Lorong Gelap

Seorang lelaki berjalan menyusuri deretan pertokoan di tepi jalan. Tampaknya ia berusia sekitar 25 tahun bila diperhatikan dari kulit wajahnya yang mulai kasar, dan jejak kumis yang dicukur seadanya. Ia datang dari tempat yang jauh dan sepertinya ia tak berhenti, meski hanya untuk mandi atau membersihkan wajahnya. Rambut hitamnya tampak kusam oleh debu dan sinar matahari, dan keringat membasahi kaos biru yang membalut tubuhnya yang kurus. Matahari tak terlalu panas hari itu, meski langit tampak begitu jernih. Tak bisa ku bayangkan alasan ia hanya mengenakan baju kaos dalam perjalanan yang cukup jauh. Lelaki itu terlalu sederhana bahkan lebih menyerupai seorang gembel yang kebingungan mencari tempat berteduh dengan rasa cemas agar tak di usir oleh orang-orang yang memandangnya dengan tatapan risih bahkan tak jarang penuh benci.

Ia semakin mendekat, namun satu hal yang sangat menarik perhatianku adalah sorot matanya. Ia memancarkan keteguhan dan kesungguhan dan ketenangan yang membingungkan jika kau menatapnya. Tatapan yang dingin seolah menembus jiwamu bagai sebilah parang besar merobek daging, dan mengguncang batin yang gelap dipenuhi kesuraman. Lelaki itu, dengan kepala tegak tanpa senyuman ataupun ekspresi lainnya, kemudian duduk di sebuah kursi kayu di hadapanku.

“Aku Homer.” Katanya tanpa mengulurkan tangan seperti yang biasa dilakukan orang-orang ketika pertama kali berjumpa. “Kau menghubungiku kemarin malam. Jadi kau ingin menyibakkan misteri yang mengganggumu selama ini?”
Sepertinya ia bukan orang yang suka berbasa basi, dan gayanya berbicara tak peduli terhadap orang yang ia jumpai. Ia begitu menguasai percakapan seolah ia berbicara pada anak kecil yang di pojokan di sebuah sudut ruangan. Mungkin setiap orang akan menyangka ia berlaku tidak sopan, tapi pikiran itu akan lenyap dalam sekejap ketika ia berbicara lagi, dan hal itu sangat mempesona, bahkan pada menit pertama perjumpaan itu.
“Aku…” jawabku ragu-ragu. “Aku tak tahu apakah ini langkah yang tepat. Aku tak tahu bagaimana harus mengatakannya, tapi bagaimana kalau kita mulai saja?”
Lelaki itu mengangguk pelan sambil menatap lurus ke mataku. Sempat kurasakan sekelebat rasa takut melintas di benakku, namun segera ku singkirkan dengan tidak memikirkannya. Bila ketakutan menguasai, aku bisa panik dan bertingkah bagai orang gila. Dan aku tak punya rencana untuk mempermalukan diri hari ini.
“Aku telah menyiapkan kendaraan untuk kita pergi.” Kataku. “Mungkin sebaiknya kita berangkat sekarang juga.”
“Tak perlu kemana-mana.” Katanya. “Kita bisa memulai disini.”
“Maksudmu, di tempat ini? Tapi disini banyak orang, dan aku tak ingin mereka menyaksikan.”
“Jangan khawatirkan hal itu.” katanya.

Ia memegang ujung jemari kananku. Dalam sekejap, ku rasakan aliran udara bertiup kencang di balik rambutku. Semakin lama, semakin keras. Seluruh tempat itu bagai berputar dan tiba-tiba saja seperti memasuki pusaran air, semuanya lenyap; gedung-gedung dan orang-orang bahkan kendaraan-kendaraan yang begitu berisik menghilang. Suasana menjadi tenang dan hening. Kami berada di sebuah tempat yang gelap, meski cahaya dari tengah meja itu tampak menerangi sekitar kami dengan redup. Wajah orang itu tampak menakutkan di bawah bayangan gelap; aku merasakan ia sedang menatapku tanpa berkedip. Beberapa detik berlalu, ketika aku mulai merasa panik, dan dadaku tiba-tiba sesak seperti kehabisan udara. Aku berusaha menarik tanganku yang ia genggam, tapi tak bisa ku lepas.

“Dimana kita?” kataku memberanikan diri sambil memandang sekitar, namun mataku tak bisa menembus tabir gelap yang menyelimuti. Sejauh mata menandang hanya kegelapan dan keheningan. Lelaki itu melepaskan genggamannya, lalu bangkit. Entah apa yang akan ia lakukan. namun ia hanya berdiri di tepi meja membelakangiku. Punggungnya yang sempit dan panjang tampak lebih mengerikan dari pada ketika ia menatapku. Ah, dasar penakut, kataku pada diri sendiri.
“Kita berada di pusat jiwamu.” Katanya singkat.
“Bagaimana aku tahu?” kataku. “Tempat ini terasa begitu asing, bahkan aku tak pernah merasakan berada di dini.”
“Tentu saja.”
Apa maksudnya dengan mengatakan ‘tentu saja’, pikirku. Namun aku tak ingin berdebat, percuma saja. Semua ini ku inginkan atas keinginanku sendiri. Jadi, aku tak bisa menyalahkan orang ini.
“Apa yang akan kita lakukan disini?” kataku.
“Mari kita berkeliling.” Katanya lalu meraih tanganku dan kami mulai berjalan.

Tempat itu tiba-tiba saja diterangi oleh sebentuk cahaya yang tak ku ketahui asalnya. Kami menyusuri sebentuk lorong yang kanan kirinya dipenuhi batu bersusun dan tampak begitu keras. Aku menyentuhnya untuk memastikan, memang batu.
Lelaki itu berjalan terus tanpa memperdulikanku, seolah ia berjalan sendirian. Di ujung lorong, aku bisa melihat seberkas cahaya terang, sepertinya itu sebuah pintu yang terbuka. Beberapa saat kemudian, kami tiba di dalamnya.

Sungguh aneh, ruangan itu panjang sekali, bagai sebuah ruangan dalam istana yang pernah ku kunjungi beberapa tahun yang lalu, dan lebarnya kurang dari sepuluh meter, begitu kira-kira. Langit-langitnya tinggi dan melengkung dan saling menyentuh di tengahnya, dan dipenuhi gambar-gambar aneh, seperti karya Michael Angelo pada langit-langit katedral Santo Petrus, yang tak ku mengerti maknanya. Aku tak melihat adanya lampu di sana, tapi ruangan itu terang, sehingga dinding batu yang berwarna merah dan cokelat tampak jelas seperti di siang hari. Aku merasa damai, dan ketenangan yang telah lama tak ku rasakan, membungkusku dengan lembut sehingga aku merasa berada di rumah sendiri.
“Ini hatimu.” Kata lelaki itu tanpa ragu.
“Apaku?” kataku tak percaya.
“Hatimu.”
“Oh,” seruku. “Indah sekali di sini. Apa artinya ini?”
“Kau cukup bahagia dengan hidupmu.”
“Karena itu, ruangan ini tampak indah?”
Lelaki itu mengangguk. Namun ia tampak murung.
“Kenapa?” tanyaku.
“Masih ada hal lain yang harus kau saksikan.” Katanya lalu membuka pintu lain.

Kami berjalan lagi, menyusuri lorong yang menuntun kami menuju ruangan lain. Dindingnya tinggi dan gelap, seperti menghitam karena terbakar api. Aku bisa merasakan debu mengotori ujung jariku ketika menyentuhnya. Ruangan itu panjang sekali sehingga aku tak bisa melihat ujungnya, dan lebar, dengan beberapa buah jendela yang tertutup di kanan kirinya. Dan yang aneh, ruangan itu kosong seperti tak pernah digunakan selama bertahun-tahun. Di tambah lagi tirai-tirai berwarna merah yang menggantung di beberapa tempat di dinding itu menambah suasana di ruangan itu terasa angker, membuatmu muak dan aneh. Dingin sekali di situ, rasanya ingin segera keluar dan menghirup udara segar. Seolah segala sesuatu di dalam sana akan menyakitimu. Aku memegang lengan lelaki itu, aku takut, bahkan lebih dari yang pernah ku rasakan sebelumnya. Namun lelaki itu tak bergeming, ia diam saja seperti ia baru saja pulang ke rumah dari melakukan perjalanan yang jauh.
“Ini bagian hatimu yang lain.” Katanya tanpa menungguku untuk bertanya.
“Kenapa gelap dan dingin seperti ini?” tanyaku dengan suara bergetar.
Lelaki itu diam saja.
“Aku tak percaya ruangan ini seperti ini; kotor, memuakan, dan aku serasa ingin muntah saja.”
“Tapi kau tak sampai muntah, kan?” katanya.
Betul juga. Mungkin hanya perasaanku saja. Tiba-tiba, aku bisa menguasai diriku. Tak ada lagi rasa takut, atau muak dan benci. Malah timbul rasa ingin tahu sehingga aku memperhatikan sekeliling ruangan itu.
“Apa artinya ini?” kataku, seolah mengerti ada maksud tertentu dari pemandangan aneh ini.
“Ini di sebut ruang kebencian.” Kata lelaki itu, lalu memutar tubuhnya menghadapku. Wajahnya tampak tenang. Aku diam saja, menunggu penjelasan lain dari mulutnya.
“Kau lihat di ujung sana?” ia menunjuk ke sebuah arah. Sebentuk lemari besar dan tinggi yang terbuat dari kayu keras berdiri begitu saja, seolah memang sudah di letakkan disana entah sejak kapan. “Kemarilah.” Katanya. Lemari itu tiba-tiba sudah berada di hadapan kami. Di sana aku dapat melihat tumpukan kertas yang tak terhitung banyaknya, satu menindih yang lain dan aku tak membayangkan berapa jumlah mereka. Sangat banyak.
“Apa ini?” tanyaku.
“Semua hal yang membuat perasaanmu gelisah; rasa marah, kekhawatiran dan benci. Semua ada di sini.”
“Aku tak menyangka menyimpan sebanyak ini.”
“Tak seorang pun pernah menyadari apa yang mereka lakukan.”
“Menakutkan.”
“Memang.”
“Lalu apa yang harus ku lakukan?”
“Aku tak tahu,” sahut lelaki itu. “Keputusan ada di tanganmu, aku hanyalah seorang perantara.”
“Perantara apa?”
“Seseorang dan hatinya.”
“Bisakah aku hanya sendirian selama beberapa saat di tempat ini? Ku pikir aku harus melihat mereka.”
Lelaki itu mengangguk. Ia berjalan ke arah pintu, lalu menghilang ketika pintu tertutup dengan keras. Tiba-tiba, sebuah cahaya yang berasal dari langit-langit menerangi dinding lemari, namun hanya cukup untuk menerangi kertas-kertas itu.

Aku mengambil satu persatu. Kertas itu tampak sangat usang, berdebu, dan tulisan di atasnya hampir tak bisa di baca. Aku memperhatikan dengan mendekatkannya ke mataku. Tulisan itu seperti tulisan seorang anak kecil, di tulis menggunakan pensil, dan sedikit bernoda darah di ujungnya. Kertas itu bertanggal 13 September 1995, 18 tahun yang lalu. Di dalamnya bertuliskan:

Aku benci ayahku. Bahkan aku ingin membunuhnya, tapi aku hanya seorang anak kecil bodoh yang tak berdaya. Ayah memukulku setelah memukul ibu. Ibu menangis dan menjerit, ia memelukku sehingga aku juga menangis. Aku tak mengerti kenapa ayah melakukan hal ini. Pokoknya aku benci ayah. Aku benci, benci, benci, benci, benci…

Ah, aku bergidik, aku ingat betul kejadian itu, bahkan seperti menyaksikan lewat televisi atau semacamnya dan serasa baru terjadi kemarin. Rasa benci itu muncul lagi. Aku tak kan memaafkannya, ia membuat ibuku menderita dan aku ditelantarkan begitu saja sejak ibuku meninggal karena memar otak yang dideritanya. Sialan terkutuk, batinku. Aku membuang kertas itu, lalu mengambil yang lainnya.

Kertas itu tampak indah, dengan motif bunga-bunga si tepi atas dan bawahnya, dan aromanya wangi. Seperti parfum kesukaanku ketika aku sekolah di SMP. Aku membaca di dalamnya:

Temanku mengajakku pergi ke sebuah pesta di malam hari. Pesta ulang tahun itu begitu riuh dan liar, banyak pemuda dan pemudi yang masih ABG semuanya mulai tak terkendali. Aroma minuman yang menusuk hidungku berputar-putar di seluruh ruangan yang pengap itu. Aku ingin pulang, ketika ku lihat temanku menghilang. Aku mencarinya hingga ke pekarangan belakang. Sial, sekelompok pemuda yang lain, sepertinya para pemabuk yang kerap mengganggu gadis-gadis memergokiku. Aku bersiap pergi ketika salah seorang dari mereka menggenggam tanganku. Lalu menarikku dengan paksa, melucuti seluruh pakaianku dan…

Aku menghela nafasku sejenak. Ah, semua itu menerjang batinku. Sialan. Kertas itu ku biarkan terkulai. Aku tak ingin melanjutkan membaca lagi, sudahlah. Aku membalikkan badanku hendak pergi dari sana, tapi ada sesuatu yang menahanku. Mendadak, kekuatan merasuki dan aku memutuskan untuk membacanya sampai habis.

Aku mendapati diriku tergeletak begitu saja di tengah hutan. Pakaianku sobek dan celana panjangku koyak di bagian selangkangan. Rasanya sakit, nyeri, bahkan untuk berjalan saja susah. Tawa itu terngiang di telingaku, bahkan tubuh yang berat dan aroma alkohol masih menumbukku. Perasaanku semakin tak tertahankan, aku benar-benar membenci mereka dengan seluruh hidupku. Aku ingin mereka mati dengan cara yang paling mengerikan. AKU BENCI MEREKA DALAM NAMA TUHAN.

Ah, kisah yang menyedihkan. Tak ku sadari, ternyata, hidupku dipenuhi oleh kisah-kisah mengerikan. Ku pikir Tuhan akan menolongku dan memberi tangan-Nya, tapi ia diam saja. Ia tertawa dan seperti hanya menoleh sepintas lalu saja, lalu pergi entah kemana. Semenjak saat itu, aku membenci apapun, bahkan hidupku sendiri. Air mataku menetes hangat di wajah. Perasaanku pahit, dan mulai mengutuki hari-hari kelahiranku dan pencipta yang tak perduli padaku. Apa gunanya lagi aku hidup jika harus begini.

Aku mengambil lagi kertas-kertas itu. Disana ku saksikan ocehan, fitnah, bahkan pelecehan yang mereka perbuat padaku. Aku memang perempuan lemah tak berdaya, tapi apakah mereka sadar kalau aku juga seorang manusia? Ah, pikiran mereka seperti binatang dan hanya memikirkan perut mereka dan keinginan yang membakar jiwa mereka. Api yang sama membakar jiwaku sehingga tulang-tulangku larut dalam kebencian yang amat sangat.

Beberapa tahun kemudian, aku bekerja di sebuah rumah sakit yang mengurus orang-orang jompo sambil berusaha berdamai dengan masa lalu. Hidupku sudah terasa tenang sampai pada suatu hari, aku mengalami mimpi yang sama selama beberapa minggu dan hal itu membuatku gila. Gambaran masa lalu dan kejadian-kejadian itu kembali mengoyak hatiku. Seolah mereka telah menemukan buruan yang selama ini dicari tanpa berpikir untuk melepaskan lagi.

Aku menceritakan hal ini pada temanku, yang kemudian ia menyarankan untuk bertemu Homer, seorang yang mampu membawa kembali masa lalu melalui terapi hipnotis dan memperbaiki semuanya. Justru hal itu semakin membuatku kacau. Kebencian yang tertanam dalam jiwaku semakin menjadi-jadi. Aku bahkan jadi bingung sendiri.

Homer, lelaki itu, membuka pintu. Oh, aku masih berada di ruangan ini rupanya. Tapi lemari besar tadi telah menghilang. Ia berdiri di muka pintu, dan aku mengerti ini saatnya untuk pergi. Aku tak tahu apa yang ku pikirkan, karena segalanya ini membuatku seperti mayat hidup dan aku tak peduli lagi. Aku berjalan dengan pelan mendekati pintu, lalu ia menutupnya dengan sangat rapat. Aku masih sempat menoleh ke arah pintu besar tersebut, sesaat sebelum kami menghilang dari sana dan melalui lorong lain. Aku tak sempat memperhatikan ketika sebuah cahaya besar yang sangat terang menelan kami, dan angin kencang membawa kami kembali.

Aku membuka mata. Ternyata kami masih berada di sana, di sebuah kafe tepi jalan. Aku melirik jam tanganku. Jarum jam menunjukan pukul 2.15. Tak ku kira hanya sepuluh menit kami berada disana, sedangkan rasanya seperti selamanya.

Homer tersenyum padaku, mungkin senyuman pertama yang ia lontarkan. Dengan senyuman itu, ia tampak sangat ramah dan simpatik.
“Aku tak mengerti kenapa aku harus melihat semua hal itu.” kataku.
Homer dengan tenang menjawab, “Kau tak bisa menghindarinya.”
”Kenapa?”
“Itu bagian dari hidupmu.”
“Bisa kah aku menghilangkannya agar mereka tak pernah lagi menggangguku?”
“Bisa saja, tapi kau akan menjadi seseorang yang lain, dan aku ragu apakah kau akan menyukai dirimu yang baru.”
“Kenapa begitu?”
“Karena kau akan menjadi seseorang yang terjebak dalam ruang dan waktu yang tumpang tindih. Apakah arti kehidupan seorang manusia yang tak memiliki masa lalu dan masa depan?”
“Aku tak mengerti.” Kataku.
“Masa lalu, sepahit apapun itu, kau tak bisa melewatkannya atau menghapusnya dari ingatanmu. Bagaimanapun, ia akan terus membayangimu. Satu-satunya yang harus kau lakukan adalah mendamaikan jiwamu.”
“Jadi, menurutmu aku harus memaafkan semua yang terjadi, termasuk diriku sendiri?”
“Ku rasa kau lebih tahu. Pergilah, sebelum racun itu merusak jiwamu dan lakukan sesuatu agar kedamaian tetap menjadi penerang langkahmu.”

..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )


Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDULKARYA
(Serigala Putih) Daun Dari AnginRenaisan Salman
1 Cinta di Antara 3 PilihanOctavia Anizar
2,5 Persen SajaDidin Syamsudin
3 Tahun, 3 Cerita, Kau Tetap Perempuan Istimewa VersikuAkri Midwife Stalker
5 TahunChristian Boham
Abdiku Untukmu Keluarga KecilkuRizky Dwi Utami
Abdiku Untukmu, IbuDestia Eka Putri
AbsurdityNadila Aprilianda
Acara Festival Yang Tak TerlupakanRahman Ditisiyah
ActFor (Anti Conspiration Force)Mamat Fiction
Ada Apa Dengan Sikap AyahHerlina
Ada Teman di Balik PelangiSenja Nilasari
Akibat Jajan SembaranganAdinta Asfiratun Husna
Akibat ParzinahanNeni Indriani
Aksara Tak BisuOan Wutun
Aku Adalah AkuGraciella Eunike Satriyo
Aku Bisa Sendiri!Namira Assyifa Prasetio
Aku Bukan Gadis Menjijikan!Zee Choco
Aku Bukanlah SegalanyaNita Durotul Husna
Aku dan OrganisasikuErvina
Aku Dia Tak SamaRully Prameisti Audhina
Aku Harus BerusahaNenda Wulandari
Aku Ibu dan PianoAntonia Luisa
Aku Juga WanitaKang Zaen
Aku Sebutir PasirSelmi Fiqhi
Aku Tidak Berasal dari Buah yang Bagus, Tapi Pasti Akan Menjadi Buah yang BergunaKinanti Tiara Dewi
Aku Tidak Punya TemanRossa Kurnia Sasongko
Aku, Pilihanku, Serta Pejuang Berbaju Coklat KecilkuJoko Susilo
AlhamdulillahAtikah
Allah SWT Memang Maha AdilNurannisa Widiawati
Angklung and The TwinsSalsabila Putri Rulia
Antara Aku, Tukang Cukur dan TuhanWahyu Tio
Artca Penyelamat BudayaResty Gessya Arianty
Arti SahabatPurnawan
Arti Sebuah KehidupanTyaz Hastishita
AyahRiza Fahriza
Ayah kami bukan kriminalRifky Adni
Ayah, Aku Bangga Padamu! Catatan Putra Seorang KoruptorMisteradli
Bagaikan Pelangi Setelah HujanNuril Agri Famela
Bahagia Hidup PesantrenPraditiyo Ikhram
Balai HujanAl iz Kusuma
BangkitAlfred Pandie
BapakBanyu Ozora
Bawalah Terbang Ikan IniAris Rizka Fauzi
Belajar Untuk Lebih BersyukurPatra
Beliau Itu IbukuPutri Setiowati
Bella si Mak ComblangNita Setiawan
Benarkah Kak?Siti Muyasaroh
Berantem Sama Teman Waktu SDShandi Dwipermana
Berbagai Rintangan Menuju SekolahAldi Rahman Untoro
Berbahagialah!Fitri Oktavia Annaja
Berbuat Sesuatu Untuk MimpiSiti Nurjanah Septiani
BerjuanglahIevfa
Berkat Gunung MerapiAliyah Revitaningrum
Berkat Lori Aku Bisa Sekolah LagiAyu Soesman
Berkat TaugeDesi Melati
Bermain MonopoliDeviance Ramadhana Saragih Sitio
Bersahabat Bermodal Kebijakan dan Takdir TuhanVeren Chandra
Bersamamu Ku Gantungkan MimpikuAde Zetri Rahman
Best of The Best My Best FriendMuhammad Nuh Nurkholid
BianglalaYeni Ayu Wulandari
Bidadari Kecil, SaghirahMuallim
Bintang BenderangNi Made Eva Yuliantari
Bintang LapanganAmbarnia
Bolehkah Aku Membenci Ayah?Abdul Rahman Sinaga
Buah KesabaranIbnu Rafif
Bukan Punguk Yang Merindukan RembulanAya Emsa
Bukti KecantikanFariska Hurun In
C3 (Cinta Chandra dan Citra)Yuliatul Mawaddah
Cahaya Untuk IchaAulia Farhah FA
Cangkir Tindih Merah PutihDian Faiqotul Hikmah
CantikDina Istiqomah
Cause of My Parent’s LieJoe Fatrah
CCCCC (Cinta Cenat Cenut Cemungudth Celamanya)Listya Adinugroho
Cerita Kakek HanifEdi Warsidi
Cewek itu LianiRizka Aprilliani
CintaImelda Oktavera
Cinta MonyetTala Nour
Cinta Nggak BisuUpik Junianti
Cinta RayaKarina Dwi Latri Juliani
Cinta Tapi BedaAthe Celiona
Cinta, Cita dan KitaFariska Hurun In
Cintaku Kini Telah PergiRandi Pratama
Cintaku Setahun JagungRamlis Harman Susanto
Cita-Cita AshleyAnastacia Esterliana
Cita-Cita Sang BonekaFinsa Permatasari
Cukuplah Allah Bagiku maka Cukuplah AkuNira Nurani Teresna Dewi
Dad Is My HeroEster Chaterine Sara
Daddy O DaddyPebri Pele
Dance it’s my LifeKarina Dwi Latri Juliani
DeadlineCynthia Lantriana
Demi BoybandMuhammad Sulaiman
Demi Hari yang Menanti di Ujung HarapanAhmad Hafizin
Demi IbuFadillah Amalia
Demi Idola TercintaAnis Puspita Sari
Demi MasaRirin Nurpi Herwanti
Deret Tinta Untuk NegeriIlma Ainunisa
Desainer MudaFadillah Amalia
Detektif KacaMuhammad Septian Rachmandika
Di Balik Sebuah PayungHesty Juwita Sari
Di Hatiku Ada NamamuAnitrie Madyasari
Di Seberang Padang Rumput IlalangLoli Asmara dewi
Dia Adalah SorbonneRail Rahardian
Dia Bisa, Mengapa Aku Tidak?Hana Sausan
Dia IbukuNeneng Lestari
Dia SemangatkuDina Aulia
Dia.. BintangkuDebi Zahirah Hariwijaya
Diantara Mahasiswa dan DosenNita Setiawan
Diary Ana 1Aghna Asbar
Diary Sahabatku DindaGaluh Ayu
Diary Untuk LangitErika Andini
Dibalik Duka ku ada Duka yang lainZakia She Azhura
Dibalik Senyum TulusmuSofia Octaviana
Dik AnahMuhammad Sofyan Arif
Dirindu DinginnyaAna Marieza Widiawati
Disiplin Itu Penting Untuk KehidupanNovita Indriyani
Ditooo… Apa Lagi (Part 1)Axas
Ditooo… Apa Lagi (Part 2)Axas
Ditooo… Apa Lagi (Part 3)Axas
Don’t Judge The Book by The CoverRahmi (Adhe Amii)
Dua Doa Satu CintaNina Noichil
Dunia Baru dalam Kertas LipatEka Ferdianti
Emak, Gue Jadi Artis!Aisyah Hudabiyah
EvanityFirman Nuryadi
FakirBergman Siahaan
Festival Musik dan idolaFadel Mochammad Ibrahim
Filosofi HatiRuri Alifia R
Gadis Berjilbab PilihanChoirul Imroatin
Gadis di Kaki Bukit ProloYeni Ayu Wulandari
Gadis TompelDwi Putri Fw
Gang SetanHotma Lam Uli Marbun
Ganti Kacamata, Gessss!Icetea
Gengsi itu Sama Dengan MiskinImam Prayugo
Get SpiritEcha Nurrizqi
Gifts For GladysNamira Assyifa Prasetio
Gila RamalanOcta Rina
Gitar Tua JokoSeptian Joko Sulistyo
GubukRika Alif Firda
Gulali ChacaTifa Raisandra
Guruku dan BungakuRahmi (Adhe Amii)
HadiahMuggi S Prasetyo
Hadiah dari KakekDwiyanto S
Hadiah Kecil untuk ShyrenaPuspita Sandra Dewi
Hal Yang Membuat Kita BerbedaArif Nurhidayat
HampaAfra Zahirah
Hanya ini Yang Ku PunyaWahyudi Warsaintia
HarapanSeya Zunya Uchiwa
Harapan BaruMuhammad Toriq
Hari KartiniMugito Guido
Hari Terakhir Untuk SalmaAya Lukluk
Harus Kuat Sebagai UlatHeru Prasetyo
Hidup Berawal dari MimpiJaja Nurjaman
Hidupku Tak Sepahit Jamu IbukuChoirul Imroatin
Hikmah Dalam HidupkuSintiya Nuri
Hinaanmu Jadikan Motivasi UntukkuSari Sustianto
Hitam Putih PergaulanAulia Farhah FA
Hujan Dalam Satu HarapanAkmal Farid
Hujan PertamaYudik Wergiyanto
Hukuman yang Tak AdilHidayatulloh Handoyo
Hutang Tingkat DewaWayan Widiastama
I Can’t Take it AnymoreLyna Audiena Wijayanti
I Heart YouRusyda Andini
I Love Mom and DadReyhana Amalia
I’m is Reporter (Part 1)Dziky Iskandar
I’m Sure, I Can Do It!Elfina Astin
IbuNadia Safarah
Ibuku Arti SahabatkuMutiara Devit Merlinda
Identitas GulaRizqi Ardiansyah Tindaon
Ifa Yang di Dunia Maya Bukan Ifa Yang SebenarnyaMuhammad Rafid Nadhif Rizqullah
Ikatan TerkuatkuApp
Ilalang dan Rumah Laba LabaChoirul Imroatin
ImpianQisthi Zulfa
Impian Anak KampungJohan Syah
Impian Anak PemulungGleam Pratama
Impian Angsa KecilLina Purniawati
Impian Hati menjadi HabibieDiyah Ayu Rahmatika
Impian KayraSharifa Hasna Mahira
In My LifeMasita Rais
In O2SN SemarangLena Sutanti
Indahnya KebersamaanAlfan Fadilah
Ini Berlian… Bukan SampahFadillah Amalia
Inilah Saat yang Kami TungguSlamet Samsoerizal
Inner BeautyGiselle Iona Rachel Tuelah
Inspirasi Dalam GelapAffiantara Marsha Yafenka
Inspirasiku Lewat MusikAan
It’s My PassionSadryna Evanalia
Jalan HidupkuNur Isna Aulya
Jangan Ikut-ikutanLalia Oktiarisqa
Jangan Marah Dong PutriNizahsy Lubis
Jangan MenyerahAuliya Fatimah Nur
Jatuh 7 KaliHernita Sari Pratiwi
Jejak TerakhirMuhammad Septian Rachmandika
Jejak-Jejak Keajaiban MimpiAbdus Salim
Jemari Tuhan Telah MerangkulnyaRahimah Permata Sari
Jilbab dari SahabatkuAnita Avianti
Jiwa Pramuka YudiYulian Rahma
Jl. Flamboyan No. 9Dicky Cahyo
Joni dan Galah IstimewaMuhammad Labib Naufaldi
Just Carry OnWilliam Kamarullah
Kado Terbaik Untukku DariNyaBondan Ratnasari
Kakakku TersayangAngel Lika. S.
Kami Tak BerwajahAhmad Alkadri
Kapsul Cita-CitaNatasha Cynthia
Karena Aku Atau Pencak Silat?Dealya Adira
Karena di Atas Langit Masih Ada LangitAdinta Asfiratun Husna
Karena kau, Sahabat!Tutut Setyorinie
Kaset PenyemangatSalsabila Prameswari
Kau Tetap SahabatkuJuwita Palvin
Ke Rumah PresidenMiga Imaniyati
Keajaiban Saat PesimisReimut
Kebahagiaan Kita SemuaGaluh Rengganis Nugrahaini
Keberanian NadhiaMurni Oktarina
Kebohongan Yang IndahRosmania Robbi C
Kecurigaan DeandraRegita Aryaputri Lesmana
Kedamaian DuniaFadillah Amalia
Keikhlasan Hati AmirManda Ms
Keluarga itu, Keluarga BaitiSlamet Mulyani
Keluargaku MotivasikuM. Hasan Basri
Kematian Tanpa SesalAnteng Maya Surawi
Kembalinya Seorang AktivisMagvirasari Lestari Linra
Kenangan Emak TikHendrawan Ardiansyah
Kenapa Harus AkuYoshe Azura
Kesabaran Dan Perjuangan PutriMega Ayuna Rizki
Kesatria Dari Ujung DesaMuhammad Suhendar
Kesederhanaan Sebuah Cita-CitaDiana Margareta
KesedihankuFairuz Zakyal 'Ibad
Kesuksesan Tuhan Yang AturJhumar Masadian
Keteguhan HatiSyamkhan Habibi
Ketika Hancur Hati IbuRosmania Robbi Chatun
Kisah Cintaku Yang PertamaAgus Purnamasari
Kolak Pelangi dan Sholat DhuhaFarhan Ramadhan
KolaseZainuddin Muza
Kopi PendingFinlan Adhitya Aldan
Kotak Cinta Untuk IbuChoirul Imroatin
Kotak ImpianM Yusuf
Kristal BeningUlfa Nurul Hidayah
Ku Kayuh Ribuan MimpiSriami Wulandari
Kuihat Lirihan SuaraHenydria
Kupu Kupu MalamHari N. M
Kupu-Kupu di Dalam HujanSelmi Fiqhi
Kura-kura dan KudaSiti Ainun Pratiwi Indra
Kutukan PurnamaKachonk Rofiqz
Langit ituAzzam Azizah Fiqli
Lantunan Sendu Melodi BiolakuRiska Putri Meiyana
Lara Prihatini Si Gadis PrihatinDona Ariani
Laron Juga Ingin PacaranShalahuddin
Layangan BumiAnnisa Mauliddina
Lebih Dari SatpamRized Wiasma
Lelaki Paruh Baya di Sekolah TuaNilma Yuliza
Lelaki Tua yang Merindukan BintangAdri Wahyono
Lelucon TakdirIfarifah
Lembaran Kertas HijauHaryanti
Lentera Tak BerujungSintyawati
Lidah DoniWilly Sitompul
Lihat Semangat KamiAndi
Lili (Menjadi Diri Sendiri)Okty Imagine
Lilin HarapanAmalia Septiani Radiva
Lintang KemukusYosi Prastiwi
Lobang Hidung LohiWilly Sitompul
Loper CilikNurvita Rachmadania Winanti
LorongAditya Prana Iswara
Lorong GelapPatrick Hariadi
Love In BostonDian Setianingsih
Ludah Untuk Si CerminHari Arianto
Luka Tak BerdarahZ.Hilmiah
Makna di Hari Raya Idul FitriGaluh Rengganis Nugrahaini
Malaikat Pun Menangis AyahDiandra Aini
Mama dan AkuRani Putri
Manusia-Manusia TrotoarMuhammad Edgar Hamas
Markonah dan Uang Lima RibuanWilly Sitompul
Masa Depan Anak Seorang PemulungWahyu Rizky Ramadhan
Matahari pun Tak BosanDanil Gusrianto
MataharikuAsri Nur Aisyah
Matematika is My LifeVindasya Almeira
Matematika? Siapa Takut!Fitri Rosadela
Mati Dalam Angan (Part 1)Affiantara Marsha Yafenka
Mati Dalam Angan (Part 2)Affiantara Marsha Yafenka
Mawar Terakhir Dari BundaDevi Upi Lestari
May Day (Perjuangan Tanpa Akhir)Wahyudi Warsaintia
Mbah MinRiza Fahriza
Melawan Rasa TakutMiftahul Farhani Isty
Menanam Seribu PohonVindasya Almeira
Menanti LaraR. Ayu Chairunnisya
Menebus MimpiNayudin Hanif
Menggenggam ImpianUmmie Sakdiah Babers
Menghitung HariAyu Sari Listianda
Menjadi Yang KuinginkanNurdiyansah
Menjaring MatahariLedy Triananda
Menjelang Ujian Tengah SemesterRifky Adni
Menyesal TanpamuNona Nada Damanik
Merdeka Atau Tidak Sama SekaliRiky Fernandes
Mereka Bilang Aku Gila (Part 1)Wulan Puspa Indah
Mereka Bilang Aku Gila (Part 2)Wulan Puspa Indah
Mesin Pemahat MimpiAjeng Laksmi
Meski Tanpa AyahKharisma Titah Utami
Metamorfosa Malaikat Tanpa SayapAmbiwwa Novita
Milikku Milikmu Milik KitaListya Adinugroho
MimpiFarah Fakhirah
Mimpi Secarik KertasUlfah Heroekadeyo
Mimpi Si Anak KambingNurhikmah Hakiki
Mimpi untuk DuniaNurul Ramadhaniah
Miracle Of Giving FoolKinanti Tiara Dewi
Miskin “Bermanfaat” Kaya “Bermartabat”Fajar Rofinanda
Miss Culun Menjadi Miss BeautyAdhenna Zakia A
Miss Eum nya Tak Mau Neneng FotoAde Qisti
Misteri Gadis Kecil di Rumah KosongPingkan Aulia Samara
Move OnSiska Pratiwi
Mrs. PerfectNova Seflylya
Mutiara HatiSilmi Kaffah
Mutiara Tanpa CelaFaddilatusolikah
My Book DiaryOldheva Genisa
My Dream Comes TrueBadriyah
My Freaks HolidayUrai Benny Novriady
My Heart For The ChildrenWidya Laksari Sastri
My Life Without SoundChick-A-Dee
My Love is REAL!App
My MistakesFilla Giani
My PromiseAch. Arya Muhammad
Nasihat AyahMusrinah
Nay, Sang TerataiAya Emsa
Nenek ku PahlawankuAhmat Rasyid
Nenek Tua di Sisi KotaTutut Setyorinie
Nyanyian Pagi di VictoriaRan Azlaff
Obat Alami LayilaNaila Izzati Mushafa
One By OneMuhyiddin El Febiens
One Day To RememberDjunita
Padamu Wanita IndonesiaAnnisa Yuni Thorika
Pagelaran TerakhirBolok Sitompul
Pahlawan KecilkuErna Hidayanti
Pahlawan SenjaAstrid Septiani Wulandari
Pandangan MayaFitri Nur Faizah
Panggil Aku Pahlawan PenghianatImron Supriyadi
Pantang MenyerahKhoirul Umam
Pedang KehidupanGede Agus Andika Sani
Pelangi Sesudah HujanRahimatus Sania
Peleburan RasaYeni Ayu Wulandari
Pelita Hati yang KerontangKhoirur Rozikin
Pelita HidupkuSuci Lestari
PembuktianTriyana Aidayanthi
PenalunaAnne Widy
PengabdiankuAnnisa Mega
Pengamen JalananErni Ristyanti
Penggemar RahasiaMuhammad Rafid Nadhif Rizqullah
Pengorbanan Cinta SejatiIrene Lie
Penyair dan MusisiDhika Zakaria
PenyesalanJuanti
Penyesalan TerdalamAndias Putri
Penyesalan TerlambatLaila Insyafah
Perbedaan Itu Mampu Menembus Dunia KelamkuBestiani Mustikaningsih
Perbedaan Jadi Tidak BerartiSri Siswati Tahir
Perjuangan Agar Bisa Menghafal PantunGiselle Iona Rachel Tuelah
Perjuangan Hidupku Dalam Menuntut IlmuSupardin
Perjuangan IbuUlfa Nurul Hidayah
Perjuangan RevitaMila Dita Khotimah
Perjuangan Tanpa Pandang BuluSekar Arum Purbarani
Perpisahan AkhirGea Septa
Persahabatan Chintya dan SiscaAbdullah
Persahabatan yang AbadiAnnisa Berliana Dewi
Persembahan Buat Mama (Part 2)Rita Lestari
Persiapkan DirimuAgus Purnamasari
Pertemuan 5 SahabatIsnaifa
Perubah Hidup Pemulung CilikErdin Suharyadi
Pesan Yang KurangNika lusiyana
Pesawat KertasPutri Novitasari
Pianis PesimisDandi Tri Dirgantara
Pirate KingDini Aprilia Purnamasari
PlatinumTara Rahendya Elfrida
Pohon Mangga Mbah KartoRoni Istianto
Pompom Girls Cheerleaders TeamSyahla Varelya Threonizzahra
Positif KecanduanAna Rifqi Jamil
Pribadi Lebih BaikFadillah Amalia
Pulau HamilSiswari
Putri Bulan dan Dewa LautRibka Sepatia
Rahasia Bintang KelasAldi Rahman Untoro
Rahasia Sebuah PeristiwaAhmad Ghulam Azkiya
Rembulan di Kolong LangitNurlaela A. Awalimah
Rencana Allah Pasti IndahArif Syahertian
RenungkanAlfred Pandie
Rintihan LidahSelmi Fiqhi
Roh Penunggu HutanRendy Mahendra
Romansa KehancuranRiky Fernandes
Saat Nisa Mengatakan BisaNur Faisah
Sacrifice of LoveSalsa Hanifa
Sahabat SejatiSarah Aprilia Andini
Sahabat Yang PertamaGiselle Iona Rachel Tuelah
Sajadah Buat EmakR. Marena
Saksi Bisu Pengorbanan GuruChick-A-Dee
Salah SiapaNi Made Eva Yuliantari
Sandiwara CintaAhmad Azwar Avisin Alhaidar
Satirung PesegYuni Maulina
Say No To DrugsCindy Amanda N
Say Nothing Of Sorry and LoveSherly Yulvickhe Sompa
Sebuah AsaSimah Ayu Lestari
Sebuah Jawaban diujung JurangBryan Adams
Sebuah Karma di 2017Kariza Rai Shafira
Sebuah Nama, Sebuah MisteriGatut Putra
Secret (Rahasia)Alif Kurniawan
SedekAH membawa berkAH untuk semuanyAH…. AH… AH… AHAgung Yansusan
Seekor Makhluk Sebuah DesaGuido Gusthi Abadi
Sehari Sebagai PatriotYustina Rena Oktaviana
Sekuntum Bunga KambojaMila Karlina
Selalu Ada JalanYudha Purwanda Azis
Selamat Jalan SahabatNursyamsi Syam
Semangat Juang Anak CacatWahyu Rizky Ramadhan
Semangat Pagi GurukuNurhikmah Hakiki
Semangat RanikaSelviana
Semangat Yang Tak TerkalahkanMuhammad Jaenal
Semua Akan Indah Pada WaktunyaSultan Oka
Semua Karena KauRirih Rakati Rigarimas
Semua Kerena-NyaAnitrie Madyasari
Semua Untuk AyahVivi Alviani
Semut Yang Pindah RumahDevi Yulia Rahmi
Senandung Indah Untuk TiaraRienz Gladies
Senja dan Catatan Tentang KitaYeni Ayu Wulandari
Senja di Tepi PantaiYuli setiawati
Senja Dipadang IlalangDamayanti Childiesh
Senyuman di Langit AwanggaDwi Surya Ariyadi
Sepasang Teratai MudaPuspita Sandra Dewi
Sepeda Kenangan Dari AyahGisca Ulfa Afiatika
Sepeda KumbangDeska Apriadi
Sepenggal LorosaePrabu Awang
Setangkai Bunga di Tebing GunungNuril Agri Famela
Seuntai Kalung Mutiara FatimahNamira Assyifa Prasetio
Si DogolMuhamad Rafael
Si Gadis KecilIndri Triyas Merliana
Si Kakek dan AkuImelda Oktavera
Si PintarAnnida Hasan
Si Siro Anak Musik RockExtrix Mangkepriyanto
Siapa yang Bersabar Pasti Akan BeruntungAnnida Hasan
Sikapku Untuk Bangsaku (Part 1)Nurul Fitrah Hafid
Sikapku Untuk Bangsaku (Part 2)Nurul Fitrah Hafid
Sisa HarikuJhaka Sena Putra Jala
Space Time (Perjalanan Ruang dan Waktu)Aliffiandika
StarAry Qmtonk
Story About Me and FriendsNamira Assyifa Prasetio
Stuck dan StagnanYeva Fadhilah Ashari
Suara Bintang Terdengar Hingga ke JepangSigit Pamungkas
Suara Sang KertasHalimatus Sa'adah
Suara SumbangNada Aisyah
Sunset IndrayantiFa Adzkiya
Sweet Seventeen KelabuAmanah D'penzy
SyukurkuUzmilatul Khoiroh
Tak Ada Prediksi Sukses Namun Masih Ada JalanAnisa Catteleya
Tak Ada Yang Berubah Meski Sayap Telah PatahAulia Farhah FA
Tak DisangkaDea firmansyah
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 1)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 2)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 3)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 4)Puspa Allamanda
Tak Seperti Dongeng “Gadis Penjual Korek Api”Selly Miarani
Tak UbahSelmi Fiqhi
Takdir SukriWahyudi Warsaintia
Taman DianPanji Asuhan
Tangan Yang DiatasMultazam
Teater NahkodaRafi Putri
Tekad NayyifFitri Ayu
TemanEdi Warsidi
Tembang KematianMuhammad Adhimas P
TentangTriyana Aidayanthi
Tentangku dan Ratusan OpiniEltio Atsiil
Terima Kasih 10 Tahun LaluHotma Lam Uli Marbun
Terima Kasih SahabatkuRahardian Shandy
Terima KasihkuFarhan Ramadhan
Terimakasih MotivatorkuFitri Melani
Terimakasih RatihWidyadewi Metta
Tetap Semangat Demi Kain KafanArif AlfanZa
Text Me, Please!Annisa Berliana Dewi
The CompetitionPuji Ratnataliasih
The Dark Fire (Part 2) Green Fire Death FireSelmi Fiqhi
The Gift of LoveDwipayana K
The Grondey and The First Experience (Part 2)Selmi Fiqhi
The Journey of LifeYuliyana
The Last Song For MomNadiyah Rahmah
The One to be BlamedS4stika
Tianna Dan Peri Yang DikutukVirtania Altariel
Time to Come a Freedom for PalestinaAghna Asbar
Tong TongDina Az zakie
Tuhan Membawamu KembaliSifandrea
Tujuan Hidup Seorang Gadis KecilAnti Dwi Putri
Tunanetra? Aku Bisa!Silvia Mayningrum
Uang Untuk Operasi IstrikuGaddang Arief
Ujung Jalan SunyiDira W
Untuk SahabatDestini
Untukmu…Firdausi As-Syuja'y
Usaha dan DoakuTuti Febrina Waruwu
Usaha dan Kerja KeraskuAldi Masda
Usaha Membeli LaptopNafa Putri Maharani
Usaha Membuahkan KeberhasilanDevelyne de Meichella
Valerie OliverianaTheresia Okvitawati
Waktuku Tak Menunggu Harapanku, Ibu.. AyahLiya Utari
Wanita KertasLuay Zahirul Ginting
Warna-Warni HujanTiara Purnamasari
Wayang IndonesiaSierra Aulia Shabihah
Weekend Bersama Alam PapandayanRusmiyati Suyuti
When The Caterpillar FlyIfarifah
Why Do We Break Up?Charlly Sermatan
Yang Bukan SegalanyaAsri Nur Aisyah
Yang Istimewa Belum Tentu SempurnaJade Elisa Putri
Yang Kau Pinjam Dari GarudaNadira Mufti
Yang Mengikutiku
Yang Tak Kan TerlupakanAmbiwwa Novita
Yang TerbaikRifqi M Rifai
You Are Inspiration in My LifeSierra Aulia Shabihah
ZawiaFairuz Zakyal 'Ibad


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.166.82.161
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia