Kho Ping Hoo - BKS#17 - Pusaka Pulau Es
Pusaka Pulau Es

Seri : Bu Kek Siansu #17

Karya : Asmaraman S Kho Ping Hoo

Pria penunggang kuda itu menghentikan kudanya dan memandang ke sekeliling dan dia terpesona. Memang pagi itu indah bukan main. Di sekeliling tempat itu terdapat bukit-bukit berjajar-jajar. Bukit-bukit di timur masih nampak gelap karena matahari baru muncul meng­intai dari balik punggung mereka. Akan tetapi bukit-bukit di barat sudah mulai menerima sinar matahari pagi yang kuning keemasan.

Nampak kabut menyingkir perlahan dihalau sinar matahari pagi. Sinar matahari pagi yang masih lembut namun sudah garang itu menerobos di antara kabut, sungguh merupakan keindahan yang sukar untuk dilukiskan. Keindahannya lebih terasa di dalam hati daripada di dalam mata. Burung-burung beterbangan mulai meninggalkan sarang, dan masih ada sempat berkicau di antara ranting-ranting pohon, membuat suasana makin ceria gembira dan mendorong seseorang untuk ikut bernyanyi-nyanyi. Matahari pagi mulai muncul dan sinarnya menghidupkan segalanya, membangunkan semuanya yang tadinya terlelap tidur dalam kegelapan sang malam. Nampak beberapa ekor kelinci dan kijang menyeberangi semak dengan hati-hati sekali, telinga mereka membantu mata yang menoleh ke kanan kiri, kemudian mereka melanjutkan jalan menuju ke semak lain. Tidak ada seorang pun manusia lain kecuali si penunggang kuda yang meng­hentikan kudanya di atas puncak sebuah bukit kecil itu.

Kekuasaan dan kecintaan Tuhan sungguh mengalir sepenuhnya di pagi hari itu, terasa sekali di dalam hati. Dan orang itu merasa bahwa dirinya menjadi satu dengan segala keindahan itu, menjadi bagian tak terpisahkan dari isi alam mayapada yang demikian indah. Dia merasa dirinya kecil sekali, kecil tidak ada artinya, padahal biasanya dia merupakan orang penting yang diperhatikan, dihormati dan dilayani banyak orang.

Pria itu masih muda. Paling banyak dua puluh lima tahun usianya. Seorang pemuda yang tampan dan gagah. Rambutnya dikuncir menjadi sebuah kuncir yang gemuk panjang, ujungnya diikat sutera kuning. Rambut itu di atasnya disisir rapi dan mengkilap karena minyak rambut yang harum. Dahinya lebar, sepasang alisnya hitam tebal berbentuk golok. Sepasang matanya mencorong seperti mata burung Hong, hidungnya mancung dan mulutnya berbentuk indah dengan bibir mengarah senyum mengejek. Dandanannya menunjukkan bahwa dia tentu seorang bangsawan muda yang kaya-raya.

Siapakah pemuda tampan gagah yang pakaiannya perlente dan pesolek ini? Dia memang bukan orang sembarangan. Dia adalah seorang pangeran! Pangeran Tao Seng namanya, putera dari Kaisar Cia Cing (1796-1820). Kenapa dan mau apakah seorang pangeran berada di antara pegunungan di tempat yang begitu jauh di utara itu, seorang diri pula? Pangeran Tao Seng memang seorang petualang besar. Sejak kecil dia bukan saja mempelajari ilmu kesusastraan, bahkan juga belajar ilmu silat dengan tekun sehingga setelah menjadi dewasa, dia menjadi seorang pemuda yang gagah perkasa. Dan agaknya dia tertarik oleh riwayat kakeknya, Kaisar Kian Liong yang di waktu mudanya suka merantau dan memasuki dunia kang-ouw mencari pengalaman. Demikian pula dengan Tao Seng. Agaknya dia mewarisi jiwa petualang dari kakeknya ini. Seringkali dia merantau seorang diri saja, mengandalkan ilmu silatnya untuk melindungi dirinya. Dia sudah seringkali menjelajahi dunia kang-ouw dan mengumbar kesenangannya, yaitu senang menggauli wanita-wanita cantik. Mudah saja baginya untuk mendapatkan wanita cantik karena wanita mana yang tidak tertarik kepadanya? Dia masih muda, tampan dan gagah, dan seorang pangeran pula!

Pada pagi hari itu dia tiba di pegunungan utara. Dia tahu bahwa dia memasuki daerah yang dikuasai orang­orang suku Khitan, akan tetapi dia tidak pernah mengenal takut. Apalagi dia juga pandai berbahasa Khitan, bahkan ibunya masih mempunyai darah Khitan. Pula, dengan ilmu silatnya yang tinggi, dia dapat menjaga diri sendiri dengan baik. Apa yang harus ditakuti? Pangeran Tao Seng sudah seringkali menghadapi bahaya namun selalu dapat lolos dengan selamat. Dia seorang petualang besar.

Tiba-tiba dia melihat seorang penunggang kuda mendaki bukti itu dengan cepat. Kudanya bagus dan penunggangnya mahir sekali menunggang kuda. Duduknya tegak dan keseimbangan tubuhnya mantap. Di dekat hutan di sebelah bawahnya, penunggang kuda itu turun dari atas kudanya, mengikat kudanya pada sebatang pohon dan menyusup ke semak-semak dalam hutan itu.

Pangeran Tao Seng tersenyum. Dia sudah melihat bahwa penunggang kuda itu seorang gadis yang berpakaian seperti gadis Khitan dan cantik sekali, membawa busur dan anak panah. Tentu seorang gadis yang sedang memburu binatang hutan dan agaknya gadis itu melihat binatang buruan di dalam hutan itu. Dia merasa gembira lalu menggerakkan kudanya turun dari puncak bukit itu menuju ke hutan. Setelah tiba di dekat kuda yang ditambatkan di pohon itu, dia pun turun dari atas kudanya, menambatkan kudanya tak jauh dari kuda gadis itu dan dia pun menyusup masuk ke dalam hutan, hendak mencari gadis pemburu tadi.

Akhirnya dia melihat gadis pemburu tadi berindap-indap di bawah sebatang pohon dan ternyata yang diincarnya adalah seekor kijang jantan muda yang sedang makan daun muda. Gadis itu sudah menarik tali busurnya dan siap melepaskan anak panah ke arah dada binatang itu. Akan tetapi perhatian Pangeran Tao Seng segera tertarik ke atas pohon di bawah mana gadis itu berdiri.

“Awas....!” Tiba-tiba Pangeran Tao Seng berteriak nyaring. Tepat pada saat itu, sang ular besar yang tadi bergantung di pohon itu melepaskan diri jatuh ke atas tubuh gadis itu melepas anak panah. Karena kaget oleh teriakan, bidikannya terguncang dan anak panah itu luput dari sasaran. Dan selagi ia membalikkan tubuh hendak marah kepada orang yang berteriak, tiba-tiba saja ular itu menjatuhi dirinya dan membelit tubuhnya.

Gadis itu saking kagetnya menjerit. Tangan kanannya ikut terbelit dan tidak mampu bergerak, akan tetapi ketika ular itu mendekatkan moncongnya hendak menggigit, ia menahan leher ular itu dengan tangan kirinya. Ular sebesar paha seorang pria itu memperkuat libatan dan menggerak-gerakkan lehernya yang di­cekik oleh tangan kiri yang kecil namun kuat itu. Sekali tangan itu terlepas, moncong yang terbuka lebar itu tentu akan menelan kepala gadis itu dengan mudah!

Akan tetapi, Pangeran Tao Seng sudah melompat dekat dengan pedang terhunus di tangan kanan. Sekali pedangnya berkelebat cepat, kepala ular itu putus dan darahnya muncrat mengenai pipi kiri gadis itu. Belitannya mengendur dan gadis itu dapat melepaskan dirinya. Sa­king ngeri dan kagetnya, ia terhuyung dan tentu sudah jatuh terpelanting kalau saja Pangeran Tao Seng tidak cepat me­nyambar pinggangnya dan merangkulnya.

“Bahaya sudah lewat, jangan takut,” katanya dalam bahasa Khitan dengan suara lembut.

Gadis itu memandang kepadanya dengan sepasang mata seperti seekor kelinci. “Kau.... kau.... telah menyelamatkan nyawaku dari ancaman bahaya maut....”

Pangeran Tao Seng tersenyum, menyimpan pedangnya dan tangan kirinya masih merangkul pinggang. Lalu tangan kanannya mengambil sehelai saputangan dan berbisik, “Pipimu bernoda darah....!” Dia mengusap pipi kiri itu dengan sapu­tangan dan membersihkan darah itu, dan dia terpesona! Setelah muka itu menjadi bersih dari darah, barulah nampak betapa cantiknya wajah itu! Cantik segar bagaikan setangkai mawar hutan tersiram embun pagi. Kedua pipi yang segar kemerahan dan halus mulus, sepasang mata yang lebar dengan sinar yang jernih hidung kecil mancung dan mulut yang setengah terbuka itu nampak indah, dengan deretan gigi mengintai dari balik bibir yang merah basah.

“Aduh, engkau cantik sekali, Nona. Bidadari dari sorgakah engkau?”

Gadis itu tiba-tiba tertawa. Lenyaplah semua rasa kaget dan ngeri tadi, dan ia merasa lucu dan senang. Pemuda yang telah menyelamatkannya dari ancaman maut itu adalah seorang pemuda yang ganteng dan gagah, dan bicaranya lucu, pandai berbahasa Khitan pula.

“Kalau aku seorang dewi dari sorga, tentu engkau seorang dewa dari kahyangan,” katanya sambil melepaskan rang­kulan pemuda itu.

Pangeran Tao Seng tertawa dan nampak deretan giginya yang bersih dan kuat. Dia nampak semakin tampan kalau tertawa dan agaknya hal ini diketahuinya benar, maka dia pun tertawa dengan bebas dan lepas.

“Ha-ha-ha-ha-ha, engkau pandai bicara, Nona. Aku beruntung sekali hanya manusia biasa seperti engkau, manusia yang bisa jatuh cinta! Siapakah engkau, Nona? Dan mengapa berada seorang diri di hutan liar ini? Melihat pakaian dan kudamu, tentu engkau bukan gadis Khitan sembarangan, sedikitnya tentu puteri kepala suku!”

“Hemmm, ternyata engkau selain gagah perkasa juga amat pandai mengenal orang. Aku Silani, puteri kepala suku Khitan di daerah ini. Dan engkau sendiri, siapakah? Engkau seperti bukan orang Khitan, akan tetapi engkau pandai bahasa kami dan pakaianmu sangatlah indahnya. Engkau seorang bangsawan, ya? Aku pernah melihat bangsawan-bangsawan yang datang berkunjung kepada ayahku. Ayahku Khalaban, kepala suku yang ter­kenal gagah perkasa.”

“Engkau pun pandai menduga. Aku adalah sorang pangeran kerajaan Ceng, namaku Pangeran Tao Seng.”

Gadis itu nampak terkejut. “Ah, seorang pangeran?” Matanya bersinar-sinar. “Betapa gagahnya!”

“Aha, benarkah? Benarkah engkau menganggap aku tampan dan gagah? Aku pun melihat engkau sebagal seorang gadis yang cantik jelita dan gagah sekali, Silani, betapa akan amat mudahnya bagiku untuk jatuh cinta padamu”

Mendengar ucapan itu, Silani tersenyum lebar. Bagi seorang suku Khitan seperti ia, tidaklah aneh mendengar pernyataan cinta seorang pria secara demikian terbuka.

“Ah, benarkah?”

“Kenapa tidak benar? Aku berani bersumpah, Silani!”Mereka berdiri saling berhadapan dalam jarak satu meter, saling pandang dan sinar mata mereka saling bertemu dan bertaut, penuh ketegangan dan kebahagiaan. Betapa anehnya cinta antara pria dan wanita. Pria pada umumnya akan jatuh cinta karena kecantikan atau kepribadian si wanita. Akan tetapi wanita lain lagi. Ia dapat saja jatuh cinta karena kagum, karena iba, karena hutang budi, atau karena rayuan walaupun ketampanan wajah dan kepribadian juga memegang peran penting. Silani merasa berhutang budi, telah diselamatkan dari ancaman maut, ini saja sudah merupakan penolong baginya untuk jatuh hati. Apa­lagi ditambah pengetahuan bahwa pria itu adalah seorang pangeran besar dari kerajaan yang besar, seorang pria yang tampan dan gagah perkasa yang dapat membunuh ular besar dengan sekali bacokan pedangnya, pria yang pandai pula merayu. Maka anehkah kalau ia seketika jatuh cinta kepada Pangeran Tao Seng? Cinta pertama pada pandangan pertama memang berkesan dalam di hati. Tentu saja gadis Khitan yang sederhana Jalan pikirannya ini sama sekali tidak tahu bahwa pria di depannya itu akan jatuh cinta kepada wanita manapun asalkan wanita itu cantik jelita dan dapat dirayunya!

Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan Silani bagaikan sadar dari mimpi. “Ah, itu ayahku dan para pengawal datang ke sini!” katanya sambil melangkah beberapa tindak mundur menjauhi Pangeran Tao Seng.

Sepuluh orang penunggang kuda, dikepalai oleh seorang kepala suku Khitan yang tinggi kurus datang dan berlompatan turun dari kuda masing-masing. Kepala suku Khitan yang tinggi kurus itu adalan Khalaban, ayah Silani. Melihat puterinya bercakap-cakap dengan seorang pemuda asing dan di situ terdapat seekor bangkai ular besar, Khalaban segera lari menghampiri puterinya dan menegur.

“Silani, kenapa engkau mendahului kami masuk hutan ini? Dan ular itu apa yang telah terjadi? Siapa pula pemuda ini?” tanyanya dengan tak sabar.

“Ayah, tadi aku mengejar seekor kijang. Akan tetapi mendadak aku diserang ular besar ini yang menjatuhkan diri dari atas pohon. Kalau tidak ada pemuda ini yang menolongku membunuh ular, tentu sekarang ini anakmu sudah berada di perut ular itu!”

Khalaban yang berusia lima puluh tahun ini tentu saja terkejut bukan main mendengar kata-kata puterinya, akan tetapi juga gembira bahwa puterinya dapat diselamatkan.

“Ah, syukur bahwa engkau selamat, Silani. Siapakah pemuda gagah yang telah menolongmu ini?”

“Ayah tentu tdak akan pernah dapat menduganya! Ayah, pemuda ini adalah seorang pangeran kerajaan Ceng. Namanya Pangeran Tao Seng!”

Mendengar ini, Khalaban lebih terkejut lagi dan cepat dia membungkuk dengan sikap hormat. “Pangeran, sungguh kami berterima kasih sekali bahwa Paduka telah menyelamatkan puteri kami, dan maafkan, karena tidak tahu maka kami bersikap kurang hormat.”

Tao Seng tertawa. “Ha-ha-ha, Paman, kenapa menggunakan banyak peraturan? Secara kebetulan sekali aku bertemu dengan puterimu yang cantik dan gagah, dan kebetulan pula aku dapat menolongnya ketika ular itu menyerangnya. Tidak perlu berterima kasih, Paman.”

“Khalaban nama saya, Pangeran. Dan kami persilakan Paduka untuk singgah di tempat perkampungan kami agar kami dapat menjamu Paduka menjadi tamu kehormatan kami dan juga untuk menghaturkan terima kasih kami.”

“Baik, Paman. Memang aku pun ingin berkenalan lebih jauh dengan Silani”

“Jadi engkau mau berkunjung ke kampung kami, Pangeran? Aih, aku girang sekali!” kata Silani dengan sikap akrab. Melihat sikap ini, Khalaban merasa girang sekali, akan tetapi ada seorang pemuda Khitan di antara rombongan itu yang memandang dengan alis berkerut dan mata jalang bersinar tak senang.

Pemuda ini seorang pemuda Khitan yang bertubuh tinggi besar, wajahnya tampan dan gagah dan penampilannya , nampak kokoh dan kuat. Seorang jantan dan memang dia merupakan jagoan di antara para muda Khitan, mahir ilmu bela diri terutama sekali ilmu gulat. Di antara para muda, pemuda bernama Kalucin ini memang dianggap sebagai seorang yang memiliki harapan besar untuk mempersunting Silani, puteri kepala suku dan juga menjadi kembangnya para dara di antara mereka. Kini, melihat Silani nampak akrab dengan seorang pemuda asing, pangeran pula, tentu saja timbul perasaan tidak senang dan cemburu besar di dalam hati Kalucin.

Kata orang, cemburu adalah kembangnya cinta. Hal ini memang tidak dapat disangkal selama cinta kasih itu berdasarkan nafsu. Cinta nafsu selalu membuat yang mencinta ingin memiliki, ingin menguasai yang dicintai, seperti seseorang menyukai sebuah benda yang amat berharga. Tidak ingin disentuh orang lain, apalagi dimiliki orang lain. Itulah cemburu yang mendorong agar orang yang dicinta menjadi miliknya pribadi, tanpa diganggu orang lain. Dan cinta kita pada umumnya seperti itulah. Cinta kasih berdasarkan nafsu! Demikian pula cinta dalam hati Kalucin terhadap Silani. Dia ingin Silani menjadi miliknya sendiri, dan sekarang melihat ada pria lain mendekati gadis itu, bahkan ada kecenderungan berhubungan akrab, hatinya dipenuhi perasaan cemburu yang mendalam.Bagi Khalaban sendiri, tentu saja dia merasa girang kalau puterinya bergaul akrab dengan seorang pangeran Pangeran kerajaan Ceng yang besar dan jaya, tampan dan gagah pula. Bahkan lebih daripada itu, pangeran itu telah menyelamatkan nyawa puterinya. Kalau saja puterinya dapat menjadi isteri seorang pangeran, alangkah senang hatinya!

Pangeran Tao Seng dijamu dengan hormat dalam sebuah pesta yang meriah. Tentu saja Tao Seng gembira sekali, apalagi disuguhi tari-tarian Khitan yang menggairahkan. Ketika Silani sendiri tampil sebagai seorang primadona dalam tarian itu, kekagumannya terhadap Silani bertambah. Di tengah makan minum, dengan beraninya Tao Seng bertanya kepada Khalaban, “Paman, kalau boleh aku mengetahui, apakah Silani telah bersuami?”

“Ah, belum, Pangeran. Sudah banyak yang datang meminang, akan tetapi anak saya itu memang keras kepala. Ia selalu menolak sehingga kini usianya sudah sembilan belas tahun dan ia belum menikah.

“Ahhh....apakah sudah ada calon suaminya?” Sejenak Khalaban teringat akan Kalucin, akan tetapi segera dilupakannya pemuda itu. Dibandingkan dengan Pangeran Tao Seng, tentu saja Kalucin kalah dalam segala-galanya. Kalucin memang seorang pemuda hebat dan tentu dia akan memilih Kalucin di antara para pemuda Khitan. Akan tetapi dibandingkan dengan Pangeran Tao Seng, Kalucln bagaikan seekor burung merak dibandingkan dengan burung Hong! Kalah segala-galanya!

“Belum, Pangeran. Silani belum memiliki calon suami. Mengapa Paduka menanyakan hal itu?” Dia memancing.

“Ehemmm....kalau sekiranya Paman setuju, aku suka sekali kepada Silani dan aku ingin mengawini dia.”

“Tentu saja kami setuju sekali, tentu saja kalau Silani juga mau. Dan saya kira ia juga setuju, lihat saja sikapnya terhadap Paduka.” Mereka memandang ke arah Silani yang masih menari dan benar saja, pandang mata Silani ditujukan kepada Tao Seng dan gadis itu tersenyum­senyum kepadanya, senyum yang manis sekali!

“Akan tetapi, Paman. Karena aku adalah seorang pangeran putera mahkota yang kelak akan menggantikan ayah menjadi kaisar, aku tidak boleh menikah begitu saja. Oleh karena itu, aku ingin menikah dengan Silani di sini. Apakah Paman setuju?”

Mendengar bahwa pangeran ini adalah seorang pangeran mahkota dan kelak akan menjadi kaisar, Khalaban hampir berjingkrak menari saking gembiranya. Puterinya menjadi permaisuri kaisar Dan dia menjadi ayah mertua kaisar!

“Setuju, Pangeran. Kami setuju sekali. Dan pernikahan itu dilangsungkan lebih cepat lebih baik. Oya, sekarang ini semua rakyat saya sedang berkumpul, sebaiknya kalau saya menggunakan kesempatan ini untuk mengumumkan pertunangan itu!”

Tao Seng tersenyum. “Paman lupa untuk bertanya dulu kepada Silani, apakah ia setuju ataukah tidak?”

“Baik, akan saya tanyakan sekarang juga, Pangeran!” Khalaban lalu menggapai ke arah puterinya yang sedang menari. Silani menghentikan tariannya dan menghampiri ayahnya.

“Silani, dengar baik-baik. Pangeran Tao Seng ini seorang putera mahkota calon kaisar, dan beliau ini meminangmu untuk menjadi isterinya. Bersediakah engkau menikah dengannya?”

Wajah gadis itu berubah kemerahan dan mulutnya tersenyum malu-malu. “Aih, Ayah....! Bagaimana Ayah sajalah, aku hanya menurut saja!” katanya sambil berlari dan duduk di belakang ayahnya.

Khalaban tertawa bergelak lalu memberi isyarat dengan tangan agar para penari menghentikan tarian mereka dan juga musik dihentikan. Setelah suasana menjadi tenang, Khalaban lalu berdiri dan mengangkat kedua tangan ke atas sebagai isyarat bahwa dia hendak mengumumkan sesuatu dan agar semua orang mendengarkan dengan tenang.

“Saudaraku semua, aku hendak menyampaikan sebuah pengumuman penting sekali. Pada malam hari ini, Pangeran Mahkota Tao Seng dari kerajaan Ceng, telah meminang puteriku Silani dan kami telah menerima pinangan itu. Mulai saat ini mereka telah bertunangan dan pesta pernikahan akan dilaksanakan secepat mungkin dalam beberapa hari ini!”

Rakyat Khitan yang berkumpul dalam pesta itu bersorak dan bertepuk tangan menyambut pengumuman itu, akan tetapi tiba-tiba seorang pemuda berdiri dan berseru dengan suara mengguntur. “Kami protes....!”

Melihat bahwa pemuda itu adalah Kalucin, Khalaban mengerutkan alisnya. Dengan marah dia membentak, “Kalucin apa maksudmu dengan protes itu?” katanya mengancam.

“Maaf, paman Khalaban. Sudah menjadi adat kebiasaan bangsa kita sejak turun menurun bahwa seorang calon suami harus mampu melindungi calon isterinya, maka setiap calon suami harus memperlihatkan kegagahannya. Apalagi sekarang yang dipinang adalah puteri paman Khalaban sendiri sebagai ketua suku kita. Kalau Pangeran Tao Seng meminang Silani, dia harus membuktikan bahwa dia cukup berharga untuk menjadi pelindung Silani dan dapat mengalahkan aku dalam kegagahan! Pangeran Tao Seng, aku menantangmu untuk mengadu kekuatan dan kepandaian membela diri!”

“Kalucin! Berani engkau bersikap seperti ini!” bentak Khalaban.

Akan tetapi Tao Seng segera bangkit dan tersenyum, berkata kepada Khalaban. “Paman, ucapannya memang benar sekali. Baiklah, aku akan melayaninya, harap Paman menjadi saksi saja.” Lalu Tao Seng melangkah lebar menuju ke tengah ruangan di mana tadi dipergunakan untuk menari. Di situ memang dibangun sebuah panggung yang agak tinggi sehingga tadi semua orang dapat melihat para penari. Tao Seng menggapai kepada Kalucin.

“Namamu Kalucin? Ke sinilah, aku memenuhi tantanganmu!”

Semua orang terheran-heran dan menjadi tegang. Mereka semua mengenal Kalucin sebagai seorang pemuda yang amat kuat dan pandai berkelahi terutama sekali pandai dalam ilmu gulat. Kalau baru dikeroyok tiga empat orang saja sukarlah mengalahkan pemuda ini.

Dan pangeran yang kelihatan halus itu sekarang menerima tantangan Kalucin!

Kalucin sendiri merasa kagum ketika pangeran itu menerima tantangannya. Sikap ini saja sudah mendatangkan kekaguman dan membuat dia menghormatinya. Dia melompat ke atas, panggung dan melangkah menghampiri. Setelah ber­hadapan Kalucin memberi hormat.

“Maafkan sikap saya ini, Pangeran. Karena ini merupakan tradisi lama kami, maka saya berani menantang Paduka.”

“Sudahlah, Kalucin. Katakan saja bagaimana kita hendak mengadu kepandaian, dengan senjata atau dengan tangan kosong?”

“Ini hanya sekedar mengadu ilmu untuk menentukan siapa yang lebih kuat, bukan saling membunuh, Pangeran. Maka cukup dengan tangan kosong saja. Dan siapa yang terbanting roboh, dia dinyatakan kalah. Bagaimana, apakah Paduka setuju?”

“Ha-ha-ha, aku mendengar bahwa orang Khitan ahli gulat, maka engkau mengajak aku untuk saling banting. Bagaimana kalau engkau roboh bukan karena terbanting melainkan terkena pukulan atau tendangan? Apakah itu juga diang­gap kalah.”

“Baik kalau begitu, nah, aku sudah siap. Engkau boleh mulai.”

Menghadapi pangeran yang sikapnya begini tabah, sudah ada rasa hormat dan suka di hati Kalucin. Sikap orang ini begitu gagah, kalau tenaganya kuat dan pandai berkelahi memang dia pantas untuk menjadi suami Silani, pikirnya. “Pangeran, Paduka adalah seorang tamu, sebaiknya kalau Paduka menyerang lebih dulu.” katanya merendah.

Tao Seng juga suka kepada pemuda ini. Tahukah dia bahwa pemuda ini mencinta Silani maka berani bersikap seperti itu. Akan tetapi pada dasarnya, dia seorang pemuda yang gagah perkasa dan baik budi.“Baiklah, aku akan menyerangmu. Lihat tendangan!” Tao Seng melakukan tendangan dengan kaki kiri. Akan tetapi dengan sigapnya Kalucin mengelak ke kanan lalu tangannya meluncur cepat hendak menangkap kaki yang menendang itu. Sekali saja kaki itu tertangkap tentu dengan mudah Pangeran Tao Seng akan dapat dijatuhkan Akan tetapi Tao Seng adalah seorang ahli silat yang lihai. Dia maklum akan maksud lawan, maka dia sudah cepat menarik kembali kakinya. dan kini tangannya yang mengirim tamparan bertubi-tubi ke arah tubuh lawan. Dan Kalucin segera terdesak hebat. Pemuda ini harus menangkis dan mengelak ke sana sini kalau tidak mau terkena tamparan kedua tangan pangeran itu. Dia membalas dengan usaha menangkap tangan itu, dan kalau ada kesempatan, dia menubruk untuk menyergap tubuh sang pangeran akan tetapi gerakan Tao Seng terlalu lincah, baginya. Sebaliknya, beberapa kali tamparan pangeran itu mengenal sasaran. Akan tetapi tubuh Kalucin memang kuat bukan main dan kebal sehingga tamparan-tamparan itu seperti tidak terasa olehnya.

Pertandingan itu sudah berjalan hampir seperempat jam, dan Pangeran Tao Seng menganggap sudah cukup lama untuk memberi “muka” kepada lawannya. Dia tidak ingin cepat menjatuhkan lawan. Dia ingin mengawini Silani, akan tetapi tidak ingin bermusuhan dengan Kalucin. Setelah menganggap cukup, dia membiarkan tangan kirinya ditangkap Kalucin! Kalucin girang sekali dan semua orang memandang tegang karena mahlum bahwa kalau Kalucin sudah dapat menangkap tangan lawan, maka di saat lain tentu lawan itu akan terbanting keras ke atas lantai! Kalucin sudah membalik dan me­mutar tubunya untuk membuat tangan Tao Seng terpuntir dan dibanting, akan tetapi tiba-tiba jari tangan Tao Seng bergerak menyentuh pundaknya dengan totokan dan seketika juga Kalucin tidak mampu menggerakkan kedua tangannya lagi. Dan pada saat itu, Tao Seng memutar tubuhnya dan kakinya menyabet kedua kaki Kalucin. Tanpa dapat dicegah lagi tubuh Kalucin ambruk dan jatuh ke atas lantai dalam keadaan,telentang!

Tao Seng membangunkan Kalucin sambil membebaskan totokannya. Kalucin membungkuk dalam-dalam untuk memberi hormat dan mengakui kekalahannya dibawah sorak sorai dan tepuk tangan para penonton. Yang agak menyakitkan hati Kalucin adalah melihat betapa Silani bertepuk tangan penuh semangat. Tahukah dia bahwa Silani telah jatuh cinta kepada Tao Seng dan hal ini mengobati hatinya. Kalau Silani sudah jatuh cinta kepada pangeran itu, mau apa lagi? Juga pangeran itu ternyata gagah perkasa dan dia harus mengakui kekalahannya. Ah, bukan hanya Silani perempuan di dunia ini, dia menghibur hatinya.

Menerima kenyataan dan menerima keadaan adalah suatu sikap yang amat bijaksana. Orang akan dapat melalui keadaan yang bagaimana hebat dan sengsara sekalipun kalau memiliki sikap seperti itu. Menerima kenyataan yang ada dan menerima keadaan tanpa tenggelam ke dalam duka. Bukan berarti lalu berhenti dan jatuh, melainkan tetap ber­usaha hanya tidak tenggelam ke dalam duka dan putus harapan. Kalau orang bersikap menerima kenyataan, maka akan timbul saja harapan-harapan baru dan dapat memetik hikmah dari setiap keadaan yang betapa “buruk” pun! Menerima kenyataan ini berarti iman yang sepenuhnya kepada Tuhan. Maklum bahwa segala sesuatu ditentukan oleh Tuhan karena itu tidak ada yang perlu dan patut dikeluhkan lagi. Melainkan menengadah, menerima kenyataan dan menyerah kepada kekuasaan Tuhan dengan penuh keikhlasan Beginilah sikap seorang bijaksana dan sikap seperti ini membebaskan kita dari belenggu duka.

***

Beberapa hari kemudian, dilangsungkan pernikahan antara Pangeran Tao Seng dan Silani. Pernikahan dilangsungkan dengan meriah sekali. Seluruh rakyat suku Khitan di daerah itu ikut berpesta gembira. Pesta diadakan sehari semalam. Akan tetapi yang paling merasa berberbahagia adalah sepasang mempelai. Tidak ada kebahagiaan melebihi dua orang yang paling mencinta dipertemukan dalam sebuah pernikahan.

Pangeran Tao Seng adalah seorang pemuda yang berpengalaman dalam merayu wanita. Maka setelah Silani menjadi isterinya, wanita ini pun seperti mabuk kebahagiaan pengantin baru dan mereka seolah tak terpisahkan walau sesaat pun. Ke manapun mereka berdua dan selalu berkasih-kasihan.

Silani bukan hanya berbahagia karena memiliki suami yang tampan gagah dan amat mencintanya, akan tetapi juga berbahagia karena ia membayangkan betapa kelak ia menjadi seorang permaisuri kaisar Benarkah pengakuan Tao Seng bahwa dia adalah seorang putera mahkota yang kelak menggantikan kaisar?

Sebetulnya tidaklah demikian. Hanya karena pandainya Tao Seng bicara saja maka dia dapat mengelabui Silani dan ayahnya, Khalaban. Dia memang benar putera dari Kaisar Cia Cing yang baru saja menggantikan Kaisar Kian Liong, akan tetapi sama sekali bukan putera mahkota. Bahkan Kaisar Cia Cing belum mengangkat putera mahkota karena baru saja dia menjadi kaisar. Juga andaikata kelak Kaisar Cia Cing mengangkat seorang di antara putera menjadi pangeran mahkota, tentu bukan Tao Seng yang diangkatnya karena Tao Seng hanyalah putera seorang selir yang berketurunan Khitan pula. Tao Seng mengaku demikian hanya demi gengsi saja, agar diterima lamarannya menjadi suami Silani. Padahal, andaikata dia tidak berbohong sekalipun tentu dia akan diterima pula karena memiliki mantu pangeran saja sudah merupakan kehormatan besar bagi Khalaban.

Selama tiga bulan penganting baru itu setiap hari hanya berkasih-kasihan. Kadang mereka ditemani oleh Kalucin yang dianggapnya sebagai sahabat baik oleh Pangeran Tao Seng. Kadang mereka berburu bertiga saja. Dan Kalucin kini sudah tidak iri lagi. Dia menganggap Silani sebagai adik sendiri dan dia ikut merasa gembira betapa Silani hidup berbahagia bersama Pangeran Tao Seng.

Setelah tinggal di situ selama tiga bulan, pada suatu hari Tao Seng berpamit dari mertua dan isterinya untuk kembali ke selatan. Silani menangis hendak ikut suami tercinta.

“Jangan sekarang, isteriku. Pertama, engkau tentu belum dapat diterima dengan resmi dan tidak diperbolehkan memasuki istana. Dan kedua, engkau sedang mengandung, tidak baik melakukan perjalanan jauh dan sukar. Kelak, kalau aku sudah melapor kepada ayahanda kaisar dan sudah mendapat perkenan beliau, engkau tentu akan kujemput ke istana. Juga menanti sampai anakmu terlahir.”

Karena alasan yang dikemukakan Pangeran Tao Seng masak akal, akhirnya Silani dapat menerimanya. Juga ayahnya membujuk agar menaati pesan suaminya.

“Kalucin, selama aku pergi, harap jaga baik-baik isteriku yang kau anggap sebagai adikmu sendiri.

“Jangan khawatir, Paduka.” jawab Kalucin dengan tulus.

“Akan tetapi, Pangeran suamiku. Sebelum engkau pergi, aku ingin lebih dulu engkau memenuhi janji untuk mengajak aku pesiar ke lautan. Aku ingin sekali pergi melihat lautan seperti yang kau­janjikan, naik perahu layar mengarungi samudera luas!” Silani merengek dan karena memang dia sudah berjanji di waktu berpengantinan, Pangeran Tao Seng akhirnya tidak dapat menolak permintaan itu.

Berangkatlah mereka bertiga, Pangeran Tao Seng, Silani dan ditemani Kalucin ke pesisir utara. Mereka melakukan perjalanan santai saja, menggunakan kereta agar dapat cepat dan tidak terlalu mengganggu kesehatan Silani yang sedang mengandung dua bulan.

Setelah tiba di pantai lautan, Tao Seng menyewa sebuah perahu layar dan dengan pertolongan seorang nelayan mereka pun pergi berlayar. Bukan main girangnya hati Silani. Selamanya belum pernah ia melihat lautan dan kini ia dapat berlayar mengarungi samudera yang amat luas itu.

Mereka sudah cukup jauh meninggalkan pantai dan selagi Tao Seng hendak memerintahkan tukang perahu untuk kembali ke daratan, tiba-tiba air bergelombang dengan hebatnya. Tukang perahu merasa heran dan terkejut bukan main. Tidak ada badai, angin pun biasa saja, bagaimana mendadak timbul gelombang demikian hebatnya? Untuk menjaga agar perahu tidak terbalik, tukang perahu menggulung layar dan mengemudikan perahu sedapat mungkin. Lalu terdengar suara menggelegar dan mereka semua melihat air laut mengeluarkan busa yang mengepulkan uap dan asap panas. Air bergelombang lebih hebat dan tiba-tiba, di depan mata mereka, kurang lebih satu mil jauhnya, muncul sebuah benda hitam yang amat besar. Makin lama semakin besar dan ternyata itu adalah sebuah pulau! Sebuah pulau yang “lahir” begitu saja dari permukaan laut. Mungkin terjadi di letusan gunung berapi di bawah laut, mungkin di dasar laut itu timbul perubahan yang luar biasa dari letusan gunung yang kemudian melahirkan sebuah pulau!

Gelombang lautan sedemikian hebatnya mengguncang perahu. Tukang perahu memperingatkan tiga orang penumpangnya agar mengikat pinggang mereka pada tiang layar agar tidak terlontar keluar. Tao Seng mengikat pinggang isterinya dan Kalucin pada tiang perahu sedangkan dia lalu mengikat pinggang sendiri pula. Demikian pula tukang perahu yang masih memegang kemudi. Perahu terguncang ke kanan kiri, kadang-kadang dilambungkan ke atas dan seandainya mereka tidak mengikat pinggang mereka dengan tiang, tentu mereka sudah terlempar keluar dari perahu.

Mereka merasa tersiksa. Silani muntah-muntah, bahkan Kalucin juga muntah­muntah. Pangeran Tao Seng hampir putus asa, merasa bahwa kematian sudah di depan mata. Suara menggelegar seperti letusan masih terdengar berulang-ulang. Banyak perahu nelayan yang berkeadaan sama dengan mereka, bahkan ada yang sudah terguling dan penumpangnya entah bernasib bagaimana.

Akhirnya gelombang yang amat ganas itu mereda dan letusan tidak terdengar lagi, gelombang tidak sehebat tadi, tinggal sisanya saja. Dan pulau itu baru “lahir” itu nampak lengkap sudah. Sebuah pulau yang kehitaman. Tukang perahu melepaskan ikatan dari pinggangnya, demikian pula Tao Seng dan Kalucin. Tao Seng melepaskan ikatan dari pinggang Silani yang segera merangkulnya sambil menangis. Tao Seng memeluk dan meng­hiburnya.

“Ya Tuhan, pulau itu....! ” Tukang perahu tiba-tiba berseru.

Tao Seng menoleh dan melihat pulau itu biasa saja. Akan tetapi tukang perahu terbelalak memandang pulau itu, mulut­nya kemak kemik tanpa suara seperti orang berdoa.

“Paman, kenapakah dengan pulau itu?”

“Itu.... seperti Pulau Es..... yang dahulu dikabarkan tenggelam. Bentuknya sama benar, hanya ini tidak ditimbuni es!”

Tao Seng sudah mendengar akan dongeng tentang Pulau Es, bahkan sudah mendengar pula akan Keluarga Pulau Es yang terdiri dari orang-orang yang sakti. Akan tetapi dia tidak mempedulikannya lagi, melainkan cepat menyuruh tukang perahu mengembangkan layar kembali ke pantai.

Baru setelah perahu meluncur dengan lajunya ke pantai dan laut tidak bergelombang lagi, Pangeran Tao Seng bertanya lebih lanjut tentang pulau itu kepada tukang perahu, didengarkan pula oleh Silani dan Kalucin.

“Kalau melihat bentuknya, tidak salah lagi. Pulau yang baru muncul itu agaknya Pulau Es yang dulu dikabarkan lenyap ditelan air. Di daerah ini terdapat tiga pulau yang amat ditakuti para ne­layan. Pertama Pulau Neraka yang sekarang masih ada, Pulau Nelayan yang juga masih ada. Kedua pulau itu kosong akan tetapi amat gawat karena selain sukar didekati, terdapat banyak batu karang tajam, juga kabarnya dihuni binatang-binatang buas dan kabar desas-desus mengatakan bahwa kedua pulau itu bahkan dihuni mahluk-mahluk halus seperti jin dan iblis. Tadinya Pulau Es lenyap, dan sekarang muncul lagi, entah pertanda apa itu. Pulau Es juga ditakuti nelayan, karena merupakan pulau larangan. Sudahlah, tidak baik membicarakan pulau-pulau itu.” Tukang perahu mengakhiri ceritanya dan perahu pun sudah tiba di pantai.

Pangeran Tao Seng, Silani dan Kalucin segera pulang kembali ke perkampungan Khitan yang bercampur pula dengan bangsa Mongol. Setelah memenuhi permintaan isterinya untuk bertamasya ke laut, akhirnya Pangeran Tao Seng meninggalkan isterinya, diantar sampai ke luar perkampungan oleh Silani sambil menangis.

Setelah pangeran yang menunggang kuda itu lenyap dari pandangannya dan derap kaki kuda tidak terdengar lagi, barulah Silani pulang sambil menangis dan mendekap sebatang pedang bengkok berbalut emas. Pedang ini adalah pedang bengkok pemberian suaminya, sebatang pedang kesukaan Tao Seng yang mendapatkannya dari barang rampasan bangsa Kazak ketika pasukan kerajaan menundukkan suku Kazak yang membuat kerusuhan di Barat Laut. Suaminya menyerahkan pedang bengkok bersarung emas dihias permata itu sambil berkata malam itu kepadanya.

“Isteriku, pedang ini kutinggalkan bukan hanya sebagai kenang-kenangan, melainkan juga sebagai tanda bahwa yang membawa pedang ini adalah keluargaku. Kelak, kalau anak kita lahir pria, aku minta agar engkau beri nama Keng Han, Tao Keng Han. Akan tetapi kalau terlahir wanita, boleh engkau pilihkan nama yang baik untuknya. Dan kalau engkau atau anak kita datang ke kota raja memperlihatkan pedang ini, pasti orang akan membawa pembawa pedang ini datang kepadaku.

Demikianlah pesan suaminya, maka Silani tak pernah memisahkan pedang itu dari sisinya. Pedang itu baginya seolah menjadi pengganti diri suaminya. Dengan adanya pedang itu, hatinya agak terhibur, seolah-olah pedang itu merupakan kunci pintu yang akan membuka perpisahan antara ia dan suaminya, yang akan mem­pertemukan ia dan suaminya.

***

Kembalinya Pangeran Tao Seng di­sambut dengan gembira oleh keluarga istana. Pangeran itu telah merantau selama setahun dan ketika dia kembali dalam keadaan sehat, bahkan nampak lebih dewasa dalam penamplan, keluarganya , terutama ibunya tentu saja menjadi gembira dan bangga sekali.

Dan Pangeran Tao Seng sendiri merasa semakin yakin bahwa dia tentu akan diangkat menjadi putera mahkota oleh Ayahnya, Kaisar Cia Cing. Biarpun dia seorang putera selir, akan tetapi di antara putera kaisar dialah yang merupakan putera sulung, sedangkan yang lebih tua darinya semua adalah puteri. Dan dia mendengar dari ibunya bahwa ayahnya memang sudah mengambil keputusan untuk mengangkat seorang putera mahkota dalam waktu dekat ini.

Kerajaan Ceng-tiauw kini mengalami penurunan. Banyak pemberontak yang tadinya sudah ditundukkan oleh Kaisar Kiang Liong, mulai bangkit lagi. Kerajaan Ceng tidaklah begitu Jaya seperti di Jaman kakeknya, yaitu Kaisar Kang Hsi (1663-1722). Walaupun selama pemerintahannya, Kaisar Kiang Liong (1736-1796) selalu sibuk untuk memadamkan pemberontakan, namun dia telah berhasil dengan baik dan kekusaan kerajaan Ceng bersinar sampai jauh ke barat dan utara. Akan tetapi semenjak pemerintahan dipegang oleh Kaisar Cia Cing, pemberontakan banyak bermunculan, terutama sekali pemberontakan di dalam negeri. Antara lain para pemberontak yang paling gigih adalah Pek-lian-pai (Partai Teratai Putih), Pat-kwa-pai (Partai Segi Delapan) dan masih banyak lagi. Juga Thian-li-pang yang terkenal sebagai partai atau perkumpulan para pendekar perkasa mulai bergerak karena para pendekar ini merasa tidak senang dengan pemerintahan Ceng yang dianggap sebagai pemerintahan bangsa Mancu yang menjajah negeri dan bangsanya.

Dalam keadaan seperti itu, Kaisar Cia Cing lalu mulai memilih seorang putera mahkota dengan maksud agar jangan terjadi perebutan di dalam istana antara keluarga sendiri. Dan dia memilih pangeran urutan ke tiga, yaitu putera permaisuri. Pangeran Tao Kuang, sebagai putera mahkota.

Begitu hal ini diumumkan, para pangeran lain menerimanya, kecuali dua orang pangeran. Yang pertama adalah Pangeran Tao Seng sebagai putera pertama dan yang kedua adalah Pangeran Tao San sebagai putera ke dua. Kedua pangeran ini mengadakan pertemuan dan mereka memaki-maki ayah mereka sendiri yang dikatakan tidak adil dan pilih kasih.

“Si Tao Kuang itu bisa apakah? Mentang-mentang dia putera mahkota, dia diangkat menjadi putera mahkota Akan tetapi ibunya juga seorang wanita biasa, dari rakyat jelata, hanya putera seorang panglima saja. Dia lebih muda dariku, sepatutnya aku sebagai putera sulung yang diangkat menjadi putera mahkota!” Tao Seng memaki-maki dengan marah ketika dia bersama Tao San mengadakan pertemuan di kamar rahasia.

“Benar tidak adil! Dia melangkahi engkau dan juga aku, Toako!” kata Tao San dengan nada suara penasaran. “Bagaimanapun kita harus bertindak untuk menentang ketidakadilan ini!”

“San-te, apa yang dapat kita lakukan untuk menentang keputusan ayahanda Kaisar. Menentang kehendak beliau sama saja dengan pemberontakan yang akan mencelakakan kita. Satu-satunya jalan hanyalah menyingkirkan Tao Kuang dari muka bumi, akan tetapi hal ini harus jangan ada yang menduga bahwa kita yang melakukannya.”

“Pikiran yang bagus!” kata Tao San girang. “Apa rencanamu, Toako?”

Pada saat itu muncul seorang thai­kam (laki-laki kebiri) utusan kaisar yang mempersilakan mereka berdua menghadap kaisar yang memanggil semua puteranya. Ketika dua orang pangeran itu mendengar perintah ini, tentu saja mereka terkejut sekali. Mereka baru saja membicarakan tentang rencana mereka menyingkirkan Pangeran Tao Kuang dan tahu-tahu kaisar memanggil mereka. Akan tetapi dengan wajah tenang saja mereka mengikuti thaikam itu pergi ke dalam dan menghadap kaisar. Ternyata para pangeran lain juga sudah berkumpul di situ, termasuk Pangeran Tao Kuang.

“Aku mengumpulkan, kalian semua untuk memberi penjelasan mengenai diangkatnya Pangeran Tao Kuang menjadi putera mahkota,” Kaisar mulai berkata. Semua pangeran mendengarkan sambil menundukkan muka dengan sikap hormat dan taat. Mereka itu seolah mengenakan sebuah topeng menutupi muka masing-masing, topeng ketaatan yang menyembunyikan apa sebenarnya yang menjadi gejolak hati mereka. Terutama sekalii Tao Seng dan Tao San yang saling lirik.

“Aku mengangkat Tao Kuang dengan perhitungan masak. Kulihat para pangeran lain tidak memiliki kebijaksanaan dan bakat untuk kelak menjadi kaisar. Pangeran Tao Seng biarpun sulung, akan tetapi dia suka bertualang dan mengejar kesenangan, maka tidak dapat diharapkan dia menjadi kaisar yang baik. Juga Pa­ngeran Tao San agak malas, padahal mengurus negara dibutuhkan orang yang rajin. Sebaliknya Pangeran Tao Kuang rajin dan sejak kecil dia suka memperhatikan urusan pemerintahan, maka dialah yang cocok untuk kelak menggantikan aku menjadi kaisar. Nah, kalian semua sudah mengerti?”

Seperti sekelompok burung para, pangeran itu mengangguk dan menyatakan mengerti. “Dan kuharap tidak akan ada yang merasa iri hati. Kalian masing-masing kelak akan mendapatkan kedudukan yang sesuai dengan kemampuan kalian.”

Pertemuan itu dibubarkan dan Tao Seng bersama. Tao San dengan sengaja mendampingi Pangeran Tao Kuang ketika keluar dari ruangan itu.

“Eh, Kuang-te, kami harap setelah menjadi putera mahkota engkau tidak mengubah sikapmu terhadap kami,” kata Tao Seng sambil tersenyum.

“Benar! Jangan-jangan Kuang-te akan memandang remeh kepada kami!” kata Tao San.

‘Aih, kenapa kalian berkata demikian?” kata Pangeran Tao Kuang. “Kita tetap bersaudara dan aku tidak akan mengubah sikap. Bagiku sama saja menjadi putera mahkota atau tidak. Semua ini hanya mentaati kehendak ayahanda Kaisar.”

“Bagus, kami pun hanya bercanda. Eh, Kuang-te, kami bermaksud untuk pergi berburu ke hutan buatan di luar kota raja. Engkau tentu suka ikut dengan kami seperti biasa, bukan?”

“Tentu saja!” kata Pangeran Tao Kuang gembira. Dia memang suka sekali pergi berburu binatang-binatang hutan di hutan buatan di mana memang dilepas banyak binatang buruan. “Kapan kita berangkat?”

“Aku belum membuat persiapan. Nanti tiga hari lagi kita berangkat. Menurut perhitungan, tiga hari lagi cuacanya baik, tidak turun hujan yang akan mengganggu kita.” kata Tao Seng. Mereka berpisah dan Tao Seng mengajak Tao San bicara di kamar rahasia. Mereka mengatur siasat untuk menyingkirkan Pangeran Tao Kuang atau membunuhnya dalam perburuan itu. Akan diusahakan agar pembunuhan itu terjadi secara wajar, dilakukan oleh para pemberontak yang sengaja menyerang mereka di dalam hutan itu. Mereka akan mempersiapkan seregu pasukan, tidak terlalu banyak, cukup dua belas orang saja dari pasukan pengawal kepercayaan mereka.

Kekuasaan didambakan setiap orang. dalam rumah tangga,di antara saudara, di antara kawan, dalam masyarakat, sampai dalam ketatanegaraan. Setiap orang ingin berkuasa karena tahu benar bahwa di dalam kekuasaanlah terletak segala keinginan yang mungkin terpenuhi, maka, tidaklah mengherankan kalau dunia ini bergelak, manusia-manusianya mengadakan permusuhan sampai perang, hanya untuk merebutkan kemenangan yang berarti kekuasaan! Jegal-menjegal di antara pejabat, pemberontakan-pemberontakan terhadap yang berkuasa, semula dengan dalih mengakhiri kekuasaan yang semena­mena, akan tetapi berakhir dengan timbulnya kekuasaan baru yang seperti biasa selalu hendak memaksakan kehendak. Siiapa menang dia berkuasa, dan siapa berkuasa dia selalu benar dan kehendaknya haruslah ditaati! ini sudah menjadi watak manusia, maka herankah kita kalau melihat perang terjadi di mana­mana? Perang antara bangsa, antar negara, antar kelompok, antar golongan.

***

Tiga hari kemudian, pagi-pagi benar, berangkatlah tiga orang pangeran yang hendak pergi berburu itu. Selosin pasukan pengawal berpakaian indah mengawal mereka. Mereka semua menunggang kuda yang tinggi besar dan taat dan di sepanjang perjalanan menuju keluar pintu gerbang, mereka menjadi tontonan menarik dan semua orang merasa kagum kepada tiga orang pangeran ini.

Mereka bertiga memang amat menarik untuk ditonton. Bukan saja kuda­kuda mereka merupakan kuda pilihan dan pakaian mereka mentereng, akan tetapi juga mereka adalah tiga orang pangeran muda yang berwajah tampan sekali. Juga mereka membawa perlengkapan yang tidak biasa mereka bawa. Sebatang busur besar dikalungkan di pundak, dan di punggung mereka terdapat belasan batang anak panah dengan bulu beraneka warna. Di pinggang mereka tergantung sebatang pedang panjang dan terselip pula beberapa batang pedang pendek. Pendeknya mereka membawa perlengkapan yang serba cukup. Perlengkapan lain dibawa oleh para pengawal.

Pangeran Tao Seng yang kini berusia dua puluh enam tahun itu jelas merupakan yang paling tampan dan gagah di antara mereka bertiga. Kuncirnya yang hitam lebat itu dikalungkan di leher, ujungnya terikat sutera kuning dan rambut di atas kepala disisir rapi dan halus licin. Dahinya lebar dan alis matanya tebal. Sepasang matanya yang seperti mata burung Hong Itu bersinar-sinar, hidungnya mancung dan mulutnya ter­senyum-senyum mengejek. Dandanannya juga mewah sekali. Apalagi duduk di atas kuda yang tinggi besar itu, dia nampak gagah bukan main.

Pangeran Tao San, putera kedua dari Kaisar Cia Cing, juga nampak tampan dan gagah. Pangeran ini agak gemuk, dengan wajah yang bulat dan berkilauan, bentuk tubuhnya agak pendek sehingga dia kelihatan semakin gemuk, hidungnya tidak begitu mancung dan matanya sipit sekali. Akan tetapi karena pakaiannya juga mentereng, dia kelihatan tampan juga. Pangeran ini, seperti yang dinilai oleh ayahnya sendiri, memang pemalas dan suka pelisir, akan tetapi dia berambisi dan ingin berkuasa.

Orang ke tiga adalah Pangeran Tao Kuang. Usianya dua puluh tiga tahun, setahun lebih muda dari Pangeran Tao San. Dibandingkan kedua orang kakaknya, dandanan Pangeran Tao Kuang tidaklah demikian mewah, walaupun tentu saja bagi orang awam pakaiannya itu sudah amat indah. Wajahnya tampan dan anggun, sepasang matanya cerdik dan biarpun dia lebih sederhana, namun pakaiannya rapi dan kuncirnya juga dijalin dengan rapi dan bagus.

Di sepanjang jalan, mereka bertiga menjadi perhatian semua orang, terutama para wanita muda yang terpesona me1ihat tiga orang pangeran ini menunggang kuda sambil melempar pandang dan senyum ke kanan kiri untuk membalas penghormatan orang-orang yang membungkuk dengan hormat.

Setelah rombongan itu keluar dari pintu gerbang sebelah utara, barulah mereka mempercepat larinya kuda. Tiga orang pangeran itu berada di depan, diiringkan oleh selosin orang pasukan pe­ngawal yang bersenjata lengkap.

Akhirnya mereka tiba di hutan buatan itu dan segera memasuki hutan untuk terus masuk ke tengah hutan yang lebat.

“Kenapa terus masuk? Lihat itu di sana ada serombongan kijang, Toako?” kata Tao Kuang dengan heran. Bukankah di situ sudah terdapat banyak binatang buruan? Mengapa harus masuk ke dalam hutan yang lebat?

Tiba-tiba sikap kedua orang pangeran itu berubah. Tao Seng mencabut pedangnya dan berkata, “Bocah sombong, engkaulah yang menjadi buruan kami!”

Pangeran Tao San juga mencabut pedangnya. “Bocah tak tahu diri, engkau akan mati di tempat ini!”

Tentu saja Pangeran Tao Kuang terbelalak memandang kedua orang kakak­nya itu. “Eh, Toako, San-ko, harap jangan main-main!”

“Siapa main-main? Kami memang hendak membunuhmu!”

Toa Kuang baru tahu bahwa mereka itu bersungguh-sungguh. Dia menoleh kepada para pengawal untuk minta perlindungan, akan tetapi para pengawal itu memandang kepadanya sambil tersenyum mengejek. Segera dia menyadari bahwa memang telah diatur oleh kedua orang kakaknya untuk membunuhnya dan para pengawal Itu tentulah orang-orang ke­percayaan mereka. Begitu mendapat kenyataan ini, dia segera memutar dan membedal kudanya melompat ke depan melarikan diri!

“Eh, dia lari!” Kejar!” Teriak Tao Seng. “Kejar, jangan sampai lolos!” teriak pula Tao San. Mereka, juga selosin orang pengawal, segera membedal kuda masing-masing dan melakukan pengejaran. Pangeran Tao Kuang yang maklum bahwa nyawanya terancam maut, membalapkan kudanya tanpa mempedulikan arah dan kudanya menyusup-nyusup ke dalam semak-semak belukar. Para pengejarnya semakin dekat dengannya dan dalam kegugupannya, ketika kudanya berlari menyusup semak berduri, dia pun tersangkut dan tak dapat dicegah lagi dia pun terlempar jatuh dari atas kudanya!

Pangeran Tao Kuang yang jatuh itu merangkak berdiri dan mencabut pedangnya untuk membela diri. Akan tetapi Pangeran Tao Seng yang berkepandaian tinggi sudah tiba di situ, melompat turun dari atas kudanya dan tertawa mengejek lalu mengayun pedangnya ke arah leher adiknya.

“Tranggg....!” Pangeran Tao Kuang menangkis dan pedangnya terpental dan terlepas dari tangannya, bahkan saking kerasnya pertemuan kedua pedang tadi dia hampir jatuh dan terhuyung ke belakang. Kesempatan ini dipergunakan oleh Pangeran Tao San untuk mengayun pe­dang membacok.

“Trakkk!” Pedang yang menuju ke leher Pangeran Tao Kuang itu terhenti di tengah jalan dan ternyata pedang itu telah tertangkis sebatang kayu ranting yang dipegang oleh seorang gadis yang entah dari mana tahu-tahu muncul di situ. Di samping gadis itu berdiri pula seorang kakek berusia enam puluh tahun yang memegang sebatang tongkat bambu.

“Eh, apa kesalahan Kongcu ini maka akan dibunuh?” tanya kakek itu sementara Pangeran Tao San terhuyung ke belakang oleh tangkisan kayu ranting itu yang berada di tangan gadis yang bertubuh ramping dan berwajah ayu.

Tao Seng membentak. “Orang tua, jangan mencampuri urusan kami, Kami adalah pangeran-pangeran dari istana! Pergilah atau kalian berdua akan kami bunuh pula!”

“Hemmm, mana ada pangeran bersikap seperti ini?” Gadis itu membentak. “Sikap kalian bukan seperti pangeran melainkan seperti orang-orang jahat!”

Tao Seng men jadi marah bukan main. “Bunuh mereka bertiga!” teriaknya kepada anak buahnya dan dia sendiri sudah menyerang kakek yang memegang tongkat itu.

“Singgggg....!” Pedang di tangan Tao Seng menyambar dahsyat menusuk ke arah dada kakek itu. Akan tetapi dengan tenang sekali kakek itu menggerakkan tongkatnya menangkis.

“Tranggggg....!” Pedang itu hampir terpental dari tangan Tao Seng ketika ditangkis tongkat itu. Tentu saja Pangeran Tao Seng terkejut bukan main dan memperkuat serangannya, namun serang­annya dapat dielakkan atau ditangkis kakek yang ternyata lihai bukan main itu. Melihat ini, Pangeran Tao San lalu membantu kakaknya menyerang kakek bertongkat secara membabi buta. Kakek itu dikeroyok dua, akan tetapi dia masih tenang saja dan semua serangan kedua orang pangeran itu dapat selalu dihindar­kan.

Sementara itu, gadis berpakaian serba hijau itu kini melindungi Pangeran Tao Kuang dari serbuan para pengawal. Pa­ngeran itu berlindung di balik sebatang pohon besar dan gadls itu berdiri di depan pohon, menghalau semua penyerang dan tidak seperti kakek itu, gadis itu bergerak cepat dan juga ganas. Setiap pengawal yang berani mendekat tentu ditotoknya dengan tongkatnya. Semua serangan pedang dapat dihalau dengan putaran ranting itu dan hebatnya, setiap kali rantingnya bergerak menotok, seorang pengawal tentu roboh dan tak dapat bangkit kembali!

Tao Kuang juga melihat betapa hebatnya gadis itu menghajar para penga­wal dan ketika dia melihat kedua orang kakaknya mengeroyok kakek yang memegang tongkat, dia berteriak. “Locian­pwe, harap jangan membunuh mereka berdua! Mereka adalah kakak-kakakku sendiri!”

Tentu saja kakek itu terkejut dan heran bukan main. Kenapa ada dua orang kakak hendak membunuh adiknya? Akan tetapi timbul rasa kagum dan suka di dalam hatinya terhadap Tao Kuang. Sudah akan dibunuh, kini malah minta agar dia tidak membunuh dua orang kakak pemuda itu! Dia mempercepat gerakan tongkatnya dan dua orang pangeran yang dikeroyoknya itu pun roboh tertotok. Pedang mereka terlepas dan terpental dan berdua juga tidak dapat bergerak kembali!

Setelah merobohkan dua orang lawannya, kakek itu lalu membantu gadis berbaju hijau yang masih dikeroyok dan dalam waktu singkat saja mereka berdua telah merobohkan selosin. pengawal itu. Mereka semua roboh tertotok dan tidak mampu lagi menggerakkan tubuh. Ternyata ayah dan anak ini merupakan ahli­ahli totok yang amat lihai, menggunakan tongkat mereka.

Setelah mereka semua dibuat tidak berdaya, Tao Kuang memberi hormat sambil mengangkat kedua tangan di depan dada kepada mereka berdua dan berkata, “Terima kasih atas pertolongan Ji-wi (Anda berdua). Kalau tidak ada Ji­wi, tentu sekarang aku sudah menjadi mayat.”

“Ah, Kongcu. Tidak perlu berterima kasih. Sudah menjadi kewajiban kami ayah dan anak untuk menentang kejahatan yang dilakukan oleh siapapun juga. Akan tetapi kenapa Kongcu hendak dibunuh oleh mereka ini? Siapakah Kong­cu?” Dia bertanya dengan ragu karena kini dia melihat bahwa pemuda itu mengenakan pakaian yang amat mewah, tidak seperti seorang kongcu (tuan muda) bisa, melainkan seperti seorang pemuda bangsawan tinggi.

“Aku adalah Pangeran Tao Kuang, putera mahkota, Locianpwe.”

Mendengar ini, kakek itu dan puterinya segera menjatuhkan diri berlutut. “Ah, mohon maaf bahwa hamba berdua tidak mengetahui siapa Paduka sehingga bersikap kurang hormat.”

“Ah. Locianpwe, harap jangan begitu. Kalian sudah menolongku, bangkitlah jangan melakukan banyak peradatan di tempat seperti ini.”

“Dan kedua orang muda itu....?” tanya si kakek, sambil memandang kepada Tao Seng dan Tao San.

“Mereka adalah kedua orang kakakku dan selosin orang ini adalah anak buah mereka. Sekarang harap Locianpwe dan Nona suka membantuku, membawa mereka ke kota raja. Biarlah ayahanda Kaisar sendiri yang mengadili mereka.”

Tao Seng dan Tao San menjadi ketakutan. Tao Seng aegera berkata dengan suara memohon tanpa dapat menggerakkan kaki tangannya, “Adikku, Kuang-te, kami hanya main-main. Harap maafkan kami dan kami berjanji tidak akan melakukan lagi. Bebaskanlah kami.”

“Hemmm, aku tahu mengapa engkau dan San-ko hendak membunuhku, Seng­ko. Kalian iri hati karena aku diangkat sebagai putera mahkota maka kalian hendak membunuhku. Aku tidak dapat membebaskanmu biarlah ayahanda Kaisar yang memutuskan.

Karena kedua orang pangeran ini masih terus membujuk dan merayu, gadis itu menggerakkan rantingnya ke arah leher mereka dan kedua orang pangeran itu tidak mampu mengeluarkan suara lagi. Kemudian, dibantu oleh anaknya, kakek itu lalu mengikat semua pengawal dan dua orang pangeran di atas kuda mereka dengan tali yang memang dipersiapkan oleh para pengawal untuk mengikat binatang buruan. Kini semua orang terikat sudah di atas kuda masing-masing. Setelah pekerjaan itu selesai, Pangeran Tao Kuang merasa girang sekali.

“Locianpwe, siapakah nama Locianpwe dan siapa Nona ini? Aku harus mengenal para penolongku.”

“Hamba bernama Liang Cun, dan ini adalah puteri hamba bernama, Liang Siok Cu. Kami tinggal di dusun yang berada di kaki Pegunungan Thian-san dan sekarang sedang dalam perjalanan merantau. Kebetulan kami berada di sini melihat peristiwa tadi.”

“Aku bersyukur sekali, Paman Liang Cun. Sebaiknya kusebut paman saja kepadamu, dan engkau Nona Liang, sungguh engkau seorang gadis yang hebat, memiliki ilmu silat yang demikian tinggi.”

“Aih, Paduka terlalu memuji Pangeran.” kata Siok Cu tersipu.

“Sekarang harap Paman dan Nona suka mengawalku membawa semua tawanan ini ke istana.

“Baik, Pangeran. Kami siap melakukannya.”

Demikianlah, dua belas orang tawanan yang terikat di atas kuda itu lalu digiring keluar dari hutan, diikuti oleh Pangeran Toa Kuang yang menunggang dan diikuti pula oleh ayah dan anak itu yang berjalan kaki.

Tentu saja mereka menjadi tontonan orang, akan tetapi berbeda dengan ketika mereka berangkat tadi, menjadi tontonan yang mengagumkan, kini menjad tontonan yang menggegerkan dan membingungkan. Orang-orang bertanya-tanya, mengapa kedua orang pangeran dan dua belas pengawal itu diikat di atas kuda, akan tetapi tak seorang pun dapat menjawabnya. Dan tak seorang pun berani bertanya kepada Pangeran Tao Kuang atau kepada Liang Cun dan puterinya yang mengawal di belakang para tawanan sambil menggiring rombongan kuda itu.

Para pengawal Istana juga gempar melihat Pangeran Tao Seng dan Pangeran Tao San diikat di atas kuda, akan tetapi ketika mereka menghampiri dan bertanya-tanya, mereka dibentak oleh Pangeran Tao Kuang.

“Cepat laporkan kepada ayahanda Kaisar bahwa aku mohon menghadap karena ada urusan penting sekali!”

Para pengawal dalam dan para thai­kam juga menjadi gempar. Segera Kaisar Cia Cing mendengar akan permohonan putera mahkota. Dia segera menyatakan menerima puteranya menghadap dan ketika melihat Pangeran Tao Kuang ditemani seorang kakek dan seorang gadis menggiring Tao Seng dan Tao San berikut dua belas orang pengawal itu menghadap, tentu saja kaisar menjadi heran sekali.

“Tao Kuang, apa artinya semua ini!” seru kaisar sambil mengerutkan alisnya.

Dengan tenang dan panjang lebar, Pangeran Tao Kuang lalu menceritakan semua peristiwa yang terjadi, betapa dia hampir saja dibunuh oleh Tao Seng dan Tao San bersama dua belas orang pengawal mereka, betapa dia diselamatkan oleh Liang Cun dan puterinya, Liang Siok Cu.

Mendengar laporan ini wajah Kaisar Cia Cing men jadi pucat, lalu berubah merah sekali. Hampir dia tidak dapat mempercaya cerita putera mahkota itu dan dia menghardik dua belas orang pengawal itu.

“Benarkah kalian para pengawal hendak membunuh putera mahkota Pangeran Tao Kuang? Kenapa kalian melakukan hal itu?”

Dengan suara serempak dan berlutut ketakutan dua belas orang itu menjawab, “Ampun beribu ampun, Yang Mulia. Hamba semua hanya menjalankan perintah dari kedua pangeran....!”

Kini hati kaisar itu tidak ragu lagi bahwa dua orang puteranya memang mempunyai maksud jahat terhadap adik mereka sendiri. “Tangkap dua belas orang pengawal ini dan penggal kepala mereka. Tangkap pula keluarga mereka dan jebloskan dalam penjara!” perintahnya dan para pengawalnya segera turun tangan melaksanakan perintah, menggusur dua belas orang pengawal para pangeran itu keluar dari persidangan.

Kaisar Cia Cing memandang kepada dua orang puteranya dan membentak, “Nah, apa yang hendak kalian katakan sekarang? Kalian telah begitu tega untuk membunuh adik sendiri. Tentu kalian lakukan itu karena iri hati, karena dia kami angkat menjadi putera mahkota, bukan?”

“Ampun beribu ampun hamba merasa bersalah dan hanya dapat mengharapkan pengampunan.” kata mereka berdua sambil membentur-benturkan dahi ke lantai. Bahkan Pangeran Tao Seng menangis dengan sedihnya.

“Hemmm, bagaimana mungkin kami dapat mengampuni anak-anak yang murtad dan jahat macam kalian?”

Pada saat itu, Pangeran Tao Kuang yang sejak tadi menyaksikan semua itu, berlutut pula. “Mohon Paduka mengampuni mereka, Ayah. Mereka melakukan karena terdorong nafsu iri hati, dan mereka tentu akan bertaubat dan tidak akan mengulang perbuatan mereka lagi.”

Melihat sikap ini, Liang Cun dan puterinya merasa kagum sekali. Benar-benar seorang pangeran yang berbudi mulia, pikir mereka.

“Apa? Engkau nyaris dibunuh dan kini malah mintakan ampun untuk mereka?” tanya kaisar dengan heran dan penasaran.

“Ayah, bagaimanapun juga, mereka adalah kakak-kakak hamba sendiri. Bagaimana hamba tega melihat mereka dihukum mati?” kata Pangeran Tao Kuang.

“Nah, dengarlah kalian berdua? Pangeran Tao Kuang, malah mintakan ampun untuk kalian! Baiklah melihat permohonan Tao Kuang, kalian tidak dihukum mati melainkan dihukum buang ke Sin-kiang selama dua puluh tahun!”

Dua orang pangeran itu menangis tersedu-sedu, akan tetapi kaisar tidak dapat terbujuk lagi untuk mengubah keputusan itu. Segera petugas diteriaki dan mereka datang menggiring dua orang pangeran itu keluar dari ruangan.

Demikianlah peristiwa antar keluarga kaisar itu selesai dengan terhukumnya dua orang pangeran itu. Seperti biasa kalau terjadi hal-hal buruk dalam keluarga kaisar, maka hal itu dilewatkan begitu saja oleh pencatat sejarah karena kaisar tidak menghendaki ada noda hitam dalam sejarah keluarganya.

Sementara itu, Liang Cun diangkat menjadi guru silat oleh Pangeran Tao Kuang yang menyadari betapa pentingnya ilmu silat tinggi bagi dirinya, untuk melindungi dirinya sendiri kalau-kalau terjadi malapetaka seperti yang pernah dialaminya itu. Liang Cun sebenarnya bukan seorang kakek biasa yang sekedar pandai ilmu silat saja. Dia adalah seorang datuk kenamaan dengan julukan Sin-tung Koai-jin (Orang Aneh Bertongkat Sakti) dari kaki Pegunungan Thai­san. dan Liang Siok Cu sudah mewarisi ilmu tongkatnya yang hebat. Ayah dan anak ini selain memiliki ilmu tongkat, juga amat terkenal dengan ilmu mereka menotok jalan darah lawan.

Setelah bergaul beberapa bulan lamanya, Pangeran Tao Kuang tidak dapat menyimpan lagi perasaan cintanya kepada Siok Cu yang tumbuh sejak dia ditolong gadis itu dari tangan para calon pembunuhnya. Ternyata perasaan cintanya tidak bertepuk tangan sebelah dan ketika Liang Cun mendengar tentang pinangan itu, dia pun merelakan puterinya menjadi selir Pangeran Tao Kuang.

Demikianlah, Liang Siok Cu menjadi selir terkasih dari pangeran mahkota itu dan tentu saja kini ilmu silat Pangeran Tao Kuang menjadi semakin maju di bawah bimbingan selirnya sendiri.

***

Waktu berjalan dengan amat cepatnya. Kalau tidak diperhatikan, sang waktu melesat seperti sebatang anak panah lepas dari busurnya, walaupun kalau diperhatikan sang waktu dapat merayap seperti seekor siput.

Kita kembali kepada Silani, puteri kepala suku Khitan yang ditinggalkan suaminya, Tao Seng. Setelah ditinggalkan, Silani melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat dan montok. Sesuai dengan apa yang dipesankan Pangeran Tao Seng, anak itu diberi nama Tao Keng Han. Anak itu dirawat dengan baik-baik oleh Silani, akan tetapi suaminya yang ditunggu-tunggu tidak kunjung datang menjemputnya. Tentu saja hal ini membuat Silani berduka sekali. Ia merasa disia­siakan. Juga Khalaban, kepala suku Khi­tan itu marah sekali. Akan tetapi apa yang dapat dia lakukan? Tao Seng adalah seorang pangeran dari kerajaan besar. Kalau Tao Seng tidak datang, apa yang dapat dia lakukan? Dengan prihatin Khalaban lalu mendidik cucunya. Dalam hal ini Kalucin berjasa besar. Pemuda Khitan yang mencinta Silani memenuhi janjinya kepada Tao Seng. Dia menjaga dan melindungi Silani dan anaknya, bahkan ketika Keng Han mulai besar, dia sendiri yang membimbing dan mengajarkan ilmu silat dan gulat kepada anak itu.Khalaban yang tidak ingin kelak dicela oleh mantunya, mengingat bahwa cucunya adalah keturunan pangeran, lalu mengundang seorang guru sastra dan mengajarkan ilmu kesusastraan kepada Keng Han agar kelak kalau anak itu dibawa ayahnya ke kota raja tidak akan memalukan ayahnya. Kebetulan sekali, pada waktu Keng Han berusia sepuluh tahun, di daerah itu muncul seorang kakek yang pandai. Dia adalah Gosang Lama, seorang Lama Jubah Kuning yang diusir dari Tibet dan merantau sampai ke daerah itu. Setelah mengetahui bahwa pendeta Lama ini seorang yang sakti, Khalaban menyambutnya dengan penuh kehormatan, bahkan lalu mengangkatnya menjadi guru bagi Keng Han. Gosang Lama tentu saja menjadi girang sekali. Dia adalah seorang buruan yang membutuhkan tempat persembunyian yang aman dan menyenangkan, maka di perkampungan Khitan itulah dia mendapatkan tempat yang baik, di mana dia dihormati dan segala

Ketika dia diangkat menjadi guru bagi cucu kepala suku Khitan itu, dia menerima hanya untuk mendapatkan kedudukan yang baik saja, hanya sedikit memperhatikan Keng Han yang dianggapnya seorang bocah Khitan biasa yang bodoh.

Akan tetapi setelah dia mulai mengajarkan silat dan sastra kepada anak itu, dia terkagum-kagum. Belum pernah dia melihat anak yang memiliki kecerdasan dan bakat demikian hebat. Terutama sekali dalam ilmu silat, ternyata Keng Han bertulang baik dan berbakat besar. Tentu saja Gosan Lama menjadi bersemangat sekali mengajarkan ilmu-ilmunya kepada murid ini. Sejak berusia sepuluh tahun Keng Han menerima gemblengan Gosang Lama. Selama lima tahun dia belajar sastra dan silat sehingga dalam usia lima belas tahun, dia telah menjadi seorang pemuda yang pandai silat dan sastra. Juga dari Kalucin yang dianggap sebagai pamannya sendiri, dia dilatih ilmu gulat dan dalam usia ilma belas tahun tidak ada seorang pun pemuda di Khitan yang mampu menandinginya, baik dalam ilmu bela diri atau ilmu gulat.

Melihat puteranya telah mulai dewasa, pada suatu hari Silani memanggil putera­nya itu ke dalam kamarnya. Keng Han, sejak engkau masih kecil engkau selalu menanyakan di mana ayahmu dan aku selalu mengelak untuk memberitahu!”

“Ya, kenapa, Ibu? Kenapa Ibu seolah menyembunyikan keadaan Ayah dariku? Siapakah Ayah? Di mana dia? Apakah dia masih hldup?”

“Sekarang engkau sudah mulai dewasa, kukira engkau boleh mengetahui semua, anakku. Ketahuilah, bahwa ayahmu masih hidup dan berada jauh di selatan, di kota raja kerajaan Ceng-tiauw. Ketika dahulu aku menikah dengan ayahmu, ayahmu itu seorang pangeran, anakku. Seorang pangeran mahkota kerajaan Ceng!”

“Ahhh....! Aku.... putera seorang pangeran mahkota?” tanya Keng Han dengan kaget. Pamannya Kalucin, kalau dia tanya tentang ayahnya, juga tidak mau menjelaskan dan menyuruh dia bertanya kepada ibunya. Demikian pula kakeknya. Hanya mereka pernah mengatakan bahwa ayahnya seorang bangsawan. Siapa, kira, ayahnya seorang pangeran! Dan pangeran mahkota pula, calon kai­sar!

“Berat, anakku. Engkau keturunan Kaisar kerajaan Ceng! Telah lima belas tahun ayahmu meninggalkan kita, mungkin sekarang dia telah menjadi kaisar! Dahulu ayahmu bernama Tao Seng dan benda inilah yang ditinggalkannya untuk kita. Ini merupakan tanda keluarganya, anakku. Kalau engkau membawa benda ini dan pergi ke kota raja Ceng di selatan, engkau pasti akan diterimanya. Silani menyerahkan pedang bengkok pemberian suaminya itu. Keng Hong menerima pedang itu dengan tangan gemetar. Sebatang pedang bengkok yang indah sekali, gagangnya terhias emas permata, demikian pula sarungnya. Ketika pedang itu dicabutnya, nampak sinar berkilat, tanda bahwa pedang itu tajam bukan main.

Di dalam hati pemuda itu timbul gejolak perasaan yang bermacam-macam. Ada rasa girang dan bangga bahwa dia adalah putera pangeran yang mungkin kini telah menjadi kaisar! Menjadi putera kaisar, hati siapa tidak akan merasa bangga? Akan tetapi di samping perasaan girang dan bangga ini, terdapat perasaan penasaran dan marah sekali. Kenapa ayahnya meninggalkan ibunya sampai lima belas tahun padahal menurut ibunya, ayahnya itu berjanji akan menjemput ibunya dan memboyongnya ke istana? Ayahnya telah menyia-nyiakan ibunya! Dan hal ini membuatnya penasaran dan marah, menimbulkan dendam. Dia akan mencari ayahnya dan kalau ayahnya tidak mau memboyong ibunya ke istana, entah apa yang akan dilakukannya terhadap laki-laki itu!

Selagi ibu dan anak ini bercakap-cakap, Kalucin muncul dan berkata, “Keng Han, engkau dipanggil kakekmu. Ada pembicaraan penting dengan gurumu.”

Keng Han lalu meninggalkan ibunya, pergi bersama Kalucin menghadap Khalaban, kakeknya yang telah berusia enam puluh lima tahun itu. Ternyata di situ sudah hadir pula Gosang Lama yang kelihatan berwajah sedih dan bingung.

“Kakek, ada urusan apakah memanggilku? Ada apakah dengan Suhu?” Keng Han memandang kepada gurunya.

“Keng Han, gurumu berpamit hendak meninggalkan kita hari ini juga.”

Tentu saja Keng Han menjadi terkejut dan memandang kepada gurunya dengan mata terbelalak. “Eh, kenapa, Suhu? Kenapa Suhu hendak pergi secara mendadak?”

“Tidak apa-apa, Keng Han. Hanya aku menganggap sudah terlalu lama aku tinggal di sini, sudah lima tahun. Aku akan melanjutkan perjalananku merantau.”

“Akan tetapi Suhu sudah tua, kenapa tidak tinggal saja di sini selamanya? Kami sudah menganggap Suhu seperti keluarga sendiri!” bantah Keng Han yang menyayang gurunya yang telah banyak mengajar ilmu kepadanya.

“Engkau benar, Keng Han. Akan tetapi aku harus melanjutkan perjalananku, waktunya berpisah telah tiba dan tidak ada apa pun yang boleh membatalkan niatku untuk pergi.”

Mendengar ucapan yang tegas itu, Keng Han tidak berani membantah lagi. Maka terpaksa dia pun membantu gurunya berkemas. Gurunya membawa buntalan pakaian dan sekantung emas pernberian kakeknya untuk bekal di jalan.

Biarpun Gosang Lama menolaknya, akan tetapi Khalaban memaksanya sehingga akhirnya Gosang Lama menerimanya juga. Setelah selesai berkemas, berangkatlah Gosang Lama meninggalkan perkampungan itu diantar oleh Khalaban, Keng Han dan Kalucin sampai ke luar daerah perkampungan mereka. Kemudian pendeta berjubah kuning itu pergi ke selatan dengan cepatnya. Sedih juga hati Keng Han ditinggalkan gurunya itu.

Tiga hari kemudian, pada suatu pagi muncul tiga orang pendeta dengan pakaian yang sama dengan yang dipakai Gosang Lama, hanya bedanya tiga orang pendeta yang usianya sekitar enam puluh tahunan ini berjubah warna merah. MelIihat ada tiga orang pendeta datang, Khalaban sendiri keluar menyambut, ditemani oleh Keng Han dan juga Kalucin yang kini menjadi pembantu utama dari Khalaban.

Khalaban membungkuk kepada tiga orang pendeta itu dan berkata ramah, “Selamat datang di perkampungan kami. Sam-wi (kalian bertiga) hendak mencari siapakah dan ada kepentingan apakah berkunjung ke tempat kami?”

Tiga orang pendeta yang kepalanya gundul itu menoleh ke kanan kiri seperti orang yang mencari-cari, kemudian seorang di antara mereka yang berjenggot panjang bertanya, “Apakah di sini terdapat seorang pendeta Lama jubah kuning yang bernama Gosang Lama?”

“Ah, Gosang Lama? Sudah tiga hari yang lalu dia pergi meninggalkan perkampungan kami ini!” kata Khalaban terus terang.

“Hemmm, sayang sekali. Agaknya dia telah mengetahui akan kedatangan kita, maka lebih dulu melarikan diri. Keparat!” kata pendeta itu dengan gemas.

Mendengar makian ini, Keng Han mengerutkan alisnya dan melangkah maju. “Kenapa kalian bertiga memaki guruku? Kalau dia berada di sini kalian mau apa?” bentaknya.

Tiga orang pendeta itu memandang kepada Keng Han dan seorang di antara mereka berkata, “Hemmm, engkau muridnya? Kalau dia berada di sini, tentu kami akan menangkapnya.”

“Ditangkap? Kenapa?” Keng Han ber­tanya penuh penasaran.'

“Dia adalah seorang pelarian dari negeri kami. Dia harus ditangkap dan dihukum.”

“Hei, orang muda! Kalau engkau muridnya, engkau tentu mengetahui ke mana dia pergi bersembunyi!” kata pendeta yang jenggotnya panjang. “Hayo beritahukan kepada kami!” Berkata demikian, pendeta itu menjulurkan tangannya menangkap pundak Keng Han.

Keng Han yang sudah marah sekali itu cepat mengelak, bahkan lalu menubruk maju sambil memukul ke arah perut pendeta itu. Pendeta itu tidak mengelak dan pukulan itu tepat mengenai perutnya.

“Bukkk....!” Keras sekali pukulan Keng Han akan tetapi pendeta yang terpukul perutnya itu tidak apa-apa, sebaliknya Keng Han yang memegangi kepalan tangan kanan dengan tangan kiri. Tulang-tulang jari tangannya rasanya patah-patah seperti memukul baja saja. Dan sebelum dia dapat mengelak, pendeta itu mendorongnya dan tubuh Keng Han terdorong dan roboh terjengkang.

Khalaban cepat maju memberi hormat. Orang tua ini maklum bahwa dia berhadapan dengan tiga orang pendeta yang lihai. “Harap maafkan cucu kami ini. Biarpun dia menjadi murid Gosang Lama, akan tetapi dia tidak tahu di mana adanya Gosang Lama. Kemarin dulu dia berpamit dari kami untuk melanjutkan perjalanan ke selatan, entah ke mana dia tidak memberitahu. Harap jangan memaksa kami!” Mendengar kata kepala suku itu dan melihat betapa banyaknya orang Khitan berdatangan mengepung tempat itu, tiga orang pendeta itu pun agaknya maklum bahwa kalau mereka menggunakan kekerasan tentu akan berhadapan dengan ratusan orang Khitan, maka tiga orang itu lalu mengangguk dan pergi dari situ tanpa bicara lagi.

Peristiwa itu menggores dalam-dalam di hati Keng Han. Dia kehilangan gurunya dan tiga hari kemudian dia mendapat kenyataan bahwa semua ilmu yang sudah pernah dipelajarinya dari Gosang Lama, ternyata sedikit sekali gunanya. Melawan seorang pendeta tua saja dia tidak mampu menang dan dikalahkan dalam se­gebrakan saja! Gosang Lama, memang pernah mengatakan kepadanya bahwa ilmu silat di dunia ini tidak ada batasnya dan banyak terdapat orang pandai di dunia ini. Kenyataan ini menghapus kebanggaan dirinya bahwa dia merupakan pemuda terkuat di perkampungannya. Dia harus mencari guru lagi yang lebih pandai. Dia harus pergi merantau mencari guru pandai, dan juga merantau ke selatan mencari ayahnya!

Keng Han pernah mendengar dari ibunya tentang lahirnya sebuah pulau yang menimbulkan gelombang besar di laut utara. “Hampir saja ayah dan ibumu celaka dalam gelombang besar itu,” Ibunya menceritakan. “Kalau kami tidak mengikat diri di tiang layar, tentu ibumu dan ayahmu sudah terlempar keluar ditelan gelombang lautan. Dan menurut cerita tukang perahu, pulau yang baru lahir itu adalah yang dahulu disebut Pulau Es. Dan ayahmu pernah bercerita kepadaku bahwa pulau itu dahulu menjadi tempat tinggal keluarga yang sakti luar biasa.”

Kisah yang diceritakan ibunya ini menarik perhatiannya. Bagaimana hatinya tidak akan tertarik? Peristiwa aneh itu dialami oleh ibu dan ayahnya sendiri dan mendengar bahwa pulau itu dahulunya dihuni manusia-manusia sakti, hatinya amat tertarik. Keng Han baru berusia lima belas tahun. Jiwa petualangan sedang berkembang dengan suburnya dalam hatinya. Maka dia lalu menghadap ibunya dan menyatakan bahwa dia hendak pergi ke selatan untuk mencari ayahnya, sama sekali tidak menceritakan keinginannya mengunjungi pulau aneh itu karena tentu ibunya tidak akan mengijinkannya. Mendengar puteranya akan pergi mencari ayahnya, Silani tidak dapat melarangnya, hanya berpesan agar puteranya berhati­hati dan. agar pedang bengkok itu disimpannya baik-baik dan jangan sampai hilang sebelum bertemu dengan ayahnya.

Khalaban dan Kalucin memberi banyak nasihat kepada pemuda remaja itu. Tadinya Kalucin hendak menemani keponakannya merantau, akan tetapi niatnya itu ditolak keras oleh Keng Han. “Paman, aku sudah besar dan aku hendak merantau mencari pengalaman. Bagaimana aku akan dapat menambah pengalaman dan pengetahuan kalau dikawal oleh Paman? Dan aku sudah cukup kuat untuk menjaga diri sendir.” bantahnya dan Kalucin tidak dapat berkata apa­apa lagi karena dalam kenyataannya dia sendiri pun tidak akan menang melawan kekuatan dan kepandaian keponakannya itu.

Tao Keng Han berangkat diantar oleh kakeknya dan Kalucin sampai keluar perkampungan, dan diantar pula oleh tangis ibunya yang tentu saja merasa kehilangan sekali. Akan tetapi Silani yakin bahwa kepergian puteranya itu penting sekali. Puteranya itu harus dapat bertemu dengan ayahnya, puteranya harus dapat mencapai kedudukan tinggi. Bagi dirinya sendiri, ia sudah menerima nasib. Biarlah ia tidak dijemput ke istana asalkan puteranya dapat diterima oleh ayahnya dan puteranya menjadi seorang pa­ngeran! Dengan adanya harapan ini hatinya yang sedih ditinggal pergi puteranya menjadi terhibur.

Harapan memang suatu perasaan yang luar biasa kuatnya. Harapan dapat menimbulkan gairah hidup. Kalau masih mempunyai harapan, maka orang mampu menanggung segala derita yang bagaimana berat pun. Sebaliknya orang yang sudah kehabisan harapan, yang putus harapan, akan mudah melakukan hal-hal yang tidak benar. Bahkan banyak orang membunuh diri karena sudah putus harapan. Akan tetapi sebaliknya, harapan yang terlalu digantungi dapat pula menimbulkan kekecewaan pada akhirnya karena hanya orang yang berharap sajalah yang akan kecewa kalau harapannya tidak terkabul!

Karena itu, orang tidak boleh putus harapan akan tetapi juga tidak baik kalau terlalu mengharap sesuatu secara berlebihan. Harapan yang terlalu berlebihan merupakan keinginan nafsu yang tidak akan pernah terpuaskan. Kalau harapan itu terpenuhi sekalipun,' biasanya tidak seindah yang diharapkan, atau tidak terasa sebaik yang diharapkan atau diinginkan karena keinginan sudah menghendaki hal laln lagi yang dianggap lebih baik.

Akan tetapi bagi seorang yang dilanda kedukaan seperti Silani, yang berduka karena tidak dijemput suaminya setelah lewat lima belas tahun lebih, dan yang kemudian berduka karena ditinggal pergi puteranya, amatlah perlu adanya harapan itu. Harapan agar puteranya dapat bertemu dengan ayah kandungnya dan dapat diterima sebagai seorang pangeran!

Setelah keluar dari perkampungan Khitan, Keng Han tidak langsung menuju ke selatan seperti yang disangka ibunya, dan kakeknya, melainkan dia membelok ke timur karena dia hendak lebih dulu pergi ke pantai lautan timur untuk mencari pulau yang diceritakan ibunya itu. Keng Han melakukan perjalanan yang amat sukar, melalui pegunungan yang seolah-olah tiada habis-habisnya. Dia naik turun gunung dan bahkan sampai berhari-hari tidak bertemu pedusunan. Akan tetapi, sebagai seorang Khitan dia sudah berpengalaman hidup menyendiri itu, dapat berburu binatang untuk makan dan bermalam di atas pohon besar. Beberapa kali dia bertemu binatang buas, akan tetapi berkat ketangkasannya, dia dapat selalu membunuh binatang buas yang mengancamnya.

Akhirnya tibalah dia di pantai lautan timur. Dia bermalam di sebuah dusun nelayan dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali dia sudah duduk termenung di tepi pantai. Keadaan pantai masih sepi sekali, para nelayan belum membuat persiapan di hari itu. Pagi masih gelap dan amat dinginnya, membuat orang malas untuk keluar dari rumah.

Akan tetapi Keng Han yang duduk di atas pasir pantai itu terpesona. Dia memandang jauh ke timur, ke arah lautan dan dia melihat pemandangan yang amat menakjubkan. Mula-mula langit di timur, terutama di atas lautan, nampak merah seolah kebakaran. Warna merah lagit itu bertepi kuning emas dan di sana sini nampak awan putih kebiruan. Indah se­kali Bagian pintu gerbang sorga dalam dongeng. Kemudian muncullah yang ter­indah dari segalanya yang terindah di saat itu. Sebuah bola api yang besar sekali, warnanya merah darah, tersembul perlahan-lahan keluar dari dalam lautan. Hampir dia lupa bahwa itu adalah sang matahari! Seperti seekor mahluk yang aneh yang muncul dari dalam lautan. Bola api merah itu cepat sekali, nampak naik dari permukaan laut, lalu nampak semua. Bulat tanpa cacat, membawa cahaya merah yang masih lembut. Akan tetapi semakin tinggi dia naik, semakin cerah warnanya, bukan darah lagi, melainkan merah bercampur keemasan dan mulai mengeluarkan sinar. Dan sinarnya mulai membuat jalan jalur kemerahan di permukaan lautan yang tenang. Indah sekali. Besar sekali. Agung sakali!

Bersama munculnya Sang Matahari, kehidupan pun mulailah. Nampak binatang malam seperti kelelawar beterbangan di udara, agaknya bergegas pulang ke sarang takut kesiangan karena sinar mata­hari yang cerah akan membuat mereka buta. Sebaliknya, burung-burung camar mulai beterbangan pula, rendah dipermukaan laut, mencari ikan. Beberapa orang nelayan mulai nampak di tepi laut, berpakaian tebai menahan dingin, ada yang mulai membenahi perahu, membetulkan jala dalam persiapan mereka mencari nafkah di hari itu.

Kekusaan Tuhan bekerja setiap saat, di mana-mana. Kebesaran dan keindahannya dapat disaksikan di mana-mana, di sekeliling kita, di dalam diri kita sendiri.

Sayang sekali, mata kita seolah buta dan tidak melihat semua itu, tidak dapat menikmati dan mensyukuri semua itu. Jiwa kita yang seharusnya selalu kontak dan berhubungan dengan kekuasaan Tuhan, seolah tertutup oleh nalsu, bergelimang nafsu sehingga kita selalu menghendaki yang menyenangkan dan memuaskan nafsu belaka.

Keng Han terpesona, tenggelam ke dalam semua keindahan itu, bahkan doa sudah lupa akan dirinya sendiri yang seolah-olah telah bersatu dengan semua keindahan itu, bahkan menjadi sebagian dari keindahan itu sendiri.

Keramaian yang makin terjadi di pantai itu, kesibukan para nelayan dan naiknya matahari pagi yang kini sinarnya mulai tak tertahankan oleh pandang mata, menyadarkannya dari lamunan. Apalagi ketika terdengar suara ribut-ribut di sebelah sana. dia mengangkat muka memandang. Ternyata suara ribut-rlbut itu terjadi antara tiga orang pendatang yang pakaiannya ringkas seperti ahli-ahli silat dan belasan orang nelayan yang ribut mulut.

“Kami tidak peduli!” kata seorang di antara tiga pendatang itu. “Kalian harus menyerahkan sebuah perahu untuk kami pinjam dan sekalian mengantar kami ke pulau itu. Habis perkara!”

“Tapi hal itu tidak mungkin kami lakukan!” bantah seorang nelayan yang masih muda. “Kami adalah nelayan-nelayan yang harus mencari makan setiap hari. Kami harus membayar hutang-hutang kami kepada Juragan Lui setiap hari. Bagaimana kami dapat mengantar kalian bertiga ke pulau kosong itu?”

“Kamu berani membantah?” Seorang di antara tiga pendatang itu melangkah maju dan sebuah pukulan mengenai dada pemuda nelayan itu sehingga dia ter­pelanting roboh. “Siapa yang tidak menurut akan kami hajar dan siapa yang akan membela kalian? Juragan Lui itu jangan dihiraukan!”

“Hei, siapa berani memandang rendah Juragan Lui?” terdengar seseorang berteriak dan muncullah dua orang yang dari pakaiannya juga bukan nampak sebagai nelayan, melainkan lebih mirip jagoan dengan pakaian yang ringkas. “Kami yang akan membela para nelayan ini!”

Tiga orang pendatang itu menoleh dan menjadi marah. “Siapakah kalian berdua yang berani mencampuri urusan kami?” Bentak seorang di antara mereka yang hidungnya pesek dan mulutnya besar.

“Kami adalah pembantu Juragan Lui. Kehidupan para nelayan ini sepenuhnya ditanggung oleh Juragan Lui dan hasil tangkapan ikan mereka harus diserahkan kepada Juragan Lui untuk membayar hutang mereka. Kalau kalian mengganggu mereka, bagaimana mereka dapat mencari ikan? Kalian tiga orang asing pergilah dari dusun ini dan jangan membuat ribut di sini atau kami akan menghajar kalian!”

“Ah, kalian ini jagoan-jagoan tukang pukul Juragan Lui agaknya! Hendak kami lihat sampai di mana kelihaian kalian maka berani membuka mulut besar kepada kami!” Tiga orang itu lalu maju menyerang dua orang tukang pukul itu dan terjadilah perkelahian. Akan tetapi ternyata dua orang tukang pukul itu tidak mampu menandingi tiga orang itu sehingga mereka dipukul jatuh bangun dan melarikan diri, ditertawakan tiga orang pendatang itu. Para nelayan menjadi semakin ketakutan.

“Hayo cepat sediakan sebuah perahu yang baik dan layarkan ke pulau kosong itu!” kata si hidung pesek dengan nada sombong. “Cepat kerjakan, atau kalian ingin kami menghajar kalian semua?”

“Perlahan dulu! Jangan ada yang mengerjakan perintah tiga orang liar ini!” tiba-tiba terdengar seruan dan muncullah seorang laki-laki berusia lima puluh tahun yang memegang sebatang huncwe yang masih mengepulkan uap dari tembakau yang membara.

Disebut tiga orang liar, tiga orang pendatang itu tentu saja marah sekali dan mereka segera menghadapi orang setengah tua itu. Orang itu berpakaian bagus seperti seorang pedagang, tubuhnya tinggi kurus dan pandang matanya tajam.

“Juragan Lui, kami dipaksa untuk melayarkan mereka ke pulau kosong dan mereka memukul kami!” kata nelayan yang tadi dipukul. “Juga dua orang pembantu Juragan Lui telah mereka hajar!”

Mendengar ini, si hidung pesek tertawa, “Ha-ha-ha, kiranya engkau yang disebut Juragan Lui? Tentu engkau ini lintah darat yang menguras tenaga para nelayan untuk mengisi padat kantung uangmu, memberi pinjaman dengan bunga berlipat ganda. Kalian berani memaki kami orang liar? Engkau sudah bosan hidup rupanya!”

“Hemmm, kalian bertiga yang bosan hidup!” bentak Juragan Lui sambil menyedot huncwenya meniupkan asap tembakau yang berbau apak itu ke arah mereka.

“Keparat, berani kau!” Si hidung pesek itu menerjang dengan pukulan tangan kanannya. Akan tetapi dengan mudahnya Juragan Lui mengelak, kemudian menangkap siku tangan yang memukul dan sekali puntir dan mendorong, orang itu sudah roboh menelungkup mencium tanah.

Dua orang kawannya menjadi marah bukan main. “Jahanam yang bosan hidup!” bentak mereka dan mereka meloloskan golok dari pinggang mereka. Juga si hidung pesek yang ketika jatuh menelungkup itu hidungnya menjadi tambah pesek karena membentur tanah, kini meloncat, membersihkan mukanya dari tanah dan mencabut goloknya. Tanpa banyak cakap lagi tiga orang itu lalu menyerang Juragan Lui dengan golok mereka.

Biarpun pakaiannya seperti pedagang dan tubuhnya tinggi kurus nampak lemah, kiranya Juragan Lui bukan seorang yang lemah. Cepat sekali tubuhnya bergerak dan dia sudah dapat menghindarkan diri dari bacokan-bacokan golok dengan mengelak ke sana-sini. Kemudian dia mengambil huncwe yang panjangnya selengan tangan itu dari mulutnya dan mulailah dia membalas dengan mempergunakan huncwe itu sebagai senjata.

“Trang-tranggg....!” Dua batang golok tertangkis huncwe dan dua orang pe­megang golok itu terhuyung ke belakang. Orang ke tiga yang membacokkan goloknya ke arah leher Juragan Lui terhuyung ke depan ketika goloknya mengenai tempat kosong dan tiba-tiba saja ujung hun­cwe telah menyodok dadanya.

“Dukkk....!” Orang itu mengaduh, goloknya terlepas dan dia pun roboh bergulingan, nampak kesakitan. Dua orang kawannya menjadi marah dan kembali mereka menyerang dari kanan kiri. Namun gerakan juragan Lui terlalu gesit bagi mereka dan setelah mengelak, hun­cwe itu berkelebat dua kali dan dua orang pengeroyok itu pun roboh tertusuk huncwe bagian dada dan perut mereka. Tiga orang itu merangkak bangun dan melarikan diri. Tentu saja kemenangan Juragan Lul ini membuat para nelayan menjadi lega dan gembira. Mereka memuji-muji kegagahan Juragan Lui yang menjadi bangga dan sambil menyedot huncwenya lalu mengepulkan dari mulut dia berkata bangga.

“Hemmm, segala macam bangsat kecil berani mengganggu wilayahku. Baru mengenal kelihaian Juragan Lui sekarangi Hayo kalian berkemas dan bekerja!”

Para nelayan lalu sibuk mempersiapkan diri untuk mulai pergi mencari ikan. Akan tetapi Keng Han yang sejak tadi melihat semua peristiwa itu dengan hati tertarik, melihat datangnya beberapa orang berlarian menuju ke tempat itu dan hatinya merasa khawatir.

Tak lama kemudian, lima orang telah tiba di situ, dipimpin seorang yang mukanya hitam seperti dilumuri arang dan tubuhnya tinggi besar. Orang ini membawa sebatang golok besar telanjang yang berkilauan saking tajamnya, dan empat orang kawannya juga membawa golok tergantung di pinggang masing-masing. si muka hitam berteriak dengan suara lantang.

“Siapa yang bernama Juragan Lui?”

Para nelayan yang tadinya sibuk be­kerja itu menjadi panik melihat munculnya lima orang itu. Akan tetapi Juragan Lui dengan tenang menghampiri mereka dan dengan alis berkerut dia pun menegur.

“Siapakah kalian dan mau apa mencari Juragan Lui? Akulah orangnya!” Dan dia mengepulkan asap huncwe dari mulutnya.

Si muka hitam melangkah maju menghampiri dan mengelebatkan golok besarnya. “Jadi engkau yang bernama Juragan Lui? Engkau telah berani memukul tiga orang anak buahku, maka aku sendiri, Hek Houw (Harimau Hitam) datang untuk menghukummu!”

“Hemmm, bagus! Anak buahmu yang berani melakukan pengacauan di wilayahku dan engkau hendak membela mereka? Huncweku tentu tidak akan mengampunimu. Ataukah engkau akan melakukan pengeroyokan dengan empat orang kawanmu? Aku pun dapat mengerahkan semua orangku untuk mengeroyok. Katakan, engkau menghendaki keroyokan banyak orang atau hendak bertanding satu lawan satu sebagaimana layaknya orang gagah?”

“Ha-ha-ha, si lintah darat Lui masih dapat bicara tentang orang gagah. Mari kita bertanding satu lawan satu, dan kalau aku menang, engkau harus menyediakan perahu-perahu untuk kami tiga puluh orang pergi ke pulau kosong!”

“Hemmm, kiranya kalian sebangsa perampok. Bagaimana kalau engkau yang kalah?”

“Aku Si Harimau Hitam, kalah olehmu. Ha-ha-ha, jangan mimpi! Kalau aku kalah, aku dan kawan-kawanku tidak akan mengganggu dusun ini lagi.”

“Bagus! Mari kita mulai!”

Dua orang itu lalu memasang kuda­kuda. Si muka hitam, mengangkat goloknya tinggi di atas kepala sedangkan tangan kirinya ditekuk di depan dada. Juragan Lui dengan sikapnya yang tenang melentangkan huncwenya di depan dada.

“Lihat seranganku!” bentak si muka hitam yang menyerang lebih dulu dengan goloknya. Golok itu menyambar dahsyat ke arah kepala Juragan Lui. Yang diserang menggerakkan huncwenya menangkis.

“Tranggggg....!!” Pertemuan antara kedua tenaga dahsyat itu hebat sekali dan nampak api berpercikan keluar dari tempat tembakau huncwe itu dan keduanya mundur dua langkah. Ini menunjukkan bahwa kedua orang itu memiliki tenaga yang berimbang.

Agaknya Hek Houw menjadi penasaran sekali. Dia adalah seorang kepala perampok yang sudah terkenal di daerah itu dan baru sekali ini bertemu tanding yang seimbang dalam diri seorang juragan nelayan! Karena marah, dia lalu menyerang lagi dan menggerakkan goloknya dengan hebat, mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan seluruh ilmu goloknya. Akhirnya, Juragan Lui terdesak juga oleh permainan golok yang amat cepat dan kuat itu. Senjatanya berupa huncwe itu tidak menguntungkan, hanya dapat dipakil untuk menotok saja, se­dangkan golok lawan dapat dipergunakan untuk membacok dan menusuk.

“Sing-sing-singgg....!” Golok, itu menyambar-nyambar sehingga Juragan Lui terpaksa harus berloncatan ke sana kemari untuk menghindarkan diri. Dia tidak mendapat kesempatan lagi untuk balas menyerang saking cepatnya serangan lawan yang bertubi-tubi.

“Trakkk....!” Tiba-tiba golok itu tertahan di udara oleh sebatang kayu ranting. Si Harimau Hitam merasa betape tangannya kesemutan dan goloknya seolah tertahan dan melekat pada ranting kayu itu. Dia cepat menarik goloknya.Dan melangkah mundur.

Ternyata yang memegang sebatang ranting dan yang menahan goloknya itu adalah seorang pemuda remaja yang tampan dan gagah. Seorang pemuda yang usianya paling banyak lima belas tahun, bermata lebar, hidungnya mancung dan mulutnya senyum-senyum. Pemuda itu adalah Tao Keng Han. Tadinya dia hanya nonton saja perkelahian yang terjadi itu, akan tetapi melihat betapa Juragan Lui terdesak dan terancam, dia tidak dapat tinggal diam saja lalu memungut sepotong ranting dan turun tangan menangkis go­lok yang menyambar-nyambar itu.

“Keparat! Engkau bocah tak tahu diri, siapakah engkau yang berani menangkis golokku?”

Keng Han tersenyum. “Siapa aku tidaklah penting, akan tetapi engkau hendak memaksakan kehendak agar ditaati orang lain. Itu merupakan perbuatan jahat yang harus kutentang. Orang-orang ini adalah para nelayan yang harus bekerja mencari nafkah, mengapa engkau mengganggu mereka dan memaksa mereka untuk mengantarmu berlayar?”

“Anak kecil kau tahu apa! Hayo pergi dari sini atau akan kupenggal batang lehermu?”

“Hemmm, hendak kulihat bagaimana caranya engkau memenggal batang leherku, sebaliknya aku akan mematahkan batang hidungmu!” kata Keng Han. Dia tadi sudah menyaksikan pertandingan antara kepala perampok ini dengan Juragan Lui dan melihat betapa dakal penilainnya, gerakan kepala perampok itu hanya mengandalkan tenaga luar saja dan lamban baginya, maka dia merasa yakin akan mampu mengalahkannya.

Mendengar ucapan pemuda remaja itu, Harimau Hitam menjadi marah sekali. Dia mengayun goloknya dengan penuh sambil membentak.

“Hyaaaaattt....!” Akan tetapi bacokan itu luput karena dengan lincahnya Keng Han sudah mengelak. Anak ini sudah menerima gemblengan ilmu silat dari Gosang Lama yang tingkatnya jauh lebih tinggi daripada ilmu golok penjahat itu, maka Keng Han dapat mempermainkannya. Setelah enam tujuh kali dia mengelak dari sambaran golok kepala perampok itu, Keng Han mulai menggerakkan ranting kayu di tangannya.

“Prat-prat!!” Dua kali ranting kayu menyambar dan tak dapat dihindarkan lagi muka kepala perampok itu terkena lecutan ujung ranting kayu sehingga nampak dua jalur merah pada kedua pipinya! Rasa nyeri dan pedih membuat dia semakin marah dan mengamuk seperti harimau terluka. Namun, semakin hebat dia mengamuk semakin sering pula ranting kayu itu melecut dan beberapa kali me­ngenai batang hidungnya sehingga tulang batang hidung yang tidak keras itu menjadi patah-patah dan berdarah!

Melihat kepala perampok itu tidak menjadi jera bahkan mengamuk semakin ganas, Keng Han lalu menggerakkan tongkatnya dua kali ke arah lutut. Dia menotok kedua lutut Harimau Hitam itu dan kepala perampok itu jatuh berlutut! Empat orang anak buahnya yang tidak berani mencampuri karena di situ selain terdapat Juragan Lui, juga terdapat banyak sekali nelayan, segera membantu ketua mereka, mengangkatnya bangun dan memapahnya pergi dari situ tanpa banyak cakap lagi.

Para nelayan menyambut kemenangan Keng Han dengan sorak dan tepuk tangan. Juragan Lui segera menghampiri Keng Han dan memberi hormat sambil berkata, “Siauw-hiap (Pendekar Muda) sungguh lihai, mengagumkan sekali dan terima kasih atas pertolonganmu tadi.”

Akan tetapi Keng Han yang tadi telah bertanya-tanya dan mendapat keterangan beberapa orang nelayan siapa adanya Juragan Lui itu, sudah berkata dengan ketus kepadanya, “Engkau juga bukan orang baik-baik, Juragan Lui!”

Mendengar ini, Juragan Lui terbelalak dan berseru, “Engkau keliru, orang muda! Aku adalah penolong seluruh nelayan di daerah ini! Siapa yang memberi modal kepada mereka untuk memperbaiki jala dan perahu! Aku! Siapa yang memberi mereka makan dan pakaian di waktu angin besar tidak memungkinkan mereka mencari nafkah? Aku! Kalau tidak ada aku, mereka tentu banyak yang sudah kelaparan!”

“Hemmm, memang baik sekali kalau engkau menolong mereka dari kesukaran. Akan tetapi engkau menolong dengan pamrih untuk menarik keuntungan sebesarnya. Kalau musim menangkap ikan tiba, engkau mengharuskan mereka menyerahkan seluruh hasil tangkapan ikan kepadamu. Engkau memperhitungkan bantuan-bantuanmu sebagai hutang dengan bunga berlipat ganda. Itu bukan pertolongan namanya, melainkan pemerasan! Engkau sepertl lintah darat, tidak baik daripada kepala perampok tadi!”

“Itu fitnah! Engkau lancang mulut dan perlu dihajar, orang muda!” kata Juragan Lui dengan marah sekali.

“Benarkah? Aku atau engkau yang perlu dihajar?” Keng Han mengejek.

Karena merasa dihina di depan banyak, orang, Juragan Lui segera menyerang dengan huncwenya. Serangannya cepat dan berbahaya, namun bagi Keng Han serangan itu tidak ada artinya. Dia meng­elak dan sekali tongkatnya bergerak, ujung tongkatnya telah menotok pergelangan tangan yang memegang huncwe sehingga pipa tembakau itu terlepas dari pegangan tangan Juragan Lui. Para tukang pukulnya yang ketika itu sudah berkumpul di situ dan ada belasan orang banyaknya sudah siap membantu juragan mereka, akan tetapi Keng Han menodongkan ujung rantingnya ke leher Juragan Lui dan membentak, “Mundur kalian semua! Atau, aku akan membunuh juragan kalian ini lebih dulu, baru membunuh kalian!”

Juragan Lui yang ditodong lehernya maklum bahwa sekali tongkat itu bergerak menotok, dia akan tewas. Dengan ketakutan dia lalu berkata, suaranya gemetar.

“Ampunkan aku, Siauw-hiap. Aku akan mentaati semua permintaanmu.”

Keng Han menarik tongkatnya. “Aku tidak menghendaki apa pun darimu, akan tetapi mulai sekarang engkau tidak boleh memeras para nelayan. Kalau memberi pinjaman, mintalah bayaran dengan bunga yang wajar saja sehingga para nelayan berkesempatan untuk menaikkan taraf kehidupan mereka. Mereka itu manusia, sama dengan engkau dan aku yang mem­butuhkan kesejahteraan dan kesenangan, bukan sekedar makan saja. Kalau lain kali aku melihat engkau masih memeras mereka, aku akan membunuhmu!”

“Baik, Siauw-hiap. Aku akan melaksanakan perintahmu.”

“Sekarang, aku ingin menyewa sebuah perahu dengan tukang perahu yang dapat mengantar aku ke Pulau Es yang muncul belasan tahun yang lalu.”

Wajah Juragan Lui menjadi pucat. “Ah, akan tetapi di antara kami tidak ada yang berani ke sana, Siauw-hiap.”

“Mengapa tidak berani?” tanya Keng Han dengan heran.

“Karena.... karena pulau itu berhantu!”

“Berhantu? Apakah ada yang pernah melihat hantu di pulau itu?”

“Melihat sih belum, akan tetapi kabar yang tersiar di mana-mana bahwa pulau itu berhantu. Sudah beberapa orang nelayan yang berani mencari ikan agak dekat dengan pulau itu, kedapatan mati, mati dengan tubuh hangus seperti dibakar! Nah, siapa lagi yang melakukan hal ini kalau bukan hantu? Kami.... maafkan, Siauw-hiap, tidak ada di antara kami yang berani....”

“Aku yang menanggung keselamatan­nya. Orang yang mengantarku ke sana tidak perlu ikut mendarat, cukup mengantar sampai aku tiba di sana saja. Setelah aku mengadakan penelitian di sana, dia lalu boleh mengantar aku kembali dan untuk itu aku mau membayar sewa perahu dan upah yang memadai.”

Mendengar ini, Juragan Lui lalu menoleh ke belakang, ke arah para nelayan dan bertanya, “Kalian semua telah mendengar permintan Siauw-hiap ini, apakah ada di antar kalian yang sanggup me­ngantarkan dia ke pulau itu?”

Para nelayan itu nampak ketakutan, saling pandang dan menggeleng kepala. Akan tetapi seorang nelayan yang berusia lima puluh tahun segera melangkah maju dan berkata, “Biarlah saya yang akan mengantar Siauw-hiap ini ke sana! Dia sudah melepas budi kepada kami, memperbaiki nasib kami, maka sebagai tanda terima kasih biar saya mengantar dia ke sana!” Orang-orang bertepuk ta­ngan memuji ketika ada seorang di antara mereka yang berani mengajukan diri. Orang itu bernama Ji Koan, seorang nelayan kawakan yang sejak kecil sudah menjadi nelayan di tempat itu.

“Terima kasih, Paman.” kata Keng Han. “Siapakah nama, Paman?”

“Namaku Ji Koan, Siauw-hiap.”

“Paman Ji, berapa sewa perahumu? Aku akan membayarnya lebih dulu.”

“Tidak usah, Siauw-hiap. Soal sewanya mudah nanti saja kalau Siauw-hiap sudah berhasil sampai ke pulau itu dan kembali dengan selamat ke sini. Kapan berangkat, Siauw-hiap?”

“Sekarang juga, Paman Ji. Dan jangan sebut aku siauw-hiap. Namaku Tao Keng Han.”

“Baiklah, Tao-kongcu. Nah, saya sudah siap. Itu perahuku yang layarnya kuning.” kata Ji Koan dengan nada gembira dan bangga bahwa dia satu-satunya orang yang berani mengantar pemuda perkasa itu ke Pulau Hantu. Semua ini dia lakukan karena rasa terima kasihnya. Berkat sepak terjang pemuda itu, kehidupan para nelayan di situ akan menjadi jauh lebih baik.Para nelayan yang lain membantu ketika Ji Koan membuat persiapan dan ketika perahu berangkat berlayar, semua orang memandang dan mengikuti perahu itu dengan sinar. mata penuh ketegangan, juga kekhawatiran. Akan tetapi Ji Koan adalah seorang nelayan yang tidak berkeluarga, hidup sebatang kara saja di dunia ini sehingga tidak ada anggota keluarga yang mengkhawatirkannya.

***

Semua penduduk perkampungan nelayan itu dicekam ketakutan kalau orang bicara tentang Pulau Hantu, demikian mereka menamakan pulau kosong itu. Rasa takut adalah suatu perasaan yang timbul apabila orang menghadapi sesuatu yang belum terjadi. Kalau orang membayangkan hal-hal yang hebat, malapetaka yang akan menimpanya di masa depan, maka orang itu akan dicekam perasaan takut. Takut dan khawatir hanya merupakan permainan dari pikiran kita sendiri yang membayangkan hal­hal yang belum tiba, memikirkan masa depan dan mengkhayalkan kejadian-kejadian mengerikan yang mungkin menimpa diri kita. Kalau kejadian itu sudah datang menimpa kita, maka rasa takut itu pun tidak akan ada lagi, yang ada rasa takut membayangkan hal lain yang mungkin datang menimpa kita, yang lebih hebat lagi. Kalau ada wabah mengamuk, kita yang belum terkena penyakit tentu menjadi ketakutan kalau membayangkan bahwa kita akan terkena penyakit itu. Akan tetapi kalau penyakit benar-benar sudah menimpa kita, kita tidak lagi takut menghadapi penyakit yang sudah diderita, yang kita takuti mungkin kematian yang belum tiba. Pendeknya, segala hal yang belum datang dan mungkin menimpa diri kita di masa depan, memikirkan atau membayangkan hal itulah yang menimbulkan perasaan takut dan ngeri. Seperti orang takut akan han­tu, setan, iblis dan sebagainya. Karena kita belum pernah melihatnya, belum pernah bertemu, kita lalu membayangkan hal-hal yang mengerikan kalau. bertemu benar-benar. Andaikata kita sudah ber­temu dengan Iblis seperti kita melihat mahluk-mahluk lainnya, pasti tidak ada lagi rasa takut itu. Kalau kita tidaki­membayangkan hal-hal yang belum da­tang, tidak membayangkan masa depan, maka kita hanya akan menghadapi saat ,ini, peristiwa yang kita hadapi sekarang ini dan kita bebas daripada rasa takut akan masa depan. Orang yang begini adalah seorang yang waspada dan pasti akan mampu menghadapi segala hal yang dialaminya, dan orang yang bebas dari rasa takut adalah seorang yang berbahagia.

Lebih baik kita menyerahkan segala hal yang belum datang itu kepada Tuhan, karena Tuhan yang mengatur segala apa yang ter jadi di dunia ini! Dengan penyerahan dan kepasrahan yang total kita melangkah dalam kehidupan ini dan tidak takut akan tertimpa apa pun juga. Apa pun yang terjadi, kalau kita menerimanya sebagai kehendak Tuhan kita akan terbebas dari segala penyesalan dan duka. Bukan berarti kita lalu mandeg dan menjadi malas, menyerahkan segalanya kepada Tuhan tanpa berusaha. Tidak! Kita berikhtiar sekuat kemampuan kita untuk mendapatkan yang terbaik, akan tetapi dengan landasan penyerahan seutuhnya sehingga apa pun yang kita hasilkan, itulah anugerah dari Tuhan. Bahkan ke­gagalan dalam usaha kita pun merupakan anugerah terselubung dan kesalahannya harus kita cari dalam sepak terjang kita sendiri!Pagi itu udara amat cerah, matahari pagi hangat dan cerah, langit bersih hanya terdapat sedikit awan putih yang berarak dengan indahnya. Air laut juga tenang dan angin berhembus lembut, membuat perahu yang ditumpangi Keng Han meluncur dengan sempurna. Keng Han merasa gembira sekali. Dia teringat akan cerita ibunya ketika bertamasya dengan ayahnya, juga naik perahu berlayar di sepanjang lautan ini. Ah, seperti apa macam pria yang menjadi ayahnya? Menurut ibunya, ayahnya seorang pangeran yang berwajah tampan dan gagah. Kata ibunya, tubuhnya sedang, dahinya lebar, alisnya tebal dan matanya seperti mata burung Hong, hidungnya mancung dan mulutnya selalu tersungging senyuman, pakaiannya indah! Ah, betapa akan bangga hatinya kalau dia bertemu dengan ayahnya. Dan ayah serta ibunya menyaksikan ketika pulau yang kini disebut Pulau Hantu oleh para nelayan itu “lahir”! Mendengar kelahiran sebuah pulau dari ibunya sudah timbul keinginan tahunya untuk berkunjung ke pulau aneh itu, apalagi sekarang pulau itu bahkan disebut Pulau Hantu oleh para nelayan. Cerita ini tidak membuatnya takut, bah­kan menambah keinginan tahunya. Benar­benarkah ada hantu di pulau itu? Atau bahkan, benar-benarkah ada hantu di dunia ini? Hantu seperti dalam dongeng, yang bentuknya aneh-aneh dan mengeri­kan?

Setelah berlayar selama setengah hari dan matahari sudah naik tinggi, tiba-tiba Ji Koan berseru. “Itulah dia.... Pulau Hantu....!” ketika menyebut pulau itu, suaranya berubah menjadi bisikan.

Keng Han yang sedang melamun menjadi kaget dan cepat memandang nelayan itu yang menudingkan telunjuknya ke kiri. Dia menengok dan melihat sebuah pulau, tak jauh lagi dari situ. Pulau itu tidak terlalu besar, memanjang dan berwarna hijau kehitaman. Agaknya pulau itu tidak gundul, melainkan ditumbuhi banyak pohon-pohonan. Padahal, ibunya pernah bercerita bahwa kabarnya pulau itu dahulunya disebut Pulau Es yang lenyap di telan air lautan puluhan tahun yang lalu dan lima belas tahun yang lalu lahir atau timbul kembali mun­cul dari dalam lautan. Dia tidak dapat mengira-ngirakan apa yang sesungguhnya telah terjadi di dasar lautan itu, mengapa ada pulau dapat lenyap ditelan air dan kini muncul kembali dalam bentuk lain. Kalau dulu menjadi Pulau Es, kini menjadi Pulau Hantu yang banyak pohon-pohonnya.

“Ah, kelihatan pulau biasa saja, meng­apa disebut Pulau Hantu? Paman Ji Koan, arahkan perahu mendekat.”

“Tao-kongcu.... saya.... saya takut....!”

“Aih, apa yang ditakuti? Mari, biar aku yang mengemudikan perahu!” katanya dan Keng Han mengambil oper kemudi dari tangan Ji Koan. Tadi dia sudah belajar dari nelayan itu dan karena dia memang seorang pemuda yang cerdik maka sebentar saja dia sudah dapat menguasai kepandaian itu. Kini dia mengemudikan perahu mendekati pulau. Setelah dekat baru nampak bahwa pulau itu di bagian tengahnya gundul dan terdapat bagian menonjol seperti bukit, dan pohon­pohon yang tumbuh itu hanya tumbuh di bagian pinggirnya saja.

Karena sudah dekat dengan daratan yang berbatu-batu, Ji Koan menggulung layarnya dan melanjutkan luncuran perahu dengan menggunakan dayung. Dibantu oleh Keng Han, dia mendayung perahunya ke daratan pulau dengan muka pucat ketakutan. Tiba-tiba dia menuding ke air.

“Kongcu, lihat....!” Dia berseru dengan suara gemetar dan tangannya yang memegang dayung menggigil. Keng Han melihat ke air dan dia pun bergidik. Terdapat banyak sekali ular berenang di dekat perahu. Ular-ular yang berwarna merah darah, yang kecil sebesar keling­king jari tangan, yang besar seperti ibu jari kaki panjangnya, paling panjang dua kaki. Ular-ular itu berenang dengan cepat dan lincah sekali. Tiba-tiba dua ekor ular sebesar jari telunjuk meloncat dari air menuju ke atas perahu. Ji Koan berteriak, akan tetapi Keng Han menggunakan dayungnya menghantam dan dua ekor ular Itu terjatuh lagi ke air, menggeliat-geliat sekarat. Lalu terjadi hal yang mengerikan. Dua ekor ular itu menjadi mangsa kawan-kawannya sendiri, tubuh mereka hancur lebur dibuat rebutan. Agaknya ular-ular laut yang merah ini ganas seperti ikan-ikan hiu yang akan menyerang kawan sendiri kalau kawan ini terluka dan mencium darah. Ji Koan gemetar seluruh tubuhnya.

“Kongcu.... mari kita kembali saja....” Dia mengeluh ketakutan.

Akan tetapi pengalaman itu bagi Keng Han menambah keinginan tahunya. “Tidak, Paman. Kita terus ke pulau, mendarat!” katanya sambil menggerakkan dayunnya dengan penuh tenaga.

Ji Koan tidak dapat membantah lagi dan terpaksa ikut pula mendayung, biarpun pandang matanya ditujukan ke arah air di mana ular-ular itu masih mengikuti perahu dan bahkan berenang di kanan kiri perahu. Hatinya diliputi rasa ngeri yang hebat sehingga mukanya pucat dan matanya terbelalak.

“Lihat itu, Paman!” tiba-tiba Keng Han menuding ke depan.

Ji Koan memandang dan dia terkejut, juga heran melihat banyak perahu di pantai. Ada tujuh buah perahu kecil dan sebuah perahu besar.

“Saya takut mendarat, Kongcu.”

“Kalau begitu, tinggallah saja di perahu ini, di dekat pantai biar aku sendiri yang mendarat. Akan tetapi tunggu, jangan pergi sebelum aku kembali.”

“Baik, Kongcu.” kata Ji Koan yang masih ketakutan.

Keng Han lalu membawa buntalan pakaiannya yang diikatkan di punggungnya dan meloncat dari perahu itu ke atas sebuah batu besar, lalu dari batu melompat ke batu lain sampai akhirnya dia dapat mendarat. Tadinya, tepi pantai itu terhalang oleh batu-batu besar sehingga dia tidak dapat melihat apa yang terjadi di balik batu-batu itu. Akan tetapi sekarang dia dapat menyaksikan pemandangan yang amat mengerikan. Juga suara air memecah pada batu-batu karang membuat dia tidak dapat mendengar suara yang keluar dari tempat itu, dan baru sekarang dia dapat mendengarnya.

Di tempat itu terjadi pertempuran. Seorang kakek yang tubuhnya tinggi besar seperti raksasa, yang semua rambutnya sudah putih seperti kapas, sedang mengamuk dikeroyok oleh kurang lebih tiga puluh orang yang dia kenali dipimpin oleh si Harimau Hitam yang pernah dihajarnya di dusun para nelayan itu. Sungguh mengherankan bahwa mereka dapat demikian cepat tiba di tempat itu, agaknya mereka mendapatkan perahu-perahu entah dari. mana dan lebih dulu berlayar sampai ke pulau kosong itu, bertemu dengan raksasa rambut putih dan terjadi pertempuran di antara mereka. Akan tetapi Keng Han terbelalak melihat pertempuran itu. Kakek raksasa rambut putih itu sungguh ganas bukan main. Ke mana saja tangannya menyambar, tentu ada pengeroyok yang roboh dan orang yang roboh ini menggigil seperti kedinginan, lalu berkelojotan dan mati! Seluruh tubuh mereka putih membiru dan berkeriput seperti direndam air es saja. Tidak ada yang sampai dipukul dua kali. Sekali saja sudah cukup membuat mereka tewas. Itu pun bukan pukulan yang langsung mengenai badan, hanya hawa pukulannya saja yang menyambar! Tiga puluh orang perampok yang dipimpin oleh Hek Houw itu mengeroyok dengan nekat, akan tetapi satu demi satu roboh dan tewas. Melihat ini, Hek Houw dan tujuh orang sisa anak buahnya hendak melarikan diri karena gemetar menghadapi kakek raksasa yang amat ganas dan lihai itu, kan tetapi kakek itu tertawa bergelak dan sekali kedua tangannya didorongkan ke depan dengan kedua kaki ditekuk ke bawah, delapan orang itu roboh semua dan berkelojotan, menggigil dan tewas tak lama kemudian.

“Ha-ha-ha-ha-ha, segala macam cacing tanah berani melawanku. Aku Swat­hai Lo-kwi (Iblis Tua Lautan Salju), tidak ada yang mampu menandingi! Ha-ha-ha, mampuslah kalian semua, ha-ha-ha!”

Keng Han merasa penasaran sekali. Dia menganggap kakek itu terlalu sombong dan terlalu kejam, membunuhi tiga puluh orang begitu saja. Dia tidak dapat menahan kemarahan hatinya dan Keng Han melompat keluar dari balik batu besar sambil berseru, “Kakek tua, sungguh engkau seorang manusia yang kejam seperti iblis!”

Kakek itu menoleh dan ketika melihat seorang pemuda remaja memakinya ke­jam seperti iblis, dia tidak menjadi ma­rah bahkan tertawa bergelak. “Bagus, aku memang kejam seperti iblis, dan memang aku ini iblis Tua Lautan Salju. Karena engkau telah memuJiku, maka aku meng­ampunimu dan tidak akan membunuhmu, ha-ha-ha!”

Akan tetapi Keng Han menjadi semakin marah. “Kakek iblis, bukan engkau yang hendak membunuhmu, melainkan aku yang akan membunuhmu. Iblis seperti engkau ini harus dibasmi dari permukaan bumi agar tidak lagi membunuhi manusia!”

Keng Han meloncat ke depan menghampiri kakek raksasa berambut putuh itu. Dia seperti seekor burung yang baru saja dapat terbang, tidak takut apa-apa. Dia menganggap ilmu silatnyn sudah cukup tinggi untuk membela diri, tidak tahu bahwa dia berhadapan dengan seorang manusia iblis yang selain kejam juga lihai bukan main. Dengan gerakan cepat, Keng Han sudah menyerang kakek itu dengan kepalan tangan kanannya. Akan tetapi kakek itu hanya tertawa dan sama sekali tidak mengelak atau menangkis.

“Bukkk....!” Pukulan tangan Keng Han mengenai dada kakek itu, akan tetapi bukan kakek itu yang roboh melainkan Keng Han sendiri yang terlempar dan terjengkang ke atas tanah. Dia seperti memukul bukit baja yang mengeluarkan tenaga mendorong amat kuatnya.

“Ha-ha-ha, engkau berani melawan aku? Baiklah, engkau sudah bosan hidup, mampuslah!” Kakek itu lalu mengirim pukulan jarak jauh dengan tangan kirinya. Melihat ini, Keng Han teringat kepada para perampok yang roboh karena pukulan jarak jauh itu, maka dia tahu betapa berbahayanya pukulan ini. Cepat dia menggulingkan tubuhnya sehingga hawa pukulan yang menyambarnya itu luput.

Pada saat itu, nampak sinar kecil merah menyambar ke arah kakek raksasa itu. “Ihhh....!” Kakek itu mendengus dan sekali tangannya menyampok, ular merah itu terpukul hancur. Dua ular lain melayang dan menyerangnya, akan tetapi juga dua ekor ular ini ditangkis dan jatuh berkelojotan dengan kepala remuk.

Kakek itu merasa penasaran karena melihat pukulannya ke arah Keng Han tadi dapat dielakkan, dia memburu dengan langkah panjang ke arah Keng Han dan kembali melancarkan pukulan jarak jauh. Kini, biarpun Kong Han sudah me­lompat ke kiri untuk manghindar, tetap saja tubuhnya dilanda hawa pukulan yang membuat dia terlempar dan terbanting keras.

Hawa yang amat dingin menyerang seluruh tubuhnya membuat dia menggigil. Akan tetapi dia masih dapat bangkit berdiri, mengambil keputusan untuk melawan sampai akhir. Pada saat itu, banyak sekali ular merah yang tadi mengikuti perahu Keng Han mendarat seperti barisan ular yang banyak sekali. Ketika melihat Keng Han bangkit terhuyung ke arah barisan ular, menyong­songnya di luar kesadarannya, langsung saja tiga ekor ular menyerangnya. Dia tidak mampu mengelak atau menangkis setiingga seekor ular telah menggigit lehernya, seekor lagi menggigit tangan­nya dan seekor lagi menggigit kakinya!

Digigit tiga ekor ular merah itu, Keng Han seperti terkena sengatan halilintar. Dia terbelalak, tidak menggigil lagi, dan seperti mendadak menjadi gila. Keng Han tertawa dan menangis, lalu merenggut ular yang rnenggigit lehernya lalu.... membuka mulutnya dan menggigit ular itu, dikunyahnya seperti orang makan kue yang lezat saja! Kemudian dia berteriak-teriak sambil lari ke tengah pulau, masih memegangi tubuh ular yang berlepotan darah sedangkan dua ular masih bergantung kepada tangan dan kakinya.

Sementara itu, kakek raksasa rambut putih kini diserang oleh puluhan, bahkan ratusan ular merah! Dia sibuk berloncat­an ke sana sini sambil mengibaskan kedua tangannya.

“Huo-hiat-coa (ular darah api)....!

Banyak sekali....! Wah, sungguh berbahaya. Benar-benar Pulau Hantu....!” Dan kakek itu lalu melarikan diri, melompat ke atas sebuah perahu. Kebetulan dia melompat ke perahu yang ditumpangi Ji Koan yang ketakutan. Melihat ada orang di dalam perahu, raksasa itu menendang dan tubuh Ji Koan terlempar ke air dalam keadaan sudah tewas karena tendangan itu kuat bukan main! Segera kakek itu mendayung perahu ke tengah, mengembangkan layar dan pergi cepat-cepat dari pulau itu dengan wajah mem­bayangkan bahwa dia juga gemetar menghadapi barisan ular yang disebutnya Huo­hiat-coa itu.

Keng Han seperti telah menjadi gila. Dia berlari terus sambil makan ular itu. Digigitnya sepotong tubuh ular dan dikunyahnya dengan nikmat. Bibirnya berlepotan darah. Dia berlari terus sambil kadang menangis kadang tertawa, atau berteriak-teriak.

“Panas....! Panas....!” teriaknya akan tetapi tak lama keniudian teriakannya berubah menjadi, “Dingin....! Dingin....!”

Dia berlari terus ke tengah pulau yang merupakan bukit. Dia mendaki bukit gundul itu, tidak tahu dan tidak menyadari apa yang dilakukannya. Setelah seekor ular habis dimakannya, dia mengambil ular yang masih bergantung meng­gigit tangannya dan kembali dia makan ular itu, dimulai dari kepalanya! Sungguh mengerikan sekali keadaan pemuda remaja itu. Wajahnya kadang menjadi pucat, kadang merah sekali. Matanya terbelalak lebar napasnya kadang memburu dan terengah-engah. Akan tetapi dia terus makan ular dan setelah ular kedua habis, dia mengambil ular ketiga yang bergantung di kakinya. Akhirnya tiga ekor ular itu habis dimakannya dan dia kini tiba di sebuah gua dan terguling roboh ke dalam gua itu, pingsan!

Keadaan Keng Han mengerikan dan mencemaskan. Akan tetapi yang jelas, pukulan yang mengandung hawa sinkang amat dingin itu, yang telah membunuh tiga puluh orang dalam keadaan tubuh membeku, ternyata tidak sampai membunuh Keng Han. Dan lebih aneh lagi, gigitan tiga ekor ular merah itu pun tidak membunuhnya, padahal biasanya, sekali tergigit seekor ular darah api itu, orangnya akan tewas seketika dan tubuhnya menjadi hangus seperti terbakar!

Keadaan Keng Han yang mengherankan itu bukan tanpa sebab. Memang kematian seseorang sepenuhnya tergantung kepada kekuasaan Tuhan. Kalau Tuhan sudah menghendaki seseorang itu harus mati, kalau sudah tiba saat kematiannya, apa pun di dunia ini tidak akan dapat mencegahnya. Biar andaikata orang itu bersembunyi ke dalam liang semut, akhirnya sang maut akan datang pula menjemput. Sebaliknya kalau Tuhan belum menghendaki seseorang itu mati, biarpun sudah terancam bahaya maut, sudah berada di dalam mulut harimau umpamanya, dia akan dapat lolos dari maut dan sela­mat. Banyak orang yang sejak muda sekali menjadi seorang perajurit, sudah ratusan kali berperang dan bertempur, akan tetapi selalu saja dia lolos dari cengkeraman maut. Setelah tua dan pen­siun, berhenti dari pekerjaannya yang penuh bahaya itu, berada di rumah yang aman, datang penyakit dan dia pun meninggal dunia! Demikianlah, mati hidup seseorang sepenuhnya berada di tangan Tuhan. Apakah kalau sudah mengetahui akan kenyataan ini orang lalu bersikap masa bodoh terhadap keselamatan dirinya, menyerahkan saja kepada kekuasaan Tuhan untuk mengaturnya? Tentu saja tidak! Manusia hidup sudah memiliki kewajiban sejak dilahirkan untuk men­jaga diri, untuk mempertahankan hidup ini, senang atau tidak senang. Ikhtiar itu suatu kewajiban mutlak, keputusan akhir adalah menjadi kekuasaan Tuhan.

Keng Han tentu sudah tewas akibat pukulan kakek raksasa berambut putih yang menamakan dirinya Swat-hai Lo­kwi itu, pukulan yang mengandung hawa sinkang dingin sekali, membuat orang yang dipukulnya mati beku, karena tenaga sinkang anak itu belum mampu melawannya. Dia tentu sudah tewas kalau saja pada saat itu dia tidak tergigit oleh tiga ekor ular merah! Dan dia tentu sudah mati pula oleh gigitan ular darah api itu yang gigitannya mengandung ra­cun panas yang membuat orang yang digigit mati dengan tubuh hangus, kalau saja dia tidak terpukul oleh Swat-hai Lo­kwi dan karena dia tergigit oleh tiga ekor ular sekaligus, maka racun tiga ekor ular itu sebetulnya terlalu kuat bagi hawa sinkang dingin yang menyerang tubuh Keng Han. Akan tetapi dalam ke­adaan seperti gila karena diombang­ambingkan antara dua hawa dingin dan hawa panas, yang membuat dia menangis dan tertawa, dia telah makan ular-ular itu dan hal ini merupakan obat penawar yang bukan main hebatnya.

Keng Han tergelimpang dalam gua, pingsan sampai hari menjadi malam. Semalam suntuk dia seperti telah mati, dalam tubuhnya terjadi pertempuran yang hebat antara dua tenaga yang berlawanan itu. Darahnya keracunan dua macam hawa, seluruh tubuhnya dijalari hawa dingin dan panas itu.

Akhirnya, pada keesokan harinya, setelah matahari mulai memandikan permukaan pulau itu dengan sinarnya yang keemasan, Keng Han mengeluh dan membuka matanya. Dia mengejap-ngejapkan matanya, silau karena kebetulan mukanya menghadap ke matahari, lalu menggosok-gosok kedua matanya. Kemudian dia teringat akan kakek raksasa rambut putih dan ular merah, maka dia cepat bangkit duduk. Ketika membuat gerakan ini, dia terkejut sendiri karena tubuhnya terasa demikian ringan seolah tidak berbobot! Dia lalu duduk bersila dan mengingat-ingat apa yang telah terjadi.

Dia naik perahu bersama Paman Ji Koan nelayan tua itu menuju ke pulau kosong yang oleh para nelayan disebut Pulau Hantu. Dia telah tiba di pulau dan nampak ada tujuh buah perahu di tepi dekat batu-batu. Lalu ada ular-ular merah menyerangnya. Kemudian dia melompat ke atas batu meninggalkan Ji Koan dan melihat seorang kakek raksasa berambut putih bertempur melawan para perampok yang dipimpin oleh Hek Houw. Dan semua perampok telah dibunuh oleh kakek raksasa. Dia keluar dari balik batu menegur dan dia lalu dipukul oleh kakek itu. Dan dia digigit ular-ular merah! Hanya itulah yang diingatnya. Dia tidak tahu bagaimana kini dia berada di tempat itu, di sebuah gua yang menganga besar seperti mulut seekor naga raksasa. Mengingat bahwa dia pernah terpukul oleh kakek raksasa bernama Swat-hai Lo­kwi yang membuat tubuhnya terasa dingin sekali itu, dan mengingat bahwa dia digigit ular-ular merah, dia terkejut sekali. Kenapa dia tidak mati seperti yang lain? Dia lalu memejamkan kedua matanya dan mengatur pernapasan dalam. Ternyata tubuhnya tidak mengalami luka dalam. Dia menyalurkan hawa dari tan­tian untuk melihat apakah tenaga sin­kangnya masih ada. Dan dia terkejut. Ketika dia mulai mengerahkan tenaga, ada tenaga yang amat dahsyat bangkit membubung ke atas dari tan-tian dan hampir saja dia tidak dapat mengendalikannya dan tubuhnya terjengkang! Untung dia segera menghentikan pengerahan tenaganya sehingga dia tidak sampai terguncang dan terluka oleh hawa sakti itu sendiri. Tubuhnya mendadak menggigil kedinginan lalu berubah menjadi kepanas­an. Ada dua hawa yang berlawanan ber­ada di tubuhnya dan keduanya demikian kuatnya mempengaruhi tubuhnya. Dia sama sekali tidak tahu bahwa hawa dingin akibat pukulan Swat-hai Lo-kwi itu menjadi berlipat ganda kuatnya setelah dia makan tiga ekor ular itu, perbuatan yang tidak diingatnya lagi. Di tubuhnya kini ada dua tenaga sakti yang luar biasa dahsyatnya. Hal ini mulai dia rasakan dan ketahui dan diam-diam Keng Han juga dapat menduga bahwa ini tentu akibat pukulan kakek raksasa dan akibat gigitan ular merah. Keng Han adalah seorang pemuda yang cerdik, maka dia sudah dapat menduga akan hal ini. Tentu saja dia merasa girang sekali. Dia lalu bangkit berdiri, keluar dari dalam gua itu dan menghampiri sebuah batu sebesar gajah. Dia lalu memasang kuda-kuda yang kokoh dan mengerahkan tenaga sin­kangnya, memukul dengan kedua telapak tangan ke depan. Serangkum tenaga yang tadi membuatnya terjengkang keluar melalui kedua tangannya menghantam batu besar itu dan.... dan batu besar itu meledak-ledak pecah dan menggelinding sampai jauh! Keng Han cepat menyimpan kembali tenaganya dan dia memandang kagum. Ah, dia harus berhati-hati sekali dan tidak boleh bermain-main dengan tenaganya itu. Dia harus melatih diri tmtuk dapat menguasai tenaga itu sepenuhnya sehingga dapat dia pergunakan seperlunya.

Kemudian dia teringat kepada Ji Koan. Paman itu masih dia tinggalkan di dalam perahu! Teringat akan ini, dia lalu melompat dan berlari turun. Hampir saja dia bergulingan jatuh kalau tidak cepat dia menyimpan tenaganya. Ketika dia mengerahkan tenaganya berlari, tubuhnya terdorong kekuatan yang demikian hebat sehingga dia seolah terbang! Dia telah lupa lagi! Dia belum menguasai benar tenaga itu sehingga seolah-olah masih liar. Tenaga liar yang menguasai tubuhnya amatlah berbahaya kalau tidak dapat dia kendalikan. Dia lalu berjalan biasa saja menuruni bukit itu, menuju ke tepi di mana dia mendarat kemarin. Dia pun tidak tahu bahwa semalam telah lewat, disangkanya hari itu masih hari kemarin ketika dia datang.

Ketika tiba di tempat itu, dia masih melihat tiga puluh orang perampok itu malang melintang dan sudah tewas semua, dan banyak barang berceceran di tempat itu. Golok dan pedang, peti-peti terisi barang berharga, mungkin barang rampokan, segala macam prabot masak dan lain-lain. Akan tetapi raksasa rambut putih itu sudah tidak berada di situ. Hal ini melegakan hatinya dan cepat dia naik ke atas batu-batu di tepi pantai. Hatinya berdebar penuh ketegangan dan kekecewaan. Bukan saja dia tidak melihat Ji Koan, akan tetapi juga dia tidak melihat sabuah pun perahu di situ! Dan melihat bekas-bekasnya, agaknya, pernah air laut pasang dan menyapu pergi semua perahu yang berada di situ. Bekas air laut sampai naik ke dekat tempat orang-orang itu bertempur dan beberapa buah peti agak­nya terbawa air karena dia melihat be­berapa buah peti itu terapung di laut. Tentu perahu-perahu itu telah hanyut oleh air pasang. Atau ada yang membawa pergi? Dia tidak tahu benar dan apa pun yang telah terjadi, kenyataannya bahwa dia ditinggal di situ tanpa perahu! Bagaimana dia akan dapat meninggalkan pulau itu?

Keng Han merasa lemas hatinya dan dia duduk termenung di atas batu, memandang jauh ke laut yang tidak bertepi. Dia tidak percaya kalau Ji Koan, paman nelayan yang baik hati itu, sengaja meninggalkannya! Kakek raksasa yang amat kejam itu! Dan dia mengkhawatirkan nasib Ji Koan.

“Tenangkan hati dan pikiranmu, Keng Han!” katanya kepada diri sendiri. Dalam keadaan seperti itu, dia harus bersikap tenang. Harus dapat menentukan apa yang lebih baik dan lebih dulu harus dia lakukan.

Mayat-mayat itu! Kalau dia dipaksa harus tinggal di tempat itu, lebih dulu mayat-mayat itu harus dikubur dengan baik. Kalau tidak mereka akan membusuk dan menimbulkan penyakit yang membahayakan dirinya. Setelah berpikir demikian, dia segera memilih tempat yang tanahnya agak lunak, menggunakan golok yang banyak terdapat di situ dan meng­gali beberapa buah lubang yang besar. Enam buah lubang besar dia gali dan ketika melakukan pekerjaan ini, dirasakan mudah sekali. Tenaganya amat besar dan menggali lubang itu dirasakan ringan saja. Setelah menggali lubang-lubang itu, dia lalu mengubur tiga puluh mayat itu.

Lima buah dalam satu liang dan setelah semua dikubur, dia menimbuni liang-liang itu dengan tanah. Setelah selesai, dia mencuci kedua tangan dan kakinya dengan air laut sampai bersih benar. Kemudian kembali dia duduk berpikir. Apa yang harus dikerjakan sekarang?

Mengumpulkan barang-barang yang akan berguna baginya. Kalau dia terpaksa hidup di pulau itu, dia harus memiliki barang-barang yang berguna. Mulailah dia memilih-milih di antara barang yang berserakan, milik para perampok itu. Dia mengambil dua batang golok yang terbaik, lalu mengambil prabot-prabot masak. Kemudian dia mengangkut barang-barang berharga seperti kain dan per­hiasan-perhiasan dan mengumpulkan semua itu ke dalam, gua di atas bukit. Gua itulah satu-satunya tempat yang baik baginya untuk dijadikan tempat tinggal.

Pekerjaan ini dilakukan sampai malam tiba. Perutnya terasa lapar sekali, akan tetapi karena malam telah tiba dia tidak dapat pergi mencari makanan. Dia membuat api dan membakar api unggun di mulut gua, lalu tertidur beralaskan sehelai permadani yang diketemukannya di antara banyak kain dan barang berharga tadi. Dia merasa heran mengapa tadi dia tidak melihat ada seekor pun ular merah. Agaknya ular-ular itu pergi bersembunyi ketika air laut pasang, pikirnya. Akhirnya dia pun tertidur saking lelahnya dan lapar di perutnya tidak dirasakannya lagi.

***

Pada keesokan harinya, pagi-pagi setelah terang tanah pertama-tama yang dilakukan Keng Han adalah mencari sumber air di pulau itu. Hal ini amatlah penting karena tanpa adanya air tawar, bagaimana dia dapat hidup. Dan dia yakin bahwa di pulau di mana terdapat begitu banyak pohon, tentu ada sumber airnya dan dia pun benar. Dia menemukan sumber air di lereng belakang bukit di mana terdapat hutan. Dengan gembiranya dan dalamnya ada sepuluh meter. Dia mencoba memasuki gua itu lebih dalam dan ternyata dia menemukan sebuah lorong yang tadinya tertutup batu besar. Setelah dengan mudah dia menggeser batu yang menutupi lorong itu, terbukalah sebuah lorong dalam tanah. Karena lorong itu gelap, dia lalu membuat obor memasuki lorong itu. Panjang lorong itu ada dua puluh meter dan ke­tika tiba di ujung lorong, ada sinar menerangi ujung itu. Ternyata ujung itu merupakan ruangan yang lebarnya ada empat meter persegi dan di atasnya ada lubang, maka ada sinar matahari yang masuk. Jadi ruangan itu seperti sebuah dasar sumur yang besar. Dengan obornya Keng Han memeriksa dinding ruangan itu dan dia terbelalak! Keempat dinding itu penuh dengan huruf-huruf terukir, indah dan masih jelas dapat dibaca. Dan ternyata huruf-huruf itu adalah pelajaran ilmu silat!

Keng Han merasa beruntung sekali pernah mendapat pelajaran dari Gosang Lama tentang sastra sehingga pengetahuannya cukup mendalam dan dia dapat membaca semua tulisan itu dengan jelas. Mengingat betapa pulau ini pernah tenggelam selama puluhan tahun, kalau tulisan itu hanya digurat di tanah liat saja tentu kini telah terhapus habis. Akan tetapi hebatnya, guratan itu dilakukan orang pada batu yang keras! Ini berarti bahwa penulisnya tentu orang yang memiliki ilmu kepandaian hebat, dan bukan hanya seorang saja. Melihat bentuk tulisannya, Keng Han dapat membedakan dan mengetahui bahwa tulisan itu dibuat oleh tiga orang.

Dugaan Keng Han memang benar. Pulau yang kini menjadi pulau yang subur itu dahulunya memang Pulau Es. Dahulu, di situ terdapat Istana Pulau Es yang kemudian telah terbakar rata dengan bumi, dan ketika pulau itu tenggelam, maka segala sisa dari istana itu hilang sama sekali. Akan tetapi di dalam istana itu terdapat sebuah lorong bawah tanah dan lorong itu adalah yang ditemukan Keng Han sekarang ini. Istana itu sendiri kini hanya tinggal sebagai gua itulah.

Dahulu, penghuni Pulau Es ada tiga orang, yaitu seorang pendekar sakti bersama dua orang isterinya. Pendekar itu adalah Suma Han yang terkenal dengan julukan Pendekar Super Sakti atau juga ada yang menyebut Pendekar Siluman karena dia pandai ilmu sihir. Adapun kedua orang isterinya adalah Puteri Nirahai dan yang ke dua adalah Puteri Lulu. Kedua orang isterinya itu adalah keturunan Mancu.

Tulisan itu dibuat oleh ketiga orang ini biarpun ilmu-ilmu mereka telah diwariskan kepada anak cucu. Maksud mereka adalah bahwa mereka hendak bersikap adil, yaitu tidak hanya menurunkan kepada anak cucu, akan tetapi kalau ada orang luar yang menemukan tulisan itu dan mempelajarinya, maka hal itu adalah sudah menjadi kehendak Tuhan dan itulah yang dinamakan jodoh. Mereka masing-masing menuliskan inti sari ilmu mereka yang sebetulnya tidak akan mudah dipelajari orang.

Ketika Keng Han secara kebetulan menemukan tempat itu, berarti dialah yang berjodoh mendapatkan Pusaka Pulau Es itu. Memang kebetulan sekali. Andaikata dia tidak mendapatkan dua tenaga dahsyat yang berlawanan akibat pukulan Swat-hai Lo-kwi dan, gigitan ular-ular darah api, belum tentu dia akan mampu mempelajari dua macam ilmu menghimpun tenaga dalam Swat-im Sin­kang (Tenaga Sakti Inti Salju) dan Hui-yang Sin-kang (Tenaga Sakti Inti Api) yang dituliskan oleh Pendekar Super Sakti di dinding pertama dan kedua! Pada dinding ke tiga terdapat pelajaran Ilmu Silat Toat-beng Bian-kun (Tangan Lembut Pencabut Nyawa) yang hanya dapat dilatih oleh orang yang memillki sinkang kuat sekali. Dan pada dinding ke empat terdapat goresan tulisan pelajaran ilmu silat Hong In Bun-hoat (Silat Sastra Angin dan Awan), semacam ilmu silat yang amat hebat, berdasarkan tulisan huruf­huruf yang dapat dilakukan dengan tangan kosong maupun dengan pedang.

Setelah membaca semua tulisan itu, Keng Han yang cerdik berpendapat bahwa dia menemukan tiga orang “guru” yang dia tidak tahu siapa, maka dia lalu menjatuhkan diri berlutut di tengah ruangan itu dan berkata dengan lantang, “Sam-wi Suhu (Ketiga Guru), teecu menghaturkan terima kasih atas peninggalan ilmu-ilmu ini dan teecu berjanji akan mempelajarinya sampai sempurna!” Dia tahu bahwa penghimpunan tenaga dalam merupakan inti ilmu silat, maka sebelum mempelajari yang lain, dia lebih dulu mempelajari ilmu menghimpun tenaga dalam Swat-im Sin-kang dan Hui-yang Sin-kang. Sebetulnya, pelajaran ini amatlah sukar bagi orang lain dan biarpun Keng Han pernah digembleng oleh Go­sang Lama, agaknya dia tidak akan mampu menguasai kedua ilmu ini kalau saja dia tidak memiliki dua tenaga yang su­dah menjadi inti dari kedua ilmu itu..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Kho Ping Hoo - BKS#01 - Bu Kek Siansu
Kho Ping Hoo - BKS#02 - Suling Mas
Kho Ping Hoo - BKS#03 - Cinta Bernoda Darah
Kho Ping Hoo - BKS#04 - Mutiara Hitam
Kho Ping Hoo - BKS#05 - Istana Pulau Es
Kho Ping Hoo - BKS#06 - Pendekar Bongkok
Kho Ping Hoo - BKS#07 - Pendekar Super Sakti
Kho Ping Hoo - BKS#08 - Sepasang Pedang Iblis
Kho Ping Hoo - BKS#09 - Kisah Sepasang Rajawali
Kho Ping Hoo - BKS#10 - Jodoh Rajawali
Kho Ping Hoo - BKS#11 - Suling Emas Dan Naga Siluman
Kho Ping Hoo - BKS#12 - Kisah Para Pendekar Pulau Es
Kho Ping Hoo - BKS#13 - Suling Naga
Kho Ping Hoo - BKS#14 - Kisah Si Bangau Putih
Kho Ping Hoo - BKS#15 - Si Bangau Merah
Kho Ping Hoo - BKS#16 - Si Tangan Sakti
Kho Ping Hoo - BKS#17 - Pusaka Pulau Es


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.205.210.125
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia