besar itu laksana seberat gunung! Dia tidak mampu mengangkatnya!

Penasaran Wiro kerahkan tenaga luar dalam dan mencoba sekali lagi. Keringat sebesar-besar jagung bercucuran di keningnya.

"Kerahkan seluruh tenagamu anak muda! Keluarkan semua ilmu kesaktian yang kau miliki! Asal jangan kau keluarkan isi perutmu! Ha... ha... ha!" mengejek Lahidungbesar.

"Sialan, sebentar lagi kubanting kau sampai remuk!" kata Wiro dalam hati. Dia kerahkan tenaga habishabisan.

Sosok Lahidungbesar terangkat tapi cuma setengah jengkal. Dan saat itu dari tubuh sebelah bawah murid Sinto Gendeng tiba-tiba saja keluar angin yang bersuara nyaring.

"Bruuuttt!"

"Brengsek! Mengapa aku sampai kentut!" Wiro memaki diri sendiri.

Lapicakkanan tertawa mengekeh.

"Bangsat kurang ajar!" Lahidungbesar meludah dan memaki karena angin yang keluar dari bagian bawah si pemuda menyambar hidungnya dan baunya membuat dia mau muntah. Tiba-tiba kakek ini membuat gerakan aneh. Tahu-tahu kini Wirolah yang dicekalnya, ditarik ke atas bahu lalu "braakk!" Pendekar 212 dibantingnya ke tanah!

* *4UNTUK sesaat lamanya pemandangan Wiro jadi berkunang-kunang. Tulang punggung serasa hancur. Selagi dia tidak berdaya seperti itu tiba-tiba Lapicakkanan melompat dan hunjamkan kaki kanannya ke dada Wiro!

"Amblas dadamu! Hancur jantungmu!" teriak Lahidungbesar.

Sesaat lagi kaki kanan Lahidungbesar benar-benar akan menghancur remuk tubuh Pendekar212 Wiro Sableng, tiba-tiba sebuah benda panjang berwarna biru yang menebar bau harum laksana seekor ular besar melesat antara telapak kaki Lahidungbesar dan permukaan dada murid Sinto Gendeng.

"Dessss!"

Lahidungbesar laksana menginjak lapisan karet yang kenyal. Kakinya terpental ke atas. Tubuhnya ikut melambung setinggi dua tombak. Ketika dia turun kembali dilihatnya Wiro telah berguling selamatkan diri dan sesaat kemudian tegak memasang kuda-kuda siap menghadapinya. Dengan geram Lahidungbesar berpaling ke kiri. Di situ dilihatnya Peri Angsa Putih tegak sambil memegang selendang sutera biru. Selendang inilah tadi yang dipergunakan sang Peri untuk menyelamatkan Wiro.

"Wahai! Peri Angsa Putih menolong pemuda asing.

Ck... ck... ck...." Lahidungbesar decakkan lidahnya berulang-ulang. "Kalau tak ada hubungan apa-apa antara kalian berdua pasti kau tidak akan bertindak seperti itu wahai Peri Angsa Putih. Hemmm... aku membaur hal yang tidak enak. Lapicakkanan, lekas kau bunuh pemuda itu. Aku akan meringkus Peri bermata biru itu hidup-hidup!"

"Botak hitam hidung besar! Kalau kau berani mendekati Peri Angsa Putih kupanggang tubuhmu saat ini juga!" Wiro membentak sambil Periahan-lahan tangan kanannya diangkat.

Lahidungbesar tertawa bergelak. "Barusan kau hampir mampus di tanganku! Selamatkan diri saja belum mampu bagaimana kau bersombong diri hendak menolong Peri ini?!" Walau tertawa dan menganggap enteng Pendekar 212 namun diam-diam Lahidungbesar merasa kaget ketika memperhatikan bagaimana tangan kanan pemuda berambut gondrong di hadapannya tiba-tiba bergetar dan berubah menjadiputih menyilaukan seolah terbungkus seduhan perak!

Lahidungbesar bukan seorang penakut atau mudah menjadi kecut. Namun karena ingin cepat-cepat menguasai Peri Angsa Putih maka dia memilih berlaku cerdik.

"Lapicakkanan!" seru Lahidungbesar pada kakek yang mendukung LasulingmauL "Aku tak begitu bernafsu menghadapi si gondrong itu! Aku lebih bernafsu menghadapi Peri Angsa Putih!" Habis berkata begitu tanpa tunggu lebih lama si hidung cendawan itu melesat ke hadapan Peri Angsa Putih. Seperti tadi tangan kanannya bergerak seolah hendak menotok. Peri Angsa Putih mundur dua langkah lalu kebutkan selendang sutera di tangan kanannya.

"Wutttt!"

Sinar biru bertabur di udara. Laksana sebuah jala besar siap melibas sosok Lahidungbesar. Tapi si hidung besar ini tertawa bergelak. Begitu selendang sutera biru menyambar dia sengaja susupkan diri, masuk ke dalam selubungan selendang. Selanjutnya dia membuat gerakan bergulung ke arah lawan.

Peri Angsa Putih berseru kaget ketika tahu-tahu lawan telah berada hanya satu langkah di hadapannya. Dengan cepat gadis ini hantamkan tangan kanannya ke batok kepala Lahidungbesar. Ini adalah satu serangan dahsyat yang jika mengenai sasaran akan membuat rengkahnya batok kepala. Namun gerakan Peri Angsa Putih masih kalah cepat dengan gerakan tangan kanan Lahidungbesar. Begitu tangan kanan kakek botak itu menyambar di depan lehernya, Peri Angsa Putih merasakan ada satu sambaran angin yang menusuk urat besar di tenggorokannya. Selendang biru di tangan kirinya terlepas jatuh.

Lehernya seperti dicekik. Tubuhnya serta meria menjadi lemas. Sang Peri cepat kerahkan tenaga dalam serta alirkan darah ke lehertapi sia-sia saja. Diatakmampu membebaskan diri dari kekuatan yang menguasai dirinya.

Di atas pohon, orang yang mukanya dilumuri tanah liat hitam mendesah penuh kaget. "Wahai! Ternyata Lahidungbesar benar-benar telah memiliki Ilmu Menjirat Urati. Aku harus cepat menolong Peri itu!" Orang ini segera hendak melayang turun. Namun hentikan gerakannya ketika tiba-tiba di bawah sana dilihatnya pemuda berambut gondrong melompat mendekati Lahidungbesar yang telah memanggul tubuh Peri Angsa Putih di bahu kirinya.

"Hidung besar hidung belang! Turunkan gadis itu! Kalau tidak kutambus tubuhmu saat ini juga!"

Lahidungbesar tertawa mengejek. "Kau mau menembus tubuhku! Silakan saja! Wahai sungguh senang mati berdua sambil memeluk gadis jelita ini!" Meski kelihatannya menganggap enteng lawan namun diam-diam kakek kepala botak berhidung besar ini merasa was-was juga ketika melihat bagaimana tangan kanan Wiro berubah menjadi putih menyilaukan seperti seduhan perak tertimpa sinar matahari. Maka cepat dia berkata pada Lapicakkanan. "Kau hadapi si gondrong itu! Aku akan membawa Peri ini ke Istana Kebahagiaan. Kutunggu kau di sana...."

"Pergi saja cepat! Pemuda otak miring ini biar aku dan Lasulingmaut yang membereskan!" menjawab Lapicakkanan.

Lahidungbesar cepat berkelebat namun gerakannya tertahan karena di hadapannya telah menghadang Pendekar 212.

"Tua bangka jahanam berhidung besar! Kau membuat aku nekad!" Habis membentak murid Sinto Gendeng langsung saja hantamkan tangan kanannya.

Sinar putih menyilaukan berkiblat. Hawa panas menerpa Seantero tempat. Beberapa mulut keluarkan teriakan kaget.

Orang di atas pohon tersentak!

"Pemuda gila! Walaupun dia berhasil membunuh kakek itu, apa dia tidak sadar pukulannya juga akan menghabisi Peri Angsa Putih?!" Orang di atas pohon serta merta melompat turun sambil tangan kanannya dipukulkan ke bawah. Namun lagi-lagi gerakannya tertahan karena tiba-tiba kakek yang ada di atas dukungan Lapicakkanan dan sejak tadi asyik terus meniup suling tengkoraknya, mendadak cabut suling tengkoraknya lalu disapukan ke bawah! Asap hitam menggebubu keluar dari setiap lobang yang ada di tengkorak, menyambar dahsyat menghantam cahaya putih panas pukulan Sinar Matahari yang dilepaskan Pendekar 212 Wiro Sableng!

"Blaaarrr! Blaaar! Blaaarr!"

Letupan keras disertai pancaran bunga api terang benderang menggema tiga kali berturut-turut. Wiro terpental dan bergulingan di tanah. Mulutnya terasa asin. Ketika dia meludah, ludahnya kelihatan merah bercampur darah pertanda ada bagian tubuhnya yang terluka di sebelah dalam. Dia ingat ucapan Peri Angsa Putih. Yaitu bahwa asap hitam yang keluar dari dalam tengkorak yang menancap di seruling Lasulingmaut sanggup membuat darah lawan menjadi beku. Wiro segera bangkit, gerakkan tangan dan kakinya. Dia merasa lega karena walau di dalam ada luka tapi lebih dari itu keadaannya tidak kurang suatu apa. Namun murid Eyang Sinto Gendeng ini melengak kaget ketika dilihatnya kakek bernama Lahidungbesar tak ada lagi di tempat itu.

"Celaka! Jahanam hidung besar itukabur bersama Peri Angsa Putih!"

Baru saja Wiro berkata begitu di samping kanan terdengar suara tawa mengekeh disusul oleh tiupan seruling sember. Wiro menoleh. Kakek picak memandangnya dengan seringai serta tawa mengejek. Di atas dukungannya kakek berambut putih tampak asyik meniup suling tengkoraknya seolah di tempat itu tidak terjadi apa-apa. Walau memperhatikan hanya sebentar dan diselimuti hawa marah namun murid Sinto Gendeng melihat satu keanehan. Tadi-tadi tengkorak di ujung seruling itu selalu mengepulkan asap hitam. Namun sekali ini tidak sedikitpun tampak asap hitam.

"Apa yang hendak dilakukan jahanam satu ini. Aku harus berhati-hati..." kata Wiro membatin. Rahangnya menggembung. Dia segera alirkan tenaga dalam ke tangan kiri kanan. Tubuhnya bergetar tanda kali ini Wiro siap mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya.

Lapicakkanan tertawa mengekeh lalu kembali sunggingkan seringai mengejek. "Pemuda gondrong! Kuras seluruh tenaga dalam yang kau miliki! Aku mau lihat sampai di mana kehebatan orang dari negeri yang katanya seribu dua ratus tahun lebih maju!"

"Jangan terpancing! Jangan lakukan apa yang dikatakannya! Jangan kerahkan seluruh tenaga dalam! Semakin kau mengerahkan semakin mudah baginya melumat dirimu!"

Tiba-tiba satu suara menggema dari atas pohon. Wiro belum sempat berpaling Lapicakkanan dongakkan kepala dan gerakkan mata kanannya yang picak tertutup cat merah. Selarik sinar merah menderu.

"Wussss!"

Pohon besar di atas sana mendadak sontak dilamun kobaran api. Lebih dari setengah bagian atas pohon ini kini tampak gundul hangus. Tapi orang yang tadi berada di tempat itu telah berkelebat lenyap. Lapicakkanan menggeram marah. Dia mendongak pada orang yang didukungnya.

"Wahai Lasulingmaut, siapa menurutmu bangsat di atas pohon tadi yang tahu kelemahan ilmu Asap Iblis Pembeku Darah milikmu itu?!"

Kakek di atas dukungan lepaskan ujung suling dari mulutnya. Lalu keluarkan suara jawaban bergumam yang hanya diketahui dan dimengerti oleh kakek pendukung. "Kau betul, pasti keparat berjuluk Penolong Budiman. Sudah dua kali dengan ini dia menggerecoki kita. Kita harus segera mencarinya!"

Kakek di atas dukungan kembali keluarkan suara bergumam. Kakek yang mendukungnya tampak kecewa tapi berucap. "Kau benar. Memang bukan saatnya mengejar bangsat satu itu...."

Kakek di atas dukungan tiba-tiba rundukkan kepalanya. Mulutnya meniup ke arah Wiro. Kalau tadi asap hitam menderu keluar dari semua lobang yang ada di tengkorak, kini asap itu menyambar dahsyat dari mulutnya yang meniup.

Sesaat murid Eyang Sinto Gendeng jadi bingung apa yang hendak diperbuatnya. Kalau dia ingat akan ucapan orang di atas pohon tadi dia tidak boleh menyambuti serangan asap maut Itu dengan pengerahan tenaga dalam. Tapi apa masuk akal? Dengan tenaga dalam tinggi saja tadi dia tidak mampu menghadapi serangan asap. Apa lagi tanpa tenaga dalam sama sekali! Dalam bingungnya Wiro akhirnya cabut Kapak Maut Naga Geni 212. Begitu tenaga dalam disalurkan ke senjata mustika itu dia langsung membabat. Sinar putih panas disertai gaungan seolah ada seribu tawon mengamuk seperti hendak meruntuhkan langit membelah bumi!

"Pemuda tolol! Mempergunakan senjata sakti itu sudah betul! Tapi dia masih saja mengerahkan tenaga dalam!" Orang bermuka tanah liat hitam memaki sendiri melihat apa yang dilakukan Wiro. Ucapan itu terdengar di balik serumpunan semak belukar. Seperti ada petir menghantam bumi, rimba belantara itu sesaatterang benderang. Tanah terbongkar. Nyala api disertai gulungan asap hitam menggebu. Kapak Maut Naga Geni 212 terlepas dari tangan Wiro. Di atas bahu kawannya kakek berambut putih kembali meniup.

"Wussss!"

Semburan asap hitam menyambar ke arah Wiro yang saat itu berusaha menangkap kapak saktinya yang tengah melayang jatuh ke bawah.

"Benar-benar tolol! Mencari mati!" Dari balik semak belukar kembali terdengar suara orang. Lalu "seetttt... seett!" Menyambar selarik sinar hitam yang mengembang berbentuk kipas. Sinar hitam ini bukan sinar hitam biasa karena disertai serpihan-serpihan aneh berbentuk bunga-bunga api yang memancarkan cahaya berkilauan.

"Pukulan Menebar Budi Hari Ke tiga!" seru Lapicakkanan dengan tampang berubah sementara di atasnya kakek berambut ijuk warna putih menggumam keras. Ke duanya kaget dan kecut ketika melihat bagaimana cahaya hitam berbentuk kipas itu mendorong dengan dahsyat pukulan Asap Iblis Pembeku Darah yang disemburkan Lasulingmaut. Dua kakek terdorong ke belakang. Tubuh mereka bergetar hebat.

Kakek di sebelah atas cepat melintangkan suling tengkoraknya di depan dada. Lalu benda ini diputarnya seperti titiran. Walau dia dan kawannya masih merasakan adanya tekanan cahaya hitam lawan yang tak kelihatan namun dua kakek aneh itu merasa lega karena mereka mampu meredam serangan mematikan itu. Ketika cahaya hitam yang disebut Pukulan Menebar Budi Hari Ke tiga itu menyapu lewat di bawah kaki mereka si kakek sebelah atas keluarkan lagi suara bergumam. Kali ini lebih keras.

"Aku tahu, aku sudah dengar Lasulingmaut! Walau hatiku panas memang ada baiknya kita tinggalkan tempat ini! Urusan dengan pemuda gondrong itu biar kita selesaikan lain waktu. Sialan.... Keparat betul! Dia muncul lagi! Seperti dulu setiap muncul dia tak pernah memperlihatkan diri!"

Lapicakkanan pegang pinggang kakek yang didukungnya lalu bersiap memutar diri untuk tinggalkan tempat itu. Namun baru membuat setengah lingkaran tiba-tiba satu cahaya menyilaukan menyambar ke arah dadanya. Bersamaan dengan itu ada suara menggaung aneh disertai hantaman hawa luar biasa panas. Sambil berteriak keras kakek bermata picak ini melompat mundur. Kakek yang didukungnya menggumam keras lalu cepat-cepat kembangkan dua kakinya. Sambaran sinar menyilaukan yang bukan lain adalah sabetan Kapak Maut Naga Geni 212 lewat di dada Lapicakkanan dan hanya seujung kuku memapas di atas dua kaki Lasulingmaut.

"Pemuda keparat! Mampus kau!" teriak Lapicakkanan marah sekali. Matanya yang picak digerakkan. Namun belum sempat dia menyemburkan api merah dari matanya itu kapak sakti warisan Eyang Sinto Gendeng dari puncak Gunung Gede kembali membabat. Sekali ini Lapicakkanan tak bisa mengelak. Kaki kirinya sebatas paha amblas papas dimakan Kapak Maut Naga Geni 212. Darah menyembur. Tubuhnya mendadak sontak digerogoti hawa panas.

Lapicakkanan meraung keras. Lasulingmaut yang ada di atasnya melompat turun sambil tangannya melemparkan sesuatu. Saat itu juga terdengar letupan keras lalu asap pekat kelabu menutupi pemandangan. Ketika asap itu lenyap, dua kakek aneh tak ada lagi di tempat itu.

Wiro hentakkan kaki penuh geram. Dia memandang berkeliling. Mencari-cari. Tidak tampak siapa-siapa. Bahkan orang di atas pohon dan kemudian bersembunyi di balik semak belukar, yakni orang yang tadi menolongnya dari serangan Asap Iblis Pembeku Darah juga tidak kelihatan. Di udara terdengar suara menguik. Wiro cepat mendongak. Dia melihat Laeputih melayang terbang menuju ke timur. Di punggungnya duduk perempuan berambut lepas, panjang terurai ditiup angin.

"Aneh, angsa putih raksasa itu adalah milik Peri Angsa Putih. Lalu siapa perempuan yang menungganginya itu. Hendak dibawanya kemana angsa itu? Mengapa Laeputih bersikap jinak?"

Selagi Wiro memperhatikan sambil bertanya-tanya, tiba-tiba di arah barat tampak melayang kura-kura raksasa ditunggangi perempuan berpakaian Jingga.

"Luhjelita," desis Wiro. "Ternyata dia masih ada di sekitar sini. Melihat arah terbangnya jelas dia seperti mengikuti angsa putih. Aku harus menolong Peri Angsa Putih! Kakek keparat bernama Lahidungbesar Itu pasti membawanya ke Istana Kebahagiaan! Aku akan menyusul ke sana. Tapi bagaimana dengan Naga Kuning dan Si Setan Ngompol? Apakah mereka telah berhasil mendapat kesembuhan dari Hantu Raja Obat?"

Sesaat Wiro jadi bimbang. Akhirnya dia tetap mengambil Keputusan untuk berangkat menuju Istana Kebahagiaan. Ketika dia hendak bergerak pergi mendadak pandangannya membentur selendang biru milik Peri Angsa Putih yang tadi terjatuh di tanah. Wiro segera ambil selendang ini, melipatnya lalu memasukkannya ke balik pakaiannya.



5DI ATAS sebuah pembaringan batu yang dialasi permadani dan bantal-bantal empuk terbuat dari rumput kering, Hantu Muka Dua berbaring dengan mata terpejam, ditemani setengah lusin gadis cantik berpakaian serba minim. Diantara mereka ada yang memijat-mijat tangan atau kaki, ada pula yang memijitmijit kepalanya. Seorang gadis bermuka bulat berbadan sintal sesekali menyuapkan sejenis buah menyerupai anggur ke dalam mulut Hantu Muka Dua yang saat itu terbaring dengan penampilan wajah seorang lelaki separuh baya. Sudah beberapa kali gadis ini berusaha memasukkan buah itu ke dalam mulut Hantu Muka Dua, namun Hantu Muka Dua entah apa sebabnya sejak tadi selalu mengatupkan mulut Di sisi kanan bersimpuh gadis ke enam, gadis paling cantik dari semua gadis yang ada di ruangan itu. Gadis ini memegang sehelai kipas daun yang dikipaskipaskannya ke arah Hantu Muka Dua dan menebar bau harum. Beberapa waktu berlalu tanpa ada yang berani bicara dan Hantu Muka Dua masih saja berbaring dengan mata terpejam.

Gadis yang memegang kipas bernama Luhkiniki. Diantara semua gadis yang ada di Istana Kebahagiaan Itu memang yang satu ini adalah kesayangan Hantu Muka Dua dan lebih berani dari yang lain-lainnya.

"Wahai Hantu Muka Dua, Junjungan kami para penghuni Istana Kebahagiaan, Raja Diraja Segala Hantu di Negeri Latanahsilam. Sejak tadi kau berbaring berdiam diri pejamkan mata. Mungkinkah sakit menjangkit badan atau adakah sesuatu yang kurang mengenakkan? Kalau memang berkenan di hati sudilah Junjungan memberi jawaban."

"Jangan ganggu aku dengan berbagai ucapan dan pertanyaan. Aku tidak sakit! Tapi sedang kalut pikiran. Banyak yang aku pikirkan saat ini! Kalian lakukan saja apa kewajiban kalian! Dan awas! Jangan suapi lagi aku dengan buah celaka itu! Jangan berani berisik apa lagi bertanya!"

"Wahai Junjungan, maafkan kami kalau berlaku menyakiti hatimu. Tidak maksud hati berlaku kurang ajar. Kalau memang ada kekalutan pikiran dan kau mau menceritakan, siapa tahu kami bisa membantu..." berucap gadis yang memegang kipas.

"Luhkiniki, aku sayang padamu. Tapi saat kalut begini jangan kau berbanyak mulut! Jangan kira aku tidak tega menampar mukamu yang cantik itu!"

Mendengar kata-kata Hantu Muka Dua itu, gadis bernama Luhkiniki memandang pada lima kawannya lalu tutup mulutnya tak berani bersuara lagi. Beberapa waktu lagi berlalu. Sesekali Hantu Muka Dua keluarkan suara seperti mendengkur. Tapi semua gadis itu tahu sang Junjungan bukan tengah tertidur lelap. Tiba-tiba Hantu Muka Dua bergumam. Lalu mulutnya terbuka.

"Tidak mungkin! Tidak mungkin!"

Dua wajah Hantu Muka Dua depan belakang tampak mengucurkan keringat sebesar butiran-butiran jagung.

Kalau saja tidak takut kena marah, Luhkiniki sebenarnya ingin bertanya apa yang tidak mungkin itu. Namun karena takut gadis ini dan kawan-kawannya lebih baik memilih diam. Mendadak Hantu Muka Dua bangkit dari berbaring. Duduk di pembaringan, memandang berkeliling. Lalu berkata lagi. "Tidak mungkin! Tidak mungkin Lakasipo! Tidak mungkin kau saudaraku! Tanda berbentuk gambar bunga dalam lingkaran yang ada di bawah lengan dekat ketiak kananmu itu mungkin hanya satu kebetulan saja! Kita tidak bersaudara. Haram bagiku bersaudara denganmu! Seharusnya aku bunuh kau saat itu Lakasipo! Tapi jahanam betul! Mengapa aku berlaku tolol! Mengapa tidak aku lakukan!"

Seperti dituturkan dalam serial Wiro Sableng berjudul Hantu Jati Landak di sebuah pulau terjadi pertarungan hidup mati antara Lakasipo alias Hantu Kaki Batu dengan Hantu Muka Dua. Saat itu Hantu Muka Dua hendak menghabisi Lakasipo. Hampir Hantu Muka Dua akan merenggut nyawa lawannya itu tiba-tiba dia melihat tanda seperti jarahan berupa gambar bunga dalam lingkaran di lengan sebelah dalam dekat ketiak kanan Lakasipo. Dia serta merta ingat pada tanda yang sama yang ada pada lengannya sebelah dalam dekat ketiak kanan. Terbayang oleh Hantu Muka Dua wajah seorang kakek bernama Lamanyala. Terngiang di telinganya ucapan orang tua itu.

"Ketahuilah, kau memiliki tiga orang saudara. Semuanya laki-laki. Ketika banjir besar melanda daerah tempat kediamanmu puluhan tahun silam, kalian berempat dihanyutkan air bah ke empat penjuru angin. Semua saudaramu masih hidup. Begitu kabar yang aku sirap. Namun di mana mereka berada tidak aku ketahui dan tidak aku selidiki. Satu hal yang aku ketahui kalian berempat memiliki tanda aneh di bawah lengan kanan sebelah atas, dekat ketiak. Tanda itu berupa gambar setangkai bunga dalam lingkaran...."

Hantu Muka Dua memandang berkeliling. Pandangannya berhenti pada wajah jelita Luhkiniki. Memberanikan diri gadis ini berkata. "Wahai Hantu Muka Dua, Raja Diraja Segala Hantu, penguasa Kerajaan yang berpusat pada Istana Kebahagiaan, hal apakah yang tengah kau alami? Tadi matamu terpejam tapi kau tidak tidur. Kau tiba-tiba bicara sesuatu tetapi kau tidak mengigau. Kau menyebut-nyebut tidak mungkin. Apa yang tidak mungkin wahai Hantu Muka Dua. Tidak dapatkah kami menolongmu dari kekalutan yang membuncah pikiranmu?"

Hantu Muka Dua sesaat masih menetap Luhkiniki.

Kemudian dia memandang ke pintu. "Sudah belasan hari mereka pergi. Sampai saat ini apakah masih belum kembali?"

"Wahai, gerangan siapa yang Junjungan pertanyakan? Sudilah menyebut nama agar kami bisa menjawab..." berkata Luhkiniki.

"Yang kutanyakan adalah tiga sahabat tangan kananku di Istana Kebahagiaan ini. Si Lahidungbesar, Lapicakkanan dan Lasulingmaut!" jawab Hantu Muka Dua pula dengan suara agak berang.

Baru saja Hantu Muka Dua selesai berucap tibatiba di luar ruangan ada orang berseru.

"Hantu Muka Dua Junjungan Penguasa Istana Kebahagiaan! Kami bertiga yang kau tanyakan ada di luar sini! Mohon waktu untuk menghadap! Kami membawa kabar buruk!"

Dua wajah Hantu Muka Dua sesaat berubah menjadi wajah kakek-kakek pucat. Setelah hatinya tenang wajahnya depan belakang kembali pada wajah dua lelaki separuh baya.

"Pintu batu tidak dikunci. Dorong dan masuklah!" Hantu Muka Dua berkata. Matanya memandang tak berkesip ke ujung ruangan. Dinding ruangan itu perlahan-lahan bergerak ke kiri. Dua orang kakek kelihatan tegak di seberang sana. Salah seorang di antaranya mendukung satu sosok yang paha kirinya buntung. Dari kutungan tubuh ini kelihatan darah masih mengucur. Enam gadis yang ada di ruangan itu menjerit ngeri.

Membuat Hantu Muka Dua jadi tergagau kaget dalam kejutnya. "Gadis-gadis jahanam! Keluar kalian semua! Tinggalkan ruangan ini!" hardik Hantu Muka Dua. Enam gadis cantik serta merta menghambur lari dan menghilang lewat sebuah pintu yang ada di balik tiang besar berukir.

Dua kakek di ambang pintu bertindak hendak melangkah masuk.

"Jahanam! Jangan berani masuk mengotori kamar ketiduranku dengan darah busuk!" Hantu Muka Dua kembali berteriak marah. Dia melompat ke arah pintu yang terbuka. Saat itu dua wajahnya telah berubah menjadi muka raksasa yang menakutkan. Hidung besar, mulut berbibir tebal, taring mencuat dan rambut, kumis serta janggut lebat awut-awutan! Sepasang matanya yang besar memandang seperti mau menelan dua kakek di depannya. Lalu dia memperhatikan kakek buntung paha yang ada dalam dukungan kakek berhidung besar berkepala botak hitam.

Dengan suara bergetar menahan amarah Hantu Muka Dua bertanya. "Apa yang terjadi dengan Lapicakkanan?! Lasulingmaut! Lahidungbesar! Jawab!"

Kakek di sebelah kanan yang berambut seperti ijuk berwarna putih keluarkan suara bergumam lalu masukkan ujung suling yang ditancapi tengkorak dan meniup satu kali. Suling itu keluarkan suara sember disertai mengepulnya asap hitam dari lobang mata, hidung, mulut dan telinga tengkorak.

"Keparat! Lasulingmaut! Apa kau tak bisa bicara wajar?!" menghardik Hantu Muka Dua. Rambut di kepalanya dan kumis tebal di bawah hidungnya sampai naik berjingkrak! Yang dihardik, yakni kakek yang membawa suling, kembali meniup sulingnya. Suara sember terdengar lagi dan asap hitam kembali mengepul.

"Jahanam! Kau mau membunuh aku dengan asap beracun itu! Kau memang sialan! Tak pernah bisa bicara wajar!" Hantu Muka Dua berpaling pada kakek yang mendukung orang tua buntung paha. "Kau juga tidak bisa bicara wajar? Atau Perlu kurobek dulu mulutmu?! Lahidungbesar! Ayo ceritakan apa yang terjadi!"

"Maafkan kami wahai Hantu Muka Dua. Maafkan aku! Sesuai perintahmu kami berhasil menghadang Peri Angsa Putih bahkan sekaligus menemukan kekasihmu Luhjelita!"

Mendengar kata-kata kakek yang hidungnya besar itu dua wajah Hantu Muka Dua depan belakang berubah menjadi muka lelaki separuh baya kembali. Dia mendesah sambil pejamkan mata. "Wahai Luhjelita kekasihku.... Bagaimana keadaannya? Lama nian dia tidak menyambangiku. Lama nian aku tidak melihat wajahnya yang jelita. Lama nian aku tidak melihat lekuk tubuhnya yang bagus putih dan kencang...."

"Luhjelita ada baik-baik saja wahai Hantu Muka Dua," jawab Lahidungbesar. Lalu dia melanjutkan.

"Keberuntungan kami malah lebih besar dari yang kami duga. Di tempat di mana Luhjelita dan Peri Angsa Putih berada, di situ juga ada pemuda asing dari negeri seribu dua ratus tahun mendatang yang kau suruh bunuh itu!"

"Maksudmu pemuda gondrong sinting bernama Wiro Sableng itu?"

"Benar sekali wahai Hantu Muka Dua.... Tapi seperti katamu, pemuda itu tidak lagi bersosok kerdil. Tidak setinggi lutut! Tubuhnya sama besar dengan kita!"

"Jahanam! Siapa yang menolongnya hingga bisa jadi besar begitu rupa?!"

"Kami tidak tahu. Kami tidak sempat menyelidik...."

"Apa dua kawannya juga ada di situ? Seorang bocah banyak tingkah dan seorang kakek bau pesing?"

Lahidungbesar gelengkan kepala.

Hantu Muka Dua menatap tajam pada kakek bernama Lahidungbesar lalu pandangannya turun pada sosok buntung paha yang digendong si kakek. "Aku sudah bisa menduga-duga apa yang terjadi! Tapi kau harus menerangkan mengapa Lapicakkanan berada dalam keadaan seperti ini! Siapa yang mencelakainya. Peri Angsa Putih atau pemuda bernama Wiro Sableng itu?!"

Kakek mata picak dalam gendongan kakek hidung besar keluarkan erangan panjang sementara darah masih mengucur dari pahanya yang buntung. "Hantu Muka Dua Aku tak tahan. Sekujur tubuhku terasa panas.... Panas sekali "

Hantu Muka Dua perhatikan buntungan di paha Lapicakkanan. "Ini bukan luka biasa. Sebagian pahanya yang masih bersisa kelihatan hangus seperti dipanggang...."

" Kakek bernama Lasulingmaut mendongak. Matanya berkaca-kaca. Dari mulutnya keluar suara bergumam. Setelah meniup sulingnya satu kali kakek ini usut air matanya.

"Wahai Hantu Muka Dua. Sahabatku ini terkena sambaran kapak sakti milik pemuda bernama Wiro Sableng itu "

"Jahanam besar! Kalian bertiga ternyata tidak becus!" Dua muka Hantu Muka Dua kembali berubah menjadi wajah-wajah raksasa menggidikkan.

"Sebenarnya hal mudah bagi kami untuk membereskan pemuda itu. Malah Peri Angsa Putih telah kami tawan...."

"Apa?!" Hantu Muka Dua tersentak. "Di mana Peri Itu sekarang?"

"Aku sembunyikan di sebuah sumur melintang dekat jalan masuk ke Istana Kebahagiaan di sebelah utara...."

"Jangan bermain culas denganku Lahidungbesar. Gadis itu harus kau bawa ke hadapanku! Aku sudah lama menyarang dendam terhadapnya. Walau aku tidak boleh membunuhnya tapi aku sudah lama berniat untuk merampas kehormatannya. Bahkan aku akan membuatnya hamil mengandung! Agar segala kutuk jatuh pada dirinya!" Hantu Muka Dua basahi bibirnya dengan ujung lidah berulang kali. Rangkungannya turun naik dan dua wajahnya berubah menjadi wajah dua orang pemuda gagah. Ini pertanda bahwa dirinya telah dirasuki nafsu birahi kotor!"

"Hantu Muka Dua, wahai! Kau tentu tidak lupa. Bukankah kita sudah membuat perjanjian? Jika aku berhasil meringkus Peri Angsa Putih maka Peri itu akan menjadi bagianku untuk bersuka-suka sebelum kau masukkan ke dalam ruang penyiksaan, Ruangan Obor Tunggal!"

"Memang kita sudah membuat perjanjian. Tapi aku kuasa untuk merubah segala perjanjian! Apa seorang Raja Diraja seperti aku harus mendapatkan barang bekas? Kau mau memberi sisa padaku Lahidungbesar? Katakan berapa nyawa yang kau miliki!" Tampang raksasa kembali muncul di dua wajah Hantu Muka Dua.

"Wahai Hantu Muka Dua, kau adalah Junjungan dan Raja Diraja Segala Hantu, pembangun Kerajaan Kebahagiaan, Penguasa Tunggal di Istana Kebahagiaan, mana aku berani membantah. Jika kau memang menginginkan Peri Angsa Putih, aku akan membawanya ke sini!"

"Peri itu telah menghancurkan tempat kediamanku terdahulu. Dia menimbun dengan lahar panas...." (Baca riwayat Hantu Muka Dua sebelumnya dalam serial Wiro Sableng berjudul Peri Angsa Putih)

"Apa perintahmu akan kami patuhi wahai Hantu Muka Dua," kata kakek bernama Lahidungbesar.

"Panas... sekujur tubuhku terasa panas. Hantu Muka Dua, aku tak tahan..." ucapan itu kembali meluncur dari mulut kakek bernama Lapicakkanan.

"Sekujur tubuhnya dijalari racun senjata sakti berbentuk kapak milik pemuda bernama Wiro Sableng itu..." menjelaskan Lahidungbesar.

"Tak usah khawatir. Aku akan mengobatinya. Aku akan memberikan kesembuhan padanya!" kata Hantu Muka Dua. Dia melangkah mendekati Lahidungbesar yang mendukung kakek buntung Lapicakkanan. Tangan kanannya diangkat ke atas. Lalu secepat kilat diayunkan ke bawah.

"Praaakkk!"

Kepala Lapicakkanan langsung pecah!

"Manusia tak berguna! Apa guna hidup berlamalama!" kata Hantu Muka Dua. Saat itu wajahnya beberapa ketika berubah menjadi muka raksasa kemudian kembali ke muka lelaki separuh baya.

Lahidungbesar merasakan tengkuknya menjadi dingin. Sosok Lapicakkanan yang telah jadi mayat terlepas dari gendongannya. Tapi sebelum menyentuh lantai kaki kanan Hantu Muka Dua telah menendang hingga mayat itu mencelat mental sampai beberapa tombak.

Hantu Muka Dua usap-usap telapak tangannya satu sama lain. Dia melirik pada Lasulingmaut lalu berpaling pada Lahidungbesar. "Tadi kau mengatakan sebenarnya kalian dengan mudah bisa membereskan pemuda dari negeri asing itu. Nyatanya kalian memang tidak mampu! Apa yang terjadi?!" Hantu Muka Dua membentak membeliak.

"Ada seorang berkepandaian tinggi menolong pemuda itu," jawab Lahidungbesar.

"Kau tahu siapa?!"

Lasulingmaut bergumam keras lalu tiup suling tengkoraknya. Matanya tampak berkaca-kaca seperti tadi.

"Jangan cengeng!" bentak Hantu Muka Dua pada kakek berambut ijuk putih yang selama ini kemanamana selalu didukung oleh Lapicakkanan. Hantu Muka Dua berpaling pada Lahidungbesar. "Kau tahu atau tidak ta hu siapa adanya orang yang membantu Wiro?!"

"Orangnya tidak menunjukkan diri. Tapi kami berdua yakin dia adalah orang yang selama ini menjadi tanda tanya besar di Negeri Latanahsilam yaitu Si Penolong Budiman."

Tampang Hantu Muka Dua mendadak sontak berubah menjadi tampang kakek-kakek pucat. Ini satu pertanda selain kaget dia juga merasa tidak enak.

"Bagaimana kau bisa yakin wahai hidung besar...?" Hantu Muka Dua ajukan pertanyaan.

"Orang itu lepaskan pukulan berupa tebaran sinar hitam yang ada serpihan-serpihan aneh. Apa lagi kalau bukan Pukulan Menebar Budi. Yang dihantamkannya saat itu adalah Pukulan Menebar Budi Hari Ke tiga!"

Mendengar keterangan Lahidungbesar itu sepasang mata Hantu Muka Dua mendelik besar. Lalu dia usap-usap mukanya sebelah depan berulang kali. Dalam hati dia membatin. "Pukulan Menebar Budi Hari Ke tiga saja sudah membuat anak buahku kelabakan. Belum lagi Pukulan Menebar Budi Hari Ke empat, Ke lima, Ke enam dan Ke tujuh! Siapa adanya manusia satu ini harus diselidiki, diringkus dan dihabisi. Tapi mungkinkah dia Dewa yang turun ke bumi melakukan penyamaran?" Hantu Muka Dua memandang pada dua kakek di hadapannya lalu berkata.

"Aku melihat pertanda buruk. Sudah sebelas malam aku seolah melihat wajah-wajah aneh. Beberapa kali aku melihat gambar bunga dalam lingkaran. Sayang Lagandrung dan Lagandring sudah mampus! Kalau mereka masih hidup mungkin bisa memberi keterangan yang aku harapkan. Selama ini kabut rahasia selalu menyelubungi kehidupanku. Aku tak pernah tahu asal usulku. Aku tak pernah tahu siapa ayah siapa ibuku! Wahai!" Sambil bicara rawan seperti itu Hantu Muka Dua usap-usap bagian bawah lengan dekat ketiak kanannya di mana terdapat tanda berbentuk bunga dalam lingkaran!

"Junjungan, Raja Diraja Segala Hantu, mengapa kau bicara seolah memperlihatkan kelemahan hati kerendahan jiwa?"

Ucapan Lahidungbesar itu membuat Hantu Muka Dua seolah tersadar." Kau betul wahai Lahidungbesar. Percuma aku mengaku diri sebagai Raja Diraja Segala Hantu di Negeri Latanahsilam, percuma aku membangun Istana Kebahagiaan sebagai pusat kekuasaan Kerajaan baru! Percuma aku dijuluki Hantu Segala Keji, Segala Tipu, Segala Nafsu! Ha... ha... ha!"

Sebelum kita lanjutkan apa yang akan dilakukan Hantu Muka Dua terhadap Peri Angsa Putih yang kena ditawan oleh Lahidungbesar, dalam Bab berikutnya kita ikuti dulu serangkaian kejadian di masa puluhan tahun silam.

* *6LELAKI yang membekal parang terbuat dari batu biru di tangan kanannya itu hentikan lari di ujung jurang. Memandang ke bawah sesaat dia jadi tercekat.

"Jurang batu.... Dalam sekali! Celaka! Tak mungkin kuterjuni...." Dia silangkan parang di depan dada lalu berpaling ke belakang. Belum selesai dia membuat gerakan tiba-tiba sesosok tubuh melayang di udara, membuat gerakan berjumpalitan dua kali. Di lain kejap sosok ini sudah tegak di hadapannya dengan muka menyeringai garang dan membersitkan nafas menyapu panas sampai ke permukaan wajahnya.

"Latumpangan! Tempat larimu sudah putus! Kau hanya punya tiga pilihan! Mampus bunuh diri menerjuni jurang! Mati di tanganku atau menyerahkan Jimat Hati Dewa padaku!"

‘Orang yang memegang parang biru mendengus lalu meludah ke tanah. "Selama Parang Langit Biru masih berada di tanganku, jangan kau berani mencari mati wahai Lasedayu!"

Lasedayu si muka garang tertawa bergelak. "Parang Langit Biru hanya ciptaan alam. Apakah sanggup melawan diriku Wakil Para Dewa di Negeri Latanahsilam ini?!"

"Kau bermimpi atau mungkin juga mengigau! Sudah sejak dua puluh tahun lalu kau tidak lagi menjadi Wakil Para Dewa di muka bumi ini! Hak Perwakilanmu telah dicabut karena Para Dewa meragukan kesetiaan dan kelurusan hatimu! Buktinya saat ini kau sengaja mengejar aku, memaksa untuk mendapatkan benda yang bukan hakmu!"

"Aku memaksa, kau tidak mau menyerahkan! Wahai! Sungguh buruk bakai jadinya bagi dirimu wahai Latumpangan!" ujar Lasedayu pula.

"Terserah padamu! Aku sudah siap berjibaku sampai tetes darah terakhir, sampai hembusan nafas penghabisan!" Latumpangan geser dua kakinya memasang kuda-kuda kokoh.

"Sayang sekali otakmu dirasuk seribu kebodohan dan hatimu dihantui seribu kepicikan! Kau memilih mati dari pada menyerahkan benda yang kuminta. Tapi aku masih memberi kesempatan sekali lagi agar kau mau berpikir. Kau mau menyerahkan Jimat Hati Dewa itu padaku agar bisa selamat?"

Latumpangan menggeleng. "Jimat ini adalah titipan Dewa. Aku tidak akan menyerahkan pada siapapun!"

"Wahai! Benar-benar sangat disayangkan!" Lasedayu gerakkan sepuluh jari tangan kanannya. Jari-jari tangan itu keluarkan suara berkeretekan. Bersamaan dengan itu mulutnya membentuk seringai buruk.

"Serahkan Jimat Hati Dewa!" Lasedayu membentak sambil ulurkan tangan kanannya. Meminta! Suara bentakannya menggelegar sampai ke dalam jurang. Sepasang matanya membelalang menyeramkan.

Namun Latumpangan tidak takut. "Bukan jimat yang akan kau dapat! Makan mata parangku!" Tangan kanan Latumpangan berkelebat.

"Wuuutttt!"

Sinar biru berkiblat begitu Parang Langit Biru membabat ke depan. Lasedayu cepat tarik tangannya yang diulurkan. Sambaran angin pedang terasa dingin dan membuat tubuhnya sebelah depan tergetar, me maksa kakinya bergeser lersurut setengah langkah.

Dalam hati dia berkata. "Parang Langit Biru boleh juga! Tapi persetan! Siapa takut!"

Kaki kanan Lasedayu menyapu ke depan, berusaha menendang betis kiri Latumpangan. Yang diserang membuat babatan menukik untuk menangkis sekaligus membacok kaki lawan. Namun serangan Lasedayu itu hanya tipuan belaka. Begitu sinar biru pedang bertabur ke bawah, dia hentakkan kaki kirinya. Saat itu juga tubuhnya melesat setinggi dua tombak. Sambaran parang batu lewat menderu.

Dari atas, tangan kanan Lasedayu menyambar ke arah batok kepala Latumpangan dalam kecepatan luar biasa.

"Pecah kepalamu!" teriak Lasedayu.

Latumpangan rundukkan kepalanya. Sambil selamatkan diri dia tusukkan Parang Langit Biru ke arah dada lawan yang mengambang di atasnya. Lasedayu kertakkan rahang, menggeram marah karena dia tahu bagaimanapun cepatnya hantaman tangannya ke kepala Latumpangan, ujung parang lawan akan menembus dadanya lebih dulu!

Masih melayang di udara Lasedayu pergunakan kaki kiri untuk menendang. Namun luput! Sementara itu parang biru terus menusuk ke atas! Lasedayu keluarkan teriakan keras. Bersamaan dengan itu dia membuat gerakan aneh. Tubuhnya seolah terbanting ke samping. Latumpangan percepat gerakannya menusuk,

"Rasakan!" teriaknya. Parang biru amblas ditubuh sebelah kanan Lasedayu. Ternyata hanya menusuk di celah sempit antara ketiak dan rusuk lawan! Walau selamat tapi Lasedayu tahu betul bahaya besar yang mengancamnya. Jika lawan bertindak cepat dan sigap, mata parang yang sangat tajam itu bisa merobek tembus daging dan memutus tulang-tulang iganya. Dan memang itulah sepertinya yang akan dilakukan Latumpangan. Tangan kanannya diputar demikian rupa tapi bukan untuk menyayat ke arah tubuh melainkan dibabatkan ke belakang untuk memutus lengan kanan Lasedayu!

Lasedayu yang tahu bahaya segera jatuhkan tubuhnya ke bawah. Parang lawan yang ada di ketiaknya seolah dijadikan tempat luncuran. Sebelum, bagian tajam mata parang berputar, dengan tangan kirinya Lasedayu mencekal pergelangan tangan kanan Latumpangan. Sesaat kemudian tangan kiri Lasedayu ikut meremas jari-jari lawan. Lalu "kraakkk..kraaaakkk!"

Dua kali suara patahan tulang hampir tak terdengar karena lenyap ditindih jeritan Latumpangan.

Parang Langit Biru jatuh tercampak berkerontangan di tanah yang berbatu-batu. Latumpangan sendiri tersurut beberapa langkah sambil matanya melotot memandangi tangan kirinya yang memegangi lengan dan jari-jari tangan kanannya yang telah hancur. "Remasan Sepuluh Jari Hantu...!" desis Latumpangan menyebut ilmu lawan yang menciderainya. Tiba-tiba seperti kalap Latumpangan berteriak keras. Lalu tangan kirinya laksana kilat menghantam berulang kali ke depan.

"Bukkk! Bukkkk! Bukkkk!"

Tubuh Lasedayu terangkat sampai tiga kali berturutturut begitu jotosan Latumpangan mendarat susul menyusul di dadanya.

"Puaskan hatimu Latumpangan! Pukul terus sesukamu!" kata Lasedayu sambil menyeringai buruk.

"Bukkk! Bukkk! Bukkkk!"

Kembali Latumpangan menghujani tubuh lawan dengan pukulan-pukulan keras. Kembali sosok Lasedayu terangkat ke udara bahkan kini dari mulutnya kelihatan ada darah mengucur. Tapi dia masih saja menyeringai.

"Cukup Latumpangan!" Tiba-tiba Lasedayu berteriak.

Tangannya kiri kanan berkelebat ke sekujurtubuh lawan, mulai dari kepala sampai ke dada.

"Kraaakk...kraaakkk... kraaakk!" Suara patah dan hancurnya tulang terdengar mengerikan berulang kali. Remasan Sepuluh Jari Hantu! Bertubi-tubi menghantam Latumpangan!

Sosok Latumpangan terhuyung-huyung tak karuan dan dari mulutnya keluar jerit kesakitan tak berkeputusan. Tulang batok kepalanya amblas. Tulang kening dan tulang pipinya sebelah kanan hancur. Darah berselemak menutupi wajahnya. Itu masih ditambah lagi dengan tulang bahu kiri kanan yang remuk serta dua tulang iga melesak patah.

Lasedayu tertawa bergelak. "Aku menawarkan madu, kau lebih suka racun! Wahai! Silakan kau teguk sendiri!"

"Lasedayu keparat! Aku pasrah mati! Tapi kau juga harus ikut mampus bersamaku!" kata Latumpangan dengan suara keras namun sember bergetar. Tiba-tiba Latumpangan melompat nekad merangkul tubuh Lasedayu. Lalu dengan sekuat tenaga dia menarik Lasedayu ke tepi jurang. Niatnya rupanya adalah untuk menjatuhkan diri bersama-sama lawannya ke dalam jurang batu! Tentu saja Lasedayu tidak mau mati konyol begitu rupa.

Dengan tumit kirinya Lasedayu memijak gagang Parang Langit Biru yang tergeletak di tanah. Begitu parang melesat mental ke atas segera disambarnya dengan tangan kiri. Setelah itu terdengar jeritan Latumpangan. Matanya terpentang besar, membeliak ke udara. Rangkulannya pada tubuh Lasedayu terlepas. Sosok Latumpangan Periahan-lahan melosoh ke bawah lalu terkapar tertelentang di tanah. Parang Langit Biru miliknya menancap di tubuhnya. Menembus pinggangnya dan kiri ke kanan!

Pada saat itu di langit sebelah utara mendadak menggelegar suara guntur dibarengi kilatan cahaya terang. Sesaat Lasedayu terkesiap. "Aneh, langit cerah.

Tak ada mendung apa lagi hujan. Mengapa ada gelegar guntur dan sambaran petir...." Membatin Lasedayu.

Namun dia tidak mau memikirkan keanehan itu lebih lanjut. Dengan cepat dia jongkok di samping mayat Latumpangan, menggeledah ke balik pakaian orang itu. Di pinggang pakaian Latumpangan yang terbuat dari kulit kayu sangat tebal dia menemukan benda yang dicarinya, sebuah kantong sebesar kepalan tangan, terbuat dari sejenis daun yang sangat liat.

Lasedayu pergunakan kuku-kuku jarinya yang panjang hitam untuk merobek kantong daun. Dari dalam kantong itu muncul sebuah benda berbentuk segumpal daging berwarna kemerah-merahan. Gumpalan daging ini bergerak berdenyut-denyut seolah hidup!

"Jimat Hati Dewa..." desis Lasedayu dengan suara serta tangan bergetar. Seringai menyeruak di mulutnya. Namun laksana direnggut setan seringai itu lenyap ketika tiba-tiba dari langit sebelah utara dimana tadi menggelegar suara guntur disertai berkiblatnya petir, melesat sebuah benda berwarna merah. Belum habis kejut Lasedayu tahu-tahu seorang kakek yang kulit muka dan tubuhnya berwarna merah telah tegak di hadapannya. Kakek ini memegang sebatang tongkat aneh yang mulai dari pangkal sampai ke ujungnya dikobari nyala api berwarna merah. Sepasang mata si kakek yang juga seolah dikobari api menatap tajam pada Lasedayu. Begitu dia membuka mulut dan bicara, lidahnya tampak seperti dibuat dari api.

"Lasedayu, lekas kau serahkan Jimat Hati Dewa Itu padaku!"

"Wahai! Kau siapa?" tanya Lasedayu. Suaranya keras dan dalam hati dia menduga-duga siapa adanya makhluk aneh di hadapannya itu.



7KOBARAN api di dua mata dan lidah si kakek yang muncul dari atas langit menjilat ke depan.

"Aku Wakil atau Utusan Para Dewa! Datang diperintahkan untuk mengambil Jimat Hati Dewa yang kini kau pegang itu...." Si kakek ulurkan tangan kirinya.

Ternyata telapak dan jari-jari tangannya itu juga dijilati api!

Terkejutlah Lasedayu mendengar ucapan si kakek.

"Tunggu dulu! Aku juga Wakil Para Dewa di Negeri Latanahsilam ini! Antara kita berada dalam kedudukan sama! Jangan kau berani memerintah diriku!"

"Lasedayu, kedudukanmu sebagai Wakil Para Dewa, seperti dikatakan Latumpangan telah dicabut sejak dua puluh tahun lalu. Para Dewa sudarj banyak murka padamu sejak lama. Hari ini kau membunuh Latumpangan dan punya niat jahat hendak menguasai Jimat Hati Dewa yang bukan menjadi hakmu! Aku tidak sudi bicara berpanjang-panjang. Serahkan Jimat itu! Sekarang!"

"Kau tidak sudi bicara berpanjang-panjang. Aku tidak sudi menyerahkan benda yang kau minta!"

"Lasedayu, kau berani menantang Wakil Para Dewa?" suara si kakek bernada mengancam.

"Aku mau tahu kau hendak berbuat apa padaku!" menantang Lasedayu.

Si kakek angkat tangan kirinya yang memegang tongkat.

"Wusssss!"

Tongkat di tangan si kakek berubah menjadi sebuah cambuk apL "Kau berani membangkang, kau akan menerima azab!" Si kakek yang mengaku Wakil Para Dewa kembali gerakkan tangan kirinya.

"Wusss!"

Petir api menggelegar dahsyat mengerikan, berputar di udara lalu menghantam ke arah kaki orang di hadapannya. Lasedayu berteriak kaget dan cepat melompat. Kaki celana kulit kayu sebelah kiri hangus. Daging kakinya tampak terkelupas merah.

"Jahanam! Berani kau menciderai diriku!" teriak Lasedayu. Dia hantamkan tangan kanannya. Lepaskan satu pukulan tangan kosong. Si kakek cepat menyingkir ketika melihat satu sinar kuning berkiblat menyambarnya. Sambil mengelak dia gerakan cambuk apinya.

"Wusss! Taaarrrrr!"

Nyala api panjang menembus kiblatan cahaya kuning. Saat itu juga cahaya kuning bertabur berantakan dengan mengeluarkan suara letusan keras!

Tangan kiri si kakek bergetar keras. Cambuk api yang dipegangnya mental ke udara. Dia cepat menguasai senjata itu sementara Lasedayu terjajar sampai tiga langkah. Mukanya pucat. Tangan kanannya seperti kaku. "Kakek itu mampu menghancurkan Pukulan Tangan Dewa Warna Kuning...." Diam-diam Lasedayu menjadi kecut. "Akan kucoba dengan Pukulan Tangan Dewa Warna Biru yang paling hebat!"

Lasedayu lalu kerahkan tenaga dalam ke tangan kanan dan tanpa menunggu lebih lama dia segera menghantam. Si kakek rupanya sudah tahu apa yang hendak dilakukan Lasedayu. Sambil menekuk lutut dan miringkan tubuh ke kiri, dia putar cambuk apinya begitu melihat cahaya biru menderu keluar dari tangan kanan lawan.

"Wussss!" Cambuk api menderu di udara.

"Taarrr! Byaaaarrr!"

Lasedayu berseru kaget. Cepat dia gulingkan diri di tanah ketika melihat cambuk api di tangan lawan menghancurkan Pukulan Dewa Warna Biru yang tadi dilepaskan.

"Taarrr! Taaarrr! Taaarrr!"

Cambuk api mengejar dan menghantam ke arah Lasedayu tiga kali berturut-turut. Dua batu besar yang terkena hantaman cambuk api hancur berentakan dan hancurannya berubah menjadi keping-keping merah membara!

Dua kali Lasedayu berhasil lolos dari hantaman cambuk api, namun kali yang ke tiga dia tak mampu lolos. Cambuk itu mendarat melintang di permukaan dadanya, mulai dari bahu kiri bersilang ke pinggang kanan. Tubuhnya terpental ke udara sampai dua tombak. Lasedayu terbanting dan terkapar di tanah. Di sampingnya tanah yang tadi terkena hantaman cambuk kelihatan terbelah dalam dan hangus.

Kakek Wakil Para Dewa sesaat tatap sosok Lasedayu yang tak berkutik itu. Dia mendengus dan berkata.

"Kematian semudah dan secepat membalik tangan. Mengapa manusia masih memPeriihatkan ketinggian hati yang sebenarnya hanyalah satu kebodohan belaka?!"

Kakek ini gerakkan tangan kirinya. Cambukapinya kembali berubah ke bentuk semula yakni sebatang tongkat berapi. Lalu dengan mulut komat kamit dia melangkah mendekati sosok tak bergerak Lasedayu. Ketika dia membungkuk hendak mengambil Jimat Hati Dewa yang masih berada dalam genggaman tangan kiri Lasedayu tiba-tiba tidak disangka-sangka kaki kanan orang yang diduga telah menemui ajal itu melesat ke arah dada si kakek.

"Bukkkk!"

Sang Wakil Para Dewa menjerit keras. Tubuhnya terpental tiga tombak, terbanting jatuh punggung pada sebuah batu besar dan dari mulutnya menyembur darah kental!

"Wahai, mengapa aku bertindak lengah! Belum mati jahanam itu rupanya!" keluh si kakek. Memandang ke depan dilihatnya Lasedayu terbungkuk-bungkuk berusaha bangkit berdiri. Walau dadanya serasa hancur si kakek cepat bangun. Tangan kirinya digerakkan. Tongkat api kembali berubah menjadi cambuk menyala.

"Kali ini harus kuputus lehernya! Harus kutanggalkan kepalanya!" Si kakek berkomat kamit sambil putar pergelangan tangan kirinya. Cambuk api bergetar, meliuk-liuk laksana sosok ular hidup. Begitu dia menyentak maka cambuk api itu melesat ganas ke udara, mengeluarkan suara menggidikkan disertai nyala api seperti hendak membakar langit!

Di depan sana, ketika cambuk api membuat dua kali putaran di udara dengan segala kedahsyatannya, Lasedayu tiba-tiba menggerakkan tangan kirinya. Jimat Hati Dewa yang berupa gumpalan daging merah hidup itu dimasukkannya ke dalam mulutnya lalu dikunyahnya mentah-mentah!

Kakek Wakil Para Dewa berteriak kaget.

"Tidak! Jangan lakukan itu!"

Seperti orang kesurupan Lasedayu mempercepat kunyahannya. Daging yang dikunyah keluarkan darah merah kehitaman dan mengucur dari dalam mulutnya. Dari tenggorokannya ada suara seperti srigala menggeram tak berkeputusan. Sepasang matanya menatap membeliak dan garang pada si kakek.

"Jangan! Lasedayu! Jangan kau telan benda dalam mulutmu! Semburkan keluar!"

Lasedayu tidak peduli. Kunyahannya semakin cepat. Darah yang keluar dari mulutnya bertambah banyak. Lalu gluk... gluk... gluk! Haaaaah! Jimat Hati Dewa ditelannya, amblas ke dalam perut lewat tenggorokannya. Begitu sang jimat berada dalam tubuh Lasedayu, terjadilah satu hal luar biasa. Justru inilah yang sejak tadi ditakutkan si kakek.

"Celaka wahai Para Dewa! Celakalah Negeri ini! Ampuni diriku! Aku tak sanggup mencegah! Jimat itu berada dalam perutnya. Hawa sakti telah mengalir dan bersatu dalam darahnya!" Wakil Para Dewa menjerit sambil jatuhkan diri.

Sosok Lasedayu tampak bergetar hebat. Lalu dari dalam tubuhnya seolah ada satu cahaya biru membersit Ketika cahaya itu lenyap, luka menganga yang melintang mengerikan di dada Lasedayu secara aneh mendadak sontak lenyap tak berbekas. Di saat yang sama lelaki ini merasakan tubuhnya menjadi sangat ringan. Di dalam badannya ada satu kekuatan sangat dahsyat yang siap meledak setiap saat! Ketika dia menggeserkan dua kakinya dan tak sengaja mengalirkan tenaga dalam ke kaki itu, tanah berbatu yang dipijaknya amblas sampai satu jengkal dan keluarkan kepulan asap. Dari mulut yang bercelemongan darah membersit suara menggereng. Matanya menyorot ganas memperhatikan cambuk api yang menderu dahsyat di udara lalu menyambar ke arah lehernya!

Jika saja Lasedayu tidak menelan Jimat Hati Dewa, pada saat cambuk api melilit dan disentakkan dari lehernya, pastilah leher itu akan hancur putus dan kepalanya akan menggelinding di tanah! Namun yang terjadi justru sebaliknya. Cambuk api keluarkan suara "dess... desss... desss" berulang kali disertai kepulan asap seolah diguyur air. Lalu kelihatan bagaimana cambuk itu terputus-putus menjadi beberapa bagian. Begitu si kakek melompat kaget dia lihat dan dapatkan cambuk apinya telah berubah kembali menjadi se batang tongkat yang kini panjangnya hanya tinggal dua jengkal!

"Kakek yang mengaku Wakil Para Dewa! Takdir telah berbalik menentukan lain! Hari ini kau terpaksa serahkan nyawamu padaku!" Lasedayu maju mendekat sambil tertawa bergelak.

"Kau akan terkutuk seumur-umur jika berani membunuhku!" kata si kakek seraya melemparkan potongan tongkatnya ke arah Lasedayu. Benda berapi ini melesat menyambar ke tenggorokan Lasedayu. Sekali Lasedayu mengangkat tangan kirinya, tongkat itu berhasil ditangkapnya lalu diremasnya hingga hancur.

Jarak antara ke dua orang itu bertambah dekat. Hanya terpisah satu tombak tiba-tiba Lasedayu pukulkan tangan kanan. Serangkum angin yang memancarkan cahaya kuning berkiblat ganas, menyambar ke arah si kakek! Pukulan Tangan Dewa Warna Kuning sebelumnya pernah dipergunakan Lasedayu untuk menyerang lawannya itu dan amblas tak berdaya ditangkis cambuk api milik si kakek. Namun kali ini si kakek tidak lagi memiliki tongkat ajaib atau cambuk saktinya. Selain itu Jimat Hati Dewa yang kini telah menyatu dalam tubuh Lasedayu dan menjadi satu kekuatan dahsyat membuat pukulan itu jadi berlipat ganda kehebatannya. Begitu cahaya kuning menghantam langsung si kakek terpental. Masih melayang di udara tubuh sebelah kanannya yang terkena sambaran pukulan hancur di bagian bahu sampai ke sisi sebelah kanan. Sisi kanan si kakek kini hanya tinggal satu gerakan atau lobang besar. Tulangtulang iganya serta sebagian isi dada dan perutnya bisa terlihat dengan jelas. Darah mengucur menggidikkan. Tapi aneh dan luar biasanya si kakek Wakil Para Dewa itu sama sekali tidak menemui ajal. Sesaat dia masih berusaha berdiri. Dengan langkah sempoyongan dia mendekati mayat Latumpangan lalu mencabut Pedang Langit Biru yang menembus tubuh orang itu. Semula Lasedayu mengira si kakek akan pergunakan senjata itu untuk menyerangnya. Ternyata kemudian Periahan-lahan tubuhnya yang kini nyaris tinggal separoh itu melayang ke atas.

Lasedayu berusaha mengejar sambil lepaskan satu pukulan lagi yakni Pukulan Tangan Dewa Warna Biru. Seperti diketahui pukulan ini jauh lebih dahsyat dari pukulan Tangan Dewa Warna Kuning. Akan tetapi saat itu sosok si kakek sudah berada jauh di luar daya capai pukulan. Namun Lasedayu sudah cukup puas. Dia bukan saja telah menciderai lawan, yang lebih penting saat itu Jimat Hati Dewa telah mendarah daging dalam tubuhnya hingga kini dia menjadi seorang sakti mandraguna luar dalam. Sebelum berkelebat menghilang ke ufuk langit arah utara si kakek di atas sana keluarkan ucapan yang ditujukan pada Lasedayu.

"Wahai anak manusia berhati jahat. Apa yang kau lakukan hari ini terhadapku kelak akan membuat jatuhnya kutukan Para Dewa terhadapmu! Dua pertiga dari hidupmu akan kau jalani dalam kesengsaraan. Aku akan meminta kepada Para Dewa agar hidup keluargamu morat marit dalam sengsara. Jika kelak kau punya anak maka kau tidak akan memiliki mereka. Si bungsu yang paling kau sayangi justru akan menjadi musuhmu paling besar di alam ini!"

Kakek gila! Wahai! Kau boleh mengoceh meminta kutukan Dewa. Siapa takut!" Lasedayu lepaskan pukulan Tangan Dewa Warna Biru. Namun tidak sanggup mencapai sasaran sementara si kakek yang tubuhnya nyaris tinggal sebelah sudah melesat lebih jauh ke atas dan akhirnya lenyap di langit sebelah utara.



8BEBERAPA belas tahun setelah kejadian di tepi jurang... "Wahai istriku Luhpingitan, aku akan meninggalkanmu dan anak-anak. Aku pergi tak akan lama, hanya sekitar sepuluh tahunan. Jika aku kembali maka aku akan membawa kalian ke Lembah Bulan Sabit. Di situ aku sudah membangun satu rumah besar untuk tempat tinggal kita yang baru...."

Perempuan bernama Luhpingitan memandang sedih pada suaminya. Walau masa sepuluh tahun di Negeri Latanahsilam sama dengan setahun di tanah Jawa namun seolah tak sanggup dia menatap mata sang suami, perempuan itu alihkan pandangannya ke arah tempat tidur besar terbuat dari batu berlapiskan jerami kering. Di atas tempat tidur itu terbaring empat anak laki-laki masing-masing berusia setahun, dua tahun, tiga tahun dan empat tahun sesuai ukuran usia di Negeri Latanahsilam yang tidak sama dengan negeri lainnya pada masa itu. Ke empat anak itu tengah tertidur nyenyak dalam dinginnya udara menjelang pagi.

"Lasedayu wahai suamiku. Sebelum kau pergi, apakah kau tidak akan memberi nama dulu pada ke empat anak kita?"

Mendengar pertanyaan istrinya Itu Lasedayu tersenyum.

Sambil memegang bahu Luhpingitan dia menjawab. "Istriku, jangan kau merasa sedih. Aku memang sudah menyiapkan masing-masing sebuah nama untuk mereka. Nama-nama itu akan kusebut dan beritahu padamu kelak jika aku kembali sepuluh tahun mendatang...."

"Suamiku, sebenarnya sejak beberapa waktu belakangan ini muncul banyak kekhawatiran dalam diriku. Aku sering mimpi buruk tentang dirimu, tentang ke empat anak kita. Mereka...."

"Luhpingitan, orang di Negeri Latanahsilam ini menyebut mimpi adalah rampai bunganya tidur. Buruk atau baiknya yang akan terjadi adalah suratan Para Dewa di atas langit...."

"Justru aku juga telah beberapa kali kedatangan Dewa dalam mimpiku wahai Lasedayu. Sepertinya ada yang tidak disenangi Para Dewa terhadap kita sekeluarga...."

Lasedayu tersenyum namun diam-diam dia teringat pada kejadian belasan tahun silam ketika dia berkelahi dengan Wakil Para Dewa dan berhasil menciderai kakek itu. Walau hatinya mendadak tidak enak, pada istrinya Lasedayu tetap saja berkata lembut dan menghibur.

"Sudahlah Luhpingitan, aku akan berangkat sekarang. Tenangkan hatimu. Lihat anak-anak kita. Mereka tidur nyenyak, mereka gemuk-gemuk semua tanda sehat. Dan lihat tanda bunga dalam lingkaran yang ada di bawah lengan kanan dekat ketiak mereka. Itu adalah tanda dari Para Dewa bahwa kelak mereka akan menjadi orang-orang gagah di Negeri ini. Empat putera Lasedayu dari istri bernama Luhpingitan akan menjadi orang-orang hebat tanpa tandingan. Wahai, aku pergi, jaga mereka baik-baik...."

"Lasedayu..." kata Luhpingitan sambil memegang tangan suaminya. Matanya entah mengapa mendadak saja berkaca-kaca begitu menatap ke empat anaknya. "Anak-anak itu. Aku...."

Lasedayu merangkul istrinya lalu berbisik. "Jika kau masih khawatir aku akan usahakan mempersingkat perjalanan. Aku berjanji akan kembali dalam waktu lima tahun...."

Luhpingitan sandarkan kepalanya ke dada Lasedayu.

"Kalau begitu janjimu alangkah gembiranya hatiku. Pergilah wahai suamiku. Jaga dirimu baikbaik...."

Di malam dingin menjelang pagi Lasedayutinggalkan anak istrinya di tempat kediaman mereka yang terletak di satu kaki bukit dekat aliran sebuah sungai besar.

Lasedayu sampai di tepi sungai pada saat langit di ufuk timur kelihatan terang pertanda sang surya segera akan muncul menerangi jagat Dia menarik nafas dalam-dalam. Hawa segar memenuhi rongga dadanya. Belum sempat lelaki ini menghembuskan nafas dari dadanya tiba-tiba telinganya menangkap suara menggemuruh dari arah hulu sungai. Lalu mendadak langit yang tadi mulai terang kini kembali menghitam. Dua kali kilat menyambar disusul oleh gelegar guruh yang menggetarkan tanah!

"Wahai, Ini satu pertanda alam yang tidak baik. Apa yang bakal terjadi?!" membatin Lasedayu. Hatinya serta merta terasa tidak enak. Suara menggemuruh semakin keras dan dahsyat. "Sepertinya ada air bah datang melanda dari hulu!" Baru saja Lasedayu berkata begitu angin keras bertiup. Tubuhnya sampai terpental dua tombak. Dengan cepat lelaki ini menggapai satu pohon besar tapi "kraakk!" Pohon itu tumbang dihantam angin. Langit tambah kelam. Gelegar guruh tiada henti. Hujan lebat mendadak turun. Air sungai bergerak aneh. Lalu dari arah hulu tiba-tiba menderu gelombang air bah yang bukan olah-olah dahysatnya. Jangankan semak belukar, dan pepohonan. Batu-batu besar yang ada di sepanjang tepi sungai porak poranda dihantam air.

"Banjir tiga ratus tahun!" seru Lasedayu menyebut air bah yang biasanya terjadi sekali dalam tiga ratus tahun. Wajahnya tegang sekali. Dia memandang ke arah barat, ke jurusan tempat kediamannya. "Anak istriku! Aku harus kembali!"

Laksana terbang Lasedayu melompat ke sebuah batu besar yang bergulingan dihantam air bah. Dari atas batu ini dia melayang dan injakkan kaki di atas tumbangan pohon besar. Sesaat dia bingung. Kemana lagi dia hendak melompat. Kemana mata memandang hanya gelombang air yang terlihat. Tiba-tiba satu putaran air menghantam batang kayu di atas mana Lasedayu berada.

"Celaka!" seru Lasedayu. Pada saat batang kayu yang dipijaknya mencelat mental dia cepat melompat. Di udara dia jungkir balik satu kali lalu sebelum batang kayu tadi tenggelam di dalam air dengan cepat dia menggapai, memegang batang kayu itu erat-erat. Malangnya batang kayu ini meluncur deras ke arah sebuah batu besar. Benturan tak dapat dihindarkan. Lasedayu menjerit keras. Tulang punggungnya terasa seperti hancur luluh ketika tubuhnya sebelah belakang beradu keras dengan batu besar. Lelaki ini langsung jatuh pingsan namun dua tangannya masih tetap memeluk erat batang kayu yang merupakan satu-satunya benda penyelamat nyawanya!

****LASEDAYU duduk terbungkuk-bungkuk di tanah yang becek. Sekujur tubuhnya terutama di sebelah belakang mendenyut sakit Mukanya pucat dan pandangan matanya sayu. Kalau saja dia bisa meminta rasanya saat itu dia lebih suka memilih mati. Periahanlahan dia turunkan tangan kanan yang sejak tadi dipergunakan untuk menopang keningnya. Memandang ke depan dia hanya melihat tanah rata yang disana-sini masih digenangi air. Lasedayu sampai di tempat itu malam tadi. Dan kini matahari menjelang tenggelam. Berarti hampirsatu hari penuhdia terduduk di situ, didera oleh rasa sakit di sekujur tubuh serta perasaan hancur di dalam hati. Otaknya seperti mau gila menghadapi kenyataan ini.

"Rata semua.... Rumahku, lenyap tak berbekas. Para Dewa.... Wahai tunjukkan padaku dimana mereka berada. Mengapa kau jatuhkan cobaan maha berat ini padaku! Anak istriku... Luhpingitan, anak-anakku....Apakah mereka masih hidup? Dimana mereka sekarang?"

Tenggorokan Lasedayu turun naik. Dadanya terasa sesak. Matanya berkaca-kaca. Suara isakannya tak bisa ditahan. Isakan ini kemudian berubah menjadi ratap tangis memilukan. "Wahai.... Apa kesalahanku. Apa kesalahan anak istriku... Luhpingitan, anak-anakku! Dimana kalian?!" Lasedayu kembali letakkan tangan kanannya di atas kening. "Kalau saja aku tidak pergi mungkin aku masih bisa menolong mereka...."

Lasedayu kembali meratap. Dia tundukkan kepalanya hampir menyentuh tanah yang becek. Rasanya ingin dia menghunjamkan dirinya ke dalam tanah dan mati terkubur di tempat bekas rumahnya itu.

Lasedayu menarik nafas dalam. Pandangannya jauh ke depan tapi kosong. Dia ingat sesuatu! Tiba-tiba pelipisnya bergerak-gerak. Rahangnya menggembung dan pandangan matanya menjadi beringas. Dua tangannya dikepalkan di atas paha. Dari mulutnya keluar suara memaki.

"Jahanam! Ini pasti akibat ulah ucapan keji Wakil Para Dewa itu!" Seolah terngiang, Lasedayu mendengar kembali ucapan Wakil Para Dewa di masa kejadian belasan tahun silam.

"Wahai anak manusia berhati jahat. Apa yang kau lakukan hari ini terhadapku kelak akan membuat jatuhnya kutukan Para Dewa terhadapmu! Dua pertiga dari hidupmu akan kau jalani dalam kesengsaraan. Aku akan memohon pada Para Dewa agar hidup keluargamu morat-marit dalam sengsara. Jika kelak kau punya anak maka kau tidak akan memiliki mereka. Si bungsu yang paling kau sayangi justru akan menjadi musuhmu paling besar di alam ini!"

Sosok Lasedayu bergeletar. "Ucapan keji itu agaknya telah menjadi kenyataan..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 172.68.65.213
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia