Kho Ping Hoo - BKS#15 - Si Bangau Merah
Si Bangau Merah

Seri : Bu Kek Siansu #15

Karya : Asmaraman S Kho Ping Hoo

Hujan pertama semalam amat lebatnya, deras dan merata sam­pai puluhan li jauhnya, melegakan hati para petani. Melegakan tanah kering yang sudah berbulan-bulan merindukan air. Pagi hari ini udara amatlah cerah, seolah matahari lebih berseri daripada biasanya, seperti wajah seorang kanak-kanak tersenyum-tawa sehabis menangis. Kewajaran yang indah tak ternilai.

Seluruh permukaan bumi segar berseri seperti seorang puteri jelita baru keluar dari danau sehabis mandi bersih. Daun-daunan nampak hijau segar dan basah, demikian pula bunga-bunga, walaupun tidak tegak lagi melainkan banyak me­nunduk karena hembusan air dan angin semalam, Tanah yang disiram air selagi kehausan itu, mengeluarkan uapan bau tanah yang sedap, bau yang mengingat­kan orang pada masa kanak-kanak ketika dia bermain-main dengan lumpur yung mengasyikkan.

Burung-burung pun lebih lincah pagi itu. Suasana menakutkan mereka sema­lam, hujan dan angin ribut, merupakan bahaya malapetaka yang telah lewat dan mereka menyambut munculnya matahari pagi dengan kicau saling sahutan, dan mereka siap-siap berangkat bekerja mencari makan. Kegembiraan nampak pada wajah para petani yang memanggul cangkul, berangkat ke sawah ladang yang ki­ni kembali menjadi subur menumbuhkan harapan hasil panen yung baik,

Segala sesuatu di dunia ini nampak indah selama kita tidak menyimpan ke­nangan masa lalu. Kenangan hanya menimbulkan perbandingan dan perbandingan menghilangkan keindahan saat ini.

"Yo Han, engkau ini bagaimana sih?. Aku dan suhumu bersungguh-sungguh mengajarkan dasar-dasar ilmu silat kepada­mu, akan tetapi engkau selalu acuh me­nerimanya, buhkan tidak mau berlatih." Suara wanita yang mengomel ini pun merupakan sebagian dari keindahan pagi itu kalau tidak dinilai. Perusak keindahan adalah penilaiun dan perbandingan.

Anak laki-laki itu berusia dua belas tahun. Dia berdiri dengan sikap hormat, namun pandang matanya sama sekali ti­dak memperlihatkan rasa takut kepada wanita yang menegurnya, wanita yang duduk di atas bangku di depannya. Mere­ka berada di kebun yang terletak di be­lakang rumah, di mana tadi anak laki-laki itu menyapu kebun yang penuh dengan daun-daun yang berguguran semalam.

Wanita itu adulah Kao Hong Li atau Nyonya Tan Sin Hong. Suami isteri pendekar ini sejak menikah lima tahun yang lalu, tinggal di kota Ta-tung, di sebelah barat kota raja Peking, di mana mereka membuka sebuah toko rempa-rempa dan hasil pertanian dan perkebunan.

Tan Sin Hong adalah seorang pende­kar yang terkenal, walaupun kini dia hidup dengan tenang dan tenteram di kota Ta-tung, tidak lagi bertualang di du­nia persilatan. Dia pernah terkenal seka­li dengan julukannya Pendekar Bangau Putih atau Si Bangau Putih. Julukannya ini adalah karena dia merupakan satu-satunya pendekar yang menguasai ilmu silat Pek-ho Sin-kun (Silat Sakti Bangau Putih) ciptaan dari mendiang tiga orang sakti yang menggabungkan ilmu-ilmu mereka, yaitu mendiang Kao Kok Cu Si Naga Sakti Gurun Pasir, isterinya Wan Ceng, dan Tiong Khi Hwesio atau Wan Tek Hoat yang pernah terkenal dengan julukan Si Jari Maut! Si Bangau Putih Tan Sin Hong pernah menggemparkan dunia persilatan dengan ilmu-ilmunya yang dahsyat. Akan tetapi setelah me­nikah, dia hidup dengan tenang tente­ram bersama isterinya di kota Ta-tung, walaupun usianya masih sangat muda, yaitu baru dua puluh tujuh tahun. Kesu­kaannya akan pakaian berwarna putih membuat dia lebih dikenal sebagai Si Bangau Putih.

Tan Sin Hong seorang pria yang nam­paknya biasa dan sederhana saja, sikap­nya selalu lembut dan ramah. Hanya pada matanya sajalah nampak bahwa dia bukan orang sembarangan. Matanya itu kadang mencorong penuh kekuatan dan kewibawaan.

Isterinya yang kini duduk di kebun, bernama Kao Hong Li, berusia dua puluh enam tahun. Isteri Si Bangau Putih itu pun bukan wanita sembarangan. Ia puteri pendekar Kao Cin Liong, bahkan cucu, Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir. Tidak mengherankan kalau nyonya muda ini pun memiliki ilmu silat yang hebat, walaupun tidak sehebat suaminya. Sukarlah menca­ri seorang yang cukup lihai untuk mampu menandingi Kao Hong Li.

Kao Hong Li seorang wanita yang cantik. Wajahnya bulat telur dan kecan­tikannya terutama terletak kepada sepa­sang matanya yang lebar dan jeli. Sikap­nya lincah, gagah dan juga galak. Ia seorang wanita yang cerdik, pandai bica­ra. Seperti juga Tan Sin Hong yang pernah menikah dengan wanita lain ke­mudian bercerai, Kao Hong Li juga seorang Janda muda ketika menikah dengan Sin Hong.

Biarpun kedua orang pendekar ini sa­ling mencinta ketika Mereka masih per­jaka dan gadis, namun keadaan membuat mereka tidak berjodoh dan menikah de­ngan orang lain. Tan Sin Hong menikah dengan Bhe Siang Cun, puteri guru silat Ngo-heng Bu-koan, sedangkan Kao Hong Li menikah dengan Thio Hui Kong, pute­ra seorang jaksa di kota Pao-teng, Na­mun, karena pernikahan ini tidak dilandasi cinta, sebentar saja terjadi keretak­an dan akhirnya keduanya bercerai dari isteri dan suami masing-masing. Dalam keadaan menjadi duda dan menjadi janda inilah mereka saling berjumpa kembali dan kegagalan perjodohan mereka ma­sing-masing itu makin mendekatkan dua hati yang memang sejak dahulu sudah saling mencinta itu. Dan mereka pun manjadi suami isteri.

Suami isteri yang saling mencinta itu hidup cukup berbahagia, dan setahun setelah pernikahan mereka, mereka di­karuniai seorang puteri yang mereka beri nama Tan Sian Li, yang kini telah berusia empat tahun.

Adapun anak laki-laki berusia dua be­las tahun yang sepagi itu telah menerima teguran Kao Hong Li, adalah murid sua­mi isteri itu. Namanya Yo Han dan sejak lima tahun yang lalu dia sudah diambil murid oleh Tan Sin Hong. Yo Han adalah seorang anak yatim piatu. Ayah ibunya telah tewas di tangan tokoh-tokoh sesat. Ayah Yo Han seorang petani yang jujur dan sama sekali tidak pandai ilmu silat, akan tetapi dia memiliki watak yang ga­gah perkasa melebihi seorang pendekar silat! Ibu anak itu seorang tokoh kang-ouw yang amat terkenal, bahkan dahulunya sebelum menikah dengan Yo Jin, yaitu ayah Yo Han, wanita itu merupa­kan seorang tokoh sesat yang ditakuti orang. Namanya Ciong Siu Kwi dan ia dijuluki Bi Kwi (Setan Cantik) karena biarpun wajahnya cantik jelita, namun ia jahat seperti setan! Setelah bertemu Yo Jin dan menikah dengan pemuda du­sun yang sama sekali tidak mampu ber­main silat itu, wataknya berubah sama sekali. Ia menyadari semua kesalahannya dan ia hidup sebagai seorang isteri yang baik, bahkan setelah melahirkan Yo Han, ia menjadi seorang ibu yang baik. Akan tetapi, agaknya latar belakang kehidup­annya mendatangkan malapetaka. Pohon yang ditanamnya dahulu itu berbuah su­dah dan ia pula yang harus memetik dan makan buahnya. Biarpun ia sudah berusaha untuk menjauhkan diri dari dunia kang-ouw, bahkan dari dunia persilatan, namun tetap saja musuh-musuh mencari­nya! Melibatkan suami dan puteranya pula sehingga untuk menyelamatkan anak dan suami, terpaksa Bi Kwi Ciong Siu Kwi mencabut kembali pedangnya! Dan akibatnya, ia dan suaminya tewas di tangan tokoh-tokoh sesat. Masih baik ba­gi anaknya bahwa dia, yaitu Yo Han, tertolong oleh Tan Sin Hong yang kemu­dian mengambilnya sebagai murid.Demikianlah riwayat singkat Yo Han dan kedua orang gurunya. Dan semenjak gurunya, Tan Sin Hong, menikah dengan Kao Hong Li dan tinggal di kota Ta-tung Yo Han bekerja dengan rajin sekali. Biarpun gurunya telah berhasil dalam usaha perdagangannya, dan sudah mampu menggaji pelayan, namun tetap saja Yo Han membantu semua pekerjaan dari menyapu kebun, membersihkan prabot rumah dan sebagainya. Tidak ada yang menyuruhnya, melainkan karena dia suka bekerja, dia suka mengerjakan kaki tangannya.

Sejak menjadi murid Sin Hong, pende­kar ini mengajarkan ilmu silat dasar ke­pada Yo Han. Akan tetapi sungguh mengherankan sekali, anak itu tidak suka belajar silat. Dia lebih tekun belajar membaca dan menulis sehingga dalam usia dua belas tahun, dia telah mam­pu membaca kitab-kitab sastra dan filsafat yang berat-berat seperti Su-si Ngo-keng! Dia pandai pula menulis sajak, pandai bermain suling dan pandai bernya­nyi! Akan tetapi, selama lima tahun menjadi murid Si Bangau Putih Tan Sin Hong, dia belum mampu melakukan ge­rakan menendang atau memukul yang benar!

Tan Sin Hong dapat memaklumi ke­adaan muridnya itu. Dia teringat betapa dahulu, ayah dan ibu anak ini selalu menjaga agar putera mereka tidak me­ngenal ilmu silat. Mereka mengajarkan ilmu baca-tulis kepada putera mereka, akan tetapi Yo Han sama sekali tidak diperkenalkan dengan ilmu silat. Hal ini dikehendaki oleh Yo Jin, dan Bi Kwi ju­ga menyetujui karena suami isteri ini melihat kenyataan betapa dunia persilat­an penuh dengan kekerasan, dendam dan permusuhan. Bahkan Bi-kwi sendiri be­nar-benar meninggalkan dunia persilatan, hidup sebagai seorang isteri dan ibu di dusun sebagai petani yang hidup sederha­na namun tenteram penuh damai. Karena memaklumi bahwa pendidikan ayah ibu ini ikut pula membentuk watak dan ke­pribadian Yo Han, maka biarpun dia me­lihat betapa Yo Han sama sekali tidak suka mempelajari ilmu silat, dia pun tidak pernah menegur.

Akan tetapi, yang suka mengomel dan merasa penasaran adalah isterinya, Kao Hong Li. Wanita ini memiliki watak yang lincah, gagah dan juga galak, ia merasa penasaran bukan main melihat Yo Han tidak pernah memperhatikan pelajaran ilmu silat, bahkan mengacuhkannya sama sekali. Padahal, mereka, terutama suami­nya, sudah berusaha sedapatnya untuk menjadi seorang guru yang baik bagi Yo Han. Apa akan kata orang dunia persi­latan kalau melihat Yo Han menjadi seorang yang sama sekali tidak tahu ilmu silat, padahal dia adalah murid ia dan suaminya? Yang tidak tahu tentu akan mengira bahwa mereka suami isteri memang tidak bersungguh hati mengajar­kan silat kepada Yo Han, bahkan tentu disangkanya membenci anak itu. Padahal ia dan suaminya amat menyayang Yo Han. Anak itu mereka anggap sebagai anak sendiri, atau adik sendiri. Apalagi Yo Han adalah seorang anak yang tahu diri, pandai membawa diri, rajin bekerja, juga amat cerdik. Mempelajari segala macam kepandaian, dia cerdik luar biasa Akan tetapi hanya satu hal, yaitu ilmu silat dia tidak peduli.

Karena sudah merasa kesal sekali, pagi hari itu, melihat Yo Han hanya be­kerja di kebun, sama sekali tidak mau berlatih silat, Kao Hong Li tidak dapat menahan kesabaran hatinya lagi dan ia pun menegur muridnya.

"Nah, hayo jawab. Kenapa engkau tidak mau melatih ilmu-ilmu silat yang sudah diajarkan oleh suhumu dan aku? Sudah berapa banyak ilmu silat yang ka­mi ajarkan, bahwa engkau sudah hafal akan semua teorinya, akan tetapi belum pernah aku melihat engkau mau melatih­nya! Hayo jawab sekarang, Yo Han, ja­wab sejujurnya, mengapa engkau tidak mau berlatih silat?"

Sejak tadi anak itu menatap wajah subonya (ibu gurunya), dengan sikap te­nang dan pandang mata lembut, wajah tersenyum seperti seorang tua melihat seorang anak kecil yang marah-marah!

"Benarkah Subo menghendaki teecu (murid) bicara terus terang sejujurnya, dan Subo tidak akan menjadi marah, apa pun yang menjadi jawaban teecu?"

"Kenapa mesti marah? Dengar baik-baik, Yo Han. Pernahkah aku atau suhu­mu marah-marah kalau engkau memang bertindak benar? Selama ini, kami harus mengakui bahwa engkau seorang anak yang baik, seorang murid yang patuh, juga rajin bekerja dan semua ilmu pe­ngetahuan dapat kau kuasai dengan baik dan kau pelajari dengan tekun. Kecuali ilmu silat! Kalau memang jawaban dan keteranganmu sejujurnya dan benar, me­ngapa aku harus marah? Kalau aku ini menegurmu karena engkau tidak mau ber­latih silat, bukanlah untuk kepetinganku, melainkan demi masa depanmu sendiri.”

Anak itu memandang kepada subonya dengan mata membayangkan keharuan hatinya. Setelah gurunya selesai bicara, dia pun menarik napas panjang.

"Subo, teecu tahu benar betapa Subo dan Suhu amat sayang kepada teecu, amat baik kepada teecu. Teecu tak habis merasa bersukur dan berterima kasih atas segala budi kebaikan Subo dan Suhu, Dan maafkanlah kalau tanpa sengaja teecu telah membuat Subo dan Suhu kecewa, menyesal dan marah. Sekarang, teecu hendak menjawab secara terus te­rang saja, sebelumnya mohon Subo me­maafkan teecu."

Diam-diam Kao Hong Li memandang kagum. Sering ia merasa kagum kepada anak ini. Bicaranya demikian lembut, sopan, teratur seperti seorang dewasa saja, yang terpelajar tinggi pula!

"Katakanlah jawabanmu mengapa eng­kau tidak suka berlatih silat. Aku tidak akan marah," katanya, kini suaranya ti­dak keras penuh teguran lagi.

"Subo, teecu suka mempelajari ilmu silat karena di situ teecu menemukan keindahan seni tari, juga teecu menemu­kan olah raga menyehatkan dan mengu­atkan badan, memperbesar daya tahan terhadap penyakit dan kelemahan. Akan tetapi, teecu tidak suka melatihnya ka­rena teecu melihat bahwa di dalam ilmu silat terdapat pula kekerasan. Karena itu, maka ilmu silat itu jahat!"

Sepasang mata Kao Hong Li yang memang lebar dan jeli itu terbelalak semakin lebar. "Jahat...?!?"

"Ya, tentu jahat, Subo. Ilmu silat adalah ilmu memukul orang, bahkan membunuh orang lain. Apa ini tidak ja­hat namanya?"

"Wah, pendapatmu itu terbalik sama sekali, Yo Han! Justeru ilmu silat mem­buat kita dapat membela diri terhadap kejahatan, juga dapat kita pergunakan untuk membasmi kejahatan. Kalau ilmu silat dipergunakan untuk kejahatan, tentu saja tidak benar. Akan tetapi ilmu silat dapat dipergunakan untuk menentang kejahatan, seperti yang dilakukan para pendekar. Ilmu silat adalah ilmu bela di­ri dari serangan orang jahat maupun binatang buas. Yang jahat itu bukan ilmu silatnya, seperti juga segala macam ilmu di dunia ini. Jahat tidaknya, baik tidak­nya, tergantung dari manusianya, bukan dari ilmunya. Ilmu silat atau ilmu apa pun tidak ada artinya tanpa Si Manusia yang memergunakannya."

Yo Han mengangguk-angguk. “Teecu mengerti, Subo. Apa yang Subo katakan itu memang kenyataan dan benar adanya. Baik buruk tergantung dari orang yang menguasainya. Seperti Suhu dan Subo, walaupun ahli-ahli ilmu silat, namun sa­ma sekali tidak jahat. Yang membuat teecu tidak mau melatih diri dengan il­mu silat adalah karena melihat sifat dari ilmu silat itu. Sifatnya adalah keke­rasan, perkelahian, saling bermusuhan. Itulah yang membuat teecu tidak suka menguasainya.

Kao Hong Li sudah mulai merasa pe­rutnya panas. Ia memang galak dan te­guh, dalam pendiriannya. "Yo Han, lupa­kah engkau bahwa kalau tidak ada ilmu silat, engkau sudah mati sekarang ketika engkau terjatuh ke tangan para tokoh sesat?"

"Maaf, Subo. Nyawa kita berada di tangan Tuhan! Kalau Tuhan belum meng­hendaki teecu mati, biar diancam bahaya bagaimanapun juga, ada saja jalannya ba­gi teecu untuk terhindar dari kematian. Sebaliknya, kalau Tuhan sudah menghen­daki seseorang mati, biar dia memiliki kesaktian setinggi langit sedalam lautan, tetap saja dia tidak akan mampu meng­hindarkan diri dari kematian. Bukankah begitu, Subo?"

Diam-diam Kao Hong Li terkejut. Dari mana anak ini dapat pengertian se­perti itu?

"Anak baik, biarpun nyawa berada di tangan Tuhan, akan tetapi sudah menjadi kewajiban setiap orang manusia untuk menjaga diri, untuk selalu berusaha me­nyelamatkan diri dari segala ancaman. Dan ilmu silat dapat menjamin kita un­tuk menyelamatkan diri dari ancaman orang jahat atau binatang buas."

"Subo, maafkan kalau teecu berterus terang. Teecu selalu ingat betapa Ayah dan Ibu tewas, karena Ibu pernah ber­kecimpung di dunia persilatan. Ibu sudah terlalu banyak menanam permusuhan, su­dah terlalu banyak bergelimangan keke­rasan, maka akhirnya Ibu tewas dalam kekerasan pula, bahkan membawa Ayah menjadi korban. Selain itu, pernah teecu mendengar kisah yang dituturkan oleh Subo dan Suhu, kisah para pendekar sak­ti. Mereka itu hampir semua tewas da­lam perkelahian, dalam kekerasan."

"Kau keliru, Yo Han. Memang benar bahwa banyak pendekar tewas dalam perkelahian, seperti juga sebagian besar perajurit tewas dalam pertempuran. Akan tetapi justeru itu merupakan kematian terhormat bagi seorang pendekar. Tewas dalam melaksanakan tugas menentang kejahatan adalah kematian yang terhor­mat!"

"Membunuh atau terbunuh merupakan kematian terhormat, Subo? Ahh, teecu tidak dapat menerimanya. Semua kepan­daian manusia didapatkan karena kekua­saan dan kemurahan Tuhan. Juga ilmu silat. Akan tetapi sungguh sayang bahwa kemurahan dari kekuasaan Tuhan itu oleh manusia diselewengkan, untuk saling bu­nuh. Tidak, Subo. Teecu tidak mau mem­bunuh orang! Teecu tidak mau belajar ilmu silat, ilmu memukul dan membunuh orang."

Kao Hong Li menjadi semakin marah. "Bagaimana kalau engkau sekali waktu diancam oleh orang jahat untuk dibunuh?"

"Teecu akan berusaha untuk menyela­matkan diri, melindungi diri dengan segala kekuatan dan kemampuan yang ada, bukan berarti teecu akan berusaha membunuhnya. Kalau teecu sudah berusaha sekuatnya. untuk melindungi diri, cukuplah."

"Hemm, bagaimana engkau akan mampu melindungi dirimu dari serangan orang jahat yang hendak membunuhmu kalau engkau tidak pandai ilmu silat?"

"Teecu serahkan saja kepada Tuhan! Sudah teecu katakan tadi bahwa nyawa berada di tangan Tuhan. Kalau Tuhan belum menghendaki teecu mati di tangan penjahat itu, tentu teecu akan dapat menghindarkan diri."

Kao Hong Li sudah kehilangan kesabarannya, Ia bangkit berdiri dan menatap wajah anak itu. "Yo Han, aku khawatir bahwa engkau telah dihinggapi kesom­bongan besar yang tolol!"

"Meafkan teecu, Subo," kata Yo Han sambil menundukkan mukanya.

"Bocah sombong! Kalau engkau tidak mau belajar silat, kalau engkau meng­anggap bahwa belajar silat itu salah, lalu engkau mau belajar apa? Engkau menjadi murid suami isteri pendekar, kalau tidak mau belajar silat dari kami, lalu mau belajar apa?"

"Teecu ingin belajar hidup yang benar dan sehat, belajar menjadi manusia yang berguna, baik bagi diri sendiri, bagi orang lain, dan bagi Tuhan. Teecu akan mempelajari segala ilmu yang berguna dan indah, sastra, seni apa saja, asalkan bukan ilmu yang merusak...."

"Sombong!" Kao Hong Li membentak, kini ia sudah marah. "Kau mau bilang bahwa ilmu silat adalah ilmu yang meru­sak?"

Pada saat itu, muncullah Tan Sin Hong. Sejak tadi dia sudah mendengar percakapan antara isterinya dan murid mereka. Dia tidak menyalahkan isterinya yang marah-marah. Dia sendiri pun tentu akan marah kalau saja dia tidak teringat akan keadaan Yo Han di waktu kecilnya. "Aih, ada apakah ini sepagi ini sudah ribut-ribut?" Sin Hong menegur sambil tersenyum tenang.

Melihat suaminya datang, Kao Hong Li segera menuding kepada Yo Han.

"Coba lihat muridmu ini! Dia menjadi murid kita tentu kita beri pelajaran ilmu silat. Eh, dia malah menganggap bahwa ilmu silat itu jahat, ilmu yang merusak! Apa tidak membikin panas perut?"

"Sudahlah, nanti kita bicarakan hal itu." Sin Hong menghibur isterinya, lalu bertanya kepada Yo Han. "Yo Han, apa­kah engkau lupa hari lusa, adalah suatu hari yang bahagia? Nah, ada peristiwa bahagia apakah hari lusa itu?"

Yo Han mengangkat mukanya dan wajahnya berseri memandang kepada suhunya yang telah mengalihkan percakapan yang membuat hatinya merasa tidak enak terhadap subonya tadi. "Teecu tahu, Suhu. Besok lusa adalah hari ulang tahun yang ke empat dari Sian Li."

"Ha, jadi engkau ingat? Dan sudahkah engkau mempersiapkan hadiahmu untuk adikmu itu?"

Yo Han menggeleng kepala. "Belum Suhu."

Yo Han amat mencinta adiknya, pu­teri kedua orang gurunya itu, bahkan se­jak Sian Li dapat merangkak, Yo Han lah yang selalu mengasuhnya dan menga­jaknya bermain-main sehingga Sian Li juga amat sayang kepadanya.

Sin Hong mengeluarkan uang dari sa­ku bajunya dan menyerahkannya kepada Yo Han. "Nah, ini uang kau boleh pakai untuk membelikan hadiahmu untuk Sian Li."

Akan tetapi Yo Han menggeleng ke­palanya, "Suhu, teecu ingin memberi ha­diah sesuatu yang merupakan hasil pe­kerjaan tangan teecu sendiri kepada adik Sian Li."

"Hemm...." Sin Hong menyimpan kem­bali uangnya. "Dan sudah kaubuatkan itu?

"Belum, Suhu!"

"Kalau begitu, mulai hari ini engkau boleh mulai mengerjakannya. Jangan ban­tu pekerjaan tukang kebun dan pelayan, tapi selesaikan membuat hadiahmu untuk adikmu."

Berseri wajah Yo Han. Memang kedua orang gurunya tidak pernah menyuruh dia bekerja, akan tetapi dia sendiri yang merasa tidak enak kalau harus mengang­gur. Selalu ada saja yang dia kerjakan. Kini, gurunya memberi dia kesempatan sepenuhnya untuk membuatkan hadiah untuk Sian Li.

"Baik, terima kasih, Suhu. Sekarang pun teecu hendak mulai membuatkan hadiah itu!" Dan dia pun pergi meninggalkan kebun itu, menuju ke sungai kecil yang mengalir di sebelah selatan rumah itu.

Setelah Yo Han pergi, baru Sin Hong bicara dengan isterinya. "Sudahlah, kalau dia tidak mau berlatih silat, kita tidak perlu memaksanya. Kita sudah mengajar­kan ilmu-ilmu kita yang paling baik, dan dia sudah menghafalkan semua teorinya. Tinggal terserah kepada dia sendiri hendak melatihnya atau tidak."

"Akan tetapi, dia adalah murid kita. Kalau kelak dunia persilatan tahu bahwa dia murid kita akan tetapi lemah dan tidak pandai memainkan ilmu silat, bu­kankah kita yang menjadi bahan tertawa­an?"

Sin Hong menggeleng kepala. "Belum tentu demikian. Aku melihat bahwa dia bukan anak sembarangan. Dia pemberani dan tabah, juga amat cerdik. Dan dia mempunyai kasih sayang kepada sesama­nya. Lihat saja. Dia tidak pernah menja­di jagoan, akan tetapi semua anak di kota ini mengenalnya dan bersikap amat baik kepadanya. Dia disukai dan disegani, bukan saja oleh anak-anak, juga orang-orang tua tetangga kita selalu memujinya karena sikapnya yang sopan dan baik budi."

"Bagaimanapun juga, aku khawatir ka­lau terjadi serangan orang jahat terhadap dirinya...."

"Tidak perlu khawatir, Li-moi. Biar­kan saja dia bertumbuh sewajarnya, me­nurut apa yang disukainya dan kita lihat saja. Yang penting, dia tidak melakukan sesuatu yang menyimpang dari kebenaran, Dan dia amat sayang kepada Sian Li."

Hong Li mengangguk. "Memang, Sian Li Juga amat sayang kepadanya. Justeru inilah yang kadang merisaukan hatiku."

"Eh? Engkau risau karena anak kita menyayang Yo Han?"

"Yo Han bagaikan kakak bagi Sian Li dan kelak, tentu Sian Li akan men­contoh segala prilaku Yo Han. Kalau Yo Han membenci ilmu silat, menganggapnya jahat, bagaimana kelau dia mempenga­ruhi Sian Li dan anak kita juga tidak suka berlatih silat?"

Sin Hong mengangguk-angguk. "Aku akan bicara dengan Yo Han tentang itu dan minta agar dia jangan menanamkan pendapatnya itu kepada Sian Li, bahkan agar dia membujuk Sian Li agar suka mempelajari dan berlatih ilmu silat." Mendengar ucapan suaminya itu, baru legalah rasa hati Hong Li.

"Sungguh seorang anak yang aneh se­kali Yo Han itu," katanya menarik napas panjang. Ia sendiri amat suka kepada Yo Han. Siapa yang takkan suka kepada anak yang pandai membawa diri dan rajin itu? Wajahnya tidak pernah muram, terang dan amat ramah, juga berhati lembut.

***

Memang tidak berlebihan kalau wani­ta pendekar itu mengatakan bahwa Yo Han adalah seorang anak yang aneh sekali. Memang nampaknya saja Yo Han seorang anak biasa yang tiada bedanya dengan anak-anak lainnya. Akan tetapi memang terdapat sesuatu yang luar biasa pada diri anak ini, yang membuat Kao Hong Li dan juga suaminya mengetahui bahwa Yo Han bukanlah anak biasa. Si­kapnya demikian dewasa, pandangannya luas dan kadang-kadang aneh dan tidak pantas dimiliki seorang anak berusia dua belas tahun. Wajahnya memang tampan, akan tetapi itu pun tidak aneh. Dan wa­taknya sederhana. Pakaian pun amat sederhana walaupun selalu bersih dan rapi. Biarpun kedua orang gurunya amat sayang kepadanya dan selalu berusaha agar dia senang dan tidak kekurangan sesuatu, namun Yo Han tidak pernah minta apa-apa, hanya menerima saja apa pun yang diberikan kepadanya tanpa me­milih. Yang membuat suami isteri itu seringkali kagum adalah kecerdikannya. Dia seolah mampu membaca pikiran orang!

Terutama sekali dalam pelajaran sas­tra, anak itu sangat menonjol kecerdas­annya. Dalam usia dua belas tahun, dia sudah mampu membaca kitab-kitab yang berat-berat, bukan saja kitab-kitab seja­rah juga kitab-kitab agama dan filsafat. Hafal sudah olehnya kitab-kitab Su-si Ngo-keng, dan andaikata dia mau, dalam usia dua belas tahun itu bukan tidak mungkin dia akan lulus dalam ujian ke­negaraan bagi para siu-cai (semacam ge­lar sarjana). Tan Sin Hong sendiri seo­rang yang suka membaca dan dia memiliki kumpulan kitab-kitab kuno di dalam kamar perpustakaannya. Sama sekali ti­dak pernah disangkanya bahwa kalau sedang membersihkan kamar itu, Yo Han tenggelam ke dalam kitab-kitab itu, membaca kitab-kitab yang kadang masih terasa sukar bagi Sin Hong sendiri!

Banyak hal yang dibacanya, baik da­lam kitab sejarah maupun kitab keaga­maan, yang mempengaruhi batin Yo Han yang aneh, yang membuat dla ngeri menghadapi kekerasan, membuat dia me­rasa ngeri melihat kenyataan betapa kehidupan manusia bergelimang kekerasan.

Di samping itu, ada sesuatu yang amat luar biasa pada diri Yo Han, yang seringkali membuat dia sendiri merasa heran. Dia seakan-akan ada kekuatan yang melindunginya, kekuatan yang ka­dang-kadang bekerja di dalam dan di luar dirinya, bekerja di luar kehendaknya, bahkan di luar pengertiannya. Suatu te­naga mujijat, suatu kekuatan yang beker­ja di luar hati dan akal pikirannya. Hal ini tadinya tidak diketahuinya. Akan te­tapi karena beberapa kali terjadi hal yang tadinya dianggap suatu "kebetulan" saja, mulailah dia menyadari, bahwa hal itu bukanlah suatu kebetulan belaka.

Mula-mula keanehan itu terjadi ketika dia membaca sebuah kitab agama kuno yang terisi dongeng-dongeng yang me­ngandung makna-makna terpendam. Amat sukar dimengerti oleh orang dewasa yang sudah banyak membaca kitab agama se­kalipun. Yo Han menemukan kitab ini dalam kamar perpustakaan suhunya. Dia membacanya dan segera menemui kesulitan. Banyak huruf kuno yang tak dike­nalnya, dan lebih banyak pula kalimat yang tidak dimengerti maknanya. Karena dia memang seorang kutu buku, dia tidak putus asa dan terus membaca. Makin dia berusaha untuk mengerti isi kitab, makin sukarlah baginya dan makin bingung dan ruwetlah pikirannya. Akhirnya, karena kelelahan, bukan karena jengkel, dia pun tertidur. Tidur sambil duduk dan kitab itu masih terbuka di atas meja di depan­nya.

Ketika setengah jam kemudian dia terbangun, dia melihat lagi kitab itu dan.... dia dapat membaca dengan lancar, bahkan dapat mengerti apa arti isi kitab itu. Hal yang tadinya dianggap sukar, setelah dia bangun tidur, menjadi mudah, yang gelap menjadi terang. Hal itu terjadi dengan sendirinya, bukan hasil pe­merasan pikiran, seperti secara wajar dan otomatis saja.

Demikianlah, banyak hal seperti itu terjadi selama kurang lebih dua tahun ini dan Yo Han mulai mengerti bahwa kekuatan mujijat itu terjadi kalau dia pasrah kepada Tuhan, kalau dia tidak mempergunakan daya hati dan akal pikir­annya. Seperti telah diatur saja oleh tenaga mujijat.

Setelah gurunya memberi ijin kepadanya untuk segera membuatkan hadiah untuk Sian Li, Yo Han segera pergi ke sungai yang letaknya kurang lebih satu li saja dari rumah gurunya. Dia tahu bahwa bahan yang dibutuhkannya untuk membuat hadiah itu berada di tepi su­ngai. Bahan itu hanya tanah liat, lain tidak! Dia ingin membuatkan patung ke­cil atau boneka dari tanah liat, buatan tangannya sendiri, untuk Sian Li! Dia tahu bahwa dia dapat membuat sebuah boneka yang indah dari tanah, liat. Sudah sering dia bermain-main dengan tanah liat dan dia mendapat kenyataan betapa tanah liat itu demikian penurut dalam remasan jari-jari tangannya, demikian mudahnya dibentuk menjadi apa saja yang dikehendakinya. Dia dapat membuat segala macam patung binatang dari tanah liat. Rasanya seperti kalau dia melukis. Dengan goresan, dia pun dapat membentuk apa, saja yang dilihatnya, baik yang dilihatnya dalam kenyataan maupun yang dilihatnya dalam bayangan khayal.

Yo Han tiba di tepi sungai dan dia segera menuju ke bagian di mana, ter­dapat tanah liatnya yang baik. Bagian ini sunyi sekali. Hanya dia dan beberapa oreng kawannya bermain, tetangga guru­nya, yang mengetahui tempat ini. Kini dia berada di situ seorang diri dan sege­ra dia turun ke tepi sungai dan mengam­bil tanah liat dengan kedua tangannya. Mudah saja menggali tanah liat yang lunak dan basah itu, dikumpulkannya sampai cukup banyak, lalu dibawanya tanah liat segumpal besar itu ke bawah sebatang pohon besar di tepi sungai.

Baru saja dia menurunkan tanah liat yang dibawanya, ketika dia duduk di atas akar pohon yang menonjol keluar dari tanah, tanpa disengaja kakinya menginjak seekor ular! Bagian ekornya yang diinjak­nya itu. Ular itu terkejut, juga marah dan tubuhnya membalik, kepalanya meluncur dan menyerang ke arah leher Yo Han yang sudah duduk. Tangan kanan Yo Han bergerak dan tahu-tahu leher ular itu telah terjepit di antara jari-jari ta­ngannya. Dia telah dapat menangkap leher ular itu!

Tak jauh dari situ, Sin Hong memandang terbelalak! Tadi pun dia melihat serangan ular yang tiba-tiba itu dan wajahnya menjadi pucat. Terlalu jauh bagi­nya untuk dapat menolong dan menyele­matkan muridnya, juga gerakan ular itu terlalu cepat. Dia sudah membayangkan betapa leher itu akan dipatuk ular. Bu­kan ular biasa, melainkan ular hijau yang racunnya amat jahat! Akan tetapi apa yang dilihatnya? Yo Han telah dapat menangkap leher ular, hanya sedikit se­lisihnya karena moncong ular itu tinggal sejengkal lagi dari leher Yo Han! Dia sendiri, kalau diserang ular secara tiba-tiba seperti itu, masih meragukan apakah berani menghindarkan diri dengan cara menangkap leher ular itu! Perbuatan ini amat berbahaya karena sekali meleset dan leher terpatuk ular beracun itu, amat hebat akibatnya. Kalau kaki yang terpatuk ular, masih banyak harapan untuk diobati, akan tetapi leher demikian dekat dengan kepala dan jantung. Dia hanya terbelalak memandang dan semakin bengonglah dia ketika melihat apa yang terjadi.

Yo Han sendiri terbelalak ketika me­lihat bahwa yang ditangkap tangannya itu adalah seekor ular hilau yang dia ta­hu beracun! Dia merasa heran karena sungguh dia tidak menyadari, apa yang dilakukan tangannya tadi, seolah-olah tangan itu bergerak sendiri dengan amat cepatnya menangkap leher ular! Akan tetapi, dia memang seorang anak yang memiliki keberanian luar biasa. Setelah kini dia melihat kepala ular itu, dengan mata yang nampaknya begitu putus asa dan ketakutan, lidah yang terjulur keluar masuk, tubuh yang menggeliat-geliat me­libat lengannya tanpa daya karena dia merasa betapa lengannya diisi tenaga yang membuat lengannya itu seperti ber­ubah menjadi baja, timbul perasaan ka­sihan di dalam hatinya.

"Ular hijau, kenapa engkau hendak mematukku? Kalau seandainya aku me­nyentuh atau menginjaknya tanpa kusengaja, sepatutnya engkau memaafkan aku. Engkau yang sengaja hendak mematukku pun dapat kumaafkan. Kita sepatutnya bermaaf-maafan setelah sama-sama di­ciptakan hidup di dunia ini. Bukankah begitu, ular hijau?"

Sin Hong terbelalak, tak pernah ber­kedip ketika melihat betapa kini ekor ular yang tadi membelit-belit lengan muridnya itu melepaskan belitannya, dan melihat betapa Yo Han dengan lembut melepaskan leher yang ditangkap tangan­nya itu, membiarkan ular itu ke atas tanah. Dan ular itu sama sekali tidak nampak buas lagi, tidak menyerang! Juga tidak melarikan diri ketakutan. Ular itu kini perlahan-lahan menghampiri Yo Han yang sudah duduk di atas akar, mengeli­lingi anak itu, perlahan-lahan, kadang-kadang mendekat dan menyentuh kaki Yo Han dengan tubuhnya, seperti tingkah seekor kucing yang manja mengusapkan tubuhnya ke kaki majikannya. Dan Yo Han sudah tidak mempedulikan ular itu lagi, melainkan asyik dengan pekerjaan­nya. Kedua tangannya bekerja dengan cekatan, meremas-remas tanah liat itu sehingga menjadi lunak dan liat, dan mulai membentuk patung yang hendak dibuatnya. Sampai beberapa lamanya, ular hijau itu bergerak di sekitar Yo Han mengusapkan tubuhnya ke kaki anak itu, kadang menggunakan lidahnya menjilat, Yo Han yang tenggelam ke dalam peker­jaannya seperti sudah melupakan binatang itu dan akhirnya, ular itu pun pergi de­ngan tenang.

Beberapa kali, dalam pengintaian itu Sin Hong menelan ludah. Dia merasa se­perti dalam mimpi. Yo Han demikian mudahnya menangkap leher ular yang se­dang menyerangnya, ular beracun yang terkenal ganas. Kemudian, lebih aneh lagi, dengan ucapan dan sikapnya, dia mampu membuat seekor ular berbisa yang ganas berubah menjadi seekor bina­tang yang jinak dan manja seperti kucing. Apa artinya semua ini? Tentu saja Sin Hong menjadi penasaran bukan main. Dia adalah guru anak itu. Dan semenjak berusia tujuh tahun, Yo Han selalu ikut dengan dia. Akan tetapi bagaimana sam­pai saat ini dia sama sekali tidak me­ngenal muridnya itu? Tidak tahu akan keadaan muridnya yang aneh? Muridnya itu tidak pernah mau melatih ilmu silat yang diajarkan, akan tetapi kini buktinya, anak itu sedemikian lihainya! Kapan be­lajarnya? Dari siapa? Gerakan tangan ketika menangkap ular berbisa tadi tidak dikenalnya. Mirip dengan jurus Bangau Putih Mematuk Ular. Akan tetapi hanya mirip. Jauh bedanya. Jurus dari ilmu si­latnya Pek-ho Sin-kun itu menggunakan jari tangan untuk mencengkeram tubuh ular dan memang yang dimaksud lehernya dan dalam ilmu silat menghadapi manusia dipergunakan untuk menangkap lengan lawan yang menyerang. Akan tetapi ge­rakan Yo Han tadi begitu cepat akan tetapi begitu lembut sehingga ketika leher ular tertangkap, ular itu tidak mampu melepaskan diri, akan tetapi juga tidak tersiksa dan tidak luka. Gerakan apa itu? Dan sikapnya kemudian terhadap ular berbisa itu, sungguh tidak dimenger­tinya! Kenapa Yo Han bersikap seaneh itu dan bagaimana pula ular itu berubah menjadi sejinak itu? Apakah artinya se­mua itu? Ilmu apakah yang dikuasai Yo Han?

Sin Hong adalah seorang pendekar yang gagah dan jujur, tentu saja tidak suka akan hal-hal yang dirahasiakan, tidak suka akan kepura-puraan. Di de­pannya, Yo Han tidak pernah berlatih silat, sehingga dia dan isterinya meng­anggap dia lemah dan tidak dapat bersi­lat. Akan tetapi apa kenyataannya seka­rang? Serangan ular tadi amat cepat dan berbahaya. Hanya seorang ahli silat tingkat tinggi saja yang mampu menghindar­kan bahaya maut itu dengan menangkap leher ular yang sedang menyerang dalam jarak sedemikian dekatnya. Dan Yo Han mampu melakukannya. Ini membuktikan bahwa anak itu sama sekali bukan lemah, hanya berlagak lemah saja. Apakah diam-diam dia telah mempelajari dan melatih ilmu silat lain? Atau mempunyai seorang guru lain? Dia harus membongkar semua rahasia ini, tidak mau dipermainkan lagi.

Sekali melompat, Sin Hong sudah ber­ada di dekat Yo Han. Anehnya, anak itu sama sekali tidak kelihatan kaget atau gugup, dan kini teringatlah Sin Hong bahwa muridnya itu memang tidak per­nah gugup apalagi kaget atau takut. Se­lalu tenang saja seperti air telaga yang dalam.

"Suhu....!" kata Yo Han memberi hor­mat dengan membungkuk karena kedua tangannya berlepotan lumpur tanah liat. Sejak tadi Sin Hong mengamati, wajah Yo Han, kini melihat wajah muridnya itu biasa-biasa dan wajar saja, dia meli­rik ke arah bongkahan tanah liat di ta­ngan anak itu dan dia terkejut, juga kagum. Dalam waktu singkat itu, jari-jari tangan anak itu telah mampu mem­bentuk sebuah boneka anak-anak yang ukurannya demikian sempurna. Kepala, kaki, tangan sudah terbentuk dan demi­kian serasi. Hanya wajah kepala itu yang belum dibuat.

"Suhu, ada apakah Suhu mencari tee­cu?" tanya Yo Han.

Suara dan sikap yang amat wajar itu membuat Sin Hong menjadi bingung dan tak tahu harus berbuat apa. "Apa yang kaubikin itu?" akhirnya dia bertanya.

"Boneka tanah, Suhu, hadiah teecu untuk adik Sian Li," kata Yo Han. Keha­ruan menyelinap di hati Sin Hong, Juga sedikit iri hati. Tidak ada hadiah yang lebih indah dan memuaskan hati melebihi benda buatan tangan sendiri. Kalau saja dia mampu membuat boneka tanah sein­dah yang sedang dibuat Yo Han, dia pun akan senang membuatkan sebuah untuk puterinya!

Akan tetapi, renungan Sin Hong buyar seketika karena dia teringat lagi akan ular tadi. Suatu kesempatan yang amat baik untuk menguji muridnya, untuk me­ngetahui rahasia yang menyelimuti diri muridnya. Tiba-tiba saja, dengan tenaga terukur, kecepatan yang hampir menya­mai kecepatan gerakan ular tadi, tangan­nya meluncur dan jari tangannya meno­tok ke arah leher muridnya, seperti ular yang mematuk tadi, dari arah yang sama pula dengan gerakan ular tadi. Gerakan­nya ini pun tiba-tiba selagi Yo Han tidak mengira, kiranya presis seperti keadaan­nya ketika diserang ular hijau tadi.

Dan satu-satunya gerakan yang dila­kukan Yo Han adalah gerak refleks atau reaksi yang umum. Dia terkejut dan me­narik kepalanya sedikit ke belakang. Tentu saja serangan itu akan dapat me­ngenai leher Yo Han kalau Sin Hong menghendaki. Sin Hong merasa kecelik. Kenapa Yo Han sama sekali tidak me­nangkis atau mengelak, sama sekali tidak ada gerakan seorang ahli silat yang ma­hir? Kalau dia bersikep seperti itu tadi ketika dipatuk ular, tentu dia sudah ce­laka, mungkin sekarang sudah tewas oleh racun ular! Ataukah Yo Han sudah tahu bahwa dia diuji dan sengaja tidak mau menangkis atau mengelak untuk mengelabuhi gurunya? Ah, tidak mungkin! Se­orang ahli silat tinggi memang dapat menangkap gerakan serangan dengan ce­pat, akan tetapi tidak mungkin dapat menduga secepat itu. Serangannya tadi terlalu cepat untuk diterima dan diran­cang pikiran. Jadi jelas bahwa muridnya ini memang tidak tahu ilmu silat sama sekali. Akan tetapi ular tadi?

"Apakah maksud gerakan Suhu tadi?" tanya Yo Han dengan sikap masih tetap tenang seolah tidak terjadi sesuatu. Ke­kagetannya ketika diserang tadi pun hanya merupakan reaksi saja, bukan kaget lalu disusul rasa takut. Ini saja sudah amat mengagumkan hati Sin Hong.

"Yo Han, engkau ini muridku, bukan?" tiba-tiba Sin Hong bertanya dan dia pun duduk di atas akar pohon, di sebelah Yo Han.

Anak itu menoleh dan memandang wajah suhunya dengan sinar mata mengandung penuh pertanyaan. "Tentu saja, kenapa Suhu bertanya?"

"Dan sejak lima tahun yang lalu, se­jak engkau kehilangan orang tuamu, eng­kau hidup dengan aku, bukan?"

Sepasang mata anak itu bertemu de­ngan pandang mata Sin Hong dan pende­kar ini merasa seolah sinar mata anak itu menembus dan menjenguk isi hatinya! Dia tahu bahwa muridnya memiliki mata yang tajam dan lembut, akan tetapi baru sekarang dia merasa betapa sinar mata itu seperti menjenguk ke dalam lubuk hatinya.

"Teecu tahu dan teecu selalu ingat akan kebaikan Suhu dan Subo. Selama hidup, teecu akan ingat kebaikan itu, Su­hu, dan Suhu bersama Subo, bagi teecu bukan hanya guru, akan tetapi juga pengganti orang tua teecu."

Sin Hong terheran. Anak ini luar bi­asa, karena memang itulah yang dipikir­kannya tadi. Dia merasa penasaran kare­na anak itu dianggapnya seperti anak sendiri, namun menyimpan rahasia dirinya dan masih berpura-pura lagi!

"Nah, karena itu, Yo Han. Hubungan antara murid dan guru, atau antara anak dan orang tua, sebaiknya tidak menyim­pan rahasia, bukan?"

"Memang benar, Suhu. Apakah Suhu mengira teecu menyimpan rahasia? Kira­an itu tidak benar, Suhu. Teecu tidak pernah menyimpan rahasia terhadap Suhu atau Subo."

Anak seperti ini tidak mungkin dibo­hongi, pikir Sin Hong kaget. Lebih baik berterus terang. "Yo Han, memang terus terang saja, aku dan subomu merasa heran melihat sikap dan pendirianmu. Engkau menjadi murid kami akan tetapi tidak mau berlatih silat. Lalu apa arti­nya kami menjadi gurumu?"

"Bukan hanya ilmu silat yang telah diajarkan Suhu dan Subo kepada teecu. Teecu menerima pelajaran sifat yang gagah berani, adil dan menjauhi perbuat­an jahat dari Suhu dan Subo, juga selama ini banyak yang telah teecu pelajari. Sastra, seni, dan banyak lagi. Terima kasih atas semua bimbingan itu, Suhu."

"Engkau benar-benar tidak dapat ber­main silat sama sekali, Yo Han?" per­tanyaan ini tiba-tiba saja karena Sin Hong memang bermaksud hendak berta­nya secara terbuka.

Yo Han menggeleng kepala, sikapnya tenang saja dan wajahnya tidak memba­yangkan kebohongan.

"Yo Han, aku tadi telah melihat be­tapa engkau dapat menghindarkan an­caman maut ketika engkau menangkap leher ular yang mematukmu dengan ce­pat. Ular hijau berbisa, mematukmu se­cara tiba-tiba dan engkau mampu me­nangkapnya. Gerakan apa itu kalau bukan gerakan silat?"

"Ahhh....? Itukah yang Suhu maksudkan? Ular itu tadi? Teecu juga tidak tahu sa­ma sekali bahwa teecu diserang ular, dan teecu juga tidak menggerakkan tangan teecu. Tangan itu yang bergerak sendiri menangkap ular, Suhu."

Sin Hong mengerutkan alisnya, hati­nya bimbang. Kalau orang lain yang bi­cara demikian, tentu akan dihardiknya dan dikatakan bohong. Akan tetapi, sukar membayangkan bahwa Yo Han membo­hong!

"Engkau tidak mempelajari ilmu silat lain kecuali yang kami ajarkan?"

Sin Hong menatap tajam wajah Yo Han, dan anak itu membalas tatapan mata gurunya dengan tenang. Dia tidak menjawab, melainkan menggeleng kepala. Gelengan kepala yang amat mantap dan jelas menyatakan penyangkalannya.

"Engkau tidak mempunyai seorang guru silat lain kecuali kami?"

Kembali Yo Han tidak menjawab, ha­nya menggeleng kepala.

"Lalu.... gerakan tangan menangkap ular tadi?"

"Bukan teecu yang menggerakkan maksud teecu, teecu tidak sengaja dan tangan itu bergerak sendiri."

"Ahhh....!" Ingin dia menghardik dan mengatakan bohong, akan tetapi sikap anak itu demikian meyakinkan. "Coba.... kau ulangi gerakan tanganmu ketika me­nangkap leher ular itu, Yo Han. Anggap saja lengan tanganku ini ular itu tadi." Dan Sin Hong menggerakkan tangannya seperti ular mematuk. Akan tetapi Yo Han hanya menggeleng kepalanya.

"Teecu tidak dapat, Suhu. Sama seka­li teecu tidak ingat lagi, karena ketika tangan teecu bergerak, teecu sama seka­li tidak memperhatikan dan tahu-tahu ular itu telah tertangkap oleh tangan teecu."

"Hemmmm....!" Sin Hong mengamati wajah muridnya dengan pandang mata tajam menyelidik. Namun muridnya itu tidak berbohong!

"Pernahkah engkau mengalami hal-hal sepertl itu? Ada gerakan yang tidak kau­sadari dan yang membantumu?"

Di luar dugaan Sin Hong, anak itu mengangguk! Tentu saja Sin Hong menja­di tertarik sekali. "Eh? Apa saja? Coba kauceritakan kepadaku, Yo Han,"

"Seringkali teecu merasa terbimbing, tahu-tahu sudah bisa saja. Misalnya kalau membaca kitab, menghafal dan sebagai­nya. Kalau teecu merasa kesukaran lalu menghentikan semua usaha, bahkan ter­tidur, begitu bangun teecu sudah bisa! Padahal sebelumnya teecu mengalami kesulitan besar."

"Kau merasa seperti.... seperti ada sesuatu yang membimbingmu, melindungi­mu?"

Yo Han mengangguk perlahan, alisnya berkerut karena dia sendiri tidak tahu dengan jelas. "Kira-kira begitulah, Suhu. Teecu hanya dapat bersukur dan berteri­ma kasih kepada Tuhan."

Sin Hong mengerutkan alisnya, pikir­annya diputar. Kalau anak ini memiliki sin-kang, yaitu hawa murni yang mem­bangkitkan tenaga sakti, dia tidak mera­sa heran karena tenaga sakti itu juga melindungi tubuh, walaupun perlindungan itu bangkit kalau dikehendaki. Akan te­tapi, tenaga mujijat yang melindungi Yo Han ini lain lagi. Lebih dahsyat, lebih hebat karena bergerak atau bekerja jus­teru kalau tidak ada kehendak! Semacam nalurikah? Atau kekuasaan Tuhan yang ada pada setiap apa saja di dunia ini, terutama dalam diri manusia dan pada diri Yo Han kekuasaan itu bekerja de­ngan sepenuhnya? Dia tidak tahu, juga Yo Han tidak tahu! Bagaimanapun juga, dia tahu bahwa muridnya ini mendapat­kan berkah yang luar biasa dari Tuhan Yang Maha Kuasa, maka diam-diam dia memandang muridnya dengan hati penuh kagum dan juga segan. Seorang manusia, biarpun masih bocah, yang menerima anugerah sedemikian besarnya dari Tuhan patut dikagumi dan disegani. Pantas saja kadang-kadang anak ini mengeluarkan kata-kata yang sesungguhnya terlampau tinggi bagi seorang kanak-kanak. Kiranya kalau sedang demikian itu, yang bekerja di dalam dirinya bukan lagi hati dan akal pikirnya yang dikemudikan nafsu badan!, melainkan badan, hati dan akal pikiran yang digerakkan oleh kekuasaan Tuhan!

Ada pula pikiran lain menyelinap da­lam benaknya. Apakah bimbingan gaib yang dirasakan Yo Han itu datang dari.... roh ayah dan ibunya? Dia tidak dapat menjawab. Apa pun dapat saja terjadi pada seorang anak yang telah dapat mencapai tingkat seperti itu, kebersihan batin dari kekerasan!

Sin Hong tidak mau mengganggu mu­ridnya membentuk boneka yang sedang dibuatnya. Di sini pun dia dibuat terte­gun. Pernah dia melihat ahli-ahli pem­buat patung di kota raja, baik ahli-ahli memahat patung, maupun juga ahli pem­buat patung dari tanah liat. Mereka ada­lah orang-orang yang sudah belajar kese­nian itu selama bertahun-tahun, di bawah pimpinan guru-guru yang ahli. Keahlian mereka itu setidaknya masih terpengaruh oleh ilmu pengetahuan, oleh latihan dan belajar. Akan tetapi, Yo Han tidak per­nah mempelajari seni membuat patung. Dan lihat! Jari-jari tangan itu demikian trampil, demikian cekatan dan pemben­tukan patung itu seolah-olah tidak dise­ngaja. Akan tetapi dia mulai melihat bentuk muka puterinya, Sian Li, pada patung boneka tanah liat itu! Diam-diam dia bergidik. Bocah macam apakah mu­ridnya ini? Sungguh tidak wajar, tidak umum! Dia pun meninggalkan muridnya dengan perasaan yang bercampur aduk. Ada kagum, ada heran, ada pula ngeri!

Setibanya di rumah, dia menceritakan apa yang didengarnya dari jawaban Yo Han, juga tentang pembuatan patung boneka, kepada isterinya yang mende­ngarkan dengan alis berkerut. Akan teta­pi Kao Hong Li diam saja, walaupun hatinya merasa gelisah pula. Gelisah mengingat akan puterinya, karena hu­bungan puterinya dengan Yo Han amat dekatnya. Puterinya amat sayang kepada Yo Han, dan ibu ini khawatir kalau-kalau kelak anaknya akan meniru segala kela­kuan Yo Han yang aneh-aneh dan tidak wajar.

Ketika hari ulang tahun ke empat da­ri Tan Sian Li tiba, ulang tahun itu di­rayakan dengan sederhana. Hanya keluar­ga dari empat orang itu, Tan Sin Hong dan Kao Hong Li, murid dan puteri me­reka Yo Han dan Tan Sian Li, ditambah dengan tiga orang pembantu rumah tang­ga yang merayakan pesta kecil yang mereka adakan.

Ketika Yo Han menyerahkan hadiah­nya yang dibungkus rapi, Tan Sian Li bersorak gembira. Apalagi ketika bungkusan itu dibuka dan isinya sebuah pa­tung tanah liat yang indah, anak kecil itu tertawa-tawa gembira. Ia tidak tahu betapa ayah ibunya, juga tiga orang pembantu rumah tangga itu, menjadi bengong melihat sebuah patung tanah liat yang merupakan seorang anak pe­rempuan kecil dengan wajah presis Tan Sian Li! Demikian halus buatan patung itu sehingga, nampak seperti hidup saja!

Suami isteri itu saling pandang dan kembali Kao Hong Li merasa tidak enak sekali. Makin jelas buktinya bahwa Yo Han bukan orang biasa, bukan anak biasa. Mana mungkin ada anak berusia dua be­las tahun yang tidak pernah mempelajari seni membuat patung dapat membuat patung sedemikian indahnya, dan mirip sekali dengan wajah Sian Li? Diam-diam ia bergidik ngeri, seperti juga suaminya, Akan tetapi tiga orang pembantu rumah tangga itu memuji-muji penuh kagum.

Selain patung kanak-kanak itu, yang membuat Sian Li gembira sekali adalah pakaian yang dipakainya, hadiah dari ibu­nya. Pakaian yang serba merah! Dasarnya merah muda, kembang-kembangnya merah tua. Indah sekali. Memberi pakaian serba merah kepada anak yang dirayakan ulang tahunnya, merupakan hal yang wajar dan lajim. Namun, tidak demikian halnya dengan Sian Li. Semenjak ia menerima hadiah pakaian serba merah itu, sejak dipakainya pakaian merah itu, ia tidak membiarkan lagi pakaian itu dilepas! Ia tidak mau memakai pakaian lain yang tidak berwarna merah! Ketika dipaksa, ia menangis terus, dan baru tangisnya terhenti kalau Yo Han menggendongnya, akan tetapi ia masih merengek.

"Baju merah.... huuu, baju merah....!"

Tan Sin Hong dan Kao Hohg Li menjadi bingung. Anak mereka itu memang agak manja dan kalau sudah menangis sukar dihentikan, kecuali oleh Yo Han. Kini, biarpun tidak menangis setelah dipondong Yo Han, tetap saja merengek minta pakaian merah!

"Suhu dan Subo, kasihanilah Adik Sian Li. Beri ia pakaian merah, karena warna itulah yang menjadi warna pilihan dan kesukaannya. Dalam pakaian merah, baru akan merasa tenang, tenteram dan senang! Tadi ketika Subo memberinya pakaian serba merah, ketika ia memakai­nya, ia merasakan kesenangan yang luar biasa, maka kini ia tidak mau lagi diberi pakaian yang tidak berwarna merah."

Suami isteri itu saling pandang. Ka­rena mereka tahu bahwa ucapan Yo Han itu bukan ucapan anak-anak begitu saja, mempunyai makna yang lebih mendalam, maka mereka lalu terpaksa membelikan pakaian-pakaian serba merah untuk Sian Li. Dan benar saja. Begitu ia memakai pakaian merah, ia nampak gembira dan bahagia sekali! Dan sejak hari itu, Sian Li tidak pernah lagi memakai pakaian yang tidak berwarna merah?

***

Malam itu kembali hujan lebat. Hawa udara amat dinginnya. Sian Li sudah ti­dur nyenyak dan suasana sunyi bukan main. Tan Sin Hong dan isterinya, Kao Hong Li, masih belum tidur. Lilin di atas meja kamar mereka masih menyala dan mereka masih bercakap-cakap, Hong Li duduk di atas pembaringan dan suami­nya duduk di atas kursi dalam kamar itu.

Mereka biasanya bersikap hati-hati, apalagi malam itu mereka membicarakan tentang murid mereka, Yo Han. Akan tetapi, karena murid mereka sudah masuk kamar, biarpun andaikata belum pu­las juga tidak mungkin dapat mendengar­kan percakapan mereka. Hujan di luar kamar amat derasnya. Takkan ada orang lain yang mendengarkan percakapan mereka dari luar kamar.

"Bagaimanapun juga, aku merasa tidak enak sekali," kata Hong Li setelah bebe­rapa lamanya mereka berdiam diri. "Sian Li demikian dekat dengan dia. Sukar untuk mencegah anak kita itu tidak me­ngikuti jejak Yo Han. Tidak mungkin pula kita menjauhkan anak kita dari Yo Han karena Sian Li sudah menjadi manja sekali dan paling suka kalau bermain-main dengan Yo Han. Bagaimana jadinya kalau anak kita itu kelak tidak mau be­lajar ilmu silat, dan mengikuti jejak Yo Han menjadi anak.... aneh, anak ajaib tidak seperti manusia! Ih, aku merasa ngeri membayangkan anak kita kelak menjadi seperti Yo Han!"

"Hemm, tentu saja aku pun meng­inginkan anak kita menjadi seorang ma­nusia biasa, dan terutama menjadi seorang pendekar wanita seperti engkau, ibunya. Akan tetapi bagaimana caranya untuk menjauhkannya dari Yo Han?" kata Sin Hong.

"Tidak ada cara lain kecuali memi­sahkan mereka!” kata Hong Li.

“Memisahkan?" Sin Hong berkata de­ngan suara mengandung kekagetan. "Akan tetapi, bagaimana? Yo Han adalah seo­rang yatim piatu yang tidak mempunyai sanak keluarga lagi, dan dia juga murid kita!"

“Soalnya hanya ini. Kita lebih sayang Sian Li ataukah lebih sayang Yo Han. Keduanya memang kita sayang, akan tetapi mana yang lebih berat bagi kita?"

Sin Hong menarik napas panjang. Is­terinya mengajukan pertanyaan yang ja­wabannya hanya satu. "Tentu saja kita lebih memberatkan Sian Li. Bagaimana­pun juga, ia adalah anak kita, darah daging kita. Akan tetapi aku pun tidak ingin melihat Yo Han terlantar, aku ti­dak mau menyia-nyiakan anak yang tidak mempunyai kesalahan apapun itu."

"Tentu saja! Kita bukan orang-orang jahat yang kejam demi kepentingan anak sendiri lalu membikin sengsara orang lain. Sama sekali tidak. Maksudku, bagaimana kalau kita mencarikan tempat baru untuk Yo Han? Memberi dia kesempatan untuk mendapatkan guru yang baru, atau meli­hat bakatnya, bagaimana kalau kita me­nitipkan dia di kuil, dimana terdapat orang-orang pandai dan saleh? Tentu saja kita dapat membayar biaya pendidikannya setiap bulan atau setiap tahun."

Sin Hong mengangguk-angguk. Dia pun tahu bahwa isterinya cukup bijaksana. Isterinya adalah seorang pendekar wanita tulen, cucu dari Naga Sakti Gurun Pasir! Ayahnya putera Naga Sakti Gurun Pasir, dan ibunya cucu Pendekar Super Sakti! Ia pun setuju dengan usul isterinya itu. Memang, jalan terbaik adalah memisah­kan Yo Han dari Sian Li, dan cara pe­misahan yang sebaiknya adalah menying­kirkan Yo Han dari rumah mereka de­ngan memberi jaminan terhadap kehidup­an Yo Han selanjutnya. Paling baik kalau dititipkan di kuil agar dapat belajar lebih lanjut. Siapa tahu dibawah pimpinan para pendeta kuil, ketidakwajarannya itu akan berubah dan Yo Han akan menjadi seo­rang anak yang biasa. Kalau sudah begitu tentu tidak ada halangannya bagi Yo Han untuk kembali kepada mereka.

"Ah, aku teringat sekarang! Bagaima­na kalau kita minta tolong kepada Thian Sun Totiang?" dia berkata.

"Maksudmu, kepala kuil di lereng Pegunungan Heng-san itu? Bukankah Thian Sun Tosu itu seorang tokoh Kun­-lun-pai?" kata Hong Li mengingat-ingat.

"Benar sekali. Selain ilmu silatnya tinggi juga beliau adalah seorang pendeta yang hidup saleh dan tentu dia dapat membimbing Yo Han dalam ilmu kerohani­an. Juga beliau adalah sahabatku. Tentu saja kita dapat memberi sumbangan un­tuk kuilnya sebagai pengganti biaya yang dikeluarkan untuk keperluan Yo Han."

"Bagus, aku pun setuju sekali!" kata Hong Li. Keduanya merasa lega dengan keputusan itu dan Sin Hong meniup pa­dam lilln di atas meja, tanda bahwa keduanya akan tidur.

Di dalam hujan yang lebat, dalam udara yang amat dingin itu. Yo Han keluar dari dalam kamarnya. Dia sendiri tidak mengerti mengapa dia keluar dari dalam kamarnya. Akan tetapi dia tidak peduli dan hanya menyerah dorongan yang membuat kakinya berjalan keluar dari dalam kamar, keluar melalui pintu belakang ke dalam hujan! Tentu saja rambut dan pakaiannya basah kuyup, na­mun dia tidak peduli karena kakinya terus melangkah. Bahkan hawa dingin itu tidak dirasakannya sama sekali, kalau pun ada perasaan di tubuhnya, maka yang ada bahkan perasaan sejuk segar dan nikmat! Seperti dituntun, kedua ka­kinya menuju ke jendela kamar suhunya! Jejak kakinya tentu akan terdengar oleh suhu dan subonya kalau saja malam itu tidak ada hujan. Suara hujan jatuh ke atas genteng dan tanah, juga ke atas daun-daun pohon, jauh lebih berisik dari­pada jejak kakinya, maka biar andaikata suami isteri pendekar itu memiliki keta­jaman pendengaran sepuluh kali lipat, belum tentu akan mampu mengetahui bahwa ada orang melangkah di luar jen­dela kamar mereka.

Dan Yo Han mendengar semua perca­kapan mengenai dirinya itu! Dia meme­jamkan matanya, dan setelah lilin dalam kamar itu tertiup padam, dia pun kem­bali ke kamarnya dengan tubuh terasa lemas. Dia mendengar percakapan suhu dan subonya. Dia tidak sengaja ingin mendengarkan percakapan mereka. Entah bagaimana kedua kakinya bergerak mem­bawa dia ke dalam hujan dan mendekati kamar mereka sehingga dia mendengar percakapan mereka. Suhu dan subonya tidak menghendaki dia tinggal lebih lama di rumah mereka! Mereka ingin memi­sahkan dia dari Sian Li! Dia akan diti­tipkan di sebuah kuil!

Setelah memasuki kamarnya, dia duduk di atas kursi seperti patung. Rambut dan pakaiannya yang basah kuyup tidak dipedulikannya. Dia merasa sedih bukan main. Dia harus meninggalkan mereka yang dia kasihi. Harus meninggalkan Sian Li! Tak terasa lagi, dua titik air mata turun ke atas pipinya, mencair dan men­jadi satu dengan kebasahan air hujan. Tidak, dia tidak boleh menangis! Mena­ngis tidak ada gunanya, bahkan hanya membuat hatinya menjadi semakin sedih! Ketika mendengar kematian ayah bunda­nya dahulu, lima tahun yang lalu, dia pun mengeraskan hatinya, tidak mem­biarkan diri menangis berlarut-larut.

Pada keesokan harinya, dengan muka agak pucat dan rambut agak kusut, pagi-pagi sekali Yo Han sudah memondong Sian Li yang sudah dimandikan ibunya.

"Subo, teecu hendak mengajak adik Sian Li bermain di kebun," kata Yo Han kepada subonya yang sudah keluar dari dalam kamar bersama suhunya. Kedua orang suami isteri itu saling pandang. Mereka merasa tidak tega untuk sepagi itu menyatakan keinginan mereka meni­tipkan Yo Han ke kuil. Biarkan anak itu bermain-main dulu dengan Sian Li.

"Ajaklah ia bermain-main, akan teta­pi nanti kalau waktu sarapan, pagi, ajak ia pulang," kata Hong Li dan Sin Hong mengangguk setuju.

“Baik, Subo,” kata Yo Han. Dia menurunkan Sian Li, menggandeng tangan anak itu dan keduanya berlari-lari meninggalkan rumah, menuju ke belakang rumah. Melihat betapa gembiranya Sian Li diajak bermain-main oleh Yo Han, suami isteri itu saling pandang lagi dan keduanya menghela napas panjang. Mere­ka maklum betapa mereka semua, teru­tama sekali Sian Li, akan merasa kehi­langan Yo Han kalau anak itu pergi me­ninggalkan rumah mereka. Akan tetapi apa boleh buat. Demi kebaikan Sian Li, mereka harus menegakan hati, Yo Han harus dipisahkan dari anak mereka.

Biasanya, pagi-pagi sekali Yo Han sudah rajin bekerja. Bekerja pagi-pagi sebelum matahari terbit menjadi kesuka­annya. Bekerja apa saja, menyapu pekarangan, membersihkan jendela-jendela rumah dari luar. Bekerja apa saja asal di luar rumah karena yang dinikmatinya bukan hanya pekerjaan itu, melainkan terutama sekali suasana di pagi hari. Pagi hari baginya merupakan saat yang paling indah, munculnya matahari seolah-olah membangkitkan semangat, gairah dan tenaga kepada segala makluk di per­mukaan bumi. Akan tetapi, pagi hari itu dia ingin sekali mengajak Sian Li bermain-main. Dia sudah mengambil kepu­tusan untuk pergi, seperti yang dikehen­daki suhu dan subonya. Dia mengerti betapa beratnya bagi mereka untuk me­nyuruh dia pergi. Maka dia harus membantu mereka. Dialah yang akan berpa­mit sehingga tidak memberatkan hati mereka. Pula, dia tidak mau kalau di­titipkan di kuil mana pun juga. Kalau dia harus berpisah dari suhu dan subonya, dari Sian Li yang dikasihinya, lebih baik dia berkelana dengan bebas daripada harus berdiam di dalam kuil seperti se­ekor burung dalam sangkar. Dan sebelum pergi, dia ingin mengajak Sian Li ber­main-main, ingin menyenangkan hati adiknya itu untuk yang terakhir kalinya.

Dia mengajak Sian Li ke tepi sungai, tempat yang paling disenanginya karena tempat itu memang indah sekali. Sunyi dan tenang. Mendengarkan burung ber­kicau dan air sungai berdendang dengan riak kecil, sungguh amat merdu dan me­nyejukkan hati. Duduk di atas rumput di tepi sungai, menatap langit yang amat indah, langit di timur yang mulai keme­rahan, mutiara-mutiara embun di setiap ujung daun. Tak dapat digambarkan in­dahnya.

Dia duduk dan memangku Sian Li yang memandang ke arah air di sungai dengan wajah berseri. Dia menunduK dan mencium kepala anak itu. Betapa dia amat menyayang adiknya. Dicium kepala­nya, Sian Li memandang dan merangkul­kan kedua lengannya yang kecil di leher Yo Han. Sejak kecil dia diajar menyebut suheng (kakak seperguruan) kepada Yo Han. Melihat kakaknya itu memandang kepadanya dengan sepasang mata penuh kasih sayang, anak itu tersenyum.

“Aku sayang suheng....” katanya lucu, Yo Han mencium pipinya. “Aku pun sayang kepadamu, adikku....” hatinya ter­haru sekali karena dia dapat merasakan kasih sayang di antara mereka yang menggetarkan hatinya. Dan dia harus berpisah dari anak ini! Bahkan karena adiknya inilah dia harus meninggalkan rumah suhunya! Suhu dan subonya tidak ingin kelak Sian Li mencontoh sikap dan wataknya! Begitu burukkah sikap dan wataknya? Dia mengerti bahwa guru dan subonya amat kecewa karena dia tidak suka berlatih silat. Dan membayangkan betapa adik yang bersih ini kelak menja­di seorang gadis yang perkasa, seperti ibunya dahulu, hidupnya penuh bahaya dan acaman musuh, hidup selalu waspada, membunuh atau dibunuh, ingin dia mena­ngis. Adiknya akan menjadi pembunuh! Akan memenggal leher orang dengan pe­dangnya, atau menusukkan pedang me­nembus dada dan jantung orang. Atau sebaliknya, disiksa dan dibunuh orang!

“Ihhh, Suheng.... menangis?” anak itu memandang ketika dua titik air mata turun ke atas pipi kakaknya, dan tangan­nya menyentuh air mata di pipi itu se­hingga runtuh. Sentuhan lembut yang menggetarkan hati Yo Han.

“Sian Li....” Dia merangkul, menyem­bunyikan mukanya di atas kepala anak itu.

“Suheng, Ayah dan Ibu melarang kita menangis....” kata anak itu lagi. “Apakah Suheng menangis?” Suaranya masih belum jelas dan terdengar lucu, namun justeru mengharukan sekali.

Yo Han mengeraskan hatinya dan diam-diam mengusap air matanya, lalu dia membiarkan adiknya dapat memandang mukanya yang tadi disembunyikan di rambut kepala Sian Li. Dia mengge­leng.

“Aku tidak menangis, sayang.”

Anak itu tertawa dan alangkah manis dan lucunya kalau ia tertawa, “Hore Suheng tidak menangis. Suheng gagah perkasa!”

Yo Han merasa jantungnya seperti ditusuk. Sekecil ini sudah menghargai ke­gagahperkasaan! Sekecil ini sudah menja­di calon pendekar wanita, seorang calon hamba kekerasan! Sudah terbayang oleh­nya Sian Li menjadi seorang gadis yang selalu membawa pedang di belakang punggungnya.

Dia cepat dapat menguasai kesedihan dan keharuannya, dan teringat bahwa dia mengajak adiknya pagi ini ke tepi sungai untuk bermain-main dan menyenangkan hati adiknya.

“Sian Li, sekarang katakan, engkau ingin apa? Katakan apa yang kauinginkan dan aku akan mengambilnya untukmu. Katakan, adikku sayang.” Yo Han mem­belai rambut kepala adiknya.

Sian Li berloncatan girang dan berte­puk tangan. “Betul, Suheng? Kau mau mengambilkan yang kuingini? Aku ingin itu, Suheng....” Ia menunjuk ke arah po­hon yang tumbuh dekat situ.

“Itu apa?” Yo Han memandang ke arah pohon itu. Pohon itu tidak berbunga. Apa yang diminta oleh Sian Li? Daun?

“Itu yang merah ekornya....”

“Hee? Merah ekornya? Apa....”

“Burung itu, Suheng. Cepat, nanti dia terbang lagi. Aku ingin memiliki burung itu....”

Yo Han menggaruk-garuk kepalanya. Bagaimana mungkin dia dapat menangkap burung yang berada di pohon? Sebelum ditangkap, burung itu akan terbang.

“Aku tidak bisa, Sian Li. Burung itu punya sayap, pandai terbang, sedangkan aku.... lihat, aku tidak bersayap!” Yo Han melucu sambil berdiri dan mengembangkan kedua lengannya, seperti hendak terbang.

“Uhh! Kalau Ayah atau Ibu, mudah saja menangkap burung di pohon. Suheng kan muridnya, masa tidak bisa?”

Yo Han merangkul adiknya. “Sian Li, terang saja, aku tidak bisa, dan juga, untuk apa burung ditangkap? Biarkan dia terbang bebas. Kasihan kalau ditangkap lalu dimasukkan sangkar. Itu menyiksa namanya, kejam. Kita tidak boleh menyiksa mahluk lain, adikku seyang....”

“Uuuuu.... Suheng....! Kalau begitu, am­bilkan saja itu yang mudah. Itu tuh, yang kuning dan biru....”

Melihat adiknya menunjuk ke arah serumpun bunga yang berwarna merah, dia mengerutkan alisnya. Yang diminta yang berwarna kuning dan biru. Itu bukan warna bunga, melainkan warna beberapa ekor kupu-kupu yang beterbangan di se­keliling rumpun bunga itu. Adiknya minta dia menangkapkan seekor kupu kuning dan seekor kupu biru! Memang mudah, akan tetapi dia pun tidak suka melakukan itu. Dia tidak suka menyiksa manu­sia maupun binatang, apalagi kupu-kupu, binatang yang demikian indah dan tidak pernah melakukan kesalahan apa pun. Akan tetapi, untuk menolak lagi permin­taan Sian Li, dia pun tidek tega. Maka dia pun pura-pura mengejar kupu-kupu yang beterbangan dengan panik, pura-pura mencoba untuk menangkap dengan kedua tangannya namun tak berhasil dan sebagai gantinya, dia memetik beberapa tangkai bunga merah dan memberikan itu kepada adiknya.

“Wah, kupu-kupunya terbang. Ini saja gantinya, Sian Li. Kembang ini indah sekali. Kalau dipasang di rambutmu, eng­kau akan bertambah manis.”

“Tidak mau....! Aku tidak mau kem­bang. Aku ingin burung dan kupu-kupu. Aihh.... Suheng nakal. Aku mau kupu-kupu dan burung....” Sian Li membanting-ban­ting kaki dengan manja lalu menangis.

Yo Han menjatuhkan diri berlutut dan merangkul adiknya. “Dengar baik-baik, adikku sayang. Apakah engkau mau diku­rung dalam kurungan, dan apakah engkau mau kalau kaki tanganmu dibuntungi?”

Mendengar ini, Sian Li terheran, dan dengan pipi basah air mata ia meman­dang kakaknya, tidak mengerti. “Kau tentu tidak mau bukan?”

Sian Li menggeleng kepala, masih terheran-heran mengapa kakaknya yang biasanya amat sayang kepadanya dan memanjakannya, kini hendak mengurung dan bahkan membuntungi kaki tangannya!

“Bagus kalau engkau tidak mau! Nah, sama saja, adikku sayang. Engkau tidak mau ditangkap dan dikurung, burung itu pun akan susah sekali kalau kau tangkap dan kau masukkan sangkar, dikurung dan tidak boleh terbang bermain-main dengan teman-temannya. Engkau tidak mau di­buntungi kaki tanganmu, juga kupu-kupu itu tidak suka dan merasa kesakitan dan susah kalau sayapnya dipatahkan, kakinya dibuntungi. Kita tidak boleh menyiksa binatang yang tidak bersalah apa-apa, adikku sayang. Kubikinkan boneka tanah liat saja, ya?”

Akan tetapi Sian Li yang manja ma­sih membanting-banting kaki dan mulut­nya cemberut, walaupun tidak menangis lagi. “Suheng katanya mau.... memenuhi semua permintaanku, ternyata semua permintaanku kautolak....”

Pada saat itu, nampak berkelebat bayangan merah dan tahu-tahu di depan mereka berdiri seorang wanita yang pa­kaiannya serba merah! Pakaian berwarna merah ini segera menarik perhatian Yo Han karena adiknya pun sejak hari ulang tahun ke empat itu setiap hari juga me­makai pakaian merah! Jadi di situ seka­rang berada seorang anak perempuan empat tahun yang pakaiannya serba me­rah, dan seorang wanita cantik yang juga pakaiannya berwarna merah. Yo Han memandang penuh perhatian.

Ia seorang wanita yang berwajah can­tik dan bertubuh tinggi semampai, de­ngan pinggang yang kecil dan pinggul besar seperti tubuh seekor kumbang. Usianya kurang lebih tiga puluh tahun kalau melihat wajah dan bentuk badannya, pada hal sesungguhnya ia sudah berusia empat puluh tahun! Wajahnya bundar dan putih dilapisi bedak, pemerah bibir dan pipi, juga penghitam alis. Rambutnya digelung ke atas model gelung para puteri bang­sawan. Pakaiannya yang serba merah itu terbuat dari sutera yang mahal dan halus dan selain pesolek, wanita itu pun rapi dan bersih, bahkan sepatunya dari kulit merah itu pun mengkilap. Di punggung­nya nampak sebatang pedang dengan sarung berukir indah dan ronce-ronce bi­ru yang menyolok karena warna pakaian­nya yang merah.

“Heii, anak baju merah, engkau manis sekali!” Wanita itu berseru dan suaranya merdu. “Engkau minta burung dan kupu-kupu? Mudah sekali, aku akan menangkapkan burung dan kupu-kupu untukmu. Lihat!”

Wanita itu melihat ke atas. Ada be­berapa ekor burung terbang meninggalkan pohon besar dan ada yang lewat di atas kepalanya. Wanita itu menggerakkan ta­ngan kiri ke arah burung yang terbang lewat, seperti menggapai dan.... burung itu mengeluarkan teriakan lalu jatuh seperti sebuah batu ke bawah, disambut oleh tangan kiri wanita itu.

“Nah, ini burung yang kauinginkan, bukan?” Ia memberikan burung berekor merah yang kecil itu kepada Sian Li yang menerimanya dengan gembira sekali.

Yo Han mengerutkan alisnya ketika mendekat dan ikut melihat burung kecil yang berada di tangan adiknya. Burung itu tak dapat terbang lagi, dan ketika mencoba untuk menggerak-gerakkan ke­dua sayap kecilnya, kedua sayap itu se­perti lumpuh dan ada sedikit darah. Ta­hulah dia bahwa sayap burung itu terluka entah oleh apa. Kini dia menoleh dan melihat wanita itu menggerakkan kedua tangannya ke arah dua ekor kupu-kupu yang beterbangan. Ada angin menyambar dari kedua telapak tangan itu dan dua ekor kupu-kupu itu seperti disedot dan ditangkap oleh kedua tangan itu , diberi­kan pula kepada Sian Li.

“Nah, ini dua ekor kupu-kupu yang kau inginkan, bukan?”

Sian Li girang sekali. “Kupu-kupu indah! Burung cantik....!” Ia sudah sibuk dengan seekor burung dan dua ekor ku­pu-kupw yang dipegangnya.

“Adik Sian Li, mari kita pergi dari sini!” kata Yo Han tak senang dan dia hendak menggandeng lengan adiknya, Akan tetapi tiba-tiba tubuh Sian Li se­perti terbang ke atas dan tahu-tahu su­dah berada dalam pondongan wanita itu. Sian Li terpekik gembira ketika tubuhnya melayang ke atas.

“Suheng, aku dapat terbang....!” tariaknya gembira.

Wanita berpakaian merah itu terse­nyum dan wajahnya nampak semakin muda ketika ia tersenyum. “Ya, engkau ikut dengan aku, anak manis, dan aku akan mengajarmu terbang, juga menang­kap banyak burung dan kupu-kupu. Eng­kau suka, bukan?”

“Aku suka! Aku senang....!”

“Sian Li, turun dan mari kita pulang.” Yo Han berkata lagi.

“Tidak, aku ingin ikut bibi ini, me­nangkap burung dan kupu-kupu, juga be­lajar terbang!”

“Sian Li....”

Wanita itu mengeluarkan suara ketawa mengejek. “Anak baik, jadi namamu Sian Li (Dewi)? Nah, mari kita terbang seperti bidadari-bidadari baju merah, hi-hi-hik!”

Yang nampak oleh Yo Han hanyalah bayangan merah berkelebat, dan yang tertinggal hanya suara ketawa merdu wanita itu yang bergema dan kemudian lenyap pula. Wanita berpakaian merah itu bersama Sian Li telah lenyap dari depannya, seolah-olah mereka benar-be­nar telah terbang melayang, atau meng­hilang dengan amat cepatnya.

“Sian Li....! Bibi baju merah, kembali­kan Sian Li kepadaku!” Yo Han lari ke sana-sini, berteriak teriak, akan tetapi adiknya tetap tidak kembali, juga wanita yang melarikannya itu tidak kembali. Terpaksa Yo Han lalu cepat berlari ken­cang, sekuat tenaga, pulang ke rumah gurunya.

Sin Hong dan Hong Li terkejut meli­hat murid mereka itu berlari-lari pulang tanpa Sian Li dan dari wajahnya, nampak betapa murid mereka itu dalam keadaan tegang dan napasnya terengah-engah ka­rena dia telah berlari-lari secepatnya.

“Yo Han, ada apakah?” Sin Hong me­nagur muridnya.

“Yo Han, di mana Sian Li?” Hong Li bertanya dengan mata dibuka lebar, mata seorang ibu yang gelisah mengkhawatir­kan anaknya.

“Suhu, Subo.... adik Sian Li.... ia dila­rikan seorang wanita berpakaian merah....” kata Yo Han dengan napas masih ter­engah-engah.

Suami isteri itu sekali bergerak sudah meloncat dan memegang lengan Yo Han dari kanan kiri.

“Apa? Apa yang terjadi? Ceritakan, cepat!” bentak Sin Hong.

“Teecu sedang bermain-main dengan adik Sian Li di tepi sungai ketika tiba-tiba muncul seorang wanita berpakaian merah. Ia menangkapkan burung dan ku­pu-kupu untuk Sian Li, kemudian ia me­mondong adik Sian Li menghilang begitu saja.”

“Seperti apa wajah wanita itu? Be­rapa usianya?” tanya Hong Li, wajahnya berubah dan matanya menyinarkan kema­rahan.

“Ia berusia kurang lebih tiga puluh tahun, Subo, dan semua pakaiannya ber­warna merah, sampai sepatunya, dan wajahnya cantik pesolek, di punggungnya nampak pedang dengan ronce biru....”

“Ke mana larinya?” tanya Sin Hong.

“Teecu tidak tahu, Suhu. Setelah me­mondong adik Sian Li, ia lalu menghilang begitu saja, teecu tidak tahu ke arah mana ia lari....”

“Inilah jadinya kalau punya murid tolol!” Tiba-tiba Hong Li berteriak marah.

“Lima tahun menjadi murid, sedikit pun tidak ada gunanya. Kalau engkau berlatih silat dengan baik, sedikitnya engkau ten­tu akan dapat melindungi Sian Li dan anakku tidak diculik orang. Anak bodoh, sombong....!”

.”Suhu dan Subo, teecu bertanggung jawab! Teecu akan mencari adik Sian Li dan membawanya pulang. Teecu tidak akan kembali sebelum dapat menemukan dan membawa pulang adik Sian Li!” Yo Han berseru, menahan air matanya dan mengepal kedua tangannya.

Akan tetapi Sin Hong sudah berseru kepada isterinya, “Tidak perlu ribut, ma­ri kita cepat pergi mengejar penculik itu!” Seruan ini disusul berkelebatnya dua orang suami isteri pendekar itu dan da­lam sekejap mata saja mereka lenyap dari depan Yo Han.

Yo Han tertegun sejenak, kemudian sambil menahan isaknya, dia pun lari ke­luar dari rumah. Dia tidak tahu harus mengejar ke mana, akan tetapi dia tidak peduli dan dia membiarkan kedua kakinya yang berlari cepat itu membawa dirinya pergi keluar kota Ta-tung, entah ke mana!

Sin Hong dan Hong Li berlari cepat menuju ke tepi sungai, kemudian mereka mencari-cari, menyusuri sungai. Namun, usaha mereka tidak berhasil. Anak mere­ka lenyap tanpa meninggalkan jejak! Tentu saja mereka merasa gelisah sekali.

“Bocah sial itu harus diajak ke sini agar dia menunjukkan ke mana larinya penculik itu dan di mana peristiwa itu terjadi. Kau mencari dulu di sini, aku mau mengajak Yo Han ke sini!” kata Hong Li dan ia pun sudah meninggalkan suaminya, pulang ke rumah untuk menga­jak Yo Han ke tepi sungai. Akan tetapi setelah tiba di rumah, ia tidak lagi me­lihat Yo Han! Dicari dan dipanggilnya murid itu, namun Yo Han tidak ada dan nyonya muda ini pun teringat akan te­riakan Yo Han yang akan bertanggung jawab dan akan mencari Sian Li sampai dapat! Terpaksa Hong Li kembali lagi ke tepi sungai.

“Dia.... dia tidak ada di rumah....!” katanya.

Sin Hong mengangguk-angguk. “Sudah kuduga. Tentu dia sudah pergi untuk me­menuhi janjinya tadi. Dan dia pasti tidak akan pernah datang kembali sebelum menemukan dan mengajak Sian Li pu­lang.”

“Uhh, dia mau bisa apa?” Hong Li berseru, marah dan gelisah. “Bagaimana dia akan mampu mengejar penculik yang berilmu tinggi, apalagi merampas kem­bali anak kita?” Wanita itu mengeluh dan hampir menangis. “Sian Li.... ah, di mana kau....?”

“Mari kita cari lagi!” kata Sin Hong, tidak mau membiarkan isterinya dilanda kegelisahan dan kedukaan. Mereka lalu mencari-cari di sekitar daerah itu, men­cari jejak, namun sia-sia belaka. Anak mereka lenyap tanpa meninggalkan jejak dan semua orang yang mereka jumpai dan mereka tanyai, tidak ada seorang pun yang melihat anak mereka atau wa­nita berpakaian serba merah seperti yang diceritakan Yo Han tadi.

Setelah hari larut malam dan mereka terpaksa pulang, sampai di rumah Hong Li menangis. Suaminya menghiburnya. “Tenangkan hatimu. Kurasa penculik itu tidak berniat mengganggu anak kita. Kalau wanita penculik itu musuh kita dan ingin membalas dendam, tentu ia sudah membunuh anak kita di waktu itu juga. Akan tetapi, ia membawanya pergi dan menurut keterangan Yo Han, ia bah­kan bersikap baik, menangkapkan burung dan kupu-kupu untuk Sian Li.”

Dihibur demikian, Hong Li menyusut air matanya dan memandang kepada sua­minya. “Kaukira siapakah wanita berpa­kaian merah itu?”

Sin Hong menggeleng kepalanya. “Su­dah kupikirkan dan kuingat-ingat, akan tetapi rasanya belum pernah aku mem­punyai musuh seorang wanita berpakaian serba merah. Apalagi usianya baru seki­tar tiga puluh tahun. Engkau tahu sendi­ri, tokoh wanita sesat di dunia kang-ouw yang pernah menjadi musuhku, bahkan yang tewas di tanganku, hanyalah Sin-kiam Mo-li. Tentu ia seorang tokoh baru dalam dunia kang-ouw, bahkan kita tidak tahu apakah ia termasuk tokoh sesat ataukah seorang pendekar yang merasa suka kepada anak kita.”

“Tidak mungkin seorang pendekar wa­nita menculik anak orang!” Hong Li ber­kata. “Hem, terkutuk orang itu. Kalau sampai kutemukan ia, akan kuhancurkan kepalanya! Eh, jangan-jangan bekas iste­rimu yang melakukan itu....“

Sin Hong memandang isterinya. Dia tahu bahwa pertanyaan itu bukan terdo­rong oleh cemburu, melainkan oleh kege­lisahan yang membuat jalan pikiran iste­rinya menjadi kacau. Dia menikah dengan Hong Li sebagai seorang duda, akan te­tapi juga Hong Li seorang janda. Mereka telah mengetahui keadaan masing-masing, dan sudah saling menceritakan riwayat mereka dan nasib buruk mereka dalam pernikahan pertama itu.

“Tidak mungkin Bhe Siang Cun yang melakukannya,” kata Sin Hong sambil manggeleng kepala. “Usianya sekarang baru kurang lebih dua puluh empat tahun. Juga ia tidak berpakaian merah. Pula, ia tidak akan berani melakukan hal itu. Ia bukan penjahat dan tidak ada alasan baginya untuk mengganggu kita. Tidak, dugaan itu menyimpang jauh. Coba kau­ingat-ingat, mungkin pernah engkau da­hulu bermusuhan dengan seorang tokoh sesat yang berpakaian merah?”

Hong Li mengingat-ingat. Bekas sua­minya jelas tak dapat dicurigai. Bekas suaminya itu, Thio Hui Kong, adalah putera seorang jaksa yang adil dan jujur. Juga tidak ada alasan bagi Thio Hui Kong untuk mengganggunya. Mereka te­lah bercerai. Tokoh jahat berpakaian merah? Wanita berpakaian merah rasanya belum pernah ia temui dalam semua pengalamannya sebagai seorang pendekar wanita. Pakaian merah?

Tiba-tiba ia meloncat berdiri. “Ahh....!” Ia teringat.

“Engkau ingat sesuatu?” Suaminya bertanya,

“Memang ada tokoh sesat berpakaian merah, akan tetapi bukan wanita. Kau ingat Ang I Mopang (Perkumpulan Iblis Baju Merah)? Tokoh yang terakhir, Ang I Siauw-mo (Iblis Kecil Baju Merah) te­was di tanganku!”

Sin Hong mengerutkan alisnya. “Hem­mm.... Ang I Mopang? Bukankah duhulu sarangnya berada di luar kota Kun-ming, di Propinsi Hu-nan? Tapi, Ang I Mopang sudah hancur dan rasanya tidak ada to­kohnya yang wanita dan yang lihai....”

“Betapapun juga, itu sudah merupakan suatu petunjuk. Daripada kita meraba-raba di dalam gelap. Aku akan pergi ke Kun-ming, menyelidiki mereka. Siapa ta­hu penculik itu datang dari sana. Ang I Mopang memang beralasan untuk me­musuhiku dan mendendam kepadaku. Aku akan berangkat besok pagi-pagi!”

“Nanti dulu, Li-moi. Jangan tergesa-­gesa. Kemungkinannya kecil saja, walau­pun aku juga setuju kalau kita menyeli­dik ke sana. Akan tetapi kita tunggu dulu beberapa hari. Kita menanti kemba­linya Yo Han. Siapa tahu dia berhasil....“

“Bocah sombong itu? Mana mungkin? Kalau kita berdua tidak berhasil, bagai­mana anak tolol itu akan berhasil? Dia­lah biangkeladinya sehingga anak kita diculik orang!”

“Li-moi, tenanglah dan di mana kebi­jaksanaanmu? Bagaimanapun juga, kita tidak dapat menyalahkan Yo Han. Andai­kata dia telah menguasai ilmu silat, keppandaiannya itu pun belum matang. Apa artinya seorang anak berusia dua belas tahun menghadapi seorang penculik yang lihai? Andaikata Yo Han pernah latihan ilmu silat, tetap saja dia tidak akan mampu melindungi Sian Li.”

“Akan tetapi, apa perlunya kita me­nunggu beberapa hari? Dia tidak akan berhasil, dan penculik itu akan semakin jauh....”

“Kita lihat saja, Li-moi. Lupakah engkau betapa banyak hal-hal aneh dila­kukan Yo Han? Kita tunggu sampai tiga hari. Kalau dia belum pulang maka kita akan segera berangkat ke Kun-ming, menyelidiki ke sana. Bahkan kalau di sa­na pun kita gagal, kita terus akan me­lakukan pelacakan, akan kutanyakan kepada semua tokoh kang-ouw tentang seorang wanita yang berpakaian merah seperti yang digambarkan Yo Han tadi.”

Akhirnya, dengan air mata berlinang di kedua matanya, Hong Li menyetujui keinginan suaminya. Akan tetapi, jelas bahwa semalam itu mereka tidak mampu tidur pulas.

***

“Tidak mau, aku ingin pulang.... aku ingin ayah ibu, aku ingin pulang....!” Anak itu merengek-rengek dan suara rengekan­nya keluar dari dalam kuil tua di lereng bukit yang sunyi itu.

Wanita berpakaian merah itu menge­lus kepala Sian Li. “Sian Li, engkau bi­dadari kecil berpakaian merah yang ma­nis, tidak patut kalau engkau menangis....”

“Aku tidak menangis!” Anak itu mem­bantah. Dan memang tidak ada air mata keluar dari matanya. Ia hanya merengek, membanting kaki dan cemberut. “Aku ingin pulang, aku ingin tidur di kamarku sendiri, tidak di tempat jelek ini. Baunya tidak enak!”

“Bukankah engkau senang ikut de­nganku, Sian Li? Tadi engkau gembira sekali! Kenapa sekarang minta pulang?” Wanita itu mencoba untuk membujuk.

“Aku ingin ikut sebentar saja, bukan sampai malam. Aku ingin dekat Ayah dan Ibu. Mari antarkan aku pulang, Bibi.”

“Hemm, baiklah. Nanti kuantar, sini duduk di pangkuan Bibi, sayang. Engkau anak baik, engkau anak manis, engkau bidadari kecil merah....“

Ketika wanita itu meraih Sian Li dan dipangkunya, jari tangannya menekan tengkuk dan anak itu pun terkulai, se­ketika pingsan atau tertidur. Wanita itu merebahkan Sian Li di atas lantai yang bertilamkan daun-daun kering, meman­dang wajah ,anak itu yang tertimpa sinar api unggun yang dibuatnya, dan ia pun tersenyum.

“Anak manis.... ah, pantas menjadi anakku atau muridku.... aku berbahagia sekali mendapatkanmu, sayang....”

Siapakah wanita berpakaian merah ini? Di daerah Propinsi Hu-nan, namanya sudah dikenal oleh seluruh dunia kang-ouw, terutama golongan sesatnya. Selama beberapa tahun ini, ia merupakan seorang tokoh kang-ouw yang baru muncul, na­mun namanya segera tersohor karena kelihaiannya.

Orang-orang di dunia persilatan me­ngenal nama julukannya saja, yaitu Ang I Moli (Iblis Wanita Baju Merah). Nama­nya yang tak pernah dikenal orang ada­lah Tee Kui Cu dan ia tidaklah semuda nampaknya. Usianya sudah empat puluh tahun! Ia memang cantik manis, ditambah pesolek dengan riasan muka yang tebal, maka nampak berusia tiga puluh tahun. Wajahnya selalu putih karena be­dak, bibir dan pipinya merah karena yan-ci, dan alis mata, Juga bulu mata, hitam karena penghitam rambut.

Dugaan Kao Hong Li tentang Ang I Mopang yang hanya merupakan dugaan raba-raba itu memang tepat. Ada hubungan dekat sekali antara Ang I Moli Tee Kui Cu dengan Ang I Mopang, per­kumpulan yang pernah dibasmi oleh Kao Hong Li dan para pendekar itu. Wanita berpakaian merah ini adalah adik dari mendiang Tee Kok, yang pernah menjadi ketua Ang I Mopang. Ketika Ang I Mo­pang terbasmi oleh para pendekar, Tee Kui Cu dapat lolos dan ia pun mencari guru-guru yang pandai. Ia berhasil me­nyusup dan menjadi tokoh Pek-lian-kauw di mana ia mempelajari banyak macam ilmu silat, ilmu tentang racun dan obat, juga mempelajari ilmu sihir yang dikua­sai oleh para tokoh Pek-lian-kauw. Setelah merasa dirinya memperoleh ilmu yang cukup tinggi, ia meninggalkan Pek-lian-kauw dan ia pun kembali ke Kun­ming, mengumpulkan para bekas anggauta Ang I Mopang yang masih hidup, Ia lalu membangun tempat perkumpulan itu, dia mengangkat diri sendiri menjadi ketua!

Demikianlah riwayat singkat Ang I Moli Tee Kui Cu. Ia terkenal sebagai seorang ketua yang pandai menyenangkan hati para anak buahnya, memimpin kurang lebih lima puluh orang anggauta Ang I Mopang, dan hidup sebagai seorang ketua yang kaya. Dan dia pun suka sekali merantau, meninggalkan perkumpulan dalam pengurusan para pembantunya, dan ia sendiri berkelana sampal jauh, bukan hanya mencari pengalaman, melainkan juga untuk bertualang, mencari harta, mencari pria karena ia merupakan seo­rang wanita yang selalu haus oleh nafsu-nafsunya.

Dan pada pagi hari itu, tanpa sengaja ia melihat Sian Li. Melihat anak perem­puan berusia empat tahun yang mungil dan manis itu, dan terutama sekali melihat anak itu mengenakan pakaian serba merah, warna kesukaannya dan bahkan warna yang menjadi lambang dari per­kumpulannya, hatinya tertarik dan suka sekali. Ia lalu menculik Sian Li dengan niat mengambil anak perempuan itu se­bagai anaknya dan juga muridnya.

Dengan sikap menyayang ia menge­luarkan selimut dan menyelimuti tubuh Sian Li yang sudah pulas atau pingsan oleh tekanan jarinya, pada jalan darah di tengkuk anak itu. Kemudian ia me­nambahkan kayu bakar pada api unggun yang dibuatnya di dalam kuil tua kosong itu, api unggun yang perlu sekali untuk mengusir nyamuk dan hawa dingin.

Tiba-tiba, pendengarannya yang tajam terlatih menangkap sesuatu dan ia pun melompat bangun. Sebagai seorang wani­ta yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, ia tabah sekali dan tidak tergesa menge­luarkan pedangnya sebelum diketahui benar siapa yang datang memasuki kuil pada waktu itu.

Sesosok bayangan muncul, memasuki ruang kuil di mana Ang I Moli berada. Bayangan itu tidak berindap-indap, me­lainkan langsung saja melangkah dengan langkah kaki berat menghampiri ruangan. Ketika bayangan itu muncul, ternyata dia adalah Yo Han yang memasuki ruangan dengan langkah gontai agak ter­huyung karena kelelahan!

“Ahh, kiranya engkau....!” Ang I Moli berkata dengan hati lega, akah tetapi juga ia memandang heran. Bagaimana anak laki-laki ini dapat menyusulnya? Bagaimana dapat membayanginya dan ta­hu bahwa ia berada di kuil tua itu?

Yo Han sendiri tidak mengerti dan tidak mampu menjawab kalau pertanyaan itu diajukan kepadanya. Ketika dia lari meninggalkan rumah suhunya, dia tidak mempunyai tujuan. Dia tidak tahu ke mana harus mencari penculik Sian Li. Maka dia pun membiarkan dirinya terbawa oleh sepasang kakinya yang berlari. Dia tidak sadar lagi bahwa dia bukan berlari menuju ke tepi sungai di mana adiknya tadi diculik orang, bahkan dia lari keluar dari kota Ta-tung dengan arah yang berlawanan dengan tepi sungai itu! Dia berlari terus sampai akhirnya dia tiba di tepi sungai lagi, akan tetapi bukan di tempat tadi Sian Li diculik orang. Dan dia berlari terus, menyusuri sepanjang tepi sungai, ke atas. Setelah matahari naik tinggi, dia pun terguling ke atas lapangan rumput di tepi sungai dan langsung saja dia tertidur. Tubuhnya tidak kuat menahan karena dia berlari terus sejak tadi tanpa berhenti.

Setelah dia terbangun, matahari sudah condong ke barat. Dan begitu bangun, dia teringat bahwa dia harus mencari Sian Li. Dia bangkit lagi dan kembali kedua kakinya berlari, tanpa tujuan akan tetapi makin mendekati sebuah bukit yang berada jauh di depan. Dia tidak peduli ke mana kakinya membawa dirinya. Kesadarannya hanya satu, yakni bahwa dia harus menemukan kembali Sian Li dan yang teringat olehnya hanyalah bah­wa kalau Tuhan menghendaki, dia pasti akan dapat mengajak Sian Li pulang! Keyakinan ini timbul sejak dia kecil, se­jak dia dapat membaca dan mengenal akan kebesaran dan kekuasaan Tuhan melalui bacaan.

Yang ada hanya kewaspadaan, yang ada hanya kepasrahan. Tidak ada aku yang waspada, tidak ada aku yang pasrah. Selama ada “aku”, kewaspadaan dan kepasrahan itu hanyalah suatu cara untuk memperoleh sesuatu. Aku adalah ingatan, aku adalah nafsu dan aku selamanya berkeinginan, berpamrih. Kalau nafsu yang memegang kemudi, apa pun yang kita lakukan hanya merupakan cara untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan, dan karenanya mendatangkan pertentangan dan kesengsaraan. Senang susah bersilih ganti, puas kecewa saling berkejaran, rasa takut atau khawatir selalu memba­yangi hidup. Takut kehilangan, takut gagal, takut menderita takut sakit, takut mati. Gelisah menghantui pikiran. Kepa­srahan yang wajar, bukan dibuat-buat oleh si-aku, bukan kepasrahan berpamrih, kepasrahan akan segala yang sudah, se­dang dan akan terjadi, menyerah dengan tawakal sabar dan ikhlas terhadap kekuasaan Tuhan, berarti kembali kepada ko­dratnya.

Yo Han terus berjalan, kadang berlari mendaki bukit dan ketika dia tiba di le­reng bukit, malam pun tiba. Dia melihat kuil tua itu, dan ketika dia menghampiri, dia melihat pula sinar api unggun dari dalam kuil. Dia memasuki ruangan itu dan.... dia melihat Sian Li dan wanita berpakaian merah. Sian Li sudah tidur berselimut, dan wanita berpakaian merah itu berdiri dan menatapnya dengan sinar mata tajam!

Sejenak mereka berpandangan dan wanita itu terkekeh geli. “Kiranya eng­kau? Bagaimana engkau dapat menyusul­ku ke sini? Dan mau apa engkau menge­jar aku?”

Yo Han menarik napas panjang, tera­sa amat lega hatinya. Begitu dia dapat menemukan Sian Li, seolah dia baru ba­ngun dari tidur yang penuh mimpi. Baru sekarang dia merasa betapa dingin dan lelah tubuhnya. Dengan kedua kaki lemas dia pun menjatuhkan diri, duduk di atas rumput kering, dekat api unggun.

Bibi yang baik, kenapa engkau mela­kukan ini? Apa yang kaulakukan ini sungguh tidak baik, menyengsarakan orang lain dan juga amat membahayakan diri Bibi sendiri,” katanya lirih namun jelas dan dia memandang ke arah api unggun, di mana lidah-lidah api merah kuning menari-nari dan menjilat-jilat.

Ang I Moli juga duduk lagi bersila dekat api unggun, menatap wajah anak laki-laki itu dengan penuh keheranan dan keinginan tahu, juga kagum karena anak itu bersikap demikian tenang dan dewasa, bahkan begitu datang mengeluarkan ucapan lembut yang seperti menegur dan menggurui!

“Bocah aneh, apa maksud kata-katamu itu?” tanyanya, ingin sekali tahu selan­jutnya apa yang akan dikatakan anak yang bersikap demikian tenang saja. Bagaimana ia tidak akan merasa heran melihat seorang anak belasan tahun be­rani menghadapinya setenang itu, pada­hal anak itu mengejar ia yang melarikan adiknya? Orang dewasa pun, bahkan orang yang memiliki kepandaian pun, akan gemetar kalau berhadapan dengan­nya. Akan tetapi anak ini tenang saja, bahkan menegurnya.

“Bibi, kenapa engkau melarikan adikku Sian Li ini? Itu namanya menculik, dan itu tidak baik sama sekali. Bibi membi­kin susah ayah ibu anak ini, juga menyengsarakan aku yang menerima teguran. Apakah Bibi sudah pikir baik-baik bahwa perbuatan Bibi ini sungguh keliru sekali?”

Tokoh kang-ouw yang di juluki Iblis Betina (Moli) itu bengong! Akan tetapi juga kagum akan keberanian anak ini, dan juga merasa geli. Alangkah lucunya kalau di situ hadir orang-orang kang-ouw mendengar ia ditegur dan diwejang oleh seorang anak laki-laki yang berusia pa­ling banyak dua belas tahun! Ia menahan kegelian hati yang membuat ia ingin ter­tawa terpingkal-pingkal, lalu bertanya lagi,

“Dan apa yang kaumaksudkan dengan perbuatanku ini membahayakan diriku sendiri?”

“Bibi yang baik, engkau tidak tahu siapa anak yang kaularikan ini. Ayah dari ibunya kini mencari-carimu dan ke mana pun engkau pergi, akhirnya mereka akan dapat menemukanmu dan kalau sudah begitu, siapa berani menanggung kesele­matanmu?”

Ang I Moli tidak dapat menahan geli hatinya lagi. Ia tertawa terkekeh-kekeh sampai kedua matanya menjadi basah air mata. “Hi-hi-heh-heh-heh! Kau berani menggertak dan menakut-nakuti aku? Aku suka kepada Sian Li, aku mau me­ngambil sebagai anakku, sebagai muridku Aku tidak takut menghadapi siapapun juga. Lalu engkau menyusulku ke sini mau apa?”

“Bibi, untuk apa membawa Sian Li yang masih kecil ini? Hanya akan mere­potkanmu saja. Ia manja, bengal dan bandel, tentu hanya akan membuat Bibi repot dan banyak jengkel. Kalau Bibi membutuhkan seorang yang dapat membantu Bibi dalam pekerjaan rumah tangga atau mau mengambil murid, biar kugan­tikan saja. Jangan Sian Li yang masih terlalu kecil. Saya akan mengerjakan apa saja yang Bibi perintahkan, sebagai peng­ganti Sian Li. Akan tetapi Sian Li harus dikembalikan kepada Suhu dan Subo.”

“Oooo, jadi ayah ibu anak ini adalah suhu dan subomu? Sian Li bukan adikmu sendiri?”

“Ia adalah sumoi-ku (adik seperguru­an), Bibi.”

“Hemm, menurut engkau, kalau suhu dan subomu dapat mengejarku, aku bera­da dalam bahaya. Begitukah?” Ia terse­nyum mengejek. Tentu saja, ia tidak takut akan ancaman orang tua anak pe­rempuan yang diculiknya.

“Aku tidak menakut-nakutimu, Bibi. Suhu dan Subo, adalah dua orang yang memiliki kepandaian silat tinggi, merupa­kan suami isteri pendekar yang sakti!”

“Eh? Dan engkau murid mereka, me­nangkap kupu-kupu saja tidak becus? Hi-hi-hik!” Wanita itu tertawa geli. Yo Han tidak merasa malu, hanya memandang dengan sikap sungguh-sungguh.

“Aku tidak belajar silat dari mereka, melainkan kepandaian lain yang lebih berguna. Akan tetapi aku tidak berbo­hong. Mereka amat lihai, Bibi, dan eng­kau bukanlah tandingan mereka”

Ang I Moli menjadi marah bukan main. Ucapan terakhir itu menyinggung keangkuhannya dan dianggap merendahkan, bahkan menghina. Sekali bergerak, ia sudah berada di dekat Yo Han dan mencengkeram pundak anak itu. Yo Han merasa pundaknya nyeri, akan tetapi sedikit pun dia tidak mengeluh atau menggerakkan tubuhnya, seolah cengke­raman itu tidak terasa sama sekali.

“Bocah sombong! Sekali aku mengge­rakkan tangan ini, lehermu dapat kupa­tahkan dan nyawamu akan melayang!”

Wanita itu diam-diam merasa heran bukan main. Anak yang telah dicengke­ram pundaknya itu sedikit pun tidak memperlihatkan rasa takut. Masih te­nang-tenang saja seperti tidak terjadi apa-apa, bahkan suaranya pun masih te­nang dan penuh teguran dan nasihat.

“Nyawaku berada di tangan Tuhan, Bibi. Engkau berhasil membunuhku atau tidak, kalau engkau tidak mengembalikan Sian Li, sama saja. Engkau akan mengalami kehancuran di tangan Suhu dan Subo. Sebaliknya kalau engkau me­ngembalikan Sian Li dan mau menerima aku sebagai gantinya, aku dapat minta kepada Suhu dan Subo untuk menghabiskan perkara penculikan Sian Li.”

Ang I Moli yang sudah menjadi marah dan tersinggung, hendak menggunakan tangannya mencengkerem leher anak itu dan membunuhnya. Akan tetapi pada saat itu ketika tangannya mencengkeram pundak, ia merasakan sesuatu yang aneh. Ada getaran di dalam pundak itu, getar­an yang lembut namun mengandung ke­kuatan dahsyat yang membuat ia merasa seluruh tubuhnya tergetar pula. Ia mera­sa heran lalu menggunakan jari-jari ta­ngannya untuk memeriksa tubuh anak itu. Dirabanya leher, pundak, dada dan pung­gung dan ia semakin terheran-heran. Anak ini memiliki tulang yang kokoh kuat dan jalan darahnya demikian sem­purna. Inilah seorang anak yang memiliki bakat yang luar biasa sekali. Belum ten­tu dalam sepuluh ribu orang anak mene­mukan seorang saja seperti ini! Tubuh yang agaknya memang khusus diciptakan untuk menjadi seorang ahli silat yang hebat. Dan wataknya demikian teguh, tenang dan penuh keberanian. Akan teta­pi anak ini mengaku tidak mempelajari ilmu silat! Biarpun demikian, anak ini mengatakan bahwa suhu dan subonya adalah dua orang sakti! Kiranya bukan bualan kosong saja karena hanya orang orang sakti yang dapat memilih seorang murid dengan bentuk tulang, jalan darah dan sikap sehebat anak ini.

“Brrttt...!” Sekali menggerakkan kedua tangan, baju yang dipakai anak itu robek dan direnggutnya lepas dari badan. Kini Yo Han bertelanjang dada. Ang I Moli bukan hanya meraba-raba, kini juga me­lihat bentuk dada itu. Dan ia terpesona. Bukan main!

Ia tadi sudah memeriksa keadaan tubuh Sian Li. Memang seorang anak yang memiliki tubuh baik pula, bertulang baik berdarah bersih. Akan tetapi dibandingkan anak laki-laki ini, jauh bedanya, tidak ada artinya lagi!

“Anak yang aneh,” katanya sambil ta­ngannya masih meraba-raba dada dan punggung yang, telanjang itu. “Siapa na­mamu?”

“Aku she Yo, namaku Han.”

“Yo Han...? Siapa orang tuamu?”

“Aku yatim piatu. Pengganti orang tuaku adalah Suhu dan Subo.”

“Siapa sih suhu dan subomu yang kau­puji setinggi langit itu.”

“Aku bukan sekedar memuji kosong atau membual, Bibi. Suhuku bernama Tan Sin Hong berjuluk Pendekar Bangau Putih dan Suboku bernama Kao Hong Li, cucu Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir.”

Ang I Moli menelan ludah! Sungguh sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa anak yang diculiknya adalah pute­ri dari suami isteri pendekar sakti itu! Tentu saja ia pernah mendengar akan nama mereka. Bahkan mereka adalah dua diantara para pendekar yang pernah membasmi Ang i Mopang! Mereka ter­masuk musuh-musuh lama dari kakaknya, dari Ang I Mopang. Akan tetapi ia pun tidak begitu tolol untuk memusuhi mere­ka. Biarpun ia sendiri belum pernah me­nguji sampai di mana kehebatan ilmu mereka, namun tentu saja jauh lebih aman untuk tidak mencari permusuhan baru dengan mereka.

Melihat wanita berpakaian merah itu diam saja, Yo Han melanjutkan. “Nah, engkau tahu bahwa aku bukan mengger­tak belaka. Tentu engkau pernah men­dengar nama mereka. Sekarang, bagaima­na kalau engkau mengembalikan Sian Li kepada mereka, Bibi?”

Ang I Moli mengamati wajah Yo Han dengan penuh perhatian. “Kalau aku mengembalikan Sian Li, engkau mau ikut bersamaku dan menjadi muridku?”

“Sudah kukatakan bahwa aku suka menggantikan Sian Li. Bagiku yang pen­ting aku harus dapat mengajak Sian Li pulang ke rumah Suhu dan Subo. Setelah aku mengantar ia pulang, aku akan ikut bersamamu.”

“Hemm, kaukira aku begitu goblok? Kalau aku membiarkan engkau mengajak ia pulang, tentu engkau tidak akan kem­bali kepadaku. Yang datang kepadaku tentu suami isteri itu untuk memusuhiku.”

Yo Han mengerutkan alisnya, meman­dang kepada wanita itu. Ang I Moli ter­kejut. Sepasang mata anak itu mencorong seperti mata harimau di tempat gelap tertimpa sinar!

“Bibi, aku tidak sudi melanggar janji­ku sendiri! Juga, hal itu akan membikin Suhu dan Subo marah kepadaku. Kami bukan orang-orang yang suka me­nyalahi janji.”

“Baik, mari, sekarang juga kita bawa Sian Li kembali ke rumah orang tuanya.”

Biarpun tubuhnya sudah terlalu penat untuk melakukan perjalanan lagi, namun Yo Han menyambut ajakan ini dengan gembira. “Baik, dan terima kasih, Bibi. Ternyata engkau bijaksana juga.”

Ang I Moli memondong tubuh Sian Li. “Mari kau ikuti aku.”

Melihat wanita itu lari keluar kuil, Yo Han cepat mengikutinya. Akan tetapi, Ang I Moli hendak menguji Yo Han, apa­kah benar anak ini tidak pandai ilmu silat. Ia. berlari cepat dan sebentar saja Yo Han tertinggal jauh.

“Bibi, jangan cepat-cepat. Aku akan sesat jalan. Tunggulah!”

Ang I Moli menanti, diam-diam mera­sa sangat heran. Kalau anak itu murid suami isteri pendekar yang namanya amat terkenal itu, bagaimana begitu le­mah? Menangkap kupu-kupu saja tidak mampu, dan diajak berlari cepat sedikit saja sudah tertinggal jauh. Padahal, anak itu memiliki tubuh yang amat baik. Ke­lak ia akan menyelidiki hal itu. Ketika ia memeriksa tubuh Yo Han tadi, bukan saja ia mendapatkan kenyataan bahwa anak itu dapat menjadi seorang ahli silat yang hebat, juga mendapat kenyataan lain yang mengguncangkan hatinya. Anak itu memiliki darah yang bersih dan kalau ia dapat menghisap hawa murni dan da­rah anak laki-laki itu melalui hubungan badan, ia akan mendapatkan obat kuat dan obat awet muda yang amat ampuh!

Tidak lama mereka berjalan karena Ang I Moli membawa mereka ke tepi sungai, lalu ia mengeluarkan sebuah pe­rahu yang tadinya ia sembunyikan di dalam semak belukar di tepi sungai.

“Kita naik perahu, agar dapat cepat tiba di Ta-tung,” kata Ang I Moli dan ia menyeret perahu ke tepi sungai, di­bantu oleh Yo Han. Tak lama kemudian, mereka pun sudah naik ke perahu yang meluncur cepat terbawa arus air sungai dan didayung pula oleh Yo Han, dikemudikan oleh dayung di tangan wanita pa­kaian merah itu. Sian Li masih pulas, rebah miring di dalam perahu.

Melalui air, perjalanan tentu saja ti­dak melelahkan, apalagi karena mereka mengikuti aliran air sungai, bahkan jauh lebih cepat dibandingkan perjalanan me­lalui darat. Maka, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka sudah mendarat di tempat di mana kemarin Ang I Moli bertemu dengan Yo Han dan Sian Li.

Nah, bawalah ia pulang, dan kau cepat kembali ke sini. Kutunggu,” kata Ang I Moli kepada Yo Han. Ia menotok punggung Sian Li dan anak ini pun sadar, seperti baru terbangun dari tidur.

Sian Li girang melihat Yo Han di situ dan Yo Han segera memondongnya, me­natap wajah wanita itu dan berkata, “Engkau percaya kepadaku, Bibi?”

Ang I Moli tersenyum. “Tentu saja. Kalau engkau membohongiku sekali pun, engkau takkan dapat lolos dari tanganku!

“Aku takkan bohong!” kata Yo Han dan dia pun membawa Sian Li keluar da­ri perahu, lalu berjalan secepatnya me­nuju pulang. Hatinya merasa lega dan gembira bukan main karena dia telah berhasil membawa pulang Sian Li seperti telah dijanjikannya kepada suhu dan su­bonya. Dia telah bertanggung jawab atas kehilangan adiknya itu, dan kini dia telah memenuhi janji dan tanggung lawabnya.

***

Tan Sin Hong dan isterinya, Kao Hong Li, semalam tadi tidak dapat pulas sejenak pun dan pagi-pagi sekali mereka sudah bangun. Dengan wajah muram dan rambut kusut mereka duduk di beranda depan seperti orang-orang yang menanti­kan sesuatu. Memang mereka menanti pulangnya Yo Han, kalau mungkin ber­sama Sian Li yang diculik orang. Hong Li menganggap hal ini tidak mungkin, hanya harapan kosong belaka dan sia-sia. Akan tetapi suaminya berkeras hendak menanti kembalinya Yo Han sampai tiga hari!

“Yo Han....” Tiba-tiba Sin Hong ber­seru.

Hong Li yang sedang menunduk ter­kejut, mengangkat mukanya dan wajahnya seketika berseri, matanya bersinar-sinar, seperti matahari yang baru muncul dari balik awan hitam.

“Sian Li....!” Ia pun meloncat dan lari menyambut Yo Han yang datang memon­dong adiknya itu.

“Ibu....! Ayah....!” Sian Li bersorak gi­rang dan ia merssa terheran-heren ketika ibunya merenggutnya dari pondongan Yo Han, mendekap dan menciuminya dengan kedua mata basah air mata!

“Ibu.... menangis? Tidak boleh mena­ngis, Ibu tidak boleh cengeng dan lemah!” Sian Li menirukan kata-kata ayah dan ibunya kalau ia menangis. Ibunya yang masih basah kedua matanya itu terse­nyum.

“Tidak, ibu tidak menangis. Ibu ber­gembira....!”

Sin Hong sudah menyambut Yo Han dan memegang tangan murid itu, mena­tapnya sejenak lalu berkata, “Mari masuk dan kita bicara di dalam.”

Mereka duduk di ruangan dalam, me­ngelilingi meja. Sian Li dipangku oleh ibunya yang memeluknya seperti takut akan kehilangan lagi.

“Nah, ceritakan bagaimana engkau dapat mengajak pulang adikmu, Yo Han,” kata Sin Hong. Hong Li memandang de­ngan penuh kagum, heran dan juga ber­sukur bahwa muridnya itu benar-benar telah mampu mengembalikan Sian Li kepadanya. Padahal ia sendiri dan suami­nya sudah mencari-cari sampai sehari penuh tanpa hasil, bahkan tidak dapat menemukan jejak Sian Li dan penculiknya.

“Suhu dan Subo, ketika teecu pergi hendak mencari adik Sian Li, teecu se­gera berlari ke luar kota, melalui pintu gerbang selatan. Sehari kemarin teecu berlari dan berjalan terus dan pada ma­lam hari tadi, teecu tiba di lereng se­buah bukit. Teecu melihat sebuah kuil dan ada sinar api unggun dari dalam kuil. Teecu memasuki kuil tua yang kosong itu dan di situlah teecu melihat Adik Sian Li tidur dijaga oleh wanita pakaian merah itu.”

“Akan tetapi, Yo Han. Bagaimana engkau bisa tahu bahwa adikmu dibawa ke tempat itu oleh penculiknya?” Hong Li bertanya dengan heran.

“Teecu juga tidak tahu bagaimana Adik Sian Li bisa berada di dalam kuil itu, Subo....”

“Aku diajak naik perahu oleh Bibi ba­ju merah. Ia baik sekali, Ibu. Kami me­nangkap ikan dan Bibi memasak ikan untukku. Enak sekali! Setelah turun dari perahu, kami berjalan-jalan ke lereng bu­kit dan memasuki kuil tua itu, Setelah malam menjadi gelap, aku ingin pulang, mengajaknya pulang dan.... dan.... aku lupa lagi, tertidur.”

Sin Hong bertukar pandang dengan isterinya. Pantas usaha mereka mencari jejak gagal. Kiranya anak mereka dibawa naik perahu oleh penculiknya.

“Yo Han, kalau engkau tidak tahu bahwa Sian Li dibawa ke kuil tua itu, bagaimana engkau dapat langsung pergi ke sana?” Sin Hong mendesak, meman­dang tajam penuh selidik.

Yo Han menarik napas panjang dan menggeleng kepalanya. “Teecu tidak tahu Suhu. Teecu membiarkan kaki berjalan tanpa tujuan, ke mana saja untuk men­cari adik Sian Li. Dan tahu-tahu teecu tiba di sana dan menemukan mereka.”

“Tapi, bagaimana penculik itu mem­biarkan engkau mengajak Sian Li pulang? Bagaimana engkau dapat menundukkan­nya?” Hong Li bertanya, semakin heran dan merasa bulu tengkuknya meremang karena ia mulai merasa bahwa ada “se­suatu” yang ajaib telah terjadi pada diri muridnya itu.

Yo Han tersenyum memandang subo­nya, lalu memandang suhianya. “Teecu membujuknya untuk membiarkan teecu membawa adik Sian Li pulang. Ia tidak tahu bahwa adik Sian Li adalah puteri Suhu dan Subo. Teecu beritahu kepadanya dan mengatakan bahwa kalau ia tidak mengembalikan Sian Li, tentu Suhu dan Subo akan dapat menemukannye dan ia akan celaka. Teecu mengatakan bahwa kalau ia mau menyerahkan kembali Sian Li, teecu yang akan menggantikan adik Sian Li menjadi muridnya, menjadi pela­yannya, dan ikut dengannya. Nah, ia setuju dan teecu membawa adik Sian Li, pulang. Akan tetapi teecu harus segera kembali kepadanya. Ia masih menunggu teecu di tepi sungai....”

“Yo Han! Engkau hendak ikut dengan penculik itu? Ah, aku tidak akan mem­biarkan! Menjadi murid seorang penculik jahat? Tidak boleh!” kata Hong Li marah. “Aku bahkan akan menghajar iblis itu!”

Kao Hong Li sudah meloncat dengan marah, akan tetapi gerakannya terhenti ketika terdengar Yo Han berseru, ,”Subo, jangan!”

“Hah? Iblis itu menculik anakku, ke­mudian menukarnya dengan engkau untuk dibawa pergi. Dan engkau melarang aku untuk menghajar iblis itu?”

“Maaf, Subo. Apakah Subo ingin meli­hat murid Subo menjadi seorang rendah yang melanggar janjinya sendiri, menjilat ludah yang sudah dikeluarkan dari mulut?”

“Ehhh....? Apa maksudmu?”

“Subo, bagaimanapun juga, teecu (mu­rid) adalah murid Subo. Teecu sudah ber­janji kepada wanita berpakaian merah itu bahwa setelah teecu mengantar Sian Li pulang, teecu akan kembali kepadanya dan menjadi muridnya, pergi ikut de­ngannya. Kalau teecu sudah berjanji, lalu sekarang teecu tidak kembali kepadanya, bahkan Subo akan menghajarnya, bukan­kah bererti teecu melanggar janji sendi­ri?”

“Tidak peduli akan janjimu itu! Eng­kau tidak perlu melanggar janji, engkau pergilah kepadanya. Akan tetapi aku tetap saja akan menemuinya dan meng­hajarnya!” kata Hong Li dengan marah.

“Subo!” kata pula Yo Han dan suara­nya tegas. “Kenapa Subo hendak mengha­jar wanita itu? Kalau Subo melakukan itu, berarti Subo jahat!”

“Ehhh?” Hong Li terbelalak meman­dang kepada anak itu.

“Yo Han!” kata pula Sin Hong. “Subo­mu hendak menghajar penculik kenapa engkau katakan jahat?” Dia bertanya hanya karena ingin tahu isi hati anak itu yang amat dikaguminya sejak dia ta­di mendengarkan kata-kata anak itu ke­pada isterinya.

“Suhu, wanita berpakaian merah itu memang benar tadinya hendak melarikan Sian Li, akan tetapi ia bersikap baik terhadap Sian Li, dan ia melarikannya, karena ingin mengambilnya sebagai murid. Ia sayang kepada Sian Li. Kemudian, teecu menemukannya dan teecu membu­juk agar ia mengembalikan Sian Li. Dan ia sudah memperbolehkan Sian Li teecu bawa pulang. Teecu sendiri yang berjanji untuk ikut dengannya. Kalau sekarang Subo dan Suhu menghajarnya, bukankah itu sama sekali tidak benar?”

Sin Hong memberi isarat dengan pan­dang matanya kepada isterinya lalu me­narik napas panjang dan berkata kepada muridnya itu. “Baiklah kalau begitu, Yo Han. Kami tentu saja tidak menghendaki engkau menjadi seorang yang melanggar janjimu sendiri. Engkau sudah yakin ingin menjadi murid wanita itu? Kalau engkau ingin memperoleh guru yang baik, tem­pat tinggal yang lain, kami sanggup mencarikannya yang amat baik untukmu.”

Yo Han menggeleng kepalanya. “Tidak Suhu. Teecu akan ikut dengan wanita itu seperti telah teecu janjikan. Teecu akan berangkat sekarang juga agar ia tidak terlalu lama menunggu.” Dia lalu pergi ke dalam kamarnya, mengambil buntalan pakaian yang memang telah, dia persiap­kan semalam. Memang semalam dia su­dah merencanakan untuk pergi mening­galkan rumah itu, akan tetapi karena hatinya terasa berat meninggalkan Sian Li, pagi itu ia ingin menyenangkan Sian Li dengan mengajaknya bermain-main di tepi sungai sebelum dia pergi.

Suami isteri itu juga merasa heran melihat demikian cepatnya Yo Han me­ngumpulkan pakaiannya karena sebentar saja anak itu sudah menghadap mereka kembali. Yo Han menjatuhkan diri ber­lutut di depan kedua orang gurunya.

“Suhu dan Subo, teecu menghaturkan terima kasih atas segala budi kebaikan yang telah dilimpahkan kepada teecu, terima kasih atas kasih sayang yang te­lah dicurahkan kepada teecu. Dan teecu mohon maaf apabila selama ini teecu melakukan banyak kesalahan dan mem­buat Suhu dan Subo menjadi kecewa. Teecu mohon diri, Suhu dan Subo” Sua­ranya tegas dan sikapnya tenang, sama sekali tidak nampak dia berduka, tidak hanyut oleh perasaan haru.

“Baiklah, Yo Han. Kalau memang ini kehendakmu. Dan berhati-hatilah engkau menjaga dirimu,” kata Sin Hong.

“Setiap waktu kalau engkau menghen­daki, kami akan menerimamu kembali dengan hati dan tangan terbuka, Yo Han,” kata pula Kao Hong Li, dengan hati terharu. Terasa benar ia betapa ia menyayang murid itu seperti kepada adik atau anak sendiri.

“Terima kasih, Suhu dan Subo” Yo Han membalikkan tubuhnya dan hendak pergi.

“Suheng, aku ikut....!” Tiba-tiba Sian Li yang sejak tadi melihat dan mende­ngarkan saja tanpa mengerti benar apa yang mereka bicarakan, kini turun dari pangkuan ibunya dan berlari menghampiri Yo Han.

Yo Han memondong anak itu dan mencium kedua pipi dan dahinya, lalu menurunkannya kembali. “Sian Li, aku mau pergi dulu, engkau tidak boleh ikut. Engkau bersama ayah dan ibumu di sini. Kelak kita akan bertemu kembali, adik­ku.” Dan dengan cepat Yo Han lari meninggalkan anak itu, tidak tega mende­ngar ratap tangisnya dan melihat wajah­nya.

“Suheng! Aku ikut...., aku ikut...... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Kho Ping Hoo - BKS#01 - Bu Kek Siansu
Kho Ping Hoo - BKS#02 - Suling Mas
Kho Ping Hoo - BKS#03 - Cinta Bernoda Darah
Kho Ping Hoo - BKS#04 - Mutiara Hitam
Kho Ping Hoo - BKS#05 - Istana Pulau Es
Kho Ping Hoo - BKS#06 - Pendekar Bongkok
Kho Ping Hoo - BKS#07 - Pendekar Super Sakti
Kho Ping Hoo - BKS#08 - Sepasang Pedang Iblis
Kho Ping Hoo - BKS#09 - Kisah Sepasang Rajawali
Kho Ping Hoo - BKS#10 - Jodoh Rajawali
Kho Ping Hoo - BKS#11 - Suling Emas Dan Naga Siluman
Kho Ping Hoo - BKS#12 - Kisah Para Pendekar Pulau Es
Kho Ping Hoo - BKS#13 - Suling Naga
Kho Ping Hoo - BKS#14 - Kisah Si Bangau Putih
Kho Ping Hoo - BKS#15 - Si Bangau Merah
Kho Ping Hoo - BKS#16 - Si Tangan Sakti
Kho Ping Hoo - BKS#17 - Pusaka Pulau Es


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.145.122.109
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia