Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

PEREMPUAN TUA BERWAJAH SETAN itu memacu kuda penarik gerobak sekencang-kencangnya. Walau gerobak telah meluncur cepat namun tangan kanannya terus saja mencambuki punggung kuda coklat. Dari mulutnya tiada henti terdengar kata-kata makian.

"Murid tak berguna! Memberi malu guru! Sialan! Kau akan terima hukuman! Kau akan terima hukuman! Jangan salahkan aku si jelek Wiku Ambar ini berlaku kejam! Diberi madu minta racun! Kau akan rasakan hukumanku murid tolol! Kau mencoreng mukaku di dunia persilatan dengan lumpur comberan!"

Lalu perempuan tua itu mencambuk lagi punggung kuda coklat hingga binatang itu berlari seperti kesetanan. Sambil memacu kuda gerobak sepasang mata perempuan tua itu memandang kian kemari. Yang dicarinya ialah sebuah pohon besar. Tempat dimana dia akan melaksanakan niatnya.

"Pohon besar! Pohon celaka! Mengapa tidak juga kutemui!" Kembali perempuan bernama Wiku Ambar itu memaki. Cambuk di tangan kanannya berkelebat lagi. Kuda Coklat meringkik keras.

Di atas gerobak yang terbuka itu tampak menggeletak sesosok tubuh berpakaian biru gelap. Dia ternyata adalah seorang gadis berwajah cantik berkulit kuning langsat. Melihat keadaannya yang tidak mampu bergerak maupun bersuara jelas sang dara berada dalam keadaan tertotok. Dan yang menotok adalah perempuan tua itu, yang bukan lain adalah gurunya sendiri. Gerobak memasuki jalan yang menikung. Wiku Ambar terus menggebrak kuda coklat hingga gerobak ini hampir terbalik ketika membelok. Di balik tikungan jalan membentang lurus dan di kiri kanan jalan tampak tumbuh pohon-pohon besar. Wiku Ambar menyeringai. Dia mencari pohon yang paling besar dan paling tinggi lalu tarik tali kekang kuda kuat-kuat, memaksa binatang itu hentikan larinya dengan mendadak. Roda-roda kereta mengeluarkan bunyi mendenyit keras, meninggalkan jejak panjang dan dalam di tanah jalanan. Debu dan pasir beterbangan ke udara. Kuda coklat meringkik keras lalu tertegak diam dengan kepala merunduk ke bawah.

Perempuan tua kembali menyeringai. Dia melirik ke arah sosok tubuh muridnya lalu mendongak seraya berkata, "Pohon hukuman sudah kutemukan. Hukuman harus dilaksanakan. Biar hapus coreng memalukan di muka tua ini!"

Lalu Wiku Ambar mengambil segulung tali dari atas lantai gerobak. Salah satu ujung tali ini dicantoli kaitan besi. Perempuan ini pegang bagian tali satu tombak di bawah kaitan lalu memutar-mutarnya beberapa kali hingga tali dan kaitan itu mengeluarkan suara menderu keras.

"Huah!" Wiku Ambar berteriak dan lemparkan tali ke atas. Kaitan besi melesat tinggi dan akhirnya mengait di cabang pohon paling atas. "Lebih baik kutinjau dulu ke atas sana!" berkata Wiku Ambar dalam hati. Lalu dengan gerakan enteng dan cara yang aneh, perempuan tua ini memanjat tali menuju ke atas pohon. Sampai di atas dia meneliti keadaan pohon itu, memperhatikan ke bawah dan memandang berkeliling. "Aku tak salah pilih. Ini memang tempat yang cocok untuk menghukum anak itu!" Lalu dengan cepat Wiku Ambar meluncur turun. Sampal di atas gerobak perempuan tua ini segera panggul tubuh muridnya dibahu kiri. Dia pergunakan ujung tali untuk mengikat tubuh sang dara ke tubuhnya. Lalu seperti tadi meski kini dia memanggul beban yang berat Wiku Ambar enak saja memanjat tali, naik ke atas pohon.

Sosok tubuh muridnya dibaringkan menelungkup diatas cabang besar. Ini bukan satu pekerjaan mudah membaringkan tubuh yang kaku diatas cabang pohon yang begitu tinggi. Tapi gerakan Wiku Ambar cekatan sekali. Dalam waktu singkat dia sudah membaringkan tubuh dara berpakaian biru itu menelungkup di atas cabang. Lalu dari saku besar pakaiannya Wiku Ambar keluarkan segulung tali halus yang lebih pantas disebut benang berwarna putih berkllau-kilau seolah dibuat dari sutera. Dengan benang itu diikatkannya tubuh muridnya pada cabang pohon hingga sekalipun ada badal melanda, tubuh itu tak akan jatuh ke bawah.

Setelah mengikat tubuh murldnya dengan benang aneh itu Wiku Ambar keluarkan lagi sebuah benda dari dalam saku besar. Benda ini diletakkannya pada cabang pohon yang berada tepat dibawah cabang dimana sang murid terbujur menelungkup. Ternyata benda itu adalah seekor burung merpati hutan berwarna kelabu. Binatang ini bertengger di atas cabang pohon tanpa bergerak ataupun keluarkan suara. Wiku Ambar tertawa lebar sambil usap-usap kedua tangannya.

"Hukuman sudah dilaksanakan. Sebelum pergi aku ingin dengar apa yang akan kau ucapkan. Mungkin juga kau kini berubah pikiran!"

Setelah berucap begitu Wiku Ambar lepaskan totokan di leher murldnya untuk membuka jalan suara. Tapi sang murid hanya diam dan memandang saja pada gurunya, tak mau membuka mulut mengatakan apa-apa.

"Cempaka! Apakah kau masih tetap pada jalan pikiranmu semula? Atau sekarang mau merubahnya?"

Yang ditanya tetap diam saja.

"Benar-benar murid tak tahu diri. Apa yang aku lakukan adalah untuk kebaikan masa depanmu sendiri! Mengapa kau menolaknya? Mengapa kau lebih tega mencoreng muka memberi malu diriku. Mengapa kau lebih suka menerima hukuman seperti ini?!"

Gadis bernama Cempaka itu masih diam. Hanya sepasang matanya saja yang memandang tak berkesip pada wajah tua menyeramkan itu.

"Cempaka! Kau tidak tuli dan jalan suaramu sudah kubuka! Ayo buka mulutmu!" Jawab pertanyaanku!" Wiku Ambar jadi tak sabaran lalu membentak.

Bibir sang murid tampak bergerak. Akhirnya terdengar juga suaranya berkata. "Jadi karena aku mempunyal pendapat dan jalan pikiran yang berbeda maka guru tega menghukumku seperti ini..."

"Murid bodoh! Ini bukan cuma perbedaan pendapat dan jalan pikiran! Tapi kau telah mencoreng malu besar ke mukaku! Kau telah mengguyur diriku dengan air comberan! Semua orang di dunia persilatan mentertawaiku! Dan terutama sekali aku benar-benar tak punya muka dan harga diri lagi terhadap sahabatku Ronggo Gampito serta muridnya yang bernama Jatayu itu!"

"Guru hampir dua puluh tahun aku menerima kebaikan darimu. Sebagai murid aku telah mengabdikan diri sebaik yang bisa kulakukan. Namun bagi masa depanku, aku tak ingin seorangpun yang menentukan. Termasuk guru. Kalaupun kedua orang tuaku masih hidup, aku akan melakukan hal yang sama seandainya mereka memaksakan kehendak...."

"Murid tidak membatas guna! Jadi kau tetap pada pendirianmu hah? Tidak mau merubah? Bahkan tidak mau memandang sebesar mata terhadapku?!

"Guru, selama hayat dikandung badan aku tetap menghormati guru. Hanya saja untuk urusan yang satu itu aku tidak dapat memenuhinya!"

Wiku Ambar gerakkan tangan kirinya.

Braak!

Cabang pohon di sebelah kiri patah dan jatuh ke bawah kena hantaman tangan perempuan tua itu yang tak dapat lagi mengendalikan amarahnya.

"Kau dengar baik-baik Cempaka! Mulal detik ini hukuman jatuh atas dirimu. Jika kau tidak mau merubahnya maka kau akan menemul ajal secara perlahan-lahan di atas pohon ini! Namun aku masih memberikan satu kesempatan terakhir. Jika kelak pikiranmu berubah maka pergunakan mulutmu untuk meniup burung merpati yang bertengger di bawahmu. Begitu burung Itu merasakan tiupanmu, dia akan terbang ke tempat kediamanku. Jika aku melihat burung Ini muncul, itu pertanda bahwa kau bersedia memenuhi permintaanmu. Maka aku akan datang kemari untuk membebaskanmu!"

Habis berkata begitu Wiku Ambar totok kembali jalan darah di leher muridnya tapi dia juga menekan salah satu bagian tengkuk gadis itu. Sebelum pergi dia berkata lagi, "Aku masih mengharapkan kau akan berubah pikiran. Mulutmu memang tak bisa bicara atau bersuara. Tapi kau bisa meniup. Nah, tiuplah merpati itu...!"

Setelah menatap wajah muridnya sesaat, Wiku Ambar meluncur turun dengan tali. Lalu tali itu digulungnya, dicampakkan ke atas gerobak.

"Huah!" Wiku Ambar berseru. Cambuk di tangan kanannya berkelebat tiga kali. Kuda penarik gerobak menghambur ke depan.***

KESUNYIAN MALAM DIROBEK OLEH berbagai suara yang menakutkan. Mulai dari suara burung hantu sampai pada suara mendesis di antara semak belukar. Lalu suara menggereng dan sesekali ada lolongan anjing hutan di kejauhan.

Cempaka mendengar semua suara-suara itu sepanjang malam. Sebagai seorang yang telah mendapat gemblengan ilmu silat luar dalam semua itu tidak mendatangkan rasa takut dalam dirinya. Hanya dinginnya udara malam, apalagi menjelang pagi membuat gerahamnya bergemeletukan. Untuk memperkuat daya tahan terhadap udara dingin, gadis itu atur jalan nafas, kerahkan tenaga dalam yang disertai pengaturan jalan darah.

Sang dara tahu kalau dia tidak akan merubah ptkirannya. Bahwa dia tidak akan memenuhi permintaan gurunya. Karena itu dia sadar pula bahwa dia akan menemul kematian dalam keadaan terikat di atas cabang pohon itu. Ajalnya akan sampai entah kapan tetapi pasti. Kecuali jika ada yang menolongnya. Tapi siapa yang tahu kalau dia berada di atas pohon tinggi itu. Dari bawah, kerimbunan daun-daun pohon membuat orang tak mungkin melihatnya.

Menjelang matahari terbit dia mendengar banyak sekali suara kicau burung. Suara-suara yang menakutkan malam tadi lenyap tiada bekas. Memandang ke bawah Cempaka melihat burung merpati kelabu itu masih tetap bertengger di tempatnya semula, tidak bergerak tidak bersuara seolah-olah sebuah batu saja.

"Merpati aneh...." kata Cempaka dalam hati.

Makin terang hari, Cempaka merasa tubuhnya bertambah hangat. Namun bagaimanapun juga terbaring menelungkup dan terikat seperti itu merupakan satu siksaan yang tak dapat dibayangkan.

"Dunia penuh keanehan. Bagaimana mungkin hubungan antara guru dan murid yang berjalan selama dua puluh tahun tiba-tiba saja berubah menjadi satu malapetaka hanya karena aku tidak bersedia memenuhi permintaan guru?" membatin Cempaka. "Dan aku akan menemul ajal dalam keanehan itu..." katanya lagi dalam hati.

Menjelang tengah hari sang dara mulai merasa haus dan lapar. Untuk menghilangkan siksaan haus serta lapar yang mulai menyerang itu Cempaka pejamkan kedua matanya, tutup jalan pendengaran, atau jalan nafas dan mulai bersamadi. Dia tidak menyadari ketika siang berubah menjadi sore dan sore disusul oleh malam. Ini adalah malam kedua gadis itu terikat di atas cabang pohon dengan segala penderitaannya. Pagi kembali muncul dan siang datang merayap. Semakin siang semakin sulit bagi Cempaka untuk berusaha bersamadi sekhusuk mungkin. Perlahan-lahan dibukanya kedua matanya. Yang pertama kali dilihatnya adalah burung merpati kelabu itu. Masih tetap di tempatnya semula, sedikitpun tidak berpindah! Binatang itu seolah di pantek ke cabang pohon. Tapi bagaimana mungkin dia tetap di sana tanpa ingin mencari makan atau air?

Lalu telinga Cempaka menangkap suara gaduh di udara. Dia berusaha memutar kedua bola matanya. Ternyata serombongan buruk gagak hitam tampak barputar-putar di udara. Siang kemarin Cempaka juga telah melihat rombongan burung-burung nazar itu terbang ke atas pohon. Kini mereka muncul kembali.

"Mereka agaknya sudah siap menunggu mayatku. Atau mungkin berniat segera menggasak tubuhku hidup-hidup begini.... ?" pikir Cempaka dalam hati. Tengkuknya terasa dingin. Dan untuk pertama kalinya gadis ini merasakan sekujur auratnya menjadi sangat letih. Di udara burung-burung nazar itu masih terus terbang berputar-putar beberapa kali lalu akhirnya melayang lenyap ke arah timur.

Cempaka merasa lega sedikit. Namun tiba-tiba telinganya menangkap suara derap kaki kuda dikejauhan, makin dekat dan akhirnya dia melihat siapa yang datang dari arah tikungan jalan. Ada dua ekor kuda mendatangi. Di sebelah depan ditunggang oleh seorang pemuda berpakaian merah. Keningnya diikat dengan kain juga berwarna merah. Wajahnya ditumbuhi berewok yang sengaja dicukur tipis dan rapi. Pemuda ini memiliki sepasang mata besar, berkilat dan pandangannya dingin tapi tajam.

Di belakang binatang tunggangan pemuda berbaju merah ada kuda kedua. Penunggangnya seorang kakek berpakaian putih yang tergeletak melintang di atas pinggang kuda. Orang tua ini berada dalam keadaan tertotok baik aurat maupun jalan suaranya. Dagunya sebelah kiri nampak memar bekas pukulan benda keras. Matanya sebelah kanan bengkak merah dan kebiruan di bagian rongganya. Mata satu ini hampir tertutup. Meskipun sudah tua tetapi orang ini memiliki tubuh tegap gempal. Otot dan urat-urat di lengan dan betisnya tampak menonjol. Sambil menunggang kuda, pemuda baju merah selalu memandang ke kiri dan ke kanan seolah-olah mencari sesuatu. Tak berapa jauh dari pohon besar di mana Cempaka terikat dia hentikan kudanya, memandang berkeliling lalu mengangguk beberapa kali.

"Ini tempatnya yang paling cocok," katanya dalam hati. Lalu dia berpaling pada orang tua yang menggeletak di atas kuda di belakangnya dan berkata. "Tempat yang paling cocok untukmu sudah kutemukan Ki Tali Kumba. Sekarang terserah padamu apa memang mau mati atau ingin panjang umur!"

Setelah berkata begitu si pemuda keluarkan suara sultan keras. Dari kelokan jalan Cempaka melihat muncul dua penunggang kuda. Keduanya berpakalan hitam yang sudah lusuh dan banyak robek. Kelihatannya mereka adalah orang-orang desa yang biasa bekerja keras. Yang satu membawa pacul, satunya lagi membawa alat berbentuk sekop.

Pemuda baju merah menunjuk ke arah kerapatan pepohonan besar di mana salah satu di antaranya adalah pohon tempat Cempaka berada.

"Dua tombak di belakang pohon paling besar sana. Gali!" Si baju merah memerintah pada dua orang lekaki berpakalan hitam. "Tidak perlu lobang besar, tapi harus cukup dalam sampai sebatas leher!"

Dua orang di atas kuda yang barusan saja turun sama-sama berpaling pada si baju merah. Satu diantara mereka bertanya, "Sebatas leher .... Maksud raden sebatas leher apa? Sebatas leher siapa...?"

"Jangan banyak tanya. Tugasmu hanya menggali. Untuk Itu kalian kubayar! Gali saja, aku akan memberi tahu jika sudah cukup dalam!"

Dua tukang gali tak berani berkata apa-apa lagi. Mereka mengerling sekilas pada sosok tubuh orang tua yang tergeletak di atas punggung kuda. Lalu keduanya melangkah ke arah yang tadi ditunjuk si pemuda dan mulai menggali. Sambil menggali salah seorang dari mereka berbisik, "Setahuku orang tua berbaju putih itu tidak mati. Hanya pingsan. Apakah lobang ini digali untuk menguburnya ...?"

"Kurasa memang iya. Aku punya firasat tidak enak. Kalaupun dia sudah mati mengapa bukan kubur biasa yang harus kita buat....?"

Bisik-bisik itu rupanya sempat terdengar oleh pemuda berpakaian merah. Dia segera mendatangi dan membentak.

"Apa yang kalian bicarakan berbisik-bisik! Tugas kalian bekerja gali lobang. Bukan ngobrol!"

"Maafkan kami raden. Lobang segera siap!" jawab orang yang memegang sekop.

"Kerja saja jangan banyak mulut!" bentak pemuda itu.

Dua pekerja meneruskan menggali tanpa berani bicara atau berbisik satu sama lainnya. Tak lama kemudian lobang dengan ukuran yang diminta itu selesai. Bentuknya agak bulat seukuran tubuh manusia. Tingginya sekitar satu setengah tombak yaitu sekira ketinggian leher manusia.

"Cukup!" pemuda baju merah berseru. "Sekarang kalian berdua minggir dulu...." Pemuda itu turun dari kuda. Ditariknya tubuh orang tua yang menggeletak di atas punggung kuda lalu dipanggulnya. Dia melangkah menuju lobang. Di tepi lobang dia membungkuk. Tidak susah baginya untuk memasukkan kedua kaki orang tua itu ke dalam lobang. Lalu perlahan-lahan tubuh tua itu diluncurkannya ke dalam lobang. Luncuran tubuh terhenti begitu kedua kaki menyentuh dasar lobang dan tubuh orang tua itu tertanam tepat sebatas leher!

Kepala yang menyambul dari atas lobang itu tidak bergerak. Sepasang mata yang melotot juga tidak berkesip.

"Timbun!" pemuda baju merah memerintah pada dua orang yang barusan menggali lobang itu. Dua orang itu tampak ragu-ragu.

"Keparat! Kalian tidak mendengar perintahku?!" bentak pemuda baju merah.

"Raden. Orang tua itu...."

"Orang tua itu kenapa?!" hardik si pemuda lalu plaak! Satu tamparan dilayangkannya ke muka orang yang tadi membuka mulut hingga bibirnya luka dan berdarah.

Sakit dan takut orang ini akhirnya pergunakan paculnya untuk menimbunkan tanah ke lobang di mana orang tua berbaju putih itu berada. Kawannya segera pula angkat sekopnya membantu. Dalam waktu singkat tanah sudah menimbun sosok tubuh si orang tua. Dengan kedua kakinya pemuda tadi menginjak-injak timbunan tanah agak lebih keras.

"Tugas kalian selesai! Sekarang akan kuberikan bayarannya!" Pemuda itu berkata dan mengeruk saku pakaiannya. Dari saku itu dikeluarkannya sebuah kantong kain yang dari deringnya yang terdengar jelas berisi uang. Kantong itu diulurkannya pada orang yang memegang pacul. Yang diulurkan maju beberapa langkah untuk menerimanya, namun sebelum sempat tangannya menyentuh kantong uang itu, tangan kanan pemuda baju biru tiba-tiba melesat ke kepalanya.

Praakk!

Kepala itu langsung rengkah. Orangnya berteriak keras lalu roboh. Paculnya tercampak ke tanah.

"Raden! Kau....!" teriak pekerja yang memegang sekop dengan muka pucat saking terkejut dan tak percayanya melihat kematian temannya seperti itu. Ketika pemuda itu melangkah mendatanginya serta merta dia membalikkan tubuh ketakutan dan lari sekencang-kencangnya dari tempat itu.

Si baju merah tertawa bergelak. Dia mengambil pacul yang tercampak di tanah. Benda ini diputarnya dua kali lalu dilemparkannya ke arah orang yang lari!

Terdengar satu pekik kematian. Orang penggali lobang itu tampak tersungkur di tanah. Kedua kakinya melejang-lejang beberapa kali lalu diam. Dia mati dengan pacul menancap dan hampir memutus lehernya!

Dengan cepat pemuda baju merah menaikkan mayat dua pekerja itu ke atas kuda masingmasing lalu menggebrak binatang itu hingga keduanya lari tinggalkan tempat Itu.

***

SETELAH DUA EKOR KUDA yang membawa dua mayat penggali lobang itu lenyap di kejauhan, sambil mengusap-usap berewoknya pemuda tadi melangkah menuju lobang lalu berjongkok dekat tubuh yang ditanam. Dua jari tangannya ditusukkan ke salah satu bagian leher. Kepala si orang tua masih tetap kaku tak bisa bergerak, tapt sepasang matanya kini kelihatan bergerak dan jalan suaranya yang tadi dibikin gagu kini terbuka. Sepasang mata itu menatap penuh kebendan pada pemuda yang berjongkok dihadapannya.

"Kali Mundu murid laknat! Kenapa kau melakukannya tanggung-tanggung?! Kenapa tidak segera kau bunuh saja diriku?!" Kepala yang ditanam itu mendamprat.

Yang didamprat keluarkan suara tertawa mengejek.

"Justru sebagai murid aku masih berbaik hati memberikan kesempatan terakhir padamu Tali Kumba! Siapa tahu kau mau menunjukkan di mana barang yang aku inginkan. Lantas nyawamu akan kuampuni! Kau akan kukeluarkan dari lobang maut yang jadi liang kuburmu ini! Dan kau akan bisa menikmati hidup di dunia ini beberapa belas tahun lagi!"

Orang tua yang dipanggil dengan nama Tali Kumba itu menyeringai lalu berkata. "Dekatkan mukamu padaku. Akan kuberi tahu di mana Kitab Ilmu Silat Empat Penjuru Angin itu berada....!"

"Bagus! Itu belum terlambat guruku!" uja Kali Mundu lalu membungkuk dan dekatkan mukanya ke dekat muka si orang tua.

Cuuhhh!!!

Bukan keterangan yang didapat oleh pemuda baju merah itu tapi semburan ludah!

"Tua bangka keparat!" maki Kali Mundu.

Tangan kanannya dihantamkan menjotos. Kalau sebelumnya mata kanan sang guru yang telah dihantamnya hingga bengkak besar, kini mata kiri orang tua itu yang jadi korban. Mata itu langsung bengkak merah dan keluarkan darah!

Walau rasa sakit dan kemarahan dalam dirinya bukan alang kepalang tapi orang tua bernama Tali Kumba itu tampak menyeringai bahkan berkata mengejak, "Manusia pengecut! Kau hanya berani memukul, menjotos tapi tak berani langsung membunuhku! Pengecut!"

"Kau akan mampus Tali Kumba! Akan mampus! Tak usah mengemis memintanya padaku! Siksaan seperti di neraka akan kau alami sebelum ajalmu sampai! Kecuali...." Kali Mundu seka ludah yang menempel di mukanya lalu meneruskan kata-katanya.... "kecuali jika kau mau memberi tahu dimana kitab itu kau simpan!"

Sang guru tertawa. "Manusia jahat tapi tolol! Apapun yang kau lakukan terhadap diriku jangan harap aku bakal memberi tahu dimana buku itu!"

"Baik! Akan kita lihat!"

Kali Mundu keluarkan sebuah pisau kecil dan acungkan senjata itu di depan mata Tali Kumba.

"Pisau sekecil itu sulit untuk menggorok batang leherku!" kembali mengejek si orang tua.

"Siapa bilang aku akan menggorok batang lahermu tua bangka keparat! Aku bilang kau akan mati secara perlahan! Tersiksa dulu baru mampus!"

"Tua bangka sepertiku tak pernah takut mati! Aku akan mati tetapi rohku akan gentayangan. Membayangi ke mana kau pergi. Ha.... ha.... ha.... !"

"Roh busukmu akan kukirim ke neraka! Ha... ha... ha! Ha.... ha.... ha...!"

Orang tua itu balas tertawa. "Murid sesat! Empat tahun cukup lama untuk mewariskan sebagian dari ilmu kepandaianku. Tapi kau tidak sabar. Kau serakah seperti ayahmu! Kau menginginkan kitab itu padahal enam tahun di muka semua isinya sudah kuwariskan penuh padamu! Kau serakah seperti ayahmu!"

"Bangsat! Jangan sebut-sebut ayahku!" teriak Kali Mundu. Lalu tangan kanannya yang memegang pisau kecil bergerak.

Sreet!

Pipi kanan Tali Kumba robek besar ditoreh pisau kecil itu. Darah langsung mengucur!

KEPALA YANG BERLUMURAN DARAH ITU tampak menggeletar. Pelipis kiri kanan bergerak cepat tanda Ki Tali Kumba tengah menahan sakit dan juga amarah. Di atas pohon tinggi, Cempaka yang menyaksikan kejadian itu menyumpah habis-habisan.

"Manusia biadab! Laknat terkutuk! Memperlakukan guru sendiri seperti itu! Jahanam .... !" Dia diam sesaat lalu merenung. Gurunya sendiri yaitu Wiku Amber semula dianggapnya sebagai manusia yang kejam. Ternyata kini dia melihat adanya manusia yang seribu lebih kejam dari gurunya itu!

Di udara terdengar suara berkesiuran sayapsayap yang mengepak. Pemuda bernama Kali Mundu mendongak lalu menyeringai.

"Tua bangka Tali Kumba " desisnya. "Buka matamu lebar-lebar. Lihat apa yang beterbangan di atas sana. Ha.... ha.... ha!"

Di tempatnya terikat Cempaka yang mendengar kata-kata Kali Mundu Itu memandang ke alas. Dia melihat burung-burung nazar pemakan mayat beterbangan berputar-putar. Beberapa diantaranya mengeluarkan suara keras. Sesaat Cempaka berpikir-pikir apa maksud Kali Mundu menyuruh gurunya membuka mata meiihat ke atas Tiba-tiba saja gadis murid Wiku Ambar itu dapat menerka.

"Jahanam terkutuk! Benar-benar jahat biadab!" teriak Cempaka dalam hati. Di bawah sana KI Tali Kumba terdengar menyahuti. "Aku tak perlu melihat ke atas. Aku tahu di atas sana tengah beterbangan burung-burung pemakan mayat....!"

"Bagus! Kau cerdik Tali Kumba. Berarti kini kau tahu kematian bagaimana yang bakal kau hadapi ....Ha.... ha.... ha....!"

"Kau kira aku takut Kali Mundu....?" ujar orang tua yang tubuhnya ditanam sebatas leher itu sedang mukanya berlumurah darah.

"Mungkin kau hanya berpura-pura Tali Kumba. Banyak memang orang yang tidak takut menghadapi kematian. Asal saja kematian itu wajar. Tapi maut yang bakal kau hadapi sungguh mengerikan! Burung-burung nazar itu sudah mencium bau darahmu. Sebentar lagi mereka akan menukik turun mendatangi tempat ini. Mematuki kulit kepalamu, mencongkel kedua matamu, melahap hidung, telinga dan pipimu! Lalu jika tak ada lagi daging kepalamu yang bisa mereka santap, burung-burung nazar itu akan mematuki tempurung kepalamu, mencongkel otakmu! Kau al:an menderita sejuta kesakitan lalu mampus perlahan-lahan! Kecuali.... Tentu saja masih ada kecualinya Tali Kumba. Katakan di mana kitab silat ilu kau sembunyikan...!"

"Kali Mundu saat ini kau tidak lagi berhadapan dengan Tali Kumba. Tapi dengan roh yang siap mengutukmu! Manusia anjing berhati iblis! Dengar baik-baik. Dari liang kubur tempat kau menanam tubuhku ini kutukku akan menimpa darimu! Mulai saat ini bencana dan malapetaka akan menjadi bagianmu. Kau akan hidup dalam malapetaka sampai akhirnya mampus dalam malapetaka! Tuhan akan mendengarkan permintaan orang yang teraniaya!"

"Kalau begitu kenapa tidak minta tolong saja pada Tuhanmu agar membebaskan dirimu dari malapetaka saat ini? Ha ha....ha...!"

"Kali Mundu, kau telah menganiaya diriku. Kini kau menghina nama Tuhan. Kutukanku dan kutukan Tuhanmu akan jadi satu menghancurkan hidupmu!

"Kentut busuk!" teriak Kali Mundu lalu bangkit berdiri. Kaki kanannya diletakkannya di atas kepala gurunya. Lalu dengan tumitnya didorongnya kepala itu keras-keras! "Kau telah memilih kematianmu sendiri Tali Kumba. Kau boleh menyimpan rahasia tapi aku pasti akan mendapatkan kitab Ilmu silat itu!"

Habis berkata begitu Kali Mundu melangkah ke tempat kudanya menunggu, naik ke punggung binatang ini dan tinggalkan tempat itu menuju ke selatan. Di udara burung-burung nazar terbang semakin rendah dan suara mereka bertambah bising. Salah seekor dari mereka keluarkan suara aneh dan keras lalu menukik ke bawah. Puluhan kawannya mengikuti. Di lain saat Cempaka yang ada di atas pohon melihat bagaimana puluhan burung pemakan mayat itu tahu-tahu sudah ada di bawah sana dan mulai mematuk serta menggerogoti kepala Ki Tali Kumba orang tua yang malang itu. Cempaka pejamkan kedua matanya, tak berani menyaksikan apa yang terjadi. Perutnya yang kosong lapar mendadak terasa mual. Dia seperti hendak muntah, tapi tak ada yang keluar dari mulutnya selain desau nafas. Akhirnya gadis ini pingsan di tempatnya terikat.

***

RUMAH KAYU ITU TERLETAK di puncak bukit di tenggara Samigatuh tak berapa jauh dari aliran Kali Progo. Inilah tempat kediaman Ki Tali Kumba. Ke sinilah Kali Mundu memacu kudanya. Terakhir kali dia berada di situ adalah sekitar satu bulan yang lalu. Tapi saat itu dia belum berani mengatakan niatnya untuk meminta Kitab Ilmu Silat Empat Penjuru Angin itu.

Baru sekitar satu minggu lalu dia mengemukakan hasratnya itu pada sang guru. Namun permintaannya ditolak. Ki Tali Kumba meminta agar dia terus bersabar belajar dan melatih diri sampai enam tahun di muka. Karena itu berarti sama saja dengan dia telah memiliki serta mewarisi seluruh isi kitab silat yang memang termasuk lamgka dalam dunia persilatan itu. Hanya saja Kali Mundu merasa tidak sabar malah memasang niat jahat dalam hatinya. Di suatu tempat, dengan segala kelicikannya dia berhasil melumpuhkan sang guru dengan jalan minotok. Dalam keadaan tak berdaya Tali Kumba dipaksanya untuk memberi tahu di mana kitab silat itu berada. Ketika sang guru menolak maka di hajarnya orang tua itu. Seperti diceritakan sebelumnya Tali Kumba kemudian dibawa ke suatu tempat dan dikubur hidup-hidup.

Melewati jalan yang cukup sulit akhirnya Kali Mundu sampai di puncak bukit. Alangkah terkejutnya pemuda baju merah ini ketika mendapatkan rumah kediaman gurunya berada dalam keadaan hancur berantakan. Pintu dan jendela bertanggalan. Dinding dan atap ambrol. Bagian dalamnya porak poranda. Kasur tipis ketiduran gurunya jelas bekas ditoreh orang!

"Apa yang terjadi?! Jangan-jangan aku kedahuluan!" membatin Kali Mundu lalu melompat turun dari kuda dan memeriksa reruntuhan rumah itu dengan seksama. Reruntuhan dinding dan atap ditelitinya. Dia juga menggali beberapa bagian dari lantai tanah. Tapi dia tidak menemukan apa yang dicarinya.

"Celaka! Jangan-jangan aku memang sudah didahului orang!" Kali Mundu meninju-ninju telapak tangan kirinya dengan tangan kanan seraya memandang berkeliling.

Saat itulah tiga bayangan hitam berkelebat dan tahu-tahu tiga manusia bertubuh sama-sama kurus dan sama-sama jangkung telah berada di hadapan pemuda berpakaian merah itu. Masingmasing mereka membekal sebilah golok panjang sedang lengan serta pergelangan kaki memakai gelang bahar besar. Ketiganya menyeringal dan kelihatanlah barisan gigi-gigi mereka yang besarbesar berwarna aneh, yaitu biru!

Kali Mundu perhatikan tiga pendatang ini dengan cepat. Dari ciri-ciri mereka dia segera tahu tengah berhadapan dengan siapa dirinya saat itu.

Sambil mengusap berewoknya Kali Mundu berkata. "Hemmm.... Kalian pastilah Tiga Iblis Bergigi Biru!"

"Tepat sekali sahabat mudaku! Matamu tak salah lihat, mulutmu tak salah mengucap. Kami memang Tiga Iblis Bergigi Biru dari muara Kali Porong. Kami pendatang baru dalam dunia persilatan.

Tapi sembilan tokoh silat sudah kami bunuh. Dua perguruan silat dan satu pesantren sudah kami hancurkan. Bahkan serombongan pasukan dari Kotaraja yang coba menghadang kami di hutan Dadali pulang ke Kotaraja tinggal nama belaka! Kurasa cukup sekian dulu keteranganku! Hik ... hi ... hi ....!" Yang barusan angkat bicara adalah si kurus jangkung yang tegak diapit oleh kedua kawannya.

Kali Mundu mengangguk-angguk. Dia sudah maklum kalau kemunculan tiga manusia berpakaian serba hitam ini tidak membawa maksud baik.

Namun dia tak dapat menduga apa tujuan kemunculan mereka sebenarnya. Maka pemuda itupun bertanya. "Jauh-jauh datang kemari tentu kalian membawa maksud tertentu. Atau mungkin hanya kebetulan lewat di sini hingga ini adalah pertemuan yang tidak disengaja....?"

Orang yang di tengah berpaling pada kawannya yang tegak di samping kiri. "Silahkan kau yang menjawab!" katanya pula.

Si teman menyeringai dulu baru membuka mulut. "Jauh berjalan banyak dilihat. Membekal maksud tentu ada makrifat. Kami tidak hanya kebetulan lewat disini. Dan pertemuan ini bukan sesuatu yang tidak disengaja. Sejak pagi buta tadi kami bertiga telah menunggumu di puncak bukit ini!"

"Hemm.... begitu?" ujar Kali Mundu. Otaknya bekerja cepat. Dia berpaling sebentar ke arah reruntuhan rumah gurunya lalu berkata. "Kalau begitu kalian bertigalah yang telah memporakporandakan rumah guruku. Dan kelihatannya kalian bukan hanya sekedar menghancurkan. Kalian mencari sesuatu!"

Tiga orang jangkung kurus itu sama-sama keluarkan suara tertawa bergelak, membuat Kali Mundu terpaksa menahan rasa jengkelnya.

"Setelah kau menganiaya dan membunuh Ki Tali Kumba, apa kau masih pantas menyebut orang tua itu sebagal gurumu? Ha...ha...ha...!" Lelaki yang di tengah berkata lalu tertawa yang ditimpali oleh dua kawannya.

"Kurang ajar!" maki Kali Mundu dalam hati. "Tiga keparat itu rupanya tahu apa yang aku lakukan!" Setelah diam sesaat dia berkata dengan nada geram, "Apapun yang terjadi antara aku dan Ki Tali Kumba bukan urusan kalian!"

"Itu memang betul. "Menyahuti lelaki di ujung kiri. "Tapi kami kemari membawa urusan sendiri! Kami yakin kau bisa membantu. Bukan begitu teman-teman.... ?" Dua lelaki lainnya sama mengiyakan lalu menyeringai memandang pada Kali Mundu.

"Dengar, aku tidak punya waktu banyak. Lekas katakan apa keperluan kalian!" kata Kali Mundu pula.

"Kami datang untuk meminta Kitab Ilmu Silat Empat Penjuru Angin!" jawab si jangkung di sebelah tengah dengan suara tegas dan tandas.

Terkejutlah Kali Mundu mendengar ucapan itu. Tapi dia cepat merubah air mukanya. Sambil menggeleng dan tertawa lebar dia berkata. "Rupanya kehebatan kitab langka itu telah tersebar ke mana-mana. Tidak kusesalkan kalian sengaja mencarinya. Yang kusesalkan ialah kitab itu tak ada padaku !"

"Jangan dusta!"

"Kami telah membongkar dan memeriksa pondok kediaman Ki Tali Kumba. Buku itu tak ada disini. Siapa lagi yang menyimpannya kalau bukan kau?!"

"Kalau aku sendiri datang kemari dengan keperluan yang sama untuk mencari buku itu, bagaimana kalian bisa berprangsaka bahwa buku itu ada padaku?!" tukas Kali Mundu.

Si jangkung di sebelah kanan berkata, "Teman-teman, manusia satu ini banyak akalnya. Licik!"

"Betul!" menyahuti kawannya di ujung yang lain. "Siapa percaya padanya!"

Yang di tengah lalu menimpali. "Sobat muda, kami tak mau membuat urusan yang tidak enak denganmu. Kalaupun sampai ada urusan pasti ada pemecahannya. Bagaimana kalau pemecahan itu kita dahulukan. Berikan saja kitab itu pada kami! Urusanpun jadi beres! Mudah saja bukan...?!"

"Kitab itu tak ada padaku! Kalaupun ada tak nanti aku berikan pada kalian. Ada hak apa kalian memintanya dengan paksa...?"

"Ah, kau salah sangka sobat muda! Kami tidak meminta dengan paksa. Tapi meminta dengan janji keselamatan nyawamu!" jawab si kurus tinggi di sebelah tengah. Dua kawannya tertawa gelak-gelak.

Melihat gejala yang tidak enak ini apalagi mengetahui ketiga orang itu telah menggeledah rumah Tali Kumba dan tak berhasil menemukan kitab ilmu silat yang juga tengah dicarinya maka Kali Mundu berpikir sebaiknya dia tinggalkan saja bukit itu. Di lain kesempatan dia akan kembali lagi ke situ guna melakukan penyelidikan ulang.

"Para sahabat..." berkata Kali Mundu. "Sayang aku tak punya banyak waktu. Kalian mau meneruskan memeriksa rumah itu bahkan seluruh puncak bukit ini silahkan saja aku harus pergi sekarang juga!"

"Ah, siapa yang ingin melarang kau mau pergi ke mana sobat muda. Hanya saja sebelum kau pergi kaml harus menggeledah dirimu dulu. Bukan mustahil kitab itu kau sembunyikan di balik pakalanmu!"

Marahlah Kali Mundu mendengar ucapan itu.

"Kallan jangan keliwat memaksa dan menghina! Kesabaranku ada batas....!"

"Eh, lalu apa kesabaran kami tidak ada batasnya?" ujar si jangkung yang di tengah dengan ketus.

"Kalau begitu kalian sengaja mencari sliang sengketa. Biar kalian menyandang gelar menakutkan, biar kalian bertiga apa kallan sangka aku takut ?" Tiga orang di hadapan Kali Mundu tertawa gelak-gelak.

"Anak manusia satu ini memang tidak penakut. Gurunya saja dihabisi, apa lagi kita. Kawankawan bersiaplah!"

Melihat orang-orang Itu memang sengaja merencanakan kekerasan maka tanpa menunggu lebih lama Kali Mundu segera berkelebat. Yang diincarnya adalah lelaki paling tengah yang paling banyak bicaranya.

Yang diserang segera berkelit. Dua kawannya bergerak ke samping demikian rupa hingga kini Kali Mundu terkurung di tengah-tengah. Begitu lawan terjepit, Tiga Iblis Bergigi Biru Itu langsuny menggebrak!"

Dua jotosan dan satu tendangan berkelebat mencari sasaran di tubuh Kali Mundu. Empat tahun jadi murid Ki Tali Kumba dan baru mempelajari kurang dari setengah dari ilmu silat Empat Penjuru Angin ternyata telah cukup membuat Kali Mundu menjadi seorang pendekar yang tidak bisa diperlakukan sembarangan. Dia membuat gerakan berputar setengah lingkaran. Dua tangan dan kaki kiri berkelebat.

Bukk!

Bukk!

Dukk!

Dua pengeroyok terpental sambil pegangi lengan mereka yang tampak merah bengkak. Orang ketiga terhuyung-huyung sambil pegangi perutnya yang dimakan tendangan!

Kagetlah Tiga Iblas Bergigi Biru. Mereka tidak menyangka ilmu silat tangan kosong Empat Penjuru Angin demikian luar biasanya hingga dalam satu jurus saja ketiganya kena dilabrak begitu rupa!

Seperti sudah berjanji lebih dahulu ketiga mengeroyok segera menghunus golok masingmasing. Mata mereka menyorotkan sinar pembunuhan!

SEPERTI DIKETAHUI ILMU SILAT yang dimiliki Kali Mundu adalah yang dipelajarinya dari Ki Tali Kumba. Selama empat tahun digembleng dia telah menyelesaikan empat persepuluh bagian dari Kitab Ilmu Silat Empat Penjuru Angin yang dijadikan pegangan oleh sang guru. Sampai tahun keempat itu semua pelajaran adalah menyangkut ilmu silat tangan kosong dan tenaga dalam serta sedikit pukulan sakti. Itu diteruskan sampai tahun ke enam. Memasuki tahun ke tujuh barulah meningkat pada ilmu silat mempergunakan senjata. Ini tidak berarti bahwa pada permulaan penggemblengan Ki Tali Kumba sama sekali tidak memberikan pelajaran mempergunakan senjata. Dia telah mengajarkan bagaimana mempergunakan senjata serta bagaimana menghadapi lawan yang bersenjata. Namun semua itu menyangkut hal yang pokokpokok dan masih sangat mendasar.

Ketika tiga lawan dilihatnya mencabut golok masing-masing, Kali Mundu mau tak mau merasa tercekat juga. Dia tahu kelemahannya dalam perkelahian bersenjata. Apalagi saat itu dia sama sekali tidak memiliki senjata apapun Maka diapun bersiap dengan pukulan sakti yang pernah diajarkan Ki Tali Kumba padanya. Dengan cepat dia mengerahkan tenaga dalam ke tangan kanan.

"Manusia-manusia pengecut! Sudah mengeroyok sekarang pakai senjata pula!" gertak Kali Mundu. "Majulah biar kuhajar kalian satu demi satu!"

Begitu lawan kelihatan bergerak maka Kali Mundu hantamkan tangan kanannya.

"Awas pukulan sakti!" teriak salah seorang dari Tiga Iblis Bergigi Biru ketika dia mendengar angin deras bersiur keluar dari telapak tangan Kali Mundu. Serta merta dia balas menghantam dengan tangan kiri sementara dua kawannya cepat menghindar seraya tusukkan golok ke bagian kiri kanan Kali Mundu.

Dalam hal tenaga dalam ternyata kemampuan Kali Mundu masih berada dibawah tingkat tenaga dalam lawan. Ketika lawan balas menghantam akibatnya dia merasakan tubuhnya seperti di dorong hingga dia jadi terhuyung-huyung dan dadanya mendenyut sakit.

Di saat yang sama menyadari ada dua serangan senjata datang dari sisi kiri dan kanan dengan cepat Kali Mundu rundukkan diri tapi masih terlambat

Tusukan pedang dari arah kiri sempat dielakkannya. Yang dari arah kanan datangnya cepat sekali. Hingga mesktpuri dia sempat merunduk namun bahunya masih kena diserempet! Pakaiannya robek, daging bahunya tersayat luka!

Melihat darahnya sendiri mengucur membasahi pakaian Kali Mundu menjadi kalap. Dengan nekat dia coba merampas golok salah seorang lawan. Tapi kenekatannya ini harus dibayar mahal.

Sebelum tangannya yang sebelah kiri sempat merampas senjata lawan yang terdekat, satu sambaran golok berkelebat dari samping.

Craasss!

Kali Mundu terpekik.

Tiga jari tangan kirinya yaitu ibu jari, telunjuk dan jari tengah putus ditebas golok! Pemuda itu serta merta melompat jauh-jauh. Tampak dia menggigit bibir menahan sakit sedang mukanya pucat seperti kain kafan.

"Aku tak bakal menang menghadapi tiga keparat ini!" pikir Kali Mundu. Maka sebelum Tiga Iblis Bergigi Biru kembali menyerbu dengan cepat pemuda ini balikkan tubuh lalu melarikan diri meninggalkan puncak bukit itu.

"Kawan-kawan! Kita kejar dia ....!" berseru salah satu dari Tiga Iblis Bergigi Biru.

"Saat ini belum perlu kita terlalu menyusahkan diri," menyahuti kawannya. "Kitab itu masih belum ada padanya...."

Sebelum meninggalkan puncak bukit ketiga orang itu berusaha memeriksa bangunan pondok yang telah porak poranda. Menyelidik setiap sudut lantai tanah bahkan sampai-sampai memeriksa batu-batu besar dan pepohonan yang ada di sekitar situ. Namun tetap saja mereka tidak berhasil menemukan kitab yang mereka cari.

"Tinggalkan saja tempat ini. Kita berpencar. Dua di antara kita segera menuju puncak Gunung Merbabu. Kabarnya Ki Tali Kumba memiliki pertapaan disana. Mungkin kitab yang kita cari disembunyikan di situ. Aku sendiri akan menguntit Kali Mundu. Bukan mustahil dia bisa membawa kita ke tempat di mana kitab itu berada. Selain Gunung Merbabu dia pasti akan mengetahui tempattempat lain yang sering dikunjungi orang tua itu dan dijadikan tempat kediaman sementara."

"Aku setuju dengan pendapatmu. Ki Tali Kumba memang punya kebiasaan berpindahpindah tempat tinggai. Kita berpisah disini..."

Lalu ketiga orang itupun berpencar. Dua menuju keselatan. Yang seorang lagi berkelebat ke arah larinya Kali Mundu.

***

SIULAN YANG KERAS membawakan lagu tak menentu itu mendadak sontak berhenti ketika bau yang amat busuk menyambar hidung orang yang bersiul.

"Gila! Bau busuk apa ini! Mau rontok bulu hidungku!" Orang itu memandang berkeliling sambil memandang berkeliling. Dia tidak melihat sumber bau busuk itu. Tak ada mayat atau bangkai binatang, apalagi manusia. Sambil menutup hidung dia meneruskan langkahnya. Kirakira melangkah sepuluh tindak tiba-tiba matanya terpancang pada sebuah benda yang menyembul di tanah di antara pepohonan besar.

"Benda itu kelihatannya seperti.... " Orang itu tak sempat meneruskan kata-katanya. Apa yang dilihatnya membuat tengkuknya menjadi dingin.

Dia menggosok kedua matanya beberapa kali seperti tak percaya akan apa yang dilihatnya. Lalu dengan langkah tertahan-tahan dia mendekati benda yang menyembul itu.

"Astaga memang batok kepala manusia rupanya! Tengkorak!" Orang ini besarkan mata sambil terus menutup hidung. Menurut dugaannya tengkorak itu masih belum lama karena masih ada bekas-bekas darah dan lemak yang mengering. Kedua matanya kosong mengerikan. Yang menyeramkan ialah bagian ubun-ubun tengkorak yang tampak bolong menganga besar memperlihatkan bagian kosong dibawahnya.

"Eh.... Sepertinya bukan cuma tengkorak Ada bekas timbunan tanah. Seperti ada sambungannya." Untuk memastikan orang ini memungut sebuah ranting kering lalu mencungkil tanah di bagian leher. Ternyata ditemuinya bagian bawah leher yang membusuk belatungan. Dicongkelnya lagi sambil menahan rasa jijik. Dia menemukan bahu! Sampal di sini dia hentikan mencongkel. Rasa ngeri membuat orang ini melangkah mundur sambil garuk-garuk kepala. "Apa yang terjadi disini? Sulit kupercaya! Seseorang dikubur hidup-hidup! Gila! Jangan-jangan aku ini sudah kesasar di neraka ...!"

Orang ini memandang berkeliling, memperhatikan keadaan di sekitarnya. Tak ada satu bendapun yang dapat dijadikannya petunjuk. Dia berpikir-pikir apakah akan mengurus mayat tak dikenal itu namun akhirnya memutuskan untuk pergi saja.

"Aku tak mau terlibat segala urusan aneh mengerikan begini rupa!" Sebelum pergi dia memandang lagi berkeliling lalu menatap ke atas pepohonan besar dan rimbun yang ada di tempat itu. Akhirnya dia langkahkan kaki bertindak pergi. Dua langkah berjalan dia kembali mendongak ke atas. Sepertinya ada sesuatu yang dilihatnya samar-samar di atas sana.

"Ah, tak ada apa-apa!" katanya. Lalu melangkah kembali. Tapi langkahnya serta merta tertahan. Ekor matanya melihat sesuatu. Dia mendekati pohon paling besar dan paling tinggi di tempat itu dan jadi terheran-heran ketika melihat sesosok tubuh perempuan berpakaian biru gelap berbaring menelungkup di atas cabang pohon paling atas. Rambutnya tergeral riap-riapan hingga orang di bawah pohon tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas.

"Masih banyak perempuan gila di dunia ini rupanya..." kata orang tadi pula seraya garukgaruk kepala. "Tidur di atas pohon besar di tepi rimba belantara sementara di bawahnya berkecamuk bau busuk dari mayat manusia yang kepalanya berubah jadi tengkorak secara aneh!"

Orang ini geleng-geleng kepala. Di udara terdengar suara burung-burung melayang. Ketika diperhatikannya tenyata sekelompok burung-burung nazar tengah terbang berputar-putar.

"Hem..., jangan-jangan burung-burung itu yang telah menggeragoti kepala manusia ini! Tapi siapa yang menguburnya begini rupa ? Seperti disengaja... Bukan mustahil tubuh perempuan di atas sana sudah jadi mayat pula. Tapi tak mungkin.... Tak mungkin. Kalau tubuh di atas itu juga telah jadi bangkai, pasti sudah habis digerogoti oleh burung-burung nazar itu. Sebaiknya aku memanjat ke atas sana dan memeriksa...."

Lalu orang ini melompat ke cabang pohon yang paling rendah. Dari sini dia naik lagi ke cabang pohon di atasnya, demikian seterusnya hingga akhirnya dia sampai di cabang paling atas di mana terbaring sosok tubuh Cempaka dalam keadaan terikat.

Di sentuhnya betis kaki yang tersingkap. Terasa dingin. Mati ? Tapi dia tak percaya. Dengan hati-hati orang itu merayap di atas tubuh yang terbaring itu lalu mendekatkan telinganya ke punggung. Walau sangat perlahan dia masih bisa mendengar degup jantung tanda kehidupan. Sewaktu dia hendak menyibakkan rambut yang tergeral menutupi wajah, matanya membentur sosok burung merpati kelabu yang bertengger di cabang sebelah bawah.

"Satu keanehan lagi.... Mengapa burung itu berada di sana dan seperti kaku tak bergerak....?"

Dia berpikir sejenak. "Ah, persetan dengan merpati itu..." Katanya kemudian. Lalu dia meneruskan menyibakkan rambut panjang yang tergerai itu. Ketika rambut berhasil disingkapkannya terlihatlah wajah perempuan itu. "Astaga... Kurasa sudah jadi mayat belatungan. Ternyata masih segar. Cantik lagi! Hanya sedikit pucat. Eh, tidur atau pingsankah si jelita ini.... ?" Orang itu coba menepuk-nepuk punggung gadis yang terbaring di atas cabang. Tak ada sahutan, tak ada gerakan apapun.

Orang itu pandangi tubuh tersebut sambil garuk kepala tak habis pikir. "Aneh, ilmu apa yang dimilikinya hingga dia bisa enak-enakkan berbaring di atas cabang ini tanpa jatuh?!" Orang itu ulurkan tangan untuk menepuk kembali punggung si gadis. Pada saat itulah kedua matanya baru melihat benang sutera yang sangat halus melingkar di beberapa bagian tubuh sang dara, mengikatnya erat-erat ke cabang pohon!

"Seseorang membawa gadis ini kemari lalu mengikatnya dengan benang aneh! Kalau bukan pekerjaan orang-orang persilatan masakan ada setan yang melakukan pekerjaan ini!" Lantas orang itu pergunakan tangannya untuk memutus benang sutera kelabu itu. Tetapi astaga! Bagaimanapun dia berusaha benang itu tak bisa diputuskan!

"Sialan masakan aku kalah oleh benang ini!" maki orang itu. Lalu dia kerahkan tenaga dalam dan kembali mencoba. Tetap saja dia tak bisa memutuskan benang sutera itu! "Gila! Hanya ada dua atau tiga orang di dunia persilatan yang memiliki benang seatos ini. Satu diantaranya Dewa Tuak. Tapi kakek sahabatku itu mustahil dia mau melakukan pekerjaan seperti ini....!" Setelah berpikir sejenak akhirnya orang itu meraba ke balik pakalannya. Ketika tangannya keluar dari balik pakaian menyambarlah sinar putih menyilaukan di atas pohon itu. Sinar itu ternyata keluar dari sebuah senjata mustika yakni sebilah kapak bermata dua. Pada bagian tajam dari kedua mata kapak jelas tampak tertera ukiran tiga buah angka yaitu angka 212. Jadi orang yang naik di atas cabang pohon itu bukan lain adalah Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Wiro Sableng, murid Eyang Sinto Gendeng dari Gunung Gede!

Wiro dekatkan mata kapak saktinya ke gulungan benang yang mengikat tubuh si gadis ke cabang pohon dengan hati-hati.

Del!.... del!!.... del!!! ..... del!!!

Empat ikatan utama langsung putus begitu mata kapak diiriskan ke benang sutera itu. Yang lainnya cukup dengan ditarik hingga kendor dan terlepas. Begitu ikatan benang terlepas sosok tubuh Cempaka bergeser ke kiri dan hampir jatuh kalau Wiro tidak lekas-lekas memegangnya. Cepat-cepat Pendekar 212 menyimpan senjata mustikanya ke balik pakaian. Ketika dia berusaha menarik sosok tubuh itu, sang gadis yang pingsan siuman sesaat lalu pingsan lagi. Waktu siuman sebentar itu Cempaka sempat menghembuskan nafas panjang. Tiupan nafasnya menyentuh tubuh burung merpati yang berada di cabang pohon sebelah bawah. Terjadilah hal yang aneh. Begitu tiupan nafas menyentuh bulu-bulunya, merpati kelabu yang sejak empat hari lalu itu diam seperti batu tiba-tiba menggerakkan kepala, merentangkan kedua sayapnya lalu melesat terbang menuju ke timur!

Karena sibuk menolong si gadis, Wiro tidak memperhatikan keanehan burung merpati itu. Bukan pekerjaan mudah menolong gadis yang sudah empat hari terikat di atas cabang pohon itu. Apalagi dirinya dalam keadaan pingsan hingga tak mempunyai kemampuan untuk berpegang ke tubuh Wiro. Salah bergerak atau sempat tergelincir, tubuh pingsan itu akan jatuh ke bawah!

Khawatir tubuh sang dara jatuh ketika dipanggul dan dibawa turun, Pendekar 212 akhirnya tanggalkan baju putihnya lalu merobeknya di beberapa bagian, menyambungnya satu sama lain hingga menjadi seutas tali yang cukup panjang. Dengan tali ini diikatnya tubuh Cempaka ke tubuhnya. Dan lagi-lagi ini bukanlah pekerjaan yang gampang. Ketika dengan sangat hati-hati dan perlahan sekali dia mulai menuruni pohon jantung Pendekar 212 berdegup kencang. Sempat tali kain itu putus atau kakinya tergelincir, tamatlah riwayat sang dara. Turun dari pohon yang tinggi itu seperti menempuh jalan yang panjang dan lama sekali terasa oleh Wiro. Namun sedikit demi sedikit dia mulai bergerak menuju ke bawah. Pada setiap cabang dia berhenti untuk memeriksa ikatan tali. Bila dirasakannya aman maka dia turun ke cabang sebelah bawah. Demikian seterusnya sampai akhirnya dia sampal di cabang paling bawah lalu meluncur turun ke tanah. Dia tak perduli kulit dada dan perutnya menjadi lecet dan luka ketika meluncur Itu. Begitu kedua kakinya menginjak tanah dia seperti hendak berteriak saking girangnya. Nafasnya mengengah dan kedua kakinya seperti kaku. Wiro jatuhkan diri perlahan-lahan. Tubuh gadis yang masih terikat ke tubuhnya ikut jatuh dan terbaring di tanah. Wiro lalu cepat-cepat buka tali kain itu. Begitu bebas sang dara segera dipanggulnya menjauhi tempat yang menebar bau busuk itu! Disatu tempat yang bersih di pinggiran hutan tubuh si gadis dibaringkannya. Lalu Wiro pegang kedua tangan gadis itu dan mulai kerahkan tenaga dalam untuk dialirkan ke dalam tubuh si gadis guna memberi kekuatan padanya.

Sekitar sepeminuman teh, ketika tubuh Wiro sudah keringatan sepasang mata Cempaka tampak bergerak lalu membuka sedikit. Samar-samar dia melihat seseorang di dekatnya.

"Gu...ru... Kau... kau.... yang menolong di.... diriku.... Kau .... kau memaafkan aku?"

terdengar si gadis berucap dengan suara sangat perlahan dan terputus-putus. Karena tak ingin si gadis yang dalam keadaan menderita seperti itu menjadi kecewa walau tak tahu ujung pangkal ceritanya maka Wiro lantas saja menjawab. "Tenang aku memang gurumu. Dan aku telah, memaafkan dirimu."

"Guru.... A... Aku haus ... Berikan air ... Air...."

"Tak jauh dari sini ada mata air. Aku akan mengambilkannya untukmu.... "Wiro hendak berdiri tapi hatinya ragu. Dia kawatir meninggalkan gadis itu seorang diri di situ maka akhirnya dipanggulnya si gadis dan dibawanya berlari menuju ke mata air jernih. Setelah memberinya minum, memberslhkan muka dan tangannya serta membasahi sebagian kepala serta rambutnya si gadis tampak lebih segar. Wajahnya yang sebelumnya pucat kini tampak merah berdarah kembali. Pemandangannya kedua matanya lebih terang. Ketika dia sekali lagi memandang ke arah Wiro terkejutlah dia dan serta merta berusaha untuk bangkit. Wiro cepat mencegahnya dan membaringkannya kembali.

"Kau tak usah takut. Kau masih lemah. Berbaring saja dulu...."

"Kau.... kau bukan guruku..... Si...siapa.... kau. Mengapa aku berada di tempat ini.....? Mana pohon itu .... mana bu....burung merpati itu?"

"Tenang saudari. Jangan banyak bicara dulu. Kau berada di tempat yang aman..." ujar Wiro sambil mengusap kening Cempaka.

Saat itu di pelupuk mata si gadis terbayang kembali apa yang dilihatnya empat hari lalu. Serta merta dia menjerit.

"Orang jahat itu.... Orang jahat itu!" teriaknya sambil menunjuk ke atas. "Dia mengubur orang tua itu hidup-hidup! Lihat ... Lihat! Burung-burung gagak hitam. Kepala orang tua itu mulai mereka patuki. Mereka mencongkel kedua matanya ....! Mencabik pipi... mulut dan hidungnya.... Ahhhh ...!" Cempaka terhenyak kelemasan dan terbaring kembali setengah sadar setengah siuman.

***

KALI MUNDU BERLARI SEKENCANG-KENCANGNYA menuruni bukit. Di satu tempat di kaki bukit pemuda ini menyelinap ke balik semak belukar, menunggu dan mengintai. Merasa yakin tak seorangpun dari Tiga Iblis Bergigi Biru mengejarnya maka dia lantas duduk menjelepok di tanah dan memeriksa luka di tangan kirinya. Tiga jarinya pupus ditebas golok lawan.

"Bangsat! Kurang Ajar! Aku bersumpah membalas kejadian ini! Aku bersumpah!" merutuk dan menyumpah pemuda itu. Luka di tangan kiri tidak mengucurkan darah lagi karena waktu lari tadi dia sempat menotok urat besar di pergelangan tangan kiri. Tapi rasa sakit masih mendenyut.

"Apa yang harus kulakukan sekarang ?!" Kali Mundu bertanya pada diri sendiri. "Langsung ke puncak Merbabu menyeiidik pertapaan.... Atau pulang dulu ke Kuto Gede...." Setelah menimbang-nimbang beberapa lama pemuda itu memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya di Kuto Gede. Sudah tiga bulan dia meninggalkan rumah. Ada baiknya memang dia pulang dulu sambil menunggu kesembuhan lukanya.

Sebelum bangkit berdiri Kaii Mundu kembali mengintai dan memperhatikan keadaan sekeillingnya. Dia memaki karena tidak sempat melarikan diri dengan kudanya. Tetapi diamdiam dia juga merasa heran, mengapa Tiga Iblis Bergigi Biru tidak mengejarnya. Padahal di puncak bukit Itu dia telah meninggalkan kuda miilknya.

"Tidak bisa tidak pasti mereka punya rencana!" ujar Kali Mundu dalam hati. Lalu perlahanlahan dia berdiri. Tapi baru saja bergerak bangkit tiba-tiba dia mendengar seperti mendengar suara orang tertawa. Suara tertawa itu datang dari jauh. Menggema aneh ... Makin dekat, makin dekat lalu lenyap dan berganti dengan ucapan yang menegur dirinya.

"Kali Mundu.... Kali Mundu! Apa yang telah kau alami Kali Mundu? Ha.... ha... ha.... Bahumu ditusuk orang.... Tiga jari tangan kirimu buntung! Ha ha ha.... ! Mana kehebatan ilmu silat Empat Penjuru Angin itu? Kau tak berdaya! Ternyata kau masih lemah. Kepandaianmu masih rendah!"

Kali Mundu memandang berkeliling. Dia tidak melihat siapapun di tempat itu. Lalu siapa yang bicara ? Suara itu laksana datang dari langit, tapi juga seperti keluar dari tanah! Dan suara itu seperti dikenalnya. Tapi karena menggema sulit diterkanya. Mungkinkah tempat sekitar situ dihuni oleh hantu?!

"Si.... siapa...? Siapa yang barusan bicara....? Tunjukkan dirimu!" ujar Kali Mundu pula.

"Ha.... ha.... ha! Kau tidak mengenali suaraku tak mengapa. Aku adalah roh dari liang kubur!

Kemanapun kau pergi aku akan selalu mengikuti! Apapun yang kau lakukan dan apapun yang terjadi dengan dirimu aku akan selalu menyaksikan! Ha...ha.... ha! Kau manusia buronan kutukanku Kali Mundu! Apa yang barusan kau alami merupakan kutukan pertama! Ha.... ha.... ha..."

Terkejutlah Kali Mundu. Parasnya menjadi pucat.

"Guru Ki Tali Kumba! Kaukah itu ?" Kali Mundu bertanya dengan suara bergetar.

"Aku bukan gurumu! Aku bukan Ki Tali Kumba! Aku adalah roh pembawa kutuk yang akan mengikuti kemana kau pergi! Ha.... ha...ha...!"

"Aku tidak percaya!" bentak Kali Mundu seraya berdiri. "Mana ada roh yang bisa gentayangan! Kau hantu busuk setan pelayangan! Mengganggu orang secara pengecut! Pengecut....!" Habis berkata begitu Kali Mundu balikkan tubuh dan lari sekencang yang bisa di lakukannya.

Di belakangnya terdengar suara tawa bergelak yang makin lama makin menjauh dan akhirnya lenyap sama sekaii. Dengan nafas mengengah-engah Kali Mundu memperlambat larinya. Berkali-kali dia berpaling ke belakang. Tak ada yang mengejar, tak ada yang mengikuti.

"Roh sialan! Dimana kau? Ayo bicara lagi! Perlihatkan dirimu!" teriak Kali Mundu jadi berani. Tak ada jawaban, tak ada yang memperlihatkan diri. "Kurang ajar... Jangan-jangan tadi aku bermimpi atau terbawa larut pikiran yang bukan-bukan!" Pikir pemuda itu. Dengan perasaan lebih tenang dia melanjutkan perjalanan menuju Kuto Gede. Kira-kira setengah hari perjalanan sebelum tiba di Kuto Gede dia sampal di sebuah desa, langsung menuju ke sebuah rumah yang penghuninya dikenalnya. Di sini Kali Mundu meminjam seekor kuda. Dengan menunggang kuda dia melanjutkan perjalanan pulang ke Kuto Gede.

Rumah kediaman orang tua Kali Mundu terletak di pinggir timur kota. Sebuah rumah besar dan bagus karena ayahnya adalah seorang Tumenggung. Ada berita yang tersebar mengatakan bahwa Suro Bledek, ayah Kali Mundu merupakan salah seorang terkaya di Kotaraja. Sawahnya berhektar-hektar, ternaknya tak terhitung. Rumahnya lebih dari lima dan setiap rumah dihuni oleh seorang istri. Harta kekayaannya berupa perhiasan dan uang tidak terbilang. Dan kabarnya semuanya itu dimiliki dan didapat sang Tumenggung secara curang. Dengan jalan membujuk, kalau tidak berhasil dengan memeras, merampas atau cara kekerasan lalnnya, termasuk istri-Istri mudanya yang berjumlah enam orang itu!

Begitu sampal di halaman rumah Kali Mundu langsung melompat dari kuda dan lari masuk ke dalam. Seorang penjaga yang kebetulan tegak dekat pintu segera menyongsong.

"Ayah dan Ibuku ada di dalam ...?"

Si penjaga tampak gugup. "Raden... Ayah raden sedang tidak di rumah Sudah lama sekali raden tidak kelihatan. Saya akan merapikan kamar tidur raden."

"Tidak perlu. Kau panggilkan saja juru obat kemari!" Lalu Kali Mundu bergegas masuk.

"Raden..." Si penjaga seperti berusaha hendak menahannya. "Apa-apaan kau ini berani menghalangi jalanku!" bentak Kali Mundu. Dengan marah didorongnya penjaga itu hingga jatuh ke lantai. Lalu dia bergegas masuk ke dalam.

"Ibu! Aku pulang!" berseru Kali Mundu. Pemuda ini adalah anak tunggal yang sangat manja pada ibunya. Itulah sebabnya dia mencari si ibu lebih dulu. Dia langsung menuju kamar tidur ibunya. Berseru memanggil sekali lagi lalu mendorong pintu. Ternyata pintu itu dikunci dari dalam.

"Ibu, aku tahu kau ada di dalam. Lekas bukakan pintu. Aku terluka, bu!"

Tak ada jawaban. Tapi Kali Mundu sempat mendengar suara ranjang berderik dan suara orang berbisik-bisik. Karena curiga Kali Mundu pergunakan kekuatan untuk melabrak pintu. Pintu terpentang lebar..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.224.155.164
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia