Absurdity

Nama gue Abigail. Sebut saja Bi atau Abi atau Abigail. Gue adalah seorang pemimpi yang gak tau kapan harus berhenti bermimpi. Semua orang tau, bumi itu bulat, tidak berujung dan tidak ada titik yang mengakhirinya. Sama seperti mimpi, tidak akan berakhir dan akan terus berputar pada porosnya di dalam otak setiap manusia. Karena mimpi adalah kenyataan yang tertunda, kita hanya perlu mempercayainya.

Nyokap-Bokap gue lagi di Hollywood. Gue hidup dan tumbuh bareng sepupu idiot gue, namanya Faro. Kita berdua tinggal sama Nenek dan Kakek. Faro keluar dari perut tiga hari setelah gue merengek untuk pertama kalinya. Tidak ada yang istimewa dari makhluk pribumi satu ini, dia menyebut dirinya sampah kulit pisang yang di injek terus bikin jatoh. Terlupakan, namun menjebak. Hidupnya terlalu angker untuk diperbincangkan dan di kupas secara tajam setajam silet. Mistis.

Suatu hari di pagi Jumat pada acara Kultum, gue baris di belakang. Di samping kiri gue berdirilah sehelai tulang, setumpuk daging yang di balut kulit berwarna gelap bernama Faro (gak tau nih anak kurus banget). Dia ngajakin gue ngobrol. Gue nolak. Dia ngajakin gue lari-larian keliling lapangan. Pikir deh, orang gila mana yang mau lari-larian saat kayak gini?! Gue nyubit pipi Faro-yang isinya cuma tulang- biar dia gak rewel lagi, dan tangan maut itu menakuti gue…
“Eh, apaan nih?” gue menoleh ke belakang.
“Maju!” mampus, Pak Udin! Gue kaget. Gue shock. Gue panik. Gue berharap gue pingsan saat itu juga!
“MAJU SAYA BILANG!”
“T-tapi, Pak…”
Satu langkah… dua langkah… dan…
“Maaf, Pak, dia cuma…”
Tanpa pikir panjang, Pak Udin menghampiri pemuda dari lokal sebelah itu sambil nyeret-nyeret gue. Nyeret-nyeret gue!
“KAMU JUGA MAJU!”
“Lho, Pak?”
Dan akhirnya beliau menyeret kita berdua sampai lapangan.
“Hormat!” teriak Pak Udin sambil nunjuk matahari. Gue gak tau DJ Danger satu ini punya cs setan spesies apa sampai ngasih hukuman kreatif banget.

Akhirnya, Kultum pun selesai. Tiga puluh menit penyiksaan pun usai. Puji syukur pun berurai. Terimakasih Tuhan, saatnya gue dan si pemuda dari lokal sebelah itu balik ke persemayaman kami masing-masing.
“Eh bego!… bla… bla… bla…” (gue kalo marah udah susah dibedain mana setan mana manusia, jadi dialognya gue sensor biar setannya gak keluar saat kalian lagi baca ini).
“Kapan lagi, Bi? Kan, gak sendirian. Hehehe…” Faro bener-bener gak ada rasa berdosanya sama sekali!
“Ciee Abi…”
“Ciee Bian…”
“Ciee kena hukum…”
Kelas gue bikin rusuh.
“Namanya Bian?” tanya gue yang kagak tau.
“Abi gak apdet nih.”
“Dia kapten basket, fansnya banyak, ada club-nya juga lho,” semua pada nimbrung di meja gue.
“Maksud kalian alien Andromeda yang suka teriak gak jelas kayak monyet, terus kalo nonton pertandingan basket suka ngibas-ngibasin tangan ke udara tapi bulu keteknya keliatan?”
“Kuping mereka dimana-mana lho, Bi.”
“Eh! Lo ngomongin kita, ya?” salah seorang alien menghampiri gue.
“Baru juga gue bilangin,” bisik Tia.
“Kagak,” jawab gue santai ke si ketua alien.
“Boong. Gue denger kok lo ngomong apa.”
“Ngomong apa?”
“Arrgghh…” si ketua alien sudah siap-siap buat makan gue.
Gue heran kenapa anak-anak pada takut sama manusia alay kayak gini. Makhluk-makhluk terabaikan yang gak tau cara sosialisasi, gak tau cara menghargai orang lain, dan gak tau gimana cara nyukur bulu ketek yang benar!

Jam pelajaran pun di mulai, Faro gak ada di kelas. Gue khawatir dia loncatin pagar sekolah, terus lari-larian sendiri seperti dirinyalah artis Bollywood, terus ketemu elang raksasa dari stasiun televisi dengan maskot ikan bersayap, lalu ngebelah atmosfer berlapis-lapis, meluncur bareng elang akrobatis, terus ngebut menuju rasi bintang paliiingg manis… gara-gara gue cerepetin. Akhirnya, pada jam istirahat gue mutusin buat nyari Faro. Namun pencarian gue gagal. Faro hilang! Tasnya juga hilang! Gue panik. Gue… kebelet pup! (yang terakhir lupain aja)

Nyampe di rumah gue ngedor-ngedor pintur kamarnya Faro.
“Beg! Oi, Beg!” maksudnya ‘bego’.
“APA?” Faro membuka pintu kamarnya.
“Lo bolos, ya?”
“APA? GUE GAK DENGER!”
“LO BOLOS, YA?”
“HAH?”
“LEPAS DULU HEADPHONE LO!”
“Eh iya, sorry. Kenapa?”
“Lo bolos?”
“Kagak. Gue pergi seminar, kok.”
“…”

Seidiot-idiotnya Faro, dia tetep sepupu gue. Sebencong-bencongnya Faro, dia masih sepupu gue. Auntie tau, terkadang anaknya bisa hiperaktif, jadi gue di minta ngawasin Faro biar dia gak macem-macem, karena dia bisa gila jika tidak segera dihentikan. Kalo sarafnya bergeser sedikiiit lagi, gila, gila deh tuh anak. Makanya, gue bakalan panik kalo tiba-tiba Faro menghilang dari peredaran. Kalo gak sama temen bencongnya, dia pasti buntutin gue. Jadi kadang kita tuh ibarat lutung, gue badannya, dia ekornya.

Pukul 19.00. Kakek sama Nenek ngajakin kita makan di luar.
“Mau makan dimana, Nek?”
“Di Restoran keluarga, Bi. Ada temen Kakek ingin bertemu. Faro mana?”
“Sudah di mobil sama Pak Momon, Nek.”
Walaupun cuma supir, kita semua udah anggap Pak Momon seperti keluarga sendiri. Orangnya baik dan tulus, kadang juga jadi tempat curhat gue.

Akhirnya kita tiba di Restoran milik Kakek. Seorang pria yang juga kakek-kakek seusia Kakek sudah duduk menanti dan melambaikan tangannya ke arah Kakek yang juga di balas sama Kakek. Memang rumit kehidupan kakek-kakek. Mereka gak bisa teriak lagi kayak anak muda yang biasanya cuma manggil temennya dengan ‘OI’, kayak si Ega, temen bencong seperjuangannya Faro dari lokal sebelah. Itu anak otaknya kepenuhan muatan ya sampai gak bisa ngapalin nama temennya satu-satu? Gue sering heran kalo komplotannya Faro sudah main ke rumah.

“Faro, anterin gue ke toilet buruan!”
“Sendiri gih!”
“Gue takut.”
“Kagak bakalan mati lampu,” tiba-tiba…
PLANGG!!
“Mati lampu, kan?”
PLANGG!!
“Idup lagi, kan?”
“Farooo!!”
“Iya, iya.”
Gue pernah terkunci sendirian di toilet gara-gara pintunya rusak dan gak bisa di buka (ya iyalah gak bisa di buka). Gue panik abis, dan fenomena mati lampu bikin gue makin panik. Gue panik sepanik-paniknya, panik! Gue fobia di tempat gelap.

Pernah suatu malam, mati lampu. Gue mengutuk sendiri sampai Faro hampir ngusir gue dan nyuruh tidur di balkon karena malam itu gue nebeng di kamarnya. Yang matiin lampu seharusnya mengerti bahwa Thomas Alfa Edison menciptakan lampu bukan untuk dimatikan.
“Nek, kita berdua ke toilet dulu, ya?” kita cuma izin sama Nenek soalnya Kakek sudah lari duluan ke dalam Restoran.
“Iya, hati-hati!”
“Sip, Nek!”

Di toilet tetangga, gue nemu orang yang mirip sama kapten basket di sekolah. Sayangnya, keterbeletan (maksudnya kebelet, kalo kebebeletan itu kebahasaannya bener, gak?) gue mengalahkan apapun yang lewat saat itu juga.
“Lo tunggu disini, jangan kemana-mana!”
“Iyaaa…”
Lalu…
“Eh, Ro! Tadi yang duduk disana kakek-kakek, bukan?” gue dan Faro berbisik dari kejauhan.
“Iya, emang kenapa?”
“Kok sekarang gak kakek-kakek lagi, ya?”
“Hah?”
“Tapi kok mirip…”
“Ayo, ah! Gue laper nih!”
Dan ternyata…
“Hai!” itu si kapten basket!
“Lho?” Faro heran.
“Psst… temen lo, ya?” gue berbisik ke telinga Faro.
“Iya.”
“Oh.”
“Eh, sudah-sudah! Ini Bian, cucu temen Kakek,” gue dan Faro cuma diem tampang bego.
“Ah, maaf saya lama,” Kakeknya si Kapten pun muncul.
“Bagaimana? Ketemu handphone-nya?”
“Iya, sudah,” kita yang dari tadi melototin si kapten sekarang melototin Kakeknya.
“Abi, Faro, ayo duduk!”

Gue gak ngerti omongan orang tua, mereka seperti kembali ke zaman hitam-putih, dimana semuanya hanya ada hitam dan putih yang terkadang bercampur dengan abu-abu. Bernostalgia dengan candaan tahun 50-an yang menurut gue gak lucu sama sekali, namun mereka tertawa seperti, “ha-ha-ha… aku tak mengerti maksudmu, tapi itu lucu sekali. Ha-ha-ha…” maklum jika sudah tua, pikun. Kita para Cucu hanya membisu dan membatin, ‘badai pasti berlalu! Kita pasti pulang!’.

Jika hidup gue adalah sebuah FTV dimana gue adalah script writernya, gue akan bikin plot yang sangat sederhana, gue akan bikin… kita semua pulang! Mungkin gue juga akan bikin portal kemana saja-walaupun sampe mampus gak akan bisa. Begini ceritanya.

Saat tengah menikmati makan malam, Kakek Kapten mengalami kecelakaan. Bukan, bukan tabrak lari kayak sinetron-sinetron alay yang sering muncul di tivi yang orangnya cuma kesenggol mobil atau motor dikit tapi darahnya seember. Namun, serangan jantungnya kambuh tiba-tiba, beliau harus dilarikan ke Rumah Sakit terdekat. Sang kapten pun panik. Kakek-Nenek gue panik. Faro ikutan panik karena gak tau mesti ngapain selain ikutan panik dan makin panik karena gak tau, gak tau kenapa dia panik (dan kenapa gue punya sepupu bego banget?!). Gue panik. Intinya…
KITA SEMUA PANIK!

Supirnya Kapten bersiap untuk menuju Rumah Sakit. Kakek-Nenek gue nebeng sama mobilnya Kakek kapten dan nyuruh Pak Momon buat nganterin gue dan Faro pulang karena besok harus sekolah. Script writer berkehendak lain, Kakek-Nenek gak bisa pulang karena harus bantu kapten jagain Kakeknya di Rumah Sakit.

Tapi bagaimanapun juga, Tuhan punya plot-Nya sendiri, Tuhan berkehendak lain. Script writer kalah. Tuhan mengabulkan script gue. Maafkan saya, Kek. Script comes true ini menyakitkan memang.
“Pak, kita jangan pulang dulu, ya? Besok libur, kok.”
“Lho, Neng? Kata Nenek besok kan sekolah.”
“Kita lupa ngasih tau Nenek sama Kakek kalo besok ada acara pagelaran, Pak.”
“Tapi, Mas, saya gak berani. Nanti dimarahi,” kasihan juga kalo Pak Momon gak tidur semalaman karena diomelin Nenek. Gue pernah marahan sama Faro tiga hari tiga malam, tapi kuping gue panas sampe seminggu.
“Ya sudah, Pak. Kita pulang aja,” akhirnya kita pun pulang.
“Hacciihh!” Faro hinggap di depan tivi dengan segelas cokelat panas dan selimut yang melilit tubuhnya.
“Minggir, Cong! One Direction lagi perform tuh!”
“Ha?”
“Bencong minggir!”
“Haccihhhh!! Iyaa…” Faro duduk di sebelah gue dan meletakkan gelasnya yang sudah kosong di atas meja di depan sofa.
“Lo sakit, Ro?”
“Masuk angin kayaknya.”
“Udah minum obat?”
“Udah.”
“Ke kamar gih, tidur!”
Pukk!
‘Ya ampun, berat banget, Ro! Nih tengkorak isinya apa aja?’ gue membatin. Faro sukses bikin pundak gue pegel-pegel semalaman.

Besoknya, pukul 12.00.
“Abi, kamu tidak sekolah?” Nenek baru saja pulang dari Rumah Sakit.
“Maaf, Nek, Abi lupa bilang kalo hari ini ada pagelaran di sekolah. Kakek mana, Nek?”
“Kakek masih di Rumah Sakit sama Bian, tadi Nenek di antar supir Kakeknya ke sini.”
“Hmm…” gue mengangguk pelan.
“Kenapa tidak lihat pegelaran saja kalau begitu? Pasti menarik, kan?”
“Maunya gitu, Nek. Tapi Faro lagi sakit. Ntar siapa yang jagain.”
“Lho, sakit apa? Kemarin masih baik-baik saja.”
“Tadi malam masuk angin, Nek. Sekarang sudah baikan, kok.”
“Syukurlah. Ya sudah, Nenek mau mandi dulu, nanti Nenek ke kamar Faro.”
“Iya, Nek.”

Tidurlah, selamat malam
Lupakan sajalah aku
Mimpilah dalam tidurmu
Bersama bintang

Pukul 20.00. Faro udah tidur. Biasanya jam segini kita lagi dinas malam, keliaran gak jelas mutarin komplek rumah. Tapi gue gak mungkin nawarin masuk angin lagi malam ini, jadi gue nyuruh dia cepet tidur biar gak mewek minta ikut. Akhirnya, gue dinas sendirian.

Malam ini gue cuma mutarin setengah komplek. Bosan menggerogoti otak gue, otak gue nyuruh kaki gue pulang, kaki gue nolak, otak gue nyari akal, akhirnya gue hang. Gue lowbatt. Gue panik. Gue mendongak ke atas, gue tersenyum memandang langit dan berucap, ‘hitam. Gelap. Ya. Gelap.’ Kalian pasti bertanya-tanya kenapa gue gak takut padahal gelap (jangan bodoh untuk nanya sama rumput yang bergoyang, mereka gak akan menjawab sampe kepala botak sekalipun). Itu karena gue cuma takut sama mati lampu. Gelapnya beda.

Saat organ-organ tubuh gue mulai stabil. Gue mutusin buat pulang.
Esok harinya, gue berangkat ke sekolah tanpa Faro, katanya naggung, HARPITNAS.
“Nanggung, Bi, Hari Terjepit Nasional. Kemaren Jumat libur, sekarang Sabtu, besoknya Minggu libur lagi.”
“Ya sudah. Nenek sama Kakek lagi gak di rumah, lo jangan macem-macem ya? Jangan sampe pemadam kebakaran lo panggil lagi ke rumah,” dulu Faro pernah gue tinggal sendirian di rumah. Dia sok-sok-an pengen nyoba delivery Pizza, eh, tau-taunya yang dateng malah pemadam kebakaran.
“Iya, gak akan. Gue pasti cek nomornya lagi kalo mau nelpon.”
Dan berangkatlah gue hingga akhirnya tiba di sekolah.
“Bi! Faro mana?” Ega dari lokal sebelah menghampiri gue.
“Kenapa sih? Gue baru dateng malah nanyain Faro. Nanyain gue, kek, udah bikin PR apa belum, kek.”
“Hmm… lo udah bikin PR?”
“Belum.”
“Ya sudah, Bi. Ada yang gawat nih!”
“Apaan? Apaan?”
“Sore ini kan ada Pentas Seni di Aula. Band gue sudah daftar sama OSIS, nah masalahnya tadi sepupu lo sms gue, katanya dia gak sekolah hari ini. Gue pikir dia bercanda, makanya gue nanya sama lo.”
“Lho? Dia gak bilang apa-apa sama gue soal band kalian. Lupa kali. Udahlah, cuma seorang Faro aja ribut. Paling dia cuma bisa mainin gitar C A minor D minor doang.”
“Bukan gitu, Bi…”
“Cari gantinya aja sana. Faro gak akan dateng. Emang dia jadi apa sih?”
“Vokalis.”
“Ha? Apa? What?” gue gak percaya makhluk luar angkasa luar biasa kayak Faro bisa nyanyi. Ada dua faktor yang mungkin bikin Faro males cerita sama gue soal bandnya. Pertama, dia orangnya kalem dan gak suka koar-koar kayak gue. Kedua, dia takut gue sebut bencong walaupun gak ada hubungannya sama sekali.
“Iya, Bi. Vo-ka-lis!”
“Ga! Gimana nih? Nomornya Faro gak bisa dihubungi,” Boer (classmate Ega) memanggil Ega dari pintu kelasnya yang hanya berjarak sekitar dua meter dari posisi gue dan Ega di depan kelas gue. Perihal Boer, gue pernah mengalami hal idiot yang masih gue inget sampai sekarang.

Dulu, pada suatu hari gue sama Faro pergi ke kantor guru buat nganterin tugas bikin komik Bahasa Inggris. Di atas meja Ma’am itu, gue melihat selembar kertas HVS yang di pojok kanannya bertuliskan seperti ini:
Muhammad Ayyub
Muhammad Aulia Rahman
Azri Boer
‘Itu adalah komik milik Ega dan Boer, tapi yang satu lagi siapa?’ pikir gue.
“Eh, Ro, Ro! Ini Muhammad Ayyub kan Ega,” gue pernah nanya sama Ega kenapa dia di panggil begitu padahal namanya Ayyub. Coba perhatikan! Tidak ada E dimanapun dan A hanya ada di awal kata. Dan entahlah, dia pun tidak tau mengapa demikian, katanya, “gue juga gak tau, Bi. Gue gak tau kenapa di panggil Ega. Aneh banget, ya?” miris banget, Ga!
“terus Azri Boer itu Boer. Yang satu lagi ini siapa?”
“Mana?”
“Ini, yang kedua,” gue nunjuk tulisan Muhammad Aulia Rahman di kertas itu.
“Bego lo, Bi.”
“Kok gitu?”
“Itu cuma dua orang, geblek! Muhammad Ayyub sama Muhammad Aulia Rahman Azri Boer!”
“Jadi Muhammad Aulia Rahman itu nyatu sama Azri Boer?” gue prihatin gimana nanti dia ngisi LJUN atau ujian semacamnya, orang udah buka soal, dia masih sibuk ngebuletin nama.
“Iya. Ah, lo…”
“Abis tulisannya gede banget kayak menara SISPALA-Siswa Pecinta Alam-. Mana gue tau kalo sebenernya cuma dua orang. Tegak bersambung pula. Tulisan siapa sih ini?“
“Ega tuh. Hapal banget gue.”

Oke! Balik ke topik awal! Gue tau pagi-pagi gini HP-nya Faro gak bakalan aktif, dia make HP buat survive semalaman dan akan men-charge-nya kalo sudah bangun pagi hari gini.
“Bi, lo mau nolongin kita, gak?”
“Nolongin apa?”
“Plis, lo gantiin Faro, ya?”
“Lo nyuruh gue nyanyi?”
“Iya, Bi. Mau, ya? Faro pernah cerita kok soal lo yang jadi bathroom singer. Kualitas suara lo pasti gak bakalan jauh beda sama dia. Ya?”
“A-…?!”
“Jangan marah dulu, Bi. Tahan dulu sampe jam empat,” gue kasih tau, sekarang masih pukul 07.20 dan acara Pensi dimulai pukul 15.30. Band Faro akan tampil kira-kira sekitar pukul 16.00.
Usai sekolah, pukul 13.30-jam pulang dipercepat karena ada acara Pensi. Ega dan Boer ngajak gue ke studio di sekolah buat latihan sebelum tampil di acara Pensi tersebut.
“Lagunya apa?”
“Payphone-nya Maroon5, Bi,” Ega-Boer sudah ambil posisi masing-masing. Ega pada gitar dan Boer pada bass. Tapi masih ada yang kurang…
“Drumernya siapa?”
“Bian, Bi. Bentar lagi dateng, kok, kita latihan duluan aja.”
“Kapten basket bisa nge-band juga?”
“Ciee Bian.”
“Ciee Echa. Ahahaha…”
“Ciee kapten basket.”
“Ciee kapten kelas.”
Echa, ketua kelas gue yang gak tau bener apa enggaknya lagi deket sama Ega. Ada yang bilang kalo mereka pasangan maho.
“Abi! Ega! Udahan cie-cie-nya, ribut! Mau latihan apa enggak?!”
Dan seketika musik memainkan perannya dengan indah. Gue, ambil peran selanjutnya.

I’m at a payphone trying to call home
All of my change I spent on you
Where have the times gone
Baby it’s all wrong
Where are the plans we made for two?

“Sorry, gue telat! Ups…” dan Bian menghancurkan lirik gue.
“Oh, kata Boer yang gantiin Faro, Abi ya? Makasih, ya? Hehehe…” Bian tersenyum.
“Iya, sama-sama,” gue membalas senyum Bian.
“Dua jam lagi! Dua jam lagi! Plis, stay focus!” Boer seolah menjadi manejer band. Menyuruh ini dan itu, seakan dialah Mamanya band. Mama…

Yeah, I, I know it’s hard to remember
The people we used to be
It’s even harder to picture
Suara drum memelan hingga tak terdengar lagi. Ada apa? Gue tetap bernyanyi.

That you’re not here next to me
You say it’s too late to make it
But is it too late to try?
Suara gitar memelan hingga tak terdengar lagi. Merasa heran, ‘mengapa drum terdiam?’ mungkin begitu pikirnya. Gue masih bernyanyi.

And in our time that you wasted
All of our bridges burned down…
Suara bass memelan hingga tak terdengar lagi. Merasa heran, ‘mengapa drum dan gitar terdiam?’ mungkin begitu pikirnya. Gue tak berhenti bernyanyi.

“I’ve wasted my nights…” gue diam. Gue hening. Gue melempar pandangan heran kepada mereka bertiga. Ada apa? Bian, Ega, dan Boer saling berbagi senyum dan berpandangan licik satu sama lain. Ada apa?
“Kita lanjut lagi, Bi!” teriak Bian dan tersenyum lagi.
“Ya!” gue mengerti. Gue semangat untuk ini. Kita semua tersenyum. Tersenyum untuk satu tujuan. Satu harapan. Sebuah cerita anak muda dan mimpi di hari esok, nanti, dan seterusnya.

Pukul 16.00. Well, ini gak mudah. Ini pertama kali gue manggung dengan sebuah komplotan bernama ‘band’. Gue ngerasa keren.
“Gue merinding nih. Maaf ya kalo kita gak menang?”
“Gapapa, Bi. Lo mau gantiin si bego Faro aja kita udah syukur banget. Hehehe…”
Waktu berjalan seperti fastmotion. Jantung gue berdetak terasa begitu mengerikan. Orang-orang yang berkeliaran itu seolah berlalu dalam kegelisahan menanti giliran. Keringat gue bercucuran. Gue pengen pipis, tapi gak sempat ke toilet karena MC sudah memanggil nama band kami. This Is Us!

Musik-musik dimainkan. Awal yang bagus, gue menyanyikannya dengan sukses. Namun…
PLAANG!! PLANGG!!
Guess what?! Tepat sekali, mati lampu! Pliss, siapapun keluarin gue dari kegelapan terkutuk ini!
Gue takut.
Tolongin gue, Faro! Gue diam. Menutup mata serapat mungkin. Dan…
PLAANGG!

If happy ever after did exist
I would still be holding you like this
Suara. Tangan. Tulang. Kurus. Faro? Faro! Gue masih merem, gak sanggup liat. Tangan itu kemudian merangkul gue dan berbisik, “hey, sist, what’s up?!” dia tersenyum, gue melihat itu, lalu mengangkat mikrofon yang gue pegang menuju dekat mulut. Musik kembali mengalir bahagia. Kita akan duel! Eh, duet!
Semua penonton ikut bernyanyi sambil mengelu-elukan nama Faro.
“FAROOO!! FAROO!!” gue gak nyangka si ceking punya banyak fans juga.
Dan mereka bernyanyi, “ALL THOSE FAIRYTALES ARE FULL OF SH*T… ONE MORE STUPID LOVE SONG I”LL BE SICK…”
Now I’m at a payphone…

Pada akhirnya, kita hanya terpilih sebagai Band Terfavorit. Walaupun gak menang, namun sebetulnya kita semua sudah terlahir sebagai pemenang. Kita adalah pemenang. Kita semua pemenang. Hidup adalah cara yang diberikan Tuhan kepada kita untuk menjalani peran tersebut. Hati kita akan menentukan jalan mana yang akan kita tempuh. Kita melangkah untuk suatu mimpi besar, bukan berhenti untuk sebuah kegagalan, namun memulai untuk akhir yang lebih indah.

Faro ngaku kalo dia ngerjain gue dan tiga temennya dengan alasan gak datang ke sekolah hari ini. Dia yakin mereka akan ngajak gue nge-band (berdasarkan teori ‘insting Faro selalu benar’). Faro tau gue gak pernah bener-bener nunjukin, ‘siapa sih gue sebenernya?’ dan sekarang dia buktiin ke gue kalo setiap orang punya kesempatan untuk berada di atas sini.

“Gue juga pengen punya konser tunggal di depan 10 juta orang kayak gitu, Ro,” sambil nunjuk tivi yang lagi nayangin acara konser boyband Korea yang gue lupa namanya.
“Suatu hari, Bi. Suatu hari!”
“Gue gak yakin, Ro.”
“Pasti bisa, Bi. Setiap orang yang bermimpi pasti punya kesempatan untuk berada di atas sana.”

Faro berhasil membenarkan teorinya kepada gue, bahwa mimpi itu adalah kenyataan yang tertunda. Kita hanya perlu mempercayainya.

- END -

..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDULKARYA
(Serigala Putih) Daun Dari AnginRenaisan Salman
1 Cinta di Antara 3 PilihanOctavia Anizar
2,5 Persen SajaDidin Syamsudin
3 Tahun, 3 Cerita, Kau Tetap Perempuan Istimewa VersikuAkri Midwife Stalker
5 TahunChristian Boham
Abdiku Untukmu Keluarga KecilkuRizky Dwi Utami
Abdiku Untukmu, IbuDestia Eka Putri
AbsurdityNadila Aprilianda
Acara Festival Yang Tak TerlupakanRahman Ditisiyah
ActFor (Anti Conspiration Force)Mamat Fiction
Ada Apa Dengan Sikap AyahHerlina
Ada Teman di Balik PelangiSenja Nilasari
Akibat Jajan SembaranganAdinta Asfiratun Husna
Akibat ParzinahanNeni Indriani
Aksara Tak BisuOan Wutun
Aku Adalah AkuGraciella Eunike Satriyo
Aku Bisa Sendiri!Namira Assyifa Prasetio
Aku Bukan Gadis Menjijikan!Zee Choco
Aku Bukanlah SegalanyaNita Durotul Husna
Aku dan OrganisasikuErvina
Aku Dia Tak SamaRully Prameisti Audhina
Aku Harus BerusahaNenda Wulandari
Aku Ibu dan PianoAntonia Luisa
Aku Juga WanitaKang Zaen
Aku Sebutir PasirSelmi Fiqhi
Aku Tidak Berasal dari Buah yang Bagus, Tapi Pasti Akan Menjadi Buah yang BergunaKinanti Tiara Dewi
Aku Tidak Punya TemanRossa Kurnia Sasongko
Aku, Pilihanku, Serta Pejuang Berbaju Coklat KecilkuJoko Susilo
AlhamdulillahAtikah
Allah SWT Memang Maha AdilNurannisa Widiawati
Angklung and The TwinsSalsabila Putri Rulia
Antara Aku, Tukang Cukur dan TuhanWahyu Tio
Artca Penyelamat BudayaResty Gessya Arianty
Arti SahabatPurnawan
Arti Sebuah KehidupanTyaz Hastishita
AyahRiza Fahriza
Ayah kami bukan kriminalRifky Adni
Ayah, Aku Bangga Padamu! Catatan Putra Seorang KoruptorMisteradli
Bagaikan Pelangi Setelah HujanNuril Agri Famela
Bahagia Hidup PesantrenPraditiyo Ikhram
Balai HujanAl iz Kusuma
BangkitAlfred Pandie
BapakBanyu Ozora
Bawalah Terbang Ikan IniAris Rizka Fauzi
Belajar Untuk Lebih BersyukurPatra
Beliau Itu IbukuPutri Setiowati
Bella si Mak ComblangNita Setiawan
Benarkah Kak?Siti Muyasaroh
Berantem Sama Teman Waktu SDShandi Dwipermana
Berbagai Rintangan Menuju SekolahAldi Rahman Untoro
Berbahagialah!Fitri Oktavia Annaja
Berbuat Sesuatu Untuk MimpiSiti Nurjanah Septiani
BerjuanglahIevfa
Berkat Gunung MerapiAliyah Revitaningrum
Berkat Lori Aku Bisa Sekolah LagiAyu Soesman
Berkat TaugeDesi Melati
Bermain MonopoliDeviance Ramadhana Saragih Sitio
Bersahabat Bermodal Kebijakan dan Takdir TuhanVeren Chandra
Bersamamu Ku Gantungkan MimpikuAde Zetri Rahman
Best of The Best My Best FriendMuhammad Nuh Nurkholid
BianglalaYeni Ayu Wulandari
Bidadari Kecil, SaghirahMuallim
Bintang BenderangNi Made Eva Yuliantari
Bintang LapanganAmbarnia
Bolehkah Aku Membenci Ayah?Abdul Rahman Sinaga
Buah KesabaranIbnu Rafif
Bukan Punguk Yang Merindukan RembulanAya Emsa
Bukti KecantikanFariska Hurun In
C3 (Cinta Chandra dan Citra)Yuliatul Mawaddah
Cahaya Untuk IchaAulia Farhah FA
Cangkir Tindih Merah PutihDian Faiqotul Hikmah
CantikDina Istiqomah
Cause of My Parent’s LieJoe Fatrah
CCCCC (Cinta Cenat Cenut Cemungudth Celamanya)Listya Adinugroho
Cerita Kakek HanifEdi Warsidi
Cewek itu LianiRizka Aprilliani
CintaImelda Oktavera
Cinta MonyetTala Nour
Cinta Nggak BisuUpik Junianti
Cinta RayaKarina Dwi Latri Juliani
Cinta Tapi BedaAthe Celiona
Cinta, Cita dan KitaFariska Hurun In
Cintaku Kini Telah PergiRandi Pratama
Cintaku Setahun JagungRamlis Harman Susanto
Cita-Cita AshleyAnastacia Esterliana
Cita-Cita Sang BonekaFinsa Permatasari
Cukuplah Allah Bagiku maka Cukuplah AkuNira Nurani Teresna Dewi
Dad Is My HeroEster Chaterine Sara
Daddy O DaddyPebri Pele
Dance it’s my LifeKarina Dwi Latri Juliani
DeadlineCynthia Lantriana
Demi BoybandMuhammad Sulaiman
Demi Hari yang Menanti di Ujung HarapanAhmad Hafizin
Demi IbuFadillah Amalia
Demi Idola TercintaAnis Puspita Sari
Demi MasaRirin Nurpi Herwanti
Deret Tinta Untuk NegeriIlma Ainunisa
Desainer MudaFadillah Amalia
Detektif KacaMuhammad Septian Rachmandika
Di Balik Sebuah PayungHesty Juwita Sari
Di Hatiku Ada NamamuAnitrie Madyasari
Di Seberang Padang Rumput IlalangLoli Asmara dewi
Dia Adalah SorbonneRail Rahardian
Dia Bisa, Mengapa Aku Tidak?Hana Sausan
Dia IbukuNeneng Lestari
Dia SemangatkuDina Aulia
Dia.. BintangkuDebi Zahirah Hariwijaya
Diantara Mahasiswa dan DosenNita Setiawan
Diary Ana 1Aghna Asbar
Diary Sahabatku DindaGaluh Ayu
Diary Untuk LangitErika Andini
Dibalik Duka ku ada Duka yang lainZakia She Azhura
Dibalik Senyum TulusmuSofia Octaviana
Dik AnahMuhammad Sofyan Arif
Dirindu DinginnyaAna Marieza Widiawati
Disiplin Itu Penting Untuk KehidupanNovita Indriyani
Ditooo… Apa Lagi (Part 1)Axas
Ditooo… Apa Lagi (Part 2)Axas
Ditooo… Apa Lagi (Part 3)Axas
Don’t Judge The Book by The CoverRahmi (Adhe Amii)
Dua Doa Satu CintaNina Noichil
Dunia Baru dalam Kertas LipatEka Ferdianti
Emak, Gue Jadi Artis!Aisyah Hudabiyah
EvanityFirman Nuryadi
FakirBergman Siahaan
Festival Musik dan idolaFadel Mochammad Ibrahim
Filosofi HatiRuri Alifia R
Gadis Berjilbab PilihanChoirul Imroatin
Gadis di Kaki Bukit ProloYeni Ayu Wulandari
Gadis TompelDwi Putri Fw
Gang SetanHotma Lam Uli Marbun
Ganti Kacamata, Gessss!Icetea
Gengsi itu Sama Dengan MiskinImam Prayugo
Get SpiritEcha Nurrizqi
Gifts For GladysNamira Assyifa Prasetio
Gila RamalanOcta Rina
Gitar Tua JokoSeptian Joko Sulistyo
GubukRika Alif Firda
Gulali ChacaTifa Raisandra
Guruku dan BungakuRahmi (Adhe Amii)
HadiahMuggi S Prasetyo
Hadiah dari KakekDwiyanto S
Hadiah Kecil untuk ShyrenaPuspita Sandra Dewi
Hal Yang Membuat Kita BerbedaArif Nurhidayat
HampaAfra Zahirah
Hanya ini Yang Ku PunyaWahyudi Warsaintia
HarapanSeya Zunya Uchiwa
Harapan BaruMuhammad Toriq
Hari KartiniMugito Guido
Hari Terakhir Untuk SalmaAya Lukluk
Harus Kuat Sebagai UlatHeru Prasetyo
Hidup Berawal dari MimpiJaja Nurjaman
Hidupku Tak Sepahit Jamu IbukuChoirul Imroatin
Hikmah Dalam HidupkuSintiya Nuri
Hinaanmu Jadikan Motivasi UntukkuSari Sustianto
Hitam Putih PergaulanAulia Farhah FA
Hujan Dalam Satu HarapanAkmal Farid
Hujan PertamaYudik Wergiyanto
Hukuman yang Tak AdilHidayatulloh Handoyo
Hutang Tingkat DewaWayan Widiastama
I Can’t Take it AnymoreLyna Audiena Wijayanti
I Heart YouRusyda Andini
I Love Mom and DadReyhana Amalia
I’m is Reporter (Part 1)Dziky Iskandar
I’m Sure, I Can Do It!Elfina Astin
IbuNadia Safarah
Ibuku Arti SahabatkuMutiara Devit Merlinda
Identitas GulaRizqi Ardiansyah Tindaon
Ifa Yang di Dunia Maya Bukan Ifa Yang SebenarnyaMuhammad Rafid Nadhif Rizqullah
Ikatan TerkuatkuApp
Ilalang dan Rumah Laba LabaChoirul Imroatin
ImpianQisthi Zulfa
Impian Anak KampungJohan Syah
Impian Anak PemulungGleam Pratama
Impian Angsa KecilLina Purniawati
Impian Hati menjadi HabibieDiyah Ayu Rahmatika
Impian KayraSharifa Hasna Mahira
In My LifeMasita Rais
In O2SN SemarangLena Sutanti
Indahnya KebersamaanAlfan Fadilah
Ini Berlian… Bukan SampahFadillah Amalia
Inilah Saat yang Kami TungguSlamet Samsoerizal
Inner BeautyGiselle Iona Rachel Tuelah
Inspirasi Dalam GelapAffiantara Marsha Yafenka
Inspirasiku Lewat MusikAan
It’s My PassionSadryna Evanalia
Jalan HidupkuNur Isna Aulya
Jangan Ikut-ikutanLalia Oktiarisqa
Jangan Marah Dong PutriNizahsy Lubis
Jangan MenyerahAuliya Fatimah Nur
Jatuh 7 KaliHernita Sari Pratiwi
Jejak TerakhirMuhammad Septian Rachmandika
Jejak-Jejak Keajaiban MimpiAbdus Salim
Jemari Tuhan Telah MerangkulnyaRahimah Permata Sari
Jilbab dari SahabatkuAnita Avianti
Jiwa Pramuka YudiYulian Rahma
Jl. Flamboyan No. 9Dicky Cahyo
Joni dan Galah IstimewaMuhammad Labib Naufaldi
Just Carry OnWilliam Kamarullah
Kado Terbaik Untukku DariNyaBondan Ratnasari
Kakakku TersayangAngel Lika. S.
Kami Tak BerwajahAhmad Alkadri
Kapsul Cita-CitaNatasha Cynthia
Karena Aku Atau Pencak Silat?Dealya Adira
Karena di Atas Langit Masih Ada LangitAdinta Asfiratun Husna
Karena kau, Sahabat!Tutut Setyorinie
Kaset PenyemangatSalsabila Prameswari
Kau Tetap SahabatkuJuwita Palvin
Ke Rumah PresidenMiga Imaniyati
Keajaiban Saat PesimisReimut
Kebahagiaan Kita SemuaGaluh Rengganis Nugrahaini
Keberanian NadhiaMurni Oktarina
Kebohongan Yang IndahRosmania Robbi C
Kecurigaan DeandraRegita Aryaputri Lesmana
Kedamaian DuniaFadillah Amalia
Keikhlasan Hati AmirManda Ms
Keluarga itu, Keluarga BaitiSlamet Mulyani
Keluargaku MotivasikuM. Hasan Basri
Kematian Tanpa SesalAnteng Maya Surawi
Kembalinya Seorang AktivisMagvirasari Lestari Linra
Kenangan Emak TikHendrawan Ardiansyah
Kenapa Harus AkuYoshe Azura
Kesabaran Dan Perjuangan PutriMega Ayuna Rizki
Kesatria Dari Ujung DesaMuhammad Suhendar
Kesederhanaan Sebuah Cita-CitaDiana Margareta
KesedihankuFairuz Zakyal 'Ibad
Kesuksesan Tuhan Yang AturJhumar Masadian
Keteguhan HatiSyamkhan Habibi
Ketika Hancur Hati IbuRosmania Robbi Chatun
Kisah Cintaku Yang PertamaAgus Purnamasari
Kolak Pelangi dan Sholat DhuhaFarhan Ramadhan
KolaseZainuddin Muza
Kopi PendingFinlan Adhitya Aldan
Kotak Cinta Untuk IbuChoirul Imroatin
Kotak ImpianM Yusuf
Kristal BeningUlfa Nurul Hidayah
Ku Kayuh Ribuan MimpiSriami Wulandari
Kuihat Lirihan SuaraHenydria
Kupu Kupu MalamHari N. M
Kupu-Kupu di Dalam HujanSelmi Fiqhi
Kura-kura dan KudaSiti Ainun Pratiwi Indra
Kutukan PurnamaKachonk Rofiqz
Langit ituAzzam Azizah Fiqli
Lantunan Sendu Melodi BiolakuRiska Putri Meiyana
Lara Prihatini Si Gadis PrihatinDona Ariani
Laron Juga Ingin PacaranShalahuddin
Layangan BumiAnnisa Mauliddina
Lebih Dari SatpamRized Wiasma
Lelaki Paruh Baya di Sekolah TuaNilma Yuliza
Lelaki Tua yang Merindukan BintangAdri Wahyono
Lelucon TakdirIfarifah
Lembaran Kertas HijauHaryanti
Lentera Tak BerujungSintyawati
Lidah DoniWilly Sitompul
Lihat Semangat KamiAndi
Lili (Menjadi Diri Sendiri)Okty Imagine
Lilin HarapanAmalia Septiani Radiva
Lintang KemukusYosi Prastiwi
Lobang Hidung LohiWilly Sitompul
Loper CilikNurvita Rachmadania Winanti
LorongAditya Prana Iswara
Lorong GelapPatrick Hariadi
Love In BostonDian Setianingsih
Ludah Untuk Si CerminHari Arianto
Luka Tak BerdarahZ.Hilmiah
Makna di Hari Raya Idul FitriGaluh Rengganis Nugrahaini
Malaikat Pun Menangis AyahDiandra Aini
Mama dan AkuRani Putri
Manusia-Manusia TrotoarMuhammad Edgar Hamas
Markonah dan Uang Lima RibuanWilly Sitompul
Masa Depan Anak Seorang PemulungWahyu Rizky Ramadhan
Matahari pun Tak BosanDanil Gusrianto
MataharikuAsri Nur Aisyah
Matematika is My LifeVindasya Almeira
Matematika? Siapa Takut!Fitri Rosadela
Mati Dalam Angan (Part 1)Affiantara Marsha Yafenka
Mati Dalam Angan (Part 2)Affiantara Marsha Yafenka
Mawar Terakhir Dari BundaDevi Upi Lestari
May Day (Perjuangan Tanpa Akhir)Wahyudi Warsaintia
Mbah MinRiza Fahriza
Melawan Rasa TakutMiftahul Farhani Isty
Menanam Seribu PohonVindasya Almeira
Menanti LaraR. Ayu Chairunnisya
Menebus MimpiNayudin Hanif
Menggenggam ImpianUmmie Sakdiah Babers
Menghitung HariAyu Sari Listianda
Menjadi Yang KuinginkanNurdiyansah
Menjaring MatahariLedy Triananda
Menjelang Ujian Tengah SemesterRifky Adni
Menyesal TanpamuNona Nada Damanik
Merdeka Atau Tidak Sama SekaliRiky Fernandes
Mereka Bilang Aku Gila (Part 1)Wulan Puspa Indah
Mereka Bilang Aku Gila (Part 2)Wulan Puspa Indah
Mesin Pemahat MimpiAjeng Laksmi
Meski Tanpa AyahKharisma Titah Utami
Metamorfosa Malaikat Tanpa SayapAmbiwwa Novita
Milikku Milikmu Milik KitaListya Adinugroho
MimpiFarah Fakhirah
Mimpi Secarik KertasUlfah Heroekadeyo
Mimpi Si Anak KambingNurhikmah Hakiki
Mimpi untuk DuniaNurul Ramadhaniah
Miracle Of Giving FoolKinanti Tiara Dewi
Miskin “Bermanfaat” Kaya “Bermartabat”Fajar Rofinanda
Miss Culun Menjadi Miss BeautyAdhenna Zakia A
Miss Eum nya Tak Mau Neneng FotoAde Qisti
Misteri Gadis Kecil di Rumah KosongPingkan Aulia Samara
Move OnSiska Pratiwi
Mrs. PerfectNova Seflylya
Mutiara HatiSilmi Kaffah
Mutiara Tanpa CelaFaddilatusolikah
My Book DiaryOldheva Genisa
My Dream Comes TrueBadriyah
My Freaks HolidayUrai Benny Novriady
My Heart For The ChildrenWidya Laksari Sastri
My Life Without SoundChick-A-Dee
My Love is REAL!App
My MistakesFilla Giani
My PromiseAch. Arya Muhammad
Nasihat AyahMusrinah
Nay, Sang TerataiAya Emsa
Nenek ku PahlawankuAhmat Rasyid
Nenek Tua di Sisi KotaTutut Setyorinie
Nyanyian Pagi di VictoriaRan Azlaff
Obat Alami LayilaNaila Izzati Mushafa
One By OneMuhyiddin El Febiens
One Day To RememberDjunita
Padamu Wanita IndonesiaAnnisa Yuni Thorika
Pagelaran TerakhirBolok Sitompul
Pahlawan KecilkuErna Hidayanti
Pahlawan SenjaAstrid Septiani Wulandari
Pandangan MayaFitri Nur Faizah
Panggil Aku Pahlawan PenghianatImron Supriyadi
Pantang MenyerahKhoirul Umam
Pedang KehidupanGede Agus Andika Sani
Pelangi Sesudah HujanRahimatus Sania
Peleburan RasaYeni Ayu Wulandari
Pelita Hati yang KerontangKhoirur Rozikin
Pelita HidupkuSuci Lestari
PembuktianTriyana Aidayanthi
PenalunaAnne Widy
PengabdiankuAnnisa Mega
Pengamen JalananErni Ristyanti
Penggemar RahasiaMuhammad Rafid Nadhif Rizqullah
Pengorbanan Cinta SejatiIrene Lie
Penyair dan MusisiDhika Zakaria
PenyesalanJuanti
Penyesalan TerdalamAndias Putri
Penyesalan TerlambatLaila Insyafah
Perbedaan Itu Mampu Menembus Dunia KelamkuBestiani Mustikaningsih
Perbedaan Jadi Tidak BerartiSri Siswati Tahir
Perjuangan Agar Bisa Menghafal PantunGiselle Iona Rachel Tuelah
Perjuangan Hidupku Dalam Menuntut IlmuSupardin
Perjuangan IbuUlfa Nurul Hidayah
Perjuangan RevitaMila Dita Khotimah
Perjuangan Tanpa Pandang BuluSekar Arum Purbarani
Perpisahan AkhirGea Septa
Persahabatan Chintya dan SiscaAbdullah
Persahabatan yang AbadiAnnisa Berliana Dewi
Persembahan Buat Mama (Part 2)Rita Lestari
Persiapkan DirimuAgus Purnamasari
Pertemuan 5 SahabatIsnaifa
Perubah Hidup Pemulung CilikErdin Suharyadi
Pesan Yang KurangNika lusiyana
Pesawat KertasPutri Novitasari
Pianis PesimisDandi Tri Dirgantara
Pirate KingDini Aprilia Purnamasari
PlatinumTara Rahendya Elfrida
Pohon Mangga Mbah KartoRoni Istianto
Pompom Girls Cheerleaders TeamSyahla Varelya Threonizzahra
Positif KecanduanAna Rifqi Jamil
Pribadi Lebih BaikFadillah Amalia
Pulau HamilSiswari
Putri Bulan dan Dewa LautRibka Sepatia
Rahasia Bintang KelasAldi Rahman Untoro
Rahasia Sebuah PeristiwaAhmad Ghulam Azkiya
Rembulan di Kolong LangitNurlaela A. Awalimah
Rencana Allah Pasti IndahArif Syahertian
RenungkanAlfred Pandie
Rintihan LidahSelmi Fiqhi
Roh Penunggu HutanRendy Mahendra
Romansa KehancuranRiky Fernandes
Saat Nisa Mengatakan BisaNur Faisah
Sacrifice of LoveSalsa Hanifa
Sahabat SejatiSarah Aprilia Andini
Sahabat Yang PertamaGiselle Iona Rachel Tuelah
Sajadah Buat EmakR. Marena
Saksi Bisu Pengorbanan GuruChick-A-Dee
Salah SiapaNi Made Eva Yuliantari
Sandiwara CintaAhmad Azwar Avisin Alhaidar
Satirung PesegYuni Maulina
Say No To DrugsCindy Amanda N
Say Nothing Of Sorry and LoveSherly Yulvickhe Sompa
Sebuah AsaSimah Ayu Lestari
Sebuah Jawaban diujung JurangBryan Adams
Sebuah Karma di 2017Kariza Rai Shafira
Sebuah Nama, Sebuah MisteriGatut Putra
Secret (Rahasia)Alif Kurniawan
SedekAH membawa berkAH untuk semuanyAH…. AH… AH… AHAgung Yansusan
Seekor Makhluk Sebuah DesaGuido Gusthi Abadi
Sehari Sebagai PatriotYustina Rena Oktaviana
Sekuntum Bunga KambojaMila Karlina
Selalu Ada JalanYudha Purwanda Azis
Selamat Jalan SahabatNursyamsi Syam
Semangat Juang Anak CacatWahyu Rizky Ramadhan
Semangat Pagi GurukuNurhikmah Hakiki
Semangat RanikaSelviana
Semangat Yang Tak TerkalahkanMuhammad Jaenal
Semua Akan Indah Pada WaktunyaSultan Oka
Semua Karena KauRirih Rakati Rigarimas
Semua Kerena-NyaAnitrie Madyasari
Semua Untuk AyahVivi Alviani
Semut Yang Pindah RumahDevi Yulia Rahmi
Senandung Indah Untuk TiaraRienz Gladies
Senja dan Catatan Tentang KitaYeni Ayu Wulandari
Senja di Tepi PantaiYuli setiawati
Senja Dipadang IlalangDamayanti Childiesh
Senyuman di Langit AwanggaDwi Surya Ariyadi
Sepasang Teratai MudaPuspita Sandra Dewi
Sepeda Kenangan Dari AyahGisca Ulfa Afiatika
Sepeda KumbangDeska Apriadi
Sepenggal LorosaePrabu Awang
Setangkai Bunga di Tebing GunungNuril Agri Famela
Seuntai Kalung Mutiara FatimahNamira Assyifa Prasetio
Si DogolMuhamad Rafael
Si Gadis KecilIndri Triyas Merliana
Si Kakek dan AkuImelda Oktavera
Si PintarAnnida Hasan
Si Siro Anak Musik RockExtrix Mangkepriyanto
Siapa yang Bersabar Pasti Akan BeruntungAnnida Hasan
Sikapku Untuk Bangsaku (Part 1)Nurul Fitrah Hafid
Sikapku Untuk Bangsaku (Part 2)Nurul Fitrah Hafid
Sisa HarikuJhaka Sena Putra Jala
Space Time (Perjalanan Ruang dan Waktu)Aliffiandika
StarAry Qmtonk
Story About Me and FriendsNamira Assyifa Prasetio
Stuck dan StagnanYeva Fadhilah Ashari
Suara Bintang Terdengar Hingga ke JepangSigit Pamungkas
Suara Sang KertasHalimatus Sa'adah
Suara SumbangNada Aisyah
Sunset IndrayantiFa Adzkiya
Sweet Seventeen KelabuAmanah D'penzy
SyukurkuUzmilatul Khoiroh
Tak Ada Prediksi Sukses Namun Masih Ada JalanAnisa Catteleya
Tak Ada Yang Berubah Meski Sayap Telah PatahAulia Farhah FA
Tak DisangkaDea firmansyah
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 1)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 2)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 3)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 4)Puspa Allamanda
Tak Seperti Dongeng “Gadis Penjual Korek Api”Selly Miarani
Tak UbahSelmi Fiqhi
Takdir SukriWahyudi Warsaintia
Taman DianPanji Asuhan
Tangan Yang DiatasMultazam
Teater NahkodaRafi Putri
Tekad NayyifFitri Ayu
TemanEdi Warsidi
Tembang KematianMuhammad Adhimas P
TentangTriyana Aidayanthi
Tentangku dan Ratusan OpiniEltio Atsiil
Terima Kasih 10 Tahun LaluHotma Lam Uli Marbun
Terima Kasih SahabatkuRahardian Shandy
Terima KasihkuFarhan Ramadhan
Terimakasih MotivatorkuFitri Melani
Terimakasih RatihWidyadewi Metta
Tetap Semangat Demi Kain KafanArif AlfanZa
Text Me, Please!Annisa Berliana Dewi
The CompetitionPuji Ratnataliasih
The Dark Fire (Part 2) Green Fire Death FireSelmi Fiqhi
The Gift of LoveDwipayana K
The Grondey and The First Experience (Part 2)Selmi Fiqhi
The Journey of LifeYuliyana
The Last Song For MomNadiyah Rahmah
The One to be BlamedS4stika
Tianna Dan Peri Yang DikutukVirtania Altariel
Time to Come a Freedom for PalestinaAghna Asbar
Tong TongDina Az zakie
Tuhan Membawamu KembaliSifandrea
Tujuan Hidup Seorang Gadis KecilAnti Dwi Putri
Tunanetra? Aku Bisa!Silvia Mayningrum
Uang Untuk Operasi IstrikuGaddang Arief
Ujung Jalan SunyiDira W
Untuk SahabatDestini
Untukmu…Firdausi As-Syuja'y
Usaha dan DoakuTuti Febrina Waruwu
Usaha dan Kerja KeraskuAldi Masda
Usaha Membeli LaptopNafa Putri Maharani
Usaha Membuahkan KeberhasilanDevelyne de Meichella
Valerie OliverianaTheresia Okvitawati
Waktuku Tak Menunggu Harapanku, Ibu.. AyahLiya Utari
Wanita KertasLuay Zahirul Ginting
Warna-Warni HujanTiara Purnamasari
Wayang IndonesiaSierra Aulia Shabihah
Weekend Bersama Alam PapandayanRusmiyati Suyuti
When The Caterpillar FlyIfarifah
Why Do We Break Up?Charlly Sermatan
Yang Bukan SegalanyaAsri Nur Aisyah
Yang Istimewa Belum Tentu SempurnaJade Elisa Putri
Yang Kau Pinjam Dari GarudaNadira Mufti
Yang Mengikutiku
Yang Tak Kan TerlupakanAmbiwwa Novita
Yang TerbaikRifqi M Rifai
You Are Inspiration in My LifeSierra Aulia Shabihah
ZawiaFairuz Zakyal 'Ibad


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.81.241.238
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia