Hujan Dalam Satu Harapan

Rintikan hujan masih membasahi bumi Jemonistan, bau tanah makin menusuk indra penciuman manusia. Sambil merebah asa di iringi temaram langit kelam di ujung angkasa, seorang diri berjalan menepaki arah jalan sepi nan basah di batas bumi Jemonistan yang asri lagi indah, seindah hati yang ingin ia temui. Hanya sanya gerimis kecil itulah sedikit banyak menghambat lembaran lencana yang ia rangkai dalam memori ingatannya yang sebatas jua. Padahal, sebentar lagi dunia akan di datangi malam tak berbintang, hanya karena kuasa cuaca yang tidak mendukung. Hati seorang diri itu kian di selimuti atmosfer kecemasan yang begitu tebal, dan hampir-hampir ia di tikam oleh asa dan harap saat rasa tersebut ia bendung.
“Mudah-mudahan bisa berjalan sesuai rencana..” Batinnya.
Seorang itu adalah Akmal Farid, sesosok manusia polos yang seakan terlihat seperti anak kecil karena baby face yang ia miliki, begitu polos tak ayalnya seperti aktor cilik di film HOME ALONE yang biasanya di putar pada saat menjelang tahun baru. Sambil melantunkan sya’ir lagu anak band yang lagi naik daun di kalangan para pelajar, ia masih berjalan menembus rintikan anak hujan di petang tak berirama.
Harus ku akui…
Sulit cari penggantimu…
Yang menyayangku…

Sepanjang jalan bumi Jemonistan, Akmal masih melantunkan sya’ir lagu itu, berharap apakah yang ia ucapkan akan segera terjadi? Entahlah? Memang, sudah lama Akmal memendam rasa itu tepatnya pada saat ia pertama kali bertemu dengan sosok gadis belia bak bidadari di bumi Jemonistan pula. Selayaknya seorang psikolog ulung yang langsung bisa menebak karakter seseorang dengan tatapan matanya, Akmal langsung bisa menebak isi hati yang ia temui, dan itu telah terbukti. Sosok gadis belia itu adalah Yuniar Angelia, gadis berkelahiran kota bersemboyankan BERSINAR itu benar-benar telah membuat hati Akmal terjatuh untuk kesekian kalinya. Akmal mengakui bahwa ia sedang merasakan Dejavu kala melihat sosok Yuniar. Akmal teringat akan seseorang yang telah menghiasi jiwanya beberapa tahun silam. Baginya, Yuniar adalah metamorfosis dari Latifah Putri Ambarsari, cinta pertamanya dan telah ia putusi karena alasan tertentu.

Semenjak pertemuan pertamanya dengan Yuniar, Akmal dapat merasakan getaran cinta yang pernah ia rasakan dahulu ketika jiwanya berjumpa dengan Latifah Putri Ambarsari. Pertemuan itu terjadi kala senja datang menghadang di Masjid Raya Jemonistan. Seusai sholat maghrib, Akmal bersegera mengambil sebuah novel yang baru saja ia beli, TEMBANG ILALANG. Isi dari novel itu adalah perjuangan mendapatkan cinta dan kemerdekaan dalam bumi konflik, Indonesia pada masa-masa pra freedom tahun 1930-an. Dan Akmal selalu membayangkan sesosok Asroel (dalam novel itu) yang memperjuangkan jiwa raganya demi mendapatkan kemerdekaan dan cinta dari seorang Roekmini, dan Akmal sendiri ingin sekali menggoreskan sejarah cintanya walau berada di bumi konflik.
“Kayaknya seru juga bukunya!”. Ucap seorang gadis belia yang tiba-tiba menghampiri Akmal.
Akmal belum berani bertatapan langsung dengan pemilik suara itu. Suaranya begitu merdu, seketika mengiang-ngiang di dalam ingatannya. Diangkatnya wajahnya, kemudian mata mereka saling bertemu. Terdiam sesaat, petang terus membayang meniggalkan berkas-berkas cahaya pada sepasang hati tersebut.
“Oohh…ya…!,Tembang Ilalang judulnya.”, Akmal jadi salah tingkah. Tidak seperti biasanya Akmal menjadi seperti orang yang terkena stroke ketika berhadapan dengan lain jenis. Tapi sesosok perempuan ini sangatlah berbeda dengan yang lain.
Gadis belia itu duduk menghampirinya dan berkata, “Kak… boleh kenalan gak…?”. Gadis itu mengulurkan tangannya kepada Akmal tanda untuk berjabat tangan.
Naluri lelaki Akmal memuncak, ia merasakan sangat nervous kala gadis itu mengajaknya berkenalan di tambah lagi ingin berjabat tangan dengannya. Akmal jadi salah tingkah untuk kesekian kalinya, benar-benar tak seperti biasanya. Hanya sanya yang membedakan adalah sosok gadis bak bidadari yang datang menghampirinya dan begitu manis bila di pandang. Akmal yang sedari tadi merasa nervous mulai melawan rasa itu.
“Jangan panggil aku kakak, panggil saja aku Akmal, itu sudah cukup.”
“Ohh… Mas Akmal ya…?”
“Mas…? Masmu apa…?”
“Iya, masak kakak gak boleh mas gak boleh, lha terus gimana?”
“Iya gak apa-apa dech, adek namanya siapa?”
“Adek?” ucap gadis itu bercanda.
“Iya, adek… adekku.”
“Heh… panggil saja Yuniar, Yuniar Angelia.”
“Nama yang cantik, secantkik yang punya.” Canda Akmal.
“Hemb…”
Seketika, pertemuan pertama itu menimbulkan berbagai rasa dalam kalbu, beribu asa langsung tertanam dalam sanubari. Akmal yang biasanya tertutup, tiba-tiba saja menjadi pribadi yang periang semenjak kejadian itu. Mulai dari saat itulah Akmal bisa merasakan guncangan rasa yang hampir saja merobohkan dinding hatinya. Fall in love…

Hujan masih mengguyuri bumi Jemonistan. Makin lama hujan tak lagi berkutik, tak turun dan mulai reda. Akmal memandang ke depan ke arah Masjid Raya Jemonistan, tempat pertama kali ia bertemu dengan bidadari di hatinya. Dan di tempat itu pula ia akan mengungkapkan isi hati yang selama ini ia pendam. Tepatnya hari ini adalah hari yang begitu spesial baginya. Yaitu hari ulang tahun Yuniar bertepatan dengan tanggal 8 Juni. Bagi Akmal, Yuniar adalah sosok yang begitu ia kagumi, dari pribadinya yang begitu sederhana, nggemesi, imut serta tak mau merepotkan orang lain dalam segala hal dan keadaan. Maka dari sinilah rasa cemas Akmal memuncak Everest. Akankah Yuniar menerima hadiah darinya?. Atau akan disia-siakan begitu saja?. Hanya hati Yuniar-lah yang dapat menjawab semua itu. Karena ini merupakan bentuk kerepotan diri baginya. Tapi Akmal membawa hadiah berupa kalung hati dan ingin menyerahkan kepada Yuniar dengan ikhlas tanpa mengharapkan sesuatu apapun darinya. Sungguh ini adalah bentuk pengorbanan cinta Sang Akmal kepada Yuniar. Dan rasa cemas itu selalu saja datang menghalangi di setiap langkah Akmal.

Lantunan adzan maghrib saling sahut-menyahut menyambut petang yang mendung serta malam yang kelam, mulai dari ujung Pulestine sampai ujung Jemonistan yang sebelumya menghampiri jalur Kemelunia. Memang, ketiga negeri itulah yang bisa meramaikan suasana hati yang di rundung pilu. Dengan adanya sungai sepanjang ketiga negeri itu dan tak tahu dimanakah akan bermuara, bisa deperhatikan pemandangan yang elok tak ayalnya seperti surga dunia. Dan bagi Akmal Jemonistan adalah surga cinta tersendiri dan telah banyak hati yang bersemi di bumi ini, termasuk Akmal.
Kini, rasa cemas Akmal kian membuncak naik. Sedari tadi ia belum melihat sosok yuniar, ia hanya melihat Maharani, teman sekaligus tetangga dekat Yuniar. Rani, begitu ia memanggilnya.
“Yuniar gak ikut jama’ah, Ran.?” Tanya Akmal khawatir.
“Paling sebentar lagi datang..” Jawab Rani yang sudah bisa menebak perasaan Akmal.
“Jangan terlalu khawatir, kak. Aku sudah mengingatkannya kalau hari ini adalah special day buatnya..” lanjut Rani
“Jadi Rani sudah tahu kalau aku akan memberikan suprize pada Yuniar?”
“Kan, Yuniar yang ngomong sama aku, tapi dia nggak mau ngerepoti kakak, dia paling nggak suka akan hal itu.”
“Tapi aku ini iklas…”
“Yah, kalau begitu, kakak langsung saja bilang sama orangnya.. itu orangnya datang..” Lanjut Rani.
Deg, jantung Akmal berdegup cepat, rasa cemas, khawatir dan gugup menjadi satu dalam jiwa sang Akmal pada saat itu. Seakan lidahnya terasa kelu, mulutnya serasa di kunci mati, tubuhnya seperti tak bergerak lagi, darahnya mengalir desar tak terkendali. Ini adalah rasa yang pernah ia temui pada awal bertemu, dan sekarang terulang kembali.

Mata Akmal melirik takut ke arah Yuniar, takut akan pandangan mereka saling bertemu. Ia seakan tak ingin membuat Yuniar kecewa malam ini, karena ia akan meluapkan seluruh isi hatinya. Tapi, karena mendung yang menganggu inilah membuat hati Akmal menjadi H2C. Akmal melihat Yuniar tak begitu bersemangat, cemberut dan sangat murung. Padahal, Akmal akan memberikan kejutan pada Yuniar di hari ulang tahunnya itu.
Akmal yang sedari tadi bingung bagaimana cara agar bisa langsung mengungkapkan rasanya pada Yuniar. Akmal kembali memanggil Rani, “Ran, bolehkah kamu membantuku..?”
“Aku siap demi kebaikan kakak dan Yuniar.” Jawab Rani tegas.
“Serius ya, Jadi aku harap kamu bisa menemani Yuniar selama aku berbicara dengannya.”
“Maksudnya jadi obat nyamuk, gitu.”
“Bisa dikatakan begitu, dan yang terpenting adalah kamu harus bisa memahamiku.”
“Aku akan berusaha.” Jawabnya singkat.
Sembari meninggalkan Akmal, Rani berjalan mendekati Yuniar. Akmal bertanya-tanya dalam hati tentang apa yang dirasakan oleh Yuniar pada saat ini, begitu murung, tak seperti biasanya. Sosok Yuniar yang di kenal Akmal adalah pribadi yang terbuka, selalu riang, murah senyum dan selalu membiarkan orang lain tuk bercanda dengannya. Walaupun sedikit keras kepala, tapi justru dari sinilah yang membuat Akmal begitu kagum padanya. “Jarang-jarang sekali aku menemui gadis seperti dirimu, Yuniar.” Ucap Akmal suatu waktu. Tapi, untuk kali ini Yuniar tampak berbeda, sangat berbeda tak seperti sewajarnya. Kemudian Akmal berjalan menuju Yuniar yang di sampingnya telah ada Rani,
“Yuniar, bolehkah aku bicara sesuatu denganmu.?”
“Aku nggak punya banyak waktu, dan kalau bisa secepat mungkin.” Ucap Yuniar sinis.
“koq somse sekali sich..? ada yang salah denganku..?”
“Lagi males aja..”
“Baiklah kalau begitu, lebih baik habis sholat isya saja, tunggu aku di perempatan jalan.”
“Yeah…” Jawab Yuniar malas.
Hati Akmal mulai tak tenang, seakan ia merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan Yuniar. Di tambah lagi gerimis kecil mulai berjatuhan dari langit mendung tak berbintang. Akmal hanya bisa berharap agar semua dapat berjalan sesuai rencana. I don’t know…

Sholat isya telah usai, para jamaah satu per satu mulai meninggalkan masjid. Perasaan Akmal mulai tak karuan, pikirannya galau tak tentu arah, saat ini ia hanya bisa memfokuskan diri untuk sedikit bisa menenangkan pikirannnya yang telah di hantui rasa cemas yang menikam. Dengan segera, Akmal mengambil jaket almameternya yang dia simpan di teras masjid kemudian berjalan meninggalkan bias-bias cahaya masjid menuju tempat yang telah di sepakati, perempatan jalan negri Jemonistan.

Akmal kian di rundung rasa cemas, hanya diri sendiri yang bisa memahami dan tak seorang pun dapat berdusta. Kini, di depan pandangannya telah nampak dua sosok gadis yang salah satunya akan ia temui. Dan sekarang janji telah ditepati, tinggal menunggu kepastian hati, apakah akan tersakiti atau menyakiti, entahlah? Yang mengetahui hanyalah sepasang hati yang akan menuangkan isinya pada hari di mana salah satu hati akan di temani harapan serta merta rasa cemas yang tak kunjung henti.

Kedua gadis itu masih tertunduk, padahal Akmal sudah mulai mendekati dan akan mengungkapkan. “Yuniar, sudah waktunya! Aku ingin bicara sebentar.” Akmal memulai pembicaraan.
Rani kemudian menjauh, mundur teratur dan berjalan meninggalkan Akmal & Yuniar, kira-kira 5 meter dari mereka. Tak hanya Akmal, Rani pun dapat merasakan kekhawatiran seperti yang dirasakan olehnya. Sedikit banyak. Rani setidaknya dapat membantu Akmal dalam hal ini, lagi pula Rani lebih senior daripada Yuniar.

Yuniar belum berani bertatap muka dengan Akmal. Rasa itupun makin membuat Akmal cemas di tambah lagi gemuruh angkasa raya setia menemani di setiap degupan jantung sang Akmal. Kepolosannyapun keluar, “Yuniar?” Sahut Akmal.
Yuniar belum menjawab. Terdiam.
Sekali lagi Akmal melantunkan nama itu dengan penuh harap. “Yuniar… dek Yuniar…?!?!” Rayunya.
“Lebay dech…!?!?.” Jawab Yuniar gusar.
Lautan hati Akmal menderukan gelombang asa, tapi mungkin ini tahap awal bagi Akmal.
“Oke, kalau begitu, Ini adalah hari ultahmu kan…?”
“Iya…aku juga tahu…” Balas Yuniar acuh.
“Yun, coba lihat aku sebentar, aku hanya ingin memberikanmu hadiah…”
Belum selesai Akmal bicara, Yuniar langsung menyela kalimat Akmal, “Aku tak kan menerima sesuatupun darimu, Mas Akmal!”
“Tapi aku ini ikhlas, gak berharap apa-apa darimu…”
“Aku gak pantas menerima itu…” Gusarnya,.
“Baiklah, ini bukan hadiah, tapi ini kenangan dariku untukmu Yuniar!”
“Tidak… tak akan ku terima…”
Akmal menarik nafas panjang, kemudian berjalan mendekati Rani, sambil berbisik Akmal berkata, “Ada apa dengan Yuniar?”. “Ini karena salahku kak…!” Jawab Rani polos.
“Jangan menyalahkan diri, pinjamkan aku handphonemu…!” Akmal mengulurkan tangan.
Tak lama, barang elektronik itu sudah berada di genggaman Akmal. Akmal berjalan mendekati Yuniar dengan langkah cemas. Tiba-tiba…
Harus ku akui…
Sulit cari penggantimu…
Yang menyayangku…
Dan takkan pernah ada lagi…
Yang seperti dirimu…
Yang sanggup… mengertikanku…
Akmal duduk di samping Yuniar, sementara lagu itu terus di putar. Yuniar sama sekali tidak memperhatikan Akmal.
“Yuniar, kamu mengerti kan…?”
“Aku minta lagunya di berhentikan…!” Yuniar gusar.
Bukan sosok Akmal yang cepat putus asa, ia kemudian mengganti lagu itu dengan lagu dari ST-12 Setiaku.
Sambil mengikuti kata-kata dalam nada lagu itu, Akmal begitu berharap, agar supaya Yuniar dapat merasakan seperti apa yang di rasa olehnya. Akmal menekan tombol stop pada handphone tadi, kemudian melanjutkan,
“Yuniar… kamu percaya gak, kalau aku… kalau aku… kalau aku…”
“Kalau aku, apa?” Yuniar mulai tak tenang.
Akmal paling suka moment-moment seperti ini, membuat orang lain tak sabar jika berbicara dengannya. Dan ini adalah untuk kesekian kalinya membuat Yuniar menjadi tak sabaran lagi.
“Kamu percaya gak, kalau aku… senang sama kamu…” Akmal mulai serius.
“Semenjak pada awal pertemuan kita dahulu, aku langsung bisa merasakan gelombang cinta tepat setelah melihatmu… itu bahasa puisinya!” lanjutnya setengah bercanda.
Seakan Yuniar tidak menghiraukan perkataan Akmal barusan. Tapi Akmal yakin, ini baru tahap kedua. “Yuniar…” sahutnya penuh harap.
“Yuniar… Yuniar… di jawab donkk…!!
“Dalem…”
Akmal hanya bisa tersenyum sinis melihat tingkah Yuniar yang sedikit berbeda. Jauh-jauh hari Akmal mempersiapkan semua itu, tiba-tiba saja bagai tak berada di atas bumi lagi. Tapi sekali lagi, Akmal adalah sosok yang teguh, tak mudah putus asa. Dalam hatinya, ia melantunkan sya’ir lagu…
Aku masih menunggumu, bicara…
Ku nanti jawaban, di hatimu..
Dalam gelap ini…dalam diam ini…
Masih MENUNGGU…

Makin lama, rintik-rintik hujan mulai berjatuhan saru persatu, sementara Akmal terus berharap agar Yuniar dapat menerima hadiah kalung hati darinya, tak hanya itu, ia juga ingin mendengar balasan rasa yang telah ia lontarkan pada Yuniar. Kado yang sekarang masih berada di tangan Akmal itu seakan hampa tak bernilai sama sekali. “Atau memang ada yang salah denganku…?” Batin Akmal menyalahkan diri.

Yuniar kemudian beranjak berdiri entah bosan dengan tingkah Akmal atau karena cuaca yang tak mendukung. “Mbak Rani, ayo pulang…!” ajak Yuniar. Rani belum beranjak berdiri, hanya terdiam, seakan Rani mendukung Akmal pada saat itu. Yang beranjak malah Akmal seraya berkata, “Mau kemana Yuniar… aku belum rampung ngomongnya!” keluh Akmal.
“Salah siapa tidak dari tadi,” balas Yuniar.
Akmal mengambil nafas panjang lalu berucap, “Hanya satu permintaan dariku, Yuniar…! Please… terimalah kado ini, bukan sebagai hadiah, tapi sebagai kenang-kenangan pertama dan terakhir untukmu seorang!” ucap Akmal penuh harap.
“Sekali-kali tidak, mas! Aku paling gak suka ngerepotin orang lain… jujur mas…!”
“Iya, tapi…”
Tiba-tiba saja, gerimis telah berubah ganas menjadi hujan yang begitu deras. Sangat deras hingga menghambat pendengaran, karena benturan keras partikel hujan dengan atap-atap rumah.
“Mbak Rani… ayo…!” ajak Yuniar sambil berlari kea rah selatan perempatan jalan.
Akmal meraih tangan Rani, seraya berkata, “Tolong, kumohon berikan kepada Yuniar.”
Dengan sedikit memaksa Akmal memberikan kado itu kepada Rani. Respon Ranipun sudah bisa terbaca oleh Akmal, ia tidak berani menerima kado itu dan kemudian akan diberikan kepada Yuniar. “Sorry banget kak…aku gak bisa.”
“sudahlah… bawa dulu saja…” pinta Akmal.
Hujan kian deras, sementara harapan Akmal belum kesampaian. Padahal Yuniar dan Rani telah berlari meninggalkan Akmal seorang diri. Namun Akmal sempat bingung apa yang akan dia lakukan sekarang. Akmal memandang ke depan memperhatikan sosok Yuniar yang berlari menembus hujan deras tanpa ampun, begitu juga dengan Rani. Tiba-tiba terdetik dalam hati Akmal untuk merelakan raganya demi mendapatkan balasan. “Mereka basah kuyub, sedangkan aku tidak, baiklah kalau begitu… aku akan ikut hujan-hujanan.” Batin Akmal.

Sebagai sosok laki-laki yaag bertanggung jawab, sedikit banyak Akmal harus mengorbankan jasadnya, dan ia akan melakukan itu semua di depan mata Yuniar. Berharap agar Yuniar dapat menerima hadiah darinya, tak lebih dari itu. “Andai Yuniar dapat merasakan seperti apa yang aku rasakan.” Keluh Akmal dalam hati.
Akmal mengikuti langkah Yuniar dari belakang. Entah itu diketahui Yuniar ataukah tidak, Akmal hanya bisa mengira-ngira. Sebagian badan Akmal sudah dibasahi oleh air hujan yang kian deras, begitu deras. Sehingga hampir-hampir indera pendengaran tak lagi dapat merespons kata-kata lawan bicara. Akmal terderan, tiba-tiba saja Yuniar bernaung di teras seseorang, dan Akmal hanya bisa bertanya pada Rani, “Rumah siapa Ran…?”
“Ini rumah grand parents nya Yuniar.” Jawab Rani.
Akmal menganggukkan kepala tanda mengerti. Lampu remang-remang rumah itu makin membuat hati Akmal terasa ngilu. Yuniar pun tak kunjung jua merelakan hatinya untuk menerima hadiah itu. Padahal, Akmal benar-benar berharap bahwa itu adalah sebuah bukti kecintaannya pada Yuniar. Nekadnya, ketika Rani dan Yuniar berlindung diri dari derasnya sang hujan, Akmal justru berdiri terpaku membiarkan partikel-partikel hujan membasahinya. Dengan sedikit khawatir Rani berkata, “Sudahlah Yuniar… kasihan masmu… lebih baik kamu terima saja…”
“Wegahhh…” Jawab Yuniar acuh.
Akmal terus saja berdiri di bawah naungan langit berhujan tiada henti, dan sangat ingin melihat sosok Yuniar yang menerima hadiah itu.
“Kamu gak kasihan sama mas Akmal, kalau dia masuk angin gimana…?” Lanjut Rani membela.
Hati Yuniar belum seutuhnya luluh, hanya sebagian kecil saja bisa merasa kasihan. Begitulah Yuniar, pribadi yang keras kepala. Hanya orang-orang tertentulah yang bisa meluluhkan hati Yuniar, dan Akmal belum termasuk dari golongan itu. Tapi Akmal yakin, suatu saat nanti ia dapat membuat hati Yuniar luluh. Bahkan dapat membuat hati Yuniar merasa membutuhkan dirinya.

Cahaya temaran lampu teras rumah itu dihiasi oleh curahan hujan tiada henti makin membuat Akmal berkeluh kesah. Kalau bukanlah untuk penantian cinta, Akmal tidak akan bertindak senekad itu. Tapi hati Yuniar mulai tak menentu, bingung. “Mas… jangan di situ terus, aku kasihan melihatmu seperti itu.” Yuniar mulai angkat bicara.
Akmal hanya bisa menggelengkan kepala tanda tak mau memenuhi. Makin lama Akmal mulai merasa partikel-partikel hujan mulai membasahi pakaian yang dikenakannya. Sedikit demi sedikit mulai menusuk tulang tengkoraknya. Hawa dingin mulai merasuk ke dalam badan. Akmal masih nekad, ia melepas jaket yang dikenakannya lalu melemparkan sekenanya ke tanah. Rani mungkin makin prihatin melihat tingkah Akmal, tapi tiada dayalah ia, untuk membuat Yuniar mengerti. Masih saja, Akmal yang orangnya lunak tiba-tiba menjadi keras kepala pada saat itu, sama seperti pribadi Yuniar. Mungkin kecocokan itulah yang sedikit banyak menghambat harapannya. “Apa kamu tetap saja tidak mau menerima hadiah itu?” ucap Akmal sambil melipat kedua tangannya di dada.

Yuniar berlari ke arah jalanan yang sudah dibanjiri oleh air hujan. Akmal sempat bingung dengan hal itu. Tapi ini adalah waktu yang tepat untuk menyerahkan kado yang telah dibasahi air hujan. Setelah sebelumnya kado yang ia berikan melalui Rani gagal di terima. Dengan sangat, Akmal ingin memberikan sendiri kado itu. Kotak kado telah di buang oleh Akmal tinggalah isi dari kotak itu dan telah ada dalam genggaman Akmal. Kemudian Akmal mendekat Yuniar, sementara Rani hanya bisa menyaksikan mereka berdua. Akmal meraih tangan kanan Yuniar, sambil membuka telapak tangannya, Akmal berharap, “Tolong , terimalah ini. Sekali lagi ini adalah kenangan pertama dan terakhir dariku, Yuniar!”
Itulah sosok Akmal, tiada kata berhenti untuk menunggu jawaban dari Yuniar. Takkan hilang harapan Akmal di hapus hujan. Sangatlah tepat dengan kegigihan Akmal, sungguh hujan takkan mampu menghapus harapannya. Akmal memutar pikirannya, ia mencari cara lain untuk meluluhkan hati keras Yuniar. “Dasar anak yang keras kepala…!” Batin Akmal sambil tersenyum kecil melihat olah Yuniar.

Akmal yakin seyakinnya bahwasanya Yuniar hanya saja melakukan adegan hanya membuat jiwa Akmal menjadi ciut. Tapi sekali lagi, bukannlah jiwa Akmal yang mudah putus asa. Jiwa akmal laksana batu karang yang takkan goyah di terpa ombak lautan, hati Akmal takkan pernah jatuh di hantam badai sekalipun. Karena ia yakin harapannyapun akan dipenuhi oleh Yuniar semata. Akmal memutar haluan, ia mengambil jalan lain untuk mengelabuhi hati Yuniar. “Baiklah Yuniar, kalau kamu benar-benar tidak mau menerima kalung ini, terserah!, aku minta maaf kalau sedikit memaksa, sekali lagi maaf!” ucap Akmal sambil meninggalkan Yuniar dan Rani.

Akmal berjalan menembus genangan hujan di antara kedua sisi jalan jalur Jemonistan. Ia melangkah menembus curahan hujan yang kian deras. Di tambah lagi, rasa cemas yang ia pendam kini benar-benar berubah menjadi rasa KECEWA. Kecewa akan harapannuya yang tidak dapat di balas oleh Yuniar. Setelah jauh melangkah, tiba-tiba pendengaran Akmal menangkap derap langkah dari arah belakangnya. “Mas…! sahut Yuniar.
Akmal sekonyong-konyong tidak mendengarkan panggilan Yuniar. Itu bukan karena ia acuh tak acuh, itu adalah actingnya yang menjadi jurus terakhir untuk meluluhkan hati Yuniar.
“Mas…!” Sahut Yuniar kembali.
Akmal masih enggan mendengarkan kata Yuniar. Ia terus saja melaju tanpa merasa ber dosa meniggalkan sejuta harapan yang sempat kandas. Untuk kesekian kalinya Yuniar menyahut, “Mas Akmal!”
Langsung saja Akmal menghentikan langkahnya kemudian membalikkan badannya. “Ada apa?” tanyanya. Yuniar tertunduk, apakah karena malu ataukah merasa bersalah dengan tingkah lakunya yang sedari tadi begitu keras kepala. Akmal sudah bisa mulai menebak perasaan Yuniar hanya dengan menatap di sudut matanya. Ia langsung menyimpulkan dan sesegera mungkin beraksi. Akmal melangkah mendekati Yuniar, diraihnya tangan Yuniar, “Terimalah!” pinta Akmal.
Seperti magic, tiba-tiba saja melapangkan telapak tangannya dan sekarang kalung hati itu sudah berada dalam genggamannya. Kemudian Akmal melanjutkan, “Yuniar… MEMANG LUMPUR-LUMPUR CINTA YANG SELAMA INI AKU LEMPARKAN PADAMU TIDAK DAPAT MEROBOHKAN TEMBOK HATIMU… TAPI, SETIDAKNYA, LUMPUR-LUMPUR CINTA YANG TELAH AKU LEMPARKAN DAPAT MEMBEKAS PADA TEMBOK HATIMU, DAN SUATU SAAT NANTI ENGKAU AKAN MERASAKANNYA…”
Semua terdiam, membiarkan suara rintikan hujan bersatu dengan kata- kata yang yang baru saja dilontarkan oleh Akmal. Rani tertegun, Yuniarpun demikian. Akmal tersenyum dalam hati, ia ternyata telah berhasil meluluhkan hati Yuniar. Tak hanya itu, hadiah itupun telah berpindah pada Yuniar.
“Mas…!” tak hentinya, Yuniar melantunkan kata itu. Tapi Akmal mulai berkata lagi, “rasakan seperti apa yang kurasakan.”
Akmal melakukan turn around, lalu berjalan meninggalkan Yuniar, Rani dan bumi Jemonistan. Menempuh perjalanan cinta yang penuh onak dan duri telah dilalui Akmal tanpa putus asa. Melangkah menembus hujan yang tak kunjung reda. Hujan setia menemani harapan Akmal sampai detik terakhir episode perjalanan pada malam kelam tak berbintang.

Keesokan harinya, Akmal merasakan kedua bola matanya begitu perih, hampir-hampir ia tak bisa membuka kelopak matanya. Mungkin ini adalah pengaruh air hujan yang masuk ke celah sudut matanya semalam. Tapi itu hanya bertahan selama beberapa jam saja setelah sebelumnya Akmal membasuh wajahnya dengan air hangat. Setelah kembali tengan ia mengambil laptopnya dan langsung membuka inbox emailnya. Ternyata, delapan pesan telah masuk ke dalam surat elektroniknya itu. Dengan seksama Akmal membuka satu persatu pesan tersebut. Sambil terseyum sinis ia membaca seluruh isi pesan itu:
Mas… maafkan aku…!
Membuat dirimu kecewa…
Ini semua salahku…
.karena diriku yang keras kepala…
Mas nggak masuk angin?
Sambil meringis Akmal menggerakkan jemarinya di atas keyboard laptopnya dan mulai menekan tombol enter untuk membalas semua pesan yang masuk. Akmal mengingat kambali kejadian semalam, ingin rasanya peristiwa itu terekam dan di dokumentasikan untuk kehidupannya. Akmal tersenyum memuji dirinya sendiri, “Actingmu keren juga Akmal…!”

..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )


Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDULKARYA
(Serigala Putih) Daun Dari AnginRenaisan Salman
1 Cinta di Antara 3 PilihanOctavia Anizar
2,5 Persen SajaDidin Syamsudin
3 Tahun, 3 Cerita, Kau Tetap Perempuan Istimewa VersikuAkri Midwife Stalker
5 TahunChristian Boham
Abdiku Untukmu Keluarga KecilkuRizky Dwi Utami
Abdiku Untukmu, IbuDestia Eka Putri
AbsurdityNadila Aprilianda
Acara Festival Yang Tak TerlupakanRahman Ditisiyah
ActFor (Anti Conspiration Force)Mamat Fiction
Ada Apa Dengan Sikap AyahHerlina
Ada Teman di Balik PelangiSenja Nilasari
Akibat Jajan SembaranganAdinta Asfiratun Husna
Akibat ParzinahanNeni Indriani
Aksara Tak BisuOan Wutun
Aku Adalah AkuGraciella Eunike Satriyo
Aku Bisa Sendiri!Namira Assyifa Prasetio
Aku Bukan Gadis Menjijikan!Zee Choco
Aku Bukanlah SegalanyaNita Durotul Husna
Aku dan OrganisasikuErvina
Aku Dia Tak SamaRully Prameisti Audhina
Aku Harus BerusahaNenda Wulandari
Aku Ibu dan PianoAntonia Luisa
Aku Juga WanitaKang Zaen
Aku Sebutir PasirSelmi Fiqhi
Aku Tidak Berasal dari Buah yang Bagus, Tapi Pasti Akan Menjadi Buah yang BergunaKinanti Tiara Dewi
Aku Tidak Punya TemanRossa Kurnia Sasongko
Aku, Pilihanku, Serta Pejuang Berbaju Coklat KecilkuJoko Susilo
AlhamdulillahAtikah
Allah SWT Memang Maha AdilNurannisa Widiawati
Angklung and The TwinsSalsabila Putri Rulia
Antara Aku, Tukang Cukur dan TuhanWahyu Tio
Artca Penyelamat BudayaResty Gessya Arianty
Arti SahabatPurnawan
Arti Sebuah KehidupanTyaz Hastishita
AyahRiza Fahriza
Ayah kami bukan kriminalRifky Adni
Ayah, Aku Bangga Padamu! Catatan Putra Seorang KoruptorMisteradli
Bagaikan Pelangi Setelah HujanNuril Agri Famela
Bahagia Hidup PesantrenPraditiyo Ikhram
Balai HujanAl iz Kusuma
BangkitAlfred Pandie
BapakBanyu Ozora
Bawalah Terbang Ikan IniAris Rizka Fauzi
Belajar Untuk Lebih BersyukurPatra
Beliau Itu IbukuPutri Setiowati
Bella si Mak ComblangNita Setiawan
Benarkah Kak?Siti Muyasaroh
Berantem Sama Teman Waktu SDShandi Dwipermana
Berbagai Rintangan Menuju SekolahAldi Rahman Untoro
Berbahagialah!Fitri Oktavia Annaja
Berbuat Sesuatu Untuk MimpiSiti Nurjanah Septiani
BerjuanglahIevfa
Berkat Gunung MerapiAliyah Revitaningrum
Berkat Lori Aku Bisa Sekolah LagiAyu Soesman
Berkat TaugeDesi Melati
Bermain MonopoliDeviance Ramadhana Saragih Sitio
Bersahabat Bermodal Kebijakan dan Takdir TuhanVeren Chandra
Bersamamu Ku Gantungkan MimpikuAde Zetri Rahman
Best of The Best My Best FriendMuhammad Nuh Nurkholid
BianglalaYeni Ayu Wulandari
Bidadari Kecil, SaghirahMuallim
Bintang BenderangNi Made Eva Yuliantari
Bintang LapanganAmbarnia
Bolehkah Aku Membenci Ayah?Abdul Rahman Sinaga
Buah KesabaranIbnu Rafif
Bukan Punguk Yang Merindukan RembulanAya Emsa
Bukti KecantikanFariska Hurun In
C3 (Cinta Chandra dan Citra)Yuliatul Mawaddah
Cahaya Untuk IchaAulia Farhah FA
Cangkir Tindih Merah PutihDian Faiqotul Hikmah
CantikDina Istiqomah
Cause of My Parent’s LieJoe Fatrah
CCCCC (Cinta Cenat Cenut Cemungudth Celamanya)Listya Adinugroho
Cerita Kakek HanifEdi Warsidi
Cewek itu LianiRizka Aprilliani
CintaImelda Oktavera
Cinta MonyetTala Nour
Cinta Nggak BisuUpik Junianti
Cinta RayaKarina Dwi Latri Juliani
Cinta Tapi BedaAthe Celiona
Cinta, Cita dan KitaFariska Hurun In
Cintaku Kini Telah PergiRandi Pratama
Cintaku Setahun JagungRamlis Harman Susanto
Cita-Cita AshleyAnastacia Esterliana
Cita-Cita Sang BonekaFinsa Permatasari
Cukuplah Allah Bagiku maka Cukuplah AkuNira Nurani Teresna Dewi
Dad Is My HeroEster Chaterine Sara
Daddy O DaddyPebri Pele
Dance it’s my LifeKarina Dwi Latri Juliani
DeadlineCynthia Lantriana
Demi BoybandMuhammad Sulaiman
Demi Hari yang Menanti di Ujung HarapanAhmad Hafizin
Demi IbuFadillah Amalia
Demi Idola TercintaAnis Puspita Sari
Demi MasaRirin Nurpi Herwanti
Deret Tinta Untuk NegeriIlma Ainunisa
Desainer MudaFadillah Amalia
Detektif KacaMuhammad Septian Rachmandika
Di Balik Sebuah PayungHesty Juwita Sari
Di Hatiku Ada NamamuAnitrie Madyasari
Di Seberang Padang Rumput IlalangLoli Asmara dewi
Dia Adalah SorbonneRail Rahardian
Dia Bisa, Mengapa Aku Tidak?Hana Sausan
Dia IbukuNeneng Lestari
Dia SemangatkuDina Aulia
Dia.. BintangkuDebi Zahirah Hariwijaya
Diantara Mahasiswa dan DosenNita Setiawan
Diary Ana 1Aghna Asbar
Diary Sahabatku DindaGaluh Ayu
Diary Untuk LangitErika Andini
Dibalik Duka ku ada Duka yang lainZakia She Azhura
Dibalik Senyum TulusmuSofia Octaviana
Dik AnahMuhammad Sofyan Arif
Dirindu DinginnyaAna Marieza Widiawati
Disiplin Itu Penting Untuk KehidupanNovita Indriyani
Ditooo… Apa Lagi (Part 1)Axas
Ditooo… Apa Lagi (Part 2)Axas
Ditooo… Apa Lagi (Part 3)Axas
Don’t Judge The Book by The CoverRahmi (Adhe Amii)
Dua Doa Satu CintaNina Noichil
Dunia Baru dalam Kertas LipatEka Ferdianti
Emak, Gue Jadi Artis!Aisyah Hudabiyah
EvanityFirman Nuryadi
FakirBergman Siahaan
Festival Musik dan idolaFadel Mochammad Ibrahim
Filosofi HatiRuri Alifia R
Gadis Berjilbab PilihanChoirul Imroatin
Gadis di Kaki Bukit ProloYeni Ayu Wulandari
Gadis TompelDwi Putri Fw
Gang SetanHotma Lam Uli Marbun
Ganti Kacamata, Gessss!Icetea
Gengsi itu Sama Dengan MiskinImam Prayugo
Get SpiritEcha Nurrizqi
Gifts For GladysNamira Assyifa Prasetio
Gila RamalanOcta Rina
Gitar Tua JokoSeptian Joko Sulistyo
GubukRika Alif Firda
Gulali ChacaTifa Raisandra
Guruku dan BungakuRahmi (Adhe Amii)
HadiahMuggi S Prasetyo
Hadiah dari KakekDwiyanto S
Hadiah Kecil untuk ShyrenaPuspita Sandra Dewi
Hal Yang Membuat Kita BerbedaArif Nurhidayat
HampaAfra Zahirah
Hanya ini Yang Ku PunyaWahyudi Warsaintia
HarapanSeya Zunya Uchiwa
Harapan BaruMuhammad Toriq
Hari KartiniMugito Guido
Hari Terakhir Untuk SalmaAya Lukluk
Harus Kuat Sebagai UlatHeru Prasetyo
Hidup Berawal dari MimpiJaja Nurjaman
Hidupku Tak Sepahit Jamu IbukuChoirul Imroatin
Hikmah Dalam HidupkuSintiya Nuri
Hinaanmu Jadikan Motivasi UntukkuSari Sustianto
Hitam Putih PergaulanAulia Farhah FA
Hujan Dalam Satu HarapanAkmal Farid
Hujan PertamaYudik Wergiyanto
Hukuman yang Tak AdilHidayatulloh Handoyo
Hutang Tingkat DewaWayan Widiastama
I Can’t Take it AnymoreLyna Audiena Wijayanti
I Heart YouRusyda Andini
I Love Mom and DadReyhana Amalia
I’m is Reporter (Part 1)Dziky Iskandar
I’m Sure, I Can Do It!Elfina Astin
IbuNadia Safarah
Ibuku Arti SahabatkuMutiara Devit Merlinda
Identitas GulaRizqi Ardiansyah Tindaon
Ifa Yang di Dunia Maya Bukan Ifa Yang SebenarnyaMuhammad Rafid Nadhif Rizqullah
Ikatan TerkuatkuApp
Ilalang dan Rumah Laba LabaChoirul Imroatin
ImpianQisthi Zulfa
Impian Anak KampungJohan Syah
Impian Anak PemulungGleam Pratama
Impian Angsa KecilLina Purniawati
Impian Hati menjadi HabibieDiyah Ayu Rahmatika
Impian KayraSharifa Hasna Mahira
In My LifeMasita Rais
In O2SN SemarangLena Sutanti
Indahnya KebersamaanAlfan Fadilah
Ini Berlian… Bukan SampahFadillah Amalia
Inilah Saat yang Kami TungguSlamet Samsoerizal
Inner BeautyGiselle Iona Rachel Tuelah
Inspirasi Dalam GelapAffiantara Marsha Yafenka
Inspirasiku Lewat MusikAan
It’s My PassionSadryna Evanalia
Jalan HidupkuNur Isna Aulya
Jangan Ikut-ikutanLalia Oktiarisqa
Jangan Marah Dong PutriNizahsy Lubis
Jangan MenyerahAuliya Fatimah Nur
Jatuh 7 KaliHernita Sari Pratiwi
Jejak TerakhirMuhammad Septian Rachmandika
Jejak-Jejak Keajaiban MimpiAbdus Salim
Jemari Tuhan Telah MerangkulnyaRahimah Permata Sari
Jilbab dari SahabatkuAnita Avianti
Jiwa Pramuka YudiYulian Rahma
Jl. Flamboyan No. 9Dicky Cahyo
Joni dan Galah IstimewaMuhammad Labib Naufaldi
Just Carry OnWilliam Kamarullah
Kado Terbaik Untukku DariNyaBondan Ratnasari
Kakakku TersayangAngel Lika. S.
Kami Tak BerwajahAhmad Alkadri
Kapsul Cita-CitaNatasha Cynthia
Karena Aku Atau Pencak Silat?Dealya Adira
Karena di Atas Langit Masih Ada LangitAdinta Asfiratun Husna
Karena kau, Sahabat!Tutut Setyorinie
Kaset PenyemangatSalsabila Prameswari
Kau Tetap SahabatkuJuwita Palvin
Ke Rumah PresidenMiga Imaniyati
Keajaiban Saat PesimisReimut
Kebahagiaan Kita SemuaGaluh Rengganis Nugrahaini
Keberanian NadhiaMurni Oktarina
Kebohongan Yang IndahRosmania Robbi C
Kecurigaan DeandraRegita Aryaputri Lesmana
Kedamaian DuniaFadillah Amalia
Keikhlasan Hati AmirManda Ms
Keluarga itu, Keluarga BaitiSlamet Mulyani
Keluargaku MotivasikuM. Hasan Basri
Kematian Tanpa SesalAnteng Maya Surawi
Kembalinya Seorang AktivisMagvirasari Lestari Linra
Kenangan Emak TikHendrawan Ardiansyah
Kenapa Harus AkuYoshe Azura
Kesabaran Dan Perjuangan PutriMega Ayuna Rizki
Kesatria Dari Ujung DesaMuhammad Suhendar
Kesederhanaan Sebuah Cita-CitaDiana Margareta
KesedihankuFairuz Zakyal 'Ibad
Kesuksesan Tuhan Yang AturJhumar Masadian
Keteguhan HatiSyamkhan Habibi
Ketika Hancur Hati IbuRosmania Robbi Chatun
Kisah Cintaku Yang PertamaAgus Purnamasari
Kolak Pelangi dan Sholat DhuhaFarhan Ramadhan
KolaseZainuddin Muza
Kopi PendingFinlan Adhitya Aldan
Kotak Cinta Untuk IbuChoirul Imroatin
Kotak ImpianM Yusuf
Kristal BeningUlfa Nurul Hidayah
Ku Kayuh Ribuan MimpiSriami Wulandari
Kuihat Lirihan SuaraHenydria
Kupu Kupu MalamHari N. M
Kupu-Kupu di Dalam HujanSelmi Fiqhi
Kura-kura dan KudaSiti Ainun Pratiwi Indra
Kutukan PurnamaKachonk Rofiqz
Langit ituAzzam Azizah Fiqli
Lantunan Sendu Melodi BiolakuRiska Putri Meiyana
Lara Prihatini Si Gadis PrihatinDona Ariani
Laron Juga Ingin PacaranShalahuddin
Layangan BumiAnnisa Mauliddina
Lebih Dari SatpamRized Wiasma
Lelaki Paruh Baya di Sekolah TuaNilma Yuliza
Lelaki Tua yang Merindukan BintangAdri Wahyono
Lelucon TakdirIfarifah
Lembaran Kertas HijauHaryanti
Lentera Tak BerujungSintyawati
Lidah DoniWilly Sitompul
Lihat Semangat KamiAndi
Lili (Menjadi Diri Sendiri)Okty Imagine
Lilin HarapanAmalia Septiani Radiva
Lintang KemukusYosi Prastiwi
Lobang Hidung LohiWilly Sitompul
Loper CilikNurvita Rachmadania Winanti
LorongAditya Prana Iswara
Lorong GelapPatrick Hariadi
Love In BostonDian Setianingsih
Ludah Untuk Si CerminHari Arianto
Luka Tak BerdarahZ.Hilmiah
Makna di Hari Raya Idul FitriGaluh Rengganis Nugrahaini
Malaikat Pun Menangis AyahDiandra Aini
Mama dan AkuRani Putri
Manusia-Manusia TrotoarMuhammad Edgar Hamas
Markonah dan Uang Lima RibuanWilly Sitompul
Masa Depan Anak Seorang PemulungWahyu Rizky Ramadhan
Matahari pun Tak BosanDanil Gusrianto
MataharikuAsri Nur Aisyah
Matematika is My LifeVindasya Almeira
Matematika? Siapa Takut!Fitri Rosadela
Mati Dalam Angan (Part 1)Affiantara Marsha Yafenka
Mati Dalam Angan (Part 2)Affiantara Marsha Yafenka
Mawar Terakhir Dari BundaDevi Upi Lestari
May Day (Perjuangan Tanpa Akhir)Wahyudi Warsaintia
Mbah MinRiza Fahriza
Melawan Rasa TakutMiftahul Farhani Isty
Menanam Seribu PohonVindasya Almeira
Menanti LaraR. Ayu Chairunnisya
Menebus MimpiNayudin Hanif
Menggenggam ImpianUmmie Sakdiah Babers
Menghitung HariAyu Sari Listianda
Menjadi Yang KuinginkanNurdiyansah
Menjaring MatahariLedy Triananda
Menjelang Ujian Tengah SemesterRifky Adni
Menyesal TanpamuNona Nada Damanik
Merdeka Atau Tidak Sama SekaliRiky Fernandes
Mereka Bilang Aku Gila (Part 1)Wulan Puspa Indah
Mereka Bilang Aku Gila (Part 2)Wulan Puspa Indah
Mesin Pemahat MimpiAjeng Laksmi
Meski Tanpa AyahKharisma Titah Utami
Metamorfosa Malaikat Tanpa SayapAmbiwwa Novita
Milikku Milikmu Milik KitaListya Adinugroho
MimpiFarah Fakhirah
Mimpi Secarik KertasUlfah Heroekadeyo
Mimpi Si Anak KambingNurhikmah Hakiki
Mimpi untuk DuniaNurul Ramadhaniah
Miracle Of Giving FoolKinanti Tiara Dewi
Miskin “Bermanfaat” Kaya “Bermartabat”Fajar Rofinanda
Miss Culun Menjadi Miss BeautyAdhenna Zakia A
Miss Eum nya Tak Mau Neneng FotoAde Qisti
Misteri Gadis Kecil di Rumah KosongPingkan Aulia Samara
Move OnSiska Pratiwi
Mrs. PerfectNova Seflylya
Mutiara HatiSilmi Kaffah
Mutiara Tanpa CelaFaddilatusolikah
My Book DiaryOldheva Genisa
My Dream Comes TrueBadriyah
My Freaks HolidayUrai Benny Novriady
My Heart For The ChildrenWidya Laksari Sastri
My Life Without SoundChick-A-Dee
My Love is REAL!App
My MistakesFilla Giani
My PromiseAch. Arya Muhammad
Nasihat AyahMusrinah
Nay, Sang TerataiAya Emsa
Nenek ku PahlawankuAhmat Rasyid
Nenek Tua di Sisi KotaTutut Setyorinie
Nyanyian Pagi di VictoriaRan Azlaff
Obat Alami LayilaNaila Izzati Mushafa
One By OneMuhyiddin El Febiens
One Day To RememberDjunita
Padamu Wanita IndonesiaAnnisa Yuni Thorika
Pagelaran TerakhirBolok Sitompul
Pahlawan KecilkuErna Hidayanti
Pahlawan SenjaAstrid Septiani Wulandari
Pandangan MayaFitri Nur Faizah
Panggil Aku Pahlawan PenghianatImron Supriyadi
Pantang MenyerahKhoirul Umam
Pedang KehidupanGede Agus Andika Sani
Pelangi Sesudah HujanRahimatus Sania
Peleburan RasaYeni Ayu Wulandari
Pelita Hati yang KerontangKhoirur Rozikin
Pelita HidupkuSuci Lestari
PembuktianTriyana Aidayanthi
PenalunaAnne Widy
PengabdiankuAnnisa Mega
Pengamen JalananErni Ristyanti
Penggemar RahasiaMuhammad Rafid Nadhif Rizqullah
Pengorbanan Cinta SejatiIrene Lie
Penyair dan MusisiDhika Zakaria
PenyesalanJuanti
Penyesalan TerdalamAndias Putri
Penyesalan TerlambatLaila Insyafah
Perbedaan Itu Mampu Menembus Dunia KelamkuBestiani Mustikaningsih
Perbedaan Jadi Tidak BerartiSri Siswati Tahir
Perjuangan Agar Bisa Menghafal PantunGiselle Iona Rachel Tuelah
Perjuangan Hidupku Dalam Menuntut IlmuSupardin
Perjuangan IbuUlfa Nurul Hidayah
Perjuangan RevitaMila Dita Khotimah
Perjuangan Tanpa Pandang BuluSekar Arum Purbarani
Perpisahan AkhirGea Septa
Persahabatan Chintya dan SiscaAbdullah
Persahabatan yang AbadiAnnisa Berliana Dewi
Persembahan Buat Mama (Part 2)Rita Lestari
Persiapkan DirimuAgus Purnamasari
Pertemuan 5 SahabatIsnaifa
Perubah Hidup Pemulung CilikErdin Suharyadi
Pesan Yang KurangNika lusiyana
Pesawat KertasPutri Novitasari
Pianis PesimisDandi Tri Dirgantara
Pirate KingDini Aprilia Purnamasari
PlatinumTara Rahendya Elfrida
Pohon Mangga Mbah KartoRoni Istianto
Pompom Girls Cheerleaders TeamSyahla Varelya Threonizzahra
Positif KecanduanAna Rifqi Jamil
Pribadi Lebih BaikFadillah Amalia
Pulau HamilSiswari
Putri Bulan dan Dewa LautRibka Sepatia
Rahasia Bintang KelasAldi Rahman Untoro
Rahasia Sebuah PeristiwaAhmad Ghulam Azkiya
Rembulan di Kolong LangitNurlaela A. Awalimah
Rencana Allah Pasti IndahArif Syahertian
RenungkanAlfred Pandie
Rintihan LidahSelmi Fiqhi
Roh Penunggu HutanRendy Mahendra
Romansa KehancuranRiky Fernandes
Saat Nisa Mengatakan BisaNur Faisah
Sacrifice of LoveSalsa Hanifa
Sahabat SejatiSarah Aprilia Andini
Sahabat Yang PertamaGiselle Iona Rachel Tuelah
Sajadah Buat EmakR. Marena
Saksi Bisu Pengorbanan GuruChick-A-Dee
Salah SiapaNi Made Eva Yuliantari
Sandiwara CintaAhmad Azwar Avisin Alhaidar
Satirung PesegYuni Maulina
Say No To DrugsCindy Amanda N
Say Nothing Of Sorry and LoveSherly Yulvickhe Sompa
Sebuah AsaSimah Ayu Lestari
Sebuah Jawaban diujung JurangBryan Adams
Sebuah Karma di 2017Kariza Rai Shafira
Sebuah Nama, Sebuah MisteriGatut Putra
Secret (Rahasia)Alif Kurniawan
SedekAH membawa berkAH untuk semuanyAH…. AH… AH… AHAgung Yansusan
Seekor Makhluk Sebuah DesaGuido Gusthi Abadi
Sehari Sebagai PatriotYustina Rena Oktaviana
Sekuntum Bunga KambojaMila Karlina
Selalu Ada JalanYudha Purwanda Azis
Selamat Jalan SahabatNursyamsi Syam
Semangat Juang Anak CacatWahyu Rizky Ramadhan
Semangat Pagi GurukuNurhikmah Hakiki
Semangat RanikaSelviana
Semangat Yang Tak TerkalahkanMuhammad Jaenal
Semua Akan Indah Pada WaktunyaSultan Oka
Semua Karena KauRirih Rakati Rigarimas
Semua Kerena-NyaAnitrie Madyasari
Semua Untuk AyahVivi Alviani
Semut Yang Pindah RumahDevi Yulia Rahmi
Senandung Indah Untuk TiaraRienz Gladies
Senja dan Catatan Tentang KitaYeni Ayu Wulandari
Senja di Tepi PantaiYuli setiawati
Senja Dipadang IlalangDamayanti Childiesh
Senyuman di Langit AwanggaDwi Surya Ariyadi
Sepasang Teratai MudaPuspita Sandra Dewi
Sepeda Kenangan Dari AyahGisca Ulfa Afiatika
Sepeda KumbangDeska Apriadi
Sepenggal LorosaePrabu Awang
Setangkai Bunga di Tebing GunungNuril Agri Famela
Seuntai Kalung Mutiara FatimahNamira Assyifa Prasetio
Si DogolMuhamad Rafael
Si Gadis KecilIndri Triyas Merliana
Si Kakek dan AkuImelda Oktavera
Si PintarAnnida Hasan
Si Siro Anak Musik RockExtrix Mangkepriyanto
Siapa yang Bersabar Pasti Akan BeruntungAnnida Hasan
Sikapku Untuk Bangsaku (Part 1)Nurul Fitrah Hafid
Sikapku Untuk Bangsaku (Part 2)Nurul Fitrah Hafid
Sisa HarikuJhaka Sena Putra Jala
Space Time (Perjalanan Ruang dan Waktu)Aliffiandika
StarAry Qmtonk
Story About Me and FriendsNamira Assyifa Prasetio
Stuck dan StagnanYeva Fadhilah Ashari
Suara Bintang Terdengar Hingga ke JepangSigit Pamungkas
Suara Sang KertasHalimatus Sa'adah
Suara SumbangNada Aisyah
Sunset IndrayantiFa Adzkiya
Sweet Seventeen KelabuAmanah D'penzy
SyukurkuUzmilatul Khoiroh
Tak Ada Prediksi Sukses Namun Masih Ada JalanAnisa Catteleya
Tak Ada Yang Berubah Meski Sayap Telah PatahAulia Farhah FA
Tak DisangkaDea firmansyah
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 1)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 2)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 3)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 4)Puspa Allamanda
Tak Seperti Dongeng “Gadis Penjual Korek Api”Selly Miarani
Tak UbahSelmi Fiqhi
Takdir SukriWahyudi Warsaintia
Taman DianPanji Asuhan
Tangan Yang DiatasMultazam
Teater NahkodaRafi Putri
Tekad NayyifFitri Ayu
TemanEdi Warsidi
Tembang KematianMuhammad Adhimas P
TentangTriyana Aidayanthi
Tentangku dan Ratusan OpiniEltio Atsiil
Terima Kasih 10 Tahun LaluHotma Lam Uli Marbun
Terima Kasih SahabatkuRahardian Shandy
Terima KasihkuFarhan Ramadhan
Terimakasih MotivatorkuFitri Melani
Terimakasih RatihWidyadewi Metta
Tetap Semangat Demi Kain KafanArif AlfanZa
Text Me, Please!Annisa Berliana Dewi
The CompetitionPuji Ratnataliasih
The Dark Fire (Part 2) Green Fire Death FireSelmi Fiqhi
The Gift of LoveDwipayana K
The Grondey and The First Experience (Part 2)Selmi Fiqhi
The Journey of LifeYuliyana
The Last Song For MomNadiyah Rahmah
The One to be BlamedS4stika
Tianna Dan Peri Yang DikutukVirtania Altariel
Time to Come a Freedom for PalestinaAghna Asbar
Tong TongDina Az zakie
Tuhan Membawamu KembaliSifandrea
Tujuan Hidup Seorang Gadis KecilAnti Dwi Putri
Tunanetra? Aku Bisa!Silvia Mayningrum
Uang Untuk Operasi IstrikuGaddang Arief
Ujung Jalan SunyiDira W
Untuk SahabatDestini
Untukmu…Firdausi As-Syuja'y
Usaha dan DoakuTuti Febrina Waruwu
Usaha dan Kerja KeraskuAldi Masda
Usaha Membeli LaptopNafa Putri Maharani
Usaha Membuahkan KeberhasilanDevelyne de Meichella
Valerie OliverianaTheresia Okvitawati
Waktuku Tak Menunggu Harapanku, Ibu.. AyahLiya Utari
Wanita KertasLuay Zahirul Ginting
Warna-Warni HujanTiara Purnamasari
Wayang IndonesiaSierra Aulia Shabihah
Weekend Bersama Alam PapandayanRusmiyati Suyuti
When The Caterpillar FlyIfarifah
Why Do We Break Up?Charlly Sermatan
Yang Bukan SegalanyaAsri Nur Aisyah
Yang Istimewa Belum Tentu SempurnaJade Elisa Putri
Yang Kau Pinjam Dari GarudaNadira Mufti
Yang Mengikutiku
Yang Tak Kan TerlupakanAmbiwwa Novita
Yang TerbaikRifqi M Rifai
You Are Inspiration in My LifeSierra Aulia Shabihah
ZawiaFairuz Zakyal 'Ibad


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 107.22.106.136
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia