Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : PETUALANGAN WIRO DI LATANAHSILAM

DI BALIK curahan air terjun Air Lajatuh tampak dua sosok mendekam tak bergerak. Mereka telah berada di tempat itu sebelum sang surya muncul menerangi bumi Latanahsilam. Dari sikap keduanya dapat diduga kalau mereka tengah menunggu sesuatu. Di langit awan pagi berarak biru. Dari arah timur serombongan burung melayang ke jurusan barat. Sosok di sebelah kanan mengusap wajahnya. Orang ini bertubuh besar kekar. Di pertengahan keningnya menempel sebuah benda menyerupai kaca sebesar kuku ibu jari kaki.

"Lagandrung, sejak dini hari kita berada di sini. Saat ini matahari sudah mulai tinggi. Orang yang kita tunggu belum juga muncul. Apa kau yakin dia akan datang ke sini?"

"Wahai adikku Lagandring! Jangan kau ragukan apa yang kuketahui dan kukerjakan. Sejak puluhan tahun, setiap pertengahan bulan ganjil Hantu Tangan Empat selalu datang ke tempat ini untuk membersihkan diri, berlangir bersiram air bunga. Sabarkan hatimu, kita tunggu saja. Dia pasti datang." menjawab orang di samping kiri Lagandring. Muka dan sosok tubuhnya sangat menyerupai Lagandrung karena mereka berdua memang adalah saudara kembar. Satu-satunya tanda yang membedakan sang kakak dari adiknya ialah kalau di kening Lagandring menempel kaca berwarna merah maka di kening Lagandrung melekat kaca berwarna putih.

"Yang membuat aku tidak sabar adalah hadiah yang menunggu kita di Istana Kebahagiaan. Si Luhsariam itu! Wahai! Wajahnya memang tidak seberapa cantik. Tapi belum pernah aku melihat gadis memiliki tubuh padat dan kencang seperti dia. Sewaktu penguasa Istana Kebahagiaan menyuruhku mengintai gadis itu ketika dia sedang mandi, rasanya mau kuterkam dia saat itu juga!"

Lagandrung tertawa mengekeh mendengar kata-kata adiknya itu. "Kalau urusan kita selesai dan kita membawa kepala orang itu ke hadapan penguasa Istana Kebahagiaan, jangankan satu Luhsariam, sepuluh gadis seperti dia bakal bisa kau dapatkan! Belakangan ini sang penguasa banyak gembiranya dan murah hati. Sebelum kita pergi aku sempat melihat sekitar selusin perempuan cantik, kebanyakan masih gadis-gadis diturunkan dari sebuah kereta besar di pintu gerbang Istana..."

Lagandring menyeringai dan basahi bibirnya dengan ujung lidah. "Nasib kita memang sedang baik. Diangkat penguasa Istana Kebahagiaan menjadi orang-orang kepercayaannya. Aku..."

Ucapan Lagandring terputus ketika dia melihat kakaknya membuat isyarat dengan gerakan tangan kanan. "Aku mendengar suara sesuatu..."

Lagandring pasang telinganya. Matanya menatap menembus curahan air terjun. "Aku belum melihat apaapa. Tapi telingaku memang menangkap sesuatu. Suara orang bersiul-siul. Agaknya orang itu bersiul sambil bergerak menuju ke arah air terjun ini. Wahai! Apakah orang yang kita tunggu punya kebiasaan bersiul-siul seperti itu?"

Lagandrung pasang telinganya baik-baik lalu gelengkan kepala. "Siulan itu bukan siulan biasa..."

"Membawakan nyanyian tidak karuan nada iramanya," kata Lagandring.

"Bukan itu yang aku maksudkan. Siulan itu mengandung tenaga dalam tinggi. Apa kau tidak merasakan gendang-gendang telingamu bergetar dan semilir angin seperti berubah arah?"

"Kau benar kakakku. Telingaku mulai terasa bergetar. Malah ada rasa sakit..." kata Lagandring pula lalu kembali dia memandang ke depan menembus curahan air terjun Air Lajatuh.

"Siapapun orangnya, dia bukan orang yang kita tunggu!" berucap Lagandrung.

"Lihat! Ada orang berkelebat di atas batu sana!"

Lagandring berseru sambil menunjuk ke arah deretan batubatu yang mengelilingi telaga besar di depan air terjun. Sang kakak juga sudah melihat sosok orang yang melayang dan tegak di atas batu. Orang itu berdiri sambil bertolak pinggang. Dia memandang berkeliling sembari bersiul-siul. Rambutnya yang gondrong melambai-lambai tertiup angin.

"Apa kataku!" ujar Lagandrung. "Yang datang memang bukan orang yang kita tunggu. Orang itu bukan Hantu Tangan Empat!"

"Mungkin dia sengaja muncul dengan merubah wajah?" ujar Lagandring.

"Aku tahu wajah asli Hantu Tangan Empat. Menurut penguasa Istana Kebahagiaan, Hantu Tangan Empat memang bisa merubah wajah, tapi jelas bukan wajah seperti orang yang berdiri di atas batu itu. Orang itu bertubuh kekar. Masih muda dan berambut gondrong. Kau lihat sikapnya yang aneh. Sambil bersiul dia cengar-cengir dan sesekali menggaruk kepala..."

"Cuma seorang pemuda tolol. Mengapa ambil peduli!" kata Lagandring.

"Kehadiran pemuda itu bisa merusak urusan kita! Adikku Lagandring lekas kau usir pemuda itu dari tempat ini!"

Walau agak malas-malasan tapi Lagandring lakukan juga perintah kakaknya itu. Sekali lompat saja dia menembus air terjun. Demikian cepat gerakannya hingga dia tidak sampai basah kuyup oleh jatuhan air. Sesaat kemudian dia sudah berada empat langkah di hadapan pemuda berambut gondrong. Belum sempat membentak, pemuda di hadapan Lagandring malah menegur lebih dulu.

"Astaga! Kukira tidak ada orang di sekitar sini. Sahabat yang jidatnya ada kaca warna merah, apakah kau penghuni di kawasan air terjun ini?"

"Pertama!" Lagandring membentak yang membuat pemuda berambut gondrong pencongkan mulut keheranan.

Dalam hati Wiro memaki. "Sialan! Apa pertama yang dimaksudkan makhluk berkaca di jidatnya ini!"

"Pertama! Kita tidak bersahabat...!"

"Oh, begitu?! Tidak bersahabat boleh-boleh saja. Aku tidak rugi, kau juga mungkin tidak untung!"

"Kedua!"

"Kedua! Huh...! Apa yang kedua?!" si gondrong kembali pencongkan mulutnya dan garuk-garuk kepala.

"Kedua! Lekas tinggalkan tempat ini!"

"Walah! Aku baru saja sampai di sini! Sudah disuruh pergi! Apa-apaan ini! Memangnya tempat ini termasuk telaga dan air terjun itu milikmu?"

"Aku menghitung sampai tiga! Jika pada hitungan ke tiga kau tidak angkat kaki berarti kau minta mati!" hardik Lagandring.

Pemuda berambut gondrong tertawa gelak-gelak. "Kau jago berhitung rupanya! Coba ini berapa!" Si gondrong lalu acungkan satu jari tangan kanannya.

"Satu!" teriak Lagandring. Tentu saja dia berteriak bukan menyahuti pertanyaan si pemuda tapi sebagai memberi tanda bahwa dia sudah mulai dengan hitungan pertama.

"Pintar!" memuji pemuda di hadapan Lagandring sambil senyum-senyum. "Sekarang ini berapa!" Lalu pemuda itu acungkan dua jari tangan kanan.

"Dua!" berseru Lagandring. Mukanya mulai kaku mengetam. Kaca merah di keningnya memancarkan sinar aneh.

"Hebat!" seru pemuda gondrong. "Nah, kalau ini berapa?!" Dia kini acungkan tiga jari tangan kanan.

"Tiga!" teriak Lagandring.

Kembali si gondrong tertawa gelak-gelak sambil tepuktepuk tangan. Tapi tawanya langsung lenyap ketika dengan didahului suara menggembor marah tiba-tiba Lagandring menerjangnya dengan satu serangan dahsyat. Tangan kanan memukul ke dada, kaki kanan ikut menyusul menendang ke bawah perut. Belum lagi dua serangan itu melesat setengah jalan, anginnya saja sudah menghantam laksana dorongan dua batu besar!

Melihat datangnya dua serangan ganas itu tanpa ayal si pemuda cepat melompat ke udara. Lagandring sampai di atas batu tepat di bawah lawan yang diserang. Begitu dua serangannya gagal, dia segera menghantam ke atas. Wussss!

Angin sedahsyat topan prahara melabrak. Pemuda gondrong berseru keras. Dia berjumpalitan di udara. Lalu turun dan berusaha jejakkan dua kaki di atas batu di tepian telaga. Dia tidak menduga batu yang satu itu demikian licinnya karena terselimut lumut. Walau dia berusaha imbangi diri namun tak urung tubuhnya limbung dan mencebur masuk ke dalam air telaga. Untungnya telaga itu hanya sedalam dada. Dengan cepat si pemuda bergerak menuju tepian. Lagandring tidak memberi kesempatan. Kepalanya digoyangkan. Selarik sinar merah menyembur keluar dari kaca merah yang melekat di keningnya.

Melihat datangnya sambaran sinar merah yang pasti sangat berbahaya pemuda rambut gondrong hantamkan kaki kanannya ke dasar telaga. Tubuhnya melesat miring, jatuh tiga tombak dari tempatnya semula. Walau dia bisa menyelamatkan diri, namun saat itu terjadilah satu hal yang luar biasa. Sinar merah yang gagal menghantam si pemuda, mendarat di permukaan telaga. Air telaga serta merta berubah menjadi merah dan bergejolak mengeluarkan suara seperti mendidih. Si pemuda berteriak kaget ketika merasakan air telaga yang tadinya sejuk kini berubah panas luar biasa. Sebelum sekujur tubuhnya matang direbus, pemuda ini segera melompat ke bagian tepi telaga yang terdekat.

Lagandring tidak tinggal diam. Dia bertindak cepat. Baru saja si gondrong menjejakkan kaki di tepi telaga dengan sekujur tubuh mengepulkan asap panas, Lagandring telah berada di hadapannya. Lelaki ini goyangkan kepalanya. Dan, wussss! Kembali sinar merah melesat ganas dari kaca merah yang menempel di keningnya!

"Kurang ajar! Jahanam satu ini benar-benar tidak memberi kesempatan padaku!" memaki si gondrong. Dua lututnya ditekuk. Tenaga dalam dialirkan ke tangan kanan. Lagandring tidak sempat memperhatikan bagaimana tangan lawannya kini sebatas siku ke bawah berubah menjadi putih berkilauan laksana perak sampai ke ujungujung kuku! Lagandring baru sadar dan berteriak keras ketika melihat satu cahaya putih disertai hawa panas luar biasa berkiblat menghantam ke arahnya!

Satu letusan dahsyat menggema di tepi telaga air terjun Air Lajatuh. Tepian telaga sepanjang sepuluh tombak runtuh. Air telaga muncrat tinggi ke atas. Lagandring terpental empat tombak, jatuh terhenyak di dekat sebuah batu besar lalu muntahkan darah segar. Sebagian pakaiannya yang terbuat dari kulit kayu hangus mengepulkan asap. Tubuhnya di sisi kanan termasuk tangan kanan bergetar dan berubah kemerah-merahan seperti terpanggang. Di bagian lain pemuda berambut gondrong terguling-guling di tanah. Walau dia berhasil bangun namun nampak lututnya agak goyah dan mukanya pucat tak berdarah. Sepasang matanya memandang mendelik pada Lagandring.

"Untung tubuhku sudah berubah besar begini. Kalau masih cebol seperti dulu, bentrokan pukulan sakti tadi pasti akan membuatku konyol!" Si pemuda membatin. Dari kata-kata yang diucapkan dalam hati ini serta melihat kepada ciri-cirinya sudah bisa diduga si pemuda bukan lain adalah pendekar kita, murid Eyang Sinto Gendeng Wiro Sableng yang jalan hidupnya telah membawa dirinya terpesat ke Negeri Latanahsilam, satu negeri 1200 tahun silam.

Tiba-tiba Lagandring berdiri. Matanya menyala laksana api. Tangan kanannya bergerak mencabut kaca merah yang ada di keningnya. Mulutnya berkomat-kamit seperti membaca mantera. Kaca merah yang ada dalam genggamannya mengepulkan asap. Di saat yang sama tubuhnya berubah menjadi besar dan tinggi.

"Astaga! Dia berubah menjadi dua kali lebih besar!"

Pendekar 212 tercekat. Kalau tadi dia masih mengerahkan setengah saja dari tenaga dalamnya, kini dia alirkan seluruh hawa sakti yang ada dalam tubuhnya ke tangan kanan. "Akan kuhantam selangkangannya! Masakan tidak amblas!" kata Wiro dalam hati. Tangan kanannya segera diangkat ke atas. Ditarik ke belakang. Pada saat dia siap menghantam tiba-tiba dari balik air terjun berkelebat sesosok tubuh. Menyusul suara orang berseru.

"Lagandring! Tinggalkan pemuda itu! Orang yang kita tunggu sudah datang!"

***2LAGANDRING menyeringai buruk. "Kau masih untung anak muda! Kalau tidak ada urusan lain yang lebih penting pasti sudah kupanggang kau dengan Sinar Darah Merah!"

Wiro Sableng menyeringai lalu menjawab. "Sebenarnya kau yang lebih beruntung! Tadinya aku sudah siap merubah perabotan di bawah perutmu menjadi lontong basi dan telor rebus busuk!"

"Pemuda jahanam! Kali ini kau kulepas hidup-hidup! Tapi jika sekali lagi kau berani unjukkan diri dan bertingkah di hadapanku, wahai..., kupanggang habis tubuhmu mulai dari kepala sampai kaki!"

Lagandring batuk-batuk lalu meludah ke tanah. Ludahnya bercampur darah tanda bentrokan pukulan sakti yang sama-sama mengandung tenaga dalam tinggi tadi telah menyebabkan dirinya terluka di dalam. Kaca merah yang tadi ditanggalkannya kini dipasangnya kembali ke keningnya. Saat itu juga tubuhnya kembali menjadi sebesar dan setinggi semula.

Diam-diam Wiro Sableng menarik nafas lega juga walau sebenarnya dia tidak merasa takut untuk meneruskan pertarungan. "Ilmunya aneh. Dia bisa merubah diri menjadi dua kali lebih besar. Seperti raksasa! Melihat gelagatnya dia bukan bangsa makhluk baik-baik. Dia bicara segala macam urusan penting. Lalu siapa tadi yang berseru padanya dan melesat dari balik air terjun sana?"

Wiro ikuti kepergian Lagandring dengan pandangan mata. Ternyata orang itu berkelebat ke arah timur air terjun. Air terjun itu mengingatkan Wiro pada tempat kediaman Hantu Tangan Empat yang dulu pernah dikunjunginya bersama Peri Angsa Putih. Di situ telah menunggu seseorang yang bentuk sosok serta wajahnya sangat mirip dengan Lagandring. Kedua orang itu tampak bicara cepat lalu menyelinap ke balik sebuah batu besar di belakang batang kayu yang tumbuh miring di tepi telaga.

"Agaknya akan terjadi sesuatu di tempat ini. Sementara aku menunggu teman-teman, tak ada salahnya mencari tahu apa yang hendak dikerjakan dua orang itu. Mereka seperti kembar!" Lalu Wiro menyelinap ke balik serumpunan semak belukar. Tanpa suara dia melesat naik ke atas pohon berdaun rindang.

Tak lama menunggu, dari balik pepohonan di sebelah kiri air terjun Wiro melihat sosok seorang kakek berambut putih panjang riap-riapan. Kumis serta janggutnya juga putih panjang. Jidat, hidung dan pipi sama rata. Di bahu kirinya tergantung sebuah kantung jerami. Walau cukup jauh namun Wiro segera bisa mengenali kakek itu bukan lain adalah Hantu Tangan Empat.

"Dicari-cari susah bertemu. Kini kakek itu tahu-tahu muncul dekat air terjun. Apa yang hendak dilakukannya di tempat ini..."

Memandang ke kiri Wiro melihat sepasang manusia kembar yang jidatnya dipasangi kaca putih dan merah berkelebat dari balik pohon ke pohon lainnya, mendekati arah di mana Hantu Tangan Empat berdiri tengah menikmati pemandangan indah sekitar telaga dan air terjun. Wiro berpikir-pikir. "Jangan-jangan urusan penting yang tadi dikatakan orang itu ada sangkut pautnya dengan Hantu Tangan Empat..." Wiro terus memperhatikan.

Di tempatnya berdiri Hantu Tangan Empat mengambil sesuatu dari dalam kantung jerami. Ternyata yang dikeluarkannya dari dalam kantung itu adalah segenggam bunga berbagai rupa dan warna. Bunga-bunga itu kemudian ditebarnya di permukaan air sambil melangkah sekeliling tepi telaga. Di satu tempat mendadak langkah si kakek tertahan. Sepasang matanya menatap ke bagian atas telaga. Segenggam bunga terakhir yang barusan dilempar ditebarkannya ke dalam telaga tidak luruh jatuh ke atas air, tetapi tergantung di udara, sepuluh jengkal dari permukaan air telaga!

"Wahai... Bagaimana mungkin bunga-bunga itu melayang di udara, jatuh tidak bergerak pun tidak," si kakek membatin. Dia memandang berkeliling. Lalu tampak dia tersenyum dan usap-usap janggut putihnya. "Ada orang yang sengaja hendak unjukkan kehebatan tenaga dalam. Sengaja menahan jatuhnya bunga ke atas air. Satu peragaan yang hebat. Apakah di balik kehebatan ini tersembunyi maksud baik atau maksud buruk...?"

Di atas pohon Wiro juga telah melihat apa yang terjadi. Dia melirik ke kiri di mana dua orang kembar tadi terus berkelebat mendekati Hantu Tangan Empat. Tidak seperti tadi kali ini sambil bergerak mereka angkat tangan kiri ke samping, sama datar dengan tingginya bunga-bunga yang tergantung di permukaan telaga. Tak selang berapa lama ke duanya melintas di bawah pohon di atas mana Wiro berada. Di sini mereka mendekam sesaat. Tegak tak bergerak sambil dua tangan direntang ke samping sama tinggi dengan bunga-bunga yang menggantung di atas air telaga.

Di tempatnya berdiri Hantu Tangan Empat kelihatan terus saja mengusap-usap janggutnya dengan tangan kanan. Tapi perlahan-lahan tangan kiri diangkat lalu ditempelkan menyilang di atas dada. Bunga-bunga di atas telaga yang tadinya diam menggantung di udara perlahanlahan bergerak turun ke bawah. Dari sini sudah bisa dinilai bagaimana tingkat tenaga dalam Lagandrung yang digabung dengan Lagandring masih kalah dengan yang dimiliki si kakek berjuluk Hantu Tangan Empat itu.

"Lagandring! Lipat gandakan tenaga dalammu! Rentang dua kaki! Lawan mengajak adu kekuatan. Kita berdua dia sendiri masakan kalah!"

Mendengar ucapan kakaknya itu Lagandring segera salurkan seluruh tenaga dalamnya ke tangan kiri kanan. Dua kaki bergeser merenggang. Saking hebatnya pengerahan tenaga dalam dua saudara kembar itu, sepasang kaki mereka sampai amblas setengah jengkal dan tanah yang mereka pijak kelihatan kepulkan asap!

Di atas batu di tepi telaga kakek berjuluk Hantu Tangan Empat melihat bunga di atas air telaga bergoyang-goyang. Lalu perlahan-lahan dia merasakan pula dua kakinya mulai bergetar. Getaran itu turun ke batu yang dipijaknya! Hantu Tangan Empat adalah seorang tokoh disegani yang memiliki kesaktian tinggi serta tenaga dalam yang sudah mencapai puncaknya. Namun diserang gabungan dua kekuatan lawan begitu rupa tak urung dia mengalami kesulitan.

Hantu Tangan Empat memandang ke arah bunga-bunga di atas permukaan telaga. "Sebentar lagi bunga-bunga itu akan hancur jadi bubuk. Kalau aku tidak sanggup bertahan, kekuatan tenaga dalam yang menyerang bisa mencelakai diriku..." Si kakek lalu kerahkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya. Namun dia tak bisa bertahan lama. Apa yang barusan diduganya menjadi kenyataan sesaat kemudian.

Deessss! Dessss! Dessss! Terdengar suara berkepanjangan menyusul suara byaar... byaarr... byaaar! Belasan bunga yang menggantung di atas telaga hancur menjadi bubuk. Di atas batu, Hantu Tangan Empat merasakan tekanan sangat hebat melanda dadanya. Wajahnya pucat dan sekujur tubuhnya basah oleh keringat.

Sementara itu di atas pohon Wiro yang menyaksikan apa yang terjadi mulai merasa khawatir. "Aku tidak suka pada dua cecunguk kembar ini. Apalagi dia hendak mencelakai Hantu Tangan Empat, orang yang pernah menolongku. Kakek Peri Angsa Putih..." Habis berkata begitu Wiro lalu turunkan ke bawah celana putihnya. Lalu, serrrr... Enak saja dia kencingi dua orang yang ada di bawah pohon. Lagandrung dan Lagandring yang tengah memusatkan kekuatan tenaga dalam dan hampir dapat menghantam Hantu Tangan Empat sama-sama berseru kaget ketika dari atas ada kucuran air menyirami kepala dan sebagian tubuh mereka.

"Hujan aneh! Mengapa hanya terjadi di sini!" seru Lagandring.

"Ini bukan hujan!" teriak Lagandrung. "Air hujan tidak hangat begini!" Lagandrung lalu dekatkan lengan kirinya yang basah ke hidung. "Sial kurang ajar! Air bau! Ini air kencing!"

Lagandring tiru perbuatan abangnya dan mengendus air yang membasahi bahunya. "Memang air kencing! Jahanam! Siapa yang berani melakukan pekerjaan gila ini!"

Dua kakak adik itu mendongak ke atas pohon. Mereka tidak melihat siapa-siapa karena sebelumnya Wiro Sableng telah melompat ke pohon di sebelahnya lalu menyelinap turun dan lari ke arah tepi telaga di mana Hantu Tangan Empat tegak berdiri.

"Anak muda! Siapa kau?!" Hantu Tangan Empat menegur penuh curiga.

"Kek, masakan kau lupa pada saya? Saya Wiro Sableng, sahabat cucumu Peri Angsa Putih. Orang yang kau tolong tempo hari..."

Si kakek kerenyitkan kening. "Wahai! Aku ingat sekarang! Kau muncul pada saat yang salah, anak muda dari jagat seribu dua ratus tahun mendatang. Tapi, janganjangan kau yang barusan memamerkan kekuatan mengajak aku bertanding kehebatan tenaga dalam!" Si kakek pelototi Wiro dari kepala sampai ke kaki dengan perasaan curiga.

"Kek, masakan saya berani berlaku kurang ajar padamu. Lagi pula dibanding dengan dirimu, saya ini punya kepandaian apa?!" ujar Wiro.

"Heeee..." Hantu Tangan Empat masih saja memperhatikan Wiro dengan seksama dan curiga.

"Kek, orang yang patut kau curigai adalah sepasang manusia kembar yang jidatnya ditempel kaca. Satu kaca merah satu kaca putih. Mereka sudah sejak lama ada di sini menunggu kehadiranmu. Jika dugaan saya tidak salah pasti sebentar lagi mereka akan muncul di sini..."

Baru saja Wiro berkata begitu tiba-tiba dua sosok berkelebat dan tegak di hadapan Hantu Tangan Empat.

"Anak muda, jika dua orang ini yang kau maksudkan rasanya aku tidak perlu khawatir. Mereka adalah dua sahabat lama yang puluhan tahun tidak pernah berjumpa!"

kata Hantu Tangan Empat pula begitu mengenali siapa yang datang. "Wahai sahabatku Lagandrung dan Lagandring sungguh hatiku senang melihat kau muncul di sini. Kabar gembira apakah yang bisa kita perbincangkan setelah sekian lama tidak bertemu? Tetapi, apakah kalian berdua bisa menunggu sampai aku selesai mandi di telaga?" Sementara dia berkata begitu di dalam hati Hantu Tangan Empat diam-diam kembali merasa curiga terhadap Wiro. Bagaimana pemuda itu tadi mengatakan bahwa dua orang inilah yang telah mengajaknya bertanding kekuatan tenaga dalam hingga bunga-bunga di atas telaga hancur menjadi bubuk. "Jangan-jangan pemuda ini memutar balik kenyataan. Jangan-jangan dia merasa sakit hati karena dulu aku tidak menolongnya sepenuh hati bahkan tidak mampu membuat dirinya dan dua temannya menjadi sebesar orang-orang di Negeri Latanahsilam." Selagi Hantu Tangan Empat membatin seperti itu, Lagandring dan Lagandrung saling pandang lalu sama-sama menyeringai.

"Wahai Hantu Tangan Empat," Lagandrung angkat bicara. "Kedatangan kami tidak membawa berita menyenangkan. Kami muncul tidak pula dengan niat gembira berbincang-bincang..."

"Wahai! Kalian masih seperti dulu saja. Serba kesusu, selalu sibuk hingga tidak bisa berbagi waktu dengan para teman."

Lagandrung gelengkan kepala. "Ketahuilah wahai Hantu Tangan Empat, kami datang membawa berita sedih. Jangan terkejut. Kami diperintahkan untuk mengambil kepalamu!"

Wiro tersentak kaget. Sebaliknya Hantu Tangan Empat tidak tampak terkejut. Malah dia tertawa bergelak.

"Lagandrung! Sejak kapan kau pandai melawak!"

"Kami tidak melawak!" membentak Lagandring. Sang adik memang punya sifat lekas naik darah. Tawa Hantu Tangan Empat langsung terputus. Wajahnya kini berubah. Tapi hatinya masih tidak percaya.

Maka dia bertanya. "Kalau kalian tidak sedang membanyol, lalu siapakah yang memerintahkan kalian mengambil kepalaku?!"

"Hantu Muka Dua!" jawab dua lelaki kembar itu berbarengan.

***3PENDEKAR 212 menyumpah dalam hati begitu mendengar nama yang disebutkan dua lelaki kembar itu. Hantu Tangan Empat sendiri selain kaget juga cepat menilai keadaan. Tadi dia hampir sempat dirobohkan oleh dua orang itu dalam adu kekuatan tenaga dalam. Walau dia jauh dari rasa takut tapi naga-naganya jika terjadi pertarungan antara dia dengan Lagandrung dan Lagandring, tidak akan mudah baginya menghadapi dua orang itu.

"Lagandrung dan Lagandring, aku merasa kurang percaya kalau kalian berdua diberi perintah oleh Hantu Muka Dua untuk membunuhku! Mungkin kalian tidak tahu, tapi sampai saat ini aku sendiri berada di bawah kekuasaan orang yang merasa dirinya sebagai Raja Diraja Segala Hantu di Negeri Latanahsilam ini..."

"Hantu Muka Dua punya alasan minta nyawa dan kepalamu, wahai Hantu Tangan Empat..."

"Dia mengatakan pada kalian alasannya itu?" tanya Hantu Tangan Empat.

"Hantu Muka Dua marah besar. Kau menghilang setelah gagal melakukan perintahnya!" jawab Lagandrung pula.

"Perintahnya yang mana?" tanya Hantu Tangan Empat.

"Jangan berpura-pura tidak tahu!" sentak Lagandring.

Lagandrung menyambung. "Kau diperintahkan ke negeri seribu dua ratus tahun mendatang. Untuk membunuh tiga orang dan mendapatkan Batu Sakti Pembalik Waktu. Kau gagal malah menghilang tidak berani menghadap Hantu Muka Dua. Lalu ada yang memberi tahu pada penguasa Istana Kebahagiaan itu bahwa kau justru telah membantu tiga orang yang seharusnya dibunuh itu..."

"Betul! Membuat mereka jadi lebih besar dari sosok aslinya!" kata Lagandring.

"Kalau kini Hantu Muka Dua minta kami mengambil kepalamu, apa kau berani melawan? Seharusnya hal ini sudah dilakukannya begitu kau kembali menginjakkan kaki di Negeri Latanahsilam ini."

"Wahai apa kalian berdua tahu, aku terpaksa tunduk pada Hantu Muka Dua karena dia menguasai istriku Luhbarini. Sekarang terbukti jahatnya! Setelah menculik dan menguasai Luhbarini dia masih mau memerintah kalian untuk membunuhku!"

"Kalau begitu, selain kau pasrahkan istrimu, kau juga pasrahkan diri sendiri untuk kami bunuh!" kata Lagandrung pula sambil menyeringai.

"Wahai! Kalau sebagai sahabat kalian tega melakukannya, kalian tunggu apa lagi? Cepat saja turun tangan. Apa aku pasrah atau bagaimana lihat saja nanti! Namun sebelum kalian bertindak izinkan aku mandi di telaga ini untuk terakhir kali!" Habis berkata begitu Hantu Tangan Empat mengeruk kantung jerami yang tergantung di bahunya, mengeluarkan segenggam bunga. Bunga aneka warna ini kemudian ditebarkannya di permukaan air telaga sambil mulai melangkah seolah Lagandrung dan Lagandring tidak ada di tempat itu.

Melihat diri mereka dipandang enteng marahlah dua lelaki kembar itu. Keduanya segera menyerbu.

"Tahan!" tiba-tiba Pendekar 212 Wiro Sableng berseru dan melompat ke tengah kalangan.

"Pemuda keparat! Berani-beraninya kau masih ada di tempat ini!" hardik Lagandring.

"Jangan-jangan dia yang tadi mengencingi kita dari atas pohon!" ujar Lagandrung dengan muka beringas penuh berang.

"Kalian pernah bersahabat, mengapa sekarang mau saja disuruh Hantu Muka Dua membunuh kakek ini, sahabat sendiri?!"

"Itulah kehidupan, wahai anak muda. Hari ini teman, besok lawan. Hari ini saudara besok jadi seteru..."

"Oh, begitu...?" ujar Wiro sambil angguk-angguk dan garuk-garuk kepala. "Kurasa kehidupan macam itu hanya bisa terjadi karena ada manusia-manusia culas munafik atau karena tergoda sesuatu. Melihat tampang-tampang kalian, jangankan teman, kalau Hantu Muka Dua menyuruh bunuh istri atau ibu kalian sendiri, pasti kalian lakukan! Iya, kan?!"

"Jahanam! Lagandring lekas kau bunuh bangsat satu ini!" teriak Lagandrung pada adiknya. Lalu tanpa menunggu lebih lama Lagandrung melompat menyerang Hantu Tangan Empat. Lagandring sendiri sudah lebih dulu menyergap Wiro.

"Aku sudah memberi ingat! Kalau kau berani lagi unjuk diri dan bertingkah di depanku akan kupanggang sekujur tubuhmu! Mulai dari kepala sampai kaki! Kau keras kepala. Aku mau tahu sampai di mana kerasnya kepalamu, pemuda tolol!"

Lagandring goyangkan kepalanya. Dari kaca merah yang menempel di keningnya berserabutan keluar sinar merah angker. Inilah ilmu kesaktian yang disebut Sinar Darah Merah.

Seperti tadi murid Sinto Gendeng hendak hadapi serangan lawan dengan pukulan Sinar Matahari. Namun di saat terakhir dia putuskan menghantam dengan pukulan Tangan Dewa Menghantam Matahari. Ini adalah jurus atau ilmu pukulan sakti inti pertama yang berasal dari Kitab Putih Wasiat Dewa yang berisi Delapan Sabda Dewa dan disebut Enam Inti Kekuatan Dewa (Baca serial Wiro Sableng "Wasiat Iblis" s/d "Kiamat Di Pangandaran" terdiri dari 8 episode).

Lagandring tersentak dan berseru kaget ketika melihat bagaimana satu gelombang angin dahsyat membuat sinar merah yang keluar dari kaca sakti di keningnya mencelat ke atas. Dia kerahkan tenaga coba bertahan. Akibatnya tubuhnya ikut terangkat ke atas. Sambil membentak garang Lagandring kembali goyangkan kepalanya. Sinar merah dari dalam kaca di kening menyapu keluarkan suara seperti seratus ular mendesis.

Wiro tak tinggal diam. Sambil tekuk dua lututnya, dua telapak tangan didorong ke atas. Laksana disambar halilintar Sinar Darah Merah musnah bertaburan dengan mengeluarkan beberapa kali suara letusan yang menggetarkan seantero telaga. Air terjun seolah berhenti mengalir untuk sepersekian kejapan mata!

Di tepi telaga Lagandring terkapar dengan mata mendelik, mulut ternganga dan tubuh seperti lumpuh. Darah mengucur dari sela bibir dan hidungnya. Sebelumnya sewaktu bertarung melawan Wiro, orang ini sempat menderita luka di dalam. Bentrokan yang terjadi barusan membuka lukanya bertambah parah. Kalau saja bukan Lagandring mungkin saat itu sudah megap-megap meregang nyawa!

Beberapa belas langkah di sebelah kanan telaga, Pendekar 212 Wiro Sableng terduduk di tanah dengan tubuh tergontai-gontai. Di pelupuk matanya dia seolah masih melihat sinar merah darah pukulan sakti yang dilepaskan lawan. Walau dia memejamkan mata sekalipun untuk beberapa saat lamanya sinar merah itu masih menyelubungi pemandangannya. Dadanya berdegup keras tanda jantung dan jalan darahnya berada dalam keadaan tidak wajar. Murid Sinto Gendeng cepat duduk bersila, atur jalan darah dan pernafasannya. Perlahan-lahan dia kerahkan tenaga dalam ke bagian tubuh yang dirasakannya cidera. Selagi keadaannya belum pulih betul, di depan sana dilihatnya Lagandring dengan terhuyunghuyung bangkit berdiri. Tangan kanannya bergerak mencabut kaca merah di keningnya.

"Dia hendak merubah dirinya menjadi raksasa kembali!" Wiro sadar apa yang akan segera terjadi.

Terhuyung-huyung dia bangkit pula berdiri. Sebelum kaca merah di tangan lawan mengepulkan asap, Wiro segera melabrak Lagandring dengan jurus Kilat Menyambar Puncak Gunung! Ini adalah jurus silat yang dipelajarinya dari seorang tokoh beken di Pulau Andalas dikenal dengan panggilan Tua Gila (Siapa adanya Tua Gila harap baca serial Wiro Sableng berjudul "Tua Gila Dari Andalas").

Lagandring berseru kaget ketika laksana kilat, tangan kanan lawan menyambar ke arah batok kepalanya. Kalau tidak cepat dia rundukkan badan pasti kepalanya kena dihajar Wiro. Mukanya pucat dan tengkuknya menjadi dingin.

Ternyata jurus Kilat Menyambar Puncak Gunung yang dikeluarkan Wiro hanya tipuan belaka. Karena yang diincar murid Sinto Gendeng ini adalah kaca merah di tangan kanan lawan. Dia menyadari kesaktian benda aneh itulah yang menjadi andalan Lagandring dan sanggup merubah dirinya menjadi raksasa dengan bobot dua kali lebih besar aslinya. Karenanya begitu tangan kanan lancarkan serangan ganas, Wiro pergunakan tangan kiri untuk merampas kaca merah di tangan lawan.

Tapi Lagandring rupanya cepat membaca maksud sang pendekar. Begitu tangan kiri Wiro berkelebat dia ayunkan kaki kanan kirimkan tendangan menyilang. Karena tidak mau tangannya cidera dihantam kaki lawan, murid Sinto Gendeng angkat tangan kirinya sebatas dada lalu dengan tangan itu dia menghantam sisi kanan tubuh Lagandring. Untungnya Lagandring telah bersurut mundur satu langkah, kalau tidak, hantaman Wiro akan mendarat telak di barisan tulang-tulang iganya sebelah kanan! Walau selamat dari cidera berat tak urung pukulan Wiro membuat Lagandring terpental tiga langkah dan sesak nafasnya.

Sambil menahan sakit Lagandring usap-usap kaca merah dengan jari-jari tangan kanan. Wiro tak mau membuang waktu. Sebelumnya dia telah melihat Lagandring melakukan hal itu dan tubuhnya kemudian berubah menjadi besar serta tinggi. Sebelum kaca merah mengeluarkan kepulan asap dia kembali menghantam. Kali ini Wiro lepaskan pukulan Segulung Ombak Menerpa Karang.

Kembali Lagandring keluarkan teriakan kaget. Tubuhnya terangkat ke udara sampai dua jengkal. Cepat dia kerahkan tenaga dalam. Sambil lepaskan pukulan dengan tangan kiri dia teruskan mengusap kaca merah di tangan kanan.

"Celaka! Aku tak berhasil mencegah!" ujar Wiro sewaktu melihat bagaimana sosok lawannya berubah menjadi besar dan tambah tinggi hampir menyandak cabang pohon di atasnya! Wiro merasa dirinya seolah kembali ketika dirinya setinggi lutut. Sambil menyeringai Lagandring maju mendekati Wiro. Setiap langkah yang dibuatnya mengeluarkan suara keras dan menggetarkan tanah walau tidak sehebat langkah kaki batu Lakasipo (Baca "Bola Bola Iblis").

Wutttt!

Tiba-tiba kaki kanan Lagandring menderu. Belum lagi tendangannya sampai, angin sudah menyambar laksana topan prahara. Semak belukar hancur rambas beterbangan, pohon-pohon di kiri kanan berderak patah.

"Mati aku!" jerit Wiro ketika tubuhnya ikut tersapu.

Begitu jatuh di antara semak belukar dia segera menyelinap. Tapi Lagandring bergerak cepat sekali. Belum sempat Wiro bangkit berdiri, kaki Lagandring sudah berada di depannya dan kembali menendang. Wiro jatuhkan diri sama rata dengan tanah. Dia masih bisa selamatkan diri walau angin tendangan membuat tubuhnya melesak tertelungkup satu jengkal ke dalam tanah. Sebelum Wiro sempat keluarkan dirinya dari dalam lobang, kaki kanan Lagandring telah menghunjam ke punggungnya. Selain itu dari kaca merah yang ada di tangan kanan lawan menyambar keluar pukulan Sinar Darah Merah. Sekali ini nyawa murid Sinto Gendeng tidak tertolong lagi. Kalaupun ada keajaiban menyelamatkan dirinya dan membuatnya masih bisa bernafas maka dia akan hidup dengan tubuh bungkuk cacat karena patah tulang punggung. Selain itu sinar merah yang keluar dari kaca sakti Lagandring akan memanggang sebagian tubuhnya.

Dalam kesulitan seperti itu apalagi keadaannya tertelungkup membelakangi lawan, Wiro ambil keputusan untuk lepaskan pukulan Di Balik Gunung Memukul Halilintar dengan tangan kiri sedang tangan kanan dengan tenaga dalam penuh dia hendak melepas Pukulan Sinar Matahari. Di saat yang benar-benar menegangkan itu tiba-tiba terdengar suara orang tertawa mengekeh. Menyusul suara orang berucap. Dari suaranya jelas dia adalah seorang kakek-kakek.

"Anak tolol! Percuma kau punya ilmu Belut Menyusup Tanah! Mengapa tidak pergunakan ilmu itu untuk selamatkan diri?!"***4PENDEKAR 212 Wiro Sableng terkejut setengah mati mendengar ucapan itu. Dia memang punya ilmu atau jurus yang barusan disebut orang yaitu warisan Eyang Sinto Gendeng sewaktu dia digembleng di puncak Gunung Gede. Selama ini hampir tidak pernah dikeluarkan karena memang mungkin belum menemukan keadaan yang cocok. Kini dia tidak mau berpikir lebih lama. Dua kakinya serta merta lurus lalu bergelung. Tangannya di sebelah atas lurus lalu menekuk. Begitu dia membuat gerakan dengan pengerahan tenaga dalam di bagian perut maka secara aneh sosoknya laksana seekor belut licin melesat di atas tanah, menembus semak belukar.

Braaakkk!

Bummmm!

Kaki kanan Lagandring menghantam tanah hingga menguak lubang sedalam dua jengkal. Pukulan Sinar Darah Merah melabrak akar pohon besar hingga berserabutan dan terpanggang hangus. Tapi Pendekar 212 Wiro Sableng lenyap entah ke mana!

"Jahanam! Ke mana perginya pemuda keparat itu!" Maki Lagandring. Dengan geram dia memandang berkeliling. Dia bukan saja mencari ke mana lenyapnya Wiro tapi sekaligus menyelidik siapa yang barusan bicara memberi bisikan pada si pemuda hingga lawannya itu bisa lolos!

Tapi Lagandring tidak melihat siapa-siapa. Selagi dia tertegak geram seperti itu tiba-tiba dari atas pohon melayang sesosok tubuh. Lagandring cepat balikkan diri begitu dia merasa ada sambaran angin. Namun terlambat. Dua tangan yang meskipun kecil dibanding dengan tangannya menggelung lehernya. Sebuah tumit menekan urat besar di lehernya hingga tubuhnya seperti setengah kaku. Nafasnya megap-megap dan lidah terjulur sementara tulang lehernya seperti mau berderak patah.

"Jahanam! Kukunyah tubuhmu!" teriak Lagandring.

Dicekalnya sosok yang mencekik tubuhnya lalu, bukkk!

Dibantingnya ke tanah. Namun akibat gerakannya itu, kaca merah yang ada dalam genggamannya terlepas jatuh ke tanah, menggelinding ke dekat orang yang barusan dibantingnya. Orang ini ternyata adalah Wiro Sableng. Sebelum tubuhnya jatuh ke tanah murid Sinto Gendeng berjumpalitan lalu siap menyelinap ke balik pohon selamatkan diri. Ketika hendak melompat dia sempat melihat kaca merah milik Lagandring menggelinding di tanah dan menyusup masuk ke dalam semak belukar. Wiro cepat sambar benda itu, lalu sembunyikan di balik pakaiannya.

Karena tidak lagi memegang kaca merah sakti, sosok Lagandring perlahan-lahan mengecil seperti semula Mukanya pucat tubuhnya miring seperti layangan singit. Dia memandang kian kemari mencari-cari kaca merahnya. Melihat lawan tidak lagi sebesar tadi tanpa tunggu lebih lama Wiro berkelebat keluar dari balik pohon langsung menyerang.

Diterjang secara tiba-tiba Lagandring berseru kaget. Dia balas menyerang hingga terjadilah perkelahian hebat. Setelah sepuluh jurus berlalu terlihatlah bahwa ilmu silat tangan kosong Lagandring berada jauh di bawah Wiro. Apalagi jurus-jurus yang dimainkan Wiro serba asing baginya. Maka tak urung Lagandring menjadi bulanbulanan. Untungnya Wiro tidak punya niat jahat. Serangannya lebih banyak mempermainkan lawan seperti menggelitik, menjewer, menendang bokong dan paling akhir, di puncak kejahilannya, Wiro tarik lepas celana Lagandring yang terbuat dari kulit kayu hingga orang ini kalang kabut.

"Lagandring! Lekas tinggalkan tempat ini!" Tiba-tiba terdengar seruan Lagandrung. Dalam keadaan seperti itu tentu saja Lagandring tidak pikir panjang. Tanpa banyak bicara dia menghambur lari mengikuti kakaknya walau untuk itu dia masih ketiban nasib sial karena pantatnya sempat ditendang Wiro!

Apa yang terjadi dengan Lagandrung?

Setelah memerintahkan adiknya menyerang Wiro, Lagandrung langsung menyerbu Hantu Tangan Empat yang acuh tak acuh terus saja menebar kembang di atas permukaan air telaga. Pukulan-pukulan Lagandrung datang laksana air bah. Hantu Tangan Empat pergunakan bunga dalam genggamannya untuk menangkis serangan lawan. Walau cuma bunga lembut namun karena sudah diisi tenaga dalam, bunga-bunga itu berubah laksana menjadi batu dan melesat menyambar bersiuran ke arah Lagandrung.

Orang lain mungkin akan sulit menghindari serangan belasan bunga itu. Tapi Lagandrung dengan mudah bisa mengelak. Ketika dia kembali hendak menyerbu, di hadapannya Hantu Tangan Empat angkat tangan seraya berkata.

"Kita pernah bersahabat! Jangan kau termakan perintah jahat Hantu Muka Dua! Habisi semua kegilaan ini sampai di sini!" Hantu Tangan Empat memandang ke langit. "Wahai! Matahari sudah tinggi. Aku perlu cepatcepat mandi!"

Lagandrung meludah dan menjawab dengan seringai mengejek. "Kau boleh mandi kalau air telaga sudah kucampur dengan darahmu!"

Habis berkata begitu Lagandrung goyangkan kepalanya. Dari kaca putih yang menempel di keningnya menderu sinar putih sangat panas.

Hantu Tangan Empat lemparkan kantung jerami yang ada di bahunya. Benda ini hancur lebur berantakan. Sinar putih panas terus menyambar ke arah curahan air terjun. Terdengar berkepanjangan suara seperti besi panas dicelup ke dalam besi sewaktu sinar putih menembus curahan air terjun. Lalu dinding batu di belakang air terjun kelihatan terkuak, sesaat kemudian hancur berantakan!

"Hantu Tangan Empat! Kau lari ke mana?! Jangan harap bisa lolos dari tanganku!" Lagandrung berteriak ketika dia tidak lagi melihat si kakek.

"Aku berada di sini, Lagandrung! Himbauan seorang teman tidak kau dengar. Apalagi harus kulakukan? Aku terpaksa mengajarkan adab bersopan santun padamu wahai Lagandrung!"

Lagandrung kertakkan rahang. Dia balikkan tubuh. Hantu Tangan Empat dilihatnya duduk bersila di atas sebuah batu besar di tepi telaga, menatap menyeringai ke arahnya. Ketika dia memperhatikan ternyata si kakek sebenarnya tidak duduk bersila di atas batu itu karena sosoknya menggantung di udara satu jengkal di atas batu!

Dari apa yang disaksikannya itu sebenarnya Lagandrung menyadari bahwa ilmu dan tenaga dalam Hantu Tangan Empat berada jauh di atasnya. Namun karena sudah kepalang tanggung, untuk mundur begitu saja tentu dia merasa malu.

"Hantu Tangan Empat, bicaramu sombong amat. Hendak mengajarkan tata cara bersopan santun padaku! Padahal sebelum kita dilahirkan adab sopan santun itu sudah ada di Negeri Latanahsilam ini! Karenanya biar aku saja yang memberi pelajaran padamu. Kau tak lebih dari seorang kacung yang tidak becus melakukan perintah tuan besarnya! Jadi pantas kepalamu kucopot dari tubuhmu!"

Hantu Tangan Empat tertawa mengekeh. "Ingin aku melihat bagaimana caramu mencopot leherku!" katanya.

Lalu dia ulurkan kepalanya. Lehernya mendadak berubah panjang. Selagi Lagandrung keheranan tahu-tahu muka Hantu Tangan Empat sudah berada hanya satu jengkal di depan wajahnya!

"Jahanam! Kau kira aku takut dengan segala ilmu setan yang kau pamerkan! Putus lehermu!"

Lagandrung goyangkan kepalanya. Dari cermin putih yang ada di keningnya tiba-tiba melesat sinar putih menyilaukan. Anehnya sinar ini berbentuk demikian rupa menyerupai sosok sebilah pedang. Cepat sekali pedang jejadian itu menabas leher Hantu Tangan Empat yang telah berubah menjadi panjang! Inilah ilmu pukulan Sinar Darah Putih!

"Ilmu sihir picisan! Siapa takut!" kata Hantu Tangan Empat lalu tertawa mengekeh.

Sesaat lagi pedang cahaya itu akan menabas leher si kakek tiba-tiba dua tangan berkelebat. Satu mencekal hulu pedang, satu menangkap bagian badan. Dua tangan itu tampak mengepulkan asap. Hantu Tangan Empat mengerenyit menahan panas luar biasa sinar putih yang dicekalnya. Ketika tangan itu memuntir, sinar putih meliuk. Kepala Lagandrung ikut meliuk. Lagandrung menjerit kesakitan. Sambil melompat mundur dia terpaksa tarik kembali serangan sinar putih. Ketika dia memandang ke depan nyali Lagandrung nyaris leleh.

Di hadapannya sosok Hantu Tangan Empat yang tadinya berupa seorang kakek berwajah rata kini telah berubah menjadi satu makhluk menyeramkan. Rambutnya berubah warna menjadi merah dan lurus naik ke atas. Dari kulit kepalanya mengepul asap merah. Sepasang matanya yang besar memberojol merah, bergoyang-goyang seperti mau jatuh. Menggidikkan. Bibirnya berwarna biru aneh. Hidung panjang membengkok sedang gigi mencuat panjang keluar dari mulut. Tangannya yang tadi dua kini kelihatan ada empat dan bergerak kian kemari tak bisa diam. Dua dari empat tangan inilah tadi yang berhasil menahan serangan pedang Sinar Darah Putih yang dilancarkan Lagandrung. Selama ini Lagandrung hanya mendengar tentang sosok Hantu Tangan Empat namun baru sekali ini dia melihat dengan mata kepala sendiri. Tak urung tengkuknya menjadi dingin! Untuk meneruskan niatnya nyalinya sudah putus. Dia maklum, kalau tidak mampu menghadapi Hantu Tangan Empat bagaimana mungkin dia bisa membawa kepala makhluk itu kepada Hantu Muka Dua. Selain itu ketika dia melirik ke kalangan pertarungan antara adiknya dengan Pendekar 212 hatinya bertambah kecut karena sang adik tengah berada dalam keadaan terdesak hebat hingga menjadi bulan-bulanan dipermainkan lawan bahkan diselomoti celananya hingga kelihatan bugil! Melihat gelagat yang tidak baik ini Lagandrung lalu berteriak agar si adik mengikutinya melarikan diri.

Hantu Tangan Empat tertawa terkekeh-kekeh ketika melihat dua saudara kembar itu lari lintang pukang. Lagandrung di sebelah depan. Adiknya di sebelah belakang sambil pegangi pantat celananya yang robek dibetot Wiro! Murid Eyang Sinto Gendeng sendiri memperhatikan kedua orang itu sambil tertawa-tawa, satu tangan menunjuk pantat Lagandring yang tersingkap tak karuan, satu tangan lagi menggaruk-garuk kepala! Begitu Lagandrung dan Lagandring lenyap, Pendekar 212 segera mendatangi Hantu Tangan Empat yang saat itu telah kembali ke bentuknya semula yaitu seorang kakek bermuka rata.

"Kek, kau tak apa-apa...?" tanya Wiro.

Hantu Tangan Empat usap matanya yang basah oleh air mata karena tertawa terpingkal-pingkal tadi. "Kau sendiri bagaimana?"

"Hampir celaka! Untung ada seseorang menolong..." jawab Wiro.

"He..." Hantu Tangan Empat hanya manggut-manggut seolah tak mau bertanya siapa adanya orang yang menolong Wiro tadi. Dia memandang ke arah telaga. Lalu berkata pada Wiro. "Anak muda, kau jangan ke manamana dulu.Tunggu sampai aku selesai mandi!" Laju enak saja kakek itu ceburkan diri ke dalam telaga. Anehnya setelah ditunggu sekian lama sosok Hantu Tangan Empat tak kunjung muncul. Mau tak mau Pendekar 212 jadi agak gelisah.

"Kek! Hantu Tangan Empat!" Wiro memanggil. Tak ada jawaban. Air telaga kelihatan tenang.

"Jangan-jangan dia jatuh pingsan di dalam air..." pikir Wiro. Dia segera hendak terjun ke dalam telaga tapi, byuuurrr! Hantu Tangan Empat muncul sambil tertawa terkekeh-kekeh.

"Tua bangka brengsek..." maki Wiro dalam hati. Dia memutar tubuhnya.

"Hai! Kau mau ke mana?!" Terdengar Hantu Tangan Empat berteriak.

"Tidak ke mana-mana. Hanya mencari orang yang barusan menolongku!" jawab Wiro. Lalu dia berkelebat ke arah sebuah pohon besar dari arah mana tadi dia mendengar suara kakek-kakek yang memberi petunjuk agar dia mengeluarkan ilmu Belut Menyusup Tanah. Wiro bolak-balik mengitari pohon besar sampai lima kali. Dia bahkan memanjat naik ke atas pohon itu. Tapi dia tidak menemukan siapa-siapa.

"Ah, sayang sekali. Menyesal aku tidak bertindak cepat. Orang yang menolongku itu mungkin sudah pergi tanpa aku sempat menemui dan mengucapkan terima kasih!"

Wiro melihat ke arah air terjun. Di dalam telaga Hantu Tangan Empat masih asyik berkecimpung mandi. Sambil garuk-garuk kepala Wiro akhirnya dudukkan diri di bawah pohon besar. Belum lama duduk mendadak dia mendengar suara gemerisik semak belukar. Lalu ada suara orang menyanyi.

"Na... na... na... Ni... ni... ni. Na... na... na... Ni... ni... ni."

"Eh, orang gila dari mana kesasar dan menyanyi di tempat ini?!" pikir pendekar kita sambil bangkit berdiri dan celingak-celinguk mencari orang yang menyanyi. Tapi dia tidak melihat siapa-siapa. "Aneh, suaranya begitu dekat tapi orangnya tidak kelihatan." Wiro melangkah ke kiri, berputar ke kanan, membelok lagi ke kiri. Tetap saja dia tidak melihat siapa-siapa.

"Na... na... na... Ni... ni... ni. Na... na... na. Ni... ni... ni."***5WIRO memandang berkeliling. Hatinya mulai waswas.

"Jangan-jangan tempat ini ada hantu pelayangannya..." katanya dalam hati. Mendadak sudut matanya menangkap sesuatu. Dia berpaling ke kiri. Astaga! "Benar-benar aneh! Tadi aku mundar-mandir berulang kali di tempat itu. Tak ada siapa-siapa. Kini ada orang itu!" Wiro cepat melangkah ke balik satu pohon kayu. Dari sini dia memperhatikan.

Sepuluh langkah di hadapannya ada seorang kakekkakek memegang payung dari daun-daun kering. Sambil bernyanyi na-na-na ni-ni-ni dia melangkah setengah menari-nari mengelilingi sepokok pohon keladi hutan. Di punggungnya si kakek membekal sebuah kantong panjang. Murid Sinto Gendeng tekap mulutnya menahan ketawa. Banyak hal yang membuat Wiro ingin tertawa terpingkal. Kakek itu bermuka jelek selangit tembus. Pipinya keriput kempot. Hidungnya pesek dan matanya belok. Lalu bibirnya mencuat karena deretan gigi-giginya yang tonggos.

"Berarti seumur hidup dia tidak pernah bisa mengatupkan mulutnya!" kata Wiro, geli dalam hati. Lalu sambil bernyanyi si kakek goyang-goyangkan pinggulnya. Sesekali tubuhnya sebelah bawah didorong dilejanglejangkannya ke depan. Dan kini yang paling gila! Kakek ini mengenakan celana dari kulit kayu yang bagian belakangnya sengaja dirorotkan ke bawah hingga pantatnya yang hitam kasap tersingkap jelas!

"Tidak meleset dugaanku! Kalau tidak sinting pasti gila alias kurang waras!" kata Wiro dalam hati. Lalu sambil batuk-batuk Wiro keluar dari balik pohon.

Mendengar ada suara orang batuk, si kakek aneh tampak terkejut. Suara nyanyiannya lenyap. Langkah dan tariannya langsung berhenti. Lalu dengan gaya malu-malu lucu dia cepat-cepat angkat ke atas celananya yang tersingkap. Tapi ketika dia melihat Wiro, kakek ini tertawa lebar dan berkata. "Wahai! Kukira perempuan. Ternyata laki-laki juga. Sama tanduknya dengan tandukku! Samasama di depan! Buat apa malu-malu! Hik... hik!" Lalu enak saja celananya yang tadi sudah dibetulkan kini didodorkannya kembali, malah lebih bawah dari sebelumnya. Wiro tertawa geli. Di sebelah sana si kakek kembali menyanyi-nyanyi, menari memutari pohon keladi hutan. Payung di tangan kirinya diputar-putar demikian rupa hingga mengeluarkan suara berdesing keras. Setiap ujung payung yang berputar itu mengenai daun atau rerantingan maka daun dan ranting-ranting itu putus, melayang tinggi ke atas.

"Memutus ranting dengan daun kering bukan pekerjaan mudah! Hanya orang berkepandaian luar biasa mampu melakukannya! Kakek yang seperti sinting ini pasti bukan makhluk sembarangan!" Baru saja Wiro membatin seperti itu tiba-tiba si kakek sudah ada di depannya. Dia menyengir hingga seluruh giginya memberojol keluar.

"He, Buyung! Kau tentu menduga aku ini sinting! Iya, kan?!"

"Walah, jangan-jangan dia bisa mendengar suara hatiku!" kata Wiro. Lalu dia balas menyengir. "Tidak, Kek. Menurutku kau tidak sinting! Malah aku senang mendengar nyanyianmu!" kata Wiro pula.

"He, begitu? Terima kasih! Yang betul saja Buyung!"

"Betul, nyanyianmu sangat sedap didengar," kata Wiro.

Si kakek menyengir. "Terima kasih!" katanya lagi. Lalu, "Sekarang tolong kau pegangkan tangkai payung ini!"

Karena payung langsung disodorkan kepadanya terpaksa Wiro pegang payung daun itu. Dari dalam kantong panjangnya si kakek keluarkan sebuah tambur terbuat dari batang pohon yang dilubangi lalu ditutup dengan kulit kering binatang. Dia juga mengeluarkan sebuah tongkat yang ujungnya ditancapi benda bulat. Sebelum berkata dia lebih dulu menyengir. "Kalau nyanyianku memang sedap didengar, berarti kau harus ikut menari bersamaku! Aku menyanyi sambil memukul tambur. Kau memayungi aku dan ikut melangkah menari memutari pohon keladi itu. Setuju...?!"

"Anu Kek..."

"He, anu artinya memang setuju. Terima kasih Buyung!"

"Maksudku..."

"Aku lupa!" Si kakek aneh tidak pedulikan ucapan Wiro.

"Sebelum ikut menari aku perlu memberi tahu lebih dulu. Benda bulat yang ada di ujung pemukul tambur ini! Kau tahu benda apa ini sebenarnya?"

Wiro garuk-garuk kepala. "Sulit aku menduga, Kek."

Si kakek menyengir. "Coba kau cium! Mungkin kau bisa menerka!" Lalu enak saja ujung pemukul tambur disodorkannya ke bawah lobang hidung Wiro. Bau sangit yang tidak enak menyambar pernafasannya hingga murid Sinto Gendeng ini bersin sampai tiga kali. Si kakek tertawa terkekeh-kekeh. Lalu tangan kanannya dikembangkan, diletakkan di pinggir mulut.

"Benda bulat ini adalah potongan biji sapi yang dikeringkan! Hik... hik... hik!" Waktu berucap si kakek seperti berbisik. Tapi ketika menyebutkan kata ‘biji' suaranya sengaja dikeraskan, hampir berteriak. Lalu dia tertawa cekikikan.

"Untung biji sapi. Bukan biji manusia! Ha... ha... ha!" Si kakek menyambung ucapannya tadi lalu tertawa gelakgelak.

"Sudah... sudah! Dari tadi kita tertawa saja! Ayo mulai menari! Payungi aku!"

Si kakek tonggos melangkah lucu. Sesekali berjingkatjingkat. Sambil tiada henti memukul tambur. Dari mulutnya terus menerus keluar nyanyian na-na-na ni-ni-ni. Pinggul dan pantatnya diogel-ogel, mulutnya senyum-senyum tonggos. Matanya sesekali dikedip-kedip genit. Lalu lidahnya dijulur-julur untuk membasahi bibir. Wiro yang memegang payung mau tak mau jadi melangkah mengikuti si kakek mengelilingi pohon keladi hutan. Sambil melangkah berputar-putar diam-diam Wiro menghitung.

"Gila! Sudah dua ratus kali aku berputar mengikutinya mengelilingi pohon keladi!" kata Wiro dalam hati. Kakinya mulai pegal. Tangannya yang memegang payung terasa capai. Tapi di depannya si kakek terus saja menari. Semakin cepat dia menabuh tambur kecilnya semakin cepat pula langkah dan tarinya. Tubuhnya meliuk-liuk. Memandang ke depan Wiro melihat sosok kakek aneh itu seolah berputar siam mengelilingi pohon keladi seperti sebuah gasing! Akhirnya Wiro memilih tegak saja berdiam diri.

"Hai! Baru segitu saja kau sudah capai keletihan! Tapi kalau menari dengan gadis cantik semalam suntuk pasti kau lakoni! Begitu, kan?! Hik... hik... hik! Terima kasih kau sudah memayungiku!"

Kakek itu jatuhkan dirinya di tanah. Tambur dan pemukulnya dimasukkannya ke dalam kantong panjang. Lalu dia ulurkan tangan mengambil payungnya. Payung ini tidak diletakkannya di tanah atau dilipatnya tetapi diletakkannya di atas kepala. Lalu acuh tak acuh seperti tidak ada apa-apa di kepalanya dia berpaling pada Wiro. Matanya jelalatan memandangi pemuda itu dari kepala sampai ke kaki. Hidungnya yang pesek kembang kempis.

"Wahai! Baru aku sadar! Kau orang asing. Bukan orang sini! Kau pasti datang dari jauh!" Si kakek tiba-tiba berkata.

"Bagaimana kau bisa tahu Kek?" tanya Wiro sambil garuk-garuk kepala.

"Dari baumu!" jawab si kakek tonggos.

"Walah! Memangnya bauku bagaimana?!" tanya pendekar kita.

"Orang-orang asing di Negeri Latanahsilam ini baunya bau rayap. Tapi kau kucium bau amis! Hik... hik... hik!"

"Ah, jangan-jangan hidungmu yang pesek salah cium Kek!" kata Wiro agak sewot.

Kakek tonggos tertawa bergelak. "Terima kasih, atas pujianmu terhadap hidungku yang mancung!" kata si kakek sambil usap-usap hidungnya yang memang pesek. "Aku memperhatikan, sejak tadi sudah berapa kali kau menggaruk kepala. Yang aku ingin tahu, sudah berapa minggu kau tidak pernah mandi anak muda?"

Murid Sinto Gendeng jadi cemberut. "Saya mandi setiap hari. Setiap ketemu kali atau telaga..."

"Kurasa kau dusta anak muda! Kurasa kau mandi hanya setiap hujan turun! Hik... hik... hik! Tapi jangan marah anak muda. Aku senang. Terima kasih kau mau bersenda gurau denganku! Sekarang aku mau tanya..."

"Tidak, saya duluan yang tanya padamu Kek!"

"Wahai! Pasti kau menanya mengapa aku pakai celana didodorkan di bagian pantatnya!"

"Tidak, bukan itu pertanyaanku..."

"Terima kasih kau tidak menanyakan pantatku! Hik...hik... hik. Apa yang mau kau tanyakan anak muda?" Si kakek tertawa gelak-gelak. Payung di atas kepalanya mumbul turun naik.

"Sebelum kau muncul di sini, mungkin waktu kau tengah menuju ke sini, apakah kau berpapasan atau melihat seorang lain?" Wiro bertanya begitu karena dia ingin menyelidiki siapa sebenarnya yang menolongnya waktu berkelahi melawan Lagandring tadi. Yaitu yang memberi tahu agar dia mengeluarkan ilmu Belut Menyusup Tanah yang selama bertahun-tahun tak pernah dipergunakannya.

"Memang, aku ada melihat orang lain selain dirimu!"

Kakek tonggos menjawab sambil pentang wajah bersungguh-sungguh.

"Siapa? Di mana?" tanya Wiro.

"Dia! Di sana!" jawab si kakek seraya goyangkan kepala ke arah Hantu Tangan Empat yang asyik mandi air kembang di dalam telaga di bawah air terjun. Wiro memaki dalam hati. "Bukan dia yang kumaksudkan. Tapi orang lain..."

"Heee... Ya... ya. Memang ada. Ada dua orang. Tapi sudah pada kabur. Itu, dua kembar yang tadi berkelahi denganmu dan kakek yang mandi dua bulan sekali itu! Lagandring dan Lagandrung!"

Wiro garuk-garuk kepala menahan jengkel.

Si kakek tertawa lebar lalu berkata. "Terima kasih kau hanya menggaruk kepala yang di atas, tidak kepala yang di bawah! Hik... hik... hik! Awas bisa berterbangan segala kutu dan tuma yang ada di tubuhmu! Hik... hik... hik!"

Wiro yang biasanya suka menggoda orang kini merasa mati kutu. Walau jengkel mendengar ucapan si kakek namun sambil tertawa dia berkata. "Kakek tukang banyol, kalau kau hanya melihat kakek yang sedang mandi itu, lalu melihat Lagandrung dan Lagandring berarti tidak ada orang lain. Berarti kaulah tadi yang telah menolongku..."

"Aku datang membawa payung dan tambur. Aku datang menyanyi dan menari. Bagaimana mungkin aku menolongmu. Lagi pula pertolongan apa yang kuberikan padamu wahai anak muda? Tapi aku tak lupa mengucapkan terima kasih kau telah menganggap aku melakukan sesuatu yang baik. Menolong orang lain bukankah itu sesuatu yang baik?"

Wiro mengangguk. "Kau yang memberi bisikan agar saya mengeluarkan ilmu Belut Menyusup Tanah. Hingga saya selamat dari serangan maut yang dilancarkan Lagandring..."

"Ilmu Belut Menyusup Tanah. Aneh nama ilmu itu. Baru sekali ini aku mendengar. Memangnya kau punya ilmu itu?" Si kakek bertanya dengan unjukkan tampang tolol.

Wiro garuk-garuk kepala lagi. Untuk sesaat lamanya dia pandangi orang tua di hadapannya itu. Lalu sambil nyengir dia berkata. "Kau tak mau mengaku tak jadi apa. Tapi saya yakin kau yang tadi menolong saya. Suaramu sama dengan suara orang yang memberikan bisikan itu."

"Terima kasih kau berkata begitu. Tapi wahai anak muda. Belutku saja aku tidak bisa mengurus, bagaimana aku mengurusi belutmu!" Sambil berkata begitu si kakek monyongkan mulutnya yang tonggos ke arah bawah perut Wiro lalu tertawa gelak-gelak.

"Menolong orang tanpa ingin diketahui orang yang ditolong, itu artinya tulus tanpa pamrih. Tapi membuat bingung orang bisa mengurangi pahala!"

Tiba-tiba terdengar orang berucap. Anehnya suaranya terdengar bergema di empat penjuru! Kakek tonggos dongakkan muka ke langit, mulutnya bergerak-gerak seperti mau ditutup tapi tak pernah bisa karena deretan gigi-giginya yang menjorok tonggos.

"Sekali bicara mengumandang empat kali di empat penjuru! Siapa lagi yang punya ilmu seperti itu kalau bukan sobatku Hantu Tangan Empat! Wahai! Apakah kau sudah selesai mandi wahai kerabatku?! Terima kasih atas pujimu. Terima kasih juga atas cemoohmu!"

Wiro palingkan kepala. Di dekat air terjun Hantu Tangan Empat baru saja keluar dari dalam telaga. Jarak antara kakek itu dengan tempatnya berada terpisah belasan tombak. Tapi suara ucapannya terdengar seolah-olah dia berada di situ, dan di empat tempat sekaligus! Inilah ilmu kepandaian yang hanya dimiliki Hantu Tangan Empat, disebut Empat Penjuru Angin Menebar Suara. Lima tingkat lebih tinggi dari ilmu memindahkan suara yang selama ini dikenal oleh Wiro. Hal ini mengingatkan murid Sinto Gendeng pada peristiwa ketika pertama kali dia dan kawan-kawan bertemu dengan Hantu Tangan Empat di tanah Jawa (Baca riwayat pertemuan Wiro dengan Hantu Tangan Empat dalam serial Wiro Sableng berjudul "Bola-Bola Iblis").***6SESAAT kemudian Hantu Tangan Empat sudah berada di hadapan ke dua orang itu. Wajahnya yang rata kelihatan segar. Dia menatap ke arah kakek mulut tonggos. Si kakek yang dipandang tertawa lebar lalu menjura memberi hormat. Tapi caranya memberi hormat membuat orang bisa jengkel. Kepalanya memang ditundukkan, tangan dibuai di depan dada tapi pantatnya sekaligus disonggengkan. Padahal saat itu celananya masih didodorkan ke bawah!

"Pelawak Sinting, wahai! Puluhan tahun kau menghilang. Hari ini kau muncul apa gerangan maksud niat dan tujuanmu?!" Hantu Tangan Empat menegur sambil rangkapkan tangan di atas dada. Seringainya pencong dan kaku.

Sesaat si kakek tonggos yang dipanggil dengan nama Pelawak Sinting tersenyum lebar dan pantatnya masih saja disonggengkan. Perlahan-lahan dia luruskan badannya lalu berkata sambil tangannya diangkat ke atas, dilambaikan ke langit. Ketika dia bicara menjawab ucapan Hantu Tangan Empat maka suaranya seperti orang membaca puisi.

"Wahai Hantu Tangan Empat, terima kasih atas tegur sapamu yang menawan hati. Lihat ke atas. Pandanglah langit. Tiada berawan tiada mendung. Di sebelah sana serombongan burung terbang melintas udara. Angin bertiup lembut menyejuk jangat. Layangkan mata ke kiri. Air terjun jatuh menderu, bagus bentuk dan sedap suaranya sampai di telinga. Lihat dalam telaga, bungabunga aneka warna sesajian bekas mandimu mengambang elok menebar bau harum. Pagi seindah ini jarang terjadi. Salahkah diriku jika aku muncul untuk melihat dan merasakan keindahan alam ini? Kalau nanti mataku sudah mulai lamur, apa gunanya lagi. Bukankah begitu cara kita menikmati berkah yang melimpah wahai sahabatku Hantu Tangan Empat?"

Wiro garuk-garuk kepala menunggu apa jawaban Hantu Tangan Empat. Dalam hati dia berkata. "Jadi kakek geblek satu ini bernama Pelawak Sinting. Cocok dengan kelakuannya yang serba konyol... Tapi ucapannya tadi sungguh bagus!"

Hantu Tangan Empat sesaat masih tegak berdiam diri. Setelah melirik Wiro, selang berapa lama kemudian baru dia berkata. "Tak ada yang menyalahkan kehadiranmu wahai sahabatku Pelawak Sinting. Namun terbetik berita bahwa kau kabarnya telah bergabung dengan Hantu Muka Dua, membangun satu tempat bernama Istana Kebahagiaan, lalu ikut menjadi salah satu pembantu tangan kanannya... Mungkin kau bisa memberi keterangan?"

Si Pelawak Sinting mendongak ke langit lalu tertawa mengekeh. "Terima kasih namaku tersebar dalam berita begitu rupa! Terima kasih kau memberi tahu padaku! Sebenarnya siapa aku ini maka dikabarkan bergabung dengan Hantu Muka Dua membangun Istana Kebahagiaan! Gubuk reot saja aku tak mampu membangun, buktinya aku tidak punya rumah. Apalagi membangun Istana Kebahagiaan! Amboi! memangnya aku ini tukang bangunan apa? Ha... ha! Lagi pula aku tidak suka jadi pembantu. Diriku sendiri tak bisa kubantu, bagaimana bisa membantu orang lain. Ha... ha... ha! Kalaupun aku jadi pembantu, Hantu Muka Dua mau memberi aku upah berapa? Ha... ha... ha! Aku ini cuma seorang kakek sinting.

Mana mungkin Hantu Muka Dua mau dekat-dekat dengan diriku? Sahabatku Hantu Tangan Empat, hidup di alam ini paling enak seorang diri! Tidak ada yang mengikat. Ke mana mau pergi tidak ada yang melarang! Dada lapang pikiran lepas. Ha... ha... ha! Kau sendiri apakah selama ini baik-baik saja wahai sahabatku?" Ketika bicara si kakek yang bernama Pelawak Sinting itu gerak-gerakkan tangan, bahu dan pinggulnya secara lucu. Yang ditanya tersenyum. Si Pelawak Sinting kembali berucap.

"Wahai, wajahmu yang datar tersenyum. Tapi aku tahu di hatimu ada ganjalan! Malah sebetulnya akulah yang layak bertanya, siapa tahu aku bisa menolong..."

"Apapun yang terjadi dengan diriku, adalah tanggung

jawabku sendiri," kata Hantu Tangan Empat pula.

"Belakangan ini semua orang di Negeri Latanahsilam hidup seolah nafsi-nafsian. Memikir dan mengurus diri sendiri, tidak mau peduli pada diri dan keadaan orang lain..."

"Wahai, jangan begitu Hantu Tangan Empat. Karena kita bersahabat jadi wajib saling tolong jika salah satu mempunyai kesulitan..."

"Kau tidak akan bisa menolong. Jangankan kau, Dewa dan para Peri-pun sepertinya tidak mempedulikan diriku..."

"Wahai! Hantu Tangan Empat, jangan bersikap hidup seperti itu. Aku tahu hal ihwalmu dengan Hantu Muka Dua. Jika kau..."

Hantu Tangan Empat gelengkan kepalanya. Dia melirik pada Wiro lalu berkata. "Pelawak Sinting, aku tidak suka membicarakan hal ihwal yang satu itu!" Wajah datar Hantu Tangan Empat tampak keras membesi.

"Kalau begitu halnya, wahai apa gunanya aku berlamalama di tempat ini. Aku ingin menolong tapi yang punya diri malah menolak. Jadi aku ini jelas bukan termasuk orang yang nafsi-nafsian seperti katamu tadi. Aku mau pergi dulu. Tapi wahai Hantu Tangan Empat, ada sesuatu aku mau bilang padamu..." kata Pelawak Sinting.

"Apa?" tanya Hantu Tangan Empat pula.

"Habis mandi wajah dan tubuhmu kelihatan segar. Tapi apa gunanya kesegaran itu kalau habis mandi kau tidak berganti pakaian. Masih saja mengenakan pakaian bau apek! Ha... ha... ha!"

Wajah Hantu Tangan Empat tampak merah. Pelawak Sinting lambaikan tangannya lalu sambil putar tubuh dan melangkah dia mulai menyanyi. "Na... na... na...Ni... ni... ni..."

Melihat orang hendak pergi Wiro cepat menyusul dan menghadang di depan si kakek.

"Kek, sebelum kau pergi, kau harus mengakui dulu. Benar kau yang tadi menolong saya? Lalu bagaimana kau bisa tahu saya memiliki Ilmu Belut Menyusup Tanah itu?"

"Anak muda, lagi-lagi urusan belut yang kau bicarakan! Sudah kubilang belut di bawah perutku ini susah aku urusi, apalagi belutmu!" Entah jengkel atau marah payung di atas kepala si kakek kelihatan turun naik beberapa kali.

"Jangan terlalu bawel. Jangan salahkan aku kalau nanti aku pencet belutmu!"

Wiro garuk-garuk kepala. Si Pelawak Sinting hendak melangkah. Pendekar 212 kembali menghadang.

"Tapi Kek, saya merasa berhutang budi dan nyawa. Selain itu mungkinkah ada hubungan antara kau dengan..."

"Hutang budi dan nyawa itu tidak ada di alam ini wahai anak muda. Yang ada hanya hutang uang atau harta! Hutang budi dan hutang nyawa hanya basa basi orang geblek agar dianggap beradab! Ha... ha... ha!" Si kakek lalu melangkah hendak lanjutkan perjalanan sambil mulutnya kembali bernyanyi "Na... na... na... Ni... ni... ni." Tapi Wiro cepat mencegat hingga Pelawak Sinting terpaksa hentikan langkahnya. Matanya yang belok memandang lebar-lebar namun dia tidak marah malah tersenyum. "Wahai anak muda, kau keliwat memaksa. Seolah kau mau mati besok dan aku mau meninggal lusa. Mari kuperlihatkan sesuatu padamu..."

Wuttt!

Payung daun yang sejak tadi bertengger di atas kepalanya melesat ke atas, lalu melayang melewati kepala Wiro. Selagi Wiro mengangkat kepala, mengikuti payung yang melesat dengan pandangan matanya tiba-tiba dia merasa ada sambaran angin lewat di bawah selangkangannya. Begitu dia memandang ke bawah dia hanya melihat satu bayangan melesat cepat sekali lalu lenyap. Di depan sana waktu dia memperhatikan kembali ternyata payung daun milik Pelawak Sinting tak ada lagi. Si kakek sendiri juga seolah gaib entah ke mana!

"Kakek konyol itu..." kata Wiro setengah termangu. "Dia menyelinap di celah sempit antara dua kakiku! Satu hal yang tak mungkin dilakukan. Kecuali kalau dia mempunyai dan mempergunakan Ilmu Belut Menyusup Tanah. Sungguh aneh!"

Tiba-tiba terdengar suara nyanyian.

"Na... na... na. Ni... ni... ni..."

Wiro berkelebat ke arah sederetan pohon-pohon besar dari arah mana terdengarnya suara nyanyian itu. Tapi dia tidak melihat siapa-siapa di tempat itu.

"Kakek bernama Pelawak Sinting!" teriak Wiro. "Kalau saya ketemu kau lagi akan saya dodorkan celanamu sampai ke lutut!"

"Terima kasih kau mau berbuat begitu!" terdengar jawaban si kakek di kejauhan. "Jangan marah wahai anak muda! Kalau aku sudah melakukan hal itu lebih dulu pada dirimu!"

Wiro terkejut. Dia memandang ke bawah. Astaga! Ternyata celananya di bagian belakang telah merosot sampai mendekati lutut!

"Kapan dia melakukannya?! Bagaimana caranya?! Gila!" Wiro mencak-mencak sendiri dan cepat-cepat tarik celananya ke atas. "Pasti dilakukannya waktu tadi dia menyelinap di celah dua kakiku! Huh! Benar-benar sinting dan konyol!" Wiro memandang ke arah suara si kakek. Ingin sekali dia mengejar.

Hantu Tangan Empat tertawa mengekeh lalu berkata.

"Tak perlu kau kejar kakek itu. Apakah kau tidak mengerti arti ucapannya tadi yang mengatakan kelak dia bakal menemuimu lagi?"

Pendekar kita garuk kepala. "Ucapannya yang mana Kek?" tanya Wiro.

"Wahai! Tadi dia bilang, Wahai anak muda, kau keliwat memaksa. Seolah kau mau mati besok dan aku mau meninggal lusa..."

Wiro menarik nafas dalam. "Terima kasih atas petunjukmu. Mudah-mudahan saya bisa bertemu lagi dengan kakek itu. Walau otaknya mungkin kurang beres tapi kelihatannya dia baik dan hatinya polos. Bagaimana kau tadi bisa mengatakan bahwa dia adalah kaki tangan pembantu Hantu Muka Dua?"

"Anak muda, aku tahu kau punya permusuhan besar dengan Hantu Muka Dua..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.147.253.45
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia