Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

1HUJAN TURUN DERAS, halilintar menyambar ganas dan guntur menggelegar menggoncang bumi. Dalam keadaan seperti itu Kebo Hijo terus melakukan pengejaran atas diri orang yang lari di depannya. Tubuhnya dan pakaiannya bukan saja telah basah kuyup oleh air hujan, tapi juga oleh cucuran keringatnya sendiri.

"Raih Jenar keparat!" memaki Kebo Hijo seraya kepalkan tangan kanannya. "Kowe boleh lari ke ujung dunia! Boleh terbang menembus langit! Atau mencebur ke dalam laut! Tapi jangan harap kau bisa lolos! Sebentar lagi akan kubekuk dan kupatahkan batang lehermu! Awas kalau kotak hitam itu tidak kau serahkan padaku!"

Orang yang dikejar larinya sebat sekali tanda memiliki ilmu yang cukup andal. Namun Kebo Hijo sendiri juga memiliki kepandaian. Dalam waktu singkat dia pasti dapat mengejar orang di depannya itu. Raih Jenar lari seperti setan. Sesekali dia menoleh kebelakang dan orang ini memaki habis-habisan setiap Kali melihat pengejarnya tambah dekat. Tangan kirinya menekan ke pinggang di mana tersembunyi sebuah kotak hitam terbuat dari batu. Tangan kanannya setiap saat meraba ke bagian lain dan pinggang tempat dia menyisipkan sebilah keras.

"Berani kau mendekat, kukoyak tubuhmu!" mengancam Raih Jenar dalam hati.

Hujan tambah lebat. Kejar mengejar itu semakin seru. Raih Jenar lari ke daerah persawahan di kaki bukit. Sepasang kakinya laksana terbang berlari di atas pematang sawah yang licin. Tiba-tiba untuk kesekian kalinya halilintar menyambar. Sekejapan daerah persawahan itu terang benderang menggidikkan. Kilauan kilat yang menyambar dari langit menghunjam ke bumi jatuh tepat di persawahan menghantam sosok tubuh Raih Jenar yang sedang lari. Suara jeritan orang ini tenggelam ditelan suara gelegar geledek. Tubuhnya terkapar di pematang sawah. Hangus gosong kehilaman! Kebo Hijo yang berada lima belas langkah di belakang Raih Jenar yang malang itu merasakan ada getaran keras ketika kilat menyambar. Tubuhnya terpental oleh dorongan satu kekuatan dahsyat. Dadanya mendenyut sakit. Dalam keadaan terduduk di pematang sawah untuk beberapa lama dia tak mampu berbuat apa-apa. Wajahnya pucat dan sepasang matanya melotot memandang ke arah sosok tubuh Raih Jenar.

"Matikah si keparat itu?" Kebo Hijo bertanya pada diri sendiri. Lalu dia ingat pada kotak batu itu. Seolah-olah mendapat satu kekuatan, Kebo Hijo mampu bangkit dan melangkah bergegas mendekati tubuh Raih Jenar yang telah jadi mayat hangus hitam. Air hujan yang jatuh menimpa tubuh seperti dipanggang dan melepuh panas itu menimbulkan kepulan asap menebar bau daging matang terbakar. Merinding bulu tengkuk Kebo Hijo. Dia menunggu sampai kepulan asap lenyap dari tubuh mayat. Kemudian dengan ujung kakinya dibalikkannya tubuh Raih Jenar hingga terlentang.

Muka mayat itu menggidikkan untuk dilihat. Pada bagian pinggang Raih Jenar tampak sebilah keris yang kini hanya merupakan sebuah benda bengkok leleh akibat hantaman halilintar. Kebo Hijo mencari-cari. Dia tidak melihat benda yang dicarinya itu.

"Celaka! Jangan-jangan kotak dan isinya ikut leleh!" Memikir sampai disitu cepat-cepat Kebo Hijo membungkuk Dan memeriksa tubuh Raih Jenar.

Benda yang dicarinya ternyata masih terselip di pinggang kirinya. Cepat Kebo Hijo ulurkan tangan untuk mengambil oenda itu yakni sebuah kotak terbuat dari batu berwarna hitam: Tapi begitu jarinya menyentuh batu hitam, Kebo Hijo tersentak menjerit dan tarik tangan kanannya. Ketika diperhatikan ternyata beberapa jari tangannya yang tadi sempat menyentuh batu hitam yang masih sangat panas itu kini tampak melepuh!

Kebo Hijo buka belangkonnya. Dengan benda itu dia menciduk air sawah. Air dalam blangkon kemudian diguyurkannya ke atas batu hitam. Batu yang panas itu tampak mengepulkan asap. Setelah melakukan hal itu beberapa kali dan batu hitam menjadi dingin baru Kebo Hijo mengambil batu itu.

"Bukan main!" menggumam kagum Kebo Hijo. "Keris yang terbuat dari besi pilihan saja leleh! Tapi kotak batu ini rusak sajapun tidak!" Dia memandang berkeliling. Di sebelah timur, beberapa belasan tombak tampak sebuah dangau. Kebo Hijo segera lari menuju dangau itu. Begitu sampai di dangau kotak batu ditelitinya. Pada bagian samping kotak terdapat celah tipis memanjang. Itulah batasan antara bagian bawah dan bagian atas yang menjadi penutup kotak batu. Dengan tangan gemetar Kebo Hijo membuka penutup kotak. Sulit dan keras hingga Kebo Hijo harus mengerahkan tenaga. Ketika akhirnya kotak itu terbuka di dalamnya tampak sehelai kain putih. Dengan tangan gemetar mengambil kain putih itu dan membuka lipatannya. Di atas kain putih itu ternyata ada sederetan tulisan dalam huruf kuno yang dapat dimengerti dan dibaca oleh Kebo Hijo, berbunyi:

Asal manusia dari tanah, air dan api

Api dikodratkan lebih berkuasa dari

kekuatan tanah dan air.

Sumber api paling utama adalah

kilat atau petir atau halilintar.

Siapa saja manusia sakit atau sakarat,

disentuh halilintar setelah padanya

dilafatkan kata-kata hikmah dan mujarab

sebanyak 10.000 kali maka kehidupan akan

menjadi miliknya kembali.

Adapun kata-kata berhikmah itu ialah:

Walakalmati – Walakilhidup

Matiwalakal – Hidupwalakil

Setelah 10.000 kata dilafatkan, usapkan

kotak batu hitam ke wajah dan tubuh orang

yang sakit atau baru mati. Maka itulah

titik mula kehidupan. Bawa dia ke tempat

yang tinggi. Letakkan batu hitam di dadanya

di arah jantung. Bila halilintar

menyambar tubuhnya, kesembuhan dan

kehidupan menjadi miliknya kembali.Kebo Hijo merasa tegang oleh luapan kegembiraan. Dia mendongak ke langit seraya berteriak keras. Lalu dengan suara bergetar dia berkata :

"Akhirnya kudapat juga batu berisi jimat kehidupan ini! Aku akan menjadi orang sakti! Bisa menyembuhkan orang sakit, menghidupkan orang mati!"

Hujan masih turun dengan deras. Kebo Hijo tak mau menunggu sampai hujan reda. Dia sudah memutuskan untuk segera meninggalkan tempat itu. Kain putih kecil dilipatnya kembali lalu dengan hati-hati dimasukkannya ke dalam kotak batu hitam. Kotak kemudian ditutupkannya rapat-rapat lalu diselipkannya di pinggang. Namun baru saja kotak itu menempel di pinggangnya mendadak ada satu suara menegur, membuat Kebo Hijo serasa terbang rohnya saking kagetnya.

"Anak manusia! Serahkan kotak batu itu padaku!" Kebo Hijo berpaling ke kiri. Astaga! Disitu, di bawah hujan lebat di samping dangau tampak berdiri seorang lelaki tua berambut berjanggut dan berkumis putih. Dia mengenakan jubah putih yang kuyup. Wajahnya klimis tapi mendatangkan rasa angker bagi siapa saja yang memandangnya karena wajah itu putih pucat, seputih kain kafan!

"Manusia atau hantukah mahluk ini?!" membatin Kebo Hijo.

Bagaimana mungkin dia yang berilmu sampai tidak dapat mengetahui kemunculan orang tua tak dikenalnya itu dan tiba-tiba saja sudah berada di situ!

"Anak manusia, aku tidak suka mengulang perintah sampai dua kali. Kalau itu kulakukan berarti nyawamu ikut kuminta!" Orang berjubah putih itu kembali angkat bicara. Dia tidak berusaha mengindari terpaan hujan dan terus saja tegak berbasah-basah di tepi dangau.

"Kau, kau meminta apa tadi ..?" bertanya Kebo Hijo.

"Kau tidak tuli! Sekali ini aku masih mau memberi tahu. Setelah itu jangan harap kau bisa berdalih! Aku minta batu hitam yang kau ambil dari tubuh Raih Jenar!"

"Eh, bagaimana orang ini bisa tahu kalau aku memgambil kotak batu dari Raih Jenar. Padahal dia tak ada di sini tadi," berpikir Kebo Hijo. Lalu dia bertanya, "Orang tua, siapa kau ini sebenarnya?"

"Siapa aku tidak penting. Lekas serahkan benda yang kuminta!" Lalu si jubah putih ulurkan tangan kanannya, siap menerima barang yang dimintanya.

"Kau keliru! Aku tidak memiliki benda yang kau minta itu. Barang yang kau cari mungkin masih berada pada Raih Jenar. Coba saja kau periksa tubuhnya!" Kebo Hijo menunjuk ke arah mayat Raih Jenar yang tergeletak di pematang sawah, lalu memutar tubuh hendak meninggalkan tempat itu. Si jubah putih menyeringai. Tangan kirinya di ulurkan memegang bahu Kebo Hijo. Pegangan itu biasa-biasa saja, tapi Kebo Hip merasa seperti ada gundukan batu besar yang menindih tubuhnya hingga dia keberatan dan tak bisa bergerak.

"Seperti katamu, mungkin aku perlu memeriksa mayat Raih Jenar. Tapi ketahuilah, hari ini bakalan ada dua mayat di tempat ini." Orang tua itu memutar tubuh, bersikap seperti benar-benar hendak pergi mendekati tubuh Raih Jenar. Namun sebelum tubuhnya terputar penuh, tiba-tiba sekali tangan kananya bergerak ke arah batok kepala Kebo Hijo.

Praakkk!

Kepala Kebo Hijo rengkah. Darah dan cairan otak muncrat. Tubuhnya rebah ke lantai dangau tak berkutik dan tak beryawa lagi!

Di langit kilat menyambar dan geledek menggemuruh. Si jubah putih menyeringai sambil usap janggul putihrrya. Dengan tangan kirinya dia menyibakkan pakaian Kebo Hijo. Kotak batu hitam yang terselip di pinggang Kebo Hijo disambamya. Lalu dia tinggalkan tempat itu sambil keluarkan suara tawa mengekeh. Dalam waktu singkat sosok tubuhnya telah lenyap di kejauhan dibawah hujan yang masih mendera lebat.***

2KI DUKUN TAMBAK RESO membuka kedua mata dan turunkan sepasang tangannya yang bersidekap di depan dada ketika di pintu terdengar ketukan.

"Siapa ..?!" tanyanya.

"Saya, Gusdur. Pembantumu..." terdengar jawaban.

"Jika kau datang membawa apa yang kuinginkan kau boleh masuk. Jika tidak, harap pergi saja dan jangan kembali sebelum kau mendapatkan apa yang kuminta!"

"Saya memang datang membawa apa yang Ki Dukun perintahkan. Saya memanggul seekor anak rusa yang sakarat diterkam harimau!"

"Kalau begitu kau boleh masuk!"

Pintu tampak di dorong. Terdengar suara berkereketan. Lalu masuk sesosok tubuh lelaki, pendek tetapi tegap berotot. Orang ini hanya mengenakan sehelai celana pendek hitam sebatas lutut. Dia memanggul seekor anak rusa yang robek leher serta dadanya. Binatang ini tengah sakarat, beberapa saat lagi pasti mati. Darah mengalir dari luka di tubuh anak rusa dan membasahi bahu, punggung serta dada Gusdur.

"Letakkan binatang itu dihadapanku!" Orang tua berjubah putih bernama Ki Dukun Tambak Reso memerintah lalu menarik sehelai tikar kulit dan menariknya kehadapannya. Gusdur menurunkan anak rusa dari bahunya lalu meletakkan binatang itu di atas tikar kulit. Ki Dukun memberi isyarat agar si pembantu duduk di sudut ruangan.

"Dua pumama aku menunggu dan menyiapkan diri. Sekarang baru kudapat mahluk yang bisa dijadikan peroobaan. Mudah-mudahan hujan dan kilat datang tepat pada waktunya." Habis berkata begitu Ki Dukun Tambak Reso keluarkan sebuah benda dad saku jubahnya. Benda ini ternyata adalah sebuah kotak yang terbuat dad batu berwarna hitam. Kotak batu di buka dan sehelai kain putih terlipat dikeluarkannya dari dalam kotak lalu dikembangkannya di atas pangkuan. Pada kain putih itu tertera tulisan kuno berbunyi: Walakalmati Walakalhidup – Matiwalakal Hidupwalakil.

Dengan suara perlahan-lahan Ki dukun mulai membaca kata-kata itu berulang kali tiada henti-hentinya. Matanya sedikit demi sedikit terpejam, kepalanya bergoyang-goyang. Gusdur si pembantu memperhatikan dari sudut ruangan. Dia tak berani bergerak, bahkan berkesippun jarang-jarang. Ada rasa ngeri didalam hatinya. Dia tidak mengerti mengapa tiba-tiba saja dia merasa begitu.

Siang berganti sore dan sore mulai memasuki malam. Tambak Reso masih terus melafatkan kata-kataWalakalmati Walakalhidup – Matiwalakal – Hidupwalakil. Suaranya tidak berubah sedikitpun tanda hati dan pikirannya sangat yakin atas apa yang tengah dikerjakannya saat itu. Dia seperti tidak menyadari kedatangan malam bahkan ketika di luar sana angin kencang bertiup, udara menjadi dingin dan hujan mulai turun disertai gelegar guntur dan halilintar dia masih saja terus melafatkan katakata berhikmah itu.

Hujan masih terus turun, guntur masih menggelegar dan kilat masih menyambar ketika Ki Dukun Tambak Reso selesai melafatkan 10.000 kali rangkaian empat kata bertuah itu. Tubuh dan jubahnya basah oleh keringat.

Perlahan-lahan orang tua ini bukakan kedua matanya. Sesaat dia menatap tubuh anak rusa di atas tikar kulit. Kain putih di atas pangkuan dilipat, dimasukkan ke dalam kotak batu lalu kotak di tutup kembali. Dengan kotak batu itu Ki Dukun Tambak Reso kemudian mengusap kepala dan sekujur tubuh anak rusa, termasuk ke empat kakinya. Lalu cepat-cepat kotak batu dimasukkan ke dalam jubahnya.

"Gusdur!"

Pembantu yang hampir terlelap di sudut ruangan tersentak kaget, cepatcepat membungkuk seraya menyahuti, "Saya Ki Dukun..."

"Aku akan meninggalkan tempat ini menuju ke bukit Jati Arang..."

"Di luar masih hujan lebat Ki Dukun," mengingatkan Gusdur. Maksudnya baik. Tapi si orang tua cepat menukas.

"Kau tak layak menasihatiku!"

"Maafkan saya Ki Dukun..." ujar Gusdur seraya membungkuk berulang kali.

"Ingat semua pesanku Gusdur! Jangan tinggalkan rumah ini selama aku pergi. Jangan menerima tamu siapapun walaupun seorang malaikat! Dan jangan ceritakan pada siapapun apa yang telah kau lihat di tempat ini! Termasuk kepergianku ke bukit Jati Arang. Kau ingat apa hukumannya jika kau berani melanggar pesan dan perintahku?!"

"Saya ingat Ki Dukun dan saya tak akan melanggamya," jawab Gusdur pula. Lalu dilihatnya Ki Dukun Tambak Reso mencekal leher anak rusa yang saat itu sudah mati, melangkah ke pintu lalu lenyap ditelan kegelapan malam dan hujan lebat di luar sana. Sesaat udara dingin merambas masuk ke dalam rumah membuat Gusdur menggigil kedinginan. Buru-buru dia menutupkan pintu dan memasang palangnya sekaligus. Kuduknya merinding ketika matanya membentur noda-noda darah pada tikar kulit bekas tempat anak rusa itu digeletakkan.

Beberapa lamanya Gusdur melangkah mundar-mandir di ruangan itu. Dia selalu dibayangi oleh pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam hatinya. Apa sebenarnya yang tengah dilakukan oleh Ki Dukun. Mengapa pula dia malam-malam hujan lebat begitu pergi ke bukit Jati Arang?

Selama ini dia memang sering melihat perbuatan-perbuatan aneh dilakukan orang tua itu. Namun tak ada yang seaneh kali ini. Karena keletihan Gusdur membaringkan dirinya di pojok ruangan. Baru saja dia melunjurkan kaki tiba-tiba ada yang mengetuk pintu, membuatnya terkejut dan memaki setengah mati. Dia tegak dan melangkah mendekati pintu.

"Siapa?!" bertanya Gusdur.

"Aku..." Ada suara menjawab diantara deru hujan dan angin di luar sana.

"Aku siapa?! membentak Gusdur.

"Aku kesasar dan kemalaman di jalan! Aku ingin berteduh! Tolong bukakan pintu! Pertolonganmu pasti tak akan kulupakan...!"

"Rumah ini bukan tempat berteduh! Apalagi untuk orang kesasar. Cari saja tempat yang lain...!" ujar Gusdur pula.

"Sobat, jangan begitu! Aku sudah sudah basah kuyup dan kedinginan setengah mati! Aku sudah berkeliling, tapi rumah ini satu-satunya bangunan di daerah ini!" Orang diluar sana mendesak.

"Aku tidak kenal padamu! Tak ada kewajiban bagiku untuk menolong! Lagi pula aku tidak mau melanggar pesan majikanku pemilik rumah ini!"

"Eh, apa sih pesan majikanmu itu?!" orang di luar sana bertanya.

Gusdur hendak memaki tapi lelaki pendek kekar ini menjawab juga.

"Aku tidak diperkenankan bicara dengan siapapun! Apalagi kalau sampai membawa masuk seseorang ke dalam rumah ini!"

"Apakah majikanmu ada di rumah saat ini?"

"Tidak. Dia sedang pergi..."

"Nah, kalau dia sedang pergi kenapa takut? Dia tak akan mengetahui kedatanganku di rumah ini! Nah, bukalah pintu!"

"Pergi saja! Aku tak bisa menolongmu!"

"Kalau begitu pintu rumah akan kubobol paksa. Kalau majikanmu melihat pintu ini rusak, kau pasti akan dihukumnya! Kaupilih mana? Menolongku atau kena damprat majikanmu ..?! Ha..ha..ha..!"

"Kurang ajar! Berani kau memaksa dan mendesak aku! Ingin kulihat bagaimana tampangmu!" Gusdur menurunkan palang pintu lalu membuka pintu. Bersamaan dengan menyeruaknya udara dingin dari luar, melompat masuk ke dalam rumah seorang lelaki dalam keadaan basah kuyup. Ternyata dia seorang pemuda berpakaian putih berambut gondrong. Baik rambutnya yang gondrong maupun pakaiannya basah kuyup dan tetesantetesan air dari tubuh serta pakaian pemuda ini jatuh ke bawah mambasahi lantai.

"Kau maling atau rampok atau apa?! Lekas kau tinggalkan rumah ini! Aku tak mau menjadi susah karena kehadiranmu disini!"

Melihat pemuda itu tetap saja tegak malah sambil menyeringai dan garuk-garuk kepala, Gusdur jadi gusar. Dia segera menyambar palang pintu dan siap menghantam si pemuda dengan benda itu.

"Sobat, sabar dulu! Jangan cepat saja mengemplang orang!" berkata si pemuda seraya mengangkat tangan kanannya. Tiba-tiba saja Gusdur merasa palang pintu yang dipegangnya menjadi berat luar biasa. Karena tak kuat memegangnya lagi, lelaki pendek ini terpaksa menurunkan palang pintu itu ke lantai.

"Sahabat, aku tahu kau orang baik. Siapa sih nama majikanmu pemilik rumah ini?!" bertanya si pemuda.

Menyangka bila diberi tahu nama majikannya si pemuda akan menjadi takut dan buru-buru tinggalkan tempat itu maka dengan suara keras Gusdur memberi tahu. "Majikanku adalah Ki Dukun Tambak Reso! Dukun sakti yang terkenal di mana-mana! Siapa saja yang berani berlaku kurang ajar terhadapnya pasti akan menyesal seumur hidup. Pemuda macammu ini mudah sekali dibuatnya menjadi seorang pikun atau lumpuh seumur-umur!"

"Wah, wah, hebat sekali majikanmu yang dukun itu. Tapi aku kan tidak berlaku kurang ajar padanya?!"

"Tidak berlaku kurang ajar katamu?! Buktinya saat ini kau memasuki rumahnya tanpa izinnya." tukas Gusdur jengkel dan marah.

Pemuda berambut gondrong itu kucak-kucak rambutnya yang basah.

Sambil tertawa dia berkata. "Sobat, bukankah tadi kau sendiri yang membuka pintu rumah..?!"

Mendengar ucapan itu Gusdur hanya bisa pelototkan mata. Si pemuda memandang geli padanya dan bertanya, "Benar majikanmu Ki Dukun Tambak Reso dan ini rumahnya?!"

"Kau kira aku berdusta? Tunggu sajalah sampai dia muncul! Begitu kau dilihatnya celakalah nasibmu!"

Mendengar ucapan Gusdur itu dalam hatinya si pemuda berkata,

"Hem... jadi benar rupanya keterangan yang kudapat..." Dia menatap tampang Gusdur sesaat lalu bertanya, "Di mana majikanmu sekarang?!"

"Kau bunuhpun aku tak akan memberi tahu!" sahut Gusdur.

"Aku tidak akan membunuhmu, pendek! Tapi mungkin akan menangkapmu. Juga majikanmu!"

Mendengar kata-kata pemuda itu Gusdur jadi agak terkejut. "Siapa kau ini sebenarnya?!"

"Namaku Wiro. Aku adalah salah seorang Kepala Perajurit Keraton!"

"Aku tidak percaya!" ujar Gusdur. "Kalau kau memang alat Kerajaan mengapa tidak mengenakan pakaian seragam? Dan rambutmu yang gondrong! Mana ada perajurit berambut gondrong sepertimu!"

Si pemuda yang ternyata adalah Pendekar 212 Wiro Sableng menyeringai. "Dengar, sebenarnya ini adalah rahasia. Tapi karena aku menganggapmu sebagai seorang kawan maka aku akan katakan padamu. Aku sengaja menyamar. Aku tengah melakukan perjalanan rahasia untuk menangkap orang-orang jahat dan kaki tangan pemberontak! Kalau kau tidak mau bekerjasama, jangan heran kalau malam ini juga kau bisa kuseret ke Kotaraja!"

"Edan! Aku bukan penjahat, apalagi pemberontak!" kata Gusdur setengah berteriak.

"Kau kuanggap orang jahat jika tidak mau mengatakan di mana majikanmu..."

"Benar-benar edan! Ki Dukun akan menghajarku habis-habisan jika alau berani menceritakan di mana dia berada!"

"Kenapa dia menghajarmu? Berarti ada rahasia yang tidak beres di tempat ini!" ujar Wiro seraya menatap tajam pada Gusdur. "Kau mau bicara terang-terangan atau bagaimana?!" Nada suara Wiro keras mengancam.

Gusdur jadi agak takut. Namun rasa takutnya terhadap Ki Dukun Tambak Reso jauh lebih besar. Maka diapun berkata, "Pemuda rambut gondrong! Paling tidak aku telah memberi kesempatan padamu untuk berteduh. Sekarang tinggalkan rumah ini!"

"Aku tidak akan pergi sebelum kau menceritakan rahasia menyangkut diri majikanmu!" sahut Wiro lalu rangkapkan kedua tangan di depan dada dan mulutnya menyeringai dimonyong-monyongkan.

Gusdur jadi kalap. "Jika begitu katamu, kau rasakan ini!" Lalu dia menyambar palang pintu. Seperti tadi dia kembali hendak mengemplang Wiro dengan kayu itu. Tapi lagi-lagi dia mendadak merasakan palang pintu itu menjadi berat hingga dia tidak kuat mengangkatnya. Terpaksa dia lepaskan dan palang pintu jatuh ke lantai. Kini barulah Gusdur sadar kalau dia berhadapan dengan seorang berkepandaian tinggi. Mungkin sama tinggi kepandaiannya dengan Ki Dukun. Maka dengan suara rendah dia berkata, "Orang muda, jangan pergunakan kesaktianmu untuk membuat susah orang kecil sepertiku. Pergilah..."

Wiro pegang bahu Gusdur seraya berkata, "Aku mana tega membuatmu susah. Justru aku akan memberikan kesaktian padamu jika kau mau bicara banyak tentang Ki Dukun. Juga mengatakan di mana dia berada saat ini!"

"Kesaktian? Kesaktian apa..?" tanya Gusdur terheran-heran.

"Lihat ini!" ujar Wiro seraya luruskan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya. Lalu ke dua ujung jati itu ditekankan ke lantai.

Terdengar suara berderak. Perlahan-lahan ujung dua jari itu masuk menembus lantai kayu yang berlubang! Tentu saja Gusdur jadi melengak kagum melihat kejadian itu.

"Kau juga bisa melakukan seperti yang barusan kulakukan. Cobalah!" ujar Wiro.

Meski tidak percaya tapi si pembantu lakukan juga apa yang dikatakan Wiro. Kedua jarinya diluruskan lalu ditusukkan ke lantai kayu. Gusdur terpekik kesakitan dan kibas-kibaskan tangan kanannya.

"Dusta besar!" teriaknya marah.

Wiro tertawa. "Untuk dapat menembus lantai kayu dengan dua jarimu, tubuhmu perlu diisi dengan kesaktian lebih dahulu. Aku bersedia memberikannya tapi ada syaratnya, sobatku! Tidak sulit syaratnya.

Ceritakan di mana majikanmu sekarang. Apa yang dilakukannya selama ini. Dan ..." Wiro menoleh ke arah tikar kulit di lantai." Darah apa yang melekat di tikar kulit itu...?"

Gusdur tampak bingung tapi juga berpiki-rpikir. Dia sangat takut terhadap Ki Dukun majikannya itu. Tapi jika dia nanti memiliki kesaktian, apakah masih perlu takut? Pembantu ini akhirnya memilih kesaktian. Maka diapun berpaling pada Wiro dan berkata, "Baik, asalkan kau tidak menipuku aku bersedia menjawab semua apa yang kau minta. Tapi berikan kesaktian itu lebih dulu, baru kau mendapat keterangan dariku."

Wiro anggukkan kepala, melangkah mendekati Gusdur dan genggam tangan kanan lelaki pendek itu dengan tangan kanannya. Beberapa saat berlalu. Gusdur merasakan ada aliran hangat memasuki jari-jari tangannya, terus ke telapak, terus ke lengan dan berhenti sampai di batas siku.

"Apa yang kau rasakan?" tanya Wiro

"Ada hawa hangat menjalar ke tanganku..."

"Bagus. Kau sudah jadi orang sakti sekarang!" Gusdur ternganga, tak percaya.

"Coba tusuk lagi lantai itu! Kau akan melihat buktinya!" ujar Wiro.

Gusdur merasakan dadanya berdebar. Dia luruskan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya. Lalu... kedua jari itu ditusukkan ke lantai kayu.

Kraak!

Dua jari tangan Gusdur masuk. Ketika ditarik, di lantai kayu tampak lubang. Sepasang mata Gusdur terbelalak. Dia melompat dan hampir saja berteriak saking girangnya. "Aku jadi orang sakti! Aku jadi orang sakti...!"

desahnya dan berpaling pada Wiro sambil kepalkan tangan kanan dan acungkan tinggi-tinggi ke atas.

"Kau sudah memiliki kesaktian. Sekarang tepati janjimu..." berkata Wiro.

"Akan kutepati. Aku Gusdur berterima kasih padamu. Aku akan menganggapmu sebagai guru! Janji akan kutepati. Aku akan memanggilmu guru! Guru, dengar. Aku akan menceritakan semuanya padamu. Bahkan kalau kau suka, aku akan antarkan kau ke tempat dimana saat ini Ki Dukun Tambak Reso berada! Kau tahu guru, orang tua itu tengah mengamalkan satu ilmu kesaktian hebat luar biasa. Dengan ilmunya itu dia bisa menyembuhkan orang sakit, bahkan menghidupkan mahluk yang sakarat atau sudah mati..."

"Hem, sungguh luar biasa jika itu betul. Agaknya semua keterangan yang kudapat sebelumnya memang cocok dengan apa yang aku dengar dari orang ini." Wiro membatin. Lalu pada Gusdur dia anggukkan kepala seraya berkata. "Antarkan aku ke tempat Ki Dukun itu berada. Sambil jalan kau bisa menerangkan segala sesuatu tentang diri dan ilmu kesaktiannya itu."

Gusdur balas mengangguk. Lalu mendahului melangkah menuju pintu.***

3UNTUK MENCAPAI puncak bukit Jati Arang tidak mudah. Apalagi saat itu malam gelap gulita dan hujan turun dengan deras ditambah udara dingin bukan kepalang. Dulunya bukit itu merupakan bukit yang penuh ditumbuhi pohon-pohon jati yang sudah berusia puluhan tahun. Suatu ketika terjadi kebakaran hutan, bukit beserta pohon-pohon jatinya ikut terbakar musnah, berubah menjadi bukit tandus penuh bebatuan hitam dan gersang. Sejak itu bukit ini disebut orang sebagai bukit Jati Arang. Gusdur berjalan di sebelah depan. "Kesaktian" yang didapatnya dari sang "guru" membuat lelaki pendek bertubuh kekar ini mendaki bukit penuh semangat walaupun dengan susah payah. Pendekar 212 Wiro Sableng mengikuti dari belakang.

Hujan agak mereda, tetapi guntur masih menggelegar dan kilat masih sambung menyambung ketika mereka akhirnya sampai di puncak bukit. Gusdur berhenti di balik sebuah batu besar lalu menunjuk ke arah atas di mana terdapat sebuah batu besar berbentuk hampir datar. Di depan batu datar yang terpisah beberapa belas tombak itu tampak berdiri seorang tua berjanggut putih, berpakaian jubah putih dalam keadaan basah kuyup. Gusdur menunjuk ke arah orang itu lalu berbisik pada Wiro.

"Itu Ki Dukun Tambak Reso. Lihat apa yang tengah dilakukannya..."

Wiro memang sudah sejak tadi melihat orang di puncak bukit itu, jauh sebelum Gusdur memberi tahu. Orang ini duduk bersila di atas batu datar.

Di atas batu di hadapannya menggeletak sosok tubuh anak rusa yang sudah jadi bangkai. Untuk beberapa lamanya orang berjubah ini duduk menundukkan kepala berdiam diri, mungkin tengah membaca mantera atau hanya sekedar mengkhususkan diri. Kemudian tampak dia mengambil sesuatu dari saku jubahnya. Benda ini diletakkannya di atas tubuh anak rusa yang mati, di bagian dada, tepat di arah jantung. Sesaat dia menatap bangkai bintang itu dengan dada berdebar. Dia memandang berkeliling; lalu turun dari batu datar, melangkah mundur sejauh dua belas langkah.

Gusdur menyentuh lengan Wiro seraya berbisik, "Yang diletakkannya tadi di atas tubuh rusa, itulah batu aneh yang kuceritakan padamu..."

Wiro mengangguk sambil meletakkan jari telunjuknya di atas bibir, memberi tanda agar Gusdur jangan bicara karena saat itu Ki Dukun berada dekat sekali dengan batu besar dibalik mana mereka bersembunyi.

Di kejauhan terdengar guntur menggelegar. Menyusul sambaran kilat di langit. Suara guntur lagi, kini makin dekat dan keras menggetarkan puncak bukit Jati Arang. Lalu halilintar berkiblat dahsyat, menerangi puncak bukit. Ujungnya menghujam ke bawah, menghantam batu datar dimana anak rusa berada. Batu datar dan tubuh anak rusa itu sedikitpun tidak bergeming, padahal Ki Dukun Tambak Reso nampak terbanting jatuh duduk ke tanah. Begitu juga Gusdur dan Wiro Sableng yang sembunyi di belakang batu besar, keduanya rubuh terduduk!

Perlahan-lahan Ki Dukun berdiri sambil kedua matanya memandang tak berkesip ke arah batu datar. Malah kini dengan debaran jantung lebih keras dia melangkah mendekati batu itu. Ada asap tipis menyelubungi tubuh anak rusa di atas batu. Asap ini membubung ke atas lalu lenyap. Di atas batu anak rusa yang jelas-jelas sudah jadi bangkai alias mati tampak menggerakkan dua kaki belakangnya. Menyusul dua kaki depannya ikut bergerak. Ki Dukun kini merasakan bukan saja jantungnya yang berdebar keras, tapi seluruh tubuhnya ikut bergetar oleh goncangan luapan kegembiraan bercampur rasa hampir tidak percaya melihat kenyataan itu. Dari tempatnya berdiri dia melihat anak rusa membukakan kedua matanya Luka di tubuh binatang ini tampak meninggalkan bekas hitam. Tiba-tiba terdengar anak rusa ini menguik! Lalu binatang ini melompat dan tegak di atas batu datar. Sesaat memandang kian kemari.

"Sungguh luar biasa! Di mana ada mujizat dan keajaiban seperti ini!

Dan aku Ki Dukun Tambak Reso yang melakukannya!" begitu si orang tua jubah putih berucap pada dirinya sendiri. Dia melangkah lebih dekat ke batu besar. Anak rusa di atas batu itu memandang ke arahnya. Sesaat kemudian, sebelum Ki Dukun melangkah lebih dekat, binatang ini melompat dari atas batu, menghambur dalam kegelapan dan lenyap!

Untuk beberapa lamanya Ki Dukun dan juga Wiro serta Gusdur menatap ke arah gelap di jurusan menghilangnya anak rusa tadi.

Di depan batu datar, Ki Dukun kemudian tampak membungkuk untuk mengambil batu kotak batu hitam yang tadi terlempar jatuh sewaktu anak rusa melompat bangun dari kematiannya!

Di balik batu Gusdur berkata, "Aku harus kembali sekarang juga sebelum Ki Dukun sampai. Jika dia mendapatkan aku tak ada di rumah, apalagi sampai mengetahui aku ada di sini aku bisa celaka. Aku pergi sekarang..."

Wiro mengangguk. Gusdur balikkan tubuh lalu cepat-cepat tinggalkan tempat itu. Begitu Gusdur lenyap, Ki Dukun tampak beranjak dari tempatnya setelah lebih dulu menyimpan baik-baik kotak batu hitam ke dalam saku jubahnya. Saat dia hendak melangkah pergi dalam luapan kegembiraan dan ketakjuban yang tiada henti-hentinya, saat itulah Pendekar 212 Wiro Sableng keluar dari balik batu dan melangkah ke hadapannya.

Tentu saja Ki Dukun Tambak Reso sangat terkejut ketika tiba-tiba melihat ada seorang pemuda tak dikenal muncul di hadapannya di bawah hujan dan gelapnya malam serta dinginnya udara di puncak bukit itu. Serta merta dia hentikan langkah dan memandang meneliti. Dia tidak kenal pemuda di depannya ini. Perasaan curiga dan tidak enak menjadi satu bercampur rasa marah karena menyadari rupanya ada orang lain di tempat ini.

"Sejak berapa lama keparat ini berada di tempat ini? Apakah dia mengetahui dan menyaksikan apa yang telah kulakukan? Melihat apa yang aku kerjakan?" Ki Dukun bertanya-tanya dalam hati.

"Orang muda! Siapa kau?!" Ki Dukun Tambak Reso membentak.

Suaranya terdengar garang dibawah hujan lebat, tatapan matanya membersitkan kemarahan.

Dibentak keras-keras seperti itu murid Sinto Gendeng sesaat jadi terkesima. Ada kekuatan aneh dalam diri orang tua ini, termasuk dalam suaranya. Meskipun terkesima, namun dalam hatirya Wiro bertanya-tanya pula apakah dia akan menjawab terus terang siapa dirinya, mengutarakan maksud kemunculannya di tempat itu atau lebih dulu coba mempermainkan si jenggot putih Irn.

"Orang tua, kau datang ke puncak bukit Jati Arang ini tanpa permisi tanpa izin. Sungguh lancang dan ceroboh tindakanmu!"

Kini Ki Dukun itulah yang terkesima mendengar ucapan orang. "Tanpa permis? Tanpa izin...? Minta permisi dan izin pada siapa...?! Apa maksudmu?!"

"Minta izin dan permisi padaku! Karena akulah penguasa dan pemilik bukit Jati Arang ini!" sahut Wiro seraya renggangkan kedua kaki dan tangkapkan kedua tangan di depan dada.

Mendengar ucapan itu Ki Dukun Tambak Reso keluarkan suara tertawa bergelak. "Puluhan tahun aku tinggal di daerah ini! Baru malam ini aku mendengar kalau bukit Jati Arang ada pemiliknya, ada penguasanya! Kau melantur atau kau sebenarnya memang seorang berotak tidak waras?!"

"Kau berani menghina dan bermulut kotor pada penguasa bukit Jati Arang! Berarti kau sudah pasrah tubuhmu dijadikan arang! Kecuali..."

"Kecuali apa?!" sentak Ki Dukun Tambak Reso seraya kepalkan kedua tinjunya.

Wiro tak segera menjawab, melainkan menyeringai lebih dulu lalu memencongkan mulutnya baru berkata: "Kecuali jika kau menyerahkan kotak terbuat dari batu hitam itu!"

"Hem ...itu rupanya maksud kehadiranmu di sini!" Karena maklum orang sudah mengetahui kalau kotak batu itu ada padanya Ki Dukun tak mau berdalih. Maka diapun bertanya, "Hak apa kau meminta benda itu?!"

"Karena kau ditakdirkan tidak sebagai pemiliknya. Benda itu merupakan salah satu barang pusaka yang paling rahasia dari Keraton. Jadi harus dikembalikan pada Kerajaan!"

"Penipu besar! Aku yakin kau seorang rampok yang memakai dalih Keraton dan kerajaan! Dengar! Jika kau ingin selamat lekas minggat dari hadapanku!" Ki Dukun mengancam dengan kepalkan tinju dan beliakkan kedua mata.

Dari balik pakaiannya Wiro Sableng mengeluarkan sebuah benda bulat berwarna putih berkilat terbuat dari perak murni. Melihat benda itu Ki Dukun Tambak Reso jadi terkejut. Itu adalah cap Kerajaan yang dituangkan di atas lempengan perak bulat. Dan merupakan suatu pertanda bahwa siapa saja yang memegangnya berarti benar-benar tengah menjalankan suatu tugas sangat penting dan sangat, rahasia dari Kerajaan!

Tapi apapun alasan dan siapapun adanya Wiro, tentu saja orang tua itu tidak mau menyerahkan percuma kotak batu yang telah dimilikinya. Apalagi dia sudah punya rencana besar dalam otaknya. Dengan memiliki batu mijijat itu dia bisa menjadi seorang besar paling berkuasa, malah lebih berkuasa dari Raja! Dia bisa menjadi seorang Raja Diraja!

"Orang muda, kau boleh menunjukkan seribu tanda apapun padaku! Tapi tak akan aku menyerahkan kotak batu hitam itu padamu! Nah, silahkah pergi!"

Ketika dilihatnya Wiro tidak bergerak dari tempatnya malah cengarcengir seenaknya, Ki Dukun jadi jengkel. Tapi ada semacam kisikan dalam hatinya agar tidak membuat keributan atau silang sengketa dengan pemuda ini. Maka dengan cepat dia memutar tubuh lalu berkelebat meninggalkan tempat itu. Namun baru enam langkah bertindak, tahu-tahu si pemuda sudah berada dihadapannya, menghadang, lagi-lagi sambil menyeringai!

Ki Dukun Tambak Reso berkelebat ke jurusan lain. Tapi sesaat kemudian dia kembali dapatkan dirinya dihadang oleh si pemuda. Dia mencoba sekali lagi, tetap saja pemuda itu berhasil mencegatnya. Kini marahlah Ki Dukun. Dengan suara bergetar dia membentak keras. "Orang muda, kau mencari penyakit sendiri! Rasakan bekas tanganku!"

Orang tua itu hantamkan tangan kanannya ke depan, melabrak ke arah dada. Wiro cepat menangkis, malah dia berhasil menangkap lengan lawan. Tapi ketika dia memperhatikan, yang ditangkapnya ternyata sepotong ranting kayu.

"Ilmu sihir gila!" teriak Wiro dalam hati. Memandang ke depan dilihatnya si orang tua sudah berada di kejahuan, lari menuruni bukit dengan cepat. Dengan geram Pendekar 212 segera mengejarnya. Ternyata Ki Dukun tak bisa lari jauh. Dalam waktu sesaat saja dia sudah terkejar dan kembali jalannya terhadang!

"Hem, rupanya peringatanku tadi tidak membuatmu jera!" kertak Ki Dukun geram. "Kau minta mampus maka mampuslah!" Habis berkata begitu Ki Dukun Tambak Reso jatuhkan tubuhnya hingga tergelimpang di tanah di hadapan Wiro. Menyangka lawan hendang menelikungnya, Pendekar 212 cepat hantamkan tumitnya ke depan. Tapi dia mendadak sontak jadi tergagap kaget ketika yang hendak ditendangnya itu tiba-tiba telah berubah menjadi seekor ular besar yang siap untuk melilitnya!

Pendekar 212 melompat ke atas dan dari atas lepaskan satu pukulan mengandung tenaga dalam panas. Binatang jejadian itu menggeliat dan mental beberapa tombak lalu lenyap di bawah hujan lebat.

"Dukun sihir sialan! Kau mau lari kemana!" rutuk Wiro. Memandang ke depan dilihatnya Ki Dukun Tambak Reso telah berada jauh di sebelah kiri; tengah melompat dari atas sebuah batu. Murid Sinto Gendeng dari Gunung Gede ini lepaskan pukulan kunyuk melempar buah. Angin deras menderu, menghantam batu besar di mana Ki Dukun tampak berdiri siap melompat. Batu itu hancur berantakan. Wiro memburu. Ketika dia sampai di tempat itu sang dukun sudah lenyap!

"Setan alas!" maki Wiro sambil satu tangan mengepal, satu lainnya menggaruk-garuk kepatanya yang basah kuyup.***Hari telah lama siang. Di dalam rumah Gusdur menunggu kedatangan sang majikan. Dia tak tahu kalau Ki Dukun Tambak Reso tak akan pernah kembali ke rumahnya. Setelah kejadian di puncak bukit Jati Arang orang tua ini menyadari bahwa kotak batu hitam yang ada padanya merupakan suatu benda yang dicari dan dikejar oleh banyak orang. Termasuk pemuda berambut gondrong yang mendapat tugas khusus dan rahasia dad Kerajaan itu. Apa gunanya dia kembali ke tempat kediamannya kalau akan menjadi incaran dan kejaran orang? Begitulah akhirnya malam itu juga Ki Dukun Tambak Reso memutuskan untuk tidak kembali ke rumahnya.

Ketika perutnya mulai lapar dan hari bertambah siang sedang sang dukun tak juga muncul, Gusdur ingat akan kesaktian yang kini dimilikinya. Timbul niat untuk mencoba kesaktian itu kembali. Dia berlutut di lantai, luruskan dua jari tangan kanannya lalu ditusukkan ke bawah. Begitu jarinya menghantam lantai, langsung Gusdur menjerit kesakitan. Lantai itu bukan saja tidak tembus dan berlubang tapi kedua tulang jarinya hampir patah dan sakitnya bukan kepalang.

"Hai! Kenapa jadi tidak mempan? Kenapa jari-jariku jadi sakit begini?!" ujarGusdur kesakitan dan terheran-heran. Dipijit-pijitnya kedua jarinya yang sakit itu. Meskipun sakit tapi karena ingin hendak mencoba lagi maka dia kembali tusukkan kedua jarinya ke lantai papan. Untuk kedua kalinya pula si pendek ini menjerit kesakitan seraya kibas-kibaskan tangan kanannya.

"Tidak mempan! Kesaktianku lenyap! Si Gondrong itu pasti telah menipuku! Kurang ajar! Sialan!"***

4EMPAT ORANG TUA ahli pengobatan tegak di sekeliling tempat lidur. Di kepala tempat tidur besar berdiri mapatih Kerajaan yang berusia hampir tujuh puluh tahun yaitu Damar Waruseto. Di atas tempat tidur terbaring sosok tubuh Sri Baginda. Wajahnya putih pucat, tubuhnya sangat kurus hingga tampak hampir sama rata dengan tempat tidur. Sepasang matanya menatap ke langit-langit kamar, memandang dingin dan kosong. Telah hampir dua purnama Sri Baginda berada dalam keadaan seperti itu. Sakit yang dideritanya tak kunjung diketahui, karenanya sulit mencarikan obat yang tepat. Jelas sakit Sri Baginda tidak bersangkut paut dengan sakit yang biasa diderita karena ada yang tidak beres dengan tubuh kasar. Sakit Raja kali ini berkaitan erat dengan hal-hal yang lebih bersifat gaib.

Bibir Sri Baginda tampak bergerak. Tak ada suara yang keluar. Tapi semua orang yang ada disitu segera maklum kalau Raja minta diberi minum. Maka salah seorang dari ahli pengobatan itu segera mengambil sebuah gelas besar berisi air putih, dua lainnya menolong menegakkan kepala Raja. Hanya seteguk yang bisa lewat di tenggorokan Sri Baginda. Memang hanya air putih itu sajalah menjadi pengisi perutnya sejak tiga minggu lalu ketika dia mulai tak bisa makan dan sulit minum.

Ketika sepasang mata Sri Baginda mulai kuyu dan merapat tanda dia mulai memasuki alam tidur, mapatih Damar Waruseto memberi isyarat, lalu keluar dari kamar tidur Sri Baginda. Empat orang tua ahli pengobatan segera mengikuti. Mereka masuk ke dalam sebuah ruangan disamping kamar Raja. Pada seorang pengawal mapatih membisikkan sesuatu. Tak lama kemudian pengawal ini muncul kembali bersama seorang lelaki tua berpakaian biru. Meskipun sudah tua tapi orang ini memiliki tubuh tegap liat. Gerakannya lincah penuh wibawa dan mantap. Dia adalah Gombong Pengestu, salah seorang yang dulunya merupakan seorang abdi dalem yang kemudian diangkat menjadi satah seorang tokoh silat istana yang disegani karena ketinggian ilmu silatnya luar dan dalam.

"Dimas Gombong Pangestu," berkata mapatih Damar Waruseto seraya menutup pintu ruangan dan memandang pada empat orang ahli pengobatan. "Kita semua tahu bahwa sakitnya Sri Baginda bukan merupakan sakit lahir, tapi adalah sakit batin karena tekanan jiwa akibat lenyapnya batu mustika pusaka Keraton bernama Kencono Sukmo. Inilah sumber penderitaan batin dan sumber sakit Sri Baginda. Kita semua tahu apa akibatnya kalau benda mustika itu jatuh ke tangan orang jahat yang mengetahui keandalannya lalu menyalah gunakannya. Bukan saja Keraton yang terancam tapi juga keselamatan Sri Baginda dan keluarganya, keselamatan kita semua bahkan keselamatan dan kelangsungan hidup seluruh Kerajaan. Itulah sebabnya dua bulan yang lalu, sebelum Sri Baginda jatuh sakit akibat memikirkan persoalan ini, beliau telah meminta kita untuk melakukan segala ikhtiar guna mencari dan menemukan Kencono Sukmo itu kembali. Melihat keadaan lahir Sri Baginda saat ini, yang hanya mampu meneguk air, sama sekali tidak bisa makan apapun, aku kawatir beliau hanya bisa bertahan beberapa minggu saja lagi. Sakit Sri baginda ini harus menjadi rahasia bagi kita semua. Kalau sampai musuh dan kaum pemberontak yang masih bercokol di perbatasan mengetahui, berarti kita akan mendapat kesulitan baru. Aku mengerti kalian semua sudah melakukan berbagai macam usaha yang tidak hentihentinya. Hanya memang petunjuk Gusti Allah masih belum kita dapatkan."

Sampai disitu patih Damar Waruseto berpaling pada Gombong Pangestu. "Dimas, apakah ada perkembangan dengan usahamu meminta bantuan orang-orang rimba persilatan?"

"Aku sudah melakukannya kangmas. Hanya saja beberapa tokoh silat yang kuhubungi pertama kali tidak berhasil mendapatkan keterangan apapun, apalagi mendapat tahu dimana benda pusaka itu berada atau siapa yang menyimpannya sekarang. Kemudian salah seorang tokoh di timur membawa berita bahwa Kencono Sukmo terakhir sekali diketahui berada di tangan Kebo Hijo, seorang tokoh silat yang namanya tidak begitu bersih. Ketika dia melakukan penyelidikan lebih jauh ternyata Kebo Hijo diketahui telah mati terbunuh. Siapa pembunuh tidak diketahui. Namun siapapun adanya pembunuh itu pasti dialah kini yang menguasai batu Kencono Sukmo..."

"Jadi sampai saat ini kita masih tetap belum mengetahui dimana barang pusaka itu berada...?" tanya mapatih Damar Waruseto.

"Memang belum diketahui mapatih. Tetapi satu minggu lalu orang kita berhasil mengadakan kontak dengan dedengkot dunia persilatan yang dikenal dengan nama julukan Dewa Tuak. Kabarnya, bukan kabarnya, maksudku secara pasti Dewa Tuak telah menghubungi salah seorang tokoh silat muda yang dianggapnya sebagai murid sendiri: Pendekar muda itulah yang kini tengah melakukan pengusutan dan pengejaran.."

"Nama Dewa Tuak memang kukenal baik. Beberapa kali dia di masa silam berbuat jasa besar pada Kerajaan. Siapa nama pendekar muda yang ditugasinya melakukan penyelidikan itu, dimas Gombong?"

"Namanya Wiro Sableng. Julukannya Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212. Kalau tak salah dia adalah murid si nenek sakti bernama Sinto Gendeng yang bermukim di Gunung Gede..."

"Ah, pendekar itu. Akupun pernah bertemu muka dengannya!" kata patih Damar Waruseto pula.

Salah seorang ahli pengobatan membuka mulut. "Maafkan aku, tapi barusan aku mendengar bahwa urusan ini tengah ditangani oleh seorang pendekar bernama Wiro Sableng. Apakah kita bisa mempercayai seorang sableng seperti itu ...?"

Mapatih Damar Waruseto tersenyum. "Kau dan mungkin juga para tua ahli pengobatan yang ada disini hanya sibuk dengan urusan obatmengobat, tidak tahu urusan rimba persilatan. Nama Pendekar 212 Wiro Sableng merupakan momok nomor satu bagi para tokoh silat sesat dan orang-orang jahat. Sebaliknya menjadi tokoh yang sangat dikagumi oleh orang-orang silat golongan putih. Dia masih muda memang, tingkahnya tidak terlepas dari sifat gila orang-orang muda. Namun ilmunya segudang dan kejujurannya dapat dijadikan andalan..."

Juru obat yang tadi bicara hanya bisa angguk-anggukkan kepala mendengar keterangan sang patih.***

5KI DUKUN TAMBAK RESO menatap pada tamunya yang berpakaian bagus itu sesaat lalu mengerling ke arah kereta kuda yang berhenti di depan pintu pekarangan rumahnya.

"Katakan siapa dirimu dan ceritakan apa keperluanmu," ujar Ki Dukun.

"Nama saya Tapak Lodra, pembantu merangkap pengawal keluarga almarhum Raden Mas Rono Wicula dari Losari di pantai utara..."

"Hemmm...pembantu saja pakaiannya begini mewah. Pasti majikannya orang kaya raya, "kata Ki Dukun dalam hati. Lalu dia bertanya, "Maksud kedatanganmu?"

"Saya tidak datang sendirian, tapi bersama Raden Ayu Tambakdwita, istri almarhum majikan saya. Kami mendengar Ki Dukun memiliki kesaktian yang sanggup menyembuhkan orang sakit bahkan menghidupkan orang yang sudah mati..."

"Dari mana sampeyan mengetahui hal itu?" tanya Ki Dukun pula.

"Saya sendiri tidak paham betul. Raden Ayu Tambakdwita yang mengetahui dan meminta saya datang kemari. Kami mengadakan perjalanan jauh selama tiga hari tiga malam. Syukur dapat menemui Ki Dukun."

"Kau belum mengatakan maksud kedatanganmu!"

"Mengenai hal itu biar Raden Ayu Tambakdwita sendiri yang menuturkan..."

"Di mana majikanmu itu sekarang?"

"Ada di dalam kereta. Dengan perkenan Ki Dukun saya akan memanggiinya dan membawanya kemari..." jawab Tapak Lodra.

Ki Dukun Tambak Reso mengangguk. Setiap langkah yang dibuat Tapak Lodra diikuti dengan pandangan mata hampir tak berkesip oleh Ki Dukun. Sejak dia menyembunyikan diri di tempat itu setiap ada orang yang datang selalu dicurigainya, termasuk yang satu ini. Bukan mustahil mata-mata atau kaki tangan Kerajaan yang berusaha mendapatkan batu hitam itu. Tapi ketika dari dalam kereta dilihatnya turun seorang perempuan, hatinya menjadi lega.

Perempuan ini berusia sekitar setengah abad, namun memiliki wajah yang masih cantik serta tubuh dan kulit yang bagus mulus tanda terawat baik. Ketika sampai di hadapan Ki Dukun, orang tua ini semakin jelas melihat kecantikan itu dan membuatnya menelan ludah beberapa kali. Sejenak Ki Dukun merenung kali terakhir dia satu ketiduran dan bersenang-senang dengan perempuan, yakni sembilan tahun yang lalu ketika istrinya yang kedua masih hidup sementara istri pertamanya lari meninggalkannya akibat ulahnya bermain cinta dengan istrinya yang kedua itu.

Berada dekat-dekat begitu Ki Dukun dapat mencium wangi semerbaknya bau tubuh tamunya itu. Ki Dukun mempersilahkan tamunya duduk.

"Apakah saya berhadapan dengan Ki Dukun Tambak Reso yang sakti itu?" tanya sang tamu.

Ki Dukun tersenyum. "Aku hanya manusia biasa, tak punya kelebihan apa-apa," sahut Ki Dukun merendah. Matanya menjelajahi paras dan lekuk dada tamunya yang putih membusung. "Apakah aku berhadapan dengan Raden Ayu Tambakdwita, istri almarhum Raden Mas Rono Wiculo?"

"Ah, betul sekali. rupanya pembantu saya Tapak Lodra telah menceritakan tentang diri saya pada Ki Dukun.."

"Betul, tapi belum menceritakan maksud dan tujuan kedatangan sejauh ini," ujar Ki Dukun pula.

"Saya akan ceritakan."

"Baik, aku akan mendengarkan. Tapi aku ingin kita bicara empatmata saja. Bisa...?"

"Tentu saja bisa," sahut Raden Ayu Tambakdwita. Lalu dia berpaling pada Tapak Lodra yang tegak di tangga rumah dan menganggukkan kepalanya. Melihat isyarat itu Tapak Lodra segera meninggalkan tempat itu, pergi ke kereta dan duduk di samping kusir. Hatinya merasa tidak enak kalau tidak mau dikatakan tersinggung. Melihat tampang dan sikap sang dukun sebenarnya dia tidak merasa suka terhadap orang itu. Kini melihat majikannya berdua-dua dengan orang tua itu seperti ada rasa cemburu dalam hatinya. Sebenarnya sejak lama memang Tapak Lodra menaruh hati pada Tambakdwita. Sebagai orang kepercayaan yang telah bertahun-tahun berbakti apalagi dia tidak punya istri, sebenarnya Tapak Lodra memang cukup pantas menjadi pasangan janda cantik itu. Namun karena menyadari dirinya berasal dari kalangan rendah saja maka Tapak Lodra tidak pernah berani mengutarakan maksudnya itu.

"Nah Raden Ayu, ceritakan maksud kedatanganmu," kata Ki Dukun Tambak Reso begitu mereka kini hanya tinggal berdua saja di ruangan depan itu.

"Saya mempunyai seorang putera yang merupakan anak tertua, kini berusia sekitar dua puluh satu tahun, Sejak masih berumur enam belas tahun, selagi ayahnya hidup, anak itu telah diberi berbagai pelajaran termasuk itmu silat. Ternyata dia memang banyak lebih tertarik pada ilmu silat dan kesaktian hingga meninggalkan begitu saja pelajaran-pelajaran lain. Dia sering meninggalkan rumah berbulan-bulan guna mencari dan mendapatkan ilmu baru. Ilmu silatnya memang tinggi dan kesaktiannya mengagumkan. Namun dua bulan lalu dia jatuh sakit dan tak bisa lagi meninggalkan tempat tidur. Dua minggu lalu keadaannya tambah parah.

Matanya setalu tertutup. Keadaannya seperti orang tidur. Mungkin pingsan. Hari demi hari tubuhnya semakin kurus. Ki Dukun, inilah persoalan saya. Bisakah Ki Dukun mengobati putera saya itu? Berbagai tabib dan ahli pengobatan telah berusaha menolongnya, namun dia tetap saja tak bergerak di atas ranjang."

"Menurut para ahli yang telah coba mengobati putera Den Ayu, apakah sudah diketahui apa sakitnya?" bertanya Ki Dukun seraya usap-usap janggut putihnya sementara kedua matanya terus menjelajahi wajah dan dada perempuan cantik di hadapannya.

"Tak satupun mereka bisa memastikan apa penyakit putera saya. Beberapa diantara mereka menduga, kemungkinan besar sakitnya putera sebagai akibat terlalu banyak menguasai ilmu silat dan kesaktian dari berbagai sumber, dicampur-campur satu sama lain yang sebenarnya merupakan pantangan... Saya tidak tahu dan tidak mengerti tentang ilmu silat dan ilmu kesaktian. Bagaimana menurut Ki Dukun sendiri...?"

"Hem...." Ki Dukun menggumam. "Mungkin pendapat itu ada benarnya. Namun harus diperiksa dan diselidiki dulu. Siapakah nama puteramu itu Den Ayu ....?"

"Pati Rono," jawab Tambakdwita. Lalu dia bertanya, "Apakah Ki Dukun bersedia melihatnya di Losari...? Perjalanan ke sana memang jauh.

Tapi percayalah, semua jerih payah Ki Dukun akan saya beri imbalan yang sesuai. Apalagi kalau Pati Rono bisa disembuhkan..."

"Jangan kawatir..." kata Ki Dukun pula seraya memegang tangan Tambakdwita. "Aku akan datang ke Losari."

"Terima kasih. Saya memang sudah menduga Ki Dukun mau menolong. Karena itu sebelumnya saya sudah menyiapkan sebuah kereta untuk menjemput Ki Dukun. Paling lambat petang nanti penjemput itu sudah sampai disini."

"Sebetulnya sama-sama berangkat dengan Den Ayu saat ini aku tidak keberatan. Tapi tak jadi apa kalau Den Ayu memang sudah mengatur begitu," kata Ki Dukun

Dari dalam sebuah tas kain yang dibawanya Den Ayu Tambakdwita mengeluarkan sebuah kantong kulit kecil. Ketika kantong itu diletakkan di atas meja terdengar suara berdering tanda berisi uang.

"Itu sebagian dari imbalan yang saya janjikan. Sisanya akan Ki Dukun terima setelah sampai di Losari, lalu ada tambahan istimewa jika Pati Rono bisa disembuhkan..."

"Sebetulnya yang ada dalam kantong itu sudah lebih dari cukup, Den Ayu. Tambahannya tidak perlu berupa harta atau uang."

"Maksud Ki Dukun?" tanya Tambakdwita pula.

"Setelah ditinggal Raden Mas Rono Wiculo dan hidup sendirian bertahun-tahun, apakah Den Ayu tidak mempunyai keinginan untuk mencari pengganti suami yang hilang itu?"

Pertanyaan Ki Dukun Tambak Reso itu membuat wajah Den Ayu Tambakdwita menjadi kemerah-merahan. Apalagi ketika didengarnya si orang tua berkata, "Nama kita sama. Aku Tambak Reso, di situ Tambakdwita. Mungkin ini satu kecocokan yang ditakdirkan Tuhan?"

"Ki Dukun," kata Tambakdwita dengan suara bergetar. Dia tak berani memandang kedua mata orang di hadapannya itu. Karena setiap dia bertemu pandang ada sesuatu kekuatan yang membuatnya bergetar disertai hawa aneh menjalari tubuhnya. "Kalau Ki Dukun tidak keberatan, hal-hal lain bisa kita bicara akan lain kali saja. Saya mohon diri. Kadatangan Ki Dukun saya nantikan di Losari," Lalu Tambakdwita berdiri dan melangkah cepat-cepat menuju kereta. Ki Dukun Tambak Reso mengantarkannya sampai di tangga sambil mengulum senyum.

"Perempuan satu ini harus dapat olehku. Tak pernah ada yang begitu besar daya tariknya, membuatku sampai-sampai keringatan!"***

6DI DALAM KAMAR yang besar dan mewah serta harum itu ada empat orang. Pertama Ki Dukun Tambak Reso, lalu Raden Ayu Tambakdwita bersama Tapak Lodra.

Orang yang keempat terbujur di atas tempat tidur berkasur tebal dan berseperai bagus. Orang ini adalah Pati Rono, putera Tambakdwita yang berada dalam keadaan sakit. wajahnya, kedua tangannya yang tersembul di atas selimut pucat pasi seperti tiada berdarah. Wajahnya mengerikan untuk dipandang karena pipi dan rongga matanya sangat cekung serta berwarna kebiruan.

Ki Dukun meraba tangan pemuda itu. Dingin. Lalu meraba wajah dan bagian lehernya. Juga dingin. Ketika ditekan bagian lengannya kiri kanan, juga ketika ditekan urat besar di lehernya, sama sekali tak ada denyutan. Si orang tua lalu membalikkan kelopak mata kanan Pati Rono. Putih, bagian hitam lensa matanya hanya tarlihat sedikit di sebelah bawah. Ki Dukun Tambak Reso berpaling pada ibu si pemuda.

"Bagaimana...?" tanya Tambakdwita dengan suara tercekat.

"Puteramu sudah meninggal sejak beberapa hari lalu," menerangkan sang dukun.

Mendengar itu Tambakdwita langsung menggerung dan menubruk serta merangkul tubuh anaknya. Tapak Lodra tertegun tak percaya dan beberapa kali menarik nafas dalam.

Ki Dukun pegang bahu Tambakdwita dan berkata; "Den Ayu, tak baik menangis. Kalau Gusti Allah sudah menghendaki kau harus rela melepas anakmu..."

"Ada satu hal yang mengherankan Ki Dukun," terdengar Tapak Lodra berucap. "Jika memang Raden Pati meninggal cejak beberapa hari lalu, mengapa jenazahnya tidak menebar bau...?"

Ki Dukun berpaling pada pembantu dan kepala pengawal rumah tangga almarhum Raden Mas Rono Wiculo itu. Pertanyaan Tapak Lodra sebenarnya wajar-wajar saja, namun sang dukun merasakan seperti hendak memojokkannya. Sejak semula memang dia tidak suka pada orang ini. Dan Ki Dukun sendiri, dari pandangan mata Tapak Lodra dia memaklumi kalau lelaki itupun tidak menyukainya. Dengan suara tenang Ki Dukun menjawab pertanyaan Tapak Lodra tadi.

"Ini justru satu keajaiban yang hanya Gusti Allah yang mampu menjawabnya," katanya. Lalu dia menyambung. "Bukan mustahil segala macam obat yang telah diberikan sebelumnya membuat tubuh kasarnya mampu bertahan begini rupa..."

"Tidak...! Tidak! Anakku tidak boleh mati ...! Pati...Pati anakku! Kau tidak boleh mati...! terdengar raungan Raden Ayu Tambakdwita yang saat itu masih merangkuli tubuh puteranya sambil menangis dan meraung tiada henti.

"Raden Ayu, sudahlah. Kau dan kita semua harus pasrah menghadapi kenyataan ini..." ujar Tapak Lodra.

"Tidakkkk! Pati tidak boleh mati..."

Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Seorang gadis berpakaian serba kuning, berwajah cantik sekali masuk. Dia cepat menanggapi apa yang tengah terjadi. Langsung saja dia melompat ke tepi ranjang, memeluk tubuh Pati Rono dan ikut menangis keras.

"Kakak...kakak...! Mas Pati...Jangan pergi mas...."

Ternyata gadis itu adalah puteri Tambakdwita, adik perempuan Pati Rono. Suasana dalam ruangan itu jadi tambah mencekam. Tiba-tiba Raden Ayu Tambakdwita hentikan tangisnya dan berpaling menghadapi Ki Dukun Tambak Reso.

"Ki Dukun! Bagaimana sekarang?! Kau bisa menghidupkan puteraku? Kau harus bisa! Itu janjimu..." Tambakdwita berteriak seraya memukuli dada Ki Dukun.

Orang tua ini pegang pergelangan tangan perempuan itu lalu berkata,

"Tenang Den Ayu... Tenang. Aku tak pernah berjanji tapi aku akan mencoba. Semua tergantung kekuasaan Tuhan. Untuk itu aku minta semua orang meninggalkan kamar ini... Termasuk Den Ayu. Aku akan memulai pekerjaan ..."

"Tidak! Aku dan ibu harus menemani mas Pati di sini!" yang berteriak adalah gadis berpakaian kuning, puteri Tambakdwita yang bernama Tambaksari.

Ki Dukun menatap wajah sang dara beberapa ketika. "Ah, gadis ini cantik sekali. Ibunya tentu secantik ini di masa mudanya..." membatin Ki Dukun. Lalu dia berpaling pada Tambakdwita dan anggukkan kepala.

Melihat isyarat ini Tambakdwita menoleh pada puterinya, memegang lengan gadis itu, lalu mengajaknya melangkah menuju ke pintu mengikuti Tapak Lodra. Sebelum Tambakdwita menghilang di balik pinlu, Ki Dukun berkata padanya, "Ingat Den Ayu, selama aku bekerja di dalam sini, tak seorangpun boleh masuk dengan alasan atau keperluan apapun. Aku akan akan keluar memberi tahu bilamana pekerjaan telah se!esai. Harap kalian menyiapkan sebuah usungan dan kereta. Dan satu hal, jangan coba-coba atau ada yang berani mengintip apa yang aku kerjakan. Akibatnya bisa parah dan puteramu tak mungkin ditolong!"

Begitu pintu kamar ditutupkan Ki Dukun langsung menguncinya dari dalam, lalu dia naik ke atas tempat tidur dan duduk bersila di samping tubuh Pati Rono. Kedua matanya perlahan-lahan dipejamkan. Lalu dia mulai melafatkan kata-kata mujijat Walakalmati – Walakalhidup – Matlwalakal – Hidupwalakil, satu kali...dua kali.. sepuluh kali.. seratus kali dan seterusnya sampai sepuluh ribu kali. Ketika akhirnya dia selesai merapal sampai sepuluh ribu kali tubuh dan pakaiannya telah basah oleh keringat. Di luar hari telah senja. Raden Ayu Tambakdwita, Tapak Lodra dan Tambaksari menunggu dengan sangat tidak sabar dan harapharap cemas. Apakah yang tengah dilakukan Ki Dukun Tambak Reso sekian lamanya? Jika menurutkan hatinya mau Tambakdwita melabrak pintu dan menjebol masuk.

Di dalam kamar Ki Dukun buka kedua matanya, menyeka keringat di wajahnya beberapa kali lalu turun dari tempat tidur, berdiri untuk meluruskan kedua kakinya. Kemudian dari saku jubahnya dikeluarkannya benda keramat, batu hitam Kencono Sukmo. Dengan hati-hati batu ini disapukannya ke seluruh wajah dan tubuh Raden Pati Rono. Selesai melakukan itu batu mustika disimpannya kembali, memandang seputar kamar lalu melangkah ke pintu.***

7KI DUKUN TAMBAK RESO memegang bahu kusir kereta. Sang kusir yang tahu isyarat ini segera hentikan kereta. Saat itu lewat tengah malam. Angin bertiup kencang. Dari tempat mereka berada terdengar deburan ombak laut di pantai. Ki Dukun memandang bekeliling. Kusir kereta menuju ke sebelah barat di mana tampak menghitam sebuah bukit karang. Angin bertiup lagi lebih kencang.

"Itu satu-satunya bukit karang yang paling tinggi di bagian pantai ini," menerangkan kusir kereta.

Ki Dukun mengangguk "Cukup kau hanya mengantar aku sampai disini. "Tunggu di tempat ini sampai aku kembali." Lalu orang tua itu turun dari kereta, membuka pintu disebelah belakang, menarik usungan dimana terbaring sosok tubuh Raden Pati Rono.

Kuda penarik kereta terdengar meringkik ketika Ki Dukun menaikkan tubuh pemuda itu ke atas bahunya dan mulai melangkah cepat ;menuju bukit karang di sebelah barat. Kusir kereta merasakan bulu kuduknya berdiri. Dia hampir tak berani bergerak saking merasa takut. Juga masih tetap disitu ketika hujan rintik-rintik mulai turun. Memang daerah pantai Losari di bagian itu merupakan suatu daerah bebukitan batu karang yang paling sering turun hujan.

Dari melangkah cepat Ki Dukun kini tampak berlari-lari. Semangatnya jadi berkobar-kobar ketika melihat hujan mulai turun. Ini satu pertanda bahwa kelanjsrtan usahanya untuk menghidupkan pemuda yang sudah mati di panggulannya itu akan berjalan cepat. Di timur terdengar guntur menggelegar. Lalu kilat mulai menyambar.

Meskipun agak susah payah karena harus mendaki bukit batu karang yang licin berlumut namun akhirnya Ki Dukun Tambak Reso sampai juga dipuncaknya. Nafasnya meng-engah. Perlahan-lahan tubuh Raden Pati Rono dibaringkannya di bagian batu yang agak rata. Angin laut bertiup kencang dan tajam. Hujan turun makin deras. Ki Dukun menyeringai. Dari dalam saku jubahnya dikeluarkannya kotak batu ham Kencono Sukmo lalu diletakkannya didada mayat, tepat di bagian jantung.

"Ahak manusia, kuberikan kehidupan padamu. Hiduplah! Hiduplah!

Dan berikan ibumu padaku!" berkata Ki Dukun dengan suara perlahan bergetar. Lalu dia menuruni bukit karang itu, memilih tempat yang terlindung tapi tidak terlalu jauh. Di sini dia menunggu dengan dada berdebar. Dia pernah menghidupkan seekor binatang, menyembuhkan beberapa orang yang sakit parah. Tetapi baru kali ini dia mencoba menghidupkan seorang yang telah meninggal. Diam-diam bulu romanya terasa berdiri. Guntur menggelegar, kilat sambung menyambung.

"Halilintar... datanglah! Sambar batu dan tubuh itu! Halilintar ...datanglah!" ujar Ki Dukun berulang kali. tapi dia harus menunggu lama sampai menjelang dini hari, yaitu ketika tubuhnya berada dalam keadaan basah kuyup dan terasa dingin seperti diselimuti es. Saat itu rangkaian halilintar tampak sambar menyambar berkepanjangan dari arah timur. Sambaran yang terakhir berkiblat tepat di atas bukit karang, menghantam ke bawah, menghunjam tepat di atas tubuh Raden Pati Rono! Tubuh itu tampak terangkat ke atas lalu jatuh kembali ke atas batu karang dan mengeluarkan kepulan asap. Setelah itu terbujur tak bergerak. Tempat itu tiba-tiba saja sunyi seperti di pekuburan. Guntur tak terdengar lagi, kilat atau halilintar tak tampak lagi. Bahkan angin seolah-olah berhenti bertiup dan ombak seperti berhenti berdebur!

Dengan tubuh bergetar Ki Dukun Tambak Reso memanjat menuju bagian alas bukit karang. Dengan mempergunakan sahelai sapu tangan dia memungut batu Kencono Sukmo yang tercampak di atas bukit batu lalu memasukkannya ke dalam saku jubahnya. Di atas batu karang tubuh Raden Pati Rono tampak tidak bergerak. Ki Dukun memperhatikan dengan seksama dan mata dibesarkan. Darahnya tersirap ketika tiba-tiba dia melihat ibu jari kaki kanan si pemuda bergerak. Perlahan sekali tapi dia jelas melihatnya. Ki Dukun memegang ibu jari yang bergerak itu. Terasa panas.

"Panas adalah api. Api adalah hawa kehidupan..." desis Ki Dukun. Lalu dipegangnya betis pemuda itu. Kemudian dilihatnya jari-jari kanan Pati Rono juga mulai bergetar. Ki Dukun cepat memegang tangan kanan itu. Tiba-tiba jari-jari Pati Rono menggenggam mencengkeram tangannya. Ki Dukun terpekik kaget dan cepat sentakkan lengannya untuk melepaskan cekalan itu.

Walau di hatinya ada terselip rasa ngeri namun kegembiraan sang dukun juga melupa. "Dia hidup...Dia hidup! Batu hitam itu betul-betul batu mujijat. Gusti Allah Maha Besar!"

Untuk memastikan bahwa Pati Rono benar-benar sudah hidup kembali Ki Dukun membungkuk dan dekatkan telinga kanannya ke dada Pati Rono. Lapat-lapat dia mendengar ada suara yang memukul-mukul di dasar dada itu. Itulah suara degupan jantung!

"Luar biasa...Aku sendiri hampir tak percaya!" ujar Ki Dukun dalam hati. Untuk sesaat dia masih mendekapkan telinga mendengar degupan jantung itu. Tiba-tiba kedua tangan Pati Rono bergerak menyilang dan punggung Ki Dukun tersikap kencang! Orang tua itu merasakan jiwanya seperti terbang. Dia menggeliat keras-keras, dengan susah payah akhirnya berhasil meloloskan diri dari sikapan tadi. Begitu terlepas, kedua tangan Pati Rono kembali terkulai di kedua sisi. "Sebelum kekuatannya pulih, aku harus cepat membawanya ke Losari...." pikir Ki Dukun. Lalu tubuh pemuda itu dipanggulnya di bahu kanan. Dalam perjalanan menuruni bukit karang menuju di mana kereta menunggu Ki Dukun selalu bersikap waspada. Bukan mustahil mayat yang barusan hidup kembali itu tiba-tiba saja bergerak mencekiknya!***KERETA PEMBAWA Pati Rono itu sampai di Losari menjelang senja, disambut oleh Tapak Lodra, Tambakdwita, puterinya dan beberapa pelayan. Ketika usungan diturunkan dari kereta oleh kusir dan Tapak Lodra, kuda penarik kereta tiba-tiba mengangkat kedua kaki depannya dan meringkik keras, membuat semua orang tercekal.

Ketika melewati ruangan tengah rumah besar mendadak terdengar suara mengeong keras. Seekor kucing putih belanghitam melompat dari balik tirai, berusaha lari ke arah usungan. "Belang... Belang, jangan berisik!" Tambaksari cepat mendukung binatang peliharaannya itu. Dalam dukungan si gadis kucing ini terus mengeong. Kedua matanya memandang tak berkesip ke arah tubuh Pati Rono di atas usungan. Sikapnya garang sekali. "Heran, tak biasanya kau seperti ini, Belang..." Untuk kesekian katinya si belang mengeong, menggeliat lalu menghambur dari arah gendongan Tambaksari.

Dengan sangat hati-hati tubuh Pati Rono dibaringkan di atas tempat tidur bertilam indah. Sang ibu duduk di kiri tempat tidur. Yang lain-lain tegak berkeliling. Sambil duduk Tambakdwita tidak hentinya mengusap wajah dan memijiti tangan anaknya. Dia ingin agar anaknya itu segera bangun agar dia melihat kenyataan bahwa Pati Rono benar-benar hidup.

Selagi dia memegang-megang tangan puteranya, tiba-tiba tangan itu bergerak. Tambakdwita terpekik. Lima jari tangan Pati Rono mencengkeram lengannya. Kuat dan sulit dilepaskan.

"Tenang saja Den Ayu. Jangan dipaksakan untuk menarik tanganmu.

Ada kalanya kehidupan mendatangkan kerinduan. Puteramu tentu sangat rindu padamu. Itu sebabnya tanganmu dipegangnya erat- erat..." Kata-kata itu diucapkan oleh Ki Dukun Tambak Reso walau diam-diam hati kecilnya merasa kawatir kalau-kalau cekalan yang keras itu tidak bisa dilepaskan.

"Lihat! Kedua mata Raden Pati membuka!" berseru kusir kereta yang sampai saat itu masih ikut berada dalam kamar.

Semua orang memandang, memperhatikan.

Astaga! Memang betul! Sepasang mata pemuda itu tampak terbuka perlahan-lahan. Mula-mula tampak bagian mata yang berwarna putih. Menyusul bagian bola mata yang berwarna hitam kecoklatan. Tidak! Ternyata bola mata yang seharusnya berwarna hitam kecoklatan itu kini tampak memiliki warna kelabu!

Tapak Lodra tidak sengaja saling berpandangan dengan Tambaksari. Jelas kelihatan bayangan rasa ngeri pada wajah gadis ini. Memang memperhatikan dua mata yang terbuka nyalang tidak berkesip dan berwarna aneh serta membersitkan sinar dingin itu terasa adanya keangkeran. Dua bola mata itu bergerak sedikit, memandang ke arah Tambakdwita. Lalu menyeruak senyum di wajah yang mulai kemerahan itu. Bagi Tapak Lodra senyum itu lebih merupakan sebuah seringai yang mengerikan.

"Pati anakku...!" seru Tambakdwita. "Kau tersenyum padaku Pati. Jadi kau benar-benar kembali! Kau benar-benar hidup lagi! Gusti Allah terima kasih! Terima kasih!" Air mata tampak berlinangan di kedua mata perempuan itu. Tangan kanan anaknya didekatkannya kewajahnya dan diciumnya berulang-ulang.

"Ibu,..Aku haus..." Mulut Pati Rono terbuka dan suara minta minum terdengar diucapkannya.

Tambakdwita dan puterinya tersenyum. Sang ibu usut air mata yang berderai di pipinya. Lalu terdengar lagi suara sang putera, "Aku juga lapar, bu..."

Tambakdwita peluk dan ciumi wajah puteranya. "Kau boleh minta apa saja Pati. Pasti akan ibu berikan..." Perempuan itu ciumi lagi wajah anaknya berulang-ulang. Lalu dia bangkit dari tempat tidur, memegang lengan puterinya. Ibu dan anak ini meninggalkan kamar untuk mengambilkan sendiri air serta makanan yang diminta Pati Rono.

Pati Rono memandang dengan matanya yang kelabu satu persatu pada kusir kereta, Tapak Lodra dan Ki Dukun Tambak Reso. Pandangan mata yang aneh dan terasa angker ini membuat ketiga yang dipandang jadi merasa tidak enak. Kusir kereta segera tinggalkan kamar. Tapak Lodra menyusul hendak beranjak namun Ki Dukun bergerak lebih dulu.

Terpaksa Tapak Lodra tetap berada dalam kamar karena meninggalkan putera majikannya seorang diri di tempat itu kurang sopan dirasakannya. Untuk menghilangkan kegelisahan akibat pandangan mata Pati Rono, Tapak Lodra pergi membuka jendela kamar. k.etika dia hendak menyingkapkan tirai jendela, terdengar suara mengeong keras. Sesuatu melompat ke sanding jendela. Ternyata si Belang. Binatang ini siap untuk melompat masuk. Tapi Tapak Lodra cepat mencegah dan mengusirnya.

"Aneh sekali sikap kucing itu..." kata Tapak Lodra dalam hati. "Apa sebenarnya yang dilihat binatang itu...?" Tapak Lodra berpaling ke arah tempat tidur. Ternyata Pati Rono masih menyorotinya dengan pandangan seperti tadi. Dingin angker seperti hendak menembus jantungnya!***

8MALAM JUM'AT KLIWON, hujan turun rintik-rintik Losari diselimuti kesunyian. Debur ombak di pantai terdengar di kejauhan. Sesekali ada suara lolongan anjing merobek kesunyian. Dalam ruangan depan di rumah besar itu Raden Ayu Tambakdwita duduk terdiam beberapa lamanya sebelum kemudian dia membuka mulut bertanya, "Mengapa Ki Dukun tak mau menerima uang dalam kantong itu? Bukankah itu tambahan pembayaran sesuai dengan janji saya...?"

Ki Dukun Tambak Reso tersenyum. Matanya menatap wajah cantik perempuan berusia setengah abad di hadapannya lalu menjawab, "Raden Ayu ...! Ah, aku seharusnya memanggilmu Tambakdwita saja..."

"Saya tak keberatan dipanggil seperti itu..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.166.188.64
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia