2,5 Persen Saja

“Intinya setiap harta yang kita miliki, wajib kita zakati. Sesuai dengan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW”. Terang Pak Aji di tengah penjelasannya, saat menyampaikan materi hadits bab zakat sore itu. Dia adalah salah satu dosen di kampusku, STAIN Salatiga.
“Dalam hadits yang telah kita bahas hari ini, memang zakat wajib dikeluarkan jika telah mencapai haul dan nisob. Namun, untuk kalian yang belum punya penghasilan yang tetap dan masih di gaji oleh orang tua kalian, alangkah baiknya jika kalian belajar untuk berzakat sedari dini”. Lanjut dosen yang suka bercanda ketika menyampaikan materi. Tapi kali ini seakan sedang berpidato sebagai panglima perang. Serius sekali.
“Uang yang diterima dari orang tua kalian, dari kerja sampingan kalian, atau bahkan dari beasiswa yang kalian terima. Sebaiknya disedekahkan minimal 2,5% saja untuk pensucian harta kalian dan sebagai sarana latihan berzakat. Dan lagi, itu hanya titipan Allah. Kita dipercaya oleh-Nya untuk menjadi bendahara Allah di muka bumi ini maka kita tidak sepatutnya mengkorupsi harta Allah karena dalam harta yang kita miliki ada sebagian hak mereka yang lebih membutuhkan”. Beliau melanjutkan, 2 matanya tajam menatap kami.

Keadaan kelas sepi. Semua mahasiswa nampak serius menyimak penjelasan Pak Aji yang masih serius juga, bahkan kini semakin membara seakan beliau ingin menekankan betapa pentingya urgensi pembelajaran zakat pada hari itu.

Kubuka buku catatan kecil yang menjadi sahabatku, kukatakan sahabat karena dialah yang selalu rela mendengarkan keluh kesahku, dan di buku itu juga aku catat ilmu-ilmu baru. Seperti kali ini. Bukankah sahabat sejati memang harus seperti itu. Dan yang paling spesial adalah karena buku itu pemberian dari ayahku saat aku meraih juara 1 di kelas ketika SMK dulu. Beliau tulis dengan tangannya sendiri di halaman depan buku itu untuk ananda Didin Syamsudin dan tulisan itu cukup meredakan rasa rinduku padanya saat aku merasa butuh kehadirannya di sini. Setelah ku buka halaman yang masih kosong, aku mengingat-ingat berapa uang yang ayah kirim terakhir kali dan uang yang aku dapat dari sampinganku kerja di Pabrik roti Pakdek ku.
“300 ribu ditambah 50 ribu… terus dikali 2,5% ” Aku mencoba menghitung manual di buku.
“Ah, ribet pake kalkulator saja.” Batinku.
“Hemmm.. sedikit.. gampang.” Gumamku girang karena hanya melihat nominal 8.750 saja yang tertera di layar hp ku.
Konsentrasiku kembali kufokuskan pada dosen yang agak gemuk itu. Dan kini beliau telah duduk di tempat duduk dosen yang terletak di depan kelas.
“Iya, kita cukupkan kuliah kita hari ini, semoga bermanfaat dan sampai jumpa minggu depan”. Tutup Pak Aji yang membenarkan tebakanku yang sedari tadi menebak bahwa perkuliahan akan selesai.
“Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh!” Salam pak Aji menutup perkuliahan sore itu.
“Wa’alaikukumussalam warahmatullahi wabarakatuh.” Hanya sebagian mahasiswa yang terdengar menjawab salam, mungkin karena mereka sudah kecapean karena kuliah kami memang terlalu sore.
Kulihat jam yang melingkar di tanganku menunjukan pukul 17.05.
“Wah sudah sore banget, nih, Din. Angkotnya masih ada gak ya?” Tanya Andre dengan nada cemas. Dia adalah teman satu ma’had-ku. Kebetulan dia mengambil kuliah yang sama denganku, lumayan jadi ada teman ngobrol kalau pulang kesorean seperti ini. Biasanya memang kami tidak pulang sesore itu. Namun, karena keasyikan pembahasan materi kuliah, kami jadi lupa waktu.
“Udah ayo cepetan, takut angkotnya sudah gak ada!” Ku tarik tangannya dan mengajak jalannya sedikit kencang.

Ketika kami keluar kelas, ku lihat kampus kami sedah sepi. Nyaris tidak ada satu orang pun. Langit di atas kampus mulai menghitam, matahari pun bersiap berpamit di barat membuat langit berubah kemerahan di ujung sana dan memaksa penjaga malam untuk menyalakan lampu-lampu yang berbaris rapi di atap koridor dari ujung belakang hingga ke depan gerbang kampus. Rapi sekali. Hening dan sepi, tidak ada suara bising yang mengganggu, bahkan jika kami berdiam menghentikan langkah, maka suara detikkan jam di tanganpun berunjuk rasa. Benar-benar sepi, sunyi, mencekam, bahkan menyeramkan. Ah, malang sekali nasib kampusku di malam hari.

Kami terus berjalan keluar kampus menuju Tembus (bukan halte sih) tempat kami biasa menunggu angkot. Setelah melewati gang sempit kira-kira 200 meter dari gerbang kampus, kami telah sampai di Tembus. Aku dan Andre duduk cemas menunggu angkot jurusan “Suruh” yang melewati jalur ma’had kami di Tingkir. Sudah 10 menit kami menunggu namun angkot belum juga menampakkan batang bempernya (kalau manusiakan batang hidungnya, hehe). Andre sedari tadi diam saja, sejak kami menunggu angkot disini, tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibir tipisnya. Dia hanya menatap jam tangannya berkali-kali. Mukanya menggambarkan kecemasan. Kondisi Andre pun sama dengan kampusku. Kesepian.
Dan aku, tidak jauh dengan Andre. Cemas, takut, dan khawatir. Khawatir kalau saja kami telah kehabisan angkot dan harus terpaksa pulang jalan kaki sekitar 7 kilometer ke Mahad. Menyebalkan sekali.
“Ah, kalau jalan kaki, isya baru sampai ma’had, donk” Batinku menggerutu dalam lamunanku.
“Huuuh..huuuh..huuuh.. (Suara terengah-engah) Mas kalau Tingkir masih jauh, gak?” Tanya seorang Bapak-bapak tiba-tiba menyadarkan lamunanku. Seorang bapak-bapak yang tak ku kenal, memakai kaos yang telah basah oleh keringat dan celana panjang khas TNI, juga sebuah tas kecil seperti yang selalu di pakai tukang kredit barang-barang rumah tangga, melingkar di pundaknya. Perawakannya tinggi, kurus, kulit putihnya sudah mulai mengendor. Ku taksir umurnya sekitar 40 tahunan.
“Eh iya, gimana, Pak?” Balasku, meminta dia mengulang pertanyaannya karena aku belum sepenuhnya mencerna pertanyaannya di tengah lamunanku.
“Ini mas, huh… huuuu.. Terminal Tingkir… huuu…masih jauh gak?” Ulang Bapak tua itu. Yang dengan susah payah mengeluarkan kalimat dari mulutnya karena masih balapan dengan nafasnya yang memburu. Ekspresi wajahnya seperti atlet maraton yang telah berlari 10 kilometer namun posisinya paling bucit. Keringat mengalir deras di seluruh tubuh dan wajahnya memperjelas bahwa dia sedang di dera rasa lelah yang begitu sangat. Wajahnya bagai bulan kesiangan. Pucat sekali.
“Oh.. masih jauh, Pak. Kira-kira 15 menit kalau naek angkot.” Terangku.
“Saya boleh minta uang gak, Dek? 2000 rupiah saja buat naek angkot ke Tingkir.” Tanpa basa-basi sama sekali, dia meminta uang kepadaku.
“Gimana, Dre?” Aku menoleh ke kiri bertanya kepada sahabatku yang sedari tadi ikut mendengarkan dialog kami.
“Uangku limit, Din. Ini hanya cukup buat ongkos angkot dan makan nanti malam. Saya kanannya ke saku celananya dan mengeluarkan selembar uang 5000 rupiah.
“Memangnya bapak habis dari mana?” Tanyaku curiga. Takut kalau bapak ini bermaksud jahat kepada kami.
“Begini, Dek, saya dari Palembang. Saya mau berkunjung ke rumah adik saya di Karang Gede. Tapi, tadi saya salah naik bus. Seharusnya saya naik bus jurusan Semarang-Solo. Bus yang saya tumpangi malah jurusan Semarang-Jogja. Saya tadi tertidur di bus, ketika bangun tas saya sudah gak ada. Padahal semua barang saya di dalam tas semua, termasuk Hape dan dompet.” Cerita bapak itu yang kini sudah mulai bisa mengatur ritme nafasnya sambil duduk di samping kananku.

Aku iba dengan nasibnya, namun hatiku berperang karena di satu sisi aku masih teringat kejadian 3 bulan lalu saat aku hampir di hipnotis oleh bapak-bapak tua juga ketika aku baru saja keluar dari Bank selepas menarik tabunganku, dan bapak tua saat itu menghampiriku dengan modus yang sama juga. Bertanya arah. Ku curigai niat jahatnya karena bapak itu memulai percakapan dengan menepuk bahuku. Bahkan sampai dua kali ia mengulang ritual itu di bahu kiriku. Namun, bukannya aku kehilangan kesadaran, untungnya malah aku semakin waspada. Karena gelagat niat buruknya mudah terbaca ibarat “bagai aur di atas bukit”. Ketika itu dia menanyakan arah Semarang setelah satu kali menepuk bahu kiriku. Setelah ku tunjukan arah Semarang dia malah bercerita panjang lebar yang intinya dia kehilangan semua barangnya dan tidak bisa pulang. Di lanjut tepukan di bahu kiriku yang kedua dan dia meminta sejumlah uang. Nekat sekali. Niat jahatnya semakin tampak karena aku yang sedari tadi tidak terpengaruh oleh hipnotisnya terus waspada bahkan memojokkan dia.

“Memang rumah bapak dimana, di Semarang?” Ku lempar pertanyaan memancing.
“Ya, rumah saya di Semarang, Dek.” Nah sekarang jelas niat buruknya. Terang saja tadi, kan, dia tanya arah Semarang, atau lebih tepatnya pura-pura tanya. Sedangkan rumahnya sendiri di Semarang.
“Pak saya asal Cirebon, dan saya baru 2 bulan tinggal di Salatiga. Tapi saya tahu arah Semarang ya, ke utara. Di sini saya sedang kuliah dan belum punya penghasilan. Kalau bapak minta uang sebannyak itu aku belum punya. Mohon maaf sekali, ya, Pak, Ehm.” Sindirku padanya dengan nada sangat sinis. Seperti sebuah pukulan super dari Cris Jhon, Kalimatku membuatnya K.O. Dan akhirnya dia pamit dengan muka malu setengah mati seperti seekor kucing rumahan yang di usir majikannya.

Aku kembali tersadar dari memori itu. Jiwaku kembali menyatu dengan ragaku, ya di Tembus, di samping Bapak tua yang sedang kehilangan arah, uang, hp bahkan rasa malunya itu. Dia minta uang tanpa basa-basi seakan kami sudah lama bersahabat. Sungguh malang sekali nasibnya. Tapi aku belum bisa lepas dari memori itu. Walaupun waktu itu aku tidak terhipnotis bahkan aku mampu membuatnya pulang seperti orang yang kalah main judi. Sekali lagi. Memori itu masih membayang.

“Ayo, Din, penuhi permintaannya. Kasih dia 2000 rupiah saja. Dan selesai!” ku dengar bisikan itu dari malaikat di samping kananku.
“Ah, tidak bisa, mungkin saja bapak ini juga bohong.” Setan di samping kiriku pun tak mau mengalah. Seperti itu, aku bingung harus menuruti bujukan siapa.
Ku lihat lagi Bapak tua itu, dia masih duduk dan melihat kendaraan yang berlalu lalang di depan kami. Ekspresi wajahnya kurang lebih menggambarkan berharap dia bisa naek salah satu angkot itu menuju Tingkir. Memang, kalau ingin ke Karang Gede, ya harus naek angkot jurusan Tingkir terlebih dahulu. Kemudian naek angkot satu kali lagi dari Tingkir ka Karang Gede.
“Ada gak, Dek, uangnya?”
“Oh iya, kebetulan kami sedang menunggu angkot yang lewat Tingkir. Sebaiknya bapak ikut bersama kami saja sampai Tingkir, nanti setelah di Tingkir kami kasih ongkos buat ke Karang Gede” Malaikat di sebelah kananku mulai sedikit memenangkan pertarungannya. Meskipun aku terus waspada. Atau lebih tepatnya su’udzon ke si Bapak itu. Yang hanya terdiam duduk, menandakan dia setuju dengan tawaranku.

Dan kini 3 makhluk mamalia sesama jenis itu, sama-sama diliputi perasaan yang sama. Gelisah menunggu angkot yang sama juga. Namun, aku terkejut ketika baru 5 menit bapak itu menunggu bersama kami. Tiba-tiba dia mengejutkanku beranjak pergi ke arah Tingkir dengan langkah cepat. Dan lagi, tanpa basa-basi.
“Lho, mau kemana, Pak? Tingkir masih jauh, Pak.” Tanyaku setengah berteriak.
“Ah, biarin aku jalan sendiri saja.” Kata Bapak tua itu tanpa menoleh ke arah kami.
Aku tertegun, aku baru menyadari bahwa dia memang jujur. Dia sudah tak punya tata krama lagi untuk sekedar basa-basi meyakinkanku bahwa dia memang benar-benar membutuhkan bantuan. Bahkan hanya sekedar 2000 rupiah saja. Bodoh sekali. Aku mengutuk diriku sendiri. Kenapa aku tidak menyadarinya sedari tadi, kenapa aku tidak langsung saja berikan uang itu. Kenapa justru aku yang terlalu banyak basa-basi hanya untuk mengeluarkan uang 2000 rupiah saja. Astagfirullahal’adzim.

Tidak lama setelah bapak itu meninggalkan kami, sebuah angkot bertuliskan “Suruh-Jetis” di kaca depannya berhenti di depan kami. Akhirnya kami mendapatkan angkot juga. Walaupun aku harus pulang dengan perasaan sesal yang sangat menyesakkan dada. Aku merasa berdosa sekali kepada diriku. Bapak tua itu dan Allah yang melihat semua kejadian itu tentunya. Sekali lagi. Aku mengutuk diriku.

Keesokan harinya, setelah selesai salat dhuha di masjid yang berada di samping kampusku, yang juga berstatus Masjid Raya kota Salatiga, tepatnya pukul 11.00 saat sinar mentari semakin terik menyinari kota itu. Aku sedang memakai sepatu selepas keluar dari masjid dan berencana pergi ke kantin untuk sarapan. Namun ku lihat seorang bapak tua berkulit hitam dan berkacamata dengan sebuah peci hitam kumel di kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri seperti sedang mencari sesuatu dan mulai menghampiriku yang masih sibuk mengikat tali sepatuku.
“Assalamu’alaikum.” Salam bapak itu memulai percakapan.
“Wa’alaikumussalam warahmatullah” Jawabku sambil menyambut jabat tangannya.
“Kantor pengurus masjidnya dimana, ya, Mas?”
“Itu di balik tangga, Pak” Aku menunjuk ke arah pintu di balik tangga.
“Saya sudah muter-muter kota ini, Dek. Menanyakan masjid raya. Akhirnya sampai juga. Saya asalnya dari Kalimantan, saya kesini untuk mencari putri saya di Magelang. Namun sudah 3 minggu saya mencari, tidak ada kabar sama sekali mengenai dia. Akhirnya saya putuskan untuk kembali pulang saja ke Kalimantan, mau gimana lagi saya hanya bisa bertawakal saja kepada-Nya.” Curhat bapak itu yang sekarang duduk di samping kananku.
“Ah, lagi-lagi orang tersesat.” Batinku. Namun seakan dia mengerti isi hatiku dia melanjutkan ceritanya.
“Ini KTP saya, Dek. Saya asli orang Kalimantan. Dan saya sekarang ingin pulang ke kampung halaman saya, sedangkan saya tidak punya uang. Kau lihat sendirilah isi tasku, semua baju-baju yang ku bawa sudah saya jual buat makan. Saya mencari Masjid Raya dan sudah tanya orang-orang dimana Masjid Raya, dan alhamdulillah sekarang saya sudah menemukannya. Saya sedih, Dek dengan sikap orang-orang disini. Mereka taat beribadah namun mereka tidak peka akan nasib saudara-saudaranya. Mereka hanya mementingkan khabluminallah saja, sedangkan khabluminanas-nya nol besar.” Tutur Pak Anton yang namanya kuketahui setelah membaca KTPnya tadi.
Aku hanya tertunduk, seperti terdakwa yang terbukti bersalah. Malu sekali. Aku merasa sangat tersinggung oleh ceritanya.
“Bahkan sekarang pun saya tidak tahu, apakah saya akan di kasih bantuan oleh mereka (menunjuk ke arah kantor pengurus). Saya tidak tahu harus bicara bagaimana kepada mereka. Saya malu, Dek. Kalau di masjid ini saya tidak dapat bantuan, saya akan masih mencoba mencari ke lembaga-lembaga Islam lainnya di kota ini. Tapi jika dalam 3 hari saya tidak dapat bantuan dari lembaga islam, terpaksa, Dek, Saya harus minta bantuan ke Gereja. Seorang muslim minta bantuan ke Gereja. Malu sekali diriku ini, Dek. Serendah itukah saudara-saudara muslim di negeri ini?” Lanjut beliau. Serius sekali. Kali ini tidak ada rasa curiga sedikit pun di hatiku. Aku tersentuh. Aku semakin merasa bersalah dengan kejadian kemarin di Tembus. Aku harus menebusnya. Mungkin ini kesempatan dari Allah untuk aku memperbaiki kesalahanku.
Dan tanpa rasa ragu sedikit pun aku keluarkan 20.000 rupiah dari sakuku. “Pak Anton, mohon maaf ini ada sedikit rejeki yang Allah titipkan buat Bapak, mohon diterima, ya. memang tidak banyak, tapi mungkin cukup sekedar buat beli air minum.”
“Oh tidak, Dek. Adek masih sekolah, adek juga membutuhkan uang itu.” Tak kusangka beliau tidak mudah menerimanya begitu saja. Tidak seperti peminta-minta pada umummya yang langsung menyambar pemberian. Mulia sekali. Subhanallah.
“Tidak, Pak. Saya masih ada, ini memang rejeki buat Bapak. Saya ikhlas memberikanya, Pak. Mohon di terima.” Kuberikan uang itu dan kini beliau mau menerimanya.
“Alhamdulillah, Dek. Saya tidak bisa membalas apa-apa, semoga Allah yang akan membalasnya. Terima kasih”.
“Iya, Pak. Sama-sama. Semoga bermanfaat, saya senang bisa membantu Bapak”.
“Ya sudah, saya pamit dulu, Dek. Mau menemui pengurus masjid. Semoga Allah membukakan hati mereka seperti Allah telah membuka hatimu, Dek”.
“Aamin.” Jawabku mengamini.
“Wassalamualaikum.” Beliau mengulurkan tangan mengajakku untuk berjabat tangan.
“Wa’alaikumussalam.” Jawabku sambil menyambut uluran tangannya. Dan melihatnya melangkah pergi masuk ke kantor pengurus masjid.

Ku lihat dia memasuki kantor pengurus masjid dan menghilang di balik ruangan itu. Kini aku tersadar bahwa betapa pentingnya khabluminannas. Islam memang agama yang begitu sempurna. Ibadah zakat yang merupakan rukun islam yang ke tiga begitu penting peranannya dalam kehidupan sosial. Aku kembali teringat pesan dosen haditsku bahwa kita harus belajar berzakat sedari dini. Islam hanya menetapkan 2,5% saja dari harta kita untuk diberikan ke 8 ashnaf. Padahal aku mudah sekali memahami teori itu, tapi ibarat “Angan lalu paham tertumbuk” begitu sulit untuk mengaplikasikannya. Salah satu ashnaf itu ialah musafir. Seperti bapak tua bercelana TNI itu dan Pak Anton. Seharusnya aku menyadari itu sejak awal. Namun aku bersyukur kepada-Nya, karena Dia masih memberikan kesempatan kepadaku untuk menyampaikan hak di antara 8 ashnaf itu. Ya, dengan perantara Pak Anton itu.

..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDULKARYA
(Serigala Putih) Daun Dari AnginRenaisan Salman
1 Cinta di Antara 3 PilihanOctavia Anizar
2,5 Persen SajaDidin Syamsudin
3 Tahun, 3 Cerita, Kau Tetap Perempuan Istimewa VersikuAkri Midwife Stalker
5 TahunChristian Boham
Abdiku Untukmu Keluarga KecilkuRizky Dwi Utami
Abdiku Untukmu, IbuDestia Eka Putri
AbsurdityNadila Aprilianda
Acara Festival Yang Tak TerlupakanRahman Ditisiyah
ActFor (Anti Conspiration Force)Mamat Fiction
Ada Apa Dengan Sikap AyahHerlina
Ada Teman di Balik PelangiSenja Nilasari
Akibat Jajan SembaranganAdinta Asfiratun Husna
Akibat ParzinahanNeni Indriani
Aksara Tak BisuOan Wutun
Aku Adalah AkuGraciella Eunike Satriyo
Aku Bisa Sendiri!Namira Assyifa Prasetio
Aku Bukan Gadis Menjijikan!Zee Choco
Aku Bukanlah SegalanyaNita Durotul Husna
Aku dan OrganisasikuErvina
Aku Dia Tak SamaRully Prameisti Audhina
Aku Harus BerusahaNenda Wulandari
Aku Ibu dan PianoAntonia Luisa
Aku Juga WanitaKang Zaen
Aku Sebutir PasirSelmi Fiqhi
Aku Tidak Berasal dari Buah yang Bagus, Tapi Pasti Akan Menjadi Buah yang BergunaKinanti Tiara Dewi
Aku Tidak Punya TemanRossa Kurnia Sasongko
Aku, Pilihanku, Serta Pejuang Berbaju Coklat KecilkuJoko Susilo
AlhamdulillahAtikah
Allah SWT Memang Maha AdilNurannisa Widiawati
Angklung and The TwinsSalsabila Putri Rulia
Antara Aku, Tukang Cukur dan TuhanWahyu Tio
Artca Penyelamat BudayaResty Gessya Arianty
Arti SahabatPurnawan
Arti Sebuah KehidupanTyaz Hastishita
AyahRiza Fahriza
Ayah kami bukan kriminalRifky Adni
Ayah, Aku Bangga Padamu! Catatan Putra Seorang KoruptorMisteradli
Bagaikan Pelangi Setelah HujanNuril Agri Famela
Bahagia Hidup PesantrenPraditiyo Ikhram
Balai HujanAl iz Kusuma
BangkitAlfred Pandie
BapakBanyu Ozora
Bawalah Terbang Ikan IniAris Rizka Fauzi
Belajar Untuk Lebih BersyukurPatra
Beliau Itu IbukuPutri Setiowati
Bella si Mak ComblangNita Setiawan
Benarkah Kak?Siti Muyasaroh
Berantem Sama Teman Waktu SDShandi Dwipermana
Berbagai Rintangan Menuju SekolahAldi Rahman Untoro
Berbahagialah!Fitri Oktavia Annaja
Berbuat Sesuatu Untuk MimpiSiti Nurjanah Septiani
BerjuanglahIevfa
Berkat Gunung MerapiAliyah Revitaningrum
Berkat Lori Aku Bisa Sekolah LagiAyu Soesman
Berkat TaugeDesi Melati
Bermain MonopoliDeviance Ramadhana Saragih Sitio
Bersahabat Bermodal Kebijakan dan Takdir TuhanVeren Chandra
Bersamamu Ku Gantungkan MimpikuAde Zetri Rahman
Best of The Best My Best FriendMuhammad Nuh Nurkholid
BianglalaYeni Ayu Wulandari
Bidadari Kecil, SaghirahMuallim
Bintang BenderangNi Made Eva Yuliantari
Bintang LapanganAmbarnia
Bolehkah Aku Membenci Ayah?Abdul Rahman Sinaga
Buah KesabaranIbnu Rafif
Bukan Punguk Yang Merindukan RembulanAya Emsa
Bukti KecantikanFariska Hurun In
C3 (Cinta Chandra dan Citra)Yuliatul Mawaddah
Cahaya Untuk IchaAulia Farhah FA
Cangkir Tindih Merah PutihDian Faiqotul Hikmah
CantikDina Istiqomah
Cause of My Parent’s LieJoe Fatrah
CCCCC (Cinta Cenat Cenut Cemungudth Celamanya)Listya Adinugroho
Cerita Kakek HanifEdi Warsidi
Cewek itu LianiRizka Aprilliani
CintaImelda Oktavera
Cinta MonyetTala Nour
Cinta Nggak BisuUpik Junianti
Cinta RayaKarina Dwi Latri Juliani
Cinta Tapi BedaAthe Celiona
Cinta, Cita dan KitaFariska Hurun In
Cintaku Kini Telah PergiRandi Pratama
Cintaku Setahun JagungRamlis Harman Susanto
Cita-Cita AshleyAnastacia Esterliana
Cita-Cita Sang BonekaFinsa Permatasari
Cukuplah Allah Bagiku maka Cukuplah AkuNira Nurani Teresna Dewi
Dad Is My HeroEster Chaterine Sara
Daddy O DaddyPebri Pele
Dance it’s my LifeKarina Dwi Latri Juliani
DeadlineCynthia Lantriana
Demi BoybandMuhammad Sulaiman
Demi Hari yang Menanti di Ujung HarapanAhmad Hafizin
Demi IbuFadillah Amalia
Demi Idola TercintaAnis Puspita Sari
Demi MasaRirin Nurpi Herwanti
Deret Tinta Untuk NegeriIlma Ainunisa
Desainer MudaFadillah Amalia
Detektif KacaMuhammad Septian Rachmandika
Di Balik Sebuah PayungHesty Juwita Sari
Di Hatiku Ada NamamuAnitrie Madyasari
Di Seberang Padang Rumput IlalangLoli Asmara dewi
Dia Adalah SorbonneRail Rahardian
Dia Bisa, Mengapa Aku Tidak?Hana Sausan
Dia IbukuNeneng Lestari
Dia SemangatkuDina Aulia
Dia.. BintangkuDebi Zahirah Hariwijaya
Diantara Mahasiswa dan DosenNita Setiawan
Diary Ana 1Aghna Asbar
Diary Sahabatku DindaGaluh Ayu
Diary Untuk LangitErika Andini
Dibalik Duka ku ada Duka yang lainZakia She Azhura
Dibalik Senyum TulusmuSofia Octaviana
Dik AnahMuhammad Sofyan Arif
Dirindu DinginnyaAna Marieza Widiawati
Disiplin Itu Penting Untuk KehidupanNovita Indriyani
Ditooo… Apa Lagi (Part 1)Axas
Ditooo… Apa Lagi (Part 2)Axas
Ditooo… Apa Lagi (Part 3)Axas
Don’t Judge The Book by The CoverRahmi (Adhe Amii)
Dua Doa Satu CintaNina Noichil
Dunia Baru dalam Kertas LipatEka Ferdianti
Emak, Gue Jadi Artis!Aisyah Hudabiyah
EvanityFirman Nuryadi
FakirBergman Siahaan
Festival Musik dan idolaFadel Mochammad Ibrahim
Filosofi HatiRuri Alifia R
Gadis Berjilbab PilihanChoirul Imroatin
Gadis di Kaki Bukit ProloYeni Ayu Wulandari
Gadis TompelDwi Putri Fw
Gang SetanHotma Lam Uli Marbun
Ganti Kacamata, Gessss!Icetea
Gengsi itu Sama Dengan MiskinImam Prayugo
Get SpiritEcha Nurrizqi
Gifts For GladysNamira Assyifa Prasetio
Gila RamalanOcta Rina
Gitar Tua JokoSeptian Joko Sulistyo
GubukRika Alif Firda
Gulali ChacaTifa Raisandra
Guruku dan BungakuRahmi (Adhe Amii)
HadiahMuggi S Prasetyo
Hadiah dari KakekDwiyanto S
Hadiah Kecil untuk ShyrenaPuspita Sandra Dewi
Hal Yang Membuat Kita BerbedaArif Nurhidayat
HampaAfra Zahirah
Hanya ini Yang Ku PunyaWahyudi Warsaintia
HarapanSeya Zunya Uchiwa
Harapan BaruMuhammad Toriq
Hari KartiniMugito Guido
Hari Terakhir Untuk SalmaAya Lukluk
Harus Kuat Sebagai UlatHeru Prasetyo
Hidup Berawal dari MimpiJaja Nurjaman
Hidupku Tak Sepahit Jamu IbukuChoirul Imroatin
Hikmah Dalam HidupkuSintiya Nuri
Hinaanmu Jadikan Motivasi UntukkuSari Sustianto
Hitam Putih PergaulanAulia Farhah FA
Hujan Dalam Satu HarapanAkmal Farid
Hujan PertamaYudik Wergiyanto
Hukuman yang Tak AdilHidayatulloh Handoyo
Hutang Tingkat DewaWayan Widiastama
I Can’t Take it AnymoreLyna Audiena Wijayanti
I Heart YouRusyda Andini
I Love Mom and DadReyhana Amalia
I’m is Reporter (Part 1)Dziky Iskandar
I’m Sure, I Can Do It!Elfina Astin
IbuNadia Safarah
Ibuku Arti SahabatkuMutiara Devit Merlinda
Identitas GulaRizqi Ardiansyah Tindaon
Ifa Yang di Dunia Maya Bukan Ifa Yang SebenarnyaMuhammad Rafid Nadhif Rizqullah
Ikatan TerkuatkuApp
Ilalang dan Rumah Laba LabaChoirul Imroatin
ImpianQisthi Zulfa
Impian Anak KampungJohan Syah
Impian Anak PemulungGleam Pratama
Impian Angsa KecilLina Purniawati
Impian Hati menjadi HabibieDiyah Ayu Rahmatika
Impian KayraSharifa Hasna Mahira
In My LifeMasita Rais
In O2SN SemarangLena Sutanti
Indahnya KebersamaanAlfan Fadilah
Ini Berlian… Bukan SampahFadillah Amalia
Inilah Saat yang Kami TungguSlamet Samsoerizal
Inner BeautyGiselle Iona Rachel Tuelah
Inspirasi Dalam GelapAffiantara Marsha Yafenka
Inspirasiku Lewat MusikAan
It’s My PassionSadryna Evanalia
Jalan HidupkuNur Isna Aulya
Jangan Ikut-ikutanLalia Oktiarisqa
Jangan Marah Dong PutriNizahsy Lubis
Jangan MenyerahAuliya Fatimah Nur
Jatuh 7 KaliHernita Sari Pratiwi
Jejak TerakhirMuhammad Septian Rachmandika
Jejak-Jejak Keajaiban MimpiAbdus Salim
Jemari Tuhan Telah MerangkulnyaRahimah Permata Sari
Jilbab dari SahabatkuAnita Avianti
Jiwa Pramuka YudiYulian Rahma
Jl. Flamboyan No. 9Dicky Cahyo
Joni dan Galah IstimewaMuhammad Labib Naufaldi
Just Carry OnWilliam Kamarullah
Kado Terbaik Untukku DariNyaBondan Ratnasari
Kakakku TersayangAngel Lika. S.
Kami Tak BerwajahAhmad Alkadri
Kapsul Cita-CitaNatasha Cynthia
Karena Aku Atau Pencak Silat?Dealya Adira
Karena di Atas Langit Masih Ada LangitAdinta Asfiratun Husna
Karena kau, Sahabat!Tutut Setyorinie
Kaset PenyemangatSalsabila Prameswari
Kau Tetap SahabatkuJuwita Palvin
Ke Rumah PresidenMiga Imaniyati
Keajaiban Saat PesimisReimut
Kebahagiaan Kita SemuaGaluh Rengganis Nugrahaini
Keberanian NadhiaMurni Oktarina
Kebohongan Yang IndahRosmania Robbi C
Kecurigaan DeandraRegita Aryaputri Lesmana
Kedamaian DuniaFadillah Amalia
Keikhlasan Hati AmirManda Ms
Keluarga itu, Keluarga BaitiSlamet Mulyani
Keluargaku MotivasikuM. Hasan Basri
Kematian Tanpa SesalAnteng Maya Surawi
Kembalinya Seorang AktivisMagvirasari Lestari Linra
Kenangan Emak TikHendrawan Ardiansyah
Kenapa Harus AkuYoshe Azura
Kesabaran Dan Perjuangan PutriMega Ayuna Rizki
Kesatria Dari Ujung DesaMuhammad Suhendar
Kesederhanaan Sebuah Cita-CitaDiana Margareta
KesedihankuFairuz Zakyal 'Ibad
Kesuksesan Tuhan Yang AturJhumar Masadian
Keteguhan HatiSyamkhan Habibi
Ketika Hancur Hati IbuRosmania Robbi Chatun
Kisah Cintaku Yang PertamaAgus Purnamasari
Kolak Pelangi dan Sholat DhuhaFarhan Ramadhan
KolaseZainuddin Muza
Kopi PendingFinlan Adhitya Aldan
Kotak Cinta Untuk IbuChoirul Imroatin
Kotak ImpianM Yusuf
Kristal BeningUlfa Nurul Hidayah
Ku Kayuh Ribuan MimpiSriami Wulandari
Kuihat Lirihan SuaraHenydria
Kupu Kupu MalamHari N. M
Kupu-Kupu di Dalam HujanSelmi Fiqhi
Kura-kura dan KudaSiti Ainun Pratiwi Indra
Kutukan PurnamaKachonk Rofiqz
Langit ituAzzam Azizah Fiqli
Lantunan Sendu Melodi BiolakuRiska Putri Meiyana
Lara Prihatini Si Gadis PrihatinDona Ariani
Laron Juga Ingin PacaranShalahuddin
Layangan BumiAnnisa Mauliddina
Lebih Dari SatpamRized Wiasma
Lelaki Paruh Baya di Sekolah TuaNilma Yuliza
Lelaki Tua yang Merindukan BintangAdri Wahyono
Lelucon TakdirIfarifah
Lembaran Kertas HijauHaryanti
Lentera Tak BerujungSintyawati
Lidah DoniWilly Sitompul
Lihat Semangat KamiAndi
Lili (Menjadi Diri Sendiri)Okty Imagine
Lilin HarapanAmalia Septiani Radiva
Lintang KemukusYosi Prastiwi
Lobang Hidung LohiWilly Sitompul
Loper CilikNurvita Rachmadania Winanti
LorongAditya Prana Iswara
Lorong GelapPatrick Hariadi
Love In BostonDian Setianingsih
Ludah Untuk Si CerminHari Arianto
Luka Tak BerdarahZ.Hilmiah
Makna di Hari Raya Idul FitriGaluh Rengganis Nugrahaini
Malaikat Pun Menangis AyahDiandra Aini
Mama dan AkuRani Putri
Manusia-Manusia TrotoarMuhammad Edgar Hamas
Markonah dan Uang Lima RibuanWilly Sitompul
Masa Depan Anak Seorang PemulungWahyu Rizky Ramadhan
Matahari pun Tak BosanDanil Gusrianto
MataharikuAsri Nur Aisyah
Matematika is My LifeVindasya Almeira
Matematika? Siapa Takut!Fitri Rosadela
Mati Dalam Angan (Part 1)Affiantara Marsha Yafenka
Mati Dalam Angan (Part 2)Affiantara Marsha Yafenka
Mawar Terakhir Dari BundaDevi Upi Lestari
May Day (Perjuangan Tanpa Akhir)Wahyudi Warsaintia
Mbah MinRiza Fahriza
Melawan Rasa TakutMiftahul Farhani Isty
Menanam Seribu PohonVindasya Almeira
Menanti LaraR. Ayu Chairunnisya
Menebus MimpiNayudin Hanif
Menggenggam ImpianUmmie Sakdiah Babers
Menghitung HariAyu Sari Listianda
Menjadi Yang KuinginkanNurdiyansah
Menjaring MatahariLedy Triananda
Menjelang Ujian Tengah SemesterRifky Adni
Menyesal TanpamuNona Nada Damanik
Merdeka Atau Tidak Sama SekaliRiky Fernandes
Mereka Bilang Aku Gila (Part 1)Wulan Puspa Indah
Mereka Bilang Aku Gila (Part 2)Wulan Puspa Indah
Mesin Pemahat MimpiAjeng Laksmi
Meski Tanpa AyahKharisma Titah Utami
Metamorfosa Malaikat Tanpa SayapAmbiwwa Novita
Milikku Milikmu Milik KitaListya Adinugroho
MimpiFarah Fakhirah
Mimpi Secarik KertasUlfah Heroekadeyo
Mimpi Si Anak KambingNurhikmah Hakiki
Mimpi untuk DuniaNurul Ramadhaniah
Miracle Of Giving FoolKinanti Tiara Dewi
Miskin “Bermanfaat” Kaya “Bermartabat”Fajar Rofinanda
Miss Culun Menjadi Miss BeautyAdhenna Zakia A
Miss Eum nya Tak Mau Neneng FotoAde Qisti
Misteri Gadis Kecil di Rumah KosongPingkan Aulia Samara
Move OnSiska Pratiwi
Mrs. PerfectNova Seflylya
Mutiara HatiSilmi Kaffah
Mutiara Tanpa CelaFaddilatusolikah
My Book DiaryOldheva Genisa
My Dream Comes TrueBadriyah
My Freaks HolidayUrai Benny Novriady
My Heart For The ChildrenWidya Laksari Sastri
My Life Without SoundChick-A-Dee
My Love is REAL!App
My MistakesFilla Giani
My PromiseAch. Arya Muhammad
Nasihat AyahMusrinah
Nay, Sang TerataiAya Emsa
Nenek ku PahlawankuAhmat Rasyid
Nenek Tua di Sisi KotaTutut Setyorinie
Nyanyian Pagi di VictoriaRan Azlaff
Obat Alami LayilaNaila Izzati Mushafa
One By OneMuhyiddin El Febiens
One Day To RememberDjunita
Padamu Wanita IndonesiaAnnisa Yuni Thorika
Pagelaran TerakhirBolok Sitompul
Pahlawan KecilkuErna Hidayanti
Pahlawan SenjaAstrid Septiani Wulandari
Pandangan MayaFitri Nur Faizah
Panggil Aku Pahlawan PenghianatImron Supriyadi
Pantang MenyerahKhoirul Umam
Pedang KehidupanGede Agus Andika Sani
Pelangi Sesudah HujanRahimatus Sania
Peleburan RasaYeni Ayu Wulandari
Pelita Hati yang KerontangKhoirur Rozikin
Pelita HidupkuSuci Lestari
PembuktianTriyana Aidayanthi
PenalunaAnne Widy
PengabdiankuAnnisa Mega
Pengamen JalananErni Ristyanti
Penggemar RahasiaMuhammad Rafid Nadhif Rizqullah
Pengorbanan Cinta SejatiIrene Lie
Penyair dan MusisiDhika Zakaria
PenyesalanJuanti
Penyesalan TerdalamAndias Putri
Penyesalan TerlambatLaila Insyafah
Perbedaan Itu Mampu Menembus Dunia KelamkuBestiani Mustikaningsih
Perbedaan Jadi Tidak BerartiSri Siswati Tahir
Perjuangan Agar Bisa Menghafal PantunGiselle Iona Rachel Tuelah
Perjuangan Hidupku Dalam Menuntut IlmuSupardin
Perjuangan IbuUlfa Nurul Hidayah
Perjuangan RevitaMila Dita Khotimah
Perjuangan Tanpa Pandang BuluSekar Arum Purbarani
Perpisahan AkhirGea Septa
Persahabatan Chintya dan SiscaAbdullah
Persahabatan yang AbadiAnnisa Berliana Dewi
Persembahan Buat Mama (Part 2)Rita Lestari
Persiapkan DirimuAgus Purnamasari
Pertemuan 5 SahabatIsnaifa
Perubah Hidup Pemulung CilikErdin Suharyadi
Pesan Yang KurangNika lusiyana
Pesawat KertasPutri Novitasari
Pianis PesimisDandi Tri Dirgantara
Pirate KingDini Aprilia Purnamasari
PlatinumTara Rahendya Elfrida
Pohon Mangga Mbah KartoRoni Istianto
Pompom Girls Cheerleaders TeamSyahla Varelya Threonizzahra
Positif KecanduanAna Rifqi Jamil
Pribadi Lebih BaikFadillah Amalia
Pulau HamilSiswari
Putri Bulan dan Dewa LautRibka Sepatia
Rahasia Bintang KelasAldi Rahman Untoro
Rahasia Sebuah PeristiwaAhmad Ghulam Azkiya
Rembulan di Kolong LangitNurlaela A. Awalimah
Rencana Allah Pasti IndahArif Syahertian
RenungkanAlfred Pandie
Rintihan LidahSelmi Fiqhi
Roh Penunggu HutanRendy Mahendra
Romansa KehancuranRiky Fernandes
Saat Nisa Mengatakan BisaNur Faisah
Sacrifice of LoveSalsa Hanifa
Sahabat SejatiSarah Aprilia Andini
Sahabat Yang PertamaGiselle Iona Rachel Tuelah
Sajadah Buat EmakR. Marena
Saksi Bisu Pengorbanan GuruChick-A-Dee
Salah SiapaNi Made Eva Yuliantari
Sandiwara CintaAhmad Azwar Avisin Alhaidar
Satirung PesegYuni Maulina
Say No To DrugsCindy Amanda N
Say Nothing Of Sorry and LoveSherly Yulvickhe Sompa
Sebuah AsaSimah Ayu Lestari
Sebuah Jawaban diujung JurangBryan Adams
Sebuah Karma di 2017Kariza Rai Shafira
Sebuah Nama, Sebuah MisteriGatut Putra
Secret (Rahasia)Alif Kurniawan
SedekAH membawa berkAH untuk semuanyAH…. AH… AH… AHAgung Yansusan
Seekor Makhluk Sebuah DesaGuido Gusthi Abadi
Sehari Sebagai PatriotYustina Rena Oktaviana
Sekuntum Bunga KambojaMila Karlina
Selalu Ada JalanYudha Purwanda Azis
Selamat Jalan SahabatNursyamsi Syam
Semangat Juang Anak CacatWahyu Rizky Ramadhan
Semangat Pagi GurukuNurhikmah Hakiki
Semangat RanikaSelviana
Semangat Yang Tak TerkalahkanMuhammad Jaenal
Semua Akan Indah Pada WaktunyaSultan Oka
Semua Karena KauRirih Rakati Rigarimas
Semua Kerena-NyaAnitrie Madyasari
Semua Untuk AyahVivi Alviani
Semut Yang Pindah RumahDevi Yulia Rahmi
Senandung Indah Untuk TiaraRienz Gladies
Senja dan Catatan Tentang KitaYeni Ayu Wulandari
Senja di Tepi PantaiYuli setiawati
Senja Dipadang IlalangDamayanti Childiesh
Senyuman di Langit AwanggaDwi Surya Ariyadi
Sepasang Teratai MudaPuspita Sandra Dewi
Sepeda Kenangan Dari AyahGisca Ulfa Afiatika
Sepeda KumbangDeska Apriadi
Sepenggal LorosaePrabu Awang
Setangkai Bunga di Tebing GunungNuril Agri Famela
Seuntai Kalung Mutiara FatimahNamira Assyifa Prasetio
Si DogolMuhamad Rafael
Si Gadis KecilIndri Triyas Merliana
Si Kakek dan AkuImelda Oktavera
Si PintarAnnida Hasan
Si Siro Anak Musik RockExtrix Mangkepriyanto
Siapa yang Bersabar Pasti Akan BeruntungAnnida Hasan
Sikapku Untuk Bangsaku (Part 1)Nurul Fitrah Hafid
Sikapku Untuk Bangsaku (Part 2)Nurul Fitrah Hafid
Sisa HarikuJhaka Sena Putra Jala
Space Time (Perjalanan Ruang dan Waktu)Aliffiandika
StarAry Qmtonk
Story About Me and FriendsNamira Assyifa Prasetio
Stuck dan StagnanYeva Fadhilah Ashari
Suara Bintang Terdengar Hingga ke JepangSigit Pamungkas
Suara Sang KertasHalimatus Sa'adah
Suara SumbangNada Aisyah
Sunset IndrayantiFa Adzkiya
Sweet Seventeen KelabuAmanah D'penzy
SyukurkuUzmilatul Khoiroh
Tak Ada Prediksi Sukses Namun Masih Ada JalanAnisa Catteleya
Tak Ada Yang Berubah Meski Sayap Telah PatahAulia Farhah FA
Tak DisangkaDea firmansyah
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 1)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 2)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 3)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 4)Puspa Allamanda
Tak Seperti Dongeng “Gadis Penjual Korek Api”Selly Miarani
Tak UbahSelmi Fiqhi
Takdir SukriWahyudi Warsaintia
Taman DianPanji Asuhan
Tangan Yang DiatasMultazam
Teater NahkodaRafi Putri
Tekad NayyifFitri Ayu
TemanEdi Warsidi
Tembang KematianMuhammad Adhimas P
TentangTriyana Aidayanthi
Tentangku dan Ratusan OpiniEltio Atsiil
Terima Kasih 10 Tahun LaluHotma Lam Uli Marbun
Terima Kasih SahabatkuRahardian Shandy
Terima KasihkuFarhan Ramadhan
Terimakasih MotivatorkuFitri Melani
Terimakasih RatihWidyadewi Metta
Tetap Semangat Demi Kain KafanArif AlfanZa
Text Me, Please!Annisa Berliana Dewi
The CompetitionPuji Ratnataliasih
The Dark Fire (Part 2) Green Fire Death FireSelmi Fiqhi
The Gift of LoveDwipayana K
The Grondey and The First Experience (Part 2)Selmi Fiqhi
The Journey of LifeYuliyana
The Last Song For MomNadiyah Rahmah
The One to be BlamedS4stika
Tianna Dan Peri Yang DikutukVirtania Altariel
Time to Come a Freedom for PalestinaAghna Asbar
Tong TongDina Az zakie
Tuhan Membawamu KembaliSifandrea
Tujuan Hidup Seorang Gadis KecilAnti Dwi Putri
Tunanetra? Aku Bisa!Silvia Mayningrum
Uang Untuk Operasi IstrikuGaddang Arief
Ujung Jalan SunyiDira W
Untuk SahabatDestini
Untukmu…Firdausi As-Syuja'y
Usaha dan DoakuTuti Febrina Waruwu
Usaha dan Kerja KeraskuAldi Masda
Usaha Membeli LaptopNafa Putri Maharani
Usaha Membuahkan KeberhasilanDevelyne de Meichella
Valerie OliverianaTheresia Okvitawati
Waktuku Tak Menunggu Harapanku, Ibu.. AyahLiya Utari
Wanita KertasLuay Zahirul Ginting
Warna-Warni HujanTiara Purnamasari
Wayang IndonesiaSierra Aulia Shabihah
Weekend Bersama Alam PapandayanRusmiyati Suyuti
When The Caterpillar FlyIfarifah
Why Do We Break Up?Charlly Sermatan
Yang Bukan SegalanyaAsri Nur Aisyah
Yang Istimewa Belum Tentu SempurnaJade Elisa Putri
Yang Kau Pinjam Dari GarudaNadira Mufti
Yang Mengikutiku
Yang Tak Kan TerlupakanAmbiwwa Novita
Yang TerbaikRifqi M Rifai
You Are Inspiration in My LifeSierra Aulia Shabihah
ZawiaFairuz Zakyal 'Ibad


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.166.75.207
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia