Kho Ping Hoo - BKS#02 - Suling Mas
Suling Mas

Seri : Bu Kek Siansu #02

Karya : Asmaraman S Kho Ping Hoo

Pada jaman lima wangsa ( th.907- 960 ) , kerajaan Nan-Cao merupakan negara kecil di propinsi Yu-Nan sebelah selatan. Mungkin karena kecilnya kerajaan ini tidak dipandang mata oleh kerajaan lain, juga oleh kerajaan Sung yang kemudian di bangun.

Akan tetapi, pada pagi hari di pertengahan musim chun ( semi ) itu, banyak sekali tokoh-tokoh terkenal di dunia kang-ouw termasuk ketua-ketua perkumpulan dari pelbagai aliran, orang-orang muda yang patut di sebut pendekar silat, dan orang-orang aneh yang memiliki kesaktian, Datang membanjiri Nan-cao. Apakah gerangan yang menarik para kelana dan pe tualangan itu mendatangi Nan-cao? Ada pula hal yang menarik mereka berdatangan dari tempat-tempat yang amat jauh.

Pertama adalah pengangkatan Beng-kauw ( Ketua Agama Beng-kauw ) sebagai Koksu ( Guru Negara ) Kerajaan Nan Cao. Mereka berdatangan untuk memberi selamat kepada Ketua Beng-kauw yang sudah amat terkenal di dunia kang-ouw. Siapakah tidak mengenal Ketua Agama Beng-kauw yang bernama Liu Gan dan berju-luk Pat-jiu Sin-ong ( Raja Sakti Berlengan Delapan ) Itu ? Pada masa itu, Pat-jiu Sin-ong Liu gan merupakan tokoh gemblengan yang jarang ditemukan keduanya, jarang menemukan tanding. Selain memiliki kesaktian hebat, Pat-jiu Sin-ong Liu Gan juga merupakan pendiri Agama Beng-kauw atau pembawa agama itu dari barat. Tidaklah mengherankan kalau apabila kini tokah-tokoh dari partai persilatan besar seperti Siauw lim-pai, Kun-lun-pai, Hoa-san-pai, dan lain-lain mengirim utusan untuk menghaturkan selamat atas pengangkatan tokoh sakti ini sebagai Koksu Kerajaan Nan-cao.

Adapun hal kedua yang meyebabkan terutama kaum muda, para pendekar perkasa dari pelbagai penjuru dunia ikut pula berdatangan, adalah tersiarnya berita bahwa puteri tunggal Pat-jiu Sin-ong hendak mempergunakan kesempatan berkumpulnya para tokoh persilatan itu untuk mencari jodoh ! Tentu saja hal ini menggegerkan dunia kaum muda, menggerakan hati mereka untuk ikut datang mempergunakan kesempatan baik mengadu untung. Siapa tahu ! Nama Liu Lu Sian, puteri Ketua Beng Kauw itu sudah terkenal di mana-mana. Terkenal sebagai seorang gadis yang selain tinggi ilmu silatnya, juga memiliki kecantikan seperti dewi khayangan. Terkenal pula betapa gadis jelita ini telah berani menolak pinangan-pinangan yang datangnya dari orang-orang besar, dari putera-putera para ketua perkumpulan, bahkan menolak pula pinangan dari istana beberapa kerajaan !

Tentu saja para pemuda inipun sebagian besar hanya ingin menyaksikan sendiri bagaimana ujud rupa dan bentuk dara yang terkenal itu, karena jarang diantara mereka yang pernah melihat Liu Lu Sian. Yang pernah bertemu dengan gadis ini memuji-muji setinggi langit, terutma sekali tentang kecantikannya, yang menjadi buah bibir para muda, bahkan entah siapa orangnya yang membuat, telah ada sajak pujian bagi Liu Lu Sian.

"Rambutnya Halus licin laksana sutera harum melambai, meraih cinta asmara ! Mata indah, kerling tajam menggunting jantung, bulu mata lentik berkedip mesra membuat bingung ! Hidung mungil, halus laksana lilin diraut, cuping tipis bergerak mesra menambah patut ! Hangat lembut, merah basah juwita Gendewa terpentang berisi sari madu Puspita !"

Banyak lagi puji-puji yang mesra bagi kejelitaan dara ayu Liu Lu Sian, yang dikagumi siapa yang pernah melihatnya, dipuji dari ujung rambut sampai ke telapak kakinya ! Memang sesungguhnyalah, Liu Lu Sian seorang dara jelita.

Usianya baru enam belas tahun (pada jaman itu sudah dewasa dan masak) Namun ilmu silatnya amat tinggi. Hal ini tidak mengherankan karena semenjak kecilnya ia digembleng oleh ayahnya sendiri. Hanya sayang bahwa sejak berusia dua tahun, Liu Lu Sian telah ditinggal mati ibunya. Ia tidak pernah merasa kasih sayang ibu kandung dan mungkin hal ini yang membuat ia menjadi seorang gadis yang berwatak aneh, riang gembira, lucu jenaka, akan tetapi juga liar bebas, tak terkekang ingin menang dan berkuasa saja, tidak mau tunduk kepada siapapun juga.

Para muda yang mendatangi Nan-Cao semua tahu belaka betapa sukarnya memperoleh gadis puteri ketua Beng-kauw itu. Bagaikan setangkai bunga, Lu Sian adalah bunga dewata yang tumbuh di puncak gunung yang amat tinggi dan sukar didapatkan.

Dara itu puteri tunggal Pat-Jiu Sin-ong yang sakti, yang tentu saja menghendaki seorang mantu pilihan, baik dipandang dari sudut keturunan, keadaan, maupun tingkat kepandainnya. Bahkan kabarnya dara itu hanya mau menjadi isteri seorang pendekar muda yang mampu mengalahkan dirinya ! Namun, para muda yang sudah dimabok asmara, bagaikan serombongan semut yang tertarik oleh harum dan manisnya madu, tidak takut bahaya, berusaha mendapatkannya biarpun bahaya mengancam nyawa.

Tiada hentinya para muda itu mempercakapkan tentang Lu Sian, memuji-muji kecantikannya, menyatakan harapan-harapan muluk ketika mereka bermalam dirumah-rumah penginapan di kota raja sambil menanti saat dibukanya kesempatan bagi mereka untuk memasuki halaman gedung Pat-jiu Sin-ong beberapa hari lagi, dimana selain hendak ikut memberi selamat, merekapun berharap akan dapat menyaksikan kehebatan dara yang mereka percakapkan dan yang kembang mimpi mereka setiap malam.

Liu Lu Sian bukan tidak tahu akan hal ini. Gadis yang manja ini maklum sepenuhnya bahwa ia menjadi bahan percakapan dan pujian. Maka pada pagi hari itu, dua hari sebelum ayahnya menerima para tamu, ia sengaja mengenakan pakaian indah, menunggang seekor kuda putih, lalu melarikan kudanya mengelilingi kota raja ! Memang hebat dara ini. Wajahnya kemerahan, berseri-seri dan pada kedua pipinya yang bagaikan pauh dilayang (merah jambu) itu, nampak lesung pipit menghias senyum dikulum. Rambutnya yang hitam gemuk digelung keatas, diikat rantai mutiara dan ujungnya bergantung dibelakang punggung, halus melambai tertiup angin. Tubuhnya amat ramping, pinggangnya kecil sekali dapat dilingkari jari-jari tangan agaknya, terbungkus pakaian sutera merah muda bergaris pinggir biru dan kuning emas, ketat mancetak bentuk tubuh yang padat berisi karena terpelihara dan terlatih semenjak kecil.

Pengait baju terbuat daripada benang emas yang gemilang, ikat pinggangnya dari sutera biru yang bergerak-gerak bagaikan sepasang ular hidup. Celananya sutera putih yang seakan membayangkan sepasang kaki indah, padat berisi dan sempurna lekuk-lekungnya, diakhiri dengan sepasang sepatu hitam yang berlapis perak. Cantik tak terlukiskan ! Menyaingi bidadari sorga dengan gerak tubuh yang lemah gemulai dan elok, akan tetapi rangka pedang yang tergantung dipinggangnya membuat ia lebih patut menjadi seorang Dewi Kwan Im Pouwsat !

Kuda putih tunggangannya berlari congklang dan Lu Sian memandang lurus ke depan namun ujung matanya menyambarkan kerling tajam kesana-sini, terutama diwaktu kudanya lewat depan rumah-rumah penginapan dimana para tamu muda berjajar depan pintu dengan mata jalang dan mulut ternganga, terpesona mengagumi dewi yang baru lewat.

Setelah dara ayu itu lenyap bayangannya, ributlah para muda teruna itu. Makin parah penyakit asmara menggerogoti jantung. Makin ramai percakapan mereka tentang Si Cantik manis. Rindu dendam dan harapan mereka yang terbawa dari rumah ratusan bahkan ribuan li jauhnya terpenuhi sudah. Mereka dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri dewi pujaan hati mereka. Dan betapa tidak mengecewakan pemandangan itu. Bahkan melebihi semua dugaan dan mimpi. Tergila-gila belaka mereka setelah Lu Sian Lewat di atas kudanya.

"Aduh ..., mati aku ...! Kalau aku tidak berhasil menggandengnya pulang, percuma aku hidup lebih lama lagi...!" Seorang pemuda tampan tanpa ia sadari mengucapkan kata-kata ini sambil menarik napas panjang.

"Lebih baik mati di bawah kaki si jelita dari pada pulang bertangan hampa !" sambung pemuda ke dua.

"Siapa tahu, rejekiku besar tahun ini menurut perhitungan peramal ! Jodohku seorang gadis bermata bintang. Dan matanya...! Ah , matanya..., Kalah bintang kejora !" kata pemuda lain.

"Mulutnya yang hebat ! Amboooiii mulutnya...ah, ingin aku menjadi buah apel agar dimakannya dan berkenalan dengan bibir itu. Aduhhh...!"

Bermacam-macam seruan para muda itu yang seakan lupa diri, menyatakan perasaan hati masing-masing yang menggelora. Sudah lajim kalau sekumpulan orang muda bercakap-cakap, mereka lebih berani manyatakan perasaan hati masing-masing sehingga percakapan itu menjadi hangat dan kadang-kadang terdengar kata-kata yang kurang sopan.

Apalagi para muda yang tergila-gila pada seorang gadis jelita ini adalah orang-orang kang-ouw, pemuda-pemuda kelana kelana dan petualang. Banyak sudah tempat mereka jelajahi, cukup sudah dara-dara jelita mereka saksikan, namun baru sekali ini mereka menjumpai dara secanti k Lu Sian. Melampaui semua kembang mimpi.

Tujuh orang pemuda yang berkumpul dalam sebuah rumah penginapan itu adalah pendekar-pendekar muda dari beberapa partai. Seperti biasa, karena merasa segolongan dan setujuan, mereka lekas bersahabat dan selain menuturkan pengalaman masing-masing yang biasanya mereka lebihi, juga mereka tiada habisnya memuji-muji dan membicarakan diri Liu Lu Sian yang diam-diam mereka perebutkan. Setelah Lu Sian yang lewat di depan rumah penginapan itu, sampai jauh malam para pemuda ini bicara tentang Lu Sian dan masing-masing menyatakan harapan menjadi orang yang terpilih dengan mengemukakan dan menonjolkan keistimewaan masing-masing.

"Sebagai puteri Beng-kauw, tentu kepandaiannya amat tinggi dan belum tentu aku mampu menandinginya. Akan tetapi, ilmu golokku yang terkenal dan nama Ilmu Golok Pelangi di Awan Biru memiliki keindahan yang melebihi keindahan seni tari manapun juga. Siapa tahu, keindahan seni permainan golokku akan menawan hatinya !" kata pemuda muka putih dengan pandang mata merenung penuh harapan dan di depan matanya terbayanglah mulut manis Lu Sian, karena dialah yang jadi tergila-gila oleh mulut manis itu dan ingin menjadi buah apel !

"Aku tidak punya kedudukan, orang tuaku miskin dan akupun tidak berpendidikan, tidak pandai tulis baca. Akan tetapi, biarpun ilmu silatku mungkin tidak setinggi dia, aku memiliki tenaga besar yang boleh diukur dengan tenaga siapapun juga." kata pemuda tinggi besar yang matanya lebar.

"Mudah-mudahan nona Lu Sian sudi memandang nama besar Kun-lun-pai sehinga aku sebagai murid kecil Kun-lun-pai akan menarik perhatiannya." kata pemuda ke tiga yang tampan juga. Demikianlah, tujuh orang pemuda itu menonjolkan keistimewaan masing-masing dengan harapan dialah yang akan terpilih.

Lewat tengah malam barulah mereka memasuki kamar masing-masing, namun tentu saja mereka tak dapat tidur, karena di depan mata mereka selalu terbayang wajah Liu Lu Sian. Maka ketika terdengar ada tamu baru datang dan disambut oleh pengurus rumah penginapan, mereka bertujuh semua keluar dan melihat tamu seorang pemuda berpakaian indah, berwajah tampan sekali dan bersikap tenang memasuki ruang dalam.

"Maaf, Kongcu (tuan muda), bukan kami kurang hormat terhadap tamu. Akan tetapi, kamar yang patut untuk Kongcu sudah penuh semua. Kecuali kalau diantara para Enghiong (Pendekar) yang terhormat membagi kamarnya..." Dengan ragu-ragu dan penuh harap pengurus penginapan itu memandang ke arah tujuh pemuda yang sudah keluar dari kamar masing-masing

Tujuh orang muda itu memandang Si Pendatang baru penuh perhatian. Pemuda ini berpakaian seperti orang terpelajar, gerak-geriknya halus, sama sekali tidak membayangkan gerak seorang ahli silat. Otomatis orang pendekar muda itu memandang rendah.

Mana ada seorang pendekar suka membagi kamar dengan kutu buku yang tentu akan menjemukan dan bicaranya tentu soal kitab-kitab dan sajak belaka ? Pemuda itu agaknya maklum akan pandang mata mereka, maka cepat-cepat ia mengangkat kedua tangan ke depan dada, dan memberi hormat berkata dengan penuh kesopanan.

"Harap Cu-wi Enghiong (Tuan-tuan Pendekar Sekalian) sudi memberi maaf kepada siawte (aku yang muda). Tentu saja siawte tidak berani menggangu para Enghiong, akan tetapi barangkali ada diantara para Cu-wi yang sudi membagi kamar..." Ia berhenti bicara melihat mereka mengerutkan kening, dan menanti jawaban. Ketika tidak ada jawaban datang, ia tersenyum.

"Saudara siapakah dan dari golongan mana ? Apakah tamu dari Beng-kauwcu Liu-locianpwe (Orang Tua Gagah she Ketua Beng-kauw) ?" tanya pemuda tinggi besar yang bertenaga gajah.

"Siauwte she Kwee bernama Seng, orang lemah seperti siauwte yang setiap hari menekuni huruf-huruf kuno, tidak dari golongan mana-mana dan siauwte hanya pelancong biasa."

Hmm, maaf, kamarku sempit sekali."jawab si Tinggi Besar kehilangan perhatian.

"Kamarku juga sempit." jawab orang ke dua.

"Aku tidak biasa tidur berteman." kata orang ke tiga.

"Maaf, maaf, memang siauwte tidak berani mengganggu Cu-wi. Eh, Lopek, kau tadi bilang tentang kamar yang patut, apakah masih ada kamar yang tidak patut ?" Kwee Seng menoleh kearah pengurus penginapan sedangkan tujuh orang pendekar itu sudah kembali ke kamar masing-masing dan menutupkan daun pintunya.

"Ah, ada.. Ada, Kongcu. Akan tetapi, itu adalah kamar-kamar kecil di sebelah belakang, dahulu menjadi kamar pelayan, tidak berani saya menawarkannya kepada Kongcu..."

Kwee Seng tersenyum. "Tidak mengapa, Lopek. Malam sudah begini larut, mencari kamar di penginapan lain pun repot. Biarlah aku bermalam di kamar pelayan itu."

Dengan tergopoh-gopoh pengurus penginapan itu lalu mendahului Kwee Seng sambil membawa sebuah lampu, mengantar tamunya ke sebuah kamar yang berada jauh di ujung belakang. Benar saja, kamar ini kecil, hanya terisi sebuah pembaringan bambu yang setengah reyot, lantainya tidak begitu bersih pula.

"Ah, cukup baik !" seru Kwee Seng sambil menaruh bungkusan pakaiannya di atas pembaringan. "Tidak usah kau tinggal lampumu, Lopek aku biasa tidur gelap. "Ia menjatuhkan dirinya di atas pembaringan yang mengeluarkan bunyi berkereotan.

Pengurus penginapan itu keluar dari dalam kamar membawa lampunya sambil menggeleng-geleng kepala saking heran melihat seorang kongcu berpakaian indah itu kelihatannya sudah tidur pulas begitu tubuhnya menyentuh pembaringan, ia menutupkan daun pintu perlahan-lahan.

Sebentar kemudian sekeliling tempat penginapan sunyi. Pengurus dan penjaga pun sudah tidur . Yang terdengar hanya dengkur yang keras dari kamar pemuda tinggi besar. Dari beberapa buah kamar lain terdengar suara orang mengigau menyebut-nyebut nama Liu Lu Sian. Bahkan dalam mimpi pemuda-pemuda ini selalu merindukan Lu Sian!

Suara mengigau ini keluar dari kamar pemuda anak murid Kun-lun-pai. Tiba-tiba sebagai seorang ahli silat, pemuda tampan itu meloncat turun dari pembaringannya ketika pendengarannya, atau agaknya lebih tepat indera keenamnya, mendengar suara yang mencurigakan.

Dalam meloncat tadi sekaligus ia telah mencabut pedangnya, dan sekali menggoncang kepalanya lenyaplah semua kantuk dan ia sudah berada dalam posisi siap siaga, sepasang matanya melirik ke arah jendela kecil kamarnya. Tiba-tiba jendela itu terbuka daunnya dari luar, dan muncullah seorang laki-laki jangkung yang berusia empat puluh tahun lebih, bertangan kosong. Orang ini memasuki kamar melalui jendela dengan gerakan ringan dan sikap tenang saja.

"Siapa kau ? Mau apa..."

"Mau membunuhmu. Manusia macam kau berani menyebut-nyebut peteri Beng-kauwcu harus mampus !" berkata bayangan laki-laki itu dengan suara mendesis, lalu menerjang maju.

Pemuda Kun-lun-pai itu tentu saja tidak menjadi gentar biarpun ia merasa kaget sekali. Pedangnya berkelebat dan bergulung-gulung sinarnya di depan dada bermaksud melindungi dirinya saja terhadap orang yang agaknya gila ini. Akan tetapi, tiba-tiba sekali gerakan pedangnya berhenti seakan- akan tertahan oleh tenaga yang tak tampak dan sebelum pemuda Kun-lun-pai ini tewas seketika tanpa dapat bersambat lagi !

Suara mendengkur dari kamar si Tinggi Besar terhenti seketika. Jagoan bertenaga gajah ini pun biar tidurnya mendengkur, Sedikit suara saja cukup membuat ia terjaga dari tidurnya. Kamarnya berada di sebelah kamar murid Kun-lun-pai, maka ia mendengar suara dari dalam kamar itu, cukup membuatanya terbangun dan curiga.

Karena tiap kamar penginapan terdapat jendela di sebelah belakang, ia cepat membuka daun jendela dan... seperti kilat cepatnya ia meloncat keluar dan menerkam seorang laki-laki yang berdiri di depan jendela murid ku-lun-pai. Kedua lengannya yang kuat bergerak, dalam segebrakan saja si Tinggi Besar berhasil mencekik leher orang itu.

"Hayo mengaku, siapa kau dan...uuhhh!" Tubuh yang tinggi besar itu seketika menjadi lemas dan kepalanya miring, lalu ia roboh tak berkutik lagi di depan laki-laki setengah tua yang jangkung itu !

"Apa yang kau lakukan ? Penjahat...!"

Sebatang golok menyambar dengan hebatnya membentuk sinar melengkung seperti pelangi. Kiranya pemuda yang memiliki Ilmu Golok Pelangi di Awan Biru telah turun tangan melihat ada orang merobohkan temannya yang tinggi besar. Memang indah gerakannya, gulungan sinar goloknya seperti gerakan pita dan selendang para bidadari sedang menari-nari.

Namun, dengan mudah bayangan itu menyelinap di antara gulungan sinar golok dan belum juga empat jurus Si Pemuda menyerang, ia sudah roboh pula terkena tamparan pada lehernya roboh untuk selamanya karena nyawanya melayang.

Dengan gerakan tenang namun cepat sekali, si Bayangan Maut itu menuju ke kamar yang lain. Namun belum sempat ia membuka jendela, empat orang pemuda yang lain sudah berlari datang dan mengepungnya. Mereka lalu berlari ke belakang dan segera mengepung si Bayangan Maut ketika melihat betapa dua orang temannya sudah menggeletak pula tak bernyawa.

"Kalian harus mampus semua...!"

Bayangan itu mendengus, tubuhnya bergerak secara aneh sekali, menyelinap diantara sambaran empat buah senjata para pengurungnya. Hebat memang kepandaian bayangan maut ini. Empat orang pemuda yang mengeroyoknya bukanlah pemuda-pemuda sembarangan. Mereka itu sudah terdidik dalam ilmu silat yang cukup tinggi, setingkat dengan anak murid Kun-lun-pai dan dengan si Tinggi Besar atau si Golok Pelangi. Namun menghadapi bayangan maut ini, mereka tak mampu berbuat banyak. Lawan mereka yang mereka keroyok ini seakan-akan hanya bayangan kosong tak mungkin dapat tersinggung senjata mereka.

Tiba-tiba bayangan itu terkekeh dan...setelah terdengar suara "plak-plak-plak-plak !"empat kali, empat orang pemuda itupun roboh, terpukul pada leher mereka dan tewas seketika !

Setelah membunuh tujuh orang pemuda itu, bayangan ini berdiri dengan kaki terpentang lebar, mendongakkan mukanya ke atas sambil tertawa. "Ha ha hah ! Alangkah lucunya !Orang-orang macam ini mengharapkan seorang dewi seperti dia ! Ha ha hah !"

Kemudian, melihat suara ribut-ribut dari pengurus penginapan yang agaknya terjaga, sekali meloncat ia sudah berada di atas genteng, lalu bagaikan gerakan seekor kucing, ia berlari ke arah belakang tanpa menimbulkan suara. Akan tatapi mendadak orang itu berseru perlahan ketika kakinya terpeleset karena genteng yang diinjaknya merosot turun. Cepat ia berjongkok di atas bangunan bagian belakang rumah penginapan itu dan membuka genteng, mengintai.

Kiranya di situ terdapat seorang pemuda lagi yang enak tidur telentang.Sebatang lilin kecil menyala di atas meja. Kepalanya diganjal bantalan pakaian. Tidak tampak senjata di dalam kamar itu sehingga bayangan itu mengerutkan kening. Seorang pemuda pelajar, pikirnya, tak mungkin dia yang main-main denganku. Akan tetapi siapa tahu ? Ia mengeluarkan sebatang jarum merah dan sekali jari-jari tangannya bergerak, melesatlah sinar merah ke bawah melalui celah-celah genteng, menuju ke arah leher si pemuda yang tidur telentang.

Pemuda di bawah itu yang bukan lain adalah Si Pelajar Kwee Seng, menggeliat dan mengaluh seperti orang mengingau dalam tidurnya,lalu miring. Akan tetapi tiba-tiba tubuh itu menegang kaget dan tak bergerak-gerak lagi. Bayangan orang di atas genteng tersenyum puas melihat korbannya yang ke delapan, maka ia bangkit berdiri dan cepat ia lari pergi dari tempat itu, menghilang di dalam gelap !

"Tolong...! Pembunuhan... pembunuhan...!!" Suara pengurus penginapan ini terdengar lantang sekali di waktu fajar itu, mengagetkan semua orang. Para pelayan bersama para tamu lainnya berbondong keluar dan sebentar saja di tempat pembunuhan sudah penuh dengan orang. Obor-obor dan lampu-lampu dipasang sehingga keadaan menjadi terang sekali. Pembunuhan yang sekaligus mengorbankan nyawa tujuh orang pemuda kang-ouw benar-benar merupakan peristiwa hebat yang mengejutkan sekali.

Ketika pengurus penginapan melihat Kwee Seng berada di antara banyak itu, ikut menjenguk dan melihat pemuda-pemuda teruna yang menjadi korban pembunuhan aneh, pengurus itu segera memegang lengannya dan berkata. "Ah, Kongcu benar-benar seorang yang masih dilindungi Thian (Tuhan) ! Seandainya Kongcu diterima tidur dengan mereka, ah... tentu akan bertambah seorang lagi korban pembunuh kejam ini !"

Kwee Seng hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan senyum duka. Di dalam hatinya ia menyangkal keras pendapat pengurus rumah penginapan ini. Andaikata ia diterima bermalam dengan mereka, belum tentu iblis maut yang malam itu merajalela dapat menjatuhkan tangan mautnya.

Diam-diam ia meraba jarum kecil yang ia masukkan ke dalam saku bajunya, jarum merah yang malam tadi pun hampir membunuhnya. Menyesallah hati Kwee Seng mengapa malam tadi ia tidak mengejar si penjahat yang mencoba membunuhnya, dan mengapa ia begitu enak tidur sehingga ia tidak tahu di bagian depan penginapan itu menjadi tempat penyembelihan tujuh orang muda.

Kwee Seng adalah seorang mahasiswa gagal. Ia suka sekali akan bun (sastra), bu (silat), namun bakatnya lebih menjurus kepada bu (silat). Seorang pemuda yatim piatu, sebatang kara merantau tanpa tujuan.

Namun ilmu kepandaiannya amat tinggi, ilmu silatnya sukar mendapatkan tandingan karena selain ia telah mempelajarinya dari para pertapa sakti di puncak-puncak gunung sebelah barat, juga ia pernah berjumpa dengan manusia dewa Bu Kek Siansu yang telah menurunkan beberapa macam ilmu kepadanya.

Bu Kek Siansu terkenal sebagai manusia dewa yang sewaktu-waktu muncul untuk mencari bahan baik, tulang pendekar berwatak budiman, dan menurunkan ilmu. Tak seorang pun di dunia ini tahu dari mana asalnya dan di mana tempat tinggalnya yang tetap.

Kwee Seng pernah mengikuti ujian di kota raja namun gagal. Semenjak itu, ia tidak pernah kembali ke kampung halamannya, yaitu di sebuah dusun kecil di kaki gunung Luliang-san, karena ayah bundanya sudah lama meninggal dunia oleh wabah penyakit ketika ia masih kecil.

Ia merantau sebagai seorang kang-ouw yang tak terkenal karena semua sepak terjangnya ia sembunyikan. Hanya beberapa orang tokoh besar saja di dunia kang-ouw yang mengenal pendekar sakti muda ini, malah diam-diam ia diberi julukan Kim-mo-eng (pendekar Setan Emas).

Ia disebut setan karena sepak terjangnya seperti setan, tak pernah memperlihatkan diri. Akan tetapi ia di sebut emas yang mengandung maksud bahwa pendekar ini berhati emas, membela kebenaran dan keadilan, pembasmi kelaliman dan kekejaman. Namun nama ini hanya kalangan atas terbatas saja pernah mendengar, di dunia kang-ouw nama Kim-mo-eng Kwee Seng tak pernah terdengar.

Kwee Seng tidak berbohong ketika mengatakan kepada ke tujuh orang pendekar pada malam yang lalu bahwa ia adalah seorang pelancong yang kebetulan lewat di kota raja Nan-Cao. Memang ia tidak mempunyai niat untuk menjadi tamu Beng-kauw, sungguhpun nama Pat-jiu Sin-ong bukanlah nama asing baginya.

Ia tidak suka tokoh besar itu diangkat menjadi koksu, hal yang ia anggap sebagai bukti kerakusan akan kedudukan dan kemuliaan. Maka baginya, hal itu tidak perlu diberi selamat. Apalagi mendengar berita tentang putri Pat-jiu Sin-ong yang hendak memilih jodoh, seujung rambutpun tiada niat di hatinya untuk ikut-ikutan memasuki sayembara, bahkan ingin melihat si jelita pun sama sekali ia tidak ada nafsu.

Memang demikianlah watak Kwee Seng. Ia memandang rendah kepada hal-hal yang dianggapnya tidak benar atau menyimpang daripada kebenaran. Padahal harus diakui bahwa ia adalah seorang pemuda yang baru berusia dua puluh tiga tahun, yang tentu saja sebagai seorang pemuda normal, selalu berdebar-debar apabila melihat seorang gadis cantik.

Ia seorang pemuda yang pada dasarnya memiliki watak romantis,suka akan keindahan, suka akan tamasya alam yang permai, suka akan bunga yang indah dan harum, dan tentu saja bentuk tubuh seorang dara jelita. Akan tetapi, kekuatan batinnya cukup untuk menekan semua perasaan ini dan membuat ia tetap tenang.

Peristiwa pembunuhan di dalam rumah penginapan itu membangkitkan jiwa satrianya.

Ia mendengar keterangan sana-sini dan tahu bahwa tujuh orang pemuda itu adalah calon- calon pengikut sayembara untuk meminang puteri Beng-kauwcu. Mendengar pula betapa pemuda-pemuda itu sudah kegilaan akan Nona Liu Lu Sian, dara rupawan yang pada pagi hari kemarin lewat didepan rumah penginapan.

Karena ini, diam-diam KweeSeng menghubungkan semua itu dengan pembunuhan. Agaknya karena mereka itu tergila-gila kepada Liu Lu Sian maka malam ini menjadi korban pembunuhan keji. Entah apa yang menjadi dasar pembunuhan , entah cemburu atau bagaimana. Namun yang pasti, untuk mencari pembunuhnya ia harus datang menjadi tamu Beng-Kauw !

Inilah yang membuat Kwee Seng terpaksa menunda perantauannya dan bersama dengan para tamu lainnya , ia pun melangkahkan kaki menuju ke gedung keluarga Pat-jiu Sin-ong.

Rumah gedung keluarga Liu dihias meriah. Pekarangan yang amat luas itu telah diatur menjadi ruangan tamu, dibagian tengah agak mendalam yang letaknya lebih tinggi rauangan depan, kini dipergunakan untuk tempat rumah dan para tamu yang terhormat atau para tamu kehormatan.

Ruangan ini disambung dengan sebuah panggung setinggi satu meter yang cukup luas dan panggung ini diperuntukkan untuk mereka yang hendak bicara mengadakan sambutan, juga dibentuk semacam panggung tempat main silat.

Panggung semacam ini memang lajim diadakan setiap kali ada ahli silat mengadakan sesuatu, karena perayaan diantara ahli silat tanpa pertunjukan silat akan merupakan hal yang janggal dan mentertawakan.

Pat-jiu Sin-ong Liu Gan belum tampak di luar. Para tamu disambut oleh tiga orang sute (adik seperguruan), yaitu pertama adalah Liu Mo adik kandungnya sendiri, Liu Mo berusia empat puluh tahun lebih, sikapnya tenang dan pendiam, sinar matanya membayangkan watak yang serius (sungguh-sungguh) dan berwibawa.

Biarpun Liu Mo memiliki kepandaian yang cukup tinggi dan merupakan orang ke dua dalam Beng-kauw, namun ia tetap sederhana dan tidak mempunyai julukan apa-apa. Di dalam Beng-kauw, ia merupakan pembantu yang amat berharga dari kakak kandungnya dan boleh boleh dikatakan untuk segala urusan dalam, Liu Mo inilah yang sering mewakili kakaknya.

Orang ke dua adalah Ma Thai kun. Orangnya tinggi kurus, wajahnya selalu keruh dan biarpun usianya baru tiga puluh enam tahun, namun ia memelihara jenggot dan kelihatan lebih tua. Ia terkenal pemarah dan wataknya keras, kepandaianya juga tinggi dan ilmu silatnya tangan kosong amat hebat.

Segala macam pukulan dipelajarinya dan kedua tangannya mengandung tenaga dalam yang amat dahsyat. Berbeda dengan Liu Mo yang sabar dan berwibawa, orang ke tiga dari Beng-kauw ini menyambut tamu dengan wajah gelap dan tak pernah tersenyum, juga ia memandang rendah kepada para tamunya.

Orang ke tiga dari para wakil Ketua Beng-Kauw ini usianya hampir tiga puluh tahun, akan tetapi wajahnya terang dan kelihatan masih muda. Dandanannya sederhana sekali, bahkan lucu karena ia menggunakan sebuah caping (topi berujung runcing) seperti dipakai para petani atau penggembala.

Di punggungnya terselip sebatang cambuk yang biasa dipergunakan para penggembala mengatur binatang gembalaannya! Memang murid termuda ini seorang yang ahli dalam soal pertanian dan peternakan. Wajahnya terang dan ia menerima para tamu dengan sikap hormat sekali.

Inilah Kauw Bian seorang pemuda desa yang menjadi sute termuda dari Pat-jiu Sin-ong Liu Gan. Biarpun sikapnya sederhana dan seperti seorang desa, akan tetapi jangan dipandang rendah kepandaiannya dan pecut itu sama sekali bukanlah pecut biasa melainkan senjatanya yang ampuh!

Sebagaimana lazimnya para tokoh besar, mereka ini selalu menahan "harga diri", tidak sembarangan orang dapat menjumpai dan dalam menyambut tamu, biasanya diwakilkan dan kalau perlu barulah ia sendiri muncul menemui tamunya.

Demikian pula Pat-jiu Sin-ong Liu Gan, ia pun menahan harga dirinya dan seluruh para tamu sudah berkumpul semua dan tidak ada lagi yang datang baru tokoh besar ini muncul di ruangan tuan rumah. Para tamu segera bangkit berdiri memandang ke arah tuan rumah dengan kagum.

Memang patut sekali Liu Gan menjadi seorang tokoh yang terkenal lebih tinggi daripada perawakan seorang laki-laki biasa. Kekar dan berdiri tegak, dadanya lebar membusung, pakaiannya indah, pandang matanya berwibawa. Kepalanya tertutup topi bulu yang terhias bulu burung rajawali.

Ketua Beng-Kau ini keluar sambil tersenyum-senyum dan menjura ke arah para tamu lalu duduk. Para tamu juga lalu duduk kembali, akan tetapi semua mata tetap terbelalak lebar memandang gadis yang keluar bersama, Pat-jiu Sin-Ong.

Itulah dia, gadis yang kini menarik semua pandang mata bagaikan besi sembrani menarik logam. Liu Lu Sian, dara jelita yang pada saat itu mengenakan pakaian sutera putih terhias benang emas dan renda-renda, merah muda. Cantik jelita bagaikan dewi khayangan!

Para muda melongo, ada yang menelan ludah, ada yang lupa mengatupkan mulutnya, bahkan ada yang menggosok-gosok mata karena merasa dalam mimpi! Namun orang yang menjadikan para muda terpesona itu tetap duduk dengan tegak dan senyum manisnya tak pernah meninggalkan bibir. Tapi banyak pula yang memandang dengan hati ngeri.

Mereka semua, tua muda, sudah mendengar belaka tentang peristiwa hebat di dalam rumah penginapan, dimana tujuh orang pendekar muda yang tergila-gila kepada gadis ini terbunuh secara aneh.

Para tamu yang duduk di ruangan kehormatan mulai bergerak menghampiri Pat-jiu Sin-ong menghaturkan selamat, diikuti tamu-tamu lain. Pat-jiu Sin-ong menyambut pemberian selamat itu sambil tertawa-tawa dan tidak berdiri dari bangkunya, sikap yang jelas memperlihatkan keangkuhannya.

Setelah para tamu memberi selamat, dan mereka kembali ke tempat masing-masing, tiba-tiba Pat-jiu sin-ong berdiri dari bangkunya memandang ke luar dan berseru keras. "Aha, saudara muda Kwee Seng ! Kau datang juga hendak memberi selamat kepadaku? Bagus! Menggembirakan sekali. Mari ke sini, kau mau duduk bersamaku!"

Tentu saja semua tamu menoleh ke arah luar untuk melihat tamu agung manakah yang begitu menggembirakan Pat-jiu Sin-ong sehingga tokoh ini sampai berdiri dan berseru menyambut segembira itu? Mereka mengira bahwa yang datang tentulah seorang tokoh besar di dunia kang-ouw.

Akan tetapi alangkah heran hati mereka ketika melihat seorang pemuda berpakaian sastrawan yang melangkah masuk ke ruangan itu dengan langkah lambat dan sikap lemah-lembut. Seorang pelajar lemah seperti ini bagaimana bisa mendapatkan perhatian begitu besar dari Pat-jiu Sin-ong yang terkenal angkuh dan tidak memandang mata kepada tokoh-tokoh kang-ouw yang hadir di situ?

Pemuda itu bukan lain adalah Kwee Seng. Memang jarang ada orang kang-ouw mengenalnya, tetapi di antara sedikit tokoh besar dunia kang-ouw yang tahu akan kehebatan orang muda ia adalah Pat-jiu Sin-ong, karena Ketua Beng-kauw ini pernah bertemu dengan Kwee Seng ketika dia mengunjungi Ketua Siauw-lim-pai, Kian Hi Hosiang yang sakti, memperlakukan pemuda ini sebagai seorang tamu agung pula!

Inilah sebabnya maka Ketua Beng-kauw mengenal Kwee Seng dan biarpun belum membuktikan sendiri kehebatan pemuda ini, ia sudah dapat menduga bahwa pemuda yang di sambut demikian hormatnya oleh Ketua Siauw-lim-pai, yang malah dijuluki Kim-mo-eng, tentulah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.

Dengan tenang dan tersenyum ramah Kwee Seng menghampiri tuan rumah menjura dengan hormat sambil berkata, "Liu-enghiong (Orang Gagah She Liu), maafkan saya datang menggangu secawan dua cawan arak. Terus terang saja, kebetulan lewat dan mendengar tentang keramaian di sini dan ingin menonton.

"Akan tetapi sama sekali bukan untuk memberi selamat. Makin tinggi kedudukan makin banyak keruwetan dan makin besar kemuliaan makin besar pula kejengkelan, apa perlunya diberi selamat?"

"Ha-ha-ha-ha! Kata-katamu ini memang cocok bagi orang yang mengejar kedudukan dan memperebutkan kemuliaan, yang tentu saja hanya akan menemui kejengkelan dan memperbanyak permusuhan. Akan tetapi aku menjadi koksu (guru negara) untuk membimbing pemerintahan negaraku yang dipimpin oleh keluargaku sendiri.

"Ini namanya panggilan negara dan bangsa, kewajiban seorang gagah. Akupun tidak butuh pemberian selamat yang semua palsu belaka, basa-basi palsu, berpura-pura untuk mengambil hati. Ha-ha-ha! Lebih baik yang jujur seperti kau ini, Kwee-hiante. Mari duduk!"

Dengan gembira tuan rumah menggandeng tangan Kwee Seng, diajak duduk semeja dan segera Liu Gan memerintahkan pelayan mengambil arak terbaik dari cawan perak untuk Kwee Seng.

"Liu-enghiong, aku mendengar pula bahwa kau hendak mencari mantu dalam perayaan ini..."

"Ah, anakku yang ingin mencari jodoh. He, Lu Sian, perkenalkan ini sahabat baikku, Kwee Seng!" Ketua Beng-kauw itu dengan bebas berteriak kepada puterinya. Liu Lu Sian sejak tadi memang memperhatikan Kwee Seng yang disambut secara istimewa oleh ayahnya.

Biarpun pemuda ini gerak-geriknya halus seperti orang lemah, namun melihat sinar matanya, Lu Sian dapat menduga bahwa Kwee Seng adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi.

Mendengar seruan ayahnya ia lalu bangkit berdiri lalu menghampiri Kwee Seng sambil merangkapkan kedua tangannya. "Kwee-kongcu (Tuan Muda Kwee), terimalah hormatku!" katanya dengan suara merdu dan bebas, gerak-geriknya manis sama sekali tidak malu-malu atau kikuk seperti sikap gadis biasa.

Kwee Seng sejak tadi hanya memperhatikan Liu Gan saja maka tidak tahu bahwa di ruangan itu terdapat gadis puteri Liu Gan yang kecantikannya telah banyak pemuda tergila-gila, bahkan agaknya yang telah menjadi sebab daripada akibat mengerikan di rumah penginapan malam kemarin.

Mendengar suara merdu ini ia menengok dan... pemuda itu berdiri terpesona, sejenak ia tidak dapat berkata-kata, bahkan seakan-akan dalam keadaan tertotok jalan darah di seluruh tubuhnya, tak dapat bergerak seperti patung batu! Belum pernah selama hidupnya ia terpesona oleh kejelitaan seorang wanita seperti saat itu. Mata itu!

Bening bersih gilang-gemilang tiada ubahnya sepasang bintang kerling tajam menggores jantung kedip mesra membuat bingung

Bulu mata lentik berseri bagai rumput panjang di pagi hari sepasang alis hitam kecil melengkung menggeliat-geliat malas kedua ujung!

"Kwee-kongcu..." kata pula Liu Sian melihat pemuda itu diam saja seperti patung, dalam hatinya geli bukan main.

"A... oh..., Liu-siocia (Nona Liu), tidak patut saya menerima penghormatan ini...!" jawabnya gagap sambil cepat-cepat mengangkat kedua tangannya ke depan dada. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia merasa betapa angin pukulan menyambar dari arah kedua tangan gadis yang dirangkap di depan dada itu.

Angin pukulan yang mengandung hawa panas dan yang tentu akan cukup membuat ia terjungkal dan terluka hebat. Alangkah kecewanya hati Kwee Seng! Dara juwita ini, yang dalam sedetik telah membuat perasaannya morat-marit, yang kecantikannya memenuhi semua seleranya, menguasai seluruh cintanya, ternyata memiliki watak yang liar dan ganas!

Sekilas teringat lagi ia akan pembunuhan tujuh orang pemuda tak berdosa dan seketika itu Kwee Seng merasa jantungnya sakit. Ia masih terpesona, masih kagum bukan main melihat dara jelita ini, namun kekaguman yang bercampur kekecewaan. Maka ia pun cepat mengarahkan tenaga ke arah ke dua tangannya yang membalas penghormatan.

"Aiiihhh...! Mengapa Kwee-kongcu demikian sungkan? Penghormatan kami sudah selayaknya!" kata Liu Lu Sian yng berseru untuk menutupi kekagetannya ketika angin pukulan yang keluar dari pengerahan sin-kang di kedua tangannya membalik seperti angin meniup benteng baja.

Gadis ini sambil tersenyum manis menyambar guci arak pilihan dari tangan pelayan bersama sebuah cawan perak, lalu menuangkan arak ke dalam cawan itu. Cawan sudah penuh, terlampau penuh akan tetapi anehnya, arak di dalam cawan tidak luber, tidak membanjir keluar. Permukaan arak melengkung ke atas berbentuk telur.

Dengan tangan kanan memegang cawan yang terisi arak itu Liu Lu Sian berkata,"Kehadiran Kwee-kongcu merupakan kehormatan besar, harap sudi menerima arak sebagai tanda terima kasih kami."

Kembali Kwee Seng tertegun. Dara juwita ini tidak saja cantik seperti bidadari, akan tetapi juga memiliki kepandaian hebat. Sin-kang yang diperlihatkan kali ini lebih halus, sehingga bagi orang biasa tentu merupakan perbuatan yang tak masuk akal, seperti sihir.

Akan tetapi makin kecewalah hati Kwee Seng karena ia menganggap bahwa gadis ini terlalu binal dan suka membuat malu orang lain. Kalau yang menerima arak sepenuh itu tidak memiliki sin-kang yang tinggi, apakah tidak akan mendatangkan malu karena araknya pasti akan tumpah semua begitu gadis ini melepaskan pegangannya?

"Siocia terlampau sungkan. Terlalu besar kehormatan ini bagi saya..." Kwee Seng menerima cawan sambil mengerahkan tenaganya sehingga ketika Lu Sian melepas cawan itu, arak yang terlalu penuh tetap melengkung di atas cawan tidak tumpah sedikitpun juga.

Akan tetapi jantung Kwee Seng berdegup keras karena ketika ia menerima cawan tadi jari tangannya bersentuhan dengan kulit tangan yang halus sekali, sementara itu, hidungnya mencium bau harum semerbak yang luar biasa, bau harum bermacam bunga yang baru sekarang ia menciumnya karena tadi ia terlampau terpesona oleh kecantikan Lu Sian.

Ia tadi sudah berhati-hati sekali, sebagai seorang yang sopan, agar jari tangannya tidak menyentuh jari gadis itu, akan tetapi toh bersentuhan, maka ia tahu bahwa gadis itulah yang sengaja menyentuhkan tangannya!

Berbarengan dengan datangnya degup jantung mengeras dan ganda harum yang memabokkan otak, timbul hasrat hati Kwee Seng untuk memamerkan kepandaiannya pula di depan gadis jelita yang berlagak ini.

Ia segera menuangkan arak ke dalam mulutnya, mengangkat cawan tinggi ke atas mulut dan menuangkannya. Akan tetapi, sampai cawan itu membalik, araknya tetap tidak mau tumpah ke dalam mulut ! Arak itu seakan-akan sudah membeku di dalam cawan!

“Ah, maaf... maaf... saya memang tidak bisa minum arak baik!" kata Kwee Seng sambil menurunkan lagi cawannya. Tiba-tiba ia membuka sedikit mulutnya dan dari cawan yang sudah berdiri lagi itu tiba-tiba meluncur arak seperti pancuran kecil menuju ke atas dan langsung memasuki cawan itu menjadi kering!

"Wah, kehadiran Kwee-kongcu benar-benar menggembirakan. Kalau tadi secawan arak untuk penghormatan kami, sekarang kuharap kongcu sudi menerima secawan lagi, khusus dariku!" kata pula Lu Sian sambil menuangkan lagi arak ke dalam cawan kosong, kali ini lebih penuh daripada tadi, lalu memberikannya kepada Kwee Seng.

Seketika terbelalak mata Kwee Seng kedua pipinya menjadi merah dan sinar matanya berkilat. Lenyap seketika pesona yang menguasai dirinya. Gadis ini benar-benar terlalu liar, aneh, dan ganas! Ia melihat betapa tadi dari tangan gadis itu berkelebat sinar putih memasuki cawan dan sebagai seorang pendekar sakti, ia maklum apa artinya itu.

Arak kali ini dicampuri semacam obat bubuk yang biarpun sedikit sekali, namun ia dapat menduga tentu amat hebat akibatnya kalau terminum olehnya. Ia tahu bahwa gadis ini tidak sengaja mencelakakannya, hanya untuk menguji, akan tetapi cara ujian yang amat berbahaya!

"Nona terlalu menghormat ...!" jawabnya dan ia menerima cawan itu. Begitu cawan diterimanya, ia berseru, "Ah, nona terlalu banyak mengisi araknya...!" dan tiba-tiba, biarpun cawan itu dipegangnya lurus-lurus, isi cawan berhamburan keluar dan tumpah semua sampai habis. Anehnya, tangan Kwee Seng yang memegang sawan sama sekali tidak basah karena ara itu tumpahnya "melayang" ke depan dan sebaliknya malah membasahi sebagian celana dan sepatu si jelita!

"Ah, maaf.. maaf..!" kata Kwee Seng sambil menjura penuh hormat.

"Kwee-kongcu terlalu merendah ...!" Sepasang pipi Lu Sian menjadi merah sekali dan kilatan matanya membayangkan kemarahan ketika ia menjura dan mengundurkan diri kembali ke bangkunya sambil mengusap noda arak dengan sapu tangannya.

Peristiwa aneh ini hanya disaksikan oleh beberapa orang tamu kehormatan yang duduk berdekatan, akan tetapi para tamu yang jauh tidak melihat jelas, dan hanya mengira bahwa pemuda pelajar itu amat canggung sehingga menumpahkan arak yang disuguhkan orang kepadanya. Namun, banyak yang merasa iri hati melihat betapa Si Bidadari sampai dua kali memberi suguhan arak kepada pemuda lemah itu.

"Ha-ha-ha, lama tak jumpa, kau makin hebat, Kwee-hiante! Mari, mari kita minum sampai mabok!"

Sambil merangkul pundak Kwee Seng, Pat-jiu Sin-ong mengajak pemuda itu menghadapi meja penuh hidangan. "Liu-enghiong tentu maklum bahwa aku tidak biasa minum arak lebih dari tiga cawan," bantah Kwee Seng.

"Ha-ha-ha!" Ocehan burung yang tak patut didengar! Aku percaya, biarpun habis tiga guci, orang macam kau mana bisa mabok ? Ha-ha-ha marilah, tak usah sungkan. Kita orang sendiri!"

Karena sikap tuan rumah ini setulus hatinya, Kwee Seng terpaksa melayani. Ia maklum betapa suara tuan rumah yang keras ini terdengar semua orang dan ia sudah melihat sinar mata iri dilempar orang, terutama kaum mudanya, ke arahnya. Ia memang tidak suka minum arak terlalu banyak, akan tetapi kali ini hatinya sedang rusak dan kacau.

Harus ia akui bahwa ia tertarik oleh kecantikan Liu Lu Sian yang luar biasa, dan ia tahu bahwa hatinya sudah siap mengaku cinta. Seorang dewa sekalipun akan jatuh hati berhadapan dengan Lu Sian! Akan tetapi disamping perasaan yang baru kali ini ia rasakan selama hidupnya, terselip rasa nyeri yang membuat hatinya perih, yaitu kenyataan bahwa gadis yang menjatuhkan hatinya ini memiliki watak yang liar dan ganas, sama sekali berlawanan dengan pendiriannya.

Karena perasaan yang bertentangan antara perasaan cinta dan benci inilah maka Kwee Seng menjadi seperti orang nekat dan ia menerima terus setiap kali Pat-jiu Sin-ong menyuguhkan arak. Sebentar saja ia sudah minum arak tua belasan cawan banyaknya!

"Lu Sian, hayo kau gembirakan hati para tamu kita dengan tarian pedang!" tiba-tiba Pat-jiu Sin-ong berseru memerintah puterinya sambil tertawa-tawa karena tokoh inipun sudah terpengaruh hawa arak.

Lu Sian tersenyum mengangguk, lalu bangkit berdiri dan dengan lenggang yang dapat mengayun hati para muda yang memandangnya, gadis ini ini berjalan menuju ke tengah panggung terbuka. Tepuk tangan riuh gemuruh menyambutnya. Lu Sian menjura dengan hormat sambil berseru, suaranya merdu nyaring mengatasi keriuhan tepuk tangan itu.

"Permainanku masih amat dangkal, harap cu-wi jangan metertawakan!" Setelah berkata demikian, Lu Sian menggerakan tangannya dan .... dalam pandangan mereka yang ilmu silatnya kurang tinggi, gadis itu tiba-tiba lenyap dan berubah menjadi bayangan yang berkelebatan kesana kemari dibungkus sinar putih berkilauan bergulung-gulung dan berkilat-kilat.

Dari sana-sini terdengar seruan kagum, yang muda-muda kagum akan keindahan ilmu silat pedang yang benar-benar merupakan tarian luar biasa itu, adapun golongan tua kagum karena mereka melihat di dalam gerakan yang indah ini tersembunyi kekuatan yang dahsyat, setiap kelebatan pedang yang begitu indah tampaknya sebetulnya mengandung jurus maut yang tidak mudah dilawan. Dengan bukti kehebatan gadis ini makin tunduklah mereka akan kelihaian dan nama besar Pat-jiu Sin-ong.

Lu Sian sengaja mainkan Hwa-kiamhoat (Ilmu Pedang Kembang) yang indah untuk memamerkan kepandaian dan kecantikannya. Ia bersilat sampai lima puluh jurus dan ketika berhenti di tengah panggung sambil berdiri tegak, ia tampak gagah dan cantik jelita, dengan sepasang pipi kemerahan karena denyut darahnya agak kencang setelah bersilat tadi.

Bibirnya tersenyum-senyum, matanya yang tajam berseri-seri menyambut tepuk tangan yang seakan-akan hendak merobohkan panggung buatan itu. Akan tetapi begitu Lu Sian kembali duduk di tempatnya, berkelebatlah bayangan orang dan seorang laki-laki berusia lima puluh tahun sudah berdiri di atas panggung.

Gerakannya yang demikian ringan dan cepatnya menandakan bahwa ia seorang yang berkepandaian tinggi, sedangkan pakaian dan cara ia menggelung rambut ke atas menyatakan bahwa ia seorang pendekar To atau yang disebut tosu. Di punggungnya tergantung sebuah pedang.

Tosu ini terdengar lantang suaranya setelah keadaan tadi kembali sunyi karena terhentinya tepuk tangan. Sambil menjura ke arah Pat-jiu Sin-ong, tosu itu berkata, "Kauwcu (Ketua Agama), pinto (aku) Ang Sin Tojin dari Kn-lun-pai, merasa kagum akan kebesaran nama Pat-jiu Sin-ong, dan sengaja pinto diutus oleh ketua kami memberi selamat.

Akan tetapi tidak nyana bahwa Kawcu dengan puteri Kauwcu menimbulkan hal-hal yang tidak baik! Kauwcu memamerkan kepandaian dan kecantikan puteri Kauwcu, ada kabar hendak menggunakan kesempatan ini mencarikan jodoh bagi puteri Kauwcu. Hal ini sudah sewajarnya. Aka tetapi mengapa banyak pemuda tidak berdosa yang tergila-gila kepada puteri Kawcu menemui kematian yang penuh penasaran?

Sekarang, Kauwcu tidak menyelidiki dan membikin terang perkara itu, malah Kauwcu menambah pengaruh agar para pemuda makin tergila-gila. Apakah sesungguhnya kecantikan yang gilang-gemilang seperti puteri Kauwcu? Kecantikan hanyalah timbul dari kelemahan batin melalui pandang mata, sesungguhnya palsu adanya.

Kecantikan hanya terbatas sampai di kulit, namun siapa tahu isi hati yang tersembunyi di balik kecantikan. Pat-jiu Sin-ong, Pinto kehilangan seorang anak murid Kun-lun yang terbunuh secara tidak wajar, terpaksa mohon penjelasan?"

Seketika tegang keadaan di situ. Terang bahwa tosu ini menuntut kematian muridnya, dan sekaligus mencela keadaan Beng-kauw dengan adanya kematian tujuh orang pemuda dan mencela pula pameran kecantikan dan kepandaian Liu Lu Sian! Keadaan seketika menjadi sunyi karena semua orang menanti dengan hati berdebar.

Sambil tersenyum Pat-jiu Sin-ong berdiri dari bangkunya, akan tetapi tidak mendekati Ang Sin To Jin. Sambil bertolak pinggang ketua Beng-Kauw yang tinggi besar ini bertanya, "Tosu, Kau ini apanya Ang Kun To Jin ?"

"Beliau adalah Suhengku dan Pinto hanyalah murid kedua dari suhu."

Pat Jiu Sin Ong tiba-tiba tertawa sambil menengadahkan mukanya ke atas. "Heh, Tosu mentah! Kau kira kematian bocah-bocah tolol itu adalah perbuatanku atau perbuatan anakku?"

"Pinto tak berani menuduh siapapun juga, akan tetapi setidaknya peristiwa maut itu terjadi karena Kauwcu berhasrat memilih mantu karena kecantikan putrimu dan tentu dilakukan oleh seorang dari Beng-kauw! Karena itu ketuanya harus bertanggung jawab!"

"Ha-ha, bertanggung jawab bagaimana?"

"Kauwcu harus dapat menangkap pembunuh itu dan menghukumnya mati di depan kami semua. Kemudian Kauwcu lakukan pemilihan calon mantu yang tepat dan tidak banyak menimbulkan korban, pilihlah mantu yang cocok dan karena ini urusan Kauwcu, terserah, asal tidak secara sekarang ini yang membikin gila banyak orang muda tak berdosa."

"Wah, lagaknya! Kalau aku tidak menuruti permintaanmu itu, bagaimana?"

"Hmmmmm, kalau begitu, berarti Kauwcu tidak peduli akan kematian murid Kun-lun-pai yang menjadi tamu di sini, dan hal itu tentu saja Pinto tidak dapat tinggal diam saja?"

"Habis, kau mau apa, Tosu mentah?"

"Pinto terpaksa menuntut balas atas kematian murid, dan melupakan kebodohan, minta pelajaran dari Beng-Kauwcu Pat-jiu Sin-ong!" Dengan tegak berdiri, Tosu itu siap menghadapi pertandingan.

"Tosu sombong, berani kau menghina ketua kami?" Tiba-tiba Ma Thai Kun yang bertubuh jangkung kurus sudah melompat ke atas panggung, tangannya begerak memukul ke arah Ang Sin Tojin. Gerakan Ma Thai Kun cepat sekali sehingga kejadian yang tak tersangka-sangka itu tidak dapat ditunda lagi. Pukulannya hebat, mengeluarkan angin bersiutan dan menuju ke arah dada tosu kun-lun-pai itu.

Ang Sin Tojin adalah murid kedua dari Ketua Kun-lun-pai, Kim Gan Sian jin, tentu saja ilmu kepandaiannya sudah amat tinggi dan karena itu pula ia tadi berani mengeluarkan tantangan terhadap ketua Beng-kauw. Kini melihat seorang tinggi kurus bermuka hitam telah berada di depannya dan mengirim pukulan maut, ia pun cepat menggerakkan tangannya menangkis, sambil mengarahkan Sin-kang (tenaga sakti).

"Dukkkkk!" Dua tangan mengandung tenaga sakti. Ma Thai Kun masih berdiri setengah membungkuk, tubuhnya tidak bergoyang. Akan tetapi akibat benturan kedua lengan itu membuat Ang-sin to jin terhuyung-huyung ke belakang sampai lima langkah.

Diam-diam tosu Kun-lun-pai ini terkejut bukan main. Harus diakui tenaga sakti Si Muka Hitam ini hebat sekali, sungguhpun tidak sampai menyebabkan ia terluka parah, namun cukup menggempur kuda-kudanya dan membuat ia terhuyung-huyung.

"Ji-sute (Adik Seperguruan ke Dua), mundurlah! Siapa yang mencari perkara dengan aku dan anakku, biarlah aku menghadapinya sendiri!" Pat-jiu Sin-ong menegur adiknya. Ma Thai Kun mendengus marah, lalu mengundurkan diri.

"Ang Sin Tojin, apakah kau masih tidak mau menarik kembali tuntutanmu?"

“Seorang laki-laki sekali bicara dipegang sampai mati!" jawab tosu itu dengan suara ketus.

"Ah, ah, benar-benar tosu Kun-lun-pai keras kepala. Eh, tosu mentah, kau tadi bilang kecantikan puteriku sebatas kulit. Apa artinya?"

"Pinto mengakui bahwa puteri Kauwcu cantik jelita dan pandai. Akan tetapi semua itu hanya sampai dikulit, hanya akibat pandangan mata lahir. Mata batin takkan dapat ditipu dan takkan silau oleh kecantikkan. Mata batin mencari sampai kedalam batin pula, mencari kebenaran yang suka tertutup oleh kepalsuan."

Merah muka Pat-jiu Sin-ong, akan tetapi mulutnya masih tersenyum. "Anakku memang cantik, ini semua orang tahu. Kalau mata melihatnya tidak cantik sekalipun, yang salah bukan dia, melainkan matanya! Tosu mentah, lekas kau pulang ke Kun-lun-san, jangan mencari keributan disini."

"Kalau begitu, pinto minta pelajaran dari Beng-kauwcu!" kata tosu itu sambil mencabut pedangnya. Ia tadi sudah membuktikan betapa hebat sin-kang dari Ma Thai Kun yang hanya merupakan adik seperguruan Ketua Beng-kauw ini, maka ia tidak berani berlaku sembrono. Dengan pedang di tangan ia mengira akan dapat mengimbangi lawannya, karena memang Kun-lun-pai terkenal dengan kiam-hoatnya (ilmu pedangnya).

"Kau menantangku?" Liu Gan bertanya, masih tersenyum.

"Pinto siap!"

"Nah, terimalah ini!" Kedua tangan Pat-jiu Sin-ong bergerak. Begitu cepatnya gerakan kedua lengannya itu sehingga kedua tangan itu seakan-akan berubah menjadi delapan! Inilah agaknya maka ia mendapat julukan Pat-jiu (Lengan Delapan). Dalam segebrakan saja Ang Sin Tojin merasa seakan-akan ia diserang oleh delapan pukulan yang kesemuanya merupakan pukulan maut! Cepat ia menggerakkan tubuhnya dan memutar pedangnya melindungi diri.

"Plakk! Tranggg... aduhhh...!" Hanya dalam sekejap mata saja terjadinya. Entah bagaimana tosu itu sendiri tidak tahu, pergelangan tangannya sudah terpukul, membuat pedangnya terpental dan tiba-tiba ia merasa amat sakit pada telinga dan mata kanannya. Ia roboh menggulingkan diri sampai beberapa meter lalu meloncat lagi berdiri. Telinga kanan dan mata kanannya mencucurkan darah! Ternyata daun telinga kanannya pecah bagian atasnya, sedangkan pelupuk mata kanannya pun robek!

"Tosu mentah! Mengingat akan suhengmu, Ang Kun Tojin, dan memandang muka terhormat suhumu, Kim Gan Sianjin Ketua Kun-lun, aku tidak mengambil nyawamu. Akan tetapi aku tidak dapat membiarkan matamu yang salah lihat dan telingamu yang salah dengar. Hendaknya pelajaran ini membuka matamu bahwa Beng-kauw tidak boleh dibuat main-main oleh siapapun juga! Nah, pergilah!"

Ang Sin Tojin maklum bahwa orang sakti didepannya ini bukan lawannya, bahkan suhunya, Ketua Kun-lun-pai sendiri, belum tentu akan dapat menandinginya. Ia bukan seorang bodoh dan nekat. Tanpa banyak cakap ia memungut pedangnya, menjura dan berkata, "Pinto hanya dapat melaporkan kepada suhu bahwa pinto gagal dalam tugas." Setelah berkata demikian, ia membalikkan tubuhnya dan pergi dari situ.

Keadaan di situ sunyi sekali. Ketegangan mencekam dan suasana ini amat tidak enak. Pat-jiu Sin-ong Liu Gan lalu tertawa dan mengahadapi para tamunya. "Cu-wi yang terhormat harap maafkan gangguan tadi. Nah, karena soal pemilihan calon mantu sudah disebut-sebut oleh tosu mentah tadi, terpaksa kami akui bahwa hal itu memang tidak salah.

Cu-wi sudah melihat ilmu silat anakku yang rendah. Oleh karena itu, kalau ada di antara para muda gagah yang hendak memperlihatkan kepandaian, anakku akan sanggup melayaninya. Mereka yang dapat mengalahkan anakku Liu Lu Sian berarti lulus dan akan diadakan pemilihan di antara mereka yang lulus, kalau-kalau ada yang berjodoh menjadi mantukku.

"Ha-ha-ha!" setelah berkata demikian dan menjura, Ketua Beng-kauw ini duduk lagi di tempatnya.

"Eh, saudara muda kwee, kau lihat tosu tadi, menjemukan tidak?"

"Memang menjemukan! Semuanya menjemukan!" kata Kwee Seng.

"Ha-ha, urusan begitu saja jangan menghilangkan kegembiraan kita. Mari minum!"

Keduanya lalu minum lagi dan keadaan di situ menjadi meriah pula.

Sementara itu, Liu Lu Sian sudah meloncat ke tengah panggung lagi setelah meninggalkan pedangnya di atas meja. Hal ini berarti bahwa ia hanya akan melayani pertandingan tangan kosong, tanpa mempergunakan senjata.

Ketika melihat gadis cantik itu sudah berdiri siap di tengah panggung, di antara para tamu muda timbullah suasana gaduh. Sebetulnya banyak sekali pemuda yang datang dari berbagai penjuru dunia untuk menyaksikan kecantikan gadis yang sudah terkenal itu dengan mata sendiri.

Dan sekarang, setelah melihat Liu Lu Sian, hampir semua pemuda yang hadir di situ tergila-gila dan tak seorang pun yang tidak ingin memetik tangkai bunga segar mengharum ini. Akan tetapi, menyaksikan ilmu kepandaian Lu Sian dan kehebatan ayahnya, sebagian besar para muda itu sudah menjadi gentar dan tidak berani mencoba-coba.

Apalagi kalau mengingat akan pembunuhan-pembunuhan aneh di dalam rumah penginapan kemarin malam, mereka merasa ngeri dan membuat sebagian besar di antara mereka mundur teratur! Betapapun juga, di antara mereka ada juga yang nekat karena mungkin dapat menahan hatinya yang sudah runtuh oleh kecantikan Lu Sian.

Seorang pemuda berpakaian serba hijau dan yang duduknya di bagian bawah, berjalan dengan langkah lebar dan gagah ke arah panggung, kemudian sekali menggerakkan tubuhnya ia sudah meloncat ke atas panggung berhadapan dengan Lu Sian.

Pemuda ini berwajah cukup ganteng, alisnya tebal dan matanya tajam, hanya mulutnya lebar membayangkan ketinggian hati. Dengan sikap gagah ia menjura dan merangkap kedua tangan di depan dada, memberi hormat kepada Liu Lu Sian sambil berkata, suaranya lantang.

"Aku bernaama Han Bian Ki, dikenal sebagai Siauw-kim-liong (Naga Emas Muda) di lembah sungai Min-kiang, ingin mencoba-coba kepandaian nona Liu yang gagah."

Lu Sian melirik dan bibirnya melempar senyum manis sekali. Akan tetapi sesungguhnya melihat mulut yang agak lebar itu ia sudah merasa tidak senang kepada pemuda ini. Orang macam ini berani mau coba-coba, pikirnya. Apanya sih yang diandalkan ? Tampangnya tidak menarik, dan melihat gerakan loncatannya, juga tidak banyak dapat diharapkan tentang ilmu silatnya.

"Han-enghiong, tak usah ragu-ragu. Mulailah!" katanya dengan suara dingin.

"Saya Bhong Siat dari lembah Yang-ce!" kata Si Muka Kuning yang suaranya seperti orang berbisik, atau kehabisan napas.

Makin muak rasa perut Liu Lu Sian menyaksikan majunya dua orang yang berwajah buruk ini. Memang ia sengaja menantang agar mereka maju sekaligus agar ia tidak usah berkali-kali menghadapi mereka seorang demi seorang. Pula, tantangannya ini merupakan akal untuk menilai mereka. Yang mau datang mengeroyoknya manandakan seorang laki-laki pengecut dan yang tidak boleh dihargai sama sekali, perlu cepat ditundukkan sekaligus.

Han Bian Ki girang melihat majunya dua orang yang semaksud itu. Kini terbuka kesempatan pula baginya untuk mencari kemenangan, atau setidaknya tentu berhasil menyentuh kulit badan Si Nona atau beradu lengan. Maka ia tidak mau kalah semangat dan biarpun sudah sejak tadi ia dipermainkan, kini ia memperlihatkan sikap galak dan menerjang Liu Lu Sian dengan seruan nyaring.

Dua orang yang baru naik itu pun tidak membuang kesempatan ini, membarengi dengan serangan-serangan mereka karena mereka tahu bahwa serangan tiga orang secara berbarengan tentu akan lebih banyak memungkinkan hasil baik.

"Menjemukan...!" Liu Lu Sian berseru dan terjadilah penglihatan yang amat menarik. Tiga orang pemuda itu menyerang dari tiga jurusan, serangan mereka galak dan ganas, apalagi Si Muka Kuning Bhong Siat yang ternyata merupakan seorang ahli ilmu silat yang mempergunakan tenaga dalam.

Pukulan-pukulannya mendatangkan angin yang bersiutan. Namun hebatnya, tak pernah enam buah tangan dan enam buah kaki itu menyentuh ujung baju Lu Sian.

Gadis itu dalam pandangan tiga orang pengeroyoknya lenyap dan berubah menjadi bayangan yang berkelebatan seperti sambaran burung walet yang amat lincah. Dan dalam pertandingan kurang dari dua puluh jurus, terdengar teriakan-teriakan dan secara susul-menyusul tubuh tiga orang pemuda itu "terbang" dari atas panggung, terlempar secara yang mereka sendiri tidak tahu bagaimana. Mereka jatuh tunggang-langgang dan berusaha untuk merangkak bangun.

"Hemm, orang-orang tak tahu malu. Hayo lekas pergi dari sini!" terdengar suara keras membentak di belakang mereka dan sebuah lengan yang kuat sekali memegang tengkuk mereka dan tahu-tahu tubuh mereka seorang demi seorang terlempar keluar. Tanpa berani menoleh lagi kepada Ma Thai Kun yang melemparkan mereka keluar, tiga orang itu terus saja lari sempoyongan keluar dari halaman gedung.

Para tamu menyambut kemenangan Liu Lu Sian dengan tepuk tangan riuh rendah. Para muda yang tadinya ada niat untuk mencoba-coba, makin kuncup hatinya dan hampir semua membatalkan niat hatinya, menhibur hati yang patah dengan kenyataan bahwa tak mungkin mereka dapat menandingi nona yang amat lihai itu!

Akan tetapi ternyata masih seeorang laki-laki muda yang dengan langkah tegap dan tenang menghampiri panggung, kemudian dengan gerakan lambat melompat naik. Ketika kedua buah kakinya menginjak panggung, Lu Sian merasa tergetar kedua telapak kakinya, tanda bahwa yang datang ini memiliki lwee-kang yang cukup hebat. Ia menjadi tertarik, akan tetapi ketika mengangkat muka memandang, ia merasa kecewa.

Laki-laki ini sikapnya gagah dan pakainnya sederhana, mukanya membayangkan kerendahan hati dan kejujuran, namun sama sekali tidak tampan, matanya lebar dan alisnya bersambung hidungnya pesek!

"Saya yang bodoh Lie Kung dari pegunungan Tai-liang. Sebetulnya saya tidak ada harga untuk memasuki sayembara, akan tetapi karena sudah sampai di sini dan saya amat tertarik dan kagum menyaksikan kehebatan ilmu silat Nona, perkenankanlah saya memperlihatkan kebodohan sendiri." Kata-katanya merendah akan tetapi jujur dan sederhana.

Lu Sian tersenyum mengejek. "Siapa pun juga boleh saja mencoba kepandaian karena memang saat ini merupakan kesempatan. Nah, silakan saudara Lie maju!"

"Nona menjadi nona rumah dan seorang wanita, saya merasa sungkan untuk membuka serangan." Jawab Lie Kung.

"Hemm, kalau begitu sambutlah ini!" Secara tiba-tiba Liu Lu Sian menyerang, pukulannya amat cepat, gerakannya indah akan tetapi bersifat ganas karena pukulan itu mengarah bagian berbahaya di pusar, merupakan serangan maut ! Lie Kung berseru keras dan kaget. Tak sangkanya nona yang demikian cantiknya begini ganas gerakanya, maka cepat ia melompat mundur dan mengibaskan tangan dan menangkis dengan kecepatan penuh.

Lu Sian tidak sudi beradu lengan, menarik kembali tangannya dan menyusul dengan pukulan angan miring dari samping mengarah lambung. Sekali merupakan terjangan maut yang amat erbahaya, Lie Kung ternyata gesit sekali karena jungkir balik ia dapat menyelamatkan diri!

Tepuk tangan menyambut gerakan ini karena sekarang para tamu merasa mendapat suguhan yang menarik, tidak seperti tadi di mana tiga orang pemuda sama sekali tidak dapat mengimbangi permainan Liu Lu Sian yang gesit. Pemuda pesek ini benar-benar cepat gerakannya walaupun tampaknya lambat dan tenang.

Setelah diserang selama lima jurus dengan hanya mengelak, mulailah dia mengembangkan gerakannya untuk balas menyerang. Telah ia duga bahwa pemuda ini merupakan seorang ahli lwee-kang, dan ternyata benar.

Pukulan pemuda ini berat dan antep, hanya sayangnya pemuda ini berlaku sungkan-sungkan, buktinya yang diserang hanya bagian-bagian yang tidak berbahaya. Marahlah Lu Sian. Sikap pemuda yang hanya mengarahkan serangan pada pundak, pangkal lengan dan bagian-bagian lain yang tidak berbahaya itu, baginya diterima salah. Dianggap bahwa pemuda ini terlampau memandang rendah padanya, seakan-akan sudah merasa pasti akan menang sehingga tidak mau membuat serangannya berbahaya.

Setelah lewat tiga puluh jurus mereka serang-meyerang, tiba-tiba Lu Sian mengeluarkan suara kelengking tinggi yang mengejutkan semua orang. Gerakannya tiba-tiba berubah lambat dan aneh, pukulannya merupakan gerakan yang melingkar-lingkar.

"Bagaimana kaulihat pemuda itu?" Pat-jiu Sin-ong bertanya ketika ia melihat Kwee Seng menoleh dan menonton pertandingan, tidak seperti tadi ketika tiga orang pemuda mengeroyok Lu Sian. Kwee Seng memandang acuh tak acuh.

"Lumayan juga. Bakatnya baik dan kalau ia tidak terlalu banyak kehendak, ia dapat menjadi ahli lwee-keh yang tangguh."

"Ha-ha, kaulihat . Puteriku sudah mulai mainkan Sin-coa-kun ciptaanku yang terakhir. Pemuda itu takkan dapat bertahan lebih dari sepuluh jurus!"

Diam-diam Kwee Seng memperhatikan. Ilmu Silat Sin-coa-kun (Silat Ular Sakti) memang hebat, mengandung gerakan-gerakan ilmu silat tinggi yang disembunyikan dalam gaya kedua tangan yang gerakannya seperti ular menggeliat-geliat dan melingkar-lingkar.

Namun dalam ilmu silat ini terkandung sifat yang amat ganas, dan kembali sepasang alis pemuda ini berkerut saking kecewa. Sungguh sayang sekali, kecantikan seperti bidadari itu, dirusak sifat-sifat liar dan ganas, diisi ilmu yang amat keji.

Untuk mengusir kekecewaan yang menggeregoti hatinya, pemuda ini menuangkan arak sepenuhnya dan mengangkat cawan. "Minum biar puas!" lalu sekali tenggak habislah arak itu. Pat-jiu Sin-ong tertawa bergelak dan minum araknya pula.

Ramalan Pat-jiu Sin-ong ternyata terbukti. Tepat sepuluh jurus, setelah pemuda she Lie itu terdesak dan bingung menghadapi dua lengan halus yang seperti sepasang ular mengamuk, lehernya kena dihantam tangan miring. Ia mengaduh dan terhuyung-huyung ke belakang, akan tetapi tepat pada saat lehernya dihantam, ia dapat mengibaskan tangannya mengenai lengan Lu Sian sehingga menimbulkan suara "plakk!" dan gadis itu menyeringai kesakitan, lengannya terasa panas sekali.

Biarpun ia sudah tahu bahwa pukulannya mengenai leher lawan dengan tepat, karena lengannya tertangkis tadi, Lu Sian menjadi marah dan cepat ia maju lagi mengirim pukulan yang agaknya akan menamatkan riwayat pemuda itu.

"Cukup...!!" tiba-tiba sesosok bayangan meloncat ke atas panggung dan dengan cepat menangkis tangan Lu Sian yang mengirim pukulan maut. "Dukkk!" Dua buah lengan tangan bertemu dan keduanya terhuyung ke belakang sampai tiga langkah.

Dengan kemarahan meluap-luap Lu Sian memandang orang yang begitu lancang berani menangkis pukulannya tadi. Ia membelalakkan matanya dan... tiba-tiba ia merasa seakan-akan jantungnya diguncang keras, kemarahannya lenyap dan ia terpesona. Belum pernah selama hidupnya ia melihat seorang pemuda yang begini ganteng!

Rambutnya hitam tebal diikatkan ke atas dengan sehelai sutera kuning. Pakaiannya indah dan ringkas, membayangkan tubuhnya yang tegap berisi, dadanya yang bidang. Alisnya berbentuk golok, hitam seperti dicat, hidung mancung, mulut berbentuk bagus membayangkan watak gagah dan hati keras.

Pendeknya, wajah dan bentuk badan seorang jantan yang tentu akan meruntuhkan hati setiap orang gadis remaja! Seketika Lu Sian jatuh hatinya, akan tetapi mengingat perbuatan lancang pemuda ini, untuk menjaga harga dirinya, ia menegur juga, hanya tegurannya tidak seketus yang dikehendakinya.

"Kau siapa, berani lancang turun tangan mencampuri pertandingan ?"

Pemuda itu menuntun Lie Kung sampai ke pinggir panggung, menyuruhnya mengundurkan diri, Lie Kung menjura ke arah Liu Lu Sian lalu melompat turun, terus pergi meninggalkan tempat itu. Setelah itu, baru pemuda yang membawa sebuah golok disarungkan dan digantungkan pada pinggangnya itu membalikkan tubuh menghadapi Liu Lu Sian sambil berkata.

"Maaf, Nona. Memang saya tadi berlaku lancang. Akan tetapi sekali-kali bukan dengan maksud hati yang buruk, hanya untuk mencegah terjadinya pertumpahan darah. Sudah terlalu jiwa melayang...ah, sayang sekali. Kunasihatkan kepadamu, Nona. Hentikan cara pemilihan suami seperti ini. Tiada guna! Dan kasihan kepada yang tidak mampu menandingimu. Nah, sekali lagi maafkan kelancanganku tadi!" Ia menjura dan hendak pergi.

"Eh orang lancang! Bagaimana kau biasa pergi begitu saja setelah menghinaku ? Hayo maju kalau kau memang berkepandaian!" Lu Sian sengaja menantang karena hatinya sudah jatuh dan ingin ia menguji kepandaian laki-laki yang menarik hatinya ini. Kalau memang benar seperti dugaannya, bahwa laki-laki ini seperti terbukti ketika menagkisnya tadi, memiliki kepandaian tinggi, ia akan merasa puas mendapat jodoh setampan dan segagah ini.

Kwee Seng memang tampan pula tetapi terlalu tampan seperti perempuan, kalah gagah oleh pemuda ini. Dan biarpun ia tahu ilmu kepandaian Kwee Seng mungkin hebat, akan tetapi sikap pemuda itu terlalu halus, terlalu lemah lembut, kurang "jantan!"

Pemuda itu membalikkan tubuhnya, kembali menjura kepada Lu Sian sambil berkata, suaranya perlahan. "Hanya Tuhan yang tahu betapa inginnya hatiku menjadi pemenang.. akan tetapi... bukan beginilah caranya. Maafkan, Nona, biarlah aku mengaku kalah terhadapmu!" Sambil melempar pandang tajam yang menusuk hati Lu Sian, pemuda itu hendak mengundurkan diri.

"Apakah engkau begitu pengecut, berani berlaku lancang tidak berani memperkenalkan diri ? Siapakah kau yang sudah berani... menghinaku?

Dimaki pengecut, pemuda itu menjadi merah mukanya. "Aku bukan pengecut! Kalau Nona ingin benar tahu, namaku adalah Kam Si Ek dari Shan-si." Setelah berkata demikian, pemuda gagah bernama Kam Si Ek itu lalu meloncat turun dari panggung dan cepat-cepat lari keluar dari halaman gedung.

Sampai beberapa saat lamanya Liu Lu Sian berdiri bengong di atas panggung, merasa betapa semangatnya seakan-akan melayang-layang mengikuti kepergian pemuda ganteng itu, "Pat-jiu Sin-ong, kau baru saja kehilangan seorang calon mantu yang hebat!" Kwee Seng berkata sambil menyambar daging panggang dengan sumpitnya.

"Kau maksudkan bocah ganteng tadi? Siapakah dia? Namanya tidak pernah kudengar," jawab Pat-jiu Sin-ong.

"Ha-ha-ha! Kam Si Ek adalah panglima muda di Shan-si dan hanya karena adanya pemuda itulah maka Shan-si terkenal daerah yang amat kuat dan membuat gubernurnya yang bernama Li Ko Yung terkenal. Cocok sekali dia dengan puterimu. Puterimu menjadi perebutan pemuda-pemuda, sebaliknya entah berapa banyaknya gadis di dunia ini yang ingin menjadi istrinya! Ha-ha-ha!" Terang bahwa Kwee Seng sudah mulai terpengaruh arak.

Memang sebetulnyalah kalau pemuda itu tadi mengatakan bahwa dia tidak bias minum arak banyak-banyak. Akan tetapi karena kerusakan hatinya menghadapi cinta terhadap Liu Lu Sian berbareng kecewa, ia sengaja nekat minum terus tanpa ditakar lagi.

"Huh, apa artinya panglima bagiku? Dia memang tampan, akan tetapi kalau disuruh memilih kau, Kwee Seng!"

Liu Lu Sian tersentak kaget dan membalikkan tubuh, masih berdiri di tengah panggung. Juga para tamu mrndengar percakapan yang dilakukan dengan suara keras itu. Kini mereka memandang ke arah mereka, terutama sekali Kwee Seng menjadi pusat perhatian.

Pemuda ini sudah bangkit berdiri, cawan arak di tangan kanannya. Hatinya berguncang keras ketika ia mendengar ucapan ketua Beng-kauw itu. Betapa tidak ? Jelas bahwa Ketua Beng-kauw ini agaknya suka memilih dia sebagai mantu. Dan dia sendiri pun sudah jelas mencintai gadis jelita itu, hal ini tidak dapat ia bantah, seluruh isi hati dan tubuhnya mengakui.

Mau apa lagi? Tinggal mengalahkan gadis itu, apa sukarnya? Akan tetapi di balik rasa cinta, di sudut kepalanya di mana kesadarannya berada, terdapat rasa tak senang yang menekan kembali rasa cinta kasihnya dengan bisikan-bisikan tentang kenyataan betapa keadaan gadis itu dan keluarganya sama sekali tidak cocok, bahkan berlawanan dengan pendirian dan wataknya.

Ia jatuh cinta kepada seorang dara yang berwatak liar dan ganas, sombong dan tinggi hati, licik dan keji, gadis yang menjadi puteri tunggal Ketua Beng-kauw yang sakti, aneh dan sukar diketahui bagaimana wataknya. Gadis yang menjadi sebab kematian banyak pemuda yang tak berdosa!

Kesadarannya membisikkan bahwa betapa pun ia mencintai gadis itu, cintanya hanya karena pengaruh kejelitaan gadis itu dan kalau ia menuruti cintanya yang terdorong nafsu, kelak akan tersiksa hatinya. Akan tetapi perasaannya membantah kalau ia boleh membawa pergi gadis itu bersamanya, mungkin ia bisa membimbingnya menjadi seorang isteri yang baik dan cocok dengan sifat-sifat dan wataknya.

"Lo-enghiong, jangan main-main!"

"Ha-ha, siapa main-main ? Kwee-hiantit hanya kaulah yang agaknya pantas bertanding dengan puteriku. Hayo kau kalahkan dia, kalau tidak anakku itu akan makin besar kepala saja dan para tamu tentu akan mengira aku hendak menang sendiri! Ha-ha-ha!"

"Hemmm, puterimu berkepandaian tinggi. Terus terang saja, akupun ingin sekali menguji kepandaiannya. Akan tetapi... hemm, Lo-enghiong, harap jangan salah sangka. Dengan jujur aku mengaku bahwa puterimu telah menarik hatiku. Akan tetapi, perjodohan melalui pertandingan memang kurang tepat, yang perlu hati masing-masing.

Bagaimana kalau aku naik ke panggung, tapi bukan untuk memasuki sayembara pemilihan jodoh, hanya sekedar main-main menguji kepandaian belaka?" Ucapan ini dilakukan perlahan tidak terdengar orang lain.

Akan tetapi Ketua Beng-kauw itu tertawa keras dan menjawab dengan suara keras pula. "Ha-ha-ha-ha! Aku mengerti,kau memang seorang yang teliti dan cermat, terlalu berhati-hati! Kalau menyalahi peraturan, berarti melanggar dan siapa melanggar harus didenda!"

Kwee Seng tertawa pula dan menenggak sisa araknya. "Dendanya bagaimana? Kau harus menurunkan ilmu pukulan yang kau pergunakan untuk mengalahkan puteriku itu kepadanya."

"Aku. Tapi dia harus ikut denganku ke mana aku pergi."

"Boleh. Nah, orang muda, kau cobalah!"

Hati Liu Lu Sian sudah mendongkolkan sekali mendengarkan percakapan antara ayahnya dan pemuda pelajar yang kelihatan lemah lembut itu. Apalagi ketika ia melihat Kwee Seng berjalan menghampirinya dengan langkah sempoyongan dan mukanya yang berkulit putih halus itu kelihatan merah sekali, tanda-tanda seorang mabuk!

"Apakah Kwee-kongcu juga tidak mau ketinggalan dalam lomba pameran kepandaian?" Liu Lu Sian menegur dengan kata-kata dingin. Ternyata gadis ini masih mendongkol mengingat betapa tadi di depan ayahnya, Kwee Seng sudah membikin basah pakaiannya dengan arak, merupakan bukti bahwa dalam adu tenaga secara diam-diam itu, pemuda ini sudah memang setingkat daripadanya.

"Cuma kali ini Kongcu sedang mabuk, tidak enak kalau aku mencari kemenangan dan seorang yang mabok!" Dengan kata-kata ketus ini, Liu Lu Sian hendak menebus rasa malunya tadi.

Kwee Seng tersenyum dan diam-diam mengagumi wajah yang demikian eloknya, mulut yang biarpun menghamburkan kata-kata pedas dan pahit, namun tetap manis didengar. Matanya yang agak mabok itu seakan-akan lekat pada bibir itu dan sejenak Kwee Seng terpesona, tak dapat berkata apa-apa, tak dapat bergerak memandang ke arah mulut dara jelita.

Bibir merah basah menantang Bentuk indah gendewa terpentang Hangat lembut mulut juita Sarang madu sari puspita Senyum dikulum bibir gemetar Tersingkap mutiara indah berjajar Segar sedap lekuk di pipi Mengawal suara merdu sang dewi!

"Heh, kenapa kau melongo saja?" tiba-tiba Lu Sian membentak, lenyap sikapnya menghormat karena ia tak dapat menahan kejengkelan hatinya.

Kwee Seng sadar dari lamunannya. "Eh..., ohh... Nona, kau tahu, aku sebetulnya tidak ingin memasuki sayembara... dan aku ...aku lebih suka bertanding dengan si pemilik tangan maut!" Sambil berkata demikian ia menoleh, matanya mencari-cari.

"Cukup! Tak perlu banyak bicara lagi Kwee-kongcu. Aku sudah mendengar bahwa kalau aku kalah, aku harus menjadi muridmu dan ikut pergi bersamamu!" kata pula Lu Sian dengan senyum mengejek. "Akan tetapi jangan kira akan mudah mengalahkan aku!" Setelah berkata demikian, gadis itu berkelebat cepat dan tahu-tahu ia sudah lari menyambar pedangnya yang terletak diatas meja dan secepat itu pula berkelebat kembali menghadapi Kwee Seng.

Pemuda itu tersenyum, senyum yang mengandung banyak arti, setengah mengejek dan setengah kagum begitu cepatnya gadis itu bergerak dan menyarungkan pedangnya dengan gerakan indah. Lu Sian merasakan ejekan ini dan dengan gemas ia berkata," Menghadapi seorang sakti seperti engkau ini, Kwee-kongcu, tidak bisa disamakan dengan segala cacing tanah tadi.

Aku mengharapkan pelajaran darimu dalam menggunakan senjata!" Sambil berkata demikian gadis ini mencabut pedangnya dan tampaklah sinar berkelebat, putih menyilaukan mata.

"Lu Sian, mundurlah! Manusia ini terlalu sombong, biar aku mewakilimu memberi hajaran!" Tiba-tiba bayangan tinggi kurus melayang ke depan Kwee Seng dan sebuah lengan menyambar ke arah dada pemuda itu.

"Wutttt!" Kwee Seng miringkan pundaknya dan pukulan yang hebat itu lewat cepat.

"Hemm, aku senang sekali melayanimu!" kata Kwee Seng dan jari telunjuknya menotok ke arah pergelangan tangan yang lewat di sampingnya. Akan tetapi secepat itu pula Ma Thai Kun sudah menarik kembali lengannya sehingga dalam dua gebrakan ini mereka berkesudahan nol-nol atau sama cepatnya.

"Ji-sute, mundur kau!" kembali Liu Gan berseru keras dan biarpun matanya melotot marah, Ma Thai Kun tidak berani membantah perintah suhengnya dan ia mundurkan diri dengan kemarahan di tahan-tahan.

Orang She Kwee, kau terlalu sombong. Lihat pedangku!" bentak Liu Lu Sian sambil menggerakan pedangnya dengan cepat sehingga pedang itu berubah menjadi segulung sinar putih yang membuat lingkaran-lingkaran lebar, makin lama lingkaran itu makin lebar mengurung tubuh Kwee Seng. Namun pemuda ini hanya menggerakkan sedikit tubuhnya dan selalu ia terhindar daripada kilat yang berpencaran keluar dari sinar pedang itu.

"Lu Sian, jangan pandang ringan dia! Gunakan Toa-hong Kiam-hoat (Ilmu Pedang Angin Badai)!" seru Liu Gan dengan suara gembira, wajahnya berseri dan matanya bersinar-sinar.

Begitu gebrakan pertama dan selanjutnya secara cepat berlangsung, Lu Sian sudah mengerti bahwa Kwee Seng ini benar-benar amat lihai. Pedangnya yang menyambar-nyambar seperti hujan cepatnya itu ternyata dapat dielakkan secara aneh dan sama sekali tidak tampak tergesa-gesa, seakan-akan gerakan-gerakannya ini masih terkampau lambat bagi Kwee Seng.

Oleh karena ini, begitu mendengar seruan ayahnya, ia segera mengerahkan tenaga dan berlaku hati-hati, cepat ia mainkan ilmu pedang ajaran ayahnya, yaitu Toa-hong Kiam-hoat. Gadis ini mengerti bahwa kali ini ia tidak saja harus menjaga harga dirinya, melainkan juga menjaga muka ayahnya.

Melihat perubahan ilmu pedang gadis itu yang kini menderu-deru seperti angin badai mengamuk, diam-diam Kwee Seng kaget dan kagum. Tak percuma Ketua Beng-kauw mendapat julukan Pat-jiu Sin-ong dan tidak percuma pula gadis itu menjadi puteri tunggalnya karena ilmu pedang ini amat cepat dan hebat berbahaya sehingga tak mungkin dihadapi mengandalkan kecepatan belaka.

Pemuda sakti ini maklum pula bahwa Pt-jiu Sin-ong seorang yang amat licik dan aneh. Tentu sekarang Ketua Beng-kauw itu menyuruh anaknya mengeluarkan ilmu pedang simpanan agar terpaksa ia mengeluarkan ilmunya yang sejati pula untuk mengalahkan Lu Sian.

Kwee Seng maklum pula bahwa janji untuk menurunkan ilmunya yang mengalahkan Lu Sian, adalah janji yang amat licik dari Pat-jiu Sin-ong, yang membayangkan sifat loba seorang ahli silat yang ingin sekali menguasai seluruh ilmu yang paling sakti di dunia ini.

Melalui puterinya, Ketua Beng-kauw ini hendak memancing-mancing ilmu silatnya untuk menambah perbendaharaan ilmu Pat-jiu Sin-ong! Karena tidak ingin menggunakan ilmu simpanannya untuk mengalahkan Lu Sian agar ia tidak usah menurunkan ilmu itu pada gadis ini, kembali Kwee Seng mengandalkan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang lebih tinggi daripada kepandaian gadis itu untuk meleset kesana kemari, menyelinap di antara sambaran pedang Lu Sian yang seperti badai mengamuk itu. Akan tetapi belum lima belas jurus Lu Sian mainkan Ilmu Pedang Toa-hong-kian, ayahnya sudah berseru lagi.

"Lu Sian, pergunakan Pat-mo Kiam-hot!" Ilmu pedang Pat-mo-kiam (Pedang Delapan Iblis) ini sengaja diciptakan oleh Pat-jiu Sin-ong untuk mengimbangi Ilmu Pedang Pat-sian-kiam (Pedang Delapan Dewa) yang pernah ia hadapi dahulu. Hebatnya bukan kepalang. Lu Sian kembali menurut perintah ayahnya dan gerakan pedangnya berubah lagi.

Kini pedangnya tidak mengandalkan kecepatan, melainkan lebih mendasarkan serangan pada penggunaan tenaga sin-kang (tenaga sakti). Setiap tusukan atau bacokan mengandung tenaga mujijat sehingga anginnya saja sudah cukup untuk merobohkan lawan yang kurang kuat.

Kembali Kwee Seng kaget dan kagum. Seperti juga sifatnya Pat-sian-kiam yang ia kenal, ilmu pedang ini rapi sekali, seakan-akan dimainkan oleh delapan orang, namun Pat-mo-kiam mengandung sifat yang lebih ganas dan keji. Mendadak ia mendapatkan pikiran yang baik sekali. Biarpun Pat-mo-kiam diciptakan untuk menghadapi Pat-sian-kiam, namun ilmu silat hanya sekedar teori atau peraturan gerakan belaka yang terpenting adalah orangnya. Karena tingkatnya lebih tinggi daripada tingkat Lu Sian, maka ia merasa sanggup mengalahkan Pat-mo-kiam yang dimainkan gadis ini dengan ilmu pedang Pat-sian-kiam.

Ia berseru keras dan tahu-tahu tangannya sudah mencabut keluar sebuah kipas yang di sembunyikan di dalam bajunya. Cepat ia mainkan Ilmu Pedang Pat-sian-kiam, kipasnya mengeluarkan angin yang kuat sekali sehingga gulungan sinar pedang putih terdesak dan tiba-tiba Lu Sian berseru keras karena siku kanannya terkena totokan gagang kipas.

Seketika tangannya kejang dan hampir saja ia melepaskan pedang, baiknya dengan gerakan yang cepat bukan main Kwee Seng sudah memulihkan totokan lagi sehingga gadis itu dapat menyambar pedangnya yang sudah terlepas tadi.

Dasar gadis yang tak dapat menerima kekalahan, begitu pedangnya terpegang lagi ia terus menyerang dengan hebat!

"Aiihh...!" Kwee Seng berseru dan tubuhnya berkelebat. Terpaksa ia mempergunakan ilmunya yang hebat, yaitu Pat-sian Kiam-hoat yang sudah ia gabung dengan Ilmu Kipas Lo-hain San-hoat (Ilmu Kipas Pengacau Lautan). Kipasnya mengebut pedang lawan dan selagi pedang itu miring letaknya, gagang kipasnya menotok dan... kini seluruh tubuh Lu Sian menjadi kaku tak dapat digerakkan lagi!

Kwee Seng cepat menempel pedang lawan dengan kipasnya, merampas pedang itu di antara kipas sambil jari tangan kirinya membebaskan totokan! Lu Sian dapat bergerak lagi akan tetapi pedangnya sudah terampas. Gadis itu marah bukan main, siap menerjang dengan tangan kosong berdasarkan kenekatan.

"Lu Sian, cukup ! Haturkan terima kasih kepada calon suami atau gurumu! Ha-ha-ha!" teriak Pat-jiu Sin-ong sambil melompat ke atas panggung. Tepuk tangan riuh menyambut kemenangan Kwee Seng ini, sedangkan Lu Sian lari ke dalam tanpa menoleh lagi.

Sambil merangkul pundak Kwee Seng, Pat-jiu Sin-ong berkata lantang kepada para tamunya. "Sahabat mudaku Kwee Seng telah menang mutlak atas puteriku dan dia berhak menjadi calon mantuku. Akan tetapi, karena dia pun seorang aneh, tidak kalah anehnya dengan aku sendiri, hanya dia yang dapat menentukan apakah perjodohan ini diteruskan atau tidak.

Betapapun juga, ia sudah berjanji akan menurunkan ilmunya yang tadi mengalahkan puteriku kepada Liu Lu Sian. Suami atau guru, apa bedanya? Ha-ha-ha-ha-ha!"

Orang tua itu menggandeng tangan Kwee Seng untuk di ajak minum sepuasnya. Sedangkan para tamu mulai menaruh perhatian dan mempercakapkan pemuda pelajar yang tampaknya lemah-lembut itu. Beberapa orang tokoh tua segera mengenal Kwee Seng sebagai Kim-mo-eng dan mulai saat itu, terkenallah nama Kim-mo-eng Kwee Seng.

Tiga hari kemudian, Kwee Seng dan Lu Sian kelihatan menunggang dua ekor kuda keluar dari kota raja Kerajaan Nan-cao. Seperti telah ia janjikan, setelah menangkan pertandingan, ia akan mengajarkan ilmu kepada Lu Sian dan gadis itu harus menyertai peraturannya sampai menerima pelajaran itu.

Pat-jiu Sin-ong memberi dua ekor kuda yang baik, berikut seguci arak kepada Kwee Seng karena selama tiga hari di tempat itu, pemuda ini siang malam hanya makan minum dan mabuk-mabukan saja, manjadi seorang peminum yang luar biasa.

Betapapun juga, melihat mereka naik kuda berendeng, memang keduanya merupakan pasangan yang amat setimpal. Wajah Lu Sian nampak berseri, karena betapapun juga, menyaksikan sikap Kwee Seng, gadis ini dapat menduga bahwa sebetulnya pemuda yang tampan dan sakti ini jatuh hati kepadanya.

Pandang mata pemuda itu dapat ia rasakan dan diam-diam merasa girang sekali. Memang sudah menjadi waatak Lu Sian, makin banyak pria jatuh hati kepadanya makin giranglah hatinya, apalagi kalau kemudian ia dapat mematahkan hati orang-orang yang mencintainya itu!

"Kwee-koko (Kakanda Kwee), kemanakah kita menuju?" Tanya Lu Sian dengan suara halus dan manis, bahkan mesra. Kwee Seng memeluk guci araknya dan menoleh ke kiri. Melihat wajah ayu itu menengadah, mata bintang itu menatapnya dan mulut manis itu setengah terbuka, hatinya tertusuk dan cepat-cepat ia membuang muka sambil memejamkan matanya,

"Ke mana pun boleh!" jawabnya tak acuh, lalu menenggak araknya sambil duduk di punggung kuda tanpa memegangi kendalinya.

"Eh, bagaimana ini? kau yang mengajak aku. Biarlah kita ke timur, sampai ditepi sungai Wu-kiang yang indah. Bagaimana koko?" "Hemm, baik. Ke lembah Wu-kiang!" jawab Kwee Seng.

Lu Sian membedal kudanya dan Kwee Seng masih tetap duduk sambil minum arak, akan tetapi kudanya dengan sendirinya mencongklang mengikuti kuda yang dibalapkan Lu Sian.

Tak lama kemudian mereka sudah keluar dari daerah kota raja, memasuki hutan. Kembali Lu Sian menahan kudanya, dan kuda Kwee Seng juga ikut berhenti.

"Kwee-koko, mengapa kau hanya minum saja? Kita melakukan perjalanan sambil bercakap-cakap, kan menyenangkan? Apa kau tidak suka melakukan perjalanan bersamaku? Kwee-koko, hentikan minummu, kau pandanglah aku!"

Mulai jengkel hati Lu Sian yang merasa diabaikan atau tidak diacuhkan. Kwee Seng menoleh lagi ke kiri, makin terguncang jantungnya dan kembali ia menenggak araknya!

"Nona, tidak apa-apa, aku senang melakukan perjalanan ini. Ah arak ini wangi sekali!"

Lu Sian cemberut dan tidak menjalankan kudanya. "Uh, wangi arak yang menjemukan ! Masa kau tidak bosan-bosan minum setalah tiga hari tiga malam terus minum bersama ayah ? Kwee-koko, aku" aku pernah disebut ayah bunga kecil harum dan orang-orang di sana semua mengatakan bahwa ada ganda harum sari seribu bunga keluar dari tubuhku. Apakah kau tidak mencium ganda harum itu?"

Kwee Seng tersentak kaget. Alangkah beraninya gadis ini ! Alangkah bebasnya dan genitnya ! Mengajukan pernyataan dan pertanyaan macam itu kepada seorang pemuda. Dia sendiri yang mendengarnya menjadi merah wajahnya, akan tetapi secara jujur ia berkata, "Memang ada aku mencium bau harum itu, nona, semenjak kita bertanding ganda harum itu tidak eh, tidak pernah terlupa olehku. Eh, bagaimana ini!" Ia tergagap dan untuk menutupi malunya kembali ia menenggak araknya. Lu Sian menahan tawanya dan hatinya makin gembira. Kiranya laki-laki ini tiada bedanya dengan yang lain, mahluk lemah dan bodoh, canggung dan kaku kalau berhadapan dengan gadis ayu ! Alangkah akan senang hatinya dapat mempermainkan laki-laki ini, mempermainkan pendekar yang memiliki kepandaian tinggi, yang kesaktiannya menurut ayahnya ketika membisikkan pesan tadi, tidak berada di sebelah bawah tingkat ayahnya !

"Kwee Seng, berhenti!!" Tiba-tiba terdengar bentakan dari belakang pada saat Kwee Seng sedang minum araknya di awasi oleh Lu Sian. Gadis itu terkejut karena mengenal suara bentakan. Cepat ia membalikkan tubuh diatas punggung kudanya.

"Ma-susiok (Paman Guru Ma)! Ada keperluan apakah Susiok menyusul kami?" Biarpun masih duduk di atas kudanya membelakangi mereka yang baru datang, Kwee Seng tahu bahwa yang datang adalah dua orang. Kemudian ia merasa heran juga ketika mendengar suara Ma Thai Kun berubah sama sekali dalam jawaban pertanyaan Lu Sian.

"Lu Sian, kau menjauhlah dulu. Urusan ini adalah urusan antara Kwee Seng dengan aku dan percayalah, tindakanku ini sesungguhnya demi kebaikan dirimu."

Kwee Seng adalah seorang pemuda yang amat halus perasaanya. Ia maklum orang macam bagaimana adanya sute ke dua dari Pat-jiu Sin-ong ini, seorang kasar dan pemarah, sombong dan tinggi hati. Mengapa tiba-tiba terkandung getaran halus yang amat berlawanan dengan wataknya itu ketika bicara terhadap Lu Sian ?

Tiba-tiba ia teringat akan semua peristiwa di Nan-cao dan keningnya berkerut. Tahulah ia sekarang sebabnya dan sekaligus terbongkar sudah olehnya semua rahasia pembunuhan di Beng-kauw. Hal ini mendatangkan marah di hatinya dan ia berkata.

Nona, lebih baik kau menuruti permintaan susiokmu. Kau minggirlah, dan biar aku bicara dengannya.Liu Lu Sian tersenyum dan menjauhkan kudanya dengan wajah berseri. Hal inilah yang tidak dimengerti oleh Kwee Seng. Mengapa gadis itu malah tersenyum seperti orang bergembira padahal jelas bahwa paman gurunya mempunyai niat tidak baik terhadap dirinya ? Ia tidak peduli, lalu meloncat turun dari atas kudanya dengan guci arak masih di tangan kiri, sambil membalik sehingga ketika kedua kakinya menginjak tanah, ia berhadapan dengan Ma Thai Kun dan seorang laki-laki muda yang sikapnya tenang sungguh-sungguh, berpakaian sederhana memakai caping dan punggungnya terhias sebatang cambuk. Ma Thai Kun merah mukanya, alisnya berkerut dan sepasang matanya memancarkan sinar kemarahan.

Ma Thai Kun, katakanlah kehendak hatimu sekarang. Kwee Seng, kau seorang yang telah menghina Beng-kauw ! Kau tidak memandang mata kepada tokoh-tokoh Beng-kauw, mengandalkan kepandaian mengalahkan seorang wanita muda, mengandalkan mulut manis mengelabuhi seorang tua. Twa-suheng boleh saja kau kelabuhi, akan tetapi aku Ma Thai Kun takkan membiarkan kau pergi menggondol keponakanku begitu saja untuk melaksanakan niatmu yang kotor!

Wah-wah ! Hatimu dan pikiranmu sendiri berlepotan noda, kau masih bicara tentang niat kotor orang lain. Bagus sekali mengenal tangan mautmu yang telah kau pergunakan untuk membunuh tujuh orang pemuda di rumah penginapan dan tiga orang pemuda yang sudah kalah oleh Nona Liu Lu Sian!

Ma-susiok ! Betulkah itu?Tiba-tiba Lu Sian yang mendengar kata-kata ini bertanya dengan suara terdengar gembira. Benar-benar Kwee Seng tidak mengerti dan sekali lagi ia terheran-heran atas sikap Lu Sian ini.

Merah wajah Ma Thai Kun. Memang betul aku membunuh mereka. Cacing-cacing tanah itu tak tahu malu dan berani mengharapkan yang bukan-bujan, orang-orang macam mereka mana patut memikirkan Lu Sian ? Aku membunuh mereka apa sangkut-pautnya dengan kau, Kwee Seng?

Suheng Kenapa kau lakukan kekejaman itu ? Bukankah Ji-suheng sudah melarang kitaOrang muda bertopi runcing itu bertanya, suaranya penuh kekuatiran.

Sute, tak usah kauturut campur ! Kau anak kecil tahu apa!

Kwee Seng tertawa bergelak. Sekali pandang saja tahulah ia bahwa orang muda yang menjadi adik seperguruan Ma Thai Kun ini seorang yang jauh bedanya dengan saudara-saudara seperguruannya, jauh lebih bersih batinnya.

Ma Thai Kun, memang urusan dengan pemuda itu tiada sangkut-pautnya dengan aku, akan tetapi pembunuhan keji itu tak boleh kudiamkan saja tanpa menegurmu. Apalagi, kau masih menitipkan sebuah benda kepadaku, apakah kau tidak ingin memintanya kembali?Sambil berkata demikian, Kwee Seng mengeluarkan sebatang jarum merah dari saku bajunya. Kau mengenal ini ? Kau menghadiahkan ini kepadaku selagi aku tidur, dan untuk kebaikan hati itu aku belum membalasnya.Kwee Seng menyindir.

Berubah wajah Ma Thai Kun. Kau kaukah jahanam itu ?bentaknya dan tanpa memberi peringatan lagi ia sudah menerjang ke depan, menggerakkan kedua tangannya mengirim serangan maut dengan pukulan-pukulan yang mengandung tenaga sin-kang sepenuhnya.

iii . aiih. inikah tangan maut yang mengandung racun merah itu ?Kwee Seng mengelak sambil mengejek dan tiba-tiba dari dalam guci arak itu meleset keluar bayangan merah dari arah yang mencrat dan menyerang muka Ma Thai Kun. Biarpun hanya benda cair, karena arak itu digerakkan oleh tenaga lwee-kang, terasa seperti tusukan jarum. Ma Thai Kun cepat mengibaskan tangannya dan hawa pukulannya membuat arak itu pecah bertebaran. Akan tetapi mendadak sebuah guci arak yang sudah kosong melayang ke arah kepalanya. Ma Thai Kun menangkis dengan tangan kirinya.Brakkk !guci itu pecah pula berkeping-keping. Namun Kwee Seng sudah merasa puas. Serangannya yang mendadak dapat memecahkan rahasia gerakan Ma Thai Kun, maka ia sudah dapat menyelami dasarnya. Maka ketika Ma Thai Kun menerjangnya lagi, ia menyambut dengan gerakan kedua tangan yang sama kuatnya. Kwee Seng tidak mengeluarkan senjata melihat lawannya juga bertangan kosong.

Memang di antara para saudara seperguruannya, Ma Thai Kun terkenal seorang ahli silat tangan kosong yang tak pernah menggunakan senjata. Namun, kedua tangannya merupakan sepasang senjata yang mengandung racun, menggila dahsyat dan ampuhnya ! Jarang ia menemui tandingan, apalagi kalau lawannya juga bertangan kosong. Baru beradu lengan dengannya saja sudah merupakan bahaya bagi lawan.

Namun kali ini Ma Thai Kun kecelik. Lawannya biarpun masih muda, namun telah memiliki tingkat kepandaian yang sangat tinggi sekali. Biarpun ia tidak mengisi kedua lengannya itu telah kebal terhadap hawa-hawa beracun yang betapa ampuhnya pun juga, karena ketika ia merantau dan berguru kepadanya pertapa-pertapa di Pegunungan Himalaya, ia telah melatih dan menggembleng kedua lengannya dengan obat-obat mujijat, juga di dalam pertempuran berat ia selalu Mengisi kedua lengannyadengan hawa sakti dari dalam tubuhnya.

Pertandingan itu hebat bukan main. Setiap gerakan tubuh, baik tangan maupun kaki, membawa angin dan menimbulkan getaran, bahkan tanah yang mereka jadikan landasan serasa tergetar oleh tenaga-tenaga dalam yang tinggi tingkatnya. Beberapa kali Ma Thai Kun menggereng dalam pengerahkan tenaga racun merah, disalurkan sepenuhnya ke dalam lengan yang beradu dengan lengan lawan. Namun akibatnya, dia sendiri yang terpental dan merasa betapa hawa panas di lengannya membalik. Makin merahlah ia dan terjangannya makin nekat.

Ma Thai Kun, manusia macam kau ini semestinya patut dibasmi. Akan tetapi mengingat akan persahabatan dengan Pat-jiu Sin-ong, melihat pula muka nona Liu Lu Sian yang masih terhitung murid keponakan dan melihat muka adik seperguruanmuyang bersih hatinya, aku masih suka mengampunkan engkau. Pergilah!

Sambil berkata demikian, tiba-tiba Kwee Seng merendahkan tubuhnya, setengah berjongkok dan kedua lengannya mendorong ke depan. Inilah sebuah serangan dengan tenaga sakti yang hebat. Tidak ada angin bersiut, akan tetapi Ma Thai Kun merasa betapa tubuhnya terdorong tenaga yang hebat dan dahsyat. Ia pun merendahkan diri, mendorongkan kedua lengannya untuk bertahan, namun akibatnya, terdengar bunya berkerotokan pada kedua lengannya dan tubuhnya terlempar seperti layang-layang putus talinya, lalu ia roboh terguling dan kedua lengannya menjadi bengkak-bengkak.

Orang she Kwee, kau melukai suhengku, terpaksa aku membelanya!kata orang muda bertopi runcing sambil melepaskan cambuknya dari punggung.

Saudara yang baik, siapakah namamu?Kwee Seng bertanya, suaranya halus."Aku bernama Kauw Bian, saudara termuda dari Twa-suheng Liu Gan.Hemm, kaulihat kau seorang yang jujur dan baik. Mengapa engkau henndak membela orang yang meyeleweng daripada kebenaran?

Tindakan Sam-suheng memang tidak kusetujui, akan tetapi sebagai sutenya, melihat seorang suhengnya terluka lawan, bagaimana aku dapat diam ? Kewajibankulah untuk membelanya ! Orang she Kwee, hayo keluarkan senjatamu dan lawanlah cambukku ini!Setelah berkata demikian, Kauw Bian menggerakkan cambuknya keatas dan terdengar bunyi Tar-tar-tar!nyaring sekali. Diam-diam Kwee seng kagum sekali. Cambuk itu biarpun kelihatan seperti cambuk biasa, namun ditangan orang ini dapat menjadi senjata yang ampuh sekali. Dan ia kagum akan isi jawaban yang membayangkan kejujuran budi dan kesetiaan yang patut dipuji. Maka Kwee Seng segera menjura dan berjata.

Kauw-enghiong, sikapmu membuat aku lemas dan aku mengaku kalah terhadapmu. Maafkanlah, aku tidak mungkin mengangkat senjata melawan seorang yang benar, dan aku pun percaya kau tidak seperti Suhengmu untuk menyerang seorang yang tidak mau melawan.Setelah berkata demikian, Kwee Seng melompat keatas kudanya, menoleh kepada Lu Sian sambil berkata.

Nona, terserah kepadamu ingin melanjutkan perjalanan bersamaku atau tidak.Lalu ia melarikan kudanya pergi dari situ. Liu Lu Sian tercengang sejenak lalu tersenyum dan membedal kudanya pula, mengejar. Tinggal Kauw Bian yang masih memegang pecut, tidak tahu harus berbuat apa dan hanya dapat memandang dua buah bayangan yang makin lama makin kecil dan akhirnya lenyap itu.

Kauw Bian-sute ! Adik macam apa kau ini ? Kenapa tidak serang dia?Kauw Bian terkejut dan cepat menoleh. Kiranya Ma Thai Kun sudah berdiri di belakangnya, meringis kesakitan dan ke dua lengannya masih bengkak-bengkak.

Tidak mungkin, Suheng. Dia tidak mau melawanku, bagaimana aku bisa menyerang orang yang tidak mau melawan?

Ahhh, dasar kau lemah. Mendadak Ma Thai Kun menghentikan omelannya karena mendadak bertiup angin dan sesosok tubuh tinggi besar melayang turun.

Kiranya Pat-jiu Sin-ong Liu Gan yang datang. Jelas bahwa tokoh ini marah, sepasang matanya melotot memandang Ma Thai Kun dan begitu kakinya menginjak tanah, ia lalu membentak.

Ma Thai Kun ! Bagus sekali perbuatanmu, ya ? Kau layak dipukul seperti anjing!Tangan kiri Liu Gan bergerak dan Plakkk, plakkk!telapak dan punggung tangan sudah menampar cepat sekali mengenai sepasang pipi Ma Thai Kun yang terhuyung-huyung ke belakang. Pucat muka Ma Thai Kun dan matanya menyipit berbahaya ketika berdongak memandang.

Twa-suheng, apa kesalahanku? Masih bertanya tentang kesalahannya lagi ? Anjing hina kau ! Kau, tua bangka, kau berani menaruh hati cinta kepada puteriku, keponakanmu ? Penghinaan besar sekali ini, tidak dapat diampunkan!

Suheng, apa buktinya? Setan alas ! Kaukira aku tidak tahu akan segala perbuatanmu ? Sebelum kau membunuhi pemuda-pemuda itu, pada malam hari itu kau membujuk-bujuk Lu Sian dengan kata-kata merayu, kau menyatakan cintamu dan minta kepada Lu Sian agar jangan mau diadakan pemilihan jodoh. Huh, tak malu ! Dan kau begitu cemburu dan membunuhi para pemuda yang tergila-gila kepada Lu Sian, malah engkau membunuh tiga orang pemuda yang sudah kalah oleh Lu Sian. Kemudian sekarang kau berani mampus menghadang Kwee Seng sehingga dikalahkan dan karenanya menampar mukaku. Keparat!!

Mendengar ini semua, Kauw Bian mukanya sebentar merah sebentar pucat saking heran, terkejut, dan bingung mendengar kelakuan Sam-suheng (Kakak Seperguruan ke Tiga). Namun Ma Thai Kun malah tersenyum.

Twa-suheng, semua itu memang benar ! Akan tetapi, apa salahnya kalau aku mencinta Lu Sian ! Dia wanita dan aku laki-laki ! Agama kita tidak melarang akan hal ini, tidak melarang perjodohan antar keluarga, apalagi antara kita hanya ada hubungan keluarga seperguruan. Twa-suheng, memang aku mencinta Lu Sian dengan sepenuh jiwaku. Lu Sian sendiri tidak marah mendengar pengakuanku, mengapa Suheng marah-marah?

Gemertak bunyi gigi dalam mulut Pat-jiu Sin-ong Liu Gan. Jahanam hina ! Apa kau kira menjadi tanda bahwa dia membalas cintamu ? Huh, goblok dan hina ! Lu Sian selalu akan gembira mendengar orang laki-laki jatuh cinta kepadanya, karena ia ingin menikmati kelucuan badut-badut itu ! Kau sama sekali tidak memandang mukaku, maka kau harus binasa sekarang juga!Liu Gan sudah bergerak maju, akan tetapi ia menarik kembali tangannya ketika melihat Kauw Bian melompat ke tengah menghalanginya.

Kauw Bian Sute, mau apa?? Maaf, Twa Suheng. Terus terang saja siauwte seendiri tidak setuju perbuatan Ma-suheng itu. Akan tetapi, Twa-suheng, betapapun besar kesalahannya, kiranya tidaklah baik kalau Twa-suheng menjatuhkan hukuman mati kepada Ma-suheng. Pertama, mengingat akan saudara seperguruan, ke dua hal itu akan menjadi buah tertawaan dunia kang-ouw dan merendahkan nama besar Twa-suheng, malah menyeret pula nama Beng-kauw yang kita cintai. Betapa dunia kang-ouw akan gempar kalau mendengar bahwa Ketua Beng-kauw

membunuh adik seperguruannya sendiri.

Liu Gan mengerutkan kening, menarik napas panjang dan memeluk sutenya yang paling muda dan memang paling ia saying itu. Ah, Siauw-sute ! Kau masih begini muda namun pandanganmu luas, pikiranmu sedalam lautan. Untung ada engkau yang dapat menahan kemarahan ku. Eh, Ma Thai Kun, minggatlah kau ! Mulai detik ini, aku tidak sudi lagi melihat mukamu dan kalau kau berani muncul di depanku, hemmm, aku tidak peduli lagi, pasti aku akan membunuhmu !

Ma Thai Kun menjura dalam-dalam lalu membalikkan tubuh dan lenyap di antara pohon-pohon. Kauw Bian menarik napas panjang dan mengusap dua titik air matanya dari pipi.

Kau menangis, Sute ?Liu Gan bertanya heran. Dengan suara serak Kauw Bian menjawab, masih membalikkan tubuh memandang ke arah perginya Ma Thai Kun. Perbuatan manusia selalu mendatangkan kebaikan dan keburukan, Twa-suheng. Kalau kita mengingat yang buruk-buruk saja memang dapat menimbulkan benci. Akan tetapi saya teringat akan kebaikan-kebaikan Ma-suheng selama menjadi kakak seperguruan, dan bagaimana hati saya takkan sedih melihat dia pergi untuk selamanya ? Betapapun juga, beginilah agaknya yang paling baik. Dengan penuh duka adikmu ini melihat betapapun juga Ma-suheng pergi membawa serta dendam dan kebencian yang hebat, yang tentu akan membuatnya nekat dan melakukan hal-hal yang berbahaya. Akan tetapi karena Twa-suheng mengusirnya, berarti bahwa semua perbuatannya tiada sangkut-pautnya dengan Beng-kauw.

Mendengar kata-kata ini, berkerut kening Pat-jiu Sin-ong Liu Gan. Hemmm, agaknya benar lagi pendapatmu tentang baik buruk yang lekat pada perbuatan manusia. Kwee Seng kelihatan seorang yang pilihan, akan tetapi siapa tahu sewaktu-waktu sifat buruknya akan menonjol pula. Kauw Bian Sute, kau kembalilah dan bantulah Suhengmu Liu Mo menjaga Beng-kauw dan beri laporan kepada Sri Baginda bahwa aku akan merantau selama dua tiga bulan.

Twa-suheng hendak membayangi perjalanan Kwee Seng dan Lu Sian ? Itu baik sekali, Twa-suheng, karena perjalanan bersama antara seorang pri dan wanita, sungguh merupakan bahaya besar yang bahayanya lebih banyak mengancam si wanita daripada si pria.

Sute, kau benar-benar berpemandangan tajam. Nah, aku pergi !Pat-jiu Sin-ong Liu Gan berkelebat, angin menyambar dan ia sudah lenyap dari depan Kauw Bian. Pemuda yang berpakaian sederhana seperti pengembala ini menarik napas panjang saking kagumnya, kemudian ia pun melangkah pergi dari hutan itu.

Musim dingin telah tiba dan melakukan perjalanan pada musim dingin bukanlah hal yang menyenangkan atau mudah. Apalagi kalau hanya menunggang kuda tanpa ada tempat untuk berlindung dari serangan hawa dingin yang menusuk tulang, tidak mengenakan baju bulu yang tebal, tentu perjalanan itu akan mendatangkan sengsara dan juga bahaya mati kedinginan.

Namun, tidak demikian agaknya bagi Kwee Seng dan Liu Lu Sian. Dua orang muda ini bukanlah orang-orang biasa, melainkan pendekar-pendekar yang sudah gemblengan yang dengan ilmunya telah dapat menyelamatkan diri daripada serangan hawa dingin tanpa bantuan benda luar seperti baju tebal dan selimut. Mereka melakukan perjalanan seenaknya dan hanya mengaso kalau kuda yang mereka tumpangi sudah lelah dan kedinginan.

Pada siang hari itu, mereka mengaso di pinggir Sungai Wu-kiang yang mengalirkan airnya perlahan-lahan ke jurusan timur. Airnya tampak tenang dan sedikit pun tidak bergelombang, membayangkan bahwa sungai itu amat dalam. Lu Sian menyalakan api unggun untuk menghangatkan tubuh dua ekor kuda mereka, juga dengan bantuan api, mereka merasa nikmat dan hangat.

Kwee-koko, sudah dua pekan kita melakukan perjalanan, akan tetapi belum juga kau penuhi dua permintaanku.Lu Sian berkata sambil mengorek-orek kayu membesarkan nyala api.

Nona ? Nah, yang dua belum dipenuhi, yang satu dilanggar pula. Berapa kali sudah kukatakan supaya kau jangan menyebut Nona kepadaku ? Wah, pelajar apakah kau ini, Begitu pikun dan kurang perhatian ? Mana bisa maju mempelajari sastra begitu sulitnya!

Kwee Seng menarik napas panjang. Gadis ini memang hebat. Tidak saja benar-benar mempunyai kecantikan yang asli dan gilang-gemilang, yang cukup meruntuhkan hatinya, namun juga memiliki watak yang kadang-kadang membuat ia bertekuk lutut karena ia jatuh hatinya. Watak yang berandalan, namun seakan-akan dapat menambah terangnya sinar matahari, menambah merdu kicau burung, menambah meriah suasana dan menjadikan segala apa yang tampak berseri-seri. Akan tetapi, juga makin yakin hatinya bahwa di balik segala keindahan, segala hal-hal yang menjatuhkan hatinya ini, tersimpan sifat-sifat lain yang amat bertentangan dengan hatinya. Sifat kejam dan ganas, tidak mempedulilkan orang lain, terlalu cinta kepada diri sendiri, dan tidak mau kalah, ingin selalu menang dan berkuasa saja.

Memang aku seorang pelajar yang gagal, tidak lulus ujian.Ia menjawab kemudian menambahkan. au minta aku menceritakan riwayatku, apakah gunanya ? Aku tidak ada riwayat yang pantas menjadi cerita, aku seorang sebatang kara, yatim piatu, miskin dan gagal. Apalagi ? Tentang permintaanmu ke dua mempelajari ilmu silat yang sedikit-sedikit aku bisa, nantilah, belum tiba saatnya.

Wah, kau jual mahal, Koko!Lu Sian mengejek dan mengisar duduknya mendekati pemuda itu. Memang demikianlah selalu sikap Lu Sian, terhadap siapapun juga. Jinak-jinak merpati, tampaknya jinak tapi tak mudah didekati ! Hawa begini dingin, kalau ditambah sikapmu, bukankah kita akan menjadi beku ? Eh, Kwee-koko, kalau aku tidak ingat bahwa kau adalah seorang ahli silat yang lihai, kau ini pelajar gagal dan murung mengingatkan aku akan seorang penyair yang sama segalanya dan sama murungnya dengan engkauhi hikGadis ini menutup mulutnya dengan tangan, akan tetapi matanya jelas mentertawakan Kwee Seng.

Penyair mana yang kau maksudkan?Biarpun tahu gadis itu hanya menggodanya, namun bicara tentang syair dan menyair menimbulkan kegembiraan selalu bagi Kwee Seng.

Siapa lagi kalau bukan Tu Fu ! Pernah aku mendengar ayah bicara tentang syair-syairnya, mengerikan!

Mengapa mengerikan kalu dia selalu mencurahkan isi hatinya berdasarkan kenyataan dan terdorong oleh rasa kasihan kepada sesamanya?

Bukan rasa kasihan kepada sesamanya, Koko, Melainkan rasa kasihan kepada diri sendiri ! Karena keadaannya miskin terlantar, dia pandai bicara tentang kemiskinan. Coba dia itu kaya raya, atau andaikata tidak kaya harta benda, sedikitnya kaya akan cinta kasih kepada alam seperti penyair yang seorang lagieh, siapa itu yang suka memuji-muji alam, yang sukamabok-mabokan, gila arak seperti kau pula

Kau maksudkan penyair Li Po? Na, dia itulah. Kalau Seperti Li Po yang memandang dunia dari segi keindahan, tentu dalam kemiskinannya Tu Fu takkan begitu pahit dan pedas sajak-sajaknya. Wah, aku seperti mengajar itik berenang ! Kau tentu lebih tahu dan pandai. Aku paling ngeri mendengar syair Tu Fu tentang anggur, daging dan tulang. Bagaimana bunyinya, Kwee-koko?

Kwee Seng meramkan mata, menengadahkan mukanya yang tampan ke atas lalu mengucapkan syair ciptaan Tu Fu dengan suara bersemangat, terpengaruh oleh isi sajak yang memaki-maki keadaan pada waktu itu.

Di sebelah dalam pintu gerbang merah hangat indah serba mewah anggur dan daging bertumpuk-tumpuk sampai masam rusak membusuk ! Di sebelah luar pintu gerbang merah dinding kotor serba miskin berserakan tulang-tulang rangka mereka yang mati kedinginan dan kelaparan!

Iiiihhh ! Itu bukan sajak namanya!Lu Sian mencela, kelihatan jijik dan ngeri, Tidak enak benar mendengarkan sajak seperti itu.

Memang sajak itu keras dan tegas, agak berlebihan, namun mengandung kegagahan yang tiada bandingnya, Noneh, Moi-moi.

Sepasang bibir indah merah terbelah memperlihatkan kilatan gigi seperti mutiara ketika Lu Sian mendengar sebutan moi-moi (dinda) itu. Diam-diam ia mentertawakan Kwee Seng di dalam hatinya. Katakanlah kau menang dalam ilmu silat, boleh kau mengira dirimu gagah perkasa dan tampan, namun alangkah mudahnya kalau aku mau menjatuhkanmu, membuatmu bertekuk lutut di depan kakiku ! Demikianlah nona ini berkata dalam hatinya.

Ah, apakah dia itu pun pandai ilmu silat seperti kau, Kwee-koko?Biarpun aku juga hanya seorang bodoh, akan tetapi sedikit banyak mengerti ilmu silat, sedangkan mendiang Tu Fu benar-benar seorang sastrawan yang tak tahu bagaimana caranya memegang gagang pedang, tahunya hanya memegang gagang pensil.

Kalau begitu dia orang lemah. Bagaimana gagah tiada bandingnya?$BE.(Boi-moi, kau tidak tahu. Biarpun orang yang memiliki ilmu silat yang tinggi sekali pada waktu itu, tak mungkin ia berani melontarkan kata-kata yang seperti bunyi sajak itu, karena dapat dicap sebagai pemberontak dan di hukum mati!

Tapi aku lebih kagum kepada penyair Li Po. Masih teringat aku akan sajaknya yang benar-benar membayangkan kegagahan, kalau tidak salah begini :

Alangkah inginku dapat terbangdengan pedang sakti di tanganmenyebrangi samudera untuk membunuh ikan paus pengganggu nelayan!

Ketika mengucapkan sajak ini, Lu Sian bangkit berdiri, kedua kakinya terpentang, tubuhnya tegak dada membusung penuh semangat dan kelihatan gagah dan cantik jelita. Suaranya

bersemangat, merdu dan penuh perasaan sehingga Kwee Seng melihat dan mendengar dengan mata terbelalak dan mulut ternganga ! Ia berada dalam keadaan seperti itu dan baru tersipu-sipu membuang muka ketika Lu sian memandangnya dan bertanya.Kau kenapa, Koko?

Tidak apa-apa, tidak apa-apakau pandai membaca sajak, Moi-moi kata Kwee Seng gagap. Akan tetapi terdengar gadis itu terkekeh tertawa, suara ketawa yang mengandung banyak arti dan gadis itu masih tersenyum-senyum dan sinar matanya mengerling tajam penuh ejekan ketika mereka bangkit berdiri dan berhadapan, Lu Sian menggerakkan kakinya perlahan mendekati, sampai dekat benar, sampai terasa benar oleh hidung Kwee Seng keharuman yang luar biasa keluar dari tubuh gadis itu.

Wajah jelita itu dekat sekali dengan wajahnya, wajah yang berseri dengan mata bersinar-sinar dan bibir terbuka menantang dikulum senyum. Serasa terhenti detik jantung Kwee Seng, bobol pertahanannya dan dengan nafsu yang memabokkan pikirannya didekapnya pundak Lu Sian dalam rangkulan dan ditundukkannya mukanya untuk mencium.

Akan tetapi tiba-tiba Lu Sian menundukkan mukanya sehingga yang tercium oleh Kwee Seng hanyalah rambutnya, rambut yang harum menyengat hidung, dan tiba-tiba terdengar gadis itu bertanya, suaranya dingin aneh, penuh cemooh. Hai, Kwee Seng pendekar muda yang sakti, pertapa belia tahan tapa dan si teguh hati, apakah yang akan kau perbuat ini?

Seakan disiram air salju mukanya, Kwee Seng gelagapan, mukanya menjadi pucat lalu berubah merah, dilepaskannya dekapan tangannya dan ia membuang muka lalu menundukannya. Maaf ah, maafkan aku. Seperti sudah gila aku tadi ah, Nona Liu, maafkan aku. Kenapa kau begitubegitu jelita dan.. dan.. keji

Liu Lu Sian tertawa, suara tawanya merdu sekali, akan tetapi juga penuh dengan ejekan.

Kwee-koko, kau ingatlah. Agaknya kemuraman penyair Tu Fu menularimu. Mari kita lanjutkanTiba-tiba Kwee Seng mendorong gadis itu yang segera meloncat, bermodal tenaga dorongan Kwee Seng yang juga sudah meloncat ke belakang dengan gerakan cepat. Sambil mengeluarkan bunyi berciutan menyambarlah lima batang senjata piauw (pisau terbang) dan menancap ke dalam batang pohon. Tidak hanya berhenti disitu saja penyerangan gelap ini karena dari tiga penjuru menyambarlah bermacam-macam senjata rahasia menghujani tubuh Kwee Seng dan Lu Sian. Akan tetapi, kini dua orang muda yang berilmu tinggi itu kini sudah siap sedia dan waspada, dengan mudah mereka menyelamatkan diri. Lu Sian sudah mencabut pedangnya dan dengan putaran pedangnya secara indah dan cepat, semua piauw jarum dan senjata rahasia paku beracun dapat ia pukul runtuh. Adapun Kwee Seng sendiri hanya dengan menggerak-gerakkan kedua lengannya saja, ujung lengan bajunya mengeluarkan angin pukulan, cukup membuat semua senjata! rahasia menyeleweng dan tidak mengenai dirinya.

Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan ternyata dua ekor kuda mereka yang dilarikan orang. Keparat hina dina!Lu Sian melompat, pedangnya berkelebat dan dua orang yang menunggang kuda mereka terjungkal, tak bernyawa lagi !

Ah, Moi-moi, kenapa begitu ganas?Kwee Seng menegur penuh sesal sambil memegangi kendali kudanya yang terkejut dan akan memberontak.

Penjahat rendah yang telah menyerang secara pengecut, lalu hendak mencuri kuda, sudah sepatutnya dibunuh.Kata Lu Sian dengan suara dingin sambil menyarungkan kembali pedangnya.

Kwee Seng membungkuk sambil memeriksa dua orang itu. Pakaian mereka tidak menunjukkan orang-orang miskin, juga rapi tidak seperti maling-maling kuda biasa. Akan tetapi, bekas tusukan pedang Lu Sian hebat sekali, mereka itu sudah mati dan tak dapat ditanya lagi.

Justeru karena mereka mengandalkan banyak orang dan secara menggelap menyerang kita, perlu kita ketahui apa latar belakangnya. Dua ekor kuda kita, biarpun merupakan kuda pilihan, kiranya belum patut menggerakkan hati orang-orang kang-ouw untuk merampasnya. Tentu saja ada apa-apa di belakang semua ini, namun sayang, mereka sudah mati tak dapat ditanya lagi. Mari kita lanjutkan perjalanan, dua mayat ini tentu akan diurus oleh teman-temannya yang kurasa tidak kurang dari lima orang banyaknya melihat datangnya senjata-senjata rahasia tadi. Kau hati-hatilah, Moi-moi, kurasa orang-orang yang memusuhi kita takkan berhenti sampai disini saja.

Lu Sian mengangkat kedua pundak, memandang rendah sekali kepada ancaman musuh, lalu melompat ke atas punggung kudanya. Dua orang muda itu segera menjalankan kuda ke timur di sepanjang lembah sungai Wu-kiang. Melihat Kwee Seng naik kuda dengan wajah muram dan alis berkerut, diam tak mengeluarkan kata-kata dan sama sekali tak pernah menoleh kepadanya, Lu Sian bertanya.

Koko, apakah kau masih marah kepadaku?Tanpa menoleh Kwee Seng berkata lirih, Kenapa marah ? Tidak!

Diam pula sampai lama. Hanya suara derap kaki kuda mereka yang berjalan congklang. Dari jauh tampak tembok sebuah kota. Itulah kota Kwei-siang yang terletak di tepi sungai.

Kwe-koko, hemm, ada apakah kau lihat aku. Tidak enak bicara dengan orang yang tunduk saja. Apa kau tidak sudi memandang mukaku lagi?

Mau tidak mau Kwee Seng menoleh dan wajahnya seketika menjadi merah ketika ia melihat wajah gadis itu berseri-seri, sepasang matanya mengeluarkan cahaya yang bersinar tajam menembusi jantungnya, yang seakan-akan mengandung penuh pengertian, yang menjenguk isi hatinya sehingga Kwee Seng merasa seperti ditelanjangi, seperti telah terungkapkan semua rahasia perasaan dan hatinya.

Sian-moi, (adik Sian), kau mau bicara apakah?Kwee Seng mengeraskan hatinya, menekan perasaan.

Kwee-koko, kau telah jatuh hati kepadaku, bukan ? Kau mencintaiku sepenuh hatimu!

Sejenak Kwee Seng menjadi pucat wajahnya. Bukan main, pikirnya. Gadis ini benar-benar berwatak siluman ! Pertanyaan macam benar-benar tak mungkin diajukan oleh gadis manapun juga. Ia tahu bahwa pertanyaan ini disengaja oleh Lu Sian, dan ia maklum pula bahwa gadis ini, sepeti seekor kucing, hendak mempermainkannya seperti seekor tikus. Ia merasa betapa jantungnya tertusuk, akan tetapi Kwee Seng adalah pemuda gemblengan. Cepat ia dapat memulihkan ketenangannya dan mukanya berubah merah kembali.

Tak perlu aku menyangkal, Moi-moi. Aku memang jatuh hati kepadamu. Kau terlalu cantik jelita, pribadimu mengeluarkan daya tarik seperti besi sembrani yang tak dapat kulawan. Kini aku balas bertanya, apakah kau tidak mencintaiku?

Lu Sian kelihatan gembira dan senang sekali. Gadis ini menggerak-gerakkan kepalanya, matanya bersinar-sinar dan ia tertawa sambil menengadahkan muka ke atas. Aku ? Mencintaimu ? Ah, aku tidak tahu, Koko. Aku takkan begitu tergesa-gesa seperti engkau mengambil keputusan tentang cinta. Belum cukup lama aku mengenalmu. Kau terlalu lemah lembut, terlalu muram. Biarlah aku mempelajarimu lebih dulu. Bukankah ayah telah memberi kesempatan kepadamu untuk mengawiniku, mengapa kau menolak dan malah berjanji akan menurunkan ilmu kepadaku?

Aku memang cinta kepadamu, Sian-moi, akan tetapi tentang kawin ah, terlalu banyak aku melihat kekejian-kekejian di Beng-kauw, terlalu banyak aku melihat keganjilan-keganjilan yang mengerikan. Dan kau sendiriah, kurasa takkan mungkin kau bisa mencinta pria secara lahir batin. Aku cinta pribadimu, tapi mungkin aku tidak menyukai watakmu dan keluargamu!

Kembali Lu Sian tertawa sambil menutupi mulut dengan tangannya. Kwee Seng makin heran. Benar-benar gadis yang aneh. Aneh dan berbahaya sekali. Ia tadi sengaja berterus terang untuk membalas agar gadis ini merasa terpukul. Akan tetapi kiranya gadis itu malah mentertawakannya !

Hi-hik, kau lucu, Kwee-koko. Aku pun belum percaya akan cintamu kalau kau belum buktikan dengan berlutut menyembah-nyembah kakiku!Setelah berkata demikian, gadis itu berseru keras dan menyendal kendali kudanya sehingga binatang itu terkejut dan membalap ke depan. Kwee Seng terheran-heran, lebih heran daripada terhina oleh ucapan aneh itu, akan tetapi ia merasa lega bahwa gadis itu mengakhiri percakapan yang menyakiti hatinya, maka ia pun lalu membedal kudanya mengejar, memasuki kota Kwei-siang.

Hari telah menjelang senja ketika mereka berdua memasuki kota Kwei-siang. Mereka mencari sebuah rumah penginapan yang juga membuka rumah makan di bagian depan. Seorang pelayan penginapan tergopoh-gopoh menyambut mereka, merawat kuda dan memberi dua buah kamar yang mereka minta. Setelah ke dua orang muda ini membersihkan diri daripada debu dan keringat, berganti pakaian bersih, mereka lalu mengambil tempat duduk di rumah makan dan memesan makanan. Kwee Seng yang masih belum lenyap rasa tekanan hatinya, lebih dulu memesan seguci arak yang paling baik.

Wah, kau mau mabok-mabokan lagi Koko ? Benar-benar menjengkelkan ! Aku malam ini ingin sekali bercakap-cakap denganmu sampai semalam suntuk!

Sambil menuangkan arak pada cawannya, Kwee Seng menjawab, memaksa senyum, karena kadang-kadang, seperti sekarang ini sikap Lu Sian yang kekanak-kanakan mengelus dan menghibur hatinya, melenyapkan rasa sakit akibat ucapan-ucapan yang menusuk dari gadis itu pula.

Biarpun minum arak bukan kebiasaanku dan baru saja hinggap padaku semenjak aku berjumpa denganmu, Moi-moi, akan tetapi aku tak akan begitu mudah mabok. Bercakap-cakap sambil minum kan dapat juga.

Ahhh, siapa bilang ? Biar kau tidak mabok, akan tetapi kau lebih mencurahkan perhatianmu pada arak, dan.. eh, koko, lihat mereka itu. Tiba-tiba Lu Sian menghentikan kata-katanya ketika melihat beberapa orang laki-laki muncul seorang demi seorang dari pintu depan dengan gerak-gerik mencurigakan sekali. Yang pertama masuk adalah seorang laki-laki yang berwajah muram, mukanya licin tidak berjenggot, pakaiannya kumal, di punggungnya terselip sebatang golok telanjang, usianya kurang lebih empat puluh tahun. Orang ini berjalan dengan gerakan kaki ringan seperti seekor kucing, dan ketika memasuki pintu, matanya mengerling ke arah tempat duduk Kwee Seng dan Lu Sian.

Karena Kwee Seng duduk membelakangi pintu, maka Lu Sian yang berhadapan dengannya lebih dulu melihat dan tertarik. Apalagi ketika berturut-turut masuk lima orang laki-laki lain di belakang Si Pembawa Golok. Dua orang berpakaian tosu (pendeta To), seorang laki-laki setengah tua yang tampan dengan rambut digelung ke atas, kemudian seorang pemuda tampan yang pakaiannya seperti pelajar akan tetapi di pinggangnya tergantung pedang, kemudian yang terakhir adalah seorang hwesio (pendeta Buddha) berkepala gundul yang membawa sebatang tongkat besi yang berat. Enam orang ini terang bukanlah orang-orang sembarangan karena gerak-gerik mereka ringan dan gesit.

Koko, kau lihat mereka, bisik pula Lu Sian. Moi-moi, mari kita minum, hal-hal lain tidak perlu dihiraukan.Kata Kwee Seng yang sikapnya tetap tenang seakan-akan tidak ada apa-apa, kemudian pemuda ini minum araknya dari cawan dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya tahu-tahu sudah mengeluarkan kipas yang diletakkannya di atas meja. Liu Lu Sian tersenyum dan kembali memperhatikan makanan yang tersedia diatas meja tanpa menghiraukan orang-orang itu. Ia maklum bahwa tanpa ia peringatkan, Kwee Seng juga sudah tahu akan masuknya enam orang itu dan sudah siap sedia. Ia kagum akan sikap ini dan mendapat pelajaran bahwa menghadapi segala macam ancaman, lebih baik bersikap tenang sehingga dapat menentukan sikap dengan tepat.

Betapapun juga, Lu Sian tak dapat menahan keinginan hatinya untuk melihat dengan kerling sudut matanya ke arah orang-orang itu. Ternyata mereka sekarang memperlihatkan sikap yang cukup jelas. Orang pertama sudah mencabut golok, Si Hwesio mengangkat tongkatnya sedangkan yang lain juga sudah bersiap seperti orang hendak bertempur. Jelas bahwa enam orang itu hendak mencari perkara karena pandang mata mereka semua kini terarah kepadanya !Dengan gerakan penuh ancaman enam orang itu kini makin mendekat dan akhirnya mereka mengurung meja yang dihadapi Kwee Seng dan Lu Sian. Namun, Kwee Seng tetap tenang sambil minum araknya, melirik pun tidak ke arah mereka. Lu Sian juga bersikap tenang, namun hatinya berdebar. Tidak biasanya ia bersikap seperti yang diambil Kwee Seng ini. Biasanya, begitu ada orang memusuhinya, ia segera menurunkan tangan besi dan baginya, lebih cepat merobohkan lawan lebih baik.

Para pengurus rumah makan sudah lari ketakutan menyaksikan enam orang itu mengeluarkan senjata dan beberapa orang tamu yang tadinya sedang menikmati hidangan, juga cepat-cepat membayar harga makanan dan segara pergi. Semua orang sudah melihat gelagat tidak baik, hanya Kwee Seng yang seakan-akan tidak tahu akan kesibukan itu semua dan enak-enak minum. Siluman betina ! Kau harus mengganti nyawa puteraku!tiba-tiba Si Pemegang Golok yang berwajah muram itu membentak sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka Lu Sian.

Gadis ini mendongkol bukan main, akan tetapi ia tetap duduk dan tersenyum mengejek, kemudian dengan mata berseri-seri memandang kepada pemuda tampan yang membawa pedang. Pandang mata Lu Sian yang tajam, sekali lihat sudah tahu bahwa pemuda tampan itu sejak tadi memandang kepadanya penuh rasa kagum, dan hal inilah yang membuat matanya berseri dan senyumnya mengejek. Sengaja ia mengedip-negedipkan mata kirinya lebih dulu kepada pemuda tampan itu sebelum menjawab.

Siapakah puteramu dan siapa engkau ? Mengapa pula aku harus mengganti nyawa puteramu?

Setan betina ! Masih kau hendak berpura-pura tidak tahu sedangkan tadi dengan kejam kau membunuh pula dua orang pembantuku?

hihhh hihhh jadi kalian ini golongan pencuri-pencuri kuda ? Sungguh sayang. Gadis ini menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memandang kepada pemuda tampan yang tiba-tiba menjadi merah mukanya karena Lu Sian seakan-akan menunjukan kata-kata sayangitu kepadanya.

Siluman sombong ! Puteraku dengan baik-baik memasuki sayembara karena dia begitu bodoh tergila-gila kepada kecantikanmu, dan andaikata di dalam pertandingan itu dia kalah, apakah salahnya ? Kenapa dia masih harus dibunuh secara penasaran ? Apakah tiap laki-laki yang gagal mengalahkanmu harus mati seperti anakku Lauw Kong itu?

Teringatlah kini Lu Sian akan tiga orang pemuda yang mengeroyoknya di atas panggung. Memang seorang diantara mereka bernama Lauw Kong, yang bermuka hitam dan mengaku datang dari kota Kwi-san yang letaknya tidak jauh dari kota Kwei-siang ini.

Oh, Si Muka Hitam itukah puteramu ? Memang aku sudah mengalahkannya, akan tetapi aku tidak membunuhnya!

Kau setan betina ! Siluman cantik ! Banyak pemuda terbunuh karena engkau tapi kau masih pura-pura, dasar perempuan rendahan

Cukup, ayah. Dengan maki-makian urusan takkan beres!Pemuda tampan yang membawa pedang itu mencela dan maju ke depan menghadapi Lu Sian. Wajahnya yang tampan itu kurang menarik ketika ia bicara, dan setelah mendekat Lu Sian melihat bahwa mata pemuda itu agak kuning. Nona, kami tahu bahwa kau adalah nona Liu Lu Sian puteri Ketua Beng-kauw. Aku adalah Lauw Sun, dan kakakku Lauw Kong telah mencoba memenangkan sayembara beberapa pekan yang lalu. Memang dia kalah oleh nona, Dan bukan nona pula yang membunuhnya, akan tetapi ternyata ia terbunuh dengan pukulan beracun dan hal ini tentu saja sepengetahuan nona. Karena itu, ayah dan kami minta pertanggungan jawabamu!

Muak rasa perut Lu Sian, dan ia mendongkol sekali melihat Kwee Seng masih enak-enak minum arak saja, seolah-olah tidak perduli dirinya dimaki-maki orang. Hemm, pikirnya, apakah tanpa kau aku tidak mampu membereskan buaya-buaya ini ? Tiba-tiba kakinya menghentak lantai dan tubuhnya sudah melayang ke belakang, kedua kakinya hinggap di atas sebuah meja yang masih penuh sisa hidangan dan arak bekas para tamu tadi, yang tidak sempat dibersihkan oleh para pelayan yang sudah lari ketakutan. Dengan gerakan indah ringan Lu Sian meloncat ke belakang dan kedua kakinya sama sekali tidak menyentuh mangkok cawan, kini ia berdiri di atas kedua ujung kakinya, pedangnya sudah berada di tangan kanan melintang di depan dada, matanya bersinar-sinar, mulutnya tersenyum mengejek ketika ia berkata.

Orang She-lauw, menghadapi orang-orang kasar macam kalian ini aku tidak sudi banyak bicara. Kalau kalian hendak mengeroyokku, inilah aku Liu Lu Sian ! Kalau aku tidak berhasil membikin mampus kalian berenam tanpa turun dari meja ini, jangan sebut lagi aku puteri Ketua Beng-kauw!

Ucapan ini benar-benar membayangkan keangkuhan dan kesombongan, akan tetapi diam-diam Kwee Seng maklum bahwa sama sekali ucapan itu bukan kesombongan kosong karena ia tahu, kalau enam orang itu nekat mengeroyok, takkan sukar bagi Lu Sian untuk membuktikan ancamannya.

Ia dapat menduga mereka bahwa mereka itu adalah jago-jago dari kota Kwi-san, bahkan agaknya orang she Lauw ini dalam usahanya menuntut balas atas kematian puteranya, telah minta bantuan seorang hwesio dan dua orang tosu, agaknya tokoh-tokoh dalam kuil di kota itu.

Bagus ! Kau harus menebus nyawa anakku dan dua orang temanku!seru Si Pemegang Golok dan dengan gerakan cepat ia bersama enam orang temannya menyerbu ke arah meja di mana Lu Sian berdiri. Gadis itu menyambut kedatangan mereka dengan senyum mengejek. Tiba-tiba sekali, tanpa kelihatan gadis itu menggerakkan kakinya, cawan arak, mangkok dan piring beterbangan ke arah enam orang dibarengi bentakan Lu Sian.

Nih, makanlah sebagai tebusan senjata rahasia kalian tadi!Hebat sekali serangan lu Sian ini. Gadis itu dengan sin-kangnya yang sudah amat kuat, hanya menggunakan ujung kakinya menyentil barang-barang diatas meja dan beterbanganlah mangkok dan cawan berikut isinya, yaitu masakan dan arak, ke arah enam orang lawannya. Demikian cepatnya sambaran benda-benda ini sehinngga enam orang itu sama sekali tidak berhasil menghindarkan diri dan setidaknya pakaian mereka menjadi kotor tersiram kuah sayur dan arak, bahkan muka si Hwesio terkena hantaman mangkok penuh masakan daging ! Tentu saja hwesio itu gelagapan karena sebagai seorang yang selamanya pantang makanan berjiwa, kali ini masakan daging menghantam muka dan banyak kuah memasuki mulutnya, membuat ia hampir muntah !

Sebetulnya, melihat gerakan ini saja, kalau enam orang itu tahu diri, mereka sudah akan maklum bahwa gadis itu bukan lawan mereka. Akan tetapi agaknya kemarahan meluap-luap membuat mereka mata gelap dan segera menggerakkan senjata masing-masing mengepung meja itu dan menyerang dari semua jurusan, Lu Sian tertawa mengejek, tidak bergerak dari atas meja, melainkan pedangnya kadang-kadang menyambar untuk menangkis senjata pengeroyok yang terlalu dekat. Kadang-kadang ia hanya mengangkat sebelah kaki menghindarkan golok yang menyambar atau merendahkan tubuh untuk membiarkan tongkat melayang melalui atas kepalanya. Gadis ini hanya menanti kesempatan baik untuk membuktikan ancamannya, yaitu membunuh mereka tanpa turun dari meja.

Mendadak saja, enam orang itu berturut-turut mengeluarkan teriakan kaget dan senjata semua runtuh ke atas lantai karena tanpa mereka ketahui mengapa, tahu-tahu tangan mereka yang memegang senjata menjadi kejang yang menyebabkan mereka terpaksa melepaskan senjata masing-masing. Tercium oleh mereka bau arak dan tepat pada jalan darah disiku lengan mereka basah. Dengan kaget dan heran mereka saling pandang dan terdengarlah suara Kwee Seng yang masih saja duduk minum arak.

Menyerang orang secara menggelap dengan senjata rahasia untuk membunuh sudah termasuk perbuatan pengecut, sekarang mengeroyok seorang gadis mengandalkan tenaga enam orang laki-laki, sungguh amat memalukan. Apakah kalian masih belum mau insyaf dan tidak tahu diri, menantang maut yang sudah membayang di depan mata ? Lekas pungut senjata dan pergi barulah perbuatan orang yang berakal sehat!

Tahulah enam orang itu sekarang bahwa yang membuat mereka semua terpaksa melepaskan senjata adalah pemuda pelajar yang duduk minum arak dengan tenangnya, sahabat puteri Ketua Beng-kauw itu. Tentu saja hal ini membuat mereka menjadi gentar. Nona itu sendiri sudah cukup berat untuk dikalahkan, apalagi dengan adanya seorang yang demikian saktinya, yang tanpa bergerak dari tempat duduknya, tanpa menghentikan keasyikannya minum arak, sudah mampu mengalahkan mereka dan melucuti senjata mereka !

Orang she Lauw tadi memungut goloknya, diturut oleh teman-temannya lalu ia menjura ke arah Kwee Seng. Siauw-enghiong (Pendekar Muda), kepandaianmu membuat mata kami yang bodoh, membuat kami terpaksa menelan hinaan dan menderita kekalahan. Bolehkah kami mengetahui siapa nama dan julukan Siauw-enghiong yang gagah?

Kwee seng menarik napas panjang, kemudian ia berdiri dengan cawan penuh arak di tangan kanan, diangkatnya tinggi lalu ia bernyanyi dengan lagak seorang mabok.

$BE"(Bngin kipas mengusir lalat dan menyegarkan diri suara suling mengusir harimau dan menentramkan hati nama harta kepandaian tiada artinya yang penting adalah pelaksaan kebenaran dalam hidupnya!

Enam orang itu hanya saling pandang, tidak dapat mengenal pemuda ini karena mereka pun tidak pernah mendengar nyanyian itu. Lu Sian tertawa dan dari atas meja itu ia berkata nyaring.

"Sebangsa cacing macam kalian ini mana mengenalnya ? Dia bersama Kwee Seng, para locianpwe mengenalnya sebagai kim-mo-eng. Hanya dia seoranglah yang mampu menandingi aku. Biarpun begitu, masih belum tentu ia bisa menjadi jodohku ! Apalagi orang-orang macam anakmu hendak memperisteri aku. Cih Bukankah itu lucu sekali?

Enam orang itu kelihatan kaget dan tanpa bicara apa-apa lagi mereka lalu meninggalkan tempat itu. Pelayan-pelayan mulai muncul kembali, memandang takut-takut ke arah Kwee Seng dan Lu Sian. Kwee Sng menyatakan kesanggupannya membayar harga barang-barang yang rusak, mereka kelihatan senang dan melayani sepasang orang ini dengan kehormatan berlebihan.

Lu Sian juga kelihatan senang dan gembira sekali. Mulutnya selalu tersenyum, matanya bersinar-sinar, wajahnya berseri dan tiada hentinya ia menatap wajah Kwee Seng dengan sikap menggoda. Sebaliknya Kwee Seng sama sekali tidak kelihatan gembira. Pemuda ini sudah tidak makan lagi, akan tetapi melihat cara ia berkali-kali memenuhi cawan arak dan meminumnya habis sekali tenggak, terang bahwa perasaan hatinya amat terganggu. Memang demikianlah. Hati pemuda ini tidak karuan rasanya, hampir ia meloncat bangun untuk lari meninggalkan gadis ini. Ia merasa betapa gadis ini sengaja menggodanya, sengaja hendak mempermainkannya. Ucapan Lu Sian tadi benar-benar menikam jantungnya. Gadis itu di depan orang banyak mengakui bahwa hanya Kwee Seng yang mampu menandinginya, namun betapapun juga, pemuda itu belum tentu bisa menjadi jodohnya ! Ia merasa makin tak senang ,muak dan benci menyaksikan sikap Lu Sian, apalagi mengingat betapa tadi gadis itu sudah pasti akan membunuh enam orang lawanny! a ! kalau saja ia tidak cepat-cepat turun tangan. Ia makin benci, akan tetapi juga makin cinta ! Makin lama ia berdekatan dengan gadis ini, makin besar pula daya tariknya menguasai hatinya.

Kwee-koko, dalam nyanyianmu tadi kau menyebut-nyebut tentang kipas dan suling. Tentang kipasmu, aku sudah melihatnya dan sudah tahu kelihaiannya. Akan tetapi tentang suling, adakah kau mempunyai suling, dan pandaikah kau meniup suling dan mempergunakannya sebagai senjata?

Aku seorang bekas pelajar gagal, biasanya hanya berkipas-kipas mendinginkan kepala panas lalu menghibur diri dengan suara suling. Memang tadinya aku memiliki sebuah suling, akan tetapi benda itu hancur ketika aku bertemu dengan Ban-pi Locia (Dewa Locia Berlengan Selaksa) di telaga See-ouw (Telaga Barat).

Terbelalak sepasang mata yang indah itu, penuh perhatian dan ingin tahu. Apa ? Kau betul-betul bertemu dengan ok-hengcia (pendeta jahat) itu ? Aku pernah mendengar dari ayah bahwa pendeta perkasa itu amat cabul dan keji, akan tetapi memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa. Ayah sendiri pernah bentrok dengan Ban-pi Lo-cia, bertempur sampai dua hari dua malam tidak ada yang kalah atau menang. Hanya karena khawatir kalau pertandingan dilanjutkan keduanya akan tewas, maka mereka menghentikan pertandingan. Dan kaukau bertemu dengannya ? Bertanding ? Dan sulingmu hancur olehnya ? Ah, Kwee-koko, apakah kau kalah olehnya?

Kwee Seng mengipas-ngipas lehernya yang terasa panas oleh pengaruh arak. Dia memang hebat, akan tetapi juga jahat bukan main. Secara kebetulan saja aku bertemu dengannya ketika aku berpesiar di telaga See-ouw. Pemuda itu lalu menceritakan pengalamannya seperti berikut.

Beberapa bulan yang lalu, dalam perantauannya yang tidak mempunyai tujuan tertentu, tibalah Kwee Seng di telaga See-ouw, Telaga Barat ini amatlah terkenal semenjak dahulu, karena luasnya, karena indahnya, dan karena segar nyaman hawanya.

Air berkeriput biru sehalus beledu tilam pembaringan berkasur bulu bunga teratai aneka warna penghias indah dicumbu rayu ikan-ikan emas berwarna cerah berperahu di telaga barat mandi sinar bulan minum arak sesudah itu mati pun tak penasaran!

Nyanyian ini banyak dinyanyikan tukang-tukang perahu yang menyewakan perahu mereka untuk para pelancong. Pelancong yang tergolong miskin cukup merasa puas dengan berjalan-jalan disekitar telaga, yang tergolong cukup merasa puas dengan menyewa perahu kecil menghadapi seguci arak. Akan tetapi bagi para pelancong kaya raya, acaranya bermacam-macam. Yang sudah pasti mereka itu akan menyewa perahu besar yang mempunyai bilik yang terlindung dan tertutup, memesan hidangan arak dan masakan lezat mewah, kemudian memanggil pula pelacur-pelacur untuk melayani mereka makan minum sambil mendengarkan beberapa orang perempuan penyanyi menabuh yangkim dan bernyanyi. Pesta macam ini hampir diadakan setiap malam diwaktu musim tiada hujan, sehingga keadaan telaga barat amat meriah.

Ketika Kwee Seng tanpa disengaja tiba di telaga See-ouw, keadaan di situ sedang meriah sekali karena musim panas telah tiba. Di waktu musim panas mengamuk, banyak orang-orang kaya dan pembesar-pembesar merasa tidak betah tinggal di kota dan banyak yang mengungsi untuk beberapa hari atau pekan lamanya ke Telaga See-ouw di mana mereka dapat menghibur tubuh dan pikiran, dan baru ingat pulang kalau uang sudah habis dihamburkan !

Begitu melihat seorang pemuda tampan dengan pakaian pelajar yang cukup rapi datang seorang diri, segera para tukang perahu merubungnya, menawarkan perahu mereka.

"Mari, Kongcu (Tuan Muda), perahu saya bersih dan kosong ! Saya pesankan arak Hang-ciu yang paling baik ! Kongcu perlu hidangan yang paling lezat ? Restoran Can-lok atau rombongan penyanyi ? Anak buah Bibi Congcantik-cantik, muda dan suaranya emas atau Kongcu suka ehmm ditemani bidadari jelita ? Tinggal pilih menurut selera Kongcu.

Demikianlah, ribut mereka menawarkan perahu sampai pelacur. Kwee Seng tersenyum dan menggerak-gerakkan tangan menyuruh mereka jangan bicara sambung-menyambung membikin bising.

Dengar baik-baik, jangan ribut sendiri!katanya tertawa. Aku hanya membutuhkan sebuah perahu kecil yang dapat dipakai duduk berdua, tanpa pendayung. Perahu kecil yang bersih dan tidak bocor, terbuka tanpa bilik. Kemudian, boleh sediakan arak dan dua cawannya, beberapa macam masakan yang panas-panas dan kemudian boleh panggil seorang pelacur yang pandai bicara, pandai main yangkim meniup suling, pandai bernyanyi dan pandai bermain catur.

Wah, mengajak pelesir seorang bidadari, mengapa pakai perahu kecil terbuka, Siangkong (Tuan Muda)? Saya mempunyai yang besar, ada biliknya yang bersih dan enak, tidak terganggu dari luar

Kembali Kwee Seng tersenyum dan kedua pipinya agak merah. Pemuda ini tidak pantang bersenang-senang dengan wanita, akan tetapi hanya sampai pada batas mengobrol dan bercakap-cakap gembira, bersenda-gurau dan main catur atau mendengarkan si cantik bernyanyi atau menabuh yangkim meniup suling saja.

Aku ingin menyewa perahu kecil terbuka tanpa pendayung, ada tidak? Ada! Ada! Jangan khawatir, Kongcu, perahu saya kecil bersih, dicat biru dan tanggung tidak bocor. Lima belas cni saja untuk semalam suntuk!

Dan perempuan yang kukehendaki itu ada tidak ? Pandai bicara, pandai main musik, bernyanyi dan pandai main catur, tidak menolak minum arak!

Wah, wah yang sepandai itu agaknya, hanyalah Ang-siauw-hwa (Bunga Kecil Merah) seorang . Seorang bidadari yang tercantik dan termahal disini!

Bagus ! Kaupanggil Ang-siauw-hwa untukku,kata Kwee Seng, senang hatinya. Ah, tidak mungkin, Kongcu. Biarlah saya memanggil si Kim-bwe (Bunga Bwee Emas) yang juga pandai segala biarpun tidak secantik Ang-siauw-hwa atau si Kim-lian (Teratai Emas) yang pandai meniup suling dan cantik jelita, akan tetapi tidak pandai main catur dan tidak suka minum arak

Hati Kwee Seng sudah kecewa. Tidak, aku menghendaki Ang-siauw-hwa itu. Mengapa tidak mungkin memanggil dia ? Berapa harganya ? Aku sanggup bayar!

Orang-orang itu menggeleng kepala dan seorang yang setengah tua berkata, suaranya perlahan seperti takut terdengar orang lain, Kongcu, kau tidak tahu. Ang-siauw-hwa amat terkenal disini dan setiap ada pembesar pesiar, tentu dia dipesan. Aneh memang, biarpun Ang-siauw-hwa merupakan kembangnya semua wanita disini, namun dia bukanlah pelacur sembarangan. Dia hanya mau melayani bicara dan bernyanyi, main catur atau minum arak, bahkan mengarang syair, akan tetapi belum pernah terdengar Ang-siauw-hwa mau diajak yang bukan-bukan.

Bagus, dialah pilihanku ! Panggil dia!Kwee Seng tertarik sekali. Akan tetapi orang-orang itu menggeleng kepala. Sekarang dia berada di perahu Lim-wangwe (Hartawan Lim) yang perahunya kelihatan di sana itu.Ia menuding ke arah tengah telaga di mana tampak sebuah perahu Lim-wangwe sendiri yang mengadakan pesta bersama lima orang pendekar yang menjadi tamunya. Sejak pagi tadi Ang-siauw-hwa berada di sana, mungkin sampai semalam suntuk mereka berpesta. Nah, dengar, itu suara suling tiupan Ang-siauw-hwa.

Kebetulan angin bersilir dari arah telaga dan tertangkaplah oleh telinga Kwee Seng tiupan suling yang merdu dan halus.

Lebih baik jangan panggil dia, kongcu. Yang lain masih banyak, boleh Kongcu pilih sendiri. Ang-siauw-hwa hanya mendatangkan ribut belaka.

Ah, kenapa?Kwee Seng terheran. Beberapa orang memberi isyarat akan tetapi pembicara itu agaknya sudah terlanjur dan berkata, Pagi tadi timbul keributan karena dia, Lo Houw (Macan Tua), Seorang tukang pukul yang terkenal di daerah ini, memaksa hendak mengajak Ang-siauw-hwa dan biarpun perempuan itu sudah lebih dulu dipanggil Lim-wangwe, Lo houw tidak mau peduli dan hendak merampas Ang-siauw-hwa, bahkan mengeluarkan kata-kata memaki Lim-wangwe. Kemudian ia mendatangi Lim-wangwe dengan perahunya dan kami semua sudah merasa kuatir. Kami mengenal kekejaman dan kelihaian Lo Houw, dan kami saying kepada Lim-wangwe yang berbudi halus dan suka menolong kami yang miskin. Akan tetapi, apa terjadi ? Lo Houw menyerang ke sana dengan perahu, akan tetapi ia kembali ke pantai dengan basah kuyup!Orang itu tertawa dan yang lain juga tertawa, biarpun ketawanya sambil menoleh ke kanan kiri, kelihatan takut kalau-kalau mereka terlihat orang.

Ah, apa yang tejadi?Kwee Seng makin tertarik.

Kabarnya menurut tukang perahu yang kebetulan berada di dekat sana, Lo Houw meloncat ke perahu besar dan memaki-maki. Akan tetapi tiba-tiba muncul seorang di antara tamu Lim-wangwe dan dalam beberapa gebrakan saja Lo Houw yang terkenal itu terlempar ke dalam air!

Ha-ha, dia harus berenang ke tepi!kata seorang lain. Kwee Seng tersenyum. Hal semacam itu tidaklah aneh baginya yang sudah biasa bertemu dengan peristiwa pertempuran yang lebih hebat lagi. Biarlah, kalau ia sedang melayani hartawan itu, aku pun tidak jadi mengajaknya menemaniku. Beri saja sebuah perahu kecil yang baik, sediakan satu guci arak da cawannya bersama sedikit daging panggang, tiga macam sayur dan sedikit nasi. Nih uangnya, lebihnya boleh kau miliki.Kwee Seng mengeluarkan dua potong uang perak yang diterima dengan tubuh membongkok-bongkok oleh tukang perahu setengah tua itu yang merasa kejatuhan rejeki.

He, tukang perahu jembel ! Lekas sediakan perahu terbaik, lima guci arak wangi, lima kati daging, lima macam sayur, mi lima kati dan nona-nona manis lima orang yang cantik-cantik dan muda-muda ! Eh, kembang pelacur yang kalian obrolkan tadi, siapa namanya?

Kwee Seng membalikkan tubuhnya ketika mendengar suara yang besar dan nyaring ini. Ketika melihat orangnya, ia tertegun. Bukan hanya Kwee Seng yang terperanjat, juga semua tukang perahu memandang dengan mata terbelalak, tak seorangpun menjawab.

Pembicara ini adalah seorang laki-laki tinggi besar, sekepala lebih tinggi daripada orang yang berukuran tinggi umum. Melihat pakaiannya yang sederhana dan longgar, apalagi melihat kepalanya yang gundul, orang tentu mengatakan bahwa ia seorang hwesio (pendeta Buddha). Akan tetapi yang meragukan, kalau benar ia seorang pendeta, mengapa ia memesan daging, arak, bahkan pelacur ? Anehnya pula, dia itu seorang diri, mengapa memesan demikian banyaknya makanan dan minuman yang serba lima takar, juga memesan lima orang perempuan lacur ? Pertanyaan-pertanyaan inilah agaknya yang membanjiri pikiran para tukang perahu sehingga sampai lama mereka terheran-heran tak mampu menjawab.

Heh ! Jembel-jembel busuk, mengapa kalian diam saja ? Apakah kalian tuli dan gagu?Laki-laki tinggi besar gundul yang usianya tentu lima puluh tahun itu membentak.

Seorang tukang perahu yang agak tabah hatinya menjura sambil tertawa-tawa. Maaf eh, Lo-suhutapitapi yang Lo-suhu pesan begitu banyak

Hwesio itu menyeringai dan melirik ke arah Kwee Seng yang berdiri dengan tenang, menaksir-naksir dan mengasah otak untuk mengenal siapa gerangan hwesio aneh ini.

Heh-heh, seorang pelajar melarat saja mampu menyewa perahu dan membayar arak, apakah kau kira aku seorang perantau lain tidak mempunyai uang?Ia menggulung kedua lengan bajunya yang lebar sehingga tampaklah lengannya kekar kuat penuh bulu. Ia merogoh ke balik jubahnya dan keluarlah sebuah pundi-pundi berisi penuh uang. Dibukanya tali pundi-pundi itu danhwesio itu memperlihatkan potongan-potongan uang emas dan perak ! Para tukang perahu memandang melotot dan menelan ludah. Belum pernah selama hidup mereka tampak sekian banyaknya uang.

maaf, maaf, Lo-suhu, bukan sekali-kali saya meragukan Lo-suhu takkan dapat membayar. Hanya, Lo-suhu seorang diri, Pesanannya begitu banyak, apalagi pakai lima orang bidadari

Heh..heh, goblok ! Apa salahnya ? Malah kembangnya pelacur itu harus pula melayani aku, berapapun biayanya akan ku bayar.

Tapi, Lo-suhu, Ang-siauw-hwa telah disewa Lim-wangwe di perahu mewah yang berada di sana tukang perahu itu menunjuk. Hwesio tinggi besar memandang dan mulutnya yang berbibir tebal mengejek.

Biarlah nanti kujemput sendiri dia. Sekarang sediakan pesananku semua. Cepat dan nih uangnya, lebihnya boleh kalian bagi-bagi!Hwesio itu mengeluarkan belasan potong uang perak dan melemparnya kepada tukang perahu seperti orang melempar sampah saja.

Gegerlah para tukang perahu. Benar-benar hari itu mereka kejatuhan rejeki besar. Seperti berlumba mereka lari kesana-kemari untuk memenuhi pesanan hwesio aneh. Akan tetapi Kwee Seng sudah merasa muak perutnya dan begitu pesanannya tiba, ia segera naik ke perahu kecil yang sudah terisi makanan dan minuman pesanannya, kemudian ia mendayungnya ke tengah telaga tanpa mempedulikan lagi hwesio tadi.

Hemmmm, Menjemukan sekali.Pikirnya. Kalau para pembesar negeri suka mencuri uang negara dan makan sogokan seperti anjing-anjing kelaparan, kalau para pendetanya melanggar pantangan, minum arak, makan daging dan main perempuan, akan bagaimanakah jadinya bangsa dan negara?Berpikir sampai disini hati Kwee Seng merasa kecewa sekali. Akan tetapi pemandangan telaga itu benar-benar indah sehingga kekecewaannya terobati. Hari menjelang senja dan matahari di ujung barat tampak tenggelam ke dalam air telaga, kemerah-merahan dan indah sekali. Kwee Seng mulai makan daging dan sayur, dan minum araknya sedikit demi sedikit memang ia tidak begitu suka minum arak.

Makin gelap cuaca tanda malam tiba, makin indah di situ. Bulan muncul dengan cahayanya yang gilang gemilang, langit bersih tak tampak sedikitpun awan, permukaan air telaga bermandikan cahaya bulan, seakan-akan terbakar menjadi emas, berkilauan. Angin bersilir membuat air emas itu berombak sedikit dan bunga-bunga teratai yang berkelompok disana-sini mulailah menari-nari menggoyang-goyangkan pinggang ke kanan kiri. Perahu-perahu yang berkeliaran di permukaan telaga mulai memasang lampu yang dihias dengan beraneka warna, ada yang merah, hijau, kuning, menambah indahnya pemandangan di telaga itu.

Tiba-tiba telinga Kwee Seng tertarik oleh lengking suara suling yang sayup sampai, suaranya mengalun tinggi rendah sesuai dengan gerak air. Kwee Seng tertarik dan mendayung perahunya ke arah suara. Ternyata suara suling itu keluar dari sebuah perahu besar dan mewah, dan kini Kwee Seng dapat mendengar suara suling dengan jelas sekali. Akan tetapi ia segera menjadi kecewa. Suara itu tadi indah kedengarannya karena dipermainkan oleh angin. Setelah mendengar dari dekat, ia mendapat kenyataan bahwa biarpun peniupnya menguasai lagu dan irama, namun tiupannya kurang tenaga dan amat lemah, tidak membawakan perasaan hati peniupnya. Akan tetapi di samping kekecewaannya, timbul dugaan yang mendebarkan jantungnya. Perahu besar dan mewah inilah agaknya perahu Lim-wangwe yang sedang menyambut lima orang tamunya da mungkin sekali suling itu ditiup oleh Ang-siauw-hwa seperti yang diceritakan oleh para tukang perahu tadi ! Hemm, kalau benar wanita itu yang meniupnya, lumayan ! ju! ga ! Setidaknya, kalau seorang pelacur saja dapat meniup suling seperti itu, benar-benar dia seorang pelacur yang luar biasa.

Ketika suling berhenti ditiup, terdengar tepuk tangan dan tertawa-tawa memuji dari dalam perahu, tanda bahwa orang-orang yang berada di dalam perahu itu gembira dan kagum. Tak lama kemudian, kembali suling itu berbunyi, kini mainkan lagu yang menjadi kegemaran Kwee Seng, yaitu Bulan mengembara cari kekasih.Kalu tadi kwee Seng hanya kecewa mendengar tiupan suling yang dianggapnya kurang baik, kini telinganya terasa sakit mendengar betapa lagu kesayangannya dirusak orang. Karena tidak dapat menahan lagi, pemuda yang sudah terpengatuh oleh hawa arak itu mengeluarkan sebatang suling dari dalam bajunya dan tak lama kemudian melengkinglah suara sulingnya melayang-layang di permukaan telaga, mendesak suara suling pertama yang keluar dari perahu besar. Karena suara suling Kwee Seng luar biasa sekali kuatnya, maka suara pertama tenggelam dan tak terdengar lagi.

Sahabat, alangkah indah bunyi sulingmu!Kwee Seng yang baru saja menghabiskan bait terakhir cepat memandang. Seorang wanita dengan pakaian serba indah berwarna merah muda, berdiri di pinggiran perahu dan kelihatan seperti seorang dewi telaga. Ah, kalau saja aku bersayap, kuakan terbang membebaskan diri dari sini untuk belajar meniup suling darimu sahabat

Kwee Seng tercengang. Inikah pelacur yang berjuluk Ang-siauw-hwa ? Pantas saja terkenal menjadi kembangnya sekalian pelacur di daerah Telaga Barat ini, pikirnya sambil memandang kagum. Tentang kecantikannya, tak dapat ia menilai teliti karena keadaan yang remang-remang itu tidak cukup menerangi wajah si gadis, akan tetapi, selain pandai meniup suling juga kata-katanya begitu halus dan teratur, dari ucapannya itu saja mudah diduga bahwa nona ini tentu pandai bersyair. Dengan hati tertarik Kwee Seng mendayung maju perah kecilnya untuk mendekati perahu besar dan agar ia dapat memandang lebih jelas. Akan tetapi pada saat itu terdengar suara memanggil dari bilik perahu besar dan nona berpakaian serba merah muda itu membalikkan tubuh dan lenyap ke dalam perahu besar.

Kwee Seng sadar daripada kebodohannya. Perempuan itu sudah disewa hartawan pemilk perahu besar, mau apa ia mendekat ? Ah, mengapa ia begitu tertarik kepada seorang wanita pelacur ? Kwee Seng sadar akan kebodohannya sendiri dan menggerakkan dayung untuk menjauhi perahu besar. Akan tetapi pada saat itu ia melihat sebuah perahu meluncur cepat ke arah perahu besar dan di dalam perahu ini terdapat seorang hwesio tinngi besar bersama lima orang wanita pelacur yang sedang minum-minum dan tertawa cekikikan seperti segerombolan kuntilanak, Kwee Seng cepat mendayung perahunya menyelinap dan bersembunyi di belakang perahu besar untuk mengintai karena ia merasa curiga menyaksikan gerak-gerik hwesio tinggi besar yang aneh itu.

Dari balik perahu besar itu Kwee Seng melihat jelas betapa hwesio tinggi besar itu sekali menggerakkan kaki telah melayang naik ke atas papan dek tanpa menimbulkan guncangan sedikitpun juga. Kwee Seng kaget dan kagum. Hwesio ini benar-benar memiliki ilmu yang tinggi. Ketika ia memandang ke perahu hwesio tadi, ia merasa muak. Lima orang wanita pelacur yang memakai bedak tebal itu dalam keadaan setengah telanjang dan awut-awutan rambutnya, tertawa cekikikan dan bersenda gurau, agaknya sudah mabok semua ! Perahunya yang tidak di kuasai oleh hwesio telah oleng ke kanan kiri tanpa diketahui lima orang pelacur mabok. Karena merasa muak, Kwee Seng tidak mempedulikan mereka dan ia kembali memandang ke arah hwesio yang berdiri kokoh seperti batu karang diatas papan dek perahu besar.

Heh, hartawan she Lim!Hwesio itu berseru dan suaranya yang parau keras itu menembus desir angin. Lekas serahkan Ang-siauw-hwa kepadaku, kutukar dengan lima orang yang berada di perahuku!

Tiba-tiba dari pintu bilik perahu besar itu meloncat seorang laki-laki tinggi kurus yang mengenakan pakaian ringkas dan punggungnya terhias sebatang golok. Gerakan laki-laki ini ringan dan cepat, tahu-tahu ia sudah berdiri di depan hwesio itu dengan mata berkilat. Eh, eh, hwesio jahat darimana berani mengganggu kesenangan kami ? Apakah kau sahabat dari Si Jahanaman Lo Houw yang kulempar ke dalam air?

Hwesio itu memandang sejenak lalu tertawa. Heh-heh-heh, aku tidak tahu itu Lo Houw, dan tidak kenal pula tikus kecil macammu. Aku hanya datang untuk mengambil Ang-siauw-hwa, kutukar dengan lima pelacur itu. Wanita macam Ang-siauw-hwa yang disebut-sebut kembang pelacur di telaga ini patut mengawaniku bersenang-senang. Lekas suruh dia keluar dan berikan kepadaku sebelum perahu ini kubikin tenggelam berikut semua penumpangnya!

Hwesio sesat ! Pergilah!Si Jangkung Kurus menerjang maju dengan gerakan kilat. Cepat sekali gerakannya dan Kwee Seng yang menonton tahu bahwa si jangkung itu memiliki ilmu silat tangan kosong yang cukup hebat. Hwesio ini mencari penyakit, pikirnya, penghuni perahu besar itu ternyata bukan orang-orang lemah. Pukulan si jangkung itu selain cepat, juga jelas mengandung tenaga yang besar, tampak gerakannya begitu mantap dan sekali pukul, kedua tangan si jangkung itu secara berbareng menyerang dada dan lambung. Anehnya, hwesio tinggi besar itu masih tertawa, sama sekali tidak mengelak. Celaka, pikir Kwee Seng, betapapun lihainya, mana hwesio itu akan dapat menahan pukulan yang mengandung tenaga dalam itu?

Buk ! Buk!Dua buah pukulan itu tepat mengenai dada dan lambung. Ha-ha-ha-ha!Si Hwesio malah tertawa bergelak, sedikit pun tidak terpengaruh dua pukulan itu. Sejenak si jangkung terbelalak kaget, kemudian tampak sinar bergulung ketika ia mencabut goloknya dan membacok dengan cepat ke mengarah leher.

Celaka kata Kwee Seng, akan tetapi kali ini ia menyebut celaka bukan untuk si hwesio karena segera ia maklum bahwa hwesio itu benar-benar memiliki sin-kang (tenaga sakti) yang amat tinggi dan pencabutan golok oleh si jangkung itu hanya akan berarti celaka bagi si jangkung.

Memang tidak berlebihan penafsiran Kwee Seng ini. Hanya sedikit menggerakkan tubuhnya si hwesio sudah mampu mengelak dan sebelum si jangkung sempat menyerang lagi, tubuhnya sudah tertangkap dan sekali melontarkan tangkapannya sambil tertawa, hwesio tinggi besar itu sudah melempar lawannya jauh ke luar perahu !

Byurrrr!Air muncrat tinggi dan si jangkung megap-megap dalam usahanya menyelamatkan diri.

Hwesio keparat, berani kau memukul Suteku (adik seperguruanku)?Kini muncul seorang pendek gemuk dengan sebatang toya (tongkat panjang) melintang di tangan. Tanpa menanti jawaban, si gemuk ini sudah menggerakkan toyanya menghantam leher hwesio itu. Sebagai kakak seperguruan si jangkung tadi, dapat di bayangkan betapa hebat serangan si gemuk pendek ini. Batu karang yang kuat agaknya akan pecah terkena pukulan toya baja itu. Namun, si hwesio sama sekali tidak mengelak, hanya miringkan tubuh dan menerima hantaman toya itu dengan pangkal lengannya.

Bukkk!Si hwesio masih tertawa-tawa dan kedua lengannya bergerak. Tahu-tahu si gemuk memekik keras dan tubuhnya terlempar keluar perahu. Kembali terdengar air menjebur dan tubuh gemuk itu tenggelam timbul, agaknya lebih parah lukanya daripada sutenya.

HebatDiam-diam Kwee Seng terkejut dan kagum. Perhatiannya kini tertuju pada hwesio itu sambil mengingat siapa gerangan hwesio yang demikian lihainya itu. Terang bahwa kepandaian dua orang yang dikalahkannya secara mudah tadi cukup tinggi dan hanya seorang sakti saja yang dapat mengalahkan mereka dengan sekali gebrakan. Akan tetapi kalau memang hwesio ini seorang tokoh sakti, mengapa sikap dan kelakuannya begitu gila-gilaan ? Sama sekali tidak patut dilakukan oleh seorang tokoh sakti yang terkenal. Merampas seorang pelacur ! Benar-benar mengherankan sekali !

Sementara itu, dari dalam bilik perahu sudah berloncatan tiga orang laki-laki. Usia mereka rata-rata empat puluh tahun lebih, dan ketiganya memegang pedang. Gerakan-gerakan mereka pun cepat dan ringan, malah agaknya lebih cekatan daripada dua orang yang sudah kalah oleh si hwesio. Begitu keluar, mereka serentak mengurung dan menyerang hwesio itu dengan pedang mereka.

Kwee Seng melihat hwesio itu tertawa, akan tetapi segera perhatiannya tertarik oleh kejadian lain. Ia melihat seorang wanita berpakaian merah muda berlari-lari ke pinggir perahu besar itu lalu wanita itu meloncat ke air ! Byurrr!air muncrat tinggi dan tubuh wanita itu lenyap !

CelakaUntuk ketiga kalinya selama beberapa menit itu Kwee Seng menyebut celaka, akan tetapi ia cepat mendayung perahunya ke arah terjunnya si pakaian merah tadi. Selagi ia hendak menyelam, tiba-tiba wanita itu muncul dan legalah hati Kwee Seng melihat bahwa wanita itu ternyata pandai berenang ! Ah, benar-benar pelacur yang aneh sampai berenang pun pandai ! Pelacur itu memang bukan lain adalah Ang-siauw-hwa yang kini berenang cepat ke arah perahu Kwee Seng.

Kongcu yang pandai bersuling, kau tolonglah aku yang bernasib malang$B)t(B katanya sambil berusaha mengangkat tubuh memegang pinggir perahu. Akan tetapi beberapa kali usahanya tak berhasil karena pinggiran perahu itu terlampau tinggi dari permukaan air.

Kwee Seng lalu mengulur tangannya dan menarik tubuh wanita itu ke dalam perahunya. Ia memandang, kagum. Memang patut dikagumi wanita ini. Pakaiannya basah kuyup dan karena pakaian ini terbuat daripada sutera tipis dan halus, maka kini tercetaklah tubuhnya membayangkan bentuk tubuh yang padat ramping, dengan lekuk lengkung sempurna, tubuh seorang wanita muda yang sudah masak.

Kenapa kau meloncat ke air?Kwee Seng bertanya, menekan gelora jantungnya yang membuat darah mudanya yang bergerak lebih cepat daripada biasanya.

Ah, hwesio demikian hebat. Kalau aku dirampasnya bagaimana nasibku ? Lim-wangwe yang sudah tua dan pendekar-pendekar itu semua bersikap sopan kepadaku, akan tetapi belum tentu hwesio itu begitu baik sikapnya. Ah, Kongcu, kau tolonglah akubiarlah aku akan mengerjakan apa saja yang kau kehendaki untuk membalas budimu ini. Sambil berkata demikian, Ang-siauw-hwa mendekat dan bau harum menerjang hidung Kwee Seng yang tertegun melihat wanita itu tersenyum manis dan mengerling penuh arti.

Aku aku bersedia menolong, tapi tapi aku tidak menghendaki apa-apa darimu jawabnya gagap sambil menggerakkan dayung.

Wanita di belakangnya menarik napas panjang. Ahhhsudah kuduga, kau seorang pelajar yang sopan dan penuh susila, mana mungkin mau berkenalan dengan seorang tuna susila macam Ang-siauw-hwa?Suaranya mulai terisak. Beginilah nasibku, kongcu hanya orang-orang rendah budi saja yang suka berkenalan denganku, dengan maksud yang kotor, akan tetapi orang baik-baik selalu menjauhkan diri dariku.

Kwee Seng menoleh, agak terharu juga. Memang demikianlah nasib wanita yang terperosok ke Lumpur kehinaan. Bukan begitu, Nona. Tadi pun aku hendak memesanmu menemaniku minum arak, menikmati keindahan telaga sammbil bersuling dan bernyanyi atau mengarang syair. Akan tetapi karena kau telah disewa hartawan itu, aku berperahu seorang diri. Hanya perlu kau ketahui bahwa aku sekali-kali bukan menolongmu karena hendak minta upah. Nih, kaupakai jubah luarku untuk menahan dingin dan angin. Kita harus pergi cepat-cepat dari sini.Setelah melemparkan jubah luarnya untuk dipakai berselimut Ang-siauw-hwa, Kwee Seng cepat mendayung perahunya.

Akan tetapi di atas perahu besar terdengar suara berkerontangan, disusul pekik-pekik kesakitan dan berturut turut tubuh tiga orang jago silat itu pun terlempar ke dalam telaga. Bahkan orang ke tiga terlempar ke arah perahu Kwee Seng disusul bentakan hwesio itu yang parau dan nyaring.

Ah, Ang-siauw-hwa kembang pelacur ! Kau hendak lari ke mana ? Tak boleh lari sebelum melayaniku sampai puas!

Melihat menyambarnya tubuh orang ke arah perahunya, Kwee Seng menggerakkan dayung sehingga perahunya menyeleweng mengelak dan tubuh orang itu terbanting ke dalam air, hanya tiga kaki dari kepala perahunya. Air muncrat membasahi bajunya.

Ah, celaka kita, kongcuAng-siauw-hwa berseru ketakutan, tubuhnya yang sudah dingin itu kini ditambah rasa takut mulai menggigil.

Tak usah takut, kita akan minggir lebih dulu daripada dia.Jawab Kwee Seng sambil mengerahkan tenaga mendayung sehingga perahunya meluncur seperti anak panah terlepas dari busurnya.

Ang-siauw-hwa menengok dan melihat betapa hwesio yang menakutkan itu sudah meloncat ke dalam perahunya sendiri. Sekali ia menggentakkan perahu, lima orang pelacur yang mabok-mabokan di dalam perahu itu terlempar ke dalam air pula ! Menjemukan ! Tingallah kalian di air!kata hwesio itu sambil tertawa bergelak dan mulailah ia mendayung perahunya mengejar perahu Kwee Seng. Sementara itu, para penghuni perahu sibuk menolong lima orang jago silat dan juga lima orang pelacur yang menjerit-jerit dan gelagapan seperti lima ekor anak ayam terlempar ke air.

Kongcu, dia dia mengejar, Ang-siauw-hwa memeluk pinggang Kwee Seng dari belakang. Bau harum dan kelunakan tubuh yang merapat di punggungnya membuat Kwee Seng meramkan matanya dan menahan napas. Diam-diam hatinya mengeluh. Usianya sudah dua puluh dua dan belum pernah ia berdekatan begini dengan seorang wanita. Getaran yang menggelora di jantungnya melemahkan tenaga sakti sehingga kurang cepat ia mendayung perahu.

He, orang muda tolol ! Apakah kau bosan hidup ? Berhenti dan berikan gadis itu kepadaku!Suara hwesio itu melengking di telinganya. Akan tetapi Kwee Seng tidak peduli dan cepat ia mengerahkan tenaga mendayung perahunya.

Kau ingin mampus!Suara ini disusul oleh desir angin ke arah kepala Kwee Seng. Maklum bahwa ada benda menyambar, Kwee Seng mengibaskan tangannya dan dari ujung lenan bajunya menyambar angin yang memukul runtuh benda itu yang ternyata adalah sekepal kayu, agaknya gagang dayung yang diremas hancur oleh hwesio hebat itu!

Kwee Seng maklum bahwa kali ini ia menghadapi lawan yang amat tangguh, mungkin lawan yang paling tangguh yang selama hidupnya pernah ia hadapi. Dengan adanya Ang-siauw-hwa di dalam perahu, tentu saja hal ini berarti melemahkan kedudukannya sendiri apabila terjadi pertandingan melawan hwesio kosen itu, apalagi kalau diingat bahwa hwesio memang bermaksud merampas Ang-siauw-hwa. Selain itu juga, bertanding di atas perahu amatlah berbahaya. Kepandaiannya di atas air hanya terbatas dan sekali jatuh ke dalam air, takkan ada gunanya lagi. Inilah sebabnya maka Kwee Seng segera mengerahkan tenaga sekuatnya sehingga perahunya meluncur lebih cepat lagi meninggalkan perahu hwesio yang mengejarnya.

Sesampainya di pinggir telaga, Kwee Seng cepat menarik lengan Ang-siauw-hwa dan diajaknya melompat ke darat, lalu berkata lirih, Nona, cepatlah, kau lari dari sini! Tapi, tapi kau bagaimana, Kongcu

Jangan pikirkan aku, lekas lari.Kwee Seng mendorong wanita itu dalam gelap, kemudian ia meloncat lagi ke dalam perahunya dan mendayung ke bagian lain dari tepi telaga itu untuk menyesatkan perhatian si hwesio terhadap Ang-siauw-hwa. Usaha dan akalnya ini berhasil baik, karena perahu hwesio itu terus mengikutinya setelah mendekat, kemudian terdengar hwesio itu berseru keras.

Bocah setan, sekali ini aku tidak akan memberi ampun kepadamu!

Akan tetapi karena ia sudah terbebas daripada keselamatan Ang-siauw-hwa kini Kwee Seng tidak melarikan diri lagi. Ia berdiri di kepala perahunya, berkipas-kipas diri sambil menanti dekatnya perahu si hwesio. Setelah dekat ia berkata, Lo-suhu, seorang beribadat seharusnya mengekang nafsu memupuk kebajikan agar menjadi contoh bagi orang banyak. Mengapa Lo-suhu malah mengejar-ngejar seorang pelacur, hendak merampasnya dengan paksa dan memukul orang mengandalkan kepandaian?Suara Kwee Seng sopan dan halus akan tetapi di dalamnya mengandung teguran pedas.

Heh he he he, bocah yang masih bau susu ibu ! Macam engkau ini hendak memberi kuliah kepada Ban-pi Lo-cia ? Heh he he!Ucapan diselingi tawa ini lalu diikuti bunyi keras seperti petir menyambar-nyambar di atas kepala Kwee Seng dan tampaklah sinar hitam melecut-lecut di udara. Kiranya kakek itu sudah mengeluarkan sebatang cambuk hitam yang bermain-main di atas kepala Kwee Seng seperti seekor ular hidup yang ganas. Kwee Seng kaget setengah mati mendengar disebutnya nama Ban-pi Lo-cia (Dewa Locia Berlengan Selaksa)! Nama ini adalah nama seorang tokoh yang tak pernah atau jarang sekali muncul di dunia kang-ouw, namun yang terkenal sebagai tokoh yang amat jahat, keji dan memiliki kesaktian hebat. Kabar tentang tokoh ini yang ia dengar paling akhir adalah bahwa Ban-pi Lo-cia menghilang di utara, di daerah Khitan, karena memang ada berita bahwa dia mempunyai darah bangsa Khitan. Bagaimana tokoh ini dapat muncul secara tiba-tiba di tempat ini?

Kekagetan dan keheranan hati Kwee Seng inilah agaknya yang membuat ia lengah sehingga ketika ada gulungan sinar hitam menyambar, ia hanya miringkan tubuhnya dan tahu-tahu pinggangnya sudah telibat cambuk yang bergerak seperti ular. Ketika Ban-pi Lo-cia menggerakan tangan kanannya, tubuh Kwee Seng melayang seperti terbang, terbawa oleh ujung cambuk ! Kwee Seng terkejut, namun ia dapat menenangkan hati dan mencari akal. Dengan kipas di depan dada untuk melindungi diri, ia mengerahkan sin-kang di tubuhnya untuk menahan tekanan ujung cambuk yang melilit pinggangnya, kemudian ia membiarkan dirinya terlempaar melayang ke arah Ban-pi Lo-cia yang berdiri di atas perahu sambil menyeringai ! Orang gendut itu ternyata amat memandang rendah terhadap Kwee Seng yang dianggapnya seorang pelajar yang tahu sedikit akan ilmu silat, maka ia bermaksud mempermainkannya.

Akan tetapi alangkah kaget hati raksasa gundul ini ketika tubuh Kwee Seng sudah sudah melayang ke dekatnya, tiba-tiba angin pukulan yang hebat bertiup dari kipas disusul totokan kilat yang menuju ke jalan darah di lehernya, dilakukan oleh gagang kipas itu. Begitu cepatnya gerakan ini sehingga hampir saja jalan darah Tiong-cu-hiat di lehernya tertotok ! Ketika raksasa itu mengelak ke belakang, tahu-tahu kaki Kwee Seng sudah menotol pundaknya dan menggunakan pundak raksasa ini sebagai batu loncatan, Kwee Seng mengerahkan tenaganya dan melompat sambil mengerahkan tenaga pada pinggang untuk membebaskan diri daripada libatan ujung cambuk. Usahanya berhasil. Ban-pi Lo-cia berseru heran dan tubuh Kwee Seng sudah melayang kembali ke atas, tepat tiba di gerombolan pohon kembang di pinggir telaga yang cepat disambarnya dan dengan ayunan indah tubuh pemuda itu sudah berada di darat, berdiri dengan tenang ! da! n dengan kipas di tangan sambil memandang ke arah lawan yang masih berada di atas perahunya !

"He he he, kau boleh juga, bocah!" Ban-pi Lo-cia berseru setengah marah setengah kagum, cambuknya bergerak cepat mengeluarkan ledakan-ledakan keras. Ternyata cambuk itu memukul air di pinggir perahu danbagaikan didorong tenaga gaib, perahunya meluncur cepat sekali ke pinggir telaga, kemudian sekali meloncat raksasa itu sudah melayang dan tiba di depan Kwee Seng ! Dua orang ini kini berhadapan dan saling memandang penuh perhatian. Bulan bersinar terang bersih, indah sekali akan tetapi di dalam keindahan itu tersembunyi kengerian yang di timbulkan oleh pandang mata kedua orang yang saling bertentangan ini. Pinggir telaga sudah sunyi karena mereka yang mendengar tentang hwesio tinggi besar yang mengamuk, sudah melarikan diri cepat-cepat akan tetapi ada pula beberapa orang yang bersembunyi dan melihat dua orang itu berhadapan dari jauh.

"Ban-pi Lo-cia, sudah lama sekali aku mendengar namamu, dan ternyata keadaanmu cocok benar dengan namamu!" kata Kwee Seng yang kini sudah mengeluarkan suling bambu yang tadi ditiupnya dan memegang suling itu di tangan kanannya sedangkan kipasnya ia pegang di tangan kiri. Ia maklum bahwa menghadapi seorang sakti seperti ini ia harus di Bantu sulingnya, karena hanya dengan kipas saja kiranya belum tentu ia akan dapat mencapai kemenangan.

"Heh, kau mengenalku ? Dan kau bilang cocok seakan-akan kau telah mengenalku baik-baik. Orang muda lancang, keadaanku yang bagaimana kausebut cocok dengan namaku?"

"Kau terkenal sebagai tokoh sakti yang aneh, kejam keji dan memuja kejahatan mengandalkan kepandaian. Nah, bukankah cocok benar dengan perbuatanmu sekarang?"

"Wah, sombong ! Bocah bermulut lancang, siapa namamu?"

"Aku Kwee Seng, datang tidak menonjolkan nama, pergi tidak meninggalkan nama, hanya suling dan kipas ini yang kubawa."

"Heh..heh, kata-kata muluk ! Kau berlagak sopan dan terpelajar, akan tetapi bukankah kau sendiri juga memperebutkan kembang pelacur telaga ini ? He-heh, orang muda, tiada bedanya antara engkau dan aku, hanya aku lebih suka secara terbuka dan terang-terangan, sebaliknya engkau suka sembunyi-sembunyi dan berkedok kesopanan. Aku paling jemu melihat segala yang palsu ini, maka kau bersiaplah mampus di tangan Ban-pi Lo-cia!" Berbareng dengan habisnya ucapan itu, sinar hitam bergulung-gulung ke depan dibarengi ledakan-ledakan seperti petir menyambar kepala.

Hebat bukan main kalau Ban-pi Lo-cia mainkan cambuknya, cambuk sakti yang terkenal dengan nama Lui-kong-pian (Cambuk Halilintar). Gerakan cambuk ini mengandung getran penuh dari sin-kang yang sudah mencapai tingkat tinggi. Jangan kan terkena pukulan cambuk, baru mendengar bunyinya saja membuat lawan menjadi pening kepalanya, melihat sinarnya membuat mata lawan kabur, dan hawa pukulan yang mendahului datangnya ujung cambuk cukup kuat untuk menjungkalkan lawan yang kurang tinggi ilmu kepandaiannya ! Cambuk ini kelihatannya hanya sebatang benda lemas dan licin, akan tetapi jangan dipandang ringan senjata ini. Bahannya saja terbuat daripada sirip dan ekor ular laut hitam yang hanya dapat dilihat belasan tahun sekali di lautan utara, diantara gunung-gunung es. Di tangan Ban-pi Lo-cia, cambuk ini benar-benar menjadi halilintar. Bisa lemas melebihi sutera, bisa kaku keras melebihi baja, dan hebatnya, tidak ada sebuah senjata pun di dunia yang mampu membabatnya putus. Menyaksikan gerakan ini Kwee Seng maklum bahwa ia berhadapan lawan yang benar-benar sakti dan berbahaya, maka ia pun tidak berani main-main, segera ia menggerakkan suling dan kipasnya untuk menghadapi permainan cambuk halilintar yang dahsyat itu. Karena tahu bahwa ilmu cambuk halilintar adalah ilmu sakti yang sukar dilawan dan harus dilawan dengan ilmu sakti lagi, maka Kwee Seng segera mainkan suling di tangan kanan menurut ilmu pedang Pat-sian Kiam-hoat sedangkan kipasnya ia mainkan dengan ilmu kipas Lo-hai San-hoat. Ilmu pedang Pat-sian Kiam-hoat (Delapan Dewa) dan ilmu kipas Lo-hai San-hoat (Mengacau Lautan) telah menjadi ilmu silat yang sakti dan hebat setelah ia menerima petunjuk-petunjuk dari seorang manusia dewa, yaitu Bu Kek Siansu, beberapa tahun yang lalu di puncak pegunungan Himalaya. Kwee Seng tak pernah bertemu tanding yang dapat mengalahkannya. Dan sekarang mengahadapi Ban-pi Lo-cia yang demikian sakti, terpaksa ia mengeluarkan dua ilmunya yang dima! in! kan dengan lincah dan penuh mengandung tenaga sin-kang. Sulingnya ketika ia gerakkan mengeluarkan bunyi melengking tinggi, lengking yang dapat memecahkan anak telinga lawan dan tepat sekali dipergunakan untuk melawan pengaruh suara cambuk yang menggelegar. Adapun kipasnya mengeluarkan angin amat kuat yang menyembunyikan totoka-totokan maut oleh ujung gagang kipas yang dua buah banyaknya. Sesungguhnya, kipas inilah yang merupakan senjata penyerang Kwee Seng sedangkan sulingnya lebih banyak menjadi senjata penahan atau pelindung dengan suaranya yang menahan pengaruh suara cambuk dan gerakannya yang menangkis datangnya ujung cambuk.

Kalau Kwee Seng tidak merasa heran menyaksikan kehebatan ilmu cambuk lawannya, sebaliknya Ban-pi Lo-cia kaget dan heran bukan main menyaksikan gerakan lawan. Raksasa gundul ini tadinya memandang rendah kepada Kwee Seng yang masih muda dan bersikap seperti seorang pelajar. Sama sekali ia tidak menyangka bahwa pemuda itu demikian hebat.

Tangkisan suling pemuda itu sanggup menggetarkan cambuknya, sedangkan hawa pukulan kipas itu selalu mengancam jalan darahnya sehingga terpaksa ia harus berlaku hati-hati dan mengelak dengan bantuan gerakan ujung lengan baju kiri untuk menyelamatkan diri. Padahal ia mengenal betul bahwa suling itu memainkan ilmu pedang Pat-sian Kiam-hoat sedangkan kipas itu mainkan ilmu silat Lo-hai San-hoat. Akan tetapi alangkah bedanya dengan permainan orang lain.

Permainan pemuda ini telah membuat dua macam ilmu silat itu menjadi ilmu yang amat dahsyat, yang biarpun sudah ia kenal gerakan-gerakan dan perubahannya, namun masih sukar untuk dihadapi ! Diam-diam Ban-pi Lo-cia harus mengakui pendapat umum di dunia persilatan bahwa kehebatan seseorang bukan semata-mata tergantung kepada ilmu silatnya, melainkan kepada si orang itu sendiri, kematangan dan kesempurnaannya memepelajari ilmu itu. Pula benar kalau orang mengatakan bahwa dalam menghadapi lawan, orang harus berlaku hati-hati terhadap pertapa, yang kelihatan tua dan lemah, terhadap pelajar yang kelihatan halus dan terhadap wanita yang biasanya digolongkan orang lemah !

Puuuttttar-tar-tar!!sekali serang, cambuk itu sudah menyambar secara berturut-turut hanya selisih beberapa detik saja ke arah ubun-ubun kepala, leher, lalu pusar. Kwee Seng menggerakkan suling menangkis serangan pada ubun-ubunnya, kemudian ia memiringkan tubuh mengubah kedudukan kaki untuk menghindarkan diri serangan pada leher. Adapun pecutan pada pusarnya ia tangkis lagi dengan sulingnya sambil menggerakan kipasnya ke depan menotok jalan darah pada siku lawan. Kalau totokan ini mengenai sasaran, tentu lawannya akan terpaksa melepaskan cambuk.

Haiihhh!Ban-pi Lo-cia berseru keras, mengerahkan sin-kang dan ujung cambuknya terus melibat suling sedangkan totokan pada siku kanannya ia tangkis dengan ujung lengan sebelah kiri.

Brettt!Robeklah ujung lengan baju oleh ujung kipas, akan tetapi totokan itu meleset tidak mengenai sasaran. Kwee Seng terkejut karena tak mampu menarik kembali sulingnya yang terlibat, maka ia menggerakkan kaki maju setengah langkah, mencondongkan tubuh ke depan dan melanjutkan gerakan kipasnya, kini menusuk lambung lawan disusul kaki kanan menendang ke arah pusar !

Diserang secara hebat ini, Ban-pi Lo-cia kembali berseru keras dan tubuhnya meloncat ke belakang. Ia berhasil berhasil menyelamatkan diri dari bahaya, namun sekali renggut dengan pengerahan tenaga oleh Kwee Seng membuat suling yang terlibat lepas dari ujung cambuk ! Kwee Seng menahan rasa sakit pada telapak tangan yang memegang suling, terasa panas dan kesemutan.

Hebat ! Kau orang muda aneh dan hebat. Tapi rasakan kini tangan maut Ban-pi Locia!Seru raksasa itu dengan suara gembira dan wajah berseri. Memang raksasa gundul ini mempunyai dua macam kesukaan, yaitu wanita-wanita muda yang cantik dan berkelahi ! Makin kuat lawannya, makin gembira hatinya dan makin muda cantik seorang wanita, makin tergila-gila dia sebelum mendapatkannya !

Kini Dewa Locia Berlengan Selaksa itu menjauhkan diri dari lawannya, cambuknya di gerakkan dan lenyaplah cambuk itu, berubah menjadi gulungan sinar hitam yang membentuk lingkaran-lingkaran besar kecil, lingkaran yang telan-menelan membingungkan pandangan mata. Juga diselingi bunyi nyaring seperti halilintar menyambar-nyambar di waktu hujan gerimis. Dengan cambuknya yang panjang, raksasa ini dapat menyerang Kwee Seng dari jarak jauh tanpa bahaya diserang kembali oleh lawan yang hanya menggunakan dua senjata pendek. Sambil menghujani lawan dengan lecutan cambuk yang merupakan jari-jari maut itu, Ban-pi Lo-cia lari mengelilingi Kwee Seng.

Kagetlah hati pemuda ini. Tak disangkanya tokoh sakti yang terkenal ini selain sakti, juga amat licik dan curang, tidak segan-segan menggunakan akal pengecut untuk mengalahkan lawan. Ia maklum bahwa karena dia berada dalam lingkaran, kedudukannya berbahaya, dan membutuhkan ketenangan sepenuhnya untuk menghadapi serangan seperti itu. Maka ia tiba-tiba menghentikan gerakannya, berdiri dengan kuda-kuda kaki sejajar di kanan kiri, tubuhnya agak merendah, suling diangkat tangan kanan tinggi melintang di atas kepala sedangkan kipas terbuka di tangan kiri melindungi bagian bawah.

Anehnya, Kwee Seng malah meramkan kedua matanya, akan tetapi seakan-akan dapat melihat jelas, ia menggeser kaki setiap kali lawannya berada di belakang tubuhnya. Serangan-serangan membanjir datang dari belakang, kanan dan kiri namun semua itu dapat ia tangkis dengan suling dan dapat ia kebut dengan kipas. Hebat bukan main pertandingan ini, namun merupakan pertandingan yang berat sebelah karena Ban-pi Lo-cia selalu menyerang sedangkan Kwee Seng selalu melindungi diri tanpa mampu balas menyerang.

Mengapa Kwee Seng meramkan kedua matanya ? Apakah ia memandang rendah lawannya ?

Bukan, sama sekali bukan ! Karena kehebatan lawannyalah maka ia terpaksa meramkan matanya. Untuk menghadapi hujan serangan itu, ia membutuhkan ketenangan dan pengerahan panca inderanya, pencurahan perhatian sepenuhnya. Kalau ia membuka mata, maka bayangan yang membentuk lingkaran-lingkaran besar kecil itu akan menyilaukan mata dan mengacaukan perhatiannya. Biarpun kedua matanya meram, namun sepasang telinganya cukup untuk menangkap gerakan lawan. Dan mengapa pula pendekar sakti yang muda ini rela mengalah dan mempertahankan diri saja tanpa mencari kesempatan balas menyerang ? Ini pun merupakan siasat baginya, karena dengan cara ini, ia tidak mengeluarkan banyak tenaga, sebaliknya lawannya cepat lelah karena harus banyak bergerak dan lari-lari mengitarinya, sedangkan dengan penjagaannya yang kokoh dan kuat ia mampu mempertahankan diri.

Orang-orang cerdik pandai mengatakan bahwa yang diam itu lebih kuat daripada yang gerak. Gentong air yang penuh tak tersembunyi, yang kosong berbunyi nyaring. Orang yang mengerti pendiam, yang bodoh penceloteh. Air yang diam dalam, yang bergerak dangkal. Demikian pula dalam dunia persilatan, terutama bagi mereka yang sudah tinggi tingkatnya, terdapat keyakinan bahwa si penahan lebih kuat kedudukannya daripada si penyerang. Setiap penyerang berarti membuka pertahanan sendiri yang menjadi lemah dan juga lengah, sebaliknya si penahan akan selalu menutup diri mempertahankan diri dengan kokoh dan kuat.

Karena bernafsu sekali ingin mengalahkan Kwee Seng dengan cepat, untuk beberapa jam lamanya Ban-pi Lo-cia lupa akan hal ini dan terus menerus menghujankan serangannya yang selalu sia-sia karena dapat ditangkis lawan. Namun diam-diam Kwee Seng juga mengerti bahwa lawan yang sekali ini bukan lawan yang biasa, dan tidak dapat diharapkan cepat-cepat menjadi lelah. Juga dalam tingkat ilmu silat dan tenaga, Ban-pi Lo-cia benar-benar sudah hebat sekali dan ia tidak berani mengaku sudah lebih pandai daripada lawan ini. Sulingnya sudah retak-retak dan kedua tangannya sudah mulai lelah dipakai menangkis semua serangan itu. Diam-diam Kwee Seng menggerakkan ujung jari kakinya, mengerahkan tenaga menjebol sepatunya sendiri sehingga ibu jari kaki kanannya tampak keluar dari sepatunya.

Ia mencari kesempatan baik. Ketika Ban-pi Lo-cia menggerakkan cambuk ke atas kepala membuat lingkaran-lingkaran baru untuk memulai serangkaian serangan dahsyat, tiba-tiba ibu jari itu menyentil ke depan. Segumpal tanah melayang cepat sekali memasukilubang pertahanan Ban-pi Lo-cia yang terbuka dan cepat menghantam jalan darah di bawah lengan Si Raksasa.

Kyaaaa!Ban-pi Lo-cia terhuyung-huyung mundur dan tangan kanannya menjadi setengah lumpuh, matanya melotot heran dan kaget.

Tentu saja Kwee Seng tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia meloncat ke depan dan menerkam bagaikan seekor singa, menggerakkan suling dan kipasnya menghantamkan serangan-serangan maut. Namun Ban-pi Lo-cia adalah seorang tokoh yang banyak pengalaman dan tubuhnya sudah kebal. Serangan segumpal kecil tanah tadi hanya membuat ia terhuyung-huyung sejenak, dan kini tangan kirinya sudah cepat menyambar cambuknya sendiri dari tangan kanan yang agak lumpuh, kemudian cambuk itu melecut-lecut dengan bunyi keras, membentuk benteng sinar bergulung di depan tubuhnya sehingga suling dan kipas Kwee Seng dapat ditangkisnya. Dalam menangkis ini, Si Raksasa mengerahkan lwee-kangnya. Terdengar suara keras ketika cambuk beradu dengan suling dan kipas, akibatnya Keduanya terlempar ke belakang sampai tiga empat meter dan keduanya jatuh bergulingan di atas tanah !

Dengan napas terengah-engah dan keringat membasahi mukanya, raksasa gundul itu duduk di atas tanah sambil memandang dengan muka berseri, Heh-heh-heh, kau hebat orang muda!

Kwee Seng juga sudah bangkit duduk dan mengatur napas memulihkan tenaganya. Dan kau jahat, Ban-pi Lo-cia!jawabnya.

Kembali Si Raksasa gundul tertawa. Aku pernah mendengar sayup sampai tentang seorang tokoh berjuluk Kim-mo-eng, yang tingkat kepandaiannya sudah masuk hitungan. Agaknya kaukah orangnya?

Tidak salah, para Locianpwe memberi sebutan Kim-mo-eng kepadaku.

Heh-heh-heh, masih muda sudah sombong, ya ? Kau kira Ban-pi Lo-cia kalah olehmu ? Kita masih seri, belum ada yang menang atau kalah. Mari kita lanjutkan!Raksasa itu berdiri, cambuknya terayun-ayun di tangan kanan yang sudah pulih kembali.

Kwee Seng juga bangkit berdiri. Aku selau melayani, kalau kau memang hendak berkelahi, dan aku selalu akan menghalangimu, kalau kau hendak melakukan hal-hal jahat!

Ban-pi Lo-cia tertawa bergelak lalu menerjang maju dan memaksa lawannya melakukan pertandingan jarak dekat yang lebih berbahaya. Ia hendak mengadu tenaga dalam pertemuan tenaga tadi si raksasa ini dapat menduga bahwa dalam hal tenaga dalam, ia menang setingkat.

Dan hal ini memang harus diakui oleh Kwee Seng. Pemuda itu kini mendapat kesempatan balas menyerang, namun ia sedapat mungkin menghindarkan adu tenaga karena hal ini akan banyak merugikannya. Sulingnya sudah retak dan kalau terus-menerus diadu dengan cambuk, tentu akan hancur sedangkan cambuk lawannya sama sekali tidak mengalami kerusakan apa-apa, Kwee Seng mengerahkan gin-kang (meringankan tubuh) dan menggunakan kegesitannya untuk menghadapi serangan dengan balasan serangan pula. Ia lebih muda, tubuhnya lebih kecil dan karenanya ia lebih gesit daripada lawannya yang tua dan tinggi besar.

Kini Kwee Seng benar-benar menguras ilmunya. Ia mencoba mainkan segala macam ilmu silat yang pernah ia pelajari, namun tetap saja ia tidak mampu mendesak lawan. Sebaliknya, tidaklah muda bagi Ban-pi Lo-cia untuk mengalahkan lawan yang amat kuat ini. Dalam benturan ke dua yang sama dahsyatnya dengan tadi, keduanya kembali terjengkang sampai beberapa meter jauhnya. Pertandingan telah setengah malam dan kini fajar mulai menyingsing, sinar merah mengambang di ufuk timur. Mereka saling pandang, muka berpeluh, uap putih mengepul dari ubun-ubun kepala masing-masing.

Bah, kau ini orang muda luar biasa. Selama hidup baru sekali ini bertemu orang muda seperti kau. Baru dua kali selama hidupku benar-benar gembira melakukan pertandingan. Pertama melawan Pat-jiu Sin-ong Liu Gan, ke dua dengan kau inilah ! Heh-heh-heh ! Orang muda, aku pernah mendengar kau ini diambil murid Bu Kek Siansu. Manusia dewa itu katanya paling sakti, akan tetapi mengapa muridnya hanya seperti kau ini, manusia biasa yang dapat kulawan?

Aku tidak mendapat kehormatan sebesar itu menjadi murid beliau, aku hanya pernah beruntung menerima petunjuknya. Tak usah kau membawa-bawa nama suci Bu Kek Siansu. Kalau memang hendak bertanding, mari kita lanjutkan.Kwee Seng kini bangkit lebih dulu. Ia mulai penasaran menghadapi lawan yang begini tangguh dan ulet.

Heh-heh-heh, sampai mati, bocah sombong!Ban-pi Lo-cia menerjang maju dan kini ia membekuk cambuknya lalu menghantam dengan gerakan ilmu silat toya. Pukulan yang hebat ini tak mungkin dielakkan lagi. Terpaksa Kwee Seng menangkis dengan sulingnya, berbareng menyodokkan kipasnya.

Brakkkk!! Uh-uhKwee Seng terhuyung mundur, sulingnya hancur ! Akan tetapi Ban-pi Lo-cia juga terhuyung mundur, perutnya kena ditotok ujung kipas sehingga mendadak perut itu menjadi mulas ! Kalau orang lain terkena totokan ujung kipas yang mengandung tenaga sin-kang, tentu akan tembus perutnya atau rusak isi perutnya, mati seketika. Akan tetapi Ban-pi Lo-cia yang sudah kebal itu hanya merasakan perutnya mulas seperti orang terlalu banyak lombok saja !

Serrr.. serrrserrr!Belasan batang anak panah menyambar ke arah Ban-pi Lo-cia. Cepat kakek itu mengibaskan lengan bajunya dan anak-anak panah itu runtuh berhamburan. Dari kanan kiri berlompatan keluar belasan orang yang bersenjata lengkap.

Inilah hwesio jahat itu ! Serbu KeroyokKiranya belasan orang ini adalah lima orang jago silat bersama teman-temannya, sedangkan di belakang mereka masih tampak puluhan orang yang merupakan regu penjaga keamanan. Agaknya peristiwa di tengah telaga itu telah dilaporkan oleh hartawan Lim yang minta bantuan yang berwajib, sedangkan lima orang jago silat sudah mengundang teman-temannya untuk membantu.

Kwee Seng yang maklum bahwa sekian banyaknya orang itu bukanlah lawan Ban-pi Lo-cia, cepat menerjang lagi si raksasa gundul dengan kipasnya. Ban-pi Lo-cia juga maklum bahwa Kwee Seng merupakan lawan seimbang, kalau sekarang dibantu oleh puluhan orang, ia bisa celaka. Sambil tertawa terkekeh-kekeh, ia melompat dan sekali lompat ia telah melampaui kepala mereka yang mau mengeroyok. Mendadak tujuh orang pengeroyok jatuh berturut-turut dan mati seketika karena kepala mereka telah kena disambar hawa pukulan Ban-pi Lo-cia yang mereka sambil melompat pergi. Dari jauh terdengar suaranya.

Eeh, Kwee Seng. Belum selesai pertandingan kita, lain kali kita lanjutkan!

Sekarang pun boleh!Kwee Seng juga melompat dan mengejar karena ia makin penasaran, apalagi melihat raksasa itu pergi sambil membunuh tujuh orang. Akan tetapi beberapa lama ia mengejar, tak tampak bayangan raksasa itu. Kwee Seng tidak mau kembali ke tempat tadi, tidak suka ia bertemu dengan mereka yang tentu hanya akan merepotkannya saja. Ia lalu mengambil jalan sunyi menjauhi telaga. Ia merasa menyesal bahwa sulingnya telah hancur, tak dapat dipakai menyuling, apalagi sebagai senjata. Dengan lesu ia melempar sulingnya yang hancur dan terasa betapa tubuhnya basah semua oleh peluh. Ia perlu beristirahat memulihkan kekuatannya. Ia hendak mencari tempat yang sunyi agar tidak terganggu orang lain.

Kongcu Kalau suara ini parau dan kasar, agaknya Kwee Seng takkan mengacuhkannya. Akan tetapi justeru tidak demikian. Suara itu halus dan merdu, dan inilah yang membuat ia bagaikan terpagut ular dan cepat ia berpaling ke kiri.

Dia sendiri di situ ! Siapa lagi kalau bukan Ang-siauw-hwa, pakaiannya masih serba merah muda, dari pita penghias rambut sampai sepatunya. Akan tetapi terang bukan pakaian yang semalam, karena pakaian ini selain kering juga bersih sekali. Rambutnya digelung indah terhias perhiasan burung Hong dari emas dan permata. Sepasang pipinya kemerahan, matanya bersinar-sinar, bibirnya tersenyum manis. Akan tetapi wajah yang cantik itu kelihatan berbayang menjadi dua tiga oleh pandangan mata Kwee Seng yang berkunang-kunang. Pertandingan setengah malam suntuk itu ternyata hebat pula akibatnya bagi pemuda ini.

Kongcu, kau kenapa Kau terluka Kwee Seng memaksa diri tersenyum dan menggeleng kepala. Akan tetapi wanita itu sudah maju mendekat dan memegang tangannya. Ah, kau tentu terluka. Hwesio itu jahat sekali. Kau kelihatan lemah dan lelah, Kongcu. Aku sengaja menunggumu disini dan kebetulan kau lewat di sini. Bukankah ini jodoh namanya?

Ooh tanya Kwee Seng lemah, kata-kata ini mengejutkan dan mengherankan hatinya.

Ang-siaw-hwa menarik lengannya. Tentu saja jodoh. Kongcu, marilah ikut Ang-siauw-hwa, kau perlu beristirahat, biarlah Ang-siauw-hwa merawatmu. Dengan kata-kata yang mesra dan merdu ini wanita itu menggandeng tangan Kwee Seng dan dituntunnya pergi.

Kenapa kenapa kau begini baik kepadakuKwee Seng masih mencoba menolak. Akan tetapi Ang-siauw-hwa menarik tangannya dan diguncang-guncangnya. Kenapa ? Karena kau telah menolong nyawaku, menyelamatkan kehormatanku. Kongcu, karena karena aku ingin belajar menyuling darimu

Menyuling ?Akan tetapi keadaan Kwee Seng makin lemas. Pertemuan ini mengganggu hati dan pikirannya dan amat merugikannya kerena seharusnya ia dapat beristirahat memulihkan tenaga tenaga dalam yang banyak dikerahkan dalam pertempuran. Bagaikan seorang mimpi dan linglung ia membiarkan dirinya digandeng dan dituntun Ang-siauw-hwa dan ia hampir tidak sadar ke mana ia dibawa oleh wanita itu.

Ketika Kwee Seng membuka matanya, ia telah rebah di atas pembaringan yang hangat, bersih dan berbau harum. Kamar itu indah sekali dan di pinggir pembaringan ia melihat Ang-siauw-hwa duduk memijiti pundak dan lengannya.

Melihat betapa di atas meja ada lilin tertutup sutera biru, ia heran dan tahu bahwa saat itu hari telah malam. Akan tetapi melihat wanita cantik itu duduk begitu dekat dengannya dan hanya mengenakan pakaian yang tipis, ia meramkan matanya kembali.

Ambilkan bubur dan sayur itu, kemudian kalian pergi tinggalkan kamar ini, aku hendak melayani Kongcu makan.Terdengar Ang-siauw-hwa berkata perlahan. Dari balik bulu matanya Kwee Seng melihat dua orang wanita pelayan yang tadinya duduk di bawah, bangkit berdiri. Tak lama kemudian mereka datang lagi membawa baki terisi hidangan untuknya.

Kongcu, kau harus makan dulu. Sudah sehari penuh kau tidur.Kata Ang-siauw-hwa sambil menyingkapkan selimut yang menutupi tubuh Kwee Seng. Pemuda ini bangkit duduk, memandang ke sekeliling lalu berkata, penuh kegugupan dan malu-malu.

Ah, agaknya aku tak sadar tertidur di sini, menyusahkan Nona saja. Biarkan aku pergi

Akan tetapi Ang-siauw-hwa merangkulnya. Mengapa begitu, Kongcu ? Tidak sudikah Kongcu menerima pembalasan budi dariku ? Apakah Kongcu seperti orang-orang lain memandang rendah kepadaku, seorangpelacur?Wanita itu masih memeluknya sambil menangis !

Kwee Seng menarik napas panjang. Ia suka kepada nona ini, yang selain cantik jelita juga halus tutur sapanya, baik budinya. Akan tetapi tentu saja ia tidak suka melibatkan dirinya dalam perhubungan dengan seorang pelacur.

Sudahlah, Nona. Aku sekali-kali tidak memandang rendah kepadamu. Kau baik sekali.

Nona itu mengangkat mukanya dan biarpun air mata masih membasahi pipinya,ia teresenyum gembira. Marilah makan, Kongcu.Katanya merdu.

Kwee Seng tidak menolak lagi, perutnya amat lapar. Tidur sehari itu amat bermanfaat baginya, memulihkan sebagian tenaganya. Setelah makan yang dilayani amat mesra oleh Ang-siauw-hwa, ia merasa tubuhnya segar kembali. Ang-siauw-hwa menepuk tangannya dan dua orang pelayan datang dan segera diperintahnya untuk membersihkan mangkok piring, lalu menyuruh mereka pergi lagi. Kemudian, dengan gerakan lemah gemulai dan mesra, tanpa ragu-ragu atau malu-malu lagi Ang-siauw-hwa lalu menghampiri Kwee Seng dan duduk diatas pangkuannya !

Ah, Nonainiini.. bagaimanaKwee Seng tergagap.

Kongcu, budimu terlalu besar. Tak tahu aku dengan apa aku harus membalas budimu, selain dengan penyerahan diriku menjadi hambamu, menjadi budakmu dan melakukan apa saja untuk memalas budimu. Kongcu, bolehkah aku mengetahui namamu?

Tidak karuan rasa hati Kwee Seng. Kepalanya sampai terasa pening dan dengan halus ia mendorong tubuh nona itu dari atas pangkuannya. Nona, duduklah yang betul dan mari kita bicara. Kau mau tahu namaku ? Aku adalah Kwee Seng, seorang pelajar gagal yang tiada tempat tinggal, miskin dan tak berharga.

Ah, Kwee-kongcu mengapa bicara begitu ? Kau seorang budiman, gagah perkasa dan amat berharga..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Kho Ping Hoo - BKS#01 - Bu Kek Siansu
Kho Ping Hoo - BKS#02 - Suling Mas
Kho Ping Hoo - BKS#03 - Cinta Bernoda Darah
Kho Ping Hoo - BKS#04 - Mutiara Hitam
Kho Ping Hoo - BKS#05 - Istana Pulau Es
Kho Ping Hoo - BKS#06 - Pendekar Bongkok
Kho Ping Hoo - BKS#07 - Pendekar Super Sakti
Kho Ping Hoo - BKS#08 - Sepasang Pedang Iblis
Kho Ping Hoo - BKS#09 - Kisah Sepasang Rajawali
Kho Ping Hoo - BKS#10 - Jodoh Rajawali
Kho Ping Hoo - BKS#11 - Suling Emas Dan Naga Siluman
Kho Ping Hoo - BKS#12 - Kisah Para Pendekar Pulau Es
Kho Ping Hoo - BKS#13 - Suling Naga
Kho Ping Hoo - BKS#14 - Kisah Si Bangau Putih
Kho Ping Hoo - BKS#15 - Si Bangau Merah
Kho Ping Hoo - BKS#16 - Si Tangan Sakti
Kho Ping Hoo - BKS#17 - Pusaka Pulau Es


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.162.94.15
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia